Baca EPUB: Hikayat Almarhum Raden Saleh

6 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. HIKAYAT ALMARHUM RADEN SALEH
  2. DIXI
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. HIKAYAT ALMARHUM RADEN SALEH
  6. RENCANA YANG PERMULAAN
  7. UNCOPYRIGHT

HIKAYAT ALMARHUM RADEN SALEH

DIXI


KOLOFON

HIKAYAT ALMARHUM RADEN SALEH

DIXI

GOAN HONG & Co.

Passar Pisang—Batavia

1914


Transcriber

k-Jank

Editor

F. Indah, k-Jank

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan segala bentuk perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].



HIKAYAT ALMARHUM RADEN SALEH

CERITA YANG BETUL SUDA KEJADIAN DI BATAVIA

TATKALA PERUSUHAN DI BEKASI,

PADA BULAN APRIL 1869.

(Cukuplah 45 tahun) perusuhan mana suda membikin binasa Jiwanya satu ambtenaar pemarentahan dan satu ambtenaar Politie, dari perbuatannya Bassa Kollot (kepala perusukan) yang mana ia memake namanya Raden Saleh, orang suda tudu mau berhinat pada Raden Saleh, yang ia tiada berdosa, dari perbuatannya Bassa Kollot atau Bassa Nellot (Kapala penyamun Kampung Ratu Jaya).



TERKUTIP DI PERNIAGAAN PAKE GAMBAR.



19 CITAK YANG PERTAMA 14.



TERBIT DI TOKO BUKU

GAON HONG & Co.

Passar-Pisang—Batavia.


RENCANA YANG PERMULAAN

Waktu yang tiada enak bagi Raden Saleh. Pembaca ini buku juga tentu suda tau orang-orang anak negri di tanah Jawa ada mempunyai niatan buat bikin peringetan akan kehormatannya Raden Saleh, seorang Jawa tukang gambar yang namanya suda tersohor di antero Hindia Olanda.

Saya tiada bermaksud akan bicaraken ini perkara hanya dalam ini rencana saya cuma mau unjuk pri keadaannya itu orang, pada siapa nanti disampeken itu peringetan dan tulis sutu dan laen hal yang saya kira saja tiada semua pembaca tau.

Maski begitu, saya pun mau tuturken juga sedikit di sini apa yang saya kira pembaca suda dapet tau tentang halnya Raden Saleh. Beginilah:

Raden Saleh ada berasal dari kaum regent di Semarang dan di Pakalongan, dan sampe sekarang boleh dibilang suda ampir liwat satu abad lamanya sedari tukang gambar itu di lahirken.

Kutika baru berusia 13 atawa 14 taon, Raden Saleh dipungut (diambil) oleh tuan Baron Van der Capellen, Resident Preanger-Regentschappen, dan dengan pertulungannya ini pembesar negri, Raden Saleh pertama dapet plajaran dalam ilmu menggambar dari seorang nama Paijen, satu tukang gambar yang sudah tersohor, yang dateng di ini Hindia bersama hoogleeraar Reiwardt, tatkala Nederland baru mendapet kombali ia punya kekuwasan di ini pulo pulo.

Kamudian dalem taon 1829 Raden Saleh brangkat ka Nederlandikut pada hoofdambtenaar, tuan De Lingen, dan di sana ia ada dapat perlindungan dari minister Baud, saorang hartawan besar dan mempunyai banyak pegaru Di Europa bukan saja ia telah bisa terusken plajarannya, hanya juga ia jadi bisa mengunjungken bebrapa negri di itu benua, di mana ia punya nama jadi tersohor dari kepandeannya bikin gambar-gambar binatang.

Seperti saorang pande dan prins dari Yava, bebrapa orang dari kaum karaja'an jadi suka pada Raden Saleh, hingga ia ini seringkali dapat undangan akan dateng di kratonnya Raja-Raja Europa. Dalem taon 1852, yaitu sasuda tinggal di Europa 23 taon lamanya, sambil plajarken trus itu kapandean Raden Saleh balik kombali ka ia punya tempat kelahiran, di mana sampe lama sekali ia trusken kepandeannya Di Betawi ia telah diriken satu ruma menurut sebagimanana in punya kasenangan, dan ruma itu sekarang yaitulah gedong di Cikini, seperti Djaconessendienst.

