Baca PDF (OCR): Legerin 19: Para Pemuda Bangkit!

36 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 225 ms

Daftar isi
  1. Lêgerîn
  2. Memperjuankan sosialisme berarti memperjuangkan kemanusiaan
  3. ara pemuda it! bangk bangkit!
  4. Pemuda beraksi
  5. Masyarakat sosialisme demokratis menuju kemenangan 06
  6. Lebih dari sekadar “Generasi Z”: 09 Membela semangat pemuda
  7. Para pemuda bangkit! 12
  8. Pemberontakan permanen 14
  9. Poster: Protes pemuda di seluruh dunia 18
  10. INDEKS
  11. Gema perlawanan 20
  12. Komune Paris modern 23
  13. Membayangkan hal yang mustahil 26
  14. Mengenang Trvko 29
  15. Sebuah kisah dari Rojava 31
  16. Ajakan untuk mengirim surat 33
  17. Apa yang terjadi dalam sejarah? 34
  18. Siapa kami?
  19. KEPADA PEMBACA,
  20. Ddari Antonio Gramsci pada tahun
  21. Bersama-sama, mari kita bangun pemberontakan permanen para pemuda!
  22. Lêgerîn Editorial
  23. EDITORIAL
  24. Pemuda Beraksi Di seluruh dunia, kaum muda kembali
  25. Bulgaria
  26. Iran
  27. Pada akhir 2025, gelombang demonstrasi meledak
  28. Aksi Internasionalis untuk Rojava
  29. Amerika Serikat
  30. Uganda
  31. MASYARAKAT SOSIALISME DEMOKRATIS
  32. MENUJU KEMENANGAN
  33. PESAN DARI PENJARA IMRALI UNTUK KONFERENSI INTERNASIONAL
  34. TENTANG PERDAMAIAN DAN MASYARAKAT DEMOKRATIS
  35. Porang yang terus meya-
  36. Sidang Soviet Petrograd, 1917
  37. kira-kira 30.000 tahun yang lalu.
  38. Abdullah Öcalan 06.12.2025, Pulau İmralı
  39. LEBIH DARI SEKADAR “GENERASI Z” MEMBELA SEMANGAT PEMUDA
  40. REVOLUSIONER
  41. PERSPEKTIF PEREMPUAN MUDA INTERNASIONALIS
  42. “menindas. Narasi-narasi ini dirancang untuk mengalih-
  43. TEORI GENERASIONAL DAN GEN Z
  44. SEMANGAT REVOLUSIONER KAUM MUDA, BUKAN SEKADAR “GENERASI Z”
  45. PERSPEKTIF PEREMPUAN MUDA
  46. PEMUDA ADALAH MASA DEPAN
  47. Selama kaum muda menolak citra yang dipaksakan dan berorganisasi di sekitar pemahaman
  48. mereka sendiri tentang kebebasan, martabat, dan kehidupan kolektif, semangat pemuda akan
  49. tetap tak tergoyahkan. Dan selama semangat ini tetap sadar dan terorganisir—terutama mela-
  50. lui kepemimpinan dan pembebasan perempuan muda—kaum muda tidak hanya akan menjadi
  51. objek sejarah, tetapi roda penggeraknya.
  52. Prancis 1968
  53. Kurdistan 2015
  54. Peru 2025
  55. Kenya 2025
  56. Tahun baru dimulai dengan musim semi. Kehidupan
  57. baru dimulai dengan kaum muda. Kaum muda adalah
  58. musim semi masyarakat.
  59. Kdalam beberapa bulan terakhir. Satu
  60. Sampai Kemenangan!
  61. Pemberont Pemberontakan akan Permanen
  62. MENGUBAH MOBILISASI MENJADI ORGANISASI MELALUI KOMUNE
  63. Sdahsyat menerjang istana presiden. Gerbang
  64. KRONOLOGI GELOMBANG BARU
  65. PERJUANGAN PEMUDA GLOBAL
  66. GELOMBANG YANG MENYAPU DARI
  67. ASIA HINGGA EROPA TIMUR
  68. MENGAPA “GENERASI Z”
  69. MEMBERONTAK?
  70. Albert Memmi – Portrait of the Colonized, 1957.
  71. Abdullah Öcalan
  72. KEKURANGAN YANG PERLU
  73. DIATASI
  74. STRATEGI KOMUNAL UNTUK
  75. MEMASTIKAN KEMENANGAN
  76. Manifesto Pemuda – Gerakan Pemuda Revolusioner
  77. Kurdistan
  78. PERSPEKTIF UNTUK REVOLUSI
  79. PEMUDA SEDUNIA
  80. Dengan menggabungkan pembangunan komunal akar rumput, konfederasi semua inisiatif yang ada menjadi
  81. sistem alternatif, dan internasionalisme di antara kaum muda di semua benua, kita dapat menjadi kekuatan
  82. yang mampu melakukan intervensi dan mengakhiri perang dunia yang sedang berlangsung!
  83. GEMAAA PERLAWANAN
  84. SEBUAH PENGHORMATAN BAGI KORBAN KEKERASAN NEGARA DI KENYA
  85. Ditulis oleh Gathanga Ndung’u, pengorganisir komunitas dan aktivis di Mathare Social Justice Centre (MSJC)
  86. serta pengorganisir politik di Revolutionary Socialist League – Africa (RSL).
  87. Ksipasi ekonomi seperti tanah dan industri
  88. #Ruto
  89. utountuk pertama kalinya dalam sejarah, berbaris
  90. omen oleh para pemuda ini, gada — benda yang
  91. PROTES YANG DITENAGAI
  92. TEKNOLOGI DIGITAL
  93. #Reject Finance Bill
  94. MENGENANG PARA PAHLAWAN
  95. PROTES ANTI-RUU KEUANGAN 2024
  96. DAN PERINGATAN 2025
  97. Untuk mengenang Rex Masai Kanyike, Eric
  98. Shieni, David Chege, Denzel Omondi, Wan- jiku, dan banyak warga Kenya lainnya yang
  99. kehilangan nyawa mereka atau yang dihilangkan sepenuhnya oleh negara.
  100. KOMUNE KOMUNE PARIS MODERN PARIS MODERN
  101. BAGAIMANA PEMUDA BAKUR BANGKIT MEMBELA KEHIDUPAN KOMUNAL
  102. Klam. Di jalan-jalan, api
  103. SEPULUH TAHUN BERLALU, KITA
  104. MASIH MENDENGAR GEMA
  105. PERJUANGAN DI BAKUR
  106. MEMBANGUN SISTEM KOMUNAL
  107. KOMUNE PARIS MODERN
  108. muda baru untuk meneruskan perjuangan mereka.
  109. Membayangkan Hal Y REVOLUSI 1968
  110. Syang berbeda, bahkan ketika segalanya terasa
  111. PEMBERONTAKAN DARI
  112. PINGGIRAN
  113. GERAKAN PEMUDA
  114. an Hal Yang Mustahil
  115. PERUBAHAN PARADIGMA
  116. GERAKAN FEMINIS
  117. JALAN YANG MENGHANCURKAN
  118. WARISAN KITA
  119. kita bisa selangkah lebih dekat untuk memahami dan mewujudkan tujuan-tujuan kita.
  120. MENGENANG TRVKO
  121. SEORANG SENIMAN DAN AKTIVIS DEMOKRASI
  122. Pnya, Trvko berbaris bersama ribuan rakyat-
  123. APA YANG TERJADI SEBELUMNYA:
  124. PEMBERONTAKAN TAHUN 2022/23
  125. KETIKA REPRESI NEGARA
  126. MENINGKAT, RAKYAT AKAN
  127. SELALU BERORGANISASI
  128. RAKYAT AKAN BERJUANG, DAN RAKYAT AKAN
  129. MENANG.
  130. Sebuah Kisah dari Rojava
  131. Baris-baris singkat ini, diambil dari buku harian seorang internasionalis muda di Rojava, mencerita-
  132. kan momen-momen awal serangan HTS dan Negara Islam terhadap DAANES (Administrasi Otonomi
  133. Demokratis Suriah Timur Laut).
  134. oleh Klara 18 Januari 2026
  135. Beberapa minggu telah berlalu, dan kehidupan di
  136. Ajakan untuk mengirim
  137. Suarakan pendapat
  138. Anda!
  139. Apa yang Terjadi dalam Sejarah?
  140. 4 APRIL 2013 – ROJAVA
  141. 30 APRIL 1975 – VIETNAM
  142. 4 MEI 1919 – TIONGKOK
  143. 16 JUNI 1976 – AFRIKA SELATAN
  144. SIAPA KAMI?
  145. APA TUJUAN KITA?
  146. Sebagai Lêgerîn, kami bertujuan untuk menye-
  147. diakan perangkat, baik ideologis maupun praktis,
  148. bagi kaum muda di seluruh dunia untuk berorgan-
  149. isasi, mengembangkan perspektif mereka sendi-
  150. ri, otonomi, dan kehidupan yang bebas. Meskipun
  151. kaum muda kini semakin berperan sebagai pe-
  152. lopor dalam semua pemberontakan dan gerakan
  153. perlawanan di seluruh dunia, kami percaya bahwa
  154. kurangnya perspektif yang jelas yang mencermin-
  155. kan pandangan global serta kurangnya identitas
  156. bersama menghalangi gerakan-gerakan ini untuk
  157. mencapai kemenangan yang lebih besar.
  158. Oleh karena itu, kami memiliki 3 tujuan utama:
  159. BAGAIMANA CARA BERGABUNG DENGAN
  160. JARINGAN?
  161. Jika Anda tertarik untuk berpartisipasi dalam
  162. pekerjaan kami, jangan ragu untuk menghu
  163. Kirim email ke:
  164. APA SAJA PROYEK KAMI?
  165. Kami menerbitkan majalah setiap tiga bulan da-
  166. lam 7 bahasa, memproduksi berbagai jenis bro-
  167. sur, video, dan podcast, mengelola situs web, dan
  168. berbagai platform media digital. Kami juga mem-
  169. bentuk kelompok riset di seluruh dunia, men-
  170. gelola Akademi internasional yang menawarkan
  171. pendidikan politik daring yang dapat diakses oleh
  172. semua orang, dan secara rutin menyelenggarakan
  173. lokakarya dan seminar tatap muka.
  174. Sejarah belum
  175. Lêgerîn Majalah kaum muda internasionalis

EDISI KE-19, MEI–AGUSTUS 2026

Lêgerîn

Memperjuankan sosialisme berarti memperjuangkan kemanusiaan

ppara pemuda

ara pemuda it! bangk bangkit!

Pemuda beraksi

Masyarakat sosialisme demokratis menuju kemenangan 06

Lebih dari sekadar “Generasi Z”: 09 Membela semangat pemuda

Para pemuda bangkit! 12

Pemberontakan permanen 14

Poster: Protes pemuda di seluruh dunia 18

INDEKS

Gema perlawanan 20

Komune Paris modern 23

Membayangkan hal yang mustahil 26

Mengenang Trvko 29

Sebuah kisah dari Rojava 31

Ajakan untuk mengirim surat 33

Apa yang terjadi dalam sejarah? 34

Siapa kami?

KEPADA PEMBACA,

unia lama sedang sekarat, dan dunia baru sedang berjuang untuk dilahirkan: sekarang adalah zaman para monster.” Kutipan

Ddari Antonio Gramsci pada tahun

1929 ini bisa saja ditulis hari ini, karena sangat akurat menggambarkan situasi yang sedang kita hadapi. Semuanya menunjukkan fakta bahwa apa yang disebut tatanan dunia, yang didasarkan pada hukum internasional, adalah sesuatu dari masa lalu. Pada bulan Maret, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengakui hal ini: “Sejujurnya, saya bahkan tidak mengerti bagaimana orang bisa meminta siapa pun untuk menghormati norma dan prinsip hukum internasional. Faktanya, itu sudah tidak ada lagi. Dan hukum apa yang telah menggantikan hukum internasional? Tidak ada yang bisa mengatakannya saat ini...” Pidato Macron baru-baru ini tentang senjata nuklir mendenisikan prinsip di mana tatanan dunia baru sedang dibangun: “Untuk bebas, seseorang harus ditakuti. Dan untuk ditakuti, seseorang harus kuat. “ Krisis eksistensial yang dihadapi kapitalisme tidak lagi memungkinkannya untuk bersembunyi di balik topeng. Sementara perang yang sedang berlangsung mengungkapkan kebrutalan ini secara terbuka, berkas-berkas Epstein secara bersamaan mencerminkan sifat pola pikir patriarki di balik pembantaian ini.

Dalam kegelapan ini, pemberontakan kaum muda dalam beberapa bulan terakhir merupakan secercah harapan yang menyebar di setiap benua. Gerakan-gerakan ini merupakan panggilan untuk mengambil kembali inisiatif dan membebaskan diri dari kelumpuhan yang berusaha menjerumuskan kita. Bagaimana kita dapat memahami pemberontakan-pemberontakan ini? Apa saja kekuatan dan kelemahan mereka? Perspektif apa yang ada untuk mencapai perubahan yang langgeng? Melalui edisi kali ini, kami bertujuan untuk menawarkan beberapa kemungkinan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Yang jelas, bangkit melawan sistem tidaklah cukup; kita juga harus melepaskan diri dari sistem tersebut: secara material dan mental. Kita tidak bisa lagi menerima menjadi tentara, pekerja atau birokrat untuk negara dan kekuatan kapitalis yang membawa umat manusia pada kehancurannya. Kita harus membangun sistem kita sendiri secara paralel, dengan menempatkan kebebasan perempuan sebagai pusatnya.

“Realisasi praktis dari teori adalah komunalisasi. Kehidupan yang bebas dan bermartabat hanya dapat dicapai dengan membangun komune di setiap bidang kehidupan. Kehidupan perempuan yang bebas dan bermartabat—dan juga masyarakat—bergantung pada kekuatan konstruktif perempuan dan komunalisasi yang mereka pimpin.”1

Kami berdiri bersama anak-anak muda yang kembali ke desa-desa—kampung mereka di Indonesia, bersama mereka yang mengundurkan diri dari sekolah atau tempat kerja mereka sebagai bentuk protes terhadap perang di Eropa, kami berdiri bersama Gen Z di Madagaskar saat mereka mempertahankan apa yang telah mereka dapatkan dengan susah payah, dan bersama para pemuda yang membentuk unit-unit pertahanan diri mereka di Rojava, kami berdiri bersama para pemuda Zapatista yang memperkuat otonomi mereka, dan bersama mereka yang bersiap-siap untuk berlayar lagi dengan armada ke Gaza.

Bersama-sama, mari kita bangun pemberontakan permanen para pemuda!
Lêgerîn Editorial

1. Pesan Abdullah Öcalan pada tanggal *8 Maret https://english.anf-news.com/* features/-84264

EDITORIAL

Pemuda Beraksi Di seluruh dunia, kaum muda kembali

mengambil inisiatif! Di sini kami merangkum beberapa aksi unjuk rasa yang berlangsung antara Oktober 2025 dan Januari 2026.

kamerun

Demonstrasi di Kamerun dimulai sejak Oktober 2025 akibat dugaan kecurangan pemilu politik. Paul Biya, yang telah berkuasa sebagai presiden sejak tahun 1982, kembali ditetapkan sebagai pemimpin negara yang menjadikannya presiden tertua di dunia. Kaum muda turun ke jalan untuk melawan otoritarianisme Biya. Mereka juga menuntut dihentikannya represi dan korupsi yang merajalela di bawah rezim tersebut.

Bulgaria

Pada akhir November 2025, gelombang demonstrasi besar-besaran pecah di Bulgaria. Warga turun ke jalan menolak Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAP-BN) tahun 2026 yang membebani mereka dengan kenaikan pajak dan semakin merajalelanya korupsi. Kaum muda dan para pekerja yang memimpin aksi ini juga menuntut perbai- kan layanan kesehatan, kenaikan upah, serta peluang kerja yang lebih baik. Akhirnya, rancangan anggaran tersebut dicabut oleh Perdana Menteri saat itu, Rosen Zhelyazkov ter- paksa mengundurkan diri karena kuatnya tekanan oposisi.

Iran

Pada akhir 2025, gelombang demonstrasi meledak

di Iran. Awalnya masyarakat menuntut pemerintah mengatasi inflasi yang semakin parah. Namun, protes tersebut dengan cepat berkembang menjadi mobilisasi luas untuk menumbangkan rezim islam dan mengakhiri kegagalan ekonomi negara. Ini merupakan kelanjutan dari gelombang protes Jin, Jîyan, Azadî (Perempuan, Kehidupan, Kebebasan) pada September 2022. Ribuan rakyat Iran tewas ditembaki aparat kepolisian dalam perjuangan ini.

