PEMBERONTAKAN NOVEMBER 1926
PEMBERONTAKAN NASIONAL PERTAMA
DI INDONESIA (1926)
☆
Disusun oleh Lembaga Sedjarah PKI
Jajasan Pembaruau" Djakarta 1961
lon
PEMBERONTAKAN NASIONAL PERTAMA DI INDONESIA (1926)
Manusia membuat sedjarahnja sendiri, tetapi mereka tak dapat membuat menurut sekehendaknja, mereka tak dapat membuat dibawah sjarat² jang dipilihnja, tetapi dibawah sjarat2 jang langsung terdapat, di- sediakan dan diwariskan dari masa silam. Karl Marx
Kuntjoyono Penjerbuan Rumah Pendjara Glodok, Djakarta
PRAKATA
Pemberontakan Nasional Pertama jang terdjadi pada tahun 1926 hingga kini sudah genap 35 tahun, namun setiap kali kita memperingatinja makin terasa pada kita betapa masih sedikitnja kedjadian nasional jang sangat penting, serta mempunjai pengaruh jang sangat besar terhadap gerakan nasional diungkapkan setjara luas. Lembaga Sedjarah PKI sudah agak lama berusaha untuk mengungkapkan masalah ini dalam bentuk tulisan. Tetapi pekerdjaan itubukanlah suatu pekerdjaan jang ringan dan dapat segera diselesaikan, apalagi bahan-bahannja sangat terbatas. Berkat petundjuk² dari Comite Central PKI, terutama dari Ketua CC PKI. Kawan D.N. Aidit, serta wawan- tjara dengan para kawan angkatan 1926, maka pada peringatan jang ke-35 Pemberontakan Nasional Pertama kali ini Lembaga Sedjarah PKI mempersembah- kan hasil pekerdjaannja dalam bentuk brosur dengan djudul: ..Pemberontakan Nasional Pertama di Indone- sia (1926) Sekali-kali tidak berarti bahwa dengan tulisan ini se- gala sesuatunja tentang Pemberontakan Nasional Pertama itu telah terungkapkan. Kami sangat mengharap kritik², pendapat2, usul² dari siapa sadja untuk dapat memperlengkapi bahan studi Lembaga Sedjarah PKI mengenai masalah tersebut. Selandjutnja kami utjapkan terima kasih banjak ke- pada semua kawan dan saudara² jang telah memberikan bahan² jang kami perlukan, dalam menjusun tulisan ini.
Lembaga Sedjarah PKI Djakarta, Desember 1961
PENGANTAR
Pemberontakan Komunis", demikian pemerintah kolonial Belanda dan kaum reaksioner dalamnegeri me- namakan pemberontakan Rakjat dibawah pimpinan proletariat melawan kekuasaan kolonial Belanda pada tahun 1926 di Indonesia. Penamaan jang demikian itu oleh pemerintah kolonial Belanda dan kaum reaksioner mempunjai maksud² ter- tentu, bukan suatu penamaan jang kebetulan. Maksud pemerintah kolonial Belanda dan kaum reaksioner jalah:
- Pemerintah kolonial Belanda dan kaum reaksioner hendak memperlihatkan bahwa pemberontakan tahun 1926 itu bukanlah pemberontakan Rakjat, tetapi pemberontakan segolongan ketjil orang Komunis; atau ,petualangan" Komunis.
- Pemerintah kolonial Belanda dan kaum reaksioner hendak menakut-nakuti golongan lain, bahwà pemberontakan ini bukan hanja melawan. kekuasaan kolonial Belanda tetapi djuga golongan lain jang non-Komunis. Dengan demikian mereka hendak menarik golongan lain untuk mengisolasi kaum Komunis serta bersama dengan golongan lain memukul hantjur pemberontakan. itu.
- Pemerintah kolonial Belanda dan kaum reaksioner hendak memperlihatkan bahwa jang ditindas ha- njalah orang² Komunis sadja dan tidak ada sang- kut-pautnja dengan Rakjat Indonesia jang luas. Walaupun demikian, kenjataan sedjarah, tidak ber-
djalan menurut keinginan pemerintah kolonial Belanda dan kaum reaksioner. Pemerintah kolonial Belanda me- mang dapat menindas pemberontakan nasional itu, na- mun pemberontakan nasional jang pertama dibawah pimpinan proletariat dalam zaman.imperialisme tersebut adalah pemberontakan jang menggojahkan dasar² kekuasaan imperialis Belanda di Indonesia, serta memberi pengaruh jang besar kepada. gerakan kemerdekaan nasional Indonesia.
Ini berarti bahwa pemberontakan Rakjat tahun 1926 adalah suatu peristiwa jang penting dan besar artinja dalam sedjarah perdjuangan Rakjat Indonesia, suatu peristiwa sedjarah jang tidak boleh dilupakan dan harus ditulis dengan tinta emas. Penulisan terhadap peristiwa ini memang sudah per- nah ada dan dalam beberapa bahasa seperti: De Na- tionalistische Beweging in Nederlandsch Indië", De Communistische Beweging in Nederlandsch Indië", dua- duanja oleh J. T'h. Petrus Blumberger, Rapport van de Comissie van Onderzoek ingesteld bij het Gouvernement 2 Besluit van 13 Februari 1927 No. 1a" oleh Prof. B. Schrieke. The Communist uprisings of 1926-1927 in Indonesia", oleh Harry J~ Benda dan Rush T. Me.
Vey, De Sociaal Democratische onlusten", pidato jang
dibrosurkan, oleh Prof. J. van Gelderen dan lain2. Tetapi buku² ini ditulis bukannja untuk mengungkapkan kebenaran dari perlawanan Rakjat itu, bukannja untuk menarikpeladjaran guna perdjuangan .kemerdekaan nasional Indonesia selandjutnja, tetapi sebaliknja. jaitu untuk menjalahkan, untuk memutar-bálik dan menge- labui Rakjat, dan jang terpenting untuk menarik peladjaran guna menindas gerakan kemerdekaan nasional selandjutnja, serta untuk membantu imperialis² negeri lain dengan pengalaman bagaimana menindas gerakan nasional di-negeri² djadjahan mereka. Ada djuga buku² jang ditulis oleh orang² Indonesia jang menjinggung masalah ini, seperti buku Sedjarah Gerakan Kemerdekaan Indonesia" jang ditulis oleh Prof. Mr. A.K. Pringgodigdo, djuga dalam buku sedjarah Indonesia jang lain, namun ditilik dari isi, keluas- an dan djalan penindjauan terhadap masalah itu masih perlu mendapatkan penilaian selandjutnja. Penulisan tentang pemberontakan itu sangat perlu, agar kita dapat mengungkap kebenaran. jang sesungguh- nja, jang hingga kini banjak ditutupi atau sengadja dilupakan oleh sementara orang, dan agar kita bisa menarik peladjaran² jáng perlu bagi gerakan revolusioner dewasa ini, Tetapi kesulitannja, seperti dimaklumi, adalah kurangnja bahan² jang tersedia. Kawan² jang per- nah ikut langsung telah memberikan bantuan untuk penulisan ini. Kepada Kawan² itu dan kepada semua peminat kami njatakan penghargaan jang se-tinggi²nja dan terimakasih se-banjak²nja,
BABI
INDONESIA SEBAGAI TANAHDJADJAHAN IMPERIALIS
Negeri Belanda Mendjadi Negeri Imperialis
Setiap pemberontakan jang bersifat progresif, setiap revolusi sosial pasti mempunjai dasar ekonominja, jaitu pertentangan dasar jang terdapat dalam suatu sistim masjarakat, dalam suatu tjara produksi tertentu. Pertentangan dasar ini jalah pertentangan antara hubungan produksi dengan watak atau tingkat perkembangan te- naga produktif. Pertentangan ini dalam masjarakat jang berdasarkan hakmilik perseorangan atas alat² produksi, masjarakat jang berklas, terwudjud dan atau ditjermin- kan dalam pertentangan klas² itu, Makin tadjam pertentangan dasar itu maka makin akut pula pertentangan klasnja. Demikian djuga pemberontakan nasional tahun 1926, merupakan perwudjudan jang njata dari pertentangan dasar dalam masjarakat Indonesia setelah Indonesia berubah mendjadi tanah djadjahan imperialis. Untuk memahami lebih djelas bagaimana perubahan itu terdjadi maka perlu diuraikan setjara umum bagaimana perubahan negeri Belanda, dari negeri kapitalis jang berdasarkan persaingan bebas, kapitalis pra- monopoli mendjadi negeri kapitalis monopoli imperialis. Imperialisme atau kapitalisme monopoli adalah tingkat tertinggi dan terachir dari kapitalisme, dengan persaingan bebas diganti oleh monopoli sebagai tjiri jang pokok. Demikian ditandaskan oleh W.I. Lenin tentang imperialisme didalam bukunja Imperialisme Tingkat
Tertinggi Kapitalisme". Lenin djuga memberikan tjiri²
atau tanda² ekonomi jang chusus dari imperialisme sbb. :
.(1) Konsentrasi produksi dan kapital telah berkem-
bang sampai pada tingkat jang demikian tingginja se-
hingga ia mentjiptakan monopoli² jang memainkan pe- ranan menentukan dalam kehidupan ekonomi (2) Per-. paduan kapital bank dengan kapital industri, dan di- atas dasar kapital finans" ini ditjiptakan oligarki finans; (3) Ekspor kapital memperoleh artipenting jang luarbiasa; berbeda dengan ekspor barang dagang- an; (4) Pembentukan serikat² kapitalis monopoli inter- nasional jang membagi dunia dikalangan mereka sen- diri: dan (5) Pembagian teritorial atas seluruh dunia diantara negara² kapitalis terbesar telah selesai". Lenin membagi tingkat² perkembangan dari kapitalis me pra-monopoli mendjadi kapitalisme monopoli sbb.:
- Kapitalisme pra-monopoli, dimana persaingan bebas berkuasa mentjapai puntjaknja pada tahun 60-70an dari abad ke-19.
- Selama pertigaan terachir dari abad 19. jaitu dari tahun setelah krisis ekonomi tahun 1871 s/d 1873 hingga krisis ekonomi tahun 1895, terdjadilah peralihan dari kapitalisme pra-monopoli mendjadi kapitalisme monopoli,
- Selandjutnja sedjak achir abad ke-19 dan per- mulaan abad ke-20 monopoli telah mendjadi dasar ekonomi kapitalis. Dengan demikian maka kapitalis pra-mononoli jang berdasar persaingan bebas definitif telah diganti dengan kapitalis monopoli imperíalis. Peralihan dari kapitalis pra-monopoli jang demikian
ini dapat kita lihat di Inggris, Perantjis, Amerika Serikat dan negeri kapitalis lainnja. Negeri Belanda sebagai salahsatu negeri kapitalis. walaupun tidak semadju dibanding dengan negeri kapitalis lainnja djuga memasuki zaman imperialis dalam masa jang sama, Kelemahan negeri Belanda terutama terletak dalam perkembangan industrinja, jaitu jang se- tjara relatif terbelakang dibanding dengan negeri kapitalis seperti Inggris, Perantjis, Amerika Serikat dan lain2nja. Kelemahan dan keterbelakangan ini antara lain disebabkan karena praktek perampckan kolonial jang memberikan keuntungan besar jang luarbiasa menim- bulkan perasaan kepuasan kaum kapitalis negeri Belanda serta keengganan mereka membangun industri. Pada tahun2 1840-an sampai dengan tahun2 1860-an, sewaktu inggris telah mendjadi ,bengkel dunia", dumana persaingan bebas telah mentjapai puntjaknja, kapitalis
Belanda masih tidur njenjak" dengan hasil kerdja-
paksa di Indonesia atau baru nglilir dari tidurnja".
Sedangkan pada tahun² 1870-1895, pada waktu Ing- gris telah memasuki zaman mulai timbulnja badan² monopoli, dinegeri Belanda baru timbul dan mulai ber- kembang kapitalis industri. Pertumbuhan kapital industri partikelir ini terdjadi sebagai hasil dari akumulasi primitif kapital jang antara lain dengan bentuk kerdjapaksa cultuurstelsel, di Indonesia, Menurut taksiran, keuntungan jang diperoleh dari tanam-paksa ada f 800.000.000,—. Djumlah ini belum terhitung ,korupsi" pegawai Belanda di Indonesia jang mendjadi kontrolir, asisten residen atau residen dan lain²nja. Kapital bank djuga sudah dapat terakumulasi setjara besar2an, dan akumulasi kapital bank ini djuga diperoleh dari perampokan kolonial baik dengan memusatkan kekajaan perseorangan jang diperoleh dari ikutsertà mereka dalam perampokan kolonial, maupun. bank itu sendiri mendjadi ,,monopoli" dalam mendjual dan meng- angkut hasil² perampokan kolonial, sepertí jang dilaku- kan oleh Nederlandse Handels Maatschappij dan Javase Bank. Dengan tumbuhnja kapital partikelir dinegeri Belanda jang tidak lagi mempunjai ,tempat" penanaman dine- gerinja sendiri, maka mulailah santer tuntutan untuk mendapatkan djaminan bagi ekspor kapital dan penanaman kapital mereka ke Indonesia: Djuga seiring dengan terdjadinja konsentrasi produksi dan kapital di- pabrik tenun Twenté, maka tuntutan untuk mendapatkan djaminan bagi pasar produksi tenun ke Indonesia djuga keras, Suatu perdjuangan" antara kapitalis partikelir dan industri terhadap monopoli negara berlang- sung dengan sengit. Suatu konsesi² tertentu djuga mulai diberikan kepada kapital partikelir, kapital industri. Misalnja pada tahun 1854 disahkan Peraturan Peme- rintah (Regerings Reglement) jang memberi hak pe- njewaan tanah di Indonesia, pada tahun 1850, diizinkan penjelidikan² terhadap kemungkinan mengeksploitasi logam, timah, batubara, minjaktanah dll. Suatu kemenangan besar bagi kapital partikelir dan kapital industri jalah. dengan disahkannja Undang² Agraria tahun 1870 jaitu suatu undang2 jang mendja- min kapital partikelir Belanda untuk mendapatkan tanah
dengan djalan menjewa tanah. Bentuk persewaan tanah ini jalah erfpacht dengan waktu-sewa 75 tahun, dan kalau sudah habis waktu-sewanja boleh diperpandjang. Setiap orang, atau badan hukum Eropa boleh memiliki lebih dari satu persil, jang tiap persil luasnja 500 ha. Kemenangan selandjutnja jalah dengan diadakan Undang2 Gula (Suikerwet) pada tahun 1870, Undang2 Pertambangan (Indische Mijnwet) pada tahun 1899 dan lain2. Dengan demikian maka terdjaminlah pengaliran kapital partikelir Belanda, kapital industri ke Indonesia.
Indonesia Sebagai Tempat Penanaman Kapital
Adanja kapital lebih dinegeri Belanda, serta diekspor- nja kapital itu ke Indonesia, maka fungsi tanah dja- djahan Indonesia jang semula mendjadi tempat untuk melakukan perampokan kolonial berubah mendjadi tempat penanaman kapital. Untuk mendjamin daerah eksploitasi, keselamatan dan haridepan bagi kapital jang diekspor dari Eropa, pemerintah kolonial Belanda mengambil dua tindakan jang penting : Pertama: seluruh daerah Indonesia harus ditunduk- kan baik setjara politik maupun setjara míliter, Kedua: mengadakan penjelidikan mengenai kemung- kinan perkembangan kapital jang tak-terbatas. Untuk mentjapai tudjuan jang pertama, Belanda melakukan perang kolonial atau tekanan terhadap daerah² jang belum tunduk atau belum langsung tunduk pada. pemerintah Belanda. Pada achir abad ke-19 dan awal abad ke-20 Belanda memperkuat atau memperluas kekuasaannja di Bali (pertempuran penghabisan tahun
1908), di Lombok (perang tahun 1894-1895), di Sum- bawa, Dompo, Flores, Boni (perlawanan terachir tahun
1908). Bandjarmasin (tahun 1906), Djambi (1907), Riau (1913), Tapanuli (1907), Atjeh (1908). Disamping itu Belanda djuga memaksa kepala² suku dan radja² jang belum langsung tunduk dibawah kekuasaannja mengakui kekuasaan Belanda dalam bentuk pernjataan pendek" (korte verklaring), ,pernjataan pandjang" (lange verklaring) seperti terhadap Sumba, Timor dan lain². Sedangkan untuk maksud kedua, pemerintah kolo-
nial Belanda mengadakan penjelidikan dalam lapangan ilmu tanah, ilmu tumbuh²an, ilmu hewan, adat-isti- adat, bahasa, agama, kesenian, sedjarah dan lain². Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengabdi kepada kapital monopoli, kepada penanaman kapital untuk meng- eksploitasi kekajaan dan Rakjat Indonesia. Dalam periode peralihan keeksploitasi setjara imperialis, dan terutama dalam zaman imperialis, kapital bank memainkan peranan jang besar. Belanda mendiri- kan serentetan bank jang fungsinja berubah-ubah dan berkembang seiring dengan makin luasnja penanaman kapital dan perdagangan. Hal ini bisa dibuktikan dari operasi bank² seperti Nederlandse Handels Maatschappij, De Javase Bank, Nederlands-Indische Escompto Maatschappij, Nederlands Indische Handels Bank, Internationale Credit en Handels Vereniging Rotterdam, Koloniale Bank dll. Bank² ini mempunjai operasi bukan hanja dalam me- mindjamkan uang tapi djuga langsung menguasai dan mengontrol produksi. Pengaruh bank dalam menguasai dan mengontrol produksi djuga didjalankan dengan melalui uri perseorangan ~ jaitu pemimpin bank djuga mendjadi pemimpin perusahaan² tertentu.
Indonesia Sebagai Sumber Bahan Mentah Penanaman kapital dari kapital monopoli bukanlah untuk mengembangkan produksi di Indonesiá dalam se- gala lapangan tetapi pada pokoknja dilapangan produksi bahan mentah. Kaum kapitalis monopoli Belanda me- merlukan bahan² mentah untuk memenuhi kebutuhan industri dinegerinja dan permintaan pasar dunia kapitalis lainnja, dan bukan untuk memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia atau meningkatkan taraf hidup Rakjat Indonesia. Lingkungan gerak jang demikian itu dapat dibuktikan dari permintaan jang makin meningkat akan keperluan tanah untuk perkebunan dan tambang; makin menîngkatnja produksi bahan mentah, serta ekspor bahan² tersebut. Mereka menanam kapitalnja dalam lingkungan produksi gula, kopi, teh, tembakau, karet, minjaktanah, timah dan lain² produksi bahan mentah. Untuk mendjamin kelantjaran ekspor kapital dan penanaman kapital kenegeri djadjahan Indonesia, serta
untuk mendjamin kelantjaran pengangkutan hasil² pro- duksi bahan² mentah maka perlu diusahakan kelantjaran komunikasi dan transpor chususnja. Karena itu kaum kapitalis monopoli dan pemerintah kolonial djuga mulai melakukan tindakan untuk itu. Setelah dibukanja terusan Suez pada tahun 1869. maka hubungan antara Nederland dan Indonesia makin dipermudah. Ini membuka kemungkinan jang lebih be- sar bagi perkembangan ekspor kapital ke Indonesia. Pada tahun selandjutnja djuga didirikan serentetan perusahaan komunikasi dan transpor. Pada tahun 1870 didirikan maskapai pelajaran
,Stoomvaart Maatschappij Nederland" (SMN), jang
ntengatur hubungan Amsterdam-Indonesia. Pada tahun jang sama didirikan hubungan keretaapi jang pertama antara Semarang-Surakarta. Pada tahun 1877 mulai dibangun pelabuhan laut jang modern di Djakarta-Tandjung Priok. Pada tahun 1883 didirikan N.V. Rotterdamse Lloyd (RL) sebagai hasil perkawinán antara kapital Inggris dengan Belanda (N.H.M.) dan kapal²nja berlajar di- bawah bendera Belanda. Untuk hubungan interinsuler. leh SMN dan RL dibentuk N.V. Koninklijke Paket- vaart Maatschappij (KPM). Untuk menjaingi SMN dan KPM, oleh maskapai pelajaran Liverpool (Inggris) Alfred Holt & Co" dalam tahun 1889 didirikan De Nederlandse Stoomvaart Maatschappij Oceaan" Pada tahun 1886 mulai dibangun pelabuhan Tjilatjap. Djuga pada tahun berikútnja dibangun pelabuhan Emma di Padang untuk melajani pengangkutan batubara dari tambang Ombilin. Pada tahun 1900 dibangun pelabuhan Makasar. Sedangkan pelabuhan Surabaja dan Deli (Belawan) dibangun baru tahun kemudiannja. Transpor bermotor djuga kemudian mengambil ba- gian sangat penting. Djuga alat komunikasi lainnja, seperti pos, telgrap tilnon, rn o selandjutnja didirikan dan dibuka untuk unium. Alat² komunikasi ini sangat penting dalam meng- abdi kapital monopoli dan dalam mengeksploitasi ke- kajaan dan Rakjat Indonesia. Disamping itu djuga oleh kaum kapitalis monopoli didirikan pabrik dan bengkel tambahan untuk mem- bantu pelantjaran lalulintas, bengkel² revarasi dan in- dustri konsumtif lainnja. Misalnja Braat djuga mem-
buka bengkel² untuk membuat onderdil2 ringan, repa- rasi, asembling, konstruksi djembatan dll. Pabrik gas jang membuat gas uap untuk melajani dapur dirumah- tangga Belanda, perusahaan air minum, listrik, makanan dan minuman² alkoholik djuga didirikan, Semuanja ini bukan perusahaan jang pokok, tetapi hárija: sekedar tambahan sadja. Disamping kapital Belanda jaņg ditanam dalam ling- kungan produksi bahan mentah, sebagai akibat per- saingan antara berbagai negeri imperialis dan lemahnja kedudukan kapitalis monopoli Belanda dibanding dengan kapitalis monopoli negeri lainnja setjara relatif, maka pemerintah Belanda terpaksa mendjalankan po- litik pintu terbuka" jang memberi kesempatan kepada kapitalis monopoli negeri lain untuk ikutserta melakukan perampokan terhadap kekajaan dan alam Indonesia dan menghisap Rakjat Indonesia. Kapitalis negeri imperialis ketjuali Belanda, seperti kapitalis monopoli Inggris, djuga menipunjai sedjumlah bank² dan menguasai serta mengontrol sedjumlah perusahaan; kapitalis monopoli Amerika djuga tidak mau ketinggalan. Kapital Amerika menguasai perkebunan² karet di Sumatera, tambang minjak seperti Stanvac dan kemudian Caltex dan lain²nja. Djuga kapital Perantjis,
Belgia ikut ambil bagian mengeksploitir kekajaan alam
dan Rakjat Indonesia. Menurut tafsiran, kapital jang ditanam di Indonesia pada masa sebelum perang dunia ke-II ada sedjumlah
f 4.650.000.000,— dan keuntungannja rata² tiap tahun-
nja f 500.000.000,—. Keuntungan² ini mengalir kekan-
tong kaum kapitalis monopoli dinegeri Belanda, Inggris.
Amerika, Djepang dan lain2.
Indonesia Sebagai Sumber Tenaga Murah
Tudjuan pokok bagi kaum kapitalis monopoli dalam menanam kapitalnja di Indonesia, dengan bahan mentah sebagai sasarannja jang pokok bukannja untuk meningkatkan taraf hidup Rakjat atau meningkatkan kemak- muran negeri, atau memadjukan negeri itu, tetapi untuk mendapatkan laba jang setinggi-tingginja, untuk men- djamin laba tinggi monopoli. Untuk mentjapai ini kaum kapitalis monopoli antara lain berusaha menekan beaja
produksi. Penekanan beaja produksi ini dinegeri djadjahan dilakukan dengan menekan upah serendah mungkin, menekan taraf hidup hingga serendah mungkin, melakukan perampasan terhadap tanah dan kerdia kan karena adanja kekuasaan politik ditangan kaum kolonialis, atau agen-agennja. Kaum kapitalis monopoli menggunakan kerendahan tjara hidup Rakjat dinegeri djadjahan Indonesia, jang disebabkan tingkat perkem- bangan tenaga produktif dan masjarakatnja jang masih lebih rendah dibanding.dengan dinegeri mereka untuk dengan kedjam mengeksploitasi Rakjat Indonesia. Dengan timbulnja perusahaan kapitalis monopoli lahir pula kaum buruh jang hidup dari mendjual tenaga- kerdja baik sebagai sumber penghidupan jang pokok atau jang mungkin masih ada ikatan dengan tanah mereka jang sempit. Menurut Prof. J. Van Gelderen jang pernah mendjadi pegawai tinggi Pusat Kantor Sta- tistik pemerintah kolonial Belanda, bahwa penambahan penduduk jang mendapatkan sumber penghidupannja dari upah. sedjak tahun 1900 makin bertambah. Djika tahun 1905 orang jang bekerdja didesa sebagai kaum tani dan pengusaha ketjil kota dan desa merupakan 75% dari seluruh djumlah penduduk, maka pada tahun 1925-1929 djumlah itu sudah berkurang dan merupakan 52% dari djumlah penduduk. Upah kaum buruh sangat rendah. Menurut Dr, Huender seorang ahli sosial ekonomi Belanda upah jang diterima oleh kaum buruh atau tani miskin se- tahun f 161,— atau kurang dari f 0,40 sehari, atau kalau dihitung sekeluarga 5 orang, maka setiap orang menerima f 0.08 sehari, Perhitungan Dr. Huender ini adalah perhitungan umum, dan belum mentjermin- kan kenjataan jang lengkap. Sebab misalnja buruh perkebunan hanja menerima f 0.075 sehari. Kalau dihitung setiap keluarga 5 orang maka setiap orang- nja hanja hidup dengan f 0.015 sehari. Penghasilan jang dihitung setjara umum oleh Dr. Huender itu pada masa krisis tahun 1929-1933 merosot sampai 40-50%. hingga tiap orang hanja hidup dengan f 0.025 sehari. Diuga menurut angka? jang dikemukakan oleh Prof.
W. F. Wertheim dalam bukunja ,,Indonesian Society in Transition" hl. 218, buruh perkebunan pada tahun 1935-1936 upahnja hanja f 0,04 ~ f 0.09 sehari. Upah
jang rendah bukan hanja tenaga kaum buruh jang tidak berpendidikan, tetapi djuga tenaga jang berpendidikan mendapatkan upah lebih rendah dibanding dengan upah jang diterima oleh orang Belanda. Misalnja: seorang keluaran sekolah rendah (HIS) hanja dibajar rata- rata f 7,50 sampai f 12,50 sebulan, sedangkan kalau seorang Belanda jang tamatan sekolah rendah Belanda (Europese Lagere School) bisa menerima f 35, lebih sebulan pada permulaannja. Seorang tamatan sekolah menengah (Mulo) bangsa Indonesia hanja laku f 20. sampai f 25;— sebulan, sedangkan seorang Belanda jang sama bisa menerima f 50. sampai f 70. sebulan pada permulaannja. Seorang tamatan AMS atau HBS bangsa Indonesia hanja laku f 40,- sampai f 50,- sebulan, sedangkan orang Belanda jang sama bisa sampai f 90,- hingga f 125,- Diskriminasi djuga berlaku bagi mereka jang tamatan sekolah tinggi. Diskriminasi ini terasa dalam kenaikan upah, pangkat, djabatan dll. Orang Belanda selalu mendapatkan keistimewaan dibanding dengan orang Indonesia. 大
Seiring dengan mäkin meningkatnja penanaman ka- pital di Indonesia maka timbullah kebutuhan akan tenaga terdidik jang murah dari orang² Indonesia untuk melajani pekerdjaan administrasi dan teknik dalam per- usahaan kapitalis monopoli dan pemerintahan kolonial. Untuk memenuhi kebutuhan ini oleh pemerintah kolonial didirikan sekolah² rendah, menengah dan kemudian sekolah² tinggi. Karena sekolah² ini didirikan bukannja untuk mening- katkan deradjat kebudajaan Rakjat Indonesia, maka djumlah sekolahan dan murid² sangat terbatas, sangat sedikit dibanding dengan kebutuhan akan pendidikan bagi anak-anak Rakjat Indonesia. Seperti jang pernah dinjatakan oleh Ir. J. C. Van Rugerberg Versluys, anggota Volksraad pada waktu itu, bahwa sekolah rendah di Indonesia terbagi mendjadi dua, jaitu sekolah klas I dan klas II. Sekolah jang tergolong klas I didirikan pada tahun 1893, dan pada tahun 1912- 1914 diubah mendjadi H.I.S., sedangkan sekolah jang
termasuk klas II jang didirikan pada tahun 1890 pada tahun 1906 diubah mendjadi Sekolah Rakjat. Beaja bagi pendidikan di Djawa dan Madura pada tahun 1922. 1928 rata² tiap tahun untuk setiap murid hanja f 7,55. Djumlah sekolah rendah pada tahun 1903 (jang didirikan oleh pemerintah dan partikelir) hanja 1699, dan dengan 191.205 murid, Pada tahun 1913 baru terdapat 3593 sekolah dengan 433.715 murid. Pada tahun 1926 terdapat 645 sekolah rendah jang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnja dengan. murid
125.521. dan ada 16.158 sekolah rendah jang menggunakan bahasa² jang ada di, Indonesia sebagai bahasa pengantarnja. dengan 1.235.892 murid. Pada tahun 1923 menurut Ir. S.J. Rutgers djumlah sekolah rendah ada 10.000. Tahun 1909 didirikan sekolah teknik rendah ,Ambacht School", dan pada tahun 1920.didirikan sekolah tinggi teknik di Bandung. Disamping itu djuga didirikan sekolah desa (Volksschool) jang hanja sampai klas III (3 tahun) jang pada tahun 1913 ber- djumlah 3473 dengan. 227.267 murid. Sekolah rendah jang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar umumnja hanja dikundjungi oleh anak Belanda atau anak pegawai2, karena sekolah ini memang tudjuannja untuk mentjiptakan tenaga pegawai. Djumlah anak² orang Indonesia jang bisa memasuki sekolah rendah sematjam itu menurut perbandingannja dengan anak² Belanda relatif sangat ketjil dan makin tinggi tingkat sekolah itu djumlah menurut perbanding- an itupun makin mendjadi ketjil. Kaum kapitalis monopoli tidak mempunjai kepentingan langsung akan meningkatnja kebudajaan Rakjat, te- tapi djustru sebaliknja, ia mempunjai kepentingan tetap rendahnja kebudajaan Rakjat, sebab dengan ini kaum kapitalis monopoli dapat mempertahankan kekuasaan serta penghisapannja. Karena itu tidaklah aneh kalau dibawah kekuasaan kapitalis monopol Belanda Rakjat Indonesia tetap butahuruf. Menurut taksiran umum sampai tahun 1942 djumlah Rakjat Indonesia jang melekhuruf hanja 7%, karena itu dapatlah kita kata- kan bahwa djumlah Rakjat Indonesia jang melekhuruf pada tahun 1929 tidak lebih dari 4-5%. Ini berarti bahwa sampai tahun itu jang butahuruf merupakan 95-96%, jaitu bagian terbesar dari Rakjat Indonesia.
Indonesia Sebagai Pasar Barangdjadi
Sebagai negeri djadjahan imperialis, Indonesia bukan hanja mendjadi tempat untuk penanaman kapital, sum- ber bahan mentah, tenaga murah, tetapi djuga sebagai pasar pendjualan barangdjadi dari negeri² imperialis. Tanah djadjahan memperoleh fungsi sebagai pasar pendjualan barangdjadi sudah berlangsung pada zaman kapitalisme pra-monopoli. Tetapi karena perkembangan industri negeri Belanda terbelakang dibanding dengan negeri kapitalis lainnja, maka fungsi itu baru memain- kan peranan pada pertengahan kedua abad kesembilan- belas, jaitu sewaktu industri tenun Belanda terutama jang berpusat di Twente sudah menggunakan mesin2, jang berarti produksinja sudah mendjadi besar²an. Padà masa ini hasil produksi tenun negeri Belanda sudah tidak lagi dapat terdjual dipasaran negeri Belanda, tetapi sudah menuntut adanja pasaran luarnegeri. Dalam hal ini Indonesialah jang per-tama² dituntut untuk mendjadi pasarannja. Pada zaman kapitalisme, monopoli, Indonesia disam- ping sebagai tempat untuk penanaman kapital sebagai pokoknja, djuga fungsi sebagai pasaran barangdjadi
masih tetap bahkan memperoleh arti jang lebih luas lagi.
Dalam tahun 1929, jaitu tahun mulainja krisis
ekonomi, menurut Prof. G. Gonggrijp dalam buku- nja ,,Sociaal Economische Betekenis van Nederlands-Indië voor Nederland", impor Indonesia berdjumlah f 1.166.000.000,—.
Sebagai pasar barangdjadi pada mulanja Indonesia baru mendjadi daerah pasar jang pokok bagi negeri
Belanda. Tetapi kemudian djuga mendjadi daerah pasaran bagi semua negeri kapitalis, atau negeri kapitalis jang pokok. Menurut Prof. G. Gonggrijp, impor Indonesia dari negeri Belanda pada tahun 1913 merupakan 33% dari seluruh impornja, tetapi pada tahun 1925 bagian ini hanja tinggal 18%. Impor dari Ame-
rika dan Djepang makin meningkat
Barang impor jang terpenting jalah tekstil, jang se-
belum perang menurut Ir. S.J. Rutgers, merupakan 30% dari seluruh impor. Sebagai pasar tekstil Indonesia menempati kedudukan jang penting bagi produksi tekstil negeri Belanda. Tidak kurang dari 35% dari produksi tekstil negeri Belanda diekspor ke Indonesia.
Barang² jang diimpor itu datangnja bukan hanja dari satu negeri kapitalis, tetapi dari berbagai negeri kapitalis. Ini samasekali sesuai dengan politik ,,pintu ter- buka" Belanda. Diantara barang² jang dimpor, barang makanan, dan terutama beras djuga mengambil bagian jang penting. Pada tahun 1928 impor beras seharga f 67.000.000,—. Impor beras ini disebabkan karena produksi beras di Indonesia, terutama di Djawa terus- menerus merosot sebagai akibat penanaman kapital dari kaum kapitalis monopoli dalam lingkungan produksi bahan mentah, dan masin adanja sisa² sistim pemilikan dan penghisapan feodal, hingga produksi bahan makanan ini ~ produksi beras makin terdesak, dan pe- merintah kolonial Belanda dapat menekan standard kehidupan Rakjat pekerdja, dengan mendjadikan beras sebagai dasar pokok dalam menentukan harga tenaga- kerdja, kehidupan Rakjat Indonesia. Disamping mengimpor, politik kaum kapitalis monopoli Belanda djuga mengekspor. Beras jang kwalitetnja baik diekspor keluar negeri. Beras mempunjai persamaan djuga dengan barang- dagangan lainnja. Ia mendjadi objek eksploitasi dan spekulasi kapitalis monopoli, terutama dalam perdagangan, jang mendatangkan keuntungan besar baginja, Ke- merosotan produksi beras dieksploitir oleh kaum kapitalis monopoli untuk mengangkut keuntungan jang besar dengan mengimpor dan sekaligus mengekspor beras, Menurut K. van der Veer dalam artikelnja ,Rijst" jang ditulis bersama dengan Dr. L.W. Kuilman dan Ir. J.G.J. van der Muelen jang termuat dalam buku ,,De Landbouw in de Indische Archipel" dari bulan April 1938 hingga Maret 1939 (1 tahun) impor beras sedjumlah 304.761 ton dan ekspor sedjumlah 16.897 ton. Akibat darí politik ini maka produksi beras di Indonesia makin terdesak, terlantar dan merosot. Belanda selalu mendjalankan politik. saldo untung dalam perdagangan impor dan ekspor, Keuntungan rata? tiap tahunnja pada tahun 1901-1905 sedjumlah f 78.500.000,- dan dari antara tahun 1921-1925 sedjumlah f 586.000.000,-. Keuntungan ini dengan sen- dirinja mengalir kekantong kaum kapitalis mónopoli jang terutama tinggal dinegeri Belanda. London.
Washington, Tokio dllnja. Jang tinggal bagi Rakjat
Indonesia hanja kemelaratan, kemiskinan, penghisapan dan keterbelakangan.
*
Indonesia sebagai tanah djadjahan imperialis, ke- tjuali mempunjai fungsi seperti telah diuraikan diatas. djuga mempunjai fungsi sebagai daerah strategi militer dan sumber serdadu kolonial jang murah. Dalam menguasai Indonesia pemerintah kolonial Belanda sebagai wakil politik dari kaum kapitalis monopoli mendjalankan politik kemiliteran; menggunakan orang Indonesia untuk menindas dan menguasai orang Indonesia, dan untuk, mempertahankan tanah djadjahan Indonesia. Praktek politik kemiliteran kolonial Belanda ini tam- pak dalam hal sbb.:
- Untuk menguasai dan menindas Rakjat Indonesia, pemerintah kolonial Belanda menggunakan orang Indonesia sebagai serdadunja jang dibajar murah. Pembentukan K.N.I.L. sebagai salahsatu alat pe- nindas utama dári pemerintah kolonial Belanda, se- bagian besar terdiri dari orang Indonesia, terutamia serdadu bawahannja. Mereka ini dibajar djauh lebih rendah daripada serdadu jang berbangsa Belanda dalam pangkat jang sama. Dalam mendjalankan pe- rang kolonial menindas Rakjat Indonesia serdadu kolonial jang berbangsa Indonesia diadjukan dide- pan sedangkan Belanda hanja dibelakang sebagai orang jang memaksa serdadu Indonesia untuk mendjadi umpan peluru,
- Belanda, dengan membangkit-bangkitkan sentimen kesukuan, menggunakan serdadu² K.N.I.L. janq ter diri dari salahsatu sukubangsa Indonesia untuk menindas perlawanan sukubangsa jang lain. Untuk maksud ini Belanda memberi,keistimewaan" jang takberarti terhadap sukubangșa tertentu.
