Resistance Against Empireadalah sebuah buku rilisan PM Press (California, 2010), berisi sekumpulan interview atau wawancara yang dikerjakan oleh Derrick Jensen bersama sepuluh orang yang secara aktif terus berusaha untuk dapat membongkar dan menyingkapkan segala mekanisme penjajahan peradaban dunia modern serta memberikan analisa mendalam tentang akibat atau konsekuensi yang mungkin timbul darinya.
Kesepuluh orang aktivis ini, memberikan sebuah dakwaan yang tajam dan pedas atas segala praktek ketidakadilan serta ketidaksetaraan yang menjadi landasan terus beroperasinya sistem kapitalisme pada peradaban dunia ini. Ramsey Clark mendeskripsikan satu sejarah panjang invasi atau penyerangan-penyerangan militer yang terjadi di dunia, Alfred McCoy memberikan sebuah penggambaran detail tentang hubungan yang terjadi antara aktivitas yang dilakukan oleh CIA dengan meningkatnya jumlah perdagangan heroin di pasaran dunia, Stephen Schwartz melaporkan carut-marut pembiayaan persenjataan nuklir, juga Katherine Albrecht yang mengusut dan menyingkap horor yang terjadi akibat aktivitas memata-matai, mengawasi, atau penjagaan setiap penduduk yang dilakukan oleh banyak negara-negara modern di dunia. Penelusuran-penelusuran atas praktek kekuasaan global ini sangat penting untuk terus diinformasikan, dalam rangka untuk memberikan sebuah ajakan bagi kita untuk turut-serta melakukan sebanyak mungkin aksi perlawanan.
Projek penerjemahan ini dikerjakan serta dirilis sewaktu-waktu secara berseri, disesuaikan dengan bab-bab atau topik perbincangan
yang terjadi di dalam buku.
Projek penerjemahan buku ini didedikasikan bagi seluruh masyarakat yang tertindas di manapun mereka berada, orang-orang yang
dipinggirkan atas nama pembangunan pusat-pusat perdagangan dan perkantoran birokrasi yang hanya berfungsi untuk menyejahterakan
segelintir kelas borjuasi (kaya), bagi orang-orang terbuang yang bersatu dengan tanpa memandang ras, agama, gender, maupun
kelompok, untuk mereka yang berani mengangkat kepala demi diri mereka sendiri dan membangun solidaritas bersama melawan
kebrutalan aparatus polisi dan militer juga negara dan hukum yang
Bagian 3
berdiri di belakangnya.
Hidupkan kembali semangat perlawanan demi sebuah perubahan yang berarti, sebuah hidup yang tidak semata-mata hanya untuk
sekedar bertahan hidup. sebuah masyarakat dimana masing-masingWawancara Derrick Jensen diri kita dapat memegang kendali sepenuhnya atas hidup dan
kehidupan kita sendiri.
Bersama Alfred McCoy
Semua materi yang ditulis (dan kemudian diaplikasikan berdasarkan) dalam / dari penerbitan terjemahan ini dikerjakan dengan tanpa ijin dari penulis, editor, ataupun pemilik hak cipta. Tak ada hak cipta yang dihargai. Seluruh isi dan materi terbitan ini dapat direproduksi dan ditransformasikan dalam dan dengan segala cara dan bentuk.
[email protected] hantammassa.blogspot.com
IN T R O D U C T IO N
P ada akhirnya,sam a sekalitidak ada yang gratis.P eradaban iniberjalan berdasarkan aktivitas pengubahan segala bentuk kehidupan (“bahan baku m entah”, atau “sum ber daya”) m enuju kem atian: produksi bagi keuntungan atau profit. S em ua ini adalah kenyataan sebagaim ana halnya dengan telepon-telepon selular sebagaim ana halnya dengan panel- panel surya sebagaim ana halnya dengan televisi sebagaim ana halnya dengan kertas karton sebagaim ana halnya dengan pesaw at F -16. B ahan-bahan baku m entah selalu datang dari suatu tem pat. D an di sana selalu ada banyak konsekuensi atau akibat atas proses pengerukan serta pengam bilalihan bahan-bahan m entah tersebut. K onsekuensi yang terutam a dan m endasar tersebut untuk sebagian besar tidaklah ditanggung oleh m ereka-m ereka yang m enggunakan dan m em anfaatkan produk-produk tersebut,lebih sedikitlagiyang ditanggung oleh m ereka yang m em buat, m erakit, dan m enghasilkan produk-produk tersebut. A kan tetapi konsekuensi yang terbesar harus ditanggung oleh m ereka -m ereka yang telah tercuri kem akm urannya serta tereksploitasi. K ekuasaan im perium m enggunakan jalan kekerasan (atau juga dengan ancam an kekerasan) untuk m endapatkan segala yang m ereka kehendaki,dariberbagaibentuk kehidupan dan tenaga kerja m anusia atau budak-budak non-m anusia sam paianak-anak kuda, batu bauksit, serta m inyak. Tentu saja, alasan atau tujuan pokok dari im perium ini adalah untuk m engeruk sebanyak m ungkin sum ber bahan-bahan baku m entah serta m engeksploitasiseluruh sum ber daya yang ada,dan berikut pem indahalihan segala konsekuensi yang ditim bulkannya kepada pihak-pihak lain.
B uku inim em bongkarserta m enjabarkan banyak haltentang konsekuensi-konsekuensi yang m uncul akibat praktek im perium dan seluruh m etode yang digunakan untuk m enyelenggarakan dan m em aksakan undang-undang atau hukum yang m ereka sahkan untuk m engeruk dan m engekspolitasi. A nuradha M ittal m enjabarkan tentang banyak efek yang m ungkin m uncul atas kolonialism e atau penjajahan dan akibatperdagangan globalatas terjam innya keam anan sum ber pangan. Juliet S chor, K atherine A lbrecht, dan juga C hristian P arenti m endiskusikan beberapa m ekanism e represiyang terjadididalam negeri,sebagaim ana ketika setiap w arganegara akan m endapatkan terlalu banyak beban kerja,terus diaw asidan dijaga ketat,dan dijebloskan ke dalam penjara. J.W. S m ith m enjelaskan bagaim ana kekuasaan im perial ini dim ulai dengan terjadinya proses m onopolipertanahan dan berakhirdalam satu situasiekonom i globalyang berbasiskan pada kontrolyang sangatketatdan m asif. S uara-suara tersebut,bersam a-sam a dengan yang lainnya di dalam buku ini, secara bertubi-tubi m engkom parasikan sebuah dakw aan yang serius m elaw an kekuasaan im perium yang m enyebabkan planet kita ini tersandera hingga pada nafsu keserakahannya yang keji. K ekuasaan im perium ini tidak m engecualikan apapun, dan tak seorangpun, dalam rangka m engejar suatu, tujuan atau sasaran paling penting dan m endasar: profit, atau keuntungan. Langkah pertam a untuk dapat m em bebaskan diri kita sendiri dari jerat penjajahan tersebut adalah dengan m em bongkar dan m enyingkapkan segala m ekanism e penjajahan yang m ereka gunakan beserta segala akibat atau konsekuensi yang m ungkin tim bul darinya. D an langkah berikutnya adalah m elaw annya.
Perdebatan mengenai obat-obatan terlarang (illegal drugs, selanjutnya akan disebutkan sebagai drugs, atau obat-obatan –ed) di A.S. telah lama difokuskan pada permasalahan seputar legalisasi versus meningkatnya jumlah penuntutan di meja pengadilan, penggunaan bagi pengobatan atau perawatan versus vonis-vonis penghukuman yang lebih keras. Tetapi apa yang telah hilang atau terlewatkan dari kedua sisi perdebatan tersebut adalah adanya suatu pengertian atau pemahaman yang memiliki arti penting atas sejarah dan praktek-praktek politik yang terjadi yang melatarbelakangi produksi obat-obatan serta upaya pelarangannya. Apakah hubungannya, sebagai contoh, antara Perang Dingin (Cold War) dengan meroketnya jumlah penggunaan drug di A.S serta Eropa? Dan mengapakah ketika, pada sekitar hampir seratus tahun semenjak A.S meloloskan undang-undang anti obat-obatannya yang pertama, lalu-lintas perdagangan drugs secara global kemudian mengalami pertumbuhan secara besar-besaran?
Alfred McCoy, penulis buku berjudul The Politic of Heroin: CIA Complicity in the Global Drug Trade (Lawrence Hill Books), secara literal telah menuliskan dalam buku tersebut kompleksitas hubungan-hubungan yang ada terjadi yang meliputi drugs, aturan pelarangannya, serta kekuasaan. Saat ini pada edisi ke-tiganya, buku tersebut mendapatkan startnya pada tahun 1970, ketika editor McCoy di Harper & Row menyarankan McCoy untuk menuliskan tentang meledaknya penggunaan heroin di antara prajurit-prajurit serdadu Amerika yang bertugas di Vietnam. Sebagai permulaannya, McCoy menemui Jenderal Maurice Belleux, seorang mantan kepala di French Intelligence for Indocina (Pusat Intelijen Perancis untuk Indocina), yang mengungkapkan kepadanya bahwa CIA, sebagaimana para pendahulunya dari Perancis, telah terlibat dalam perdagangan opium. Ketika Allen Ginsberg, seorang penyair dan aktivis, mendengar tentang apa yang sedang ditulis oleh McCoy, dia mengirimkan surat-surat serta berita-berita tertulis yang belum pernah dipublikasikan selama bertahun-tahun dari para koresponden majalah Time-Life—yang diangkat dari file-file penerbit majalah tersebut—yang banyak mendokumentasikan tentang keterlibatan sekutu-sekutu A.S. dalam lalu-lintas obat-obatan. Kemudian muncul cerita atau kisah-kisah dari veteran perang Vietnam tentang helikopter-helikopter CIA yang mengangkuti opium di Laos serta konvoi-konvoi truk yang mengangkut opium menuruni jalan-jalan kecil di Ho Chi Minh, yang ditujukan bagi pasukan-pasukan Amerika di Vietnam Selatan. Itulah saat ketika ancaman-ancaman maut mulai terjadi.
