Sori Informasi Acch Th.11.No.9
WATAK BERPERANG BANGSA INDONESIA
BERBAGAI.-BAGAI DAERAH (SUATU PERBANDINGAN)
Alihbahasa : Aboe Bakar
PUSAT DOKUMENTASI DAN INFORMASI ACEH BANDA ACEH 1978
MILVAN MURTADHA 8g 10 September 2018
Rp. 125.500
Seri Informasi Ach Th.M.No.9
WATAK BERPERANG BANGSA INDONESIA
BERBAGAI. BAGAI DAERAH (SUATU PERBANDINGAN) DE INDISCHE OORLOGEN Een boek ten dienste van den jongen Officier en het Militair Onderwijs door,
K. Van der Maaten Tweede Deel
Tactiek van den inlandschen vijand Haarlem : De Erven Loosjes, 1896
Alihbahasa : Aboe Bakar
PUSAT DOKUMENTASI DAN INFORMASI ACEH BANDA ACEH 1978
Arsip: tengkuputeh.com
KATA PENGANTAR Di mana ada penjajahan atau penindasan di sana pula ada perjuangan untuk melawan penjajahan dan penindasan itu. Perjuangan yang dilakukan terwujud dalam berbagai-bagai bentuk. Ada perjuangan yang hanya berlangsung singkat saja dan ada pula perjuangan yang berlangsung terus hingga berpuluh-pu- luh tahun lamanya. Perjuangan yang dilakukan oleh bangsa Indomesia di berbagai-bagai daerah untuk menentang kolonial Belanda walaupun ada kesamaan dalam tujuannya tapi mempunyai perbedaan-perbedaan di dalam watak perang itu sendiri. Seri Informasi Aceh Th.II. no.9, memberikan gambaran tentang adanya perbedaan-perbedaan tersebut. Seri Informasi Aceh Th.II. No.9. adalah merupakan sebahagian dari buku
K. Van Der Maaten yang berjudul " De Indische Oorlogen ", di mana buku ini merupakan salah satu buku standard yang harus difahami oleh para calon perwira:. Angkatan Perang Belanda yang akan bertugas di Indonesia pada waktu itu. Buku ini adalah hasil karangan penulis Belanda yang di- alihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia, maka tidak mustahillah bila banyak uraian di dalamnya yang tidak dapat kita terima sebagai suatu bangsa yang merdeka. Akhir kata, dengan terbitnya Seri Informasi Aceh Th.II.No.9, diharapkan dapatlah kiranya menambah sumber pengetahuan kita yang berguna dalam mempelajari dan mendalami sejarah perjuangan
Nasional· Indonesia dalam menentang penjajahan Belanda. Banda Aceh, Desember 1978 PUSAT DOKUMENTASI DAN INFORMASI ACEH
一1一
DE INDISCHE OORLOGEN Een boek ten dienste van den jongen Officier en het Militair Onderwijs door
K. Van der Maaten Tweede Deel
Teotiek van den inlandschen vijand. Haarlem: De Erven Loosjes, 1 8 9 6.
p. 8 § 123. Watak berperang.
Dalam beberapa tulisan dikatakan dan hal ini seringka- li diumumkan,bahwa bangsa=bangsa bumiputra selalu menga- dakan "peperangan gerilya" dan sangat mahir pula dalam hal itu. (+) Menurut hemat saya, hal itu tidak benar sama sekali. Lawan-lawan kita itu hanya dalam suatu pengecualian saja melakukan peperangan gerilya; akan tetapi mereka itu pa- ling campin seperti telah dikatakan,dalam melakukan "peperangan kecil".
p. 9 Tampaknya orang sudah mencampur-adukkan pengertian "peperangan gerilya" Dengan "peperangan kecil".
