Baca PDF (OCR): Hikajat Tanah Hindia

131 halaman · 131 halaman diproses dengan OCR· 169825 ms

Daftar isi
  1. ENAMBELAS TJERITERA
  2. HIKAJAT TANAH HINDIA
  3. G. J. F. BIEGMAN.
  4. INDIE
  5. NED:
  6. 0003 0922
  7. 053 208 609
  8. HIKAJAT TANAH HINDIA
  9. G. J. F. BIEGMAN.
  10. THERAANOSCH MOTE
  11. EA JA
  12. HI T
  13. POELAU° HINDIA.
  14. Djikalau orang manoesia malang oentoengnja, tadapat tiada
  15. hatinja, ialah jang dikasehi Brahma.
  16. lain, pada sangka orang, Boeddha jaitoe dewa Wishnoe,
  17. Siwa, saparonja tjandi Boeddha; maka tjandi Boeddha jang
  18. jang elok sakali, jaani: tjandi Penataran dekat Blitar, tjandi
  19. itoe raksasa serta biasanja memakan orang dagang, jang
  20. Maka nama kapala kampoeng orang itoe sakarang djoega
  21. 13 Radja Pedir, jang teroetama sakali dalam radjaa Islam
  22. negeri jaug saberang.
  23. mengakoe dirinja soeami Njahi Lårå Kidoel (1), kemoedian
  24. ngoewasai pantai dan laoet sabelah selatan poelau Djawa.
  25. moeat kadalam kapal, laloe dikirim kapada bandar² jang
  26. Pada achirnja saorang nachoda, Vasco de Gama namanja,
  27. Bermoela, maka baroe negeri Malaka di tangan orang
  28. FASAL V.
  29. soengai diempang orang dengan sabatang betoeng.
  30. Maka dalam saloeroeh kota Banten hanja tiga loeroeng
  31. Akan roemah orang jang kabanjakan boeroek roepanja,
  32. intan dan emas dari poelau Beroenai; soetera dan piring
  33. Adapoen persarikatan itoe lama kalamaan amat besar koeasa-
  34. oleh Kompani, 11 boeah kapal dibawah perentah Admiraal
  35. 37 lagi Soeltan Djohor diberinja alat sendjata dan obat bedil
  36. dalam beberapa negeri dibangoenkannja lodji dan benteng,
  37. sendiri; karena di tanah Hindia tiada saorang kapala, jang
  38. nasihat kapada Toean Besar.
  39. Belanda Edele Heer ertinja Toean bangsawan.
  40. 51 kabawah Sjarif (penghoeloe agama) di Mekah, sebab Soe-
  41. jang menggantikan karadjaannja jaitoe poeteranja jang boeng-
  42. Katiga:
  43. itoe sedjak ketjilnja radja itoe berboeat sasoeka hatinja serta
  44. nja, sebab goendik itoe tiada dipersembahkannja kapada
  45. Karta-soerå-adi-ning-Rat, disabelah negeri Soerakarta jang
  46. ka Kartåsoerå akan mendjaga bingkisan Kompani bagi
  47. jang soelong, Amangkoe-Rat atau Soenan Praboe namanja,
  48. oleh saudaranja, apa lagi poetera Soenan Praboe poen me-
  49. nantiasa berselisihan sadja, saorang memfitnakan saorang,
  50. Kaempat: Soesoehoenan tiada membajar belandja perang
  51. Adapoen tanah Soekåwati (bahagian sabelah timoer karesi-
  52. sangat, sahingga Tji-Liwong melimpah seraja meroesakkan
  53. HIKAJAT PEMERENTAHAN ORANG INGGERIS.
  54. dengan betoel² saperti sakarang; djadi padjeg itoe tiada djoega
  55. lahkan poelau Djawa, maka tiba² disoeroehnja raajatnja
  56. Maka Toean Raffles menaroeh dendam kapada orang
  57. Katiga:
  58. Gouverneur di Padang, Toean itoelah jang menjoeroeh orang
  59. Hikajat tanah Hindia,
  60. HIKAJAT TANAH HINDIA DARI TAHOEN 1815
  61. (2) Di tanah Djogja dan Sålå tiap manteri beroleh sabidang tanah, maka
  62. Maka tatkala balatantara Belanda ditambah 3000 orang soldadoe. maka Generaal i)e Kock mengepoeng tanah tempat
  63. gårå soesoet, sahingga orang jang doerhaka itoe dikepoeng
  64. Satelah soedah perang itoe, maka perhinggaan tanah Djogja
  65. tetapi Soeltan dengan hoeloebalangnja dan raajat soedah lari.
  66. Adapoen pada sangka Toean Van Swieten tanah Atjeh lama
  67. dengan sabenarnja tanah Atjeh beloem habis taaloek, maka
  68. api. Akan kapala² Atjeh ada jang mendjoendjoeng titah
  69. Adapoen pekerdjaan sawah ladang diperhatikan djoega
  70. PADA MENJATAKAN BEBERAPA PERKARA
  71. Adapoen Hikajat Hindia terbahagi lima, jaani:
  72. dari permoelaan sampai kiraa awal tarich Masehi.
  73. dari awal tarich Masehi sampai kira² tahoen 1500.
  74. tahoen 1354. Soeltan Malikoe'saleh memerentah di Samoedera.
  75. dari tahpen 1619 sampai tahoen 1678.
  76. 1629. Soeltan Ageng mengepoeng Batawi. G.
  77. tahoen1667. Admiraal Speelman menaaloekkan Mang kasar. Perdamaian di Boengaja.
  78. 1674. Pangeran Troenå Djajå doerhaka kapada
  79. dari tahoen 1678 sampai tahoen 1723.
  80. 1680. Troena Djåjå dan Soenan Giri diboenoeh oleh Soesoehoenan. Karadjaan Menang-
  81. » 1691—t. 1704. G. G. Van Outhoorn memerentah di tanah
  82. 1718—t. 1725. G. G. Zwaardekroon memerentahkan
  83. 1825 —t. 1830. Gouvernenfent berperang dengan Pange-
  84. tah.1830 —t. 1833. G. G. Van den Bosch memerentahkan
  85. DAFTAR
  86. 29 Van Riemsdijk ....... dari tah. 1775 sampai tah. 1777
  87. Fasal
  88. I Pada menjatakan hal ahwal poelau² Hindia pada
  89. XII Hikajat Radja2 Mataram sampai tahoen 1757...

i 111

ENAMBELAS TJERITERA

PADA MENJATAKAN

HIKAJAT TANAH HINDIA

TERKARANG OLEH

G. J. F. BIEGMAN.

EN H

INDIE

NED:

Tertjitak di bandar Batawi, pada pertjitakan Goebernemen

  1. SC SC

0003 0922

053 208 609

L.
iii.ENAMBELAS TJERITERA

PADA MENJATAKAN

HIKAJAT TANAH HINDIA

TERKARANG OLEH

G. J. F. BIEGMAN.

-Dnve

Tertjitak di bandar Batawi, pada pertjitakan Goebernemen

1894.

VOOR TAAL-,LAND-& VBLKENKUNUE

THERAANOSCH MOTE

EA JA

HI T

HIKAJAT

POELAU° HINDIA.

FASAL I. PADA MENJATAKAN HAL AHWAL POELAU2 HINDIA PADA ZAMAN POERBAKALA. Adapoen poelau² Hindia ini didiami soeatoe bangsa orang, jang bernama bangsa Melajoe, hanja tanah Papoea serta beberapa poelau jang sakelilingnja didoedoeki bangsa Papoea. Lain dari pada poelau jang terseboet itoe tanah Malaka dan poelau² jang ketjil di benoea Australia dan poelau Madagaskar poen didiami djoega oleh bangsa Melajoe. Maka jang menjatakan, bahoea segala orang itoe sama bangsanja, ialah warna ramboetnja dan roepa moekanja dan beberapa sifat lagi jang sama; tambahan poela bahasaa orang itoepoen tentoelah sama asalnja, boleh dikatakan saroempoen. Soeng- goehpoen orang itoe sabangsa, tetapi adatnja dan kapan- daiannja berlainan. Adapoen hikajat tanah Hivdia jaitoe hikajat bangsa², jang terlebih pandai dan jang terlebih haloes adatnja, sebab ia telah bertjampoer dengan bangsa jang lebih pandai. Maka orang asing jang telah mengobahkan dan membaiki adat lembaga orang Hindia, jaitoe orang Hindoe dan orang Arab dan orang Portoegis dan orang Belanda. Akan tetapi boekan segala bangsa Hindia berdjinak-djinakan dengan orang asing itoe; ada jang beratoes-ratoes tahoen dibawah hoekoem orang itoe, oepamanja orang Djawa; ada jang djarang bertemoe dengan marika-itoe, ada poela jang tiada berdjoempa dengan orang asing itoe. Maka diantara orang

4 jang dibawah hoekoem orang Hindoe ada, jang teroetama mengobahkan adat nenek mojangnja, jaitoe jang dekat kadoe- doekan radja Hindoe; tetapi jang djaoeh dari iboe negeri hampir tiada berobah kalakoeannja, sahingga pada abad jang katoedjoehbelas ada lagi di poelau Djawa soeatoe bangsa orang, jang salaloe berpindah² dengan tiada tetap tempat kadiamannja; bangsa itoe bernama bangsa Kalang. Hatta, maka peri hal orang sini sabeloemnja orang Hindoe datang tiadakita katahoei: agaknja sama halnja dengan bangsa Hindia, jang sakarang lagi bodoh, tetapi marika-itoe soedah pandai djoega menempa besi dan bertanam padi di ladang, karena kata besi dan padi jaitoe kata asali, boekan kata Hindoe; kata itoe lazim pada saloeroeh tanah Hindia; akan tetapi seboetannja tiada sama dalam segala negeri. Oepamanja »besi" dinamai oleh orang Djawa wesi," oleh orang Batak »besi," oleh orang Harafoera »wasai." Adapoen agama orang pada zaman poerbakala itoe saperti jang terseboet dibawah ini: Pada sangka orang itoe segala barang bernjawa, baik binatang, baik toemboeh²an, baik batoe dan lain²; ada jang sakti, jaitoe jang amat besar koeasanja, oepamanja pohon kajoe jang besar dan goenoeng dan sendjata. Apabila orang mati, maka kahidoepannja di achirat saperti di doenia ini, sebab itoe orang jang kamatian biasanja meletakkan makanan dan perkakas dan sendjata dalam koeboeran, dan lagi diboenoehnja tawanan dan hamba, soepaja njawa orang jang diboenoeh itoe mendjadi hamba njawa orang jang mati itoe. Demikianlah pikiran orang pada zaman dahoeloe itoe. Soeng- goehpoen kabanjakan orang Hindia sakarang soedah lama masoek Islam, tetapi beberapa adatnja asalnja dari pada agama jang lama itoe. Bermoela; maka tiada kita katahoei, apabila orang Hindoe mendapati tanah Hindia, tambahan lagi tiada djoega tentoe poelau jang mana moela² disinggahinja; tetapi sapandjang chabar orang pada abad jang kadoea poelau Djawa soedah didoedoeki oleh Hindoe, serta dinamainja Jaba-dioe.

5 Jaba ertinja endjelai, dioe ertinja tanah; djadi Jaba-dioe ertinja tanah endjelai. Maka orang Hindoe saolah-olah goeroe kapada orang Hindia, diadjarkannja roepa² ilmoe; jang teroetama sakali, jaani: menoelis, main wajang dan gamelan, bersawah, memboeat djalan, memahat batoe hidoep, memboeat batoe tembok. Oleh karena itoe adat jang kasar dihaloeskan oleh orang Hindoe; akan tetapi orang Hindoe tiada mengadjar orang Hindia dengan sengadja, melainkan orang negeri me- niroe pekerdjaan dan adat orang asing itoe. Adapoen orang Hindoe bertjampoer dengan orang besar² di tanah Hindia, maka orang banjak dihinakannja amat sangat saperti hamba sahaja, di Hindoestan orang terbahagi atas empat pangkat, jaani: Pertama: Orang Brahmana; dalam orang jang berpangkat demikian dipilih orang, jang akan mendjadi pandita. Kadoea: Orang Ksatrija; jaitoe radja² dan hoeloebalang. Katiga: Orang Wesja; jaitoe saudagar, pemoekat, orang ladang dan toekang2. Kaempat: Orang Soedra; jaitoe katoeroenan orang jang taaloek. Maka atoeran ini dipindahkan oleh orang Hindoe ka tanah Hindia; sebab itoe orang jang kabanjakan dimasoekkannja pangkat Soedra. Pada persangkaan orang Brahmana orang Soedra boekan manoesia; oleh karena itoe memboenoeh orang itoe boekan dosa jang besar. Sjahdan, maka agama orang Hindoe ada doea matjam jang teroetama sakali, agama Brahma dan agama Boeddha namanja. Maka menoeroet agama jang pertama itoe dewa Brahma jaitoe pokok saloeroeh isi alam, maka Brahma disertai doea dewa jang besar², Wishnoe dan Siwa namanja. Adapoen Wishnoe memeliharakan isi alam; ialah jang mengoeasai hoedjan dan ajar dan oedara. Maka Siwa membinasakan segala sasoeatoe, jang diadakan oleh Brahma; oleh sebab itoe Siwa disamakan orang dengan api dan waktoe: boekan-

6 kah api membinasakan barang sasoeatoe jang ada, boekankah tiap² barang lama kalamaan lapoek atau roesak?(1) Soenggoehpoen Brahma dewa jang teroetama sakali, tetapi banjak orang Hindoe menjembah Wishnoe dengan tiada me- ngendahkan Brahma dan Siwa; ada poela jang menghormati Siwa lebih dari pada dewa jang lain itoe. Adapoen berhala Siwa di poelau Djawa saparonja moekanja haibat, saparonja saperti orang bertapa, maka dewa jang bertapa itoe dinamai orang Djawa Batärå Goeroe. Maka isteri Siwa bernama Doerga, tetapi diseboet oleh orang Djawa Lärå Djongrang, maka dewa itoe memperanakkan dewa Ganesa, berhalanja saorang orang jang gemoek badannja, kapalanja kapala gadjah akan alamat dewa itoe berboedi dan bidjaksana. Lain dari pada dewa jang terseboet diatas ini ada lagi jang disembah oleh orang Hindoe, misalnja Soerja, jaitoe dewa jang mengoeasai matahari, dan Indra, jang mendjaga sorga. Maka adalah soeatoe adat orang jang menjembah Siwa: apabila radja atau orang besar² mangkat, maka maitnja dibakar, serta segala isteri goendiknja menikam dirinja dengan keris, laloe rebah kadalam api. Hatta, maka nama agama Boeddha asalnja dari pada orang jang membangoenkan agama itoe ± 600 tahoen s. b. N. I., maka orang itoe anak radja, namanja Gautama, negerinja di kaki goenoeng Himalaja. Adapoen Gautama doekatjita melibat sangsara manoesia, maka terbitlah niat dalam hatinja hendak membangoenkan agama jang lain. Oleh karena itoe diboeangkannja sakalian kasoekaän dan kabesarannja, serta ia bertapa enam tahoen lamanja; kemoedian dari pada itoe ia mendjadi fakir dan mengadjarkan agamanja di Hindoestan. Maka Gautama digelari oleh moeridnja Boeddha, ertinja jang moelia. Adapoen perkara agama Boeddha jang teroetama sakali, jaani: Barang siapa jang memboenoeh nafsoenja dan mengasehi

(2) Siwa dinamai djoega Kala; kata kala itoe sakarang djoega ertinja
waktoe, oepamanja: sediakala, tatkala dan sabagainja.

segala orang, baik moelia, baik hina, dan lagi dengan soenggoeh² hati mengampoeni dosa orang jang menganiaja dia, maka orang itoelah berbahagia.

Djikalau orang manoesia malang oentoengnja, tadapat tiada

karena ia berdosa, sabeloemnja ia lahir, sebab sapandjang pikiran Boeddha tiap² manoesia lahir beberapa kali di doenia ini; apabila ia mati, maka njawanja masoek poela kadalam badan jang lain. Demikianlah njawa itoe berpindah dari saboeah toeboeh kadalam saboeah toeboeh, hingga tiada berdosa sadi- kit djoeapoen; kemoedian njawa jang semporna itoe hilang kadalam Brahma, saperti soengai bermoeara di laoet. Soepaja manoesia salekas-lekasnja merasai selamat itoe, haroeslah diboeangkannja kasoekaan doenia ini, sahingga nafsoe jang djahat tiada timboel dalam hatinja. Lagi poela Boeddha hendak menghilangkan kaempat pang- kat orang di Hindoestan, katanja: »Segala orang sama pada pemandangan Brahma, barang siapa jang soetji dan loeroes

hatinja, ialah jang dikasehi Brahma.

Maka Boeddha biasanja mendapatkan orang jang melarat serta menghiboerkan hatinja. Arkian, maka tatkala agama Boeddha dibawa ka tanah Hindia, maka Boeddha soedah lama meninggal; sebab itoe agamanja soedah berobah dan bertjampoer dengan agama jang

lain, pada sangka orang, Boeddha jaitoe dewa Wishnoe,

jang telah mendjelma. Sjahdan, maka di tanah Djawa tengah ada tempat sem- bahjang (tjandi) orang Hindoe, jang endah², saparonja tjandi

Siwa, saparonja tjandi Boeddha; maka tjandi Boeddha jang

mashoer sakali, jaitoe tjandi Bâräboedoer di Kedoe; ada poela di Padang Darat dekat Moeara Takoes. Maka kabanjakan tjandi di poelau Djawa didirikan oleh orang, jang menjembah Siwa;

jang elok sakali, jaani: tjandi Penataran dekat Blitar, tjandi

jang amat banjak di goenoeng Dieng, tjandi Sewoe (1) dekat Prambanan di batas Soerakarta dengan Djogjakarta.

(1) Sewoe ertinja sariboe, tetapi dengan sabenarnja tjandi itoe 254
boeah sadja.

8 Maka di tanah Djawa sabelah barat tida ada tjandi, hanja- lah batoe bersoerat dan berhala, jang boeroek roepanja.

FASAL II. HIKAJAT KARADJAAN² HINDOE. Bermoela, maka dalam fasal jang dahoeloe soedah ditjeri- terakan, bahoea tiada njata pada kita, bilamana orang Hindoe datang dan dimana moela² tempat kadoedoekannja. Adapoen pokok hikajat, jang menjatakan hal tanah Hindia pada zaman poerbakala, jaitoe soerat dan barang, jang tinggal dari pada masa itoe, oepamanja soerat, jang teroekir pada berhala dan pada batoe dan lojang jang berkeping-keping, ada djoega jang tertjat pada batoe besar di lereng goenoeng. Maka soerat itoe sadikit sadja, serta satengahnja sampai sakarang beloem terfaham ertinja. Lagi poela ada banjak dongeng dan sjair dari zaman dahoeloe; tetapi tiada berapa goenanja, sebab dalam tjeritera itoe diriwajatkan dewa Hindoe dan orang jang sakti, sabagai Ardjoenå dan Kresjnå dan Bimå. Ada soeatoe tjeritera Djawa, namanja Baron Sakendar; dalam tjeritera itoe terseboetlah hikajat Moer Djang Koen, jaitoe Gouverneur-Generaal Jan Pieterszoon Koen, maka soerat itoe dihiasi amat sangat, sa- hingga berlainan sakali dengan hikajat Toean Besar Are, jang di karangkan oleh orang Belanda. Maskipoen hikajat jang lama (babad) itoe tiada benar². tetapi tida ada chabar dari pada zaman dahoeloe jang lain; oleh karena itoe dibawah ini diriwajatkan beberapa karadjaan Hindoe sapandjang babad Djawa itoe. Alkesah, maka terseboetlah perkataan saorang orang Hindoe, jang bernama Adji Såkå. Maka orang itoe memboenoeh radja di Mendang Kamoelan dengan tipoe daja, maka radja

itoe raksasa serta biasanja memakan orang dagang, jang

masoek kadalam negerinja. Kemoedian Adji Såkå mendjadi radja di sitoe, maka terlaloe baik pamerentahannja, dihaloes- kannja adat anak boeahnja, dan di adjarkannja tarich Hindoe dan hoeroef Djawa. Adapoen karadjaan Mendang Kamoelan tiada tentoe tempatnja: entah keraton Adji Såkå di Blorå, entah di Prambanan. Satelah karadjaan Mendang Kamoelan hilang, maka ada poela beberapa karadjaan jang bertoeroet-toeroet, jaitoe karadjaan Ngastinå di goenoeng Dieng karadjaan Dåhå di Madioen, karadjaan Djenggälå di kaboepaten Sidå-ardjå. Hatta, maka Radja Djenggålå; jang amat mashoer Lemboe Hamiloehoer namanja, pada masa ketjilnja ia beladjar di Hindoestan. Maka poetoranja bernama Pandji Inå Kertå Pati; dan mendjadi pangkal beberapa tjeritera wajang; ia dipoedji amat sangat karena beraninja dan kapandaiannja dan bidjak- sananja jang tiada berhingga; pada achirnja ia mati kena toembak dalam perang dengan orang Madoera. Sjahdan, satelah karadjaan Djenggalå habis binasa oleh ajar besar dan gempa, maka radja berangkat ka tanah Djawa sabelah barat, laloe di dirikannja karadjaan Pedjadjaran; kera- tonnja di negeri Giling-Wesi dekat Tji-andjoer. (1) Maka kata sahiboe'lhikajat ada saorang anak radja di Pedjadjaran, Raden Tandoeran namanja, maka iapoen dihalau- kan oleh adiknja. Maka sakali peristiwa Raden Tandoeran bertemoe dengan saorang orang bertapa, maka orang itoe memberi nasehat kapadanja, katanja: »Apabila Toeankoe mendapati boeah mådjå jang pahit rasanja, baiklah Toeankoe memboeat kota disitoe, nistjaja kota itoe akan mendjadi mashoer pada saloeroeh boemi."—Maka pada soeatoe hari Raden Tandoeran doedoek di bawah pohon kajoe, sambil di makannja boeah mådjå; kabetoelan boeah itoe pahit rasanja, sebab itoe Raden Tandoeran, terkenang akan perkataan orang

(3) Sapandjang persangkaan orang jang faham dalam hikajat, di tanah Djawa sabelah barat ada doea karadjaan jang bertoeroet-toeroet; radjanja
taaloek kapada Maharadja di Mådjapahit.

10 bertapa itoe, laloe disoeroehnja pengiringnja memboeat keraton disitoe, maka keraton itoe mendjadi pangkal Mädjäpahit. Sjahdan, maka dalam babad itoepoen di tjeriterakan, bahoea Mädjâpahit dibangoenkan dalam tahoen 1300, akan tetapi pada zaman ini didapati orang sakeping lojang jang bersoerat, boenjinja: bahoea Maharadja Mädjâpahit menganoegerakan sabidang tanah kapada saorang manteri pada tahoen 840, djadi tadapat tiada Mädjäpahit didirikan orang lebih dahoeloe dari pada tahoen 1300. Adapoen sampai sakarang ada bekas keraton dan tjandi Mädjäpahit dekat desa Mådjå-agoeng di kaboepaten Mädjä- kertä. Maskipoen berdjoeta-djoeta batoe tembok soedah di- ambil orang akan memboeat masdjid dan fabriek goela dan roemah dan djalan, tetapi sakarang ini lagi ada disitoe beri- boe-riboe djoeta batoe terserak-serak pada sabidang tanah jang amat loeas. Akan keraton Maharadja temboknja 30 kaki tingginja dan 100 kilometer kelilingnja, astana jang di tengah-tengah 40 kaki tingginja; kira² 300 manteri dan hoeloebalang bersama-sama dengan anak isterinja dan anak boeahnja dan hambanja diam didalam keraton itoe. Lain dari pada keraton radja ada poela beberapn keraton sanak saudara Baginda. Maka Maharadja memerentah iboe negeri dengan daerahnja sadja; jang salebihnja terbahagi atas beberapa bahagian, masing² beradja (boepati) sendirinja; maka radja itoe wadjib menghadap Maharadja dan menghantar oepeti sakali sa- tahoen, dan lagi marika itoe membantoe Maharadja dalam perang. Adapoen orang besar² dan hoeloebalang dan manteri tiada makan gadji, melainkan dianoegerai Baginda sabidang tanah; tanah itoe dikerdjakan oleh anak boeahnja, maka orang itoe haroes memboeat pekerdjaan negeri (pantjen) serta memper- sembahkan sabahagian hasil sawah ladangnja kapada toeannja. Maka orang negeri dikampoengkan oleh kapalanja: ada perkoempoelan 1000 boeah tjatjah (isi roemah); ada jang 100 boeah, ada jang 50 boeah dan ada jang 25 boeah tjatjah.

Maka nama kapala kampoeng orang itoe sakarang djoega

dipakai di Sälå dan di Djogjå. (1) Demikianlah pamerentahan dalam segala karadjaan Hindoe serta dalam karadjaan Islam, jang didirikan kemoedian dari pada itoe di poelau Djawa. Sabermoela, maka dalam radja² Hindoe di tanah Hindia tida ada, jang lebih besar dan muoelia dari pada Radja² Mädjäpahit. Maka kapalnja', baik kapal perang, baik kapal perniagaan berlajar sampai ka Hindoestan dan ka benoea Tjina poen. Kalau orang Mädjåpahit singgah di tanah jang asing, maka atjap kali diboeatnja kampoeng disitoe, diantara kampoeng itoe ada jang mendjadi bandar jang ramai; sebab itoe djadjahan Mådjapahit bertambah-tambah loeas. Sjahdan, maka tanah dan poelau jang taaloek kapada Ma- haradja di Mädjapahit. jaitoe tanah Djawa tengah dan tinoer, poelau Bali, poelau Lombok (Selaparang), poelau Soembawa, poelau² Riau dan Lingga, Djambi, Inderagiri, Palembang, Pasai (teloek Semawe) pantai poelau Beroenai, poelau Banda, poelau Serang (Ceram) dan poelau Ternate. Maka dalam hikajat Melajoe ditjeriterakan, bahoea Singapoera pada masa itoe amat ramai, maka negeri itoe dibinasa- kan oleh rajat Mådjåpahit; serta Radja Singapoera, Seri Iskandar Sjah lari menjeberang selat Singapoera, laloe men- dirikan Malaka. Satelah beberapa lamanja maka negeri itoe terlaloe ramai, sahingga orang dagang banjak berpindah ka- sitoe, teroetama kampoeng Djawa di Malaka amat loeas. Hatta, maka pada abad jang kaempatbelas di poelau Pertja tengah adalah saboeah karadjaan Hindoe; akan tetapi barang- kali radjanja taaloek kapada radja Djawa sabelah barat; me- noeroat batoe bersoerat, jang sakarang lagi ada di Tanah Datar, ada saorang radja, jang bernama Aditia Warman. Adapoen karadjaan itoepoen diserang oleh balatantara Mädjäpahit satelah berperang kadoea belah pihak itoe beberapa () Panewoe (kapala 1000 tjatjah); panatoes (kapala 100 tjatjah); paneket (kapala 50 tjatjah); panglawe (kapala 25 tjatjah).

12 lamanja, maka ditentoekan oleh orang Melajoe dan orang Djawa, bahoea diadoenja kerbau doea ekoer, maka bangsa orang itoelah menang, jang kerbaunja mengalahkan kerbau jang lain. Kasoedahannja kerbau Melajoe menang, laloe orang Djawa poelang ka negerinja; chabar orang karadjaan Melajoe itoepoen sedjak masa itoe dinamai karadjaan Menangkabau atau Minangkabau.

FASAL III. HIKAJAT KARADJAAN2 ISLAM. Alkesah, maka sapeninggal Nabi Mohamad pada tahoen 632 orang Arab pergi menaaloekkan dan mengislamkan bangsaa orang jang sakeliling negerinja, sahingga karadjaan Arab teramat besar dan moelia. Maka dengan hal jang demi- kian itoe perniagaan orang Arab makin kembang, sabingga saudagar Arab dan Parsi sampai djoega ka poelau² Hindia; soenggoehpoen maksoed orang itoe hendak berniaga, tetapi dengan saradjin-radjinnja marika-itoe mengadjarkan djoega agamanja kapada orang, jang menjembah berhala dalam negeri asing. Maka atjap kali disampaikannja maksoednja, karena orang Arab biasanja toeloeng menoeloeng, serta marika-itoe bidjaksana dan pandjang akal; tambahan lagi diperisterinja anak orang negeri itoe. Lama kalamaan orang Arab bertjam- poer dengan pamerentahan negeri, sahingga ada djoega radja di tanah Hindia, jang asalnja dari pada orang Arab, misalnja Soeltan Pontianak. Adapoen orang Arab moela² doedoek di bandar poelau Pertja. Maka pada tahoen 1354 soedah ada saorang radja Islam di Samoedera (1), Malikoe'saleh namanja. Arkian, maka pada permoelaan abad jang kaenambelas

(1) Di tanah Atjeh.

13 Radja Pedir, jang teroetama sakali dalam radjaa Islam

di poelau Pertja sabelah oetara, Radja Atjeh poen taaloek kapadanja, akan tetapi pada masa itoe ada saorang Radja Atjeh, Soeltan Ibrahim namanja, maka iapoen dapat melepas- kan dirinja, tambahan lagi Pedir dan Pasir dialahkannja pada tahoen 1524. Sedjak koetika itoe karadjaan Atjeh makin lama bertambah besar, sahingga pada masa pamerentahan Soeltan Iskandar Moeda (dari tahoen 1606 sampai tahoen

1636) poelau Soematera sabelah barat sampai ka Inderapoera, Deli, Siak dan Djohor dibawah hoekoem Radja Atjeh. Ke- moedian dari pada itoe pada abad jang katoedjoehbelas tanah Atjeh diperentahkan oleh radja perampoean empat orang bertoeroet-toeroet, maka kabanjakan negeri jang terseboet itoe lepas poela. Di poelau Soematera tengah karadjaan Menangkabau jang mashoer; satelah karadjaan Mädjapahit binasa, maka djadja- han di pantai sabelah timoer poelau Pertja mendjadi karadjaan, jaitoe Palembang, Djambi dan Indragiri. Maka kata sahiboe'lhikajat di tanah Djawa sabelah timoer Wali'oellah (1) jang pertama saorang orang Arab, Maulana Malik Ibrahim namanja; djiratnja ada djoega di Gersik, dan terboeat dari pada batoe poealam (kima); maka soerat pada djirat itoe, lain dari pada kalimat Arab, boenjinja, bahoea Malik Ibrahim wafat pada 12 hari boelan Rabioe'lawal tarich hedjrah s22 tahoen, jaitoe 8 hari boelan April tarich mesihi 1419 tahoen. Chabar itoelah boekan agak² melainkan benar soenggoeh. Maka beberapa lamanja Malik Ibrabim diam di Leren dekat Gersik, maka datanglah mamaknja, jaitoe Radja Tjermen (2) hendak mengoendjoengi Radja Brå Widjajå di Mådjåpahit akan mengislamkan Radja itoe. Moela Radja Mädjapahit mendengarkan pengadjaran Radja Tjermen; akan tetapi sakali () Orang jang moela² mengadjarkan agama Islam di tanah Djawa dinamai orang Wali'oellah.
(°) Tjermen tiada tentoe tempatnja, dalam babad Djawa Tjermen diseboet

negeri jaug saberang.

