API KARTINI
No. 1 · Tahun I · Juni 1959
Kolofon
Berdasarkan arsip dari: langka.logosid.app
API KARTINI
No. 1 · Tahun I · Juni 1959
Penerbit:
Yayasan Melati
Matraman Raya 51, Jakarta
Terbit sebulan sekali
Redaksi:
Maasye Siwi, S. Asiyah, Darmini,
Paryani Pradono
Penanggungjawab:
Maasye Siwi
Pembantu:
S.K. Trimurti, Rukiah Kertapati,
Sugiarti Siswadi, Mr. Trees Sunito,
Sulami, Rukmi B. Resobowo,
Sartini, Sulistyowarni, Sutarni,
Siti Suratih, Sujinah
Ilustrator:
W. Nirahuwa
Alamat Redaksi:
Matraman Raya 51, Jakarta
Tilp.: Jtn 753
Alamat Administrasi:
Kramat V/7, Djakarta
Tilp.: Gb 4430
Uang Langganan:
setahun Rp. 37,—
enam bulan „ 19,—
tiga bulan „ 10,—
etjeran per ex. „ 4,—
Api Kartini menerima karangan dari luar, dari siapa saja yang menaruh minat. Karangan harus ditik di atas kertas yang tidak timbalbalik, karangan yang tidak dimuat dapat dikirim kembali apabila disertai perangko.
Tarip Iklan:
1 pagina Rp. 600,—
½ pagina „ 400,—
¼ pagina „ 250,—
⅛ pagina „ 150,—
Kontrak:
6 × muat, rabat 10%
12 × muat, rabat 15%
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
MasasilaM mengandalkan partisipasi pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui masasilam.com.
MasasilaM
masasilam. com
Dekat di Mata, Dekat di Hati
ENTAH berapa kali sudah Bung Karno mengatakan “ambil apinya, jangan abunya” jika beliau membicarakan revolusi. Dalam Revolusi Agustus kita, cita-cita Kartini menemukan salah satu perwujudannya. Dari Kartini pun kita akan mengambil apinya, bukan abunya. Inilah sebabnya: Api Kartini.
Apabila kita berpisah dengan kawan yang akrab, maka pepatahnya “Jauh di mata, dekat di hati”. Tetapi, dengan suatu penerbitan yang bermaksud mengunjungi setiap ibu dan wanita dalam kehidupan rumah tangga seperti sekarang ini, ”Dekat di mata, dekat di hati”.
Tetapi ini merupakan suatu cita-cita, suatu hasrat. Karena kita masih harus berusaha dan selalu berusaha agar penerbitan ini dapat menetapi fungsinya. Hanya majalalah yang terasa dekat di hati para pembacanya, dapat menduduki tempatnya yang tepat.
Banyak sudah penerbitan,—khusunsya majalalah—, yang hidup seumurjagang. Terbit sekali, dua kali, mati seterusnya. Se-babnya tidakklain, karena majalalah itu, Walaupun dekat di mata kita,—karena dapat kita baca—, tetapi ti'yak dekat di hati pembacanya.
Kami tidak berjangdi banyak di sini. Sebab segala usaha itulah yang akan kita rasakan hasilnya bersama. Apakah ia akan menem-pati rumah dan hati pembaca atau tidak. Dan ini akan berhasil dengan se-baik-baiknya, apabila se-nantiasa ada bantuan, kritik dari pembaca.
Kami pilih nama “Api Kartini” untuk majalah ini, yang pasti tak dapat kami pisahkan dari cita-cita dan pikiran pelopor pergerakan wanita Indonesia. Yaitu, cita-cita mengangkat derajaat kaum wanita. Itulah pula sebabnya, kami bermaksud menghidangkan majalah ini pada tiap-tiap bulan.
Pada jaman modern sekarang ini, jaman kebangkitan kaum wanita, penerbitan adalah penting sekali artinya. Lebih-Lebih bagi suatu badan, seperti Yayasan Melati, yang bertujuan memajukan dan meluaskan pendidikan serta kes-capan kaum wanita dan anak-anak. Penerbitan baginya merupakan suatu keharusan, suatu kemesti-an, seperti halnya manusia mem-punyai keharusan untuk mempu-nyai perasaan dan pikiran.
Karena itulah, sebagai pengantar kata penerbitan ini, janji kita bersama—pembaca dan pembina—untuk memelihara majalah ini, sangat menentukan apakah majalah ini memenuhi fungsi “dekat di mata dan dekat di hati”.
Sekian dulu dan sampai bertemu lagi pada waktu-waktu yang tetap untuk masa yang panjang.
Sajak Kartini
Sajak ini ditulis oleh Ibu Kartini dalam bahasa Belanda dan diindonesiakan oleh Iramani.
Segi Lain dari Kartini
HINGGA kini pengetahuan kita tentang Ibu Kartini hanya berdasarkan surat-surat kepada kenalan-kenalan-nya bangsa Belanda yang terkumpul oleh mr. Abendanon dalam buku “Door duisternis tot likht”. Meskipun surat-surat dalam buku itu meliputi lebih dari 400 halaman, namun bagian terbesar belum diumumkan dan hanya surat-surat atau bagian-bagian dari isinya yang tidak dapat mengoncangkan kedudukan pemerintah Hindia Belanda sadalah yang telah diterbitkan oleh mr. Abendanon itu.
Kira-Kira lima tahun y.l., dr. H. Bouwman, mahaguru sociologi di Universitas Groningen mengumumkan beberapa hal tentang Kartini yang belum diketahui hingga saat itu. Hal-Hal baru yang disadangkan kepada kita oleh prof. Bouwman tidak begitu banyak te-tapi cukup penting untuk menambah - pengetahuan kita tentang Kartini. Oleh dr. Bouwman telah diusahakan untuk menemukan surat-surat yang sampai saat itu masih tersebunyi di dalam arsip-arsip dari famili-famili Belanda kenalan almahrhum Kartini. Usaha dr. Bouwman ini tidak berhasil terlalu besar. Banyak surat-surat yang sudah dimusnahkan dan banyak juga keluarga-keluarga di negeri Belanda yang masih menyimpan surat-surat itu tidak mau menyerahkannya untuk publikasi.
Bilha yang mengadakan penyelidikan seorang sarjana Belanda, seorang asing, kenyataan ini mengakibatkan hasil yang tidak lengkap. Tidak oleh karena dr. Bouwman mempunyai pandangan kolonial dan kolot, tetapi justru karena dia segan menyinggung perasaan-perasaan pribadi dari kalangan-kalangan bangsa kita yang bersangkutan. Maka bahan-bahan yang ditemukan olehnya belum semua diumumkan. Alangkah baiknya kalau dari pihak kita sendiri dimulai untuk menggali lebih mendalam arsip mengenai Ibu Kartini di Nederland Maupun di Indonesia. Kami yakin bahwa dengan demikian kita akan mengenal dengan lebih seksama tabiat dan cita-cita salahseorang pelopor pergerakan nasional kita itu.
Sudah selayakna bahwa Kartini dengan perhatian yang demikian luas menaruh minatnya tidak saja akan soal-soal dan peristiwa-peristiwa di Indonesia, akan tetapi juga di dunia umumnya. Ibu Kartini hidup di sekitar peralihan abad ke-19 dan abad ke-20, yaitu pada zaman meluasnya penjadahan imperialisme yang diiringi dengan peperangan-peperangan yang kejam.
Di dalam bukunya, dr. Bouwman mengutip karangan Kartini tentang pesta untuk menghormati Gubernur Jeneral:
“Aku melihat, melihat...... dan pikiranku melayang dari ja-uh dari Semarang yang sedang rama berpesta, meliwati laut yang biru ke pantai Afrika Selatan, me-dan peperangan yang berdarah, melayang ke lembah kesengsaraan yang paling hebat dengan penuh dukanestapa, penderitaan yang tak terhingga..... yang mati, yang luka, janda, piatu, korban ketamaan Inggeris yang tak kenal batas”.
Bilha perjuangan Rakyat yang tertindas di Eropa akan menarik perhatian dan simpati Kartini sudah semestinya. Salahseorang sahabat karib yang banyak surat-menyurut dengan Kartini adalah Estella Zeehandelaar, seorang wanita muda berideologi sosialis yang sangat berpengaruh atas Kartini. Di dalam karangan yang dimuat dalam majalah “De Hollandskhe Lelie”, Kartini menulis:
“Aku sangat bersimpati dengan cita-cita kaum sosialis dan aku yakin baha benar sekali kalau dalam rapat untuk membentuk korps polisi dikatakan bahwa penjahat-penjahat yang terbesar tidak terdapat di-kampung-kampung tetapi di Heeren- dan Keizersgrakht (tempat kantor-kantor kapitalis Belanda di Amsterdam, pen.).......”
Kartini juga membaca buku-buku yang progresif pada zaman itu. Kutipan-Kutipan dari buku Bebel “Wanita dan Sosialisme” dan “De wapens neer” karangan Bertha van Suttner sangat besar sumbangannyya dalam membentuk laham-laham Kartini. Roman-Roman yang bertendens kemajuan dan sosialisme sangat menarik juga minat Kartini.
Salah scorang sahabat baik Kartini adalah ir.H.H. van Kol, scorang anggota Parlemen, yang giat berusaha supaya Kartini da-pat meneruskan sekolahnya di Nederland. Tetapi usahanya tersia-tersia belaka.
Sudah diketahui umum bahwa sewaktu hidupnya Kartini mengalami banyak pertentangan. Banyak anggota keluarga yang tak dapat menanggalkan adat-adat kolot sangat tidak menyetuji faham-faham dan gerakgerik Kartini yang progresif itu. Antara lain hanya ibutirinya yang dapat mengerti faham baru itu pada akhir hidup Kartini. Sahabat Kartini, tokoh-tokoh penting seperti mr. Abendanon dan dr. Adriani yaitu scorang zendeling yang terkenal, akhirinya dengan berbagai alasan tidak setuju dengan perginya Kartini ke negeri Belanda untuk menerus-kan pelajarannya.
