MILIK.NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN
MENCARI PENCURI
ANAK
PERAWAN
Suman Hs.
PUSAT BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA
PERPUSTAKAAN MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN PUSAT BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
MENCARI PENCURI
ANAK PERAWAN
Suman Hs.
HADIAH PUSAT BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
PUSAT BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2010
00006379
MENCARI PENCURI ANAK PERAWAN
Penulis Suman Hs. 110℃-1-n
Perancang Sampul Andri Supriyadi
k dk: n
Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Jalan Daksinapati Barat IV M Rawamangun, Jakarta 13220
KIiiikasliwOs
PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA18
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
899.213 SUM SUMAN Hs. m Mencari Pencuri Anak Perawan/Suman Hs. - Jakarta: Pusat Bahasa, 2010 ISBN 979-666-173-X
1. FIKSIINDONESIA Dicetak seizin PT Balai Pustaka (Persero)
untuk Penyebarluasan Bahan Terbitan Karya Sastra Tahun 2010
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT BAHASA
Memperhadapkan peserta didik dengan karya sastra secara langsung merupakan ikhtiar awal menumbuhkan apresiasi sastra di kalangan siswa. Hal itu baru mungkin terwujud kalau karya sastra yang ingin dikenalkan kepada peserta didik mudah didapat, terutama kalau karya sastra yang dimaksud sudah hilang dari peredaran atau untuk memperolehnya diperlukan dana yang tidak sedikit. Berkaitan dengan hal itu, penerbitan buku sastra utama menjadi prasyarat yang mutlak pemenuhannya. Ada sejumlah prakondisi yang menyebabkan karya sastra terasing dari pembaca mudahnya (untuk menyebut siswa atau peserta didik). Pertama, dalam dunia pendidikan sejumlah penerbit seperti berlomba “mengasingkan" karya sastra utama itu dengan terbitan karya sastra pop yang lebih mengundang minat pembaca muda itu dalam bentuk bacaan komik. Kedua, penerbit itu memfasilitasi terbitan buku ringkasan novel yang dengan gampang dapat menjebak pembaca muda itu untuk berpuas diri dengan hanya membaca ringkasan novel yang menjadi tugasnya. Ketiga, media massa elektronik dengan segala keunggulannya menggiring pembaca muda itu untukmengisi masa senggangnya dengan kegiatan tradisi kelisanan. Yang disebut terakhir ini merupakan tantangan yang berat untuk
HI Mencari Pencuri Anak Perawan
diatasi kecuali dengan campur tangan negara. Tanpa hal itu, pembinaan minat baca di kalangan pembaca muda hampir mustahil. Penerbitan buku yang tergolong karya sastra utama dan penyebarluasannya merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah terhadap pembinaan minat baca yang pada ujungnya menjadi bagian penting perkembangan sastra. Sastra akan berkembang oleh pembacanya yang kreatif yang dapat memberikan ruang bagi kehadiran karya sastra itu. Karya sastra yang ditulis puluhan tahun lalu dibaca ulang, diberi tafsir ulang, dan sekaligus diberi penghargaan kembali oleh pembaca muda. Pengajaran sastra yang komprehensif akan memper- temukan pembaca muda itu dengan berbagai peluang yang menjadikan karya sastra terbebas dari keterasingannya. Kita mengharapkan terjadinya semacam dialog antargenerasi melalui karya sastra yang ditulis oleh dua atau tiga generasi sebelumnya. Salah satu karya sastra tersebut adalah Mencari Pencuri Anak Perawan. Dalam kaitan dengan itu, Pusat Bahasa mengharapkan agar buku bacaan yang pernah diterbitkan Balai Pustaka beberapa waktu yang lalu dan dicetak kembali serta disebar- luaskan oleh Pusat Bahasa hingga sekarang ada di hadapan pembaca ini dapat meningkatkan wawasan tentang kesas- traan,khususnya, dan wawasan tentang kearifan-kearifan yang ada pada karya yang pernah populer di zamannya pada umumnya. Para pembaca, khususnya pembaca muda di- harapkan dapat mengambil pelajaran dari nilai-nilai kearifan itu dan dapat mengejawantahkannya dalam perilaku sehari- hari sehingga secara tidak langsung dapat turut membentuk jati diri yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan bangsa. Kepada Balai Pustaka, Pusat Bahasa mengucapkan
IV Mencari Pencuri Anak Perawan
terima kasih atas izin cetak ulang yang diberikan. Kepada berbagai pihak, Pusat Bahasa juga mengucapkan terima kasih atas segala bantuan hingga buku ini dapat terwujud. Akhirnya, Pusat Bahasa mengucapkan terima kasih kepada tim penyiapan bahan terbitan Pusat Bahasa yang terdiri atas: Dra. Hj. Yeyen Maryani, M.Hum. (Penanggung Jawab), Drs. Suhadi (Ketua), Siti Darini, S.Sos. (Sekretaris), Ciptodigiyarto, Sri Kanti Widada, Sri Haryati, S.E., dan Ika Maryana, A.Md. (Anggota) yang telah bekerja keras pada penerbitan buku bacaan ini. Semoga buku ini bermanfaat dan dapat menambah kecintaan kita terhadap sastra Indonesia. Selamat membaca.
Jakarta, Oktober 2010
Dra. Yeyen Maryani, M.Hum. Koordinator Intern
V Mencari Pencuri Anak Perawan
VI Mencari Pencuri Anak Perawan
KATA PENGANTAR
Kalau cinta sudah berpadu dan gayung pun bersambut, orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan cintanya itu. Cara dan akal akan terus dicari agar hambatan itu dapat dilampaui. Demikian juga halnya dengan Sir Joon yang dicampakkan oleh orang tua si Nona. Dengan berbagai akal
Sir Joon mencuri si Nona dan mengelabui bapaknya.
Novel yang sudah sangat lama ini ternyata masih tetap menarik untuk dinikmati saat ini. Lebih-lebih, novel ini sangat penting untuk kajian perjalanan prosa Indonesia yang sampai saat ini belum banyak dilakukan.
Balai Pustaka
VII Mencari Pencuri Anak Perawan
VIII Mencari Pencuri Anak Perawan
DAFTAR ISI
Kata Pengantar Kepala Pusat Bahasa ..
Menolak Cinta. Nasib Sir Joon...
Khayal .....
Malam yang Ajaib....
Tanda Turut Berduka Cita Musyawarah.. Mencari Keterangan...
Mulai Bekerja ....
Di Bawah Rumah.. Musyawarah Tengah Malam...
Cincin Intan .....
Kemari Syak ke Sana Sangka..
Memburu Pencuri....
Surat Keterangan...
Dua Sejoli di Kolong Langit....
Kenang-Kenangan...
iii 1 8 12 17 24 32 37 44 49 53 58 66 72
83 87
IX Mencari Pencuri Anak Perawan
X Mencari Pencuri Anak Perawan
MENOLAK CINTA
alam dua puluh hari ini tak lain yang di dipercakapkan
Ddan disebut-sebut orang, selain daripada Sir Joon, Sir
Joon, sekali lagi Sir Joon, hingga nama anak muda itu jadi masyhur. Ah, tetapi silap agaknya, jadi masyhur kata saja sekali lagi jadi masyhur, bukan karena ia mendapat gelar doktor, tidak karena ia memperoleh Nobel prijs, jauh dari mendapat kepandaian baru, tidak orang hartawan, bukan ahli politik, orang berilmu pun tidak, bahkan ia hanya keluaran sekolah rendah, konon kabarnya tidak pula mendapat ijazah.
Jadi, ...
Tetapi baiklah! Jika sekiranya kata "masyhur" itu belum boleh diuntukkan baginya, sudahlah, kita katakan saja jadi "sebut-sebutan"orang dan kalau masih terlampau hormat jua, kita ubah pula, kita sebutkan jadi "buah mulut" orang. Itu perkara kecil. Orang banyak sudah tahu, Sir Joon menaruh hati kepada si Nona. Ya, si Nona mana lagi selain dari anak pungut tukang ransum itu; anak perawan yang sudah masyhur kecan- tikannya. Dari dahulu pun, sejak enam belas tahun yang silam, selagi si Nona masih berumur setahun, orang banyak sudah menyangka kelak ia akan menjelma jadi perawan yang
Mencari Pencuri Anak Perawan
cantik, mempunyai paras yang indah. Sangkaan itu tepat benar –. Dua kali dua ... empat. Jika cerita ini dikarang pada sepuluh tahun yang lalu, niscaya bersua dalam karangan ini, pipinya bagai pauh dilayang, bibirnya merah delima ..., beberapa kata pujian. Di sini puji-pujian yang serupa itu sengaja tidak saya bunyikan, saya takut kalau-kalau berlebih- lebihan. Tetapi tak salah rasanya, kalau dikatakan banyak orang asyik kepadanya, gila karena parasnya yang indah itu. Si Nona memang cantik. Sir Joon biasa dibuat jadi ukuran. la sudah pernah jadi kelasi kapal besar, jalan luar, selalu pergi ke Australia, empat lima restoran di Sidney sudah dimasukinya, jadi tukang selam mutiara pun sudah dicobanya. Waktu itu ia banyak mendapat uang, akan tetapisembilan persepuluh dari perolehannya itu, diboroskan di Sidney. Yang akhir ini dicobanya pula ke Yokohama dan Kobe; Hongkong dan Singapura itu, memanglah tempat mandinya. "Aku tak mudah dirayu perempuan," katanya kepada kawan-kawannya, bila percakapan mereka itu merambat sampai kepada kaum Sitti Hawa itu. "Di Australia apa kurang, yang putih ada, yang kuning banyak, yang hitam jangan disebut lagi." Yang dikatakan oleh Sir Joon itu sebenarnyalah. la tidak bermata keranjang. Tak pernah terbetik mengacau ke sana, mengharu kemari. Terhadap perempuan namanya bersih. Pasal memilih ia boleh dibuat juri. Jika dari mulutnya keluar kata "cantik" memang tahan. Sekali ini Sir Joon sepakat, si Nona itu pada peman- dangannya pun cantik. Tetapi tunggu sebentar!
2 Mencari Pencuri Anak Perawan
Siapakah Sir Joon itu? Dengan benar tak dapat ditentukan asal-usulnya. Dari dia hanya diketahui ia ternak Singapura,tetapi kampung halamannya entah di mana. Bapaknya tak ada lagi, emaknya pun begitu pula; sanak saudara jauh sekali. Akan tetapi, sahabatnya terlalu banyak. Jika diperhatikan air mukanya, berat hati mengatakan Sir Joon itu orang portugis dari zaman dahulu kala, yangdigelar oleh orang kini bangsa Serani. Hanya ia agaknya keturunan yang sayup amat, hingga potong-potongan orang Eropa hampir tak didapat lagi pada mukanya. Ya,lebih tiga perempat sudah menyerupai Melayu. Perawakan badannya sedang baik, tokohnya tampan benar. Apa jua pun dipakainya bagus, manis dipandang mata, hingga sekalian pakaiannya bagaikan seacuan dengan tubuhnya. Mukanya lonjong, pipi dan dagunya selalu licin, agaknya ia mempergunakan pisau cukur. Sudah tabiat baginya, kalau ia berkata-kata selalu dicampurinya dengan bahasa Inggris sepatah-sepatah. Itulah pula maka ia mendapat gelar “Sir" itu dari kawan- kawannya. Akan si Nona itu, terang, bagai bersuluh matahari. la anak cina di Singapura, diminta oleh tukang ransum itu, dibawanya ke Bengkalis, dijadikannya anak angkat, dibelanja keganti anaknya, karena ia pun tiada beranak. Sekarang anak gadis itu sudah remaja, ibarat kuntum sedang mekar. Sir Joon menaruh hati kepada anak perawan itu. Sebagaimana kebanyakan orang pelajaran, ia pun berhati tunggang; maksud hatinya itu dibukakannya kepada orang tua si gadis itu. Orang tua itu pun rupanya setuju, si Nona begitu pula, orang banyak seia belaka. Keduanya sudah
3 Mencari Pencuri Anak Perawan
sepadan. Seorang manis, seorang cantik, apa lagi? Orang menanti-nanti saat perkawinan. Sebagai bakal menantu, maka Sir Joon itu bebas keluar masuk rumah si Nona, tidak berpantang lagi. Memanglah menurut adat nenek moyangnya tak berpantang bertemu muka dengan tunangan. Sir Joon tidak masuk orang berada, akan tetapi perolehannya memborong-borong pekerjaan dan menjual belikan barang saudagar, memadailah. Rumahnya tidak terlalu bagus, tetapi baik buatannya, sedap dipandang mata. Pekarangannya bersih, perkakas rumahnya baik-baik lagi dipelihara rupanya. Sana-sini bergantungan gambar-gambar berwarna, kebanyakan melukiskan kapal dan pelabuhan- pelabuhan. Di dalam rumah itu ia diam berdua dengan bujangnya, yaitu bujang yang sudah lama mengikut dia. Dalam waktu yang akhir ini, ia sibuk dalam pekerjaannya, banyak mendapat borongan. Dikabarkan pula, terdahulu dari Sir Joon ini, telah ada seorang anak muda mencoba-coba memikat si Nona. Tetapi ia malang, bintangnya masih gelap, si Nona dengan orang tuanya sama-sama tiada setuju kepada anak muda itu. Walhasil permintaannya ditolak. Anak muda itu putus harapan, sunyi daripada memiliki kuntum yang mekar itu. Hampir sekalian orang sekata belaka, memang ia tak padan jadi jodoh si Nona. Anak muda itu pun tahu dimalu agaknya, karena dua hari selang penolakan cintanya itu, ia tak tampak lagi. Kabarnya berangkat ke rantau orang, entah ke mana. Peristiwa itu lekas hilang dari ingatan orang. Sekali ini tidak demikian halnya. Orang ternanti-nanti, melihatSir Joon jadi mampelai bergandengdua dengan si
4 Mencari Pencuri Anak Perawan
Nona. Tetapi, ya, tetapi orang jadi bingung tak tentu raba. Tiba-tiba pecah kabar, orang tua tukang ransum itu menolak cinta Sir Joon. la tiada berkenan lagi Sir Joon itu jadi menantunya. Tiada suka lagi kepada Sir Joon, anak muda yang manis itu, anak muda yang sudah hilir mudik di rumahnya, orang yang sudah pernah dicintai oleh anaknya. Kabar ini, pasti sudah. Sir Joon sendiri membenarkan pekabaran itu. Berterang-terang dikatakan bapak si Nona ia tak suka kepada anak muda itu lagi. "Orang tua itu agaknya berubah akal," kata Sir Joon beberapa kali, "sudah tiga hari tak suka menengok aku, tetapi baru tadi dikabarkannya kepadaku. Perkataan si tua itu bagai mengusir aku," katanya menutup ceritanya. Sir Joon jentelmen tulen, orang sabar, dapat berpikir dalam kalut. Dengan baik-baik ia menarik diri dalam tambatannya. Percintaannya dengan si Nona diputuskannya, kasihnya dihelanya surut. Hanya sehari saja, yaitu hari ia diusir dan rumah kekasihnya itu. ia bermuram durja tampaknya, agaknya karena malu kepada orang banyak. Pada keesokan harinya, ia sudah macam biasa, bagai ia tak pernah mencintai anak gadis itu, hingga orang menjadi cemburu dan iri hati kepadanya, karena sangat pandai menahan hati, bagikan luput ia dari kemasygulan dan kesusahan hati, yang selalu jadi seteru kepada orang lain. Tak berkesan di mukanya. Jika kawan-kawannya datang bertanyakan hal itu, dijawabnya dengan lillah saja, "Orang tak suka saya tak paksa, orang banyak dalam dunia," katanya kepada kawan-kawannya. Sekali-kali tiada terbayang kesebalan hatinya bercerai kasih dengan orang yang sudah pernah dicintainya. Sungguhlah ia laki-laki.
Mencari Pencuri Anak Perawan
Hari ini tanggal 16 Juli. Sir Joon meninggalkan rumah si Nona pada 25 Juni, jadi sudah dua puluh hari ia tak menjejak tangga rumah kekasihnya itu. Dalam dua puluh hari ini, sebagai yang sudah terdahulu diberitakan, buah tutur orang hanya Sir Joon saja. Hingga sampai kepasar pun nama anak muda itu selalu disebut-sebut orang. Orang merasa heran atas penolakan cinta yang belum pernah kejadian itu. Mereka itu ragu-ragu jadi terbawa-bawa ingin hendak mengetahui sebab-sebab peristiwa itu. Setengah orang bersangka, Sir Joon sudah terdorong, sudah telanjur didaya setan, barangkali ia sudah berlaku ceroboh, sudah berbuat yang tak senonoh terhadap tunangannya. Sangkaan ini hanya barangkali, keterangan dan bukti haram tak ada. Ada pula orang mengatakan anak gadis itu kena pelalau disihir orang "kasih tak sampai" saban- saban bertunangan tak langsungnikah. Ini pun perkataan yang tak beralasan pula. Orang kampung tak percaya, itu tak boleh jadi, si Nona tak mungkin kena pesona. Anak pungut tak dimakan guna-guna kata mereka itu. Tetapi sepandai-pandai memeram embacang berbau juga. Dada orang lega kembali, pertanyaan sudah terjawab, rahasia sudah terbuka,-ah,hina sekali. Enam ratus dolar, ya, hampir seribu rupiah, uang celaka yang sebanyak itulah memisahkan kasih, menceraikan sayang Sir Joon dengan si Nona, kekasih dengan kekasih. Enam ratus dolar diberikan oleh si Tairoo peranakan, Hindi yang kaya itu kepada si Nona, hingga uang kertas yang berlembar-lembaritu, tersembul darikantong tukang ransum itu. Diberikan bukan sedekah, diunjukkan bukan karena rahim, tetapi bagai pembeli anak dara remaja putri itu.
6 Mencari Pencuri Anak Perawan
Hampir seribu rupiah, bukan sedikit dapat melepaskan sesak, sudah lebih dari mestinya, apa lagi. Memang si Nona telah patut milik si Tairoo, karena ia jauh lebih berada dari Sir Joon. Dan barangkali lebih dari itu boleh diharap lagi dari peranakan Hindi itu, bila keduanya sudah selamat kelak. Demikianlah pikir tukang ransum, yang sangat menguta- makan uang itu. Baginya hidupdi dunia ini, semata-mata mencari duit. Duit itu lebih mulia dari segala-galanya. Hidup karena duit dan mati pun karena duit. Oleh karena duit itu berhalanya. Tuhan yang disembah-sembahnya, dapatlah duit yang enam ratus dolar itu menggunting tali percintaan
Sir Joon dengan si Nona. Karena kekurangan barang yang
utama itu, jadilah si Joon terbuang buruk.