14 peristiwa timboellah soeatoe penjakit, maka beberapa orang pengiring radja itoe mati, demikian poen anak pərampoean Radja Tjermen, jang akan dinikahkannja dengan Radja Brå Widjajä. Sebab itoe Radja Mädjäpahit berpaling hatinja, katanja: »Orang ini ditimpa moerka dewa; nistjaja agamanja tiada baik." Maka chabar orang di koeboeran poeteri Tjermen itoe didirikan saboeah masdjid akan tanda peringatan, maka masdjid itoelah jang pertama di poelau Djawa. Sjahdan, maka Wali'oellah jang mashoer djoega, jaitoe Raden Rahmat, anak ipar Radja Brå Widjäjä. Adapoen Raden Rahmat dikasehi Maharadja, dianoegerainja Ampel (Ngampel), diberinja izin mengadjarkan Islam. Maka negeri Ampel jaitoe asal Soerabaja. Maka amat banjak orang datang mengadji kapadanja, serta memoedji boedi pakertinja dan kamoerahannja dan salehuja, tambahan lagi Raden Rahmat digelarinja Soesoehoenan (Soenan) Ampel, saorang dalam moeridnja, jang mashoer sakali Raden Pakoe namanja, atau Soenan Giri sapandjang nama tempat kadoedoekannja Giri dekat Gersik. Maka katoeroenan Wali itoepoen amat besar koeasanja seraja diakoe orang Djawa penghoeloe segala orang Islam di tanah Djawa, oleh karena itoe Soenan² Giri dimaloei radja besar². Arkian, makin banjak orang Djawa masoek Islan, bertam- bah koerang koeasa Maharadja di Mådjâpahit, sebab orang Islam itoepoen mendjoendjoeng titah penghoeloenja sadja, jaitoe Soenan Ampel, Soenan Giri, Soenan Bonang (di Toe- ban), Soenan Dradjat (di Sedajoe), dan Soenan Koedoes (di Djapara). Maka Raden Patah ialah jang mengoempoelkan orang Islam hendak membinasakan Mädjapahit. Maka terseboetlah dalam babad, bahoea Raden Patah poe- tera Brå Widjajå dengan saorang goendik, maka goendik itoe dianoegerakan oleh Baginda kapada poeteranja Arjä Da- mar di Palembang; disitoelah Raden Patah lahir. Satelah lahir, maka iapoen beladjar kapada Raden Rahmat di Ampel, maka tatkala soedah tjoekoep pengadjaran itoe, maka sapandjang nasihat Raden Rahmat diboeatnja keraton, maka tempat

15 kadoedoekannja itoe asal negeri Demak. Soenggoehpoen keraton itoe di daerah Maharadja Mädjapahit, tetapi Raden Patah tiada maoe menghadap Baginda. Adapoen Brå Widjajä tiada menitahkan raajatnja mengoesir dia, entah sebab tiada berani, entah sebab sajang akan Raden Patah. Oleh karena itoe Raden Patah tiada mengendahkan Maharadja, apa lagi timboel niat dalam hatinja hendak menjerang Mädjåpahit. Hatta, maka salana hidoepnja Soenan Ampel melarang Raden Patah melakoekan niatnja; akan tetapi baroe ia mang- kat, maka Raden Patah bermasjawarat dengan Wali toedjoeh orang akan membinasakan Mädjäpahit; akan tanda peringatan moeafakat itoe diboeatnja saboeah masdjid di Demak, jang mendjadi termashoer sakali pada saloeroeh tanah Djawa. Kemoedian dari pada itoe Wali² dan Radja² Islam menge- rahkan raajatnja; ada jang hendak mengembangkan agama Islam, ada jang berharap melepaskan dirinja dari pada hoe- koem Maharadja di Mädjapahit. Moela orang Islan tiada selamat: balatanteranja alah, habis tjerai berai dekat Sedajoe; tetapi hoeloebalang Mådjåpahit lalai dan lengah sadja, tiada dikedjarnja moesoehnja, sebab itoe orang Islam dapat ber- koempoel poela, laloe didatanginja dan alahkannja raajat Mådjâpahit. Pada achirnja orang Islam masoek kadalam kota Mädjäpahit, maka negeri jang endah² itoe habis dibinasakannja (barangkali pada tahoen 1478). Adapoen babad² mengatakan hal Radja Mädjâpahit tiada sama boenjinja samoeanja: sa- paronja mengchabarkan Baginda mati, sebab dipasangnja obat bedil, koetika moesoehnja masoek kadalam keraton; separonja mentjeriterakan Brå Widjäja lari ka sabelah timoer bersama² banjak pengiringnja, laloe mendirikan saboeah karadjaan poela. Chabarnja koenan dalam perang di Mädjäpahit itoe orang Djawa moela² mempergoenakan mariam. Hatta, maka karena Raden Patah mengambil alat karadjaan (oepatjara) Mädjâpahit, sebab itoe ialah, jang diakoe oleh orang Islam Maharadja serta digelarnja Soeltan Demak. Sabermoela, maka terseboetlah dalam hikajat tanah Djawa, bahoea pada masa Mådjåpahit binasa ada saorang orang Arab,

16 jang bernama Sjech Noeroe'ddin Ibrahim bin Maulana Israel atau Soenan Djati sapandjang nama tempat kadoedoekannja, jaitoe boekit Djati dekat Tjerebon. Adapoen Soenan Djati mengadjarkan agama Nabi Mohamad kapada orang Pedjadjaran, terlaloe selamat pekerdjaannja, sahingga orang itoe bertambah- tambah banjak masoek Islam. Maka anaknja, Hasanoe'ddin namanja, tiada hendak mengislamkan orang jang menjembah berhala dengan lemah lemboet, melainkan dengan kakerasan; maka dikoempoelkannja orang Islam, laloe dikepoengnja iboe negeri Pedjadjaran dekat Bogor jang sakarang. Arkian, maka pada soeatoe malam raajat Hasanoe'ddin menaiki pagar tembok, dan mengalahkan orang Pedjadjaran (sapandjang babad pada tahoen 1481). Maka Radja Pedjadjaran, bersama-sama anak boeahnja jang setia lari ka sabelah selatan, tetapi atjapa kali kemoedian dari pada itoe dilanggarnja negeri di batas tanah Banten. Demikianlah Pedjadjaran lenjap, diganti oleh tiga karadjaan, jaani: tanah Tjerebon, jang diperentabkan oleh Soenan Djati, Djakarta (karesidenan Batawi), jang dibawah hoekoem saorang anak Soenan Djati, dan Banten, jang dikoeasai Pangeran Hasanoe'ddin. Pada persangkaan orang jang faham dalam hikajat Djakarta masoek djadjahan Radja Banten. Sjahdan, maka kata orang, bahoea orang Badoei di tanah Banten sabelah selatan dan orang Tengger katoeroenan orang zaman dahoeloe itoe, jang segan masoek agama Islam. Maka terseboetlah perkataan karadjaan Demak; salama hidoep Raden Patah tanah Djawa tengah sentausa, karena perentahnja keras; maskipoen boepati² berdengki-dengkian, tetapi tiada djoega marika-itoe berani berperang-perangan. Adapoen Radja Demak jang katiga bernama Pangeran Trang- gånå, diboeatnja oendanga dan ditetapkannja agama Islam, dan lagi diperanginja orang Hindoe di tanah Djawa sabelah timoer. Karadjaan Hindoe jang teroetama sakali jaitoe Soepit Oerang (dekat Malang) dan Pasoeroehan; sapandjang sapa- ronja babad karadjaan itoe dibinasakannja; satelah itoe orang Hlindoe oendoer ka Blambangan (Banjoewangi) dan ka Bali.

17 Di poelau Bali sampai sakarang orang negeri menoeroet beberapa adat dan agama orang Hindoe. Arkian, maka sapeninggal Soeltan Trangganå karadjaan Demak dibahagi oleh anaknja dan menantoenja, serta alat karadjaan Demak diperoleh Adipati Padjang (¹), Mas Karebet namanja. Adapoen segala radja itoe berbantah-bantaban: saorang hendak membinasakan saorang, sahingga Mas Karebet dapat mengoempoelkan hampir segala negeri, jang dahoeloe dibawah hoekoem Pangeran Trangganå, maka Adipati Soe- rabaja poen menghantar oepeti kapada Mas Karebet, dan Soenan Giri mengelari dia Soeltan. Akan tetapi beberapa moelia dan besar sakalipoen karadjaan Soeltan Mas Karebet itoe, tiada djoega berapa lamanja hilang lenjap djoega. Alkesah, maka adalah saorang kakasih Soeltan Mas Karebet, Kjahi Ageng Pamanahan namanja. Adapoen orang itoe memboe- noeh Adipati Djipang dengan tipoe daja, sebab itoe dikaroeniai negeri Mataram (Djogja) oleh Soeltan. Pada masa itoe hampir saloeroeh tanah Mataram hoetan rimba sadja; orang jang diam disitoe hanja 300 tjatjah (isi roemah). Maka Kjahi Ageng Pama- naban amat bidjaksana dan pandai; sebab itoe negeri Mataram bertambah-tambah ramai, tambaban lagi beberapa radja, jang sa- kalelingnja membawa dirinja kabawah hoekoem Radja Mataram. Satelah Kjahi Ageng Pamanahan mangkat, maka ia digan- tikan dengan rila Soeltan Padjang oleh anaknja Mas Ngabehi Soetå Widjajå. Maka Soeltan Mas Karebet belas akan Soetå Widjajå, dan mendjadikan dia panglima besar balatantera Padjang; sebab itoe Soetå Widjäjå dinamai djoega dalam hikajat Senå- pati; jaitoe Senapati-ing-ngalâgå, ertinja panglima besar dalam perang. Akan tetapi Soetå Widjâjå tiada djoega poeas hatinja, maksoednja hendak membesarkan namanja dan me- loeaskan negerinja. Satelah diboeatnja saboeah karaton dekat Pasar Gede (2), maka iapoan bertapa di goenoeng Kidoel serta

(') Bahagian sabelah oetara karesidenan Såla.
(²) Sebab itoe iapoen dinamai djoega Ngabehi salor-ing-pasar ertinja Nga-
behi disabelah ostara pasar. Hikajat tanah Hindia.

mengakoe dirinja soeami Njahi Lårå Kidoel (1), kemoedian

dari pada itoe dihimpoenkannja raajatnja, laloe ditaaloekkan- nja beberapa negeri. Maka titah Soeltan Padjang tiada difadoelikannja dengan tiada mengingatkan kabadjikan toeannja; pada achirnja dipe- ranginja dan dialahkannja Soeltan Mas Karebet, laloe Soeltan itoe ditawannja bersama-sama kaoem kaloearganja. Tiada lama antaranja, maka Baginda meninggal; chabar orang diratjoen oleh Senåpati. Sjahdan, maka Senâpati meradjakan Adipati di Demak, serta poetera Mas Karebet didjadikannja Adipati Djipang; akan tetapi tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe, maka kadoea radja itoe berperangan, laloe Radja Padjang diboeang oleh Senåpati. Satelah itoe, maka Senapati mengambil alat karadjaan, sambil ia mengakoe dirinja Panembahan (Radja) Padjang. Adapoen Radja² Djawa masgoel hatinja, sebab itoe marika- itoe bertegoeh-tegoehan djandji hendak mengoesir Senâpati; maka Radja² itoe kalah; sahingga diakoenja dibawah perentah Panembahan. Satelah itoe, maka Senapati menaloekkan tanah Djawa sabelah barat sampai ka Tji-Taroem; akan tetapi pemerenta- hannja tiada djoega dengan sentausa, sebab atjap kali radja² jang taaloek doerhaka kapada Jang-dipertoean. Maka tengah perang itoe Demak dan Padjang binasalab. Pada achirnja saloeroeh tanah Djawa mendjoendjoeng titah Panembahan Ma- taram, hanja Radja Banten dan Radja Blambangan jang bebas. Arkian, maka pada 1601 mangkatlah Panembahan Soetâ Widjåjå, laloe poeteranja jang boengsoe naik tachta karadjaan. Adapoen Radja itoe bernama Mas Djolang, tetapi dalam hikajat tanah Djawa iapoen dinamai Sedå Krapjak, menoeroet nama negeri Krapjak, tempat ia meninggal (sedä).

(2) Pada sangka orang Djawa Njahi Lårå Kidoel jaitoe dewi, jang me-

ngoewasai pantai dan laoet sabelah selatan poelau Djawa.

19 FASAL IV. HIKAJAT ORANG PORTOEGIS DI TANAH HINDIA. Bermoela, maka pada zaman dahoeloe dagangan dari Hindoestan dan dari benoea Asia sabelah timoer dibawa orang ka benoea Airopah dengan kafilah melaloei Afganistan, tanah Parsi, tanah Sjam dan tanah Mesir; disitoe barang itoe di-

moeat kadalam kapal, laloe dikirim kapada bandar² jang

ramai di tepi láoet Tengah, saperti Venetia dan Genua. Maka djalan itoepoen terlaloe soesah dan pandjang, lagi dengan berbagai-bagai bahaja: saudagar itoe atjap kali dilang- gar penjamoen dan perompak. Oleh karena itoe kahasilan Asia amat mahal harganja di benoea Airopah, istimewa poela rempah² jang dibawa dari poelau² Moloeko. Adapoen pada abad jang kalimabelas adalah soeatoe bangsa orang Airopah, jang amat berani berlajar ka tanah, jang beloem dikatahoeinja; maka bangsa itoe bernama orang Portoegis. Maka orang itoe berlajar kasabelah selatan makin lama, makin djaoeh, sahingga lama kalamaan didapatinja hampir saloeroeh pantai barat benoea Afrika. Arkian, maka pada tahoen 1486 sampailah saorang nachoda ka oedjoeng selatan benoea Afrika, maka nama nachoda itoe Bartholomeus Diaz. Maskipoen ia ingin amat sangat akan berlajar ka Hindoestan, tetapi ia berbalik poelang, karena angin riboet; dan lagi karena anak kapal doerhaka; orang itoe chawatir, kalau² kapalnja diterkam ikan jang haibat, atau dipetjahkan oleh raksasa dan djin. Adapoen Radja Portoegis amat soekatjita mendengar chabar mengatakan Diaz soedah sampai ka oedjoeng benoea Afrika; maka oedjoeng itoe dinamainja Cabo de Bone Esperanza ertinja Tandjoeng Pengharapan, sebab Baginda berharap anak boeahnja tiada lama lagi akan sampai ka Hindoestan, demi- kianlah dagangan moedah dibawa ka Airopah dari pada dengan kafilah.

Pada achirnja saorang nachoda, Vasco de Gama namanja,

20 sampai ka negeri Kalikoet di Hindoestan dalam tahoen 1498. Satelah berlaboeh disitoe, maka orang Portoegis hendak berniaga dengan orang Hindoe, tetapi maksoednja tiada boleh dilakoekannja, sebab saudagar Arab dan Parsi dengki kapa- danja; pada sangkanja orang koelit poetih itoe meroegikan perniagaannja. Maka sebab hal jang demikian itoe Radja Portoegis ber- pikirlah: »Sabeloem beberapa bandar jang ramai di benoea Asia dibawah hoekoem kami, nistjaja anak boeah kami tiada berniaga dengan sentausa." Maka dihimpoenkannja beberapa kapal perang; terlaloe baik kalangkapannja, maka laksamana angkatan itoe bernama d'Alboquerque. Kemoedian dari pada itoe orang Portoegis berlajar kalaoet Hindia, laloe dialahkannja Goa di Hindoestan, negeri Ormoes di teloek Parsi dan negeri Malaka, soepaja perniagaan di Hindoestan dan di tanah Parsi dan di tanah Hindia dikoeasai orang Portoegis. Bahoea senja negeri Malaka amat ramai pada masa itoe, lagi terlaloe loewas, pandjangnja beberapa pal, dan lagi berkota berparit. Maka diantara orang asing jang doedoek disitoe orang Djawa terlebih banjak, sebab itoe Radja Djawa (1) tiada membiarkan orang Portoegis, melainkan mentjoba menghalau- kan dia. Hatta, maka Pati Hoenoes Boepati Demak menjoeroeh kalangkapan kapal ka Malaka, kapalnja 90 boeah dan raajat- nja 12000 orang. Soenggoehpoen orang Portoegis amat sesak, tetapi kasoe- dahannja menang djoega. Pada soeatoe hari kapal Djawa itoe berlaboeh rapat²; maka orang Portoegis membakar saboeah kapal, laloe api berpindah-pindah ka kapal jang lain. Maka terlaloe katjau-balau kapal itoe samoeanja: ada jang dimakan api, ada jang terdampar; ada jang tenggelam ber- banting-bantingan sama sendirinja; jang tinggal lagi sigera berlajar poelang.

(2) Radja Djawa jang mana tiada tentoe.

Bermoela, maka baroe negeri Malaka di tangan orang

Portoegis, maka laksamana d'Abren berlajar ka poelau² Moloeko akan beroleh monopoli rempah² disitoe, jaitoe: orang Moloeko berdjoeal rempaha kapada orang Portoegis sadja, serta bangsa orang jang lain diketjoewalikannja. Maka tatkala d'Abren di poelau Ambon, maka ia dihadap oleh oetoesan Soeltan Ternate dan Soeltan Tidore, jang me- njampaikan permintaan Radjanja masinga, moedah-moedahan orang Portoegis datang ka Ternate dan Tidore akan berniaga. Maka d'Abren menerima permintaan soeroehan Soeltan Ternate. Satelah sampai, maka laksamana menghadap Soeltan, disamboetnja dengan sapertinja, diberinja izin memboeat benteng dan lodji (1) di poelau Ternate. Sedjak koetika itoe orang Portoegis makin lama makin kembang koeasanja; pada beberapa poelau dibangoenkaonja lodji dan benteng, teroetama sakali di poelau² Moloeko; lain dari pada itoe didoedoekinja Mangkasar dan poelau Beroenai. Di poelau Djawa koeasanja tiada berapa besar, sebab radja² poelau itoe ketjil hati orang Portoegis berniaga di poelau Moloeko; hanjalah di Banten marika-itoe lama doedoek, sebab negeri itoe banjak menghasilkan lada. Sjahdan, maka di poelau Soematera sabelah oetara orang Portoegis tiada selamat; orang Portoegis bertjampoer dalam soeatoe perselisihan Radja Pedir dengan Soeltan Ibrahim (3) di Atjeh, tetapi kalangkapannja dibinasakan oleh orang Atjeh serta mariamnja banjak poetjoek diréboet moesoeh, dan laksamana Portoegis poen mati dalam perang itoe. Satelah itoe maka negeri Pasai ditaaloekkan oleh Soeltan Ibrahim, seraja lodji Portoegis disitoe diroesakkannja (pada tahoen 1524). Maka tiada berapa lamanja orang Portoegis doedoek di poelau² Moloeko, maka datanglah orang Ispanjol ka tanah Hindia. Adapoen orang itoe anak boeah laksamana Magelhaes,

(1) Lodji jaitoe roemah saudagar dan goedang dagangan, lodji jang kaba-
njakan berpagar tegoeh² dan bermariam,

(3) Batjalah alaman

22 jang bermoela sakali berlajar keliling boemi dengan melaloei selat Magelhaes diantara benoea Amerika sabelah selatan dan Tanah Api; tatkala orang Ispanjol itoe sampai ka tanah Hindia, maka laksamana Magelhaes telah diboenoeh oleh orang Filipinas. Maka orang Ispanjol itoe diterima dengan baik² oleh Soeltan Tidore, maka orang Portoegis marah, sebab monopoli rempah² dilanggar oleh orang Ispanjol. Hatta, maka lama kalamaan orang Moloeko dianiaja oleh orang Portoegis; kabanjakan wakil Radja Portoegis koerang tjerdik dan lalai, seraja soldadoenja loba dan bengis kalakoeannja. Dengan hal jang demikian itoe orang Moloeko menaroeh dendam dalam hatinja kapada orang Portoegis; pada achirnja lalim orang Portoegis tiada tertaban lagi; sebab itoe radja² dan orang kaja berkoempoel akan membitjarakan halnja itoe, maka poetoeslah moeafakatnja hendak memboenoeh segala orang asing itoe. Maka pada hari jang tetap segala orang Portoegis di poelau² Moloeko didatangi orang negeri; hampir samoeanja diboenoehnja. Roepa-roepanja koeasa orang Portoegis habis lenjap, akan tetapi pada tahoen 1537 ada saorang wakil Radja Portoegis, Galvano namanja, maka wakil itoe amat pandai dan pandjang akal, lagi hatinja loe- roes, sahingga orang Moloeko dapat didamaikannja poela. Sajanglah wakil jang kemoedian tiada sabagai Galvano, melainkan kalakoeannja saperti wakil jang dahoeloe. Maka dengan hal jang demikian itoe orang Belanda, jang datang ka poelau² Moloeko pada tahoen 1598 diterima oleh orang Moloeko dengan soekatjita, sebab marika-itoe bermoe- soeh dengan orang Portoegis. Pada tahoen 1600 orang Ambon bertegoeh-tegoehan djandji dengan laksamana Belanda, Van der Hagen namanja, serta meminta pertoeloengan akan meng- halaukan orang Portoegis. Soenggoehpoen orang Belanda sia² mengepoeng benteng Portoegis, tetapi orang Ambon pertjaja djoega akan dia dan menoeloeng memboeat saboeah benteng. Arkian, maka orang Belanda bertambah-tambah banjak

23 berlajar ka poelaua Hindia, sahingga radja moeda Ispanjol (1) di Hindoestan dan di tanah Hindia berniat akan membinasa- kan segala orang Belanda serta menjiksa radja² jang bertjam- poer dengan orang itoe. Oleh karena itoe dikoempoelkannja kapal perang 30 boeah di pelaboehan Goa; diantara kapal itoe 8 boeah jang besar²; samoeanja dibawah perentah Laksamana Mendoça. Moela² kapal itoe menoedjoo haloean ka tanah Atjeh; satelah sampai, maka Laksamana Mendoça meminta izin mendirikan saboeah benteng disitoe; tetapi permintaan itoe tiada dikaboelkan oleh Soeltan Atjeh. Maka orang Portoegis dan orang Ispanjol itoe tiada djoega memerangi orang Atjeh; entah karena tiada berani, entah karena kahendaknja tiada soenggoeh2. Kemoedian dari pada itoe orang Portoegis dan orang Ispanjol itoe mengepoeng negeri Banten, sambil diempangnja kapal Banten jang kaloear, sebab orang Banten telah ber- niaga dengan orang Belanda. Adapoen pada koetika itoe djoega lima boeah kapal Belanda berlajar di selat Soenda menoedjoe ka Banten; laksamana kalangkapan itoe bernama Wolfert Harmensz. Maka ter- dengarlah chabar kapadanja, bahoea kapal Portoegis dan Ispanjol mengepoeng Banten. Maskipoen kapal Belanda sadikit sadja lagi ketjil, tetapi Laksamana Wolfert Harmensz berani djoega hendak mele- paskan orang Banten dari pada moesoehnja. Satelah bertemoe, maka kalangkapan Portoegis diperangi oleh orang Belanda, maka doea boeah kapal Portoegis dibinasakannja. Tongah perang itoe Laksamana Mendoça menoedjoekan beberapa perahoe, jang dibakar orang, kapada kapal Belanda, tetapi perahoe itoe dielakkannja. Pada kaesoekan barinja kapal Portoegis meninggalkan pelaboehan Banten, laloe berlajar ka poelau Ambon. Maka tatkala Laksamana Mendoça sampai ka poelau Ambon, maka disoeroehnja raajatnja naik darat; kemoedian kampoeng² () Sedjak taboen 1580 tanah Portoegis dibawah hoekoem Radja Ispanjol.

24 habis dibakarnja, diboenoehnja barang siapa jang melintang, serta pohon tjengkeh ditebangnja. Maka dalam pada itoepoen orang Belanda mengepoeng Malaka; sebab itoe Mendoça berlajar kasitoe, laloe melepaskan negeri itoe. Arkian, maka bertahoen-tahoen lamanja lagi orang Portoegis dan orang Belanda berperang-perangan, berganti-ganti menang; kasoedahannja pada tengah² abad jang katoedjoeh- belas orang Ispanjol berpindah ka poelau² Filipinas, dan orang Portoegis soeroet kapada poelau Timoer; sampai sakarang bahagian sabelah oetara poelau itoe dibawah perentah Radja Portoegis. Adapoen negeri jang kemoedian sakali dialahkan oleh orang Belanda jaitoe Malaka, pada tahoen 1640 Malaka diserangnja. Maka raajat Belanda mengepoeng kota Malaka dengan soesah pajah, jang amat sangat, sebab kota itoe amat tegoeh² serta saparohnja dikelilingi rawah; tambahan lagi orang Portoegis berperang dengan gagah berani. Maka kadoea pihak kasangsaraan: dalam balatantara Belanda banjak orang mati kena penjakit jang berpindah-pindah, dan orang Portoegis kakoerangan beras bekal. Satelah Malaka satoe tahoen lamanja terkepoeng, maka sababagian pagar tembok roentoeh oleh peloeroe mariam. Pada koetika itoe orang Belanda masoek, sambil berperang terlaloe ramai, pada achirnja orang Portoegis terpaksa menjerahkan dirinja, (pada tahoen 1641). Demikianlah poetoes koeasa orang Portoegis di tanah Hindia. Sabermoela; maka orang Portoegis biasanja bertjampoer dengan orang negeri, sambil menoeroet adat lembaganja; ada jang membeli sabidang tanah serta beristerikan orang negeri; oleh sebab itoe sakarang ini di poelau Flores dan di poelau Timoer banjak peranakan Portoegis, jaitoe katoeroenan orang Portoegis, jang dahoeloe kala diam disitoe. Akan tetapi orang Portoegis dimana-mana djoea kadoedoekannja soeka mengembangkan agama Masehi; sebab itoe orang Islam bentji kapadanja, istimiwa imam chatib. Maka sampai_sakarang banjak kata Portoegis lazim dalam

bahasa Melajoe, misalnja: medja, kamedja, peloeroe, lelang dan lain-lainnja; dan lagi sampai abad jang katoedjoehbelas banjak orang koelit poetih di Batawi berbahasa Portoegis.

FASAL V.

PADA MENJATAKAN HAL AHWAL NEGERI2 DI TANAH HINDIA PADA MASA KOMPANI DIDIRIKAN.

Bermoela, maka dalam kitab »Pelajaran dari Singapoera sampai ka Kelanten" jang terkarang oleh Abdoe'llah bin Abdoe'lkadir, ditjeriterakan hal ahwal beberapa negeri Melajoe di tanah Malaka. Adapoen kaadaan negeri itoe pada masa Abdoe'llah banjak jang sama dengan, peri hal negeri di tanah Hindia pada zaman dahoeloe, sabeloen Kompani datang. Maka diantara negeri itoe Bantenlah, jang teroetama kita katahoei halnja, sebab pada permoelann abad jang katoedjoehbelas negeri itoe amat ramai; sakarang poen ada lagi beberapa soerat orang Airopah, jang doedoek disitoe pada masa Banten mashoer sakali. Hatta, maka dalam soerat itoe ditjeriterakan, bahoea kota Banten berpagar tembok jang bersikoe-sikoe amat banjak; tebalnja doea kaki. Pada tiap² sikoe ada saboeah mariam; satengahnja berkoeda- koeda (bertjagak), satengahnja tiada. Sapandjang tembok terdiri beberapa bangoenan kajoe, jang bertingkat tiga, maka antaranja doea boeah bangoenan kira² sapelontaran; pagar tembok itoe berpintoe gerbang tiga boeah, tetapi pintoe itoe tiada berengsel besi dan tiada djoega berkoentji besi, me- lainkan ditoetoep dengan sabatang palang sadja, serta ditoeng- goei banjak orang kawal; malam hari soengai dan anak

soengai diempang orang dengan sabatang betoeng.

Maka dalam saloeroeh kota Banten hanja tiga loeroeng

sadja, pangkalnja satoe di pintoe gerbang dan oedjoengnja di tanah lapang jang loeas di poesat kota. Disabelah selatan padang itoe astana Radja dan astana Mangkoe Boemi; disabelah timoer terdiri goedang sendjata; disabelah barat ada masdjid raja. Roemah jang terseboet itoe bertiang kajoe, jang amat elok oekirannja; dinding roemah sasak dan atap- nja ilalang atau roembia (nipah). Maka soengai, jang melaloei Banten, tohor; kira² tiga kaki dalamnja, ajarnja tenang lagi keroeh dan boesoek baoe- nja, sebab sampah segala roemah di tepinja diboeangkan orang kadalam ajar, akan tetapi orang negeri mandi djoega disitoe.

Akan roemah orang jang kabanjakan boeroek roepanja,

alamannja (pekarangannja) tjemar dan bersemak-semak; tiap² kampoeng dikelilingi pagar aoer doeri. Sakeliling kota Banten ada poela banjak roemah sampai ka tepi laoet, maka roemah itoe kabanjakan didiami orang Melajoe, dan orang Benggala dan orang Goezerate (di Hindoestan) dan orang Habesji poen; kampoeng Tjina disabelah darat berpagar tjeroe- tjoep, disabelah laoet ada rawah jang dalam. Dan lagi lodji orang Portoegis di kampoeng Tjina; demikian djoega lodji orang Belanda dan orang Inggeris, jang datang ka Banten kemoedian dari pada orang Portoegis. Adapoen dagangan bermatjam-matjam dibawa orang ka Banten, oepamanja: padi dan beras dari tanah Djawa dan Djohor, kajoe sepang dan kajoe tjendana dari poelau² Soenda jang ketjil; pala dan boenga pala dan tjengkeh dari poelau² Moloeko; lada dari tanah Banten dan dari tanah Lampong;

intan dan emas dari poelau Beroenai; soetera dan piring

mangkok dari benoea Tjina; tenoenan dari Hindoestan. Satiap hari mengitam orang di pasar saperti sarang semoet roepanja; di bahagian sabelah kanan perampoean berdjoeal lada, lebih² kapada orang Tjina; baroe saorang toekang lada sampai ka pasar, maka sabentar itoe djoega beberapa saudagar Tjina datang berlari-lari dahoeloe-mendahoeloei hendak mem-

27 beli; ada djoega jang menjongsong perampoean jang pergi ka pasar. Maka orang Portoegis teroetama berniaga di pasar rempah² dibalik pasar ikan dan daging. Lobih djaoeh sadikit dari sitoe ada lapau (warong) berlirit-lirit dan kedai, tempat di djoeal orang barang2 besi dan sendjata dan barang jang endah² terboeat dari kajoe tjendana; orang amat banjak berdjoeal katjang dan sajoeran dan ajam dan itik dan oenggas serba djenis, saperti boeroeng noeri dan boeroeng kakatoea. Lebih djaoeh poela ada kedai orang Tjina penoeh dengan pelbagai soetera, kimcha, antelas, beloedoe sangkelat dan piring mangkok jang haloes2; orang Arab berdjoeal permata; orang Parsi berdjoeal obat. Akan pasar kain terbahagi doea: sabelah tempat perampoean, sabelah tempat laki2; barang siapa masoek ka tempat larangan itoe kena denda jang amat banjak. Adapoen orang Banten, baik orang besar², baik orang ketjil tiada bagoes pakaiannja: saorang poen tiada berbadjoe, tetapi ikat pinggang orang kaja bertatahkan emas dan permata, dan kerisnja endah² hoeloenja. Akan perkakas roemah tiada berapa matjamnja; jaani perioek dan tempoeroeng dan bakoel; hanja beberapa orang kaja memakai perkakas roemah boeatan Tjina dan Djepoen. Adapoen roemah di doesoen amat boeroek dan ketjil; pakaian laki² sahelai tjawat sadja, orang perampoean berkain pendek hingga ka loetoetnja. Makanan orang itoe oebi dan boeah-boeahan; perkakas roemah hampir tiada; permainan tiada dikatahoeinja dan oeang poen djaranga dipakai orang. Maka perampoean sadikit sadja di doesoen, sebab kabanjakan berpindah ka kota Banten; sapandjang adat pada masa itoe makin orang besar, makin bininja dan hambanja banjak orang. Oepamanja: ada soeatoe soerat orang Airopah, jang pada zaman itoe diam di Banten, mengatakan, tatkala saorang anak perampoean sjahbandar nikah, maka iapoen diberi oleh bapanja 50 orang boedak laki² dan 50 orang sahaja perampoean dan 40 anak gadis dan oeang 56 roepiah. Maka orang jang kabanjakan di kota Banten bininja empat

28 atau lima orang, tetapi ada djoega jang berbini sapoeloeh atau doeabelas orang; oleh karena itoe dalam kota Banten perampoean kira² sapoeloeh kali sabanjak laki². Adapoen isteri orang kaja atau bangsawan kahidoepannja senang2; soeatoepoen tiada dikerdjakannja, melainkan sahari- harian berbaring di balai², sambil dikipas dan dipidjit oleh hambanja. Soeaminja tiada djoega berapa pekerdjaannja, hanja doedoek bersila makan sirih dan bermain djoedi atau bersoeka hati memandang hamba perampoean jang menari (tandak), sambil boenji-boenjian dipaloe orang. Maka orang besar itoepoen saparohnja amat loeas sawah ladangnja, saparohnja melepas perahoe; tetapi sakalian marika-itoe berdjoeal-beli boedak. Adapoen orang doesoen ada doea matjamnja; ada jang doedoek di tanah orang besar2, orang itoe tiada boleh ber- pindah, saolah² marika-itoe masoek tanah itoe, tetapi orang itoe tiada boleh didjoeal. Orang doesoen jang lain matjamnja menanami tanahnja sendiri, atau menjewa sabidang tanah. Maka orang besar² biasanja menjewakan tanahnja kapada orang Tjina, bersama-sama orang, jang doedoek disitoe, mendjadi anak boeah itoe haroes menoeroet perentah orang Tjina itoe dan mengerdjakan tanah itoe. Sebab itoe lada dan padi kabanjakan diperniagakan oleh orang Tjina; lada amat banjak dihasilkan oleh tanah Banten, tetapi pada tiada tjoekoep jang koerang dibawa dari tanah Djawa dan Djohor. Apabila perahoe bermoeatan beras padi dirampas perompak, maka orang Banten kalaparan. Sjahdan, maka di kota Banten ada djoega orang, jang milik orang besar2: orang laki² pentjahariannja bertoekang atau ber- lajar, orang perampoean kabanjakan berdjoeal lada di pasar. Adapoen orang besar² dan orang bangsawan koeasanja ada tiga perkara, jaitoe: pertama, orang itoe boleh bermasjawarat dengan Radja dari hal pemerentahan negeri; kadoea, marika-itoe boleh menghoekoem anak boeahnja dengan sakahendak hatinja, asal djangan orang jang bersalah itoe di boenoehnja; katiga, ia boleh memerangi moesoehnja. Djikalau dirampas-

29 nja saboeah perahoe, maka sabahagian harta benda dan tawanan dalam perahoe itoe haroes dipersembahkan kapada Radja; apabila Radja memerangi moesoehnja, maka orang besar² itoe wadjib membantoe Baginda. Hatta, maka dengan hal jang demikian itoe barang siapa jang banjak anak boeahnja, ialah jang besar koeasanja; maka dipilihnja dalam hambanja orang jang tegap dan koekoeh badanja, lagi dengan berani, didjadikannja laskar. Kemoedian orang besar2 jang demikian itoe melangkapkan perahoe; laloe berlajar ka negeri jang lain. Dimana-mana anak perahoe naik darat dibakarnja roemah, di boenoehnja orang jang melawan dia; kasoedahannja ditawannja perampoean jang moeda dan anak gadis, dibawanja poelang. Dengan hal jang demikian itoe tadapat tiada orang perom- pak amat banjak pada zaman itoe; oleh karena itoe segala kapal dan perahoe berlila atau bermariam. Sjahdan, maka di kota Banten orang tiada djoega sentausa: hampir tiap² hari beberapa orang mati diamoek orang di- tengah djalan, djangan dikata lagi orang jang katjoerian atau kabakaran. Pada tahoen 1603 banjak orang Lampong masoek kadalam Banten, maka saboelan lamanja marika-itoe ber- djalan berkeliling; djikalau orang itoe bertemoe dengan orang jang saoráng diri, maka tiba² dikajaunja orang itoe. Adapoen kalakoean itoe terbit dari pada soeatoe adat di tanah Lampong, jaitoe radja menganoegerakan saorang perampoean kapada barang siapa anak boeahnja, jang mempersembahkan saboeah kapala manoesia. Maka dalam pendåpå orang besar² malam hari barang sapoeloeh orang berdjaga dengan memakai toembak dan parisai; tambahan lagi dalam beberapa roemah ada mariam atau lila sapoetjoek. Di oedjoeng kota banjak orang kawal berdjaga malam hari; roemah pendjara ditoenggoei lima poeloeh orang. Kemoedian ditjeriterakan dari hal koeasa Radja di Banten. Moela² Radja itoe bergelar Pangeran Ratoe, laloe gelarnja Soeltan.

