KEMENTERIAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
INVENTARISASI MANUSKRIP
BERAKSARA ULU
Jilid 2
Pengetahuan Tradisional
INVENTARISASI MANUSKRIP BERAKSARA ULU Jilid2 Pengetahuan Tradisional
KEMENTERIAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA 紀
INVENTARISASI
MANUSKRIP
BERAKSARA ULU
Jilid 2
Pengetahuan Tradisional
INVENTARISASI MANUSKRIP BERAKSARA ULU Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Pengarah Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, M.Hum.
Penanggung Jawab Direktur Sejarah dan Permuseuman, Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum.
Redaktur Pelaksana Kepala Subdirektorat Pelestarian Sejarah, Agus Hermanto, S.Pd., M.Hum.
Perancang Sampul dan Penata Letak Isi Frisna Yulinda Natasya
Penyunting Dr. Wahyu Rizky Andhifani, S.S., M.M.
Penerjemah Prof. Dr. Drs. Sarwit Sarwono, M.Hum.
Penyusun Gaya Mentari, M.Hum. Een Syaputra, M.Pd. Hery Sukoco, M.Hum. Ermasusri Karnengsi
Sekretariat dan Produksi: Annisa Mardiani Oti Muridyati Lestari
| Annisa Mardiani | Oti Muridyati Lestari | |
|---|---|---|
| Dian Trihayati | I Wayan Edo Anggara | |
| Amin Rahayu | Vyan Fazrul Rahman | |
| Dede Sunarya | Saisa Felita Delfiana | |
| Siti Aisyah Safe | Suci Haullia | |
| Diterbitkan oleh: | Cetakan Pertama, 2025 | |
| Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia | ISBN 978-634-7572-26-4 (jil.2) | |
| Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270 | 978-634-7572-29-5 (jil.2 PDF) Isi buku ini menggunakan huruf Noto Sans 10/16 pt, Steve Matteson. | |
| Dikeluarkan oleh: Direktorat Sejarah dan Permuseuman Ilustrasi Sampul: Prasasti Tanduk dan Bambu Koleksi Museum Negeri Bengkulu | xviii, 172 hlm.: 25 x 17,6 cm. |
家
Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan karunia-Nya, buku Inventarisasi Sumber Sejarah Manuskrip Beraksara Ulu ini dapat diselesaikan dan diterbitkan. Buku ini terdiri dari dua jilid, yakni Jilid 1 yang berfokus pada topik sejarah dan Jilid 2 yang membahas topik pengetahuan tradisional.
Penyusunan buku ini merupakan manifestasi tugas pemerintah dalam menginventarisasi sumber sejarah tertulis serta melindungi kebudayaan nasional, khususnya dalam rangka menjamin keberlanjutan warisan budaya bangsa yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan penguatan jati diri.
Manuskrip beraksara ulu merupakan salah satu bentuk warisan budaya tulis yang berkembang di wilayah Sumatra bagian selatan dan sekitarnya. Manuskrip-manuskrip tersebut merekam beragam pengalaman historis dan pengetahuan tradisional, mulai dari hukum adat, silsilah, petuah moral, praktik pengobatan, hingga catatan peristiwa lokal. Sebagai sumber primer, manuskrip ini memiliki kedudukan strategis karena merefleksikan cara pandang, sistem nilai, serta dinamika sosial masyarakat Nusantara di luar tradisi tulis modern.
Secara yuridis, manuskrip beraksara ulu merupakan bagian dari objek pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Undang-undang tersebut menetapkan empat pilar utama pemajuan kebudayaan, yaitu pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Buku ini disusun dalam kerangka pelindungan kebudayaan, sebagaimana diatur dalam Pasal 16 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, khususnya melalui inventarisasi sebagai langkah fundamental sebelum upaya pengamanan, pemeliharaan, penyelamatan, dan publikasi dilakukan. Inventarisasi adalah tahap krusial; tanpa basis data yang memadai, upaya pelindungan dan pengembangan tidak dapat dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.
iv Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
Lebih lanjut, Pasal 17 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 menegaskan bahwa inventarisasi dilakukan melalui pencatatan dan pendokumentasian yang terpadu yang tidak hanya mendata aspek fisik manuskrip, tetapi juga memperhatikan konteks sosial, kepemilikan, tema isi, serta kondisi pelestariannya. Dengan demikian, kegiatan ini tidak sekadar bersifat administratif, melainkan upaya membangun pemahaman yang utuh terhadap nilai penting manuskrip sebagai sumber sejarah dan pengetahuan tradisional. Penerbitan buku ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Sejarah dan Permuseuman dan Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu melalui Museum Negeri Bengkulu.
Kehadiran buku ini diharapkan memperkaya historiografi Indonesia yang selama ini cenderung bertumpu pada arsip kolonial dan dokumen resmi beraksara latin. Manuskrip Ulu menghadirkan perspektif dari dalam komunitas yang mampu menyeimbangkan narasi sejarah menjadi lebih inklusif, selaras dengan semangat keberagaman ekspresi budaya. Selain itu, muatan pengetahuan tradisional didalamnya seperti pengelolaan lingkungan dan etika sosial menawarkan kearifan lokal yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini.
Tujuan utama publikasi ini adalah mendekatkan para pemangku kepentingan, akademisi, dan peneliti dengan sumber-sumber primer. Kami berharap data ini memicu kajian lanjutan, baik berupa transliterasi, kajian filologis, analisis sejarah, maupun pengembangan bahan ajar berbasis sumber lokal. Data ini juga diharapkan menjadi landasan bagi perumusan kebijakan dan perencanaan program pelindungan sejarah yang lebih tepat sasaran.
Kami menyadari bahwa buku ini masih memiliki keterbatasan, baik dari segi cakupan wilayah maupun jumlah manuskrip. Namun, kami berharap buku ini dapat menjadi fondasi awal yang kredibel bagi kebijakan pelindungan manuskrip secara berkelanjutan. Inventarisasi ini perlu terus diperbarui seiring dengan dinamika sosial dan perkembangan teknologi.
Akhir kata, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah daerah, tim inventarisasi, peneliti, pemilik manuskrip, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi. Semoga buku ini bermanfaat dalam memperkuat jati diri bangsa dan mendorong pemanfaatan sumber sejarah secara bertanggung jawab.
Desember 2025
Direktur Sejarah dan Permuseuman
Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional v
| Daftar Isi | Pengantar | iv | Daftar Isi | vi |
|---|---|---|---|---|
| Daftar Tabel | vii | |||
| Pembuka Bicara | 1 | 116 | ||
| Manuskrip A: 5625 | 26 | 128 | ||
| Manuskrip B: 07.50 (37A) | 48 | 142 | ||
| Manuskrip C: 3658 | 62 | 154 | ||
| Manuskrip D: F.128/NK/14 vi | 78 | Daftar Rujukan | 166 168 |
Manuskrip E: 3678
Manuskrip F: 3676
Manuskrip G: 3677
Manuskrip H: 3669
Penutup Bicara
Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
Daftar Tabel
Tabel 1. Varian Aksara Ulu Rejang 13
Tabel 2. Varian Aksara Ulu Serawai 14
Tabel 3. Varian Aksara Ulu Lembak 15
Tabel 4. Varian Aksara Ulu Pasemah 16
Tabel 5. Varian Aksara Ulu 17
Tabel 6. Bentuk dan Fungsi Sandangan Aksara Ulu 18
Tabel 1: Bentuk Huruf Manuskrip A, B, C, D, E, F, G, dan H 20
Tabel 2: Bentuk Sandangan Manuskrip A, B, C, D, E, F, G, dan H 22
Tabel 3: Penulisan Kata dalam Manuskrip A, B, C, D, E, F, G, dan H 23
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional vii
X
Pembuka Bicara Pembuka Bicara
Bagian ini dibuka dengan sebuah ajakan sederhana: mengajak pembaca menoleh sejenak ke dunia tulisan Ulu yang selama berabad-abad menjadi medium bagi masyarakat pedalaman Bengkulu untuk mencatat pengalaman, menjaga aturan adat, dan mewariskan pengetahuan. Buku ini tidak hanya memperkenalkan bentuk huruf dan ragam bahasanya, tetapi juga cara teks-teks itu hidup dalam ingatan sosial dan praktik sehari-hari masyarakat uluan. Karena itu, pengantar ini berfungsi sebagai ruang awal untuk memahami bagaimana prasasti dan naskah Ulu dipilih, dicatat ulang, dan disajikan kembali agar dapat diakses oleh pembaca masa kini. Di sini pembaca diperkenalkan pada alur penyusunan buku, prinsip pembacaan teks, serta konteks budaya yang melatari kemunculan dan perkembangan tradisi tulis Ulu di Bengkulu. Dengan memulai dari pemahaman umum ini, diharapkan perjalanan pembaca menelusuri halaman-halaman berikutnya menjadi lebih jernih dan terarah.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Tata Sajian Buku
Buku ini disusun untuk membuka kembali pemahaman atas tradisi tulis Ulu, baik yang diwujudkan dalam bentuk prasasti maupun naskah, yang hingga kini tersimpan dan dirawat oleh Museum Negeri Bengkulu. Kedua jenis sumber ini merepresentasikan dua ranah pengetahuan yang berkembang berdampingan dalam kehidupan masyarakat pedalaman Sumatra bagian selatan. Prasasti memperlihatkan cara sebuah komunitas menegaskan batas wilayah, menetapkan aturan, menandai sebuah peristiwa penting, dan membingkai hubungan kekuasaan serta identitas kolektif. Sebaliknya, naskah merekam pengetahuan yang bersifat lebih cair dan intim, mencakup praktik pengobatan, adat istiadat, ajaran moral, pengetahuan ekologis, hingga doa-doa perlindungan yang mengiringi ritme hidup masyarakat uluan. Jika prasasti berbicara tentang ketegasan otoritas, maka naskah berbicara tentang dinamika keseharian. Keduanya, bila dibaca bersama, memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai cara masyarakat uluan membangun dan mewariskan sistem pengetahuan mereka.
Agar pembaca dapat memahami kekayaan tersebut dengan lebih terarah, buku ini menyusun setiap prasasti dan naskah melalui struktur penyajian yang runtut dan saling melengkapi. Pada bagian awal, pembaca diperkenalkan pada deskripsi fisik masing-masing teks. Informasi mengenai bahan tulis—apakah batu, logam, bambu, kulit kayu, atau kertas—membantu mengungkap teknologi penulisan yang digunakan oleh komunitas masa lalu. Penjelasan mengenai teknik pemahatan atau penulisan, kondisi pelestarian, serta ciri-ciri paleografis memberikan landasan untuk menelusuri perjalanan teks, baik dari sisi usia, ruang produksi, maupun tradisi tulis yang melingkupinya. Deskripsi fisik ini tidak sekadar menyajikan data teknis, tetapi juga membuka cara pandang baru mengenai hubungan antara medium dan makna, antara bentuk dan fungsi, antara materi dan kepentingan sosial yang terkandung dalam teks tersebut.
Setelah itu, alih aksara disajikan dengan mengikuti kaidah filologi dan epigrafi, dua disiplin ilmu yang memungkinkan pembaca mengamati teks dalam bentuk yang paling dekat dengan aslinya. Pada tahap ini, pembaca dapat merasakan bagaimana bentuk huruf, jarak antarbaris, atau pola pemahatan menyampaikan informasi yang tidak selalu tertangkap
Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
melalui terjemahan semata. Bagian ini menjadi jembatan yang mempertemukan pembaca modern dengan cara berpikir, cara menulis, dan cara merumuskan pesan yang digunakan oleh para pemahat dan penulis naskah ratusan tahun lalu.
