Resistance Against Empireadalah sebuah buku rilisan PM Press (California, 2010), berisi sekumpulan interview atau wawancara yang dikerjakan oleh Derrick Jensen bersama sepuluh orang yang secara aktif terus berusaha untuk dapat membongkar dan menyingkapkan segala mekanisme penjajahan peradaban dunia modern serta memberikan analisa mendalam tentang akibat atau konsekuensi yang mungkin timbul darinya.
Kesepuluh orang aktivis ini, memberikan sebuah dakwaan yang tajam dan pedas atas segala praktek ketidakadilan serta ketidaksetaraan yang menjadi landasan terus beroperasinya sistem kapitalisme pada peradaban dunia ini. Ramsey Clark mendeskripsikan satu sejarah panjang invasi atau penyerangan-penyerangan militer yang terjadi di dunia, Alfred McCoy memberikan sebuah penggambaran detail tentang hubungan yang terjadi antara aktivitas yang dilakukan oleh CIA dengan meningkatnya jumlah perdagangan heroin di pasaran dunia, Stephen Schwartz melaporkan carut-marut pembiayaan persenjataan nuklir, juga Katherine Albrecht yang mengusut dan menyingkap horor yang terjadi akibat aktivitas memata-matai, mengawasi, atau penjagaan setiap penduduk yang dilakukan oleh banyak negara-negara modern di dunia. Penelusuran-penelusuran atas praktek kekuasaan global ini sangat penting untuk terus diinformasikan, dalam rangka untuk memberikan sebuah ajakan bagi kita untuk turut-serta melakukan sebanyak mungkin aksi perlawanan.
Projek penerjemahan buku ini dikerjakan serta dirilis sewaktu-waktu secara berseri, disesuaikan dengan bab atau topik-topik perbincangan
yang terjadi di dalam buku.
Projek penerjemahan ini didedikasikan bagi seluruh masyarakat yang tertindas di manapun mereka berada, orang-orang yang dipinggirkan
atas nama pembangunan pusat-pusat perdagangan dan perkantoran birokrasi yang hanya berfungsi untuk menyejahterakan segelintir kelas
borjuasi (kaya), bagi orang-orang terbuang yang bersatu dengan tanpa memandang ras, agama, gender, maupun kelompok, untuk mereka yang
berani mengangkat kepala demi diri mereka sendiri dan membangunBagian 5 solidaritas bersama melawan kebrutalan aparatus polisi dan militer juga
negara dan hukum yang berdiri di belakangnya.
Hidupkan kembali semangat perlawanan demi sebuah perubahan yang berarti, sebuah hidup yang tidak semata-mata hanya untuk sekedar Wawancara Derrick Jensen
bertahan hidup. Sebuah masyarakat dimana masing-masing diri kita dapat memegang kendali sepenuhnya atas hidup dan kehidupan kita sendiri.Bersama Anuradha Mittal
Semua materi yang ditulis (dan kemudian diaplikasikan berdasarkan) dalam / dari penerbitan terjemahan ini dikerjakan dengan tanpa ijin dari penulis, editor, ataupun pemilik hak cipta. Tak ada hak cipta yang dihargai. Seluruh isi dan materi terbitan ini dapat direproduksi dan ditransformasikan dalam dan dengan segala cara dan bentuk.
[email protected] hantammassa.blogspot.com
--kutipan B Penari. salah di keresahana lumbung
k a r
satu: lepas ks m s “
e e e
In scene pangan,’
tentang h b
a s d i a e a u a
yang b la lu d
is h w r a
dalam a ar
- s
ironi mengabarkann s
e y dari
a u d
a b w n n
'kelaparan
e a g u lu
g filmra h n dialog r
s s b a, a
Sang.
. i s
la ? sa i h !” d i
.nial kahip-kahip adapek aynnaklub mitid gnay isneukesnok alages nahilahadni mep tukireb nad,ada gnay ayad reb mus hurulesisatiolpskegne m atres hatne m ukab nahab-nahab reb mus nikgnu m kaynabes kuregne m kutnu halada ini muirep mi irad kokop naujut uata nasala ,ajas utneT.kayni m atres ,tiskuab utab ,aduk kana-kanaiap mas aisuna m-non kadub-kadub uata aisuna m ajrek aganet nad napudihek kutnebiagabrebirad,ikadnehek akere m gnay alages naktapadne m kutnu)nasarekek na macna nagned aguj uata( nasarekek nalaj nakanuggne m muirep mi naasauke K .isatiolpskeret atres aynnaru mka mek irucret halet gnay akere m- akere m helo gnuggnatid surah rasebret gnay isneukesnok ipatet nak A .tubesret kudorp-kudorp naklisahgne m nad,tikare m,taub me m gnay akere m helo gnuggnatid gnayigaltikides hibel,tubesret kudorp-kudorp naktaafna me m nad nakanuggne m gnay akere m-akere m helo gnuggnatid halkadit raseb naigabes kutnu tubesret rasadne m nad a maturet gnay isneukesno K .tubesret hatne m nahab-nahab nahilalib magnep atres nakuregnep sesorp sata tabika uata isneukesnok kaynab ada ulales anas id na D .tap met utaus irad gnatad ulales hatne m ukab nahab-naha B .61- F ta wasep nagned aynlah ana miagabes notrak satrek nagned aynlah ana miagabes isivelet nagned aynlah ana miagabes ayrus lenap -lenap nagned aynlah ana miagabes ralules nopelet-nopelet nagned aynlah ana miagabes naataynek halada ini au me S .tiforp uata nagnutnuek igab iskudorp :naita mek ujune m )”ayad reb mus“ uata ,”hatne m ukab nahab“( napudihek kutneb alages nahabugnep sativitka nakrasadreb nalajrebini nabadare P.sitarg gnay ada kaditilakes a mas,aynrihka ada P
N OI T C U D O R T NI
.aynna wale m halada ayntukireb hakgnal na D .aynirad lub mit nikgnu m gnay isneukesnok uata tabika alages atreseb nakanug akere m gnay nahajajnep e msinake m alages nakpakgniyne m nad rakgnob me m nagned halada tubesret nahajajnep tarej irad iridnes atik irid naksabeb me m tapad kutnu a matrep hakgnaL .nagnutnuek uata ,tiforp :rasadne m nad gnitnep gnilap narasas uata naujut,utaus rajegne m akgnar malad ,nupgnaroes kat nad ,nupapa nakilaucegne m kadit ini muirep mi naasauke K .ijek gnay aynnahakaresek usfan adap aggnih arednasret ini atik tenalp nakbabeyne m gnay muirep mi naasaukek na wale m suires gnay naa wkad haubes nakisarap mokgne m ibut-ibutreb araces,ini ukub malad id aynnial gnay nagned a mas-a masreb,tubesret araus-arau S .fisa m nadtatektagnas gnaylortnok adap naksisabreb gnaylabolg i monokeisautis utas maladrihkareb nad nahanatrepilopono m sesorp aynidajret nagned ialu mid ini lairep mi naasaukek ana miagab naksalejne m hti m S. W.J. arajnep malad ek naksolbejid nad,tatek agajid nadisa waid suret,ajrek nabeb kaynab ulalret naktapadne m naka aragenagra w paites akitek ana miagabes,iregen maladididajret gnayiserper e msinake m aparebeb nakisuksidne m itnera P naitsirh C aguj nad ,thcerbl A enirehta K,rohc S teiluJ.nagnap reb mus nana maek aynni majret satalabolg nagnagadreptabika nad nahajajnep uata e msilainolok sata lucnu m nikgnu m gnay kefe kaynab gnatnet nakrabajne m latti M ahdarun A.isatilopskegne m nad kuregne m kutnu nakhas akere m gnay mukuh uata gnadnu-gnadnu nakaska me m nad nakaraggneleyne m kutnu nakanugid gnay edote m hurules nad muirep mi ketkarp tabika lucnu m gnay isneukesnok-isneukesnok gnatnetlah kaynab nakrabajne m atresrakgnob me mini uku B
Saat saya menuliskan ini, jutaan rakyat di Afganistan sedang menghadapi kenyataan kelaparan.
Sementara itu, perang yang dilancarkan oleh pihak AS melawan rezim Taliban di Afganistan terus berlanjut untuk turut mengintervensi atau mencampuri serta menodai upaya-upaya pembebasan serta pengentasan kelaparan. Setiap hari perang yang terus dilancarkan makin memperluas serta meningkatkan resiko bagi bencana kemanusiaan.
Tetapi apakah adil untuk menyalahkan pihak AS? Bukankah AS telah mengirimkan makanan untuk rakyat yang lapar di seluruh penjuru dunia, menyelamatkan jutaan orang dari kelaparan? Jelas tidak menurut pendapat Anuradaha Mittal, yang pernah menjadi salah satu direktur pada Institute for Food and Development Policy, yang lebih dikenal sebagai Food First. Dia menyatakan bahwa AS jelas berkontribusi pada bencana kelaparan di dunia lebih jauh dan berat daripada yang pernah dikerjakannya untuk memberikan makanan pada dunia.
Food First (www.foodfirst.org) telah dimulai pada hampir tiga puluh lima tahun yang lalu oleh Joseph Collins dan Frances Moore Lappe, penulis buku Diet for a Small Planet (Ballantine). Didesain untuk dapat menjadi suatu lembaga think-tank bagi banyak orang—lebih dari separuh funding-nya datang dari para donor atau penyandang dana individual—organisasi tersebut berupaya untuk dapat menyusun serta membuka akses atas ketersediaan pangan atau makanan sebagai satu hak manusia yang paling mendasar.
Pada saat sekarang ini, kita semua telah sangat akrab dengan imaji atau gambaran-gambaran tentang orang-orang yang kelaparan di negeri-negeri seperti Ethiopia, Somalia, India, Bangladesh. Namun bagaimanakah sebenarnya sehingga ada begitu banyak orang-orang yang hidup tanpa ketersediaan makanan bagi mereka? Apakah karena memang tidak ada Wawancara Dilakukan Pada 24 Januari 2001, cukup makanan untuk dapat dikonsumsi di sana? Food First bekerja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, memberikan edukasi bagi publik di Ruang Kantor Food First, Oakland, California.
mengenai akar penyebab yang mendasar dari bencana kelaparan serta membongkar dan mengenyahkan mitos-mitos yang telah banyak dikedepankan oleh pihak-pihak korporasi serta pemerintahan yang setia melayani kepentingan korporasi tersebut.
Jika memang ada cukup makanan, lalu mengapa tetap ada bencana
kelaparan yang terjadi?
Derrick Jensen : Seperti apakah cakupan persoalan kelaparan yang melanda dunia ini?
Anuradha Mittal : United Nations (PBB) memperkirakan bahwa ada sekitar 830 juta orang-orang di seluruh penjuru dunia yang tidak memiliki akses yang memadai akan makanan. Angka-angka tersebut, bagaimanapun, menjauhkan kita dari penderitaan yang sesungguhnya yang terus dirasakan oleh mereka yang sedang kelaparan. Kelaparan adalah merupakan sebuah bentuk siksaan yang merenggut kemampuan anda untuk dapat berpikir, untuk dapat melakukan aksi atau tindakan-tindakan fisikal secara normal, untuk dapat menjadi sosok seorang manusia yang rasional seutuhnya. Banyak sekali orang-orang di negeri saya sendiri, India, yang selama berbulan-bulan tidak memiliki satu perut yang dapat terisi secara penuh, yang tidak pernah mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan nutrisi yang memadai. Orang-orang yang kelaparan ini mengakibatkan beberapa dari mereka untuk secara terpaksa berusaha untuk memakan apapun agar dapat meredakan atau mengebaskan rasa sakit tersebut: kucing, kera-kera, bahkan akar-akaran yang kerap juga mengandung racun.