‘Juga tentang wafatnya Ibu Kartini, dr. Bouwman menemukan bahan-bahan yang membuktikan bahwa sebelum dan sesudah melahirkan puteranya yang pertama dan yang satu-satunya, kesehatan Kartini samasekali tidak terganggu. Rupanya, Kartini telah sembuh dari penyakit yang menimpa-nya beberapa bulan sebelumnya.
Pada tg. 12 September suami-nya, Bupati Rembang, memanggil dr. van Ravesteyn yang berkediaman di Pati. Esokharinyya lahirlah scorang putera yang skhatwalatif. Menurut Bupati Rembang, Ibu Kartini merasa senang dan sehat dan dengan tiada khatwatir sedikit pun dr. van Ravesteyn pulang ke Pati. Pada tg. 17 September datang lagi dr. van Ravesteyn dan keadaan Ibu dan anak biasa, sehat. Menurut ketel-rangan puteri dr. van Ravesteyn kepada dr. Bouwman, pada hari itu orang mengangkat gelas un-tuk kesehatan Ibu Kartini. Suasana di Kabupaten rianggembira.
Tetapi tak lama setelah dr. van Ravesteyn berangkat, dia dipanggil lagi, karena Ibu Kartini merasa sakit perutnya (maag). Rasasakit menghebat dan setengah jam kemudian Ibu Kartini yang tercinta itu meninggal dengan mendadak...... Mengapa?
Lagi tentang Kartini
Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini dan akan terbitnya majalah “Api Kartini”, redaksi telah menemui Saudara Susalit putera mendiang Kartini yang kini berdiam di sebuah rumah yang sangat sederhana di Kebayoran.
“Saya sendiri tidak mengenal Ibu, karena baru umur ampat hari sudah ditinggalkan”, demikian ia memulai menciteretakan. Ia mengatakan bahwa ibunda Kartini yang bernama Ngasirah adalah keturunan Rakyat, anak Modirono buruh paberik gula Mayong. Dalam buku-buku, dalam tulisan-tulisan hanya dinyatakan, bahwa Kartini adalah puteri bangsawan bupati Jepara. Tetapi peranan Ngasirah, ibunda Kartini yang memberikan pendidikan dan dorongan untuk mencintai Rakyat tidak pernah disinggung-singgung. Di samping bersekolah di mana Kartini banyak mengadakan hubungan surat-menyurat dengan teman-temannya di Negeri Belanda, abang-nya, Dr. Sosrokartono juga banyak mendorong pada adiknya buku-buku apa yang perlu dibaca. Kartini gemar membataya tulisan-tulisan Multatuli, demikian pula tulisan-tulisan Yustus v. Maurik yang banyak menuulis tentang penghidupan Rakyat Amsterdam. Juga buku Injil dan Qur'an dibacanya. Kartini yang ber-cita-citakan kemerdekaan, kerakyatan, dan persamaan, adalah juga seorang sastrawan, pelukis yang salahsatu lukisannya masih terdapat dikediaman Profesor Pringgodigdo di Surabaya, kemudian juga pencipta pola-pola modern untuk ukir-ukiran kayu yang banyak dikerjakan Rakyat Jepara. Ukir-Ukiran ini pun sampai sekarang masih terdapat dipendopo kabupaten Rembang.
Menurut keterangan Susalit ibunda Kartini meninggal pada tahun 1947 di Salatiga yang mencapai umur 97 tahun.
Sayang sekali bahwa catatna-catatna mendiang Kartini yang ditulisinya sendiri terbakar pada perang kolonial ke-II diawktu diadakan bumihangus di Magelang.
Alangkah berbahagianya seorang suami, bila isterinya bukan saja menyadi pengurus rumah tangga, Ibu anak-anaknya saja melainkan juga jadi sahabatnya, yang menaruh minat akan pekerjaannya, turut merasakan pekerjaannya itu. Hal yang sedemikian itu tentulah berharga benar bagi kaum laki-laki, yaitu hila ia bukan seorang yang picik pemandangannya dan angkuh.
Tokoh Hari Kartini
Kali ini kami memperkenalkan Ny. Utami Suryadarma, seorang tokoh wanita yang namanya sudah tak asing lagi bagi kaum wanita kita. Ny. Suryadarma adalah seorang Ibu dari tiga orang anak.
Sebelum perang (sebelum kawin) menerbitkan sebuah majalah wanita “Pahesan” yang berarti Cermin.
Waktu revolusi masuk organisasi Pemuda Puteri Indonesia, juga duduk dalam Badan Kongres Pemuda, untuk sementara menjadi ketua Bagian Penerangan Luarnegeri Kowani.
Waktu pendudukan Belanda (Yogya) mendirikan dapur umum untuk pejuang-pejuang gerilya dan non-kooperator-kooperator. Di samping itu mengurus tawanan-tawanan perang dan keluarga-keluarganya. Demikian juga mendirikan sekolah di bawah tanah bersama Dr. Priyono dsbnya.
Aktivitet-Aktivitetnya sekarang antara lain yalah: a. menjabat sebagai wakil ketua I Yayasan Kesejahteraan Anak-Anak dari Kongres Wanita Indonesia. b. Ketua I Badan Koordinasi Sumbangsih masyarakat. Sebagaimana diketahui Badan tsb mengirimkan rombongan-rombongan kesenian hiburan kegaris depan. c. Ketua I Komite Penggerak Seni Angkatan Perang (badan kesenian untuk ketiga Angkatan Perang). d. Ketua Panitia Garis Depan dari Persatuan Isteri AURI yang mengirimkan bingkisan-bingkisan ke Garis Depan. e. Ketua Yayasan Perlindungan Purbawisesa. Yayasan tsb. menyelenggarakan asrama-asrama pelajar puteri berdasarkan Sozial. Sampai sekarang terdapat 2 buah asrama, sebuah asrama dengan ± 80 penghuni dan sebuah dengan ± 30 penghuni. f. Ketua Bagian Pendidikan Gerakan Massa Wanita.
Sebagaimana diketahui Ny. Suryadarma adalah anggota delegasi Wanita Indonesia yang mengundungi Kongres Ibu Sedunia untuk pembelaan anak-anak, menentang peperangan, untuk perlututan persenjataan dan persaudaraan di antara Rakyat pada tahun 1955 di Lausanne (Swis).
Beliau juga anggota Komite Perdamaian Indonesia, anggota Gerakan Ibu anti-bom A & H dan anggota Pleno Dewan Setia-kawan Asia-Afrika. Pada rapat pembukaan Pekan Menentang Bom A & H pada tahun 1958 bertempat di Istana Negara Ny. Suryadarma mengucapkan pidato sebagai wakil ibu a.l. demikian:
Kami termasuk golongan yang sampai sekarang oleh masyarakat dunia belum diterima sebagai golongan yang bcleh ikut menentukan nasib umat manusia. Hanya golongan negarawan, golongan politisi, golongan militer, golongan yang berpengaruh yang berhak menjatuhkan hukuman kepada umat manusia: hidup atau matinya. Toh golongan kami merupakan golongan yang besar, yang meliputi lebih dari separo umat manusia, yang jumlahnya ja-uh lebih besar dari jumlah seluruh negarawan, politisi, militer, orang yang berpengaruh bersama. Golongan kami adalah golongan kaum Ibu.
Apabila abad ke-20 dikatakan abad Wanita maka itulah benar. Setapak demi setapak wanita mengambil tempatnya yang wajar dalam masyarakat sekitar, lalu dalam masyarakat bangsana, kemudian dalam masyarakat dunia. Bermula mula ia tampil ke muka sebagai individu yang menghadapi persoalaninya sendiri-sendiri, kemudian ia muncul dalam suatu gerak dengan sejumlah kawan sependirian dan sependapat untuk memperjuangkan nasib golong-annya, dan pada dewasa ini pada pertengahan abad kedua dunia dikonfrontasikan dengan massa wanita yang ingin didengar dalam soal-soal yang menentukan nasib dunia sendiri. Suara-Suara yang pada permulaan kedengaran sayup-sayup dan terpisah-terpisah semakin hari semakin kuat didengar dan akan menyadi suatu nyanyian bersama yang indah, suatu Simfoni yang megah: yaitu Simfoni Perikemanusiaan.
Kita berada diambang pintu masa itu. Dan apa yang menjadi penggerak Simfoni itu, apa yang menyadi penggerak jutaan hati kaum ibu? Temanya adalah sederhana akan tetapi ia menyangkut-pautkan inti kehidup-annya: yaitu pembelaan anak terhadap ancaman maut disebabkan oleh peledakan Bom Zat Air dan senjata-senjata nukler. Ancaman ini menyadi titik pertemuan dari ibu-ibu di seluruh dunia dan di dalam hal ini tidak dikenal perbedaan ideologi, aliran, agama, kulit, kebangsaan. Instinkt untuk membe-la anaknya pada seorang ibu, di-dunia binatang pun, setua dunia sendiri. Apabila anaknya dian-cam maut, seorang ibu tidak memandang apakah sipengancam itu sesama ideologinya, sesama alirannya, sesama agamanya, ia akan membela anaknya mati-matian. Ia akan membelanya dengan titik darahnya yang penghabisan. Inilah bukan suatu keajaiban, inilah soal yang biasa saja, yang sederhana.
Dan bagaimana kita kaum ibu tidak memandang peledakan bom zat air dan senjata nukler sebagai ancaman maut dan ancaman kehancuran terhadap anak-anak kita dan keturunan kita apabila para sarjana di seluruh dunia sendiri membuktikan bahaya-bahayanya dengan bukti-bukti ilmiyah?