Alih bahasa dan terjemahan kemudian disajikan untuk membuka lapisan makna yang tersimpan dalam teks. Terjemahan diberikan dengan mempertahankan sebanyak mungkin nuansa semantik dan gaya ungkap bahasa asli, sehingga pembaca dapat memahami inti pesan tanpa kehilangan aroma linguistik masa lampau. Pada tahap ini, teks tidak hanya dibaca sebagai rangkaian kalimat, tetapi sebagai ungkapan pengetahuan yang lahir dari pengalaman kolektif masyarakat. Melalui alih bahasa inilah pembaca dapat mengenali pola pemikiran, tata nilai, dan strategi masyarakat uluan dalam memahami tubuh, lingkungan hidup, hubungan sosial, serta relasi spiritual dengan kekuatan yang mereka yakini.
Pada bagian berikutnya, setiap teks ditempatkan dalam pembacaan kontekstual untuk memperlihatkan bagaimana ia bekerja dalam kehidupan masyarakat. Prasasti dijelaskan berdasarkan peran sosial-politiknya, misalnya sebagai penanda wilayah, legitimasi keputusan adat, atau pernyataan status komunitas. Sementara itu, naskah dipahami melalui keterikatannya dengan praktik harian, seperti teknik penyembuhan, tata cara ritual, pengaturan hubungan kekerabatan, serta panduan ekologis yang menuntun manusia menjaga keseimbangan dengan hutan, sungai, dan ruang sakral. Pendekatan kontekstual ini membantu pembaca melihat bahwa teks bukan sekadar artefak yang mengendap, melainkan bagian dari jaringan pengetahuan yang hidup dan dijalankan oleh komunitasnya.
Penyajian gambar atau foto teks, transliterasi, terjemahan, dan analisis singkat disusun secara berdampingan agar pembaca dapat membaca teks secara utuh dari sisi visual, linguistik, dan konseptual. Penggabungan berbagai bentuk penyajian ini memberikan peluang bagi pembaca untuk melakukan pembacaan mendalam berdasarkan minat masing- masing. Seorang peneliti epigrafi dapat menelaah bentuk aksara dan metode pemahatan. Seorang peneliti sejarah budaya dapat menelusuri konteks sosial yang melahirkan teks tersebut. Sementara pembaca umum atau masyarakat adat dapat mengenali kembali jejak pengetahuan yang mungkin masih hidup dalam tradisi mereka hingga kini.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Melalui tata sajian yang terstruktur, terbuka, dan mudah diikuti ini, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai undangan untuk kembali membaca dan menafsirkan tradisi tulis Ulu dengan cara yang lebih reflektif. Setiap teks memperlihatkan bagaimana masyarakat uluan mengatur ruang hidup, memahami lingkungan, merawat tubuh, dan menjaga hubungan dengan leluhur serta dunia gaib. Dengan menyajikan teks-teks tersebut secara utuh, buku ini berupaya memperkuat fondasi penelitian mengenai pengetahuan tradisional Bengkulu sekaligus menghidupkan kembali ingatan budaya yang selama ini tersembunyi dalam kerapuhan fisik prasasti dan naskah warisan para leluhur.
Dari Hulu ke Hilir Sungai: Jejak Sejarah Aksara Ulu Bengkulu
Aksara merupakan salah satu pintu penting untuk memahami bagaimana manusia merumuskan diri dan dunianya. Tradisi tulis lahir dari kebutuhan untuk merekam pengalaman, mengatur kehidupan sosial, menjaga ingatan kolektif, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Di Nusantara, jejak paling awal tradisi tulis mulai tampak sejak abad ke–5 Masehi melalui prasasti yūpa di Muara Kaman, Kalimantan Timur, yang memperlihatkan bagaimana tulisan digunakan untuk mengabadikan peristiwa keagamaan dan legitimasi politik (Poeponegoro & Notosusanto, 2010). Sejak saat itu, aksara berkembang tidak hanya sebagai perangkat kekuasaan, tetapi juga sebagai medium penyebaran pengetahuan, ajaran moral, dan memori komunal.
Sejarah literasi Nusantara menunjukkan bahwa dua tradisi tulis berkembang berdampingan selama berabad-abad, yakni prasasti dan manuskrip. Keduanya memainkan peran penting dalam merekam pengalaman kolektif masyarakat, tetapi berbeda dari segi bentuk, fungsi, dan cara penyimpanannya. Prasasti dipahatkan pada media keras—batu, logam, tufa, tanah liat yang dibakar, bahkan tanduk atau bambu—dan digunakan untuk mencatat keputusan politik, penetapan batas wilayah, atau pemberian hak tertentu. Sifatnya resmi, mengikat, dan berkaitan langsung dengan otoritas yang mengeluarkannya.
Sebaliknya, manuskrip ditulis pada media lunak seperti kulit kayu, lontar, daluang, atau kertas. Karena mudah disalin dan disesuaikan, manuskrip menggambarkan dinamika pemikiran yang hidup dalam suatu komunitas dari waktu ke waktu.
Kajian terhadap sumber-sumber tertulis dalam penelitian sejarah dan arkeologi pun selalu bermula dari dua jenis tradisi ini. Prasasti dipahami sebagai teks formal yang dirumuskan dalam bentuk baku dan diabadikan pada media keras. Bakker (1972) menjelaskan bahwa prasasti memuat anugerah atau keputusan resmi, sementara Salomon (1998) dan Dymond (1974) menekankan sifatnya sebagai artefak bertulis yang dirancang untuk bertahan lama. Karena itu, prasasti tidak mengalami proses penyalinan ulang, melainkan dituliskan sekali pada saat peristiwa berlangsung. Penelitian Suarbhawa (2000) menunjukkan bahwa media prasasti sangat beragam, tidak sebatas batu seperti yang umum dibayangkan.
Isi prasasti pun luas. Wibowo (1992) mencatat bahwa prasasti dapat berisi penetapan hak dan kewajiban, urusan bangunan suci, pengaturan wilayah, atau peristiwa penting yang melatarbelakangi munculnya keputusan tersebut. Beberapa prasasti bahkan memuat catatan proses peradilan, pelunasan utang, penamaan tempat, penyebutan tokoh, atau mantra keagamaan (Andhifani, 2018). Walau umumnya dikeluarkan oleh raja atau pejabat tinggi, ada pula prasasti yang berasal dari pemuka agama atau pihak lain yang memiliki otoritas administratif.
Berbeda dari prasasti, manuskrip atau naskah adalah dokumen yang ditulis tangan, bukan dicetak (Andhifani, 2010). Sebelum teknologi percetakan berkembang, seluruh naskah harus diperbanyak secara manual. Manuskrip hadir dalam berbagai bentuk dan bahan—lontar, nipah, dluwang, gulungan, atau buku kertas—dan menjadi wadah bagi gagasan, kisah perjalanan, catatan keagamaan, hingga karya sastra yang merefleksikan pemikiran masyarakat. Tantangan utama dalam penelitian naskah kuno adalah bahasa dan aksaranya yang tidak selalu mudah dipahami. Meski demikian, pelestarian naskah penting dilakukan karena naskah merupakan bagian dari warisan intelektual bangsa (Andhifani, 2011).
Perbedaan karakter keduanya terlihat jelas ketika diperlakukan sebagai sumber sejarah. Prasasti, karena bersifat resmi, berbahan keras, dan tidak mengalami penyalinan ulang, dianggap sebagai data primer yang keotentisitasannya dapat
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
diverifikasi secara arkeologis. Naskah juga merupakan artefak, tetapi secara tekstual lebih dinamis: ia dapat disalin, disunting, dan ditafsirkan ulang oleh para penyalinnya. Keadaan ini membuat naskah sering diposisikan sebagai sumber pendukung, meski tetap memberikan perspektif penting yang tidak dicatat dalam prasasti—terutama yang berkaitan dengan kehidupan intelektual, pandangan personal, atau dinamika istana (Andhifani, 2018).
Prasasti dan manuskrip bukan sekadar dua bentuk tulisan yang berbeda, tetapi dua pola pengetahuan yang saling melengkapi. Prasasti menyimpan suara otoritas yang ingin menetapkan tatanan, sedangkan naskah memelihara ingatan, cerita, dan pemikiran yang tumbuh di masyarakat. Bersama-sama, keduanya membuka jendela yang lebih utuh tentang kehidupan sosial, politik, agama, dan budaya di Nusantara pada masa lalu.
Tradisi tulis Ulu berkembang di pedalaman Sumatra bagian selatan, menempati posisi unik dalam sejarah literasi Nusantara. Berbeda dengan sistem tulisan yang berkembang di pusat-pusat kerajaan besar, Aksara Ulu mengakar kuat di wilayah hulu sungai, jauh dari birokrasi pesisir. Dengan jaringan pemukiman pedalaman, pola hidup uluan, dan kosmologi masyarakat dataran tinggi, lingkungan geografis ini menjadikan hulu sungai sebagai pusat orientasi sosial dan budaya.
Secara historis, bentuk grafis Aksara Ulu dikaitkan dengan tradisi tulisan India Selatan yang tiba di Nusantara sejak awal tahun Masehi. Namun, pengaruh ini tidak terjadi secara langsung. Sederhana, diubah, dan disesuaikan dengan media tulis lokal seperti bambu, rotan, tanduk, batu, kulit kayu, dan daluang, huruf-huruf diciptakan di masyarakat pedalaman. Proses ini menghasilkan sistem tulisan yang efektif, fleksibel, dan sesuai dengan lingkungannya. Dalam hal ini, Aksara Ulu menunjukkan cara masyarakat Ulu mengolah, menata ulang, dan membuat gaya tulisannya sendiri. Selain itu, itu mencerminkan warisan grafis luar (Andhifani & Rahmadhona, 2021; Andhifani & Ali, 2021; Andhifani & Naishoichah, 2021; Andhifani, 2021).
Tradisi tulis Ulu selalu bersentuhan langsung dengan hutan, sungai, dan dataran tinggi karena penggunaan material lokal. Ditulis pada batu, ditoreh pada bambu dan rotan, ditulis pada tanduk kerbau, atau disalin pada kulit kayu dan daluang adalah semua jejak material yang menandai jarak antara sistem tulisan dan ruang hidup masyarakatnya.
Di beberapa tempat, sistem tulisan ini disebut dengan nama Ka-Ga-Nga, yang dipopulerkan oleh Jaspan (1964) berdasarkan tiga huruf awal dalam urutan aksara, pola penamaan yang mengingatkan pada Hanacaraka di Jawa. Namun, bagi banyak orang di pedalaman Sumatra bagian selatan, istilah yang lebih akrab adalah Aksara Ulu atau surat ulu, yang merujuk langsung pada wilayah uluan di mana tradisi literasi ini dimulai dan tersebar luas.