Mencari Pencuri Anak Perawan
NASIBSIR JOON
ari ini sudah dua puluh Juli, jadi sudah dua puluh lima 1hari Sir Joon tak mempunyai tunangan. Sejak dari pukul tiga tadi, orang telah ramai duduk-duduk di tanah lapang, yang datang-datang jua. Petang itu akan dilangsungkan pertandingan voetbal. Orang-orang kapal perang dengan opsir-opsirnya, hendak mencoba kekuatan juara-juara bola di Bengkalis. Sebenarnya pertandingan itu akan dilangsungkan semalam. Akan tetapi, hujan bagai dicurahkan dari langit, jadi perjuangan itu diurungkan. Hari inilah akan dilangsungkan. Orang sudah maklum, permainan akan hebat.Orang kapal orang kuat, orang pandai belaka, jadi yang menanti pun patut orang yang terpilih pula; jika tidak akan menang, jangan kalah hendaknya. Sebelas orang anak main sudah dipilih, seorang di antaranya Sir Joon. Sir Joon untuk penjaga pintu, bukan orang asing lagi. Tangannya macam bergetah. Memang dalam jabatan itu, ia patut dipuji. Di Singapura pun sudah berkali-kali ia masuk gelanggang permainan. Pukul lima benar pihak tamu datang. Semuanya orang putih belaka; hebat-hebat sekali rupanya. Lima menit kemudian peluit berbunyi, anak main beratur, masing-masing pada tempatnya. Peluit yang kedua berbunyi pula, diiringi oleh sorak tiga kali. Bola bergolek. Sayap kiri tamu melarikan
8 Mencari Pencuri Anak Perawan
bola, tangkas bukan kepalang, melayang seperti burung. Antara lima belas meter lagi tembakan yang keras dilepaskannya, akan tetapi penunggu pintu itu Sir Joon. Di tangannya peluru itu melekat. Sedetik kemudian buah bundar itu ke tengah kembali. Sorak orang sampai ke langit. Kini giliran yang menanti pula tampaknya. Dua tiga pihak musuh sudah dilampaui oleh kanan dalam, tetapi malang, bek orang putih itu, orang biasa berperang dalam detik itu juga bola melayang ke tengah medan permainan. Tepuk orang kedengaran pula. Dua tiga kali benteng musuh terancam, tetapi alhamdulillah penjaga pintu itu tak pernah menyinggung bola. Sekalian peluru itu ditangkis oleh kedua bek orang putih itu. Benteng Bengkalis terancam berpuluh kaki, tetapi untung kali ini Sir Joon bertambah pandai hingga segala puji-pujian itu, teruntuk baginya seorang saja. Permainan hebat benar. Peluit panjang berbunyi, saat berhenti telah tiba sudah. Anak pemain bolehlah membasahi kerong-kongannya dengan air asam dan limun. Sampai pauze permainan itu balui. Sepuluh menit antaranya, pluit berbunyi pula, orang main kembali beratur. Bola melayang pula, sebentar ke kanan. sebentar ke kin. Permainan bertambah kuat, masing- masing hendak mencari kemenangan. Sekarang sayap kanan tamu menunjukkan ketangkasannya. Bola itu dilarikannya dengan sekencang-kencangnya. Dari sudut ia melepaskan tembakan, bagus benar. Kesempatan yang jarang-jarang bersua ini, tidak diabaikan oleh kaptennya. Bola yang masih melayang itu ditanduknya. Di muka gol terjadi pergumulan. Sir Joon berusaha menangkis serangan musuh, tetapi dekat tiang gol itu, ia tergelincir hingga terbanting. Tapi gol selamat, bola bergolek keluar. Peluit berbunyi berkali-kali. Sir Joon, terkapar, tak sadar orang lagi, muka merah padam. Allah,
Mencari Pencuri Anak Perawan
matanya terbalik-balik. la tak dapat berkata lagi. Orang segera mengusungnya keluar. Sir Joon dikerumuni orang. Pertolongan segera diberi, kepalanya direnjis dengan air; sementara itu orang berusaha menyadarkannya. Tak lama antaranya ia membukakanmatanya, tetapi amat payah tampaknya. Tak dapat berbangkit dengan sendirinya. Permainan diteruskan kembali. Ganti Sir Joon dicarikan, karena Sir Joon tak mungkin dapat bermain lagi, sedangkan tegak tak pandai lagi. "Kunci-kunci pahanya, terkilir," katanya. Beberapa menit kemudian peluit panjang berbunyi, permainan selesai sudah. Pihak tamu beroleh kemenangan dua gol. Orang banyak tak puas hati karena kekalahan itu, disebabkan Sir Joon dapat kemalangan. Anak muda yang selalu sehat jelita itu, kini pulang dipapah orang. la tak dapat berjalan lagi. Serombongan manusia, kawan-kawannya belaka, berganti-ganti me- mapahnya. Sampai ke rumahnya pun sahabat-sahabatnya tiada jemu-jemunya memberi pertolongan kepada Sir Joon. Ikhtiar dan obat-obatan selalu diakalkan oleh mereka itu. Hampir tengah malam barulah kawan-kawannya yang banyak itu meninggalkan Sir Joon. Sepanjang jalan tak sunyi-sunyinya mereka itu mem- perbincangkan nasib Sir Joon. Hampir semuanya sama pendapat, mengatakan Sir Joon itu sekarang berbintang gelap. Orang masih ramai memperkatakan penolakan cintanya kepada anak tukang ransum itu, sekarang inilah pula bola yang ditanggungnya la malang benar. Pahanya terkilir, entah dadanya pun sakit pula, karena ia terjatuh itu bagai terempas, macam didorong oleh kekuatan gaib. Ya, untung cobaan itu tepat kepada Sir Joon, orang yang
PERPUSTAKAAN 10 PUSAT BAHASA Mencari Pencuri Anak PerawanKEMENTERIAN PENDIDIKAN NABIONAL
tegap semangat dan tetap pikirannya itu. Jika orang lain, barangkali tiada demikian halnya, niscaya lain sudahnya ketika penolakan cintanya itu diketahuinya. Akan tetapi, bagi anak muda itu, semuanya itu tiada menghangat mendingin, hal yangserupa itu seakan-akan sudah biasaditanggung- nya. Pandai sangat ia berlindungkan godaan itu.
11 Mencari Pencuri Anak Perawan
KHAYAL
ukul dua belas sudah berbunyi, hari telah tengah malam, diluar sangat sunyi, hening tidak bergema, akan tetapi Sir Joon belum memejamkan matanya. Pelayan yang setia itu, tahu benar akan kewajibannya. Tuannya itu dijaganya dengan hemat dan cermat. la pun tiada niat hendak pergi tidur atau sungguh-sungguhpunbarang-kalimatanyasudahmengantuk, ia tak sampai hati meninggalkan tuannya yang terbaring itu. Di sinilah masanya menunjukkan setia, di mana lagi. "Tan! Ambilkan aku teh panas!" demikian suara ter- dengar dari tempat orang terbaring itu. Itulah suara Sir Joon yang awal sekali memanggil bujangnya, dalam saat sunyi senyap itu. Perintah tuannya itu tiada disahuti lagi oleh bujang yang setia itu, tetapi beberapa datik kemudian, lebih lekaslagi rasanya, semangkuk teh yang masih panas sudah sampai ke hadapan Sir Joon. Dengan susah payah Sir Joon mendudukkan dirinya. Akan tetapi, ia duduk juga. Sambil bertelekan ke bantal gulingnya, teh yangsemangkuk itu habis diminumnya. "Letakkan kemari anggur yang dalam lemari itu dengan gelasnya, kemudian tutupkan pintu kamar ini dan pergilah engkau tidur!" kata anak muda itu sambil merebahkan dirinya. la berselubung.
12 Mencari Pencuri Anak Perawan
Bujang yang rajin itu mengerjakan perintah tuannya dengan hemat-hemat sekali; dijaganya benar-benar, supaya sekaliangerak-geriknyajangansampaimengganggutuannya yang sedang berbaring itu. Setelah selesai, ia berpaling menengok tuannya, kemudian pintu bilik itu ditutupnya baik- baik dan ia pun pergilah berguling ke tempat tidurnya. Lamajuga ia berangan-angan memikirkan nasibtuannya, lebih kurang sejam, kemudian tertidur dengan nyenyaknya. Berapa lamanya ia tertidur itu, tidak diketahuinya, tetapi iatersentaklaluterbangun.Terang benarmasukketelinganya bunyi orang membuka pintu dan bunyi orang berjalan di ruang tengah. la mendindingkan tangannya ke telinga, berharap supaya pendengarnya bertambah terang. Bunyi orang turun kedengaran pula, sangat beraturan dan hemat benar. Tak mungkin lagi, niscaya malinglah itu, maling mencuri ke rumah tuannya.Sekin panjang yang tersisip di dinding disambarnya dengan hati-hati, ia keluar ke ruang tengah. Akan tetapi, yang mengadakan bunyi itu tak tampak. Pintu keluar dibukanya perlahan-lahan, sedikit pun tiada berderik. la menjulurkan kepalanya lambat-lambat meninjau keluar. Akan tetapi, satu pun tak ada yang kelihatan olehnya. Di luar tiada kelam amat, bulan purbani masih timbul, hanya cahayanya itu masih timbul tenggelam, karena selalu dilindungi oleh awan yang berarak. Bujang yang setia itu memberanikan hatinya, ia melun- cur ke tanah, lalu pergi ke jalan raya dengan harapan kalau- kalau orang yang mengganggunya itu dapat dilihatnya. Ya, Allah! Apakah itu? Antara seratus meter daripadanya, dalam terang bulan itu, kelihatan seorang manusia, berjalan bergegas-gegas. Tan mengernyitkan keningnya, matanya bulat menen- tang manusia yang berjalan itu. Bujang itu bagai terpaku,
13 Mencari Pencuri Anak Perawan
mulutnya ternganga, tak ubah serupa benar, sebesar rambut dipertujuh tak ada bedanya, orang itu serupa tuannya, macam Sir Joon. Sir Joon kah dia? Hendak dikejarnyakah orang itu? Hendak diper- saksikannya dengan mata kepalanya sendiri, benarkah orang itu tuannya? Salahkah pemandangannya? Sebelum otaknya dapat memberi keputusan, orang itu jauh sudah dan sesaat lagi menghilang. Pelayan itu teringat akan dirinya, orang itu tak mungkin akan diturutnya dan apa gunanya lagi, sudah terlambat. Bergegas-gegas ia balik ke rumahnya. la ingin benar hendak mengetahui masih adakah tuannya terguling? Dengan hati yang berdebar-debar, bilik tuannya itu dihampirinya. Tirai pintu kamar itu dikuakkannya perlahan-lahan. Dari kaca pintu kamar itu tampak olehnya Sir Joon, masih terbaring, ia berselubung, bagai tatkala ditinggalkannya tadi. Jadi siapakah yang dilihatnya di tengah jalan itu? Kamar itu ditinggalkannya pula, ia pergi ke ruang tengah sekali lagi. Akan tetapi, ajaib rasanya. Terang benar tadi didengarnya bunyi orang berjalan, bunyi orang membuka pintu dan bunyi langkah orang turun, akan tetapi suatu apa pun tiada berubah. Tak ada sebuah pun letak barang dalam kamar itu yang beralih. Pintu pun baik, jadi yang kedengaran itu bukan maling, bukan pencuri. Sepuas-puas memeriksa sekarat puntung pun tiada yang hilang. Pelayan yang setia itu bagaikan fana memikirkan peristiwa yang ajaib itu. la tidak pekak, bukan rabun. Nyata terdengar olehnya bunyi langkah orang berjalan, bunyi tapak orang turun. Sudah pula diheningkannya sejurus, tak pelak lagi, memanglah ada yang didengarnya. Tetapi sayang bunyi itu terlambat diturutnya,
14 Mencari Pencuri Anak Perawan
hingga yang membuat ulah itu tidak tertangkap tangan. Tetapi harapannya masih ada, orang itu diturutnya sampai ke jalan raya. Benarlah ada yang tampak olehnya dengan mata kepalanya sendiri, seorang manusia berjalan bergegas- gegas, selaku orang bersalah. Akan tetapi, yang dilihatnya itu bukan orang lain, melainkan tuannya Sir Joon, Sir Joon yang dipapah orang petang tadi. Sebenarnya dari tadi pun sudah tak masuk dalam pikirannya, bahasa tuannyayang sudah setengah mati itu, selang beberapa jam saja dapat berjalan setangkas itu. Sangkaan itu tak mungkin salah dan memang tak salah, karena dengan matanya sendiri dilihatnya tuannya itu masih terbaring di tempat tidurnya, berselubung selimut kain bulu, macam yang ditinggalkannya malam tadi. Tiba-tiba bulu romanya seram, tengkuknya rasa sebesar goni. Dalam kepalanya tergambar dan otaknya membenar- kan, benda yang didengar dan dilihatnya itu bukan manusia, tetapi hantu merupakan diri sebagai tuannya. Pelayan itu bertambah takut. Dalam saat itu jua, teringat ia akan memberitahukan peristiwa itu kepada tuannya. la pun bergagap hendak mendapatkan Sir Joon. Tetapi baru empat langkah, tak sampai agaknya, pelayan itu tertegun dan timbul pikiran dalam hatinya. la tak sampai hati membangunkan tuannya yang sedang sakit itu, Tuan yang baru menderita kesakitan yang alang kepalang, yang barangkali baru dapat memi- cingkan matanya, baru tertidur. tidur mengambil kekuatan badan. O, tuannya yang dikasihinya keganti ibu bapaknya, sekali-kali tak sampai hatinya, tak mungkin ia maumeng- ganggu tuannya itu. Biarlah romannya seram, biarlah badannya gemetar, biarlah kepalanya penuh dengan pikiran, yang tak dapat diselesaikannya itu, itu tak mengapa. la tak
15 Mencari Pencuri Anak Perawan
mau mengganggu istirahat tuannya. istirahat yang mata utama bagi orang yang berhal demikian itu. Akantetapi,sudahtakdir,jikaTuhanhendakmenunjukkan sesuatu keganjilan ada-ada saja gerak yang diperbuatnya. hingga manusia itu berbalik-balik pikiran dan terkimbang- kimbang, hingga dalam saat beberapa detik saja. terjadi suatu hal yang ajaib, hanya dapat dipikirkan dan ditelaah dalam waktu berbulan-bulan, barangkali sampai bertahun- tahun baru bersua dengan jelas dan rahasianya. Jika gerak hati bujang yang setia itu diturutkannya, artinya ia langsung pergi ke kamar tuannya dan memba- ngunkan Sir Joon serta menceritakan sekalian pendengaran dan penglihatannya kepada tuannya, orang berpaham dan banyak pendapat itu, niscaya cerita ini lain sudahnya dan barangkali hingga ini tamatlah sudah. Akan tetapi, sebagai yang sudah diberitakan tadi, pelayan yang tahu menimbang rasa itu, tak sampai hati mengganggu tuannya, tuannya yang dalam kepayahan itu. Niscaya esok harilah, sesudah matahari terbit, yaitu setelah tuannya jaga dari tidurnya, pelayan itu dapat menceritakan sekalian yang menakjubkan hatinya itu. Tetapi itu sekurang-kurangnya tiga atau empat jam lagi, barang kali lebih lama, baru tuannya itu dapat mengakal-akalkan, mencari-cari rahasia yang telah terjadi itu. Empat jam itu sebenarnya tidaklah lama, akan tetapi dalam waktu yang sekian, sekalipun tak usah sampai selama itu, boleh dan mungkin terjadi, sekalian masalah yang ganjil itu jadi terpendam selama-lamanya.
16 Mencari Pencuri Anak Perawan
MALAM YANG AJAIB
engan pikiran kusut tak tentu, Tan, merebahkan
Dbadannya sekali lagi ke atas tempat tidurnya. Kokok
ayam sudah berbunyibersahut-sahutan, alamat hari akan parak siang. Pelayan yang dalam bimbang itu, berniat-niat supaya suluh dunia itu lekas keluar dari peraduannya, keluar menerangi seluruh alam dan diharapnya pula dapat menerangkan masalah yang mahamusykil itu, yaitu jika kelak sudah dikabarkannya kepada tuannya orang budiman itu. Dengan hal yang demikian ia tertidur pula dengan nyenyaknya. Otaknya amat penat. Sekali-kali ia mengutuki dirinya benar-benar, karena sesudah sang surya yang diharap-harapkannya itu menam- pakkan dirinya dan menyuluh seluruh dunia ini, barulah ia terbangun. Beberapa menit saja ia telah bersalin pakaian dan dengan hemat-hemat, ia pergi ke kamar tuannya. Hatinya cemas amat, kalau-kalau barang kali Sir Joon sudah berhajat akan pertolongannya. Syukur beribu syukur, tatkala ia masuk ke kamar tuannya itu, dilihatnya orang muda itu belum terbangun lagi. la masih tidur, napasnya turun naik sangat beraturan, sedangkan badannya tiada diselubunginya lagi macam tidur manusia yang tiada bercedera. "Syukur," kata pelayan itu. Kamar tuannya itu segera ditinggalkannya dan ia pun keluar mengerjakan keperluan tuannya, jika ia terbangun kelak.
17 Mencari Pencuri Anak Perawan
Kopi telah sedia, makanan telah masak, kedengaran suara Sir Joon. Bujang yang rajin itu berlari mendapatkan tuannya. Dilihatnya Sir Joon sudah duduk di sisi tempat tidur- nya. Di mukanya tak terbayang lagi tanda kesakitan, hanya mukanya masih pucat, sebentar-sebantar ia menguap. "Dekatkan kursi panjang itu dan ambilkan tongkatku!" perintah Sir Joon. Sekalian perintah itu diselenggarakan oleh bujangitu, lebih lekas dari yang biasa. Sambil menjemput air, Sir Joon mencapai tongkatnya dan dengan terhuyung-huyung selamat juga ia turun dari tempat tidur itu, lalu ia duduk ke atas kursi. Sesudah membersihkan mukanya, ia pergi ke meja makan. Berjalan selaku biasa ia tak dapat. Tetapi dengan pertolongan tongkat itu, dapatlah ia melangkah setapak- setapak dengan tak usah ditolong orang. Nyata juga tulang pahanya tiada binasa, sekadar terkilirlah agaknya. Dalam saat itu juga Sir Joon sudah dikerumuni oleh kawan-kawannya; mereka itu ingin sangat akan mengetahui hal Sir Joon, Sir Joon yang ditinggalkan mereka itu masih sakit semalam. Lain daripada itu, melihat gerak-gerik tamu-tamu itu, dan bayangan yang tergambar di muka satu- satunya adalah mereka itu mambawa berita yang ganjil. Masing-masing gelisah tampaknya. Setelah sekalian yang datang itu menerima kahwa semangkok seorang, maka pelayan yang tahu menimbang rasa itu berdiri di sudut meja, lalu ia bercerita, menceritakan sekalian pendengarannya dan penglihatannya yang semalam itu. Sekalian tamu itu meletakkan mangkuknya, mereka itu tertarik mendengar cerita yang ajaib itu. "Engkau barangkali bermimpi Tan," kata Sir Joon.
18 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Tidak Tuan," jawabnya, "terang saya dengar dan nyata saya pandang, orang itu serupa dengan Tuan. "Di mana boleh jadi," seru sekalian tamu itu, "orang yang separuh mati ini, di mana dapat berjalan secepat yang engkau katakan itu dan engkau lihat pula, Tuanmu ini terbaring di tempat tidur "Betul Tuan, begitulah penglihatan saya, itulah maka saya jadi tak habis pikir," kata pelayan itu mempertahankan ceritanya. "Boleh jadi juga engkau sangat memikirkan aku," ujar Sir Joon menyela percakapan pelayan itu, "hampir segenap pikiranmu engkau pergunakan memikirkan nasibku, jadi yang kaulihat itu betul manusia juga, tetapi pikiranmu padaku saja, pemandanganmu jadi berubah. Senangkanlah hatimu sobat! Nanti kita coba-coba mengetahui si penjahat yang memusingkan otakmu itu. Dan jangan takut, itu bukan hantu. Di sini tak ada hantu. Sekarang kerjakanlah pekerjaanmu!" Pelayan itu termenung sejurus, hatinya tak puas nyata terbayang di mukanya, yang ajaib itu masih belum hendak pergi dari ingatannya; kasihan. Kemudian tempat itu ditinggalkannya. Setelah pelayan itu pergi, si Dul, yaitu yang tertua dari tamu-tamu itu berkata, "Ajaib benar cerita bujang itu." "Sungguh ajaib," kata yang lain itu membenarkan pendapat si Dul.
"Tetapi sudahkah engkau dapat kabar Joon, bahasa .."
si Dul berhenti sebentar, sisa kopi yang dalam cangkirnya itu dituangkannya ke mulutnya, "bahwsa seterumu sudah maherat." Anak muda yang malang itu tersenyum manis, ia tak mengerti akan wujud cerita si Dul.
19 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Itu bukan seterumu," ujar si Dul. "Jadi siapakah yang kaukatakan maherat itu?' "Siapa lagi, seterumu, musuhmu, kekasihmu dahulu itu. yang meracun hatimu sekarang ini." Sir Joon tercengang, nyata ia belum mengerti maksud sahabatnya itu, lalu katanya, "Seteruku yang mana?" "Ah, siapa lagi, anak gadis yang manis itu, si Nona, tunanganmu dahulu sudah gaib." Napas Sir Joon tertahan sebentar, ia terperanjat mendengar berita itu. Akan tetapi hanya beberapa detik saja, sudah itu macam biasa pula. "Gaib bagaimana maksudmu, Dul?" "Gaib bagaimana lagi, hilang entah ke mana perginya. Kini orang sedang sibuk mencarinya. "Ai adakah boleh jadi, di negeri yang seluas tapak tangan ini, pencuri jarang, penyamun tak ada, anak perawan boleh
hilang, ah tak mungkin, Dul.“
Sekalian tamu itu membenarkan berita yang dikabarkan oleh si Dul itu, "Kini orang tengah mencari-carinya," kata mereka itu.
