Baca EPUB (OCR): Kami Memanggil!

11 halaman · teks EPUB berhasil diekstrak tanpa OCR· 32 ms

Daftar isi
  1. KAMI MEMANGGIL!
  2. MASYUMI
  3. DAFTAR ISI
  4. Landmarks
  5. KAMI BERSERU!!!
  6. KOMUNISME DI INDONESIA
  7. Komunis Menyelundup ke Indonesia
  8. Revolusi-Revolusian Komunis Banyak Pemuka Agama Korbannya
  9. Komunis Muncul dengan Dosanya: Memberontak
  10. Nasib Pemimpin-Pemimpin Komunis
  11. INILAH: KOMUNISME KUFUR!
  12. Fatwa Komunisme Kufur
  13. Merebut Kekuasaan: Tujuan Terakhir Komunis
  14. Usaha Menjerumuskan Ummat
  15. Tipuan untuk Kremlin
  16. Pentingnya Fatwa
  17. KOMUNIS PRAKTEKKAN
  18. Dari Revolusi Rusia 1917
  19. Perdendaman di Sana-Sini
  20. Usaha Menghancurkan Agama
  21. Perlawanan Golongan Islam
  22. IMPERIALISME KOMUNIS
  23. Dari Rusia Diatur Rencana
  24. Komunis Indonesia Mengacau dan Menjerumuskan
  25. Hanya Satu Tujuan: Kekuasaan untuk Rusia
  26. Siasat Perdamaian Dunia
  27. Nama “Rakyat” Dicoplok dan Istilah “Nasional”
  28. Negara jadi “Kapitalis”
  29. “Selamat Tinggal” Komunis
  30. Rusia Imperialis
  31. Pertentangan Islam dengan Komunis
  32. PANDANGAN KOMUNIS TERHADAP ISLAM
  33. Dikatakan karena Ekonomi
  34. Membawa Perbudakan
  35. Qur'an Dikelirukan
  36. Sunnah dan Sareat Disalah Mengertikan
  37. FATWA MAJLIS SYURA MASYUMI PUSAT TENTANG KOMUNISME
  38. UNCOPYRIGHT

KAMI MEMANGGIL!

MASYUMI


Logo Penerbit MasasilaM

KAMI MEMANGGIL!

MASYUMI

DEWAN PIMPINAN PARTAI MASYUMI

BAHAGIAN PENERANGAN

JAKARTA

1954


Transcriber

k-Jank

Editor

F. Indah, k-Jank

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].



KAMI BERSERU!!!

Kepada Saudara-Saudara Kami Umat Islam yang Memasuki Komunis!!

Dengan hati dan perasaan yang tenang, terlepas daripada marah dan benci, kami harapkan saudara-saudara kami kaum muslimin yang memasuki partai Komunis atau mengikuti golongannya, untuk membaca tulisan dan uraian ini selanjutnya.

Islam dan Komunisme adalah dua buah ajaran dan pedoman hidup yang berbeda dan berlawanan, dasar dan tujuannya. Keduanya bertentangan di dalam aqidah dan berbeda tujuan politiknya.

Islam berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Kekuasaan yang maha tinggi berada di dalam tangannya. Ia menjadikan langit dan bumi beserta seluruh alam. Tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi daripada kekuasaannya.

Tujuan hidup umat Islam ialah mengabdi kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sebagai Umat Islam mereka wajib menegakkan hukum dan ajaran Tuhan di seluruh sektor kehidupannya.

Komunisme ialah paham kebendaan yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Bagi mereka hanya benda yang dapat dibuktikan dengan pancaindera yang hina sajalah yang mereka akui.

Lenin gembong terbesar komunis di dunia, pernah menulis dalam suratnya antara lain: Orang yang memikirkan adanya Tuhan, ia telah meludahi mukanya sendiri dengan sangat. Dari perbedaan dasar ini dapatlah diambil kesimpulan, bahwa seorang Islam tidak mungkin menganut komunis dan tidak pula mungkin seorang komunis memeluk agama Islam karena keduanya bertentangan dengan setajam-tajamnya.

Ulama-ulama Islam telah memutuskan, bahwa orang Islam yang menganut paham komunisme itu, hukumnya menurut agama adalah sebagai berikut:

  1. Sesat hukumannya orang yang menganut paham komunisme jika mereka belum mengetahui dasar dan ajaran-ajaran Komunisme.
  2. Kafir hukumannya menganut paham komunisme jika telah mengetahui dasar dan ajaran hukum itu.

Oleh sebab itu kepada kaum muslimin yang memasuki partai komunis (PKI) atau mengikuti golongan komunis (SOBSI, BTI, GERWANI, GERWIS) kami berseru supaya mereka meninggalkan partai dan golongan itu dan kembali ke dalam Islam, kami mengharap supaya seruan kami ini tidak dirasakan oleh kaum Muslimin yang masih dalam lingkungan komunis sebagai serangan terhadap mereka. Seruan ini keluar dari hati Islam menuju hati orang Islam yang telah tersesat mengikuti kaum komunis. Mudah-mudahan hati Muslimin yang terpeleset masuk komunis itu, akan dapat menerima seruan ini dengan kembali kepada jalan yang benar, yaitu Islam.

Kami berharap saudara-saudara tidak akan berkeras hati, dengan membukakan mata dan menutup telinga mendengar seruan kebenaran kami ini. Jika saudara marah membaca ini, maka kami harapkan supaya saudara memenangkan perasaan, memikirkan keadaan hidup duniawi yang akan ada batasnya yaitu mati. Sanggupkah saudara memungkiri adanya dan berkuasanya Tuhan, sewaktu Malaikal Maut telah dekat mencabut nyawa saudara dari tubuh kasar saudara. Pikirkan dan kenangkanlah, tidak ada kekuasaan yang tidak runtuh, tidak ada makhluk bernyawa yang tidak menyerah kepada kekuasaan Tuhan, kalau ajal yang ditentukan Tuhan telah sampai.

Dari segi politik, Islam juga berbeda dengan komunis.

Tujuan hidup manusia menurut Islam ialah mengabdi kepada Tuhan. Oleh sebab itu mereka wajib berjuang mengejar kebahagiaan hidup duniawi di lapangan kemakmuran, menegakkan kebenaran hanya diharuskan takluk ke bawah kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. Buat mereka tidak penting blok Barat dan blok Timur, karena mereka mempunyai jalan hidup sendiri. Mereka berjuang dalam hidupnya sebagai manusia dan bangsa merdeka, untuk menegakkan keadilan Illahi di dunia ini.

Kaum komunis di Indonesia, berjuang membawa Indonesia ke bawah kekuasaan pengaruh komunis Russia yang berpusat di Moskow. Negara Komunis di dunia mengakui kekuasaan Moskow di atas negara mereka. Partai Komunis Indonesia telah menggambarkan cita-cita itu dengan baik sekali yaitu dengan mengangkat kepala negara Russia dan kepala negara RRT menjadi ketua-ketua kehormatan partainya.

Oleh sebab itu kami berseru lagi kepada Umat Islam yang memasuki Komunis supaya meninggalkan Komunis dan kembali ke dalam Islam. Pilihlah dengan mengabdi kepada Allah dengan hidup sebagai manusia dan bangsa yang merdeka. Tinggalkanlah jalan hidup komunis yang mengabdi kepada Moskow karena hal itu akan menjadikan saudara menjadi manusia budak dan bangsa yang terjajah oleh bangsa lain.

Pintu tobat masih terbuka.

Jakarta, 17 Agustus 1955

PIMPINAN PARTAI MASYUM BAHAGIAN PENERANGAN.


KOMUNISME DI INDONESIA

Majlis Syura Masyumi Pusat dengan tegas telah menfatwakan bahwa Komunisme itu kufur, karena komunisme adalah satu paham yang berdasar, berpangkal kepada meniadakan sama sekali adanya kepercayaan kepada Tuhan.

Komunisme Anti Tuhan! Ia telah berada di Indonesia sejak 35 tahun yang lalu, pada saat bangsa kita sedang memadu tenaga untuk menghadapi Imperialisme Belanda agar kita dapat bangkit sebagai suatu bangsa merdeka, dan pemimpin Islam sedang bergerak dalam berbagai lapangan perjuangan.

Komunis Menyelundup ke Indonesia

Seketika gerakan Kebangsaan N.I.P. dan gerakan massa Umat Islam-Sarekat Islam di bawah pimpinan Tjokroaminoto sedang sampai kepada puncak yang dapat dicapainya di waktu itu, pemerintah Kolonial telah merasa cemas akan terguling kekuasaannya. Dengan saluran gerakan Socialist, menyelinaplah Komunisme dari negeri Belanda ke Indonesia, dan sejak 1920 telah ada penganutnya di Indonesia.

Pemimpin-pemimpinnya menyelinap ke dalam Sarekat Islam, di sekeliling Tjokroaminoto telah berdiri Muso, Alimin, Semaun, Ali Archam dan lain-lain.

Ketika itu penjajahan sedang kuat cengkeraman kukunya, dan Islam baru saja bangun dan sadar akan dirinya di bawah pimpinan Tjokroaminoto. Maka pemimpin-pemimpin komunis memakai siasat tidak mencela Islam pada pokoknya, hanyalah menghantam pemimpin-pemimpin Islam yang berpengaruh dengan segala macam cacian, hinan, tuduhan dan fitnahan bohong. Surat-surat kabar komunis sebagai “Api” di Semarang, “Nyala” dan yang lain-lain menyerang Tjokroaminoto dengan berbagai ragam yang keji dan tengik. Bila dibaca surat-kabar komunis pada waktu itu terhadap diri Tjokroaminoto, seakan-akan Tjokro yang begitu populer selama ini, tidak lebih dari seorang penipu besar! Haji A. Salim tidak lebih dari seorang kaki-tangan Belanda! Persyerikatan Muhammadiyah yang dipimpin oleh Kiyai H. A. Dahlan tidak lebih dari perkumpulan “Serikat Hijau”, yang dibikin Belanda!

Ini diulang-ulangkan setiap hari, setiap masa, dalam rapat khususi dan dalam rapat umum. Kalau ada rapat Sarekat Islam, kaum komunis datang mengacaunya. Di sana mereka menuduh-nuduh dengan berbagai macam tuduhan.

Tetapi mereka mengetahui pula bahwa di Sumatera Barat dan di Banten dan di Aceh sangat kuat semangat ke-Islaman dan sangat benci kepada Belanda. Mereka pun masuk ke sana mempropagandakan komunis dengan jalan membangkitkan semangat perlawanan “revolusioneir Islam”. Memecahkan di antara Islam sama Islam. Bahwa Islamnya Tjokroaminoto cs. adalah Islam kapitalis, dan Islam Haji Misbach dan H. Dt. Batuah adalah Islam sejati.

Waktu-waktu itulah ayat-ayat Qur'an dan Hadist Nabi yang bersifat menentang kafir dijadikan alat buat propaganda komunis.

Waktu itulah berpuluh Kiyai dan santri di Banten masuk ke dalam jaring komunis. Demikian juga Persyerikatan Islam “Sumatera Thawalib” di Sumatera Barat. Guru-guru Thawalib, yang menentang gerakan itu, sebab telah membaca buku “Penolak Paham Dahriy” buah tangan Said Djamaluddin Afghany, dihantam pula sebagaimana menghantam Tjokroaminoto. Di Banten terkenallah Kiyai Tjaringin, yang sebetulnya bukan komunis, tetapi membantu santri-santrinya yang masuk komunis dengan dasar ayat Qur'an tadi.

Maka“gembiralah” gembong-gembong komunis itu melihat pekerjaannya berhasil. Musuh besarnya, yaitu Agama Islam yang percaya kepada Tuhan Yang Esa, dapat dijadikan kuda untuk mencapai maksudnya menimbulkan semangat revolusi. Pendeknya, kalau sekiranya mereka hanya mengharapkan pemogokan-pemogokan yang dihasutkan kepada kaum buruh, tidaklah akan begitu cepat komunis tersiar pada waktu itu di Indonesia.

Tetapi maksud mereka itu, yang diterima dengan gembira oleh setengah pemimpin komunis, telah disuruh pandang dengan teliti oleh pemimpinnya dengan memandang jauh. Kaum Islam dihasut, dengan memakai ayat Qur'an supaya berontak! Padahal kefanatikan agama itu, kalau tidak terkendalikan secara komunistis dengan sangat hati-hati, akan timbullah revolusi yang dikehendaki, tetapi sebelum masa yang ditentukan.

Revolusi-Revolusian Komunis Banyak Pemuka Agama Korbannya

Maka timbullah revolusi Jawa Barat di tahun 1926. Diiringi oleh Revolusi Sumatera Barat (Silungkang) di awal tahun 1927.

Dan semuanya ini telah diletakkan oleh pemerintah penjajah di atas meja. Sama sekali gerak gerik itu telah diketahui oleh pemerintah penjajah. Spionnya bukan sedikit yang menyelundup ke dalam gerakan P.K.I. dan Sarekat Rakyat.

Pemberontakan itu, yang diberi jiwa bersemangat oleh orang-orang Islam yang thaat, yang hendak memerahkan Indonesia, tetapi dengan memakai ucapan Allahu Akbar, telah dapat digagalkan. Palu godam yang keras dijatuhkanlah ke atas bahu komunis. Pemimpin-pemimpinnya banyak yang dapat melarikan diri ke luar negeri. Dan terbukalah pintu Digul!

Siapakah yang banyak terbuang ke Digul itu?

Bukan Semaun, bukan Alimin, Muso, Marce, Dar-sono, Tan Malaka, bukan?

Semua telah lari ke luar negeri. Pemimpin komunis sejati, yang betul-betul telah kafir, tidaklah berapa yang ke Digul! Yang banyak terbuang ke Digul ialah pemimpin-pemimpin Islam yang tertipu itu, yang memakai ayat Qur'an buat anti penjajahan, tetapi diperalat oleh Komunis.

H. Misbach! Haji Dt. Bantuah! Teuku Budjang, seorang bangsawan yang alim dari Aceh. Berpuluh Kiyai dan santri dari Banten. Berpuluh guru Thawalib dari Sumatera Barat Pakih Saleh, Haji Bahauddin, Mohammad Isa.

Mulai dalam tangsi Gelodok ketika akan dibuang ke Digul telah terjadi pertentangan-pertentangan yang hebat di antara orang Komunis sejati dengan orang Islam revolusioner yang “dijadikan komunis” itu. Bertengkar berkelahi, sebab orang-orang Islam dari seberang itu, ternyata masih Islam, ternyata masih sembahyang, padahal mereka telah komunis.

Dan permusuhan dan pertengkaran itu melanjut juga sampai ke Digul, sehingga walaupun Digul dijadikan buangan komunis, namun orang-orang Islam yang tertipu itu sempat juga mendirikan langgar sendiri dan surau sendiri.

Revolusi yang hendak mereka kendalikan itu gagal, sebab belum matang pada waktunya. Orang-orang yang tertipu lebih dahulu matang daripada perhitungan yang bermula. Seketika pemerintah Belanda mengadakan Komisi Penyelidik Sebab-sebab Pemberontakan itu, dalam lapuran komisi dinyatakan bahwa pemberontakan itu bukanlah pemberontakan Komunis. Dia adalah pemberontakan rakyat, karena tidak puas dengan peraturan-peraturan yang diadakan oleh pemerintah penjajah. Yang berontak sebahagian besar bukanlah komunis, bahkan tidak tahu sama sekali apakah komunis itu. Komisi menyatakan suatu keheranan, bahwa orang-orang Islam yang thaat dapat berontak dengan “palu arit”.

Dengan terlebih dahulu membiarkan caci makian komunis kepada pemimpin-pemimpin besar Islam, terutama puncak pemimpin ketika itu. Tjokroaminoto, dan kemudian membubarkan komunis dan menyediakan Digul tempat buangan mereka, maka pemerintah Belanda telah mempergunakan “seligi balik bertimbal”; tidak ujung pangkal mengena, bahkan keduanya mengena!

Komunis bubar, Sarekat Islam hancur, nama baik Tjokro telah rusak di mata rakyat. Sehingga usaha Al-marhum membangunkan semangat Islam kembali, adalah amat payah! Beliau memulai kembali kaji dari bawah. Menyusun Mu'tamar Alam Islam Hindi Siyrgiah (M.A.I.H.S.), berdua dengan Haji A. Salim. Menukar Sarekat Islam menjadi Partai Sasekat Islam. Berkali-kali dicobanya menyusun kembali, tetapi belum memuaskan.

Di tahun 1934 wafatlah penganjur besar Islam itu. Setelah komunis disapu bersih di tahun 1927 itu, maka di tahun 1928 dengan cepat-cepat Ir. Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia, dan digerakan pula perhimpunan Indonesia di negeri Belanda oleh Mohammad Hatta.

Selama giliran menggembeleng Indonesia terserah kepada paham nasional ini, gerakan-gerakan “Nasional Islam” bangkitlah kembali dengan pimpinan Haji A. Salim dan lain-lain. Dan di waktu itu komunis telah tidak terdengar suaranya lagi. Dia dicap gerakan yang terlarang. Sebab itu sejak tahun 1930 sampai zaman masuk Jepang di tahun 1942 tidak terdengar suara komunis lagi. Kecuali gerakan Pari di bawah tanah yang dikendalikan oleh Tan Malaka dari luar negeri.

Di zaman Jepang segala pergerakan dan partai politik dibubarkan. Pemimpin-pemimpin politik kemerdekaan terpaksa dan dipaksa kerjasama dengan Jepang.