Ketika kita membayangkan tentang kelaparan, seringkali kita menggambarkannya dalam benak kita tentang rupa wajah-wajah yang kecoklatan dan kusam, wajah-wajah yang gelap, anak-anak yang telanjang dengan kaki-kaki yang kurus dan perut-perut yang gembung dan membengkak. Ini adalah bayangan atau gambaran atas kelaparan yang sering diberikan oleh pihak-pihak media kepada kita, tetapi penting sekali untuk dapat mengingat bahwa kelaparan ada dan terjadi bukan hanya di wilayah-wilayah di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, tetapi juga tepat di sini di United States (Amerika Serikat), negara paling kaya di permukaan bumi ini. Tiga puluh enam juta penduduk Amerika tidak memiliki cukup makanan dalam kesehariannya
dan jumlah tersebut terus bertambah. Mendekati hampir separuh dari mereka ini yang berbaris mengantri di luar dapur-dapur sup memiliki satu atau lebih anggota-anggota keluarga yang dipekerjakan di sana, namun kebanyakan dari mereka sesungguhnya terlalu miskin untuk dapat membeli makanan. Mereka adalah orang-orang yang mengaduk dan mengais sampah-sampah buangan di luar restoran- restoran. Mereka adalah anak-anak sekolah yang tak mampu untuk memberikan cukup perhatian dan berkonsentrasi pada pelajaran di kelas sebab mereka belum mendapatkan makan malam atau juga sarapan pagi. Mereka adalah orang-orang seperti Katherine Engels, seorang nenek yang memberikan kesaksian di Congress (Parlemen) pada sebuah sesi dengar pendapat mengenai permasalahan kelaparan bahwa seringkali dia hanya meminum secangkir teh untuk makan malamnya, kemudian menggulung beberapa roti putih yang tawar dan memakannya, sebab hal tersebut mampu memberikan suatu rasa sensasi bahwa perutnya telah terisi penuh.
Kelaparan adalah satu penyakit sosial yang berkaitan erat dengan kemiskinan, dan maka dari itu bahwa setiap diskusi atau perbincangan yang membahas tentang kelaparan sama sekali tidaklah lengkap tanpa adanya suatu pembahasan yang menyentuh tentang ekonomi. Sering, ketika kita menjumpai seseorang yang meminta uang atau makanan, kita berpikir, mengapa anda tidak mencari suatu pekerjaan saja? Seberapa banyak dari kita yang menyadari bahwa, dari orang-orang yang telah dipindahkan atau dijauhkan dari kesejahteraan yang digelindingkan melalui kebijakan-kebijakan perbaikan kesejahteraan (welfare reform) pada tahun 1996, hanya ada satu dari sembilan puluh tujuh yang akan berkesempatan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang mampu menghasilkan upah yang layak untuk hidup? Pada tingkat upah minimum $5.15 per jam, bahkan jika anda bekerja lima puluh jam per minggunya, anda mendapatkan hanya lebih sedikit dibandingkan tiga belas ribu dolar setiap tahunnya. Sehingga tidak ada jalan kemungkinan bagi satu keluarga yang hidup dan tinggal di perkotaan dapat bertahan dengan kondisi tersebut. Mereka tidak akan dapat membayar biaya-biaya sewa dan menempatkan makanan yang layak di atas meja makan mereka, dengan meniadakan juga kebutuhan-kebutuhan pakaian beserta segala keperluan-keperluan lainnya.
Jika kita memang akan membicarakan secara benar dan bersungguh-sungguh mengenai bencana kelaparan, kita harus mengerti serta memahami suatu sebab utama atas kelaparan ini. Sebagai contohnya, kelaparan sama sekali tidaklah disebabkan oleh keterbatasan atau tidak tersedianya sumber-sumber atau bahan makanan. Berdasarkan pada penyelidikan kami pada dua puluh enam tahun terakhir ini melalui lembaga Food First, para petani-petani di dunia mampu memproduksi 4,3 pound (hampir 2 kg -ed) bahan makanan setiap orang, setiap harinya. Semua ini meliputi sayur-sayuran, sereal, ikan, daging, dan juga padi-padian atau biji-biji jagung.
DJ : Jika memang ada cukup makanan, lalu mengapa tetap ada bencana kelaparan yang terjadi?
AM : Banyak orang-orang menjadi lapar sebab mereka terlalu miskin untuk dapat membeli atau mendapatkan akses terhadap makanan. Bahwa terdapat suatu keterbatasan kemampuan atau ketidakberdayaan atas daya beli, dan bukannya ketidaktersediaan sumber atau bahan-bahan makanan.
Dari 830 juta orang yang menderita kelaparan di seluruh penjuru dunia, sepertiga dari mereka hidup di India. Di tahun 1999, pihak pemerintahan India memiliki angka surplus 10 juta ton bahan makanan berupa padi-padian atau biji-bijian (grains): beras atau padi, gandum atau terigu, dan sebagainya. Pada tahun 2000, surplus tersebut meningkat hingga hampir mencapai angka 60 juta ton—sebagian terbesar dari hasil ini tersimpan rapat di dalam lumbung-lumbung sehingga membusuk sia-sia. Ketimbang mendistribusikan surplus bahan-bahan makanan tersebut kepada mereka yang lapar, pihak pemerintahan India malahan berharap untuk dapat mengekspor biji-bijian tersebut demi mendapatkan uang. Mereka juga menghentikan pembelian hasil panen biji-bijian dari para petani mereka sendiri, membiarkan mereka menjadi miskin dan melarat sekali. Para petani, yang telah terjebak pada belitan hutang pinjaman modal untuk dapat membeli bahan-bahan pupuk kimiawi dan juga obat-obat pestisida atau anti hama yang amat mahal berdasarkan saran kebijakan dari pemerintah, kemudian didorong serta dipaksa untuk membakar habis hasil panenan mereka di ladang-ladang mereka sendiri.
Pada saat yang bersamaan, pemerintah India melakukan pembelian padi-padian serta biji-bijian dari Cargill dan pihak korporasi-korporasi dari Amerika lainnya, sebab dana bantuan yang diterima oleh India dari pihak World Bank (Bank Dunia) menetapkan atau telah memberikan ketentuan atau persyaratan bahwa pihak pemerintahan harus melaksanakan hal tersebut. Hal ini berarti bahwa hari ini India adalah importir terbesar atas hasil produksi padi serta biji-bijian yang sebenarnya sama dengan yang telah dihasilkan serta diekspornya. Ini benar-benar sama sekali tidak masuk akal, ekonomi dan segala macamnya itu.
Situasi ini tidaklah secara khusus dan unik hanya terjadi di India. Pada tahun 1985, Indonesia menerima medali emas dari UN Food and Agriculture Organization (FAO, lembaga milik PBB yang mengelola pangan serta hasil produk pertanian dunia -ed) sebab kemampuannya pada saat itu untuk dapat mencukupi kebutuhan pangannya secara mandiri (swa-sembada pangan -ed). Kemudian di tahun 1998, negeri tersebut berubah menjadi negeri penerima bantuan pangan yang terbesar di dunia. Saya sempat berpartisipasi dalam sebuah projek pencari fakta dengan misi untuk menyelidiki atau menginvestigasi nasib sial atau ketidakberuntungan yang dialami oleh Indonesia itu. Apakah hal ini memang karena hujan telah berhenti turun di sana? Apakah karena memang tidak ada panen lagi di Indonesia? Sama sekali tidak seperti itu, sebab utama situasi ketidakamanan pangan di Indonesia adalah krisis finansial yang melanda Asia. Bank-bank dan banyak sektor industri runtuh dan ditutup. Di ibukota Jakarta sendiri, lima belas ribu orang kehilangan pekerjaan mereka hanya dalam waktu satu hari. Kemudian, ketika saya bepergian dan berkeliling ke areal atau wilayah-wilayah pedesaan, saya melihat hamparan tanaman-tanaman padi melambai-lambai pada setiap ladang persawahan bahkan di lokasi-lokasi terpencil sekalipun, dan saya juga menyaksikan tumbuhan ubi-ubian serta berbagai macam buah-buahan. Sama sekali tidak terjadi kelangkaan atau ketidaktersediaan bahan pangan di sana, tetapi bahwa orang-orang telah terlalu miskin untuk dapat membeli dan mengakses bahan-bahan pangan tersebut. Jadi apa yang kemudian telah dilakukan oleh pihak AS beserta negara-negara lainnya, seperti Australia? Mencium gelagat serta kesempatan bagus untuk dapat membongkar serta menurunkan simpanan surplus pangan berupa gandum atau terigu mereka sendiri atas nama “bantuan pangan (food aid),” mereka memberikan bantuan pinjaman uang (loans)
kepada Indonesia berdasarkan kondisi atau ketentuan bahwa pihak Indonesia harus melakukan pembelian sejumlah besar gandum dari mereka. Dan asal anda tahu saja, bahwa gandum serta terigu bahkan sama sekali bukanlah makanan pokok bagi mayoritas masyarakat di Indonesia.
DJ : Di banyak negeri-negeri di Amerika Selatan, pihak-pihak pemerintahan menumbuhkan serta mengekspor kopi sementara para penduduk di negeri tersebut sekarat karena kelaparan. Apakah India dan Indonesia telah memulai juga usaha konversi atau pengubahan pemanfaatan ladang-ladang pertanian atau agrikultural untuk menumbuhkembangkan hasil-hasil panen unggulan (cash crops) dengan daya jual tinggi untuk kepentingan ekspor?
AM : Yup, sebagaimana yang terjadi di negara-negara berkembang lainnya, kita telah banyak menyaksikan satu tekanan pada hasil produksi agrikultural dengan tujuan ekspor. Pada sekitar tiga per empat dari negeri-negeri yang memiliki laporan atas bencana malnutrisi yang diderita anak-anak kecil, negeri-negeri tersebut secara aktif melakukan kebijakan ekspor bahan pangan. Ingat bencana kelaparan yang banyak diberitakan atau dipublikasikan yang pernah terjadi di Ethiopia selama kurun tahun 1980an? Kebanyakan dari kita sama sekali tidak menyadari bahwa selama bencana kelaparan tersebut Ethiopia sebenarnya secara aktif melakukan ekpor biji-bijian atau kacang-kacangan hijau ke wilayah-wilayah Eropa.
