RIWAJAT
EJANG
DJUGO PANEMBAHAN
Tunung
COEX ING
Kawi
·OLEH: IM YANG TJU
Riwajat
Ejang Djugo
PANEMBAHAN GUNUNG KAWI
Dihimpun oleh:
IM YANG TJU
Penerbit: Toko ASTAGINA" Djl. Raya Bubutan 146 SURABAJA.,
PENGANTAR KATA : Untuk menulis buku ini, saja menghadapi banjak kesukaran, oleh karcaa tidak mudah mentjari orang tua-tua jang mengetahui riwajat penghidupannja 'Mbah Djugo, jang sudah meninggal dunia pada 74 tahun jang lampau. Dimana sadja saja mendengar ada orang tua jang mengetahui kisah sang wiku, lantas saja kundjungi walaupun djauh. Tapi seringkali ternjata ia tidak dapat memberikan keterangan suatu apa, lanja tjuma sekadar petundjuk ke- pada siapa saja harus pergi. Merajap lambat, disana mendapat keterangan sedikit, kemudian saja mendapat sedikit lagi dari jang lain. Achirnja sesudah saja mengundjungi banjak tempat, ke Tuban. Bodjonegoro, Tjaruban dan seba- gian wilajah Madiun, memutari daerah Malang, dari Kepandjen terus ke Sum- berputjung, Kesamben, Welingi, Blitar dan Tulungagung. kemudian menjelusup desa-desa di Gunung Kendeng, dari Lodojo ke Binangun, Banjuurip.Gunda: g- tapen, Sijodadi, terus masuk hutan sampai dipantai Laut Kidul Djalasutra. barulah dapat szja himpunkan bahan-bahan jang tjukup untuk mewudjudkan adanja buku ini. Demikianlah, muda-mudahan tinta jang tertjampur keringat ini akan ada djuga faedahnja. Im Yang Tiu. Ngobori Margi Hamadangi Djanmo.
Buku inl tidak boleh DISALIN atau DIKUTIP. Hak Pengarang dilindungi oleh Stb. 1912, No. 600, Fatsal 11.
Balaupata, akan tetapi disitu orang akan merasa ada apa-apa jang luar biasa, orang akan termenung sedjenak, pantas djikalau sampai disitu siapa jang bertabeat sombong lantas hilang kesombongannja. Disini kita mulai menghadapi pula tandjakan jang tjukup tinggi, tetapi seluruhnja dibuat dari beton, nampak sebagai naga mendjalar dari bawah naik keatas, pandjangnja hampir 1 kilometer dan 2 meter lebarnja, maka setelah mengindjak plester dibawah Gapura, orang tidak mengindjak tanah biasa lagi, hanja djalan diatas boton sehingga sampai didepan undakan pendopo pesarean. Siapí, sadja jang berdjalan menu- dju kesitu, nanti akan membajangkan dan merasakan kebesarannja Ejang Djugo jang tiada taranja. Orang-orang jang membawakan barang. barang kita, jang kita tidak kenal, telah berdjalan djauh dan sudah tidak kelihatan pula, tetapi aneh sekali hati kita tidak tjuriga, tiaak selempang barang-barang itu hilang, dan memang betul buruh pemikul barang-barang kita sudah berada diatas, sudah menunggu disana dengan tidak ada setjarik kain jang hilang, karena ditempat itu tidak ada crang djahat. Tempat jang kita sampaikan pertama, jalah rumah bekas pede- pokannja 'Mbah Djugo, dimana bale-bale tempat tidurnja dengan bantal dari gelugunja pohon kelapa, masih ada untuk peringatan dan dihormati oleh orang-orang jang tjinta kepadanja. Lewat dari situ, sampailah disuatu kebonan jang dinamakan Taman Sari. Disini ada beberapa pendirian, kupel-kupel jang mungil, diantara kupel mana ada jang dinamakan balai pewajangan, jaitu tempat untuk main wajang purwa siang atau malam, jang diadakan oleh mereka orang-orang membajar kaul karena permohonan dan pengharapannja telah kesampaian. Ditempat itu kita akan mendjumpai sebuah pintu seketeng seder- hana, jaitu pintu pertama dari antara ketudju buah pintu seketeng jang sampai dimuka pendopo kuburan. Disitu ada orang-orang jang djual kembang dan anak-anak desa jang djual akar alang-alang dan lain rumput obat dengan mereka menjebutkan nama dalam bahasa Tionghoa: rumput Tjinkwetjin, Besiong, patekim, jang biasanja dibeli oleh para tetamu untuk dibawa pulang, guna mengobati kanak-kanak jang badannja panas. Disebelah kiri ada sebuah pasar ketjíl, dipinggir djalanan ada warung-warung kopi dan makanan. Djalan terus sedikit nandjak, bersih dan rapí, disepandjang pinggir sebelah kiri ada berdiri tiang-tiang kaju untuk menggantung lampu, tiap-tiap beberapa belas meter satu tiang. Sesudah melewati empat buah seketeng lagi, kita sampai dirumahnja djuru kuntjí, disitu kita mendjumpai sebuah pintu seketeng jang keenam, letaknja diatas undak- undakan jang tinggi, pintu ini adalah pintu jang terbesar, diatasnja ada tergantung sebuah papan dengan tulisan huruf Djawa: Pesarean Kawi". Dibawahnja ada sebaris tulisan lagi jang berbunji: Kumbuling Sabdo,
Marganing Leno". Setelah melewati pintu ini, kita akan sampai di Pat Kwa Teng, sebuah pendopo ketjil bersegi delapan, tempat untuk sembahjang dengan aturan Tionghoa, tidak bedanja dengan tjara jang dipakai didalam klenteng, dengan dupa hioswa dan lilin, siapa jang mau minta obat atau menanjakan peruntungan boleh melempar kaju papwe, kemudian tjabut tjiam dan ambil surat obat atau surat ramalannja. Orang jang datang kemari tidak ada putusnja, kadang kali sampai antree ber- djedjel-djedjel. Berpuluh pasang lilin merah padang menjala, beribu batang hioswa mengepulkan asapnja jang harum kemana-mana. Lewat sedikit dari situ, sesudah pintu seketeng jang ketudju, mak. menampaklah kita suatu bangunan agung jang indah, dan inilah pesa- rehan Gunung Kawi jang tersohor tiada bandingannja. Disamping kiri sebelah bawahnja lagí, ada sebuah rumah untuk orang-orang jang ingin melakukan ibadah áan tidur terpisah. Dibela- kang rumah ini, adalah djalanan jang menudju ketempat pemandian, turun kedalam djurang dengan undak-undakan batu plester jang bagus, dibawah ada air dari sumber jang agung dan djernih, dimana ada kamar-kamar mandi jang terpisah untuk lelskí dan perempuan sendiri- sendiri, pantjorannja besar-besar, suaranja mengguruh-guruh, airnja jang terbuang merupakan sebuah sungai jang deras, menudju kebawah, mengalir kekebon dan sawah-sawah, sebagai lambang dari kebesarannja Panembahan Gunung Kawi jang murah nati dan tjinta. kasihnja me- ngutjur mantjur tak ada habis-habisnja.
DJALANAN BARU. meiewati tegalan hidjau jang berombak-ombak indah sekall
PINTU GERBANG djalanan baru jang lewat desa Bumiredjo.
GAPURA GUNUNG KAWI. Ini hanja untuk para tamu Jy. berdjalan kaki. Para penunggang kuda harus djalan kekiri, nanti tepung didjalanan pertiga dekat pedepokan, dari situ djalan kaki sampai dipesarean.
DJALANAN KEPESAREAN. Daun djagung daun katjang memain dengan angin pegunungan jang adem. daun pisang bergojang-gojang. daun njiur melambai-lambai, histanja seperti memberi selamat datang kepada para tamu jang baru sampai.
RUMAH PEDEPOKAN. Disini Sang Wiku bc.diam sedjak pindah dari Djugo. Didalam masih ada bale-bale dengan bantal kaju gelugu puhun kelapa. Rumah pedepokan ini ada djuru kuntjinja sendiri. dulu Pak Muridun, setelah ia meninggal dunia, lalu diganti oleh anaknja nama Pak Murna'am sehingga sekarang.
TAMAN SARI. Sebuah kebun bungah jang sederhana, dimana ada beberapa kupel untuk duduk mengasoh. djuga ada puhun-puhun Mergo tomo dan Dewandaru.
尽染
GUNUNG KAWI DIWAKTU SENDJA. Pintu seketeng dengan tiang-tiang gantungan lampu, berderet-deret dari bawah sehingga dige- dung pesarean. Tiap-tiap hari Rebo Wagé sehingga Djumahat Legi. djalanan ini sangat ramainja, dari sijang hari sehingga malam terus sampai pagi.
SEKETENG JANG KEENAM. Disebelah kiri undak-undakan ada- lah halaman belakang rumahnja djuru kuntji, dimana ada pantjoran air untuk tjutji-tjutji dan lain-laln keperluannja para tamu perempuan.
KUPEL PAT KWA TENG. Tiap hari ratusan orang bersudjut di- sini. Didalam. ada sebuah patung harimau dari kaju, jang orang anggap sebagai binatang piaraannja Thay Lo Su. tugasnja mendjaga dan mba- burekso Gunung Kawi.
PENDOPO SAMPING. Tempat untuk orang-orang jang ingin tidur terpisah. Disini sunji dan tenang, orang dapat mengheningkan tjipta dgn. tenteram.
TEMPAT PEMANDIAN. 2 rumah jang nampak dibawah adalah tempat mandi dengan pantjoran jang besar-besar dan djernih. Dari atas turun kesana harus mendjalani 183 undakan, tidak heiran djikalau sehabis mandi nona2 manis sama mengasoh sebentar, sembari mendengarkan sua- ranja burung podang diatas puhun.
KI PELET. Tjerita jang terputus-putus dibawah ini adalah jang akan mene- rangkan siapa adanja Ki-ageng Djugo, jang cleh orang-orang Tionghoa mendapat sebutan Thay Lo Su. Kira-kira pada pertengahannja abad kedelapanbelas, atau kurang lebih 200 tahun jang lampau, di Tuban ada seorang putera bupati jang bertapa didalam sebuah hutan lebat, dimana tidak ada orang jang berani masuk, karena hutan itu terkenal angker, banjak setan breka- sakan dan banjak binatangnja jang buas-buas. Putera bupati itu menapahi dirinja supaja badannja kebal alau weduk tidak mempan sendjata, karena ia sakit hati telah dihinakan oleh puteranja bupati Blora, sesudah mendapat kesaktian ia ingin menuntut balas. Sedang ia bertapa mesuh badan itu, tiba-tiba ia nampak seorang lelaki jang rupanja angker tapi halus gerak lakunja, entah dari mana sangkan datangnja, ia hanja tahu sudah berada dihadapannja. Orang itu bertubuh tinggi daon kupingnja sangat besar, sebagaimana jang biasa tertampak pada artja-artja batu patungnja orang-orang bangsa- wan didjaman kuno. Orang itu telah menanja: Anakku, engkau mentjari apa bertapa menjengsarakan diri didalam dalam hutan?" Saja ingin tubuh saja kebal tidak mempan sendjata", djawabnja putera bupati itu. Apa gunanja orang weduk?" kata orang itu sembari bersenjum. Orang jang kebal, tandanja takut mati. Ia ingin tidak mempan sendjata, karena ia ingin hidup terus, tapi dimanakah ada anak tjutju turunan Adam jang dapat hidup selama-lamanja? Bisa orang mendjadi kebal, bisa orang tidak dapat dikalahkan oleh sesama mnusia pantaran- nja, tetapi siapa jang paling unggul djustru dialah jang akan paling menderita, karena dia akan berhadapan dengan Betara Kala, satu musuh maha dahsjat jang tidak dapat disingkirkan lagi. Maka guna apa ma- nusia ingin sakti dan kebal, karena achirnja ia akan mati djuga, tidak mati diudjung sendjata toch mati lantaran kriput dan rongsok". Seorang satriya perlu mempunjai kegagahan dan kesaktian", djawab putera bupati, karena tugasnja mendjaga keamanan, membela rakjat dan negeri". Orang itu mendjawab: Djikalau maksudmu bertapa dengan maksud demikian, engkau akan bahagia. Tetapi maksudmu bertapa hanja untuk membalas dendam belaka, maka upama engkau dapat kesaktian itu bukan kesaktian jang sedjati". Ketika sang putera bupati mendengar perkataan itu, seluruh tubuh- nja lantas menggigil, ia terkedjut bukan buatan, orang telah menduga dengan tepat segala niatannja, maka lalu ia menjungkam diatas tanah
seraja berkata: ,Ejang, saja mohòn diberi petundjuk, apa jang saja harus lakukan?" Pulang sadja kekota", djawab orang itu, karena rama dan ibumu sedang mengharap-harap dengan hati tjeras. Lupakanlah segala per- musuhanmu dengan siapapun djuga. Suradira djajaningrat, lebur dening pangastuti". Habis berkata lalu orang itu pergi masuk kedalam rimba jang gelap dan terus musna tidak tertampak bekas-bekasnja lagi. Pütera bupati itu pulang kekota, menuturkan segala pengalamannja kepada ajahnja, jang lalu menitahkan orang-orang sebawahannja, djikalau ada jang melihat orang aneh dengan tanda-tanda sebagaimana jang dituturkan oleh puteranja, supaja lekas memberi kabar. Tetapi sehingga bertahun-tahun tidak ada kabar apa-apa, hanja satu kalih ada jang melihat orang sematjam itu di Sedaju, ketika diselidiki lebih djauh, ternjata sudah tidak ada, katanja ia telah pergi kedjurusan Timur me- ngikuti sepandjang pantai lautan. Bupati Tuban mengumpulkan orang-orang tua atau orang-orang jang sering melantjong dan banjak pengalaman, menanjakan barangkali ada jang dapat menerangkan siapa adanja crang aneh itu. Diantaranja mereka ada jang mengatakan bahwa boleh djadi orang itu namanja 'Mbah Pélét, seorang alim jang tidak karuan tempat tinggalnja. KI BADJUL. Pada pungkasannja djaman Margalunju, dipinggir hutan Bowerno (Bodjonegoro) ada seorang tua jang aneh, bergelandangan masuk keluar hutan lebat seorang diri, dengan tidak ada seorangpun jang dapat menduga apa maksudnja. Kadang-kadang satu waktu ia keluar hutan, duduk diatas batu besar atau ditangkal pohon, memandang orang-orang desa jang sedang potong kaju. Jang mengherankan, orang tua itu walaupun masuk keluar hutan jang rungkut penuh duri dan tanahnja berlumpur, namun pakaiannja selamanja bersih tidak tjompang-tjamping sebagai orang djembel. Kumis dan djenggotnja pandjang, mukanja kemerah-merahan lantaran terbakar sinarnja mata-hari, -daon telinganja lebar, lebih lebar dari kupingnja orang-orang biasa. Hutan-hutan didaerah Bowerno sedari dahuiu kala sudah terkenal banjak matjannja, tetapi sedjak orang tua itu berada disitu, orang tidak pernah melihat pula binatang-oinatang buas itu, sehingga bekas-bekas djedjak telapakan kakinja jang dulu banjak terdapat dimana-mana, kini tidak tertampak lagi, maka perlañan-perlahan orang sama berpikir, apakah orang tua aneh itu jang mempunjai pribawa, sehingga bangsa harimau sama menjingkir ketempat lain? Belakangan disitu ada timbul banjak matjam penjakit, orang-orang
sama menderita, gelisah dan ketakutan. Ada seorang anak ketjil sakit- nja sudah pajah, panasnja naik tinggi hingga ia merintih dan menangis tiada berhentinja. Dalam tangisannja anak itu mengatjo, sebentar- sebentar menjebut minta obat kepada Kjai Badjul. Kjai Badjul? Siapakah Kjai Badjul itu?"Demikianlah orang saling menanjak, karena tidak ada jang tahu Kjai Badjul itu siapa. Tapi achirnja ada orang jang mengira bisa djadi Kjai Badjul adalah orang tua aneh jang sering duduk diluar hutan itu. Maka ibunja anak jang sakit itu, dengan tidak berpikir lagi, terbawa oleh ketjintaannja seorang ibu jang takut kehilangan anaknja, telah mendukung si djebeng dengan berlari-lari pergi kepinggir hutan mentjari orang tua jang aneh itu. Ketika ketemu, ia menjodorkan anaknja seraja berkata: Kjai. tulung anak saja, kjai". Orang tua itu lalu pegang kepalanja si djebeng jang panas sebagai
bara, sembari dielus-elus ia berkata: Waras, 'gus, waras.....
