Baca PDF (OCR): DJ-KBALES

20 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 120 ms

Daftar isi
  1. "Aku percaya, manusia tidak diciptakan untuk terikat pada apapun. Jangan pernah takut dengan kebebasan. Jangan
  2. pernah juga memanipulasi kebebasan," kata Diva, seorang karakter tokoh yang berprofesi sebagai pelacur kelas atas,
  3. dikendalikan oleh para pialang dan armada tukang-tukang
  4. pikiran, ataupun nurani. Tidak juga hasrat kebebasan
  5. hantammassa.blogspot.com dan korporasi multinasional.
  6. IN T R O D U C T IO N
  7. konsekuensi-konsekuensi yang m uncul akibat praktek
  8. tersebut. A kan tetapi konsekuensi yang terbesar harus
  9. dalam buku ini, secara bertubi-tubi m engkom parasikan
  10. Wawancara Dilakukan Pada 19 Oktober 2000, Via Telepon.
  11. Saat ini ada lebih banyak lagi orang-orang yang berada
  12. pada posisi diperbudak.
  13. KB : Ada sekitar 27 juta.
  14. Surat kontrak perjanjian kerja ini digunakan sebagai sebuah umpan bujukan untuk menarik
  15. dan menempatkan calon pekerja menuju ke tempat dimana dia akan diperbudak.
  16. KB : Yap!!
  17. DJ : Saya tidak mengerti.
  18. Para pemikir dari jaman Yunani Kuno hingga sekarang secara eksplisit telah
  19. mengungkapkan bahwa civilization (peradaban) adalah berdasar pada
  20. DJ : Kenapa tidak?
  21. Saya merasa bahwa amatlah busuknya ketika masyarakat saya membiarkan banyak lelaki
  22. mencari dan memburu serta menuntut pelayanan-pelayanan dari wanita-wanita seperti
  23. saya. Saya pikir ini adalah suatu tindakan kriminal ketika pada kenyataannya kami telah
  24. diperbudak untuk menghasilkan uang dan kekayaan bagi kekuasaan. Saya yakin ini adalah
  25. suatu kejahatan bahwa keluarga saya begitu miskin dan terus menjadi lebih miskin lagi oleh
  26. sebab mereka tidak dapat terus bertahan sebagai petani dengan hanya ada sedikit sekali
  27. sumber daya yang juga terus menyusut menjadi jauh lebih sedikit lagi yang disebabkan oleh
  28. orang-orang yang jauh lebih kuat dan berkuasa atas kami menyingkirkan mereka keluar dari
  29. lahan-lahan sumber penghidupan mereka. –Dina Chan, Sex Workers Union of Cambodia

Resistance Against Empireadalah sebuah buku rilisan PM Press (California, 2010), berisi sekumpulan interview atau wawancara yang dikerjakan oleh Derrick Jensen bersama sepuluh orang yang secara aktif terus berusaha untuk dapat membongkar dan menyingkapkan segala mekanisme penjajahan peradaban dunia modern serta memberikan analisa mendalam tentang akibat atau konsekuensi yang mungkin timbul darinya.

Kesepuluh orang aktivis ini, memberikan sebuah dakwaan yang tajam dan pedas atas segala praktek ketidakadilan serta ketidaksetaraan yang menjadi landasan terus beroperasinya sistem kapitalisme pada peradaban dunia ini. Ramsey Clark mendeskripsikan satu sejarah panjang invasi atau penyerangan-penyerangan militer yang terjadi di dunia, Alfred McCoy memberikan sebuah penggambaran detail tentang hubungan yang terjadi antara aktivitas yang dilakukan oleh CIA dengan meningkatnya jumlah perdagangan heroin di pasaran dunia, Stephen Schwartz melaporkan carut-marut pembiayaan persenjataan nuklir, juga Katherine Albrecht yang mengusut dan menyingkap horor yang terjadi akibat aktivitas memata-matai, mengawasi, atau penjagaan setiap penduduk yang dilakukan oleh banyak negara-negara modern di dunia. Penelusuran-penelusuran atas praktek kekuasaan global ini sangat penting untuk terus diinformasikan, dalam rangka untuk memberikan sebuah ajakan bagi kita untuk turut-serta melakukan sebanyak mungkin aksi perlawanan.

Projek penerjemahan buku ini dikerjakan serta dirilis sewaktu-waktu secara berseri, disesuaikan dengan bab atau topik-topik perbincangan

yang terjadi di dalam buku.

Projek penerjemahan ini didedikasikan bagi seluruh masyarakat yang tertindas di manapun mereka berada, orang-orang yang dipinggirkan

atas nama pembangunan pusat-pusat perdagangan dan perkantoran birokrasi yang hanya berfungsi untuk menyejahterakan segelintir kelas

borjuasi (kaya), bagi orang-orang terbuang yang bersatu dengan tanpa memandang ras, agama, gender, maupun kelompok, untuk mereka yang

berani mengangkat kepala demi diri mereka sendiri dan membangunBagian 4 solidaritas bersama melawan kebrutalan aparatus polisi dan militer juga

negara dan hukum yang berdiri di belakangnya.

Hidupkan kembali semangat perlawanan demi sebuah perubahan yang berarti, sebuah hidup yang tidak semata-mata hanya untuk sekedar Wawancara Derrick Jensen

bertahan hidup. Sebuah masyarakat dimana masing-masing diri kita dapat memegang kendali sepenuhnya atas hidup dan kehidupan kita sendiri.Bersama Kevin Bales

"Aku percaya, manusia tidak diciptakan untuk terikat pada apapun. Jangan pernah takut dengan kebebasan. Jangan

pernah juga memanipulasi kebebasan," kata Diva, seorang karakter tokoh yang berprofesi sebagai pelacur kelas atas,

dalam novel Supernova edisi Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, karya Dee. Diva beroperasi secara sepenuhnya otonom, tanpa

terikat pada majikan atau mucikari dan tidak bernaung dalam satu agen perusahaan. Diva sepenuhnya menyadari bahwa

Semua materi yang ditulis (dan kemudian diaplikasikan berdasarkan)dalam dunia hari ini dimana kehidupan dipegang dan dalam / dari penerbitan terjemahan ini dikerjakan dengan tanpa ijin dari

dikendalikan oleh para pialang dan armada tukang-tukang

penulis, editor, ataupun pemilik hak cipta. Tak ada hak cipta yang dihargai. Seluruh isi dan materi terbitan ini dapat direproduksi dan ditransformasikan dagang, maka hanya tubuhnyalah yang layak diperdagangkan dalam dan dengan segala cara dan bentuk. dalam pasar, dan itupun tentu dengan harga yang tinggi. Diva tidak berminat untuk memperdagangkan otak, akal,

pikiran, ataupun nurani. Tidak juga hasrat kebebasan

[email protected]individualnya yang tidak secara rela ia hadapkan pada negara

hantammassa.blogspot.com dan korporasi multinasional.

B uku inim em bongkarserta m enjabarkan banyak haltentang

IN T R O D U C T IO N

konsekuensi-konsekuensi yang m uncul akibat praktek

im perium dan seluruh m etode yang digunakan untuk P ada akhirnya,sam a sekalitidak ada yang gratis.P eradaban m enyelenggarakan dan m em aksakan undang-undang atau iniberjalan berdasarkan aktivitas pengubahan segala bentuk hukum yang m ereka sahkan untuk m engeruk dan kehidupan (“bahan baku m entah”, atau “sum ber daya”) m engekspolitasi. A nuradha M ittal m enjabarkan tentang m enuju kem atian: produksi bagi keuntungan atau profit. banyak efek yang m ungkin m uncul atas kolonialism e atau S em ua ini adalah kenyataan sebagaim ana halnya dengan penjajahan dan akibatperdagangan globalatas terjam innya telepon-telepon selular sebagaim ana halnya dengan panel-keam anan sum ber pangan. Juliet S chor, K atherine A lbrecht, panel surya sebagaim ana halnya dengan televisi dan juga C hristian P arenti m endiskusikan beberapa sebagaim ana halnya dengan kertas karton sebagaim ana m ekanism e represiyang terjadididalam negeri,sebagaim ana halnya dengan pesaw at F -16. B ahan-bahan baku m entah ketika setiap w arganegara akan m endapatkan terlalu banyak selalu datang dari suatu tem pat. D an di sana selalu ada beban kerja,terus diaw asidan dijaga ketat,dan dijebloskan ke banyak konsekuensi atau akibat atas proses pengerukan dalam penjara. J.W. S m ith m enjelaskan bagaim ana serta pengam bilalihan bahan-bahan m entah tersebut. kekuasaan im perial ini dim ulai dengan terjadinya proses K onsekuensi yang terutam a dan m endasar tersebut untuk m onopolipertanahan dan berakhirdalam satu situasiekonom i sebagian besar tidaklah ditanggung oleh m ereka-m ereka globalyang berbasiskan pada kontrolyang sangatketatdan yang m enggunakan dan m em anfaatkan produk-produk m asif. tersebut,lebih sedikitlagiyang ditanggung oleh m ereka yang m em buat, m erakit, dan m enghasilkan produk-produk S uara-suara tersebut,bersam a-sam a dengan yang lainnya di

tersebut. A kan tetapi konsekuensi yang terbesar harus

dalam buku ini, secara bertubi-tubi m engkom parasikan

ditanggung oleh m ereka -m ereka yang telah tercuri sebuah dakw aan yang serius m elaw an kekuasaan im perium

kem akm urannya serta tereksploitasi. K ekuasaan im perium yang m enyebabkan planet kita ini tersandera hingga pada m enggunakan jalan kekerasan (atau juga dengan ancam an nafsu keserakahannya yang keji. K ekuasaan im perium ini kekerasan) untuk m endapatkan segala yang m ereka tidak m engecualikan apapun, dan tak seorangpun, dalam kehendaki,dariberbagaibentuk kehidupan dan tenaga kerja rangka m engejar suatu, tujuan atau sasaran paling penting m anusia atau budak-budak non-m anusia sam paianak-anak dan m endasar: profit, atau keuntungan. Langkah pertam a kuda, batu bauksit, serta m inyak. Tentu saja, alasan atau untuk dapat m em bebaskan diri kita sendiri dari jerat tujuan pokok dari im perium ini adalah untuk m engeruk penjajahan tersebut adalah dengan m em bongkar dan sebanyak m ungkin sum ber bahan-bahan baku m entah serta m enyingkapkan segala m ekanism e penjajahan yang m ereka m engeksploitasiseluruh sum ber daya yang ada,dan berikut gunakan beserta segala akibat atau konsekuensi yang pem indahalihan segala konsekuensi yang ditim bulkannya m ungkin tim bul darinya. D an langkah berikutnya adalah kepada pihak-pihak lain. m elaw annya.

keT et mebein pemein babeMa peg petidasekedi bubameKesemenemeKotingpete ekkeadDe dapepedi suda“B maap a at paan ngsai—rnnj i. Fr nyrg si nyd i kek supahadanynj mibencgengrp kanyrjadonkeal fi ni para nj se

akr te ah el ee ak or omraah si u t ya
h di kath anuna ” sasepe n, ti ta ap ud te neor rh muan
g
udta kuol
an meyapaam n sute se
aduk ndng ra aki ti ngu ej
ah un me ti da
g navi k gaih ba ta uns r rb, aderadpanga rt yabeni ng rh sa -h ri , desa n an la di dake anrume
dakeun ” nf ke ra mp aa ni ui an ba
ti in mengs ap gangan ya sase rea
orn ekhase di ka tuat rh gi
g omskla m ud an nt ri nt n mod ya tu ekan ra lo cabu it mu da t
a a i n k ki k tu

pai as er h ak ad al s- ahg rj a te dada ra k akadsklu er ri pk, guor ta esi t melihaur ba u naki hi unla gud a perb h yanyi in mnabsendasn uapai. n bubk an kemek

n ta ri tuadha n e g yan nas i mbaydi paan ng a ra an ya ut pe anpera ol or pume ul kolo ia da bany Me rb i-lihaab ki pepek a da baSl tu ha “b dart i rp kan t ad miol ta rl k ra an re akgkra eh er anh te i seor l. st sknpor ak mepe—jeh ub aku rb te hupi hwes av s “ di g- dare la ru umad g ber dapa pem ar anat a an, sppali h n hurt meta a i asPekt ak inst i di a anan re unkaak an un a, pan, ri ja au os ur akbag ka rtenla angan an tu akp m eh “K da la ar da ra mporann ka me n- me rt me h pek senat ab umal ui yaya segayaya meri ku t ann di maahg musemimihungme-e nu nome bu le-l imyadaca ndta ndbukoitusbarang muhang padeat rk la ah si ng ke seum g mapa jikapang h ra liki ahn hi hwn di ru kamual b leb ksub sesi kape saaphanoi t a n li or habu uah kah i, meopn h te te peke ka sep at n mi sea apgi Ba me(Mija ng an di ut n pula la rj apri dd uh se at la be l ra sa ja ru le pe( abh ebis rs man rt hakaekdarta pe le nj se la ti au in ya skn (p d e t te haju (or ng te ak sea bi n onri le rb unng s ad le le di napegi an te ro n g so da ndcabe s peomIMmbud i Pa bi ki or m ka pe ik di te st a rb k ek lu rm ng be h t nydese udti bead seka d it us n akl te paansp g- te is ke n iria ra si seri ji i, F agak an at ba ssba27 g si dang

anngcaakdargap da muse

i) g ar rs ebda or lo gl
ki nkdate n padaganapahinga s agnyju bumang. a ol ut h mee gkan ra ank n eh ut koanitas an la paseksn la n da ga keadmacasi). ak ta dah et al camo, a ak apra ah du bea g g te ndg i )” m t ad caa basuse kual ah rd Addaor k, huah an ncke u paru is seundi se ra ju ja mbrt fa pi haas ekal ri an -p ra ra an akni antate a nas bukatu i hi peal ta kt il le g enmel. n petu tivi a per n s k sengrb ah ekan yaer a ank aaegtkkeda

a. ah yayauj
sentk de a pa k di terj dali di gaga ud on ng daweyapen an ran kang ng ar mehw ya Pe te e ap or mesi di soal ngng rs n jiw deadk- bupabela ki aka omante ya we, kabapeni anyai maunn de a ry pete Ke

kaakrbud ng buebha daut ti a a pai hi g rk nt pern la vi ka be na“a ri al

la hi da n n ngdai, nknj ad. tu ga k-yaan ur a Da ng daat anyang daah, la dana puk au an ngah h di n yatu n ri ak an anonpuga be seri ed u la au dung h an ri prog abda peBang te ke d is ngsa ng at dupen mem ng adunsu n, a: nt nybi pepa ku )” rs pe tu ya te ju de“s di ta rb les. da anamsa sei uk rt ra e b ta an ngeo an ng ud tudapean a peat addaau ni eddembkenddi a k at ng pameu kom-pi ra pa g andi ol er i Baak b Bapaak Ha hn haan heju la rbgaeh n dew ka mbseal padi a. ia nguahi ud kaah t akApan an t du dada ra beru pr ha l le tivi n di ib a uk la spanng le da di l te meya in nt baskakn s akra mepa nc l s se

i. at ik hwal an ng
ses ya o ar ng habuat yabube nnyamnsempanp paogini unmalu rs miun Ba

au an le asrt s, a a ng le anin mpankang dagi re k- tu ka yang yatiap oka. da ra ad m a asmada tu sa ru ebli. h, i: ir g n.,, ” k h ut

Kevin Bales adalah presiden pada lembaga Free the Slaves dan juga seorang profesor emeritus (yang pensiun dengan hormat dan diperbolehkan untuk tetap memakai gelar kedudukannya) dalam bidang sosiologi pada Roehampton University di London. Bukunya berjudul Disposable People: New Slavery in the Global Economy (University of California Press) dinominasikan untuk Pulitzer Priza, dan telah dipublikasikan ke dalam sepuluh bahasa berbeda. Dia juga adalah penulis buku berjudul Understanding Global Slavery, Ending Slavery: How We Free Today's Slaves, dan The Slave Next Door: Modern Slavery in the United States (semua diterbitkan oleh University of California Press). Bales adalah anggota dewan pengawas pada lembaga Anti-Slavery International dan menjadi konsultan pada United Nations Global Program on Trafficking of human Beings.