“Boleh jadi ia pergi ke rumah mak ciknya, yang baru
datang itu," ujar Sir Joon. "Ke sana sudah diturut, ke mana-mana sudah dicari, tetapi belum bersua. Mustahil tengah malam buta pergi ke rumah sanak saudara seorang diri." "Kalau begitu, barangkali ia menurutkan kekasihnya, peranakan Hindi itu." "Itulah perkara yang tak masuk ke akal," ujar si Dul, "mengapa ia segila itu, barang bila pun ia berhajat akan anak
20 Mencari Pencuri Anak Perawan
perawan itu, niscaya tak ada halangannya, karena tukang ransum itu mata duitan. Dua tiga puluh dolar pun, niscaya terkabullah maksud si Tairoo itu. "Itu pun benar pula," sahut Sir Joon sambil menunduk- kan kepalanya. Dalam pada itu kedengaran bunyi orang naik. Sejurus kemudian masuklah seorang anak muda, badannya gempal benar. "Selamat pagi, Wan!" seru Sir Joon. "Terbalik hujan ke langit,“ jawab anak muda yang gempal itu,"engkau ini Sir sudah berlebih-lebihan amat. Sepatutnya akulah yang lebih dahulu mengucapkan selamat kepadamu dan kepada mahkamah ini. Tan! Mana kopiku?" Gelak dalam kamar itu bergema. Wan Dang, itulah nama tamu yang baru. masuk itu. Dia itu tukang kelakar, pandai amat berseloroh. Tabiatnya selalu riang. Di mana saja ia ada, kedengaran gelak terbahak-bahak. Dunia ini baginya hanya tempat bersuka- suka saja. Kabarnya ketika mengiringkan mayat ke kubur pun, ia berseloroh juga. Caranya berkata-kata tak sepadan dengan gempal badannya dan itulah yang menggelikan hati orang. Dia itu serang kapal, akan tetapi sekali ini, ia dapat beristirahat sebulan lamanya, yaitu selama kapalnya diperbaiki dalam limbung di Singapura. Seperdua dari kopi yang dalam cawannya itu dituangkan- nya ke dalam tadah, yang tinggal diminumnya hingga habis, sudah itu yang dalam tadah itu diminumnya pula. "Tak baik sekali minum dalam sebuah tempat, mati sepukul," katanya dengan tertawa. "Orang yang seperti engkau ini lambat matinya," ujar Sir Joon.
Mencari Pencuri Anak Perawan
"Mudah-mudahan lebih lambat dari engkau, hai lebai malang. Tetapi sudahlah, sekarang kita berbenar-benar dahulu. Dari bawah pun tadi sudah kudengar Tuan-Tuan memperbincangkan anak perawan yang hilang itu." "Ya, itulah kerja kami sepagi ini," kata kawan-kawannya hampir bersama-sama. "Tetapi Wan, karena engkau terlambat datang, barang kali engkau ada membawa tambahnya," ujar Sir Joon. "Sekurang-kurangnya kabar si Tairoo, yang seperun- tungan dengan engkau itu, Sir. Tadi kulihat ia sebagai orang risau, tak tentu raba, tanya ke sana, tanya kemari. Kulihat air matanya selalu bergenang. Cih,macam perempuañ itu sudah bininya. Betullah tak pernah melihat dahi yang licin. Aku berdoa-doa supaya ia dicekik kolera." "Tetapi biasanya Wan, orang yang gemuk gempal tabiatnya begitu juga," kata si Dul, "ya sekurang-kurangnya mengarah-arah." Majelis itu tertawa. "Itu setengah betul," jawab orang laut itu, "akan tetapi gemuk yang kau katakan itu, gemuk air, lain halnya dengan aku yang gemuk daging ini." Tukang kelakar itu Menying- singkan lengan bajunya dan dengan menggeram ia mengepal tinjunya, hingga urat-urat tangannya tegang seperti kawat. "Cobalah persaksikan!" katanyasambil mengangkat tinjunya. la tertawa pula. "Tetapi Joon, aku hampir lupa menanyakan halmu, apamukah yang sebenarnya sakit?" "Pahaku yang kanan terasa terkilir, tetapi tak berbahaya sekarang aku sudah dapat berjalan dengan bertongkat." "Itulahyang kuharap," ujar si gemuk itu, "mudah-mudahan jangan hendaknya kami terpaksa menggali kuburmu dalam dua tiga hari ini. Dan kudoakan mudah-
22 Mencari Pencuri Anak Perawan
mudahan sekarang bala itu berbalik kepada tukang ransum dan peranakan Hindi itu." "Terimakasih, Wan,"seru Sir Joon, tetapi sayang biasanya doa orang laut seperti engkau ini, jarang-jarang dikabulkan Tuhan." "Balasan akhirat itu tak perlu menunggu mati,"ujar serang itu sebagai orang alim. Penghuni kamar itu tertawa semuanya. "Tetapi biar bagaimana sekalipun. aku terpaksa menga- takan malam tadi, malam yang ajaib," kata si Dul meningkah perkataan serang itu. Sekalian manusia yang di dalam kamar itu. hening sejurus panjang, masing-masing tepekur dan sebagai telah mufakat lebih dahulu, sekaliannya membe- narkan pendapat si Dul itu. Sesungguhnya malam itu mengandung ajaib.
23 Mencari Pencuri Anak Perawan
TANDA TURUT BERDUKA CITA
ku hendak membalas dendam," seru Sir Joon dengan
"AAtiba-tiba, "di sinilah masanya di mana lagi.“
Sekalian tamu itu tercengang sejurus panjang, mereka tak mengerti apakah wujud perkataan Sir Joon itu. "Dendam apakah hendak kaubalaskan," tanya si Gimin, seorang anak muda yang pendiam, tetapi sangat lurus. "Dendam apa lagi," sahut Sir Joon, "dendamku kepada mata duitan itu."
“Hendak engkau pengapakan dia?" tanya si Dul penuh
keheranan. Sir Joon tertawa terbahak-bahak. la menyuruh bujangnya menyediakan pakaian. “Jangan Tuan-Tuan cemas!" katanya dengan tersenyum, "banyak macamnya membalas dendam, cih, bukan semacam saja. Aku hendak ke rumah orang tua itu dan nanti pura-pura bersedih hati, dan tersenyum juga, ah. inginnya aku hendak menengok si tua itu nanti. Tan sediakah sudah pakaianku?" Muka anak muda yang sakit itu jadi merah. la berdiri, dengan bertongkat-tongkat dan masuk ke dalam kamar. "Kuharap Tuan-Tuan sudi menunggu aku sebentar," katanya dengan tersenyum manis.
24 Mencari Pencuri Anak Perawan
Anak muda-muda itu berpandang-pandangan seorang dengan seorang. Wan Dang yang banyak kelakar itu pun termenung. "Aku tak mengerti perangaiSir Joon ini," kata si Dul memperbaiki duduknya. "Aku pun heran," ujar yang lain, "apa pula ditambaknya ke sana? Ke rumah seterunya itu. Apa pula gunanya awak ikut-ikut bertanya-tanya hal si tua yang pongah itu; kalau aku diperbuatnya selaku Sir Joon itu, kuharamkan memijak tangganya. Ah, Sir Joon ini ganjil benar." Tak sampai sepuluh menit antaranya, Sir Joon sudah keluar. Pintu kamarnya dikuncinya baik-baik dan anak kunci itu dimasukkannya ke dalam saku celananya. "Sekarang aku sudah selesai," katanya sambil menekan- kan tongkatnya, "marilah kawan-kawan ikuti aku ke rumah orang tua itu. Laksana ditarik oleh suatu kekuatan gaib, sekalian anak muda itu bangkit dan pergi keluar mengiringi Sir Joon. Sir Joon berjalan tidak amat leluasa, timpang tampaknya, kaki kanannya bagaikan diseretnya; sungguhpun demikian hatinya dikeraskan juga. Bagaimana sekalipun ia hendak memperbaiki lenggangnya, dan menghilangkan cacatnya itu, sekali ini tak dapat. Langkahnya tetap tertahan-tahan. Timpang kakinya kentara jua. Dan sekali-sekali ia tertegun kesakitan. Sepanjang jalan hanya hal si Nonalah yang dipercakap- kan oleh mereka itu. Tak seorang jua dapat menerka ke mana perginya anak perawan itu. Lebih kurang setengah jam lamanya mereka berjalan itu, sampailah ke hadapan sebuah rumah yang berdinding papan beratap seng. Itulah rumah tukang ransum yang kemalangan
25 Mencari Pencuri Anak Perawan
itu. Sir Joon menyimpang ke rumah itu diiringi oleh kawan- kawannya. Di sana ada dua tiga orang duduk-duduk. Gelak dan senda gurau tak ada kedengaran, nyata juga di sana orang bersusah hati. Tatkala Sir Joon telah sampai ke muka tangga, tempat itu bertambah sunyi. Mata yang beberapa pasang itu, bulat menentang Sir Joon. Sebagai dahulu jua, yaitu semasa ia masih bertunangan dengan si Nona, demikian pula sekali ini, anak muda yang taliah itu naik ke atas dengan tiada menaruh gentar, bagai memasuki rumahnya sendiri. Berani benar. Dari dalam keluar seorang perempuan, ramping pera- wakan badannya, rambutnya kusut masai, pakaiannya sangat lusuh amat, sedang matanya balut bekas menangis. Perempuan itu ibu si Nona, istri tukang ransum itu. "O, engkau rupanya itu, Joon,"ujarperempuanitu. Dalam pada itu ia menangis.Bahu Sir Joon dipegangnya, "duduklah Nak!" Katanya kepada sekalian pengiring Sir Joon itu. "Saya mendengar kabar, si Nona menghilang," seru Sir Joon dengan beriba hati. "Itulah, Nak, yang kami hirukkan sehari ini. Sejak dari malam tadi, adikmu sudah tak tampak lagi, entah ke mana perginya. "Pukul berapa kira-kira ia pergi?" "Wallahu alam, ayahmu terbangun pagi-pagi benar dan turun ke tanah, dilihatnya tangga tersandar di jendela adikmu itu dan diperiksa kamar sudah kosong." “Jadi kalau begitu, ia turun dari jendela," ujar Sir Joon. "Itu pun kami tak tahu, pintu kamarnya pun terbuka dan kunci jendela itu kupak.“ "Jadi kalau begitu dibuka dengan kekerasan rupanya." Kepala Sir Joon mendenyut sendirinya, matanya terbeliak, nyata benar ia terperanjat.
26 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Allah, boleh jadi Nak," jawab perempuan yang malang itu. la menangis teredu-sedu. Perkataan yang keluar dari mulutnya tak teranglagi. Dalam pada itu, masuk pula ke pekarangan rumah itu serombongan manusia. Di antaranya tukang ransum loba itu. la memegang sehelai selendang yang sudah cabik-cabik dan belah-belah lagi penuh berbintik-bintik Lumpur. Sir Joon berdiri sambil bertongkat; tangan orang itu dijabatnya, "Saya turut berduka cita," katanya perlahan-lahan. Sekalian perbuatan Sir Joon itu, diterima oleh orang tua itu dengan baik. Nyata ia sudah kehilangan akal. Selendang yang ditangannya itu dicampakkannya kepada istrinya. "Inilah baru yang kami peroleh," katanya dengan sebal hatinya. Melihat selendang yang cabik-cabik itu, perempuan tua itu menjerit. "Aduh anakku binasa, anakku binasa, di mana dia?" katanya beberapa kali, "ini selendang yang dibelinya seminggu yang lalu. Allah, selendangnya habis koyak-koyak. niscaya ia kena bencana. "la menghempas-empaskan dirinya. Sir Joon menghampiri orang tua itu. "Sabarlah Ibu dahulu!" katanya, "jangan diperusuh pikiran, ia belum tentu kena bencana, melainkan akal kita perpanjang dan ikhtiar kita jalankan, kita belum boleh putus harapan." "Entah karena bujuk rayu anak muda itu, entah karena sinar matanya yang menaruh kekuatan itu, perempuan itu ingat kembali akan dirinya dan ia berucap berulang-ulang. Matanya merah dan bertambah balut. Kasihan. Lima menit selang antaranya, tampak pula peranakan Hindi datang bergegas-gegas, mukanya agak pucat dan
27 Mencari Pencuri Anak Perawan
pemandanganya suram saja. Demi melihat Sir Joon ada dalam rumah itu, keningnya dikerutkannya, mukanya masam. Sekali lagi Sir Joon meraba tongkatnya dan dengan terhuyung-huyung, si Tairoo disalaminya. Peristiwa Sir Joon yang timpang dan menyeret kaki itu, membersihkan mendung yang bersarang di muka peranakan Hindi itu. Setelah keduanya berjabat tangan, Tairoo tersenyum.
"Sudah sampai ke manakah Tuan tadi?" ujar Sir Joon
dengan senyum manis. "Sudah jauh, Tuan," jawab anak Hindi itu, "sejak dari tadi pagi, kami bertanya-tanya dan mencari-cari, tetapi seorang pun tak menampaknya, sudah letih benar rasanya." "Tapi saya rasa, kalau ia lari atau dilarikan orang, belum lagi jauh, karena waktu untuk lari tak berapa banyak dipergunakannya. Bukankah sejak subuh tadi sudah mulai mencarinya?" "Benar Tuan, tetapi sudah rata kami mencari, segala rumah hampir habis kami jalani, sayang kami bukan dapat keterangan, tetapi menyusahkan pula Tuan. Mereka itu pula yang mendatangkan pertanyaan. Saya malang Tuan." la menggeleng-gelengkan kepalanya, amat susah hatinya kehilangan tunangan itu. la jadi bingung, hingga sekalian pertanyaan Sir Joon itu dijawabnya dengan sejujur-jujurnya. lupa ia bahasa Sir Joon itu sudah pernah juga mencintai tunangannya itu. Sekalian itu tak teringat lagi kepadanya, kepalanya hanya memikirkan kekasihnya yang gaib itu saja. Kekasih yang tak mengasihi. "Ya, sudah demikian kehendak alam," ujar Sir Joon, "terkadang-kadang inilah, kesenangan dan kegembiraan hati itu ditukarnya dengan kedukaan dan percintaan. Segalanya dalam tangannya, kita tidak diberinya
28 Mencari Pencuri Anak Perawan
berkuasa barang sedikit. Sungguh jika diperturutkan hati, ya, terlalu amat rasanya. Tetapi, Tuan, alam itu juga menyuruh kita sabar dan berpaham, menyuruh kita berikhtiar dan melarang kita putus asa. Hai! Bukankah begitu, Wan!" seta Sir Joon, kepada serang kapal, yang sejak tadi berdiam diri saja. Rupanya si kelakar itu, apabila dibawa benar-benar, tak pula sanggup amat membuka mulutnya. "Ya, demikianlah sepatutnya," ujar serang itu, "tak boleh kita putus asa. Saya teringat akan pesan guruku dahulu yang bunyinya, 'Selagi engkau hidup jangan putus asa, dan jika
putus asa jangan engkau hidup'," Kemudian ia tertawa dan
peranakan Hindi itu gelak bergumam. Perempuan yang kemalangan itu keluar pula. Matanya masih berair. "Apakah ikhtiar kita, Nak?" katanya kepada Sir Joon, lupa ia pada ketika itu, bahasa Sir Joon itu bukan lagi tunangan anaknya, sedang bakal menantunya itu ada di sebelahnya. Sir Joon tersentak. Perbuatan orang tua itu menerbitkan satu perasaan kepadanya, yaitu suatu perasaan yang hanya dapat dimaklumi oleh Sir Joon sendiri. Matanya bersinar-sinar dan senyumbergelut di mulutnya. Kemudian perempuan tua itu ditentangnya, ia mendehem kecil. Saat itu juga hati perempuan tua itu sudah diselaminya. “Hal ini memang sulit, baiklah kita minta dahulu timbangan Tuan ini," jawabnya sambil memandang kepada si Tairoo. Perempuan tua itu terbangun, di mukanya terbayang kesal hatinya, karena sudah menghadapkan pertanyaan itu kepada Sir Joon orang muda yang sudah diusir oleh suaminya dahulu. Padahal anak Hindi itu duduk di sampingnya. Si Tairoo lalu ditatapnya dengan matanya yang balut itu,
29 Mencari Pencuri Anak Perawan
napasnya tertahan-tahan, dalam kalbunya berperang bimbang dan cemas; sangat ingin ia mendengar ikhtiar bakal menantunya itu. Tetapi peranankan Hindi itu hanya berdiam diri saja, ia tepekur senantiasa, hingga mata perempuan itu bertambah kuyu dan akhirnya terbacalah tulisan yang tersurat di dahi perempuan itu. Dari bakal menantunya tiada ada harapannya beroleh ikhtiar dan pertolongan. Sayang sekali. Akhirnya, terbukalah mulut si Tairoo. "Saya pun tak dapat jalan," katanya dengan gundah hatinya, "sudah puas bertanya-tanya, telah payah mencari- cari, tetapi kabarnya pun tak dapat. Saya rasa lebih baik kita minta pertolongan polisi. "Peranakan Hindi yang banyak duit itutermenungpula, kesalbenar romannya, karena kehilangan tunangan itu. "Pada pendapat saya, jangan dulu dikabarkan kepada polisi, "ujar Sir Joon, "karenaberurusan dengan polisi itu banyak susahnya. Tak boleh tidak kabar ini makin pecah ke mana-mana, jadi memberi aib kita semua dan memberi malu Tuan jua. Dan melemahkan tenaga kita; padahal polisi itu belum tentu mau bekerja dengan sungguh-sungguh hatiuntuk keperluan kita. Sebuah lagi jika betul si Nona sengaja lari dan diketahuinya dia diintip-intip, niscaya dicarinya gelanggang yang lapang dan mungkin juga ia pergi meninggalkan negeri ini. Wahai, jika demikian akan sia-sialah jerih payah kita." Sir Joon mengerutkan dahinya, anak Hindi itu di cemoohkannya. Macam disengajanya mendaifkan anak muda yang banyak ringgit itu. "Aku pun sesuai dengan pendapatmu Joon," ujar tukang ransum itu, "hal ini seboleh-boleh jangan dahulu kita ramai- ramaikan, banyak alangannya."
30 Mencari Pencuri Anak Perawan
“Jadi bagaimanalah kita buat?" seru perempuan yang
hampir hilang sabarnya itu, "Hendaknya jangan dilambat- lambatkan. Wahai ke manakah anakku itu?" la berurai air mata pula.
"Hai, jangan Ibu berusak hati juga!" kata Sir Joon
membaiki hati perempuan itu, "Ikhtiar kita jalankan. Ibu perbanyaklah sabar. Kalau begini, sebentar-sebentar Ibu menangis, niscaya kami pun bingung, tak tahu jalan yang akan ditempuh. Sabarlah, Ibu. Coba pandang Tuan ini! Sudah pucat benar, jangan-jangan ia nanti sakit pula, karena sangat memikirkan Si Nona dan memikirkan Ibu. Nah, saya rasa lebih baik Tuan pulang ke rumah dahulu!" ujarnya kepada peranakan Hindi itu.
"Tuan lelah amat, ambillah istirahat sebentar. Sementara
itu, biar kami mencari-cari jalan bersama-sama dengan bapak dan saudara-saudara yang ada ini. Nanti Tuankami beri kabar!" Peranakan Hindi yang dapat mengeluarkan uang, tetapi tak pandai bertenggang akal itu, mengangguk. la turun dengan sebal hatinya.
31 Mencari Pencuri Anak Perawan
MUSYAWARAH
yang kecemasan itu.
"Ibu," ujar Sir Joon, mulai mengeluarkan buah pikirannya,
"barangkali fbu dan.Bapak merasa hati, melihat saya campur tangan dalam perkara ini. Tetapi apa boleh buat, saya wajib campur tangan menolong mengurus hal ini. Biarpun Ibu dan Bapak sudah tak mau mengaku saya anak lagi, itu tak kan saya hiraukan. Kalau Ibu dan Bapak hendak marah juga, marahilah saya. Dan dahulu pun ibu dan Bapak ini, sudah saya pandang sebagai laku ibu kandung saya sendiri dan si Nona pun sudah sebagai saudara rasanya. Jadi berdosalah saya dan malu akan diri saya sendiri, kalau saya menghindar- kan diri dalam hal yang serupa ini. Tidak, tidak Ibu, biar bagaimana sekalipun benci ibu kepada saya, lamun saya hendak menolong Ibu jua. Anak portugis itu menghela napas panjang, kedua orang tua itu dipandangnya berganti-ganti dan pada mukanya yang molek berdandan itu, terbayang tulusdan ikhlas hatinya. Dan pada masa itu, tiada seorang jua pun manusia sanggup menolak permintaannya. Itulah kelebihan Sir Joon yang sudah nyata. "Aku takkan menolak pertolonganmu itu Joon," seru perempuan itu dengan ikhlas, "memang dari tadi pun sudah
32 Mencari Pencuri Anak Perawan
terpikir aku akan mendapat pertolonganmu. Walaupun engkau tidak akan jadi menantuku lagi, aku tetap percaya kepadamu dan engkau kupandang macam anakku juga. Aduhai Joon! Tolonglah Nak!" Perempuan itu menoleh kepada suaminya, kemudian ia berpaling kepada Sir Joon. Pemandangannya, air di telaga, tenang amat. Harapannya pada anak muda itu bukan sedikit. "Jika anak sudah besar dan banyak perbauran, susah awak dibuatnya," ujar tukang ransum itu menyesali dirinya, “jadi apa ikhtiarmu Joon?" katanya pula dengan lembut suaranya. Agaknya sudah hilang malunya, atau barangkali sudah amat bingung, lupa ia bahwa Sir Joon itu, sudah pemah jadi tunangan anaknya, tetapi sudah pula diusirnya, bagai musuh yang dibencinya. "Tetapi," kata Sir Joon pula dengan berbisik, takkah ada bersyak hati, bahasa hal ini perbuatan si Tairoo?" Mata kedua orang tua itu terbelalak, ia amat terkejut. Sejurus panjang hening saja, kemudian sebagai sudah semufakat, keduanya serentak berkata, "Boleh jadi, Joon." Sir Joon mengerling tukang ransum itu, lalu katanya, "Adakah ia pernah kemari?"