Di tahun 1999, satu laporan dari UN Population Fund (lembaga milik PBB yang mengelola serta mandanai projek-projek pengendalian populasi dunia -ed) memberikan predikasi bahwa India segera akan menjadi salah satu dari negara-negara penerima bantuan pangan di dunia. Laporan tersebut dipublikasikan untuk mengutuk terjadinya pertumbuhan atau pertambahan populasi sebagai biang masalah. Sesuatu yang tidak dicantumkan di dalam laporan tersebut adalah bahwa pihak pemerintahan negara bagian Punjab, yang juga dikenal sebagai “lumbung pangan India (the granary of India),” telah menumbuhkan serta menghasilkan bahan pangan yang melimpah serta berlebih bahkan hingga hari ini, tetapi sebagian besar dari bahan pangan tersebut telah dikonversi serta diolah menjadi produk makanan anjing dan kucing untuk pasaran Eropa. Laporan tersebut juga tidak menyebutkan bahwa tetangganya yaitu negara bagian Haryana, yang juga secara tradisional merupakan wilayah yang memilki ladang-ladang pertanian yang subur, hari ini merupakan salah satu produsen terutama di dunia dalam bidang produksi tanaman tulip (sejenis tumbuh-tumbuhan berbunga yang memiliki umbi akar -ed) untuk kebutuhan ekspor. Secara semakin bertambah dan tak terkendali, negeri-negeri seperti India terus melaksanakan kebijakan-kebijakan yang meracuni dan menyebarkan polusi bagi udara, tanah, serta air di wilayah mereka demi menumbuhkan serta memproduksi produk-produk untuk kebutuhan pasaran Barat (Western) dibandingkan dengan usaha menumbuhkan atau memproduksi sumber-sumber pangan untuk mencukupi kebutuhan makanan bagi masyarakat mereka sendiri. Lahan-lahan pertanian atau agrikultural yang terbaik dan terutama telah sedemikian terpolusi serta ter-racun-i demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan para konsumen di belahan bumi bagian Barat, dan sementara hasil uang yang telah dikeluarkan oleh para konsumen tersebut sama sekali tidak menjangkau atau menyentuh mayoritas para pekerja yang telah termiskinkan di negara-negara Dunia ke-Tiga (Third World).
Bahwa bantuan pangan sama sekali tidaklah
selalu gratis.
DJ : Saya tidak yakin bahwa memang kebutuhan-kebutuhan (needs) dari para konsumen di negara-negara Barat-lah yang sedang coba dipenuhi. Ini lebih seperti hasrat atau nafsu (desires).
AM : Yah, kemewahan (luxuries) telah diakui kebenarannya sebagai suatu kebutuhan, dan kebebasan atau kemerdekaan (freedom) telah lebih diartikan pada kemampuan untuk memilih (to choose) salah satu atau beberapa dari dua puluh merk-merk (brands) yang berbeda atas produk-produk sikat gigi.
DJ : Anda telah menyebutkan tentang bantuan (aid) AS beberapa kali. Apa yang salah dengan bantuan AS? Maksud saya, tidakkah ini memang layak dipuji atau dihargai bahwa kita memang memiliki kehendak atau kemauan untuk menolong mereka yang memang membutuhkan?
AM : Saya sudah sering mendengar hal seperti itu. Saya sering berada dalam acara- acara talk shows di radio dimana orang-orang menelepon ke sana untuk menuduh bahwa saya telah sedemikian arogan dan tak tahu berterima-kasih: “Beginilah kami, mengirimkan bantuan makanan kepada orang-orang di negeri Anda, dan kemudian Anda banyak mengeluh!” Saya berharap bahwa situasinya memang benar bahwa bantuan AS memang datang dari spirit atau semangat kedermawanan atau kemurahhatian, namun sesungguhnya hal ini telah selalu merupakan satu alat politis yang digunakan untuk dapat mengontrol sikap serta kebijakan-kebijakan atas negeri-negeri Dunia ke-Tiga, untuk memaksakan persekutuan-persekutuan yang meragukan, serta untuk membeli sikap kerja-sama selama Perang Dingin (Cold War). Dengan berakhirnya Perang Dingin, bantuan berubah menjadi satu bentuk skema atau pola untuk menemukan serta mendapatkan.pasaran-pasaran yang baru bagi industri-industri pertanian (agribusiness) AS, dan sekarang ini pola permainannya adalah untuk membuang serta menimbun bahan-bahan pangan yang telah mengandung organisme-organisme yang telah termodifikasi secara genetik (GMOs, Genetically Modified Organisms, yaitu bahan makanan yang telah direkayasa secara genetik dan sesungguhnya adalah racun atau makanan zombie - ed), yang mana telah banyak ditolak oleh para konsumen di negara-negara Barat sebab kita (yang hidup dan tinggal di negeri-negeri di Timur -ed) hanya sedikit sekali mengetahui atau menyadari tentang efek-efek jangka panjang yang dapat diakibatkannya pada manusia dan lingkungan hidup kita.
Namun, isu atau persoalan yang lebih mendalam di sini adalah berkaitan pada fakta atau kenyataan bahwa bantuan pangan sama sekali tidaklah selalu gratis. Seringkali bantuan pangan ini dipinjamkan, meskipun dengan tingkat bunga yang rendah. Ketika pihak AS mengirimkan gandum kepada Indonesia selama krisis tahun 1999, ini merupakan pinjaman yang harus dibayarkan kembali dengan periode jangka waktu dua puluh lima tahun. Dengan pola atau cara seperti ini, bantuan pangan menolong AS untuk dapat mengambil-alih pasaran produksi biji-bijian di India, Nigeria, Korea, dan wilayah lainnya.
Saya sama sekali tidaklah menolak secara keseluruhan ide atau gagasan tentang bantuan pangan. Meskipun sesungguhnya saya pikir bahwa banyak negeri-negeri dapat mandiri serta mencukupi kebutuhan pangannya sendiri (self sufficient), kemungkinan ada beberapa yang memang benar-benar sedang membutuhkan bantuan atau pertolongan. Tetapi bantuan atau pertolongan haruslah juga mengikuti beberapa prinsip-prinsip. Pertama, makanan haruslah segera dapat dikirimkan ketika masyarakat sedang membutuhkannya, sesegera mungkin. Yang ke dua, bantuan pangan ini tidak boleh digunakan sebagai satu alat atau sarana-sarana politis, seperti di Korea Utara, dimana bencana kelaparan memaksa negeri tersebut untuk bertekuk lutut sebelum bantuan pangan disediakan. Ke tiga, makanan tersebut harus dapat diperoleh atau didapatkan secara lokal, sedekat mungkin, dari regional setempat. Dan yang ke empat, haruslah memiliki sensitivitas secara kultural: bantuan pangan tersebut hendaknya terdiri atas makanan yang benar-benar dibutuhkan dan dapat dimakan oleh masyarakat, dan bukannya hanya merupakan sesuatu yang sebenarnya ingin dibuang jauh-jauh oleh pihak negara donor.
digunakan untuk membantu pihak-pihak pemerintahan di negeri-negeri Dunia ke-Tiga dan negeri-negeri Eropa Timur untuk mendorong serta menganjurkan agen-agen atau perwakilan-perwakilan pembuat kebijakan mereka (regulatory agencies) untuk dapat menyetujui penggunaan produk-produk makanan yang telah dimodifikasi secara genetik. Maka para pihak-pihak pembuat kebijakan di AS, yang telah terlenakan pada kerumitan perputaran isu atau persoalan tentang GMOs ini, kemudian sekarang ini menjadi pembimbing dan melatih para pembuat kebijakan di negeri-negeri berkembang.
Kelaparan telah dipergunakan sebagai sarana untuk mempromosikan serta
memasarkan bioteknologi.
Setelah mengatakan semua ini, mari kita tengok pada kasus yang terjadi di Somalia dan Ethiopia di tahun 1980an. Pada kasus ini, bantuan pangan tiba dengan sangat terlambat, setelah musim penghujan telah benar-benar turun secara stabil dan hasil-hasil panen telah siap di ladang-ladang. Dan bantuan pangan tersebut diperoleh dari perusahaan-perusahaan industri pertanian besar skala transnasional dari Kanada dan Amerika. Para petani lokal di Ethiopia telah tercerabut dari kehidupan serta penghidupannya sendiri sebab makanan-makanan murah kemudian ditimbun ke dalam pasar dengan tingkat harga yang jauh sedemikian lebih rendah dibanding dengan yang mampu dihasilkan para petani tersebut untuk dapat bersaing. Dalam hal ini, bantuan pangan tersebut hendaknya telah terkirimkan lebih dini, dan hendaknya juga diperoleh atau didapatkan dari negeri-negeri yang bertetangga atau berdekatan, dengan demikian juga akan mendukung situasi perekonomian regional. Dengan begitu maka akan terjadi pola bantuan atau pertolongan yang benar-benar.
Saya tidak berpikir bahwa ini terlalu cukup untuk dikatakan bahwa proses penghancuran infrastruktur-infrastruktur pertanian atau agrikultural pada tingkatan lokal adalah merupakan satu fungsi sentral dan terutama atas pola-pola bantuan pangan. Sekali para petani lokal setempat telah dapat dienyahkan jauh dari bisnis, secara keseluruhan masyarakat pada region atau wilayah-wilayah tersebut akan segera memilki ketergantungan penuh pada negara-negara Barat demi kelangsungan hidupnya.
DJ : Anda tadi menyebutkan tentang GMOs. Bagaimana bioteknologi dapat masuk dan terlibat ke dalam semua hal ini?
AM : Perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dalam bidang industri kimiawi menginginkan untuk dapat meningkatkan kontrol mereka atas suplai atau ketersediaan bahan pangan di dunia dengan cara memproduksi serta memasarkan hasil-hasil panen yang telah direncanakan serta dibangun berdasarkan proses rekayasa-rekayasa genetika, namun para konsumen di negara-negara Barat telah memiliki kecurigaan besar dan sangsi atas produk-produk GMOs tersebut. Sehingga, pada tahun 2000, pihak parlemen AS menyetujui satu rancangan pendanaan (budget) yang memasukkan perhitungan angka sebesar $30 juta untuk mempromosikan bioteknologi di negeri-negeri Dunia ke-Tiga. Tujuh juta dolar dari budget tersebut merupakan bagian dari satu kesepakatan antara AS dengan Filipina untuk mempromosikan bioteknologi sebagai satu sarana untuk mencapai “keamanan pangan (food security).” Dana tersebut juga digunakan untuk membiayai riset atau penelitian-penelitian bioteknologi di universitas-universitas di Amerika, dan sebagian besar dari dana tersebut
DJ : Dapat diduga bahwa alasan dari agen-agen tersebut secara benar-benar adalah untuk mengatur (to regulate), berlawanan dengan penyediaan atas ilusi-ilusi tentang regulasi.
AM : Salah satunya, agen-agen regulator ini telah gagal sepenuhnya untuk dapat melindungi para konsumen di Amerika. Salah satu contohnya adalah insiden yang menimpa StarLink, dimana jagung yang telah dimodifikasi secara genetis yang tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi oleh manusia dapat menemukan jalannya menjadi suatu produk makanan. Kesalahan besar ini bukanlah ditemukan dan diungkap oleh pihak agen atau perwakilan-perwakilan pemerintahan tetapi oleh pihak Gene Food Action Alert Coalition, sebuah organisasi sipil swasta yang telah melakukan penelitian serta pengetesan terhadap produk jagung tersebut di sebuah laboratorium pribadi. Satu bulan kemudian, setelah serangkaian penyangkalan- penyangkalan awal, pihak Food and Drug Administration (FDA, lembaga pengawas obat dan makanan di Amerika -ed) pada akhirnya bersedia mengakui bahwa sebuah kesalahan telah dibuat.
Saya dapat memberikan ratusan contoh-contoh kasus mengenai ketidakcakapan atau kebodohan-kebodohan yang dibuat oleh pihak agen-agen regulator ini atau juga kebohongan serta kepalsuan-kepalsuan yang terungkap atas industri-industri yang mereka akui sedang mereka jaga atau awasi. Merupakan satu lelucon untuk dapat membayangkan mereka agen-agen regulator di negeri ini kemudian akan bekerja melakukan pelatihan dan membimbing agen-agen regulator di negeri-negeri berkembang.
