Baca PDF (OCR): Untuk Pendidikan Nasional, Kerakjatan dan Ilmiah

86 halaman · 86 halaman diproses dengan OCR· 136860 ms

Daftar isi
  1. PENDIDIKAN
  2. KAUM BURUH SEMUA NEGERI, BERSATULAH!
  3. Untuk Pendidikan Nasional. Kerakjatan dan Imiah!
  4. (Hasil Seminar Pendidikan UImum PKI)
  5. Jajasan PEMBARUAN"
  6. Jsnoizs sibibne9 utnU
  7. Idsimll nsb nstsplsts
  8. VAUBAMmAl
  9. rentjana kulit : nugroho
  10. Pengantar Kata
  11. Djakarta, September 1962.
  12. Djakarta, 25 Djuli 1960.
  13. Belanda.. Didalam bagian lain beliau mengatakan
  14. e. tentang alat peladjaran" jang dimaksudkan
  15. VI. Penutup
  16. Mengenai masalah pengorganisasian
  17. TINGI
  18. PENAN
  19. PEAN
  20. PENANPRA LAH
  21. Bidang usaha ..

untuk

PENDIDIKAN

nasional, kerakjatan dan ilmiah

KAUM BURUH SEMUA NEGERI, BERSATULAH!

Untuk Pendidikan Nasional. Kerakjatan dan Imiah!

(Hasil Seminar Pendidikan UImum PKI)

Jajasan PEMBARUAN"

DJAKARTA 1962

Jsnoizs sibibne9 utnU

Idsimll nsb nstsplsts

VAUBAMmAl

SAPI ATSA

rentjana kulit : nugroho

Pengantar Kata

Partai telah berhasil menjelenggarakan seminar me- ngenai pendidikan umum. Hal ini sesuai dengan ke- butuhan dan perkembangan Partai dikalangan para pendidik dan guru dan dilapangan pendidikan umum- nja. Mereka ini membutuhkan sendjata politik dalam bidangnja, karena mereka sekarang ber-sama² dengan golongan2 demokratis lainnja sedang menjiapkan ber- bagai konsepsi pendidikan dan pengadjaran berdasarkan Manipol. Perdjuangan nasional kita untuk mengalahkan impe- rialisme dan feodalisme harus dilakukan di-mana², di- segala sektor dan front, diantaranja di front ideologi, front pendidikan dan ilmu. Tanpa ini perdjuangan kita tidak mungkin lengkap dan kemenangan disektor lainnja akan diperlemah atau digerowoti kembali oleh ke- giatan ideologi² musuh² revolusi kita. Oleh karena itu sangat penting artinja barisan ideologi progresif, barisan jang terdiri dari aktivis² dan ideolog2 revolusioner jang tjukup dipersendjatai dengan garis politik dan garis teori Partai. Diharapkan hasil² seminar ini akan dapat memberikan sumbangsih kepada para guru dan pendidik untuk mendjadikan para siswanja berdjiwa Manipol sedjati. Berdasarkan keterangan tersebut diserukan kepada kaum guru dan pendidik jang berfikiran madju untuk mempeladjari hasil² seminar ini, mentrapkannja didalam praktek dan mengembangkannja hingga dapat diperkaja dengan bahan² pengalaman jang baru.

Departemen Pendidikan dan Ilmu CC PKI

Djakarta, September 1962.

UNTUK PENDIDIKAN NASIONAL, KERAKJATAN DAN ILMIAH!

(Pidato Sambutan CC PKI disampaikan oleh Kawan Jusuf Adjitorop, tjalon-anggota Politbiro CC PKI)

Kawan² jang tertjinta. Kepada sekalian kawan peserta Seminar, jang datang dari djauh maupun dari dekat, saja utjapkan atasnama Comite Central Partai Komunis Indonesia selamat datang dan selamat bekerdja dalam Seminar jang penting ini. Comite Central Partai mengharap sekalian kawan jang menjertai Seminar ini bekerdja se-baik²nja untuk mendjadikan Seminar ini suatu sukses, sebab, djika Seminar ini berhasil baik, maka arti serta pengaruhnja tidaklah akan seperti wangi parfum, jang umurnja hanja sehari-dua, tetapi seperti wangi tjendana, jang umurnja ber-tahun². Diselenggarakannja konferensi² dan seminar² chusus untuk atjara² chusus selapangan² oleh Partai menanda- kan kedewasaan Partai. Kali ini kita berkumpul dalam suatu Seminar Pendidikan Umum Partai. Ini membukti- kan bahwa kedewasaan kitapun tumbuh! Seminar ini diadakan dalam situasi nasional maupun internasional jang menguntungkan Partai dan gerakan revolusioner umumnja. Belum pernah kaum imperialis dan kaum reaksioner lainnja begitu terpodjok, terpepet dan terdjepit seperti sekarang. Kaum imperialis dan kaum reaksioner lainnja sudah benar² mendjadi pesa- kitan jang diseret kemuka pengadilan pengadilan sedjarah. Alangkah benarnja gurubesar kita Karl Marx jang mengatakan bahwa bagi imperialisme sedjarah adalah hakimnja, proletariat exekutornja. Hakim sedjarah sekarang sedang mengadili ..perkara imperialisme". Dan segala tanda menundjukkan, bahwa masa- nja tidak akan terlalu lama lagi jang proletariat akan melepaskan pisau giljotinnja untuk memenggal kepala imperialisme. Dari Tokio sampai ke Kongo. dari Ha-

vana sampai ke Hollandia, tindju Rakjat sedang meng- gebuki imperialisme. Dalam perdjuangan besar ini proletariat dan kaum Komunis memegang peranan jang menentukan. Inilah sebabnja mengapa prestise proletariat dan kaum Komunis menaik dan terus menaik, dan inilah sebabnja mengapa proletariat dan kaum Komunis makin dibentji dan makin dibentji oleh ... kaum imperialis dan kaum reaksioner lainnja. Ja, kian hari kian kentara dan kian terasa, bahwa sesungguhnja proletariat dan kaum Komurislah-seperti dikatakan Marx lokomotifnja sedjarah. Dan lokomotif ini bukan lokomotif puluhan atau ratusan dajakuda dia ratusanribu, dia bahkan djutaan dajakuda kekuatannja. Oleh sebab itu, barangsiapa mau membendung djalannja sedjarah, dia per-tama² memusuhi klas buruh dan kaum Komunis. Dan sebaliknja, barangsiapa memusuhi klas buruh dan kaum Komunis, dia mau membendung djalannja sedjarah. Tetapi sedjarah itu seperti matahari jang terbit dari Timur — bagaimana dia mau diben- dung! Orang² kerandjingan setan dan orang" gilapun tidak akan bisa membendungnja! Kawan², Djelaslah bahwa djika Partai kita mendjumpai kesukaran² dan kesulitan², kesukaran² dan kesulitan² itu bukan dibawa oleh tambah lemahnja Partai, malahan sebaliknja, kesukaran² dan kesulitan² itu dibawa oleh tambah kuatnja Partai. Memang ada orang² jang ngeri melihat peranan Partai kita dan njeri mentjium nama- harum Partai kita. Orang² demikian inilah jang dise- but Presiden Sukarno orang² jang dihinggapi .komunisto-phobia". Komunisto-phobia" mungkin bisa dimengerti oleh Eisenhower atau Van Mook, tetapi apakah Rakjat akan mengertinja? Rakjat tahu bahwa dalam perdjuangan membebaskan Irian Barat kaum Komunis sukar bisa ditjela. Rakjat tahu bahwa dalam perdjuangan membasmi DI-TII dan PRRI-Permesta" kaum Komunis sukar bisa ditjela. Rakjat tahu bahwa dalam perdjuangan melawan subversi, intervensi dan agresi kaum imperialis, kaum Komunis sukar bisa ditjela. Rakjat djuga tahu bahwa dalam perdjuangan untuk perbaikan nasib Rakjat dan untuk hak² demokrasi, kaum Komunis sukar bisa ditjela. Inilah kiranja sebabnja mengapa segala teriakan Liga Demokrasi" dan se-

gala djeritan .Pedoman", .Nusantara"..Harian Abadi" dan .,Suara Rakjat" agar Rakjat memusuhi kaum Komunis, tinggallah seperti seruannja musafir dipadang- pasir. Mungkin ada jang mendengarnja, tetapi djumlah- nja tentu ketjil sekali. .Liga Demokrasi" beserta koran² terompetnja men- djerit² se-akan² kaum Komunis .mau merebut kekua- saan". Barangkali Seminar Pendidikan ini mendjawab sendiri djeritan² mereka itu. Sedang mereka sibuk dan hirukpikuk menentang Presiden dan DPRGR chusus- nja, menentang Republik umumnja, kaum Komunis di Gedung SBKA ini membitjarakan bukan soal diktatur proletariat atau Komune Rakjat, tetapi soal pendidikan anak², putik dari kembang kebebasan kita diharidatang. Andjing menggonggong kafilah lalu, kawan²! Tetapi, sudah tentu. lalunja kafilah ini harus disertai ketabahan jang besar, ketenangan jang dikuasai, tetapi djuga se- mangat jang tinggi dan kewaspadaan jang tadjam. Kawan² jang tertjinta, Apa jang bisa dan apa jang harus kita tjapai dalam Seminar ini? Kawan Aidit selalu mengadjar kepada kita, supaja disamping bersangkutpautnja, djuga selalu diinsjafi ber- beda²nja antara program umum dan program tuntutan. Adjaran ini djuga berlaku bagi bidang pendidikan. Sudah terang bahwa achirnja jang kita tudju jalah revolusi pendidikan. Revolusi pendidikan haruslah aki- bat dan sebagian daripada revolusi politik dan revolusi ekonomi. Tidak hanja itu, Revolusi pendidikan haruslah mengabdi kepada revolusi politik dan revolusi ekonomi. Revolusi pendidikan akan berarti penjelesaian tuntutan² Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar²nja dibidang pendidikan. Program turtutan kita sekarang jalah perombakan² progresif dibidang pendidikan se- djauh mungkin. Apakah reform pendidikan itu mungkin? Reform pendidikan sama mungkinnja seperti reform politik dan reform ekonomi. Soalnja jalah bagaimana program reform pendidikan kita diperintji se-baik² dan se- djelas²nja, kemudian bagaimana bisa dihimpun kekuatan jang diperlukan. dimassa maupun di-badan² perwakilan, untuk memperdjuangkan garis jang ditetapkan dari program mendjadi kenjataan.

Reform pendidikan harus meretas djalan. revolusi pendidikan jang akan menjelesaikannja. Reform pendidikan adalah persiapan jang penting bagi suatu revolusi pendidikan. Dinegeri kita diabad ke-XX ini revolusi pendidikan bukannja belum pernah terdjadi. Sedjak tumbuhnja ge- rakan nasional di Indonesia dan terutama sedjak lahir- nja PKI sudah dilakukan usaha², baik oleh kaum Ko- munis maupun oleh golongan patriotik lainnja. untuk melawan pendidikan kolonial dari pemerintah Belanda dan mendirikan badan² pendidikan jang memberikan pendidikan anti-kolonial, seperti Sekolah² Rakjat jang didirikan oleh kader² PKI, Taman Siswa dari Ki Hadjar Dewantara, dll. Kita masih ingat bagaimana pemerintah kolonial Belanda melarang dan menindas usaha² tersebut dengan melakukan berbagai matjam tindakan reaksioner, a.l. dengan menetapkan Wilde Scholen Ordonantie". Walaupun mengalami berbagai matjam penindasan, namun usaha² tersebut telah mentjapai hasil² tertentu. Ketika petjah Revolusi Agustus jang djaja, jang se- bentar lagi kita peringati ulangtahunnja jang ke-15 itu, dilapangan pendidikanpun terdjadi revolusi. Sekalipun seperti dikatakan Prof. Jan Romein harus dituangkan air kedalam anggur. tetapi seperti dikatakan Prof. Wertheim masalahnja merupakan pertanda dari akti- visasi potensi² Rakjat dan kebangkitan umum dari ke- hausan akan pengetahuan. Revolusi pendidikan jang telah terdjadi itu telah membawa demokratisasi tertentu. Djika sebelum Perang Dunia II djumlah anak sekolah di Indonesia kuranglebih 2 djuta. maka seka- rang menurut Manifesto Politik Presiden Sukarno. djumlah ini melondjak sudah mendjadi 9 djuta. Menurut H.J. Heeren dari hasil penjelidikannja di Djakarta tahun 1953-1954, 46.4% dari mahasiswa² berasal dari anak profesor², opsir² tentara, pekerdja² merdeka. industrialis² dan pegawai² tinggi, 41,5% dari anak guru² SMA & SM. pengusaha² toko, orang² pensiunan dan bintara. dan hanja 12.1% dari anak kaum tani, guru² SR dan guru² sekolah² agama, pegawai² ren- dahan, kaum buruh dan tamtama. Sudah tentu, im- bangan prosentase ini bagi SMA, SM dan apalagi SR akan lain. jaitu agak tipis diatas dan agak tebal di- bawah. Sekalipun begitu, krisis ekonomi, birokrasi,

korupsi dan gedjala² demoralisasi lainnja membikin anak² kaum buruh, kaum tani dan Rakjat pekerdja lainnja kian hari kian sukar menuntut peladjaran di- sekolah². Ini adalah akibat dari belum tertjapainja tuntutan² Revolusi Agustus 1945. Kawan² jang tertjinta, Masalah pendidikan umum adalah masalah jang penting jang senantiasa mendjadi perhatian Partai. Sifat dan isi dari pendidikan umum mempunjai pengaruh jang besar terhadap pendidikan anak² dan pemuda² kita. Pendidikan umum nasional dan kerakjatan dapat memberikan sumbangan dalam membina anak² dan pemuda² kita mendjadi manusia² jang mengabdi kepada tanahait dan Rakjat. Sebaliknja pendidikan umum jang kolonial. anti-demokratis dan anti-Rakjat akan membikin anak² dan pemuda² kita terlepas dari Rakjat dan perdjuang- anmja. Adalah suatu kenjataan bahwa kemadjuan² dalam pendidikan umum hingga kini membawa pengaruh jang menguntungkan dalam memadjukan élmu dan kebudajaan serta meningkatkan taraf perdjuangan Rakjat Indonesia. Seminar PKI tentang Pendidikan Umum sekarang ini adalah sangat penting untuk membantu Partai lebih landjut dalam melaksanakan tugasnja menemukan dja- waban² untuk mengatasi berbagai masalah² jang timbul dilapangan pendidikan umum dewasa ini. Partai senantiasa memberikan bantuan dan dorongan dalam usaha kaum intelektuil Indonesia untuk menum- pas semua jang kolot dan lapuk serta memperkaja dan mempertinggi taraf ilmu dinegeri kita. Kawan D. N. Aidit, ketua CC PKI, dalam Laporan Umumnja kepada Kongres Nasional ke-VI Partai, memadjukan sbb.: Para guru anggota Partai, disamping harus berusaha untuk mendiadi Marxis jang baik, djuga harus mendjadi pengadjar dan pendidik tipe baru, jang ahli dalam vaknja dan ditjintai oleh para murid dan orangtua² murid". Mengenai arah perkembangan ilmu dan kebudajaan di Indonesia Program Partai menundjukkan bahwa: ,Kebudajaan Indonesia tidak seharusnja kebudajaan jang kolonial jang tidak ilmiah dan anti-kerakjatan, melainkan harus kebudajaan jang nasional, ilmiah dan kerakjatan". Sedangkan untuk mentjapai tu- djuan tersebut masih banjak rintangan jang harus di- atasi. Dalam hal ini Program Tuntutan kita antara lain

mengadjukan sbb.: .Tambah anggaran belandja untuk Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan, tambah djumlah sekolah, gedung² dan peralatan sekolah, kembalikan gedung sekolah jang dipakai untuk keperluan lain, djamin fasilitet dilapangan pendidikan bagi murid² dan mahasiswa, hapuskan uang udjian, tu- runkan harga buku² peladjaran, perbaiki nasib guru, pergiat usaha pemberantasan butahuruf, selenggarakan pertukaran kebudajaan antar-sukubangsa", dan Hapuskan pendidikan kolonial serta laksanakan pendidkan nasional jang ilmiah dan kerakjatan, dan larang subversi imperialis dilapangan kebudajaan melalui film, lektur. musik, dll. jang bersifat rendah dan merusak, tururkan padjak seniman, padjak tontonan dan padjak impor buku² ilmiah serta beri subsidi dan fasilitet kepada or- ganisasi² kebudajaan". Adalah tugas Seminar PKI tentang Pendidikan Umum sekarang ini untuk mendiskusikan dan memutus- kan perubahan² reform jang diperlukan dalam rangka pendidikan umum dewasa ini, agar pendidikan umum sungguh² bersifat nasioral dan mendjadi alat untuk memadjukan ilmu dan kebudajaan, sebagai salahsatu aspek jang penting dalam usaha untuk meningkatkan taraf- perdjuangan Rakjat Indoresia. Sudah sewadjarnja apabila kita berpangkal pada sistim pendidikan umum jang berlaku dewasa ini, sehingga dengan demikian kita dapat memahami masalah-masalah jang timbul dilapangan pendidikan umum dalam rangka keadaan negeri kita sekarang ini sebagai negeri jang belum mer- deka penuh dan masih setengah-feodal. Meskipun demikian, kita kaum Komunis, para guru anggota Partai adalah pengadjar dan pendidik tipe baru, jang tidak tjukup hanja bisa membeberkan kekurangan² jang ada dewasa ini, tetapi djuga mampu untuk mengadjukan djalan keluar dari kesulitan² tersebut, mengadjukan usul² perbaikan dalam usaha memadjukan ilmu dan kebudajaan. Sudah barang tentu usul² perbaikan ini bukanlah se-mata² ditudjukan terhadap beberapa sekolah tertentu, tetapi usul² perbaikan itu hendaknja dapat mendjadi pegangan umum bagi usaha perbaikan seluruh sistim pendidikan umum dinegeri kita. Kita ber- djuang untuk pendidikan umum jang nasional, kera':- jatan dan ilmiah.

Agar supaja Seminar ini dapat menjelesaikan peker- djaannja dengan sukses, kita mengharap hendaknja Seminar memusatkan perhatiannja kepada persoalan" jang urgen dan pokok, seperti mengenai prinsip² pendidikan, sistim pengadjaran, tjara mengadjar, serta bahan² peladjaran dalam pendidikan umum dewasa ini. Tidak dapat diungkiri bahwa disemua lapangan tersebut dari pendidikan umum masih terdapat pengaruh² kolonial dan. feodal jang anti-demokratis. Hendaknja Seminar sekarang ini dapat menemukan bentuk² kong- krit dari pengaruh² tersebut, mendiskusikannja serta menemukan djalan² untuk melenjapkannja, seperti usaha untuk mengatasi .,Hollands denken", usaha mengatasi ..pandangan tidak pertjaja pada kemampuan Rakjatnja sendiri", usaha untuk memperbaiki isi bahan peladjaran jang sering merupakan djiplakan dari buku peladjaran Belanda dulu atau sangat ketinggalan dari-pada perkembangan ilmu. Kawan² sekalian, Ketika Revolusi Agustus menggelagak, djadi ketika revolusi pendidikanpun berlangsung, kontradiksi² masjarakat lama sudah mulai melenjap. Djurang tjelaka jang ber-abad² lamanja memisahkan sekolah dari masjarakat, telah bisa didjembatani. Anak² bukan hanja beladjar sedjarah dikelas, - mereka djuga turut mem- buat sedjarah di-front² pertempuran. Anak² bukan hanja beladjar tatanegara disekolah, — mereka djuga beladjar menggunakan kekuasaan negara sebagai alat revolusi. Tetapi surutnja revolusi menggerowoti kembali djembatan jang telah dibangunkan, dan djurang jang lama itupun ber-angsur², sekalipun menjakitkan dan terkutuk, menganga kembali. Kita menudju kerevolusi pendidikan, karena kita membentji djurang antara sekolah dan masjarakat, antara teori dan praktek, antara pengetahuan dan kenja- taan, antara studi dan kerdja, pendeknja, karena kita membentji djurang² masjarakat lama. Tetapi kita bu- kannja mau mendjembatani djurang jang ada sekarang dengan menambalsulam djembatan jang telah mulai rusak, ~ kita mau membangunkan djembatan baru, lebih megah dan lebih sentosa; lebih sentosa dan lebih abadi. Djembatan itu jalah penjelesaian tuntutan² Revolusi Agustus sampai ke-akar²nja.

Seminar ini, untuk melandjutkan permisalan tersebut. berkewadjiban mengumpulkan batu dan. pasir serta se- men dan besi. agar memudahkan pendirian djembatan revolusi pendidikan kelak. Reform pendidikan penting. dan reform pendidikan harus kita lalui. Bukan dengan ilusi, bahwa reform pendidikan akan tumbuh otomatis mendjadi revolusi pendidikan, bukan, tetapi dengan ke- jakinan, bahwa satu²nja djalan jang tepat jalah melak- sanakan sembojan .,dengan PKI didepan meneruskan perdjuangan Rakjat untuk Indonesia jang merdeka pe- nuh dan demokratis", djuga dibidang pendidikan. Sekali lagi atasnama Comite Central Partai saja utjapkan selamat bekerdja kepada Seminar jang penting ini.

Djakarta, 25 Djuli 1960.

HASIL SEMINAR PENDIDIKAN (UMUM) PKI

,,UNTUK PENDIDIKAN NASIONAL, KERAK-JATAN DAN ILMIAH!"

Selama 4 hari ber-turut² Partai telah menjelenggara- kan seminar tentang pendidikan jalah sedjak tanggal 25-7 s/d 28-7-1960 digedung SBKA Djakarta. Seminar ini adalah seminar Partai jang pertama kali membitjara- kan tentang pendidikan (maksudnja pendidikan diluar Partai). Selain anggota² Partai jang datang dari ber- bagai daerah djuga diundang didalam seminar tsb. ber- bagai perseorangan jang mempunjai keahlian. Apakah tudjuannja dan urgensinja Partai menjeleng- garakan seminar tsb.? Kita pada waktu sekarang menghadapi kenjataan² sbb.:

  1. meningkatnja perdjuangan Rakjat Indonesia jaitu
    perdjuangan nasional anti-imperialis dan perdjuangan demokratis anti-feodal, membutuhkan dikembangkannja dan diluaskannja pekerdjaan revolusioner disemua front, dari front politik sampai front sosial. dari meng- himpun kaum buruh mendjadi kekuatan aksi jang me- ninggi kesedaran politiknja dan jang makin meluas ba- risannja sampai pekerdjaan mengorganisasi gerakan anak² dan kegiatan rekreasi. Dalam keadaan begitu front ideologi. front ilmu dan kebudajaan mendjadi makin penting peranannja. Barisan revolusioner bisa lebih gigih, lebih ulet. lebih berani dan lebih kreatif dalam perdjuangannja hanjalah kalau diperkuat dan diperteguh ideologinja. Front pendidikan merupakan salahsatu front jang penting dalam front ideologi ter- sebut.

