Kumpulan Cerita Pendek
MAKAN MALAM
TyasPutri Adven Wicaksono
Photo by Christoph Oberschneider
Cerita Pendek
oleh Tyas Putri
Foto oleh
Adven Wicaksono
Tentang Kumpulan Cerita Pendek: Makan Malam
Makan malam hanyalah sebuah transisi untuk membunuh hari. Memuaskan hasrat perut untuk melemahkan mata yang berkerut. Seperti pada kumpulan cerpen ini. Membacanya singkat, layaknya makan malam yang singkat.
Projek ini merupakan kolaborasi antara Tyas Putri dan Adven Wicaksono.
Isi
- Hujan Tidak Berhenti, Kekasihku Tidak Kembali
- Makan Malam
- Pacar Ibuku
- Kekasihku Anak Tuhan
- Perkara Kebaya
- Nur dari Timur
- Kalau Sudah Sampai Rumah
- Tidak Lagi Marah
- Bapak Tukang Bakso
- Anak Tukang Bakso
Hujan Tidak Berhenti, Kekasihku Tidak Kembali
Hujan selalu hadir beberapa hari ini, seolah enggan pergi. Hadirnya jadi satu-satunya teman sejati di kala sendiri. Kekasihku juga sudah pergi, berhari-hari. Tanpa informasi kapan kembali. Ponselku sepi notifikasi, padahal pesan darinya masih ku nanti. Teringat, ucapannya sebelum meninggalkan rumahku di awal Januari, “Aku pulang dulu, jangan hubungi dulu selagi aku sama istri,”
Aku mendengus teringat ucapannya, lalu aku tidur kembali. Masih sendiri. Berharap dia datang malam ini. ***(putr)
Makan Malam
Kekasihku tidak bisa menemani makan malam kali ini. Padahal aku memasak makanan kesukaannya, Soto Daging. Kami bertengkar hebat kemarin malam, karena dia lebih memilih kembali ke istrinya daripada bertahan denganku. Perjuangan kami untuk bersama memang berat, tapi tidak kusangka, ia secepat ini menyerah pada keadaan. Padahal, selama ini namanya selalu kubawa dalam doa.
Aku sedikit menangis ketika kudapati potongan jari milik kekasihku tersangkut di sendok. Jemari yang dulunya rutin kugenggam erat, kini siap kusantap.
Kuhapus air mata di pipiku tepat ketika potongan jari kekasihku sudah masuk ke mulut. Aku harus kuat. Teringat kata ibuku, laki-laki tidak boleh menangis. ***(putr)
Pacar Ibuku rutin mengunjungi rumah kami seminggu sekali, setiap Minggu pagi. Tak lupa membawa oleh-oleh buah stroberi.
Pacar Ibuku
Pacar Ibuku rutin mengunjungi rumah kami seminggu sekali, setiap Minggu pagi. Tak lupa membawa oleh-oleh buah stroberi. Setelah basa- basi, dia bercumbu dengan Ibu di kamar sampai letih.
Tapi ada yang berbeda di Minggu pagi kali ini. Oleh-oleh stroberi tetap ia bawa, namun mereka tak mempunyai agenda beradu cumbu. Sebagai gantinya, pacar Ibuku sibuk menggulung selimut di kamar Ibu.
Sedangkan aku sibuk mengepel lantai kamarnya. Darah Ibu bececeran di lantai, sebagian berceceran di karpet.
“Buang saja karpet ini sekalian, noda darahnya susah hilang,” ujarku.
“Dibuang ke mana?” tanya pacar Ibuku. “Buang saja bersama mayat Ibu,” perintahku sambil menunjuk bungkusan selimut berisikan mayat Ibu, dan dia menyetujuinya. Ibu tak pernah tahu, saat ia masih terlelap selesai bercumbu, Pacar Ibuku diam-diam rutin mengunjungi kamarku. ***(putr)
Kekasihku Anak Tuhan
Kekasihku Anak Tuhan, seharusnya Ibu bangga akan hal itu. Kata beliau, cari pasangan harus seorang yang imannya baik. Sudah kuturuti perintahnya, segalah hal baik tentang iman dan agama ada di kekasihku. Ia seorang yang takut akan Tuhan dan rajin beribadah. Setiap Minggu dia selalu hadir ke rumah Tuhan untuk berdoa. Tapi Ibu tak kunjung merestui hubungan kami.
“Bawa dalam doa saja ya, semoga suatu saat Ibu pasti merestui kita,” pesan Kekasihku selalu, ketika aku berkeluh kesah soal Ibu.
Mengiyakan pesan dari Kekasihku, malam ini aku akan mengadu pada Tuhan. Menuntut pada Tuhan agar Ibu segera merestui hubunganku dengan sosok pilihanku.
