TIDAK DIPERDAGANGKAN UNTUK UM UM
B )5 981 JL [l
° r -'1:>01-O ---- 4 ( \ ,::-':-- . ':. ' \ ' 00004004 / #!@/,. \ ;Ii Sulwn Bareno berselUiau gurau dengan kedua anaknya. Di sampingnya tampak kedua iSlr inya, ibunya dan Rubiah. M ereka lampak berbahagia. I Ii In 1\ iI A .pUSA r P E Mtj I N A r. 0 A N 76 PE'N GEM a" tJ GA N II .HI r. fi A DE PA RTI: MEN PI: 1111) I UI/{ AN DAN I(EBUOAYAAN
MALIN BARENO DAN PUTRITALAYANG
Diceritakan kembali oleh Suladi
PERPUSTn:KAAN PUSAT PEMOlfIJAAN OAN PE'N GEMIlANGAN BfoHfoSA OEPARTEMEN HNOID IKAN DAN KEBUDA'(AAN
1111111111 fl '
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1999
.., BAGIAN PROYEK PEMBINAAN BUKU SASTRA INDONESIA negerinya . Mereka menjaganya, memeliharanya, dan memaju DAN DAERAH-JAKARTA kannya . Tidak mengherankan apabila negeri itu berkembang T AHUN 1998/1999 pesat. Sultan Bareno beserta negerinya menjadi harum nama PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA nya. Semuanya itu berkat persatu an, kesetiaan , dan kerja kera s, DEPARTEMEN PENDIDlKAN DAN KEBUDAYAAN seperti yang telah ditunjukkan oleh Bareno . II 75
Pemimpin Bagian Proyek : Dra. Atika Sja'rani
Bendahara Bagian Proyek : Ciptodigiyarto
Sekretaris Bagian Proyek Drs. B. Trisman, M.Hwn.
Staf Bagian Proyek Sujarmo
Sunarto Rudy
Budiyono
Sarnata
Ahmad Lesteluhu
| ISBN 979-459-945-X | |
| r 'erpustakaan PUSIt Pembinaan dan Pengembapgan Bahasa ' | |
| No . Induk I (I-...r ....r-/ TOI. 9'1 , Ttd. I 1. 1..<1 | |
| 'h1 | |
lsi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah .
KATAPENGANTAR
Khazanah sastra Nusantara dicoraki dan sekaligus diperkaya oleh karya-karya sastra yang menggambarkan dinamika dan tingkat kehidupan masyarakat daerah yang bersangkutan. Dinamika dan tingkat kehidupan yang terekam dalam karya sastra daerah itu memperlihatkan kemantapan budaya, antara lain yang berupa ajaran dan nasihat yang amat berguna bagi para pembaca sastra daerah khususnya dan bagi generasi muda bangsa Indonesia pada umumnya. Itulah sebabnya kekayaan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam sastra daerah di Nusantara itu perlu dilestarikan.
cinta kasih, mereka bersama-sama membangun Negeri Antah Berantah. Negeri itu dulunya memang menyimpan banyak kenangan. Bareno dilahirkan di tempat itu. Dia dibesarkan oleh ibunya di tempat itu juga. Negeri yang dulu pemah menerima kutukan dewa kini telah kembali seperti semula. Negeri itu menjelma menjadi sebuah negeri yang sangat makmur. "Kanda Putri, kita sekarang telah berkumpul. Kita bersama-sama membantu Kanda Sultan memajukan negeri ini. Bukankah Kanda Putri telah berpengalaman memimpin negeri?" kata Putri Talayang kepada Kamala Neb. "Benar Dinda, sekarang kita harus mendukung Kanda Sultan," jawab Kamala Neli. Sultan Bareno sangat bangga terhadap kedua istrinya. Mereka sangat rukun. Tak ada sedikit pun rasa cemburu di antara mereka. Meskipun demikian, Bareno juga bersikap adil terhadap mereka. Rakyat Negeri Antah Berantah pun mencintai mereka . Kedua anak Putri Kamala Neli pun dianggap sebagai putra mahkota negerinya. Ibunda Sultan Bareno tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Dia bersyukur karena anaknya telah kembali bersama negerinya yang hilang. "Kim Bareno telah menjadi raja di negerinya sendiri," bisiknya penuh suka cita. Walaupun usianya sudah tua, dia masih sering memberi nasihat. Nasihat yang utama ditujukan kepada rakyatnya. "Kita hams menjaga negeri ini agar dapat dinikmati oleh anak cucu kita," ujarnya. Maju mundurnya suatu negeri ditentukan oleh rakyat negeri itu sendiri. Rakyat negeri itu sangat mencintai 74
Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk melestarikan kekayaan budaya Nusantara itu adalah dengan menerjemahkan nilai-nilai yang terkandung dalam sastra daerah itu ke dalam cerita anak-anak. Upaya seperti itu bukan hanya akan memperluas wawasan anak terhadap sastra dan budaya masyarakat Nusantara, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia itu sendi ri . Dengan demikian, hal itudapat dipandang sebagai upaya membuka dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.
Sehubungan dengan hal itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersurnber dari sastra daerah .
melihat Sultan Bareno menggendong dua anak kecil. Di belakangnya berjalan mengiringi seorang wanita cantik. Bareno rnemperkenalkannya kepada mereka. "Bunda, iill Putri Kamala Neli. Inilah istri pertamaku yang bertahta di Negeri Mendang Kernulan. Kami sudah dikaruruai dua anak kern bar . Irulah mereka, Bunda, " kata Bareno kepada ibunya. Mereka yang berkumpul di situ turut berbahagia. Mereka saling bersalarnan dan berpelukan. Putri Talayang tak lupa rnernperkenalkan dirinya. "Kanda Putri, perkenalkan say a istri kedua Kanda Sultan , " katanya rnemperkenalkan diri. Putri Talayang sarna sekali tidak merasa cemburu. Dia juga sangat rnencintai kedua anak tirinya. Bahkan, dia rnenggendong salah satu anak tirinya itu. "Nanda, siapa namamu, Nak," tanyanya kepada anak tirinya yang laki-Iaki. Dia mengelus-elus dengan penuh kasih sayang. Si anak pun rnerasa seperti berada dipelukan ibunya sendiri. "Narnaku Mahadewa, Bunda," jawab anak kecil itu. Alangkah bahagianya Putri Talayang dirinya dipanggil bunda. Tak henti-hentinya dia mernbelainya. Putri Kamala Neli tersenyum senang. Wanita yang menjadi rnadunya itu ternyata berhati mulia. Dia menganggap Talayang sebagai adik. Sebaliknya, Putri Talayang pun menganggap Kamala Neli seperti kakaknya. "Ternyata apa yang dikatakan Kanda Sultan benar. Istri keduanya memang wanita yang berbudi luhur. Dia amat rnenyayangi anak-anakku," bisiknya dalam hati. Begitulah kehidupan rnereka sangat rukun. Dengan rasa IV 73
Buku Malin Bareno dan Putri Talayang ini bersumber pada terbitan Bagian Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, Depanernen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun 1982 dengan judul Kaba Curito Puti Talayang yang disusun kernbali dalarn bahasa Indonesia oleh Suladi. Ucapan terirna kasih sayatujukan kepada Dra. Ani Mariani sebagai penyunting dan Sdr. Tazul Arifin sebagai ilustrator buku ini.
Mudah-rnudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pernbaca.
Jakarta, Januari 1999
Kepala Pusat Pernbinaan
danPengembangan Bahasa,
Dr. Hasan Alwi
pertolongan. Kebetulan saya dapat melakukannya, "jawab Putri Talayang merendah. Atas kesepakatan seluruh rakyat, Bareno diangkat menjadi raja di Negeri Antah Berantah itu. Dia bergelar Sultan Bareno. Rakyat merayakan pengangkatan Bareno itu dengan suka cita. Negeri itu menjadi aman damai. Rakyat yang adil dan makmur dapat dicapainya. Tidak ada warga yang kelaparan. Semua papan dicukupi, semua sandang dipenuhi. Ibu Bareno dan Nenek Rubiah turut merasakan kebahagiaan rakyat negerinya . Terlebih-Iebih Sultan Bareno, dia sangat bahagia. Dia sudah mendapatkan apa yang selama ini dicita-citakan. Putri Talayang pun tidak kalah bahagiany'l-. Dia sudah bertemu dengan orang yang dikasihinya. Pada suatu waktu, Bareno mengatakan kisah perjalanannya . Dia mengembara mencari Putri Talayang. Dalam pengembaraannya, dia sampai di suatu negeri di tanah Jawa. Negeri Mendang Kemulan tempat dia singgah. Di sana dia sudah beristri. Semua kisah suka dukanya diceritakan. Putri Talayang mendengarkan dengan sabar. Bahkan, dia menyuruh Sultan Bareno untuk menjemputnya. Sultan Bareno segera menjemput istri pertamanya, Kamala Neli. Kamala Neli ternyata telah melahirkan. Anaknya kembar, satu laki-Iab, sedangkan satunya lagi perempuan. Sesuai dengan pesan Bareno, kedua anak itu dinamai Mahadewa dan Maharani. Mahadewa mirip dengan ayahnya, Bareno. Maharani mirip dengan Kamala Neli, ibunya. Mereka lalu berangkat ke negeri tempat Sultan Bareno bertahta. Di sana rupanya mereka telah ditunggu oleh keluarga istana. Putri Talayang, ibu Bareno, Nenek Rubiah, serta seluruh rakyat telah menantinya. Mereka sangat bahagia 72 v
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt karena berkat rahmat-Nya Cerita Bareno dan Putri Talayang ini dapat diselesaikan. Cerita ini merupakan penceritaan kembali dari sebuah kaba yang berasal dari daerah Sumatra Barar. Cerita asli kaba ini berupa yang ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Minangkabau dan bahasa Indonesia. Judul asli kaba itu adalah Puti Talayang -dalam bahasa Minangkabau atau Putri Talayang dalam bahasa Indonesia.
Kaba Puti Talayang ditulis oleh Moechtar Nairn. Kaba Puti Talayang ini diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982.
Kaba itu sarat dengan ajaran, baik moral maupun pendidikan . Dalam kaba itu dikisahkan perjuangan seorang pemuda bemama Malin Bareno. Dia adalah seorang pemuda yang sangat patuh kepada orang tuanya. Dia juga sangat tekun belajar dan berlatih. Berkat ketekunannya itu, dia menjadi pemuda yang hebar. Segala ilmu yang diajarkan oleh gurunya dapat dicerapnya dengan baik. Meskipun sudah mempunyai ilmu yang tinggi, dia tetap rendah hati. Dia mau menolong orang yang memerlukannya . Dia mau mendengarkan setiap nasihat orang lain. Terhadap orang yang lebih tua pun dia selalu hormat.
1. Dr. Hasan Alwi, selaku Kepala Pusat Pembinaan dan dan suaminya yang meninggal. Kisah Bareno waktu kec il pun Penceritaan kembali cerita ini tidak mungkin dapat Nenek Rubiah. Mereka lalu dipersilakan masuk ke rurnah. Ibu terlaksana tanpa bantuan berbagai pihak . Dleh karena itu, pada Bareno menyiapkan makan malam untuk mereka. kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih Pada mal am harinya, ibu Bareno banyak bercerita tentang kepada kisahnya. Kisah itu dirnulai dari negerinya yang dikutuk dewa Pengembangan Bahasa ; diceritakannya. Suasana mal am itu benar -benar menye nan g2 . Dr. Yayah B. Lumintaintang, selaku Kepala Bidang ." kan. Tidak pernah di rumah itu seramai mal am itu. Bahasa Indonesia dan Daerah yang telah mengizinkan Rupanya , yang menar ik perhatian Putri Talayang adalah penulis dalam kegiatan ini; kisah negeri yang dikutuk dewa. Dengan kelebihan yang Dra. Atika S. M. , selaku Kepa la Proyek Penerbit an Buku dimilikinya, dia menc oba mengembal ikan ke ujud aslinya. Dia Sastra Indo nesia dan Daerah yan g telah memberikan mempunyai kemampuan karena dia seorang putri dari langit . kepercay aan untuk menc eritakan kembali Kaba Puti Setelah membaca mantra dan doa, dia memohon kepa da Talayang ini; dewata. Dia meminta supaya tempat itu dikemb alikan ke ujud Staf Proy ek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah aslinya. SeIuruh dewa di langit mendengar perm oho nan Putr i. yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, yang telah Seketika rumah itu berubah menjadi istana yang amat indah . memberikan bantuannya. Hutan-hutan di sekitamya berubah menjadi rumah tinggal Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat bagi para siswa di menjadi manusia. Kutukan dewa yang berlangsung beberap a penduduk negeri itu. Semua binatang penghuni hutan berubah Jakarta, 11 September 1998 semua akan mendukung Kanda. Kandalah yang berhak mePenulis mirnpinnya," kata Putri Talayang memohon kepada Bareno. "Kanda Bareno, sekarang negeri ini milik Kanda. Kami Bareno tidak berhak memutuskan sendiri. Dia harus meminta persetujuan seluruh rakyatnya karena negeri ini memang milik rakyat. "Putri, Bunda sangat berterima kasih. Jika tidak ada Putri mungkin negeri ini tetap menjadi hutan," kata ibu Bareno kapada Putri Talayang. "Bunda, yang hamba lakukan hanya kewajiban. Dulu saya ditolong Kanda Bareno, sekarang negeri ini memerlukan VI 71
3.
4.
seluruh Nusantara dan para penikmat sastra lainnya. tahun itu telah berakhir.