  2. makin banjaknja guru² dan pendidik jang men-
    djadi anggota Partai atau simpatisan Partai, makin banjaknja pekerdjaan praktis Partai dalam lapangan

pendidikan dan pengadjaran, makin besarnja perhatian orang terhadap garis dan pekerdjaan pendidikan Partai

  • baik jang mengenai soal² praktis dan teknis maupun jang mengenai teoritis dan politik — jang hal ini semua sesuai dengan makin besarnja peranan Partai dalam pertjaturan politik.
  1. belum tjukup terperintjinja garis² teoritis, politis
    dan program pendidikan Partai jang seimbang dengan vitalitet pendidikan dan dilain fihak sudah makin me- luasnja pekerdjaan praktis kita.

  2. adanja kegiatan² dari kalangan dunia pendidikan
    untuk menjusun konsep mengenai berbagai hal dalam bidang pendidikan dan djuga kegiatan praktis lainnja. jang oleh karenanja mendjadi kewadjiban Partai untuk memberikan sumbangan dalam kegiatan dunia pendidikan ini. Mengingat itu semua maka Partai perlu mem- perintji program pendidikannja, perlu merampungkan konsep pendidikan nasionalnja jang ini semua akan berguna bagi sumbangan Partai kepada dunia pendidikan dan djuga penting bagi aktivis² pendidik. Dengan makin lengkapnja .,sendjata" mereka maka para aktivis pendidik tsb. akan lebih mampu didalam mengabdikan darma-baktinja kepada dunia pendidikan kita. Mengenai pentingnja bidang pendidikan Menilai tentang pentingnja bidang pendidikan maka ini adalah suatu bidang jang tiap² hari selama ± 5 djam menghimpun ber-djuta² anak² dan pemuda² dalam tata- sibuk berfikir di-sekolah². Hal ini sudah tentu mem- punjai pengaruh jang besar terhadap pandangan, pen- dirian dan metode berfikir para anak-didik pada ke- mudian hari. Oleh karena itu kaum pendidik/guru se- bagai tenaga pokok didalam dunia pendidikan merupa- kan kekuatan membentuk pribadi anak² dan pemuda². Oleh karenanja tepat sekali konstatasi Kw. M.I. Kalinin bahwa guru/pendidik adalah insinjur djiwa, bahwa
    .... pendidik adalah insinjur dari djiwa manusia....
    Seterusnja beliau mengatakan apa pendidikan itu? Pendidikan adalah membentuk djiwa dan moril peladjar. mempengaruhi dengan arah tertentu kepada peladjar² dalam seluruh kehidupan sekolahnja selama 10 tahun. jalah mendjadikan mereka: manusia" (pidato beliau dimuka guru² desa jang terpudji pada tgl. 8-7-1939)

Bidang pendidikan selain suatu bidang jang sangat mempunjai pengaruh terhadap pembentukan watak sang anak-didik djuga merupakan bidang jang mempunjai tugas dalam pembentukan intelek para anak² dan pemuda² kita. Oleh karena itu bidang pendidikan merupakan lapangan, merupakan ,,medan penggodokan" jang sangat penting untuk melahirkan, sebagaimana dikatakan oleh Presiden Sukarno, pemuda² kita jang bersifat patriot komplit, patriot dalam lapangan politik. patriot dalam lapangan ekonomi, patriot dalam lapangan kebudajaan, patriot dalam lapangan sosial, dsb. Hal ini lebih² menondjol kepentingannja didalam kita se- mua sedang hangat²nja untuk merealisasi Manifesto Politik dan USDEK didalam segala lapangan. Ini se- mua dalam rangka pelaksanaan tugas Rakjat Indonesia untuk menjelesaikan tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar²nja. Bagi bidang pendidikan ini berarti mendidik anak-didik dan pemuda² kita dalam semangat anti-imperialisme dan anti-feodalisme, mengikis sisa² pikiran dan kebiasaan jang diwariskan oleh masjarakat kolonial dan feodal, mempersiapkan anak-didik² kita se- tjara fisik dan mental untuk tugas²nja didalam masjarakat sekarang maupun nanti sesudah penjelesaían tuntutan Revolusi Agustus 1945. Oleh karena itu adalah sewadjarnja kalau seluruh lapisan masjarakat mendukung seruan Presiden Sukarno baru² ini jalah seruan untuk me-Manifesto-politikkan dan meng-USDEK-kan pendidikan mulai di SR sampai di-sekolah² tinggi. Seterusnja bidang pendidikan djuga mendjadi kepentingan para orangtua murid jang ingin madju dan jang mempunjai anak hingga dengan begitu bidang ini mempunjai kekuatan jang menambat hati para orangtua murid. Demikianlah masalah pendidikan umum ini kita per- soalkan dalam nisbahnja (proporsinja) jang sebenarnja. Sesuai dengan kebutuhan kita pada waktu sekarang seminar pendidikan kita jang pertama ini mempersoal- kan 4 pokok persoalan jalah: Tugas dan azas² pendidikan kita; 章Susunan pendidikan; Beberapa prinsip metodik dan didaktik; 中Paralelisme dalam pendidikan.

Tugas dan azas² pendidikan kita Pendidikan jang kita maksudkan jalah pendidikan jang terang mempunjai watak, jang mempunjai tudjuan pengabdian kepada sesuatu jalah mengabdi kepada tanahair dan Rakjat Indonesia, mengabdi kepada tjita² perdamaian dan persahabatan diantara bangsa2. Tidak kurang dari Presiden Sukarno sendiri jang didalam hal ini berpendirian supaja pendidikan dihubungkan dengan perdjuangan anti-imperialis, dengan pengabdian kepada tanahair Indonesia. Lihatlah apa jang beliau katakan didalam kuliah umum beliau pada pembukaan Studium Generale bagi gabungan mahasiswa² Bandung pada tgl. 11 Oktober 1959 jang diantaranja berbunji:
.... kita harus bertanja kepada kita sendiri: kita
beladjar ekonomi untuk apa? Kita beladjar hukum buat apa? Kita beladjar sastra buat apa? Kita beladjar teknik buat apa? Kita beladjar ketabiban buat apa? Dan lain² sebagainja. Maka djikalau kita semuanja merasa bahwa kita ini adalah putra² daripada satu bangsa jang sedang didalam revolusi jang hebat, djawaban kita tidak lain daripada djawaban : Kita beladjar sastra, beladjar ekonomi, beladjar teknik, beladjar hukum, beladjar kedokteran untuk semuanja nanti mengabdi kepada tanahair dan bangsa, mengabdi kepada tjita². mengabdi kepada realisasi daripada amanat penderitaan rakjat jang telah dikorbani oleh rakjat dengan tjara jang demikian pedihnja ber-puluh² tahun lamanja". Dengan begitu djelaslah bahwa dalam bidang pendidikan ini Presiden Sukarno menempatkan diri pada pihak jang berpendirian .pendidikan untuk mengabdi kepada tanahair dan rakjat Indonesia" jang bertentang- an dengan pendirian ,pendidikan untuk pendidikan atau ilmu untuk ilmu". Pendirian ini beliau ulangi dan beliau pertegas lagi didalam amanat beliau kepada para guru dan pedjabat² pendidikan dan pengadjaran pada hari Rabu tgl. 20-7-1960 jang lalu dimana beliau mene- kankan tentang pentingnja me-Manifesto-politikkan dan meng-USDEK-kan pendidikan di-sekolah² dari SR sampai di-perguruan² tinggi. Seterusnja untuk menun- djukkan bahwa prinsip ,pendidikan untuk kepentingan tanahair" telah mempunjai sedjarah jang lama, selaras dengan bangkitnja gerakan nasional di Indonesia, jang sedjak semula sudah mengadakan perdjuangan terha-

dap .pendidikan untuk pendidikan", jang hakekatnja merupakan pendidikan jang menguntungkan kepenting- an kaum kolonial, maka lihatlah apa jang dikatakan oleh K. H. Dewantara almarhum, seorang tokoh pen- didik terkemuka jang patriotik, dalam hubungan dengan peringatan ulangtahun ke-30 Taman Siswa Dalam pada itu hendaknja djangan dilupakan, bahwa sedjak tahun 1922 usaha Taman Siswa itu sebenarnja sudah berupa usaha nasional dan pemeliharaan tjita² revolusioner dalam segala soal pendidikan dengan meng- abaikan segala tekanan atau ikatan kolonial dari pihak

Belanda.. Didalam bagian lain beliau mengatakan

bahwa ..... Dengan begitu maka Taman Siswa me-
rupakan suatu tentara kesedjahteraan bangsa, tidak terpisah dari lain² bagian daripada perdjuangan nasional seluruhnja". Pendirian jang patriotik ini djuga tertjermin didalam keputusan Konferensi Taman Siswa pada tgl. 20 s/d 22 Oktober 1923 di Jogjakarta jang didalam menjimpulkan azas²nja diantaranja berbunji .Ps. 4. Tidak ada pengadjaran, bagaimanapun tinggi- nja, jang berguna, djika hanja diberikan kepada se- bagian ketjil orang dalam pergaulan hidup. Daerah pengadjaran harus diperluas. Kekuatan sesuatu negara jalah djumlahnja orang satu²nja. Pengadjaran Rakjat itulah satu²nja jang kita maksudkan. Kalau pengadjaran akan dipertinggi tidak boleh mengurangi luasnja daerah pengadjaran". Berdasarkan keterangan tersebut diatas maka pendidikan kita di Indonesia harus mengabdi kepada perdjuangan rakjat Indonesia pada waktu sekarang, harus dihubungkan dan harus ikut aktif didalam gelombang perdjuangan nasional revolusioner untuk menjelesaikan tuntutan Revolusi Agustus sampai ke- akar²nja. Kalau tidak, maka haluan pendidikan kita akan menjeleweng. akan melemahkan pekerdjaan revolusioner pada umumnja. Bagaimana masjarakat Indonesia sekarang?
Dalam hal ini Program PKI mengatakan ".... bah-
wa Indonesia belum merdeka penuh dan belum demo- kratis dan ini berarti bahwa pada hakekatnja Indonesia masih negeri setengah-djadjahan dan setengah-feodal".
Hal ini dibuktikan "..... Irian Barat, jaitu 20% dari
wilajah Republik Indonesia masih sadja diduduki oleh kaum kolonial Belanda, dilapangan perminjakan jaitu

BPM, Anglo-Dutch Shell, belum diganggugugat sama- sekali, perdagangan luarnegeri RI masih banjak ter- gantung pada saluran² kapitalis² Belanda, kapalselam² dan kapalterbang² Belanda melanggari wilajah Indonesia, gerombolan bersendjata masih terus dibiajai dan didalangi oleh kolonialisme Belanda, kakitangan² me- reka masih banjak jang menduduki fungsi² penting di- dalam Republik, dan bahkan dilapangan pendidikan dan kebudajaan kolonialisme Belanda masih punje pengaruh. Semuanja ini menetapkan bahwa imperialisme Belanda masih tetap merupakan musuh pertama Rakjat Indonesia. Disamping itu, imperialisme Amerika Serikat makin lama makin mendesak kedudukan Belanda dan makin mendapat kedudukan dilapangan ekonomi. solitik dan kebudajaan di Indonesia. Imperialisme Amerika ini membantu kaum imperialis Belanda di Irian Barat dengan sendjata² dan perlengkapan² lain sesuai dengan tudjuan pakt agresif Seato dan di-daerah² Republik lainnja imperialisme Amerika membantu kaum pem- berontak kontra-revolusioner 'PRRI-Permesta' djuga dengan sendjata² dan perlengkapan lain, malahan dengan instruktor², penerbang² dan tenaga² spesialis lainnja. Semuanja menundjukkan bahwa imperialisme Amerika merupakan musuh Rakjat Indonesia jang paling berbahaja. .Diterimanja Undang² Penanaman Modal Asing oleh Parlemen, sekalipun ditentang keras oleh PKI, berarti dibukanja pintu Indonesia untuk masuknja dan diper- kuatnja pengaruh politik dan ekonomi negara² imperialis. ..Sisa² feodalisme di-desa². baik dalam bentuk mono- poli tanah oleh tuantanah, dalam bentuk sewa-tanah jang berwudjud barang dan kerdja, maupun dalam bentuk hutang² jang menempatkan kaum tani dalam kedudukan budak terhadap lintahdarat dan tuantanah. masih terus berlaku." Karena masih bertjokolnja sistim tuantanah di-desa² maka adalah wadjar kalau pembawaan tuantanahisme di-desa² dalam lapangan kebudajaan masih tebal. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banjaknja butahuruf dikalangan kaum tani, masih terbelakangnja tingkat pengetahuan umum dan kebudajaan kaum tani, masih

tebalnja tachajulisme di-desa². masih banjaknja penjakit² Rakjat di-desa² dan masih rendahnja pengobatan dan kesehatan Rakjat di-desa². Pengaruh dan kedu- dukan imperialisme, terutama imperialis Amerika dalam lapangan kebudajaan dan ilmu masih kuat, diantaranja jang menondjol dilapangaa film, dilapangan musik, dilapangan perguruan tinggi, dilapangan sastra jang be- rupa masih tersebarnja buku² dan madjalah² tjabul/ kriminil dan unsur² dekaden burdjuis lainnja. Dalam pendidikan disamping adanja usaha jang luas untuk memberikan unsur patriotisme dan usaha meluaskan kesegala pelosok, tetapi karena masih sangat terbatas- nja sjarat² materiil, masih bertjokolnja birokrasi, masih simpang-siurnja sistim dan tiarakerdja, maka belum terdjawab kebutuhan pendidikan dari Rakjat. Seterusnja program PKI mengatakan .Djika Indonesia mau madju dari suatu negeri setengah-djadjahan dan setengah-feodal mendjadi negeri merdeka, demo- kratis, makmur dan madju, maka adalah soal jang pokok, diatas se-gala²nja. menjelesaikan tuntutan² Re- volusi Agustus 1945 sampai ke-akar²nja, dengan men- dirikan suatu pemerintah jang dibangun atas demokrasi jang mengenai semua lapangan dibawah pimpinan klas buruh, suatu Pemerintah Rakjat, pemerintah demokrasi tipe baru, pemerintah Demokrasi Rakjat". Djika pemerintah sematjam itu sudah terbentuk maka program kebudajaan jang harus dikerdjakan jalah .Kebudajaan Indonesia tidak seharusnja kebudajaan kolonial, jang tidak ilmiah dan anti-kerakjatan. Kewadjiban beladjar jang tjuma² diadakan bagi anak² laki² maupun perem- puan sampai umur 13 tahun. Pekerdjaan para sardjana dan seniman dibantu dan dikembangkan. Semua suku- bangsa berhak memakai bahasa daerahnja di-sekolah², dipengadilan dan dimana sadja, disamping mengguna- kan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. Mengadakan sistim kesehatan Rakjat dengan pusat² pengobatan dan rumah-sakit² jang luas, termasuk balai² kesehatan bagi wanita hamil dan anak². Mengambil tindakan² untuk memberantas dan mele- ajapkan sumber² malaria, kolera, disentri dan penjakit² menular lainnja". Seterusnja program tuntutan PKI diantaranja ber- bunji sbb.:

a.Tambah anggaran belandja untuk Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan, tambah djumlah sekolah, gedung² dan peralatan sekolah. kembalikan gedung² sekolah jang dipakai untuk ke- perluan lain, djamin fasilitet² dilapangan pendidikan bagi murid² dan mahasiswa, hapuskan uang-udjian. turunkan harga buku² peladjaran, perbaiki nasib guru, pergiat usaha pemberantasan butahuruf, se- lenggarakan pertukaran kebudajaan antara suku- bangsa.
b. Hapuskan pendidikan kolonial serta laksanakan pendidikan nasional jang ilmiah dan kerakjatan, dan larang subversi imperial's dilapangan kebudajaan melalui film, lektur, musik dll. jang bersifat rendah dan merusak, turunkan padjak seniman, padjak tontonan dan padjak import buku² ilmiah serta beri subsidi dan fasilitet kepada organisasi² kebudajaan. Mengenai situasi pendidikan sekarang memang di- satu pihak terdapat usaha² dalam dunia pendidikan untuk menanamkan unsur² patriotisme dalam pendidikan dan adanja usaha² tertentu untuk memperluas usahanja kesegala pelosok, tetapi dipihak lain karena masih sangat terbatasnja sjarat² materiil dan finansil, masih bertjokolnja birokrasi, masih bersimpang siurnja sistim dan tjara kerdja, maka ini semua belum mendja- wab kebutuhan dan kehausan jang me-njala² dari pe- muda² dan Rakjat umumnja akan pendidikan. Dalam hal ini sebagai illustrasi dapat digambarkan dengan angka² sbb., (angka² ini banjak jang merupakan ke- djadian² 2 tahun jl., tetapi jang tidak djauh berbeda dengan keadaan sekarang). Mengenai AB untuk KPPK maka djika pada tahun² jl. AB untuk Kementerian ini mengalami kenaikan persentasenja meskipun suatu kenaikan jang amat sangat tipis, misalnja dari 6.35% pada tahun 1957 mendjadi 6,40% pada tahun 1958, maka pada tahun 1959 hal ini turun mendjadi 5.92% dan untuk tahun 1960 turun lagi mendjadi hanja 4,90%. Penurunan ini dalam keadaan dimana harga barang² makin meningkat jang menurut statistik rata² harga barang pada achir Mei 1960 mengalami kenaikan 382% dibandingkan dengan tahun 1953. Oleh karena itu tidak anch kalau dalam hal ini timbul kontradiksi jang makin

tadjam jalah disatu pihak makin besarnja nafsu bela- djar Rakjat dan pemuda² tetapi dilain pihak makin merosotnja kemampuan pemerintah didalam membajai usaha² pendidikar dan kebudajaannja. Mengenai PBH menurut angka² Djawatan Pendidikan Masjarakat Pu- sat maka pada tahun 1958 di Indonesia dari penduduk jang berumur 13 tahun keatas sebanjak 56.752.886 masih ada 25.041.106 jang masih butahuruf atau 44%. Dalam hal ini terdjadi djuga penurunan jang berupa lulusan djumlah PBH jang djika pada tahun 1957 meng- hasilkan 1.152.140 maka untuk tahun 1958 hanja sebanjak 568.321. Dalam rangka memperluas batjaan untuk Rakjat ini maka perpustakaan negara jang dimiliki oleh KPPK hanja ada 1.681 buah dengan djumlah buku

989.486 buah. Mengenai keadaan SR dapat dite- rangkan sbb. Menurut angka² statistik KPPK pada tahun 1957 maka di Indonesia pada tahun 1957 terdapat
34.830 buah SR dengan 154.934 guru dan dengan
7.336.536 murid termasuk SR partikelir. SR² ini seba- gian besar sekali gedung²nja tidak memenuhi sjarat². Mengenai pendidikan kedjuruan pemerintah berpenda- pat bahwa ber-angsur² pendidikan akan dititikberatkan kepada pendidikan kedjuruan sesuai dengan kebutuhan pembangunan negara. Mengenai prinsip penitikberatan pendidikan pada pendidikan kedjuruan dapat kita se- tudjui. Menurut keterangan pemerintah sendiri maka djika pada tahun 1957 perbandingan pembiajaan dan usaha pemerintah antara pendidikan umum dengan kedjuruan ada 4: 1 maka untuk tahun 1960 hal ini sudah mentjapai perbandingan 2:1. Seterusnja diharapkan achirnja akan mentjapai perbandingan 3: 7. Mengenai keadaan pendidikan teknik maka menurut angka tahun peladjaran 1957/1958 di Indonesia hanja terdapat 495 sekolah² teknik dari segala matjam teknik baik negeri maupun partikelir dengan djumlah peladjar sebanjak
57.599 orang. Mengenai Perguruan Tinggi di Indonesia sekarang terdapat 7 Universitas dan 1 Institut Teknologi negeri dengan 42 fakultas. Disamping itu masih terdapat 27 buah universitas atau perguruan tinggi partikelir. Djumlah mahasiswa universitas dalam tahun peladjaran 1956/1957 ada sebanjak 27.921 untuk negeri dan 4.580 untuk partikelir atau semuanja ada sebanjak 32.501 orang mahasiswa. Disamping itu masih ada lagi 16 buah akademi negeri maupun partikelir jang

diselenggarakan oleh berbagai kementerian pada achir tahun 1957. Begitulah sekedar illustrasi jang berupa angka² mengenai keadaan pendidikan di Indonesia sekarang, jang tidak begitu menggembirakan djika di- bandingkan dengan pentingnja bidang pendidikan dan kehausan beladjar dari Rakjat dan pemuda² kita. Keadaan pendidikan jang suram ini ditambah lagi dengan masih miskinnja perundang-undangan dan tata- kerdja dalam bidang pendidikan dan pengadjaran sekarang ini. Satu²nja UU pemerintah mengenai bidang pendidikan jang kini ada hanja UU no. 12 tahun 1954 jang memberlakukan UU no. 4 tahun 1950, jang berisi pokok² pendidikan, tetapi jang isinja masih sangat garis besar, tidak lengkap dan tidak sesuai lagi dengan per- kembangan tanahair sekarang ini. Seterusnja dengan masih bertjokolnja birokrasi didalam aparat² pemerintah sangat menghambat djalannja usaha dan pembiaja- an jang sudah sangat ketjil itu, misalnja ber-tele²nja prosedur otorisasi, prosedur pengangkatan pegawai. dsb. Keadaan jang suram ini ditambah lagi dengan belum tjukup diperbaruinja rentjana peladjaran dan buku² peladjaran terutama di-perguruan² tinggi. Kalau keadaan pendidikan di-sekolah² masih begitu suram maka apalagi mengenai pendidikan diluar sekolah dimana pemerintah hanja mampu menjelenggarakan PBH. sekedar perpustakaan, sekedar subsidi untuk kepanduan dan perhatian untuk olahraga jang belum merata. Dirumah dan diluar rumah anak² dan pemuda² kita sebagian besar sekali ditelan oleh film, oleh batjaan jang peda- gogis sebagian besar kurang dapat dipertanggungdja- wabkan, oleh tachajulisme dan oleh kegiatan² lain jang asal ber-main² dan mentjari hiburan. Demikianlah selintas kilas keadaan masjarakat dan keadaan dunia pendidikan Indonesia pada waktu sekarang. Djika seluruh Rakjat sekarang bangkit untuk me- lemparkan segala sisa² kolonialisme dan feodalisme di- tanahair kita maka dunia pendidikan harus ikut ambil bagian terutama dengan sasaran untuk membongkar keadaan pendidikan jang suram itu, untuk memberikan djawaban kepada tantangan kehausan pengadjaran dan pendidikan dari Rakjat dan pemuda² chususnja. Pendeknja dunia pendidikan harus ikut ber-lomba² membantu Rakjat Indonesia untuk menjelesaikan tun-

tutan Revolusi Agustus sampai ke-akar²nja. Djadi tegasnja pendidikan kita haruslah bertugas untuk ikut ambil bagian didalam penjelesaian tuntutan Revolusi Agustus sampai ke-akar²nja, untuk menjelesaikan revolusi nasional anti-imperialis dan revolusi demokratis anti-feodal.