Jika orang hendak memperlakukan penamaan Barat terha-dap peperangan di Indonesia, makater lebih dahulu harudlah dijawab arti-yang sudah biasa dipergunakan di Eropah Untuk hal tersebut. Jadi orang harus menyelidiki dulu apa yang dimaksud dengan "peperangan berilya" dengan "peperangan kecil itu.
-2- kecil" itu. Pengertian "peperangan kecil" adalah lawan dari "peperangan besar". "Peperangan besar" dalam arti kata yang umum .ialah: mematahkan daya serang pihak lawan dengan jalan menghancurkan atau melumpuhkan kekuatan pa- sukannya, baik di darat maupun di air; di darat dengan mengadakan pertempuran dan perlawanan, se- hingga kedua belah pihak seringkali berusaha mengadakan perlawanan yang segigih gigihnya terhadap _lawannya itu. "Peperangan kecil" hanya menolong untuk men-capai maksud tersebut. Dalam S yang lalu dapatląh diketahui bagaimana cara-caranya itu dijalankan, yaitu dengan mengancam komunikasi, mempersulit pembelaan serta menghalang-halangi pasukan lawan dalam setiap gerakan yang membuatnya bertambah atau kemungkinan ia memperoleh kemajuannya. Sehubungan dengan itu, maka ke dalam bidang "peperangan kecil" termasuklah: męnghempang dan merusakkan jalan-jalan kereta api, jalan-jalan biasa serta perhubungan-perhubungan lain; memutus- kan perhubungan telegrap dan dan telepon; menyesatkan pos-pos luar, kurir, ordonans, pos relais (=re- laisposten) dan pos ordonans; menyerang dan/ atau menyesatkan pasukan-pasukan keamanan yanglemah serta pasukan-pasukan pengintai, seperti pengawal luar, patroli, pos-pos kembar dan sebagainya; meng- gagahi atau menghancurkan konvoi, transpor serta gudang gudang perbekalan; mencegah pihak lawan dalam memperoleh dan melakukan pengumpulan makanan dsb. =peperangan=
"Peperangan kecil" atau dengan kata lain:,cara berperang seperti yang telah dijelaskan tadi, dewasa ini dipergunakan,dalam "peperangan gerilya" atau"peperangan rakyat", bahkan, ia tidak mengenal cara lain dalam berperang, namun demikian orang belum juga bo- leh menyebutnya sebagai "peperangan kecil" etau "peperangan gerilya" (peperangan rakyat"). Walaupun dalam apa yang dinamakan "peperangan bergerombolan" itu,dipergunakan tidak lain daripada "peperangan kecil", namun demikian kedua jenis itu pada hakekatnya adalah; berbeda. Bahkan detasemen-detasemen tentarapun dapat dipergunakan bagi kepentingan "peperangan bergerombolan" itu atau untuk beberapa usaha lain yang dapat dianggap termasuk ke dalam "pepęrangan kecil". Dan tidakkåh dungu untuk memahami, bahwa detasemen=detasemen seperti itu dapat juga melakukan "peperangan gerilya" atau "anti peperangan gerilya"? Bukan- kah tidak mungkin, bahwa pasukan-pasukan tentara dapat melakukan "peperangan rakyat"? Oleh karenanya, apakah sebenarnya dimaksudkan dengan "peperangan rakyat" atau peperangan gerilya" itu ? Dalam "peperangan rakyat" seluruh rakyat mendapat bahagian yang aktif dan passif dalam peperangan. Setiap laki-laki, setiap wanita, bahkan setiap anakanak di- pandang sebagai lawan. Pendeknya peperangan rakyat me- rupakan unkapan kebencian rakyat yang paling meluap- luap. Tindakan aktif dilakukan oleh laki-laki yang telah mampu melawan,musuh, tetapi tidak jarang pula terlihat contoh-contoh, bahwa wanita-wanita dan anak-anakpun =turut=
