HIKAYAT TANAH HINDIA
G. J. F. BIEGMAN
KOLOFON
HIKAYAT TANAH HINDIA
oleh
G.J.F. BIEGMAN
Bandar Batawi: Pertjitakan Goebernemen, 1894
Transcriber: F. Indah
Editor: F. Indah
© 2026 MasasilaM
Berdasarkan arsip dari: catatannusantara
Ilustrasi sampul: View of Mount Gede 1854, karya Franz Wilhelm Junghuhn
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
PASAL I.
PADA MENYATAKAN HAL AHWAL PULAU-PULAU HINDIA PADA ZAMAN PURBAKALA.
Adapun pulau-pulau Hindia ini didiami suatu bangsa orang yang bernama bangsa Melayu, hanya tanah Papua serta beberapa pulau yang sekelilingnya diduduki bangsa Papua. Lain dari pada pulau yang tersebut itu tanah Malaka dan pulau-pulau yang kecil di benua Australia dan pulau Madagaskar pun didiami juga oleh bangsa Melayu. Maka yang menyatakan, bahwa segala orang itu sama bangsanya, ialah warna rambutnya dan rupa mukanya dan beberapa sifat lagi yang sama; tambahan pula bahasa-bahasa orang itupun tentulah sama asalnya, boleh dikatakan serumpun. Sungguh pun orang itu sebangsa, tetapi adatnya dan kepandaiannya berlainan.
Adapun hikayat tanah Hindia yaitu hikayat bangsa, yang terlebih pandai dan yang terlebih halus adatnya, sebab ia telah bercampur dengan bangsa yang lebih pandai.
Maka orang asing yang telah mengubahkan dan membaiki adat lembaga orang Hindia, yaitu orang Hindu dan orang Arab dan orang Portugis dan orang Belanda.
Akan tetapi bukan segala bangsa Hindia berjinak-jinakan dengan orang asing itu ada yang beratus-ratus tahun di bawah hukum orang itu, umpamanya orang Jawa; ada yang jarang bertemu dengan merika-itu, ada pula yang tiada berjumpa dengan orang asing itu. Maka di antara orang yang di bawah hukum orang Hindu ada, yang terutama mengubahkan adat nenek moyangnya, yaitu yang dekat kedudukan raja Hindu tetapi yang jauh dari ibu negeri hampir tiada berubah kelakuannya, sehingga pada abad yang ketujuh belas ada lagi di pulau Jawa suatu bangsa orang, yang selalu berpindah-pindah dengan tiada tetap tempat kediamannya; bangsa itu bernama bangsa Kalang.
Hatta, maka perihal orang sini sebelumnya orang Hindu datang tiada kita ketahui: agaknya sama halnya dengan bangsa Hindia, yang sekarang lagi bodoh, tetapi mereka itu sudah pandai juga menempa besi dan bertanam padi di ladang, karena kata besi dan padi yaitu kata asli, bukan kata Hindu; kata itu lazim pada seluruh tanah Hindia; akan tetapi sebutannya tiada sama dalam segala negeri. Umpamanya “besi” dinamai oleh orang Jawa “wesi”, oleh orang Batak “besi”, oleh orang Arafura “wasai”.
Adapun agama orang pada zaman purbakala itu seperti yang tersebut di bawah ini: Pada sangka orang itu segala barang bernyawa, baik Binatang, baik tumbuh-tumbuhan, baik batu dan lain-lain; ada yang sakti, yaitu yang amat besar kuasanya, umpamanya pohon kayu yang besar dan gunung dan senjata. Apabila orang mati, maka kehidupannya di akhirat seperti di dunia ini, sebab itu orang yang kematian biasanya meletakkan makanan dan perkakas dan senjata dalam kuburan, dan lagi dibunuhnya tawanan dan hamba, supaya nyawa orang yang dibunuh itu menjadi hamba nyawa orang yang mati itu.
Demikianlah pikiran orang pada zaman dahulu itu. Sungguh pun kebanyakan orang Hindia sekarang sudah lama masuk Islam, tetapi beberapa adatnya asalnya dari pada agama yang lama itu.
Bermula; maka tiada kita ketahui, apabila orang Hindu mendapati tanah Hindia, tambahan lagi tiada juga tentu pulau-pulau yang mana mula disinggahinya; tetapi sepanjang kabar orang pada abad yang kedua pulau Jawa sudah diduduki oleh Hindu, serta dinamainya Jaba-dioe.
Jaba artinya enjelai/jelai, dioe artinya tanah; jadi Jaba-dioe artinya tanah jelai.
Maka orang Hindu seolah-olah guru kepada orang Hindia, diajarkannya rupa ilmu yang terutama sekali, yakni: menulis, main wayang dan gamelan, bersawah, membuat jalan, memahat batu hidup, membuat batu tembok. Oleh karena itu adat yang kasar dihaluskan oleh orang Hindu akan tetapi orang Hindu tiada mengajar orang Hindia dengan sengaja, melainkan orang negeri meniru pekerjaan dan adat orang asing itu.
Adapun orang Hindu bercampur dengan orang besar-besar di tanah Hindia, maka orang banyak dihinakannya amat sangat seperti hamba sahaya, di Hindustan orang terbahagi atas empat pangkat, yakni
Pertama: Orang Brahmana; dalam orang yang berpangkat demikian dipilih orang, yang akan menjadi pandita.
Kedua: Orang Ksatriya; yaitu raja dan hulubalang
Ketiga: Orang Wesya; yaitu saudagar, pemukat, orang ladang dan tukang.
Keempat: Orang Sudra; yaitu keturunan orang yang takluk.
Maka aturan ini dipindahkan oleh orang Hindu ke tanah Hindia sebab itu orang yang kebanyakan dimasukkannya pangkat Sudra. Pada persangkaan orang Brahmana orang Sudra bukan manusia; oleh karena itu membunuh orang itu bukan dosa yang besar.
Syahdan, maka agama orang Hindu ada dua macam yang terutama sekali, agama Brahma dan agama Buddha namanya.
Maka menurut agama yang pertama itu dewa Brahma yaitu pokok seluruh isi alam, maka Brahma disertai dua dewa yang besar, Wishnu dan Siwa namanya. Adapun Wishnu memeliharakan isi alam; ialah yang menguasai hujan dan air dan udara. Maka Siwa membinasakan segala sesuatu, yang diadakan oleh Brahma oleh sebab itu Siwa disamakan orang dengan api dan waktu: bukankah api membinasakan barang sesuatu yang ada, bukankah tiap barang lama kelamaan lapuk atau rusak?1
Sungguhpun Brahma dewa yang terutama sekali, tetapi banyak orang Hindu menyembah Wishnu dengan tiada mengendahkan Brahma dan Siwa; ada pula yang menghormati Siwa lebih dari pada dewa yang lain itu. Adapun berhala Siwa di pulau Jawa separuhnya mukanya hebat, separuhnya seperti orang bertapa, maka dewa yang bertapa itu dinamai orang Jawa Batira Guru. Maka istri Siwa bernama Durga, tetapi disebut oleh orang Jawa Lara Jongrang maka dewa itu memperanakkan dewa Ganesa, berhalanya seorang orang yang gemuk badannya, kepalanya kepala gajah akan alamat dewa itu berbudi dan bijaksana.
Lain dari pada dewa yang tersebut di atas ini ada lagi yang disembah oleh orang Hindu, misalnya Surya, yaitu dewa yang menguasai matahari, dan Indra, yang menjaga surga.
Maka adalah suatu adat orang yang menyembah Siwa: apabila raja atau orang besar mangkat, maka mayatnya dibakar, serta segala istri gundiknya menikam dirinya dengan keris, lalu rebah ke dalam api.
Hatta, maka nama agama Buddha asalnya dari pada orang yang membangunkan agama itu +/- 600 tahun s. b. N. I., maka orang itu anak raja, namanya Gautama, negerinya di kaki gunung Himalaya. Adapun Gautama duka cita melihat sengsara manusia, maka terbitlah niat dalam hatinya hendak membangunkan agama yang lain. Oleh karena itu dibuangkannya sekalian kesukaan dan kebesarannya, serta ia bertapa enam tahun lamanya kemudian dari pada itu ia menjadi fakir dan mengajarkan agamanya di Hindustan.
Maka Gautama digelari oleh muridnya Buddha, artinya yang mulia.
Adapun perkara agama Buddha yang terutama sekali, yakni:
Barang siapa yang membunuh nafsunya dan mengasihi segala orang, baik mulia, baik hina, dan lagi dengan sungguh-sungguh hati mengampuni dosa orang yang menganiaya dia, maka orang itulah berbahagia.
Jikalau orang manusia malang untungnya, tak dapat tiada karena ia berdosa, sebelumnya ia lahir, sebab sepanjang pikiran Buddha tiap-tiap manusia lahir beberapa kali di dunia ini apabila ia mati, maka nyawanya masuk pula ke dalam badan yang lain. Demikianlah nyawa itu berpindah dari sebuah tubuh ke dalam sebuah tubuh, hingga tiada berdosa sedikit jua pun; keniudian nyawa yang sempurna itu hilang ke dalam Brahma, seperti sungai bermuara di laut.
Supaya manusia selekas-lekasnya merasai selamat itu, haruslah dibuangkannya kesukaan dunia ini, sehingga nafsu yang jahat tiada timbul dalam hatinya.
Lagi pula Buddha hendak menghilangkan keempat pangkat orang di Hindustan, katanya: “Segala orang sama pada pemandangan Brahma, barang siapa yang suci dan lurus hatinya, ialah yang dikasihi Brahma.”
Maka Buddha biasanya mendapatkan orang yang melarat serta menghiburkan hatinya.
Arkian, maka tatkala agama Buddha dibawa ke tanah Hindia, maka Buddha sudah lama meninggal sebab itu agamanya sudah berubah dan bercampur dengan agama yang lain, pada sangka orang, Buddha yaitu dewa Wishnu, yang telah menjelma.
Syahdan, maka di tanah Jawa tengah ada tempat sembahyang candi orang Hindu, yang indah-indah separuhnya candi Siwa, separuhnya candi Buddha; maka candi Buddha yang mashyur sekali, yaitu candi Borobudur di Kedu; ada pula di Padang Darat dekat Muara Takus. Maka kebanyakan candi di pulau Jawa didirikan oleh orang, yang menyembah Siwa; yang elok sekali, yakni: candi Penataran dekat Blitar, candi yang amat banyak di gunung Dieng, candi Sewu2 dekat Prambanan di batas Surakarta dengan Yogyakarta.
Maka di tanah Jawa sebelah barat tidak ada candi, hanyalah batu bersurat dan berhala, yang buruk rupanya.
PASAL II.
HIKAYAT KERAJAAN-KERAJAAN HINDU
Bermula, maka dalam pasal yang dahulu sudah diceritakan, bahwa tiada nyata pada kita, bilamana orang Hindu datang dan dimana mula tempat kedudukannya. Adapun pokok hikayat, yang menyatakan hal tanah Hindia pada zaman purbakala, yaitu surat dan barang, yang tinggal dari pada masa itu, umpamanya surat, yang terukir pada berhala dan pada batu dan loyang yang berkeping-keping, ada juga yang tercat pada batu besar di lereng gunung. Maka surat itu sedikit saja, serta setengahnya sampai sekarang belum terpaham artinya.
Lagi pula ada banyak dongeng dan syair dari zaman dahulu; tetapi tiada berapa gunanya sebab dalam cerita itu diriwayatkan dewa-dewa Hindu dan orang yang sakti, sebagai Arjuna dan Khrisna dan Bima. Ada suatu cerita Jawa, namanya Baron Sakendar dalam cerita itu tersebutlah hikayat Moer Djang Koen, yaitu Gouverneur-Generaal Jan Pieterszoon Koen, maka surat itu dihiasi amat sangat, sehingga berlainan sekali dengan hikayat Tuan Besar Are, yang dikarangkan oleh orang Belanda.
Meskipun hikayat yang lama (babad) itu tiada benar-benar tetapi tidak ada kabar dari pada zaman dahulu yang lain; oleh karena itu di bawah ini diriwayatkan beberapa kerajaan Hindu sepanjang babad Jawa itu.
Alkisah, maka tersebutlah perkataan seorang Hindu, yang bernama Aji Saka. Maka orang itu membunuh raja di Mendang Kamulan dengan tipu daya, maka raja itu raksasa serta biasanya memakan orang dagang, yang masuk ke dalam negerinya. Kemudian Aji Saka menjadi raja di situ, maka terlalu baik pemerintahannya, dihaluskannya adat anak buahnya, dan diajarkannya tarikh Hindu dan huruf Jawa. Adapun kerajaan Mendang Kamulan tiada tentu tempatnya: entah keraton Aji Saka di Blora, entah di Prambanan.
Setelah kerajaan Mendang Kamulan hilang, maka ada pula beberapa kerajaan yang berturut-turut, yaitu kerajaan Ngastina di gunung Dieng kerajaan Daha di Madiun, kerajaan Jenggala di kabupaten Sidoarja.
Hatta, maka Raja Jenggala yang amat mashyur Lembu Hamiluhur namanya, pada masa kecilnya ia belajar di Hindustan. Maka putranya bernama Panji Ina Kerta Pati; dan menjadi pangkal beberapa cerita wayang; ia dipuji amat sangat karena beraninya dan kepandaiannya dan bijaksananya yang tiada berhingga; pada akhirnya ia mati kena tombak dalam perang dengan orang Madura.
Syahdan, setelah kerajaan Jenggala habis binasa oleh air besar dan gempa, maka raja berangkat ke tanah Jawa sebelah barat, lalu di dirikannya kerajaan Pejajaran; keratonnya di negeri Giling-Wesi dekat Cianjur3.
Maka kata sahibu'l hikayat ada seorang anak raj adi Pejajaran, Raden Tanduran namanya, maka ia pun dihalaukan oleh adiknya. Maka sekali peristiwa Raden Tanduran bertemu dengan seorang bertapa, maka orang itu memberi nasehat kepadanya, katanya: “Apabila Tuanku mendapati buah maja yang pahit rasanya, baiklah Tuanku membuat kota di situ, niscaya kota itu akan menjadi mashyur pada seluruh bumi.” — Maka pada suatu hari Raden Tanduran duduk di bawah pohon kayu, sambil di makannya buah maja; kebetulan buah itu pahit rasanya, sebab itu Raden Tanduran, terkenang akan perkataan orang bertapa itu, lalu disuruhnya pengiringnya membuat keraton di situ, maka keraton itu menjadi pangkal Majapahit.
Syahdan, maka dalam babad itupun diceritakan, bahwa Majapahit dibangunkan dalam tahun 1300, akan tetapi pada zaman ini didapati orang sekeping loyang yang bersurat, bunyinya: bahwa Maharaja Majapahit menganugerahkan sebidang tanah kepada seorang menteri pada tahun 84O, jadi tadapat tiada Majapahit didirikan orang lebih dahulu daripada tahun 1300.
Adapun sampai sekarang ada bekas keraton dan candi Majapahit dekat desa Maja-agung di kabupaten Majakerta. Meskipun berjuta-juta batu tembok sudah diambil orang akan membuat masjid dan pabrik gula dan rumah dan jalan, tetapi sekarang ini lagi ada di situ beribu-ribu juta batu terserak-serak pada sebidang tanah yang amat luas. Akan keraton Maharaja temboknya 30 kaki tingginya dan 100 kilometer kelilingnya istana yang di tengah-tongah 40 kaki tingginya kira-kira 300 menteri dan hulubalang bersama-sama dengan anak istrinya dan anak buahnya dan hambanya diam di dalam keraton itu. Lain dari pada keraton raja ada pula beberapa keraton sanak saudara Baginda.
Maka Maharaja memerintah ibu negeri dengan daerahnya saja yang selebihnya terbahagi atas beberapa bahagian, masing-masing beraja (bupati) sendirinya; maka raja itu wajib menghadap Maharajadan menghantar upeti sekali setahun, dan lagi mereka itu membantu Maharaja dalam perang.
Adapun orang besar-besar dan hulubalang dan menteri tiada makan gaji, melainkan dianugerahi Baginda sebidang tanah; tanah itu dikerjakan oleh anak buahnya, maka orang itu harus membuat pekerjaan negeri (pancen) serta mempersembahkan sebahagian hasil sawah ladangnya kepada tuannya. Maka orang negeri dikampungkan oleh kepalanya: ada perkumpulan 1000 buah cacah (isi rumah) ada yang 100 buah, ada yang 50 buah dan ada yang 25 buah cacah.
Maka nama kepala kampung orang itu sekarang juga dipakai di Sala dan di Yogya.
Demikianlah pemerintahan dalam segala Kerajaan Hindu serta dalam kerajaan Islam, yang didirikan kemudian dari pada itu di pulau Jawa.
Sebermula, maka dalam raja Hindu di tanah Hindia tidak ada, yang lebih besar dan mulia dari pada Raja Majapahit. Maka kapalnya, baik kapal perang, baik kapal perniagaan berlayar sampai ke Hindustan dan ke benua Cina pun.
Kalau orang Majapahit singgah di tanah yang asing, maka acap kali dibuatnya kampung di situ, di antara kampung itu ada yang menjadi bandar yang ramai sebab itu jajahan Majapahit bertambah-tambah luas.
Syahdan, maka tanah dan pulau yang takluk kepada Maharaja di Majapahit. yaitu tanah Jawa tongah dan tinur, pulau Bali, pulau Lombok (Selaparang), pulau Sumbawa, pulau-pulau Riau dan Lingga, Jambi, Indragiri, Palembang, Pasai (teluk Semawe) pantai pulau Berunai, pulau Banda, pulau Serang (Ceram) dan pulau Ternate.
Maka dalam hikayat Melayu diceritakan, bahwa Singapura pada masa itu amat ramai, maka negeri itu dibinasakan oleh rakyat Majapahit serta Raja Singapura, Sri Iskandar Syah lari menyeberang selat Singapura, lalu mendirikan Malaka. Setelah beberapa lamanya maka negeri itu terlalu ramai, sehingga orang dagang banyak berpindah ke situ, terutama kampung Jawa di Malaka amat luas.
Hatta, maka pada abad yang keempat belas di pulan Perca tengah adalah sebuah kerajaan Hindu; akan tetapi barang kali rajanya takluk kepada raja Jawa sebelah barat menurut batu bersurat, yang sekarang lagi ada di Tanah Datar, ada seorang raja, yang bernama Aditia Warman.
Adapun kerajaan itupun diserang oleh balatentara Majapahit setelah berperang kedua belah pihak itu beberapa lamanya, maka ditentukan oleh orang Melayu dan orang Jawa, bahwa diadunya kerbau dua ekor, maka bangsa orang itulah menang, yang kerbaunya mengalahkan kerbau yang lain. Kesudahannya kerbau Melayu menang, lalu orang Jawa pulang ke negerinya kabar orang kerajaan Melayu itupun sejak masa itu dinamai kerajaan Menangkabau atau Minangkabau.
PASAL III.
HIKAYAT KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM.
Alkisah, maka sepeninggal Nabi Mohamad pada tahun 632 orang Arab pergi menaklukkan dan meng-Islamkan bangsa orang yang sekeliling negerinya, sehingga karajaan Arab teramat besar dan mulia. Maka dengan hal yang demikian itu perniagaan orang Arab makin kembang, sehingga saudagar Arab dan Parsi sampai juga ke pulau Hindia; sungguh pun maksud orang itu hendak berniaga, tetapi dengan serajin-rajinnya mereka itu mengajarkan juga agamanya kepada orang, yang menyembah berhala dalam negeri asing. Maka acap kali disampaikannya maksudnya, karena orang Arab biasanya tolong menolong, serta mereka itu bijaksana dan panjang akal tambahan lagi diperistrinya anak orang negeri itu. Lama kelamaan orang Arab bercampur dengan pemerintahan negeri, sehingga ada juga raja di tanah Hindia, yang asalnya dari pada orang Arab, misalnya Sultan Pontianak.
Adapun orang Arab mula-mula duduk di bandar pulau Perca. Maka pada tahun 1354 sudah ada seorang raja Islam di Samudera4, Maliku'saleh namanya.
Arkian, maka pada permulaan abad yang keenambelas Raja Pedir, yang terutama sekali dalam raja Islam di pulau Perca sebelah utara, Raja Aceh pun takluk kepadanya, akan tetapi pada masa itu ada seorang Raja Aceh, Sultan Ibrahim namanya, maka ia pun dapat melepaskan dirinya, tambahan lagi Pedir dan Pasir dikalahkannya pada tahun 1524. Sejak ketika itu kerajaan Aceh makin lama bertambah besar, sehingga pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (dari tahun 1606 sampai tahun 1636) pulau Sumatera sebelah barat sampai ke Indrapura, Deli, Siak dan Johor di bawah hukum Raja Aceh. Kemudian dari pada itu pada abad yang ketujuh belas tanah Aceh diperintahkan oleh raja perempuan empat orang berturut-turut, maka kebanyakan negeri yang tersebut itu lepas pula.
Di pulau Sumatera tengah kerajaan Minangkabau yang mashyur setelah kerajaan Majapahit binasa, maka jajahan di pantai sebelah timur pulau Perca menjadi kerajaan, yaitu Palembang, Jambi dan Indragiri.
Maka kata sahibulhikayat di tanah Jawa sebelah timur Wali’ullah5 yang pertama seorang Arab, Maulana Malik lbrahim namanya; jiratnya ada juga di Gersik, dan terbuat dari pada batu pualam (kima) maka surat pada jirat itu, lain dari pada kalimat Arab, bunyinya bahwa Malik Ibrahim wafat pada 12 hari bulan Rabiulawal tarikh hijrah 822 tahun, yaitu 8 hari bulan April tarikh masehi 1419 tahun. Kabar itulah bukan agak-agak melainkan benar sungguh.
Maka beberapa lamanya Malik Ibrahim diam di Leren dekat Gersik, maka datanglah mamaknya, yaitu Raja Cermen6 hendak mengunjungi Raja Brawijaya di Majapahit akan mengislamkan Raja itu. Mula-mula Raja Majapahit mendengarkan pengajaran Raja Cermen; akan tetapi sekali peristiwa timbullah suatu penyakit, maka beberapa orang pengiring raja itu mati, demikian pun anak perempuan Raja Cermen, yang akan dinikahkannya dengan Raja Brawijaya. Sebab itu Raja Majapahit berpaling hatinya, katanya: “Orang ini ditimpa murka dewa; niscaya agamanya tiada baik." Maka kabar orang di kuburan putri Cermen itu didirikan sebuah masjid akan tanda peringatan, maka masjid itulah yang pertama di pulau Jawa.
Syahdan, maka Wali'ullah yang mashyur juga, yaitu Raden Rahmat, anak ipar Raja Brawijaya. Adapun Raden Rahmat dikasihi Maharaja, dianugerahinya Ampel (Ngampel), diberinya izin mengajarkan Islam. Maka negeri Ampel yaitu asal Surabaya.
Maka amat banyak orang datang mengaji kepadanya, serta memuji budi pekertinya dan kemurahannya dan salehnya, tambahan lagi Raden Rahmat digelarinya Susuhunan (Sunan Ampel), seorang dalam muridnya, yang mashyur sekali Raden Paku namanya, atau Sunan Giri sepanjang nama tempat kedudukannya Giri dekat Gersik. Maka keturunan Wali itupun amat besar kuasanya seraya diaku orang Jawa penghulu segala orang Islam di tanah Jawa, oleh karena itu Sunan Giri dimalui raja besar-besar.
Arkian, makin banyak orang Jawa masuk Islam, bertambah kurang kuasa Maharaja di Majapahit, sebab orang Islam itupun menjunjung titah penghulunya saja, yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang (di Tuban), Sunan Drajat di Sedayu. dan Sunan Kudus di Jepara). Maka Raden Patah ialah yang mengumpulkan orang Islam hendak membinasakan Majapahit.
Maka tersebutlah dalam babad, bahwa Raden Patah putra Brawijaya dengan seorang gundik, maka gundik itu dianugerahkan oleh Baginda kepada putranya Arya Damar di Palembang di situlah Raden Patah lahir. Setelah lahir, maka ia pun belajar kepada Raden Rahmat di Ampel maka tatkala sudah cukup pengajaran itu, maka sepanjang nasihat Raden Rahmat dibuatnya keraton, maka tempat kedudukannya itu asal negeri Demak. Sungguh pun keraton itu di daerah Maharaja Majapahit, tetapi Raden Patah tiada mau menghadap Baginda. Adapun Brawijaya tiada menitahkan rakyatnya mengusir dia, entah sebab tiada berani, entah sebab sayang akan Raden Patah. Oleh karena itu Raden Patah tiada mengindahkan Maharaja, apa lagi timbul niat dalam hatinya hendak menyerang Majapahit.
Hatta, maka selama hidupnya Sunan Ampel melarang Raden Patah melakukan niatnya; akan tetapi baru ia mangkat, maka Raden Patah bermusyawarat dengan Wali tujuh orang akan membinasakan Majapahit; akan tanda peringatan mufakat itu dibuatnya sebuah masjid di Demak, yang menjadi termashyur sekali pada seluruh tanah Jawa.
Kemudian dari pada itu Wali-wali dan Raja-raja Islam mengerahkan rakyatnya; ada yang hendak mengembangkan agama Islam, ada yang berharap melepaskan dirinya dari pada hukum Maharaja di Majapahit. Mula-mula orang Islam tiada selamat: balatanteranya kalah, habis cerai berai dekat Sedayu tetapi hulubalang Majapahit lalai dan lengah saja tiada dikejarnya musuhnya, sebab itu orang lslam dapat berkumpul pula, lalu didatanginya dan kalahkannya rakyat Majapahit. Pada akhirnya orang Islam masuk ke dalam kota Majapahit, maka negeri yang Indah-indah itu habis dibinasakannya (barangkali pada tahun 1478). Adapun babad-babad mengatakan hal Raja Majapahit tiada sama bunyinya semuanya: separuhnya mengabarkan Baginda mati, sebab dipasangnya obat bedil, ketika musuhnya masuk ke dalam keraton; separuhnya menceritakan Brawijaya lari ke sebelah timur Bersama banyak pengiringnya, lalu mendirikan sebuah kerajaan pula. Kabarnya konon dalam perang di Majapahit itu orang Jawa mula mempergunakan meriam.
Hatta, maka karena Raden Patah mengambil alat kerajaan (upacara) Majapahit, sebab itu ialah, yang diaku oleh orang Islam Maharaja serta digelarnya Sultan Demak.
Sebermula, maka tersebutlah dalam hikayat tanah Jawa, bahwa pada masa Majapahit binasa ada seorang Arab, yang bernama Syekh Nuru'ddin Ibrahim bin Maulana Israel atau Sunan Jati sepanjang nama tempat kedudukannya, yaitu bukit Jati dekat Cirebon. Adapun Sunan Jati mengajarkan agama Nabi Mohamad kepada orang Pejajaran, terlalu selamat pekerjaannya, sehingga orang itu bertambah-tambah banyak masuk Islam. Maka anaknya, Hasanuddin namanya, tiada hendak meng-Islamkan orang yang menyembah berhala dengan lemah lembut, melainkan dengan kekerasan; maka dikumpulkannya orang Islam, lalu dikepungnya ibu negeri Pejajaran dekat Bogor yang sekarang. Arkian, maka pada suatu malam rakyat Hasanuddin menaiki pagar tembok, dan mengalahkan orang Pejajaran sepanjang babad pada tahun 1481. Maka Raja Pejajaran, bersama-sama anak buahnya yang setia lari ke sebelah selatan, tetapi acapkali kemudian dari pada itu dilanggarnya negeri di batas tanah Banten. Demikianlah Pejajaran lenyap, diganti oleh tiga kerajaan, yakni: tanah Cirebon, yang diperintahkan oleh Sunan Jati, Jakarta (keresidenan Betawi), yang di bawah hukum seorang anak Sunan Jati dan Banten, yang dikuasai Pangeran Hasanuddin. Pada persangkaan orang yang paham dalam hikayat Jakarta masuk jajahan Raja Banten.
Syahdan, maka kata orang, bahwa orang Badui di tanah Banten sebelah selatan dan orang Tengger katurunan orang zaman dahulu itu, yang segan masuk agama Islam.
Maka tersebutlah perkataan kerajaan Demak selama hidup Raden Patah tanah Jawa tengah sentosa, karena perintahnya keras meskipun bupati berdengki-dengkian, tetapi tiada juga mereka itu berani berperang-perangan.
Adapun Raja Demak yang ketiga bernama Pangeran Tranggana, dibuatnya undang-undang dan ditetapkannya agama Islam, dan lagi diperanginya orang Hindu di tanah Jawa sebelah timur. Kerajaan Hindu yang terutama sekali yaitu Supit Urang (dekat Malang) dan Pasuruhan; sepanjang separuhnya babad kerajaan itu dibinasakannya setelah itu orang Hindu undur ke Blambangan (Banyuwangi) dan ke Bali.
Di pulau Bali sampai sekarang orang negeri menurut beberapa adat dan agama orang Hindu.
Arkian, maka sepeninggal Sultan Tranggana kerajaan Demak dibagi oleh anaknya dan menantunya, serta alat kerajaan Demak diperoleh Adipati Pajang7, Mas Karebet8 namanya. Adapun segala raja itu berbantah-bantahan: seorang hendak membinasakan seorang, sehingga Mas Karebet dapat mengumpulkan hampir segala negeri, yang dahulu di bawah hukum Pangeran Tranggana, maka Adipati Surabaya pun menghantar upeti kepada Mas Karebet, dan Sunan Giri mengelari dia Sultan. Akan tetapi beberapa mulia dan besar sekalipun kerajaan Sultan Mas Karebet itu, tiada juga berapa lamanya hilang lenyap juga.
Alkisah, maka adalah seorang kekasih Sultan Mas Karebet, Kiai Ageng Pamanahan namanya. Adapun orang itu membunuh Adipati Jipang dengan tipu daya, sebab itu dikaruniai negeri Mataram (Yogya) oleh Sultan. Pada masa itu hampir seluruh tanah Mataram hutan rimba saja; orang yang diam di situ hanya 300 cacah (isi rumah). Maka Kiai Ageng Pamanahan amat bijaksana dan pandai sebab itu negeri Mataram bertambah-tambah ramai, tambahan lagi beberapa raja, yang sekelilingnya membawa dirinya ke bawah hukum Raja Mataram.
