Baca EPUB: Gema Revolusi Rusia di Indonesia

13 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. GEMA REVOLUSI RUSIA DI INDONESIA
  2. SOE HOK GIE
  3. KOLOFON
  4. Table of Contents
  5. GEMA REVOLUSI RUSIA DI INDONESIA
  6. KEMENANGAN RAKYAT TERTINDAS
  7. KOLONIALIS KETAKUTAN
  8. PROSES PERADILAN SNEEVLIET
  9. SIAPAKAH YANG DIADILI?
  10. MENDEKATKAN DARSONO DAN SEMAOEN
  11. SUMBANGAN REVOLUSI RUSIA
  12. Catatan
  13. Footnotes
  14. Rujukan
  15. UNCOPYRIGHT

GEMA REVOLUSI RUSIA DI INDONESIA

SOE HOK GIE


KOLOFON

GEMA REVOLUSI RUSIA DI INDONESIA

oleh

SOE HOK GIE



Dimuat di majalah Mingguan Djaja

No. 146 · 7 November 1964



Editor: @_hfish

© 2026 MasasilaM

Berdasarkan arsip dari: Pustaka Massa ID

Ilustrasi sampul: A Mask Sounds The Death Knell. 1882, karya Odilon Redon

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



GEMA REVOLUSI RUSIA DI INDONESIA

Pada tanggal 8 Maret 1917 di Petrograd1 tidak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Udara masih agak dingin karena musim semi baru saja akan tiba. Jalan-jalannya juga sebagai biasa, dan wanita-wanita yang lapar juga sebagaimana biasa antri di muka toko-toko roti. Tidak seorang pun yang menyangka bahwa hari itu akan menjadi salah satu hari yang terpenting dalam sejarah Rusia, juga sejarah dunia.

Dalam antri ini terjadilah kerusuhan-kerusuhan. Keesokan harinya polisi dipanggil untuk menertibkannya dan polisi menembak wanita-wanita yang lapar tadi. Tindakan sewenang-wenang ini dijawab dengan pemogokan-pemogokan oleh buruh-buruh pabrik, dengan mogok sekolah oleh pelajar. Suasana kini menjadi kacau. Rakyat yang telah beratus-ratus tahun ditindas oleh rezim Tsar kini mulai berontak. Mereka berbaris di jalan-jalan dan menyanyikan lagu La Marseillaise:

Bangkitlah, wahai putra-putra Ibu Pertiwi

Hari yang berbahagia telah tiba

Marilah kita bangkit melawan kesewenang-wenangan.

Tentara yang diperintahkan untuk menembaki demonstran menolak, karena mereka pun merasai kebenaran daripada tuntutan-tuntutan rakyat. Tentara Tsar memihak rakyat, dan senapan-senapan kini diarahkan pada perwira-perwira mereka sendiri. Revolusi Rusia kini telah meletus, fajar perjuangan yang jaya bagi kaum yang terhina dan tertindas telah menyingsing.


KEMENANGAN RAKYAT TERTINDAS

Berita-berita tentang pemberontakan kaum buruh ini dengan cepat tersebar keseluruh dunia. Sepuluh hari kemudian, 18 Maret 1927, berita-berita pertama tentang penembakan wanita-wanita yang lapar, tentang pemogokan-pemogokan kaum buruh dan pelajar, tentang memihaknya tentara kepada rakyat yang tertindas, sampai ke Indonesia. Jam delapan malam, berita itu sampai ke tangan seorang tokoh sosialis Belanda di Semarang, Sneevliet. Apakah yang lebih mengharukan bagi seorang sosialis, selain daripada berita kemenangan kaum buruh Rusia. Sneevliet tergerak hatinya, perasaannya meluap-luap dan malam itu juga ia menulis artikel yang diberinya judul Kemenangan (Zegepraal). Menjelang pagi artikel ini siap, dan akan merupakan salah satu artikel yang terpenting untuk sejarah Indonesia modern.

“Telah berabad-abad disini hidup berjuta-juta rakyat yang menderita dengan penuh kesabaran dan keprihatinan, dan sesudah Diponegoro tiada seorang pemuka yang menggerakkan massa ini untuk menguasai nasibnya sendiri.

Wahai rakyat di Jawa, Revolusi Rusia juga merupakan pelajaran bagimu. Juga rakyat Rusia berabad-abad mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan buta huruf seperti kau.

Bangsa Rusia pun memenangkan kejayaan hanya dengan perjuangan terus-menerus melawan pemerintahan paksaan yang menyesatkan.

Juga di Rusia serikat-serikat buruh dipimpin oleh Pemerintah.