Bagaimana mengenai dasar atau azas² pendidikan kita? Pendidikan kita bertugas untuk mendjadikan anak² dan pemuda² kita mendjadi manusia atau untuk meng- antarkan anakdidik² kita kealam kedewasaannja, untuk mendjadikan manusia tipe baru, manusia harapan ibu pertiwi, manusia pembangun haridepan jang ba- hagia, manusia jang melawan segala kekolotan dan keterbelakangan, manusia jang melawan segala jang usang. manusia jang berguna untuk masjarakat baru tidak hanja didalam bidang politik dan ekonomi, tetapi djuga dalam bidang teknik dan kebudajaan. dalam moral dan etik, pendeknja untuk membentuk manusia Indonesia jang patriotik atau manusia patriot komplit. Seterusnja mendidik manusia bulat bukannja seperti jang dimaksudkan oleh kaum pendidik burdjuis jalah untuk mendjadikan manusia ,,ahli serba mamou" dengan djalan memberikan kepada peladjar² sebanjak mungkin ilmu jang didalam prakteknja achirnja hanja bersifat setengah² dan intelektualistis, menugaskan kepada anakdidik untuk mempeladjari dan menghafalkan se-banjak²nja buku, dengan memisahkannja dengan per- djuangan tanahair, dengan kerdja produktif, dengan massa. Dalam hal ini Karl Marx mengatakan .,bagi anak² jang sudah sampai umur tertentu, pendidikan se- demikian akan memadu kerdja-produktif dengan pendidikan ketjerdasan dan pendidikan djasmani. Ini bu- kan sadja menambah produksi masjarakat, melainkan satu²nja tjara djuga untuk mengasuh manusia jang berkembang all round". Seterusnja Kw. Mau Tje-tung mengatakan: ,,Politik pendidikan kita harus memung- kinkan setiap orang jang mendapatkan pendidikan untuk madju dalam moral, ketjerdasan dan djasmani serta mendjadi pekerdja kebudajaan dan berfikiran sosialis". Untuk dapat mengantar anakdidik kita kealam-dewasa- nja atau untuk mendjadikan mereka manusia patriot komplit maka pendidikan perlu berpangkal kepada su-

atu azas pendidikan jang setjara berentjana, sistimatis dan pedagogis dididikkan kepada anakdidik kita, suatu azas pendidikan jang berpangkal kepada 5 prinsip atau pantja tjinta. Pertama, adalah mendidik mereka untuk mengenal dan mentjintai tanahzir Indonesia. Isi pokok tanahair Indonesia jalah Rakjat, tetapi tanahair Indonesia djuga mempunjai segi² lainnja, keindahan alamnja. sedjarah ekonomi dan kebudajaannja. Hanja dengan mengenal jang baik dan mendalam kita bisa bersikap tepat dalam mentjintai dan membentji; mentjintai dan mengembangkan hal² jang baik dan membentji dan membuang hal² jang buruk. Kita bisa menjelesaikan Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar²nja dan diatas penjelesaian itu kita bisa membangun masjarakat sosialis di Indonesia. sesuai dengan sedjarah dan sjarat² chusus Indonesia. hanjalah kalau kita mengenal dengan baik dan mentjintai tanahair Indonesia, hanjalah kalau patriotisme tertanam dalam didalam dada dan fikiran anak,² pe- muda² dan massa luas. Prinsip jang kedua. Penjelesaian tuntutan Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar²nja akan lebih tjepat ter- tjapai kalau Rakjat makin tinggi taraf ilmu dan kebudajaannja. Djuga Indonesia jang sosialistis, Indonesia baru jang bahagia bagi Rakjat tak mungkin diwu- djudkan hanja oleh otak dan tangan jang me-njala² samangat revolusionernja sadja, tetapi harus oleh mereka jang me-njala² semangat revolusionernja dan diu- ga jang tjakap dalam berbagai ilmu pengetahuan dan jang mempunjai kebudajaan jang lebih tinggi. Oleh karena itu merupakan prinsip pendidikan jang penting untuk mentjintai ilmu, dimanapun ber-lomba² untuk me- ngedjar dan mengembangkan ilmu, dalam keadaan ba- gaimanapun djuga berp:djak kepada pemikiran setjara ilmu. Dari mana sumbernja ilmu dan untuk apa ilmu ditemukan? Alam Semesta kita penuh mengandung hukum² ilmu pengetahuan jang tak terbatas. Sebelum manusia ada hukum² alam telah ada, tetapi hukum alam ini belum merupakan ilmu karena manusialah jang me- ngenalnja, jang merenungkannja, jang menjimpul- kannja dan achirnia jang merumuskannja. Mula² ditemukan berbagai ilmu jang rendah tingkatannja dan berarigsur-angsur manusia menemukan, merumus- kan lebih sempurna dan menjimpulkan hukum² ilmu

tsb. sampai jang serumit-rumitnja dan jang se-pelik²nja. Perkembangan ilmu ditentukan oleh manusia berdasarkan praktek kerdja mereka dalam mengadakan kontak langsung atau tidak langsung dengan fakta² dan realitet alam serta perkembangannja, terutama dalam hubung- annja dengan proses produksi. Perkembangan ilmu makin lama makin rumit, makin pelik, makin komplex dan akan berkembang terus, karena perkembangan ilmu mempunjai sifat jang tak terbatas. Dan perkembangan ilmu ini makin tjepat setelah manusia mulai mengguna- kan Marxisme sebagai sendjatanja. Apa sebab? Per- tama² karena kekuatan ilmu jang dimiliki oleh Marxisme itu sendiri. Marxisme atau Sosialisme ilmiah, sebagai teori proletariat untuk mewudjudkan pernjataani kepentingan ideologinja jalah Sosialisme dan seterusnja Ko- munisme, adalah sepenuhnja bersifat ilmiah, hasil pe- mikiran dan pengalaman praktek revolusioner selama ber-puluh² tahun dari para zeni Marx dan Engels, dan dikembangkan serta diperkaja oleh tokoh² Marxis ter- kemuka seperti Lenin, Mau Tje-tung, dsb. Berbeda dengan ilmu² lainnja maka ilmu Marxisme sudah mem- buang segala unsur² idealis dan metafisik jang t'dak ilmiah dan mendjadi penghambat kemadjuan ilmu. Kedua, dalam masjarakat jang berklas, ilmu mengabdi kepada klas jang berkuasa dan djika klas jang berkuasa tsb. merasa kepentingannja dan kedudukannja teran- tjam oleh perkembangan sesuatu ilmu maka dia akan berbuat segala sesuatu untuk menghalangi kemadjuan ilmu tsb. Ketiga, dinegara jang berdasarkan Marxisme. dimana sudah tidak terdapat klas penghisap lagi, tidak terdapat kepentingan lagi untuk menghambat atau menghantjurkan sesuatu ilmu, malahan sebaliknja segala sjarat dan kemungkinan dibuka se-lebar²nja untuk perkembangan ilmu sebagai sjarat penting guna me- menuhi kebutuhan hidup jang maximum bagi manusia, baik materiil maupun spirituil. Oleh karena ilmu berkembang terus maka kita tidak boleh bersikap konser- vatif terhadap ilmu termasuk jang exacta — menganggap bahwa ilmu bersifat langgeng tak berobah. Dalam mempersoalkan ilmu perlu ditjegah adanja sek- tarisme dalam ilmu, beratsetelahisme dalam ilmu jalah jang menganggap segala ilmu jang berasal dari masjarakat lama atau dari duna kapitalis selalu salah dengan

tidak mengadjukan apa dan dimana salahnja. Kita harus bersikp kritis dan bersikap ilmiah terhadap segala matjam ilmu dari manapun datangnja. Mempeladjari ilmu tidak boleh untuk ilmu se-mata², tetapi mesti untuk mengabdi sesuatu, jalah ilmu untuk Rakjat, untuk tanah- air, untuk revolusi. Ilmu mesti mengabdi kepada praktek, harus memperkuat dan mempersendjatai praktek, dan kebenaran ilmunja harus diudji didalam praktek. Ilmu ditemukan oleh dan dikembangkan oleh manusia karena manusia membutuhkannja untuk memperbaiki taraf hidupnja, untuk mendjaga keselamatannja. Djadi karena perkembangan ilmu sangat tergantung dari manusia maka memisahkan ilmu dari kepentingan manusia adalah perbuatan jang djahat, perbuatan tidak berilmu dan merusak perkembangan ilmu. Djadi mentjintai ilmu tidak mungkin dipisahkan dengan mentjintai manusia, karena manusialah pentjipta ilmu. Mengenai prinsip jang ketiga jalah suatu hal jang prinsipiil dan sangat mendesak bagi tiap manusia di- seluruh dunia jalah masalah perdamaian dunia dan persahabatan antara bangsa². Adalah sesuatu jang sangat luhur untuk mentjintai dan berdjuang untuk perdamaian dan persahabatan antara bangsa², untuk mentjintai sesama manusia dari negeri manapun djuga, dengan tidak memandang sistim sosialnja. Adalah suatu kedjahatan untuk merusak tiinta-kasih antara sesama manusia. Adalah sesuatu kedjahatan untuk membenarkan pendjadjahan terhadap bangsa² lain. Adalah sesuatu kedjahatan, sesuatu jang tidak bermoral untuk membenarkan pembedaan karena warna kulit. Adanja perdamaian dan persahabatan antara bangsa² jang kekal dan abadi adalah djaminan untuk lantjarnja pembangunan sosialis, adalah djaminan untuk adanja saling mengerti dan saling membantu dalam lapangan ekonomi dan kebudajaan antara bangsa². Mentjintai perdamaian dan persahabatan antara bangsa² adalah prinsip jang penting dalam dunia pendidikan. Jang keempat jalah tentang pentingnja mendidik anak² dan pemuda² kita kepada tjinta kerdja dan Rakjat jang bekerdja. Sedjak masjarakat terbagi dalam klas² penghisap dan klas² jang dihisap maka terdapat perbedaan antara kerdja-otak dan kerdja-badan. Klas² penghisap berke- pentingan untuk mempertahankan dan memperbesar

perbedaan ini. Kerdja-otak dianggapnja jang paling mulia dan jang paling menentukan, jang hanja dimono- poli oleh klas² penghisap, sedang kerdja-badan adalah hina jang dilakukan oleh lapisan massa Rakjat pekerdja jang luas. Oleh karena itu didalam dunia pembangunan watak mengenai hal ini memang terdapat dua pendirian jang satu sama lain bertentangan. Pihak jang satu jalah jang setjara terang²an ataupun tidak berpendirian dan berusaha untuk mewudjudkan dalam dunia pendidikan jang berupa ,,peng-agung²an terhadap radja² wang", peng-agung²an terhadap radja tuantanah jang sutji", peng-agungan terhadap radja² ilmu jang arif dan bidjaksana" dan sebaliknja merendahkan terhadap kerdja terutama kerdja kasar dan se- terusnja dengan sendirinja merendahkan dan menghina kepada Rakjat jang bekerdja. Bagi mereka Rakjat jang bekerdja kasar kewadjibannja hanjalah untuk diperin- tah, untuk bekerdja atas dasar perintah oleh manusia² jang ..agung" tsb. Hal ini dalam masjarakat kita misal- nja tertjerminkan dalam keinginan orang² tua untuk me- njekolahkan anak²nja supaja mendjadi prijaji. idam²an- nja supaja anak²nja mendjadi pekerdja halus", jang hakekatnja pikiran ini merendahkan kerdja-badan dan merendahkan peranan massa Rakjat pekerdja. Oleh pendidikan kolonial ide jang buruk ini dengan segala matjam djalan ditanamkan dalam² kepada para anakdidik. Dilain pihak, termasuk kita kaum Komunis, ber- sikap dan bertindak sebaliknja. Kita harus mengikis habis sisa² pendidikan kolonial tsb. jang masih terdapat dalam lembaga² pendidikan kita. Anakdidik² kita harus kita didik untuk menghormati dan mentjintai kerdja dan Rakjat pekerdja. jalah kreator jang sesungguhnja dari segala nilai² materiil dan spirituil jang kita butuh- kan. Tjinta kerdja djuça penting dalam rangka pembangunan semesta, dalam rangka pembangunan Indonesia jang makmur dan bahagia. Siapakah pembangun² tsb. kalau bukan Rakjat jang bekerdja dan mereka jang ber- moral tjinta kerdja? Mengenai masalah jang kelima. Tiap² orang muda akan mendjadi dewasa dan berkeluarga dan umumnja lalu mempunjai anak. Tiap² orang mentjintai anak²nja dan begitu sebaliknja anak² mentjintai orang tuanja. Tjinta-kasih timbalbalik antara kedua belah pihak ini

adalah merupakan kebutuhan keselarasan hidup dari tiap² manusia dalam keseluruhan hidupnja. Pendidikan kita djuga harus bertugas untuk membantu tiap² manusia mempunjai keselarasan hidupnja didalam rumah tang- ganja, mendidik anak² dan pemuda kita untuk mentjintai dan membantu pekerdjaan orangtuanja. Sebaliknja perlu diusahakan supaja tiap² orangtua membantu dunia pendidikan supaja anak² mereka men- djadi anak² jang baik sesuai dengan tugas² pendidikan nasional kita. Lima azas ini meskipun berdiri sendiri² tetapi saling berhubungan dan saling membantu, oleh karenanja merupakan sesuatu jang tak terpisah tetapi satu atau merupakan satu rangkaian. Seterusnja selain berpedoman kepada lima azas pendidikan tsb. sebagai garis moral jang pokok, maka azas² pendidikan nasional kita djuga perlu menanamkan perintjian garis moral dan garis etik dari manusia patriot komplit, garis moral dari Rakjat dan klas buruh, baik didalam kehidupan pendidikan di- sekolah² maupun dirumah dan didalam masjarakat, kepada hati sanubari anak² dan pemuda² kita. Garis moral dan etik jang baik, sifat² dan kebiasaan jang baik jang dimaksudkan disini jalah seperti radjin beladjar dan bekerdja, suka menolong kepada teman sekolah atau teman ber-main², beran² tetapi tidak nakal, terus terang, peramah, mendjaga kebersihan, sifat² beladjar/bekerdja dan ber-main² setjara kolektif dsb. Sifat² jang baik ini supaja dimasak dan ditanamkan melalui pendidikan di- sekolah, melalui didaktik dan metodik, melalui rentjana peladjaran. melalui kegiatan² olahraga dan kesenian, melalui kehidupan dirumah, melalui pergaulan didalam masjarakat, melalui usaha² rekreasi, dsb. Seterusnja kelima azas pendidikan tersebut selain di- tuangkan dan diperintji melalui pendidikan ilmu dan pendidikan watak djuga mesti disalurkan melalui pendidikan estetika dan pendidikan djasmani. Pendidikan estetika atau pendidikan tjinta keindahan penting ka- rena istana Indonesia bahagia jang kita perdjuangkan bukannja istana biasa tetapi istana jang indah, jang berkebudajaan tinggi. Ini tidak mungkin tanpa pem- bangun² jang mengenal dan mentjintai keindahan. Rasa tjinta indah mempertebal dajatjipta. Indah jang dimaksudkan disini jalah indah jang tidak merintangi atau

menghambat tugas² politik dan perdjuangan kita, jang sebaliknja djustru memberikan bentuk jang lebih indah kepada politik hingga ,dajatempurnja" akan lebih hebat. Mengenai pendidikan djasmani penting diberikan de- ngan tudjuan untuk memperkuat dajatahan Rakjat. untuk memperkuat dan memperbaiki keadaan physik Rakjat, untuk memperkuat dajakreasi mereka. Demikianlah mengenai bab pertama jalah bab jang mengenai apa sebabnja seminar diadakan dan jang mengenai tugas serta azas² pendidikan kita.

SUSUNAN PENDIDIKAN

Didalam kita mempersoalkan masalah susunan pendidikan ini kita berpidjak kepada soal² pokok sbb.:

  1. susunan pendidikan jang kita harapkan bukannja se-mata² menurut apa jang baik sadja, tetapi djuga menurut apa jang mungkin terlaksana pada waktu sekarang.
  2. bagaimana dapat menjusun suatu susunan pendidikan jang dapat mempertjepat proses studi para peladjar tetapi dilain pihak dimana peladjar² keluar dari sekolahnja sudah dipersendjatai dengan suatu kebulatan peladjaran jang dapat mereka pakai se- bagai sendjata untuk terdjun kedalam masjarakat. Oleh karenanja keseluruhan susunan pendidikan perlu dibagi kedalam unit² tertentu sesuai dengan kebutuhan peladjar dan kebutuhan negara dan masjarakat.
  3. bagaimana dapat memberikan unsur² demokratis jang tjukup hingga susunan pendidikan tersebut dapat berfaedah bagi massa luas.
  4. ber-angsur² dan berentjana mendjuruskan titik-berat pendidikan kepada pendidikan kedjuruan jang me- liputi berbagai vak jang sesuai dengan kebutuhan negara dan masjarakat.
  5. susunan pendidikan ini dan rentjana peladjarannja supaja dapat sedjauh mungkin menghubungkan pendidikan dengan praktek, dengan kehidupan masjarakat, hingga dengan begitu peladjar² jang telah menjelesaikan studinja tidak begitu tjanggung lagi dan akan mudah untuk menjesuaikan dirinja dengan keadaan masjarakat.
  6. perlu diusahakan sedjauh mungkin adanja koordi- nasi dan kerdjasama antara Departemen satu dengan lainnja, antara instansi satu dan lainnja jang menjelenggarakan sekolah atau akademi², hingga dengan begitu akan dapat lebih rasionil didalam

menggunakan biaja, peralatan, tenaga, didalam me- njusun rentjana-peladjaran, mutu-peladjaran, dsb.

  1. mengingat bahwa pendidikan swasta merupakan pendidikan jang wadjar dan penting dalam pendidikan nasional maka diusahakan supaja pendidikan swasta bisa membantu tugas² pendidikan pemerintah jang patriotik. Berpangkal kepada ini semua maka susunan pendidikan pada pokoknja dibagi dalam 3 bagian jang pokok. Bagian jang pertama dinamakan pendidikan pra-sekolah, jang mentjakup anak² mulai lahir dari kandungan ibunja sampai umur 7 tahun. Djadi prinsipnja pendidikan sudah diberikan sedjak manusia lahir. Bidang pendidikan ini dibagi dua jalah pertama pendidikan jang meliputi anak² sampai umur 5 tahun. Pendidikan dalam bagian ini pokoknja merupakan pendidikan djas- mani, pendidikan untuk mendjaga kesehatan dan per- tumbuhan tubuh sang anak. Ber-main². mendengarkan tjerita dsb. djuga merupakan bentuk pendidikan bagi anak². Tempat² penitipan kanak², tempat² konsultasi baji dan anak adalah udjud² dimana pendidikan bagi anak² tsb. diadakan. Pendidikan ini terutama mendjadi tanggung djawab Departemen Kesehatan. Mengingat sjarat² materiil dan personil di Indonesia sekarang ini dan keadaan sosial ekonomis dari Rakjat Indonesia sekarang ini maka pendidikan untuk anak² dalam umur tsb. belum mungkin banjak diharapkan. Pendidikan pra-sekolah bagian keduz jalah pendidikan di Taman Kanak² (TK). Lamanja 1 atau 2 tahun dan terbuka bagi anak² laki maupun perempuan. Suatu bidang pendidikan jang belum berstatus sekolah. Dilihat dari sudut kepentingan pendidikan anak² TK perlu dimasuki oleh semua anak². tetapi mengingat kemampuan kita seka rang maka hal itu belum mungkin dapat dilaksanakaa sekarang. Oleh karena itu untuk memasuki TK maka untuk tingkat sekarang baiklah merupakan seruan ter- lebih dulu. Konsekwensi dari pentingnja pendidikan di TK² perlu diperluas dan diandjurkan kepada masja- rakat untuk mendirikan TK² di-mana² dengan tidak perlu terlalu mementingkan sjarat materiil untuk ada- nja TK jang sempurna. Djuga diharapkan supaja pemerintah djuga mendirikan TK² negeri. Djadi djangan sampai seperti sekarang ini dimana pemerintah menga-

kui pentingnja pendidikan di TK dan mempropaganda- kannja serta mempunjai sekolah Guru Taman Kanak² (S.G.T.K.) tetapi sampai sekarang tidak mempunjai TK negeri. Kita berpendapat nama dari tempat pendidikan ini sebaiknja bukan Sekolah Taman Kanak² (STK) tetapi Taman Kanak² (TK). karena memang belum merupakan pendidikan disekolah. Seterusnja apa jang diberikan di TK tidak merupakan mata-peladjaran jang mengikat, jang diberi nilai, jang dapat menentukan bisa tidaknja meneruskan ke SR. Lamanja 1 atau 2 tahun tergantung dari sjarat² jang ada pada suatu tempat dan djika lamanja 2 tahun djuga tidak diadakan kenaikan klas atau otomatis anak² dari ,,klas 1 naik ke- klas 2". TK bertugas untuk mendidik dan membiasa- kan anak² berkumpul dengan teratur untuk memper- hatikan sesuatu. Djuga merupakan bantuan jang pen- ting bagi orang tua untuk mendidik anak²nja dalam tingkatan kanak². Dengan menjesuaikan dengan tingkat psychis dan physis dari anak² tsb. maka apa jang diberikan kepada anak² TK sudah mengandung unsur² 4 matjam bidang pendidikan jalah pendidikan ilmu, pendidikan watak, pendidikan estetika dan pendidikan djasmani. Semua ini diberikan dengan sangat populer dan elementer. Pendidikan ilmu pelaksanaannja lebih banjak menggunakan tjara² visuil dan main². Pendidikan di TK harus membantu didalam mendorong daja- tumbuh anak² baik mengenai psychis maupun physis. Seterusnja mengenai bagian kedua dari susunan pendidikan ini jalah pendidikan umum dan pendidikan ke- djuruan menengah. Pendidikan umum lamanja 11 tahun dibagi dalam 2 unit jalah unit ke-I bernama Sekolah Rendah (SR). Nama Sekolah Rendah kami berpendapat lebih baik daripada nama Sekolah Rakjat, sebab kalau dengan nama Sekolah Rakjat se-akan² diluar SR Rakjat tidak mempunjai hak lagi untuk memasukinja. SR lamanja 6 tahun dan dapat dimasuki oleh anak² jang berumur 7 tahun. Unit ke-II bernama Sekolah Menengah Umum jang lamanja 5 tahun. Dan karena SR dan SMU sebetulnja djuga merupakan satu unit jang besar maka dari SR untuk memasuki SMU anak tidak usah menempuh udjian, djadi merupakan kenaikan klas biasa. Berbeda dengan jang diberikan di TK maka apa jang diberikan dipendidikan umum sudah merupakan peladjaran jang teratur, berentjana, mengikat dan

dinilai serta mempunjai konsekwensi untuk dapat tidak- nja naik klas dan meneruskan kesekolah jang lebih tinggi. Harus sudah dipadukan keempat matjam bidang pendidikan jalah pendidikan watak, ilmu, estetika dan djasmani. Pada klas² permulaan SR peladjaran ilmu diberikan setjara elementer, belum boleh bersifat kom- plikatif dan pendidikan watak dan estetika memegang peranan jang penting. Mengenai peladjaran di SR maka sampai klas 3 peladjaran diberikan dengan di- antar oleh bahasa daerah setempat. Adapun mengenai bahasa daerahnja itu sendiri diadjarkan sebagai peladjaran wadjib sedjak klas 1 SR sampai klas 6. Didaerah mana dan dengan bahasa daerah apa hal itu diberikan sangat tergantung apakah didaerah tsb. sudah ada bahasa daerah jang telah memenuhi ilmu bahasa, bagai- mana keadaan pembagian bahasa daerah setempat, di- samping apakah soal² teknis, apakah gurunja dan buku² peladjarannja sudah tersedia atau belum. Djadi bahasa daerah jang mendjadi mata-peladjaran adalah bahasa daerah sebagai bagian dari kebudajaan daerah, jang hal ini agak berbeda dengan jang dimaksud dengan bahasa daerah jang dipakai untuk mengantar pembe- rian peladjaran mulai klas 1 sampai klas 3. Mengenai bahasa Indonesia diadjarkan mulai di SR sampai di