"Sekurang-kurangnya sekali tiga hari," jawab yang
perempuan, "kemarin dahulu pun ia datang juga kemari. Tetapi heran, keduanya tak pernah bertemu muka, bahkan bercakap-cakap." "Sekalian itu jangan Ibu rahasiakan," seru Sir Joon dengan ngeran hatinya, "saya tak percaya ia tak pernah bercakap-cakap dengan si Nona. Berlainankah saya dengan si Tairoo? Jangan, tak guna Ibu rahasiakan itu kepada saya, supaya ikhtiar dapat kita jalankan." Anak muda itu terrnenung, matanya kuyu, sebal benar hatinya mendengar perkataan orang tua itu.
33 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Disemburkan bumiaku, Joon," jawab perempuan itu, "jika aku berkata dusta. Tak usah engkau syak-syak hati kepadaku." la mengerling suaminya pula, lalu katanya, "Memang si Nona kurang suka kepadanya. Tetapi ayahmu ini
...." Di situ putus cerita itu dan air matanya bergenang pula.
"Barang yang telanjur tak usah disebut-sebut lagi!" ujar tukang ransum itu mematahkan cakap istrinya itu, "Melainkan sekarang akal kita cari dan ikhtiar kita jalankan." Kamar musyawarah itu sunyi senyap, hanya sekali-sekali kedengaran sayup-sayup gelak Wang Dang di beranda luar. Rupanya ia mulai pula berkelakar. Sir Joon membakar puntung cerutunya yang sudah padam. Asap rokok itu diernbuskannya, hingga mengepul naik ke atas, dewasa itu ia mengerling kedua orang tua itu dan sekali lagi ia menyelami sanubari suami istri itu. Di bibirnya bergumpal pula senyum simpul, maka katanya, "Tetapi jika dipikir sebalik lagi, tak pula masuk ke akal anak Hindi itu mau berbuat ulah. Bukanlah si Nona sudah nyata tunangannya dan saya dengar tengah dua bulan lagi kawinlah keduanya. Tapi, Pak, saya numpang tanya, adakah pula orang yang mengganggu-ganggu perhubungan keduanya?" Orang tua itu termenung sejurus, pertanyaan Sir Joon itu membangkitkan kenangannya kepada masa sebulan yang telah lalu, yakni selagi Sir Joon masih bertunangan dengan anaknya itu, lalu jawabnya, "Sepanjang yang kuketahui tak ada Joon, entahlah ibumu ini." "Kepadaku pun tak ada," jawab perempuan itu, "tetapi dahulu sudah kubayangkan kepada awak, bahwa si Nona kurang berkenan kepada si Tairoo. Tetapi awak kuat juga, sekarang inilah jadinya. Sesalku tak putus kepada awak.
34 Mencari Pencuri Anak Perawan
Kalau pertunangan anakku yang mula-mula tidak disekat-
sekat, agaknya tak begini sudahnya."
"Ssst," berengut tukang ransum itu, "itu tak guna dikaji lagi. Anak tak boleh menguasai orang tuanya." Dalam pada itu ia termenung pula, tampak ia menyesal sudah. tetapi karena ia laki-laki namanya dan barang kali karena yang enam ratus dolar itu, perkataan istrinya itu dipatahnya jua, malu ia mengakui perbuatannya sudah salah. Demikianlah tabiat setengah laki-laki, merasa dirinya lebih berpengaruh daripada perempuan. "Pasal itu jangan kita ulang-ulang lagi," ujar Sir Joon, "marilah kita jalankan ikhtiar!" "Sudah dapat saya pikiran," kata anak muda itu menyambung ceritanya, "biarlah nanti malam saya bawa si Tairoo mengintip-intip. Dalam pada itu nanti kita jalankan muslihat saja. Insya Allah dapat rasanya kita mengajak-ajak si Tairoo. Itu pun kalau benar ulah dia. Dalam pada itu Bapak mencariikhtiaryang lain. Sebuah pula, Bapak perlu menanya- nanyakan ke pangkalan, kalau-kalau ada perahu yang berangkat atau akan berangkat." "Pasal itu, lebih dahulu sudah saya suruh orang memata- matainya. Kabarnya belum ada sampan baik pun peraih yang sudah bertolak." "Syukur," ujar Sir Joon, "kita belum terlambat." "Tetapi, Nak, bagaimana engkau hendak mengintip- ngintip, padahal kakimu sakit, kutengok engkau pun belum pandai benar berjalan," kata perempuan yang menaruh kasihan itu. "Itu perkara kecil," jawab Sir Joon, "saya ada tongkat untuk menolong kakiku dan biar mengingsut-ingsut pun tak mengapa, asal rahasia ini dapat kenyataannya. Hanya sebuah
35 Mencari Pencuri Anak Perawan
permintaan saja. ha! ini jangan dikabarkan dahulu kepada polisi dan kalau ada orang bertanya-tanya, katakan saja si Nona merajuk lan ke tempat mak ciknya. Pandai-pandailah Ibu berahasia supaya yang lari itu jangan tahu banyak penyusulnya. Jika didengarnya mereka itu macam diburu- buru, niscaya makin jauh perginya. Emak tahu sendin dari sini ke Malaka sehari saja." "Baiklah!" jawab kedua suami istri itu. Sir Joon memasang rokoknya sekali lagi, lalu berbangkit, orang tua itu disalamnya, "Saya pulang dahulu!" katanya sambil meraba tongkatnya. Musyawarah itu selesai sudah. Sir Joon digiring oleh perempuan itu hingga beranda. la masih sayang rupanya kepada Sir Joon. Anak muda itu pulang dengan diiringkan oleh kawan-kawannya.
36 Mencari Pencuri Anak Perawan
MENCARI KETERANGAN
ukul satu kurangsedikit, Sir Joon telah duduk-duduk D di atas sebuah dipan. Hatinya girang amat. Lama benar ia bercerita-cerita dengan bujangnya itu. Setelah ia menun- jukkan sebuah surat, ia pun masuk ke dalam kamar, dan membaringkan diri di atas tempat tidurnya. Sebentar-sebentar ia tersenyum. Sepuluh menit kemudian, pelayan itu sudah ada di jalan rayala gelak-gelak seorang dirinya, amat senang hatinya sekali ini, mukanya tak terbayang lagi kecemasan dan bimbang hatinya. Ajaib, belum pemah ia segirang itu. Hari itu baik baginya. la berjalan cepat-cepat membawa surat yang diunjukkan oleh tuannya itu. Tak lama antaranya ia pun telah sampai ke rumah peranakan Hindi itu. Orang muda yang sial itu didapatinya masih termenung-menung menghadapi sebuah meja tulis. la membalik-balik buku dan mulutnya komat-kamit. Tetapi dapat dipastikan ia tak akan mengerti apa-apa yang tersurat dalam buku perniagaan itu, karena sebentar-sebentar ia tertegun dan menarik napas panjang. Oleh bujangtadi surat itu diunjukkannya. "Saya menanti kabar," serunya lambat-lambat. Surat itu disambutnya dengan menggigil lalu tunduk membacanya. Setelah surat itu habis dibacanya, wajahnya
37 Mencari Pencuri Anak Perawan
terang sedikit. la berpaling kepada pelayan itu, lalu katanya, "Katakan pada Tuanmu, aku datang!" Bujang itu menundukkan kepalanya, lalu pulang ke rumahnya. Sang surya yang gagah perkasa, yang dipertuhankan oleh sebagian makhluk dan yang disembah-sembah oleh segala margasatwa, kini mulai menarik dirinya, berlindung di balik tabir aneka warna; maka berangsur-angsurlah ia menyembunyikan wajahnya yang gilang-gemilang itu, seola-olah enggan tampaknya meninggalkan gelanggang permainannya. Tetapi dalam pada itu, ia tahu akan kadar dirinya, bahasa kuasanya pun terbatas dan adalah lagi yang lebih kodrat dari padanya. Sejurus lagi ia pun menyelinap dan lenyaplah dari pemandangan mata, maka hari pun mulailah malam. Ketika itu Sir Joon duduk menghadapi secangkir kopi. Duduknya agak renyang, sebentar-sebentar ia meninjau keluar, tetapi orang yang dinanti-nantinya belum datang. "Benarkah katanya akan datang Tan?" tanyanya kepada pelayan itu dengan kurang sabar. "Benar Tuan," jawab yang ditanya, "dia sendiri mengata- kan itu kepada saya." "Ya, sekarang setengah tujuh, sudah lewat setengah jam." "Kalau begitu biar saya susul Tuan, siapa tahu ia lupa." "Lupa? Pergilah lekas!" perintah anak muda itu agak keras suaranya. Syukur juga pelayan itu tak perlu pergi lagi, karena di luar kedengaran orang mendehem. Ketika itu naiklah si Tairoo. "Duduklah Tuan!" ujar Sir Joon, seraya menyorongkan sebuah kursi.
38 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Saya terlambat sedikit," kata yang datang, "saya ke pasar sebentar membeli ini!" la mengeluarkan sebuah botol,
berisi obat selesma, "Nah sekarang kita mulai."
Keduanya sama-sama berdiam diri, masing-masing berpikir hendak menyelesaikan masalah itu. Kemudian berkatalah Sir Joon dengan berbisik-bisik, "Sebelum saya mengeluarkan perasaan saya, lebih dahulu saya harap Tuan
jangan kecil hati dan salah tampa kepada saya!"
"Tidak Tuan, kalau saya menaruh pikiran yang demikian, tentu saya tak datangkemari." "Kalau begitu besar benar hati saya." Sir Joon mengulur kantangan, keduanya berjabattangan. "Tuhan menjadi saksi," katanya pula. Tempat itu hening sejurus. Maka kata Sir Joon, "Adakah Tuan merasa hati, bahasa orang lain mengganggu-ganggu perhubungan Tuan, atau lebih terang hendak memotong Tuan pula? "Yang saya maklumi, tak ada Tuan." "Syukur! Pernahkah Tuan ke rumah tukang ransum itu, sebelum hal ini kejadian?" Tamu itu tersenyum, "Selalu Tuan,"katanya berterus terang.
"Dan tentu juga Tuan selalu bercakap-cakap dengan
gadis itu, bukan?" "Itu boleh saya haramkan, Tuan." "Jadi, kalau Tuan ke sana, siapakah yang melayani Tuan?" "Tukang ransum itu sendiri, kadang-kadang perempuan tua itu, tetapi sungguhpun begitu, saya acapkali makan dan minum di situ. Saya tahu itu masakan si Nona."
39 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Di mana Tuan tahu makanan itu masakan dia?" "Mudah juga Tuan. Tempoh-tempoh ibunya tak ada di rumah, bapaknya bercakap-cakap dengan saya, sedang makanan sudah sedia." "Keterangan Tuan benar sekali, asal yang Tuan makan itu masih hangat. Tetapi sudahlah! Kita sudah menyimpang. Dan pagi tadi diberitahukan kepada Tuan, bahasa gadis itu sudah hilang, barangkali katanya sudah lari, bukankah begitu Tuan?" "Sebenarnyalah seperti yang Tuan sebutkan itu. la sendiri datang kepada saya mengabarkan kejadian itu, dan ia minta pertolongan saya." "Tuan tentu terkejut dan Tuan datang ke rumah tukang ransum itu akan mempersaksikan sendiri." "la tentulah, Tuan pun maklum sudah." "Tampakkah oleh Tuan, kunci tingkap yang kupak itu?" "Semuanya saya periksa. Kunci itu kupak dan tangga itu saya sendiri memindahkannya. Tetapi bukankah Tuan sudah tahu?" Anak Hindi itu kurang senang lalu katanya, "Saya belum mengerti apa gunanya pertanyaan Tuan sebanyak itu. Atau adakah barangkali menaruh syak hati kepada saya. Perempuan itu saya larikan dan saya pura-pura tak tahu?" Sir Joon bersandar tenang-tenang, kawannya itu direnungnya, seakan-akan ia hendak membaca tulisan yang tersirat di muka anak muda itu lalu katanya sambil memanggang serutunya, "Sekali-kali saya tak menaruh hati kepada Tuan. Perkara itu jangan Tuan cemas, saya percaya sungguh akan diri Tuan. Tetapi ...," katanya; anak muda itu ditatapnya, bagaikan hendak ditelannya, "tetapi takkah
40 Mencari Pencuri Anak Perawan
terlintas di pikiran Tuan, bahasa peristiwa yang ganjil ini perbuatan tukang ransum itu sendiri. Takkah ada sangka-sangka Tuan, ia sekadar pura-pura kehilangan, padahal ... ah, Tuan pun tahu tabiatnya." Tairoo terlompat dari kursinya, mukanya merah padam, ia menggeram-geram. "Boleh jadi Tuan," katanya dua tiga kali. Sir Joon berdiri memegang bahu anak muda itu, "Mengapa Tuan jadi merintang?" katanya, "Duduklah, Tuan, kembali! Bukankah itu baru sangka-sangka kita saja, belum dapat kita buktikan. Boleh jadi agak-agak kita itu tak benar." Tamu itu mengempaskan dirinya ke atas kursi dengan menggeram-geram alamat panas hatinya.
"Berat hati saya, sebagai yang Tuan katakan itu," katanya
sambil menggarut-garut kepalanya. "Kalau Tuan tak keberatan, saya hendak bertanya, sudah berapakah uang yang Tuan berikan kepada orang tua itu?" "Sekali enam ratus dolar dan sekali dua belas dolar,“ jawabnya dengan sangat menyesal, karena uang yang sekian banyak itu rasa hilang cuma-cuma saja. Kuduk Sir Joon terangkat, "Enam ratus, bukan sedikit,"
katanya, "ah, Tuan royal amat."
"Benarlah banyak, Tuan, tetapi kami berjanji uang itu akan dibuatnya pokok berniaga dan separuh nanti, akan dikembalikannya kepada saya." "Adakah orang lain Tuan bawa mendengar mufakat Tuan itu, atau barangkali Tuan membuat surat perjanjian?" Tairoo tersenyum masam dan dengan kemalu-maluan ia berkata, "Tuan pun tahu, perkara itu tak dapat dilakukan di muka orang ramai, waktu itu membuat surat perjanjian pun
41 Mencari Pencuri Anak Perawan
tak terpikir oleh saya. Lagi apa gunanya Tuan? Bukankah anaknya bakal istri saya dan orang tua itu bakal mentua?" "Dari tadi pun sudah terpikir oleh saya, akan, mendapat jawab seperti yang Tuan terangkan itu, tetapi akan membuktikan pikiran saya itu, inilah maka saya tanyakan kepada Tuan. Sangka saya itu tak salah rupanya. Memang patut dirahasiakan. Takdir tepat ke diri saya pun seperti hal Tuan itu, niscayasaya pun tak sudi didengar orang. Tetapi Tuan, surat perjanjian itu perlu.“ Sir Joon mengangkat mangkuknya, "Sudah dingin, minumlah kopi itu, Tuan!"perintahnya kepada si Tairoo. Sudahlah itu ia menyambung ceritanya, katanya, “Takdir orang tua itu tak mengaku menerima uang itu dari Tuan, apakah kata Tuan?" Sahabat baru itu merentang, hingga mangkuk kopi yang dihadapinya itu terpelating. "Itu tak mungkin, saya berani bersumpah," katanya. Sir Joon tersenyum-senyum melihat tingkah kawannya itu, maka katanya pula, "Kalau orang tua itu berani pula bersumpah, bagaimana pikiran Tuan." "Tak sejauh itu pandang saya," jawabnya dengan menggeletar bunyi suaranya, matanya bersinar-sinar dan mukanya pucat, "dia saya adukan." "Kalau dia Tuan adukan, Tuan menerima kekalahan, karena saksi Tuan tak ada, keterangan begitu pula. Wahai! Saya sudah kena Tuan, tetapi tidak sampai tertulang, hanya sepersepuluh dari uangTuan itu.“ "Jadi apakah akal saya," katanya dengan sesak napasnya, seperti sungguhlah sudah ia tertipu oleh tukang ransum itu. Sir Joon tertawa-tawa, "Tuan perasa amat," katanya. "ah, sudah dalam amat kajikita ini. Bukankah yang kita perbincangkan ini agak-agak saja."
42 Mencari Pencuri Anak Perawan
Peranakan Hindi itu diam sejurus, ia insaf akan dirinya. Hatinya reda sedikit. Sir Joon memanggil pelayannya, menyuruh menyedia- kan pakaiannya. "Saya berpakaian sebentar," katanya, lalu ia masuk kekamarnya bertongkat-tongkat. Sekali ini ia agak lama mengenakan pakaiannya hampir satu jam, kemudian ia keluar. Pintu bilik ditutupnya baik-baik dan anak kunci itu diberikannya kepada bujangnya. Baju dan celananya serba hitam dan di lehernya dililitkannya mafela biru. "Kita pergi mengintip-intip," katanya kepada orang muda yang risau itu.
43 Mencari Pencuri Anak Perawan
MULAI BEKERJA
ukul sembilan berbunyi sudah. Bulan belum terbit, di luar amat gelap, karena hari akan hujan. Maka kelihatanlah dua orang manusia berjalan berdekat-dekatan, seolah-olah berpimpin tangan layaknya. Yang seorang itu baik lenggangnya dan tetap langkahnya, tetapi yang seorang lagi pincang, dalam kelam itu berjalan terhuyung-huyung dengan tongkatnya. "Aku berniat-niat, lekaslah turun hujan itu," ujar Sir Joon sambil menyeret tongkatnya. "Itu tak berapa perlu," jawab si Tairoo, "bukankah kita tak mudah dilihat orang, memang dari tadi pun sudah saya sengaja memakai pakaian serba hijau ini.“ "Ya, tetapi bunyi tongkatku ini?" Dalam gelap itu kedengaran gelak keduanya. "Nanti Tuan pergi ke bawah rumah dansaya ke batik perigi!" ujar Sir Joon, "Bukankah di bawah rumah itu masih ada timbunan kayu dan di belakang perigi itu ada pokok pisang?" "Rupanya dari tadi sudah Tuan perhatikan," jawab anak Hindi itu agak riang sedikit, karena ia mendapat kawan yang mau berusaha itu.
44 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Nanti Tuan mendengar-dengar dan saya melihat- lihat," ujar Sir Joon pula, "ya, Allah tertangkap tanganlah hendaknya." Tiba-tiba keduanya tertegun. "Ssst! Apakah itu," bisik si Tairoo. Kira-kira seratus langkah dari mereka berdiri itu, kelihatan kilat api sepintas lalu, kemudian api itu pun padam dan tampaklah cahaya serupa kunang-kunang. "Itu orang,"seru Sir Joon, "mari kita bersembunyi!" Keduanya merangkak ke tepi. Untung juga bendar jedan itu tiada berapa dalam, hingga Sir Joon tak susah amat menyeberanginya. Mereka itu berlindung di balik pohon. Semenit lagi lalulah orangitu, ia memakai baju putih, kainnya disandangnya dan ia berjalan cepat-cepat. Kedua orang muda itu berpandang-pandangan dalam kelam itu. "Bukankah dia itu?" bisik si Tairoo. "Tak salah lagi," jawab Sir Joon, "ke manakah dia gerangan?" "Dia kita turut!" kata anak Hindi itu pula, "Tentu ada maksud si tua itu." "Ini pekerjaan Tuan," jawab Sir Joon, "saya tak dapat menurut, kaki saya sakit. Ayo! Segeralah Tuan, nanti terlambat. Saya menanti di rumah Tuan. Belum habis perintah Sir Joon itu, anak Hindi tadi sudah berjalan. Sandalnya dibukanya dan orang itu diturutnya dengan tiada berbunyi sediki jua pun. Hari bertambah kelam juga. Selang setengah jam antaranya, Sir Joon sudah naik ke rumah tukang ransum itu. Dalam rumah itu, duduk-duduk empat lima orang perempuan menghibur-hiburkan hati
45 Mencari Pencuri Anak Perawan
orang yang malang itu. Tatkala Sir Joon naik tadi, perempuan itu terlompat. "Apa kabar yang engkau bawa Joon?" katanya kepada anak muda itu. "Ibu ini terburu amat," jawab Sir Joon, "sabarlah dulu, kami baru mulai meresek-resek." la langsung ke dalam, kamar gadis itu diperiksanya sekali lagi. Tatkala akan keluar, ia masuk sebentar kebilik tukang ransum itu. Dekat meja tulis, ia tertegun sekejap. "Tinggallah dahulu Ibu!" serunya, "saya hendak menurut Bapak!" la turun. Sekalian perempuan itu ditinggalkannya termangu-mangu. "Sir Joon ini, memanglah orang berbudi," kata seorang dari perempuan-perempuan itu dengan iri hatinya, karena anaknya sendiri selalu menangkar cakapnya, tak indahkan nasihatnya. "Dalam seribu, payah satu," sahut perempuan yang kecemasan itu, "tak berapa pinggan ia makan nasiku, tetapi tengoklah dari pagitadi, ia tidak berhenti-hentinya berikhtiar. Padahal ia sudah pernah diusiroleh abangmu itu.Amboi, kakinya sakit pula." "Itulah," seru yang lain, "kepala sama berbulu pendapat lain-lain. Orang banyak gemar melihat dia, karena perangainya baik, budinya halus. Sayang, Abang itu tak sepaham dengan awak. la lebih suka kepada si Tairoo." "Sudah berkali-kali kami bertengkar," ujar istri tukang ransum itu, "tetapi pinta dia juga yang berlaku. Sir Joon itu, katanya tak tentu asal, entah orang mana, kunang baik dibuat menantu." Perempuan itu mengutuk suaminya. "Ah, kalau dikaji-kaji, si Tairoo itu pun apa pula asalnya," kata yang lain, "tetapi, ya, lah pula dia orang berduit."