Komunis Muncul dengan Dosanya: Memberontak

Tetapi setelah Jepang jatuh dan Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus, muncullah komunis kembali. Beberapa pemimpinnya yang ada di Digul diajak kerjasama oleh Van der Plas dan diangkut ke Australia. Mereka ini mendirikan Gerakan Sibar (Serikat Indonesia Baru). Beberapa pemimpinnya yang lain pulang kembali dari negeri Belanda, dan Alimin pun pulang.

Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis bersama dengan St. Sjahrir. Kian lama kian nyatalah bahwasanya Amir Sjarifuddin akan bersimpang jalan dengan St. Sjahrir, meskipun mereka sama-sama menciptakan Linggarjati. Gerakan Pemuda dicoba hendak men-sosialis-kannya, tetapi ala Komunis, oleh Amir Sjarifuddin, dia berusaha sehingga dapat memegang Menteri Pertahanan. Di samping tentara yang tersusun di bawah pimpinan Jenderal Islam Sudirman, Amir Sjarifuddin mendirikan “Dewan Perjuangan”, supaya kekuasaan Sudirman dapat dibatasi. Tetapi kemudian ternyata ada pertentangan hebat di antara dua komunis. Yaitu Komunis Sjarifuddin dengan Komunis Tan Malaka. Tan Malaka mendirikan “Front Perjuangan” pula, dengan maksud mengendalikan revolusi, dengan mengemukakan Triplex platform; yaitu Nasionalis, Socialisme dan Islam. Rupanya Tan Malaka hendak membuat semacam Komunisme ala Tito.

Sedang hebatnya perjuangan kemerdekaan itu, tiba-tiba muncullah Muso dari Moskow, diiringkan oleh Suripno. Langkah perjuangan komunis di Indonesia dikoreksi kembali. Persetujuan Linggarjati dan persetujuan Renville dinyatakan salahnya, tidak menuruti langkah ketentuan yang ditentukan oleh Moskow. Kabinet Amir Sjarifuddin jatuh, dan Mohammad Hatta memegang kendali pemerintahan revolusi. Setelah tidak duduk dalam pemerintahan lagi, Muso dan Amir Sjarifuddin mulai menyusun segala tenaga kiri dalam Front Demokrasi Rakyat (F.D.R.). Waktu itu pula Sjahrir dengan terang-terang menyatakan bahwa dia dan pengikutnya tidak dapat campur dalam front itu dan mereka melanjutkan sendiri Partai Sosialis Indonesia.

Hatta telah tahu gerak gerik yang dilakukan oleh F.D.R. sehingga pada Rapat K.N.I.P. di bulan September 1948 Hatta menyatakan bahwa Indonesia tidak mau menjadi obyect dari dua blok yang bertentangan. Dan segala aksi hendak menumbangkan Republik Indonesia akan dihadapi dengan tangan besi.

Waktu Hatta datang kembali ke Sumatera (Bukittinggi) hendak menyatakan program perjuangan yang beliau rancangkan setelah persetujuan Renville itu, berdasar kepada kejujuran rakyat di Sumatera, yang tidak tahu menahu bagaimana permainan orang di atas, Amir Sjarifuddin turut menumpang di kapal udara yang membawa Hatta itu. Pihak lawannya semua tahu akan siasat yang hendak diambil Amir ini. Sebab itu turut pula dalam kapal udara itu Sjahrir, Prawoto dari Masyumi dan Zainal Baharuddin dari Pesindo Aceh yang pada waktu itu tidak mau terikat ke dalam jaring F.D.R. sampai di Bukittinggi. Jika Hatta menghadapi pimpinan pemerintahan dan tentara, Sjarifuddin pergi menemui pengikut-pengikutnya di Bukittinggi dan Sjahrir pergi kepada partainya dan Prawoto pun pergi pula menemui partainya.

Kecepatan kedua pemimpin ini mengatur sikap dengan pengikutnya masing-masing, menyebabkan orang di sana telah waspada. Ketika diadakan Rapat Umum di Bukittinggi, maka selain Mohammad Hatta berbicara juga Amir Sjarifuddin dan Sjahrir. Tetapi semangat rapat yang tetap berdiri di belakang Hatta, menyebabkan Amir Sjarifuddin tidak dapat melakukan aksinya di muka umum. Itulah suatu pertemuan yang lucu. Kalangan terbatas melihat tiga figuur dari tiga paham berganti naik podium, dan kebanyakan masih menyangka bahwa pemimpin revolusi masih tetap bersatu.

Yang bicara lebih dahulu ialah Amir Sjarifuddin. Dia mencoba juga mengeluarkan agitasi. Kemudian berdiri Sjahrir. Dia menyatakan bahwa rakyat jujur dan patuh. Yang harus bersatu dan harus patuh kepada cita-cita sekarang ini bukan lagi rakyat, tetapi pemimpin-pemimpin yang diharapkan rakyat itu.

Setelah pemimpin-pemimpin itu kembali ke Jawa, keadaan bertambah hebat dan genting. Perundingan di antara Belanda dan Indonesia di Kaliurang nampaknya akan gagal. Sudah jelas bahwa Belanda akan menyerang Indonesia. Pada waktu itulah kaum Komunis, dengan F.D.R. di bawah Pimpinan Muso dan Amir Sjarifuddin memberontak di Madiun. Di waktu Republik Indonesia tengah terdesak itu, tepat sekali bagi mereka menikam dari belakang. Mereka mendirikan Republik Komunis dan dimulai dari Madiun. Selama revolusi, sampai perjuangan dengan Belanda belumlah pernah pertempuran sehebat itu.

Pemberontakan Komunis kepada pemerintah Republik Indonesia di Madiun ini tidaklah akan dapat dilupakan selama-lamanya oleh setiap umat yang berdarah Islam di Indonesia. Bagaimana jua pun, dia adalah catatan sejarah yang harus disampaikan dan dipesankan kepada anak cucu. Yang menjadi bulan-bulanan dan tumpuan serangan ialah Umat Islam. Kyai-kyai beratus banyaknya, santri beribu, nama Masyumi pada waktu itu adalah bukti yang tidak dapat disingkirkan lagi, buat menemui liang kubur. Kejam sekali penanggungan yang diderita oleh kaum Muslimin di Madiun. Berpuluh pemimpin Islam ternama, yang selama ini turut berjuang melaksanakan revolusi Indonesia disembelih lehernya, dimasukkan ke sumur, dicincang lumat, bahkan segala azab siksaan tidak dapat digambarkan lagi, karena sangat kejamnya.

Nasib Pemimpin-Pemimpin Komunis

Muso “Presiden Republik Komunis” yang istimewa dikirim Stalin dari Moskow, yang mendapat kegagalan kedua kali dalam mendirikan Negara Komunis di Indonesia, mati terbunuh! Amir Sjarifuddin, Suripno, Djokosujono dan kawan-kawannya yang lain tertangkap. Sebelum perkara mereka diadili, Belanda pun melancarkan serangannya yang kedua kali, yang amat dahsat itu. Beberapa sisa Komunis yang tidak terburu menangkapnya ada yang cepat-cepat menggabungkan diri dengan kaum Republikein turut bergerilya dan ada yang tinggal dalam ketentaraan.

Akan tetapi betapa jua, mereka adalah pemberontak dan pengkhianat bangsa yang tercatat dalam sejarah, dan perlu diadili.

Oleh sebab itu sempatlah mereka bernafas kembali, dan menyusun kekuatannya, mencari usaha merebut kedudukannya yang lama. Sampai suatu kali mereka berusaha supaya Amir Sjarifuddin cs. diakui sebagai “Pahlawan Nasional”. Dan mulailah diadakan kampanye membusukkan Hatta dan menghantam Masyumi.

Sampai sekarang tidaklah berhenti usaha itu. Yaitu pertama sekali menghancurkan kekuatan Umat Islam, terutama Masyumi yang tegak sebagai bolswerk (buluhan air, saluran lidah) dari perjuangan umat Islam. Tidaklah mereka berhenti berusaha di jurusan itu. Kadang-kadang pemimpinnya tidak dapat menahan hati lagi buat menyatakan pendirian yang sebenarnya terhadap kepada agama. Ada yang mulai menghina Nabi Muhammad, ada yang mulai mengejekkan Qur'an, ada yang mulai mengatakan bahwa Tuhan itu hanyalah bikin-bikinan manusia saja.


INILAH: KOMUNISME KUFUR!

Seluruh Filsafat dan Paham di dunia ini, bagaimanapun bercabang dan bersilang siur, hanya mempunyai semata-mata dua aliran. Pertama aliran “Spritualisme” (Kenyawaan); kedua aliran “Materialisme” kebendaan.

Dan Filsafat Marx, sumber dan pokok daripada Komunisme termasuklah kepada aliran filsafat yang kedua itu, filsafat Kebendaan.

Filsafat Kebendaan bukan saja tidak mengakui adanya Tuhan, bahkan segala perkara yang akan bersifat ruhaniaat dan gaib, sebagai nyawa, malaikat, surga dan neraka, hari akhirat dan sebagainya, ditolaklah semata-mata oleh filsafat Kebendaan.

Oleh karena yang demikian, niscaya kalau paham ini dipandang dari segi Keagamaan, tidak ada lain nama yang dapat diberikan kepadanya, lain daripada paham KUFUR. Kufur artinya ialah mengingkari adanya Tuhan. Tidak percaya adanya Tuhan. Kalau sekiranya seluruh Paham Filsafat Kebendaan materialisme sudah dapat dikatakan paham Kufur, maka bagi komunisme kekufuran itu lebih jelas lagi.

Fatwa Komunisme Kufur

Tidaklah syak lagi bahwa Komunisme adalah satu penjelmaan daripada tantangan kepada Tuhan dan tantangan kepada orang-orang yang masih percaya kepada Tuhan di dunia ini. Baik menilik kepada doctrine ajaranaya, atau kepada sikap laku yang dilangkahkannya, sangatlah mustahil, bahwa komunisme akan dapat baik dan damai dengan Islam. Atau umumnya dengan setiap Umat Yang masih percaya kepada Tuhan.

Inilah yang disebut di dalam hadist Nabi “Kufran buwahan”, kekufuran yang nyata-nyata. Sebab itu terhadap komunisme, selama di dalam jiwa orang masih ada Iman dan Islam, masih ada keagamaan, dan dia tahu apakah Islam itu, dan dia tahu apakah komunisme itu; tidak seorang pun yang akan berkata lain daripada bahwa Komunisme adalah satu paham yang KUFUR.

Maka tidaklah ada satu orang Islam pun yang akan dapat membantah Fatwa Majlis Syuro bahwasanya komunisme itu adalah kufur.

Setiap paham yang memungkiri adanya Tuhan, niscaya kufurlah paham itu. Dan Komunisme teranglah memungkiri Tuhan; Sebab itu teranglah kufurnya.

Di dalam menghadapi duduknya soal (obyect), sekali-kali tidak ada pengaruh benci dan sayang. Misalnya ada seorang Islam berkawan dengan seorang penganut paham komunis, bukanlah perkawanan itu dapat merobah hukum! Komunisme Kufur!

Komunisme adalah kufur:

Selama ini bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh Komunisme masihlah dapat diatasi. Taktik perjuangan yang mereka lakukan masih belum dipandang berbahaya benar. Satu kali mereka telah mencoba mengadakan pemberontakan Besar di Madiun. Di waktu itu beribu Umat yang berjuang dalam Islam, beratus Ulama yang menjadi guru pembimbing umat telah mereka bunuh, Itu pun dapat juga diatasi. Kita masih baik sangka, mungkin agaknya kaum komunis di Indonesia, karena besarnya pengaruh jiwa Islam dan masyarakat ke-Islaman selama ini, akan dapat menyaring Komunisme dan menyesuaikannya dengan masyarakat ke-Islaman di sini.

Barangkali mereka hanya hendak menerima “ujung” teori Marx, memperbaiki ekonomi, dan pangkalnya mereka tinggalkan, yaitu menolak kepercayaan kepada adanya Tuhan.

Tetapi kemudian bertambah nyatalah bahwa pengharapan itu adalah pengharapan yang salah. Komunisme bukanlah lagi semata-mata Ilmu yang dapat dibahas, sebagaimana juga Ilmu yang lain dan Filsafat yang lain.

Tetapi Komunisme bukanlah lagi semata-mata satu Ilmu, tetapi suatu paham yang dipaksakan, paham tak ber-Tuhan. Menerima Komunisme haruslah dalam keseluruhannya. Ilmu Komunisme musti dimulai dari Historia Materialisme, dan berdiri sebuah Negara, yaitu Russia yang memaksakan paham itu kepada dunia. Segala macam propaganda diadakan, slogan, lambang, propaganda, gembar-gembor, dipompakan terus, supaya seluruh manusia jangan percaya juga kepada Tuhan. Tuhan adalah omong kosong.

Merebut Kekuasaan: Tujuan Terakhir Komunis

Maksud terakhir dari kaum Komunis adalah merebut kekuasaan Negara. Kalau bukan itu yang dimaksudnya, bukanlah komunis namanya. Adalah tiga syarat mutlak yang menjadi dasar kekuasaan Komunisme; yang tiga inilah intinya kekuasaan mereka:

  1. Memikirkan segala sesuatu dengan cara dialektika.
  2. Menyuburkan pertentangan klas.
  3. Pemerintahan diktator.

Bagi mereka merebut kekuasaan dan mendirikan suatu pemerintahan diktator, yang meningkirkan sama sekali kepertiyiaan kepada Tuhan, adalah tujuan hidup keyakinan, kepertiyiaan. Dan kekuatan ini telah mereka susun menjadi kenyataan setelah mereka menang merebut kekuasaan Tsar di Rusia di tahun 1917. Tujuan yang terakhir adalah menangnya satu Klas saja yaitu klas buruh dan tani. Adapun klas selain buruh dan tani, klas-klas yang mereka namai burjuis feodal, termasuk pimpinan agama, klas kapitalis dan imperialist, haruslah musnah. Dan untuk pemusnahan itu, suatu revolusi Dunia, dari buruh dan tani, pasti terjadi. Komunisme adalah untuk mempercepat proses timbulnya Revolusi Dunia itu.

Dalam babak terakhir dari Negara yang mereka citakan itu, agama tidak ada, sebab ekonomi sudah baik. Sebab yang menimbulkan “agama-agamaan” itu ialah tekanan ekonomi belaka. Pemerintahan pun tidak ada lagi. Orang hidup dengan samarata-samarasa. Susunan nikah kawin, sebagai aturan agama pun telah terhapus dengan sendirinya.

Maka jika sekiranya Majlis Syuro Masyumi mengeluarkan Fatwa sesudah menilik dan menimbang, bahwa sanya Komunisme adalah KUFUR, itu adalah fatwa yang sudah sewajarnya.

Fatwa begini bukanlah semata-mata untuk mnyapai kemenangan diangka pendek di dalam menghadapi Pemilihan Umum, sebagaimana disangka oleh setengah orang.

Fatwa semacam ini adalah peringatan kepada Umat, yang timbul daripada rasa ghirah agama.

Agama Islam khususnya, bahkan segala agama yang ada di Indonesia umumnya, sekarang dalam bahaya besar!

Selama Iman masih ada dalam dada kita, selama kepercayaan kepada Tuhan, kepada Nabi-Nabi dan Kitab-Kitab suci masih ada dalam dada kita, selama itu pula diminta pertanggung jawab kita.

Tidaklah lekas-lekas orang yang masuk Komunis atau “tertarik” ke dalam komunis dikatakan bahwa mereka KAFIR! Sebab banyak yang belum tahu akan bahaya ini, karena tidak melihat hakikatnya yang sejati. Baru melihat bungkusan dari luar, padahal isinya adalah racun. Karenanya maka fatwa itu bertingkat-tingkat.

Maka Fatwa yang dikeluarkan oleh Ulama Majlis Syura Masyumi ini adalah satu Kewajiban. Dalam pandangan agama, mereka berdosa di hadapan Tuhan, di hadapan sejarah, di hadapan nasib dan hari kemudian Indonesia, kalau Fatwa ini tidak ditegaskan. Dan Fatwa ini barulah langkah pertama di dalam tindakan hal-hal yang selanjutnya.

Memberikan fatwa adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para Ulama di saat-saat yang perlu.

Di dalam menyusun suatu Fatwa ahli-ahli Fikir Islam membuat beberapa syarat yang terkenal ialah tiga syarat itu:

  1. Ilmul Hal
  2. Shidqul Maqal
  3. Tashihul I'tiqad

Erti yang pertama (‘Ilmul Hal), ialah mengetahui duduknya soal dengan seksama. Yang kedua ialah benar di dalam berkata-kata atau di dalam memperkatakan. Yang ketiga ialah mentashihkan kepercayaan, sehingga di dalam menjatuhkan hukum dapatlah dipertanggung jawabkan. Karena seorang ulama, apakah lagi satu musyawarat Ulama, di dalam memberikan pertimbangannya, sekali-kali, jangan terpengaruh oleh rasa benci atau sayang. Dan senantiasa ingat bahwa, dan bertanggung-jawab di hadapan umat, tetapi lebih dari itu bertanggung-jawab pula di hadapan Tuhan.

Dengan dasar ini kita mengetahui betapa umat kita diombang-ambingkan oleh mereka selama ini.

Sedang Umat Islam di Indonesia, masih banyak yang buta huruf. Buta huruf menyebabkan butanya di dalam hal-hal yang penting dalam hidup. Tetapi meskipun mereka buta huruf, mereka adalah baik hati. Segala maksud yang kelihatan baik, segala mulut manis untuk menyembunyikan maksud yang salah kerapkali mereka terima saja. Dan sifat propaganda kaum komunis di mana-mana memang demikian.