Wawancara Dilakukan Pada 19 Oktober 2000, Via Telepon.

Saat ini ada lebih banyak lagi orang-orang yang berada

pada posisi diperbudak.

Derrick Jensen : Anda telah menuliskan bahwa ada terdapat lebih banyak budak-budak yang hidup pada jaman sekarang ini dibandingkan dengan yang pernah ada dahulu pada masa peralihan abad pertengahan. Adalah akan sangat mengejutkan banyak orang ketika memahami bahwa masalah perbudakan ini bukanlah suatu horor yang terkurung rapat dan tertinggal pada masa silam. Sebenarnya seperti apakah yang anda maksud dengan perbudakan (pada jaman) modern ini?

Kevin Bales : Pada banyak cara dan sudut pandang sebenarnya adalah sama saja dengan perbudakan pada dua ratus, atau tiga ratus tahun yang lalu. Masih tetap perbudakan yang sama dengan pengertian bahwa ada orang-orang yang terkontrol dengan cara kekerasan, tidak diperbolehkan untuk memiliki kehendak bebasnya sendiri, tidak terbayarkan secara layak, dan tereksploitasi secara ekonomi. Definisi perbudakan tersebut dapat diaplikasikan baik apakah anda sedang membahas tentang kondisi di jaman Yunani kuno, atau Mississippi di tahun 1850, atau juga Los Angeles di tahun 2000.

Tetapi perbudakan juga memiliki perbedaan pada masa sekarang ini, dengan cara yang sama juga bahwa kehidupan adalah berbeda pada jaman sekarang ini dibandingkan pada jaman Yunani kuno atau pada masa antebellum (masa sebelum perang saudara AS -ed) di Mississippi. Kita hidup di dalam satu situasi perekonomian global, dan pada masa sekarang ini perbudakan juga lebih terglobalkan jika dibandingkan dengan situasi yang pernah ada sebelumnya. Perbudakan jaman sekarang juga memiliki kecenderungan untuk terkadang setidaknya lebih bersifat temporer, berlangsung untuk satu jangka waktu yang lebih terbatas, berlawanan dengan perbudakan yang berlangsung turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mungkin yang terpenting, saat ini ada lebih banyak lagi orang-orang yang berada pada posisi diperbudak—ada terdapat jumlah melimpah secara absolut budak-budak manusia di pasaran—berarti bahwa budak-budak menjadi sangat lebih murah, jauh lebih murah dibandingkan yang dulu pernah terjadi di sepanjang sejarah manusia.

DJ : Bagaimanakah definisi anda tentang perbudakan?

KB : Kata atau istilahnya sendiri datang dari kata “Slav,” seperti pada “Slavic peoples (orang-orang bangsa Slavia),” dengan cara Latin sclavus atau sclava, berarti “Slavonic” (captive, tawanan atau tahanan) sebab banyak sekali slaves (budak-budak) di Roma adalah merupakan Slavs (rakyat Slavia) yang merupakan orang-orang tangkapan oleh suku-suku bangsa di Jerman. Sejauh ini seperti definisi yang lebih tua dari slavery (perbudakan), saya cenderung menyukai konsep dari Orlando Patterson dimana dia mengungkapkan tentang “social death (kehancuran sosial)” dari para budak. Perbudakan, menurutnya, adalah dominasi kekerasan secara permanen atas orang-orang atau masyarakat yang teralienasikan dan tanpa penghargaan. Definisi ini, beserta relasi atau hubungan kekuasaan antara para pemilik budak dan budak-budaknya, dapat dipecah ke dalam tiga komponen. Pertama adalah secara sosial dan meliputi penggunaan atau ancaman kekerasan dari pemilik budak untuk mengontrol budaknya. Ke dua adalah secara psikologis dan berkaitan dengan tindakan meyakinkan budak-budak untuk tetap mempercayai bahwa kondisi perbudakan mereka sebenar-benarnya adalah berada pada kepentingan atau kebutuhan-kebutuhan terpenting mereka sendiri. Yang ke tiga adalah secara kultural dan berkaitan dengan menjadikan penggunaan kekuatan pemaksa pada sebuah hak yang dimiliki oleh kelas yang berkuasa dan kepatuhan pada sebuah kewajiban yang harus ditanggung oleh kelas yang lemah dan tak berdaya, yang mana, sebagaimana Rousseau akan menempatkannya, akan menjamin atau memastikan adanya relasi kepemilikan yang kokoh secara terus-menerus. Hal ini berikutnya akan berarti bahwa kekuatan pemaksa dari pemilik budak selalu dan memang akan selalu bertali-berurat secara intim dengan kekuatan pemaksa dari negara. Yang tersebut terlebih dahulu tidak dapat eksis atau bertahan dalam jangka waktu yang lama tanpa adanya yang tersebut belakangan tadi. Semua hal tersebut menegaskan, definisi saya sendiri, dengan cara yang lebih simpel atau sederhana dan satu-satunya yang sering saya gunakan, yaitu bahwa seorang budak adalah setiap orang yang digiring dengan cara kekerasan atau dengan ancaman kekerasan, tanpa bayaran apapun, dan dimanfaatkan untuk tujuan eksploitasi ekonomi.

DJ : Anda menggunakan istilah “slaveholder” sepertinya memiliki makna yang berlawanan dengan “slave-owner.” (Dalam wawancara Kevin Bales terkadang menggunakan istilah “slaveholder (penyelenggara, pengerah, atau penjaga budak)” dan “slave-owner (pemilik budak)” secara bergantian sesuai konteks pembicaraan, di dalam terjemahan ini kedua istilah tersebut akan diterjemahkan secara bersamaan dengan makna “pemilik budak”, mengingat kedua istilah tersebut selalu merujuk pada hal yang sama tentang relasi majikan-budak dan hanya berbeda secara teknis sesuai konteks pembicaraan. -ed)

KB : Pada jaman dahulu, perbudakan memerlukan tanggung jawab yang besar dari seseorang yang secara legal memiliki hak milik atas diri seseorang yang lain. Akan tetapi perbudakan pada jaman modern adalah berbeda. Perbudakan dalam terminologi atau pengertian hak milik adalah ilegal dimanapun, dan diyakini di dunia bahwa tidak ada kepemilikan yang legal atau sah atas makhluk manusia. Tetapi masih terdapat jutaan orang yang dikontrol dan tereksploitasi secara ekonomi dengan cara kekerasan. Fakta atau kenyataan bahwa slaveholders (para penyelenggara atau penjaga budak) secara teknis tidak 'memiliki' budak-budak berubah dalam banyak kasus menjadi suatu hubungan kebutuhan atau kepentingan dari slaveholders, yang saat sekarang ini menikmati semua bentuk keuntungan kepemilikan tanpa ada kewajiban atau tuntutan legalitas hukum apapun.

DJ : Anda menyebutkan bahwa perbudakan pada saat sekarang ini telah mendunia atau terglobalkan.

KB : Satu hal yang menarik mengenai hal perbudakan adalah bahwa ini adalah salah satu dari bentuk awal perindustrian pertama yang bersifat proto-globalized. Masa peralihan abad pertengahan, sebagai contoh, menyatukan secara bersama-sama tiga benua—Afrika, Eropa, dan Amerika—dan keuntungan yang dihasilkan dari seputaran segitiga tersebut saling bergeseran ke depan dan ke belakang di antara ketiga benua tersebut. Hal ini sangatlah bersifat internasionalis. Tetapi di masa lalu, ketika sekali perbudakan berada di satu lokasi tertentu, para budak itu sendiri beserta segala produk yang dihasilkan dari hasil kerja mereka seringkali tetap berputar di kisaran lokal. Meskipun kapas atau katun hasil produksi dari para budak diekpor dari AS, dan juga gula hasil produksi para budak diekspor dari Brazil dan kepulauan Karibia, untuk menyebutkan dua dari banyak contoh yang ada, para budak seringkali memproduksi makanan dan banyak produk lainnya untuk tujuan pasaran lokal. Sedangkan untuk hari ini nampak sangat lebih jauh bahwa output hasil produksi para budak ditujukan untuk kebutuhan konsumsi pada pasaran global. Sebagai contoh, kita tahu bahwa terdapat satu input atau keterlibatan budak-budak yang signifikan di dalam industri perkebunan kakao atau cokelat di Afrika Barat. Sekarang ini, cokelat dapat dimakan di manapun di seluruh permukaan planet ini. Kemungkinan besar 40 persen produk cokelat yang ada di dunia telah terkotori dengan adanya praktek perbudakan. Begitu juga dengan besi dan baja, gula, produk-produk tembakau, perhiasan; dan daftar ini bisa terus memanjang banyak lagi. Terdapat begitu banyak produk-produk yang memiliki hubungan dan telah ternodai dengan praktek perbudakan di baliknya, dan produk-produk ini bergerak dengan sangat tenangnya di seputar penjuru bumi, begitulah juga adanya bahwa perekonomian global telah melicinkan jalan bagi perbudakan untuk turut bergerak pula di sepanjang putaran planet ini.

DJ : Hal ini terdengar seperti setiap orang—atau paling tidak setiap orang di dunia yang telah terindustrialisasikan—kemungkinan memiliki produk-produk yang dihasilkan dari praktek perbudakan di dalam rumah mereka.

KB : Banyak orang akan terperanjat ketika mempelajari bahwa ada banyak peluang bagi mereka untuk dapat menemukan sesuatu di dalam rumah hunian mereka yang memiliki satu bentuk keterkaitan dengan seorang budak. Satu hal yang membuat kita sulit untuk dapat mempercayainya, bagaimanapun, adalah bahwa komoditas-komoditas pasaran global nampak seperti satu mesin pencucian uang, perbudakan dapat menjadi sangat sulit untuk dapat dilacak atau ditelusuri. Kakao yang didatangkan dari Afrika Barat dan memasuki pasar komoditas kakao dunia, sebagai contoh, hampir dengan segera akan kehilangan label atau identitas asalnya. Jika anda adalah seorang pembeli yang bertugas membeli untuk Hershey's atau perusahaan cokelat lainnya, anda tidak akan mengatakan, “Saya ingin membeli enam ton kakao yang didatangkan dari Ghana.” Anda hanya perlu mengatakan bahwa anda membutuhkan kakao sejumlah yang anda butuhkan. Ketika kakao tersebut telah dikirimkan pada pabrik perusahaan anda, anda tidak benar-benar dapat mengatakan apakah ini jenis kakao yang didatangkan dari Ghana, yang kemungkinan bebas atau bersih dari praktek perbudakan, ataukah kakao dari daerah Pantai Gading, yang mengandung praktek perbudakan di dalamnya. Jadi anda melewatkan begitu saja tanpa mengetahui produk yang kemungkinan telah ternodai oleh praktek perbudakan di dalamnya, dan para konsumen akan membeli produk tersebut tanpa pernah mengetahuinya juga.

Itu adalah satu hal yang saya maksudkan dengan “globalization (proses globalisasi)” perbudakan. Tetapi saya juga mempunyai maksud yang lainnya juga. Sudah pasti bahwa perbudakan tampil atau nampak secara kasat mata memiliki keunikan di setiap kultur atau budaya: perwujudan praktek perbudakan yang anda temukan di Pakistan tidaklah sama dengan apa yang dapat anda temukan di Thailand. Tetapi semenjak Perang Dunia Ke-Dua, praktek perbudakan di negeri-negeri yang berbeda telah berkembang menjadi semakin lebih mirip. Kita sedang menyaksikan satu perwujudan yang baru atas praktek perbudakan secara global.

DJ : Dapatkah anda menerangkan tentang beberapa perbedaan-perbedaan yang ada di antara praktek perbudakan di jaman modern dan di jaman sebelumnya?

KB : Jenis praktek perbudakan yang dipahami di dalam kepala oleh kebanyakan masyarakat Amerika adalah tentu saja praktek perbudakan sebagaimana hal tersebut pernah ada di Amerika Serikat pada masa sebelum terjadinya Perang Sipil. Jenis praktek perbudakan tersebut melibatkan adanya budak-budak yang dihargai sangat mahal secara ekonomi. Budak yang rata-rata—sedang, biasa saja dan bukan yang spesial—dengan perhitungan uang modern akan dihargai sekitar lima puluh ribu dolar. Di tempat lain harga yang tinggi tersebut dapat disebabkan bahwa terdapat kekurangan jumlah budak-budak yang tersedia. Sangatlah sulit untuk mendapatkan budak-budak yang bagus, sehingga akan menjadi mahal.

Hari ini budak-budak memiliki harga yang murah, untuk beberapa alasan. Yang pertama adalah terjadinya ledakan populasi; dan yang ke dua adalah adanya tekanan atau dorongan sejumlah besar orang atau penduduk di negara dunia ke-tiga ke dalam kubangan ketidakberdayaan ekonomi serta sosial. Ini berarti ada terdapat jauh lebih banyak lagi potensi-potensi untuk menjadi budak di sana. Kemudian sekarang, faktor penopang ke tiga, kemampuan yang telah diperjelas untuk memaksakan praktek perbudakan melalui jalan kekerasan, biasanya dilakukan dengan atau melalui persetujuan dari pihak aparat kepolisian yang korup atau dari para pejabat pegawai pemerintahan, dan anda lihat sendiri bagaimana para pemilik atau penyelenggara perbudakan dapat mengumpulkan dan memanen begitu banyak budak-budak.