Raden Saleh bermula suda menika pada saorang prampuam bangsa Europa, tapi di hari kemudian ia menika pula pada saorang prampuan dari bangsanya sendiri, turunan bangsawan.

Saya kira saja, sebab ada banyak courant yang suda tulis itu hal, tentu pembaca suda sampe tau tentang hal itu semua keadaan dari Raden Saleh, hingga saya merasa tiada perlu akan rencanaken lebih jau itu perkara.

Yang saya kira-pembaca blon tau, yaitulah satu waktu tiada enak yang Raden Saleh suda perna dapatken kutika ia masi tinggal di Buitenzorg, hal mana saiya kira saja ada tercantum trus di dalem ia punya hati hingga ia menutup mata. Jikalu diinget, Raden Saleh ada saorang yang dihormat oleh segala bangsa suda tentu saja itu waktu yang tiada enak ada membikin sedi sekali hatinya itu orang pande yang namanya suda termasyhur.

Supaiya pembaca juga dapet tau itu waktu yang tiada enak bagi Ruden Saleh, saiya rasa tiada ada lebi baek daripada saya salin di sini satu tulisan dari Raden Saleh yang sasuda akan menjadi peringetannya sendiri. Daripada itu tulisan bukan saja kenyataan apa yang orang telah berbuat padanya, tapi juga pembaca bisa liat, begimana Raden Saleh ada seorang yang mengarti baek dalam hal pri kasopanan.

Raden Saleh tulis catetannya itu dalem behasa Olanda, dan inilah salinannya:

“Dalem taon 1807 Bataviasch Genootschiap van Kunsten en Wetenschappen punya keadaan tiada bole dibilang ada bagus, hingga president dari itu Genootschap, tuan Mr. A. Loudon suda minta pada saiya dengan laku manis sekali, supaiya saiya suka membantu dalem hal mencari barang-barang kuno buat gunanya itu Genootschap.

Ini prenta bagi saiya ada jadi satu kehormatan, tapi orang lihatlah begimana titah itu orang suda bikin kliru.

Sedikit waktu sablonnya saiya barangkat ka Java (Jokja), di mana saiya akan menika, pada suwaktu hari ada dateng pada saya saorang anak negri, yang bilang pada saiya, telah mendapat kabar yang saiya cari barang-barang kuno, dan kalu saya perlu ia punya pertulungan, ia pun ada bersedia aken membautu.

Dalem pengharepan nanti bisa membikin kebaean bagi itu Genoctschap, suda tentu saja itu bantuan yang mau di briken pada saya ada menggirangken sekali saiya punya hati, apa lagi dari sebab saya memang tiada sayang tenaga dan tempo buat menambaken barang-barang kumpulannya itu Genootschap.

Itu sebab saiya trima permintaannya itu orang Jawa, dan saiya kasi tau padanya supaiya ia nanti suka cari itu barang-barang kuno buat saiya, yang mana saiya nanti bli atawa teeken gambarnya.

Sasuda liwat kira kira sapulu hari lamanya, itu orang Jawa dateng kombali pada saiya dengan membawa buku buku dan panji yang di sertakep tulisan bahasa Arab, yang mana ada berasal dari tu-runnnya pangeran di Jokya.

Itu barang-barang saiya kasi kombali padanya, kerna menurut saiya punya pendapetan, barang-barang itu tiada ada harga buat Gencotschap, dan saiya kasi tau padanya saiya cuma ingin dapatken tulisan-tulisan atawa patung-patung prunggu yang kuno.

Kira-kira liwat stenga bulan itu orang Jawa dateng pula pada saya, dan sekarang bersama sama dua orang Jawa laen, dengan membawa plaat-plaat perunggu yang disertaken tulisan-tulisan Buddha.

Saiya merasa girang sekali sama itu pendapetan, dan saiya lalu pergi pada tuan Mr. Loudon, yang lantas saja minta saya bli barang-barang itu buat Genootschap, tetapi orang orang yang punya menerangken, itu barang ia orang tiada mau jual, kerna marika itu anggep itu plaat ada seperti jimat. Dari situ saya jadi cuma pinjem saja itu barang, akan diteeken gambarnya oleh saya punya kaponakan, Raden Salikin, permintaan mana ia orang lulusken.

Sasuda itu semua plaat saiya ambil gambarnya itu barang saya kasi kombali pada yang punya, dan itu teekenan saiya seraken pada Tuan Loudon. Saiya kira saja itu teekenan sekarang masi ada pada tuan Cohen Stuart, di Betawi.

