SENILUKIS
INDONESIA BARU
SEN
NOMOR
INDONESIA
MADJAL
INDONESIA Madjalah Kebudajaan Terbit sekali sebulan No. 4, tahun II April 1951. Redaksi Armijn Pane (Ketua). Prof. Mr. Sunaria K. Sanyatavijaya (Wk. Ketua). Dr. Ahmad Ramali. Sekretaris Trisno Sumardjo Anggota-anggota Drs. Adam Bachtiar, Prof. Dr. Purbotjaroko, Mr. K. Purbopra- noto, Agus Djaja, H. B. Jassin, Darmawidjaja, Prof. Dr. Prijono. Asmara Hadi.
Langganan sekwartal .... R 6.—
setengah tahun R 12.- setahun R 22.— Tidak diadakan nomor pertjobaan. Pembajaran dimuka. Harga iklan; 1/1 hlm. R. 300.~, 1/2 hlm. R. 150.-, 1/4 hlm. R. 75.. Hanja untuk soal-soal kebudajaan ALAMAT RED./ADM. LEMBAGA KEBUDAJAAN INDONESIA Djakarta Merdeka Utara 7
Rentjana: Zaini
KATA SEPATAH
Penerbitan madjalah kita dalam bentuk jang chusus ini sudah barang tentu memprovokasikan pertanjaan dari kalangan pembatja. Setidak-tidaknja akan tampil pertanjaan dalam batin, mengapa djustru senilukislah jang didjadikan bahan untuk nomor istimewa. Sekedar untuk mendjawab sesuatu jang belum-tapi mungkin terutjapkan itulah kami tebarkan pengantar ketjil ini diatas kertas. Salah satu kewadjiban madjalah kebudajaan adalah melakukan dokumentasi, jang berarti menanggap nilai-nilai kemadjuan batin dalam masarakat seperti jang disadjikan oleh sedjarah tanah-air, terutama apa jang hidup dan bergolak didalam djiwa, jang pada hakekatnja mendjadi tenaga pentjipta dan pendorong motoris bagi tiap-tiap tjita dan usaha dalam masarakat jang hidup. Menanggap kehidupan ini ada kalanja setjara memaparkan pendapat-pendapat baru, ada kalanja setjara memuat buah-buah pendirian jang telah pernah dipasang ditempat lain. karena tiap-tiap madjalah adalah pula musium ketjil. Itu sebabnja nomor ini se- bagian besar berisi kupasan-kupasan serta buah-buah tangan jang sudah pérnah dihidangkan terlebih dulu. Kali ini kami adjak para pembatja menanggap kehidupan tadi dari suatu segi kehidupan jang setjara tegas telah menjatakan tanda hajatnja dalam tingkatan kulturil bangsa kita dewasa ini, jalah dari kalangan senilukis. Djadi bukanlah maksud kami hendak mengupas sendiri, melainkan hanja mempersilakan pembatja mengembara dalam musium miniatur. Agar perkataan músium tidak merupakan pengertian jang salah. jakni sebagai chazanah barang-barang jang mati, tetapi sebagai dokumentasi jang hidup, maka kami muatlah hasil-hasil kerdja dari orang-orang jang telah menjatakan diri sebagai peribadi jang chas, baik selaku kritikus, essayis ataupun pelukis selama djangka zaman sesudah tahun Revolusi. Pribadi-pribadi ini dengan buah-buah pikiran dan perasaannja jang tersendiri adalah merupakan tokoh-tokoh jang patut diperhatikan setiap orang jang suka memperhatikan soal-soal kebudajaan bangsanja sendiri, meskipun belum dapat dikatakan bahwa semuanja akan mendjadi tokoh-bersedjarah. Hal ini membutuh- kan taraf-taraf jang lebih landjut. Nistjaja apa jang dikatakan diatas itu berlaku pula bagi tiap-tiap segi kebudajaan lainnja! Adalah mendjadi salah satu idaman pengusaha madjalah ini, hendak menerbitkan nomor-nomor istimewa djuga mengenai tjabang-tjabang ilmu dan kesenian lainnja, maka nomor senilukis terbit pertama-tama tak lain hanja karena bahan-bahannja lebih tersedia pada kami. Dalam hal inipun kami ber- harap dengan sangat, supaja orang suka membantu kami, baik dengan artikel- artikel baru maupun dengan menjusún bunga-rampai (dokumentasi) seperti jang telah kami mulai dengan nomor ini. Bunga-rampai jang mengumpulkan sari-sari karangan dari pelbagai madjalah inipun kami anggap perlu dari sudut jang praktis: oleh aksi I dan II, dan sudah lebih dulu oleh Djepang, daerah-daerah kurang mengerti apa jang kedjadian didaerah-daerah lain, misalnja apa jang dipublikasi didaerah Republik (Renville) dan apa didaerah federal, djuga di Djakarta. Bahwasanja wilajah perhatian kaum penulis dan pelukis tak hanja terbatas pada soal lukisan semata-mata, tapi djuga pada tjabang-tjabng jang berdekatan dengannja, adalah terbukti a.l. oleh pernjataan O. Effendi tentang tanda-lambang negara (heraldiek). Suromo tentang keramik dan Resobowo tentang dekor. Beragam-ragamlah daja-pentjipta manusia Indonesia Baru, dan beragam-ragam pula tjara menjalurkannja serta tingkatan jang ditjapainja. Potensi tenaga djiwa dan kerdjanja adalah modal dan harapan kita! Semoga hal ini dalam ruangan senilukis tjukup tertjerminkan oleh madjalah kita bersama ini. Redaksi
Socromo
SENILUKIS INDONESIA BARU
Senilukis jang dibitjarakan disini ialah senilukis merdeka jang baru tumbuh sesudah ada perkenalan dengan seni Barat. Ia bukan- lah landjutan dari jang lama, walaupun kebudajaan lama telah mentjatat djuga hasil-hasil jang besar jang berhubungan dengan ini, seperti, senibatik, seniwajang, senipatung d.l.l. Kalau senilukis Indonesia baru kita terima pertama-tama sebagai wudjud pernjataan djiwa bangsa Indonesia, maka haruslah kita bertolak dari kedjadian jang penting dalam lapangan senilukis Indonesia, ialah lahirnja Persagi ditahun 1938 (Persatuan Ahli- ahli Gambar Indonesia). Senilukis jang terdahulu dari dia, walaupun sebagai suatu hasilseni barangkali mempunjai arti jang tidak ketjil (kita teringat kepada pelukis Raden Saleh jang djadi mashur dengan lukisannja : .Kebakaran dihutan") terpaksa harus ditindjau dan diukur dari titik sedjarah jang diletakkan oleh Persagi. Kepulasan jang pandjang dari abad keabad tidak menghasilkan apa-apa dalam lapangan seni. Orang masih tinggal pada jang lama, pada tradisi jang sudah djadi beku. Paling banjak usaha jang ketjil² sadja jang ada, tetapi belum kuasa melepas diri, dan mentjoba-tjoba mendekati keagungan lama. Barangkali djuga banjak seniman jang tidak tertjatat runtuh, putus asa disebelah keagungan lama. Kesa- daran belum datang, pribadi belum tumbuh. Pendjadjahan menulis- kan sedjarah hitam disegala lapangan. Djauh terpentjil. diatas segala derita dan kesah bangsanja berdiri Raden Saleh di-awang². Ia adalah seniman pertama di Indonesia jang melukis à la Barat, Ia melukis pemandangan, binatang dan potret-potret. Buan-tangan- nja jang terkenal : ,Antara hidup dan mati" (perkelahian binatang) dan Kebakaran dihutan" tersimpan di Rijksmuseum Amsterdam. Ia hidup dari tahun 1816 sampai 1880. Sesudah Raden Saleh keadaan senilukis di Indonesia sepi sadja. Indonesia dibandjiri dengan. gambar-gambar reproduksi luar
negeri jang murah dan lukisan-lukisan pelukis Belanda di Indonesia jang tidak berarti. Dantara mereka ada seorang anak Indonesia jang djuga mengadakan seteleng, ialah Raden Abdullah. Buahtang- annja tidak mengatasi keadaan senilukis dewasa itu, jang tidak lebih dari pada gambaran jang bagus sadja. Hati jang masih pulas tidak bisa melihat kenjataan jang pait. Mata masih terpedjam dalam mimpi jang nikmat dan hasilnja ialah lukisan-lukisan pemandangan jang serba indah. Masjarakat kolonial memang meminta hasil-hasil jang demikian itu. Lukisan adalah barang hiasan rumah pedagang kaja atau untuk dibeli si pelantjong luar negeri jang ter- tarik melihat tanah Indonesia jang tjantik.
S. Sudjojono pelopor Persagi jang dalam tulisannja sangat agresif
terhadap keadaan senilukis dewasa itu jang sudah mendjadi barang dagangan jang bagus, mengatakan ditahun.1939; .,Lukisan lukisan jang kita lihat pada waktu sekarang tidak lain terbanjak lukisan-lukisan pemandangan: sawah jang sedang dibadjak, sawah jang berair, djernih dan tenang, atau gunung jang kebiru-
biruan.......Semua serba bagus dan romantis bagai sorga, semua
serba enak, tenang dan damai". Dua orang pelukis jang dapat dikatakan pelopor senilukis baru Indonesia adalah Sudjojono dan Affandi. Sudjojono membentuk golongannja di Djakarta jang kemudian mendjadi organisasi Persagi dan Affandi jang mentjari nafkahnja di Bandung dengan dja- lan mendjadi pelukis reklame mengadakan djuga sekolahnja. Dari kedua orang ini datang pengertian jang benar tentang lukisan sebagai hasil seni. Dalam kebangkitan bangsa Indonesia dilapangan politik muntjulnja pribadi² demikian adalah hal jang logis. Sebagai seniman mereka dapat menangkap tjepat penderitaan bangsanja dan lebih merasai dan menghargai arti kemerdekaan bagi manusia. Tidak heranlah kalau Sudjojono jang selain djadi pelukis djuga seorang orator dan pengarang jang tadjam penanja, memperopa- gandakan besarnja arti watak bagi suatu hasil seni. Dengan mem- beri tekanan pada soal watak dan kemerdekaan ia menjerang pelukis-pelukis dimasanja jang romantis dan akademis. Romantis disini lebih baik disebutkan romantis jang palsu dari perasaan jang kosong, sedang akademis hendaknja diartikan suatu ketentuan-ketentuan tjara melukis jang menghukum tiap gera- kan pembaruan dan tiap pernjataan perasaan diri. Warna-warna hitam dan putih misalnja tidaklah diterima sebagai warna. Dalam zaman pendjadjahan jang susunan masjarakatnja adalah pelanggaran habis-habisan terhadap kemanusiaan,'seorang seniman tidak bisa lain dari seorang pemberontak terhadap keadaan sekeli- lingnja dan seninja pajahlah untuk dapat bebas dari heroisme dan rhetoriek. Untuk mendjaga nilai manusia dari perbudakan, Sudjojono mengadjarkan keberanian hidup jang ada risikonja. Lukisannja: Sajang aku bukan andjing", adalah sindiran jang tadjam terhadap manusia sendiri (manusia kolonial?) Berhubungan dengan lukis-
annja ini Sudjojono berkata. Dalam banjak hal andjing lebih berani dari manusia. Karena sekerat tulang sadja seekor andjing berani mempertaruhkan njawanja dapat digeleng mobil". Djangan kita mentjari logika dalam uraiannja itu dan kita terima interpretasi lukisannja itu sebagai suatu kemarahan terhadap manusia budak jang banjak mengisi masjarakat pegawai negeri pemerintah djadjahan. Djuga lukisannja itu minta kita ukur dari sudut lain daripada jang biasa untuk hasilseni. Ia typerend bagi masa djadjahan. Ia dibuat dizaman pendudukan Djepang. dimana penindasan kekuasaan pemerintah sampai pada puntjaknja. Lukisan-lukisan Sudjojono dari tahun-tahun jang terdahulu sebagai hasilseni mempunjai arti jang djauh lebih tinggi Kita ingatkan sadja : Djalan Lempang. Mainan, Djongkatan dan Dimuka kelambu terbuka, dari tahun 1939. Disini Sudjojono tidak menundjukkan semangat adjaran jang heroistis, ia mentjari kebersihan dalam bentuk dan warna, kebersihan tanggapan jang banjak kita djumpai pada si botjah (Mainan dan Djalan lempang). Pada .Dimuka kelambu terbuka" terdapat ketenangan jang tadjam mengiris hati. Berlainan dengan Sudjojono, Affandi tidak mempunjai kepan- daian berbitjara atau menulis dan pada lukisan-lukisannja jang ekpressionistis lebih kentara heroisme jang meluap-luap melalui warna, bentuk dan thema. Walaupun kita akui bahwa garis. warna dan bentuk dalam lukisan mempunjai fungsinja sendiri. tetapi psychologis lukisan-lukisan Affandi menundjukkan pergu- latan terhadap kemelaratan rakjat. Djuga dari sini kita akan lekas mendapat keterangan mengapa Affandi kemudian menamakan golongannja pelukis rakjat". Tempat dan masa jang dihidupi oleh Sudjojono, Affandi dengan kawan-kawannja lekas membikin seni itu tjuma suatu alat untuk mentjapai suatu tudjuan jang berada diluar seni sendiri. Dalam hal ini lukisan-lukisan Sudjojono dari tahun-tahun sebelum perang menundjukkan bahwa ia lebih kuat dari jang lain. Kalau di Perantjis hidup seorang Matisse jang merebut daerah sendiri bagi senilukis. jang mendjadikan dia sepotong tangankursi dimana manusia bisa beristirahat sebentar dalam keadaan masjarakat jang meletihkan dan membusankan, di Indonesia ini senilukis (dalam zaman Djepang lebih kentara) mau membawa dinamit hidup kedalam djiwa rakjat. Anehnja dalam hal ini seorang pengandjur dan pemimpin rakjat jang besar seperti Bung Karno lebih menjukai bentuk klasistis gaja jang agung seperti pada Michel Angelo dan Rubens, tidak hidup bergerak seperti pada van Gogh. Djiwa revolusionernja supaja tjuma terbatas pada soal politik sadja. Orang bisa meng- hargai hasilseni dari setiap masa, tetapi smaak kita mintak diperhitungkan dengan masa kita sendiri Kedua orang pelopor senilukis Indonesia mempunjai rasa tang- gung djawab jang besar. Betapa besarnja penderitaan dan