Lêgerîn

Aksi Internasionalis untuk Rojava

Pada Januari 2026, Rojava menghadapi serangan dari pemerintahan sementara Suriah, negara Turki, dan ISIS. Ribuan orang Kurdi bergerak massal menuju wilayah tersebut. Di luar Timur Tengah, komunitas diaspora bersama dengan kawan-kawan internasionalis menggelar demonstran setiap hari di berbagai kota di Eropa, Kanada dan Australia, dan di tempat lain. Salah satu aksi yang paling signifikan adalah People’s Caravan (Konvoi Rakyat): iring-iringan mobil yang berangkat dari Eropa Utara dan Selatan, dalam waktu beberapa hari berhasil mencapai kota Kurdi Suruç di Selatan Turki, hanya 5 kilometer dari Kobanê. Tujuannya adalah untuk menekan pembukaan pengepungan terhadap kota itu segera diakhiri.

Amerika Serikat

Selama berbulan-bulan, rakyat di Amerika Serikat terus melakukan protes menentang ICE, pasukan polisi khusus yang tugasnya hanya menculik dan mengusir para imigran dengan kekerasan dan intimidasi. Pada 7 Januari 2026, ICE menembak mati Renée Good saat ia mencoba melarikan diri menggunakan mobilnya dari kejaran agen ICE. Pembunuhan ini memicu gelombang protes di lebih dari 1000 kota di seluruh Amerika Serikat. Sejak awal 2026, mahasiswa Amerika Serikat menggelar ratusan aksi protes dan mogok sekolah menentang ICE dengan slogan-slogan seperti: “ICE Meleleh di Bawah Perlawanan”, “Pertahankan Keluarga, Tetap Bersama”, “Usir ICE Sekarang!” dan “Kami Bolos Pelajaran untuk Mengajari Kalian Satu Pelajaran.”

Uganda

Di uganda, protes yang dipimpin oleh kalangan muda meletus ketika Presiden Yoweri Museveni menyatakan akan mencalonkan diri kembali pada pemilu nasional 2026. Padahal ia sudah berkuasa sejak tahun

  1. Museveni dan kroninya mendapat tentangan keras dari generasi muda yang mengkampanyekan tuntutan : lapangan kerja yang lebih baik, pendidikan, layanan kesehatan, air bersih, infrastruktur, serta demiliterisasi. Perjuangan ini masih berlangsung hingga sekarang dan menjadi titik balik terbesar dalam sejarah politik Uganda setelah 40 tahun hidup di bawah kediktatoran.
    Jika Anda ingin kami membagikan kegiatan Anda di edisi berikutnya, kirimkan email ke [email protected] beserta beberapa foto dan informasi mengenai kegiatan tersebut. Kaum muda di seluruh dunia sedang bergerak dan mengambil tindakan, bergabun- glah dengan mereka!

Lêgerîn

MASYARAKAT SOSIALISME DEMOKRATIS

PESAN DARI PENJARA IMRALI UNTUK KONFERENSI INTERNASIONAL
TENTANG PERDAMAIAN DAN MASYARAKAT DEMOKRATIS

OLEH ABDULLAH ÖCALAN

Abdullah Öcalan mengirimkan pesan ini dari pulau-penjara Imrali untuk “Konferensi Internasional Perdamaian dan Masyarakat Demokratis” yang diselenggarakan pada 6–7 Desember 2025 di Istanbul. “Para politisi, akade- misi, jurnalis, pembela hak asasi manusia, dan perwakilan parlemen yang telah bertugas dalam berbagai kapasitas di berbagai negara menghadiri konferensi tersebut sebagai pembicara atau peserta dari 19 negara di 5 benua yang berbeda.” 1

ara pemikir yang terhormat, kawan-kawan ter- kasih, para delegasi yang berharga, dan seluruh

Porang yang terus meya-

kini bahwa sosialisme masih mungkin terwujud; Saya menyapa Anda hari ini dari Pulau İmralı di bawah kondisi isolasi selama 26 tahun, pada saat dialog baru dengan negara mengenai persoalan Kurdi dalam pencarian perdamaian dan masyarakat demokratis telah dimulai kembali. Menyapa Anda, di Konferensi Internasional tentang Perdamaian dan Masyarakat Demokratis, dalam jalan membangun kembali sosialisme, adalah hal yang penuh arti sekaligus signifikan.

Sebagai warga Kurdi, selama 52 tahun perjuangan PKK, kami telah menyelesaikan perjuangan kami demi eksistensi dan martabat, dan kini kami memasuki periode di mana republik demokratis dan masyarakat demokratis dapat dibangun kembali.

PKK telah memenuhi misi historisnya dengan mengamankan eksisten-

si nasional rakyat Kurdi, sekaligus mengungkap keterbatasan sosialisme negara-bangsa. Sosialisme abad kedua puluh muncul sebagai intervensi revolusioner yang bersifat negatif terhadap tatanan yang ada,2 namun gagal menghadirkan alternatif yang langgeng. Pada tahun 1990-an, ketika sebagian besar orang berpaling dari sosialisme, saya mendedikasikan seluruh hidup saya untuk membangun kembali harapan ini, dengan menyatakan bahwa ‘memperjuangkan sosialisme berarti memperjuangkan kemanusiaan’.Terlepas dari pengorbanan yang sangat besar, perjuangan ini telah menjadi warisan yang diper- kaya melalui kritik teoretis maupun praktis. Untuk menghormati dan memiliki warisan ini dengan selayaknya, diperlukan transformasi sosialisme dari sekadar ingatan menjadi kekuatan sosial hidup yang berdetak di jantung rakyat. Tradisi sosialis dalam sejarah harus dipahami sebagai warisan yang bertujuan untuk membangun perdamaian sekaligus masyarakat demokratis, dan jalan ke depan terletak pada pemenuhan tanggung jawab internasionalis—baik dalam teori maupun praktik.

Meskipun kaum sosialis utopis dan Marxis telah menawarkan kritik komprehensif terhadap sistem hegemonik kapitalis sejak abad ke-19, mereka gagal mengembangkan garis penentu dengan hasil yang konkret. Kapitalisme saat ini bukan lagi sekadar krisis; ia telah menjadi penyakit yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia. Monopoli kekerasan dalam bentuk negara-bangsa memainkan peran

yang menentukan dalam keruntuhan ini. Sama seperti kapitalisme yang tidak dapat dijelaskan semata-mata melalui motif ekonomi, kegagalan gerakan sosialis juga tidak dapat dijelaskan hanya oleh penindasan kapitalis. Kesalahan historis dan kontemporer juga turut menjadi penentu.

Kritik-kritik saya terhadap Marxisme harus dipahami dengan benar. Saya tidak menyalahkan Marx; di eranya, sejarah tidak dipahami sebaik sekarang dan belum ada krisis ekologis, serta kapitalisme masih dalam masa kebangkitan. Meski begitu, Marx adalah seorang pemikir dengan pencarian jati diri yang mendalam dan keberanian intelektual. Ia menyadari pentingnya pembebasan perempuan, namun mendekatinya secara dangkal, dengan keyakinan bahwa begitu eksploitasi ekonomi diatasi, penindasan gender akan menghilang dengan sendirinya. Upayanya untuk menafsirkan sejarah sosial secara eksklusif melalui kelas, serta analisisnya yang tidak memadai mengenai negara dan negara-bangsa, menyebabkan konsekuensi yang serius. Sembari memberikan kritik-kritik ini, saya ingin menggarisbawahi rasa hormat saya yang mendalam atas upaya Marx dan tidak meragukan ketulusannya, serta mencatat bahwa saya membedakan antara Marxisme dengan Marx itu sendiri. Ketika kita mengkritik Marxisme dan sosialisme yang ada saat ini pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tertentu, apa yang kita rasakan—sebagai kaum sosialis—adalah semangat kritik diri dari dalam.

Lêgerîn

sebagai formasi pertahanan diri. Hal ini memerlukan cara pandang yang melihat komunitas suku awal sebagai awal mula komune dan mengadopsi perspektif sejarah yang membentang hingga kaum proletar saat ini—dan hingga seluruh kelompok yang tertindas.

Atas dasar ini, kami menyatakan bahwa sejarah tidak dapat direduksi semata-mata menjadi perjuangan kelas. Meskipun perjuangan kelas memang merupakan bagian di dalamnya, lebih akurat untuk membaca sejarah sebagai sebuah proses panjang relasi dan konflik antara perkembangan komunal dan perkembangan anti-komunal yang membentang kembali hingga

Kekuatan anti-sistemik harus menin- jau kembali materialisme historis dengan cara yang selaras dengan realitas masyarakat manusia. Sangat penting untuk memahami bahwa kapitalisme tidak “turun dari langit” pada abad ke-16; melainkan, akar-akarnya membentang kembali ke 10–12 ribu tahun evolusi peradaban yang dimulai di Mesopotamia Hilir. Situs arkeologi seperti Göbeklitepe dan Karahantepe memberikan titik terang pada asal-usul sejarah ini. Karena alasan ini, saya rasa lebih akurat untuk mendefinisikan sistem peradaban yang ada saat ini sebagai “sistem pembunuhan sosial berbasis kasta.” Temuan arkeo- logis dan antropologis menunjukkan bahwa kasta pemburu laki-laki, melalui pengembangan teknik membunuh, menindas dan mem- perbudak komunitas klan yang berpusat pada perempuan. Ini menandai perpecahan terdalam dalam sejarah manusia—bahkan, sebuah kon- tra-revolusi besar yang membentuk seluruh perkembangan peradaban selanjutnya.

Memahami kapitalisme dari perspektif sejarah yang panjang ini memungkinkan adanya analisis yang jauh lebih membuka mata. Sistem ini tidak hanya memperdalam kontradiksi sosial internal; ia juga mengancam kepunahan spesies manusia dengan memproduksi persenjataan kimia dan nuklir yang dapat memusnahkan planet ini, dengan mencemari lingkungan, dan dengan menjarah kekayaan alam baik di atas maupun di bawah tanah. Merupakan salah satu tugas esensial dari gerakan internasional untuk menawarkan kepada kemanusiaan sebuah analisis baru tentang kapitalisme yang didasarkan pada realitas yang sangat serius ini. Kita perlu memeriksa sejarah kaum tertindas melalui perspektif komune, yang muncul pertama dan terutama

Sidang Soviet Petrograd, 1917
kira-kira 30.000 tahun yang lalu.

Saya mengantisipasi bahwa konferensi ini, juga dengan terlibat dalam analisis teoretis yang telah saya tawarkan di sini, akan mendorong debat-debat penting yang dapat berkontribusi pada pengembangan perspektif baru mengenai program politik dan organisasi. Dalam proses ini, metode fundamentalnya adalah materialisme dialektis. Namun, kelebihan-kelebihan tertentu dari dialektika klasik perlu diatasi. Kita harus melihat kontradiksi bukan sebagai kutub-kutub yang ber- lawanan yang ditakdirkan untuk saling melenyapkan, melainkan sebagai fenomena sosial yang juga saling me- nyokong dan membentuk satu sama lain. Sebab tanpa komune, tidak akan

ada negara; tanpa borjuasi, tidak ada proletar. Dengan demikian, kontradiksi harus dinilai bukan dengan lo- gika pemusnahan, melainkan melalui perspektif sejarah yang transformatif.

Perkembangan ilmiah menunjukkan bahwa metode dialektika tetap menjadi alat yang efektif untuk analisis sosial, selama tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang mutlak. Dengan kerangka kerja ini, memperbarui dialektika komune–negara dan kelas–negara merupakan suatu keharusan. Kegagalan sosialisme sejati di abad ke-20 bermula dari ketidakmampuan untuk menafsirkan dialektika historis ini dengan benar: sosialisme yang berpusat pada negara merebut negara, hanya untuk kemudian berakhir dikalah- kan oleh (mentalitas) negara itu sendiri. Dengan mengikat hak bangsa untuk menentukan nasib sendiri pada negara-bangsa, hal itu menjadikannya terkurung di dalam batas-batas politik borjuis. Konsep “negara-bangsa proletar” secara serupa tidak m e n g h a s i l k a n apapun kecuali reproduksi mentalitas statis (pemujaan terhadap negara).

Menafsirkan realitas ini dengan benar, saya menyatakan hal berikut: sosialisme negara-bangsa membawa pada kekalahan, sedangkan sosialisme masyarakat demokratis membawa pada kemenangan. Hari ini, waktunya telah tiba untuk bergerak maju menuju emansipasi demokratis atas dasar sosialisme masyarakat demokratis.

Di jalan ini, saya melangkah maju dengan keyakinan bahwa kita akan berhasil dalam rekonstruksi bukan melalui negara, melainkan melalui paradigma republik demokratis dan bangsa demokratis yang didasarkan pada prinsip-prinsip kebebasan pe-

Lêgerîn

melainkan melalui sistem konstruksi dan eksistensi yang positif—sebuah sistem yang terbentuk melalui dialog demokratis. Tanpa dialog demokratis yang komprehensif dan mendalam, sulit untuk meyakini bahwa sosialisme dapat dibangun, atau bahwa ia dapat bertahan bahkan jika ia berhasil dibangun.

Lenin pun pernah berkata: “Tanpa demokrasi yang inklusif dan maju, sosialisme tidak dapat dibangun.”

Dengan pemikiran dan tekad ini, sekali lagi saya ucapkan selamat atas konferensi yang sukses, dan saya sam- paikan salam kamerad serta kasih sa- yang saya yang abadi.

Abdullah Öcalan 06.12.2025, Pulau İmralı

rempuan, ekologi, dan masyarakat demokratis.

Kesadaran ini telah memperbarui gerakan kami secara ideologis dan politik, merevitalisasi dinamisme organisasinya, dan memperdalam akar-akarnya di masyarakat — yang memungkinkan gerakan ini untuk mengembangkan program sosialis yang mampu menjawab kebutuhan abad ini.

Hubungan antara sosialisme demokratis dan negara juga sedang dibentuk kembali dalam konteks proses perdamaian dan resolusi. Saya mendefinisikan hubungan saya dengan negara sebagai sebuah hubungan de- mokratisasi. Konsep republik demokratis mensyaratkan agar negara tidak berfungsi sebagai kekuatan ilahi yang berdiri di atas masyarakat, melainkan sebagai sebuah struktur yang berope- rasi dalam kerangka kontrak demokratis (kontrak sosial) yang dibuat bersama masyarakat. Melalui strategi politik demokratis, sangat memungkinkan untuk mewujudkan perubahan dan transformasi negara serta membangun kembali masyarakat di atas landasan-landasan demokratis.

Mendasarkan strategi ini pada hukum akan membentuk basis perdamaian yang langgeng. Hukum adalah mekanisme yang menjamin dan menyeim- bangkan hubungan demokratis antara negara dan masyarakat, yang berfungsi sebagai instrumen untuk mencegah kekerasan. Pada saat yang sama, hukum akan melembagakan pembentukan, legitimasi, dan rekonstruksi republik demokratis. Terkait hal ini, salah satu argumen strategis utama yang saya usulkan adalah konsep

integrasi demokratis dan kerangka hukumnya. Hukum integrasi demokratis, di mana norma-norma hukum dikonstruksi ulang demi kepentingan masyarakat melalui norma-norma individual dan universal bersama dengan hak-hak kolektif, harus bersan- dar pada tiga prinsip fundamental berikut:

  • Hukum bagi warga negara yang merdeka
  • Hukum tentang perdamaian dan masyarakat demokratis
  • Hukum-hukum tentang kebebasan Hukum integrasi demokratis tidak hanya akan mengubah negara menjadi negara yang normatif² tetapi juga akan memungkinkan pelembagaan capaian-capaian kemasyarakatan, yang memampukan masyarakat untuk mewujudkan kebebasannya. Proses “Seruan untuk Perdamaian dan Masyarakat Demokratis” yang saya luncurkan pada dasarnya adalah sebuah proses dialog. Di wilayah seperti Timur Tengah—yang ditentukan oleh hubungan kompleks antar etnis, agama, dan sekte—banyak hal yang dapat dicapai melalui dialog dan negosiasi demokratis. Selain itu, saya percaya bahwa sosialisme yang bermakna dapat diorganisir bukan melalui metode revolusioner yang penuh kekerasan,
    *[1] Deklarasi Akhir Konferensi Internasional tentang Perdamaian dan Masyarakat Demokratis https://www.demparti.org.* tr/Images/UserFiles/D ocuments/ Editor/2025/final-declaration-of-inter- national-peace-and-democratic-soci- ety-conference.pdf

[2] “Revolusi negatif adalah kekaku- an, sikap konservatif, dan penolakan terhadap perubahan yang muncul di dalam partai, lembaga, dan gerakan *revolusioner itu sendiri.” https://english.anf-news.com/features/negative-* revolution-what-it-is-and-what-it-is- not-82505

[3] Abdullah Öcalan membuat perbedaan antara negara normatif dan negara abnormal. Ini menggambarkan kekuatan-kekuatan di dalam negara yang bertindak secara terorganisir secara terselubung dan tidak me- matuhi norma-norma yang telah ditetapkan, yaitu hukum dan per- aturan negara, melainkan mengejar agenda mereka sendiri, dengan mengeksploitasi “negara normal” untuk tujuan mereka sendiri.