46 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Entah, memang abangmu itu keras kepala, tak rnasuk nasihat orang. Kalau dibangkit-bangkit bangsa si Tairoo, ia marah. Sudah buta hatinya, lupa ia si Nona itu...," ia dalam sejurus, "entah anak siapa pula.“ Jika diperhatikan benar-benar buah tutur perempuan itu, nyatalah sebelum bala itu datang, suarni istri itu tidak sepaham daripada pihak memilih menantu. Yang perempuan tertarik hatinya kepada Sir Joon, karena ditakdirkan Tuhan ia orang berpaham sedikit, atau barangkali, tidak diketahui- nya suaminya itu sudah kaya muda, karena menggadaikan anaknya itu. Si laki-laki, memanglah memilih si Tairoo, tak dapat disangkal lagi, sudah kewajiban baginya menerima anak Hindi itu, karena kantongnya berisi. Dua jam berjalan sudah. Sir Joon telah duduk pula di atas sebuah bangku-bangku kayu di halaman rumah sahabat barunya itu. la duduk itu seorang diri, bersenang-senang benar. Sekali-sekali ia menin- jau ke jalan raya, menengok-nengok kalau-kalau yang dinanti- nantinya sudah datang. Di sana sunyi benar, rumah itu berkunci mati, sebuah lampu pun tak ada yang terpasang. Jika tidak karena sesuatu hajat, niscaya orang lain tak sudi duduk-duduk di situ, biar semenit sekalipun. Tetapi sekalian itu tak dapat mengubah niat Sir Joon, manusia yang ganjil itu. Kancing bajunya dikenakannya semuanya dan mafela itu makin dieratkannya ke lehernya, ia bersandar baik-baik. Sebentar lagi ia menengadah ke langit, seolah-olahingin hendak melihat bintang, yang sejak dan tadi tak sebuah jua pun menampakan dirinya. Tiba-tiba ia menoleh ke pintu pagar Bunyi orang tersandung. Maka tampaklah seorang manusia berjalan
47 Mencari Pencuri Anak Perawan
perlahan-lahan, sambil menjingkat-jingkat sebagai pencuri sedang mengintip-intip mangsanya. Tidurkah sudah? Sir Joon menahan napasnya, manusia itu diikutnya dengan ekor matanya. Tak salah lagi orang itu, tukang ransum. Si tua itu melekapkan telinganya ke dinding, sudah itu ia menyusupke bawah rumah. Itu pun tak memuaskan hati agaknya, karena sebentar lagi ia keluar pula. Di muka tangga ia tegak sejurus, sebentar-sebentar ia menoleh ke jalan. la memberanikan hatinya lalu naik ke beranda. Pintu rumah itu diperiksanya. Kedengaran oleh Sir Joon, ia membalik-balik gardu pintu itu. "Rumah ini kosong," berungutnya, lalu ia turun kembali, dengan mengedari dapur ia keluar ke jalan raya. Semenit, lalu pula. Peranakan Hindi itu sudah berantara dua depa dari Sir Joon. la membungkuk mengintai-intai orang tua, yang hampir sudah dua jam diikut-ikutinya itu. "Kemarilah dahulu!" bisik Sir Joon. Si Tairoo terperajat benar, tetapi datang mendapatkan Sir Joon."Di mana dia?" bisiknya. "Sudah pergi!" jawab Sir Joon, "Dia sudah pulang." "Ah, Tuan! Saya tak percaya, dia tentu ke tempat lain. " Sir Joon menarik tangan sahabatnya itu. "Orang itu tak usah kita buru lagi," katanya, "dia sudah pulang, kalau Tuan tak percaya, mari ikutkan saya!" Keduanya berjalan berdekat-dekatan sebagai yang tadi pula. Anak Hindi itu bersungut-sungut dan Sir Joon senyum bergumam. X 42
48 Mencari Pencuri Anak Perawan
DI BAWAH RUMAH
sebatang!" Kotak serutunya diulurkannya kepada kawannya itu. "Terima kasih banyak Tuan," ujar siTairoo, "saya selesma, sudah dua hari saya tidak merokok." "Jauh juga agaknya perjalanan Tuan?" tanya Sir Joon, "Hampir dua jam saya menunggu." "Tidak jauh amat Tuan," jawab yang ditanya, "dia lama singgah ke rumah familinya itu, hampir sejam, Tuan." "Tentu sejam pula Tuan duduk di kolong rumah itu, bukan?" "Saya menyesal sekali, sebab saya tak dapat mendekati rumah itu Tuan." Sir Joon berhenti sebentar, ia berdiri dan bertumpu ke tongkatnya. "Jadi tiadalah Tuan dapat mendengar percakapan kedua mereka itu?" "Apa boleh buat Tuan, karena si tua duduk di bendul dan menghadap keluar, sedang cahaya lampu hampir sampai ke jalan. JikaTuan sudah ke sana, tentu Tuan maklum sudah, bagaimana susahnya masuk ke pekarangan rumah itu."
49 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Ya, sekarang saya teringat, pagarnya kawat berduri belaka, ah, sayang sekali Tuan! Dan sudah itu?" "Sudah itu saya lihat dia turun dan saya segera melompat kepinggir. Saya berlindung pula seperti yang kita lakukan tadi. Tetapi, aduh! Cemas benar Tuan. Betul-betul tentang tempat saya berlindung itu ia memasang rokoknya. Napas saya tahan, saya mematikan diri. Lega dada saya, setelah ia meneruskan perjalanannya. Pakaian kita ini menolong benar
Tuan."
"Sudah itu?" ujar Sir Joon. "Dia saya turutkan. Antara kami lebih kurang seratus langkah. Dekat simpang tiga itu membelok ke kanan dan balik ke rumahnya." "Aneh sekali," kata Sir Joon, sambil menyeret tong- katnya. Yang mengherankan benar, ia tak naik ke rumah itu, melainkan berjalan-jalan dalam kebunnya itu. Boleh dikatakan sekalian sudut-sudut kebun itu dijalaninya belaka; macam ada yang diintai-intainya. Di sini saya lebih beruntung dari di tempat tadi. Benarlah yangTuan katakan itu. Pada timbunan kayu itu, baik benar tempat bersembunyi." "Syukur," bisik Sir Joon, "apakah pendapat Tuan, selama dibawah rumah itu?"
"Tak sebagai jua pun," jawab anak Hindi itu, "kedengaran
perempuan-perempuan yangdi dalam rumah itu bercakap- cakap, tetapi kisah yang lain saja, sedikit pun tak ber- hubungan dengan pekerjaan kita ini." "Jadi perkara si Nona, sedikit pun tidak tersebut-sebut?" "Yang saya dengar tak ada Tuan," jawab si Tairoo. "Ganjil benar,"ujar Sir Joon, "lanjutkanlah cerita Tuan!"
50 Mencari Pencuri Anak Perawan
Anak Hindi itu berpaling ke belakang, melihat-lihat kalau- kalau ada orang yangmendengar percakapan mereka itu; karena tak ada yang mengganggu, lalu katanya, "Sesudah si tua itu sampai ke jalan raya, saya keluar dari unggunan kayu tadi. Dia berjalan terus juga, tetapi tak cepat lagi. Hati saya berdebar-debar dan sangat ingin hendak mengetahui kesudahannya." Peranakan Hindi itu diam pula sejurus, ia menoleh ke belakang, lalu katanya, "Darah saya tersirap, karena saya lihat dia menyimpang ke rumah saya. Saya percepat jalan saya, dia saya intip-intip dari celah pagar. Selanjutnya tentu Tuan lebih mengetahui dari saya." Sir Joon menyumpah-nyumpah, "Jadi," katanya putus- putus, "pendapatan Tuan hampir serupa dengan pendapatan saya, cuma-cuma Tuan berlelah-lelah sampai-sampai dua jam. Letih Tuan tidak berbalas. Ya, memang susah benar mencari rahasia. Patutlah, mata-mata rahasia itu mahal- mahal gajinya. "Astaga!" ujar Sir Joon, sambil melantingkan cerutunya, "kita sudah sampai, hampir asap cerutu itu menyuruh mengejar kita." Di pagar kebun itu keduanya berhenti sebentar. Sir Joon mendindingkan tangannya, "Dengarlah! la sudah ada di atas rumah." Keduanya menyimpang ke rumah itu. Dengan merang- kak-rangkak selamat keduanya sampai keunggun kayu yang di bawah rumah itu. Lebih lima menit tak ada kedengaran apa-apa, kemudian berkatalah istri tukang ransum itu, "Barangkali ia sudah tidur, awak terlambat ke sana." "Itu tak mungkin," jawab suaminya, "karena pintunya berkunci dari luar, lagi pula rumah itu gelap buta."
51 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Berapa orang awak suruhkan mengintip-intip tadi?" tanya yang perempuan pula. "Lima," sahut yang laki-laki. Rumah itu hening pula. Percakapan suami istri itu, sekadar itulah saja yang dapat didengar oleh kedua anak muda itu. Kemudian keduanya meninggalkan tempat itu.
52 Mencari Pencuri Anak Perawan
MUSYAWARAH TENGAH MALAM
alam malam yang seram itu, tampaklah kedua anak
Dmuda tadi berjalan perlahan-lahan, lebih lambat dari
biasa. Tiap-tiap dua puluh langkah, Sir Joon berhenti sebentar memijit pahanya. "Kaki saya bertambah sengal," katanya. "Tuan lama benar mencangkung tadi," ujar sahabatnya itu, "perlahan-lahan sajalah kita berjalan." Akhirnya, keduanya sudah ada di rumah Sir Joon. "Lebih baik kita masuk!" ajak Sir Joon, "Embun sudah turun; bukankah Tuan kena selesma?" Keduanya masuk ke dalam dan SirJoon menutupkan pintu. Setalah Sir Joon menanggalkan baju angkatannya itu, berkatalah ia, "Jadi rupa-rupanya Tuan sengaja diintaikan oleh orang tua itu?" "Tak salah lagi," jawab anak Hindi itu. "Apakah dosa Tuan gerangan, maka diintip-intipnya itu?" "Saya rasa, ia syak hati kepada saya, boleh jadi disangkanyasaya melarikan anaknya itu." Sir Joon membakar serutunya; maka sejalan dengan asaprokok itu, berkatalah ia, "Jadi kalau begitu kita salah raba, bukankah rupanya ulah dia, memanglah anaknya itu
53 Mencari Pencuri Anak Perawan
dilarikan orang. Dan dalam pada itu dia menaruh syak hati kepada Tuan. Buktinya Tuan ditintip-intipnya.
Tairoo menarik napas panjang, laiu katanya, "Boleh jadi
Tuan." "Atau adakah dapat oleh Tuan sebab-sebab yang lain menyuruh si tua itu berbuat demikian?" Yang ditanya itu termenung sejurus, "Barangkali hendak menganiaya saya," katanya dengan tiba-tiba. Sir Joon tersenyum, "Itu pun mungkin juga," katanya. "tetapi boleh dipastikan tak boleh jadi. Bukan mudah menganiaya orang, Tuan."Sir Joon meraba-raba dagunya, maka katanya pula, "Saya berpikir sebab-sebab yang lain pula Tuan. Tadi ia meraba-raba kunci pintu, apakah maksudnya?Kunci itu jadi tanda baginya, Tuan terhindar artinya dalam bepergian, karena pintu itu terkunci dari luar. Kejadian itu menambah syakwasangka saya kepadanya, bertambah-tambah." "Apakah maksud Tuan?"ujar anak Hindi itu dengan kurang sabarnya. "Maafkan saya!" seru Sir Joon sambil melunjurkan kakinya yang sakit itu, "Saya rasa ia ke rumah Tuan itu, kadar hendak mengetahui adakah Tuan di rumah atau tiada." "Jadi?" "JadikalaudiketahuinyaTuandirumah,niscayaleluasalah dia menjalankan komidinya. Bolehlah ia membawa anaknya itu balik ke rumahnya dan mudah pula ia menyembunyikan barang yang berharga itu dengan tak usah takut dimata- matai orang, karena diketahuinya Tuan tak meninggalkan rumah.“ Anak Hindiitu menggigit bibirnya,kemudian ujarSir Joon pula, "Saya rasa ia amat kesal, karena kunci itu berarti
54 Mencari Pencuri Anak Perawan
Tuan tak ada dirumah. Niscaya berat hatinya mengatakan, Tuan mengintip-intip dia. Apalagi hari sudah jauh malam, Tuan belum juga ada di rumah." Si Tairoo terhenyak ke atas kursinya. Giginya digertak- gertakannya dan ia menggeram-geram. “Kalau tak demikian maksudnya, apakah gunanya ia meresap-resap naik ke rumah Tuan tadi? Takdir pun betul- betul ia kehilangan niscaya tak ada satu sebab, menjadikan orang syak hati kepada Tuan. Bukankah anak gadis itu sudah tunangan Tuan? Sebuah lagi Tuan, apa pula ditambaknya ke rumah familinya itu, sebagai yang Tuan katakan tadi, sampai sejam ia di sana. Dan masukkah pula dalam pikiran Tuan, pergi mengintai-intai memakai pakaian putih dan mengisap rokok pula?"
Tairoo diam, bagaikan mabuk. "Tetapi," katanya,
"bukankah orang tua itu mengatakan tadi, ada pula orang disuruhnya mengintip-intip sampai lima orang banyaknya. Jadi siapakah yang dimata-matainya itu?" "Saya rasa, Tuan dan saya," sahut Sir Joon. Mata peranakan Hindi terbeliak, "Apa pulakah dosa Tuan?" katanya dengan ngeran hatinya. "Tadi di rumahnya saya sudah telanjur, saya katakan saya hendak menolong Tuan. Dari dulu pun si tua itu memang segan kepada saya. Dia memandang saya sebagai orang yang amat cakap. Padahal tak sebuah pun kelebihan saya dari orang yang lain-lain. Karena itu tentu Tuan pun maklum. tentu saya sangat dicemburuinya juga. Tetapi seperti Tuan benar tentulah tidak karena diketahuinya tak mungkin tak banyak menolong karena kaki yang sial ini." "Nyata benar saya tertipu Tuan,"ujar anak Hindi itu.
55 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Lagi pula," kata Sir Joon menyambung ceritanya, "di manakah mungkin orang yang kehilangan anak, sudah hendak mengukurtempat tidur, padahal baru pukul satu. Insaflah Tuan." "Jadi uang saya yang enam ratus dolar itu?" "Tuan wajib sabar dan mesti menahan hati," ujar Sir Joon. "tetapikita tak boleh berlengah-lengah, jika terlambat kelak Tuan merugi dan menyesal. Atau adakah sangka-sangka Tuan uang itu sudah habis?"
"Yang tampak oleh saya, belum ada," jawab peranakan
Hindi itu dengan menggeletar bunyi suaranya. “Kalau begitu kita belum terlambat, masih besar harapan kita." Tairoo meremas-remas jarinya, "Besok saya minta."
ujarnya, "atau sekarangkah kita pergi?"
Kepala Sir Joon mendenyut, ia terperanjat, "Tuan sia-sia sekali," katanya, "berurusan dengan peristiwa yang semacam ini, kita wajib berlaku halus dan mesti hemat benar. Jika terlintas di hatinya Tuan dengan sengaja hendak menarik uang itu, dari genggamannya, niscaya terjadilah sebagai cerita kita semalam. Tuan jangan lupa, orang akan rela menjunjung sekalipun menginjak Quran sepuluh kali, asal
yang enam ratus itu diperolehnya."
Anak muda yang sangat kecemasan itu menarik napas panjang, "Tuan berilah saya ikhtiar!" katanya dengan gusar dan iba hatinya. Lima ratus pun balik, jadilah Tuan." "Perkara itu tak bisa saya jamin," sahut Sir Joon, "tetapi marilah sama-sama kita pikirkan sampai esok pagi!" "Saya menurut nasihat Tuan saja," ujar anak Hindi itu dengan sebal hatinya. Kepalanya penuh dengan serba
56 Mencari Pencuri Anak Perawan
macam pikiran yangmembingungkan dia dan menumpulkan otaknya. Padanya tak mungkin diperoleh pikiran yang waras amat. "Seakal-akal saya, Tuan akan saya tolong," kata Sir Joon sesudah berdiam diri sejurus, "sekarang sudah pukul dua. Di sinikah Tuan bermalam?" "Terima kasih," jawab anak Hindi itu, "di rumah saya tak ada orang, saya mesti pulang Tuan. Selamat tinggal, Tuan!" Sir Joon mengantarkan sahabatnya itu sampai ke tangga. Tatkala peranakan Hindi itu akan menurun, berbisiklah Sir Joon, "Besok Tuan mesti juga singgah ke sana," katanya, "dan berlaku macam biasa. Sekali-kali jangan Tuan nampakkan hati Tuan. Nah selamat jalan sampai besok pagi."
57 Mencari Pencuri Anak Perawan
CINCIN INTAN
Sir Joon masuk ke dalam. Di tempat duduknya tadi ia berdiri sebentar. Keningnya dikerutkannya, pemandangannya kuyu saja, kepalanya penuh dengan pikiran. Bimbang dan sangsi amat tampaknya. Akan tetapiajaib sungguh; setelah dua tiga kali asap serutunya itu mengepul mengatasi rambutnya yang ikal mayang itu, maka matanya yang kuyu dan pemandangannya yang suram itu bersinar kembali, senyumnya yang memikat hati itu pun balik bergumul di bibimya. Sekali-kali tidak terlukis di mukanya kebimbangan hati dan beratbeban yang dipikulkan oleh sahabatnya itu ke atas bahunya. Maka seolah-olah dalam saat beberapa menit itu, dapatlah sudah ia jalankan menolong sahabatnya itu. Lima menit kemudian ia sudah berbaring-baring di tempat tidurnya. Tatkala sang matahari menunjukkan senyumnya, Sir Joon telah siap berpakaian dan adalah ia menghadapi semangkuk kopi di kamar makannya. Tangan kirinya memegang sebatang cerutu yang belum dibakar,sedang tangan kanannya menggenggam sebentuk cincin. Cincin itu emas cina, tidak berapa berat amat, akan tetapi permatanya tersembul keluar wamanya air laut. Gemerlapan cahayanya ditimpa sinar matahari yang memancar dari tingkap rumah
58 Mencari Pencuri Anak Perawan
itu. Dengan senyum kegirangan cincin itu dimasukkannya balik ke dalam tempatnya, yang terbuat dari kulit tipis berlapiskan beledu sutra. Jika tempatnya itu saja tak dapat seringgit maka cincin itu pun tidaklah murah harganya. Kalau dinilai dengan harga pertengahan, niscaya permata cincin itu tiada diperoleh dengan duit lima ratus dolar saja. boleh jadi cincin itu seribu ringgit harganya. Harta siapakah gerangan benda yang mulia itu? Selang setengah jam antaranya peranakan Hindi itu sudahdatang. Matanya masih lesu dan pemandangannya amat suram. "Apakah berita yang Tuan bawa?" tanya Sir Joon, setelah sahabatnya itu mengenyakkan dirinya ke atas kursi. "Bertambah celaka, Tuan," sahutnya dengan kurang pengharapan "Tuan pencemas amat!" ujar Sir Joon, "Sifat Tuan itu kurang baik, apalagi dalam hal serupa ini. Hendaklah hati Tuan pelapang. Sekarang ceritakanlah, Tuan! Apakah yang Tuan lihat tadi?" "Pukul enam saya sudah ada di rumah orang tua itu, tetapik saya jadi heran Tuan, kedua orang tua itu tak berapa suka bercakap-cakap dengan saya. Pertanyaan saya dijawabnya dengan masam muka saja. Pendeknya saya kurang diindahkannya."