Maka sewaktu itu djuga, anak itu telah sadar dari pingsannja, bibirnja makin merah dan lantas sembuh sehat sebagai dulunja. Kedjadian ini menerbitkan kegemparan, berdujun-dujun orang minta obat, ada jang dipikul dengan bale bambu, pula ada jang digendong. Maka orang tua jang sakti itu lalu memberi tahu bahwa siapa jang minta obat tidak perlu sisakit sendiri dibawa kesitu, hanja dengan membawa botol atau bumbung bambu berisi air bersih sudah tjukup. air itu diberi sabda lalu dibawa pulang dan boleh diminumkan, sisakit lalu sembuh. Ada bánjak djuga jang datang dari tempat djauh tidak membawa air dari rumah, maka oleh orang sakti itu tjukup dengan dikasih daon atau kembang jang dapat dipetik disitu, sampai dirumah barang itu direndam dalam air, maka airnja dapat mendjadi obat. Lantaran banjaknja orang jang minta obat, maka orang tua itu jang terkenal dengan nama Kjai Badjul, tiap pagi sudah ada diluar hutan, duduk dibawah pohonn rindang, menantikan orang-orang jang datang minta obat. Djikalau matahari sudah surup, ia masuk kedalam hutan jang lebat, entah dimana ia tidur, tidak ada orang jang menge- tahui. Penjakit jang berdjangkit di Bowerno dan seputar Bodjonegoro perlahan-perlahan mulai redah, pagebluk musna dan hawa udara lalu mendjadi bersih, sehat dan segar seperti dulunja. Rupanja Kjai Badjul merasa tugasnja sudah selesai, maka tidak lama iapun pergi masuk kedalam hutan dan tidak keluar kembali, meski orang mentjari dimana-mana tidak dapat diketemukan lagi. Orang-orang jang suka berpikir banjak jang merasa sangsi, apakah betul orang tua itu namanja Kjai Badjul? Karena utjapan itu pertama terdengar keluar dari mulutnja seorang anak ketjil jang sedang sakit,
tentunja suaranja pelo dan kurang njata. Tapi orang tua itu tidak
menghiraukan, ia dipanggil Ki Badjul atau nama apapun, karena me- mang demikian perasaannja orang-orang jang luhur batinnja. Sedjak itu tidak ada orang jang menampak lagi Ki Badjul di Bowerno, maka kedjadian itu makin sawat dan achirnja terlupa sama sekali. KI GEMPLO. Kedjadian ini di Tjaruban, daerah Madiun. Pada suatu hari ada djalan disitu seorang orang jang menunggang kuda besar berbulu hitam, tjelananja pandjang badjunja tjara Mataram, hingga nampaknja angker dan gagah. Kuda itu jang dilarikan sangat tjepat, mendadak djatoh terserimpat sebuah kerandjang sampah kotoran jang dilempar orang ditengah djalan. Kudanja djatoh, tapi si penumpang jang ternjata sangat pandai, tidak turut djatoh, hanja kakinja terpentang mengindjak tanah sebelah atas leher tunggangannja. Sesudah menulungi kudanja berdiri pula, orang itu menoleh kesana-kemari, dimana banjak sekali sampah dan kotoran jang dibuang orang semau-maunja sadja, hingga keadaan disitu mendjadi mesum nampaknja. Orang itu lalu berkata dengan suara keras, hingga orang-orang ditempat djauhpun turut dapat mendengarnja: Saudara-saudara, dja- nganlah membuangi sampah dan kotoran sedjadi-djadinja sadja, bersih- kanlah kampung halamanmu, karena tidak lama akan datang malape- taka penjakit menular jang membawa kesengsaraan". Habis berkata lalu ia naik pula kudanja menudju kesebelah Timur. Penduduk Tjaruban rupanja tiada menghiraukan nasehatnja pe- nunggang kuda itu, maka lewat tidak lama betul sadja disitu telah timbul wabah penjakit jang maha dahsjat, sampai ada jang mengatakan: sakit sore, pagi mati! sakit pagi, sore mati!! Sedang orang-orang dalam penderitaan dan ketakutan, tiba-tiba datang kesitu seorang tua pakai tudung topi lebar seperti biasanja dipakai oleh tukang angon bebek, membawa tungkat berdjalan dengan perlahan, tungkatnja berbunji djika kena tanah keras jang dilaluinja. Ketika mendengar suara ta- ngisannja seorang orang perempuan dari dalam sebuah rumah, kaki tua itu menghampiri seraja menanjakan ada kedjadian apa jang menerbitkan kesedihannja. Perempuan itu memberi tahu bahwa suami- nja telah mati terserang penjakit perut muntah-muntah, anaknja jang besarpun telah mati kena penjakit itu djuga, sekarang anaknja jang paling ketjil tinggal menunggu adjalnja, maka ia menangis sesambatan karena ia tidak akan dapat hidup lagi djikalau ditinggalkan mereka semua jang tertjinta. Orang tua itu lalu minta air satu gajung, sesudah ditiup tiga kali lalu air itu diminumkan dan dioles-oleskan kepalanja anak jang sakit, maka sebentar anak itu lalu sembuh, bisa bitjara dan dapat duduk seperti sediakala.
Dari situ orang tua itu lalu pergi kelain rumah, djikalau ada jang sakit lalu diobati, dengan diiringi oleh orang banjak jang anak atau pamilinja telah ditulung, ramai-ramai mereka mengundjungi rumah-rumah jang sedang dihinggapi malapetaka itu. Sebentaran sadja seluruh Tjaruban lalu mendjadi gempar atas ke- datangnja orang sakti jang welas asih itu, mereka berterima kasih tiada sudahnja, banjak jang minta supaja orang tua itu minap dirumah- nja sadja, tapi orang tua itu menampik, ia lebih suka tidur didalam gubuk ditengah sawah, besuk harinja ia datang lagi mengidar diseluruh kampung untuk melandjutkan danahusadanja, sehingga semua jang menderita djadi sembuh dan hawa udara disitu mendjadi bersih dan sehat kembali. Orang-orang ingin tahu namanja, maka ada jang berani madjukan pertanjaan: Kjai, siapa nama kjai dan dari mana datangnja kjai?" Namaku Ki Gemplo, datang dari tempatmu dan akan pergi ketem- patmu", demikian djawabnja, seperti atjuh-taatjuh, maka orang-orang jang bisa berpikir saling menanja dalam hatinja: apakah betul namanja orang tua itu Ki Gemplo? karena waktu mendjawab itu rupanja seperti jang tidak ada minat akan mendjawabnja. Hanja ada orang jang masih ingat, rupanja orang tua itu ada mirip dengan panunggang kuda hitam jang dulu parnah menasehati supaja orang Tjaruban membersihkan kampung halamannja. Tanda-tandanja jang njata jalah terutama daon telinganja jang besar, tidak ada lagi lain orang jang kupingnja sedemikian besarnja. Sesudah Tjaruban bersih dari wabah penjakit dan orang-orangnja telah bebas dari ketakutan, maka Ki Gemplo lalu menghilang pergi kedjurusan Timur, tak ada orang jang tahu ia pergi kemana. Hanja lewat beberapa bulan kemudian, diwaktu tengah malam orang-orang disitu ada mendengar suaranja kaki kuda jang berdjalan dari Timur menudju kedjurusan Barat, dan sesudah itu tidak terdengar lagi tentang Ki Gemplo, maka lama-lama orangpun sama lupa. KI DJENGGOT. Tiap pagi hari sudah ramai dengan orang berdjalan, karena mereka kebanjakan adalah kuli-kuli jang hendak pergi ketempat pekerdjaan membuat bendungan di Kali Kedungkandang dan Kali Modjo, didaerah Malang. Diantara mereka sering-sering orang menampak seorang tua ber- djenggot pandjang, tapi ia tidak turut bekerdja, hanja sewaktu ber- djumpah ditengah djalan, sewaktu ditempat pekerdjaan, orang banjak-
pun tiada menghiraukan, karena mereka ada didalam tugasnja sendiri-
sendiri.
Pada waktu kuli-kuli sedang mengasoh tengah hari, mereka duduk
berkelompok-kelompok, ada jang bertjanda, ada jang mengomong-omong. ada jang ngantuk melenggut dibawah pohon, menuruti kesukaannja masing-masing. Diantara mereka ada menjelak Ki Djenggot. Salah seorang ter- ingat bahwa orang tua itu sering mendekati djikalau ada orang sedang matjuli tanah, satu waktu mengambil tanah itu dilihat-lihat dengan penuh perhatian, orang tidak mengerti apa maksudnja, maka sewaktu dalam mengasoh itu iseng-iseng kuli itu menanjak: Pak Djenggot, sering wara-wiri disini sebetulnja mentjari apa?" Saja hendak mentjari tempat jang baik", djawab Ki Djenggot, entah namanja jang betul siapa, tapi ia rupanja tidak keberatan dipanggil Ki Djenggot karena memang ia ada berdjenggot pandjang. Tempat jang baik jaitu dipasar", kata seorang dengan memain sekenanja, ,karena dipasar adalah tempatnja makanan jang enak-enak". Ki Djenggot bersenjum kemudian berkata: Memang betul omong- mu, dipasar adalah tempat baik, sumbernja kesenangan dan kenikmatan dunia, tapi bagai saja sudah tidak tjotjok lagi, karena saja sudah tua, gigiku sudah ompong". Waktu itu ada seorang anak muda jang kurang adjar, bitjara sekeluarnja, tidak dapat membedakan mana kata-kata jang baik mana jang tidak, telah menjambungi: Tempat jang baik buat orang tua
jaitu kuburan......."
Kalau orang biasa mendengar omongan itu tentunja marah, tapi Ki Djenggot sama sekali tidak sakit hati, hanja mendjawab dengan suara sungguh-sungguh: Betul sekali perkataanmu, walaupun engkau mengutjapkan dengan tidak sengadja. Orang hidup perlu mendapat tempat jang baik, tapi orang mati ada lebih perlu lagi, karena hidup itu adalah melantjong dan hanja sebentar, tapi mati adalah pulang dan akan tinggal lama, ja lama sekali, hingga dirsakan sebagai selama- lamanja... Perkataannja orang tua itu telah menerbitkan getaran jang me- nembus kedalam djiwanja siapa jang mendengar, hingga mereka sama diam, hatinja kekas dan hormat, walaupun tidak ada jang mengerti djelas maksudnja omongan itu.
Setelah itu Ki Djenggot lalu pergi menudju kesebelah Barat, tidak
ada jang tahu dia pergi kemana, karena tidak ada orang jang pernah
melihat pula.
Beberapa orang tua sama menduga-duga, apakah dia Ki Pélét atau
Ki Badjul? Atau seorang itu djuga jang dipanggil Ki Gemplo? Ten-
tang ini fidak ada jang dapat menerangkannja.
Kemudian orang tua jang aneh itu muntjul pula, ketika orang sedang bingung dan putus asa, karena dam bendungan di desa Sonosari ambruk sadja. Tatkala kandjeng bupati Malang sedang memeriksa disitu, Ki Djenggot jang waktu itu berpakaian badju djubah dengan ikat pinggang tali lawe, telah memberi petundjuk bahwa dam itu tentu akan gugur sadja, karena orang sudah lupa minta izin perkenannja badan alus jang bersemajam disitu. Ia·menerangkan bahwa dibawah pohon beringin tua dipinggir sungai, adalah sebuah kuburan kuno jang lantaran tidak terpelihara maka telah tertutup akar dan solor pohon hingga batu tengernja tidak tertampk pula. Sajogianja orang harus membuat sedekah selamatan disitu, dengan potong kambing kendit, do'anja kabul selamat, sadjennja wedang djembawuk dengan arang- arang kambang dan djuwadah pasar selengkapnja. Sebelumnja selamatan harus djangan lupa menabuh gamelan dengan gending Kebogiro, kemudian sesudah bubar selamatanpun gending itu ditabuh sekali lagi Nasehatnja orang tua itu telah diturut, maka betul sadja sesudah itu dam Sonosari tidak pernah gugur pula, berdiri kokoh sehingga kini.
BENDUNGAN DI SONOSARI. Dibawah gerumbulan pohon beringin jang tertampak ditengah, adalah letaknja kuburan tua kramat Mbah Singomojo, jang setelah diselamati dengan diiringi gamelan gending Kebogiro, barulah bendungan itu tidak gugur pula.
KI NGALIMIN. Didesa Ngadimulia, bawah Kepandjen, ada hidup seorang orang perempuan djanda, namanja 'mbok Dimah, jang didupnja dalam miskin, tapi tidak sengsara, karena hatinja nerima dan senang dalam keada- annja. Didepan rumahnja 'mbok Dimah ada sebuah gentong dengan siwur- nja, airnja selalu penuh dan bersih, disediakan untuk orang-orang jang berdjalan lewat disitu, siapa sadja jang merasa dahaga boleh minum sepuas-puasnja. Pada suatu hari, sedang udara panas teriknja bukan main, oleh karena Betara Surya menggintjlang-gintjlang diatas langit, ada lewat seorang tua berdjalan kaki tanpa tjerepu, djenggotnja pandjang, ku- pingnja lebar. Ketika menampak gentong air disamping pintu pagar dengan gajungnja masih baru ada tertjantel didekatnja, maka orang tua itu lalu mampir seraja berkata: ,'Mbok mas, apa boleh saja num- pang mengasoh disini sebentar?" Boleh, kjai, boleh mari duduk menghilangkan tjapek". Djawab 'mbok djanda dengan ramah-tamah. Sesudah memandang keadaan diseputar situ sebentar, maka orang tua itu menanjak: 'Mbok mas, apa perlunja menjediakan air didalam gentong itu?" Oh kjai", djawab 'mbok djanda Dimah, menurut kata, orang tua-tua, baik sekali orang melakukan tapabrata, tapi kalau tidak sanggup tapabrata, danabrata sadja djuga boleh. Saja tidak sanggup tapabrata, karena saja seorang perempuan bodoh, maka biarlah saja mendjalankan danabrata sadja, sedapt-dapatnja karena saja seorang miskin, tidak mampu memberi dana lebih dari pada seteguk air untuk siapa sadja jang keháusan ditengah djalan. Memberi tungkat kepada jang djalan ditempat litjin, itulah dananja orang jang kuat; memberi pakaian kepada jang telandjang itulah dananja orang bangsawan; memberi makan kepada jang sedang kelaparan itulah dananja orang kaja. Saja tidak kuat, tidak bangsawan, tidak kaja, maka saja lakukan sadja dana air minum kepada jang sedang kehausan, karena kesang- gupan saja memang hanja sedemikian". Mendengar djawabannja 'mbok djanda miskin itu, orang tua itu lalu berdiam terpungun-pungun, kedua matanja mengembang air, memandang ketempat djauh sebagai orang jang sedang mengimpí. Lama kemudian barulah ia berkata: 'Mbok mas, tanahmu ini tjukup lebar, djikalau ditanami buah-buah palakesimpar barangkali akan memberi hatsil jang baik. Kalau kau suka nanti saja jang tanam dan rawat, sapa tahu nanti hatsilnja dapat digunakan olehmu untuk danaboga atau dana- busana sekedarnja jang kau inginkan". Oh baik, kjai, baik djikalau kjai suka lakukan". Demikianlah
djawab 'mbok djanda dengan girang. Maka orang tua itu lalu tinggal disitu, tidurnja djauh dari rumah, jaitu didalam sebuah gubuk ketjil jang ia bikin dipodjok tegalan, dimana ia lalu tanam semangka, ketimun dan lain-lain palakesimpar, jang ngerembajak gemuk-gemuk dan segar bukan main, maka tegalan jang dulunja kering sebentar sadja telah berobah mendjadi hidjau war- nanja, buahnja semangka dan ketimun besar-besar luar biasa, agaknja seakan-akan barang pudjan jang terdjadi oleh kekuasaan tjipta. Orang tua itu mengaku bernama Ki Ngaliman, jang oleh 'mbok djanda Dimah dihormati sebagai orang tuanja sendiri. Buah-buah hatsil tetanamannja jang seakan-akan dipetik sore paginja sudah tumbuh, dipetik pagi sorenja sudah tumbuh pula, didjual tidak ada habis-habisnja, tidak lama telah membikin 'mbok djanda mendjadi kaja raja, walaupun jang digunakan untuk dana menulung orang jang ke- susahan tidak berhenti-hentinja. 'Mbok djanda kemudian membeli seperangkat gamelan jang sering dipindjamkan kepada orang-orang jang ada keperluan, gamelan itu oleh orang banjak dinamakan ,bonang timun gong semangka", karena dibeli dari uang pendapatannja djual semangka dan ketimun. Ketika 'mbok djanda Dimah sudah kaja, dapat piara budjang untuk merawat pekarangan dan tetanamannja, pakai pangon untuk piara sapi dan kambingnja, maka Ki Ngalimin lalu pergi, ditahan tidak dapat, ia bilang masih ada maksud jang harus disampaikan, maka sesudah itu orang tidak pernah melihat pula kepadanja. KI BREWOK. Desa Ngantruh bilangan Kepandjen, pada masa itu masih merupa- kan tanah tegal jang sunji, tapi rumputnja subur maka djadi tempat berkumpulnja tukang ngarit rumput untuk didjual kepasar Kepandjen, dan djadi tegal pangonan sapi jang menjenangkan. Dilapangan jang sedikit rata, dibawah pohon-pohon jang rindang, djikalau matahari sudah hampir lingsir biasanja ada berkumpul banjak anak-anak gembala dan orang-orang tuapun tidak ketinggalan sama duduk bersenda-gurau. Tiba-tiba mereka lihat seorang tua, tubuhnja tinggi besar, kumisnja tebal dan brewoknja pandjang, kupingnja besar, keluar dari hutan, rupanja hendak djalan menudju kelain tempat, tapi mendadak ia berhenti akan dengan tungkatnja menjutik sepotong kulit pisang jang terletak ditengah djalan. Hai anak-anak", kata orang tua itu, kamu djangan suka me- lempar kulit pisang disembarang tempat, apa lagi didjalanán umum, nanti mendjadikan orang tergelintjir dan menerbitkan tjilaka". Orang-orang dan kanak-kanak jang mendengar omongannja orang tua itu kelihatannja merasa malu, suatu tanda bahwa mereka memper-
hatikan nascnat itu dan merasa diri masing-masing bersalah dan kurang sempurna. Hal itu mendjadikan orang tua itu senang hati, maka ketika ia melihat seorang anak jang badannja penuh kudis, ia memberi pula nasehatnja: Engkau djangan mandi didalam sungai jang kotor airnja, nanti kudismu bisa hilang dan tidak gatal lagi". Kemudian ia memandang kepada orang banjak seraja berkata pula: Djikalau minum, djuga harus mentjari air jang djernih, supaja tidak kena penjakit". Waktu itu ada seorang anak lelaki, rupanja tjerdik, telah berani mendjawab: Sungai dan belik disini airnja kotor, apa kjai bisa memberi petundjuk dimana tempatnja air jang djernih?" Orang tua itu melengong, nampaknja seperti kaget, ia tidak njana mendapat djawaban sematjam itu, tapi achirnja ia tertawa seraja ber-
kata: Engkau seorang anak jang pintar sekali, hingga aku ketjele....."