Setelah Kiai Ageng Pamanahan mangkat, maka ia digantikan dengan rila Sultan Pajang oleh anaknya Mas Ngabehi Suta Wijaya.
Maka Sultan Mas Karebet belas akan Suta Wijaya, dan menjadikan dia panglima besar balatantera Pajang; sebab itu Suta Wijaya dinamai juga dalam hikayat Senapati yaitu Senapati-ing-ngalaga, artinya panglima besar dalam perang. Akan tetapi Suta Wijaya tiada juga puas hatinya, maksudnya hendak membesarkan namanya dan meluaskan negerinya. Setelah dibuatnya sebuah karaton dekat Pasar Gede9, maka ia pun bertapa di gunung Kidul serta mengaku dirinya suami Nyai Loro Kidul10, kemudian dari pada itu dihimpunkannya rakyatnya, lalu ditaklukkannya beberapa negeri.
Maka titah Sultan Pajang tiada dipedulikannya dengan tiada mengingatkan kabajikan tuannya pada akhirnya diperanginya dan dikalahkannya Sultan Mas Karebet, lalu Sultan itu ditawannya bersama-sama kaum keluarganya. Tiada lama antaranya, maka Baginda meninggal kabar orang diracun oleh Senapati.
Syahdan, maka Senapati merajakan Adipati di Demak, serta putra Mas Karebet dijadikannya Adipati Jipang; akan tetapi tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu, maka kedua raja itu berperangan, lalu Raja Pajang dibuang oleh Senapati.
Setelah itu, maka Senapati mengambil alat kerajaan, sambil ia mengaku dirinya Panembahan (Raja) Pajang.
Adapun Raja-raja Jawa masygul hatinya, sebab itu merika itu berteguh-teguhan janji hendak mengusir Senapati; maka Raja-raja itu kalah; sehingga diakunya di bawah perintah Panembahan.
Setelah itu, maka Senapati menalukkan tanah Jawa sebelah barat sampai ke Citarum; akan tetapi pemerintahannya tiada juga dengan sentosa, sebab acap kali raja-raja yang takluk durhaka kepada Yang-dipertuan. Maka tengah perang itu Demak dan Pajang binasalah. Pada akhirnya seluruh tanah Jawa menjunjung titah Panembahan Mataram, hanya Raja Banten dan Raja Blambangan yang bebas
Arkian, maka pada 1601 mangkatlah Panembahan Suta Wijaya, lalu putranya yang bungsu naik takhta kerajaan.
Adapun Raja itu bernama Mas Jolang, tetapi dalam hikayat tanah Jawa iap un dinamai Seda Krapyak, menurut nama negeri Krapyak, tempat ia meninggal s(eda).
PASAL IV.
HIKAYAT ORANG PORTUGIS DI TANAH HINDIA.
Bermula, maka pada zaman dahulu dagangan dari Hindustan dan dari benua Asia sebelah timur dibawa orang ke benua Eropa dengan kafilah melalui Afganistan, tanah Parsi, tanah Syam dan tanah Mesir di situ barang itu dimuat ke dalam kapal, lalu dikirim kepada bandar yang ramai di tepi laut Tengah, seperti Venetia dan Genua.
Maka jalan itupun terlalu susah dan Panjang, lagi dengan berbagai-bagai bahaya: saudagar itu acap kali dilanggar penyamun dan perompak. Oleh karena itu kehasilan Asia amat mahal harganya di benua Eropa, istimewa pula rempah yang dibawa dari pulau-pulau Maluku.
Adapun pada abad yang kelima belas adalah suatu bangsa orang Eropa, yang amat berani berlayar ke tanah, yang belum diketahuinya maka bangsa itu bernama orang Portugis. Maka orang itu berlayar ke sebelah selatan makin lama, makin jauh, sehingga lama kelamaan didapatinya hampir seluruh pantai barat benua Afrika.
Arkian, maka pada tahun 1486 sampailah seorang nakhoda ke ujung selatan benua Afrika, maka nama nakhoda itu Bartholomeus Diaz. Meskipun ia ingin amat sangat akan berlayar ke Hindustan, tetapi ia berbalik pulang, karena angin rebut; dan lagi karena anak kapal itu durhaka; orang itu khawatir, kalau-kalau kapalnya diterkam ikan yang hebat, atau dipecahkan oleh raksasa dan jin.
Adapun Raja Portugis amat suka cita mendengar kabar mengatakan Diaz sudah sampai ke ujung benua Afrika; maka ujung itu dinamainya Cabo de Bone Esperanza artinya Tanjung Pengharapan, sebab Baginda berharap anak buahnya tiada lama lagi akan sampai ke Hindustan, demikianlah dagangan mudah dibawa ke Eropa dari pada dengan kafilah.
Pada akhirnya seorang nakhoda, Vasco de Gama namanya, sampai ke negeri Kalikut di Hindustan dalam tahun 1498. Setelah berlabuh di situ, maka orang Portugis hendak berniaga dengan orang Hindu, tetapi maksudnya tiada boleh dilakukannya, sebab saudagar Arab dan Parsi dengki kepadanya pada sangkanya orang kulit putih itu merugikan perniagaannya.
Maka sebab hal yang demikian itu Raja Portugis berpikirlah: “Sebelum beberapa bandar yang ramai di benua Asia di bawah hukum kami, niscaya anak buah kami tiada berniaga dengan Sentosa.”
Maka dihimpunkannya beberapa kapal perang; terlalu baik kelengkapannya, maka laksamana angkatan itu bernama d'Alboquerque. Kemudian dari pada itu orang Portugis berlayar ke laut Hindia, lalu dikalahkannya Goa di Hindustan, negeri Ormus di teluk Parsi dan negeri Malaka, supaya perniagaan di Hindustan dan di tanah Parsi dan di tanah Hindia dikuasai orang Portugis.
Bahwasanya negeri Malaka amat ramai pada masa itu, lagi terlalu luas, panjangnya beberapa pal, dan lagi berkota berparit.
Maka di antara orang asing yang duduk di situ orang Jawa terlebih banyak, sebab itu Raja Jawa11 tiada membiarkan orang Portugis, melainkan mencoba menghalaukan dia.
Hatta, maka Pati Hunus Bupati Demak menyurkh kelengkapan kapal ke Malaka, kapalnya 90 buah dan rakyatnya 12000 orang.
Sungguhpun orang Portugis amat sesak, tetapi kesudahannya menang juga. Pada suatu hari kapal Jawa itu berlabuh rapat maka orangPortugis membakar sebuah kapal, lalu api berpindah-pindah ke kapal yang lain. Maka terlalu kacau-balau kapal itu semuanya: ada yang dimakan api, ada yang terdampar ada yang tenggelam berbanting-bantingan sama sendirinya yang tinggal lagi segera berlayar pulang.
Bermula, maka baru negeri Malaka di tangan orang Portugis, maka laksamana d'Abren berlayar ke pulau-pulau Maluku akan beroleh monopoli rempah di situ, yaitu: orang Maluku berjual rempah-rempah kapada orang Portugis saja, serta bangsa orang yang lain dikecualikannya.
Maka tatkala d'Abren di pulau Ambon, maka ia dihadap oleh utusan Sultan Ternate dan Sultan Tidore, yang menyampaikan permintaan Rajanya masing, mudah-mudahan orang Portugis datang ke Ternate dan Tidore akan berniaga. Maka d'Abron menerima permintaan suruhan Sultan Ternate. Setelah sampai, maka laksamana menghadap Sultan, disambutnya dengan sepertinya, diberinya izin membuat benteng dan loji12 di pulau Ternate.
Sejak ketika itu orang Portugis makin lama makin kembang kuasanya; pada beberapa pulau dibangunkannya loji dan benteng, terutama sekali di pulau Maluku; lain dari pada itu didudukinya Makassar dan pulau Berunai. Di pulau Jawa kuasanya tiada berapa besar, sebab raja pulau itu kecil hati orang Portugis berniaga di pulau Maluku; hanyalah di Banten mereka itu lama duduk, sebab negeri itu banyak menghasilkan lada.
Syahdan, maka di pulau Sumatera sabelah utara orang Portugis tiada selamat; orang Portugis bercampur dalam suatu perselisihan Raja Pedir dengan Sultan Ibrahim di Aceh, tetapi kalangkapannya dibinasakan oleh orang Aceh serta meriamnya banyak pucuk direbut musuh, dan laksamana Portugis pun mati dalam perang itu. Setelah itu maka negeri Pasai ditaklukkan oleh Sultan Ibrahim, seraya loji Portugis di situ dirusakkannya pada tahun 1524.
Maka tiada berapa lamanya orang Portugis duduk di pulau-pulau Maluku, maka datanglah orang Spanyol ke tanah Hindia.
Adapun orang itu anak buah laksamana Magelhaes13, yang bermula sekali berlayar keliling bumi dengan melalui selat Magelhaes di antara benua Amerika sebelah selatan dan Tanah Api; tatkala orang Spanyol itu sampai ke tanah Hindia, maka laksamana Magelhaes telah dibunuh oleh orang Filipinas. Maka orang Spanyol itu diterina dengan baik-baik oleh Sultan Tidore, maka orang Portugis marah, sebab monopoli rempah-remapah dilanggar oleh orang Spanyol.
Hatta, maka lama kelamaan orang Maluku dianiaya oleh orang Portugis; kebanyakan wakil Raja Portugis kurang cerdik dan lalai, seraya soldadunya loba dan bengis kelakuannya.
Dengan hal yang demikian itu orang Maluku menaruh dendam dalam hatinya kepada orang Portugis; pada akhirnya lalim orang Portugis tiada tertahan lagi sebab itu raja-raja dan orang kaya berkumpul akan membicarakan halnya itu, maka putuslah mufakatnya hendak membunuh segala orang asing itu. Maka pada hari yang tetap segala orang Portugis di pulau Maluku didatangi orang negeri hampir semuanya dibunuhnya. Rupa-rupanya kuasa orang Portugis habis lenyap, akan tetapi pada tahun 1537 ada seorang wakil Raja Portugis Galvano namanya, maka wakil itu amat pandai dan panjang akal, lagi hatinya lurus, sehingga orang Maluku dapat didamaikannya pula. Sayanglah wakil yang kemudian tiada sebagai Galvano melainkan kelakuannya seperti wakil yang dahulu.
Maka dengan hal yang demikian itu orang Belanda, yang datang ke pulau-pulau Maluku pada tahun 1598 dierima oleh orang Maluku dengan sukacita, sebab mereka itu bermusuh dengan orang Portugis. Pada tahun 160O orang Ambon berteguh-teguhan janji dengan laksamana Belanda, Van der Hagen namanya, serta meminta pertolongan akan menghalaukan orang Portugis. Sungguhpun orang Belanda sia-siang mengepung benteng Portugis tetapi orang Ambon percaya juga akan dia dan menolong membuat sebuah benteng.
Arkian, maka orang Belanda bertambah-tambah banyak berlayar ke pulau Hindia, sehingga raja muda Spanyol14 di Hindustan dan di tanah Hindia berniat akan membinasakan segala orang Belanda serta menyiksa raja-raja yang bercampur dengan orang itu.
Oleh karena itu dikumpulkannya kapal perang 30 buah di pelabuhan Goa diantara kapal itu 8 buah yang besar-besar; semuanya di bawah perintah Laksamana Mendoca. Mula kapal itu menuju haluan ke tanah Aceh; setelah sampai, maka Laksamana Mendoca meminta izin mendirikan sebuah benteng disitutetapi permintaan itu tiada dikabulkan oleh Sultan Aceh. Maka orang Portugis dan orang Spanyol itu tiada juga memerangi orang Aceh; entah karena tiada berani, entah karena kehendaknya tiada sungguh-sungguh.
Kemudian dari pada itu orang Portugis dan orang Spanyol itu mengepung negeri Banten, sambil diempangnya kapal Banten yang keluar, sebab orang Banten telah berniaga dengan orang Belanda.
Adapun pada ketika itu juga lima buah kapal Belanda berlayar di selat Sunda menuju ke Banten laksamana kelengkapan itu bernama Wolfert Harmensz. Maka terdengarlah kabar kepadanya, bahwa kapal Portugis dan Spanyol mengepung Banten.
Meskipun kapal Belanda sedikit saja lagi kecil, tetapi Laksamana Wolfert Harmensz berani juga hendak melepaskan orang Banten dari pada musuhnya. Setelah bertemu, maka kelengkapan Portugis diperangi oleh orang Belanda, maka dua buah kapal Portugis dibinasakannya. Tengah perang itu Laksamana Mendoca menujukan beberapa perahu, yang dibakar orang, kepada kapal Belanda, tetapi perahu itu dielakkannya. Pada keesokan harinya kapal Portugis meninggalkan Pelabuhan Banten, lalu berlayar ke pulau Ambon.
Maka tatkala Laksamana Mendoca sampai ke pulau Ambon, maka disuruhnya rakyatnya naik darat kemudian kampung-kampung habis dibakarnya, dibunuhnya barang siapa yang melintang, serta pohon cengkeh ditebangnya. Maka dalam pada itupun orang Belanda mengepung Malaka sebab itu Mendoca berlayar ke situ, lalu melepaskan negeri itu.
Arkian, maka bertahun-tahun lamanya lagi orang Portugis dan orang Belanda berperang-perangan, berganti-ganti menang kesudahannya pada tengah abad yang ketujuh belas orang Spanyol berpindah ke pulau-pulau Filipinas dan orang Portugis surut kepada pulau Timur sampai sekarang bahagian sebelah utara pulau itu di bawah perintah Raja Portugis.
Adapun negeri yang kemudian sekali dikalahkan oleh orang Belanda yaitu Malaka, pada tahun 1640 Malaka diserangnya.
Maka rakyat Belanda mengepung kota Malaka dengan susah payah, yang anat sangat, sebab kota itu amat teguh-teguh serta separuhnya dikelilingi rawa; tambahan lagi orang Portugis berperang dengan gagah berani. Maka kedua pihak kesangsaraan: dalam balatentara Belanda banyak orang mati kena penyakit yang berpindah-pindah dan orang Portugis kekurangan beras bekal. Setelah Malaka satu tahun lamanya terkepung, maka sebahagian pagar tembok runtuh oleh peluru meriam. Pada ketika itu orang Belanda masuk, sambil berperang terlalu ramai, pada akhirnya orang Portugis terpaksa menyerahkan dirinya (pada tahun 1641).
Demikianlah putus kuasa orang Portugisdi tanah Hindia.
Sebermula; maka orang Portugis biasanya bercampur dengan orang negeri, sambil menurut adat lembaganya ada yang membeli sebidang tanah serta beristerikan orang negeri oleh sebab itu sekarang ini di pulau Flores dan di pulau Timur banyak peranakan Portugis, yaitu keturunan orang Portugis yang dahulu kala diam di situ. Akan tetapi orang Portugis dimana-mana jua kedudukannya suka mengembangkan agama Masehi sebab itu orang Islam benci kepadanya, istimewa imam khatib.
Maka sampai sekarang banyak kata Portugis lazim dalam bahasa Melayu, misalnya: meja, kemeja, peluru, lelang dan lain-lainnya; dan lagi sampai abad yang ketujuh belas banyak orang kulit putih di Betawi berbahasa Portugis.
PASAL V.
PADA MENYATAKAN HAL AHWAL NEGERI-NEGERI DI TANAH HINDIA PADA MASA KOMPANI DIDIRIKAN
Bermula, maka dalam kitab “Pelayaran dari Singapura sampai ke Kelanten” yang terkarang oleh Abdu'llah bin Abdu'lkadir, diceritakan hal ahwal beberapa negeri Me layu di tanah Malaka.
Adapun keadaan negeri itu pada masa Abdu'llah banyak yang sama dengan, perihal negeri di tanah Hindia pada zanan dahulu, sebelum Kompani datang. Maka di antara negeri itu Bantenlah, yang terutama kita ketahui halnya, sebab pada permulann abad yang ketujuh belas negeri itu amat ramai sekarang pun ada lagi beberapa surat orang Eropa, yang duduk di situ pada masa Banten mashyur sekali.
Hatta, maka dalam surat itu diceritakan, bahwa kota Banten berpagar tembok yang bersiku-siku amat banyak; tebalnya dua kaki.
Pada tiap-tiap siku ada sebuah Meriam setengahnya berkuda kuda (bercagak), setengahnya tiada. Sepanjang tembok terdiri beberapa bangunan kayu, yang bertingkat tiga, maka antaranya dua buah bangunan kira sepelontaran pagar tembok itu berpintu gerbang tiga buah tetapi pintu itu tiada berengsel besi dan tiada juga berkunci besi, melainkan ditutup dengan eabatang palang saja, serta ditunggui banyak orang kawal malam hari sungai dan anak sungai diempang orang dengan sabatang betung
Maka dalam seluruh kota Banten hanya tiga lurung saja, pangkalnya satu-satu di pintu gerbang dan ujungnya di tanah lapang yang luas di pusat kota. Di sebelah selatan padang itu istana Raja dan istana Mangku Bumi di sebelah timur terdiri gudang senjata; di sebelah barat ada masjid raya. Rumah yang tersebut itu bertiang kayu, yang amat elok ukirannya dinding rumah sasak dan atapnya ilalang atau rumbia (nipah).
Maka sungai, yang melalui Banten, tohor; kira-kira tiga kaki dalamnya, airnya tenang lagi keruh dan busuk baunya sebab sampah segala rumah di tepinya dibuangkan orang ke dalam air, akan tetapi orang negeri mandi juga di situ.
Akan rumah orang yang kebanyakan buruk rupanya, halamannya (pekarangannya) cemar dan bersemak-semak; tiap-tiap kampung dikelilingi pagar aur duri. Sekeliling kota Banten ada pula banyak rumah sampai ke tepi laut, maka rumah itu kebanyakan didiami orang Melayu, dan orang Benggala dan orang Guzerate (di Hindustan dan orang Habesyi pun; kampung Cina disebelah darat berpagar cerucup, di sebelah laut ada rawah yang dalam. Dan lagi loji orang Portugis di kampung Cina demikian juga loji orang Belanda dan orang Inggris, yang datang ke Banten kemudian daripada orang Portugis.
Adapun dagangan bermacam-macam dibawa orang ke Banten, umpamanya: padi dan beras dari tanah Jawa dan Johor, kayu sepang dan kayu cendana dari pulau Sunda yang kecil; pala dan bunga pala dan cengkeh dari pulau Maluku; lada dari tanah Banten dan dari tanah Lampung; intan dan emas dari pulau Berunai; sutra dan piring mangkok dari benua Cina; tenunan dari Hindustan.
Satiap hari mengitam orang di pasar seperti sarang semut rupanya di bahagian sebelah kanan perempuan berjual lada, lebih kepada orang Cina baru seorang tukang lada sampai ke pasar, maka sebentar itu juga beberapa saudagar Cina datang berlari-lari dahulu-mendahului hendak membeli ada juga yang menyongsong perempuan yang pergi ke pasar. Maka orang Portugis terutama berniaga di pasar rempah dibalik pasar ikan dan daging. Lebih jauh sedikit dari situ ada lapau (warung) berlirit-lirit dan kedai, tempat di jual orang barang besi dan senjata dan barang yang indah terbuat dari kayu cendana orang amat banyak berjual kacang dan sayuran dan ayam dan itik dan unggas serba jenis, seperti burung nuri dan burung kakatua. Lebih jauh pula ada kedai orang Cina penuh dengan pelbagai sutera, kimcha, antelas, beludu sangkelat dan piring mangkok yang halus-halus; orang Arab berjual permata; orang Parsi berjual obat.
Akan pasar kain terbahagi dua: sebelah tempat perempuan, sebelah tempat laki-laki barang siapa masuk ke tempat larangan itu kena denda yang amat banyak.
Adapun orang Banten, baik orang besar-besar, baik orang kecil tiada bagus pakaiannya: seorang pun tiada berbaju, tetapi ikat pinggang orang kaya bertatahkan emas dan permata, dan kerisnya indah-indah hulunya.
Akan perkakas rumah tiada berapa macamnya yakni periuk dan tempurung dan bakul; hanya beberapa orang kaya memakai perkakas rumah buatan Cina dan Jepun.
Adapun rumah di dusun amat buruk dan kecil; pakaian laki sehelai cawat saja, orang perempuan berkain pendek hingga ke lututnya. Makanan orang itu ubi dan buah-buahan; perkakas rumah hampir tiada; permainan tiada diketahuinya dan uang pun jarang-jarang dipakai orang.
Maka perempuan sedikit saja di dusun, sebab kebanyakan berpindah ke kota Banten sepanjang adat pada masa itu makin orang besar, makin bininya dan hambanya banyak orang. Upamanya: ada suatu surat orang Eropa, yang pada zaman itu diam di Banten, mengatakan, tatkala seorang anak perempuan syahbandar15 nikah, maka ia pun diberi oleh bapaknya 50 orang budak laki-laki dan 50 orang sahaya perempuan dan 40 anak gadis dan uang 56 rupiah.
Maka orang yang kebanyakan di kota Banten bininya empat atau lima orang, tetapi ada juga yang berbini sepuluh atau dua belas orang; oleh karena itu dalam kota Banten perempuan kira-kira sepuluh kali sebanyak laki-laki.
Adapun isteri orang kaya atau bangsawan kehidupannya senang-senang; suatu pun tiada dikerjakannya, melainkan sahari-harian berbaring di balai-balai, sambil dikipas dan dipijit oleh hambanya. Suaminya tiada juga berapa pekerjaannya, hanya duduk bersila makan sirih dan bermain judi atau bersuka hati memandang hamba perempuan yang menari (tandak), sambil bunyi-bunyian dipalu orang.
Maka orang besar itupun separuhhnya amat luas sawah ladangnya, separuhhnya melepas perahu; tetapi sekalian mereka itu berjual-beli budak.
Adapun orang dusun ada dua macamnya ada yang duduk di tanah orang besar-besar, orang itu tiada boleh berpindah, seolah mereka itu masuk tanah itu, tetapi orang itu tiada boleh dijual. Orang dusun yang lain macamnya menanani tanahnya sendiri, atau menyewa sebidang tanah. Maka orang besar-besar biasanya menyewakan tanahnya kepada orang Cina, bersama-sama orang, yang duduk di situ, menjadi anak buah itu harus menurut perintah orang Cina itu dan mengerjakan tanah itu. Sebab itu lada dan padi kebanyakan diperniagakan oleh orang Cina ; lada amat banyak dihasilkan oleh tanah Banten, tetapi pada tiada cukup yang kurang dibawa dari tanah Jawa dan Johor. Apabila perahu bermuatan beras padi dirampas perompak, maka orang Banten kelaparan.
Syahdan, maka di kota Banten ada juga orang, yang milik orang besar-besar : orang laki-laki pencahariannya bertukang atau ber ayar, orang perempuan kebanyakan berjual lada di pasar.
Adapun orang besar dan orang bangsawan kuasanya ada tiga perkara, yaitu : pertama, orang itu boleh bermasyawarat dengan Raja dari hal pemerintahan negeri ; kedua, mereka itu boleh menghukum anak buahnya dengan sekahendak hatinya, asal jangan orang yang bersalah itu di bunuhnya ; ketiga, ia boleh memerangi musuhnya. Jikalau dirampasnya sebuah perahu, maka sebahagian harta benda dan tawanan dalam perahu itu harus dipersembahkan kepada Raja ; apabila Raja memerangi musuhnya, maka orang besar-besar itu wajib membantu Baginda.
Hatta, maka dengan hal yang demikian itu barang siapa yang banyak anak buahnya, ialah yang besar kuasanya maka dipilihnya dalam hambanya orang yang tegap dan kukuh badannya, lagi dengan berani, dijadikannya laskar. Kemudian orang besar yang demikian itu melangkapkan perahu lalu berlayar ke negeri yang lain. Dimana-mana anak perahu naik darat dibakarnya rumah, di bunuhnya orang yang melawan dia; kesudahannya ditawannya perempuan yang muda dan anak gadis, dibawanya pulang.
Dengan hal yang demikian itu tadapat tiada orang perompak amat banyak pada zaman itu ; oleh karena itu segala kapal dan perahu berlila atau bermeriam.
Syahdan, maka di kota Banten orang tiada juga sentosa: hampir tiap hari beberapa orang mati diamuk orang di tengah jalan, jangan dikata lagi orang yang kecurian atau kabakaran. Pada tahun 1603 banyak orang Lampung masuk ke dalam Banten, maka sebulan lamanya mereka itu berjalan berkeliling jikalau orang itu bertemu dengan orang yang seorang diri, maka tiba-tiba dikayaunya orang itu. Adapun kelakuan itu terbit dari pada suatu adat di tanah Lampung, yaitu raja menganugerahkan seorang perempuan kepada barang siapa anak buahnya, yang mempersembahkan sebuah kepala manusia.
Maka dalam pendapa orang besar-besar malam hari barang sapuluh orang berjaga dengan memakai tumbak dan parisai; tambahanlagi dalam beberapa rumah ada meriam atau lila sepucuk.
Di ujung kota banyak orang kawal berjaga malam hari; rumah penjara ditunggui lima puluh orang.
Kemudian diceritakan dari hal kuasa Raja di Banten. Mula-mula Raja itu bergelar Pangeran Ratu, lalu gelarnya Sultan.
Adapun sawah ladang Raja terlebih luas dari pada sawah ladang orang besar, serta perahunya amat banyak, sebab Raja berniaga juga. Maka Raja bersama-sama orang besar-besar menjadikan perserikatan, seraya Syahbandar melakukan perniagaan perserikatan itu. Seorang jua pun tiada boleh berjual beli, hanya dengan izin Raja dan dengan setahu Syahbandar. Apabila sebuah kapal dari negeri yang asing sampai ke Banten, maka nakhoda harus mempersembahkan daftar sekalian muatan kapal itu kepada Raja. Mula Raja yang membeli setelah itu baru orang yang lain boleh berniaga dengan nakhoda itu jadi Raja mempunyai monopoli segala macam barang dagangan. Akan barang, yang keluar dari pada Banten harganya ditentukan oleh perserikatan syahbandar dan orang besar-besar. Segala barang, yang tiada dibeli atau dijual oleh Raja kena bea, maka uang itu bersama-sama beea yang lain, umpamanya ruba2 (bea kapal yang berlabuh) sebahagiannya bagi Raja, sebahagiannya bagi syahbandar.
Syahdan, maka Raja yaitu hakim, yang memutuskan perkara orang bangsawan dan orang dagang, serta beroleh denda. Jikalau orang besar membunuh seorang budak, bangunnya 20 ringgit; kalau orang yang terbunuh itu mardahika, bangunnya 50 ringgit, dan jika orang itu bangsawan, bangunnya 100 ringgit. Jikalau orang yang telah membunuh orang-orang yang kebanyakan, niscaya ia dibunuh juga.
Dan lagi hukuman orang dagang seperti hukuman orang bangsawan.
Apabila orang Banten mati serta meninggalkan anak, yang belum berbini, maka anak bininya dan harta bendanya menjadi pusaka Raja.
Maka perkara dari hal pemerintahan negeri diputuskan oleh Raja, maka orang besar membicarakan perkara itu bersama-sama Baginda, tetapi Raja menurut nasihatnya atau tidak sebagaimana kehendaknya saja. Pada masa perang segala orang negeri, yang kokoh badannya dikerahkan, dan diperintahkan oleh hulubalang 300 orang.
Maka kapal perang 200 buah, kebanyakan dibuat di Lasem dan di Banjarmasin, separuhnya bergeladak tiga lapis. Geladak yang di atas itu tempat soldadu dan meriam, geladak yang di bawah itu tempat orang yang berdayung maka orang itu budak, yang dirantaikan di bangkunya. Sekalian kelengkapan kapal itu di bawah perintah seorang Tumenggung.
Demikianlah hal ahwal negeri Banten pada zaman itu. Sungguhpun keadaan negeri Banten diceritakan dalam pasal ini, tetapi negeri-negeri, di tanah Hindia halnya kira-kira sebagitu juga.
PASAL VI.
PADA MENYATAKAN ORANG BELANDA MULA-MULA BERLAYAR KE PULAU-PULAU HINDIA, DAN KEJADIAN KOMPANI.
Maka tatkala orang Portugis bertambah-tambah besar kuasanya di tanah Hindia, maka ibu negerinya Lisbon menjadi bandar yang ramai sekali akan tetapi bukan orang Portugis, yang membawa kehasilan tanah Hindia kepada berbagai-bagai negeri di benua Eropa, melainkan orang Belanda.
Maka pada masa itu orang Belanda berperang dengan orang Spanyol, maka perang itu 80 tahun lamanya dari tahun 1568 sampai tahun 1648 sungguhpun Raja Spanyol amat besar kuasanya, tetapi orang Belanda beruntung baik juga, terutama sebab perniagaannya ramai.
Syahdan, maka pada tahun 1578 Raja Portugis mati tengah perang maka sebab tiada ditinggalkannya anak, oleh karena itu Raja Spanyol mengaku dirinya Raja tanah Portugis.
Adapun Raja Spanyol tahu, bahwa orang Belanda amat ramai berniaga dengan orang Portugis maka disuruhnya rampas kapal Belanda di Lisbon, supaya musuhnya merugi.
Hatta, maka orang Belanda tiada putus pengharapannya, melainkan dicarinya daya upaya akan berlayar sendiri ke benua Asia.
Maka pelayaran itu amat susah, sebab tiada diketahuinya betul-betul bagaimana jalan kesana tiada orang yang telah membuat peta pelayaran itu, melainkan orang Portugis saja maka barang siapa yang mencoba mengeluarkan peta itu dari negeri Portugis disiksa amat sangat. Tambahan lagi tempat-tempat kapal singgah akan beroleh bekal-bekalan semuanya di dalam tangan orang Portugis belaka, dan kapal perang Spanyol dan Portugis banyak menjaga di laut.