Presiden dan Perjuangan Wanita
Dalam cerumahnya sidapan leh-h dari 3000 massa wanita Jakarta Raya yang diseleggoryakan oleh BKIS wanita-muller di Istana Negara tanggal 15 April 1953, Pres. Sukarno a.l. mengatakan: “Hanya dalam masyarakat adil dan makmur hanya dalam masyarakat sosialis, wanita dapat menyapai kebahagiaan.”
3 Tingkatan peryuangan wanita Indonesia.
Tingkatan pertama, menurut Presiden, adalah fase di mana wanita beryuang untuk mengangkat kaum-nya dari senba keterbelakangan. Dalam hubungan ini Presiden menundukkan kepada buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” oleh R.A. Kartini yang memuat kumpulan surat-surat peyuang wanita ini. Gerakan di masa itu adalah yenis gerakan wanita yg paling rendah dipandang dari segi seyarah, karena hanya mengojar penyemurnaan kewanitaan saja, seperti mongojar berbagai pengetahuan ke rumah tanggani.
Tingkatan kedua digambarkan oleh Presiden, sebagai fase di mana kaum wanita mengojar hak sama dengan kaum pria. Dalam peryuangan ini “keang-keang teryadi pertemuan-pertemuan antara wanita dan lelaki, di mana kaum lelaki merasa ha-us bercrawlawa di atas kaum wanita”.
Akan tetapi, Presiden menekankan, janganlah mereka mengira, bahwa dengan persamaan hak antara wanita dan lelaki, hasil ‘kaum wanita sudah bahagia dan sorga sudah teryayai’. Dalam hubungan ini Presiden menundukkan kepada nasio kaum wanita di Amerika dan Eropa, di mana persamaan hak sudah tercapai, tetapi kaum wanita belum menyapai kebahagiaannya.
Lebih lanyut Presiden menekankan, Sekalipun wanita sudah menyapai persamaan hak dengan kaum pria, dalam masyarakat seperti sokarang, wanita belum bahagia.
Wanita, menurut Henriette Roland Horst, demikian Presiden, adalah se-ekor keledai yang harus menarik dua grobok, sedangkan pria hanya menarik satu grobok, yalah sebagai pekerya, saja: di kantor, pabrik atau bengkel sebagai pekerya dan di rumah sebagai ibu dan isteri.
Kemudian Presiden mengambil konklusi, bahwa hanya dengan persamaan hak saja kebahagiaan tidak akan tercapai. Kemudian Bung Karno menegaskan bahwa ini tidak berarti wanita tidak boleh beryuang untuk persamaan hak dengan lelaki. Persamaan hak hanya satu elemen, satu bagian saja, syarat mutlak dari perjalan manuyud ke kebahagiaan wanita.
Hanya dalam masyarakat adil dan makmur, hanya dalam masyarakat sosialis a la Indonesia, wanita dapat menyapai kebahagiaan.
Dalam masyarakat sosialis wanita tidak usah menarik dua grobok demikian Presiden.
Akhirnya, Presiden menganjurkan agar jangan hanya puas dengan persamaan hak saja tetapi hendaklah kaum wanita sedar untuk melangkah ke tingkat yang lebih lanjut yaitu ber-samaz dengan kaum pria memperyuangkan terwuyudnya masyarakat adil dan makmur.
Beri Perhatian yang Sama pada Anak-Anak
“Bu, Ibu!”
“Ya, ada apa Nono?”
“Mimik, mik, Bu.”
Suara si kecil Nono mengganggu percakapanku yang sedang asyiknya dengan Nyonya-Rumah, Ny. Sunardi.
“mBakyu, maaf, saya perlu sebentar mengambil kan minum si Nono,” kata Ny. Nardi. Sejenak kemudian kudengar: ”Masih saja belum tidur kau Nono?” Lekas minum ini, lalu tidur sungguh ya!”
Baru saja Ny. Nardi duduk kembali, terdengar lagi suara Nono: “Bu, Ibu, kesini dong, bobok sama Nono, Nono nggak bisa tidur-tidur.”
Lagi Ny. Nardi menghampiri tempat tidur anak-nya dan berkata: “Nono, ada-ada saja, sih, lekas tidur, ada tamu, dan Ibu harus menemani tamu itu.”
Sebentar Ny. Nardi meredakan kerewelan anak-nya, setelah itu kembali ia duduk didekatku. De-ngran agak gugup, ia menanyakan: “Saya tidak mengerti, mBakyu, mengapa Nono anak saya sapihan yang berumur 4 tahun ini akhir-akhir ini makin rewel, aleman, menyadi lain dari biasanya.”
“Bagaimana sebenarnya yang Jeng maksudukan lain dari biasanya itu?” Demikianlah kita lalu sampai pada pembicaraan soal Nono.
“Begini, mBakyu, dulu dia itu samasekali tidak rewel, berjam-jam lamanya dia bisa tinggal tenang asyik ber-main-main dengan permainannya. Barti beberapa bulan ini saja dia jadi rewel. Se-olah-olah dia sekarang tidak lagi tertarik pada permainan-nya. Jika saya sedang meneteki adiknya, mendadak ia tinggalkan permainannya, dan dengan pandanganya yang ankh diam-diam ya memperhatikan segala sesuatu yang sedang saya kerjakan terhadap adiknya. Kandang-Kandang lalu ia menghampiri saya, sedang saya meneteki adiknya dia minta dipangku, mena-rrik-rrik baju saya sambil me-rengek-rengek, minta ini minta itu. Dulu tidak pernah dia berbuat demikian. Dan lagi dia sekarang tidak suka makan seperti dulu. Sedangkan dulu dengan gampangnya dia belayar makan sendiri, sekarang selalu ia minta disuapi, dan dengan susah payah saya membujukna supaya bisa makan banyak.
“Sejak kapan Nono berubah demikian itu, Jeng,” tanyaku.
“Yah, kira-kira sejak setengah tahun ini saja.”
“Adiknya, si bayek, tentunya sekarang berumur setengah tahun juga,” selaku.
“Apa hubunganya dengan adiknya si bayek, mBakyu?”
“Ya, mungkin tampaknya ankh, tetapi saya kira perubahan tingkah laku Nono itu memang ada hubungannya dengan si bayek. Cobalah Jeng pikir, sebelum si bayek lahir seluruh perhatian ibu dan bapaknya tertumpah padanya. Lalu datanglah adiknya. Anggota keluarga baru ini tentu saja menarik perhatian keluarga dan semuanya yang datang berkundung kemari, per-tama-tama si bayeklah yang sekarang menyadi pusat perhatian. Tentu saja ini menyebabkan Nono jadi iri hati.”
“mBakyu, tapi kami semuanya juga tidak melupakan Nono, tak ada sesuatu yang kekurangan buat Nono, apa yang diperlukan Nono tetap kita penuhi seperti sebelum ada adiknya…….”
“Ya, Jeng, itu saya tahu. Saya pertayya, Nono cukup mendapat segala barang kebutuhannya, permainan juga cukup bagi dia. Tetapi ada satu hal yang per-tama ia sekarang merasa kekurangan, ya-itu perhatian, tentu saja terutama perhatian dari ibu, yang sekarang ia rasakan kurang dari-pada dulu. Karena itu jugalah ia sekarang ingin lagi disuapi, dengan ini ia bermaksud akan merebut kembali peranan utama yang sekarang dipengang adiknya, ia ingin ditolong lagi oleh ibunya seperti adik bayek. Ketika ia masih ketiyil ia ditolong dan dimanjakan oleh ibu seperti adiknya sekarang. Inilah kira-kira yang menyadi tujuan Nono—tentu saja di luar kesadarannya—dengan segala perubahan tingkah-lakunya akhir-akhir ini: menyadi bayek lagi, dan dengan demikian supaya ia bisa merebut kembali perhatian ‘ibu.’”
Ny. Nardi keherenan mendengar segala kataku ini, se-olah-olah tak bisa mengerti. “Jangan-Jangan ngompolnya (kencing waktu tidur) Nono akhir-akhir ini juga ada hubungannya dengan apa yang mBakyu terangkan tadi? Akhir-Akhir ini Nono sering ngompol, padahal sebelum adiknya lahir sudah lama dia tidak pernah ngompol.”
“Ya, tentu ini ada hubungannya juga. Ngompol itu juga menandakan keinginannya kembali menyadi bayyi seperti adiknya. Jika ia ngompol tengah malam di tempat tidur, tentu ibu datang untuk menggantikan pakaiannya. Dengan demikian ia bisa menarik perhatian ibu dan diperlakukan persis seperti adiknya.”
“Yah, mBakyu, begitu sulit jadinya.”
“Ah, samasekali tidak sulit Jeng, mengatasi masalah Nono ini. Semuanya ini soal gampang, se-jak sekarang berilah Nono lebih banyak perhati-an daripada biasanya. Jika Jeng Nardi sedang menolong adiknya, panggillah dia, suruh dia memegangi adiknya, dan perlihatkanlah bahwa Jeng masih tetap menyayangi dan memperhatikan dia, Meskipun sekarang ada adiknya. Dengan sikap Jeng yang demikian ini pasti Nono akan kembali menyadi manis lagi seperti dulu.”
Beberapa bulan kemudian aku ketemu lagi de-ngan Ny. Nardi, katanya: “Betul mBakyu, semua nasehat mBakyu dulu itu. Sekarang Nono tidak lagi rewel, tidak ngompol, dan sudah suka makan sendiri. Terimakasih atas segala nasehat mBakyu.”
Agaknya Nono sekarang sudah mendapat perhatian sama dengan adiknya!
Percikan Api Kartini
Wahai, alangkah banyaknya pikiran indah kami dengan diucapkan oleh mulut Rakyat jelata. Pikiran yang mulia-mulia dan indah-indah dengan terang, dengan kata-kata yang se-hari-hari saja, akan tetapi sangat merdu bunyinya! Pikiran yang mulia-mulia itu, tiada suluitna orang mengerti dengan kata-kata sederhana, tetapi, alangkah indahnya suara dan iramanya!