DAFTAR lSI
Halaman KA T A PENGANT AR ....................... III UCAPAN TERIMA KASIH .................... v DAFTAR lSI ............................. vii 1. Tersesat ...................... . ......... 1 2. Bertemu Putri Talayang .......... ... . .. .... 11 3. Putri Talayang Kena Kutukan ................ 23 4 . Bertempur dengan Raja Jin .................. 30 5 . Bareno di N egeri Mendang Kemulan .... . ...... 41 6 . Bareno Menolong Kamala N eli ............... 52 7. Bertemu Kembali dengan Putri Talayang dan Menjadi Raja di Negeri Sendiri .................... 64
"Bu, perkenalkan ini Putri Talayang. Gadis inilah yang selama ini saya cari-cari," kata Bareno kepada Rubiah. Nenek Rubiah hanya manggut-manggut. Dia masih terkesima oleh keelokan rupa gadis itu. Dalam hatinya dia hanya berucap, "Memang mereka itu pasangan yang serasi. Semoga mereka hidup berbahagia. " Setelah melepaskan lelah, Bareno mengajak Putri Talayang ke tempat ibunya. Nenek Rubiah pun diajaknya. Ketiganya lalu berangkat untuk menemui ibu Bareno. Di sebuah desa yang jauh dari keramaian, seorang ibu sedang menenteng kayu bakar. Rambutnya yang sudah memutih tidak mengurangi kecantikannya. Meskipun sudah tua, orang itu masih kelihatan cantik . Kulitnya tampak putih bersih . Melihat orang tua itu, Bareno segera berlari mendekati. Dia berteriak, "Ibu, saya pulang, Bu. Bareno telah kembali, Bu." Bareno mendekati ibunya lalu memeluk erat-erat. Dia terisak-isak di pelukan ibunya. Ibunya pun tidak segera melepaskan pelukannya. Dia menangis terharu. Anak satusatunya yang telah lama hilang telah kembali. Wanita tua itu ternyata ibu Bareno. Putri Talayang dan Nenek Rubiah terharu melihat adegan itu. Mereka tidak kuasa me nahan air matanya. Keduanya ikut menangis. N enek Rubiah menggumam, "Oh.. ibu yang beruntung. Alangkah beruntungnya ibu yang melahirkan Bareno. Pemuda yang saleh dan berbudi luhur. " Bareno segera tersadar. Diperkenalkannya kedua wanita yang bersamanya itu kepada ibunya. Ibu Bareno merasa sangat senang. Dia akan mempunyai menantu secantik Putri Talayang. Dia juga akan mempunyai ternan sebaya, yaitu 70 Vll
"Ibu tak usah khawatir. Saya dapat menjaga diri. Doakan saja agar say a selamat, Bu, " kata Bareno meyakinkan Rubiah. Bareno sudah bertekad mendapatkan bunga itu. Dia segera mendekati Telaga Biru. Dari dalam telaga muncul seekor naga raksasa. Disusul kemudian buaya-buaya besar dan ganas. Berbagai binatang berbisa lainnya pun bermunculan . Nenek Rubiah sangat ketakutan melihat itu. Dia disuruh Bareno untuk menjauhi tempat itu. Binatang-binatang itu bersiap menyerang Bareno. Mereka sudah diperintah dew a untuk menjaga bunga Cempaka Dewa. Tidak seorang pun boleh menyentuhnya. Gerakan binatangbinatang itu sungguh menakutkan. Air telaga menjadi bergemuruh . Naga raksasa dan buaya-buaya itu menggerakgerakkan ekornya. Segala yang terkena sabetan ekor itu bertumbangan. Setelah melihat binatang-binatang yang begitu ganas itu, Bareno segera mempersiapkan diri . Dia lalu membaca mantranya . Dikenakannya gelang akar 'baharnya . Dia berdoa kepada sang Pencipta. Dia memohon keselamatan. Setelah selesai, dia pun lalu terjun ke dalam telaga itu. Di situ dia langsung disambut binatang penjaga bunga itu . Perkelahian antara Bareno dan binatang-binatang buas pun berlangsung seru. Orang yang melihat perkelahian itu tentu akan merasa gentar. "Binatang-binatang ini memang luar biasa . Saya harus berhati-hati, " kata Bareno dalam hati. Dengan segala kemampuannya, Bareno mulai membunuh lawan-Iawannya. Binatang yang kecil-kecil dihabiskan dulu. Setelah itu, buaya dan naga dihadapinya. Jika tidak punya ilmu kebal, badan Bareno mungkin sudah terkoyak . Sabetan ekor buaya sangat 68 1
1. TERSESAT
Suatu pagi yang cerah , mentari tampak kemera h-merahan. Kicau burung terdengar sangat merdunya. Di suatu kampung di tepi hutan tampak seorang ibu dan anaknya sedang duduk di balai-balai rumahnya. Mayang Sari nama ibu itu , sedangkan anaknya bernama Malin Bareno .
Malin Bareno sangat raj in membantu ibunya. Tidak pernah sekali pun dia bangun siang . Dia selalu bangun ketika ayam hutan mulai berkokok. Setiap hari dia membantu ibunya membersihkan rumah dan halaman. Dia juga rajin berk ebun. Segal a tanaman sayuran menghiasi kebun di belakan g rumahnya.
"Bareno, kelihatannya terung dan kacang panjang di kebun kita sudah dapat dipetik, " kata ibunya.
"Sudah, Bu. Cabe dan tomat pun sudah bisa kita petik. Ibu mau masak apa hari ini?" tanya Bareno.
"Ibu akan masak sayur kesukaanmu. Selagi hari masih pagi , petikkan sayur untuk Ibu, ya, II kata ibu Bareno.
Bareno segera menuju kebun di belakang rumahnya untuk memetik sayur. Diambilnya beberapa buah terung dan kacang panjang serta cabe yang sudah tua. Ibunya sangat bersyukur karena dikaruniai anak yang saleh dan rajin. "Alangkah
bahagianya setiap ibu seandainya semua anak berperilaku seperti Bareno. Dia anak yang baik," gumam ibu Bareno.
bunga. Besok kita berangkat agak pagi, ya," kata Rubiah penuh semangat. Malam itu hati Bareno menjadi lega. Dia akan menemukan orang yang dicarinya. Semalaman dia hanya memikirkan Putri Talayang. Putri yang telah dikutuk ayahnya menjadi sekuntum bunga. Kegembiraan Bareno tidak terlukiskan dengan katakata. Begitu ayam jantan berkokok, Bareno sudah bersiap-siap. Dia sudah tidak sabar ingin segera mencari bunga itu. Nenek Rubiah mengingatkan bahwa hari masih terlalu petang. Keduanya menunggu hari agak terang. Setelah semburat atau cahaya merah dari langit timur tampak, keduanya berangkat ke hutan. Nenek Rubiah berpesan agar Bareno berhati-hati. Sampai di tengah hutan, matahari sudah memancarkan sinarnya. Udara segar inenghembus dari sela-sela pepohonan. Dari jauh tampak air kebiru-biruan. "Itukah Telaga Biru yang diceritakan Nenek Rubiah," pikir Bareno. Dia jadi teringat apa yang pernah diceritakan oleh kakek pertapa. Ceritanya sarna dengan yang diceritakan Nenek Rubiah. "Bunga Cempaka Dewa, Telaga Biru, dijaga binatang berbisa. Bukankah kata-kata itu pernah diucapkan kakek pertapa," pikir Bareno. Bareno menjadi sangat bersemangat. Dia berkata, "Bu, izinkan saya memetik bunga itu. Saya sangat ingin memiliknya," katanya kepada Rubiah. Nenek Rubiah terkejut mendengar permintaan Bareno. "Nak, itu sangat berbahaya. Katanya, engkau hanya akan melihatnya. Jangan lakukan itu, Nak," jawab Rubiah penuh kekhawatiran. 67 J
Malin Bareno sebenarnya seorang keturunan raja. Ayahnya dulu seorang raja di negeri Antah Berantah. Karena mendapat kutukan dewa, negeri yang sangat subur itu berubah menjadi hutan belantara. Rakyat yang sangat setia pun berubah menjadi binatang, sedangkan istana tempat raja tinggal menjadi gubuk yang sekarang ditempati Bareno dan ibunya.
Peristiwa itu terjadi sebelum Bareno lahir sehingga dia tidak mengetahui bahwa dirinya adalah keturunan raja. Selain itu, Bareno tidak pernah mengenal wajah ayahnya karena telah meninggal sebelum dia lahir. Ibunya juga tidak pernah bercerita. Bareno hanya bisa membayangkan bahwa ayahnya adalah seorang yang gagah perkasa, pemberani, dan berbudi luhur.
"Bu, apakah Ayah seorang yang gagah, pemberani, dan baik hati?" tanya Bareno kepada ibunya.
"Bareno, ayahrnu itu memang gagah, pemberani, dan berbudi. Sarna seperti dirimu, Nak," jawab ibunya. "Sayang, ayahmu meninggal sebelum kamu lahir. Ayahmu berpesan kepada Ibu agar mendidikrnu menjadi anak yang baik. Ibu telah berupaya untuk memenuhi keinginan ayahmu. Ibu sang at bersyukur kepada Tuhan karena kaudapat memenuhi harapan ayahmu, Nak," tutur ibunya sambil terisak teringat suaminya yang sudah meninggal.
"Bu, maafkan Bareno, ya, Bu. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Ibu. Saya berjanji untuk memenuhi harapan Ayah, saya berjanji, Bu!" kata Bareno menghibur ibunya.
Hari itu belum terlalu siang. Matahari masih rendah dan
belum terlalu panas. Bareno meminta lZll kepada ibunya untuk berburu ke hutan. Dia, memang gemar berburu binatang ke hutan. Tidak pernah Bareno pulang dengan tangan hampa. Dia selalu membawa binatang buruan untuk lauk. Terkadang dia mendapatkan seekor rusa , tidak jarang pula dia mendapatkan beberapa ekor kelinci hutan .
bahwa penjual bunga itu bernama Rubiah. Dia tinggal seorang diri. Suaminya telah lama meninggal. Umurnya sudah tua sehingga hampir seluruh rambutnya telah memutih . Pada malam itu, Nenek Rubiah banyak bercerita kepada Bareno. "Nak,Ibu sudah lama berjualan bunga di sini. Biasanya pada hari-hari tertentu banyak orang membutuhkan bunga. Kebetulan hari ini agak sepi," kata Nenek Rubiah memulai ceritanya . Bareno mendengarkan dengan saksama. Dia juga banyak bertanya dari mana Nenek Rubiah mendapatkan bunga-bunga dagangannya . Nenek Rubiah mengatakan bahwa dia mendapatkan bunga dari hutan. Dia pun bercerita tentang bunga aneh yang ada di tengah hutan . "Nak , Ibu pernah lihat bunga di tengah hutan . Warnanya sangat indah. Tetapi, bunga itu dijaga naga besar, buaya ganas, dan binatang berbisa. Tak seorang pun dapat memetiknya, " cerita Rubiah pada Bareno . Setelah mendengar cerita Rubiah, Bareno ingin tahu lebih banyak . "Bu, saya sangat tertarik cerita Ibu. Apa nama bunga itu, Bu? Dia tumbuh di mana," tanya Bareno bertubi-tubi dan penuh seman gat . "Kata orang, bunga itu bernama Cempaka Dewa . Kadangkadang orang menyebutnya bunga Bala Dewi , " jawab nenek Rubiah . Dia lalu melanjutkan , "Bunga itu hidup di sebuah telaga. Kalau !bu tidak salah namanya Telaga Biru. Telaga itu terdapat di tengah hutan dekat Bukit Mambang Sakti, Nak." "Bu, maukah Ibu mengantarkan saya ke telaga itu. Saya akan melihat bunga itu, Bu," pinta Bareno . "Tentu saja, Nak. Ibu setiap hari kan ke hutan itu mencari 66 3
"Bareno, hati-hati, ya, Nak. Di hutan banyak binatang buas. Jaga dirimu baik-baik, ya," pesan ibunya mengingatkan.
Dengan menenteng tombak, dia melangkah dengan tegap layaknya pemuda yang hendak berangkat ke medan laga . Ibunya membekalinya dengan singkong dan pisang rebus serta air putih. Bareno memang terkenal sebagai jago berburu. Dengan senjata tombak sebagai andalannya, dia tidak pernah luput setiap mengincar buruannya. Namun, dia tidak serakah. Setiap kali berburu, binatang yang diburunya hanya secukupnya saJa.
Rupanya, hari itu Bareno benar-benar bernasib sial. Tak satu pun binatang buruan didapatkannya. Bahkan, menampakkan diri pun tidak . "Tuhan sedang menguji ketabahanku , " pikir Bareno dalam hati .
"Hari ini tidak seperti biasanya, seekor kelinci pun tidak kutemukan . Padahal, aku sudah mengelilingi seisi hutan ini, " keluhnya.
Bareno telah mengelilingi hutan itu hingga kecapaian. Akhirnya , Dia berhenti di bawah pohon besar dan akan tertidur . Belum begitu nyenyak tidurnya, dia dikagetkan oleh kehadiran seekor menjangan emas. Dia segera bangun dan dilihatnya binatang itu sungguh menakjubkan. Tanduknya seperti emas dan bulunya seperti beludru keemasan. Dia makan rumput tidak jauh dari temp at Bareno tertidur.
Dengan sigap diambilnya tombak, lalu dilepaskan ke arah menjangan itu. Anehnya, menjangan itu tidak merasa takut aleh tambak Bareno . Setiap tombak yang diarahkan kepadanya selalu dielakkannya. Bareno menjadi kesal.
keterangan, dia meneruskan perjalanannya. Mungkin sudah beratus-ratus kampung telah dijelajahinya. Setelah di kampung-kampung tidak diperolehnya, Bareno mencoba mencari ke hutan. Hutan-hutan kecil ditelusurinya. Lembah dan ngarai dituruni. Bukit-bukit pun didakinya. Bunga Cempaka Dewa yang dicari belurn juga didapat. Siang itu udara begitu panasnya. Matahari seperti menyengat tubuh. Kala itu memang sedang musim kemarau. Bareno melepaskan lelahnya. "Sebaiknya aku istirahat dulu di bawah pohon besar itu, " katanya dalam hati. Semilirnya udara segar membuat Bareno terlelap. Enak sekali dia tidur di bawah pohon itu walaupun hanya beralaskan akar. Setelah cukup istirahatnya, Bareno segera terbangun. Dia terkejut karena matahari sudah condong ke barat. 1tu pertanda bahwa hari sudah sore: Sebentar lagi malam akan tiba. Dalam hati dia berkata, "Haah .. ,rupanya hari sudah sore. Saya harus mencari tempat berrnalam." Begitu pikir Bareno sambil berjalan. Bareno sudah agak kecapaian. Jalannya sudah mulai lamban. Kebetulan tidak jauh dari tempat itu ada seorang penjual bunga. "Bu, bolehkah saya menumpang tidur di rumah Ibu," tanya Bareno kepada penjual bunga. "Saya kemalaman di sini, Bu, " lanjutnya. Penjual bunga itu pun mempersilakan Bareno. "Oh .. boleh, boleh saja, Nak," jawabnya. "Di rumah Ibu ini banyak yang pernah menginap, Nak. Kebanyakan mereka itu pengembara. Di depan sana kan hutan belantara. Ibu senang kok Anak menginap di sini, " lanjut penjual bunga itu. Mereka saling memperkenalkan diri. Bareno sekarang tahu 65 .J
"Binatang macam apa ini, belum pernah aku menemukannya selama ini," kata Bareno dalam hati.
"Tanduknya kuning keemasan, bulunya pun halus dan indah, " lanjutnya.
Binatang itu memang aneh. Setiap dikejar dia selalu lari, tetapi jika yang mengejar berhenti dia pun berhenti. Bahkan, dia seperti menari-nari di depan mata Bareno. Dengan samainya dia makan rumput sambil menaik-naikkan kakinya seperti sedang berrnain-main.
Sudah cukup lama Bareno mengejar menjangan itu hingga tidak teras a hari hampir sore. Sialnya, Bareno tidak tahu jalan kembali ke rumahnya. Dia tersesat, masuk terlalu jauh ke dalam hutan belantara. Pada saat Bareno sedang putus asa, terjadilah peristiwa yang sangat aneh dan mengejutkannya. Menjangan itu ternyata dapat berbicara. Bareno menjadi terkesima.