Melihat keseluruhan jejak ini, jelas bahwa Aksara Ulu bukan sekadar sistem grafis lokal, tetapi manifestasi dari cara masyarakat uluan memahami, menata, dan mengartikulasikan dunia mereka. Ia lahir dari pertemuan antara warisan tulisan India Selatan, praktik ekologis pedalaman, jaringan kekerabatan hulu sungai, serta kreativitas teknologis masyarakat adat dalam mengolah media alam di sekitar mereka. Tradisi ini menunjukkan bahwa pusat-pusat kreativitas literasi Nusantara tidak hanya berada di istana dan kota-kota pelabuhan, tetapi juga tumbuh kuat di ruang-ruang pedalaman yang selama ini kerap dianggap pinggiran. Dengan demikian, mempelajari Aksara Ulu berarti membuka kembali sebuah bab penting dalam sejarah intelektual Bengkulu dan Sumatra bagian selatan, sekaligus menegaskan bahwa pengetahuan lokal masyarakat hulu sungai memiliki posisi yang tak terpisahkan dalam mozaik kebudayaan literasi Indonesia.
Suara dari Hulu: Pengetahuan Tradisional dalam Teks Ulu
Pengetahuan tradisional dapat dipahami sebagai cara suatu komunitas membaca, menafsirkan, dan menata dunia berdasarkan pengalaman panjang hidup bersama lingkungannya. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan turun-temurun, tetapi sebuah sistem berpikir yang terbentuk melalui observasi ekologis yang teliti, dialog antargenerasi, pengalaman sosial yang berulang, serta nilai moral yang membentuk etika hidup sehari-hari. Dalam banyak masyarakat Nusantara, pengetahuan semacam ini lahir dari kedekatan dengan hutan, sungai, tanaman obat, hewan liar, cuaca, dan siklus musim. Pengetahuan tentang bintang, warna, arah angin, jenis kayu, atau tanda-tanda alam tidak berdiri terpisah, tetapi membentuk satu struktur pemahaman yang menyeluruh.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Dimensi hukum, identitas, dan spiritualitas juga menjadi bagian inti pengetahuan tradisional. Ia berfungsi sebagai peta budaya yang menentukan cara masyarakat melihat diri mereka sendiri dan menempatkan diri dalam dunia sosial maupun ekologis. Karena itu, banyak komunitas adat memandang pengetahuan tradisional sebagai warisan yang harus dijaga dari eksploitasi, distorsi, atau kehilangan konteks. Perlindungan atas pengetahuan tradisional bukan hanya menyangkut hak ekonomi, tetapi juga keberlanjutan bahasa, filosofi hidup, dan ingatan kolektif yang menopang eksistensi suatu komunitas (Hutabarat, 2015). Dalam perspektif antropologi, pengetahuan tradisional merupakan sistem epistemologis yang utuh— menggabungkan dimensi teknis, moral, ekologis, dan spiritual (Triwiyono & Adiwikarta, 2015).
Spektrum pengetahuan tradisional masyarakat uluan di Bengkulu memperlihatkan keluasan dan kedalaman sistem itu. Di ranah ekologis, terdapat pengetahuan meracik obat dari akar, daun, dan kulit kayu; teknik membaca musim; aturan ekologis tentang jenis pohon yang boleh ditebang; hingga daftar tanaman obat, bahan pewarna, kayu aromatik, racun alami, dan pangan liar. Relasi manusia dengan alam tampak jelas dalam praktik pengambilan madu sialang, yang mengatur pantangan adat, cara memilih pohon, dan etika memperlakukan lebah agar keseimbangan koloni tetap terjaga (Sarwono, 2020a). Pada ranah teknologi tradisional, masyarakat uluan mengembangkan teknik pembuatan rumah panggung, rakit, perahu, teknologi besi, dan gerabah, semuanya dibangun melalui observasi dan pengujian lintas generasi.
Dalam tataran sosial, pengetahuan tradisional tercermin dalam hukum adat yang mengatur relasi keluarga, mekanisme musyawarah, pola kepemimpinan, pernikahan, dan distribusi lahan. Nilai-nilai seperti kesantunan, kehormatan, dan gotong royong hadir dalam tradisi lisan berupa rejung, pantun, petuah adat, dan nyanyian ritual. Bahkan ajaran Islam—seperti akhlak, tauhid, dan fikih—tidak disebarkan melalui teks keagamaan formal, melainkan melalui tradisi betadut, tembang adat, dan bacaan ritual yang membuat ajaran tersebut menyatu dengan pengalaman hidup sehari-hari (Sarwono, dkk., 2024).
Dalam konteks inilah tradisi tulis Ulu memiliki kedudukan yang sangat penting. Manuskrip dan prasasti Ulu bukan sekadar benda budaya, tetapi arsitektur pengetahuan. Teks-teks ini memuat pemahaman masyarakat uluan tentang tubuh, kesehatan, ruang hidup, hubungan sosial, teknik penyembuhan, dan cara menghadapi risiko ekologis maupun kekuatan
gaib. Manuskrip pengobatan koleksi Museum Negeri Bengkulu, misalnya, menunjukkan pola penulisan yang sistematis: nama penyakit, gejala, bahan obat, cara meracik, teknik penyembuhan, dan syarat ritual sebelum dan sesudah terapi (Refisrul et al., 2020). Tradisi merejung mencatat bagaimana bahasa digunakan untuk menjaga kehormatan, mengatur relasi gender, dan memelihara keseimbangan adat (Sarwono, 2017). Dengan demikian, setiap teks Ulu berfungsi sebagai wahana untuk mengajarkan, mengingatkan, dan meneguhkan etika hidup.
Survei arkeologis dan filologis menunjukkan bahwa Bengkulu merupakan pusat persebaran tradisi tulis Ulu yang paling kaya di Sumatra bagian selatan. Dari 217 naskah dan prasasti Ulu yang ditemukan, 170 di antaranya berasal dari Bengkulu (Andhifani, 2013; 2014; 2015; 2016). Naskah-naskah tersebut ditulis bukan oleh juru tulis istana, tetapi oleh pesirah, dukun, pemuka agama, atau anggota komunitas lain yang mendokumentasikan pengalaman dan praktik hidup mereka sendiri. Sarwono, Rahayu, dan Purwadi (2017) menyebutnya sebagai participant knowledge—pengetahuan yang disusun oleh orang- orang yang terlibat langsung dalam praktik adat dan kehidupan sosial yang mereka dokumentasikan.
Pada titik ini, semakin jelas bahwa tradisi tulis Ulu adalah cerminan dari keseluruhan ekosistem pengetahuan masyarakat pedalaman. Ia menyimpan logika berpikir tentang tubuh, alam, risiko, moralitas, dan spiritualitas yang menjadi fondasi kehidupan komunitas uluan. Hilangnya satu manuskrip berarti hilangnya satu dunia pengetahuan. Itulah sebabnya pelestarian naskah Ulu menjadi tugas mendesak. Museum Negeri Bengkulu memegang peran penting sebagai pusat penyimpanan dan inventarisasi manuskrip, namun banyak naskah masih rapuh, belum terdokumentasi, atau belum terbaca sepenuhnya (Andhifani, 2015). Pelestarian harus melampaui penyelamatan fisik: yang lebih penting adalah merawat pengetahuan yang dikandung teks-teks tersebut.
Upaya revitalisasi aksara Ulu memerlukan sinergi antara riset filologis, arkeologis, dan antropologis; dokumentasi digital; pemanfaatan teknologi pelestarian; serta keterlibatan komunitas sebagai pewaris sah tradisi. Bengkulu, dengan konsentrasi manuskrip terbesar dan jaringan pengetahuan adat yang masih hidup, memiliki potensi besar untuk menjadi
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
pusat kebangkitan literasi Ulu. Menghidupkan kembali aksara Ulu bukan semata menjaga bentuk huruf, tetapi memelihara cara berpikir, cara berelasi dengan alam, dan cara memaknai kehidupan yang pernah menopang masyarakat pedalaman selama berabad-abad.
Pada akhirnya, mempelajari manuskrip dan prasasti Ulu berarti memasuki sebuah sistem pengetahuan yang matang dan koheren. Teks-teks itu bukan hanya mencatat realitas, tetapi membentuk cara hidup: bagaimana manusia merawat tubuh, menjaga tatanan sosial, mengelola lingkungan, dan bernegosiasi dengan dunia spiritual. Tradisi tulis Ulu membuktikan bahwa masyarakat Bengkulu dan pedalaman Sumatra bagian selatan adalah produsen pengetahuan yang kreatif dan mandiri. Sistem pengetahuan itu layak dirawat bukan hanya sebagai bagian dari masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi bagi pendidikan, pelestarian budaya, dan refleksi ekologis pada masa kini.
Aksara yang Berbunyi: Bahasa yang Terdengar
Aksara dan bahasa merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami cara masyarakat uluan menata pengetahuan dan menghayati kehidupan sehari-hari. Aksara menjadi bentuk visual dari pikiran, sedangkan bahasa menjadi medium makna yang mengalir di balik setiap goresannya. Dalam tradisi Ulu, keduanya berkembang secara bersamaan dan saling menguatkan: aksara merekam pesan, bahasa menghidupkan pesan itu melalui struktur tutur, pilihan kata, dan gaya ungkap yang khas.
Aksara Ulu tumbuh dari proses panjang penyesuaian terhadap lingkungan pedalaman. Bentuk hurufnya dirancang agar dapat ditoreh pada bambu, kulit kayu, rotan, tanduk, dan batu. Kepraktisan bentuk ini menunjukkan bahwa penulisan dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, bukan oleh birokrasi istana. Aksara Ulu bukan hanya alat catat, tetapi sarana untuk menyusun tata hidup: menulis batas wilayah, merawat cerita leluhur, menyusun ramuan pengobatan, hingga menuliskan
doa-doa perlindungan. Karena itu, karakter aksara ini mencerminkan cara masyarakat membangun relasi dengan ruang ekologis dan struktur sosial mereka.
Bahasa yang digunakan dalam naskah dan prasasti Ulu merupakan bahasa lokal dari masing-masing komunitas, seperti Rejang, Serawai, Lembak, dan Pasemah. Bahasa-bahasa ini tidak memiliki standar baku seperti dalam sistem tulis kerajaan, sehingga setiap naskah memberi gambaran tentang variasi dialek, pilihan kata, dan struktur kalimat yang hidup pada masa itu. Banyak teks menunjukkan campuran antara kosakata lokal dan unsur keislaman yang masuk melalui jaringan ulama pedalaman. Hal ini memperlihatkan bahwa bahasa Ulu adalah cermin dari perjumpaan budaya—antara adat lokal, tradisi lisan, dan ajaran agama yang berkembang secara organik.
Pada manuskrip pengobatan, misalnya, bahasa Ulu digunakan dengan sangat fungsional. Nama penyakit, bagian tubuh, jenis tumbuhan, hingga tahapan meracik obat dijelaskan secara langsung tanpa ornamentasi. Namun pada teks ritual seperti doa, mantra, atau rejung, bahasa digunakan dengan gaya yang lebih metaforis, penuh perbandingan alam, dan ritme yang menandai nilai estetika dalam tradisi tutur. Sementara itu, prasasti Ulu menggunakan bahasa yang lebih ringkas dan tegas, mencerminkan fungsinya sebagai penetap aturan dan pengikat keputusan.
Kehadiran berbagai dialek dalam manuskrip dan prasasti Ulu juga memperlihatkan dinamika migrasi kecil, hubungan antar-komunitas, dan pertukaran pengetahuan antar-wilayah hulu sungai. Bahasa menjadi petunjuk tentang jaringan sosial masyarakat pedalaman, karena setiap teks tidak hanya menyimpan informasi isi, tetapi juga jejak identitas penulis, komunitas asal, serta orientasi budaya yang memengaruhi mereka.