Sebab itu beberapa nakhoda hendak berlayar ke sebelah utara menyusur pantai benua Asia pada sangkanya niscaya lama kelamaan sampai ke tanah Hindia akan tetapi sia-sialah pelayaran itu, karena laut di sana setengahnya beku, sehingga nakhoda itu terpaksa pulang.
Maka setelah pelayaran itu tiada menjadi, maka beberapa saudagar Belanda mengumpulkan 290,000 rupiah, ditangkapkannya kapal, yang akan berlayar ke tanah Hindia dengan melalui Tanjung Pengharapan. Dan lagi pemerintah Belanda memberikan meriam akan melawan orang Portugis dan perompak maka di kapal menumpang nakhoda Cornelis de Houtman, yang memegang perkara perniagaan.
Arkian, maka pada dua hari bulan April tahun 1595 sauh dibongkar oranglah, lalu kapal empat buah itu berlayar dari pelabuhan Tessel, kemudian menyusur pantai tanah Pransman16 dan tanah Portugis dan benua Afrika, sampai ke pulau Madagaskar. Pada ketika itu banyak anak kapal sakit sariawan, karena segala makanannya asin saja serta 71 orang sudah mati.
Syahdan, maka satu tahun dan tiga bulan lamanya sudah berlayar, baru mereka itu sampai ke Banten. Adapun Raja Banten pada masa itu lagi muda; ayahanda Baginda telah dibunuh orang tengah perang dengan orang Palembang sebab itu Mangku Bumi serta beberapa orang besar-besar menjadi wakil raja.
Demi terdengar kabar kepada Syahbandar mengatakan orang asing datang, maka ia pun mendapatkan orang Belanda; setelah tiba, maka nakhoda De Houtman ditegurnya, di tanyakannya dari mana mereka itu datang dan apakah ke hendaknya. Maka jawab nakhoda, katanya: “Ya, Tuanku! kami ini orang Belanda, maksud kami akan membeli lada dan cengkeh dan pala.”
Maka syahbandar itupun senang hati mendengar perkataan itu, lalu bermohon.
Sudah itu, maka nakhoda De Houtman serta beberapa anak kapal yang berpangkat menghadap Mangku Bumi, maka merika itu mendapat izin menyewa sebuah rumah akan tempat menaruh dagangannya.
Tatkala rumah itu selesai maka orang Banten banyak datang melihat harta benda di dalam loji; itu kadan-kadang orang besar-besar dan Mangku Bumi pun mendapatkan saudagar Belanda.
Adapun orang Portugis sakit hati orang Belanda berniaga, maka dihasutnya orang Banten dengan membusukkan nama orang Belanda.
Maka lama kelamaan orang Banten syak hati, sebab nakhoda De Houtman segan membeli lada yang lama. Dan lagi kelakuan beberapa khalasi tiada patut. Maka orang Belanda gusar juga, sebab orang Banten sudah membeli rupa-rupa barang, tetapi tiada mau membayar.
Kalakian, maka pada suatu hari Tuan De Houtman di Banten dikawani beberapa anak buahnya, maka tiba-tiba mereka itu semuanya ditawan oleh orang Banten, lalu dipenjara kannya. Maka orang Belanda yang tinggal di kapal terlalu marah mendengar kabar, mengatakan nakhoda dengan kawannya ditawan, maka ditembaknya kota Banten, dirampasnya beberapa perahu tetapi tawanan itu tiada juga dilepaskan orang.
Setelah beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka orang Belanda berdamai dengan orang Banten, serta ditebusnya tawanan itu tetapi tiada lama antaranya, maka orang Portugis memperseterukan pula orang Banten dengan orang Belanda, sehingga orang Banten berniat hendak mengamuk. Kebetulan orang Belanda maklum akan niat itu, maka malam hari dimuatkannya harta bendanya ke dalam kapalnya. Habis itu dirampasnya dua tiga buah perahu yang berisi lada akan ganti ruginya, lalu berlayar.
Maka karena kelakuan yang demikian itu seolah-olah dibenarkannya fitnah orang Portugis, yaitu orang Belanda perompak saja.
Mula-mula orang Belanda singgah di negeri Jakarta, dibelinya di situ beras dan sayur-sayuran dan bocah-buahan, tetapi rempah tiada.
Kemudian dari pada itu mereka itu sampai ke Sedayu.
Adapun orang negeri itu telah dihasut oleh suruhan orang Banten, sebab itu mereka itu menaruh khianat dalam hatinya. Pada suatu hari beberapa perahu berisi buah-buahan sampai ke kapal. Setelah anak perahu naik kapal, maka sekonyong-konyong diamuknya khalasi, dibunuhnya beberapa orang ; tetapi orang Belanda berhimpunlah, lalu dihalaukannya orang yang mengamuk itu. Maka orang Jawa banyak dibunuhnya ; yang selebihnya terjun ke dalam perahunya, maka perahu itu kebanyakkan tenggelam di pecahkan peluru meriam.
Maka di Arisbaya orang Belanda tiada juga selamat. Pada suatu hari Raja bersama-sama beberapa pengiringnya naik perahu hendak mendapatkan nakhoda De Houtman. Maka orang Belanda terkenang akan khianat orang Sedayu, serta dengan tiada memeriksa niat orang yang datang itu ditembaknya saja perahu itu, maka Raja dan beberapa anak buahnya mati.
Kemudian orang Belanda singgah di pulau Bawean dan di Blambangan, akan tetapi orang Hindu di Blambangan itu tiada sempat berniaga, sebab negerinya dikepung oleh bala tentara Raja Islam di Pasuruhan. Sebab itu orang Belanda menyeberang selat Bali di pulau itu dibelinya rupa-rupa hajat lain dari pada rempah-rempah dikehendakinya.
Setelah itu, maka mereka itu menyusur pantai sebelah Selatan pulau Jawa, kesudahannya sampai ke tanah Belanda.
Adapun pelayaran itu dua tahun empat bulan lamanya; 159 orang yang mati ; 89 orang yang pulang. Maka saudagar, yang membelanjakan uang kelengkapan itu amat banyak ruginya akan tetapi pelayaran berguna juga, karena hal ahwal tanah Jawa dan jalan kesitu sudah diketahui orang.
Arkian, maka adalah pula beberapa saudagar Belanda melangkapkan kapal delapan buah, laksamananya (Admiraal) Van Neck namanya.
Maka tatkala orang Belanda sampai ke Banten, maka mereka itu disambut dengan sepertinya, sebab pada masa itu orang Banten berbantahan dengan orang Portugis ; jadi orang Banten bersahabat dengan orang Belanda, dijualnya muatan empat buah kapal dengan harga yang sedang. Sudah itu, maka kapal yang berisi itu pulang, yang tinggal berlayar ke pulau-pulau Maluku. Disitulah orang Belanda mujur juga orang Banda dan orang Ambon dan Sultan Ternate berteguh-teguhan janji dengan orang Belanda, maka dijualnya rempah yang dikehendakinya. Setelah kapal empat buah sarat muatannya, maka laksamana menyuruh anak buahnya berlayar pulang.
Maka sejak pelayaran yang selamat itu terjadilah beberapa perserikatan saudagar, yang hendak membeli rempah-rempah di tanah Hindia. Maka perserikatan itupun dinamai oleh orang Belanda Maatschappij atau Compagnie disebut Kompani.
Adapun perserikatan itu berlomba-lomba hendak membeli rempah-rempah, oleh sebab itu harganya di tanah Hindia makin lama bertambah naik sehingga acap kali saudagar itu merugi. Dan lagi, sebab perserikatan itu sendiri saja, maka tiada dapat dilawannya orang Spanyol dan orang Portugis dan raja-raja, yang mungkir janji.
Hatta, maka sebab hal yang demikian itu pemerintah Belanda mengumpulkan perserikatan itu semuanya pada tahun 1602.
Adapun perserikatan yang besar itu namanya Vereenigde Oost-Indiskhe Compagnie, artinya perkumpulan perserikatan Hindia.
Maka perserikatan dianugerahi beberapa karunia oleh pemerintah tanah Belanda yang terutama sekali yakni:
Kapal yang lain tiada boleh berlayar ke tanah Hindia, melainkan kapal Compagnie.
Compagnie kuasa berjanji dan berperang dan berdamai dengan raja di tanah Hindia, dan boleh mendirikan benteng.
Compagnie boleh mengangkat dan melepaskan orang, yang makan gaji pada Compagnie.
Syahdan, sebab Compagnie diberi kuasa itu, maka sebahagian labanya diserahkannya kepada negeri Belanda akan membalas karunia yang tadi tambahan lagi Compagnie berjanji menolong orang Belanda dalam perang.
Tiap-tiap orang boleh meminjamkan uang kepada Compagnie, demikianlah dikumpulkan orang 6,5 juta rupiah. Maka yang memeliharakan Compagnie 17 orang; nama pangkat Tuan itu Bewindhebber.
Adapun perserikatan itu lama kelamaan amat besar kuasanya di tanah Hindia. Meskipun Compagnie itu sudah lama hilang, tetapi sampai sekarang Gouvernement (pemerintahan) Belanda dinamai juga Kompani oleh orang Hindia.
Maka maksud Kompani bukan menaklukkan negeri melainkan hendak berniaga saja; akan tetapi Kompani acap kali mau tak mau mencampuri perkara negeri di tanah Hindia, sebab raja negeri itu ada, yang bermusuh dengan Kompani, ada yang melanggar perjanjian, ada yang merompak, ada yang menolong musuhnya.
Bermula, maka angkatan, yang pertama-tama dilayarkan oleh Kompani, 11 buah kapal di bawah perintah Admiraal Van Warwijk. Pelayaran itu selamat: Tuan Van Warwijk membeli sebuah loji batu di Banten dan di Gresik, dan lagi Sultan Johor diberinya alat senjata dan obat bedil akan memerangi orang Portugis.
Lain dari pada Admiraal Van Warwijk ada pula banyak nakhoda dan laksamana Belanda, yang berjanji dengan raja-raja di Hindustan, di pulau Ceilon, dan di pulau-pulau Maluku; dalam beberapa negeri dibangunkannya loji dan benteng serta dihalaukannya orang Portugis.
Adapun untung baik itu tiada kekal adanya. Kompani ditimpa celaka di pulau Maluku, yaitu pulau Ternate dilanggar oleh orang Spanyol serta Sultan pulau itu di tawannya, karena ia pun bersahabat dengan Kompani; Admiraal Verhuff di bunuh dengan khianat oleh orang Banda; beberapa bangsa di pulau-pulau Maluku menaruh dendam dalam hatinya, sebab Kompani bersungguh-sungguh mencoba beroleh monopoli rempah. Tambahan lagi orang Spanyol dan Portugis membinasakan beberapa kapal Belanda.
Maka untung malang Kompani itu mulanya, sebab nakhoda dan kepala loji masing menurut kehendaknya sendiri karena di tanah Hindia tiada seorang kepala, yang memerintah segala orang Kompani.
Oleh sebab itu Tuan-tuan Bewindhebbers mengangkat seorang Tuan akan wakil Kompani di tanah Hindia nama pangkatnya Gouverneur-Generaal; segala loji dan benteng dan kapal dan soldadu Kompani di bawah perintahnya.
Adapun Gouverneur-Generaal-yang pertama Pieter Both namanya, lama pemerintahannya dari tahun 1610 sampai tahun1614.
Maka Gouverneur-Generaal diangkat oleh Tuan Bewindhebbers dengan rila pemerintah negeri Belanda; Gouverneur Generaal itu ditolong oleh beberapa menteri besar, pangkat Tuan itulah bernama Raad van Indi17, serta memberi nasihat kepada Tuan Besar.
Syahdan, maka Gouverneur-Generaal bersama-sama dengan Raad van Indie mengangkat dan melepaskan menteri dan panglina Kompani, dan memutuskan perkara yang terutama sekali umpamanya berperang dan berdamai dan berteguhan janji dengan raja-raja. Dan lagi Raad van Indie itu masing memeliharakan sesuatu bahagian tanah Hindia; dalam Tuan-tuan itu ada seorang, yang memegang hutang piutang tiap loji dan yang memeliharakan harta benda dalam gudang Kompani, pangkat itu Bernama Directeur-Generaal.
PASAL VII.
HIKAYAT GOUVERNEUR-GENERAAL JAN PIETERSZOON KOEN.
Alkisah, maka tatkala G. G. Both memeriksa loji di Banten dan di Jakarta, maka didapatinya kelakuan kepala loji itu kurang patut, sebab itu Tuan Both melepaskan orang itu serta mengangkat akan kepala kedua loji itu Gouverneur di pulau Ambon, Jan Pieterszoon Koen namanya.
Adapun Tuan Koen paham dalam segala hal ahwal perniagaan, lagi rajin dan bijaksana kebajikan Kompani diperhatikannya dengan sungguh, jikalau dengan kekerasan sekalipun. Tuan Koen tiada suka membujuk orang besar-besar; kalau titah tuan-tuan Bewindhebbers tiada setuju dengan pikirannya sendiri, maka Tuan Koen berani menyalahkan perintah itu.
Hatta, maka Mangku Bumi di Banten tiada berbaik dongan Kompani akan tetapi tiada juga dikehendakinya orang Belanda meninggalkan Banten, karena perniagaan mendatangkan laba amat banyak kepada orang Banten Maka sejak tahun 1602 orang Inggris duduk di Banten, maka beberapa Tuan Koen mencoba mengusir orang itu tiada juga dapat tambahan lagi orang Inggris mendirikan sebuah loji di Jakarta dekat loji Kompani.
Arkian, maka Gouverneur-Generaal menyuruh utusan kepada Panembahan Mataram; maka Panembahan itu dinamai dalam hikayat Sultan Ageng, lama pemerintahannya dari tahun 1613 sampai tahun 1646. Maka utusan itupun disambutnya dengan baik Kompani diberinya izin membangunkan sebuah loji di Jepara. Demi terdengar kabar oleh Mangku Bumi Banten dan oleh Raja Jakarta, bahwa Kompani telah mengutus kepada Panembahan Mataram, maka kedua-duanya masygul dan syak hatinya; pada sangkanya Kompani berteguh-teguhan janji dengan Sultan Ageng akan menyerang Banten dan Jakarta sebab itu Mangku Bumi dan Raja Jakarta berkumpul hendak melawan orang Belanda.
Adapun niat itu diketahui oleh Tuan Koen, maka dengan segera disuruhnya anak buahnya mendirikan sebuah benteng dengan tiada minta kerelaan Raja Jakarta.
Maka perjanjian dengan Sultan Ageng tiada berfaedah kepada Kompani. Pada suatu hari tahun 1618 loji di Jepara didatangi rakyat Mataram, harta benda Kompani di rampasnya, dan orang isi loji itu separuhhnya dibunuhnya, separuhhnya dihantarkannya ke Mataram.
Maka tiada diketahui orang, apa mulanya kelakuan Sultan Agung yang demikian itu; barangkali Panembahan marah, sebab Gouverneur-Generaal segan memerangi Banten bersama-sama balatentara Mataram.
Pada masa itu juga beberapa orang Jawa mencoba masuk ke dalam benteng di Jakarta, tetapi mereka itu dihalaukan oleh soldadu Belanda. Demikianlah Kompani kedatangan marabahaya rupa-rupanya akan binasa, tetapi Tuan Koen tiada takut, melainkan menyiapkan rakyatnya akan menantikan musuhnya. Maka disuruhnya seorang laksamana ke Jepara, supaya tawanan di situ lepas akan tetapi permintaan itu tiada diterima oleh Bupati Jepara sebab itu laksamana itu merampas perahu Jawa di pelabuhan, seraya membakar sebahagian negeri Jepara, lalu pulang.
Adapun Raja Jakarta khawatir melihat Kompani membangunkan benteng sebab itu negerinya diteguhkannya, dengan kota parit; dan lagi orang Inggris menolong Raja itu, serta mendirikan kubu di hadapan loji Belanda. Maka dalam pada itupun Tuan Koen naik Gouverneur-Generaal.
Bermula, maka tiada lama lagi, maka orang Inggris, yang bermula menyerang Kompani, yaitu laksamana Inggris yang menghimpunkan 15 buah kapal di Banten, merampas sebuah kapal Belanda. Adapun G. G. Koen minta kapal itu dikembalikan oleh orang Inggris, tetapi laksamana Inggris tiada mau, katanyabahwa maksudnya hendak berlayar ke Jakarta akan mengusir orang Kompani serta menangkap Gouverneur-Generaal.
Maka terlalu marah Tuan Koen, maka diserangnya dan dibinasakannya kubu dan loji Inggris di Jakarta, sungguhpun mereka itu dibantu oleh Raja Jakarta.
Hatta, maka baru Admiraal Inggris beroleh kabar mengatakan kubu dan loji itu binasa, maka dengan segera berlayarlah ia hendak memerangi orang Belanda.
Adapun Tuan Koen amat sangat kesusahannya, sebab musuhnya sekian banyak itu; dan lagi benteng belum habis dibuat soldadunya dan obat bedil dan peluru kurang banyak tambahan lagi beberapa kapal sedang dibaiki. Maka seboleh-bolehnya kapal dan benteng disediakan orang. Tatkala orang Inggris bertemu dengan kapal Belanda, maka ditembaknya musuhnya maka beberapa lamanya kedua belah pihak berperang, tetapi tiada yang menang. Maka pikir Gouverneur-Generaal: ”Baiklah aku pergi ke pulau Ambon akan mengambil bantuan, sebab di sini kapal dan soldadu kurang banyak, niscaya pada akhirnya Kompani kalah.” —Maka dipanggilnya panglima Van den Broeke; titahnya: “Aku harus berlayar ke pulau Ambon akan mencari pertolongan; sebab itu sepeninggalku loji dan benteng ini Tuan peliharakan jikalau kiranya kelak Tuan tersesak tiada berdaya lagi, baiklah benteng dan loji Tuan serahkan kepada orang Inggris, dan harta benda kepada Raja Jakarta dan lagi jaga baik-baik Tuan jangan ditipu oleh Raja itu.” — Sudah itu Tuan Koen berlayar.
Adapun orang isi benteng di Jakarta 400 orang; dalamnya 250 orang laki-laki yang memakai senjata.
Hatta, maka Raja Jakarta menaruh khianat dikirimnya sepucuk surat kepada panglima Van den Broeke, bunyinya: “Raja hendak berdamai, asal Kompani membayar 6000 rial serta ia suka sekali bertemu dengan Tuan Van den Broeke.” —Maka Tuan Van den Broeke tiada terkenang akan nasihat Tuan Koen, melainkan pergilah ia ke istana Raja diiringkan lima orang. Pada ketika ia pun masuk ke dalam penghadapan, maka tiba-tiba mereka itu ditawan dan dihantarkan orang ke rumah penjara. Maka Tuan Van den Broeke dipaksa Raja menulis sepucuk surat kepada anak buahnya, bunyinya bahwa mereka itu disuruh menyerahkan dirinya kepada Raja Jakarta.
Mula-mula panglima muda dalam benteng tiada mau melakukan perintah itu, tetapi kesudahannya dibuatnya juga, sebab pada sangkanya musuhnya tiada terlawan. Maka di tentukan oleh kedua belah pihak itu, bahwa benteng akan diduduki orang Inggris, serta harta benda akan diserahkan kepada Raja Jakarta; orang isi benteng akan dihantarkan kepada loji Belanda di Hindustan.
Maka dengan sebenarnya perjanjian itu tiada dilakukan; adapun sebabnya diterangkan di bawah ini.
Sementara loji Kompani dikepung, maka datanglah ke Jakarta rakyat Banten beberapa ribu orang, yang disuruh MangkuBumi menjaga perbuatan Raja Jakarta18, sebab Mangku Bumi itu ingin beroleh sebahagian harta benda Kompani.
Hatta, maka tatkala hulubalang besar balatentara Banten itu mendengar kabar, bahwa benteng akan diserahkan, maka segeralah ia pergi ke istana diiringkan anak buahnya; setelah masuk, maka dihunusnya kerisnya seperti laku hendak menikam akan Raja; serta katanya: “Jikalau Tuanku tiada turun, niscaya Tuanku di bunuh sebentar ini.” Maka terlalu takut Raja dengan gementar tubuhnya, maka selekas-lekasnya ditinggalkanuya negerinya.
Sebermula, adapun orang Inggris terlalu sakit hatinya karena orang Banten tiada menerima perjanjian orang Inggris dengan Kompani; lalu orang Inggris berlayar ke selat Sunda hendak merompak kapal Kompani, yang menuju ke tanah Hindia.
Kalakian, maka Mangku Bumi menyuruh orang isi benteng menyerahkan dirinya, seraya Tuan Van den Bruke dengan kawannya dihantarkan orang ke Banten. Akan tetapi orang Belanda memberani-beranikan hatinya pula, serta berharap Tuan Koen tiada lama lagi akan datang oleh karena itu panglima muda itu pura hendak melakukan kehendak Mangku Bumi, sambil dilanjutkannya bicara dari hal perdamaian dengan orang Banten.
Tambahan lagi pada suatu hari mereka itu sedang ramai bersuka-sukaan makan minum, sambil dipalu orang bunyi-bunyian, maka benteng dinamai Batavia19 oleh panglima muda. Maka segala orang yang hadir itu bertepuk dan bersorak, maka meriam ditembakkan akan menghormati bendera Belanda, yang pada ketika itu juga dinaikkan orang diatas benteng.
Pada akhirnya 28 hari bulan Mei tahun 1619 G. G. Koen sampai ke Jakarta dengan membawa 16 buah kapal. Pada kaesokan harinya soldadu 1000 orang naik darat, lalu orang Jakarta dan orang Banten dikalahkannya serta Jakarta di bakarnya. Sudah itu, maka Tuan Koen berlayar ke Banten hendak melepaskan Tuan Van den Bruke dengan kawannya. Maka orang itu diserahkan oleh Mangku Bumi mau tak mau; tetapi Mangku Bumi amat benci, sebab itu dilarangnya lada akan dijual lagi kepada Kompani.
Kemudian dari pada itu G. G. Koen berbalik, lalu dititahkannya mendirikan sebuah negeri pada tempat bekas Jakarta. Adapun negeri yang baru itu menjadi ibu negeri seluruh tanah Kompani, namanya Batavia juga.
Setelah itu, maka Gouverneur-Genraal pergi mendapatkan orang Inggris; dimana-mana juga dilanggarnya kapalnya, sehingga orang Inggris hampir habis diusir dari pada tanah Hindia. Sayang pada masa itu juga sampailah kabar, bahwa Raja Inggris dan Raja Belanda sudah berjanjian, maka dilarangnya anak buahnya berporangan lagi di tanah Hindia, dititahkannya kedua bangsa itu bersahabat.
Adapun Tuan Koen masygul hatinya, sebab orang Inggris dibiarkan duduk pula di tanah Hindia, tetapi perintah itu dijunjungnya juga.
Maka pada perdamaian orang Inggris dengan orang Belanda ditentukan oleh kedua Raja itu bahwa tiap-tiap bangsa memilih beberapa orang, maka orang itu harus berkumpul dan memperhatikan segala hal ahwal kedua bangsa itoc akan tetapi kedua belah pihak senantiasa berselisih juga.
Kalakian, maka pada tahun 1621 Tuan Koen berlayar ke pulau Banda akan menyiksa orang Banda, sebab acap kali dilanggarnya perjanjian dengan Kompani. Setelah sampai, maka balatentara Belanda membakar beberapa kampung, serta orang Banda banyak dibunuhnya dan banyak pula dihantarkannya ke Betawi.
Maka dua tahun kemudian dari pada itu Tuan Koen berangkat ke negeri Belanda, maka gantinya bernama De Carpentier.
Bermula, maka tersebutlah perkataan kerajaan Mataram. Adapun Sultan Ageng berkehendak Kompani mengaku di bawah hukumnya tetapi sungguhpun Kompani suka sekali bersahabat dengan Baginda, tetapi tiada mau menjadi hambanya. Oleh karena itu Sultan Ageng menaruh dendam dalam hatinya, serta bersumpah akan membalas Kompani, tetapi pada masa itu tiada sempat, sebab mula seluruh tanah Jawa tengah dan timur hendak ditaklukkannya.
Maka dikalahkannya berturut-turut. Rembang dan Pasuruhan dan Gersik, sambil kampung dan negeri dibakar orang Mataram, dan beribu-ribu orang dibunuhnya dan beribu-ribu orang dijadikannya sahaya.
Kemudian dari pada itu pulau Madura dilanggar oleh rakyat Mataram. Yang tiada tepermanai banyaknya, seolah-olah menutupi padang gunung. Maka pulau Madura habis dibinasakannya, dan Panembahan tiga orang dibunuhnya dengan titah Sultan Ageng, hanya Panembahan Sampang yang dipeliharakan nyawanya, sebab dahulu ia sudah memperhambakan dirinya ke bawah Sultan Ageng Di antara orang Madura yang tinggal 10.000 orang disuruhnya beralih ke tanah Jawa akan mendiami negeri yang sunyi karena perang.
Adapun negeri yang besar dan ramai sekali yaitu Surabaya, maka negeri itu. dikepung juga oleh rakyat Mataram. Maka dititahkan oleh Sultan Ageng anak buahnya mengubahkan hiliran Kali Mas setelah sudah, maka bangkai orang dan binatang dibuangkan ke dalam sungai yang hampir kering airnya itu, supaya terbitlah penyakit dalam kota itu. Pada akhirnya Adipati Surabaya tiada berdaya lagi, maka anak istrinya dengan tangannya terkebat disuruhnya menghadap Sultan Ageng akan memohon maaf. Maka Adipati diampuni dosanya oleh Sultan Ageng, asal ia mengaku takluk kepada Panembahan Mataram (pada tahun 1625).
Maka setelah Susuhunan Giri dikalahkan oleh Sultan Ageng, maka raja yang takluk memberikan gelar Susuhunan kepada Panembahan Mataram.
Kesudahannya Sultan Ageng berniat hendak mengalahkan Kompani; maka sementara balatentara dilangkapkannya Tuan Koen datang ke Betawi pula dengan berpangkat Gouverneur-Generaal (pada tahun 1627).
Mula-mula Sultan Ageng mencoba mengalahkan Betawi dengan tipu daya. Pada suatu hari tahun 1628 sampailah ke Betawi beberapa perahu berisi beras padi dan lembu yaitu bingkisan Susuhunan bagi Kompani. Adapun Gouverneur-Generaal syak hatinya, dititahkannya perahu diberi masuk ke dalam kota berdua sekali saja. Dengan sebenarnya banyak rakyat Mataran bersembunyi dalam perahu itu; pada suatu malam yang kabut orang itu keluar, lalu menyerang tetapi dihalaukan oleh soldadu Belanda.
Pada keesukan harinya balatentara Mataram datang mengepung Betawi, hulubalangnya besar bernama Tumenggung Bahu Reksa.
Maka beberapa lamanya orang Mataram mengelilingi Betawi maka tiba-tiba mereka itu didatangi orang Kompani. Adapun orang Jawa kalah, serta pecah belah; dalam bangkai orang di peperangan ada juga mayat Tumenggung Bahu Reksa berdua dengan anaknya.
Maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu rakyat Mataram 10,000 orang sampai ke Betawi di bawah perintah panglima Sura-ing-ngalaga, tetapi balatentara itu tiada juga dapat masuk. Tiap-tiap hari orang Jawa ada yang mati karena kesangsaraan dan karena penyakit, sehingga balatentara itu pulang saja. Pada ketika rakyat Mataram hendak meninggalkan daerah Betawi, Sura-ing-ngalaga menyuruh bunuh lebih dari pada 700 anak buahnya beserta hulubalangnya, sebab orang itu sia-siang menyerang. Kabarnya Sura-ing-ngalaga dibunuh juga oleh Sultan Ageng.
Adapun akan Susuhunan amat pedih hatinya, lagi dengan malunya kepada raja di tanah Hindia. Maka dititahkannya, bahwa rakyat 80,000 orang dan alat senjata dikumpulkan dan lagi di Tegal dibuat orang gudang yang besar berisi beras akan bekal balatentara itu.
Maka Tuan Koen tahu akan maksud Susuhunan, maka disuruhnya seorang laksamana membinasakan gudang itu. Setelah sampai ke Tegal, maka orang Kompani membakar gudang itu bersama beras 4,000 pikul dan 200 buah perahu yang bermuat.
Hatta, maka balatentara Mataram berjalan empat bulan lamanya, baru sampai ke Betawi pada 21 hari bulan Augustus tahun 1629.
Maka dalam pada itupun Kompani ditimpa untung malang yang amat hesar, yaitu malam 21 hari bulan September Gouverneur-Goneraal Koen mangkat. Maka segala orang Kompani duka cita anat sangat maka mayat Tuan Koen diarak oleh orang Betawi, lalu dikuburkan sebagaimana adat orang besar.
Syahdan, maka pemrintah Kompani tiada menyuruh soldadu keluar akan berperang pada sangkanya musuh itu tiada lama lagi akan undur, karena orang Mataram kekurangan makanan. Maka betullah pikiran itu rakyat Susuhunan kelaparan, sehingga terpaksa pulang, tetapi kira seperempat saja yang sampai ke Mataram. Di jalan yang dilaluinya tersiar-siar bangkai orang dan bangkai kerbau dan meriam dan senjata, yang ditinggalkan orang.
Maka Sultan Ageng menitahkan bunuh beberapa panglima serta banyak anak buahnya.
PASAL VIII.
HIKAYAT SULTAN HASANUDDIN DI MAKASSAR
Bermula, maka sejak balatentara Sultan Ageng alah di Betawi, maka Kompani makin lama bertambah mulia, serta dimalui rajadi tanah Hindia, terutama sekali setelah Malaka dikalahkan oleh orang Belanda pada masa pemerintahan G. G. Van Diemendari tahun 1636 sampai tahun 1645.
Adapun Gouverneur-Generaal itu berlayar ke pulau-pulau Maluku, lalu ditaklukkannya beberapa bangsa orang, yang durhaka kepada orang Belanda, sebab Kompani memaksa orang negeri menjual rempah dengan harga, yang ditetapkan oleh Kompani, seraya menyuruh tebang pohon pala dan pohon cengkeh dalam beberapa negeri, supaya rempah-rempah jangan terlalu banyak.