"Anak muda, hari sudah sore. Sebentar lagi malam akan tiba. Jika tidak mau kemalaman di tengah hutan dan dimakan binatang buas, engkau turutlah denganku. Ikutilah aku," kata menjangan emas kepada Bareno.
Bareno akhirnya mengikuti langkah menjangan emas itu dari belakang. "Benar juga kata menjangan itu,daripada dimakan binatang buas lebih baik mengikutinya," pikir Bareno.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka sampai di suatu temp at. Di situ terdapat sebuah gubuk tua. Bareno pun diajaknya masuk. Dia semakin heran karena di gubuk tua itu
ada perabotan rumah tangga.
"Apakah ada orang yang tinggal di tengah hutan seperti ini. Jika ada, siapa dia itu?" kata Bareno dalam hati.
Belum hilang rasa keterkejutannya, muncul seorang nenek tua dari dalam rumah.
"Selamat malam, anak muda!" Kaujangan takut. Nama saya Gabayan. Orang memanggilku Nenek Gabayan. Aku sudah mendengar banyak dari menjangan emas," kata Nenek Gabayan.
7. BERTEMU KEMBALI DENGAN PUTRI TALA Y ANG DAN l\tIENJADI RAJA DI NEGERI SENDIRI Bareno mulai melakukan perjalanan. Agar tidak diketahui oleh rakyat Mendang Kemulan, dia melepaskan pakaian kebesarannya. Dia menyamar seperti rakyat jelata. Pakaian yang dikenakannya seperti yang dipakai oleh rakyatnya. Tidak satu pun rakyat Mendang Kemulan mengetahui kepergiannya. Emah sudah berapa jauh dia meninggalkan istana. Dia keluar masuk kampung, dari satu kampung ke kampung lain. Dia dengarkan setiap pembicaraan orang. Dia bertanya kepada setiap orang yang ditemui . Hanya satu yang dicarinya, yaitu bunga Cempaka Dewa. "Boleh tanya, Pak! Apakah Bapak pemah lihat bunga Cempaka Dewa," tanya Bareno kepada setiap orang yang ditemuinya. Anehnya, tidak satu orang pun tahu nama bunga itu. Mereka pada umumnya selalu menjawab, "Jangankan melihat , mendengar namanya saja baru sekali ini." Bareno tidak berputus asa. Dia telah banyak mendapat petuah dari para orang tua. Hidup ini tidak boleh berpatah semangat, tidak boleh putus asa. Pedoman itu selalu diterapkannya di mana pun dia berada. Setelah gagal memperoleh 64 5
"Oh, iya, menjangan emas itu binatang kesayanganku. Dia banyak bercerita tentang dirimu. Kautinggal di kampung dekat hutan ini, kan? Dia mengatakan namamu Bareno, benar begitu, Nak?" tanyanya kemudian.
"Iya, Nek. Saya tadi berburu binatang, tetapi tersesat," jawab Bareno jujur.
"Saya juga minta maaf karena telah memburu binatang kesayangan ' Nenek," lanjutnya.
"Anak yang baik, tidak apa-apa. Saya kagum atas kejujuranmu . Jika cucu mau tinggal di sini, silakan! Boleh kan, nenek menyebutmu cucu!" pinta Nenek Gabayan.
"Tentu saja, Nek. Saya sangat senang karena di tengah hutan yang sepi ini ada orang yang begitu baik dan berbudi seperti nenek ini," jawab Bareno dengan perasaan senang.
"Baiklah, cucuku, sekarang beristirahatlah dulu. N anti j ika nenek sudah memasak, engkau kubangunkan, ya," kata Nenek Gabayan .
Malam itu Bareno menginap di rumah Gabayan . Dia memang anak yang baik. Kerajinannya tidak hanya diperlihatkan pada ibunya saja, di tempat itu pun dia tunjukkan pula. Setiap pagi, seperti kebiasannya di rumah, dia selalu
membantu pekerjaan Nenek Gabayan. Diisinya gentong dengan air yang diambilnya dari pancuran di bukit belakang rumah. Dia juga memetikkan sayur dan buah-buahan yang tumbuh di sekitar rumah untuk N enek Gabayan. Kehidupan anak muda dan seorang nenek itu hari berganti hari semakin akrab. Nenek Gabayan menjadi bertambah sayang kepada Bareno. Dia menganggapnya seperti cucunya sendiri.
., , C""' <f?>. RalU Kamala NeLi menghampiri Bareno di alun-alun. Dengan ramah dia berkata. "Ki sanak, alas nama rakyal Mendang KefTULlan, saya mengucapkan terima kasih. Jika tidak engkau IOLong, mungkin negeri kami suaah hancur. " 6 63
Di tempat itu Bareno tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan bertubuh kekar. Ditambah dengan sifat dasamya yang pemberani menjadi lengkaplah sosok Bareno sebagai pemuda idaman . Seandainya dia hidup di perkampungan, banyak gadis yang akan terpikat kepadanya. Dia sangat cakap dalam segala hal, rajin bekerja, baik budi pekertinya, dan suka menolong.
Meskipun mendapat kasih sayang dari Nenek Gabayan, hatinya tidak tenang. Dia selalu teringat ibunya yang tinggal seorang diri. Dia mengkhawatirkan keadaan ibunya.
"Bareno cucuku, saya sangat bangga kepadamu . Ternyata engkau anak yang cerdas, terampil, dan rajin. Nenek percaya bahwa suatu saat engkau akan menjadi pemimpin, " kata Nenek Gabayan pada suatu hari.
"Nenekjuga merasakan kerinduanmu pada ibumu. Percayalah cucuku, suatu saat engkau pasti berkumpul kembali dengan ibumu. Dia juga merindukanmu. Engkau jangan khawatir karena ibumu baik-baik saja. Setiap hari menjangan emas saya suruh menjenguk ibumu," lanjutnya.
"Terima kasih, Nek. Nenek telah banyak berbuat baik kepada saya. Bagaimana saya akan membalas budi baik Nenek?" isak Bareno sambil merebahkan diri di pangkuan Nenek Gabayan.
"Nenek cukup bahagia jika engkau dapat berbuat serupa pada orang lain. Ketahuilah cucuku, hidup ini harus selalu tolong-menolong . Jika diberi kekuatan , engkau bantulah yang lemah. Jika diberi kelebihan, engkau bantulah yang kurang ," kata Nenek Gabayan .
sangat ceria . Tidak satu pun yang menampakkan kesedihan. Mereka akan segera menyambut datangnya sang pangeran atau putri, calon raja Mendang Kemulan. Seusai acara adat itu, Panglima Bareno menyendiri. Dia teringat akan Putri Talayang. Rupanya, dia tidak dapat melupakannya . Dia berniat akan mencari kembali orang yang dikasihin ya itu. Segala yang pernah dialaminya itu diceritakan kepada istrinya . Kemudian , dia mengutarakan niatnya, "Dinda Kamala , bolehkah Kanda pergi berjalan seorang diri?" tanyanya. Ratu Kamala tidak tega melihat penderitaan Bareno. Dia mengizinkan suaminya pergi mencari kekasihnya itu. "Kanda , bukankah kita suami istri. Jika Kanda bersedih, dinda pasti ikut merasakan kesedihan itu . Dinda rela Kanda pergi. Carilah dia , Kanda," jawab Kamala . "Alangkah baik budimu, Dinda. Kanda akan mencarin ya. Setelah bertemu, kanda akan segera menemuimu , " kata Bareno penuh haru. Bareno begitu terharu mendengar ketulusan istrinya itu. Sebelum pergi, Bareno berpesan kepada istrinya, "Dinda , jika anak kita lahir laki-laki, beri dia nama Maha Dewa . Jika lahir perempuan, beri nama Maharani." Se[elah berpesan begitu, Bareno segera pamit. Dia akan mencari Putri Talayang. Dia berkelana seperti dulu . 62 7
Alangkah mUlianya budi Nenek Gabayan itu . Dia hidup seorang diri di tengah hutan dan jauh dari keramaian, tetapi suka menolong orang lain . Ilmu pengetahuannya pun luas. Karena sikap seperti itulah Bareno merasa betah tinggal di tempat itu . Walaupun sering teringat kepada ibunya, dia tidak merasa khawatir karena ibunya selalu dijaga Nenek Gabayan lewat menjangan emas. Dalam hati dia berjanji bahwa suatu saat nanti dia harus dapat membahagiakan ibunya. Oleh karena itu, dia selalu belajar keras tentang apa saja. Dia tidak malu bertanya jika memang -tidak tahu .
Semenjak Bareno tinggal di tempat Nenek Gabayan itu, keadaan sekitar rumah menjadi sejuk dan indah. Seperti yang pernah dilakukannya sewaktu masih bersama ibunya, dia menanami kebun di belakang rumah dengan segala tanaman . Segala sayur-mayur tumbuh dengan subur. Walaupun seorang laki-laki, Bareno ternyata juga mencintai keindahan. Di depan rumah Nenek Gabayan ditanami dengan berbagai bunga yang diambilnya dari bukit. Terkadang Nenek Gabayan tersenyum sendiri melihat Bareno yang sedang menyirami tanaman.
"Alangkah bahagianya ibu yang melahirkannya . Dia benarbenar anak yang rajin," gumam Nenek Gabayan.
Kekaguman Nenek Gabayan memang dapat dimengerti . Hampir setiap pekerjaan selalu dapat diselesaikan Bareno dengan baik. Bahkan, hal-hal yang tak terpikir olehnya dilakukan Bareno. Dulu tidak terpikir oleh Nenek Gabayan
untuk memelihara itik, ayam, dan sebagainya. Karena menurutnya, di hutan telah disediakan. Kini setelah Bareno tinggal bersamanya, semua jenis unggas itu dipeliharanya. Setiap hari ada yang bertelur sehingga dapat digunakan untuk lauk. Jika menginginkan daging pun, mereka tinggal memotongnya.
Pang lima Bareno akan diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Banyak tamu yang akan diundang. Mereka itu adalah raja-raja dan pangeran dari negeri tetangga serta rakyat Mendang Kemulan. Pada pesta itu semua tamu yang diundang hadir. Seluruh rakyat pun menyambut para tamu dengan sangat ramah. Tidak ada satu orang pun rakyat Mendang Kemulan yang tidak senang. Semuanya menyambut dengan gembira. Mereka sangat berharap pada Ratu Kamala dan Pang lima Bareno. Setiap ada orang bergerombol, yang dibiearakan pasti pasangan pemimpin mereka. Pasangan baru itu hidup berbahagia. Mereka dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Tidak lama berse lang, Ratu Kamala pun hamil. Seluruh rakyat menyambut dengan suka eita. Mereka sangat bergembira. Di negerinya akan muneul pemimpin baru. Seluruh kerabat istana pun tidak ketinggal an bersuka eita pula. Untuk mensyukuri karunia Tuhan itu, Raja membagikan makanan kepada rakyat yang masih miskin. Semuanya dikumpulkan di istana dan diajak makan bersama raja. Pulangnya, mereka masih diberi bekal. "Alangkah mUlianya raja kita," kata salah seorang yang datang di istana. Yang lain pun menimpali, "Beruntunglah kita mempunyai pemimpin seperti itu . Mudah-mudahan keturunannya kelak seperti Baginda. " Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kandungan Ratu Kamala pun sudah menginjak usia tujuh bulan. Di istana diadakan upaeara adat mitani, tujuh bulan usia kandungan . Segala sesaji yang diperlukan telah dipersiapkan. Para penasihat dan punggawa hadir menyaksikannya. Mereka kelihatan 8 61
"Mengapa dulu tak terpikir untuk memelihara ayam, ya. Untung Bareno melakukannya. Nenek tidak perlu berburujika ingin daging ayam," kata Nenek Gabayan kepada Bareno.
"Iya, Nek. Dengan memelihara ternak itu kita dapat mengembangbiakkannya dan sebagian dapat bta sembelih untuk lauk. Kebiasaan memelihara ternak itu kan sudah saya lakukan sejak di kampung, Nek," kata Bareno menimpali neneknya.
Setiap pagi Bareno memberi makan ternak-ternak piaraannya itu. Setelah itu, dia ke kebun belakang rumah untuk menyiangi tanamannya agar dapat tumbuh subur. Dia tidak lupa mengambilkan air dari paneurafl dekat danau untuk neneknya .
Setiap menjelang malam, Bareno menyempatkan berbineang-bineang dengan menjangan emas yang pernah menolongnya. Binatang itu telah menjadi sahabatnya . Ke mana pun dia pergi, menjangan itu selalu diajaknya. Karena kasih sayang Bareno kepadanya, menjangan itu pun tahu membalas budi. Setiap Bareno mendapat kesulitan, dia selalu menolongnya. Walaupun menjangan itu seekor binatang, dia dapat hidup berdampingan dan saling menolong dengan manusia.
"Bareno, Nenek sering berkata kepada saya bahwa kita harus selalu tolong-menolong. Kita tidak dapat hidup sendirian. Kita pasti membutuhkan orang lain sekeeil apa pun
itu," kata menjangan emas. "Saya juga bangga padarnu, Bareno. Belurn pernah say a menjurnpai orang sebaik kamu. Seandainya semua manusia itu seperti dirimu, dunia in:i mung kin akan aman dan dama i. Tidak ada peperangan, " lanjutn ya .
sejahtera karena dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Negeri menjadi aman dan damai berkat pimpinan panglima perang yang sakti, tempi baik budi . Hubungan raja dengan panglima perang memang sangat dekat. Dari pertem uan pertama, sebenarnya Ratu Kamala Neli telah jamh hatj kepadany a. Pada suam kesempatan, Kamal a mengatakan, "Panglima Bareno, alangkah bahagi anya aku jika '10 keinginanku tercapai. " Bareno pun menjawab, "Baginda, apa yang menjadi keinginan Baginda. Jika hamba dapat menca rikannya, pasti akan hamba lakukan." Raru Kamala Neli lalu mengu tarakan niatny a. Dia ingin agar Bareno bersedia mendampinginya sebagai suami. "Panglima Bareno, maukah engkau memenuhi keinginank.--u?" kata Kamala. "Baginda, hidup dan mati hamba hanya untuk Baginda dan negeri ini," jawab Bareno. Ratu Kamala segera melanjutkan pertanyaa nnya dengan sedikit malu, "Maukah engkau mendamp ingiku sebagai suami?" Bareno menjawab dengan ragu, "Hamba hanya orang biasa, Baginda. Apakah pantas hamba mendampingi Baginda?" Raru Kamala Neli meyakinkan bahwa semua manusia itu sarna . Bareno tidak dapat menolak keinginan Kamala N eli. Keduanya sepakat untuk menjadi suami istri. Mereka berjanji untuk membangun negerinya itu bersama-sama. Pesta menyambut pernikahan raja dan panglima perang segera dimulai. Rakyat menyambut dengan sangat bersemangat. Jalan-jalan dibersihkan. Umbul-umbul pun dipasang di sepanjangjalan . Pesta pernikahan Ratu Kamala Neli dengan 60 9
"Saya juga bangg a denganrnu , Menjangan. Walaupun engkau seekor binatan g, temya ta hatimu lebib baik daripada hati manusia yang serak ah . Banyak orang di dunia ini yang tidak dapat mengalahkan diri sendiri. Engkau lebih mulia daripada orang semacam itu, Menjangan , " kata Bareno .