Abdullah Öcalan dari pulau penjara Imrali, Februari 2026

Lêgerîn

LEBIH DARI SEKADAR “GENERASI Z” MEMBELA SEMANGAT PEMUDA

REVOLUSIONER

PERSPEKTIF PEREMPUAN MUDA INTERNASIONALIS

Generasi Z, kelompok anak-anak dan remaja yang mudah dikenali dan selalu menjadi pusat perhatian.” Hampir setiap minggu selalu ada berita utama baru yang menstigmatisasi kami. Kami dikatakan malas, rapuh, dan kecanduan ponsel. Sistem yang berkuasa melakukan upaya besar untuk membentuk dan mengendalikan kesadaran kolektif kami, terus-menerus membombardir masyarakat dengan narasi-narasi yang

“menindas. Narasi-narasi ini dirancang untuk mengalih-

kan perhatian kita dari kesadaran alternatif kita sendiri dan untuk mengikat kita pada status quo.

Apa tujuan dari narasi tentang Generasi Z? Jika kita mendekati teori-teori ini bukan sebagai objek studi pasif, tetapi sebagai pemuda revolusioner, kita harus bertanya: apakah kategori “Generasi Z” benar-benar mencerminkan realitas kita, ataukah itu hanyalah alat untuk membatasi dan mengekang kita?

TEORI GENERASIONAL DAN GEN Z

Teori generasional didasarkan pada premis bahwa sejarah mengikuti ritme. Menurut teori generasional, masyarakat bergerak melalui siklus berulang yang dibentuk oleh kelompok usia yang berurutan. Setiap generasi dikatakan mengembangkan pola pikir yang berbeda, dibentuk oleh kondisi politik dan budaya masa kecilnya. Ketika satu generasi menua dan generasi lain memasuki masa dewasa, fase sejarah baru diduga muncul. Perubahan tampaknya bukan hasil dari perjuangan terorganisir, tetapi sebagai perputaran otomatis roda sejarah. Sekilas, ini tampak meyakinkan. Kaum muda telah berulang kali berada di pusat perubahan sejarah. Namun, teori generasional mereduksi peran ini menjadi ritme struktural. Apa yang bisa menjadi intervensi politik yang disadari diubah menjadi perputaran otomatis roda sejarah.

Dalam kerangka ini, „Generasi Z“ merujuk pada mereka yang lahir sekitar tahun 1995 hingga 2010. Kami digam- barkan sebagai generasi digital pertama yang sepenuhnya, dibentuk oleh ponsel pintar, media sosial, ketidakstabilan ekonomi, krisis iklim, dan pandemi. Kami disebut fasih secara digital dan selalu terhubung. Kami digam- barkan sebagai progresif secara sosial, peduli dengan keadilan iklim dan kesetaraan gender. Namun ketika kita melakukan pergerakan, kesadaran kita dianggap sebagai idealisme naif atau ekstremisme. Kita juga dituduh rapuh. Kecemasan dan depresi yang meningkat dianggap sebagai masalah individu, bukan terkait dengan perang, utang, pekerjaan yang tidak tetap, dan keruntuhan ekologis. Dan mungkin yang paling gandrung adalah kita dituduh malas—seolah-olah menolak eksploitasi merupakan bentuk dari kecacatan karakter, bukan respons rasional terhadap ketidakadilan sistemik.

Di permukaan, kategori generasional tampak netral. Pada kenyataannya, kategori tersebut meratakan kom- pleksitas sejarah. Kerangka kerja yang sebagian besar berasal dari konteks Anglo-Amerika diekspor sebagai model universal, mengabaikan kelas, sejarah kolonial, dan realitas politik di seluruh dunia. Hasilnya adalah depolitisasi. Jika generasi hanya mengikuti skrip, kaum muda berhenti menjadi subjek sejarah. Pengulangan la- bel yang terus-menerus—malas, sensitif, radikal—membentuk persepsi diri. Narasi tidak hanya menggambarkan kaum muda; narasi tersebut berupaya mendefinisikan dan mendisiplinkannya.

SEMANGAT REVOLUSIONER KAUM MUDA, BUKAN SEKADAR “GENERASI Z”

Namun, di balik distorsi ini terdapat sebuah kebenaran: ketika kaum muda memasuki sejarah, sejarah pun bergerak. Bukan karena siklus mistis, tetapi karena kaum muda

Lêgerîn

menempati posisi sosial yang berbeda. Memahami kaum muda sebagai kategori sosial tidak dapat dipisahkan dari pemahaman sejarah dan masyarakat itu sendiri. Masyarakat tidak statis; ia bergerak melalui tahapan transformasi. Perubahan dan perkembangan adalah karakteristiknya yang paling mendasar. Kaum muda, pada hakikatnya, mewujudkan dinamika ini. Kaum muda mewakili vita- litas sifat sosial. Ia terus bergerak, gelisah, dan tidak mau tetap terkekang. Ia berusaha agar suaranya didengar di tempat-tempat terjauh. Energinya tidak mudah habis. Sikapnya terhadap kehidupan adalah mempertanyakan, mencari. Masa muda dapat dibandingkan dengan musim semi dalam kalender. Sama seperti alam yang berubah di musim semi, kehidupan manusia di masa muda mengan- dung keterbukaan yang sangat besar terhadap perubahan. Segala sesuatu tampak mungkin; tidak ada yang tetap.

Namun kesadaran akan peran ini sangat menentukan. Tanpa kesadaran akan misi historisnya, kaum muda dapat diserap dan dinetralisir. Kaum muda yang tidak menyadari fungsi sosialnya tidak dapat bebas atau otonom. Oleh karena itu, identitas pemuda yang jelas merupakan syarat mendasar untuk kehidupan yang bebas.

Definisi yang telah dikembangkan sejauh ini tentang pemuda, seperti narasi Generasi Z, sebagian besar terkait dengan peran yang diberikan oleh sistem dominan. Para penguasa telah menciptakan berbagai istilah—pembe- rontak, tidak bertanggung jawab, apolitis, ekstremis, kon- sumeris—bukan untuk memahami pemuda, tetapi untuk menetralkannya. Mereka tahu, seperti halnya kita, bahwa siapa pun yang memenangkan hati pemuda akan memenangkan hati masyarakat. Pemuda yang menyerah pada sistem menjamin masa depan sistem tersebut, karena pemuda berarti masa depan. Karena alasan ini, pemuda selalu menempati tempat khusus dalam perjuangan seja-

rah. Mereka telah memainkan peran perintis dalam momen-momen perkembangan sosial. Ketika masyarakat dapat terbuka terhadap perubahan daripada berpegang teguh pada stagnasi konservatif, pemuda pun menjadi kekuatan transformasi yang paling aktif dan efektif.

Pada saat yang sama, sejarah juga menunjukkan bahwa pemuda dapat dimanipulasi dan dimobilisasi untuk tujuan reaksioner. Dinamisme mereka dapat melayani pembebasan atau dominasi tergantung pada tingkat kesadaran dan organisasi mereka. Jadi pertanyaannya bukanlah apakah pemuda itu kuat, tetapi untuk kepentingan siapa kekuatan ini diarahkan. Pemberontakan saat ini—seperti di Nepal, Bangladesh, Madagaskar, Indonesia, Kenya, Maroko, dan negara-negara lain—menunjukkan bahwa kaum muda terus muncul sebagai aktor yang menentukan. Perempuan muda seperti Deniz Ciya telah membuktikan hal ini dengan kehidupan mereka. Pemberontakan ini bukanlah ekspresi temperamen generasi. „Pemberontakan Generasi Z“ ini adalah ekspresi kekuatan sosial yang sedang menghadapi krisis struktural yang melekat dalam sistem saat ini.

Untuk membela semangat revolusioner kaum muda berarti memperdalam organisasi. Pemberontakan spontan menunjukkan semangat dan kekuatan, tetapi untuk transformasi berkelanjutan kita tetap membutuhkan kejelasan ideologis, internasionalisme, kepemimpinan demokratis, dan komitmen terhadap kebebasan perempuan sebagai landasan. Tanpa ini, energi kaum muda berisiko mengalami fragmentasi. Pemberontakan kaum muda baru-baru ini—baik dalam bentuk protes keadilan lingkungan, gerakan buruh, atau pemberontakan terhadap pemerintah otoriter—adalah bukti bahwa kaum muda di seluruh dunia tidak hanya menanggapi serangkaian keadaan; mereka secara sadar dan kolektif menolak narasi

Lêgerîn

yang berusaha mendefinisikan mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk menganalisis apa yang terjadi, dan mengambil pelajaran dari pemberontakan ini, khususnya dalam konteks membangun konfederalisme demokratis kaum muda global. Karena kekuatan gerakan pemuda saling terkait, meskipun terpisah secara geografis.

Dalam konteks ini, istilah Generasi Z juga memiliki potensi untuk direklamasi: dalam pemberontakan seperti di Nepal dan Maroko, istilah ini telah digunakan sendiri untuk memperkuat gerakan revolusioner lokal dan men- jalin hubungan dengan pemuda yang berjuang di seluruh dunia, membangkitkan kembali kesadaran pemuda internasional.

PERSPEKTIF PEREMPUAN MUDA

Dalam perjuangan ini, posisi perempuan muda sangat menentukan. Sistem kapitalis yang mengeksploitasi memberinya misi yang aneh: untuk tidak memiliki misi sama sekali. Ia didorong untuk mengejar kesukse- san individu, kesesuaian estetika, dan beradaptasi secara diam-diam. Suara politiknya diremehkan; kemarahannya dipandang sebagai patologis. Namun di inti identitas perempuan muda terdapat semangat perlawanan dan militan. Ia membawa dalam dirinya bukan hanya semangat masa muda tetapi juga ingatan sejarah perlawanan perempuan. Untuk membangkitkan semangat ini membutuhkan organisasi yang sadar.

Perempuan muda harus bersikeras untuk mengatur pendidikannya dalam perspektif Bangsa Demokratis¹— pendidikan yang memperkuat etika kolektif, kesadaran sejarah, dan tanggung jawab politik. Ia harus mempertanyakan segala sesuatu dalam sistem yang ada: peran yang diberikan kepadanya, citra yang dipaksakan kepadanya, batasan yang ditarik di sekitar mimpinya. Namun, pertanyaan tidak boleh tetap individual. Refleksnya harus terorganisir. Dengan demikian, kekuatan untuk menghancurkan persepsi yang diciptakan oleh kapitalisme tentang dirinya dan bangsanya terletak di tangan para perempuan muda itu sendiri. Ia harus mengembangkan metode politik dan cara partisipasi baru. Ia harus membawa krea- tivitas dan sifat rvolusionernya sendiri ke dalam politik sebagai kekuatan penentu.

Ketika perempuan muda berorganisasi, ia tidak hanya membela diri. Ia mentransformasi seluruh gerakan pemuda. Karena tanpa kebebasan perempuan sebagai prinsip mendasar, tidak ada semangat revolusioner yang dapat bertahan. Misalnya, revolusi Sandinista di Nikaragua dan Uni Soviet di bawah Stalin sama-sama menunjukkan bagaimana dominasi patriarki dalam gerakan tersebut tidak hanya membatasi kontribusi perempuan tetapi juga melemahkan revolusi secara keseluruhan. Dalam konteks ini, penolakan untuk mengangkat peran perempuan dalam revolusi pada akhirnya menyebabkan kemunduran sosialisme. Pelajaran yang dipetik dari kegagalan ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan kepemimpinan perempuan ke dalam jantung perjuangan revolusioner.

PEMUDA ADALAH MASA DEPAN

Terlepas dari semua pembicaraan seputar Generasi Z, pemuda bukanlah sekadar demografi untuk dilakukan- nya pemasaran produk-produk. Ini bukan hanya tren demografis. Ini adalah ekspresi paling dinamis dari kapasitas masyarakat untuk pembaharuan. Jika karakteristik esensial masyarakat adalah perubahan, maka pemuda— sebagai perwujudan keterbukaan terhadap perubahan— menjadi komponennya yang paling aktif. Karena sistem memahami potensi kita, ia mengkategorikan, mengkritik, dan mempermalukan kita. Pemuda yang terdepoli- tisasi adalah jaminan keberlanjutannya. Pemuda yang sadar dan terorganisir adalah tantangan terbesarnya.

Oleh karena itu, membela semangat pemuda revolusioner berarti membela masa depan. Membela masa depan membutuhkan kejelasan tentang siapa yang mendefinisikan kita dan mengapa. Hal itu membutuhkan penolakan identitas yang dipaksakan dan membangun identitas kita sendiri. Hal itu membutuhkan pengakuan bahwa pemuda, yang menyadari peran historisnya, menjadi aktor garda depan transformasi. Kita bukanlah arketipe tetap dalam siklus yang berulang. Kita adalah kekuatan hidup yang dibentuk oleh perjuangan dan organisasi. Kita tidak hanya mengikuti ritme sejarah, kita memiliki kapasitas untuk mematahkannya.

Selama kaum muda menolak citra yang dipaksakan dan berorganisasi di sekitar pemahaman
mereka sendiri tentang kebebasan, martabat, dan kehidupan kolektif, semangat pemuda akan
tetap tak tergoyahkan. Dan selama semangat ini tetap sadar dan terorganisir—terutama mela-
lui kepemimpinan dan pembebasan perempuan muda—kaum muda tidak hanya akan menjadi
objek sejarah, tetapi roda penggeraknya.

Poster untuk Riseup4Rojava pada Januari 2026 karya Siria

[1] Konsep Bangsa Demokratis, seperti yang diusulkan oleh Abdullah Öcalan, membayangkan sebuah masyarakat di mana keragaman budaya dan prinsip-prinsip demokrasi dirangkul melalui pemerintahan yang terdesentralisasi dan penentuan nasib sendiri secara kolektif. Konsep ini menyerukan transformasi negara-bangsa menjadi sistem yang berbasis pada konfederalisme demokratis, pembebasan perempuan, dan ekologi sosial.

Prancis 1968
Kurdistan 2015
Peru 2025
Kenya 2025

Tahun baru dimulai dengan musim semi. Kehidupan

baru dimulai dengan kaum muda. Kaum muda adalah

musim semi masyarakat.

- Hồ Chí Minh
orupsi, ketidakadilan sosial, dominasi patriarki, dan represi hanyalah sebagian dari musuh-musuh yang tengah dilawan oleh anak-anak muda di seluruh dunia

Kdalam beberapa bulan terakhir. Satu

protes demi protes, seperti mata rantai yang saling ter- sambung, membentuk sebuah garis yang menyatukan kaum muda dari setiap benua. Bendera bajak laut Luf- fy, yang diambil dari manga Jepang One Piece, berki- bar tinggi di ratusan demonstrasi dan menjadi simbol persatuan kaum muda di seluruh dunia.

Kita menyadari hari ini bahwa untuk meraih kemenangan, kita harus bersatu. Kita tahu siapa yang harus dilawan, kita tahu apa yang ingin kita hancurkan. Dan hari ini, menyusul gelombang protes pemuda yang baru saja berlangsung, kita juga tahu bahwa kemenangan adalah mungkin.

Namun belum sepenuhnya jelas bagaimana meraih kemenangan total atas musuh, bagaimana menempuh jalan menuju cara hidup yang berbeda, bagaimana membangun sebuah sistem yang berlandaskan nilai-nilai etis, dan apa nilai-nilai itu. Singkat kata, bagaimana mengusir musuh dari pikiran dan hati kita. Kemenangan berisiko ditelan kembali oleh sistem jika gagal menciptakan sistem kehidupan bersama yang baru, fungsional, terorganisir, dan bebas.

Edisi ini bertujuan menarik benang merah historis antara berbagai protes pemuda dan menawarkan perspektif kritis yang dapat membantu kita melangkah maju bersama dalam membangun revolusi abad ke-21. Bagaimana membuat pemberontakan menjadi permanen? Atau, dengan kata lain, bagaimana memastikan agar semangat revolusioner kaum muda tidak ditelan kembali oleh sistem kapitalis dan patriarkal?

Kita akan menganalisis konteks dan pengorganisasian pemberontakan pemuda Kenya 2024, sebelum melompat lebih jauh ke belakang menuju tahun 1968. Kita akan menyoroti asal-usul, semangat, dan warisan revolusi pertama yang dipimpin oleh kaum muda sebagai kaum muda, dalam upaya memahami masa lalu guna menafsirkan masa kini dan membangun masa depan kita sendiri.

Melompat jauh ke depan dalam sejarah, kita akan me- ngenal kaum muda Bakur (kawasan Kurdistan yang diduduki Turki) dan perlawanan mereka menghadapi serangan negara Turki, pada musim semi sepuluh tahun silam. Terakhir, kita akan mengarahkan perhatian ke Peru untuk mengenang kawan Trvko, yang dibunuh oleh polisi di usia 32 tahun saat berlangsungnya sebuah protes.