Kebaktian kepada kemerdekaan adalah kebaktian yang berat. Kebaktian itu tidak mengizinkan kelemahan, rasa takut, ketidakpastian.

Kebaktian itu menghendaki keseluruhan kepribadian, di atas segala-galanya keberanian.

Apakah lonceng kegembiraan sekarang juga menggema dalam hati kita?

Apakah penabur dari benih propaganda untuk politik radikal dan gerakan ekonomi rakyat di Indonesia memperlipat kegiatannya?

Dan tetap bekerja dengan tak henti-hentinya, meskipun banyak benih jatuh di atas batu karang dan hanya nampak sedikit yang tumbuh?

Dan tetap bekerja melawan segala usaha penindasan dari gerakan kemerdekaan ini?

Maka tidak bisa lain bawah rakyat di Jawa, di seluruh Indonesia akan menemukan apa yang telah ditemukan oleh rakyat Rusia: kemenangan yang gilang-gemilang.”2


KOLONIALIS KETAKUTAN

Pagi-pagi sekali Sneevliet menelpon Dr. Cipto Mangunkusumo, seorang tokoh anti kolonial dan pimpinan umum harian De Indiër, menawarkan apakah hariannya mau memuat artikelnya. Dr. Cipto setuju tetapi menyuruhnya membawa kepada Later, penanggung jawabnya. Oleh Later kemudian artikel ini diperlukannya, tetapi untuk telinga Belanda masih terlalu keras. Hari itu juga artikel Sneevliet Kemenangan (Zegepraal) muncul menghias harian De Indiër. Suara-suara revolusi Rusia, kini juga berkembang di desa-desa dan kota-kota Indonesia3.

Pada waktu situasi mengenai revolusi Rusia tidak jelas untuk orang-orang di Indonesia. Berita-berita yang datang pada umumnya singkat-singkat dan hampir semuanya datang dari kantor-kantor berita Barat, yang telah mewarnai fakta-fakta di sekitar revolusi Rusia. Walaupun mereka pemimpin-pemimpin Indonesia tidak mengetahui secara jelas tentang revolusi Rusia, tetapi secara intuitif, mereka sadar bahwa sesuatu peristiwa yang maha penting dalam sejarah dunia modern telah terjadi. Tidak lama setelah berita-berita pertama tiba tentang revolusi Rusia, ISDV dan Insulinde meminta izin kepada pemerintah kota-praja Semarang, agar boleh mendiskusikannya, tetapi oleh Belanda ditolak. Demikian pula ketika Insulinde ingin mengadakan peresmian cabang Bandung, Belanda mengizinkannya tetapi dengan syarat bahwa soal revolusi Rusia tidak boleh disinggung-singgung dan Sneevliet tak boleh diundang. Sikap Belanda ini tak usah diherankan, karena revolusi Rusia akan merupakan ilham yang besar bagi perjuangan rakyat-rakyat yang tertindas4. Apakah yang lebih ditakuti oleh suatu rezim yang memeras dan menipu rakyat, selain daripada kemenangan perjuangan dari rakyat murba?


PROSES PERADILAN SNEEVLIET

Untuk sejarah Indonesia, juga untuk sejarah perjuangan-perjuangan rakyat Asia, nama Sneevliet sangat penting karena pengabdiannya yang terus-menerus bagi perjuangan rakyat Asia. Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet dilahirkan pada tahun 1883 di Rotterdam dari seorang keluarga Katolik yang saleh. Setelah menamatkan pendidikan HSB di kotanya ia aktif dalam gerakan serikat buruh Belanda. Dalam usia yang muda ia sudah menjadi pemimpin buruh di negerinya. Pandangan-pandangannya yang revolusioner membuat hubungannya agak renggang dengan tokoh-tokoh moderat sosialis Belanda, dibawah Troelstra. Tetapi walaupun demikian ia tidak meninggalkan partai sosialis Belanda (SDAP).

Dalam tahun 1912 ia memimpin pemogokan kereta api, tetapi partainya, SDAP, tidak mau menyokongnya. Kecewa karena sikap Troelstra, akhirnya ia keluar dari SDAP. Nasib membawanya datang ke Indonesia dalam tahun 1913. Ia sangat gembira, ketika ia sampai Indonesia karena melihat militasinya perjuangan rakyat Indonesia, tetapi ia juga sangat kecewa karena perjuangan SI yang militan kemudian diringkus oleh Dr. Rinkes5. Setelah sebentar bekerja di “Soerabajaasche Handelsblad”, kemudian ia bekerja pada sebuah perkumpulan dagang di Semarang dengan gaji yang sangat besar. Secara ekonomi Sneevliet kini benar-benar menjadi orang makmur. Gaji besarnya pangkat tinggi, terdidik, dan disegani oleh masyarakat Belanda. Walaupun demikian ada sesuatu hal yang membuatnya resah … simpatinya yang sangat besar pada rakyat Indonesia yang teridap diperbodoh oleh kapitalis-kapitalis Belanda.