Usaha Menjerumuskan Ummat

Rakyat kita, yang sebahagian terbesar adalah memeluk agama Islam, selain dari buta huruf, mempunyai lagi penyakit masyarakat yang lain, yang menjadi akibat dari buta huruf itu, yaitu kemiskinan. Penjajahan 350 tahun, pendudukan Jepang, revolusi empat tahun, menyebabkan mereka sengsara, fakir, miskin, kehilangan segala-galanya. Maka kejahilan dan kemiskinan inilah tanah yang paling subur bagi kaum Komunis di dalam menanamkan benih propagandanya.

Propaganda itu pun mempunyai tingkat-tingkat yang sangat teratur (systematis). Mulanya tentu belum disinggung- singgung pokok ajaran mereka, yaitu Agama itu Candu. Tuhan itu hanya buatan manusia dan sebagainya. Lebih dahulu ditimbulkanlah rasa kesal mereka akan nasib mereka yang buruk. Ditimbulkanlah pertentangan klas dalam masyarakat yang tadinya aman damai. Siapa yang berpengaruh dalam kampung? Biasanya orang yang sedikit mampu, dan biasanya juga Kiyai yang disegani orang.

Mengapa engkau menjadi miskin begini? Siapa yang salah? Mengapa engkau tinggal dalam tempat kediaman yang begini buruk? Siapa memerasmu? Ialah orang yang kaya tadi.

Maka tidaklah hal yang ganjil, kalau di kampung timbullah kebencian kepada orang yang lebih mampu. Kalau dia bersawah barang satu hectare, dialah yang dicap “Kapitalis” dan “borjuis”.

Kalau di satu tempat agamanya ada kuat, dicarilah beberapa hukum agama yang terang menentang kemiskinian, terang menentang penindasan. Lalu dikatakan bahwa Komunisme itu cocok sekali dengan Islam. Sebab Komunisme adalah anti penjajahan dan Islam pun anti penjajahan. Islam anti kemiskinan, komunis pun anti kemiskinan. Begitu racun komunis!

Bukan saja rakyat biasa, bahkan ada pula pemimpin agama berkecil-kecil di kampung, yang hatinya amat lurus dan jujur. Beliau selama ini membaca buku-buku Tasauf, buku-buku Fikhi di dalam bahasa Arab. Beliau tidak mengerti huruf latyn dan lebih tidak mengerti bahasa asing. Sebab itu beliau tidak dapat membaca Komunisme itu sejak pokok pangkalnya. Maka lantaran pandainya orang Propaganda, belau pun “tertariklah” mengingat Islam pun anti penjajahan, anti penindasan.

Maka tidaklah kita heran, kalau sekiranya ada suatu kelompok kecil masyarakat, masih tha'at mengerjakan ‘ibadat, masih ramai orang bersembahyang berjamaah, masih kedengaran beduk buat membangunkan orang makan sahur bulan puasa, tetapi di sana Komunis.

Tetapi kalau ada pula Guru Agama berkecil-kecil di kampung itu, atau di dekat itu, yang lekas mengerti akan taktik yang hebat ini, lalu menantangnya, maka ditanamkanlah hasutan kepada yang lain. Guru Agama itu adalah “burjuis”. Memungut kekayaan untuk diri sendiri, memungut zakat untuk diri sendiri. Menindas muridnya untuk kepentingan diri sendiri. Sehingga karena propaganda yang teratur itu, mulailah merosot pengaruhnya atas muridnya. Dia adalah agen imperialis, comprador, perkakas Inggris-Amerika. Sehingga karena tidak ada kesanggupannya menentang propaganda yang demikian, jatuhlah pamornya, dan terpaksalah dia meninggalkan tempat itu, dan pindahlah pimpinan kepada kaum Komunis.

Tipuan untuk Kremlin

Bukan saja itu, bahkan segala lapangan kegiatan masyarakat, kebudayaan perkumpulan social, kursus-kursus Ilmu pengetahuan, golongan pemuda dan pemudi, sport dan olah raga, semuanya mereka masuk dengan giat dan tidak mengenal bosan menurut instruksi yang telah ditentukan dari pusat “Komunis Dunia” di Kremlin.

Paham Komunisme sudah nyata menolak segala macam agama, tidak mempercayai Tuhan dan memandang bahwasanya segala agama itu adalah buat-buatan manusia saja yang tidak dapat disingkirkan daripada pengaruh tekanan ekonomi. Maka kalau ada orang yang menganut paham komunisme beragama, atau mengerjakan sembahyang, ini adalah timbul dari berbagai kemungkinan.

Kemungkinan pertama adalah sembahyang guna menipu orang kampung yang jujur dan rakyat yang bodoh-bodoh supaya tertarik kepada propaganda yang hendak dilakukannya di kemudian hari. Waktu kaum Komunis mulai propagandanya di daerah-daerah yang kuat beragama tempo tahun 1922, memang ada di antara mereka yang bersungguh-sunguh menuruti adat kebiasaan orang kampung, sembahyang, puasa dan lain-lain, bahkan kelihatan lebih thaat. Maka setelah masuk pengaruhnya itu dimulailah mengadakan kursus tentang “Historie Materialisme” sehingga lama-lama orang yang telah tertarik tadi, timbullah ragu dan syak atas kebenaran agama dan akhirnya meninggalkan agama sama sekali.

Usaha yang sangat penting oleh kaum komunis ialah mempengaruhi massa sampai propagandis itu mengerjakian sembahyang, puasa dan lain-lain itu, dan kepandaiannya menarik hati, senantiasa diiringi dengan membusukkan ulama lain yang berpengaruh dan yang mengerjakian ‘ibadat. Dicari cacat dan celanya, lalu dihinakan, sehingga berpindahlah kefanatikan rakyat di tempat itu daripada pimpinannya yang lama kepada pemimpin komunis yang sejati. Itu pula sebabnya maka mereka selalu mempunyai gerakan-gerakan onderbouw, yaitu gerakan di bawah pengaruh. Anggota-anggota yang telah matang kekomunisannya digerakan di bawah pengaruh itu kelak dijadikan komunis.

Kemungkinan yang kedua ialah lantaran tersesat. Dia hanya tertarik dengan daemagogi yang dihambur-hamburkan oleh komunis. Hendak memperbaiki nasib buruh dan tani dan orang-orang melarat. Oleh karena tertarik dengan maksud itu saja, sedang itu pulalah maksud dari Islam, mereka pun masuk. Orang yang begini dihukumkan sesat. Di dalam menuju maksud Agama dan cita-cita Islam, dilaluinya jalan mengingkari Tuhan. Itu pula sebabnya maka kita mendengar perkataan yang disemboyankan orang komunis ke “Mekkah via Moskow”.

Cobalah perhatikan baik-baik, bukankah ini satu kesesatan?

Bagaimana akan sampai kepada Tauhid dengan mengingkari Tauhid?

Demikianlah!

Pentingnya Fatwa

Maka dilihat dari berbagai segi di atas, pada saatnyalah Majlis Syuro Masyumi menunaikan tugasnya, memberikan fatwa yang dapat diperpegangi oleh rakyat kita umumnya, umat Islam khususnya, demi untuk agama, nusa dan bangsa.

Semuanya berdasarkan tanggungan jawab sesama Muslim terhadap Tuhan dan hasrat yang penuh memelihara jiwa umat yang sekian lama diisi dengan ajaran suci.

Bagaimana fatwa itu, nanti di belakang dapat diteliti akan tetapi sementara itu dapat dan perlu kita jelajah seperlunya bagaimana dan sampai di mana komunisme itu berbahaya bagi jiwa dan kehidupan bangsa dan negara, agar kita mengerti sebab apa paham ini tidak bisa kita biarkan saja.


KOMUNIS PRAKTEKKAN

Komunis oleh Karl Marx adalah dulu nama gerakannya, untuk membedakan dari sosialis khayali yang dipandang gerakan borjuis, kemudian nama ini dipakai oleh Lenin untuk nama partainya, buat membedakan dari Partai Buruh Social demokrat yang juga marxistis pada mulanya, tetapi menyimpang dari pokoknya.

Bagaimanapun jua, atau ajarannya hendak mencapai hidup bahagia dengan masyarakat yang tidak berkelas namun semuanya bagi mereka adalah dengan menghancurkan agama. Karena sebagai diketahui bagi Marx menghancurkan agama itu syarat mutlak buat melaksanakan cita-citanya membangun masyarakat yang tidak berkelas, biar kelas kapitalis maupun kelas proletar dan di atas ini baru teori lain-lainnya dijalankan. Teori-teorinya tentang ekonomi yang dikenal economisch-determinisme atau historis-materialisme, dimaksudkan secara pengetahuan bahwa tak ada Tuhan di dunia.

Semua ajaran Marx itu oleh Lenin dipegang teguh dan ia berjuang buat mengujudkan dengan sesungguhnya, dan sebagai langkah pertama yang hendak dilaksanakannya ialah penghapusan agama yang dianggapnya jenewer bagi rakyat, dan tiap orang yang berpikir bagaimana kiranya wujudnya Tuhan berarti meludahi sendiri dengan cara keterlaluan. Dan banyak lagi ucapan-ucapan pemimpin komunis tentang mengejek agama, dan Tuhan. Kalau sudah demikian kata-katanya; maka apalagi perbuatan mereka dan memang sungguh kejam dan mengerikan.

Cita-citanya hendak membahagiakan hidup manusia dimasaknya dengan penuh dendam, iri hati dan kekejaman berlainan dengan Islam yang mengajarkan kasih mesra, tolong bertolong dan jangan menganiaya.

Jalan berpikir dialektika Marx yang mengatakan bahwa Revolusi Proletar akan meletus di Jerman ternyata tidak tepat. Bukan di Jerman tetapi di Rusia pada tahun 1917. Dan sebabnya yang utama pun tidak pula tepat. Bukan revolusi kaum Proletar terhadap majikan dengan industri berat atau ringannya, tetapi revolusi kaum tengah (middenstand) kepada raja feodalnya, karena pemerintahan Tsar yang dirasa sudah sangat berat menindih pundak rakyat Rusia. Apatah lagi dalam peperangan Dunia Pertama, Rusia tidaklah mendapat untung yang memuaskan. Rakyat ditimpa melapetaka dan kelaparan, untuk kesenangan klas Raja dan kaki tangannya. Apatah lagi dipercepat pula dengan laku buruknya seorang pendeta bernama Rasputin.

Dari Revolusi Rusia 1917

Pengendali Revolusi adalah Krenzky, ia berhasil, sampai Tsar tidak dapat memegang kuasanya lagi. Tetapi di saat-saat demikian, karena muslihat kaum Komunis di bawah pimpinan Lenin yang pulang segera ke Rusia dari buangannya, dan Trotzky, dapatlah Revolusi itu dibelokkan dengan segera untuk kepentingan kaum Komunis. Kejatuhan Kerenzky adalah karena sikap yang ragu-ragu menghadapi kaum Komunis di dalam merebut kekuasaan.

Boleh dikatakan bahwasanya Leninlah pelaksana pertama dari cita-cita Marx, ia seorang kuat yang berani, yang kejam, dan ganas terhadap musuh-musuhnya. Dan kalimat kejam atau ganas, tidaklah dapat dikatakan kejam dan ganas di dalam menuju kekuasaan mutlak. Segala yang menghambat di tengah jalan harus disingkirkan. “Asal saja komunis berkuasa berapa juta orang pun dikorbankan, bukanlah soal”. Inilah ajaran Lenin.

Salah satu yang sangat dipentingkan ialah memerangi agama. Itu tidaklah heran, karena bangsa Rusia adalah bangsa yang sangat fanatik dalam agamanya, yaitu Agama Keristen Arthodex.

Ajaran-ajaran Marx mengatakan: agama candu bagi rakyat, Tuhan hanyalah bikinan manusia. Kepercayaan kepada yang gaib adalah bekas ajaran kaum borjuis dan feodal, untuk memeras keringat dan darah rakyat. Agama adalah sisa ketakhyulan untuk meninabobokan rakyat yang lapar, dijadikan kampanye umum di samping kampanye yang lain-lain. Apatah lagi karena kesalahan Rasputin pendeta yang telah mempergunakan pengaruh agamanya untuk berbuat tidak baik pada perempuan bangsawan Tsar, dan menjadi spion dari Kaisar Jerman, semuanya itu adalah alat-alat yang baik sekali buat menumbangkan agama.

Menurut ajaran Lenin, seorang Komunis sejati tidaklah mungkin mempercayai sesuatu di luar kenyataan.

Perang umum yang dihadapkan kepada agama sangatlah hebatnya. Gereja-gereja dijadikan kandang kuda.

Rumah-rumah biara dijadikan tangsi soldadu, pendeta-pendeta dikejar-kejar dan diobrak-obrik.

Ada beberapa negeri di bawah kuasa Rusia Komunis yang memeluk agama Islam. Peperangan terhadap Islam dan pemeluknya di negeri-negeri itu tidak kurang hebatnya daripada apa yang dilakukan kepada pemeluk agama Keristen. Sampai salah seorang pahlawan Islam Turki yang bernama Anwar Pasya mengorbankan dirinya memimpin perjuangan umat Islam Bukhara mempertahankan dirinya daripada serangan bertubi-bertubi pihak Komunis.

Oleh karena kekuatan senjata tidak seimbang, umat Bukhara dapat dikalahkan dan Anwar Pasya sendiri tewas dalam pertempuran, mencapai syahidnya.

Ajaran Marx tentang Diktatuur Proletariaat dapat dilaksanakan oleh Lenin dengan memuaskan. Yaitu memuaskan bagi Komunis. Sisa-sisa pengaruh kekuasaan Tsar disapu bersih dengan melaksanakan satu perang saudara yang memakan waktu bertahun.

Setelah menjadi diktator besar sejak tahun 1917, maka di tahun 1924 matilah Lenin. Pemerintahan kaum Proletariaat telah berdiri dengan teguh. Warisannya diteruskan oleh Stalin dan Trotzky. Selama Lenin hidup di kelilingnya ada beberapa pemimpin lain, yang meskipun pikiran mereka tentang Revolusi ada beberapa perselisihan, maka oleh usaha Lenin, dapatlah dikompromikan. Tetapi setelah dia mati, dua pemimpin yang hampir sama besarnya akan memegang kendali. Yaitu Stalin dan Trotzky.

Mereka berselisih paham tentang kelanjutan perjuangan di dalam mencapai “Revolusi Dunia” itu. Menurut Trotzky, paham Komunis harus segera dikembangkan dengan berbagai macam cara, macam kampanye di dunia, sehingga dunia matang untuk melaksanakan Revolusi itu. Menurut Stalin, teguhkan kekuatan pemerintahan Kaum Buruh di Rusia terlebih dahulu, barulah melangkah keluar. Sebab seluruh dunia selain Rusia, adalah Dunia Kapitalis belaka.

Mereka sudah pasti akan membunuh hasil pemerintahan Proletar yang telah didapat di Rusia itu. Kita dipandang musuh dan kita dipisahkan dari masyarakat dunia. Kita harus memperkuat diri. Kalau kita telah kuat, barulah dunia Kapitalis itu kelak terpaksa tunduk kepada kekuatan kita.

Perdendaman di Sana-Sini

Perselisihan kian lama kian mendalam. Pada hemat Trotzky, Stalin telah membelokkan tujuan Revolusi yang bersifat Internasional menjadi suatu Negara Nasional, lanjutan daripada pusaka Tsar.

Trotzky adalah seorang intelek kaliber besar, yang sama tarafnya dengan Lenin, dan menyangka Lenin paham tentang teori Kar Marx daripada Stalin. Tetapi Stalin adalah seorang yang digembleng oleh pengalamannya dan lebih dekatnya kepada massa.

Perselisihan itu kian lama kian tidak dapat dikompromikan lagi. Padahal kekuasaan tertinggi dalam partai adalah di tangan Stalin. Meskipun dia hanya menjadi Secretaris partai saja, dan bukan dia yang Presiden. Dia mempunyai kekuatan Pribadi yang dapat mena'lukan.

Tampang mukanya sesuai betul dengan paham komunisme, yaitu kejam, menakutkan, dan penuh rahasia. Akhirnya Trotzky tidak dapat menentang lagi. Dia terpaksa tersingkir keluar negeri. Dan di luar negeri tidaklah dia berhenti mengarang buku-buku dan artikel yang disiarkan dalam surat-surat kabar kaum komunis yang sepaham dengan dia, meneruskan analisa secara dialectika dan mengeritik cara Stalin yang menurut pandangannya telah membelokkan revolusi. Niscaya lantaran itu permusuhan mereka berdua sejak Trotzky keluar, sudah lebih berkobar lagi daripada seketika dia masih duduk dalam pemerintahan dan pusat partai.

“Tujuan utama ialah kekuasaan.”

Inilah inti Komunisme—Marxisme—Leninisme. Kekuasaan itu dilancarkan dalam sifat kediktatoran. Mana yang menghalangi harus disingkirkan, kalau perlu bunuh. Meskipun Trotzky telah lari ke mana-mana, meminta perlindungan di sana-sini, dan hampir semua negara tidak mau menerimanya, menjadi pelindung politik, namun dia tetap dikejar-kejar. Sehingga akhirnya menetaplah dia di Mexico di bawah perlindungan pemerintahan di sana. Akhirnya seorang suruhan Stalin dapat membunuh dia di sana, memakuk kepalanya dengan kampak pemotong es.