一4一 turut mengambil bahagian dalam peperangan itu. Setiap crang, baik seorang diri maupun bersama- sama atau dalam jumlah yang kecil atau besar yang berbentuk "gerombclan" akan berdaya upaya merebut se tiap kesempatan yang mungkin diperolehnya untuk me- nimbulkan kerugian dipihak lawan ataupun mengalahkan- nya, mempersulit gerakannya, pendudukannya serta melakukan pembelaannya. Dengan kata lain, seluruh rakyat turut serta dalam peperangan kecil dan berdaya upaya dengan segala alat yang ada padanya untuk menggagal- kan lawan menetap di negerinya (lihat S yang lalu)。 "Gerombolan-gerombolan" itu biasanya berada. dekat dengan tempat tinggal mereka; pada suatu saat mereka itu menggunekan senjata dan pada saat berikutnya yaitu jika timbul bahaya, mereka bertebaran dan berlaku se- bagai rakyat biasa. Mereka itu jarang pergi ke tempat-tempat,lain dan jika mereka berbuat juga hal yang de- mikian, make seperti tornyata dari sejarah mereka itu segera akan menderita kekalahan (*) =apa yang dinamakan=
(*) Nama "peperangan gerilya" itu diambil oleh "pepe rangan rakyat" dari bahasa Sepanyol "gherilljas" yang berarti "gerombolan" atau "kelompok yang tersusun rapi". Orang orang Sepanyol pada sebarang waktu telah ter- kenal karena cara merekæ yang gigih dalam melakukan peperangan rakyat. Hal itu telah terjadi sejak peperangan dengan orang-orang Moro. Negeri mereka yang bergunung- gunung itu sangat sesuai untuk maksud tersebut. Ketika orang-orang Perancis dapat nengalahkan'pa- sukan Sepanyol yang teratur rapi dalam tahun 1808, maka pada tanggal 28 Desember 1808 "Centrale Junta" telah
=mengeluarkan=
-5—
Apa yang dinamakan pemimpin-pemimpin "gerombolan" itu adalah pemimpin-pemimpin korps yang berdiri sendiri yang biasanya terlepas dari hubungan langsung dengan tentara dan berinisiatif sendiri melakukan per- lawanan dan "peperangan kecil". Korps "gerombolan". itu lebih disukai terdiri dari pasukan-pasukan tentara, bahkan kebanyakannya juga rakyat yang bęrsenjata. Mereka itu biasanya lebih baik organisasinya,lebih berdi- siplin dan terlatih daripada "gerombolan" dalam =peperangan=
mengeluarkan sebuah dekrit yang memanggil setiap.orang Spanyol membentuk "gherilljas" dan menimbulkan kerugi- an bagi lawan di seluruh negeri, di mana dan kapanpun. Hal tersebut telah terjadi. Dengan cara itu negara memang mengalami kehancuran, akan tetapi p orang-orang Perancis terus-menerus memperoleh kesulitan yang tidak terkendalikan. Dengan pimpinan panglima-panglima yang gagah berani (perwira, penyeludup, petani, pendeta dan sebagainya), maka sejak tahun 1809 mereka merupakan bahaya besar bagi orang-orang Perancis, demikian rupa, sehingga mem buat Jenderal Victor dan Sebastiani tidak berdaya me- nembus ke Andalusia. Dengan demikian gagallah sebagian besar rencana Napoleon disebabkan kegiatan-kegiatan para gerilyawan yang terus menerus itu. Juga dalam peperangan pangeran Don Carlos yang terjadi kemudian telah terbentuk pasukan-pasukan "gerombolan" yang tersusun rapi itu, akan tetapi dalam peperangan tersebut nama "gherilljas" sudah tidak dipakai lagi.