30 Adapoen sawah ladang Radja terlebih loeas dari pada sawah ladang orang besar², serta perahoenja amat banjak, sebab Radja berniaga djoega. Maka Radja bersama-sama orang besar² mendjadikan persarikatan, seraja Sjahbandar melakoekan per- niagaan persarikatan itoe. Saorang djoeapoen tiada boleh berdjoeal beli, hanja dengan izin Radja dan dengan satahoe Sjahbandar. Apabila saboeah kapal dari negeri jang asing sampai ka Banten, maka nachoda haroes mempersembahkan daftar sakalian moeatan kapal itoe kapada Radja. Moela² Radja jang membeli; satelah itoe baroe orang jang lain boleh berniaga dengan nachoda itoe; djadi Radja mempoenjai mo- nopoli segala matjam barang dagangan. Akan barang, jang kaloear dari pada Banten harganja ditentoekan oleh persarikatan sjahbandar dan orang besar2. Segala barang, jang tiada dibeli atau didjoeal oleh Radja kena beja, maka oeang itoe bersama-sama beja jang lain, oepamanja roeba² (beja kapal jang berlaboeh) sabahagiannja bagi Radja, sabahagiannja bagi sjahbandar. Sjahdan, maka Radja jaitoe hakim, jang memoetoeskan perkara orang bangsawan dan orang dagang, serta beroleh denda. Djikalau orang besar memboenoeh saorang boedak, bangoennja 20 ringgit; kalau orang jang terboenoeh itoe mardahika, bangoennja 50 ringgit, dan djika orang itoe bangsawan, bangoennja 100 ringgit. Djikalau orang jang telah memboenoeh orang orang jang kabanjakan, nistjaja ia diboenoeh djoega. Dan lagi hoekoeman orang dagang saperti hoekoeman orang bangsawan. Apabila orang Banten mati serta meninggalkan anak, jang beloem berbini, maka anak bininja dan harta bendanja men- djadi poesaka Radja. Maka perkara dari hal pemerentahan negeri dipoetoeskan oleh Radja, maka orang besar² membitjarakan perkara itoe bersama-sama Baginda, tetapi Radja menoeroet nasihatnja atau tidak sabagaimana kahendaknja sadja. Pada masa perang segala orang negeri, jang koekoeh badannja dikerahkan, dan diperentahkan oleh hoeloebalang 300 orang.

31 Maka kapal perang 200 boeah, kabanjakan diboeat di Lasem dan di Bandjarmasin; saparohnja bergeladak tiga lapis. Geladak jang diatas itoe tempat soldadoe dan mariam, geladak jang dibawah itoe tempat orang jang berdajoeng; maka orang itoe boedak, jang dirantaikan dibangkoenja. Sakalian kalangkapan kapal itoe dibawah perentah saorang Toemenggoeng. Demikianlah hal ahwal negeri Banten pada zaman itoe. Soenggoehpoen kaadaan negeri Banten ditjeriterakan dalam fasal ini, tetapi negeri², di tanah Hindia halnja kira² sabagitoe djoega.

FASAL VI. PADA MENJATAKAN ORANG BELANDA MOELA2 BERLAJAR KA POELAU2 HINDIA, DAN KADJADIAN KOMPANI.

Maka tatkala orang Portoegis bertambah-tambah besar koeasanja di tanah Hindia, maka iboe negerinja Lissabon mendjadi bandar jang ramai sakali; akan tetapi boekan orang Portoegis, jang membawa kahasilan tanah Hindia kapada berbagai-bagai negeri di benoea Airopah, melainkan orang Belanda. Maka pada masa itoe orang Belanda berperang dengan orang Ispanjol, maka perang itoe 80 tahoen lamanja (dari tahoen 1568 sampai tahoen 1648); soenggoehpoen Radja Ispanjol amat besar koeasanja, tetapi orang Belanda beroentoeng baik djoega, teroetama sebab perniagaannja ramai. Sjahdan, maka pada tahoen 1578 Radja Portoegis mati tengah perang; maka sebab tiada ditinggalkannja anak, oleh karena itoe Radja Ispanjol mengakoe dirinja Radja tanah Portoegis.

32 Adapoen Radja Ispanjol tahoe, bahoea orang Belanda amat ramai berniaga dengan orang Portoegis, maka disoeroehnja rampas kapal Relanda di Lissabon, soepaja moesoehnja meroegi. Hatta, maka orang Belanda tiada poetoes pengharapannja, melainkan ditjaharinja daja oepaja akan berlajar sendiri ka benoea Asia. Maka pelajaran itoe amat soesah, sebab tiada dikatahoeinja betoel² bagaimana djalan kasana; tiada orang jang telah memboeat peta pelajaran itoe, melainkan orang Portoegis sadja; maka barang siapa jang mentjoba mengaloearkan peta itoe dari negeri Portoegis disiksa amat sangat. Tambahan lagi tempat² kapal singgah akan beroleh bekal-bekalan sa- moeanja di dalam tangan orang Portoegis belaka, dan kapal perang Ispanjol dan Portoegis banjak mendjaga di laoet. Sebab itoe beberapa nachoda hendak berlajar kasabelah oetara menjoesoer pantai benoea Asia; pada sangkanja nistjaja lama kalamaan sampai ka tanah Hindia; akan tetapi sia-sialah pelajaran itoe, karena laoet disana satengahnja bekoe, sa- hingga nachoda itoe terpaksa poelang. Maka satelah pelajaran itoe tiada mendjadi, maka beberapa saudagar Belanda mengoempoelkan 290000 roepiah, dilang- kapkannja kapal, jang akan berlajar ka tanah Hindia dengan melaloei Tandjoeng Pengharapan. Dan lagi pemerentah Belanda memberikan mariam akan melawan orang Portoegis dan perompak; maka di kapal menoempang nachoda Cornelis de Houtman, jang memegang perkara perniagaan. Arkian, maka pada doea hari boelan April tahoen 1595 saoeh dibongkar oranglah, laloe kapal empat boeah itoe berlajar dari pelaboehan Tessel, kemoedian menjoesoer pantai tanah Pransman dan tanah Portoegis dan benoea Afrika, sampai ka poelau Madagaskar. Pada koetika itoe banjak anak kapal sakit seriawan, karena segala makanannja asin sadja; serta 71 orang soedah mati. Sjahdan, maka satoe tahoen dan tiga boelan lamanja soedah berlajar, baroe marika-itoe sampai ka Banten. Adapoen Radja Banten pada masa itoe lagi moeda; ajenhenda

33 Baginda telah diboenoeh orang tengah perang dengan orang Palembang; sebab itoe Mangkoe Boemi serta beberapa orang besar² mendjadi wakil radja. Demi terdengar chabar kapada Sjahbandar mengatakan orang asing datang, maka iapoen mendapatkan orang Belanda; satelah tiba, maka nachoda De Houtman ditegoernja, di- tanjakannja dari mana marika-itoe datang dan apakah ka- hendaknja. Maka djawab nachoda, katanja: »Ja, Toeankoe! kami ini orang Belanda, maksoed kami akan membeli lada dan tjengkeh dan pala." Maka sjahbandar itoepoen senang hati mendengar perkataan itoe, laloe bermoehoen. Soedah itoe, maka nachoda De Houtman serta beberapa anak kapal jang berpangkat menghadap Mangkoe Boemi, maka marika-itoe mendapat izin menjewa saboeah roemah akan tempat menaroeh dagangannja. Tatkala roemah itoe selesai, maka orang Banten banjak datang melihat harta benda didalam lodji itoe; kadang² orang besar² dan Mangkoe Boemi poen mendapatkan saudagar Belanda. Adapoen orang Portoegis sakit hati orang Belanda berniaga, maka diasoetnja orang Banten dengan memboesoekkan nama orang Belanda. Maka lama kalamaan orang Banten sjak hati, sebab nachoda De Houtman segan membeli lada jang lama. Dan lagi ka- lakoean beberapa chalasi tiada patoet. Maka orang Belanda goesar djoega, sebab orang Banten soedah membeli roepa² barang, tetapi tiada maoe membajar. Kalakian, maka pada soeatoe hari Toean De Houtman di Banten dikawani beberapa anak boeahnja, maka tiba² marika-itoe samoeanja ditawan oleh orang Banten, laloe dipendjara- kannja. Maka orang Belanda jang tinggal di kapal terlaloe marah mendengar chabar, mengatakan nachoda dengan ka- wannja ditawan, maka ditembaknja kota Banten, dirampasnja beberapa perahoe, tetapi tawanan itoe tiada djoega dilepas- kan orang. Hikajat tanah Hindia.

34 Satelah beberapa lamanja dengan hal jang demikian itoe, maka orang Belanda berdamai dengan orang Banten, serta diteboesnja tawanan itoe; tetapi tiada lama antaranja, maka orang Portoegis memperseteroekan poela orang Banten dengan orang Belanda, sahingga orang Banten berniat hendak mengamoek. Kabetoelan orang Belanda maaloem akan niat itoe, maka malam hari dimoeatkannja harta bendanja kadalam kapalnja. Habis itoe dirampasnja doea tiga boeah perahoe jang berisi lada akan ganti roeginja, laloe berlajar. Maka karena kalakoean jang demikian itoe saolah-olah dibenarkannja fitnah orang Portoegis, jaitoe orang Belanda perompak sadja. Moela² orang Belanda singgah di negeri Djakarta, dibelinja disitoe beras dan sajoer-sajoeran dan boeah-boeahan, tetapi rempah² tiada. Kemoedian dari pada itoe marika-itoe sampai ka Sedajoe. Adapoen orang negeri itoe telah diasoet oleh soeroehan orang Banten, sebab itoe marika-itoe menaroeh chianat dalam hatinja. Pada soeatoe hari beberapa perahoe berisi boeah-boeahan sampai ka kapal. Satelah anak perahoe naik kapal, maka sakoenjoeng-koenjoeng diamoeknja chalasi, diboenoehnja beberapa orang; tetapi orang Belanda berhimpoenlah, laloe dihalaukannja orang jang mengamoek itoe. Maka orang Djawa banjak diboenoehnja; jang salebihnja terdjoen kadalam perahoenja, maka perahoe itoe kabanjakkan tenggelam di- petjahkan peloeroe mariam. Maka di Arisbaja orang Belanda tiada djoega selamat. Pada soeatoe hari Radja bersama-sama beberapa pengiringnja naik perahoe hendak mendapatkan nachoda De Houtman. Maka orang Belanda terkenang akan chianat orang Sedajoe, serta dengan tiada memeriksa niat orang jang datang itoe ditem- baknja sadja perahoe itoe, maka Radja dan beberapa anak boeahnja mati. Kemoedian orang Belanda singgah di poelau Bawean dan di Blambangan, akan tetapi orang Hindoe di Blambangan itoe tiada sempat berniaga, sebab negerinja dikepoeng oleh bala-

35 tantara Radja Islam di Pasoeroehan. Sebab itoe orang Belanda menjeberang selat Bali; di poelau itoe dibelinja roepa² hadjat, lain dari pada rempah² jang dikahendakinja. Satelah itoe, maka marika-itoe menjoesoer pantai sabelah selatan poelau Djawa, kasoedahannja sampai ka tanah Belanda. Adapoen pelajaran itoe doea tahoen empat boelan lamanja; 159 orang jang mati; 89 orang jang poelang. Maka saudagar, jang membelandjakan oeang kalangkapan itoe amat banjak roeginja; akan tetapi pelajaran bergoena djoega, karena hal ahwal tanah Djawa dan djalan kasitoe soedah dikatahoei orang. Arkian, maka adalah poela beberapa saudagar Belanda melangkapkan kapal delapan boeah, lakamananja (Admiraal) Van Neck namanja. Maka tatkala orang Belanda sampai ka Banten, maka marika-itoe disamboet dengan sapertinja, sebab pada masa itoe orang Banten berbantahan dengan orang Portoegis; djadi orang Banten bersahabat dengan orang Belanda, didjoealnja moeatan empat boeah kapal dengan harga jang sedang. Soedah itoe, maka kapal jang berisi itoe poelang, jang tinggal her- lajar ka poelau² Moloeko. Disitoelah orang Belanda moedjoer djoega: orang Banda dan orang Ambon dan Soeltan Ternate bertegoeh-tegoehan djandji dengan orang Belanda, maka didjoealnja rempah² jang dikahendakinja. Satelah kapal empat boeah sarat moeatannja, maka laksamana menjoeroeh anak boeahnja berlajar poelang. Maka sedjak pelajaran jang selamat itoe terdjadilah beberapa persarikatan saudagar, jang hendak membeli rempah² di tanah Hindia. Maka persarikatan itoepoen dinamai oleh orang Belanda Maatschappij atau Compagnie (diseboet Kompanji). Adapoen persarikatan itoe berloemba-loemba hendak membeli rempah², oleh sebab itoe harganja di tanah Hindia makin lama bertambah naik; sahingga atjap kali saudagar itoe meroegi. Dan lagi, sebab persarikatan itoe sendiri² sadja, maka tiada dapat dilawannja orang Ispanjol dan orang Portoegis dan radja², jang moengkir djandji.

Hatta, maka sebab hal jang demikian itoe pemerentah Belanda mengoempoelkan persarikatan itoe samoeanja pada tahoen 1602. Adapoen persarilcatan jang besar itoe namanja Vereenigde Oost-Indische Compagnie, ertinja perkoempoelan persarikatan Hindia. Maka persarikatan dianoegerai beberapa karoenia oleh pemerentah tanah Belanda; jang teroetama sakali jaani: Kapal jang lain tiada boleh berlajar ka tanah Hindia, melainkan kapal Compagnie. Compagnie koeasa berdjandji dan berperang dan berdamai dengan radja² di tanah Hindia, dan boleh mendirikan benteng. Compagnie boleh mengangkat dan melepaskan orang, jang makan gadji pada Compagnie. Sjahdan, sebab Compagnie diberi koeasa itoe, maka sabahagian labanja diserahkannja kapada negeri Belanda akan membalas karoenia jang tadi; tambaban lagi Compagnie berdjandji menoeloeng orang Belanda dalam perang. Tiap² orang boleh memindjamkan oeang kapada Compagnie, demikianlah dikoempoelkan orang 6, 5 djoeta roepiah. Maka jang memeliharakan Compagnie 17 orang; nama pangkat Toean itoe Bewindhebber.

Adapoen persarikatan itoe lama kalamaan amat besar koeasa-

nja di tanah Hindia. Maskipoen Compagnie itoe soedah lama hilang, tetapi sampai sakarang Gouvernement (pemerentahan) Belanda dinamai djoega Kompani oleh orang Hindia. Maka maksoed Kompani boekan menaaloekkan negeri², melainkan hendak berniaga sadja; akan tetapi Kompani atjap kali maoe ta maoe mentjampoeri perkara negeri di tanah Hindia, sebab radja negeri itoe ada, jang bermoesoeh dengan Kompani, ada jang melanggar perdjandjian, ada jang me- rompak, ada jang menoeloeng moesoehnja. Bermoela, maka angkatan, jang pertama-tama dilajarkan

oleh Kompani, 11 boeah kapal dibawah perentah Admiraal

Van Warwijk. Pelajaran itoe selamat: Toean Van Warwijk membeli saboeah lodji batoe di Banten dan di Gersik, dan

37 lagi Soeltan Djohor diberinja alat sendjata dan obat bedil

akan memerangi orang Portoegis. Lain dari pada Admiraal Van Warwijk ada poela banjak nachoda dan laksamana Belanda, jang berdjandji dengan radja² di Hindoestan, di poelau Ceilon, dan di poelau² Moloeko;

dalam beberapa negeri dibangoenkannja lodji dan benteng,

serta dibalaukannja orang Portoegis. Adapoen oentoeng baik itoe tiada kekal adanja. Kompani ditimpa tjelaka di poelau² Moloeko, jaitoe poelau Ternate dilanggar oleh orang Ispanjol serta Soeltan poelau itoe di- tawannja, karena iapoen bersahabat dengan Kompani; Admiraal Verhoeff di boenoeh dengan chianat oleh orang Banda; beberapa bangsa di poelau² Moloeko menaroeh dendam dalam hatinja, sebab Kompani bersoenggoeh-soenggoeh mentjoba beroleh monopoli rempah². Tambahan lagi orang Ispanjol dan Portoegis membinasakan beberapa kapal Belanda. Maka oentoeng malang Kompani itoe moelanja, sebab nachoda dan kapala lodji masinga menoeroet kahendaknja

sendiri; karena di tanah Hindia tiada saorang kapala, jang

memerentah segala orang Kompani. Oleh sebab itoe Toean² Bewindhebbers mengangkat saorang Toean akan wakil Kompani di tanah Hindia; nama pangkat- nja Gouverneur-Generaal; segala lodji dan benteng dan kapal dan soldadoe Kompani dibawah perentahnja. Adapoen Gouverneur-Generaal jang pertama Pieter Both namanja, lama pemerentahannja dari tahoen 1610 sampai tahoen 1614. Maka Gouverneur-Generaal diangkat oleh Toean Bewindhebbers dengan rila pemerentah negeri Belanda; Gouverneur-Generaal itoe ditoeloeng oleh beberapa manteri besar, pangkat Toean itoelah bernama Raad van Indië, (1) serta memberi

nasihat kapada Toean Besar.

Sjahdan, maka Gouverneur-Generaal bersama-sama dengan Raad van Indië mengangkat dan melepaskan manteri dan

(1) Orang Djawa menjeboet Rad pan Hindia, atau Edeler, jaitoe kata

Belanda Edele Heer ertinja Toean bangsawan.

38 panglima Kompani, dan memoetoeskan perkara jang teroetama sakali; oepamanja berperang dan berdamai dan bertegoehan djandji dengan radja². Dan lagi Raad van Indië itoe masing² memeliharakan sasoeatoe bahagian tanah Hindia; dalam Toean² itoe ada saorang, jang memegang hoetang pihoetang tiap² lodji dan jang memeliharakan harta benda dalam goedang Kompani, pangkat itoe bernama Directeur-Generaal.

FASAL VII. HIKAJAT GOUVERNEUR-GENERAAL JAN PIETERSZOON KOEN.

Alkesah, maka tatkala G. G. Both memeriksa lodji di Banten dan di Djakarta, maka didapatinja kalakoean kapala lodji itoe koerang patoet, sebab itoe Toean Both melepaskan orang itoe serta mengangkat akan kapala kadoea lodji itoe Gouverneur di poelau² Ambon, Jan Pieterszoon Koen namanja. Adapoen Toean Koen faham dalam segala hal ahwal perniagaan, lagi radjin dan bidjaksana; kabadjikan Kompani diperhatikannja dengan soenggoeh², djikalau dengan kakerasan sakalipoen. Toean Koen tiada soeka memboedjoek orang besara; kalau titah Toean² Bewindhebbers tiada satoedjoe dengan pikirannja sendiri, maka Toean Koen berani menjalah- kan perentah itoe. Hatta, maka Mangkoe Boemi di Banten tiada berbaik dengan Kompani, akan tetapi tiada djoega dikahendakinja orang Belanda meninggalkan Banten, karena perniagaan mendatang- kan laba amat banjak kapada orang Banten Maka sedjak tahoen 1602 orang Inggeris doedoek di Banten, maka beberapa Toean Koen mentjoba mengoesir orang itoe, tiada djoega dapat; tambahan lagi orang Inggeris mendirikan saboeah lodji di Djakarta dekat lodji Kompani.

39 Arkian, maka Gouverneur-Generaal menjoeroeh oetoesan kapada Panembahan Mataram; maka Panembahan itoe dinamai dalam hikajat Soeltan Ageng, lama pemerentahannja dari tahoen 1613 sampai tahoen 1646. Maka oetoesan itoepoen disamboetnja dengan baik; Kompani diberinja izin memba- ngoenkan saboeah lodji di Djapara. Demi terdengar chabar oleh Mangkoe Boemi Banten dan oleh Radja Djakarta, bahoea Kompani telah mengoetoes kapada Panembahan Mataram, maka kadoea-doeanja masgoel dan sjak hatinja; pada sangkanja Kompani bertegoeh-tegoehan djandji dengan Soeltan Ageng akan menjerang Banten dan Djakarta; sebab itoe Mangkoe Boemi dan Radja Djakarta berkoempoel hendak melawan orang Belanda. Adapoen niat itoe dikatahoei oleh Toean Koen, maka dengan sigera disoeroehnja anak boeahnja mendirikan saboeah benteng dengan tiada minta karilaan Radja Djakarta. Maka perdjandjian dengan Soeltan Ageng tiada berfaidah kapada Kompani. Pada soeatoe hari tahoen 1618 lodji di Djapara didatangi raajat Mataram, harta benda Kompani di- rampasnja, dan orang isi lodji itoe saparohnja diboenoehnja, saparohnja dibantarkannja ka Mataram. Maka tiada dikatahoei orang, apa moelanja kalakoean Soeltan Ageng jang demikian itoe; berangkali Panembahan marah, sebab Gouverneur-Generaal segan memerangi Banten bersama-sama balatantara Mataram. Pada masa itoe djoega beberapa orang Djawa mentjoba masoek kadalam benteng di Djakarta, tetapi marika-itoe dihalaukan oleh soldadoe Belanda. Demikianlah Kompani kadatangan marabahaja; roepa-roepanja akan binasa, tetapi Toean Koen tiada takoet, melainkan menjiapkan raajatnja akan menantikan moesoehnja. Maka disoeroehnja saorang laksamana ka Djapara, soepaja tawanan disitoe lepas akan tetapi permintaan itoe tiada diterima oleh Boepati Djaparai sebab itoe laksamana itoe merampas perahoe Djawa di pe- laboehan, seraja membakar sabahagian negeri Djapara, laloe poelang.

40 Adapoen Radja Djakarta chawatir melihat Kompani mem- bangoenkan benteng; sebab itoe negerinja ditegoehkannja, dengan kota parit; dan lagi orang Inggeris menoeloeng Radja itoe, serta mendirikan koeboe dihadapan lodji Belanda. Maka dalam pada itoepoen Toean Koen naik Gouverneur-Generaal. Bermoela, maka tiada lama lagi, maka orang Inggeris, jang bermoela menjerang Kompani, jaitoe laksamana Inggeris jang menghimpoenkan 15 boeah kapal di Banten, merampas saboeah kapal Belanda. Adapoen G. G. Koen minta kapal itoe dikembalikan oleh orang Inggeris, tetapi laksamana Inggeris tiada maoe, katanja: bahoea maksoednja hendak berlajar ka Djakarta akan mengoesir orang Kompani serta menangkap Gouverneur-Generaal. Maka terlaloe marah Toean Koen, maka diserangnja dan dibinasakannja koeboe dan lodji Inggeris di Djakarta, soeng- goehpoen marika-itoe dibantoe oleh Radja Djakarta. Hatta, maka baroe Admiraal Inggeris beroleh chabar menga- takan koeboe dan lodji itoe binasa, maka dengan sigera berlajarlah ia hendak memerangi orang Belanda. Adapoen Toean Koen amat sangat kasoesahannja, sebab moesoehnja sakian banjak itoe; dan lagi benteng beloem habis diboeat; soldadoenja dan obat bedil dan peloeroe koerang banjak; tambahan lagi beberapa kapal sedang dibaiki. Maka saboleh-bolehnja kapal dan benteng disediakan orang. Tatkala orang Inggeris bertemoe dengan kapal Belanda, maka ditembaknja moesoehnja; maka beberapa lamanja kadoea belah pibak berperang, tetapi tiada jang menang. Maka pikir Gouverneur-Generaal: »Baiklah akoe pergi ka poelau Ambon akan mengambil bantoean, sebab disini kapal dan soldadoe koerang banjak, nistjaja pada achirnja Kompani alah."— Maka dipanggilnja panglima Van den Broeke; titahnja: »Akoe haroes berlajar ka poelau Ambon akan mentjari pertoeloengan; sebab itoe sapeninggalkoe lodji dan benteng ini Toean peli- harakan; djikalau kiranja kelak Toean terşesak tiada berdaja lagi, baiklah benteng dan lodji Toean serahkan kapada orang Inggeris, dan harta benda kapada Radja Djakarta; dan lagi

djaga baik² Toean djangan ditipoe oleh Radja itoe." Soedah itoe Toean Koen berlajar. Adapoen orang isi benteng di Djakarta 400 orang; dalamnja 250 orang laki² jang memakai sendjata. Hatta, maka Radja Djakarta menaroeh chianat; dikirimnja sapoetjoek soerat kapada panglima Van den Broeke, boenjinja: »Radja hendak berdamai, asal Kompani membajar 6000 rial; serta ia soeka sakali bertemoe dengan Toean Van den Broeke."— Maka Toean Van den Broeke tiada terkenang akan nasihat Toean Koen, melainkan pergilah ia ka astana Radja diiringkan lima orang. Pada koetika iapoen masoek kadalam penghadapan, maka tiba² marika-itoe ditawan dan dibantarkan orang ka roemah pendjara. Maka Toean Van den Broeke dipaksa Radja menoelis sapoetjoek soerat kapada anak boeahnja, boenjinja: bahoea marika-itoe disoeroeh me- njerahkan dirinja kapada Radja Djakarta. Moela² panglima moeda dalam benteng tiada maoe mela- koekan perentah itoe, tetapi kasoedahannja diboeatnja djoega, sebab pada sangkanja moesoehnja tiada terlawan. Maka di- tentoekan oleh kadoea belah pihak itoe, bahoea benteng akan didoedoeki orang Inggeris, serta harta benda akan diserahkan kapada Radja Djakarta; orang isi benteng akan dihantarkan kapada lodji Belanda di Hindoestan. Maka dengan sabenarnja perdjandjian itoe tiada dilakoekan; adapoen sebabnja diterangkan dibawah ini. Samantara lodji Kompani dikepoeng, maka datanglah ka Djakarta raajat Banten beberapa riboe orang, jang disoeroeh Mangkoe Boemi mendjaga perboeatan Radja Djakarta, (1) sebab Mangkoe Boemi itoe ingin beroleh sabahagian harta benda Kompani. Hatta, maka tatkala hoeloebalang besar balatantara Banten itoe mendengar chabar, bahoea benteng akan diserahkan, maka sigeralah ia pergi ka astana diiringkan anak boeahnja; satelah masoek, maka dihoenoesnja kerisnja saperti lakoe hendak menikam akan Radja; serta katanja:

(2) Pada sangka orang, jang faham dalam hikajat, Radja Djakarta boekan
Radja jang bebas, melainkan taaloek kapada Radja Banten.

42 »Djikalau Toeankoe tiada toeroen, nistjaja Toeankoe di- boenoeh sabentar ini. Maka terlaloe takoet Radja dengan gementar toeboehnja, maka salekas-lekasnja ditinggalkannja negerinja. Sabermoela, adapoen orang Inggeris terlaloe sakit hatinja, karena orang Banten tiada menerima perdjandjian orang Inggeris dengan Kompani; laloe orang Inggeris berlajar ka selat Soenda hendak merompak kapal Kompani, jang me- noedjoe ka tanah Hindia. Kalakian, maka Mangkoe Boemi menjoeroeh orang isi benteng menjerahkan dirinja, seraja Toean Van den Broeke dengan kawannja dihantarkan orang ka Banten. Akan tetapi orang Relanda memberani-beranikan hatinja poela, serta ber- harap Toean Koen tiada lama lagi akan datang; oleh karena itoe panglima moeda itoe poera² hendak melakoekan kahen- dak Mangkoe Boemi, sambil dilandjoetkannja bitjara dari hal perdamaian dengan orang Banten. Tambahan lagi pada soeatoe hari marika-itoe sedang ramai bersoeka-soekaan makan minoem, sambil dipaloe orang boenji- boenjian, maka benteng dinamai Batavia (1) oleh panglima moeda. Maka segala orang jang halir itoe bertepoek dan bersoerak, maka mariam ditembakkan akan menghormati ban- dera Belanda, jang pada koetika itoe djoega dinaikkan orang diatas benteng. Pada achirnja 28 hari boelan Mei tahoen 1619 G. G. Koen sampai ka Djakarta dengan membawa 16 boeah kapal. Pada kaesokan harinja soldadoe 1000 orang naik darat, laloe orang Djakarta dan orang Banten dialahkannja serta Djakarta di- bakarnja. Soedah itoe, maka Toean Koen berlajar ka Banten hendak melepaskan Toean Van den Broeke dengan kawannja. Maka orang itoe diserahkan oleh Mangkoe Boemi maoe ta maoe; tetapi Mangkoe Boemi amat bentji, sebab itoe di- larangnja lada akan didjoeal lagi kapada Kompani.

(') Nama Batavia asalnja dari pada kota Batavier, jaitoe nama bangsa
orang, jang pada zaman dehoeloe kala mengadiami tanah Belanda. Batavia diseboet Batawi oleh orang Hindia.

43 Kemoedian dari pada itoe G. G. Koen berbalik, laloe dititahkannja mendirikan saboeah negeri pada tempat bekas Djakarta. Adapoen negeri jang baroe itoe mendjadi iboe negeri saloeroeh tanah Kompani, namanja Batavia djoega. Satelah itoe, maka Gouverneur-Generaal pergi mendapatkan orang Inggeris; dimana-mana djoega dilanggarnja kapalnja, sahingga orang Inggeris hampir habis dioesir dari pada tanah Hindia. Sajang pada masa itoe djoega sampailah chabar, baboea Radja Inggeris dan Radja Belanda soedah berdjandjian, maka dilarangnja anak boeahnja berporangan lagi di tanah Hindia, dititahkannja kadoea bangsa itoe bersahabat. Adapoen Toean Koen masgoel hatinja, sebab orang Inggeris dibiarkan doedoek poela di tanah Hindia, tetapi perentah itoe didjoendjoengnja djoega. Maka pada perdamaian orang Inggeris dengan orang Belanda ditentoekan oleh kadoea Radja itoe bahoea tiap² bangsa memilih beberapa orang, maka orang itoe haroes berkoem- poel dan memperhatikan segala hal ahwal kadoea bangsa itoe; akan tetapi kadoea belah pihak senantiasa berselisih djooga. Kalakian, maka pada tahoen 1621 Toean Koen berlajar ka poelau Banda akan menjiksa orang Banda, sebab atjap kali dilanggarnja perdjandjian dengan Kompani. Satelah sam- pai, maka balatantara Belanda membakar beberapa kampoeng, serta orang Banda banjak diboenoehnja dan banjak poela dihantarkannja ka Batawi. Maka doea tahoen kemoedian dari pada itoe Toean Koen berangkat ka negeri Belanda, maka gantinja bernama De Carpentier. Bermoela, maka terseboetlah perkataan karadjaan Mataram. Adapoen Soeltan Ageng berkahendak Kompani mengakoe dibawah hoekoemnja, tetapi soenggoehpoen Kompani soeka sakali bersahabat dengan Baginda, tetapi tiada maoe mendjadi hambanja. Oleh karena itoe Soeltan Ageng menaroeh den- dam dalam hatinja, serta bersoempah akan membalas Kompani, tetapi pada masa itoe tiada sempat, sebab moela²

44 saloeroeh tanah Djawa tengah dan timoer hendak ditaaloek- kannja. Maka dialahkannja bertoeroet-toeroet. Rembaug dan Pa- soeroehan dan Gersik, sambil kampoeng dan negeri dibakar orang Mataram, dan beriboe-riboe orang diboenoehnja dan beriboe-riboe orang didjadikannja sahaja. Kemoedian dari pada itoe poelau Madoera dilanggar oleh raajat Mataram. jang tiada tepermanai banjaknja, saolah- olah menoetoepi padang goenoeng. Maka poelau Madoera habis dibinasakannja, dan Panembahan tiga orang diboenoehnja dengan titah Soeltan Ageng, hanja Panembahan Sampang jang dipeliharakan njawanja, sebab dahoeloe ia soedah mem- perhambakan dirinja kabawah Soeltan Ageng. Diantara orang Madoera jang tinggal 10.000 orang disoeroehnja beralih ka tanah Djawa akan mendiami negeri jang soenji karena perang. Adapoen negeri jang besar dan ramai sakali jaitoe Soerabaja, maka negeri itoe dikepoeng djoega oleh raajat Mataram. Maka dititahkan oleh Soeltan Ageng anak boeahnja meng- obahkan hiliran Kali Mas; satelah soedah, maka bangkai orang dan binatang diboeangkan kadalam soengai jang hampir kering ajarnja itoe, soepaja terbitlah penjakit dalam kota itoe. Pada achirnja Adipati Soorabaja tiada berdaja lagi, maka anak isterinja dengan tangannja terkebat disoeroehnja menghadap Soeltan Ageng akan memoehoen maaf. Maka Adipati diampoeni dosanja oleh Soeltan Ageng, asal ia menga- koe taaloek kapada Panembaban Mataram (pada tahoen 1625). Maka satelah Soesoehoenan Giri dialahkan oleh Soeltan Ageng, maka radja² jang taaloek memberikan gelar Soesoehoenan kapada Panembahan Mataram. Kasoedahannja Soeltan Ageng berniat hendak mengalahkan Kompani; maka samantara balatantara dilangkapkannja Toean Koen datang ka Batawi poela dengan berpangkat Gouverneur-Generaal (pada tahoen 1627). Moela² Soeltan Ageng mentjoba mengalahkan Batawi dengan tipoe daja. Pada soeatoe hari tahoen 1628 sampailah ka Batawi

45 beborapa perahoe berisi beras padi dan lemboe, jaitoe bing- kisan Soesoehoenan bagi Kompani. Adapoen Gouverneur-Generaal sjak hatinja, dititahkannja perahoe diberi masoek kadalam kota berdoea sakali sadja. Dengan sabenarnja banjak raajat Mataram bersemboenji dalam perahoe itoe; pada soeatoe malam jang kaboet orang itoe kaloear, laloe menjerang tetapi dihalaukan oleh soldadoe Belanda. Pada kaesoekan harinja balatantara Mataram datang menge- poeng Batawi, hoeloebalangnja besar bernama Toemenggoeng Bahoe Rekså. Maka beberapa lamanja orang Mataram mengelelingi Batawi, maka tiba² marika-itoe didatangi orang Kompani. Adapoen orang Djawa alah, serta petjah belah; dalam bangkai orang di peperangan ada djoega mait Toemenggoeng Bahoe Rekså berdoea dongan anaknja. Maka tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe raajat Mataram 10.000 orang sampai ka Batawi; dibawah perentah panglima Soerå-ing-ngalågå, tetapi balatantara itoe tiada djoega dapat masoek. Tiap² hari orang Djawa ada jang mati karena kasangsaraan dan karena penjakit, sahingga balatantara itoe poelang sadja. Pada koetika raajat Mataram hendak me- ninggalkan daerah Batawi, Soerå-ing-ngalagå menjoeroeh boe- noeh lebih dari pada 700 anak boeahnja beserta hoeloebalangnja, sebab orang itoe sia2 menjerang. Chabarnja Soerå-ing-ngalägå diboenoeh djoega oleh Soeltan Ageng. Adapoen akan Soesoehoenan amat pedih hatinja, lagi dengan maloenja kapada radja² di tanah Hindia. Maka dititahkannja, bahoea raajat 80.000 orang dan alat sendjata dikoempoelkan; dan lagi di Tegal diboeat orang goedang jang besar berisi beras akan bekal balatantara itoe. Maka Toean Koen tahoe akan maksoed Soesoehoenan, maka disoeroehnja saorang laksamana membinasakan goedang itoe. Satelah sampai ka Tegal, maka orang Kompani mem- bakar goedang itoe bersama beras 4000 pikoel dan 200 boeah perahoe jang bermoeat. Hatta, maka balatantara Mataram berdjalan empat boelan

46 lamanja, baroe sampai ka Batawi pada 21 hari boelan Augustus tahoen' 1629. Maka dalam pada itoepoen Kompani ditimpa oentoeng malang jang amat besar, jaitoe malam 21 hari boelan September Gouverneur-Generaal Koen mangkat. Maka segala orang Kompani doekatjita amat sangat, maka mait Toean Koen diarak oleh orang Batawi, laloe dikoeboerkan sabagaimana adat orang besar2. Sjahdan, maka pemerentah Kompani tiada menjoeroeh soldadoe kaloear akan berperang; pada sangkanja moesoeh itoe tiada lama lagi akan oendoer, karena orang Mataram kakoerangan makanan. Maka betoellah pikiran itoe: raajat Soesochoenan kalaparan, sahingga terpaksa poelang, tetapi kira² saperempat sadja jang sampai ka Mataram. Di djalan jang dilaloeinja tersiar-siar bangkei orang dan bangkei kerbau dan mariam dan sendjata, jang ditinggalkan orang. Maka Soeltan Ageng menitahkan boenoeh beberapa panglima serta banjak anak boeahnja.