Kami mendedikasikan edisi ini untuk semua pemuda dan pemudi yang gugur dalam perjuangan melawan penindasan, dan khususnya bagi mereka yang dibunuh oleh negara dalam beberapa bulan terakhir. Sebagaimana di Indonesia pembunuhan seorang kurir muda (Affan Kurniawan) oleh polisi menyulut lebih tinggi api revolusi, kita akan terus menjaga api ini menyala dalam hati kita, menyalakannya dengan keben- cian terhadap ketidakadilan dan cinta terhadap kehidupan serta kebebasan. Kami berharap edisi ini dapat membantu kita dalam upaya tersebut.

Sampai Kemenangan!

Pemberont Pemberontakan akan Permanen

MENGUBAH MOBILISASI MENJADI ORGANISASI MELALUI KOMUNE

OLEH ÉMILE MARTI

eptember 2025, Nepal. Asap, gas air mata, teriakan, batu beterbangan, kelompok-kelompok kecil anak muda berkumpul dan membentuk gelombang manusia yang besar. Gelombang

Sdahsyat menerjang istana presiden. Gerbang

dengan cepat roboh; beberapa mengibarkan bendera «One Piece», orang-orang merekam video untuk mengabadikan momen-momen kegembiraan ini.

Dimulai dari Indonesia dan Nepal pada Agustus 2025, kemudian menyebar ke Filipina, Madagaskar, Maroko, Peru, dan Bulgaria, dalam beberapa bulan terakhir kita telah menyaksikan fase baru dalam perjuangan global pemuda. Media—dan kaum muda yang berjuang sendiri—telah berbicara tentang «pemberontakan Generasi Z.» Bagaimana kita dapat memahami pemberontakan ini? Pelajaran apa yang dapat kita ambil untuk periode mendatang?

Melalui identitas Generasi Z, kaum muda saat ini digam- barkan di media sebagai terasing di dalam dunia maya, egois, dan apolitis. Dengan cara ini, sistem berharap dapat menetralisir kaum muda sebelum mereka bahkan dapat menimbulkan ancaman bagi keberadaannya.

Tujuannya adalah untuk menguras potensi revolusioner mereka dan menciptakan kaum muda yang lumpuh dan pasif, tidak mampu berpikir atau menciptakan perubahan. Kapitalisme berupaya menjinakkan kita agar dapat lebih mudah mengeksploitasi kita untuk kepentingannya sendiri, mereduksi hidup kita hanya untuk belajar, bekerja, dan memproduksi.

Ini bukanlah hal baru: pihak yang berkuasa selalu berupaya menyerang dan mengeksploitasi kaum muda, memisahkan mereka dari generasi sebelumnya, dan menjadikan perjuangan mereka tidak sah. Sebagai tanggapan, kaum muda selalu membela diri dan akan terus memberontak. Dari Kathmandu hingga Rabat, kaum muda telah bangkit secara besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir, merebut kembali identitas kaum muda yang berjuang dan mengubahnya menjadi kekuatan kolektif yang mempersatukan.

KRONOLOGI GELOMBANG BARU
PERJUANGAN PEMUDA GLOBAL

Pada Agustus 2018, Greta unberg meluncurkan aksi mogok iklim. Dalam beberapa bulan, demonstrasi men- gumpulkan ratusan ribu anak muda di seluruh benua. Generasi baru turun ke jalan dan mempertanyakan keseluruhan sistem. Pada tahun 2020 dan 2022, pembunuhan George Floyd dan Jina Amini memicu gerakan massa di mana kaum muda memainkan peran garda terdepan. Slogan-slogan pemberontakan ini—»Black Lives Matter» dan «Jin Jiyan Azadî»—masih bergema hingga saat ini.

Pada tahun 2022, protes «Aragalaya» (perjuangan) memaksa Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, untuk melarikan diri setelah hanya beberapa minggu demonstrasi dilakukan. Kaum muda memberontak melawan sistem di mana kepentingan keluarga mereka yang berkuasa mengesampingkan kepentingan umum. Dua tahun kemudian, pada Juni 2024, pemuda Kenya bangkit secara besar-besaran melawan rancangan undang-undang keuangan, yang akhirnya ditarik. Pada saat yang sama, Bangladesh menjadi pusat pemberontakan kaum muda. Beberapa bulan kemudian, pada November 2024, Serbia bergejolak, dengan mahasiswa memimpin gerakan pemberontakan besar-besaran.

GELOMBANG YANG MENYAPU DARI
ASIA HINGGA EROPA TIMUR

Namun, rangkaian peristiwa terbaru dan paling intens dimulai pada Agustus 2025 di Indonesia. Kali ini, gerakan dimulai di pedesaan, di mana kelompok petani memobi- lisasi diri melawan kenaikan pajak tanah. Untuk pertama kalinya, bendera «One Piece» dikibarkan sebagai simbol pemberontakan «Generasi Z». Jika fase perjuangan baru ini dimulai di Indonesia, maka di Nepal-lah gerakan ini menarik perhatian dunia. Perdebatan daring kaum muda tentang korupsi yang dilakukan oleh kelas penguasa telah meluas, sehingga pemerintah memutuskan untuk memblokir akses ke jejaring sosial utama. Itulah pemicu terakhir.

Pada tanggal 8 September, mahasiswa dan pekerja muda

Lêgerîn

turun ke jalan, dan keesokan harinya presiden melarikan diri; gedung-gedung resmi dan perusahaan-perusahaan besar dibakar, istana presiden diserbu. Intensitas pemberontakan menyebar jauh melampaui perbatasan Nepal. Pada saat itu, bagi kaum muda di seluruh dunia, pertanyaannya berubah menjadi: «Jika mereka bisa melaku- kannya di Nepal, mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama di sini?»

Kemenangan cepat di Nepal mengembalikan kepercayaan diri dan kekuatan kepada kaum muda di seluruh benua— kaum muda yang telah dicoba dinetralisir oleh sistem, namun sia-sia. Pada hari-hari berikutnya, kaum muda turun ke jalan di Filipina, Timor-Leste, Madagaskar, dan Maroko. Pada bulan-bulan berikutnya, gelombang tersebut mencapai Amerika Selatan dengan pemberontakan di Peru, dan Eropa dengan jatuhnya pemerintah di Bulgaria.

MENGAPA “GENERASI Z”
MEMBERONTAK?

“Konflik antar generasi dapat dan harus diselesaikan melalui konflik sosial; atau sebaliknya, konflik antar generasi dapat menjadi faktor pergerakan dan kemajuan. Generasi muda menemukan solusi atas kesulitan mereka dalam gerakan kolektif, dan dengan memilih gerakan tersebut, mereka mampu mempercepatnya.”

Albert Memmi – Portrait of the Colonized, 1957.

Generasi Z adalah generasi yang paling berpendidikan tetapi juga generasi yang menghadapi pengangguran dan utang tertinggi. Sebagai anak muda, kita berada dalam posisi di mana membangun masa kini terasa tidak mungkin, dan memproyeksikan diri ke masa depan tampaknya sama sekali tidak terjangkau. Bencana iklim dan perang adalah realitas brutal yang dialami langsung oleh ke- banyakan dari kita. Di negara-negara Selatan, kaum muda merupakan bagian terbesar dari populasi: usia rata-rata di

Kenya adalah 20 tahun, di Nepal 25 tahun.

Sebelumnya, sistem mengklaim bahwa ia akan menawarkan kenyamanan materi atau pengakuan sebagai imba- lan atas eksploitasi. Namun saat ini, ia bahkan tidak lagi peduli dengan penampilannya: ia tidak memberikan jawaban atau perspektif bagi kaum muda. Di Selatan khususnya, satu-satunya kontak dengan negara dapat dilakukan melalui birokrasi dan polisi yang termiliterisasi. Bagi mereka yang bersikeras untuk hidup bermartabat, korupsi lembaga negara dan kekerasan kapitalisme menjadi tak tertahankan.

Media sosial memperkuat dan mempercepat kapasitas kuat kaum muda untuk mobilisasi—mobilisasi yang mengubah kemarahan individu menjadi aksi kolektif di jalanan. Di luar karakteristik khusus generasi ini, pemberontakan Gen Z adalah ekspresi terbaru dari perjuangan historis kaum muda yang berkelanjutan. Kaum muda adalah bagian masyarakat yang paling dinamis; mereka selalu memainkan peran pelopor dalam perubahan sosial. Menjadi muda adalah cara mendekati kehidupan: mempertanyakan segala sesuatu, mencari kebebasan, siap memberikan segalanya untuk ide-ide baru!

“Hidup tanpa prinsip membuatmu menua. Masa muda berarti harus hidup secara konsisten. Ketika saya masih kecil, saya berkata, ‘Jika kamu hidup, maka kamu harus hidup antara bebas atau tidak.’ Saya menolak kehidupan tanpa kebebasan.”¹

Abdullah Öcalan
KEKURANGAN YANG PERLU
DIATASI

Kurangnya gagasan yang jelas dan dapat diterima secara kolektif melemahkan Generasi Z. Sebagai generasi baru yang sedang berjuang, kita harus mengembangkan model kehidupan alternatif kita sendiri jika kita benar-benar ingin mengatasi modernitas kapitalis. Anarkisme, feminisme, gerakan pembebasan nasional, Marxisme, Leni- nisme, Maoisme, dan episode-episode perjuangan kelas

Lêgerîn

sebelumnya telah menciptakan sejarah perlawanan yang sangat penting. Namun, sebagai kaum muda yang sedang berjuang, kita membutuhkan pemikiran yang disesuai- kan dengan abad ke-21 untuk membuat pencapaian kita permanen dan berkelanjutan. Visi yang didasarkan pada pembebasan perempuan, demokrasi akar rumput, ekologi, dan kesadaran politik adalah suatu keharusan. Tanpa menyelesaikan masalah patriarki, tidak ada solusi radikal yang mungkin—patriarki adalah fondasi tempat semua sistem kekuasaan dibangun. Dihadapkan dengan runtuhnya sistem kehidupan, paradigma ekologis dan komunal menjadi sangat diperlukan.

STRATEGI KOMUNAL UNTUK
MEMASTIKAN KEMENANGAN

“Di masa lalu, perlawanan dilakukan untuk menggulingkan pihak lawan dan mendirikan pemerintahan sendiri sebagai penggantinya. Namun, saat ini, pembangunan kekuatan mendahului perlawanan. Di mana pun ada kemungkinan, pembangunan kekuatan harus segera dilakukan. Jika ada serangan terhadapnya, seseorang harus membela diri, melawan, dan berjuang jika perlu.”

Manifesto Pemuda – Gerakan Pemuda Revolusioner
Kurdistan

Seperti pada masa Arab Springs 2011, pemberontakan Generasi Z bersifat spontan, dan tanpa alternatif, rezim

serupa dengan yang digulingkan dengan cepat kembali berkuasa. Politik membenci kekosongan. Gerakan yang mendasarkan harapan perubahan mereka semata-mata hanya pada negara dengan cepat diinternalisasi: sistem kapitalis cukup terorganisir untuk menahan perubahan dan reformasi pemerintah. Situasi di Nepal dan Bangladesh, antara lain, menunjukkan hal ini. Di sisi lain, berpikir bahwa membebaskan diri dari negara hanya dengan melakukan pemberontakan adalah ilusi yang berbahaya. Strategi komunal membuka jalan di antara kedua pendekatan ini. Bukan penolakan total terhadap negara maupun harapan yang ilusif: masyarakat dan pemerintahan mandiri dan demokratis lah yang harus menjadi pusat perhatian.

Proses perdamaian dan masyarakat demokratis, yang di- prakarsai oleh Abdullah Öcalan dari pulau penjara İmralı pada 27 Februari 2025, merupakan perwujudan nyata dari jalan baru menuju emansipasi ini, yang dapat menginspirasi masyarakat di seluruh dunia. Dialog dengan negara Turki telah menghentikan serangan militer dan membuka kemungkinan baru untuk perjuangan, di mana masyarakat terlibat langsung dalam membangun pemerintahan mandiri akar rumputnya sendiri. Serangan terhadap revolusi Rojava pada Januari 2026 menunjukkan ancaman yang ditimbulkan akibat gagasan-gagasan ini dalam prak- tiknya terhadap sistem hegemonik.

Di Serbia, kebangkitan Zborovi—majelis akar rumput demokratis—bersamaan dengan mobilisasi massa merupakan contoh penting.² Beberapa hari setelah penggulingan pemerintah, “Gen Z Madagaskar” mengumumkan dalam piagam mereka bahwa “Perombakan kelembagaan harus muncul dari refleksi kolektif tentang sistem baru berdasarkan kebutuhan dan aspirasi yang dikum- pulkan dari komunitas lokal (fokontany/komune),” dan bahwa kontrak sosial baru berdasarkan prinsip Fihavanana (tradisi Malagasi tentang saling membantu antar komunitas) harus dikembangkan.³

Pada akhir Februari 2026, sebagai kelanjutan dari pemberontakan bulan-bulan sebelumnya, pemuda Indonesia menyelenggarakan Festival Saba Kampung, dengan slogan “Merevitalisasi Komune di Tengah Modernitas yang Dipaksakan.” Tujuan pertama mereka: “Merehabilitasi Ruang Hidup sebagai Ekosistem Sosial-Budaya Holistik. Mengembalikan fungsi desa sebagai

Demonstrasi pemuda di Antananari- vo, Madagaskar, 11 Oktober 2025

Lêgerîn

ruang hidup demokratis—bukan hanya lokasi geografis—di mana hubungan sosial berdasarkan gotong royong (saling membantu), musyawarah mufakat (pengambilan keputusan konsensus), dan penghormatan terhadap keragaman (negara demokrasi) dipraktikkan secara aktif.” Festival ini juga harus “Berfungsi sebagai Laboratorium untuk Kehidupan Alternatif bagi Kaum Muda.” Sebisa mungkin, kita dapat mulai membangun cara hidup baru kita dari akar rumput hari ini melalui proses komunalisasi. Pemberontakan dapat mempercepat sejarah, tetapi kita tidak dapat meraih kemenangan tanpa pembangunan yang lambat dan berkelanjutan secara paralel. Kita harus berhenti hanya menyampaikan tuntutan kita kepada negara dan kembali menyadari kekuatan kita sendiri sebagai masyarakat yang terorganisir.

PERSPEKTIF UNTUK REVOLUSI
PEMUDA SEDUNIA

Dalam filsafat Yunani, Kai- ros menggambarkan «momen kritis,» yaitu saat yang harus dikenali dan dimanfaatkan ketika sudah tiba. Ia juga di- gambarkan sebagai dewa kecil yang terbang: ketika ia lewat di hadapan kita, kita bisa gagal melihatnya, melihatnya dan membiarkannya berlalu, atau meraihnya dan merebut kesempatan itu.

Tahun 2026 dimulai bersamaan dengan penculikan Ni- colás Maduro di Venezuela dan dimulainya serangan baru terhadap revolusi Rojava. Trump telah mengancam akan menyerang Greenland dan Kuba, dan Macron baru-baru ini menyatakan bahwa periode mendatang akan menjadi «setengah abad senjata nuklir.» Pada 28 Februari, operasi militer AS-Is- rael baru dimulai melawan rezim Iran, yang, saat kami menulis ini, berubah menjadi perang regional hingga memengaruhi semua rakyat Timur Tengah. Dengan AS sebagai pemimpin, kekuatan Barat telah dengan jelas menyatakan niat mereka untuk tahun yang baru: melancarkan serangan besar-besaran terhadap semua kekuatan—demokratis atau otoriter—yang menolak untuk tunduk pada rencana imperialis mereka.

Situasi ini tidak menunjukkan keperkasaan mereka, tetapi mencerminkan krisis eksistensial yang dialami sistem kapitalis. Serangan-serangan ini juga menunjukkan ketaku-

tan mereka dalam menghadapi perlawanan rakyat. Pemberontakan «Generasi Z» internasional telah menciptakan konteks baru: untuk pertama kalinya sejak 1968, kaum muda yang berjuang di seluruh dunia sekali lagi menyadari bahwa mereka termasuk dalam dinamika pemberontakan yang sama; mereka secara terbuka mengklaim hubungan ini dan mengubahnya menjadi kekuatan. Kita tidak boleh membiarkan kesempatan ini berlalu. Gagasan tentang konfederasi pemuda demokratis di seluruh dunia dapat mengubah kesadaran kolektif pemuda ini menjadi kekuatan yang terorganisir.

Dengan menggabungkan pembangunan komunal akar rumput, konfederasi semua inisiatif yang ada menjadi
sistem alternatif, dan internasionalisme di antara kaum muda di semua benua, kita dapat menjadi kekuatan
yang mampu melakukan intervensi dan mengakhiri perang dunia yang sedang berlangsung!