P.T. Seterusnja dalam rangka pendidikan tjinta-kerdja dan untuk melatih anak² supaja lebih tangkas dan prigel maka mulai klas 4 SR sudah diberikan peladjaran ke- radjinan tangan atau segala sesuatu jang bersifat peladjaran praktek (politeknik). Dalam hal ini memang akan membawa konsekwensi dalam masalah finansiil, materiil, personil, metodik dan rentjana-peladjaran. Selain peladjaran politeknik maka mulai klas 4 SR djuga perlu mulai diadjarkan bahasa asing. Tudjuannja jalah supaja bahasa asing lebih massal diketahui oleh massa dan hal ini djuga membantu didalam meningkat- kan pengetahuan dan kesedaran anak² dalam soal² ke- masjarakatan. Peladjaran bahasa asing disini diberikan dengan belum memasuki sasteranja. Bahasa asing apa jang dapat diberikan sangat tergantung dari kebutuhan dan kemampuan penjelenggaraannja. Mengenai SMU sebagai satu unit peladjaran diberikan dalam satu ke- bulatan peladjaran. Lamanja 5 tahun atau dari klas 7 sampai klas 11. Djadi dengan begitu tidak ada lagi SMP dan SMA seperti sekarang. Kita tidak setudju

untuk mempertahankan sistim SMP dan SMA sekarang karena dalam prakteknja anak lulusan SMP sebetulnja belum tjukup memiliki suatu peladjaran jang bulat hing- ga dalam prakteknja mereka masih tjanggung djika te- rus terdjun kedalam masjarakat untuk bekerdja. Djadi dengan disatukannja SMP dan SMA dalam satu kebulatan peladjaran maka waktunja beladjar lebih sing- kat dan pemilikan kebulatan peladjaran lebih sempurna, jalah sudah tentu kebulatan peladjaran pendidikan umum. Di SMU tidak diadakan differensiasi atau ba- gian² A. B. C seperti sekarang. sebab dengan differensiasi di SMA sekarang ini maka lalu mempunjai unsur² dualistis berhubung sudah adanja sekolah² kedjuruan. Oleh karena itu karena djustru namanja pendidikan umum maka di SMU tidak diadakan differensiasi. Peladjar² jang menginginkan pendidikan kedjuruan dari SR bisa meneruskan ke-sekolah² kedjuruan jang mereka senangi. Dari SMU peladjar² djuga bisa meneruskan ke Perguruan Tinggi. Seseorang peladjar jang telah lulus SMU dan mau memasuki P.T. maka selain tergantung dari keinginannja djuga perlu diperhatikan keadaan nilai terachir dalam hubungannja untuk me- milih sesuatu fakultas. Penjelesaian peladjaran di SMU diachiri dengan suatu udjian untuk mendapatkan idjazah. Dari SR mereka djuga bisa tidak meneruskan ke SMU tetapi memasuki Sekolah Menengah Kedjuruan (SMK) atau ke Sekolah Kemasjarakatan/Sekolah Ke- radjinan (SK). Di SMK lamanja tidak sama karena tergantung dari matjamnja kedjuruan. Suatu SMK kedjuruannja merupakan satu kebulatan peladjaran dan untuk menghasilkan tenaga² kedjuruan menengah. Djadi adanja 2 tingkat sekolah kedjuruan menengah seperti sekarang sebaiknja diganti (misalnja SMEP dan SMEA. STN dan STM). Dengan sjarat² tertentu lulusan SMK dapat djuga meneruskan ke P.T. dalam fakultas jang sesuai dengan matjam kedjuruannja. Me- ngenai SK maka tudjuannja jalah menjiapkan peladjar² untuk dapat segera bekerdja didalam masjarakat. Maka dari itu apa jang diadjarkan disini terutama soal² teknis vak seperti pekerdjaan mendjahit, tukang kaju, bengkel. dsb. SK lamanja ± 2 tahun. Seterusnja pendidikan di SMU dan SMK pendidikan ilmu sudah mengambil peranan jang utama dan sesuai dengan meningkatnja

klas pendidikan ilmu ber-angsur² diberikan dengan tjara dan dengan bahan² jang makin rumit. Meskipun begitu toh harus ditjegah sifat² intelektualisme, dalam hal ini harus betul² ditindjau mata-peladjaran² mana jang kurang perlu dan mata-peladjaran mana jang perlu ditambah dan mana jang dikurangi djam-peladjarannja. Dalam pendidikan watak sudah perlu setjara ber-angsur² diberikan pendidikan politik sebagai pelaksa- naan dari tugas² dan azas² pendidikan nasional kita, misalnja diberikan tjeramah² tentang Manifesto Politik Republik Indonesia, tentang perdjuangan Irian Barat, tentang Konferensi Bandung, tentang Front Nasional, dsb. Pelaksanaannja tidak berarti mutlak merupakan mata-peladjaran jang chusus. Selain pendidikan politik djuga mulai diadjarkan tentang pandangan hidup dan pandangan dunia sebagai peladjaran fakultatif, terma- suk dalam hal ini peladjaran agama. Pendidikan estetika sudah perlu tidak hanja berupa kegiatan untuk mengenal keindahan tetapi djuga untuk mentjiptakan keindahan. Peladjaran pendidikan djasmani perlu lebih ditekankan dan sebaiknja mempunjai ikatan ailai untuk mendorong kesungguhan, karena peladjar² ini tu- buhnia dalam keadaan berkembang mentjapai puntjak- nja. Dengan segala variasi pendidikan dan peladjaran disini djuga perlu dihubungkan dengan produksi, se-tidak²nja mengenal didalam praktek tentang proses produksi. Pelaksanaannja sudah tentu sangat tergan- tung dari keadaan setempat dan matjamnja sekolah. Mengenai pendidikan tinggi jang lamanja peladjaran tidak sama, tetapi jang terang perlu diusahakan supaja lebih diperpendek (paling lama misalnja ± 5 tahun) dan peladjarannja lebih dipraktiskan. Dengan demikian memang akan membawa perobahan² dalam kurikulum- nja dan tjara² beladjarnja. Pada pokoknja politik peladjaran djuga diberikan seperti di SMU dan SMK, mak- sudnja jalah mengenai penghapusan atau se-tidak²nja pengurangan sifat² intelektualisme, disamping mengenai penekanan pendidikan ilmu, pendidikan politik, pendidikan pandangan hidup dan pandangan dunia, pendidikan estetika, dsb. Disekolah tinggi pendidikan perlu lebih ditekankan untuk menghubungkan dengan kehidupan masjarakat. Seterusnja karena pendidikan tinggi menerima peladjar² baik dari SMU maupun dari

SMK, dimana kedua matjam peladjar² tsb. mempunjai kwalitet jang berbeda, maka perlu diadakan langkah² persiapan untuk ber-angsur² menghilangkan perbedaan kwalitet tsb. Apalagi pada prinsipnja perguruan tinggi sesuai dengan prinsip demokratis dalam politik pendidikan djuga dapat menerima peladjar² dari lain² sa- luran, sudah tentu dengan sjarat² chusus. Kenjataan sekarang jalah bahwa disamping Dep. PPK dengan segala matjam djawatan dan lembaganja maka djuga banjak djawatan" pusat dan Departemen² lainnja jang menjelenggarakan sekolah² atau akademi². Djuga merupakan kenjataan sekarang bahwa usaha² pendidikan tsb. jang sudah tentu maksudnja baik jalah untuk memperluas seluas mungkin pendidikan dikalang- an Rakjat, belum diadakan kerdjasama jang baik, hing- ga sering mengakibatkan kurang produktifnja dalam menggunakan tenaga, peralatan, gedung. mengakibatkan kesimpangsiuran didalam menilai mutu peladjaran dan didalam menentukan sipil-efek idjazahnja. Oleh karena itu kita mendorong pemerintah supaja antara Dep. PPK dengan Departemen dan instansi² lainnja jang menjelenggarakan sekolah² atau akademi jang ber- sifat sesuatu kedjuruan diadakan kerdjasama jang se- baik²nja, misalnja dalam kerdjasama tsb. mungkin dalam soal² pendidikan watak, pendidikan estetika dan pendidikan djasmani, djuga mengenai soal² prinsip didaktik dan metodik mendjadi urusan PPK. Mengenai soal² lainnja seperti rentjana-peladjaran. soal taraf peladjaran untuk masing² sekolah dan klas. soal buku² peladjaran. soal kor pengadjar, alat² beladjar, tempat beladjar. pembeajaan dan penilaian serta sipil-efek dari idjazahnja perlu dirundingkan bersama dengan titik- berat dari Departemen atau Djawatan jang bersangkutan sebagai penanggungdjawab utama. Sekolah atau akademi tsb. tetap mendjadi milik dari Departemen atau Djawatan jang bersangkutan. Untuk sekolah² kedjuruan dari sesuatu Departemen atau Djawatan jang sifatnja se-mata² intern dengan tudjuan untuk dima- suki oleh masing² pegawainja dalam rangka mening- gikan mutu vak atau pengetahuan mereka, misalnja kursus aplikasi untuk mantri² malaria, kursus bank jang diselenggarakan oleh Bank Rakjat Indonesia, dsb., se- penuhnja mendjadi hak dan tanggungdjawab dari instansi pemerintah jang bersangkutan. Untuk sekolah²

kedjuruan partikelir pada prinsipnja perlu disesuaikan dengan kebutuhan nasional pada waktu sekarang. Ada- pun mengenai penjelenggaraannja sudah tentu tergan- tung dari siapa penjelenggara sekolah tsb. dan apakah sekolah tsb. mendapatkan subsidi, sokongary atau ban- tuan dari pemerintah. Mengenai sekolah guru. Pada prinsipnja semua pengurusan dan pendidikan guru diurus oleh Dep. PPK ketjuali guru² untuk jang menurut pembagian kerdja mendjadi tanggungdjawab Departemen atau Djawatan lainnja, ketjuali guru² untuk sekolah² swasta, ketjuali guru² untuk berbagai matjam mata-peladjaran tertentu jang mungkin perhu diambilkan dari instansi² lain atau dari masjarakat. Sesuai dengan susunan pendidikan tsb. maka dibutuhkan sekolah guru untuk pendidikan pra- sekolah, sekolah guru untuk SR, fakultas keguruan atau sekolah tinggi guru uatuk SMU dan SMK. Pada prinsipnja peladjar² sekolah guru tsb. dapat melandjutkan kesekolah guru jang lebih atas dengan sjarat² tertentu. Berapa lamanja penjelesaian peladjaran di-sekolah² guru dan sampai dimana mendalamnja taraf kedjuruan dari sekolah² guru kedjuruan masih perlu diadakan diskusi tersendiri. Pengadjar² untuk sekolah² guru tsb. dapat diambilkan dari masjarakat atau dari instansi² lainnja dengan sjarat² harus patrioti dan demokratis, menguasai persoalannja dan sudah mempunjai penga- laman praktek. Mereka tidak hania memberikan ilmu- nja sedalam mungkin tetapi djuga harus memberikan api" patriotisme kepada siswa² sekolah² guru tsb. Seterusnja seminar menjimpulkan tentang pentingnja pembaqian kerdja dan pembagian urusan antara Dep. PPK dengan pemerintah² daerah. dimana perlu segera diadakan ketentuan untuk tidak menimbulkan kesim- pangsiuran dalam urusan teknis dan organisatoris. baik mengenai soal² kepegawaian maupun mengenai soal² penjelenggaraan dan perentjanaan pendidikan. Oleh karena itu perlu ada pembagian urusan: 中mengenai soal² kepegawaian (teknis advis), dalam hal² apa bisa diserahkan kepada pemerintah daerah atau Perwakilan PPK daerah dan bagian² mana jang sepenuhnja mendjadi urusan pusat. 中 urusan politik dan teknis pendidikan dalam garis besarnja perlu mendjadi tanggungdjawab pemerintah pusat.

teknis penjelenggaraan dan perentjanaan pelaksa- naan sekolah² tertentu dapat ditugaskan kepada pemerintah² daerah tingkat I atau II atau III. Mengenai rentjana peladjaran Seminar tidak mema- suki materinja sampai se-detailinja. Djuga tidak sampai membitjarakan tentang matjamnja mata-peladjaran dan banjaknja djam-peladjaran untuk masing² klas dan sekolah. Hanja beberapa soal pokok jang dibitjarakan. Per-tama² mengenai pendidikan budipekerti baik jang disalurkan melalui mata-peladjaran budipekerti maupun jang dapat dituangkan melalui segala matjam kegiatan pendidikan. Pendidikan ini perlu diberikan sedjak anak² supaja mereka nanti mendjadi pentjinta tanahair jang berkebudajaan dan berilmu, untuk mendjadi patriot komplit, untuk mendjadi manusia bulat jang baik jang mentjintai tanahair dan Rakjat Indonesia. Djuga melalui pendidikan budipekerti kita kenalkan kepada mereka tentang sifat² kepribadian jang baik. Untuk peladjar² jang sudah dewasa dalam rangka pendidikan budipekerti ini lebih banjak diberikan dalam pendidikan politik patriotik. Dalam hal ini kita menjetudjui seruan Presiden Sukarno baru² ini untuk memberikan pendidikan Manifesto Politik dan USDEK di-sekolah² mulai SR sampai disekolah tinggi. Pendeknja segala matjam tjara untuk menanamkan dasar² pendidikan nasional kita kedalam pikiran dan kejakinan anak² dan peladjar². Pelaksanaannja misalnja dengan djalan berdarmawisata kedesa pada waktu kaum tani sedang mengerdjakan sawah atau pabrik dimana kaum buruh bekerdja, berdarmawisata ke-tempat² jang indah sambil menerangkan tentang kekajaan dan keindahan tanahair Indonesia tetapi dimana Rakjatnja masih hidup melarat, mendidik mereka supaja dalam rangka mentjintai orangtua mem- bantu pekerdjaan orangtua dirumah. mengenalkan kepada mereka dengan tjerita² bersedjarah tentang kc- pahlawanan sesuatu pemimpin sebagai bagian dari per- djuangan Rakjat. mengenalkan kepada mereka dengan gambar" pahlawan² nasional maupun pahlawan² Rakjat diluarnegeri, mentjeritakan kepada mereka tentang per- djuangan Rakjat di-negeri² lain didalam melawan kolo- nialisme, fasisme, dsb.. menerangkan kepada mereka tentang penderitaan Rakjat karena akibat peperangan

dan perdjuangan Rakjat untuk mentjegah peperaangan, dsb., dsb. Mengenai peladjaran sedjarah, baik sedjarah dunia maupun sedjarah Indonesia, perlu diberikan dengan djalan tidak hanja membeberkan fakta tetapi djuga de- agan mengupas latarbelakang politik dan sosialnja. Dengan begitu mendidik para anakdidik untuk lebih menjelami hakekat sedjarah, hakekat kehidupan. Sam- pai dimana dan dengan djalan bagaimana penjampaian latarbelakang ini diberikan sangat tergantung dari ma- tjamnja sekolah dan dari tingkat klas peladjaran tsb. diberikan. Mengenai peladjaran ekonomi didalam memberikan- nja per-tama² perlu dihubungkan dengan ekonomi masjarakat jang kongkrit pada sesuatu waktu. Dengan begitu para peladjar tak asing didalam menggunakan pe- ladjarannja jang mereka terima disekolah didalam men- tjoba untuk menindjau keadaan masjarakat, keadaan ekonomi masjarakat. Djuga karena dalam prakteknja sekarang peladjaran ekonomi hanja diberikan soal² ekonomi kapitalis se-mata² dan umumnja masih memakai tjara² Belanda dulu maka sebagai bahan perbandingan perlu diperdjuangkan djuga diadjarkan ekonomi Marxis dan diberikan sebagai bahar pelengkap tentang pelaksanaan ekonomi Marxis di-negeri² sosialis. Hal ini semestinja lebih² diperlukan mengingat pemerintah sen- diri sudah berulangkali menekakan tentang pentingnja mentjapai sosialisme Indonesia. Djadi ide sosialisme Indonesia mesti djuga dilaksanakan didalam bidang pendidikan. Seterusnja mengenai peladjaran hukum dan tata- negara pada pokoknja perlu ditanamkan pengertian tentang apakah negara itu, mendidik mereka untuk bersikap dan mempunjai pengertian jang tepat tentang negara dan bahwa hukum merupakan pelaksanaan peraturan dari sesuatu pihak jang menguasai negara tersebut. Adapun mengenai pendidikan agama disekolah kami berpendapat untuk sekolah negeri supaja diberikan sebagai mata-peladjaran fakultatif di SMU, SMK dan PT. Agama matjam apa jang diberikan tergantung dari keinginan peladjar. Adapun untuk sekolah² swasta hal ini tergantung dari pihak jang mendirikan sekolah tsb. Dalam rangka pendidikan estetika maka ada jang

perlu diberikan sebagai peladjaran wadjib dan ada jang bersifat fakultatif disemua sekolah. Misalnja peladjaran menjanji, baik mengenai njanjian² lagu keindahan maupun lagu² kepahlawanan, sebaiknja diberikan sebagai peladjaran wadjib dan dengan begitu maka peladjaran menjanji ini djuga merupakan saluran untuk pendidikan watak. Selain menjanji maka peladjaran menggambar- melukis baik djuga mendjadi peladjaran wadjib. Ada- pun mengenai tjabang² kesenian lainnja tjukup sebagai peladjaran fakultatif misalnja tari, drama, musik dsb. termasuk dalam hal ini berbagai kesenian daerah. Djuga untuk peladjar² perlu diserukan untuk membatja roman² revolusioner dan patriotik. Perlombaan karang- mengarang dan deklamasi perlu diandjurkan, begitu djuga untuk mengundjungi malam-kesenian, musik, film jang baik, dsb. asal sudah tentu tidak mengganggu pe- ladjarannja. Seterusnja mengenai peladjaran djasmani djuga ada jang diberikan sebagai peladjaran wadjib dan ada jang tjukup sebagai peladjaran fakultatif, baik tjabang olah- raga jang kolektif maupun perseorangan. Manusia baru jang kita maksudkan jaitu djuga manusia jang sehat dan kuat badannja. Maka oleh karena itu se-waktu² perlu. diadakan gerakan² untuk tudjuan kebersihan dan kesehatan, jang bersifat massal, praktis dan produktif. Djuga se-waktu² diberikan pengetahuan umum tentang kesehatan. Semua ini terutama diberikan mengenai langkah² jang bersifat kesehatan preventif. jalah usaha untuk mentjegah sakit. Dalam hal ini misalnja pendjelasan didalam mengatur waktu, didalam mendapatkan makanan jang murah dan berfaedah, pentingnja mendjaga kebersihan gigi, tangan, dsb. Demikianlah tentang pokok² soal jang berhubungan dengan rentjana peladjaran. Dalam hubungan ini semi- nar berpendapat supaja Partai menjiapkan perintjian lebih landjut mengenai rentjana peladjaran ini baik rentjana peladjaran untuk pendidikan pra-sekolah, pendidikan umum dan SMK dan pendidikan tinggi. jang meliputi matjamnja peladjaran, djam-peladjaran, buku peladjaran dan djalannja peladjaran. Masalah buku-peladjaran djuga penting dan mem- nengaruhi berhasil tidaknja sesuatu politik pendidikan. Dalam rangka penjeragaman buku² peladjaran jang terpenting perlu diperdjuangkan supaja dihilangkan

buku² peladjaran jang kolonialistis, konservatif dan metafisis dan diganti dengan buku² peladjaran jang patriotik dan ilmiah. Hal ini termasuk djuga buku² sampingan. Untuk sekolah² swasta dan guru² progresif perlu djuga menggunakan buku² peladjaran dan buku² sampingan jang madju. Panitia Pemerintah penjusun buku² sampingan dan buku peladjaran komposisinja supaja tjukup demokratis dan panitia supaja meminta usul² dan kritik² dari masjarakat. Mengenai perguruan swasta. Sebagaimana keterang- an tsb. diatas kita setudju adanja sekolah² swasta. Perguruan swasta umumnja dibagi kedalam 3 golongan: 章 perguruan swasta dengan pokok tudjuan untuk mentjapai sesuatu tjita² (zendingschool). Hal ini wadjar terdjadi dinegeri jang demokratis dan di- mana terdapat klas² dan golongan². Sekarang ini banjak sekali perguruan swasta sematjam ini. Umumnja sekolah² ini selain memberikan peladjaran seperti apa jang ditentukan pemerintah, djuga memberikan tambahan peladjaran² lainnja. perguruan swasta sebagai usaha penampungan ter- hadap pemuda² jang tidak mendapatkan tempat dise- kolah negeri atau untuk menampung kaum buruh/ pegawai negeri dan orang² dewasa lainnia jang sudah bekerdja dan ingin menambah pengetahuan serta untuk mendapatkan idjazah. sebab mereka tidak bisa memasuki sekolah² negeri (reddingschool). Golongan ini sekarang banjak sekali terdapat di- dalam masjarakat dan akan makin baniak karena disatu pihak nafsu beladjar pemuda² dan Rakjat makin besar dan dipihak lain pemerintah karena kemampuannja sangat terbatas, makin tidak mampu menampung makin besarnja nafsu beladjar ini. perguruan swasta jang dengan tudjuan untuk men- tjari wang (bedrijfschool). Diselenggarakan dengan sjarat² materiil jang lebih berat (wang pang- kal, wang sekolah, wang gedung. dsb.). Disini me- rupakan tempat jang subur bagi ..ilmu untuk ilmu" karena bagi penjelenggaranja dan mungkin djuga guru²nja jang pokok asal dapat wang jang banjak dengan tak memperdulikan tentang pendidikan wa- tak, tak perduli apakah peladjar²nja berguna bagi tanahair atau tidak. Dan disini umumnja bertjokol kaum avonturir jang kadang² sampai hati mendjual

idjazah sekolah kepada mereka jang mau membajar banjak. Sudah tentu sesuai dengan tugas² pendidikan kita perguruan swasta sematjam ini sebaik- nja dilarang, dengan tjatatan sudah tentu kita harus waspada dan menentang usaha² pensalahgunaan peraturan larangan tsb. Mengenai pendidikan didalam sekolah djuga ada beberapa masalah praktis dimana seminar mengambil sikapnja.