Saya tidak yakin tentang kisaran harga rata-rata seorang budak di pasaran dunia saat ini, tetapi mungkin tidaklah lebih dari lima puluh atau enam puluh dolar. Sesungguhnya jumlah tersebut merupakan satu perubahan yang signifikan jika dibandingkan dengan harga lima puluh ribu dolar yang harus anda bayarkan untuk satu budak di tahun 1850. Dan harga yang rendah yang diberikan oleh para pemilik atau penyelenggara budak-budak ini mempengaruhi juga bagaimana para budak-budak tersebut akan diperlakukan. Jika anda membayarkan seratus dolar untuk seseorang, berarti orang tersebut dapat dibuang karena tidak berharga. Di pertambangan emas di kota-kota di Amazon, seorang gadis muda dapat berharga $150. Dia direkrut untuk bekerja di bagian kantor di sana, tetapi kemudian mengalami pemukulan, diperkosa, dan dilemparkan pada pelacuran. Dia dapat dijual sebanyak sepuluh kali dalam semalam, dan dapat menghasilkan pemasukan sepuluh ribu dolar setiap bulannya. Satu-satunya biaya yang harus dikeluarkan adalah pembayaran-pembayaran kepada polisi dan sejumlah kecil untuk makanan. Dan jika gadis tersebut adalah seorang yang menimbulkan masalah, atau jika dia mencoba melarikan diri, atau jika dia menderita sakit, sangatlah mudah untuk melemparkan dia dan menggantikannya dengan seseorang yang lain. Bukanlah hal yang tidak biasa pada beberapa wilayah perkampungan tersebut untuk bangun di pagi hari dan menjumpai jasad seorang gadis mengambang di permukaan sungai. Tak seorangpun peduli atau mau bersusah-susah untuk menguburkannya. Mereka melemparkan begitu saja tubuh mayat tersebut ke dalam sungai untuk dimakan ikan-ikan. [Seorang Pekerja Tambang] Antonia Pinta menggambarkan apa yang telah terjadi pada seorang gadis berumur sebelas tahun yang menolak untuk melakukan hubungan seksual dengan seorang pekerja tambang: pekerja tersebut memenggal kepala gadis tersebut dengan sebuah machete (pisau parang besar, atau juga mesin gergaji potong), kemudian pergi berkeliling dengan speedboat-nya, memamerkan penggalan kepala gadis tersebut kepada para pekerja tambang yang lain, yang berteriak-teriak menyatakan persetujuannya atas tindakan tersebut.

Salah satu alasan praktek perbudakan di jaman modern sangatlah jahat dan merusak adalah kenyataan bahwa orang dihargai dengan sangat murahnya dan bahkan mereka sama sekali tidak dilihat sebagai satu bagian modal investasi: anda tidak harus peduli untuk merawat mereka, anda hanya diharuskan untuk menggunakan dan memanfaatkan mereka, menggunakan dan menghisapnya dengan sekeras mungkin, benar-benar memerasnya, dan lalu melemparkannya begitu saja. Dengan cara seperti ini orang-orang benar-benar hanya menjadi sekedar alat-alat yang sifatnya sekali pakai untuk menciptakan uang, sekedar satu masukan sekrup bagi proses produktif, dengan cara yang serupa seperti ketika anda membeli sekotak pena ballpoint dari plastik.

Jadi untuk dapat menyimpulkan perbedaan-perbedaan di antara praktek perbudakan modern dengan perbudakan jaman lampau, pertama, pada perbudakan jaman dahulu hal kepemilikan legal atas budak adalah dituntut dan ditegaskan, sebaliknya saat sekarang ini secara umum adalah dihindari. Ke-dua, dahulu budak-budak berharga lebih mahal, dan saat ini mereka sangatlah murah. Yang ke-tiga, tingkat keuntungan dalam sejarahnya adalah sangat rendah: di daerah bagian selatan sebelum masa perang saudara di AS, para budak membawa rata-rata tingkat pengembalian pada kisaran sekitar 5 persen dari investasi. Sekarang, para buruh pekerja yang terikat dan terbelenggu dalam industri agrikultural di India menghasilkan lebih dari 50 persen keuntungan setiap tahunnya bagi para pemilik dan penyelenggara budak, dan taksiran tingkat pengembalian modal sebesar 800 persen

tidaklah aneh bagi para mucikari yang mempunyai budak-budak pekerja seksual. Ke- empat, budak-budak di jaman dahulu biasanya adalah jarang atau sedikit, dan sekarang ini ada satu jumlah yang amat banyak hingga berlimpah-limpah. Ke-lima, disebabkan oleh kurangnya jumlah budak yang tersedia, pada jaman dahulu para pemilik budak biasanya memelihara dan mempertahankan suatu betuk hubungan-hubungan jangka panjang dengan para budak-budaknya, tetapi para pemilik atau penyelenggara perbudakan jaman sekarang tidak lagi mempunyai satu alasan apapun untuk melakukan hal ini. Malahan adalah merupakan kepentingan ekonomis mereka untuk dapat mengenyahkan budak-budak yang ada setelah memerasnya habis-habisan dan segera menggantikannya dengan yang lebih baru untuk dapat diperas kembali. Yang terakhir, biasanya persoalan perbedaan etnis menjadi penting: kaum kulit putih (whites) memperbudak kaum kulit gelap (blacks), dan umumnya bukanlah kebalikannya yang terjadi. Sekarang perbedaan-perbedaan etnis adalah urusan nomor dua setelah pertimbangan-pertimbangan ekonomi.

DJ : Ada berapa banyak budak-budak yang dapat anda sebutkan yang ada di seluruh dunia sekarang ini?

KB : Ada sekitar 27 juta.

DJ : Estimasi atau perhitungan anda tersebut agaknya bersifat konservatif, bukan? Saya pernah melihat angka hasil estimasi yang jauh lebih tinggi yang dipakai oleh, sebagai contoh, Anti-Slavery Society, dan juga dari International Program for the Elimination of Child Labor.

KB : Definisi yang saya berikan—yang memang sangat keras dan kaku namun lebih teliti—tidak memasukkan banyak hal yang benar-benar buruk sekali, yang saya percaya serta yakin bahwa hal-hal tersebut memang sangatlah buruk dan mengerikan sekali; hanya saja saya tidak menyebut bahwa hal-hal tersebut adalah merupakan perbudakan. Memiliki uang secukupnya, mendapatkan sejumlah upah kerja yang hanya cukup untuk membuat anda bisa bertahan hidup, bisa saja disebut sebagai perbudakan dalam sistem pengupahan, namun hal ini bukanlah perbudakan. Para petani yang hidup dengan sistem bagi hasil memang mengalami kehidupan yang keras dan sulit, tetapi mereka bukanlah budak. Buruh anak-anak memang buruk sekali, tetapi ini tidak harus disebut sebagai perbudakan. United Nations (PBB, Perserikatan Bangsa-Bangsa) membicarakan tentang bentuk pernikahan yang tidak ada kemerdekaan di dalamnya sebagai satu bentuk perwujudan dari perbudakan. Saya dapat mempunyai persetujuan dengan hal tersebut. Tetapi karena kebanyakan orang-orang mengkonseptualisasikan perbudakan sebagai suatu aktivitas perekonomian, saya tidak memasukkan kasus tersebut dalam ruang pembahasan. Saya merasa senang untuk dapat menerima kasus-kasus tersebut jika ada seseorang yang menghendaki untuk menekankannya, namun bagi lingkup kerja saya sendiri saya akan mengeluarkannya dari ruang pembahasan.

Satu hal lainnya berkenaan dengan hasil estimasi dengan angka-angka yang tinggi tersebut: saya tentu saja juga sudah menyaksikan semua itu, juga, dan kapanpun saya berusaha mencoba untuk melacak kembali semua itu saya tidak pernah mampu untuk dapat menemukan satupun tiang pondasi atau dukungan yang benar-benar kokoh dan kuat bagi kemunculan angka-angka tersebut. Jadi banyak sekali organisasi-organisasi, seperti Anti-Slavery International, yang sekarang ini juga telah mengadopsi dan memakai angka-angka dari hasil perhitungan dan analisa saya.

DJ : Salah satu hal menarik yang saya temukan berkenaan dengan buku anda yang berjudul Disposable People adalah analisa ekonomi yang dengan sangat keras telah anda kemukakan.

KB : Hasil kajian yang bisa saya temukan berkenaan dengan permasalahan praktek perbudakan pada jaman sekarang ini adalah penuh dengan praktek yang keji dan biadab, dimana memang seharusnya nampak terjadi seperti itu, namun hanya ada beberapa analisis yang pendek dan ringkas tentang hal tersebut. Saya merasakan bahwa memang terdapat suatu lubang di sana, sebab ketika tentu saja kita akan merasakan sakit hati saat menghadapi praktek perbudakan ini, kita juga harus menganalisanya pada suatu titik dimana kita tahu bagaimana untuk dapat mengedepankan satu langkah awal untuk dapat mengakhirinya.

DJ : Anda memecahkan praktek perbudakan modern ke dalam tiga bentuk format: chattel (barang hidup dan bergerak), debt (hutang-piutang), dan contract (kontrak atau perjanjian kerja).

KB : Praktek perbudakan dalam bentuk chattel atau barang bergerak adalah jenis yang ada dimiliki di dalam benak kepala kebanyakan orang, di dalam memori sejarah mereka tentang bentuk praktek perbudakan, di mana orang-orang secara harfiah dapat dimiliki atau dijadikan hak milik, dan memang pernah ada suatu konsep pengertian tentang hak kepemilikan ini secara legal. Pada kenyataannya, di banyak tempat dimana anda masih mendapati suatu jenis praktek perbudakan atas barang bergerak ini, secara hukum adalah tidaklah sah atau sama sekali tidaklah legal untuk dapat mengikat atau memiliki seseorang, tetapi sistem yang ada berjalan dan beroperasi bahwa seakan-akan memang legal untuk dapat mengikat seseorang menjadi hak milik anda. Anda dapat menemukannya di negeri-negeri di Arab, dan di Mauritania, juga di beberapa bagian dari Afrika Utara. Namun pada faktanya praktek perbudakan jenis tersebut telah beranjak memudar, sebab memang dirasakan tidak

benar-benar cocok pada situasi saat ini. Jenis praktek perbudakan seperti ini masih merupakan satu bentuk yang membutuhkan banyak pengeluaran dan biaya-biaya yang bernilai tinggi, dan di sini akan dibutuhkan satu konteks atau kondisi yang legal secara hukum.

Praktek perbudakan melalui jeratan hutang atau debt, yang juga merupakan jenis praktek yang ilegal di mana-mana, adalah merupakan bentuk yang paling umum dari praktek perbudakan di dunia saat ini. Model ini cenderung sedikit lebih fleksibel atau lentur, dan juga sedikit lebih dapat beradabtasi dengan situasi perekonomian modern. Seseorang meminjam sejumlah uang, kemudian menjanjikan pada dirinya sendiri untuk dapat mengatasi jumlah pinjaman tersebut. Jangka waktu serta sifat atas bantuan tersebut tidak disebutkan, dan hasil tenaga kerja mereka tidaklah mengurangi jumlah awal bantuan tersebut. Hal ini bahkan sama sekali tidak diharuskan. Semua hasil pekerjaan yang dilakukan oleh kebanyakan orang yang terjerat dalam kubangan hutang ini di, katakanlah, Pakistan atau India, gampangnya adalah suatu bentuk jaminan yang dimiliki oleh pihak yang telah memberikan pinjaman kepada mereka, hingga ketika mereka telah mampu untuk membayar kembali semua nilai hutang tersebut.

DJ : Saya belum benar-benar paham maksud dari hal ini.

KB : Pada dasarnya ketika anda meminjam uang ini, anda beserta seluruh tenaga kerja anda akan menjadi suatu bentuk jaminan. Itu adalah sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh kebanyakan orang di Barat. Mereka mengatakan, “Tidakkah ini seperti semacam hipotik (mortgage, penggadaian)? Saya meminjam sejumlah uang dan kemudian saya harus bekerja untuk dapat membayar kembali pinjaman tersebut.” Tetapi ini bukanlah seperti itu. Ini lebih seperti suatu bentuk penggadaian dimana mereka mengatakan, “Anda telah meminjam sejumlah uang ini, tetapi seluruh hasil kerja anda, dan semua uang yang anda setorkan, tidaklah membayar kembali apapun. Hal ini sesungguhnya harus datang dari suatu tempat lainnya.”

Begitulah bagaimana jeratan hutang ini kebanyakan akan bekerja. Beberapa praktek perbudakan melalui jerat hutang ini menurut dugaan adalah mengenai hasil kerja yang sebenarnya digunakan untuk membayar kembali jumlah uang yang telah dipinjamkan, tetapi dalam kenyataannya adalah bahwa akan menjadi hampir tidak mungkin untuk dapat membayarkan kembali jumlah pinjaman tersebut. Saya pernah menemukan keluarga-keluarga di India yang telah dan terus-menerus terjerat hingga selama empat generasi semenjak awal pinjaman diberikan pertama kalinya. Dari semenjak sang kakek pernah meminjam uang sebesar tiga puluh dolar, dan hingga cicitnya saat ini tidak juga beranjak kemana-mana masih saja bekerja mengatasi jumlah pinjaman tersebut, sebab pinjaman tersebut juga telah diteruskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Salah satu hal yang menyebabkan pengkategorian ini nampak sedikit membingungkan adalah bahwa jika kelompok orang-orang ini telah mengontrol keluarga tersebut hingga empat generasi, yah, sekarang kita harusnya sedang membicarakan tentang perbudakan pada barang yang hidup dan bergerak (chattel slavery). Dan dalam satu pengertian bahwa ini sejenis dengan praktek perbudakan atas barang bergerak adalah karena praktek ini telah diturunkan terus dari generasi ke generasi. Akan tetapi rasionalisasi atau dasar pemikiran dari praktek perbudakan ini adalah tentang adanya hutang-piutang tersebut. Semua itu adalah bagian dari dalih atau akal-akalan yang dipakai, yang merupakan suatu bentuk jebakan yang licin serta rumit dari semuanya.

DJ : Anda tadi mengatakan bahwa praktek jeratan hutang-piutang tersebut adalah hal yang umum dan biasa.