Pada saat yang bersamaan, pihak AS telah mulai mengirimkan makanan hasil rekayasa genetika kepada negara-negara Dunia ke-Tiga dengan tanpa izin atau persetujuan dari masyarakat di sana. Pada akhir 1999 dan awal 2000, ketika negara
Selama bertahun-tahun, perusahaan-perusahaan minyak dan pertambangan telah menggunakan “greenwashing (pencucian otak, ilusi tentang kebaikan revolusi hijau - ed)” sebagai satu sarana strategi public-relations, menyatakan perhatian atau kepedulian atas lingkungan hidup untuk menutupi atau mengkamuflase aktifitas- aktifitas penghancuran lingkungan hidup yang sebenarnya mereka lakukan. Pihak korporasi-korporasi biotech sekarang menggunakan “poorwashing:” kepedulian atau keberpihakan yang palsu atas perkembangan pertumbuhan, populasi yang kelaparan di negeri-negeri berkembang sembari terus mengeksploitasi populasi-populasi tersebut demi tujuan meraup profit atau laba yang jauh lebih besar lagi.
Pada kenyataannya, negara-negara industrilah yang sebenarnya berhutang
sejumlah besar uang pada kami.
bagian Orissa di India dilanda bencana banjir besar, AS mengirimkan bantuan pangan yang mengandung GMOs. Pihak pemerintahan India tidak mengatakan apapun bahwa makanan tersebut telah direkayasa secara genetika. Mozambik, Filipina, Bolivia, dan banyak negara lainnya juga telah menerima paket-paket pengiriman bantuan pangan yang sama yang juga telah tercemari oleh hasil praktik rekayasa genetika. Lebih jauh pada saat ini, ketika Sri Lanka telah mengadopsi kebijakan progresif yang memberikan larangan untuk melakukan impor makanan-makanan yang telah direkayasa secara genetika, negara tersebut malahan mendapatkan serangkaian ancaman dari pihak AS, dan tekanan-tekanan kemudian dilancarkan pada pihak pemerintahan untuk segera menghilangkan atau menghapuskan kebijakan-kebijakan pembatasan impor tersebut.
Implikasi atau akibat nyatanya di balik semua ini adalah bahwa orang-orang yang lapar di negeri-negeri Dunia ke-Tiga sama sekali tidak memiliki hak untuk dapat memilih, atau cukup hanya memiliki dua pilihan: mereka dapat mati kelaparan—seringkali hasil dari putusan-putusan yang ada dibuat oleh agen atau perwakilan-perwakilan multilateral dengan kantor-kantor mereka berada jauh di DC, Jenewa, atau Brussels—atau mereka dapat mengambil serta menerima segala resiko-resiko kesehatan yang tidak diketahui yang diasosiasikan atau dihubungkan dengan hasil-hasil panenan yang telah direkayasa secara genetika. Hal tersebut sangatlah menjijikkan, memuakkan, dan sangatlah rasis.
Secara mendalam saya memang merasa sangat terganggu dengan mana kelaparan telah dipergunakan sebagai sarana untuk mempromosikan serta memasarkan bioteknologi. Seketika, atau tiba-tiba, korporasi-korporasi transnasional seperti DuPont, Monsanto, Novartis, dan Syngenta, yang sebelum-sebelumnya telah menyebabkan sedemikian banyak kesengsaraan, menyebut serta menunjuk diri mereka sendiri sebagai pihak-pihak yang selalu ingin membantu kebaikan atau membereskan segala persoalan (do-gooders). Monsanto telah memberikan kepada kita Agent Orange (zat/bahan kimia pemusnah massal, yang telah digunakan oleh pihak militer AS dalam masa perang Vietnam untuk dapat membumihanguskan hutan serta pemukiman-pemukiman penduduk di desa-desa di Vietnam, efek kontaminan serta radiasinya sangatlah berbahaya dan mengerikan serta masih terus berlanjut untuk jangka waktu yang sangat lama -ed), kemudian sekarang mereka ini direpresentasikan oleh pihak pemerintahan AS beserta pihak korporasi media sebagai satu warga korporasi teladan yang baik, yang memiliki kepedulian terhadap mereka yang miskin serta kelaparan di negeri-negeri Dunia ke-Tiga. Pihak pemerintahan AS “melawan kelaparan (combating hunger)” dengan mengalokasikan sejumlah dana dari program-program bantuan pembangunan dan pemberdayaan untuk terus mempromosikan bioteknologi di negeri-negeri Dunia ke-Tiga. Dan grup atau kelompok-kelompok sipil yang beroposisi dan terus melawan pihak-pihak korporasi untuk dapat begitu saja mengambil-alih sistem pangan alami kita serta juga menolak atau menentang usaha-usaha perencanaan rekayasa-rekayasa genetik—sebab kita tidak dapat begitu saja menduga-duga konsekuensi atau akibat-akibat yang akan ditimbulkannya bagi lingkungan hidup serta kesehatan kita—digambarkan dan distigmakan sebagai orang-orang yang egois yang ingin mengingkari atau menghilangkan kesempatan bagi negeri-negeri Dunia ke-Tiga untuk dapat menikmati kemungkinan keuntungan-keuntungan atau manfaat atas bioteknologi.
DJ : Mari kita membicarakan tentang hutang yang dipinjam oleh negeri-negeri Dunia ke-Tiga kepada Bank Dunia dan negara-negara industri. Kritik atas kebijakan luar negeri AS dari Noam Chomsky menyatakan, pada esensinya, bahwa pinjaman tersebut haruslah dapat dibayarkan kembali, tetapi pinjaman tersebut seharusnya dibayarkan kembali oleh orang-orang yang memang benar-benar telah menerima pinjaman-pinjaman tersebut, yang mana yang dia maksudkan adalah diktator-diktator AS yang telah dijatuhkan, yang telah memindahkan serta mengalirkan dana milyaran ke dalam akun-akun pribadi di bank-bank. Tetapi pinjaman ini tidaklah harus dibayarkan kembali oleh warga negara yang tidaklah pernah mendapatkan setetespun uang pinjaman tersebut pada urutan pertama.
AM : Namun ketika sebut saja pinjaman atau bantuan tersebut telah diberikan untuk kepentingan, katakanlah, pembangunan sebuah bendungan yang besar, siapakah yang sebenarnya mendapatkan bantuan uang tersebut? Bukanlah seorang diktator, tetapi korporasi atau perusahaan-perusahaan dari Jerman, Perancis, atau Amerika yang telah membangun bendungan tersebut. Para investornyalah satu-satunya yang mendapatkan pembayaran. Dan orang-orang di negeri tersebut hanya akan mendapatkan sebuah bendungan baik mereka memang menginginkannya ataukah tidak.
Saya telah terlibat dalam perdebatan ini dalam satu waktu yang sangat lama. Begitu banyak bagian dari hal ini berputar-putar di sekitar gagasan tentang keringanan atau pembebasan pinjaman, yang mana hanyalah merupakan sebuah versi lain dari beban atau kepura-puraan yang dimiliki oleh orang-orang kulit putih. Orang-orang miskin ini, untuk lebih lanjut, nampaknya sama sekali tidak dapat menunjukkan
tentang bagaimana untuk dapat menjalankan negeri mereka serta mengelola perekonomian mereka sendiri, dan kita harus secara terus-menerus memberikan kepada mereka makanan dan juga uang.
Namun saya tidaklah tertarik pada ide tentang peringanan atau pembebasan pinjaman (debt relief). Saya lebih tertarik pada gagasan tentang ganti-rugi (reparations). Negeri-negeri Dunia ke-Tiga tidaklah berhutang, tidak setiap orangpun, tidak untuk apapun. Pada kenyataannya, negara-negara industrilah yang sebenarnya berhutang sejumlah besar uang pada kami.
DJ : Bagaimana bisa seperti itu?
AM : Ambil kasus di negeri saya, India—meskipun negeri-negeri lainnya juga akan menjadi sebuah contoh kasus yang bagus. Mengapa Columbus pada jaman dahulu mencoba berusaha untuk dapat menemukan satu rute yang baru menuju India? Sebab India adalah sebuah daratan yang penuh oleh bumbu atau rempah-rempah serta juga kekayaan dan emas, sebuah negeri yang besar dan mulia. Tetapi ketika orang-orang Eropa mulai berdatangan dan masuk—East India Company, secara persisnya yang mana dengan segera kemudian mewujud menjadi suatu badan pemerintahan bagi India beserta seluruh masyarakat di dalamnya—negeri saya menjumpai akhir dari sebuah masa keemasan dan sekaligus awal dimulainya lebih dari seratusan tahun masa-masa yang penuh eksploitasi oleh kerajaan Inggris. Menjelang saat India menggapai kemerdekaannya di tahun 1947, peradaban kuno yang penuh sejarah ini telah menjelma menjadi, yang paling bagus, sebuah negeri “berkembang (developing).” Telah terdapat banyak sekali bencana kelaparan di India di bawah cengkeraman Inggris, dimana selama itu ada jutaan orang yang mati sia-sia. Dan selama itu juga, British India (India sebagai koloni kerajaan Inggris Raya -ed) telah dipaksa untuk mengekspor kopi, teh, beras, dan gandum.
DJ : Sama juga seperti hari ini.
AM : Dan banyak bencana kelaparan serta penderitaan terus berlanjut. Setelah India dapat memperoleh kemerdekaannya, kekuatan kekuasaan-kekuasaan di Barat sekali lagi menemukan sebuah jalan untuk dapat menjajah negeri tersebut, pertama melalui Bank Dunia (World Bank), dan sekarang ini melalui apa yang saya sebut sebagai “unholy trinity (trinitas atau tiga kesatuan yang busuk dan kotor -ed)” antara World Bank, International Monetary Fund (IMF), serta World Trade Organization (WTO). Negeri-negeri Dunia ke-Tiga telah—dan sedang—disuapi sejumlah pinjaman-pinjaman yang busuk dan kotor, pinjaman-pinjaman yang tidak pernah dan tidak sedang diinginkan oleh rakyat, pinjaman-pinjaman yang kita sama sekali tidak pernah diajak berunding atau berkonsultansi tentangnya, pinjaman-pinjaman untuk projek-projek, seperti bendungan-bendungan yang besar, yang pernah kita protes dan terus kita tentang. Pinjaman-pinjaman besar untuk projek atau program-program yang tidak populer telah dibuat serta ditetapkan bagi diktator-diktator yang dibekingi oleh pihak-pihak AS di Filipina, Indonesia, Uganda. Bank Dunia memberikan sejumlah pinjaman bagi Filipina untuk membangun sebuah reaktor nuklir di suatu area atau wilayah yang rentan akan aktivitas-aktivitas gempa bumi.
DJ : Apakah Idi Amin yang mencengkeram Uganda memang ditempatkan pada posisinya di sana oleh pihak Amerika Serikat?
AM : Lihatlah hal ini dengan cara seperti ini: Uganda mengadakan hutang-hutang yang harus ditanggungnya selama berkuasanya rezim Idi Amin. Apakah anda pikir jika pihak AS tidak memberikan persetujuan, maka pihak Bank Dunia akan begitu saja memberikan sejumlah besar pinjaman-pinjaman tersebut kepadanya? Dan meskipun pinjaman-pinjaman tersebut diberikan kepada seorang diktator yang brutal, rakyatlah yang telah dipaksa dan dikerahkan untuk dapat membayarkannya kembali, begitulah untuk kemudian berlanjut secara terus-menerus represi yang dilaksanakan oleh rezim Idi Amin bermula.