Dalam pada itu, dalam negeri Rusia sendiri berkali-kali dilakukan pembersihan. Orang-orang yang dirasa berpihak kepada Trotzky, atau berfikiran lain daripada apa yang ditentukan oleh Stalin, disingkirkan. Sekurangnya dibuang ke Siberia, dan dibunuh. Beberapa pemimpin lain yang namanya turut terkenal di samping ketiga pahlawan Komunis itu, (Lenin, Stalin) satu demi satu dibersihkan.

Salah satu rancangan yang terkenal dari Stalin ialah “Plan 5 tahun”. Dalam lima tahun membangunkan semacam industri Negara. Selesai lima tahun dilihat hasilnya. Kalau perlu disambung lagi, atau dibuat lagi plan yang lain.

Partai yang berkuasa hanya satu. Yaitu partai komunis. Yang duduk dalam perwakilan hanya dari satu partai, yaitu partai komunis. Partai yang lain tidak ada dan tidak boleh ada. Apa partai lain selain komunis, kalau bukan bersifat kapitalis? Borjuis? Agama? dan lain-lain.

Pendidikan, ilmu pengetahuan, pengetahuan tentang sejarah, tentang paham dan ideologi, semuanya harus bersifat komunistis. Surat kabar yang ada hanyalah surat kabar pemerintah, semacam Izvestia dan Pravda. Suara yang terdengar hanya suara pemerintah.

Apakah seluruh Rusia telah menjadi komunis lantaran itu? Tidak mungkin sebab akal dan pikiran belum hilang dari otak orang Rusia. Dari 300 miliun penduduk Rusia, yang komunis tidaklah sampai 10 milian. Tetapi seluruh kekuasaan adalah di tangan partai komunis. Bahkan dalam ketenteraan pun diadakan kommissaris-kommissaris yang kekuasaannya lebih tinggi dari jenderal-jenderal. Mana jenderal yang tidak tunduk kepada ketentuan partai, niscaya dibersihkan.

Orang yang ingin menginyam kekuasaan dan beroleh kedudukan istimewa tentu ingin masuk partai Komunis. Tetapi masuk partai itu tidaklah gampang. Disiplinnya sangat keras.

Apabila telah masuk ke dalam, bukanlah semata nikmat itu yang didapat. Nikmat turut memegang pemerintahan untuk diri sendiri tidak ada. Sebab segala anggota partai hanyalah alat penyelenggara daripada kehendak diktatuur. Melanggar sedikit saja, bahaya besar tantangannya: Siberia atau “hilang”.

Seorang yang dicurigai dihadapkan ke muka sidang partai, sesudah terlebih dahulu dimasukkan dalam tahanan. Di sana dia disiksa dengan berbagai macam siksaan, sehingga hilanglah pribadinya; lalu mengaku saja atas tuduhan yang dituduhkan kepadanya, yang telah diperbuat terlebih dahulu.

Setelah pengakuan itu lengkap dan ditanda tangani, barulah dia dihadapkan ke muka hakim partai, dan di sanalah dia menerima hukumannya: Siberia sekurang-kurangnya, dan mati sebagai hukum yang biasanya. Lalu disiarkanlah dalam surat kabar pemerintah bahwa si fulan telah dibunuh, sebab dia salah. Kesalahannya ialah menjadi Comprador kapitalis, menjadi agent imperialis, membuat sekongkol dengan Inggris atau Amerika.

System intip-mengintip, cemburu-mencemburui, system polisi rahasia, adalah menjadi tiang utama dari pemerintahan Diktatuur. Seorang serdadu diintip oleh serdadu yang lain. Seorang anggota partai diintip oleh anggota yang lain. Bahkan anak-anak yang telah diberi didikan Komunisme tidak keberatan mengintip ayahnya. Kalau-kalau ayahnya reaksionair. Kalau-kalau ayahnya anti Stalin.

Dan yang membaca? Tentu saja menerima kabar itu dengan tidak dapat membanding. Malahan berbahaya bagi siapa yang membanding. Bisa berekor panjang kepada dirinya sendiri.

Yang sangat ditanamkan ialah bahwasanya Stalin selalu benar! Stalin bapak sejati dari buruh dan tani seluruh dunia. Stalin tidak pernah salah. Segala jalan pikiran harus terpengaruh oleh memikirkan Stalin. Di mana-mana digantungkan gambar Stalin sebesar-besarnya.

Bagaimana dengan agama?

Usaha Menghancurkan Agama

Sebanyak itu rancangan dan program yang dijalankan, yang paling susah ialah menghapuskan agama. Mulanya telah dicobakan hendak menghancur leburkan agama. Agama adalah kepercayaan. Orang pun bersedia mati buat itu. Kalau pertahanan yang lain tidak ada lagi, maka mati itu pun adalah pertahanan penghabisan. Pemimpin-pemimpin agama-agama dicela. Rasputin diejek. Padahal bukanlah semua pemimpin agama itu serupa Rasputin. Kesudahannya terpaksa jugalah diakui agama itu. Dikatakan dalam undang-undang dasar bahwa orang merdeka memeluk agama apa yang disukainya. Tetapi di samping itu orang pun merdeka pula menjadi anti agama. Badan-badan, yang mendapat sokongan dari pemerintah mengadakan gerakan anti agama.

Bertambah ditekan, mereka bertambah berani. Berani mati dibunuh. Dan orang yang beragama masih banyak. Beribu-ribu yang dibunuh. Beratus pendeta dan pemimpin agama disingkirkan, di-Siberia-kan atau di“hilangkan”. Namun agama tidak hilang.

Pada tahun 1939 terjadilah perang dunia kedua. Sesudah Hitler mengikat persahabatan dengan Rusia, tidak lama sesudah itu, mereka pun memerangi Rusia. Rusia komunis terancam, hampir saja Stalingraad jatuh ke tangan Jerman. Waktu itu terdengarlah seruan Stalin kepada kaum agama supaya turut berjuang mempertahankan “tanah air” dari serangan musuh. Ternyata bahwa kekuatan kaum agama masih perlu.

Setelah perang selesai dan Jerman dapat dikalahkan, karena persenjataan Rusia pun dibantu oleh Amerika, kembalilah agama itu ditekan, namun dia tidak mati.

Bagaimana jadinya kedudukkan kaum agama?

Kaum agama yang berfikiran bebas lari ke luar negeri. Orang Islam atau orang Keristen. Tetapi yang setengahnya lagi lalu “berdiam diri” dan “aku” kepada segala ketentuan kaum komunis dan membantu politik komunis. Ingatlah bahwa akhir-akhir ini sudah banyak didengar seruan-seruan “damai” dari Ulama Islam di Rusia.

Tentu tidak kurang pula ulama semacam Rasputin. Maka ulama semacam Rasputin ini tidaklah dicela lagi, melainkan dirangkul. Dijadikan alat propaganda kepada dunia; bahwa kami di Rusia pun mempunyai ulama. Beliau itu pun mengeluarkan “fatwa” memuji Stalin membela partai komunis. Dengan ini dipakai “seligi balik bertimbal”.

Kepada pemuda yang masih beragama dimasukkanlah rasa benci kepada ulama yang diambil menjadi perkakas itu. Itu coba lihat ulamamu. Pemimpin agamamu akan menutup mulutnya, tidak berani mempertahankan Ketuhanannya, yang terang-terang ditantang dan dibenci oleh partai komunis. Sebab dia kami beri pangkat dan kebesaran. Inilah macam agamamu.

Maka, kalangan muda tadi pun kian jauhlah dari agama. Lebih suka menjadi komunis saja daripada mendatangi mesjid. Tidaklah heran jika yang datang pergi sembahyang ke mesjid tinggal yang tua-tua saja. Daripada mereka tidak ada diharapkan apa-apa lagi.

Bagi orang tua-tua itu, asal mereka jangan dihalangi sembahyang, walaupun apa yang akan diperbuat, perbuatlah! Pemerintah Komunis pun tidak menghalangi mereka sembahyang lagi, karena membuang tempo. Lebih baik ikat saja angkatan muda dengan cita-cita lain.

Buku-buku sekolah mengajarkan riwayat Lenin, Stalin, Karl Marx, Ferederick Engels. Kalau ada riwayat Nabi Muhammad dibalikan riwayat itu, sehingga rasa bencilah yang timbul atas diri beliau. Sejarah Islam disalah mengertikan; reaksioner!

Perlawanan Golongan Islam

Bukan main hebatnya pertahanan jiwa bagi kaum Muslimin yang kuat imannya di daerah itu, dan bukan main pula pukulan yang mereka terima. Kita insyaf bila membaca riwayat dan sejarah perkembangan Agama Islam bahwasanya Agama Islam tersiar di Asia Tengah ialah sejak permulaan sejarahnya. Masih di zaman Bani Umayah dan Bani ‘Abbas.

Sehabis perang sudah ada orang Rusia Islam yang diizinkan naik haji. Tentu saja untuk propaganda bahwasanya di Rusia Agama Islam tiada dihalangi. Tetapi perjalanan mereka sangat diawasi.

Ketika satu rombongan kecil Imam-Imam hendak naik haji ke Mekkah dan singgah di Mesir, siang malam mereka dijaga oleh pegawai-pegawai keduatan Rusia di Cairo.

Pertanyaan-pertanyaan yang dimajukan wartawan-wartawan Mesir kepada mereka ikut didengarkan oleh pegawai yang mengiringkan itu. Salah-salah menjawab, ada harapan tidak pulang kembali ke rumahnya sampai di Rusia, melainkan terus ke Siberia. Ada yang dikemukakan di tengah jalan, tetapi didiktekan dari mulanya.

Kalau begitu tidaklah ada keamanan di Rusia?

Tentu mudah saja menjawabnya. Di Rusia, “aman” bagi orang yang tunduk. Yang kalau bersorak ialah sorak pemerintah. Memuji komunis setinggi langit. Memuja Stalin, Lenin, Marx. Tetapi awas, jangan sebut Trotzky. Dan pujilah komunis, dengan demikian, engkau aman.

Seorang Haji Tua yang naik Haji ke Mekkah ditanya orang. “Mengapa sedikit sekali orang Rusia Muslim naik Haji?” Beliau menjawab dengan mata yang penuh ketakutan “Kami, ... ka-ka-mi dihalangi Inggris.”

Jadi kalau ada pemuda-pemuda yang sangat ingin “ke luar negeri”, lalu diundang menghadiri “Konferensi Perdamaian”, “Konferensi Pemuda Internasional”, dan macam-macam konferensi di negeri-negeri belakang tabir besi, lalu melihat ada mesjid dan ada orang sembahyang, maka kabar begitu sajalah yang dapat mereka bawa pulang.

Lalu memuji dan mengatakan di Rusia ada kemerdekaan Agama. Mereka tidak dapat berkata lebih dari itu. Sebabnya yang pertama ialah bahwa yang pergi ke sana itu pun pemuda yang tidak mengerti hakikat agama sama sekali, dan dari sini pun telah memandang enteng agama. Kedua, mereka hanya lalu di hadapan mesjid saja, untuk beberapa hari, bahkan untuk beberapa jam. Dan mereka dijaga keras, jangan sampai dapat mengetahui keadaan sebenarnya.

Ini di Rusia! Belum lagi di Yoguslavia oleh regiem Tito, belum lagi di Turkistan Timur oleh Tiongkok komunis, dan tempat lain. Mereka mempraktekkan cara menghancurkan agama dan pemeluk-pemeluknya. Ya, begitulah komunis praktekkan.


IMPERIALISME KOMUNIS

Mula-mula jika kita melihat teori Karl Marx tentang komunisme Internasional itu, masih dapatlah difahamkan bahwasanya Komunisme adalah paham yang dapat diikuti dengan hati rela. Orang yang menjadi pengikutnya tersebar di seluruh dunia. Dan jika terjadi Revolusi Proletar seluruh dunia itu kelak, menurut teori tadi, gabungan yang sefaham pun ialah dengan hati rela. Tetapi dengan berhasilnya Komunis merebut kekuasaan dan menumbangkan Kerajaan Tsar, kian sehari kian nyatalah bagaimana Stalin dan pengikutnya menegakkan Negara Komunis Rusia itu menjadi Negara Imperialisme klas satu.

Rusia pusat komunisme!

Dari situ diatur Komunis Internasional, yang dahulu bernama kominform. Dan setelah dibubarkan, ditukar menjadi politbiro. Ke seluruh dunia disarankan secara teratur dan systematis, bahwasanya Rusia adalah tanah-airnya kaum buruh seluruh dunia. Pengikut-pengikut paham komunis yang ada di setiap negara, menjadi kaki tangan yang setia, atau Kolone Kelima dari Rusia. Mereka menjalankan segala perintah dari Rusia dengan disiplin yang keras, memakai segala macam daya upaya, apa saja yang dapat dilakukan, agar supaya kekuasaan dalam negara-negara itu jatuh ke tangan mereka. Siapa yang gagal, jatuhlah di mata Kremlin, dan siapa yang mengencong sedikit saja, berat hukumannya. Mereka hanya plaat “his master's voice” dari Kremlin.

Kepada seluruh dunia dipropagandakanlah kebesaran Rusia, ketinggian Rusia, keunggulan Rusia. Dan puncak serta puncak dari kebesaran itu ialah diktator yang berkuasa. Gambar mereka mesti digantungkan disetiap rumah orang komunis, dan mesti diarak pada demonstrasi umum. Kata “sabda” mereka lebih daripada wahyu yang bagi orang beragama dipandang suci dan dari Tuhan.

Dari Rusia Diatur Rencana

Dari Rusia diatur bagaimana hendaknya supaya kekuasaan di setiap Negara itu jatuh ke tangan mereka. Dan setelah kekuasaan jatuh ke tangan mereka, bertukarlah Negara tadi menjadi Negara Komunis, satelit Rusia.

Taktik bermacam-macam yang dipakai.

Yang utama sekali ialah menimbulkan antithese dari keadaan yang ada dalam negeri tadi, sehingga timbul pertentangan klas.

Kalau penduduk kebanyakan orang tani, cari siapa tuan tanahnya.

Kalau penduduk kebanyakan tidak mampu, cari siapa yang mampu?

Kalau penduduk kebanyakan teguh beragama, bongkar rahasia-rahasia keburukan orang beragama yang berpengaruh di tempat itu.

Dan kalau perlu selidiki apa perkakas dari negara itu sendiri, hendaklah perkakas itu dipakai tetapi dengan tujuan merebut kekuasaan. Kalau di sana orang keras memegang paham Nasionalisme, hendaklah pakai nasionalisme itu untuk alat mencapai kekuasaan. Kalau dia mempunyai parlemen, kalau dengan parlemen itu masih dapat jalan naik kepada kekuasaan, pakailah parlemen. Meskipun anggota komunis di parlemen sedikit, itu bukan soal selagi masih lemah. Tarik sympathi rakyat, buruh dan tani. Keluarkan kritik pedas kepada pemerintah yang ada yang lekas populer dalam kalangan rakyat. Lama-lama tentu rakyat akan “tertarik” kepada anggota-anggota parlemen yang berani itu.

Yang enak benar ialah pada negeri terjajah. Rakyat di tempat itu tentu saja ingin merdeka. Carilah usaha supaya “leider” dari pergerakan kemerdekaan itu ialah orang komunis. Sudah terang bahwa “anti penjajahan” di sana itu hanyalah alat belaka. Bila penjajahan telah terusir, negeri itu akan dikomuniskan, akan masuk ke dalam jaring penjajahan Rusia.

Inggris, Perancis, dan beberapa negara lain di Europa Barat memang penjadlah Amerika Sarikat memang penjajah dunia dengan ekonominya. Tetapi penjajahan Rusia dengan ideologinya adalah lebih kejam dan ganas.

Oleh sebab itu mestilah kuatkan propaganda supaya mata dunia teralih dan tertuju hanya kepada Inggris dan Amerika dan kawan-kawannya itu saja yang penjajah. Lalu dikemukakan semboyan “Anti imperialisme”. Dibikin propaganda besar “Anti imperialisme” di seluruh dunia. Yang imperialis itu ialah Inggris dan Amerika. Dipenuhi dunia dengan suara itu. Di mana-mana itulah hendaknya yang terdengar, sehingga orang tidak sempat lagi berpikir, bahwa yang propaganda ini sendiri pun adalah penjajah besar.

Massa psychologie harus diperhatikan di dalam mengadakan propaganda. Perkataan bohong, penuh daemagogii apabila diulang berkali-kali, sampai populer, sebagai membuat reklame dan iklan di surat kabar, mestilah akhir kelaknya lekat di hati orang. Inggris dan Amerika penjajah. Penjajah. Penjajah. Dan setiap orang komunis itulah saja suaranya, lain tidak. Lantaran harap, maka walaupun orang bukan komunis ikut pula berkata demikian. Maka hilanglah kesempatan orang berpikir, bahwa Rusia itu pun penjajah pula.

Di dalam satu rapat umum misalnya, dicela dan dimaki partai lain yang menjadi musuh komunis. Kalaupun partai itu berfaham luas, toleransi, tetapi kalau tidak memakai paham komunis adalah musuh komunis. Di sana dia dituduh kaki tangan imperialis. Dengan aksi agitasi, sikap dan perkataan yang bulat-bulat-panas partai itu dimaki. Pengikut-pengikut komunis onderbouw-nya yang dikerahkan hadir ke tempat itu disuruh bersorak, bertepuk tangan menyambat perkataan leider itu. Sehingga massa yang hadir tidak sempat berpikir lagi, oleh tuduhan bahwa partai anu adalah perkakas imperialis. Padahal di dinding tribune tergantung gambar Karl Marx, Lenin, Stalin dan Malenkov. Orang tidak sempat berpikir lagi bahwa yang terang kaki tangan imperialis Rusia ialah orang-orang yang berbicara bersemangat berapi-api ini.