Melalui aksara dan bahasa, kita dapat melihat bagaimana masyarakat uluan menyusun dunia mereka. Aksara memberi bentuk pada pikiran, sementara bahasa memberi ruh pada makna. Keduanya tidak hanya mencatat cara hidup masyarakat, tetapi juga memelihara kesinambungan pengetahuan dan memperkuat hubungan antara masa lalu dan masa kini. Dengan memahami aksara dan bahasa Ulu, kita dapat membaca lebih dari sekadar teks; kita sedang membaca cara masyarakat memandang tubuh, ruang hidup, hubungan sosial, dan spiritualitas mereka.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Dari Goresan ke Suara: Pedoman Membaca dan Mengalihaskarakan Teks Ulu
Pengalihaksaraan aksara Ulu ke huruf Latin dilakukan sebagai upaya membuka kembali akses pembaca masa kini terhadap naskah dan prasasti lama tanpa melepaskan jejak suara dan bentuk yang melekat pada tradisi tulisnya. Karena sebagian besar masyarakat sudah tidak akrab dengan aksara Ulu, alih aksara berfungsi sebagai penghubung: ia tidak mengubah bahasa ataupun susunan kalimat, melainkan memindahkan bentuk tulis ke sistem huruf yang lebih dikenali sambil tetap menjaga karakter fonetis penulis aslinya. Dalam buku ini, proses tersebut mengikuti ciri fonologis bahasa-bahasa Ulu— Rejang, Serawai, Lembak, dan Pasemah—yang memiliki pola bunyi khas dan sering tidak membedakan beberapa fonem tertentu. Huruf Latin digunakan secara konsisten untuk mewakili tiap aksara, sedangkan diakritik ditambahkan ketika diperlukan untuk mencatat bunyi vokal, konsonan, atau nasal yang tidak dapat dituliskan dengan alfabet biasa. Pendekatan ini membantu pembaca mendekati kembali pelafalan yang hidup dalam tradisi tutur masyarakat uluan.
Dengan cara tersebut, pengalihaksaraan tidak lagi sekadar pekerjaan teknis, tetapi menjadi proses menghadirkan kembali suara teks yang pernah nyaris hilang. Setiap keputusan transkripsi diarahkan untuk mempertahankan hubungan organik antara bentuk goresan, artikulasi bunyi, dan makna yang dikandungnya. Di dalam sistem aksara Ulu sendiri, sandangan memainkan peran penting. Ia mengisi celah fonetis yang tidak dapat ditampung aksara dasar—mulai dari penanda vokal, penanda sengau, hingga tanda akhir konsonan—dan masing-masing sandangan memberi nuansa bunyi yang membedakan satu suku kata dari yang lain. Ragam bentuk sandangan antarwilayah bukan hanya hasil kreativitas grafis, tetapi mencerminkan dinamika bahasa dan kebutuhan penuturnya dalam menandai perbedaan bunyi yang halus dalam penggunaan sehari-hari.
Dengan memahami bagaimana variasi dan sandangan bekerja, pembaca dapat melihat sistem aksara Ulu sebagai struktur yang hidup dan saling terkait, bukan sekadar deretan tanda grafis. Uraian ini menjadi landasan untuk melihat tabel pada bagian berikut yang memperinci varian, sandangan serta bentuk dan fungsinya, sehingga gambaran tentang kekayaan
sistem tulisan Ulu dapat terlihat lebih jelas dan konkret. Tabel di bawah ini menampilkan variasi aksara Rejang (23 grafem), Serawai (28 grafem), Lembak (24 grafem), dan Pasemah (28 grafem), serta bentuk dan fungsi sandangan yang digunakan secara umum di Bengkulu dan wilayah budaya sekitarnya. Informasi ini memberi gambaran jelas tentang keragaman grafem dan sistem penanda vokal yang membentuk tradisi tulis kawasan tersebut.
Tabel 1. Varian Aksara Ulu Rejang (Sumber: Sarwono, dkk., 2025)
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
| ya | w |
|---|---|
| ha | n |
| mba | N |
| nda | W atau M |
Tabel 2. Varian Aksara Ulu Serawai (Sumber: Sarwono, dkk., 2025)
| Ka | 1 | ||
|---|---|---|---|
| Ga | 1 | & | |
| ~ | Ha | V | |
| Ta | P | A | 5 |
| Da | A | ||
| Na | M | DNV | |
| Pa Ma Ja | V F m | 5 IN 心 | |
| Sa | atau | 七1 | |
| Ra | atau A |
Tabel 3. Varian Aksara Ulu Lembak (Sumber: Sarwono, dkk., 2025)
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
| ga | 1 |
|---|---|
| nga N atau M | |
| ta da M | atau atau/ |
| na | M |
| V | |
| ba | X |
Tabel 4. Varian Aksara Ulu Pasemah (Sumber: Sarwono, dkk., 2025)
| Ka | 川 |
|---|---|
| Ga | ^ |
| Nga Ta | M.M |
| u | |
| Na | M |
| Pa | V |
| Ba Ma Ca | 1 |
| Ja | M |
| Nya | M |
| La | N |
|---|---|
| ~ | |
| Ha | 1 |
| Mba Nda | " |
| n | |
| A | N |
| Nta | Ox |
| Nca | Ss |
| M | |
| Gha | ≈ |
| Mpa | V |
Tabel 5. Varian Aksara Ulu (Sumber: Sarwono;2020b)
Jilid2: PengetahuanTradisional 17
ka ga nga ta da na ca ja nya pa ba ma 38 ra la ya wa ha mba nda nja ngga a gha ngka nca nta mpa
Variasi bentuk huruf Jenis Huruf AM2 1
NMPNN
AAP MAA人6B M s5 # m V / WOEEXOre M1/6/%
Buh io
N11Y N wm PNNH n H MRE p Ir
FN5 PNW Buwah MnIWeAn ngimbang ES OAON A
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Tabel 6. Bentuk dan Fungsi Sandangan Aksara Ulu (Sumber: Sarwono;2020b)
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu
NamaBentuk dan Letak Fungsi Sandangan Variasinva mengubahhuruf
| Luan (t) | Fatau | atas kananatas kiri atau | menjadi bunyi -i |
|---|---|---|---|
| Bitan (w) | atas tengah | menjadi bunyi -u menjadi bunyi -é mengubah huruf | |
| Mico (0) Jinah (a) Ratau (-n) atauDuo di atas | atau A | bawah tengah menjadi bunyi -0atas tengah dan mengubah huruf atas tengah bawah kanan atas kanan atas kanan | atau -ê menjadi bunyi -amengubah huruf atau -ah mengubah huruf menjadi bunyi -n menjadi bunyi -ng |
| Junjung (-r) Taling (-2w) | atau F | atas kanan bawah kiri atas kanan | mengubah hurufmenjadi bunyi -r menjadi diftong-awmengubah huruf mengubah huruf menjadi diftong-ay |
| atau | |||
| atau | |||
| Bwnwhan | depan | mengubah huruf |
bawah kiri mengubahhuruf F Tiling (e) x 1 atau (é) x
A.
atau (-h)
Tulang (-ng) mengubah huruf 不 V F 第 T Tulwng (-ay) atau A1 A1 ataumenjadi konsonan atauatau (misal -k) atau atau
18 Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
Pengantar Suntingan Teks Pengetahuan Tradisional
Manuskrip-manuskrip yang bertopik pengetahuan tradisional yang disajikan dalam buku ini berjumlah 8 manuskrip. Kedelapan manuskrip adalah yang berikut.
(1) Yang bernomor 5625 atau 07.123 atau F.005/NK/14, manuskrip berbahan gelondong bambu mengenai pengobatan tradisional;
(2) Yang bernomor 3660 atau 07.50 atau F.069/NK/14, manuskrip berbahan gelondong bambu mengenai jampi atau mantra taan rutan atau mantra kebal,
(3) Yang bernomor 3658 atau 07.48 atau F.047/NK/14, manuskrip berbahan gelondong tentang adat yang disebut jenjang marga;
(4) Yang bernomor 3675 atau 07.65 atau F.128/NK/14, manuskrip berbahan tanduk kerbau tentang adat berladang;
(5) Yang bernomor 3678 atau 07.68 atau F.053/NK/14, manuskrip berbahan gelondong bambu tentang kisah adam;
(6) Yang bernomor 3676 atau 07.66 atau F.041/NK/14, manuskrip berbahan gelondong bambu tentang kisah adam;
(7) Yang bernomor 3677 atau 07.67 atau F.037/NK/14, manuskrip berbahan gelondong bambu tentang kisah adam, dan
(8) 3669 atau 07.59 atau F.026/NK/14, manuskrip berbahan gelondong bambu tentang kisah adam. Selanjutnya, untuk keperluan teknis, kedelapan manuskrip di atas secara berurutan disebut dengan manuskrip A, B, C, D, E, F, G, dan H.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Tabel 1: Bentuk Huruf Manuskrip A, B, C, D, E, F, G, dan H
Kedelapan manuskrip A, B, C, D, E, F, G, dan H bersesuaian dalam hal bentuk huruf dan bentuk sandangannya. Seperti dapat dicermati dari contoh-contoh berikut (Tabel
1), bentuk huruf dalam kedelapan manuskrip ini adalah varian yang sangat lazim dijumpai dalam manuskrip-manuskrip Serawai. Bentuk-bentuk dan /k/ adalah bentuk yang biasa muncul dalam manuskrip ulu Serawai. Demikian juga dengan bentuk-bentuk lainya, seperti /ng/, /t/, /r/, /nd/, /nj/, dan /ngk/ (lihat Sarwono, 2020a dan 2020c).