FASAL VIII. HIKAJAT SOELTAN HASANOE'DDIN DI MANGKASAR. Bermoela, maka sedjak balatantara Soeltan Ageng alah di Batawi, maka Kompani makin lama bertambah moelia, serta dimaloei radja² di tanah Hindia, teroetama sakali satelah Malaka dialahkan oleh orang Belanda pada masa pemerenta- han G. G. Van Diemen (dari tahoen 1636 sampai tahoen 1645). Adapoen Gouverneur-Generaal itoe berlajar ka poelau² Moloeko, laloe ditaaloekkannja beberapa bangsa orang, jang doerhaka kapada orang Belanda, sebab Kompani memaksa orang negeri mendjoeal rempah² dengan harga, jang ditetap- kan oleh Kompani, seraja menjoeroeh tebang pohon pala dan

47 pohon tjengkeh dalam beberapa negeri, soepaja rempah djangan terlaloe banjak. Sjahdan, maka pada masa itoe karadjaan Mangkasar atau Goa mashoer pada saloeroeh tanah Hindia; orang Mangkasar berlajar kapada segala bandar di poelau² Hindia akan ber- niaga; maka bangsa² Hindia takoet kapadanja, sebab orang Mangkasar dan orang Boegis perompak jang gagah berani. Pada tahoen 1653 ada saorang radja di tanah Goa, jang bernama Soeltan Hasanoe'ddin. Adapoen Radja itoe tiada mengendahkan Kompani: orang Moloeko, jang doerhaka kapada Kompani, dibantoenja, tambahan lagi diperanginja Soeltan Boeton, jang bersahabat dengan orang Belanda. Maka di poelau itoepoen ada saboeah benteng jang didoedoeki sol- dadoe Kompani, Maskipoen orang isi benteng amat berani kalakoeannja, tetapi moesoehnja masoek djoega. Maka pada koetika itoe djoega orang Belanda membakar obat bedil, sahingga benteng meletoes: saorang poen tiada lepas dari pada bahaja maoet, seraja orang Mangkasar amat banjak terboenoeh djoega. Arkian, maka terdengarlah chabar kapada Gouverneur-Generaal Maetsuijker (dari tahoen 1653 sampai tahoen 1678), bahoea Soeltan Hasanoe'ddin beroetoes kapada Soesoehoenan Mataram akan bertegoeh-tegoehan djandji hendak memerangi Kompani. Maka dengan hal jang ,demikian itoe Gouverneur-Generaal tiada sabar dari pada menjerang Mangkasar, maka angkatan kapal bersama-sama perahoe orang Moloeko, jang bermoesoeh dengan orang Mangkasar, berkoempoel di poelau Ambon dibawah perentah laksamana doea orang, Truitman dan Van Dam namanja. Maka kalangkapan itoepoen sakoe- njoeng-koenjoeng tiba di pelaboehan Mangkasar; disitoelah enam boeah kapal Portoegis berlaboeh. Moela² kapal itoe dibinasakan oleh orang Kompani, laloe marika-itoe naik darat, maka sedang ramai berperang di- alahkannja benteng Panakoke dekat Mangkasar. Hatta, maka kemoedian dari pada itoe Soeltan Hasanoe'ddin berdamai; didjandjikannja bahoea orang jang doerhaka ka-

48 pada Kompani tiada akan dibantoenja lagi, serta Radja Mangkasar tiada bertegoeh-tegoehan djandji dengan Soesoe- hoenan Mataram; dan lagi benteng Panakoke senantiasa didalam tangan Kompani, (pada tahoen 1660). Satelah beberapa lamanja, maka Soeltan Hasanoe'ddin tiada menjampaikan djandjinja. Pada soeatoe hari doea boeah kapal Belanda terkaram di pantai tanah Mangkasar, maka kapal itoe dirampas serta anak kapal diboenoeh dengan sa- tahoe Soeltan. Maka wakil Kompani di Mangkasar menghadap Soeltan, maka dipintanja perompak itoe kena hoekoem; akan tetapi Baginda menolak permintaan itoe dengan perkataan jang tiada laik. Maka sebab hal jang demikian itoe Kompani berlangkap hendak berperang poela. Adapoen laksamana Kompani, Cor- nelis Speelman, berangkat dari Batawi dengan membawa 13 boeah kapal jang besar. Maka pada koetika itoepoen Soeltan Boeton tersesak oleh raajat Mangkasar, sahingga ia lari ka goenoeng. Maka dalam pada itoepoen Admiraal Speelman sampai kasana, laloe habis membinasakan balatantara Mangkasar. Soedah itoe, maka kapal Belanda berlajar ka Mangkasar; maka Soeltan Hasanoe'ddin minta ampoen, dibajarnja oeang akan bangoen orang Kompani, jang diboenoeh anak boeahnja, serta orang Mangkasar dilarangnja merompak lagi. Adapoen dalam perang itoe Kompani ditoeloeng oleh Pangeran Aroe Palaka dengan orang Bone. Kemoedian, maka terseboetlah perkataan Pangeran Aroe Palaka, anak radja di Sopeng. Maka sakali peristiwa karadjaan Bone dialahkan oleh orang Mangkasar, maka dalam perang itoepoen Radja Sopeng, jang bertjampoer dengan orang Bone, ditawan, laloe diboenoeh dengan titah Soeltan Mangkasar, serta anaknja Aroe Palaka mendjadi bamba dalam astana Radja Mangkasar. Satelah beberapa lamanja dengan hal jang demikian itoe, maka Pangeran Aroe Palaka dapat lari ka Batawi akan memper- hambakan dirinja kapada Kompani.

49 Sjahdan, maka iapoen menoeroet balatantara Belanda, jang memerangi orang Atjeh di poelau Pertja sabelah barat akan membantoe Radja Menangkabau (dari tahoen 1660 sampai tahoen 1664). Maka terlaloe berani kalakoean Pangeran itoe. Pada masa perang Kompani dengan Mangkasar diadjaknja orang Bonè melepaskan dirinja dari pada hoekoem Radja Mangkasar. Adapoen orang Bone mengoesir orang Mangkasar seraja menoeloeng Kompani akan memerangi Soeltan Hasanoe'ddin. Sabermoela, maka maskipoen Soeltan Hasanoe'ddin telah merasai koeasa Kompani, tetapi dilangkahinja poela djan- djinja, raajatnja melanggar saboeah perahoe Kompani. Adapoen Toean Speelman pada koetika itoe tinggal di poelau Ambon, maka baroe didengarnja chabar, bahoea orang Mangkasar telah merampas perahoe Kompani, maka segeralah disoeroehnja laskarnja menjerang tanah Mangkasar. Kalakian, maka balatantara Mangkasar alah di darat dan di laoet, sahingga Soeltan Hasanoe'ddin tawar hatinja dan toendoek. Maka fasal perdamaian itoe amat berat kapada Soeltan Mangkasar; jang teroetama sakali, jaani: Pertama: Segala negeri jang dahoeloe ditaaloekkan oleh Radja Mangkasar haroes lepas dari pada hoekoemnja. Kadoea: Kapal Mangkasar tiada boleh berlajar kasabelah timoer tandjoeng Lasoa. Katiga: Kompani beroleh monopoli beberapa matjam da- gangan di tanah Mangkasar. Kaempat: Soeltan Mangkasar membajar belandja perang 25000 ringgit. Maka perdamaian itoe bernama dalam hikajat perdamaian di Boengaja sapandjang nama kampoeng Boengaja dekat Mangkasar, tempat perdjandjian itoe ditetapkan oleh Toean Speelman dan Soeltan Hasanoe'ddin. Dan lagi radja negeri² jang dilepaskan oleh Kompani me- ngakoe Kompani mendjadi Jang-dipertoean (pada tahoen 1667). Hatta, maka pada tahoen 1672 Radja Bone toeroen, ke-Hikajat tanah Hindis.

50 moedian radja² ketjil di Bone memilih Pangeran Aroe Palaka akən ganti Radja itoe, menoeroet adat kabanjakan karadjaan di poelau Selebes, jaitoe Radja haroes dipilih oleh beberapa orang besar² (radja ketjil). Adapoen Soeltan Hasanoe'ddin tiada dapat menahan batinja; dititahkannja poela merompak saboeah kapal Kompani. Satelah itoe, maka Radja jang moengkir djandji itoe habis ditaaloekkan oleh Kompani; koeasanja dikoerangi poela, se- gala benteng dan alat perang haroes diserahkannja, tambaban lagi Soeltan sakali-kali tiada boleh meninggalkan keratonnja di Oedjoeng Pandan. Demikianlah lenjap kabesaran tanah Mangkasar. Maka lama kalamaan karadjaan Bone mengganti Mangkasar, sebab Radja Aroe Palaka dan radja² jang kemoedian dari padanja mengembangkan koeasanja, sahingga pada abad jang kade- lapanbelas banjak negeri di poelau Selebes taaloek kapada Radja Bone.

FASAL IX. HIKAJAT SOESOEHOENAN TEGAL WANGI DENGAN TROENA DJÄJÃ. Alkesah, maka terseboetlah perkataan Soeltan Ageng Radja Mataram. Adapoen saoemoer hidoepnja Baginda menaroeh dendam jang amat sangat kapada Kompani; maka beberapa ditjoba oleh Kompani hendak berdamai; baik dengan ka- kerasan, baik dengan lemah lemboet, tiada djoega mendjadi. Hatta, maka G. G. Van Diemen mentjahari daja oepaja hendak melepaskan orang Belanda, jang telah ditawan di Djapara. Sakali peristiwa beberapa oetoesan Soesoehoenan menoem- pang di kapal Inggeris akan mempersembahkan bingkisan

51 kabawah Sjarif (penghoeloe agama) di Mekah, sebab Soe-

soehoenan telah beroleh gelar Soeltan dari pada Sjarit itoe. Maka kapal itoe dilanggar oleh kapal Kompani; serta soe- roehan itoe ditawan, anak kapal dihantarkannja ka Batawi. Akan tetapi Soeltan Ageng tiada djoega maoe mempertoekar- 2 kan tawanan itoe dengan orang Belanda di Mataram. Arkian, maka pada tahoen 1646 Soeltan Ageng mangkat;

jang menggantikan karadjaannja jaitoe poeteranja jang boeng-

soe, Soesoehoenan Amangkoe Rat namanja; sateleh Radja itoe berpoelang, maka namanja Soesochoenan Tegal Wangi djoega. Demi Soesoehoenan itoe naik tachta karadjaan, maka tawanan Belanda dilepaskannja samoeanja, serta dititahkan- nja oetoesan ka Batawi hendak berdamai. Maka pemerentah Kompani bermasjawarat dengan soeroe- han itoe; satelah poetoes bitjaranja, maka ditentoekannja perkara jang dibawah ini, jaani: Pertama: Sakali satahoen Kompani menjoeroeh oetoesan kapada Soesoehoenan akan memberi tahoe harta benda apakah jang endah² telah dibawa dari negeri Belanda ka Batawi. Kadoea: Kompani berdjandji hendak memerangi radja jang doerhaka kapada Soesoehoenan, asal radja itoe bermoesoeh dengan Kompani; demikian poela Soesoehoenan berdjandji akan memerangi moesoeh Kompani. Anak boeah Soesoehoenan tiada boleh berniaga

Katiga:

di poelau² Moloeko, dan lagi nachoda kapal Mataram jang melaloei negeri Malaka haroes minta izin kapada Kompani. Sabermoela, maka kemoedian ditjeriterakan hikajat Soesoehoenan Tegal Wangi. Bahoea senja radja² di tanah Hindia pada zaman itoe memerentah dengan sakahendaknja sadja; iapoen dihormati dan disembah oleh anak boeahnja saperti dewa; oleh karena

itoe sedjak ketjilnja radja itoe berboeat sasoeka hatinja serta

memoeaskan hawa nafsoenja: saorang djoeapoen tiada boleh

menjalahkan kalakoeannja. Dengan hal jang demikian itoe anak boeahnja disangkakannja hamba sahaja, jang hina sakali, saolah-olah permainan sadja; sebab itoe radja jang kabanjakan lalim; atjap kali anak boeahnja diboenoehnja akan memoeas- kan moerka atau kasoekaan Baginda. Adapoen dalam Radja² Mataram Soesoehoenan Tegal Wangi ialah jang terlebih boeroek namanja, karena bengisnja dan nafsoenja jang djahat. Maka ditjeriterakan oleh jang empoenja tjeritera ini, ba- hoea Soesoehoenan mentjahari akal hendak membinasakan Patihnja Wirå Goenå; inilah moelanja kabentjian Baginda: Pada masa ajahenda Baginda lagi hidoep, miaka dilarikan oleh Pangeran Adipati Anom (1) akan saorang goendik Wirå Goenå; adapoen Patih itoe menghadap Soeltan Ageng serta mengadoekan halnja; akan tetapi Baginda moerka kapada-

nja, sebab goendik itoe tiada dipersembahkannja kapada

Pangeran Adipati Anom. Maka Pangeran itoe kena moerka ajahenda djoega, iapoen dititahkannja mengembalikan goendik itoe kapada soeaminja. Maka titah itoe didjoendjoengnja, sambil ia bersoempah dalam hatinja Patih itoe akan dibina- sakannja kelak. Satelah Pangeran Adipati Anom naik radja, maka dititahkannja Wirå Goenå menaaloekkan karadjaan Belambangan dan poelau Bali, akan tetapi raajatnja sadikit orang sadja, sahingga perentah itoe tiada boleh dilakoekannja; oleh karena itoe Wirå Goenå diboenoeh bersama-sama sakalian ka- oemnja dengan titah Soesoehoenan. Adapoen kakanda Baginda Pangeran Alit bersahabat dengan Patih Wirå Goenå, sebab itoe iapoen katakoetan, kalau² binasa djoega; dan lagi Soesoehoenan dibentjinja, karena ialah jang diradjakan ajahenda. Maka Pangeran itoe bermoeafakat dengan beberapa orang besar² dan orang alim hendak menoeroenkan Baginda; akan () Pangeran Adipati Anom jaitoe gelar poetera radja, jang akan mendjadi ganti ajahenda, djadi dalam tjeritera ini Pangeran Adipati Anom jaitoe Soesoehoenan Tegal Wangi.

53 tetapi rahasia itoe terboeka akan Soesoehoenan, maka dititahkannja hoeloebalangnja memboenoeh orang besar2 jang doerhaka itoe. Soedah itoe, maka Pangeran Alit dipanggil menghadap Soesoehoenan. Tatkala Pangeran Alit soedah masoek kadalam penghadapan, maka Baginda mencendjoekkan kapala sahabatnja, sambil Pangeran Alit dititahkannja meni- kam kapala itoe dengan kerisnja sendiri. Kemoedian Pangeran Alit dihantarkan orang kapada goeroenja jang lama, soepaja boedi akalnja bertanıbah terang. Adapoen Pangeran Alit amat maloe, kasoedahannja tiada dapat menahan hatinja lagi, me- lainkan masoek kadalam astana Soesoehoenan salakoe orang gila, kerisnja terhoenoes hendak ditikamkannja kapada Baginda. Maka kawal Madoera diisjaratkan oleh Soesoehoenan, laloe Pangeran Alit diboenoehnja. Sjahdan, maka Soesoehoenan berniat hendak memboenoeh orang alim, jang bersakoetoe dengan Pangeran Alit, tiada dikatahoeinja siapa dalam orang alim itoe doerhaka, siapa tiada. Maka segala orang alim dipanggil Soesoehoenan; satelah berkoempoel, maka marika-itoe samoeanja habis di- boenoeh oleh raajat Soesoehoenan bersama-sama sanak saudaranja poen; demikianlah dalam satengah djam lamanja kira² 6000 orang mati. Sakali peristiwa Soesoehoenan kamatian saorang isterinja, jang amat sangat dikasehinja; maka tatkala mait permaisoeri itoe dikoeboerkan, maka dititahkan Baginda mengoeroeng perampoean saratoes orang, hingga mati kalaparan samoeanja; jaitoe akan alamat tjinta Baginda kapada isterinja, jang telah berpoelang itoe. Djikalau segala hal ahwal kalakoean dan tabiat Soesoehoenan Tegal Wangi ditjeriterakan, nistjaja djemoe orang jang mem- batja hikajat ini; jang diriwajatkan diatas ini soedah tjoekoep. Sabermoela; soenggoehpoen orang jang kabanjakan pada zaman itoe biasa dianiaja oleh radjanja, tetapi lalim dan bengis Soesoehoenan Tegal Wangi tiada terderita lagi; saorang djoeapoen tiada senang hati, baik orang besar, baik orang ketjil: sanak saudaranja poen ketjil hati.

54 Maka dengan hal jang demikian itoe, tatkala saorang Pangeran hendak melepaskan dirinja dari pada hoekoem Soesoehoenan, maka sadikit orang sadja, jang setia kapada Baginda. Adapoen Pangeran, jang doerhaka kapada Soesoehoenan saorang Pangeran Madoera, Troenå Djajå namanja. Alkesah, maka Pangeran Troenå Djajå anak saudara Panembahan di Sampang, Tjakra-ning-Rat II namanja. Adapoen akán Troenå Djajå timboellah niat dalam hatinja hendak naik radja; maka maksoednja itoe moedah disampaikannja, sebab orang Madoera tiada senang hati, seraja Panembahan Tjakra-ning-Rat senantiasa doedoek di Plered. (1) Hatta, maka pada tahoen 1675 Pangeran Troenå Djaja bertegoeh-tegoehan djandji dengan doea orang Mangkasar, Kraeng Galesoeng dan Bonto Boerane namanja. Adapoen tatkala Soeltan Hasanoe'ddin dialahkan oleh Admiraal Speel- man, maka kadoea orang itoe meninggalkan negerinja dengan anak boeahnja, laloe merompak dan meroesakkan negeri² di pantai laoet. Satelah soedah berkoempoel dengan Troenå Djajå, maka orang Mangkasar doedoek di Pasoeroehan dan di Besoeki serta didirikannja koeboe dan benteng disitoe. Maka beberapa lamanja dengan hal jang demikian itoe, maka datanglah raajat Mataram akan mengoesir orang Mangkasar, akan tetapi balatantara itoe habis dibinasakan oleh orang Mangkasar dan orang Madoera. Kemoedian dari pada itoe Soesoehoenan minta pertoeloengan kapada Kompani sapandjang perdjandjian pada tahoen 1646. Moela² G. G. Maetsuijker tiada maoe mentjampoeri hal ahwal karadjaan Mataram, tetapi pada achirnja diboeatnja djoega, sebab orang Mangkasar merompak perahoe orang Djawa, jang hendak berlajar ka Batawi. Adapoen soldadoe Belanda mengalahkan orang Mangkasar, serta Bonto Boerane mati tengah perang itoe; kemoedian balatantara itoe poelang ka Batawi. Pada sangka panglima

(²) Plered jaitoe tempat kadoedoekan Soeltan Tegel Wangi dekat negeri
Djogjakarta jang sakarang.

besar Belenda orang Mangkasar, jang tjerai berai itoe dapat habis dibinasakan oleh balatantara Mataram, jang akan da- tang dibawah perentah anak soeloeng Soesoehoenan. Maka Pangeran itoe poen lalai dan lambat dan koerang berani; oleh karena itoe orang Mangkasar sempat berhimpoen, laloe dialahkannja balatantara Mataram jang amat banjak itoe. Maka sebab hal jang demikian itoe orang Djawa bertambah- tambah banjak menjembah Pangeran Troenå Djajå; djangankan orang di pantai laoet, ditengah-tengah tanah Djawa poen orang tiada mendjoendjoeng lagi titah Soesoehoenan, maka kapala orang jang doerhaka itoe jaitoe Raden Kadjoran, maratoea Troenå Djajå. Adapoen akan Soesoehoenan jang soedah beroemoer lagi dengan lemah badannja itoe saolah-olah hilang akalnja; ka- soekaannja menggombala kambing dan main lajang2. Maka dalam pada itoepoen raajat Raden Kadjoran berdjalan ka Plered. Demi terdengar chabar itoe kapada Soesoehoenan, maka ia lari diiringkan beberapa orang, jang lagi setia kapadanja. Moela² Baginda berlindoeng ka koeboeran nenek mojangnja di Imågiri, laloe ia bertemoe dengan poeteranja doea orang, akan tetapi Pangeran itoe segan menoeloeng ajahenda Baginda. Maka empat hari lamanja Soesoehoenan berdjalan, maka di Bagelen bersoealah ia dengan Pangeran Adipati Anom. Sjahdan, maka Baginda berdoea poeteranja berdjalan poela kasabelah oetara hendak mendapatkan orang Belanda. Akan tetapi di Adjibarang Soesoehoenan djatoeh sakit, serta merasa adjalnja soedah sampai. Maka beberapa alat karadjaan, jang dibawanja, diamanatkannja kapada Pangeran Adipati Anom, serta memberi nasihat kapada poeteranja hendak memoehoen- kan pertoeloengan kapada Kompani. Maka doea hari lamanja lagi Baginda berdjalan beroesoeng, laloe ia meninggal doenia, sapandjang babad Djawa mait Soesoehoenan dikoeboerkan orang pada sabidang tanah jang haroem baoenja; sebab itoe Soesoehoenan dinamai Soesoehoenan Tegal(= ladang) Wangi (= haroem). Soenggoehpoen Soesoehoenan amat bengis dan

56 lalim kalakoeannja, tetapi sampai sakarang djoega banjak orang Djawa berziarah ka keramat itoe dekat Tegal. Bermoela, maka samantara Soesoehoenan Tegal Wangi lari dari dalam keratonnja, maka datanglah poela soldadoe Kompani dibawah perentah Admiraal Speelman ka Soerabaja; laloe dihalaukannja Pangeran Troenå Djäjå dari sitoe, akan tetapi Troenå Djåjå lari ka oedik sampai ka Kediri. Tambahan lagi Raden Kadjoran merampas keraton di Plered, maka segala harta benda dan isteri goendik Soesoehoenan dihan- tarkannja ka Kediri. Kalakian, maka lama kalamaan Pangeran Adipati Anom sampai kapada Admiraal Speelman di Djapara akan meminta pertoeloengan, sebab hampir segala boepati tiada maoe mora- djakan dia. Adapoen Pangeran Adipati Anom lalai dan lengah sadja, dan tiada bersoenggoeh-soenggoeh hati menoeloeng Kompani akan menaaloekkan orang jang doerhaka itoe. Maka pada tahoen 1678 Toean Speelman bertegoeh-tegoehan djandji dengan Pangeran Adipati Anom, fasalnja jang ter- oetama sakali, jaani: Pertama: Perdjandjian pada tahoen 1646 dioelangkan. Kadoea: Soesoehoenan membajar belandja perang; sabeloem dibajarnja, maka Kompani memoengoet beja di bandar² Mataram. Katiga:Kompani boleh mendoedoekkan soldadoe di Djapara. Kaempat: Daerah Kompani diloeaskan sampai ka Tji Pama- noekan dan sampai ka laoet Hindia. Kalima: Kompani beroleh monopoli beberapa matjam barang dagangan. Hatta, maka satelah beberapa boelan lamanja Kompani beroleh lagi negeri Samarang dengan daerahnja. Sjahdan, maka pada tahoen 1678 itoe djoega G. G. Maetsuijker mangkat, sebab itoe Toean Van Goens naik Gouverneur-Generaal, serta Toean Speelman mendjadi Di- recteur-Generaal. Adapoen Gouverneur-Generaal jang baroe itoe menjoeroeh berperang dengan soenggoeh², maka 2300 orang soldadoe

Kompani berhimpoen di Djapara dibawah perentah Gouver- neur di poelaua Moloeko, Antonie Hurdt namanja. Satelah balatantara itoe berkoempoel dengan raajat Adipati Anom, maka Toean Hurdt menjoeroeh soldadoenja berdjalan ka Kediri. Maskipoen hal tanah Djawa tengah tiada dikatahoei orang Belanda, dan lagi djalan amat boeroek, maka Toean Hurdt ma- djoe sadja, sambil dialahkannja orang Mangkasar dan orang Madoera, jang hendak menahan orang Belanda, lama kalamaan orang Kompani dengan soesah pajah jang tiada terkira-kira masoek kadalam Kediri, sambil perang terlaloe ramai. Maka Troenå Djåjå sempat lari, sebab orang Djawa, jang disoeroeh Toean Hurdt mengelelingi keraton, merampas harta benda sadja. Adapoen Pangeran Adipati Anom tiada bertjampoer dalam perang itoe, melainkan esok hari baroe ia masoek kadalam keraton dan meminta kapada Toean Hurdt makota Mataram, jang ditinggalkan oleh Troenå Djåjå. Sjahdan, maka pada hari loesa Toean Hurdt memberikan makota kapada Pangeran Adipati Anom, serta meradjakan dia bersama-sama manteri² dengan gelar Soesoehoenan Amangkoe-Rat. Bermoela, maka Pangeran Troenå Djåjå dikedjar oleh las- kar Kompani masoek hoetan kaloear hoetan, masoek padang, kaloear padang, sahingga ia berlindoeng ka goenoeng Kloet; tetapi disitoelah raajatnja kakoerangan makanan. Sebab itoe Troenå Djajå terpaksa menjerahkan dirinja, laloe dihantarkan orang kapada Soesoehoenan (pada tahoen 1679). Maka pada koetika iapoen menghadap Soesoehoenan ber- datang sembah, roepa-roepanja Baginda lemboet hati, tetapi tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe, maka Troenå Djäjå diboenoehnja sendiri. Arkian, maka orang jang lagi doerhaka dialahkan bertoeroet- toeroet oleh Kompani: orang Mangkasar habis dibinasakan dekat Bangil, serta Kraeng Galesoeng mati terboenoeh; Raden Kadjoran ditawan, laloe diboenoeh; kasoedahannja adinda Baginda, Pangeran Poeger alah djoega. Adapoen Pangeran

58 Poeger telah mengakoe dirinja Soesoehoenan; satelah balatan- taranja ditjerai-beraikan oleh laskar Kompani di tepi soengai Bågåwantå, maka ia tawar hati serta meminta ampoen. Maka pada masa itoe Soesoehoenan tiada bersemajam lagi di Plered, melainkan dalam keratonnja jang baroe di

Karta-soerå-adi-ning-Rat, disabelah negeri Soerakarta jang

sakarang.

FASAL X. HIKAJAT SOELTAN TIRTAJASA DENGAN SOELTAN HADJI DI BANTEN.