一61
"peperangan rakyat" yang dimaksud tadi. Mereka itu terdiri dari korps-korps yang mencari anggotanya di- kalangan pemburu, ahli kehutanan, penyeludup, penyamun bekas anggota-anggota tentara, pendeknya diantara rakyat yang sudah terbiasa menghadapi kesulitan dan. kemelaratan hidup serta tidak asing lagi menghadapi bahaya. Biasanya mereka itu memilih sebúah daerah tempat beroperasi. "Peperangan bergerombolan" itu seringkali dilaku- kan tanpa turut sertanya rakyat dalam peperangan。 Na- mun demikian korps "gerombolan" itu tidak dapat me- lepaskan diri dari bantuan rakyat. Rakyat harus me- nyetujui tempat kedudukan dan pembelaan mereka; rakyat memberitahukan mengenai kedudukan pihak lawan kepada mereka. dan sebagainya Sebaliknya terjadi, bahwa juga dalam "peperangan rakyat" korps-korps "gerombolan" itu baik yang terdiri dari pasukan-pasykan yang teratur maupun rakyat yang sesuai untuk itu, bertindak di samping "gerombolan-gerombolan" yang dimaksud di atas ( yaitu rakyat yang bersenjata). Dalam hal ini mereka itu.berbentuk sejenis inti yang a k t i f maupun passif dibantu oleh rakyat.(*) Kendatipun "gerombolan-gerombolan" bersenjata lawan, seperti telah dijelaskan dalam Bab I, biasanya terdiri dari penduduk laki-laki yang sudah mampu = melawan=
(*)Mengenai "peperangan kecil" dan cara-cara pelak- sanaanya itu harap dibaca "Handleiding tot de kennis van den kleinen oorlog" (=pedoman mengenai pengetahuan tentang "peperangan kecil") karangan Von Rustow yang diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh E.H. Brouwer.
melawan musuh tetapi tidak atau sedikit terorganisir dan tidak terlatih, sementara mereka tidak pula ter- bentuk suatu kekuatan tentara yang tersusun, namun peperangan itu tidak juga dapat dinamakan bersifat "peperangan rakyat" atau "peperangan gerilya". Akan tetapi seringkali benar terjadi, bahwa mereka yang sudah mampu melawan musuh itu turut serta dalam peperangan kendatipun ini berlawanan dengan kehendak mereka sendiri dan hal itu terjadi tidak lain hanya karena patuh kepada kepala-kepala mereka atau karena takut kepada pihak yąng berperang. Dan walaupun dalam banyak hal raja-raja, pangeran=pangeran, kepala-kepala dan ulama-ulama berhasil menimbulkan simpathi supaya rakyat turut berperang dengan jalan menobaringobarkan semangat jihad atau dengan jalan membangkitkan ke- percayaan pada rakyat yang primitif, namun biasanya orang orang yang kurang mampu itu, setelah mereka me- mengalami beberapa buah kekalahan, segera pula datang berdamai dengan maksud supaya mereka dengan tenang dapat bekerja kembali di.bidang pertanian, perdagang- an atau penangkapan ikan. Demikianlah telah terjadi dalam semuaataupun kebanyakan peperangan-peperangan kita di Indonesia. Buah pikiran, bahwa itu.. adalah "peperangan rakyat" dengan sendirinya sudah tidak dapat disebut lagi. Oleh karenanya pula tampak gejala, bahwa banyak peperangan atau ekspedisi kita itu, terutama dalam sesuatu pemberontakan atau pembangkangan terhadap : e- merintah Hindia-Belanda atau raja-raja yang sah (re =rebelli=
一8一
(rebelli), berakhir dengan sejenis "penggropyokan" ke dalam hutan atau pegunungan yang dilakukan terhadap raja-raja, pangeran-pangeran atau kepala-kepala yang diaggap menjadi kępala atau jiwa peperangan. atau pemberontakan itu, sehingga dengan .tewasnya atau tertangkapnya mereka itu dengan sendirinya berakhirlah peperangan tersebut (=peperangan Jawa, ekspedisi ke daerąh-daerah Palembang Atąs dan daerah-daerah perbatasan, ekspedisi ke Lampung, peperangan Banjarmasin, ekspedisi-ekspedisi kecil ke Sulawesi Selatan terhadap norang-orang seperti Karaeng Bonto-Bonto, dan sebagainya). Bukankah tidak mungkin,untuk menamakan peperangan di Palembang (1819 - 1821), Bali dan Boni sebagai peperangan rakyat" ? (bandingkan S yang lalu). Dalam kedua peperangan yang disebut terakhir rakyat sudah jemu berperang; rakyat menginginkan suasana damai.