Dalam tahun 1914 ia mendirikan sebuah perkumpulan sosialis pertama di Indonesia Indische Sociaal Democratische Vereniging, dan ia sendiri menjadi ketuanya. ISDV adalah perkumpulan yang militan anti-kapitalis. Majikan-majikan Sneevliet akhirnya mengultimatum Sneevliet “pilih pekerjaan atau partai”. Tanpa ragu-ragu Sneevliet meninggalkan pekerjaannya dan berjuang memihak rakyat Indonesia. Pilihan ini juga berarti memilih kemiskinan, demi kejujuran terhadap rakyat. Dan dalam tahun 1917, karena artikelnya yang sudah kita kutip di atas ia diseret ke muka pengadilan Belanda di Semarang.


SIAPAKAH YANG DIADILI?

Hari Selasa 20 November 1917 di pengadilan Semarang. Publik yang menghadiri sidang hari Selasa ini agak berbeda dengan hari-hari lainnya. Bila biasanya yang menghadiri sidang-sidang adalah rakyat biasa saja, tetapi kini yang menghadiri kebanyakan wartawan-wartawan, politisi dan pemuka-pemuka masyarakat Indonesia di Semarang. Hakim Mr. J. G. J Oetsen van Waren Pancards Clificiel dengan stafnya duduk berhadapan dengan terdakwa Sneevliet yang berumur 34 tahun. Segera setelah sidang dibuka, jaksa membacakan tuduhan-tuduhan satu demi satu antara lain menghasut rakyat, menghina Pemerintah, menghina pengadilan dan seribu satu tuduhan sebangsanya. Tanya jawab terjadi dan saksi satu demi satu dipanggil. Saksi Later dalam pengadilan ini kemudian bersikap pengecut, tetapi banyak pula saksi-saksi lain yang bersikap heroik. Dengan tangkas dan meyakinkan Sneevliet berhasil membantah tuduhan-tuduhan jaksa kolonial.

Diantara hadirin yang datang mendengarkan proses Sneevliet terdapat Semaoen dan Darsono. Semaoen adalah seorang pemuda yang baru berumur 19 tahun, tetapi walaupun demikian ia adalah ketua SI Semarang yang beranggotakan 20.000 (dua puluh ribu) orang. Sejak umur 17 tahun, pemuda Semaoen telah aktif berkecimpung dalam bidang perburuhan, dan ia adalah pemimpin Sarekat Buruh Kereta Api (VSTP). Mungkin Semaoen tidak menyangka bahwa 18 bulan kemudian ia akan mengalami nasib yang serupa, diadili sebagai “penghasut”.


MENDEKATKAN DARSONO DAN SEMAOEN

Darsono adalah seorang pegawai lulusan sekolah pertanian, dan untuk beberapa saat ia pernah bekerja di sebuah perkebunan. Setiap hari ia melihat praktik-praktik kolonial di perkebunan-perkebunan, sehingga akhirnya berontak jiwanya dan berhenti dari pekerjaannya. Ia datang ke Semarang sebagai pemuda umur 19 tahun yang juga tidak puas dengan keadaan masyarakat kolonial. Dan secara tak disadarinya ia datang ke pengadilan mendengarkan persidangan Sneevliet. Baru-baru ia curiga apakah Sneevliet, si Belanda, ikhlas membela rakyat Indonesia. Perkenalannya lebih lanjut dalam sidang pengadilan dengan Semaoen dan Sneevliet, akhirnya meyakinkanya akan ketulusan dari perjuangan mereka. Ia pun tak pernah menyangka bahwa setahun kemudian, ia akan mengalami nasib yang sama dengan Sneevliet, dilempar ke penjara dan diadili sebagai “penghasut” rakyat. Nasib telah membawa Semaoen dan Darsono sebagai tokoh-tokoh perjuangan rakyat Indonesia melalui sidang pengadilan Sneevliet.