Setelah menyucikan diri dengan air wudhu, aku bersiap bertemu Tuhan dengan mukena suciku. ***(putr)
Perkara Kebaya
Perempuan yang sudah kupuja puji beberapa bulan terakhir, hari ini akan menikah. Dengan pria yang selalu ia puja dan puji setiap waktu, tidak kenal waktu. Pria yang selalu ia banggakan itu, tapi selalu aku maki-maki dalam batinku.
Aku merasa mengenal Perempuanku ini lebih dulu, namun si Pria kebanggaannnya lebih berhasil merebut hatinya. Aku merasa lebih mengenalnya luar dalam, namun si Pria kebanggaannya lebih berhasil meyakinkan kedua orang tuanya untuk melepas Perempuanku untuk menjadi istrinya.
Salahku juga, tidak pernah mengutarakan perasaanku ke Perempuanku. Salahku juga, kenapa aku pakai kebaya di hari istimewanya ini. Bukan beskap seperti si Pria kebanggaannya itu. ***(putr)
Nur dari Timur
Namanya Nur, gadis remaja berparas tidak menarik. Tinggalnya di ujung Desa sebelah timur. Hanya tinggal seorang diri di sebuah rumah petak yang pengap. Orang tuanya sudah lama meninggal. Saudara kabarnya juga tak punya. Para tetangga seolah menganggapnya tak ada. Ia dibiarkan terasing sendiri di ujung timur desa. Warga sekitar cukup menyebutnya Nur dari Timur, semua sudah paham siapa yang dimaksud.
“Dia itu gadis aneh,” ucap Pak Kadir menyebut Nur. “Bukan, dia itu gila,” sebut Pak Wid, tidak mau kalah. “Hush, dijaga bicaranya Pak, anak sampeyan lagi hamil lho, ndak boleh bilang sembarangan,” sela Pak Kiswo menengahi pembicaraan kedua bapak itu.
“Lho bener Pak Kis, dia kalau siang sukanya nangis sendiri, kalau malem suka teriak-teriak seperti kesakitan,” lanjut Pak Wid yang rumahnya paling dekat dengan rumah Nur. Semakin menggebu-gebu “Suaranya kedengeran sampai ke rumah saya.”
“Sudah, sudah kalian ini sudah mulai ngawur, pulang sana, sudah malam ini.” Pak Kiswo akhirnya berhasil mengakhiri pembicaraan itu dan kedua bapak itu menuruti saran Pak Kiswo untuk pulang ke rumah masing-masing.
Pak Kiswo belum beranjak dari
| Pak | Wid | menyalakan | lampu | |
|---|---|---|---|---|
| kamarnya | ketika | ia mulai | ||
| mendengar | erangan | rumah | ||
| Nur. | Sewaktu | istrinya | ||
| menanyakan Pak Wid hanya menjawab dengan malas, “Halah, paling si Gadis gila | apa | yang | terjadi, | |
| itu | lagi | Bu, | sedang | kumat.” |
| Lalu | Pak | Wid mematikan | lampu | |
| kamarnya, | dan | kembali | tidur. |
tempat duduknya, masih memandangi Pak Wid dari kejauhan. dari
Ia memastikan Pak Wid sudah masuk ke dalam ke rumahnya. Begitu dilihatnya lampu di dalam rumah Pak Wid sudah padam, Pak Kiswo mulai berjalan. Pelan-pelan langkahnya seperti tidak ingin diketahui orang. Semakin pelan langkahnya begitu ***(putr) melewati depan rumah Pak Wid.
Sampai akhirnya ia sudah sampai di rumah paling ujung timur desanya, ia membuka pintu kayu yang sudah hampir reyot. Tidak sukar ia menemukan bayangan tubuh gadis meringkuk di sudut rumah petak itu. Selepas menutup kembali pintu kayu itu, perlahan ia mendekati gadis itu. Memeluk pelan seolah sudah menjalin keakraban, lalu tangannya meraba dengan gesit mulai dari dada lalu masuk ke dalam rok gadis itu.
Kalau Sudah Sampai Rumah
“Kalau sudah sampai rumah, kabarin ya,” pesannya sebelum aku menutup pintu taksi online.
| Kami | baru | saja | saling | melepas | penat | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| bersama | di | kedai | dekat | tempatku | bekerja. | |
| Dia rokoknya ketika aku datang tadi. | sudah | menghabiskan | dua | batang |
Kami menyebutnya saat-saat seperti ini adalah waktu yang berkualitas bagi kami. Mencuri waktu di tengah kesibukan kami. Hingga tiba waktunya kami harus pulang ke rumah masing-masing.
“Aku sudah di rumah.” tulisku di pesan singkat untukknya, sesuai dengan intruksinya tadi.
Tidak ada balasan darinya. Berselang lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, hingga tiga puluh menit. Aku paham, itu tandanya dia sudah tiba di rumah juga, sudah bersama istrinya. ***(putr)
Tidak Lagi Marah
Aku benci saat berdebat dengan kekasihku. Saling melempar umpatan dan makian. Sudah bisa ditebak, dia akan selalu jadi pemenangnya saat kami berdebat.