3. Indonesia djuga mendjadi tempat penampungan
dinas militer bagi orang Belanda terutamanja, iang telah lulus sekolah opsir di Breda (untuk A.D.), Den Helder (untuk A.L.) dan Utrecht (untuk
A.U.). Mereka ini setelah menjelesaikan dinasnja dalam tahun dinas tertentu, bisa kembali kenegeri- nja dengan mendapatkan hak pensiun dll.
- Indonesia djuga didjadikan pasar industri alat² perang negeri Belanda, Inggris. Amerika Serikat, Pe- rantjis dll. Alat perang seperti bedil, peluru, bajonet, klewang, meriam, tank dan mobil berlapis badja, kapalterbanq, kapalperang dan lain²nja dibeli dari negeri tersebut. Beaja untuk serdadu kolonial dan alat² perang ini sepenuhnja dipikul oleh Rakjat Indonesia dengan me- lalui padjak² sebagai terutamanja dan lain²nja. Dalam menghadapi musuh dari luar, Belanda tidak tiukup mempunjai kemampuan dan kekuatan sendiri; Dan sesuai dengan politik ,pintu terbuka"-nja, maka Belanda menjandarkan diri pada negeri imperialis lain- nja, seperti Inggris, Amerika Serikat dan Australia. Dengan demikian maka Indonesia bukan mendjadi daerah strategi militer Belanda sadja, tetapi djuga bagi negeri lain, terutama bagi negeri imperialis jang ikut me- nanam kapitalnja di Indonesia, dan ikut mengekspor barangdagangannja ke Indonesia. Hal ini terbukti dalam perang dunia kedua, dimana Indonesia di-belah² mendjadi daerah pertahanan mereka bersama.
大
Kekuasaan kapitalis monopoli dengan big five"-nja, jaitu N.V. Internatio, N.V. Borsumy, N.V. Jacobson van den Berg, N.V. Lindeteves Stokvis, dan Geo
Wehry, menguasai seluruh kehidupan ekonomi Indone-
sia. Dalam melakukan penghisapan terhadap Rakjat
Indonesia sangat besar peranan bank kapital monopoli,
seperti : Factory, Nederlandse Handels Bank, Chartered Bank, Great Eastern Bank, dll. Perusahaan² nasional jang djumlahnja banjak tidak memainkan peranan jang menentukan. jang pokok dalam kehidupan ekonomi, mereka ini ditentukan oleh kapitalis monopoli. Penghisapan kapitalis monopoli didjalankan berdjalin dengan penghisapan sisą² feodalisme, baik berbentuk lembaga politik seperti swapradja2, bupati sampai lurah² maupun penghisapan jang didasarkan pada pemilikan terhadap tanah. Penghisapan feodal ini djuga berdjalin dengan penghisapan jang menggunakan sisa² lembaga kesukuan matriarchat dan patriarchat seperti di Suma- tera Barat. Tapanuli, dikepulauan Nusa Tenggara dan
lain². Di Djawa penghisapan feodal ini berdjalin dengan sisa ,komune" dalam masjarakat desa. Lembaga² adat dan agama djuga mempunjai peranan jang penting dalam perdjalinan penghisapan ini, Banjak guru² agama jang sudah berdjasa terhadap pemerintah kolonial Be- landa dan radja2 diberi tanah perdikan" dimana me- reka melakukan penghisapan feodal. Djuga misi² katolik karena djasanja terhadap pemerintah kolonial maka sebagai sumber kehidupannja diberi tanah² untuk diusaha- kan sebagai onderneming2, dan misi² itu melakukan eksploitasinja setjara patriarchat. Tjara produksi kolonial dan setengah feodal, dengan hubungan produksinja jang kolonial dan setengah feodal jang berdjalin dengan lembaga kesukuan melakukan penghisapan jang luar biasa kedjamnja, mengekang perkembangan tenaga produktif, mendjadi dasar ekonomi jang sesungguhnja, jang objektif dari perlawanan Rakjat, dari gerakan² nasional dan pembe- rontakan nasional pertama tahun 1926. Selama hubungan produksi jang kolonial atau setengah kolonial dan setengah feodal masih berlangsung maka selama itu perkembangan tenaga produktif masjarakat terhalang, dan selama itu perdjuangán nasional masih belum selesai Perdjuangan ini akan terus berlangsung, hingga hubungan produksi jang mengekang perkembangan tenaga produktif itu berubah, jang berarti tuntutan revolusi nasional demokratis terpenuhi atau selesai.
Gambar bersama pimpinan dan anggota² VSTP
BAB II
PERDJUANGAN DAN ORGANISASI PERDJUANGAN RAKJAT INDONESIA
Pertumbuhan Organisasi® Rakjat Jang Bersifat Nasional Sepandjang sedjarah manusia sedjak adanja klas2, ada perdjuangan klas, perdjuangan Rakjat jang tertin- das melawan kaum penindas sebagai perwudjudan dari pertentangan antara hubungan produksi dengan watak tenaga produktif. Perdjuangan ini pada suatu tingkat atau masa tertentu tidak tampak terang2an, tersembunji. pada saat lain tampak terbuka, terang2an. Pada tingkat permulaan tampaknja bersifat kebetulan, perseorangan. tetapi kemudian tampak dilakukan dengan sedar, setjara kolektif dan terorganisasi. Demikian djuga dengan Rakjat Indonesia, sedjak adanja klas² di Indonesia perdjuangan klas tak pernah berhenti. Perdjuangan ini baik sifat maupun bentuknja selalu berubah, berkembang seiring dengan perkem- bangan sosial ekonomi jang mendiadi dasar bagi per- djuangannja. Misalnja dalam zaman dimana Indonesia masih dikuasai kekuasaan kolonial Belanda pra- kapitalis monopoli, dimana dasar ekonomi feodal jang alamiah jang berdiri sendiri-sendiri masih kuat, ekonomi barangdagangan dan uang jang dibawa oleh Belanda belum memainkan peranan jang pokok bagi kehidupan ekonomi dalam masjarakat di Indonesia, maka perlawanan Rakjat Indonesia terhadap kekuasaan kolonial masih bersifat kedaerahan, sesetempat dan belum merupakan perlawanan jang menjeluruh, serempak serta terorganisasi rapih dan bersifat nasional. Pada zaman imperialisme. dimana kedudukan Indonesia sudah berubah mendjadi tanahdjadjahan impe- rialis, ekonomi feodal jang alamiah sudah mulai terusak karena masuknja ekonomi barangdagangan dan uang, oleh penanaman kapital di Indonesia maka perlawanan
Rakjat Indonesia djuga berubah. Perubahan dan per- kembangan sifat, bentuk dan djalan ini terutama ka- rena diatas dasar ekonomi jang ada lahirlah hubungan
klas² jang pelik daripada masa jang lampau, timbul
klas² jang baru jaitu disamping kapitalisme moñopoli sebagai klas jang berkuasa, lahir klas buruh, dan burdjuis ketjil jang sebagian daripadanja kemudian mendjadi burdjuis nasional. Pada zaman imperialisme, dalam mana ekonomi dunia telah disatukan kedalam sistim ekonomí kapitalis mo- nopoli, maka peristiwa² dalam dunia tidak lagi berdiri sendiri2, tetapi berhubungan satu sama lain, saling ber- gantung dan saling mempengaruhi. Misalnja krisis ekonomi tahun 1884-1885, djuga mempunjai pengaruhnja di Indonesia terutama dalam produksi gula jang pada waktu itu merupakan produksi jang penting bagi pasar- an kapitalis. Demikian djuga. krisis ekonomi tahun 1900- 1903 jang mendorong makin tadiamnia pertentangan dalam tubuh kapitalisme dan makin dalamnja krisis po- litik dinegeri kapitalis terutama di Rusia pada waktu itu. Perang imperialis Djepang dengan Rusia jang ter- djadi pada tahun 1904-1905 telah lebih memperdalam pertentangan sosial di Rusia lama dan mempertjepat ke- matangan situasi revolusioner, terutama bagi meletusnja revolusi burdjuis demokratis di Rusia pada tahun 1905 dibawah pimpinan proletariat jang djuga mempunjai pengaruh dan gemanja di Indonesia. Rakjat Indonesia jang berdjuang terhadap kekuasaan imperialis Belanda djuga mulai menjusun organisasinja jang modern. Pegawai mulai menjusun serikat² seker- 5 dja, seperti S.S. Bond (Staatsspoor Bond) pada tahun 1905 dan Post Bond jang djuga didirikan pada tahun tersebut. Djedjak para pegawai dan amtenar Indonesia dalam perusahaan keretaapi dan pos telepon dan tele- grap ini diikuti oleh pegawai² tinggi dan menengah dalam perkebunan dengan mendirikan organisasi²nja jang dinamakan Cultuurbond (1907), dalam perusahaan gula jang dinamakan Suikerbond (1908), dalam perusahaan dan kantor² perdagangan didirikan Handelsbond (1909). Keanggotaan organisasi tersebut tidak terbatas pada
para pegawai bangsa Indonesia, tetapi djuga bangsa
Belanda masuk mendjadi anggotanja. Namun demikian kaum buruh rendahan Indonesia djuga bisa beladjar dari organisasi mereka. Pada tahun
1908 massa kaum buruh keretaapi S.S., S.C.S. dan
N.I.S. mengorganisasi diri dalam V.S.T.P. (Vereniging van Spoor en Tramweg Personeel) di Semarang. Sesudah kaum buruh mengorganisasi diri pada tahun 1905, kaum intelektuil bangsawan pada tahun 1908 (sebagai hasil propaganda' Dr. Wahidin Sudiro Husodo jang dimulai sedjak tahun 1906-1907) mendirikan organisasi jang diberi nama ,,Budi Utomo" (penulisan asli- nja ,Boedi Oetomo"). Perkumpulan ini terdiri terutama dari kaum terpeladjar Indonesia, pegawai negeri, maha- siswa sekolah tinggi kedokteran dan şebagainja, jang berasal dari kaum bangsawan jang madju menghendaki adanja perubahan².. Mereka menghendaki pendidikan jang lebih sempurna agar mempunjai budi jang tinggi dan terbukanja djabatan² tinggi dalam pemerintah kolonial bagi Bangsa Indonesia. Kelahiran Budi Utomo. jang merupakan organisasi pertama-tama dipimpin oleh orang2 Indonesia dalam zaman modern, dan jang mem- punjái tuntutan jang bersifat madju, adalah merupakan tonggak sedjarah bagi kelahiran gerakan nasional, ke- bangkitan nasional Rakjat Indonesia. Seiring dengan lahirnja burdjuasi dikalangan bangsa Indonesia, terutama burdjuasi dagang, diperlukannja organisasinja sendiri untuk melawan pesaing²nja dan membantu bagi pertumbuhan klasnja. Pedagang² dan kaum pengusaha industri ketjil bangsa Indonesia mendirikan perkumpulan jang dinamakan Serikat Dagang Indonesia pada tahun 1911, jang pertama-tama berpusat di Surakarta, Dengan didorong oleh arus semangat per- djuangan kemerdekaan nasional jang kuat, SDI ini pa-
DJdda tahun 1912 dirubah mendjadi organisasi massa jang
diberi nama Sarekat Islam.
S.J.
Pemerintah. kolonial Belanda dan kaum kapitalis mo- nopoli menganggap gerakan SI ini sebagai kekuatan jang dapat membahajakan kekuasaannja, karena itu tidak lama kemudian, jaitu pada bulan Agustus 1912 SI dilarang. Setelah diadakan perubahan dalam anggaran dasarnja SI diperkenankan berdiri lagi dan mendjalankan kegiatannja, tetapi hanja dibatasi ditjabang- tjabangnja. Baru setelah anggaran dasarnja dirubah pada tahun 1916, dimana pemerintah kolonial Belanda dapat mendjalankan pengawasannja jang kuat, kegiat- an pimpinan pusatnja diperbolehkan kembali. Dikalangan kaum buruh tjontoh jang diberikan oleh
buruh Kereta Api dengan membentuk organisasi jang tjotjok untuk dirinja ~ VSTP, diikuti buruh² pabean denoan membentük Perkumpulan Bumi Putra Pabean (PBPP) pada tahun 1911, guru² bantu dengan mem-
bentuk Persatuan Guru Bantu (PGB), guru2 de-
ngan membentuk Perserikatan Guru Hindia Belanda (PGHB). dan guru² sekolah pertukangan dengan membentuk Perserikatan Guru Ambachtschool (PGAS) pada tahun 1912. pegawai pegadaian membentuk Per serikatan Pegawai Pegadaian Bumiputera (PPPB) pada tahun 1914, pegawai kantor pendjualan tjandu dengan membentuk Opium Regie Bond (ORB) buruh pekerdjaan umum dengan membentuk Vereniging van Indische Personeel Burgerlijke Openbare Werken (VIPBOW) pada tahun 1916, buruh pos dengan membentuk Serikat Postel pada tahun 1917 dan banjak lagi serikatburuh² jang lain2. Djuga buruh² dalam perusahaan partikelir membentuk organisasinja seperti Persatuan Pegawai Perkebunan pada tahun 1915. Personeel Fabriek Bond (PFB) pada tahun 1917 jang da- pat mempersatukan hampir seluruh kaum buruh pabrik gula di Djawa. Suatu langkah jang penting jalah bahwa kalangan kaum Indo-Belanda dengan dibawah pimpinan Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Surjaningrat pada tahun 1912 mendirikan organisasi jang dinamakan Indische Partij jang pada waktu itu mendjalankan politik progresif dan menuntut kemerdekaan Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda sangat takut akan perkembangan Partai ini, karena itu pada tanggal 6 September 1916 organisasi ini dilarang. sedangkan beberapa pemimpinnja ditawan. Douwes Dekker sendiri diharuskan meninggalkan Indonesia dan pada tahun 1918, sesudah njata bahwa kaum Indo-dan partainja Insulinde" mendjalankan politik refor- mis ia diperkenankan kembali ke Indonesia. Suatu kemadjuan jang sangat penting dalam gerakan klas buruh dan gerakan kemerdekaan nasional jalah didirikan Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV) atau Perhimpunan Sosial Demokratis Hindia (PSDH) jang bertudjuan menjebarkan Marxisme di Indonesia. Sedjak dari semulanja pimpinan PSDH sudah ber- usaha untuk memadukan Marxisme dengan gerakan
revolusioner Rakjat Indonesia, dan untuk ini mereka berusaha keras untuk mendirikan dan mempersatukan serikatburuh, berpropaganda dan memimpin massa SI jang sudah tidak puas terhadap pimpinannja, berhu- bungan dengan Insulinde jang pada tahun 1919 nama- nja diubah mendjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Propaganda Marxisme jang dilakukan oleh PSDH dalam waktu jang singkat sudah mendapatkan pengaruh jang luas, karena ia tjotjok dengan tingkat tuntutan perdjuangan kemerdekaan Rakjat Indonesia. Pemuda intelektuil Indonesia beladjar. Marxisme dan beladjar pula menggunakannja untuk menuntun aktivitet revo- lusionernja. PSDH melahirkan pemimpin2 revolusioner bangsa Indonesia jang mulai berteori Marxis.
Pengaruh Krisis Umum Kapitalisme Terhadap Gerakan Kemerdekaan Rakjat Indonesia
Zaman imperialis adalah zaman dimana pertentangan² jang terdapat dalam tubuh kapitalisme makin mendjadi runtjing, zaman mendjelangnja revolusi proletariat dunia. Pertentangan diantara negeri kapitalis untuk merebut tanahdjadjahan mengakibatkan perang dunia I. Perang bukanlah obat mudjarab untuk meng- atasi pertentangan, bahkan ia makin. memperdalam pertentangan² itu, Di-negeri² dimana sjarat revolusioner sudah matang, terdapatlah kemungkinan bagi Rakjat pekerdja dibawah pimpinan proletariat untuk menum- bangkan kekuasaan klas penindas, imperialisme dan mendirikan kekuasaannja, sendiri. Keadaan seperti ini pada waktu itu terdapat di Rusia. Perang dunia I dan revolusi proletar sosialis di Rusia jang berhasil telah membuka zaman baru, jaitu krisis umum kapitalisme tingkat pertama, suatu krisis jang melibat segala segi kehidupan masjarakat kapitalis. Pengaruh perang dunia I dan makin membubungnja gerakan revolusioner di Eropa, terutama di Rusia djuga mendalam di Indonesia. Kesengsaraan jang makin mendalam, kesedaran jang makin meningkat, lemahnja ke- dudukan pemerintah kolonial. Belanda akibat berlang- sungnja perang dunia I, mendorong perdjuangan kemerdekaan makin meningkat, dan mendapatkan bentuk² baru serta semangat baru.
Revolusi burdjuis demokratis di Rusía pada bulan Februari 1917 djuga mempunjai pengaruh jang dalam pada pergerakan nasional Rakjat Indonesia. PSDH dengan didjurubitjarai oleh ketuanja, H.J.F.M. Snee- vliet menjambut revolusi itu dengan suatu artikel ber- kepala ,Zegepraal" jang dimuat dalam harian ,De Indier" jaitu harian Insulinde" jang dipimpin oleh Tjipto Mangunkusumo. Dalam artikel ini PSDH bukan hanja menjambut kemenangan revolusi Februari itu tetapi mengandjurkan agár Rakjat Indonesia dalam perdjuangan untuk kemerdekaan mengambil peladjaran dari revolusi itu dalam menumbangkan kekuasaan lama. Kemenangan Revolusi Sosialis Oktober 1917 lebih² mempunjai pengaruh jang dalam dan merangsang Rakjat Indonesia, merangsang gerakan Rakjat Indonesia dan meningkatkan kesedaran Rakjat Indonesia. Bukti meningkatnja kesedaran Rakjat dan perdjuangan kemerdekaan nasional itu tertjermin djuga dalam kongres² SI. djuga pada makin meluasnja gerakan buruh serta aksi² kaum buruh untuk perbaikan nasib, hak politik serta usaha² untuk mempersatukan diri guna memperkuat perdjuangan mereka. Sedjak tahun 1916 PSDH sudah mengusahakan tergalangnja persatuan di- kalangan kaum buruh dengan mendirikan vaksentral. Karena hanja dengan adanja vaksentral ini perlawanan terhadap kapitalis monopoli akan lebih mudah diatur dan akan lebih hebat pukulannja. Pada permulaannja PSDH dengan melalui kader² dan anggota2nja jang me- mimpin VSTP berusaha untuk membentuk vaksentral. tetapi gagal. Usaha untuk itu tetap dilandjutkan dan pada tahun 1918 sekali lagi diusahakan dengan meng- undang pengurus serikatburuh² ke Semarang. Dalam tahun² selandjutnja usaha untuk membentuk vaksentral ini mendapat hasil² jang lebih baik. Dalam kongres PPPB di Bandung dalam bulan Mei 1919 pemimpin SI Raden Sosrokardono jang djuga mendjadi pemimpin PPPB, mengandjurkan supaja semua serikatburuh digabungkan setjara federatif dalam satu badar sentral. Walaupun ada perbedaan pendapat dikalang- an pemimpin² serikatburuh², tetapi umumnja pada waktu itu sependirian perlunja ada satu vaksentral. Untuk merealisasi ide pembentukan vaksentral ini pada bulan Desember 1919 diadakan pertemuan antara
wakil² serikatburuh² di Jogjakarta. Dalam pertemuan ini dapat disetudjui adanja vaksentral dengan nama PPKB. Hampir semua serikatburuh tergabung dalam PPKB. Semangat persatuan dikalangan kaum buruh makin meluas, mendalam, karena kemelaratan dan keseng- saraan kaum buruh makin meluas. Keadaan kaum buruh selama perang dunia I maupun setelah selesai perang ini makin djelek. Djam kerdja di-perusahaan² besar jang diawasi oleh pemerintah kolonial Belanda masih berlangsung 8 sampai 10 djam sehari. Kerdja seminggu djuga berarti kerdja djuga pada hari Mingqu. Kerdja lembur masih terus-menerus. didjalankan dan disamping itu dalam satu aminggu masih harus bekerdja dua kali pada malam hari, Dibanjak perusahaan djam kerdja seminggu 84 djam sampai 88 djam, atau 12 djam sehari. Upah diperusahaan pertanian adalah djauh lebih ren- dah daripada upah diperusahaan industri atau kantor². Diperusahaan gula seorang buruh lepas hanja 46 sen sehari bagi buruh laki² dan 36 sen bagi buruh wanita. Kaum buruh terlatih rata² menerima 68 sen sampai 135 sen sehari. Djumlah upah tersebut belum lagi dipotong berbagai padjak jang rata² sampai 25%, dan potongan lain²nja. Disamping kemelaratan jang luarbiasa, kaum kapi- talis besar asing terutama Belanda menerima keuntunq- an jang-luarbíasa. Misalnja perseroan dagang Belanda.
H.V.A. telah dapat mengeluarkan dividen 50% untuk tahun 1919, dan 60% untuk tahun 1920. Harga oula meningkat luarbiasa dari f 5.25 per pikul dalam bulan Djuli 1918, mendjadi f 66.~ dalam bulan Mei 1920. Kopi robusta dari f 16.12 per pikul dalam bulan Diuli 1918 mendjadi f 76,25 dalam bulan November 1919. Ini berarti keuntungan ekstra bagi kapital monopoli Belanda di Indonesia. Meningkatnja kesedaran akan persatuan djuga ter- wudjud dalam usaha tergalangnja persatuan dikalangan pemimpin pergerakan nasional Indonesia. Usaha seperti ini makin tampak setelah kemenangan Revolusi Sosialis Oktober di Rusia pada tahun 1917. Partai2 di Indonesia membentuk suatu badan persatuan jang di- namakan ,Radicale Concentratie", dalam mana tergabung SI, Budi Utomo, Insulinde, Pasundan, dan ISDP
e t Dt - 124)
Sar l (on.
120)
1901926 PEN PDDANPEMI IIPIPADRA PIODE S kt kpl r Dt 19a2)
W n ong.
(Indische Sociaal Democratische Partij suatu partai jang didirikan oleh sajap reformis jang telah dipetjat dari ISDV). ISDV sendiri tidak masuk mendjadi anggota Radicale Concentratie. Radicale Concentratie" ini telah menetapkan dalam programnja unituk membentuk Dewan Perwakilan Rakjat (Volksraad) baik dipusat maupun di-daerah². Dalam menghadapi tuntutan ini pemerintah Belanda membikin undang2 pada bulan Desember 1916, untuk mendirikan volksraad jang sidang pertamanja baru di- adakan pada bulan Mei 1918. Anggota² Volksraad jang 48 orang djumlahnja, terdapat 28 orang Belanda jang ditundjuk, 5 orang Indonesia jang diangkat oleh pemerintah dan selebihnja (15 orang) dipilih oleh Dewan² Provinsi (Provinciale Raden). Sjarat² untuk ditundjuk untuk bisa mendjadi anggota Volksraad antara lain pandai berbahasa Belanda. Dengan demikian maka perwakilan ini hanja merupakan perwakilan golongan atas dari orang Indonesia jang sebagian besar terdiri dari burdjuasi. tuantanah dan pegawai² tinggi. Sebagai akibat dari beban berat jang tak terpikul. pemberontakan tani meletus dibeberapa tempat seperti: Perang Kelambit di Djambi (1917), pemberontakan tani di Tjimaremeh (1917), demonstrasi Tjaping Kropak" di Semarang (1917), di Toli-Toli (Sumatera) kaum tani melakukan pemberontakan. di Garut (Djawa Barat) dalam bulan Djuni 1919 timbul pemberontakan, karena kaum tani menolak untuk menjerahkan padinja dengan harga jang ditetapkan oleh pemerintah. Walaupun pemberontakan spontan setempat ini dapat ditindas oleh pemerintah kolonial Belanda, namun ia membangkitkan kesedaran pada massa Rakjat jang luas bahwa kekuasa- an kolonial bisa dilawan, bisa ditumbangkan asalkan ke- kuatan revolusioner Rakjat diorganisasi dengan baik. dan termobilisasi serta dipimpin dengan tepat berdasar- kan teori Marxisme-Leninisme.
Lahirnja PKI Dan Perdjuangannja
PKI adalah anak zaman jang melahirkan zaman. demikianlah dengan tepat dikatakan oleh Ketua CC PKI, Kawan D.N. Aidit.
Kemakmuran kapitalis jang berlangsung setelah perang dunia I tak berlangsung lama, dan segera disusul dengan masa krisis. Masa kemakmuran kapitalis tak djuga memberi kemakmuran bagi kaum buruh bahkan sebaliknja -makin memperdalam penghisapan kapital kolonial terhadap kaum buruh. Upah kaum buruh di- turunkan dan djam kerdja dinaikkan. Penghisapan dan kemelaratan kaum buruh dan Rakjat Indonesia dalam masa kemakmuran kapitalis ini makin diperdalam dengan adanja krisis ekonomi jang terdjadi pada tahun 1921~1923. Produksi gula adalah produksi jang per-tama2 ter- kena pengaruh krisis dan usaha mengurangi produksi mengantjam langsung bagi kehidupan kaum buruh. Dalam bulan Maret 1920 oleh pengurus PFB disam- paikan surat edaran kepada direksi, 'administratur on- derneming² dan sindikat² gula, dimana diadjukan tuntutan perbaikan upah kaum buruh gula, dan dituntut agar PFB diakui sebagai wakil kaum buruh gula. Tuntutan itu ditolak dan kaum buruh mengadakan aksi pemogokan besar²an jang diikuti oleh puluhan ribu buruh gula di Djawa Timur dan Djawa Tengah. Walaupun aksi telah memaksa sindikat² gula untuk mengadakan kontak dengan fihak buruh, namun sikap ma- djikar tetap kepalabatu dan menolak tuntutan tadi. Untuk membalas sikap ini pada tanggal 9 Agustus 1920 PFB mengeluarkan ultimatum akan mengadakan pemogokan umum diseluruh pabrik gula. Sindikat² guia takmampu menghadapi sikap dan kekuatan kaum buruh ini. Pemerintah kolonial sebagai alat kaum kapitalis monopoli, 'bertindak melindunginja dengan menja takan bahwa pemogokan umum itu membahajakan apa jang dinamakan ,ketertiban umum". Aksi dinjatakan dilarang. Disamping kaum buruh, djuga massa kaum tani dan burdjuasi nasional mengadakan aksi². Padjak perang jang tinggi dan jang berlaku surut sangat membuat ma- rah kaum burdjuasi nasional Indonesia jang baru tum- buh, Walaupun mereka tidak mampu mengadakan aksi² revolusioner tetapi kata² jang tampaknja radikal djuga dilontarkan sebagaimana dalam rapat umum Radicale Concentratie, sementara pidato2 dalam Volksraad, dalam suratkabar² dan lain². Kemenangan Revolusi Sosialis Oktober 1917 di Rusia
memberikan suatu kesadaran kepada Rakjat Indonesia bahwa pemerintah kolonial bisa ditumbangkan dan Rakjat dapat berkuasa atas nasibnja sendiri. Untuk itu Revolusi Oktober mengadjarkan perlu adanja Partai klas buruh jang Marxis-Leninis. Kongres pendirian Internasionale ke-III di Moskow pada bulan Maret 1919 jang dihadiri oleh wakil² Partai Komunis dan Sosialis Kiri dari 30 negeri, a.l. memutuskan untuk mendiri- kan Partai sepertí ini disetiap negeri. PSDH adalah suatu organisasi jang mendasarkan dirinja pada adjaran Marxisme, dan mulai menggunakan kebenaran umum Marxisme untuk menuntut perdjuangan kemerdekaan di Indonesia, namun demikian organisasi ini belum Marxis-Leninis. Adanja Partai klas buruh jang Marxis-Leninis se- bagai sjarat utama untuk mendjamin kemenangan revolusi di Indonesia telah mendjadi kesedaran. Partai itu harus merupakan detasemen pelopor jang berke- sedaran klas, jang terorganisasi dan mempunjai di- siplin jang mengikat semua anggota tanpa terketjuali, jang merupakan bentuk tertinggi dari semua. organisasi klas buruh, jang mempunjai hubungan dengan massa jang luas, dan jang organisasinja tersusun ber- dasarkan prinsip sentralisme-demokratis. * Dengan dituntun oleh kesedaran seperti itu, dan se- telah mengadakan perdjuangan intern organisasi untuk melawan pikiran² reformis, maka dalam rapat tahunan- 1 di Semarana pada 23 Mei 1920 atas usul tjabang Semarang. PSDH dilebur mendjadi Partai Komunis. Pada mulanja dengan nama Partai Komunis Hindia dan baru dalam Kongresnja ke-II tahun 1924 di Djakarta nama itu disempurnakan mendiadi Partai Komunis Indonesia. Dalam programnja PKI mentjantumkan bahwa PKI akan terus-menerus berdjuang untuk memper- tinggi tingkat hidup kaum buruh dan Rakjat Indonesia. Perdjuangan untuk kemerdekaan nasional dan meng- hapuskan penindasan imperialisme dan sisa² feodal- isme mendjadi titikberat aktivitet perdjuangannja. Pada achir tahun 1920 PKI djuga masuk mendjadi anggota Internasionale ke-III. Dengan berdirinja PKI, suatu Partai klas buruh jang
berdasarkan adjaran Marxisme-Leninisme, maka klas buruh Indonesia mempunjai Partainja sendiri, gerakan kemerdekaan Indonesia mempunjai intinja jang paling sedar. Sebagai Partai klas buruh, PKI bukan hanja memperdjuangkan kepentingan klasnja, tetapi kepentingan nasional Indonesia, kemerdekaan nasional. Karena PKI jakin bahwa tidak mungkin klas buruh dapat membebaskan dirinja tanpa terbebasnja golongan lain- nja, tanpa kemerdekaan nasional. Dengan kelahiran PKI maka sedjarah telah memberi vonnis hukuman mati bagi kekuasaan imperialisme dan feodalisme di Indonesia. Sesuai dengan prinsip² Partai Marxis-Leninis, PKI melandjutkan tradisi jang baik dari PSDH, jaitu memberi perhatian jang besar dan memimpin organisasi² massa baik buruh, dan lain²nja dalam perdjuangan untuk perbaikan nasib dan kemerdekaan nasional. Karena pekerdjaannja dalam organisasi massa dan karena perdjuangannja jang konsekwen terhadap imperialisme, PKI madju pesat. Kaum Komunis mempunjai pengaruh jang besar dalam PPKB, jang pada tahum 1920 telah menghimpun lebih dari 22 serikatburuh dengan ke- anggotaan seluruhnja 72.000 orang, Pengaruh kaum Komunis jang terutama dengan melalui VSTP, jang memang sudah lama mendapat asuhan dan pimpinan dari PSDH. dan jang terkenal sebagai serikatburuh jang militan, Tetapi karena dalam PPKB berkuasa pimpinan jang reformis maka terdjadilah pertentangan antara aliran revolusioner jang diwakili oleh anggota² PKI dengan aliran² reformis dari SI. Aliran reformis mengetjilkan peranan dari vaksentral dan tidak menghubungkan aksi kaum buruh dengan perlawanan anti-kolonialisme. Pertentangan ini terwudjud djuga dalam Kongres PPKB pada bulan Agustus 1920 di Semarang. Pertentangan ini tidak dapat diselesaikan dalam Kongres. tetapi terdjadi sematjam .,kompromi", jang terwudjud dalam susunan pengurus dimana kaum revolusioner dan kaum reformis masih duduk dalam pimpinan ber- sama2. Sedjak lahirnja, PKI sudah dihadapkan pada per- soalan² perdjuangan buruh jang hangat. Krisis ekonomi tahun 1921-1923, jang di Indonesia gedjalanja sudah terasa pada pertengahan kedua tahun 1920, disebabkan karena Indonesia sebagai sumber bahan mentah, mem-
buat ekspor gula mulai matjet, produksi gula tertekan, dan ini langsung mengantjam nasib kaum buruh, Djuga perusahaan lain jang fungsinja mengabdi produksi ba- han mentah segera djuga terasa pengaruhnja, upah buruh terantjam ditekan. Djuga. diperusahaan transpor tekanan nasib buruh itu sangat terasa. Diperusahaan transpor partikelir, jaitu diperusahaan keretaapi SCS timbul perselisihan perburuhan, dalam mana kaum buruh SCS menuntut persamaan sjarat² kerdja bagi buruh keretaapi partikelir dengan buruh keretaapi milik pemerintah (SS) dan tuntutan 8 djam kerdja sehari. Direksi menjanggupkan memberi sjarat kerdja jang sama dengan buruh SS, tetapi mengenai tuntutannja ditolak. Suasana hangat timbul dikalangan kaum buruh dan timbul suatu provokasi pemogokan, tetapi jang dapat dengan segera dihentikan oleh VSTP. Aksi pemogokan untuk menuntut kenaikan upah djuga timbul dikalangan kaum buruh keretaapł DSM (Deli Spoorweg Maatschappij), buruh BPM di Pang- kalan Brandan, Ini terdjadi pada bulan September
- Tuntutan kenaikan upah jang kemudian diikuti oleh aksi pemogokan djuga terdjadi di Droogdok Maatschappij Surabaja pada bulan November 1920. Aksi pemogokan djuga terdjadi diberbagai perusahaan lainnja sebagai akibat ditolaknja tuntutan kaum buruh. PKI dengan melalui anggota²nja jang memimpin seri- katburuh² dengan gigih membela dan memberi pim pinan terhadap aksi² kaum buruh itu. Pada umumnja tuntutan kaum buruh jang dibela dengan pemogokan itu berhasil. Pemogokan iņi memberi semangat dan kegembiraan berdjuang bagi kaum buruh, mendidik kaum buruh akan pentingnja organisasi dan disiplin, dan menjedarkan kaum buruh akan dje- leknja peraturan perburuhan dari pemerintah kolonial. Tetapi kaum kapitalis monopoli dan pemerintah kolonial Belanda takut akan kemadjuan² perdjuangan buruh ini dan karena itu mereka berusaha memetjah-
belah organisasi buruh ~ PPKB. Dalam melakukan politiknja ini mereka mendapatkan orang jang mau di- peralatnja jaitu sementara pimpinan SI. Demikianlah maka pada bulan Djuni 1921 PPKB petjah, dan kaum revolusioner terpaksa mendirikan vaksentral sendiri. jaitu Revolutionaire Vakcentrale (RV) dengan ber- pusat di Semarang.
Tahun² krisis ekonomi adalah tahun² jang djuga pe-
nuh dengan pemogokan² kaum buruh, karéna keadaan sosial dan ekonomi kaum buruh makin bertambah bu- ruk. Tuntutan perbaikan nasib kaum buruh kerapkali dibela dengan pemogokan. Dalam bulan Agustus 1921 terdjadilah pemogokan buruh pelabuhan di Semarang sebagai perlawanan ter- hadap madjikan jang hendak menurunkan upah kaum buruh. Dalam tahun ini djuga terdjadi pemogokan buruh pertjetakan di Semarang dan pemogokan kaum buruh gula. Pada tanggal 11 Djanuari 1922 terdjadi pemogokan buruh pegadaian dibawah pimpinan PPPB (anggota PPKB). Pemogokan mula² terdjadi di Jogja. tetapi dua mingqu kemudian mendjalar kebeberapa daerah di Dja- wa. Pemogokan ini disebabkan karena pegawai atasan jang umumnja terdiri dari bangsa Belanda bertindák se- wenang2. Mereka menjuruh pegawai2 bangsa Indonesia melakukan pekerdjaan jang bukan tugasnja seperti mengangkat barang² jang akan dilelang kedalam los, dsb. Pegawai bangsa Indonesia menuntut supaja ada pekerdja chusus untuk itu dan menuntut agar tidak digunakan bahasa jang membedakan tingkat dan ke- dudukan. Tuntutan tidak mendapatkan perhatian, dan pemogokan meletus jang diikuti oleh kuranglebih 1.000 orang. Untuk menindas pemogokan ini pemerintah ko lonial menggunakan hukuman diabatan, jaitu pegawai jang mogok dianggap ,menolak pekerdjaan" dan di- petjat. Dalam menghadapi pemogokan ini, kedua organi- sasi vaksentral pada waktu itu RV dan PPKB, mengeluarkan pernjataan tentang pentingnja pemogokan dan menjerukan agar seluruh kaum buruh Indonesia me- niokongnia. Rapat pendjelasan diadakan dimana-mana, dan didjelaskan djuga supaja buruh siáp sewaktu-waktu untuk mengadakan pemogokan umum. Buruh keretaapi SS djuga mengalami nasib jang sama. Pemerintah bermaksud mentjabut tundjangan kemahalan dan mengeluarkan maklumat untuk men- djelaskan penghematan jang intinja pemetjatan, Rapat umum buruh keretaapi diadakan di-mana² untuk mem- bitjarakan masalah ini. Pada bulan Djanuari 1923 VSTP mengeluarkan selebaran jang berisi pernjataan akan mengadakan pemogokan bila peraturan pemerin-
tah didjalan'kan. Dalam kongres VSTP bulan Februari 1923 soal pemogokan mendjadi atjara pokok, dan mengingatkan kepada direksi maskapai Spoor dan Trem supaja ,djangan main api". Kongres mewadjib- kan pimpinan VSTP mengadakan perundingan dengan pembesar² KA sebelum mengadakan pemogokan. Tanggal 12 April 1923 diadakan rapat antara kepala² dinas, dengan pengurus besar VSTP dalam pertemuan ini pimpinan VSTP mengadjukan tuntutan pokok sbb.:
- tetap mempertahankan tundjangan kemahalan.