Rupanya, kedua insan itu telah banyak mendapat petuah dari Nenek Gabayan . Mereka dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk. Mereka dapat menilai perilaku yang terpuji dan tidak terpuji. Keduanya walaupun berasal dari jenis yang berbeda , mereka seperti saudara.
Pada suatu hari, matahari sudah sepenggala h, ada cahay a kuning yang diiringi petir tunggal. Bareno terkejut karena barn kali ini dia melihat kejadian itu. Dia bertanya kepada Nenek Gabayan tentang kejadian yang dilihatnya itu.
"Nek, tadi saya melihat ada seberkas sinar kuning. Ada juga suara petir yang terdengar sekali. Ada apa ini, Nek?" tanya Bareno.
"Baiklah cucuku, akan aku jelaskan. Sinar kunin g diiringi suara petiT yang kaulihat itu pertanda akan turu nnya putri dari langit. Putri itu berjurnlah tiga orang. Mere ka kakak beradik . Sudahlah, sekarang makanlah dulu. Mereka tidak akan tampak oleh manusia. Jangan dipikirkan, ya," jawab Nenek Gabayan jawaban itu rupanya belum memuaskan Bareno. Bareno sangat ingin tahu.
kejujurannya. Raja pun segera mengajak Bareno ke dalam istana. Rakyat Mendang Kemulan yang berkumpul di alunalun serentak melambaikan tangannya dan bertepuk tangan riuh. Mereka mengantar pahlawan itu sampai gerbang istana. Di dalam istana sudah berkumpul para penasihat dan punggawa. Mereka menyambut Bareno dengan senang. Jabat tangan dan salam hangat diterima Bareno. Segala makanan dan hidangan lain segera dikeluarkan untuk menyambut pahlawannya. Bareno tetap rendah hati. Dia mengucapkan terima kasih atas sambutan dan perhatian punggawa dan seluruh rakyat Mendang Kemulan. Seusai penyambutan itu, Bareno dipersilakan untuk beristirahat. Pada keesokan harinya, ratu, para penasihat, dan punggawa mengadakan rapat. Rapat itu membahas hadiah yang pantas untuk Bareno. Indo Jati, ayah Ratu Kamala, berkata, "Baginda, para penasihat dan punggawa, saya mengusulkan agar Bareno diangkat menjadi panglima perang. Menurutku, dia mempunyai kemampuan dan kesaktian." Ratu Kamala N eli menyerahkan keputusan itu kepada rapat. Meskipun seorang raja, dia tidak pernah memutuskan sesuatu seorang sendiri. Dia berpedoman bahwa segala sesuatu itu harus diputuskan melalui musyawarah. Semua peserta rapat itu menyetujui usul dari penasihat Raja Indo Jati. Akhirnya, dalam rapat itu diputuskan bahwa Bareno diangkat menjadi panglima perang. Bareno kemudian dinobatkan menjadi pang lima perang Negeri Mendang Kemulan . Seluruh rakyat menyambutnya dengan suka cita. Pesta pun diadakan untuk mensyukuri kemenangan. Negeri Mendang Kemulan menjadi aman damai di bawah kepemimpinan orang-orang yang bijak. Negerinya 10 59
Malin Bareno sedang memburu menjangan emas.
2. BERTEMU PUTRI TALA YANG
Nenek Gabayan segera menyiapkan peralatan untuk menyambut kedatangan putri. Digelarnya tikar pandan dan disiapkanlah sirih di tembikar. ltulah yang selalu disiapkan Nenek Gabayan setiap kali putri-putri dari langit itu akan turun.
ta, "Baginda Ratu Kamala, hamba punggawa menghadap." Ratu pun menjawab, "Ada apa punggawa. Segera laporkan apa yang terjadi. Jangan kaututup-tutupi kenyataan! Berterusteranglah, Punggawa!" Punggawa segera melapor bahwa Raja Hangat Garang telah dibunuh. Semua pasukan lawan pun sudah bertekuk lutut. Mendengar berita yang menggembirakan itu, Kamala segera menyahut, "Punggawa, segera katakan siapa orang yang telah menyelamatkan negeri iill. Saya akan segera menemuinya. " Punggawa itu menjelaskan bahwa yang mengalahkan lawannya adalah Bareno. Dia seorang pemuda yang sedang berkelana. Dia sangat tampan. Perawakannya tinggi tegap. Kulitnya putih bersih. rambutnya hitam ikal. Hidungnya mancung. Walaupun sangat sakti, dia sangat ramah kepada setiap orang yang dijumpainya. Ratu Kamala Neli minta untuk segera diantar ke hadapan pemuda itu. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu. Katanya, "Punggawa antarkan saya ke hadapan p'emuda itu. Saya akan mengucapkan terima kasih padanya. " Dengan diantar punggawa itu, Kamala Neli menghampiri Bareno di alun-alun. Dia sangat terpesona begitu melihat Bareno. Hatinya berdebar -debar. Perasaannya tidak menentu. Dengan ramah dia berkata , "Ki sanak, atas nama rakyat Mendang Kemulan, saya mengucapkan terima kasih. Jika tidak engkau tolong, mungkin negeri kami sudah hancur. " Bareno menjawab sambil menyembah, "Baginda, sebagai manusia kita harus saling menolong. Saya hanya menjalankan kewajiban itu, Baginda. " Ratu Kamala Neli bertambah rasa kagurnnya kepada Bareno. Jawaban Bareno yang begitu polos menunjukkan 58 11
Bareno semakin penasaran. Dia ingin melihat putri yang diceritakan oleh Nenek Gabayan. Karena hanya binatang dan orang tertentu yang dapat melihatnya, Bareno mengubah dirinya. Dengan ilmu yang dikuasainya, dia berhasil mengubah dirinya menjadi seekor kucing hitam belang tiga. Ilmu itu sebenarnya telah lama dimilikinya. Dia tidak pernah mema merkannya pada orang lain.
Nenek Gabayan terkejut, "Hah ... " Namun, dia segera menyadari bahwa Bareno memang bukan orang sembarang an. Bareno itu merupakan pemuda yang punya kelebihan, seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya . Lalu katanya, "Bareno cucuku , engkaukah iru, Nak?"
"Ya, Nek," jawab Bareno .
"Mengapa kaulakukan iill. Untuk apa, Nak? Apakah kauingin ... , "Nenek Gabayan belum menyelesaikan pertanyaannya sudah dijawab Bareno, "Benar, Nek, saya ingin melihat
putri yang Nenek eeritakan itu."
Nenek Gabayan pun tidak dapat menolak keinginan eueu kesayangannya itu. Dia hanya meminta Bareno agar tidak berbuat jahat atau tidak melakukan hal yang tidak terpuji.
beraturan. Dia hanya menerjang ke sanake mari sambil berteriak-teriak. "Keparat Bareno, kuhajar kau," teriaknya sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Bareno tidak mempan segala senjata lawan. Dia telah menggunakan ilmu kebal pemberian kakek pertapa. Hal itu membuat lawannya kehabisan akal. Raja Hangat Garang dibuat tidak berdaya. Akhirnya, sewaktu lawannya lengah, Bareno segera melepaskan pukulan mautnya. Raja Hangat Garang mati seketika. Bareno merasa lega telah mengalahkan lawannya. Rakyat Mendang Kemulan sangat gembira. Mereka yang semula hanya mengintip dari rumah serentak berhamburan keluar. Mereka mengelu-elukan Bareno. "Hidup anak muda. Hidup pahlawan kita," teriak penduduk yang belum mengenal Bareno. Orang tua yang pernah bertemu Bareno juga berteriak, "Hidup Bareno. Bareno pahlawan sejati." Teriakan orang-orang itu mengundang para punggawa keluar dari balairung. Para punggawa terkejut karena rakyat Mendang Kemulan sudah bertumpah ruah di alun-alun. Mereka lebih terkejut karena yang dielu-elukan adalah orang asing. Seorang pemuda yang belum dikenalnya. "Luar biasa pemuda itu. Dia masih mud a tetapi sangat hebat. Raja Hangat Garang yang sakti pun dapat dikalahkan . Pasti dia bukan orang sembarangan," kata salah seorang punggawa kepada rekannya. Punggawa lainnya menyahut, "Sebaiknya kita segera melapor kepada Baginda Ratu Kamala Neli. Baginda pasti sangat senang. " Sebagian punggawa segera melaporkan kejadian itu kepada rajanya. Sebagian punggawa lainnya tetap bersama rakyat di alun-alun. Di hadapan Ratu Kamala Neli, punggawa itu berka12 57
"Jika itu kemauanmu, Nenek tidak dapat menghalanginya. Nenek hanya berpesan, engkaujangan berbuat yang tidak baik, ya! Sebentar lagi putri-putri itu akan turun. Mereka akan mandi di telaga di bawah bukit itu," kata Nenek Gabayan menasihati Bareno.
"Sa) <l akan turuti nasihat Nenek,"jawab Bareno.
Tidak lama setelah mereka berbieang-bineang, terdengar suara petir tunggal. Bersamaan dengan itu kelihatan sinar k-uning di langit. Dari sinar kuning itu muneul tiga putri eantik. Lalu mereka turun ke bumi. Nenek Babayan kemudian memberitahu nama ketiga putri itu kepada Bareno, putri yang tertua bernama Putri Reno Sari . Dia ielah bertunangan dengan Raja Mambang yang memerintah langit tinggi. Adiknya bernama Putri Mayang Sani. Dia bertunangan dengan Raja Bala Dewa, Raja Kayangan. Putri ketiga bernama Putri Talayang. Dia telah dijodohkan dengan Raja Jin.
Ketiga putri itu memang sangat eantik. Rambutnya panjang mengurai, hidungnya maneung, dan kulitnya putih bersih . Mereka segera memberi salam kepada Nenek Gabayan.
"Selamat siang, Nek," kata mereka serempak.
"Oh, Tuan Putri, selamat siang," jawab Nenek Gabayan dengan suara khasnya. Dia memang sudah tua sehingga suaranya agak serak. Ketiga putri itu pun segera berueap, "Nek, kami sangat berterima kasih atas sambutan Nenek. Semoga N enek diberi umur panjang. "
"Terima kasih Tuan Putri. Hamba sungguh senang dapat
melayani Tuan Putri. Hanya ini yang dapat hamba lakukan, rukas Nenek Gabayan. "
Raja Hangat Garang yang menyaksikan kejadian itu, menjadi naik pitam. Pasukanya segera disuruh menggempur pemuda itu . Namun , bukan Bareno kalau tidak dapat melayani mereka . Pasukan Hangat Garang dibuat kocar-kacir. Satu persaru prajurit Raja Hangat Garang dihajarnya sehingga membuat prajurit yang tersisa ketakutan . Meskipun Raja Hangat Garang terus-menerus memberi semangat, pasuka nnya tak mampu mengalahkan Bareno . Segala senja ta digunakan unruk memb unuh Bareno. Akan tetapi, tak satu pun yang mampu melukainya. "Kurang ajar, beraninya pemuda ingusan itu mencampuri urusanlll . Rupanya, dia belum tahu siapa Raja Hangat Garang," kata Hangat Garang penuh emosi. "Tuanku , dia sangat sakti. Tubuhnya kebal terhadap senjata. Pedang, panah , dan tombak tidak mampu menembus tubuhn ya," sahut prajurit yang masih hidup . Raja Hangat Garang segera maju menghad api Bareno . Dia meny erang dengan penuh emosi. Akibatn ya , banyak pukulan yang tidak mengenai sasaran. Tendangannya pun menjadi tidak menentu arabnya. "Mati kauanak muda, " teriaknya. Dia sangat bernafsu untuk membunuh lawannya. Segala cara ditempuhnya. Gerakan dan jurus silat yang dikuasainya dikeluark an. Nam un, karena dia sangat emosi, gerakan (ubuhnya menjadi kacau . Jurus-jurus yang biasanya sangat dita kuti kini ti.dak tampak. Sebalikn ya , Bar eno melaya ni lawannya dengan sabar. Dia menunggu saat lawannya lengah. Jika lawan lengah, dia baru melepaskan pukulan. Dengan cara itu, dia berhasil memukul lawannya. Raja Hangat Garang menjadi bertambah emosi. Gerakannya menjadi bertambah kacau. Jurus-jurusnya semakin tidak 56 13
Suasana di rumah Nenek Gabayan siang itu sangat meriah . Walaupun hanya ada empat orang, suara riuh dan tawa ria mereka terdengar jelas. Mereka sangat bahagia. Pada saat sedang bersendau gurau, mereka melihat seekor kucing yang manis melintas di depan mereka. Kucing berb ulu hitam halus dan belang tiga iru lalu mereka belai ber gantian. Kemudian mereka bergantian mengelus-elusnya .
"Nek , kucing hitam belang tiga ini milik Nenek!" tanya putri tertua, Reno Sari.
"Benar, Tuan Putri. Kucing ini memang milik hamba . Kucing itu hamba dapatkan di dekat bukit di sana itu . Dia sangat manja," jawab Nenek Gabayan meyakinkan.
Putri Talayang sangat terpikat oleh kucing itu . Bulunya halus dan lembut. Warna bulunya yang hitam dengan belang tiga sangat indah dipandang. Dia tak henti-henti mengelus elusnya. "Nek, boleh tidak kucing ini kuminta. Aku ingin memilikinya, Nek," pintanya merengek.
Karena asyiknya bercengkerama dengan kucing itu, mere ka hampir lupa tujuannya turun ke bumi. Jika tidak diingatk an Nenek Gabayan, mereka barangkali sudah lupa .
Mereka tidak menyesal telah membuang waktu karena bermai n-main dengan kucing itu. Meskipu n demikian , mereka tetap ingin mandi di telaga. Mereka pun kemudian minta izin kepada Nenek Gabayan untuk mandi.
"Rupanya hari telah siang, Nek. Matahari pun mulai beranjak naik . Izinkan kami mandi dulu di telaga . Seusai mandi, nanti kami akan kembali ke sini, Nek," kata ketiga putri minta diri kepada Nenek Gabayan.