Lalu ia pindjam aritnja seorang tukang potong rumput, mengadjak orang-orang jang ada disitu, pergi kesuatu perengan, dimana ada beberapa buah batu besar berdjedjer-djedjer. Dengan arti itu ia mem- batjok salah suatu batu jang paling podjok, maka seketika itu djuga lalu terbit sebuah sumber jang mengalirkan air sangat djernih. ,,Sumber ini kuberi nama sumber Sumael, untuk kamu orang-orang disini minum dan mandi". Setelah kata begitu, orang tua itu lalu
SUMBER NGANTRUH. Dulu namanja sumber Sumael, dibikin oleh Sang Wiku, untuk minum dan mandinja penduduk desa Ngantruh, letak- nja didekat Kepandjen arah Utara.
memandang pula pada anak jang pintar tadi, nampaknja sangat senang, lalu berkata pula: Engkau dibelakang hari bisa mendjadi seorang berpangkat". Sesudah berkata lalu orang tua itu pergi kedjurusan Barat, tidak ada jang tahu kemana ia sudah menudju. Belakangan sumber itu airnja makin bertambah besar, tapi namanja lalu diganti mendjadi sumber Ngantruh sehingga sekarang ini, airnja mengalir terus kebawah tjampur masuk kedalam Kali Metro. Anak jang pintar tadi, kemudian dibawa oleh bapak pamannja di Modjowarno, disekolahkan lekas madju sehingga bisa sekolah di Mo- djokerto, lalu ia mendapat tulungan dari gurunja sekolah terus ke Djakarta, dimana achirnja ia bisa mendjadi djaksa di Tjirebon. Orang tua pembikin sumber itu dinamakan Ki Brewok, lantaran tidak ada jang mengetahui namanja jang betul, djuga karena sesudah itu ia tidak pernah tertampak pula, maka achirnja telah dilupakan. DIKANDANGSAPL Kira-kira pada pertengahan abad jang lampau, desa Djugo masih sunji, karena sebagian besar daerah situ masih merupakan hutan lebat, tempatnja matjan, ular besar, monjet dan lain-lain binatang buas. Antara desa dan hutan itu, ada terbentang padang lalang jang luas, dimana biasanja kalau siang hari mendjadi tempatnja anak gembala dengan sapi dan kambingnja. Pada suatu hari anak-anak angon itu menampak seorang orang tua jang keluar dari hutan, datang menghampiri ketempat mereka, memandang keadaan diseputar situ, rupanja seperti sedang berpikir, kemudian lalu ia bertindak masuk kedalam hutan kembali. Dua tiga hari kemudian, orang tua itu muntjul lagi, ikut duduk bertjampuran dengan gerombolan anak-anak angon dan ketika mata- hari hampir surup kesebelah Barat, ia masuk kedalam sebuah kandang sapi jang sudah tidak terpakał, letaknja terpentjil sedikit djauh diluar desa, dimana ia duduk dan berdiam disitu pada waktu malam harinja. Kandang sapi itu miliknja Madsurja, seorang penduduk didesa Djugo, kandang itu ditinggalkan karena tidak ada jang djaga, hingga ternaknja hampir habis digondol matjan. Pagarnja sudah hilang, ting- gal pajonnja daon lalang jang sudah rombeng, sementara ditanah masih ketinggalan rumput kering bekas makanan sapi, dan itulah jang mendjadi tempatnja orang tua itu. Orang tua itu tidak ada jang menghiraukan, tapi tidak ada kanak- kanak jang berani mengganggu, karena sorot matanja sebagai sinarnja rembulan purnama, siapa jang terpandang akan mendapat rasa seakan- akan anak baji dipandang oleh ibunja. Sudah sekian lama orang tua itu berdiam disitu, tapi tidak ada
orang jang tahu apa jang dimakan tiap harinja, tidak ada jang pernah tahu dia tidur, hanja terlihat saban-saban ia masuk hutan dua tiga hari, kemudian keluar datang lagi duduk digubuk rombeng itu dengan anteng dan tenteram. Pada suatu hari didesa Djugo ada kedatangan dua orang prijaji dari Pati, pakaiannja mentereng, adat-istiadatnja baik, menanjak-nanjak kepada orang-orang penduduk desa, dimana letaknja tempat tinggal Panembahan Djugo. Partanjaan itu tidak ada jang dapat mendjawab, karena mereka belum pernah tahu atau dengar bahwa didaerah situ ada tinggal berdiam seorang pandita jang disebut Panembahan Djugo. Kedua tetamu itu mentjari-tjari diseputar tempat, tapi tetap tidak ada pengundjukan tentang sang bagawan jang mereka tjari itu. Ketika mereka sudah putus asa, mereka dengan perasaan ketjewa hendak berangkat pulang, mendadak terdengar suaranja sapi berpuluh- puluh ekor sama berbunji dengan berbareng, gemparnja bukan buatan, hingga diseluruh desa Djugo orang sama terkesiap, karena selamanja belum pernah kedjadian jang sedemikian itu, maka orang-orang desa sama keluar berlari-lari pergi ketegalan akan melihat apa jang mendjadi sebabnja. Katut dengan orang banjak, dua orang tetamu dari Pati jang sudah sedia hendak pulang itupun turut pergi ketegal perum- putan, jang letaknja diluar desa Djugo sebelah Tenggara. Ketika orang orang desa sampai ditempat sapi-sapinja, ternjata tidak ada apa-apa, sapi-sapi itu sudah diam kembali, sama makan rumput lagi dengan asiknja. Mendadak dua orang dari Pati itu menampak orang tua jang tinggal dibekas kandang sapinja Madsurja, maka dengan berlari-lari mereka menghampiri, sesudah dekat lalu meniarap dan mempeluk kakinja orang tua itu, dengan menangis la orang berkata: Aduh ejang,ejang, kita datang mentjari ejang, bahagia sekali sekarang bisa ketemu".
Bahagialah siapa jang berniat baik", kata orang tua itu seraja
pegang kepalanja dua orang prijaji dari Pati itu. Maka disini lalu
djelaslah bahwa orang tua itu adalah Sang Bagawan jang sedang di- tjarinja. Orang-orang desa jang melihat mendjadi sama terkedjut dan terheran-heran, lebih banjak djuga jang menjesal dan ketakutan, karena dulu-dulunja mereka tidak menghiraukan kepada orang tua jang dikira
tidak ada gunanja itu, tidak tahu bahwa sebetulnja seorang pendita
jang sutji dan agung. Maka ramai-ramai mereka sama djongkok di-
hadapannja sang wiku, jang menerima mereka dengan bersenjum dan
pandangan mata jang penuh ketjintaan.
Sang bagawan diadjak supaja tinggal didalam desa, tapi ia menolak,
mereka disuruh pulang, begitupun dua orang prijaji dari Pati itu ketika
sudah hampir petang disuruh tidur minap didalam desa sadja, sedang
ia berdiam dikandang sapi jang bobrok itu seorang diri, melewati malam jang sunji dan gelap-gelita. Didalam desa kedua orang dari Pati itu menuturkan didepan orang banjak, tentang riwajat dirinja sehingga ia orang menjusul kedesa Djugo mentjari sang panembahan. Riwajat itu adalah sebegai dibawah ini: DIHUTANPATL Ia orang berdua adalah kepala desa didaerah Pati, sebagaimana biasa masing-masing kepala desa sama kenal satu dengan lain, djikalau ada pesta atau kumpulan mereka berkumpul, satu waktu malah ber- sombong-sombongan saling undjuk kekajaannja, terutama diwaktu main djudi atau adu ajam, jang satu tidak mau kalah dengan lain. Demikianlah dalam suatu pesta mereka berdua telah pakai uang negeri untuk kalah berdjudi habis-habisan, lantaran takut ditangkap, maka ia orang lantas minggat masuk sembunji didalam hutan, tidak berani pulang sehingga berpuluh hari lamanja. Didalam hutan mereka menderita kesengsaraan, jang seorang sakit karena tidak tahan hawa rimba jang demak, sedang jang lain telah ingin membunuh diri sadja lantaran tidak tahan mengingat anak isterinja jang ditinggalkan di- rumah. Sedang mereka dalam puntjaknja kesengsaraan, mendadak mereka menampak ada seorang tua datang dan lalu menanjakan sebab-sebabnja sehingga mereka mengasingkan diri disitu. Mereka lalu menuturkan perdjalanannja dengan terus terang, karena entah bagai- mana mereka tiba-tiba mendapat perasaan bahwa orang tua itu akan sanggup memnberikan pertulungan. Orang tua itu berkata: Djikalau salah, tapi lantas insjaf dan lalu memperbaiki kesalahannja, kesalahan itu lalu hilang berbalik mendjadi benar. Maka djikalau engkau berdua sudah insjaf, lantas perbaikilah kesalahanmu itu, nistjaja mendjadi benar kembali. Sekarang pulang sadja-kemasing-masing rumahmu, tidak- guna engkau lari sembunji disini, karena disini bukanlah tempat untuk memperbaiki kesalahan". Ejang, kalau kita pulang tentu akan ditangkap", djawab ia-orang dengan berbareng. Belum tentu", djawab orang tua itu, karena siapa jang pernah berbuat baik, ditempat itu pasti masih ada bekas-bekas kebaikannja. Djikalau engkau ada orang-orang jang baik, pasti nanti ada jang me- nulung kepadamu. Sesuatu perbuatan dosa tidak dapat dihindarkan dengan lari atau sembunji, karena dosa itu sudah menggemblok, kemana sadja engkau lari dosa itu tetap mentjengkeram djitokmu. Untuk membebaskan dosa hanja ada satu djalan, jalah dengan menerima segala hukumannja, djikalau hukuman itu sudah diderita, maka dosa itupun akan musna dengan sendirinja. Segala hutang pindjam tidak dapat
dihimpaskan dengan hanja dilupakan, tapi harus dibajar barulah bisa lunas". Mendapat nasehat begitu, dua orang nekat itu merasa seakan-akan digujur air jang sedjuk, pikirannja mendjadi terang nerawang, hilang perasaannja sangsi dan takut, maka ia orang berdua lalu djongkok menjembah, menjatakan kesediaannja akan lantas pulang kemasing- masing tempatnja. Tapi sebelum berangkat pulang, ía minta dikasih tahu siapa adanja sang wiku itu dan dimana tempat tinggalnja. Tidak penting untuk engkau tahu aku ini siapa dan tempat ting- galku dimana", djawab orang tua itu. Samubarang kang dumunung ing djagad iki, gunung-gunung watu kaju, kang obah lan kang ora cbah, satemene mung sadjugo. Kidang mendjangan matjan banteng, kang mawa lar lan kang gegeremetan, kang galak lan kang ora galak, sabe- nere ja mung sadjugo. Kang pinter lan kang bodoh, gusti lan kawula, kowe lan aku, sedjatine ja mung sadjugo". (Segala sesuatu jang ber- ada didalam dunia ini, gunung-gunung batu kaju, jang bergerak dan jang tidak bergerak, sebenarnja hanja satu. Kidang mendjangan matjan banteng, bangsa jang bersajap dan jang merajap, jang galak dan jang djinak, sebetulnja ja tjuma satu. Orang jang bodoh dan orang jang pintar, tuan dan budjangnja, engkau dan saja, sesungguhnja ja melainkan satu). Perkataan itu merasap kedalam hati mereka, terutama utjapan sadjugo sadjugo jang berulang sehingga tiga kali, mereka ingat untuk selama-lamanja. Maka berpisahanlah mereka, sang wiku masuk kedalam hutan jang lebih lebat, sementara mereka lalu pulang kekota, dimana dengan heiran, terharu dan girang, mereka dapatkan urusannja sudah beres, karena oleh beberapa orang sobat dan sanak familinja, uang negeri jang mereka pakai sudah diganti, mereka bukan sadja selamat dan bebas, tapi kedudukannja pun tetap sebagai kepala desa. Beberapa tahun kemudian, mereka masih ingat sadja budinja sang wiku, maka mereka berdamai untuk mentjari beliau. Berdasar atas utjapannja orang tua itu: sadjugo", jaitu bahasa Djawa kuno jang artinja: ,satu", jang diulangi sehingga tiga kali, mereka menduga sang pandita'ada tinggal didesa Djugo, maka dengan hati mantep mereka berangkat ke Blitar, sesampainja di Kesamben lalu terus ke desa Djugo, tidak njana kemudian mereka dapat ketemukan sang panembahan
jang sedang bersemajam didalam kandang sapi bobrok, dipinggir
hutan sunji, diantara berkelisiknja dedaonan rimba jang menggenggam hikajat alam sedari djaman purbakala. Beberapa hari kemudian, setelah mendapat pangestunja sang wiku, kedua tetamu dari Pati itu lalu pulang ketempatnja, sedang orang-orang desa Djugo mendjadi tahu bahwa disitu ada berdiam seorang sutji jang sudah luhur batinnja.
Belakangan anak-anak gembala mendapat lihat sang pandita ber- djalan masuk kedalam hutan dan tidak keluar kembali, tinggal gubuk- nja jang kosong, pajonnja jang rombeng ditiup angin melambai-lambai kedjurusan hutan, sean-akan kelaju ditinggalkan tuannja, entah telah
pergi kemana....
PENJAKIT HEWAN. Antara kira-kira satu tahun kemudian, didesa Djugo telah terse- rang penjakit hewan jang sangat heibat, sapi-sapi piaraannja penduduk situ telah sama sakit, jang mati tidak sedikit, karena baru sakit satu dua hari sadja lantas binasa. Orang-orang sama bingung dan sedih, mereka sama berdaja, tapi tidak ada obat jang dapat menulungnja. Sedang mereka putus asa duka nastapa, tiba-tiba sang wiku telah muntjul pula dari hutan, masuk kedalam desa, menghampiri sebuah rumah jang penghuninja sedang mengerumuni seekor sapi rebah sakit dan sudah tidak dapat bergerak pula, tinggal menantikan adjalnja. Menampak kedatangannja sang bagawan, orang-orang itu lalu sama menjisih sehingga ia dapat mendekati sapi jang rebah itu. Ia lalu djongkok sembari tangannja mengelus-elus kepalanja seraja berkata: 'Gus, waras, 'gus", maka dalam seketika itu djuga sapi itu telah bergerak-gerak, kemudian bangun berdiri dan sembuh waras sebagaimana asalnja. Oleh karena terkedjut dan kegirangan, maka jang punja sapi lalu lompat menandak-nandak sembari bertjikrak-tjikrak, sehingga orang orang jang menampak sama ketawa, sedang sang resipun tertawa djuga, maka orang itu kemudian mendapat nama baru jaitu dipanggil: Pak Tjikrak. Dengan diringi oleh pak Tjikrak dan lain-lain, sang resi lalu me- ngidar dari satu rumah kerumah lain, dimana ada orang jang mempunjai sapi sakit lalu disembuhkan dengan kekuatan sabdanja, maka pada hari itu djuga semua sapi jang sakit didesa Djugo telah sama sembuh. Karena penjakit sapi itu mendjalar djuga didesa Sanan dan laín-lain tempat lagi, maka besok harinja sang bagawan pergi kesana untuk membirat pagebluk jang sedang meradjalela itu, terus kelain-lain desa sehingga dalam sepuluh hari sadja sudah tidak ada sapi jang sakit lagi. Pertulungannja sang panembahan telah diingat oleh semua penduduk sekitar desa itu dengan rasa panerima dan hormat jang tidak ada habisnja. Ia tetap tinggal didalam kandang sapi rombeng jang dulu, disitu ia berdiam beberapa hari kemudian ia pergi lagi, sebagaimana jang sudah, djikalau ía datang tidak ada jang tahu dari mana datang- nja, kemudian djika pergi tidak jang tahu kemana parannja.