Pertemuan « Zborovi » di Novi Sad, Serbia, Maret 2025

*[1] https://internationalistcommune.com/youth-means-unders-* tanding-text-by-abdullah-ocalan/ [2] Zborovi, direct democracy council, Serbia: https://berlinergazette.de/the-politics-of-zborovi-councils-direct-democracy-and-the-specters-of-re volution-in-the-balkans/ *[3] Gen Z Madagascar Charter: https://drive.google.com/file/d/1f-* 700Tl3kP7SnlNvxEXQwkasmrSJdHP0o/view

protes Hongaria 2026 Menyusul pelecehan anak dan skandal lain yang di- lakukan oleh presiden Vic- tor Orban, para pemuda menuntut pengunduran dirinya melalui mobilisasi massa.
DI pemuda SELURUH DUNIA Serbia 2024 Setelah runtuhnya sebu- ah gedung stasiun kereta api, kaum muda menye- rukan akuntabilitas dan penghentian korupsi pe- merintah melalui protes massa dan blokade.
Peru 2025 Setelah protes terhadap pemerintah pada tahun 2022 dan 2023, dan bahkan dengan presiden baru, krisis politik terus berlanjut dengan korupsi dan reformasi yang tidak adil. Para pemuda bangkit kembali, yang kemudian dibalas dengan kekerasan besar-besaran oleh polisi terhadap para pemuda dan pemudi. Bulgaria 2025-2026 tahun 2026. „Gen Z“ di Bulgaria berhasil menun- tut pengunduran diri pemerintah dan memprotes korupsi serta kenaikan pajak Togo 2025 Kaum muda menyuarakan kepri- hatinan tentang undang-undang
Ini hanyalah beberapa gera- kan pemuda yang dimulai dalam empat tahun terak- hir. Dalam beberapa tahun terakhir juga terjadi pem- berontakan kaum muda di ailand, Nigera, Mozam- bik, Kamerun, Mongolia, Malaysia, Prancis, Malade- wa, Paraguay, Meksiko, dan masih banyak lagi... Maroko 2025 sangat besar. Sebagai tanggapan atas prioritas pemerintah untuk membelanja- kan uang untuk acara olahraga alih-alih untuk struktur sosial, pendidikan, dan perawatan kesehatan, „Gen Z 212“ men- gorganisir protes besar-besaran. Terutama setelah kematian delapan wanita saat melahirkan di rumah sakit, protes menjadi baru yang memungkinkan presiden untuk tetap berkuasa tanpa batas waktu. Selain itu, penangkapan seorang rapper memicu kemarahan di atas ke- gagalan pemerintah yang telah berlangsung lama dalam menye- diakan lapangan pekerjaan dan kondisi kehidupan manusia yang mendasar bagi masyarakat. Protes tersebut dibalas dengan kekerasan oleh militer, di mana orang-orang yang berusia 13 dan 15 tahun ditembak.
rontakan pemuda lainnya di seluruh dunia. Alasan da masih mengorganisir demonstrasi besar-be-
Iran 2022 Setelah pembunuhan kejam terhadap Jina Amini oleh polisi, terutama para per- empuan muda turun ke jalan pemberontakan ini adalah korupsi, nepotisme, dan pelarangan media sosial. saran.
dan melawan sistem Islam Iran yang menindas. Kenya 2024 „Gen Z“ memprotes undang-undang keuan- gan yang melibatkan kenaikan pajak untuk melunasi utang. Melalui dampak pemberonta- Indonesia 2025 Protes kaum muda yang meluas terhadap pemerintah, sistem ekonomi, dan kebrutalan polisi berujung pada revisi kebijakan dan undang-undang kapitalis yang tidak adil oleh presiden Prabowo Subianto. Bangladesh 2024 rasa muda. Pemuda Bangladesh bangkit pada bulan Juli, menggulingkan rezim otoriter dan melawan sis- tem kuota pekerjaan. Rezim menjawab dengan pembunuhan massal terhadap para pengunjuk Timor-Leste 2025 Tak lama setelah protes di Nepal, para pemuda di Ti- mor-Leste melam- piaskan kemarahan mereka terhadap pemerintah yang memperkaya diri sendiri ke jalanan.
kan kaum muda, RUU tersebut dicabut. Protes tersebut dibalas den- gan penembakan oleh polisi, menyebabkan banyak korban luka dan banyak yang menjadi martir. Madagaskar 2025 pengunjuk rasa yang terbunuh. "Generasi Z" berhasil menggulingkan pemerintah Malagasi karena ketidakpuasan terhadap korupsi dan kondisi kehidupan yang buruk di negara tersebut. Sebagai tanggapannya, banyak

Lêgerîn

GEMAAA PERLAWANAN

SEBUAH PENGHORMATAN BAGI KORBAN KEKERASAN NEGARA DI KENYA

OLEH GATHANGA NDUNG’U

Ditulis oleh Gathanga Ndung’u, pengorganisir komunitas dan aktivis di Mathare Social Justice Centre (MSJC)
serta pengorganisir politik di Revolutionary Socialist League – Africa (RSL).

enya meraih kemerdekaan formal pada

  1. Namun kedaulatan yang telah lama ditunggu-tunggu itu tak pernah benar-benar datang, karena alat-alat eman-

    Ksipasi ekonomi seperti tanah dan industri

tetap berada di tangan kekuatan kolonial beserta kaki tangan lokal mereka, yaitu kelas kompradoris, yang dipimpin oleh presiden pertama, Kamau Wa Ngegi (alias Jomo Kenyatta). Pengkhianatan ini terjadi setelah salah satu perjuangan pembebasan paling berdarah di Afrika yang dilancarkan oleh Kenya Land and Freedom Army (KLFA), yang juga dikenal sebagai Mau Mau, melawan pemerintah Inggris dari 1952 hingga 1963. Hingga hari ini, tanah dan sumber daya lainnya masih terkonsentrasi di tangan segelintir elit politik beserta kroni-kroni mereka, menciptakan masyarakat yang sangat timpang.

Protes Juni 2024 tidak muncul dari kehampaan. RUU Keuangan 2024 hanyalah pemicu dari lebih dari 120 tahun represi sosio-ekonomi dan politik yang sistemik di Kenya. Bagi warga Kenya, 25 Juni 2024 akan selamanya ter- patri dalam hati dan pikiran kami. Ini adalah tanda yang tak terhapuskan yang akan selamanya mewujudkan keberanian pemuda Kenya yang mengambil alih tanggung jawab untuk mengubah jalannya sejarah negara kami. Para pemuda dihadapkan dengan pasar kerja yang terus menyusut, janji-janji yang tak terpenuhi, dan penerapan kebijakan neoliberal yang anti-rakyat. Di atas semua itu, mereka menyaksikan salah kelola dan korupsi, pengabai- an terang-terangan terhadap konstitusi dan hukum, serta pemborosan sumber daya nasional yang tak tertandingi bersamaan dengan pamer kekayaan tak terkendali oleh para pegawai negeri dan kelas politik. Para pemuda tak lagi melihat harapan dalam “Hustler Dream¹”. Apa yang bermula sebagai rasa tidak puas dan kekha- watiran warga atas anggaran tahunan yang berupaya

menambah

#Ruto

USD 2,7 mi- liar dari per- pajakan, serta penolakan terhadap Must Go RUU-RUU represif seperti RUU Benih 2024 yang mengkriminalisasi ber-bagi benih lokal, berkembang menjadi perlawanan rakyat yang didukung oleh warga Kenya dari berbagai kelas sosial, suku, keyakinan, dan generasi. Protes 6 Juni dimulai oleh anggota Gerakan Keadilan Sosial dan pengorganisir serta aktivis dari berbagai organisasi yang menyerbu gerbang Majelis Nasional — lembaga legislatif Pemerintah Kenya — untuk menuntut penolakan total RUU Keuangan 2024. Para demonstran damai yang hanya ‘bersenjatakan’ botol air, peluit, dan spanduk itu disambut oleh pasukan polisi brutal yang menang- kap puluhan orang dengan tuduhan mengada-ada, yaitu mengganggu ketertiban umum.

Ini menjadi panggung bagi lebih banyak protes minggu- an, dengan 18 Juni mengubah arah protes yang sebagian besar berlangsung damai. Pada hari itu, protes berlanjut melewati pukul 18.00 dan terus berlangsung hingga malam di Kawasan Bisnis Pusat (CBD) ibu kota — sesuatu yang sebelumnya belum pernah terjadi. Dalam protes inilah peluru polisi menumbangkan martir politik pertama zaman kita, meski ia tidak bersenjata. Kematian Rex Masai, seorang pemuda yang datang untuk memprotes pemerintah yang telah menjadi tuli terhadap rakyatnya, adalah sebuah tragedi. Masai kehilangan nyawanya di tangan pemerintah yang sama yang telah berjanji untuk mereformasi polisi dan mengakhiri eksekusi extrajudisial yang tak ada habisnya dan tidak masuk akal ini.

Tindakan negara yang dimaksudkan untuk menanam- kan rasa takut dan mencegah lebih banyak pemuda bergabung dalam apa yang semakin berkembang menjadi perjuangan rakyat itu justru berbalik dan memicu protes massal di seluruh negeri pada 25 Juni, yang mengubah

Seorang perempuan muda dalam demonstrasi di Kenya tahun 2024

Lêgerîn

sejarah dan arah politik negara. Kematiannya menghidupkan kembali kata-kata yang terukir di makam Pio Gama Pinto — sosialis Kenya dan martir politik pertama yang dibunuh oleh pemerintah kemerdekaan pertama pada 24 Februari 1965 — “Sebuah cahaya telah padam. Namun seribu obor bangkit dari percikan yang ia bawa.”

Pada 25 Juni, ketika parlemen tergesa-gesa mengesahkan RUU Keuangan 2024 yang kontroversial itu di bawah pengaruh eksekutif, sebuah gerakan rakyat sedang dilahirkan di jalanan setiap kota besar di Kenya. Termasuk di halaman belakang kampung halaman presiden di Eldo- ret, Kabupaten Uasin Gishu, yang selama ini dianggapnya sebagai benteng politik pribadinya.

Sekali lagi, keberanian ini dibalas dengan represi yang lebih brutal, menyebabkan lebih dari 62 kematian, dengan enam kematian terjadi tepat di depan gerbang Majelis Nasional akibat penembak jitu dan aparat negara lainnya. Ini terjadi setelah para pemuda dengan heroik menerobos tembok parlemen

utountuk pertama kalinya dalam sejarah, berbaris

dengan gagah berani menuju ruang sidang sementara para anggota parlemen berhamburan menyelamatkan diri. Selama pendudukan parle-

omen oleh para pemuda ini, gada — benda yang

melambangkan kekuasaan majelis untuk membuat undang-undang — diambil. Ini menjadi simbol rakyat yang merebut kembali kekuasaan mereka yang se- harusnya diwa- kili oleh parlemen. Setelah 25 Juni, penculikan, penghilang- an paksa, dan pe- nyiksaan banyak a k t i v i s muda

menjadi semakin umum, dengan negara yang melemah menjadi semakin ganas dalam upayanya memberangus mereka yang dianggap sebagai ‘pemimpin’, ‘pengorganisir’, dan ‘pemodal’ pemberontakan.

PROTES YANG DITENAGAI
TEKNOLOGI DIGITAL

Pemberontakan 2024 memiliki banyak hal yang pertama kali terjadi dan beberapa pencapaian dalam pengo- rganisasiannya. Ini adalah protes nasional pertama yang pernah ada dan menjangkau hampir seluruh pelosok negeri. Protes ini juga berhasil meruntuhkan sekat-sekat sosio-ekonomi, politik, agama, dan etnis yang selama ini menciptakan perpecahan dalam pengorganisasian. Dengan memanfaatkan kekuatan platform digital, negara dihadapkan pada sebuah gerakan yang tak berbentuk dan tak bisa ditanganinya. Gerakan ini dijuluki ‘tanpa pemimpin dan tanpa partai’, mengalahkan bentuk-bentuk pengorganisasian tradisional yang berputar di sekitar raja-raja suku dan partai politik yang mudah dikompro- mikan. Upaya mereka untuk melawan gelombang aktivisme digital yang terus berkembang di platform media sosial gagal total, karena pendidikan politik dan sipil yang dilakukan oleh aktivis dan pemuda biasa tampaknya bergema di kalangan massa. Akibatnya, pemerintah kalah dalam perang propaganda melawan rakyatnya sendiri.

Pada 2024, meme digunakan sebagai alat aktivisme politik, membantu membangun massa kritis untuk ‘kemarahan nasional’ yang absen di tahun-tahun sebelumnya. Melalui meme-meme yang mengkritik pemerintah ini, ribuan pemuda dimobilisasi di seluruh negeri melalui platform digital. Dari penggunaan meme, kartun, dan karikatur untuk mengkritik pemerintah dan presiden secara khusus, hingga penggunaan video edukatif di berbagai platform. Media diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa etnis untuk menyebarkan informasi tentang berbagai bagian RUU yang kontroversial dan dampaknya terhadap konstitusi. Melalui ini para pemuda berhasil menjangkau bahkan populasi yang sebelumnya tidak terjangkau. Mengurai konstitusi dalam format yang seder- hana dan mudah dipahami memastikan bahwa rakyat, bahkan mereka yang tinggal di desa-desa, memahami bagaimana RUU tersebut akan memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

Melalui mural, grafiti, puisi lisan, musik, puisi, tarian, dan sketsa komedi, pendidikan populer menyebar bagai api di internet. Di lapangan, pertemuan komunitas,

#Reject Finance Bill

Lêgerîn

protes lokal, serta upaya pendidikan sipil dan politik semakin intensif di berbagai tempat seperti matatu², pasar, rumah, dan ruang publik lainnya, sementara upaya propaganda pemerintah mengalami kegagalan.

Perempuan memainkan peran kritis dalam mengorganisir aksi-aksi anti-femisida, yang merupakan protes ber-skala besar pertama pada 2024. Aksi-aksi ini diorganisir oleh perempuan dan gadis-gadis muda di berbagai kota dan kabupaten di Kenya. Protes-protes ini membantu membangun momentum yang dibutuhkan bagi protes Anti-RUU Keuangan 2024 periode Juni–Agustus. Protes-protes ini kemudian diikuti oleh protes Perempuan Mau Mau³ pada bulan April melawan penggusuran ile- gal di Mathare pascabanjir dahsyat 2024, yang dipimpin oleh perempuan berusia 80-an tahun yang pernah berjuang dalam perlawanan pembebasan melawan Kekaisar- an Inggris di Kenya. Protes-protes ini menyoroti peran kritis yang dimainkan perempuan dalam pengorganisasian 2024 dan penumpukan berbagai kegiatan. Selama protes-protes besar, perempuan juga berdatangan dalam jumlah besar ke garis depan untuk menghadapi pasukan polisi negara yang brutal.

Dengan semua perkembangan ini, kaum muda mengubah Kenya; sebagaimana dikatakan seorang demonstran, “sesuatu tidak akan pernah sama lagi.” Mentalitas baru telah hadir: mentalitas anak-anak muda yang telah menyadari kemampuan dan kekuatan mereka dan siap untuk membentuk masa depan mereka serta politik negara mereka.

Pada 2026, kaum muda terus berorganisasi dan beragi- tasi. Sebagian besar upaya disalurkan untuk memperluas pendidikan politik dan sipil kepada masyarakat umum melalui semua media. Meski proses-proses demokratis seperti pemilihan umum dan partisipasi publik memiliki keterbatasan, terutama di negara-negara neoliberal seperti Kenya, telah ada mobilisasi besar untuk mendorong perubahan bertahap dalam kepemimpinan dari tingkat akar rumput. Ini muncul sebagai manuver politik taktis jangka pendek, sementara kita secara strategis merenca- nakan pengembaran jangka panjang sebuah massa yang kritis dan sadar.

MENGENANG PARA PAHLAWAN
PROTES ANTI-RUU KEUANGAN 2024
DAN PERINGATAN 2025

Pencapaian-pencapaian ini tidak lepas dari rintangan dan biaya kemanusiaan yang sangat besar. Sejak awal protes, Kenya kehilangan lebih dari 61 nyawa, lebih dari 72 orang diculik — dengan 29 di antaranya masih hilang hingga hari ini — 601 orang mengalami luka-luka, dan lebih dari

1.376 penangkapan sewenang-wenang dilakukan. Pada tahun berikutnya, 2025, ketika kita menggelar peringatan protes 2024, 65 orang terbunuh, lebih dari 400 orang terluka, dan lebih dari 26 orang dihilangkan secara paksa.
Luka-luka ini akan terus menjadi pengingat akan masa lalu yang kelam dan pengorbanan manusia yang dibutuhkan untuk membebaskan negara kita dari cengkeraman kekuatan imperialis dan kelas borjuis mereka yang terputus dari realitas, yang telah berkuasa sejak kemerdekaan negara ini. Saat kita merayakan para pahlawan pemberani zaman kita melalui mural, grafiti, lagu, puisi, dan berbagai bentuk memorialisasi lainnya, rakyat Kenya terus menjaga percikan revolusi tetap menyala. Sebagaimana ditegaskan Milan Kundera, perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan ke- lupaan.