Syahdan, maka pada masa itu kerajaan Makassar atau Goa mashyur pada seluruh tanah Hindia orang Makassar berlayar kepada segala bandar di pulau Hindia akan berniaga maka bangsa Hindia takut kepadanya, sebab orang Makassar dan orang Bugis perompak yang gagah berani.
Pada tahun 1653 ada seorang raja di tanah Goa, yang bernama Sultan Hasanuddin. Adapun Raja itu tiada mengindahkan Kompan; orang Maluku, yang durhaka kepada Kompani, dibantunya, tambahan lagi diperanginya Sultan Buton, yang bersahabat dengan orang Belanda. Maka di pulau itupun ada sebuah benteng yang diduduki soldadu Kompani, Meskipun orang isi benteng amat berani kelakuannya, tetapi musuhnya masuk juga.
Maka pada ketika itu juga orang Belanda membakar obat bedil, sehingga benteng meletus seorang pun tiada lepas dari pada bahaya maut, seraya orang Makassar amat banyak terbunuh juga.
Arkian, maka terdengarlah kabar kepada Gouverneur-Generaal Maetsuijker (dari tahun 1653 sampai tahun 1678), bahwa Sultan Hasanuddin berutus kepada Susuhunan Mataram akan berteguh-teguhan janji hendak memerangi Kompani. Maka dengan hal yang demikian itu GouverneurGeneraal tiada sabar dari pada menyerang Makassar, maka angkatan kapal bersama-sama perahu orang Maluku, yang bermusuh dengan orang Makassar, berkumpul di pulan Ambon di bawah perintah laksamana dua orang, Truitman dan Van Dam namanya. Maka kelengkapan itupun sekonyong-konyong tiba di pelabuhan Makassar disitulah enam buah kapal Portugis berlabuh.
Mula-mula kapal itu dibinasakan oleh orang Kompani, lalu mereka itu naik darat, maka sedang ramai berperang dikalahkannya benteng Panakoke dekat Makassar.
Hatta, maka kemudian dari pada itu Sultan Hasanuddin berdamai dijanjikannya bahwa orang yang durhaka kepada Kompani tiada akan dibantunya lagi, serta Raja Makassar tiada berteguh-teguhan janji dengan Susuhunan Mataram dan lagi benteng Panakoke senantiasa di dalam tangan Kompani (pada tahun 1660).
Setelah beberapa lamanya, maka Sultan Hasanuddin tiada menyampaikan janjinya. Pada suatu hari dua buah kapal Belanda terkaram di pantai tanah Makassar, maka kapal itu dirampas serta anak kapal dibunuh dengan setahu Sultan. Maka wakil Kompani di Makassar menghadap Sultan, maka dipintanya perompak itu kena hukum; akan tetapi Baginda menolak permintaan itu dengan perkataan yang tiada layak.
Maka sebab hal yang demikian itu Kompani berlangkap hendak berperang pula. Adapun laksamana Kompani, Cornelis Speelman, berangkat dari Betawi dengan membawa 13 buah kapal yang besar.
Maka pada ketika itupun Sultan Buton tersesak oleh rakyat Makassar, sehingga ia lari ke gunung. Maka dalam pada itupun Admiraal Speelman sampai ke sana, lalu habis membinasakan balatentara Makassar. Sudah itu, maka kapal Belanda berlayar ke Makassar; maka Sultan Hasanuddin minta ampun, dibayarnya uang akan bangun orang Kompani, yang dibunuh anak buahnya, serta orang Makassar dilarangnya merompak lagi.
Adapun dalam perang itu Kompani ditulung oleh Pangeran Arung Palakka dengan orang Bone.
Kemudian, maka tersebutlah perkataan Pangeran Arung Palakka, anak raja di Sopeng.
Maka sekali peristiwa kerajaan Bone dikalahkan oleh orang Makassar, maka dalam perang itupun Raja Sopeng, yang bercampur dengan orang Bone, ditawan, lalu dibunuh dengan titah Sultan Makassar, serta anaknya Arung Palakka menjadi hamba dalam istana Raja Makassar. Setelah beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka Pangeran Arung Palakka dapat lari ke Betawi akan memperhambakan dirinya kepada Kompani.
Syahdan, maka ia pun menurut balatentara Belanda, yang memerangi orang Aceh di pulau Perca sebelah barat akan membantu Raja Minangkabau dari tahun 1660 sampai tahun 1664. Maka terlalu berani kelakuan Pangeran itu. Pada masa perang Kompani dengan Makassar diajaknya orang Bone melepaskan dirinya dari pada hukum Raja Makassar. Adapun orang Bone mengusir orang Makassar seraya menolong Kompani akan memerangi Sultan Hasanuddin.
Sebermula, maka meskipun Sultan Hasanuddin telah merasai kuasa Kompani, tetapi dilangkahinya pula janjinya, rakyatnya melanggar sebuah perahu Kompani.
Adapun Tuan Speelman pada ketika itu tinggal di pulau Ambon, maka baru didengarnya kabar, bahwa orang Makassar telah merampas perahu Kompani, maka segeralah disuruhnya laskarnya menyerang tanah Makassar.
Kalakian, maka balatentara Makassar kalah di darat dan di laut, sehingga Sultan Hasanuddin tawar hatinya dan tunduk.
Maka pasal perdamaian itu amat berat kepada Sultan Makassar, yang terutama sekali, yakni:
Pertama: Segala negeri yang dahulu ditaklukkan oleh Raja Makassar harus lepas dari pada hukumnya.
Kedua: Kapal Makassar tiada boleh berlayar ke sebelah tinur tanjung Lasoa.
Ketiga: Kompani beroleh monopoli beberapa macam dagangan di tanah Makassar.
Keempat: Sultan Makassar membayar belanja perang 25,000 ringgit.
Maka perdamaian itu bernama dalam hikayat perdamaian di Bungaya sepanjang nama kampung Bungaya dekat Makassar, tempat perjanjian itu ditetapkan oleh Tuan Speelman dan Sultan Hasanuddin.
Dan lagi raja negeri-negeri yang dilepaskan oleh Kompani mengaku Kompani menjadi Yang-dipertuan (pada tahun 1667).
Hatta, maka pada tahun 1672 Raja Bone turun, kemudian raja-raja kecil di Bone memilih Pangeran Arung Palakka akan ganti Raja itu, menurut adat kebanyakan kerajaan di pulau Selebes, yaitu Raja harus dipilih oleh beberapa orang besar-besar (raja kecil).
Adapun Sultan Hasanuddin tiada dapat menahan hatinya; dititahkannya pula merompak sebuah kapal Kompani.
Setelah itu, maka Raja yang mungkir janji itu habis ditaklukkan oleh Kompani; kuasanya dikurangi pula, segala benteng dan alat perang harus diserahkannya, tambahan lagi Sultan sekali-kali tiada boleh meninggalkan keratonnya di Ujung Pandan.
Demikianlah lenyap kebesaran tanah Makassar. Maka lama kelamaan kerajaan Bone mengganti Makassar, sebab Raja Arung Palakka dan raja yang kemudian dari padanya mengembangkan kuasanya, sehingga pada abad yang ke delapan belas banyak negeri di pulau Selebes takluk kepada Raja Bone.
PASAL IX.
HIKAYAT SUSUHUNAN TEGAL WANGI DENGAN TRUNA JAYA
Alkisah, maka tersebutlah perkataan Sultan Ageng Raja Mataram. Adapun seumur hidupnya Baginda menaruh dendam yang amat sangat kepada Kompani; maka beberapa dicoba oleh Kompani hendak berdamai baik dengan kekerasan, baik dengan lemah lembut, tiada juga menjadi
Hatta, maka G. G. Van Diemen mencari daya upaya hendak melepaskan orang Belanda, yang telah ditawan di Jepara. Sekali peristiwa beberapa utusan Susuhunan menumpang di kapal Inggoris akan mempersembahkan bingkisan ke bawah Syarif (ponghulu agama di Mekah, sebab Susuhunan telah beroleh gelar Sultan dari pada Syarit itu. Maka kapal itu dilanggar oleh kapal Kompani serta suruhan itu ditawan, anak kapal dihantarkannya ke Betawi. Akan tetapi Sultan Ageng tiada juga mau mempertukarkan tawanan itu dengan orang Belanda di Mataram.
Arkian, maka pada tahun 1646 Sultan Ageng mangkat; yang menggantikan kerajaannya yaitu putranya yang bungsu Susuhunan Amangku Rat namanya seteleh Raja itu berpulang, maka namanya Susuhunan Tegal Wangi juga Demi Susuhunan itu naik takhta kerajaan, maka tawanan Belanda dilepaskannya semuanya, serta dititahkannya utusan ke Betawi hendak berdamai.
Maka pemerintah Kompani bermusyawarat dengan suruhan itu setelah putus bicaranya, maka ditentukannya perkara yang di bawah ini, yakni:
Pertama: Sekali setahun Kompani menyuruh utusan kepada Susuhunan akan memberi tahu harta benda apakah yang indah telah dibawa dari negeri Belanda ke Betawi.
Kedua: Kompani berjanji hendak memerangi raja yang durhaka kapadaSusuhunan, asal raja itu bermusuh dengan Kompani demikian pula Susuhunan berjanji akan memerangi musuh Kompani.
Ketiga: Anak buah Susuhunan tiada boleh berniaga di pulau-pulau Maluku, dan lagi nakhoda kapal Mataram yang melalui negeri Malaka harus minta izin kepada Kompani.
Sebermula, maka kemudian diceritakan hikayat Susuhunan Tegal Wangi.
Bahwasanya raja-raja di tanah Hindia pada zaman itu memerintah dengan sekahendaknya saja ia pun dihormati dan disembah oleh anak buahnya seperti dewa; oleh karena itu sejak kecilnya raja itu berbuat sesuka hatinya serta memuaskan hawa nafsunya: seorang jua pun tiada boleh menyalahkan kelakuannya. Dengan hal yang demikian itu anak buahnya disangkakannya hamba sahaya, yang hina sekali, seolah-olah permainan saja; sebab itu raja yang kebanyakan lalim acap kali anak buahnya dibunuhnya akan memuaskan murka atau kesukaan Baginda.
Adapun dalam Raja-raja Mataram Susuhunan Tegal Wangi ialah yang terlebih buruk namanya, karena bengisnya dan nafsunya yang jahat.
Maka diceritakan oleh yang empunya cerita ini, bahwa Susuhunan mencari akal hendak membinasakan Patihnya Wira Guna, inilah mulanya kebencian Baginda: Pada masa ayahanda Baginda lagi hidup, maka dilarikan oleh Pangeran Adipati Anom20 akan seorang gundik Wira Guna; adapun Patih itu menghadap Sultan Ageng serta mengadukan halnya akan tetapi Baginda murka kepadanya, sebab gundik itu tiada dipersembahkannya kepada Pangeran Adipati Anom. Maka Pangeran itu kena murka ayahanda juga, ia pun dititahkannya mengembalikan gundik itu kepada suaminya. Maka titah itu dijunjungnya, sambil ia bersumpah dalam hatinya Patih itu akan dibinasakannya kelak.
Setelah Pangeran Adipati Anom naik raja, maka dititahkanya Wira Guna menaklukkan kerajaan Belambangan dan pulau Bali, akan tetapi rakyatnya sedikit orang saja, sehingga perintah itu tiada boleh dilakukannya oleh karena itu Wira Guna dibunuh bersama-sama sekalian kaumnya dengan titah Susuhunan.
Adapun kakanda Baginda Pangeran Alit bersahabat dengan Patih Wira Guna, sebab itu ia pun ketakutan, kalau binasa juga dan lagi Susuhunan dibencinya, karena ialah yang dirajakan ayahanda.
Maka Pangeran itu bermufakat dengan beberapa orang besar-besar dan orang alim hendak menurunkan Baginda; akan tetapi rahasia itu terbuka akan Susuhunan, maka dititahkannya hulubalangnya membunuh orang besary-besar yang durhaka itu. Sudah itu, maka Pangeran Alit dipanggil menghadap Susuhunan. Tatkala Pangeran Alit sudah masuk ke dalam penghadapan, maka Baginda menunjukkan kepala sahabatnya, sambil Pangeran Alit dititahkannya menikam kepala itu dengan kerisnya sendiri. Kemudian Pangeran Alit dihantarkan orang kepada gurunya yang lama, supaya budi akalnya bertambah terang. Adapun Pangeran Alit amat malu, kesudahannya tiada dapat menahan hatinya lagi, melainkan masuk ke dalam istana Susuhunan selaku orang gila, kerisnya terhunus hendak ditikamkannya kepada Baginda. Maka kawal Madura diisyaratkan oleh Susuhunan, lalu Pangeran Alit dibunuhnya.
Syahdan, maka Susuhunan berniat hendak membunuh orang alim, yang bersekutu dengan Pangeran Alit, tiada diketahuinya siapa dalam orang alim itu durhaka, siapa tiada. Maka segala orang alim dipanggil Susuhunan setelah berkumpul, maka mereka itu semuanya habis dibunuh oleh rakyat Susuhunan bersama-sama sanak saudaranya pun demikianlah dalam setengah jam lamanya kira 26,000 orang mati.
Sekali peristiwa Susuhunan kematian seorang istrinya, yang amat sangat dikasihinya; maka tatkala mayat permaisuri itu dikuburkan, maka dititahkan Baginda mengurung perempuan seratus orang, hingga mati kelaparan semuanya; yaitu akan alamat cinta Baginda kepada istrinya, yang telah berpulang itu.
Jikalau segala hal ahwal kelakuan dan tabiat Susuhunan Tegal Wangi diceritakan, niscaya jemu orang yang membaca hikayat ini yang diriwayatkan di atas ini sudah cukup
Sebermula; sungguhpun orang yang kebanyakan pada zaman itu biasa dianiaya oleh rajanya, tetapi lalim dan bengis Susuhunan Tegal Wangi tiada terderita lagi seorang jua pun tiada senang hati, baik orang besar, baik orang kecil: sanak saudaranya pun kecil hati.
Maka dengan hal yang demikian itu, tatkala seorang Pangeran hendak melepaskan dirinya dari pada hukum Susuhunan, maka sedikit orang saja, yang setia kepada Baginda. Adapun Pangeran, yang durhaka kepada Susuhunan seorang Pangeran Madura, Truna Jaya namanya.
Alkisah, maka Pangeran Truna Jaya anak saudara Panembahan di Sampang, Cakra-ning-Rat II namanya. Adapun akan Truna Jaya timbullah niat dalam hatinya hondak naik raja; maka maksudnya itu mudah disampaikannya, sebab orang Madura tiada senang hati, seraya Panembahan Cakra-ning-Rat senantiasa duduk di Plered.21
Hatta, maka pada tahun 1675 Pangeran Truna Jaya berteguh-teguhan janji dengan dua orang Makassar, Kraeng Galesoeng dan Bonto Boerane namanya. Adapun tatkala Sultan Hasanuddin dikalahkan oleh Admiraal Speel man, maka kedua orang itu meninggalkan negerinya dengan anak buahnya lalu merompak dan merusakkan negeri di pantai laut.
Setelah sudah berkumpul dengan Truna Jaya, maka orang Makassar duduk di Pasuruan dan di Besuki serta didirikannya kubu dan benteng di situ. Maka beberapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka datanglah rakyat Mataram akan mengusir orang Makassar, akan tetapi balatentara itu habis dibinasakan oleh orang Makassar dan orang Madura.
Kemudian dari pada itu Susuhunan minta pertulungan kepada Kompani sepanjang perjanjian pada tahun 1646. Mula-mula G. G. Maetsuijker tiada mau mencampuri hal ahwal kerajaan Mataram, tetapi pada akhirnya dibuatnya juga, sebab orang Makassar merompak perahu orang Jawa, yang hendak berlayar ke Betawi. Adapun soldadu Belanda mengalahkan orang Makassar, serta Bonto Boerane mati tengah perang itu kemudian balatentara itu pulang ke Betawi. Pada sangka panglima besar Belenda orang Makassar, yang cerai berai itu dapat habis dibinasakan oleh balatentara Mataram, yang akan datang di bawah perintah anak sulung Susuhunan. Maka Pangeran itu pun lalai dan lambat dan kurang berani; oleh karena itu orang Makassar sempat berhimpun, lalu dikalahkannya balatentara Mataram yang amat banyak itu.
Maka sebab hal yang demikian itu orang Jawa bertambah tambah banyak menyembah Pangeran Truna Jayajangankan orang di pantai laut, di tengah-tengah tanah Jawa pun orang tiada menjunjung lagi titah Susuhunan, maka kepala orang yang durhaka itu yaitu Raden Kajoran, mertua TrunaJaya.
Adapun akan Susuhunan yang sudah berumur lagi dengan lemah badannya itu seolah-olah hilang akalnya; kesukaannya menggembala kambing dan main layang. Maka dalam pada itupun rakyat Raden Kajoran berjalan ke Plered. Demi terdengar kabar itu kepada Susuhunan maka ia lari diiringkan beberapa orang, yang lagi setia kepadanya. Mula-mula Baginda berlindung ke kuburan nenek moyangnya di Imagiri, lalu ia bertemu dengan putranya dua orang, akan tetapi Pangeran itu segan menulung ayahanda Baginda. Maka empat hari lamanya Susuhunan berjalan, maka di Bagelen bersualah ia dengan Pangeran Adipati Anom.
Syahdan, maka Baginda berdua putranya berjalan pula ke sebelah utara hendak mendapatkan orang Belanda. Akan tetapi di Ajibarang Susuhunan jatuh sakit, serta merasa ajalnya sudah sampai. Maka beberapa alat kerajaan, yang dibawanya, diamanatkannya kepada Pangeran Adipati Anom, serta memberi nasihat kepada putranya hendak memuhunkan pertulungan kepada Kompani. Maka dua hari lamanya lagi Baginda berjalan berusung, lalu ia meninggal dunia, sepanjang babad Jawa mait Susuhunan dikuburkan orang pada sebidang tanah yang harum baunya sebab itu Susuhunan dinamai Susuhunan Tegal (=ladang) Wangi (=harum). Sungguhpun Susuhunan amat bengis dan lalim kelakuannya, tetapi sampai sekarang juga banyak orang Jawa berziarah ke keramat itu dekat Tegal.
Bermula, maka sementara Susuhunan Tegal Wangi lari dari dalam keratonnya, maka datanglah pula soldadu Kompani di bawah perintah Admiraal Speelman ke Surabaya; lalu dihalaukannya Pangeran Truna Jaya dari situ, akan tetapi Truna Jaya lari ke udik sampai ke Kediri. Tambahan lagi Raden Kajoran merampas keraton di Plered, maka segala harta benda dan istri gundik Susuhunan dihantarkannya ke Kediri.
Kalakian, maka lama kelamaan Pangeran Adipati Anom sampai kepada Admiraal Speelman di Jepara akan meminta pertulungan, sebab hampir segala bupati tiada mau morajakan dia. Adapun Pangeran Adipati Anom lalai dan lengah saja, dan tiada bersungguh-sungguh hati menulung Kompani akan menaalukkan orang yang durhaka itu.
Maka pada tahun 1678 Tuan Speelman berteguh-tegokhan janji dengan Pangeran Adipati Anom, pasalnya yang ter utama sekali, yakni:
Pertama: Perjanjian pada tahun 1646 diulangkan.
Kedua: Susuhunan membayar belanja perang sebelum dibayarnya, maka Kompani memungut bea di bandara Mataram.
Ketiga: Kompani boleh mendudukkan soldadu di Jepara.
Keempat: Daerah Kompani diluaskan sampai ke Ci Pamanukan dan sampai ke laut Hindia.
Kelima: Kompani beroleh monopoli beberapa macam barang dagangan.
Hatta, maka setelah beberapa bulan lamanya Kompani beroleh lagi negeri Semarang dengan daerahnya.
Syahdan, maka pada tahun 1678 itu juga G. G. Maetsuijker mangkat, sebab itu Tuan Van Goens naik Gouverneur-Generaal, serta Tuan Speelman menjadi Directeur-Generaal. Adapun Gouverneur-Generaal yang baru itu menyuruh berperang dengan sungguh, maka 2,300 orang soldadu
Kompani berhimpun di Jepara di bawah perintah Gouverneur di pulau Maluku, Antonie Hardt namanya. Setelah balatentara itu berkumpul dengan rakyat Adipati Anom, ma ke Tuan Hurdt menyuruh soldadunya berjalan ke Kediri.
Meskipun hal tanah Jawa tengah tiada diketahui orang Belanda, dan lagi jalan amat buruk, maka Tuan Hurdt ma ju saja, sambil dikalahkannya orang Makassar dan orang Madura, yang hendak menahan orang Belanda, lama kelamaan orang Kompani dengan susah payah yang tiada terkira-kira masuk ke dalam Kediri, sambil perang terlalu ramai. Maka Truna Jaya sempat lari, sebab orang Jawa, yang disuruh Tuan Hurdt mengelelingi keraton, merampas harta benda saja.
Adapun Pangeran Adipati Anom tiada bercampur dalam perang itu, melainkan esok hari baru ia masuk ke dalam keraton dan meminta kepada Tuan Hurdt makota Mataram, yang ditinggalkan oleh Truna Jaya.
Syahdan, maka pada hari lusa Tuan Hurdt memberikan makota kepada Pangeran Adipati Anom, serta merajakan dia bersama-sama menteri dengan gelar Susuhunan Amangku Rat.
Bermula, maka Pangeran Truna Jaya dikejar oleh laskar Kompani masuk hutan keluar hutan, masuk padang, keluar padang, sehingga ia berlindung ke gunung Kelut; tetapi disitulah rakyatnya kekurangan makanan. Sebab itu Truna Jaya terpaksa menyerahkan dirinya, lalu dihantarkan orang kepada Susuhunan pada tahun 1679.
Maka pada ketika ia pun menghadap Susuhunan ber datang sembah, rupa-rupanya Baginda lembut hati, tetapi tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu, maka Truna Jayadibunuhnya sendiri.
Arkian, maka orang yang lagi durhaka dikalahkan berturut-turut oleh Kompani: orang Makassar habis dibinasakan dekat Bangil, serta Kraeng Galesoeng mati terbunuh Raden Kajoran ditawan, lalu dibunuh kesudahannya adinda Baginda, Pangeran Puger alah juga. Adapun Pangeran Puger telah mengaku dirinya Susuhunan setelah balatentaranya dicerai-beraikan oleh laskar Kompani di tepi sungai Bagawanta, maka ia tawar hati serta meminta ampun.
Maka pada masa ituSusuhunan tiada bersemayam lagi di Plered, melainkan dalam keratonnya yang baru di Karta-sura-adi-ning-Rat, di sebelah negeri Surakarta yang sekarang.
PASAL X.
HIKAYAT SULTAN TIRTAJASA DENGAN SULTAN HAJI DI BANTEN.
Alkisah, maka pada tahun 1651 mangkatlah Sultan Ban ten, maka gantinya yaitu Abdul Fatah cucunda Marhumad; adapun Sultan itu dinamai dalam hikayat Sultan Ageng atau Sultan Tirtajasa. Maka Sultan itu cerdik bijaksana dan tetap hati, serta rukun Islam dikerjakannya dengan sungguh, tetapi kelakuannya acap kali bengis dan hatinya tiada lurus. Maka saumur hidupnya Sultan itu dangki kepada Kompani, niatnya hondak meramaiken Banten serta membinasakan Betawi.
Adapun rakyat Sultan Banten merompak dan kadangme langgar kampung di daerah Betawimaka kalau kapal Kom pani datang mengempang perahu di pelabokhan Banten, ma ke Sultan Tirtajasa berdamai, tetapi baru kota Banten tiada tersesak lagi, maka kelakuan orang negeri itu seperti sediakala.
Hatta, maka pada suatu hari tahun 1671 orang ramai di alun medan Banten, sambil meriam ditembakkan dan nobat kerajaan dipalu oranglah, sebab putra Sultan yang sulung naik Raja Muda serta digelari oleh Syarif di Mekah Sultan Abu'nNasar Abu'lKahar sepanjang adat Banten, kalau Raja sudah berumur, maka putranya yang sulung memerintah berdua dengan ayahanda Baginda.
Kemudian dari pada itu Sultan Ageng meninggalkan kota Banten hendak bersemayam di keratonnya yang baru di Tirtajasa disitulah disuruhnya gali sebuah terusan yang menghu bungkan Ci-Ujung dengan Ci-Durian. Maka dalam orang yang mengerjakan pekerjaan itu ada yang kena hukum karena makan madat dan minum rokok, sebab pada sangka Sultan kesukaan itu haram. Adapun terusan itu dinamai orang Tirtajasa22, oleh karena itu Sultan Ageng bernama juga Sultan Tirtajasa.
Arkian, maka tiada berapa lamanya dengan hal yang demikian itu, maka adalah kadoca Sultan itu borselisih, sebab Sultan Tirtajasa tiada mau memberikan separuh labanya perniagaan kepada putranya, dan lagi ia pun khawatir, kalan2 Sultan Muda berniat hendak memerintah tanah Banten seorang diri Kesudahannya Sultan Abu'nNasar turun raja, lalu naik haji ke Mekah akan membesarkan namanya; setelah dua tahun lamanya, pulanglah ia ke negerinya. Oleh karena itu Sultan Abu'nNasar dinamai juga Sultan Haji.
Maka sementara itu Sultan Tirtajasa diasut oleh Mangku Bumi menjadikan Pangeran Poerbaja putra Baginda yang sulung, Sultan Muda di tanah Banten, tetapi ia pun tiada berani sebab Sultan Haji dihormati dan dikasihi amat sangat olehanakbuahnya sebabitu Sultan Haji naik Sultan Muda pula, serta Sultan Ageng berangkat pula ke Tirtajasa hendak diam di situ.
Syahdan, maka Sultan Tirtajasa amat suka cita melihat orang Belanda kesusahan karena perang dengan Pangeran Truna Jaya, maka rakyatnya disuruhnya merompak kapal Kompani dan melanggar kampung di daerah Betawi tambahan lagi Raja-raja Cirebon23 dibujuknya bermusuh dengan Kompani sehingga hendak diporolehnya Krawang dan Sumedang, karena kedua luak itu masuk jajahan Cirebon pada zaman dahulu kala oleh sebab itu Gouver neur-Generaal menyuruh bangunkan sebuah benteng di Tanjung Pura di batas Krawang dengan Cirebon.
Adapun Sultan Tirtajasa bertambah-tambah berani meng ganggu Kompani, maka disuruhnya utusan ke Jambi dan ke Siam dan ke Ternate pun akan mengasut Raja negeri itu hendak memerangi Kompani.
Sekali peristiwa pada suatu hari Sultan Tirtajasa ada di penghadapannya, dihadap oleh segala menteri, hulubalang, rakyat sekalian, maka wakil Kompani dan utusan Raja Pransman dan utusan Raja Inggris dan utusan Raja Denemarken halir juga. Maka titah Sultan kepada Resident Belanda, bahwa Betawi niscaya akan dilanggar oleh rakyatnya, jikalau kiranya Kompani berani memerangi Raja Cirebon. Adapun G. G. Van Guns amat marah, maka pada tahun 1680 dititahkannya balatentara ke Cirebon maka negeri itu dikalahkan dengan mudah, serta Raja Cirebon mengaku Kompani Yang-dipertuan.
Hatta, maka lepas perang Truna Jaya, Sultan Haji minta berdamai dengan Kompani, tetapi permintaan itu tiada dikabulkan oleh Gouverneur-Generaal, sebab tiada dengan setahu Sultan Tua. Maka Sultan Haji dihasut oleh sahabatnya, katanya bahwa ayahanda Baginda berniat menurunkan dia dan mengangkat Pangeran Poerbaja; baiklah Sultan Haji menjadi raja seorang diri.
Arkian, maka pada tahun 1682 Sultan Haji mengaku dirinya Sultan Banten, lalu dilepaskannya segala menteri, yang tiada berbaik dengan Kompani, supaya orang Belanda hendak bersahabat dengan dia dan lagi Sultan Haji melarang rakyatnya merompak dan menyamun di tanah Kompani. Maka dalam pada itupun Sultan Tirtajasa tiada menghentikan tangan saja, melainkan menghimpunkan segala rakyatnya yang setia, lalu berperang. Adapun Sultan Haji tiada selamat dalam perang itu, tambahan lagi panglima besar dua orang khianat pergi menyembah Sultan Tirtajasa.
Maka pada suatu hari tiba-tiba terbakar beberapa rumah di kota Banten, maka sedang orang negeri gemparlah, maka rakyat Pangeran Poerbaja masuk, sehingga Sultan Haji lari berlindung ke dalam benteng Surusuan, lalu dikepung musuhnya.
Maka bingunglah Sultan Haji tiada berdaya lagi; maka dalam benteng itu ada seorang-orang Belanda, namanya Jakob de Rooy maka ia pun dapat memberamkan hati Baginda, katanya: “Janganlah sekali-kali Pangeran Poerbaja diberi masuk melainkan baiklah Tuanku minta bantuan kepada Kompani”. —Adapun istri Sultan membenarkan perkataan Tuan de Rooy, lalu selekas-lekasnya dikirimnya dengan izin suaminya sepucuk surat kepada Gouverneur-Generaal Speelman akan menyatakan segala hal ahwal Banten dan akan memohonkan pertolongan; kalau musuhnya kalah, tentu Kompani akan beroleh monopoli di Banten.
Maka pada bicara pemerintah Kompani, apabila Sultan Haji memerintah di Banten, baru Betawi sentosa, sebab itu dua buah kapal berisi soldadu dititahkannya ke Banten. Setelah sampai, maka laskar itu tiada dapat naik darat, sebab seluruh pantai dijaga oleh rakyat Sultan Tirtajasa disertai orang Inggris dan orang Pransman.
Hatta, maka selekas-lekasnya Kompani menyediakan pula angkatan perang, laksamananya seorang-orang yang cerdik bijaksana lagi berani, namanya Tuan Tak. Maka kapal itu sekonyong-konyong tiba di pelabuhan Banten, lalu soldadu yang pilihan dalam sekoci berdayung dengan perlahan-lahan ke darat. Maka separuhnya sudah naik darat, baru diketahui orang Banten musuhnya telah datang Maka oleh kawal dipalunya gong akan tanda bangun, maka orang Banten terperanjat dari pada tidurnya lalu datang berlari-larian mengamuk musuhnya, sambil bertempik; akan tetapi segala orang Kompani dapat naik darat serta diundurkannya orang Banten.