Semakin dalam aku menyelam ke dalam lautan jiw-bangsa kami, semakin tinggi derajaat jiwanya itu pa-da pemandanganku.
Cobalah pergi ber-jalan-jalan berkellling dengan daku, di dalam kampung dan desa, marilah kita masuk teratak orang yang misikin-misikin, dengankanlah kata-kata mereka, pikiran mereka.....................
Tanaman dalam Rumah
Betapa pun rumah itu diatur dengan rapinya namun bila tidak diisi dengan tanam-tanaman akan terasa ada yang kurang, kurang sedap dipandangan mata. Apalagi dalam musim panas tanam-tanaman tersebut menyedukkan hawa, asri dipandang dan menimbulkan keindahan dalam rumah.
Siapa yang tidak senang dalam rumahnya ada tanam-tanaman yang diatur rapi Sekalipun rumah dan meubilernya sangat sederhana. Jadi letak seni ru-mahtangga bukannya rumah dan meubiler yang mewah, tetapi dalam cara mengaturnya. Siapa pun yang berkunjung dalam rumah yang teratur dengan rapi dengan di sana-sini ada tanam-tanaman yang menghijau akan merasa gembira.
Pot-Pot dari tanah yang sering kita pergunakan untuk tanam-tanaman supaya kelihatan menarik diberi warna dengan cat. Tetapi ini akibatnya kurang baik bagi tanaman, misalnya tanaman tersebut lekas layu. Jadi sebaiknya pot-pot tsb. tidak usah dicat. Setiap sore bila matahari sudah mulai terbenam letakkanlah pot-pot tsb. di luar dan diberi air seperlu-nya dan sesudah sementara kembalikanlah pada tempatnya.
Untuk menambah sedapnya pandangan kecuali pot-pot biasa bisa juga mempergunakan pot dengan tanaman yang merambat. Tempat untuk tanaman yang merambat tsb. bisa dibuat dari kayu atau rotan yang diserut halus atau divernis, misalnya di-tempatkan di bagian pinggir dekat kamar duduk atau kamar untuk menerima tamu.
Tentu saja di samping tanam-tanaman dalam pot, sebuah tempat bunga dengan bunga-bunga akan menyemarakkan suasana. Hiasan dinding pun tidak boleh ramai. Pasanglah sebuah lukisan di belakang tempat duduk, sebuah gambar di atas rak buku. Bila ada, boleh juga dipasang penutup lantai, tetapi ini tidak begitu mutlak.
Dengan demikian rumah saudara kelihatan sedap dan menarik.
Persediaan Obat-obatan di Rumah
Dalam tiap-tiap rumah tangga perlu ada persediaan obat-obatan yang disimpan dalam sebuah almari kecil atau dalam kotak yang digantungkan didinding. Obat-obatan tsb. adalah sangat berguna untuk keperluan-keperluan yang mendadak, misalnya anak jatuh di mana kakinya lecel perlu ada mercurokhroom; kapas, boorwater untuk mengompres mata, APC untuk mereka yang sedang sakit kepala, minyak kayuputih bila ada yang sakit perut dsbnya.
Sudah barang tentu obat-obatan tsb bersifat untuk menyegah penyakit yang ringan-ringan yang tidak memerlukan resep dari dokter. Sakit yang memerlukan pengobatan dokter harus segera dibawa ke rumahsakit atau dokter yang berdekatan.
Kecuali praktis diperlukan sehari-sehari untuk keluarga dalam rumah tangga, juga untuk memberikan bantuan se-waktu-waktu bagi orang-orang yang memerlukan bantuan pertolongan pertama. Persediaan ‘obat-obatan tsb. kerapkali perlu diperiksa apakah masih menckupi dan perlu ditambah. Pada tiap-tiap obat-obatan harus di-tempel namanya obat tsb., supaya dalam menggunakan obat tsb janggan sampai keliru, sebab akibatnya akan sangat membahayakan.
Sekiranya akan baik sekali bila anggota-anggota keluarga rumah tangga yang sudah dewasa, sedikit banyak mempunyai pengetahuan tentang kesehatan, memberikan pertolongan pertama yang elementer. Dalam carya-carya memberikan pertolongan pertama ini bisa menanyakan pada Palang Merah Indone-sia disetiap tempat, yang memang menyelenggarakan pelajaran-pelajarannya baik secara teoretis Maupun praktis.
Jadi persediaan obat-obatan itu tidak saja diperlukan di rumah tetapi juga di waktu piknik, di waktu mengadakan peristirahatan beberapa hari diluarkota, dsbnya. Pendeknya persediaan obat-obatan itu tak bisa dipisahkan dengan keperluan se-hari-hari.
Janganlah sekali-sekali memandang remeh dan menganggap tak ada perlunya menyimpan persediaan obat-obatan tsb. Ini seharusnya disedari oleh setiap orang. Sekalipun sedikit dan tak begitu lengkap namun sangat berguna. Bersedia payung sebelum hujan begitu kata pepatah.
Tempat obat-obatan tsb supaya diberi kunci atau kalau kotak dipasang didinding memasangnya supaya agak tinggi, hingga anak-anak tidak bisa mengambil begitu saja atau untuk main-main, sebab ini berbahaya. Sering pula kejadian dengan tak disengaja doos tablet diletakkan di atas meja, kemudian anak kecil mengambilnya dikiranya kembanggula. Maka untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita inginkan supaya ber-hati-hati dalam menyimpan obat-obatan.
Tempat obat-obatan itu pun bisa kita buat sendiri dari kotak bekas tempat sabun atau lainnya, dan di belakangnya diberi can-tolan supaya bisa dipasang didinding.
Bagi mereka yang belum memiliki, bisa mencoba.
Api Gerak di Benua Harapan
Kuajak pembaca memandang sejenak peta di meja... Afrika.... sebuah benua yang luas, lebih daripada Eropa benua tetangga pernah dikenal sebagai “terra in cognita”, daerah tak dikenal...... Memang banyak yang tak mengenal Afrika, terutama penjajah yang tak mau tahu tentang debaran hati Afrika, manusia-manusianya, wanita-wanitanya.
Mereka datang dan membagi-bagi Afrika, bagaikan mereka mengiris kuwi lezat, tak dirasa betapa hati Rakyat Afrika teriris berdarah bercucuran, sebagaimana halnya kita baca ada Kongo Inggris dan Belgia, Kamerun dan Senegal di Perancis jantung Afrika. Ya...... petak-petak kecil itu menggambarkan daerah-daerah yg. luas beserta manusia-manusia yg. ingin merdeka yg. kini meletakkan harapan dalam perjuangan mereka. Di bagian Utara Maroko, Tunisia dan Mesir telah membayar mahal untuk keberdakan tanahair sedang Aljazair masih dalam pergolakan berdarah. Di Selatan Afrika Selatan, Nyassa dan Kongo mengadakan perlawanan terhadap diskriminasi ras yg. menghina, pun di Kamerun, Senegal dll. api mulai mengobar hasrat untuk melepas genggam penjajah. Sudan dan Ghana telah berhasil dan Nigeria mulai meronta. Ya...... berpuluh negeri di benua Afrika kini minta perhatian dunia bahwa Gurun Sahara bukan lagi lambang ketenangan dan penyerahan, melainkan lautan pasir yang mengenal taufan meradang ingin meratakan bukit-bukit pasir menghalang menghapus garis-garis pemisah buatan manusia. Kita baca betapa di Selatan di Utara di Tengah Afrika kini sedang mengobar apa, perlawanan-perlawanan perwira di Aljazair, Jamila-Jamila yang tersebar di seluruh Afrika menimbulkan hortamsimpati kepada kita, mereka yang tak menghiraukan maut dan penjara. Kaum wanitanya mendampingi kaum pria dalam saat-saat perlawanan itu, mereka pun sebagai kita, para ibu-ibu dan istri-istri atau gadis-gadis remaja yang sedia hidup untuk cita-cita keberdakaan bangsanya, agar hari yang akan datang tak segelap malam di rimba Afrika. Cita-Cita itu menyebabkan mereka tabah menghadapi setiap rintang.
Di Kamerun...... wanita-wanita...... gadis-gadis telah menyadi korban penangkapan-penangkapan. Pada tahun 1956 mereka ikut dalam gerakan memboikot pemilihan yang dipaksakan Perancis. Mereka mengirim surat jeritan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjelaskan pembunuhan-pembunuhan kejam yang dilakukan di Kamerun. Wanita Kamerun tetap meneruskan perjuangan mereka sampai tercapai idaman mereka nanti. Di Senegal wanita bersatu dalam Gabungan Wanita Senegal pada tahun 1956, banyak persoalan yang mereka hadapi, kehidupan yang tertekuk kemiskinan sebagai negeri diyadah yadi tangan alam yang kaya, tetapi mereka tak berputus asa. Di Nigeria kaum wanita ikut serta bergerak sejak lama, pada tahun 1959 tak kurang dari 66 wanita dipenjarakan, dan pada tahun 1952 sejumlah 42 orang, tetapi mereka terus henti. Di Afrika Selatan perbedaan ras yang menghina telah menimbulkan geram hati kaum wanita, dalam demonstrasi-demonstrasi beribu kaum wanita ditangkap. Di Nyassa wanita membuktikan bahwa tanahair bisa digenggam penjadah, tetapi hati wanita Afrika tak mudah menyera.
Kejadian-Kejadian penangkapan-penangkapan di Kongo baru-baru ini telah pula menimbulkan amarah dunia tetapi hor-matsimpati kepada Rakyat dan wanita-wanita Kongo yang tabah dalam menginginkan kemerdekaan tanahair mereka.