  1. Soal udjian. Masalah ini kita anggap suatu masa-
    lah jang prinsipiil karena merupakan suatu masalah jang mempengaruhi nasib ber-djuta² anak² dan peladjar², jang mempengaruhi guru didalam memberikan peladjaran, jang mempengaruhi rentjana peladjaran, jang mempengaruhi dikikisnja atau didorongnja inte- lektualisme didalam pendidikan. Prinsip adanja udjian sudah tentu dapat disetudjui, tetapi tudjuan udjian hendaknja bukannja bagaimana sebanjak mungkin mendjatuhkan murid tetapi sebaliknja bagaimana dapat sebanjak mungkin membantu para anak² dan peladjar² untuk meneruskan atau menjelesaikan peladjarannja. Dengan tudjuan ini memang sudah tentu akan berakibat makin banjaknja anak² dan peladjar² jang tiap tahun tidak mendapatkan tempat disekolah atasannja. Tetapi itu merupakan persoalan lain jang mesti djuga dipetjahkan. Pemetjahan kekurangan tempat beladjar bukannja dengan sebanjak mungkin mendjatuhkan murid dalam udjian, tetapi dengan djalan berusaha sekeras mungkin untuk memperbanjak sekolah² dan seruan kepada ma- sjarakat untuk mendirikan sekolah² swasta. Seterusnja sasaran udjian hendaknja selain ditudjukan kepada pihak murid djuga kepada pihak pengadjar didalam memberikan peladjaran dan bahan² peladjaran, karena seseorang murid djatuh didalam udjian belum tentu karena begitu bodoh. Mungkin ada sebab lain. Prinsipnja supaja hanja ada satu matjam udjian jalah udjian sekolah dan achirnja udjian negara dihapuskan. Pertimbangannja jalah pada pokoknja sekolah dimana murid tsb. beladjar jang mengetahui setjara mendalam tentang kwalitet seseorang murid. Udjian sekolah ini berlaku baik untuk sekolah negeri maupun sekolah swasta. Sudah tentu prinsip ini mempunjai konsekwensi tentang sjarat² mendirikan sekolah swasta. Untuk

waktu sekarang mungkin belum bisa untuk hanja ada udjian sekolah. Oleh karena itu dapat disetudjui adanja udjian negara dengan sjarat adanja demokratisasi didalam menjelenggarakan udjian negara jang berupa: supaja bahan² udjian didesentralisasi, komposisi panitia udjian supaja selain terdiri dari wakil² sekolah negeri djuga wakil² sekolah swasta, dalam tjara kerdjanja djuga mendengarkan pendapat² sekolah² swasta, didalam me- mentukan lulus-tidaknja seseorang murid supaja tidak hanja melihat nilai udjian se-mata², tetapi djuga supaja dipertimbangkan nilai terachir dalam rapor. Dengan tjara ini dapat diharapkan hilangnja exes jang sampai sekarang masih sadja terdjadi jalah botjornja bahan² udjiaa, nafsu guru² untuk memompakan muridnja dengan peladjaran jang akan diudjikan hingga merusak tudjuan peladjaran dan rentjana peladjaran, suasana ber-debar² dan kadang² sampai djatuh sakit jang di- alami oleh para murid, dsb.

  1. Mengenai wadjib beladjar. Pemerintah sekarang
    mempunjai rentjana dan usaha² untuk wadjib beladjar. Usaha ini memang berat karena membawa konsekwensi jang besar jang berupa materiil, finansiil, kor guru, pe- jakinan terhadap Rakjat akan pentingnja beladjar, dsb. Oleh karena itu tidak aneh kalau pemerintah sendiri kini merasa bahwa wadjib beladjar berat untuk pemerintah sekarang. Sebagai ide adanja wadjib beladjar sudah tentu kita sangat setudju, tetapi karena kita me- jakini bahwa soal tsb. adalah berat sekali pelaksana- annja maka kepada pemerintah kita belum menuntut untuk dapat melaksanakan wadjib beladjar. Jang lebih urgent untuk waktu sekarang jalah bagaimana pemerintah dan badan² swasta dapat menampung anak² dan pemuda" jang haus beladjar dan mempurjai sjarat² an- tuk beladjar.

  2. Pendapat terhadap Sapta-Usaha Tama. Dep.
    PPK pada tgl. 17 Agustus 1959 telah mengeluarkan instruksi kepada semua peladjar dan petugas dalam lingkungan PPK untuk melaksanakan Sapta-Usaha Tama. Mengenai hal ini kita dapat menjokong segi² positifnja, misalnja adanja ketentuan untuk memper- ingati hari² nasional seperti Hari Proklamasi. Hari Kartini, Hari Pahlawan dan djuga Hari Buruh 1 Mei, dsb. Dengan usaha ini dapat ditanamkan kepada para

anakdidik semangat patriotisme. Djuga adalah usaha jang baik kewadjiban untuk mempeladjari njanjian lagu² perdjuangan dan patriotik disemua sekolah. selain lagu Indonesia Raja. seperti lagu² Madju Tak Gentar. Bebaskan Irian Barat, Sang Merah Putih, dsb. Djuga dorongan untuk mengembangkan kegiatan olahraga patut mendapatkan sambutan, begitu pula apa jang di- namakan Usaha Halaman bisa merupakan unsur untuk pendidikan tjinta-kerdja dan tjinta-alam. Tetapi dilain fihak kita tidak menjokong segi² negatifnja misalnja ke- harusan kepada murid² SR dan SL untuk menabung jang berarti bertambahnja beban bagi orangtua murid terutama massa luas karena jang terkena djustru murid² SR dan SL. Djadi segi negatifnja disini jalah sifat ha- rus dan dengan sangsi serta djustru jang terkena murid² SR dan SL. Djuga sesuatu jang negatif ketentuan ada- nja wadjib koperasi untuk mur'd SR dan SL. Segi negatifnja disini jalah koperasi mestinja bukannja wadjib tetapi sukarela, kedua mengapa jang terkena djustru anak² SR dan SL. ketiqa karena koperasi tsb. akan diurus oleh murid² sendiri dan usahanja berupa ber- djualan keperluan se-hari² maka dichawatirkan akan mengganggu peladjarannja.

  1. Dalam pelaksanaan beasiswa pemerintah diha-
    rapkan supaja didalam pelaksanaannja djangan sampai menjimpang dari ketentuan seperti jang tertjantum dalam Ps. 2. 19 dan 25 UU no. 12 1954 jalah jang me- nerima beasiswa supaja tidak hanja mereka jang pandai tetapi jang pandai dan jang karena orangtuanja tidak mampu. Selandjutnja supaja pemberian beasiswa terutama ditudjukan kepada peladiar² kedjuruan. Dan bagi pegawai² negeri supaja tidak hanja pegawai² ting- gi dan jang bertitel BA keatas, tetapi prinsionja supaja semua pegawai negeri jang mempunjai ketjakapan dan jang berhasrat mendapatkan kesempatan tsb.

  2. Mengenai politik liburan hendaknja ditindjau be-
    gitu rupa hingga tidak mengatjaukan rentjana-peladjar- an dan supaja diadakan berdasarkan kepentingan pendidikan, dengan mengingat faktor musim, hariraja" ke- bangsaan, hari² besar agama/adat. Djuga liburan supaja tidak memakan waktu jang terlalu lama, misalnja paling lama 2 minggu.

  3. Masalah perpustakaan, chususnja didalam seko-
    lah, memainkan peranan jang penting. Perpustakaan memainkan peranan jang sangat penting dalam pem- bentukan watak, dalam mempengaruhi pandangan hi- dup dan pandangan dunia sesuatu orang. Oleh karena itu penting sekali perdjuangan untuk memperluas perpustakaan, memperbanjak buku²nja dan memprogresif- kan buku²nja, chususnja buku² mengenai ilmu² sosial dan buku² roman serta buku² strips. Demikianlah ke- simpulan² jang mengenai pendidikan didalam sekolah.

ILMU MENGADJAR SEBAGAI SENDJATA DITANGAN GURU

(Beberapa masalah tentang didaktik dan metodik)

I. Pendahuluan
1. Berbitjara tentang masalah pendidikan memang
adalah berbitjara tentang suatu masalah jang luas dan mengandung banjak aspeknja. Hal ini kiranja sudah tertjerminkan didalam atjara² jang merupakan isi dari- pada Seminar kita ini — Seminar Pendidikan kita~ jang memang bertudjuan untuk memetjahkan segala masalah²nja jang pokok dan jang mendesak bagi ke- butuhan kita menjelesaikan tuntutan² Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar²nja.

  1. Pada dasarnja persoalan² jang kita hadapi adalah
    masalah² :

1) menetapkan atau menggariskan tudjuan serta haluan pendidikan kita,
2) memilih serta menentukan isi pendidikan kita,
3) mentjari dan mengembangkan tjara atau metode jang se-tepat²nja bagi usaha kita mentjapai tudjuan. Semuanja ini adalah dalam rangka penjelesaian tuntutan² Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar²nja. Tidaklah sulit untuk memahami bahwa masalah² ini antara satu dengan jang lainnja saling berhubungan dan saling pengaruh-mempengaruhi. Misalnja sadja, kita tidak akan mungkin bisa bertanja ,bagaimana tjara dan djalan atau metode" jang se-baik²nja tanpa me- ngerti terlebih dahulu kemana kita mesti pergi, atau dengan perkataan lain: kemana tudjuan" kita. Se- baliknja kita tidak akan tjukup selesai sampai pada menetapkan tudjuan sadja tanpa mempersoalkan djalan mana jang se-baik²nja kita tempuh untuk sampai ke- pada tudjuan. Demikian pula akan tidak lengkaplah membitjarakan tudjuan pendidikan dan djalan² jang harus ditempuh untuk mentjapai tudjuan tersebut tanpa

berbitjara tentang apa sjarat² materiil" jang akan mendjadi isi perdjalanan tersebut.

  1. Sesuai dengan bagian persoalan jang mesti di-
    soroti oleh bagian ini, maka sudah barang tentu bagian ini akan membatasi diri pada hanja mempersoalkan salahsatu aspeknja sadja, jalah masalah : mentjari tjara² atau memilih serta menentukan mana metode jang se- baik²nja untuk selandjutnja dikembangkan didalam praktek pekerdjaan kita. II. Arti kata ,mendidik" dan siapa jang mempunjai tanggungdjawab mendidik

  2. ..Mendidik" adalah suatu kegiatan atau usaha
    jang dilakukan dengan sadar, bertudjuan, sistimatis dan teratur untuk mendorong, membantu dan membimbing sescorang untuk mengembangkan segala potensinja serta mengubah diri dari kwalitet jang satu ke-kwalitet lain jang baru dan lebih tinggi. Demikian djugalah makna kalau kita berbitjara tentang masalah ..mendidik anak", jang pada hakekatnja adalah mendorong, membantu dan membimbing anak untuk mengembangkan dan mengubah dirinja dari kwalitet jang satu ke-kwalitet baru jang lebih tinggi atau jang umumnja suka orang mengatakan ,,membawa anak kealam kedewasaannja".

  3. Atas dasar pengertian ini, apabila kita bertanja
    .siapa" sekarang jang dapat atau berkewadjiban mendidik, maka dalam artian jang luas dapatlah dikatakan bahwa setiap orang jang mempunjai kelebihan² tertentu dapat mendidik orang lain jang belum memilikinja. misalnja: 0ajah-ibu terhadap anak²nja 中kakak terhadap adik 空jang tua terhadap jang muda 章guru terhadap murid atau pendidik terhadap anakdidik dsb. Sudah barang tentu tidaklah dalam artian jang se- luas ni kita membitjarakan tentang .siapa"nja, tetapi sesuai dengan hubungan persoalan jang kita hadapi dalam seminar kita sekarang ini, kita hanja akan membatasi diri pada berbitjara tentang masalah² dalam rangka peranan guru terhadap anakdidik²nja.

  4. Berbitjara tentang masalah peranan guru adalah
    berbitjara tentang suatu kepribadian dengan segala nilai²nja jang terlekat padanja dalam hubungannja dengan anak²-didiknja. Djelaslah kiranja bahwa bagi seorang guru, untuk dapat mendidik anak jang se-baik²nja, dia harus me- rupakan suatu kepribadian jang memiliki sjarat² kemam. puan dan ketjakapan, termasuk memiliki perbekalan ilmu jang akan diberikan kepada anak²-didiknja. Ini berarti bahwa seorang guru disamping harus menguasai vak jang akan diberikannja — haruslah pula memiliki ataupun menguasai semua persoalan dengan segala seginja jang berhubungan dengan kebutuhan dalam mendjalankan tugasnja, jang semuanja itu dapat disimpulkan kedalam ilmu mengadjar. Selain menguasai ilmu mengadjar sesuai dengan tugas pendidikan umum kita jalah ikut didalam menjelesaikan tuntutan Revolusi Agustus 1945, dan mengingat bahwa kepribadian guru mempunjai pengaruh jang menentukan terhadap pembentukan watak dan pembentukan intelek para anakdidik, maka guru harus berusaha keras untuk mendjadi- kan dirinja seorang patriot-komplit, seorang patriot didalam segala bidang. Hanja dengan begitu guru bisa mendjiwai peladjaran jang dia berikan, bisa menimbulkan perangsang kepada anakdidiknja. Dengan djalan ini maka guru meletakkan dasar jang kuat sebagai pangkalan untuk mengalahkan ,ilmu untuk ilmu". Tetapi ini semua masih belum lengkap. Untuk bisa memberikan peladjaran jang mejakinkan, jang mendjiwai, jang menimbulkan gairah para anakdidik dan pe- ladjar, guru harus menguasai persoalan jang dia adjar- kan dan harus mengadakan persiapan² jang se-baik²nja. Hal ini lebih² menondjol .kepentingannja dalam hubungannja dengan pembentukan intelek dari para anakdidik. III. Ilmu mengadjar sebagai sendjata ditangan guru.

  5. Mendidik anak pada dasarnja adalah melakukan
    usaha setjara sadar, bertudjuan, sistimatis dan teratur jang berupa :

1) memberikan bekal pengetahuan (knowledge) kepada anak, seperti misalnja: ilmu alam, bíologi, ilmu bumi dsb.

2) memberikan atau mengembangkan ketjakapan (skill) anak, seperti: berhitung, membatja, menulis dsb.
3) membentuk watak anak atau mempertinggi moral anak, jang kesemuanja ini diarahkan kepada tudjuan pendidikan jang sudah ditetapkan. (lihat bagian Pendahuluan). Dalam artian tertentu dalam hubungan guru dengan murid-kegiatan utama daripada pekerdjaan mendidik ini adalah berupa kegiatan mengadjar. Sebagaimana tiap² .kegiatan atau pekerdjaan jang serius haruslah dipimpin oleh suatu teori jang serius, objektif dan revolusioner, maka demikian djugalah se- harusnja bagi kegiatan atau pekerdjaan mendidik atau chususnja bagi kegiatan mengadjar. Karenanja tidak- lah sulit untuk memahami betapa pentingnja suatu penguasaan terhadap teori² ilmu mengadjar bagi seorang guru, Jang kita maksudkan dengan penguaszan" disini sudah barang tentu penguasaan setjara kreatif, dalam arti adanja kesanggupan untuk mengembangkan teori dalam praktek.
2. Salahsatu faktor penting jang harus diinsjafi oleh
guru jalah bahwa dia bukannja berhadapan dengan benda² materiil jang mati didalam kelasnja. tetapi dia berhadapan dengan materi jang hidup, materi jang berpikiran, berperasaan dan berkemauan jang perkembangannja mempunjai hukum²nja sendiri. Kalau diatas sudah kita djelaskan bahwa kewadjiban guru adalah membantu dan membimbing anak dalam proses pengubahan dirinja. dengan demikian adalah mendjadi sjarat bagi seorang guru untuk mengerti hukum² perkembangannja jang berlaku atau dengan per- kataan lain: guru harus mempunjai pengertian serta pengetahuan tentang ilmu djiwa, chususnja ilmu djiwa pendidikan, ilmu diiwa anak dan perkembangannja.

  1. Berbitjara tentang masalah didaktik-metodik pa-
    da hakekatnja adalah berbitjara tentang suatu lapangan jang tidak dapat terpisahkan dari persoalan ilm u dji w a. Atau tegasnja prinsip²nja didaktik-metodik atau prinsip² ilmu mengadjar pada hakekatnja adalah prinsip² jang berupa penetrapan hukum² perkembang- an dalam ilmu diiwa pada setiap situasi dalam proses beladjar anak.

lV. Beberapa masalah tentang prinsip² didaktik

A. Didaktik sebagai ilmu tentang proses mengadjar.
1. Didaktik atau ilmu jang memberikan petundjuk
serta menggariskan sjarat² jang diperlukan untuk mengadjarkan ber-matjam² pengetahuan dan ketjakapan kepada anak dengan tjara² jang metodis (sistimatis dan teratur), atau dengan lain perkataan : didaktik adalah suatu ilmu tentang proses mengadjar. Membitjarakan didaktik ini orang biasanja membagi persoalannja kedalam :

1) tudjuan pengadjaran,
2) bahan pengadjaran,
3) metodik, jang berarti djalan/tjara² jang harus di- tempuh untuk mentjapai tudjuan pengadjaran, atau tjara² mengerdjakan sesuatu jang se-baik²nja.
2. Kiranja tjukup djelaslah bahwa berbitjara tentang
tu djuan pengadjaran tidaklah dapat dipisahkan dari berbitjara tentang tudjuan pendidikan pada umum- nja. sebab pada hakekatnja tudjuan pengadjaran ini harus tunduk kepada tudjuan pendidikan. Dengan demikian didalam bagian ini kita sudah sa- ngat dibantu dengan sudah digariskan tudjuan pendidikan kita, sehingga jang kita maksudkan dengan tudjuan pengadjaran disini jalah: memberikan pengadjaran jang mengandung nilai² pendidikan jang mempunjai arti bagi pembentukan kepribadian anak²-didik kita untuk mendjadi manusia² baru seperti jang kita tjita²- kan, jang setjara singkatnja berarti: membentuk kepribadian manusia² jang patriotik, tjinta kepada kerdja, tjinta kepada ilmu dan kemadjuan, tjinta perdamaian, tjinta kepada tanahair dan tjinta kepada ajah-ibu. Inilah tudjuan pengadjaran kita atau djiwa pengadjaran kita.

  1. Tentang bahan pengadjaran ini jang dimaksud-
    kan jalah segala sesuatu jang kita berikan kepada anak, jang pada pokoknja berupa:

1) pengetahuan (knowledge) atau ilmu
2) ketjakapan atau kemampuan (skill)
3) nilai² bagi pembentukan watak dan rasa keindahan- nja
4) nilai² bagi pembentukan kesehatan djasmaniahnja.

Kesemuanja ini apabila kita perintji lebih landjut, maka berwudjudlah kedalam ber-matjam² matapeladjaran atau vak. Sebagai sekedar tjontoh dapat diku- tipkan disini matjam²nja matapeladjaran menurut Ren- tjana Peladjaran Sekolah Rakjat (putusan Menteri PPK 18 Maret 1947) sebagai berikut :

1) Didikan budi pekerti 8) Menggambar

12) ..Keputeriar

2) Bh. Indonesia 9) Menulis
3) Berhitung 4) Ilmu alam 11) Pek. Tangan 10) Gerak badan
6) 13) Seni suara

5) Hajat Bumi
14) Kesehatan
7) Sedjarah Dan ada manfaatnja djuga apabila disini kita ambil- kan sebagai bahan banding matjam²nja matapeladjaran jang diadjarkan Uni Sovjet di .Sekolah 7 tahun" dan Sekolah 10 tahun":
9. Ilmu alam
1. Bah. Rusia dan literatur
10. Astronomi
2. Berhitung/matematik
11. ilmu kimia
3. Ilmu djiwa
12. Bah. Asing
4. Logika
13. Pend. djasmani
5. Biologi
14. Menggambar
6. Sedjarah
7. Tatanegara 15. Menggambar teknik
16. Menjanji.
8. Ilmu Bumi (dikutip dari Lehrbuch der Pädagogik" tulisan I. T. Ogorodnikov dan P. N. Schimbirev).
4. Sesuai dengan haluan pendidikan jang dasarnja
bertudjuan membentuk manusia dengan kepribadian jang mengandung berbagai aspeknja (seperti jang su- dah kita rumuskan diatas), maka pada dasarnja semua matapeladjaran tersebut haruslah merupakan suatu kebulatan (totalitet) jang organis, dalam arti bahwa antara matapeladjaran jang satu dengan jang lainnja tidak ter-pisah², tetapi saling mempunjai hubungan pengaruh-mempengaruhi jang masing²nja setjara sen- diri² dan ber-sama² mempunjai nilai² tertentu bagi tu- djuan pendidikan kita.