MALAPETAKA. Kira-kira pada tahun 1870 diseluruh tanah Djawa telah timbul penjakit kolera jang sangat dahsjat, orang tertimpah kesengsaraan bukan main heibatnja, sakit sore paginja mati, sakit pagi sorenja mati, banjak orang tua kehilangan anaknja, banjak anak ditinggalkan orang tuanja, boleh dibilang pada tiap-tiap rumah mesti ada kehilangan ang- gauta keluarganja. Tangisan terdengar disana-sini, pedut kesedihan tersebar dimana-mana, sungguh mengerikan hati keadaan dimasa itu. Sedangnja malapetaka itu memuntjak dalam kedahsjatannja, maka sang resi pinundjul itu, nampak kembali keluar dari hutan, mengham- piri desa Djugo jang telah sunji senjap, orang-orang sudah putus asa penuh ketakutan terhadap rakjatnja Betari Durga jang sedang meradja- lela dimana-mana. Ketika menampak kedatangannja sang panembahan, penududuk desa Djugo memburu dengan menangis sebagai anak-anak melihat ibu- nja datang dari bepergian djauh, sama mengadukan penderitaannja, minta obat, minta dilindungi keselamatannja. Sang wiku djalan menudju kegubuk kandang sapi dulu, jang seka- rang sudah pating seruwil, seraja berkata: Hajo siapa jang sakit boleh datang kemari, jang tidak bisa djalan boleh suruhan sadja mem- bawa air dibotol atau bumbung. nanti kuberi obat supaja waras kembali". Lalu berdujun-dujun orang-orang desa Djugo sama berlari-lari balik mentjari tempat air, ada jang pakai tjangkir, ada jang pakai ke- lowoh, ada jang pakai bumbung. Tempat-tempat air, itu tjukup dengan dipandang sadja oleh sang pandita lalu dibawa pulang untuk diminum- kan kepada jang sakit, maka dalam sekedjap telah mendjadi sembuh sehat kembali. Kabar tentang kedatangannja sang panembahan tidak lama terdengar sampai kedesa Sanan, maka dari sanapun orang-orang sama datang minta obat. Kabar itu mendjalar terus sampai kelain-lain desa, sampai ke Kesamben, kesebelah Timur sampai ke Sumberputjung, Kepandjen, ke Barat sampai ke Welingi terus Blitar, maka seakan-akan digerakkan oleh suaranja sesangka, orang bererot-rerot membandjiri desa Djugo, semua menudju kegubuk bobrok bekas kandang sapi ditepi hutan itu, dimana sang wiku sedang menjebarkan danahusadanja. Orang djalan berdulur-dulur seperti semut, memenuhi djalanan ketjil dari Kesamben kedesa Djugo, jang berangkat disepandjang djalan berpapasan dengan orang-orang jang pulang, mereka sama menanja: Dimana tempatnja 'Mbah Djugo?" Jang ditanja mendjawab: Disana, dipinggir hutan tempatnja 'Mbah Djugo". 'Mbah Djugo, 'Mbah Djugo, nama itu disebut dimana-mana, di- utjapkan oleh tiap-tiap mulut dengan suara penuh kehormatan, karena
mereka berhutang budi, pernah ditulung, kalau tidak dia sendiri jang pernah disembuhkan dari sakitnja, tentu anaknja, atau saudaranja, atau orang tuanja, atau sanak familinja. Jang datang minta obat bukan rakjat djelata sadja, hanja dari ka- langan bangsawan dan orang-orang berpangkat, sehingga terdengar oleh Bupati Blitar, Kandjeng Pangeran Warsokusumo, jang lalu datang sendiri kedesa Djugo, untuk menjaksikan sekalian minta berkah pa- ngestunja sang wiku. Tidak lama wabah penjakit kolera jang meliputi seluruh daerah Blitar, Tulungagung, Kediri, Welingi, Kepandjen, Malang dan desa-desa sepandjang pasisir laut selatan, telah terbasmi musna, rakjat negeri telah tenteram kembali hidupnja. Penjakit kolera jang meradjalela diseluruh tanah Djawa pada waktu itu, dilain-lain tempatpun telah redah dan terbasmi habis, sudah tentu atas daja-upajanja djawatan kesehatan dari pemerintah, akan tetapi djangan dikira panembahan Djugo hanja membersihkan didaerah Blitar dan Malang sadja, karena dibeberapa tempat di Djawa Tengahpun orang melihat seorang tua jang mengidar kemana-mana, dengan potongan badan, rupa dan tanda-tanda telinga besar, menulung dengan kias, nasehat dan djampe, mengobati sesuatu penderita jang didjumpainja. Hal ini nanti ternjata dari penuturannja beberapa orang jang akan ter- lukis dibagian belakang. Kandjeng Pangeran Warsokusumo seringkali datang menenamu kepada sang wiku jang tetap berdiam didalam gubuknja jang butut, atjapkali djuga 'sang resi diadjak melantjong ke Blitar menginap di- rumah kabupaten, dengan dihormati sebaik-baiknja, hingga sang resi mendjadi tjinta dan kasih kepadanja. Belakangan sang kepala negeri itu berdaja hingga sang resi mendapat tanah merdeka 7 hektar lebarnja, bebas dari padjak, dimana lalu didirikan sebuah rumah pedepokan jang surup untuk tempat tinggalnja seorang pandita. Lantaran suka dibikinkan rumah, merupakan suatu kesanggupan dari sang wiku, maka dengan sendirinja sang wiku mendjadi terikat untuk tidak pergi mengembara kemana-mana lagi, tetap berdiam didesa Djugo, dengan nama sebutan Ki-ageng Djugo atau Ejang Panembahan Djugo. Sesungguhnja Kandjeng Pangeran Warsokusumo itu seorang jang bidjaksana, karena sebagai bupati atau bapaknja rakjat di Blitar dan daerahnja, ia ada menanggung djawab atas nasib dan keselamatan se- antero anak rakjatnja. Gunung Kelud adalah mendjadi antjaman bahaja jang sudah ditentukan oleh riwajat dan dari pengalaman jang sudah lewat, bahwa Sang Hjuang Giri itu akan meletus tiap-tiap sewindu sekalí, jaitu saban 8 tahun sekali tentu muntahkan laharnja,, untuk membinasakan semua tempat diseputarnja, maka hidupnja rakjat disitu
selananja terantjam bentjana. Tapi dengan berdiamnja Ki-ageng Djugo ditempat itu, oleh daja pribawanja seorang pandita linuwih, Gunung Kelud selama itu tidak pernah meletus pula. Tiap 8 tahun sekali me- mang ada tertampak tanda-tanda sang gunung hendak menjemburkan laharnja, tapi seakan-akan ada suatu kekuatan lebih besar jang mene- kan hingga ia mendjadi sirep kembali. Hal demikian terus berdjalan selama sang wiku masih ada, belakangan sesudah sang wiku pindah di Gunung Kawi sehingga pulang ke alam langgeng, barulah Gunung Kelud mengundjukkan kekuasaannja lagi, jaitu pada tahun 1901 hari Kemis Wage telah menjemburkan apinja sehiingga abunja meliputi seluruh Indonesia, kemudian pada tahun 1919 hari Selasa Keliwón, muntahkan laharnja mcajapu seluruh daerah Blitar dengan minta korban beribu- ribu djiwa manusia.
DILUAR DESA DJUGO. Sedjak Sang Wiku tinggal disini, tanah- nja mendjadi subur lohdjinawi. Sawah tidak kekurangan air, rumputnja hidjau, dimana banjak sapi jang sedang makan, dengan kalung kentongan kaju jang berbunji tiada berhentinja dari pagi sehinggga sore.
PEDEPOKA.i DJUGO. Dulu disini ramai sekali, tetamu pergi
dataug tiada putus-putusaja, tapi sedjak Sang Bagawan pindah ke Gu- nung Kawi, depok ini telah djadi kosong dan sepi. Sekarang ada djuga orang jang datang mengirim kembang. tapi tiada seberapa banjaknja.
DIBELAKANG PEDEPOKAN DJUGO. Tembok putih dibawah
puhun kelapa, itulah pedepokan Djugo dilihat dari sebelah belakang.
Puhun-puhun kelapa itu sekarang tidak berbuah, nampaknja berduka ka- rena ditinggalkan Sang Wiku.
KUBURANANGKER. Ketika sang panembahan berkediaman tetap didesa Djugo, hudjan tidak pernah salah musim, hidupnja rakjat dalam tenteram dan bahagia, gemahripah lohdjinawi. Keselamatannja rakjat ada mendapat perha- tiannja sang wiku. Maka pada suatu hari didesa Djugo, Sanan dan Ngadri, telah terdjadi suatu kegemparan jang menatutkan, karena didekat djalan perapatan, dibawahnja sebatang pohon katimaha tua, ada suatu gundukan tanah sangar, siapa jang berada didekat situ akan merasa pusing dan dingin, bulu roma berdiri dengan tidak ada sebab- nja. Belakangan makin tambah menggiriskan, siapa jang naik kuda tidak turun, pakai topi tidak dibuka, sesampainja disitu lantas djatoh pingsan, ada jang tumpah darah, ada jang mendjadikan kematiannja. Kedjadian itu lalu disampaikan kepada Ejang Djugo, jang lalu datang melihat sendiri ketempat jang angker dan seram itu. Setelah mengawasi sedjenak, maka sang panembahan lalu berkata dengan
suara perlahan: Ah kasihan, Tundonagoro, mati dalam penasaran...."
Maka sang wiku lalu perintah galih tempat itu, dimana ternjata ada sebuah kuburan kuno dan didalamnja orang telah mendapatkan sebuah peti mati atau tebelah dari perunggu, jaitu logam tembaga tertjampur kuningan. Peti majat itu diangkat oleh sepuluh sehingga duabelas orang tidak bergerak, maka sang panembahan lalu mendekati seraja berkata: Duabelas orang terlampau banjak, empat orang sadja sudah tjukup, angkatlah!" Ketika mengutjapkan perkataan itu, romannja sang pan- dita tertampak berobah, suaranja bergema hingga orang-orang jang mendengar sama tergetar hatinja. Betul sadja, peti majat itu lalu dengan mudah dapat diangkat oleh empat orang, terus dibawa kepinggir kali Brantas akan dikubur kembali dengan baik.
Lantran kuburan baru itu letaknja disuatu tempat jang mentjil,
djauh dari djalanan lalu lintas orang, maka tidak lag mengganggu orang, tapi keadaannja masih tinggal angker dan seram sehingga se- karang, diputari oleh pohon-pohon besar jang menggiriskan hati, siapa
jang datang kesitu akan merasakan hawa dingin dan bulu badan sama
berdiri. Sang panembahan tiada pernah menuturkan slapa adanja Tundonagoro itu, tapi ada orang jang menduga bahwa Tundonagoro jalah
seorang bangsawan jang mati dikaniaja oleh Trunodjojo karena tidak
suka keponakannja jang bernama Kletingkuning diambil isteri olehnja.
Belakangan kuburan itu telah diperbaiki oleh Raden Sutedjaningrat alias Raden Sapudjagad dari desa Maguwan, dengan plester-dan diting-
gikan hingga nampaknja bertambah angker, diliputi oleh kesunjian jang
tandas, kalau siang hari disitu hanja terdengar suaranja tonggeret
dan burung kedasih jang menjedihkan, kalau malam hanja suara burung
hantu jang seram didalam gelap-gelita.
TEMPAT JANG MENAKUTAN. Disinilah bekas kuburannja Tur- donagoro, dibawah puhun Katimaha tua, jang sehingga sekarang tidak ada orang berani datang disitu. Rungkut dan sungil. walaupun sijang hari tetap tinggal sunji dan menjedihkan.
KUBURAN TUNDONAGORO. Letaknja terpentjil dipinggir kali, diputari puhun-puhun besar hingga sidum dan seram. sunji senjap, jang terdengar hanja,suara angin dan tangisannja burung kedasih jang mem- pilukan hati.
DI DJALASUTRA. Sudah lama djuga sang wiku berdiam didesa Djugo, mendadak pada suatu pagi orang menampak rumah pedepokannja kosong, sang rest tidak ada. Ia sudah pergi kemana, tidak ada jang tahu. Ditunggu sehingga sore, sehingga besok harinja, tetap sang wiku tidak kembali. Maka keadaan disitu mendjadi gempar, orang sama bingung, sebagai kawanan pitik jang ditinggal oleh induknja. Dengan segera oraig memberi kabar kepada kandjeng bupati di Blitar, jang djuga mendjadi kaget, maka lalu perintah kepada semua pegawai prabot desa diseluruh bawahannja, supaja bantu mentjari, djikalau berdjumpah supaja dihaturi pulang, atau setidak-tidaknja lekas memberi kabar kepadanja. Tidak lama pamongpradja daerah Lodojo memberi laporan, bahwa Panembahan Djugo ada tertampak di Djalasutra, jaitu suatu tempat pesisir ditepinja lautan Kidul, jang pemandangannja betul indah, akan tetapi djarang ada orang jang berani pergi kesitu, oleh karena menurut kepertjajaan disitu adalah pusat kedudukan balatentaranja Ni Gede Rokidul bagian darat, jang sudah tentu angker dan gawatnja kaliwat- liwat. 1 Segera serombangan orang, dipilih jang berani-berani, dengan menerobos hutan rungkut jang penuh rotan dan duri, menerabas rawa- rawa jang betjek penuh gelagah alang-alang, ramai-ramai pergi ke Djalasutra, sudah tentu dengan mcmbawa sendjata untuk melindungi diri, karena dirimba-r'mba situ ada penuh dengan binatang buas, terutama bantengnja jang beribu-ribu banjakaja. Sang resi telah diketemukan sedang duduk termenung-menung se- orang diri diatas batu 'tarang, sembari memandang kedjurusan Barat- daja, dimana tertampak menondjol ditengah air, sebuah bukit jang dina- makan Gunung Djengger. Bukit itu jang terdiri dari batu-karang, sebe- tulnja indah sekali, akan tetapi seakar-akan menggenggam rupa jang sedih menjajukan hati, ia tertampak diantara lautan dan lasuardi jang sunji, luas dan biru, berdiri dalam kesunjian jang tidak ada batasnja. Ki-ageng Djugo memandang gunung itu dengan air mata berlinang linang, mendebur-deburnja gelombang laut Kidul jang dahsjat itu, tidak menjedarkan dirinja, malahan seakan-akan f.ulah jang mebenam ia kedalam dunia impian, karena suara gumuruhnja air itu masih tetap begitu seperti seratus tahun, seribu tahun, bahkan sedjuta tahun jang lampau. Ketika orang-orang jang menjusul sudah berkerumun didekatnja, barulah sang panembahan tersadar dari termenungnja. Orang-orang itu memberi tahu bahwa mereka dapat perintah mentjari sang wiku, dihaturi supaja suka pulang ke Djugo. karena disana ada menunggu
orang-olang jang minta obat, hingga jang tempatnja djauh sama
menginap mengharap-harap kedatangannja. Kamu semua pulanglah lebih dulu, aku akan menjusul belakangan" kata sang wiku kepada mereka, maka orang-orang itu tidak berani membantah, mereka lalu berrngkat pulang, meninggalkan sang panembahan jang terus duduk diam disitu seorang diri. Maka terdjadilah suatu keheranan, ketika mereka pulang sesam- painja didesa Djugo, ketahuan sang panembahan sudah berada didalam rumah pedepokannja, sedang dikerumuai oleh orang-orang jang datang minta obat dan minta berkahnja. Menurut tjeritanja orang-orang tua di Binangun, Gondangtapen. Sidodadi dan lain-lain tempat dibawah Gunung Kendeng dan disepap- djang pasisirnja Lautan Selatan, diatasnja Gunung Djengger adalah terdapat suatu makam kuno, kuburan dari seorang Puteri Tjina. Tapi tjerita lebih djauh tentang Puteri Tjína itu, tidak ada jang dapat menerangkan, karena hanja sebegitu sadja jang mereka tahu. Maka disini kita akan menuturkan suatu dongeng purbakala jang terdjadi di Djalasutra, dongengnja orang-orang pedusunan jang biasanja ditu- turkan pada waktu malam dengan mempentil rinding, suatu matjam alat tetabuhan jang disuka oleh anak-anak gadis pedesan didjaman dulu. Salah seorang puteranja Radja Djerggala, namanja Raden Pandji Pudjalaksana, seorang muda jang bagus sekali rcmannja. adatnja halus lemah-lembut, tidak suka beladjar ilmu peperangan sebagai saudara-saudara dan satrya lainnja. Tiap hari kesukaannja jalah menekung mudja semedi, mengharap supaja dunia mendjadi aman dan bahagia. Dia ikut saudara-saudaranja masuk kedalam hutan, tapi sedang jang lain-lain sama menggunakan sendjatanja untuk memburu binatang, adalah ia sendiri jang hanja memandang daon-daon pohon tertiup angin, sembari mendengarkan suaranja burung-burung jang menjanji dengan riang dan merdu. Lantaran kesengsam dengan keadaan alam jang indah permai itu, tidak merasa ia telah kesingsal terpisah dengan saudara-saudaranja, makin lama makin djauh, achirnja sedang para saudaranja sudah pulang, adalah ia sendiri kesasar sampai dipinggir samudra, dimana tidak ada seorang manusiapun tertampak, ketjuali Hari suaranja angin laut dan mendebur-deburnja gelombang. sudah sendja, ia berdjalan terus, sampai ia tiba dikakinja Gunung Djengger jang selamanja basah ditempuh air. Mendadak ia dengar suaranja seorang perempuan menangis diatasnja gunung itu, ketika ia mentjari tahu, ternjata diatas sebuah karang jang tinggi, ada seorang anak gadis remadja puteri, parasnja tjantik, rambutnja hitam kulitnja kuning, matanja sipit handamar kanginan, sedang menangis ketakutan karena hendak turun tidak berani. Oleh Raden putera anak dara itu segera ditulungi, diadjak ketepi laut jang pasirnja kering, sesudah
hilang takutnja lalu ditanja ia asal dari mana, anaknja siape dan kenapa keserakat diatas gunung harang jang tinggi itu. Sang djelita mendjawab, bahwa ia adalah puterinja radja dari negeri Tjina jang telah disamber oleh seekor burung garuda raksasa dari Gunung Siam, janz berbuat demikian karena rakjatnja banjak dibunuh dan ditangkapi oleh ajahnja sang pateri, maka sang garuda lakukan pembalasan dengan menggondol puteri itu, dibawa kelautan kidul, ditinggalkan diatasnja Gunung Djengger, supaja dibadog oleh iblis dedemit rakjatnja Ratu setan Ni Gede Rokidul. Sekarang ia sudah ditulungi oleh Raden putera. maka ia pasrah djiwa raga kepada sang taruna itı. Raden Pandji merasa bingung, karena ia sebenarnja sudah ambil putusan dan berdjandji kepada Dewata, bahwa ia melakukan Brahma- tjarja, jaitu wadat selama hidupnja tidak akan kawin. Maka lalu ia terangkan keadaan dan putusannja itu, sang puteri ia ingin akuh sebagai saudaranja sadja dan akan diadjak pulang ke negeri Djenggala Sang puteri merasa malu dan sedih, ia tidak mau ikut kenegeri Djenggala, ía hendak membunuh diri 'erdjun kedalam lautan. Raden Putera susah hatinja, ia merasa sangat kasihan kepada gadis remadja itu, maka ia tidak memaksa bawa sang djelita ke Djenggala, ia membudjuki supaja hati perawan itu hilang sakitnja, kemudian ia dirikan dua uah gubuk dipinggir hutan ditepi laut, jang sebuah untuk tempat tidurnja sang puteri, jang sebuah lagi untuk ia sendiri, dimana kedua orang muda itu terus ridup bergaul dengan saling menjinta tapi tidak tjampur sebagai suami-ięteri. Kedua taruna itu sebenarnja saling djatuh tj.nta asmara jang sangat dalam, tapi karena dihalangi sesanggemannja seorang satriya, jang wataknja tidak akan rerobah djandii kendati mesti seng- sara atau mati, maka kasih tjintanja tidak dapat diudjudkan, sama-sama rindu dan hidup dalam penderitaan. Untuk melupakan duka melipur hati, kedua teruna itu sering tertampak mendjala ikan djikalau lautan djustru tidak hesar ombaknja, djala jang dinakai adalah djala sutra, jang djika sudah tidak terpakai sering didjemur diatasnja sebuah pohor waringin, dari djauh tertampak mentjorong gilang-gemilang tertodjo sinarnja ma- tahari. Lantaran itu, maka pantai itu lalu dinamakan Djalasutra, sehingga sekarang ini. Pohon waringin tempat pendjemuran djala sutra itu etap hidup sehingga Japan berkuasa, disitu telah dialakan pendirian guna pertahanan, temboknja telah mengakibatkan rubuhnja pohon waripgin urbakla jang telah menjaksikan sratu lelakon ang sedih dan ibat itu. Bertahun-tahun kedua orang muda hidıp dalam perhubungan jang aneh itu. achirnja sang puteri menitggal dunia. Ketika hendak meng- hembuskan napasnja jang pengabisan, puteri itu telah berkata, bahwa ketjintaannja kepada Raden Putera tidak »kan berobah walaupun ia sudah menjeberang kelain dunia, ia kata nanti akan menitis lagi di- daerah Mstaram, hendak lahir sebagai lelaki kemulian akan kut kepada
iaden Pute.a, supaja dapat menjampaikan aling jintanja dengan tidak menderita kesengsaraan hati jang tilak ada ratasnja itu. Sesudah sang puteri meninggal dunia, djisimnja lalu dikubur diatasnça Gunung Djengger, sementara Raden Pandii tidak lekas perg! dari situ, nanja tiap hari dudun termenung sembari memandang ke Gunung Djenggger. karena djiwanja sudah gempal hilang separo mengikuti kekesihnja jang sudah berangkat kelain alam, mengenangkan diwaktu hidupnja, jang diliputi rasa rindu asmara, tapi henja dinjatakan dengan saling pan- dang-memandang sadja, penderitaan tjinta sutji jang dipisahkan oleh suatu tembok kristal, ingin saling pegang tapi tidak bisa. Sekarang sang djelita sudah menutup mata, tinggal ia sebrang diri dalam peng- hidupan jang kosong can sunji. Sesudah remuk dalam kesengsaraan, achirnja Raden Pandji Pudjalaksana pergi meninggalkan pantat Dialasutra, tidak pulang ke Djenggala, hanja mengembara pergi separan-paran menurut tindakan kakinja. Sekianlah dongcugan jang merereskan hati itu. Ada sangkutan apa 'Mbah Djugo dengan tjerita kuno itu? Kenapa ia memandang Gunung Djengger dengan air-mata berlinang-linang? Entahlah, kita tidak mengerti. HUTAN LEBAT DI DJALASUTRA. Lantaran rungkutnja, maka disini walaupun sijang hari tetap gelap, hingga foto ini harus diambil dengan lampu blitz. Selain harimau dan ular besar. disini banteng sangat banjaknja.