"Memang seharusnya begitu, Tuan Putri. Sebaiknya Tuan Putri mandi dulu agar badan menjadi segar, II jawab Nenek Gabayan.
pemuda . Dia sangat heran melihat keterampilan dan kegesitan anak muda itu. Garuda raksasa yang sangat ditakuti prajurit ' musuh sekarang mendapat lawan yang seimbang. Bareno yang dihadapinya dapat mengimbangi kekuatan burung itu. Pertempuran antara burung raksasa dan seorang pemuda itu pun berlangsung sangat seru. Rakyat Mendang Kemulan yang melihat dari celah rumahnya sangat berharap pada pemuda itu. Mereka sempat bertanya-tanya dalam hati. Siapa gerangan pemuda yang sangat pemberani itu? Bareno dengan berbekal ilmu yang diberikan oleh kakek pertapa sangat merepotkan musuhnya. Dia menggunakan mantra saktinya dan digunakanlah gelang akar bahar. Dengan segal a ilmunya itu, Bareno dapat menahan serbuan burung raksasa. Sambaran-sambaran dan patukan burung itu dapat ditahannya. Bahkan, dengan gelang akar baharnya dia bisa terbang . Mula-mula dipatahkan bagian sayap kirinya. Burung raksasa itu menjadi limbung. Dia tidak punya keseimbangan lagi karena sayapnya tinggal sebelah. Kesempatan itu segera dimanfaatkan Bareno . Disambarnyasayap yang tinggal sebelah itu dan dipatahkan. Akibatnya, kedua sayap burung itu patah sehingga dia sudah tidak dapat terbang. Meskipun sudah tidak bersayap, burung itu masih ganas. Patukannya masih keras sekali. Batu besar pun dapat dipecahkan dengan sekali patuk. Namun, Bareno tidak kekurangan akal. Dipegangnya tubuh garuda raksasa itu, lalu dilemparkan ke arah bukit. Tubuh burung itu pun terkulai lemas. Melihat kesempatan itu, Bareno segera mengerahkan semua kekuatannya. Dengansekali pukulan , burung raksasa itu akhirnya mati. 14 55
Mereka pun segera menuju ke telaga. Telaga itu terletak di kaki sebuah bukit. Dari perbukitan itu mengalir air yang sangat jernili. Jika dilihat dari kejauhan, tampak aliran air yang memutih berkilau diterpa sinar matahari. Indah sekali pemandangan di temp at itu.
Kejernilian air itu selalu terjaga karena tidak ada orang yang mengororinya . Sumber mata aimya pun tidak pemah kering karena hutan di tempat itu belum rusak. Tidak seorang pun yang berani merusak hutan itu. Pohon-pohon dengan aneka jenisn ya tumbuh dengan suburnya. Semua satwa yang ada di hutan itu merasa terlindungi. Batang dan ranting pohon besar menjadi tempat tinggal para binatang.
Karena keadaan hutan dan seisinya yang terjaga baik ini, mas yarakat sekitar dapat menikmatinya. Daun-daun kering yang jatuh tertiup angin membawa berkah bagi warga kampung sekitar hutan. Tanah-tanah mereka menjadi subur . Daun yang sudah kering dapat menjadi humus. Dengan adanya humus tanah menjadi gembur sehingga segala tanaman dapat tumbuh subur.
Ketiga putri dari langit itu tidak henti-hentinya memuji keindahan alam sekitar itu . Mereka sangat bangga pada Nenek Gabayan . Berkat dialah hutan dan segala isinya itu dapat terjaga . Segala binatang hidup rukun. Segal a tanaman hidup subur. Karena keindahan alam inilah ketiga putri itu selalu ingin berkunjung ke bumi. Mereka senang menikrnati kesejukan dan kejernihan air gunung yang alami. Air yang belum tercemar oleh limbah.
Sementara itu, di rumah Nenek Gabaya n, Bare no yang telah menjadi kucing hitam belang tiga sedang gelisah. Dia masih terkesima olen kemolekan ket iga putri iru, terle bih-lebib kepada Putri Talayang. Putri itu sungguh cantik . Dia belum perna h ber temu dengan gadis secantik itu. Dalam hatinya timbul rasa cinta . Sehingga dia ingin memilikinya .
segal a kejahatan akan dapat dikalahkan oleh kebajikan ," kata Bareno menyemangati orang tua itu. Orang tua iru pun memberi tabu bahwa pasukan Raja Hangal Gatang dan burung raksasa itu sedang menuju istana Mendang Kemulan. Mereka akan menghancuran istana dan akan menawan raja beserta punggawanya. Bareno yang mendengar penjelasan orang itu segera pamit dan menuju ke istana Mendang Kemulan. Orang tua itu sangat beran ada anak muda yang sangat pembera ni . Padahal, dia bukan rakyat negeri itu . Orang rna itu juga berharap agar pemuda itu dapat mengalahkan musuhnya sehingga negerinya kembali aman damai seperti semula. Menjel ang tengah hari, matahari hampir di atas kepala. Pasukan Raja Hangat Garang beser ta burung kesayanga nnya hampir mendeka ti gerbang istana . Seluruh punggaw a yang telah mendengar akan kedatangan musuh merasa was-was. Mereka sudah menduga kalau musuh sampai masuk ke istana, hampir dipastik an kerajaan akan jatuh. Prajurit Mendang Kemulan yang tersisa banyak yang masih terluka. Pangl ima perang pun menjadi sangat khawatir. Dari kejauhan sudah tampak iring-ir ingan pasukan musuh mendekati gerbang . Burung raksasa terba ng sambil merusak segala yang dilaluinya. Rakyat yang melihat kejadian itu sangat panik . Tidak ada seorang pun yang berani ke luar rumah. Pintu rumah mereka kunci rapa t-rapat. Mereka hanya berani mengintip dari dalam. Raja Hangat Garang sudah merasa yakin dapat menghancurkan negeri Mendang Kemulan. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara yang mencurigakan . Setelah diamati, ternyata burung garuda raksasa tengah bertempur dengan seorang 54 L
"Alangkah cantiknya putri-putri itu," gumam Bareno, "Seumur hidupku baru sekarang berjumpa dengan gadis secantik itu . Apalagi putri ketiga, aku sungguh telahj atuh hati. Aku hams car i akal supaya dia bisa tinggal di sinj lebih lama," kala Bareno dalam hati.
Bareno segera mengambil buah-buaban, antara lain, plsang dan jambu. Buah-buahan itu diberinya mantra peng asihan . Mantra yang dibacakan Bareno hanya ditujukan kepada Putr i Talayang. Seusai menyiapkan segala sesuatunya, buah -buaban itu pun diletakk an di tempat makan . Sementara itu , Nenek Gabayan juga telah menyiapkan makan siang unruk ketiga putri itu . Memang demikianlah kebiasan Nenek Gabayan setiap kali putri-putri itu turun ke bumi. Pada wakrn mereka sedang mandi di telaga, Nenek Gabayan selalu menyiapkan makan untuk mereka.
Sementara nenek Gabayan menyiapkan hidangan untuk ketiga putri itu di telaga, ketiga putri itu mandi dengan riangnya. Mereka berenang saling berkejar an dengan tawa ria. Telah berjam-jam mereka berenang, tapi mereka tak juga merasa capai. Mereka sangat terkesan oleh pemandangan panorama di sekitar temp at itu. Bermacam-m acam bunga, seperti mawar, anggrek, melati, dan bunga-b unga butan tumbuh bermekaran tertata rapi di tepi telaga.
Setelah merasa agak lelah, mereka mereb ahka n diri di
bebatuan dekat telaga itu. Rambut mereka yang panjang mengurai sangat harum baunya karena bunga-bunga yang berjatuhan di air telaga. Setelah itu, biasanya mereka berenang lagi sampai berjam-jam lamanya.
seberang. Dia sedang meneari kekasibnya yang hilang, tetapi tersesat. Orang tua itu menjadi pereaya bahwa Bareno itu anak yang bail<. Karena ingin tahu kejadian yang menimpa daerah itu, Bareno pun banyak bertanya kepada orang tua itu. "Pak, saya lihat kampung ini sepi sekali. Sepertinya ada yang tidak beres. Ada apa, Pak?" tanya Bareno ingin tahu. Karena sudah pereaya kepada ketulusan Bareno, orang tua itu mau memberi tahu keadaan yang sedang terjadi di negeri Mendang Kemulan. "Negeri ini sedang dilanda peperangan, Nak. Ada raja yang jahat menyerang raja kami. Dia mengerahkan semua pasukannya serta seekor garuda raksasa yang kejam," kata orang tua itu penuh haru. Dengan air mata yang membasahi pelupuk matanya, dia melanjutkan, "Banyak prajurit negeri ini yang mati terbunuh oleh burung raksasa ifu. Anak Bapak pun terbunuh bersama prajurit lainnya. Tidak hanya itu saja, Nak, rumah-rumah penduduk pun dihaneurkannya." Bareno yang mendengar eerita orang tua itu menjadi iba. Dia ingin sekali menolong rakyat negeri yang disinggahinya itu . Dia ingat pesan gurunya bahwa hidup itu harus selalu tolong-menolong. Selagi masih dapat membantu mengapa tidak dilakukannya. Bareno kemudian menanyakan keberadaan musuh kepada orang tua itu. "Pak, di mana burung raksasa itu berada. Saya bermaksud menolong rakyat negeri ini, Pak," kata Bareno. "Nak, pikirkan dulu. Burung itu sangat ganas. Panglima perang negeri ini pun tidak sanggup melawannya," jawab orang tua itu penuh ragu. "Bapak jangan khawatir. Saya akan berusaha membantu Bapak dan seluruh rakyat di sini. Pereayalah, Pak, bahwa 16 53
"Dinda, mari kita segera kembali ke temp at Nenek!" ajak Putri Reno Sari kepada kedua adiknya.
"Hari sudah siang, matahari pun sudah tegak di atas, " lanjutnya.
"Baik, Kak. Kami akan segera ke tepi, "jawab putri kedua dan ketiga serempak. Mereka pun segera kembali ke tempat Nenek Gabayan. Mereka merasa tidak enak jika nenek terlalu lama menunggu.
Di rumah Nenek Gabayan, segala hidangan hasil hutan dan kebun belakang rumah pun sudah siap menanti. Nenek Gabayan sudah menunggu ketiga putri itu di depan pintu rumahnya. Darijauh tampak mereka sedang berjalan ke rumah Nenek Gabayan. Mereka berjalan sambil bergurau. Kadangkadang mereka saling menyindir. Nenek Gabayan sangat gerribira melihatnya.
Pada saat itu, si kueing hitam belang tiga mengubah dirinya menjadi manusia lagi . "Bareno, kautelah kembali ke wujudmu semula, N ak," tanya Nenek Gabayan. Bukankah sebentar lagi ketiga putri itu akan segera tiba. Bagaimana aku harus mengatakannya, eueuku," lanjut Nenek Gabayan agak bingung dan gugup.
"Nek, bukankah Nenek telah menganggap saya sebagai cueu . Jadi, katakan saja pada mereka bahwa saya eueu Nenek. Beres, kan!" jawab Bareno meyakinkan Nenek Gabayan.
Ketika mendengar penjelasan Bareno, Nenek Gabayan tertawa sendiri . Dia lupa bahwa Bareno telah dianggapnya
sebagai cucunya. Lalu dia berujar, "Nenek memang sudah pikun, Nak, sudah tua. Baru kemarin aku bilang kaucucuku, sekarang lupa lagi. "
Tidak lama setelah mereka berbincang, ketiga putri itu pun datang . Ketiganya seger a disambut dengan sukacita oleh Nenek Gabayan. Bareno belum menampakkan dirinya. Dia masih duduk di dalam kamarnya. Ketiga putri itu pun lalu diajak nenek makan. Rupanya, mereka lebih senang makan buah. Kata mereka buah sangat baik untuk kesehatan. Buah dapat membantu mencernakan makanan, di samping banyak mengandung vitamin. Hampir semua buah yang disajikan Bareno dimakannya . Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani paling suka makan buah pepaya dan pisang, sedangkan Putri Talayang lebih suka makan buah apel dan jeruk.
6. BARENO MENOLONG KAMALA NELl Sementara orang-orang di dalam istana Mendang Kemulan masih bingung memikirkan jalan keluar, di sebuah sungai di pinggir desa seorang anak muda sedang duduk melepaskan lelah . Dia selesai mandi di sungai yang airnya jernih itu. Pemuda itu berkata dalam hati, "Ehm, sepi sekali kampung ini. Sepertinya ada yang tak beres. Saya harus mencari tahu." Sehabis melepas lelah, pemuda itu segera menuju kampung terdekat dari sungai itu. Dia ingin tahu apa yang terjadi di sini . Dia pun ingin tahu nama daerah teinpat yang disinggahinya itu. Pemuda itu tak lain adalah Bareno. Dia menemui orang tua yang sedang duduk di serambi rumahnya. Orang tua itu kelihatannya sangat berduka. Bareno segera menghampirinya . "Pak, di manakah saya sekarang ini," tanya Bareno. Orang tua itu tidak segera menjawab. Dia sepertinya penuh selidik curiga. Bareno menangkap firasat itu dengan meyakinkan orang tua itu bahwa dia orang baik dan sedang tersesat. Dengan sedikit keraguan, orang tua itu menjawab, "Anak sekarang berada di Negeri Mendang Kemulan. Kalau Bapak boleh tahu, Anak ini dari mana?" Bareno segera menjawab bahwa dirinya berasal dari negeri 52 17
Ketiga putri itu sangat terkejut karena ada pemuda yang gagah dan tampan muncul di ruang itu. Mereka segera menanyakannya kepada Nenek Gabayan. Nenek Gabayan menceritakan bahwa pemuda itu bernama Bareno. Dia adalah cucu satu-satunya yang baru saja datang. Mereka lalu saling berkenalan. Dalam hati mereka sangat mengagumi ketampanan dan kegagahan pemuda itu. Yang paling tertarik kepada Bareno adalah Putri Talayang. Kulit bersih, badan tegap, dan perangai bagus, itu yang membuat Putri Talayang tertarik. Selain itu, baik tutur katanya dan halus budi pekertinya. Mereka pun cepat menjadi akrab. Mereka saling menceritakan kehidupannya. Nenek Gabayan hanya tersenyum-senyum melihat keakraban mereka. Mereka bercerita sambil makan buah-buah yang dihidangkan Nenek Gabayan.
Sehabis makan buah-buahan itu, mereka merasa segar bugar kembali. Namun, pada saat mereka sedang bersendau
gurau, tiba-tiba Putri Talayang merasa pusing. Dia pun lalu roboh. Badannya demam, tenaganya seperti hilang semua. Dia tak kuat lagi berdiri. Kedua kakaknya bingung. Mereka tidak tahu apa yang haros dilakukan untuk menolong adiknya, Putri Talayang . Nenek Gabayan yang tahu rencana Bareno hanya diam saja . Bareno lalu menawarkan diri untuk mer awatnya. Dalam hati , Putri Talayang sebenarnya juga senang. Dia akan menjadi semakin dek at dengan Bareno. Kedua kakaknya pun menyetuju inya. Keduanya lalu memutu skan untuk kembali ke langit dan aka n menjemput Talayang beberapa hari lagi.
"Kanda , biark an saya di sini beberapa hari lagi. Kakak sebaiknya pul ang saja . Setelah badan saya kuat, nanti saya akan pulang sendiri," pinta Putri Talayang kepada kedua kakaknya.
"Dind a, Kakak pulang dulu karena khawatir Ayah anda akan mencari-cari kita . Nanti akan kakak ceritakan keadaanmu kepada Ayahanda. Kemudian kami akan sege ra kemb ali ke sini untuk menjemputmu," jawab Reno Sari menghibur Talayang.