pengorbanan mereka, dapat kita batja dalam suatu tulisan Sudjojono sendiri : ,Dan pelukis jang demikian kalau tidak mau dimakan penjakit t.b.c., lebih baik mendjadi guru, atau mentjari pekerdjaan klerk statistik, sebab menantikan waktu baik bilamana gambarnja laku lama lagi datang". Sesudahnja didalam masjarakat jang ekonomis lemah, masjarakat jang baru mau tumbuh keluar dari himpitan pendjadjahan, kepada senimannja diminta ketabahan hati jang sangat besar. Dari mereka diminta pengorbanan jang mutlak. Dengan memeli- hara suasana merdeka dalam melukis dan menumbuhkan pribadi- pribadi jang kuat diantara murid-muridnja kedua orang pelopor itu berusaha kearah pertumbuhan senilukis Indonesia jang membawa tjoraknja sendiri. Pengaruh-pengaruh jang datangnja dari Barat, seperti aliran-aliran impressionisme dan exressionisme jang dirasai oleh kedua pelopor dalam dirinja, diusahakan djangan banjak mempengaruhi murid-muridnja. Kesadaran dan vis: dalam senilukis inilah jang mempunjai arti besar dalam pertumbuhan senilukis merdeka Indonesia. Disamping mendidik dan memimpin Sudjojono tidak berhenti-hentinja menge- ritis aliran romantis dan akademis jang hidup terus dari masa jang dahulu pada diri pelukis Besuki Abdullah, anak Raden Abdulah. Pelukis Indonesia ini sebelum petjahnja perang Pasific tidak pernah mendapat kesempatan untuk menstelengkan lukisan- lukisannja ditempat jang pantas. Mereka hidup terpentjil dalam kampung. Baru dengan masuknja tentara Djepang pelukis-pelukis itu mendapat kesempatan dan penghargaan. Dengan maksud jang kurang baik Djepang telah menggabungkan seluruh seniman Indonesia dalam satu badan Pusat Kebudajaan. Tetapi walaupun demikian, tidak dapat disangkal bahwa ia telah mendatangkan kebaikan bagi senilukis Indonesia. Kesempatan jang disediakan oleh peme- rintah Djepang telah digunakan sebanjak-banjaknja dan Sudjojono jang mendapat atelier, dimana ia dengan leluasa dapat mendidik murid-muridnja telah berhasil mendjaga kemerdekaan. Bantuan materieel Djepang telah membawa kebaikan. Pelukis-pelukis jang tadinja tidak dikenal masjarakat sekarang sering mengadakan. steleng. Dengan begini orang mulai berkenalan dengan barang² jang baru dalam senilukis. Berbagai-bagai aliran baru tampak dalam steleng: Naturalisme, impressionisme, expres- sionisme. Nama-nama pelukis jang pada waktu itu mulai dikenal masjarakat : S. Sudjojono, Affandi, Agus Djajasuminta, Otto Djajasuminta. Hendra, Basuki Resobowo, Emiria Sunasa, Henk Ngantung, Mochtar Apin, Sundoro, Trubus, Kerton, Baharudin dan Sudarso. Tidak semua dari pelukis-pelukis in sebelum petjahnja perang mempunjai hubungan satu sama lain. Dengan adanja kesempatan jang luas itu banjaklah muntjul pelukis-pelukis atau tjalon-tjalon pelukis jang tadinja tersembunji sendiri-sendiri.
Sampai-pada masa itu Sudjojono kelihatan masih menguasai keadaan. Sebuah motto jang ditulisnja dalam lukisannja tentang ateliernja sendiri dimana murid-murid sedang bekerdja, berbunji: mentjari tjorak persatuan Indonesia, menundjukkan dengan tegas betapi besarnja pengaruh kesadaran politik Indonesia jang menu- dju persatuan nasional mempengaruhi dia. Ini dibuktikan lagi dengan njata-njata waktu revolusi petjah di Indonesia. Sudjojono mengambil bagian jang aktip dalam babak pertama. Dengan kwas dan tjat ia ikut mengadakan revolusi. Sesudah revolusi, muntjul dilapangan senilukis Indonesia nama- nama baru, seperti Zaini, O. Effendi. Suromo, Hendra, Kusnadi dan Sutiksna. Orang-orang ini diwaktu Djepang masih djadi murid atau belum keluar dalam steleng. Terutama pada O. Effendi dan Zaini senilukis Indonesia men- dapat kelandjutannja. Walaupun tinggal dipusat perdjuangan nasional (Djokjakarta) mereka masih sanggup melihat dengan djernih. Dengan tidak hanjut dalam arus politik mereka menundjukkan kedalaman. Mereka sudah dapat lampaui masa perdjuangan merebut kemerdekaan pribadi. Kemerdekaan pada mereka tidak lagi mendjadi tudjuan, tetapi sudah mendjadi milik jang sudah dipunjai. Dengan bersihkan diri dari segala pengaruh, mereka menundjukkan keaslian-keaslian jang sederhana. Walaupun pelukis-pelukis muda ini belum menghasilkan lukisan-lukisan jang besar, namun dengan lukisan-lukisan tjat-air, pastel dan tjoretan-tjoretan pena sudah menundjukkan, bahwa mereka sedang memulai halaman baru bagi senilukis Indonesia. Zaini jang baru berumur 24 tahun telah menundjukkan pengertian tentang garis dan warna dalam senilukis. Baik pada Zaini, maupun pada
O. Effendi kelihatan pengaruh senilukis abstrak. Dengan mengadakan eksperimen-eksperimen dengan warna dan garis mereka memberikan kemungkinan-kemungkinan bagi pertumbuhan senilukis Indonesia dihari jang akan datang. Kedjernihan dan keaslian pada kedua pelukis muda ini mendjadi pokok. Demikianlah kita lihat: dari romantis jang akademis, melalui impressionisme dan expressionisme dalam satu generasi senilukis Indonesia sampai pada senilukis jang abstrak.
M. Balfas (M.B.)
.Asrama pradjurit di Solo" S. Sundoro
Dokumenfasi Lukisan
Oleh : TRISNO SUMARDJO
Muntjulnja negara muda didunia adalah karena dorongan-dorongan kuat akan memenuhi sesuatu kebutuhan bersama. Kebutuhan ini ditanah kita lazim dinamakan persatuan kebangsaan jang digunakan untuk merebut hak-hak jang mutlak bagi perkem- bangan bangsa: hak kemanusiaan, hak kemerdekaan, hak menja- takan keinginan, kehidupan dan kebangsaannja sendiri. Dorongan kuat guna mentjapai ini bagi tiap-tiap bangsa diper- olehnja dari zaman-zaman kedjajaan dalam sedjarahnja: keperwi- raan pahlawan-pahlawannja, djiwa-besar dan kepandaian seniman-seniman dan orang-orang lainnja jang diagungkan. Dengan bebas dan penuh gairah, penghargaan kepada sedjarah dunia ini dilakukan oleh bangsa-bangsa jang telah merdeka dan madju; djiwa kebangsaan mereka diisi oleh kebudajaan jang gilang- gemilang. pada hakekatnja menuruti arus besar hendak merebut hak-hak jang mutlak tadi. Isi sedjarah sesuatu bangsa ini merupakan dokumentasi jang bukan main besarnja nilainja. Buah kebangsaan dalam artian jang baik, dorongan serta teladan bagi tiap-tiap tenaga kreatif, sumber
.Markas digaris depan" Sudibjo
ilham dan semangat-djiwa bagi manusia jang tak mau musna dengan tiada berdjasa dan mempertahankan hak hidupnja, pernjataan dirinja dan pernjataan bangsanja untuk mendapat penghargaan jang lajak sebagai bangsa jang terhormat, pun djuga pernjataan djiwa hendak memberi sumbangan berupa hasil-hasil kebudajaan dan kesenian kepada dunia, jakni hasil-hasil manusia kreatif; semuanja ini merupakan isi sedjarah tadi jang kita kete- mukan dokumentasinja dalam buku-buku jang dihasilkannja, dalam musium-musiun, dalam koleksi negara dan koleksi partikelir, pendeknja dalam segala hal jang membentuk kebudajaan bangsa kita. Kini bangsa Indonesia telah merebut kemerdekaannja; permulaan status baru ini selain ikut mengisi sedjarah dan kebudajaan dunia adalah djuga menghendaki pemeliharaan isi itu. Sajang sekali, jang diketahui dan dihárgai orang pada umumnja setelah taraf baru jang gemilang sesudah tahun' 1945 itu hanjalah usaha pergerakan dan pemimpin-pemimpin politik, jakni usaha membentuk kekuasaan sadja, pada hal hasrat menjatakan mau merdeka itu bukannja soal merebut kekuasaan politik belaka, me- lainkan memupuk semangat djiwa selengkap-lengkapnja disegala lapangan pernjataan manusia. Maka selain digelanggang politik kita djuga mesti mempunjai banjak tenaga dilapangan-lapangan lain, misalnja filsafat, kesenian, dan lain-lain.
Persiapan menjatakan diri, memang sudah ada sebelum saat proklamasi, ialah dekat sebelum zaman Djepang, pada tahun 1937 (Persagi = Persatuan ahli² gambar). Revolusi dan terbukanja kemerdekaan adalah udjud-udjud pernjataan kita untuk menun- djukkan pada dunia: inilah bangsa kita. Pada saat itu kaum pelukis sudah betul-betul sadar akan mengemukakan segala matjam perdjuangan bangsanja dalam bentuk kesenian. Maka disinilah perdjuangan seni berdjalinan erat dengan kebangunan bangsa, kesadaran diri dan kesadaran akan semangat zaman. Seni lukis Indonesia adalah salah satu dari lapangan-lapagan jang sedikit djumlahnja ditanah air kita jang dengan lantang serta mejakinkan sekali membunjikan trompet Reveille! Sebagai pembatja dan peminat, kami ikut bersukur bahwa Mim- bar Indonesia dalam nomor Hari Pahlawannja memuat reproduksi beberapa lukisan jang memang dengan sengadja dibikin untuk memperingati dan menghargai perdjuangan kita ditahun² 1945 dan selandjutnja sebagai pushing power menudju kebahagiaan bangsa, seperti belum pernah sebelumnja kita kenal dalam sedjarah tanah air kita. Lukisan-lukisan ini adalah sebagian dari 65 buah lukisan, buah tangan 25 orang pelukis, jang empat tahun jang lalu semuanja tergabung dalam perkumpulan kesenian Seniman Indonesia Muda. Dengan bantuan materi oleh Biro Perdjuangan dari Kementerian Pertahanan. S.I.M. dalam tahun 1947 mengada- kan seteleng besar-besaran di Djokjakarta dengan koleksi dokumenternja itu jang telah mendjadi milik Negara. Masih segar dalam arus kebangsaan diwaktu itu, kerdja-sama anatar kaum seniman dengan serentak dan serempak itu adalah djuga unik dalam sedjarah kita pada umumnja, maupun dalam sedjarah kesenian kita. Dalam hal ini kita patut bergembira hati atas djasa mereka serta djasa pemimpinnja, S, Sudjojono. Eksplosi kegiatan setjara spontan, sebagaimana tjotjok dengan watak seniman! Waktu itu mereka masih dalam taraf mentjari dalam saat permulaannja, bahkan ada jang baru mulai beladjar mengge- rakkan pensil diatas canvas, dan kinipun mereka mas:h belum lepas dari taraf mentjari itu. Apakah jang ditjari? Berontak terus melawan pendjadjah". .Menegakkan kemerdekaan", adalah sembojan-sembojan jang dewasa itu berkumandang dimana-mana. Patriotisme dimasa Sturm-und-Drang, didalam hati jang baru terbuka bagi nilai-nilai universil jang samar-samar dalam djiwa pelukis jang baru beladjar atau mentjari apa artinja kesenian itu dan apa kedudukannja dalam masjarakat dan dalam perdjuangan hebat menghadapi musuh jang berabad-abad. Dalam keadaan begitu belum dapat kita sebut adanja kesadaran jang bermakna penuh. Kita hargai usaha mereka seperti usaha kanak-kanak jang baru melalui masa puberteitnja, tapi dalam artian baik, jakni spontan, murni, dengan élan vital jang mengagumkan. Kita boleh mengatakan: Belum sempurna. mereka masih harus beladjar banjak", tapi tidak boleh diingkarkan bahwa kita patut berbangga pula.