Alkesah, maka pada tahoen 1651 mangkatlah Soeltan Banten, maka gantinja jaitoe Aboe'lFath Aboe'lFatah tjoetjoenda Marhoem; adapoen Soeltan itoe dinamai dalam hikajat Soeltan Ageng atau Soeltar Tirtajasa. Maka Soeltan itoe tjerdik bidjaksana dan tetap hati, serta roekoen Islam dikerdjakannja dengan soenggoeh², tetapi kalakoeannja atjap kali bengis dan hatinja tiada loeroes. Maka saoemoer hidoepnja Soeltan itoe dangki kapada Kompani, niatnja hendak meramaiken Banten serta membinasakan Batawi. Adapoen raajat Soeltan Banten merompak dan kadang² me- langgar kampoeng di daerah Batawi; maka kalau kapal Kompani datang mengempang perahoe di pelaboehan Banten, maka Soeltan Tirtajasa berdamai, tetapi baroe kota Banten tiada tersesak lagi, maka kalakoean orang negeri itoe saperti sediakala. Hatta, maka pada soeatoe hari tahoen 1671 orang ramai di aloen² (medan) Banten, sambil mariam ditembakkan dan nobat karadjaan dipaloe oranglah, sebab poetera Soeltan jang soeloeng naik Radja Moeda serta digelari oleh Sjarif di Mekah Soeltan Aboe'nNasar Aboe'lKahar; sapandjang adat Banten, kalau

Radja soedah beroemoer, maka poeteranja jang soeloeng memerentah berdoea dengan ajahenda Baginda. Kemoedian dari pada itoe Soeltan Ageng meninggalkan kota Banten hendak bersemajam di keratonnja jang baroe di Tirtajasa disitoelah disoeroehnja gali saboeah teroesan jang menghoe- boengkan Tji-Oedjoeng dengan Tji-Doerian. Maka dalam orang jang mengerdjakan pekerdjaan itoe ada jang kena hoe- koem karena makan madat dan minoem rokok, sebab pada sangka Soeltan kasoekaan itoe haram. Adapoen teroesan itoe dinamai orang Tirtajasa (1), oleh karena itoe Soeltan Ageng bernama djoega Soeltan Tirtajasa. Arkian, maka tiada berapa lamanja dengan hal jang demikian itoe, maka adalah kadoea Soeltan itoe berselisih, sebab Soeltan Tirtajasa tiada maoe memberikan saparo labanja perniagaan kapada poeteranja, dan lagi iapoen chawatir, kalau² Soeltan Moeda berniat hendak memerentah tanah Banten saorang diri. Kasoedahannja Soeltan Aboe'nNasar toeroen radja, laloe naik hadji ka Mekah akan membesarkan namanja; satelah doea tahoen lamanja, poelanglah ia ka negerinja. Oleh karena itoe Soeltan Aboe'nNasar dinamai djoega Soeltan Hadji. Maka samantara itoe Soeltan Tirtajasa diasoet oleh Mang- koe Boemi mendjadikan Pangeran Poerbaja poetera Baginda jang soeloeng, Soeltan Moeda di tanah Banten, tetapi iapoen tiada berani sebab Soeltan Hadji dihormati dan dikasehi amat sangat oleh anak boeahnja; sebab itoe Soeltan Hadji naik Soeltan Moeda poela, serta Soeltan Ageng berangkat poela ka Tirtajasa hendak diam disitoe. Sjahdan, maka Soeltan Tirtajasa amat soekatjita melihat orang Belanda kasoesahan karena perang dengan Pangeran Troenå Djâjå, maka raajatnja disoeroehnja merompak kapal Kompani dan melanggar kampoeng di daerah Batawi; tam- bahan lagi Radja² Tjerebon (2) diboedjoeknja bermoesoeh

(2) Tirta = ajar; jasa = diboeat.
(²) Radja Tjerebon 3 orang; jang pertama bergelar Radja Sjamsoe'ddin
atau Radja-Sepoeh; jang kadoea bergelar Radja Kamaroeddin atau Radja-Anom, pada tahoen 1677 Radja itoe beroleh gelar Soeltan dari pada Soeltan Tirtajasa,

60 dengan Kompani; sahingga hendak diperolehnja Krawang dan Soemedang, karena kadoea loeak itoe masoek djadjahan Tjerebon pada zaman dahoeloe kala; oleh sebab itoe Gouverneur-Generaal menjoeroeh bangoenkan saboeah benteng di Tandjoeng Poera di batas Krawang dengan Tjerebon. Adapoen Soeltan Tirtajasa bertambah-tambah berani meng- ganggoe Kompani, maka disoeroehnja oetoesan ka Djambi dan ka Siam dan ka Ternate poen akan mengasoet Radja² negeri itoe hendak memerangi Kompani. Sakali peristiwa pada soeatoe hari Soeltan Tirtajasa ada di penghadapannja, dihadap oleh segala manteri, hooloebalang, raajat sakalian, maka wakil Kompani dan oetoesan Radja Pransman dan oetoesan Radja Inggeris dan oetoesan Radja Denemarken halir djoega. Maka titah Soeltan kapada Resi- dent Belanda, bahoea Batawi nistjaja akan dilanggar oleh raajatnja, djikalau kiranja Kompani berani memerangi Radja Tjerebon. Adapoen G. G. Van Goens amat marah, maka pada tahoen 1680 dititahkannja balatantara ka Tjerebon; maka negeri itoe dialahkan dengan moedah, serta Radja Tjerebon mengakoe Kompani Jang-dipertoean. Hatta, maka lepas perang Troenå Djåjå, Soeltan Hadji minta berdamai dengan Kompani, tetapi permintaan itoe tiada dikaboelkan oleh Gouverneur-Generaal, sebab tiada dengan satahoe Soeltan Toea. Maka Soeltan Hadji diasoet oleh sahabatnja, katanja; bahoea ajahenda Baginda berniat menoe- roenkan dia dan mengangkat Pangeran Poerbaja; baiklah Soeltan Hadji mendjadi radja saorang diri. Arkian, maka pada tahoen 1682 Soeltan Hadji mengakoe dirinja Soeltan Banten, laloe dilepaskannja segala manteri, jang tiada berbaik dengan Kompani, soepaja orang Belanda hendak bersahabat dengan dia; dan lagi Soeltan Hadji melarang raajatnja merompak dan menjamoen di tanah Kompani. Maka dalam pada itoepoen Soeltan Tirtajasa tiada meng- hentikan tangan sadja, melainkan menghimpoenkan segala raajatnja jang setia, laloe berperang. Adapoen Soeltan Hadji

tiada selamat dalam perang itoe, tambahan lagi panglima besar doea orang chianat pergi menjembah Soeltan Tirtajasa. Maka pada soeatoe hari tiba² terbakar beberapa roemah di kota Banten, maka sedang orang negeri gemparlah, maka raajat Pangeran Poerbaja masoek, sahingga Soeltan Hadji lari berlindoeng kadalam benteng Soeroesoean, laloe dike- poeng moesoehnja. Maka bingoenglah Soeltan Hadji tiada berdaja lagi; maka dalam benteng itoe ada saorang-orang Belanda, namanja Jakob de Rooy; maka iapoen dapat memberamkan bati Baginda, katanja: »Djanganlah sakali-kali Pangeran Poerbaja diberi masoek, melainkan baiklah Toeankoe minta bantoean kapada Kompani."— Adapoen isteri Soeltan membenarkan perkataan Toean de Rooy, laloe salekas-lekasnja dikirimnja dengan izin soeaminja sapoetjoek soerat kapada Gouverneur-Generaal Speelman akan menjatakan segala hal ahwal Banten dan akan memoehoenkan pertoeloengan; kalau moesoehnja alah, tentoe Kompani akan beroloh monopoli di Banten. Maka pada bitjara pemerentah Kompani, apabila Soeltan Hadji memerentah di Banten, baroe Batawi sentausa, sebab itoe doea boeah kapal berisi soldadoe dititahkannja ka Banten. Satelah sampai, maka laskar itoe tiada dapat naik darat, sebab saloeroeh pantai didjaga oleh raajat Soeltan Tirtajasa disertai orang Inggeris dan orang Pransman. Hatta, maka salekas-lekasnja Kompani menjediakan poela angkatan perang, laksamananja saorang-orang jang tjerdik bidjaksana lagi berani, namanja Toean Tak. Maka kapal itoe sakoenjoeng-koenjoeng tiba di pelaboehan Banten, laloe soldadoe jang pilihan dalam sekoetji berdajoeng dengan per- lahan-lahan ka darat. Maka saparonja soedah naik darat, baroe dikatahoei orang Banten moesoehnja telah datang. Maka oleb kawal dipaloenja gong akan tanda bangoen, maka orang Banten teperandjat dari pada tidoernja, laloe datang berlari-larian mengamoek moesoehnja, sambil ber- tempik; akan tetapi segala orang Kompani dapat naik darat serta dioendoerkannja orang Banten.

62 Kemoedian dari pada itoe soldadoe Kompani dihambat poela oleh raajat Banten jang amat banjak dekat kampoeng Karang Hantoe; maka terlaloe haibat perang itoe: mariam dan bedil tiada dapat dipakai orang, sebab malam kelam kaboet, melainkan kadoea belah pihak berperang sama saorang tikam menikam parang memarang; pada achirnja orang Banten lari. Maka haripoen sianglah koetika balatantara Belanda sampai ka Soeroesoean. Adapoen Soeltan Hadji amat soekatjita, disongsongnja Kommandeur Tak hendak menjembah kakinja, tetapi Toean Tak segeralah mendirikan Baginda. Sjahdan, maka balatantara Belanda mengaloeari raajat Soeltan Tirtajasa di daerah kota Banten, sahingga moesoeh Soeltan Hadji dikedjarnja sampai ka goenoenga. Adapoen perang itoe tiada poetoes, sabeloem Soeltan Tirtajasa ditawan; maka Soeltan itoe lagi doedoek di keratonnja berserta banjak anak boeahnja, dan lagi perahoenja amat banjak mengedari laoet akan merompak dimana-mana sadja. Pada penghabisan tahoen 1682 Koupani menjerang Tirtajasa dengan soenggoeh²; balatantara Belanda dibahagi doea toem- poek; satoempoek sabelah timoer, satoempoek sabelah barat. Maskipoen raajat Soeltan Tirtajasa amat gagah berani ka- lakoeannja, tetapi tiada djoega dapat ditahannja moesoehnja. Pada soeatoe malam keraton di Tirtajasa ditinggalkan oleh Soeltan Toea, maka diletakkannja moerang jang telah ditjoe- tjoehkannja didalam goedang obat bedil. Satelah Soeltan bersama-sama anak boeahnja soedah djaoeh, maka keraton itoe meletoes saperti goenoeng api, maka sasaat lagi habis roentoeh. Arkian, maka Soeltan Tirtajasa kadoea poeteranja Pa- ngeran Poerbaja lari barang kamana dibawa oentoengnja, sambil dikedjar oleh raajat Soeltan Hadji dengan tiada ber- kapoetoesan. Pada tahoen 1683 Baginda menjerahkan dirinja, laloe dihantarkan orang ka kota Banten, kemoedian ka Batawi; disitoelah Soeltan Tirtajasa mangkat pada tahoen 1692. Adapoen Soeltan Hadji amat sangat moerkanja kapada

63 barang siapa, jang telah menoeloeng ajahenda, maka segala orang Inggeris dan orang Pransman dan orang Portoegis dan orang Denemarken samoeanja diboeangnja dari tanah Banten. Maka Kompani diberinja monopoli lada di Banten serta djadjahannja, dan lagi Radja² Tjerebon kemoedian lepas dari pada hoekoem Soeltan Banten; maka Soeltan Hadji tiada membajar belandja perang, asal perdjandjiannja itoe tiada dilanggarnja.

FASAL XI. HIKAJAT SOERAPATI DAN SOENAN MAS. Alkesah, maka terseboetlah perkataan Pangeran Poerbaja, adinda Soeltan Hadji; adapoen Pangeran itoe dengan pengi- ringnja mengombara di tanah Priangan, dikedjar oleh raajat Kompani, jang hendak menawan dia. Maka sakali peristiwa beberapa soldadoe Belanda dibawah perentah Kapitein Ruijs bertemoe dekat desa Tjikalong (1) dengan sakawan sahaja, jang telah lari dari Batawi; kahidoe- pannja menjamoen; maka orang itoe berbagai-bagai bangsanja, kapalanja entah peranakan Bali entah peranakan Mangkasar, namanja Soerapati. Adapoen Kapitein Ruijs memboedjoek orang itoe masoek pekerdjaan Kompani dengan djandji dosanja diampoeni Kompani, asal ditjarinja tempat Pangeran Poerbaja. Maka Soerapati beroesaha menangkap Pangeran itoe, lagi kalakoeannja baik, sebab itoe iapoen didjadikan Luitenant oleh Kapitein Ruijs. Kasoedahannja Pangeran Poerbaja poeas hatinja dikedjar moesoehnja, maka dikirimnja sapoetjoek soerat kapada Gou- verneur-Generaal akan minta maaf. Maka permintaan itoe dikaboelkan oleh Toean Besar, seraja dititahkannja Luitenant

(') Di kaboepaten Tjiandjoer.

64 Kuffeler menjampaikan soerat ampoen kapada Pangeran Poerbaja serta menjoeroeh Soerapati berbalik ka Batawi. Maka pada koetika itoe djoega Kapitein Ruijs menjoeroehkan Soerapati beserta dengan doea orang kapala Djawa pergi bertemoe dengan Pangeran Poerbaja. Tatkala sampai ka Tjikalong, maka Pangeran Poerbaja baroe menerima soerat Toean Besar. Adapoen Toean Kuffeler tiada adat Djawa, maka Pangeran Poerbaja dengan pengiringnja dipintanja me- njerahkan kerisnja, sebab marika-itoe tawanan Kompani. Maka sia-sialah Pangeran Poerbaja mentjoba mengobahkan pikiran Toean Kuffeler dengan perlahan-lahan dan dengan manis perkataannja, katanja: »Ja, Toean ! boekan adat orang Djawa menanggalkan kerisnja, djanganlah kiranja Toean maloekan saja; saja ini boekan tawanan, sebab saja soedah beroleh ampoen dari pada Toean Besar!"— Akan tetapi Toean Kuffeler tiada djoega menerima permintaan itoe. Adapoen segala perkataan itoe didenger oleh Soerapati, maka ditjobanja djoega mengobahkan pikiran Luitenant itoe; akan tetapi Toean Kuffeler marahlah serta merentak dan berseroe-seroe, katanja, bahoea sakali-kali djangan patoet saorang bekas boedak masoek moeloet dalam perkara itoe. Pada achirnja Pangeran Poerbaja berdjandji esok hari kerisnja akan diserahkannja; tetapi malam hari ditinggalkannja Tjikalong. Sjahdan, maka malam itoe djoega Soerapati bermasjawarat dengan kawannja hendak membalas kalakoean Toean Kuffeler; laloe sakoenjoeag-koenjoeng diamoeknja laskar Kompani, sahingga kira² doeapoeloeh orang mati terboenoeh; jang tinggal lagi dibawa oleh Toean Kuffeler dengan soesah pajah ka Tandjoeng Poera. Arkian, maka doeabelas hari kemoedian dari pada itoe Pangeran Poerbaja datang menjembah Kompani, maka iapoen disamboet oleh Gouverneur-Generaal dengan lemah lemboet. Adapoen Soerapati dengan kawannja menjamoen poela di tanah Priangan, sahingga saorang panglima disoeroeh Kompani menangkap akan dia. Maka penjamoen itoe banjak

65 jang diboenoehnja, tetapi Soerapati lari kasabelah timoer sampai ka Kartâsoerå, serta memperhambakan dirinja kabawah Soesoehoenan Amangkoe-Rat (pada tahoen 1684). Adapoen sedjak perang dengan Troenå Djåjå di Kartåsoerå ada saboeah benteng ketjil, jang didoedoeki beberapa soldadoe Belanda, panglimanja pada masa itoe Kapitein Grevink namanja. Maka terdengarlah chabar kapadanja, bahoea Soerapati dipeliharakan oleh Soesoehoenan; maka dipintanja kapada Baginda atas nama Kompani, moedah-moedahan Soerapati diserahkan kadalam tangannja, akan tetapi Soesoehoenan meno- lak permintaan itoe. Hatta, maka tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe dalam tahoen 1686 Kapitein Tak dititahkan oleh Gouverneur-Generaal akan melihati lodji² di pantai Djawa sabelah oetara, dan lagi akan membitjarakan hal ahwal Radja Tjerebon tentang Soesoehoenan dan tentang Kompani, serta akan me- njampaikan permintaan Soerapati diserahkan kapada Kompani. Tatkala Toean Tak di Samarang, maka disoeroehnja Kapitein Leeman beserta dengan beberapa soldadoe berdjalan dahoeloe

ka Kartåsoerå akan mendjaga bingkisan Kompani bagi

Soesoehoenan. Maka ditengah djalan Toean Tak beroleh sapoetjoek soerat dari pada Mangkoe Boemi Mataram, boenjinja: bahoea bala- tantara Soesoehoenan hendak membinasakan Soerapati bersa- ma-sama dengan raajatnja, baiklah soldadoe dalam benteng Kompani di Kartäsoerå tiada menoeloeng. Arkian, maka koetika Kapitein Tak soedah dekat Kartå. soerå, maka iapoen bertemoe dengan orang Djawa dan orang Madoera jang lari. Maka bertanjalah Kapitein Tak, apa sebabnja orang sakian banjak lari samoeanja, djawabnja, bahoea marika-itoe telah disoeroeh mengepoeng dan menangkap Soerapati, tetapi marika-itoe dialahkannja. Satelah Toean Tak sampai ka keraton, maka dichabarkan orang, bahoea Soesoehoenan soedah berangkat poera² hendak menawan Soerapati. Sjahdan, maka Kapitein Grevink disoeroeh oleh Toean Tak menoenggoe keraton dengan beberapa soldadoe, kemoedian Hikajat tanah Hindia.

66 Kapitein Tak dengan raajatnja kaloear hendak mendapatkan Soerapati kasabelah timoer sapandjang nasihat Boepati Djapara. Adapoen balatantara itoe tiada bertemoe dengan Soerapati, sebab chabar Boepati Djapara itoe bohong sadja. Satelah soedah berdjalan beberapa lamanja, maka terdengarlah boenji mariam dan bedil, serta kalihatan api jang besar diatas keraton. Maka dengan segera Toean Tak berbalik, soedah sampai, maka didapatinja Kapitein Grevink dengan soldadoenja diboe- noeh orang, masdjid raja terbakar serta Soerapati dengan kawannja doedoek di astana Soesoehoenan dikepoeng oleh raajat Mataram. Maka anak boeah Soerapati mengamoek hendak kaloear dari pada tempatnja, sambil menjerboekan dirinja kadalam moesoehnja, sahingga orang Mataram dioendoerkannja katjau balau samoeanja. Maka orang jang lari itoe bertjam- poer dengan laskar Kompani; perentah officier tiada kadenga- ran lagi, karena hiroe-hara jang tiada terkira-kira itoe, serta asap dan api menaban pemandangan. Maka orang Belanda kabanjakan mati; Toean Tak poen kena toembak koetika hendak naik koeda, laloe mati; orang jang tinggal lagi dihim- poenkan oleh Kapitein Leeman, dibantarkannja masoek kadalam benteng. Pada sangkanja segala hal ahwal itoe dengan satahoe Soesoehoenan, jang mengahendaki memboenoeh Toean Tak; maka bagaimana sakalipoen soeroehan Baginda mentjoba me- ngobahkan pikirannja, tetapi tiada djoega dapat. Kalakian, maka lepas perang di Kartâsoera itoe, maka Soerapati berdjalan ka sabelah timoer, sambil merampas di kampoeng jang dilaloeinja. Kasoedahannja sampailah ia ka Pasoeroehan; maka dihalau- kannja Boepati negeri itoe serta mengakoe dirinja radja. Maka sebab Soerapati tjerdik dan adil dan berani, maka makin lama makin banjak orang memperhambakan dirinja kapadanja, sahingga karadjaannja dikembangkannja dari Pånårågå sampai ka Poeger, dan dari Bangil sampai ka laoet Kidoel. Bermoela, maka lama kalamaan njatalah kapada Gouverneur-Generaal, bahoea boekan Soesoehoenan jang hendak bermoesoeh dengan Kompani, melainkan Pangeran Adipati Anom dengan

67 Mangkoe Boemi jang melakoekan chianat itoe kapada Kapi- tein Tak; akan Soesoehoenan Amangkoe-Rat pemerentahan negeri Mataram tiada berapa difadoelikannja. Adapoen Kompani tiada mengendahkan lagi akan Soesoehoenan, orang isi benteng di Kartåsoerå dititahkannja berdjalan ka Samarang, dan lagi beberapa perkara diselesaikannja sendiri sadja, oepamanja: Soeltan Tjerebon dititahkan Kompani lepas dari pada hoekoem Mataram dan taaloek kapada Kompani; demikian djoega Kompani mengangkat saorang Panembahan di Madoera dengan tiada menanjakan rila Soesoehoenan. Hatta, maka pada tahoen 1703 mangkatlah Soesoehoenan Amangkoe-Rat, maka poeteranja naik radja. Adapoen Radja itoe Amangkoe-Rat-Mas namanja, tetapi dalam hikajat Radja² Mataram iapoen dinamai Soenan-Mas. Maka Soenan-Mas tiada dikasehi oleh anak boeahnja, sebab hatinja gadoek dan bengis saperti lakoe Soesoehoenan Tegal Wangi; atjap kali diboenoehnja anak boeahnja dengan tiada samena-mena sadja. Maka ditjeriterakan oleh sahiboe'lhikajat kasoekaannja me- ngadoe harimau dengan perampoean jang telandjang! Maka tiada berapa lamanja Soenan-Mas soedah naik Soesoehoenan, maka adalah Pangeran Poeger, bapa bongsoenja, lari ka Samarang berlindoeng kapada Kompani, sebab takoet akan diboenoeh oleh Soenan-Mas; anaknja saorang telah diboenoeh, sebab doerhaka, serta Pangeran Poeger dihoekoem dengan hoekoeman kabetek (1). Adapoen G. G. Van Outhoorn (dari tahoen 1691 sampai tahoen 1740) masgoel hatinja, sebab Soenan-Mas tiada berbaik dengan Kompani, sebab itoe Kompani meradjakan Pangeran Poeger dengan gelar Soesoehoenan Pakoe Boeånå, serta meni- tahkan Raad van Indië, Toean De Wilde ka Semarang berserta dengan laskar 2000 orang (pada tahoen 1704). Maka Soenan-Mas terkedjoet mendengar chabar, mengatakan Pangeran Poeger diradjakan oleh Kompani; maka dengan segera disoeroehnja oetoesan ka Batawi menjampaikan permintaannja, jaitoe moe-

(1) Orang jang kena hoekoem itoe dikoeroeng orang dalam saboeah sangkar
(betek) di tengah pasar, soepaja maloe dipandang segala orang jang laloe.

dah-moedahan bapa bongsoenja diserahkan kapadanja; djikalau permintaan itoe dikaboelkan, tentoe dilakoekannja barang kahendak Kompani. Akan tetapi sahoet Gouverneur-Generaal, bahoea Soenan-Mas patoet mengakoe Pangeran Poeger Soesoehoenan; djikalau ia toendoek, maka sabahagian tanah Mataram akan diperolehnja. Hatta, maka boepati dan manteri makin banjak meninggalkan Soenan-Mas, sahingga koetika balatantara Belanda masoek kadalam Kartäsoerå saorang djoeapoen tiada melawan, seraja Soenan-Mas soedah lari ka Kediri. Satelah itoe, maka Soesoehoenan Pakoe Boeânå didoedoekkan oleh Toean De Wilde dalam keraton, laloe iapoen bertegoeh- tegoehan djandji dengan Kompani; perkara jang teroetama sakali perdjandjian itoe, jaani: Pertama:: Perdjandjian pada tahoen 1677 dan 1678 dioe- langkan. Kadoea: Kompani beroleh daerah Mataram, jang disabelah barat baris jang mempertalikan moeara Tji-Losari dengan moeara Tji-Donan (dekat Tjelatjap). Katiga: Kompani beroleh poelau Madoera sabelah timoer. Kaempat: Soesoehoenan memeliharakan isi benteng 200 orang di Kartâsoerâ. Kalima: Sakalian oetang Mataram baik jang lama, baik jang baroe tiada akan dibajar lagi. Sabermoela, maka Soenan-Mas meminta bantoean kapada Soerapati, maka permintaan itoe diterima oleh Soerapati, asal ia diakoenja Radja Pasoeroehan. Arkian, maka pada tahoen 1706 Majoor Knol berangkat dari Soerabaja dengan membawa soldadoe Belanda 1000 orang dan boemi poetera kira² 10.000 orang; adapoen orang itoe raajat Boepati Soerabaja dan raajat Tjakra-ning-Rat, Panem- bahan Madoera. Maka tiada terkira-kira soesah pajah perdjalanan balatantara itoe: dilaloeinja tanah jang soenji, diaroengnja rawah jang dalam, diseberanginja batang ajar jang besar dan deras; banjak orang sakit demam, banjak mati karena penjakit dan sangsara

69 dan panas, dan lagi bekal-bekalan habis dimakannja; pada sangka Toean Knol Boepati Soerabaja tiada loeroes hati, sebab ialah jang menoendjoekkan djalan jang boeroek itoe. Kasoedahannja, satelah perang jang amat ramai, maka balatantara masoek kadalam Bangil; tengah perang itoe Soerapati kena peloeroe, laloe mati. Adapoen balatantara Belanda banjak orang mati; jang lagi hidoep letih badannja, sebab itoe Majoor Knol poelang ka Soerabaja. Pada tahoen 1707 Toean De Wilde menghalaukan Soenan-Mas dari Kediri, laloe mengalahkan anak Soerapati, sahingga balatantara Kompani masoek kadalam Pasoeroehan. Kemoe- dian dari pada itoe pemerentahan negeri, jang ditaaloekkan oleh Kompani, diatoerkan oleh Toean De Wilde, diberikannja kapada Boepati², jang setia kapada Pangeran Poeger. Soedah itoe, Toean De Wilde poelang ka Batawi, dengan lemah dan sakit badannja karena pajah dan sangsara perang itoe, maka tiada berapa lamanja lagi, Toean De Wilde meninggal. Sjahdan, maka Majoor Knol dititahkan Kompani menawan Soenan-Mas, jang bersemboeni di hoetan rimba tanah Malang. Maka tetkala Soenan-Mas amat sangat disesakkan moesoeh- nja, maka iapoen tawar hatinja serta menjerahkan dirinja, laloe dihantarkan ka Batawi. Maka bermasjawaratlah Gouverneur-Generaal dengan Raad van Indië, maka poetoes bitjaranja, bahoea Soenan-Mas ber- anak isteri dengan beberapa orang pengiring diboeang ka poelau Ceijlon, serta diperolehnja gadji 250 ringgit saboelan dan beras saberapa jang bergoena (pada tahoen 1708).

FASAL XII. HIKAJAT RADJA2 MATARAM SAMPAI TAHOEN 1757. Bermoela, maka pada tahoen 1719 Soesoehoenan Pakoe Boeänå meniuggal doenia, laloe digantikan oleh poeteranja

jang soelong, Amangkoe-Rat atau Soenan Praboe namanja,

akan tetapi Soesoehoenan jang baroe itoe tiada diakoe radja

oleh saudaranja, apa lagi poetera Soenan Praboe poen me-

ninggalkan ajahenda Baginda, diboedjoek oleh Pangeran, jang doerhaka itoe. Adapoen segala Pangeran itoe tiada samoeafakat, sebab itoe marika-itoe dialahkan oleh balatantara Kompani bersama-sama dengan raajat Mataram, laloe lari ka Malang dikedjar moe- soehnja. Pada tahoen 1723 poetoeslah perang itoe, maka Pangeran itoe saparonja soedah mati, saparonja diboeang dari tanah Mataram beserta dengan anak Soerapati doea orang, maka Pangeran Mangkoe Negarå, poetera Baginda, dikom- balikan kapada ajahenda, asal djangan disiksanja. Maka tiada lama lagi Soenan Praboe doedoek diatas tachta karadjaan: pada tahoen 1727 mangkatlah Baginda; maka poeteranja jang soeloeng mendjadi gantinja dengan gelar Pakoe Boeanå II. Maka iapoen lagi moeda, sebab itoe dipangkoe oleh boendanja Ratoe Ageng dan oleh Mangkoe Boemi (Patih) Mataram. Pada masa itoe sanak saudara Soesoehoenan se-

nantiasa berselisihan sadja, saorang memfitnakan saorang,

saorang membinasakan saorang dengan akal jang djahat. Maka Pangeran Mangkoe Negårå dan Patih diboeang ka poelau Ceijlon dengan rila Kompani. Alkesah, maka terseboetlah perkataan hikajat negeri Batawi. Maka sedjak Batawi diboeat, maka datanglah orang Tjina makin lama bertambah banjak diam disitoe, sahingga pada tahoen 1730 kira² 100.000 orang banjaknja. Adapoen Kompani chawatir, kalau² orang Tjina jang sakian banjak itoe mendatangkan bahaja, sebab itoe dititahkan oleh Gouverneur-Generaal, bahoea beberapa negeri tiada boleh didoedoeki lagi oleh orang Tjina; jang soedah diam disitoe haroes beralih; dan lagi barang siapa, jang tiada berdjaba- tan dibawa ka poelau Ceijlon akan mengoepas koelit manis disana. Hatta, maka banjak orang Tjina jang melarat berkoempoel diloear kota Batawi akan menjamoen, maka diboenoehnja

71 orang Belanda, dibakarnja roemah dan penggilingan teboe di daerah Batawi, seraja benteng poen di Bekasi diroesakkannja. Maka dengan hal jang demikian itoe orang Batawi sjak hatinja, pada sangkanja orang Tjina didalam negeri itoe bermoeafakat dengan kawannja, jang doerhaka itoe hendak memboenoeh segala orang Belanda samoeanja. Maka dititahkan oleh G. G. Valekenier (dari tahoen 1737 sampai tahoen 1741), bahoea mata-mata Kompani haroes memeriksa roemah orang Tjina di Batawi, maka didapatinja sendjata dan obat bedil amat banjak; Kapitein Tjina poen menjemboenikan sendjata dalam roemahnja. Soedah itoe, pintoe gorbang ditoetoep, serta segala orang negeri diberi sendjata oleh pemerentah. Arkian, maka orang Tjina jang diloear menjerang kota Batawi boelan October tahoen 1740, akan tetapi tiada dapat masoek. Maka kaesokan harinja Gouverneur-Generaal ber- sama-sama Raad van Indië bermasjawarat; pada bitjara Toeau Valckenier baiklah otang Tjina sakalian dibalaukan dari dalam kota. Maka samantara itoe terbakarlah saboeah roemah di kampoeng Tjina; maka orang hina-dina dan soldadoe dan chalasi dan orang risau poen berkaroemoen disitoe, tetapi djangan dipadamkannja api itoe, melainkan roemah jang lain dibakarnja djoega, sambil orang Tjina jang terdapat diboe- noehnja belaka. Maka tengah gempar itoe orang Tjina jang diloear negeri mengamoek poela, tetapi dioesir orang. Lama-kalamaan saloeroeh kampoeng Tjina itoe habis terbakar dan bangkai kira² 10.000 orang tersiar-siar di djalan atau terbakar dalam roemahnja. Maka dalam pada itoepoen Gouverneur-Generaal tiada me- negahkan perboeatan jang djahat itoe, tetapi djikalau kiranja dilarang sakalipoen, nistjaja perentah itoe tiada difadoelikan oleh pemboenoeh itoe. Arkian, maka beberapa hari kemoedian dari pada itoe dititahkan oleh Gouverneur-Generaal, bahoea orang Tjina diloear kota, jang menjerahkan dirinja, diampoeni dosanja,

72 serta boleh menbangoenkan roemahnja pada sabidang tanah disabelah barat Tji-Liwong; maka inilah pokok kampoeng Tjina, jang sakarang di Batawi. Hatta, maka orang Tjina banjak lagi menjamoen di daerah Batawi, tetapi marika-itoe dioesir oleh laskar Kompani, laloe lari ka poelau Djawa tengah; disitoelah orang jang doerhaka itoe berkoempoel dengan kawannja, maka Djoeana dibinasa- kannja dan Samarang dikepoengnja. Adapoen wakil Kompani di Samarang meminta bantoean kapada Tjakra-ning-Rat IV, Panembahan di Madoera; maka Radja itoe amat soekatjita, sebab berharap meloeaskan karadjaannja dan melepaskan dirinja dari pada hoekoem Soesoehoenan. Sjabdan, maka makin lama bertambah banjak orang Tjina jang doerhaka, saperti api makan ilalang; lebih² sebab Soesoehoenen Pakoe Boeänå menoeloeng orang Tjina itoe semboeni². Pada soeatoe hari benteng Kompani di Kartâsoerå diserang oleh raajat Soesoehoenan; maka sebab orang isi benteng tiada tahoe akan chianat itoe, oleh karena itoe soldadoe itoe ditawan dan panglimanja diboenoeh orang. Tam- bahan lagi Soesoehoenan menjoeroeh Boepati² di pantai Djawa sabelah oetara membantoe orang Tjina. Arkian, maka pada masa itoe djoega datanglah ka Samarang saorang wakil Kompani, Verijssel namanja. Adapoen Toean Verijssel mentjerai-beraikan orang Tjina dan orang Djawa, jang mengepoeng Samarang; soedah itoe, maka dilepaskan- nja Tegal dan Djapara dari pada moesoeh itoe; samantara itoe Panembahan Tjakra-ning-Rat mengoesir orang Tjina dari Pasoeroehan. Maka dengan hal jang demikian itoe Soesoehoenan me- njesal, sebab orang Tjina ditoeloengnja, serta dengan takoet dan masgoel hatinja; sebab itoe disoeroehnja oetoesan kapada Toean Verijssel akan memoehoen ampoen. Demi didengar oleh orang Tjina, bahoea Soesoehoenan berpaling hatinja, maka diradjakannja Mas Gerendi, tjoetjoe Soenan Mas; maka Soesoehoenan itoepoen digelari orang

73 Soenan Koening. Kemoedian orang Tjina mendatangi dan membakar Kartäsoerå, sahingga Soesoehoenan Pakoe Boeånå lari ka Pånårågå (pada tahoen 1742). Maka Baginda memoe- hoenkan pertoeloengan kapada Kompani, sambil menghinakan dirinja dan berdjandji akan melakoekan barang kahendak Gouverneur-Generaal. Maka dalam pada itoepoen Toean Verijssel menaaloekkan Boepati² disabelah pantai oetara; maka koetika balatantara hendak mendapatkan orang Tjina di Kartäsoerå, maka pe- tjahlah chabar, mengatakan Panembahan Tjakra-ning-Rat telah masoek kadalam Kartåsoerå dan mengalahkan orang Tjina. Demikianlah hilang karadjaan Soenan Koening, maka ia menjerahkan dirinja kapada wakil Kompani di Soerabaja, laloe diboeang ka poelau Ceijlon. Maka Panembahan Madoera diboedjoek oleh Kompani me- ninggalkan Kartâsoerå moela² iapoen tiada maoe, sebab amat sangat bentji kapada Soesoehoenan; tetapi pada achirnja pergilah djoega ia. Hatta, maka tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe, maka pada saloeroeh tanah Djawa orang Tjina taaloek poela. Maka Soesoehoenan tiada soeka lagi doedoek di Kartâsoerå, pada sangkanja tempat itoe tjelaka; oleh karena itoe Baginda berpindah pada tahoen 1744 ka Soeräkart-Adi-ning-Rat. Maka kasalahannja diampoeni oleh Kompani, asal Soesoehoenan bertegoeh-tegoehan djandji; maka fasal perdjandjian itoepoen jang teroetama sakali, jaani: Pertama: Patih dan Boepati di Mataram diangkat oleh Soesoehoenan dengan rila Kompani. Kadoea: Poelau Madoera, Soerabaja, Rembang, Djapara, dan tanah Djawa sabelah timoer dari Pasoeroehan sampai ka selat Bali diserahkan kapada Kompani. Katiga: Kompani beroleh pantai saloeroeh tanah Djawa 350 depa lebarnja.