Peperangan Jawa membuktikan betapa amat sukar
pula membedakan watak peperangan di Indonesia menurut penamaan Eropah itu.
Peperangan tersebut hanya pada permulaannya saja
dapat dikatakan mempunyai watak sebagai "peperangan rakyat". Pada ketika itu tidak saja perasaan hormat kepada Dipa Negara, akan tetapi juga semangat Jihad yang telah digelorakan pada rakyat serta perasaan tidak senang telah menyebabkan mereka itu ingin berperang. .Akan tetapi setelah berjalan beberapa waktu lama- nya, maka berobahlah keadaan itu. Pada akhir babakan peperangan itu rakyat bahkan telah jemu berperang. ketika itu hanya tinggal perasaan hormat saja kepada Dipa Negzra serta pangeran-pangeran dan kepala-kepala = mereka=
-9一 mereka yang menyebabkan rakyat mau manggul senjata. dan itupun mereka harus seringkali dipaksa! Memang, pada waktu itu tidak ada musuh-musuh lain selain dari pangeran-pangeran dan kepala-kepala dengan barisan barisan mereka yang tetap itu. Di daerah-daerah di-. mana mereka itu datang dan berdiam, rakyat telah me- ngambil bahagian dalam peperangan tidak lain hanyalah karena perasaan hormat saja ataupun karena mereka dipaksa untuk kemudian setelah mereka itu meninggalkan daerah tersebut dengan tenang pergi ke tempat pe- kerjaan mereka kembali.(*) Bahkan rakyat sebenarnya menginginkan perlindungan kita dan akhirnya mereka telah beberapa kali membantu kita dengan jalan menunjuk kan tempat-tempat penyimpanan makanan lawan atau keperluan-keperluan lainnya. Dalam hal ini tidak ter- masuk kenyątaan, bahwa beberapa orang dari kepala-kepala itu, setelah mereka berdamai dengan kita, dengan serta-merta bersama-sama barisan-barisan telah turut memerangi Dipa Negara kembali. Jadi pada tahun-tahun terakhir, peperangan Jawapun telah kehilangan wataknya sebagai "peperangan Rakyat". Lagi pula bukan saja pada babak terakhir, bahkan dalam banyak pertempuran pada tahun-tahun pertamapun pihak lawan dengan seluruh kekuatannya, setidak-tidaknya dengan bahagian terbesar daripadanya dan selalu dalam jumlah beribu-ribu sekaligus telah turut membantu kita =dalam=
(*) Baca a.l. karangan P.J.F. Low, "De oorlog op Java van 1825-1830 (=peperangan di Jawa 1825-1830), jilid pertama, halaman 208.