| A | B | C | D | E | F | G | H | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| k | 11 | 11 | 11 | 11 | 11 | 11 | ||
| g | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 |
| ng j | s M 1 | 2 s m P | 2 s m P | 2 β m 11 | s A m P | s A P | s /A m P | s m P |
| d | イ | M | M | M | M | M | M | M |
| M | M | M | M | M | M | M | M | |
| p | V | V | V | V | V | V | V | V |
| b | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 | 1 |
| m | X | x | x | r | x | X | X | x |
| s | ∥ | ∥ | ∥ | ∥ | ∥ | ∥ | ||
| r | 1 | 11 | 11 | 11 | 1 | 11 | 1 | |
| N | N | N | N | N | N | N | N | |
| w | 0 | 8 | 6 | 0 | ||||
| y | w | w | w | w | w | w | ||
| h | n | n | n | N | n | N | n | n |
| mb nd | N | 七 | N 七 | N | N | N 七 | N | N |
| nj | IN | IN | IN A | IN A | IN A | IN | I | I |
| a nc | N n | N nI | N n1 | N | N nI | N | N | N nI |
| nt | V | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | |
| mp | 山 心 | 山 心 | 山 心 | 山 | 山 | 山 心 | v |
Dalam hal bentuk sandangan pun (Tabel 2), kedelapan manuskrip ini memperlihatkan kesamaan, yakni bentuk-bentuk sandangan yang menunjukkan karakteristik menuskrip ulu Serawai. Dalam tradisi tulis ulu Serawai, sandangan tiling untuk menyatakan bunyi /è/ taling), mico (untuk menyatakan bunyi /e/ pepet atau /o/), junjung (untuk menyatakan bunyi –r pada akhir kata), tulung (untuk menyatakan bunyi diftong –ay pada akhir kata), dan taling (untuk menyatakan bunyi diftong –aw pada akhir kata) tidak lazim digunakan (lihat Sarwono, 2020a dan 2020b). Untuk menyatakan bunyi-bunyi –r dan diftong –ay atau -aw, dalam manuskrip-manuskrip ulu Serawai lazim dinyatakan dengan huruf /r/, /y/, dan /w/ diikuti bunuhan pada akhir kata yang bersangkutan. libagh mantaw jeghangaw mpay keniday Selanjutnya, huruf yang diberi sandangan jinah dieja sebagai /a/, sedangan huruf yang tidak diberi sandangan jinah dapat dibaca sebagai bunyi /e/ pepet atau bunyi /o/ khususnya pada akhir kata. ***a**dam* *aa*dam *ancur* be*tangas belum, bandingkan dengan kata-kata yang berikut. tangasso ayiko kato tigo
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Tabel 2: Bentuk Sandangan Manuskrip A, B, C, D, E, F, G, dan H
| A | E E | D | E | G F H | |
|---|---|---|---|---|---|
| Luwan (-i) | 11 | 11 A1 | 111 | 11 | 11 11 11 |
| Bitan (-u) | 11 | A1 A1 | A1 | A1 | 11 11 A1 |
| Jinah (-a/-h) | A, | A A, | A | A | A. A, A, |
| Tiling (-è) | --- | --- --- | --- | --- | --- --- --- |
| Mico (-e atau -o) | --- | --- --- | --- | --- | --- --- --- |
| Ratau (-n) | 不 | 省 省 | 名 | 省 | 省 省 省 |
| Tulang (-ng) | í | 11 i | 1 | i | 11 í i |
| Junjung (-r) | --- | --- --- | --- | --- --- --- | |
| Tulung (-ay) | --- | --- --- | --- | --- | --- --- --- |
| Taling (-aw) | --- | --- --- | --- | --- --- --- | |
| bunuhan | 一 1 | 一 | 1 1 1 |
Tabel 3: Penulisan Kata dalam Manuskrip A, B, C, D, E, F, G, dan H
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Demikianlah, manuskrip-manuskrip A, B, C, D, E, F, G, dan H memperlihatkan kesesuaian baik dalam bentuk huruf, bentuk sandangan, serta penulisan kata yang mengindikasikan bahwa kedelapan manuskrip tersebut berasal dari wilayah bahasa yang sama dan dari tradisi yang sama, yaitu Serawai. Meskipun catatan Museum Negeri Bengkulu atas manuskrip-manuskrip itu ada yang tidak berasal dari wilayah Serawai, namun bukti mengenai bentuk-bentuk huruf dan sandangan serta penulisan tidak bisa dipungkiri. Dalam faktanya, manuskrip mengalami perpindahan (lihat Sarwono, 2020b). Fakta ini juga berlaku bagi manuskrip-manuskrip ulu koleksi Museum Negeri Bengkulu. Selama periode tahun 1990 sampai dengan tahun 2000, Museum Negeri Bengkulu giat mengumpulkan manuskrip dan benda budaya lainnya dari berbagai desa di Provinsi Bengkulu. Namun, proses penginventarisan dan pengidentifikasian manuskrip ulu dan benda-benda budaya itu kurang cermat, sehingga terdapat sejumlah kekeliruan dalam hal menetapkan asal manuskrip dan benda budaya itu (Sarwono dan Astuti, 2007). Manuskrip ulu bernomor 07.59 (manuskrip H) berdasarkan catatan dalam daftar inventaris Museum dinyatakan dari Bengkulu Utara dan diperoleh Museum pada 10 April 1994. Bukti-bukti internal manuskrip menunjukkan bahwa manuskrip termasuk ke dalam kelompok manuskrip Serawai di Seluma atau Bengkulu Selatan.
Deskripsi Manuskrip Deskripsi Manuskrip dan Suntingan Teks dan Suntingan Teks
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Manuskrip Manuskrip
Manuskrip ini bernomor 5625 atau 07. 123 atau F.005/NK/14. Manuskrip ini diterima Museum Negeri Bengkulu pada 8 Agustus 1993, berasal dari Bengkulu Selatan (nama desa tidak tersebut). Kondisi naskah utuh, tulisan agak kecil tetapi terbaca. Manuskrip berupa dua ruas gelondong bambu berukuran panjang 100 Cm dan garis tengah 5,5 Cm; ruas pertama terdiri dari 44 baris dan ruas kedua terdiri dari 21 baris. Teks diawali dengan kalimat Ini tangas, yang menunjukkan isi dan judul teks, yakni tentang
5625
pengobatan. Uraian dalam teks meliputi diikuti uraian tentang berbagai jenis penyakit dengan ciri-cirinya, bahan atau ramuan
07.123
obat-obatan, cara meramu bahan, serta cara pengobatannya. Ini tangas panu daun kukak kandis jarunjungngan nga kukak kayu
F.005/NK/1
pedas ngambiko di …..
Teks pengobatan dalam manuskrip ini berisi bermacam penyakit dan herbal untuk obatnya. Misalnya penyakit panu, obatnya kulit gambir dan kulit kayu manis dan cara pengobatannya ditangas (diuapi rebusan air kulit gambir dan kulit kayu manis; atau mandi rebusan herbal dimaksud). Berbagai penyakit lainnya adalah ntaluy dan perabula (belum diketahui nama lain dari penyakit ini). Umumnya pengobatannya melalu tangas. Adapun tumbuhan obat yang digunakan seperti keniday, pelepah niur, daun pisang mas, kulit durian, akar tetupay, di samping bermacam daru kering (kelagha), seperti kelagha pedas, kelagha kunyit, kelagha sekambang, kelagha capo, kelagha tenga abang tenga kuning, kelagha pinang.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 1
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 28
Suntingan Teks
Ini tangas panu. Dawun kukak gambir jerunjungan nga kukak kayu pedas. Ngambiko adu unggan kening mangkatan petang ma pangan ntu tat dulunyo titi. Ditangaska. Ntaluy kuning canungannyo kuning tata turun. Tangaso keniday cereminan. Betangas di kata batangasa pa-
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 1
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 30
gi duwo pagi di uma. Pengayiko ayik beghas peghao kuncit keniday tula; ayik
beghas ntan.
Ntaluy pucat canungannyo pucat tatarasan sampay ka kuku. Tangaso
rasalit kayu kunyit nga pelepa niyugh kuning. Peghao pengarang lidiyo
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 1
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 32
tula nga runcing dawun pisang mas tuju.
Ntaluy sumpang canungannyo beghasi undut buntut.
Tangas saghumput nyaghang rumpang, gerigik rumpang, tangga ayam rumpang,
mangko salas saribu, kulit deghiyan tamaguwan nga kukak ketarasan di a
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 1
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 34
Faksimile
EvulNT
A心 11
34Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
ntalang di kanan mudik ayiko diyulak pulang tula. Ntaluy kalingawan badu. Tangaso dawun semampat nga kulito tula. Peghao kulit palay nga anak udang tuju. Ntaluy ngadi canungannyo kuku ngancal baci inak ghudap. Tangaso kulit balik angin nga kulit kambir. Ntaluy maghukal tangaso akagh tetupay nga dawun jeghangaw
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 1
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 36
batu. Rukuno maka satap. Ntaluy ganu. Tangaso akagh sekambung bulan, akagh lighik bulan, kulit kayu bulan. Canungannyo nyembab nido malunjay. Ntaluy sangan. Tangaso akagh teghung pipit puti, akagh teghung puyu. Peghao jatang lalata malintangngi ngati aghi. Canungannyo puti banyak minyak.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 2
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 38
Perajo ngimbang saratanga beghasi canungannyo itam di baling telinga ataw lubang. Tangasnyo rambu benang abang ataw itam nga dawun belimbing jugu tigo gengam. Perabula cicin itam di jaghi. Sukumnyo timbuk tuju taghuk. Perabula baung
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 2
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 40
tinjak burung di pelipisan abang ataw itam. Sukumnyo tana simpang pado mpat. Pengayiko ayik di dalam ibus mbarukang. Perabula tanjang ruponyo itam di belakang gating ataw abang malintang. Sukumo nga timbugh tuju. Perabula tampung paaw
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 2
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 42
belarik di kening. Peghao tampung bunga di tenga
laman. Perabula lapus ruponyo dipandang
luk antu api. Peghanyo kekanji mpat macam.
Perabula timbangngan ruponyo bagaghang luk
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 2
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 44
timbangngan. Sukumnyo lida timbangan pegha talinyo tula.
Perabula gunting sarupo gunting di pagu alis ngin ruponyo ughat jaga
ning rupo beringin tula. Sukumo dawun beringin anyut beghasi
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Ruas 2
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 46
masigi lemangko. Tangas perampasan kelagha pedas, kelagha kunyit, kelagha
sekambang, kelagha capo, kelagha tenga abang tenga kuning, kelagha
pinang. Sukumnyo pucuk lalang tuju timbuk tuju lembung. Ngarap bubur di
laman kapagh.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Manuskrip Manuskrip
Manuskrip B bernomor MNB 07.50 (37A), berupa satu ruas gelondong
MNB 07.50 (37A)bambu berdiameter 7 cm dan panjang 60 cm. Berdasarkan daftar
inventaris Koleksi Museum Negeri Bengkulu, manuskrip ini diperoleh dari Desa Nanti Agung, Bengkulu Selatan, pada 15 September 1998. Kondisi manuskrip masih utuh, tulisan terbaca dengan jelas. Judul teks tertulis di antara tanda kurung ( ),.
Sesuai judul dan isinya, manuskrip ini berisi ucap atau jampi atau mantra kebal dan diberi nama taan rutan, artinya tahan atau kebal terhadap pukulan benda keras atau tikaman benda tajam. Kalimat- kalimat jangan engkaw memasang aku, kalu engkaw memasang aku, engkaw kuancur nyadi banyu, engkaw kusaliya nyadi minyak, luk umbut jatuwa ka batu, luwak minyak jatuwa ka ayik, menunjukkan jika seseorang hendak melukainya maka si pelaku akan hancur, seperti air dan akan diubah menjadi minyak, seperti umbut yang jatuh ke batu. Juga kalimat- kalimat bis kecul min luput terjanjang sipat mahamat, kato ala menunjukkan bahwa seseorang yang mengamalkan mantra ini akan kebal (kecul) atau luput dari serangan senjata tajam berkat sifat Muhammad dan berkat perlindungan Allah.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
Taan rutan.
Aku tawu asal mula manjadi rutan.
Tapak ruma manika ala. Jangan engkaw memasang aku. Kalu engkaw memasang
aku, engkaw kuancur nyadi banyu, engkaw kusaliya nyadi minyak. Luk umbut jatuwa
ka batu, luwak minyak jatuwa ka ayik.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
Tas bata, u malikat ranjadanda. U, malikat rajadandu. Alingi aku kaba pukul.
U, bawak sandang manulang. U, bawak sandang manulang. Jangatku putiya tiyado
bargulung gulung, kato ala.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
Pul pak pul. kelapo niyugh. Bali dituja kacul, ditikam ndiak keno. Ngalincir
liwak gudu badanku, hak gudu kato ala. Kisik kisiak kasak kasak damonyo rutan.