  1. Berbitjara tentang nilai² bagi pembentukan ke-
    pribadian ini sebenarnja adalah berbitjara tentang se-

suatu jang mengandung banjak aspeknja. Kita dihadap- kan kepada suatu organisasi atau sistim psycho-physis, jang pada pokoknja berkisar pada aspek²: pembentukan intelek pembentukan watak atau moral pembentukan kesehatan djasmaniahnja. Chusus mengenai pembentukan intelek ini, didalam ilmu mendidik biasa orang membedakan antara:

1) usaha kita jang berwudjud memberikan pengetahuan dan ketjakapan kepada anak, jang disebut: pembentukan materiil,
2) usaha kita jang berwudjud melatih serta mengembangkan fungsi² kewadjiban anak, seperti misalnja: fungsi pengamatan, ingatan, fantasi, pikiran dsb. Ini disebut pembentukan fungsionil atau pembentukan formil. Bagi kita diantara kedua ini memang tidaklah dapat di-pisah²kan, dalam arti bahwa pembentukan materiil haruslah sedjalan dengan pembentukan fungsionil, jang berarti djuga bahwa pembentukan materiil dapat mem- pertjepat atau mendorong proses pembentukan fungsionil tersebut. Sebagai sekedar tjontoh: Apabila kita mengadjar anak² kita ,,berhitung" misalnja, maka hitungan² jang kita berikan kepada anak² kita tersebut haruslah sesuai dan sedjalan dengan tingkatan kemampuan berpikir anak² kita. Memberikan kepada anak² kelas I hitungan² jang tingkat kesukarannja untuk anak² kelas II atau III misalnja-hanja karena keinginan subjektif kita supaja anak² kita lekas ,pandai" adalah suatu per- buatan perkosaan jang tidak dapat dipertanggung- djawabkan. Inilah apa jang kita maksudkan bahwa ,,pembentukan materiil haruslah sedjalan dengan pembentukan fungsionil". Selandjutnja djuga dapat kita buktikan bahwa peladjaran berhitung mendorong anak untuk berlatih diri dan mengembangkan kemampuan berpikirnja dan dengan demikian anak mentjapai kemadjuannja, ber- kembang dari kwalitet jang satu kekwalitet lain jang baru dan lebih tinggi melalui proses perubahan² setjara kwantitatif. Inilah artinja beladjar bagi anak.

  1. Kalau dimuka sudah disebutkan bahwa disam-
    ping aspek pembentukan intelek" ini ada aspek²nja jang lain, jaitu aspek ,pembentukan watak" dan aspek pembentukan kesehatan djasmaniah", sudah barang tentu sesuai dengan hukum² díalektikanja akan terdjadilah proses saling hubungan, saling mempenga- ruhi dan dipengaruhi didalam perkembangannja antara jang satu dengan jang lainnja. Kalau anak² kita sedang menghadapi peladjaran² jang harus dipeladjarinja atau menghadapi pekerdjaan jang harus diselesaikan, maka berartilah bahwa pada diri anak² kita tersebut timbul suatu usaha atau kegiatan untuk memetjahkan atau menjelesaikan kontradiksi² jang dihadapinja. Ini sen- diri adalah suatu perdjuangan jang membutuhkan ke- beranian, kedjudjuran, ketekunan, keuletan dsb. Bukan- kah ini merupakan diantaranja aspek² jang membentuk watak anak² kita! Berbitjara tentang masalah ,pembentukan watak" sudah barang tentu bagi kita haruslah dalam artian usaha jang berarah tertentu: pembentukan watak jang berpihak, watak jang harus dimiliki oleh manusia² baru jang mengandung segala nilai² jang kita tjita²kan (,pantja-tjinta"). Djustru disinilah ter- letak seginja jang terpenting dalam arti bahwa .ke- pihakan" ini ditentukan oleh tudjuan jang akan men- djiwai isi pendidikan kita. Membitjarakan masalah ,isi" pendidikan/pengadjaran ini lebih landjut kiranja akan lebih tepat apabila kita tempatkan didalam pembitja- raan tersendiri.

  2. Tentang pentingnja arti ,pembentukan kesehatan
    djasmaniah" ini kiranja telah sangat tjukup kita sadari bersama. Hanja perlu kita peringatkan disini bahwa didalam pelaksanaannja apa jang terdjadi sampai se- karang ini di-sekolah² kita masih sangat djauh meme- nuhi kebutuhan. Faktor² jang menjebabkannja memang banjak, disamping faktor kesedaran guru jang mungkin memang ada jang kurang. djuga tidak kurang pentingnja adalah faktor materiil jang berupa kekurangan tempat serta alat² bermain atau berolahraga. Terlepas dari persoalan segala kekurangan ini, sebenarnja memang banjaklah hal² jang bisa serta perlu diperhatikan oleh guru dalam rangka pelaksanaan .pembentukan kesehatan djasmaniah" ini, dari hal² jang kelihatannja ketjil sampai pada soal² jang besar. Misalnja mulai

dari masalah mengatur ventilasi dan penerangan kelas, dalam mengatur djam² peladjaran, dalam memperhati- kan tjara duduk anak² dsb. sampai pada soal² meng- organisasi gerak-djalan, bertamasja, pertandingan² atau pekan² olahraga dsb.

B. Hubungan guru dan murid.
1. Kalau kita mendidik anak atau memberikan pe-
ladjaran kepada anak sudah barang tentu jang kita inginkan adalah supaja anak²-didik kita benar² beladjar atau ada kegiatan diri (otoaktivitet) untuk beiadjar dengan tjara jang se-baik²nja. Tugas guru adalah mendorong, membantu serta mempermudah atau melantjarkan proses beladjar ini dengan pengaruh²nja. Dan tugas ini haruslah dikerdjakan dalam tiap² situasi pendidikan, didalam hubungan guru-murid, dimana jang mendjadi kontradiksi-pokoknja adalah kontradiksi antara guru sebagai aspek jang satu dan murid sebagai aspeknja jang lain, atau antara .,pendidik" dan .anak-didik". Situasi hubungan guru-murid (teacher-pupil relation- ship) dipandang sebagai suatu kesatuan jang mengandung aspek²nja jang saling berhubungan dan berkontra- diksi tsb. senantiasa berubah dan berkembang jang per- kembangannja haruslah menudju kesuatu arah tertentu: keperspektif tertentu. Dalam perkembangan ini — atau dengan perkataan lain dalam proses penjelesaían kontradiksi² ini, guru harus senantiasa merupakan aspel jang memimpin.

  1. Sebagaimana dimuka sudah di-singgung². men-
    didik atau mengadjar anak adalah djuga memberikan pengaruh²nja terhadap anak. Pengaruh² ini terdjalin didalam matapeladjaran² jang diberikan, dalam tindak- tanduk guru atau pada hakekatnja dalam seluruh ke- pribadian quru. Adalah tergantung daii seberapa besar kekuatan² pengaruh² inilah jang pada hakekatnja merupakan faktor² luar" jang berfungsi sjarat² perubahan, apa- kah perubahan² jang terdjadi didalam diri anak² kita jang didalam dirinja mengandung .faktor² daiam" jang merupakan dasar² perubahan berlangsung setjara tjepat atau lambat.

  2. Berbitjara tentang seberapa besar kekuatan² pe-
    ngaruh dalam rangka persoalan kita ini, berarti berbitjara tentang seberapa besar kekuatan pengaruh guru terhadap anak²-didiknja, demikian djuga tentang seberapa besar kekuatan pengaruh bahan² peladjaran terhadap anak²-didik dengan mengingat aspek² kedjiwaan anak. Diantara prinsip² didaktik jang dapat dikemuka- kan adalah sebagai berikut: peladjaran harus diberikan setjara menarik dan dapat menimbulkan minat serta perhatian anak, peladjaran harus diberikan setjara ber-angsur² dan madju setingkat demi setingkat, peladjaran harus diberikan setjara aanschouwelijk jang bisa memberikan kesan setjara bulat dan lengkap kepada anak, peladjaran harus dapat menimbulkan otoaktivitet anak untuk bergiat diri dalam mengubah dirinja. peladjaran harus dapat memberikan suatu sistim perspektif² kepada anak jang akan membentuk ke- jakinan hidupnja. Masing² ini setjara sendiri² dan kesemuanja ini setjara ber-sama² harus senantiasa menjinari semua ke- giatan dan tjara² guru mengadjar anak²-didiknja.

C. Proses beladjar dan mengembangkan beladjar setjara kolektif.
1. Apabila kita memperhatikan bagaimana anak²
beladjar, tidak djarang kita mendjumpai anak² kita sa- ling bertanja diantara mereka sendiri tentang segala sesuatu jang telah diadjarkan oleh gurunja. Diantara mereka sering timbul sematjam diskusi, tanja-menanja dan bertukar pendapat. Pada hakekatnja keadaan jang sematjam ini adalah keadaan jang sangat wadjar jang merupakan suatu usaha dari anak² kita didalam mem- pertjepat proses penjelesaian kontradiksi² didalam dirinja.

  1. Sebagaimana kita ketahui, hukum² dialektika
    mengadjarkan kepada kita bahwa segala sesuatunja jang ada ini adalah :
  • bersifat tidak tetap, tetapi senantiasa bergerak,

tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dan saling bergantungan, 来 selalu ber-ubah² melalui perubahan² kwantitatif ke kwalitatif, 非 mengandung didalam dirinja aspek² jang saling ber- kontradiksi. Demikian djugalah halnja dengan keadaan djiwa kita dengan segala aspek²nja: pikiran kita, perasaan kita dan kemauan kita. Djiwa kita senantiasa bergerak, berubah dan berkembang dari kwalitet jang satu kekwalitet jang lain, jang baru dan lebih tinggi. Dan semuanja ini terdjadi menurut hukum²nja sendiri, hukum perkembangar djiwa. Inilah artinja ,beladjar" jang pada hakekatnja adalah suatu proses pengubahan diri setjara kwalitatif melalui perubahan² kwantitatif.

  1. Hubungannja dengan proses beladjar dari anak²
    ini, ada satu soal jang kiranja sangat perlu untuk men- dapatkan perhatian kita, chususnja para guru dan pendidik. Kembali pada apa jang sudah kita kemukakan diatas, jaitu kebiasaan anak² kita untuk saling bertanja dan bertukar pendapat tentang masalah² peladjaran jang diterimanja dari guru, maka satu persoalan jang timbul adalah: bagaimana kita sebagai pendidik dapat menjalurkan, membimbing ataupun memimpin ,,diskusi²" tersebut, berpangkal pada ,faktor² dalam" jang sudah ada sebagai dasar² perubahannja. Dan djanganlah jang sebaliknja terdjadi jaitu melarang mereka jang bertanja kepada temannja dengan dalih ,,membiasakan bekerdja sendiri" jang pada hakekatnja hanja akan memupuk sifat² individualistis anak. Tetapi kebiasaan anak² kita jang sering kita djumpai tersebut barulah merupakan kebiasaan jang dikerdjakan setjara tidak teratur dan tidak terpimpin. Akibatnja sudah barang tentu djuga menghasilkan penjelesai- an² jang tidak teratur pula. Berdasarkan atas kenjataan² ini, maka perlulah di- fikirkan adanja suatu usaha jang intensif dari fihak guru untuk mengorganisasi adanja kesatuan² jang hidup

jang mendjamin bagi penjelesaian² kontradiksi mereka, Kesatuan² organis sematjam ini adalah apa jang biasa kita sebut: grup² beladjar. Sudah barang tentu masalah pengorganisasian ini bisa merupakan suatu masalah jang tersendiri. Diantara berbagai faktor jang perlu diperhatikan oleh guru dalam membentuk grup² ini adalah faktor psychologis, misalnja hubungannja dengan masalah²: penentuan besar-ketjilnja grup, penentuan komposisi grup. penentuan atau memilih kepala grup dsb. Sesuai dengan tingkatan kesadaran serta kedjiwaan- nja, bagi anak² jang sudah tjukup dewasa misalnja. sudah barang tentu akan lebih mampu memelihara dan mengikatkan diri pada suatu grup jang lebih besar apa- bila misalnja dibandingkan dengan anak² jang umurnja lebih muda.

  1. Grup beladjar kolektif" inilah jang kiranja
    mulai kita kembangkan kedalam tjara² dan kegiatan beladjar disekolah, jang sebenarnja pengalaman kita dengan tjara² jang demikian ini dalam kegiatan² atau praktek diluar sekolah sudah tjukup banjak dan mem- berikan kejakinan jang tjukup kuat tentang keman- faatan serta keunggulannja. Usaha mengembangkan ini pada hakekatnja haruslah berarti meluaskan tjara² ini dan mendjadikannja sebagai suatu sistim beladjar diseluruh sekolah² kita. Dan untuk ini peranan guru sangatlah menentukan.

  2. Manfaat daripada ,grup beladjar kolektif" ini
    tidak sadja hanja akan dirasakan oleh anak²-didik kita, tetapi djuga oleh guru² sendiri bagi kepentingan me- ningkatkan prestasi kerdjanja. Dengan mengikuti kegiatan grup² beladjar ini guru dapat .beladjar" dari kesulitan² jang dihadapi oleh anak², baik jang berupa kesulitan² umum maupun kesulitan² perseorangan masing² anak²nja. Tetapi jang lebih penting djuga jalah bahwa dengan aktif mengikuti kegiatan anak² kita dalam grup² tersebut guru akan dapat mengerti lebih banjak akan kekurangan²nja sendiri sebagai guru dan dengan demikian akan menghadapkan dia pada ke- harusan otokritik. Dalam grup2 jang masing² merupakan kesatuan² jang organis/hidup tersebut guru djuga akan dapat lebih

mudah menghubungkan peladjaran² jang diberikannja dengan persoalan² atau fikiran². perasaan serta ke- inginan² jang hidup dikalangan anak². Berbitjara tentang nilai² jang dapat ditarik dari sistim beladjar kolektif ini sudah barang tentu tidak hanja terbatas pada segi kemadjuan² jang diperoleh anak di- lapangan penguasaan vak sadja, tetapi jang lebih pen- ting jalah bahwa dalam situasi beladjar jang demikian itu anak² akan terdidik djuga oleh situasi itu sendiri dalam hal aspek² kedjiwaannja jang lain, chususnja bagi pembentukan wataknja. Betapa akan tidak! Didalam grup² beladjar tersebut masing² anak diha- dapkan kepada pribadi² lain jang didalam proses hu- bungan timbal-baliknja akan membawa anak kepada suatu penilaian terhadap dirinja sendiri, dalam arti bahwa anak akan lebih mengerti akan kekurangan² maupun kelebihan²nja terhadap kawan²nja jang lain. Dengan demikian. maka achirnja karena beladjar dari pengalamannja sendiri akan dapat menjimpulkan arti serta peranan dirinja bagi grup dan sebaliknja peranan grup bagi dirinja. Proses perpaduan antara peranan grup dan peranan individuil ini akan melahirkan suatu kesadaran kolektif jang tinggi jang tidak menghilang- kan tanggungdjawab individuil bagi kepentingan kolek- tifnja. Dari sini akan lahirlah manusia² baru jang djauh dari sifat² individualistis dan liberal.

D. Perpaduan Teori dan Praktek.
1. Dalam dunia pendidikan sudah lama timbul ke-
insjafan orang betapa tidak benarnja pengadjaran jang diberikan setjara verbal (menggunakan kata² me- lulu) dan lahirlah berbagai pendidikan baru, seperti misalnja: "Learning by doing" dari Dewey, "The truth is in the making" dari James dsb., jang semuanja itu sudah kita kenal dari dunia pendidikan Barat. Sembojan² tsb. pada hakekatnja merupakan pernja- taan kesadaran manusia setjara disadari atau tidak akan betapa tidak dapat terlepasnja pengetahuan manusia dari praktek hidupnja. Sudah barang tentu

ideologis² burdjuasi seperti Dewey. James itu meman- dang persoalan praktek dalam pendidikan dari sudut kepentingan² klas mereka, jalah bagaimana mendidik anak² mendjadi buruh upahan jang tjekatan (jang praktis"), jang dapat lebih banjak mendatangkan ke- untungan² bagi kapitalisme. Sebagai kaum pragmatis jang subjektif-idealis maka Dewey dan James tidak dan takut mengakui praktek sebagai kriterium kebenaran daripada teori. Mereka bahkan memvulgerkan arti daripada praktek. Dengan ,,berpraktek" pada dasarnja kita mengha- dapkan anak² kita bergaul setjara langsung dengan ,benda² materiil" jang mendjadi objeknja. Benda² materiil adalah sumber dari segala pengetahuan manusia. Bukankah benda² materiil ini jang melahirkan segala fikiran atau konsepsi² manusia, atau sebaliknja: bukankah segala fikiran dan konsepsi manusia ini hanja pentjerminan belaka dari benda² materiil?

  1. Dimuka sudah sedikit banjak kita singgung²
    tentang beberapa prinsip didaktik jang diantaranja tentang:
  • bahwa peladjaran harus diberikan setjara aan- schouwelijk"(diragakan). bahwa peladjaran harus dapat menimbulkan oto- aktivitet murid untuk mengolah sendiri bahan² peladjaran jang diberikan oleh guru, dsb. dsb. Kalau kita teliti benar² semuanja ini sebenarnja sudah merupakan aspek² dari prinsip ,tidak terlepasnja pengetahuan manusia dari kehidupan praktek". Tetapi jang mendjadi persoalan kita sekarang jalah masalah pentrapan hukum tsb. dalam pelaksanaan pendidikan kita, dalam arti perwudjudan serta pentjerminannja ke- dalam segala segi² pendidikan kita. Inilah jang kita maksudkan dengan pendidikan ,,perpaduan teori dan praktek". Berbitjara tentang ,praktek" sudah barang tentu jang kita maksudkan tiada lain ketjuali praktek kemasjara- katan dan terutama adalah praktek berproduksi. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa prinsip² seperti: ,diragakan" ataupun menimbulkan oto-aktivi- tet" dsb. itu tidak dengan sendirinja mesti sudah sama atau merupakan pelaksanaan .pendidikan perpaduan teori dan praktek" seperti jang kita maksudkan. Prinsip

kita ini terutama adalah berhubungan dengan masalah »pemilihan isi atau materi" peladjaran dari fihak guru jang akan diberikan kepada murid dan selandjutnja dari fihak murid ini diharapkan agar dia mempraktekkan- nja kedalam kehidupan njata atau praktek kemasjara- katan". Inilah djuga jang kita maksudkan bahwa prinsip perpaduan teori dan praktek" pada hakekatnja adalah satu dengan prinsip ,,ilmu untuk kehidupan". Timbullah sekarang satu persoalan dihadapan kita dalam mentjari atau menentukan bentuk² apa jang se-tepat²nja kita gunakan dalam mentjapai tudjuan ini. Pada dasarnja matjam serta banjaknja bentuk² ini sa- ngatlah banjaknja dan tiada terbatas sebagaimana matjam dan bentuk² kegiatan atau praktek manusia sen- diri tidak terbatas. Tetapi jang lebih penting jalah bahwa didalam kita memilih bentuk² jang se-tepat²nja ini haruslah dalam artian adanja suatu arah jang tertentu. mengarahkan anak² kita kepada nilai² jang sudah kita gariskan didalam tudjuan pendidikan kita.

  1. Sudah barang tentu bentuk² perpaduan teori dan
    praktek dalam pemberian peladjaran ini adalah sangat banjak matjamnja, ber-tingkat² dan kompleks: sangat banjak bentuk serta matjamnja, apabila kita hubungkan dengan banjaknja matjam² matapeladjaran jang kita berikan kepada anak², ber-tingkat², dalam artian bahwa segala sesuatunja itu harus kita hubungkan atau sesuaikan dengan tingkat² umur atau tingkat kesadaran serta kedji- waan anak² jang kita hadapi, sangat kompleks, apabila kita mengingat bahwa masinga matapeladjaran tersebut adalah materi²" jang perkembangannja mempunjai hukum²nja sen- diri. Selain ini semua kitapun mengakui bahwa adanja ber-matjam² matapeladjaran tadi haruslah tetap meru- pakan suatu kesatuan jang hidup (organis), dimana aspek jang satu saling berhubungan dan pengaruh- mempengaruhi aspek² jang lain.

  2. Satu soal lagi, dalam hubungannja dengan pe-
    laksanaan pendidikan .perpaduan teori dan praktek" ini, jang kiranja perlu mendapatkan perhatian kita jalah masalah mendorong, memberikan dan mengorganisasi

kegiatan² diluar djam² peladjaran atau diluar sekolah. Kegiatan² sematjam ini umumnja disebut dengan istilah extra curricular activities", dimana anak² diorganisasi kedalam grup² kegemaran" (interest groups). berda- sarkan minat masing² anak. Kiranja tjukup djelas bagi kita bahwa hidup" itu sendiri mendorong dan memaksa anak untuk memper- hatikan dan tidak bersikap pasif terhadap segala se- suatu jang ada dan terdjadi disekitarnja. Kewadjiban kita sebagai guru dan pendidik jalah bagaimana harus mendorong, membimbing dan menjalurkan kegiatan mereka, inisiatif² mereka setjara jang se-baik²nja kedalam pekerdjaan atau kegiatan² jang kreatif dan pro- duktif. Kesempatan mengembangkan diri dan mengubah dirinja bagi anak akar terbuka luas didalam kegiatan² atau praktek² sematjam ini. Dengan demikian djuga akan terbentuklah manusia² baru jang tidak bersikap pasif terhadap alam dan dunia sekitarnja, tetapi manusia² baru jang aktif, kreatif dan produtif, karena didalam ,interest groups" tsb. pada dasarnja bakat masing² anak kita dapat dikembangkan setjara bebas dalam rangka pengawasan dan bimbingan guru.

E. Membentuk Pandangan dan Sikap Hidup Jang Ilmiah.
1. Didalam kita berbitjara tentang .tudjuan" pen-
didikan, maka sebagai salahsatu unsurnja jalah: ,tjinta ilmu". Meskipun tidak setjara chusus, dimuka sudah sedikit banjak kita singgung² tentang apa dan bagaimana hu- bungan antara ,tjinta ilmu" ini dengan beberapa prin- sip pendidikan kita. Kalau dimuka kita sudah berbitjara tentang betapa tidak terpisahkannja antara ,teori dan praktek", antara ,,ilmu dan kehidupan", pada dasarnja kita telah berbitjara tentang beberapa tjara atau lang- kah jang harus kita tempuh dalam mendidik anak² kita membiasakan diri berfikir setjara ilmiah dan selandjut- nja membimbing mereka untuk memiliki pandangan serta sikap hidup jang ilmiah. Memang dalam artian inilah seharusnja kita mem- berikan ,djiwa"nja pada pendidikan ..tjinta ilmu" kita.