- didjalankan 8 diam kerdja sehari.
- supaja diadakan badan arbitrase djika ada per- selisihan antara madjikan dan buruh.
- upah minimum f 1,~ sehari, sedangkan upah jang sudah diakui pada tahun 1921 tidak boleh dikurangi. Satupun dari usul VSTP itu tidak ada jang diterima.
Mengenai 8 djam kerdja didjandjikan akan diadakan angket; tentang badan arbitrase kepala inspektur tidak mempunjai keberatan prinsipil" tetapi dianggap badan seperti itu tidak perlu bagi pegawai negeri. Berhubung dengan kegagalan ini maka VSTP mengadakan rapat² penerangan dikalangan buruh KA-SS. Dalam rapat ini pemerintah kolonial mendapatkan serangan² jang sengit. Karena itu ia memperingatkan supaja pemimpin2 VSTP djangan terlalu galak". Per- ingatan ini didjawab bahwa kaum buruh tidak bisa mendjamin keinginan pemerintah. Tanggal 29-30 April 1923 di Surabaja diadakan rapat vaksentral PVH. Dalam rapat ini diputuskan. bahwa pemogokan umum buruh KA akan dilangsung- kan apabila salah seorang pemimpin ditangkap oleh pemerintah. Dalam rapat VSTP di Semarang pada tanggal 6. Mei 1923 sekali lagi ditandaskan bahwa pemogokan harus diadakan djika terdjadi penangkap- an atas salah seorang pemimpin buruh. Pemerintah Belanda menggunakan sàat jang demi- kian ini untuk mengadakan provokasi dengan menang- kap Semaun sebagai salah seorang pimpinan VSTP pada tanggal 8 Mei 1923. Segera setelah itu buruh KA mengadakan rapat di-mana2 dan menjatakan pemogokan hari itu djuga. Mula² terdjadi pemogokan di Semarang, kemudian meluas ke Madiun dan Surabaja. Pemogokan ini bersifat umum dan diikuti oleh 13.000
orang dari 20.000 buruh KA. Djuga sebagian buruh
bangsa Eropa ikut ambil bagian dalam pemogokan ini. Dalam menghadapi pemogokan jang makin meluas ini pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 10 Mei 1923 menetapkan suatu peraturan larangan mogok jang terkenal dengan artikel 161 bis" jang ditambah- kan pada artikel² dalam Kitab Undang² Hukum Pi- dana (Wetboek van Strafrecht). Disamping itu hak berapat dan berpropaganda sangat dibatasi, dan achir- nja dalam bulan Mei itu djuga pemogokan VSTP di- tindas oleh pemerintah. Semaun sebagai salah seorang pimpinan VSTP dan ketua PKI pada waktu itu, dengan keputusan pemerintah pada tanggal 14 Agustus 1923 diinternir ke Timor, tetapi atas permintaannja sendiri diperkenankan meninggalkan Indonesia. Dengan demikian pemerintah kolonial telah membi- kin lumpuh serikatburuh² jang besar jaitu: PFB dalam bulan Agustus 1920, PPPB dalam bulan Djanuari 1922 dan VSTP pada bulan Mei 1923. Walaupun pemerintah kolonial Belanda melakukan pukulan² terhadap gerakan buruh namun klas buruh tak djuga mundur karenanja, bahkan makin madju, makin gigih dan makin teratur. Hal ini bisa kita lihat dalam perkembangan selandjutnja. *
Berlawanan dengan sikap klas buruh dan Partai- nja PKI jang dengan gigih dan terus-menerus melakukan perdjuangan untuk perbaikan nasib klasnja, untuk mendapatkan hak² politik dan sosial jang de- mokratis, dan untuk kemerdekaan Indonesia, kaum burdjuis reformis mengumbar dirinja untuk didjadikan alat kaum reaksioner dan pemerintah kolonial guna memetjahbelah dan melumpuhkan gerakan klas buruh, gerakan revolusioner Rakjat. Dengan pesatnja kemadjuan gerakan revolusioner, dengan pesat madjunja PKI makin tersisihlah peranan burdjuis dalam usaha untuk mendapatkan kedudukan memimpin perdjuangan kemerdekaan nasional. Dido- rong oleh sifat pitjiknja jang mementingkan diri sendiri, sifat reformis dan kompromisnja, mereka mulai melakukan serangan terhadap pelopor klas buruh Indonesia PKI, mengisolasi PKI, memetjahbelah kekuatan
massa Rakjat, jang berarti merusak gerakan kemerde- kaan nasional Indonesia. Didalam SI mereka berusaha menjingkirkan anggota² PKI dengan djalan mengadjukan tuntutan diadakan suatu disiplin bahwa anggota SI tidak boleh masuk organisasi lain. Serangan terhadap PKI itu mulai di- lantjarkan dalam Kongres SI ke-V jang diadakan pada tanggal 2-6 Maret 1921 di Jogja, tetapi belum berhasil. Untuk meneruskan serangannja terhadap PKI pimpinan SI jang reaksioner sekali lagi mengusahakan Kongres SI. Kongres ke-VI diadakan pada tanggal 6-10 Oktober 1922 di Surabaja. Dalam kongres ini masalah disiplin Partai" dan arti agama dalam per- djuangan klas mendjadi masalah pokok. Usaha kaum reaksi dengan menggunakan pimpinan SI jang reformis dan kompromis berhasil, ,disiplin Partai" diterima dalam Kongres. Dengan demikian mereka berhasil mengadakan perpetjahan didalam kalangan SI dan memaksa timbulnja dua pusat SI. Sedjumlah tjabang dan sedjumlah besar anggota SI mengikuti djedjak PKI, dan ini berarti ke- runtuhan bagi SI jang dibawah pimpinan golongan burdjuis jang reformis dan kompromis. Djarum perpetjahan djuga ditusukkan oleh kaum reaksi dengan menggunakan pimpinan SI jang kompromis dalam tubuh gerakan buruh. Atas usul VIPBOW dengan maksud untuk ,,meredakan pertentangan" jang ada dalam PPKB, pada tanggal 16-18 Djuli 1921 diadakan rapat umum di Jogia, jang dihadiri oleh semua anggota PPKB. Tetapi dalam rapat ini, pertentangan bukannja makin mendjadi reda, tetapi makin mendiadi tadjam dan makin terang. Hasil dari rapat ini PPKB petjah, satu golongan mengikuti djedjak kaum revolusioner jang berpusat di Semarang. dan golongan lain mengikuti elemen reaksioner jang berpusat di Jogja, jang menghendaki kerdjasama dengan kaum kapitalis monopoli. dengan pemerintah ko- lonial Belanda. Kemudian di Semarang didirikan vak- sentral baru dengan nama Revolutionaire Vakcentrale, dalam mana tergabung 14 serikatburuh² pelabuhan, tambang, supir, pertjetakan, pendjaitan,, dsb. dengan VSTP sebagai tulangpunggungnja. Tetapi dua serikatburuh jang penting. jaitu PFB dan PPKB tidak dapat ditarik dan tetap dalam PPKB.
Berdasarkan kesadaran bahwa dengan adanja per- petjahan ini dapat melemahkan kekuatan klas buruh sendiri dalam perdjuangannja, maka kaum Komunis dengan sekuat tenaga mempersatukan kedua golongan² ini kedalam satu vaksentral, Atas inisiasif Revolutionai- re Vakcentrale pada tanggal 25 Djuni 1922 di Su» rabaja diadakan rapat bersama dengan semua serikatburuh², dan rapat itu menjatakan diadakan fusi an- tara kedua vaksentral itu. Usaha fusi ini dilaksanakan dalam rapat jang diadakan untuk itú di Madiun pada tanggal 3 September 1922, dan melahirkan suatu vaksentral baru jang diberi nama Persatuan Vakbond Hindia (PVH). Dalam PVH tergabung VSTP. PPPB. PFB. Kweekschoolbond. PGB dll. serikatburuh pemerintah maupun partikelir jang djumlah anggota seluruhnja tidak kurang dari 40.000 orang. PVH ini memainkan peranan jang penting dalam memimpin per- djuangan buruh untuk mempertahankan dan memper- baiki siarat peşdjualan tenagakerdja kaum buruh. Tahun 1923 adalah tahun berachirnja krisis ekonomi jang pertama dalam zaman, krisis umum kapitalisme. Masa krisis mulai berlalu, datanglah masa denresi, pe- mulihan dan konjungtur tingqi. Tetapi beda dengan siklus reproduksi sebelum krisis umum kapitalis masa siklus reproduksi dalam zaman krisis umum kapitalisme, mendjadi lebih pendek, sedangkan dalam periode masa siklus itu produksi pada umumnja tidak laqi ber- djalan menurut kapasitetnja. Pengaruh keadaan ini sangat terasa di Indonesia, sebagai suatu negeri tanah- djadjahan imperialis, negeri sumber bahan mentah bagi negeri kapitalis. Banjak perusahaan jang mengorqani- sasi kembali produksi menurunkan beaja produksi untuk lebih sanggup lagi bersaing dalam pasaran kapitalis internasional. Dalam hal ini jang terutama mendjadi korbannia jalah kaum buruh. Sjarat pendjualan tenagakerdja tak djuga mendjadi baik, suasana politik makin buruk ka- rena tekanan pemerintah kolonial makin kurangadjar. Dalam periode melintasi krisis ini, walaupun kaum buruh baru sadia mengalami pukulan dari pemerintah kolonial Belanda, gerakan buruh, gerakan kemerde- kaan tidak makin reda tetapi sebaliknia makin me- ningkat dan luas. *
Kesedaran internasional dari kaum buruh Indonesia makin meningkat djüga karena mereka jakin bahwa perlawanan. terhadap imperialisme tidak mungkin tju- kup hanja dihadapi oleh kaum buruh dalam satu negeri tanpa mendapatkan bantuan dan setiakawan dari kaum buruh lain² negeri. Berdasarkan kesedaran ini maka kaum buruh Indonesia djuga mulai berusaha untuk menjatukan diri dengan organisasi² kaum buruh internasional. Kongres VSTP pada tanggal 3-4 Maret 1923 memutuskan bahwa VSTP menggabungkan diri pada Gabungan Serikat Buruh Internasional (International Labour Union) jang berpusat di Moskow. Dalam konferensi buruh transpor Pasifik di Kanton pada bulan Djuni 1924 jang diadakan atas inisiatif Gabungan Serikat Buruh Internasional, jang dihadiri wakil² serikatburuh pelajaran dan pelabuhan² jang penting didaerah Pasifik, Indonesia djuga mengirimkan wakilnja jaitu Alimin dan Budisutjitro. Konferensi ini memutuskan untuk membentuk Biro jang berkedudukan di Kanton, jang bertugas untuk memper- hatikan perdjuangan serikatburuh di Tiongkok, Filipina, Djepang, India dan Indonesia. Konferensi ini djuga mempunjai pengaruh jang besar atas -kehidupan serikatburuh di Indonesia. Hal ini tam- pak sekali dalam konferensi buruh pelabuhan dan pelajaran di Surabaja pada bulan Desember 1924. Untuk lebih memperkuat barisannja serikatburuh² sedjenis pekerdjaan mempersatukan dirinja, untuk itu digabung- kan Serikat Laut dan Gudang di Semanang dengan Serikat Kaum Buruh Pelabuhan di Djakarta dan Serikat Pegawai Pelabuhan dan Lautan organisasi anak- kapal Indonesia, jang dibentuk oleh Semaun di Amster- dam pada kira² tahun 1924. Selain itu djuga di Surabaja dalam rapat jang dihadiri oleh serikatburuh² KA. pegadaian, pabean, gula, minjak dll. diputuskan untuk mengadakan Sekretariat Vakbond Merah Indonesia jang berkedudukan di Surabaja. Organisasi ini masuk mendjadi anggota Gabungan Serikat Buruh Internasional di Moskow dan djuga mendjadi anggota Pan Pacific Labour Union (Perserikatan Buruh Pasifik) di Kanton. *
Untuk mengkonsolidasi gerakan revolusioner selandjutnja, partai klas buruh PKI mengadakan rapat tahunannja di Bandung dengan wakil Merah" dari SI dan serikatburuh² jang revolusioner. Dalam rapat ini diputuskan untuk menggabungkan bagian² ,,merah" dari Serikat Islam mendjadi Serikat Rakjat jang akan mendjalankan program Partai Komunis dan mengakui Comite Central PKI sebagai pimpinannja dan meng- hadiri kongres²nja. Pada bulan Djuni 1924 PKI mengadakan Kongres- nja jang ke-III di Jogjakarta, Kongres mana telah men- sahkan Program Partai dan Program Aksi dan Propaganda. Dalam Anggaran Dasar PKI diterangkan bah- wa tudjuannja jalah mempersatukan kaum buruh dan tani Indonesia dalam suatu organisasi politik jang bebas dengan tanpa mem-beda²kan bangsa atau agama untuk merobohkan kapitalisme, sedangkan program perdjuangannja mengemukakan tuntutan² jang praktis. Tudjuan perdjuangan selandjutnja seperti diterangkan dalam program jalah mentjiptakan masjarakat sosialis di Indonesia, sedangkan sifat perdjuangannja jalah internasional. Dalam pidato salah seorang ang- gota pimpinan Partai waktu itu djuga dikemukakan beberapa masalah mengenai organisasi, terutama mengenai memperkokoh gerakan sekerdja jang revolusioner, gerakan pemuda, mendirikan sekolah, tetapi pembitjara ini mengabaikan masalah tani, dan bahkan mengemukakan masalah untuk merombak susunan masjarakat ka- pitalis dan membangun masjarakat sosialis. Pengaruh PKI sesudah tahun 1923, makin bertambah besar, karena perdjuangannja jang konsekwen dalam melawan imperialisme, serta tindakan praktisnja jang selalu membela kepentingan Rakjat, jaitu dengan mem- buka sekolah bukan hanja di-kota² besar tetapi sampai kota² ketjil jang djauh, mendjalankan propaganda dan mengorganisasi pemuda dan wanita; memimpin peker- djaan dan perdjuangan praktis dari serikatburuh dls. Pe- mogokan kaum buruh KA pada tahun 1923 jang dipim- pin oleh orang² Komunis, walaupun berachir dengan pe- nangkapan, dan tidak kurang dari 50 orang jang di- tangkap, namun tidak melemahkan PKI dan tetap da- pat mempertahankan diri sebagai kekuatan jang bebas. Dalam satu tahun djumlah tjabangnja bertambah dari 16 mendjadi 38 dan dalam Kongres ke-III PKI tanggal
31 Agustus 1924 itu datang 84 utusan dari 36 Comite Seksi dan 46 tjabang Serikat Rakjat jang mewakili
33.748 anggota. Suatu kesalahan besar jang dilakukan oleh Kongres ini, jalah a.l. tidak melakukan perdjuangan terhadap fikiran² jang menuntut didirikannja diktatur proletar sebagai sembojan dan tuntutan praktis, dihapuskannja Serikat Rakjat dan lain-lain. Tuntutan untuk meng- hapuskan Serikat Rakjat tidak diterima, tetapi bukan karena disebabkan kesedaran pentingnja peranan kaum tani, tetapi karena takut terisolasi dari massa, namun cemıkian masih djuga ditentukan untuk tidak lagi men- dirikan tjabang² Serikat Rakjat jang baru, dan anggota2- nja jang ada sedapat mungkin didjadikan anggota PKI. Tetapi sebelum putusan² ini semuanja dapat didja- lankan, kegiatan PKI dan Serikat Rakjat sudah dilarang. Sekolah jang didirikan oleh Serikat Rakjat di- paksa ditutup hingga menimbulkan banjak perlawan- an kaum tani. Namun demikian perdjuangan tak- terhenti karenanja, sebab keadaan ekonomi dan sosial, keadaan politik, makin bertambah buruk. Gerakan revolusioner di Tiongkok jang semakin me- ningkat, jaitu ekspedisi-tentara revolusioner dari Kanton ke Utara untuk mengalahkan radja perang Utara, mem- punjai pengaruh pada gerakan revolusioner di Indonesia, terhadap penduduk Tionghoa jang demokratis di Indonesia. Penduduk Tionghoa ikut mengambil bagian dalam gerakan revolusioner, gerakan kemerdekaan Indonesia.
大
Dalam tahun 1925 walaupun kegiatan² revolusioner,
kegiatan PKI dilarang, namun PKI tetap melaksanakan putusan Kongresnja, tahun jang ramai dengan pemogokan buruh dan aksi massa lainnja. Di Semarang pada tanggal 2 Djuli 1925, atas ini- siatif buruh Tionghoa disokong oleh buruh Indonesia jang bekerdja pada perusahaan pertjetakan diada- kan aksi pemogokan untuk membela tuntutannja. Aksi pemogokan buruh pertjetakan ini berlangsung terus-menerus. Djuga di Surabaja pemogokan buruh pertjetakan berlangsung terus-menerus. Pada 1 Agustus 1925 pegawai. rumahsakit pusat di Semarang djuga
mengadakan pemogokan. Bersamaan dengan ini djuga diperusahaan kapal dan perahu dengan dipimpin oleh SPPL diadakan pemogokan jang hampir satu bulan lamanja. Hak 'berapat di Semarang dibatasi, kemudian dise- luruh Indonesia. Pimpinan PKI pada waktu itu a.l. Darsono (kemudian mendjadi renegat), Aliarcham dan Mardjohan ditangkap dan ditawan, sedangkan Alimin dapat meloloskan diri. Pada tanggal 1 September 1925 timbul pemogokan disalah satu perusahaan pertjetakan di Surabaja jang lamanja 2 bulan. Pada tanggal 5 Oktober 1925 buruh mesin dan pabrik Nederlands-Indie" mengadakan pemogokan dan jang pada tanggal 19 November 1925 meluas kepabrik mesin Braat. Pemogokan ini berhasil agak baik. Pada tanggal 2 Desember 1925 federasi buruh pabrik dan persatuan buruh listrik memutuskan akan mengadjukan beberapa tuntutan kepada 7 pabrik mesin dan bengkel di Surabaja. Pada tanggal 14 Desember 1925 timbul pemogokan disemua pabrik mesin dan maskapai Droogdok. Di Djakarta, pada bulan September 1925, pegawai Rumah Sakit Sentral djuga melakukan pemogokan. Di Medan, pegawai pemerintah dan partikelir jang terorganisasi dalam SPPL pada bulan Oktober 1925 djuga mengadakan pemogokan. Ketjuali ini masih ba- njak aksi pemogokan jang berlangsung diberbagai perusahaan besar dan sedang. lainnja. Sementara itu pengusaha kapitalis monopoli bersatu dan mengadakan tindakan pemetjatan, lock-out dsbnja, dan pemerintah kolonial Belanda sebagai alat kaum kapitalis monopoli djuga melakukan tindakan menin- das pemogokan dan menangkapi pemimpinnja, diantara- nja terdapat orang² Komunis. Suratkabar2 revolusioner, terutama jang dipimpin PKI seperti Api" di Semarang, Merdeka" di Jogja, Proletar" di Surabaja, Halilintar" di Palembang. Guntur" di Medan dan lain²nja dalam melakukan pem- belaan terhadap kepentingan Rakjat Indonesia menje- rang. miengkritik dan menelandjangi sikap dan politik kaum kapitalis monopoli dan pemerintah kolonial Belanda.
口
Anggota® PKI di Padangpandjang (Sumatera Barat. 1923)
Karena takutnja terhadap suratkabar dan penerbitan revolusioner jang mendjiwai gerakan revolusioner pada waktu itu, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan undang2 untuk menindas pers revolusioner jang terkenal dengan artikel 153 bis dan ter, jaitu ,muilkorfwet". Dalam waktu satu minggu sesudah diumumkannja artikel itu, maka ada 30 madjalah dan koran Komunis jang dibreidel dan redakturnja ditawan. Djuga kantor PKI dan kantor serikatburuh diserbu sedangkan peker- dja-pekerdjanja jang aktif ditangkapi. *
Vvalaupun mengalami berbagai tekanan, pengekang- an, penindasan, namun gerakan revolusioner jang dipimpin oleh PKI pada waktu itu bukan hanja meluas di Djawa tetapi mendapat dukungan jang meluas diluar Djawa. Seksi² PKI ketjuali di Djawa dan Madura, djuga terdapat di Kotaradja, Langsa, Loh Sumawe, Suma- tera Barat (Seksi²nja Padang Pandjang, Bukit Tinggi, Padang, Sawah Lunto dll.) Medan, Bangkahulu, Pa- lembang, Djambi, Kalimantan Barat, Menado, Goron- talo, Makasar dan Ternate. Sedangkan Serikat Rakjat djuga meluas sampai di Nusa Tenggara Timur dengan berpusat di Kupang, jang dipimpin oleh anggota PKI Pandi, Johanes, Amtiran dll. Aksi kaum buruh, tani dan Rakjat jang luas diluar pulau Djawa djuga tidak per- nah berhenti. Sampai bulan Mei 1926 djumlah seksi PKI ada 65 meliputi 3000 anggota. PKI merupakan suatu organisasi jang besar, serta mendapatkan dukungan massa jang paling luas. Karena itu kaum kapitalis monopoli, tuantanah feodal dan pemerintah kolonial Belanda sa- ngat takut terhadap PKI dan berusaha untuk merusak dan menghantjurkan PKI dan organisasi Rakjat, jang revolusioner lainnja. Untuk itu Belanda dengan meng- gunakan kakitangannja melakukan berbagai provokasi hingga menimbulkan perbuatan jang dapat didjadikan alasan untuk memukul PKI.
BAB III
MELETUSNJA PEMBERONTAKAN NASIONAL PERTAMA DIIRINGI DENGAN PENINDASAN, PENANGKAPAN DAN PEMBUANGAN
Pemberontakan Nasional Pertama jang meletus di Djawa pada tanggal 12 November 1926 dan di Suma- tera tanggal 1 Djanuari 1927, adalah suatu pemberontakan jang meletus setjara objektif sebagai akibat penindasan dan penghisapan jang dilakukan oleh kaum imperialis Belanda, kaum feodal dan agen²nja serta provokasi² jang dilantjarkannja. Tindakan biadab dan sewenang-wenang jang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, kaum kapitalis monopoli untuk me- nindas gerakan nasional Rakjat Indonesia dan gerakan klas buruh. bukannja menimbulkan ketakutan pada Rakjat Indonesia tetapi makin meningkatkan kemarahan dan keberanian Rakjat terhadap kekuasaan kolonial itu. Walaupun pemerintah kolonial mengeluarkan artikel 161 bis, dan 153 bis dan ter jang isi pokoknja menge- kang dan melarang kegiatan gerakan revolusioner Rakjat, namun klas buruh tak djuga menghentikan aksi² pemogokannja, dan suratkabar² revolusioner tak djuga menghentikan sokongan morilnja pada gerakan Rakjat Indonesia serta menelandjangi politik djahat pemerintah kolonial Belanda dan kaum kapitalis monopoli, serta agen²nja. Pengekangan. pembatasan dan pelarangan kegiatan PKI dan Serikat Rakjat, tidak membuat orang Komunis gentar dan menghentikan kegiatannja untuk memimpin dan melakukan perlawanan terhadap kekuasaan biadab itu, bahkan sebaliknja, kaum Komunis tambah merapatkan barisannja, membulatkan tekad dan semangat perlawanannja. Sebagai akibat dari beban padjak jang berat dan penindasan kedjam terhadap kaum tani, maka timbulah perlawanan spontan dimana-mana. Disana-sini mulai timbul tindakan spontan kaum tani membunuh pegawai
pemerintah kolonial, polisi Belanda dan agen djahat- nja. Misalnja aksi kaum tani di Bedewang (Banjuwa- ngi), pada tanggal 30 April 1926. Rakjat desa Bedewang mengalami tekanan padjak jang tak terpikul, dan menuntut keringanan daiam pembajarannja. Tuntutan Rakjat jang masuk akal ini didjawab dengan peluru oleh kekuasaan pendjadjah hingga menimbulkan kemarahan Rakjat. Rakjat Bedewang melawan polisi jang menem- bak jang dipimpin oleh wedana Rogodjampi, dan polisi² itu lari berantakan dalam menghadapi perlawanan Rakjat. Dua hari kemudian wedana imendatangkan serdadu² dari Malang, Jan dengan kedjam menang- kapi, memukuli, menahan dan memendjarakan kaum tani serta pemimpin PKI dan Serikat Rakjat se- tempat. Diantara pemimpin PKI dan Serikat Rakjat jang ditangkap dan dipendjarakan, jalah Hadji Abbas. Hardjodarsono, Sumukiat. Suprapto, Wikoto, Kjai Sapii. Ibnu, Suwandi dan Ngadiman Hardjosubroto. Diantara mereka jäng ditangkap dan dipendjarakan ini, ketjuali Hadji Abbas, Hardjodarsono. Wikoto dan Kjai Sapiu, setelah pemberontakan November ditawan ke Digul. Aksi spontan kaum tani dengan sebab jang sama ini djuga terdjadi didesa Karangtjegak Tegal. Diantara mereka jang memimpin aksi ini setelah mendjalani hu- kuman pendjara djuga ditawan ke Digul, terdapat se- orang wanita Warjunah. Aksi² spontan ini tak dapat dikendalikan dan dipimpin serta disalurkan mendjadi perlawanan jang ter- organisasi. Provokasi pemerintah kolonial Belanda jang dibantu oleh pamongpradja dan alat lainnja berlang- sung makin hebatnja. Pemimpin kaum tani, PKI di- tangkapi, dianiaja, dibunuh dsbnja. Keadaan ini makin meningkatkan kemarahan Rakjat, suatu kemarahan jang sudah tersimpan berpuluh-puluh tahun, suatu dendam kesumat jang tak dapat tertahan lagi. PKI sebagai Partai pelopor dalam perdjuangan untuk pembebasan tak dapat membiarkan keadaan berdjalan tanpa pimpinan. Untuk menentukan sikapnja dalam menghadapi peristiwa ini PKI mengadakan suatu Konferensi kilat bertempat di Tjandi Prambanan, jang kemudian terkenal dengan Konferensi Prambanan, pada tgl. 25 Desember 1925. Hadir dalam Konferensi tersebut anggota2 Hoofd Bestuur (CC pada waktu itu) jang
KOMITE EKSEKUTIF PEMBERONTAKAN 1926
Berdiri dari kiri kekanan: Dachlan, Herujono, (belum dikenal, bukan anggota Komite Eksekutif), Samodro; d u d u k d a ri ki r i k e k a- n an: Baharuddin Saleh, Machmud (bukan anggota Komite Eksekutif), Sukrawinata.
masih di Indonesia ditambah dengan beberapa pimpinan daerah. Mereka ini a.l. almarhum Sardjono, Budisutji- tro, Sugono, Suprodjo, Kusnogunoko, Najoan, Herujuwono, Winanta, Gondojuwono, Said Ali, Abdul Muntalib dan Marco. Konferensi dipimpin dan di- buka oleh Ketua Hoofd Bestuur Sardjono. kemudian Sugono atasnama Hoofd Bestuur memberikan uraian situasi serta tugas Partai dewasa itu. Didjelas- kan a.l. oleh Sugono, bahwa situasi sudah makin gen- ting, pemerintah kolonial mengadakan penangkapan, penganiajaan dan pembunuhan terhadap anggota² PKI. SR dan pemimpin massa lainnja/ Karena itu diusulkan agar siap memimpin dan mengangkat sendjata untuk menumbangkan pemerintah kolonial Belanda. Sardjono mengandjurkan antara lain agar diadakan aksi bersama, dimulai dengan pemogokan² dan disambung dengan aksi bersendjata. Kaum tani supaja dipersendjatai, dan serdadu²pun harus ditarik dalam pemberontakan ini. Peserta konferensi menerima usul² ini dengan bulat, dan tekad serta kejakinan jang penuh. Setelah konferensi Hoofd Bestuur mengirim utusan kedaerah-daerah, jaitu Mahmud ke Makasar, Bakar ke 3 Palembang, Herujuwono ke Surakarta, Surabaja, Se- marang, Tjirebon dan Tegal, Sukrawinata ke Banten dan daerah² Priangan. Dalam waktu itu Hoofd Bestuur beserta sementara Comite Seksi PKI mengadakan persiapan untuk melaku- kan pemberontakan pada bulan Djuni 1926, Untuk memimpin aksi ini oleh Hoofd Bestuur dibentuk Comite Pemberontak, jang ditugaskan membentuk CP ini Kusnogunoko, jaitu salahseorang jang teguh pendiriannja dan tjukup mempunjai keberanian serta kemampuan or- ganisasi. CP ini terdiri dari almarhum Dahlan sebagai Ketua, Sukrawinata sebagai Sekretaris, Herujuwono. Samudro, Baharudin Saleh sebagai anggota., CP ber- pusat di Bandung. Untuk mendapatkan pertimbangan dari Wakil KEKI (Komite Eksekutif Komunis Internasional) maka oleh Hoofd Bestuur diutus mula² Alimin dan kemudian me- njusul Musso menemui wakil KEKI di Timur Djauh. Tetapi karena sudah agak lama belum ada kabar dari utusan itu maka dikirim lagi utusan Sardjono dan Budi- sutjitro ke Singapura untuk menemui Tan Malaka jang pada waktu itu mendjadi salahseorang anggota Sekre-
tariat KEKI untuk Timur Djauh. Tan Malaka jang sedang di Filipina menolak untuk menemui pimpinan PKI jang sedang di Singapura, maka Alimin pergi menemuinja ke Filipina.
Hingga pada bulan April 1926, bertemulah di Singa-
pura, Sardjono, Budisutjitro, Musso, Alimin, Subakat dan beberapa orang anggota Hoofd Bestuur lainnja lagi. Dalam suatu pertemuan jang mereka adakan, Alimin jang datang menemui Tan Malaka di Filipina, menjampaikan pendirian Tan Malaka jang tidak menjetudjui putusan Prambanan. Sardjono tidak menjetudjui pendirian Tan Malaka ini dan atasnama Hoofd Bestuur diinstruksikan agar Musso dan Alimin pergi ke Kanton menemui pimpinan KEKI Biro Timur Djauh dan kemudian terus ke Pusat KEKI di Moskow, serta jang lain kembali ke Indonesia. Alimin dan Musso setelah menemui J.W. Stalin, sebagai salahseorang pimpinan KEKI, dalam perdjalanan kembali ke Indonesia pada bulan Desember 1926, jatu setelah pemberontakan me-Tetus, ditangkap oleh polisi Inggris di Singapura, dan oleh karena itu tidak bisa menjampaikan pertimbangan² KEKI tentang putusan Prambanan. Alimin dan Musso dikeluarkan dari tahanan sebagai hasil dari demonstrasi dan tuntutan massa di Singapura. Mereka tidak dise- rahkan pada Belanda, tetapi diharuskan meninggalkan Singapura. Selandjutnja mereka pergi ke Moskow untuk melaporkan keadaan di Indonesia kepada KEKI. Kemudian ternjata, setelah kembali ke Singapura Tan Malaka memanggil Suprodjo dan Sugono untuk menemuinja guna membatalkan putusan Prambanan dan mendirikan partai baru Partai Republik Indonesia
- PARI. Sikap pengchianat Tan Malaka ini bukan hanja mempersulit keadaan jang sudah sulit, tetapi se- tjara politik telah membantu pemerintah kolonial Belanda untuk memetjahbelah PKI dan merusak kekuatan jang sedang melawan pemerintah kolonial Belanda. (Masalah ini akan kita djelaskan dalam bab V). Sugono setelah kembali dari Singapura, ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda sewaktu turun dari kapal dan kemudian ditahan dipendjara Semarang. Dalam pendjara ini dia disiksa sehingga tulang2nja patah dan meninggal. Untuk menutup rahasia ini sewaktu pemakamannja polisi melarang orang² lain ketjuali keluarganja sendiri untuk ikut memandikan dan memakamkan. Kepada para
keluarganja jang ikut memandikan dan memakamkan diantjam tidak boleh mentjeritakan tentang keadaan djenazah Sugono, dan kalau sampai ternjata rahasia ini botjor keluarganja akan ditangkap d a. Walaupun terdapat ketidakbulatantara anggota Hoofd Bestuur, namun Sardjono sebagai Ketua tetap mempertahankan putusan Prambanan, dan menginstruk- sikan ke Seksi² untuk melaksanakan putusan itu. De- mikian djuga Kusnogunoko dan CP-nja. Tetapi karena ketidakbulatan Hoofd Bestuur sebagai akibat sikap chianat Tan Malaka, pemberontakan jang semulanja akan dimulai bulan Djuni diundurkan hingga bulan November. Sementara itu, CP bekerdja giat untuk melakukan persiapan² jang diperlukan, jaitu mengumpulkan sen- djata, mengumpulkan uang, mengadakan pertemuan² untuk memobilisasi massa dan melakukan berbagai pe- kerdjaan organisasi jang diperlukan, serta segala sesuatu jang mungkin. pada waktu itu. Dalam pada itu, tindakan pemerintah kolonial Belanda dengan agen²nja makin mendjadi kalap. Penang- kapan, penganiajaan, pembunuhan, penggropjokan di- lakukan dimana-mana. Suasana makin bertambah pa- nas. Kemarahan Rakjat makin bertambah memuntjak. Demikianlah keadaannja sehingga tak dapat tertahan 1 lagi dan meletuslah pemberontakan nasional pertama di Indonesia. Pemberontakan meletus pada tanggal 12 November 1926 malam di Djakarta, Banten, kemudian disusul di Priangan, Surakarta, Banjumas, Pekalongan, Kedu, Kediri, dll. di Djawa. Selandjutnja pada 1 Dja- nuari 1927 meletus pemberontakan: di Sumatera Barat. Pemberontakan ini diikuti oleh massa Rakjat Indonesia jang luas. Hal ini diakui sendiri oleh komisi jang di- bentuk pemerintah kolonial Belanda untuk menjelidiki pemberontakan di Banten seperti jang tertulis dalam Communist Uprisings of 1926-1927 in Indonesia" halaman 40 sbb.: ..Orang jang siap untuk melakukan aksi datang dari segala lapisan penduduk; perbanding- annja terdapat djumlah jang sama; diantara mereka terdapat orang2 jang tidak memiliki tanah, penduduk desa biasa, kepala desa, orang jang agak kaja dan pe- mimpin agama. Djuga terdapat djumlah besar hadji dan djarawah".
Untuk dapat mengikuti sampai dimana meluas dan mendalamnja pemberontakan itu maka marilah kita tin- djau terdjadinja peristiwa itu sedaerah demi daerah. Dalam menindjau ini kami bagi mendjadi dua bagian, jaitu satu bagian. membitjarakan peristiwa² jang terdjadi di Djawa dan bagian lain terdjadi di Sumatera, chususnja Sumatera Barat.
Pemberontakan Meletus di Djawa
Djakarta, jang pada waktu itu bernama Batavia, adalah pusat pemerintahan kolonial Belanda. Dengan demikian ia merupakan salahsatu tempat strategis untuk menumbangkan kekuasaan itu. Karena itu dikota inilah pertama-tama meletus pemberontakan pada tang- gal 12 November 1926.
Pemberontakan dipersiapkan dan dipimpin oleh CP
daerah, jang antara lain terdiri dari Sukrawinata, Ka- mari, Nj. Sukaesih, dll. Dalam melakukan pemberontakan ini pertama akan direbut dan diduduki tempat² jang vital dan penting, seperti kantor tilpun, memutus hubungan transpor, melutjuti kekuatan bersendjata kolonial dll. Untuk maksud ini maka pada malam tang- gal 12 November itu bergerak serombongan kaum pemberontak jang berdjumlah lebih dari 200 orang dari kampung Karet menudju Djakarta-Kota. Barisan pemberontak jang lain djuga datang dari Mangga-Dua. Sebagian dari kaum pemberontak jang. sedang berdja- lan melalui Sositet Harmoni berpergokan dengan se- djumlah patroli militer dan terdjadi bentrokan sendjata hingga beberapa orang diantara kaum pemberontak tertangkap. Serombongan kaum pemberontak jang datang dari Tanah Abang Barat dan sebagian jang menudju kestasiun Tanah Abang bertemu dengan dua orang reserse hingga terdjadi perkelahian dan dua reserse tersebut mati dalam perkelahian itu. Djuga se- orang kepala polisi jang bertemu dengan kaum pemberontak jang melalui Gang Scott mati dalam perkelahian dengan kaum pemberontak, Sementara itu ku- rang lebih djam setengahsatu malam, kaum pemberontak jang datang dari berbagai tempat berusaha untuk membuka pendjara Glodok, berhadapan dengan kekuatan serdadu Belanda jang diperintahkan mendjaga
dan terdjadilah tembak-menembak serta perkelahian, hingga duapuluh empat dari kaum pemberontak tertangkap dan 4 orang mendapat luka. Dalam waktu jang sama, kantor tilpun direbut oleh kaum pemberontak dan diduduki, Sepasukan serdadu Belanda jang dipimpin oleh kapten Dumond dikirim untuk me- rebut kembali kantor tilpun dan menindas pemberontakan. Mendjelang pagi hari terdjadilah perlawanan jang sengit dari kaum pemberontak jang menduduki kantor tilpun, tetapi karena kalah persendjataan dan djumlahnja, maka kantor tilpun dapat direbut kembali oleh serdadu itu, Sementara itu serombongan kauim pemberontak mulai menjerbu pos polisi Pedjagalan, tetapi mengalami kegagalan, Djuga di-djalan² raja jang dapat menghubungkan bantuan² serdadu diadakan rin- tangan-djalan, seperti didjalan Tandjung Priok, didjalan Tangerang djuga dilakukan pendjagaan penga- dangan oleh kaum pemberontak. Gerakan pemberontakan berlangsung sampai tanggal 14 November 1926 malam. Pada malam ini terdjadi bentrokan sendjata antara serombongan kaum pemberontak dengan serdadu Belanda, jang mengakibatkan beberapa serdadu Belanda mendapatkan luka² dan empat diantara kaum pemberontak jang tertangkap. Aksi pemberontakan bukan hanja berlangsung di Djakarta-Kota, tetapi djuga di Djatinegara, jang pada waktu itu bernama Meester-Cornelis dan di Tangerang. Di Djatinegara kaum pemberontak berkumpul dan bergerak dari Pulau Gadung dengan membawa sendjataapi, golok, pedang, tumbak dan lain². Mereka per-tama² menggropjok rumah² Asisten Wedana jang bengis, tetapi kebetulan Asisten Wedananja tidak di- rumah. Kemudian serombongan daripadanja bergerak kekota untuk menggropjok rumah Asisten Residen, se- orang Belanda, tetapi rumah AR telah didjaga oleh serdadu dan polisi dan terdjadilah bentrokan sendjata.