Garis depan" Sorono Timbulnja kegiatan pelukis-pelukis ini selaras dengan sifat djiwa Proklamasi Kemerdekaan oleh pemuda-pemuda kita dan perdjuangan rakjat kita selandjutnja, jalah : meskipun tjerai-berai belum teratur rapi, disanasini sektaristis. ruwet, katjau, riuh dengan segala matjam bentakan dan teriak-teriak, namun berisi anasir- anasirjang menjebabkan dunia luar kagum dan mengapa Belanda achirnja menjerah, jakni djudjur, spontan, berani dan serempak. Djudjur berarti: taat mendengarkan kata-hati, spontan dengan tiada memperhitungkan kepentingan diri sendiri, serempak: dengan persatuan kebangsaan pemuda-pemuda dan rakjat djelata; disinilah letaknja kekuatan bangsa kita pada masa jang lalu, sekarang dan dizaman jang akan datang! Kekuatan Indonesia tidaklah pada tingginja intelek; kaum intelek itupun sebagian terbesar tidak mempunjai sifat-sifat tersebut diatas, meskipun mereka dengan dipelopori oleh perdjuangan diplomasinja achirnja memegang pimpinan disegala lapangan jang tadinja banjak dipegang oleh pemuda. Kita saksikan keadaan jang begini: pertama-tama kegiatan berdjuang jang spontan, didukung oleh patriotisme tulen, walaupun tidak teratur, namun dimana- mana kita lihat pemuda dan rakjat, peladjar-peladjar dan laskar- laskar tidak resmi melandjutkan pergulatan untuk kemerdekaan ini dengan pesat dan tiada mengetjewakan, sampai saat terachir dalam peperangan gerilja jang total. Merekalah orang-orang
Teman-teman dari Maluku" S. Harijadi
kreatif, pembentuk pondamen kebudajaan Indonesia Baru, jang kini mendjadi the forgotten men! Sebagai gambaran tentang semangat-djiwa dan semangat zaman jang kami uraikan diatas, pernjataan segerombolan pelukis ini sungguh sangat berharga. Tapi sajang sekali, mereka dalam keadaan Sturm-und-Drang dalam djiwanja, rupa-rupanja belum sadar akan nilai-nilai bersedjarahnja ataupun kesadaran itu hanja samar- samar belaka. Sebab kini koleksi lukisan ini (hampir) seluruhnja telah hilang. karena kurang perhatian untuk menjimpannja dan memeliharanja, sedangkan perhatian itu kita harapkan paling banjak dari fihak mereka sendiri sebagai pentjipta-pentjiptanja. Sehingga kini hanja satu-dua lukisan sadja jang selamat. Djangan- lah pelukis-pelukis jang bersangkutan menjalahkan sadja keadaan zaman jang serba keruh. Tanggung-djawab dan minat besar mestinja memungkinkan mereka menjelamatkan milik Negara jang berharga itu, sekurang-kurangnja sebagian agak besar dari koleksi tadi. Betul Sudjojono dan teman-temannja jang kini djauh lebih ketjil djumlahnja itu dalam tahun jang lalu telah mengerdjakan pula dokumentasi kedua, tetapi pada mereka kurang kelihatan adanja sifat-sifat spontaniteit dan kemurnian jang tadinja kita saksikan pada koleksi pertama, jang didjalankan dengan keichlasan hati,
djauh dari pertjektjokan serta keinginan hendak dengan sengadja melantingkan tidee sealiran jang disangkanja baru, djauh dari kehendak menempatkan diri sendri dilatar-depan dan mengedjar keuntungan materiil. Hendaknja para seniman insaf bahwa mem- buat seni itu dimulai tidak dengan idee tertentu tentang suatu aliran, tapi sebaliknja, idee dengan sendirinja timbul sewaktu bekerdja; sambil menjelam kita tahu barang-barang berharga apakah jang ada didalam laut, tidak terutama dengan tindjauan dari atas permukaan air. Memang bangsa Indonesia sekarang banjak kena penjakit meng- hargakan diri terlalu tinggi (zelfoverschatting) serta ketjondongan kepada tidak hendak mengakui hak hidup, hak pernjataan hidup serta keindahan dan kebenaran jang ada pada gerombolan lain, aliran lain dan seniman lain. Akibat kepitjikan serta masa-puberteit jang belum sanggup mereka atasi. Sambil ber-evolusi kita hendaknja memelihara terus kedjudjuran dan kemurnian jang dari mulanja sudah ada kita miliki. Istimewa dari kaum seniman kita harapkan manusia-manusia jang tidak tenggelam dalam arus statisiteit, birokrasi dan petit bourgeoisie jang kini meradjalela dimasjarakat kita. Kedjudjuran, kemurnian dan kehendak baik inilah, disamping keseniannja jang mulai berkembang — landjut atau kurang landjut. dalam beberapa hal hanja karena kurang sempurna tehniknja jang direproduksi dalam halaman-halaman madjallah ini. Semoga tidak luntur! Djakarta, 16 Oktober 1950.
Mempeladjari Klasik Indonesia
Gambaran-gambaran jang dibuat oleh saudara Usman Effendi ini adalah hasil dari usaha studinja kearah klasik Indonesia. Motif gambaran-gambarannja diambil dari relief-relief Tjandi Borobudur. Dan dia tidak mengopi (meniru) begitu sadja. Motif-motif tersebut diambilnja setelah ia menjelami dan mempeladjari lukisan- lukisan relief itu. Mengapa saudara Usman Effendi menoleh ke Tjandi Borobudur? Rupanja saudara Usman mengerti akan arti istilah klasik. Dalam Gema No. 10 (Oktober 1948) ada ditulis tentang klasik sebagai berikut: sebenarnja klasik dalam arti seluas-luasnja ialah seorang seniman atau seniwati jang telah sampai kepada bentuk seindah-indahnja dan dapat pula ia mewudjudkan kesetimbangan antara pikiran dan perasaan dengan meninggikan kepribadiannja atas dasar kemanusiaan. Menurut istilah klasik diatas maka Tjandi Borobudur tini adalah salah satu tinggalan dari bentuk seni Indonesia pada ketika zaman klasiknja. Dan dengan kesenian purba ini sebagai tjontoh saudara Usman melatih diri untuk mendjelmakan alam perasaan dan pikiran. Bagi dia banjak sekali bahan-bahan dari klasik Indonesia ini dapat diambil untuk mewudjudkan kesetimbangan antara bentuk dan isi.
aeDMA aa
Kita tahu pula, bahwa lukisan-lukisan relief Borobudur itu mempunjai tjorak monumental dan mempunjai kekuatan dekoratif jang dapat mengisi ruang-ruang empat segi dimana lukisan-lukisan tersebut dibuat. Dengan lain perkataan dapat menguasai penuh komposisi antara ruang dan motif. Ini kita lihat dari sudut bentuk. Tentang isi relief-relief itu dapat kita katakan, bahwa lukisan-lukisan itu tidak tinggal pada menggambarkan (plastische inter- pretati) dari kedjadian-kedjadian jang dilukiskan sadja, tetapi ada interpretatie djiwa (rasa dan pengertian) jang bangkit setelah kita melihat lukisan-lukisan itu, jakni: rasa religieus (murni. sederhana, sunji) dan rasa dimonis (penuh dengan keagungan dan kekuasaan). Djika kita lihat gambaran-gambaran saudara Usman lebih djauh lagi, dapat kita mengetahui, bahwa ia mempeladjari lukisan-lukisan relief itu tidak untuk mentjari keterangan-keterangan sebagaimana seorang ethnoloog atau archeoloog mempeladjarinja. Misalnja mentjari keterangan bagaimana perhubungan masjarakat dan radja pada masa itu atau bagaimana ,,social life" dilingkungan keradjaan- keradjaan. Oleh sebab itu segala atribut (tanda-tanda) jang hanja memberi keterangan belaka, tidak dihiraukan olehnja. Dia mentjari pokok gerak" ('t elementaire) dari segala lukisan-lukisan itu. Bagi saja amat sukar untuk membitjarakan gambarannja satu per satu, karena semua gambarannja jang ada disini merupakan gambaran-gambaran tjatatan dari satu serie. Ada sebuah lukisan terselip beda dari jang lain, jakni lukisan artja Tionghoa. Rupanja nilah salah satu hasil peradaban garis- garis dari studinja tentang klasik Indonesia.
Hanja bisa dikatakan, bahwa tiap-tiap gambaran sekalipun tjatatan fragmentaris dapat ia menjelesaikan hingga merupakan satu lukisan. Dan dapat pula ia menangkap pokok gerak dari relief-relief itu. Misalnja dalam gambaran-gambarannja dapat kita lihat, bahwa susunannja (struktur) adalah kompositif, tjara atau uraiannja ialah simetris dan tiga matra (dimensi), ritmenja tegang, dan kehendak fikirannja konstruktief. Ini semuanja adalah sjarat-sjarat jang merupakan suatu ,state- ment" dari kesenian classicisme. Mudah-mudahan dengan melalui djalan classicisme ini saudara Usman Effendi dapat membentuk seni lukis zaman klasik jang baru. Tentu kita akan melihat hasilnja jang lebih djauh dan sempurna dihari jang akan datang.