Semenjak saat itu hidup McCoy telah mendapatkan ancaman berkali-kali. Ketika dia sedang mengerjakan research atau penelitiannya di Laos pada tahun 1971, anggota- anggota pasukan khusus CIA menyergap dan menyerbu secara tiba-tiba dan melepaskan tembakan-tembakan ke arahnya dan rekan-rekan koleganya. Tapi dia dengan gigih, pergi dari pedesaan di Hmong di dataran-dataran tinggi di Laos, menuju ke tempat bar-bar yang terang benderang dengan lampu neon di Saigon, menuju pemukiman raja-raja pemilik obat-obatan utama di wilayah tersebut. Kemanapun dia pergi, banyak yang menanyakannya perihal sejarah perdagangan obat-obatan di wilayah tersebut, dimulai dari masa lalu, ketika perdagangan tersebut adalah legal, dan merambati jalannya hingga saat sekarang ini. Strateginya berhasil.
Mengesampingkan usaha-usaha percobaan dari CIA untuk menekan serta memberangusnya, The Politics of Heroin in Southeast Asia (Harper & Row) keluar diterbitkan pada tahun 1972. McCoy melakukan revisi atas buku tersebut di tahun 1991, memangkas judulnya serta mengikutsertakan kisah tentang keikutsertaan CIA di Afganistan dan peningkatan produksi opium yang berikutnya di negara tersebut. Untuk edisi tahun 1991, McCoy menuliskan, “Lebih dua puluh tahun terakhir, CIA telah bergerak dari pengangkutan opium mentah di lingkup lokal di pegunungan yang jauh dan terpencil di Laos menuju suatu keterlibatan yang lebih jelas dan nyata pada pengangkutan secara besar-besaran atas kokain murni langsung menuju Amerika Serikat.” Sekarang dia dapat menunjukkan satu pola tentang bagaimana, lagi dan lagi, “Mewabahnya obat-obatan di Amerika telah diisi penuh dengan tersediannya suplai narkotika dari daerah atau area operasi-operasi CIA yang utama, sedangkan periode atau saat-saat dimana penggunaan heroin berkurang atau menurun bertepatan dengan absen atau menghilangnya aktivitas CIA.”
Perdebatan atau kontroversi terus mengikuti McCoy. Beberapa hari sebelum saya mewawancarai dia di kantornya di University of Wisconsin di Madison, sekumpulan para pemrotes ramai berkumpul di luar gedung. Masyarakat kota Madison telah menolak satu permintaan dari komunitas masyarakat Hmong untuk memberikan nama bagi sebuah taman menurut Jenderal Vang Pao, seorang pemimpin pada pasukan khusus CIA selama Perang Vietnam. Salah satu alasan penolakan yang diberikan oleh masyarakat kota tersebut adalah adanya laporan atau kisah cerita yang dituliskan oleh McCoy tentang keterlibatan Pao dalam perdagangan opium serta sikap pengabaiannya atas kehidupan rakyat Hmong yang telah bertempur di bawah komandonya untuk kepentingan dan atas nama CIA. Turut ikut-serta ke dalam barisan pemrotes tersebut adalah para veteran dari pasukan Pao. McCoy mengatakan bahwa dia pernah bertemu dengan beberapa dari mereka sebelumnya. Pada kenyataannya, pasukan Pao memang adalah mereka yang pernah menyergap McCoy di Laos bertahun-tahun yang lalu.
Di samping menuliskan The Politics of Heroin, McCoy telah menghabiskan bertahun-tahun untuk dapat menyelidiki dan menginvestigasi tentang perdagangan drugs atau obat-obatan di Australia, dan menulis serta mengedit banyak buku lainnya tentang lalu-lintas perdagangan obat-obatan di Asia Tenggara, dan di Filipina. Berikutnya dia bekerja sebagai seorang konsultan dan komentator di televisi dan film dokumenter tentang perdagangan drugs atau obat-obatan secara global. Setelah itu dia telah menuliskan sebuah buku yang penting A Question of Torture: CIA Interrogation, from the Cold War to the War on Terror (Metropolitan Books) dan Policing America's Empire: The United States, the Philippines, and the Rise of the Surveillance State (University of Wisconsin Press).
Wawancara Dilakukan Pada 21 April 2002 di Kantor Alfred McCoy di Madison, Wisconsin.
Derrick Jensen : Apa hubungan yang terjadi antara politik serta heroin satu sama lain?
Alfred McCoy : Narkotika serta kecanduan mudahnya sama sekali bukanlah produk-produk atas penyimpangan sosial atau bukan juga disebabkan adanya kelemahan individual. Narkotika adalah satu komoditas perdagangan global yang terutama, dan komoditas-komoditas sendiri adalah merupakan bangunan pondasi atas kehidupan modern. Mereka ini menentukan bentuk budaya serta peradaban kita. Mereka menentukan bentuk politik kita. Baik apakah kita mendorong atau menganjurkan adanya perdagangan atas suatu bentuk komoditas tertentu atau mencoba untuk melarang serta menghalanginya, kedua tindakan tersebut secara intens dan sesungguhnya adalah politis.
DJ : Berbagai macam drugs dan obat-obatan yang berbeda-beda nampaknya datang dan pergi sesuai apa yang sedang disukai. Kenapa heroin menjadi sedemikian penting dan signifikan?
AM : Perdagangan narkotika secara global yang berkisar pada sekitar tiga abad terakhir pada umumnya adalah berupa sumber atau bahan baku alami dari heroin, yaitu opium, satu jenis obat-obatan yang paling dipuja dan dimuliakan. Tempat asal atau kampung halaman dari opium adalah di sebelah timur Mediterania (Laut Tengah), tetapi semenjak abad ke delapan, opium ini telah menyebar, baik dengan melalui pengembangbiakan dan penanaman atau lewat perdagangan, melintasi hingga ke seluruh Asia. Pada saat itu, dari banyak cerita atas sejarahnya, opium tetap dengan produksinya yang terbatas dan dengan penggunaan yang juga sangat terbatas. Opium ini tidak menjadi satu komoditas yang utama hingga abad ke sembilan-belas, ketika tingkat konsumsi berkembang secara dramatis baik di Asia maupun di Barat. Cina, yang mana sedang kacau dengan merebaknya huru-hara pollitik serta kultural pada saat itu, nampak memiliki selera atau hasrat yang hampir tak terbatas akan opium. Dan kemudian pernah ada satu kenaikan yang dahsyat dan besar sekali atas penggunaan opium pada obat-obatan paten kedokteran baik di Kerajaan Inggris Raya maupun di Amerika Serikat.
Di akhir abad sembilan belas, industri farmasi di Eropa menemukan diacetylmorphine, sebuah percampuran atau senyawa kimiawi yang dibuat dengan cara mengikatkan morfin yang didapat dari poppy, atau bunga opium, dengan satu bahan kimia industri yang lazim, acetic anhydride. Di tahun 1898, Bayer Corporation meluncurkan diacetylmoorphine sebagai sebuah obat penyembuhan bagi gangguan penyakit pernafasan pada bayi, dan memberikan pada obat ini sebuah nama yang singkat dan ringkas sebagai heroin. (Satu tahun kemudian Bayer muncul dengan sebuah analgesic, atau obat pereda atau penghilang rasa sakit, yang mereka rasakan juga ideal sebagai obat penyembuhan bagi gangguan penyakit pernafasan pada anak-anak, dan mereka memberikan obat ini sebuah nama yang singkat dan ringkas sebagai aspirin.) Heroin saat itu secara meluas telah digunakan serta banyak disalahgunakan. David Musto, seorang sejarawan, telah mengestimasikan bahwa telah ada tiga ratus ribu orang-orang Amerika yang secara aktif kecanduan akan opium serta heroin di tahun 1900—utamanya wanita-wanita, yang dilarang memasuki ruang-ruang bar serta kehidupannya dikurung dan dibatasi pada sebuah peran pengasuhan serta pemeliharaan anak, membuat pengkonsumsian obat-obatan
dengan tingkat adiksi atau kecanduan yang sangat tinggi ini yang banyak dipasarkan sebagai obat perawatan bagi gangguan penyakit-penyakit ringan menjadi satu kebiasaan bagi mereka. Anda dapat menemukan penggambaran yang membangkitkan ingatan serta sangat akurat atas permasalahan tersebut di dalam cerita Long Day's Journey into Night, karya klasik Eugene O'Neill, yang menceritakan tentang kecanduan yang dialami oleh ibunya sendiri.
Sementara itu, di Cina, pemerintah melakukan sebuah survey di tahun 1906 dan menemukan bahwa 13.5 persen populasi Cina memiliki kecanduan terhadap opium. Hari ini, tingkat kecanduan terhadap narkotika yang paling tinggi di dunia, menurut Amerika Serikat, adalah Iran, pada kisaran 3.5 persen.
DJ : Bagaimana dengan di A.S.?
AM : Sekitar 0.7 persen. Angka 13.5 persen adalah sangat terlalu besar sehingga akan menjadi sebuah skandal dan dapat mencetuskan sebuah gerakan global bagi pengaturan pelarangan opium. Hal ini kemudian secara ideologis serta secara politis akan bergabung dengan gerakan-gerakan yang lebih luas tentang penentangan atas beredarnya minuman keras di Eropa, Amerika Serikat, serta di negara-negara koloni yang berbahasa Inggris.