KB : Bisa saja terdapat dimanapun dari 2 hingga 20 juta budak-budak yang telah terjerat hutang-piutang ini untuk di wilayah India saja. Tak seorangpun yang tahu. Namun, untuk meneruskan contoh kita dengan India, teh yang anda minum mungkin saja merupakan hasil petikan dari para budak. Perhiasan, batu-batuan berharga, batu-batu bata, kayu, batu bongkahan, gula, kembang api, pakaian, permadani, rokok: apapun dari benda-benda ini mungkin telah dikerjakan atau diproduksi oleh para budak. Dan bahkan pembuatan serta penjualan makanan, proses pengangkutan baik dibawa atau ditarik, perawatan binatang-binatang, prostitusi, permohonan kuasa, dan pencurian mungkin saja telah dilakukan oleh pria, wanita, dan anak-anak yang merupakan budak-budak yang terikat pada jerat perbudakan.

Jenis yang ke tiga dari praktek perbudakan adalah berdasarkan pada adanya suatu contracts atau perjanjian kerja. Praktek perbudakan melalui surat perjanjian kerja menunjukkan bagaimana relasi atau hubungan-hubungan ketenagakerjaan di jaman modern digunakan untuk menyembunyikan atau memanipulasi praktek perbudakan dalam wujudnya yang baru. Surat-surat perjanjian kontrak kerja menawarkan suatu garansi atau jaminan beberapa bentuk pekerjaan atau jabatan di dalam suatu bengkel atau ruang kerja atau di pabrik-pabrik, namun ketika para pekerja telah masuk menempati ruang kerja dimana mereka ditempatkan mereka menemukan bahwa diri mereka telah diperbudak. Perbudakan ini pada prakteknya diperkuat dengan suatu kekuatan pemaksa yang banyak menggunakan cara-cara kekerasan.

DJ : Jikalau anda akan menggunakan cara-cara kekerasan bagaimanapun, mengapa harus susah dan direpotkan dengan urusan membuat suatu surat kontrak kerja?

KB : Surat kontrak perjanjian kerja ini digunakan sebagai sebuah umpan bujukan untuk menarik dan menempatkan calon pekerja menuju ke tempat dimana dia akan diperbudak, dan juga digunakan sebagai suatu jalan untuk mengesankan bahwa praktek perbudakan yang terjadi tersebut terlihat memang memiliki satu legitimasi: “Lihat, anda telah menandatangani kontrak perjanjian kerja ini yang berarti anda akan bekerja untuk saya.” Kenyataannya, sekalipun, adalah bahwa “contract worker (pekerja kontrak)” adalah seorang budak, diancam dengan cara kekerasaan, sama sekali kurang memiliki kemerdekaan untuk dapat bergerak, dan tidak dibayar dengan apapun. Ini adalah bentuk praktek perbudakan yang tumbuh berkembang dengan paling cepat serta seringkali banyak diketemukan di kawasan Asia Tenggara, Brazil, di beberapa negara di jazirah Arab, dan di beberapa bagian anak benua yang ditinggali kaum Indian.

Brazil menawarkan satu format studi kasus tentang beberapa kondisi-kondisi yang dapat mengarah pada terjadinya praktek perbudakan modern. Tentu saja Brazil juga memiliki satu tradisi sejarah yang panjang tentang perbudakan. Segera setelah Portugis “menemukan (discovered)” Brazil, para penjelajah tersebut menyadari bagaimana kayanya mereka jika dapat mendapatkan gula yang diproduksi dari tanaman tebu yang tumbuh subur di sana untuk dibawa menuju pada pasaran di Eropa. Kaum pribumi atau masyarakat asli yang tinggal dan hidup di sana dengan

segera dapat ditaklukkan dan kemudian diperbudak, akan tetapi di sana tidak ada cukup persediaan untuk dapat memenuhi jumlah permintaan yang ada, sementara jumlah mereka semakin jatuh dengan cepat dikarenakan oleh beban kerja yang berlebihan serta terjangkitnya wabah penyakit baru yang dimasukkan ke sana. Pada saat tersebut kaum penjajah Portugis mulai menangkapi budak-budak dari daratan Afrika, dan jalur perjalanan menyeberang menuju Brazil jauh lebih pendek dibandingkan menuju kepulauan Karibia atau Amerika Utara. Dengan segera perekonomian nasional Brazil dioperasikan berdasarkan pada praktek perbudakan: kemungkinan sepuluh kali lebih banyak budak-budak yang telah dikirimkan menuju Brazil jika dibandingkan dengan yang pernah dikirimkan menuju Amerika Serikat—berjumlah pada kisaran 10 juta orang. Tetapi karena tingkat rata-rata kematian sangatlah tinggi dalam pengerjaan perkebunan gula tersebut, populasi budak-budak di Brazil tidak pernah lebih dari separuh dari jumlah yang ada di AS. Kemudian penemuan tambang emas mendorong praktek perbudakan semakin jauh memasuki Amazon.

Perdagangan budak secara internasional telah diakhiri dan dihapuskan semenjak tahun 1854, namun praktek perbudakan secara legal terus berlanjut di Brazil hingga

  1. Pada titik tersebut, perbudakan menghilang pada daerah-daerah kawasan pantai, dimana di sana paling tidak ada sejumlah kecil usaha inspeksi atau pemeriksaan dari pihak pemerintah, tetapi terdapat sebuah pertanyaan terbuka yang mengacu pada apakah praktek-praktek tersebut pernah hilang atau melenyap pada bagian kawasan yang lebih jauh dan terpencil lagi di negeri tersebut. Brazil mengalami satu ledakan ekonomi (economic boom) di tahun 1960-an dan 1970-an, dengan hasil-hasil yang dapat diprediksikan: pemerintahan militeristis bersikap ramah pada para investor asing dengan banyak janji-janji tentang biaya tenaga kerja yang murah dan penerapan hukum yang lemah mengenai kesehatan lingkungan serta perpajakan. Secara simultan berbarengan angka populasi meledak, kota-kota bertumbuhan dan terus diisi, dan proses mekanisasi menggiring lebih banyak lagi orang-orang dari daerah kawasan pinggiran. Kantung-kantung kemiskinan tumbuh semakin besar dan lebih dalam lagi. DJ : Saya teringat kembali pernah membaca bahwa seorang jenderal dari Brazil pernah mengatakan pada sekitar saat itu, “Perekonomian tumbuh dengan sangat baik. Orang-orang, masyarakat, sangatlah buruk.” Gambaran yang dapat saya saksikan pada peride tersebut adalah bahwa selama “ledakan ekonomi” yang terjadi di Brazil angka tingkat kekurangan gizi dari penduduk Brazil berkembang dari 27 juta hingga mencapai 72 juta, dan ada 13 juta penduduk diantaranya yang menderita gizi buruk yang amat sangat sehingga nampaknya mereka tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. KB : Banyak hal yang tidak berjalan dengan baik. Kemudian pihak militer mengadakan pinjaman dalam jumlah besar untuk mendanai proyek pengadaan nuklir dan pertambangan, lalu pada akhirnya segalanya meledak hancur dan gagal pada tahun 1980-an. Hiperinflasi menyapu bersih semua tabungan, dan tanggungan dana bantuan pinjaman dari luar negeri sejumlah $120 milyar membuat perekonomian menjadi pincang.

Hari ini, Brazil beserta tetangga dekatnya Paraguay memiliki disparitas atau perbedaan tingkat perekonomian yang paling tajam di planet ini. Lima puluh ribu penduduk Brazil terlepas dari angka 165 juta memiliki hampir segalanya, terutama sekali lahan pertanahan. Sementara jutaan yang lainnya sama sekali tidak memilki tanah. Dan di perkampungan-perkampungan yang miskin dan kotor (slums) terdapat jutaan lebih banyak lagi orang-orang yang tidak memiliki tanah dan menganggur. Program rencana penghematan yang diharapkan dapat mengontrol dan mengendalikan hiperinflasi membawa dampak yang sangat menghancurkan pada tingkat kesehatan serta pada sistem pendidikan.

Ada satu kepingan lagi yang perlu kita tambahkan pada hamparan puzzle tentang Brazil sebelum kita akan mendapati tentang bagaimana praktek perbudakan ini bekerja. Di tahun 1970-an pihak pemerintah beserta beberapa korporasi multinasional menggodok satu skema pengingkaran perpajakan dengan jumlah yang sangat besar sekali dimana pihak pemerintah memberikan ijin kepada pihak korporasi multinasional—termasuk di dalamnya beberapa korporasi yang memiliki nama yang tidak asing seperti Nestle dan Volkswagen—untuk melakukan pembelian beberapa blok yang terdiri atas ratusan ribu hektar lahan tanah yang dikuasai oleh negara dengan harga yang lucunya adalah sangat rendah. Pihak perusahaan-perusahaan kemudian menggusur kawasan hutan yang dimiliki dan didiami oleh banyak masyarakat adat pribumi dan mulai menanaminya dengan tanaman eucalyptus (pohon kayu putih)...

DJ :... yang mana secara normalnya telah dipertimbangkan sebagai satu spesies yang bersifat merusak dan berbahaya yang dari sudut pandang ekologi seharusnya diberantas dan dibasmi dimanapun di luar area pertumbuhannya yang asli...

KB :... dan pihak pemerintahan memberikan ijin pada mereka untuk mengambil biaya pendanaan pembukaan lahan perkebunan tersebut beserta penanamannya di luar tagihan pajak mereka. Pemerintah menjanjikan untuk membangun sebuah pabrik penggilingan kertas dengan kapasitas yang sangat besar yang akan digunakan untuk memberikan bahan makanan bagi pepohonan eucalyptus. Pabrik penggilingan tersebut tidak pernah bisa dibangun.

Brazil juga kaya akan besi. Sekarang, untuk dapat menciptakan besi baja dari bijih besi dibutuhkan arang kayu untuk bahan pembakaran. Arang kayu tersebut yang dipergunakan untuk membuat baja yang akan dipergunakan bagi industri-industri modern di Brazil, dari perakitan mobil-mobil hingga produk-produk furnitur, didatangkan dari hutan-hutan yang digunduli dan budak-budak yang dipekerjakan di sana. Sebagaimana yang dapat anda tebak, hutan-hutan di kawasan tersebut telah dihancurkan menjadi arang kayu, dan saat ini area daerah garis perbatasan telah bergerak berpindah seribuan mil jauhnya.

Seketika saat kawasan hutan-hutan tersebut digunduli di dekat kawasan pemukiman mereka, para pekerja pembuat arang kayu saling berkumpul di perkotaan, berharap untuk dapat menemukan pekerjaan lainnya. Mereka, bersama-sama dengan jutaan orang yang juga terlantar dari pekerjaan asalnya, tidak menemukan sesuatupun untuk dikerjakan.

Itulah saat dimana para budak-budak pekerja kontrak berdatangan. Para calo atau pengumpul datang di perkotaan mengumbar janji tentang pekerjaan bagus dengan upah atau gaji yang bagus, dan para pengangguran yang telah kehilangan pekerjaan mereka berjingkrak menyambut kesempatan yang ada tersebut. Calo-calo tenaga kerja ini menjanjikan adanya makanan yang baik dan terjamin dengan besaran upah yang cukup. Mereka menjanjikan bahwa sekali dalam satu bulan para pekerja akan diantarkan pulang ke rumah untuk berkunjung. Terkadang mereka bahkan memberikan begitu saja sejumlah uang sehingga para pekerja dapat membeli makanan untuk keluarga mereka. Para pekerja menandatangani surat-surat kontrak, lalu berangkat pergi. Di sepanjang perjalanan mereka berhenti di sebuah café, dan calo-calo tersebut mengatakan pada mereka untuk makan dalam jumlah besar dengan sepenuh hati sebab makanan tersebut akan dibayari. Ketika pada akhirnya mereka sampai di kamp, mereka segera menemukan bahwa pekerjaan yang diberikan dan kondisi kehidupan di sana adalah sangat buruk dan menyedihkan. Mereka melihat banyak penjaga yang dipersenjatai menjaga di sekeliling kamp. Calo-calo tersebut mengatakan kepada mereka, “Kamu berhutang padaku untuk biaya perjalanan, dan untuk makanan yang tadi kamu makan, dan untuk sejumlah uang yang saya berikan kepada keluargamu. Dan jangan coba-coba berpikir untuk kabur dari sini.”

Surat kontrak perjanjian kerja ini digunakan sebagai sebuah umpan bujukan untuk menarik

dan menempatkan calon pekerja menuju ke tempat dimana dia akan diperbudak.

DJ : Mereka ini tidak dapatkah menyelinap secara diam-diam dan melewati para penjaga?

KB : Ketika para pekerja tersebut menandatangani surat perjanjian kontrak kerja mereka, pihak calo mengambil juga kartu identitas atau kartu tanda pengenal penduduk yang dikeluarkan secara resmi dari negara dan berikut juga kartu “tenaga kerja (labor)” mereka. Yang pertama adalah merupakan suatu tanda bukti kependudukan dan penting untuk dapat digunakan ketika kemudian berhadapan dengan poilsi atau pihak pemerintahan. Yang berikutnya adalah diperlukan bagi setiap tenaga kerja legal. Ketika seorang majikan penyedia lapangan kerja membubuhkan tanda tangan di bagian belakang kartu ketenagakerjaan milik

seseorang pekerja, majikan tersebut menciptakan satu kontrak yang mengikat dan membawakan pekerjaan di bawah hukum perundang-undangan ketenagakerjaan dari pemerintah seperti misalnya aturan-aturan tentang upah minimum. Tanpa kontrak tersebut, para pekerja akan mengalami kesulitan untuk dapat memperoleh hak-hak mereka. Sehingga jika bahkan orang-orang ini memilliki suatu keberanian untuk menyelinap melewati para penjaga, mereka segan untuk dapat pergi tanpa membawa surat-surat identitas mereka. Di samping itu, mereka ini sekarang berada seribu mil atau lebih jauhnya dari rumah, tanpa memiliki uang sepeserpun, dan juga terjerat oleh tanggungan hutang. Dan jika mereka memang berniat untuk benar-benar kabur, masyarakat lokal akan mengkuatirkan mereka sebagai pendatang atau orang asing. Tanpa kartu atau surat-surat identitas pihak polisi akan dapat menangkap serta menahan mereka sebagai seorang gelandangan atau pengembara yang tidak jelas.

Maka mereka hidup di dalam kamp-kamp konsentrasi. Dan apa yang diinginkan oleh mereka yang menjalankan kamp-kamp tersebut adalah budak-budak yang telah menyerahkan pengharapannya, yang akan melakukan segala apapun yang diperintahkan kepada mereka. Dan tidak ada keragu-raguan untuk penggunaan kekerasan bagi mereka. Pada saat yang sama, mereka menginginkan agar budak-budak tawanan mereka dapat bekerja dengan keras, jadi mereka menyeimbangkan antara teror dengan janji-janji pembayaran upah, makanan yang lebih layak, serta perlakuan yang lebih wajar.