Kemudian dari pada itu soldadu Kompani dihambat pula oleh rakyat Banten yang amat banyak dekat kampung Karang Hantu; maka terlalu hebat perang itu: meriam dan bedil tiada dapat dipakai orang, sebab malam kelam kabut, melainkan kedua belah pihak berperang sama seorang tikam menikam parang memarang pada akhirnya orang Banten lari.
Maka hari pun sianglah ketika balatentara Belanda sampai ke Surusuan. Adapun Sultan Haji amat suka cita, disongsongnya Kommandeur Tak hendak menyembah kakinya, tetapi Tuan Tak segeralah mendirikan Baginda.
Syahdan, maka balatentara Belanda mengeluari rakyat Sultan Tirtajasa di daerah kota Banten, sehingga musuh Sultan Haji dikejarnya sampai ke gunung-gunung.
Adapun perang itu tiada putus, sebelum Sultan Tirtajasa ditawan maka Sultan itu lagi duduk di keratonnya berserta banyak anak buahnya dan lagi perahunya amat banyak mengedari laut akan merompak dimana-mana saja.
Pada penghabisan tahun 1682 Kompani menyerang Tirtajasa dengan sungguh balatentara Belanda dibagi dua tumpuk setumpuk sebelah timur, setumpuk sebelah barat. Meskipun rakyat Sultan Tirtajasa amat gagah berani kelakuannya, tetapi tiada juga dapat ditahannya musuhnya. Pada suatu malam keraton di Tirtajasa ditinggalkan oleh Sultan Tua, maka diletakkannya murang yang telah dicucuhkannya di dalam gudang obat bedil.
Setelah Sultan bersama-sama anak buahnya sudah jauh, maka keraton itu meletus seperti gunung api, maka sasaat lagi habis runtuh.
Arkian, maka Sultan Tirtajasa kedua putranya Pangeran Poerbaja lari barang kemana dibawa untungnya, sambil dikejar oleh rakyat Sultan Haji dengan tiada berkeputusan. Pada tahun 1683 Baginda menyerahkan dirinya, lalu dihantarkan orang ke kota Banten, kemudian ke Betawi disitulah Sultan Tiriayasa mangkat pada tahun 1692.
Adapun Sultan Haji amat sangat murkanya kepada barang siapa, yang telah menolong ayahanda, maka segala orang Inggris dan orang Pransman dan orang Portugis dan orang Denemarken semuanya dibuangnya dari tanah Banten.
Maka Kompani diberinya monopoli lada di Banten serta jajahannya, dan lagi Raja-raja Cirebon kemudian lepas dari pada hukum Sultan Banten; maka Sultan Haji tiada membayar belanja perang asal perjanjiannya itu tiada dilanggarnya.
PASAL XI.
HIKAYAT SOERAPATI DAN SUNAN MAS
Alkisah, maka tersebutlah perkataan Pangeran Poerbaja, adinda Sultan Haji; adapun Pangeran itu dengan pengiringnya mengembara di tanah Priangan, dikejar oleh rakyat Kompani, yang hendak menawan dia.
Maka sekali peristiwa beberapa soldadu Belanda di bawah perintah Kapiten Ruijs bertemu dekat desa Cikalong24 dengan sekawan sahaya, yang telah lari dari Betawi kehidupannya menyamun; maka orang itu berbagai-bagai bangsanya, kepalanya entah peranakan Bali entah peranakan Makassar, namanya Soerapati.
Adapun Kapiten Ruijs membujuk orang itu masuk pekerjaan Kompani dengan janji dosanya diampuni Kompani, asal dicarinya tempat Pangeran Poerbaja. Maka Soerapati berusaha menangkap Pangeran itu, lagi kelakuannya baik, sebab itu ia pun dijadikan Luitenant oleh Kapiten Ruijs.
Kesudahannya Pangeran Poerbaja puas hatinya dikejar musuhnya, maka dikirimnya sepucuk surat kepada Gouverneur-Generaal akan minta maaf. Maka permintaan itu dikabulkan oleh Tuan Besar, seraya dititahkannya Luitenant Kuffeler menyampaikan surat ampun kepada Pangeran Poerbaja serta menyuruh Soerapati berbalik ke Betawi.
Maka pada ketika itu juga Kapiten Ruijs menyuruhkan Soerapati beserta dengan dua orang kepala Jawa pergi bertemu dengan Pangeran Poerbaja. Tatkala sampai ke Cikalong, maka Pangeran Poerbaja baru menerima surat Tuan Besar. Adapun Tuan Kuffeler tiada adat Jawa, maka Pangeran Poerbaja dengan pengiringnya dipintanya menyerahkan kerisnya, sebab mereka itu tawanan Kompani. Maka sia-sialah Pangeran Poerbaja mencoba mengubahkan pikiran Tuan Kuffeler dengan perlahan-lahan dan dengan manis perkataannya, katanya : « Ya, Tuan! bukan adat orang Jawa menanggalkan kerisnya, janganlah kiranya Tuan malukan saya saya ini bukan tawanan, sebah saya sudah beroleh ampun dari pada Tuan Besar! » —Akan tetapi Tuan Kuffeler tiada juga menerima permintaan itu.
Adapun segala perkataan itu didengar oleh Soerapati, maka dicobanya juga mengubahkan pikiran Luitenant itu; akan tetapi Tuan Kuffeler marahlah serta merentak dan berseru-seru, katanya, bahwa sekali-kali jangan patut seorang bekas budak masuk mulut dalam perkara itu. Pada akhirnya Pangeran Poerbaja berjanji esok hari kerisnya akan diserahkannya tetapi malam hari ditinggalkannya Cikalong.
Syahdan, maka malam itu juga Soerapati bermasyawarat dengan kawannya hendak membalas kelakuan Tuan Kuffeler; lalu sekonyong-konyong diamuknya laskar Kompani, sehingga kira-kira duapuluh orang mati terbunuh yang tinggal lagi dibawa oleh Tuan Kuffeler dengan susah payah ke Tanjung Pura.
Arkian, maka dua belas hari kemudian dari pada itu Pangeran Poerbaja datang menyembah Kompani, maka ia pun disambut oleh Gouverneur-Generaal dengan lemah lembut.
Adapun Soerapati dengan kawannya menyamun pula di tanah Priangan sehingga seorang panglima disuruh Kompani menangkap akan dia. Maka penyamun itu banyak yang dibunuhnya, tetapi Soerapati lari ke sebelah timur sampai ke Kartasoera, serta memperhambakan dirinya ke bawah Susuhunan Amangku-Rat (pada tahun 1684).
Adapun sejak perang dengan Truna Jaya di Kartasoera ada sebuah benteng kecil, yang diduduki beberapa soldadu Belanda, panglimanya pada masa itu Kapiten Grevink namanya. Maka terdengarlah kabar kepadanya, bahwa Soerapati dipeliharakan oleh Susuhunan; maka dipintanya kepada Baginda atas nama Kompani, mudah-mudahan Soerapati diserahkan ke dalam tangannya, akan tetapi Susuhunan menolak permintaan itu.
Hatta, maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu dalam tahun 1686 Kapiten Tak dititahkan oleh Gouverneur-Generaal akan melihati loji di pantai Jawa sebelah utara, dan lagi akan membicarakan hal ahwal Raja Cirebon tentang Susuhunan dan tentang Kompani, serta akan menyampaikan permintaan Soerapati diserahkan kepada Kompani.
Tatkala Tuan Tak di Semarang, maka disuruhnya Kapiten Leeman beserta dengan beberapa soldadu berjalan dahulu ke Kartasoera akan menjaga bingkisan Kompani bagi Susuhunan.
Maka di tengah jalan Tuan Tak beroleh sepucuk surat dari pada Mangku Bumi Mataram, bunyinya bahwa balatentara Susuhunan hendak membinasakan Soerapati bersama-sama dengan rakyatnya, baiklah soldadu dalam benteng Kompani di Kartasoera tiada menulung.
Arkian, maka ketika Kapiten Tak sudah dekat Kartasoera, maka ia pun bertemu dengan orang Jawa dan orang Madura yang lari. Maka bertanyalah Kapiten Tak, apa sebabnya orang sekian banyak lari semuanya, jawabnya, bahwa merika itu telah disuruh mengepung dan menangkap Soerapati, tetapi mereka itu dikalahkannya. Setelah Tuan Tak sampai ke keraton, maka dikabarkan orang, bahwa Susuhunan sudah berangkat pura hendak menawan Soerapati.
Syahdan, maka Kapiten Grevink disuruh oleh Tuan Tak menunggu keraton dengan beberapa soldadu, kemudian Kapiten Tak dengan rakyatnya keluar hendak mendapatkan Soerapati ke sebelah timur sepanjang nasihat Bupati Jepara. Adapun balatentara itu tiada bertemu dengan Soerapati, sebab kabar Bupati Jepara itu bohong saja. Setelah sudah berjalan beberapa lamanya, maka terdengarlah bunyi meriam dan bedil, serta kelihatan api yang besar di atas keraton.
Maka dengan segera Tuan Tak berbalik, sudah sampai, maka didapatinya Kapiten Grevink dengan soldadunya dibunuh orang, masjid raya terbakar serta Soerapati dengan kawannya duduk di istana Susuhunan dikepung oleh rakyat Mataram. Maka anak buah Soerapati mengamuk hendak keluar daripada tempatnya, sambil menyerbukan dirinya ke dalam musuhnya, sehingga orang Mataram diundurkannya kacau balau semuanya. Maka orang yang lari itu bercampur dengan laskar Kompani; perintah officier tiada kedengaran lagi, karena hiru-hara yang tiada terkira-kira itu, serta asap dan api menahan pemandangan. Maka orang Belanda kebanyakan mati Tuan Tak pun kena tumbak ketika hendak naik kuda lalu mati orang yang tinggal lagi dihimpunkan oleh Kapiten Leeman, dihantarkannya masuk ke dalam benteng. Pada sangkanya segala hal ahwal itu dengan satahu Susuhunan, yang menghendaki membunuh Tuan Tak; maka bagaimana sekalipun suruhan Baginda mencoba mengobahkan pikirannya, tetapi tiada juga dapat.
Kalakian, maka lepas perang di Kartasoera itu, maka Soerapati berjalan ke sebelah timur, sambil merampas di kampung yang dilaluinya.
Kesudahannya sampailah ia ke Pasuruan; maka dihalaukannya Bupati negeri itu serta mengaku dirinya raja, Maka sebab Soerapati cerdik dan adil dan berani, maka makin lama makin banyak orang memperhambakan dirinya kepadanya, sehingga kerajaannya dikembangkannya dari Panaraga sampai ke Puger, dan dari Bangil sampai ke laut Kidul.
Bermula, maka lama kelamaan nyatalah kepada GouverneurGeneraal, bahwa bukan Susuhunan yang hendak bermusuh dengan Kompani, melainkan Pangeran Adipati Anom dengan
Mangku Bumi yang melakukan khianat itu kepada Kapi toin Tak; akan Susuhunan Amangku-Rat pemerintahan negeri Mataram tiada berapa dipedulikannya.
Adapun Kompani tiada mengindahkan lagi akan Susuhunan orang isi benteng di Kartasoera dititahkannya berjalan ke Semarang, dan lagi beberapa perkara diselesaikannya sendiri saja, upamanya Sultan Cirebon dititahkan Kompani lepas dari pada hukum Mataram dan takluk kepada Kompani demikian juga Kompani mengangkat seorang Panembahan di Madura dengan tiada menanyakan rela Susuhunan.
Hatta, maka pada tahun 1703 mangkatlah Susuhunan Amangku-Rat, maka putranya naik raja. Adapun Raja itu Amangku-Rat-Mas namanya, tetapi dalam hikayat Raja-raja Mataram ia pun dinamai Sunan. Mas. Maka Sunan-Mas tiada dikasihi oleh anak buahnya, sebab hatinya gaduk dan bengis seperti laku Susuhunan Tegal Wangi ; acap kali dibunuhnya anak buahnya dengan tiada semena-mena saja. Maka diceritakan oleh sahibu'l hikayat kesukaannya mengadu harimau dengan perempuan yang telanjang!
Maka tiada berapa lamanya Sunan-Mas sudah naik Susuhunan, maka adalah Pangeran Poeger, bapa bungsunya, lari ke Semarang berlindung kepada Kompani, sebab takut akan dibunuh oleh Sunan-Mas; anaknya seorang telah dibunuh. sebab durhaka, serta Pangeran Poeger dihukum dengan hukuman kabetek25.
Adapun G. G. Van Outhoorn (dari tahun 1691 sampai tahun 1740) masygul hatinya, sebab Sunan-Mas tiada berbaik dengan Kompani, sebab itu Kompani merajakan Pangeran Poeger dengan gelar Susuhunan Paku Buana, serta menitahkan Raad van Indié, Tuan De Wilde ke Semarang berserta dengan laskar 2,000 orang (pada tahun 1704). Maka Sunan Mas terkejut mendengar kabar, mengatakan Pangeran Poeger dirajakan oleh Kompani; maka dengan segera disuruhnya utusan ke Betawi menyampaikan permintaannya, yaitu mudah-mudahan bapa bungsunya diserahkan kepadanya jikalau permintaan itu dikabulkan, tentu dilakukannya barang kehendak Kompani. Akan tetapi sahut Gouverneur-Generaal, bahwa Sunan-Mas patut mengaku Pangeran Poeger Susuhunan jikalau ia tunduk, maka sebahagian tanah Mataram akan diperolehnya.
Hatta, maka bupati dan menteri makin banyak meninggalkan Sunan-Mas, sehingga ketika balatentara Belanda masuk ke dalam Kartasoera seorang juapun tiada melawan, seraya Sunan-Mas sudah lari ke Kediri.
Setelah itu, maka Susuhunan Paku Buana didudukkan oleh Tuan De Wilde dalam keraton, lalu ia pun berteguh-teguhan janji dengan Kompani perkara yang terutama sekali perjanjian itu, yakni:
Pertama: Perjanjian pada tahun 1677 dan 1678 diulangkan.
Kedua: Kompani beroleh daerah Mataram, yang di sebelah barat baris yang mempertalikan muara Ci-Losari dengan muara Ci-Donan (dekat Cilacap).
Ketiga: Kompani beroleh pulau Madura sebelah timur.
Keempat: Susuhunan memeliharkan isi benteng 200 orang di Kartasoera.
Kelima: Sekalian utang Mataram baik yang lama, baik yang baru tiada akan dibayar lagi.
Sebermula, maka Sunan-Mas meminta bantuan kepada Soerapati, maka permintaan itu diterima oleh Soerapati, asal ia diakunya Raja Pasuruhan.
Arkian, maka pada tahun 1706 Mayor Knol berangkat dari Surabaya dengan membawa soldadu Belanda 1,000 orang dan bumi putra kira 10,000 orang; adapun orang itu rakyat Bupati Surabaya dan rakyat Cakra-ning-Rat, Panembahan Madura.
Maka tiada terkira-kira susah payah perjalanan balatentara itu: dilaluinya tanah yang sunyi, diarungnya rawah yang dalam, diseberanginya batang air yang besar dan deras banyak orang sakit demam, banyak mati karena penyakit dan sengsara dan panas, dan lagi bekal-bekalan habis dimakannya pada sangka Tuan Knol Bupati Surabaya tiada lurus hati, sebab ialah yang menunjukkan jalan yang buruk itu.
Kesudahannya, setelah perang yang amat ramai, maka balatentara masuk ke dalam Bangil; tengah perang itu Soerapati kena peluru, lalu mati.
Adapun balatentara Belanda banyak orang mati yang lagi hidup letih badannya, sebab itu Mayor Knol pulang ke Surabaya.
Pada tahun 1707 Tuan De Wilde menghalaukan Sunan Mas dari Kediri, lalu mengalahkan anak Soerapati, sehingga balatentara Kompani masuk ke dalam Pasuruan. Kemudian dari pada itu pemerintahan negeri, yang ditaklukkan oleh Kompani, diaturkan oleh Tuan De Wilde, diberikannya kepada Bupati-bupati yang setia kepada Pangeran Poeger. Sudah itu, Tuan De Wilde pulang ke Betawi, dengan lemah dan sakit badannya karena payah dan sengsara perang itu, maka tiada berapa lamanya lagi, Tuan De Wilde meninggal.
Syahdan, maka Mayor Knol dititahkan Kompani menawan Sunan-Mas, yang bersembunyi di hutan rimba tanah Malang.
Maka tatkala Sunan-Mas amat sangat disesakkan musuhnya, maka ia pun tawar hatinya serta menyerahkan dirinya, lalu dihantarkan ke Betawi.
Maka bermusyawaratlah Gouverneur-Generaal dengan Raad van Indi, maka putus bicaranya, bahwa Sunan-Mas beranak istri dengan beberapa orang pengiring dibuang ke pulau Ceylon, serta diperolehnya gaji 250 ringgit sebulan dan beras seberapa yang berguna (pada tahun 1708).
PASAL XII.
HIKAYAT RAJA MATARAM SAMPAI TAHUN 1757.
Bermula, maka pada tahun 1719 Susuhunan Paku Buana meninggal dunia, lalu digantikan oleh putranya yang sulung, Amangku-Rat atau Sunan Prabu namanya, akan tetapi Susuhunan yang baru itu tiada diaku raja oleh saudaranya, apa lagi putra Sunan Prabu pun meninggalkan ayahanda Baginda, dibujuk oleh Pangeran, yang durhaka itu.
Adapun segala Pangeran itu tiada semuafakat, sebab itu mereka itu dikalahkan oleh balatentara Kompani bersama-sama dengan rakyat Mataram, lalu lari ke Malang dikejar musuhnya. Pada tahun 1723 putuslah perang itu, maka Pangeran itu separuhnya sudah mati, separuhnya dibuang dari tanah Mataram beserta dengan anak Soerapati dua orang, maka Pangeran Mangku Negara, putra Baginda, dikembalikan kepada ayahanda, asal jangan disiksanya.
Maka tiada lama lagi Sunan Prabu duduk di atas takhta kerajaan: pada tahun 1727 mangkatlah Baginda maka putranya yang sulung menjadi gantinya dengan gelar Paku Buana II. Maka ia pun lagi muda, sebab itu dipangku oleh bundanya Ratu Ageng dan oleh Mangku Bumi (Patih) Mataram. Pada masa itu sanak saudara Susuhunan senantiasa berselisihan saja, seorang memfitnakan sorang, seorang membinasakan seorang dengan akal yang jahat. Maka Pangeran Mangku Negara dan Patih dibuang ke pulau Ceylon dengan rila Kompani.
Alkisah, maka tersebutlah perkataan hikayat negeri Betawi Maka sejak Betawi dibuat, maka datanglah orang Cina makin lama bertambah banyak diam di situ, sehingga pada tahun 1730 kira 100,000 orang banyaknya.
Adapun Kompani khawatir, kalau orang Cina yang sekian banyak itu mendatangkan bahaya, sebab itu dititahkan oleh Gouverneur-Generaal, bahwa beberapa negeri tiada boleh diduduki lagi oleh orang Cina yang sudah diam di situ harus beralih dan lagi barang siapa, yang tiada berjabatan dibawa ke pulau Ceylon akan mengupas kulit manis di sana.
Hatta, maka banyak orang Cina yang melarat berkumpul di luar kota Betawi akan menyamun, maka dibunuhnya orang Belanda dibakarnya rumah dan penggilingan tebu di daerah Betawi, seraya benteng pun di Bekasi dirusakkannya.
Maka dengan hal yang demikian itu orang Betawi syak hatinya, pada sangkanya orang Cina di dalam negeri itu bermufakat dengan kawannya, yang durhaka itu hendak menbunuh segala orang Belanda semuanya.
Maka dititahkan oleh G. G. Valckenier dari tahun 1737 sampai tahun 1741, bahwa mata-mata Kompani harus memeriksa rumah orang Cina di Betawi, maka didapatinya senjata dan obat bedil amat banyak Kapiten Cina pun menyembunyikan senjata dalam rumahnya. Sudah itu pintu gerbang ditutup, serta segala orang negeri diberi senjata oleh pemerintah.
Arkian, maka orang Cina yang di luar menyerang kota Betawi bulan October tahun 1740, akan tetapi tiada dapat masuk. Maka kaesokan harinya Gouverneur-Generaal bersama-sama Raad van Indié bermasyawarat; pada bicara Tuan Valckenier baiklah orang Cina sekalian dihalaukan dari dalam kota. Maka sementara itu terbakarlah sebuah rumah di kampung Cina; maka orang hina-dina dan soldadu dan khalasi dan orang risau pun berkerumun di situ, tetapi jangan dipadamkannya api itu, melainkan rumah yang lain dibakarnya juga, sambil orang Cina yang terdapat dibunuhnya belaka.
Maka tengah gempar itu orang Cina yang di luar negeri mengamuk pula, tetapi diusir orang. Lama-kelamaan seluruh kampung Cina itu habis terbakar dan bangkai kira 210,000 orang tersiar-siar di jalan atau terbakar dalam rumahnya.
Maka dalam pada itupun Gouvernour-Generaal tiada menegahkan perbuatan yang jahat itu, tetapi jikalau kiranya dilarang sekalipun, niscaya perintah itu tiada dipedulikan oleh pembunuh itu.
Arkian, maka beberapa hari kemudian dari pada itu dititahkan oleh Gouverneur-Generaal, bahwa orang Cina di luar kota, yang menyerahkan dirinya, diampuni dosanya, serta boleh membangunkan rumahnya pada sebidang tanah di sebelah barat Ci-Liwung maka inilah pokok kampung Cina, yang sekarang di Betawi.
Hatta, maka orang Cina banyak lagi menyamun di daerah Betawi, tetapi mereka itu diusir oleh laskar Kompani, lalu lari ke pulau Jawa Tengah di situlah orang yang durhaka itu berkumpul dengan kawannya, maka Djoeana dibinasakannya dan Semarang dikepungnya.
Adapun wakil Kompani di Semarang meminta bantuan kepada Cakra-ning-Rat IV, Panembahan di Madura; maka Raja itu amat sukacita, sebab berharap meluaskan kerajaannya dan melepaskandirinya dari pada hukum Susuhunan.
Syahdan, maka makin lama bertambah banyak orang Cina yang durhaka, seperti api makan ilalang; lebih-lebih sebab Susuhunan Paku Buana menolong orang Cina itu sembunyi-sembunyi. Pada suatu hari benteng Kompani di Kartasoera diserang oleh rakyat Susuhunan maka sebab orang isi benteng tiada tahu akan khianat itu, oleh karena itu soldadu itu ditawan dan panglimanya dibunuh orang. Tambahan lagi Susuhunan menyuruh Bupati di pantai Jawa sebelah utara membantu orang Cina.
Arkian, maka pada masa itu juga datanglah ke Semarang seorang wakil Kompani, Verijssel namanya. Adapun Tuan Verijssel mencerai-beraikan orang Cina dan orang Jawa, yang mengepung Semarang sudah itu, maka dilepaskannya Tegal dan Jepara dari pada musuh itu; sementara itu Panembahan Cakra-ning-Rat mengusir orang Cina dari Pasuruhan.
Maka dengan hal yang demikian itu Susuhunan menyesal sebab orang Cina ditolongnya, serta dengan takut dan masygul hatinya sebab itu disuruhnya utusan kepada Tuan Verijssel akan memohon ampun.
Demi didengar oleh orang Cina, bahwa Susuhunan berpaling hatinya, maka dirajakannya Mas Gerendi, cucu Sunan Mas; maka Susuhunan itupun digelari orang Sunan Kuning. Kemudian orang Cina mendatangi dan membakar Kartasoera, sehingga Susuhunan Paku Buana lari ke Panaraga pada tahun 1742. Maka Baginda memohonkan pertolongan kepada Kompani, sambil menghinakan dirinya dan berjanji akan melakukan barang kehendak Gouverneur-Generaal.
Maka dalam pada itupun Tuan Verijssel menaklukkan Bupati-bupati di sebelah pantai utara maka ketika balatentara hendak mendapatkan orang Cina di Kartasoera, maka pecahlah kabar, mengatakan Panembahan Cakra-ning-Rat telah masuk ke dalam Kartasoera dan mengalahkan orang Cina. Demikianlah hilang kerajaan Sunan Kuning, maka ia menyerahkan dirinya kepada wakil Kompani di Surabaya, lalu dibuang ke pulau Ceylon.
Maka Panembahan Madura dibujuk oleh Kompani meninggalkan Kartasoera mula-mula ia pun tiada mau, sebab amat sangat benci kepada Susuhunan tetapi pada akhirnya pergilah juga ia.
Hatta, maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu, maka pada seluruh tanah Jawa orang Cina takluk pula.
Maka Susuhunan tiada suka lagi duduk di Kartasoera, pada sangkanya tempat itu celaka oleh karena itu Baginda berpindah padatahun 1744 ke Surakarta-Adi-ning-Rat. Maka kesalahannya diampuni oleh Kompani, asal Susuhunan berteguh-teguhan janji maka pasal perjanjian itupun yang terutama sekali, yakni:
Pertama: Patih dan Bupati di Mataram diangkat oleh Susuhunan dengan rila Kompani.
Kedua: Pulau Madura, Surabaya, Rembang, Jepara, dan tanah Jawa sebelah timur dari Pasuruan sampai ke selat Bali diserahkan kepada Kompani.
Ketiga: Kompani beroleh pantai seluruh tanah Jawa 350 depa lebarnya.
Keempat: Susuhunan tiada membayar belanja perang selama perjanjian ini tiada dilangkahinya.
Kelima: Perjanjian pada tahun 1704 diulangkan.
Adapun Panembahan Cakra-ning-Rat lepas dari pada hukum Susuhunan dan mengaku Kompani menjadi Yang-dipertuan, serta putranya dikaruniai kabupaten Sidayu akan tetapi Cakra-ning-Rat tiada senang hati sebab dikehendakinya segala negeri yang dahulu dikalahkannya. Oleh karena itu terbitlah perang, kesudahannya Panembahan alah, lalu dibuang.
Bermula, maka G. G. Van Imhoff daritahun 1742 sampai tahun 1751 hendak melihati jajahan, yang baru diperoleh oleh Kompani, sebab pada masa itu orang Belanda tiada mengatahui hal ahwal dan keadaan tanah Jawa. Mula-mula Tuan Besar menjalani daerah Betawi ketika sampai ke Bogor, maka heranlah Gouverneur-Generaal melihat tanah yang saelok itu maka dititahkannya membuat sebuah istana di situ; maka istana itu didirikan pada tahun 1747 seraya dinamai Buitenzorg26.
Arkian, maka lepas porang dengan Panembahan Cakra ning-Rat G. G. Van Imhoff menjalani Rombang, Surabaya, Sumenep, Pasuruan, Gresik, Jepara dan Semarang, maka di Semarang Susuhunan Paku Buana lI datang mengunjungi Tuan Van Imhoff, diiring seegala sanak saudaranya dan menteri-menteri besar. Kemudian dari pada itu Gouverneur-Generaal. pergi juga mengunjungi Susuhunan di Surakarta akan membalas tanda kehormatan itu. Maka kedua orang yang mahakuasa itu menyelesaikan beberapa perkara ditentukannya, bahwa Tegal dan Pekalongan masuk tanah Kompani, hanyalah bea, yang dipungut orang dalam negeri itu akan diserahkan oleh Kompani kepada Susuhunan.
Sudah itu Gouverneur-Generaal pulang ke Betawi, dilaluinya Tegal, Cirebon, Dermayu dan Panarukan.
Alkisah, maka tatkala G. G. Van Imhoff di Surakarta, maka tanah Mataram tiada sentosa, sebab beberapa Pangeran durhaka kepada Baginda yang terutama sekali Raden Mas Said, anak Pangeran Mangku Negara.
Adapun tanah Sukawati (bahagian sebelah timur keresidenan Sala yang sekarang telah dikalahkannya. Maka beberapa lamanya Raden Mas Said duduk di Sukawati, lalu ia pun diusir oleh Pangeran Mangku Bumi, adinda Susuhunan, maka Pangeran itu dijadikan Baginda Bupati dalan negeri itu. Maka Patih Mataram tiada berbaik dengan Pangeran Mangku Bumi; difitnahkannya Pangeran itu kepada Susuhunan, sehingga Pangeran Mangku Bumi diturunkan Baginda.
Adapun Pangeran Mangku Bumi malu lagi dengan amat sangat marahnya, maka ia pun berkumpul dengan Raden Mas Said. Lalu keduanya menyerang negeri Surakartamaka dibakarnya sebahagian negeri itu, tetapi mereka itu dihalaukan oleh TuanVon Hohendorff, Gouverneur tanah Jawa sebelah utara dan timur pada tahun 1746.
Hatta, maka pada tahun 1749 Susuhunan Paku Buana II sakit payah, merasa sudah sampai ajalnya, maka dipanggilnya Tuan Von Hohendorff, lalu diserahkannya kerajaan Mataram kepada Kompani.
Sungguhpun Susuhunan berputra seorang, tetapi Pangeran itu tiada juga dirajakannya, sebab ia kena murka ayahanda Baginda.
Demi Susuhunan berpulang ke rahmatu'llah, maka Pangeran Adipati Anom dirajakan juga oleh Kompani dengan gelar Paku Buana III.
Maka Susuhunan yang baru itu mengaku dirinya di bawah Kompani, sebab kerajaan Mataram diperolehnya saja karena kasihan dan karunia Kompani.
Maka pada hari itu juga Pangeran Adipati Anom naik Susuhunan, maka Pangeran Mangke Bumi dirajakan oleh orang besar-besar yang bersakutu dengan dia kemudian dari pada itu disuruhnya dirikan sebuah keraton di Nga-Yogyakarta-Adi-ning-Rat (Yogyakarta). Oleh sebab hal yang demikian itu jadilah perang yang amat lanjut: kadang-kadang balatentara Kompani serta rakyat Susuhunan menang, kadang alah rupa-rupanya kedua belah pihak itu balui. Apabila Pangeran yang durhaka itu disesakkan musuhnya, maka dengan segera mereka itu lari ke gunung Kidul; tetapi kalau ketika baik, maka sekonyong-konyong keluarlah ia dari dalam tempatnya dan melanggar negeri yang sekelilingnya.