Keduanya lalu berpamitan kepada nenek Gabayan. "Nek, kami pamit dulu, titip adik kami, ya, Nek!" katanya.
Mereka berjanji akan segera menjemput adiknya. Dengan pakaian yang khusus dipakai oleh para putri, mereka lalu terbang pulang ke langit. Sebenarnya mereka tidak tega melihat keadaan adiknya yang terbaring lemah. Namun, jika mereka tidak segera pulang, ayalmya akan bingung mencari mereka. Akhirnya, mereka merelakan adiknya tinggal di temp at N enek Gabayan. Mereka tidak khawatir karena di situ ada nenek Gabayan dan Bareno yang bersedia merawatnya.
Pang lima perang menghadap Raw Kamala Neli. Dengan penuh rasa kekecewaan, dia mengatakan, "BagilUia Raja, hamba mohon ampun . Hamba tidak dapat menja/ankan tugas dengan baik. 18 51
Sepeninggal kedua kakaknya, Putri Talayang dirawat oleh
Bareno. Dengan sabar Bareno berusaha menyembuhkannya. Tidak berselang lama, penyakit yang diderita Putri Talayang pun dapat sembuh. Putri Talayang sangat senang. Demikian pula dengan Bareno, dia sangat sukacita. Nenek Gabayan yang melihat perkembangan mereka menjadi gembira.
mencari jalan keluarnya," kata Kamala Neli meyakinkan panglima perangnya. Seluruh punggawa dan penasihat kerajaan segera dikumpulkan. Mereka dimintai pertimbangan untuk mengatasi permasalahan. Yang hadir pad a pertemuan itu tennasuk Indo Jati, ayahandanya . Mereka saling bermusyawarah. Meskipun para penasihat telah bennusyawarah, jalan keluar belum juga didapatkan. Semua saling berpandangan. Mereka saling menunggu usulan dan saran dari yang lain. Ratu Kamala Neli tampak tenang meskipun menghadapi situasi yang gawat seperti itu. "Ramanda Indo lati dan Paman semua, kita memang sedang dalam kesulitan. Akan tetapi, kita tidak boleh larut dalam kesedihan itu. lika berlarut-larut, hal itu justru akan menguntungkan pihak musuh, " kata Ratu Kamala Neli dengan sangat tenang. Para penasihat dan punggawa tidak menyangka kalau Ratu Kamala Neli dapat setegar itu menghadapi cobaan. Indo Jati dalam hatinya sangat bangga terhadap putrinya itu. Semua yang hadir menunggu apa tindakan yang akan diputuskan Rajanya. 50 19
Hari berganti hari, waktu pun terus berlalu . Mereka menjadi semakin akrab. Keduanya bersepakat pada suatu saat nanti mereka akan menjadi suami istri. Namun, Putri Talayang menjadi khawatir karena kedua kakaknya akan menjemputnya . lika mereka menjemputnya, Putri pasti akan dipaksa pulang ke langit. Padahal, dia sangat ingin tetap tinggal di rumah Ncnek Gabayan bersama Bareno.
Apa yang dikhawatirkan Putri Talayang ternyata menjadi kenyataan. Kedua kakaknya turun ke bumi untuk menjemputnya. Mereka mengatakan bahwa Putri Talayang harus pulang bersamanya. Jika Putri Talayang tidak mau pulang, mereka akan melaporkan keadaan sebenarnya kepada ayahandanya . Mereka sudah mengetahui bahwa Putri Talayang telah jatuh cinta kepada Bareno. Padahal, Putri Talayang itu sudah ditunangkan dengan Raja Jin. Ayahnya pasti akan marah jika mengetahui hal itu.
"Dinda, kami datang untuk menjemputmu. Mari kita pulang. Dinda kan sudah sembuh," kata Putri Reno Sari kepada Putri Talayang.
"Ayahanda sudah berpesan agar Kanda membawa Dinda pulang, " kata Mayang Sani menirnpali kakaknya.
"Kanda, Dinda masih ingin di sini untuk beberapa hari lagi. Sekarang Kanda pulang saja dulu. Katakan pada Ayahanda bahwa saya akan pulang sendiri. Kanda tidak usah menjemput Adinda," jawab Putri Talayang memberi alas an
kepada kakaknya.
"Dinda, Ayahanda sudah berpesan, Dinda harus pulang bersama kami. Jika Dinda tidak mau pulang, Ayahanda akan marah. Kautahu, Dinda, bagaimana kalau Ayahanda marah," kata kakaknya membujuk Putri Talayang.
Mendang Kemulan mati terbunuh. Mereka dipatuk dan dis ambar hingga tunggang langgang. Burung raksasa itu rupanya belum puas hanya dengan membantai musuhnya. Rumah-rumah penduduk pun dirobohkannya. Dahan-dahan besar banyak yang jatuh berserakan menghalangi musuh melarikan diri. Penduduk yang tidak tahumenahu perang pun menjadi sasaran kemarahan burung raksasa itu. Raja Hangat Garang tertawa riang melihat burung kesayangannya berhasil memporak -porandakan dan mengaeaubalaukan musuh. "Ha ... ha ... ha ... sebentar lagi negeri Mendang Kemulan akan jatuh ke tanganku. Kamala Neli pun akan menjadi tawanan," kata Raja Hangat Garang sambil terbahak-bahak kegirangan. Para prajurit Mendang Kemulan tidak ada yang kuasa melawan keganasan burung garuda raksasa itu. Senjata mereka pun tidak dapat melukainya. Burung itu rupanya kebal terhadap senjata, seperti pedang, panah, dan tombak. Pang lima perang negeri segera memerintahkan pasukannya untuk mundur. "Pasukan mundur ... ,kita harus mundur dulu. Atur strategi baru untuk mengahadapinya," kata Panglima kepada para prajuritnya. Setelah semua prajurit mundur, pang lima perang segera menghadap Ratu Kamala N eli. Dengan penuh rasa kekeeewaan, dia mengatakan, "Baginda Raja, hamba mohon ampun. Hamba tidak dapat menjalankan tugas dengan baik. Kami telah dikalahkan oleh garuda raksasa." "Panglima, kau tidak perlu merasa bersalah. Saya tahu bahwa kalian telah berjuang. Jika memang kalah, kita harus 20 49
Putri Talayang ternyata tidak mau diajak pulang ke langit. Kedua orang kakaknya sudah tidak dapat membujuknya lagi. Merekajuga sudah minta tolong kepada Nenek Gabayan untuk membujuk Putri Talayang. Meskipun Nenek Gabayan sudah membujuknya, Putri Talayang tetap tidak mau pulang. Dia masih ingin tinggal di rumah nenek Gabayan. Dia masih ingin selalu dekat dengan Bareno.
Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani pun segera pamit kepada Nenek Gabayan. Mereka akan melaporkan keadaan Putri Talayang kepada ayahandanya. Sebenamya, mereka juga khawatir ayahandanya sampai marah kepada adik tereintanya itu. Jika ayahandanya marah, malapetaka bakal menimpa Putri Talayang. Mereka telah berusaha agar Putri Talayang mau pulang, tetapi usahanya tidak berhasil. Putri Talayang tidak mau kembali ke langit bersama mereka.
"Nek, bolehkah saya tinggal di sini untuk beberapa hari? Saya masih ingin menikmati suasana alam di sekitar sini, Nek," kata Putri Talayang berkilah pada Nenek Gabayan. Nenek Gabayan yang sebenarnya sudah mengetahui perasaan Putri Talayang hanya tersenyum saja. Sambil meletakkan sirih di tempolong, dia berkata, "Oh, tentu saja boleh, Tuan Putri. Kalau Tuan Putri ada di sini rumah ini akan menjadi ramai. Bareno, eueuku pun menjadi tidak sering melamun lagi," jawab Nenek Gabayan sambil menyindir Putri. Orang yang disindir hanya tersenyum-senyum malu.
Hari-hari berikutnya Nenek Gabayan, Putri Talayang, dan Bareno menjalani hid up dengan penuh ceria. Rumah tempat tinggal Nenek Gal5ayan menjad -r agak menah. Dengan bertambahnya penghuni, Nenek Gabayan menjadi tidak terlalu kesepian. Biasanya, jika Bareno pergi ke kebun atau berburu binatang, dia hanya tinggal seorang diri. Menjangan kesayangannya pun selalu ikut dengan Bareno . Sekarang, Nenek Gabayan punya ternan bicara, yaitu Putri Talayang.
Rakyat Mendang Kemulan yang mengetahui pasukan musuh segera melapor kepada punggawanya. Ratu Kamala Neli memerintahkan kepada pang1ima perang dan se1uruh prajuritnya menghadang musuh. Pertempuran kedua pasukan iru pun tidak terelakkan. Bunyi Pedang yang saling beradu dan panah yang berseliweran menambah kekhawatiran rakyat jelata. Banyak korban berjatuhan. Dengan gagah berani pasukan Mendang Kemulan hampir dapat mengalahkan pasukan Raja Hangat Garang. Mereka hampir mendesak musuh hingga daerah perbatasan. Raja Hangat Garang yang melihat pasukannya hampir kalah segera memanggil burung garuda raksasa kesayangannya. Burung itu selalu dipanggil setiap dia mengalami kesulitan. Ketika mendengar siutan Hangat Garang, burung garuda itu pun segera meluncur ke bawah. Setelah sampai di hadapan ruannya, dia segera diperintahkan untuk mengancurkan pasukan musuh. "Garudaku, musnahkan pasukan Mendang Kemulan. Buat porak -poranda mereka. Hancurkan tempat tinggal rakyat negeri itu," kata Raja Hangat Garang memerintah garuda untuk menyerbu musuh. Burung itu pun segera terbang ke tempat pertempuran. Di sana dia melihat pasukan musuh dengan berbagai senjatanya. Dia segera mengepakkan sayapnya. Pasukan negeri Mendang Kemulan sangat terkejut melihat kedatangan burung itu. Belum hilang rasa kagetnya, burung raksasa itu telah menyambar-nyambar mereka. Segala senjata dilepaskan ke arah burung itu, tapi tak satu pun mampu menembusnya. Bahkan, mereka dibuat kalang kabut. Banyak pasukan 48 21
Bareno juga menjadi lebih bersemangat. Dia selalu bangun lebih pagi dari biasanya. Pagi sekali dia sudah berangkat ke kebun untuk memetik sayur-sayuran. Dia merasa sangat senang karena bisa dekat dengan orang yang dicintainya. Putri Talayang pun tidak segan-segan turun ke kebun. Dia belajar cara menanam sayur, menyianginya, hingga cara memetiknya. Semua dilakukannya dengan senang hati. Sebagai putri yang hidup di langit, dia belum pernah mengenal cara bercocok tanam. Baru kali inilah dia belajar semua itu.
'.:- __ SkF ?5 -C:-= .-:--:-
Dia terkenal sebagai raja yang senang berjudi, dan bermabukmabukan. Mereka khawatir jika rajanya mau menerima lamaran itu. Utusan itu pun segera disuruh agak ke depan . Dia dipersilakan mengatakannya sendiri kepada Ratu Kemala Neli. "Yang Mulia Ratu Kamala Neli, hamba utusan Raja Hangat Garang. Hamba diminta menyampaikan pesan tuanku," kata utusan itu ke hadapan Ratu Kamala Neli dan para punggawa . "Hai utusan, katakan apa pes an rajamu , " kata Raja Kamala . "Yang Mulia, Tuanku Raja Hangat Garang bermaksud melamar paduka, " jawab utusan itu . Ratu Kamala Neli sudah terbiasa bersikap tegas. Dia memutuskan saat itu juga. Dia langsung menjawab lamaran Raja Hangat Garang itu. "Hai, utusan, katakan kepada raj amu bahwa saya tidak bersedia menjadi istrinya , " katanya lantang. Utusan itu segera pulang ke negerinya dan menyampaikan pes an itu kepada rajanya . Setelah mendengar jawaban Kamala , Raja Hangat Garang menjadi marah . Dia akan menyerbu negeri Mendang Kemulan . Dengan galaknya dia berteriakteriak, "Hai , punggawa-punggawaku . Kalian harus segera bersiap. Kumpulkan segala senjata . Kita akan menyerang Mendang Kemulan. Kita jadikan lautan api negeri itu , " katanya penuh amarah. Panglima perang dan para prajuritnya pun dipersiapkan. Setelah semua dirasa sudah siap, mereka berangkat menuju Mendang Kemulan. Jarak kedua negeri itu memang tidak terlalu jauh . Hanya beberapa hari perjalanan kaki, pasukan Raja Hangat Garang sudah sampai di negeri Mendang Kemulan. Mereka segera menggelar taktik perang. Terompet perang dibunyikan sebagai pertanda tantangan. 22 47
Pwr i Talayan g memeluk dan mengelus kucing hiram belang riga dengan penuh kasih sayang .
3. PUTRI TALA YANG KENA KUTUKAN
engkau telah menjadi seorang raja. Segala tingkah laku dan perbuatanmu akan menjadi contoh bagi rakyatmu. Saya titipkan negeri dan rakyat ini di pundakmu, anakku!" Keesokan harinya, setelah pesta penobatan usai, Ratu Kamala Neli mulai menjalankan tugasnya. Segala sesuatu yang dulunya dilakukan oleh ayahnya sekarang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun sudah menjadi raja, sifatnya yang ramah tamah dan suka menolong tidak pernah berubah. Dia juga tidak segan untuk meminta pendapat bawahannyajika memang tidak tahu . Negeri Mendang Kemulan di bawah kepemimpinannya tumbuh dan berkembang pesat. Banyak negeri lain yang iri melihat kemajuan yang dicapai negeri itu . Banyak juga raja dari negeri tetangga yang ingin belajar kepada Ratu Kamala Neli. Berbagai negeri diajaknya untuk saling bekerja sarna dan tolong-menolong. Karena kesibukannya mengatur dan memimpin negerinya, Ratu Kamala Neli sampai lupa memikirkan dirinya . Dia sampai lupa bahwa dia sudah saatnya untuk bersuami. Sebenarnya, banyak pangeran dan raja dari berbagai negeri yang melamarnya . Tidak satu pun dari mereka yang diterimanya dengan alasan Kamala belum siap untuk menikah. Ada raja dan pangeran yang dapat memahaminya. Namun, banyak pula yang kecewa terhadap sikap Ratu Kamala Neli itu. Pada suatu hari, datanglah utusan Raja Hangat Garang. Utusan itu mengatakan bahwa Raja Hangat Garang ingin melamar Ratu Kamala Neli. Semua yang hadir di istana Mendang Kemulan saling berpandangan . Mereka tahu bahwa Raja Hangat Garang terkenal kejarnnya. Banyak rakyaknya yang dipaksa membayar pajak tinggi untuk bersenang-senang. 46 23
Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani gaga I membawa adiknya pulang. Mereka segera melapor kepada ayahandanya, Raja Langit. Mereka mengatakan bahwa Putri Talayang belum bersedia pulang bersamanya. Mereka sebenarnya ingin menutupi apa yang telah terjadi pada diri adiknya. Keduanya tidak ingin adiknya mendapat celaka karena murka ayahanda-nya .