"Adakah Tuan tanyakan juga anak gadis yang hilang itu?"
"Ada Tuan, tetapi jawabnya tak memuaskan hati. Seakan- akan ia menaruh hati kepada saya." "Apakah jawabnya?" "Apakah maksud Tuan?" ujar anak Hindi itu.
59 Mencari Pencuri Anak Perawan
Sir Joon mengeluarkan kotak cincin tadi dari dalam sakunya, "Inilah penipunya," katanya dengan tersenyum- senyum. Tairoo merebut kotak itu, dan dengan tergopoh-gopoh dikeluarkannya cincin tadi. "Apakah ini?" katanya dengan membelalakkan matanya. "Tuan terkalah!" ujar Sir Joon. Cincin itu dibalik-dibalik oleh peranakan Hindi itu, "Intankah ini, Tuan?" "Saya bukan jauhari," ujar Sir Joon, "tak tahu mengenal permata, tetapi cincin ini mahal harganya." "Kalau begitu pastilah intan," kata sahabatnya itu, "berapakah harganya, Tuan?" "Lima ratus," sahut Sir Joon, "itu pun bukan pula rupiah. Ah, saya barangkali salah beli, Tuan." "Jadi lima ratus dolar," ujar anak Hindi itu sambil membalik-balik cincin tadi. Sir Joon tertawa-tawa, "Maafkan saya," katanya, "cincin ini saya beli lima ratus sen. "Kalau begitu limadolar," kata si Tairoo, “jadi apakah matanya ini?" "Rupanya Tuan pun bukan jauhari," ujar Sir Joon, "permata ini kaca tulen, tetapi dicanai seperti intan dan harganya hanya lima puluh sen saja." "Orang boleh terkecoh," kata peranakan Hindi itu.
“Lebih-lebih kalau Tuan memakainya," ujar Sir Joon,
"orang berduit niscaya tak seorang pun manusia di sini menyangka cincin itu, cincin kaca. Pastilah katanya intan. Dan sekarang Tuan pakailah cincin itu! Inilah akan menipu si tua itu."
60 Mencari Pencuri Anak Perawan
Anak Hindi itu masih bingung, "Bagaimanakah dia dapat menolong saya," katanya. "Tak sampai sesusah berdiang," kata Sir Joon, "Nanti si Tan, pura-pura meminta uang kepada Tuan sebanyak lima ratus dolar. Katakan pembayar harga barang yang datang pagi tadi. Dan pelayan itu kita suruh pura-pura bergegas- gegas dan dikatakannya nanti kapal hampir akan berlayar. Tenth Tuan tidak akan diberi tempo lagi mengambil uang itu ke rumah. Waktu bersesak-sesak itulah nanti Tuan meminjam uang si tua itu sebanyak lima ratus dollar dan berikanlah cincin ini jadi andalan. Dalam pada itu pandai pulalah saya mengada-ngada.“ Mula-mula peranakan Hindi itu bimbang hatinya, tetapi kemudian matanya bersinar-sinar, alamat ia sepakat akan petunjuk Sir Joon itu, "Jadi sekaranglah kita pergi Tuan!" katanya dengan besar hatinya. "Sekaranglah yang sebaiknya," ujar Sir Joon. "Sebentar lagi kapal berangkat, Tan! Kemari sebentar!" Pelayan itu datang sebentar itu juga dan berdiri di sudut meja. "Sudah mengertikah engkau yang kukatakan tadi?" tanya Sir Joon kepada pelayan itu. "Lebih dari mengerti Tuan," jawabnya dengan riang hatinya, "nah! Setengah jam lagi, engkau datang!" "Baiklah, Tuan!" Kedua sahabat itu serentak tegak, lalu keluar menuju rumah tukang ransum itu. "Saya tak tidur semalam ini," ujar Sir Joon, "paha saya macam diiris, sebentar ngilu sebentar sengal.“
61 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Sebenarnya, kalau tidak perkara yang sepenting ini, saya tak sampai hati mengajak Tuan. Besarlah utang saya kepada Tuan." "Itu perkara lain," sahut Sir Joon, "Tuan tak berutang budi kepada saya. Ini kemauan saya sendiri. Takdir tidak pun Tuan minta tolong, lamun saya rasa wajib menolongTuan. Saya tak mungkin dapat menolong Tuan dengan uang tetapi dengan ikhtiar dan tenaga, sudah kewajiban saya. Perkara itu tak perlu Tuan hiraukan amat." "Jika Tuan merasa wajib menolong saya, saya pun wajib pula meminta terima kasih kepada Tuan. Lihatlah ujung tongkat Tuan itu, belum cukup dua hari Tuan pakai sudah aus. Itulah saksi kebaikan Tuan itu kelak di akhirat." "Itu sudah berlebih-lebihan amat," kata Sir Joon, "sama- samalah kita berdoa, mudah-mudahan makbul dahulu maksud kita ini." Tatkala kedua sahabat itu telah sampai ke rumah tukang ransum itu, telah ada di sana dua tiga orang laki-laki dan perempuan tengal-bercakap-cakap. Air muka tukang ransum itu masih keruh, kecemasandan gelabah hatinya masih tergambar di mukanya. Kedua sahabat itu langsung ke dalam. "Apa kabar, Ibu?" ujar Sir Joon kepada istri tukang ransum itu. "Tiada kutahu lagi," sahutnya, "apakah berita yang sudah kau dengar Joon?" "Belum sebuah pun yang memberi bukti," jawab Sir Joon, turut-turut bersusah hati, "sampai ke manakah Bapak malam tadi," tanyanya kepada tukang ransum itu.
62 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Sudah jauh rantau yang ditempuh, tetapi mungkin tak ada harapan," jawabnya. la mengerling bakal menantunya itu. Syak wasangka bertempur dalam kalbunya. "Dan Tuan?" ujar Sir Joon kepada peranakan Hindi itu. “Semalam-malaman ini menjelajah, tetapi belumlah saya mendapat kabarnya." "Ajaib sekali," kata Sir Joon, sambil meletakkan tongkatnya dan duduk melunjur ke dekat orang tua itu. Tiba-tiba naiklah pelayan tadi dengan bergegas-gegas. Napasnya turun naik dan bajunya basah karena peluh. "Kongsi Tuan itu perlu uang lima ratus dolar," katanya. "Apa gunanya?" tanya anak Hindi itu. "Akan pembayar harga kain yang datang pagi tadi," sahut pelayan itu, "lekaslah Tuan, kapal hampir berlayar." Peranakan Hindi itu tergagap-gagap hendak pulang menjemput uang yang lima ratus dolar itu, "Tunggu sebentar! Aku mengambil uang ke rumah," katanya kepada pelayan itu. "Jika akan ke rumah dahulu, tak mungkin, Tuan," ujar pelayan itu, "kapal hampir berangkat. Pos sudah turun Tuan." "Jadi bagaimana kita perbuat," ujar si Tairoo, "saya tidak membawa uang." "Akal Tuan pendek amat," ujar Sir Joon. Tangan kiri sahabatnya itu ditariknya, lalu cincin intan palsu itu dihunuskannya dan jari peranankan Hindi itu, "Berikan dulu uang itu, Pak!" katanya kepada tukang ransum itu sambil mengulurkan cincin tadi ke tangan si tua itu. "Bapak peganglah dahulu cincin ini, buat sementara," katanya pula sambil menentang mata orang tua itu.
63 Mencari Pencuri Anak Perawan
Melihat cincin itu, orang tua tadi terkejut. Cincin itu digenggamnya, lalu masuk ke dalam kamar. Sebentar kemudian, ia keluar membawa segumpal uang kertas, lalu diulurkannya kepada bakal menantunya itu. Oleh peranakan Hindi itu, uang tadi dilemparkannya kepada pelayan itu dengan tidak dibilangnya lagi. "Berlarilah!" katanya, "nanti engkau kuberi upah." Pelayan yang setia itu meluncur ke bawah dan beberapa menit kemudian sudah tak tampak lagi "Jadi apakah usaha Bapak sepagi ini?" tanya Sir Joon kepada tukang ransum itu, yaitu sesudah awan mendung yang di muka peranakan Hindi itu melayang ditiup angin. "Aku belum dapat berikhtiar," jawab orang tua itu, "sebelum orang-orang yang kusuruh semalam tiba kemari!" "Mudah-mudahan orang itu membawa kabar baik," ujar
Sir Joon.
"Barangkali ia sudah meninggalkan negeri ini," kata perempuan tua itu dengan bergenang air mata. "Ibu ini tak masuk nasihat," ujar Sir Joon sambil menghampiri orang tua itu, "belum tentu ujung pangkalnya, sudah hendak memutuskan harap." "Saya dengar Tuan pun ada menyuruh orang mencari- cari jejaknya," tanya Sir Joon kepada sahabatnya itu, "sudahkah Tuan diberinya kabar?" "Sampai sekarang orang itu belum bersua dengan saya, jawab anak Hindi itu. "Ketiganya kita hampir senasib," kata Sir Joon menyambung percakapannya. "Saya pun ada juga menyuruh orang, tetapi sampai kini saya belum melihat puncak
64 Mencari Pencuri Anak Perawan
hidungnya. Mudah-mudahan salah satu dari pesuruh- pesuruh kita itu membawa kabar baik kepada kita." "Mudah-mudahan Nak," keluh perempuan tua itu. "Sekarang kita mulai pula meresek-resek," ujar Sir Joon kepada peranakan Hindi itu, "marilah berjalan pula!" "Saya menurut," sahut anak Hindi itu dengan lega dadanya, karena lima ratus dollar itu sudah dalam tangannya.
x
65 Mencari Pencuri Anak Perawan
KEMARISYAK KESANASANGKA
"Jadi Tuan pulang dahulu, atau di sinikah kita makan?" ujar Sir Joon, setelah sahabatnya itu memasukkan duitnya yang lima ratus itu ke dalam sakunya.
"Saya pulang dulu, Tuan, perlu mengganti tidur saya yang
dua malam ini; sekarang dapatlah rasanya saya mengambil istirahat kembali, untuk tidur beberapa jam. Nah! selamat tinggal, Tuan! Sampai bertemu lagi." "Selamat jalan!" seru Sir Joon. Sahabatnya itu dibela- kangkannya dan ia masuk ke dalam. Selang seperempat jam kemudian, kedengaran bunyi langkah orangnaik. Pintu terkuak dan sebentar lagi, masuklah si Dul. "Selamat pagi, Sir," katanya dengan tertawa-tawa. "Terima kasih," sahut Sir Joon, sambil menyorongkan sebuah kursi, "duduklah Dul!" "Apakah kabarnya orang yang hilang itu Joon?"tanyanya, setelah ia menduduki kursi itu. "Kepalaku pusing," jawab anak muda itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belumkah dapat angin-anginnya?" "Sedikit pun belum. Sudah semalam-malaman ini kami berjaga-jaga, tetapi riaknya pun belum tampak, hanya pahaku sakit kembali."
66 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Ya, Sir, engkau memerlukan orang amat, sedang dirimu sendiri tak berapa engkau acuhkan." "Bukankah kewajiban menolong sahabat?" Si Dul tertawa-tawa. "Jadi bersahabatkah sudah engkau dengan peranakan Hindi itu?"
“Tak salah lagi, sejak dan malam kami macam adik-
beradik." "Memang engkaulah manusia yang amat ganjil, Joon." "Namailah aku sekehendak hatimu! Tetapi aku tetap mengatakan, aku orang biasa. Hanya orang yang tak mau menolong sahabatlah, yang kukatakan ganjil." "Tunggu dahulu, Joon! Adakah engkau menaruh syak, bahwa anak gadis itu sudah meninggalkan negeri ini? Atau masih adakah ia di sini?" "Pertanyaanmu itu tak mungkin kujawab dengan benar, karena memberi timbangan kepada benda yang tak tampak itu, bukan perkara mudah, banyak di dalamnya mengandung dusta."
"Terkaanmu biasanya banyak yang tepat dari yang
salah, Sir." "Kalau engkau ada menaruh keyakinan serupa itu, baiklah. Aku mengucap terima kasih dan dengarlah pendapatku tentang manusia yang gaib itu. Jika boleh aku menghitung, niscaya yang pertama aku katakan ia sudah meninggalkan negeri ini. Yang kedua, ia dilarikan orang di sini juga dan yang ketiga ia disembunyikan orang." Si Dul tertawa-tawa, "Agaknya terlalu banyak terkaanmu itu, Sir,“ katanya, "tetapi yang dalam ketiga itu, manakah yang berat amat?"
67 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Aku pun belum dapat memberi keputusan, tetapi engkau tentu dapat memberi timbangan. Sekiranya kita hendak mengetahui pasal yang pertama tadi, apakah yang perlu kita siasat, Dul?"
"Tentulah sekalian orang yang mempunyai perahu
besar, apalagi?" "Jadi yang menaruh perahu kecil, tak perlu kita hiraukan bukan? Apakah sebabnya?" "Sebab dengan perahu kecil, burung cenderawasih itu takkan berani mengarung selat Malaka dalam musim buruk ini." "Aku sepaham dengan engkau, Dul. Tetapi takkah mungkin rasanya ia menumpang kapal ke Singapura?" "Tak boleh jadi, Sir. Seberani-berani pencuri itu, takut juga kepada manusia. Tidak. la takkan berani menunjukkan dirinya kepada manusia yang sudah lapar akan wajahnya itu." "Benar sekali, kita sependapat pula. Dalam dua hari ini, hanya perahulah yang kusuruh intip-intip, tetapi belum sebuah pun yang meninggalkan negeri ini. Jadi tentang itu, apakah timbanganmu?" "Apalagi, ia masih ada di sini, asal yang engkau katakan yang sebenarnya, artinya tak sebuah pun sampan yang sudah bertolak. Yakinkah engkau?" "Orang yang kusuruhkan itu, bukan bangsa pendusta, Dul." "Kalau begitu, masih syukur, Sir. Dan sangkaan yang kedua?" "Yang kedua, anak perawan itu dilarikan oleh tunangan- nya peranakan Hindi itu dan si bedebah itu pura-pura tidak berbuat salah."
68 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Boleh jadi juga. Tapi apakah buktinya?" "Tentang ini, aku hampir tak dapat memberikan keterangan. Hanya kuketahui anak perawan itu kurang suka akan dia. Rahasia anak gadis itu diketahuinya. Jadi bukankah masuk pula ke akal, disuruhnya orang lain jadi perantaraan merayu-rayu anak dara itu dengan jalan duit. Engkau pun tahu orang mudah tertipu, karena benda yang mulia itu. Maklum pulalah engkau orang yang berpangkat 'mak buyung', di negeri ini bukan seorang dua." "Tetapi apa perlunya dia mencucurkan air mata dan turut-turut bersusah payah, mengitai-intai ke sana kemari?" "Itu tipu belaka." "Adakah barangkali engkau lihat tingkah lakunya menyalahi dari biasa?" "Itulah memusingkan kepalaku. Tak sebuah jua. Kalau sebenarnya hal ini oleh dia, maka dialah manusia yang secerdik-cerdiknya dalam negeri ini." "Mengapa engkau berkata begitu, Sir?" Sir Joon termenung sejurus, "Kalau sungguh perbuatan dia, aku pun sudah tertipu. Uang yang lima ratus dolar itu, sudah diterimanya kembali dengan muslihatku." Maka sekalian peristiwa cincin intan itu, diceritakannya kepada sahabatnya itu. Si Dul tertawa terkekeh-kekeh, "Engkau cerdik sekali, Joon," katanya. "Besar hatiku mendengar si tua itu terperdaya oleh cincin intanmu itu. Sudah lebih dari patut ia memperoleh bagian yang serupa itu. Apakah katanya kelak, apabila diketahuinya cincin itu bukan intan?"
69 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Itu perkara dia dengan menantunya, aku tak campur lagi. Dan kini aku hendak membicarakan pasal ketiga. Aku menaruh syak pula kepada tukang ransum itu." Sahabatnya itu memperbaiki duduknya. Bagaimana pula Joon," katanya.
"Hatiku berat pula mengatakan, bencana ini buat-buatan si tua itu saja."
"Jadi syak pula hatimu, si Nona itu disuruhkannya dan ia pura-pura kehilangan?" "Memanglah!" "Pasal yang kedua itu lebih masuk ke dalam akal dari yang kedua tadi. Siapa tahu uang yang enam ratus itu kurang banyak lagi, jadi dengan jalan inilah ia menarik-narik ringgit peranakan Hindi itu. Apalagi diketahuinya cinta si Tairoo sudah mendalam. Agakku inilah yang benar, Joon." "Sebuah lagi, Dul, yang memberatkan dugaanku, malam tadi, aku pergi mengintip-intip berdua dengan peranakan Hindi itu. Tak salah rasanya ..." Sekalian yang terjadi malam tadi habis diceritakannya kepada sahabatnya itu. "Kalau begitu, perempuan itu pun bandit," berungut si Dul, "bukan sebarang-barang rupanya suami istri itu. Hentikanlah pekerjaanmu ini, Joon! Percuma saja engkau bersusah payah, menolong orang yang tidak berhajat akan pertolongan."
"Terima kasih atas nasihatmu itu, Dul! Sayang sekali
pikiranmu singkat amat. Rasa hatimu sudah setimbangkah dosanya dengan cincin intan itu? O! Sekali-kali belum. Itu belum seperempat dosanya. Aku hendak menunjukkan kepada manusia yang banyak ini, bahasa si loba itu menggadaikan anaknya dan diperbuatnya pemancing duit orang. Dan kalau pekertinya yang manis itu tertangkap
70 Mencari Pencuri Anak Perawan
tangan, disaksipula oleh orang banyak, niscaya lima betas sen pun si tua itu tak laku lagi. Orang lainlah awas bolehlah awas dan berdaya-daya jangan sampai terjerumus pula ke dalam perangkap si loba itu. Mengertikah engkau akan maksudku?" "Tentu mengerti, asal maksudmu itu sampai." "Itulah yang hendak kusampaikan sekuat-kuat tenagaku, dalam pada itu kuharap juga akan pertolonganmu. Asal engkau dapat menyampaikan berita-berita yang berhubung dengan perkara ini, itu pun memadailah." "Tak usah pun engkau minta, lamun itu akan kuperbuat, tetapi rasanya dalam seminggu ini, pekerjaan ini belum berhasil."
"Jika tak cukup seminggu, kita panjangkan dua minggu.
Itu perkara kecil." "Keduanya termenung sejurus. "Nanti malam aku hendak memanggil si tua itu kemari dan dua tiga orang yang lain. Dia hendak kubawa mengintai- intai. Jika sudah sampai dua tiga jam dia kubawa berjalan- jalan dan bercakap-cakap, tak boleh tidak adalah dua tiga langkahnya yang sesat dan perkataannya yang terdorong. Itulah yang kuharap nanti menjadi anak kunci, pembuka rahasia ini. Sungguh pun begitu, sebagai yang kukatakan tadi, aku selamanya menanti berita-berita daripadamu." "Sekalian yang kudengar akan kukabarkan kepadamu, Joon. Makin lekas terbuka rahasia ini, makin puas rasa hatiku. Nah! Karena engkau akan berjaga-jaga nantimalam, ambillah siang ini voorschottidur. Aku datang ini, kadar bertanyakan itu saja. Kerjaku tinggal karena ingin-inginan saja. Selamat tidur Sir!" la tegak dari kursinya lalu turun.
x
71 Mencari Pencuri Anak Perawan
MEMBURU PENCURI
ukul delapan, katanya, dia akan datang kemari, Tuan," ujar pelayan itu kepada Sir Joon, yaitu setelah ia pulang dari rumah tukang ransum itu "Tentu tidak dia seorang saja, sebagai yang aku perintahkan bukan?" "Tidak Tuan, dia datang kemari nanti dengan dua orang kawannya." "Baik! Sudahkahengkausiapkan sekalianyang kukatakan tadi?" "Selesai Tuan, atau adakah lagi barangkali yang perlu saya sediakan?"
