PROTO-POKOLS ZINE
EPI LOG
"The truth will set you free. But not until it is finished with you."
-David Foster Wallace
Zine ini dibuat untuk jadi data rekam ide kami di bangkarnya 2020 sebagai remaja kalap sekaligus belagu. Untuk dijadikan almanak di kemudian hari sebagai markah ide apa saja yang pernah kami reduksi atau hanya alat penyadar akan semangat zaman yang telah kami lalui (diskontinuitas). Motifnya hanya bertujuan menyemai eksistensi di ranah kultural —sekalipun jadi fesesnya— khususnya fanzine, syukur-syukur bisa jadi perputaran wacana. Dengan asupan teori alakadarnya, praktik sebisanya. klise memang, entah hangat atau tidak, kami ingin mengulurkan salam kenal.
Berupaya menyikapi pesimistis dengan prelude suka-cita dimana kami akan terus menari, mengecap senyum, menyelam ke denyut mabuk, menggelitik setiap tawa, hanya untuk menyongsong kehancuran yang sudah barang pasti dengan tumpukan hal-hal yang menggugah hasrat kami. Terdengar naif, toh dalam hidup bahagia merupakan barang langka, orang-orang selalu sibuk mencarinya. Namun apalagi yang semestinya dilakukan? Saat ideologi sudah lama kami tinggalkan, sisa-sisa totem yang urung kami sembah, dan berangkal harapan yang kesekian kalinya kembali terkubur. Sederhananya kami ingin mengambil kembali hari-hari yang dibeberapa waktu lalu dicengkram oleh heroisme, tumpukan mitos, dan optimisme kejam.
Biasanya hal semacam itu hinggap lalu merangsek ke dalam sedih dan rasa gagal saat kesepian akan malam kian menggigil. Di situ pula pegangan yang boleh terlampaui diyakini diseret ke tengah posisi dilematik dari berbagai paradox (atau oxymoron jika memang lebih dekat ke arah sana) yang subtil, pelik, dan sulit dimengerti oleh otak tumpul kami. Seumpama harapan yang terlalu cepat menjulang berarti menjemput kekecewaan lebih dini datang. Semisal, melalui benturan ide dari tegangan kelas yang selalu menarik karena masih saja eksis. Harapan yang dibuat hancur: politik internasional dan korporasi multinasional sudah habis memporak-porandakan setiap **
Asupan harapan kembali: Hardt-negri menganjurkan mutasi tubuh radikal yang bahkan lebih sulit dipraktekan ketimbang mutasi yang digambarkan para penulis cyberpunk. Dimana tubuh harus tidak dapat beradaptasi dengan segala perintah, kehidupan keluarga, disiplin pabrik, seks tradisional dan segala bentuk normal (ala kapitalisme) lainya. Hal yang —mungkin— lebih konkret sekaligus sukar dilakukan, jika memang ingin mempercepat kapitalisme menemui liang lahatnya.
Dilematik berlanjut ke contoh lain dari apa yang sebenarnya sisi buruk/baik dari beribu-ribu tahun evolusi manusia hingga hari ini? Semakin berakal dan berbudi pekerti atau hanya bernasib dipecundangi dalam sistem kerja upahan. Se-nahas orang-rang yang terlampaui nekat mengimajinasikan Postmodern mesti sadar bahwa hidupnya kini masih dalam budaya dan sistematika Modern.
Gagasan yang hendak diusung dalam zine ini sebisa mungkin kami hindarkan dari kata “anti-" jika pada akhirnya akan tenggelam juga pada makna “sub-", walau pada tataran paradigma kamipun tidak lain sekedar sub-library. Adalah bukan tujuan zine ini untuk mencari kebenaran. Setiap dari kami memiliki kebenerannya masing-masing dan berkuasa penuh atas itu. Dibaliknya kami memiliki kesamaan yang mendasari atas ketidaksepakatan pada kebenaran' versi kapitalisme. Bukan sebagai mantra propaganda namun lebih mencoba mengakomodir ragam macam ide dalam setiap subjek. Menekankan multiplisitas sebagai wadah pawai ekpresi individu. Berbagi amarah dengan berbagai motif dan identitas berbeda. Mendesak kompleksitas dunia terutama ilmu atau macam-macam paradigma ke kebenaran tunggal yang bersifat genetik merupakan pelacuran. Kepercayaan tehadap ide, gagasan, dan hal semacamnya hanyalah petikan waktu yang akan dibuang ketika daya kejutnya sudah hilang. Catatan: Praktik dilakukan dalam harian. Zine ini hanya kertas putih, tidak cukup memiliki dimensi untuk jadi gladiatornya gagasan dan praktik melawan kenyataan.