Beberapa diantara kaum pemberontak tertangkap. Dju-
ga penduduk dari kampung Melaju Besar dan sekitar- nja ikutserta dalam pemberontakan ini.
Di Tangerang gerakan pemberontakan dimulai
kuranglebih djam 22.00 malam. Kaum pemberontak
datang dari desa Tjengkareng. Tangerang sendiri,
menudju kekota Tangerang untuk menggropjok dan menangkapi alat-alat kekuasaan pemerintah kolonial.
Tetapi malang baginja, karena ditengah djalan sudah berpergokan dengan patroli serdadu Belanda, dan se- telah terdjadi bentrokan sendjata, tudjuh diantara rom- bongan pemberontak tertangkap dan ditahan. *
Banten, adalah suatu daerah dimana pemberontakan berlangsung dengan seru dan agak lama dibanding dengan didaerah lain di Djawa. Untuk dapat mengikuti djalannja peristiwa itu maka baiklah kami terangkan mengapa Rakjat Banten jang djuga terkenal patuhnja terhadap agama Islam, dan jang kerapkali dianggap bahwa mereka jang berágama Islam tak mungkin dapat mengikuti pimpinan PKI, itu ternjata melakukan pemberontakan dibawah pimpinan PKI. Sebagai salahsatu daerah Indonesia jang pada waktu itu merupakan negeri djadjahan dan setengah-feodal. di Banten djuga berlaku tjiri² jang sama sebagaimana didaerah lainnja, Kekuasaan kolonial jang menggunakan lembaga² feodal berdjalin erat satusamalain dalam menindas, memeras Rakjat Banten. Kerdja-paksa, setor-paksa pada zaman V.O.C. dan Cultuurstelsel telah menghauskan tenaga dan memelaratkan Rakjat Banten. Djerit dan perlawanan Rakjat Banten terhadap penindasan dan kekedjaman ini sudah berkali-kali dilakukan. Suatu ungkapan terhadap djeritan Rakjat ini antara lain telah dinjatakan oleh Douwes Dekker, seorang Belanda jang beraliran liberal progresif dan pada waktu itu mendjabat Asisten Residen di Lebak, dalam tulisan- nja jang menggunakan nama Multatuli. Akibat kritik- nja jang tadjam itu beliau dipetjat dari djabatannja. Sekalipun cultuurstelsel telah lama dihapuskan, na- mun penindasan dan penghisapan jang kedjam masih terus diderita Rakjat Banten, bahkan dengan berganti bentuk penghisapan itu dilakukan makin dalam. Berbagai padjak negara, padjak tanah, padjak daerah, padjak desa, dan berbagai setor wadjib dan kerdja rodi adalah bentuk² beban jang sangat memberatkan Rakjat Banten, terutama kaum taninja. Hal ini djuga diakui oleh suatu komisi jang dibentuk oleh pemerintah kolonial Belanda dengan nama Komisi Untuk Menjelidiki Kemiskinan Penduduk Djawa dan Madura" dan Komisi Untuk Menjelidiki Pemberontakan Jang Terdjadi
Di Berbagai Tempat Di Residensi Banten Dalam Bulan November 1926". Perlawanan Rakjat kadang² dilakukan dengan ter- sembunji dan kadang² terbuka. Bentuk dan organisasi perlawanan djuga selalu berubah dan berkembang se- suai pula dengan sjarat sosial ekonominja. Demikian- lah maka pada zaman imperialisme seiring dengan mu- la{ berdirinja organisasi Rakjat jang bersifat nasional, maka pada tahun 1908 di Banten didirikan Pirukun Pribumi", jang diantara tahun 1908-1910 mempunjai anggota agak luas. Sebagian daripada anggota pimpinan dan anggota biasa kemudian masuk mendjadi anggota SI, dan setelah PKI didirikan masuk PKI dan Serikat Rakjat. Salahseorang anggota pimpinannja Entol Enoch, ternjata kemudian mendjadi salahseorang anggota pimpinan PKI jang teguh didaerah Menes. Pada tahun 1913-1915, seiring dengan makin berkem- bangnja SI, maka organisasi' SI djuga mendirikan tja- bangnja di Banten, jang pada tahun 1914 djumlah ang- gotanja sudah mentjapai l.k. 10.000 orang. Pada masa SI petjah mendjadi dua, jaitu SI putih dan SI merah, sebagian besar anggota SI dan pimpinan SI masuk kedalam SI merah jang kemudian berubah mendjadi Serikat Rakjat. Sisa² Sǐ lama jang tinggal, jaitu SI putih kemudian mendjadi Persatuan Serikat Islam (PSI) jang pada waktu itu pokoknja hanja tinggal beberapa orang di Menes. Pimpinan SI, antara lain Kjai Hadji Achmad Chatib masuk PKI. Buruh Kereta-Api djuga tergabung dalam VSTP. Diantara anggota VSTP jang madju mendjadi anggota PKI dan bersama dengan anggota PKI lainnja mendirikan Comite Seksi PKI di Banten. Anggota² Hoofd Bestuur PKI (CC waktu itu) kerapkali datang ke Banten untuk membantu Seksi Banten mendjelaskan prinsip² perdjuangan PKI. Diantara mereka itu, jalah Musso dan Alimin jang pernah menghadiri rapat dan berbi- tjara dalam rapat umum di Pandeglang. Karena per- djuangannja anti-imperialis, maka PKI mendapatkan popularitet dan sokongan massa jang luas. Dalam waktu jang singkat anggota PKI dan Serikat Rakjat bertam- bah dan hingga tahun 1925 telah mentjapai 4000 orang. Djuga organisasi kaum ningrat, Ruku Asli", jang didirikan oleh Tubagus Hilman, karena tertarik perdju-
angan PKI melawan imperialis meleburkan diri kedalam PKI. Sokongan luas dari massa terhadap PKI ini dapat dilihat dari kenjataan bahwa banjak diantara guru agama Islam, kjai, masuk mendjadi anggota PKI dan ambil bagian aktif dalam pemberontakan nasional jang dipimpin oleh klas buruh dan PKI. Salahseorang ulama dan guru agama Islam Kjai Tjaringin (dinamakan me- nurut tempatnja) jang bernama Hadji Mohammad Asnawi dengan anaknja Emed dan menantunja Achmad Chatib jang djuga mempunjai pengaruh besar menjo- kong PKI dan ikut ambil bagian aktif dalam pemberontakan nasional tahun 1926. Djuga Hadji Saunar dan Djoko, Hadji Madun dari Pasir, Hadji Achmad dari Pantjur dan lain² ikut ambil bagian aktif dalam pemberontakan ini.
Djalannja pemberontakan
Comite Seksi PKI Banten jang antara lain terdiri
dari Suleman, Puradisastra, Hasanudin dan lain² setelah menerima pendjelasan tentang putusan Pram- banan, dengan segera memilih anggota-anggotanja untuk membentuk Comite Pemberontak daerah Banten jang antara lain (erdiri dari beberapa orang anggota Comite Seksi dan ditambah anggota lain seperti Achmad Chatib, Entol Enoch, Hadji Mukri dan lain-lain. Comite mengadakan persiapan jang diperlukan, jaitu memobilisasi dan mengorganisasi massa, mentjari sendjata, uang dsbnja. Jang mendjadi sasaran pokok dari aksi pemberontakan jalah alat pe- merintah kolonial, kaum feodal jang djahat, dan agen²- nja, merebut alat² komunikasi, memutuskan hubungan dengan daerah lain dsb. Sedangkan massa pokok dari pemberontakan jalah kaum tani, serta massa pekerdja jang luas lainnja. Pemberontakan telah disiapkan, dan setelah menerima komando dari Comite Pemberontak Pusat, pemberontakan ditjetuskan mulai tanggal 12 November 1926 tengah malam. Tanggal 12-13 malam kaum pemberontak di Kewedanaan Menes dan Tjaringin telah berhasil memutuskan hubungan tilpun keluar kewedanaan dengan mak- sud agar kaum reaksi tak dapat menggunakannja untuk
mendatangkan balabantuan. Kewedanaan Menes dan Tjaringin mendjadi sasaran serbuan kaum pemberontak. Dalam serbuan ini Wedana Menes sebagai alat pemerintah kolonial Belanda dan sangat terkenal kedjamnja, terbunuh. Djuga seorang upas, dan seorang reserse jang berusaha untuk menolong tuannja djuga ikut terbunuh. Wedana Tjaringin, jang kebetulan tidak dirumah, dapat meloloskan diri, tetapi seorang upas, dan reserse jang berusaha untuk membela tuannja djuga mati terbunuh. Djuga Asisten Wedana Tjening serta seorang reserse jang terkenal kedjamnja tak luput dari serbuan kaum pemberontak, dan mendapat gandjaran hingga luka² berat,
Tanggal 13 November 1926, kaum pemberontak me-
nahan pemberangkatan keretaapi pertama dari Labuan. Bersamaan dengan itu serombongan serdadu Belanda datang untuk merebut Kewedanaan Labuan jang pada malam harinja telah direbut dan diduduki oleh kaum pemberontak. Terdjadilah tembak-menembak antara kedua belah pihak, dan karena kalah kekuatan kaum pemberontak terpaksa meninggalkan kewedanaan. Pada hari itu djam 5.30 pagi kaum pemberontak bergerak menjerbu rumah komandan detasemen polisi dan Bupati Pandeglang, dan terdjadi tembak-menembak antara kekuatan polisi dengan kaum pemberontak. Karena kekuatan tidak seimbang kaum pemberontak terpaksa mengundurkan diri, dan dari antaranja mendapatkan luka serta enam tertawan. Dari pihak jang memperta- hankan djuga menderita luka² tetapi djumlahnja tak diketahui. Pada pagi hari itu djuga rumah pos polisi di Tjening diserbu oleh kaum pemberontak dan dalam perlawanan komandan pos polisi dengan seorang agen polisi terbunuh. Pada sore harinja, jaitu k.l, djam 17.00 rumah Asisten Wedana Labuan jang letaknja dekat rumah kjai Tjaringin, diserbu kaum pemberontak, dan dalam waktu jang sama terdjadi bentrokan sendjata antara serombongan polisi dengan kaum pemberontak didepan rumah kjai Tjaringin. Pada malam hari tanggal 13-14 November, l.k. djam 1 malam kaum pemberontak berusaha menjerbu dan menduduki rumah Asisten Wedana Petir. Sebelum itu rumah Asisten Wedana telah didjaga oleh serdadu Belanda. Serdadu jang mendjaga menembak kaum pemberontak dalam djarak jang dekat, tembakan itu dibalas
dan terdjadilah tembak-menembak jang seru. Tetapi
karena kalah kekuatan, maka kaum pemberontak terpaksa mengundurkan diri, dan enam diantaranja gugur, seorang mendapat luka2, sedangkan dari pihak serdadu Belanda djuga menderita korban dan luka², Bentrokan sendjata terdjadi dimana-mana, seperti di Pagelaran, Bedjengtjanar dan lain². Hubungan tilpun djuga di- putus. Tanggal 15 November 1926, dengan maksud untuk merintangi dan mentjegah bantuan serdadu dari Menes ke Labuan, kaum pemberontak telah menghantjurkan djembatan antara Menes dan Labuan-Bama. Djuga dihantjurkan djembatan Pasar Tandjung jang meng- hubungkan lalulintas militer antara Pasar Tandjung 'Djambu kemudian ke Pamerajaan. Untuk mengadakan rintangan djalan maka pohon² besar ditebang dan di- gali lobang besar ditengah djalan. Sementara itu antara kaum pemberontak jang mentjegat djalannja serdadu Belanda dari Menes ke Labuan melalui Tjening jang dipimpin oleh seorang letnan terdjadi tembak-menembak hingga membawa korban antara kedua belah pihak. Djuga pada tengah hari pada tanggal itu, terdjadilah pertempuran antara kaum pemberontak jang menguasai kota Labuan dengan serdadu jang didatangkan dari Menes, jang dipimpin kapten Becking. Tetapi karena kaum pemberontak kalah dalam kekuatan dan sendjata, maka mereka terpaksa meninggalkan kota. Tanggal 16 November 1926, karena djalan keretaapi banjak jang dibongkar oleh kaum pemberontak dengan maksud untuk memutuskan pengangkutan serdadu, maka keretaapi dari Labuan ke Menes terpaksa kembali ke Labuan. Dari hari itu selama dua hari, serdadu Belanda jang dipimpin oleh Becking dikota Labuan di kepung dan diserang kaum pemberontak. Djuga hubungan tilpun ke Pamerajaan diputuskan. Pada tengah hari tanggal 17 November 1926 kaum pemberontak bertemu dengan serombongan serdadu Belanda didekat desa Bama, Pasirtengah, dan terdjadilah tembak-menembak dengan seru. Setelah lama. berlangsung tembak-menembak, kaum pemberontak mengundurkan diri dan meninggal korban seorang, sedangkan difihak serdadu Belanda djuga djatuh korban tetapi djumlahnja tak diketahui. Kegiatan kaum pemberontak terus berlangsung sam-
pai pertengahan pertama bulan Desember. Rumah alat? pemerintah kolonial seperti Asisten Wedana Pagelaran, Tjening, rumah Djaro di Tedjahalang ketjamatan Tjening. djuga diserbu dan dibakar. Hubungan tilpun Pandeglang-Bodjong djuga diputus. Djadi di Banten, untuk waktu satu bulan, Rakjatnja dibawah pimpinan PKI dengan heroik melakukan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Walau- pun pemberontakan ini berachir dengan kegagalan dan penindasan, namun Rakjat Banten telah mengetahui bahwa kekuasaan kolonial bukanlah sesuatu jang tak dapat digojahkan dan ditumbangkan oleh kekuatan Rakjat. Pada bulan Djanuari 1927 pemerintah kolonial Belanda membentuk sebuah komisi jang terdiri dari tuan²
E. Gobes. Sumitro Kolopeking dan Ranneft untuk me- njelidiki sebab pemberontakan dan mengusulkan lang- kah² jang perlu diambil oleh pemerintah Belanda untuk mendjaga agar djangan sampai timbul pemberontakan lagi. Sudah tentu komisi ini bukanlah mewakili kepen- tingan Rakjat Banten, tetapi mewakili pemerintah kolonial Belanda, demikianlah djuga pandangannja ten- tang sebab pemberontakan, analisanja dan usul²nja, Ini terbukti bahwa djalannja peristiwa sedjarah samasekali tidak membuktikan kebenaran pandangan komisi bahkan sebaliknja dan sąngat membenarkan kejakinan Rakjat Banten jang heroik itu.
*
Priangan, dalam melakuikan perlawanan terhadap
kekuasaan kolonial Belanda Rakjat Priangan tak djuga ketinggalan. Penindasan jang kedjam sedjak zaman
V.O.C., Cultuurstelsel dan seterusnja menanamkan kebentjian jang dalam pada Rakjat Priangan terhadap kekuasaan kolonial Belanda, kaum feodal beserta agen² nja. Perlawanan Rakjat dengan berbagai bentuk dan djalan telah dilakukan, dan selalu mentjari djalan dan bentuk perlawanan baru. Karena itu bukanlah mustahil kalau Rakjat Priangan menjambut organisasi revolusi- oner, seperti Serikat Rakjat, dan serikatburuh jang re- volusioner, PKI sebagai partai pelopor dalam perlawanan. Karena kebentjian dan dendam jang dalam serta semangat perlawanan jang tinggi itulah maka Rakjat
Priangan menjambut seruan pemberontakan dari PKI. Setelah Hoofd Bestuur menjampaikan putusan Pram- banan, dan tugas untuk menjiapkan pemberontakan serta membentuk Comite Pemberontak, maka dalam waktu jang tidak lama Comite Pemberontak dibentuk jang a.l. terdiri dari Amen Kartowigjo, Moh. Sanusi, Wardi Kusnapalistra, Wira Sengke, Tatang Suminta, Rasmono dan lain². Comite Pemberontak dengan gesit mengadakan persiapan jang diperlukan. seperti memo- bilisasi massa, mentjari sendjata, uang, membuat ren- tjana menetapkan sasaran pemberontakan dsbnja. Sa~ saran pemberontakan jang utama jalah alat² kekuasaan pemerintah kolonial, merebut alat komunikasi, memutus djembatan serta mengadakan pengadangan untuk mentjegah bantuan serdadu dari luar daerah, menguasai kota dsbnja. Pekerdjaan jang berat telah dilakukan oleh Comite Pemberontak, dan tinggal menunggu komando pemberontakan. Sementara itu penangkapan sudah ber- langsung, dan banjak diantara pemimpin PKI dan massa jang ditangkap. Disamping itu kegiatan Serikat Hedjo makin mengganas. Situasi makin bertambah panas. Setelah komando diberikan untuk memulai pemberontakan pada tanggal 12 November 1926 malam, maka bangkit bergeraklah Rakjat untuk melawan kekuasaan kolonial Belanda. Untuk mengikuti djalannja pemberontakan maka kita lihat bagaimana peristiwa itu terdjadi di Priangan Tengah, Barat dan Timur. Priangan Tengah. Rakjat jang sudah bersiap mela- kukan serbuan pada djam 9.30 malam mulai menjerang pos polisi di Natjik. Seorang agen polisi jang mentjoba memberikan perlawanan terhadap kaum pemberontak mendapat luka². Pada malam itu kaum pemberontak membongkar rel KA Rantjaekek untuk mentjegah lalu- lintas KA jang mengangkut serdadu, Di Batudjadjar kaum pemberontak djuga menjerbu rumah kepala desa jang kedjam dan membakar rumahnja demikian djuga terdjadi di Tjimahi. Djembatan jang menghubungkan djalan dari Garut ke Bandung dirusak, djuga djembatan di Tjitlis.
Tanggal 13 November Rakjat Tjisarua djuga bang-
kit memberontak dan menjerbu rumah alat pemerintah
kolonial, serta diantara alat pemerintah kolonial jang
mentjoba melawan dihadjar oleh kaum pemberontak
sesuai dengan kekedjamannja. Tanggal 15 November kaum pemberontak memperkuat pendjagaan didjalan antara Padalarang dan Tjisarua. Pada tanggal 18 November kaum pemberontak jang melakukan pengadang- an didekat Padalarang bertemu dengan serdadu jang dikirimkan kesana dan terdjadilah tembak-menembak, sehingga menimbulkan korban dua orang dari kalangan pemberontak sedangkan difihak serdadu Belanda djuga djatuh korban tetapi djumlahnja tak diketahui. Priangan Barat, Rakjatnja djuga tak ketinggalan: dengan daerah Priangan lainnja. Pada malam tanggal 14 November kaum pemberontak memutuskan hubungan tilpun dengan memutus kawat tilpun dan telgram didekat pemberhentian KA Gandasoli. Djuga alat pemerintah kolonial tak luput dari serbuan kaum pemberontak. Priangan Timur, pada tanggal 12 malam Rakjat jang bangkit memberontak berkumpul dialun-alun untuk me- njerbu kerumah Bupati. Kabupaten diserbu, dan polisi jang mendjaga dirumah itu jang berusaha membela tuannja mendapat luka2. Pada malam itu djuga kantor tilpun diserbu dan diduduki kaum pemberontak. Se- orang agen polisi jang mentjoba menghalangi terbunuh. Rumah Asisten Residen djuga diserbu dan perkakas rumahnja dirusak. Bupati Tjiamis alat pemerintah kó- lonial jang kedjam dengan diiringi polisi memimpin sen- diri menindas pemberontakan dan terdjadilah perkela- hian dengan kaum pemberontak dialun-alun. Tetapi karena kaum pemberontak kalah persendjataannja ter- paksa mengundurkan diri meninggalkan alun². Djuga di Tasikmalaja, Rakjatnja ikut bangkit memberontak, Bom² djuga digunakan untuk meledakkan gedung pemerintah. Pemberontakan tidak dapat berdja- lan meluas karena alat pemerintah kolonial telah me- nangkapí pimpinan pemberontak. Pemberontak di Priangan berachir dengan kegagalan, pemimpin pemberontak, Rakjat jang memberontak di- tangkapi, disiksa, dibunuh, a.l. seperti Egom, Dirdja dan Hasanbakri, pemimpin PKI dan pemberontak jang berani dan dipertjaja oleh Rakjat. Walaupun demikian Rakjat Priangan tak djuga menghentikan perlawanan- nja, tetapi beladjar dari pengalaman kegagalan dan menjusun organisasi untuk melakukan perlawanan pada hari kemudiannja. *
Surakarta, kaum pendjadjah mengira bahwa Rakjat Surakarta jang sudah berabad-abad hidup dibawah penindasan kolonial dan feodal, dengan berbagai tata- adatnja itu merupakan orang jang halus dan lemas, jang tak mungkin bangkit melawan kekuasaan kolonial dan feodal, Sangkaan air tenang tak berbuaja sama- sekali salah bahkan kenjataan air jang tenang itu, menghanjutkan. Demikianlah Rakjat Surakarta jang berabad-abad terpaksa hanja Nuwun inggih", atau sendiko dawuh dalem", ternjata dalam hatinja penuh dengan dendam kesumat terhadap pemerintahan kolonial dan feodal, Rakjat Surakarta mengalami berbagai penindasan kolonial dan feodal, memikul berbagai beban padjak jang tinggi, kerdja rodi, harus menjetor pantjen, dan mengalami berbagai penghisapan supra ekonomi. Mereka ingin melemparkan segala beban dari pundaknja, dan untuk itu mereka menjambut seruan PKI untuk melawan dan menumbangkan kekuasaan kolonial dan feodal. Setelah Konferensi Prambanan jang bersedjarah se- lesai, maka Marco jang pada waktu itu mendjadi Ke- tua Comite Seksi Surakarta dan anggota Hoofd Bestuur mendjelaskan putusan Konferensi kepada anggota² Comite Seksi jang terdiri dari Hartopandojo, Marto- kalimun, Respati, Suwarno dan lain2. Tidak lama ke- mudian salahseorang anggota Hoofd Bestuur dan me- rangkap Comite Pemberontak, Herujuwono, datang untuk menjampaikan putusan Comite Pemberontak ke Comite Seksi dan anggota PKI jang memimpin Raad van Vakbonden di Surakárta, serta instruksi agar dalam waktu jang singkat dibentuk Comite Pemberontak di Surakarta. Dengan dipelopori oleh anggota" PKI jang memimpin Raad van Vakbonden, dalam waktu jang singkat dibentuk Comnite Pemberontak jang antara lain terdiri dari Mitro, Martosuhardjo, Darmo, Sugio dan lain2. Comite Pemberontak segera mengambil langkah² untuk menjiapkan dan memobilisasi massa, mengatur barisan, mengumpulkan persendjataan, keuangan, per- bekalan dll. jang diperlukan. Tetapi sebelum pembe- rontakan dilakukan pemerintah kolonial telah bertindak menangkapi beberapa pemimpin PKI dan massa. Namun demikian Comite Pemberontak terus melaku- kan pekerdjaannja. Mereka mendapat sendjata dari
rumah gadai, pandai besi, dan orang² Tionghoa. Pemberontakan akan dimulai setelah ada tanda, jaitu setelah lampu kota Surakarta dimatikan setjara sentral, pada djam 10.00 malam tanggal 17 Novembér 1926. Semua persiapan telah diatur, dan Rakjat jang memberontak telah menunggu komando. Tetapi pada malam itu pe- tugas jang harus mematikan lampu setjara sentral ter- tangkap sewaktu berusaha mematikan lampu. Walaupun demikian serangan dibuka oleh kaum pemberontak di Gandekan. Daerah lain segera menju- sul. Kaum pemberontak di Djebres jang antara lain di- pimpin oleh Darmo, melakukan pengadangan, peng- gropjokan dan penangkapan terhadap alat² pemerintah kolonial dan feodal jang djahat dll. Mereka djuga mem- bantu pemberontakan di Gandekan, dan untuk itu mereka setjara barisan menudju ke-alun². Pemberontakan bukan hanja berlangsung dikota Surakarta, tetapi djuga didaerah kabupaten². Pada tanggal 17 November kaum pemberontak jang berdjumlah
l.k. 500 orang menjerbu rumah Wedana (Penewu) di Sawahan, Bojolali. Terdjadilah tembak-menembak antara/ kaum pemberontak dengan polisi jang mendjaga rumah tuannja. Pada malam hari itu saluran listrik di Solo, Solose Electriciteit Maatschappij (Maskapai Listrik Solo) jang letaknja dikampung Sentono (Lawejan) dan Tipes diputus. Dikampung Kandangsapi, kaum pemberontak jang sedang berkumpul diserang polisi hingga menim- bulkan banjak korban. Hubungan tilpun antara Solo-Jogja diputus di Pandjang dan Manahan. Gudang tembakau Tabansan, onderneming Manang dibakar. Djuga didesa Petiran-Wonosaran dan Putjangsawit Rakjatnja ikut memberontak dan berusaha untuk mem- bongkar rel KA untuk memutuskan lalulintas dan menjerbu kepos polisi, tetapi karena rentjananja botjor maka tidak semua dapat dilaksanakan. Pada tanggal 17 November, kaum pemberontak meng- gropjok rumah dan menangkap Asisten Wedana Bojolali, Pada tanggal 18 November terdjadi tembak-menembak antara kaum pemberontak dengan manteri polisi lingkungan III. dan reserse jang mendjaga ru- mahnja. Kaum pemberontak terpaksa menggagalkan maksudnja dan akibat tembak-menembak itu terdapat- lah korban antara keduabelah fihak. Djuga pada malam
hari itu rumah² alat pemerintah kolonial jang djahat dibakar Rakjat. Tanggal 19 November kaum pemberontak meng- gropjok rumah seorang reserse jang djahat di Sogatan, dan reserse itu mati terbunuh dalam melawan kaum pemberontak. Tanggal 21 November kaum pemberontak membakar gudang tembakau didesa Keden, milik on- derneming Manang, Djuga administraturnja alat kaum monopoli tembakau jang terkenal kedjamnja dalam me- nindas kaum buruh tak djuga luput dari kaum pemberontak. Penduduk desa Semangi Lor, Tempelredjo, Sentono djuga ikut bangkit berlawan. Perlawanan Rakjat jang memberontak di Surakarta ini berlangsung sampai achir bulan November. Perlu ditjatat bahwa jang ikut dalam pemberontakan ini ter- dapat a.l. komandan polisi R. Sarworumekso dan seorang agen polisi Wonoremekso. Walaupun Rakjat Surakarta sudah berusaha dengan gagah-berani ikut melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan kolonial dan feodal namun pemberontakan kali itu mengalami kegagalan. Penindasan, penangkapan, penjiksaan, hing- ga mengakibatkan kematian dari banjak pemimpin PKI dan Rakjat jang memberontak, dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, kekuasaan feodal dan agen²nja. Kegagalan ini tidaklah menghentikan perlawanan Rakjat Surakarta, tetapi didjadikan peladjaran bagi per- djuangán dan perlawanan selandjutnja. Peristiwa se- djarah selandjutnja merundjukkan kebenaran akan hal ini. *
Banjumas, Rakjat didaerah ini djuga tak berbeda dengan Rakjat didaerah lainnja, Mereka djuga mengalami penindasan jang kedjam baik dari pemerintah kolonial Belanda beserta alat²nja dan kaum feodal. Se- mangat perlawanan Rakjat djuga tak beda dengan didaerah lainnja. PKI dan organisasi revolusioner lainnja djuga mendapat dukungan jang luas, karena mereka jakin bahwa hanja pada diri PKI-lah perdjuangan mereka mendapat pimpinan jang sebenarnja dan akan membebaskannja dari segala matjam penindasan jang dialaminja. Comite Seksi PKI didaerah ini, setelah menerima pu-
tusan Prambanan djuga segera melakukan berbagai persiapan jang diperlukan. Rentjana sasaran pemberontakan djuga telah ditetapkan. Tetapi sebelum pemberontakan diletuskan, pimpinan PKI dan Rakjat sudah ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena itu pemberontakan tak dapat ditjetuskan. Walaupun demikian, sementara anggota PKI dan Rakjat dengan gagah-berani berusaha untuk menjambut pemberontakan jang meletus didaerah lain dan: 15 orang serdadu dari garnisun Purworedjo jang dipimpin oleh seorang Komunis melarikan diri" untuk menjambut pemberontakan. Tetapi karena djumlah orang jang memberontak terlampau sedikit dan tak terpimpin, ma- ka tindakan mereka jang heroik itu dapat ditindas dan mereka ditangkap. Namun begitu, tindakan mereka ini telah menggetarkan alat kekuäsaan kolonial dan feodal di Banjumas, dan menimbulkan keberanian dan ke- jakinan pada massa jang luas bahwa kekuasaan jang ada bisa dilawan. *
Pekalongan, dalam mengutarakan peristiwa jang ter- djadi di Pekalongan. baik kita masukkan djuga peristiwa di Tjirebon, karena daerah Tegal, Pekalongan dan Tjirebon berada dalam lingkungan pengawasan satu Ko- misariat jang meliputi daerah² itu. Penindasan jang diderita Rakjat daerah ini tak djuga kurang kedjamnja dibanding dengan daerah lain. Daerah pesisir, termasuk daerah Tegal dan Pekalongan jang setjara chianat diserahkan oleh Sultan Mataram, Amangkurat II kepada Belanda sebagai balas ,djasa" terhadap bantuan jang diberikan oleh Kompeni dalam menindas pemberontakan jang dipimpin oleh Truno- djojo. Rakjat daerah ini mengalami berbagai penindasan jang kedjam sedjak dari zaman Kompeni, pemerintah kolonial Belanda dengan kerdja rodi model Daendels, padjak jang berat, djaga-gardu pos dan lain-lain, Per- lawanan Rakjat berlangsung silih berganti. Didaerah ini sedjak lahirnja gerakan nasional, Rakjatnja menjambut dengan hangat. Baik SI, serikatburuh2, PKI men- dapat dukungan massa jang luas dan kuat. Demikian djuga seruan PKI untuk melakukan pemberontakan
mendapatkan sambutan jang hangat dari Rakjat daerah ini. Setelah Konferensi Prambanan, salahseorang komisaris daerah PKI jang ikut menghadiri Konferensi, ja- itu Abdulmuntalib, berusaha dengan keras mengadakan Konferensi daerah, tetapi karena tekanan jang berat, maka Konferensi baru bisa diadakan pada permulaan bulan November 1926. Konferensi ini dilangsungkan di Tegal dengan dihadiri antara lain oleh Abdulmuntalib sebagai komisaris daerah, Sastrosuwirjo dari Comite Seksi Tjirebon, Suwirdjo dari Comite Seksi Tegal, dan utusan Pekalongan. Konferensi memutuskan untuk me- njambut putusan Prambanan, dan untuk mempersiapkan diri segera dibentuk Comite Pemberontak jang karena mendesaknja waktu maka Comite Pemberontaknja djuga terdiri dari anggota² Comite Seksi didaerahnja masing-masing. Tetapi belum lagi aksi dapat dimulai pimpinan PKI dan organisasi massa revolusioner sudah ditangkap. Walaupun demikian gerakan untuk ikut memberontak djuga berlangsung dengan setjara ketjil²an, Di Pema- lang pada malam tanggal 17-18 November Rakjat jang ikut memberontak dengan sendjata api dan sendjata tadjam djuga mengadakan aksinja, Rumah Asisten Wedana Uludjani diserbu, dan Asisten Wedananja mati terbunuh. Demikian djuga rumah seorang admi- nistratur rumahgadai dan administraturnja, Di Tegal. Pekalongan, Tjirebon, dengan tertangkapnja pimpinan Comite Partai maka aksi jang besar dan teratur tak dapat ditjetuskan. Demikian djuga di Kedu, walaupun persiapan telah dilakukan, baik diibukotanja Wonosobo, di Temang- gung, di Parakan dll., tetapi karena pemerintah kolonial telah menangkap pemimpin PKI dan organisasi massa sebelum aksi dimulai didaerah itu maka pemberontakan tak dapat diletuskan. Aksi ketjil² terdjadi disana-sini, seperti di Parakan dll. * Kediri; Di Djawa Timur, Rakjatnja djuga meng- alami penindasan jang tak kalah kedjamnja dengan daerah lain, baik dalam bentuk padjak, kerdjapaksa, rodi, membajar pantjen, maupun perampasan tanah dari
onderneming² tebu dll. Tetapi hanja dikeresidenan Kediri, terdapat kemungkinan untuk ikut mempersiapkan pemberontakan. Comite Seksi daerah Kediri, setelah menerima putus- an Prambanan dengan segera memobilisasi dan meng- organisasi massa dalam barisan pemberontak. Penduduk dari distrik Lodojo, jaitu antara lain dari desa Kedung- banteng, dari distrik Gandusara antara lain dari desa Tumpang bersiap untuk ikut memberontak, Mereka di- atur setjara grup2, jang dipimpin oleh kepala² grup atau ketua2, dengan membawa revolver, bedil dan sendjata tadjam, Barisan ini antara lain dipimpin oleh Kromo- wiro, Asmorodipo, Madiokromo, Abu, Brahim dan lain-lainnja. Pada tanggal 12-13 November mulai dilakukan ge- rakan, tetapi karena persiapan ini telah diketahui oleh pemerintah kolonial Belanda, dan ia menempatkan pen- djagaan jang kuat, maka aksi tak dapat dilangsungkan. Aksi ketjil²an untuk menjerbu rumah alat kekuasaan kolonial jang mungkin dapat diserbu dilakukan. Gerak- ah ketjil²an ini berlangsung sampai bulan Djanuari 1927. dan tjukup menggetarkan kaum kapitalis monopoli, dan menggontjangkan kekuasaan kolonial dan feodal.
Pemberontakan di Djawa jang berlangsung kurang-
lebih sebulan dan aksi² ketjil jang masih berlangsung terus hingga bulan² berikutnja dapat ditindas oleh pemerintah kolonial Belanda dengan kedjam. Walaupun pemberontakan ini mengalami kegagalan, tetapi ia telah memberi peladjaran dan kesedaran jang dalam pada Rakjat Indonesia, jaitu bahwa kekuasaan kolonial Belanda dan kaum feodal, walaupun tampaknja kokoh dapat djuga dilawan, digontjangkan dan achirnja di- tumbangkan.