, -10- dalam peperangan-peperangan itu. Dengan demikian maka watak "peperangan kecil" yang sebenarnya sudah hilang pula. Peperangan Jawa yang telah berjalan hampir lima tahun itu harus dianggap terutama sekali karena kę- uletan Dipa Negara dan beberapa orang panglimanya, .begitu juga karena perąsaan hormat dan kekaguman yang bersemi di hati rakyat, terlepas dari hal-hal lain. Perjuangan Mas Iurah dan Iman Musba yang melawan sendiri-sendiri dengan barisan mereka di pegunungan Perahu dan melakukan "peperangan kecil" mempunyai per- sanaan dengan "peperangan bergerombolan". Dalam peperangan Paderi, di samping pihak lawan melakukan pertempuran-pertempuran besar,dan seringkali pula menampilkan beribu-ribu pejoangnya, sekali dalam keadaan yang lebih banyak sedang di lain kali dalam kedaan lebih sedikit jumlahnya, mereka itu menjalankan "peperangan kecil". Peperangan itupun sukar untuk di- sebut sebagai "peperangan rakyat" atau peperangan gerilya. Tentara Hindia Belanda di sana terutama berhadap- an dengan sekte Paderi yang menindas sehahagian besar penduduk Sumatera Barat. Kepala-kepala rakyat yang di- tindas itu mula-mula bahkan telah meminta bantuan Inggris dan kemudian Belanda Oleh karens pihak Paderi mengalami kekalahan, maka dengan sendirinya penduduk merasa lebih senang terlepas dari penindasan itu Itulah sebabnya mengapa setelah terjadi salah satu pertempuran yang menentukan seringkali seluruh daerah itu tunduk kepada kekuasaan kita dan penduduknya dengan serta merta bersikap tenang. Bahkan ada contoh-contoh, bahwa rakyat juga dari kelom- pok Paderi sendiri yang berjuang bersama-sana kita, =seperti=
seperti terjadi pada waktu penúndukan Lintau. (*) Peperangan Paderi yang terputus-putus itu yang telah memakan waktu 19ntahun lamanya ( 1819=1838), sebahagian besarnya harus dianggap karena ke adaan, sehingga sebelum tahun 1830 pihak kita harus menjalankan peperangan itu dengan peralatan-peralatan yang serba kurang. Setelah tahun 1830 dan dengan kekuatan yang lebih banyak, maka barulah peperangan itu dapat di- gerekkan sepenuhnya, sehingga dalam tempoh dua tahun saja seluruh daerah Padang Atas dapat dimasukkan ke dalam kekuasaan kita; peperangan hebat yang telah ber- kecamuk kemudian sebahagian besarnya disebabkan karena ketidak senangan rakyat yang ditimbulkan oleh Pemerintah kita di sana. Akan tetapi dengan jatuhnya Bonjol di tahun 1837 dan Dalu-Dalu di tahun 1838, maka keadaan keamanan di daerah Padang Ataspun pulih kembali dan sejak itu kecuali tahun 1841 di Batipuh tidak ada lagi terjadi gangguan-gangguan keamanan. yang dahsyat. Sekiranya pasukąn-pasukan kita dulu terlibat dalam "peperangan rakyat", maka timbul pertanyaan apakah peperangan itu tidak akan menjadi lebih berkepanjangan lagi =Sewaktu=
(2)
(*) Lihat a l karangan H M. Lange "Het Nederlandsch
0.I. Leger ter Westkust van Sumatera van 1819-1845" (=Tentara Hindia Timur Belanda di Sumatera Barat dari 1819 1845), cetakan kedua, jilid pertama, halaman 340-342 den, dan was het zeer de vraag geweest, of die oorlogen niet nog langer geduurd zouden hebbe
-12一