Ya...... saudara...... memandang peta Afrika melayangkan kenangan kepada ketabahan hati para ibu-ibu dan saudara-saudara di benua tetangga yang kini masih diliputi mendung menggumpal tetapi langit cerah pun telah mulai menampak di ufuk Timur. Afrika bukan lagi benua gelap gulita suatu “terra in cognita”, tetapi benua yang kini dengan sepenuh daya ingin melepas diri dari tikaman penjadah ber-abad-abad. Jeritan di padang pasir bukan lagi jerit keputus asaan, melainkan ajakan untuk bangkit dan bergerak dengan penuh kepercayaan diri. Mereka...... para ibu-ibu dan wanita di benua harapan, benua yang sangat kaya melimpah, tetapi di mana kehidupan masih kering sekering padang pasir, mereka kaum wanita Afrika tak berputus asa. Patah tumbuh hilang bergantti, atau sebagai Aji Condobirowo dalam cerita-cerita wayang, satu jatuh seribu tumbuh...... Cita-Cita masa yang lebih bahagia telah meresap di hati yang menimbulkan beribu Jamil-Jamil di seluruh Afrika, ya bahkan Jamil-Jamil dikenal di tiap negara yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya, sebagaimana juga di Indonesia pada tahun-tahun perjuangan pertama. Wanita Afrika bergerak dengan penuh kesegaran dan kepercayaan akan kebenaran cita-cita mereka dan percaya bahwa pada akhinrya mereka akan duduk se-jajar dengan wanita-wanita di lain bagian dunia. Untuk itu mereka sedia memberikan hidup dan tenaga mereka.
Sekilas kenangan di waktu makan dalam pertemu-an-an wanita berbagai negara!
RUANG MAKAN.........!!
Kali ini ruang makan yang kuceritakan sekilas memang biasa, empat persegi panjang. Di sudut tampak bupetnya dengan wanita berpakaian putih tersenyum melayani dengan cetap dan rapi. Tak ubahnya sebagai di tiap negara...... tetapi lihat mereka yang masuk ruang ini. Bahasa apa yang mereka gunakan. “Guten Tag......!” “Bonyour......” “How do you do?” Ruang ini mulai terisi. Geme-rincing garpu dan sendok tercampur gelak ketawa dan rentetan kata-kata terhambur deras dalam lagak aneka ragam. Itu Carmen dari Spanyol sibuk membentangkan sesuatu kepada Celia dari Argentina sedang wanita muda dari Venezuela mengangguk-anggukkan kepala. Di bangku sebelahnya wanita Perancis berdebat hangat dengan teman Italia, sedang Eugenia dari Bulgaria tampak setuju.
Rupanya Slava dari Polanda tengah menceritakan tentang keadaan negerinya kepada Beatrice dari Amerika. Di sini batas-batas ilmu bumi remang-remang bercampur, Irak dan Costa Rica berjajar, Inggris, makan bersama Rumania, India sedang asyik dengan Skandinavia dan Jerman Barat dan Ti-mur berpadu dalam satu meja. Uni Sovyet dan Perancis beramahan dan banyak lagi. Dengan tersenyum kulayangkan pandang di seluruh ruangan. Ruang yang biasa kali ini istimewa dalam pandangku suatu lambang keluargaan sedunia, di mana tembok kaum wanita sedunia hancur, terserak barikadi penghalang, perbedaan kult dan jarak berjuita mil. Mereka bertanya dengan penuh per-hatian tentang gerak wanita Indonesia. Ya...... kini seluruh dunia sudah tahu nama dan arti sederetan pulau-pulau di Asia Tenggara yang bernama Indonesia.
Ruang makan semacam ini akan dijumpai dalam setiap sidang atau pertemuan dan sidang-sidang sedunia atau berbagai negara sebagai buruh, pemuda, mahasiswa dan banyak lagi pun dalam tingkat pemerintahan di PBB. Dalam ruang makan berbagai bangsa dan negara itu akan kau jumpai pula Indonesia di antara mereka, tak kalah dengan Belanda atau negeri-negeri lainnya.
Ini pernah kucitakan lebih dari sepuluh tahun yang lampau dalam bertahan di-gunung-gunung...... betapa nanti Indonesia akan bisa menyadi warga dunia yang penuh dan sejajar. Ya...... kala itu ruang makan kami adalah di bawah pohon-pohon dalam alam bebas, mendengarkan dentuman meriam harapan mendebar didada.
Bermacam ruang makan pernah kulihat, tetapi ruang makan lambang kekeluargaan wanita sedunia ini mengesan dalam meresap di hati, menimbulkan arus kepercayaan, bahwa berjuta wanita di-setiap negeri adalah teman-teman kita, bahwa mereka sama dengan kita dalam rasa keibuan dan keinginan-keinginan mereka untuk kebahagiaan keluarga dan anak-anak mereka. Bahwa setiap wanita dimana pun tak kan rela melepas puteranya untuk membunuh putera-putera sesama ibu di lain bagian dunia.
Hasrat damai adalah kehendak murni setiap hati. Ruang makan empat persegi kali ini berkesan dalam......
Silahkan Mencoba Memasak
- RAWON (Jawa Timur)
Bahan: Daging ½ kg. Daging rawonan atau tetelan ½ kg.
Bumbu: Bawang merah, bawang putih, ketumbar, laos (lengkuas), jae, garam, asam, kunyit, sepuput yuk cabe merah, 3-4 biji kluwak, jeruk purut, sere, daun brambang, daun salam.
Cara memasak: Daging dan daging rawonan (tetelan) direbus bersama dengan air yang cuikup banyak. Bumbu ditumbuk (diuleg) yang halus, terakhir kluwak diuleg sekali, digangsa bersama dengan jeruk purut dan sere/salam dengan sedikit minyak kelapa, sesudahnya bumbu tersebut dimasukkan di dalam rebusan daging tadi, ditambah dengan daun brambang yang di-potong-potong 2 cm panjangnya. Daging yang bulat dapat di-potong-potong untuk empal (digoreng), untuk dimakan bersama nasi rawon dengan dilengkapi krupuk udang, sambel trasi dengan taoge pendek mentah. Rawon ini adalah masakan Jawa Timur asli, maka mirip dengan masakan ini kita jumpai di Jawa Tengah dengan nama:
BRONGKOS Bumbunya sama dengan rawon dan setelah digangsa, ditambah santan kani (kira-kira 1 atau 2 kelapa). Gantinya daging sapi dapat dipakai daging ayam. Juga dapat ditambahkan rebusan kacang tolo atau bruine bonen (kacang coklat) tahu goreng (gembus) cabe rawit atau cabe ijo besar.
KLIO daun singkong (masakan Padang)
Bahan: Daun singkong yang muda. Cabe, kunyit, laos (lengkuas) bawang merah, bawang putih, salam, garam, sere, asam, gula, kelapa.
Cara memasak: Kelapa diambil santennya. Bumbu ditumbuk halus kemudian dimasukkan dalam sanen. Jikalau sudah mendidih masukkanlah daun singkong yang telah di-potong-potong dan dimasak sampai kental. Bertambah enak kiranya rasanya, jika kita masukkan daging atau udang.
- LUMPIA Singapura
Bahan: 1 piring ketil daging sapi rebus. 1 “ ” udang rebus. 1 “ ” ayam rebus. 2 “ ” rebung rebus. Semuanya di-potong-potong yang halus dan rebunganya dipotong yang halus panjang-panjang. 1 sendok makan seldri. 1 biji juihi. Bawang merah, bawang putih, daun bawang-muda, kecap, garam, mrica, gula, vetsin. Membikin kulitnya (dadar). Telur ayam 3-4 biji dikopyok dengan sedikit air (atau dapat ditambah dengan tepung trigu) garam sedikit, dibikin dadar tipis.
Membikin isinya:
Bawang merah dan putih digangsa dengan mentega atau minyak. Jikalau sudah setengah mateng rebungnya dimasukkan sampai menyadi lemas, serta daging-daging, bumbu, daun bawang dan selder, juhli. Dadarnya diisi satu per satu dengan masakan ini, dilipat yang rapi. Makannya pakai sla, tomat, bawang muda dengan bumbunya sbb.: Bawang putih digangsa dan diberi air kaldu (bouillon) dimasuki garam, sedikit gula, lombok merah halus, dikentalkan dengan sedikit tepung kanji.
Baju Karung
Di dunia ini ada hal-hal yang cukup aneh: orang-orang yang kulitnya ke-hitam-hitaman kepingin kulitnya putih, orang-orang yang kulitnya putih kepingin kulitnya ke-hitam-hitaman. Begitu juga yang biasanya berbaju karung atau belacu kepingin berbaju sutera. sedang yang biasanya mampu berbaju sutera atau bahan-bahan lain yang mahal-mahal kepingin berbaju karung......
DEMIKIAN, di antara mode-mode yang paling populer sekarang ini, di-mana-mana di dunia dan tak terkeyuali ditanahair kita, adalah apa yang disebut baju karung, seperti yang gambarnya sdr-sdr lihat di sini. Apakah coyok ia untuk wanita-wanita Indonesia? Apakah serasi ia bagi gadis-gadis kita? Apakah misalnya Rakyat di Madura atau Pasundan yang biasanya menganggap pinggang itu salahsatu faktor kecantikan akan senang mengenakan baju karung? Tentu, masing-masing dengan jawabna masing-masing.
“Baju karung” adalah penamaan bagi model yang umum, yaitu asal baju yang tidak berpinggang, sehingga seperti karung. Ber-puluh-puluh dan bahkan beratus variasi bisa dibikin dari “prinsip” ini dan memang begitulah kenyataannya.
Tetapi satu hal jangan mentpu kita! “baju karung” bukanlah baju yang terbuat dari karung....... Biasanya bahannya justru dibikin dari bahan yang mahal-mahal!
Akan berapa lama umur mode “karung” ini, tidak seorang pun rasanya yang mengetahui. Di negeri-negeri seperti Perancis dan Amerika, soal umur ini sangat tergantung dari perusahaan-perusahaan besar yang menarik keuntungan-keuntungan besar dari di otak-atiknya, dipulerkannya model ini atau mode itu......