B. Resobowo.
PELUKIS SALIM Barat afau Timur
oleh:HAZIL
Sète adalah kota dipantai Midi (Perantjis-Selatan) jang indah sekali letaknja. Dari kota orang memandang pada laut jang biru- luas disatu fihak dan bukit-bukit difihak lain. Terutama dari Auberge de la Jeunesse (Pasanggrahan Pemuda) pemandangan pada alam disekitar, sangatlah permai. Pasanggrahan pemuda ini seperti lain-lain pasanggrahan di Eropah Barat, terbuka bagi setiap orang. dan sangat digemari oleh pemuda-pemuda berbagai bangsa Eropah jang dimusim bunga dan musim panas bertamasja ke Midi dengan uang jang sedikit. Jang istimewa pada pesanggrahan di Sėte ini ialah, bahwa ia dipimpin oleh seorang seniman Indonesia: Salim seorang pelukis jang ternama di Perantjis-Selatan, tapi djuga di Nederland. Siapa jang melihatnja, tidak akan menjangka asalnja Indonesia. Pada suatu hari Salim ditanjai oleh dua orang Belanda, jang menginap dalam pasanggrahan itu, apakah benar ia pelukis. Mereka melihat lukisan-lukisannja jang tergantung pada tembok pasanggrahan dengan pandangan seakan-akan mengerti, dan memudji-mudji kebagusan dan sifat ketimuran lukisan itu kepada- nja dalam bahasa Perantjis. Kemudian jang satu menjindir pada temannja dalam bahasa Belanda: .Apa jang bagus dalam lukisan itu pada hematku?" Jang lain membisik: Ah, pura-pura sadja kuanggap bagus". Mereka tak menjangka, bahwa sipelukis mengerti bahasa mereka. Tidak lama kemudian Salim berada di Amsterdam dan meng- adakan steleng lukisan. Untuk menghormati utusan-utusan Republik jang sedang beramai-ramai berkonperensi (K.M.B.) diundangnja mereka semua pada pembukaan setelengnja. Dari Moh. Hatta jang sudah mengenalnja 18 tahun j.l. ia dengar dengan perantaraan seorang pelukis, bahwa beliau tak dapat datang. Harap maafkan. Tapi tidak seorangpun dari berpuluh-puluh anggota delegasi itu datang melihat setelengnja jang sebulan lamanja dipertundjukkan. Hendak dimaafkan djuga, sedangkan mereka beramai-ramai pergi mengundjungi paberik-paberik, tempat-tempat pelesir d.l.1.? Setelah seteleng selesai dan ruangan hampir kosong, tiba-tiba datang salah seorang menteri; tergopoh-gopoh ia melalui lukisan-lukisan jang masih tergantung dan utjapan jang terdengar oleh
sipelukis berupa gugatan semata : Keberatan-keberatan!" Menteri itu pergi dan komentarnja masih mendengung ditelinga sipelukis, jang menahan hatinja. Bagiku tak mengapa anggota-anggota delegasi tak mau menaruh perhatian pada seteleng seorang pelukis Indonesia jang berdjoang diluar negeri", katanja. .Jang aku sanggah keras ialah, bahwa seorang jang sama sekali tidak mengerti kesenian melukis, walau- pun ia orang Belanda biasa atau menteri Indonesia sekalipun, melemparkan kritik jang tidak benar. Apalagi kalau mereka itu hendak merusak namaku terhadap fihak lain, aku tak sudi!" Disatu fihak orang Belanda mentjela lukisannja sebagai keti- mur-timuran, difihak lain lukisannja dianggap kebarat-baratan! Kedua-dua fihak salah pendapat. Sesungguhnja bagi Salim tak ada pembeda-bedaan Timur dan Barat, apalagi dalam arti jang dalamnja tersimpul prasangka dan gugatan jang menikam. ,Suatu lukisan", demikian Salim, ,,harus dipandang sebagai pernjataan seni sadja: atau lukisan itu baik. atau ia djelek, tjukup dsb. Tapi kwalifikasi .Timur", Barat" tidak ada artinja sama sekali sebagai penghargaan atau sebagai gugatan terhadap kesenian". Pendapat jang dikemukakan oleh Menteri itu memang aneh! Lebih aneh lagi pendapat, bahwa lukisan Timur baru akan indah, apabila ia menggambarkan pemandangan dari Timur! Ini dialami pula olehnja, ketika dilihatnja dua pelukis muda Indonesia jang kebetulan di Paris sedang berusaha keras membuat lukisan-lukisan sawah dan gunung jang indah-indah. Ketika ditanjainja, mereka mendjawab, bahwa demikian permintaan P.T. Duta Besar. Di- tengah-tengah keramaian kota besar, djauh dari tanah air, kedua pelukis ini harus membuat lukisan pemandangan alam Indonesia. Ini sekedar anekdot lagi untuk membuktikan, betapa aneh dan gandjil rasa-seni para pembesar kita diluar negeri ... kadang- kadang. Tapi kembali pada Salim dan kwalifikasi Timur-Barat jang dilekatkan padanja. Apakah ia seorang pelukis timur? Atau benar bahwa a kebarat-baratan? Tentang istilah Timur-Barat dalam kesenian, Salim mempunjai konsepsinja sendiri jang baik kita kutip disini. Dalam kesenian tak ada Timur dan Barat dengan pengertian, bahwa jang satu bertentangan dengan jang lain. Aku ingin bertanja: Apa jang dimaksudkan dengan Barat dan apa dengan Timur? Dimana letaknja garis perbatasan jang memisah Timur dari Barat? Kalau kita lihat dalam peta-bumi, Viet-Nam letaknja di Timur" dan Junani di ,Barat". Apa jang kita saksikan dalam kesenian? Bahwa Angkor-Vat dengan kebudajaan Khmernja jang sudah tua sekali, dan letaknja dipusat Viet-Nam, memperlihatkan tjorak jang kita dapati di Junani. Mungkin ini terdjadi sesudah Radja Alexan- der dari Macedonia menudju keAsia dan meluaskan kebudajaan Junani sampai di India dan dari sana meluas sampai Khmer. Dua daerah jang geografis letaknja berdjauhan, rupanja dapat bertemu
dalam kesenian. Lain bukti: Diguha-guha Afrika-Sealtan kita dapati gambar-gambar jang hampir sama dengan gambar-gambar jang terlihat guha-guha di Perantjis-Selatan. Pernahkah orang Afrika pergi ke Perantjis dizaman purbakala atau sebaliknja? Sepandjang pengetahuan sekarang tidak pernah. Apa sebab gambar-gambar itu sama? Dalam anggapanku: Karena kedua suku bangsa hidup dalam keadaan jang (hampir) sama dan mempunjai tanggapan-bathin jang hampir sama pula. Kedua-duanja bangsa pemburu, jang diwaktu senggangnja menggambarkan apa jang djiwa-seni mereka katakan. Itu djuga sebabnja, mengapa buah-buah kebudajaan Batak-kuno tidak banjak berbeda dari pada hasil kebudajaan kuno kaum Indian di Amerika jang berbangsa lain". Demikian Salim. Djwa-seni itu dimana sadja didunia ini, sama pada hakekatnja. Ini tidak berarti. bahwa ia tidak mengakui adanja perbedaan antara tjorak kebudajaan dan kesenian Barat dan Timur. Tapi perbedaan tjorak tidak dipastikan karena kebudajaan jang satu letaknja di Timur dan jang lain di Barat. Tjorak-tjorak ini. kalau berbeda, disebabkan karena keadaan ekonomi, situasi politik geografi, iklim dan perkembangan sedjarah dan teknik dari bangsa-bangsa itu berlainan. Tapi faktor-faktor ini djuga berpengaruh dalam suatu lingkungan geografi, lebih tegas: pada perkembangan masing-masing suku dalam satu bangsa. Malah: perbedaan misal- nja, antara kebudajaan Djawa dengan Bugis pada hakekatnja hampir sama dengan perbedaan antara kebudajaan Tiongkok dan kebudajaan Perantjis. Pedjuang dalam seni lukis Salim menolak anggapan, bahwa kesenian itu dapat dibagi-bagi dalam golongan Timur dan Barat. Dan sesungguhnja bukti jang paling njata dalam dunia pelukis untuk membenarkan pendapatnja. adalah dia sendiri. Sebagai orang Indonesia jang berumur 42 tahun, hanja seumur hidupnja dia di Eropah, Hanja 5 tahun ia berada di Indonesia, jakni ketika ketjil dan dalam tahun 1932-1934 (umurnja 28 tahun). Ia bersekolah di Gymnasium, tapi tepat sebelum menem- puh udjian penghabisan ia tiba-tiba menuruti katahatinja. Ia pergi ke Paris dan beladjar menggambar dalam keadaan jang serba sulit. Memang seluruh hidupnja ia tidak pernah hidup senang atau mewah. Ia tak mau mendjadi pelukis untuk mengumpulkan uang sebanjak-banjaknja. Djiwa seniman jang tulen hanja dapat dipupuk dalam perdjuangan, bukan sadja perdjuangan untuk hidup, tapi lebih-lebih lagi untuk hidup dan berlaku djudjur, djudjur terhadap seni dan terhadap diri sendiri. Waktu ia di Indonesia, lukisan-lukisannja belum mendapat perhatian, maklum dizaman kolonial udara tidak bersih. Ia beker- dja sebagai penggambar-reklame pada Studio Java-Neon, tapi seluruh perhatiannja ditjurahkan kepada perdjuangan kebangsaan. (Dalam Daulat Rakjat" banjak karangannja tentang keadaan politik luar negeri). Setelah pemimpin² P.N.I. di-Digulkan dan
gerakan kebangsaan sajap kiri boleh dibilang patah, ia mengakui bahwa baginja tinggal tugas berdjuang dilapangan seni. Berdjuang dilapangan kesenian memang tak boleh diabaikan. Untuk itu ia harus kembali ke Eropah jang suasananja merdeka. Lebih baik aku mati lapar dikota pusat kesenian dunia, daripada hidup senang dinegeri djadjahan dengan djiwa tertekan", katanja padaku sebelum kembali ke Eropah (1934). Tapi dizaman krisis ekonomi dan kemudian kegentingan perang seni tak dapat ber- kembang subur. Dengan menggambar ia dengan susah-pajah memenuhi keperluan hidup jang sangat sederhana. Ketika perang petjah ia berada di Amsterdam. Dizaman pendudukan iapun tetap setia pada keseniannja. Oleh karena pendiriannja sosialistis, ia menolak kerdjasama dengan kaum facis. Salim terhitung antara pelukis di Nederland jang tetap menolak masuk ,,Kulturkammer" (Pusat Kebudajaan), tjiptaan Djerman. Golongan ini ketjil sekali, karena 95% kaum pelukis masuk dalam Kulturkammer". Untung bagi kaum seniman jang konsekwen anti-fascis ini, banjak usaha dilakukan oleh kaum illegaliteit untuk mempertahankan kesenian jang djudjur dan murni. Buku-buku kesusasteraan jang antifascis ditjetak dalam gelap, steleng lukisan gelap diadakan diberbagai kota. Dibawah nama samaran Michael Gurney Salim menggam- barkan buku-buku kesusasteraan dari Guy deMaupassant (,,La Horla") Valery Larbaud (..Portait d'Elaine à 14 ans") dan John Steinbeck dalam salinan Belanda .De Vliegenvanger". Mengadakan steleng-gelap bukanlah soal jang mudah, apalagi kalau sipelukis harus membawa buah tjiptaan sendiri. Tapi djuga zaman sukar ini lampau, seperti djuga musim dingin jang sedingin-dingin- nja dengan tiada api pemanas dalam kamar zaman ini mem- bakar pada badannja, tapi tidak pada djiwanja. Sebagai seorang nasionalis ia merasa gembira, karena sang sedjarah membatas sikap sombong kaum pendjadjah Belanda jang dihinakan oleh kaum Nazi Djerman. Tapi pengalaman jang pahit dizaman penduduk tidak memberi peladjaran pada bangsa Belanda kearah jang madju. Revolusi sedang berkobar di Indonesia, tapi Salim belum sadja dapat pulang menindjau keadaan tanah air. Ia kembali ke Perantjis, ke Paris, tempat jang memberi inspirasi kepadanja! Tapi dengan tiada uang sukar bagi seorang pelukis untuk mengadakan steleng di Paris. Kota ini dibandjiri oleh pelukis dari seluruh podjok dunia. Ia mempunjai lebih dari 35.000 pelukis dan setiap steleng kaum pelukis muda harus dilakukan bersama-sama (untuk meringankan beban). Sewa ruangan sadja sudah lebih dari 70.000 franc, sedang sumbangan setiap pelukis dalam steleng itu tidak dapat banjak. Maka Salim terpaksa mengadakan steleng di Nederland, karena banjak pedagang-seni disini kenal padanja dan namanja baik dikalangan pelukis. Mereka mau menjediakan ruangan baginja dengan pembajaran jang lebih murah daripada di Paris. Sedjak dari tahun 1936 sampai tahun 1949 lebih dari 10 kali (belum terhitung jang dizaman pendudukan) ia berexposisi di
Nederland. Hampir semua surat kabar besar memberi komentar jang baik pada pelukis ini. Talent jang satu-satunja diantara pelukis-pelukis Indonesia jang ada di Nederland jang paling djelas tjorak dan nilainja". demikian tulis N.R.C. pada exposisinja tahun 1949, dan ahli kritik seni lukis dari s.s.k. ,Het Vrije Volk", .Het Parool" dsb. mema- djukan kritik jang baik terhadap tjiptaannja. Lukisannja menundjukkan gaja dan tjorak pelukis-pelukis besar seperti Raoul Dufy dan Cezanne (sedangkan semua ssk. tahu bahwa ia pernah men- djadi murid Fernand Leger, dari aliran Cubisme, dan Amedee Ozenfant). Tapi dapat dikatakan. bahwa ia semata-mata dipenga- ruhi oleh aliran Impressionisme atau lain-lain aliran. Walaupun demikian tinggi pudjian ssk. Belanda atas tjiptaannja, tapi Salim sendiri tidak puas dengan exposisi di Nederland sadja. Kepadaku ia mengatakan, sedang kami minum kopi disalah satu restoran ditengah-tengah kota Paris: Tak lama lagi lukisan-lukisan jang kubuat dalam 8 bulan jang lalu ini, akan dikirim ke Indonesia dan dipertundjukkan dibeberapa tempat. Aku sendiri ingin ke Indonesia. Tapi sebelum itu, harus aku mengadakan exposisi sendiri di Paris. Tidak bersama-sama dengan pelukis lain atau diruang steleng jang terpentjil dan djauh. Aku mau berexposisi diruang steleng jang terkenal baik dipusat kota. Aku akan menghadapi kritik umum dipusat kesenian dunia ini dengan segala senang hati". Aku memandang ke Boulevard St. Michel jang ramai itu, dan hatiku menanja: Dapatkah kita mentjari uang 80.000 franc (kira-kira R. 2500) supaja tertjapai tjita-tjita pelukis ini untuk berexposisi sekali sadja di Paris jang dikaguminja itu? Dua puluh enam lukisan jang dibuatnja dalam 8 bulan itu menundjukkan, bahwa Salim tidak sadja .,kuat" dalam melukis tema- sja dan pemandangan alam, tapi djuga dalam membuat komposisi, aquarel dan gouache. Ia mahir dalam crayon dan tjat minjak. Pemandangan-pemandangan dari Marseille, Chermont-Ferrand. Montpellier dan Sete ini lebih baik daripada lukisan-lukisannja setahun jang lalu, dan menundjukkan keteguhan pinsil, tjat dan djiwa". Pada pemandanganku jang terbagus adalah lukisan 2 gadis didepan djala jang mendjemur tergantung didepan djendela. dengan backgroundnja pemandangan pada pelabuhan. Tapi djuga dalam gambar-gambar lainnja Salim tidak kurang kwaliteitnja dan kesimpulan ringkas ialah, bahwa lukisan pelukis ini menundjukkan suatu sintese jang sebaik-baiknja daripada djiwa jang merdeka dan teknik ,,Ecole de Paris". Sajang kalau tjiptaannja tidak dapat dipertundjukkan pada dunia seni, hanja karena ia tak punja uang. Apakah tjaranja supaja pelukis jang berbakat ini, seniman jang sedjati, jang telah lebih 20 tahun lamanja berdjuang didunia jang penuh ,,saingan" dalam keadaan serba-sukar, dapat mempertun- djukkan kepada dunia internasional ketjakapan seniman Indonesia jang berdjiwa bebas-merdeka? Djawabnja tergantung pada pemerintah atau pada peminat seni lukis Indonesia baik didalam maupun diluar negeri!