Jangan diberi kesempatan orang berpikir. Inilah caranya.

Lama-lama karena serangan-serangan itu didatangkan dengan bertubi-tubi dimaksudkan hendaknya menjadi pendapat umum, maka surat-surat kabar “didorong” untuk membenarkan. Sebab di samping propaganda terang-terang adalah propaganda gelap yang bersifat ancaman.

Leider-leider yang berpengaruh di suatu negeri hendaklah dijatuhkan. Carikan ikhtiar, segala macam cara, bagaimana hendaknya supaya nama pemimpin itu jatuh. Buat ini djangan segan membuat kata bohong. Bohong kalau telah diulang berkali-kali, akhir kelaknya tentu diragui orang akan kebohongannya, sudah banyak orang yang mengatakan apa lagi?

Komunis Indonesia Mengacau dan Menjerumuskan

Tengoklah misalnya sebagai telah diterangkan seketika komunis baru masuk ke Indonesia ini di tahun 1920. Pemimpin yang besar dan sangat populer di Indonesia ketika itu ialah Tjokroaminoto dengan gerakan S.I.-nya. Sarekat Islam seketika itu sedang di puncak kebesarannya. Namun Tjokroaminoto bertambah populer dalam hati rakyat seketika beliau dituntut oleh pemerintah Belanda, tertuduh ikut campur dalam gerakan S.I. Afdeling B.

Mula-mula Komunis menyelundup gerakan Sarekat Islam itu sendiri. Orang maklum komunis adalah anti agama, mengapa mereka masuk Sarekat Islam?

Ingatlah, bahwa ini adalah taktik. Apa salahnya memakai Sarekat Islam, yang sedang populer dalam kalangan rakyat banyak itu, menyelundup ke dalam, masukan infiltrasi, sehingga kelak pimpinan jatuh ke tangan mereka. Kalau orang di satu tempat kuat sembahyang, apa salahnya mereka pun sementara waktu turut sembahyang pula.

Tjokroaminoto dan Haji A. Salim tahu akan siasat ini. Orang komunis itu terus diroyer dari dalam Sarekat Islam. Mulanya mereka memakai nama “Sarekat Islam Merah”. Dan Sarekat Islam yang tinggal di bawah pimpinan Tjokro-Salim diberi nama oleh mereka “Sarekat Islam Putih”. Lama-lama Sarekat Islam Merah itu disaring. Mana yang telah matang ke-komunisannya dijadikan P.K.I. dan mana yang belum matang dijadikan Sarekat Rakyat.

Setelah itu dijalankan serangan bertubi-tubi, setiap hari, setiap saat di dalam surat-surat kabar komunis terhadap kepada Tjokro dan Salim. Salim dituduh spion Belanda, spion Belanda, spion Belanda. Sampai hendaknya orang percaya. Dan Tjokro yang sedang sangat populer di kalangan rakyat karena perjuangannya itu dicela pula. Dituduh menggelapkan uang rakyat, memakan uang rakyat, mencuri uang rakyat, memeras darah rakyat. Sehingga setiap orang yang berlaku curang dalam hal uang dikatakan “Men-Tjokro” atau “Tjokro-isme”. Padahal itu hanya kebohongan komunis!

Akhirnya sebagai seorang Pemimpin Besar Islam yang percaya kepada Tuhan, Tjokro tidak peduli ini. Dia merasa tidak bersalah. Dia merasa berjuang selama ini dengan jujur. Tidak pernah dia menghabiskan uang rakyat, hanyalah dirinya yang melarat menjadi korban karena membela rakyat. Sebab itu Tuhanlah yang Maha Tahu, Tuhanlah yang akan menimbang, dan sejarahlah yang akan memperhitungkan nanti, benarkah dia curang kepada rakyat. Sebab itu dia diam.

Kalau sudah diam namanya sudah kalah menurut kamus komunis. Itulah yang ditunggu oleh komunis. Dengan “mengalahnya” Tjokroaminoto, lunturlah kekuatan Sarekat Islam menurut mereka. Apatah lagi pada masa itu pemerintah Kolonial pun, walaupun memandang komunis itu musuhnya juga, membiarkan saja serangan-serangan itu. Sebab serangan-serangan komunis itu bukan sedikit menolong pemerintah kolonial buat menjatuhkan lawannya yang besar itu. Yaitu Tjokroaminoto yang telah sempat menggembelang Umat menantang penjajah.

Di zaman sekarang masih mereka cobakan cara yang begini di Indonesia; semua yang membaca surat-surat kabar tahu akan hal ini, tuduhan terhadap pemimpin Islam.

Serangan-serangan seperti ini harus dibikin, karena kaum komunis pun mempelajari keadaan jiwanya orang yang beragama. Mereka tentu tidak akan membalas, dan tentu akan memandang bahwa itu hanya fitnah saja, sebagaimana terjadi pada Tjokroaminoto.

Sebab itu maka serangan komunis dalam system yang demikian adalah pukulan terdahulu. Musuh jangan diberi kesempatan menerjang. Settinggi-tinggi sikap musuh hanyalah mempertahankan diri. Jangan musuh diberi kesempatan lebih dahulu menyerang komunis. Setingginya mereka hanya sempat membalas serangan. Dengan serangan itu tentu akan banyak hasilnya. Pertama orang lain di luar pengaruh pemimpin itu menjadi ragu dan tertarik dengan propaganda ini. Kedua kucar-kacirlah barisan pemimpin dan pengikut pemimpin itu, sebab ada yang ragu akan kejujuran pimpinannya. Sehingga orang tidak banyak sempat berpikir lagi, bahwa Mohammad Hatta misalnya, jauh lebih tinggi mutunya daripada Ir. Sakirman, Moh. Natsir jauh lebih tinggi gensinya saripada Aidit.

Pemimpin-pemimpin yang ragu, dan berserah kepada sejarah mesti jatuh. Orang yang telah mulai berserah kepada takdir saja, tandanya sudah jatuh mutunya sebagai pejuang politik. Di sinilah pangkal kejatuhan Bakounin seketika dijatuhkan oleh Karl Marx sendiri dalam “Persatuan Buruh Internasional”. Padahal kalau dipelajari sejarah kedua pemimpin “Socialist” itu, Bakounin jauh lebih radikal dari Marx. Kalau socialisme Marx bersifat komunis, bahkan Bakounin bersifat nihilist.

Ini pula yang menyebabkan tersingkirnya Karensky yang mula mencetuskan revolusi Rusia melawan Tsar berhadapan dengan Lenin. Kalau dipelajari kini, jauh lebih radikal Kerensky dari Lenin.

Kalau dalam satu Negara terdapat system, banyak partai, sehingga ada partai yang sama ideologi, tetapi berbagai ragam namanya, maka kaum komunis berusaha merangkul partai yang kecil untuk merobohkan partai yang besar. Dipelajari di mana dan apa sebab partai ini pecah, padahal tujuan dan ideologinya satu. Setelah diketahui diadakanlah kampanye, mengadu domba si partai kecil dengan si partai besar. Sehingga si partai kecil itulah yang digunakan untuk membunuh temannya seperjuangan. Demi setelah partai musuh komunis yang besar tadi roboh, mudahlah menindas sebagai menindas kutu saja terhadap kepada partai yang kecil tadi. Rahasia kelemahan pemimpin-pemimpin partai kecil itu sudah diketahui. Dia mudah dipergunakan untuk menumbangkan kawannya. Rahasianya selama berkawan ·dicatat. Apabila rahasia diketahui orang, timbullah kelemahan pribadi, dan teruslah menurut dan menurut terus akan apa yang dititahkan komunis, tidak dapat melepaskan diri lagi. Hilang pribadi. Apabila dia tidak perlu dipergunakan lagi, mudah sajalah menyingkirkannya.

Hanya Satu Tujuan: Kekuasaan untuk Rusia

Semuanya ini tujuannya adalah kekuasaan. Kekuasaan untuk kepentingan Imperialis Rusia yang besar itu. Dan orang-orang komunis di setiap negeri itu tidak lain, hanyalah anggota Partai Komunis yang berpusat di Rusia yang terikat dengan disiplin yang sangat keras. Berlawan saja dengan disiplin itu walau sedikit, bahaya besar bagi jiwanya sendiri.

Di Indonesia ini kita telah melihat bagaimana dalam kalangan mereka sama mereka hebatnya perebutan kekuasaan pimpinan partai. Adit akan naik. Dan Tan Leng Djie akan jatuh. Maka disusunlah tuduhan, dan Tan Leng Djie harus mengakui kesalahannya di muka rapat partai. Ketika itu dia sudah seperti tikus di hadadapan sidang majlis kucing-kucing. Dia mesti mengakui kesalahan itu. Kalau sekiranya partai ini berkuasa di Indonesia, Tan Leng Djie bukanlah semata disingkirkan, tetapi ... “hiyiang”.

Di Chkoslowakia, kaum komunis berhasil menumbangkan kekuasaan kaum Nasionalis, yang dipimpin oleh Benesj dan Masaryk (anak Masaryk, yang mendirikan Chkoslowakia). Mereka berhasil dengan lebih dahulu menimbulkan kekacauan pikiran umum, menimbulkan ragu dan putus asa, lalu berserah kepada takdir pada pemimpin-pemimpin Nasionalis, sehingga akhirnya mereka dapat masuk ke dalam pemerintahan, yang mulanya bersifat koalisi. Bila kekuasaan telah ke tangan mereka, maka karena satu “Sakit jantung” matilah Benesj. Setelah itu karena “membunuh diri sendiri”, matilah Masaryk.

Siapa yang akan memeriksa kejadian ini? Padahal pers tidak merdeka lagi, sebab pers sudah dikuasai komunis. Siapa hakim yang akan memeriksa? Padahal kehakiman pun adalah kehakiman partai?

Rakyat di satu negeri kerap kali bosan dengan pemerintahannya sendiri, karena bila penghidupan mereka kocar-kacir banyak rancangan Negara yang belum beres. Buruh dicoba menguasai oleh komunis.

Di negeri-negeri Demokrasi ada kemerdekaan pers dan kemerdekaan menyatakan pikiran. Kemerdekaan pers dan kemerdekaan menyatakan pikiran di negeri demokrasi itu dipergunakan oleh kaum komunis buat melabrak pemerintah yang tidak mau menjalankan rancangan mereka. Mereka hantam terus menerus sampai pemerintah itu jatuh dan mereka naik. Bila mereka telah “naik”, ditutuplah kemerdekaan pers dan kemerdekaan menyatakan pikiran tadi. Maka yang melawan bunuh, atau masukkan menjadi budak kerja paksa.

Dalam negeri demokrasi ada hak buat mogok. Buruh dipimpin oleh kaum komunis. Mereka dikerahkan mogok dan mogok lagi, meminta perbaikan nasib, sehingga pemerintah itu menjadi kualahan. Lalu jatuh kekuasaan ke tangan mereka. Setelah kekuasaan jatuh ke tangan mereka janganlah tiba-tiba buat mogok. Hukum mati tantangannya. Guna apa mogok lagi? Padahal negara ini sudah negara kaum buruh? Sudah negara kita?

Dan yang senang ialah “bapak-bapak” komunis yang berkuasa di atas. Adapun buruh tetaplah hina, bahkan lebih hina daripada semasa mereka masih jadi alat perkakas kaum kapitalis. Berapa jam mereka bekerja sehari? Ialah berapa jam dikehendaki oleh pemerintah komunis. Bahkan kadang-kadang tidak tentu batas jamnya lagi. Kepada dunia dipropagandakanlah bagaimana kesetiaan buruh dalam negeri komunis, di bawah pimpinan negeri mereka sendiri, negara buruh melanjutkan kerjanya, memperbanyak hasil dan produksinya.

Kalau orang bertanya “Bolehkah kami periksai nasib buruh di negeri itu?”

Oh tidak boleh .... Tabir besi!

Siasat Perdamaian Dunia

Inilah beberapa contoh dan taktik komunis yang dipakai di seluruh dunia, dan semuanya itu untuk merebut kekuasaan.

Di dalam menghadapi perjuangan berblok-blok di dunia ini mereka pun memakai beberapa cara.

Semasa Stalin hidup diadakanlah gerakan “Perdamaian Dunia”. Mereka memilih kata yang lekas masuk hati, “perdamaian”. Dengan propaganda besar-besaran disiarkanlah di seluruh dunia, bahwasanya Rusia tidaklah ingin perang. Dia ingin damai. Ingin bersahabat dengan seluruh dunia.

Dengan demikian itu teranglah bahwasanya yang menjadi penganjur perang tidak lain tidak bukan, ialah Amerika-Inggris. Sebab itu kalau rakyat di negeri itu diajak buat berperang, janganlah mau. Kalau tiba masanya dan datang perintah, hendaklah anak negeri itu merusakkan alat perkakas perangnya sendiri. Jangan mau berperang. Asal kamu tidak mau berperang, tandanya kamu telah setuju dengan maksud tulus ikhlasnya.

Kalau Inggris-Amerika itu menyerang juga, biar Rusia menghadapinya. Kamu boleh hidup dengan aman dan damai, jangan berperang. Rusia cukup kuat. Mempunyai segala senjata yang ada pada Inggris-Amerika itu. Jika mereka ada bom-atom dan bom zat air, Rusia pun mempunyai. “Rusialah yang akan mempertahankan negerimu”.

Supaya kamu selamat dari serangan itu, bersatulah dengan Rusia. Mari kita dinding negeri kita ini dengan “tabir besi” pula, supaya Inggris-Amerika, kapitalis-imperialis itu jangan masuk ke daerah kita. Damailah!

Setelah dalam tahun 1951 dan 1952 dikobar-kobarkan “Perdamaian Dunia” dan “melepaskan burung merpati” ini, nampaknya hasilnya tidaklah memuaskan. Dalam pada itu Stalin pun mati.

Malenkov ganti Stalin, dianjurkan berdamai dan hidup berdampingan: ko-eksitensi. Komunis bisa berdampingan dengan kapitalis. Atheist bisa berdampingan dengan rakyat terjajah.

Mari kita pergi melihat negeri Rusia. Di sana pun ada orang Islam ada Imam, ada mesjid. Kami orang komunis, meskipun memang tidak beragama dan tidak percaya akan adanya Tuhan, tetapi kami sanggup hidup berdampingan dengan segala pemeluk agama apa saja. Maka pemuda-pemuda yang tidak tahu apa akibat yang di belakang, yang sedang dikerumuni oleh propaganda, merasa banggalah bahwa dia telah dapat berdampingan dengan orang komunis. Mulanya menyangka bahwa dia akan dapat menarik. Padahal kaum komunis bekerja dengan caranya sendiri. Dia pun masuklah ke dalam jebakan, walaupun dia masih mengerjakan sembahyang.

Nama “Rakyat” Dicoplok dan Istilah “Nasional”

Kata-kata yang lebih menarik hati orang umum dicari dan dipergunakan untuk menanamkan bibit perjuangan klas dipopulerkanlah perkataan “rakyat”.

“Lembaga Kebudayaan Rakyat”, “Tari Rakyat”, “Partai adat Rakat” membela rakyat, “Demokrasi rakyat”. Lawannya ialah “Borjuis” segala kebudayaan yang bukan menurut Rusia adalah Kebudayaan Borjuis.

Di Indonesia mereka pakai perkataan “saudara” kepada sesamanya Komunis atau yang mau jadi alat komunis. Tetapi untuk musuhnya dipopulerkan kata “Tuan”, “Tuan” Hatta, “Tuan” Sukiman, “Tuan” Natsir.

Di mana-mana mereka suka sekali memperkuda “perasaan Nasional”, untuk kepentingan komunis. Kalau ada gabungan-gabungan nasional, front-front nasional mereka sangat bersungguh-sungguh supaya dapat mempengaruhinya. Tak perlu bagi mereka jadi Ketua, asal dapat menjadi sekretaris. Sekretarislah yang penting.

Kaum Nasionalis yang terpecah-pecah kepada berbagai partai, yang tidak mempunyai program perjuangan tertentu dengan dianggap lama, dan tidak mengetahui atau insyaf bahwa semua taktik ini adalah diatur dari Kremlin, tertariklah oleh kata Nasional itu, lalu bergabung, dan menyerahkan pimpinannya kepada kaum komunis. Maka dengan nama Nasional itulah kelak mereka akan merebut massa.

Kaum Nasionalis yang demikian nasionalis tadi boleh-ah menggigit bibir. Sebab mereka akan dijadikan jenjang kaum komunis buat merebut kekuasaan dari tangan nasional itu untuk kepentingan Kremlin.

Negara jadi “Kapitalis”

Sudah 38 tahun sampai sekarang Negara Kaum Buruh, atau Negara Komunis itu telah berdiri, dengan dasar diktator proletar. Dalam pase yang sekarang, mereka sendiri mengaku bahwasanya negara Sovyet Rusia itu belumlah “Negara Komunis”, barulah negara Sosialis. Sebabnya diadakan pemerintahan diktator, kata mereka ialah supaya akhir kelaknya negara itu menjadi negara komunis. Dalam negara komunis itu kelak, pemerintahan tak ada lagi, orang telah hidup sama rata-sama rasa, hidup laksana dalam syurga. Bahkan itulah syurga yang sejati, katanya.