Pemberontakan meletus di Sumatera
Pemberontakan ini bukan hanja terdjadi di Djawa, tetapi djuga dipulau lainnja, dengan berbagai bentuk dan tjara, Salahsatu daerah diluar Djawa jang ikut me- lakukan pemberontakan dengan/ seru jalah Sumatera Barat, jang meletus pada tanggal 1 Djanuari 1927. Sumatera Barat, sebagai salahsatu daerah Indonesia
sebagai negeri djadjahan dan setengah-feodal, mem- punjai tjiri-tjiri chusus, jaitu masih terdapatnja sisa-sisa matriarchat; 'serta sisa-sisa lembaga suku. Pemerintah kolonial menggunakan lembaga-lembaga ini untuk melakukan berbagai penghisapan terhadap Rakjat Sumatera Barat, seperti cultuurstelsel, padjak, kerdjapaksa dan lain-lain, Setiap keluarga kaum tani tiap-tiap tahunnja harus membajar padjak tidak kurang dari f 44,53 (rupiah Belanda). Kebentjian Rakjat Sumatera Barat terhadap pemerintah kolonial dan sisa² lembaga² jang digunakan oleh pemerintah kolonial untuk melakukan penghisapan terhadap Rakjat sangat dalam, Perlawanan dari masa kemasa, seperti perang ,,padri", perlawanan terhadap cultuurstelsel, melawan padjak bumi, pemberontakan Kamang dsbnja. Bentuk dan tjara perlawanannja djuga terus berubah dan berkembang, sesuai dengan sjarat ekonomi jang berubah, serta pengaruh perkembangan gerakan² revolusioner nasional dan internasional. Begitulah, setelah Indonesia berubah mendjadi tanah djadjahan imperialis, setelah di Sumatera terdapat per- usahaan² kapitalis monopoli, adanja alat transpor mo- dern, adanja klas buruh dan lahirnja burdjuis anak negeri, maka bentuk serta tjara perdjuangannjapun berubah dan berkembang. Organisasi Rakjat jang bersifat nasional, seperti Serikat Islam, Serikat Sumatera didirikan disamping perkumpulan ,,Budi Baik", sematjam perkumpulan Budi Utomo di Djawa. Kaum buruh djuga mengadakan organisasinja sendiri, seperti buruh Kereta Api mendirikan VSTP. Walaupun sudah ada berbagai organisasi jang bersifat nasional, belum djuga dapat memenuhi tuntutan Rakjat Sumatera Barat jang ber- djuang untuk menentang penindasan kolonial itu. Lahirnja PKI sebagai Partai pelopor segera menda- patkan sambutan di Sumatera Barat. Pada permulaan- nja dibentuklah grup Komunis sebagai pendahulu dari PKI didaerah ini. Grup² ini mengadakan berbagai akti- vitetnja untuk menjebarkan pandangan dan prinsip Komunis, antara lain mengadakan diskusi terhadap berbagai masalah kemasjarakatan. Untuk ini dibentuk suatu perkumpulan dengan nania ,Internasionale Debating Club" (Perkumpulan Perdebatan Internasional) di Pa~ dang Pandjang. Segera setelah pengaruh adjaran Komunis mulai meluas, pada tahun 1923 didirikan Comite
Seksi PKI di Padang Pandjang dan didaerah lainnja. Sampai tahun 1924 didaerah Sumatera Barat telah ter- bentuk' Comite Seksi di Koto Laweh, Solok, Pajakum- buh, Sungai Sarik, Lubuk Basung, Silungkang, Bukit Tinggi, Muara Labuh, Sawah Lunto dan lain². Dan SI setelah petjah berubah menajadi Serikat Rakjat Sumatera Barat. Pimpinan PKI untuk daerah Sumatera Barat terdiri dari Hadji Datuk Batuah sebagai Ketua, Djama- ludin Tamin sebagai Sekretaris (kemudian masuk PA-RI) dan anggota2 Comite lainnja jalah, Natar Zainudin, Datuk Mangkudun Sati, M.A.S. Perpatih, Achmnad Cha- tib, Abdul Azis dan Mahmud, Setelah diadakan reorga- nisasi pada tahun 1924, Comite PKI Sumatera Barat terdiri dari Mangkudun Sati (Ketua), Saleh Djafar (Sekretaris), Mahmud, Sutan Palembang dan Baharudin Saleh. Sebagai Komisaris Hoofd Bestuur untuk Sumatera jalah Sutan Said Ali. Serikat Rakjat Sumatera Barat djuga berkembang. Anggota pengurus SR pada tahun 1925 antara lain terdiri dari Hadji Muhamad Nur Ibrahim (Ketua), Basjarudin (Sekretaris), Baharudin Saleh, Datuk Madjo Lelo, Tenek, Rustam, Ramaja dan Idrus. Suratkabar² revolusioner jang diterbitkan, jaitu Djago-Djago"Suara Tambang",Sasaran Rakjat Petir", Torpedo" dan Panas". Djuga suratkabar2 0 ,Dunia Achirat", ,Pemandangan Islam", dari ,Tawalik Sumatera" bersifat revolusioner. Sumatera Barat adalah suatu daerah jang Rakjatnja sebagian besar memeluk agama Islam, tetapi dalam hal ini tak menghalangi berdiri dan meluasnja PKI dan organisasi revolusioner lainnja. Karena perdjuangannja. jang gigih melawan imperial- isme, maka dalam waktu jang singkat PKI dan organisasi massa, revolusioner mendapat popularitet dano dukungan massa jang luas. Jang mendjadi anggota dan mendukung PKI bukan hanja kaum buruh dan tani, tetapi djuga lapisan burdjuis ketjil jang luas di Sumatera Barat, burdjuasi nasional jang karena dikenakan padjak keuntungan perang dan padjak opcenten banjak jang bangkrut, kepala suku jang progresif, guru agama, guru pentjak-silat, pegawai, dan serdadu KNIL jang ber- bangsa Indonesia. Perlu ditjatat diantara serdadu KNIL jang bersìmpati dan mendukung perdjuangan PKI antara lain sersan major Latubesi dari garnisun Padang,
'sersan major Latulahela dari garnisun Padang Pandjang, jang memberi sokongan besar pada pemberontakan. Djuga dipos militer Sawah Lunto PKI mendapat simpati luas, Karena ketakutan terhadap makin meluasnja penga- ruh PKI serta perdjuangannja, maka pemerintah kolonial Belanda dengan menggunakan segala djalan dan alat²nja herusaha untuk menindasnja. Serikat Hedjo djuga didirikan di Sumatera Barat, kepala suku jang reaksioner digerakkan, tjetjunguk diperluas. PID disebar- kan, guru² agama reaksioner disuap dan diperalat untuk mengantjam, memprovokasi dan menganiaja kader PKI. Tetapi djustru karena kekedjaman pemerintah kolonial inilah, jang makin meningkatkan kemarahan Rakjat dan simpati orang terhadap PKI. Seorang guru pentjak-silat jang kenamaan, Siroda, dari Katjang ketjamatan Singkarak, jang tadinja oleh salahseorang Demang (Wedana) Solok diminta untuk mendjadi pemimpin Serikat Hedjo tetapi menolak, datang kekantor PKI di Padang Pandjang untuk menjatakan bahwa dirinja ber- diri difihak PKI dan sanggup membela kader PKI dan kader revolusioner jang diserang Serikat Hedjo. Selan- djutnja ternjata bahwa Siroda bersama kawan²nja, Sirin, Engku Amin, Bajung Lahang, Sipatai, Sigandjil jang djuga terkenal sebagai guru pentjak-silat dan diantara- nja djuga pemimpin pemberontakan Kamang tahun 1908 (Sipatai) melakukan pembelaan jang gigih terhadap kader PKI dan kader revolusioner lainnja. Anggotaz dan pemimpin Serikat Hedjo banjak jang ,dihadjarnja". Sampai tahun,1926 dapat dikatakan tak seorang dari Serikat Hedjo jang berani bergerak karenanja. Sema- ngat perlawanan Rakjat, dengan adanja reaksi, bukan mendjadi kendor tetapi malahan makin meluap. Pada achir tahun 1925 dan dalam tahun 1926 tindakan spon- tan dari massa makin meluas seperti menembak polisi dan Belanda kolonial didjalanan dsb. Dalam suasana jang tegang dan panas inilah putusan Konferensi Prambanan disampaikan oleh Said Ali ke- pada pimpinan PKI daerah Sumatera Barat pada bulan Djanuari 1926. Said Ali sendiri setelah menjampaikan putusan Prambanan terus ke Medan dan menetap di- sana untuk memudahkan hubungan dan kontak². Comite PKI Sumatera Barat menjambut putusan ini, dan menugaskan pada Mangkudun Sati untuk memben-
tuk Comite Pemberontak, serta mengadakan persiapan seperlunja untuk melakukan pemberontakan. Comite Pemberontak antara lain terdiri dari Sipatai, Sigandjil, Siroda, Djalaludin, Arif Fadila. Comite mengutus Mangkudun Sati pergi menemui Hoofd Bestuur di Djakarta untuk melaporkan persiapan dan meminta petundjuk² selandjutnja. Di Djakarta Mangkudun Sati bertemu dengan Sardjono dan Budisutjitro, tetapi karena masa- lah pimpinan pemberontak telah diserahkan kepada Kusnogunoko maka Mangkudun Sati disuruh menemui Kusnogunoko di Bandung. Di Bandung ia bertemu dengan Kusno, dan setelah memberikan laporan keadaan daerah, maka Mangkudun menerima tugas untuk mengadakan persiapan pemberontakan dengan mentjari sendjata, uang dan perbekalan. bagi pemberontakan di Sumatera Barat. Setelah kembali dari Bandung, tugas jang telah di- tetapkan oleh Pimpinan Pusat Pemberontakan didjalan- kan dengan baik oleh Comite Daerah Sumatera Barat dan Comite Pemberontaknja. Sendjata2, perbekalan² di- usahakan dan uang dikumpulkan, Dalam usaha memperoleh sendjata ini perlu ditjatat bahwa seorang wakil Administratur Tambang Batubara Sawah Lunto, jang berbangsa Djerman setelah didatangi oleh Mangkudun Sati untuk membantu memperoleh sendjata, bersedia mengusahakan sendjata-api berupa revolver dan kara- bin. Djuga seorang Belanda, direktur toko sendjata Bouman bersedia mendjual sendjatanja dengan melalui Mangkudun Sati. Sendjata djuga dibeli melalui direktur firma ,,Boon" di Medan, Mr. van Eck. Pendjualan sendjata /setjara ,,gelap" oleh direktur Bouman diketahui oleh pemerintah kolonial jang kemudian menangkapnja dan dipendjarakan untuk 6 bulan. Disamping itu sendjata djuga diperoleh dengan membikin sendiri. Djuga dibuat sendiri granat-tangan, jang obat peledaknja dibeli dari kamar obat di Surabaja dan Djakarta. Jang me- mimpin perbekalan sendjata jalah Hadji Edris dan Sutan Maradjo disungai Puar. Djuga dibelinja 4 mobil. Salahseorang pengumpul dan penjokong keuangan jalah Hasan Bandaro seorang pedagang kaja di Padang jang sangat membentji pemerintah kolonial Belanda. Sampai achir tahun. 1926, sendjata jang telah ter- kumpul di Sumatera Barat tidak kurang dari 1000 pu- tjuk, jang terdiri dari karaben, revolver, browning, bedil
tembak rusa dan bedil buatan sendiri. Ini belum ter- hitung djumlah granat-tangan, sendjata tadjam dll. Persiapan telah dilakukan, dan tinggal menunggu kode komando memberontak. Menurut rentjana pemberontakan akan dilakukan serentak bersamaan waktu dengan di Djawa, tetapi karena sebagian besar anggota Hoofd Bestuur telah ditangkap_pada tanggal 12 No- vember, demikian djuga anggota Comite Pemberontak Pusat, sehingga tilgram kode jang mestinja dikirim ke Sumatera Barat tak dapat terkirim. Rapat Comite Pemberontakan diadakan diluar kota Padang selama tiga hari tiga malam. Perdebatan hangat terdjadi, banjak usul untuk segera mentjetuskan pemberontakan. Tetapi karena kepatuhan terhadap garis jang diberikan oleh Hoofd Bestuur maka pemberontakan tak segera diadakan, dan waktu digunakan untuk memeriksa barisannja lagi sambil menanti berita lebih landjut dari Hoofd Bestuur. Dalam waktu itu, setelah pemberontakan di Djawa ditindas pemerintah kolonial mempunjai kesempatan memusatkan kekuatannja di Sumatera Barat, pendjaga dan patroli diperkuat. Gerakan pembersihan dikampung- kampung dengan giat diadakan. Namun demikian tak djuga dapat menangkap seorangpun. Keadaan makin hari makin hangat, kemarahan massa makin memuntjak, kedjadian tembak-menembak kerap iF terdjadi. Desakan untuk memberontak melantang dari mana². Karena itu, Comite PKI Sumatera Barat dalam rapatnja jang bersedjarah pada pertengahan bulan Desember 1926 di Padang Pandjang. memutuskan untuk mentjetuskan pemberontakan di Sumatera Barat pada tanggal 1 Djanuari 1927. Pemberontakan akan ditjetus- kan pertama di Sawah Lunto, karena didaerah itu massa sudah bersedia melakukan pemberontakan dan dian- tara serdadu KNIL djuga ada jang bersedia menjambut- nja. Putusan disampaikan ke-mana², dan mendapat sam- butan Rakjat jang mau memberontak. Tetapi djam untuk mulai pemberontakan masih akan ditetapkan kemudian. Pada tanggal 31 Desember 1926 Comite Daerah me- ngirim utusan ke Sawah Lunto untuk menjampaikan ke- tentuan bahwa pemberontakan harus dimulai dari Sawah Lunto djam 24.00 malam. Utusan singgah di Silungkang untuk memberitahukan putusan dimulainja pemberontakan dan tugas Silungkang segera bergerak menjambut
通
(ea e) ea rat
pemberontakan di. Sawah Lunto. Tetapi Comite Partar Silungkang jang antara laîn terdiri dari Kaharudin gelar Manggulung, Tajib, Limin, Talaka gelar Radjo Sam- pano, tidak sabar menanti malam itu, dan menahan utusan jang hendak pergi ke Sawah Lunto agar me- njaksikan lebih dahulu bahwa Silungkang sudah mulai bergerak menangkapi alat pemerintah kolonial dan orang² reaksioner. Antara lain jang ditangkap malam itu jalah pembantu Demang, guru kepala dan guru bantu jang melakukan peranan sebagai orang djahat jang membantu pemerintah kolonial. Laporan penang- kapan sudah sampai pada Asisten Residen di Sawah Lunto, dan pada pagi harinja anggota2 Comite Sawah Lunto ditangkapi, dan persiapan untuk menindas ge- rakan di Silungkang dimulai. Perlawanan jang sengit mulai meletus.
Djalannja pemberontakan Setelah pemberontakan meletus pertama di Silungkang, maka berita dan utusan disebarkan kemana-mana untuk ikut menjambut pemberontakan dan memberi bantuan rentjana serangan ke Sawah Lunto. Kaum pemberontak bergerak menangkap alat pemerintah kolonial, memutuskan hubungan2, mengadakan pengadangan, merebut kantor tilpun, menduduki stasiun keretaapi dan sebagainja. Pada tanggal 2 Djanuari malam, kaum pemberontak Silungkang, jang djuga dibantu oleh barisan dari ber- bagai tempat berusaha untuk menjerang Sawah Lunto. Barisan penjerang jang berangkat dari Silungkang ke Sawah Lunto melewati pos polisi Muara Klaban. Kaum pemberontak berusaha merebut tangsi polisi itu, tetapi gagal. Terdjadilah tembak-menembak antara polisi dan kaum pemberontak, Sementara itu barisan pemberontak dari Muara Klaban sendiri bertemu dengan pasukan polisi jang dikirim oleh Asisten Residen dari Sawah Lunto, dan terdjadilah tembak-menembak, Dalam waktu itu djuga serombongan kaum pemberontak dari Padang Sibusuk dengan melalui djalan keretaapi berusaha ma- suk dan menjerang Sawah Lunto, tetapi gagal., Kaum pemberontak jang menjerang Sawah Lunto djuga da- tang dari Tarung2 (Solok).
Untuk menindas gerakan pemberontakan ini Asisten Residen jang berada di Sawah Lunto memimpin sen- diri. Pada djam 4.00 pagi ia bersama dengan sepasukan veldpolisi berdjalan kaki ke Muara Klaban, untuk terus ke Silungkang dengan naik keretaapi dari Muara Klaban. Setelah kerétaapi jang ditumpangi mendekati stasiun Silungkang, terdjadilah tembak-menembak antara kaum pemberontak jang menduduki stasiun, dengan polisi. Karena kalah kekuatan maka kaum pemberontak terpaksa mengundurkan diri, dan dikedua belah fihak terdapat korban. AR belum berani melandjutkan opera- sinja, dan duapuluh menit kemudian ia terpaksa kembali ke Sawah Lunto untuk mendatangkan balabantuan. Djam 15.00 hari itu ia kembali dengan membawa pasukan polisi jang lebih besar. Namun tak djuga berhasil sebagaimana jang diharapkan. Pada malam tanggal 2 Djanuari 1926 kaum pemberontak menjerbu rumah se- orang kepala dinas B.O.W. - Leurs, dan dia terbunuh dalam melawan pemberontak. Bantuan kekuatan pemberontak djuga terus didatangkan dari Padang Sibusuk dan Tandjung Ampelu dengan berkendaraan mobil, bus atau truk. Diantara barisan bantuan ini ada jang ter- tembak dan tertangkap. Kaum pemberontak djuga melakukan pengadangan didjalan keretaapi, dan melepaskan paku² rel untuk me- rintangi kedatangan serdadu jang diangkut dengan keretaapi. Pendjaga² ditrowongan Muaro berpapasan dengan patroli serdadu, dan terdjadilah tembak-menembak. Pendjaga trowongan mengundurkan diri karena kalah kuat. Pada djam dua pagi tanggal 3 Djanuari 1927 kaum pemberontak di Padang Sibusuk mengadang serdadu jang didatangkan dari Padang Pandjang ke Sawah Lunto. Dalam pertempuran ini kepala pasukan- nja Letnan Simon dapat ditembak mati oleh kaum pemberontak. Pasukan lain jang djuga melalui Tandjung Ampalu dan Padang Sibusuk djuga ditembaki oleh kaum pemberontak. Pada hari ini djuga hubungan tilpun dengan Sawah Lunto diputus oleh kaum pemberontak. Djuga di Sidjundjung tembak-menembak terdjadi antara kaum pemberontak dan serdadu jang membantu kepala distrik disana. Pada tanggal 3 Djanuari 1927 Asisten Residen dengan kedjam mengepung pasar Padang Sibusuk dan menahan wanita jang sedang berbelandja dan berdjual- C
an. Serdadu jang dikirim untuk membantu di Sidjun djung ditengah djalan antara Tandjung Ampalu dan Muaro diserang oleh kaum pemberontak, tetapi serdadu itu dapat meloloskan diri sampai Sidjundjung. Pada tanggal 4 Djanuari 1927, Asisten Residen me- ngirimkan dua pasukan serdadu untuk menindas gerakan pemberontakan di Padang Sibusuk. Rakjat jang memberontak melakukan perlawanan jang sengit, hing- ga menimbulkan korban jang tidak sedikit diantara ke- dua belah fihak. Pada esok harinja serdadu itu melaku~ kan penangkapan 'dengan kedjamnja, dan ada 96 orang jang ditangkap. Pada hari itu djuga wanita jang sedang berbelandja dipasar Silungkang dikepung dan ditangkap. Penge- pungan dan penangkapan ini dipimpin sendiri oleh Asisten Residen. Kaum pemberontak jang melakukan pengadangan didjalan keretaapi dekat Silungkang menembaki keretaapi jang memuat serdadu dengan dipimpin seorang kapten jang datang dari djurusan Solok ke Sawah Lunto. Pada tanggal 7 Djanuari 1927 kaum pemberontak dari Silungkang jang menudju ke Kabun dan Kota baru bertemu dengan pasukan serdadu dan terdjadilah per- kelahian jang seru, dan kaum pemberontak karena kalah kekuatan menghindarkan diri. Perlawanan didaerah Sawah Lunto ini berlangsung sampai tanggal 12 Djanuari 1927. Didaerah Solok mulai tanggal 1 Djanuari 1927 djuga terdapat gerakan Rakjat jang memberontak. Rumah² alat pemerintah kolonial mendjadi sasaran serbuan. Seorang djurutulis Asisten Residlen jang djahat jang ting- gal di Sungai Lasi djuga mendjadi sasaran pemberontak. Kawat tilgram dan tilpun djuga diputus, dan rintangan djuga dipasang didjalan KA antara Sungai Lasi dan di- perbatasan antara Solok dengan Tanah Datar. Di Padang, pada tanggal 9 Djanuari 1927 malam ter- ,djadi tembak-menembak antara Rakjat jang memberontak jang sedang berkumpul disawah dekat Pasar Amba- tjang dengan serdadu jang dikirim -kesitu. Karena pen- djagaan serdadu jang kuat maka kaum pemberontak tak dapat melakukan gerakan jang besar²an. Gerakan Rakjat untuk memberontak, dilakukan se- tjara besar2an dan ketjil²an. Bom² dipasang di-mana²
untuk diledakkan kalau terdapat kemungkinan untuk melakukan pemberontakan. Dalam pemberontakan ini, salahseórang pemimpin pemberontakan jang bernama Munap mendapat ke- hormatan untuk mendapatkan djulukan Djendral, baik dari teman²nja maupun dari lawannja, karena keberani- an dan ketjakapan mengorganisasi serta memimpin pemberontakan. Tidak djarang ia sehabis memimpin perlawanan di Silungkang, ia djuga memimpin serbuan ke Sawah Lunto, kemudian memimpin. perlawanan di Padang Sibusuk. Ia dengan gagah-berani memimpin sen- diri pertempuran hingga mentakdjubkan lawan2nja. Munap telah gugur sebagai pahlawán dalam pertempuran dipinggir djalan keretaapi antara Padang Sibusuk Tandjung Ampelu, namun namanja tetap dikenang sebagai pahlawan jang sesungguhnja. Djuga gugur tertembak dalam perlawanan digunung Bukit Pau Sembilan — Sipatai. Kepala Sipatai dipotong dan ditantjapkan pada sepotong bambu, dan dengan kedjam diarak keliling kota, sedangkan Siroda setelah terpegang dibunuh oleh Demang Solok Datuk Putih, Atas djasanja mengabdi pemerintah. kolonial dengan menindas pemberontakan nasional ini, kemudian Demang Solok, dan Hadji Sjech Djambek diberi bintang djasa oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemberontakan di Sumatera Barat jang berlangsung selama satu bulan, dan perlawanan ketjil2 jang berlangsung selama tiga bulan sampai bulan Maret 1927 meng- alami kegagalannja. Namun demikian, kegagalan ini tak membuat Rakjat Sumatera Barat mundur karenanja, tetapi dengan menarik peladjaran dari kegagalannja mengatur kembali barisan perlawanannja, menanti saat jang baik untuk dapat mentjapai tjita²nja, jaitu Indonesia Merdeka jang demokratis, dan bebas dari kemiskinan dan penindasan. Saat selandjutnja membuktikan akan kebenaran pasti tertjapainja tjita² ini. *
Tjetusan pemberontakan walaupun baru terdapat di- beberapa daerah Djawa dan Sumatera Barat, tetapi se- tjara tidak langsung jang memberontak sesungguhnja bukan hanja Rakjat dari daerah itu sadja tetapi seluruh Rakjat Indonesia. Sebab mereka ikut membantu tertje-
Pemerintah kolonial Belanda dengan menggunakan
tangan-besi menindas pemberontakan
tusnja pemberontakan dengan mengirim uang, sendjata dan bahan² lain 'jang diperlukan. Misalnja tidak sedikit uang jang dikirim dari Rakjat Ternate untuk membantu pemberontakan di Djawa. Tidak sedikit sendjata jang dibeli oleh Rakjat Sumatera Timur untuk itu. Djuga di Kalimantan Barat walaupun waktunja sudah lebih lambat djuga diusahakan untuk ikut melakukan pemberontakan jang dipimpin antara lain oleh Abdulrachman Grendjeng, Gusti Suluh Lelanang, Djohan Idrus dll. tetapi gagal karena pimpinannja telah ditangkap lebih dahulu. Djuga Rakjat Makasar, Menado dan Goron- talo dengan melalui orang2 Komunis disana telah mem- beri bantuan moril dan materiil pada pemberontakan nasional ini, Ini semuanja merupakan suatu manifestasi, suatu pernjataan dari sifat nasional daripada pemberontakan, manifestasi dari kesedaran nasional jang telah ditanam oleh gerakan revolusioner, oleh PKI,
Penindasan, Penangkapan dan Pembuangan
Pemberontakan nasional jang berlangsung di Djawa
k.l. sebulan, dan di Sumatera djuga k.l. sebulan telah mengalami kegagalan. Pemerintah kolonial Belanda dengan kedjam menindas pemberontakan Rakjat Indo- nesia. Meletusnja pemberontakan jang tidak serentak memberikan kemungkinan bagi pemerintah kolonial untuk memusatkan. kekuatannja dalam saat tertentu untuk menindas gerakan itu didaerah tertentu pula. Begitulah setelah pemberontakan di Djakarta ditindas dengan kedjám, maka. pemerintah kolonial dapat memusatkan kekuatan militernja sebesar 5 kompi infanteri, 100 orang marsose, dan kavaleri jang dibawah pimpinan overste
D. Engelbronner untuk menindas pemberontakan di Banten. Demikian djuga untuk menindas pemberontakan di Priangan dan Surakarta digunakan kekuatan jang besar. Setelah pemberontakan di Djawa ditindasnja, maka pemerintah kolonial makin mempunjai kesempatan untuk memusatkan kekuatannja sebanjak 12 kompi dengan dipimpin oleh major Rhenrev untuk menindas gerakan pemberontakan jang meletus di Sumatera Barat. Dalam melakukan penindasan ini pemerintah kolonial Belanda -melakukan segala matjam tindakan jang kedjám
jang diluar norma² hukum dan perikemanusiaan. Pe-
nangkapan jang serampangan mereka lakukan, Dalam
melakukan penangkapan ini mereka bersembojan lebih baik salah tangkap seribu orang. daripada lolos seorang. Dalam melakukan penindasan, penangkapan dan penjik- saan ini pemerintah kolonial Belanda mengerahkan kaki- tangannja jang terdiri dari bupati2, wedana2, tjamat2, orang² Serikat Hedjo dll. Sangat disajangkan bahwa ada orang2 Indonesia seperti Hadji Agus Salim dan Dr. Sutomo ikutserta menjalahkan pemberontakan. Hal mi misalnja dapat dibuktikan dengan salahsatu wawan- tjara Dr. Sutomo dengan salahseorang wartawan jang termuat dalam harian di Medan ,Benih Timur" tanggal 23 Desember 1926 jang antara lain menjatakan sikapnja jang setjara prinsipiil bermusuhan dengan Komunisme. dan ta menaruh simpati pada Gupernur Djenderal. Suratkabar2 Belanda reaksioner beramai-ramai menge- tjam pemberontakan dan demikizn djuga suratkabar² pendjilat jang berbahasa Indonesia. Karena itulah maka tidak kurang dari 20:000 orang dari seluruh Indonesia jang ditangkap dalam masa itu. Rumah pendjara di Banten, Djakarta, Bandung, Sukabumi, Tasikmalaja, Tegal, Surakarta, Kediri, Surabaja, Sumatera Barat dan lain penuh sesak dengan orang jang ditahan, Ini belum lagi terhitung dengan tangsi² militer dan polisi serta sekolahan² jang ditutup dan didjadikan tempat tahanan. Rintih tangis dari isteri2, anak2, saudara²nja, ibu dan bapak terdengar dengan sangat memilukan hati tetapi djuga makin menggemaskan hati Rakjat terhadap kaum pendjadjah. Para tahanan mendapat perlakuan jang djelek, kasar, ditjatji-maki, tidur diubin atau di- tanah sadja dsb. Hampir sebulan mereka ditahan tanpa ada pemeriksaan, dan baru hampir achir Desember 1926 pemeriksaan terhadap mereka ini dimulai. Setelah dilakukan pemeriksaan sementara, dari djum- lah tersebut diatas hanja 4.500 orang jang dibebaskan karena tidak dapat dibuktikan kesalahannja sedangkan selebihnja masih tetap ditahan. Para tahanan jang dianggap bersalah, dan berbahaja bagi apa jang oleh kekuasaan kolonial dinamakan ,,ke- tertiban dan keamanan umum", tetapi tidak dapat dibuktikan kesalahan menurut fasala dalam kitab Undang² Hukum Pidana didjatuhi hukuman dengan ditawan ke Digul. Mereka jang ternjata melakukan tindakan mem-
Hasan, Dirdja. Egom sehari sebelum digantung
berontak diadjukan didepan pengadilan negeri untuk orang bumiputra (Land Raad). Mereka jang diadjukan kemuka pengadilan ini umumnja dikenakan hukuman berat jaitu hukuman pendjara dari 5 sampai 20 tahun dan ada jang dikenakan hukuman mati. Diantara mereka setelah selesai mendjalani masa hukumannja ada jang terus ditawan ke Digul tanpa diberi kesempatan mengundjungi keluarganja. Rumah pendjara² besar se- perti Sumenep, Ambarawa, Nusakambangan, Glodok, Sukamiskin, Tjipinang, Kalisosok dan lain² penuh dengan kaum pemberontak jang dihukum. Perlawanan jang kedjam diluar perikemanusiaan bukan hanja berlangsung selama penangkapan.dan peme- riksaan, tetapi djuga selama didalam pendjara. Kaum Komunis bukan hanja melawan ketidak-adilan jang terdjadi diluar pendjara, tetapi didalam pendjarapun mereka tak menghentikan perlawanannja untuk membela kebenaran. Misalnja dipendjara Pamekasan pernah di- lakukan pemogokan untuk memprotes makanan jang buruk, soal mandi dan perlakuan jang kedjam, dan djuga pernah terdjadi pada suatu pagi penghuni dari suatu blok memukuli pendjaga²nja karena tindakannja jang kedjam. Djuga mereka jang dipekerdjakan dibagian pendjahitan merusak mesin djahit, mori dsbnja. Dipendjara Nusakambangan diadakan perlawanan menolak dipaksakannja ukuran dan batasan djam untuk menga- njam topi dari bambu, tikar dan sebagainja. Para tahanan dipendjara Glodok pernah merentjanakan gerak- an memberontak dari dalam pendjara jang djuga akan diikuti oleh mereka jang masih diluar pendjara. Ren- tjana ini gagal karena Belanda telah dapat mengetahui lebih dahulu. Kedjadian ini sangat menggemparkan dan menakutkan kekuasaan pendjadjah, sehingga diadakan pendjagaan berat terhadap para tahanan. Mereka tidak diperbolehkan ditengok lagi oleh keluarganja. Mereka jang mendapat hukuman mati di Djawa jalah Egom, Dirdja dan Hasanbakri dengan digantung di Rumah Pendjara Tjiamis pada tanggal 9 September 1927, Hadji Sukri dengan 5 kawan²nja digantung di Rumah Pendjara Pandegelang pada tahun 1927, Hadji Hasan di Tjimaremeuh Garut, Kartawirjo dan Aman di Padalarang, Ojod di Nagrek. Di Sumatera Barat jang dihukum mati dengan digantung jalah: Mang- gulung, M. Jusuf Sampano Kajo, Badarudin Gelar
Bain digantung di Pendjara Sawah Lunto pada bu- lan Marat 1927. Mereka jang dikenakan hukuman gantung ini mendjalani hukumannja dengan tenang dan dengan tersenjum, suatu pertanda bahwa mercka teguh dalam pendirian dan.tak sedikitpun menjesal akan per- buatannja, dan sedar bahwa hal itu adalah merupakan, suatu konsekwensi dari perdjuangannja. Hal ini bisa kita lihat dari detik terachir pada saat akan dilaksanakan hukuman gantung itu. Misalnja Egom, sewaktu mendapat kundjungan keluarganja sehari sebeium dilaksanakan hukuman gantung dengan tenang memesan agar sanak keluarganja djangan gusar atas tjeiaan² musuh, dan me- jakinkannja bahwa kematiannja itu untuk membela Rak- jat jang tertindas dan uatuk kemerdekaan tauahairnja. Ia jakin bahwa tjita² perdjuangannja jaitu Komunisme pasti menang. Djuga pada malam terachir dari hidupnja, mereka samasekali tetap gembira, menjanjikan lagu2 re- volusioner jang mengobarkan dan meneguhkan sema- ngat kawan²nja jang akan ditinggalkannja. Pada saat tali-gantungan akan didjeratkan dilehernja mereka memperlihatkan keteguhan pendirian dan ke- pahlawanan pedjuang. Komunis, dan menjerukan, Selamat tinggal isteri dan anak2, kawan? seperdjuangan. Landjutkanlah tjita² kita jang sutji itu untuk kemerdekaan. Hidup Komunisme ! [" Demikianlah djuga sewaktu Manggulung dkk, mendjalani hukuman gantung. Pagi² buta, setelah tiáng- gantungan jang ditutup rapat dengan kain hitam di- siapkan oleh algodjo jang terkenal jaitu pak Tere se- rombongan polisi jang terdiri dari 12 orang mengambil 3 orang tjalon korban, jang masing2 sudah siap dengan berpakaian pijama biru muda. Sesaat sebelum mening- galkan selnja Manggulung mengutjapkan beberapa ka- limat jang ditudjukan pada keluarganja antara lain sbb.: Kami dihukum gantung karena berontak melawan pe- merintah kolonial Belanda. Kami dihukum gantung ka-
rena membela kehendak merdeka dari Rakiat..... tapi
kámi jakin bahwa kematian kami tidak sia², dan ke- menangan pasti kita tjapai. Selamat tinggal para ke- luarga". Jang hadir dalam saat penggantungan itu jalah hakim jang membatjakan keputusan pengadilan, penghulu jang membatjakan taklim, seorang dokter jang memeriksa se-
Tanah Tinggi
telah digantung, dan kepala pendjara jang mendjadi saksi. Sesaat sebelum menaiki tianggantungan salahseorang diantara tiga orang itu masih sempat berpantun : Pe- njalain bukit surungan, bantjah laweh bergunung batu. Bernjanjilah tiang-gantungan, Rakjat mendengar me- rasa rindu". Hakim memanggil nama²nja, dan kemudian membatjakan vonisnja, setelah itu mereka dibawa masuk ling- karan kelambu hitam dimana tali gantungan sudah siap untuk dipasang dileher mereka oleh salahseorang algo- djo. Setelah itu penghulu membatjakan taklin dan peng- gantungan dilaksanakan. Setelah selesai. dokter meme- riksa apakah benar mereka telah mati. Djuga dihukum gantung sampai mati dirumah pendjara Padang, Sigandjil dengan ditambah hukuman 25 tahun. Ketjuali mereka ini masih ada puluhan pahlawan jang gugur didalam perlawanan, pertempuran dan serangan jang dilantjarkan terhadap alat² kekuasaan kolonial baik didaerah Banten, Priangan, Surakarta, Sumatera Barat dan lain². Mereka ini adalah pahlawan² sedjati jang namanja tidak dikenal dan tidak menuntut pudjaan atau bintang tanda pahlawan, Mereka pendjundjung tinggi palu-arit dan memiliki moral Komunis jang harus mendjadi teladan bagi angkatan² Partai selandjutnja, Kekerasan hati Angkatan 26 adalah kekerasan hati kaum Komunis dalam membela kebenaran. Tudjuh pahlawan putra Priangan, lima pahlawan putra Banten, empat pahlawan putra Minang, telah dihukum gantung dan banjak lagi putra Indonesia. jang terbaik telah gugur pergi untuk selama-lamanja, me- ngorbankan djiwanja untuk perdjuangan kemerdekaan nasional jang penuh, jang kini hasilnja walaupun belum penuh kita kenjam bersama tanpa mereka itu sendiri mengenjamnja. Hal ini patut: dikenangkan sepandjang masa. 大 9 Mereka jang harus ditawan djuga sudah disiapkan tempat tawanannja. Pada pertengahan tahun 1925 dalam rentjananja untuk menindas gerakan revolusioner, pemerintah kolonial sudah memilih tempat tawanan di
Digul, Irian Barat. Kemudian pada tanggal 10 Desem- ber 1926, pemerintah kolonial, cq Gupernur Djendral membuat penetapan jang diumumkan di Javasche Courant", bahwa Digul Atas (Boven Digul) disahkan sebagai tempat tawanan. Daerah itu adalah daerah atas sungai Digul Irian Barat Selatan, masuk Resi- densi Ambon ~ Maluku, Daerah ini ditempatkan di- bawah kekuasaan seorang opsir angkatan darat Belanda jang djuga pernah dikepung oleh kaum pemberontak Rakjat di Labuan. Banten, ~ Kapten L. Th. Becking, dengan pangkat kontrolir. Luas daerah jang disediakan untuk tawanan ini lk.
10.000 HA persegi, jang membentang disebelah timur tepi-sungai Digul hilir. Daerah jang luas ini dibagi mendjadi empat bagian, jaitu sebagian untuk kaum tawanan jang ,,lunak", jaitu di Tanah Merah, jang kedua tempat militer dan. pemerintah, jang ketiga terkenal dengan Gudang Arang, tempat penjimpanan batubara. Tempat ini merupakan tempat sementara bagi mereka jang ,,keras" jang hendak ditempatkan di Tanah Tinggi. Tanah Tinggi ini adalah tempat jang keempat, jang digunakan oleh Belanda untuk menempatkan mereka jang .keras" atau .Onverzoenlijken", jang mhenolak bekerdjasama dengan Belanda ditanah buangan ini, Daerah ini adalah daerah hutan jang belum pernah dibuka manusia untuk didjadikan daerah budi-daja. Suku² Irian jang tinggal disekitar daerah ini jalah suku Mappi, Mandobo, Kaoh, Kaja2, Djaer Muju, Brian, suku sekitar Tanah Tinggi dan lain². Kebudajaan ma- teriil mereka masih rendah, jaitu masih berada dalam tingkat batù kasar, sedangkan penghidupan pokok mereka jaitu mentjari buah²an atau menangkap ikan. Per- kakas utamanja jalah panah dan perahu ketjil. Mereká umumnja bertempat tinggal disepandjang tepi sungai. Tjotjok-tanam umumnja belum mendjadi dasar kehi- dupan ekonomi mereka. Daerah ini djuga terkenal dengan daerah malaria jang djahat sekali, jang oleh seorang dokter kolonial, L.J.A. Schoonheyt, jaitu seorang dokter jang ditugaskan di Digul, disebut daerah jang terdapat tiga djenis malaria, jaitu tertiana, quarta dan tropica. Digul sengadja dipilih sebagai tempat tawanan djus- tru untuk merusak baik djasmani maupun rochani kaum
Komunis dan kaum progresif serta mereka jang ikut memberontak. Pemberangkatan massa tawanan ke Digul ini dari Djawa dan daerah lain ketjuali Sμmatera Barat pada permulaan bulan Djanuari 1927, sedangkan dari Su- matera Barat achir bulan Maret 1927. Djumlah mereka jang ditawan menurut angka jang dikemukakan oleh
J. Th. Petrus Blumberger, ada 1.308 orang. Mereka ini diangkut berturut-turut dengan kapal K.P.M. ketjuali rombongan dari Semarang jang diangkut dengan kapal perang ,Java" sampai muara sungai Digul, dan dari muara ini mereka diangkut dengan kapal K.P.M. Pada mulanja mereka ini semua ditempatkan di Tanah Me- rah. Tetapi dua tahun kemudian, ternjata bahwa pe- mimpin² dan orang² penting, dan ada sedjumlah orang tawanan jang tidak mau kerdjasama dengan pemerintah kolonial jaitu kaum ,onverzoenlijken" diberi tempat ter- sendiri di Tanah Tinggi. Kaum tawanan ini mesti mem- babat hutan sendiri untuk membuat rumah tempat- tinggal, ladang dan sebagainja. Pemerintah kolonial hanja menjediakan seng dan paku serta alat penebang kaju jang sangat sederhana untuk membuat rumah itu. Mereka hanja mendapatkan pembagian sekedar beras dan ikan asin sedangkan keperluan jang lain mereka mesti mengusahakannja sendiri, Pakaian mereka tidak dapat dan tergantung pada kiriman dari keluarga jang mereka tinggalkan. Kesehatan sangat buruk. Walaupun ada dokter tàk pernah dilakukan pemeriksaan kesehatan.