Membesarkan atau mengecilkan pola
Ada yang merasa sukar jika mau membuat pakaian sedang pola yang tersedia hanya pola yang kebesaran atau kekecilan. Membesarkan atau mengecilkan pola itu samasekalii bukan pekerjaan yang sukar. Perhatikan gambar-gambar contoh di bawah ini dan sdr. akan dapat melakukannya sendiri.
Perkawinan di Tanah Pasundan
LAIN lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, kata pepatah. Dalam bahasa Sunda dikatakan: ciri sabumi cara sadesa. Apalagi jika dibandingkan dengan perkawinan orang di negara lain, di Indonesia sendiri karena terdiri dari ribuan kepulauan, dan kurang lebih 250 suku bangsa, istilah itu pun berlaku juga.
Sekali ini saudara-saudara akan kita bawa ke tanah Pasundan atau lazim juga disebut daerah Preangan yang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah.
Seperti halnya di berbagai daerah, karena pengaruh ilmu dan pergaualan kota, adat-istiadat dari nenek moyang sudah banyak yang ditinggal'kan. Hanya di kampung-kampung saja, tata-cara itu masih banyak dipakai. Itu pun disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan keluarga yang mempunyai hajat.
Beda dengan zaman sekarang, di mana perkawinan itu sebelumnya disetuji oleh pemuda dan pemudi lebih dulu, di zaman dulu pikiran untuk menyadikan 2 teruna menyadi mempelai datang dari orang tua. Orang tua pemuda datang pada orang tua gadis untuk menanyakan apakah gadis-nya masih belum ada yang punya. Perembukan ini dinamai: neundeung omong, yang artinya menaruh perkataan. Jadi tidknya perkawinan nanti-nya, tergantung dari hasil penyelidikan selanyutnya.
Pokoknya sesudah ini mulailah gadis Sunda mengalami berbagai uyian yang dilakukan atas dirinya oleh calon mertua. Bukan ujian seperti yang didapati di bangku sekolah, tetapi ujian-ujian ini berupa penyelidikan untuk mengenal sifat dan tabiat, dari perbuatan, yang—untuk kita sekarang—sudah tidak lagi masuk akal.
Mencari kutu, menurut kepercayaan orang dusun, bisa membuka tabir kelakuan sang gadis. Kalau menindas sakit, itu menyadi satu tanda bahwa gadis itu bengis terhadap suaminya. Dan kalau menindasnya suka meleset, itu tandanya bahwa ia suka mencintai laki-laki lain, dsb.
Cara ia memasak, cara ia membereskan perabot-perabot rumahtangga menyadi ukuran, apakah ia kelak pandai memberikan kesenangan kepada suaminya. Juga karena sambel menjadi makanan yang dipentingkan di samping nasi, timbullah peribahasa, bahwa wanita yang kasar tingkah lakunya, tak enak sambalnya.
Jika penyelidikan oleh mertua hasilnya memuaskan, maka akan dilanjutkan dengan pinangan atau dalam bahasa Sunda dikatakan nyereureuhan.
Arti perkataan ini sebetulnya yalah memberi sirih, dan bahasa halusnya: ngalamar, yang berasal dari kata ngalemar, yang artinya makan sirih atau mencampurkan atau menyatukan. Itulah sebabnya maka di tanah Pasundan pinangan itu dilakukan, kecual dengan membawa uang, juga dengan membawa sirih dan kawannya (jambe, gambir, kapur, dsb.).
Sejak saat itu, dikatakan orang bahwa kedua anak itu sudah bertukar tameuh atau dalam istilah sekarang bertunangan.
Beberapa hari sebelum hari pernikahan tiba (dua atau tiga sebelumnya) berlaku apa yang disebut seserahan, yaitu waktu pengantin laki-laki diserahkan kepada pengantin wanita. Biasanya ini dilakukan dengan iring-iringan yang panjang sekali. Calon mempelai laki-laki beryalan di muka, disusul di belakangnya oleh banyak keluarga dan kenalan-nya. Diantaranya ada yang membawa baki, berisi barang-barang pembawaan dari pengantin laki-laki. Pembawaan ini-umumnya berupa: uang sepuluh xali yumlah yang dibawa waktu melamar, pakaian untuk pengantin wanita dari kain sampai selen-dangniya, dan kadang-kadang juga perhiasan selengkapnya, ditambah dengan sirih dan kawannya.
Bagi orang-orang yang masih kokoh memegang adat-istiadat diadakan juga upacara ngeuyeuk seureuh, yaitu suatu upacara yang mengandung lambang nasihat bagi mereka yang akan kawin sehari sebelum hari nikah tiba. Kebiasaan ini lambat laun hanyut karena gelora zaman.
Kini sampailah saatinya menikah. Bagi golong-an yang mampu, biasanya penghulu diminta datang ke rumah, atau kedua mempelai pergi bersama-sama ke mesyid. Hadir juga pada waktu ini yalah wali dari pengantin wanita, penghulu dan dua orang saksi. Dengan disaksikan oleh wali dan saksi-saksi tsb., penghulu membacakan ijab-kabulnya sebagaimana mestinya. Dan sama halnya dengan adat-istiadat di berbagai daerah lainnya, di sini pun mereka memakai maskawin (mahar) sebagai pem-beli kesukaan sang gadis.
Setelah mempelai pulang dari mesyid, di depan pintu mereka disawer, yakni disiram dengan beras bercampur uang receh dengan kunir yang sudah di-iris-iris sambl bernyanyi. Waktu disawer, kedua mempelai itu dipayungi Biarpun hari tidak panas.
Nyawer dimaksudkan juga untuk memberi naskhat yang isi syairinya bagus sekali untuk diambil teladan, supaya kedua mempelai hidupnya penuh kedamaian dan kebahagiaan.
Payung di sini mempunyai lambang maksud, agar supaya mereka selalu berhati-hati monjaga diri. Setelah upacara nyawer selesai, di muka pin-tu atau tangga, mempelai wanita diberi tujuh batang segar (harupat) untuk dipegang, dan mempelai laki-laki memegang pelita yang mempunyai tujuh sumbu atau bagi orang bangsawan ini diganti lilin 7 buah. Keduanya berhadap-hadapan, sementara harupat itu dibakar habis menyadi abu.
Sesudah itu mempelai wanita diberi sebuah gendi berisi air mentah, dan mempelai laki-laki disruh menginjak telur dan elekan (alat tenun) yang telah disediakan di atas batu pipisan diam-bang pintu atau tangga rumah. Setelah telur dan elekan pecah, berjongkoklah mempelai wanita untuk mencuci kaki sang suami dengan air gendi tadi.
Suatu kebiasaan tradisionil yang masih dilakukan juga oleh penganten di tanah Pasundan, adalah melangkahi pakara, yaitu perkasas menenun selengkapnya, sesudah upacara mencuci kaki ini selesai.
Setelah masuk keserambi muka, mempelai wanita terus masuk ke dalam, dan mempelai laki-laki tinggal di situ menghadapi pintu yang ditutup. Di-sini seharusnya ia mengetuk pintu, tetapi oleh karena biasanya penganten itu suka malu-malu, maka ada orang lain yang mewakilinyya yang sudah biasa melakukan itu. Demikian pun fihak mempelai wanita ada yang mewakili.
Maka terjadilah soal-jawab bernyanyi antara seorang yang di dalam mewakili mempelai wanita dan seorang yang di luar mewakili mempelai laki-laki. Kemudian pintu diketuk lagi dan mempelai laki-laki membaca sebuah kalimat shayadat, dan mempelai wanita membaca sekalimat lainnya. Habis itu pintunya dibuka, dan masuklah mempelai laki-laki. Upacara ini dinamakan upacara.buka-pintu.
Setelah masuk ke dalam, kedua mempelai didudukkan di muka pajangan, yaitu tempat tidur pengantin yang sudah dihias dengan menghadapi berbagai hidangan kuweh. Juga di depan mereka disediakan panggang ayam sebuah, yang harus mereka tarik berebut, untuk memperoleh bagian yang lebih besar. Kata orang-orang tua siapa yang lebih besar bagiannya dari belahan panggang ayam itu, dialah yang besar menarik rejeki nantinya.
Upacara yang terakhir dalam rangkaian kebiasaan yang dilakukan dalam perkawinan ini adalah suap-menyuapi atau huap-lingkung kata orang Sunda.
Cara huap-lingkung itu dilakukan demikian. Kedua mempelai duduk berderet, wanita berada di sebelah kiri. Ia mengambil nasi sejumput dan disuapkan kepada suaminya tetapi tangannya harus melampau kuduk mempelai laki-laki, jadi datangnya suapan itu dari sebelah kanan. Sesudah itu, lalu pengantin laki-laki menjumput rasi dengan tangan kiri, juga dengan melalui kuduk mempelai wanita nasi itu disuapkan dari sebelah kiri. Begitu seterusnya sampai suap-menyuapi ini teryadi hingga masing-masing mendapat 2-3 suap.
Kalau ini sudah selesai, dimulai hajat walkmah, yaitu kenduri selamatannya. Dengan disertai doa dan pedato, maka upacara perkawinan sele-sailah sudah.
Bagi mempelai...... penghidupan baru menanti mereka!
Kalung
SATU-SATUNYA kenangan pusaka yang masih tinggal diingatnya, ialah suatu ingatan bahwa pernah ia ber-cica-cica: ingin menyadi permaisuri kaisar Tiongkok!
Betapa keagungan yang dilamuninya, kadang-kadang ber-jam-jam menyita waktunya untuk me-reka-reka: sebuah istana yang besar perkasa, pakaian indah aneka macam, berlian besar-besar yang menyilaukan mata, lalu duduk seharian terbenam dikasur beledu halus dan pelan dikipasi kipas bulu! Tak ada yang dikerjakan setiap hari, kecual memuat diri, mengecat muka, alis dan bibir dikaca seperti topeng. Amboi, adakah ke-nikmatan yang lebih mahal bagi wanita, selain menyadi seorang permaisuri?