Tanggung jawab untuk mengabadikan para martir kita pun jatuh ke tangan generasi kita, untuk memastikan ada memorialisasi kolektif atas para Gen Z yang gugur, sementara kita menjaga cita-cita mereka tentang negara yang lebih baik tetap hidup. Sebagaimana ditulis Frantz Fanon, setiap generasi harus, dari kegelapan relatif, menemukan misinya, memenuhinya, atau mengkhianati- nya. Membebaskan negara ini adalah — dan terus menjadi — misi zaman kita sebagai kaum muda Kenya, saat kita berjuang untuk memulihkan keadilan sosial, demokrasi, dan memanusiakan kehidupan kita.

Untuk mengenang Rex Masai Kanyike, Eric
Shieni, David Chege, Denzel Omondi, Wan- jiku, dan banyak warga Kenya lainnya yang
kehilangan nyawa mereka atau yang dihilangkan sepenuhnya oleh negara.

[1] Hustler Dream: Presiden William Ruto mengemas dirinya sebagai hustler utama selama kampanye presiden 2022, berkat perjalanannya dari latar belakang miskin menuju jajaran tertinggi pemerintahan. Hustler dream adalah umpan populis untuk massa miskin, menjanjikan transformasi kehidupan mereka melalui ekonomi dari bawah ke atas. [2] Matatu: Kendaraan angkutan umum bersama di Kenya. [3] Mau Mau: Nama populer untuk Kenya Land & Freedom Army, gerakan perlawanan anti-kolonial kemerdekaan di Kenya dari 1952 hingga 1963.

Lêgerîn

KOMUNE KOMUNE PARIS MODERN PARIS MODERN

BAGAIMANA PEMUDA BAKUR BANGKIT MEMBELA KEHIDUPAN KOMUNAL

OLEH MARCOS PACHECO

embang api meneran- gi langit dengan war- na merah, hijau, dan kuning sepanjang ma-

Klam. Di jalan-jalan, api

unggun telah dinyalakan di mana-mana dan orang-orang dari segala usia berkumpul di sekelilingnya. Banyak di antara mereka menari berputar-putar di sekitar api unggun mengikuti irama musik yang memekakkan telinga dan diputar melalui pengeras suara. Setiap kali musik berhenti sejenak, para pemuda menggunakan suara mereka yang lantang untuk menyanyikan lagu-lagu tersebut, yang kemudian diu- lang oleh semua orang.

Kerumunan terbesar berkumpul di “Mala Gel”, Rumah Rakyat yang baru saja dibuka. Namun, warga sekitar menyebutnya dengan bercanda sebagai “Rumah Tuhan” karena, seperti di masjid, tempat itu selalu penuh dan semua orang datang dan pergi sesuka hati. Sementara itu, semua lembaga negara dan partai politik selalu hampir kosong. Orang-orang lebih memilih datang ke sini untuk menyelesaikan masalah, berorganisasi, dan saling membantu. Tempat ini telah menjadi jantung baru kota, di mana makna kata-kata seperti politik, demokrasi, dan komunitas sedang didefinisikan ulang. Bahkan dengan semua keributan dan aktivitas, tidak ada seorang pun polisi yang terlihat. Tak satu pun dari mereka berani datang tanpa dukungan operasi militer besar-besaran. Sebaliknya, kelompok pemuda dan pemudi dari lingkungan tersebut bergantian berja-

Anggota YPS (Yekîneyên Parastina Sivîl), Unit Perlindungan Sipil, 2016.

Lêgerîn

ga di balik barikade yang mereka bangun di jalan-jalan utama. Wajah mereka tertutup syal bermotif untuk me- lindungi identitas, namun kegembiraan dan tekad mereka terasa jelas meski di balik penutup itu. Ibu-ibu tua di lingkungan itu secara rutin membawa makanan untuk mereka, dan semua orang membuka rumah mereka agar para pemuda bisa tidur dan beristirahat kapan pun mereka butuh.

Malam itu juga, para pemuda berkumpul bersama, membentuk barisan besar yang solid saat mereka berbaris melintasi kota. Saat mereka maju, beberapa jalan utama sepenuhnya diambil alih dan diblokir dari lalu lintas. Mereka membawa batu dan koktail Molotov, yang dilem- parkan ke mobil polisi mana pun yang berani mendekati mereka. Lebih banyak kembang api meledak di atas kepala mereka saat energi listrik mengalir dari tubuh ke tubuh. Dalam bulan-bulan mendatang, banyak di antara mereka akan gugur dalam pertempuran atau ditangkap dan dibawa ke penjara-penjara tak manusiawi negara Turki. Namun malam ini, jalanan milik mereka. Milik para pemuda pemberani yang membawa mimpi semua generasi sebelumnya. Malam ini, inilah lingkungan mereka. Kota mereka. Tanah mereka.

SEPULUH TAHUN BERLALU, KITA
MASIH MENDENGAR GEMA
PERJUANGAN DI BAKUR

Tanggal 15 Agustus 2015 di kota Cizre, yang terletak di jantung Botan, salah satu wilayah dengan mayoritas penduduk Kurdi yang saat ini dianggap sebagai bagian dari negara Turki. Hanya beberapa hari sebelumnya, warga kota tersebut, bersama dengan warga kota-kota seperti Şirnexê, Amed, dan Nisêbîn, telah mengumumkan pemerintahan otonom mereka. Hal ini terjadi setelah bertahun-tahun negosiasi dengan negara Turki gagal mencapai solusi damai. Proses tersebut terhenti ketika pemerintah meninggalkan meja perundingan dan kembali melancarkan serangan fisik. Meskipun kota-kota Kurdi tidak berniat memisahkan diri dari Turki, dengan langkah ini mereka menyatakan bahwa mereka tidak lagi mengakui kewenangan negara untuk menentukan nasib mereka dan bahwa mereka mengambil kembali kendali atas hidup mereka ke tangan mereka sendiri. Langkah menuju otonomi ini tidak muncul begitu saja. Ini merupakan hasil dari persiapan dan organisasi bertahun-tahun setelah transformasi ideologis yang mendalam dalam Gerakan Kebebasan Kurdistan.

Sejak akhir abad ke-20, gerakan ini telah menjauh dari akar Marxist-Leninist dan strategi pembebasan nasional untuk mengadopsi strategi Sosialisme Masyarakat Demokratis. Terinspirasi oleh tulisan-tulisan pemimpin Kurdi dan tahanan politik Abdullah Ocalan, gerakan ini tidak lagi berusaha untuk “menaklukkan negara” maupun menunggu negara memenuhi tuntutannya. Namun, gerakan ini juga tidak berusaha untuk segera menghan- curkannya. Sebaliknya, gerakan ini berfokus pada pen-

gorganisasian masyarakat di luar negara, membangun kapasitas masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, serta memungkinkan orang-orang untuk mengambil keputusan tentang hidup mereka sendiri dan memecahkan masalah bersama. Mereka tetap berinteraksi dengan institusi negara, tetapi hanya jika hal itu dapat memperluas ruang bagi masyarakat untuk mengorganisir dirinya sendiri.

MEMBANGUN SISTEM KOMUNAL

Di Bakur (bagian utara Kurdistan yang berada di dalam perbatasan Turki), proses ini dimulai pada tahun 2009 melalui pembentukan dewan di tingkat lingkungan, dis- trik, dan kota, serta pendirian komune di desa-desa. Di dalamnya, masyarakat mengambil keputusan mengenai bagaimana kehidupan harus diorganisir dan bekerja sama dengan perwakilan organisasi politik dan masyarakat sipil untuk mewujudkan keputusan tersebut. Mereka

membagi tugas ke dalam berbagai komite yang menanga- ni isu-isu sosial, politik, dan ideologis, serta komite lain yang berurusan dengan keadilan dan diplomasi. Selain itu, banyak proyek dan organisasi dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat: koperasi pekerja, inisiatif seni dan pendidikan, serta organisasi perempuan dan pemuda independen di antara banyak lainnya.

Karena pembebasan perempuan merupakan prinsip fundamental gerakan ini, gerakan tersebut mendorong dan mengorganisir agar perempuan memiliki partisipasi dan kekuasaan pengambilan keputusan yang setara dengan laki-laki, dan upaya ini menjadi salah satu keberhasilan terbesar. Sebagai bagian dari hal ini, sistem ko-presiden diterapkan di setiap institusi; artinya, setiap posisi kepe-

Lêgerîn

mimpinan dipegang bersama oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan. Di samping itu, struktur otonom perempuan memberi ruang bagi perempuan untuk menemukan perspektif mereka sendiri dan membangun kekuatan mereka sendiri, di luar pengaruh laki-laki. Hal ini memberi kekuatan besar bagi perempuan saat berpartisipasi dalam struktur campuran untuk mengartikulasi- kan diri dan posisi mereka secara kolektif.

Meskipun represi berat oleh negara mempersulit proses ini, hasilnya dapat dirasakan dengan jelas karena sebagian besar penduduk menjadi aktif secara politik dan sosial dalam kehidupan satu sama lain dan di komunitas mereka. Setiap kali polisi masuk ke lingkungan, pesan tersebut menyebar dengan cepat dan masyarakat bergerak untuk menghadapi mereka. Setiap kali sebuah lembaga digerebek oleh polisi dan mereka yang bertanggung jawab ditangkap, keesokan harinya lebih banyak orang akan datang untuk membuka kembali lembaga tersebut dan melanjutkan pekerjaan mereka. Masyarakat berpikir bahwa pada akhirnya mereka mungkin akan berakhir di penjara, sehingga mereka mengorganisir diri di dalam penjara untuk mengubahnya menjadi akademi pendidikan politik.

Salah satu sumber utama dinamika dan energi proses ini adalah gerakan pemuda. Mereka dikenal terutama karena peran mereka dalam protes dan aksi, tetapi mereka juga memimpin dalam organisasi kegiatan untuk menghidupkan kembali budaya Kurdi yang terte- kan, untuk mengorganisir diri melawan aktivitas pengedar narkoba dan geng kriminal di lingkungan mereka, serta untuk mendidik diri secara politik. Kaum muda memiliki dewan otonom mereka sendiri, tetapi juga berpartisipasi dalam dewan umum untuk mendorong perubahan radikal dan perluasan revolusi.

KOMUNE PARIS MODERN

Untuk memadamkan perlawanan sengit kaum muda Kurdi, negara mengerahkan tentara ke kota-kota, dan pada dasarnya menghancurkan beberapa kawasan per- mukiman dengan bom dan tank. Meskipun demikian, sebagian dari kaum muda ini terus melakukan perlawanan dan mampu terus berjuang selama berbulan-bulan di bawah serangan tanpa henti dari negara. Meskipun ini merupakan kemunduran bagi otonomi masyarakat, teladan para pejuang seperti Şehîd Çiyager Hêvî, Şehîd Faraşîn Sidar, dan banyak lainnya yang gugur sebagai martir dalam perjuangan ini, kini menginspirasi generasi

muda baru untuk meneruskan perjuangan mereka.

Dan meskipun fase tertentu dari perjuangan ini mungkin telah berakhir, apa yang terjadi di Kurdistan Utara merupakan pengalaman pemerintahan rakyat secara mandiri pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di abad ke-21. Karena meskipun Revolusi Rojava telah terjadi tiga tahun sebelumnya, situasi di Bakur sangat berbeda. Negara Turki tidak runtuh seperti di Suriah, namun gerakan tersebut tetap mampu secara perlahan mengikis legitimasi negara tersebut melalui lebih dari 40 tahun organisasi, dan yang lebih penting, mampu membangun alternatif nyata terhadapnya. Hal ini membuktikan bahwa model dan ideologi ini dapat berfungsi dalam konteks modern.

Sama seperti gerakan Kurdi yang dimulai sebagai kelompok kecil pemuda dari universitas di mana mereka menggabungkan kedalaman ideologis dengan militansi pemuda, demikian pula perjuangan sosial abad ke-21 di- tandai oleh mobilisasi massa pemuda yang besar selama masa ketidakstabilan sosial. Mereka tidak lagi terkurung di pabrik-pabrik; ruang perjuangan utama mereka adalah arena publik, alun-alun, dan kota-kota. Namun, masih ada pertanyaan: apa selanjutnya? Bagaimana kita dapat mengubah ledakan sementara ini menjadi perubahan jangka panjang?

Di sinilah pengalaman di Bakur dapat menunjukkan jalan ke depan. Sementara banyak gerakan sosial terjebak antara kebutuhan untuk mencapai keuntungan konkret dan kesulitan menghadapi kekerasan negara tanpa mengorbankan idealisme dan tujuan sosialis mereka, pemuda di Bakur berhasil memecahkan kebuntuan ini. Meskipun mereka tidak dapat sepenuhnya mengatasi setiap tantangan yang dihadapi, pencapaian mereka menunjukkan bahwa jalan ini dapat memberikan harapan bagi generasi muda saat ini yang mencari cahaya untuk membimbing mereka di tengah kegelapan di mana dunia telah terjeru- mus. Hari ini perjuangan terus berlanjut di Bakur dan di setiap penjuru Kurdistan. Setiap pengorbanan yang dilakukan menjadi dasar bagi perkembangan ideologis dan praktis baru yang menyebar ke mana-mana. Sama seperti peristiwa Komune Paris yang membuka periode “sosialisme klasik” dan berlangsung hingga runtuhnya Uni Soviet, demikian pula “Komune Bakur” dan Revolusi Rojava telah menandai dimulainya perjuangan untuk sosialisme baru di abad ke-21. Perjuangan ini dipimpin oleh para perempuan dan pemuda militan dari seluruh dunia dan menyebar ke mana pun mereka pergi.

Lêgerîn

Membayangkan Hal Y REVOLUSI 1968

OLEH TERESA COPPOLA

iapakah sebenarnya pemuda tahun 1968? Apa saja kesamaan antara momen bersejarah itu dengan zaman yang kita jalani hari ini? Bagaimana kita bisa membayangkan kembali dunia

Syang berbeda, bahkan ketika segalanya terasa

mustahil?

Jika kita melihat pemuda sepanjang sejarah, mereka adalah bagian dari masyarakat yang selalu menjadi peng- gerak perubahan jangka panjang. Di dalam gelombang perjuangan yang masih mengalir hingga sekarang, kita ingin mengungkap mekanisme sejarah yang krusial. Mekanisme yang pernah mengubah arah jalannya zaman. Tujuan kita adalah menemukan dan membentuk “kunci-kunci” yang mampu membuka roda gigi zaman kita sendiri, agar kita bisa keluar dari kekacauan yang ada. Tahun 1968 terjadi pada titik pertemuan penting dalam sejarah dunia. Setelah keluar dari dua perang dunia dan kolonialisme yang tak terkendali dengan kondisi hancur lebur, negara-negara di dunia memutuskan untuk memulai era perdamaian. Namun perdamaian itu tidak menyentuh belahan dunia selatan. Janji kebebasan yang dibawa neoliberalisme bagaikan candu yang menyelimuti satu sisi dunia, sementara sisi lainnya diubah menjadi neraka yang hidup. Kongo, Vietnam, dan Afrika Selatan menjadi semacam ghetto bagi masyarakat yang makmur di belahan utara.

PEMBERONTAKAN DARI
PINGGIRAN

Dengan semakin terhubungnya “Dunia Pertama” dan “Dunia Ketiga”, lahirlah model solidaritas internasional baru yang bergerak di dua front strategi yang berbeda. Di satu sisi, berkembang perang gerilya anti-kolonial di era di mana teknologi perang berkembang sangat pesat. Di sisi lain, terjadi pelemahan internal kapitalisme di pusatnya sendiri melalui pembangunan kesadaran dan penciptaan cara hidup yang berbeda.