*
Sementara itu pemerintah kolonial Belanda menggu- nakan berbagai akal litjik untuk memetjah-belah serta mengadu domba kaum tawanan satu sama lain. Politik adudomba ini didjalankan untuk merusak dan meniada- kan persatuan diantara kaum tawanan, dan dengan de- mikian maka mudah menguasainja dengan djumlah alat mereka jang sedikit itu. Politik ini dapat dilaksanakan karena pada satu fihak pemerintah kolonial Belanda su- dah mempunjai tjukup pengalaman dalam melakukan- nja, difihak lain karena belum tergemblengnja setjara ideologis, teori serta politik dan keorganisasian diantara anggota Partal dan massa kaum tawanan pada umum-
nja. Dalam pemetjah-belahan ini tak djuga ketjil pe- ranan jang dimainkan oleh sementara orang PARI dan sementara orang jang paling lemäh ideologi, teori dan politiknja untuk membantu pemerintah kolonial, walau- 幸 pun mungkin ada sebagian dari mereka jang melaku- kannja dengan tidak sedar atau tidak penuh dengan kesedaran, Pemerintah kolonial menggunakan kenjataan adanja beberapa kelemahan ini untuk menghasut permusuhan suatu kelompok orang dari suatu suku dengan suku lain, dari suatu grup dengan grup lain, antara per- seorangan jang sátu dengan jang lain, agar selalu tim- bul pertengkaran, permusuhan, perselisihan dan ben- trokan jang tidak djarang mengakibatkan korban djiwa. Akibat dari politik adu-domba itu maka timbulah ke- djadian seperti pertengkaran, perselisihan, pembunuhan, pemukulan, penganiajaan, edjekan terhadap sesama kawan jang disebabkan oleh hal² jang ketjil dan kurang berarti, dan jang ditimbulkan serta di-besar²kan oleh Belanda serta beberapa kaki-tangannja. Itulah sebabnja maka terdjadi peristiwa seperti pembunuhan. terhadap Gusti Sulung Lelanang oleh Gusti Idrus pada tanggal 6 Desember 1932, karena dakwaan atau terkaan jang belum tentu kebenarannja: Suprodjo, jang pada waktu itu bekerdja sebagai administratur rumahsakit tawanan djuga-diterkam dengan golok dilehernja, kebetulan tidak sampai mati: Mangkudun Sati djuga dibatjok dengan kampak 23 kali oleh komplotan trotskis Arif Fadila pada tanggal 4 Agustus 1932. Atas pertolongan dokter Schoonheyt dan Goslings dengan memberi transfusi darah, sikorban dapat tertolong djiwanja, Pada tanggal 4 Djanuari 1934 Suwirdjo djuga mendjadi korban hingga luka parah; dan pada hari jang sama itu Mahmud djuga mendjadi korban sasaran klewang hingga me- ninggal. Masih banjak lagi peristiwa seperti ini terdjadi jang dilakukan oleh orang jang kurang pandjang fikir dan jang tidak sedar atau jang mungkin djuga sedar di- gunakan oleh pemerintah kolonial untuk mendjalankan politik adu-domba, dan kalau mungkin memusnahkan orang² Komunis dan orang2 revolusioner lainnja. *
Keadaan jang menjedihkan, baik karena buruknja
perawatan, makanan, pakaian ditambah lagi dengan
ALIARCHAM Anggota HB, dalam mengabdi perdjuang- an kemerdekaan na- sional, mengabdi PKI, wafat ditanah-pembu- angan ~ Digul pada tahun 1933
politik adu-domba itu, maka tidak djarang orang Komunis jang baik tetapi jang mendapatkan kerusakan fisik djatuh sakit tbc, malaria hitam dan lain² hingga meninggal karenanja. Salahseorang jang mendjadi kor- ban akibat dari keadaan ini jalah Aliarcham, seorang pemimpin Komunis jang berbakat. Ia menderita pe- njakit malaria hitam, dan dalam waktu jang lama tidak mendapatkan perhatian dokter, Baru pada tanggal 1 Djuli 1933 ia diangkut dari Tanah Tinggi ke rumah- sakit Tanah Merah. 'Tetapi keadaan sudah sangat ter- lambat, dan beliau sendiri sudah merasa dirinja tidak kuat lagi. Ditengah perdjalanan, jaitu kira? masih ku- rang 15 km dari Tanah Merah beliau telah menghem- buskan nafasnja jang penghabisan. Beliau meninggal pada tanggal 2 Djuli 1933 dalam usia 32 tahun. Pemakaman djenazah Aliarcham sungguh merupakan demonstrasi besar, demonstrasi untuk memberi peng- hormatan jang penghabisan kepada pemimpin jang di- tjintai, kawan seperdjuangan, senasib, dan sekaligus djuga merupakan protes keras terhadap perlakuan pe- merintah kolonial Belanda. Dalam demonstrasi pemakaman ini djuga disebarkan potret djenazah Aliarcham, jang dibaringkan diatas dipan kaju, jang diatas kepala- nja tertulis sadjak sbb.:
Aliarcham 32 th. Geint. T. Tinggi 2 Gij zijt ons niet verloren, neen! Ons heden groeit uit Uw verleden. Door onze hand wordt voortgeweven. De heilige arbeid van Uw leven Wij planten't verheffend woord Van Uw bestaan niet blijschap voort De toorts, ontstoken in uw nacht, Wij Reiken haar aan't nageslacht.
B, Digul 2 — 7 — 1933.
Terdjemahannja adalah sbb.: Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas, tidak Hari ini tumbuh dari masamu Tangan kami jang meneruskan Kerdja agung djuang hidupmu Kami tantjapkan kata mulia hidup penuh harapan Suluh dinjalakan dalam malammu Kami jang meneruskan kepada pelandjut angkatan. Aliarcham dimakamkan di Tanah Merah, makam jang seharusnja mendapat nama Taman Bahagia, tempat ber- semajam untuk selama-lamanja pahlawan perintis ke- merdekaan jang patut mendapat pudjaan dan kenangan, terutama bagi kita jang kini masih melandjutkan usaha djuangnja jang belum tertjapai sepenuhnja. Disamping Aliarcham masih banjak kawan lainnja jang djuga men- djadi korban keganasan tempat pembuangan, seperti Hadjì Ali jang meninggal karena sakit tbc, Marco dan5 Sundoro karena sakit malaria hitam, Surathardjomartojo karena sakit malaria, dan masih banjak lagi, seperti Kusnogunako, Najoan, Baharudin Saleh, Herujuwono dan lain-lain. *
Terhadap keadaan jang demikian buruknja itu'kaum tawanan bukannja tinggal diam, tetapi selalu memberi perlawanan jang mungkin mereka lakukan. Tetapi karena maksud pemerintah koloníal memang merusak ro- chani dan djasmani kaum Komunis, maka perbaikan per- lakuan tidak djuga didjalankan. Karena keadaan hidup dipembuangan jang tak terderita dan didorong oleh ke- inginan lekas bebas dari kungkungan tawanan jang sangat buruk îni maka kerapkali telah ditjoba oleh kaum tawanan untuk meloloskan diri dengan djalan melarikan dirí melalui sungai atau darat, jang penuh hutan belukar, menudju kedaerah Australia, Usaha melarikan diri ini pertama-tama telah dilaku- kan oleh Mutakin dan Sinduatmodjo pada tanggal 23 Februari 1929 dengan menggunakan perahu dari sungai Digul dan kemudian menjeberangi kepulauan Aru. Tetapi mereka tak djuga berhasil lolos dari pengawasan kapal pemerintah ,Urania" dimuara sungai Digul. Pada
tanggal 11 Maret 1929 mereka ditangkap oleh kapal
itu dan dibawa ketempat tawanan kembali. Kegagalan pertama ini tak menghentikan usaha kaum tawanan lainnja. Suhodo dan. teman-temannija djuga mentjoba melarikan diri dengan melalui darat melintasi hutan belukar. Tetapi malang. Suhodo meninggal dalam perdjalanan itu dan teman²nja terpaksa kembali lagi ketempat tawanan. Tidak lama kemudian' djuga serom- bongan kaum tawanan dibawah pimpinan Hadji Gapur berusaha melarikan diri/dengan melalui darat untuk mentjapai daerah Irian Inggris. Mereka mendapat pe- tundjuk djalan orang Irian, tetapi karena menghadapi rintangan jang berat terpaksa kembali ketempat tawanan. Suatu rombongan ketjil jang agak berhasil jalah jang dibawah pimpinan Sandjojo, perdjalanan mereka menggunakan perahu dari sungai Digul hingga muara kali Mandobo, dari sini melalui djalan orang Irian menjeberangi sungai Mandobo, dan Kaoh ke- 1 mudian sampai sungai Fly. Selandjutnja dengan menggunakan perahu orang Irian sampai pulau Delta dan dari sini mereka berlajar kepulau Thursday. Mereka tinggal disini untuk beberapa waktu dan seorang diantaranja membuka perusahaan tukang tjukur. Kemudian mereka itu diketahui dan ditangkap oleh polisi Inggris dan diserahkan kepada penguasa Belanda di Digul. Djalan lari jang ditempuh dengan sukses oleh grup² Sandjojo makin merangsang hati orang untuk melarikan diri. Maka pada bulan Agustus 1929 Dahlan dan Sukrawinata Baharudin Saleh, Bahar serta diikuti oleh beberapa orang menggunakan perahu melintasi sungai Digul. Tetapi grup ini sangat malang sekali, karena setibanja didaerah Kawarga mereka meninggal dalam perdjalanan, Kemudian, pada tahun 1930, rombongan Wirio, Marto dan Sadaja djuga mentjoba melarikan diri, tetapi tiga diantara mereka tewas se- dangkan lainnja kembali. Pada tahun 1930 grup jang dipimpin Najoan djuga berusaha untuk melarikan diri. Sebelum ini Najoan bersama dengan Bagindo Kasim, Usman Sutan Keadilan, djuga sudah pernah melarikan diri dan berhasil sampai kepulau Thursday tetapi dapat ditangkap oleh polisi Inggris dan diserahkan pada penguasa Belanda di Digul. Pelarian jang kedua itu berusaha untuk mentjapai daerah Inggris. dengan djalan darat. Tetapi setelah sampai didaerah suku Irian-Brian,
dan setelah bermalam beberapa hari, mereka ditahan dan diserahkan kepolisi tawanan kembali. Dari peristiwa-peristiwa ini perlulah diketahui bahwa Belanda dalam mendjalankan politik adu-domba djuga mengguna- kan suku² Irian. Belanda menghasut dan menipu kepala- suku² Irian, dengan melalui misi Kristen, agar mereka bertindak untuk menghalangi, menangkap dan menje- rahkan kembali pelarian² itu. Walaupun mengalami beberapa kali kegagalan, tetapi usaha melarikan diri tak diuga dihentikan, Setelah tahun² 30-an ini masih kerapkali diiakukan pertjobaan dengan berbagai rentjana dan djalan, walaupun banjak djaring2 penghalang jang dipasang oleh pemerintah kolonial Belanda. Keadaan jang demikian buruknja itu bukan tidak ber- gema djauh .melampaui kesunjian hutan rimba Irian Barat, atau gema itu ditelan oleh buaian ombak laut jang menggunung, tetapi djustru hembusan angin dari hutan jang sunji dan dibawa oleh buaian ombak dari pantai Irian Barat, gema itu mendesing sampai di-kota² besar seperti Djakarta dan kota dinegeri Belanda. Desingan gema perlawanan walaupun sudah djauh dari Irían Barat namun tak djuga melenjap, bahkan ge- taran makin keras hingga menimbulkan tjetusan2 jang tjukup menegangkan sjaraf ahli fikir pembela kekuasa- an tirani pemerintah kolonial Belanda. Dalam pidato dan tulisan di-suratkabar² di Indonesia dari pemimpin gerakan nasional ketika itu seperti Ir. Sukarno, Mr. Amir Sjarifudin, bahkan sampai pemimpin sajap kanan Dr. Sutomo jang menjalahkan pemberontakah, me- ngadjukan protesnja tentang keadaan tanah pembuangan Digul itu. Djuga diparlemen negeri Belanda suara protes jang dipelopori oleh Partai Komunis Nederland (CPN) melantang keras, dan menuntut agar orang tawanan segera dikembalikan. Protes keras ini bukan tidak mempunjai pengaruh, sebab djustru karena per- djuangan inilah maka pemerintah kolonial terpaksa ber- sikap agak lunak dan memberi sedikit ,,konsesi" dengan membentuk pemerintah kolegial, Dewan Digul, Kope- rasi Digul Atas, perbaikan rumahsakit dan lain² jang ketjil², Setelah semua ini mulai dilakukan pemerintah kolonial Belanda mengirimkan orang² pembelanja jang dapat membuat laporan palsu tentang keadaan tanah pembuangan Digul sebenarnja, Orang jang dikirim un-
tuk melakukan tugas ini jalah Prof. Dr. Sleeswijk, Dr. van der Sleen, seorang wartawan Denmark, Niolsen dan seorang wartawan dari Partai van der Arbeid, Van Blankenstein jang mewakili suratkabar negeri Belanda ,Nieuw Rotterdamsche Courant". Diantara pe- nindjau alat pemerîntah kolonial ini hanja Blankenstein jang dalam laporan jang ditulis dalam suratkabarnja se- dikit menggambarkan kenjataan sesungguhnja. sedang- kan jang lain dengan menggunakan etiket kesardjanaan- nja mengiakan.atau memudji tindakan pemerintah kolonial di Digul Atas berdasarkan norma² perikemanusiaan, kesehatan. kebutuhan sosial dan sebagainja, suatu norma ilmu jang·bersifat kolonial.
Sikap Partai Sosial Demokrat Jang Chianat
Dalam menindas pemberontakan nasional ini pemerintah kolonial Belanda djuga mendapat sokongan po- litik dan moril dari Perkumpulan Sosial Demokrat baik di Indonesia maupun di Nederland. Dalam madjalah kaum Sosial Demokrat Hindia pada tanggal 29 De-
sember 1926 ditulis demikian:. Bagaimanapun
djuga pengasingan setjara besar²an ini, jang tam- paknja tidak sadja dikenakan pada pemberontak, tetapi pada orang2 jang dalam arsip polisi di Semarang, Surabaja dan kota² lainnja tertjatat sebagai Komunis, dan walaupun mereka samasekali tidak bisa dituduh turut ambil bagian dalam pemberontakan; namun di- tangkap djuga setjara perskot" tentu akan mem- hawa hasil dikemudian hari" Sikap chianat dari Partai Sosial Demokrat djuga ter- bukti sebagaimana jang dinjatakan oleh Stokvis jang menjokong teror dibawah pimpinan Gubernur Djendral. Stokvis mengatakan : Tetapi hukum pidana harus ikut berbitjara djuga dan dengan sendirinja hukuman² mati tidak bisa dihin- darkan : pers konservatif jang ingin balasdendam me- nuntutnja dan bekas djaksa agung sendiri kepada seorang wartawan mengandjurkan diadakan hukuman mati setjara besar²an. Demikian suasana disini. Gubernur Djendral lalu hadapi keputusan jang sukar untuk dilaksanakan. Semoga beliau mempunjai tjukup kekuat~ an untuk memberikan ampun kepada jang lain², ketjuali
kaum pembunuh dalam kegelapan mata ini", Djuga Prof. van Gelderen salahseorang sardjana, anggota terkemuka dari Partai Sosial Demokrat dalam suatu tjeramah 'berkenaan dengan pemberontakan itu pada hakekatnja bersikap sama dengan pemerintah kolonial Belanda. Ir. Cramer, salahseorang ahli Indonesia dari Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda, dalam Tweede Kamer, menerangkan, ..kami menghukum apa jang ter- djadi di Djawa Barat dan mudah dimengerti kalau pemerintah segera memadamkan kekatjauan itu,. Demikian djugalah sikap pimpinan Partai Buruh Sosial Demokrat ikut menghukum pemberontakan. Untuk menutupi segala teori jang nampaknja seolah-olah mem- bela Indonesia mereka mengirim seputjuk tilgram pada Gubernur Djendral pada tanggal 8 Djanuari 1927 dengan permohonan agar ,,hukuman2 mati jang telah di- putuskan djangan dilaksanakan
Sikap Persahabatan Dan Solidaritet Dari Klas Buruh Dan Partai Komunis Nederland (CPN)
Berlawanan dengan sikap pemerintah kolonial Belanda dan Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda, klas buruh jang sedar klas dan Partai Komunis Nederland (CPN) sedjak semula selalu bersahabat dan memberi sokongan penuh terhadap perdjuangan Rakjat Indonesia. Djauh sebelum Partai Komunis Nederland (CPN) terbentuk, jaitu sewaktu kaum buruh jang sedar klas masih tergabung dalam Partai Sosial Demokrat, pada tahun 1914 dalam kongresnja di Leiden sudah diadju- kan sembojan .Indonesia lepas dari Nederland se- karang djuga". Setelah kaum buruh jang sedar klas mendirikan CPN, sembojan dan sikap jang Leninis ini mendapatkan dukungan jang konsekwen. CPN dengan hangat menjambut pemimpin Partai Komunis Indonesia jang dibuang dinegeri Belanda, menjambut pemuda pe- ladjar Indonesia dinegeri Belanda jang menuntut Indo- nesía Merdeka, dan dengan teguh menentang tindakan pemerintah kolonial dalam terornja serta menelandjangi sikap chianat dari Partai Sosialis Demokrat. CPN djuga menuntut dibebaskannja semua orang jang ditahan, dan ditawan di Digul Atas. CPN djuga menelandjangi se-
mua kata² jang palsu dari pemerintah kolonial Belanda serta orang² jang dikirim untuk menindjau keadaan di Digul jang menjatakan bahwa·keadaan tawanan itu baik. Sikap klas buruh dan CPN ini membuktikan pada Rakjat Indonesia bahwa ada dua Belanda, jaitu Belanda kolonial dan Belanda jang menjokong gerakan kemerdekaan Rakjat Indonesia, 'Belanda bukan kolonial. Dja- di gerakan kemerdekaan nasional, Rakjat Indonesia mempunjai sekutunja jang setia dalam melawan bersama imperialisme Belanda, jalah klas buruh jang sedar klas serta Partainja Partai Komunis Nederland (CPN) dan orang² Belanda demokrat sedjati lainnja.
2F6=115
PKI Seksi Makassar
klf krilik cin masis menuen bal hbe,
fuktn do buht mitih tutpian ketbhongo
m BAB IV
PELADJARAN DARI KEGAGALAN PEMBERON TAKAN NASIONAL PERTAMA
Kekurangan Dan Kesalahan Sebelum Pemberontakan Pemberontakan nasional pertama walaupun telah berlangsung dengan heroik kenjataannja berachir dengan kegagalan. Namun demikian ia mendjadi peng- udji umum bagi sikap setiap klas, golongan, lapisan, orang dalam masjarakat, Bagi suatu klas jang madju, terutama bagi Partai klas proletar, suatu klas jang mempunjai tugas sedjarah untuk mempelopori dan memimpin. perdjuangan revolu- sioner, gagalnja pemberontakan itu terlebih-lebih me- rupakan suatu udjian, suatu koreksi umum bagi kete- patan politiknja, kekuatan organisasinja, ketinggian teori serta taktik-taktiknja. Klas ini, atau wakil dari klas. ini mesti meneliti kembali, memeriksa, meng- udji dengan sendjata teorinja, jaitu Marxisme-Lenin- isme, dimana letak kekurangan dirinja, hingga bisa me- narik peladjaran jang seperlunja untuk menjambut da- tangnja gelombang pasang. revolusi jang akan datang, guna mempersendjatai generasi baru jang mempunjai tugas melandjutkan usaha jang belum dapat ditjapai dengan tjara²nja jang lama. Disinilah letak pentingnja mengapa kita mesti memeriksà, meneliti kembali dari sesuatu jang djauh telah silam untuk mendapatkan sesuatu jang berguna bagi penunaian tugas kita masa kini dan masa jang akan datang. 大
Penindjauan suatu peristiwa, terutama jang sangat
besar seperti kegagalan pemberontakan nasional per-
tama ini, tak dapat kita hanja melihat dari satu segi, atau suatu ketika, jaitu ketika terdjadinja pemberon-
takan itu sadja, tetapi perlu ditindjau dari sjarat² ob- jektifnja, sjarat subjektifnja dan setjara historis pula. Sebab² dari kekurangan, kelemahan dan kesalahan jang terdjadi pada masa terdjadinja peristiwa itu tak mung- kin hanja merupakan gedjala jang timbul pada saat itu, tetapi sudah tentu terdjadi sebagai akibat dari kekurangan, kelemahan, dan kesalahan masa sebelumnja jang belum teratasi, belum dibetulkan. Penindjauan masalah itu dari segi objektif dan subjektif serta setjara historis ini sangat penting, karena sjarat2 ini saling berhubungan, saling menentukan ber- hasil atau gagalnja pemberontakan. Walaupun ter- dapat sjarat2 objektif jang baik, namun pemberontakan tak akan menang dengan sendirinja apabila sjarat² subjektifnja belum siap, atau masih mengalami banjak kekurangan serta kelemahan. Sebaliknja djuga demikian keadaannja. Menindjau segi subjektif dari. kegagalan ini berarti menindjau tubuh gerakan revolusioner umumnja dan PKI chususnja. Karena berlakunja segala sjarat objektif jang menentukan perkembangan gerakan revolusioner itu melalui sjarat subjektifnja, melalui tubuh gerakan revolusioner itu sendiri, melalui PKI chususnja. Dengan menggunakan sendjata teorinja PKI harus sanggup mengenal keadaan objektif, mengenal masjarakat di- mana ia berada. Dengan berdasarkan pengenalannja. nenganalisaannja dengan dituntun oleh teori Marxisme-Lenlinisme, klas buruh, dengan Partainja-PKI dapat membawa madju gerakan revolusioner, gerakan kemer- dekaan sampai kekemenangannja. Kalau ditilik dari langkah²nja, politik, taktik, orga- nisasi, teori dan tingkat kesadaran Marxisme-Leninisme- nja, sedjak berdirinja hingga meletusnja pemberontakan nasional jang pertama ini PKI mempunjai kekurangan. kesalahan dan kelemahan jang sangat serius sekali. Kekurangan dasar dari PKI pada masa mudanja, jalah bahwa PKI belum mengenal bagaimana masjarakat Indonesia sesungguhnja, bagaimana watak revolusi- nja, kekuatan klas penggeraknja, sekutu serta lawan sebenarnja dari revolusi Indonesia, dari Rakjat Indonesia. Pada masa lahirnja PKI hampir mengambil apa sadja jang telah diwariskan oleh PSDH jang antara lain mengatakan. bahwa pembentukan masjarakat so- sialis di Indonesia adalah tudjuannja jang langsung.
Dengan kenjataan ini dapat diketahui bahwa PKI pada waktu itu beranggapan, bahwa masjarakat In- donesia ini sama sifatnja dengan masjarakat di- negerí kapitalis atau setidak-tidaknja dianggap sama dengan masjarakat Rusia sebelum revolusi. Karena pangkal anggapan jang salah inilah, jaitu masjarakat djadjahan dan setengah-feodal disamakan dengan masjarakat kapitalis, maka sudah pasti djuga salah dalam melihat watak revolusinja, kekuatan penggeraknja serta. sekutunja. Penentuan Sosialisme sebagai program ur- gensi dan sembojan aksinja sudah tentu sa!ah dalam menentukan musuh revolusinja, jaitu dianggap bahwa kaum kapitalis pada umumnja mendjadi sasaran revolusi, dengan tidak membedakan kapitalis monopoli dan kapitalis nasional atau kapitalis jang kapitalnja tidak ditransfer keluar negeri (domestic capital). Memper- samakan antara kapitalis nasional dengan kapitalis monopoli berarti tidak melihat kedudukan ekonomi jang sebenarnja dari kaum kapitalis nasional ditengah-tengah kekuasaan kapitalis monopoli, tidak melihat bahwa jang pertama dirugikan oleh jang kedua, dan karenanja djuga tidak melihat watak revolusioner dari kaum kapitalis nasional dalam perdjuangan kemerdekaan nasional. Disamping itu PKI pada waktu itu djuga tidak tjukup memahami bahwa sisa² hubungan produksi feodal, terutama didesa-desa sangat mempersempit pasar bagi burdjuasi nasional, dan jang karenanja ia djuga mempunjai watak anti-feodal. Dalam tingkat revolusi anti-imperialis dan anti-feodal maka adalah kewadjiban bagi klas proletariat. dan PKI untuk mempunjai politik front persatuan terha- dap semua lapisan atau kekuatan jang anti-imperialis dan anti-feodal, serta mengambil langkah praktis untuk melakukan politik ini. Sembojan Sosialisme dengan kekuasaan Sovjet sebagai alat revolusi sosialis di Indone- sia pada waktu itu berarti menjisihkan lapisan, kekuatan antí-imperialis jang bukan klas buruh, bukan kaum pekerdja lainnja. Karena itu sepenuhnja adalah tepat apa jang dikatakan oleh J. W. Stalin dalam pidatonja pada rapat mahasiswa Universitas Rakjat Timur pada tang- gal 18 Mei 1925, jalah a.l. bahwa terdapat penjele- wengan kiri jang terlampau rendah menilai peranan per- sekutuan antara klas pekerdja dengan burdjuasi revolusioner melawan imperialisme. Tampak pada saja bah-
Kals srariy eevesry puevonensay
wa kaum Komunis di Djawa (di Indonesia maksudnja
- LSP), jang belum lama berselang setjara salah me- ngadjukan sembojan kekuasaan Sovjet dinegeri mereka, mengalami penjelewengan seperti ini. Ini adalah suatu penjelewengan kiri", dan ini adalah sa- ngat membahajakan Partai Komunis mendjadi terpi- sah dari massa dan mengubahnja mendjadi sekte". Kritik ini samasekali sesuai dengan apa jang dikatakan oleh pendiri sosialisme-ilmiah Marx dan Engels bahwa kaum Komunis dalam memimpin revolusi dimanapun harus selalu menggalang persatuan, dengan semua golongan dan lapisan sesuai dengan tingkat revolusinja. Tentang kesalahan dasar dari PKI pada masa kanak- kanaknja itu D.N. Aidit dalam bukunja Lahirnja PKI dan Perkembangannja" mengatakan : ,,kesalahan pokok pemimpin PKI pada waktu itu jalah bahwa mereka telah
mendjadi mangsa dari sembojan kekiri-kirian, tidak ber-
usaha keras untuk mendjelaskan keadaan, mau meme- tjahkan semua soal dengan satu kàli pukul seperti: melikwidasi feodalisme, melepaskan diri dari Belanda, menghantjurkan semua kaum imperialis, menggulingkan pemerintah jang reaksioner, melikwidasi kaum tani kaja, melikwidasi kaum burdjuis nasional. Dengan sendirinja akibat semua ini jalah timbul persatuan diantara musuh jang sedjati dengan jang bisa mendjadi teman untuk bangkit melawan Partai", Kesalahan dan kekurangan dasar ini tidak berarti bahwa PKI samasekali tidak mengadakan kontak² dan kerdjasama dengan golongan dan elemen² non-Komunis. Kenjataan menundjukkan bahwa pemimpin PKI waktu itupun djuga sudah mengerti perlunja persatuan. Hal
ini bísa kita lihat bagaimana usaha pemimpin PKI jang
memimpin Serikatburuh selalu mengusahakan kerdjasama dengan Serikatburuh jang dipimpin oleh kaum reformis dari elemen nasionalis seperti Surjopranoto dll. Pemimpin PKI djuga mengadakan kerdjasama dengan pemimpin gerakan nasional dari elemen burdjuis nasional seperti H.O.S. Tjokroaminoto, dengan demokrat Dr. Tjipto Mangunkusumo dan lain²nja. Tetapi kerdjasama jang telah dilakukan belum berdasarkan pada pengertian
Marxis-Leninis tentang watak masjarakat Indonesia. tentang watak revolusi dan kekuatan pendorongnja.
Karena itu mereka tidak dapat mentjiptakan program
politik jang djelas untuk menggalang front persatuan,
dan itulah sebabnja maka kerdjasama itu selalu tidak kokoh, dan ketjenderungan kekiri-kirian dari pemimpin PKI waktu itu sangat kuat dan pasti. Ini djuga dapat dilihat dari kenjataan bagaimana tjara pemimpin PKI waktu itu melantjarkan kritiknja terhadap elemen² na- sionalis dalam gerakan nasional jang melakukan ketju- rangan politik dan materiil tertentu. Mereka kurang mempunjai pengertian jang tepat tentang watak dari burdjuasi nasional baik dalam ekonomi maupun dalam politik. Kritik terhadap sekutu memang diperlukan, hal ini terutama karena klas jang disekutui adalah klas bukan pekerdja, klas penghisap. Tetapi ini harus dilakukan demikian rupa dengan tidak merusakpersatuan, tetapi djustru sebaliknja jaitu memperkuat persatuan. Taktikz jang hidup 'dalam menggalang front persatuan dan kerdjasama belum dimilikinja. Karenania tidaklah mustahil bahwa dalam pemberon- takan itu PKI berdiri .,sendirian", sedangkan burdjuasi nasional tidak ikutserta, dan bahkan sementara lapisan kanan dari burdjuasi nasional dapat ditarik dan diguna- kan oleh pemerintah kolonial untuk ikut memukul pem- berontakan. Masalah kedua jang mendjadi kekurangan. Sebagai akibat dari kurang dimengertinja watak masjarakat dan revolusinja maka PKI pada masa itu kurang mengerti peranan kaum' tani. Kaum tani sebagai kekuatan pokok dalam revolusi anti-imperialis dan anti-feodal belum di- fahami oleh PKI. Disebabkan kurang .dimengertinja akan hal ini maka PKI belum tjukup memobilisasi dan mengorganisasi kaum tani, memimpin mereka dalam per- djuangan melawan imperialisme dan sisa2 feodalisme. Hal ini bisa dilihat dalam Kongres ke-II PKI pada bulan Djuni 1924, digedung Alhambra Djakarta. Dalam pi- dato jang diutjapkan oleh pimpinan Partai waktu itu hanja mempersoalkan soal2 organisasi, terutama tentang memperkuat gerakan serikatburuh, gerakan pemuda. mendirikan sekolah2, tetapi masalah tani dan organisasi tani sedikitpun tidak dibitjarakan. Bahkan dalam kong- resnja jang ke-III pada tanggal 31 Aqustus 1924 di Jogjakarta, Serikat Rakjat dibubarkan dan anggota2nja jang dipilih dapat .dimasukkan mendjadi anggota PKI atau organisasi massa lainnja. Alasan jang dikemuka-
kan jalah bahwa dengan adanja Serikat Rakjat jang
MUSSO
ALIMIN
/uuso!
sebagian besar anggota²nja terdiri dari elemen burdjuis ketjil itu hanja akan mempersulit PKI karena watak mereka jang tidak revolusioner. Fikiran ini diterima oleh kongres bukannja tanpa perlawanan. Sajap Leninis dalam kongres jang dipelopori antara lain oleh Musso, telah melakukan perlawanan. ? Mereka mempertahankan Serikat Rakjat sebagai organisasi massa jang revolusioner, Namun demikian fikiran jang tepat litu kalah. Fikiran jang pada pokoknja tepat itu belum djuga sanggup menundjukkan setjara mejakin- kan tentang keharusan adanja massa organisasi revolusioner tani jang tersendiri serta peranan massa tani dalam perdjuangan kemerdekaan nasional. Djuga sembojan diktatur proletariat, kekuasaan Sovjet, dipakai dan diutjapkan sebagai sembojan praktis dalam Kongres. Dengan demikian maka sudah tentu dalam praktek orang lebih memperhatikan kepentingan proletariat sebagai gerakan buruh, perdjuangan dalam perusahaan. Propaganda dan aktivitet praktis dikotà merupakan pe- kerdjaan pokok sehari-hari, sedangkan kepentingan tani, kepentingan sosial-ekonomi tani kurang, kalau tidak dapat dikatakan tidak mendapatkan perhatian setaraf dengan tingkat dan watak revolusi Indonesia jang burdjuis demokratis. Kaum tani tetap pada aksi²nja jang spontan, jang terpisah dari aksi kaum buruh dikota. Inilah salah- satu sebab jang penting mengapa dalam pemberontakan nasional pertama walaupun kaum tani bangkit membe- rontak, namun masih kurang tjukup tergerak, dan tak- terkordinasi setjara baik antara perlawanan kaum tani didesa dengan kaum buruh dikota. Terpukulnja pemberontakan dikota-kota, kekuatan Rakjat jang membe- rontak belum 'dapat mundur untuk melakukan perlawanan selandjutnja. Kekurangan ketiga, jalah sebagaimana jang dikemu- kakan oleh D.N. Aidit dalam bukunja .Lahirnja PKI dan Perkembangannja", adalah tentang pembangunan Partai. Sebagai negeri djadjahan ·dan setengah-feodal, jang industrinja tidak madju, maka burdjuasi ketjil merupakan lautan jang luas dalam masjarakat Indonesia. La- pisan burdjuis ketjil jang setiap saat mendapatkan an- tjaman dibangkrutkan oleh sistim jang ada dan djalan
mereka untuk naik djuga mendapatkan rintangan dari sistim jang ada, bangkit melawan rintangan² itu. Tetapi
dalam melakukan perlawanan ini sifat keburu-nafsu, tidak sabar, mau tjepat menang selalu menondjol ke- depan. Perhitungan berdasarkan kesedaran kurang di- gunakannja, tetapi gerak spontan selalu mendahuluinja.