Tetapi usahkan negara komunis akan tercapai, bahkan Negara yang sebenarnya kapitalislah yang kian lama kian bertubuh pada Republik Rusia itu. Bukan Negara atau pemerintahan yang dikendalikan oleh kaum kapitalis, tetapi negara itu sendirilah yang telah menjadi kapitalis-imperialis yang banyak jajahannya sesudah perang dunia ke II.

Orang tidak boleh memiliki apa-apa. Segala sesuatunya diatur oleh negara. Initiatief orang seorang dihilangkan, dan dileburkan kepada negara. Orang disuruh bekerja keras siang dan malam “siapa tidak bekerja tidak makan”. Enak bunyinya perkataan ini. Seluruh manusia disuruh mengorbankan tenaganya, untuk kepentingan Negara. Dan Negara itu ialah kita bersama.

Segala hasil jerih payah serahkan semuanya kepada Negara. Kelak negaralah yang menjamin makan minum dan menjamin rumah kediaman. Apakah akibatnya?

Perlombaan buat menghasilkan lebih banyak kian sehari kian hilang. Sebanyak-banyaknya hasil yang didapat, belum tentu kita sendiri yang mengecap hasil itu. Yang terang mewah hanyalah orang yang bekerja pada pemerintah. Terutama orang partai komunis.

Katanya sama rata sama rasa. Yang lebih merasakan sama dan rata, hanyalah orang yang telah meleburkan dirinya bagi kepentingan pemerintah. Mau tak mau dengan sendirinya timbullah Klas pula, yaitu Klas yang memerintah dan Klas yang terperintah. Untuk menjaga kekuasaan diktatornya, pemerintah menanam polisi-polisi rahasia, semua orang dicemburui, semua orang diintip. Kadang-kadang dengan kawan sendiri pun kita tidak percaya, karena mungkin dia disuruh mengintip kita.

Cara yang seperti itu, mau tidak mau menimbulkan malas. Malas menimbulkan mundurnya produksi. Kemalasan tentu saja memarahkan pemerintah. Inilah yang menyebabkan timbulnya manusia-manusia yang lebih hina dan melarat daripada budak-budak. Orang-orang yang dipandang mengkhianati cita-cita komunis dikirim ke tempat-tempat kerja paksa.

Jadi satu negara yang berpenduduk 300 miliun, adalah didiami oleh “buruh-tani” seluruhnya, yang menjadi budak daripada klas yang memegang kekuasaan. Yang senang ialah yang berkuasa.

Agama hendak dihapuskan. Kemudiannya ternyata bahwa agama hanya hapus daripada orang komunis, tetapi tidak dapat dihapuskan daripada rakyat banyak. Sebab golongan yang terbesar daripada rakyat ialah beragama Grieks-Katholik.

Propaganda anti-agama tambah digiatkan daripada dahulu. Dalam undang-undang dasar dinyatakan “kemerdekaan beragama”, dan merdeka pula buat menjadi “anti agama”. Timbulnya kata “kemerdekaan beragama” dalam undang-undang dasar kemudian, adalah bukti bahwa pekerjaan menghapuskan agama tidaklah semudah yang mereka sangkakan bermula. Walaupun segala macam teori telah dikemukakan.

Timbulnya pula kata “merdeka menjadi anti agama”, adalah usaha pemerintah buat melancarkan citanya. Tapi ini pun gagal. Orang telah bosan mendengarkan makian kepada Tuhan. Tambah agama didesak, tambah kuat orang memegangnya. Sehingga tinggallah pekerjaan anti agama itu menjadi pekerjaan pemerintah saja. Di sini nyatalah kegagalan lagi.

Tidak ada jalan lain lagi, hanyalah mendinding seluruh Negara yang telah jatuh ke bawah kekuasaan atau setelit Rusia dengan tabir besi terhadap ke luar, supaya orang luar jangan dapat menyaksikan apa kekejaman-kekejaman yang berlaku di dalam. Bahkan duta-duta asing yang tinggal di Rusia, dilarang keluar dari batas cirkel ibu kota. Dan orang dalam supaya jangan sempat ke luar negeri. Supaya jangan mereka ketahui bahwa, dan kapitalis-imperialis itu orang hidup bebas dan merdeka. Padahal kebebasan dan kemerdekaan itu pada mereka hanya sorak sorai sambil mengepal-ngepalkan tangan.

Jangan sampai mereka pergi keluar negeri, sehingga dilihatnya bahwa orang tak usah berbaris buat membeli kaus kaki di toko yang disediakan pemerintah.

Paling akhir ini berlombalah Rusia dengan Amerika mengundang orang-orang dari negeri lain supaya datang ke negeri mereka. Adapun yang datang ke Amerika, bebas berjalan ke mana mereka hendak pergi. Tidak ada yang menjaganya. Tetapi yang datang ke Rusia, diatur perjalanannya, sehingga hanya melihat tempat-tempat yang ditentukan oleh pemerintah. Dan mereka yang diundang itu dijaga dengan “sebaik-baiknya”, tidak dilengahkan sedikit juga. Dan bila mereka telah pulang kembali ke negerinya, merekalah yang dijadikan alat perkakas propaganda. Sehingga ada yang berkata bahwa di sana sekarang sudah tercapai syurga dunia, dan telah berjalan menurut peraturan Nabi Muhammad s.a.w.

“Selamat Tinggal” Komunis

Peperangan Dunia kedua membawa banyak perobahan bagi orang-orang Rusia yang sempat melihat negeri lain. Pegawai-pegawai pemerintah Rusia yang akan dikirim ke luar negeri sebagai wakil-wakil diplomatik dipilih benar-benar orang yang sudah boleh dipercaya, sesudah diuji dengan berbagai-bagai ujian.

Diketahui benar-benar sejarah hidupnya dalam partai, dengan melalui bermacam-macam saringan. Dan diberi ingat pula, bahwa barang siapa yang sedikit saja kelihatan berkhianat kepada cita-cita partai, akan “dikirim ke lobang kubur” walau di mana pun dia ada. Sebab orang Komunis di negeri yang akan didatangi itu dapat diperintah mencabut nyawanya.

Meskipun demikian, sudah sering kejadian pegawai-pegawai tinggi komunis Rusia itu lari dari kedutaan, lalu meminta perlindungan politik di negeri itu. Di tahun 1946 hal ini telah kejadian pada Victor Kervchenko pegawai tinggi yang diutus ke Amerika buat urusan perniagaan. Maka keluarlah bukunya yang bernama “I chose Freedom” (Saya pilih kebebasan). Dan dalam tahun 1954 yang lalu ini, Secretaris Kedutaan Rusia di Australia melarikan diri pula dari Kedutaan. Dan Nyonyanya yang telah dijemput oleh utusan Rusia dan hendak diangkut ke Rusia, telah turun dari kapal udara di Darwin, meminta perlindungan dari pemerintah Australia.

Pemimpin besar dan pahlawan komunis yang berjuang melawan Jenderal Franco sekretika perang saudara di Spanyol ketika telah gagal perlawannyna merebut kekuasaan di Spanyol, telah dapat melarikan dirinya ke Rusia. Demi sampai di sana, dilihatnya bahwasanya praktik perjalanan pemerintah kaum buruh itu berlainan benar dengan yang dicita. Usahkan dia mendekati, hanyalah menjauhi. Karena dia tidak tahan hati, banyaklah kritik terlempar dari mulutnya. Sehingga dia ditangkap dan dikirim ke Siberia untuk kerja paksa. Setelah menempuh berbagai persabungan nyawa, dan menderita penganiayaan-penganiaaan yang kalau kurang tabah, bisa mati atau gila, maka akhirnya dapat dia melarikan diri, melalui tabir besi. Kawannya mati ditembak, dan dia selamat.

Bukan itu saja, malahan telah banyak orang-orang yang tadinya sangat fanatik dalam komunis, setelah memasukinya benar dalam teori dan praktik, terus sekali berusaha melepaskan diri. Di antaranya ialah seorang penyebar komunis Belanda yang ternama di Indonesia ini, Ir. Baars. Sudah lama dia menarik diri. Demikian juga Darsono, yang namanya tempo dahulu disejajarkan dengan Marco, Semaun, Alimin, Muso dan lain. Dan di antara “murtad” komunis yang termasyhur di dunia ini, ialah Arthur Kutsler, seorang pujangga Hongaria, yang setelah dia taubat mengarang buku-buku dan essays menyatakan kesannya atau perbaikan hidup di dunia dengan kembali kepada agama “Khutbakh gunung” dari Yezus Kristus cukuplah untuk memperbaiki hidup ini. Demikian Kutsler.

Ajaran Komunis menyatakan bahwasanya perkawinan tidak perlu. Sebab perkawinan adalah salah satu pangkal yang menimbulkan permilikan (Tamalluk). Wanita adalah laksana segelas air, boleh dibuat semuanya. Setelah dipraktikkan, belum lama yakni masih di zaman Lenin juga, ternyatalah bahwa hal ini dapat dijalankan hanyalah dalam kalangan orang-orang yang telah rusak moralnya, meskipun dia telah dikomuniskan masih ada yang menentang hal ini. Belum juga mau! Sebab nyata melawan kepada tabiat manusia. Meskipun nikah ke gereja tidak ada, namun tidaklah banyak jumlahnya, yang mau memakan segala yang terletak. Masih banyak jumlahnya yang ingin beranak dan berketurunan. Kesudahannya teori “segelas air” ini tidak boleh dijalankan lagi. Meskipun rakyat umum telah diperintah dengan paksa, meskipun dengan diktator proletariaat, orang tidak mau mengikuti ketentuan ini. Orang masih hendak nikah ke gereja, dan masih hendak beranak berketurunan. Sehingga terpaksa undang dasar ditambah dengan “hak waris” ada dalam Sovyet,

Inilah satu kegagalan yang menjadi puncaknya segala kegagalan dalam Komunisme Rusia itu. Akhirnya yang boleh menginyam sesuka hati semua-maunya sembarang dengan perempuan yang dia suka atau laki-laki mana yang disukai, hanyalah terbatas dalam kalangan orang Komunis saja. Ertinya menjadi keistimewaan Klas yang berkuasa.

Rusia Imperialis

Lantaran itu Negara Sovyet Socialist Rusia, yang memerintah cara diktator untuk menuju Komunisme, tidaklah bertambah dekat kepada Komunisme, bahkan bertambah jauh. Tetapi kian sehari bertambah dekatlah bahkan sudah menjadi kenyataan, yaitu suatu negara Imperialis dari orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Suatu negara Imperialis besar yang mempunyai kaki tangan di seluruh Negeri. Suatu Imperialis yang hendak menguasai seluruh dunia, untuk kepentingan satu klas, yaitu klas Anti-Tuhan yang berpusat di Kremlin.

Untuk menutupi kenyataan ini, bersoraklah mereka ke seluruh dunia, bahwa mereka ingin damai. Dan untuk menyembunyikan kenyataan ini, bersoraklah mereka ke seluruh dunia bahwa mereka “Anti imperialis”.

Tetapi pada negeri yang telah menjadi satelit mereka, sebagai negeri-negeri Europa Timur, tidaklah dapat disembunyikan lagi bagaimana kejamnya Imperialis Moskow itu. Yang berkuasa dalam negeri itu ialah kaum Komunis di sana, yang menerima instruksi dari Moskow.

Seorang pemegang pemerintahan yang mencoba melanggar instruksi Moskow, ada harapan dijatuhkan dan dihancur leburkan. Dia akan dipanggil ke Moskow dan diminta pertanggungan jawabnya. Berkeliaranlah di negeri-negeri Satelit itu “adpisur” dari Moskow, dengan gaji besar dan hidup mewah, dalam segala lapangan. Bahkan di Polen, Menteri Pertahanan Polen ialah seorang Jenderal Rusia. Jajahan Rusia luas jadinya, di antara sekian banyak malah bukan sedikit umat Islam disikatnya.

Rupanya Maarschalk Tito tidaklah tahan hanya menjadi alat perkakas Moskow. Meskipun dia seorang Komunis, tetapi dia adalah orang Yugoslavia. Dia hendak bebas mengatur negerinya sendiri, yang mencapai kemerdekaan karena usahanya sendiri. Maka Titolah negeri satelit yang dahulu sekali memproklamirkan melepaskan dirinya daripada ikatan Moskow. Tentu saja Moskow dan seluruh orang komunis yang telah diikat pikirannya oleh Moskow menuduh Tito seorang pengkhianat besar, tetapi baru-baru ini didekati lagi karena Rusia merasa lemah kedudukannya.

Menjadi teka-teki orang pula tentang hal Mao Tze Tung, Kepala Komunis Tiongkok. Dia mempunyai teori ciptaan sendiri yang bernama “New Demokrasi”, agak mengencong sedikit daripada teori Marx dan Lenin dalam hal pelaksanaan. Ketika Stalin masih hidup, orang telah memperhatikan dengan seksama, bagaimanakah agaknya kesan yang akan timbul di antara dua ini.

Ada orang mengatakan bahwa taraf Mao lebih tinggi dari Stalin. Sebab dia adalah penafsir teori Marx yang langsung, sebagaimana Lenin penafsir teori Marx yang langsung pula. Yang pertama buat memperhatikan komunis di Tiongkok, dan yang kedua di Rusia. Sebab itu orang tidak mendudukannya sama dengan Stalin, tetapi dengan Lenin.

Ada orang meramalkan bahwa kerjasama kedua Negara Komunis yang besar itu di zaman sekarang, lebih berat kepada persamaan kepentingan, sebab sama dibekot oleh lawan-lawannya, daripada persamaan menjalankan ideologi. Dan ada orang meramalkan bahwasanya pendirian Mao Tze Tung hampir bersamaan dengan pendirian Tito.

Cuma tunggu waktu saja. Bagaimana juga keduanya adalah komunis! Dan komunis adalah anti Tuhan!

Pertentangan Islam dengan Komunis

Demikianlah perjuangan prikemanusiaan dari zaman ke zaman. Perjuangan di antara kepercayaan akan adanya Tuhan dengan gerakan meniadakan Tuhan. Berdirinya negara-negara Komunis, adalah semburan dari para rasa tidak puas manusia, karena loba tamak manusia mengumpul harta. Karena kehidupan yang tidak seimbang di antara yang empunya (have) dengan yang tidak punya apa-apa (havenot).

Timbulnya kapitalisme, imperialisme, penindasan yang kaya kepada yang miskin, pemerasan keringat si buruh dan si tani, perbudakan modern abad keduapuluh, dimulai dari abad sebelumnya, ialah karena manusia itu sendiri telah meninggalkan saripati agama, dan agama diperkuda-kuda oleh klas berkuasa untuk mengokohkan kekuasaan. Lalu si melarat, miskin murba dan sebagainya itu, merasa bahwa agama inilah biang keladi kemelaratan mereka. Ahli agama bersekongkol dengan klas berkuasa untuk menindas mereka. Sehingga Destejosky, Pujangga Rusia pernah mengatakan, bahwa sekiranya Nabi Isa Almasih hidup kembali dan datang kepada manusia di zaman ini, mungkin beliau yang aseli itu telah banyak dirobah orang dan telah ditinggalkan orang intisarinya.

Di sinilah nyata pertentangan yang hebat di antara kita dengan komunis atau ajaran Marx. Padahal kita berkeyakanin bahwasanya yang menimbulkan kekacauan dunia ini adalah setelah manusia hidup dengan semaunya sendiri dan keluar daripada hakikat agama.

Mereka hendak meninggalkan pokok untuk memperbaiki susunan dunia. Oleh sebab itu, mereka hanya dapat menukar yang buruk kepada yang lebih buruk, sebagaimana telah terbukti dalam masa 38 tahun. Dan 38 tahun belumlah ada artinya dalam sejarah; padahal dalam masa sesingkat itu telah nampak kegagalannya.

Adapun kita, tidaklah membutakan mata melihat segala kepincangan ini. Kita pun melihat kemelaratan, kemiskinan, buta huruf; kekayaan berlebih-lebihan, kemiskinan yang berlebih-lebihan pula. Kita melihat kapitalis, imperialis, penghisapan darah. Kita pun hendak memperbaikinya, menukar yang buruk dengan yang baik, dan mengembalikan manusia kepada asalnya, yaitu kepercayaan kepada Tuhan.

Kerusakkan dan kekacauan dunia sekarang ini, berpokok kepada berkurangnya kepercayaan kepada Tuhan, dan naiknya kepercayaan kepada BENDA! Kalau ingin aman tenteram, kembali kepada Tuhan.


PANDANGAN KOMUNIS TERHADAP ISLAM

Bila kita telah memahami bahaya Komunisme, maka perlu kita ketahui pula bagaimana pandangan komunis terhadap Islam. Kita semua maklum bahwa komunis membenci bahkan menghancurkan semua Agama, yang dalam hal ini kita perlu pula mengetahui bagaimana sebenarnya pandangan komunis terhadap Islam.

Mengenai ini Exsiklopedia Rusia Terbaru telah membuat keterangan-keterangan tentang Islam, yang sangat membalikkan kenyataan dan mengelirukan pandangan dan pengertian sejarah yang sebenarnya, sebab Exsiklopedia itu disusun dari buah pikiran-pikiran Marxist yang anti Agama dan Tuhan.