"Cukup! Hanya engkau jangan ke mana-mana dahulu,
barangkali engkau masih perlu lagi menolong aku. Nah. pergilah bekerja." Pelayan itu mengangguk. lalu pergi ke dapur. Sir Joon duduk bersandar pada kursinya. Asap cerutunya mengepul ke udara. Dahinya dikerutkannya. Pada masa itu ia tengah berpikir-pikir. Kemudian ia tersenyum-senyum seorang dirinya. Kerut dahinya hilang pula. Ganjil benar, dalam beberapa menit saja, telah dapatlah ia menyelesaikan pikirannya yang kusut masai itu. Kini ia bersandar pula dengan aman dan tenangnya. Dari dalam saku bajunya, dikeluarkannya sebuah buku peringatan yang sudah lusuh
72 Mencari Pencuri Anak Perawan
amat romannya. Kertas buku itu dibaliknya selembar- selembar. Tetapi ini pun tak lama pula, pekerjaan itu lekas tamat dan buku itu dimasukkannya, "Nanti kita mulai bercakap-cakap." "Orang tua itu sudah ada di halaman," seru pelayan itu. Sir Joon berdiri lalu pergi keluar. Tukang ransum itu bersama-sama dengan dua orang pengiringnya dipersilakan- nya naik. Setelah tamu-tamu itu menduduki tempatnya masing- masing, Sir Joon menyorongkan tempat rokoknya. "Merokoklah dulu!" katanya, "nanti kita mulai bercakap-cakap." Ketiga tamu itu mengeluarkan tangannya dan semenit kemudian mengepullah asap serutu dalam kamar itu. Sir Joon melipat tangannya ke atas meja, maka katanya: "Maksud saya memanggil Bapak ini, ialah akanber- embuk mufakat, mencari ikhtiar dan akal akan memperoleh yang hilang itu. Tetapi saya numpang bertanya dulu. Tidakkah Bapak rasa keberatan, percakapan kita ini didengar oleh orang yang dua orang ini?" Tukang ransum itu menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kedu orang ini tempat aku menaruhkan rahasia," katanya, "sengaja keduanya kubawa akan menolong aku." "Syukur!" seru Sir Joon. sekarang kita mulai, Tan! Kemari sebentar!" Bujang itu datang berlari-lari, "Apa, Tuan?" tanyanya. Anak muda itu menggamit pelayan itu ke dekatnya. "Engkau jaga di luar!" Perintahnya kepada orangnya itu. "Tengok-tengok kalau-kalau ada orang datang kemari. Ingat, engkau jangan merokok-rokok!" "Baik Tuan!" Jawab pelayan itu, lalu keluar.
73 Mencari Pencuri Anak Perawan
“Jadi adakah sudah Bapak mendapat angin-anginnya, tentang yang kita perkatakan semalam?" tanya Sir Joon kepada tukang ransum itu. Orang tua itu berpikir-pikir sebentar, kemudian, "Belum," katanya, "tetapi sepetang ini ia tak datang ke rumah lagi, entahlah kalau malam ini." "Itu pun suatu alamat duga," ujar Sir Joon, "jadi hanya pagi tadilah saja ia ke rumah? Sudah itu tak datang lagi." "Sampai sekarang aku belum melihat mukanya." Keempat orang itu berpandang-pandangan seorang dengan seorang. "Sampai ke manakah Bapak malam tadi?" tanya Sir Joon. Orang tua itu menggarut kepalanya, "Sampai jauh malam aku mengintai-intai, tidak juga bertemu. Ke rumah- nya pun aku pergi, tetapi rumah itu terkunci mati dari luar." Kepala Sir Joon terangkat. "Takkah Bapak dengar- dengarkan, kalau-kalau ia ada di dalam dan kunci pintu sekadar akan menyesatkan kita saja?" "Itu pun tidak aku lupakan, tetapi apa pun tak ada yang kudengar." "Tatkala ia datang tadi, apakah ceritanya kepada Bapak?" "Dia tak tidur semalam-malaman ini, karena pergi mengintai-intai katanya."
"Adakah Bapak tanyakan, siapa-siapa kawannya pergi
itu?" "Aku lupa." "Ah, sayang benar, kalau kita ketahui kawannya itu, dapatlahkitamembujuk-bujuknya. Biarpun kitaterpaksa keluar dua tiga dollar, itu tak mengapa. Sayang sungguh."
74 Mencari Pencuri Anak Perawan
Orang tua itu termenung, menyesali dirinya karena belum cekatan itu. "Kalau sekiranya bencana ini memang perbuatan si Tairoo mungkinkah si Nona mau bersembunyi di rumahnya?"
"Itu tak masuk ke akal, jawab orang tua itu, karena ..."
ia tertegun sebentar, "karena si Nona tak berapa suka kepadanya." “Sebenarnya itulah perlunya maka Bapak saya panggil kemari, karena hendak mengetahui jelasnya. Ibu pun sudah juga mengatakan bahwa si Nona tak bersenang hati dijodohkan dengan si Tairoo. Dan inilah pula yang menyusahkan pekerjaan kita. Kedua pengiring tukang ransum itu berpandang- pandangan, "Kami belum paham maksud Tuan itu?" katanya dengan heran hatinya. "Sudah juga terpikir kepada saya, si Tairoo itu tak mau menaruh gadis itu di rumahnya, atau lebih benar memang tak dapat membawa si Nona ke rumahnya, karena bagai mengulang yang Bapak katakan tadi, si Nona tak cinta kepada peranakan Hindi itu. Lagi pula dirumahnya tak seorang pun perempuan akan jadi kawannya. Tetapi di balik itu, kita jangan lupa bahasa peranakan Hindi itu orang cerdik. Menurut pendapat saya pastilah sudah disuruhnya seorang dua membujuk merayu si Nona. Dalam pada itu tentulah oleh perempuan-perempuan itu, si Nona dikenyangkannya dengan harapan dan kehendak hatinya diperturutkan dan kabul belaka. Kita pun maklum berhadapan dengan hal yang serupa ini, buaya darat itu tait sayang membuang uang.
"Tetapi sebaliknya pula," ujar pengiring tukang ransum
itu, "sudah terang ia tak suka akan si Tairoo, mengapa pula ia mau dipujuk-pujuk orang?"
75 Mencari Pencuri Anak Perawan
Sir Joon tersenyum, "Di sini jarang kejadian," katanya, "kalau di negeri ramai, boleh dikatakan sudah jadi permainan orang, bukan luar bisa lagi. Saya mengaku mak buyung-mak buyung itu orang bijak belaka. Ada-ada saja jalan yang akan ditempuhnya menyampaikan niatnya itu. Yang selalu dipakainya, ialah anak gadis itu dijodohkannya dengan seorang jejaka yang jelita dan tampan. Dalam pada itu ia tak lupa membawa potret seorang pemuda yang patut dirindukan oleh anak gadis-gadis. Dikatanyalah gambar itu, potret jejaka yang menaruh hati kepadanya. Tiap-tiap barang yang diberikannya disebutlah kiriman dari anak muda itu. la takkan segan merugi-rugi barang sepuluh dua puluh dolar, asal maksudnya hasil, apalagi yang dibiayakannya itu bukan titik peluhnya. Apabila si gadis itu sudah terjebak ia pun dapatlah berkeras. Siapa yang keluar duit tadi dialah yang berhak. Ah, bukan satu bukan dua, sudah banyak yang saya lihat. Tukangransum itu narik napas. "Di negeri besar, selalu kejadian serupa yang kauputuskan itu," keluhnya. Sir Joon mengerling orang tua itu dengan ekor matanya, lalu katanya, "Siapakah perempuan-perempuan di sini yang biasa melakukan perbuatan durjana itu?" Yang ditanya itu diam sejurus, kemudian katanya, "Yang kukenal tak ada, entahlah orang yang dua ini." "Kami pun tak tahu," ujar kedua tamu itu. Mendengar itu pemandangan Sir Joon suram dan kuyu. Jawab tamunya itu tak memuaskan hatinya atau barangkali tipu muslihatnyaterkandas. Kamar musyawarah itu sunyi sebentar. "Siapakah perempuan-perempuan yang biasa datang ke rumah, sebelum hal ini terjadi Pak?"
76 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Aku kurang ingat. Yang kuketahui perempuan- perempuan yang berdekatan rumah, tetapi semuanya kenalan baik belaka, entahlah yang tak terkenang olehku, maklumlah sebelum hal ini terjadi tak ada kenang-kenangan akan memperhatikan sekalian itu. "Heran sekali," berungut Sir Joon. Tengah Sir Joon dilambung ombak bimbang itu, pelayannya masuk dengan bergegas-gegas. "Orang datang, Tuan," serunya. Musyawarah itu terhenti, maka sunyilah kamar itu, "Suruhlah ia masuk kemari!" ujar Sir Joon, yakni sesudah itu tertegun sejurus. Pelayan itu pergi keluar. Semenit lagi ia masuk diiringkan oleh seorang anak muda yang kurang bersih pakaiannya dan segenap bajunya bertabur ubar. Lekas juga dikenal, orang itu biasa melaut, "Tabik, Tuan!" katanya kepada Sir Joon, yaitu sesudah ia mendekati anak muda itu. Dari ikat pinggangnya dikeluarkannya sepotongsurat berlipat-lipat, hingga surat itu tinggal sebesarjari. Itu diunjukkannya kepada Sir Joon. Surat yang berlipat-lipat itu dibuka olehSir Joon, lalu dilurut-lurutnya dua tiga kali akan melicinkannya. Surat itu dibacanya, tampaklah segenap perhatiannya diperguna- kannya akan memaklumi isi surat itu. Tiba-tiba ia terlompat dari kursinya, "Jadi ia memberikan surat ini kepadamu?" katanya kepada orang yang datang itu. "Ya, Tuan," jawab anak laut itu dengan tergagap-gagap. "Kabar buruk, Pak!" ujar Sir Joon sambil berdiri, "Surat ini datangnya dan si Hamid, yaitu seorang daripada orang yang saya suruh jadi mata-mata, mengintai-intai sampan. Dengarlah Pak.
77 Mencari Pencuri Anak Perawan
Tuan! Tuan beri tahu kepada tukang ransum itu, si Nona dengan anak muda yang tidak saya kenal dan beberapa orang pengiring-pengiringnya, dalam beberapa jam lagi hendak bertolak ke tanah seberang. Lekaslah! Pasang sudah mulai.
Hamid Tukang ransum itu menggeletar dan Sir Joon meng- geram-geram karena panas hatinya. "Semenit pun tak boleh berlengah-lengah lagi," katanya, "Tan, bawa kemari tongkat dan baju hujanku!" Keempat mereka itu serentak berdiri, lalu turun ke tanah, "Bukankah orang yang mengirim surat itu masih ada di pangkalan?" tanya Sir Joon kepada pembawa surat itu.
"Saya tinggalkan tadi ia masih di situ dan ia berpesan
akan menanti di sana juga." "Adakah engkau tahu jalan memintas?" "Ada Tuan, tetapi jalan tikus, semak lagi banyak meniti batang." "Kalau diturut jalan biasa, barangkali kita tak sampai dalam dua jam." "Kalau selambat ini, saya rasa pun tak sampai." "Jadi jalan memintaslah kita.“ Kira-kira dua ratus langkah lagi, mereka itu menyimpang kekanan menurut jalan kecil. Benarlah jalan itu semak sudah. Belum sampai sejam mereka itu berjalan pada jalan tikus itu, telah tiga kali Sir Joon jatuh. Tetapi hatinya batu, tenaganya baja. Segala rintangan itu tidak menghambat niatnya, malah tukang ransum yangtua itu dapatjuga dilombanya. "Lekaslah Pak!" katanya kepada tukang ransum itu dua tiga kali.
78 Mencari Pencuri Anak Perawan
Mereka itu berjalan juga. "Jauhkah lagi?" ujar Sir Joon. "Tidak Tuan, di balik tanjung itu," jawab yang ditanya, "menyimpanglah ke kiri kita melintas pula!" Sir Joon menurut perintah pandu itu dan berjalan lebih cepat, hingga tongkatnya itu macam tak jejak ke tanah lagi. Tanjung itu lepas sudah. Maka tampaklah pangkalan itu, tetapi tidak nyata amat. Di sana berdirilah dua tiga buah rumah nelayan, tempat mereka itu menjemur ikan dan mengeringkan pukat. Dalam itu, hanya sebuah sajalah yang ditunggu orang, hal itu mudah diketahui, karena cahaya lampu dalam teratak itu jelas kelihatan, sedang pintunya pun ternganga pula. Sejurus lagi keluarlah seorang dari pondok itu, lalu turun menyongsong orang-orang yang datang itu. "Saya berniat-niat supaya Tuan lekas sampai," katanya dengan tergopoh-gopoh, "saya baru datang pula dari kuala." "Apakah yang kaulihat di sana?" tanya Sir Joon. "Dua buah sampan peraih berlabuh kira-kira seratus tanah dan muara. Kedua sampan itu terang benderang. Kabarnya sejam yang sudah kedua sampan itu masih bertambat di muara dan sekarang sudah menjauh ke tengah. Keduanya sudah menarik layar, tetapi belum ditambatkan tali kelat. Bersedia sekali tampaknya." "Tahukah engkau orang yang punya sampan itu?"
"Tidak Tuan. Itu bukan sampan orang di sini."
"Tidakkah ada orang di sini mempunyai sampan yang serupa itu?" "Ada Tuan! Ada tiga buah, tetapi ketiganya masih bertambat dimuara. Ketiganya bermuat arang bakau. Besok
79 Mencari Pencuri Anak Perawan
baru bertolak. Tetapi waktu jangan dibuang lagi, turunlah Tuan ke kolek ini, kita berkayuh ke kuala. Di sanalah nanti Tuan persaksikan." Keenam orang itu masuk ke dalam kolek itu dan sesaat lagi kedengaranlah bunyi orang mengumpil dan berdayung. Kolek itu hilirkan sungai. “Jadi di manakah kautahu, orang yang kami cari ada di sampan itu?" tanya Sir Joon, kepada si Hamid tukang dayung itu. "Sudah dua tiga kolek menyondong undang mendarat kemari Tuan, dan dari mereka itulah saya mendapat kabar. Itulah saya baru memberi tahu kepada Tuan." Dalam gelap itu maka tampaklah pula cahaya pelita mengejip-ngejip, makin lama makin dekat. Akhirnya, bertemulah mereka itu dengan sebuah kolek, mudikkan sungai. Tukang dayung itu menyuruh kolek itu berhenti sebentar. Semenit lagi kolek itu sudah bergandeng. "Dari manakah ini?" Tanya Sir Joon kepada orang sampan itu. "Dari laut," jawabnya sambil mendekatkan pelitanya, “kami balik dari menahan ambai." "Adakah Tuan Tuan melihat dua buah perahu besar berlabuh dekat muara?" "Ada Tuan, kami pun tadi singgah ke situ." "Hai. siapakah yang Tuan-Tuan tengok dalam sampan itu?" "Kami tak kenal akan penumpangnya, tetapi di sampan itu banyak orang-orang perempuan dengan laki-laki serba ada." "Sampan yang manakah berisi perempuan-perempuan itu?"
80 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Kedua-duanya Tuan; tetapi tidak kami periksa amat, karena perempuan-perempuan di dalam kurung. Orang di sana bersuka-suka tampaknya." "Adakah Tuan-Tuan tanyakan tuju pelayaran mereka itu?" "Ada Tuan, tetapi entah mana yang benar. Sebuah mengatakan hendak ke Melaka, sebuah lagi hendak ke Batu pahat. Ada pula mengatakan hendak ke Muara." "Nah terima kasih," ujar Sir Joon, "berkayuhlah, Hamid!" Kolek itu melancar pula menempuh sungai yang kelam lengang itu. Sayang tak dapat dilajukan amat, karena pasang sudah menyundak. Kesudahannya sampailah mereka itu ke kuala sungai tadi danbenarlah pula, di sana bertambat tiga buah sampan. Yang sebuah berisi arang bakau. Di dalam perahu yangbermuatan itu, duduk tiga orang merokok- rokok. Pelitanya mengejip-ngejip diembus angin. Kolek itu rapat ke sana. Sesudah si Hamid mengebatkan koleknya ia pun menun- juk."Tuan itulah dia," katanya. Sekalian isi kolek itu menuju- kan matanya ke tempat yang ditunjukkan oleh tukang dayung itu. Maka kelihatanlah, bagaikan sayup, antara ada dengan tiada di dalam kelam itu dua buah sampan berdekat-dekatan. Layarnya yang berkelepai-kelepai nyata juga dipandang dalam malam yang bersuluh bintang itu. Dan dari dalam kurung itu memancarlah sinar lampu keluar, hingga gemerlaplah tampaknya air laut di sekeliling perahu itu. "Jadi apa akal kita," ujar Sir Joon. "Sampan itu kita dapatkan," sahut tukang ransum itu dengan gemas hatinya. "Kita semuanya tak mungkin masuk ke dalam kolek ini,“ kata Sir Joon, "laut sudah berombak."
81 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Tapi makin banyak kita ke sana tentu makin baik," ujar tukang dayung itu. Agaknya hati menaruh cemas, "siapa tahu ada apa-apanya. Biarlah saya pinjam kolek yang lebih besar. "Naiklah dulu Tuan-Tuan kemari," ujar tukang arang itu, "biarlah mereka berdua menjemput kolek yang tertambat itu. Tukang arang itu meluangkan tempat. Pelita tadi diangkat oleh si Hamid dan dipindahkannya ke haluan. Sejurus lagi keempat pemburu manusia itu telah naik ke atas sampan orang itu.
82 Mencari Pencuri Anak Perawan
SURAT KETERANGAN
ekalian mata yang datang itu bulat menentang perahu
Sdua serupa tadi.
"Astaga!" Seru Sir Joon, "Lihatlah! Bukankah sampan itu sudah bergerak?" Tukang ransum itu berdiri. Matanya terbeliak dan mulutnya ternganga, "Allah dia berlayar, kita terlambat, kolek kita belum tiba," keluhnya mengutuki nasibnya. Sekalian manusia itu penuh kecemasan. "Dia kita ikutkan!" seru Sir Joon dengan tiba-tiba, "jangan kita lepaskan! Maukah Tuan-Tuan duit?" katanya pula kepada tukang arang itu dengan tergopoh dan sesak dadanya, "Tuan-Tuan akan kami beri upah yang patut.“ "Ke mana Tuan?" tanya tukang arang itu. "Sampan ini kami sewa dan Tuan-Tuan turutkan sampan itu barang ke mana perginya, "Bukankah Tuan-Tuan hendak berlayarjuga?" "Benarlah Tuan," jawab orang sampan itu, "tetapi Tuan lihatlah kedua sampan itu sudah bercerai tidak seiring lagi. Yang manakah yang kita turutkan Tuan?" Sir Joon menggeram-geram, "Jahanam itu pandai benar," berungutnya, "Bapak turutkanlah yang sebuah itu dengan sampan ini dan yang sebuah lagi itu, biar saya turutkan
83 Mencari Pencuri Anak Perawan
dengan sampan yang lain pula. Adakah sampan sewaan yang lain?"Teriaknya kepada si Hamid yang sudah datang dengan koleknya. "Jika dicari tentu ada, Tuan." "Pergilah engkau ke pangkalan, carikan orang yang punya sampan yang sebuah ini dengan dua tiga orang
kawannya. Katakan upahnya kulipat dua dari biasa."
Anak muda yang disuruh itu mengangguk. la memaling- kan haluan koleknya, "Insya Allah setengah jam lagi sampan sedia,"katanya. Sir Joon memandang pula ke sampan yang sudah bertolak itu, "Tengoklah jalannya tak berapa laju, mengingsut-ingsut," katanya, "saya rasa ia hanya berhanyut-hanyut saja. Dalam pada itu kedua sapan yang akan dibuni itu sudah jauh juga ganggangnya, keduanya berpecah haluan. "Tak mungkin Pak," seru Sir Joon, "Bapak mengikutkan yang ini!" Dia menunjukan kepada sampan yang sebelah kiri, "Dan saya mengikutkan yang di kanan itu." la melompat ke pelantar tempat sampan itu bertambat, "Ayo! Kejarlah oleh Tuan-Tuan!" Perintahnya kepada si sampan itu, "Tetapi adakah Bapak membawa uang?" tanyanya kepada tukang ransum itu. "Ada," jawab orang tua itu. "Nah, ini lagi tambahnya, Pak," katanya, "siapa tahu Bapak sampai ke seberang."Lalu diulurkannya uang kertas sepuluh dolar dua lembar. Anak perahu itu mengorak talitambatan. Akan tetapi, sebelum tali itu habis terungkai, Sir Joon melompat kembali dengan tongkatnya ke dalam sampan itu, "Saya teringat," katanya, "takdir saya bersua dengan si Nona, dan dia bersikeras tak mau menurutkan kami, apakah akal saya Pak?"