Sala satu dari orang orang yang punya itu barang kasi tau pada saiya, ia bisa dapatkan lagi barang-barang kuno, tapi ia merasa perlu aken saya kasi padanya satu surat ketrangan buat menyatakan, ia kumpulken itu barang-barang sasunggunya buat saiya.

Saiya tanya ia punya nama, dan ia mengaku bernama Bassa Kollot. - lalu bikin dan kasi ia itu surat ketrangan yang begini bunyinya:

Di bawa ini, saya Raden Saleh, juru gambar dari Sri Maha Raja Olanda, mengaku suru pada saorang nama Bassa Kollot mencari barang atawa tulisan Buddha, buat digambar atawa dibli buat Bataviaasch Genootschap van kinsten en Wetenschappen.

Het Eerelid van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, (w.g.) RADEN SALEH.

Tiada lama sasuda membri itu surat ketrangan saya brangkat ka Jokya aken menika, dan di sana saya tinggal ampir dua taon lamanya, hingga dalem pangabisan taon 1868 barulah saya pulang ka Bogor bersama saya punya istri, di mana saya sewa rumanya almarhum Sultan Banjermasin, dengan contract dari 4 sampe.8 taon.

Merasa senang sekali saya idup begitu bersama saya punya istri yang masi muda sampe 2 a 3 bulan lamaanya, kutika pada satu hari itu Bassa Kollot dateng pada saya dengan membri tau, sekarang, sebab ia dengan saya telah tinggal tetep di Buitenzorg, ia hendak penuken perjanjiannya. Ia mengaku ada dapatken barang kuno, antara satu meriyam yang disertaken tulisan Buddha, dan bebareng ia minta itu surat ketrangan saya roba namanya, sebab ia sekarang bukan nama Bassa Kollot, tapi Bassa Nellot.

Saya merasa girang juga dengan itu pendapetan mariyam, dan itu surat ketrangan pun saya roba namanya, saya jadiken Bassa Nellot. Itu ketrangan yang ditulis oleh saya punya neef, Raden Mangkoe Atmodjo, saya sraken pada Bassa Nellot, dan ia lalu pergi.

Dua atawa tiga hari kamudian itu Bassa Nellot dateng pula pada saya, dan ini kali ia bawa satu ekor kambing, yang ia hadiaken pada itu raden kecil, dan ia bilang pada saya hendak bikin pesta akan membayar kaul dari ia punya anak lelaki yang baru sembu dari penakit brat.

Ia punya ceraita itu saiya tiada terlalu perdulikan, sebab itu waktu saya sedeng teeken gambarnya satu macan.

Sapulu atawa duapulu hari kamudian, di rumah saiya ada dateng satu orang Olanda, yang membri saya tau, di Bekasi ada peca perusuhan, dan kabar itu di tetepken oleh bebrapa orang laen.

Sebab perkara-perkara begitu tiada bisa menyenangken saya punya hati, maka saiya trus saja bekerja dari siang sampe malem, hingga akhirnya, lantaran terlalu banyak kerja, saya merasa pusing, dan sampe 6 hari lamanya saya tiada bisa bekerja, dan pada hari ka 7 saiya misti taro linta buat isep saya punya dara.

Itu perusuhan di Bekasi, yang terjadi dalem bulan April 1869, suda imembikin ilang juga jiwanya satu ambtenaar pemarentahan dan satu ambtenaar politie, tetapi tatkala militair dateng, dengan tiada banyak susa itu perusuhan suda bisa dibikin padem.

Di itu hari juga ada dateng pada saiya satu opas dari Resident Betawi, yang kasi pada saiya satu surat dan begini bunyinya:

Raden Saleh!

Kalu ada suka, saya minta ketrangan halnya satu surat yang suda dikasi pada saorang Jawa dan disertaken dengan tuan punya tanda tangan.

Resident Betawi

(w.g.) HOOGEVEEN.

Maski saya ada merasa tiada enak, pada itu opas saya toch kasi tau juga, supaya ia sampeken saya punya tau pada Resident, dan membri warta, saya sendiri nanti dateng mengadep, sebab suda lama saya tiada ketemu pada kanjeng tuan itu.