Pelan-Pelan di dekatkannya mukanya ke depan cermin, di-urut-urutnya pipi yang mulai cekung menulang:—Begini jeleknya rupaku sekarang.....—ia berbisik sedih.
Sebuah gambar tentang dirinyaka kini berdiri di depannya: seorang wanita yang susut tak berdaging, berambut tipis, bermata cekung diputari lingkaran hitam, se-akan-akan membayangkan seorang pejalan jahu siang-malam yg. sudah penat kelelahan. Lama ia menatap dirinyaka. Ia kepingin terus-terang berkata dan bertanya, tapi ia selalu terbentur pada sebuah percakapan yang bengis meng-uber-uber dirinyaka:
—Begini beratinya hidup mengikutidiyejak dia! Aku sudah penat ter-seret-seret......—Engkau terlalu lemah!—Lalu? Apa yang harus ku-buat?—Engkau kurang berani ma- suk kepergolakan hidup yang meluap-meluap. Engkau selalu bimbang dan mengutuk keadaan, tapi engkau tak dapat menemukan letak persoalanmu. Tempalah dirimu sekeras baja!
Jika sebuah percakapan ini sudah datang menjalari seluruh dirinyaka, lalu terasa bahwa ia hidup tidak untuk dirinyaka seorang saja. Tidak untuk sebuah lamunan tentang permaisuri kaisar Tiongkok, tidak juga untuk di-ayun dikipasi kipas bulu, tapi untuk seluruh kehidupan yang begi-ni sibuk me-luap-luap, untuk sebuah perjalanan jahu yg. tak henti-hentinya siang dan malam......
Ditatapnya dirinyaka dikaca sekali lagi. Malu dan sedih timbul karena melihat kejelekkan rupan-ya sekarang dicermin. Tapi bagaimana ia hendak mempercan-tik dirinyaka, jika seharian penuh di-uber-uber keraya dan kebutuhan untuk menyambung hidup keluar-ga dan rumah-tangganya? Bangun sepagi ia sudah menghadapi tiga ember besar yg. penuh cuci-an. Kulit telapak tangannya yang pernah terkenal sehalus sutera, kian hari kian menjadi keras dan tebal. Pindah dari cucian, ia gesit merawat anaknya yang masih alit keci12. Kemudian lari mengatur makanan mereka dan sehari penuh ia mondar-mandir didapur. Panas api, gagang sapu dan kain pel sudah menjadi langganan tangannya yang mulai keras, kasar dan kukuh seperti tangan seorang algojo! Tak dapatkah ia mencari pembantu? Pembantu harus dibayarkan dengan uang yang mahal, sedang ia tak ada sepicis-pun uang lebih untuk dibayarkan pembantu. Ia tak mampu hidup membayarkan pembantu.
Jika malam datang dan anak-anaknya sudah rampung ditidur-kan, ia merayap pelan ‘kemeja tulis, lalu bekerjalah hingga larut dengan mata berat kantuk! Di tengah kelelahan yang melecut men-dera-dera itu, sering ia terhenti dan bertanya pada dirinyaka: me- ngapa hidup ini begini sibuk? Tak bolehkah aku mengaso barang sekejap? Tapi ada waktunya ia tak pduli pada segala pertanyanan ini. Ia berlari terus dengan hari-hari si-buknya. Sebab jika berhenti se-bentar saja, ini berarti lapar dan sakit bagi anak-anaknyia. Jika anak-anaknyia sakit, berarti ia tak bisa bekerjia malam, dan jika ia tak bisa bekerjia malam, berarti uang kebutuhan semakin susut. Ia harus bisa mencari uang tambahan dengan jalan menulis setiap malam, demi kepentingan cinta kepada anak-anaknyia.
HARI ini si Nus sakit demam. Panas badannya sungguh tinggi. Anak yang paling manis, anak kesayangananyia! Dua honorarium dari dua buah tulisannya sudah diminta, tapi jumlah itu belum cukup untuk menebus obat-obat dok-ter Siem yang begitu tinggi harganya. Apa yang harus ia perbu-at? Kaku tangannya membuka laci barang-barang simpanannya. Gi-uang bermata delima hadiah da-ri ibunyia, sudah dijual setahun yang lalu, ketika si Lies diduga kena bronkhitis. Dan enam bulan kemudian, hadiah dari abang-nya, cincin berbatu arab hiyau sudah hilang pula dijualinya. Dan semua, semua barang-barang ha-diah kepunyaannya, satu-satu pergi terjual, jika anak-anaknyia atau dia sendiri diserang penyakit. Ting-gallah satu-satunyia barang hadiah yang masih ada tersimpan dilaci itu: kalung bermata hitam! Kulung ini tak pernah ia pa-kai. Ini adalah hadiah dari Heru, seorang laki-laki yang pernah men-cintainya dan pernah menjan-jikannya bahwa ia benar-benar hen-dak menjadikannya ia: seorang permaisuri! Pada tahun-tahun empatpuluhan ia masih juga beranggapan, bahwa memang satu-satunyia kebahagiaan yang paling sempurna bagi wanita, hanyalah menyadi seorang permaisuri yang dipertuan. Alangkah nikmatnya! Waktu itu Heru menjadi se-orang C.A., kandidat amtenar! Suatu kedudukan yang sangat di-idam-idamkan para gadis di-tahun itu. Tidakkah dari seorang C.A., ia akan meningkat menjadi asisten, lalu wedana, kemungkin-an patih, dan jika ada nasib baik berjasa besar pada Belan-da, toh lama-lama ia pasti diberi pangkat bupati? Dan bupati adal-ah raja dari senantro pangkat. Bialrah ia tak mungkin menyadi permaisuri seorang kaisar Tiongkok, tapi toh ada kemungkinan menyadi permaisuri seorang bu-pati! Demikianlah di tahun itu ia asik bergaul dengan Heru, dipe-nuhi harapan dan gambaran: ka-bupaten, berlian besar-besar, tamu-tamu priayi, pesta tayuban dan bu-jang sahaya serta abdi-abdi yang jongkok me-nyembah-nyembah! Dan memang begitulah Heru melatih dia. Dimanjakannya ia seperti memanjakan sebuah bo-neka rapuh. Dilarangnya ia be-kerja keras agar tangan dan pi-pinya tetap bagus sehalus sutera. Dijaganya dan dikawalnya ke-mana ia pergi, diaturnya segala ucapan dan gerak-gerik, agar se-lalu terikat pada tali-tali peradaban seorang priayi tulen. Amboi, be-tapa tidak merdekanya hidup menyadi calon isteri amtenar! Mulailah ia membang me-mi-kir-kir. Segala tata-susila dan upa-cara kehormatan yang di-bikin-bikin itu membuat ia jemu dan sebal. Datanglah kritik dan perlawan-an.—Aku bukan barang mati seperti boneka, tapi aku suatu yg. hidup yg. harus menjalan kan praktek hidup yang wajar, se-jalan dengan gerakan dan kebi-asaan manusia umum—Tapi sementara itu berjalan-lah tahun-tahun dengan kencangnya, hingga datanglah revolusi yang berani menggilas seluruh tata-cara amtenar dan.calon amtenar dengan segala peradaban bikin-annya yang amat menyebalkan itu. Juga terhadap dirinyia. Ia terbentur pada keadaan yang amat asing dan ankh. Ia tergilas revolusi, maka ambruklah semua harapan tentang kesenangan dan kepentingan untuk dirinyia se-orang, diganti oleh segala peru-bahan yang seluruhnya meminta kebahagiaan untuk mereka yang ada di luar dirinyia. Ia berdiri di-tengah-tengah keasingan. Lalu datang-lah Maruto, seorang perajurit revolusi yang menyeret ia keluar berlari dari segala kungkungan dan tali-tali yang merantai antara dia dengan Heru, antara kepen-tingan untuk dirinyia seorang de-ngan kepentingan mereka di luar dirinyia.