Saksi-saksi dipanggil satu demi satu, dan akhirnya jaksa kolonial menuntut Sneevliet 9 bulan penjara. Dalam kesempatan pembelaan dirinya yang berlangsung beberapa jam, Sneevliet kini membuktikan kebenaran tulisannya, bahwa pemerintah adalah alat saja dari kaum kapitalis, bahwa pemerintah telah memeras dan memperbodoh rakyat. Kini sidang berbaik. Pemerintah kolonial adalah terdakwanya, Sneevliet adalah penuntut umum, dan hadirin bersama-sama seluruh rakyat Indonesia yang menjadi hakimnya. Walaupun “tuntutan” Sneevliet supaya “rakyat Indonesia” dibebaskan dari belenggu penjajahan tidak terlaksana pada saat itu, tetapi akhirnya vonis terhadap pemerintah kolonial datang pada 17 Agustus 1945 dengan lahirnya proklamasi.

Dalam pembelaan dirinya, yang 90% merupakan gugatan politik terhadap pemerintah kolonial, Sneevlier dengan baiknya memberikan landasan-landasan teori kepada tuntutan rakyat Indonesia. Pidato ini kemudian dibukukan: Het Proces van Sneevliet, banyak sekali memberikan sumbangan bagi studi politik sosialis Indonesia.

Oleh hakim, kemudian Sneevliet dibebaskan, akan tetapi kebebasan ini tak lama berlangsung. Setahun kemudian ia diusir dari Indonesia.


SUMBANGAN REVOLUSI RUSIA

Banyak sekali orang yang berpendapat bahwa pergerakan rakyat Indonesia dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di luar negeri. Memang hal ini benar, tetapi pengaruh tadi hanyalah pengaruh tambahan, karena sebab-sebab pergerakan rakyat terletak di Indonesia sendiri. Revolusi Rusia juga ikut mempengaruhi pergerakan rakyat diakhir tahun-tahun belasan, dan hal ini nyata dari proses pengadilan Sneevliet, ketakutan Belanda terhadap berita-berita Revolusi Februari (lebih-lebih Revolusi 25 Oktober), akan tetapi walaupun bagaimana kondisi internal lah yang lebih menentukan perjuangan rakyat Indonesia. Seperti halnya Revolusi Tiongkok, Turki, dan lain-lain, Revolusi Rusia ikut mempengaruhi sejarah Indonesia. Tetapi kesemuanya hanya sebagai pengaruh tambahan saja.

Sebagai akhir karangan ini baik kita lihat perjuangan Sneevliet lebih lanjut. Akhir tahun 1918 ia diusir dari Indonesia, dan lalu sebentar diam di negeri Belanda, ia aktif dalam gerakan Komintern di Timur Jauh. Ide-idenya tentang persekutuan antara kaum proletar dan kelas borjuis nasional, dalam tahap perjuangan demokratis, sangat banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran teoritis Partai Komunis Tiongkok. Menjelang 1930 ia berselisih dengan Stalin, yang menyebabkan ia keluar dari Partai Komunis. Walaupun demikian gerakan dan semangat revolusionernya tetap bernyala-nyala. Ketika Belanda diduduki oleh Kaum Nazi, ia aktif memimpin gerakan di bawah tanah, dan ketika ia tertangkap, oleh Kaum Nazi ia dihukum mati (1942).

Oleh Belanda Semaoen kemudian dibuang (1923), dan beliau baru kembali ke tanah air dalam pertengahan tahun 1950. Darsono juga dibuang oleh Belanda dalam tahun 1926, dan baru pada tahun 1950 beliau kembali dari pembuangannya.



Soe Hok Gie.


Catatan

Pada revolusi Rusia meletus, di Rusia masih dipakai penanggalan lama, yang berbeda dengan penanggalan yang dikenal oleh internasional. Selisih antara penanggalan ini 16 hari. Revolusi pertama yang meletus di Petrograd menurut perhitungan penanggalan lama pecah pada tanggal 23 Februari, atau dengan penanggalan baru pada tanggal 8 Maret. Walaupun demikian revolusi itu disebut Revolusi Februari.

Revolusi yang kedua pecah pada tanggal 28 Oktober (kalender lama), tetapi menurut perhitungan baru jatuh pada 7 November. Walaupun demikian revolusi yang kedua ini disebut Revolusi Oktober. (Red.)






Footnotes



  1. Kini Leningrad↩︎

  2. Terjemahan ini diambil dari Sosialisme Indonesia oleh Dr. H. Roeslan Abdulgani. (1960).↩︎

  3. Mengenai peristiwa ini lihat proses pengadilan Sneevliet yang dimuat antara tanggal 21 Oktober-7 Desember 1917 (tidak setiap hari) di Sinar Djawa.↩︎

  4. Lihat karangan-karangan Sneevliet dalam Het vrije woord tanggal 25 Maret, 10 April, 10 Mei 1917.↩︎

  5. Seorang penasehat urusan bumiputera.↩︎

Rujukan

Arsip Pustaka Massa ID

Kaca Benggala Editions




UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.