  1. ,Tjinta ilmu" pada hakekatnja berarti tjinta pada

kemadjuan, sebab ilmu itu sendiri adalah senantiasa berkembang, mengalami perubahan² dan madju, sedja- lan dengan dan sekaligus djuga merupakan pentjer- minan dari kemadjuan peradaban dan tingkat ke- budajaan umatmanusia. Selandjutnja dengan tjinta ilmu" berarti djuga sekaligus .membentji" atau mela- wan segala kebekuan dan keterbelakangan (mistik dan tachajul). Didalam pelaksanaan mentjapai tudjuan ini kiranja tjukup djelas bagi kita bahwa hasilnja akan sangat tergantung dari dan ditentukan oleh sampai dimana terdjalinnja ,tudjuan" tsb. sebagai salahsatu aspek pendidikan — kedalam aspek² jang lain. Dengan de- mikian ini berarti bahwa apa jang kita adjarkan" (the "what" of teaching) kepada anak dan bagaimana mengadjarkannja" (the "how" of teaching) haruslah ilmiah.

  1. Dalam hubungannja dengan masalah "the what"
    ini misalnja, dapatlah kita problimkan antara lain: matapeladjaran² apa jang sebaiknja atau jang se- banjak²nja memberikan bantuan kearah tertjapainja tudjuan kita tsb. Sudah barang tentu masalah ini tidak dapat kita pisahkan dari perkembangan serta proses berfikir anak dimulai dari berfikir kongkrit ke abstrak. Berpangkal pada pengertian ini, maka sesuai dengan watak atau sifat² chusus dari masing² matapeladjaran. dapatlah kita katakan bahwa matapeladjaran seperti: ilmu alam, biologi, ilmu kimia misalnja, akan merupakan matapeladjaran² jang dapat memberikan bantuan lebih banjak bagi tertjapainja tudjuan kita tsb. (.,tjinta ilmu"). karena dengan melalui matapeladjaran² ini kita meng- hadapkan anak kepada objek² materiil jang kongkrit bagi anak. Melalui penguasaan hukum² objektif jang berlaku jang diperolehnja dari peladjaran ilmu alam, ilmu kimia dan biologi ini akan terbentuklah pandangan mereka terhadap dunia objektif diluar dirinja jang ke- mudian akan sangat mendjiwai sikap hidup mereka.

V. Apa jang perlu kita ketahui tentang metodik.
1. Setjara pokok² kita telah berbitjara tentang:
* tudjuan pengadjaran, jang mengandung semangat ataupun djiwa pendidikan kita, bahan pengadjaran, jang merupakan ,,isi" dari pendidikan kita,

  • beberapa prirsip² didaktik hubungannja dengan segi² kedjiwaan anak. Sampailah kita sekarang pada satu persoalan lagi jang memang djuga sangat penting untuk mendapatkan pembahasan kita didalam seminar ini, jalah masalah metodik. Tetapi adalah memang sulit untuk menarik suatu garis pemisah jang tegas antara masalah didaktik dan metodik ini. Sebagaimana sudah kita singgung² dimuka, metodik merupakan bagian dari didaktik atau dengan lain perkataan berbitjara tentang masalah didaktik" mau tidak mau sudah meliputi persoalan ,,metodik".
  1. Perlulah ditegaskan sekali lagi bahwa berbitjara
    tentang masalah metodik ini haruslah dalam rangka suatu kesatuan, jang seperti sudah kita kemukakan di- atas, mengandung berbagai aspeknja. Artinja, berbitjara tentang metodik tidaklah mungkin dilepaskan dari masalah isi" atau dengan perkataan lain: metodik akan tergantung dari isi. Dan selandjut- nja berbitjara tentang masalah ,isi" tidaklah mungkin dipisahkan dari ,tudjuan" pendidikan/pengadjaran jang mendjiwainja. Dengan demikian kalau kita ingin mendapatkan suatu pengertian jang lengkap tentang artikata metodik ini, dapatlah disimpulkan sebagai berikut: metodik" adalah ilmu tentang tjara²/djalan jang digunakan guru untuk membekcali anak²-didiknja dengan pengetahuan, ketjakapan dan kemampuan, berpangkal pada-dan sekaligus membantu pe- ngembangan tingkat kesadaran dan aktivitet anak untuk kemudian membentuk pandangan serta kejakinan hidupnja.

  2. Berbitjara tentang masalah metodik kita bisa
    membedakan antara apa jang dinamakan:

1) metodik umum, jang membitjarakan persoalan² umum disekitar tjara² pelaksanaan pemberian pengadjaran,
2) metodik chusus, jang membitjarakan tjara²/aturan² chusus dalam mengadjarkan masing² vak atau mata- peladjaran. Baiklah serba sedikit kita bahas masalah ini.

A. Tentang metodik umum. Diantara berbagai seginja, ada beberapa jang kirauja perlu kita soroti:
a. tentang rentjana peladjaran" jang antara lain
membitjarakan tentang: 章 isi luas serta batas² daftar peladjaran buku serta alat² dsb. Menjusun suatu rentjana peladjaran adalah suatu pekerdjaan jang membutuhkan segala kesungguhan kita. Suatu rentjana peladjaran jang baik haruslah me- menuhi sjarat²nja jang diantaranja adalah sebagai berikut:

1) mendjamin pelaksanaan azas pendidikan (.,pantja- tjinta")
2) menghubungkan ilmu dengan kehidupan
3) menghubungkan teori dengan praktek
4) sesuai dengan tingkat kedjiwaan serta umur anak. (Semuanja ini harus bertemakan: alam, kerdja dan masjarakat).
b. tentang .djalannja peladjaran.". dimana dipersoal-
kan tentang urutan langkah jang harus ditempuh oleh guru dalam menjadjikan bahan peladjaran kepada murid, misalnja: dari mana dan bagaimana mesti dimulai. Sudah barang tentu hal ini sangat tergantung dari atau erat hubungannja dengan matjam² peladjaran/vak jang diberikan.

c. tentang bentuk²nja mengadjar". dimana diper-
soalkan ber-matjam² tiara guru menjadjikan dan tjara mengolah oleh murid. Beberapa tjontoh diantaranja se- benarnja kita singgung² dimuka, seperti misalnja: prin- sip berdiskusi, mengembangkan oto-aktivitet anak dsb. Semuanja ini haruslah berpangkal pada dan sekali- gus ditudjukan untuk mengembangkan tingkat kese- daran dan kegiatan diri anak jang ditudjukan untuk membentuk pandangan serta sikap hidupnja.

d. tentang langgam mengadjar", jang mempersoal-
kan seluruh tingkah laku dan tindakan guru sebagai pernjataan kepribadiannja dalam hubungan dengan murid. Pada dasarnja dapatlah dikatakan bahwa masing² guru mempunjai langgamnja sendir:² jang membedakan

antara guru jang satu dengan jang lainnja, jang selan- djutnja djuga mempunjai pengaruh²nja jang tertentu jang ber-beda² pula bagi penerimaan murid terhadap peladjaran jang diberikan. Tetapi meskipun demikian, dapat pula kita kemukakan sebagai suatu .pedoman umum" jang harus diperhatikan oleh setiap guru. ,Gaja" atau .Langgam" mengadjar ini antara lain ditentukan oleh faktor² sbb.:

1) ketjintaan kepada pekerdjaannja, termasuk ketjin- taannja kepada anak²-didik,
2) semangat serta kesungguh-sungguhan jang ditju- rahkan kepada pekerdjaannja,
3) ketjakapannja bergaul dengan murid,
4) kepandaiannja dalam menarik perhatian anak serta dalam memelihara kegembiraan kelas,
5) ketekunan serta ketelatenannja terhadap pekerdja- an jang dihadapinja.

e. tentang alat peladjaran" jang dimaksudkan

pada pokoknja adalah segala sesuatu jang berupa ben- da² materiil jang dipergunakan baik untuk guru maupun untuk murid, baik untuk perseorangan maupun untuk dipakai ber-sama² dalam kelas — seperti buku² peladjaran, alat² peraga, instrumen², laboratorium dsb. jang semuanja itu mendjamin pelaksanaan Rentjana Peladjaran jang sudah ditetapkan. Tentang buku² peladjaran misalnja, maka haruslah dipenuhi berbagai sjarat, seperti:

1) mempunjai nilai ilmiah,
2) mempunjai dasar metodologis jang dapat dipertang- gungdjawabkan.
3) mendjamin pendidikan ideologis (..pantja-tjinta") setjara konsekwen.
4) disusun setjara sistimatis, hidup dan menarik bagi anak dsb.
B. Tentang metodik chusus. Kiranja tjukup djelas bagi kita, bahwa apa jang dimaksudkan dengan .metodik chusus" ini pada hake- katnja adalah merupakan pentrapan daripada prinsip² jang sudah kita bitjarakan didalam metodik umum" tersebut diatas pada pelaksanaan pemberian peladjaran tentang masing vak. Dalam hubungan ini kiranja perlu dikemukakan bahwa banjak faktor² jang mempengaruhi dan turut

menentukan wudjud serta bentuk² tjara mengadjar ini. Diantara faktor² tersebut disamping sudah barang tentu faktor .tudjuan" dan ,,isi" pengadjaran — dapatlah disebutkan adanja beberapa faktor lainaja, se- perti: sifat chusus masing² matapeladjaran, dan tingkat kedjiwaan anak², hubungannja dengan faktor umur. Atas dasar kenjataan jang demikian ini, dapatlah kita mengerti bahwa sebagai kelandjutannja jang wadjar, maka lahirlah bermatjamragam metodik mengadjar jang mengandung tjara² atau aturan² tertentu jang chusus, disesuaikan dengan masing² matapeladjaran. Dan kita kenallah apa jang dinamakan : ,,metodik chusus" peladjaran :

  • berhitung. membatja, menulis, sedjarah dsb. dsb. Pada dasarnja masing² vak ini merupakan kesatuan² materiil jang mempunjai hukum gerak atau hukum per- kembangannja sendiri² jang karenanja penguasaan ter- hadapnja djuga memerlukan metode jang sendiri² pula.
  1. Untuk memberikan gambaran jang lebih djelas
    tentang apa jang sedang kita bitjarakan ini, kiranja perlu pula kita kemukakan sekedar tjontoh pentrapan metode bagi sementara vak:

a. Sebagai bahan banding jang bisa membedakan
dalam hal penggunaan metode mengadjarkannja, dapatlah diberikan sebagai tjontoh antara peladjaran ,sedjarah" dan peladjaran ,ilmu alam" misalnja. Kalau dalam peladjaran ,ilmu alam" kita dapat mengenal adanja metode kerdja dengan laboratorium atau dengan membuat eksperimen², maka dalam peladjaran ,sedjarah" metode kerdja jang sematjam ini tidaklah dikena!.

b. Selandjutnja, dalam hubungannja dengan faktor
,umur" anak, kiranja tjukup djelas bagi kita bahwa menghadapi anak² misalnja di Sekolah Rakjat, mesti dibutuhkan tjara² jang lain djika dibandingkan dengan apabila kita menghadapi murid² Sekolah Menengah (S.M.P. ataupun S.M.A.).

Anak Sekolah Rakjat dibandingkan dengan murid Sekolah Menengah adalah merupakan materi jang mem- punjai kwalitet jang ber-beda², berbeda dipandang dari segi: 0kekuatan serta kemampuan djasmaniahnja, 台tingkat kesedaran serta kemampuan djiwanja (daja konsentrasi, berpikir dsb.).

  1. Dari semua kenjataan² ini maka djelaslah bagi
    kita bahwa dalam hal metodik ini kita dihadapkan kepada suatu konsekwensi adanja metode jang bermatjamragam. Tetapi jang tidak boleh kita lupakan jalah bahwa semua metode jang bermatjamragam tsb. harus mendjamin terpeliharanja semangat dan tertjapainja tudjuan pen- didikan kita. Ini berarti bahwa metodik kita harus mendjamin terdjalinnja nilai² ,pantja-tjinta" kita kedalam masing² matapeladjaran maupun kedalam semua matapeladjaran setjara keseluruhan.

  2. Kembali kepada masalah .metodik chusus" kira-
    nja memanglah tidak mungkin dalam rangka seminar jang sekarang ini kita bahas satu per satunja. Kalau kita sudah mengindjak bidang ini, sebenannja kita sudah mengindjak suatu bidang jang lebih banjak sudah bersifat sangat ,,teknis" jang kiranja lebih tepat apabila diadakan suatu pembahasan tersendiri. Sebagai tjontoh: Kalau kita memberikan peladjaran .berhitung" di Sekolah Rakjat maka kita akan dihadapkan kepada banjak sekali problim jang harus kita selesaikan. Disamping masalah menetapkan ..maksud" atau ..tudjuan" diberikannja matapeladjaran itu sendiri. kita akan menghadapi banjak problim² lainnja. seperti misalnja: bagaimana menanamkan pengertian .,angka" sebagai simbol daripada suatu kwalitet. 章 bagaimana mengadjarkan. pendjumlahan, pengu- rangan, perkalian, pembagian dsb. bagaimana mengadjarkan bilangan petjahan (biasa maupun decimaal). bagaimana mengadjarkan menghitung luas dan isi, dsb. dsb. Demikian djugalah halnja apabila kita berbitjara ten- tang ..metodik chusus" peladjaran membatja, peladjaran menulis dsb.

VI. Penutup

Demikianlah pokok² persoalan .didaktik-metodik" jang kiranja perlu mendapatkan perhatian kita dalam seminar ini, dalam batas² jang sesuai dengan sifat dan tudjuan seminar ini sendiri. Dan kiranja adalah sebaik- nja apabila kita menarik kesimpulan dari pembahasan ini:

1) Didaktik-metodik kita adalah didaktik-metodik
jang mengabdi ..pantja-tjinta" dan dasar metodologis- nja haruslah ilmiah (materialisme-dialektik).

2) Didaktik-metodik kita harus mengandung pe-
tundjuk² umum maupun chusus jang mendjamin terdja- linnja azas² ..pantja-tjinta" kita kedalam masing² mata- peladjaran setjara sendiri² maupun kedalam mata- peladjaran sebagai suatu kebulatan jang dinamis.

3) Beberapa diantara banjak masalahnja jang perlu
mendapatkan penjorotan pada waktu sekarang ini adalah segi²:

a. pembentukan pandangan dan sikap-hidup anak²
kita jang ilmiah dan kerakjatan, antara lain dengan djalan pendidikan/pengadjaran jang memadukan ..teori dan praktek", menghubungkan .,ilmu dan kehidupan".

b. pembentukan watak anak dengan djalan me-
ngembangkan tjara² ..beladjar kolektif terpimpin" jang bisa membentuk kesadaran kolektif dan tanggungdja- wab individuil jang tinggi. djauh dari sifat² individu- alistis dan liberal.

4) Didaktik-metodik sebagai sendjata guru dalam
melakukan kegiatannja membantu, mendorong dan membimbing anakdidik dalam proses beladjarnja sudah barang tentu seharusnja mendasarkan diri pada — atau tidak melepaskan diri dari hukum² perkembangan djiwa anak, jang antara lain mengandung prinsip²:

a. peladjaran harus hidup, menarik perhatian (at-
tention) dan dapat menimbulkan minat (interest) anak.

b. peladjaran harus berkembang setjara kwalitatif
melalui proses perubahan² kwantitatif,

c. peladjaran harus memberikan suatu sistim per-
spektif bagi anak jang dapat memperkuat kejakinan serta kemauan berusahanja,

d. peladjaran harus dapat menimbulkan oto-akti-
vitet anak jang dapat mengembangkan daja-kreatifnja dan mendjadikannja manusia² jang produktif,

e. peladjaran harus memberikan kesempatan sepe-
nuhnja bagi pengembangan segenap potensinja.

PENJATURAGAAN PENDIDIKAN

Tudjuan Jang dimaksudkan dengan penjaturagaan didalam pendidikan atau paralelisme dalam pendidikan jalah pendidikan diluar sekolah, pendidikan dirumah dan pendidikan didalam masjarakat. Dalam hal ini ada jang menamakan tripusat, keselarasan pendidikan, dsb. Dia adalah sebagian dari pendidikan keseluruhannja dan harus paralel dengan apa jang diberikan oleh pendidikan didalam sekolah, dan oleh karenanja pendidikan diluar sekolah djuga mesti ikut membantu Rakjat Indonesia didalam menjelesaikan tuntutan Revolusi Agustus sampai ke-akar²nja. Djadi dia tidak boleh ber- simpang-siur apalagi bertentangan dengan haluan pendidikan disekolah. Kalau tidak maka akan melemahkan pekerdjaan pendidikan didalam sekolah dan tidak da- pat ikut ambil bagian didalam pembentukan watak para anakdidik dan peladjar² untuk mendjadikan mereka manusia² patriot komplit, manusia² jang berilmu dan berkebudajaan dan jang mentjintai tanahair dan Rakjat Indonesia. Murid² mendjalani sebagian besar waktunja diluar sekolah, se-kurang²nja sepertiga daripada setiap tahun- peladjaran adalah hari libur, termasuk hari² Minggu. hari² besar, liburan² periodik dan tahunan. Djadi per- bandingan antara djumlah hari masuk sekolah dan libur adalah 2:1, atau setelah dua hari masuk, ter- dapat satu hari libur. Disamping itu setiap hari hanja- lah lima djam jang dipergunakan untuk mengikuti pe- ladjaran disekolah atau tudjuh djam dengan segala per- siapannja. Dengan demikian pada hakekatnja lebih ba- njak waktu diluar sekolah bagi setiap murid daripada disekolah. Pada umumnja waktu ini didalam prakteknja tidak digunakan untuk maksud² pendidikan. Dengan demikian, hasil pendidikan jang kurang effektif disekolah

itu bertambah mendjadi lebih negatif dengan kegiatan² bebas murid² sendiri pada waktu² jang berkelebihan. Hal ini terutama berlaku pada murid² di-kota². Tudjuan dari penjaturagaan pendidikan jalah untuk mengisi waktu diluar sekolah ini dengan usaha² jang bertjorak pendidikan dan bersifat rekreatif. Sifat rekreatif ini adalah perlu mengingat akan tem- peramen jang dimiliki oleh murid² pada usia² tertentu. Bahwa didalam rekreasi itu terkandung unsur² pro- duktif dan rasa tjinta pada kerdja, hal ini harus di- usahakan. Djustru didalam waktu² senggang ini murid² bersentuhan langsung dengan masjarakat jang lebih luas daripada masjarakat sekolah. Segala kekurangan dan kenegatifan dari bangku sekolah bukan harus lebih diperburuk lagi pada waktu² luang, tetapi sebaliknja.

Bidang² usaha Daerah gerak murid dan peladjar² diluar sekolah adalah dirumah dan diluar rumah. Didua bidang ini mereka menghadapi keadaan jang berbeda. Dirumah mereka melepaskan lelah, tidur, makan, beladjar dan sering djuga ber-main². Dibidang ini orangtua merupa- kan faktor jang menentukan, kepribadiannja, sifatnja, tindak-tanduknja, kebiasaannja, tjita²nja mempunjai pengaruh jang tidak ketjil terhadap djiwa dan pembentukan watak anak² dan peladjar², terutama bagi jang belum dewasa. Selain orangtua djuga anggota² keluarga lainnja seperti kakak, paman. nenek, dsb. ada jang mempunjai pengaruh jang tidak ketjil terhadap anak². Djadi kalau disekolah gurulah jang memegang peranan terhadap pembentukan watak dan intelek pada anak- didik dan peladjar² maka dirumah orangtualah jang tam- pil kedepan dalam hal ini. chususnja dalam pembentukan watak. Dalam hubungan ini maka penting sekali hubungan dan kerdjasama antara guru dan para orangtua murid. Dan mengenai masalah hubungan ini maka pihak gurulah jang lebih banjak mengambil inisiatif. Pihak guru perlu mendjelaskan tentang pentingnja pendidikan dirumah, tentang tudjuan pendidikan, tentang soal² atau sifat² apa sadja jang perlu dididikkan kepada anak² dan pemuda², tentang tjara² memberikan pendidikan,

dsb. Untuk melaksanakan kepentingan inilah maka kita bisa menginsjafi bagaimana pentingnja POMG. Para Guru dan orangtua² jang sadar perlu aktif di POMG. Kita tidak boleh lupa bahwa suksesnja pekerdjaan POMG. berhasilnja pekerdjaan pendidikan dirumah, djuga akan membantu lantjarnja tugas pendidikan disekolah. Dilain pihak POMG perlu diperdjelas orga- nisasinja dan tugas²nja, djangan sampai hanja didjadi- kan pembantu sekolah untuk melengkapi peralatan se- kolahnja atau untuk mentjarikan sokongan². dsb. Dilain pihak kita harus ingat bahwa banjak sekali orangtua jang bukan pendidik. Banjak dari mereka jang bersikap pasif terhadap pentingnja pendidikan dirumah. Hal ini ditambah lagi dengan keadaan sosial-ekonomi orangtua — jang umumnja dalam keadaan susah akibat sistim ekonomi dan masjarakat sekarang ~ mereka tidak sempat mengikuti pertumbuhan anak²nja setjara intensif, tidak mampu menjediakan sjarat² materiil untuk pendidikan dirumah misalnja permainan kanak². keuangan, buku² bergambar/buku batjaan jang mendi- dik. tempat untuk ber-main², dsb. Ini semua merupakan rintangan jang objektif, jang mau-tak-mau mesti kita hadapi, bagi djalannja pendidikan dirumah. Kesulitan ini ditambah lagi dengan masih banjaknja orangtua² jang kolot pikiran dan pendiriannja, jang tachajul pan- dangannja, jang masih tebal memiliki sifat² dan ke- biasaan² masjarakat lama seperti individualisme, tjita² prijajiisme, dsb. Dari mereka ini ada jang dengan sadar memberikan didikan dengan menanamkan suatu tjita² kepada anak²nja. tetapi jang isi dan tudjuannja ber- tentangan atau ..ngalor-ngidul" dengan pendidikan di- dalam sekolah. Didikan mereka ini merupakan peng- hambat atau perintang jang tidak ketjil terhadap pendidikan progresif di-sekolah². Diantara mereka jang kolot dan terbelakang ini ada jang atjuh-tak-atjuh dalam soal pendidikan terhadap anak²nja. Oleh karena itu masalah pendidikan dirumah, jang sangat tergan- tung dari faktor orangtua ini, tidak mungkin hanja diserahkan kepada POMG dan guru² sadja, sebab masih banjak jang djustru orangtua² murid itu sendiri jang perlu mendapatkan pendidikan. Mereka perlu dijakin- kan tentang pentingnja pendidikan dirumah, tentang kemana pendidikan harus diarahkan, tentang tjara²nja memberikan pendidikan dengan tjontoh² jang praktis.