Ketika A.S.menaklukkan dan menduduki Filipina di tahun 1898, pihak mereka memperoleh, termasuk juga bersamanya tujuh ribu pulau-pulau serta 6 juta penduduk Filipina, sebuah monopoli opium oleh negara. Atas reaksi terhadap oposisi atau perlawanan moral dari antara gereja-gereja Protestan, A.S. membuat pengkonsumsian atas opium menjadi ilegal di Filipina pada tahun 1908. Hal tersebut secara cepat mengarah pada Harrison Anti-Narcotics Act (pakta atau undang-undang anti-narkotika -ed) di tahun 1914, yang merupakan hukum atau undang-undang anti obat-obatan terlarang kita yang pertama.
Semenjak Perang Dunia II, Amerika Serikat telah meloloskan satu rangkaian konvensi-konvensi besar atau perjanjian persetujuan tentang drugs secara berturut- turut, bergerak dari permohonan secara sukarela dan pendaftaran menuju pada penegakan hukum internasional. Dengan terjalinnya konvensi-konvensi secara global serta pakta-pakta perjanjian ini dengan aturan perundang-undangan dalam lingkup domestik telah menciptakan sebuah rezim pelarangan yang sangat kuat di seluruh penjuru dunia.
Jika kita meninjau kembali pada sejarah rezim ini, kita menemukan bahwa perniagaan atau perdagangan global internasional atas obat-obatan ilegal telah benar-benar tumbuh dengan subur selama masa keberadaannya. Pada tahun 1998, UN (United Nations, Perserikatan Bangsa-Bangsa) secara bebas mengestimasikan lalu-lintas perdagangan drugs internasional bernilai sebesar $400 milyar satu tahun, setara dengan 8 persen dari seluruh perdagangan dunia—lebih besar dibandingkan besi baja, auto-mobil, atau textil. Jadi perdagangan gelap internasional atas obat-obatan ini adalah lebih besar dibandingkan perdagangan atas salah satu komoditas yang sifatnya fundamental atau mendasar atas kehidupan ini: yaitu sandang atau pakaian jadi.
DJ : Tidakkah kita melewatkan sebuah kesempatan di akhir Perang Dunia II untuk dapat secara drastis mengurangi jumlah lalu-lintas obat-obatan ilegal ini?
AM : Sebenarnya ada sebuah titik temu dari banyak faktor di akhir 1940-an yang bisa jadi telah menghasilkan satu pengurangan yang substansial, atau bahkan satu pembersihan besar-besaran, atas lalu-lintas global obat-obatan ilegal ini. Faktor pertama adalah meningkatnya keefektifan rezim pelarangan secara global. Yang ke-dua adalah adanya kekacauan di seluruh dunia atas semua perdagangan serta diadakannya disiplin pengamanan yang ketat, kaku dan keras yang dijalankan di bandara atau pelabuhan-pelabuhan di seluruh dunia untuk dapat menyetop adanya sabotase, spionase, dan sejenisnya. Faktor ke-tiga berkenaan dengan naik berkembangnya komunis pada kekuasaan di Cina pada tahun 1949. Segera yang mana setelah mereka menjalankan kampanye pembasmian atau pemberantasan opium secara besar-besaran yang paling sukses di seluruh dunia, pembersihan kecanduan narkotika secara massal memakan waktu sekitar lima tahun.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang bakal berlangsung jika agen-agen intelijen Barat tidak menggunakan kekuatan ekonomi obat-obatan di bawah tanah beserta sindikat-sindikat atau kelompok kriminal mereka untuk memerangi komunisme. Jika CIA tidak eksis, akankah kita memiliki level atau tingkat kecanduan sebesar yang kita lihat hari ini? Saya tidak dapat mengatakannya. Tetapi saya dapat mengatakan bahwa operasi-operasi yang terselubung dan rahasia telah memainkan peran yang signifikan terhadap meluasnya lalu-lintas perdagangan obat-obatan setelah Perang Dunia II.
Dimulai pada akhir 1940-an, negara Tirai Besi datang merobohkan serta menghancurkan kawasan sepanjang perbatasan bagian selatan Uni Soviet serta Republik Rakyat Cina. Kawasan ini juga merupakan zona atau kawasan perdagangan opium di Asia, sebuah kawasan pinggiran pegunungan yang membentang sejauh lima ribu mil, dari Turki hingga Thailand. Selama satu periode yang lebih dari empat puluh tahun, dari 1950-1990, pihak CIA memerangi tiga peperangan besar yang terselubung dan rahasia—bukan hanya spionase, tetapi peperangan rahasia yang benar-benar nyata—di sepanjang garis perbatasan bagian selatan yang keras dan berat dengan permukaan tanahnya yang jauh dari rata ini, melawan bagian yang lemah dan lunak dari kekuatan komunis. Ini termasuk juga Burma, selama 1950-an; Laos, sejak 1964 hingga 1974; dan Afganistan, dimana CIA telah mem-back-up para gerilyawan-gerilyawan mujahiddin melawan pendudukan Soviet dari sejak 1979 sampai 1992.
Ini merupakan peperangan-peperangan yang panjang. Pihak A.S. telah terlibat dalam Perang Dunia I selama kurang dari dua tahun dan Perang Dunia II selama empat tahun. Peperangan rahasia dan terselubung tersebut dilangsungkan selama sepuluh sampai dua belas tahun dan dalam beberapa kasus telah melibatkan operasi-operasi militer secara massif. Kampanye pengeboman yang paling besar dalam sejarah dilakukan saat operasi udara A.S. di Laos untuk mendukung perang rahasia CIA di sana.
Peperangan tersebut secara umum terjadi di wilayah-wilayah pinggiran di negara-negara yang tidak memberikan dukungan pada sikap atau kebijakan kita, di wilayah-wilayah dengan populasi etnis yang minoritas dimana hasil bumi unggulan yang
peperangan terselubung di beberapa wilayah yang jauh serta terpencil, mereka diperdagangkan adalah opium. CIA menyadari bahwa, untuk dapat memenangkan
harus menggabungkan diri membangun satu persekutuan dengan para panglima perang lokal di wilayah-wilayah tersebut, yang sebagai timbal baliknya mereka menggunakan proteksi dari CIA serta keahlian dalam hal logistik untuk menjelmakan diri mereka sendiri sebagai seorang bandar atau penguasa lokal atas peredaran obat-obatan.
Di awal mula setiap peperangan ini, produksi atas opium telah terlokalisasi. Dengan segera, bagaimanapun, baik skala maupun bidang jangkauan lalu-lintas perdagangan obat-obatan diperluas guna membiayai peperangan tersebut. Begitu operasi-operasi mereka berakhir, wilayah-wilayah tersebut berubah menjadi tanah atau lahan-lahan yang kosong seperti gurun, yang mana hanya poppy, atau bunga opium, yang akan tumbuh berbunga. Karena peperangan ini diselenggarakan di luar aturan atau kelaziman diplomasi serta di luar sepengetahuan Kongres (Congress, Dewan Perwakilan Rakyat A.S.), maka tidak terdapat kesepakatan penyelesaian pasca perang, tak ada perjanjian atau rekonstruksi apapun. Secara resmi, peperangan tersebut dinyatakan tidak pernah terjadi. Dengan absennya segala pembersihan pasca perang, lalu-lintas perdagangan obat-obatan yang telah meluas terus dijalankan dan dianggap sebagai satu format atau kondisi khusus sebagai rekonstruksi pasca perang.
Di tahun 1958, pihak otoritas di timur-laut Burma mengestimasikan produksi opium lokal tahun tersebut akan berada pada kisaran delapan belas ton. Pada tahun 1970 produksinya sebesar tiga ratus ton. Hasil keuntungan atas operasi-operasi rahasia dan terselubung yang pernah dilakukan oleh pihak CIA di sana adalah bahwa wilayah timur-laut Burma telah beranjak dari pedagang opium yang terlokalisir menjadi jantung pemasaran heroin di dunia. Laos beranjak dari produsen dengan pemberlakuan pembatasan-pembatasan produksi yang sama atau mirip menjadi produsen opium terbesar nomor tiga di dunia hari ini.
Kasus yang paling murni dalam hal transformasi ini, meski begitu, adalah Afganistan. Pada saat kita masuk terlibat di Afganistan, produksi opium tahunan mereka adalah tidak lebih dari dua ratus ton, dengan perdagangan yang terbatas pada wilayah pertengahan Asia, terutama sekali Iran. Tidak ada produksi heroin di sana, dan tidak ada lalu-lintas perdagangan internasional. Dari 1981 hingga 1991, produksi opium di Afganistan bertumbuh hingga dua ribu ton—bertambah sepuluh kali lipat. Hanya dua tahun memasuki peperangan terselubung, Afganistan, dengan persetujuan bersama Pakistan bagian barat, telah menjadi produsen heroin terbesar di dunia, yang memasok atau menyuplai, menurut Jaksa Agung (Attorney General)
A.S., 60 persen heroin yang beredar di A.S., dan sekitar 80 persen heroin yang beredar di Eropa. Saat ini tiga besar produsen opium gelap di dunia adalah Afganistan, Burma (sekarang b e r n a m a M y a n m a r), s e r t a Laos—semuanya merupakan lokasi atau situs bekas peperangan rahasia dan terselubung yang dilaksanakan oleh CIA yang pernah memakan waktu satu dekade atau lebih.
DJ : Bagaimana atau apa kepentingan CIA melakukan hal ini?