GANGGONG WIRAJANG. Djalanan ke pantai Djalasutra selainnja hutan lebat pun harus melewati rawa-rawa jang betjek, gelagah alang- alangnja setinggi orang, sunji senjap menguntjupkan hati.
GUNUNG DJENGGER. Inilah pantai Djalasutra. dimana Sang Wiku termenung-menung memandang Gunung Djengger. jang mendjolang dite- ngah laut. Suaranja gelombang men-debur2 dahsjat mengerikan. sijang ma- lam tiada berhentinja.
PANTAI LAUT DJALASUTRA. Disini Raden Pandji Pudja-laksa- na dengan kekasihnja hidup merindu, seupama terpisah didalam katja. dapat melihat tapi tak dapat memegang, suriu tertjintaan jan aneh dan mengharukan kalbu.
IMAN SUDJONO. Pedepokan Djugo sekarang tidak pernah sunji, tiap ari berpuluh bahkan beratus orang dari djauh dan dekat, sama datang minta obat atau berkah pengestunja sang panumbahan. Djuga banjak jang dataug- nja ingin mendjadi murid, ingin berdekatan dengan sang wiku, dengan pengharapan nanti dapat mengirup ilmu dan peladjarannja. Antaranja jang datang itu, adalah seorang berasal dari Bodjonegoro, vama R. Prawirosastro, ia mendjai pegawai djawatan telepon didaerah Malang. Ia sering mendengar namsnja sang panembahan ang harum, Karena djikalau ia djalan memerikca kawa-kawat, dizepandjang dja- lanan sering berdjumpah dengan orang-orang jang pulang atau pergi kepedokan Djugo akan minta obat, maka ia ketarik ingin menjaksikan dan minta berkahnja. Ketika ketemu sang wiku, maka R. Prawiro lalu ingat lelakon pad? wktu jang lampau, ketika ia masih belun dewasa di Bodjonegoro, keika disana ada terdjangkit penjakit kolera, diengah djalan ia ber-Ajunpah dengan seorang tua jang mengatakan kepadanja bahwa ia tidak usah berkuatir atau takut, karena tidak lama wabah penjakit menular itu akan musna. Ia mengingat-ingat, rasanja orang tua itu bukan lain dari sang wiku jang rekarang sedang duluk dihadapannja.
Maka Cisitu R. Prawiro laiu bersudjut. minta supaja boleh ikut sang ragawan akan mendjadi muridnja. Sang bagawan berkata: Orang jang masih mempunjai kewadjiban, tidak boleh mcninggalkan kewaljihannja, walaupun untuk menuntu petadjeran kebatinan". Lantaran n.endengar nasehat itu maka R. Prawiro lalu pulang, tapi dirumah ingatannja terus tidak dapat melupakan sang panembahan, maka dia djikalau ada kesempatan, dua tiga lari sekali tentu datang ke Djugo. Belakangan ia minta berhenti dari pekerdjaannja dengan niat tetap hcnak ikut sang wikut tani ketika ia menjatakan keinginann lagi, oleh sang resi ia disuruh pergí mengembara, tjeri guru dan bela.
diar dimana-mana, jang oleh R. Prawiro ada ditrrut dengan taat
karena·ia mengerti maksud sang wiku jaitu: Ngangsu banju pikulan werih, obor-obor hanggolek geni. (Dengan memikul air mentjari ai- dengan membawa obor mentjari api?. Olel adan'a sang panembahan jang berdiam disitu, desa Djugo jang dulunja sunji kini telah mendjadi redjo, banjak orang berdagang kuwe-kuwe djuadah dan buah-buahan untuk orang-orang jang datang kepedepokan, mereka jang dulunja tidak ada penghatsilan kini mendapat redjeki gangsar, tidak kurang makan dan pakai. Orang-orang tahu betul bahwa ini adalah berkah jang datang dari pribawanja sang panembahan. Bukan manusia sadja, hanja kerbau sapi dan kambingpun kini sa..a sehat dan gemuk-gemuk, karena tanah diseputar situ telah m_ndjadi subur, rumputnja hidjau merata dari bawah sampai keatas bukit-bukit sedjauh pemandangan mata, pohon-pohon kelapa ngendojot sarat buahnja, daonnja jang segar melambai dari pagi sehingga sendja, merupakan suatu lambang dari penghidupan jang makmur sedjahtera. Pada suatu hari ada datang seorang prijaji jang rupanja tjakap dan gagah sekali, ia bukan sembarangan orang, ternjata dari tingkah lakunja jang agung dan adatnja jang halus sopan santun, siapa jang berhadapan kepadanja, segera menaroh perindahan. Potongan badannja langsing dan bagus, tingginja sedang, sorot matanja tadjam, badjunja tjara Mataram, dengan ikat kepala dan kain sawit hitam keluaran Solo. Setelah menampak sang panembahan, prijaji itu segera mempeluk kakinja seraja berkata: Ejang, saja baru datang, ejang". 'Mbah Djugo sangat terharu, dengan suara perlahan ia berkata: Iman Sudjono anakku jang bagus, achirnja engkau datang djuga". Demikianlah prijaji itu, jang ternjata bernama Raden Mas Iman Sudjono, terus berdiam di Djugo, mengikuti sang panembahan sebagai anak angkatnja jarg tertjinta. Siapakah sebenarnja dia itu, tidak ada jang mengetahui dengan djelas, karena 'Mbah Djugo tidak pernah menjeritakan dia itu siapa, djuga sang Iman Sudjono sendiri tidak pernah menjeritakan tentang dirinja. Namun ada kemungkinan, dia itu adalah
puteranja Kandjeng Pangeran Seinendi, tjutjunja Kandjeng Ratu Serang. 'Mbah Djugo sering datang di 'Mbajat, keterangan ini didapat dari djuru kuntji tua dikuburan kramat itu, jang sering membersihkan suatu ruangan terpisah dan melarang anak-anak siapapun djuga membikin kotor tempat itu, ia mengatakan bahwa itu adalah tempat biasa tidurnja 'Mbah Djugo. Tapi tidak ada orang lain jang pernah melihat 'Mbah Djugo, karena kalau datang kesitu biasanja diwaktu hampir petang dan berlalu sebelumnja fadjar menjingsing. Bagaimana tjara datangnja dan bagaimana tjara perginja, adalah dengan djalan gaib, sebagai-mana biasanja para maharsi jang sudah pinundjul pertapaannja. Para waris di 'Mbajat jang suka datang menjepi menekung mudja semedi dan biasa suka tidur disitu adalah Raden Mas Iman Sudjono, atau djuga terkenal dengan nama Raden Mas Djuned, maka ada kemungkinan perkenalannja sehingg. mendjadi anak angkat jang tertjinta dari 'Mbah Djugo itu mula pertama terdjadi di 'Mbajat itu. Akan tetapi masih ada satu sumber lain jang mengatakan bahwa Raden Mas Iman Sudjono itu ada putera dari Kandjeng Pangeran Diponegoro, entah mana jang lebih betul, hal ini akan kita selidiki lebih djauh, mudar-mudahan dibelakang hari kità mendapat keterangan jang lebih pasti. Lewat beberapa tahun, di Djugo kedatangan seorang bangsa Tionghoa, masih muda dan suaranja masih pelo, karena ia belum lama Gatang ditanah Djawa. Ia/ menerangkan namanja Tan Giok Tjwa, berasal dari Tjiang Tjiu, Hay Teng. Datangnja ke Djugo' perlu mentjari ajah angkatnja. Orang-orang jang mendengar mendjadi heiran, bagaimana seorang jang baru datang dari Tiongkok sudah mengaku anak angkatnja 'Mb h Djugo, maka Tan Giok Tjwa itu menuturkan, bahwa dulu tatkala ia masih ketjil, dikampung tempat kediamannja sedang terserang bahaja petjeklik jang sangat heibat, hingga orang sama makan bonggol pisang atau dedaonan. Pada suatu hari ada datang seorang tua kerumahnja, kepada ibunja Giok Tjwa jang sedang menenun, orang tua itu minta makan. Njonja itu mendjawab bahwa ia tidak mampu memberi hida.gan jang pantas, karena mereka sendiri pun sedang menderita kelaparan, maka kalau orang tua itu suka, ia nanti petikkan daon semanggi akan direbus untuk makanan jang dimintanja. Oh kalau begitu tidak perlu susah-susah, njonja, sajapun tidak terlalu lapar", kata orang tua itu. Ketika ia melihat Tan Giok Tjwa jang masih ketjil, sang kake tua lalu menghampiri, mengusut-usut kepalanja sembari berkata: Anak ini akan saja akuh sebagai anakku, nanti dji- kalau sudah besar ia boleh mentjari kepadaku". Njonja-itu menanja sang kake tua tinggal dimana, djawabnją: Nanti kalau sudah sampai waktunja, anak n' akan mengetahui sendiri". Ketika sudah dewasa Tan Giok Tjwa turun ketanah Djawa, ia ikut
kepada entjinja di Semarang, belakangan entji itu meninggal dunia, maka ia mengembara kesana-kemari, achirnja tiba di Blitar, disitu ia seperti disedarkan oleh sesuatu jang gaib, ia terus ingat sadja penuturan ibunja tentang orang tua jang mengangkat anak kepadanja, dan ia tidak mengerti kenapa ia terus ketarik untuk mentjari orang tua itu. Maka ia menanja kepada orang-orang disitu, apa betul orang tua itu ada tinggal disitu? Ketika ditanja bagaimana rupanja, Tan Giok Tjwa mendjawab ia tidak tahu, karena pada waktu itu ia masih ketjil Turut diantara orang-orang jang sowan minta obat kepada Mbah Djugo, Tan Giok Tjwa dapat dilihat oleh sang panembahan, jang lalu menggapai supaja ia datang lebih dekat, sang wiku berkata: Engkau telah datang djuga, anakku". Demikianlah Tan Giok Tjwa lalu tinggal disitu, karena namanja susah diutjapkan oleh orang banjak, lalu diganti: Djan, maka selan- djutnja ia disebut Ki Djan. Suatu keanehan jang tidak dapat dimengerti, nama Ki Djan itu sebenarnja ada nama desanja Tan Giok Tjwa di Tiongkok, kenapa sang panembahan memberi nama itu kepadanja? Pada suatu hari Kandjeng Pangeran Warsokusumo menanjakan kepada panembahan, berapa turunan lagi anak tjutjunja duduk sebagai bupati di Blitar, maka 'Mbah Djugo tersenjum sembari berkata bahwa besok sadja kandjeng bupati boleh suruhan orang untuk menerima djawabannja. Besok paginja orang suruhan itu oleh panembahan diberi sedompjok bawang merah, ketika sampai ditengah hutan Bentje, orang suruhan itu menampak seekor matjan besar, maka ia lari tunggang- langgang, hingga bawang jang dibawa telah ketjetjeran ditengah djalan, sesampainja di Blítar tinggal tiga butir. Kandjeng bupati mengerti bahwa itulah djawabannja 'Mbah Djugo, jang mengandung arti bahwa tinggal tiga kali keluarganja duduk sebagai kepala negeri. Hal ini memang telah terdjadi, sesudah Kandjeng Pangeran Warsokusumo lalu puteranja mendjadi bupati dengan nama Kandjeng Pangeran Sosrohadi- nagoro, setelah ia wafat lalu diganti oleh saudaranja nama Kandjeng Pangeran Warsohadiningrat, dan setelah itu jang duduk sebagai kepala negeri di Blitar bukan turunannja lagi. Ki Ageng Djugo djadi makin terkenal, sehingga terdengar keseluruh
pulau Djawa, bahkan sampai di Kalimantan, Sumatra dan lain-lain lagi,
maka tidak djarang dalam buku daptar tjatatan jang diadakan oleh
negeri, ada jang datang dari Atjeh, dari Singkawang, dari Kandangan
dan lain tempat djauh pula. Maka adalah seorang djago dari daerah Kedu, namanja Baharudin, asal dari Banten, djempolan dari perkumpulan Gagak Handoko, seorang jang gagah berani dan sakti, kulitnja kebał tidak mempan sendjata, datang ke Djugo perlunja hendak mentjoba kesaktiannja sang panem-
bahan, dia kira tiap-tiap pandita adalah guru ilmu kesaktian djuga. Maka ketika ia datang, sang wiku telah berkata sembari tertawa: Kisanak, engkau adalah masih muda dan gagah perkasa, apakah tidak malu hendak mentjoba tenaganja seorang tua jang sudah djompo?" Baharudin diam sadja, tapi njata hatinja tidak puas, maka sang wiku berkata pula: Berapakah kuatnja badan manusia? Sedang gunungpun akan gugur djikalau sudah tiba waktunja. Aku tidak ingin melihat kesaktianmu, tapi karena kau tidak puas, biarlah engkau sendiri jang nanti mengetahui sampai dimana kesaktianmu itu". Berbareng dengan habisnja perkataan sang wiku, maka dari dalam tanah telah keluar berdjuta-djuta semut hitam jang terus menjerang naik menggigit Baharudin, dari banjaknja sehingga sekudjur badannja Baharudin tertampak hitam belaka, gatal, panas dan perih rasanja Baharudin pada waktu itu, ia tidak sanggup berdiri lagi, menggelisah berguling-guling diatas tanah sembari melolong-lolong minta ampun kepada sang panembahan. Huwis, huwis, huwis", démikianlah kata sang wiku, jang memang tidak tahan memandang segala apa jang sifatnja penderitaan. Seketika itu tentara semut jang berdjuta-djuta itu lalu dengan serentak meng- hentikan serangannja, bubar pergi entah kemana parannja. Ketjuali Raden Mas Iman Sudjono, semua orang jang melihat sama tertawa, demikianpun sang panembahan telah bersenjum seraja berkata: Baharudin, njata kulitmu belum tebal, hingga digigit semut sadja sudah tidak tahan". Dengan sangat malu dan takut Baharudin lalu meniarap muhun di- ampuni dan menjatakan ingin mendjadi muridnja sang wiku. Ejang Djugo menjatakan kalau Baharudin memang ingin ikut padanja, ia tidak keberatan, tapi tentang peladjaran ia tidak dapat memberikan, karena ia tidak mempunjai peladjaran atau ilmu apa-apa. Demikian Baharudin lalu tinggal di Djugo, ikut sebagai pengikutnja sang panembahan. Tapi dasar ia seorang bekas djago maka tabeatnja masih tetap berangasan, sehingga pada suatu waktu ia pernah kebentrok dengan Raden Mas Iman Sudjono, untung tidak sampai djadi bertem- pur, karena keburu ketahuan 'Mbah Djugo, kalau tidak nistjaja bisa terdjadi sesuatu jang heibat. Ada lagi suatu kedjadian. Pada masa itu djalanan kereta api antara Malang-Blitar sedang dibikin, diantara pegawai dari anemer pem- borong pekerdjaan itu, adalah seorang Tionghoa, nama Tjan Thian, pekerdjaaannja sebagai tukang ukur djalanan. Ia suka rojal main perempuan, maka dapat sakit kotor jang sangat heibat, hingga ia putus asa dan hendak membunuh diri dengan potong kemaluannja sendiri. Sebenarnja ia-itu sudah mesti mati, tapi untung ketahuan 'Mbah Djugo, maka ia ditulung sehingga sembuh kembali. Ia terus bekerdja tapi
tiap dua tiga hari sekali pasti sowan dan menginap di pedepokan. Ia sangat setia dan bakti kepada sang wiku, maka sang wikupun tjinta kepadanja, orang-orang desa memberi nama ia Pak Sipat, karena pe- kerdjaannja memang djadi tukang sipat tjari djalan jang lempang. Kedatangannja Tan Giok Tjwa dengan penuturannja jang menghei- rankan, telah menimbulkan pikiran orang, apakah 'Mbah Djugo memang pernah mengembara ke Tiongkok? Kalau tidak, bagaimana bisa ke- djadian demikian? Orang sangat ingin mengetahui hal itu, tapi tidak ada pendjelasan karena 'Mbah Djugo tidak suka menjeritakan tentang lelakon hidupnja jang sudah lampau. Namun perasaan orang banjak jang ingin tahu itu mendjadi bulat dan mengandung kekuatan djuga, telah menimbulkan krenteg didalam sanubarinja sang wiku, maka pada suatu hari ia berkata: Hai anak-anak, sekarang tjoba kamu pikir baik- baik, upama kamu berdiri menghadap kesebelah Utara, maka dirimu ada dimana?" Ada disebelah Selatan". Djawab salah seorang antaranja. Sekarang kamu tidak usah pindah dari situ", kata pula sang wiku, hanja memutar badanmu balik menghadap kesebelah Selatan, lantas kamu ada dimana?" Ada disebelah Utara", djawab mereka. Nah djadi njata sekarang, disebelah Utara atau disebelah Selatan adalah satu rupa sadja, karena dirimu masih tetap disitu djuga. Dengan duduk sadjapun orang bisa ada dinegeri Tjina, bisa ada ditanah Djawa, tidak ada bedanja". Maksudnja perkataan itu ada jang mengerti ada jang tidak mengerti, tapi 'Mbah Djugo tidak membitjarakan lebih djauh. Tan Giok Tjwa atau Ki Djan pada waktu itu masih pakai kuntjir, maka oleh sang panembahan disuruh potong, ketika Giok Tjwa djalan di Blitar telah ditangkap polisi dan oleh pengadilan didenda f 25.— kalau tidak bajar bakal dihukum pendjara 1 bulan, maka hatinja mendjadi bingung dan sedih. Ia pulang kasih tahu kepada 'Mbah Djugo jang lantas berkata: ,Tidak djadi apa Djan, ini akan membawa kebaikan kepada seluruh bangsamu, lantaran ini maka nanti semua anak tjutjuku bangsa Tionghoa akan membuang kuntjirnja. Uang denda engkau boleh bajar, itu dibawah tikar tempat tidurmu ada uang sepuluh ringgit, ambillah". Sungguh adjaib sekali, ketika Ki Djan membalik tikarnja, disitu betul-betul ada uang banjaknja sepuluh ringgit, maka Ki Djan lalu pergi membajar dendanja. Kandjeng Bupati Blitar ada sangat tjínta dan hormat kepada panembahan, dalam waktu jang serggang ia suka datang tilik kedesa Djugo, seringkali djuga sang wiku diadjak ke Blitar, minap dikabupaten sehingga beberapa hari. Dibilangan Garum dan Bentje, pada masa itu