Dalam Exsiklopedia itu diterangkan bagaimana pandangan komunis sebenarnya terhadap Islam, sebagai di bawah ini:

Islam (bahasa Arabnya—penyerahan diri) atau sejarah Muhammad, suatu agama yang timbul pada permulaan abad ke-7 di Arab, yang kemudian tersebar sebagai hasil dari penaklukan-penaklukan orang Arab di Timur Dekat, Asia Tengah, Afrika Utara dan Eropa Barat Raya. Pada waktu sekarang Islam tersebar dengan luas di negara-negara Timur Dekat dan Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Tenggara dan sebagian di negara-negara Timur Dekat. Agama Islam sebagaimana agama-agama yang lain, selalu memainkan peranan yang reaksioner yang dilakukan oleh kelas-kelas pemerintah sebagai senjata untuk mennindas secara rokhani kaum-kaum yang membanting tulang dan dilakukan oleh penjajah asing untuk memperbudak bangsa-bangsa Timur.

Dikatakan karena Ekonomi

Pendirian agama Islam telah ditimbulkan oleh susunan masyarakat Arab. Dalam abad ke-6 suatu proses perobahan dari sistem masyarakat primitip berlangsung di Arab, yang penduduknya terdiri dari kaum pemelihara ternak yang mengembara (bangsa Badui), petani-petani yang menetap, pedagang-pedagang dan akhli-akhli pertukangan.

Pertentangan-pertentangan ekonomi dan sosial yang menjadi sipat perobahan dari hubungan-hubungan masyarakat yang primitip, mencapai perkembangannya yang terbesar di Kota Mekkah (propinsi Hedjaz di Arabia Barat), yang penduduk aselinya terdiri dari suku bangsa Quresy. Ketidak samaan dalam harta milik di kalangan penduduk Mekkah, mengakibatkan bertambah kuatnya kekuasaan dan mengadakan pengaruh dari golongan-golongan aristokrasi setempat. Yang disebut kemudian ini mengadakan perdagangan dengan kapilah yang besar (terutama perdagangan budak) dengan negara-negara tetangga, membiarkan penduduk Mekkah dan suku-suku bangsa Badui yang berdekatan dalam suatu keadaan mempunyai hutang yang terus menerus dan tidak bebas, mereka mempunyai budak-budak, domba-domba, dan tanah. Di samping itu, aristokrasi langsung di Mekkah, mempunyai jabatan sebagai pendeta-pendeta di Ka'bah, puri Mekkah.

Suku bangsa di Arab Selatan yang secara ekonomis tergantung kepada Mekkah tiap-tiap tahun naik haji—hajz—ke Ka'bah dan selama melakukan haji itu perdagangan pun berlangsung dengan penduduk-penduduk Mekkah. Ada perbedaan-perbedaan pendapat di kalangan penyelidik-penyelidik Sovyet mengenai persoalan sifat hubungan-hubungan produksi yang dijalankan di Arab Barat. Beberapa penyelidik berpendapat, bahwa dalam abad ke-6 di Mekkah, Medinah dan propinsi yang lain suatu sistem mempunyai budak sedang mengalami proses pembentukan dalam pembentukan dalam masyarakat primitip yang mengalami perobahan itu; yang lain-lain mempunyai anggapan, bahwa proses pembentukan suatu masyarakat yang feodal telah berlangsung di sana pada masa itu.

Berhubung dengan pembentukan suatu masyarakat yang berkelas di Arab, suatu krisis ekonomi dan sosial sedang tumbuh di kalangan suku-suku bangsa, yang akibatnya perkembangan agama Islam, yang membenarkan ketidak samaan sosial dan ekonomi dan sistem pemerasan yang sedang dikerjakan itu.

Aristokrasi langsung itu berusaha untuk memecahkan krisis itu, dengan jalan menaklukkan daerah-daerah yang baru, tapi untuk maksud ini adalah perlu untuk mempersatukan semua suku-suku bangsa Arab. Islam dengan monotheisme-nya yang tegas, mempercerminkan keinginan besar akan persatuan. Proses pembentukan suatu ideologie yang baru dalam bentuk Islam dipercepat oleh mundurnya perdagangan transito di Mekkah, disebabkan berdirinya kerajaan Abesinia dan Persia di Arab Selatan. Menurut Karl Marx, kemunduran itu memberikan semangat untuk menegakkan Islam. (Lihat karangan Marx dan Engels, pasal 21, halaman 488). Sebagai akibat kemunduran perdagangan transito Mekkah, tekanan dari pedagang-pedagang Mekkah dan lintah-lintah darat terhadap suku-suku Badui bertambah-tambah.

Konsep suku-suku bangsa Arab yang primitip dan bersifat keagamaan maupun kenasranian, agama Yahudi dan ajaran-ajaran Zaratustra besar pengaruhnya terhadap pendirian agama Islam. Peninggalan-peninggalan yang besar dari Islam yang mula-mula ialah Qur'an yang tercantum dalamnya dasar dari dogma-dogma, kebudayaan dan undang-undang Islam yang mula-mula. Sejarah Islam yang mula-mula dengan sederhana dibagi dalam masa Mekkah, dan masa Medinah, sesuai dengan pembagian yang sama dari juz-juz (bagian) Qur'an. Dalam masa Mekkah, Allah (Tuhan orang Muslim) meramalkan akan datangnya hari kiamat yang cepat “hukuman-hukuman yang mengerikan” dan mengancam orang-orang munafik yang tidak mengakuinya sebagai raja. Yang Maha Kuasa dengan siksaan-siksaan neraka; orang yang menyerahkan diri katanya dan orang-orang sabar dijanjikan oleh Allah setelah matinya kesenangan-kesenangan di Sorga. Dalam masa Mekkah, perbudakan dan ketidak samaan dalam harta benda dikemukakan sebagai suatu gejala yang diciptakan oleh Allah sendiri—oleh karena itu, tak dapat diubah-diubah.

Membawa Perbudakan

Pandangan yang dikemukakan oleh beberapa pembela Islam tentang “komunisme” Islam mula-mula, dan bahwa Muhammad, yang dianggap sebagai pembina Islam, pada hakekatnya, adalah seorang revolusioner dan pembaharu masyarakat yang besar, hanya dimaksudkan untuk menutup kebenaran pokok-pokok agama Islam. Qur'an, yang dengan teguh dan tetap mempertahankan dan membenarkan perbuatan (menganggap, bahwa perbudakan diciptakan oleh Allah), pemerasan kemiskinan, dan ketidak samaan orang dalam masyarakat menjadi sanggahan yang terbaik dari pemalsuan yang semacam itu.

Di Mekkah, Islam tersebar dengan sangat terbatas, Aristokrasi bangsa Qureisy yang memusuhi agama yang baru itu, merasa, bahwa kemenangannya akan mengakibatkan hapusnya kebudayaan Ka'bah, dengan mana perdagangan penduduk Mekkah dihubungkan dengan suku-suku bangsa Arab. Menurut cerita kuno yang turun-menurun, dalam tahun 622 Muhammad dan beberapa pengikutnya berpindah (hijrah) ke Medinah. Di daerah-daerah petanian oasis ini, Islam dengan cepat diterima di kalangan kedua suku-suku bangsa Arab itu. Suku bangsa yang ketiga yang dinamakan suku-suku bangsa Yahudi (mungkin orang-orang Arab yang beragama Yahudi) diusir dari Medinah dan sebagian lagi dimusnahkan, tanah-tanah tempat tinggal mereka dimiliki oleh orang-orang Islam. Orang-orang Muslim Medinah, yang dikepalai oleh Muhammad, memerangi penduduk Mekkah. Perjuangan ini berakhir dengan suatu kompromi dalam tahun 630.

Suatu persetujuan diadakan, menurut persetujuan mana penduduk Mekkah menerima agama Islam dan menduduki tempat-tempat yang penting dalam masyarakat Muslim, dan pengikut-pengikut Muhammad mengakui Mekkah sebagai sebuah kota yang suci dan Ka'bah sebagai satu-satunya tempat Suci, yang ditentukan sebagai tempat menunaikan Haji, bahkan mereka tetap memelihara penyembahan berhala purbakala “penyembahan batu hitam—yang terletak di Ka'bah”.

Masyarakat ini yang mempersatukan penduduk menurut pergabungan mereka dalam agama yang baru itu, berbeda-berbeda sangat dengan organisasi-organisasi linial yang ada pada waktu dahulu, dalam mana penduduk bersatu, terutama disebabkan hubungan keturunan. Masa Medinah mengatur harta kekayaan dan hubungan masyarakat dengan aturan-aturan suatu masyarakat yang sudah dalam proses pembentukannya. Dalam masa-masa ini banyak perhatian diberikan kepada milik perseorangan dan cara mempertahankan hak-hak si pemilik.

F. Engels menulis: “Islam adalah suatu agama yang disesuaikan dengan bangsa-bangsa Timur, terutama dengan bangsa Arab, yakni, pada satu pihak dengan penduduk-penduduk kota dan pedagang dan bertukang, dan dapat fihak yang lain, dengan suku-suku bangsa Badui yang hidup mengembara”. (Marx, K. dan Engels F. Buku, jilid 16, bagian 2, hal. 410).

Qur'an Dikelirukan

Qur'an mengajarkan, bahwa tiap-tiap orang Muslim harus percaya pada Tuhan—Allah—dan mengakui Muhammad sebagai “Rasul Allah”. Qur'an melukiskan manusia ini sebagai hamba Allah tanpa kemauan-kemauan yang wajib tawakal dan sabar dan menyerahkan diri kepada Allah, “Rasulnya” dan kepada yang memegang kekuasaan. Ibadah-ibadah (upacara agama) yang penglaksanaannya menjadi kewajiban bagi semua orang Muslim, mempunyai maksud yang pokok untuk memasukkan dalam hati orang-orang yang ta'at suatu perasaan yang tak berdaya di muka Tuhan dan bergantung kepada-Nya. Menurut Qur'an, tiap-tiap orang Muslim wajib bersembahyang, melakukan ‘ibadah puasa selama tahun Islam yang kesembilan—Ramadhan, menunaikan haji ke Mekkah, membayar pajak—(zakat (lihat)—yang dipungut dari hasil panen, ternak dan keuntungan perdagangan. Dengan berbagai jalan Qur'an membenarkan dan menganjurkan jihad—suatu “peperangan suci” orang “munafik”—orang yang bukannya Islam—yang maksudnya ialah untuk menyebarkan Islam.

Dalam abad ke-7 dan ke-8 bangsa Arab menaklukkan Palestina, Siria, Mesopotania, Persia, Transtokasia, Asia Tengah, Mesir, Afrika Utara, Semenanjung Pyrenia dan India Utara. Di bawah panji-panji “peperangan suci”, penaluk-penaluk bangsa Arab memaksakan Agama Islam kepada bangsa-bangsa yang dijadikan budak di beberapa negara yang ditaklukkan dengan api dan pedang.

Suatu negara yang luas dibentuklah di negara-negara yang ditaklukkan itu—Khalifah, di mana Islam menjadi agama yang berkuasa. Di negara ini; tiap-tiap orang yang tidak masuk agama Islam diwajibkan membayar pajak yang tinggi (dziyah). Dalam pemerintahan Khalifah penaluk-penaluk bangsa Arab menjadi pendukung pengaruh yang kuat dari bangsa-bangsa yang ditaklukkan, yang hidup dalam suasana sistem feodal. Jadi, Islam dalam pemerintahan Khalifah yang feodal, mulai berobah menjadi suatu “agama dunia” (?).

“Perobahan-perobahan sejarah yang besar”, tulis Engels, “adalah disertai perobahan-perobahan dalam agama, hanya kalau kita berbicara tentang tiga agama dunia yang ada pada waktu sekarang agama Budha, agama Kristen dan agama Islam”. (F. Engels Ludwig Faurbach dan akhir dari filsafah klasik Jerman, 1951, halaman 27).

Sunnah dan Sareat Disalah Mengertikan

Dalam pemerintahan Khalifah, dalam keadaan-keadaan berkembangnya hubungan feodal, Islam dalam bentuknya yang asli sebagaimana dinyatakan dalam Qur'an, sudah tidak memenuhi kepentingan-kepentingan sosial politik dari golongan-golongan yang memerintah. Oleh karena itu untuk memperlengkapi Qur'an itu, timbullah “cerita-cerita kuno yang suci” orang Muslim—ialah sunnah—yang terdiri atas banyak hadis-hadis, yaitu cerita-cerita yang berisi tindakan-tindakan dan putusan-putusan yang katanya dibuat oleh Muhammad.

Sunnah, sama dengan Qur'an yang membenarkan adanya sistem kelas dan pemerasan, menguatkan semua yang baru yang timbul dalam dogma, kebudayaan dan upacara agama dalam Islam sebagai hasil perkembangannya dalam keadaan masyarakat feodal yang mula-mula, termasuk semua hal yang diterima oleh orang Muslim hari kepercayaan-kepercayaan agama, undang-undang dan adat istiadat dari bangsa-bangsa yang ditaklukkan.

Juga Syareat—suatu code hukum Islam feodal, yang dengan perintah-perintah yang teliti mengatur semua segi-segi dari kehidupan seorang Muslim, telah diperkembangkan atas dasar Qur'an sunnah. Dalam satu setengah abad timbulnya agama Islam, para ‘alim ‘ulama Islam, menganggap Qur'an dan sunnah sebagai satu-satunya sumber kepercayaan dan tuntunan. Dogma yang tak dapat diubah itu mengabarkan tentang takdir, menurut mana semua tindakan-tindakan seseorang telah ditetapkan lebih dahulu oleh Allah.

Perjoangan-perjoangan dari aliran-aliran dan naskah-naskah sangat berbeda-beda adalah ciri dari sejarah Islam. Sudah sejak abad pertama timbulnya, agama Islam terbagi dalam dua mazhab yang besar kaum sunnah dan kaum shi'ah.

Demikian kita ikuti seperlunya isi Ensiklopedia yang panjang itu.

Dengan ini jelaslah bagi kita bahwa agama Islam ini oleh komunis dianggap reaksioner, yang timbulnya dikatakan karena susunan masyarakat Arab, padahal Islam tidak ada sangkut pautnya dengan ekonomi Arab yang bagaimana pun keadaannya. Islam timbul kedua untuk menjadi petunjuk perbaikan (hidayah) kepada manusia seluruhnya agar mereka berbahagia dunia dan akhirat.

Dalam melihat dari segi susunan ekonomi Arab, komunis mengatakan bahwa Islam membenarkan pemerasan padahal tidak satu ajaran Islam pun yang membenarkan pemerasan karena pemerasan itu adalah penganiayaan yang dibenci oleh Tuhan. Selanjutnya dianggap oleh mereka bahwa Qur'an membenarkan perbudakan, padahal Islam membasmi perbudakan dengan berangsur-angsur agar mereka tidak melarat, bahkan ini dianggap satu perjoangan yang tinggi pula nilainya.

Islam adalah agama buat kebahagiaan dunia dan akhirat, akan tetapi komunis menuduh Islam baru menjadi agama dunia setelah pimpinan berada di tangan Khalifah, sedang selanjutnya komunis memandang bahwa Qur'an sudah tak memenuhi hasrat (kepentingan) sosial-politik, lantas timbul “sunnah”.

Bagaimana sesatnya atau sengaja memutar pengertian, maka komunis menceritakan yang bukan-bukan saja, sebab Qur'an itu adalah sesuai buat setiap zaman, apa zaman sahabat (Khalifah) atau zaman tekhnik sekarang ini. Dan “sunnah” yang dianggap cerita-cerita kuno-kuno, adalah timbul bersama perkembangan Islam dari ucapan, perbuatan Nabi Muhammad s.a.w., jadi bukan karena Qur'an tak bernilai lagi, timbul sunnah yang dikatakan “cerita kuno”.

Oleh komunis kedua-duanya Qur'an dan Sunnah dikatakan membenarkan pemerasan, sedangkan yang sebenarnya sebagai pokok dasar dari Islam, adalah membasmi pemerasan dalam bentuk apa pun jua.

Qur'an dan Sunnah itu memberi petunjuk bagaimana hidup di dunia ini mempergunakan alat-alat yang diberi Tuhan, akan tetapi oleh komunis keduanya dikatakan ajaran menyerah pada takdir saja, sedang takdir itu atau tawakal, sebenarnya menimbulkan initiatip dan activiteit.

Syareat oleh komunis dianggap kode hukum feodal dengan arti bahwa hukum Islam itu hanya hukum orang feodal buat mencekik si melarat, padahal hukum-hukum Islam itu dalam keseluruhannya, memberi garis dan batas agar terjaminnnya hubungan baik antara sesama manusia, sedang yang paling mulia dalam pandangan Islam, bukan yang kaya dan bangsawan tetapi yang “taqwa” kepada Tuhan, berbakti kepadanya.

Sebenarnya, pokok soal adalah komunis sebagai suatu gerakan hendak menghancurkan agama, melihat semua agama itu sebagai anasir-anasir yang perlu dicabut akar-akarnya. Oleh karena Islam adalah agama yang besar pengaruhnya, maka komunis sementara waktu membuat keterangan yang melaini asalnya Islam, agar dapat mereka mematahkan ajarannya. Semuanya berpokok komunis anti agama.

Islam, Qur'an, Sunnah, Hukumnya, yang dalam pembicaraan untuk agama dan Tuhan, berhubung erat-erat satu sama lainnya, maka oleh komunis semua itu hendak dibicaraan tentang agama dan Tuhan, berhubung erat-erat satu sama lainnya, maka oleh komunis semua itu hendak dikacau balaukannya.

Begitulah mereka dan kita mengetahui.


قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْا اِلَى اللّٰهِ ۘعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ. (يُوسُف: ١٠٨)

Katakanlah: Inilah khithahku, aku panggil manusia kepada agama Allah dengan bukti; aku beserta pengikut-pengikut-ku ...!