AM : Secara mendasar, ketika pihak agen (CIA) menyusun sebuah operasi yang terselubung dan rahasia, segenggam penuh mata-mata membentuk sebuah persekutuan dengan satu atau lebih panglima-panglima perang lokal. Panglima-panglima perang ini mengerahkan satu kekuatan pasukan untuk maju ke medan pertempuran CIA, sedangkan pihak agen menyediakan bagi panglima perang sekutu mereka dengan persenjataan, perlengkapan-perlengkapan, dana keuangan, makanan, serta dukungan poliltik. Mereka melakukan ini bukan hanya untuk membuat pemimpin suku bangsa tersebut memiliki kemampuan militer yang lebih efektif, tetapi juga supaya pemimpin tersebut mampu meningkatkan kekuatan serta kekuasaan atas suku bangsanya dan menarik lebih banyak lagi calon-calon prajurit baru yang akan bertempur dalam satu cara yang lebih tertentu serta lebih terikat.
Sekarang, di sepanjang garis perbatasan selatan daerah teritori Komunis, satu-satunya hasil bumi yang diperdagangkan adalah opium. Sehingga begitu panglima perang suku tersebut bertambah kekuatan serta kekuasaannya, dia mengambil alih perdagangan opium, dan dengan demikian mengambil-alih sumber ekonomi rumah tangga dari setiap keluarga petani lokal setempat. Di sini adalah kepentingan CIA untuk memberikan toleransi bagi lalu-lintas perdagangan opium sebab hal ini akan meningkatkan kekuatan politik bagi sekutu CIA yang terpilih serta membuat pasukan rahasia CIA dapat lebih efektif.
Lebih lanjut, ketika peperangan terus berlanjut dan kaum pria banyak ditarik ke dalam medan perang, jumlah kelompok tenaga kerja pria menurun drastis. Pemanenan opium, di banyak kultur atau budaya-budaya di dataran tinggi, adalah pekerjaan bagi kaum perempuan. Kaum pria mengerjakan tugas pembersihan serta penyiapan lahan dan kemudian menanam bibit, tetapi adalah kaum perempuan yang akan melakukan tugas pemanenan, dan perkebunan poppy dapat tetap berproduksi di Asia Tenggara selama kurun satu dekade. Ini berarti kaum perempuan secara produktif dipekerjakan dalam proses produksi suatu hasil bumi yang dapat diperdagangkan dengan harga sangat tinggi, yang mana dapat memangkas biaya yang harus dikeluarkan oleh CIA sebagai konsekuensi memberi bantuan kepada suku bangsa sekutu-sekutunya tersebut.
DJ : Berada di posisi manakah penegakan hukum internasional ketika semua ini sedang berlangsung?
AM : Secara kritis, area atau wilayah-wilayah di mana perang-perang rahasia dan terselubung ini berlangsung menjadi zona atau wilayah bebas hukum dimana di dalamnya para penegak hukum setempat ataupun internasional tidak akan dapat berspekulasi untuk menginterupsinya. Kasus klasik atas hal ini adalah Afganistan di tahun 1980-an. Selama dekade tersebut, ketika secara literal ratusan dapur-dapur pemasakan heroin berjajar di sepanjang perbatasan Afgan-Pakistan, U.S. Drug Enforcement Administration (US-DEA, Badan Penanggulangan Narkoba milik A.S. - ed) memiliki satu detasemen yang terdiri dari tujuh belas perwira polisi di ibukota Pakistan, Islamabad. Para petugas tersebut tidak mengerjakan penyelidikan atau penginvestigasian apapun serta tidak pula penyitaan atau perampasan atau penyergapan atau penangkapan apapun. Mereka secara keseluruhan tetap tinggal dan bertahan di luar area barat-laut perbatasan propinsi di Pakistan, di mana industri heroin berada, ini karena para pedagang di wilayah tersebut adalah sekutu-sekutu kita dalam peperangan terselubung tersebut.
DJ : Pernahkah pihak CIA juga mengijinkan pesawat-pesawat udara mereka untuk digunakan mengangkuti obat-obatan ilegal ini?
AM : Saya tahu satu kasus tertentu tentang itu, di Laos. Akan saya berikan beberapa latar belakangnya pada Anda: selama berlangsungnya Perang Dingin, Uni Soviet dan Amerika Serikat pergi ke daerah di luar pinggiran Laos sebelum mereka menegosiasikan sebuah pakta kesepakatan di tahun 1962 dimana kedua pihak menyetujui untuk menghentikan semua aktivitas pasukan-pasukan tempur dari negeri tersebut. Dua atau tiga tahun setelah itu, Perang Vietnam menghangat, dan tiba-tiba saja orang-orang dari Vietnam Utara melakukan pengiriman pasukan atau tentara-tentara serta suplai perlengkapan dari wilayah Vietnam Utara, menuruni wilayah selatan Laos, memasuki wilayah Vietnam Selatan: jalanan sempit yang buruk di Ho Chi Minh. Kecuali A.S. dapat memotong rute suplai atau pasokan tersebut kita tidaklah memiliki harapan untuk memenangkan gesekan-gesekan perang tersebut di Vietnam Selatan. Tiba-tiba saja kita harus terlibat masuk di negeri dimana seharusnya kita tidak dapat masuk. Hal tersebut mengarah pada sebuah perang rahasia di Laos, dimana CIA merubah orang-orang (khususnya para pria) di suku tersebut menjadi satu kekuatan pasukan tempur. Rakyat Hmong, yang merupakan para petani opium yang utama di wilayah tersebut, tinggal dan hidup di daerah dataran tinggi di perbukitan di atas ketinggian tiga ribu kaki. Dengan jalan-jalannya yang berbahaya menjadi tidak mungkin untuk dapat bepergian secara leluasa selama perang tersebut, desa-desa mereka kesemuanya terhubungkan lewat sebuah jaringan yang terdiri atas dua ratus bidang landasan pendaratan yang berlumpur yang dapat diakses dengan sebuah pesawat udara CIA yang bernama Air America.
Tahun 1971, ketika saya sedang mengadakan research untuk penulisan The Politics of Heroin, dengan berjalan kaki saya pergi ke wilayah pedesaan di Hmong di utara Laos di bagian sisi sebelah barat wilayah Plain of Jars. Saya pergi dari rumah ke rumah di dua desa dimana saya dapat melaksanakan keperluan survey saya, dan gambaran yang saya dapatkan menjadi sangat terang dan jelas. Para petani masing-masing mendapatkan hasil panen sekitar lima hingga sepuluh kilo opium. Di akhir musim panen, mereka memungut opium mentah yang tajam, membungkusnya dengan daun-daun pisang, menuruni jalanan menuju landasan pendaratan—dan kisah-kisah dari para petani tersebut secara absolut benar-benar konsisten pada bagian ini—di mana sebuah helikopter Air America sedang mendarat. Para perwira dari pasukan khusus CIA yang bertugas di Hmong keluar, memberikan sejumlah pembayaran tunai kepada orang-orang dari suku tersebut atas hasil opium mereka, menaik-muatkannya ke dalam helikopter-helikopter, dan terbang dengan arah menuju ke pangkalan rahasia CIA di Long Tieng.
Beranjak hingga pertengahan 60-an, para pembeli opium akan banyak mengandalkan kuda-kuda beban yang berjalan beriring-iringan menuju desa-desa di Hmong untuk membeli opium, atau para petani akan menuruni bukit menuju pasar-pasar setempat dan menjual opiumnya di sana. Tetapi begitu para gerilyawan komunis dan pasukan-pasukan dari Vietnam Utara mulai menyapu hingga melalui pedesaan ini, semua sarana transportasi di bawah perbukitan ini mulai kacau. Air America adalah satu satunya sarana untuk dapat masuk dan keluar dari kawasan pedesaan di Hmong. Jika mereka pergi untuk memasarkan opium mereka, akan selalu menggunakan sarana Air America: tidak ada alternatif lain. Dan perdagangan opium adalah satu pilar atau pondasi ekonomi yang terpenting bagi masyarakat di sana untuk dapat bertahan hidup.
Penggunaan sarana Air America juga meningkatkan kekuasaan para panglima perang di sana. Sebelum pesawat-pesawat milik CIA mendarat di sana untuk mengangkut opium, harus ada satu ijin khusus dari para pemimpin atau komandan pasukan khusus di sana. Dan disebabkan oleh meningkatnya jumlah korban ketika perang terselubung ini mulai menyebar, produksi beras di wilayah sana menurun secara tajam. Para penduduk di pedesaan di sana tidak lagi mampu untuk mencukupi kebutuhan beras bagi kehidupan mereka sehari-hari, jadi pesawat Air America akan terbang rendah melewati desa-desa di sana dan menjatuhkan beberapa kantung berisi beras. Proses pengiriman beras bantuan tersebut menuju desa-desa yang terpencil, serta pengangkutan opium melalui mereka, memberikan satu bentuk kekuasaan bagi para panglima perang di Hmong untuk mengekang dan mencekik jumlah populasi di sana.
situasi perang dijalankan, jumlah korban besar sekali
| Begitu | yang sangat | Kami kemudian menemukan bahwa ada seorang kapten di Hmong yang sedang | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| pemuda di sana. Tahun 1971 sebuah laporan dari Angkatan Udara A.S. mengatakan mengancam suku-suku di Hmong dengan kelangkaan yang merata akan jumlah | melaporkan | radio | kepada | pimpinan | pasukan | rahasia | CIA | tentang | |
| bahwa para pemuda yang paling dewasa di kebanyakan keluarga-keluarga di Hmong | pertanyaan-pertanyaan | yang | sedang | kami | tanyakan. | Seketika | begitu | kami |
hanya berusia sepuluh tahun.
DJ : Jadi mengapa orang-orang di Hmong tetap melakukan pertempuran demi kepentingan CIA?