masih hutan lebat banjak harimaunja, disitu oleh 'Mbah Djugo telah diberi tumbal, maka tidak lama binatang-binatang buas itu sama pergi menjingkirkan diri, lalu tempat itu mendjadi aman, perlahan-perlahan ada banjak orang jang berani tinggal disitu, lama-lama mendjadi desa jang ramai sehingga sekarang ini. Sekianlah kedjadian-kedjadian jang dapat dituturkan dalam riwa- jat penghidupannja sang resi, ketika ia masih tinggal di Djugo. MENUDJU PARENIRWANA. Ejang Djugo tidak pernah bitjara djusta, ketika ia berkata kepada Baharudin adalah benar, memang ia tidak menjiarkan peladjaran apapun djuga. Peladjarannja jalah perbuatannja, tapi banjak orang jang tidak mengerti, perbuatannja 'Mbah Djugo tidak ada jang menulad, orang hanja mengharap dapat wedjangan ilmunja, maka achirnja tidak ada seorangpun diantara pengikutnja jang bisa pinundjul sebagai sang wiku. Orang satu-sątunja jang dapat menggajuh peladjarannja 'Mbah Djugo hanja Raden Mas Iman Sudjono, tidak heiran maka pertalian dan perhubungannja dengan sang wiku ada sangat rapat dan dikasihi sebagai anak sendiri. Lantaran tidak pernah memberi peladjaran atau wedjangan ilmu apapun djuga, maka sebenarnja sang resi tidak mempunjai murid, jang ada hanja para pengikut sadja. Ilmunja jang sedjati sebenarnja tidak ditutupi, tidak disimpan, tidak diresiakan, siapa sadja boleh melihat dan mengirup sesuka hatinja, karena ilmu itu sudah digelar mempenuhi djagad, dengan tjontoh-tjontoh jang njata dibawah sinar matahari. Sungguh sajang sekali tidak ada banjak orang jang memperhatikan, hingga sama kesasar dan salah tampa, memburu jang tidak berguna. Laku dan perbuatannja 'Mbah Djugo jang berdasar tjinta dan welas asih, tapadananja jang -tidak berwatas, hingga mentjapai ting- katan jang dinamakan Danabuana, adalah menjatakan bahwa jang di- djundjung oleh sang bagawan jaitu laku Dharma Trisanta. Laku itu sebenarnja sangat ringkas, karena hanja terdiri dari tiga djalan: Benar, welas-asih, mantap. Kalau ditimbang sepintas lalu, laku Dharma Trisanta itu kelihatannja sederhana dan mudah sekali. Tapi djikalau orang sudah mengetahui seluk-beluknja, barulah nanti mengerti bahwa laku Dharma Trisanta adalah suatu perdjalanan tapa jang seberat- beratnja, hingga jang sanggup melakukan hanja orang jang pribadinja sudah menang dalam Mahayuda. Dalam sedjarah para pandita, hanja Baçawan Kresna Dwipayana jang dapat mentjapai tingkat laku Dharma Trisanta. Resi Rama putranja Sang Brigu, ketika telah membagi-bagikan sendjata dan segala miliknja, adalah baru mengindjak pada tingkat permulaan sadja. Didalam dunia hanja tjuma seorang
sadja jang dapat melaksanakan Dharma Trisanta dengan sepenuhnja, jaitu Maha Prabu Yudistira, maka ketika ia meninggal, betul-betul telah mentjapai Adipralaya. Tak ada orang ig. pernah melihat Ejang Djugo duduk semedi, karena barang siapa jang dapat melakukan Dharma Trisanta memang sudah tidak perlu semedi lagi. Djelasnja bagini: Tiga laku jang indah itu; benar, welas-asih. mantap, pokok asalnja hanja satu, jaitu Sang Benar. Tapí Sang Benar satu waktu bisa menjimpang, djadi ,Benarnja sendiri", maka harus dirangkapi dengan welas asih. Benar jang berdasar welas asih adalah benar jang murni, tapi sering mendjumpahi goda hingga satu waktu bisa djadi lumer, maka harus dirangkapi lagi dengan Sang Mantap, maka Sang Benar itu mendjadi kuat dan abadi, tidak kenal rintangan, tidak kenal sukar atau mati. Sesudah mentjapai pada tingkatan ini. tiga laku indah itu lalu balik keasalnja tinggal satu, jaitu tinggal Sang Benar sadja, maka disini lantas tertampak suatu djalanan jang lurus dan permai, djalanan itu adalah penuntunnja, orang tidak perlu memikir pula lain2 peladjaran jang sulit dan sangat banjak matjamnja. karena sesuatu jang sulit dan ruwet akan menerbitkan rasa kuatir dan sangsi, barang siapa jang kuatir dan sangsi, dengan sendirinja akan mendjadi bodo, maka achirnja terbawa balik kembali pada djalan permulaannja lagi, madju mundur, madju mundur dan terputar disitu-situ djuga. Laku Dharma Trisanta jang sudah bulat, karena sudah tidak perlu memikir apa-apa lagi lalu menimbulkan rasa tenteram dan ajem, hening tanpa semedi. seupama air djernih jang sudah tidak perlu disaring lagi. Barang siapa jang sudah berada ditingkatan itu, sebenarnja sudah berada didalam Parénirwana, maka nanti djikalau ia meninggal dunia. pasti akan mentjapai Adipralaya. Muhun dimaafkan, djikalau saja menguraikan laku Dharma Trisanta dengan seenaknja sadja seperti diatas, karena sebenarnja Dharma Trisanta hanja dapat dilakukan oleh orang-orang jang sudah bergulat dalam semua peladjaran jang sulit berliku-liku, setelah banjak beladjar dan banjak pengalaman, sesudah mendjadi orang bodo lebih dulu, barulah meningkat djadi bidjaksana, maka sesudah bidjaksana barulah tahu dan faham tentang kebenaran jang tergenggam dalam laku Dharma Trisanta, sesudah insjaf dan jakin mana jang mengandung dosa dan mana jang bersih, disitulah mulai terbentang kantjah Mahayuda. ia harus bisa ambil putusan akan berdiri dan bertempur guna kejakinan jang mana, sesudah pemilihannja tepat dan betul, keluarnja dari peperangan Mahayuda dengan kemenangan, barulah orang itu mulai mengindjak tangga pertama dari laku Dharma Trisanta. Maka djanganlah salah mengerti, lantaran mendapat sedikit keterangan tentang Dharma Trisanta dari sudut gampangnja sadja lantas menganggap remeh dan ketjil semua peladjaran lain. jang sebenarnja adalah obor untuk orang jang mentjari api. HIMBAÜAN GUNUNGKAWL Pemandangan alam diseputar desa Djugo memang menjenangkan hati. ditengah sawah-sawah jang tidak kekurangan air banjak burung-burung kuntul
jang terbang kesana kèmari, suaranja kentongan kaju jang tergantung dilehernja kerbau-kerbau jang sedang makan rumput. saling saut merawankan hati. 'Mbah Djugo dengan ditemani Raden Mas Iman Sudjono suka berdiri ditepi sawah, tapi djikalau orang perhatikan, jang dipandang 'Mbah Djugo adalah puntjaknja Gunung Kawi, jang dari situ kelihatan indah menjengsamkan hati. Setelah sudah tiba waktunja, maka pada tahun 1872 Sang Wiku menjatakan ingin pergi ke Gunung Kawi, akan mentjari tanah untuk tempat kuburnja djikalau ia pulang kedjaman kelanggengan. Maka dengan diringi oleh para pengi- kutnja, disampingi oleh Raden Mas Iman Sudjono, sang wiku berangkat menudju ke Gunung indah jang menarik hatinja itu. Dengan menerabas djalanan desa mereka sampai Pidjiombo, terus kedesa Wonosari dimana rombongan itu telah mengasoh semalam, pada besok harinja sang penembahan berdua sama Raden Mas Iman Sudjono telah naik sampai di- kakinja Gunung Kawi, dimana ia telah memeriksa tempat itu dengan sangat saksama, dilihat dari djauh, kemudian dilihat lagi dari atas lereng gunung jang tinggi, maka achirnja Mbah Djugo merasa puas mendapat suatu. tempat baik untuk kedudukan raganja sewaktu penjerahan kembali kepda Ibu Pertiwi. Dibawah kakinja Sang Hjuang Giri Kawi jang sisih Selatan, ada suatu bukit ketjil jang ngrenggunuk merupakan seekor Gadjah jang sedang djerum, telalenja mendjulur pandjang mendjadi perengannja sebuah sungei jang airnja djernih dan agung. Tepat diatas punggung sang gadjah jang terdepan, 'Mbah Djugo pilih sebagai tempat kuburannja, disitu dengan tangannja sendiri ia sudah buka lobang galian jang sangat dalam, hingga sampai mendjumpai lapisan batu besar jang mendjadi dasarnja. Diseputar tempat itu ada tumbuh puhun2 tjendana jang besar dan rindang daonnja, maka lalu ia pesan kepada Raden Mas Iman Sudjono, supaja nanti diseputarnja ditambah tanaman lagi dengan puhun2 kemu- ning, nagasari, dewandaru, mergotomo, blimbing. tjerme, kesemek dan lain-lain lagí. Djuga diundjuki dimana mesti didirikan tjungkup dan pendopo, berapa besarnja, berapa tingginja, semua dengan aturan jang tertentu. Sesudah semua beres, maka sang bagawan lalu pulang ke Djugo. Lewat beberapa hari lagi Raden Mas Iman Sudjono disuruh pergi kehutan Brongkos didekat Kesamben, membawa orangrorang jang dengan suka rela akan menger djakan segala keinginannja sang penembahan, memotong kaju jang baik-baik, lalu dipikul beramai-ramai melalui perdjalanan jang djauh, mandjat menudju ke Gunung Kawi, dimana kaju-kaju pilihan itu lalu dikerdjakan untuk mendirikan tjungkup kuburan jang merupakan sebagai rumah ketjil wuwungan runtjing ter- tutup pajon kaju sirap jang bagus dan kokoh. Didepan tjungkup didirikan sebuah rumah lagi sematjam pendopo jang lebih besar. Disebelah bawahnja kuburan sedikit djauh, Mas Iman Sudjono telah mendirikan pula sebuah rumah untuk tempat tinggalnja, karena ia harus berdiam disitu sehingga pekerdjaan mendirikan tjungkup dan pendopo itu selesai, kemudian harus dibersihi dan diatur sebaik-baiknja. ditanami puhun-puhun dan kembang2 jang menambahkan permai. Berbareng itu djuga ia lalu membabad hutan untuk ditanami kopi, sehingga kurang-lebih 60 bouw luasnja. Lantaran tugasnja itu, maka Raden Mas
KALI TEMPUR. Orang2 jang bawa kaju guna tjungkup pesarean dari hutan Brongkos ke Gunung Kawi dengan dipikul, sesampainja disin: mereka sama mengasuh, mandi dan makan nasih butju ramai-ramai dibawah puhun waringin.
Iman Sudjono tetap tinggal di Gunung Kawi. hanja satu waktu sadja balik ke Djugo, untuk tilik sowan kepada sang panembahan. Pada tahun 1875. datang di Djugo seorang njonja Belanda djanda Schiller. minta obat karena badannja lemah berpenjakittan, banjak menanggung duka nastapa lantaran ditinggal mati suaminja. Oleh Mbah Djugo ia diberi air dan nasehat jang mengentengkan kesusahan hatinja. maka sering ia datang kesitu. achirnja ia minta supaja boleh ikut tinggal dibawah perlindungannja sang wiku. 'Mbah Djugo tidak pernah menolak permintaan orang jang sifatnja minta tulung, maka njonja itú lalu diterima tinggal disitu. Kebetulan Raden Mas Iman Sudjono datang. dari Gunung Kawi, maka sang wiku lalu suruh njonja itu ikut kepada anak angkatnja itu. dinikahkan dan terus diadjak ke Gunung Kawi. akan mengurusi tanaman kebon kopinja jang sudah kelihatan hatsilnja dan sekarang diberi nama Wonosuko, artinja Hutan jang menjenangkan". Kandjeng Bupati dari Malang pernah menindjau ke Gunung Kawi. ketika melihat penghidupannja suami-isteri jang bahagia itu dan melihat bagusnja kebon kopi. lalu memberi nama kepada Raden Mas Iman Sudjono djadi: Raden Mas Kromoredjo, artinja: menikah dan makmur. Tidak lama ada datang pula di Djugo seorang wanita dari Mataram, isterinja Raden Mas Iman Sudjono jang datang menjusul suaminja, sang wiku lalu suruh orang antarkan ke Gunung Kawi, dimana ia hidup tjampur djadi satu sama marunja dengan damai. Isterinja Raden Mas Iman Sudjono jang datang
HUTAN BRONGKOS. Disinilah 'Mbah Djugo telah pilih pohon2 besar jang kajunja kemudian diangkut ke Gunung Kawi, untuk mem- bangun tjungkup kuburannja.
dari Mataram itu. tidak ada jang tahu namanja. maka orang hanja memanggil dia 'mbah Djuwul. Pada tahun 1876, dengan diringi oleh para djedjanggan. tjantrik, manguju. ulugintung, sang panembahan Kiageng Djugo telah berangkat pindah ke Gunung Kawi, meninggalkan padepokan Djugo jang sekarang telah suwung, hanja di- djaga oleh Ki Ngapijah sebagai djuru kuntji. dan seorang pula bekas djuru masak nasih namanja Ki Dawud, asal dari Purworedjo (Bagelen). Diseputar pedepokan Djugo ada tumbuh puhun2 kelapa jang sarat buahnja, siapa sadja jang dahaga boleh ambil seperlunja, tetapi belakangan orang ambil buah kelapa itu untuk didjual, maka heran sekali, mendadak puhun2 kelapa itu tidak berbuah lagi. daunnja jang. kurus melambai-lambai sebagai peringatan. bahwa perbuatan mereka tidak disukai oleh sang adi panembahan. Hutan Brongkos jang sudah menjumbangkan kaju-kajunja jang baik untuk pendirian tjungkup dan pendopo kuburan dj Gunung Kawi, telah menerima pe- ngestunja 'Mbah Djugo, maka orang2 tua sama mengatakan bahwa hutan Brongkos dikemudian hari akan djadi kampung jang makmur. Ramalan ini rupanja sekarang sudah mulai kelihatan wudjudnja, disitu sekarang sudah ramaí djadi tempat pengungsiannja orang2 dari desa Pasirhardjo, jang sama pindah karena antjaman lahar dari Gunung Kelud pada tahun 1952 baru-baru ini. Desa Pasirhardjo itu memang mendjadi djalanan lahar djikalau Gunung Kelud meletus, asalnja bernama. desa Sonogunting.jang musna tersapu lahar pada tahun 1919, hingga tertampak pasir putih belaka dari batas djalan besar
sehingga dikakinja Gunung Kelud. Setelah orang2 tinggal berumah kembali disitu, maka pada waktu djaman Djepang desa itu diganti nama djadi desa Pasir- hardjo, sekarang orang2 penduduk desa itu telah sama pindah teteruka di hutan Brongkos, maka tidak mustail bahwa disitu nanti akan mendjadi kampung jang makmur dan redjo. Di Gunung Kawi 'Mbah Djugo telah tinggal dirumah pedepokan jang lebih dulu telah disediakan oleh Raden Mas Iman Sudjono. letaknja pedepokan itu ada disebelah bawah kuburan kira-kira- setengah kilometer djauhnja. Disitu 'Mbah Djugo masih terus dapat kundjungan orang2 jang minta obat, tapi tidak berdjedjel-djedjel lagi seperti ketika masih di Djugo, karena letaknja sekarang sangat djauh, perdjalanannja sukar disampaikan. Namun tetap tidak ada putus2- nja orang menghadap sang panembahan. Asal mulanja orang mengadakan sesadji dan selamatan di Gunung Kawi jalah begini: Siapa jang hidupnja sudah senang ketjukupan, merasa itu adalah berkah pudjinja sang pandita, maka sama datang membawa beras, kambing dan ajam, jang djikalau barang2 itu ditumpuk akan mendjadi beberapa gudang. kambing akan beratus ekor banjaknja. Maka barang antaran itu lalu dimasak, sesudah disadjikan kepada Hjuang-hjuang Suasana, pendjaga Gunung. pendjaga Keblat ampat, para Dewata jang mendjaga keamanan didjagadnja manusia, para Pitri dan arwahnja para leluhur, lalu Mbah Djugo ambil setjimit dengan 3 djarinja, dimakan tiga tjimitan, maka butju2 dan tumpeng itu lalu dibagikan kepada orang bánjak, djuga orang2 perempuan dan kanak2 semua mendapat bagiannja, boleh makan se-kenjang2nja, boleh ambil sebanjak-banjaknja. Bukan sadja badan2 halus dan manusia, bahkan binatangpun mendapat bagian dari sidekah itu, andjing dari lain tempat, dari desa2 jang djauh, sama datang akan menerima sisah2 makanan, nasih jang masih hangat, tulangnja kambing dan ajam ber-kerandjang2 ada mendjadi bagiannja, hingga tubuhnja gemuk-gemuk. hidupja tenteram bebas dari rasa takut karena tidak ada orang jang memu- kulnja, anak-beranak tinggal disitu sehingga ini hari Memang ada díandjuri oleh 'Mbah Diugo, kalau orang mendapat redjeki lebih, bagikanlah kepada orang-orang jang miskin dan kekurangan, karena itu adalah perbuatan badjik jang akan membawa bêrkah kepada dirinja. Pitutur itu banjak diturut oleh orang2 jang pernah dacang minta pengestunja sang wiku, karena sang wiku sendiri telah memberikan t'onto jang senjata-njatanja. kebonan atau tegalan jang ditanami djagung. puhung, ketela, lombok, terong dan lain2, siapa sadja boleh datang minta kepada tjantrik jang mendjaga. boleh ambil sebutuhnja.