Untuk tudjuan ini maka dibutuhkan bantuan segala matjam organisasi Rakjat. Bidang kedua adalah bidang diluar rumah dan sekolah dan merupakan bagian jang penting daripada usaha" penjaturagaan pendidikan. Berhasilnja usaha dalam bidang kedua ini setjara timbal-balik berpenga- ruh dan membawa pendidikan itu kedalam lingkungan keluarga dan djuga pendidikan disekolah. Pendidikan dalam bidang ini akan lebih berhasil apabila pendidikan dirumah merupakan kekuatan jang turut men- dorong. Dan sudah tentu tak dapat disangsikan lagi pendidikan didalam sekolah djuga mempunjai pengaruh jang sangat besar. Pendeknja ketiga bidang pendidikan ini mempunjai pengaruh timbal-balik dan saling mem- pengaruhi. Bagi pemuda² dan anak² desa, pendidikan dirumah hampir tidak mendjadi persoalan, terutama bagi majoritet dari anak² kaum buruh-tani dan tani- miskin. Tjengkaman tekanan ekonomi tidak memung- kinkan mereka berkelebihan waktu. Mereka adalah Rakjat pekerdja jang tertindas sepandjang zaman. Sebagian besar waktu mereka diluar sekolah — bagi mereka jang mendapat kesempatan sekolah — diguna- kan setjara langsung atau tidak langsung untuk mem- bantu orangtua mereka dalam mengurus rumahtangga atau bekerdja untuk mendapatkan nafkah. Oleh karena itu bagi mereka pendidikan tjinta-kerdja sudah tidak begitu .,urgen" karena tiap² hari praktis sudah bekerdja langsung didalam produksi. Bagi mereka jang penting jalah usaha² untuk meningkatkan kebudajaan mereka, untuk meningkatkan daja-tjipta, daja-fantasi, daja-estetika mereka, pendidikan untuk mengenal dan mentjintai tanahair. Bagi anak² dan pemuda² desa jang tidak mempunjai kesempatan sekolah diatas se-gala²nja usaha pendidikan jang per-tama² dan utama jalah PBH, mereka harus mendjadi sasaran pekerdja² kebudajaan jang ada didesa atau ang pergi ke-desa². Didalam meningkatkan kebudajaan mereka penting djuga tentang pendidikan mendjaga kesehatan badan dan kebersihan. Djuga penting pendidikan untuk melawan tachajulisme, kolotisme dan segala matjam sifat² dan kebiasaan² terbelakang janq masih banjak terdapat di-desa2. Tetapi kita harus ingat bahwa di-desa² tidak hanja terdapat anak² dan pemuda² anak² kaum buruhtani

dan tanimiskin sadja. Didesa djuga terdapat anak² kaum tanisedang, anak² berbagai kaum pekerdjatangan. pegawai negeri, dsb. mereka djuga mesti kita tarik di- dalam kegiatan pendidikan anak² dan pemuda² didesa². Malahan lebih dari itu, anak² dan pemuda² anak tuantanah dan lain² klas penghisap djika mungkin kita tarik kedalam lapangan ini. Marilah kita sekarang membitjarakan pendidikan penjaturagaan bagi anak² sekolah dikota. Majoritet dari padanja adalah djuga anak² kaum pekerdja. ..Daerah pendidikan" mereka djuga terutama diluar hubungan keluarga atau rumah. Rumah jang penuh de- ngan anggota keluarga, kurang memenuhi sjarat² ke- sehatan. kurang ruang untuk bergerak bagi anak² sekolah praktis hanjalah tempat untuk waktu² istirahat. Keadaan ekonomi jang takteratasi dalam keluarga lebih mendorong anak² untuk selama mungkin berada diluar rumah. Berada diluar rumah untuk mentjari nafkah guna mendapatkan upah bagi sebagian anak² pekerdja. atau untuk apa sadja asal tidak dirumah bagi bagian terbesar. Pendidikan diluar rumah ini merupakan pekerdjaan jang sangat berat, mempunjai banjak segi. membutuh- kan banjak pengorganisasian. Pelaksanaannja disalur- kan melalui:

a. kegiatan² kesenian;
b. batjaan dan kegiatan beladjar lainnja;
c. kegiatan² olahraga;
d. berdarmawisata.
A. Kegiatan² Kesenian. Tidak semua murid dan peladjar² adalah seniman, oleh karenanja tidak semua dari mereka dapat diadjak dalam aktivitet langsung dalam kesenian. Tetapi dilain fihak aktivitet kesenian dapat menarik seluruh atau majoritet mereka bahkan djuga dapat menarik berbagai lapisan masjarakat lainnja. Djadi dalam kegiatan pendidikan melalui bidang kesenian ini mereka dapat ditarik sebagai partisipan jang aktif djuga bisa hanja sebagai penonton² jang aktif. Perlu dipentingkan tjabang² kesenian jang mempunjai animo massal seperti senitari, senisuara dan de-

klamasi. Untuk tempat atau alat² latihan atau pertundjukan kita tidak boleh terpantjang akan adanja tempat² dan alat² chusus seperti gedung kesenian atau gedung pertundjukan. Ruang² disekolah atau dikampung, di- rumah murid jang agak besar dapat sadja digunakan. Bahkan effeknja akan lebih baik. Kerdjasama antara organisasi kebudajaan revolusioner dengan organisasi peladjar/pemuda sangat diperlukan, jang pertama untuk bimbingan, dan lainnja guna pengorganisasian. Didalam praktek pekerdja² kebudajaan tidak hanja berkewadjiban memberikan bimbingan teknis seni maupun perpaduan politik dengan teknik, tetapi djuga berkewadjiban untuk mentjiptakan karja² seni, seperti mi- salnja para komponis supaja mentjiptakan lagu² jang bermutu, jang massal, jang selaras dengan tugas² dan azas² pendidikan kita, menjerukan kepada kaum sastra- wan untuk membuat tjerita² pendek, deklamasi, dsb., dsb. Selain itu djuga perlu diminta perhatian berbagai djawatan kedalam kegiatan dalam lapangan ini, misal- nja RRI. Djawatan Kebudajaan, Biro Pemuda, dsb.

B. Batjaan dan Kegiatan Beladjar lainnja. Membatja buku adalah suatu hal jang hampir asing bagi Rakjat Indonesia selama ber-abad². Djumlah butahuruf jang besar menerangkan dengan djelas akan hal ini. Setelah butahuruf berkurang. pekerdjaan memba- tjapun masih sangat terbatas dan termasuk aktivitet kebudajaan jang mewah". Pada waktu achir² ini kegemaran membatja Rakjat chususnja para pemuda/peladjar relatif meningkat. Dan pedagang² jang komersil tahu akan hal ini. Buku tjabul, komik² buruk dan madjalah² roman dekaden mereka lemparkan" kepasar batjaan tetapi dipihak lain buku² dan batjaan jang bertudjuan pendidikan atau jang bermutu baik makin banjak. Perlu ada gerakan jang massal dan terorganisasi untuk membangkitkan kegemaran membatja dan beladjar dari para pemuda/peladjar². Dalam gerakan pem- bangkitan ini organisasi peladjar/pemuda, organisasi guru, kepanduan, dsb. mempunjai peranan jang penting. Dalam rangka ini sudah tentu adalah penting sekali peranan perpustakaan², baik milik pemerintah maupun partikelir. Perlu diperdjuangkan supaja perpustakaan

dapat lebih diperluas, djumlah dan matjamnja buku, banjak dan komposisi buku harus patriotik, ilmiah dan demokratis. Pengorganisasiannja djuga harus praktis. Selain perpustakaan djuga tokobuku², badan² pener- bitan, dsb. diminta perhatiannja dalam hal ini. Dengan organisasi peladjar jang ..bonafide", buku² segera terkumpul dari masjarakat, terutama dari orang- tua² murid. Di-kota² hal ini kemungkinannja lebih besar lagi. Kesalahan" dan kedinginan perhatian terhadap perpustakaan selama ini jalah bahwa perpustakaan be- lum tjukup mendapat anggapan dari masjarakat sebagai salahsatu pusat kebudajaan. Pada hari² tertentu perpustakaan supaja didjadikan pusat perhatian dalam hu- bungan batiaan.

C. Olahraga. Meskipun disetiap sekolah diadjarkan olahraga, ke- njataan sekarang menundjukkan bahwa banjak murid tidak terpikat pada vak ini. Sebagian murid bukan sa- dja tidak gemar atau berminat bahkani merasakannja sebagai beban. Mereka ini atjapkali membolos waktu matapeladjaran olahraga. Oleh karenanja pada waktu sekarang perlu ada gerakan mejakinkan bahwa olahraga itu adalah suatu kebutuhan penting untuk djas- mani, djuga untuk rochani. Disamping pengorganisasian jang ulet dan telaten, pendidikan akan pengertian olahraga wadjib diluaskan. Pada taraf pertama diusahakan usaha² jang atraktif, jang ringan serta murah ongkos- nja, baik tjabang² olahraga jang individuil maupun jang kolektif. Ber-lari² sambil bernjanji hanja membutuhkan pengorganisasian jang minim apabila pengertian telah ada pada peserta²nja. Demikianlah diadakan usaha² ber- tingkat² sampai pada taraf kompetisi dan pertandingan. Tudjuan kita pada usaha ini bukanlah olahraga se- mata². tetapi djuga untuk rekreasi. Didalam melaksana- kan kegiatan dalam bidang ini penting sekali peranan organisasi pemuda, peladjar, kepanduan, olahraga, dsb. dan kerdjasama diantara mereka.
D. Darmawisata. Ini adalah suatu bentuk rekreasi jang agak memakan ongkos dan disamping itu diperlukan pengorganisasian

jang tepat. Tidaklah selamanja darmawisata itu harus djauh dan mempergunakan alat pengangkutan. Titik- berat bukannja djauh atau anehnja, tetapi adalah me- nikmati alam luas atau tempat² jang indah ber-sama² guna mengembangkan rasa tjinta tanahair. Darmawisata jang terlalu djauh lebih banjak menge- luarkan ongkos dan membutuhkan pengorganisasian jang lebih berat. Alat² musik dan njanjian² bersama, di- mana mungkin djuga dengan membawa pandji², adalah. sangat penting untuk memupuk rasa persatuan dan. menggelorakan semangat dalam tiap² darmawisata. Baik pula apabila kesan² darmawisata itu ditulis sebagai karangan, sadjak, dsb. Selain darmawisata ke-tempat² jang indah alamnja, djuga ke-tempat² jang ber- sedjarah mengandung unsur² pendidikan untuk me- ngenal masa jang lampau, untuk mengenangkan perdjuangan, dsb. dengan objek² seperti tjandi², musium perdjuangan, gedung proklamasi, dsb. Untuk menghu- bungkan dengan pendidikan tjinta-kerdja maka darmawisata baik djuga ditudjukan ke-tempat² kerdja, baik dikota maupun didesa. Dalam rombongan darmawisata diusahakan adanja pelukis², penjanji2, ,pelawak", deklamator dll. untuk tetap menghangatkan suasana. Akan lebih efektif lagi apabila ditempat tudjuan darmawisata diadakan sam- butan² oleh organisasi pemuda setempat. Hal ini men- didikkan rasa setiakawan.

Mengenai masalah pengorganisasian

Mengenai pendidikan dirumah sekali lagi peranan utama dipegang oleh orangtua murid dan peladjar. Tetapi tidak semua orangtua adalah pendidik, banjak dari mereka jang tidak mengerti tentang pentingnja pendidikan dirumah dan djuga banjak jang belum mengerti tentang apa jang diberikan dan bagaimana tjara- nja memberi pendidikan dirumah. Disamping itu tidak djarang orangtuaa jang mempuniai tjita² jang lain dari- pada jang dididikkan di-sekolah², tjita² sebagai pentjer- minan dari kepentingan klas² penghisap dan dengan sendirinja tjita² ini jang mereka didikkan kepada anak² mereka. Dengan sendirinja mengakibatkani pelemahan pekerdjaan pendidikan disekolah. Terdapat kontradiksi

antara pendidikan disekolah dengan apa jang diberi- kan dirumah. Berpangkal kepada keterangan tsb. maka sekali lagi POMG mempunjai peranan jang penting. Didalam POMG pihak guru harus mengambil peranan jang memimpin, dalam arti memberikan kejakinan tentang pentingnja pendidikan dirumah. tentang apa² jang di- berikan dan tentang tjara² pendidikannja. Perlu diminta bantuan organisasi² Rakjat untuk mengadjak orangtua² memperhatikan pendidikan dirumah. Djuga dalam hu- bungan ini perlu ditjari pemetjahan jang praktis untuk melengkapi sjarat² materiilnja, seperti mainan kanak², tempat ber-main². buku² batjaan, dsb. Adapun mengenai pendidikan didalam masjarakat penting sekali peranan organisasi² peladjar, pemuda, pionir, kepanduan, olahraga, rekreasi, organisasi kebu- dajaan, dsb. Diantara mereka perlu ada kerdjasama, saling membantu dan saling mengerti. Kita mesti ingat bahwa .klas² dan golongan² jang mewakili djaman silam djuga aktif dalam bidang ini, baik setjara terang²an mau- pun tidak. Kekuatan mereka tidak boleh diremehkan karena mereka mempunjai orang² dan ahli²nja dalam pos² jang penting, mempunjai sjarat² materiil jang tju- kup, mempunjai pengalaman jang tidak sedikit, mempunjai sandaran jang kuat jalah ratjun ideologis jang telah mereka pompakan ber-abad² lamanja kedalam pikiran. kebiasaan dan perasaan massa Rakjat. Dilain pihak kita harus ingat bahwa mereka mempunjai kele- mahan jang pokok jalah bahwa mereka mewakili djaman jang sedang menghadapi keruntuhannja, hingga kebesarannja" adalah besar jang kropos, jang penuh kontradiksi intennnja. Dalam rangka kegiatan beladjar/membatja diluar sekolah/rumah maka organisasi peladjar/pemuda su- paja mengusahakan adanja grup²-beladjar, serasehan², kuliah²-umum, taman batjaan dsb. Dalam hal ini di- mínta perhatian dan bantuan dari Djawatan² atau Lem- baga² jang menjelenggarakan perpustakaan, taman batjaan, djuga kepada para sastrawan, pendidik, sardjana, dll. jang mempunjai kegiatan didalam menulis artikel, buku² peladjaran. buku² ilmu pengetahuan. dsb. kepada para penerbit, tokobuku dsb. Kita minta perhatian untuk menghuburgkan bidang kegiatan atau usahanja dengan tugas² pendidikan.

Dalam hubungan dengan usaha² rekreasi maka perlu diminta perhatian para penanggungdjawab tempat² hiburan, objek² darmawisata, RRI dsb. bahwa usaha dan kegiatan mereka mempunjai pengaruh jang tidak ketjil terhadap dunia pendidikan diluar sekolah dan rumah. Menghadapi kenjataan bahwa banjak sekali anak² dan pemuda belum berorganisasi, hingga oleh karenanja organisasi² peladjar dan pemuda, organisasi pionir, organisasi² kegiatan beladjar, dsb. tidak mempunjai ikatan organisatoris dengan mereka dan kegiat- annja tidak dapat menarik setjara aktif kegiatan mereka, maka lebih menondjol lagi kepentingannja dan lebih besar lagi daja-pengaruhnja tempat² hiburan. darmawisata, taman² batjaan, dsb. terutama kepada mereka jang belum berorganisasi. Didalam kita me-njebut² organisasi kepanduan, se- bagai salahsatu alat pendidikan diluar sekolah. disam- ping kita setudjui kegunaannja, kita tidak setudju segi²- nja jang kita anggap negatif jalah segi² "Lord Baden Powelisme", jalah peng-agung²an terhadap negara jang ada dengan tidak memisahkan apakah negara tsb. di- gunakan untuk menindas Rakjat atau tidak, tidak ada- nja penekanan pendidikan tjinta-tanahair, tjinta-Rakjat dan tjinta-kerdja. Djadi pengorganisasian pendidikan diluar sekolah pada pokoknja pengorganisasian segala kegiatan untuk pemuda dan anak² jang bersifat kreatif, gembira, sportif, menjegarkan jang mendorong semangat beladjar, jang mengembangkan daja tumbuh mereka dan semua ini dihubungkan dengan tugas² pendidikan. Mengenai pendidikan diluar sekolah ini djuga Seminar mengambil kesimpulan² jang berupa:

  1. mengingat kebutuhan jang mendesak dari se-
    genap murid² dan peladjar² serta mahasiswa, terutama mengenai kebutuhan buku² jang sesuai dengan djiwa Usdek dan Manipol, maka menjerukan kepada segenap sasterawan dan tjendekiawan agar menghasilkan tu- lisan serta karja² untuk memenuhi kebutuhan para murid. peladjar² dan mahasiswa, untuk pendidikan dan batjaan didalam dan diluar sekolah: djuga menjerukan kepada para penerbit untuk menerbitkannja dan toko- buku² untuk mendjualnja, jang didalam pelaksanaannja ini berarti mereka ikut ambil bagian didalam penjelesai- an Revolusi Agustus 1945 sampai ke-akar²nja.

  2. mengingat pentingnja Persatuan Orang Tua
    Murid dan Guru (POMG) sebagai alat pendidikan, maka menjerukan kepada segenap guru dan pendidik baik disekolah negeri maupun swasta dikota maupun di-desa² untuk mengambil inisiatif mendirikan POMG dimana belum ada dan untuk mengaktifkannja djika sudah ada. Seruan serupa djuga ditudjukan kepada orangtua/wali murid.

  3. pendapat perlunja ada kerdjasama diantara orga-
    nisasi² masjarakat (POMG, guru, peladjar, pemuda, kepanduan, RT/RK, dsb.) baik dengan bentuk badan jang permanen. ataupun insidentil, jang memikirkan pengorganisasian kegiatan² pendidikan didalam masjarakat, misalnja mengadakan rentjana kegiatan pada waktu liburan. dsb.

  4. seruan kepada masjarakat untuk memperluas
    -berdirinja Taman-Kanak² dan dimana mungkin djuga Kebun-Kanak² sebagai tempat ber-main² kanak² jang sekaligus djuga untuk memberikan pendidikan kepada mereka. Bantuan dan fasilitet dari pemerintah diharap- kan, dan supaja badan² jang berminat menggunakan- nja dengan se-baik²nja. Dengan tudjuan untuk lebih lantjarnja perluasan TK² dan KBK² maka hendaknja pemerintah meringankan sjarat² untuk mendapatkan bantuan dan fasilitet tsb.

  5. penilaian tentang pentingnja asrama² peladjar
    sebagai tempat berkumpulnja peladjar² dan sebagai tempat dimana mereka mengatur kehidupan mereka se- hari², djuga sebagai tempat untuk meringankan beban orangtua peladjar jang bertempat tinggal diluar kota, maka usaha² dari pemerintah maupun dari pihak swasta untuk mendirikan asrama² peladjar perlu diandjurkan dan kepada penanggungdjawab² asrama tsb. diserukan untuk menghubungkan pekerdjaan mereka dengan pendidikan diluar sekolah.

  6. mengingat meningkatnja kegemaran membatja
    dari anak² dan pemuda² kita jang ini merupakan suatu tjiri jang sangat penting dan menggembirakan tetapi dilain pihak belum tjukup tersedianja buku²/ madjalah² batjaan dalam arti baiknja isi maupun dalam arti djumlah dan dilain pihak lagi masih banjak djustru jang tersebar buku²/madjalah² batjaan jang :80

tidak baik, maka perlu diperbanjak dan diperluas pe- nerbitan buku²/madjalah² batjaan, atau kumpulan tje- rita² pendek jang mendidik jang disesuaikan dengan tingkat² usia mereka, baik jang berupa tjiptaan² atau- pun terdjemahan. Demikianlah maka sebagai penutup berdasarkan semua keterangan tsb. diatas maka konsep atau pen- dirian PKI mengenai berbagai hal pokok dalam pendidikan ini kita namakan Untuk pendidikan nasional, kerakjatan dan ilmiah". Nasional dalam arti mempunjai bentuk dan disesuaikan dengan keadaan chusus nasional Indonesia serta mempunjai watak anti-impe- rialis, kerakjatan dalam arti mempunjai unsur pokok demokratis dan berwatak anti-feodal, membuka seluas mungkin meluasnja pendidikan dikalangan Rakjat dan ilmiah dalam arti apa jang dididikkan dan diadjarkan serta tjara memberikannja bersifat ilmiah.

PENDIDIKAN NASIONAL, KERAKJATAN DAN ILMIAH

23 22 21 20 19 18

17 16 15 14 13

12 11 10 9 8 7

6 5 4 3

SCHEMA SUSUNAN PENDIDIKAN

SEKOLAH-TINGGI (paling lama misal- (dengan sja- nja ± 5 th.)

TINGI

rat² chusus)

PENAN

A Klas 11 Sekolah 10 Sekolah menengah 9 menengah Sekolah kedjuruan umum Kemasja- 8 (± 5 th.)rakatan 7 2 2 .AAT 7 UUM Klas 一 6 5 4 SEKOLAH — RENDAH 3 2

PEAN

1 个

TAMAN-KANAK² (1 atau 2 th.)

DIRUMAH PENITIPAN KANAK² DLS.

PENANPRA LAH

ke masjarakat untuk bekerdja sambil beladjar dengan segala matjam djalan (teori dan politik) Sjarata chusus dari masjarakat untuk masuk Per- guruan Tinggi perlu lebih landjut dipertimbang- kan dengan mengingat disamping unsur demokra- tis djuga unsur mutu ilmiahnja.

Keterangan :

  1. T.K. : djika hanja 1 th. anak² masuk pada umur 6 th.
  2. .>

ISI hlm. 3 Pengantar kata .. Untuk pendidikan nasional, kerakjatan dan ilmiah- 5
Jusuf Adjitorop....
Hasil² seminar pendidikan (umum) PKI Untuk pendidikan nasional, kerakjatan dan ilmiah Apakah tudjuannja dan urgensinja Partai menjeleng- 13

Mengenai pentingnja bidang pendidikan......... 14 23
Susunan Pendidikan .... 30
Ilmu mengadjar sebagai sendjata ditangan guru
I. Pendahuluan ........ 46
II. Arti kata ,mendidik" dan siapa jang mempunjaitanggungdjawab mendidik .....

Bagaimana mengenai dasar atau azas pendidikan kita?

47 III. Ilmu mengadjar sebagai sendjata ditangan guru 48
IV. Beberapa masalah tentang prinsip= didaktik ..... 50

y. Apa jang perlu kita ketahui tentang metodik ..... 62

Penjaturagaan pendidikan
Tudjuan ..... 70
Mengenai masalah pengorganisasian....... 77
Schema susunan pendidikan .......

Bidang usaha ..

Rp. 40,-

P.I.R. 368/1962 — 5000 expl.