Engkaw tumbuwa dibayang ala. Akula sejati ala.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
Jangan engkaw memarang aku, Kalu engkaw memarang aku, engkaw kuancur
nyadi banyu e-ngkaw kusaliya nyadi minyak. Luaq umbut jatuwa ke batu. Tas
batu batu di luwar batu di dalam batu karangka tiga puluwa tiga.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
Kato ala. Paliyas patus sagasagat namanyo kilat, sagalugur namanyo gurwa,
bis kecul min luput terjanjang sipat / mahamat, kato ala. Ucap bajalan mangko
nido kusatan sampay di muko lawang di injan keting sebela kanan mangko disatap
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
ingkang ingkang gambir melayang keting kijang keting suwanano. Kato bing gurung giring nyambati tematang ruway, ruway tangkas aku seperti kilat kuwat, aku seperti angin kato ala. Pantangannya amo laki naan dusun ditiralka nido buliya ke belakang
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Manuskrip Manuskrip
Manuskrip C bernomor 3658 atau 07.48 atau F.047/NK/14 disimpan di storage Museum Negeri Bengkulu. Manuskrip diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19. Tempat perolehan manuskrip ialah desa Tanjung Terdana, Bengkulu Utara (Sekarang Bengkulu Tengah) pada tanggal 11 Juli 1998. Berdasarkan daftar inventaris koleksi museum, manuskrip memiliki nomor inventarisasi dengan warna merah bernomor 07.48. Manuskrip dalam kondisi utuh, baik,
3658
dan terawat. Tulisan masih terbaca dengan jelas. Ukuran panjang manuskrip ialah 52,5 cm, diameter 7,1 cm, berat 0,43 Kg, tebal 0,8
07.48
cm. Ukuran panjang teks ialah 47,5 cm. Karena terbuat dari 1 ruas bambu, maka manuskrip memiliki 1 halaman. Manuskrip beraksara
F.047/NK/14
Ulu. Jumlah baris sebanyak 19 baris.
Manuskrip berjudul jenjang marga tertulis di antara tanda kurung. Teks dalam manuskrip terdiri dari empat topik. Pertama, mengenai jenjang marga. Bahwa marga dikepalai oleh besirah dan bahwa besirah memiliki pengawal yang disebut aling- aling. Di bawah besirah adalah jabatan depati yang memimpin dusun. Kedua, tentang struktur dusun yang lazimnya memiliki tanah lapang yang disebut laman libagh dan terletak di tengah-tengahnya. Di laman libagh ada langgar, bangunan panggung semi permanen berukuran 2X3 M tempat menyimpan pusaka desa. Laman libagh digunakan sebagai tempat kegiatan ritus tahunan dan tempat diselenggarakannya berbagai kesenian, seperti pencak silat, tari adat, tari kerambit, tari pedang. Ketiga, tentang caro-caro adat kulo menerangkan jenis-jenis adat dalam pernikahan seperti jujur dan tambik anak. Dalam pernikahan jujur, perempuan ikut keluarga suami, disebut juga dengan istilah jual lepas. Dalam tambik anak, sebaliknya, laki-laki ikut keluarga perempuan. Dalam permikahan semendo kedua belah pihak punya pilihan untuk tinggal di keluarga perempuan, laki-laki, atau memilih tinggal di lain tempat. Keempat, tentang ngulang ghunut, suatu ritus pasca pernikahan, yakni pengantin mengunjungi keluarga mertua dari salah satu pihak (perempuan atau laki-laki), tergantung jari jenis pernikahannya, jujur atau tambik anak. Kunjungan pengantin ke rumah mertua dengan disertai membawa rerubo, oleh-oleh. Dalam ritus ini, kedua pengantin akan diperkenalkan dengan kerabat dari mertuanya (cf. Sarwono, 2020a).
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 64
Marga dikepaloyi besira. Besira pakay aling-aling atau upas. Kalu besira bejalan, aling-aling bejalan pulo. Bawa besira depati. Mangku tiyap-tiyap dusun dikepaloyi depati. Bawa depati perawa[tin]. Tiyap dusun ado tampi pakay kemit u duwo saghi semalam.
Tiyap dusun ditanam jeghangaw dusun. Gunoyo bada jemo beseranyo nantangi kelamo. Di tenga-tenga dusun ado sepasiyal tenga laman libagh bada nenari kalu
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 66
A.11
115.tw1-1
6
66Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
anak gadis bemanda ataw bimbang. Di tenga-tenga dusun ado langgar. Gunoyo bada nyimpan pesako puyang.
Tiyap tawun pesako itu dipujo serentaw nga mujo makam puyang, nyemeliya kambing mukak keseniyan tari adat, pencak silat, tari pedang, tari kerambit. Tiyap dusun kalu ja[u]wa
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 68
=5上61x0W6
1LXX60E
68Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
nga batang ari besak mandiyannyo pancugh pawuak. Amo dusun bimbang tiyap buwa ghuma masang damagh gantung kerjo nga pemerinta dalam tawun setawun. Kemit saghi semalam. Tigo bulan sekali kali marga. Tujuwa aghi kali satat (?). Tujuwa aghi kali marga bada kerjo nga besira tujuwa aghi,
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 70
2=ANMNXAENENGAMRVN
A M
人个的
70Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
nulung depati tujuwa aghi.
Caro-caro adat kulo.
Kalu kulo tambi anak lengit sesindiak barato lanang turut tino disumpa
dijaloyi lekap di ghuma tino. Kalu kulo semendo bada di mano suko
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 72
Namonyo kulo belapiyak sepuluwa riyal ataw duwa puluwa riyal.Kalu kulo bejujugh damonyo juwal lepas setoyo delapan puluwa riyal bekeghis sebila besiwar sebila. Namonyo siwar pengighis limaw semiru. Udim santuak kuma berayak beghulang ghunut
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 74
nlopbal
华
Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu 74
bebujang begadis matak bekalan bajik. Lanang tu matak penyamban nga mentuwo lanang kayin bughuak nga mentuwo tino selindang. Bekalan bajik tapagh nga pamili jemo ditumpak. Sapu nyo dapat bekalan bajik itu mentuwo makan galo.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 76
Sikat jemo mantaw makan situ tandoyo pamili jemo ghuma itu
karuwani nga pengantin.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Manuskrip Manuskrip
Prasasti Tanduk F.128/NK/14 adalah koleksi Museum Negeri Bengkulu. Koleksi ini didapatkan dengan cara ganti rugi dari pemilik. Prasasti Tanduk F.128/NK/14 ini masuk ke museum pada tanggal 15 Oktober 1998 dan berasal dari Desa Pahlawan, Curup, Kabupaten Rejang Lebong. Namun demikian, dalam katalog milik Museum Negeri Bengkulu ini, tidak terdapat informasi nama pemilik manuskrip. Manuskrip tanduk ditulis pada tanduk kerbau dengan panjang 41 cm dan diameter 10 cm
F.128/NK/14
dengan bentuk meruncing dan melengkung.
Kondisi manuskrip cukup utuh, namun beberapa bagian pada tanduk sudah aus dan sulit terbaca. Berdasarkan hasil observasi, menunjukkan terdapat total 18 baris tulisan di Prasasti Tanduk. Tulisan pada prasasti ini mengikuti bentuk tanduk yang meruncing ke samping dan melengkung dengan panjang baris terpanjang 40 cm yang ditulis dari bagian kiri prasasti atau bagian yang lebar, ke bagian paling runcing tanduk. Prasasti Tanduk
F.128/NK/14 sebenarnya memiliki kondisi cukup baik, namun tulisan sedikit tipis sehingga masih dapat dibaca meskipun sulit. Bagian kiri tanduk baik sisi depan, bawah, belakang, maupun atas dari tanduk sudah aus dan memiliki kerutan. Banyak bagian yang benar-benar tidak bisa dibaca lagi atau tidak diketahui lagi apakah terdapat tulisan di sana ataupun tidak.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Sala(nyo) kesasal(nya) pada ramalaya asak ulak ladido
mulak asak bu la nga
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
_ _ mu lu asak tula lam ya da ra nya gasa(ra) asak ramat lum
alamnyo disarak
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Ma _ ya apa aku la jenggalu rukunyo limawa salangu nya
mpa ngga lua_sa
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Pesuraa la Saro empakanyo a(rang) langlang a mpa sang
mba sajala kesalalanyo ba
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
u_ ngan saan lang pu_ a siyang aga saang tugalo ta bu ma ja
nyo tusala bi
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Ha a sa ung janggala sa nya (wang) arang jambu yang salang
(a) ha satu buju nya u sa
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Sealu selamat yak ala lagi pengasih lagi panyayang lagi
pama satu
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Sa ba ga nya yak ala selamatka su/rulu kasan aka ini su ya
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Bataa selasa nyu a si ru ngga mpa sanu ucang serabi aya
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
_ _ nya bi (ta) gi ra nang semparu mung lang sa li sang
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
_ _ _ di sa li/ngang nyabang salibasa ca sa lang ba
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
B22
Sejago pa tana (ri) _ sana kalu adoa
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Sebasola basaa saang nyo ba
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Ra sa ba ga la ra sa salang
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
La _ _ ya sa lajago saa
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
(Na)sa basa
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Sa _ _ nggasapa
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Gasa gasa la _nca
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Manuskrip Manuskrip
Manuskrip ini bernomor 3678 atau 07.68 atau F.053/NK/14. Manuskrip Eini berupa satu ruas gelondong bambu, dengan panjang 47 cm dan diameter 7 cm. Berdasarkan daftar inventaris koleksi Museum Negeri Bengkulu, manuskrip ini berasal dari Desa Muara Dua, Talo, Bengkulu Selatan, diperoleh Museum Negeri Bengkulu tanggal 14 Desember
- Kondisi naskah masih utuh. Tulisan terbaca dengan jelas. Manuskrip berisi teks tentang kisah Jabarail (Jibril) menempa Adam, sesuai dengan judul teksnya, Asal Mulo Jabarail Menampo Adam.
3678 07.68
F.053/NK/14
Kisah Jibril membuat Adam. Awalnya panjang sepuluh dan lebar sepuluh. Adam belum jadi. Demikianlah diulang terus sampai ukuranya panjang satu dan lebar satu, maka jadilah Adam. Tetapi adam belum beryawa. Jibril menghadap Yawala ya tuwan dan diberinya jibril nyawa agar digenggam dan jangan disuwapkan ke Adam sebelum sampai di tempat yang ditetapkan. Jibril penasaran, genggamannya dibuka, dan lepaslah isinya, sehingga adam tetap masih belum hidup. Kembali Jibril menghadap Yawala ya tuwan untuk diberikan lagi nyawa adam. Pesan Yawala ya tuwan adalah agar Jibril tidak membuka genggamannya sebelum tiba ditempat yang ditentukan. Jibril patuh. Ditempat yang ditentukan genggaman disuapkan je adam, maka adam bernyawa.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 118
L1
母三 I v1
'I 山 M
XNLIVNe
+1 1
118Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
Asal mulo jabarail menempo adam. Asalnyo tana. Muloyo panjang sepuluwa buko
sepuluwa. Adam ditempo nido nyadi. Panjang semilan buko semilan adam ditempo nido
nyadi. Panjang delapan buko delapan
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 120
adam ditempo nido nyadi. Panjang tujuwa buko tujuwa adam ditempo nido nyadi.