Dengen lekas saya brangkat ka gedongnya tuan Resident, dan di situ saya dapatken brapa banyak tuan-tuan yang lagi berhimpun, juga ada banyak opas. Itu semua tiada membikin saya merasa terlalu heran, sasuda saya dapat denger perkara itu perusuhan di Bekasi.

Tatkala saya musuk ka dalem kamar, selaennya Resident, saya dapat liat juga ada Assistent Resident Buitenzorg, Assistent Resident Betawi, officier van Justitie dari Raad van Justitie di Betawi, dan satu Schout. Antara itu tuan-tuan tiada ada satu orang yang bales saya punya pembrian tau, hanya marika itu semua tinggal berdiam seperti patung, sedang Resident ada mengawasin pada saya dengan mata yang mencorong dan paras yang murka. Resident menanya pada saya:

“Raden Saleh, itu perbuatan sunggu saya tiada kira dari kau!

Dengen merasa sangat terkejut dan heran atas pertanyaan begitu, saya lalu menanya, perkara apa yang ada pada saya. Schout Van Sprew lantas saja bersiap akan menubruk pada saya jikalu perlu, dan akan lantas tangkep jikalu saya melawan. Hal itu blakangan baru saya dapat tau, dan satu opas politie di luar ruma sedeng asik tangkep saya punya kusir dan looper yang tiada berdosa.

Officier van Justitie menanya pada saya, kalu-kalu saya ada beserta, kutika itu orang orang jahat di kampung Ratu Djaja membikin pesta.

Saya menyaut, saiya tiada biasa bergaulan pada orang-orang begitu macem, dan itu kampung Ratu Djaja juga saiya tiada tau. Saiya trangken baru tinggal kira-kira lima bulan lamanya di Buitenzorg, dan selama itu saiya blon perna pergi lebi jau dari kota Batu, bikin visite dua kali pada tuan Tollens, dan selalu saiya punya istri dan kaponakan prempuan ada mengikut, dan kalu suda di preksa orang bisa dapatken bukti saiya pergi lebi jau dari setenga paal dari itu tempat, pembesar negri boleh anggep pada saiya seperti kepala dari itu kaum perusuhan.

Waktu yang tiada enak bagi Raden Saleh. (Penutup) Lebi jau, sepanjang itu pepreksaan saiya dapat denger, bermula orang mau tangkep pada saiya di dalam saiya punya ruma pada waktu malem, dan bawa saiya ke dalam penjara.

Sedeng saiya dipreksa, pembesar negri kasi prenta buat kepung saiya punya ruma, yang mana sudah kejadian juga: 50 orang militair bersama pembesarnya suda kurung saiya punya ruma, sebab saiya disangka ada kasi menumpang itu penjahat-penjahat di dalem saiya punya ruma, supaiya io rang bisa sembuni.

Orang-orang militair yang kepung saiya punya ruma, hal mana saiya tiada bisa seselken pada ia orang, kerna marika itu pun ada di prenta, suda bikin lobang di pager, kerna ia orang sangka di blakang ruma juga tentu ada itu orang-orang yang bikin rusu; di muka saben pintu ditaro satu soldadu jaga, dan saya punya orang tiada ada satu yang boleh masuk atawa kaluwar dari itu ruma.

Yang ingin tau itu perkara pun tiada kurang: beratus orang ada menonton akan mendapat tau apa yang sudah terjadi pada saya, sedeng di dalam saya punya ruma cuma ada saya punya istri, keponakan prampuan dan brapa bujang prempuan.

Akhirnya officier van Justitie tanya pada saya, kalu-kalu ia bole preksa saya punya surat-surat, atas mana saya menyaut, itu ada menggirangkan saya punya hati.

Itu tuan-tuan lantas brangkat ka saya punya ruma. Di dalem kreta saya duduk bersama Resident. Saya tiada bisa ceritaken begimana adanya saya punya rasa hati, kutika saya dateng di ruma: saya punya hati saola-olah jadi ancur.

Coba saja orang pikir: saya punya istri yang masi muda, satu prinses turunan Raja dan saya punya keponakan saya musti dapatken dengan mata yang bengkak dan mera, mengucur aer mata, bergemeter kerna merasa kaget dan takut dari lantaran itu semua perbuatan yang telah dilakuken selama saya tiada ada di ruma.

Itu saat jadi peringetan yang saya selalu tiada bisa lupa. Tuan Musschebroek, Assistent Resident suda beruntung bisa hiburken hatinya saya punya istri.