Di banyak wilayah negeri demi negeri, sejumlah dana telah disalurkan melalui pihak-pihak pemerintahan boneka dan mengalir kembali kepada pihak perusahaan korporasi-korporasi transnasional, kesemuanya dari jalan yang berliku ini adalah kaum masyarakat miskin yang membayarkannya kembali. Sementara itu, negeri-negeri yang miskin tersebut telah dan terus didorong serta dipaksa untuk memotong anggaran-anggaran pembiayaan bagi program-program kesehatan serta pendidikan mereka, memprivatisasi sektor pelayanan jasa, dan menebang habis lahan-lahan pekerjaan yang secara tradisional telah diisi serta dimiliki oleh kaum-kaum perempuan. Bidan dan perawat-perawat, guru-guru sekolah dasar: siapa yang membutuhkan mereka? Bersihkan dan buang mereka semua itu.
Dan mengapakah kita harus melakukan kesemua hal ini? Sebab kita harus melayani sebuah beban hutang yang pada dasarnya sama sekali tidak pernah menghasilkan sebuah bentuk atau hasil yang berbeda secara signifikan dalam hidup dan kehidupan yang dijalani hari demi hari oleh kita masyarakat kebanyakan, rakyat-rakyat kelas pekerja, orang-orang kelas menengah. Jika anda melakukan penghitungan tentang seberapa banyaknya uang yang telah diberikan sebagai sebuah pinjaman dan seberapa besar yang telah dialirkan keluar untuk membayarkan kembali pinjaman tersebut, anda akan segera mengerti mengapa saya menyatakan bahwa penjajahan atau kolonisasi terus berlanjut. Penggalian serta pengerukan besar-besaran akan seluruh sumber daya dari negeri-negeri tersebut telah, kesemuanya, terus bertambah. Dan kesemuanya selalu mengalir menuju kepada mereka yang kaya, negara-negara industri maju. Kita tidak hanya diharuskan untuk dapat membayarkan kembali pinjaman-pinjaman yang dibuat oleh rezim-rezim yang korup, kita juga harus membayar lebih banyak kembali untuk mereka. Dan pembayaran-pembayaran yang sangat berlebihan tersebut bukanlah dimulai di tahun 1950an. Pengerukan serta penghisapan ini telah berlangsung selama berabad-abad, melalui berbagai format dan bentuk dari penjajahan atau kolonisasi. Dan sekaranglah saatnya untuk dapat memberikan kesempatan bagi rakyat-rakyat di negeri-negeri Dunia ke-Tiga untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka secara adil. Sekaranglah saatnya bagi reparasi, menuntut ganti rugi, dan melakukan perbaikan-perbaikan struktural (reparations).
Filosofi atau pemikiran mendasar di balik tuntutan bagi reparasi ini adalah bahwa telah dinyatakan bahwa kita semua tidak lagi berposisi sebagai korban-korban yang tak berdaya, tetapi rakyat menuntut hak-hak kemanusiaan yang azazi dan mendasar milik kita sendiri, yang mana telah sedemikian terlalu lama dilanggar dan diperkosa. Dan ini adalah mengenai akuntabilitas atau pertanggungjawaban. Secara lebih meningkat, kita telah memulai untuk mendengarkan tentang tuntutan
pertanggungjawaban bagi para pemimpin negeri-negeri Dunia ke-Tiga, seperti halnya diktator Chili Augusto Pinochet, yang telah hampir dapat dihadapkan ke depan meja pengadilan di Spanyol. Kini saatnya bagi bentuk-bentuk pertanggungjawaban tersebut untuk dapat dibawa serta diajukan kepada pihak-pihak pemerintahan di negeri-negeri di Barat atas apa yang pernah dan telah mereka perbuat pada bentuk-bentuk peradaban serta kebudayaan-kebudayaan lainnya—serta juga pada masyarakat mereka sendiri. Kini saatnya untuk memberikan cobaan pada mereka kaum-kaum Kissingers dan McNamara dari AS.
DJ : Bertahun-tahun lalu, saya pernah menanyakan pada seorang anggota pemberontak pengikut Tupac Amaru tentang apa sesungguhnya yang diinginkan oleh kelompoknya bagi rakyat dan masyarakat di Peru. Jawaban yang diberikan olehnya kemudian telah menghantui saya semenjak itu: “Kami ingin untuk dapat secara mandiri menanam dan menumbuhkan serta mendistribusikan sumber-sumber pangan milik kami sendiri. Kami telah mengetahui bagaimana untuk mengerjakan hal itu. Jadi kami semata-mata menginginkan agar diperbolehkan untuk dapat mengerjakannya.” Dalam tiga kalimat pendek saja, dia menikam dan memotong hingga ke jantung kolonialisme atau penjajahan, ke jantung segala permasalahan yang sedang kita hadapi.
AM : Saya tidak dapat menyetujui lebih dari itu. Persoalan pangan adalah sekaligus bersifat personal dan juga politis. Pangan mengumpulkan serta menyatukan anggota-anggota keluarga dan kerabat-kerabat serta keseluruhan anggota komunitas; melintasi segala bentuk kultur atau budaya, festival-festival atau perayaan-perayaan yang digelar di sekitaran musim-musim panen raya adalah tentang sharing atau berbagi dan bentuk upaya penguatan sumber daya komunitas. Dan pangan juga bersifat politis: Revolusi Perancis sama sekali tidak digulirkan hanya dengan ideal atau cita-cita tentang liberty (kebebasan), freedom (kemerdekaan), dan egalitarianism (paham egaliter atau persamaan hak). Revolusi ini digulirkan atas fakta atau kenyataan bahwa di sana tidak ada cukup roti atau makanan di Paris.
DJ : Mereka bisa untuk selalu memakan kue.
AM : Atau hari ini, tanaman-tanaman tulip.
Selama lebih dari tiga dekade terakhir kita telah menyaksikan banyak protes-protes, pemberontakan-pemberontakan, kebangkitan-kebangkitan rakyat, serta usaha-usaha revolusioner melawan bentuk-bentuk kolonialisme atau penjajahan yang baru, dan usaha pergerakan-pergerakan rakyat ini sudah seringkali berpusat pada putaran persoalan pangan. Di tahun-tahun tujuhpuluhan, telah ada pemberontakan-pemberontakan di Peru disebabkan oleh ulah Bank Dunia yang menetapkan secara sepihak suatu tingkat kenaikan harga untuk produk roti. Di tahun 1990an, kaum Zapatista bangkit serentak dan protes-protes yang dilancarkan di Bolivia dipacu oleh sebab ketidaktersedianya bahan makanan serta usaha privatisasi sumber-sumber hajat kebutuhan mendasar bagi hidup dan penghidupan rakyat di sana. Hal yang sama juga benar terjadi di Pakistan dan India. Di tahun 1995, orang-orang dari pedesaan-pedesaan di Mexico menghentikan paksa kereta-kereta yang lewat untuk merampoknya—bukan demi emas atau harta, tetapi untuk mendapatkan jagung untuk makanan.
Ketika kita mengamati terus tumbuh dan meningkatnya ketidakpuasan di berbagai belahan dunia, kita akan menemukan bahwa banyak pemberontakan-pemberontakan sejatinya memiliki tuntutan-tuntutan yang sama sebangun: hak-hak azazi manusia yang paling mendasar untuk dapat secara mandiri mendapatkan sumber-sumber bahan pangan bagi dirinya. Hal inilah apa yang dituntut serta didambakan oleh pergerakan rakyat-rakyat tak bertanah di Brazil, dan juga oleh Poor People's Assembly (salah satu perkumpulan atau perserikatan rakyat miskin dan termarjinalkan -ed) di Thailand, dan juga Jose Bove—seorang petani dari Perancis yang mengemudikan dan menggulirkan traktor miliknya melintasi suatu ladang milik McDonald—serta para petani di India yang membakar paksa gedung bangunan milik perusahaan Cargill dan ladang-ladang percobaan tanaman rekayasa milik Monsanto, serta juga oleh sekumpulan para petani dan peladang kecil di AS. Grup-grup atau kelompok-kelompok rakyat ini bukanlah menginginkan suatu bentuk power atau kekuasaan atau juga kekayaan material. Mereka ini hanya mendambakan untuk mampu secara mandiri mendapatkan serta mengelola sumber-sumber bahan pangan bagi mereka sendiri beserta kerabat dan keluarga-keluarga mereka, dan untuk hidup dengan martabat mereka seutuhnya sebagai manusia.
DJ : Mengapa hal ini menjadi begitu penting bagi peradaban Barat—dan, terlebih saat-saat ini bagi kapitalisme—untuk terus menjajah dan mencerabut segala hak milik dari banyak orang-orang lainnya?
AM : Saya, sedemikian juga, bertanya-tanya sepanjang waktu tentang hal ini. Apakah hal ini memang disengaja? Apakah benar memang sudah sifat alamiah manusia untuk menjajah dan menimbulkan kerusakan dan malapetaka bagi kaum-kaum yang miskin dan lemah? Satu hal yang saya pahami: ketika si kaya dapat terus bertambah lebih kaya dan si miskin terus menjadi lebih miskin, dua hal ini sesungguhnya tidaklah terjadi di dalam sebuah ruang hampa. Si kaya menjadi lebih kaya atas pembiayaan yang dihisap dari mereka yang miskin dan lemah. Mekanisme ini terbangun dan bekerja di dalam lingkaran sistem kapitalis, di sekitar di mana sistem kemasyarakatan kita serta sistem perekonomian kita dikelola dan
Ketika si kaya dapat terus bertambah lebih kaya dan si miskin terus menjadi
lebih miskin, dua hal ini sesungguhnya tidaklah terjadi di dalam sebuah ruang
hampa. Si kaya menjadi lebih kaya atas pembiayaan yang dihisap dari mereka
yang miskin dan lemah.
diorganisasikan. Anda tahu ”golden rule (hukum atau aturan suci)” dari kapitalisme: siapapun yang memiliki kekayaan (golden) dialah yang akan membuat dan memimpin rangkaian aturan atau hukum (rules). Sistem ini menghasilkan keserakahan serta menghilangkan sama sekali bentuk-bentuk pertanggungjawaban pada mereka pihak-pihak CEO-CEO, para investor, dan perusahaan korporasi-korporasi transnasional.
Persoalan pangan adalah sekaligus bersifat personal dan juga politis.
Ini sama sekali bukanlah sebuah hasil dari perkembangan sifat alamiah manusia. Atau bukan juga merupakan sesuatu yang dapat terjadi begitu saja. Ini adalah satu persoalan kekuasaan yang diadakan atau telah dipergunakan dengan tanpa adanya keprihatinan dalam hal sosial, politik, atau juga perhatian pada lingkungan hidup. Ini adalah suatu bentuk eksploitasi terang-terangan atas kaum yang miskin dan lemah yang telah disusun atau direncanakan oleh mereka pihak-pihak yang berdiri untuk mengeruk keuntungan besar-besaran dari situasi ini. Dan semua ini telah sedemikian melekat serta mendarah-daging jauh di dalam kehidupan bermasyarakat kita, sebab tentu saja mereka para pemegang kekuasaan itu telah membangun suatu struktur perekonomian serta pemerintahan untuk dapat terus menjaga dan mendukungnya.