Panjang nam buko nam adam ditempo nido nyadi. Panjang limo buko limo adam ditempo
nido nyadi. Panjang mpat buko mpat
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 122
adam ditempo nido nyadi. Panjang tigo buko tigo adam ditempo nido nyadi. Panjang duwo buko duwo adam ditempo nido nyadi. Panjang sedepo buko se[depo] itu mangko nyadi adam. La nyadi nyo. Adam, anyo balum banyawo. Ngadap kapado yawala ya tuwan. La nyadi adam,
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 124
DAUTYAWFNWATNMAAA
124Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
anyo balum banyawo. Kato ya wala ya tuwan, genggam ini anyo jangan dibukak di jalan sampay ka la (nga?) suwapka di jalan. Berupuk, tuwapo isi genggaman aku ni, rupukan jabarail sambil bajalan. Bas dibukak genggaman, diinai nido gango isiyo. Digenggam lagi la sampay disuwapka ng
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 126
π+m1.11~ WA x1
126Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
adam nido kila banyawo. Ngadap ya wala ya tuwan. Kaba bukaka di jalan, kato ya wala. Inika la jangan lagi dibukak di jalan, kato ya wala ya tuwan. Bajalan nido dibukak sampay disuwap nga adam satu suwapka la banyawo. Adam anyo nido diyam.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Manuskrip Manuskrip
Manuskrip ini bernomor 3676 atau 07.66 atau F.041/NK/14. Manuskrip berupa satu ruas gelondong bambu panjang 45 CM garis tengah 7,8 Cm, 19 baris. Berasal dari Muara Dua B/S tanggal perolehan 4 Nopember 1998. Kondisi manuskrip utuh dan tulisan terbaca jelas. Manuskrip tidak berjudul, tetapi dari isinya dapat dipastikan tentang kisah kejadian Adam, dan kemungkinan merupakan lanjutan dari teks E.
3676 07.66
F.041/NK/14
Kisahnya, adam sudah bernyawa dan tidak mau diam, bahkan adam menangis (nyemulung). Dikisahkan, Jibril bingung bagaimana makanan adam. Dikisahkan bahwa untuk makan adam ya wla ya tuwan menciptakan aneka tumbuhan, seperti lepang, terung, prengi (sejenis labu), pedas atau kayu manis.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
Ngulang, ngadap ya wala ya tuwan. Hay ya wala ya tuwan, la banyawo adam, anyo
nido diyam, nyamulung pediyo batan makanannyo adam.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 132
万M个
VWA八元 NAWXNAXX
132Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
Ngulang ditapikka di talapak tangan kanan masiya jugo dikatoka ya wala ya
tuwan jangan dibukak di jalan. Sampay di tenga jalan dibukak sampa di suwapka
adam nido kila diyam adam maju(ja?),
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
kila nyamulung. Ngulang ngadap ya wala ya tuwan. Ya ala ya tuwan adam nido kila
diyam. Kato ya wala ya tuwan kaba bukak di jalan. Dibukak niyan kato jabarail. Na
kato ya wala ya tuwan jangan lagi dibukak
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
di jalan sampay ka la suwapka nga adam satu sampay disuwapka nga adam ita
diyam adam nyamulung. Kato ya wala ya tuwan kalu
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
ado sanggu mbuwa di tangan
kaba mbuko itu sayangi sayika diinaki niyan satumbuwa disayika banyak macama (wa?)
sa .. la tumbuwa di .. tu amo
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
diyo la babuwa(?) diyo lay jawangi nggagh peranggi batak lepang taghung parayakabis
sawa seghay pedas pado mangkuwar buwa abang buwa putiya teghung
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Manuskrip Manuskrip
Sementara itu manuskrip G bernomor 3677 atau MNB 07.67 atau F.037/NK/14 yaitu manuskrip F, merupakan naskah dengan kandungan cerita atau kisah penciptaan Adam. Ada 4 (empat) Manuskrip Ulu dengan kandungan yang sama atau sejenis (lihat penjelasan berikutnya). Manuskrip B berupa satu ruas gelondong bambu, panjang 52 cm diameter 8,5 cm. Manuskrip berasal dari Desa Muara Dua, Bengkulu Selatan, diperoleh Museum Negeri
3677
Bengkulu tanggal 4 Nopember 1998. Manuskrip masih bagus tetapi sudah dimakan rayap dan telah berlubang-lubang.
MNB 07.67 F.037/NK/14
Dikisahkan bahwa ketika itu bumi belum tercipta dan langit belum tercipta. Bumi masih setapak miring dan laut masih serentang benang, langit masih selebar payung. Yang ada hanya Allah. Kemudian Allah mencipta dunia, bumi, langit, laut. Etika alam telah tumbuh dan bumi telah ada, Allah menitahkan Jibril untuk membuat Adam.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 144
| 4 | 2 | L1 | 3 | +1 | 1 |
|---|---|---|---|---|---|
| 7 | 7 | ||||
| 1Y | X1 t1 | π | L4 |
NNATIMONIN心
2 V 云NLW=N
144Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
Jabarail nempo adam. Bumi belum langit lum ado. Bumi mpay setapak miring, lawut
mpay seghentang benang, langit mpay selibagh payung.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 146
Tampakla ala dengan tuwan. Kato ala sati la ala kato tuwan sati tuwan kato ala. Tila
kito simang sidi simang satinyo munila kaba. Aku nalakinyo muni tuwan di baling
bumi belakang langit.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 148
Ala nido begerak pincang itu kaba. Kato ala di baling bumi belakang langit.
Nnampakla, na kato tuwan nyamuni la kaba kuday. Ala besaliak njadi mbun
satitiyak titiyak di baling
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 150
talingo. La paya tuwan bedalak nido jugo dapat. Suwaroyo kedengaran, rupoyo
nido kepandangan/ Bekatola tuwan, kato tuwan nampakla sati. La kamu ni-
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 152
yan. Sangko di aku. Kato tuwan, nyadi. Alam la besak bumi la libagh. Balum
ado mandesiyo. Nyo la tughun malaikat jabarail. Kato ala, jabarail, kaba nempo
adam, kato ala ngatokanyo nga njabarail.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Manuskrip Manuskrip
Manuskrip ini bernomor 3669 atau MNB 07.59 atau F.026/NK/14 berupa satu ruas gelondong bambu berukuran panjang 50,5 cm dengan diameter 8,6 cm. Manuskrip terdiri dari 16 baris. Berdasarkan daftar inventaris koleksi Museum Negeri Bengkulu, manuskrip ini berasal dari Rawa Indah Bengkulu Utara dan diperoleh museum pada 10 Januari 1998. Kondisi manuskrip utuh
3669
dan tulisan terbaca jelas.
MNB 07.59 F.026/NK/14
Manuskrip ini berisi kisah Jibril menempa adam. Dapat dipastikan teks dalam manuskrip ini merupakan lanjutan dari teka G, seperti tampak dalam awal teksnya, sambungan jabarail menempo adam. Dikisahkan, adam berasal dari tanah, air, api, dan angin. Awalnya adam dibuat Jibril berukuran panjang sepuluh dan lebar sepuluh. Demikian seterusnya Adam baru tercipta sempurna ketika berukuran panjang satu dan lebar satu. Kisah selanjutnya mirip atau bersesuaian dengan teks E.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 156
a
L V —X 711 X
156Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
Sambungan bijabarail nempo adam. Adam beasal jakdi tana, ayik, api, angin. Panjang
sapuluwa buko sapuluwa, adam ditempo nido nyadi.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 158
NEIM
KNEMFRAMT
+1 x
158Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
Panjang samilan buko samilan, adam ditempo nido nyadi. Panjang dalapan
buko dalapan adam ditempo nido nyadi. Panjang tujuwa buko tujuwa adam
ditempo nido nyadi.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 160
上元分+1+1x1M1 N1M -M4
160Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu
Panjang nam buko nam adam ditempo nido nyadi. Panjang panjang limo buko
limo adam ditempo nido nyadi. Panjang mpat buko mpat adam ditempo nido
nyadi. Panjang tigo buko tigo
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 162
adam ditempo nido nyadi. Panjang duwo buko duwo adam adam ditempo nido
nyadi. Panjang sedepo buko seto adam ditempo menjadi. La njadi adam tapi
belum benyawo. Jabara
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Faksimile Manuskrip
InventarisasiManuskripBeraksaraUlu 164
il datang kapado ya ala ya tuwan. La njadi adam tapi belum benyawo. Ditapiyakka ya ala ya tuwan ditapiyakka di talapak tangan jabarail. Anyo jangan dibukak di jalan. Datang nga jabarail dibukak di jalan sampay balum..
2020a. Terpelihara dalam Bambu 2020b. Collecting honey from siyalang tree 2020c Khazanah Manuskrip Ulu Bengkulu
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Penutup Bicara Penutup Bicara
Memahami tradisi tulis Ulu berarti memasuki cara pandang masyarakat uluan di wilayah Bengkulu yang dibentuk oleh pengalaman panjang hidup di pedalaman Sumatra bagian selatan. Teks-teks yang mereka tinggalkan—pahatan pada batu, torehan di bambu dan kulit kayu, sampai tulisan di rotan dan kertas—menunjukkan bahwa mereka memiliki cara berpikir yang matang meskipun hidup jauh dari pusat kekuasaan. Melalui tulisan itu, kita melihat bagaimana mereka menyusun aturan sosial, membaca tanda-tanda alam, membentuk etika hidup, dan mengatur relasi kekuasaan berdasarkan kondisi ekologis dan spiritual di sekeliling mereka. Setiap teks bukan hanya benda budaya, tetapi wujud dari cara mereka memahami tubuh, ruang hidup, dan identitas diri.
Ketika naskah dan prasasti Ulu dibaca kembali melalui transliterasi, terjemahan, dan penjelasan konteks, kita dapat menangkap cara berpikir yang selama ini jarang muncul dalam sejarah resmi. Isi teksnya tidak berhenti pada resep pengobatan atau batas wilayah, tetapi menunjukkan bagaimana sebuah komunitas menjaga keseimbangan alam, menghadapi penyakit, menyelesaikan konflik, dan membangun legitimasi sosial tanpa bergantung pada lembaga pemerintahan besar. Bentuk aksaranya yang menyesuaikan dengan bahan hutan memperlihatkan kecerdasan ekologis yang sering luput dari perhatian. Di sinilah kita melihat bahwa inovasi literasi juga tumbuh di pedalaman: masyarakat Bengkulu mengolah pengaruh dari luar, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan dan realitas mereka sendiri.
Pengetahuan yang tersimpan dalam prasasti dan naskah Ulu memiliki nilai penting yang jauh lebih besar daripada sekadar kenangan budaya. Teks-teks itu menyimpan informasi historis, ekologis, medis, dan sosial yang tidak kita temukan di arsip kolonial atau catatan istana. Memahami tradisi ini membantu kita membaca bagaimana masyarakat Bengkulu mengelola alam sebelum hadirnya pengetahuan ilmiah modern; bagaimana norma adat membentuk struktur sosial; serta bagaimana ajaran Islam menyatu dalam praktik sehari-hari. Tradisi Ulu memperlihatkan bahwa masyarakat
pedalaman memiliki kemandirian intelektual dan kemampuan merumuskan gagasannya sendiri, jauh dari bayangan bahwa pengetahuan hanya lahir di pusat-pusat kekuasaan.