Kamp-kamp pengolahan arang kayu bakar adalah semacam neraka kecil bagi mereka sendiri jauh di dalam hutan. Setiap kamp diperlengkapi dengan sebuah baterai untuk tungku-tungku pembakaran untuk membakar arang, dari dua puluh hingga lebih dari seratus. Tungku-tungku tersebut tingginya sekitar tujuh kaki dan lebarnya sepuluh kaki dengan sebuah pintu yang tingginya empat kaki di satu sisinya. Para pekerja mengisi tungku-tungku tersebut penuh dengan kayu-kayu secara sangat hati-hati dan rapat sehingga nantinya akan dapat terbakar sempurna menjadi arang-arang kayu bakar yang baik, yang dibuat dengan cara membakar kayu-kayu tersebut dalam ruangan dengan tingkat oksigen yang minimum. Begitu kayu dapat dinyalakan dengan api, pintu ditutup dengan rapat, dan kemudian proses pembakaran selalu dimonitor, melalui jendela-jendela ventilasi yang dapat terbuka atau tertutup yang juga berguna untuk mengontrol tingkat oksigen yang masuk ke dalam ruangan tungku. Ketika arang sudah jadi dan siap para pekerja masuk ke dalam ruangan tungku yang masih menyala untuk membongkar keluar arang-arang kayu yang masih terus terbakar itu. Saya pernah hanya beberapa menit berdiri di dalam salah satu tungku pembakaran tersebut, dan kepala saya terasa melayang- layang. Saya pusing sekali. Batu-batu dan kayu yang masih membara menerobos membakar sol sepatu boot saya yang berat. Sekalipun begitu para pekerja di dalam sana bekerja dengan hampir telanjang dengan perlengkapan pakaian yang sangat minimal. Di sekujur lengan-lengan serta kaki-kaki mereka penuh terselimuti oleh goresan serta luka-luka bekas terbakar, dan banyak yang kebingungan ketika saya bercakap-cakap dengan mereka, nampak seolah-olah hampir seperti otak mereka sedang dipanggang. Secara konstan mereka disakiti dengan adanya banyak sekali asap pembakaran yang pedas, pengap dan berbau tajam. Jikalau mereka dapat bertahan hidup untuk waktu yang cukup lama, banyak di antara mereka dipastikan akan mengidap penyakit radang paru-paru yang sangat parah.

Budak-budak pekerja kontrak ini biasanya melakukan kontrol di suatu tempat lain dalam rentang beberapa bulan tertentu atau dua tahun. Dalam waktu tersebut seandainya para pekerja tersebut menjadi terlalu sakit yang disebabkan oleh terlalu banyaknya beban kerja yang harus ditanggungnya, atau dalam suatu kasus, kawasan perhutanan di daerah tersebut kemungkinan telah gundul dan habis, maka kamp-kamp tersebut akan dibongkar dan dipindahkan. Hal ini terutama juga hanya untuk dapat mendapatkan budak-budak pekerja yang baru yang lebih segar dan kuat.

DJ : Anda menuliskan bahwa sebagian dari alasan bahwa tidak ada lebih banyak pemberontakan yang dapat terjadi di sana adalah karena budak-budak ini bersifat sangat sedemikian jujur dan tidak banyak menuntut.

KB : Memang itu benar sekali. “Kami mempunyai sejumlah tanggungan hutang,” mereka bilang, “jadi kami akan membayar lunas hutang-hutang tersebut,” tetap merasa mantab meskipun pada kenyataannya dalam hal ini bahwa kejujuran sebenarnya adalah satu jalan lurus satu jurusan (yang tidak akan membawa anda ke manapun -ed).

Ketidakjujuran memangsa habis kejujuran. Paham serta aturan-aturan yang sangat mendasar tentang kepercayaan serta kejujuran yang dianut yang membimbing sebagian terbesar masyarakat Brazil yang miskin dalam perhubungannya dengan satu sama lainnya dalam lingkungan hidup mereka sehari-hari inilah kunci bagaimana sehingga para calo tenaga kerja bisa menjerat dan terus memperbudak mereka. Setiap orang dari para pekerja yang bisa saya temui tersebut memiliki satu pengertian atau pendirian yang kuat bahwa hutang-hutang yang mereka tanggung tersebut harus bisa dibayarkan lunas kembali, dan bahwa seseorang yang menolak atau tidak melakukan seperti sedemikian itu berarti dia adalah seseorang yang lebih rendah dari makhluk yang hina. Dan hal ini menjadi satu kepercayaan atau keyakinan yang sempurna sepenuhnya. Bayangkan anda hidup di desa-desa di pedalaman dimana anda akan dapat mengenali semua kerabat serta tetangga-tetangga anda di sana: reputasi atau nama baik anda adalah sesuatu yang sangat penting dan harus dapat anda jaga sepenuhnya. Jika anda mencoreng nama baik anda dengan memiliki reputasi bermasalah dengan ketidakjujuran, maka anda akan mendapatkan banyak permasalahan untuk dapat menjadi bagian seutuhnya dari komunitas lingkungan hidup anda di sana. Anda haruslah tetap menjaga janji-janji anda dan berarti juga anda harus dapat membayar tanggungan hutang anda.

Para pengerah tenaga kerja atau para pengumpul budak mengetahui dengan pasti tentang hal ini, dan manipulasi yang mereka mainkan atas sikap kejujuran yang dimilki oleh budak-budak adalah jauh lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan kekerasan. Dan tentu saja, sekali waktu para majikan menggunakan cara kekerasan, dan level permainan akan naik, sebab para budak akan segera menyadari bahwa mereka tidak akan pernah mampu untuk dapat membayar lunas tanggungan hutang mereka, dan pendirian mereka tentang harga diri tidak dapat lagi digunakan untuk mengatasi mereka. Pada titik tersebut penggunaan cara-cara kekerasan akan bertambah meningkat. Banyak sekali para pekerja yang terancam keselamatan jiwanya atau juga mengalami pukulan-pukulan fisik, dan banyak yang mengetahui bahwa banyak bagian dari mereka tersebut yang telah dilenyapkan.

DJ : Hingga saya selesai membaca buku anda, sebelumnya saya tidak mengetahui bahwa banyak degradasi atau kerusakan lingkungan di kawasan-kawasan Amazon ternyata...

KB :... berbasiskan juga pada praktek perbudakan.

Di sana itu merupakan suatu lingkungan yang amat liar. Kekerasan digunakan dengan sedemikian gampang dan bebasnya. Kekerasan biasa digunakan untuk memisahkan dan mencabut hak milik dari orang-orang yang tinggal dan hidup di atas tanah di sana, dan kemudian kekerasan dipakai untuk memperbudak orang-orang lainnya untuk terus merusak dan menghancurkan lingkungan hidup di sana. Praktek perbudakan melalui cara-cara kontrak kerja juga bekerja dengan cara yang amat mirip di Thailand, sebagai contoh, kecuali sebagai ganti kaum pria yang bekerja memproduksi arang-arang kayu, di sana terdapat wanita-wanita yang diperbudak ke dalam lembah prostitusi. Ceritanya bermula pada kondisi tingkat perekonomian secara makro di kedua negeri yang berbeda tadi. Bergabung di tengah konstelasi perekonomian dunia global menghasilkan keheranan bagi income atau pendapatan Thailand serta banyak hal-hal yang buruk dan mengerikan bagi masyarakatnya. Pertumbuhan perekonomian di Thailand dalam banyak hal-hal tertentu merupakan satu bencana besar, sebagaimana pihak pemerintahan telah membiarkan banyak korporasi merampas serta menjarah segala sumber daya manusia serta non-manusia yang pernah dimiliki negeri tersebut dan tanpa memaksa pihak korporasi-korporasi tersebut untuk memberikan ganti atau apapun kembali. Hutan-hutan di sana telah hilang dan musnah. Lingkungan perkotaan telah menjadi sedemikian parahnya. Tingkat polusi telah jauh meningkat. Kondisi kehidupan banyak orang yang tenaga kerjanya menciptakan ledakan kerusakan ini nampak amat suram dan murung. Seperti halnya yang terjadi di Brazil, keluarga-keluarga yang telah termiskinkan disuguhi dengan surat-surat kontrak kerja yang terkesan dan terdengar masuk akal: pekerjaan yang baik untuk upah yang bagus. Maka begitulah tercerabut jauh dari lingkungan rumah tinggalnya, dan mimpi burukpun dimulai. Sekali setelah perempuan-perempuan muda telah dimanfaatkan dan dihisap habis mereka akan segera dibuang. Dan meski jenis penyakitnya berbeda, budak-budak pekerja di kedua wilayah tadi biasanya menderita sakit parah ketika pada akhirnya mereka dapat memperoleh kembali kebebasan serta kemerdekaannya. Para pekerja seks di beberapa wilayah di Thailand secara menakjubkan memiliki rata-rata tingkat infeksi HIV yang tinggi.

DJ : Mari kita berbicara sedikit lebih jauh lagi mengenai perbudakan seksual ini yang terjadi di Asia Tenggara. Nampaknya di sana terjadi lebih banyak tekanan dibandingkan jenis-jenis perbudakan modern lainnya.

KB : Memang, meskipun harus saya katakan bahwa sex slavery (perbudakan seksual) terkadang mengalami perancuan dengan sex tourism (wisata seksual). Banyak orang berpikir bahwa kedua hal tersebut adalah sama saja, padahal secara umum keduanya adalah berbeda, tidak bisa disamakan. Wanita-wanita yang terlibat dalam sebagian besar dunia wisata seksual—dan saya katakan wanita-wanita (dewasa -ed), bukan anak-anak—memiliki sejumlah tertentu free will (kebebasan berkehendak). Mereka tidaklah secara perlu untuk diperbudak. Sebagian besar

wanita dan perempuan yang diperbudak yang menjadi pelacur di Asia Tenggara bukanlah digunakan oleh turis atau wisatawan; mereka diperas dan dimanfaatkan oleh banyak laki-laki dari lingkungan lokal setempat.

Kondisi-kondisi yang dialami oleh budak-budak pekerja seksual ini sangatlah mengerikan. Mereka mungkin saja telah dijual oleh orang tua mereka sendiri. Mereka mungkin telah hancur disebabkan oleh pemukulan terus-menerus serta pemerkosaan. Ruang-ruang dimana mereka melakukan pekerjaan mereka hanya berukuran lima kali tujuh kaki, yang hanya cukup untuk menyimpan sebuah tempat tidur. Mereka harus melayani sepuluh hingga delapan belas laki-laki setiap malamnya. Kekerasan—yang didapat dari para mucikari dan dari banyak konsumen pemakai—merupakan suatu kemungkinan yang benar-benar nyata dalam hidup keseharian mereka. Pengaduan atau keluhan-keluhan ketidakpuasan dari konsumen-konsumen mereka akan menghasilkan pemukulan-pemukulan dari para mucikari. Dengan maksud untuk dapat menipu atau mencurangi wanita-wanita serta gadis-gadis dengan lebih mudah, para mucikari mengendalikan bermacam teror secara random atau acak. Usaha melarikan diri hampir tidak dimungkinkan di sana. Budak-budak yang tertangkap basah sedang berusaha untuk melarikan diri akan mendapatkan pukulan-pukulan, kemudian kemungkinan akan dikurung di dalam sebuah ruangan kamar tertutup selama berhari-hari dengan tanpa mendapatkan makanan atau air, lalu akan ditempatkan kembali untuk dipaksa bekerja seperti sedia kala. Polisi di sana melayani sebagai anjing pemburu dan penangkap budak-budak, dan menjebak serta melakukan banyak pelecehan terhadap gadis-gadis yang lari dan tertangkap di stasiun sebelum mengembalikan mereka ke tempat-tempat pelacuran. Budak-budak ini seringkali sangat khawatir tentang HIV yang rentan akan mereka dapatkan. Masa kerja mereka mungkin sekitar dua hinggga lima tahun, yang mana setelah mereka akan dipandang sudah usang dan tidak laku, dan semenjak gadis-gadis tersebut begitu miskinnya—hanya mendapatkan penghasilan $800 sampai $4.000, dengan keuntungan harian sejumlah $50 sampai $90 yang harus diberikan kepada pemilik tempat pelacuran—jauh lebih efisien secara ekonomi untuk melemparkan dan membuang mereka jauh-jauh dan menemukan gadis-gadis lain yang lebih baru dan segar. Dan tak ada rumah atau tempat-tempat pelacuran yang menginginkan untuk merawat seorang gadis yang sakit atau sedang sekarat.

Sekali setelah kondisinya seperti ini, bahkan jika pun mereka tidak mendapatkan vonis mati dari penyakit AIDS, gadis-gadis ini—para perempuan muda—seringkali telah benar-benar hancur. Mereka telah melakukan segala apapun yang terpaksa diperlukan untuk dapat membiasakan diri pada satu bentuk kehidupan yang dipenuhi oleh kekerasan dan selalu dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan lima belas laki-laki setiap harinya. Gadis-gadis yang telah dibebaskan dan sempat dibawa ke dalam shelter atau rumah-rumah penampungan dan perlindungan seringkali nampak begitu kusut dan lesu, dan sangat agresif, penuh dengan kebencian, kejijikan, serta rasa penolakan terhadap diri sendiri, menderita depresi, sangat tertekan, sangat kebingungan, atau bahkan memilih untuk melakukan tindakan bunuh diri. Banyak di antara mereka menderita atau terserang penyakit kejiwaan dan menjalani hidupnya dengan penuh dihantui oleh halusinasi-halusinasi. Banyak yang mengidap suatu perasaan bahwa mereka tidak lagi pantas atau tak layak bagi segala sesuatu yang lainnya di dalam hidup mereka sekarang. Keadaan menjadi sangat susah.

DJ : Testimoni atau kesaksian yang diungkapkan oleh Dina Chan menggerakkan saya jauh lebih mendalam. Bisakah anda membicarakan tentang ini dan membagi beberapa kutipan kesaksian seperti yang pernah dia bicarakan?

KB : Kesaksian yang dia ungkapkan memang sangat luar biasa. Dia adalah salah seorang anggota dari Sex Workers Union of Cambodia, dan dia mula-mula memberikan pidato kesaksian tersebut, yang kemudian saya muat dalam jurnal New Slavery, pada First National Congress on Gender and Development di Kamboja.

“Saya mengharapkan anda untuk mengingat bahwa kami bukanlah 'problems (biang masalah),'” dia pernah mengatakan. “Kami bukanlah hewan atau binatang, kami bukan virus, kami bukanlah gumpalan sampah yang tidak berguna. Kami adalah daging, kulit, dan tulang, kami punya sebuah hati dan jantung, kami adalah seorang adik perempuan dari seseorang, seorang anak perempuan, seorang cucu perempuan. Kami adalah manusia, kami adalah para perempuan dan kami menginginkan untuk dapat diperlakukan dengan penuh rasa hormat dan pantas, dan kami menginginkan hak-hak yang sama seperti yang dapat kalian semua nikmati.”