DJ : Nampaknya memang sudah jelas sekali bahwa akses atas ketersediaan akan tanah atau lahan garapan adalah pokok persoalan bagi kesemua yang sedang kita perbincangkan ini. Jauhkan rakyat atau orang-orang dari akses terhadap lahan itu, dan anda akan menjauhkan mereka dari kemampuan untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka sendiri secara mandiri. Jauhkan mereka dari kemandirian, dan maka anda akan segera dapat memaksa mereka semua untuk terus tunduk bekerja di dalam pabrik-pabrik bagi perusahaan anda.
AM : Para elit tersebut telah membuat satu kesalahan besar dan fatal ketika mereka mencabut segala kepemilikan hak bagi rakyat-rakyat miskin yang bekerja untuk kehidupan mereka. Mereka seolah mempercayai bahwa pencabutan serta penghilangan hak kepemilikan tersebut secara lebih jauh akan dapat membunuh semangat serta harapan yang dimiliki oleh rakyat serta orang-orang yang miskin dan termarjinalkan. Tetapi tentu saja bahwa mereka rakyat serta orang-orang yang miskin dan termarjinalkan ini sesungguhnya adalah barisan orang-orang yang marah. Bayangkan tentang keberanian serta segala keteguhan hati yang dimiliki oleh rakyat miskin ini yang terus berusaha untuk dapat merebut kembali (reclaim) dan menduduki (occupy) tanah serta lahan-lahan yang sebelumnya telah dicuri dari kehidupan mereka oleh pihak-pihak yang kaya dan berkuasa, bahkan ketika dihadapkan pada bentuk-bentuk represi atau tekanan-tekanan yang keras dan
brutal dari pasukan-pasukan pengamanan swasta atau yang diorganisir oleh pihak-pihak pribadi tertentu serta dari kekuatan pasukan-pasukan kepolisian negara dan pasukan-pasukan pembunuh. Kita kerap menyebut mereka sebagai “kaum tak bertanah (the landless),” namun merekalah sesungguhnya yang memiliki dan bergelut dengan tanah di bumi ini di sela-sela retakan tumit-tumit kakinya yang telanjang dan di bawah kuku-kuku di setiap jari-jemari mereka yang kokoh. Bau yang meruap dari tubuh-tubuh mereka adalah aroma tanah, dan darah mereka rela membasahi serta membasuh bumi ini, sesuatu yang mereka rela untuk mati terbunuh demi membelanya. Lihatlah mereka dan katakan sejujurnya pada saya siapakah yang sesungguhnya memiliki satu hak untuk mengelola dan memelihara tanah di bumi ini.
Apa yang menopang komunitas-komunitas ini untuk dapat terus bertahan ketika dihadapkan secara langsung pada represi adalah kenyataan bahwa mereka memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dapat dihilangkan serta dikalahkan. Ketika anda telah mengalami pukulan-pukulan hebat berkali-kali, disiksa secara keji, dan terpaksa menyaksikan dengan mata kepala anda sendiri orang-orang yang anda cintai dan sayangi dibunuh di depan anda, maka hanya ada satu hal yang harus anda lakukan: terus melawan (fight back).
DJ : Nampaknya mereka para kapitalis itu sudah seharusnya melakukan sesuatu yang lebih baik, mengikuti sesuatu yang disarankan dari satu sajak Juvenal dari Romawi, dan mau memberikan kepada kumpulan-kumpulan massa ini “roti dan hiburan-hiburan (bread and circusses).” Pembagian hadiah-hadiah (handouts) secara terbuka membutuhkan biaya dan pengorbanan yang jauh lebih sedikit dibandingkan pengerahan represi dan ketakutan massal. Saya teringat beberapa tahun yang lalu membaca sesuatu bahwa pihak AS mengeluarkan lima puluh ribu dolar untuk setiap orang Vietnam yang dapat dibunuh dalam perang tersebut. Sempat terpikir oleh saya, meskipun saat itu saya hanyalah seorang anak kecil, bahwa sebenarnya akan menjadi jauh lebih murah—tanpa menyebutkan bahwa jelas juga akan lebih manusiawi—untuk dapat memberikan kepada orang-orang Vietnam itu sepersepuluh dari uang tersebut sembari mengatakan, “Mari jadilah teman kami.” Banyak sekali dari represi, kekerasan, serta penindasan ini yang bukan hanya keji dan kejam tetapi juga bodoh dan tak masuk akal.
AM : Kemungkinan jika mereka yang mengaku sebagai para pemimpin itu berkehendak untuk melakukan apa yang anda katakan tadi serta memastikan bahwa orang-orang akan memiliki atap- atap yang mampu menaungi kepala-kepala mereka dan makanan-makanan layak di atas meja makan mereka dan
juga pelayanan perawatan kesehatan serta kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, maka kemudian kita akan mendapatkan lebih banyak kedamaian di komunitas-komunitas masyarakat kita. Akan tetapi yang terjadi adalah bahwa segala struktur sosial dan politik yang ada hari ini memang dibangun di atas pondasi penjajahan serta eksploitasi yang telah berusia sangat tua dan telah dimulai semenjak berabad-abad yang lampau. Nafsu rakus serta keserakahan untuk mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi telah membawa mereka yang bergelimang kekuasaan untuk mengambil jalan yang berbeda jauh di masa lalu. Penjajahan serta eksploitasi telah dan terus berlangsung untuk waktu yang sedemikian lama sehingga bahwa kebaikan hati serta kebajikan dari para diktator sudah tidak lagi dapat diharapkan atau diterima dengan senang hati.
Saya pikir kita jelas telah mungkin kehilangan kesempatan. Kita memiliki satu sistem perekonomian yang berbasiskan pada keserakahan, pencurian, ketiadaan tanggung jawab, eksploitasi dan penghisapan, kolonisasi atau penjajahan, rasisme, homofobia, seksisme. Sistem ini telah menghasilkan kerusakan serta penghancuran yang betul-betul hebat pada jiwa kehidupan bermasyarakat kita. Saya tahu bahwa ini mungkin akan terdengar seperti sebuah ocehan klise, namun revolusi adalah benar-benar suatu jawaban bagi semua ini. Dan revolusi ini akan mengambil ribuan pola serta bentuknya, dari kebangkitan kaum-kaum Zapatista hingga ribuan orang-orang yang terus melakukan perlawanan menentang Pertemuan G-8 (G-8 Summit) di Genoa, Italia. Ini semuanya adalah revolusi. Revolusi mengambil tempat serta bentuknya bukan hanya di luaran sana, tetapi juga di dalam hati dan pemikiran-pemikiran di kepala-kepala kita, dimana semua hal ini akan merubah bagaimana kita akan menjalankan hidup dan penghidupan kita hari demi hari.
Setiap para aktivis juga harus berurusan dan berhadap-hadapan dengan segala kepentingan-kepentingan kekuasaan di dalam negeri-negeri mereka sendiri. Pergerakan para petani di India bukan hanya akan menantang para agen-agen yang secara jelas dan nyata merupakan bandit-bandit kolonialisme—Monsanto, Cargill, dan yang lainnya—tetapi juga secara keseluruhan tatanan masyarakat India, terutama mereka kelas menengah serta elit-elitnya. Perjuangan-perjuangan pergerakan rakyat di Filipina bukan hanya melawan kekuatan agen-agen Amerika, namun juga perjuangan-perjuangan berhadap-hadapan antara orang-orang Filipina sendiri. Perjuangan-perjuangan yang jauh lebih luas lagi bukan hanya semata antara negara-negara yang telah termiskinkan di Selatan dengan negara-negara yang lebih makmur dan kaya, negara-negara terindustrialisasi di Utara, sebab selalu ada orang-orang dari Selatan yang tinggal dan hidup di Utara, dan begitu juga sebaliknya. Ada terdapat 44 juta warga Amerika yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan. Satu dari lima anak-anak warga Amerika tumbuh dewasa dalam kubangan kemiskinan. Secara serupa juga, banyak terdapat para elit-elit di India yang memiliki kesempatan gaya hidup yang serupa dengan yang biasa dijalani oleh Bill Gates dibanding dengan gaya hidup yang anda dan saya akan pernah jalani.
DJ : Beberapa tahun yang lalu, satu keluarga petani pernah mengatakan pada saya, “Cargill memberikan pada saya dua pilihan: apakah saya bisa memotong tenggorokan saya sendiri, ataukah mereka yang akan melakukannya pada saya.” Hal yang sama bisa dikatakan juga oleh banyak petani-petani yang tersebar di berbagai negeri-negeri lainnya.
AM : Di sebelah selatan India, anda dapat pergi ke desa-desa terpencil dan tidak akan menemukan seorang petani yang masih memiliki sepasang ginjal: mereka semua telah terpaksa menjual satu ginjal mereka untuk dapat memberi makan keluarga mereka. Dan di sana juga terdapat laporan-laporan bahwa banyak para petani yang merenggut nyawa mereka sendiri dengan cara mengkonsumsi pestisida-pestisida yang sama, racun-racun yang sama, yang telah dianjurkan untuk digunakan di ladang-ladang mereka. Mereka menggunakan “anugerah pemberian (gift)” dari sistem pertanian industrial (industrial agriculture) ini, yang telah membebani mereka dengan sedemikian banyak uang yang dibutuhkan dan juga sebegitu besar harapan-harapan sebelumnya, untuk mengakhiri hidup mereka sendiri.
Di AS, para petani membunuh diri mereka sendiri dan mencoba untuk membuat hal ini terlihat dan terkesan seperti sebuah kecelakaan sehingga keluarga-keluarga mereka akan bisa mendapatkan uang dari perusahaan-perusahaan asuransi jiwa. Terus tertekan oleh beban pekerjaan mereka dan tidak mampu untuk mendapatkan satu nafkah penghidupan yang lebih layak, mereka melihat tidak ada jalan lain untuk dapat keluar dari situ.
Segala struktur sosial dan politik yang ada hari ini memang dibangun di atas pondasi
penjajahan serta eksploitasi yang telah berusia sangat tua dan telah dimulai
semenjak berabad-abad yang lampau.
Dalam World Food Summit (pertemuan negara-negara di dunia untuk membahas tentang pangan -ed) di tahun 1996, Dan Glickman, yang kemudian menjadi kepala pada United States Department of Agriculture (USDA, Kementerian Pertanian Amerika Serikat), memberikan klaim atau pernyataan bahwa para petani-petani di AS akan memberikan makan pada dunia (feed the world). Dia tidak mengatakan pada semua yang hadir dalam forum pertemuan tersebut bahwa dalam beberapa poling-poling pemungutan suara serta sensus-sensus kependudukan yang terakhir dilakukan, ruang kategori bagi “petani (farmer)” sebagai suatu bentuk profesi pekerjaan telah dihilangkan. Berdasarkan pada data dari US Census Bureau (Biro atau Badan Sensus dan Kependudukan Nasional AS), petani-petani itu bukannya terancam punah (endangered); melainkan bahwa mereka telah melenyap (extinct), mati. Ketika Glickman sibuk berbicara mengenai para petani, secara bersungguh-sungguh bahwa yang dimaksudkannya adalah korporasi-korporasi semacam Cargill dan Archer Daniels Midland—mereka-mereka yang sok mengecap atau melabeli diri
mereka sendiri sebagai “Supermarket bagi Dunia (Supermarket to the World).” (Atau, sebagaimana saya mengistilahkannya, Super-mark-up to the World). Mereka ini sama sekali bukanlah petani-petani AS. Mereka adalah kelompok bandit-bandit perusahaan-perusahaan korporasi bisnis mafia pertanian (agribusiness).