Orang2 jang menghantar beras dan kambing atau lain2 barang lagi. jang
ditudjukan untuk Mbah Djugo sendiri, telah disalurkan kedjalan jang betul, jaitu
terus dimatangkan dan disadjikan kepada para badan halus, lalu dibagikan ke-
pada orang banjak, mereka jang sidekah itu mengerti atau tidak mengerti, toch
akan mendapat berkahnja. oleh karena aturan dari sang wiku itu. Sebenarnja
tentang dana mengasih kepada orang jang melarat itu boleh dilakukan oleh
mereka dimana djuga, tetapi sebab kebanjakan orang ingin haturkan kepada
Mbah Djugo lebih dulu, maka oleh 'Mbah Djugo lalu diberikan lag: kepada orang banjak, atas nama sipemberi. berkahnjapun untuk sipemberi tadi djuga. Aturan dan kebiasaan ini diteruskan sehingga sekarang. sesudah Ejang Djugo menutup mata, orang-orang jang datang ziarah dihadapan kuburnja, sama sedekah selamatan dengan nasih tumpeng ikannja daging kambing atau daging ajam, diwaktu sijang hari, diwaktu sore, sehingga diwaktu tengah malam, tiada putus-putusnja. Aturannja tetap sebagaimana ketika 'Mbah Djugo masih hidup. MENINGGALKANARTJAPADA Berkahnja pandita linuwih. dimana sadja ia tinggal, disitu tentu mendjadi makmur. Gunung Kawi kini mendjadi ramai, orang datang dan pergi tidak ada habisnja, semua diterima oleh sang wiku dengan tidak pilih bulu. tidak pakai perlambang apa2 jang mengundjukan kepandaian atau kesakitannja. Orang banjak menghormat dan tjinta kepada sang panembahan bukan karena ia kramat atau sakti. tapi karena tjinta, sebagai tjintanja seorang anak kepada orang tuanja, menghormat karena membalas kemurahan hatinja. Setelah tiba waktunja, maka Mbah Djugo lalu sesutji mandi membersihkan badan, dan mulai ngelowong, jaitu tidak makan dan tidak minum sama sekali. dapat hidup hanja dengan mengisap hawa sadja, sehingga 36 hari lamanja. Pada hari jang ke 37, dengan diringi oleh Raden Mas Iman Sudjono dan se- kalian tjantrik hulugintung. 'Mbah Djugo berangkat dari pedepokannja naik menudju ketempat pekuburannja, djalannja sebentar-bentar berhenti karena ra- ganja sudah lemas laksana kapuk. Sesampainja diliang kubur, dengan dibantu oleh Raden Mas Iman Sudjono jang waktu itu aír-matanja melele, sang panembahan lalu turun masuk dan duduk bersilah didalamnja, maka pada saat itu
djuga lalu ia menghembuskan napasnja jang penghabisan....
Demikianlah matinja seorang Maharsi jang sutji dan agung. Menurut hitungan 'Mbah Djugo telah meninggal dunia pada Hari Ahad Legi, malam Senen Paing. tanggal 2 bulan Selo. Hitungan Mesehi djatuh pada tahun 1879. mendjadi ia telah tinggal di Gunung Kawi tiga tahun lamanja, karena ia pindah kesitu pada tahun 1876. Sedang kuburannja ia bikin sendiri mulai pada tahun 1872, maka sang resi telah menjediakan kuburnja 7 tahun sebelumnja ia meninggal dunia. Delapan tahun kemudian. jaitu pada tahun 1887, Mbah Iman Sudjono membangun pula sebuah pendopo jang lebih besar, didepannja pendopo ketjil dimuka tjungkup, karena orang2 jang datang makin bertambah banjak, sama tidur diseputar situ menggeletak ditanah terbuka, hingga tertimpah air embun. lebih pula djikalau turun hudjan, mereka sangat menderita. maka pendopo besar itu didirikan lagi. Anak angkatnja 'Mbah Djugo bangsa Tionghoa jang bernama Tan Giok Tjwa alias Ki Djan, tetap tinggal dipedepokan bekas tempat tinggalnja sang wiku. Pada suatu hari ia disuruh oleh 'Mbah Iman Sudjono akan membabad rumput jang mengganggu tetanaman, tapi ia keliru mengerti hingga kesalahan
membabad semua puhun2 tanamannja, maka ia dimarahi. Tan Giok Tjwa merasa ketjewa, pergi meninggalkan Gunung Kawi, mengembara entah kemana. ada jang tjerita bahwa ia telah menikah di Blitar dan tinggal sama sanaknja nama Tan Tjing Ju, tapi ada lagi jang bilang ia terus pergi ke Djawa Tengah dan tidak ada kabar wartanja lebih djauh. Tidak lama 'Mbah Iman Sudjonopun telah menutup mata menjusul 'Mbah Djugo kedjaman kelanggengan. djinasatnja disarehkan berdjedjer dengan kuburan 'Mbah Djugo. Setelah 'Mbah Iman Sudjono menínggal dunia. maka jang menggantikan djadi djuru kuntji jalah 'Mbah Djuwul. jaitu isteri 'Mbah Iman Sudjono jang tua, sedang isteri jang bangsa Belanda lalu pergi ke Kesamben. tinggal menumpang dirumahnja Pak Tjikrak. sehingga ia menutup mata dan dikubur disana. Masih ada lagi pengikutnja 'Mbah Djugo. jaitu seorang Tionghoa totok namanja Sie Wan Ho jang tinggal didesa Tumpangredjo, pernahnja dibawah desa Gendogo, ia telah meninggal dunia dalam usiá 108 tahun. Para pengikutnja 'Mbah Djugo dan Mbah Iman Sudjono, antaranja Ki Mar- sipah, Ki Kartodjo. Ki Tokarjo dan Ki Munari, semuanja meninggal dunia dalam usia landjut. Djuga Ki Ngapijah jang mendjadi djuru kuntji pedepokan di Djugo, meninggal dalam usia tua. kuburannja didesa Djugo. Hanja kuburan nja Ki Dawud jang tersendiri disampingnja kuburan Tundonagoro, terpentjil dipinggir sungai. mendjadi sebuah kuburan jang angker dan seram. didjaga oleh djuru kuntji namanja Pak Kasdan. Segala sesuatu jang dilakukan disitu harus hati-hati, karena ada kesalahan sedikit sadja arwah Ki Dawud mendjadi marah. Pernah Pak Kasdan lantaran manaro kaju disamping dekat kuburan, ia telah mendapat impian jang heibat dan menakutkan, kemudian ia mendapat sakit 12 hari lamanja. Sedang terhadap djuru kuntjinja sendiri jang merawat dan tiap hari membersihkan, ada kesalahan sedikit sadja arwah Ki Dawud sudah mendjadi gusar, apa pula terhadap lain-lain orang, tentunja lebih menjeramkan lagi, maka tepat sekali kalau kuburan itu dipernahkan dipinggir kali. disuatu podjok terpentjil bersama kuburan Tundonagoro jang heibat itu. Orang2 jang datang ke Gunung Kawi berziarah kekuburannja 'Mbah Djugo.
ada terdiri dari segala bangsa, Tionghoa. Indonesia, Belanda, Hindu dan lain2.
tapi bagian jang terbesar adalah bangsa Tionghoa, hingga ada jang datang
dari Singapore dan lain2 tempat djauh. Orang2 Indonesia menghormat kuburan
sang wiku dengan adat-istiadat kuno, tapi orang2 Tionghoa menghormat dengan
tjaranja sendiri, jaitu dengan sepasang lilin merah. hioswa wangi dan membakar kertas kuning, sebagai sembahjang twapekong diklenteng. Selainnja ada mang-
kok abu untuk menantjapkan dupa hioswa, sebagai medja abu leluhur jang
biasa dipiara didalam rumahnja masing-masing. pun ada dipakai sepasang kaju
papwe, untuk menanjakan peruntungan. ambil tjiamsi dan minta obat. Orang2 Tionghoa menjebut Mbah Djugo: Thay Lo Su. artinja Kjai Guru
Tua. 'Mbah Iman Sudjono dipanggil: Djie Lo Su, artinja Kjai Guru jang
kedua. Sebutan Thay Lo Su itu sudah mendjadi umum, maka tidak heiran
GEDUNG KUBURAN MBAH DAWUD. Letaknja disamping makam Tundonagoro, sunji dan angker. Sedjak Sang Wiku pindah ke Gunung Kawì. Ki Dawud tinggal dirumahnja Mangunkario didesa Kauman, Ke- samben. sehingga menutup mata dalam usta kira-kira 100 tahun.
djikalau mereka anggap 'Mbah Djugo itu seorang Tionghoa, malah ada jang menamakannja Tan Djun Sing. Ada pula orang jang menamakan Pik Ho. Tentang sang panembahan itu bangsa apa, sebenarnja tidak ada seorangpun jang dapat mempastikannja, karena djangan sentara kini sesudah sang wiku meninggalkan dunia fana, sedang waktu ia masih hidup sadjapun belum pernah ia menerangkannja, belum pernah ia tjerita tentang dirinja. Pandangannja sudah seluas lasuardi jang tak ada tepinja, tidak perduli bangsa apa, semua adalah anak tjutju jang la tjinta dengan segenap hatinja, bahkan kerbau atau sapi. burung2 atau batu kaju, semua tidak ada bedanja, karena semua adalah ang- gauta dari alam semista. Anggapan jang sangat luas itu, mirip dengan ang- gapannja Betara Dharma ketika menitis sebagai Sukasrana dan Bagaspati, ke- mudian sebagai Yudistira, hingga dapat bersatu dengan alam semista, maka djagad raja mendjadi seketjil mritja ginugut. Sesudah 'Mbah Iman Sudjono menutup mata, djuru kuntji pesarean ada ditangan isterinja, jaitu 'Mbah Djuwul. Pada suatu hari, Mbah Djuwul kehi- langan kuntji pintu tjungkup, maka ia mendjadi bingung karena tidak dapat membersihkan kuburan, pikirannja susah serba salah, maka sebagai kebíasaan- nja orang2 dulu, didalam prihatin suka mengutjapkan apa2, jang harus dite- patinja. Ia kata, siapa jang bisa membuka pintunja kuburan djikalau perempuan ia anggap saudara, djíka lelaki ia angkat djadi suami. Utjapan itu dapat didengar oleh Pak Kasio, asal dari Kebonagung. jang kebetulan berada disitu, maka lalu pintu itu dibukanja dengan mudah, sesudah besudjut nenuhun kepada jang sudah sumareh didalam tjungkup itu. Lantaran itu maka Pak Kasio menggantikan djadi djuru kuntji, dengan nama sebutan 'Mbah Kasio. 'Mbah Kasio dan Mbah Djuwul mendapat anak perempuan, namanja mbok Demes, menikah dapat Pak Karjoredjo, menurunkan dua orang anak lelaki, jang tua namanja Asim, jang muda namanja Jahmin. Asim menikah djadi menantunja Pak Arti, asal dari Pekalongan kini orang jang tertua penduduk desa Wonosari. Asim mendapat dua orang anak lellaki, jang besar nama Supodojono, jang ketjil nama Sabarudin. Anak lelaki dari Pak Arti jang paling muda nama Tas- mui kini mendjadi kamitua desa Wonosari jang menanggung djawab atas ke- amanan Pesarean Gunung Kawi. Atas pertanjaan kita, kamitua dukuh Wonosari telah memberikan kete- rangan, bahwa anak rakjat disitu ada mendjundjung dan hormat sekali kepada
pepunden di Gunung Kawi, patuh dan pertjaja, tidak mudah kemasukan pikiran
jang tidak baik, maka ketika menghadapi djaman pantjaroba, tetap tenang dan
sadar, tidak ada seorangpun jang batinnja rusak, hingga berbuat hal-hal jang
tidak senono. Tiap malam Djumahat Legi mereka sama tirakat dan melek 'se-
malam dimasingrmasing rumahnja sendiri. Djikalau ada mempunjai hadjat ke-
perluan mereka datang sowan minta izin pengestunja sang panembahan. Tiap
tahun mereka mengadakan selamatan besar, beramai-ramai datang ketempat pepunden, naluri kebiasaan dari leluhurnja. dengan dipímpin oleh kamituanja sen-
diri. Mereka menganggap pepunden itu sangat sutji, mereka tidak ingin kesu-
tjian itu ada jang mengganggu dengan tjara-tjara jang kurang sopan, mereka
mendjaga betul-betul kesutjian itu sehingga ini hari. Setelah 'Mbah Kasio meninggal dunia, maka Asim jang sekarang bernama Pak Asim Nitiredjo, jang menggantikan djadi djuru kuntji Pesarean Gunung Kawi sehingga ini hari. BANGUNKEINDAHAN. Aturan Pesarean Gunung Kawi, sedari 'Mbah Iman Sudjono masih hidup sehingga sekarang ini. belum berobah. jaitu tidak pernah minta sumbangan apa sadja berupa uang atau'berupa barang. Rumah-rumah pendirian disitu, telah didirikan oleh orang2 jang ada minat sendiri. Mereka jang merasa pernah mendapat budi berkahnja 'Mbah Djugo, tídak dapat ditahan kemauannja untuk memberikan dan berdirikan apa jang sudah mendjadi niat maksudnja. Pada tahún 1931 di Gunung Kawi ada beberapa orang Tionghoa dari Su- rabaja. jang datangnja kesitu hendak undjuk bakti kepada Thay Lo Su dan Djie Lo Su.-karena sudah mendapat berkah ketjintaannja, mereka ingin sam- paikan tjita-tjitanja mendjadi tjantrik disitu. akan membersihkan dan memper- baiki keadaannja. Antara mereka adalah Tjia Tian Tjin. jang kini masih hidup, usianja sudah 80 tahun, masih segar sehat dan kuat. Anaknja lelaki bernama Tjia Hong Bwe. ketika masih ketjil mendapat tjilaka djatuh hingga tidak bisa berdjalan, malah kaki itu luka dan berlobang sehingga tembus, diobati dokter. sinshe. dukun dan lain-lain tidak bisa sembuh sehingga 7 tahun lamanja. Sang ajah sudah putus asa, sampai kemudian ia mendapat petundjuk dari sobatnja, supaja datang minta obat ke Gunung Kawi. Petundjuk itu dilakukan, ia dapat sebotol air, air itu lalu diminumkan anak jang sakit, disiramkan kedalam lobang luka dikakinja, adjaib dan mengedjutkan sekali, dalam beberapa hari lobang jang luka sudah bertahun-tahun itu mendjadi rapet dan ànak itu lalu bisa djalan kembali sebagaimana asalnja. Inilah sebabnja maka Tjia Tian Tjin naik ke Gunung Kawi, akan mendjadi tjantrik disitu, ingin berbuat apa jang dapat dilakukan guna menjatakan baktinja kepada sang panembahan. Seorang lagi jaitu Kwee Yan Ho, dia mendapat sakit napas dan badan lemah sudah bertahun-tahun lamanja tidak bisa sembuh, atas andjuran sobat- sobatnja. ia telah berangkat ke Gunung Kawi, ia paksa-paksa karena memang badannja sudah lemah sekali. tapi heran dan tidak dinjana, baru sadja ia lewat desa Gendogo. badannja sudah merasa segar dan kuat, ia merasakan belum pernah kesehatannja sebaik itu selama hidupnja. la meneruskan perdjalanannja. mendapat obat untuk dibawa pulang dan penjakitnja terus mendjadi sembuh Oleh karena ini, maka ia datang di Gunung Kawi hendak bekerdja apa sadja. untuk menghaturkan baktinja kepada Thay Lo Su dan Djie Lo Su. Ada lagi. Tjan Tjoe Siang. seorang jang/ mejakinkan kebatinan. tidak makan barang berdjiwa, maka sering mendapatkan saat-saat jang hening. pada suatu malam ia dapat impian atau lebih surup himbauan jang menarik ia hingga sampaidi Gunung Kawi. setelah berada disana, ia merasa tidak ingin pulang lagi kedunia keramaian, karena selamanja ia beladjar dan mentjari, tidak pernah
mendapat apa-apa seperti jang ía dapatkan disitu. Ia masih ada kewadjiban rumah tangga, maka ia tidak dapat tetap tinggal, sewaktu ia pulang. kemudian datang lagi dan datang lagi, merasa senang mendjadi tjantrik, akan membantu kerdja dengan kawan-kawan jang sehaluan itu. Rombongan tjantrik jang tiap hari pasang batu. bikin undak-undakan ke- tempat mandi dan lain-lain, jang dikerdjakan dengan tangannja sendiri, kebu- latan tenaga dan kemauannja adalah berpusat atas dirinja Tan Kiam, seorang Tionghoa totok, berasal dari Tjiang Tjiu, Hay Teng, Tjan Yo Sia, satu tempat asal dengan Tan Giok Tjwa, jang datang duluan sewaktu 'Mbah Djugo masih hidup. Tan Kiam itu kini usianja 62 tahun, badannja tinggi besar dan kuat. Dulu ketika ia masih di Tiongkok, usianja baru 20 tahun, dalam lajap-lajap setengah tidur setengah sedar, ia mendapat impian atau lamatan, melihat seorang pandita berpakean djubah hitam tersulam benang emas. pegang kebut, berdiri diha- dapannja, kakinja tidak mengindjak tanah. Pandita itu telah berkata, supaja nanti kalau Tan Kiam berusia 40 tahun mentjari kepadanja. Sesudah berkata, orang tua jang gaib itu lalu pergi kedjurusan Selatan. Tan Kiam tidak terlam- pau memperhatikan hal itu, kendati merasa heran dan aneh. Maka hal itu lalu dilupakan, sampai kemudian ia turun ketanah Djawa. bekerdja dan berdagang dimana-mana, pernah tinggal berdagang di Surabaja, pernah buka toko di La- wang dan kemudian paling belakang tinggal di Alkemar. Ketika ia berusia 40 tahun segala pekerdjaan jang dipegang telah gagal, hingga ia mendapat susah dalam hidupnja, tidak kira bahwa ini adalah tepat seperti suatu peringatan dari omongannja sang pandita dalam impian, jang menjedarkan kepadanja bahwa waktunja sudah datang untuk ia mentjari kepadanja. Dengan tidak mengerti bagaimana sebabnja. Tan Kiam lalu ketarik sekali akan datang di Gunung Kawi, sesampainja disitu pikirannja djadi tentram, segala keruwetan jang dulunja mengganggu. sekarang hilang sama sekali. Achirnja pikiran Tan Kiam bulat berputusan hendak mengabdi kepada Thay Lo Su, akan memperbaiki kuburan dan mengatur apa sadja jang dirasa dapat menambah kebaikannja. Demikianlah maka ia mulai mengumpulkan batu, mentjari kaju dan lain2 jang berguna untuk pendirian. kebetulan sekali djustru telah bertemu dengan rombongan dari Surabaja jang bermaksud sama, maka tenaga kerdja djadi makin besar, sementara itu tenaga dari anak tjutju djuru kuntji 'Mbah Kasio jang waktu itu masih hidup. dan orang-orang Wonosari dengan suka rela setjara gotong rojong mulai bekerdja dengan alat dan bahan sedapat-dapatnja. Asim dan Jahmin jang pada waktu itu masih muda sekali. pun telah membantu apa sadja jang mereka bisa. Pembangunan itu tidak kekurangan tenaga, tapi bahan-bahan tidak tjukup dengan batu dan kaju sadja, maka seringkali kebentrok kesukaran, karena satu waktu perlu barang2 jang harus dibeli dengan uang. tapi Tan Kiam tidak me- ngenal rintangan, ia hanja pertjaja segala niat mesti terdjadi, tapi dapatnja terdjadi oleh karena kemauannja 'Mbah Djugo sendiri. Berangsurangsur pembangusan itu nampak wudjudnja. batu-batu undakan