Elemen sematjam ini membandjiri tubuh PKI jang
tidak dapat dihindarkan. Dan setelah didalam Partai
mereka tidak atau belum tjukup merombak ideologinja
jang non-proletar. Dengan demikian maka tidaklah mus-
tahil kalau terdapat elemen non-Komunis, bahkan mungkin agen musuh menjelundup dengan mudahnja kedalam tubuh PKI, didalam badan² pimpinan Partai waktu itu. Keadaan seperti inilah jang memungkinkan masuknja
berbagai matjam provokasi kedalam gerakan revolusio-
ner umumnja dan kedalam PKI chususnja, Pimpinan PKI waktu itu belum mengerti adjaran Lenin bahwa dalam membangun Partai harus dimulai dari membangun ideologi, jaitu membangun ideologi proletar di Indonesia. Karena belum ditegakkannja ideologi proletar serta wudjudnja di Indonesia, tidak aneh bahwa fikiran intelektuil burdjuis ketjil jang subjektif, mekanis, ,,kekiri-kirian" merupakan pikiran, ideologi jang berkuasa didalam Partai, pada waktu itu. Tentang masalah kekurangan dan kelemahan dalam pembangun- an Partai ini tepat seperti dikatakan oleh D.N. Aidit dalam tulisannja jang sama, bahwa ,,Mengenai pem- bangunan Partai ketika itu belum mungkin mendapatkan perhatian jang sungguh² dari pimpinan Partai. Pen- didikan teori Marxisme-Leninisme tidak diadakan dalam Partai, elemen oportunis menjelundup dan berkuasa didalam pimpinan Partai, kritik dan selfkritik serta tjara pimpinan kolektif belum dikenaloleh Partai. Kenjataan ini menjebabkan Partai lemah dilapangan ideologi, po- litik dan organisasi". Kekurangan dan kelemahan jang lain jalah kelemahan dalam organisasi. Prinsip elementer dalam organisasi seperti sentralisme demokratis, hubungan Partai dengan organisasi massa, masalah keanggotaan Partai, kritik-selfkritik dll. masih belum difahami dan didjadikan pe- doman setjara mendarah-daging dalam kehidupan se- hari². Masalah² ini sudah dikemukakan dalam prinsip tetapi masih mengalami banjak kelemahan, kekurangan dan kesalahan dalam praktek, Praktek perseorangan
jang spontan masih terlampau menondjol sehingga sangat melemahkan pimpinan kolektif setjara sentral dari PKI. Djuga masalah ketundukan organisasi bawahan terhadap atasan, perseorangan pada keseluruhan, jang sedikit terhadap jang banjak, sebagian pada keseluruh- annja masih kurang berdjalan baik. Hal ini sangat menondjol terasanja sewaktu dalam proses persiapan, pelaksanaan dan sesudah pemberontakan. Terhadap putusan Prambanan jang pada achirnja tak mendapatkan kebulatan diantara anggota Hoofd Bestuur (CC) tak dapat dipersatukan, seksi² PKI djuga ada jang tak setudju dan tidak melaksanakan putusan Prambanan sampai pelaksanaan pemberontakan sendiri. Karena itu maka ada seksi jang tidak ikut melakukan aksi pemberontakan. Bahkan terdapat kenjataan adanja anggota jang menolak bahkan memprotes, serta melakukan berbagai reaksi terhadap pimpinan Partai dan kawannja sendiri, jang memimpin pemberontakan. Tin- dakan memukuli kawan sendiri karena merasa menjesal ikut ditahan, mengadakan ,,komisi pemberesan di Digul" dan lain2 lagi adalah mentjerminkan sifat non-organi- satoris, dan non-Komunis. Hal ini mentjerminkan kelemahan dalam organisasi, ideologi dan politik jang terdapat didalam Partai waktu itu. Kelemahan dalam bidang itu,semua djuga mempunjai sumber dari kelemahan dalam bidang penguasaan terhadap teori Marxisme-Leninisme sebagai bentuk ideologi dan sendjata teori klas buruh, PKI dalam memim- .pin perdjuangan revolusioner. Buku teori Marxisme jang ada dan telah diterdiemah- kan kedalam bahasa Indonesia waktu itu hanja Manifes Partai Komunis jang diterdjemahkan. oleh Partondo. sedangkan tulisan lainnja jalah brosur² Dasar² Komunisme waktu itu diberi djudul ,Lantai Komunisme" tulisan H. Goster jang diterdjemahkan oleh Aliarcham, dalam dua djilid jang diterbitkan di Semarang pada bulan Djuni dan Djuli 1925. Djuga beredar dan dibatja agak luas pada waktu itu pidató Sukendar dalam Kong- res ke-II PKI. di Djakarta tahun 1924, jang berdjudul: Thesis bagi kiadaan sosial dalam Ekonomi serta tjara mengadakan organisasi dan. taktik di Indonesia" (me-
nurut djudul aslinia) serta artikel jang termuat dalam
suratkabar jang dipimpin PKI. Buku Marx, Engels.
Lenin belum dapat tersebar sebagai batjaan pim-
pinan dan kader PKI, Buku jang ada jang dapat di- selundupkan darí luarnegeri semuanja dalam bahasa Belanda atau Inggris, bahasa jang tidak tjukup dapat difahami oleh sebagian besar pimpinan dan kader PKI. Beberapa buku tulisan Marx jang ada sebagian besar di Museum Djakarta, jang pembatja²nja tidak luput dari pengawasan reserse PID. Dengan demikian maka orang² revolusioner tak mempunjai kemungkinan mem- batja buku itu di atau dari Museum. Buku jang sudah diterdjemahkan, misalnja Ma- nifes Partai Komunis sendiri masih kurang tjukup difahami isi, hakekatnja, semangat, metode dan pandang- annja, apalagi menggunakan prinsip² pokoknja untuk menuntun aktivitet praktis di Indonesia setjara kreatif. Umumnja, pemahamannja terhadap buku² itu setjara mekanis dan dogmatis menurut huruf dan kata²nja. Itulah sebabnja sembojan diktatur proletariat, revolusi sosialis, kekuasaan Sovjet, klas burdjuis dan lain² difahami dan digunakan setjara mekanis dan dogmatis jang mengakibatkan kekiri-kirian dalam politik dan kaku dalam taktik. Karena rendahnja deradjat teori Marxisme-Leninisme jang telah dikuasai oleh pimpinan PKI pada waktu itu, maka.aksi dan tindakan spontan sangat berkuasa. baik sebagai perseorangan pimpinan maupun sebagai badar kolektif. Pidato jang bernada kedjantan-djantanan" selalu terdengar dimana-mana. Hal seperti inī memudah- kan provokasi, pantjingan atau djebakan dan perangkap iang dipasang oleh pemerintah kolonial Belanda. Tju- kuplah kita ambil sebagai tjontoh pidato Semaun ketua VSTP pada rapat buruh KA di Surabaja dan Sema- rang tahun 1923 jang antara lain menjatakan bahwa pemogokan akan dimulai kalau salahseorang pimpinan VSTP ditangkap. Pendeknja, sebagai akibat belum dikuasainja teori Marxisme-Leninisme setjara kreatif maka PKI belum dapat membawa madju gerakan revolusioner pelahan- lahan, berhati-hati tapi pasti. Dalam mengumpulkan pengalaman PKI sedjak ber- dirinja hingga pemberontakan nasional pertama, D.N. Aidit dalam pidato jang dibrosurkan dengan djudul ,Peladjaran dari sedjarah PKI" mengatakan : Sebagai kekuatan pimpinan selama periode ini PKI tidak mempersatukan kekuatan² jang mungkin diper-
satukan untuk mengisolasi samasekali kekuatan reak- sioner. Disamping itu PKI tidak memperkuat diri di- lapangan ideologi. politik dan organisasi. Dengan sing- kat, kaum Komunis dalam periode pertama ini tidak berpengalaman dalam soal front nasional dan dalam soal pembangunan Partai, Ini terutama disebabkan oleh karena belum memiliki teori jang tepat tentang revolusi Indonesia, sehingga dengan/sendirinja tidak mungkin dapat memberikan pimpinan jang tepat". *
Kekurangan, kesalahan pada waktu itu disamping mempunjai sebab subjektilnja, djuga mempunjai sebab objektifnja jang mentjiptakannja. Sebab objektif jang terutama dan jang utama jalah pada sistim masjarakat Indonesia jang djadjahan dan setengah-feodal pada waktu itu. Pemerintah kolonial Belanda sebagai alat kaum kapitalis monopoli tidak memberi kesempatan pada gerakan Rakjat untuk berkembang, kepada Rakjat untuk meningkatkan kesedarannja, dan memberi kehidup- an demokrasi. Tekanan dan penindasan terus dilakukan, provokasi terus ditjetuskan, dan penangkapan. terus dì- lakukan. Dengan demikian maka membuat gerakan revolusioner umumnja dan PKI chususnja selalu berlawan dan memimpin perlawanan, selalu melakukan kegiatan praktis tetapi kurang atau tidak mempunjai waktu untuk memikirkan kembali, merenungkan dan mengendapkan teori jang diperolehnja dan memikirkan penggunaan teor² itu setjara kreatif untuk menuntun praktek kongkrit, praktek revolusioner, dan memahami keadaan kongkrit masjarakat Indonesia. Disamping itu pemerintah kolonial Belanda djuga melarang buku² revolusioner. buku teori Marxisme-Leninisme masuk Indonesia, dan mengekang serta melarang penerbitan buku revolusioner itu dalam bahasa Indonesia. Penerbit revolusioner diawasi dengan keras- nja, pemimpin redaksinja ditangkapi, demikian djuga pemimpin perusahaannja. Di-tempat² pembatjaan umum jang terdapat sedikit buku revolusioner ditempatkan reserse, tjetjunguk untuk mengawasi, mengintip, meng- ikuti dan kalau dianggap perlu untuk menangkap pem- batja jang lantjang" dan berani membatja buku itu,
Diruangan batja museum, jang ada sedikit buku jang ditulis Marx dan Engels selalu ditempatkan reserse². Pernah sekali-terdjadi bahwa seorang anggota pimpinan PKI masuk ruangan taman batjaan meseum untuk me- mindjam buku, dan diantara buku itu terdapat buku Marx dalam bahasa Djerman, maka segera seorang jang berdiri disebelah kanannja memperingatkan agar mem- batalkan maksud pemindjamannja kalau masih mau be- bas, Orang ini ternjata polisi PID. Ini belum lagi pengawasan dan pendjagaan jang me- reka adakan terhadap rumah pemimpin gerakan revo- lusioner umumnja dan PKI chususnja jang sangat ke- ras. Didepan rumah atau diserambi rumah pemimpin PKI selalu ditempatkan seorang reserse PID untuk mengawasi gerak-geriknja. Kalau ternjata sampai terdjadi reserse ini tidak tahu kemana pergi orang jang diawasi dia akan didenda, dan bisa dipetjat karenanjə Pernah kedjadian rumah seorang pemimpin PKI di Djakarta didjaga, tetapi kawan itu perlu mengundjungi rapat jang diselenggarakan pada Minggu pagi. Dia pergi kebelakang membawa handuk, sabun dan sikat gigi, dan reserse mengira bahwa orang jang diawasinja pergi mandi. Tetapi dia pergi dengan melalui rumah tetangganja kerumah jang sudah ditentukan. Reserse kehilangan orang jang diawasinja. Achirnja reserse bilang terus-terang pada jang diawasinja dan mengadakan perdjandjian gelap" saling membantu. Reserse minta agar jang diawasil itu suka memberitahukan kalau mau pergi dan akan ditemani berdjalan, dan ditengah djalan. mengadakan perdjandjian djam berapa akan- kembali, dimana bertamu untuk didjemput dan diantąr- kan pulang. Selebihnja orang jang diawasi boleh pergi kemana sadja dan demikian djuga reserse itu, Hal ini tampaknja aneh tetapi benar pernah terdjadi. Djaring pengawasan ini diletakkan dimana sadja, apalagi pada hari mendjelang hangat²nja dan meletus- nja pemberontakan. Sungguh tidak berkelebihan kira- nja kalau dikatakan bahwa Indonesia pada waktu itu merupakan negara polisi (politie-staat). Walaupun demikian orang Komunis taik pernah takut akan djaring² itu, dan tidak sedikit jang mampu menerobos djaring, lolos dari pengawasan tjetjunguk dan terus dapat me- nunaikan tugas revolusionernja.
Pemilihan Saat Jang Kurang Tepat Kegagalan pemberontakan ketjuali dari sebab² jang sudah disebutkan diatas djuga terdapat faktor lain jaitu faktor waktu, saat ditjetuskannja pemberontakan itu. Pemilihan waktu jang tepat bagi dimulainja setiap gerakan termasuk pemberontakan bersendjata adalah suatu hal jang penting, jang djuga dapat menentukan berhasil tidaknja gerakan atau pemberontakan. Dalam hal menentukan waktu ini ukuran umum telah ditundjukkan oleh Lenin dalam tulisannja Melawan Revisionisme" jalah situasi revolusioner. Jang dimak- sudkan dengan situasi revolusioner jalah:
..1. Bila terdapat keadaan tidak mungkin bagi klas jang berkuasa untuk mempertahankan kekuasaannja da- tam bentuk jang tidak diubah; bila terdapat krisis dalam suatu bentuk atau lainnja, dikalangan ,,klas atasan". krisis dalam politik dari klas jang berkuasa jang mengakibatkan kekatjauan. dalam mana ketidak-puasan dan kemarahan massa jang tertindas meletus. Biasanja, bagi meledaknja revolusi tidaklah tjukup dengan .,klas jang terendah tak hendak" hidup dalam tjara jang lama; adalah djuga perlu bahwa klas atasan ,,tidak mampu lagi" hidup dengan tjara jang lama;
2. Bila kemiskinan dan penderitaan klas. tertindas mendjadi lebih akut dan luarbiasa;
3. Bila, sebagai akibat dari sebab² diatas, terdapatlah aktivitet jang sangat meningkat dari massa jang dalam waktu ,,damai" memperkenankan dirinja dirampok, tetapi dimasa katjau terlempar baik oleh semua keadaan dari krisis dan oleh klas atasan" sendiri kedalam aksi sedjarah jang bebas. .Tanpa perubahan² objektif ini jang tidak tergan- tung hanja pada kemauan grup dan Partai sendiri², djuga klas² tersendirì, revolusi, sebagai ketentuan umum, tidak mungkin. Sedjumlah perubahan² objektif semua ini disebut situasi revolusioner" Dari kriterium jang diberikan oleh Lenin-ini djelas- lah bahwa situasi revolusioner itu tidaklah tjukup bahwa massa itu tidak puas dan marah, tetapi lapisan atasan- pun tak lagi dapat hidup dan menguasai setjara lama. Pendeknja revolusi tidak mungkin tanpa krisis nasional,
krisis jang melibat lapisan Rakjat jang bawah dan jang
atas. Saat penentuan untuk ditjetuskannja pemberontakan jang semulanja direntjanakan bulan Djuli 1926 dan kemudian diundur sampai November 1926 adalah saat jang sangat kurang menguntungkan bagi gerakan revolusioner. Pada masa itu gerakan revolusioner baru mendapatkan pukulan-pukulan dari pemerintah kolonial Belanda. jaitu pada tahun 1923 dan kemudian pada tahun 1925. Banjak kader revolusioner, kader PKI dan pimpinan PKI jang ditahan dipendjara. Organisasi revolusioner mengalami kerusakan tertentu. Putusan Kongres Jogjakarta terutama tentang organisasi masih banjak jang belum didjalankan atau sedang didjalankan. Pendeknja organisasi masih lemah sebagai akibat pukulan. Sebagai akibat pemetjatan terhadap buruh KA, banjak kader buruh keretaapi jang menerdjunkan diri mendjadi pekerdja penuh dalam organisasi revolusioner, kedalam PKI. Ini merupakan faktor jang baik untuk lebih tjepat dapat mengembangkan gerakan revolusioner mengembangkan PKI. Tetapi disamping itu, karena mereka belum memiliki teori revolusioner dan banjak masih dihinggapi lideologi burdjuis ketjil, maka semangat berlawan jang meluap-luap mendjadi tindakan jang ,ke- kiri-kirian" dan nekad. Keberanian, semangat jang meluap² jang disebabkan dendam mereka terhadap pemerintah Belanda, belum mentjerminkan keadaan seluruh kader, seluruh organisasi. Kenjataan sebagian kader ada jang masih tjemas akibat pukulan jang dideritanja. Mereka belum jakin penuh akan kekuatan jang telah di- himpunnja kembali. Disamping itu dan jang sangat penting sebagai akibat .berhasilnja" pemukulan jang dilakukan oleh pemerintah kolonial, maka pemerintah kolonial beserta alat²nja makin merasa lebih kuat dan makin lebih biadab serta kedjam dalam tindakannja. Rentjana untuk memukul hantjur PKI merekà siapkan. Dalam suatu konferensi para residen jang diadakan di Djakarta pada pertengah- an kedua tahun 1925 telah dengan resmi diadjukan masalah untuk memukul PKI. Pada pokoknja usul itu diterima bulat. Jang mendjadi perselisihan diantara para residen itu hanja bagaimana tjaranja memukul, Apakah dipukul sekarang atau ditunggu sampai PKI mengada-
kan pemberontakan, Kesimpulan jang ditjapai jalah PKI mesti dipukul. Untuk itu ditjarinja, diusahakannja me- lantjarkan provokasi agar PKI lekas berontak dalam keadaan jang lemah dan mudah untuk dipukulnja. Setelah menghadapi kenjataan adanja penangkapan, penjiksaan, aksi spontan dengan tidak atau kurang melakukan pertimbangan jang bulat dalam waktu singkat memutuskan uptuk mentjetuskan pemberontakan. Ba- njak Comite Seksi jang tidak sempat melakukan persiapan seperlunja. Pendeknja situasi revolusioner sebagaimana jang di- tundjukkan oleh Lenin belum ada sepenuhnja. Dengan demikian maka keadaannja mendjadi sulit. Situasi jang dinikn sudah sulit ini, dipersulit lagi oleh sikap Tan Malaka isudds jang melakukan perpetjahan didalam organisasi dengan
mendirikan PARI. mbeo Pemerintah kolonial Belanda mengetahui keadaan
semseperti ini, dan mempertjepat usahanja untuk memukul
PKI karena dianggapnja saat ini adalah saat jang pa- ling menguntungkan baginja. Provokasi dilakukan di- mana2. Keadaan makin panas, dan gerakan spontan makin meluas. Dalam keadaan seperti inilah Comite Pemberontak Pusat memutuskan untuk mulai dengan pemberontakan pada tanggal 12 November 1926, jang dlimulai dari Djakarta, kemudian akan disusul oleh daerah lainnja. Dari sini bisa diketahui bahwa putusan ini terprovokasi. Karena kenjataan Comite jang telah berusaha untuk menjiapkan pemberontakan barulah Djakarta, Banten dan beberapa Comite di Priangan, sedangkan di Solo jang membentuk Comite Pemberontak bükan Comite Seksinja, tetapi beberapa anggota Partai jang memimpin Raad van Vakbonden. Di Djawa Timur, ke- tjuali di Kediri persiápan kurang. Di Sumatera, ke- tjuali di Sumatera Barat dan beberapa tempat di Sumatera Timur dan Sibolga, persiapan sangat kurang. Kedjadian² tersebut diatas dapat memberi peladjaran penting bagi klas buruh, terutama Partai klas buruh, PKI untuk selalu membitjarakan, menganalisa dengan serius situasi, menguasai situasi, sebagai sjarat mutlak untuk menetapkan politik dan taktik setjara tepat. Ke- tenangan revolusioner jang kritis dan kreatif sangat di- perlukan untuk tidak mudah terprovokasi.
Kekurangan Dalam Tjara Memimpin Indonesia sebagai negeri djadjahan, jang kaja akan bahan mentah jang diperlukan oleh industri dan pa- saran negeri kapitalis, sistim dan djaring² perhubungan- nja. lebih madju dibandingkan dengan negeri djadjahan lainnja. Djalan² keretaapi, dan djalan umum meluas, meliputi hampir seluruh daerah ekonomi terutama di Djawa. Djalan² ini mempunjai fungsi ekonomi, jaitu untuk mengangkut bahan mentah, dan mempunjai fungsi strategi, jaitu untuk memudahkan menindas gerakan Rakjat. Lantjarnja perhubungan ini memungkinkan pemerintah kolonial mengangkut dan mengirimkan serdadunja keberbagai daerah jang diperlukan. Keadaan seperti ini perlu dipertimbangkan dan merupakan faktor jang sa- ngat penting. Berdasarkan keadaan ini, maka dalam melantjarkan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda, patut mendjadi perhatian bahwa pemberontakan itu perlu dilantjarkan serentak didaerah ekonomi jang madju, dan penting, serta didaerah strategis. jang penting. Pemberontakan jang tidak serentak memudahkan pemerintah kolonial Belanda menarik pasukan dari satu daerah untuk menindas gerakan didaerah lain. Kenjataan bahwa pemberontakan ini meletus tidak serentak, seperti di Djakarta, Banten, Priangan di- mulai pada tanggal 12 November, sedangkan di Surakarta baru tanggal 17 November, demikian djuga me- nurut rentjana di Tjirebon, Tegal dan Pekalongan, dan Kediri memudahkan pemerintah kolonial Belanda me- nindasnja. Pemerintah kolonial setelah menindas gerakan pemberontakan di Djakarta, maka dipusatkannja kekuatan untuk menindas pemberontakan: di Banten dan Priangan. Sedangkan di Djawa Tengah sebagian besar kekuatan militernja dipusatkan untuk mendjaga Sema- rang, setelah jakin bahwa pemberontakan di Surakarta dapat diatasi, Djuga setelah pemberontakan di Djawa ditindas, pemerintah kolonial Belanda dapat memusat- kan kekuatannja untuk menindas gerakan di Sumatera Barat. Seandainja pemberontakan dapat didjalankan dengan serentak maka sudah pasti Belanda lebih kalang- kabut menghadapinja, dan bahkan kalau faktor kele- mahan jang tersebut diatas tidak terdapat atau ketjil,
ditambah lagi adanja situasi revolusioner, tidak ter- lampau kelebihan kalau dikatakan bahwa pemberontakan nasional pertama dapat berhasil menggulingkan pemerintah kolonial. Suatu kelemahan jang lain jalah bahwa pemberontakan tidak terkordinasi setjara baik antara gerakan pemberontakan dikota dan desa, Sebagian besar kaum buruh dikota, karena akibat rusaknja organisasi karena pukulan pemerintah Belanda pada achir tahun 1925 belum lagi terkonsolidasi baik, dan karenanja djuga belum dapat terkerahkan setjara maksimal untuk ikutserta dalam pemberontakan. Sedangkan didesa, karena kelemahan politik PKI terhadap kaum tani, jaitu belum adanja politik dan program jang djelas bagi kaum tani dalam me- lawan feodalisme, maka kaum tani belum dapat sepe- nuhnja terkerahkan. Djuga antara aksi disatu kota dengan kota jang lain, antara aksi bagian dan. keseluruhan djuga belum terkordinasi dengan baik. Pada umumnja aksi disatu kota, tempat atau bagian másih sangat memperhatikan kota, tempat dan bagiannja sendiri, ku- rang terkordinir dengan aksi umumnja, dan dengan de- mikian pemerintah kolonial dapat menarik keuntungan dengan menindas aksi dan memlindahkan kekuatan ser- dadunja menindas aksi didaerah lain. Suatu kekurangan lain jang serius jalah kekurangan C dalam taktik pemusatan kekuatan. jang besar untuk memukul kekuatan musuh jang pokok, jang terisolasi. Pe- ngerahan kekuatan Rakjat jang memberontak untuk memberi pukulan kepada kekuatan musuh jang pokok dan terisolasi memberikan sjarat jang baik untuk dapat melumpuhkan musuh, dan achirnja dapat menghantjurkan. Pengalaman dalam pemberontakan tahun 1926 itu menundjukkan bahwa kekuatan kaum pemberontak ter- lampau dipentjarkan dan memukul kekuatan musuh jang kadang2 bukan pokok, bahkan disana-sini bersifat ,per- seorangan", Keadaan inilah jang memudahkan musuh memukul kekuatan jang terpentjar-pentjar itu satu demi satu. Penentuan sasaran jang pokok, pemusatan kekuatan untuk menghantjurkan kekuatan musuh jang pokok, mementjarkan kekuatan musuh untuk dipukul dengan kekuatan jang lebih besar belum dilakukan. Djuga sis- tim barikade masih belum dilaksanakan seluas-luasnja. Djuga merupakan suatu kekurangan jalah tentang masalah pengaturan perhubungan, sàndi perhubungan,
pos perhubungan dan jang terutama kurir. Ada kurir jang karena terpengaruh oleh keadaan maka tidak me- landjutkan tudjuannja atau terhambat karenanja. Pendeknja, dari pemberontakan tahun 1926 tampak- lah bahwa PKI waktu itu masih belum memahami dan mengerti nasehat jang pernah diberikan: Lenin bahwa;
- Djangan main² dengan pemberontakan, tetapi kalau mulai dengan pemberontakan haruslah jakin bahwa orang harus melaksanakan hingga achir.
- Pusatkan kekuatan besar mutlak pada satu titik iang menentukán, pada saat jang menentukan, kalau tidak, musuh jang mempunjai persiapan dan organisasi lebih baik. akan menghantjurkan pemberontakan.
- Sekali pemberontakan telah mulai, orang harus ber- tindak dengan tegas, dan diatas segala-galanja, tanpa ragu², melakukan ofensif. Bertahan berarti kematian bagi setiap pemberontakan bersendjata.
4.Orang harus berusaha menjerang musuh dengan tiba² dan mentjari saat bila kekuatan musuh ber- serak. - Orang harus berusaha untuk mentjapai sukses ha- rian, walaupun ketjil (dapatlah dikatakan, tiap djam, bila keadaan mengizinkan dalam satu kota), dan diatas segala-galanja merebut ketinggian moral. Kaum Komunis di Rusia pada waktu itu telah mem- berikan tjontoh jang baik bagaimana tjara melaksanakan nasehat Lenin ini. Kekurangan, kelemahan dan kesalahan tersebut mempunjai pengaruh jang sangat negatif terhadap pemberontakan tahun 1926.
Pengabdian Jang Tiada Taranja
Dalam menilai pemberontakan jang gagal serta ke-
kurangannja, orang tidak boleh berat-sebelah, jaitu hanja melihat sesuatu dari satu seginja, dari segi ke- kurangannja, dari segi gelapnja sadja, tanpa mengeta- hui dan menilai segi² kebaikan, keunggulan serta djasa jang telah diberikan oleh orang revolusioner waktu itu. Suatu kenjataan bahwa orang revolusioner, orang Komunis, dapat menghimpun massa jang luas dalam berbagai organisasi2 revolusioner adalah merupakan
suatu prestasi jang besar. Hal demikian itu hanja mungkin dilakukan dengan pengabdian diri jang tinggi terhadap' massa, terhadap kepentingan massa, serta ber- sama dengan massa memperdjuangkan serta memimpin perdjuangan untuk mentjapai kepentingan jang vital. Pengabdian tinggi jang tak mementingkan kepentingan diri sendiri terhadap massa jang luas, terhadap PKI disamping politik jang tepat, adalah sjarat mutlak bagi suksesnja gerakan revolusioner. Pengabdian sematjam itu telah dimiliki oleh orang² revolusioner pada umum- nja dan anggota PKI pada chususnja. Dalam melakukan tugas revolusioner, tugas Partai, mereka tidak memperhitungkan laba-rugi bagi dirinja sendiri, Kehidupan ekonomi jang sulit bagi dirinja tidak mendjadi rintangan jang besar bagi aktivitetnja. Rasa setiakawan revolusioner sangat tinggi dan selalu dipupuk. Disamping pengabdiannja jang tinggi, mereka djuga mempunjai keberanian, keteguhan revolusioner jang tinggi. Rintangan, siksaan, tekanan, antjaman hukuman berat, bahkan hukuman matipun tidak menggetarkan. atau membuat mundur aktivitetnja. Walaupun kadang² dalam keadaan tertentu terdapat sedikit kekendoran, karena tekanan, antjaman dan penangkapan, tetapi tak lama kekendoran itu dapat diatasi, dan kebangunan revolusioner pada dirinja segera kembali. Mereka jakin bahwa perdjuangannja adalah adil, benar, dan pasti akan mendapatkan kemenangan, dan tak ada kekuatan, walaupun dengan menggunakan bajonet dan peluru jang dapat merintangi apalagi menundukkan. Keberanian dan keteguhan revolusioner mereka perlu dipupuk dan dikembangkan, sebab tanpa keberanian dan keteguhan revolusioner tak mungkin tugas revolusi dapat ditunai- kan, apalagi dalam menghadapi tekanan, pengekangan, penindasan jang kedjam seperti jang pernah terdjadi itu. Kenjataan adanjà semangat revolusioner jang tinggi, pengabdian terhadap usaha revolusi jang tiada tara, keberanian, keteguhan dan keuletan, disiplin jang teguh, setia kawan jang dimiliki oleh orang revolusioner umum- nja dan anggota PKI chususnja pada waktu itu patut mendjadi teladan hidup bagi setiap pedjuang revolusioner serta patut dipupuk dan. dikembangkan. Hal ini adalah penting karena tjita² mereka jang sesuai dengan tuntutan hukum kemadjuan pada pokoknja hingga
kini masih belum tertjapai sepenuhnja, masih perlu di- perdjuangkan dan memerlukan kesanggupan berdjuang jang tinggi. Dengan segala kekurangan jang ada, perintis2 itu telah menunaikan kewadjibannia, memberi darmabakti- nja sesuai dengan sjarat2 jang ada pada waktu itu. Ke- jakinan akan hari esok jang bahagia, akan kemenangan atas usahanja, ketjintaan mereka terhadap Rakjat, terhadap Partai Komunis, terhadap usaha revolusi membuat mereka teguh, membuat mereka tak gentar meng- hadapi bajonet, peluru, pendjara, siksaan dan sebagai- nja.
Mengangkat Sendjata Karena Terpaksa
Kaum kolonialis Belanda dan kaum reaksioner umumnja sangat gemar sekali menggunakan fitnahan. Dengan menggunakan kenjataan pemberontakan nasional tahun 1926, mereka memfitnah se-olah² orang Komunis, orang revolusioner sangat gemar akan kekerasan, pembunuhan, kekatjauan dalam mentjapai tudjuannja. Fitnahan ini tidak laindaripada untuk menutupi wadjah perampok, pembunuh jang sebenarnja dari diri mereka jang selama itu diselimuti dengan hukum, etik, susila dan sebagai- nja. Mereka mentjoba untuk menakut-nakuti massa Rakjat dengan kata² fitnahannja, dan berusaha untuk mengisolasi orang revolusioner dan PKI dari massa Rakjat. Namun demikian massa Rakjat jang luas djauh lebih mengerti tentang orang revolusioner dan tentang orang Komunis. Orang Komunis dan orang revolusioner umumnja adalah pewaris segala sesuatu jang madju dan baik, orang jang paling menjukai akan kemadjuan, orang jang tinggi moral dan susilanja serta perikemanusiaan- nja: Mereka adalah orang jang paling mengerti akan tuntutan hukum perkembangan masjarakat, Karena itu tidaklah mungkin bahwa memberontak dengan kekerasan sendjata adalah tudjuan, atau satu²nja tjara jang dipilihnja untuk mentjapai kemadjuan. Orang revolusioner, orang Komunis dan Partai Komunis, adalah jang paling menjukai akan djalan da- mai dalam mentjapai kemadjuan, karena djalan ini adalah djalan jang tidak membawa banjak korban, dja-
lan jang tidak membawa kematjetan tertentu, pengeru- sakan tertentu terhadap hasil tjipta Rakjat pekerdja. nasil tjipta kebudajaan dan kesenían. Hal ini bisa di- laksanakan kalau hak hidupnja, hak geraknja didjamin, kalau terdapat kehidupan demokrasì sebagai sjarat mutlak bagi kehidupannja dan geraknja. Sedjak adanja gerakan revolusioner di Indonesia, dan PKI chususnja, hak gerak, hak hidupnja sudah sangat dibatasi oleh pemermntah kolonial Belanda, apalagi hak demokrasi. Pemerintah kolonial Belanda terus-menerus menindas gerakan itu, dan.dengan mentjetuskan berbagai provokasi untuk menimbulkan alasan memukul gerakani revolusioner dan PKI. Karena keadaan jang terpaksa seperti itulah, maka pemberontakan meletus, pemberontakan jang menjata- kan kemarahan jang tak tertahan dari Rakjat Indonesia terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Djadi memberon- tak bukan per-tama² mendjadi sifat orang revolusioner atau kaum Komunis untuk mentjapai kemadjuan, tetapi pemerintah kolonial dan kaum reaksionerlah dengan berbagai dialan memaksa Rakjat Indonesia dibawah pimpinan PKI melakukan pemberontakan bersendjata.
Pengchianatan Trotskis Tan Malaka
Kegagalan pemberontakan nasional pertama, terdjadi pada bulan November 1926 adalah wadjar, suatu hal jang pasti terdjadi karena faktor-faktor sebagaimana jang dipaparkan diatas. Tetapi disamping itu masih terdapat faktor lain jang tidak ketjil pengaruhnja terhadap kegagalan itu, jang memudahkan pemerintah kolonial dan kaum reaksioner menindas pemberontakan itu, serta korban besar sebagái akibat darì kegagalan itu. Pengchianatan trotskis Tan Malaka, baik sebelum pemberontakan, selama pemberontakan dan sesudah pemberontakan merupakan faktor jang perlu diungkap- kan, karena hingga kini banjak orang jang masih belum djelas akan keadaan sebenarnja. Tan Malaka, setelah kembali dari menamatkan pe- ladjaran pada tahun 1919 di Nederland, dan setelah dua tahun bekerdja sebagai guru dísalah satu sekolah rendah pada onderneming ,Senembah My" di Suma- tera Timur, mentjeburkan diri dalam gerakan revolu-
sioner, kedalam PKI. Pada tahun 1922, karena tersangkut dalam aksi pe- mogokan buruh Pegadaian, Tan Malaka ditangkap oleh pemerintah Belanda dan ditawan di Timor (Kupang), Kemudian atas permintaannja sendiri dia memilih ke- luar Indonesia, Selama diluar negeri pernah mewakili PKI dalam Komintern, dan mendjadi salah seorang ang- gota sekretariat Komite Eksekutif Komunis Internasional Biro Timur Djauh sebagai Wakil PKI jang ber- kedudukan di Sjanghai. Dalam KEKI inilah ia berhu- bungan dengan orang2 Trotskis dan kemudian dia sendiri mendjadi seorang Trotskis. Hal ini dimungkinkan oleh karena Tan Malaka sendiri berasal dari keluarga bangsawan, intelektuil, jang belum merombak ideologi- nja, sedangkan tingkat pengenalannja terhadap teori Marxisme-Leninisme masih terlampau rendah. Sebagai burdjuis ketjil intelektuil jang radikal, tidak lepas dari watak burdjuis ketjil jang kekiri-kirian, keburu nafsu karena djalan naiknja dirintangi oleh kekuasaan kolonial, dan difihak lain takut bangkrut. Sifat individualis jang egois tampak pada dirinja. Karena inilah dia bisa djadi Trotskis jang setia. Pandangan Tan Malaka jang non-Marxis sudah djauh tampak dalam sidang Komite Eksekutif Komunis Internasional pada tahun 1923/1925 jang tidak pernah menolak, bahkan menjetudjui serta mengqunakan pandangan ,revolusi permanen"nja Trotsky. Dalam pidato- nja pada Sidang Komite Eksekutif Komunis Internasional bulan April 1925 a.l. Tan Malaka menjatakan bahwa revolusi Indonesia, karena musuhnja berat, maka kalau ada intervensi, ,kita hanja menunggu keuntungan dari revolusi dunia". Djadi kalau kita ikuti pandangan Tan Malaka maka Rakjat Indonesia tidak perlu melakukan revolusi, dan menunggulah sampai saat. jang baik ,,re- volüsi dunia" itu datang. Kalau ternjata tidak ada revolusi dunia, maka meranalah nasib Rakjat Indonesia
dibawah kekuasaan kolonial Belanda ..... Fikiran ini
tidak lain daripada bentuk ubah dari teori revolusi permanen Trotskis jang bangkrut, dan jang pada ha- kekatnja merupakan teori pembela imperialisme. Konsep politik Tan Malaka jang non-Marxis lainnja, jalah konsep pembentukan .Federasi Republik Indonesia" jang meliputi Birma, Siam, Anam, Filipina, Ma- laja, Indonesia dan Australia, Fikiran ini berlawanan
dengan prinsip Marxis-Leninis tentang ,Hak Bangsa-Bangsa Untuk Menentukan Nasib Sendiri". Negeri-negeri itu mempunjai sjarat-sjarat sedjarahnja sendiri, mempunjai musuh revolusinja sendiri, dan jang tidak sama pula perkembangan gerakan revolusionernja. Dja- di konsep itu tidak realistis, bahkan reaksioner karena ia mengekang pertumbuhan gerakan revolusioner disua- tu negeri, dan kemungkinan Rakjat dari salahsatu negeri itu memberi pukulan pada musuh serta membebaskan diri. Kenjataan selandjutnja, konsep itu djuga diguna- kan oleh fasisme Djepang untuk landasan propaganda mendirikan negeri Asia Timur Raja". Tan Malaka menggunakan Singapura sebagai tem- pat markasnja, dan menggunakan kesempatan diki- rimkan kader PKI kesana, untuk dididik, Dia meng- hasut sementara kader itu dengan fikiran Trotskisnja, dan menjusun organisasi dengan apa jang dinamakan PARI (Partai Republik Indonesia jang sebenarnja .Proletariat Aslia Republik Internasional"). PARI jang setjara resmi didirikan pada bulan Djuli 1927 di Bang- kok, aktivitetnja sudah dilakukan djauh sebelum itu. Dia dengan PARI-nja memainkan peranan bukan hanja memetjah-belah PKI tetapi djuga memetjah-belah gerakan revolusioner dan Partai klas buruh di-negeri2 Asia lainnja. Dia dengan PARI-nja memetjah-belah PKI djustru pada waktu diperlukan adanja kebulatan dalam organisasi dalam mendjelang meletusnja pemberontakan. Tan Malaka dengan PARI-nja mengirimkan orang²nja ke Indonesia untuk mensabot putusan Pram- banan dan mendirikan PARI. Dia menolak untuk menemui utusan Hoofd Bestuur PRI Sardjono, Budisutjitro, Musso dan lain, karena orang itu dianggap tidak da- pat diperalatnja. Setelah anggota² pimpinan PKI kem-
bali ke Indonesia, Tan Malaka .... mengundang Su-
prodjo dan Sugono ke Singapura untuk diberi perintah menggagalkan pemberontakan dan membentuk PARI. Utusan PARI djuga dikirim ke Sumatera Barat pada bulan Djuni 1926, jaitu Mansuar, jang membawa surat tanda PARI dengan ditandatangani Tan Malaka sendiri. Mansuar menemui Mangkudun Sati dan minta agar Mangkudun pergi ke Singapura menemui Tan Malaka dengan maksud untuk membatalkan rentjana pemberontakan dan untuk diangkat sebagai komisaris PARI Sumatera Barat.