Bahwa pengaplikasian Revolusi Hijau sama sekali tidaklah mengurangi
tingkat kelaparan.
DJ : Akan tetapi bukankah mereka ini pihak-pihak yang membawakan kepada kita sesuatu yang kita sebut Revolusi Hijau (Green Revolution), yang telah berhasil memperbaiki kualitas serta meningkatkan hasil panenan pada pertanian-pertanian gandum dan maka dari itu telah menyelamatkan jutaan jiwa?
AM : Ini adalah salah satu dari mitos-mitos besar yang sebenarnya hanyalah omong- kosong. Ketika saya menyebutkan bahwa India pernah mengalami satu surplus produksi padi atau biji-bijian, orang-orang seringkali mengatakan pada saya bahwa Revolusi Hijau-lah—yang mana berbasiskan pada penggunaan obat-obatan penyubur tanaman serta pestisida-pestisida kimiawi—yang bertanggung jawab bagi pencapaian tersebut. Tetapi sebenarnya kita harus memeriksa dan mengupas kembali klaim atau pernyataan-pernyataan seperti ini secara lebih dekat dan lebih teliti.
Dari tahun 1970 hingga 1990, dua masa sepuluh tahunan (dekade) yang terutama atas proyek Revolusi Hijau, total bahan pangan yang tersedia per orang di dunia telah meningkat sebesar 11 persen. Sejauh ini adalah benar. Pada saat yang bersamaan, perkiraan angka jumlah penduduk yang kelaparan turun sebesar lebih dari 150 juta. Sehingga anda kemungkinan akan berpikir bahwa memang terdapat korelasi atau keterhubungan antara peningkatan jumlah ketersediaan pangan berkaitan dengan pengaplikasian proyek Revolusi Hijau dengan menurunnya jumlah angka kelaparan. Namun jika anda menghilangkan China dari analisis tersebut, jumlah angka kelaparan di dunia secara fakta dan sebenar-benarnya telah mengalami peningkatan sebesar 60 juta. Dan di sini bukanlah pertumbuhan populasi yang menyebabkan lebih banyak lagi orang-orang yang kelaparan ini. Ingat, total jumlah ketersediaan makanan per orang mengalami peningkatan di mana-mana. Apa yang telah menciptakan lebih banyak kelaparan adalah ketiadaan perbaikan pembagian tanah (land reform) serta ketersediaan lapangan kerja dengan upah-upah yang layak untuk dapat hidup secara layak. Perubahan yang luar biasa di China, dimana jumlah penduduk yang kelaparan sebelumnya adalah lebih banyak dibandingkan jika dipangkas separuhnya, adalah merupakan hasil dari
| dibandingkan | jika | dipangkas | separuhnya, | adalah | merupakan | hasil | dari | harga $ 8.5 milyar; Monsanto telah membelanjakan lebih dari $ 7 milyar untuk | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| diberlakukannya reformasi pertanahan atau agraria yang berbasiskan pada bentuk | perusahaan-perusahaan | kimia | |||||||
| perluasan meningkatkan serta memperbaiki tingkat-tingkat standar kehidupan yang layak. Ini | lahan | (broad-based | land | yang | mana | telah mampu | transnasional tersebut sedang berusaha untuk mencoba mendapatkan kontrol atas sistem pangan dunia lebih dari yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. | ||
| 28 | 29 |
reforms),
adalah suatu fakta kebenaran yang hanya sedikit diketahui berkenaan dengan Revolusi Hijau. Ya, jumlah produksi bahan pangan telah mengalami peningkatan, tetapi apakah lantas hal ini kemudian benar-benar memiliki suatu dampak atau pengaruh yang kuat dan berarti untuk mengatasi permasalahan kelaparan di dunia? Sama sekali tidak.
Kita juga harus melakukan pemeriksaan tentang biaya-biaya atau harga kerusakan lingkungan hidup yang harus ditanggung atas pengaplikasian proyek-proyek Revolusi Hijau. Penggunaan insektisida atau obat-obatan pembasmi hama (pesticides) serta pupuk atau obat-obatan kimiawi penyubur tanaman (fertilizers) telah mengakibatkan hilangnya hampir seperempat dari lapisan tanah paling atas (topsoil) yang subur pada lahan-lahan pertanian di AS, dan komunitas-komunitas pertanian di sepanjang lintasan bumi ini telah menjadi sedemikian dihancurkan atas terjadinya proses salinisasi (salinization) atau meningkatnya jumlah kadar garam dalam kandungan tanah, pengurasan sumber-sumber serta kandungan air (waterlogging), dan juga perkembangan hama-hama tanaman (pests) yang telah mengembangkan suatu bentuk resistensi atau memiliki suatu daya kekebalan terhadap pestisida kimiawi. Saya yakin bahwa sekitar separuh dari kumpulan-kumpulan hama-hama tanaman di AS telah memiliki sistem resistensi atau kekebalan tubuhnya, dan mereka telah menyebabkan kerusakan serta kerugian sekitar $ 2 milyar setiap tahunnya.
Garis bawahnya adalah bahwa pengaplikasian Revolusi Hijau sama sekali tidaklah mengurangi tingkat kelaparan. Malahan proyek ini telah memperbesar serta memperluas tingkat degradasi atau penurunan nilai kualitas tanah dan lingkungan, dan juga telah meningkatkan ongkos produksi yang harus ditanggung oleh para petani yang saat sekarang ini kemudian menjadi sangat tergantung pada persediaan serta penggunaan obat-obatan pestisida dan pupuk atau obat-obatan penyubur kimiawi. Revolusi Hijau telah menggemakan satu lonceng kematian yang secara perlahan terus menghantui serta menggerogoti hidup dan penghidupan keluarga-keluarga petani, lingkungan hidup, dan seluruh komunitas-komunitas di seluruh penjuru bumi.
DJ : Dan kemudian sekarang ini telah ada sebuah usaha untuk memulai kembali proyek Revolusi Hijau untuk yang ke dua kalinya dengan berbasiskan pada percobaan-percobaan serta isu-isu di sekitar GMOs.
AM : Perusahaan-perusahaan yang sama yang telah mengeruk banyak keuntungan dari Revolusi Hijau sekarang sedang mempromosikan serta memasarkan teknik-teknik rekayasa genetika (genetic engineering). Mereka menyadari bahwa bibit atau benih (seed) adalah merupakan mata rantai yang terpenting dalam jalinan rantai makanan (food chain) di dunia. Bahwa siapapun yang dapat mengontrol benih maka secara abolut akan memiliki kontrol atas sistem pangan. Dengan teknik-teknik rekayasa genetika, mereka sekarang mampu mendapatkan hak paten atas benih-benih hasil rekayasa tersebut. DuPont melakukan pembelian atas Pioneer Hybrid, satu perusahaan pembenihan atau pembibitan yang besar dan terkenal, dengan harga $ 8.5 milyar; Monsanto telah membelanjakan lebih dari $ 7 milyar untuk pembenihan. Perusahaan-perusahaan
Bahwa bibit atau benih adalah mata rantai yang terpenting dalam jalinan rantai makanan di dunia.
Bahwa siapapun yang dapat mengontrol benih maka secara abolut akan memiliki kontrol atas
sistem pangan.
DJ : Dan satu dari sekian jalan yang digunakan perusahaan-perusahaan kimia tersebut untuk dapat mengusahakan kontrol atas benih-benih di dunia ini adalah melalui pengaplikasian teknologi-teknologi seperti Terminator, benar?
AM : Ya, benih-benih Terminator merupakan suatu jenis benih yang telah dimodifikasi secara genetis bukan untuk tujuan reproduksi. Tanaman-tanaman mereka menjadi mandul (sterile) serta tidak menghasilkan benih-benih yang memiliki kemampuan untuk dapat terus tumbuh untuk melanjutkan kehidupannya, yang mana ini berarti bahwa para petani yang menggunakan produk tanaman-tanaman hasil modifikasi tersebut akan harus membeli lebih banyak lagi benih-benih yang baru pada tahun tanam berikutnya. Maka seluruh tradisi pertahanan pangan yang telah berusia ribuan tahun dimana lebih dari milyaran petani di seluruh dunia terus menjaga, membangunnya serta menggantungkan diri padanya—dengan cara menabung atau menyimpan sebagian benih-benih terbaik dari setiap hasil panenan mereka untuk dapat digunakan sebagai bibit-bibit yang baru bagi setiap musim-musim tanam selanjutnya—secara tiba-tiba saja diingkari serta dicabut dan dienyahkan begitu saja dari mereka. Saya masih saja berusaha untuk dapat memahami bagaimana perusahaan-perusahaan tersebut dapat berpura-pura dan menganggap bahwa hal ini dapat memberikan keuntungan bagi para petani di negeri-negeri Dunia ke-Tiga. Kenyataan bahwa mereka-mereka yang berkuasa tersebut dapat melakukan kontrol terhadap alam hingga pada tingkatan bahwa merekalah yang menentukan apakah sebutir biji-bijian akan menjadi subur ataukah tidak adalah sungguh merupakan suatu bentuk kecongkakan. Kesemuanya ini secara etis, ekonomis, sosial, serta secara politis adalah suatu kesalahan, dan pastinya tak akan ada jalan untuk dapat meneruskan sistem kehidupan seperti ini.
DJ : Bukankah Terminator ini telah dicekal dan banyak dilarang saat ini untuk penggunaan komersial?
AM : Berhadapan dengan seluruh oposisi dari dunia luas, penggunaan secara komersial Terminator ini telah mendapatkan cekalan serta pelarangan-pelarangan sementara riset atau penelitian-penelitian lebih lanjut terus dilakukan terhadapnya. Baru-baru ini, pihak USDA telah melisensikan teknologi Terminator kepada partner mereka di bidang industri pembenihan, Delta and Pine Land (D&PL). Sebagai hasil dari riset yang mereka kerjakan secara bersama, USDA dan D&PL kemudian
sekarang ini adalah merupakan pemilik bersama (co-owners) atas tiga buah paten atau hak cipta teknologi kontroversial ini. Meski banyak raksasa-raksasa perusahaan kimiawi yang juga telah memegang paten-paten atas penggunaan teknologi Terminator D&PL adalah merupakan satu-satunya perusahaan yang telah menyatakan kepada publik tentang maksud atau tujuan mereka untuk dapat menjual benih-benih Terminator secara komersial. Teknologi ini telah mendapatkan kutukan secara menyeluruh oleh masyarakat sipil di seluruh penjuru dunia, dicekal serta dilarang penggunaannya oleh banyak pusat-pusat riset dan penelitian pertanian dari banyak institut-institut internasional, mendapatkan kecaman dari badan-badan di PBB, dan bahkan dihindari oleh perusahaan seperti Monsanto—dimana pemerintah AS telah dan masih secara resmi melisensikannya sebagai salah satu dari perusahaan-perusahaan pembenihan terbesar di dunia.
Teknik rekayasa genetika juga telah menghasilkan produksi teknologi Traitor, yang merupakan jenis-jenis benih yang mana karakteristik-karakteristik istimewa yang dikandung di dalamnya—seperti kemampuannya untuk memiliki resistensi atau daya tahan yang lebih terhadap serangan hama-hama tanaman, atau bahkan mampu bertahan hidup di musim kering—dapat diaktifkan (turned on) ataupun dijadikan pasif (turned off) dengan penggunaan hanya bahan-bahan kimiawi tertentu yang telah diproduksi, tentu saja, oleh perusahaan yang sama yang telah memiliki paten atas benih-benih tersebut. Para promotor atau pendukung bioteknologi mengklaim bahwa teknologi ini akan banyak membantu kaum miskin dan mereka yang lapar, tetapi saya malahan bertanya-tanya bagaimana hal ini akan dapat memberikan hasil keuntungan bagi seseorang selain kepada mereka para pemilik perusahaan-perusahaan kimia itu sendiri.