Dalam konteks ini, para pelopor revolusioner merasa perlu mendorong seluruh masyarakat untuk membayangkan dunia yang berbeda dari yang ditawarkan oleh modernitas kapitalis. Prioritas utama adalah membangun tekad untuk membebaskan diri dari perbudakan yang kita timpakan pada diri sendiri, serta menyadari bahwa kita hiudp di bawah pengaruh ramuan palsu kebebasan yang diberikan liberalisme. Vietnam adalah contoh paling penting dari dua front perjuangan ini. Di

satu sisi, ada perlawanan pemuda Amerika yang menolak wajib militer massal. Di sisi lain, ada gerakan gerilya rakyat yang mempertahankan diri dari kekuatan militer terbesar di dunia. Perjuangan Palestina untuk pembebasan nasional menjadi mercusuar harapan, dan mencapai titik balik pada tahun 1967 dengan berdirinya PFLP serta dimulainya operasi bersenjata,

Kosakata dekolonisasi pun merembes ke dalam negara-negara Barat sendiri. Michel Rocard, pemimpin Parti Socialiste Unifié di Prancis, pada tahun 1966 berbicara tentang “dekolonisasi provinsi-provinsi”, menge- cam ketimpangan antara Paris dan wilayah-wilayah lain di negara itu. Di Amerika Serikat, perjuangan gerakan Afrika-Amerika menjadi sangat krusial, terutama Black Panther Party yang sejak didirikan pada 1966 dengan cepat mengambil karakter transnasional. Kaum Dalit yang tertindas di India meniru retorika Black Panthers. Perwakilan Front Pembebasan Nasional Vietnam juga menggunakan organisasi ini sebagai teladan, dan menyebut diri mereka “Yello Panthers”.

GERAKAN PEMUDA

Aktivisme yang lahir di Palestina, Al-Jazair, Vietnam dan Amerika Latin tiba-tiba menyebar ke seluruh dunia. Pemuda yang dibutuhkan sistem karena kekuatan fisik mereka di medan perang dan kontribusi intelektual mereka di dunia pengetahuan memberontak dan menjadi subjek revolusioner pada zamannya. Tahun 1968 menjadi pun- cak dari gelombang protes yang belum pernah terjadi sebelumnya. Secara ideologis, gelombang ini dimulai dari kampus-kampus di California, kemudian menyebar ke Italia, Jerman dan Meksiko, sebelum menemukan ekspresi paling kuat dan paling simbolik di Prancis pada bulan Mei dan Juni 1968.

Seruan Che Guevara, “Jadilah realistis, tuntutlah yang mustahil”, bergema di mana-mana. Seolah-olah ribuan jembatan sedang dibangun di seluruh dunia. Persaudara- an antar masyarakat yang melawan modernitas menyatukan semua perjuangan ini dengan cara yang sangat dalam dan visceral.

Tahun 1968 menjadi mungkin berkat perjuangan dekolonisasi, berkat masuknya anak-anak keluarga buruh ke universitas, dan berkat aliansi antara mahasiswa dan buruh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kaum muda secara terbuka menyatakan identitas mereka sendiri di

Lêgerîn

an Hal Yang Mustahil

dalam sebuah revolusi, dengan kesadaran kolektif bahwa mereka adalah barisan depan (vanguard) dari perubahan itu.

PERUBAHAN PARADIGMA

Terjadi sebuah peralihan dari pendekatan yang berpusat pada kelas menjadi pendekatan yang berpusat pada otonomi politik dan karakter moral masyarakat. Sensibi- litas baru tahun 1968 terkait erat dengan visi sosialisme yang lebih utopia di segala aspek kehidupan. Ini berarti mengambil sikap tegas melawan kekuasaan dan melawan segala bentuk otoritas yang menindas imajinasi serta kebebasan.

Dari Revolusi China muncul gagasan revolusi kebudaya- an. Dalam pengertian ini, tahun 1968 menjadi titik balik kognitif sebuah perubahan paradigma bagi seluruh generasi.

Karena itulah, gelombang perubahan dimulai di universitas-universitas, yang saat itu baru saja membuka pin- tunya lebar-lebar bagi anak-anak muda dari kelas sosial yang kurang beruntung. Sepanjang tahun 1968, kita menyaksikan lahirnya berbagai komite dan sidang umum di dalam fakultas-fakultas yang terbuka bagi siapa saja yang mau berpartisipasi.

Pada tahun berikutnya, pada 1969 para mahasiswa di seluruh Eropa meninggalkan kampus untuk bertemu dan bergabung dengan gerakan buruh. Langkah ini membuka jalan bagi lahirnya partai-partai politik dan organisasi-organisasi perjuangan di tahun 1970-an.

Selama pendudukan gedung dan mobilisasi massa, para mahasiswa mengalami bentuk-bentuk kehidupan komunal di antara sesama yang setara. Di sinilah benih gagasan bahwa “yang personal adalah politik” mulai tumbuh. Hal itu muncul melalui upaya mempolitisa- si wilayah-wilayah kehidupan baru serta kontradiksi-kontradiksi baru yang timbul dari ikatan-ikatan mendalam yang terjalin selama pendudukan, pemogokan, dan demonstrasi.

Melawan korupsi moral kapitalisme, tujuannya adalah mem-

Kelompok Pembebasan Perempuan menggelar aksi unjuk rasa untuk mendukung Black Panther Party, New Haven, November 1969

bangun cara hidup baru yang selaras dengan cita-cita mereka, merupakan sebuah cara hidup yang sudah bisa dipraktikkan di sepanjang perjalanan perjuangan itu sendiri.

GERAKAN FEMINIS

Ketika masyarakat sedang bergerak, elemen-elemen yang menghambat roda perubahan menjadi lebih mudah terlihat. Perempuan-perempuan yang terlibat dalam gerakan sosial tahun 1968 menyadari bahwa hambatan terbesar bagi pembebasan mereka justru adalah penindasan berbasis gender yang mereka alami itu sendiri. Itulah mentalitas patriakal yang merasuki setiap lapisan masyarakat. Mereka memahami bahwa pertentangan antara laki-laki dan perempuan adalah sebuah rentakan yang melintasi semua pembagian sosial lainnya. Kesadaran baru bahwa mereka adalah subjek yang mampu membentuk sejarah menghubungkan pembebasan pribadi dengan pembebasan kolektif. Pengalaman-pengalaman pribadi perempuan pun menjadi politis.

Partisipasi perempuan dalam gerakan-gerakan sosial menjadi fenomena yang mengganggu tatanan lama. Ia sekaligus merupakan pemutusan dan rekonsiliasi. Gerakan ini mampu menafsirkan kebutuhan sejarah dan meninggalkan jejak yang abadi. Ia memberikan sumbangan penting berupa alat-alat dan praktik politik yang membantu mengatasi kebuntuan militansi kiri setelah gelombang protes tahun 1968 mereda.

Feminisme kulit hitam juga turut memperkaya perkembangan teori feminis. Karena lahir dari kesadaran perempuan kulit hitam bahwa rasisme, seksisme, dan penindasan kelas tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Lêgerîn

Dalam pengertian ini, gerakan perempuan keluar sebagai pemenang dari warisan tahun 1968 uang berbeda dengan sebagian besar kelompok kiri ekstra-parlementer. Mereka membangun budaya politik yang mengedepankan persatuan dalam keberagaman, serta mengembangkan kemampuan untuk menyatukan berbagai perjuangan dan identitas tanpa menyederhanakan realitas. Dengan cara itu, mereka berhasil memengaruhi masyarakat global dan membangkitkan kesadaran yang mendalam.

JALAN YANG MENGHANCURKAN

Rasa putus asa dan ketidakberdayaan yang diciptakan oleh dunia yang terbelah menjadi dua kubu, ditambah lagi dengan ancaman hanya menjadi sekrup kecil dalam mesin kapitalisme, mendorong banyak orang untuk mencari jalan baru

Pembentukan subkultur dan “surga buatan” yang terpisah dari masyarakat luas menjadi salah satu belokan yang lebih liberal dalam gerakan pemuda. Bertahan di pinggiran sistem dan gaya hidupnya sering dianggap sebagai sesuatu yang radikal, tetapi akibatnya justru sering kali adalah pengasingan dari masyarakat.

Sebagian karena ja- rak dari tradisi po- «Semua perlawanan pemuda re-litik abad ke-19 dan volusioner yang pernah terjadi keterbukaan ter- sepanjang sejarah selalu diper-hadap eksperimen lakukan sebagai warisan. Khusus-ideologi, gerakan nya, gerakan pemuda tahun 1968 pemuda tahun 1968 dipandang sebagai warisan men-tidak selalu berhasil dasar bagi eksistensi kita, sebagai membedakan mana pilar utama yang paling aktual, yang merupakan serta sebagai revolusi pemuda produk kapitalisme yang menjadi tradisi tempat ge-dan mana yang bu- rakan pemuda hari ini berdiri. kan. Dalam struk-Tujuannya adalah mengembangkan semangat, perlawanan, dan pemberontakan dari revolusi pemuda 1968 ke dalam perjuangan kita sendiri. Tujuan strategisnya adalah mendorong terjadinya gelombang kedua dari gerakan pemuda 1968.»

The Principles of Democratic Youth Confederalism – Manifesto of the Youth

tur organisasi yang sering cair dan tanpa tujuan strategis yang jelas, pintu tetap terbuka bagi serangan dan pe- minggiran yang dilakukan oleh sistem itu sendiri.

Bukan sebuah kebetulan bahwa gelombang protes diikuti oleh banjir narkoba dalam jumlah besar ke kota-kota besar di Barat. Heroin menyebar seperti wabah dan membunuh ribuan pemuda yang sebenarnya berpotensi untuk menumbangkan sistem tersebut.

WARISAN KITA

Meski kita dibesarkan di tengah kekerasan sistemik, kita masih mampu membayangkan hal yang mustahil, bersatu, mengungkap kontradiksi, serta membongkar hubungan-hubungan tersembunyi dan mitos-mitos palsu dari sistem kapitalis yang berpura-pura tak terkalahkan, padahal sejak dulu rapuh. Inilah yang diajarkan oleh tahun 1968 kepada kita. Jika kita tidak menyadari sejarah kita, sejarah pemuda-pemuda seperti kita yang dulu menghantam kepala mereka ke tembok dunia, mengha- biskan suara mereka dengan teriakan, dan melemparkan diri ke dalam masyarakat yang menginginkan mereka diam dan patuh, bagaimana kita bisa mengatasi serangan terhadap hati dan pikiran kita hari ini?

Kita tidak sendirian, baik hari ini maupun dalam sejarah. Ada ribuan pemuda yang telah berkorban agar

kita bisa selangkah lebih dekat untuk memahami dan mewujudkan tujuan-tujuan kita.

1. Sejarawan Fernand Braudel
memandang sejarah melalui tiga dimensi: “sejarah mikro”, yaitu tingkat permukaan dari masa kini; sejarah konjungtur, yang terdiri dari siklus-siklus material menengah; dan sejarah struktural, atau longue durée, yang merupakan aliran berkelanjutan yang menggerakkan dan membentuk apa yang ada.

2. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tuntutan regionalis tahun 1968, kami merekomenda- sikan artikel “Le réveil des reven- dications régionalistes et natio- nalitaires au tournant des années 1968 : analyse d’une « vague » nationale” oleh Tudi Kernalegenn
(2013)

3. Ungkapan tersebut menyebar
berkat esai “e Personal Is Politi- cal” karya Carol Hanisch (1970)

Aksi damai di Paris untuk Vietnam, Bruno Barbey, Mei 1968

MENGENANG TRVKO

SEORANG SENIMAN DAN AKTIVIS DEMOKRASI

ada malam hari tanggal 15 Oktober 2025, seorang penyusup polisi menembak Eduardo Mauricio Ruiz Saenz, yang juga dikenal sebagai Trvko. Beberapa jam sebelum kematian-

Pnya, Trvko berbaris bersama ribuan rakyat-

nya di jalan-jalan di Lima untuk menuntut diakhirinya korupsi dan ketidakadilan yang merajalela. Dia adalah seorang seniman, ayah, saudara laki-laki, anak laki-laki, yang dibunuh pada usia 32 tahun. Dan dengan pembu- nuhannya, dia menjadi salah satu dari lebih dari 50 martir demokrasi di Peru.

APA YANG TERJADI SEBELUMNYA:
PEMBERONTAKAN TAHUN 2022/23

Ketika pada tahun 2022 presiden terpilih Pedro Castillo, presiden Peru pertama yang berasal dari kalangan petani, digulingkan, rakyat, terutama di wilayah Andes Selatan, memberontak. Pemblokiran jalan, pemogokan, dan protes di seluruh negeri berlangsung selama berbulan-bulan, diikuti oleh gelombang penindasan terberat dan paling mematikan yang pernah terjadi di negara ini pada abad ke-21. Ketika Pedro Castillo mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2021, sebagian besar penduduk Peru yang berlatar belakang petani-yang telah lama tidak terlihat selama 200 tahun politik publik republik-melihat diri mereka terwakili dalam kandidat untuk pertama kalinya. Orang-orang dari komunitas terpencil melakukan perjalanan berjam-jam untuk mencapai tempat pemu- ngutan suara terdekat, berharap bahwa suara mereka kali ini akan membawa perubahan nyata. Maka, ketika belum genap setahun kemudian kongres memutuskan untuk mengabaikan suara rakyat demi agenda mereka sendiri, kemarahan rakyat, terutama di komunitas-komunitas tersebut, sangat besar dan termanifestasi dalam protes yang spontan dan terorganisir selama berbulan-bulan.

Polisi dan pasukan militer menewaskan hampir 50 orang dalam dua bulan di bulan Desember 2022 dan Januari 2023 saja. Sejak saat itu, jatuhnya demokrasi dan bang- kitnya otoritarianisme di Peru semakin meningkat: tiga presiden yang berbeda dalam satu tahun, meningkatnya kekerasan jalanan dan pemerasan yang meneror para pekerja di Lima dan bagian utara negara itu, jaringan perdagangan narkoba di selatan, skandal korupsi di kiri dan kanan, serta politisi kongres yang semakin terputus dengan rakyat. Mauricio, seperti banyak orang, melam- piaskan kemarahannya ke jalanan pada tanggal 15 Oktober ketika federasi mahasiswa, serikat pengemudi bus, dan organisasi sosial lainnya menyerukan pemogokan nasional. Seperti banyak orang lainnya, dia dibunuh oleh rezim neoliberal yang bersedia memusnahkan siapa pun untuk melestarikan dirinya sendiri.

KETIKA REPRESI NEGARA
MENINGKAT, RAKYAT AKAN
SELALU BERORGANISASI

Sistem ini berakar pada sejarah Peru. Pada tahun 80-an dan 90-an, negara ini mengalami era teror, kekerasan,

Lêgerîn

dan penindasan yang masih membekas di benak rakyatnya hingga hari ini. Rakyat, terutama di daerah pedesaan, berada di tengah-tengah kekerasan kelompok-kelompok komunis, yang beberapa di antaranya berbalik melawan penduduk, dan penindasan negara yang brutal yang menyerang segala bentuk pengorganisasian politik dan sosial. Pasukan militer dan polisi melakukan pembantaian dan menganiaya orang-orang di universitas-universitas dan desa-desa petani, terutama di Peru Selatan, di mana sebagian besar pembantaian tahun 2022/23 terjadi. Kon- sekuensinya adalah ketakutan yang meluas terhadap politik dalam bentuk apa pun. Dengan kepresidenan Alberto Fujimori pada tahun 1990 dan penerapan neoliberalisme, ketakutan akan gerakan dan organisasi politik semakin meningkat. Namun, seperti yang diajarkan oleh sejarah, kekuatan-kekuatan demokratis akan selalu menemukan cara untuk berorganisasi.

Trvko merupakan bagian dari Gerakan Hip Hop yang terbentuk pada awal tahun 2000-an di daerah sekitar Lima. Setelah pengalaman tahun 80-an dan 90-an, banyak orang kehilangan kepercayaan pada gerakan kiri tradisional yang dipimpin oleh partai-partai dan kelompok-kelompok komunis. Namun, penyebaran neoliberalisme dan imperialisme Amerika Serikat menyebabkan gelombang baru organisasi sosial, yang berakar pada penciptaan komunitas. Di Peru, khususnya di Lima, hal ini juga mengikuti ingatan tentang apa yang terjadi di bawah Rezim Fujimori. Kaum muda di lingkungan kelas bawah di Lima, seperti Comas, San Juan de Lurigancho, San Martin de Porres, membentuk kelompok-kelompok dan pusat-pusat sosial yang berpusat pada pembuatan musik hip-hop dan menawarkan kepada kaum muda sebuah alternatif untuk menjadi polisi atau beralih ke obat-obatan terlarang dan kejahatan terorganisir. Mereka juga melatih diri mereka sendiri untuk melakukan protes, belajar bagaimana cara membela diri dari polisi dan bagaimana cara menonaktian bom gas air mata. Setelah kematiannya, media dan polisi mencoba melukiskan gambaran seorang penjahat yang kejam dan kecanduan narkoba untuk mengalihkan perhatian publik agar tidak menuntut keadilan dan meminta pertanggungjawaban negara atas pembunuhan Mauricio. Namun kami melihat manipulasi semacam ini, dan kami akan terus menge- nangnya. Seperti halnya semua martir demokrasi di Peru, kami tahu bahwa mereka adalah anak-anak dari negeri ini, dari rakyatnya.

RAKYAT AKAN BERJUANG, DAN RAKYAT AKAN

MENANG.