didepan pendopo jang diatur bertingkat-tingkat, makin bawah makin besar. kemudian tangga undakan jang beratus tingkat turun menudju ketempat mata- air dibawah djurang, jang sekarang sesudah mendapat perbaikan merupakan suatu pemandian jang baik sekali. Kemudian didirikan rumah sederhana untuk menginap orang2 jang datang berziarah dan sebuah kebon bungah jang dinamakan Taman Sari. Paling belakang lalu didirikan sebuah kupel segi delapan jang dinamakan Pat Kwa Teng. kupel ini dibikin dengan sebaik-baiknja, karena ada dimaksud untuk męmindah mangkok tempat abu hiolo, jang pada waktu itu tempatnja ada dibagian belakang kuburan. Pembangunan kupel Pat Kwa Teng meminta tenaga perhatian lebih dari jang sudah-sudah, maka kajunja oleh Tan Kiam lalu ditjarikan di Lawaig. ia tidak mempunjai uang untuk membelinja, akan tetapi ia berdaja sadja dengan mantap. karena. hal itu ia anggap ada urusannja 'Mbah Djugo sendiri, Tan Kiam hanja sebagai per- kakas belaka. Achirnja ia dapat djuga kaju di Lawang, dibawa ka Alkemar. disitu la mendjadi bingung. karena tidak tahu bagaimana dapatnja diangkut lebih djauh ke Gunung Kawi. Sedang ia merenungkan hal itu, tiba-tiba so- batnja nama Na Djwa An datang menanjak ia sedang pikiri apa, Tan Kiam kasih tahu tentang kaju jang mesti diangkut ke Gunrzg Kawi. maka sobat itu kasih tahu, bahwa anaknja sedang mau beli seouah prahoto, nanti kalau kedjadian kaju itu akan diangkutkan dengan tjuma-tjuma, betul sadja satu minggu kemudian sobat itu kirim prahotonja, maka sehari itu djuga kaju itu telah dapat dibawa kedesa Gendogo. Dari Gendogo kaju2 itu harus diangkut orang banjak kedesa Wonosari, terus naik ketempat kuburan Gunung Kawi. menurut aturan ongkosnja banjak sekali. tapi Tan Kiam hanja memounjai uang Rp. 3.- ia lalu kasih tahu keperluannja untuk kupelnja 'Mbah Djugo, maka dengan segala suka hati orang2 itu terima dibajar sebanjak itu sadja. Demi- kianlah riwajatnja kaju bahan untuk pendirian kupel Pat Kwa Teng itu. jang menurut Tan Kiam bisa ija djadi bukan oleh kebisaan ía dan kawan-kawan nja. hanja bisa berdiri kaiena dari 'Mbah Djugo sendiri. Rame-rame kupel itu didirikan. Tjia Tian Tjin jang mengukur siku-sikunja Tjan Tjoe Siang pasang tiangnja, Kwee Yan Ho dan Kho Soen Khong memasukan belandarnja. Tan Kiam sendiri, memasang batu pandemennja, anak tjutju 'Mbah Kasio memasang pajonnja, achirnja kupel itu berdiri djuga, maka Asim dan Jahmin jang masih muda sekali. lalu melukiskan gambar-gambarnja diatas katja dengan tjat beraneka warna. Setelah selesai, maka dengan upatjara sederhana mangkok abu tempat hioswa dari Thay Lo Su lalu diangkat oleh Tjia Tian Tjin, diringi orang banjak dibawa pindah ke kupel Pat Kwa Teng, jang sehingga sekarang mendjadi pusat tempat sembajang untuk minta obat, minta keterangan tentang peruntungan, papwe dan mentjabut tjiamsi, sumbangan Ong Hok Liong dari Malang, berdjalan sehingga sekarang ini. Pendirian lain menjusul beruntun-runtun, antaranja Lim Koen Hian mendirikan sebuah rumah ruangan untuk tidurnja orang jang datang menginap. djuga Ong Hok Liong mendirikan rumah dan membantu banjak apa sadja
jang dibutuhkan. Setelah. tjita-tjita bakti membikin baik kuburannja Thay Lo Su dan Djie Lo Su telah kesampaian. maka orang-orang dari Surabaja itu, Tjia Tian Tjin, Tjan Tjoe Siang dan Kwee Yan Ho lalu sama pulang kemasing-masing tempatnja, hanja Tan Kiam sendiri jang tidak pulang lagi ke Alkemar. tetap ting- gal disitu merawati apa jang sudah dibangun baik itu, sekalian memimpin para tjantrik muda, jang kesemuanja menganggap ia sebagai orang tuanja sendiri. Djalanan asal jang menudju kekuburan, telah dipindah disebelah Barat. mendjadi lebih besar dan baik dimana lalu didirikan gerbang2 sederhana jang hanja terbikin dari tiang dan pajon2 ketjil, banjaknja 7 buah berturut-turut dari bawah sampai keatas, dan dipinggir djalan tiap2 beberapa belas meter ada dipasangi tiang2 untuk gantungan lampu atau ting. jang djikalau malam Djumahat Legi dipasangi lampu. selainnja memberikan penerangan bagai jang mondar-mandir tiada putusnja, pun memberikan suatu pemandangan jang indah dan permai. Tan Kiam kemudian terkenal dengan nama Kjai Tan Jam, belakangan karena merasa sudah tua, maka ia mengundurkan diri tidak tjampur pula urusan kewadjiban merawat kuburan, hanja sebagai orang tua jang nasehatnja masih tetap sangat diindahi oleh mereka jang masih muda-muda. MAKMUR TERPUDJA. Gunung Kawi mendjadi seakan-akan sebuah kota ketjil jang makmur dan redjo, apa lagi djikalau datang pada hari Djumahat Legi, orang akan men- dapat dengar suaranja gamelan wajang kulit, tanggapannja orang jang bajar kaul, dikerumuni orang2 jang menonton. Pasar ketjil jang chusus dibuka pada hari jang penting itu, untuk para tetamu jang perlu beli bakiak, pajung. bebuahan dan apa sadja, nampak ramai dan menjenangkan. Warung dan pen djual bungah, berderet-deret sama menawarkan dagangannja. Restoran-restoran, terang binderang pasang lampunja sedari sore tidak tutup sehingga pagi. Se- sunggunja orang tidak ingat lagi bahwa disitu ada tempat kuburan kramat,
hanja tempat bersemajamnja seorang Maharsi Radja Pandita jang masih hi-
dup dan agung luhur wibawanja. Djikalau hampir datang hari Djumahat Legi. sedari dua hari sebelumnja. rumah2 tetamu sudah penuh dengan orang jang padulu-duluan mer jar tempat tidur, malam sama rebahan, pemuh berhimpit-himpitan seperti ikan pindang, djikalau belum tidur, masih sama duduk beromong-omong, nampaknja
tidak ada air muka jang muram, semuanja senang dan gembira, bitjara apa
sadja jang mereka suka, memain., melawak, berkelakar, seakan-akan tempat
Itu bukan kuburan, hanja tempatnja orang jang masih hidup. dan orang itu
adalah orang tuanja sendiri jang menjinta dan memandjakan mereka, boleh berbuat gembira sesukanja, makin mereka gembira, makin menimbulkan kese-
nangan orang tuanja, hingga suaranja terdengar sampai kedalam hutan dan
burit-bukit ditempat djatuh.
Disampingnja keramaian jang terbit karena berkelakar, diseling dengan
suaranja kanak2 jang memain, ada jang berklai, djuga ada menangis lantaran ditjepreti oleh ajahnja, sunggu separti dimedan pesta atau diwaktu tahun baru dirumah orang tua sendiri. Mereka berkelompok-kelompok, ada jang memu- tari djuwadah dengan menghadapi tjangkir kopi, ada jang lagi makan santapan perbekalanja dari rumah, tapi banjak jang tidak menghiraukan tentang ma- kanan, karena segala waktu, akan keluar gratis nasih butju jang hangat penuh dengan lauk-pauknja, untuk mereka jang mau makan sesuka hatinja. Sewaktu orang-orang sedang makan dengan gembira, djikalau ada jang tjoba mengheningkan, tjipta, nanti ia menampak disitu seakan-akan 'Mbah Djugo ada mendjenengi sendiri, dengan tersenjum-senjum berkata: .Makanlah, anak-
anak, makanlah sehingga kenjang....
Barang siapa jang memikirkan dalam2 tentang pribadinja sang bagawan. ia akan merasa terharu, maka timbullah suatu utjapan didalam kalbunja: Oh, 'Mbah Djugo, lama sudah ia menutup mata, tapi sehingga sekarang tetap
masih memberi makan pada kita orang jang masih hidup...... ..."
PAKNDILALAH Kenang-kenangan kepada 'Mbah Djugo jang sudah lama pulang kedja- man kelanggengan itu, rasanja masih belum habis, karena belum lama ini ada kedjadian, ditjeritakan oleh orang jang mengalami sendiri, sekarang orangnja masih hidup dan tinggal di Surabaja. Ia bernama Poei A.D. asalnja dari Solo, kamudian ia tinggal di Klaten bersama isteri dan dua orang anaknja. Malang tak dapat ditolak, isterinja jang tertjinta telah meninggal dunia, hingga ia menderita kesusahan hati jang sangat berat, maka ia meninggalkan dagangannja, anak2nja dititipkan kepada familinja, ia sendiri lalu mengembara membanting raga pergi separan-paran, tidur ditjandi-tjandi dan dikramat-kramat, pikirannja hilang, tidak tahu lagi apa jang harus dilakukan. Pada suatu hari, sedang ia tidur menjepi dikuburan 'Mbajat, ia ketemu dengan seorang tua jang kata padanja, djikalau ia ingin mendapat penerangan batin; datang sadja ke Demak pada tiga bulan lagi. pada suatu hari jang telah ditentukan, ia nanti akan berdjumpah dengan orang tua itu, jang akap menundjukan djalannja. Poei A.D. ketarik dengan naschatnja orang tua tidak terkenal itu, jang mengaku bernama Pak Ndilalah, maka pada hari jang ditentukan, Poei A.D. pergi ke Demak, betul sadja disana ia berdjumpah dengan Pak Ndilalah itu, jg. lalu adjak padanja berdjalan menudju ke-Tenggara. Mereka berdjalan kaki lamanja 7 hari sampai di Gunung Bubuk jang rungkut dan sunji senjap, pada waktu matahari hampir silam disebelah Barat. Disitu Pak Ndilalah berkata, bahwa saatnja berpisah telah tiba, Poei
A.D. hanja diundjuki djalan jang ia boleh pilih, sesuka ia hendak menudju kemana, jaitu kalau dari situ menudju ke Utara ia akan sampai dihutan Tja- ruban, kesebelah Barat sampai di Ponorogo, kalau menudju ke Selatan akan tiba dihutan Trataban dan kalau kedjurusan Timur sampai di Tulungagung. Sesudah memberi petundjuk, Pak Ndilalah lalu pergi masuk kedalam hutan
terus musna. Poei A.D. bingung delek-delek sendirian. achirnja ia menimbang-nimbang. ke Tjaruban artinja: aduk-adukan. Ponorogo artinja: badan kedjalan buntu. Tra- taban artinja: gelisah berdebar-debar, semuanja djelek. hanja Tulungagung jang artinja: pertulungan besar, maka ia lalu ambil putusan untuk meneruskan perdjalanan kedjurusan Timur. Demikianlah ia berdjalan sampai. di Tulungagung. dimana ia berdiam beberapa hari, terus mengembara lebih djauh ke- mana2, achirnja sampai di Bandung, dimana ia bekerdja beberapa tahun lama- nja, pikirannja makin iama makin terang, maka kemudian ia balik lagi ke Kia én dan berdagang lagi. Pada suatu hari Pak Ndilalah jang sudah hampir terlupa itu datang kem- bali. tapi datangnja pada waktu ia berdiam mengheningkan tjipta. Ia menanjak kenapa ditinggalkan begitu sadja. Pak Ndilalah mendjawab bahwa ia tidak pernah meninggalkannja. Demikianlah, diwaktu hatinja susah, saban-saban Pak Ndilalah tentu datang membuka pengharapannja, Pak Ndilalah jang sekarang adalah Pak Ndiialah dalam tjipta. Maka tibalah waktu tentara Belanda menje- rang Klaten dalam clash kadua, Poei A.D. telah mengungsi ke Surabaja, dimana achirnja ia ketarik untuk pergi ke Gunung Kawi, sesampainja disitu Poei
A.D. merasakan keadaan jang luar biasa, pikirannja mendjadi padang nerawang tidak mempunjai rasa takut dan selempang lagi, jang ada hanja senang dan puas. Sedari waktu itu Pak Ndilalah tidak pernah kelihatan pula, tidak di- dalam tjipta maupun impian. Poei A.D. merasa tahu sekarang. jang diundjuk oleh. Pak Ndilalah jalah Gunung Kawi dan kini ia sudah dapat ketemukan. Sesuatu orang jang datang ke Gunung Kawi sebenarnja seperti Poei
A.D. itu, mereka semua mentjari apa-apa dan meminta kepada 'Mbah Djugo supaja kesampaian segala maksudnja. Pak Ndilalah ada mendjangkungi dan memimpin kepada sesuatu orang, tapi udjudnja tidak sama dan berobah-robah menurut keadaan dan pengertiannja orang2 itu sendiri, sewaktu berwudjud njata Pak Ndilalah dengan rupa seorang tua, berbadju putih sarungnja kotak hitam dan tjaranja memimpin seperti jang dialami oleh Poei A.D. Tapí ketika datang kepada orang lain sudah ganti rupa, malah kebanjakan tidak memperli- hatkan dirinja. hanja tjukup dengan menggunakan mulutnja orang-orang jang djustru dipertjaja oleh sipendengar. Ada jang ketarik ke Gunung Kawi karena hendak minta obat, ada jang minta pengestu supaja perusahaannja madju, dagangannja laku atau redjekinja gangsar, ada jang minta supaja lekas dapat djodo dan lain-lain lagi permintaan jang bersifat keduniaan. Tapi ada lagi jang minta penerangan batin, minta ilham supaja dapat mempetjahkan pe- ladjaran kesunjataan dan ilmu jang sulit2. Malahan ada jg. datang ke Gunung Kawi hanja kepingin tahu atau niat pelesir guna mentjari kesenangan, tapi pada hakekatnja mereka semua bertudjuan sama jaitu mentjari. walaupun jang dibutuhkan itu tidak sama, malah banjak jang mentjari apa2 jang mereka tidak ketahui.Oleh karena jang ditjari itu tepat untuk mereka, dan ditjarinja dengan sungguh2, penuh kepertjajaan dibantu dengan prihatin, maka segala itu akan terkabul dengan sepenuh-penuhnja. Jang minta obat mendapat obat, jang minta
redjeki mendapat redjeki. jang minta djodo mendapat djodo. jang minta anak mendapat anak, jang minta senang mendapat senang. jang minta hening mendapat hening. jang minta ilham mendapat ilham, jang minta selamat mendapat selamat. Demikianlah. sebenarnja segala keinginan itu memang sudah ada di- dalam hatinja sesuatu orang itu sendiri, hanja niatnja ke Gunung Kawi nanti didjangkitkan oleh .Pak Ndilalah." kemudian mereka akan mendapat segala jang diinginkan itu, besarnja tidak lebih dan tidak kurang seimbang menurut perbuatan dan pekerdjaan jang telah dilakukannja. Maka djikalau jang diminta hanja supaja mendapat kekuatan untuk melakukan perbuatan jang benar, ia akan mendapat tetesan Tirtamarta. Memang begitulah keadaannja Gunnung Kawi. Djaja djaja widjajanti.
Indah dan GEDUNG, PESAREHAN. agung, puntjaknja menjundul angkasa. Pajon runtjing jang tertampak disamping itu, ada- lah tempat gentong air sutji jang diambil untuk obat dan keselamatan.
ASIDLTO
Dun Rean R kaw
TAUUI
Kaamsna n msrr
MAH
PARK ATI
PAR MUN
R RAATRRO
DHARMAMON OBAT BLOEDDRUK JANG SANGAT BAIK
TERDJUAL DI SEMUA TOKO OBAT