Saiya punya istri lalu buka semua lemari, supaiya officier van Justitie bisa preksa itu semuwa surat-surat, tapi antaranya tiada ada satu bisa kedapetan yang ada menetepken saya punya kesalahan.

Kutika akhirnya orang sudah dapat kesaksian, yang saya tiada berdosa, dan jadi di sini orang suda pitena pada saya dengan membikin busuk saya punya nama, buat guna politie dan saya sendiri punya kaperluan. Resident toch merasa juga perlu akan saya turut padanya ka Depok, di mana hendak dibikin pepreksaan, siapa yang suda gunaken saya punya nama.

Saiya menyaut, saya suka sekali menurut, asal saja saya punya istri pun boleh ikut, sebab sejak saya menika, belon perna satu kali saya tinggalken istri saya sendirian, dan juga saya kwatir itu perkara tiada enak nanti boleh membikin ia jadi sakit.

Resident lantas saja idzinken pada saya akan itu hal, dan di itu sore juga kira-kira jem pukul 5 kita orang brangkat, diatur seperti brikut: bermula kretanya Resident; kamudian saya punya kreta bersama saya punya istri, dijaga baek-baek oleh satu penggawe politie, dan akhirnya kretanya Assistent Resident Betawi bersama Schout. Saiya punya kreta jadi ada di tenga, dan dijaga oleh politie, seperti juga orang merasa kewatir, di tenga jalan saya nanti lari bersama saya punya istri.

Dalem perjalanan saya punya istri tiada brenti menangis, sampe saya punya pundak jadi basa dari ia punya aer mata, sebab ia tau betul saya tiada bersala. Saya merasa seperti juga saya ditawan oleh itu kaum perusuhan, dan bukan mengikut pada Resident. Malem jem pukul 8 kita orang sampe di Depok, di mana kita orang diterima dengan baek oleh pendita Benkhoff. Pada saya berduwa istri dikasi tempat di ruma samping, di sebla dapur, sebab itu rumah besar ada buat guna itu ambtenaar-ambtenaar.

Dua soldadu Jawa ada ditaro di depan saiya punya kamar. Yang satu tidur dan yang laen berjalan pegi dateng dengan membawa senjata. Orang masi kira saja saiya nanti lari, sebab laen-laen kamar toch tiada dijaga.

Pada besoknya, di waktu sore, Resident preksa satu-persatu orang perusuhan di dalem marika itu sendiri punya kamar, dan tanya pada iya orang, apa betul iya orang ada liat Raden Saleh di dalem pesta di Ratu Djaja. Itu semua orang menyaut, marika itu betul ada liat Raden Saleh, yang dadanya disertaken semua behadari kahormatan.

Resident lantas minta saya berpakean, tapi dengan tiada pake itu semua behadari, sebab dikwatir itu orang-orang kaum perusuhan nanti cuma liat saja itu bahadari, dan tiada kenalken saiya punya diri, kerna marika itu semua ada kuli-kuli yang goblok.

Kamudian, sambil unjuk pada saiya, Resident tanya pada itu orang-orang, apa saiya, adanya itu Raden Saleh yang marika itu dapat liat di dalem itu pesta, atas pertanyaan mana marika itu menyaut, bukan saiya adanya, dan saiya punya rupa pun sama sekali tiada sama seperti itu Raden Saleh yang ada di pesta.

Cuma 2 orang saja yang tau saya punya nama, yaitu saorang lelaki yang dulu suda perna liat saya di Cekini, dan saorang prempuan tua umur 60 taon, yang mengaku sambil bergemeter, ia suda liat saya di dalem itu pesta. Itu pepreksaan dibikin pada waktu malem, dan cuma ada satu lampu saja.

Besoknya Resident prenta gleda badannya itu semua perusuhan di dalem penjara (greja dan ruma sekola digunaken buat penjara sedikit tempo), dan itu orang prampuan juga ditanya kombali. Ia ini menyaut sambil menangis dan badan gemeter, ia suda kliru liat, kerna kemaren malem ada glap, sedeng ia suda tua dan matanya suda lamur; ia minta dimaafken. Resident mengucapken perkataan: “Sunggu ane sekali!”

Labi dari 26 orang yang dirante dan diiket telah ditanya, tapi semua itu menyaut satu rupa blon perna dapat liat pada saya lebi dulu dari ini waktu.