Tanda Lambang Negara
Oleh : O. Effendi. HARGA NAMA. Seorang manúsia jang hidup, menghendaki mempunjai nama jang tertentu. Ini perlu untuk menghindarkan salah paham dalam pemilihan ,,nama" atau ,,siapa" dia jang sebenarnja. Dalam ,,s:apa" dia ini, banjak bersimpul kedudukan harga diri dari orang itu. Harga éni sedapat mungkin bertambah lama bertambah tinggi. Mempertinggikan atau mempertahankan atau memperluas arti harga diri ini umum disebabkan oleh dorongan ketumbuhan matjam-matjam masalah disekitar kedudukan manuséa dalam sedjarah. Bentuk-bentuk dari memperluas harga diri ini, adalah seperti: pemberian nama atau pangkat kepada keluarga atau turunan selandjutnja, pemberian nama suku gerombolan dimasjarakat, pemberian nama tempat, pemberian nama tempat kekuasan seseorang atau tempat kepunjaan beragama, dan sebagainja. Untuk memudahkan. supaja harga nama dikenal pihak lain. mereka umumnja memakai tanda, dari mana harga dirinja lebih bisa di rasakan dari pada membatja atau menjebut namanja sadja. Ini ditimbulkan oleh pemberian tanda-tanda atau lambang-lambang jang bersesuaian dengan kehadirannja dalam sedjarah atau dalam perebutan kedudukan dalam sedjarah. Dengan mempunjai keme- nangan sedjarah ini, hormat terhadapnja bisa timbul pada pihak lain. Atau sebaliknja. Perasaan berhak mempunjai atau berhak merebut nama atau tanda tadi, sudah tentu sangat dipengaruhi dari tjara jang dianggap atau dibikin sjah oleh jang mempunjai tanda tadi. Kita ketahui dalam sedjarah peluasan kekuasaan dari jang berkuasa .,mutlak" sebagai seorang radja atau diktator, sampai perebutan kekuasaan dari bangsa jang berhak mendiami tanah airnja. Dengan lain perkataan, tanda-tanda itu sangat tergantung dari bentuk-bentuk dan sifat-sifat kekuasaan (nama) jang diwa- kilinja, dengan selalu ingat kepada pertumbuhan bentuk perhu- bungan diantara kekuasaan-kekuasaan pada waktu itu. Begitu kita bertemu dengan bentuk-bentuk atau sifat-sifat tanda: ,saja (kini) jang berkuasa diseluruh dunia, ,saja (kami) berasal dari turunan dewa", ,,saja mau mendjaga perdamaian" dan berbagai bentuk-sifat jang ditanamkan dari permulaan pembentukan sedjarahnja sampai bentuk jang diperolehnja selama dia ikut membikin sedjarah Djadi tanda ini sangat bergantung pada perubahan struktur kekuasaan dan kebudajaan dari daerah jang memilikinja dan pada perubahan struktur pembagian kekuasaan dan kebudajaan dunia.
NAMA REPUBLIK INDONESIA. Dengan adanja kebutuhan tanda lambang tadi disebabkan sedjarah, maka dengan sendirinja ketika Republik Indonesia dihantarkan dalam abad 20 ini día harus pula mempunjai tanda harga diri, supaja dihormati atau dipertjajai negara-negara lain dalam pergaulan bangsa-bangsa. hal mana dalam abad ini mendja- di salah satu sjarat mutlak untuk boleh hadirnja bangsa itu. Dengan sendirinja akan sangat terasa, kalau Republik Indonesia tidak mempunjai tanda pendjaminan siapa dia, dia kurang atau tidak mendapat kepertjajaan dan mungkin dianggap Republik itu hanja satu badan pergerakan dan bukan satu pemerintahan jang berdaulat. Begitu terbukti tanda ketjil telah memutlakkan hadirnja dalam sedjarah. Dia terbukti bisa mendjatuhkan kehormatan sesuatu jang berhak mendapat suatu kehormatan. Karena kelalaian dan terombang-ambingnja kedudukan Republik dalam pertjaturan politik dunia internasional, maka penentuan tanda lambang Republik baru pada penghabisan tahun ini bisa dilakukan. walaupun permintaan pembikinan tjontoh-tjontoh rentjananja sudah dari tahun 1947 kepada badan-badan seni lukis, seperti S.I.M.. Pelukis Rakjat, PTPI dan belakangan kepada KPP Bagian Kesenian. Dalam merentjanakan tanda lambang Negara ini, kebanjakan pelukis ingat kepada lambang-lambang kuno dan kepada lambang-lambang jang sering didengung-dengungkan pada waktu penda- huluan dan permulaan revolusi, seperti banteng dan bambu run- tjing. Tetapi sajang kebanjakan kurang mengerti hukum-hukum kesedjarahan dari tanda lambang Negara ini, disebabkan banjak tak menjelidiki lebih dahulu dasar kedudukan tanda lambang ini Dan kesalahan terbesar boleh dikatakan karena tak ada pendje- lasan tentang arti lambang ini dari sipenjuruh kepada sipelukis. Anggapan bahwa semua mereka jang pintar melukis bisa membikin gambar rentjana tanda ini, terbukti ngawur. Walaupun bentuknja harus sederhana betul. DASAR TJITA (IDEE) LAMBANG. Kalau kita mau menentukan sesuatu untuk kepentingan negara, maka sering tak sadar terasa bahwa dalam penentuan ini sedapat mungkin semua warga dan semua golongan ikut menentukan bagaimana akan djadinja. Karena masing-masing diantara kita ada mempunjai angan-angan anggapan kebaikan jang ingin disem- bahkan kepada negara. Tetapi umunja hal ini tak bisa diseleng- garakan karena kekuatan kesanggupan tak sama. Maka tjukuplah soal tadi diserahkan kepada mereka jang dianggap lebih besar kesanggupannja didalam hal ini, walaupun mungkin jang terpintar diantara mereka tak sampai diberi kesempatan. Pembikinan tanda ini dengan sendirinja harus diserahkan kepada mereka jang dianggap telah berarti dalam soal lukis-melukis.
Tetapi soal melukiskan lambang ini baru mengenai keindahan bentuk atau lahir sadja. Jang terpenting dari tanda ini, ialah idee atau tjita jang harus terkandung olehnja, karena tjita ini harus mempertahankan kedudukan harga diri negara atau bangsa dalam sedjarah. Disini dalam sedjarah depan. Maklum kita baru mulai membikin sedjarah dengan bentuk Republik Indonesia. Kedjadian ini pada umumnja menjuruh kita ingat dalam hati ketjil kepada puntjak hasil sedjarah Indonesia kuno serta sisa-sisanja, walaupun hasil waktu itu pada hakekatnja tak sewadjarnja kita lahirkan sebagai putera abad 20. Struktur susunan tata negara dan kebudajaan telah djauh berlainan. Lain perkara halnja kalau kita tak mengatjuhkan perubahan ini dan mau terus memudja dan membu- dak kepada susunan tjara dulu dan memaksakannja kepada arus kehendak perubahan masjarakat. Paksaan pudjaan kepada tjara-tjara kuno ini akan menghilangkan arti kedudukan kewadji- ban kita dalam membentuk tatanegara dan kebudajaan baru. Dengan utjapan lain, djanganlah dalam merentjanakan bentuk atau dasar idee tanda lambang ini dengan tjara menjempitkan pemusatan tjita kepada jang telah tertjapai pada waktu jang kuno dulu, tetapi hendaklah dilahirkan satu tjita jang dipusatkan kepada pembentukan sedjarah depan dengan tetap tak menjimpang dari isi kehendak pernjataan kedudukan harga diri bangsa jang telah ditjantumkan di UUD Republik Indonesia. Kita sadar dan akan tetap berpaham begitu, bahwa lahirnia Republik Indonesia adalah keharusan sedjarah dan bahwa UUD nja adalah tjukup menjimpulkan kehendak negara baru ini untuk ikut serta dalam pembentukan sedjarah dunia baru. Pengertian-pengertian jang kita peroleh dari Republik jang bisa kita pakai sebagai dasar idee dari tanda lambang kwaliteit negara kita, diantaranja ialah:
a. Hasrat mau hidup sebagai bangsa jang berdaulat jang meliputi seluruh kepulauan Indonesia.
b. Negaranja berdasarkan pantja-sila, sebagai tanda kekokohan tata negaranja.
c. Kesadaran bahwa negara kepulauannja berada dipersimpangan djalan dari dua benua dan dari dua samudera, pada mana sifat politik kenegaraannja harus didasarkan, jaitu politik damai aktif.
d. Negaranja lahir dengan perebutan kekuasaan dari tangan pendjadjah dan pada ketika Perang Dunia II berachir. Jaitu pada waktu bangsa-bangsa jang menang dari kaum fasis berhasrat membentuk dunia jang sanggup mendjamin perda- maian.
e.Negaranja satu negara agraria dan tanahnja tjukup mengan- dung kekajaan-kekajaan lain. Ini menimbulkan perhatian dunia luar terhadapnja.
f. Bangsanja (massanja) lahir dengan sumpah mau mempertahan-
kan tanah air dengan semangat banteng. Timbul semangat jang sangat digembor-gemborkan pada waktu (akan) memulai revolusi.
g.Bangsa Indonesia itu ada hak sedjarah hadirnja, apalagi dia telah pernah mempunjai zaman keemasan jang meliputi seluruh kepulauan, seperti dizaman Madjapahit.
h. Struktur dunia sekarang adalah dari zaman baru dimana pende- katan atau perhubungan batin bangsa-bangsa akan mendjadi soal jang utama. Dan banjak lagi faktor-faktor ketjil besar jang bisa dipakai untuk dasar tjita tanda lambang negara. Dalam menemukan suatu bentuk, jang terpenting ialah peng- utamaan kesatuan dasar idee jang terkandung pada tiap-tiap detail lambang itu. Dan djanganlah sekali-kali mengenaliseer detail-detail lambang itu dengan melepaskannja dari bentuk kesatuan atau kesatuan dasar ideenja. Dengan mengambil sikap ini, tentu nanti akan lekas terdapat permufakatan dalam dasar idee dan bentuk rentjana. Dengan mengutjapkan ini kita sadar bahwa bentuk (tiap-tiap) sesuatu penuh dengan kelemahan dan kekuatan. Tetapi tetap kita bisa merasakan mana diantaranja jang mengandung dasar idee jang luas. Luas dalam pengertian idee inilah jang kita harapkan dari tanda lambang Negara Republik Indonesia. BENTUK LUKISAN TANDA LAMBANG. Dalam memberi bentuk tanda harga diri negara, dengan sendirinja bentuk tanda itu harus mempunjai harga jang tak boleh dita- war-tawar, atau tahan sepuhan perdjalanan waktu sedjarah. Bentuk jang diberikan tak boleh asal ornamen-ornamen atau vlakvulling bagus-bagusan sadja, dan gampang mendapat angka 10 disekolah, tetapi betul-betul kuat mendjamin harga idee jang dikandungnja dan sampai mempunjai bentuk dan ukuran-ukuran jang mutlak. Pendek kata dalam momen dari permulaan sedjarah ini. sipembikin harus bisa pula menempatkan rasa bahwa tanda lambang itu tak akan luntur oleh sepuhan sedjarah depan. Djadi sangat diharapkan dari sipembikin kepunjaan pengertian dan perasaan sedjarah. Disini bisa merasakan apa jang telah dilahirkan sedjarah dalam bentuk keabadian dari tanda-tanda lambang (heraldiek-heraldiek) bangsa-bangsa atau kekuasaan-kekuasaan dan ada perhubungan kedudukannja dengan sedjarah waktu kekuasaan itu. Lukisan tanda ini dengan sendirinja bergandengan dengan seni lukis (gambar) pada waktu itu. Bentuk lukisan lambang ini harus bisa mendjadi milik bangsa. Bentuknja harus bisa diterima orang banjak. Bagi kita umumnja soal ,,bisa diterima" ini bisa mendjadi handicap. Tetapi soal ini
djangan sangat dhiraukan betul, maklum kedudukan masa sangat terkebelakang dalam bisa ikut menentukan kebaikan jang meliputi bersama. Disini kita hanja berpegang pada kepertjajaan benar arus intuisi bangsa jang dengan sendirinja dimiliki oleh orang diantara mereka jang melopori hal sesuatu jang mendjadi sebagian dari bentuk susunan kesatuan kebudajaan bangsa jang baru. Umum dikenal bangsa Indonesia itu penuh hidup dalam lambang-lambang atau simbol-simbol. Hampir semua berasal dari zaman purbakala, dari kebudajaan kuno. Pembentukan kebudajaan baru mengharuskan mengambil sikap kritis terhadap lambang² itu. Dalam merentjanakan lamabang negara baru,banjakbentuk-bentuk lambang dulu dianggap sanggup menjusunnja. Soal boleh hadirnja tentu sadja boleh kalau dia atau susunan itu bisa menjesuaikan díri dengan kehendak pengertian dasar idee dari tanda lambang. Tapi tentu akan lebih baik, kalau dalam merentjanakan ini kita mentjari bentuk-bentuk baru jang sesuai dengan pembawaan sifat zamannja. Dari lambang-lambang lama kita bisa beladjar merasakan dimana letak hawa keabadian bentuknja. Memang banjak diantaranja jang memilikinja. Tetapi tidak dia sadja jang mengerti mendapatkan bentuk itu, pada bangsa-bangsa lain didunia ini diketemui djuga abadian" ini diperoleh mereka dengan memilih bahan-bahan bentuk jang bersifat tahan harga atau tetap mengandung harga tertentu dan disusun dalam kesatuan jang tetap pula harga ukuran-ukurannja. Pada lambang-lambang jang akan mewakili suatu kekuasaan dipakai bahan-bahan jang diketemui dialam jang tetap selama zaman akan mewakili suatu matjam kekuasaan. Seperti planit-planit: 4 elemen: air,api, udara,bumi, binatang-binatang. sendjata-sendjata, dll. Bahan-bahan jang telah ditetapkan untuk lambang tadi, disusun dalam bentuk-bentuk mana perbandingan ukurannja dan garis-garis bidangnja (garis² komposisi) jang mempunjai harga tertentu. Seperti dalam empat-segi, tiga-segi bundaran dan berbagai susunan bidang dimana perbandingan ukuran semua tertentu. Dua lambang-lambang ini umum diberi warna jang berharga tetap seperti merah, biru, atau ungu, itam, hidjau, kuning' atau emas, perak dan mungkin ada jang lain lagi. Sungguh disini manusia itu sangat ketarik pada sistimatik dari satu orde untuk penetapan kekuasaan jang tertinggi. Bahan-bahan bentuk dan tjara penjusunan inilah baru merupakan
dasar mengedjar, mengandung harga tetap atau ,keabadian"
(mutlak). Sekarang kewadjiban pelukis ialah memasukkan dasar idee tanda lambang jang telah ditetapkan dalam bentuk atau ukuran-ukuran jang mutlak tadi. Biasanja djuga tanda lambang itu ditambah dengan pemberian satu kalimat atau devies jang boleh dianggap klassiek bunjinja, sehingga menambah ,,keabadian" dari isi dasar idee lambang, dan tentu huruf-huruf jang dipakai harus tuntuk pula kepada dasar kesatuan susunan garis dan bentuk.