Di tengah perubahan lingkungan dan sosial yang semakin cepat, hilangnya satu manuskrip berarti hilangnya satu cara memahami dunia yang tidak dapat digantikan. Karena itu, pelestarian prasasti dan naskah Ulu perlu dipandang sebagai upaya menjaga keberlanjutan pengetahuan lokal Bengkulu. Pelestarian tidak hanya menyelamatkan benda yang rapuh, tetapi juga menafsirkan kembali logika, nilai, dan cara berpikir yang terkandung di dalamnya. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat pedalaman adalah produsen gagasan dengan epistemologi yang tumbuh dari pengalaman hidup mereka sendiri. Mengakui hal ini berarti menempatkan Bengkulu kembali di posisi penting dalam sejarah literasi Nusantara.
Revitalisasi tradisi tulis Ulu membuka peluang bagi generasi sekarang untuk belajar bagaimana masyarakat uluan menghadapi perubahan alam, merawat kesehatan, membangun solidaritas, dan menjaga hubungan dengan kekuatan spiritual. Pengetahuan seperti ini tidak hanya penting bagi penelitian akademik, tetapi juga bagi pendidikan lokal, penguatan identitas budaya, serta perumusan kebijakan pelestarian warisan takbenda. Dengan mempelajarinya kembali, kita tidak hanya menghidupkan jejak sejarah, tetapi juga memperkaya cara kita memahami Indonesia— sebuah pengingat bahwa kebijaksanaan bisa tumbuh dari pedalaman, dari bambu yang ditoreh, dan dari kata-kata yang diwariskan turun-temurun.
Harapannya, buku ini dapat menjadi jembatan bagi siapa pun yang ingin memahami kembali kekayaan intelektual masyarakat uluan di wilayah Bengkulu. Dengan menyajikan prasasti dan naskah Ulu dalam bentuk transliterasi, terjemahan, dan penjelasan konteks, semoga tradisi ini dipandang sebagai sumber pengetahuan yang tetap relevan bagi masa kini. Semoga buku ini mendorong penelitian baru, memperkuat upaya pelestarian budaya, dan menumbuhkan ketertarikan generasi muda untuk mengenali tradisi literasi lokal sebagai bagian dari identitas mereka. Jika tradisi tulis Ulu terus diajarkan dan dirawat, maka pengetahuan yang dikandungnya tidak hanya menjadi artefak diam, tetapi hidup kembali sebagai inspirasi dan panduan bagi masa depan Bengkulu dan Indonesia.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Daftar Rujukan
Andhifani, Wahyu Rizky. (2013). “Survei Aksara dan Naskah Ka-Ga-Nga Provinsi Bengkulu. Studi Kasus: Koleksi Museum Negeri Provinsi Bengkulu”, Laporan Survei Arkeologi. Palembang: Balai Arkeologi Palembang (tidak dipublikasikan).
-------- (2014). “Survei Prasasti dan Naskah Ulu Kabupaten Lebong dan Rejang Lebong Provinsi Bengkulu”, Laporan Survei Arkeologi. Palembang: Balai Arkeologi Palembang (tidak dipublikasikan).
-------- (2015). “Survei Prasasti dan Naskah Ulu Kabupaten Kepahiang, Bengkulu Tengah, dan Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Palembang: Balai Arkeologi Palembang (tidak dipublikasikan).
-------- (2018). “Identitas Masyarakat Sumatera Selatan: Kajian Epigrafis atas Unsur-Unsur Keislaman pada Prasasti Ulu”, Disertasi. Palembang: Pascasarjana, Program Studi Peradaban Islam, UIN Raden Fatah Palembang (tidak dipublikasikan).
-------- (2021). “Data Description and Epigraphy of Tin Plate Inscriptions in the Southern Sumatra”, dalam Kapata Arkeologi. Ambon: Balai Arkeologi Maluku. Halaman 97-110.
Andhifani, Wahyu Rizky & Ali, Nor Huda (2021). “ Tradisi Islam dalam Prasasti dan Naskah Ulu di Wilayah Pasemah, Sumatera Selatan, Indonesia:, dalam Berkala Arkeologi, Volume 41, No.1 Mei. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Halaman 17-30.
Andhifani, Wahyu Rizky & Nasoichah, Churmatin (2021). “Naskah Kuno Kaghas 1 Suku Semidang: Sebuah Kajian Kritik Sumber”, dalam Amerta: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, Volume 39, No.1 Juni. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Halaman 65-80.
Andhifani, Wahyu Rizky & Ramadhona, Nuzulur (2021). “ Naskah Ulu Puyang Bang Mangu’: Sebuah Kajian Batas Wilayah”, dalam Jurnal Arkeologi Papua, Volume 13, No. 1 Juni. Jayapura: Balai Arkeologi Jayapura. Halaman 71-86.
Andhifani, Wahyu Rizky, Purwanti, Retno & Sarwono, Sarwit (2016). “Survei Prasasti dan Naskah Ulu Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Kaur, dan Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu Palembang: Balai Arkeologi Palembang (tidak dipublikasikan).
Friantary, Heny; Sarwono, Sarwit; dan Yulistio, Didi. (2025). “Functions and Values of Education in the Tunggu Betunggu Traditional Ceremony: Efforts to Preserve Local Wisdom of the Serawai Tribe in Bengkulu, Indonesia.” Journal of Pedagogy and Education Science (JPES), Volume 4, No. 3. Jakarta: JPES. Halaman 562–580.
Hutabarat, Sylvana Murni. (2015). “Perkembangan dan Perlindungan Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Ditinjau dari Perspektif Hak Kekayaan Intelektual”, dalam Jurnal Yuridis, Volume 2, Nomor 2, Desember. Halaman 202–219.
Jaspan, M.A. (1964). Fork Literature Of South Sumatra (Redjang Ka-ga-nga Texts). Canberra: Departmen of Anthropology and Sociology The Australian National University.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho (2010). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.
Refisrul, Sarwono, Sarwit, Hasanadi, dan Zubir, Zusneli (2020). Kekayaan Warisan Budaya dalam Naskah. Padang: balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat.
Sarwono, Sarwit (2014). “Betuturu Story and Social Practices of Marriage in Serawai Ethnic Groups of Bengkulu”, dalam Research on Humanities and Social Sciences, Volume 4, No. 18. Jakarta: IISTE Publishing. Halaman 125–133.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
-------- (2016). “Naskah Ulu MNB 07.55: Wacana dan Praktik Sosial Begadisan pada Kelompok Etnik Serawai Bengkulu”, dalam Simposium Internasional Ke-16 Pernaskahan Nusantara. 26-28 September, di Perpustakaan Nasional.
-------- (2020a). “Collecting Honey from Siyalang: Ecological Knowledge and Forest Ethics in Bengkulu.”Indonesia and the Malay World, Volume 48, No. 142. London: Routledge. Halaman 281–303.
-------- (2020b). Terpelihara dalam Bambu: Naskah, Teks, dan Pengetahuan Pernikahan Etnik Serawai. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.
-------- (2023). “Traditional Medical Knowledge in the Ulu Manuscripts of Bengkulu.” Research on Humanities and Social Sciences, Volume 13, No. 19. Jakarta: IISTE Publishing. Hhalaman 1–15.
Sarwono, Sarwit, Rahayu, Ngudining, dan Purwadi Agus Joko (2017). “Rekontekstualisasi Praktik Sosial Merejung dalam Naskah Ulu Pada Kelompok Etnik Serawai di Bengkulu”, dalam LITERA,Volume 16, No.2. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Halaman 295-308.
Sarwono, Sarwit; Rahayu, Ngudining; Ismail; dan Andriadi. (2024). “Traces of the Reproduction and Redistribution of Islamic Texts Through the Betadut among Besemah and Serawai People: Preliminary Remarks.” Journal of Literature, Languages and Linguistics, Volume 103. Nairobi: IISTE Publishing. Halaman 72–86.
Sarwono, Sarwit; Yulistio, Didi; dan Canhras, Amril (2019). “Naskah-Naskah Ulu-Islam pada Masyarakat di Provinsi Bengkulu”, dalam Mozaik Humaniora, Volume 19, No. 2. Bengkulu: Universitas Bengkulu. Halaman 229–242.
Sarwono, Sarwit; dan Rahayu, Ngudining (2023). “Traditional Medicine Knowledge in the ULU Manuscripts of Bengkulu”, dalam Research on Humanities and Social Sciences, Volume 13, No. 19. Jakarta: IISTE Publishing. Halaman 1–10.
Sarwono, Sarwit; Firmansyah; dan Syahputra, Een. (2025). Modul Menulis dan Membaca Aksara Ulu. Bengkulu: Balai Bahasa Provinsi Bengkulu.
Serasi, Reko; Sarwono, Sarwit; Yulistio, Didi; dan Murwantono, Didik. (2025). “Values Embedded in the Berasan Tradition of Rejang Ethnic Wedding Customs of Bengkulu”, EduLite: Journal of English Education, Literature, and Culture, Volume 10, No. 2. Semarang: Universitas Islam Sultan Agung. Halaman 693–707.
Triwiyono, dan Adiwikarta, Sindu. (2015). “Identifikasi Pengetahuan Tradisional Masyarakat Sentani dan Peluangnya untuk Pembelajaran Fisika”, dalam Jurnal Pendidikan Fisika dan Teknologi, Volume 1, Nomor 1. Halaman 77–80.
Wibowo, A.S. (1992). “Riwayat Penyelidikan Prasasti di Indonesia”, dalam 50 Tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Jakarta: Pusat Arkeologi Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
家
INVENTARISASI MANUSKRIP
BERAKSARA ULU
Jilid 2: Pengetahuan Tradisional
Sebagai salah satu warisan tulis tradisional Nusantara, Manuskrip Ulu tidak hanya memuat aspek kebahasaan dan linguistik, tetapi juga merekam beragam pengetahuan lokal yang mencerminkan sistem hukum adat, kepercayaan, kemampuan adaptasi, serta tradisi sastra masyarakat Uluan. Buku Inventarisasi Manuskrip Beraksara Ulu Jilid II yang bertema Pengetahuan Tradisional menyajikan delapan koleksi Manuskrip Ulu yang tersimpan di Museum Negeri Bengkulu sebagai objek kajian utama. Setiap manuskrip didokumentasikan secara visual melalui foto digital guna memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai kondisi fisik naskah, karakteristik aksara dan teks Ulu, proses alih aksara, aspek kebahasaan, serta informasi kontekstual yang terkandung di dalamnya. Melalui pendekatan inventarisasi dan digitalisasi yang sistematis, buku ini diharapkan tidak hanya berkontribusi pada upaya pelestarian manuskrip kuno, tetapi juga mampu menghidupkan kembali memori budaya masyarakat Uluan serta memperkuat kajian pengetahuan tradisional Bengkulu dalam ranah akademik dan memaksimalkan pemanfaatan pengetahuan tradisional dalam cakupan bidang keilmuan yang lebih luas.
ISBN 978-b34-7572-27-1 (no.ji1.lengkap) ISBN 978-634-7572-24-0 (no.ji1.lengkap) ISBN 978-634-7572-29-5 (ji1.2 PDF) ISBN 978-634-7572-26-4 (ji1.2)
9 9 572264 786347 572295 786347