Sekarang Bassa Kollot atawa Bassa Nellot yang musti dipreksa. Ini orang mengaku, suda bangunken itu perusuhan dan kapalain itu pestadi Ratu Djaj, di mana ia suda gunaken juga saya punya nama. Saya lalu minta bicara pada Resident, pada siapa saya berkata begini: “Resident, inilah Raden Saleh, dan itu Ruden Saleh!” Saya bilang begitu bermula sambil unjuk pada diri saya sendiri dan kemudian pada itu penjahat, Bassa Kollot (Nellot).

Sasuda itu pepreksan slesse, saya balik kombali ka dalem saya punya kamar; itu soldadu jaga suda dikasi lalu, kerna dirasa suda tiada perlu lagi. Saya punya istri peluk pada saya sambil menangis. Ia bermula kira saya bakal ditutup di dalem penjara, sebab pembesar negri ada lebi percaya pada itu segala cerita justa dari itu kuli-kuli goblok.

Pada besoknya saya berdoa istri pulang ka Buitenzorg, dan membikin saya merasa amat heran pada besoknya lagi saya trima datengnya brapa banyak tuan-tuan dan nyonya, begitu juga rahayat Jawa, yang semua membri slamet pada saya akan itu pepreksaan yang bikin bersi saya punya nama. Pada semua orang itu saya kasi tau, marika itu punya pembrian slamet ada sangat menggirangkan saya punya hati, sebab itu ada jadi bukti, sobat-sobat yang saya ada punya, semuwa ada sobat-sobat yang berhati jujur dan saya hargaken sekali pikirannnya orang banyak tentang hal saya punya perjalanan; tetapi sebab saya tau betul, pada saya punya nama tiada bisa berlengket noda, maka saya pandang itu pembrian slamet tiada berguna.

Begitulah kasudahannya itu tuduhan pada saya dan saya ingin menanya, apa betul saya ada bersala. Saiya merasa sakit hati, lantaran musti ditudu kerna tiada bertrima pada satu bangsa (Olanda), pada siapa saya ada beruntung kebaean akan saya punya nama, plajaran, pendapetan dan pengatahuan. Ya, jikalu sekarang saya bisa dapat ini keadaan itu semua ada budinya bangsa Olanda, yang saya cinta sekali, dan saya punya sasuatu tetes dara yang pengabisan saya nanti gunaken buat itu bangsa jikalu ada perlunya.

Saya punya hati ada merasa sakit, kerna ditudu oleh brapa orang suda mau berhianat pada saya punya Raja (Olanda), menutup mukanya Gouvernement dan tiada bertrima pada bangsa Olanda.

Apa saya, yang suda tinggal 23 taon lamanya di Europa, di antara orang orang sopan, di sini saya musti rendaken derajatnya saiya dengan bergaulan sama itu segala bangsa dan penjahat, akan bersakutu pada itu segala kaum perusuhan buat melawan pada Gouvernement, yang sampe sekarang masi saja trus berbuwat kabaean bagi saiya?

Semuwa orang yang kenal betul pada saiya, tiada nanti mau percaiya itu hal. Sampe saya membuwang napas yang pengabisan, saya selalu nanti inget: “Hormat pada Allah, setia dan bertrima pada Raja dan Gouvernement, bagitu pun pada bangsa Olanda.”

Begitu Raden Saleh suda ceritaken itu hikayat yang sangat tiada enak bagi dirinya. Rupa-rupanya itu perkara suda bisa terjadi pada itu tukang gambar yang berjasa, cuma dari lantaran bebrapa ambtenaar suda jadi bingung dari lantaran itu keributan, dan cuma sedikit saja dugaannya, suda tudu mau berhianat pada almarhum Raden Saleh, saorang yang terhormat tinggi, yang telah bebrapa taon lamanya tinggal di Europa dan dapat anugranya Raja.

Kamudian dari pamerenta, itu bebrapa ambtenaar yang suda berlaku begitu cerobo, suda dapat tegoran yang tiada manis, tapi orang juga tentu bisa mengarti sendiri, itu perbuatan ada sangat melukaken hatinya Raden Saleh.

Demikian pada almarhum Raden Saleh suda bisa terjadi perkara yang begitu.

DIXI.


UNCOPYRIGHT

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.

Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.

Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.

Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.

Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.