Tetapi Mangkudun Sati menolak dengan pertim- bangan bahwa mendirikan organisasi baru diluar PKI berarti pengchianatan. UItusan kembali ke Singapura dan kemudian dia ternjata kembali lagi ke Sumatera Barat mendatangi Arif Fadila untuk dibudjuknja: Arif Fadila terbudjuk dan dapat diadjak ke Singapura. Sekembalnja dari Singapura dia aktif mendirikan PARI dan memetjah-belah barisan Rakjat jang hendak memberontak. Utusan djuga dikirimkan ke berbagai tempat, seperti Djamaludin Tamin ke Djawa, dengan maksud jang sama. Sebagai salahseorang anggota Partai, apalagi ang- sol gota pimpinan seharusnja melaksanakan putusan. Tetapi Tan Malaka bukan hanja tidak tunduk, bahkanlorite melakukan pengchianatan dengan tidak melaksanakan putusan, tidak membantu pimpinan Partai untuk me- mimpin situasi, malahan menjalahkan PKI mendirikan organisasi baru untuk memetjah-belah dan melikwidasi PKI. Sikap pengchianatan Tan Malaka jang lebih anti-pemberontakan jang dipimpin PKI daripada anti-kolo- nialis Belanda diketahui oleh pemerintah kolonial Belanda, jang menggunakan kesempatan ini untuk lebih keras memukul PKI dan Rakjat Indonesia. Belanda bekerdjasama dengan pemerintah Inggris di Singapura untuk menangkap orang2 PARI. Dengan ditangkapnja orang² PARI, pemerintah Belanda hendak menemukan orang² jang bisa digunakan untuk memetjah-belah PKI. Orang PARI membiarkan dirinja diperalat oleh pemerintah kolonial untuk lebih parah memukul PKI dan orang² revolusioner umumnja. Dalam pendjara ada di- antara orang PARI jang bertindak mendjadi mata² Belanda, di Digul ada jang digunakan oleh pemerintah Belanda untuk memetjah-belah dan mengadu-domba orang2 tawanan, sehingga menimbulkan pertengkaran dan sebagainja. Djuga komisi jang dibentuk oleh pemerintah kolonial Belanda, baik komisi untuk menjelidiki pemberontakan Banten maupun Sumatera Barat, selalu menggunakan kata-kata atau tulisan Tan Malaka jang isinja menjalahkan pemberontakan dan memukul PKI. Dengan demikian maka pemerintah kolonial diberi sendjata ideologi dan politik untuk menindas PKI sesuai dengan maksud Tan Malaka.
Pengchianatan Tan Malaka ini bukan' hanja pada pemberontakan nasional pertama, tetapi serentetan ke- djadian dan peristiwa selandjutnja menundjukkan per. buatan jang sematjam itu. Walaupun semuanja ini di- 一 tjoba untuk ditutupi namun kenjataan sedjarah lebih kuat daripada segala pemalsuan dan penjelubungannja. 66b.60 Ketjenderungan Likwidasi ilom Ma diuns Sudah kami katakan bahwa aksi massa, terutama aksi jang terbuka, apalagi aksi itù mengalami kegagalan, mengudji sikap bukan hanja klas2, lapisan², tetapi djuga perseorangan. Keteguhan pandangan, pen- dirian politik serta ideologinja diudji, Bagaimana sikap- nja, pandangannja, pendiriannja terhadap balas dendam kaum reaksioner, tekanan² dan usahanja untuk mem- pertahankan dan menjelamatkan Partai. Ketjuali sikap Tan Malaka jang chianat dengan me- metjah barisan revolusioner dan PKI terdapat gedjala jang lain. ketjenderungan likwidasi. Ketjenderungan melikwidasi PKI pada saat kegagalan pemberontakan, pada saat kaum reaksioner memukul PKI serta kader revolusioner umumnja dilakukan oleh Semaun Semaun adalah salahseorang pendiri PKI, ketua PKI sedjak berdîrinja, dan jang karena akibat dari pidatonja jang ,djantan" sebagaimana telah diterangkan di- depan, pada tgl. 8 Mei 1923 dikenakan ,,spreekdelict". Pada tanggal 4 Agustus 1923 dia ditawan ke Timor (Kupang), dan atas permintaannja sendiri meninggal- kan Indonesia. Setelah tinggal beberapa tahun di Ero- pa mewakili PKI dalam Komite Eksekutif Komunis Internasional, pada tanggal 5 Desember 1926, jaitu hanja beberapa hari setelah pemberontakan di Djawa ditindas dengan kedjam, dan Comite Partai diluar Djawa terutama di Sumatera Barat sedang mengadakan persiapan untuk memberontak, sebagai wakil PKI. Semaun menandatangani suatu ,,konvensi" dengan Moh. Hatta sebagai wakil Perhimpunan Indonesia. Isi pokok konvensi ini antara lain jalah:
- Bahwa PI harus mengambil pimpinan dan bertang- gungdjawab penuh atas gerakan Rakjat Indonesia.
2.PKI harus mengakui pimpinan PI.
3. Pertjetakan jang dibawah penguasaan PKI harus
diserahkan kepada PI.
Teranglah bahwa, konvensi" jang bertjenderung melikwidasi PKI sebagai pelopor, pimpinan gerakan kemerdekaan, bukan sikap jang Leninis. tetapi sikap likwidator. Bagi setiap orang Komunis, apalagi anggota pimpinannja setiap saat harus tetap mendjundjung ting- gi pandji Partai, pandji revolusi. Tugas bagi setiap kader terutama anggota pimpinannja, dalam menghadapi tekanan dan penindasan jang kedjam dari kekuasaan jang ada harus menjelamatkan Partai dan kader²nja, 0424 menarik kegiatan Partai jang terbuka mendjadi tertutup. menggunakan semuia organisasi sosial jang dimungkin- kan oleh undang². dan keadaan jang ada untuk melaku- kan kegiatannja dan berhubungan dengan massa. Tindakan jang bertjenderung untuk melikwidasi PKI dan peranan pimpinannja sama dengan menjerahkan nasib revolusi kepada orang² jang tidak bertanggung- djawab. PI memang suatu organisasi massa jang ber-tjita² revolusioner, ber-tjita² Indonesia merdeka. Tetapi. didalam tubuh PI tergabung ber-matjam² elemen jang berlainan bahkan bertentangan satu-sama lain. Sebagai organisasi massa, bagaimanapun sifat revolu- sionernja. tidak bisa menggantikan peranan Partai klas buruh, PKI jang telah terudji kesetiaan, dan kesanggup- annja dalam memimpin perdjuangan melawan imperialis- me, dan untuk kemerdekaan nasional. Perbuatan Semaun mendapat kritik jang pedas dari Komite Eksekutif Komunis Internasional. Karena itu, maka pada tanggal 19 Desember 1927, jaitu setahun kemudian Semaun membatalkan ,,konvensi" itu.
BAB V
PENGARUH PEMBERONTAKAN NASIONAL PERTAMA TERHADAP GERAKAN NASIONAL SELANDJUTNJA y
Pemberontakan Nasional Pertama adalah pemberontakan Rakjat Indonesia jang terbesar sedjak Perang Diponegoro dan ia merupakan pemberontakan Rakjat Indonesia setjara nasional jang pertama dalam zaman imperialisme. Ia adalah pemberontakan nasional, karena: pertama, ia adalah pemberontakan Rakjat se- telah lahirnja nasion Indonesia; kedua, ia bertudjuan untuk menggulingkan kekuasaan kolonial Belanda dan mendirikan negara nasional Indonesia jang merdeka dan demokratis; ketiga, ia didukung oleh massa luas Rakjat Indonesia, oleh seluruh sukubangsa dan daerah Indonesia sesuai dengan luas dan tersebarnja pengaruh PKI pada waktu itu. 2 Walaupun pemberontakan itu mengalami kegagalan dan ditindas setjara kedjam oleh pemeríntah kolonial Belanda, mamun pengaruhnja tak djuga lenjap tanpa bekas, bahkan sebaliknja ia memberikan suatu tjap jang tegas dan arah jang pasti bagi gerakan nasional ,selandjutnja. Hal ini terutama jalah karena pemberontakan itu dipimpin oleh klas proletar dan Partainja, PKI. Pemberontakan itu telah menggojahkan dasar² kekuasaan imperialisme Belanda di Indonesia, Dalam mempelopori dan memimpin perdjuangan kemerdekaan nasional, PKI telah memberikan arah po- litik bagi gerakan kemerdekaan nasional, jaitu bahwa Indonesia harus merdeka, lepas dari kekuasaan imperialisme Belanda. Bahkan oleh PKI djuga dikemukakan tudjuan untuk mentjapai masjarakat sosialis di Indonesia, Masalah tudjuan untuk mentjapai Indonesia merdeka dan masjarakat sosialis ini merupakan suatu masalah jang sangat meresapi Rakjat Indonesia dalam
perdjuangannja menentang imperialisme Belanda, feo- dalisme serta kakitangannja. Kemenangan Revolusi Sosialis Besar Oktober (1917), dalam mana Rakjat dari negeri² jang tadinja didjadjah oleh Tsar Rusia dibawah pimpinan klas buruh dan Partai Komunis Rusia dapat membebaskan dirinja dan membangun masjarakat sosialis, memberikan suatu kejakinan kuat akan kesung- guhan tudjuan dan garis politik jang dikumandangkan dan diperdjuangkan oleh PKI. Djuga masalah djalan untuk mentjapai Indonesia Merdeka dan membangun masjarakat sosialispun telah digariskan dan diretas dengan djelas oleh PKI, jaitu dengan djalan revolusioner dan bukan dengan djalan kompromi; djalan itu adalah djalan menumbangkan kekuatan kolonial Belanda dan bukan kerdjasama dengan kekuasaan kolonial Belanda. Djuga tjara pelak- sanaannja telah pula ditundjukkan dan diberi tjontoh dalam praktek oleh PKI jaitu harus bersandar pada kekuatan massa Rakjat, dan aksi massa Rakjat jang revolusioner. Untuk mentjapai tudjuan ini telah dike- tengahkan dengan tegas oleh PKI masalah jang pokok dalam revolusi jaitu masalah kekuasaan; menumbang- kanakekuasaan kolonial Belanda, dan mendirikan kekuasaan Rakjat dibawah pimpinan klas buruh dan Partainja. Terlepas dari kekurangan jang ada pada PKI dan gerakan revolusioner pada waktu ditu, Rakjat Indonesia telah memperoleh suatu pengalaman politik dan ideologi jang sangat besar dari gerakan nasional jang dipelopori oleh klas buruh dan PKI, dari pemberontakan itu. Terlebih-lebih hal ini karena PKI sebagai Partai klas buruh Indonesia dalam memimpin perdjuangan kemerdekaan Indonesia berpedoman pada teori Marxisme-Leninisme. Dengan ini maka Marxisme menda- patkan suatu pengakuan dan mendjadi pandji ideologi bagi gerakan kemerdekaan Rakjat Indonesia. Tanpa menggunakan. sendjata dan pandji ini, tak mungkin gerakan kemerdekaan Indonesia dapat mentjapai tudju- annja, jaitu Indonesia Merdeka jang demokratis dan berharidepan sosialis. Dalam hal ini D.N. Aidit, ketua CC PKI menjata- kan: Pemberontakan 12 November adalah suatu tindak- an anti-kolonialisme pertama jang mempunjai penga-
ruh setjara nasional atas Rakjat Indonesia. Pemberontakan ini telah menundjukkan kepada Rakjat Indonesia djalan jang benar untuk mengenjahkan kolonialisme,
jaitu djalan kekerasan. Pemberontakan ini telah me-
nundjukkan kepada Rakjat Indonesia bahwa kekuasaan Belanda bisa dibřkin kalang-kabut, bahwa kekua-d
saan kolonial bisa digojahkan, bahwa kekuasaan ini bukan kekuasaan jang abadi. Pemberontakan 12 No-
vember mempunjai arti jang luarbiasa besarnja dalam
meningkatkan kesadaran politik Rakjat Indonesia, ter-
utama kesedaran anti-kolonialisme".
Perwudjudan Dari Pengaruh Pemberontakan
Kegagalan pemberontakan nasional pertama tidaklah berarti bahwa perdjuangan kemerdekaan nasional Rak-
jat Indonesia berhenti. Dalam keadaan jang bagai-
manapun sulitnja Rakjat Indonesia selalu mentjari
djalan, mentjari tjara untuk melandjutkan perdju-
angan itu. PKI sebagai Partai mempelopori, jang ber-
djalan didepan dalam perdjuangan Rakjat Indonesia ditindas dan dilarang bergerak setjara legal. Pemimpin- pemimpinnja dan kader-kadernja dibuang ke Digul, dipendjarakan dan karenanja maka dalam waktu jang agak lama tidak atau belum dapat membangun kem-5
bali organisasinja. Tetapi orang-orang Komuris jang
tidak tertangkap dengan berbagai djalan tetap mene- / ruskan kegiatannja untuk bersama dengan Rakjat Indonesia melawan kekuasaan kolonial. Mereka berhu- bungan satu sama lain, walaupun bersifat kebetulan. sementara atau perseorangan. Dalam proses ini ter- bentuklah grup-grup Komunis jang bersifat sementara atau kebetulan untuk membitjarakan situasi serta perdjuangan-perdjuangannja. Dengan melalui berbagai kesukaran mereka membangun kembali serikatburuh², memasuki organisasi sosial dan lainnja jang ada pada waktu itu. Pendeknja orang2 Komunis tidak menghenti- kan aktivitet sadarnja dalam sjarat² sulit bagaimanapun. Setelah pem'berontakan ditindas keadaan kehidupan
makin bertambah djelek, padiak masih tetap merupa-
kan beban berat bagi Rakjat Indonesia, ketiadaan hak demokrasi sangat mengekang Rakjat Indonesia. Tetapi djustru keadaan inilah jang membuat Rakjat Indonesia
tetap melakukan perdjuangannja, Organisasi perdjuangan Rakjat Indonesia pada suatu waktu tenggelam karena ditindas oleh pemerintah kolonial Belanda, tetapi segera disusul dengan muntjulnja jang lain. Suasana kosong" setelah PKI ditindas tak lama ter- djadi, karena beberapa bulan kemudian lahir suatu organisasi perdjuangan Rakjat Indonesia jang baru, jaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) jang didirikan pada tanggal 4 Djuli 1927. PNI adalah suatu partai jang merupakan perkem- bangan lebih landjut dari perkumpulan kaum terpe- ladjar Indonesia jang di Bandung bernama Algemene Studieclub (Perkumpulan Studi Umum). Dalam Algemene Studieclub Bandung int terhimpun kaum intelektuil progresif, jang dipimpin oleh seorang insi- njur-muda Sukarno. Djuga tergabung dalam studieclub ini seorang demokrat Dr. Tjipto Mangunkusumo. Karena propaganda dan langkah-langkahnja jang progresif Algemene Studieclub ini pernah mendapatkan. undangan dari "Pacific Labour Congres" (Kongres Buruh Pasifik) jang berpusat di Kanton pada tahun 1927, tetapi karena undangan ity terlambat diterimanja maka tak dapat dihadirinja. Kehendak merdeka Rakjat Indonesia, serta semangat berdjuang menumbangkan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda merefleksi dan mempengaruhi kaum intelektuil progresif itu. Apalagi Bandung pada masa se- belumnja merupakan pusat kegiatan PKI dalam hari² pemberontakan, jang djuga memberi pengaruh besar pada kaum intelektuil tersebut. Dengan didorong dan dipengaruhi oleh keadaan ini, oleh kaum intelektuil progresif jang tergabung dalam Algemene Studieclub dirasa perlu adanja partaú politik jang sanggup madju kedepan, suatu partai politik jang bisa mengungkap tuntutan Rakjat serta hasrat Rakjat Indonesia. Maka itu pada bulan April 1927 didirikan suatu komite persiapan untuk membentuk partai seperti itu. Komite ini terdiri dari kaum intelektuil jang tergabung dalam Algemene Studieclub, antara lain : Ir. Sukarno. Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo, Dr. Tjipto Mangunkusumo. Ir. Anwari, dan Mr. Sunarjo. Atas usaha Komite ini maka pada tanggal 4 Djuli 1927 berdirilah Partai, jang pada mulanja meng- gunakan nama Perserikatan Nasional Indonesia, dan
5 dalam mana terdjamin kebebasan, keadilan dan ketertiban. sembojan: Sosialisme menghendaki kehidupan jang lebih baik,Salah satu rapat PNI pada tahun 1929. Didindingnja terpantjang
jang kemudian dalam kongrés pertamanja, jaitu pada tanggal 27-30 Mei 1928 di Surabaja diubah men- djadi Partai Nasional Indonesia, Pengurusnja antara lain terdiri dari Ir. Sukarno ketua, Mr. Iskaq Tjokro- hadisurjo sekretaris/keuangan, Dr. Samsi Satriowi- dagdo sebagai sekretaris, dengan anggota2nja antara lain: Mr. Sartono, Mr. Sunarjo. Ir. Anwari, Dr. Tjipto Mangunkusumo jang oleh pemerintah Belanda dituduh tersangkut dalam pemberontakan militer gar- nisun Bandung pada bulan Djuni 1927, dibuang ke Banda, dan karenanja tidak masuk susunan pengurus PNI. Tudjuan PNI sebagaimana jang ditjantumkan dalam ,,Beginsel Programnja" jalah : ,mengubah struktur kehidupan masjarakat Indonesia, ,menghapuskan ketergantungan politik, mengachiri pemerintahan Belanda, Indonesia lepas dari negeri Belanda dengan djalan non-koperasi" Djuga dikatakan bahwa PNI hanja mengakui suatu pemerintahan jang dipilih dari dan oleh Rakjat. Pengaruh Sosialisme djuga merasuk kedalam tubuh PNI, halmana tampak dengan djelas dalam sembojan jang dipantjangkan diruangan kongresnja jang pertama: Het Sosialisme wil een betere samenleving, waar vrij- heid, recht en orde heerschen". (Sosialisme menghen- daki kehidupan jang lebih baik, dalam mana terdjamin kebebasan, keadilan dan ketertiban). Marxisme sebagai bentuk ideologi klas proletariat mempunjai pengaruh pada sementara pimpinan PNI. Bukanlah kebetulan kalau Ir. Sukarno sebagai pemimpin PNI pada waktu itu djuga mempeladjari Marxisme, dan dalam pidato dan tulisannja selalu mendjelaskan bahwa dia menggunakan materialisme-historis dalam mengupas imperialisie Belanda. Hal ini djuga ditegaskan oleh beliau dalam suatu sambutan pada malam resepsi Kongres Nasional ke-VI PKI tahun 1959 di Djakarta. Peng- gunaan materialisme-historis dalam mengupas impe- rialisme Belanda ini dapat terlihat dalam pidato2 beliau dalam kongres pertama PNI di Surabaja, pada rapat umum di Gresik pada tanggal 30 Agustus 1928, dalam kongres kedua PNI di Djakarta, dalam tulisan²nja, dalam pidato pembelaannja dimuka pengadilan Bandung pada bulan Agustus 1930, dalam tulisannja Mentjapai Indonesia Merdeka" dan lain²nja.
Karena propaganda dan agitasinja jang tegas me- nelandjangi segala. keburukan imperialisme Belanda, halmana samasekali mentjerminkan kenjataan jang se- sungguhnja, maka dalam waktu jang singkat PNI men- dapatkan popularitet dalam kalangan Rakjat jang luas. Banjak kaum Komunis jang masuk serta aktif dalam PNI, serta organisasi massa jang dipimpin PNI. Dari sini djelaslah betapa dalam pengaruh-gerakan revolusioner jang dipimpin PKI dan pemberontakan nasional pertama itu terhadap gerakan revolusioner ke- mudiannja. Hal ini djuga ditegaskan oleh Presiden Re- publik Indonesia, Dr. Ir. Sukarno dalam bukunja Sa- rinah sbb, : Partai Komunis Indonesia dan Serikat Rakjat meng- amalkan tjinta tanah-air untuk menentang penghisapan buruh dan tani oleh imperialisme". Selandjutnja dinja- takan tentang hubungan PKI dan berdirinja PNI sbb.: ,Imperialisme Belanda pada waktu itu baru sadja mengamuk tabula rasa dikalangan kaum Komunis. Partai Komunis Indonesia dan Serikat Rakjat dipukulnja dengan hebatnja. ribuan pemimpinnja dilemparkannja dalam pendjara dan dalam pembuangan di Boven Di- gul. Untuk meneruskan perdjuangan revolusioner saja mendirikan Partai Nasional Indonesia". (cursif dari LSP) Krisis ekonomi jang mulai mengamuk pada tahun 1929 makin menekan, memerosotkan penghidupan Rakjat Indonesia, dan djuga makin membangkitkan kemarahan Rakjat terhadap kekuasaan Belanda. Ini mendjadi dasar ekonomi bagi mudahnja Rakjat me- nerima propaganda revolusioner. Kaum kapitalis mo- nopoli dan kekuasaan kolonial Belanda'sangat keta- kutan terhadap kegiatan PNI serta pemimpin²nja jang revolusioner pada waktu itu. Apalagi ternjata bahwa massa Rakjat jang pernah dihimpun PKI menjambut dan mendukungnja. Pemerintah kolonial Belanda me- nangkap pemimpin2 PNI jang herpengaruh pada tanggal 16 Djuni 1930, dan 'kemudian memendjarakannja. Pidato pembelaan Ir. Sukarno dimuka pengadilan Bandung pada tanggal 18 Agustus 1930, jang menjata- kan perasaan Rakjat Indonesia dalam menggugat imperialisme Belanda mendjiwai perdjuangan Rakjat Indonesia. 安
Pengaruh gerakan revolusioner jang dipimpin PKI dan pemberontakan nasional pertama ini djuga merangsang peinuda² Indonesia. Pemuda² Indonesia makin tjepat matang kesedaran nasfonalnja, kesedaran politik dan organisasinja. Mereka mulai jakin bahwa Indonesia dapat madju, apabila lepas dari kekuasaan imperialis Belanda, apabila Indonesia Merdeka. Mereka djuga mulai jakin bahwa untuk mentjapai tudjuan ini harus ada persatuan, termasuk persatuan dikalangan pemuda. Dengan didjiwai oleh pengaruh ini pemuda Indonesia jang tergabung dalam berbagai organisasi mulai ber- usaha untuk menjatukan diri, Untuk mentjapai maksud ini. pemuda² Indonesia mengadakan kongres pada tahun 1926, dan kemudian kongres 1928 dan selandjut- nja disusul oleh kongres fusi antara organisasi pemuda jang seazas pada tahun 1930. Pengaruh ide revolusioner pada pemuda itu dengan djelas dinjatakan dalam kongres kedua pemuda² Indonesia, tahun 1928 di Djakarta. Pada hari terachir si- dang kongresnja, jaitu pada tanggal 28 Oktober 1928 dengan suara bulat disahkan sumpah pemuda jang bu- njinja sebagai berikut; ,Kami putera dan puteri Indonesia mengaku ber- bangsa satu, bangsa Indonesia. Kami putera dan puteri Indonesia mengaku ber- tanah-air satu, tumpah darah Indonesia, ,Kami putera dan puteri Indonesia mengaku ber- bahasa satu, bahasa Indonesia.
Dengan pernjataan sumpah pemuda ini maka djelas-
lah bahwa unsur² dari tjirř nasion Indonesia dinjatakan setjara resmi oleh pemuda². Pemuda² Indonesia mempu- njaí pegangan dan landasan jang sama dan kuat dalam perdjuangannja. Pengaruh pemberontakan nasional djuga merangsang diri komponis muda W.R. Supratman. Dengan. didjiwai oleh lagu Internasionale, jang djuga mendjadi lagu PKI, dan lagu Marsailles, jaitu lagu kebangsaan. Perantjis jang'lahir dalam revolusi burdjuis Perantjis. komponis muda jang patriotik ini mentjiptakan lagu INDONESIA RAJA" suatu lagu revolusioner jang mendjiwai Rakjat Indonesia dalam perdjuangannja. Lagu ini djuga untuk pertama kalinja didengungkan dalam kongres pemuda2 itu. Hubungan antara gerakan Komunis dan gerakan na-
sionalis ini djuga dengan djelas dinjatakan oleh Ki Hadjar. Dewantoro dalam tulisan ,Ichtisar Sedjarah Singkat Gerakan Rakjat Menudju Kemerdekaan Indonesia". Dalam tulisan itu dinjatakan bahwa Suwardi Surjaningrat alias Ki Hadjar Dewantoro sewaktu me- mimpin rapat pembubaran Partai Indonesia (Partindo) jang karena dilarang oleh pemerintah Belanda, antara lain mengandjurkan agar sekalian anggota2nja me- masuki suatu Partai kepunjaan Rakjat"; misalnja ,,PKI", atau pada umumnja melakukan usaha atau berdjuang jang bersifat nasional". Djadi djelaslah bahwa pemberontakan nasional pertama. itu mempunjai pengaruh jang sangat besar dan dalam pada perdjalanan sedjarah gerakan nasional Indonesia. Tanpa gerakan revolusioner jang dipimpin klas buruh, serta partainja ~ PKI tak mungkin dalam waktu jang singkat itu lahir gerakan revolusioner jang per- kasa. *
Pengaruh pemberontakan nasional pertama ini bukan hanja berhenti pada tahun² 30-an, jaitu setelah PNI dilumpuhkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Tuntutan pemberontakan untuk mendirikan negara nasional jang demokratis, djalan untuk mentjapai tuntutan itu, serta daja penggalangan kekuatan massa Rakjat, hero isme jang segar selalu menerusi perdjuangan Rakjar Indonesia selandjutnja. Ia mendjiwai pemberontakan matros kapal Tudjuh" (Zeven Provincien) pada tahun 1933, mempengaruhi gerakan kebudajaan terutama dalam sastra seperti pada .Pudjangga-Baru", mendjiwai gerakan anti-fasis, mendjiwai Revolusi Agustus 1945, serta tetap mendjiwai kita dewasa ini. Banjak kader-kader baru, kader muda jang langsung mendapatkan pengaruh. dari pemberontakan itu, seperti kader² jang muntjul dan ikut aktif membangun PNI dan gerakan pemuda, kemudian setelah -PNI diputkul dan dibubarkan oleh pemimpin-pemimpinnja; kader muda jang revohusioner itu djuga ikut aktif mendirikan Partai Indonesia (Partindo) seperti Mr. Amir Sjarifudin dan banjak lagi lain²nja. Kader² muda ini mendjadi teras organisasi revolusioner selandjutnja. Pembangunan kembali PKI dengan Comite Central oleh
Musso pada tahun 1935 djuga dipermudah dengan ada- nja kader² revolusioner seperti Pamudji dan. lain²nja. Setelah mereka ditangkap pemerintah kolonial, djuga pimpinan baru pada tahun 1938 terdiri dari kader² jang dididik oleh heroisme pemberontakan November 1926. Setelah pimpinan CC PKI pada tahtin 1942 ditangkapi Djepang dibentuklah CC baru jang djuga terdiri dari kader2 jang dididik dan dipengaruhi oleh pemberontakan nasional pertama, antara lain Widarta.
Menjelesaikan tugas November 1926.
Dilihat dari dasar objektifnja, sebagaimana sudah dikemukakan dalam bab I dan II, djelaslah bahwa Pem~ berontakan November 1926 itu berwatak nasional demokratis, anti-imperialís dan anti-feodal. Watak nasional demokratis atau anti-imperialis dan anti-feodal ini bagaikan benang merah jang dengan djelas mendjelu- djuri djalannja gerakan kemerdekaan nasional Indo~ nesia. Watak serta tuntutan itu walaupun sudah diteruskan oleh Revolusi Agustus 1945, namun sebagai akibat be- lum tertjapainja tuntutan revolusi itu sampai ke-akar²- nja maka kini watak dan tuntutan jang diadjukan oleh pemberontakan 35 tahun jang lalu itu pada pokoknja masih merupakan tugas kita djuga. Menjelesaikan tuntutan Revolusi Agustus 1945, jang dasarnja sama dengan tuntutan pemberontakan nasional pertama tahun 1926 adalah mendjadi tugas jang harus kita landjutkan, tugas jang harus kita pikul dewasa iné. Sudah tentu per- wudjudan dan tjara penjelesaiannja sudah tidak lagi sama dengan masa itu, namun semangat '26 tetap mendjiwai kita, mendjiwai generasi dari angkatan selan- djutnja. Kita dari angkatan penerusnja, generasi jang harus menjelesaikan tugas November '26 itu sudah dipermudah oleh pengalaman jang kaja dari generasi pen- dahulu kita, dari angkatan perintis itu. Tak ada pengalaman² jang tersia-sia, asalkan mau mempeladjari pengalaman itu setjara kreatif, dengan menggunakan Marx- isme-Leninisme. Dalam proses menjelesaikan tuntutan itu kaum reaksi selalu menggunakan tjara jang sama dalam menghadapi,
membendung dan menindas gerakan revolusioner. Me- reka antara lain djuga mengadakan berbagai provokasi, seperti provokasi Madiun, provokasi Sukiman tahun 1951, dan serentetan provokasi pada tahun 1957 dan lain². Tetapi berkat peladjaran dari pengalaman jang lampau, baik kekurangannja maupun keunggulan- nja, serta tjara kaum reaksi menindas gerakan revolusioner, kaum Komunis dewasa ini tidak mudah terpro- vokasi. Garis politik jang tepat, taktiknja jāng hidup, dengan garis pembangunan Partai jang tepat. serta peningkatan deradjat ideologi dan teori jang terus- menerus, dan dengan bersandar pada massa jang luas, maka provokasi² jang dilantjarkan oleh kaum reaksioner dapat dihindari, dan tugas PKI dalam menjelesaikan tuntutan objektif dari pemberontakan nasional pertáma itu pasti dapat terlaksana. Kesanggupan dengan sepenuh-hati untuk menunai- kan tugas ini sampai selesai adalah bentuk penghar- gaan dan terimakasih generasi 'kita jang se-tinggi²nja terhadap para perintis gerakan Rakjat.
12 November 1961.
BUKU DAN TULISAN JANG DIGUNAKAN
- Imperialisme Tingkat Tertinggi Kapitalisme. W. I. Lenin Terbitan Jajasan ,Pembaruan" tahun. 1958.
- Masjarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia. D.N. Aidit Terbitan Jajasan ,Pembaruan" tahun 1958.
- Lahirnja PKI dan Perkembangannja. D.N. Aidit Terbitan Jajasan ,Pembaruan' tahum 1955.
- Sedjarah Gerakan Buruh Indonesia. Terbitan Badan Penerbit Dewan Nasional SOBSI" tahun 1958.
- Indonesia. Djil. I Ir. S.J. Rutgers dan A. Huber. Terbitan Pegasus" Amsterdam. tahun 1937.
- Indonesia, Djil. II Ir. S.J. Rutgers. Terbitan Pegasus" Amsterdam tahun 1947.
- Tentang Ekonomi dan Keuangan, Ir. Sakirman. Termuat dalam madjalah Ekonomi dan Masjarakat" mo. 1 tahun 1959.
- Schets Eener Economische Geschiedenis van Nederlandsch-Indie, Prof. G. Gonggrijp. Terbitan De Erven
F. Bohn" Harlem tahun 1928. - Sedjarah Indonesia Djil. I-II, Sanusi Pane. Terbitan Perpustakaan Perguruam Kementerian P.P. & K." Djakarta tahun 1956.
- Imperialisme Belanda di Indonesia, H. de Vries. Termuat dalam madjalah Bintang Merah" no. 6 tahun: 1954,
- Sociaal Economische Betekenis van Nederlandsch-Indie voor Nederland, Prof. G. Gonggrijp. Terbitan ,Spektrum" Utrecht.
- The Evolution of the Netherlands Indies Economy. Prof.
J.H. Boeke. Terbitan .,Netherlands and Netherlands Indies Council Institute of Pacific Relation New York" th. 1946. - Indoneslan Society in Transition. Prof. W.F. Wertheim. Terbitan ,Sumur Bandung", Bandung tahun 1956.
- De Landbouw in den Indischen Archipel, Djil. I. Terbitan .W. van Hoeve" 'sGravenhage tahun 1946.
- De Landbouw in den Indischen Archipel, Djil. II. Terbitan
W. van Hoeve" 'sGravenhage tahun 1948. - The Structure .of Netherlands Indian Economy. Prof.
J.H. Boeke. Terbitan ,International Secretariat Institute of Pacific Relation' New York tahun 1949. - Nationalism and Revolution in Indonesia. George Mc Tu- man Kahin. Terbitan ,Cornell University Press" Ithaca, New York 1952.
- Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia. Mr. A.K. Pring- godigdo. Terbitan Pustaka Rakjat" Djakarta th. 1949.
19. De Nationalistische Beweging in Nederlandsch-Indie.
J. Th. Petrus Blumberger. Terbitan H. D. Tjeenk & Willink & Zoon", Haarlem 1935.
20. De Communistische Beweging in Nederlandsch-Indie.
J. Th. Petrus Blumberger. Terbitan H.D. Tjeenk & Willink & Zoon'. Haarlem 1935.
21.The Communist Uprising of 1926-1927 in Indonesia. Key Documents. Translation Series. Disusun oleh:. Harry J. Bendia dan Ruth T. McVoy. Terbitan ,Department of Far Eastern Studies Cornell Univensity", Ithaca, New York
1960.
22.Overzicht van de ontwikkeling der Nationale Beweging in Indonesia in de jaren 1930 tot 1942. Dr. J.M. Pluvier. Terbitan W. van Hoeve Bandung 1953.
23. Menudju Kemerdekaan, Sedjarah Pergerakan Indonesia
sampai 1942. D.M.G. Koch." Terbitan ,,Jajasan Pemba- ngunan", Djakarta 1951.
- Boven Digul. L. J. A. Schoonheyt Arts. Terbitan N.V. Koninklijke Drukkerij De Unie", Batavia C. 1936.
- A History of South East Asia. D.G.E. Hall. Terbitan Macmillan & Co Ltd." London 1955.
26. The Political Tasks of the University of the Peoples of
the East. J.V. Stalin Works Vol. 7. Terbitan ,Foreign Languages Publishing House", Moscow 1954.
27.Against Revisionism. W.I. Lenin. Terbitan Forcign Languages Publishing House", Moscow 1959.
28.Fundamentals of Marxism-Leninism. Terbitan Foreign Languages Publishing House", Moscow 1960.
29. Peladjaran dari Sedjarah PKI, D.N. Aidit, Terbitan Jajasan ,,Pembaruan"Djakarta 1960.
30.Masalah Indonesia. Termuat dalam madjalah Bintang Merah" no. istimewa 9-10, tahun 1954.
31. Thesis Alimin. Terbitan Revolusioner" 46.
32. Dari Pendjara ke Pendjara — Tan Malaka. Terbitan
Pustaka, Munba", Jogjakarta.
- Naar de Republik IndonesiaTan Malaka. Terbitan Kanton 1925.
34.Massa Actie Tan Malaka. Terbitan Pustaka Murba", Jogjakarta.
35. 12 November dan Perdjuangan Nasional Anti Kolonial-
isme. D.N. Aidit — Bintang Menah" no. 10-11 th. 1956.
36. 12 November Hari Persatuan melawan kolonialisme
Sudisman ,Bintang Merah" no. 10-11 th. 1956.
37.Pemberontakan 12 November dan Kenasionalan PKI
M.H. Lukman. Bintang Merah", Ulangtahun ke-42 Revolusi Oktober 1959. Terbitan Jajasan ,,Pembaruan".
38. 40 Tahun PKI disusun oleh Lembaga Sedjarah PKI".
Terbitan Jajasan ,Pembaruan" Djakarta 1960.
- Dibawah Bendera Revolusi. Ir. Sukarno. Terbitan ,Pustaka Bahasa Asing" Peking tahun 1961.
- Sarinah. Dr. Ir. Sukarno. Terbitan Jajasan ,Pembangun- an" Djakarta 1951.
- Bahan dari suratkabar dan tulisan sekitar th. 1926-1927.
ISI
Prakata 7 Pengantar 8 BAB I.
Indoresia sebagai tanah djadjahan imperialis 10
Negeri Belanda mendjadi negeri imperialis 10
Indonesia sebagai tempat penanaman kapital 13
14
Indonesia sebagai sumber tenaga murah. 16
Indonesia sebagai pasar barangdjadi. 20
BAB II. Rakjat Indonesia
sifat nasional.
gerakan kemerdekaan Rakjat Indonesia 30
34
pembuangan 50
56
Djalunnja pemberontakun 60
71
Djalannja pemberontakan
Sikap Partai Sosial Demokrat jang chianat 98
Sikap persahabatan dan solidaritet dari klas
buruh dan Partai Komunis Nederland (CPN) 99
Indonesia sebagai sumber bahan mentah.
Perdjuangan dan organisasi perdjuangan 26 Pertumbuhan organisasi² Rakjat jang ber- 26 Pengaruh krisis umum kapitalisme terhadap
Lahirnja PKI dan perdjuangannja BAB III. Meletusnja pemberontakan nasional pertama diiringi dengan penindasan, penangkapan dan
Pemberontakan meletus di Djawa
Pemberontakan meletus di Sumatera 78 Penindasan, penangkapan dan. pembuangan83
BAB IV., Peladjaran dari kegagalan pemberontakan nasional pertama 102 Kekurangan dan kesalahan sebelum pemberontakan 102 Pemilihan saat jang kurang tepat114 Kekurangan dalam tjara memimpin 117
| Pengabdian jang tiada taranja. | 119 |
|---|---|
| Mengangkat sendjata karena terpaksa. | 121 |
| Pengchianatan trotskis Tan Malaka | 122 |
| Ketjenderungan likwidasi. | 126 |
BAB V.Pengaruh pemberontakan nasional pertama 128 terhadap gerakan nasional 'selandjutnja
Perwudjudan dari pengaruh pemberontakan 130
Menjelesaikan tugas November 1926 137 Buku dan tulisan jang digunakan 139
Tjatatan
jatatan