DJ : Bagaimana bisa seorang petani dapat didorong untuk menggunakan benih-benih tersebut? Secara dapat dipastikan bahwa nampaknya teknologi tersebut bukanlah merupakan kebutuhan-kebutuhan terpenting bagi mereka.
AM : Sejumlah besar para petani di seluruh dunia telah dibujuk dan dirayu oleh janji- janji akan peningkatan jumlah hasil produksi serta biaya-biaya produksi yang lebih rendah. Mesin-mesin media milik korporasi-korporasi tersebut telah menjual ide gila ini kepada para petani dan juga kepada pihak-pihak pembuat kebijakan. Namun banyak dari para petani tersebut sebenarnya tidaklah diberikan pilihan satupun tentang apakah dia akan dapat terus menanam dan menumbuhkan hasil panenan tanaman-tanaman yang telah d i r e k a y a s a s e c a r a g e n e t i s. B e b e r a p a d a r i m e r e k a melakukannya bahkan dengan tanpa maksud untuk sengaja menanamnya. Percy Schneider, seorang petani di Kanada, telah terpaksa dihadapkan pada suatu perkara hukum berhadapan dengan Monsanto sebab para penyelidik yang telah disewa dan dibayar oleh pihak perusahaan itu telah menemukan bukti keberadaan jenis benih yang telah mereka patenkan
tumbuh di ladangnya. Nah sekarang, sebenarnya bagaimana benih tersebut bisa tiba-tiba berada di sana? Dia sama sekali tidak secara sengaja menanam serta menumbuhkannya. Kehadirannya adalah merupakan suatu hasil dari polusi genetika (genetic pollution) dari suatu ladang yang saling bertetangga di sekitar ladang miliknya. Karena beberapa tanaman telah terpolinasi atau mengalami penyerbukan secara alamiah oleh hembusan angin dan yang lainnya oleh aktivitas dari serangga-serangga di sekitar ladang, maka ini sama sekali tak dapat sepenuhnya ditahan atau dihindari kehadirannya.
DJ : Lebah-lebah madu telah banyak dikenal atas kemampuan atau kebiasaannya untuk terus terbang lusinan mil jauhnya.
AM : Katakan bahwa anda ingin menjadi seorang petani organik. Jika ada seorang tetangga anda, atau bahkan seseorang siapapun yang berada bermil-mil jauhnya, telah menggunakan benih-benih hasil rekayasa genetika, tanaman-tanaman tersebut dapat saling mengalami penyerbukan silang (cross-pollinate) dengan tanaman-tanaman milik anda. Dan sebenarnya ada juga hal lain yang perlu diperhatikan, secara serius. Sebagai contoh, para petani organik telah lama menggunakan Bacillus thuringiensis (Bt), suatu jenis toksin atau racun serangga yang telah tersedia secara natural atau alamiah, sebagai satu bahan pestisida alami, namun para ahli teknik rekayasa genetika telah memodifikasi dengan menyambungkan Bt ke dalam tanaman kapas, kentang, serta tanaman-tanaman lainnya. Penggunaan secara berlebihan atas bahan ini secara cepat akan menghasilkan daya resistensi atau kekebalan di tubuh serangga-serangga akan efek toksin Bt, dan kemudian jelas akan memaksa para petani organik tersebut untuk terjerembab pada situasi penggunaan toksin atau racun-racun kimiawi bagi serangga secara populer dan besar-besaran di mana-mana.
DJ : Bagaimana kita akan membawakan hal tentang revolusi yang sedang anda perbincangkan ini?
AM : Revolusi jelas telah dimulai. Kita menyaksikannya di sekitar kita. Revolusi ini bersifat sangat multikultural, lintas budaya, dan memiliki energi serta hasrat yang besar dari para pemuda-pemudi dan juga spirit atau semangat yang kuat dari kaum-kaum pekerja yang telah dimiskinkan serta termarjinalkan. Bayangkan tentang aksi-aksi protes yang terjadi pada pertemuan World Trade Organization (WTO) di Seattle. Pertarungan yang terjadi di sana sama sekali bukanlah antara negara-negara industrial besar (industrialized nations) di belahan Utara dengan negara-negara yang kita sering menyebutkannya sebagai negara-negara berkembang (developing nations) di belahan Selatan. Para kaum muda dari negara-negara Utara keluar turun ke jalan-jalan—kesemua wajah-wajah muda-mudi yang sangat indah dan bersemangat itu—sementara mereka para pemimpin-pemimpin dari negara-negara Selatan sedang berjalan keluar dari ruang-ruang pertemuan, mengatakan, “Situasi ini sama sekali tidak cukup bagus.”
Revolusi ini telah dibangun melalui berbagai pengorganisiran-pengorganisiran lintas perbatasan, membentuk lintasan-lntasan mata-rantainya antara isu-isu lokal serta persoalan-persoalan global, dan bekerja mencari sebuah bentuk keterhubungan antara “program-program penyesuaian struktural (structural adjustment programs)” di negeri-negeri Dunia ke-Tiga dengan kebijakan perbaikan kesejahteraan (welfare reform)—atau sederhananya program-program perekonomian pada umumnya—di AS.
Kita butuh untuk dapat terus memupuk serta memelihara revolusi ini di dalam setiap pemikiran serta jiwa kita. Kita harus dapat terus menopang serta meneruskan
revolusi ini dengan segenap keteguhan hati bahwa kita tidak akan butuh untuk terus sibuk bertanya-tanya tentang apakah kita memang dan dapat untuk berbicara atau menyatakan sesuatu. Justru secara lebih jauh kita akan mengusahakan untuk terus menuntut serta memastikan bahwa suara-suara kita memang akan dapat terdengar. Dan kita akan memungkinkan kesemuanya ini dengan suatu pengetahuan serta pemahaman bahwa semua medan yang ada adalah merupakan ladang-ladang garapan kita, dan semua tanah di bumi ini adalah satu harta warisan pusaka yang harus terus kita jaga.
Justru secara lebih jauh kita akan mengusahakan untuk
terus menuntut serta memastikan bahwa suara-suara kita memang
akan dapat terdengar.
Revolusi ini menyatakan serta mengakui bahwa akses atas sumber-sumber pangan, air, perawatan kesehatan, pendidikan—setiap kebutuhan mendasar bagi kehidupan—sebagai sebuah hak azazi bagi manusia, dan bukan semata-mata sebuah kebutuhan. Sebab jika memang hal ini hanya merupakan suatu kebutuhan belaka, semua ini bisa saja disediakan oleh sebuah korporasi. Namun sebagai sebuah hak bagi manusia dan kemanusiaan, tentu saja semua ini sama sekali tidaklah dapat untuk diperjualbelikan oleh siapapun. Revolusi ini tidak memiliki ketergantungan pada kebaikan hati dari para diktator melainkan mendapatkan legitimasinya dari para pejuang-pejuangnya: kaum-kaum tak bertanah (the landless) serta seluruh bagian masyarakat yang tercuri dan tercerabut dari hak-hak kepemilikannya atas kehidupan (the dispossessed). Revolusi ini bersifat tidak mengedepankan kekerasan (nonviolent) dan berdasar pada kebenaran: bahwa tanah di bumi ini adalah milik seluruh kaum-kaum tak bertanah, dan harus diberikan hak pengelolaannya pada keluarga kecil para petani-petani penggarap—yang kesemuanya ini adalah merupakan pengelola sekaligus pelayan yang terbaik atas tanah di bumi ini—serta seluruh sumber-sumber daya alami yang terkandung di dalam tanah adalah hak milik bagi seluruh anggota kelompok atau komunitas-komunitas lokal yang tinggal dan hidup di sekitarnya. Dan revolusi ini sama sekali tidak dibedakan antara persalan-persoalan hak sipil dan hak-hak ekonomis, sosial, serta hak-hak kultural. Revolusi ini mengakui bahwa tanah dan kebebasan, aktivitas-aktivitas pekerjaan serta keadilan hukum dapat berjalan bersandingan bersama-sama. Kemerdekaan dari ketiadaan akses atas kebutuhan mendasar adalah sama pentingnya dengan kemerdekaan dari rasa takut.
Kesuksesan atas keseluruhan pergerakan rakyat ini sama sekali tergantung pada sikap kita semuanya. Saya mempunyai satu pesan bagi semuanya: mari bergabung dan biarkan dirimu terlibat langsung di dalamnya. Kesemuanya ini tidaklah harus berada pada satu level atau tingkat pembuatan kebijakan (pemerintahan -ed) dari nun jauh di Washington DC. Anda juga tidak harus begitu saja mengubah gaya serta kebiasaan hidup anda sehari-hari atau juga berhenti dari pekerjaan-pekerjaan harian anda. Anda sebaiknya bisa memilih suatu keterlibatan diri di dalam komunitas atau kelompok-kelompok, seperti misalnya pada pengelolaan asosiasi atau perkumpulan penyediaan tempat atau rumah-rumah tinggal di tingkatan lokal bagi tunawisma, atau juga pada pengelolaan suatu bank pangan (food bank) yang akan mengelola serta mendistribusikan ketersediaan pangan pada tingkatan komunitas lokal secara murah atau juga gratis. Anda bisa juga membuat pelaporan-pelaporan atau menuliskan opini-opini anda pada Congressional Representative (DPR, Perwakilan di Parlemen -ed). Tetapi ingatlah untuk benar-benar berusaha untuk terus terlibat dan berpartisipasi. Semua bentuk perubahan sejatinya selalu bermula pada tingkatan lokal setempat. Jika kekuasaan (power) tidak dapat diperjuangkan untuk dapat direbut kembali di sana, maka tak akan pernah terjadi satu perubahan apapun pada tingkatan nasional atau internasional.
Setiap sosok pribadi manusia memiliki bentuk kekuatan-kekuatan dalam jumlahnya yang menakjubkan dan beragam yang datang dari dimilikinya hak-hak azazi kemanusiaan. Jadi, mari kita didik diri kita sendiri semuanya tentang hak-hak kita ini: hak untuk berkumpul dan berserikat, hak untuk mendapatkan suatu pekerjaan yang baik dan layak, hak untuk dapat memberikan makan serta menghidupi anggota-anggota keluarga kita. Keseluruhan hak-hak ini tidaklah tergantung pada segala tingkah laku dan khayalan atau angan-angan serta selera-selera moral dari para pemilik korporasi-korporasi atau juga presiden-presiden. Tetapi kesemuanya ini tergantung pada usaha yang benar-benar dari keseluruhan individu-individu untuk terus menuntut serta menggerakkan demokrasi yang sejati. Dan hal tersebut mengajukan persyaratan bahwa kita harus turun dan terlibat langsung. Hak-hak azazi manusia sama sekali tidak akan pernah didapat dan dimenangkan tanpa sebuah usaha untuk terus memperjuangkannya.
“Kami ingin untuk dapat secara mandiri menanam dan menumbuhkan serta
mendistribusikan sumber-sumber pangan milik kami sendiri. Kami telah mengetahui
bagaimana untuk mengerjakan hal itu. Jadi kami semata-mata menginginkan agar
d i p e r b o l e h k a n u n t u k d a p a t
mengerjakannya.”