Melihat dizaman kapan Republik Indonesia berada, kita berharap supaja dalam pemilihan bahan-bahan untuk dasar lambang, dihindarkan simbol-simbol jang mengandung sifat penambah keluasan. kebesaran dan kekuasaan, atau jang bersifat agresif. dan pelanggar batas. Tetapi kekuasaan atau kekokohan dari hak berdiri harus terdjamin dalam tanda lambang negara kita. Lagi, dalam keadaan waktu sekarang, dimana dalam semua hal sangat diminta ketegasan dan kelangsungan dalam harga pengerti- an, tanda lambang harus sederhana, gampang dibikin, gampang dikenal, tetapi luas kandungan isi susunan bentuknja. Kekaburan dan kerahasia-rahasiaan seperti umum diketemui pada bentuk lambang-lambang dahulu kala, sangat diharap supaja dihindarkan. BEBERAPA PERTJOBAAN RENTJANA. Pada melukiskan satu rentjana tanda lambang negara jang akan mewakili seluruh anggota warga, djanganlah hendaknja berlaku hukum-hukum sajembara. Seperti: tak boleh dicopy oleh pelukis lain, kalau dibutuhkan perobahan atau bentuk baru jang tetap berdasarkan pada lukisan jang satu. Karena dalam hal ini sangat diharapkan kelekasan tertjapainja bentuk jang mutlak, jang mung- kin ada terkandung pada idee satu lukisan jang belum berarti dalam mendapat susunan bentuk. Djangan sekali-kali lukisan jang penuh melanggar hukum komposisi, seperti segala apa harus berpusat atau berpantjarkan kependjuru tertentu, tetapi tjukup sehat mengandung idee, lantas diterima begitu sadja. Tiap-tiap lukisan jang bertanggung-djawab komposisinja, elementair tetap bagus. Sekarang hanja menambah keindahannja jang datang dari seorang seniman jang bisa merasakan djiwa bersedjarah tanda lambang. Lukisan pertjobaan rentjana tanda lambang Republik Indonesia tjukup banjak masuk. Pemilihan tanda lambang negara sebentar lagi akan ditetapkan Pemerintah. Umum, matjam-matjam lambang jang masuk tak banjak memu- askan. Walaupun banjak pelukis jang bernama dikalangan umum ikut membikinnja. Banjak dintara mereka memetjahkan soal ini sebagai vlakvulling, atau poster, atau tjap, atau lentjana sadja. Dan ada lagi mengambil sikap melukis dalam berhadapan dengan apa jang dibikinkannja, misalnja, garis sangat dilepaskan dari hubungan jang rapih tersusun, seperti jang diketemukan pada 2 rentjana sdr. Kerton jang mengingatkan kita pada ontwerp tegel Belanda pada zaman keruntuhan selera diabad 19. .Dan lagi kesalahan umum dari sipembikin ialah, dia lupa akan seberapa harus besar tanda lambang, sehingga rentjananja kalau diketjilkan mendjadi terlalu rame atau ruwet. Pun kebanjakan tak bekerdja dengan garis-garis bidang jang tunduk kepada susunan garis kesatuan sehingga banjak rentjana jang djanggal atau
AMIGNEN ASTU NAMUS SOAM c
CCA LLa
- 12
125 tempang. Tentang ini banjak tak sadar diantara pembikin-pembikin. karena umumnja mereka lebih mendahulukan analisa tentang gambar atau membenarkan idee lukisannja dalam angan² sadja. Mereka kurang tahu bahwa lambang sebagai lukisan harus betul- betul memberi tekanan jang djitu untuk melahirkan pengertian idee, dan tersusun dalam kesatuan, dimana segala detail atau bagian pengertian tak boleh ditarik dari kesatuan. Pun isinja sungguh tjukup luas untuk mendjamin sjarat-sjarat jang bersedjarah dari dasar pengertian idee tata-negara dan bangsa. Memberi ukuran-ukuran jang diangkat berharga 1), menjusunnja dalam bentuk-bentuk geometri disertai simbol-simbol binatang. ada terasa oleh pelukis-pelukis rentjana. Beberapa lukisan 2) dan kritik ringkas. Rentjanal. Dari sdr. Kerton. Djelas segala sesuatu lepas dari tudjuan jang diharapkan. Tiap-tiap detail tidak berarti. Rentjana 2. Dari sdr. Kusnadi. Lukisan banteng hitam diatas dasar merah. Perhitungan tjukup ada, tetapi tak tahu perbedaan antara poster dan tanda lambang (heraldiek).
1)Seperti 5 dari pantja sila, 8 dari bulan Agustus, 17 dari tg. Proklamási.
2)Tentang tjontoh² diambil garis besarnja sadja.
Rentjana 3. Pengertian heraldiek ada. Banjak melihat kepunjaan radja-radja di Barat. Djiwa keradjaan dari heraldiek tak tjotjok dengan djiwa Republik Indonesia. Rentjana 4. Warna kepulauan dan tjahaja, kuning (dimaksudkan mungkin emas). Satu rentjana jang dasar detail-detailnja sangat disukai pelukispelukis jang ikut. Kemungkinan banjak jang paling disena- nangi umum. Tjita bentuk berkompromi. Matahari Madjapahit (zaman keemasan) dikawinkan dengan semangat banteng memper- tahankan Indonesia. Tetapi sajang kandungan tjita dari lahirnja Republik diabad sekarang sedikitpun tak diketemui. Tjita disini dipersempit kedalam". Dalam abad ini tjita harus dipantjarkan keluar". Lukisan kalau diketjilkan djadi ruwet. Rentjana 5. Pertjobaan II dari sdr, Djajengasmara. Warna hitam-putih. Vlakvulling baik. Satu hasil dari latihan lijntekenen. Bentuk tak berbitjara apa-apa. Walaupun dipakai sistim angka 5. Ini jang dikatakan satu gambar, dimana fantasi filsafat jang muluk-muluk lebih didahulukan dari kesanggupan pantjaran lukisan jang sebenarnja. Rentjana 6. Satu rentjana jang hanja mengingat kepada perdjuangan dalam revolusi. Sifat gambar lebih tjotjok untuk satu lentjana badan pemberontakan. Rentjana 7. Pelukis tahu tentang heraldiek. Pengaruh wapen radja-radja Barat dan bentuk wapen jang pernah ada dizaman Hindia-Belanda. Pemakaian warna lengkap. Garis kesatuan tidak ada. Devies ..se- kali merdeka, tetap merdeka" adalah djanggal. Rentjana 8 dari sdr. Djajengasmara. Satu rentjana dari seorang jang tahu hukum komposisi dan lambang-lambang kuno. Ada usaha mengawinkan (disini lebih berarti memaksakan) jang kuno dengan jang baru. Ornamen sendjata, penuh keruwetan dan rendaman asap menjan. Bentuk sendjata tak tepat pada zaman sekarang. Bunji devies klasik. Rentjana 9. Dari sdr. Suromo Warna; banteng perak diatas dasar ungu. Padi emas. Kapas putih-perak. Rangkaian melati keketjilan. Ban- tengnja telah mentjapai satu bentuk kesempurnaan jang tjotjok buat satu heraldiek. Rangkaian melati terlalu ketjil. Sajang padi dan kapas dalam bentuk lepas hubungannja dengan dasar tjorak banteng. Kesederhanaan ada, tetapi keluasan arti dihindarkan.
Rentjana 10. Pertjobaan I dari sdr. Abdulsalam. Lukisan agak rame buat satu heraldiek. Kesederhanaan dikawinkan dengan keruwetan, walaupun ada dipakai sistim angka sederhana. Bentuk mendatar kurang tepat bagi satu heraldiek jang dengan sendirinja harus mendjulang atau kokoh tetap. Perhitungan ada, tetapi keluasan arti dibatasai. Warna lengkap. Tudjuan pelukis: sudut 5 = 5 UUD: Pohon Beringin = Republik Indonesia: 7 binatang = 7 kepulaun; Padi = negara agraria; timbangan = keadilan sosial; Banteng-kuda = bersemangat dan setia serta berintelek; dan bersajap untuk terbang ketingkat jang lebih tinggi. Rentjana 11. Pertjobaan II dari sdr. Abdulsalam. Warna lengkap. Diusahakan melepaskan diri-dari sentimen perdjuangan sekarang. Dan menge- djar tjita negara sebenarnja. Satu rentjana jang hampir diluar dugaan umum. Karena itu kemungkinan banjak akan ditolak. Tetapi dalam dasar idee, dan pentjapaian bentuk, ada berani dan luas. Walaupun masih terpaksa berpegang kepada bentuk-bentuk dasar lambang-lambang jang telah ada. Seperti: matahari, tapi modern: padi, daun padi(?) dan tjara memasang devies. Bentuk seluruhnja kompak, tapi kurang charmant. Bentuk tameng dan burung, modern. Tapi tak diteruskan pada bagian bawah tanda lambang. Komposisi masih ada jang diabaikan. Bisa diperbaiki dengan pemakaian rhytmische verhoudingen. Begitu pula stylering dari burung masih bisa diperbaiki. Tudjuan pelukisnja: ada digambarkan 7 kepulauan dichatulis- tiwa; tanda negara kepulauan; ada bersedjarah zaman keemasan, jaitu matahari Madjapahit jang dirobah; burung merpati sebagai tjinta damai jang penting artinja diabad 20 ini, tanda negara agraria; dan diberi devies Bineka Tunggal Ika" jang tjotjok dengan faham Demokrasi dan Persatuan. Rentjana 12. Pertjobaan III dari sdr. Abdulsalam. Sesudah ditambah atau dirobah dasar idee oleh Bung Karno. Idee seorang nasionalis. Matahari dan Banteng. 7 kepulauan tetap dilukiskan. Kelemahan sama dengan rentjana 11. Keluasan pengertian kurang dari Rentjana 11. Variant 12a. Kesederhanaan dikedjar dengan pemakaian komposisi jang kokoh. Susunan berpusat. Dasar tetap tak berobah dari rentjana 12. Sistim angka 5. 8, 17 diutamakan. Matahari memberi sunggestie naik atau senantiasa naik keatas. Djuga ketjemerlangan dikedjar.
Variant 12b. Banteng dilepaskan dari dalam. Dipakai sebagai pendjaga jang menghadap keluar dan bukan jang memudja kedalam. Sifat komposisi seperti variant 12a. Bentuk lebih besar dan lebih kokoh. Kelemahan tetap banjak dalam arti kurang luas. Variant.11a. Komposisi diusahakan dalam rhythmische systimatiek. 5 segi disini bukan tameng lagi tetapi djadi benteng. Komposisinja bisa meluas kelima segi lambang 5 benua. Karena itu tak ada garis gambar jang melewati garis komposisi ini. Kepulauan dichatul- istiwa diperdjelas. Burung perdamaian tetap bergerak terus. Kekokohan negara hanja tergantung dari keadaan dalam negeri. Kokoh didalam lebih diutamakan. Watak damai dipantjarkan keluar. Lukisan masih bisa diperbaiki. Sekian pembitjaraan tentang bentuk-bentuk pertjobaan rentjana tanda lambang Negara Republik Indonesia. Sekarang datang kewadjiban untuk memilih atau memperbaiki untuk merentjanakan jang bertanggung-djawab. Pengulangan variant-variant dari jang disukai, oleh mereka jang dianggap ada kesanggupannja menambah atau mentjari bentuk baru, selain dari pelukisnja, ada baiknja dilakukan. Mudah-mudahan lekaslah diperoleh tanda lambang Republik. dalam mana terpantjar, siapa Republik itu sesungguhnja, sehingga tetap menimbulkan rasa hormat disepandjang sedjarah pada dunia luar terhadapnja.