Kami baru saja berdebat hebat di dalam mobil, saat jalan pulang menuju rumah. Kekasihku terdiam saja sejak pertikaian kami berakhir satu jam lalu. Berbeda dengan biasanya, kali ini aku menjadi pemenangnya. Namun aku enggan memamerkan kemenanganku karena berhasil membuatnya terdiam. Aku yakin kini dia sedang menangis dalam diam di bangku belakang. Tapi aku tidak cukup bernyali memastikan keadaannya. Kubiarkan dia sendiri tenggelam dalam tangisannya. Air mata bercampur dengan darah segar yang mengalir dari lehernya.
Aku hentikan laju mobil di suatu tanah lapang sepi. Kubuang pistol yang tadi kugunakan untuk menepis leher kekasihku. Setelahnya, kulajukan kembali mobilku untuk pulang, membawa kekasihku yang mungkin masih sedih. Tapi setidaknya dia sudah tidak lagi marah. ***(putr)
Bapak Tukang Bakso
warung Namun sudah tiga hari ini warung bakso
| Di sebelah | kosku, | ada | bakso | ||
|---|---|---|---|---|---|
| yang | selalu | ramai | pengunjung. | Memang | |
| rasanya dari semua penjuru kota, rela antri demi | terkenal | enak. | Pelanggannya | ||
| mendapat | jatah. | Akupun | demikian, | ||
| sudah | menjadi | pelanggannya | semenjak | ||
| hari | pertama | aku | pindah | ke kos | ini. |
| Penjualnya baya yang ramah. Tinggal hanya berdua di bagian belakang warung yang mereka sulap | sepasang menjadi | suami | istri | paruh rumah. |
| itu tertutup | rapat. | Pagi | tadi akhirnya |
|---|---|---|---|
| kulihat si Bapak tukang bakso membuka | |||
| warungnya, Namun ia sendiri, si Istri belum nampak warna-warninya. | bersiap | akan | berjualan. |
Sebelum berangkat bekerja aku mampir
| ke | warungnya, | berniat | untuk | sarapan |
|---|---|---|---|---|
| bakso saja pagi ini. Kutanyakan kemana | ||||
| saja jelasnya | tiga | ini, | pulang | kampung singkat. |
hari
| Si | Bapak | tukang | bakso | memiliki | |
|---|---|---|---|---|---|
| perawakan | tambun | dan | pendek. | ||
| Senyumnya | selalu | merekah | setiap | kali | |
| melayani | pembeli. | Kaus partai | selalu | ia | |
| gunakan | saat | berjualan, | tak lupa | ia | |
| sampirkan Sementara itu, si Istri | handuk | di bertugas menjadi | pundaknya. | ||
| kasir. kutaksir usianya sudah mendekati angka | Masih | terlihat | cantik, | walau | |
| lima | puluhan. | Ia selalu | tampil | nyentrik, | |
| baju | selalu | mengikuti | mode | masa | kini. |
| Kukunya | warna-warni, | selalu | berganti | ||
| setiap | hari, | terlihat | mencolok | ketika | ia |
| menerima kembalian ke pelanggan. | uang | atau | memberi |
Kulanjutkan makanku, lebih cepat karena takut terlambat. Namun aku menyadari ada sesuatu yang menyangkut di gigiku, tidak dapat dikunyah. Ada potongan kuku warna-warni, seperti milik si Istri. Aku bergidik, kumuntahkan semua daging bakso yang sudah telanjur kutelan. **(putr)
Anak Tukang Bakso
Aku anak tunggal, terlahir dari keluarga sederhana. Bapak dan Ibuku tinggal di kota, mereka berjualan Bakso. Dari cerita Bapak, warung bakso milik keluarga kami kini kian laris. Kabar kelezatannya tersebar cepat di penjuru kota. Ada resep rahasia yang bisa membuat baksonya begitu diminati banyak orang.
Walau warung mereka cukup sukses di kota, aku tidak tertarik menyusul ke sana. Aku lebih tertarik mengelola kebun milik mendiang Kakek. Tapi aku tetap membantu orang tuaku untuk mencari penyuplai daging untuk dikirim ke kota.
Beberapa waktu lalu, aku sudah mengingatkan Bapak kalau stok daging di penyuplai langganan kami mulai menipis. Dengan santai ia hanya menjawab, “tenang saja, nanti Bapak yang akan cari jalan keluarnya.” ujarnya.
Hingga suatu malam, Bapak meneleponku mengabarkan kalau sudah dapat penyuplai daging. Saat kutanyakan, dapat dari mana daging tumbalnya.?
“Ibumu sudah ikhlas kok, nduk. Daripada Warung Bakso kita sepi lagi seperti dulu.” Jawab Bapak. **(putr)
Tyas Putri Adven Wicaksono