Kaempat: Soesoehoenan tiada membajar belandja perang

salama perdjandjian ini tiada dilangkahinja. Kalima: Perdjandjian pada tahoen 1704 dioelangkan,

74 Adapoen Panembahan Tjakra-ning-Rat lepas dari pada hoekoem Soesoehoenan dan mengakoe Kompani mendjadi Jang-dipertoean, serta poeteranja dikaroeniai kaboepaten Si- dajoe; akan tetapi Tjakra-ning-Rat tiada senang hati, sebab dikahendakinja segala negeri jang dahoeloe dialahkannja. Oleh karena itoe terbitlah perang, kasoedahannja Panembahan alah, laloe diboeang. Bermoela, maka G. G. Van Imhoff (dari tahoen 1742 sampai tahoen 1751) hendak melihati djadjahan, jang baroe diperoleh oleh Kompani, sebab pada masa itoe orang Belan- da tiada mengatahoei hal ahwal dan kaadaan tanah Djawa. Moela² Toean Besar mendjalani daerah Batawi; koetika sampai ka Bogor, maka hairanlah Gouverneur-Generaal me- lihat tanah jang saelok itoe; maka dititahkannja memboeat saboeah astana disitoe; maka astana itoe didirikan pada tahoen 1747 seraja dinamai Buitenzorg. Arkian, maka lepas perang dengan Panembahan Tjakra-ning-Rat G. G. Van Imhoff mendjalani Rembang, Soerabaja, Soemenap, Pasoeroehan, Gersik, Djapara dan Samarang, maka di Samarang Soesoehoenan Pakoe Boeanå II datang mengoendjoengi Toean Van Imhoff, diiring segala sanak saudaranja dan manteria besar, Kemoedian dari pada itoe Gouverneur-Generaal pergi djoega mengoendjoengi Soesoehoenan di Soerakarta akan membalas tanda kahormatan itoe. Maka kadoea orang jang mahakoeasa itoe menjelesaikan beberapa perkara; ditentoekannja, bahoea Tegal dan Peka- longan masoek tanah Kompani, hanjalah beja, jang dipoengoet orang dalam negeri itoe akan diserahkan oleh Kompani kapada Soesoehoenan. Soedah itoe Gouverneur-Generaal poelang ka Batawi, di- laloeinja Tegal, Tjerebon, Dermajoe dan Panaroekan. Alkesah, maka tatkala G. G. Van Imhoff di Soerakarta, maka tanah Mataram tiada sentausa, sebab beberapa Pangeran doerhaka kapada Baginda; jang teroetama sakali Raden Mas Said, anak Pangeran Mangkoe Negârå.

Adapoen tanah Soekåwati (bahagian sabelah timoer karesi-

75 denan Sålå jang sakarang) telah dialahkannja. Maka beberapa lamanja Raden Mas Said doedoek di Soekäwati, laloe iapoen dioesir oleh Pangeran Mangkoe Boemi, adinda Soesoehoenan, maka Pangeran itoe didjadikan Baginda Boepati dalam negeri itoe. Maka Patih Mataram tiada berbaik dengan Pangeran Mangkoe Boemi; difitnakannja Pangeran itoe kapada Soesoehoenan, sahingga Pangeran Mangkoe Boemi ditoeroenkan Baginda. Adapoen Pangeran Mangkoe Boemi maloe lagi dengan amat sangat marahnja, maka iapoen berkoempoel dengan Raden Mas Said. Laloe kadoeanja menjerang negeri Soera- karta; maka dibakarnja sabahagian negeri itoe, tetapi marika- itoe dihalaukan oleh Toean Von Hohendorff, Gouverneur tanah Djawa sabelah oetara dan timoer pada tahoen 1746. Hatta, maka pada tahoen 1749 Soesoehoenan Pakoe Boeänå II sakit pajah, merasa soedah sampai adjalnja, maka dipanggilnja Toean Von Hohendorff, laloe diserahkannja karadjaan Mataram kapada Kompani. Soenggoehpoen Soesoehoenan berpoetera saorang, tetapi Pangeran itoe tiada djoega diradjakannja, sebab ia kena moerka ajahenda Baginda. Demi Soesoehoenan berpoelang ka rahmatoe'llah, maka Pangeran Adipati Anom diradjakan djoega oleh Kompani dengan gelar Pakoe Boeânå III. Maka Soesoehoenan jang baroe itoe mengakoe dirinja di- bawah Kompani, sebab karadjaan Mataram diperolehnja sadja karena kasehan dan karoenia Kompani. Maka pada hari itoe djoega Pangeran Adipati Anom naik Soesoehoenan, maka Pangeran Mangke Boemi diradjakan oleh orang besar² jang bersakoetoe dengan dia; kemoedian dari pada itoe disoeroehnja dirikan saboeah keraton di Nga- jogjäkartä-Adi-ning-Rat (Djogjakarta). Oleh sebab hal jang demikian itoe djadilah perang jang amat landjoet: kadang² balatantara Kompani serta raajat Soesoehoenan menang, kadanga alah; roepa-roepanja kadoea belah pihak itoe baloei. Apabila Pangeran jang doerhaka itoe disesakkan moesoehnja,

76 maka dengan segera marika-itoe lari ka goenoeng Kidoel; tetapi kalau koetika baik, maka sakoenjoeng-koenjoeng ka- loearlah ia dari dalam tempatuja dan melanggar negeri jang sakelelingnja. Satelah beberapa tahoen lamanja tanah Mataram dibinasa- kan oleh perang itoe, maka Pangeran Mangkoe Boemi berselisih dengan Raden Mas Said, sahingga pada soeatoe hari Raden Mas Said menjerang Pangeran Mangkoe Boemi: salah sadikit dialahkannja Soerakarta; maka segala negeri jang dilaloeinja habis dibinasakannja; pada achirnja iapoen dihalaukan Kompani ka goenoeng Kidoel. Kalakian, maka Pangeran Mangkoe Boemi berdamai dengan Soesoehoenan dan dengan Kompani, maka diperolehnja bahagian sabelah selatan Mataram, jaitoe Ngajogjåkartå dengan gelar Soeltan Amangkoe Boeanå toeroen temoeroen kapada anak-tjoetjoenja; dan lagi iapoen berdjandji menoeloeng Soesoehoenan. Adapoen tanah mataram sabelah oetara atau Soerakarta dibawah hoekoem Pakoe Boeänå II dengan gelar Soesoehoenan (pada tahoen 1755). Soedah itoe raajat Soeltan Amangkoe Boeänå berhimpoen dengan raajat Soesoehoenan dan dengan laskar Kompani akan memerangi Raden Mas Said. Maka lama kalamaan Raden Mas Said tawar hatinja, maka pada tahoen 1757 iapoen menghadap Soesoehoenan berdatang sembah minta maf; laloe dikaroeniai bahagian sabelah toeng- gara karesidenan Soerakarta jang sakarang serta digelari Pangeran Adipati Arjå Mangkoe Negårå.

FASAL XIII. HIKAJAT KASOEDAHAN KOMPANI DAN LAGI PAMERENTAHAN G. G. DAENDELS. Bermoela, maka dalam fasal jang dahoeloe telah diriwajat- kan, bahoea Kompani jaitoe persarikatan saudagar, jang

99 hendak berniaga di tanah Hindia dengan beroleh monopoli. Akan tetapi maksoednja itoe tiada dapat disampaikannja dengan lemah lemboet: atjap kali Kompani terpaksa meme- rangi radja², sebab ada jang melanggar kapal dagangan, ada jang moengkir djandjinja, ada jang berkoempoel dengan moesoeh Kompani. Apabila saorang radja alah, maka haroes- lah ia melakoekan kahendak Kompani, serta menjerahkan sabahagian negerinja, soepaja iapoen djangan berperang poela. Sebab itoe lama kalamaan Kompani saolah-olah mendjadi karadjaan jang besar. Hatta, maka pada tengah² abad jang katoedjoehbelas Kompani termoelia sakali, namanja mashoer dari masjrik sampai ka magrib. Maka orang, jang pada masa itoe menaroehkan oeang kapada Kompani, kadanga beroleh boenga oeang lebih dari pada 100 roepiah dalam 100, djadi njatalah orang soeka memindjamkan modal. Adapoen atoeran pemerentahan Kompani beginilah: Jang mahakoeasa di tanah Hlindia jaitoe Gouverneur-Generaal serta Toean² Raad van Indië; Gouverneur-Generaal mengangkat dan melepaskan manteri (ambtenaar). Maka tanah Kompani dibahagi saperti terseboet dibawah ini: Ada saorang Gouverneur di poelau Ambon, saorang di poelau Banda, saorang di poelau Ternate, saorang di Mang- kasar dan saorang di Malaka. Sedjak tahoen 1748 tanah Djawa sabelah oetara dan timoer diperentahkan djoega oleh saorang Gouverneur. Maka dja- djahan jang lain dibawah hoekoem Resident atau Directeur; diantara Resident ada jang wakil Kompani kapada saorang Radja, oepamanja Resident di Banten. Sjahdan, maka perolehan Kompani jaitoe beja dagangan jang masoek dan jang kaloear; dan tjoekai jang dibajar oleh orang Tjina, dan laba monopoli roepaa kahasilan, dan oepeti, jang dipersembahkan oleh radja² dan boepati jang taaloek, teroetama goela dan kopi. Adapoen oentoeng baik dan oentoeng malang boemi poe-

tera tiada berapa diendahkan oleh Kompani, orang itoe dibawah perentah kapalanja sendiri; maka kapala itoe, djikalau lalim sakalipoen, djarang² ditoeroenkan, asal di- hantarkannja oepeti pada waktoe jang tetap. Maka dalam kahasilan tanah Djawa kopi jang teroetama sakali. Pada tahoen 1696 Toean Adriaan van Ommen, Kom- mandeur tanah Malabar di Hindoestan moela² berkirim anak pohon kopi ka poelau Djawa, tetapi pohon itoe tiada men- djadi, sebab pada tahoen 1699 goenoeng Salak meletoes amat

sangat, sahingga Tji-Liwong melimpah seraja meroesakkan

tanam-tanaman itoe. Kalakian, maka pemerentah Kompani menjoeroeh menanam kopi poela, maka pada tahoen 1706 kopi Djawa jang bermoela sakali dikirim ka negeri Belanda. Pada masa pemerentahan G. G. Zwaardekroon (dari tahoen 1715 sampai tahoen

1725) kopi banjak ditanam orang Djawa, lebih² di tanah Priangan. Bermoela, maka berapa mashoer dan moelia Kompani, sakalipoen lama kalamaan hilang djoega; sebabnja jang teroetama sakali, jaani: Orang Inggeris datang berniaga ka tanah Hindia makin lama bertambah banjak, serta disoenggoeh-soenggoehinja me- ngembangkan koeasanja, teroetama sakali di Hindoestan dan di poelau Ceijlon dan di pantai sabelah barat poelau Pertja; lagi poela didirikannja djoega. Kompani Hindia, maka Kompani itoe makin lama makin besar koeasanja. Tambahan lagi belandja perang Kompani Belanda soedah amat banjak, serta pemerentahan negeri jang sabanjak itoe amat mahal harganja; soenggoehpoen ambtenaar Kompani gadjinja sadikit sadja, tetapi kabanjakan mengoempoelkan oeang oentoek dirinja dengan akal jang tiada patoet. Maskipoen laba tiada berapa, tetapi Kompani beroelang- oelang membajar djoega boenga oeang jang banjak, sebab Toean² Bewindhebbers takoet orang jang menaroehkan oeang mengem-

79 balikan oeang itoe, kalau boenganja koerang. Demikianlah Kompani berlakoe saperti orang, jang membelandjakan oeang lebih dari pada oepahnja: tadapat tiada orang itoe akan beroetang. Alkesah, maka ditjeriterakan hal ahwal negeri Belanda. Maka pada abad jang katoedjoehbelas orang Belanda berperang beberapa kali dengan karadjaan di Airopah, lebih² dengan orang Inggeris dan dengan orang Pransman. Maka pada tahoen 1713 poetoeslah soeatoe perang jang besar dengan orang Pransman; satelah itoe, maka pemerentah Belanda tiada maoe bertjampoer lagi dalam perkara negeri jang lain, sebab belandja akan melakoekan perang itoe soedah amat banjak. Akan tetapi oleh karena kalakoean jang demikian itoe pemerentahan koerang kentjang, sahingga tanah Belanda tiada difadoelikan lagi oleh radja² di benoea Airopah. Adapoen Kompani demikian djoega halnja: kapal perang dan soldadoe sadikit sadja, dalam ambtenaar ada banjak jang lalai dan lengah, niatnja akan mengoempoelkan oeang salekas- lekasnja, soepaja hidoepnja dengan senang di tanah Belanda. Maka oleh karena perang dengan orang lnggeris dari tahoen 1780 sampai tahoen 1784 Kompani karoegian amat banjak, sebab kapal dagangan terlaloe banjak dirampas moesoeh. Sebab itoe oetang Kompani bertambah-tambah banjak, sahingga pada tahoen 1782 djoemlahnja soedah sampai 20 djoeta roepiah. Pada achirnja Toean² Bewindhebbers meminta toeloeng kapada pemerentah. Belanda, maka permintaan itoe dikaboelkannja, tetapi hal Kompani tiada djoega berobah. Bermoela, maka pada kasoedahan abad jang kadelapanbelas djadilah perobaban pemerentahan di tanah Pransman. Adapoen orang hina-dina dalam negeri itoe soedah lama dianiaja oleh orang besar², sahingga marika-itoe doerhaka; maka atoeran pemerentahan habis diobahkannja, tambahan lagi banjak orang bangsawan serta Radja poen diboenoehnja. Adapoen di negeri Belanda ada djoega orang, jang tiada senang hati; pada sangkanja Stadhouder (Radja) Willem V koerang baik pemerentahannja; maka orang itoe memoehoen

80 pertoeloengan kapada orang Pransman hendak menghalaukan Radjanja; maka datanglah beberapa riboe soldadoe Pransman, sahingga pada tahoen 1795 Stadhouder Willem V lari ka tanah Inggeris. Maka tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe, maka orang Belanda menjesal amat sangat, karena orang Pransman lalim kalakoeannja; saolah-olah negeri Belanda masoek baha- gian tanah Pransman. Tambahan lagi negeri Belanda bertjampoer dalam perang orang Pransman dengan orang Inggeris. Apabila orang Inggeris bertemoe dengan kapal Belanda, maka diboedjoeknja anak kapal itoe menjerahkan dirinja, katanja: »Kami ini boekan moesoeh orang Belanda; maksoed kami hendak mengem- balikan kapal ini kapada Stadhouder Willem V. Maka atjap kali disampaikannja niatnja dengan akal itoe. Maka dengan hal jang demikian itoe njatalah Kompani makin lama makin lemah, sahingga oetangnja sampai 112 djoeta roepiah. Kasoedabannja ditentoekan oleh pemerentah Belanda, bahoea Kompani ditiadakan, monopoli Kompani dihentikan serta oetang Kompani akan dibajar berangsoer-ang- soer oleh pemerentah Belanda; dan lagi Toean² Bewindhebbers dilepaskan dari pada pangkatnja serta digantikan oleh Toean sembilan orang, nama madjelis itoe Raad der Aziatische Bezittingen (Diwan djadjahan di benoea Asia). Demikianlah kasoedahan Kompani dalam tahoen 1800; kemoedian tanah Hindia dipeliharakan oleh pemerentah (Gouver- nement) Belanda. Kalakian, maka dalam tahoen 1804 tanah Pransman dipe- rentah oleh Keizer (Maharadja) Napoleon. Adapoen Napoleon dahoeloe luitenant, maka sebab pandai dan pandjang akal, maka iapoen makin lama makin naik, sahingga mendjadi Keizer. Maka Keizer Napoleon amat mashoer; bahoea senja ia tiada terlawan oleh Radja² di benoea Airopah; beberapa karadjaan ditaaloekkannja, laloe dianoegerakannja kapadanja saudaranja atau kapada panglimanja; hanjalah tanah Inggeris dan tanah Roesia tiada dapat dialahkannja, sebab tanah

8i Inggeris ditengah laoet, tiada terhampiri balatantara Prans- man, dan tanah Roesia djaoeh dan amat loeas. Arkian, maka pada tahoen 1806 negeri Belanda dibawah hoekoem Radja Lodewijk Napoleon, adinda Keizer Napoleon. Pada masa itoe hal pemerentahan tanah Hindia beloem berapa dibaiki, serta kabanjakan poelau lain dari pada poelau Djawa soedah didalam tangan orang Inggeris, karena soldadoe dan alat sendjata koerang atau karena chianat radja². Adapoen Radja Lodewijk Napoleon menitahkan saorang Gouverneur-Generaal ka tanah Hindia, jang mahakoeasa me- ngobahkan pemerentahan tanah Hindia, barang apa jang disangkakannja baik boleh dilakoekannja. Maka Toean jang dipilih Radja Belanda jaitoe Maarschalk (panglima besar) Daendels; soenggoehpoen lama pemerentahan tiga tahoen sadja (dari tahoen 1808 sampai tahoen 1811), tetapi iapoen kanamaan sakali diantara Gouverneur-Generaal. Adapoen G. G. Daendels berniat membaiki peri hal tanah Hindia dengan soenggoeh hati: barang apa jang menghambat maksoednja dan barang siapa jang melawan kahendaknja, didjaoehkannja belaka, djikalau dengan kakerasan sakalipoen tetapi hatinja benar, maksoednja hendak memperhatikan sela. mat orang Hindia. Bermoela, maka baroe Toean Daendels sampai ka Batawi, maka ia berangkat ka Djawa tengah hendak memeriksa dan mengatoerkan pemerentahan disitoe. Soedah itoe, maka Toean Daendels haroes pergi ka Banten; adapoen sebabnja ditjeritera- kan dibawah ini: Gouverneur-Generaal telah menitahkan membaiki Teloek Tjamar (Meeuwenbaai) serta mendirikan benteng dan koeboe disitoe, soepaja teloek itoe mendjadi tempat kapal berlindoeng dari pada angin riboet dan dari pada moesoeh, maka orang jang disoeroeh mengerdjakan pekerdjaan itoe, jaitoe orang Banten. Maka pekerdjaan itoepoen amət lambat didjalankan orang, sebab koeli itoe banjak jang sakit dan banjak djoega lari. Adapoen Mangkoe Boemi di Banten ditimpa moerka Gouverneur-Generaal, sebab pada sangka Toean Besar ialah jang Hikajat tanah Hindia.

melandjoetkan pekerdjaan itoe dengan sengadja seraja me- ngasoet Soeltan. Sjahdan, maka Resident Du Puij disoeroeh ka Banten akan menjampaikan kahendak Gouverneur-Generaal tiga per- kara, jaitoe: Soeltan patoet berpindah ka Anjar, dan Mangkoe Boemi dihantarkan ka Batawi, dan Soeltan menjoeroeh anak boeahnja menjoedahkan pekerdjaan di teloek Tjamar itoe. Arkian, maka koetika Toean Du Puij masoek kadalam keraton, maka tiba² iapoen diamoek dan diboenoeh bersama- sama pengiringnja oleh raajat Mangkoe Boemi. Demi chabar itoe petjahlah, maka kaesokan harinja Toean Daendels be- rangkat ka Banten dengan membawa soldadoe 1000 orang dan mariam beberapa poetjoek. Soedah sampai, maka bala- tantara itoe menjerang keraton, laloe masoek, Adapoen Soeltan diboeang ka poelau Ambon, serta Mangkoe Boei ditembak sampai mati dengan titah Gouverneur-Generaal (pada tahoen

1808). Sjahdan, maka tanah Lampong serta bahagian sabelah timoer tanah Banten diantara Tji-Dani dan Tji-Doerian dimasoekkan tanah Gouvernement; maka bahagian tanah Banten jang tinggal lagi dibawah hoekoem poetera Soeltan jang diboeang itoe. Adapoen Soeltan jang baroe itoe lemah pemerentahannja; anak boeahnja, jang merompak dan jang menjamoen tiada dapat ditegahnja; oleh karena itoe bahagian tanah Banten sabelah oetara didjadikan poela djadjahan tanah Gouvernement oleh Toean Daendels. Kemoedian terseboetlah perkataan hikajat karadjaan Djog- jakarta dan Soerakarta. Bahoea Soeltan Djogja pada masa itoe Amangkoe Boeäna Il (dari tahoen 1792 sampai tahoen
1828); maka dalam hikajat iapoen dinamai djoega Soeltan Sepoeh (jang Toea). Maka Soeltan itoe menaroeh dendam kapada Gouvernement, sebab ia diasoet oleh isterinja dan adinda Baginda, Pangeran Nåtå Koesoemå; maka diantara orang besar² di Djogja, jang hendak bersahabat dengan Gouvernement Belanda Patih jang teroetama sakali.

Adapoen Toean Daendels menjamakan Resident di Djogja dengan Soeltan, serta beberapa adat, jang menghinakan wakil Radja Belanda itoe, diboeangnja samoeanja. Oleh karena itoe Soeltan bertambah bentji, maka raajatnja me- njamoen di daerah Sålå dan di tanah Gouvernement, kapalanja Raden Rangga Prawirå-di-Redja, menantoe Baginda. Arkian, maka pada tahoen 1811 Gouverneur-Generaal membawa balatantaranja ka Djogja. Maskipoen Raden Rangga mati tengah perang dengan raajat Soeltan, tetapi Toean Daendels tiada djoega poeas hatinja, melainkan Soeltan Sepoeh ditoeroenkannja seraja Pangeran Adipati Anom diradja- kannja dengan gelar Soeltan Amangkoe Boeånå IlI. Maka Soeltan Sepoeh boleh tinggal di keratonnja, asal djangan ditjampoerinja perkara negeri, maka Pangeran Nåtå Koesoema beserta dengan anaknja dihantarkan orang ka Tjerebon; maka salama G. G. Daendels memerentah di tanah Hindia marika- itoe tiada lepas. Tatkala Gouverneur-Generaal di Djogja, maka diperolehnja katerangan, bahoea Soesoehoenan Pakoe Boeanå IV (Soenan Bagoes) di Sälå dahoeloe samoeafakat dengan Soeltan hendak melawan Gouvernement; sebab itoe Toean Besar berangkat ka Såla; maka dikoeranginja koeasa Soesoehoenan. Sabermoela, maka atoeran negeri jang masoek pemerenta- han Belanda diobahkan sakali oleh Toean Daendels. Pada masa itoe djadjahan Gouvernement di tanah Djawa sabelah oetara dan timoer dibawah perentah saorang Gouverneur; adapoen pangkat itoe ditiadakan, serta tanah itoe dibahagi atas beberapa bahagian, satoe² diperentahkan oleh saorang Resident. Maka Boepati (Regent) didjadikan ambtenaar oleh Toean Daendels; sediakala Boepati itoe saperti radja koeasa- nja, dipoengoetnja beja dan hasil tanah sabanjak ia soeka; akan tetapi kemoedian diperolehnja gadji jang tetap, dan lagi pangkatnja dibawah pangkat Resident. Pada masa dahoeloe beberapa matjam hasil tanah haroes diserahkan kapada Kompani; atoeran itoepoen diobahkan oleh Toean Daendels; jaitoe, boemi poetera dititahkannja menanam soeatoe matjam

tanam-tanaman, jang haroes didjoealnja kapada Gouvernement dengan harga jang tetap; maka oepah itoe tiada diberikan kapada Boepati, melainkan kapada orang negeri sendiri. Maka gadji ambtenaar ditambah oleh Gouverneur-Generaul, tetapi saorang djoeapoen tiada boleh mengambil barang sa- soeatoe dari pada anak boeahnja dengan akal jang tiada patoet. Maka Toean Daendels amat keras kalakoeannja kapada barang siapa, jang menganiaja orang atau jang lalai dan koerang berani, bagaimana besar sakalipoen pangkat orang jang demikian itoe; oepamanja: ada saorang Kolonel (panglima besar) di poelau Amnbon; soenggoehpoen bentengnja tegoeh dan soldadoenja banjak, tetapi saloeroeh poelau Ambon diserah- kannja kapada orang Inggeris; oleh karena itoe Toean Daendels menitahkan soldadoenja menembak Kolonel itoe sampai mati. Sjahdan, maka atoeran hoekoem hakim diobahkan djoega oleh Toean Daendels. Maka dalam tiap² karesidenan didiri- kan saboeah Landraad, jaitoe madjelis beberapa manteri Djawa di kapalai oleh Resident; dan lagi dalam tiap² kaboepaten hoekoeman dipoetoeskan oleh Regent beserta dengan beberapa kapala Djawa. Tambaban lagi di Samarang dan di Soerabaja didjadikan Raad van Justitie (Landraad jang tinggi); peker- djaannja menghoekoem kasalahan jang besar. Adapoen kaelokan Batawi dan kasenangan isinja diperhati- kan djoega oleh Toean Daendels; sebab sedjak goenoeng Salak meletoes pada tahoen 1699, loempoer amat banjak dihilirkan Tji-Liwong, sahingga soengai dan pelaboehan Batawi tohor serta hawa tiada sihat karena loempoer itoe. Maka Gouverneur-Generaal menitahkan, bahoea loeroeng jang sempit dilebarkan dan soengai didalamkan orang; dan lagi diadjaknja orang mendirikan roemah lebih djaoeh ka oedik. Demikianlah terdjadi negeri Batawi jang baroe; bahagiannja Weltevreden, Rijswijk dan Noordwijk namanja. Di Weltevreden diperboeat orang saboeah astana bagi Gouverneur-Generaal, maka astana itoepoen dihabiskan sapeninggal Toean Daendels; sakarang roemah itoe mendjadi kantor beberapa Toean Directeur.

85 Maka pekerdjaan jang termashoer sakali, jaitoe djalan raja dari Anjar sampai ka Panaroekan 200 djam perdjalanan pandjangnja, maka djalan itoe diperboeat orang negeri kira² satoe tahoen lamanja. Maka peri hal balatantara dipeliharakan djoega oleh Toean Daendels dengan soenggoeh hati; di Meester Cornelis diperboeat orang tempat kadiaman soldadoe, jang dikelelingi parit dan koeboe; di Weltevreden didirikan orang tangsi dan roemah sakit, jang sampai sakarang dipakai oleh Gouvernement. Maka di Salatiga dibangoenkan saboeah benteng, demikian djoega di poelau Menari di selat Madoera akan mendjaga Soerabaja; di Samarang dan di Soerabaja Gouverneur-Generaal menitahkan memboeat fabriek, tempat orang me- njediakan kapal dan mariam dan sendjata. Tatkala Toean Daendels datang ka Hindia, maka soldadoe sadikit sadja, tetapi sasoedahnja satoe tahoen lamanja soldadoe 18000 orang dan officier 500 orang; serta soedah siap 45 boeah kapal perang jang ketjil (perahoe keroeis) akan memerangi perompak, sebab orang itoe makin lama bertambah berani pada masa pemerentahan Kompani koerang kentjang. Adapoen njatalah Gouvernement membelandjakan banjak oeang akan melakoekan segala perobahan itoe; oleh sebab itoe dititahkan oleh Toean Daendels, bahoea beberapa bi- dang tanah jang loeas sakali haroes didjoeal; barang siapa jang membeli sabidang tanah saolah-olah ganti Gouvernement di tanah itoe serta boleh mendapat hasil, jang ditentoekan oleh Gouvernement, kapada orang jang doedoek disitoe. Demikianlah didjoeal daerah Batawi dan Bogor dan Samarang dan Soerabaja dan Krawang dan Pråbålinggå dan Besoeki; maka tanah itoe dinamai tanah particulier. Sakarang ini lagi ada di karesidenan Batawi, di Krawang dan di Samarang; tanah jang lain soedah diteboes poela oleh Gouvernement. Hatta, maka pada tahoen 1811 Toean Daendels dititahkan poelang oleh Keizer Napoleon; maka gantinja jaitoe G. G. Janssens.

86 FASAL XIV.

HIKAJAT PEMERENTAHAN ORANG INGGERIS.

Alkesah, maka tatkala G. G. Janssens menggantikan pemerentahan G. G. Daendels, maka kalangkapan orang Inggeris berlajar dari Malaka akan mengalahkan tanah Djawa. Maka Lord Minto, Gouverneur-Generaal Kompani Inggeris menoempang di kapal, akan tetapi jang sabenarnja mendjalan- kan atoeran angkatan itoe, jaitoe Toean Raffles. Adapoen Toean Raffles dahoeloe Secretaris di poelau Pinang, maka karena kapandaiannja dan bidjaksananja iapoen disoeroeh oleh Lord Minto kapada radja² di Hindia akan memboedjoek radja itoe membawa dirinja kabawah hoekoem orang Inggeris; maka beberapa radja mendengarkan asoet Toean Raffles. Arkian, maka 4 hari boelan Augustus tahoen 1811 balatantara Inggeris naik darat dekat Batawi, maka empat hari kemoedian dari pada itoe marika-itoe masoek kadalam negeri itoe; sebab G. G. Janssens telah meninggalkan Batawi dan mengoempoelkan raajatnja di Meester Cornelis. Tiada lama antaranja, maka orang Inggeris menjerang kota itoe; kasoe- dahannja orang Belanda alah, teroetama sebab Generaal Pransman Jumel lalai dan lengah kalakoeannja. Satelah balatantara Belanda tjerai berai, maka Gouverneur-Generaal berangkat ka Samarang hendak menahan mcesoeh disitoe, akan tetapi soldadoenja sadikit sadja, lagi hatinja ketjil' dan lagi raajat Soesoehoenan dan Soeltan dan Pangeran Mangkoe Negårå jang menoeloeng Gouvernement, tiada berapa goenanja. Adapoen orang Inggeris dengan segera mengedjar balatantara itoe, sahingga 17 hari boelan September G. G. Janssens haroes menjerahkan poelau Djawa serta segala djadjahannja kadalam tangan orang Inggeris. Soedah itoe Lord Minto mendjadikan Toean Raffles Lui- tenant-Gouverneur (G. moeda) di tanah Hindia; kemoedian dari pada itoe iapoen poelang ka Hindoestan,

87 Maka ditjeriterakan hikajat karadjaan Djogja. Satelah Gouvernement Belanda berhenti, maka Soeltan Sepoeh tiada maoe melakoekan perdjandjian dengan Toean Daendels, melainkan japoen naik Soeltan poela seraja poeteranja di- toeroenkannja. Moela² Toean Raffles tiada melarang perboeatan itoe, oleh sebab itoe Soeltan Sepoeh makin berani, maka orang jang dahoeloe berbaik dengan' G. G. Daendels disiksanja: Patih berdoea beranak diboenoehnja; maka Soeltan Anom (jang Moeda) lari berlindoeng kapada orang Inggeris, sebab takoet diratjoen orang. Adapoen Toean Raffles kasoesahan amat sangat, sebab pada koetika itoe soldadoe Inggeris kabanjakan sedang me- merangi negeri Palembang. Satelah kembali di tanah Djawa, maka balatantara Inggeris menjerang negeri Djogja, laloe masoek. Maka Soeltan Anom diradjakan poela oleh Toean Raffles, serta Soeltan Sepoeh diboeangnja ka poelau Pinang. Tambahan lagi tanah Kedoe, Patjitan, Djapan (Mâdjâkertå), Djipan (Bådjânegarå) dan Grobogan mendjadi djadjahan Inggeris; maka didjandjikan oleh Soeltan, bahoea Patih boleb diangkat dan ditoeroenkan oleh Gouvernenent Inggeris. Maka Pangeran Natå Koesoema dianoegerahi sabidang tanah oleh Toean Raffles, karena tegoeh setianja kapada orang Inggeris; tanah itoe jaitoe distrikt Karang Kamoening diantara soengai Prågå dan soengai Bågawantå, maka Pangeran itoe beroleh gelar Pangeran Adipati Pakoe Alam toeroen temoeroen kapada anak tjoetjoenja (pada tahoen 1812). Kemoedian dari pada itoe Soesoehoenan Såla kadatangan djoega oleh soldadoe Inggeris, sebab safakat dengan Soeltan Sepoeh hendak membinasakan orang Inggeris; maka Soesoehoenan dipaksa oleh Toean Raffles menoeroet sakahendaknja. Kalakian, maka sakali lagi Soesoehoenan mentjoba memper- dajakan Gouverneur; diasoetnja soldadoe Sipai akan doerhaka kapada Gouvernement; akan tetapi chianat itoe terdengar kapada Toean Raffles; maka dengan segera disoeroehnja soldadoe Sipai itoe berpindah kapada negeri jang lain.