Sebuah percakapan dengan Maruto telah menyeberangkan dia ke dunia lain:
—Aku perhatikan nasibmu, Tika! Bila engkau tidak dipaksa-kan belajar menelan semua ke-tegasan dan kegetiran-kegetiran di alam nyata ini, engkau akan kesasar di sekitar jalanmu yang kelam-kabut itu. Engkau telah memben-ci kegetiran masyarakat, engkau telah mendendam keburukan-keburukan bangsamu. Tapi setelah engkau berpaling jauh dari mereka, kau bimbang pula untuk mele-paskannya. Hendak ke mana eng-kau? Engkau mesti diberi paksa-an dan kekejaman untuk pele-buran seluruh engkau dan pusat akumu yang selalu ingin berkua-sa itu. Engkau mesti mengalami kehancuran dan peleburan!—
—Tapi toh aku tidak berba-haya buat engkau. Aku punya tempat yang tersendiri. Aku tak ada maksud untuk mengganggu engkau, tapi engkau pun tak usah mengganggu keamanan pikiran-ku.—
—Tapi pikiran-pikiranmu itu adalah cetakan pikiran lama. Semua kelamaan ini mesti dihancurkan untuk memiliki kebaruan!——Mesti? Kemestian-Kemestian itu haya dibuat oleh mereka yang berjiwa mesin seperti pabrik. Dan aku bukan pabrik.——Perhatianmu cuma diuntukan untuk engkau sendiri, Tika! Engkau mesti memberikan dirimu untuk yang lain.——Apakah artinya itu, Maruto?——Artinya, sekali waktu nanti kubawa engkau ke-tempat-tempat perempuan lacur, ke-gubug-gubug kotor yang berderet yang dipunyai oleh orang-orang jelek sepanyang batu kerikil, atau ke-tempat-tempat mereka yang bekerya siang-malam untuk kebaikan hari esok. Kesemuanya minta engkau berpikir. Cari-lah isi dari semua itu!——Tapi berpikir tentang hal-hal seperti itu, sama artinya dengan memperkoska keindahan yang sudah lama aku miliki. Dan jika aku begitu, engkau mau menjajah aku!——Menjajah untuk menghilangkan penjajahanan dalam dirimu yang sudah merana hilang pegangan. Dan engkau harus tahu, bahwa semua ini untuk kebaruan hari esok.——Engkau terlalu percaya dan terlalu puas akan dirimu sendiri. Padahal belum tentu itu, bahwa hidup punyamu itu yang benar.——Aku tidak puas akan diriku sendiri, tapi aku punya keyakinan. Dan engkau, tak tahukah engkau, apa sebabnya engkau runtuh dan mesti diruntuhkan? Karena engkau tidak punya keyakinan.——Yakin? Untuk apa itu, Maruto?——Untuk hidup.——Dan jika keyakinanmu itu tidak benar, lalu kita tak bisa hidup, akan tetapkah kauseret aku ke dalam penghidupanmu?——Sudah aku katakan, bahwa aku punya dua penghidupan. Satunya yang benar, itu punyaku. Dan yang lain itu, engkauolah!—Maka berjalanlah ia dari hari ke hari di samping Maruto. Dikenalna orang-orang jelek dan miskin yang dulu didendaminya. Warung kopi yang rendah, gubuk yang rapuh dan sarang-sarang pelacur-an, ditambah pula dengan seengitnya perlawanyan gerilya, mempertajam latihan praktek hidup-nya.—Kau lelah, Tika?——Tidak. Aku kepingin tahu, sampai di mana ujung jalan yang kita hadapi ini.——Masih jauh! Kau ’nycsal? Mau kembali?——Tidak. Aku sudah melebur diriku, dan akan kutempa hatiku sekeras baja.—
TANGANNYA yang kaku itu gemetar memegang kalung yang bermata hitam tadi. Lalu melintas dipikirannya, sebuah percakanan rutning yang menghabisi pertemuannya dengan Heru, si pemberi kalung itu.—Kau tahu, siapa Maruto?——Tahu.——Turunannya? Asal-usul-nya?——Aku tak butuh asal-usul-nya.——Dia orang desa, tidak berdarah priyai, bukan raden tulen dan tidak terpelajar. Hanya kebetulan saja perang, dia bisa membonceng kedudukan, yang buat kami, kedudukan itu sesungguhnya menyijikkian. Jadi serdadu!——Serdadu revolusi lebih tinggi kedudukannya dari scorang ca-lon amtenar yang pengecut.——Kau sedang mabuk, tak sedar akan keadaanmu sendiri.——Aku tidak mabuk. Aku sedar, bahwa scorang calon amtenar yang pengecut, hanyalah alat yang turut memperpanjang umur penindasan, sedang scorang serdadu revolusi dari desa adalah manusia baru yang turut membongkar dunia lama untuk dijadikannya dunia-baru.——Omongkosong! Hidupmu akan rusak ter-lunta-lunta. Tak punya gaji yang tetap, tak punya titel dan tak punya segala-gala. Kau tak akan dijadikannya scorang permaisuri, tapi scorang hambasa-haya yang penuh dengan segala kewajiiban.——Hamba-sahaya yang merdeka dan penuh dengan segala kewajiiban, lebih tinggi daripada scorang permaisuri! yang haya dimonopoli oleh scorang majikan laki-laki.——Kau tak ’kan kuat mengikut dia!——Aku akan belajar, sekali-pun aku jauh tertinggal oleh-nya. Selamat berpisah, Heru!—Ketika ia hendak mengembalikan kalung hadiahnya, Heru sudah tak ada lagi di tempatnya. Ia sudah pergi berdagang menyadi tukang catut. Untuk men-cari-cari di mana dia berada, ia tak cenpat lagi karena kesibukan yang me-ngejar-ngejar setiap harinya. Lalu terbawah kalung itu hingga sekarang, Sekalipun tak pernah ia mengenakannya. Kalung itu dilihatnya dengan teliti. Di-timang-timangnya. Apa yang hendak dibuatnya dengan kalung ini? Timbul tanya-jawab: yang ber-tarik-tarikan antara kkhormatan scorang wanita yang tinggi hati dengan kehutuhan scorang ibu yang putus-asa.—Aku jual saja kalung ini. Toh tak ada gunanyya lagi. Buat apa di-simpan-simpan?——Tapi sekali waktu, kalung itu harus kaukembalikan. Cari-lah yang lain!——Aku tak punya apa-apa lagi. Apa yang harus kucari? Baju-Baju lama? Sepatu butut? Kertas-Kertas? Oi, tak mungkin cukup buat nebus obat dan rekening dokter. Dan memang aku sudah tak punya apa-apa lagi. Kami terlalu miskin untuk merawat anak-anak kami dengan sempurna. Aku tak peduli, apakah ini melanggar kehormatan harga diri ataukah menipu? Aku harus belajar berpikir dengan praktis. Malam ini si Nus harus dapat obat dari dokter. Panasnya terlalu tinggi. Aku butuh uang!—
Ia berkemas. Dengan kaki tersaruk-tersaruk keletihan, ia menuju sebuah toko langgananyna yang bisa terima barang-barang perhiasannya.
—Kujual saja?—pikirnya—Bagaimana jika bertemu Heru? Amboi, betapa puasnya ia nanti, jika tahu bahwa aku menjual kalung hadiah kepuyaannya. Alangkah hinaan Ma-ruto di mata dia. Dianggapnya ia tak mampu memberi nafkah pada kami anak-isterinya. Padahal…… padahal jika mau, Maruto juga bisa mencari uang seperti dia. Mungkin lebih. Tapi relakah aku, jika Maruto menyadi seorang tukang catat? Mondar-mandir kiri-kanan menyadi budaknya cina-cina yang bakal memberi untung? Alangkah rendahnya! Tidak. Ia tak boleh menyadi budaknya uang. Modal satu-satunya milik Maruto hanyalah nama baik dan cita-cita. Akan diruntuhkannya modal dan keyakinan yang demikian tingginya itu di dunia?—
Lama ia berdiri tertegun di depan toko. Ia bimbang. Tapi satu keadaian telah datang dengan tiba-tiba. Ketika ia hendak melangkah masuk ke dalam, dua orang suami-isteri datang dengan muka gembira tapi kosong, se-akan-akan tak pernah ada suatu hal yang ‘pelik’ yang pernah mereka pikirkan. Suaminya gagah tapi hambar dan tinggi-hati, sedang isterinya genit tapi kurang menarik.
Terkejut ia menoleh kepada mereka.—Itulah si Heru…….—ia berbisik pelan.—Apakah yang hendak kubuat? Aku urungkan saja penjualan ini dan kukem-balikan sekarany juga? Tapi bagaimana si Nus? Obat apa yang harus ia minum malam ini? Ah, anakku malang!
Pelahan ia berpindah ke lain toko agak menyauh dari mereka. Tapi suara nyonya Heru yang cempreng itu jelas terdengar:—Sudah siap pesanan kami? Mana gelangnya? Kalungnya? Ti-dak ketukar berliannya? Awas, punyaku giwangnya bermata empat belas……
Amboi; jijiknya ia mende-ngar suara cempreng begitu.—Mas, sekalian aku belikan brosnnya yang besar, ya? Aku perlu sekali buat pergi ke-pesta-pesta!—Belilah!—Heru menjawa ringan dan somboing. Sebal ia mendengar suara Heru.—Suami yang tak bisa mendidik isteri!—bisiknya kecewa.—Sudah, mas? Ayo, bayarlah! Nanti kita terlambat pergi keca-tas……—terdengar lagi suara cempreng berbunyi. Dan sepermat jam kemudian, lenyaplah mereka dari pandangan, mening-galkan derum dan debu mobil yang amat kotornya.
—Barang ini harus kujual—putusannya.—Toh mereka tak mungkin membutuhkannya dan aku jijik menyimpannya. Se-sungguhnya, Heru betul-betul menjadi orang gagal dan tak mungkin menyadi orang!—
Sebungkusan obat-obat telah dibawanya pulang dengan lega. Selin-tas ia bandingkan antara Heru dan Maruto. Yang satu, begitu tampan, bersih, terurus dan serba mahal, tapi gelap tak ada apinyna. Sedang satunya, begitu sederha-na, rendah dan serba murah, ta-pi ia punya api yang panas meyala. Dari api itu tampak memancar seluruh keyakinannya yang dibentuk dari bangun-bangun yang didirikan atas perhitungan mate-matis. Dan sesungguhnya, api ini se-akan-akan merupakan sebuah tantangan perang bagi keamanan hidupnya dahulu sewaktu ia bercita-bercita menyadi permaisuri yang dipertuan. Dan bangun-bangun ini seperti penuh dengan ketegasan dan kegiatan hidup, di mana kegetiran ini menjadikan dia jumpa dengan kesadarannya yang ter-tinggi, yang teguh seperti baja.
Semalam, ketika ia sclesai mengompres dahi anaknya, lelaplah ke dalam kantuk. Dan dalam le-lapnya, terlihat ada cahaya fayyar menyingkap. Kabut yang mengge-lapi lautan pelan-pelan menghilang. Tampaklah awan putih kelabu menyelubungi langit biru. Dan sebentar tampaklah hilang teng-gelam, sebuah kapal yang besar berlayar!
Pelahan ia membalik kepada suaminya dan berkata:—Aku pernah ber-cita-cita menjadi permaisuri kaisar Tiongkok.—Dan tertawalah suaminya:—Di Tiongkok sekarang tak ada kaisar!—
Lelucon Perancis
Pantai Galesong, Sulawesi Selatan
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi masasilam.com untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.