Sewaktu pertempuran berpindah ke lembah Alahan panjang yang pada waktu itu merupakan titik pusat gerak- an Paderi dan ketika Bonjol dikepung, maka daerah-daerah yang berdekatan letaknya itu memperoleh watak."peperangan rakyat", akan tetapi tidak pula sepenuhnya. Bahkan setelah beberapa waktu lamanya penduduk dan. : kepala-kepala dalamdaerah-daerah yang turut berperang, sebahagian besarnya sudah merasa jemu; jihad yang se- benarnya diwajibkan oleh agama berangsur-angsur men- dingin dan berobah menjadi nafsų materi. Watak yang berlainan sekali, dimiliki oleh peperangan yang terjadi di bahagian Selatan dan Timur Kalimantan. Ia lebih tepat dapat disamakan dengan "peperangan bergerombolan". Dalam peperangan tersebut pertempurannya dilakukan oleh berbagai-bagai kepala bersama-sama "gerohbolan" mereka. Masing-masing kepala itu berjuang sendiri-sendiri; pemusatan pimpinan tidak ada; kerja sama antara berbagai-bagai "gerombolan" tidak pula ada, sedang usaha ke arah itupun kurang sekali. Jika rakyat telah turut serta dalam peperangan itu, maka hal itu disebabkan tidak lain karena perasaan hor- mat kepada Pangeran Hidayat atau karena takut kepada kepala-kepala yang telah : bermusuhan saja. Dalam hal ini tidak pula dapat dikatakan sebagai "peperangan rakyat Juga pepęrangan atau gangguan keamanan di daerah Pa- lembang Atas, dalam hal-hal tertentu, dapat disebut sebagai "peperangan bergerombolan" Di sana peperangan itu dilakukan terutama sekali oleh beberapa orang kepala atau pemberontak yang dengan "gerombolan-gerombolan"nya melakukan perampasan di daerah-daerah terdekat. Jika mereka itu, pada mulanya berkat "kepercayaan" penduduk =berhasil=
-13- berhasil memperoleh pengikut-pengikut tertentu., maka biasanya beberapa buah kekalahan atau kemalangan telah cukup untuk membuat mereka insaf kembali, sehingga di sinipun tidak dapat disebut sebagai "peperangan gerilya". Akan mengambil tempat yang banyak sekali jika kita hendak meneliti watak setiap peperangan atau ekspedisi itu, akan tetapi jika orang ingin memperoleh contoh yang baik .sekali tentąng "peperangan rakyat" atau "pe- :perangan. gerilya :ity,: nakac dipersilakanuntik. nengikuti peperangan di Aceh. Dalan peperangan itu pasukan-pasukan kita berhadap- an dengan s e l u r u h rakyat eerah Aceh Besar ke- u cuali.Meura'sa dan sebahagian besar negeri-negeri pe- sisir. Pada masa itu benar-benar dapat disebut, bahwa setiap laki-laki,,setiap wanita dan setiap anak=anak men- jadi musuh kita, bukan karena mereką itu menaruh hormat atau mengagumi kepala-kepala mereka, melainkan karena keyakinan agama mereka yang mendalam dan benci kepada kaphir. Sebelum dan terutama setelah Jenderal Pel mengada- kan perjalanan, maka peperangan itu benar-benar mem- punyai watak sebagai "peperangan rakyat" Juga kemudian, ketika terdapat kesan seolah-olah ia kehilangan wataknya disebabkan oleh perjalanan jenderal Van der Heijden ke XXII dan XXVI mukim, peperangan itu mulai memperoleh wataknya sebagai "peperangan .rakyat" kembali. Sębalikrya pemimpin-pemimpin "gerombolan" Nya' Hasan, Teuku Umar, Teuku Husen, Teuku Ali Pagar Ayer =dan sebagainya=
-14
dan sebagainya-telah menjalankan sejenis "peperangan
bergerombolan"。(*)
(*) Mengenai terjadinya "peperangan rakyat" di Aceh dan sebab musahab ia berjalan lamadipersilakan mem- baca karangan Dr, Snouck Hurgronje "De Atjehers (= orang-orang Aceh), jilid pertama, bab I S 9, halaman 155198.
Catatan: kleine oorlog = peperangan kecil =peperangan besar grote oorlog = partijganger pemimpin gerombolan di luar hubungan ke- vrijbuiter tentaraan yang bertempur di pihak sesuatu kekuatan tentara, juga pengikut sesuatu gerombolan, perompak. parrijgangers- oorlog = peperangan bergerombolan vrijscharen, benden = gerombolan = volksoorlog peperangan rakyat = mrerillaoorlog peperangan gerilya. godsdienstijver = jihad. weerbaar = mampu melawan musuh
********* 8-12-78.