Setelah beberapa tahun lamanya tanah Mataram dibinasakan oleh perang itu maka Pangeran Mangku Bumi berselisih dengan Raden Mas Said sehingga pada suatu hari Raden Mas Said menyerang Pangeran Mangku Bumi: salah sedikit dikalahkannya Surakarta maka segala negeri yang dilaluinya habis dibinasakannya pada akhirnya ia pun dihalaukan Kompani ke gunung Kidul.
Kalakian, maka Pangeran Mangku Bumi berdamai dengan Susuhunan dan dengan Kompani, maka diperolehnya bahagian sebelah selatan Mataram, yaitu Ngayogyakarta dengan gelar Sultan Amangku Buana turun temurun kepada Susuhunan. Adapun tanah mataram sebelah utara atau Surakarta di bawah hukum Paku Buana IIl dengan gelar Susuhunan (pada tahun 1755). Sudah itu rakyat Sultan Amangku Buana berhimpun dengan rakyat Susuhunan dan dengan laskar Kompani akan memerangi Raden Mas Said. Maka lama kelamaan Raden Mas Said tawar hatinya, maka pada tahun 1757 ia pun menghadap Susuhunan berdatang sembah minta maaf lalu dikaruniai bahagian sebelah tenggara keresidenan Surakarta yang sekarang serta digelari Pangeran Adipati Arya Mangku Negara.
PASAL XIII.
HIKAYAT KESUDAHAN KOMPANI DAN LAGI PEMERINTAHAN G. G. DAENDELS.
Bermula, maka dalam pasal yang dahulu telah diriwayatkan, bahwa Kompani yaitu persarikatan saudagar, yang hendak berniaga di tanah Hindia dengan beroleh monopoli. Akan tetapi maksudnya itu tiada dapat disampaikannya dengan lemah lembut: acap kali Kompani terpaksa memerangi raja, sebab ada yang melanggar kapal dagangan, ada yang mungkir janjinya, ada yang berkumpul dengan musuh Kompani. Apabila seorang raja kalah, maka haruslah ia melakukan kehendak Kompani, serta menyerahkan sebahagian negerinya, supaya ia pun jangan berperang pula. Sebab itu lama kelamaan Kompani seolah-olah menjadi kerajaan yang besar.
Hatta, maka pada tengah abad yang ke tujuh belas Kompani termulia sekali, namanya mashyur dari masyrik sampai ke maghrib.
Maka orang, yang pada masa itu menaruhkan uang kepada Konpani, kadang beroleh bunga uang lebih dari pada 100 rupiah dalam 100, jadi nyatalah orang suka meminjamkan modal.
Adapun aturan pemerintahan Kompani beginilah:
Yang mahakuasa di tanah Hindia yaitu Gouverneur-Generaal serta Tuan Raad van Indie; Gouverneur-Generaal mengangkat dan melepaskan menteri (ambtenaar).
Maka tanah Kompani dibahagi seperti tersebut di bawah ini:
Ada seorang Gouverneur di pulau Ambon, seorang di pulau Banda, seorang di pulau Ternate, seorang di Makassar dan seorang di Malaka.
Sejak tahun 1748 tanah Jawa sebelah utara dan timur diperintahkan juga oleh seorang Gouverneur. Maka jajahan yang lain di bawah hukum Resident atau Directeur; di antara Resident ada yang wakil Kompani kepada seorang Raja, umpamanya Resident di Banten.
Syahdan, maka perolehan Kompani yaitu bea dagangan yang masuk dan yang keluar dan cukai yang dibayar oleh orang Cina, dan laba monopoli rupa kehasilan, dan upeti, yang dipersembahkan oleh raja dan bupati yang takluk, terutama gula dan kopi.
Adapun untung baik dan untung malang bumi putra tiada berapa diindahkan oleh Kompani, orang itu di bawah perintah kepalanya sendiri; maka kepala itu, jikalau lalim sekalipun, jarang diturunkan, asal dihantarkannya upeti pada waktu yang tetap.
Maka dalam kehasilan tanah Jawa kopi yang terutama sekali.
Pada tahun 1696 Tuan Adriaan van Ommen, Kommandeur tanah Malabar di Hindustan mula-mula berkirim anak pohon kopi ke pulau Jawa, tetapi pohon itu tiada menjadi, sebab pada tahun 1699 gunung Salak meletus amat sangat, sehingga Ci-Liwung melimpah seraya merusakkan tanam-tanaman itu.
Kalakian, maka pemerintah Kompani menyuruh menanam kopi pula, maka pada tahun 1706 kopi Jawa yang bermula sekali dikirim ke negeri Belanda. Pada masa pemerintahan G. G. Zwaardekroon dari tahun 1715 sampai tahun 1725 kopi banyak ditanam orang Jawa, lebih-lebih di tanah Priangan.
Bermula, maka berapa mashyur dan mulia Kompani sekalipun lama kelamaan hilang juga; sebabnya yang terutama sekali, yakni:
Orang Inggris datang berniaga ke tanah Hindia makin lama bertambah banyak, serta disungguh-sungguhinya mengembangkan kuasanya, terutama sekali di Hindustan dan di pulau Ceylon dan di pantai sebelah barat pulau Perca; lagi pula didirikannya juga.
Kompani Hindia, maka Kompani itu makin lama makin besar kuasanya.
Tambahan lagi belanja perang Kompani Belanda sudah amat banyak, serta pemerintahan negeri yang sebanyak itu amat mahal harganya; sungguh pun ambtenaar Kompani gajinya sedikit saja, tetapi kebanyakan mengumpulkan uang untuk dirinya dengan akal yang tiada patut.
Meskipun laba tiada berapa, tetapi Kompani berulang ulang membayar juga bunga uang yang banyak, sebab Tuan-tuan Bewindhebbers takut orang yang menaruhkan uang mengembalikan uang itu, kalau bunganya kurang. Demikianlah Kompani berlaku seperti orang, yang membelanjakan uang lebih dari pada upahnya: tadapat tiada orang itu akan berutang.
Alkisah, maka diceritakan hal ahwal negeri Belanda. Maka pada abad yang ketujuh belas orang Belanda berperang beberapa kali dengan kerajaan di Eropa, lebih dengan orang Inggris dan dengan orang Pransman.
Maka pada tahun 1713 putuslah suatu perang yang besar dengan orang Pransman; setelah itu, maka pemerintah Belanda tiada mau bercampur lagi dalam perkara negeri yang lain sebab belanja akan melakukan perang itu sudah amat banyak. Akan tetapi oleh karena kelakuan yang demikian itu pemerintahan kurang kencang, sehingga tanah Belanda tiada dipedulikan lagi oleh raja-raja di benua Eropa.
Adapun Kompani demikian juga halnya: kapal perang dan soldadu sedikit saja, dalam ambtenaar ada banyak yang lalai dan lengah, niatnya akan mengumpulkan uang selekas lekasnya, supaya hidupnya dengan senang di tanah Belanda. Maka oleh karena perang dengan orang Inggris dari tahun 1780 sampai tahun 1784 Kompani kerugian amat banyak, sebab kapal dagangan terlalu banyak dirampas musuh. Sebab itu utang Kompani bertanbah-tambah banyak, sehingga pada tahun 1782 jumlahnya sudah sampai 20 juta rupiah. Pada akhirnya Tuan-tuan Bewindhebbers meminta tolong kepada pemerintah Belanda, maka permintaan itu dikabulkannya, tetapi hal Kompani tiada juga berobah.
Bermula, maka pada kesudahan abad yang ke delapan belas jadilah perubahan pemerintahan di tanah Pransman. Adapun orang hina-dina dalam negeri itu sudah lama dianiaya oleh orang besar, sehingga mereka itu durhaka maka aturan pemerintahan habis diubahkannya, tambahan lagi banyak orang bangsawan serta Raja pun dibunuhnya.
Adapun di negeri Belanda ada juga orang, yang tiada senang hati pada sangkanya Stadhouder (Raja) Willem V kurang baik pemerintahannya maka orang itu memohon pertolongan kepada orang Pransman hendak menghalaukan Rajanya; maka datanglah beberapa ribu soldadu Pransman, sehingga pada tahun 1795 Stadhouder Willem V lari ke tanah Inggris.
Maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu, maka orang Belanda menyesal amat sangat, karena orang Pransman lalim kelakuannya seolah-olah negeri Belanda masuk bahagian tanah Pransman.
Tambahan lagi negeri Belanda bercampur dalam perang orang Pransman dengan orang Inggris. Apabila orang Inggris bertemu dengan kapal Belanda, maka dibujuknya anak kapal itu menyerahkan dirinya, katanya: “Kami ini bukan musuh orang Belanda; maksud kami hendak mengembalikan kapal ini kepada Stadhouder Willem V.” Maka acap kali disampaikannya niatnya dengan akal itu.
Maka dengan hal yang demikian itu nyatalah Kompani makin lama makin lemah, sehingga utangnya sampai 112 juta rupiah. Kesudahannya ditentukan oleh pemerintah Belanda, bahwa Kompani ditiadakan, monopoli Kompani dihentikan serta utang Kompani akan dibayar berangsur-angsur oleh pemerentah Belanda dan lagi Tuan Bewindhebbers dilepaskan dari pada pangkatnya serta digantikan oleh Tuan sembilan orang, nama majelis itu Raad der Aziatiskhe Bezittingen (Dewan jajahan di benua Asia).
Demikianlah kesudahan Kompani dalam tahun 1800 kemudian tanah Hindia dipeliharakan oleh pemerintah (Gouvernement) Belanda.
Kalakian, maka dalam tahun 1804 tanah Pransman diperintah oleh Keizer (Maharaja) Napoleon. Adapun Napoleon dahulu letnan, maka sebab pandai dan panjang akal, maka ia pun makin lama makin naik, sehingga menjadi Keizer. Maka Keizer Napoleon amat mashyur bahwasanya ia tiada terlawan oleh Raja-raja di benua Eropa; beberapa kerajaan ditaklukkannya, lalu dianugerahkannya kepadanya saudaranya atau kepada panglimanya hanyalah tanah Inggris dan tanah Rusia tiada dapat dikalahkannya, sebab tanah Inggris di tengah laut, tiada terhampiri balatentara Pransman, dan tanah Rusia jauh dan amat luas.
Arkian, maka pada tahun 1806 negeri Belanda di bawah hukum Raja Lodewijk Napoleon, adinda Keizer Napoleon. Pada masa itu hal pemerintahan tanah Hindia belum berapa dibaiki, serta kebanyakan pulau lain dari pada pulau Jawa sudah di dalam tangan orang Inggris, karena soldadu dan alat senjata kurang atau karena khianat raja.
Adapun Raja Lodewijk Napoleon menitahkan seorang Gouverneur-Generaal ke tanah Hindia, yang mahakuasa mengubahkan pemerintahan tanah Hindia, barang apa yang disangkakannya baik boleh dilakukannya.
Maka Tuan yang dipilih Raja Belanda yaitu Maarschalk (panglima besar) Daendels sungguhpun lama pemerintahan tiga tahun saja (dari tahun 1808 sampai tahun 1811), tetapi ia pun kenamaan sekali di antara Gouverneur-Generaal.
Adapun G. G. Daendels berniat membaiki perihal tanah Hindia dengan sungguh hati barang apa yang menghambat maksudnya dan barang siapa yang melawan kehendaknya, dijauhkannya belaka, jikalau dengan kekerasan sekalipun tetapi hatinya benar, maksudnya hendak memperhatikan selamat orang Hindia.
Bermula, maka baru Tuan Daendels sampai ke Betawi maka ia berangkat ke Jawa tengah hendak memeriksa dan mengaturkan pemerintahan di situ. Sudah itu, maka Tuan Daendels harus pergi ke Banten; adapun sebabnya diceritakan di bawah ini: Gouverneur-Generaal telah menitahkan membaiki Teluk Camar (Meeuwenbaai) serta mendirikan benteng dan kubu di situ, supaya teluk itu menjadi tempat kapal berlindung dari pada angin ribut dan dari pada musuh maka orang yang disuruh mengerjakan pekerjaan itu, yaitu orang Banten.
Maka pekerjaan itu pun amat lambat dijalankan orang, sebab kuli itu banyak yang sakit dan banyak juga lari. Adapun Mangku Bumi di Banten ditimpa murka Gouverneur-Generaal, sebab pada sangka Tuan Besar ialah yang melanjutkan pekerjaan itu dengan sengaja seraya menghasut Sultan.
Syahdan, maka Resident Du Puij disuruh ke Banten akan menyampaikan kehendak Gouverneur-Generaal tiga perkara, yaitu: Sultan patut berpindah ke Anyer, dan Mangku Bumi dihantarkan ke Betawi, dan Sultan menyuruh anak buahnya menyudahkan pekerjaan di teluk Camar itu.
Arkian, maka Ketika Tuan Du Puij masuk ke dalam keraton, maka tiba-tiba ia pun diamuk dan dibunuh bersama-sama pengiringnya oleh rakyat Mangku Bumi. Demi kabar itu pecahlah, maka keesokanharinya Tuan Daendels berangkat ke Banten dengan membawa soldadu 1,000 orang dan meriam beberapa pucuk. Sudah sampai, maka balatentara itu menyerang keraton, lalu masuk. Adapun Sultan dibuang ke pulau Ambon, serta Mangku Bumi ditembak sampai mati dengan titah Gouverneur-Generaal (pada tahun 1808). Syahdan, maka tanah Lampung serta bahagian sebelah timur tanah Banten di antara Ci-Dani dan Ci-Durian dimasukkan tanah Gouvernement; maka bahagian tanah Banten yang tinggal lagi di bawah hukum putra Sultan yang dibuang itu.
Adapun Sultan yang baru itu lemah pemerintahannya anak buahnya, yang merompak dan yang menyamun tiada dapat ditegahnya oleh karena itu bahagian tanah Banten sebelah utara dijadikan pula jajahan tanah Gouvernement oleh Tuan Daendels.
Kemudian tersebutlah perkataan hikayat kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Bahwa Sultan Yogya pada masa itu Amangku Buana II (dari tahun 1792 sampai tahun 1828) maka dalam hikayat ia pun dinamai juga Sultan Sepuh (yang Tua).
Maka Sultan itu menaruh dendam kepada Gouvernement, sebab ia dihasut oleh istrinya dan adinda Baginda, Pangeran Nata Kusuma; maka di antara orang besar di Yogya, yang hendak bersahabat dengan Gouvernement Belanda Patih yang terutama sekali.
Adapun Tuan Daendels menyamakan Resident di Yogya dengan Sultan, serta beberapa adat, yang menghinakan wakil Raja Belanda itu, dibuangnya semuanya. Oleh karena itu Sultan bertambah benci, maka rakyatnya me nyamun di daerah Sala dan di tanah Gouvernement, kepalanya Raden Rangga Prawira-di-Reja, menantu Baginda.
Arkian, maka pada tahun 1811 Gouverneur-Generaal membawa balatentaranya ke Yogya. Meskipun Raden Rangga mati Tengah perang dengan rakyat Sutlan, tetapi Tuan Daendels tiada juga puas hatinya, melainkan Sultan Sepuh diturunkannya seraya Pangeran Adipati Anom dirajakannyadengan gelar Sultan Amangku Buana lll. Maka Sultan Sepuh boleh tinggal di keratonnya, asal jangan dicampurinya perkara negeri, maka Pangeran Nata Kusuma beserta dengan anaknya dihantarkan orang ke Cirebon; maka selama G. G. Daendels memerintah di tanah Hindia mereka itu tiada lepas.
Tatkala Gouverneur-Generaal di Yogya, maka diperolehnya keterangan, bahwa Susuhunan Paku Buana IV (Sunan Bagus) di Sala dahulu semuafakat dengan Sultan hendak melawan Gouvernement; sebab itu Tuan Besar berangkat ke Sala; maka dikuranginya kuasa Susuhunan.
Sebermula, maka aturan negeri yang masuk pemerintahan Belanda diubahkan sekali oleh Tuan Daendels. Pada masa itu jajahan Gouvernement di tanah Jawa sebelah utara dan timur di bawah perintah seorang Gouverneur adapun pangkat itu ditiadakan, serta tanah itu dibagi atas beberapa bahagian, satu-satu diperintahkan oleh seorang Resident. Maka Bupati (Regent) dijadikan ambtenaar oleh Tuan Daendels sediakala Bupati itu seperti raja kuasanya, dipungutnya bea dan hasil tanah sebanyak ia suka akan tetapi kemudian diperolehnya gaji yang tetap, dan lagi pangkatnya di bawah pangkat Resident. Pada masa dahulu beberapa macam hasil tanah harus diserahkan kepada Kompani; aturan itupun diobahkan oleh Tuan Daendels; yaitu, bumi putra dititahkannya menanam suatu macam tanam-tanaman, yang harus dijualnya kepada Gouvernement dengan harga yang tetap maka upah itu tiada diberikan kepada Bupati, melainkan kepada orang negeri sendiri.
Maka gaji ambtenaar ditambah oleh Gouverneur-Generaal, tetapi seorang juapun tiada boleh mengambil barang sesuatu dari pada anak buahnya dengan akal yang tiada patut.
Maka Tuan Daendels amat keras kelakuannya kepada barang siapa, yang menganiaya orang atau yang lalai dan kurang berani, bagaimana besar sekalipun pangkat orang yang demikian itu upamanya: ada seorang Kolonel (panglima besar) di pulau Ambon; sungguhpun bentengnya teguh dan soldadunya banyak, tetapi seluruh pulau Ambon diserahkannya kepada orang Inggris; oleh karena itu Tuan Daendels menitahkan soldadunya menembak Kolonel itu sampai mati.
Syahdan, maka aturan hukum hakim diubahkan juga oleh Tuan Daendels. Maka dalam tiap-tiap keresidenan didirikan sebuah Landraad, yaitu majelis beberapa menteri Jawa di kepalai oleh Resident; dan lagi dalam tiap kabupaten hukuman diputuskan oleh Regent beserta dengan beberapa kepala Jawa. Tambahan lagi di Semarang dan di Surabaya dijadikan Raad van Justitie (Landraad yang tinggi) pekerjaannya menghukum kesalahan yang besar.
Adapun keelokan Betawi dan kesenangan isinya diperhatikan juga oleh Tuan Daendels sebab sejak gunung Salak meletus pada tahun 1699, lumpur amat banyak dihilirkan Ci-Liwung, sehingga sungai dan pelabuhan Betawi tohor serta hawa tiada sehat karena lumpur itu. Maka Gouverneur-Generaal menitahkan, bahwa lurung yang sempit dilebarkan dan sungai didalamkan orang dan lagi diajaknya orang mendirikan rumah lebih jauh ke udik. Demikianlah terjadi negeri Betawi yang baru bahagiannya Weltevreden, Rijswijk dan Noordwijk namanya. Di Weltevreden diperbuat orang sebuah istana bagi Gouverneur-Generaal, maka istana itupun dihabiskan sepeninggal Tuan Daendels sekarang rumah itu menjadi kantor beberapa Tuan Directeur.
Maka pekerjaan yang termashyur sekali, yaitu jalan raya dari Anyer sampai ke Panarukan 200 jam perjalanan panjangnya, maka jalan itu diperbuat orang negeri kira-kira satu tahun lamanya.
Maka peri hal balatentara dipeliharakan juga oleh Tuan Daendels dengan sungguh hati di Meester Cornelis diperbuat orang tempat kediaman soldadu, yang dikelilingi parit dan kubu di Weltevreden didirikan orang tangsi dan rumah sakit, yang sampai sekarang dipakai oleh Gouvernement. Maka di Salatiga dibangunkan sebuah benteng, demikian juga di pulau Menari di selat Madura akan menjaga Surabayadi Semarang dan di Surabaya Gouverneur Generaal menitahkan membuat pabrik, tempat orang menyediakan kapal dan meriam dan senjata.
Tatkala Tuan Daendels datang ke Hindia, maka soldadu sedikit saja, tetapi sesudahnya satu tahun lamanya soldadu 18,000 orang dan officier 500 orang serta sudah siap 45 buah kapal perang yang kecil (perahu keruis) akan memerangi perompak, sebab orang itu makin lama bertambah berani pada masa pemerintahan Kompani kurang kencang.
Adapun nyatalah Gouvernement membelanjakan banyak uang akan melakukan segala perubahan ituoleh sebab itu dititahkan oleh Tuan Daendels, bahwa beberapa bidang tanah yang luas sekali harus dijual barang siapa yang membeli sebidang tanah saolah-olah ganti Gouvernement di tanah itu serta boleh mendapat hasil, yang ditentukan oleh Gouvernement, kepada orang yang duduk di situ.
Demikianlah dijual daerah Betawi dan Bogor dan Semarang dan Surabaya dan Krawang dan Probolinggo dan Besuki; maka tanah itu dinamai tanah particulier. Sekarang ini lagi ada di keresidenan Betawi, di Krawang dan di Semarang tanah yang lain sudah ditebus pula oleh Gouvernement.
Hatta, maka pada tahun 1811 Tuan Daendels dititahkan pulang oleh Keizer Napoleon maka gantinya yaitu G. G. Janssens.
PASAL XIV.
HIKAYAT PEMERINTAHAN ORANG INGGRIS.
Alkisah maka tatkala G. G. Janssens menggantikan pemerintahan G. G. Daendels maka kelengkapan orang Inggris berlayar dari Malaka akan mengalahkan tanah Jawa. Maka Lord Minto, Gouverneur-Generaal Kompani Inggris menumpang di kapal, akan tetapi yang sebenarnya menjalankan aturan angkatan itu, yaitu Tuan Raffles.
Adapun Tuan Raffles dahulu Secretaris di pulau Pinang maka karena kepandaiannya dan bijaksananya ia pun disuruh oleh Lord Minto kepada raja di Hindia akan membujuk raja itu membawa dirinya ke bawah hukum orang Inggris; maka beberapa raja mendengarkan hasut Tuan Raffles.
Arkian, maka 4 hari bulan Augustus tahun 1811 balatentara Inggris naik darat dekat Betawi, maka empat hari kemudian dari pada itu mereka itu masuk ke dalam negeri itu sebab G. G. Janssens telah meninggalkan Betawi dan mengumpulkan rakyatnya di Meester Cornelis. Tiada lama antaranya, maka orang Inggris menyerang kota itu kesudahannya orang Belanda alah, terutama sebab Generaal Pransman Jumel lalai dan lengah kelakuannya. Setelah balatentara Belanda cerai berai, maka Gouverneur-Generaal berangkat ke Semarang hendak menahan musuh di situ, akan tetapi soldadunya sedikit saja lagi hatinya kecil dan lagi rakyat Susuhunan dan Sultan dan Pangeran Mangku Negara yang menolong Gouvernement, tiada berapa gunanya.
Adapun orang Inggris dengan segera mengejar balatentara itu, sehingga 17 hari bulan September G. G. Janssens harus menyerahkan pulau Jawa serta segala jajahannya ke dalam tangan orang lnggris.
Sudah itu Lord Minto menjadikan Tuan Raffles Luitenant-Gouverneur (G. muda) di tanah Hindia; kemudian dari pada itu ia pun pulang ke Hindustan.
Maka diceritakan hikayat karajaan Yogya. Setelah Gouvernenent Belanda berhenti, maka Sultan Sepuh tiada mau melakukan perjanjian dengan Tuan Daendels, melainkan ia pun naik Sultan pula seraya putranya diturunkannya.
Mula-mula Tuan Raffles tiada melarang perbuatan itu, oleh sebab itu Sultan Sepuh makin berani, maka orang yang dahulu berbaik dengan G. G. Daendels disiksanya Patih berdua beranak dibunuhnya maka Sultan Anom yang Muda lari berlindung kepada orang Inggris, sebab takut diracun orang.
Adapun Tuan Raffles kesusahan amat sangat, sebab pada ketika itu soldadu Inggris kebanyakan sedang memerangi negeri Palembang. Setelah kembali di tanah Jawa, maka balatentara Inggris menyerang negeri Yogya, lalu masuk. Maka Sultan Anom dirajakan pula oleh Tuan Raffes, serta Sultan Sepuh dibuangnya ke pulau Pinang. Tambahan lagi tanah Kedu, Pacitan, Japan (Mojokerto), Jipan (Bojonegoro) dan Grobogan menjadi jajahan Inggris; maka dijanjikan oleh Sultan, bahwa Patih boleh diangkat dan diturunkan oleh Gouvernenent Inggris.
Maka Pangeran Nata Kusuma dianugerahi sebidang tanah oleh Tuan Raffles, karena teguh setianya kepada orang Inggris tanah itu yaitu distrik Karang Kamuning di antara sungai Praga dan sungai Bagawanta, maka Pangeran itu beroleh gelar Pangeran Adipati Paku Alam turun temurun kepada anak cucunya (pada tahun 1812).
Kemudian dari pada itu Susuhunan Sala kedatangan juga oleh soldadu Inggris, sebab sepakat dengan Sultan Sepuh hendak membinasakan orang Inggris; maka Susuhunan dipaksa oleh Tuan Raffles menurut sekahendaknya. Kalakian, maka sekali lagi Susuhunan mencoba memperdayakan Gouverneur; dihasutnya soldadu Sipai akan durhaka kepada Gouvernement; akan tetapi khianat itu terdengar kepada Tuan Raffles maka dengan segera disuruhnya soldadu Sipai itu berpindah kepada negeri yang lain.
Bermula, maka sejak negeri Banten dikurangi kuasanya, oleh Tuan Daendels, maka orang negeri tiada juga sentosa, sebab banyak orang berkawan akan menyamun dan merompak. Maka sia-sialah Sultan mencoba menegahkan orang itu, oleh karena itu ia pun turun serta menyerahkan tanah Banten kepada Gouvernement Inggris, asal diperoleh nya gaji selama lagi hidupnya.
Demikian juga hal Sultan Cirebon.
Adapun dalam pasal yang dahulu sudah diceritakan bahwa Tuan Daendels menyuruh orang negeri menjual hasil tanah beberapa macam dengan harga yang tetap kepada Gouvernement. Akan tetapi Tuan Raffles lain pikirannya pada sangkanya baiklah orang Jawa bebas menanam barang sesukanya dan menjual kepada barang siapa juapun; tetapi masing-masing harus membayar cukai dengan uang tunai atau dengan padi. Pada zaman Hindu segala sawah ladang disangkakan orang milik Raja, maka anak buahnya harus menghantar upeti kepada Yang-dipertuan. Oleh karena itu pada pikiran Tuan Raffles cukai yang dipungut oleh Gouvernement yaitu seolah-olah sewa tanah, yang pada zaman dahulu kala dipersembahkan kepada Raja.
Adapun di tanah Jawa tengah ada suatu adat, yaitu sawah sebuah desa dimiliki segala orang isi desa itu, maka sekali setahun atau sekali dua tahun sawah itu dibahagikan oleh kepala desa kepada sekalian anak buahnya. Oleh karena hal yang demikian itu bukan seorang, membayar sewa tanah (pajeg), melainkan sedesa-desa menurut luas dan elok sawahnya. Setelah aturan itu dijalankan beberapa lamanya oleh Gouvernement, maka pikiran Tuan Raffles berubah pula, dititahkannya, bahwa tiap kepala cacah isi rumah wajib membayar pajeg, sebab pada sangka Gouverneur, kalau tiada demikian, orang kecil dianiaya oleh kepalanya.
Maka nyatalah Gouvernement patut mengatahui luas tiap-tiap sawah, supaya pajeg boleh ditentukan banyaknya; akan tetapi pada masa itu pulau Jawa belum diukur dengan betul-betul seperti sekarang jadi pajeg itu tiada juga boleh ditentukan Gouvernement dengan sebenarnya.
Syahdan, maka pekerjaan negeri dikurangi juga, hanyalah jalan raya dan jembatan harus dikerjakan oleh orang Jawa tambahan lagi orang Jawa tiada disuruh menanam kopi, lain dari pada di tanah Priangan, sebab di situ kopi amat subur jadinya.
Adapun orang Cina dan orang dagang yang berjabatan wajib membayar cukai masing skedar upahnya.
Maka L. G. Raffes menjual juga beberapa bidang tanah di Cirebon, di Krawang dan di Priangan seperti laku Tuan Daendels, tetapi Probolinggo dan Besuki ditebusnya pula.
Lain dari pada yang tersebut di atas ini dititahkan lagi oleh Tuan Raffles beberapa undang-undang, umpamanya :
Garam menjadi monopoli Gouvernement.
Gouvernement melarang menyabung dan main judi.
Orang budak tiada boleh dibawa dari pada sebuah pulau kepada seeebuah pulau.
Bermula, maka diceritakan hal negeri-negeri yang lain dari pada pulau Jawa. Maka sebelum tanah Hindia di dalam tangan orang lnggris, maka Sultan Mahmud Badruddin di Palembang telah dihasut oleh Tuan Raffles akan melepaskan dirinya dari pada hukum orang Belanda. Tatkala terdengar kabar kepadanya, mengatakan orang Inggris sudah mengalahkan pulau Jawa, maka tiba-tiba disuruhnya rakyatnya membunuh orang isi benteng Belanda di Palembang maka seorang jua pun tiada terpelihara nyawanya, baik laki baik perempuan, baik kanak. Kemudian dari pada itu datanglah utusan Tuan Raffles akan meminta Sultan mengaku dirinya takluk kepada Kompani Inggris, tetapi permintaan itu ditolak oleh Baginda. Sebab itu balatentara Inggris menyerang dan mengalahkan negeri Palembang dalam pada itu pun Sultan Badruddin lari ke hulu Palembang. Sudah itu Najmuddin, adinda Baginda, dirajakan oleh Tuan Raffles, asal pulau Bangka diberikannya kepada Gouvernement Inggris pada tahun 1812).