Dia pernah terpikat oleh bujuk rayu dengan bekerja menjadi seorang pekerja seks dengan dalih atau alasan-alasan yang keliru—yang merupakan salah satu dari kontrak-kontrak ikatan kerja tersebut—dan kemudian ternyata dia disekap dan dikunci di dalam sebuah sel atau penjara yang ada pada sebuah rumah pemotongan hewan (babi) dan diperkosa secara beramai-ramai oleh segerombolan orang di sana. Di pagi hari dia bisa mendengar babi-babi itu berteriak-teriak kesakitan didorong dan dipaksa masuk ke dalam kandang penjara mereka. Dia mengatakan, “Saya tahu seperti apa rasanya kesakitan mereka tersebut: saya sama sekali tidaklah lebih baik dibandingkan babi-babi tersebut di mata banyak lelaki di sana; dan mereka bisa saja telah membunuh saya pada saat itu. Sesuatu di dalam diri saya telah mati, dan saya tidak akan pernah bisa sama lagi seperti sedia kala.”

Ketika tiba saatnya dia dicampakkan keluar dari lembah perbudakan, dia mulai memperkerjakan dirinya sendiri sebagai seorang pekerja seks. Dia mengatakan, “Banyak dari anda berpikir bahwa saya amatlah busuknya sebab saya memilih untuk tetap bekerja sebagai seorang pekerja seks komersial. Jawaban saya kepada mereka yang mempunyai pikiran keji tersebut adalah bahwa saya pikir masyarakat anda, masyarakat saya, tanah air dan ibu pertiwi saya Kamboja, adalah busuk sebab sama sekali tidak memberikan kesempatan serta banyak pilihan-pilihan lain bagi gadis-gadis seperti saya, dan pilihan yang mampu saya lihat dan saya raih pada saat itu adalah pilihan yang lebih baik untuk saya.”

“Saya merasa bahwa amatlah busuknya ketika negara saya mengijinkan banyak pria-pria dewasa untuk secara leluasa memperkosa perempuan-perempuan belia seperti saya dan saudara-saudara perempuan saya dan sama sekali dapat melenggang bebas tanpa secuilpun hukuman yang dapat diberikan kepada mereka. Saya merasa bahwa amatlah busuknya ketika masyarakat saya membiarkan banyak lelaki mencari dan memburu serta menuntut pelayanan-pelayanan dari wanita-wanita seperti saya. Saya pikir ini adalah suatu tindakan kriminal ketika pada kenyataannya kami telah diperbudak untuk menghasilkan uang dan kekayaan bagi kekuasaan. Saya yakin ini adalah suatu kejahatan bahwa keluarga saya begitu miskin dan terus menjadi lebih miskin lagi oleh sebab mereka

tidak dapat terus bertahan sebagai petani dengan hanya ada sedikit sekali sumber daya yang juga terus menyusut menjadi jauh lebih sedikit lagi yang disebabkan oleh orang-orang yang jauh lebih kuat dan berkuasa atas kami menyingkirkan mereka keluar dari lahan-lahan sumber penghidupan mereka.”

Dia mengakhiri dan menyimpulkan, “Saya tidak berhasrat untuk pergi ke tempat-tempat penampungan anda dan belajar keterampilan jahit-menjahit sehingga anda dapat mengirimkan saya untuk bekerja di dalam sebuah pabrik. Hal seperti ini sama sekali bukanlah apa yang saya inginkan. Jika saya mengatakan hal tersebut kepada anda, anda akan menyebut saya: dasar pelacur! Tetapi kata-kata tersebut amatlah mudahnya keluar dari mulut anda sebab anda terlalu percaya bahwa anda memiliki solusi penyelesaian yang mudah dan sederhana bagi segala permasalahan rumit yang bahkan anda sendiri pun tidak benar-benar dapat mengerti, dan anda tidak dapat mengerti atau memahami tersebut disebabkan oleh kenyataan bahwa anda tidak pernah dapat untuk benar-benar mendengarkan.”

DJ : Dengan adanya kondisi-kondisi yang penuh keterpaksaan, serba tidak leluasa serta penuh dengan keterbatasan yang keras berkaitan dengan sejarah perjalanan hidupnya, dia mampu mengambil sebuah pilihan yang masuk akal, tetapi bagaimana dengan hal masalah mengubah atau membongkar kondisi-kondisi ketidakleluasaan, keterpaksaan, serta batasan-batasan yang memang sangat mengerikan dan menghambat tersebut?

KB : Salah satu dari sekian banyak hal lainnya juga yang belum mendapatkan perhatian khusus dan mendalam dalam lingkup ruang kerja saya, pada bagian tertentu disebabkan—dan sebut saja saya ini seorang pengecut jika anda ingin—bahwa persoalan ini sedemikian kompleksnya dan juga sangat kontroversial, adalah area atau wilayah yang berkenaan dengan human trafficking (perlintasan dan perdagangan manusia) sebagai motif atau tujuan-tujuan perpraktekan prostitusi. Saya mengerjakan beberapa hal berkaitan dengan hal tersebut bersama mereka yang secara eksplisit pernah mengalami keterpaksaan untuk terjun masuk ke dalamnya, baik apakah mereka berada di Kamboja, seperti Dina Chan, atau di Amerika Serikat atau Inggris. Tetapi topik kasus tersebut memang seakan jurang yang tidak memiliki tepian, sangat kabur dan tak pernah jelas. Banyak grup atau kelompok-kelompok yang menuntut untuk mengakhiri dan menghapuskan prostitusi secara mutlak sepenuhnya, dan banyak juga yang lainnya yang mengatakan bahwa kita harus memperlakukan para pelacur atau pekerja seks yang bukan merupakan korban perbudakan (non-enslaved) sebagai orang-orang yang memang bekerja secara profesional dalam bidang seksual (sex workers), dan perlu memastikan bahwa mereka mendapatkan martabat serta kepantasan sebagaimana seorang pekerja, perlakuan-perlakuan sebagai seorang pekerja seperti yang didapatkan oleh kaum pekerja yang lainnya. Saya pernah mendengar mereka yang mendukung abolisi mengatakan, “Tak seorangpun yang memilih jalan ini. Anda bisa mencoba untuk berpura-pura bahwa orang-orang memang memilih untuk menjadi pelacur atau pekerja seks, namun untuk berlaku seperti itu anda harus mengabaikan serta mengesampingkan konteks-konteks ekonomi dan sosial, brutalisasi atau kenyataan-kenyataan kekerasan yang terjadi, pemahaman serta praktek-praktek seksisme, serta hirarki yang dilembagakan.” Saya pikir itu adalah satu poin yang sangat serius yang seringkali terabaikan dan sama sekali belum secara mendesak untuk dapat disentuh dan dikerjakan dengan benar-benar jernih.

DJ : Kemungkinan titik pijakan awal untuk dapat memulainya adalah dengan mempertimbangkan dan melaksanakan apa yang pernah dipinta serta dimohonkan oleh korban-korban langsung seperti Dina Chan, dan benar-benar memastikan untuk mampu mendengarkan suara mereka.

KB : Yap!!

DJ : Kembali pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas mengenai praktek perbudakan modern...

KB : Saya ingin kembali menegaskan bahwa ke-semua tiga jenis praktek perbudakan ini—chattel, debt, dan juga contract—memiliki suatu persamaan atau identik bahwa cara-cara kekerasan seringkali digunakan untuk dapat mengontrol serta mengendalikan budak-budak, dan para budak tersebut tidak mendapatkan hasil pembayaran apapun yang cukup berarti atas hasil kerja keras mereka, mereka tereksploitasi secara ekonomi, dan mereka tidak dapat lari atau melepaskan diri mereka sendiri dari kubangan perbudakan ini. Hanya saja terdapat perbedaan dalam hal mekanisme yang digunakan untuk memperbudak orang-orang, dan juga dasar pemikiran atau alasan-alasan yang berbeda bagi para pengerah dan pemilik budak-budak untuk memberikan rasionalisasi atau penjelasan tentang apa yang sedang mereka kerjakan. Dan seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, pada prakteknya kategori-kategori ini saling bercampur satu sama lain. Nasib buruk yang menimpa empat generasi turun-temurun yang menjadi korban praktek perbudakan yang awalnya disebabkan oleh jeratan sejumlah tanggungan hutang-piutang bisa saja diakhiri, dan merubah kondisinya menjadi satu bentuk perbudakan dalam bentuk chattel atau barang hidup dan bergerak. Dan beberapa orang lainnya akan diberikan kontrak-kontrak kerja, dan kemudian akan dikatakan kepada mereka bahwa mereka telah memiliki sejumlah hutang yang harus ditanggung.

Tak satupun dari tipe-tipe perbudakan ini yang dalam prakteknya hampir sama terang-terangan dan langsung seperti halnya praktek perbudakan yang terjadi semasa berlangsungnya perang—yang mana sedang terjadi sekarang ini di Burma—dimana seseorang mendatangi anda dengan sebuah senapan di tangannya dan lalu mengatakan pada anda, “Ya, kamu. Ikuti saya.” Dalam kasus atau keadaan seperti itu tidak ada tempat bagi perdebatan tentang ini di sana, tidak perlu banyak alasan-alasan atau rasionalisasi, yang ada hanyalah pemahaman tentang kepatuhan, atau mati. Sedangkan jenis atau tipe-tipe perbudakan yang lebih umum terjadi pada jaman sekarang ini lebih memiliki ikatan dengan alasan-alasan rasionalisasi, atau logika bujuk-rayu, serta banyak mekanisme yang lebih kompleks.

DJ : Terkadang jumlah bilangan uang yang dipermasalahkan dimana orang-orang terjerat dalam kubangan perbudakan, bahkan hingga sampai bergenerasi turun-temurun, nampaknya, dengan standar-standar nilai di Barat, cukup sepele atau remeh.

KB : Memang hal ini sangatlah mengejutkan, sangat menyedihkan, membuat hati kita remuk. Saya pernah berbincang dengan seorang petani di India yang keluarganya telah mengalami perbudakan selama lima belas tahun. Dia tidak ingat jumlah sebenarnya dari hutang pinjaman awalnya dulu, namun dia telah menyanggupi untuk dapat menanggung sejumlah nilai yang diturunkan kepadanya yang berkisar sekitar sembilan ratus rupee (setara $25 USD). Dengan berada pada segenap kondisi-kondisi di bawah suatu garansi dimana dia diperbudak di sana dia tidak akan pernah mampu untuk dapat membayarkan kembali semua tanggungan hutang tersebut. Ada

petani yang lainnya yang telah mengambil-alih sejumlah hutang-piutang yang pernah menjadi tanggungan ayahnya senilai seribu dua ratus rupee, atau mungkin sekitar $35, yang merupakan jumlah uang yang banyak sekali baginya. Ayah dan juga kakeknya dahulu telah mengikatkan diri pada seorang majikan yang sama. Tiga tahun sebelumnya dia telah mampu untuk mengatasi tagihan hutang tersebut hingga turun tinggal sejumlah dua ratus rupee, atau $6, namun keluarganya tidak dapat meneruskan usaha tersebut hingga pada musim panen berikutnya, dan semenjak saya bertemu dan berbincang dengannya jumlah total hutang tersebut telah kembali membengkak hingga sekitar seribu empat ratus rupee, atau $39. Dan segala sesuatunya menjadi semakin memburuk sehingga mengharuskannya untuk dapat menjadi lebih tabah dan kuat, semenjak putra laki-lakinya memilih untuk pergi melarikan diri tiga tahun sebelum itu, meninggalkan seorang istri dan seorang anak gadis yang juga harus disokong serta dapat ditanggung hidupnya oleh petani tersebut.

DJ : Tidakkah kemudian anda mempunyai keinginan untuk memberikan sejumlah uang tunai dari dompet anda untuk dapat membebaskan dia beserta keluarganya dari jeratan hutang-piutang ini?

KB : Itu adalah hal yang sangat menarik untuk dicoba. Dan kemungkinan itu adalah satu cara untuk pergi dari situ. Hanya saja bahwa pada prioritas pertama itu tidak akan benar-benar dapat mengeluarkan mereka dari sistem yang telah memperbudak mereka. Itu tidak akan memberikan mereka suatu skill atau keahlian-keahlian atau basis-basis ekonomi untuk dapat tetap mempertahankan kemerdekaannya.

Meski begitu, anda telah sampai pada satu titik yang sangat penting, dan sebuah titik yang penuh pengharapan, dalam hal bahwa mereka dapat dibebaskan dengan jaminan adanya sejumlah uang tertentu yang dapat dikumpulkan dengan mudah. Namun ada benarnya juga bahwa jika anda melihat kembali apa yang pernah terjadi di Amerika Serikat pada masa setelah terjadinya Perang Sipil, dimana pemerintah menelantarkan dua juta orang ke dalam suatu kemerdekaan tanpa adanya suatu

persiapan apapun sebelumnya, tanpa ada rehabilitasi atau pemulihan-pemulihan, tanpa ada satupun bentuk dukungan ekonomi atau keahlian-keahlian—maksud saya, mereka memang mempunyai keahlian-keahlian tertentu dan mereka tahu serta mengerti bagaimana cara mengerjakan sesuatu berdasarkan keahlian tersebut, namun mereka sama sekali tidak memiliki keahlian atau kemampuan untuk dapat dengan segera memasuki pasaran kerja—anda lihat bahwa hari ini kita masih saja harus turut membayar biaya-biaya kerusakan akibat emansipasi yang direngekkan tersebut dari tahun 1860-an

Poin yang ingin saya sampaikan adalah bahwa ketika kita berbicara tentang usaha menolong orang-orang untuk dapat merdeka, kita harus ingat bahwa kemerdekaan ini adalah satu tahapan pertama dan bukannya yang terakhir. Jika anda benar-benar sedang berusaha untuk dapat menolong orang-orang mendapatkan kemerdekaannya yang sejati anda tidak hanya membayarkan tagihan hutang-hutang mereka tetapi harus juga menolong mereka untuk dapat berdiri di atas kedua kaki mereka sendiri.

Adalah benar juga, tentu saja, bahwa tagihan-tagihan hutang-piutang tersebut bahkan tidaklah harus dibayarkan kembali, sebab hutang-piutang tersebut adalah ilegal dan tidak sah secara hukum di India dan Pakistan. Tidak ada alasan rasional yang legal atau sah yang mengharuskan bahwa orang-orang siapapun harus membayar tagihan hutang-piutang tersebut.