Ayahanda mereka rupanya telah mengetahui apa yang dialami oleh putri bungsunya. Dengan cermin gaibnya, dia dapat melihat apa yang terjadi di dunia. Dia dapat melihat apa yang ingin diketahuinya.
"Putriku Reno Sari dan Mayang Sani, kalian tidak perlu menyembunyikan rahasia. Rupanya, adikmu telah berbual kesalahan . Dia telah mencintai manusia, " kata ayahnya penuh amarah.
Lalu katanya, "Kalian tahu, dia itu sudah bertunangan dengan Raja Jin. Jika Raja Jin tahu hal ini, apa jadinya nanti. Dia pasti akan marah . "
Kedua putri itu tidak berani berkata sepatah kata pun. Mereka hanya merunduk. Tidak ada keberanian sedikit pun untuk menatap ayahandanya. Dalam hati mereka hanya berharap agar ayahandanya tidak murka terhadap Putri Talayang .
Raja Langit tahu apa yang dirasakan oleh kedua putrinya. Kemudian dia, dengan sedikit agak lunak, berkata pada mereka. Dia menyuruh mereka menemui Putri Talayang sekali lagi. Mereka diminta menceritakan bahwa ayahnya telah tahu apa yang telah terjadi .
Setelah mereka beristirahat sebentar, datang si Selamat dengan membawa secarik kertas yang digulung. Dia akan menyampaikan maklumat raja. "Hai, rakyat negeri Mendang Kemulan yang saya cintai, saya datang membawa perintah Baginda Raja. Saya disuruh membacakan maklumatnya. Dengarkan baik-baik, pada hari Anggoro kasih (Selasa Kliwon) Baginda akan mengangkat Putri Kamala Neli menjadi raja. Putri Kamala Neli akan menggantikan Baginda Raja Indo lati," kata si Selamat dengan lantang . Rakyat Mendang Kemulan yang berkumpul di alun-alun itu menyambutnya dengan suka cita. Tepuk tang an dan teriakan kegembiraan membahana. Mereka tahu bahwa Putri Kamala Neli akan memimpin dengan arif dan bijaksana seperti ayahnya. Si Selamat pun segera memerintahkan seluruh rakyat untuk mempersiapkan pesta penobatan Kamala Neli. Negeri Mendang Kemulan benar-benar merayakan pesta penobatan Putri Kamala secara besar-besaran. Walaupun begitu, semua biaya yang digunakan untuk pesta tidak membebani rakyatnya. Pesta penobatan pun diadakan selama tujuh hari rujuh malam. Berbagai hiburan dipertunjukkan. Dalam pesta itu, rakyat yang agak kekurangan disantuninya. Tidak ada rakyat yang kelaparan di negeri itu. Pad a hari yang telah ditentukan, Raja Indo lati beserta para penasihat dan punggawa kerajaan segera mengadakan upacara. Hari itu baginda Indo lati melepas mahkota yang selama ini dipakainya. Mahkota itu diserahkannya kepada Putri Kamala Neli. Sejak saat itu Putri Kamala Nelilah yang menjadi raja di Negeri Mendang Kemulan. Sesaat setelah penobatannya, Indo lati berpesan kepada putrinya. Katanya, "Kamala, sekarang 24 45
"Putriku, Ayah tahu apa yang kalian rasakan. Kalian sangat mencintai adikmu. Akan tetapi, Ayah lebih tahu apa yang harus Ayah lakukan. Untuk itu, kalian turunlah ke bumi sekali lagi. Ajaklah adikmu pUlang. Katakan padanya bahwa Ayah sudah tahu semuanya," kata Raja Langit menyuruh kedua anaknya turun ke bumi.
Setelah mendapat perintah ayahnya itu, mereka lalu turun kembali ke bumi. Sebenarnya, mereka tidak sampai hati mengatakan apa yang diperintahkan ayahandanya kepada Putri Talayang. N amun, mereka juga tidak berani menolak kehendak ayahandanya. Dengan be rat hati mereka segera menuju ke rumah Nenek Gabayan.
"Kanda Reno, nanti Kanda saja, ya, yang mengatakan kepada Dinda Talayang. Dinda Mayang tidak tega menyampaikannya itu," bujuk Putri Mayang Sani kepada Reno Sari.
"Baiklah Dinda, nanti Kanda saja yang mengatakannya," sahut Reno Sari sambil mengajak adiknya mempercepat terbangnya.
Di tempat kediaman Nenek Gabayan, suasana masih tampak seperti semula . Mereka masih terlihat begitu bahagia. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan tamu yang sudah tidak asing. Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani, tamu yang sudah akrab dengan keluarga Nenek Gabayan. Mereka saling berpandangan. Putri Talayang menatap kedua kakaknya penuh rasa khawatir.
Keduanya mengucapkan salam seperti biasanya. Nenek Gabayan pun menyambut dengan gembira. Namun, Putri Talayang sudah menduga bahwa ayahandanya marah. Putri Reno Sari lalu mengutarakan apa yang dipesankan oleh ayahandanya.
masak, dipanggilnya Kamala Neli. "Putriku, aku sudah tua. Aku menganggap engkau telah mampu memimpin negeri ini. Bersiaplah menggantikanku\ Kamala," kata Raja Indo Jati. "Ramanda, mengapa terburu-buru? Bukankah Ramanda masih kuat memimpin negeri ini. Nanda merasa belum siap," jawab Kamala. Raja Indo Jati terus memberi dorongan kepada putrinya. Dia menyatakan bahwa setelah mundur, dia akan tetap mendampingi putrinya sebagai penasihat kerajaan. Akhirnya, usaha Indo Jati meyakinkan putrinya berhasil. Kamala Neli bersedia menggantikannya menjadi raja di Mendang Kemulan. Setelah Kamala Neli bersedia, Raja Indo Jati segera memanggil si Selamat. Dia menyuruh Selamat membunyikan tabuh larangan . Mendengar bunyi tabuh larangan itu, masyarakat segera menyahuti dengan bunyi tabuh serupa sehingga seisi negeri mendengarnya. Rakyat Mendang Kemulan telah hafal makna bunyi itu. Mereka segera berkumpul di alun-alun, suatu tempat lapang yang digunakan untuk berkumpul para punggawa dan rakyat. Mereka saling bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa mereka disuruh berkumpul di alun-alun. Seseorang yang agak tua bertanya kepada tetangganya, "Kang, ada apa, ya, kita disuruh kumpul di alun-alun. Apa ada musuh yang akan menyerang negeri kita, ya?" Mendengar pertanyaan seperti itu, yang lain pun ikut menjawab, "Saya juga tidak tahu, Kang!" Rakyat Mendang Kemulan yang sangat setia kepada rajanya itu menanti dengan cemas di alun-alun. Tua-muda, laki-Iaki-perempuan, besar-kecil, semua berkumpul di situ. 44 25
"Dinda Talayang, sekarang Kanda tidak dapat berbuat sesuatu lagi untukmu . Ayahanda sudah tahu semua yang rerjadi di sini . Dinda harus pulang bersama kami," suara Reno " Sari lirih.
Dia tak sanggup lagi melanjutkan bicaranya. Air matanya deras berderai mengalir dari pelupuk matanya.
Semua yang ada di rumah Nenek Gabayan tak kuasa menahan tangis . Mereka terharu mendengar kata-kata Reno Sari. Putri Talayang pun tak kuasa menahan tangisnya. Bareno dan Nenek Gabayan - tidak tega melihat Putri Talayang . Ketiganya saling berpelukan seolah tidak mau dipisahkan . Mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi pada diri Putri Talayang.
Kebersamaan Nenek Gabayan, Bareno, dan Putri Talayang sangat terasa. Walaupun keberadaan Putri Talayang di tempat itu hanya sebentar, dia sudah seperti keluarga Nenek Gabayan sendiri. Nenek Gabayan pun sudah menganggapnya sebagai cucunya sendiri, seperti Bareno. Bahkan, Putri juga sudah ridak merasa sungkan lagi kepada Nenek Gabayan. Dia sering bermanja dengan meminta Nenek Gabayan mengepang rambutnya yang panjang . Tidak jarang dia menyenderkan tubuhnya di bahu Nenek Gabayan.
Nenek Gabayan berkata, "Tuan Putri, Nenek berharap Tuan Putri tabah menghadapi cobaan ini. Tidak ada cobaan tanpa akhir. Jika Tuan Putri sabar dan kuat mengahadapinya,
Yang Kuasa pasti akan memberi anugerah. Percayalah itu, Tuan Putri ."
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak raja dan panger an dari negeri seberang dan pemuda-pemuda tertarik padanya. Raja Indo lati menyadari bahwa putrinya telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Sudah saatnya Kamala Neli mencari pendamping hidup . Dia tidak ingin putrinya itu mendapat suami yang tidak bertanggung jawab . Dengan penuh kebapakan , dia menasihati putrinya agar berhati-hati memilih pendamping . Sebagai putri yang akan menggantikan ayahnya menjadi raja , Kamala haros mendapatkan suami yang sede raj at. "Kamala, sekarang engkau telah menjadi gadis yang dewasa. Sudah saatnya dirimu akan mencari pendamping hidup. Pesanku, carilah suami yang dapat melindungimu , " pesan Raja Indo lati kepada Kamala Neli. Dengan senyum manisnya , Kamala menjawab, "Ramanda , biarlah Nanda belajar memimpin rakyat Mendang Kemulan dulu. Masih banyak yang harus Nanda pelajari. lika sudah tibti saatnya, pasti Nanda akan mendapatkan pasangan yang Nanda harapkan. " Begitulah sikap Kamala setiap kali ditanya ayahnya mengenai jodoh. Dia tidak ingin terlalu memikirkannya karena memikirkan negara jauh lebih penting. Ayahnya tidak dapat memaksanya . Dia hanya berharap agar putrinya mendapatkan pendamping yang baik. Usia Raja Indo lati memang sudah cukup tua. Tenaganya sudah tidak kuat lagi untuk memikirkan negerinya yang sangat luas . Sudah waktunya dia menyerahkan kekuasaan kepada putrinya . Dia menganggap bahwa Kamala Neli sudah mampu memimpin Mendang Kemulan. Setelah dipikirkan masak26 43
"Iya, Nek. Saya pasti ingat pes an Nenek. Semua cobaan ini haros aku lalui dengan tabah. Saya sangat berotang budi pada Nenek ," kata Putri Talayang penuh haro .
Dia lalu mendekati Bareno dan berkata, "Bareno , saya tidak dapat melupakan kebaikanmu. Saya berharap suatu saat nanti kita dipertemukan kembali. laga dirimu baik-baik."
Ketika mendengar perkataan Putri Talayang, Bereno tidak mampu berkata-kata. Tak sepatah kata pun dapat diucapkannya. Mukan ya yang putih bersih menjadi memerah. Nenek Gabayan pun tidak mampu menahan kesedihan.
Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani tak tega melihat kejadian yang memilukan itu. Keduanya mengerti betapa mereka sangat menyayangi adiknya. Namun , keduanya haros membawa adiknya pulang karena amanat ayahandanya.
"Nek , kami mohon diri . Maatkan kami, karena kami haros membawa Talayang pulang," kata mereka berdua kepada N enek Gabayan .
Setelah mengenakan pakaian kbasnya , mereka segera terbang ke langit. Di sana, ayahandanya , Raja Langit sudah menunggu. Dengan rnuka yang agak merah karena menahan marah, dia menyambut kedatangan ketiga putrinya. Belum sempat ketiganya memberi salam, dia sudah menarik tangan Putri Talayang. Seraya menyuruh Talayang duduk, dia menanyakan banyak hal.
Putri Talayang yang sudah tahu bahwa ayahnya marah tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terkunci . Kedua kakaknya hanya berdiam menanti apa yang akan terj adi . Dengan suara yang lantang, Raja Langit membentak-bentak Putri Talayang .
"Hai, Putri kecilku! Mengapa Nanda mengecewakan Ayah. Bukankah engkau telah dipinang oleh Raja Jin. Beraninya engkau bercinta dengan manusia," katanya penuh amarah.
Hari itu dia sedang duduk bersantai dengan putrinya itu. Dia selalu menyisipkan nasihat di saat santai sekalipun. "Kamala putriku, engkau satu-satunya penerusku . Sepeninggalanku nanti, hanya engkau yang kuharapkan," kata Raja Indo Jati kepada putrinya pada suatu waktu. "Mulai sekarang engkau harus sudah berlatih. Banyaldah turun ke desa, bergaullah dengan rakyatmu. Dengan begitu, engkau akan mengetahui keadaan yang sebenarnya," lanjutnya. "Baik, Ramanda. Nanda akan senantiasa mengingat petuah Ramanda, " jawab Kamala Neli. Seorang pemimpin memang harus raj in turun ke daerah, ke kampung-kampung. Dengan turun ke kampung, dia akan mengetahui keadaan rakyatnya. Dia tidak akan dengan mudah menerima laporan bawahannya. Setiap ada laporan dari bawahannya, raja yang baik dan bijaksana pasti akan mengecek kebenarannya. Jika laporan itu benar, akan segera diselesaikan permasalahannya. Namun, jika laporan punggawanya itu tidak benar, raja akan memberinya sanksi atau hukuman yang setimpal. Raja Indo Jati yang memerintah Kerajaan Mendang Kemulan juga dikenal sebagai raja yang arif dan bijaksana. Tidak mengherankan jika putri satu-satunya juga mempunyai sifat dan watak seperti ayahnya. Walaupun tugas-tugas kerajaan sangat padat, dia masih menyempatkan diri mendidik putrinya itu. Dia tidak sepenuhnya mempercayakan pendidikan putrinya kepada inang pengasuhnya. Tidak terasa hari berganti hari, bulan pun cepat berlalu, dan tahun pun telah berganti-ganti . Putri Kamala Neli telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Kabar mengenai kecantikannya telah terdengar sampai negeri-negeri tetangga. 42 27
"Bagaimana jadinya jika Raja Jin tahu semua ini, Ayah malu," lanjutnya.
Putri Talayang hanya diam seribu bahasa. Mukanya pucat pasi. Dalam hati dia hanya pasrah menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya . Kedua kakaknya pun sangat cemas. Mereka takutjika ayahnya mengutuk adiknya. Mereka sebenarnya bermaksud meredakan amarah ayahnya, tetapi tidak ada keberanian. Yang keluar dari mulut mereka hanya desahan panjang. Kekhawatiran mereka memang beralasan karena mereka tahu sifat ayahnya. Sesuatu pasti akan menimpa adiknya. Belum hilang rasa khawatirnya, mereka terkejut mendengar apa yang dikatakan ayahnya . "Talayang, karena engkau sudah membuat malu ayahmu dan bangsamu, engka u harus menerima hukumannya. Tidak pantas engkau menjadi seorang putri . Engkau sebaiknya menjadi bunga," kata ayahnya .