FATWA MAJLIS SYURA MASYUMI PUSAT TENTANG KOMUNISME

Pada waktu kongres Masyumi ke VII di Surabaya 23-27 Desember tahun 1954 yang lalu, maka Majlis Syura Masyumi Pusat dalam kongres tersebut. telah membahas soal komunisme dengan sedalam-dalamnya untuk melahirkan satu fatwa yang lengkap.

Sebenarnya sebelum itu sejak perjuangan ideologi di Indonesia memuncak sedemikian hebatnya, di mana golongan komunis tampak hendak mengabui mata umum setelah perbuatannya yang telah lalu di Madiun, dan perbuatannya yang merugikan keagamaan di mana jua, maka dari pihak Alim Ulama sudah disuarakan bahaya komunisme ini, biar dalam rapat-rapat umum, maupun pada pertemuan-pertemuan lainnya.

Dalam pada itu disadari pula bahwa di antara mereka yang diperdayakan oleh komunis itu, terdapat sekian banyak mereka yang ikut-ikutan, karena tak mengerti duduk soal yang sebenar-benarnya dan tak pula dapat penerangan dan pegangan.

Berdasarkan tanggung-jawab yang utama kepada Tuhan dan keadaan dalam masyarakat, maka Ulama-Ulama dan kiyai-kiyai yang berada dalam Majlis Syura Masyumi Pusat, sewaktu kongres Masyumi di Surabaya itu, telah membicarakan dan membahas, yang akhirnya telah mengeluarkan fatwa-fatwa KOMUNISME ITU KUFUR, barang siapa yang mengikutinya dengan kesadaran, adalah KAFIR, dan yang tidak sadar adalah SESAT.

Selengkapnya di bawah ini dapat diikuti fatwa itu:

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Majlis Syura Pusat Partai Politik Islam “MASYUMI” yang telah bersidang selama Muktamar Masyumi yang ke-VII tanggal 28 R. Akhir—3 J. Auwal ‘74 Hijrah, (23-27 Desember 1954) Miladiyah, di Surabaya, yang dihadiri oleh 11 orang anggautanya.

Mendengar.

Penjelasan Pimpinan Partai tentang:

  1. isi dan hakikat komunisme serta cara-cara perjoangannya.
  2. perlunya Masyumi mendapat fatwa tentang hukum Islam terhadap komunisme.

Membahas.

Pokok-pokok ajaran komunisme dari beberapa buku karangan pemimpin-pemimpin komunis (Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin) serta perbandingannya dengan ajaran dan hukum Islam.

Berpendapat.

I. Komunisme adalah falsafah yang berdasarkan historiskh-materialisme (paham kebendaan berdasarkan sejarah sebagai tersebut dalam:

a. “Manifes Kommunis”, karangan Karl Marx dan Friedrich Engels cetakan ke V diterbitkan oleh “PEGASUS” Amsterdam, halaman 34 berbunyi:

“De leidende grondgedachte van het manifest: dat de economische productie en de daaruit noodzakelijk voortvluiende maatskhappelijke geleding van ieder historische tijdperk de grondslag vormt voor de politieke en intellectuele geschiedenis van dit tijdperk”.

Artinya: “Dasar pikiran yang menuntun dalam “Manifest Komunis” ialah: bahwa produksi-ekonomi dan susunan masyarakat yang pasti timbul daripadanya dalam tiap-tiap masa-sejarah merupakan DASAR bagi sejarah kemajuan politik dan pikiran masa-sejarah itu”.

b. “Zur Kritik der Hegelskhen Rechtspilosophie” (Einleitung), karangan Karl Marx tahun 1844 berbunyi:

“Die Religion ist der Seufzer der bedrangten Kreatur, das Gemut einer Herzlosen Welt, wie sie der Geist geistloser Zustande ist. Sie ist das Opium des Volks”.

Artinya: “Agama adalah keluhan dari makhluk yang tertindas.

“Agama adalah jiwa dari dunia yang tidak mengenal belas kasihan.

“Agama adalah jiwa dari keadaan yang tidak bersemangat.

“Agama adalah candu bagi rakyat”.

BERTENTANGAN DENGAN

Ajaran Islam yang menyatakan bahwa yang Menjadikan dan memberi segala sesuatu, baik berwujud kebendaan maupun kerohanian adalah ALLAH sebagai tersebut dalam:

a. Alqur'an s. Jatsiyah: 22:

وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ. (الْجَاثِيَة: ٢٢)

Artinya: “Dan Allah menjadikan langit dan bumi dengan hak” (tidak sia-sia).

b. Alqur'an s. Al Furqaan: 2:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا. (الْفُرْقَان: ٢)

Artinya: “Dan Allah menjadikan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan kadarnya”.

c. Alqur'an S. Alkahfi: 84:

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا. (الْكَهْف: ٨٤)

Artinya: “Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepada (Zulkarnain) di bumi dan Kami kurniakan kepadanya sebab yang menyampaikannya kepada tiap sesuatu”.

d. Alqur'an S. Annisa: 78:

قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا. (النِّسَاء: ٧٨)

Artinya: “Katakanlah, segala sesuatu adalah dari Allah, kenapa kaum itu hampir tidak mau mengerti keterangan”.

II. Komunisme memusuhi agama dan memungkiri adanya Tuhan, sebagai tersebut dalam:

a. buku “Christendom en Comunisme” karangan Dr. Strijd, halaman 94 yang mengutip dari buku “Aus gewahlte Werke” karangan Lenin, halaman 281, berbunyi: “De Marxist mut materialist zijn d.w.z. vijand van de Religie”.

Artinya: “Seorang Marxist harus menjadi seorang materialist, artinya musuh agama”.

b. buku tersebut halaman 193, berbunyi:

“In Moskou werd op de muur tegen over de beromede kapel van de Iberische Theotokos de spreuk: Godsdienst is opium voor het volk, ingebeiteld”.

Artinya: “Di Moskou dipahatkan pada tembok di depan Gereja Theotokos yang terkenal itu semboyan yang berbunyi: Agama adalah candu bagi rakyat”.

c. buku “Christendom en Comunisme” halaman 190 berbunyi: “Deze Ludwig Feuerbach keerde het getuigenis van Genesis I “God schiep de mens” om, en maakte er van: De mens schept zijn, eigen god”.

Artinya: “Feuerbach yang mempengaruhi jiwa Karl Marx, merobah ayat Injil yang berbunyi: Tuhan menciptakan manusia, menjadi: Manusialah yang menciptakan Tuhan serupa dengan manusia”.

Karl Marx berkata: “Die Religion ist Machwerk des seines eigenen Kopfes”.

Artinya: “Agama adalah hasil bikinan kepala manusia saja”.

BERTENTANGAN DENGAN:

Ajaran Islam yang mengakui Allah dan mengakui adanya agama-agama sebagai tersebut dalam Al-Qur'an:

a. s. Albaqarah 28:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. (الْبَقَرَة: ٢٨)

Artinya: “Mengapa kamu tidak percaya kepada Allah padahal kamu dulunya benda yang mati, lalu kamu Ia hidupkan, kemudian Ia matikan, kemudian Ia hidupkan lagi, kemudian kepadaNya kamu akan kembali”.

a. s. Alkafirun 6:

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ. (الْكَافِرُونَ: ٦)

Artinya: “Untuk kamu agamamu dan untuk aku agamaku”.

b. s. Yunus 99:

أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ. (يُونُس: ٩٩)

Artinya: “Apakah engkau hendak memaksa manusia supaya mereka beriman”.

c. s. Baqarah 256:

لَآ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ. (الْبَقَرَة: ٢٥٦)

Artinya: “Tak ada paksaan dalam agama”.

III. Komunisme melenyapkan ikatan keluarga dan menjadikan wanita milik bersama, sebagai tersebut dalam:

a. “Manifes Komunis” halaman 70 yang bunyinya: “Het gezin der bourgeoisie valt natuurlijk weg met het weg-vallen van deze aanvulling daarvan, en beide verdwijnen met het verdwijnen van het kapitaal”.

Artinya: “Keluarga kaum borjuis tentunya akan lenyap bersama-sama dengan lenyapnya keadaan yang memaksa kaum proletar tidak berkeluarga dan kedua-keduanya akan lenyap banyaknya modal”.

b. Idem halaman 71 berbunyi: “De Communisten behuve de vrouwen gemeenschap niet in te vuren, zij heeft bijna altijd bestaan”.

Artinya: “Kaum komunis tidak perlu mengadakan sistem “Wanita milik sama”, sistem itu hampir selamanya ada.

c. Idem halaman 71 berbunyi:

“Opheffing van het gezien: zelfs de radicalisten winden zich op over deze skhandelijke beduling der communisten.

Waarop berust het tegenwoordige burgerlijke gezin? Op het kapitaal op het persoonlijk verworven bezit. Volledig ontwikkeld bestaat het gezin slechts voor de bourgeoisie, maar het vindt zijn aanvulling in de gedwongan gezinsloosheid der proletarier en in de openbare prostitutie”.

Artinya: “Penghapusan keluarga. Orang yang paling radikal sekalipun akan marah ketika mendengar maksud yang keji dari kaum komunis itu. Berdasarkan apakah hidup berkeluarga kaum borjuis sekarang ini? Berdasarkan modal, berdasarkan hak milik perseorangan. Syarat-syarat berkeluarga itu hanya ada sepenuhnya pada kaum borjuis, tetapi hal itu disambung dengan ketidak adaan keluarga yang dipaksakan oleh keadaan dari kaum proletar dan disambung pula dengan adanya perzinaan umum”.

BERTENTANGAN DENGAN:

Ajaran Islam yang memelihara dan mengatur serta menganggap suci ikatan keluarga dan perkawinan serta mengharamkan perzinaan, sebagai tersebut dalam Al-Qur'an.

a. s. Annisa’: 3.

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ. (النِّسَاء: ٣)

Artinya: “Maka bernikahlah kamu dengan perempuan yang baik bagimu”.

b. s. Al-Isra’: 32.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً ۗ وَسَاءَ سَبِيلًا. (الْإِسْرَاء: ٣٢)

Artinya: “Dan janganlah kamu dekati perzinaan karena ia adalah perbuatan yang keji dan cara yang buruk”.

c. s. Al Anfaal: 75.

وَأُولُوا الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ. (الْأَنْفَال: ٧٥)

Artinya: “Dan kaum keluarga sebahagian adalah lebih dekat dari sebahagiannya menurut Kitab Allah”.

d. s. Muhammad: 22.

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ. (مُحَمَّد: ٢٢)

Artinya: “Apakah jika telah berkuasa, kamu berbuat bencana di bumi dan memutuskan hubungan keluargamu?

IV. Komunisme pada dasarnya melenyapkan hak milik perseorangan atas alat-alat produksi dan kekayaan sebagai tersebut dalam “Manifest Komunist” halaman 65 yang berbunyi:

“Wat het communisme kenmerkt, is niet de afskhaffing van de eigendom in het algemeen, doch de afskhaffing van de burgerlijke eigendom. Maar de moderne, burgerlijke, private eigendom is de laatste en meest volmaakte uitdrukking van de voortbrening en de tu eigening der producten, die op klassentegenstellingen, op uitbuiting van de enen door de anderen berust. In die zin kunnen de communisten hun theorie samenvatten in de ene uitdrukking: opheffing van de private eigendo.

Artinya: “Yang menjadi sifat komunisme bukanlah penghapusan hak milik pada umumnya, melainkan hak milik perdata. Akan tetapi hak milik orang-seorang menurut hukum perdata sekarang adalah penjelmaan yang terakhir dan tersempurna daripada produksi dan penguasaan atas hasil-hasil produksi yang berdasarkan atas pertentangan kelas dan pada pendasan satu kelas terhadap yang lain. Dalam pengertian ini kaum komunis dapat merumuskan theorienya dengan satu kalimat: “Penghapusan hak milik perseorangan”.

BERTENTANGAN DENGAN:

Ajaran Islam yang pada dasarnya mengakui hak milik perseorangan atas alat-alat produksi dan kekayaan, asal diperoleh dengan cara yang halal. Atas hak milik ada batas-batas kewajibannya serta dapat diatur dan dipimpin untuk kepentingan umum sebagai tersebut dalam Al-Qur'an.

a. s. Isra’: 30.

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ. (الْإِسْرَاء: ٣٠)

Artinya: “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya dan menyempitkan rezeki atas siapa yang dikehendakiNya”.

b. s. Anisa‘: 32.

لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ. (النِّسَاء: ٣٢)

Artinya: “Laki-laki berhak dari apa yang diusahakannya dan wanita berhak dari apa yang diusahakannya”.

c. s. Azzdariyaat: 19.

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ. (الذَّارِيَات: ١٩)

Artinya: “Dan di dalam harta-benda mereka ada hak bagi peminta dan orang yang tak punya.

d.s. Albaqarah: 219.

وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ. (الْبَقَرَة: ٢١٩)

Artinya: “Mereka bertanya, apakah yang harus mereka dermakan? Jawablah “kelebihan”.

e. s. Attaubah: 34.

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ. (التَّوْبَة: ٣٤)

Artinya: “Dan mereka yang menimbun-nimbun emas dan perak dan tidak mendermakannya dalam jalan Allah, maka ancamlah mereka dengan siksaan yang pedih”.

Hadis Nabi pada waktu Haji perpisahan:

Artinya: “Sesunguhnya darah dan harta kamu haram diganggu, seperti sucinya hari dan bulan haji ini sampai kamu menghadap Tuhanmu”.

V. Komunisme memperjoangkan dan melaksanakan cita-citanya dengan sistem diktatur proletar, sebagai tersebut dalam “Manifest Komunist”, halaman 76 berbunyi:

“De politieks macht in de eigenlijke zin, is de georganiseerde macht van een klasse ter onderdrukking van een andere. Wanneer het proletariaat in de strijd tegen de bourgeoisie zich noodzakelijk tot klasse verenigt, door een revolutie zich tot heersende klasse maakt, en als heersende klasse geweldadig de oude productieverhoudingen opheft, dan heft het met deze productieverhoudingen de bestaandevoorwaarden van klassenteenstelling, van de klassen in het algemeen en de daarmee zijn eigen zijn heerskhappij als klasse op”.

Artinya: “Kekuasaan politik dalam arti yang sesungguhnya adalah suatu kekuasaan yang teratur (berorganisasi) dari suatu klas untuk menindas klas lainnya. Bilamana kaum proletar dalam perjoangannya melawan kaum borjuis, terpaksa menjatuhkan dirinya sebagai suatu klas dapat menjadikan dirinya klas yang berkuasa dengan jalan revolusi, dan sebagai klas yang berkuasa dengan jalan kekerasan melenyapkan perbandingan-produksi yang lama maka dapatlah ia dengan melenyapkan perdinganban itu melenyapkan pula segala syarat yang ada dari pertentangan klas pada umumnya dan dengan demikian kekuasaannya sebagai suatu klas akan lenyap pula”.

BERTENTANGAN DENGAN:

Ajaran Islam yang menganjurkan syura, antara segala golongan rakyat, sebagai tersebut dalam Al-Qur'an.

a. s. Asysyura: 38.

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ. (الشُّورَىٰ: ٣٨)

Artinya: “Dan urusan mereka dipermusyawaratkan antara mereka itu”.

b. s. Al Imran: 159.

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ. (آلِ عِمْرَان: ١٥٩)

Artinya: “Dan hendaklah engkau bermusyarawat dengan mereka dalam urusan itu”.

MEMUTUSKAN:

1. Nyatalah bahwa falsafah komunisme (historisch-materialisme) bertentangan dengan dasar iman kepada Qudrah Illahiyah.

2. Nyatalah bahwa perjoangan kaum komunis dan penglaksanaan komunisme sebagai akibat dari falsafahnya itu sepanjang sejarahnya adalah BERTENTANGAN, MENANTANG DAN MEMUSUHI HUKUM SYARI'AT ISLAM SERTA UMAT ISLAM.

3. Berdasarkan segala yang tersebut itu, nyatalah bahwa komunisme itu menurut hukum Islam adalah KUFUR.

4. Barang siapa yang menganut komunisme dengan pengertian, kesadaran dan keyakinan akan benarnya paham komunisme yang nyata-nyata bertentangan, menantang dan memusuhi Islam itu, maka adalah ia hukumnya: KAFIR.

5. Seseorang Muslim yang mengikut komunisme atau organisasi komunis dengan tidak mempunyai pengertian, kesadaran dan keyakinan atas hakikat falsafah, ajaran, tujuan dan cara-cara perjoangan komunis, maka ia adalah sesat dari Agama Islam.

6. Orang yang sesat itu WAJIB diberi pengertian tentang kesesatannya dan kekufuran komunisme. Dan orang yang sesat itu wajib pula menyadari kesesatannya dan wajib bertaubat kepada Allah dan kembali kepada Agamanya ISLAM.

Surabaya, 28 R. Akhir—3 J. Awal 1374 (23-27 Desember 1954).

Sekretaris.

(M. Moh. Saleh Suaidy)

Ketua Sidang.

(K. H. Taufiqurrahman)

Anggauta:

  1. K.A. Hassan.
  2. K.R.H. Badawi.
  3. K.H. Salim Fakhry.
  4. K.R.H. Hadjid. (Pulang sesudah adanya putusan ini karena keperluan mendadak).
  5. K.H. Imam Gazali.
  6. K.H. Ahmad.
  7. K. Danial.
  8. K.H. Proff. Abdulkahar Muzakkir.
  9. K. Umar Hubes.
  10. K.H. Ahmad Azhary.
  11. K.H. Arsjad Lukman.

UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.