AM : Kebanyakan mereka tidaklah menginginkan untuk melakukan hal itu. Ketika saya pergi ke pedesaan tersebut untuk mengerjakan survey atau penelitian saya, saat itu adalah saat-saat yang menegangkan seklali, sebab pasukan khusus rahasia dari CIA telah mengeluarkan perintah perekrutan bagi pemuda-pemuda berusia empat belas tahun di sana. Para tetua di desa tersebut maju bersama-sama untuk mengatakan, “Tidak. Kami telah kehilangan semua orang yang berusia di atas empat belas tahun, dan jika kami harus menyerahkan pemuda-pemuda kami yang berumur empat belas tahun, kemudian yang berumur tiga belas tahun dan semua yang tersisa akan mengikuti juga, lalu siapa yang akan menikahi gadis-gadis dan memproduksi generasi selanjutnya dari kami? Kami semua akan segera habis dan binasa. Kami tidak dapat membiarkan ini terjadi.”
Ketika desa tersebut menolak untuk mengirimkan pemuda-pemuda mereka ke medan pembantaian, pasokan beras bagi desa mereka segera dipangkas. Dan merekapun menderita kelaparan. Itulah sebabnya sebenarnya sehingga saya mampu untuk mengerjakan penelitian saya di sana: saya membuat satu kesepakatan bersama tetua-tetua di desa tersebut.
Sekarang bayangkan, dia ini adalah seorang yang tidak bisa menulis (nonliterate)—bukan tidak bisa membaca (illiterate), tetapi lebih tidak terbiasa untuk menulis, karena masyarakat di Hmong memiliki satu bentuk budaya oral, atau berbicara. Ketika saya bilang bahwa saya ingin mengetahui tentang opium, dia mengatakan. “Dapatkah anda menuliskan satu artikel untuk dimuat di Washington,
D.C., yang mengatakan bahwa kami terpaksa memberikan anak-anak laki-laki kami untuk bertempur ke dalam perang terselubung yang digelar oleh CIA, dan bagian dari kesepakatannya adalah bahwa kami akan mendapatkan beras?”
Saya mengatakan bahwa saya tahu seorang koresponden untuk The Washington Post, tetapi saya tidak dapat memberikan garansi apapun.
Dia kemudian mengatakan pada saya bahwa saya dapat bertanya pada siapapun yang saya inginkan tentang opium, dan dia akan mengirimkan seorang pengiring atau pengawal bersama saya, sebab saat itu ada banyak sekali aktivitas gerilya di wilayah tersebut.
Jadi saya berbicara dengan orang-orang di desanya, dan menanyakan: Berapa banyak opium yang anda produksi? Apa yang anda lakukan ketika saat panen tiba? Kemana anda membawa hasil panen ini? Berapa banyak uang yang anda dapatkan dari hasil panen ini?
melalui
melanjutkan perjalanan kami menuju ke desa selanjutnya untuk melanjutkan survey kami, beberapa personil serdadu dari pasukan Vang Pao menyergap, menembaki dan mencoba untuk membunuh kami.
Ketika kami dapat kembali ke Vientiane, ibukota Laotian, saya pergi menjumpai pimpinan U.S. Agency for International Development (USAID), Charlie Mann, yang juga memiliki kedudukan dalam kedutaan. Saya melaporkan serta mengeluhkan tentang adanya milisi dari CIA yang telah mencoba untuk membunuh kami, dan juga tentang beras, yang mana seharusnya adalah merupakan bantuan kemanusiaan, yang ternyata telah mengalami pemotongan dalam distribusinya. Selanjutnya saya berbicara kepada koresponden Washington Post. Dalam beberapa hari kemudian, satu artikel kecil muncul dimuat di halaman belakang koran The Washington Post. Begitulah seperti yang pernah diharapkan oleh tetua masyarakat di Hmong yang tidak dapat menulis itu, kemudian pesawat-pesawat kargo C-130 dari Air America memborbardir desa mereka dengan beras dari USAID.
Tetapi begitulah bagaimana sistem tersebut beroperasi: kontrol atas opium dan beras telah memperkuat kekuasaan dari para panglima perang dan memungkinkan baginya untuk memeras banyak serdadu, dalam kasus ini adalah anak-anak laki-laki yang dipaksa menjadi serdadu-serdadu, untuk maju ke medan pembantaian dalam perang-perang terselubung yang dilaksanakan oleh CIA.
DJ : Apa yang terjadi dengan semua opium tersebut? Ke manakah opium-opium ini dijual?
AM : Sebagian besar dari opium-opium ini telah dirubah menjadi heroin untuk kemudian dijual kepada pasukan-pasukan A.S. Peperangan terselubung di Laos telah memperkenalkan teknologi penyulingan serta penyaringan heroin di wilayah tersebut. Pada tahun 1969 dan 1970, pasukan-pasukan yang bertempur berdampingan bersama pasukan rahasia CIA di Laos membangun sebuah kompleks yang terdiri dari tujuh pabrik penyulingan heroin tepat di jantung Segitiga Emas (Golden Triangle), dimana Burma, Thailand, dan Laos bertemu. Saya akan
menjelaskan hal ini: semua laboratorium dibangun oleh mereka yang sekarang ini atau dulunya merupakan sekutu-sekutu terselubung Amerika Serikat. Dan mereka mulai memproduksi heroin berkualitas tinggi untuk diangkut dan dikirim ke Vietnam Selatan. Para pecandu setempat di Asia adalah para penghisap atau perokok opium, yang mana ini berati bahwa heroin tersebut memang ditargetkan atau secara khusus ditujukan kepada pasukan Amerika. Kita mengetahui dari satu survey lebih lanjut dari Gedung Putih (White House) bahwa, di tahun 1971, 34 persen dari semua pasukan tempur A.S. di Vietnam Selatan telah menggunakan heroin. Itu berarti di sana ada sesuatu sehingga ada delapan puluh ribu para pecandu heroin di dalam pasukan A.S. pada satu titik ketika tercatat hanya ada sekitar tujuh puluh ribu pecandu di keseluruhan Amerika Serikat.
DJ : Anda telah mengatakan bahwa peperangan terselubung yang dikerjakan CIA di Laos telah menghasilkan warisan yang jauh lebih luas daripada hanya permasalahan peningkatan produksi opium.
AM : Benar, ini telah merubah cara kita dalam menghadapi peperangan. Sebelum itu hingga dilaksanakannya operasi di Laos, kebijakan militer secara umum mengatakan bahwa hanya pasukan infantri yang dapat mengambil dan menguasai serta mempertahankan wilayah; kekuatan udara hanya dapat menyediakan bantuan taktis bagi pasukan infantri dan menghancurkan target atau sasaran-sasaran strategis dari udara. Kita tidak dapat mengirimkan pasukan ke dalam wilayah Laos, terlebih dahulu, tanpa merusak perjanjian kesepakatan kita dengan pihak Uni Soviet. Maka kita menjatuhkan 2.1 juta ton berupa bom-bom di wilayah Laos—secara kasar ini setara dengan jumlah tonase yang telah kita jatuhkan di dalam keseluruhan Perang Dunia II. Dan kita telah belajar bahwa jika anda melancarkan pengeboman secara intensif dan tanpa dibatasi, anda benar-benar dapat menggunakan pengeboman dari udara sebagai satu cara untuk dapat menguasai serta mempertahankan wilayah. Kita menggunakan strategi ini dengan sukses di Bosnia, dimana kita hanya mengirimkan sangat sedikit pasukan-pasukan tempur, dan bahkan lebih sukses lagi di Kosovo.
Permasalahan atas strategi ini adalah bahwa ini menghasilkan pelanggaran yang serius atas hukum internasional. Ketika komunitas internasional menyaksikan penggunaan kekuatan udara kita yang sangat destruktif dalam Perang Vietnam, mereka memperhatikan dan mengaitkannya dengan banyaknya “collateral damage (kerusakan tambahan)” yang sangat hebat yang telah ditimbulkan oleh aksi pengeboman tersebut. Setelah Perang Vietnam mereda, masyarakat komunitas internasional menegosiasikan Protokol Satu (Protocol One) dari Konvensi Jenewa (Geneva Convention), yang tidak memperbolehkan secara hukum atas serangan- serangan militer kepada masyarakat sipil. Bahkan mereka beranjak lebih jauh dan menciptakan Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court) untuk mengadili mereka yang melakukan pelanggaran hukum atas konvensi tersebut. Meskipun Amerika Serikat adalah merupakan salah satu penggerak dalam pembuatan Konvensi Jenewa di tahun 1949, Presiden Reagan mengirimkan pakta perjanjian untuk Protokol Satu kepada Senat dengan rekomendasi bahwa ini akan ditolak, dan memang begitulah adanya.
Pada 4 April 2002, dunia mengadakan satu upacara untuk merayakan berdirinya Pengadilan Kriminal Internasional. Pihak A.S. tidak mengirimkan perwakilan ke sana. Kita memang mengusulkan untuk memastikan “new world order (tatanan dunia baru)” ini dapat diatur oleh parangkat aturan hukum, namun karena kita telah meningkatkan perpaduan penggunaan kekuatan udara dan keluasan jangkauannya untuk melawan baik penduduk sipil maupun target-target militer, kita berada dalam satu posisi yang ganjil dan dikucilkan berkenaan dengan adanya aturan atau hukum internasional dimana seluruh dunia memberikan dukungan terhadap hukum tersebut. Ketika kita beranjak pada abad dua puluh satu, peperangan terselubung ini telah meninggalkan satu warisan yang sangat problematis bagi pengarahan kebijakan luar negeri A.S.
DJ : Afganistan adalah wilayah dimana peperangan terselubung banyak dilaksanakan akhir-akhir ini, dan satu-satunya yang secara langsung banyak dihubungkan dengan peristiwa atau kejadian-kejadian yang terjadi saat ini. Bagaimana ini bisa terjadi?