DJ : Anda mengatakan bahwasannya kemerdekaan hanyalah merupakan tahapan pertama. Hal tersebut mengingatkan saya pada sesuatu yang pernah anda tuliskan dalam Disposable People, “Mereka yang menderita dan tidak berdaya dalam perbudakan bentuk baru ini, seperti wanita dan perempuan pada rumah-rumah pelacuran di Thailand, terkadang melepaskan dan membuang jauh pengharapan serta keyakinan mereka akan kebebasan dan kemerdekaan, namun Baldev [salah satu dari sekian banyak pekerja-pekerja yang terjerat dalam perbudakan dimana sejumlah hutang-piutang tertentu adalah merupakan beban tanggungan yang harus dibawa secara bergantian turun-temurun lintas generasi dari satu generasi ke generasi berikutnya] telah terlahir ke dunia ini dengan tanpa adanya pengharapan.” Dari sini nampaknya penting bagi para pengerah budak, atau dalam suatu subkultur yang mengakomodir bentuk-bentuk kepemilikan perbudakan, untuk benar-benar memusnahkan serta melibas habis segala bentuk pengharapan atau keyakinan akan kemerdekaan dalam diri budak-budak mereka.

KB : Ini sangatlah penting sekali, sebab jika pemilik budak ini mampu menutup secara benar-benar total segala pintu pengharapan serta keyakinan akan suatu kemerdekaan dari para budak-budaknya — secara fisikal—maka mereka tidak perlu harus menggunakan jalan kekerasan. Kekerasan adalah lebih mahal daripada bentuk-bentuk usaha menghancurkan hasrat serta kehendak dari budak-budak.

DJ : Nampaknya sangat jelas sekali bahwa tanpa paling tidak kebutaan atau ketidakmautahuan namun lebih sering adalah adanya partisipasi atau keterlibatan aktif dari pihak polisi dan/atau pihak pemerintahan pada level atau tingkatan-tingkatan yang lain, banyak sekali praktek perbudakan tidak akan dapat dimungkinkan untuk terjadi.

KB : Itulah masalahnya. Kita memiliki bentuk-bentuk hukum tertulis atau perundang-undangan mengenai praktek perbudakan ini di setiap negara, dan banyak sebagian besar dari hukum-hukum ini adalah benar-benar bagus dalam konsepnya. Hukum-hukum tentang ini sangatlah bagus di India. Tetapi hukum-hukum tersebut tidak berdaya di hadapan ketiadaan upaya bagi usaha penegakan hukum, biasanya hal ini disebabkan bahwa pada level atau tingkatan lokal, polisi atau para petugas memang memiliki kepentingan pribadi, dan atau merupakan bagian partisipan yang terlibat secara aktif dalam keseluruhan proses praktek perbudakan ini. Mengharapkan dapat berakhirnya praktek korupsi yang dilakukan oleh pihak kepolisian pada negara dunia ke-tiga adalah merupakan permintaan atau tugas yang berlebihan. Namun ada beberapa tahapan langkah-langkah yang dapat diambil, berkenaan dengan permasalahan profesionalisme, menyeimbangkan tingkat upah atau gaji, serta mengenyahkan godaan-godaan yang besar atau dahsyat sekali akan uang serta kekayaan yang menggiurkan bagi petugas-petugas polisi yang digaji sangat rendah. Dan tentu saja juga kemampuan untuk dapat bersikap sangat keras mengenai upaya penegakan hukum serta aturan-aturan mengenai praktek korupsi yang dilakukan oleh pihak aparat kepolisian.

DJ : Nampak bagi saya bahwa permasalahan ini menjadi jauh lebih dalam dari sekedar mendapatkan petugas-petugas polisi yang jujur. Para pemikir dari jaman Yunani Kuno hingga sekarang secara eksplisit telah mengungkapkan bahwa civilization (peradaban) adalah berdasar pada perbudakan. Friedrich Engels, yang menolak perbudakan, mengatakan, sebagai contohnya, “Adalah perbudakan yang pertama kali memungkinkan adanya pembagian tenaga kerja di antara agrikultur dan industri dalam satu skala, dan bersamaan dengan hal ini, berkembangnya paham dari dunia purba, Helenisme. Tanpa perbudakan, tidak akan ada negara Yunani, tidak ada kesenian serta ilmu pengetahuan Yunani; tanpa perbudakan, tidak ada Kekaisaran Romawi. Tetapi tanpa Helenisme serta Kekaisaran Romawi sebagai pondasi dasarnya, juga tidak akan ada Eropa modern. Kita seharusnya tidak pernah melupakan sebagai suatu perkiraan atau persangkaan bahwa keseluruhan perekonomian, kehidupan politik serta pembangunan intelektual kita memiliki suatu pola dasar dimana praktek perbudakan merupakan suatu keperluan sebagaimana yang telah banyak dikenali secara universal.” Seorang pemikir pro-perbudakan dari jaman Antebellum (masa sebelum Perang Saudara, -ed) William Harper adalah benar pada titik: “Perbudakan, perhambaan, serta kepatuhan adalah satu kondisi bagi peradaban.”

KB : Itu merupakan suatu kebetulan. Perbudakan sebagaimana yang kita tahu telah dimulai ketika makhluk manusia memulai untuk tingggal menetap (settle) dan membuka lahan pertanian (farm) ketimbang pergi mengembara sebagai para pemburu dan peramu atau pemetik. Apa yang seringkali kita sebutkan sebagai awal sejarah manusia adalah merupakan juga bentuk-bentuk awal praktek perbudakan atau perhambaan.

DJ : Harper juga menulliskan bahwa tanpa perbudakan, “tidak akan dimungkinkan terjadinya akumulasi properti atau hak kepemilikan, tidak ada pemeliharaan untuk masa depan, tidak ada rasa atau sensasi kenyamanan atau kemewahan, yang merupakan karakteristik-karakteristik atau sifat yang khas serta esensi atas peradaban.” Jika kita di dalam dunia yang telah terindustriaisasikan menginginkan baja, gula, cokelat yang murah...

KB : Ya, ini bukan hanya tentang petugas kepolisian yang jujur, tetapi juga tentang hukum atau aturan yang jujur. Jika anda memiliki petugas kepolisian yang tidak mempan disogok atau disuap, namun anda tetap memiliki hukum atau aturan-aturan yang mengatakan bahwa tidak masalah bagi polisi untuk menghentikan serta membubarkan paksa aksi-aksi pemogokan, maka berarti polisi hanyalah berusaha mengikuti serta menerapkan aturan-aturan. Tetapi dengan membubarkan aksi-aksi pemogokan, mereka sesungguhnya telah mendukung serta membela kepentingan kelas-kelas kaum berpunya yang menerapkan praktek kepemilikan budak.

Kesemuanya ini dengan segera menjadi lebih sulit serta membingungkan, karena kita tidak hanya sedang berbicara mengenai polisi. Kita sedang membicarakan mengenai petugas-petugas pengawasan tenaga kerja, petugas-petugas pengawasan keselamatan kerja, petugas-petugas pengawasan makanan serta obat-obatan kesehatan. Jika anda melindungi serta menjaga keselamatan orang-orang di dalam area atau tempat kerja, jika anda memberikan pada mereka upah-upah yang layak dan adil, maka akan menjadi sangat sulit untuk dapat menghasilkan barang-barang produksi yang murah. Barang-barang yang murah dapat ada dan terjadi saat sekarang ini karena penderitaan serta ketidakberdayaan manusia-manusia pekerjanya telah mengambil-alih tempat bagi biaya produksi yang tinggi.

Salah satu dari bermacam-ragam cara untuk dapat menghasilkan akibat atau pengaruh yang kuat serta signifikan pada praktek perbudakan dunia adalah bagi para konsumen yang secara fenomenal atau luar biasa jauh lebih kaya dibandingkan dengan mereka yang ada pada belahan dunia yang lainnya—seperti para konsumen di Amerika dan Eropa Barat—untuk dapat berhenti sejenak ketika mereka akan membeli sesuatu barang dan menanyakan pada diri mereka sendiri tentang bagaimana terutama untuk item jenis barang tersebut sehingga bisa berharga sedemikian murah. Ketidakmahalan dari harga banyak sekali jenis barang-barang akan dihadapkan pada banyak alasan-alasan di balik itu. Saya tahu bahwa kita semua mendengar bahwa barang-barang tersebut bisa menjadi murah karena praktek agglomeration atau pengelompokan atau penumpukan barang-barang, serta adanya proses marketingatau pemasaran yang efektif dan semua hal itu...

DJ : Saya tidak mengerti.

KB : Ketika anda pergi ke Wal-Mart, dan melihat barang-barang yang berharga luar biasa murahnya yang dibuat atau telah diproduksi di Cina (made in China). Nah, salah satu alasan sehingga barang tersebut bisa berharga sedemikian murahnya adalah bahwa Wal-Mart telah melakukan pembelian dalam kuantitas atau partai besar-besaran dengan banyak sekali discount atau pemotongan-pemotongan harga yang bisa didapatkannya dari produsen. Dan Wal-Mart serta rantai-rantai pengecer partai besar yang lainnya telah bekerja melalui sistem distribusi mereka tersebut untuk

mengurangi biaya-biaya tambahan (overhead cost) di sepanjang rantai distribusi barang mereka. Okay, saya bisa percaya pada alasan tersebut. Ya, mereka bisa menjual barang dengan harga yang lebih murah. Tetapi saya menduga bahwa skala segala efisiensi serta perhitungan ekonomis tersebut tidaklah serta-merta mencatatkan perhitungan bagi segala kemurahan harga yang ada. Ada terdapat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan tentang apa sesungguhnya yang terjadi di China, sebagai contoh, dalam hal praktek perbudakan tenaga kerja di banyak pabrik-pabrik.

DJ : Apakah memang ada satu hubungan keterkaitan antara apa yang kita sebut sebagai perjanjian-perjanjian pasar bebas (free trade agreements) dengan praktek-praktek perbudakan?

KB : Berakhirnya Perang Dingin (Cold War) telah menampakkan satu bentuk pergeseran yang menarik dalam hal retorika kekuasaan negara-negara Barat (the Western superpowers). Mereka memberikan banyak komplain atau pertidaksetujuan mengenai bagaimana para pekerja di banyak negara tidak memiliki hak-hak ketenagakerjaan, dan bagaimana negara-negara tersebut tidak memperlakukan para pekerjanya dengan secara adil, wajar dan layak. Ketika Perang Dingin telah berakhir, pihak pemerintahan negara-negara barat segera berhenti mengatakan hal-hal tersebut, dan alih-alih kemudian mengatakan atau melemparkan isu bahwa pasaran-pasaran yang bebas (bea) dan terbuka adalah apa yang benar-benar penting di dunia ini. GATT beserta bentuk-bentuk persetujuan atau perjanjian kerjasama “pasar bebas (free-market)” lainnya adalah selalu berkisar tentang pembukaan pasaran di dunia. Tetapi tak satupun dari persetujuan atau perjanjian-perjanjian kerjasama tersebut berisi atau memuat hal ketentuan-ketentuan yang memberikan perlindungan pada adanya hak-hak (rights) serta kebutuhan-kebutuhan (needs) mendasar dari para pekerja, yang kita sebut klausul atau ketentuan-ketentuan sosial (social clauses). WTO serta GATT, berdasarkan pada GATT, tidak mewajibkan atau membutuhkan untuk memberikan pertimbangan mengenai sifat serta kondisi kehidupan para tenaga kerja. Ini merupakan masalah yang fundamental atau mendasar. Bahwa terdapat suatu klausul atau ketentuan tentang lingkungan hidup (environmental) di dalam GATT, namun klausul atau ketentuan mengenai permasalahan sosial berkaitan tentang ketenagakerjaan tidak pernah benar-benar dikerjakan atau dicantumkan. Ini artinya adalah bahwa kita telah berpendirian pada satu konteks dimana pasar bebas dapat begitu saja berdiri dan melangkahi kepentingan orang-orang.

Ketika anda memompa serta mengalirkan sejumlah uang ke dalam perekonomian negara dunia ke-tiga, para penguasa elit di negeri-negeri tersebut—yaitu orang-orang atau pihak yang melakukan kontrol atas uang yang mengalir masuk ke dalam negeri mereka, beserta segala bentuk investasinya—dapat mengoperasikannya sebagaimana kehendak mereka, karena mereka tidak perlu atau diharuskan untuk bertanggung-jawab kepada hukum-hukum pada tataran atau tingkatan lokal setempat, dan disebabkan oleh kenyataan bahwa tidak ada hukum internasional, jika mereka memang memilih dan menerapkan praktek-praktek perbudakan, hal itu akan diperbolehkan, juga, tidak akan ada yang melarang. Itu merupakan satu cara dimana mereka dapat berdiri di hadapan banyak pihak korporasi-korporasi lainnya atau di depan sektor-sektor perindustrian dari negeri-negeri lainnya. Hal tersebut tentu saja memang akan membuat mereka sangat kompetitif.

DJ : Apakah ada suatu persesuaian antara hutang-piutang (debt) internasional dengan perbudakan?

KB : Tentu saja. Saya telah mengerjakan satu proses kodefikasi atas setiap negeri di seluruh dunia berdasarkan pada seberapa besar praktek perbudakan yang dipunyai di dalam negeri mereka, berdasarkan pada arsip serta data-data yang saya punyai, kemudian menjalankan satu analisis statistikal di antara data tersebut dengan angka-angka resmi atas seberapa besaran hutang atau pinjaman yang dimiliki oleh setiap negeri tersebut sebagai satu proporsi atau perbandingan atas produk domestik bruto (GDP, Gross Domestic Bruto), dan menemukan suatu keterkaitan yang signifikan secara statistik antara hutang atau tanggungan pinjaman dengan praktek perbudakan yang ada, sebagaimana halnya juga antara hutang dengan trafficking atau perdagangan manusia. Separuh dari negeri-negeri tersebut dengan beban hutang atau pinjaman yang sangat besar dan berat memiliki bentuk praktek-praktek perbudakan sebagai suatu ciri atau karakteristik perekonomian mereka, dan berlawanan dengan hanya 12 persen dari mereka dengan sejumlah kecil beban hutang pinjaman internasional. Para penduduk atau warga negara dari hampir tiga- per-empat negeri-negeri dengan beban hutang yang sangat besar atas pinjaman internasional tersebut biasanya atau umumnya telah dikirimkan serta dijual ke dalam jurang praktek perbudakan di negeri-negeri lainnya. Hal ini menjadi kenyataan juga bagi kurang dari sepertiga negeri-negeri tersebut dengan beban hutang pinjaman internasional yang rendah.

DJ : Hal tersebut menyatakan satu cara atau solusi yang jelas dan nyata untuk dapat mengurangi praktek perbudakan.