88 Bermoela, maka sedjak negeri Banten dikoerangi koeasanja, oleh Toean Daendels, maka orang negeri tiada djoega sen- tausa, sebab banjak orang berkawan akan menjamoen dan merompak. Maka sia-sialah Soeltan mentjoba menegahkan orang itoe, oleh karena itoe iapoen toeroen serta menjerahkan tanah Banten kapada Gouvernement Inggeris, asal diperoleh- nja gadji salama lagi hidoepnja. Demikian djoega hal Soeltan Tjerebon. Adapoen dalam fasal jang dahoeloe soedah ditjeriterakan, bahoea Toean Daendels menjoeroeh orang negeri mendjoeal hasil tanah beberapa matjam dengan harga jang tetap kapada Gouvernement. Akan tetapi Toean Raffles lain pikirannja; pada sangkanja baiklah orang Djawa bebas menanam barang sasoekanja dan mendjoeal kapada barang siapa djoeapoen; tetapi masing haroes membajar tjoekai dengan oeang toenai atau dengan padi. Pada zaman Hindoe segala sawah ladang disangkakan orang milik Radja, maka anak boeahnja haroes menghantar oepeti kapada Jang-dipertoean. Oleh karena itoe pada pikiran Toean Raffles tjoekai jang dipoengoet oleh Gouvernement jaitoe saolah-olah sewa tanah, jang pada zaman dahoeloe kala dipersembahkan kapada Radja. Adapoen di tanah Djawa tengah ada soeatoe adat, jaitoe sawah saboeah desa dimiliki segala orang isi desa itoe, maka sakali satahoen atau sakali doea tahoen sawah itoe dibahagikan oleh kapala desa kapada sakalian anak boeahnja. Oleh karena hal jang demikian itoe boekan saorang2, membajar sewa tanah (padjeg), melainkan sadesa² menoeroet loeas dan elok sawahnja. Satelah atoeran itoe didjalankan beberapa lamanja oleh Gouvernement, maka pikiran Toean Raffles berobah poela, dititahkannja, bahoea tiap² kapala tjatjah (isi roemah) wadjib membajar padjeg, sebab pada sangka Gouverneur, kalau tiada demikian, orang ketjil dianiaja oleh kapalanja. Maka njatalah Gouvernement patoet mengatahoei loeas tiap2 sawah, soepaja padjeg boleh ditentoekan banjaknja; akan tetapi pada masa itoe poelau Djawa beloem dioekoer

dengan betoel² saperti sakarang; djadi padjeg itoe tiada djoega

boleh ditentoekan Gouvernement dengan sabenarnja. Sjahdan, maka pekerdjaan negri dikoerangi djoega, hanjalah djalan raja dan djembatan haroes dikerdjakan oleh orang Djawa; tambahan lagi orang Djawa tiada disoeroeh menanam kopi, lain dari pada di tanah Priangan, sebab disitoe kopi amat soeboer djadinja. Adapoen orang Tjina dan orang dagang jang berdjabatan wadjib membajar tjoekai masinga sakedar oepahnja. Maka L. G. Raffles mendjoeal djoega beberapa bidang tanah di Tjerebon, di Krawang dan di Priangan saperti lakoe Toean Daendels, tetapi Pråbälinggå dan Besoeki diteboesnja poela. Lain dari pada jang terseboet diatas ini dititahkan lagi oleh Toean Raffles beberapa oendang2, oepamanja: Garam mendjadi monopoli Gouvernement. Gouvernement melarang menjaboeng dan main djoedi. Orang boedak tiada boleh dibawa dari pada saboeah poelau kapada saboeah poelau. Bermoela, maka ditjeriterakan hal negeri² jang lain dari pada poelau Djawa. Maka sabeloem tanah Hindia didalam tangan orang Inggeris, maka Soeltan Mahmoed Badroe'ddin di Palombang telah diasoet oleh Toean Raffles akan melepaskan dirinja dari pada hoekoem orang Belanda. Tatkala terdengar chabar kapadanja, mengatakan orang Inggeris soedah menga-

lahkan poelau Djawa, maka tiba² disoeroehnja raajatnja

memboenoeh orang isi benteng Belanda di Palembang; maka saorang djoeapoen tiada terpelihara njawanja, baik laki² baik perampoean, baik kanak². Kemoedian dari pada itoe datanglah oetoesan Toean Raffles akan meminta Soeltan mengakoe dirinja taaloek kapada Kompani Inggeris, tetapi permintaan itoe ditolak oleh Baginda. Sebab itoe balatantara Inggeris menjerang dan mengalahkan negeri Palembang; dalam pada itoepoen Soeltan Badroe'ddin lari kahoeloe Palembang. Soedah itoe Nadjmoe'ddin, adinda Baginda, diradjakan oleh Toean Raffles, asal poelau Bangka diberikannja kapada Gouvernement Inggeris (pada tahoen 1812),

90 Maka di poelau Selebes Radja Bone diperangi oleh orang Inggeris, sebab karadjannja dikembangkannja, sahingga iapoen berniat menaaloekkan negeri Goa. Pada tahoen 1813 orang Inggeris menjerang negeri Sambas, sebab radjanja merompak di laoet; maka negeri itoe dibakar balatantara Inggeris dan Soeltan Sambas lari ka oedik. Kalakian, maka pada tahoen 1813 hilanglah koeasa Keizer Napoleon, sasoedahnja balatantaranja satengah djoeta orang habis binasa di tanah Roesia. Maka bangsa² Airopah, jang menanggoeng hoekoemnja soeka ta soeka, berbangkit, sahingga Keizer Napoleon dialahkannja, laloe diboeangnja ka poelau Elba. Adapoen orang Belanda menghalaukan djoega orang Pransman serta meradjakan poetera Stadhouder Willem V, namanja Koning (Radja) Willem I. Soedah itoe orang Belanda berdamai dengan orang Inggeris, laloe hampir saloeroeh tanah Hindia dikembalikan oleh Radja Inggeris kapada Radja Belanda (pada tahoen 1814). Maka pada tahoen itoe djoega wakil Radja Willem I tiga orang (Commissaris-Generaal) berangkat ka tanah Hindia akan mempertoekarkan pemerentahan, tetapi pada koetika itoe Keizer Napoleon berbalik dari poelau Elba, laloe naik darat di tanah Pransman; maka iapoen diradjakan poela oleh anak boeahnja jang lama itoe. Adapoen Keizer Napoleon tiada selamat; balatantaranja dialahkan dekat Waterloo oleh orang Inggeris dan orang Pruisen dan orang Belanda pada tahoen 1815. Satelah bebe- rapa lamanja, maka Keizer Napoleon menjerahkan dirinja kapada orang Inggeris, laloe ia dihantarkannja ka poelau Sint-Helena; disitoelah Keizer Napoleon mangkat pada tahoen 1821, Hatta, maka pada tahoen 1816 wakil Gouvernement Belanda, sampai ka Batawi; pada masa itoe Toean Fendall Luitenant Gouverneur, maka Toean Raffles telah didjadikan oleh Kom- pani Inggeris Luitenant Gouverneur di Bangkahoeloe. (1)

(2) Satelah orang Inggeris dibalaukan oleh Soeltan Hadji dari Banten, maka
marika-itoe doedock di Bangkahoeloe.

Maka Toean Raffles menaroeh dendam kapada orang

Belanda, sebab itoe diganggoenja Gouvernement Belanda dimana-mana sadja. Lagi poela ditjampoorinja perselisihan doea anak Soeltan Djohor, maka disampaikannja niatnja hendak beroleh poelau Singapoera. Maka poelau itoepoen terlaloe elok tempatnja ditengah djalan dari Hindoestan ka benoea Tjina dap ka negeri Djepoen; sebab itoe didirikan oleh Toean Raffles saboeah negeri, maka negeri itoe makin lama makin ramai. Kasoedahannja pada tahoen 1824 didjandjikan orang lnggeris dengan orang Belanda perkara, jang terseboet dibawah ini: Pertama: Anak boeah Radja Belanda boleh berniaga dalam segala djadjahan Inggeris dan anak boeah Radja Inggeris boleh berniaga di tanah Hindia lain dari pada di poelau Moloeko. Kadoea Gouvernement akan memerangi orang pe-Kadoea: rompak dengan sakoeat-koeatnja. Saloeroeh djadjahan Inggeris di poelau Pertja, jaitoe

Katiga:

Bangkahoeloe dan poelau Belitoeng diserahkan kapada Gouvernement Belanda, tetapi Malaka dan djadjahan Belanda di Hindoestan mendjadi milik Kompani Inggeris. Kaempat: Orang Inggeris tiada akan mentjampoeri perkara negeri² disebelah selatan Singapoera. Kalima: Poelau Singapoera masoek djadjahan Inggeris. Bermoela, maka pekerdjaan Toean² Commissaris-Generaal amat soekar, sebab hal tanah Hindia amat koesoet: dalam beberapa negeri perobahan, jang dititahkan oleh Toean Raffles soedah dilakoekannja, dalam beberapa negeri tidak; lagi poela oetang Gouvernement banjak, tetapi djoemlahnja tiada dika- tahoeinja betoel². Maka roemah Gouvernement dan djalan raja dan djambatan dan post di tanah Djawa tiada berapa dipeliharakan pada masa pemerentahan Inggeris. Tambahan lagi di Banten dan di 'Tjerebon banjak orang tiada senang hati, sebab Radjanja ditoeroenkan oleh Toean Raflles, sahingga Gouvernement haroes menjentausakan orang

92 jang doerhaka itoe dengan kakerasan; demikian djoega di poelau Ambon. Sjahdan, maka roepa² perobahan didjalankan oleh Toean² Commissaris-Generaal itoe, oepamanja: Orang boedak tiada boleh diperniagakan lagi, dan orang beroetang di poelau Djawa dimardahikan samoeanja. Atoeran hakim hoekoem (Justitie) didjalankan djoega di poelau jang lain saperti atoeran di poelau Djawa. Maka banjak lagi dilakoekan Toean² itoe perobahan dari hal pengadjaran dan tanam-tanaman dan balatantara dan kapal perang; adapoen perompak terlaloe berani merampas dan membakar kampoeng dan mentjoeri orang di pantai poelau² Hindia, sampai ka poelau Djawa poen perompak itoe menja- moen. Sebab itoe Gouvernement beroesaha membinasakan orang jang djahat itoe. Hatta, maka pada tahoen 1819 Toean Commissaris-Generaal doea orang poelang ka negeri Belanda, maka Toean Van der Capellen didjadikan Gouverneur-Generaal oleh Radja Willem I, maka Toean itoe memerentah tanah Hindia sampai tahoen 1826 adanja.

FASAL XV. TJERITERA PERANG PADERI. Alkesah, maka terseboetlah perkataan karadjaan Menangkabau. Adapoen pada abad jang katoedjoebelas Radja² Menangkabau berselisih dengan orang Atjeh, maka moelanja perselisihan itoe jaitoe siapa jang memiliki pantai sabelah barat Poelau Pertja. Maka dalam perang itoe Radja Menangkabau dibantoe oleh Kompani; sebab itoe orang Belanda mendapat izin mem- bangoenkan lodji dalam beberapa negeri di pantai sabelah barat, oepamanja Padang, Tikoe dan lain² (pada tahoen 1662).

93 Kalakian, maka pada tahoen 1682 karadjaan Menangkabau dibahagi tiga, djadi radjanja tiga orang; saorang bersemajam di Soengai Tarap, saorang di Pagar Roejoeng, saorang di Soera- wasa. Maka sedjak koetika itoe koeasa Radja² Menangkabau makin lama makin koerang; jang berkoeasa dengan sabenarnja di Padang Darat jaitoe penghoeloe soekoe (kapala kaoem). Maka sakali peristiwa pada tahoen 1803 adalah tiga orang-orang Padang Darat naik hadji. Pada masa itoe djoega di Mekah ada saorang sjech Badoewi Abd'oel Wahab namanja, maka sjech itoepoen mengadjarkan agama jang haroe: pada sangkanja agama Islam sakali-kali tiada berpatoetan dengan Koraan, sebab itoe baiklah agama Islam disoetjikannja. Satelah negeri Mekah dialahkannja, maka disoeroehnja orang Islam radjin sembahjang. dan djangan merokok dan djangan berpakaian jang endah², serta Nabi Mohamad djangan diberi hormat terlaloe sangat, sebab Nabi Mohamad manoesia sadja. Adapoen Soeltan Toerki masgoel hatinja, sebab orang Arab banjak menoeroet pengadjaran Abd'oel Wahab itoe, maka dititahkannja Radja Moeda di tanah Mesir membinasakan orang tarikat baroe itoe. Maka pada tahoen 1818 lenjaplah karadjaan Badoewi itoe, serta kabanjakannja mati terboenoeh. Sabermoela, maka orang Melajoe bertiga itoepoen pertjaja dengan soenggoeh² hati akan pengadjaran Abd'oel Wahab; soedah poelang di Padang Darat, maka diadjarkannja agama Abd'oel Wahab kapada orang Melajoe; teroetama saorang didalam antaranja amat radjin oesahanja, maka namanja Hadji Miskin. Akan tetapi orang negeri tiada mendengar perkataannja, sebab maksoed Hadji Miskin hendak memboeang adat istiadat nenek mojang, laloe iapoen dihalaukan orang dari negerinja Pandan Sikat di tanah Batipoeh. Kemoedian dari pada itoe Hadji Miskin bertoealang, maka lama-kalamaan sampailah ia ka negeri Kamang di tanah Agam; disitoelah diam saorang Toeankoe (1), Toeankoe nan Rintjeh namanja. Maka Toeankoe nan Rintjeh dan Hadji Miskin

(1) Toeankoe jaitoe nama panggilan penghoeloe agama, jang mengadjar
dalam saboeah madarsah (soerau) jang besar.

94 beserta dengan enam orang oelema bertegoeh-tegoehan djandji akan mengembangkan tarikat jang baroe itoe. Adapoen Toeankoe delapan orang itoe di namai orang ,Harimau jang delapan" karena marika-itoe tiada menaroeh kasihan kapada barang siapa jang tiada samoeafakat dengan marika-itoe: baik orang Islam, baik orang Masihi, baik orang jang menjembah berhala, samoeanja dikatakannja kafir. Lama kalamaan amat banjak orang menoeroet Toeankoe itoe, sahingga marika-itoe berani memerangi orang jang masoek agama jang lama, maka dialahkannja moesoehnja dekat negeri Soengai Poear di lereng goenoeng Merapi. Maka barang siapa bersakoetoe dengan Toeankoe itoe wadjib berpakaian poetih, oleh karena itoe orang itoe dinamai ,,orang poetih". Lain dari pada itoe namanja Paderi djoega; barangkali kata itoe asalnja dari pada kata Portoegis padere", ertinja ,,bapa", jaitoe nama panggilan pandita. Adapoen orang poetih itoe tiada boleh makan sirih dan madat dan merokok dan menjaboeng dan berdjoedi, melainkan marika-itoe haroes menjoenggoeh-njoenggoehi sjarat agama, akan perampoean moekanja patoet bertoetoep saperti perampoean Arab. Maka terlaloe amat siksa orang jang melanggar sjarat itoe; pada soeatoe hari terdapatlah oleh Toeankoe nan Rintjeh saorang perampoean jang makan sirih. Maskipoen perampoean itoe masoek kaoemnja, tetapi sabentar itoe djoega diboenoehnja. Hatta, maka Toeankoe itoe dapat mengembangkan koeasa- nja di tanah Agam dan di Batipoeh dan di Limapoeloeh Kota; adapoen kalakoeannja amat bengis: penghoeloe jang melawan diboenoehnja belaka dan banjak orang negeri didjadikannja hamba, laloe didjoealnja. Maka dalam tiap² negeri jang taaloek adat nenek mojang diboeangnja, penghoeloe dipertoekarkan- nja dengan doea orang kapala, saorang Toeankoe Imam, jaitoe penghoeloe agama, saorang Toeankoe Kali, jaitoe jang memoetoeskan hoekoeman. Arkian, maka beberapa Toeankoe minta kapada Radja² Menangkabau membitjarakan dengan marika-itoe, bagaimana

95 daja oepaja akan menghentikan perang itoe. Maka Radja itoe berhimpoen dengan Toeankoe, maka sedang bermasjawarat berbangkitlah Toeankoe Pasaman, katanja: balhoea Radja itoe terlaloe djahat hatinja dan boeroek kalakoeannja, saperti lakoe orang kafir; djadi baiklah Radja itoe diboenoeh. Pada koetika itoe djoega orang Paderi mengamoek serta memboenoeh orang pihak jang lain itoe, hanja Radja Pagar Roejoeng berdoea laki isteri lepas dari pada bahaja maoet itoe. Hatta, maka isteri Radja Pagar Roejoeng serta beberapa penghoeloe lain ka Padang hendak mengadoekan halnja kapada Toean Rallles, jang pada masa itoe Luitenant Gouverneur di Bangkahoeloe. Maka dichabarkan oleh orang Melajoe itoe, bahoea orang Menangkabau soedah poeas menanggoeng lalim orang Paderi itoe; djikalau kiranja balatantara Inggeris menoeloeng, nistjaja orang Padang Darat akan membawakan dirinja kabawah hoekoem orang Inggeris. Adapoen Toean Raffles menjoeroeh beberapa soldadoe mem- boeat benteng di Semawang dekat pangkal batang Ombilin, serta dikirimnja soerat kapada Toeankoe²; boenjinja, bahoea Toean Raffles hendak mendamaikan orang Melajoe dengan orang Paderi; akan tetapi Toeankoe² maoe bitjara dengan Gouverneur, asal ditoeloengnja mengembangkan agama paderi. Kalakian, maka tatkala orang Belanda doedoek poela di pantai barat poelau Pertja, maka Semawang ditinggalkan oleh soldadoe Inggeris, sebab itoe penghoeloe jang telah lari itoe menghadap Resident Du Puij di Padang, maka dipoehoenkannja pertoeloengan serta diserahkannja saloeroeh tanah Menangkabau kapada Gouvernement Belanda (pada tahoen 1821). Komoedian dari pada itoe beberapa soldadoe Belanda disoeroeh doedoek di Semawang, akan tetapi orang Paderi sakali-kali tiada merilakan perdjandjian, jang terseboet tadi. Maka sebab penghoeloe² tiada berkoeasa lagi, oleh karena itoe Gouvernement haroes menaaloekkan Toeankoe2 dengan kakerasan. Maka pada tahoen 1822 Luitenant-Kolonel Raaff mengalah- kan Tanah Datar, tetapi balatantara Belanda beserta dengan

96 orang Melajoe jang membantoe sia² mentjoba masoek ka tanah Lintau dan Agam; samantara itoe orang Paderi mengembang- kan koeasanja di Bondjol di Raoe sampai ka tanah Batak poen. Maka sapeninggal Toean Raaff Kolonel de Stuers, jang mendjadi wakil Gouvernement di Padang, salama pemerenta- hannja (dari tahoen 1824 sampai tahoen 1829) perang dengan orang Paderi tiada dioelangkan, sebab pada sangka Toean de Stuers lama kalamaan orang Paderi akan mendjoendjoeng perentah Gouvernement, kalau orang Belanda lemah lemboet kalakoeannja; tambahan lagi pada koetika itoe soldadoe Belanda sadikit sadja di Padang Darat, karena Gouvernement berperang dengan Pangeran Dipå Negårå di tanah Djawa. Maka Toean de Stuers mendirikan beberapa benteng, jang teroetama sakali Fort Van der Capellen dan Fort de Kock. Maka pada masa pemerentahan Luitenant-Kolonel Elout (dari tahoen 1831 sampai tahoen 1834) Gouvernement memerangi orang Paderi poela, sahingga saloeroeh Padang Darat sampai ka Raoe taaloek. Dalam pada itoepoen Majoor Michiels berdjalan menjoesoer pantai sampai ka Baros, laloe dialahkan- nja orang Atjeh, sebab orang itoe telah menjerang benteng Belanda di poelau Pontjang di teloek Tapanoeli. Maskipoen pada tahoen 1832 pantai barat Poelau Pertja taaloek kapada Gouvernement, tetapi tanah itoe tiada djoega sentausa dengan soenggoeh², melainkan salakoe goenoeng api, jang tiba² meletoes. Maka pada soeatoe hari berhimpoenlah beberapa Toeankoe di Bondjol dikapalai oleh Toeankoe Imam, gelarnja Malim Besar; adapoen marika-itoe bersoempah-soempahan memboe- noeh segala soldadoe Belanda. Hatta, maka sakoenjoeng-koenjoeng orang Paderi mengamoek orang isi benteng di Bondjol, sahingga saorang soldadoe djoea- poen tiada lepas. Soedah itoe kabanjakan benteng disabelah oetara Fort de Kock dibinasakan moesoeh. Maka Toean Elout amat mas- goel dan sjak hatinja; maka segala penghoeloe jang setia kapada Gouvernement tiada dipertjajainja lagi.

Maka tiada berapa lamanja dengan hal jang demikian itoe, maka datanglah ka Padang wakil Gouverneur-Generaal, Generaal Riesz namanja, maka dibawanja soldadoe 1000 orang. Arkian, maka Generaal Riesz dan Kolonel Elout beserta dengan laskarnja masoek kadalam tanah Agam, laloe dengan soesah pajah ditaaloekkannja poela Padang Darat, hanjalah negeri Bondjol tiada dapat dialahkannja: disitoelah Toeankoe lmam dengan kawannja melawan balatantara Belanda dengan gagah berani. Adapoen negeri Bondjol dikepoeng orang Belanda dari tahoen 1833 sampai tahoen 1837, baroe soldadoe Gouvernement masoek, maka Toeankoe Imam ditawan, laloe diboeang ka poelau Ambon. Sjahdan, maka tengah perang itoepoen pada tahoen 1833 Gouverneur-Generaal Van den Bosch datang melihati hal ahwal poelau Pertja, maka ditentoekannja perdjandjian dengan peng- hoeloe² Melajoe, serta dititahkannja memboeat djalan raja dari Padang ka Boekit tinggi, demikianlah kahasilan dan barang dagangan boleh dibawa dengan pedati, tetapi dahoeloe dipikoel sadja oleh koeli atau koeda beban. Oleh karena itoe Padang Pandjang dan Boekit Tinggi mendjadi negeri jang ramai. Pada tahoen 1892 diboeat Gouvernement djalan kareta api dari Padang ka Padang Pandjang, dan dari Padang Pandjang ka Boekit Tinggi, dan lagi dari Padang Pandjang kapada tambang batoe arang dekat batang Ombilin. Hatta, maka pada tahoen 1837 Kolonel Michiels naik

Gouverneur di Padang, Toean itoelah jang menjoeroeh orang

Melajoe hertanam kopi serta mendjoeal boeah kopi kapada Gouvernement dengan harga jang tetap. Bermoela, maka saorang Toeankoe Paderi tinggal lagi, jaitoe Toeankoe Tamboesai. Adapoen Toeankoe itoe terlaloe lalim dan bengis kapada orang Batak, maka tempat kadoe- doekannja dalam bentengnja di Daloe-daloe di tepi batang Sosak. Maka kota itoe dialahkan oleh Toean Michiels serta Toeankoe Tamboesai mati tenggelam didalam soengai, koe- tika menjeberang hendak lari.

Hikajat tanah Hindia,

98 FASAL XVI.

HIKAJAT TANAH HINDIA DARI TAHOEN 1815

SAMPAI SAKARANG.

Alkesah, maka ditjeriterakan hikajat tanah Palembang pada masa G. G. Van der Capellen memerentah tanah Hindia. Adapoen Soeltan Nadjmoe'ddin diasoet oleh Toean Raffies di Bangkahoeloe mengakoe dirinja dibawah hoekoem Radja Inggeris, maka ditoeroetnjalah kahendak itoe, tetapi Toean Muntinghe wakil Gouverneur-Generaal di Palembang menoe- roenkan Soeltan Nadjmoe'ddin serta meradjakan poela Soeltan jang lama, jaitoe Soeltan Badroe'ddin; maskipoen ialah jang dahoeloe memboenoeh sakalian orang isi benteng Belanda di Palembang, tetapi Toean Muntinghe pertjaja djoega akan dia. Maka sakali peristiwa pada tahoen 1819 Toean Muntinghe berangkat ka oedik hendak memeriksa perboeatan orang Inggeris disitoe. Adapoen Soeltan Badroe'ddin menaroeh chianat dalam hati- nja, maka sapeninggal Toean Muntinghe disoeroehnja raajatnja mengamoek orang Belanda di Palembang. Soenggoehpoen Soeltan tiada menjampaikan maksoednja, tetapi Toean Muntinghe beserta dengan orang Belanda meninggalkan Palembang, sebab soldadoe sadikit orang sadja. Sjahdan, maka balatantara dititahkan oleh Gouverneur-Generaal menaaloekkan tanah Palembang, akan tetapi kalang- kapan itoe tiada dapat sampai ka Palembang, karena dekat negeri Palembang diboeat oranglah koeboe jang bermariam, teroetama poelau Kembaro di moeara soengai Paladjoe anat sangat tegoeh kotanja, dan lagi dari tepi ka tepi soengai Moesi direntangkan moesoeh rantai besi akan mengempang kapal Belanda. Maka tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe pada tahoen 1821 berlajarlah poela angkatan Gouvernement kapada Palembang. maka panglima besar soldadoe, jang menoempang di kapai, jaitoe Generaal De Kock. Adapoen balatantara

99 itoe sedang ramai berperang sampai ka Palembang, laloe bersedia menembak keraton. Maka Soeltan Badroe'ddin tawar hatinja seraja menjerahkan dirinja, laloe iapoen diboeang Gouvernement ka poelau Ternate. Satelah itoe, maka diradjakan oleh Gouverneur-Generaal Ahmad Nadjm'oeddin, anak Soeltan Nadjmoe'ddin serta Nadjmoe'ddin beroleh sabidang tanah dengan gelar Soesoehoenan. Akan tetapi sebab Soeltan dan Soesoehoenan doerhaka, maka kadoea-doeanja ditoeroenkan oleh Gouverneur-Generaal. Se- djak itoe tanah Palembang dibawah perentah (ouvernement sendiri. Akan negeri² di hoeloe Palembang beloem taaloek, oepamanja Redjang, Lebong, Empat Lawang, Pasemah dan lain2. Maka lama kalamaan negeri itoe kabanjakan membawa dirinja kabawah hoekoem Gouvernement, maka tanah Pasemah jang kasoedahan sakali masoek djadjahan Belanda pada tahoen

  1. Maka tanah Palembang makin lama makin ramai sebab orang negeri tiada dianiaja lagi oleh Soeltan dengan sanak saudaranja. Alkesah, maka pada tahoen 1822 mangkatlah Soeltan Amangkoe Boeânå IV di Djogja, ditinggalkannja saorang anak jang doea tahoen oemoernja, oleh karena itoe Soeltan jang moeda itoe dipangkoe oleh beberapa orang sanak saudaranja, maka dalam orang itoe Pangeran Dipå Negårå, jaitoe mamanda Baginda. Adapoen orang Djogja pada masa itoe tiada senang hatinja, sebab dibajarnja beja terlaloe banjak kapada Soeltan dan kapada priaji, maka hasil dan beja itoe 34 matjamnja, djangan dikata lagi jang díambil oleh manteri² dengan batin, dan oleh orang Tjina, jang menjewa (pak) beja itoe; teroe- tama orang 'T'jina itoe kabentjian orang negeri terlaloe amat dari kasangatan lobanja. Dan lagi orang besar² tiada djoega senang hati, sebab dititahkan oleh G. G. Van der Capellen, bahoea tanahnja (1)

    (2) Di tanah Djogja dan Sålå tiap manteri beroleh sabidang tanah, maka

kahasilan tanah itoe ganti gadji.

100 tiada boleh disewakannja lagi kapada orang Belanda atau kapada orang Tjina. Bermoela, maka Pangeran Dipå Negårå menaroeh djoega dendam dalam hatinja, sebab pada sangkanja Gouvernement koerang mengendahkan akan dia, maka terbitlah niatnja dalam hatinja hendak doerhaka. Moela² iapoen bertapa dan berziarah kapada tempat jang keramat akan membesarkan namanja kapada orang Djawa, sambil bermoeafakat dengan beberapa orang besara dan dengan beberapa orang oelema. Arkian, maka pada soeatoe hari Pangeran Dipå Negåra dengan raajatnja menjerang negeri Djogja, tetapi tiada dapat masoek, sebab itoe dikepoengnja negeri itoe; maka orang Djawa makin lama bertambah banjak berkoempoel dengan Pangeran jang doerhaka. Maka tatkala balatantara Belanda kembali dari pada poelau Selebes, baroe negeri Djogja lepas dari pada moesoeh. Maka sia-sialah Gouverneur-Generaal mentjoba mendamai- kan Pangeran Dipä Negàrå, sebab Pangeran itoe hendak naik Soeltan segala orang Islam di poelau Djawa. Sjahdan, maka pada tahoen 1826 G. G. Van der Capellen toeroen, laloe digantikan oleh G. G. Du Bus de Gisignies, serta Generaal De Kock mendjadi Luitenant-Gouverneur-Generaal (G. G. Moeda). Adapoen perang di poelau Djawa itoe terlaloe landjoet. Soenggoehpoen orang jang doerhaka itoe atjap kali alah, tetapi tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe marika-itoe berhimpoen poela, laloe didatanginja sakoenjoeng-koenjoeng satoempoek soldadoe atau melanggar saboeah kota. Maka panglimanja jang awat pandai dan berani jaitoe Sentot, anak Raden Rangga Prawirä-di-Redjä, jang digelari oleh Pangeran Dipå Negarà Ali Basa. Diantara sahabat Pangeran itoe ada saorang-orang alim, Kjahi Mädjâ namanja; ialah jang mem- beri nasihat kapada Pangeran Dipå Negarå memboenoeh sakalian tawanan, demikianlah diboenoehnja doea orang wakil Soeltan jang moeda, soenggoehpoen kadoea orang masoek kaoem Pangeran Dipå Negarä.

Adapoen balatantara Gouvernement dibantoe oleh raajat Soesoehoenan Sålå dan oleh raajat Pangeran Mangkoe Negârå dan oleh raajat Pangeran Pakoe Alam, maka Pangeran Mangkoe Negårå serta anaknja mashoer namanja dari sebab beraninja dalam perang itoe. Arkian, maka Gouverneur-Generaal mendjadikan Soeltan Amangkoe Boeânå wakil Soeltan jang moeda, sebab ber- harap orang jang doerhaka soeka mendjoendjoeng titah Soeltan itoe; tetapi niat itoe tiada disampaikan oleh Toean Besar, karena tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe. Soeltan jang toea itoe berpoelang ka rabmatoe'llah.

Maka tatkala balatantara Belanda ditambah 3000 orang soldadoe. maka Generaal i)e Kock mengepoeng tanah tempat

orang jang doerhaka itoe; kalau saboeah negeri dialahkannja, maka disoeroehnja dirikan saboeah benteng jang ketjil, soe- paja negeri itoe djangan diserang moesoeh poela. Demikianlah lama kalamaan karadjaan Pangeran Dipa Ne-

gårå soesoet, sahingga orang jang doerhaka itoe dikepoeng

di tanah Djogja sabelah selatan diantara soengai Prâgå dengan soengai Bägawantå; djangankan orang banjak, sahabatnja poen tiada pertjaja lagi akan oentoeng baik Pangeran Dipä Negarå; Kjahi Mådjå chianat kapadanja seraja Sentot mem- perhambakan dirinja kapada Gouvernement bersama-sama dengan raajatnja. Kasoedahannja Pangeran Dipa Negarä terpaksa menjerah- kan dirinja kapada Generaal De Kock; laloe iapoen diboeang oleh Gouverneur-Generaal ka Menado pada tahoen 1830.

Satelah soedah perang itoe, maka perhinggaan tanah Djogja

dan tanah Sälå diobahkan oleh Gouvernement, jaitoe tanah Banjoemas, Bagelen, Madioen dan Kediri masoek djadjahan Belanda, tetapi kadoea Radja itoe tiap² tahoen akan beroleh oeang akan ganti roeginja. Adapoen Soesoehoenan ketjil hati dari sebab perobahan itoe, maka ditinggalkannja keratonnja hendak bertapa di koeboer nenek mojangnja di Imâgiri, saperti lakoe hendak meniroe Pangeran Dipå Negarå.