84 Mencari Pencuri Anak Perawan
Orang tua itu termenung sejurus. Perkataan Sir Joon itu termakan hatinya, "Engkau minta pertolongan negeri!" katanya. "Tentu negeri pun tak memercayai saya, jangan-jangan saya dapat bencana pula karena itu, siapa tahu saya disangkanya hendak menipu. Ah, bala kita." "Jadi apa akal kita?" ujar orang tua itu. Sir Joon tertegun, dahinya berkerunyut, "Tak ada jalan yang lain," katanya, “selain dari kita membuat surat keterangan palsu. Dalam surat itu Bapak nyatakan bahasa si Nona itu sudah istri saya dan dikeraskan pula oleh kedua orang ini sebagai saksi. Atau adakah Bapak mendapat akal yang lain?" "Itu sajakah!" jawab tukang ransum yang kecemasan itu, karena dilihatnya sampan yang akan diburunya itu makin jauh, "Adakah kertasmu, ayo! Tulislah!" Sir Joon meraba saku bajunya dan dari dalam saku itu, dikeluarkannya sepotong kertas berlipat. Kertas itu dilicinkannya. Mujur juga dalam sampan itu ada dawat dengan alat penulisnya. Rupanya orang perniagaan itu sudah memandang, perkakas tulis-menulis itu barang yang tak boleh dilupakan pula. Surat keterangan itu lekas siap. Sir Joon membacakan isinya, lalu ditandatangani oleh tukang ransum itu, demikian juga oleh pengiringnya itu, sebagai saksi. Kemudian surat itu dilipat oleh Sir Joon, lalu dimasukkannya ke dalam saku bajunya dan ia melompat pula ke pelantar, "Selamat jalan!" serunya. Perahu yang diburu itu sudah jauh. akan tetapi apinya masih nyala kelihatan. Maka oleh sampan pemburu manusia itu ditariklah layar dan cip. Maka berlayarlah ia perlahan-
85 Mencari Pencuri Anak Perawan
lahan bagaikan enggan tampaknya menyusul perburuan itu,
apalagi angin lemah sekali hampir tak sanggup menegang-
kan layar. Tetapi adalah juga yang membesarkan hati mereka itu, karena perburuan itu masih tampak juga. Jadi dia pun tak mungkin meninggalkan dengan tiba-tiba saja. Apalagi, ia tak mengetahui orang menyusul dia. Sampan itu berlayarlah juga, berturut-turutan dalam kelam yang mendahsyatkan itu.
86 Mencari Pencuri Anak Perawan
DUA SEJOLI DI KOLONG LANGIT
yahdan pada keesokan harinya, saat fajar mulai
menyingsing dan lautan masih berselimutkan kabut kelabu putih. Maka tampaklah pada bekas sampan yang dua buah semalam, sebuah kici besar bertiang dua. Sungguhpun hari masih kelam, awak kici itu sudah bangun dan berkeliaran belaka. Mereka itu sedang asyik membersihkan kici itu. Kurung dan geladak sudah bersih, perkakas-perkakas teratur pula. Tempat siapakah yang disiapkan oleh mereka itu atau kadar hendak menunjukkan kasih sayangnya sajakah kepada "Seri Bulan" kici yang sudah separuh umur itu?Dengan demikian jadilah Seri Bulan bertambah muda dan ia pun menegun ada tali sauhnya, amat hebat tampaknya. Sejam berjalan sudah. Cahaya samsu mulai membayang. Kuning merah seribu warna telah membentang di kaki langit. Indah dipandang, molek ditengok. Laksana dewi turun bersiram. Dalam pelukan keindahan alam yang lenggang merayukan itu, maka kelihatan sebuah perahu keluar dari muara, menuju Seri Bulan. Dalam perahu itu duduk seorang perempuan, dua orang laki-laki dan adalah pula dua orang mendayungkan perahu itu. Setelah perahu itu mendekat, maka awak Seri Bulan menurunkan tangga dan sebentar lagi naiklah ketiga musafar
87 Mencari Pencuri Anak Perawan
itu ke atas geladak. Segala barang dan bekal-bekalan dinaikkan belaka lalu dimasukkan ke dalam kurung. Sudah tukang dayung tadi mengucapkan selamat jalan, Seri Bulan pun membongkar sauh. Layar ditarik dan ketika itu juga berlayarlah ia dengan amannya. Maka berserulah Sir Joon kepada pelayannya itu, "Tan! Sediakanlah makanan kami; perutku lapar amat. Barang-barang ini biarlah aku kemaskan." Pelayan yang setia itu tersenyum, "Sekarang Tuan tentu sudah dapat menolong saya," katanya, "bukankah tadi pagi kaki Tuan yang patah itu sudah sembuh." Anak muda itu tertawa-tawa, "Engkau nakal amat," katanya. Dalam pada itu ia mengerling si Nona yang duduk di sisinya itu. Anak gadis itu menjeling kekasihnya maka katanya, "Engkau berhutang budi kepada pelayan itu." Kedua asyik dan masyuk itu berpandang-pandangan. Dari kilat mata keduanya memancarkan sinar kasih dan cinta yang tulus dan ikhlas. Yang tak mungkin putus begitu saja, selagi hayat di kandung badan. Itulah bahagia kasih sayang. Sang surya makin maherat, terik samsu berubah sudah. Tadi panas membakar jangat, kini reda menglipur lara. Dewasa itu duduklah Sir Joon dengan si Nona di atas sebuah bangku-bangku di buritan Seri Bulan, yang dengan tenaga layarnya menyibak air. Kedua kasih-mengasihi dan cinta- menyintai itu lengah memandang tabir samsu aneka warna. "Sekarang dapatlah sudah engkau agaknya mencerita- kan sekalian tipu muslihatmu itu kepadaku Joon," ujar anak gadis itu dengan senyumnya, “atau belumkah lagi engkau menaruh kelapangan?" Sudah lebih dari lapang, manisku," jawab yang ditanya, "bukankah engkau kusimpan ke dalam kalbuku?"
88 Mencari Pencuri Anak Perawan
Anak gadis itu melengos, "Kuncilah pintunya erat-erat," katanya, "supaya jangan ia dicuri orang pula." "Agaknya pekerjaan ini tidak demikian langsungnya," demikian Sir Joon memulai ceritanya kepada pencuri hatinya itu, “jika orang putih kapal perang itu tidak langsung mengajak kami beradu bola. Mulanya aku sudah khawatir, kalau-kalau permainan itu diurungkan saja, karena hari hujan. Mujurlah juga keesokan harinya permainan itu menjadi juga. Sebenamya aku sedikit pun tidak disinggung oleh orang putih itu; tetapi aku dapat menjatuhkan diriku tengah orang bergelutamat, hinggatak seorang pun menyangka perbuatan itu aku sengaja. Bahkan kebanyakan orang cemas, kalau-kalau aku mati di situ juga. Ada juga aku berniat sehari sebelum itu menimpang-nimpangkan kaki, dengan menga- takan aku jatuh waktu memanjat, tetapi kemudian terpikir pula, kalau-kalau orang banyak kurang percaya akan kataku itu karena orang tak ada yang melihat. Maksud itu aku urung- kan dan menjatuhkan diri dalam gelanggang permainan itulah yang kulakukan. Lebih aman rasanya, karena beratus, ya, hampir separuh orang menyaksikan aku separuh mati itu. Dengan demikian tiadalah seorang manusia boleh bersangka dalam dua atau tigahari aku dapat sembuh benar." “Kalau begitu engkau lebih nakal dari pelayan itu," ujar si Nona. Lengan anak muda itu dicubitnya kuat-kuat. Cubit yang serupa itulah agaknya yang dikatakan orang cubit geram yaitu siksaan yang memberi kesenangan.
"Yang sangat kukhawatirkan,"ujarSir Joon menyambung
ceritanya, "ialah malam aku melarikan engkau itu. Aku takut kalau-kalau pelayan itu masuk langsung ke dalam kamar tidurku; karena sebagai engkau ketahui juga dia tak berbeda dengan engkau, yaitu sama-sama kasih kepadaku."
89 Mencari Pencuri Anak Perawan
Si Nona menggigit bibirnya. Sekali lagi ia mencubit kekasihnya itu. “Tetapi untunglah ia tak langsung masuk ke dalam kamar itu, sekadar mengintai dari pintu saja. Dan situ tampaklah kepadanya di atas tempat tidur itu Sir Joon buatan, yaitu dua buah bantał guling aku selubungi dengan selimut. Jika dipandang dari jauh, tak ubah seperti manusia yang tidur berselubung. Kalau diketahuinya yang teguling itu bukan Sir Joon, niscaya ia keluar mencari-cari dan bertanya- tanyakan aku, takdir sampai terjadi serupa itu niscaya batal- lah niat kita ini." Cenderawasih itu tersenyum simpul, "Engkau cerdik sekali," katanya mabuk keriangan. "Paginya pun aku bimbang pula yaitu ketika si Tan mengabarkan pendengaran dan penglihatannya malam itu kepada empat lima orang kawan-kawanku. Untunglah ceritanya itu tak masuk ke dalam akal yang mendengarnya. Dan dia pun lekas pula aku sesatkan. Kukatakan itu angan- angan belaka. Yang tampak olehnya hanya bayangan badanku, bukan Sir Joon sejati. Heran aku mengapa sebentar itu jua akumendapat petunjuk akan meragukan pelayan itu." "Mengapa engkau tak mufakat lebih dahulu dengan pelayan itu, supaya jangan salah raba," ujar si Nona, merasa dirinya lebih pandai sedikit dari orang yang di sisinya itu. "Aku belum berani," sahut Sir Joon, "aku takut ia tak percayaakan maksudku itu, sebelum dapat disaksikannya dengan matanya. Itukah maka ia kukecoh sebentar. Tatkala aku pulang mengantar dari pondok Mak Minah itu, maka selendang yang kusakukan itu, kulumuri dengan lumpur dan kucabik-cabik, kemudian kujatuhkan ke jalan yang
90 Mencari Pencuri Anak Perawan
menyimpang ke darat. Tak seorang juga manusia menyangka engkau bersembunyi di pondok Mak Minah itu, karena ia tak kenal orang sedang ke rumahnya pun ia tak pernah. Lagi pula selendang itu didapat mereka pada jalan yang lain. Niscaya jalan yang sesat itulah diturut oleh mereka itu." "Tetapi aku rugi dua dolar, harga selendang itu," dakwa anak gadis itu, "patut engkau ganti!" Sir Joon mengeruk saku dalamnya, lalu dikeluarkannya dompet duitnya. Dan dalam dompet itu dikeluarkannya lima lember uang kertas, "Inilah ganti selendang itu," katanya. Dompet itu di rebut oleh kuntum delima itu, "Engkau orang kaya," katanya sambil memasukkan tempat duit itu ke dalam saku kekasihnya kembali. "Siang harinya hatiku kurang senang pula memikirkan engkau, aku khawatir kalau-kalau orang sampai juga ke tempat persembunyian itu. Itulah maka engkau dijemput oleh pelayan itu waktu senja hari, yaitu sedang kebanyakan orang sembahyang magrib, karena kuketahui mustahil orang akan mengintai-intai senja hari. Dan lagi baju hujan yang kaupakai dan topi itu pun niscaya menolong jua, takdir pun bersua dengan orang, saat senja berebut malam itu. Tentu engkau pun lebih senang bersembunyi di kamar pelayan itu daripada di dalam pondok yang tak berapa bersih." "Itu memanglah," jawab si Nona, "karena tempatku bersih dan orang tak mungkin datang ke sana." "Ah, engkau lupa mengatakan," ujar Sir Joon dengan tersenyum-senyum, "karena karena engkau selalu dapat pula melihat aku." Anak gadis itu mengingal, karena terkaan kekasihnya itu tepat benar ke harinya, "Ulahmu juga," katanya tersipu- sipu.
91 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Keesokan harinya aku bertongkat-tongkat pergi ke rumah orangtua itu. Tongkat bertuah itu membersihkan diriku. Tidak seorang manusia pun menaruh syak hati atas diriku; karena orang patah dimana dapat melarikan anak orang. Di sana orang tua itu aku bual dan kuragukan pula, kukatakan bencana itu perbuatan bakal menantunya itu dan kepada peranakan Hindi itu kukabar pula bala itu, ulah orang tuaitu saja. Aku tahu dalam hal serupa itu orang mudah percaya saja cerita-cerita orang. Dalam pada itu kedua orang itu kutolong. Akhirnya, syak hati masing-masing sudah berurat berakar, hingga aku dipandangnya sudah seperti nabi, sangat yakin dan percaya akan diriku. Itulah pula yang kuharap-harap. Pagi malam kusuruh si Hamid mencari-cari sampan yang hendak berlayar keseberang dan kebetulan adalah dua buah sampan hendak melayarkan ikannya ke Malaka. Kuperintahkan kepada anak sampan itu menanti dulu sebelum ada kabar dari aku. Sekalian perintah itu diturutnya dengan senang suka hati, karena saku mereka itu diberati dengan uang. Kemudian kupesankan pula kepada si Hamid, ia harus mengirimkan surat ini kepadaku pukul sembilan malam." Sir Joon mengeruk saku celananya, lalu surat yang dan si Hamid itu dikeluarkannya, "Inilah surat itu," katanya. "Tentu kamiterkejut dan kami burulah pergi ke pangkalan dan hilirkan sungai ke muara. Apakah yang kami lihat? benarlah ada dua sampan terkatung-katung, lampunya terang benderang. Sekalian itu telah lebih dulu kuatur. Mereka telah siap akan berlayar, kadar menunggu perintah saja." "Bagaimana engkau memberi perintah sejauh itu?"tanya anak gadis itu agak heran sedikit.
92 Mencari Pencuri Anak Perawan
Sir Joon tertawa-tawa, "Engkau lupa, aku lepasan orang laut,"katanya, "kami naik ke atas sampan tukang arang itu dan saat itulah memberi alamat. Si Hamid mengangkat pelita tinggi-tinggi lalu dipindahkannya ke haluan sampan. Itulah tanda yang sudah kami janjikan. Melihat alamat tadi sampan yang dua buah itu mulailah berlayar." "Jadi si Hamid itu berbudi benar," ujar si Nona terbangun, karena asyik mendengar cerita pencuri hatinya itu. "Memanglah," ujar Sir Joon, "tetapi sungguhpun begitu, pengetahuan dalam perkara ini, hanya hingga itulah saja. Jangan pula engkau sangka aku berani menceritakan perbuatanku melarikan anak perawan yang kugilakan itu." Cenderawasih itu menggeram pula, "Betullah engkau kepala perampok," katanya memuji abangnya itu. "Orang tua itu kusuruh menurutkan yang sebuah dan aku berjanji akan mengikutkan yang lain. Dalam bergulut-gulut dan cemas-cemasan itu aku melakukan pekerjaan yang sesukar-sukar dan semahal-mahalnya. Orang itu kusuruh menandatangani surat ini. Dengarlah kubacakan: Yang bertanda tangan di bawah ini Dago, tukang ransum di Bengkalis menerangkan bahasa orang yang memegang surat inibernama Sir Joon aannemer di Bengkalis juga, sudah saya kawinkan dengan anak saya yang bernama Nona. Jadi berhaklah ia kepada anak saya itu, sebagai hak suami atas istrinya. Bengkalis pada 22 juli 1875,
Dago.
Saksi-saksi:
- Giran.
- Kamis.
93 Mencari Pencuri Anak Perawan
"Jadi," kata Sir Joon dengan tertawa-tawa, "Menurut bunyi surat ini, engkau sudah istriku, karena kita sudah kawin." Putih kuning itu menepuk-nepuk anak muda itu. Surat itu dirampasnya dan bergagap hendak melemparkannya ke dalam taut. Sir Joontertawa-tawa, "Kuupah engkau kalau berani," katanya. Akhirnya surat itu disembunyikannya ke dalam bajunya. "Bukankah surat itu tak ada harganya lagi?" katanya sesudah sari menepuk bahu anak muda itu. "Inilah yang mahal itu," jawab Sir Joon, "jika tidak karena ini lamatah sudah kita sampai ke Singapura." Anak gadis itu heran rupanya, maka katanya, "Bukankah dengan tidak memakai surat, maksud kita akan sampai juga?" "Benar manis, tetapi surat itu jadi perisai. Takdir peranakan Hindi itu berkeras mengatakan aku melarikan tunangannya dan ia mengadakan saksi barang selusin, ke manakah aku akan berlindung?" "Engkau kusembunyikan ke dalam bajuku," jawab anak gadis itu tersipu-sipu, lalu merebahkan dirinya ke dalam pangkuan anak muda itu.
X
94 Mencari Pencuri Anak Perawan
KENANG-KENANGAN
Tiga tahun kemudian.
yang kedua dalam sebuah gedung batu di kampung Gelang Singapura, adalah sepasang manusia suami istri duduk-dudukdi atas sebuah dipanberseperaikan beledu antalas. Syandan jika direnung wajah dua sejoli itu, dengan renung firasat, tiada sebuah pun tanda bahkan alamat yang boleh menggerakkan hati, membersihkan kelamin manusia itu menyesali muhibbat antara keduanya. Sebaliknya antara kasih-mengasihi itu, tersimpullah tali cinta bahagia tersepuh mati yang tak mungkin lekang di terik panas dan lapuk di lebat hujan. Dan adalah wajah muda kelana itu, bagai dahulu juga; suatu rahmat baginya, bagaikan tak mempan kesaktian dewa "kala" meruntuhkan air mukanya. Hanyalah paras indah yang di sisinya, berasing sedikit. Lesung pipinya, begitu pula senyum simpulnya tiada beranjak, hanya romannya bertambah tua sedikit dari masa tiga tahun yang silam. Hal itu di sebabkan oleh kekuatan tarik dan paksaan keadaan yang sinarkan oleh seorang makhluk dalam kamar itu juga. Siapakah dia? Di atas ribaan seorang perempuan yang sudah berubah rambutnya, menggelepar-gelepardantertawa-tawa,seorang
95 Mencari Pencuri Anak Perawan
kanak-kanak delapan bulan usianya. Sebentar-sebentar anak yang comel itu menoleh kepada ibu dan bapaknya, yaitu dua sebaya yang duduk di atas dipan tadi. Maka kedengaran- lah gelak bergema dalam kamar itu. Dan ketika itu mengerlinglah Sir Joon kepada istrinya si Nona itu mengerling perempuan beranak satu-perempuan berparas ajaib karena parasnya bertambah molek-oleh bahagia dan sinar anak kandungnya itu. Sesungguhnya di sini bolehlah sudah cerita ini ditamat- kan. Akan tetapi, masih tampak-tarnpak lagi pembaca- pembaca karena ada ketinggalan beberapa baris lagi. Di sinilah saya lengkapi. Siapakah perempuan yang sudah beruban itu? Si tua itu ialah ibu si Nona istri tukang ransum yang dahulu. Dalam tiga tahun ini ia jauh bertambah tua, agaknya karena kecemasan dan kesusahan hati yang dahulu itu mendatangkan melarat atas jasmaninya. Suami istri itu, yaitu Sir Joon dan si Nona, diberi Allah telah sampai pada wujud perkawinan, yaitu anak kesayangan. Tatkala perempuan tua itu mencium-cium pipi cucunya, maka berkatalah ia dengan tersenyum-senyum, "Kuharap engkau upik, jika sudah remaja kelak, janganlah senasib dengan ibumu pula, dicuri dan dilarikan orang." Mendengar itu, Sir Joon menunduk dan si Nona menutup mukanya. Dalam beberapa detik itu terkenanglah oleh sepasang kelana itu masa yang sudah-sudah, yaitu tiga tahun yang lalu.
96 Mencari Pencuri Anak Perawan
TENTANG PENGARANG
Suman Hasibuan, begitu nama lengkap sastrawan yang terlahir di Bengkalis pada tahun 19o4 ini. la mengenyam pendidikan Sekolah Melayu di Bengkalis tahun 1912-1918. Kemudian bersekolah di Sekolah Normal di Medan dan Langsa hingga tamat tahun 1923. Selain menjadi pengarang, Suman Hs. pernah menjadi guru bahas Indonesia di HIS Siak Sri Indrapura dari tahun 1923 sampai dengan 193o. Selain itu, ia juga menjadi Kepala Sekolah Bumi Melayu di Pasir Pengairan pada tahunm 193o. Pada masa penjajahan Jepang, ia menjadi Penilik Sekolah, anggota Sagikai Giin (DPR model Jepang), anggota Komite Nasionał Indonesia do Rokan Kanan/Kiri. Sastrawan ini juga turut aktif bergerilya dan sempat menjadi Komandan Pangkalan Gerilya Rokan serta anggota Staf Gubernur Militer Riau. Saat menjadi Kepala Jawatan dinas P & K Pekan Baru, Kampar, ia juga tercatat sebagai penilik sekolah. Tahun 196o hingga 1966 menjadi anggota Badan Pemerintahan Tingkat I Riau. Tahun 1966 sampai dengan 1968 tercatat sebagai angota DPR provinsi Riau. Jabatan terakhirnya adalah Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Riau. Suman Hs. meninggal di Pekanbaru, Riau, pada 8 Mei
- la meninggalkan warisan berupa karya-karyanya seperti Kasih takTerlerai (novel, Balai Pustaka, 1929), Percobaan Setia
97 Mencari Pencuri Anak Perawan
11-0459 (novel, Balai Pustaka, 1931), Mencari Pencuri Anak Perawan (novel, Balai Pustaka, 1932), Kawan Bergelut (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1938),dan beberapa karya lainnya.
PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
98 Mencari Pencuri Anak Perawan