KB : Menghapuskan beban hutang pinjaman internasional memang akan banyak menolong secara pastinya. Meskipun begitu, kita juga harus mengingat, bahwa satu korelasi antara dua hal—hutang pinjaman internasional dan praktek perbudakan—tidaklah mengimplikasikan satu hubungan sebab-akibat atau satu keterkaitan secara kausal. Tetapi secara pasti memang akan mengarah pada titik tersebut. Jika atau ketika perekonomian tidaklah dalam kondisi yang kacau dan porak-poranda, serta jika orang-orang tidaklah sedang dalam situasi jatuh termiskinkan, maka orang-orang ini akan dapat lebih kuat serta tidak mudah diserang. Jika anda dapat mengurangi angka kemiskinan, serta mengurangi situasi kekacauan tersebut, secara pasti anda akan dapat mengurangi jumlah praktek perbudakan yang sedang dan akan terjadi.

Dan tentu saja kita juga harus mengingat bahwa program-program klasik bernama “penyesuaian struktural (structural adjustment)” yang dijatuhkan serta dipaksakan oleh Bank Dunia (World Bank) serta IMF (International Monetary Fund) pada banyak negeri-negeri dengan beban hutang pinjaman yang besar telah banyak membinasakan program-program edukasional serta kesehatan di negeri-negeri tersebut. Nah, edukasi atau pendidikan kemungkinan besar adalah merupakan satu kekuatan utama atau alat pencegahan yang paling kuat untuk melawan atau mengatasi terjadinya praktek perbudakan. Jika satu pemerintahan menghancurkan program-program bagi pendidikan yang dimilikinya demi untuk membawa suatu bentuk kesejajaran dengan program-program yang dipaksakan oleh Bank Dunia atau IMF, satu dari banyak biaya yang harus ditanggung adalah bahwa akan ada lebih banyak dari populasi di negeri tersebut yang akan masuk terjerumus ke dalam jurang perbudakan ini.

DJ : Dari sini nampak bahwa akses atau ketersediaan atas lahan akan berarti banyak. Untuk dapat memperbudak seseorang lepaskan atau pisahkan dia dari lahan atau tanah garapannya tersebut. Maka untuk dapat membebaskan mereka kembalikan kemampuan akses mereka pada lahan-lahan tersebut.

KB : Sekali ketika orang-orang telah berada dan menetap di wilayah perkotaan, dan diperbudak untuk mengerjakan proses-proses tingkat rendahan—ketika anda telah memindahkan mereka melalui satu proses urbanisasi—anda telah melewatkan poin atau titik dimana akses atas tanah akan banyak menolong secara seketika. Secara pasti dengan seiring lamanya perjalanan, mereka dapat memperoleh kembali akses mereka terhadap kebutuhan pangan beserta kebutuhan-kebutuhan lain yang dapat mereka penuhi sendiri. Namun ada sejumlah angka yang sangat besar orang-orang yang telah terjebak di dalam lembah perbudakan yang telah diakibatkan oleh hutang-piutang di banyak tempat seperti India, Pakistan, serta Nepal, yang dengan putus asa benar-benar membutuhkan akses pada lahan atau tanah-tanah milik mereka sendiri. Hal yang menarik di sini adalah bahwa hukum atau aturan-aturan di negeri-negeri tersebut pada bagian terbesarnya memang secara persisnya menyediakan jaminan atas hal tersebut, namun hal tersebut tidaklah benar-benar pernah dapat terjadi.

Para pemikir dari jaman Yunani Kuno hingga sekarang secara eksplisit telah

mengungkapkan bahwa civilization (peradaban) adalah berdasar pada

perbudakan.

DJ : Kenapa tidak?

KB : Adanya jaksa atau hakim-hakim yang korup, walikota-walikota yang korup, serta administrator atau pengelola birokrasi yang korup, sebagai awalnya. Pada level atau tingkatan lokal pedesaan, para penguasa atau tuan tanah-tuan tanah—yaitu orang-orang yang memiliki kontrol atas tanah—biasanya adalah juga merupakan pegawai atau pejabat-pejabat pemerintahan di wilayah lokal tersebut. Dan ditambah pihak kepolisian jelas bekerja untuk kepentingan orang-orang ini. Maka memang akan sangatlah sulit untuk dapat memecahkan lingkaran setan ini.

Sesuatu yang besar pernah terjadi di Nepal pada musim panas terakhir kemarin, dan tak seorangpun di belahan bumi bagian Barat yang nampaknya pernah mengetahui banyak hal tentang ini. Satu kasus hukum yang sangat signifikan dan penting melawan praktek perbudakan yang disebabkan oleh jeratan hutang-piutang telah dilangsungkan di Nepal pada 17 Juli kemarin: hasilnya adalah orang-orang yang telah terjerat sebagai budak akibat hutang-piutang ini dapat dibebaskan, menghapuskan seluruh beban tanggungan hutang mereka, memberikan garansi atau jaminan terhadap mereka untuk mendapatkan akses terhadap tanah mereka, dan seterusnya. Kami sangat terkejut dan gembira sekali atas apa yang kami rasakan sebagai sebuah kemenangan besar. Tetapi hanya dalam sebulan kemudian para tuan tanah di sana memulai tindakan-tindakan pembalasan kepada para hamba pekerja-pekerja untuk menggusur serta mengusir mereka keluar dari tanah garapan mereka. Mereka menginginkan orang-orang ini secara mendasar sebagai budak-budak untuk selama generasi ke generasi, dan sekarang mereka mengatakan, “Baiklah, jika memang pemerintah memaksa kami untuk memberikan sedikit bagian dari tanah kami kepada orang-orang ini, kami akan terus membersihkan dan mengenyahkan mereka semua.” Maka mereka menyerbu tanah-tanah garapan tersebut dengan membawa serta senjata-senjata dan menggusur serta mengusir mereka semua keluar dari sana. Saat ini di Nepal anda mendapati sesuatu seperti empat puluh sampai lima puluh ribu para pengungsi dalam negeri yang merupakan budak-budak hingga saat sekarang ini. Sekarang mereka hanya dapat mengembara menyusuri sepanjang jalanan. Skala atas perlakuan pembalasan dendam ini benar-benar mengejutkan serta menempatkan pihak pemerintahan dalam posisi ketidaksiapan. Mereka tidaklah siap untuk dapat masuk ke sana dan menjalankan hak kemanusiaan dan hak-hak politik bagi orang-orang pengungsi ini sekarang. Segala hal telah menjadi sedemikian jungkir-balik (tlpsy-turvy). Hampir nampak seperti awal permulaan Ku Klux Klan di tahun 1866.

DJ : Saya baru saja akan mengatakan hal itu. Dan satu-satunya hal yang mampu menghentikan Klan tersebut adalah ketika pihak federal (pemerintahan pusat) mengirimkan pasukan tentara di tahun 1871. Menjadi nampak jelas bagi saya bahwa bentuk-bentuk kekerasan tersebut dapat terjadi tiba-tiba ketika anda mendapati satu kelas yang mengklaim memiliki hak-hak istimewa dimana bagian dari hak-hak tersebut secara spesifik sedang diancam atau diserang.

KB : Tentu saja. Saya beranggapan bahwa orang-orang pemerintahan di Nepal akan telah memahami bahwa orang-orang tidak akan hanya berguling dan mengatakan, “Okay, saya dulu pernah berkuasa di sini, dan sekarang saya akan menyerahkan semuanya ini.” Ini tidaklah terjadi seperti itu.

DJ : Anda telah menuliskan, “Jika kita tidak dapat memilih untuk menghentikan praktek perbudakan, lantas bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita telah benar-benar bebas dan merdeka?” Hal itu mengingatkan saya pada sebaris kalimat yang anda kutipkan dari Frederick Douglass: “Jika masih ada terdapat budak-budak, bagaimana mungkin kamu bisa berbangga atas kebebasan serta kemerdekaanmu?” Dapatkah anda memberikan komentar atau pendapat atas kedua hal tersebut?

KB : Saya merasa positif atas tantangan yang ditimbulkan oleh kedua statemen tersebut, terutama sekali bagi para warga Amerika. Baru-baru ini saya menghabiskan delapan bulan di Amerika, hingga akhir Agustus, dan satu hal yang telah menampar saya adalah bahwa betapa positifnya rakyat Amerika memberikan respon pada tantangan atas praktek perbudakan, ketika mereka telah mengetahui mengenai hal ini. Tetapi hal tersebut adalah merupakan permasalahan yang krusial dan penting. Dengan segera ketika orang-orang telah menjadi awas dan peduli, mereka berkata, “Kita harus melakukan sesuatu mengenai hal ini. Kita tidak dapat menganggap diri kita telah bebas merdeka hingga kita mampu memecahkan permasalahan ini.” Sehingga pada beberapa cara, saya pikir satu dari kunci-kunci atas tugas pekerjaan saya adalah untuk dapat meningkatkan kesadaran serta kepedulian dari publik pada poin atau titik dimana orang-orang mengatakan, “Kita begitu banyaknya, dan kita akan melakukan sesuatu mengenai hal ini.” Setiap hari yang telah terlewati, lebih banyak orang menjadi sadar dan awas, dan ada lebih banyak orang lagi yang mengontak atau menghubungi saya atau yang lainnya untuk mengatakan, “Saya ingin menyambut tantangan dari Frederick Douglass tersebut. Apa yang harus kami lakukan dalam hal ini?” Pada saat ini, sejujurnya, kita tidaklah memiliki banyak jawaban untuk dapat diberikan pada orang-orang, sebab memang hanya ada sedikit sekali jawaban-jawaban yang benar-benar siap dan jelas.

Telah ada, bagaimanapun, banyak sekali jawaban-jawaban kecil dan sederhana. Salah satunya berkaitan dengan usaha-usaha untuk mencoba dapat menemukan produk-produk apa saja yang memiliki suatu kandungan praktek perbudakan di dalam atau di baliknya, dan kemudian menolak untuk melakukan pembelian atas produk-produk tersebut. Kita telah memulai untuk mengerjakan pelacakan, pengusutan atau penyelidikan atas produk-produk untuk membantu pihak-pihak industri serta para konsumen untuk menjauh dan tidak melibatkan diri pada bisnis perbudakan. Eropa, sebagai contohnya, telah memiliki sesuatu yang disebut sebagai Rugmark Campaign (Kampanye Label Permadani). Bekerja dari satu kantor kecil dengan hanya sedikit dana, sebuah grup atau kelompok aktivis

mengusulkan atau menganjurkan bahwa orang-orang sebaiknya mencari satu etiket atau label khusus yang terdapat pada permadani-permadani handmade (buatan tangan manual) yang akan memberikan jaminan bahwa permadani-permadani tersebut tidaklah dibuat atau diproduksi oleh atau dengan menggunakan tenaga budak-budak. Untuk bisa mendapatkan Rugmark (label khusus pada permadani) tersebut, pihak-pihak produsen harus memiliki satu persetujuan untuk tidak mengeksploitasi anak-anak, untuk dapat bekerjasama dengan para pengamat atau pemantau independen, serta untuk menghibahkan sebanyak satu persen dari keseluruhan hasil penjualan mereka bagi organisasi atau lembaga-lembaga yang bergerak dan bekerja untuk kesejahteraan anak-anak. Hari ini, Jerman, AS, dan pihak pemerintahan Kanada memberikan pengakuan pada penggunaan label Rugmark, dan satu perusahaan mail-orderterbesar di dunia, Otto Versand Group, sebagaimana banyak retaileratau pengecer-pengecer besar di AS, Jerman, dan Belanda, sekarang ini hanya mau melakukan impor atas karpet-karpet atau permadani yang telah memiliki label Rugmark tersebut. Produk karpet-karpet tersebut memiliki tiga puluh persen market-share di wilayah Eropa. Dana-dana yang terkumpul dari karpet-karpet dengan label Rugmark ini telah digunakan untuk dapat membangun dua sekolah serta menempatkan pegawai-pegawai untuk mengelolanya di India. Kami ingin memberikan sesuatu seperti label-label Rugmark ini untuk semua hal lainnya, sehingga orang-orang tidak akan terjerumus membeli produk-produk yang mengandung praktek-praktek perbudakan di dalamnya.

Satu jawaban kecil dan sederhana lainnya adalah agar orang-orang tetap menjaga kesadaran serta kepedulian atas praktek perbudakan di hadapan para legislator atau pembuat undang-undang di wilayah mereka. Dua minggu yang lalu saya mengatakan pada orang-orang untuk menyampaikan pada wakil-wakil mereka di kongres (parlemen) untuk memberikan suara (vote) atau memilih opsi 'yes' pada hukum atau undang-undang tentang trafficking yang baru. Dan hukum atau undang-undang tersebut kemudian dapat diputuskan atau disahkan, yang mana adalah merupakan suatu kabar yang sangat bagus.

DJ : Hukum atau aturan-aturan yang baik dan bagus telah banyak diputuskan atau ditetapkan, satu di Nepal, dan juga di sini. Jadi hal-hal yang bagus sedang terjadi saat ini.

KB : Kita sedang berada pada awal sebuah pergerakan. Saya dapat merasakan sebuah gelombang sedang dilangsungkan. Saya sangat senang untuk mengatakan—dan saya menggarisbawahi hal ini terutama sekali mengenai warga negara Amerika—bahwa ketika orang-orang memahami bahwa praktek perbudakan yang sebenarnya masih ada dan eksis saat ini, hasrat mereka untuk mengakhiri ini tidaklah kemudian akan lewat dan berakhir sebagai satu khayalan atau angan-angan yang yang terlalu tinggi, dimana mereka memberikan pendapat pada permasalahan ini, dan kemudian minggu depan mereka akan berpaling dan mengalihkan perhatian pada hal lainnya. Mereka mengatakan, “Hal ini benar-benar merupakan suatu kesalahan, dan kita tidak boleh melupakan hal ini hingga kita mampu untuk dapat melihat banyak perkembangan kemajuan.”

Saya merasa bahwa amatlah busuknya ketika masyarakat saya membiarkan banyak lelaki

mencari dan memburu serta menuntut pelayanan-pelayanan dari wanita-wanita seperti

saya. Saya pikir ini adalah suatu tindakan kriminal ketika pada kenyataannya kami telah

diperbudak untuk menghasilkan uang dan kekayaan bagi kekuasaan. Saya yakin ini adalah

suatu kejahatan bahwa keluarga saya begitu miskin dan terus menjadi lebih miskin lagi oleh

sebab mereka tidak dapat terus bertahan sebagai petani dengan hanya ada sedikit sekali

sumber daya yang juga terus menyusut menjadi jauh lebih sedikit lagi yang disebabkan oleh

orang-orang yang jauh lebih kuat dan berkuasa atas kami menyingkirkan mereka keluar dari

lahan-lahan sumber penghidupan mereka. –Dina Chan, Sex Workers Union of Cambodia