Maka di pulau Solebes Raja Bone diperangi oleh orang Inggris, sebab kerajaannya dikembangkannya, sehingga ia pun berniat menaklukkan negeri Goa. Pada tahun 1813 orang Inggris menyerang negeri Sambas, sebab rajanya merompak di laut maka negeri itu dibakar balatentara Inggris dan Sultan Sambas lari ke udik.
Kalakian, maka pada tahun 1813 hilanglah kuasa Keizer Napoleon, sesudahnya balatentaranya setengah juta orang habis binasa di tanah Rusia. Maka bangsa Eropa yang menanggung hukumnya suka tak suka, berbangkit, sehingga Keizer Napoleon dikalahkannya, lalu dibuangnya ke pulau Elba.
Adapun orang Belanda menghalaukan juga orang Pransman serta merajakan putra Stadhouder Willem V, namanya Koning (Raja) Willem I. Sudah itu orang Belanda berdamai dengan orang Inggris, lalu hampir seluruh tanah Hindia dikembalikan oleh Raja Inggris kepada Raja Belanda (pada tahun 1814).
Maka pada tahun itu juga wakil Raja Willem I tiga orang (Commissaris-Generaal) berangkat ke tanah Hindia akan mempertukarkan pemerintahan, tetapi pada ketika itu Keizer Napoleon berbalik dari pulau Elba, lalu naik darat di tanah Pransman maka ia pun dirajakan pula oleh anak buahnya yang lama itu.
Adapun Keizer Napoleon tiada selamat; balatentaranya dikalahkan dekat Waterloo oleh orang Inggris dan orang Prussia dan oran Belanda pada tahun 1815. Setelah beberapa lamanya, maka Keizer Napoleon menyerahkan dirinya kepada orang Inggris, lalu ia dihantarkannya ke pulau Saint-Helena; disitulah Keizer Napoleon mangkat pada tahun 1821.
Hatta, maka pada tahun 1816 wakil Gouvernement Belanda, sampai ke Betawi pada masa itu Tuan Fendall Luitenant Gouverneur, maka Tuan Raffles telah dijadikan oleh Kompani lnggris Luitenant Gouverneur di Bangkahulu27.
Maka Tuan Raffles menaruh dendam kepada orang Belanda, sebab itu diganggunya Gouvernement Belanda dimana-mana saja. Lagi pula dicampurinya perselisihan dua anak Sultan Johor, maka disampaikannya niatnya hendak beroleh pulau Singapura. Maka pulau itupun terlalu elok tempatnya di tengah jalan dari Hindustan ke benua Cina dan ke negeri Japan sebab itu didirikan oleh Tuan Raffles sebuah negeri, maka negeri itu makin lama makin ramai.
Kesudahannya pada tahun 1824 dijanjikan orang Inggris dengan orang Belanda perkara, yang tersebut di bawah ini:
Pertama: Anak buah Raja Belanda boleh berniaga dalam segala jajahan Inggris dan anak buah Raja Inggris boleh berniaga di tanah Hindia lain dari pada di pulau Maluku.
Kedua: Kedua Gouvernement akan memerangi orang perompak dengan sekuat-kuatnya.
Ketiga: Seluruh jajahan Inggris di pulau Perca, yaitu Bangkahulu dan pulau Belitung diserahkan kepada Gouvernement Belanda, tetapi Malaka dan jajahan Belanda di Hindustan menjadi milik Kompani Inggris.
Keempat Orang Inggris tiada akan mencampuri perkara negeri disebelah selatan Singapura.
Kelima : Pulau Singapura masuk jajahan Inggris.
Bermula, maka pekerjaan Tuan-tuan Conmissaris-Generaal amat sukar, sebab hal tanah Hindia amat kusut: dalam beberapa negeri perobahan, yang dititahkan oleh Tuan Raffles sudah dilakukannya, dalam beberapa negeri tidak lagi pula utang Gouvernement banyak, tetapi jumlahnya tiada diketahuinya betul-betul. Maka rumah Gouvernement dan jalan raya dan jembatan dan post di tanah Jawa tiada berapa dipeliharakan pada masa pemerintahan Inggris.
Tambahan lagi di Banten dan di Cirebon banyak orang tiada senang hati, sebab Rajanya diturunkan oleh Tuan Raflles, sehingga Gouvernement harus menyentosakan orang yang durhaka itu dengan kekerasan demikian juga di pulau Ambon.
Syahdan, maka rupa-rupa perubahan dijalankan oleh Tuan-tuan Commissaris-Generaal itu, upamanya:
Orang budak tiada boleh diperniagakan lagi, dan orang berutang di pulau Jawa dimardahikakan semuanya.
Aturan hakim hukum (Justitie) dijalankan juga di pulau yang lain seperti aturan di pulan Jawa.
Maka banyak lagi dilakukan Tuan-tuan itu perobahan dari hal pengajaran dan tanam-tanaman dan balatentara dan kapal perang adapun perompak terlalu berani merampas dan membakar kampung dan mencuri orang di pantai pulau-pulau Hindia, sampai ke pulau Jawa pun perompak itu menyamun. Sebab itu Gouvernement berusaha membinasakan orang yang jahat itu.
Hatta, maka pada tahun 1819 Tuan Commissaris-Generaal dua orang pulang ke negeri Belanda, maka Tuan Van der Capellen dijadikan Gouverneur-Generaal oleh Raja Willem I, maka Tuan itu memerintah tanah Hindia sampai tahun 1826 adanya.
PASAL XV.
CERITA PERANG PADERI.
Alkisah, maka tersebutlah perkataan kerajaan Minangkabau.
Adapun pada abad yang ketujuh belas Raja Minangkabau berselisih dengan orang Aceh, maka mulanya perselisihan itu yaitu siapa yang memiliki pantai sebelah barat Pulan Perca. Maka dalam perang itu Raja Menangkabau dibantu oleh Kompani sebab itu orang Belanda mendapat izin membangunkan loji dalam beberapa negeri di pantai sebelah barat, umpamanya Padang, Tiku dan lain-lain (pada tahun 1662).
Kalakian, maka pada tahun 1682 kerajaan Minangkabau dibagi tiga, jadi rajanya tiga orang; seorang bersemayam di Sungai Tarap, seorang di Pagaruyung, seorang di Surawasa. Maka sejak ketika itu kuasa Raja Minangkabau makin lama makin kurang yang berkuasa dengan sebenarnya di Padang Darat yaitu penghulu suku kepala kaum.
Maka sekali peristiwa pada tahun 1803 adalah tiga orang orang Padang Darat naik haji. Pada masa itu juga di Mekah ada seorang syekh Baduwi Abd'ul Wahab namanya, maka syekh itupun mengajarkan agama yang baru: pada sangkanya agama Islam sekali-kali tiada berpatutan dengan Koraan, sebab itu baiklah agama Islam disucikannya. Setelah negeri Mekah dialahkannya, maka disuruhnya orang Islam rajin sembahyang dan jangan merokok dan jangan berpakaian yang indah-indah, serta Nabi Mohamad jangan diberi hormat terlalu sangat, sebab Nabi Mohamad manusia saja.
Adapun Sultan Turki masygul hatinya, sebab orang Arab banyak menurut pengajaran Abd'ul Wahab itu, maka dititahkannya Raja Muda di tanah Mesir membinasakan orang tarikat baru itu. Maka pada tahun 1818 lenyaplah kerajaan Baduwi itu, serta kebanyakannya mati terbunuh.
Sebermula, maka orang Melayu bertiga itupun percaya dengan sungguh-sunggug hati akan pengajaran Abd'ul Wahab; sudah pulang di Padang Darat, maka diajarkannya agama Abd'ul Wahab kepada orang Melayu; terutama seorang di dalam antaranya amat rajin usahanya, maka nananya Haji Miskin. Akan tetapi orang negeri tiada mendengar perkataannya, sebab maksud Haji Miskin hendak membuang adat istiadat nenek moyang, lalu ia pun dihalaukan orang dari negerinya Pandan Sikat di tanah Batipuh.
Kemudian dari pada itu Haji Miskin bertualang, maka lama-kelamaan sampailah ia ke negeri Kamang di tanah Agam; disitulah diam seorang Tuanku28, Tuanku nan Renceh namanya. Maka Tuanku nan Renceh dan Haji Miskin beserta dengan enam orang ulama berteguh-teguhan janji akan mengembangkan tarikat yang baru itu. Adapun Tuanku delapan orang itu di namai orang “Harimau yang delapan” karena mereka itu tiada menaruh kasihan kepada barang siapa yang tiada semufakat dengan mereka itu baik orang Islam, baik orang Masihi, baik orang yang menyembah berhala, semuanya dikatakannya kafir.
Lama kelamaan amat banyak orang menurut Tuanku itu, sehingga mereka itu berani memerangi orang yang masuk agama yang lama, maka dikalahkannya musuhnya dekat negeri Sungai Puar di lereng gunung Merapi.
Maka barang siapa bersekutu dengan Tuanku itu wajib berpakaian putih, oleh karena itu orang itu dinamai orang putih. Lain dari pada itu namanya Paderi juga barangkali kata itu asalnya dari pada kata Portugis “padere”, artinya , “bapa”, yaitu nama panggilan pandita.
Adapun orang putih itu tiada boleh makan sirih dan madat dan merokok dan menyabung dan berjudi, melainkan mereka itu harus menyungguh-nyungguhi syarat agama, akan perempuan mukanya patut bertutup seperti perempuan Arab. Maka terlalu amat siksa orang yang melanggar syarat itu pada suatu hari terdapatlah oleh Tuanku nan Renceh seorang perempuan yang makan sirih. Meskipun perempuan itu masuk kaumnya, tetapi sebentar itu juga dibunuhnya.
Hatta, maka Tuanku itu dapat mengembangkan kuasanya di tanah Agam dan di Batipuh dan di Limapuluh Kota; adapun kelakuannya amat bengis: penghulu yang melawan dibunuhnya belaka dan banyak orang negeri dijadikannya hamba, lalu dijualnya. Maka dalam tiap-tiap negeri yang takluk adat nenek moyang dibuangnya, penghulu dipertukarkannya dengan dua orang kepala, seorang Tuanku Imam yaitu penghulu agama, seorang Tuanku Kali, yaitu yang memutuskan hukuman.
Arkian, maka beberapa Tuanku minta kepada Raja Minangkabau membicarakan dengan mereka itu, bagaimana daya upaya akan menghentikan perang itu. Maka Raja itu berhimpun dengan Tuanku, maka sedang bermasyawarat berbangkitlah Tuanku Pasaman, katanya: bahwa Raja itu terlalu jahat hatinya dan buruk kelakuannya, seperti laku orang kafir; jadi baiklah Raja itu dibunuh. Pada ketika itu juga orang Paderi mengamuk serta membunuh orang pihak yang lain itu, hanya Raja Pagaruyung berdua laki istri lepas dari pada bahaya maut itu.
Hatta, maka istri Raja Pagar Ruyung serta beberapa penghulu lain ke Padang hendak mengadukan halnya kepada Tuan Ralles, yang pada masa itu Luitenant Gouverneur di Bangkahulu. Maka dikabarkan oleh orang Melayu itu, bahwa orang Minangkabau sudah puas menanggung lalim orang Paderi itu jikalau kiranya balatentara Inggris menolong, niscaya orang Padang Darat akan membawakan dirinya ke bawah hukum orang Inggris.
Adapun Tuan Raffes menyuruh beberapa soldadu membuat benteng di Semawang dekat pangkal batang Ombilin, serta dikirimnya surat kepada Tuanku bunyinya, bahwa Tuan Raffles hendak mendamaikan orang Melayu dengan orang Paderi akan tetapi Tuanku-tuanku mau bicara dengan Gouverneur, asal ditolongnya mengembangkan agama paderi.
Kalakian, maka tatkala orang Belanda duduk pula di pantai barat pulau Perca, maka Semawang ditinggalkan oleh soldadu Inggris, sebab itu penghulu yang telah lari itu menghadap Resident Du Puij di Padang, maka dipuhunkannya pertolongan serta diserahkannya seluruh tanah Minangkabau kepada Gouvernement Belanda (pada tahun 1821).
Kemudian daripada itu beberapa soldadu Belanda disuruh duduk di Semawang, akan tetapi orang Paderi sekali-kali tiada merelakan perjanjian, yang tersebut tadi. Maka sebab penghulu-penghulu tiada berkuasa lagi, oleh karena itu Gouvernement harus menaklukkan Tuanku dengan kekerasan.
Maka pada tahun 1822 Luitenant-Kolonel Raaff mengalah kan Tanah Datar, tetapi balatentara Belanda beserta dengan orang Melayu yang membantu sia-sia mencoba masuk ke tanah Lintau dan Agam; semantara itu orang Paderi mengembangkan kuasanya di Bonjol di Rao sampai ke tanah Batak pun.
Maka sepeninggal Tuan Raaff Kolonel de Stuers, yang menjadi wakil Gouvernement di Padang, selama pemerintahannya (dari tahun 1824 sampai tahun 1829) perang dengan orang Paderi tiada diulangkan, sebab pada sangka Tuan de Stuers lama kelamaan orang Paderi akan menjunjung perintah Gouvernement, kalau orang Belanda lemah lembut kelakuannya tambahan lagi pada ketika itu soldadu Belanda sedikit saja di Padang Darat, karena Gouvernement berperang dengan Pangeran Dipa Negara di tanah Jawa. Maka Tuan de Stuers mendirikan beberapa benteng, yang terutama sekali Fort Van der Capellen dan Fort de Kock.
Maka pada masa pemerintahan Luitenant-Kolonel Elout (dari tahun 183 sampai tahun 1834) Gouvernement memerangi orang Paderi pula, sehingga seluruh Padang Darat sampai ke Rao takluk. Dalam pada itu pun Mayor Michiels berjalan menyusur pantai sampai ke Baros, lalu dikalahkan nya orang Aceh sebab orang itu telah menyerang benteng Belanda di pulau Poncang di teluk Tapanuli.
Meskipun pada tahun 1832 pantai barat Pulau Perca takluk kepada Gouvernement tetapi tanah itu tiada juga sentosa dengan sungguh, melainkan salaku gunung api, yang tiba-tiba meletus.
Maka pada suatu hari berhimpunlah beberapa Tuanku di Bonjol dikepalai oleh Tuanku Imam, gelarnya Malim Besar ; adapun mereka itu bersumpah-sumpahan membunuh segala soldadu Belanda.
Hatta, maka sekonyong-konyong orang Paderi mengamuk orang isi benteng di Bonjol, sehingga seorang soldadu jua pun tiada lepas.
Sudah itu kebanyakan benteng disebelah utara Fort de Kock dibinasakan musuh. Maka Tuan Elout amat masygul dan syak hatinya maka segala penghulu yang setia kepada Gouvernement tiada dipercayainya lagi.
Maka tiada berapa lamanya dengan hal yang demikian itu maka datanglah ke Padang wakil Gouverneur-Generaal, Ge neraal Riesz namanya, maka dibawanya soldadu 1,000 orang.
Arkian, maka Generaal Riesz dan Kolonel Elout beserta dengan laskarnya masuk ke dalam tanah Agam, lalu dengan susah payah ditaklukkannya pula Padang Darat, hanyalah negeri Bonjol tiada dapat dikalahkannya disitulah Tuanku lmam dengan kawannya melawan balatentara Belanda dengan gagah berani. Adapun negeri Bonjol dikepung orang Belanda dari tahun 1833 sampai tahun 1837, baru soldadu Gouvernement masuk, maka Tuanku lmam ditawan, lalu dibuang ke pulau Ambon.
Syahdan, maka tengah perang itupun pada tahun 1833 Gouverneur-Generaal Van den Boskh datang melihati hal ahwal pulau Perca, maka ditentukannya perjanjian dengan penghulu-penghulu Melayu, serta dititahkannya membuat jalan raya dari Padang ke Bukittinggi, demikianlah kehasilan dan barang dagangan boleh dibawa dengan pedati, tetapi dahulu dipikul saja oleh kuli atau kuda beban. Oleh karena itu Padang Panjang dan Bukittinggi menjadi negeri yang ramai. Pada tahun 1892 dibuat Gouvernement jalan kereta api dari Padang ke Padang Panjang, dan dari Padang Panjang ke Bukittinggi, dan lagi dari Padang Panjang kepada tambang batu arang dekat batang Ombilin.
Hatta, maka pada tahun 1837 Kolonel Michiels naik Gouverneur di Padang Tuan itulah yang menyuruh orang Melayu bertanam kopi serta menjual buah kopi kepada Gouvernement dengan harga yang tetap.
Bermula, maka seorang Tuanku Paderi tinggal lagi, yaitu Tuanku Tambusai. Adapun Tuanku itu terlalu lalim dan bengis kepada orang Batak, maka tempat kedudukannya dalam bentengnya di Dalu-Dalu di tepi batang Sosak. Maka kota itu dikalahkan oleh Tuan Michiels serta Tuanku Tambusai mati tenggelam di dalam sungai, ketika menyeberang hendak lari.
PASAL XVI.
HIKAYAT TANAH HINDIA DARI TAHUN 1815 SAMPAI SEKARANG.
Alkisah, maka diceritakan hikayat tanah Palembang pada masa G. G. Van der Capellen memerintah tanah Hindia.
Adapun Sultan Najmuddin dihasut oleh Tuan Raffies di Bangkahulu mengaku dirinya di bawah hukum Raja Inggris, maka diturutnyalah kehendak itu, tetapi Tuan Muntinghe wakil Gouverneur-Generaal di Palembang menurunkan Sultan Najmuddin serta merajakan pula Sultan yang lama, yaitu Sultan Badruddin maskipun ialah yang dahulu membunuh sekalian orang isi benteng Belanda di Palembang tetapi Tuan Muntinghe percaya juga akan dia.
Maka sekali peristiwa pada tahun 1819 Tuan Muntinghe berangkat ke udik hendak memeriksa perbuatan orang Inggris disitu.
Adapun Sultan Badruddin menaruh khianat dalam hatinya, maka sepeninggal Tuan Muntinghe disuruhnya rakyatnya mengamuk orang Belanda di Palembang. Sungguhpun Sultan tiada menyampaikan maksudnya, tetapi Tuan Muntinghe beserta dengan orang Belanda meninggalkan Palembang, sebab soldadu sedikit orang saja.
Syahdan, maka balatentara dititahkan oleh Gouverneur Generaal menaklukkan tanah Palembang, akan tetapi kalang kapan itu tiada dapat sampai ke Palembang, karena dekat negeri Palembang dibuat oranglah kubu yang bermeriam, terutama pulau Kembaro di muara sungai Palaju anat sangat teguh kotanya, dan lagi dari tepi ke tepi sungai Musi direntangkan musuh rantai besi akan mengempang kapal Belanda.
Maka tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu pada tahun 1821 berlayarlah pula angkatan Gouvernement kepada Palembang, maka panglima besar soldadu, yang menumpang di kapal, yaitu Generaal De Kock. Adapun balatentara itu sedang ramai berperang sampai ke Palembang, lalu bersedia menembak keraton. Maka Sultan Badruddin tawar hatinya seraya menyerahkan dirinya, lalu ia pun dibuang Gouvernement ke pulau Ternate.
Setelah itu, maka dirajakan oleh Gouverneur-Generaal Ahmad Najmuddin, anak Sultan Nadimuddin serta Najmuddin beroleh sebidang tanah dengan gelar Susuhunan. Akan tetapi sebab Sultan dan Susuhunan durhaka, maka kedua-duanya diturunkan oleh Gouverneur-Generaal. Sejak itu tanah Palembang di bawah perintah Gouvernement sendiri. Akan negeri-negeri di hulu Palembang belum takluk upamanya Rejang, Lebong, Empat Lawang, Pasemah dan lain-lain.
Maka lama kelamaan negeri itu kebanyakan membawa dirinya ke bawah hukum Gouvernement, maka tanah Pasemah yang kesudahan sekali masuk jajahan Belanda pada tahur 1868. Maka tanah Palembang makin lama makin ramai sebab orang negeri tiada dianiaya lagi oleh Sultan dengan sanak saudaranya.
Alkisah, maka pada tahun 1822 mangkatlah Sultan Amangku Buäna IV di Yogya, ditinggalkannya seorang anak yang dua tahun umurnya oleh karena itu Sultan yang muda itu dipangku oleh beberapa orang sanak saudaranya, maka dalam orang itu Pangeran Dipa Negara yaitu mamanda Baginda.
Adapun orang Yogya pada masa itu tiada senang hatinya, sebab dibayarnya bea terlalu banyak kepada Sultan dan kepada priayi, maka hasil dan bea itu 34 macamnya jangan dikata lagi yang diambil oleh menteri dengan batin, dan oleh orang Cina, yang menyewa (pak) bea itu; terutama orang Cina itu kebencian orang negeri terlalu amat dari kesengatan lobanya.
Dan lagi orang besar-besar tiada juga senang hati sebab dititahkan oleh G. G. Van der Capellen, bahwa tanahnya29 tiada boleh disewakannya lagi kepada orang Belanda atau kepada orang Cina.
Bermula, maka Pangeran Dipa Negara menaruh juga dendam dalam hatinya, sebab pada sangkanya Gouvernement kurang mengindahkanakan dia, maka terbitlah niatnya dalam hatinya hendak durhaka. Mula ia pun bertapa dan berziarah kepada tempat yang keramat akan membesarkan namanya kepada orang Jawa, sambil bermufakat dengan beberapa orang besar-besar dan dengan beberapa orang ulama.
Arkian, maka pada suatu hari Pangeran Dipa Negara dengan rakyatnya menyerang negeri Yogya, tetapi tiada dapat masuk, sebab itu dikepungnya negeri itu maka orang Jawa makin lama bertambah banyak berkumpul dengan Pangeran yang durhaka. Maka tatkala balatentara Belanda kembali dari pada pulau Selebes, baru negeri Yogya lepas daripada musuh.
Maka sia sialah Gouverneur-Generaal mencoba mendamaikan Pangeran Dipa Negara, sebab Pangeran itu hendak naik Sultan segala orang Islam di pulau Jawa.
Syahdan, maka pada tahun 1826 G. G. Van der Capellen turun lalu digantikan oleh G. G. Du Bus de Gisignies, serta Generaal De Kock menjadi. Luitenant-Gouverneur Generaal (G. G. Muda).
Adapun perang di pulau Jawa itu terlalu lanjut. Sungguhpun orang yang durhaka itu acap kali kalah, tetapi tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu mereka itu berhimpun pula lalu didatanginya sekonyong-konyong setumpuk soldadu atau melanggar sebuah kota. Maka panglimanya yang amat pandai dan berani yaitu Sentot, anak Raden Rangga Prawira-di-Reja, yang digelari oleh Pangeran Dipa Negara Ali Basa. Di antara sahabat Pangeran itu ada seorang-orang alim, Kiai Maja namanya ; ialah yang mem beri nasihat kepada Pangeran Dipa Negara membunuh sekalian tawanan, demikianlah dibunuhnya dua orang wakil Sultan yang muda, sungguhpun kedua orang masuk kaum Pangeran Dipa Negara.
Adapun balatentara Gouvernement dibantu oleh rakyat Susuhunan Sala dan oleh rakyat Pangeran Mangku Negara dan oleh rakyat Pangeran Paku Alam, maka Pangeran Mangku Negara serta anaknya mashyur namanya dari sebab beraninya dalam perang itu.
Arkian, maka Gouverneur-Generaal menjadikan Sultan Amangku Buana wakil Sultan yang muda, sebab berharap orang yang durhaka suka menjunjung titah Sultan itu tetapi niat itu tiada disampaikan oleh Tuan Besar, karena tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu. Sultan yang tua itu berpulang ke rahmatullah.
Maka tatkala balatentara Belanda ditambah 3,000 orang soldadu, maka Generaal De Kock mengepung tanah tempat orang yang durhaka itu kalau sebuah negeri dikalahkannya, maka disuruhnya dirikan sebuah benteng yang kecil, supaya negeri itu jangan diserang musuh pula.
Demikianlah lama kelamaan kerajaan Pangeran Dipa Negara susut, sehingga orang yang durhaka itu dikepung di tanah Yogya sebelah selatan di antara sungai Praga dengan sungai Bagawanta, jangankan orang banyak, sahabatnya pun tiada percaya lagi akan untung baik Pangeran Dipa Negara; Kyai Maja khianat kepadanya seraya Sentot memperhambakan dirinya kepada Gouvernement bersama-sama dengan rakyatnya.
Kesudahannya Pangeran Dipa Negara terpaksa menyerah kan dirinya kepada Generaal De Kock lalu ia pun dibuang oleh Gouverneur-Generaal ke Menado pada tahun 183O.
Setelah sudah perang itu, maka perhinggaan tanah Yogya dan tanah Sala diubahkan oleh Gouvernement, yaitu tanah Banyumas, Bagelen, Madiun dan Kediri masuk jajahan Belanda, tetapi kedua Raja itu tiap tahun akan beroleh uang akan ganti ruginya.
Adapun Susuhunan kecil hati dari sebab perubahan itu, maka ditinggalkannya keratonnya hendak bertapa di kubur nenek moyangnya di Imagiri, seperti laku hendak meniru Pangeran Dipa Negara.
Maka khawatirlah Gouverneur-Generaal, maka Susuhunan dititahkannya buang ke pulau Ambon lalu putra Baginda naik takhta kerajaan dengan gelar Susuhunan Paku BuanaVIl.
Bermula, maka karena perang itu utang tanah Hindia bertambah-tambah banyak, sehingga negeri Belanda membayar uang yang kurang itu. Oleh sebab itu G. G. Van den Bosch mencari daya upaya, supaya belanja kurang serta kehasilan dan bea bertambah. Maka dijalankan oleh Tuan Van den Boskh undang-undang dari hal tanam-tanaman, yang harus ditanam oleh orang Jawa.
Adapun perkara aturan yang terutama sekali, yakni:
Sawah tiap-tiap desa seperlimanya wajib ditanami dengan tanam tanaman yang dikehendaki oleh Gouvernement, maka kehasilan itu harus dijual orang kepada Gouvernement. Jikalau harga pekan kehasilan itu lebih dari pada bea, yang dibayar sedia kala, maka orang desa beroleh kelebihan itu. Jikalau harga kehasilan kurang dari pada bea, maka yang kurang itu ditanggung oleh Gouvernement, asal rugi itu tiada disebabkan oleh lalai dan malas orang desa itu.
Maka tanaman, yang terutama sekali, yaitu kopi, gula, tembakau, tarum, lada, kayu manis dan teh. Maka dalam tanam-tanaman itu ada yang harus disediakan dahulu, sebelum boleh dijual orang, umpamanya tembakau, tarum, gula dan lain-lain.
Oleh karena itu Gouvernement berjanji dengan orang Belanda, yang hendak mendirikan pabrik, bahwa tebu dan nila, yang ditanam orang desa, disediakan dalanu pabrik itu, lalu dibeli oleh Gouvernement dengan harga yang tetap.
Adapun aturan itu mendatangkan laba yang banyak, sebab harga kehasilan lebih banyak dari pada upah orang desa tetapi pekerjaan orang itu tiada sana rata kepada segala orang desa, sebab sawah ladang ada yang elok, ada yang buruk. Umpamanya: di Probolinggo orang yang disuruh bertanam tebu, makan upah 2l sehari, tetapi di Tegal upahnya 11,5 sen; orang yang bertanam kopi di Pasuruan 48 sen sehari, di Kediri hanya 3 sen sehari. Maka sebab beberapa macam tanam-tanaman mendatangkan rugi, oleh karena itu Gouvernement menitahkan berhenti dari pada bertanam tanam-tanaman itu; demikianlah pada zaman sekarang ditanam orang kopi saja dengan perintah Gouvernement dalam beberapa keresidenan di pulau Jawa, di Padang Darat dan di Tapanuli.
Setelah perang di tanah Jawa putus, maka pulau Hindia sentosa beberapa tahun lamanya, maka pada masa itu Gouvernement menyugguh-nyungguhi akan membinasakan orang perompak adapun orang itu hampir pada seluruh tanah Hindia, lebih-lebih di pulau-pulau Riau dan pulau-pulau Sulu. Bertahun-tahun lamanya orang itu diperangi oleh kapal Gouvernement, dimana-mana perahunya dan kampungnya di bakar orang Belanda. Bukannya orang risau saja yang merompak, melainkan raja pun menyuruh rakyatnya merampas kapal yang terkaram.
Adapun demikianlah mulanya, maka pada tahun 1846 G. G. Rochussen (dari tahun 1845 sampai tahun 1851) menitahkan laskar memerangi Raja Beleling dan Raja Karang Asam dan Raja Klongkong di pulau Bali. Setelah sampai ke pulau Bali, maka balatentara Belanda mengalahkan keraton Raja Beleling di Singaraja, sehingga Raja itu minta maaf sambil bersumpah akan melakukan kehendak Gouvernement tetapi baru kapal perang sudah berlayar dari pulau Bali, maka Raja itu mungkir janji.
Arkian, maka dengan segera kelengkapan Gouvernement berlayar pula ke pulau Bali; akan tetapi balatentara Belanda tiada dapat masuk ke dalam kota Jagaraga, yang amat teguh-teguh, sebab itu angkatan itu pulang.
Maka pada tahun 1849 berangkat pula kapal 89 buah, setengahnya kapal perang, setengahnya kapal yang bermuat alat senjata dan bekal-bekalan, maka soldadu 5,000 orang menumpang di kapal di bawah perintah Generaal-Mayor Michiels.
Sungguhpun orang Bali 15,000 orang menantikan musuhnya di kota Jagaraga, tetapi tempat yang teguh-teguh itu dikalahkan juga oleh soldadu Belanda. Sudah itu Generaal-Mayor Michiels berlayar ke Klongkong dalam pada itu pun Raja Mataram di pulau Lombok mengalahkan Raja Karang Asam. Maka beberapa kali jadilah perang yang amat ramai maka pada suatu malam Tuan Michiels luka tengah perang, lalu mati. Pada akhirnya Luitenant-Kolonel Van Swieten menaklukkan segala Raja Bali, yang melawan Gouvernement.
Adapun Raja Beleling dan Raja Karang Asam dibunuh oleh anak buahnya sendiri sebab itu tanah Beleling diberikan oleh Gouvernement kepada Raja Mataram, tetapi orang Beleling minta di bawah hukum orang Belanda, maka permintaan itu dikabulkan oleh Gouverneur-Generaal.