Arfi Dekor
oleh:RESOBOWO Biarpun dekor itu digunakan dalam seni drama, soal dekor masih tetap masuk lingkungan usaha seni lukis, karena ia adalah merupakan sesuatu gambaran atau pemandangan. Djadi pada dekor harus ada arti lukisan. Pada permulaan pertundjukan, setelah lajar terbuka apa jang kita lihat pertama kali, ialah sebuah dekor jang merupakan pemandangan diluar atau interieur. Lajar dekor dan medja, korsi, pot kembang atau pohon-pohonan, semua harus merupakan satu lukisan jang sanggup membangunkan sesuatu bangkitan rasa. Sama halnja dengan kalau kita melihat sebuah lukisan. Sebetulnja mulai lajar terbuka, biarpun belum ada seorang pemain diatas panggung, boleh dikatakan permainan telah dimulai, karena dengan melihat dekor kita sudah mulai dibawa kealam perasaan atau lebih luas, kedunia jang dimaksud oleh pertundjukan itu. Djadi kewadjiban dari dekor sebetulnja bukan memberi perleng- kapan atas kebutuhan stoffage (medja, kursi, gorden, djendela. pintu dan lain-lain sebagainja) dari sesuatu pertundjukan. Tetapi sungguhpun begitu, pada membuat dekor kita tidak boleh menga- baikan keperluan-keperluan regi. Sebagai tjontoh saja tuliskan disini pengalaman saja waktu melihat ,wajang wong". Pertundjukan wajang wong (rombongan profesional) terkenal sebagai sesuatu pertundjukan jang tidak ada perhatiannja terhadap dekor. Dari dulu sampai sekarang dekornja serupa sadja. Tidak dirobah dan tidak diperbaiki, sehingga ke- tidak tjotjokkannja dengan kebutuhan pada pertundjukan diwaktu sekarang ini sudah merupakan tumpukan-tumpukan kesalahan, sudah mendjadi kesalahan-kesalahan chronologis, sampai mendjadi tradisi. Tetapi meskipun begitu ada kalanja jang dekornja bisa tepat membantu pertundjukan tersebut. Pada waktu itu dalam babak jang dinamakan goro-goro", sesuatu babak lelutjon dipakai sebagai dekor (lajar belakang) gambaran pemandangan pemandangan sawah dengan padi jang masak kuning menguning dan langit jang biru terang dan awan putih bersih berarak dan disorot dengan lampu jang terang. Pendek kata suasana diatas panggung itu dengan pemandangan sawahnja riang. Djadi pada waktu lajar muka terbuka, sebelum ada seorang pemain biasa kita lihat, dengan me- lalui dekor jang berupa pemandangan sawah, kita sudah mulai dibawa kealam perasaan atau kedunia kegembiraan. Rasa gembira ini didorongnja lebih tinggi lagi oleh suara gamelan jang riang.
Tidak lama diantaranja. keluarlah Gareng dan Petruk, pelawak- pelawak wajang wong dengan tingkah laku jang lutju. Dengan lelutjonnja ditambahnja kegembiraan kita sehingga kita berada dipuntjak kegembiraan dan tertawa terbahak-bahak. Ketawa sipenonton, riang gamelan, suasana pemandangan dan tingkah laku jang lutju dari sipelawak itu mendjadi satu dalam tempo dan ritme jang gembira dan riang. Disinilah dapat saja saksikan mendjadi satunja sipenonton dan pertundjukan tambah alat-alatnja (dekor, musik regi dan pemain). Dengan tjontoh diatas ini hendak saja buktikan, bahwa pada dekor pada pertama kali tidak usah diletakkan pegertian apa-apa. Misalnja djika kita melihat lajar dekor djangan ditjari apa arti gambar lajar itu. Tjoba djika kita pikirkan lebih landjut tentang pertundjukan goro-goro tersebut. Adalah semua pemandangan sawah jang ber- situasi menurut aturan agraria sekarang dengan fragmen dari Mahabarata? Tapi toh pemandangan sawah itu bisa membantu sipononton untuk membangkitkan rasa suasana bersorak. Sampai sini kewadjiban dekor sudah tjukup, seterusnja adalah kewadjiban regi dan pemain. Kalau sudah sampai ketingkat regi dan pemain dekor hanja memenuhi keperluan-keperluan regi sadja. mendjadi sebahagian dari stoffage. Dari dekor itu harus bisa tampil kemuka pada waktunja apabila dibutuhkan untuk mengadakan suatu interpretasi suasana, dan djuga bisa mengundurka ndiri pada waktunja, apabila hanja di- perlakukan sebagai stoffage sadja. Sebagai tenaga pembangkit suasana, dekor harus merupakan suatu lukisan jang merdeka, tidak terbatas oleh barang-barang keperluan regie daripada mengedjar kepada suatu bentuk mempunjai nilai keindahan. Banjak pertundjukan jang saja lihat dan ada beberapa pelukis jang sudah menempatkan diri dilingkungan dekor, tetapi belum ada hasil mereka jang menundjukkan apa dekor itu. Mereka baru sampai bekerdja membikin lajar. Mungkin mereka tertekan oleh kehendak pengusaha sandiwara. Saja katakan ini, karena saja tahu, kebanjakan dari kawan dekorator djika membuat dekor terbatas dalam kebutuhan-kebutuhan regi. Misalnja mereka hanja membikin .,kamar orang kaja", ,,rumah orang miskin",taman" dan ,,hutan". Tidak disesuaikan dengan apa jang dikemukakan oleh sesuatu tjerita, misalnja suasana bersorak. suasana seram atau suasana sedih dan lain-lain. Bila ada suatu dekor jang bisa menundjukkan sesuatu bentuk keindahan jnng dapat membuat sesuatu tjerita lebih bersemarak? Tiap-tiap bentuk keindahan tidak sadja membuat orang lebih baik daripada semulanja, tetapi alam kelilingnjapun turut baik. Dan ini saja jakin dapat tertjapai apabila ada uluran tangan pengusaha sandiwara berupa memberi kesempatan jang luas dan dari fihak dekorator tentunja djuga harus ada kesanggupan atas dasar penge- tahuan jang sungguh-sungguh. Mudah-mudahan.
Kemungkinan keramik di Indonesia
oleh: SUROMO Jang dimaksudkan dengan keramik, dalam bahasa Indonesia pekundian, tembikar, temberang. ialah semua barang-barang untuk kesenian, atau alat perabot keh.dupan sehari-hari jang diperbuat dari tanah liat. Sesudah barang-barang tadi selesai diwangun (gemodelleerd) dengan tangan atau mesin, dibiarkan sampai kering, lalu dibakar dalam pembakaran (oven). Untuk keramik padat dan halus untuk perselin diperlukan tanah tersendiri (keolin) jang djitu pengolahan jang teliti, dan diperlukan panas-pembakar naik-turun 1200° selsius. Pekundian biasa (krepes) tjukup dengan tanah liat biasa, dan panas pembakar 900-1200° selsius. Barang-barang keramik jang sudah keluar dari pembakaran pertama-matjam-matjam warnanja — dalam bahasa asing dinamakan terrakotta. Warna- warnà ini disebabkan oleh matjam oxyden jang terbakar, jang terdapat ditanah. Ada jang djadi putih, merah, kuning. abu-abu. Tjontoh terrakotta: gentong. tjobek, kewali, genting. Terrakotta ini ditumpangi dengan lapisan tipis dari tjairan bubuk glazuur dengan air, lalu untuk kedua kalinja dibakar, lapisan tjairan glazuur tadi berobah mendjadi lapisan kegelas-gelasan, sifatnja keras, padat, mengkilat, seperti dilapis gelas. Pekerdjaan ini dalam istilah keramik dikatakan diglazuur, dalam bahasa kita boleh dipakai digelas. Keuntungan jang kita peroleh dari pergelasan ini, dapat menahan penembusan zat tjair, seperti mana terrakotta tidak bersifat demi- kian. Permulaan mendjadi keras, padat, halus, sedikit banjak mengkilat. Barang keramik jang dipakai sehari-hari-tjangkir. piring. mangkok pergelasan mempunjai sifat penahan penembusan tjair ini, memberaskan sekaligus soal kebersihan, dan sekalian memung- kingkan orang dapat menaruhkan warna-warna, ornamen-ornamen. dibarang-barang tadi, sehingga mengenakkan pandangan mata jang tadjam (gevoelig). Bahwa keramik jang tjukup pembakarnja ter- masuk barang jang tidak mudah rusak kikis, karena pengaruh per- geseran alam, terbukti dari penemuan-penemuan barang-barang keramik boleh dibilang masih utuh, jang berasal dari djaman purbakala. Lain dari sifat tidak mudah kikis ini, pun pekundian member: kemungkinan-kemungkinan tak terhitung banjaknja, per- kembangan keberbagai tjorak dalam pembikinan alat perkakas sehari-hari, chusus untuk kesenian sebagai medium (patung, pot, gotji, relief, mozaik) dan sebagai bahan pembangun dalam seni bangunan, misalnja: penutup lantai, hiasan dinding. penutup atau
penghias atap. Lain dari itu djuga untuk keperluan pembuatan seribu satu malam barang ketjil, keperluan tehnis dan lain-lain. Hal ini kita landjutkan lagi dibelakang. Pemilihan dan pengolahan tanah jang teliti dengan ketangkasan tehnik, perusahaan keramik dapat mentjapai tingkat kemadjuan jang tinggi. Pekerdjaan kundi itu suatu pekerdjaan jang menjenangkan bagai orang-orang kreatief. Pekerdjaan tidak minta tenaga urat jang besar. djuga tidak usah sehari-hari duduk bertekun menghadap medja tulis. Dalam pekundian orang dapat membangun bentuk-bentuk dengan sesuka hatinja dan semau-maunja sendiri, dapat menaruhkan aneka warna, garis atau ornamen dibarang-barang jang dikehendaki. Lagi pula menimbulkan hasrat ingin tahu, bagaimana kedjadiannja dengan rantjangan semula. Orang selalu menginta dari lobang ketjil kedalam dapur jang masih panas untuk melihat hasilnja tidak bisa sabar menunggu tjukupnja waktu, dimana barang-barang tadi tjukup dingin, untuk dapat diangkat keluar. Orang selalu diiiputi rasa-ingin-tahu, bagaimana kesudahan hasilnja. Disini kedjituan perhitungan proses kimia diudji, dan kepandaian menemukan rahasia-rahasia jang ada tersembunji ditiap-tiap dapur pembakar. Sedjarah pendek tentang keramik Permulaan seluruh keramik belum dapat dipastikan. Kita tjuma tahu bahwa keramik lama sudah, kira² 300 tahun jang lalu, sudah ada didapatkan orang sebagai penemuan barang purbakala. Penemuan-penemuan tidak hanja berupa terrakotta, tapi djuga ada jang sudah diglazuur. Perusahaan keramik sudah mengalami perkem- bangannja didjaman jang telah silam, merupakan salah satu perwudjudan kebudajaan. Terutama di Asia : Tiongkok, Djepang, negeri sekitar Persia, lalu meluas kebenua Eropah Perantjis, Djer- man. Ingger's dan lain-lain. Sepandjang pengetahuan kita diantara negara-negara ini Tiongkoklah jang mempunjai abad keemasannja dalam hal keramik. Keindahan serta tersendiri dari produksinja. jang hingga sekarang sukar diatasi, dibawa dan disebar oleh musafir diseluruh dunia, barang mana mendapat penghargaan luar biasa dari penggemar atau pengumpul, lebih dari pada penghargaan dari bangsa jang menghasilkan sendiri. Satu kenjataan bahwa barang kuno ini dimana-mana selalu ditjari oleh penggemar dan berani membajar dengan harga jang tinggi. Perusahaan keramik bisa meluas merupakan daerah industri tersendiri, dimana ribuan tenaga manusia bekerdja disekitar dapur pembakaran, jang ribuan pula djumlahnja. Disitu kaum tehnik, seniman dan ahli kimia bekerdja bersama serta mempunjai tugas sendiri2. Kemasjhuran produksi mengabadikan nama pembikin, perusahaan dan negaranja. Dalam sedjarah kita mengenal perkem- bangan dan merananja perusahaan keramik. Kalau dimasjarakat timbul kebiasaan dan aturan² atau upatjara, untuk itu dipergu- nakan keramik, tjontoh dalam hal ini di Djepang dengan adanja upatjara minum teh, maka pekundian seperti mendapat saluran,