AM : Dalam cara serta kebiasaan yang sangat mirip dengan peperangan yang terjadi di Laos. Dimulai di tahun 1979, ketika pemerintahan Carter—dan selanjutnya dalam kekuasaan Reagan—memberikan perintah-perintah pelaksanaan kepada CIA untuk mempersenjatai serta memberikan pasokan perlengkapan bagi rakyat Afganistan untuk melawan usaha pendudukan Soviet atas Afganistan. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa ini merupakan konflik internasional, bukan hanya operasi pihak A.S. Pihak Saudi, contohnya, memberikan dukungan yang sangat besar bagi para pemberontak-pemberontak Afganistan, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak pihak di Eropa.
Masih saat itu, dari tahun 1979 sampai 1992 CIA telah menghabiskan dana kira-kira sekitar $3 milyar untuk membiayai perang terselubung ini, menyalurkan sebagian besar dana tersebut kepada Inter-Services Intelligence (ISI, Biro atau Lembaga Intelijen Pakistan). Hasilnya adalah meluasnya produksi opium sepuluh kali lipat di dalam wilayah Afganistan, dan bertumbuhnya perdagangan dari distribusi opium secara terlokalisir hingga penyulingan heroin skala besar untuk didistribusikan di pasaran internasional. Dalam sebuah pola kita menemukan kembali dan lagi, bagaimana panglima-panglima perang di suku-suku di dalam negeri Pakistan telah berubah menjadi bandar besar yang memiliki kekuasaan sangat besar atas obat-obatan.
Setelah menginvestasikan dana $3 milyar dalam proyek penghancuran Afganistan, Amerika Serikat dengan mudah dapat melenggang pergi di akhir operasi, dan meninggalkan di belakangnya satu masyarakat yang tersia-siakan. Afganistan adalah wilayah yang paling lama dimana operasi perang terselubung kita dilaksanakan, dan dengan banyak cara merupakan area medan perang terselubung kita dimana secara sungguh-sungguh mengalami kerusakan. Pertempuran di sana meninggalkan jutaan orang yang tewas, 4.5 juta pengungsi, dan diperkirakan ada 10 juta ranjau tersebar—tak terkecuali kerusakan perekonomian serta sebuah pemerintahan yang binasa. Setelah pihak Soviet berhasil dikalahkan, para panglima perang yang pernah kita bentuk dan ciptakan serta kita persenjatai di sana mulai berperang di antara mereka sendiri demi kekuasaan, menambahkan akibat-akibat kehancuran di sana.
Afganistan telah menjadi satu negara pertama dalam sejarah dimana perekonomiannya sebagian besarnya dibangun atas opium. Perdagangan obat-obatan membukukan penerimaan terbesar bagi pemerintah serta semua pertukaran luar negeri. Bidang ini juga menyerap modal perniagaan di negeri tersebut serta sebagian besar sumber air dan lahan-lahan yang paling baik untuk ditanami. Dan, di atas semuanya, opium menyediakan lapangan pekerjaan bagi sekitar 25 persen para laki-laki dewasa, yang mana berarti 25 persen jumlah tenaga kerja, sebab di bawah kekuasaan Taliban kaum wanita tidak dapat masuk ke lapangan pekerjaan.
Ketika kondisi segala permasalahan pasca perang di Afganistan terus bertambah, opium menawarkan suatu solusi atau pemecahan secara mudah. Dengan situasi perekonomian yang hancur, jumlah angka pengangguran di sana menjadi tak terhitung. Opium membutuhkan banyak sekali jumlah tenaga kerja; dibutuhkan sembilan kali jumlah tenaga kerja untuk memanen satu hektar ladang opium lebih banyak dibandingkan proses pemanenan satu hektar ladang gandum. Sehingga orang-orang akan mendapatkan pekerjaan. Opium juga menguasai satu harga yang sangat tinggi di pasaran internasional, yang mana ini berarti para petani yang telah termiskinkan akan dapat membiayai proses rehabilitasi atau pemulihan ladang-ladang pertanian serta pemukiman-pemukiman bagi komunitas mereka. Hambatan atau rintangan yang lainnya bagi proses rekonstruksi ini adalah bahwa komoditas-komoditas pertanian internasional diperdagangkan dengan melalui sebuah proses diplomasi yang sangat kompleks; dengan tidak dimilikinya sebuah pemerintahan yang diakui, Afganistan tidak memiliki kapasitas bagi proses diplomasi ini. Sebagai satu komoditas gelap, bagaimanapun, secara mudah opium mampu menembus serta melewati setiap perbatasan di seluruh dunia. Dan kemudian ketika datang masa kekeringan secara periodik: opium hanya membutuhkan dan menggunakan sekitar setengah dari jumlah air yang digunakan bagi pemanenan tanaman pangan lainnya. Sehingga dari setiap perspektif atau sudut pandang, opium adalah solusi yang ideal bagi pemecahan segala masalah pasca perang di Afgnistan.
Di bawah pengaruh segala kondisi perang sipil di Afganistan, dari tahun 1992 hingga 1996, produksi opium terus berlanjut menanjak naik. Ketika Taliban mengambil alih kekuasaan di Kabul pada tahun 1996, hanya ada tiga negara di seluruh dunia yang mengakui pemerintahan yang baru ini, dan Afganistan tinggal terlepas dari tatanan ekonomi internasional. Secara cepat Taliban menyadari tentang apa yang telah lama diketahui oleh para panglima perang yang telah mereka gantikan: satu-satunya jalan untuk mengoperasikan perekonomian satu negara yang ada pada posisi “di luar jaringan” adalah melalui narkotika. Maka mereka tidak hanya meneruskan untuk memberikan toleransi bagi lalu-lintas perdagangan drugs atau obat-obatan; mereka juga mengadakan sebuah bentuk tatanan yang keras yang dapat meningkatkan jumlah perdagangan dan membuatnya lebih efisien. Produksi opium di dalam negeri Afganistan meningkat dua kali lipat. Dari tahun 1999, mereka telah memproduksi satu jumlah yang sangat luar biasa yaitu empat-puluh-enam ratusan ton opium setahun—jumlah yang cukup untuk menyuplai 75 persen kebutuhan para pengguna heroin di seluruh dunia.
Di tahun 2000, meskipun begitu, Taliban mati-matian mengusahakan adanya pengakuan internasional. Di sepanjang kekuasaan mereka yang singkat, secara kurang-lebih mereka telah menawarkan sebuah kesepakatan dengan UN (United Nations, Perserikatan Bangsa Bangsa), yang mengatakan secara tidak langsung, “Kami akan memberantas peredaran opium jika kalian akan memberikan pengakuan diplomatik pada kami.” Kemudian, pada bulan Juli tahun 2000, Taliban mengeluarkan satu aturan pelarangan opium dan, dengan kekejaman karakteristiknya, memberantas 99 persen hasil panen opium di dalam wilayah mereka, yang merupakan bagian terbesar di negeri tersebut. Produksi opium Afganistan jatuh dari empat-puluh-enam ratus ton hingga sekitar seratusan ton. Taliban kemudian mengirimkan satu delegasi kepada UN, memberikan tuduhan kepada Northern Alliance (Aliansi/Persekutuan Negara-negara Utara), yang masih saja memegang atau menguasai sebuah daerah kantong di timur-laut, yang menjadi kawasan para penguasa obat-obatan, lau-lintas heroin, serta para penjahat, dan mengatakan, “Kami telah melakukan pemberantasan opium. Berikan kami pengakuan diplomatik.” Tetapi UN menolaknya.
Jadi ketika A.S. melakukan invasi atau penyerbuan terhadap Afganistan setelah peristiwa 11 September 2001, kita sebenarnya sedang menginvasi sebuah negeri yang telah melewati satu dekade perang terselubung, kemudian satu dekade perang sipil, dan pada akhirnya satu aksi bunuh diri ekonomi. Semenjak saat kita telah melakukan penyerangan tersebut, tidak ada sesuatupun yang tersisa kecuali bahwa kekuasaan Taliban telah menjadi lebih lemah, dengan secara buruk mengerahkan pasukan yang terdiri dari empat puluh ribu pria. Gelombang para pengungsi terus mengalir keluar dari Afganistan selama lebih dari satu tahun, bukan hanya karena musim kemarau yang kering, tetapi juga disebabkan bahwa Taliban telah menghancurkan sumber lapangan pekerjaan yang paling besar dan satu-satunya komoditas eksport di negeri tersebut. Setelah kita melakukan invasi, tatanan masyarakat di negeri tersebut dengan secara cepat telah runtuh.
Ketika merencanakan Perang atas Afganistan, pihak A.S. telah menyadari bahwa satu-satunya sekutu yang kita punyai hanyalah pihak Northern Alliance: yaitu pihak panglima-panglima perang yang sama yang dahulu pernah kita persenjatai di tahun 1980-an, dan mereka yang di tahun 1990-an telah banyak melakukan operasi secara independen sebagai bandar atau penguasa peredaran obat-obatan terlarang. Pihak Aliansi Negara Utara memiliki kontrol atas satu wilayah teritori di dalam wilayah Afganistan yang mana belum melakukan pelarangan atas produksi atau juga peredaran obat-obatan, dan mereka ini masih tetap sebagai produsen opium dalam jumlah besar dan juga beroperasi sebagai para penyelundup heroin. Lebih penting lagi, mereka mempunyai cadangan timbunan opium dalam jumlah sangat besar yang tertinggal dari hasil panen besar-besaran di tahun 1999, yang mana pasaran di dunia singkatnya tidak mampu untuk menyerapnya: sekitar 60 persen jumlah opium tersebut telah disimpan kembali setelah masa panen. Pihak Aliansi Utara saat ini telah melakukan proses pengubahan opium tersebut menjadi heroin dan menyelundupkannya ke dalam wilayah Eropa serta Rusia.