Sebuah Kisah dari Rojava

Baris-baris singkat ini, diambil dari buku harian seorang internasionalis muda di Rojava, mencerita-
kan momen-momen awal serangan HTS dan Negara Islam terhadap DAANES (Administrasi Otonomi
Demokratis Suriah Timur Laut).

Pada Januari 2026, setelah serangan besar-besaran terhadap warga di kawasan Sheikh Masqsoud dan Asrafi- ye di Aleppo, milisi-milisi jihadis pemerintah menyasar seluruh wilayah Rojava. Meskipun telah ada kesepakatan antara pasukan pemerintah transisi Suriah dan SDF bahwa struktur militer DAANES akan mundur ke luar wilayah-wilayah yang mayoritas berpenduduk Arab di Deir Ez Zor, Tabqa, dan Raqqa — pada 18 Januari 2026, milisi-milisi jihadis menyerang seluruh warga sipil beserta struktur militer yang tengah dalam proses evakuasi.

Ribuan warga sipil dibantai, ribuan lagi diculik, dan ribuan lainnya masih belum diketahui nasibnya.

Malam yang sama, 18 Januari, ratusan anak muda bergabung dalam konvoi menuju kawasan Hesekeh untuk membendung laju jihadis dan mempertahankan tanah serta rakyat mereka.

oleh Klara 18 Januari 2026

Aku dan seorang kawan dari Jerman sedang melaju menuju Hesekê. Malam telah tiba dan ketegangan menggantung di udara. Musuh telah bergerak hingga pinggiran kota dan kami berangkat untuk bergabung dengan struktur medis. Hanya segelintir kendaraan yang melaju ke arah yang sama dengan kami. Di jalan kami berpapasan dengan pengungsi dari Tabka, Raqqa, dan keluarga-keluarga dari Afrin yang melarikan diri dari gerombolan yang semakin mendekat. Kami menganalisa situasi, berbagi pengetahuan medis, dan berusaha sedikit mencairkan ketegangan. Ras- anya seperti mengemudi masuk ke dalam badai yang sedang menggumpal, namun kegelisahan dan gairah silih berganti. Serangan-serangan itu, pembantaian, pertanyaan tentang bagaimana keadaan kawan-kawan di daerah yang diserang — semuanya bergantian hadir bersama keangkuhan yang mengakar jauh di dalam dada, sebuah penolakan untuk menyerahkan satu me- ter pun dari revolusi ini kepada gerombolan-gerombolan itu. Di kepalaku ada suara yang terus berkata, “Cukup. Apa pun yang diperlukan, kita harus melakukan segalanya untuk menghentikan mereka.”

Percakapan kami berputar soal medis dan pertahanan: apa yang bisa kita harapkan, apa yang harus kita per- hatikan secara khusus? Saat kami tiba di klinik, sua- sana penuh kesibukan. Orang-orang yang terluka, sudah menjalani operasi dan dalam kondisi stabil,

Lêgerîn

sedang dipindahkan ke kota-kota lain, dan ambulans olusi menggelegar dari pengeras suara, angin memba- terus melintas dengan cepat. Kami disambut hangat wa suara-suara itu naik ke atas. Di atap-atap bangunan oleh kawan-kawan, dan setelah sejenak kami pun ikut sekitar, banyak kawan lain yang berjaga, sama seperti membantu memuat kawan-kawan yang terluka ke kami. Waspada, teguh, siap. dalam ambulans. Tempat kami berada dekat dengan garis depan, jadi kami berusaha menyisakan sesedikit mungkin orang di sini. Banyak kawan yang terjebak dalam penyergapan saat mundur dari Şedadê dan Deir ez Zor. Kendaraan terus berdatangan dan kami membantu semampu kami.

Beberapa jam kemudian, keadaan mulai mereda dan kami sempat mengunjungi kawan-kawan dari unit militer. Beberapa di antaranya sudah kami kenal, yang lain baru pertama kali bertemu. Kami duduk bersama kawan-kawan dari YPJ, minum teh, dan takjub dengan pertemuan-pertemuan yang revolusi ini had- irkan. Kami, dua internasionalis dari Jerman, duduk mengelilingi sebuah pemanas bersama kawan-kawan Arab, Asiria, Armenia, dan Kurdi dari berbagai penjuru Rojava. Malam semakin larut — percakapan singkat, lirik ke berita, dan giliran jaga di atap silih berganti. Kami semua menantikan dengan cemas apa yang akan terjadi dalam beberapa jam ke depan. Setelah beberapa lama, kantuk akhirnya tak bisa dilawan. Aku memejamkan mata sejenak.

Saat berdiri di atap klinik, aku menatap fajar yang perlahan menyingsing. Mataku berkelana, mengawasi gerak-gerik mencurigakan, pikiran melayang dalam keheningan. Aku datang ke Rojava karena aku melihat pemerintahan mandirinya, ideologi pembebasan per- empuannya, dan hidup berdampingannya begitu banyak suku bangsa sebagai sebuah teladan bagi dunia. Bagiku, Rojava adalah tempat di mana harapan bersi- nar, seperti sinar matahari pertama setelah hujan yang menembus awan. Serangan-serangan yang terjadi saat ini adalah serangan terhadap harapan itu.

Dari kejauhan, aku mendengar gemuruh pesawat tempur berputar di atas kami. Pesawat-pesawat koalisi yang memantau pemindahan pejuang IS¹. Mungkin agar mereka bisa dipenjara di tempat lain, mungkin agar AS bisa kembali merakit pasukan bayaran dari kalangan Islamis — siapa yang tahu pasti? Aku mengepalkan tinju dan menatap marah pesawat-pesawat yang terus berputar itu. Kawanku di sebelah tertawa dan menepuk bahuku. “Dev ji wan berde,” yang kurang lebih berarti, “Jangan pikirkan mereka!” Aku mengangguk dan ia melanjutkan, “Tidak ada yang akan memberi kita kebebasan, kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Pada kekuatan kita,

kekuatan masyarakat, dan keyakinan kita.” Kami tersenyum dan memandang sekeliling. Kendaraan la- pis baja dari YPG dan YPJ melaju lewat, lagu-lagu rev-

Beberapa minggu telah berlalu, dan kehidupan di

kota perlahan kembali normal. Kini setelah perjanji- an integrasi² disepakati, semua orang berusaha memahami apa artinya ini dalam praktik, bagaimana kita bisa mempertahankan capaian-capaian revolusi, dan memastikan transformasi masyarakat terus berlanjut. Serangan-serangan itu bertujuan untuk membentur- kan rakyat Rojava dan Suriah satu sama lain; perlawanan di sini, di seluruh penjuru Kurdistan dan di seluruh dunia, telah memberi kita kesempatan untuk menghentikan pertumpahan darah untuk sementara waktu.

Dalam beberapa minggu terakhir aku sempat bertemu banyak orang yang berbeda-beda; bersama kami telah berjuang, berduka, tertawa, dan bermimpi. Per- sahabatan yang ditempa dalam waktu dan keadaan seperti ini akan selalu menyimpan makna tersendiri. Selama minggu-minggu ini, di mana kami berbagi pengalaman pahit maupun ringan, satu hal juga menjadi jelas bagiku. Apa pun serangan dan rintangan yang masih menanti di depan, jika kita menjalani dan berjuang dengan harapan dan tekad, maka kita bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa dalam keadaan apa pun.

[1] Pada akhir Januari 2026 tercapai kesepakatan antara AS dan pemerintah interim Suriah untuk memin- dahkan ribuan pejuang IS dari penjara-penjara di Suriah ke Irak, melalui yang disebut «Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS» [catatan editor].

[2] Sebuah kesepakatan dicapai pada akhir Januari, antara Pasukan Demokratik Suriah dan Pemerintah Transisi Suriah. Kesepakatan ini mencakup gencatan senjata segera dan integrasi bertahap struktur militer, administratif, dan sipil administrasi otonom ke dalam negara [catatan editor].

Ajakan untuk mengirim

surat

Para pembaca yang terhormat, Kami mengundang Anda untuk berbagi pemikiran dengan kami!

Pendekatan majalah kami adalah jurnalisme akar rumput, sambil selalu menawarkan perspektif ideologis yang kuat. Karena itulah, mulai edisi berikutnya, kami akan mulai menerbitkan surat-surat yang Anda kirimkan kepada kami.

Permasalahan, artikel, gambar, atau ceri- ta apa di Lêgerîn yang telah menginspirasi Anda? Topik apa yang telah Anda diskusikan secara mendalam? Apa yang kurang? Apakah Anda memiliki ide untuk konten, format, atau kategori? Ceritakan juga tentang tindakan Anda, pengalaman terkini dalam aktivitas politik, atau ide-ide yang ingin Anda bagikan.

Jika Anda ingin menulis surat kepada komite redaksi untuk diterbitkan di majalah, silakan kirimkan ke alamat email ini: [email protected].

Suarakan pendapat

Anda!

Lêgerîn

Apa yang Terjadi dalam Sejarah?

4 APRIL 2013 – ROJAVA

Pada 4 April 2013, Unit Perlindungan Perempuan (YPJ) secara resmi didirikan di Rojava, Suriah bagian utara, pada fase awal revolusi rakyat. Tanggal 4 April dipilih karena bertepatan dengan hari ulang tahun pemimpin Abdullah Öcalan, yang lahir pada 4 April 1949. Lahir sebagai buah dari bertahun-tahun pengorganisasian politik dalam gerakan perempuan Kurdi, YPJ memformalkan pertahanan diri perempuan yang otonom. Pembentukannya terjadi di tengah konflik bersenjata, destabilisasi regional, dan transformasi sosial yang mendalam yang berlangsung serentak. Perempuan-perempuan muda bergabung dalam jumlah besar, menantang sekaligus agresi dari luar dan norma-norma patriarki yang mengakar dalam masyarakat mereka sendiri yang selama ini menyin- gkirkan perempuan dari struktur politik dan pertahanan. Dengan berorganisasi secara mandiri dari formasi yang didominasi laki-laki, mereka menegaskan bahwa pembebasan perempuan tidak bisa ditunda hingga setelah perang berakhir atau setelah revolusi selesai. Otonomi perempuan didefinisikan sebagai syarat dasar transformasi sosial, bukan sebagai akibat darinya.

30 APRIL 1975 – VIETNAM

Pada 30 April 1975, pasukan revolusioner memasuki Saigon, ibu kota Vietnam Selatan yang didukung AS, menandai runtuhnya rezim bentukan Amerika Serikat dan berakhirnya perang yang berlangsung selama beberapa dekade. Kemenangan ini mengakhiri perjuangan anti-kolonial yang panjang — dimulai dari perlawanan terhadap dominasi Prancis dan berlanjut melalui intervensi militer AS dalam skala besar. Hasilnya bukan sekadar kemenangan militer. Jutaan orang dimobilisasi — petani, buruh, pemuda, dan perempuan — dan bekerja untuk mengorganisir ulang desa-desa dan kota-kota menjadi jaringan perlawanan yang berkelanjutan.Jatuhnya bekas ibu kota selatan itu menjadi titik referensi global bagi gerakan-gerakan anti-kolonial dan anti-imperialis, membuktikan bahwa bahkan intervensi militer yang sangat masif pun dapat digulingkan melalui perjuangan rakyat yang terorganisir.

4 MEI 1919 – TIONGKOK

Pada 4 Mei 1919, lebih dari tiga ribu mahasiswa berkumpul di Tiongkok untuk memprotes Perja- njian Versailles, yang mengalihkan bekas konsesi Jerman di negara itu kepada Jepang alih-alih mengembalikannya kepada kedaulatan Tiongkok. Keputusan itu menyingkap subordinasi Tiongkok yang berkelanjutan di bawah kekuatan-kekuatan imperialis, meski Perang Dunia Pertama secara formal telah berakhir. Apa yang bermula sebagai demonstrasi mahasiswa meluas menjadi pemogokan buruh dan boikot pedagang terhadap barang-barang Jepang, menghadapi sekaligus intervensi asing dan fragmentasi politik internal yang membuat negeri itu rentan terhadap dominasi. Kaum muda tampil sebagai kekuatan politik yang menentukan. Gerakan Empat Mei menandai titik balik yang mendalam dalam perkembangan politik revolusioner di Tiongkok. Gerakan ini mempercepat pertumbuhan gerakan komunis revolusioner sekaligus menarik berbagai kekuatan radikal dalam konstelasi yang luas — anarkis, kaum intelektual, buruh, dan perempuan — yang menantang dominasi imperial sekaligus hierarki sosial yang mengakar. Perempuan berpartisipasi aktif dalam demonstrasi, organisasi politik, dan perdebatan tentang emansipasi sosial, menghubungkan pembebasan nasional dengan perjuangan melawan patriarki dan tradisi feodal.

16 JUNI 1976 – AFRIKA SELATAN

Pada 16 Juni 1976 — yang dikenal sebagai ‘Pemberontakan Soweto’ — ribuan pelajar kulit hitam Afrika Selatan bangkit melawan keputusan rezim apartheid yang menjadikan bahasa Afrikaans sebagai bahasa wajib di sekolah-sekolah. Kebijakan itu melambangkan sistem dominasi rasial yang lebih luas, yang dirancang untuk mengatur pendidikan, tenaga kerja, dan kehidupan politik. Ketika polisi menembaki para pemuda yang tidak bersenjata, 176 orang gugur syahid hanya dalam satu hari itu saja. Pemberontakan menyebar ke seluruh perkampungan, saat pelajar, buruh, dan warga komunitas mengorganisir perlawanan di tengah gelombang penangkapan massal dan kekerasan negara. Pemberontakan Soweto menandai titik balik yang menentukan dalam perjuangan melawan apartheid, menyingkap ketidakstabilan sebuah rezim yang bertahan di atas fondasi se- gregasi rasial, eksploitasi ekonomi, dan kekerasan yang memaksa.

SIAPA KAMI?

Lêgerîn adalah platform media global yang diciptakan oleh dan untuk pemuda revolusioner internasionalis – bersatu dalam perbedaan yang menyatukan kita. Sikap ideologis kami selaras dengan paradigma Modernitas Demokratis, yang dikembangkan oleh Abdullah Öcalan, yang berawal dari revolusi yang sedang berlangsung di Kurdistan. Karena seksisme dan devaluasi perempuan merupakan dasar dari semua sistem dominasi, ideologi Pembebasan Perempuan adalah fondasi dari semua pekerjaan kami.

Nama “Lêgerîn” berasal dari bahasa Kurdi yang berarti “mencari”, yang mencerminkan perjalanan para revolusioner dalam mencari jalan menuju kebebasan kolektif. Kami juga memilih nama ini untuk menghormati Lêgerîn Ciya (Alina Sanchez) dari Argentina, seorang dokter internasionalis inspiratif dan pejuang YPJ (Unit Perlindungan Perempuan), yang dengan berani mengorbankan nyawanya di Hassake (Rojava) pada Maret 2018.

Saat ini, teman-teman dari Indonesia, Papua, Kenya, Uganda, Rojava, Eropa, dan Abya Yala turut berpartisipasi dalam pekerjaan kami.

APA TUJUAN KITA?

Sebagai Lêgerîn, kami bertujuan untuk menye-
diakan perangkat, baik ideologis maupun praktis,
bagi kaum muda di seluruh dunia untuk berorgan-
isasi, mengembangkan perspektif mereka sendi-
ri, otonomi, dan kehidupan yang bebas. Meskipun
kaum muda kini semakin berperan sebagai pe-
lopor dalam semua pemberontakan dan gerakan
perlawanan di seluruh dunia, kami percaya bahwa
kurangnya perspektif yang jelas yang mencermin-
kan pandangan global serta kurangnya identitas
bersama menghalangi gerakan-gerakan ini untuk
mencapai kemenangan yang lebih besar.
Oleh karena itu, kami memiliki 3 tujuan utama:
  • Mempromosikan paradigma Modernitas Demokratis
  • Membina revolusi intelektual dan budaya di kalangan pemuda di seluruh dunia
  • Berpartisipasi dalam membentuk Internasionalisme baru yang berakar pada Komunalism

    BAGAIMANA CARA BERGABUNG DENGAN

JARINGAN?

Jika Anda tertarik untuk berpartisipasi dalam
pekerjaan kami, jangan ragu untuk menghu

bungi kami!

Kirim email ke:

[email protected]

APA SAJA PROYEK KAMI?

Kami menerbitkan majalah setiap tiga bulan da-
lam 7 bahasa, memproduksi berbagai jenis bro-
sur, video, dan podcast, mengelola situs web, dan
berbagai platform media digital. Kami juga mem-
bentuk kelompok riset di seluruh dunia, men-
gelola Akademi internasional yang menawarkan
pendidikan politik daring yang dapat diakses oleh
semua orang, dan secara rutin menyelenggarakan
lokakarya dan seminar tatap muka.

Sejarah belum

berakhir selama

pemuda berjuang.

Lêgerîn Majalah kaum muda internasionalis