Tudingan yang akan datang ke zine ini mungkin: Kontrarian. Kemungkinan dari stempel tersebut cukup besar bagi siapa saja yang memilih jalan plural dalam disiplin ilmu. Betapapun menyebalkannya hal itu, alangkah lebih baik bodoamat saja. Jika saja stempel secamam itu disangkal dengan serius maka akan terjadi proses dikotomi, yang tidak keren sama sekali hahaha (lah kok?). Kami akan senantiasa senang dengan bermacam perspektif, kritik sekuat martil atau misuh tak berdasar bahkan ad hominem sekalipun akan kami terima sebagai pelajaran yang kami yakini tetap masih memiliki substansi, katarsis, abstrak yang menarik untuk dianalisis.
Kebingungan menemui urgensinya atau merupakan asali bagi siapa saja yang hidup di sebuah labirin dan singularitas tak berujung bernama kehidupan. Kita terlempar di suatu dimensi yang tidak bisa kita ketahui yang kemudian coba terus menerus kita pahami. Bertumpuk jawaban telah hadir namun di kesemuanya tetap saja bukan barang pasti. Karena itulah ketidakpercayaan, curiga dan ragu-ragu adalah perkakas paling mutakhir menghadapi kejutan harian. Salah satu contoh ambil di tulisan saya enam bulan lalu yang habis ditertawai oleh saya sendiri karena dirasa jelek dan geli untuk dibaca. Tetapi saya menulis zine ini juga dengan kekhawatiran yang sama. Karena mungkin diri saya di dimensi masa depan sedang terbahak-bahak oleh tulisan di zine ini; mungkin saja tertawanya semakin menggelitik perut saat membaca paragraf ini. Tapi toh begitulah konsekuensinya, pada akhirnya saya anggap kegiatan menulis memang selawak itu. Malah jadi suatu parameter dari perkembangan saya dalam segi tulis-menulis. Jika saya masih merasa tulisan lama saya bagus itu berarti saya tidak berkembang dan masih disitu-situ saja.
Sepertiga malam
Ada kala dalam satu minggu setiap malamnya saya coba hangatkan di Cipaku Ledeng, melalui obrolan yang menyeruak kenangan lalu mengingat beberapa kawan yang tidak lagi terlihat muncung hidungnya. Semacam obat relaksasi dimasa-masa siklus hilir-mudik pertemanan yang kian kacau —banyak yang datang tapi tak sebanyak yang pergi. Ada yang sempat mengucapkan “sampai jumpa" adapula yang benar-benar menghilang bahkan tanpa lambaian tangan. Sebuah buah bibir klise bagaimana prosesi pendewasaan di umur sekian ditandai dengan kehilangan banyak teman mesti saya “iya"kan.
Suasana tipekal seperti mengutuk segala hal ini kian hari semakin terasa jengah jika dilakukan dengan pola yang sama, merenung sedikit misuh-misuh kebanyakan. Biasanya beberapa botol anggur hasil patunganlah yang selalu berhasil mendampingi lagu 4'33” nya John Cage dengan ributnya tawa.
Malam itu waktu berjalan seolah kelelahan. Semakin melambat karena obrolan sudah tandas sedangkan rasa kantuk belum juga datang. Eway melawan sepinya dengan menggambar, Barkut yang dibuat menggerutu oleh tugas kuliahnya terhenti lalu mengalihkan perhatiaannya ke layar ponsel. Dan saya masih sama, masih dibuat uring-uringan karena tidak bisa mengikuti SBMPTN. Ada yang persis serupa kami rasakan secara bersamaan. Tidak tahu jelasnya perasaaan apa atau otak saya masih belum bisa dalam membahasakannya. Super miris ditambah kami harus mendekam diruangan 3×4 tanpa melakukan hal-hal gila karena Covid-19 kurvanya kian meninggi.
Dan omong kosong yang mesti
Berbicara segala omong kosong bukankah merupakan hal yang mutlak? sebagai ilusi dalam memanipulasi kesemrawutan yang jadi sebuah makna dari keterlemparan mahluk di alam dunia. Bermain manipulasi berarti melakukan kebohongan/pengalihan yang ironinya mesti dilakukan. Proses menunggu misalnya akan lebih lama jika secara penuh otak sadar akan waktu dari detik ke detiknya, tanpa pengalihan seperti berbincang, berfokus pada hal lain, atau berkegiatan lainnya. Tapi hal ini pula yang memunculkan berbagai hal-ihwal duniawi. Filsafat misalnya yang memanipulasi realita melalui bahasa atau matematika yang memanipulasi satuan waktu melalui angka.
Zine ini juga sebentuk manipulasi dari keterasingan kami dalam pendidikan formal, ruang kerja hingga teralienasinya diri kami sendiri. Dimana hari-hari kami yang dipaksa mengatakan “Ya" Pada masyarakat yang semakin toxic, representasi dari individualitas rapuh. Sebagai katarsis untuk setidaknya melakukan apa yang kami inginkan. Hanya itu yang kami bisa dan baru itu saja!
Rokkstoy, 2020
*** Ilustrasi oleh Eyeway
↑