dimana arti kemadjuan dan berkembangan, dapat dialirkan. Orang mempunjai arah kemana penjempurnaan produksi ditudjukan, dalam keindahan, kedjituan atau kemanfaatan. Dengan tjara dan keadaan begini pekundian mudah madju dan mempunjai harga dalam kebudajaan. Sebaliknja perusahaan jang berada dipuntjak kemegahan, dapat merana, karena pendjadjahan dari kekuasaan asing. Kekalutan dalam negeri, lumpuhnja tenaga-tenaga kreatief dan para ahli, lenjapnja rahasia-rahasia pabrik, bisa djuga menjuramkan tjahaja jang pernah bersinar dipusat suatu perusahaan. Di Eropah seperti djuga halnja di Asia, mula-mula pekundian dibuat dengan tangan sadja. Datangnja abad serba mesin banjak merobah tjara dan tudju- an perusahaan. Mesin ialah perkakas djitu untuk masa produksi; bisa membikin ribuan mangkuk, ratjak segala-galanja, tidak kenal meleset atau sial. hal mana sukar ditjapai dengan tangan. Tapi toh pemakaian serba mesin ini ada bahajanja. Orang sering lupa, apa akibatnja dengan produksi jang berlebih-lebihan. Sosal dan ekonomi katjau oleh karenanja. Disini terletak titik bahaja. Serba-mesin bagus, asal dipergunakan melulu sebagai perkakas untuk meninggikan deradjat kesenian dan kebudajaan. Pekundian di Indonesia. Dapat dibuktikan, bahwa kita djuga mempunjai sedjarah pekundian dengan tehnik jang agak berarti, dari pekabaran-pekabaran, dan penemuan-penemuan barang kuno di Djawa-barat, Djawa- timur, Bali jang berupa gempalan-gempalan dari bangunan-pemudja (sebangsa tjandi-tjandi), satu dua barang-barang sebagai kendi- tjowek, jang tersimpan dalam musium. Disamping batu-alam, kaju, pekundian dipakai orang djuga sebagai bahan penjusun bangunan, penghias atau dinding, pilar dan keperluan lain lagi. Tentang adanja pergelasan belum dibuktikan oleh penjelidikan. Peninggalan ini berasal dari djaman Hindu. Rupanja sesudah djaman Hindu lambat laun mundur terdesak, diganti dengan alam pikiran lain, perusahaan pekundian kehilangan anasir pendorong sehingga menjebabkan kelemahan umum dan achirnja hilang lenjap tidak meninggalkan bekas. Dewasa ini pekundian rakjat jang masih berada digaris sedjarah, jalah sekalian jang dinamakan grabah oleh umum, adanja bertimbun-timbun didjual dipasar, dan dipikul ditawarkan orang keliling (gentong, kewali dan sebagainja). Gerabah ini senantiasa dibikin oleh rakjat disamping menanam padi, sebagai sumber pentjarian. Didjaman Belanda di Indonesia, timbul berbagai perusahaan dan diusahakan atau dibantu oleh pemerintah dan satu dua atas inisiatip partikelir (Plered, Bandung, Bandjarnegara, Bodjonegoro) sekalian perusahaan ini berusaha untuk mengembangkan diri. Untuk bahan dipergunakan berdjenis-djenis tanah liat dan keolin jang banjak terdapat diseluruh pulau. Bahan pergelasan banjak djuga sudah dibuat sendiri, walaupun kwalitet dan kedjernihan warnanja masih terbatas, belum dapat menjaingi glazuur bikinan Djerman. Produksi mereka ini jang ditudjukan untuk keperluan
hidup sehari-hari, masih harus dibaguskan, didjitukan dan dimu- rahkan, agar dapat tahan bersaingan dengan barang petjah-belah masa-produksi luar negeri, jang membandjiri pasar. Ketjuali untuk keperluan rumah tangga, dapur pembaran tadi djuga menghasilkan produksi untuk keperluan bangun-bangunan dan disini sana djuga untuk kesenian. Usaha jang dapat berdjalan paralel dengan kehen- dak keinginan masjarakat memang belum terasa, agar perusahaan pekundian berarti baginja. Djuga kita belum mendengar satu figuur agak djitu dalam lapangan ini. Pekundian untuk Indonesia. Kita menjongsong djaman baru. merdeka, dimana kita bebas bisa mengembangkan diri seluas-luasnja dan mudah-mudahan takkan dirintangi lagi. Vak pekundian menghendaki ketelitian, keulatan dan kesabaran dari tenaga-tenaga kreatief disuatu bagian dan tenaga ahli dilain bagian. Kita mulai sadja melihat kemung- kinan keramik diseni-bangunan. Dalam seni bangunan kita jang akan datang. tak terhitung banjaknja kesempatan bagus untuk menutup sudut-sudut dan lobang-lobang gevel dengan ornamen atau komposisi dari keramik. Kalau dinegeri jang sudah madju menggunakan pekundian untuk penutup. pengukir, atau penghias dinding. tangga, kapiteel. relief, monumen. ja malahan sekeliling bangunan, dari lantai sampai keatap menara ditutup dengan ubin
keramik jang digelas ...... mengapa kita tidak memakainja bahan
ideaal ini untuk bangunan kita didaerah panas ini. Tidak maksud- nja menguraikan sampai kedetail-kedetail, inisiatip selandjutnja tentang ini baik kita tjari dalam pabrik sadja nanti, atau serahkan pada arsitek dan kundiman kita, bagamana memetjahkan soal ini nanti,agar terlepas dari kewadjibannja. Untuk seni-rupa (beeldendekunsten) chusus keramik djuga memberi perspektieven jang luas. Tanah dapat dibutsir mendjadi bentuk apapun jang disukai, dari mulai ornamen tablet ketjil-ketjil. berbagai bentuk, tjorak, stillasie, artja-artja, pit, vaas, mangkok sampai kepatung-sedada ukuran sesungguhnja dan mungkin djuga lebih besar lagi. Djika telah dibakar bisa tahan pengaruh alam seperti halnja dengan batu biasa). Orang djuga dapat memainkan rangkaian warna disebagián atau diseluruh permukaan paneel. komposisi, ornamen, relief dari terrakotta, sebagai halnja dengan mozaik. Untuk keperluan praktis dan rumah tangga. kita terikat atau harus mengingat faktor kebiasaan dan kesukaan umum djuga faktor ekonomi penting. Untuk dapat berdjalan produksi kita, paling sedikit harus dapat menjamai bikinan luar negeri, dalam hal degelijkheid, kwalitet, kendahan konvensi, dan harga. Kalau tidak, hasil kita mesti kalah. Keramik jang bagus harus function werend, harus dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan masjarakat dan dapat dibeli oleh tiap keluarga. Demikianlah garis besarnja keramik. Hal-hal tehnis dan orga- nisasi selandjutnja baik diselesaikan dalam pabrik sadja.
Lukisan, Skets dan Illustrasi dalam nomor ini.
Affandi Mochtar Apin Agus Djaja Baharudin
O. Effendi Harijadi Hendra Kerton Kusnadi Nashar
Henk Ngantung Otto Djaja Resobowo Rusli Sjahri Sjolihin Sudibio
S. Sudjojono
Trisno Sumardjo
S. Sundoro Suromo Surono Trubus
A. Wakidjan Zaini.
Bali" Affandi
Bratajuda". Agus Djaja
Gadis": Baharudin
Tukang suling" O. Effendi
Pasar" Hendra
,Gianto-Gianti" Kusnadi
Perempuan" Nashar
Pelabuhan di Makasar" Henk Ngantung
e
2 perempuan" Otto Djaja
,Prapat" Resobowo
m
1839
Djokja" Rusli
Shni
.Ibu" Sjahri
Ida" Sjolihin
Sajang saja bukan andjing" S. Sudjojono
Medan Gerilja S. Sudjojono
Taman Siswa Djokja, Surono
R. A. Kartini Trubus
Kuda dan Buaja" Zaini
,Gambar-diri" Affandi
.Tjukilan lino" Mochtar Apin
Con
O. Elfendi
.Gerobak dengan kuda" Kerton
gambui sendis,
Gambar-diri" Nashar
Danau Batur B. Resobowo
Illustrasi: Pertjikan Revolusi" B. Resobowo
,Potret diri" Sjahri
Diembatan Tjode : Trisno Sumardjo
NJAİ LORO BLORONG
BUKAN DONGÉNGAN
..Karikatur" S. Sudjojono
Kali Pépé S. Sundoro
e
Tirtonadi S. Sundoro
②
Sunindijo
中
Tjukilan kaju Suromo
Illustrasi .Arlodji" Wakidjan
Bald " dn li.
州
E
an ar ain"
S
Keterangan tentang karangan² jang -dimuat -dalam nomor. ini. Seni-lukis Indonesia Baru oleh
M. Balfas, dimuat dalam Pendi-
dikan dan Kebudąjaan 1950.
oleh Lukisan, Dokumentasi Trisno Sumardjo.dimuat dalam Mimbar Indonesia 1950.
Mempeladjari Klasik Indonesia oleh: Resobowo dimuat dalam Indonesia 1949.
Pelukis Salim Barat dan Timur, oleh: Hazil dimuat dalam Pu- djangga- Baru 1951.
Tanda lambang Negara oleh:
O. Effendi, dimuat dalam Mimbar Indonesia, 1948. Arti Dekor oleh: Resobowo dimuat dalam Daya 1949. Kemungkinan Kramik di Indonesia oleh : Suromo dimuat dalaim Daya 1949.
Klise halaman: 52. 53, 56 dan 59 dari Kem. P.P.K. 54 dari madjalah Wanita". 62 dari ,Gapura" 69 dari .Mimbar Indonesia.
SUDAH TERBIT TJETAKAN KE-III Harga R 8.—
R. A. KARTINI
Habis gelap terbitlah terang
TERDJEMAHAN ARMIJN PANE
KATA PENDAHULUAN Dalam tahun 1922 sudah kami terbitkan surat-surat R.A. Kartini, diterdjemahkan oleh Empat Saudara. Tjetakan itu sudah habis terdjual, tetapi buku R.A. Kartini itu masih dikehendaki orang dju, malahan lebih banjak lagi dari dahulu, djika menilik gelagat zaman, sedjak pergerakan perempuan makin madju dalam beberapa tahun ini. Karena itulah kami ichtiarkan lagi menerbitkannja. Tapi hendaknia djanganlah setebal dahulu supaja djangan terlalu mahal. Djika mahal -belinia tiadalah atau susahlah tjita-tjita
R. A. Kartini itu tersiar banjak-banjak. Kami persilakan membatja ,,Kata Pembimbing", supaja terang. bagamana dialannja. supaja buku ini kurang tebalnja dari tietakan jang dahulu. Tjetakan iang baru ini tiada sama salinannia dengan tietakan iang dahulu. Semata-mata diter- diemahkan kembali dari bahasa Belanda. meskioun salinan iana lama ada diuga dipakai mendjadi penolong. Dalam Kata Pembimbing" ada diterangkan apa jang terutama diperhatikan pada waktu menjalin itu. Berkat kemurahan hati R.A. Sumantri Sosrohadikusumo, adik R.A. Kartini, kami diberi pindiam gambar sanak kelu- arga dan sahabat R. A. Kartini akan mendiadi perhiasan tietakan jang baru ini. Kami terangkan hal itu disini, tanda kami berterima kasih. Tentu suka djuga sidang pembatia berbuat demikian. karena berkat kemurahan hati beliau itu ada mendapat buku tjita-tjita R.A. Kartini jang lengkap. BALAIPUSTAKA DJAKARTA
SUDAH TERBIT SEMENDJAK DJANUARI 1951.
ZENITH
EDISI KEBUDAJAAN MIMBAR INDONESIA TERUTAMA UNTUK KESENIAN & KESUSASTERAAN
Redaksi : H. B. Jassin, J. A. Dungga. Sumantri Mertodipuro. Sutarto Ruslanputro .ZENITH" mengumpulkan dan mengemukakan hasil-hasil kegiatan dari dalam, dari pusat kehidupan dan dengan demikian memberikan kesempatan dan-dorongan bagi Ahli- budaja. Seniman dan Sastrawan untuk mengembangkan bakat dan kesanggupannja, dengan mengemukakan pemandangan- pemandangan, pembitjaraan-pembitjaraan tentang musik. sandiwara dan tari, film, senilukis, kesusasteraan dan terutama mengemukakan hasil-hasil kesusasteraan seperti tjerita- tjerita, sadjak-sadjak, essay-essay, drama-drama, dan hasil-hasil kesenian lain seperti lagu-lagu, skets-skets, reproduksi- reproduksi dari lukisan dan pahatan, dsb. Alamat: Red./Adm. Tjikini 31 DJAKARTA Tel. Gb. 926 Harga langganan : 3 bulan .. R. 7,50 Etjeran R. 2,50 dibajar lebih dulu
Nomor-nomor INDONESIA jang merupakan buku-buku tersendiri bisa dibeli tersendiri pula. NOMOR KONGRES: tebal 124 halaman, merupakan perslah Kongres Kebudajaan di Magelang th. 1948. tindjauan-tindjauan oleh segala aliran tua-muda. Harga R. 5.-
PERHUBUNGAN KEBUDAJAAN DI INDONESIA, oleh Prof, Mr. Su nario. K. Sanyatawijaya, telah dimuat dalam Indonesia" no. 3 kini diter- bitkan sehagai buku tersendiri. Tebal 51 halaman. dihiasi banjak gambar gambar. Harga R. 1.50 LEMBAGAKEBUDAJAANINDO