Ini adalah satuan kekuatan-kekuatan yang dengan kekuatan A.S. sendiri juga telah menggabungkan diri untuk menggempur Taliban, yang juga merupakan kekuatan-kekuatan yang kita punyai semenjak menanamkan kekuasaan di dalam wilayah Afganistan. Kebijaksanaan atas keputusan tersebut membuktikan keragu-raguan, bahkan dalam hal pembicaraan secara militer. Selama pelaksanaan operasi Tora Bora yang ceroboh dan serampangan, ketika menunjukkan seolah-olah A.S. telah menawan Osama bin Laden dan banyak orang-orang penting al-Qaeda yang terpojok di gua-gua, salah satu dari panglima perang tersebut, Hazarat Ali, mengontrol wilayah di antara gua-gua tersebut dan perbatasan Pakistan. Dengan mata seorang panglima perang dalam hal bisnis, dia menjual kartu terhadap al-Qaeda untuk dapat “Get Out of Afghanistan Alive (Keluar dari Afganistan Hidup-hidup**-ed**)” dengan harga penawaran sekitar lima ribu dolar per kepala.
Seperti yang kita bicarakan, ada sejumlah besar hasil panen yang baru atas opium yang diselundupkan keluar dari tanah-tanah yang subur menyeberangi Afganistan. Akan menjadi sangat memalukan bagi pihak A.S. ketika invasi dan operasi pembebasan atas Afganistan ternyata menghasilkan banjir heroin di Eropa dengan jumlah yang sangat tidak patut dan tidak pernah terjadi sebelumnya.
DJ : Bagaimana semua hal ini berhubungan dengan perang melawan peredaran drug atau obat-obatan terlarang di Amerika Serikat?
AM : Sejak 1971, di bawah Presiden Nixon, kita telah menghabiskan dana dengan jumlah mendekati angka $150 milyar untuk membiayai lima “drug wars (perang melawan obat-obatan**-ed**)”. Itu bahkan belum separuh dari jumlah biaya yang pernah dikeluarkan untuk operasi Perang Vietnam. Dan itu belum termasuk biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat serta daerah untuk biaya-biaya penuntutan dan penahanan. Biaya pembangunan serta pengoperasian gedung-gedung penjara bagi para pelanggar hukum atas obat-obatan yang tidak disertai tindak kekerasan kriminal adalah sangat besar.
Perang terhadap peredaran obat-obatan terlarang yang terus diperluas ini yang telah mulai dioperasikan sejak pertengahan tahun delapan-puluh-an, yang utamanya disertai penuntutan atau vonis hukuman penjara dalam waktu yang lebih lama, telah menghasilkan jumlah populasi yang sangat besar di dalam penjara dan mengakibatkan kerusakan yang menakjubkan bagi keharmonisan antar ras di dalam masyarakat. Dari tahun 1930 hingga 1980, masyarakat Amerika memiliki, rata-rata, seratus orang tahanan setiap seratus ribu orang. Setelah masa perang atas drug yang diprakarsai Reagan yang dimulai di tahun 1980-an, jumlah ini bertambah hingga empat ratus setiap seratus ribu. Hingga saat ini kita telah memiliki angka di atas enam ratus tahanan dalam setiap seratus ribu orang penduduk.
Program Pemberian Vonis Hukuman Berat (The Sentencing Project) telah menghasilkan sekitar sepertiga pria keturunan Afrika-Amerika dalam rentang usia tiga belas dan tiga puluh menjalani proses pembebasan bersyarat, sedang mendekam di dalam penjara, atau sedang berada di dalam dakwaan pidana. Dan bagian terbesar dari mereka ini dikurung atau dipenjarakan atas dakwaan kesalahan kepemilikan atau menjual narkotika. Ketika orang-orang pria keturunan Afrika-Amerika ini keluar dari penjara, mereka dilepaskan atas hak-hak sipil mereka. Di banyak negara bagian, mereka bahkan tidak bisa memberikan suara dalam suatu proses pemilihan umum. Hal ini merepresentasikan adanya suatu proses kriminalisasi dan juga penghilangan hak untuk dapat memberikan suara secara politik atas keseluruhan tatanan masyarakat kita. Terkecuali kita dapat mematikannya, mesin penghancur pembawa malapetaka ini akan tetap beroperasi menyapu jalanan hingga bersih dari para pemakai obat-obatan, mengisi penjara-penjara dengan lebih banyak lagi orang-orang, dan menambahkan sejumlah biaya-biaya sosial yang sangat besar di dalam tanggungan pembiayaannya.
DJ : Saya merasa tidak begitu familiar dengan program perang terhadap obat-obatan terlarang di jaman Nixon. Bagaimana program ini dilangsungkan?
AM : Sedari akhir tahun 1940-an hingga awal 1970-an, sebuah kelompok yang memiliki nama buruk dan keji yang dikenal sebagai French Connection merupakan sumber utama atas sekitar 80 persen suplai peredaran heroin di Amerika. Beginilah bagaimana mereka bekerja: Turki memiliki petani-petani yang memproduksi opium untuk dijual kepada perusahaan-perusahaan farmasi yang telah memiliki lisensi yang kemudian akan digunakan dalam pembuatan morfin. Para petani-petani ini secara rutin memproduksi jumlah yang lebih banyak dari quota produksi mereka, kemudian menyelundupkan produksi ilegal tersebut melalui jalur pelayaran menuju Lebanon, di mana kemudian opium ini akan disuling menjadi morfin dan dikirimkan menuju Perancis. Di sana, sindikat Corsican, yang dilindungi oleh pihak French Intelligence (Pusat Intelijen Perancis) dan pihak pemerintahan Gaullist, mengoperasikan sejumlah laboratorium yang kompleks yang akan mengubah morfin-morfin tersebut menjadi heroin. Kemudian mereka mengirimkannya menuju Montreal, Kanada, di mana kelompok keluarga Mafia Cotroni akan mengirimkannya hingga masuk ke dalam New York untuk didistribusikan ke seluruh daerah pesisir bagian timur. Karena para petani di Turki kesemuanya memiliki lisensi atau ijin legal bagi produksi farmasi yang legal, pihak pemerintahan Turki mengetahui juga siapa-siapa mereka yang bermain ini. Dalam masa pemerintahannya Nixon mengajukan tuntutan permintaan, pihak Turki kemudian kalah dan membasmi produksi opium. A.S. menyediakan sekitar $30 juta untuk membantu petani-petani di Turki mengerjakan proses perubahan bagi hasil panen tanaman yang lain. Kita kemudian memusatkan perhatian kepada Perancis, yang tentu saja juga mengetahui benar-benar siapa saja para penyelundup ini, sebab mereka semuanya ini tergabung dalam satu organisasi paramiliter yang dinamakan Civic Action Service yang sesungguhnya juga menyediakan pelayanan keamanan negara bagi rezim Gaullist. Pihak kepolisian Perancis kemudian menutup dan membubarkan laboratorium-laboratorium heroin, dan French Connection dapat dihancurkan dalam hitungan beberapa bulan. Nixon mendapatkan kemenangan mutlak. Akan tetapi setiap kemenangan dalam perang atas obat-obatan menghamparkan dasar-dasar bagi penaklukan berikutnya. Angka permintaan akan heroin tetaplah tinggi, dan hanya ada jumlah yang sedikit bagi suplai, sehingga harga di pasaran internasional melambung tinggi, menciptakan insentif atau dorongan yang sangat kuat bagi satu ledakan produksi di Asia Tenggara. Dapat ditambahkan di sini, Perang Vietnam telah usai, pasukan-pasukan GI yang terakhir telah pergi, dan para produsen opium di Asia Tenggara memiliki surplus produksi. Dan tiba-tiba kemudian A.S. mulai mendapatkan sejumlah pengiriman heroin secara besar-besaran dari Asia Tenggara. Maka pemerintahan Nixon melawan dan memenangkan pertempuran lain dalam perang anti obat-obatan. Dia mengirimkan tiga puluh orang agen-agen Drug Enforcement Agency (DEA) menuju Bangkok, dimana mereka mengerjakan sebuah kerja yang sangat efektif dalam hal perampasan loncatan lalu-lintas heroin menuju Amerika Serikat, mengesankan semacam tugas informal seperti biasanya. Para penyelundup kemudian mengambil jalan memutar dan mengekspornya ke Eropa, yang secara kasat mata telah menjadi wilayah bebas bagi peredaran obat-obatan selama beberapa dekade. Anda lihat, gerombolan sindikat-sindikat di Perancis memiliki sebuah perjanjian dengan pihak pemerintahan Gaullist: mereka dapat memproduksi serta mengemas heroin, tetapi mereka tidak dapat menjualnya di dalam wilayah Perancis. Dengan keluarnya sindikat French Connection dari tatanan sirkulasinya, gerombolan sindikat dari Asia Tenggara begitu bebasnya membanjiri Eropa dengan heroin. Pada akhir 1970-an, Eropa memiliki angka kecanduan atau ketergantungan akan heroin yang lebih besar dibandingkan Amerika Serikat.
Setiap kali kita secara blak-blakan mengupayakan serta membawa tongkat kepemimpinan dalam hal penegakan hukum masuk ke dalam pasaran gelap secara global, kita menciptakan juga suatu peningkatan dalam hal harga, yang pada gilirannya akan menstimulasi jumlah produksi serta perkembangbiakan secara geografis. Intervensi atau campur tangan secara langsung pada level atau tingkatan perlalu-lintasan hanya menekan para bandar dan penguasa obat-obatan untuk menciptakan jaringan-jaringan lau-lintas penyelundupan yang jauh lebih kompleks dan rumit. Hasil keuntungan atas peperangan anti obat-obatan ini adalah bahwa telah ada peningkatan sejumlah enam kali lipat produksi opium secara global semenjak dimulainya.