Sebermula, maka diceritakan hal ahwal pulau Berunai.
Adapun pada awal abad ini pulau itu tiada berapa dipedulikan oleh Gouvernement, sebab pulau Jawa dan pulau Perca terutama dipeliharakan oleh pemerintah Belanda.
Maka di pulau Berunai sebelah barat banyaklah orang Cina yang berserikat akan menggali emas. Maka orang yang masuk suatu parserikatan (kongsi bersumpah-sumpahan hendak tulung menulung dan hendak menjunjung perintah kepalanya jikalau perintah itu jahat sekalipun. Maka segala hal ahwal kongsi itu amat batin kalau seorang orang kongsi berani melawan perintah kepalanya atau kalau dibukanya rahasia kongsi itu, niscaya ia pun dibunuh orang, maka orang yang membunuh dia tiada pernah terdapat, sebab ia disembunyikan oleh orang yang sekongsi dengan dia. Acap kali di pulau Berunai sebelah barat kepala kongsi selaku raja dengan tiada mengindahkan Gouvernement, dan lagi barang yang gelap dan larangan banyak dimasukkannya, serta orang Dayak dianiayanya, Maka sekali peristiwa kongsi Tai-kong memerangi dan menghalaukan kongsi Sam-ti-kiu, yang berbaik dengan Gouvernement. Demi terdengar kabar itu kepada G. G. Rokhussen, maka dititahkannya balatentara menaklukkan orang Cina, yang melawan Gouvernement.
Setelah orang Cina itu alah serta negeri Pemangkat di dalam tangan orang Belanda, maka orang Cina minta berdamai, apa lagi sebab kapal perang mengempang kuala sungai jadi orang Cina kekurangan bekal-bekalandan obat bedil. Akan tetapi tiada berapa lamanya kemudian dari pada itu orang Cina durhaka pula.
Arkian, maka pada tahun 1854 Luitenant-Kolonel Andresen mengalahkan orang Cina, lalu soldadu Belanda masuk ke dalam negeri orang Cina, yang terutama sekali, yaitu Montrado. Sudah itu, maka kebanyakan kongsi diuraikan oleh Gouverneur-Generaal serta kepalanya dihukum.
Syahdan, maka tiga tahun kemudian dari pada itu Gouverneur-Generaal terpaksa pula menyuruh angkatan perang ke tanah Bone, sebab Raja negeri itu melanggar perjanjian di Bungaya; adapun Raja itu perempuan, Besse Kajuara namanya. Maka Luitenant-Generaal Van Swieten berlayar ke Bajoru, lalu mengalahkan Bone, dan Pasempa dan Pompanua sudah itu Raja Besse Kajuara diturunkan oleh Gouvernement dari pada kerajaannya, serta iparnya Arung Palakka naik raja dengan rela raja tujuh orang, yang berkuasa memilih Raja Bone.
Bermulamaka dalam tahun 1859 itu juga ada perang di tanah Banjarmasin. Maka disitulah ada cucunda marhum Sultan dua orang, yang sulung Tamjidi'llah namanya, yang bungsu bernama Hidayatu'llah. Maskipun ibu Tamjid gundik dan ibu Hidayatu'llah permaisuri tetapi Tamjidi'llah dirajakan oleh Gouvernement.
Oleh karena itu orang Banjarmasin bermusuh dengan Gouvernement, maka setelah Pangeran Hidayatullah ditawan dalam tahun 1862, maka baru perang itu lama kelamaan berhenti.
Hatta, maka satu tahun dahulu Sultan Banjarmasin sudah turun dari pada takhta kerajaan dengan rela hati, lalu tanah Banjarmasin masuk jajahan Gonvernenment.
Alkisah, maka tersebutlah perkataan negeri Aceh. Ada pun Gouvernement sudah lama tiada berbaik dengan orang Aceh, sebab mereka itu merompak dan mencuri orang di pulau sebelah barat pulau Perca. Maka pada tahun 1872 terdengarlah kabar kepada G. G. Loudon dari tahun 1872 sampai tahun 1875, bahwa utusan Sultan mencari pertolongan kepada raja yang lain, sebab Sultan Aceh takut diperangi oleh orang Belanda. Oleh karena itu Gouverneur-Generaal minta keterangan, akan tetapi jawab Sultan tiada terus terang.
Kalakian, maka angkatan Belanda berlayar ke tanah Aceh, maka wakil Gouverneur-Generaal yang menumpang di kapal mencoba sekali lagi berdamai serta berteguh-teguhan janji dengan orang Aceh, tetapi sia saja. Maka Sultan bertangguh-tangguh akan membalas surat wakil Gouvernement, sambil rakyatnya membuat benteng dan kubu dengan sekuat-kuatnya. Maka apabila diketahui oleh wakil itu bahwa Sultan Aceh tiada mau memalingkan hatinya, maka balatentara Belanda naik darat di bawah perintah Generaal-Mayor Kohler (pada tahun 1873).
Maka sedang ramai berperang soldadu Belanda masuk ke dalam masjid raya, maka keesokan harinya ketika Tuan Kohler meninjau musuh, maka ia pun kena peluru, lalu mati. Kemudian dari pada itu balatentara itu meninggalkan tanah Aceh, istimewa pula sebab musim penghujan tiada lama akan datang.
Arkian, maka pada kesudahan tahun 1873 dilengkapkan Gouvernement pula angkatan yang besar, setelah mustaid, maka kapal itu berlayar ke tanah Aceh. Sudah sampai, maka soldadu itu naik darat lalu berjalan berangsur-angsur menuju ke keraton, sambil berperang dengan tiada berkeputusan, karena orang Aceh itu amat gagah berani.
Mula-mula masjid raya dimasuki pula oleh soldadu Belanda, sudah itu maka panglima besar Luitenant-Generaal Van Swieten menyuruh soldadunya mengepung keraton, akan tetapi Sultan dengan hulubalangnya dan rakyat sudah lari. Maka beberapa hari kemudian dari pada itu Sultan mangkat, maka Gouverneur-Generaal menitahkan tanah Aceh di bawah perintah Gouvernement.
Adapun pada sangka Tuan Van Swieten tanah Aceh lama kelamaan akan sentosa, sebab itu ia pun berlayar pulang ke Betawi dengan membawa soldadu yang kebanyakan, tetapi dengan sebenarnya tanah Aceh belum habis takluk, maka acap kali orang Aceh tiba-tiba mengamuk setumpuk soldadu. Di antara Gouverneur-gouverneur Aceh Kolonel Van der Heijden yang kenamaan Tuan itu selamat dalam perang, sehingga tanah Aceh sentosa. Oleh karena itu Gouverneur-Generaal menyamakan pemerintahan dan undang-undang di tanah Aceh seperti di dalam negeri, yang sudah lama di bawah hukum Gouvernement, yaitu undang-undang itu kurang keras dari pada undang-undang yang kebiasaan pada masa perang.
Maka pada tahun 1885 ibu negeri kota Raja dikelilingi beberapa benteng, yang dihubungkan dengan jalan kereta api. Akan kepala2 Aceh ada yang menjunjung titah Gouvernement, ada yang mengaku berajakan Tuanku Daud, kemenakan marhum Sultan, demikianlah hal tanah Aceh sampai sekarang.
Bermula, maka kebanyakan yang tersebut di atas ini dari hal perang biarlah kita menceritakan juga undang-undang dan perintah yang dititahkan oleh Gouvernement akan memeliharakan orang Hindia. Adapun undang-undang yang terutama sekali dijalankan oleh Gouvernement pada tahun 1855; undang-undang itu bernama dalam bahasa Belanda, Regeerings-reglement, perkaranya yang terutama sekali yakni Gouverneur-Generaal memerintah tanah Hindia atas nama Raja Belanda serta lima Tuan Raad van Indié membicara kan perobahan dan undang, yang akan dititahkan oleh Gouverneur-Generaal.
Gouverneur-Generaal berkuasa akan membuang orang yang mengharukan orang negeri.
Jikalau orang dihukum oleh hakim Gouvernement akan dibunuh, maka Gouverneur-Generaal boleh meringankan hukuman itu.
Gouverneur-Generaal menitahkan berperang dan berdamai dan berteguh-teguhan janji dengan raja di tanah Hindia Adapun pemerintahan terbagi atas lima bahagian, De partement namanya; tiap-tiap Departement dikuasai oleh seorang Tuan Directeur, maka Departement itu namanya:
Departement van Binnenlandskh Bestuur (dari hal pemerintahannegeri).
Departement van Onderwijs, Eeredienst dan Nijverheid (dari hal pengajaran, agama dan lagi dari hal tambang pabrik, dan sab.).
Departement van Financien (dari hal utang piutang Gouvernement).
Departement van Justitie (dari hal hakim hukum).
Departement van Burgerlijke Openbare Werken (dari hal rumah-rumah Gouvernement, jambatan, kereta api dan sab.).
Lain dari pada itu ada lagi Departement van Oorlog (dari hal perang) yang dikuasai oleh Legercommandant (kepala panglima), dan Departement van Marine (dari hal kapal perang) yang dikuasai oleh Commandant der Zeenuakht (laksamana).
Orang bumi putra seboleh-bolehnya diperintahkan oleh kepalanya sendiri.
Orang, yang telah membuat kesalahan dihukum sepanjang undang-undang yang tetap oleh hakim, yang diangkat oleh Gouvernement.
Majelis hakim yang mahatinggi (Huggerekhtshof) duduk di Betawi adapun Tuan itu menghukum orang yang tinggi pangkatnya, dan lagi memeriksa hukuman, yang diputuskan oleh hakim yang lain, maka hukuman itu boleh dibenarkannya atau disalahkannya. Orang asing, yang hendak diam di tanah Hindia harus minta izin kepada Gouverneur-Generaal.
Berjual beli orang dilarang Gouvernement.
Anak buah Gouvernement boleh menurut agama, yang dihendakinya, asal undang-undang negeri jangan dilanggarnya
Gouverneur-Generaal memperhatikan pengajaran. kepada kanak, baik anak Belanda, maka anak bumi putra. Adapun sepanjang perkara yang tersebut kemudian sekali sudah didirikan oleh Gouvernement lebih dari pada 500 buah Sekolahh tempat anak orang negeri belajar membaca, menulis, menghitung dan beberapa ilmu yang lain; maka guru di Sekolahh itu kebanyakan telah cukup belajar dalam sebuah Sekolahh guru (kweekschool); maka kweekschool itu sekarang lima buah yang pertama-tama dibangunkan Gouvernement di Sala pada tahun 1852. Lain dari pada Sekolahh anak bumi putra ada lagi empat buah Sekolahh, tempat anak orang besar-besar dan kaya belajar lebih dari pada di Sekolahh yang kebanyakan.
Maka pada tahun 1875 didirikan oleh Gouvernement sebuah Sekolahh Dokter Jawa apabila anak Sekolahh itu sudah tamat belajar, maka ia disuruh oleh Gouvernement kepada suatu negeri akan mengobati orang yang sakit dan akan menanam ketumbuhan; lain dari pada Dokter Jawa itu ada juga Manteri cacar. Pada zaman dahulu amat banyak orang mati sakit katumbuhan, tetapi sekarang jarang-jarang orang yang dicacar kena penyakit itu. Lagi pula orang miskin boleh mendapat obat atau dipeliharakan dalam rumah sakit dengan tiada membayar suatu apa-apa.
Syahdan, maka Gouvernement seboleh-bolehnya berusaha akan meramaikan perniagaan; sebab perniagaan mendatangkan laba kepada amat banyak orang; sebab itu jalan raya dan jalan kereta api dan kawat dan post dipeliharakan atau dibuat dengan titah Gouvernement dan lagi pelabuhan dibaiki umpamanya pelabuhan di Tanjung Priok dan di teluk Bayur (Emmahaven) di sebelah selatan negeri Padang.
Sungguhpun jalan kereta api dan kawat (telegraaf) sudah banyak di tanah Hindia, tetapi belum lama dipergunakan orang jalan kereta api yang bermula sekali dibuat dari Semarang ke Sala pada tahun 1864, maka kawat yang pertama dikerjakan orang pada tahun 1856 dari Betawi ke Bogor.
Adapun pekerjaan sawah ladang diperhatikan juga oleh Gouvernement dalam beberapa negeri di tanah Jawa (Demak, Probolinggo) digali orang parit dan dibuat orang pintu air, supaya ladang yang tiada berapa harganya, akan menjadi sawah yang elok dan supaya air besar jangan membinasakan kampung dan sawah.
Maka pada tahun 1870 dijalankan oleh Gouverneur-Generaal undang mengatakan, bahwa hutan rimba boleh disewa kepada Gouvernement 75 tahun lamanya dengan harga yang murah demikianlah tanah yang sunyi, sekarang banyak ditanami tembakau, gula dan lain-lain., sehingga banyak orang mencari kehidupannya di sana.
Adapun Raja2 di tanah Hindia ada yang takluk kepada Gouvernement, ada yang berteguh-teguhan janji saja, Raja itulah boleh memerintahkan negerinya dengan kahen daknya sendiri, asal diturutnya beberapa perkara yang di janjikannya dengan Gouvernement, yakni Anak buahnya tiada boleh merompak, melainkan patut menulung anakkapal yang terkaram. Raja itu tiada boleh berteguh-teguhan janji dengan Raja yang lain anak buahnya tiada boleh memperniagakan hamba sahaya.
Jikalau kita bandingkan hal orang kecil pada zaman dahulu dengan zaman yang sekarang nyatalah, bahwa halnya sekarang terlebih senang dan selamat dari pada ketika kuasa Raja-raja tiada herhingga; Raja itu acap kali menganiaya anak buahnya, karena tiada undang-undang lain melainkan ke hendak dan kesukaan Raja saja.
DAFTAR:
PADA MENYATAKAN BEBERAPA PERKARA HIKAYAT HINDIA.
Adapun Hikayat Hindia terbagi lima, yakni:
Zaman Purbakala Sekali
Zaman Hindu
Zaman Islam
Zaman Kompani
Zaman Gouvernement
***
Zaman Purbakala Sekali
dari permulaan sampai kira awal tarikh Masehi.
***
Zaman Hindu
dari awal tarikh Masehi sampai kira tahun 1500.
1354: Sultan Maliku'saleh memerintah di Samudera
1419: Maulana Malik Ibrahim berpulang di Gresik
1478: Kerajaan Majapahit binasa.
1481: Karajaan Pejajaran binasa
1486: Bartholomeus Diaz sampai ke Tanjung Pengharapan
1498: Vasco de Gama sampai ke Kalikut
***
Zaman Islam
dari kira-kira tahun 1500 sampai tahun 1602.
1509: Orang Portugis sampai ke Malaka
1511: D'Alboquerque menaklukkan Malaka
1521 – 1579: Magelhaes berlayar mengelilingi bumi
1524: Sultan Ibrahim melepaskan tanah Aceh dari pada hukum Raja Pedir dan menghalaukan orang Portugis
1537: Galvano menjadi Gouverneur di pulau Maluku
1596: Cornelis de Houtman datang ke Banten
1598: Admiraal van Warwijk singgah di Banton, di Banda di Ambon dan di Ternate
1601: Panembahan Sutan Wijayamangkat serta digantikan oleh putranya Seda Krapyak. Nakhoda Wolfert Harmensz berperang dengan Laksamana Mendoco di Banten.
***
Zaman Kompani
dari tahun 1602 sampai tahun 1800
1. dari tahun 1602 sampai tahun 1619
1602: Kejadian Kompani
1605. Admiraal Van der Hagen mengalahkan orang Portugis di pulau Ambon dan di pulau Tidore
1606 - 1636. Sultan Iskandar Muda memerintah di tanah Aceh
1610. Gouverneur-Generaal yang pertama Pieter Both datang ke tanah Hindia
1613. G. G. Both mengutus kepada Panembahan Mataram. Panembahan Seda Krapyak meninggal lalu digantikan oleh Sultan Ageng
1618. Jan Pieterszoon Koen naik Gouverneur Generaal. Loji di Jakarta dikepung oleh orang Inggris dan orang Jakarta
1619. G. G. Koen mendirikan negeri Betawi
2. dari tahun 1619 sampai tahun 1678
1621: G. G. Koen menaklukkan orang Banda
1623: G. G. Koen pulang ke negeri Belanda
1625: Sultan Ageng mengalahkan Adipati Surabaya
1627: J. P. Koen naik Gouverneur-Generaal pula
1628: Betawi dikepung oleh rakyat Mataram
1629: Sultan Ageng mengepung Betawi. G. G. Koen mangkat
1635 - 1645: G. G. Van Diemen memerintahkan tanah Hindia
1641: Malaka dikalahkan oleh Kompani
1646: Sultan Ageng meninggal; putranya Susuhunan Tegal Wangi naik takhta kerajaan. Susuhunan Mataram berdamai dengan Kompani
1653 - 1678: G. G .Maetsuijker memerintah di tanah Hindia
1660 - 664: Kompani menolong Raja Minangkabau akan memerangi orang Aceh
1660: Laksamana Truitman dan Laksamana Van Dam mengalahkan Sultan Hasanuddin di Makassar
1667: Admiraal Speelman menaklukkan Makassar. Perdamaian di Bungaya
1669: Sultan Hasanuddin kalah pula
1674: Pangeran Truna Jaya durhaka kepada Susuhunan Mataram
1676: Susuhunan Tegal Wangi lari, lalu mangkat. Pangeran Adipati Anom berjanji dengan Kompani
1678: Kompani beroleh Semarang. Truna Jaya dihalaukan dari Kediri oleh Kommandeur Hurdt. Pangeran Adipati Anom dirajakan oleh Kompani dengan gela Susuhunan Amangku Rat
3. dari tahun 1678 sampai tahun 1723
1679: Truna Jaya tertawan
1680: Truna Jaya dan Sunan Giri dibunuh oleh Susuhunan. Kerajaan Minangkabau dibagi tiga
1681: Pangeran Poeger berdamai dengan Susuhunan
1681 – 1686: G. G. Speelman memerintahkan tanah Hindia
1682: Perselisihan SultanTirtajasa dengan Sultan Haji di Banten. Kapiten Tak mengalahkan Sultan Tirtajasa
1683: Sultan Tirtajasa menyerahkan dirinya
1684: Sultan Haji memberikan monopoli kepada Kompani. Orang Inggris duduk di Bangkahulu
1686: Kapiten Tak dibunuh di Kartasoera. Soerapati mendirikan sebuah kerajaan
1696: Pohon kopi-kopu mula-mula di tanam orang di Pulau Jawa
1691 - 1704: G. G. Van Outhoorn memerintah di tanah Hindia
1703: Susuhunan Amangku Rat mangkat, lalu digantikan oleh Sunan Mas
1704: Kompani merajakan Pangeran Poeger dengan gelar Susuhunan Paku Buana
1705: Raadvan Indie De Wilde menghalaukan Sunan Mas dari Kartasoera Susuhunan Paku Buana berteguh-teguhan janji dengan Kompani
1707: Tuan De Wilde mengalahkan Kediri dan Pasuruhan. Kerajaan anak Soerapati binasa
1708: Sunan Mas dibuang oleh Kompani
1718 – 1725: G. G. Zwaardekroon memerintahkan tanah Hindia
1719: Susuhunan Paku Buana 1 mangkat, lalu digantikan oleh putranya Sunan Prabu. Beberapa Pangeran durhaka kepada Susuhunan
1723: Kompani memutuskan perang di Mataram kepada Pangeran-pangeran yang durhaka itu
4. dari tahun 1723 sampai tahun 1800
1727: Sunan Prabu mangkat, lalu diganti kan oleh putranya Susuhunan Paku Buana II
1740: Orang Cina di Betawi dibunuh orang
1741: Orang Cina di tanah Jawa sebelah utara durhaka
1742: Orang Cina membinasakan Kartasoera dan mengaku Mas Garendi (Sunan Kuning) Susuhunan. Panembahan Ca-kra-ning-Rat IV mengalahkan orang Cina di Kartasoera
1743: Sunan Kuning dibuang oleh Kompani. Susuhunan Paku Buana l berjanji dengan Kompani
1744: Susuhunan Paku Buana II berpindah ke Surakarta-Adi-ning-Rat
1745: Panembahan Cakra-ning-Rat IV dibuang oleh Kompani
1746: G. G. Van Imhoff menjalanipulau Jawa Susuhunan Paku Buana Il menyerahkan Tegal dan Pekalongan ke pada Kompani. Pangeran Mangku Bumi durhaka
1747: Istana Gouverneur-Goneraal didirikan di Bogor
1719: Susuhunan Paku Buana menyerahkan Kerajaan Mataram kepada Kompani. Kompani merajakan putra Marhum dengan gelar Paku Buana IlI.
1755: Kerajaan Mataram dibagi dua: Paku Buana III menjadi Susuhunan di Surakarta, dan Pangeran Mangku Bumi naik Sultan Mangku Buana di Yogyakarta
1757: Raden Mas Said menjadi Pangeran Adi pati Arya Mangku Negara 1795. Orang Inggris mengalahkan Malaka pulau Sumatera sebelah barat, pulau Ambon dan pulau Banda
1800: Kesudahan Kompani
***
Zaman Gouvernement
dari tahun 1800 sampai sekarang
1. dari tahun 1800 sampai tahun 1811
1800: Tanah HindiadibawahGouvernement Belanda
1808 - 1811: G. G. Daendels memerintah di tanah Hindia
1808: Jalan raya dari Anyar sampai ke Panarukan dibuat orang. Sultan Banten dibuang oleh G. G. Daendels
1810: G. G. Daendels mengalahkan Sultan Yogya dan Susuhunan Sala.
1811: Sultan Mangku Buana ll Sepuh diturunkan oleh Tuan Daendels, serta digantikan oleh Mangku Buana II. G. G. Daendels digantikan oleh G. G. Janssens. Orang Inggris mengalahkan tanah Jawa
2. dari tahun 1811 sampai tahun 1816 (zaman Inggris)
1811 - 1816: Luitenant-Gouverneur Raffles memerintah di tanah Hindia
1812 : Orang Inggrismengalahkan Sultan Badruddin di Palembang. Sultan Sepuh dibuang oleh Tuan Raffles. Pangkat Sultan Cirebon dihentikan oleh Gouvernement
1813: Pangeran Nata Kusuma naik Pangeran Adipati Paku Alam. Pangkat Sultan Banten dihentikan Tuan Raffles. Aturan pajak (pajeg) di pulau Jawa dijalankan oleh L. G. Raffles
1813 - 1840: Raja Willem I memerintahkan tanah Belanda
1814: Pulau-pulau Hindia dikembalikan oleh orang Inggris kepada Raja Belanda
1816: L. G. Raffles meninggalkan pulau Jawa, lalu duduk di Bangkahulu
3. dari tahun 1816 sampai tahun 1830
1816 - 1819: Tiga Tuan wakil Raja Belanda Commissaris-Generaal memerintahkan tanah Hindia.
1819 - 1826: G. G. Van der Capellen memerintah di tanah Hindia
1821: Generaal De Kock mengalahkan Palembang. Orang Belanda duduk di Semawang (Padang Darat)
1822 - 1832: Perang Paderi di pulau Perca
1824: Raja Belanda berjanji dengan Raja Inggris
1825 - 1830: Gouvernement berperang dengan Pangeran Dipa Negara
1830: Pangoran Dipa Negara dibuang oleh Gouverneur-Generaal ke Menado. Tanah Kediri, Bagelen, Madiun dan Banyumas dimasukkan daerah Gouvernement
4. dari tahun 1830 sampai sekarang
1830 – 1833: G. G. Van den Bosch memerintahkan tanah Hindia
1830. Undang-undang tanam-tanaman di tanah Jawa dijalankan oleh G. G. Van den Bosch
1833 – 1837: Perang Bonjol
1836: Kapal api mula dipakai di tanah Hindia
1838: Perangdi Dalu-dalu
1840 – 1849: Raja Willem ll memerintahkan tanah Belanda
1846 – 1849: Perang di pulau Bali
1849 – 1890: Raja Willem Ill memerintah di tanah Belanda
1852: Sekolah pengajar (kweekschool) yang pertama didirikan oleh Gouvernement
1854: Orang Cina di pulau Berunai sebelah barat takluk
1855: Regeerings-reglement (undang-undang besar) dijalankan oleh Gouvernement
1856: Kawat telegraaf yang pertama di pulau Jawa dititahkan buat oleh Gouvernement.
1859: Perang di tanah Bone
1859 – 1862: Perang di Banjarmasin
1860: Kerajaan Banjarmasin di bawah hukum Gouvernement. Budak di tanah Hindia mardahika
1862: Pangeran Hidayatullah menyerahkan dirinya
1864: Jalan kereta api yang pertama di tanah Hindia dibuat orang dari Semarang ke Sala
1870: Gouvernement menjalankan undang sewa tanah
1873: Perang di tanah Aceh. Kelengkapan Belanda pulang. Kelengkapan yang ke dua sampai ke tanah Aceh
1874: Luitenant-Generaal Van Swieten mengalahkan keraton Sultan Aceh
1883: Gunung Rakata (Krakatau) Meletus
1890: Raja Willem III mangkat, lalu digantikan oleh ananda Baginda, Putri Wilhelmina, yang dipangku oleh Permaisuri Emma, Istri Marhum
DAFTAR:
NAMA SEGALA GOUVERNEUR-GENERAAL SERTA LAMA PEMERINTAHANNYA
| No. | Nama | Tahun Mulai | Tahun Selesai |
|---|---|---|---|
| 1 | Both | 1610 | 1614 |
| 2 | Reijnst | 1614 | 1615 |
| 3 | Reaal | 1615 | 1619 |
| 4 | Jan Pieterszoon Koen | 1619 | 1623 |
| 5 | De Carpentier | 1623 | 1627 |
| Jan Pieterszoon Koen | 1627 | 1629 | |
| 6 | Specx | 1629 | 1632 |
| 7 | Brouwer | 1632 | 1636 |
| 8 | Van Diemen | 1636 | 1645 |
| 9 | Van der Lijn | 1645 | 1650 |
| 10 | Reiniersz | 1650 | 1653 |
| 11 | Maetsuijker | 1653 | 1678 |
| 12 | Van Goens | 1678 | 1681 |
| 13 | Speelman | 1681 | 1684 |
| 14 | Camphuijs | 1684 | 1691 |
| 15 | Van Outhoorn | 1691 | 1704 |
| 16 | Van Hoorn | 1704 | 1709 |
| 17 | Van Riebeek | 1709 | 1713 |
| 18 | Van Swol | 1713 | 1718 |
| 19 | Zwaardekroon | 1718 | 1725 |
| 20 | De Haan | 1725 | 1729 |
| 21 | Durven | 1729 | 1732 |
| 22 | Van Cloon | 1732 | 1735 |
| 23 | Patras | 1735 | 1737 |
| 24 | Valckenier | 1737 | 1741 |
| 25 | Thedens | 1741 | 1743 |
| 26 | Van Imhoff | 1743 | 1750 |
| 27 | Mossel | 1750 | 1761 |
| 28 | Van der Parra | 1761 | 1775 |
| 29 | Van Riemsdijk | 1775 | 1777 |
| 30 | De Klerck | 1777 | 1780 |
| 31 | Alting | 1780 | 1796 |
| 32 | Van Overstraaten | 1796 | 1801 |
| 33 | Sieberg | 1801 | 1804 |
| 34 | Wiese | 1804 | 1808 |
| 35 | Daendels | 1808 | 1811 |
| 36 | Janssens | 1811 | 1811 |
| 37 | Raffles (Luit.-Gouverneur) | 1811 | 1816 |
| 38 | Fendall (Luit.-Gouverneur) | 1816 | 1816 |
| Elout, Van der Capellen, Buijskes (Commissaris-Generaal) | 1816 | 1819 | |
| 39 | Van der Capellen | 1819 | 1826 |
| 40 | Du Bus de Gisignies (Commissaris-Generaal) | 1826 | 1830 |
| 40 | De Kock (Luit.-Gouv.-Gen.) | 1826 | 1830 |
| 41 | Van den Bosch | 1830 | 1833 |
| 42 | Baud | 1833 | 1836 |
| 43 | De Eerens | 1836 | 1840 |
| 44 | Van Hogendorp | 1840 | 1841 |
| 45 | Merkus | 1841 | 1844 |
| 46 | Reijnst | 1844 | 1845 |
| 47 | Rochussen | 1845 | 1851 |
| 48 | Duijmaer van Twist | 1851 | 1856 |
| 49 | Pahud | 1856 | 1861 |
| 50 | Sloet van de Beele | 1861 | 1866 |
| 51 | Mijer | 1866 | 1872 |
| 52 | Loudon | 1872 | 1875 |
| 53 | Van Lansberge | 1875 | 1881 |
| 54 | s' Jacob | 1881 | 1884 |
| 55 | Van Rees | 1884 | 1888 |
| 56 | Pijnacker Hordijk | 1888 | 1893 |
| 57 | Van der Wijck | 1893 | sekarang |
UNCOPYRIGHT
Halaman hak cipta biasanya hadir untuk memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan uncopyright ini hadir untuk menegaskan kebebasan.
Teks dan karya seni di dalam e-book ini diyakini telah berada dalam domain publik. Kami meyakini bahwa segala aktivitas nonpenulisan yang dilakukan atas karya domain publik—seperti digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—tidak menciptakan hak cipta baru. Tidak seorang pun dapat mengklaim hak milik atas pekerjaan semacam itu.
Para kontributor e-book ini secara sadar melepaskan hasil kerja mereka di bawah ketentuan CC0 1.0 Universal Public Domain Dedication. Ini adalah penyerahan sepenuhnya segala upaya mereka ke ranah publik.
Pernyataan ini adalah perwujudan dari produksi nonpasar, sebuah langkah yang menolak “hasrat bergelora untuk menyimpan dan mempertahankan” kepemilikan.
Upaya ini dilakukan demi memperkaya khazanah literasi, untuk menumbuhkan kebudayaan bebas dan merdeka, serta mengembalikan privilese pengetahuan kepada ruang kebebasan yang telah memberi kami begitu banyak.