132 Maka chawatirlah Gouverneur-Generaal, maka Soesoehoenan dititahkannja boeang ka poelau Ambon; laloe poetera Ba- ginda naik tachta karadjaan dengan gelar Soesoehoenan Pakoe Boenå VII. Bermoela, maka karena perang itoe oetang tanah Hindia bertambah-tambah banjak, sabingga negeri Belanda membajar oeang jang koerang itoe. Oleh sebab itoe G. G. Van den Bosch mentjari daja oepaja, soepaja belandja koerang serta kahasilan dan beja bertambah. Maka didjalankan oleh Toean Van den Bosch oendang² dari hal tanam-tanaman, jang haroes ditanam oleh orang Djawa. Adapoen perkara atoeran jang teroetama sakali, jaani: Sawah tiap² desa saperlimanja wadjib ditanami dengan tanam-tanaman jang dikahendaki oleh Gouvernement, maka kahasilan itoe haroes didjoeal orang kapada Gouvernement. Djikalau harga pekan kahasilan itoe lebih dari pada beja, jang dibajar sediakala, maka orang desa beroleh kalebihan itoe. Djikalau harga kahasilan koerang dari pada beja, maka jang koerang itoe ditanggoeng oleh Gouvernement, asal roegi itoe tiada disebabkan oleh lalai dan malas orang desa itoe. Maka tanaman, jang teroetama sakali, jaitoe kopi, goela, tembakau, taroem, lada, kajoe manis dan teh, Maka dalam tanam-tanaman itoe ada jang haroes disediakan dahoeloe, sabeloem boleh didjoeal orang, oepamanja: tembakau, taroem, góela dan lain². Oleh karena itoe Gouvernement berdjandji dengan orang Belanda, jang hendak mendirikan fabriek, bahoea teboe dan nila, jang ditanam orang desa, disediakan dalam fabriek itoe, laloe dibeli oleh Gouvernement dengan harga jang tetap. Adapoen atoeran itoe mendatangkan laba jang banjak, sebab harga kahasilan lebih banjak dari pada oepah orang desa; tetapi pekerdjaan orang itoe tiada sama rata kapada segala orang desa, sebab sawah ladang ada jang elok, ada jang boeroek. Oepamanja: di Pråbälingga orang, jang disoeroeh bertanam teboe, makan oepah 21 sahari, tetapi di Tegal oepah- nja 11, 5 sen; orang jang bertanam kopi di Pasoeroehan 48

103 sen sahari, di Kediri hanja 3 sen sahari. Maka sebab beberapa matjam tanam-tanaman mendatangkan roegi, oleh karena itoe Gouvernement menitahkan berhenti dari pada bertanam tanam-tanaman itoe; demikianlah pada zaman sakarang ditanam orang kopi sadja dengan perentah Gouvernement dalam beberapa karesidenan di poelau Djawa, di Padang Darat dan di Tapanoeli. Satelah perang di tanah Djawa poetoes, maka poelau² Hindia sentausa beberapa tahoen lamanja, maka pada masa itoe Gouvernement menjoenggoeh-njoenggoehi akan membinasakan orang perompak; adapoen orang itoe hampir pada saloeroeh tanah Hindia, lebih² di poelau² Riau dan poelau² Soeloe. Bertahoen-tahoen lamanja orang itoe diperangi oleh kapal Gouvernement, dimana-mana perahoenja dan kampoengoja di bakar orang Belanda. Boekannja orang risau sadja jang me- rompak, melainkan radja poen menjoeroeh raajatnja meram- pas kapal jang terkaram. Adapoen demikianlah moelanja, maka pada tahoen 1846

G. G. Rochussen (dari tahoen 1845 sampai tahoen 1851) menitahkan laskar memerangi Radja Beleling dan Radja Ka- rang Asam dan Radja Klongkong di poelau Bali. Satelah sampai ka poelau Bali, maka balatantara Belanda mengalahkan keraton Radja Beleling di Singaradja, sahingga Radja itoe minta maaf sambil bersoempah akan melakoekan kahendak Gouvernement; tetapi baroe kapal perang soedah berlajar dari poelau Bali, maka Radja itoe moengkir djandji. Arkian, maka dengan segera kalangkapan Gouvernement berlajar poela ka poelau Bali; akan tetapi balatantara Belanda tiada dapat masoek kadalam kota Djagaraga, jang amat tegoeh², sebab itoe angkatan itoe poelang. Maka pada tahoen 1849 berangkat poela kapal 89 boeah, satengahnja kapal perang, satengahnja kapal jang bermoeat alat sendjata dan bekal-bekalan, maka soldadoe 5000 orang menoempang di kapal dibawah perentah Generaal-Majoor Michiels. Soenggoehpoen orang Bali 15000 orang menantikan moe-

104 soehnja di kota Djagaraga, tetapi tempat jang tegoeh² itoe dialahkan djoega oleh soldadoe Belanda. Soedah itoe Generaal-Majoor Michiels berlajar ka Klongkong; dalam pada itoe- poen Radja Mataram di poelau Lombok mengalahkan Radja Karang Asam. Maka beberapa kali djadilah perang jang amat ramai; maka pada soeatoe malam Toean Michiels loeka tengah perang, laloe mati. Pada achiroja Luitenant-Kolonel Van Swieten menaaloekkan segala Radja Bali, jang melawan Gouvernement. Adapoen Radja Beleling dan Radja Karang Asam diboenoeh oleh anak boeahnja sendiri; sebab itoe tanah Beleling diberikan oleh Gouvernement kapada Radja Mataram, tetapi orang Beleling minta dibawah hoekoem orang Belanda, maka per- mintaan itoe dikaboelkan oleh Gouverneur-Generaal. Sabermoela, maka ditjeriterakan hal ahwal poelau Beroenai. Adapoen pada awal abad ini poelau itoe tiada berapa difa- doelikan oleh Gouvernement, sebab poelau Djawa dan poelau Pertja teroetama dipeliharakan oleh pemerentah Belanda. Maka di poelau Beroenai sabelah barat banjaklah orang Tjina. jang bersarikat akan menggali emas. Maka orang jang masoek soeatoe persarikatan (kongsi) bersoempah-soempahan hendak toeloeng menoeloeng dan hendak mendjoendjoeng perentah kapalanja, djikalau perentah itoe djahat sakalipoen. Maka segala hal ahwal kongsi itoe amat batin; kalau saorang- orang kongsi berani melawan perentah kapalanja atau kalau diboekanja rahasia kongsi itoe, nistjaja iapoen diboenoeh orang, maka orang jang memboenoeh dia tiada pernah terdapat, sebab ia disemboenikan oleh orang jang sakongsi dengan dia. Atjap kali di poelau Beroenai sabelah barat kapala kongsi salakoe radja dengan tiada mengendahkan Gouvernement, dan lagi barang² jang gelap dan larangan banjak dimasoekkannja, serta orang Dajak dianiajanja. Maka sakali peristiwa kongsi Tai-kong memerangi dan menghalaukan kongsi Sam-ti-kioe, jang berbaik dengan Gou- vernemént. Demi terdengar chabar itoe kapada G. G. Rochussen, maka

105 dititahkannja balatantara menaaloekkan orang Tjina, jang melawan Gouvernement. Satelah orang Tjina itoe alah serta negeri Pemangkat didalam tangan orang Belanda, maka orang Tjina minta berdamai, apa lagi sebab kapal perang mengempang koeala soengai. djadi orang Tjina kakoerangan bekal-bekalan dan obat bedil. Akan tetapi tiada berapa lamanja kemoedian dari pada itoe orang Tjina doerhaka poela. Arkian, maka pada tahoen 1854 Luitenant-Kolonel Andresen mengalahkan orang Tjina, laloe soldadoe Belanda masoek kadalam negeri orang Tjina, jang teroetama sakali, jaitoe Montrado. Soedah itoe, maka kabanjakan kongsi dioeraikan oleh Gouverneur-Generaal serta kapalanja dihoekoem. Sjahdan, maka tiga tahoen kemoedian dari pada itoe Gouverneur-Generaal terpaksa poela menjoeroeh angkatan perang ka tanah Bone, sebab Radja negeri itoe melanggar perdjan- djian di Boengaja; adapoen Radja itoe perampoean, Base Kadjoeare namanja. Maka Luitenant-Generaal Van Swieten berlajar ka Badjoroe, laloe mengalahkan Bone, dan Pasempa dan Pompanoea; soedah itoe Radja Base Kadjoeare ditoeroen- kan oleh Gouvernement dari pada karadjaannja, serta iparnja Aroe Palaka naik radja dengan rila radja toedjoeh orang, jang berkoeasa memilih Radja Bone. Bermoela, maka dalam tahoen 1859 itoe djoega ada perang di tanah Bandjarmasin. Maka disitoelah ada tjoetjoenda marhoem Soeltan deea orang, jang soeloeng Tamdjidi'llah namanja, jang boengsoe bernama Hidajatoe'llah. Maskipoen iboe Tamdjid goendik dan iboe Hidajatoe'llah permaisoeri, tetapi Tamdjidi'llah diradjakan oleh Gouvernement. Oleh karena itoe orang Bandjarmasin bermoesoeh dengan Gouvernement, maka satelah Pangeran Hidajatoe'llah ditawan dalam tahoen 1862, maka baroe perang itoe lama kalamaan berhenti. Hatta, maka satoe tahoen dahoeloe Soeltan Bandjarmasin soedah toeroen dari pada tachta karadjaan dengan rila hati, laloe tanah Bandjarmasin masoek djadjahan Gouvernement,

106 Alkesah, maka terseboetlah perkataan negeri Atjeh. Ada- poen Gouvernement soedah lama tiada berbaik dengan orang Atjeh, sebab marika-itoe merompak dan mentjoeri orang di poelau² sabelah barat poelau Pertja. Maka pada tahoen 1872 terdengarlah chabar kapada G. G. Loudon (dari tahoen 1872 sampai tahoen 1875), bahoea oetoesan Soeltan mentjari per- toeloengan kapada radja² jang lain, sebab Soeltan Atjeh takoet diperangi oleh orang Belanda. Oleh karena itoe Gouverneur-Generaal minta katerangan, akan tetapi djawab Soeltan tiada teroes terang. Kalakian, maka angkatan Belanda berlajar ka tanah Atjeh, maka wakil Gouverneur-Generaal jang menoempang di kapal mentjoba sakali lagi berdamai serta bertegoeh-tegoehan djandji dengan orang Atjeh, tetapi sia² sadja. Maka Soeltan bertang- goeh-tanggoeh akan membalas soerat wakil Gouvernement, sambil raajatnja memboeat benteng dan koeboe dengan sakoeat-koeatnja. Maka apabila dikatahoei oleh wakil itoe, bahoea Soeltan Atjeh tiada maoe memalingkan hatinja, maka balatantara Belanda naik darat dibawah perentah Generaal-Majoor Köhler (pada tahoen 1873). Maka sedang ramai berperang soldadoe Belanda masoek kadalam masdjid raja, maka kaesokan harinja koetika Toean Köhler menindjau moesoeh, maka iapoen kena peloeroe, laloe mati. Kemoedian dari pada itoe balatantara itoe meninggalkan tanah Atjeh, istimewa poela sebab moesim penghoedjan tiada lama akan datang. Arkian, maka pada kasoedahan tahoen 1873 dilaugkapkan Gouvernement poela angkatan jang besar, satelah moestaid, maka kapal itoe berlajar ka tanah Atjeh. Soedah sampai, maka soldadoe itoe naik darat laloe berdjalan berangsoer- angsoer menoedjoe ka keraton, sambil berperang dengan tiada berkapoetoesan, karena orang Atjeh itoe amat gagah berani. Moela² masdjid raja dimasoeki poela oleh soldadoe Belanda, soedah itoe maka panglima besar Luitenant-Generaal Van Swieten menjoeroeh soldadoenja mengepoeng keraton, akan

tetapi Soeltan dengan hoeloebalangnja dan raajat soedah lari.

Maka beberapa hari kemoedian dari pada itoe Soeltan mangkat, maka Gouverneur-Generaal menitahkan tanah Atjeh dibawah perentah Gouvernement.

Adapoen pada sangka Toean Van Swieten tanah Atjeh lama

kalamaan akan sentausa, sebab itoe iapoen berlajar poelang ka Batawi dengan membawa soldadoe jang kabanjakan, tetapi

dengan sabenarnja tanah Atjeh beloem habis taaloek, maka

atjap kali orang Atjeh tiba² mengamoek satoempoek soldadoe. Diantara Gouverneura Atjeh Kolonel Van der Heijden jang kanamaan; Toean itoe selamat dalam perang, sahingga tanah Atjeh sentausa. Oleh karena itoe Gouverneur-Generaal me- njamakan pemerentahan dan oendang² di tanah Atjeh saperti didalam negeri, jang soedah lama dibawah hoekoem Gouvernement, jaitoe oendang2 itoe koerang keras dari pada oendang² jang kabiasaan pada masa perang. Maka pada tahoen 1885 iboe negeri kota Radja dikelelingi beberapa benteng, jang dihoeboengkan dengan djalan kareta

api. Akan kapala² Atjeh ada jang mendjoendjoeng titah

Gouvernement, ada jang mengakoe beradjakan Toeankoe Daoed, kamanakan marhoem Soeltan, demikianlah hal tanah Atjeh sampai sakarang. Bermoela, maka kabanjakan jang terseboet diatas ini dari hal perang, biarlah kita mentjeriterakan djoega oendang² dan perentah jang dititahkan oleh Gouvernement akan memelihara- kan orang Hindia. Adapoen oendang² jang teroetama sakali didjalankan oleh Gouvernement pada tahoen 1855; oendang² itoe bernama dalam bahasa Belanda, Regeerings-reglement, perkaranja jang teroetama sakali jaani: Gouverneur-Generaal memerentah tanah Hindia atas nama Radja Belanda serta lima Toean Raad van Indië membitjara- kan perobahan dan oendang2, jang akan dititahkan oleh Gouverneur-Generaal. Gouverneur-Generaal berkoeasa akan memboeang orang, jang mengharoekan orang negeri. Djikalau orang dihoekoem oleh hakim Gouvernement akan

108 diboenoeh, maka Gouverneur-Generaal boleh meringankan hoekoeman itoe. Gouverneur-Generaal menitahkan berperang dan berdamai dan bertegoeh-tegoehan djandji dengan radjaa ditanah Hindia, Adapoen pemerentahan terbahagi atas lima bahagian, Departement namanja; tiap² Departement dikoeasai oleh saorang Toean Directeur, maka Departement itoe namanja: Departement van Binnenlandsch Bestuur (dari hal pemerentahan negeri). Departement van Onderwijs, Eeredienst dan Nijverheid (dari hal pengadjaran, agama dan lagi dari hal tambang, fabriek dan sab.). Departement van Financiën (dari hal oetang pioetang Gouvernement). Departement van Justitie (dari hal hakim hoekoem). Departement van Burgerlijke Openbare Werken (dari hal roemah² Gouvernement, djambatan, kareta api dan sab.). Lain dari pada itoe ada lagi Departement van Oorlog (dari hal perang) jang dikoeasai oleh Legercommandant (kapala pang- lima), dan Departement van Marine (dari hal kapal perang) jang dikoeasai oleh Commandant der Zeemacht (laksamana). Orang boemi poetera saboleh-bolehnja diperentahkan oleh kapalanja sendiri. Orang, jang telah memboeat kasalahan dihoekoem sapan- djang oendang2 jang tetap oleh hakim, jang diangkat oleh Gouvernement. Madjelis hakim jang mahatinggi (Hooggerechtshof) doedoek di Batawi; adapoen Toean itoe menghoekoem orang jang tinggi pangkatnja, dan lagi memeriksa hoekoeman, jang dipoetoeskan oleh hakim jang lain, maka hoekoeman itoe boleh dibenarkannja atau disalahkannja. Orang asing, jang hendak dian di tanah Hindia haroes minta izin kapada Gouverneur-Generaal. Berdjoeal beli orang dilarang Gouvernement. Anak boeah Gouvernement boleh menoeroet agama, jang dikahendakinja, asal oendang² negeri djangan dilanggarnja.

109 Gouverneur-Generaal memperhatikan pengadjaran kapada kanak², baik anak Belanda, maka anak boemi poetera. Adapoen sapandjang perkara jang terseboet kemoedian sakali soedah didirikan oleh Gouvernement lebih dari pada 500 boeah sekola, tempat anak orang negeri beladjar mem- batja, menoelis, menghitoeng dan beberapa ilmoe jang lain; maka goeroe di sekola itoe kabanjakan telah tjoekoep beladjar dalam saboeah sekola goeroe (kweekschool); maka kweekschool itoe sakarang lima boeah; jang pertama-tama dibangoenkan Gouvernement di Salå pada tahoen 1852. Lain dari pada sekola anak boemi poetera ada lagi empat boeah sekola, tempat anak orang besar² dan kaja beladjar lebih dari pada di sekola jang kabanjakan. Maka pada tahoen 1875 didirikan oleh Gouvernement saboeah sekola Dokter Djawa; apabila anak sekola itoe soedah tammat beladjar, maka ia disoeroeh oleh Gouvernement kapada soeatoe negeri akan mengobati orang jang sakit dan akan menanam katoemboehan; lain dari pada Dokter Djawa itoe ada djoega Manteri tjatjar. Pada zaman dahoeloe amat banjak orang mati sakit katoemboehan, tetapi sakarang djarang² orang jang ditjatjar kena penjakit itoe. Lagi poela orang miskin boleh mendapat obat atau dipelibarakan dalam roemah sakit dengan tiada membajar soeatoe apa². Sjahdan, maka Gouvernement saboleh-bolehnja beroesaba akan meramaikan perniagaan; sebab perniagaan mendatangkan laba kapada amat banjak orang; sebab itoe djalan raja dan djalan kareta api dan kawat dan post dipeliharakan atau diboeat dengan titah Gouvernement; dan lagi pelaboehan dibaiki, oepamanja pelaboehan di Tandjoeng Priok dan di teloek Bajoer (Emmahaven) disabelah selatan negeri Padang. Soenggoehpoen djalan kareta api dan kawat (telegraaf) soedah banjak di tanah Hindia, tetapi beloem lama diper- goenakan orang; djalan kareta api jang bermoela sakali diboeat dari Samarang ka Sålå pada tahoen 1864, maka kawat jang pertama dikerdjakan orang pada tahoen 1856 dari Batawi ka Bogor.

Adapoen pekerdjaan sawah ladang diperhatikan djoega

oleh Gouvernement; dalam beberapa negeri di tanah Djawa (Demak, Pråbâlinggå) digali orang parit dan diboeat orang pintoe ajar, soepaja ladang jang tiada berapa harganja, akan mendjadi sawah jang elok, dan soepaja ajar besar djangan membinasakan kampoeng dan sawah. Maka pada tahoen 1870 didjalankan oleh Gouverneur-Generaal oendang² mengatakan, bahoea hoetan rimba boleh disewa kapada Gouvernement 75 tahoen lamanja dengan harga jang moerah; demikianlah tanah jang soenji, sakarang banjak ditanami tembakau, goela dan ll., sahingga banjak orang mentjari kahidoepannja disana. Adapoen Radja² di tanah Hindia ada jang taaloek kapada Gouvernement, ada jang bertegoeh-tegoehan djandji sadja, Radja itoelah boleh memerentahkan negerinja dengan kahen- daknja sendiri, asal ditoeroetnja beberapa perkara jang di- djandjikannja dengan Gouvernement, jaani: Anak boeahnja tiada boleh merompak, melainkan patoet menoeloeng anak kapal jang terkaram. Radja itoe tiada boleh bertegoeh-tegoehan djandji dengan Radja jang lain; anak boeahnja tiada boleh memperniagakan hamba sabaja. Djikalau kita bandingkan hal orang ketjil pada zaman dahoeloe dengan zaman jang sakarang njatalah, bahoea halnja sakarang terlebih senang dan selamat dari pada koetika koeasa Radja² tiada berhingga; Radja itoe atjap kali menganiaja anak boeahnja, karena tiada oendang² lain, melainkan ka- hendak dan kasoekaan Radja sadja.

DAFTAR

PADA MENJATAKAN BEBERAPA PERKARA

HIKAJAT HINDIA.

Adapoen Hikajat Hindia terbahagi lima, jaani:

I Zaman Poerbakala sakali. II Zaman Hindoe. II Zaman Islam. IV Zaman Kompani. V Zaman Gouvernement.

I Zaman Poerbakala sakali.

dari permoelaan sampai kiraa awal tarich Masehi.

II Zaman Hindoe.

dari awal tarich Masehi sampai kira² tahoen 1500.

tahoen 1354. Soeltan Malikoe'saleh memerentah di Samoedera.

  1. Maulana Malik Ibrahim berpoelang di Gersik. 1478? (1) Karadjaan Mådjapahit binasa. 1481? (1) Karadjaan Pedjadjaran binasa.
  2. Bartholomeus Diaz sampai ka Tandjoeng Peng- harapan.
  3. Vasco de Gama sampai ka Kalikoet.

112 II Zaman Islam. dari kira2 tahoen 1500 sampai tahoen 1602. ahoen 1509. Orang Portoegis sampai ka Malaka.

  1. D'Alboquerque menaaloekkan Malaka.
    1579 —t. 1521. Magelbaes berlajar mengelelingi boemi.

  2. Soeltan Ibrahim melepaskan tanah Atjeh dari pada hoekoem Radja Pedir dan menghalaukan orang Portoegis.

  3. Galvano mendjadi Gouverneur di poelau² Moloeko.
  4. Cornelis de Houtman datang ka Banten.
  5. Admiraal van Warwijk singgah di Banten, di Banda, di Ambon dan di Ternate.
  6. Panembahan Soetan Widjäjå mangkat serta digantikan oleh poeteranja Sedå Krapjak. Nachoda Wolfert Harmensz berperang dengan Laksamana Mendoço di Banten. IV Zaman Kompani.
    dari tahoen 1602 sampai tahoen 1800.

1.
dari tahoen 1602 sampai tahoen 1619. tahoen 1602. Kadjadian Kompani. v

  1. Admiraal Van der Hagen mengalahkan orang Portoegis di poelau Ambon dan di poelau Tidore.
    1606 —t. 1636. Soeltan Iskandar Moeda memerentah di tanah Atjeh. x

  2. Gouverneur-Generaal jang pertama Pieter Both datang ka tanah Hindia.

113 taboen1613. G. G. Both mengoetoes kapada Panembahan Mataram. Panembahan Sedå Kra- pjak meninggal, laloe digantikan oleh Soeltan Ageng.

  1. Jan Pieterszoon Koen naik Gouverneur-Generaal. Lodji di Djakarta dikepoeng oleh orang Inggeris dan orang Djakarta.
  2. G. G. Koen mendirikan negeri Batawi.
    2.

    dari tahpen 1619 sampai tahoen 1678.

tahoen 1621. G. G. Koen menaaloekkan orang Banda.

  1. G. G. Koen poelang ka negeri Belanda.
  2. Soeltan Ageng mengalahkan Adipati Soerabaja.
  3. J. P. Koen naik Gouverneur-Generaal poela.
  4. Batawi dikepoeng oleh raajat Mataram.

    1629. Soeltan Ageng mengepoeng Batawi. G.

G. Koen mangkat.
1635 — t. 1645. G. G. Van Diemen memerentahkan tanah Hindia.

  1. Malaka dialahkan oleh Kompani.
    B

  2. Soeltan Ageng meninggal; poeteranja Soesoehoenan Tegal Wangi naik tachta karadjaan. Soesoehoenan Mataram ber- damai dengan Kompani.
    1653-t. 1678. G. G. Maetsuijker memerentah di tanah Hindia. 1660 -t. 1664. Kompani menoeloeng Radja Menangka- bau akan memerangi orang Atjeh. M

  3. Laksamana Truitman dan Laksamana Van Dam mengalahkan Soeltan Hasa- noe'ddin di Mangkasar.
    Hikajat tanab Hindia.

tahoen1667. Admiraal Speelman menaaloekkan Mang kasar. Perdamaian di Boengaja.

  1. Soeltan Hasanoe'ddin alab poela.

    1674. Pangeran Troenå Djajå doerhaka kapada

Soesoehoenan Mataram.

  1. Soesoehoenan Tegal Wangi lari, laloe mangkat. Pangeran Adipati Anom ber- djandji dengan Kompani.
  2. Kompani beroleh Samarang, Troenå Djajå dihalaukan dari Kediri oleh Kom- mandeur Hurdt. Pangeran Adipati Anom diradjakan oleh Kompani dengan gelar Soesoehoenan Amangkoe Rat.
    3.

    dari tahoen 1678 sampai tahoen 1723.

tahoen 1679. Troenå Djäja tertawan.

1680. Troena Djåjå dan Soenan Giri diboenoeh oleh Soesoehoenan. Karadjaan Menang-

kabau dibahagi tiga.

  1. Pangeran Poeger berdamai dengan Soesoehoenan.
    »1681-t. 1686. G. G. Speelman memerentahkan tanah Hindia.

  2. Perselisihan Soeltan Tirtajasa dengan Soeltan Hadji di Banten. Kapitein Tak mengalahkan Soeltan Tirtajasa.

  3. Soeltan Tirtajasa menjerabkan dirinja.
  4. Soeltan Hadji memberikan monopoli kapada Kompani. Orang Inggeris doedoek di Bangkahoeloe.
  5. Kapitein Tak diboenoeh di Kartasoera. Soerapati mendirikan saboeah karadjaan.

115 tahoen 1696. Pohon kopi moela² ditanam orang di poelau Djawa.

» 1691—t. 1704. G. G. Van Outhoorn memerentah di tanah

Hindia.

  1. Soesoehoenan Amangkoe Rat mangkat, laloe digantikan oleh Soenan Mas.
  2. Kompani meradjakan Pangeran Poeger dengan gelar Soesoehoenan Pakoe Boeäna.
  3. Raad van Indíë De Wilde menghalaukan Soenan Mas dari Kartasoera. Soesoehoenan Pakoe Boeånå bertegoeh-tegoehan djandji dengan Kompani.
  4. Soerapati mati.
  5. Toean De Wilde mengalahkan Kediri dan Pasoeroehan. Karadjaan anak Soerapati binasa.
  6. Soenan Mas diboeang oleh Kompani.

    1718—t. 1725. G. G. Zwaardekroon memerentahkan

tanah Hindia.

  1. Soesoehoenan Pakoe Boenå I mangkat, laloe digantikan oleh poeteranja Soenan Praboe. Beberapa Pangeran doerhaka kapada Soesoehoenan.
  2. Kompani memoetoeskan perang di Mata- ram kapada Pangeran² jang doerhaka itoe.
    4.
    dari tahoen 1723 sampai tahoen 1800. tahoen1727. Soenan Praboe mangkat, laloe digantikan oleh poeteranja Soesoehoenan Pakoe Boeänå II.

  3. Orang Tjina di Batawi diboenoeh orang.
    n1741. Orang Tjina di tanah Djawa sabelah oetara doerhaka.

116 tahoén

  1. Orang Tjina membinasakan ! artasoera dan mengakoe Mas Garendi (Soenan Koening) Soesoehoenan. Panembaban Tjakra-ning-Rat IV mengalahkan orang Tjina di Kartasoera.
  2. Soenan Koening diboeang oleh Kompani. Soesoehoenan Pakoe Boeänå II berdjan- dji dengan Kompani.
  3. Soesoehoenan Pakoe Boeanå II berpindah ka Soerakártå-Adi-ning-Rat.
  4. Panembaban Tjakra-ning-Rat IV diboeang oleh Kompani.
  5. G. G. Van Imhoff mendjalani poelau Djawa; Soesoehoenan Pakoe Boeånå II menjerahkan Tegal dan Pekalongan kapada Kompani. Pangeran Mangkoe Boemi doerhaka.
  6. Astana Gouverneur-Generaal didirikan di Bogor.
  7. Soesoehoenan Pakoe Boeâna menjerahkan karadjaan Mataram kapada Kompani. Kompani meradjakan poetera Marhoem dengan gelar Pakoe Boeänå III.
  8. Karadjaan Mataram dibahagi doea: Pakoe Boeânå III mendjadi Soesoehoenan di Soerakarta, dan Pangeran Mangkoe Boemi naik Soeltan Mangkoe Boânå di Djogjakarta.
  9. Raden Mas Said mendjadi Pangeran Adi- pati Arjå Mangkoe Negårå
  10. Orang Inggeris mengalahkan Malaka, poelau Soematera sabelah barat, poelau Ambon dan poelau Banda.
  11. Kasoedahan Kompani.

V. Zaman Gouvernement.
dari tahoen 1800 sampai sakarang

1.
dari tahoen 1800 sampai tahoen 1811. tahoen 1800. Tanah Hindia dibawah Gouvernement Belanda. » 1808 —t.1811. G. G. Daendels memerentah di tanah Hindia. 31808. Djalan raja dari Anjar sampai ka Pana- roekan diboeat orang. Soeltan Banten diboeang oleh G. G. Daendels.

  1. G. G. Daendels mengalahkan Soeltan Djogja dan Soesoehoenan Sålå.
  2. Soeltan Mangkoe Boeanä II (Sepoeh) ditoeroenkan oleh Toean Daendels, serta digantikannja oleh Mangkoe Boeånå III.
    G. G. Daendels digantikan oleh G. G. Janssens. Orang Inggeris mengalahkan tanah Djawa.
    2.
    dari tahoen 1811 sampai tahoen 1816. (zaman Inggeris). tah. 1811—t. 1816. Luitenant-Gouverneur Raffles memerentah di tanah Hindia. 21812. Orang Inggeris mengalahkan Soeltan Ba- droe'ddin di Palembang. Soeltan Sepoeh diboeang oleh Toean Raffles. Pangkat Soeltan Tjerebon dihentikan oleh Gouvernement.

  3. Pangeran Nåtå Koesoemå naik Pangeran Adipati Pakoe Alam. Pangkat Soeltan

118 Banten dihentikan Toean Raffles. Atoeran padjak (padjeg) di poelau Djawa didja- lankan oleh L. G. Raffles. tah.1813—t.1840. Radja Willem I memerentahkan tanah Belanda.

  1. Poelau2 Hindia dikembalikan oleh orang Inggeris kapada Radja Belanda.
  2. L. G. Raffles meninggalkan poelau Djawa, laloe doedoek di Bangkahoeloe.
    3.
    dari tahoen 1816 sampai tahoen 1830. tah. 1816 —t. 1819. Tiga Toean wakil Radja Belanda (Com- missaris-Generaal) memerentabkan tanah Hindia. 1819—t.1826. G. G. Van der Capellen memerentah di tanah Hindia.

  3. Generaal De Kock mengalahkan Palem- bang. Orang Belanda doedoek di Sema- wang (Padang Darat).
    1822--t. 1832. Perang Paderi di poelau Pertja.

  4. Radja Belanda berdjandji dengan Radja Inggeris.

    1825 —t. 1830. Gouvernenfent berperang dengan Pange-

ran Dipå Negårå. $

  1. Pangeran Dipå Negarå diboeang oleh Gouverneur-Generaal ka Menado. Tanah Kediri, Bagelen, Madioen dan Banjoemas dimasoekkan daerah Gouvernement.
    4.
    dari tahoen 1830 sampai sakarang.

tah.1830 —t. 1833. G. G. Van den Bosch memerentahkan

tanah Hindia.

119 tahoen1830. Oendang² tanam-tanaman di tanah Djawa didjalankan oleh G. G. Van den Bosch. 1833—t. 1837. Perang Bondjol.

  1. Kapal api moela² dipakai di tanah Hindia.
  2. Perang di Daloe-daloe.
    1840 -t. 1849. Radja Willem II memerentahkan tanah Belanda. » 1846 —t. 1849. Perang di poelau Bali. 1849—t. 1890. Radja Willem III memerentah di tanah Belanda.

  3. Sekola pengadjar (kweekschool) jang pertama didirikan oleh Gouvernement.

  4. Orang Tjina di poelau Beroenai sabelah barat taaloek.
  5. Regeerings-reglement (Oendang2 besar) didjalankan oleh Gouvernement.
  6. Kawat telegraaf) jang pertama di poelau Djawa dititahkan boeat oleh Gouvernement.
  7. Perang di tanah Bone.
    1859—t. 1862. Perang di Bandjarmasin.

  8. Karadjaan Bandjarmasin dibawah hoe- koem Gonvernement. Boedak di tanah Ilindia mardahika.

  9. Pangeran Hidajatoe'llah menjerahkan di- rinja.
  10. Djalan kareta api jang pertama di tanah Hindia diboeat orang dari Samarang ka Salä.
  11. Gouvernement mendjalankan oendang² sewa tanah.
  12. Perang di tanah Atjeh. Kalangkapan Belanda poelang. Kalangkapan jang ka- doea sampai ka tanah Atjeh.
  13. Luitenant-Generaal Van Swieten meng- alahkan keraton Soeltan Atjeh.

120 ahoen 1883. Goenoeng Rakata (Krakataoe) meletoes.

  1. Radja Willem III mangkat, laloe digan- tikan oleh ananda Baginda, Poeteri Wil- helmina, jang dipangkoe oleh Permaisoeri Emma, Isteri Marhoem.

DAFTAR

NAMA SEGALA GOUVERNEUR-GENERAAL SERTA LAMA PEMERENTAHANNJA.
1 Both.... dari tah. 1610 sam pat tah. 1614

1614 1615
1615 1619
1619 1623
1623 1627
1627 1629
1632
1632
1636 1615
1645 1650
1650 1653 1653
1681
1681
1684 1691 1691
1704 1709
1709 1713
1713 1718
1718 1725
1729
1729 1732 1732
1735 1737
1737 1741
1741 1743
1750
1750 1761

2 Reijnst. 3 Reaal... 4 Jan Pieterszoon Koen..
5 De Carpentier......
Jan Pieterszoon Koen...
6 Speex ........ 1629
7 Brouwer.. 1636 8 Van Diemen 9 Van der Lijn.. 10 Reiniersz... 11 Maetsuijker..1678 12 Van Goens.. 1678 13 Speelman... 1684
14 Camphuijs....
15 Van Outhoorn 1704 16 Van Hoorn ... 17 Van Riebeek
18 Van Swol....
19 Zwaardekroon. 20 De Haan.. 1725
21 Durven....
22 Van Cloon. 1735
23 Patras ....
24 Valckenier.
25 Thedens.....
26 Van Imhoff.. 1743
27 Mossel....
28 Van der Parra..

29 Van Riemsdijk ....... dari tah. 1775 sampai tah. 1777

30 De Klerck..

1777 1780
1780 1796
1796 1804 1801
1808 1811 1811
1816 1819
1819 1826
1826 1830
1830 1833 1833
1836 1840
1840 1841 1844 1841
1815 1851
1851 1856
1856 1861
1861 1866
1872
1872
1881
1881 1884
1884 1888
1888 1893

31 Alting.. 32 Van Overstraaten 33 Sieberg 1801 1804 34 Wiese. 1808 35 Daendels. 36 Janssens ... 1811 37 Raffles (Luit.-Gouverneur). 1816 38 Fendall 1816
Elout........Commis-
Van der Capellensaris-
Buijskes......Generaal
39 Van der Capellen....
40 Du Bus de Gisignies (Com-
missaris-Generaal).....
40 De Kock(Luit.-Gouv.-Gen.)
41 Van den Bosch......
42 Baud......... 1836
43 De Eerens... 44 Van Hogendorp... 45 Merkus .. 1844 46 Reijnst... 1845 47 Rochussen... 48 Duijmaer van Twist.
49 Pahud........
50 Sloet van de Beele....
51 Mijer ...... 1866
52 Loudon ... 1875 53 Van Lansberge.. 1875
54 s' Jacob.........
55 Van Rees .. 56 Pijnacker Hordijk .. 57 Van der Wijek.. 1893.

ISI KITAB. alaman

Fasal

I Pada menjatakan hal ahwal poelau² Hindia pada

3
zaman poerbakala.....
8 II Hikajat Karadjaan² Hindoe.

IV Hikajat orang Portoegis di tanah Hindia ....... III Hikajat Karadjaan2 Islam.:. 19 12
V Pada menjatakan bal ahwal negeri² di tanah Hindia pada masa Kompani didirikan....... 25
VI Pada menjatakan orang Belanda moela² berlajar ka poelau² Hindia, dan kadjadian Kompani.. 31
VII Hikajat Gouverneur-Generaal Jan Pieterszoon 38
VIII Hikajat Soeltan Hasanoe'ddin di Mangkasar.... 46
IX Hikajat Soesoehoenan Tegal Wangi dengan Troenå Djaja....... 50
X Hikajat Soeltan Tirtajasa dengan Soeltan Hadji di Banten..... 58
XI Hikajat Soerapati dan Soenan Mas... 63
69
XIII Hikajat kasoedaban Kompani, dan lagi Pemeren- tahan G. G. Daendels..... 76
XIV Hikajat Pemerentahan orang Inggeris... 86
XV Tjeritera Perang Paderi..... 92
XVI Hikajat Tanah Hindia dari taboen 1815 sampai sakarang....... Daftar pada menjatakan beberapa perkara Hikajat Daftar nama segala Gouverneur-Generaal serta lama pemerentabannja... 98 111 121

Koen......

XII Hikajat Radja2 Mataram sampai tahoen 1757...

Hindia...

Isi kitab .... 123
mc8a

a