Sama halnya dengan kokain di Amerika Selatan. Dalam lima belas tahun kita melancarkan perang terhadap obat-obatan di Andes, produksi kokain di wilayah tersebut menjadi meningkat dua kali lipat. Sepanjang 1990-an, operasi pengejaran dalam perang melawan obat-obatan di Peru membawa CIA untuk bekerjasama dengan Vladimiro Montesinos, kepala keamanan negara di bawah kediktatoran Fujimori. Hari ini, dia adalah seorang tahanan dalam kasus korupsi, dan rekening- rekening banknya di luar negeri mencatatkan angka sejumlah seperempat milyar dolar dari hasil perdagangan obat-obatan. Dia secara sepihak telah mengkorupsi demokrasi rakyat Peru. Dan untuk setiap hektar ladang tanaman kokain yang dibawa ke luar dari Peru, satu telah ditambahkan di Kolombia. Saat ini kita menerapkan satu tekanan pada Kolombia, dan produksi di Peru telah kembali naik. Dan tentu saja keterlibatan kita secara terselubung dalam proses politik di negara-negara tersebut juga merusak proses hubungan kita dengan mereka dalam jangka panjang.
UN memiliki suatu ide, dan begitu juga Amerika Serikat, bahwa karena produksi narkotika terkonsentrasikan dalam sebuah wilayah sempit yang terbatas, kita dapat melakukan satu pukulan knockout dan telak dan kemudian mengakhiri permasalahan obat-obatan ini sekaligus dan untuk selamanya. A.S. mendukung operasi “aerial defoliation (perontokan daun atau mematikan tanaman dengan obat-obatan kimia yang disemprotkan atau disebarkan dari udara -ed).” Sementara UN mendukung upaya penggantian tanaman panenan. Tetapi mereka keduanya
menyebarkan satu kepercayaan bahwa mereka mampu melakukannya, setelah upaya yang dilakukan selama hampir satu abad, pada akhirnya membasmi serta memberantas habis praktek perdagangan narkotika. Dan hal ini adalah mungkin, dalam teori—dan terkadang di dalam realita atau kenyataan—untuk menerapkan cukup kekuatan yang bersifat memaksa untuk memberantas satu bentuk komoditas ilegal dari sebuah komunitas masyarakat. Tetapi seperti yang telah kita lihat, dalam satu masa komoditas gelap global dan aktivitas kejahatan yang terorganisasi secara transnasional, arus lalu-lintas perdagangan menggelincir ke pinggir menuju area atau wilayah-wilayah yang lain, hingga tak terbatas. Mari kita asumsikan saja, bagaimanapun, ketika A.S. dan UN dalam suatu cara memang mampu untuk mencapai kesuksesan. Mari kita bayangkan bahwa di dalam tatanan dunia yang baru ini rezim pelarangan pada akhirnya mampu untuk menghapuskan serta melenyapkan produksi opium. Hal ini akan menempatkan satu situasi yang berkebalikan dengan masa kemenangan ke dua dari program Nixon. Ketika kita turun menganggu atau mengacaukan aliran heroin dari Asia Tenggara menuju Amerika, para sindikat Meksiko mulai memproduksi cannabis atau ganja dalam jumlah yang besar untuk kemudian dikirimkan menuju Amerika Serikat. Di tahun 1975, administrasi Ford memulai program usaha pemberantasan marijuana secara massif di Meksiko dan menutup daerah perbatasan. Hasilnya adalah bahwa begitu banyak produksi marijuana yang peredarannya bergeser ke selatan menuju Kolombia, menebarkan fondasi ekonomi bagi kartel-kartel obat-obatan yang pada satu dekade kemudian berubah menjadi produksi kokain. Perubahan paling dramatis pada dekade terakhir adalah kemunculan secara global suatu jenis obat-obatan sintetis, terutama Amphetamine-Type Substances (ATS). Pada saat ini, ada sekitar 14 juta pengguna opiate (opium, candu –ed) di dunia, dan berkisar pada angka yang sama atas pengguna kokain. Tercatat ada 30 juta pemakai atau penyalahgunaan ATS. Berarti ada jumlah yang sama besar dengan jumlah pengguna opium dan kokain digabungkan. Salah satu yang menarik mengenai ATS adalah bahwa laboratorium-laboratorium yang digunakan untuk memproduksinya berada pada lokasi yang sangat dekat dengan area atau wilayah-wilayah dimana para konsumen atau pemakainya tinggal, sehingga operasi-operasi pelarangan atau pencegatan secara esensial hampir mustahil untuk dilakukan. Kita telah beranjak dari suatu bentuk jaringan yang lurus dan langsung, semacam pada jaringan French Connection, menuju satu sistem jaringan global yang kompleks dan tak terbatas yang mampu melakukan perlawanan atas intervensi yang ada. Perang melawan obat-obatan tidak secara mudah gagal atau tidak dapat berhasil; melainkan tidak produktif. Pelarangan yang diberlakukan malahan menstimulasi atau merangsang jumlah produksi yang lebih besar lagi. Setiap ahli ekonomi dapat menjelaskan hal tersebut pada anda. Jika anda mengatakan pada Bank Sentral (Federal Reserve) bahwa penyesuaian tingkat rata-rata bunga atau interest tidak memiliki dampak atas perekonomian Amerika, maka mereka akan menertawakan anda. Bahwa itulah poin atas penyesuaian tingkat rata-rata bunga atau interest. Itulah poin atau maksud adanya intervensi pada pasar. Sekalipun begitu semua agen atau para petugas penegakan hukum ini—dari DEA hingga polisi negara bagian—berpikir bahwa mereka dapat turun melakukan campur tangan ke dalam pasar gelap obat-obatan tanpa mempengaruhi perdagangan. Tidak ada yang namanya “immaculate intervension (intervensi atau bentuk campur tangan yang bersih, rapi, dan tidak bernoda -ed).” Intervensi, terutama sekali bentuk intervensi yang tidak diketahui atau tidak disadari, hanya akan membuat permasalahan yang ada menjadi semakin buruk.
DJ : Kemana kemudian semua ini menempatkan kita berkenaan dengan upaya perang terhadap obat-obatan?
AM : Saya pikir bentuk pelarangan secara substansial akan harus dirubah, ditinjau kembali, atau direvisi dalam tahun-tahun yang akan datang, meskipun juga tidak dibuang sepenuhnya. Bentuk legalisasi secara politis tidaklah dimungkinkan dalam waktu dekat ini—atau bahkan dalam waktu yang lebih lama nanti—menyebabkan upaya pelarangan tersebut dicantumkan atau disertakan ke dalam begitu banyaknya hukum atau undang-undang dari negara bagian atau dari pemerintah pusat, tidak disebutkan juga dalam perjanjian-perjanjian internasional. Benar-benar tidak ada kehendak politik untuk dapat mengurai serta membongkar segala kekusutan berkenaan dengan masalah tersebut pada titik ini.
Perdebatan yang ada saat ini bergeser dari bentuk-bentuk pelarangan menuju bentuk yang lebih pragmatis. Kita tidak lagi membicarakan tentang apakah drugs atau obat-obatan adalah moral ataukah amoral. Malahan, kita telah mulai mempertanyakan: Jalan apa yang akan berhasil? Berapa biaya yang harus dianggarkan? Drugs atau obat-obatan mungkin saja memang ilegal, tetapi proses penahanan serta pengurungan bukanlah suatu cara yang rasional untuk memperlakukan para pengguna obat-obatan. Kita akan mendengar lebih banyak negara yang mengatakan, “Marilah kita berikan perawatan pada masyarakat.” Saya pikir nantinya akan ada sebuah pergeseran yang mengarah pada peminimalisasian atas dampak kerusakan yang timbul, baik dari obat-obatan itu sendiri maupun dari upaya penegakan hukum. Dalam sepuluh tahun, saya berharap kita tidak lagi akan melihat adanya proses penahanan ataukah pengurungan bagi kepemilikan obat-obatan secara personal. Bagian dari alasannya adalah bahwa kita dapat bergerak dari penahanan atau pengurungan secara massal dan besar-besaran menuju perawatan atau pengobatan secara massal tanpa mengubah bentuk hukum atas obat-obatan ini baik secara sektoral, nasional, dan internasional. Semua yang perlu kita lakukan adalah mengubah bentuk vonis atau hukuman yang dijatuhkan dalam pengadilan.
Ledakan ekonomi tahun 1990-an sudah berakhir. Kita telah melewati jaman dot-com. Uang sekarang ini adalah nyata, dan bentuk-bentuk pilihan keuangan menjadi berat. Dihadapkan dengan sebuah pilihan antara bentuk penahanan serta pengurungan secara massal ataukah upaya edukasi secara lebih baik, manakah yang akan menjadi pilihan bagi banyak orang? Bagaimana dengan satu pilihan antara lebih banyak lagi penjara yang diperuntukkan bagi para pelanggar obat-obatan tanpa disertai tindak kekerasan kriminal ataukah resep obat-obatan yang mampu memberikan kebaikan atau manfaat bagi para penduduk dewasa? Saya pikir realitas perekonomian akan memaksa kita untuk mempertanyakan kembali apakah program-program peperangan atas obat-obatan ini memang benar-benar berhasil dan bermanfaat. Dengan referendum yang lebih menuntut adanya pengobatan serta perawatan dibandingkan proses pemenjaraan bagi para pemakai obat-obatan pemula atau pertama kali di Kalifornia, Arizona, dan Nevada, kita dapat segera melihat datangnya bentuk serta masa yang baru yang akan segera muncul.