Perkataan Raja Langit yang penuh amarah itu ternyata merupakan sebuah kutukan. Mendapat kutukan seperti itu, seketika berubahlah Putri Talayang menjadi sekuntum bunga. Raja Langit memberinya nama bunga Cempaka Dewa atau bunga Bala Dewi. Bunga itu kemudian dilemparkan ke dunia. Setelah melayang-layang di angkasa, akhirnya bunga itu jatuh di sebuah telaga yang kebiru-biruan airnya. Tempat itu bernama Telaga Biru dan berada di bukit Mambang Sakti. Di tempat itu terdapat ular naga, buaya besar, dan binatang berbisa lainnya.
Kedua kakak Putri Talayang sangat bersedih. Mereka
sangat kehilangan karena ditinggal adiknya. Melihat semua itu, Raja Langit sedikit menghibur. Dia berkata, "Putriku, kalian jangan berlarut-larutdalarn kesedihan. Adikmu hanya membersihkan dosanya. "
Lalu lanjutnya, "Kalian jangan khawatir dengan keadaan adikmu. Di tempat itu adikmu arnan. Di sana dia dijaga oleh naga dan buaya besar serta binatang-binatang berbisa. Tak ada yang mengganggunya. "
5. BARENO DI NEGERI MENDANG KEMULAN Setelah berhasil membunuh jin raksasa, Bareno melanjutkan perjalanan. Karena tidak tahu arah menuju Telaga Biru , dia berjalan tanpa arah yang pasti. Akhi rnya , dia sampai di suatu negeri di Pulau lawa. Dia tahu, dia sudah terlalu jauh meninggalkan daerahnya . N egeri yang didatangi itu bernarna Mendang Kemulan, negeri yang sang at subur. Penduduknya hidup dalam kecukupan. Keadilan sangat dijunjung tinggi di negeri ini. Segala hasil bumi sudah dapat mencukupi warganya. Bahkan, sisanya dijual ke negeri lain. Bermacarn-macam binatang ternak dipelihara dengan baik. Singkatnya, negeri itu boleh dikatakan telah adil dan makmur. Orang negeri itu menyebutnya sebagai negeri yang gemah ripah lohjinawi. Rakyat dan pemimpinnya membaur, menyatu menjadi satu . Raja yang memimpin waktu itu adalah Raja Indo lati. Dia sangat dihormati rakyatnya. Segala kesulitan dan keluhan rakyatnya didengarkannya dengan sungguh-sungguh. Tidak mengherankan apa bila dia sang at dicintai oleh rakyatnya. Raja Indo lati mempunyai seorang puteri bernama Kamala Neli. Meskipun putrinya hanya seorang, dia tak pernah memanjakannya. Dia mendidiknya sebagaimana rakyat jelata . 28 41
Menurut Raja Langit, hanya orang sakti yang dapat menyentuh bunga Cempaka Dewa itu. Orang yang menginginkan bunga itu harus bertarung terlebih dulu dengan binatang yang menjaga telaga itu. Tidak sembarang orang dapat melakukannya. lika ada yang berhasil, pasti dia orang yang mempunyai ilmu kesaktian. Kedua kakak Putri Talayang pun menjadi agak terhibur. Mereka sudah tidak terlalu khawatir dengan nasib adiknya itu. Pada suatu saat nanti, adiknya pasti ada yang menolongnya. Bahkan, menurut ayahnya, setelah dipetik orang, bunga itu akan berubah kembali menjadi Putri Talayang.
( ) ---"" ' , I .: ; '. d "rr,:'" . ,-1 Mt .......,.. : -.. - .{I._ .. I "_. / .-'
, /' I _,'" C. .! .'../" - /.1' ./" " -. '. ,.' I) " , " ' " " " {JII1Il!' 1:1 'jlJl "Jif ,fo 'I.'- , . ... . r ,. ' , I . ;)h :-_oJ..., / i ;' _ . . .; .$. ' / '" .. " .., .. ,' . ... . . .' . \ - . " - '.'r " .• ' ,' 1(: ... . ./ "' , \ : " , . " ,', ,.. . . '"-., -"/ . . r. .r. .. " , "Hai, Raja lin' Sekarang rasakan pembalasanku. Tubuhmu yang sebesar gajah itu sudah membuat maw ayahmu dan bangsamu, akan kubuar tak bisa bangun, "kata Bareno dengan lantang. engkau harus menerima hukumannya. .-----.r ( . . 1 " ,., H . .; ;i:',-- '- . ;...;"!. ,' , /,,,' ,', :r'--- / ... "l __ ' 40 29
Mereka rerkejur melldengar apa yang dikatakan ayahnya. "Taiayang, karena engkau
4. BERTEMPUR DENGAN RAJA JIN
yang sebesar gajah itu akan kubuat tak bisa bangun," kata Bareno dengan lantang. Raja Jin hanya bisa me nahan amarah. Batinnya ingin sekali melahap Bareno, tetapi tenaganya sudah tidak kuat. Dia hanya berujar, "Kurang ajar! Beraninya kauejek Raja Jin ini. Terimalah hadiah ini, keparat!" seru Raja Jin dengan gusarnya sambil melepaskan sebuah pukulan kerasnya .. Bareno yang waspada segera menghindar. Pukulan Raja Jin itu dapat dielakkannya sehingga Raja Jin itu sempoyongan . Kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Bareno. Ditendangnya dadajin raksasa itu hingga terjerambab. Jimat giga hikmat yang berupa gelang akar bahar itu dia gunakan untu k melumpuhkan lawannya. Gelang itu dipakaianya di tangan kiri dan dipukulkannya ke tubuh j in itu. Seketika itu juga tubuh j in raksasa roboh . Dia tidak bisa bangkit lagi. Karena lukanya sangat parah, Raja Jin itu pun akhirnya mati. Bareno lalu beristirahat sejenak menghilangkan penat. Dia kelelahan karena bertarung habis-habisan dengan Raja Jin itu. Walaupun sang at lelah, dia merasa sangat lega. Musuh yang menghalanginya telah berhasil dikalahkannya. Sambil beristirahat di bawah pohon, dia berpikir arah mana yang akan ditujunya. Dia lupa bertanya kepada kakek arah menuju ke Telaga Biru. Setelah beristirahat sejenak, dia membersihkan badannya di pancuran. Dia mandi sepuas-puasnya. Segar rasanya setelah bertempur lalu mandi. Dia juga tidak lupa menyiapkan bekal untuk perjalanannya. Buah-buahan segar dipetiknya di hutan. Daging burung pun dipanggangnya. Dengan bekal itu, dia berharap perjalanannya akan lancar. 30 39
Kepergian Putri Talayang telah membuat Malin Bareno patah hati . Dia sangat bersedih. Siang dan mal am dia selalu memikirkan Putri Talayang.
Melihat keadaan itu, Nenek Gabayan menjadi sedih. Dia bingun g dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Segala upaya untuk menenangkan hati Bareno telah dilakukannya. Namun , Bareno sepertinya tidak menghira ukan petuah neneknya itu. Bahkan, semakin hari dia semakin tampak bersedih. Setiap kali disuruh makan, dia tidak pernah mau. Nenek Gabayan pun akhirnya hanya berpasrah kepada Sang Pencipta.
"Bareno, cucuku. Ikhlaskan saja kepergian Putri. Nenek tahu perasaanmu. Jika dia memang jodohmu, Yang Kuasa pasti akan mempertemukan kalian. Percayalah kepada Nenek, Nak!" kata Nenek Gabayan menghibur Bareno .
Siapa pun yang mengalami peristiwa seperti Bareno akan merasakannya . Akan tetapi, sebagai seorang pemuda dia seharusnya tidak cepat patah semangat. Masih banyak yang bisa dilakukannya. Nenek Gabayan pun tidak henti-hentinya membesarkan hatinya . Katanya, "Bareno, setiap orang pernah mengalami kesedihan . Tapi, jangan sampai kesedihan itu menghancurkan hidupmu. Engkau harus segera bangkit.
Lakukanlah apa yang memang seharusnya menjadi tugasmu."
Perang tanding antara Bareno dan Raja Jin pun tak dapat dihindarkan. Pertarungan itu berlangsung sangat seru. Raja Jin dengan tubuh besamya berusaha menangkap Bareno untuk dibantingkannya. Bareno yang dihadapinya sekarang ternyata tidak seperti dulu . Tubuhnya yang lebih kecil dari tubuh jin raksasa itu dapat berkelit. Bahkan, jin raksasa itu tidak kuat mengangkat tubuh Bareno. Raja Jin itu menjadi terkejut melihat kemampuan Bareno. Dia tidak menyangka kalau Bareno telah menguasai berbagai ilmu. Akibat pertarungan itu, banyak binatang hutan berlarian menyelamatkan diri. Suara gemuruh oleh derap langkah jin raksasa yang sangat besar itu sangat menakutkan. Burungburung beterbangan. Ranting-ranting kering berjatuhan. Daundaun berguguran, sepertitertiup angin. Bumi yang diinjak pun bergetar. Keadaan di hutan itu seperti terkena gempa bumi. Bareno yang telah dibekali berbagai ilmu oleh kakek pertapa tidak gentar sedikit pun . Dengan tenang dia melayani jin raksasa itu berkelahi . Setiap kali dia dipukul, dia mer'nbalasnya dengan tendangan. Dengan kelincahannya, dia dapat menghindar dari terkarnan Raja Jin. Bahkan, seringkali tendangannya mengenai sasaran. Pukulan Raja Jin yang keras tidak dirasakannya. Sernua itu terjadi karena dia telah memiliki ilmu kebal sehingga kulitnya menjadi keras seperti besi. Tubuh Raja Jin yang sangat besar itu dibuatnya tidak berdaya . Akibat kelincahan Bareno, pukulan Raja Jin banyak yang tidak rnengenai sasaran. Lama-kelamaan fisiknya semakin lemah, gerakannya pun menjadi sangat lamban. Raja Jin ... sudah tidak mampu lagi mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatannya. "Hai, Raja Jin! Sekarang rasakan pembalasanku. Tubuhmu 38 31
Kata-kata neneknya itu lama-kelamaan merasuk ke dalam hatinya. Dia kemudian menyaciari-bahwa sikapnya sel-ama ini tidak benar. Dia sudah bertekad untuk memperbaikinya. "Nek, maafkan sikapku selama ini. Saya terlalu larut dalam ., kesedihan . Saya berjanji akan berbuat yang lebih baik," kata Bareno sambil terisak. Dia memang telah bertekad untuk mencari kekasihnya.
Setelah sadar akan kesalahannya, Bareno pun segera mengutarakan niatnya . Nenek Gabayan merasa senang mendengarnya. N amun, dalam hatinya, N enek Gaba yan merasa khawatir. Dia tidak tahu ke mana Bareno akan mencari Putri Talayang. Semenjak meninggalkan rumahnya dulu, khabar keberadaan dan nasib Putri pun tak diketahuinya. "Ke mana, ya, Bareno akan rrtencari Putri. Tempatnya pun tak diketahuinya," pikir Nenek Gabayan . Akan tetapi, Nenek Gabayan sangat yakin dengan kemampuan cucunya itu. Dengan kemampuannya itu, Bareno pasti dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.
Malin Bareno yang sudah bertekad mencari kekasibnya segera pamit kepada Nenek Gabayan. Dia tidak lupa mohon doa restu kepada neneknya itu. Dengan penuh kasih sayang, Nenek Gabayan membelainya. Bareno tahu neneknya dengan berat hati mengizinkannya pergi. Itu diperlihatkannya dengan " cara memberi Bareno semangat sehingga kesedihannya tak ditampakkannya. Sebagai orang tua, tidak lupa dia berpesan, "Bareno, engkau harus dapat menjaga diri. Engkau jauh dari orang tua. Doa nenek menyertaimu, Nak. Selamat jalan, semoga engkau selamat dan berhasil mendapatkan keinginanrnu. "
Dengan berat hati, Bareno melangkah ke luar rumah.
Dipandanginya gubuk tua milik Nenek Gabayan. Dia sang at berat meninggalkan nenek yang sudah merawatnya. Namun, dikuatkan dan ditabahkannyajuga hatinya agar dapat mencapai tujuann ya.
diri. Lebih lanjut dia berkata, "Bareno, sekarang sudah saatnya engkau pergi. Semua ilmu yang telah kuturunkan kepadamu dapat melindungimu dari kesulitan. Pesanku,janganlah engkau menjadi sombong. Kesombongan itu akan menghancurkan diri sendiri. Berbuatlah kebaikan. Tolonglah orang yang membutuhkan pertolongan . " Pesan yang penuh makna itu diresapi Bareno dengan sungguh-sungguh . Dia berjanji akan mengamalkan semua petuah kakek pertapa itu. Karena hari sudah terlalu sore dan mal am pun segera datang, Bareno disuruh tinggal di gua itu dulu. Keesokan harinya Bareno baru pergi meninggalkan gua untuk melanjutkan perjalanan. Di perjalanan dia masih teringat nasihat kakek pertapa. Petuah yang paling berkesan dalam hidupnya. "Alangkah mulianya kakek itu," bisiknya dalam hati. Belum sempat tersadar dari 1 amunanny a , dia dikejutkan oleh datangnya jin raksasa yang pemah melemparkannya . Jin raksasa itu tanpa basa-basi segera menghampiri Bareno. "Anak muda, rupanya engkau masih hidup , ya. Sekarang mau minta mati, haa ... , "kata jin raksasa. "Jin raksasa, aku masih hidup seperti yang kaulihat. Apakah engkau masih ingin bertempur lagi denganku ? Hai,jin yang tak tahu diri, aku tidak takut lagi kepadamu," kata Bareno menantang. Muka Raja Jin itu pun menjadi merah padam menahan amarah. Giginya yang besar berdetak. Air liumya mengalir deras menahan hasrat untuk menelan pemuda itu. Dengan congkaknya jin raksasa itu menjawab, "Bareno, ilmu apa yang akan kauandalkan untuk melawanku. Ayo, tumpahkan segala kepandaianmu. Kuhajar kau seperti dulu. " 32 37
Dia berjalan terus seolah tanpa arah. Dengan perasaan yang masih galau, dia sampai di hutan rimba. Ditelusurinya setiap penjuru hutan. Bukit-bukit di hutan itu didaki, lembahlembah dituruninya, tetapi Putri yang dicarinya belum juga didapatkan. Jika badan teras a capai , dia beristirahat di bawah -. pohon rindang. Di kala badan sudah segar kembali, langkahnya pun diteruskan . Dia pantang menyerah sebelum tujuannya tercapai.
Setelah beberapa saat mengelilingi hutan, dia berjumpa dengan jin raksasa. Jin yang sangat besar badannya itu bertanya , "Hai, anak muda, siapa dirimu dan apa yang kaucari di sini? Beraninya kaumasuk wilayah kekuasaanku."
Dengan perasaan takut, Bareno menjawab, "Nama say a Bareno . Saya tersesat di hutan ini ka-rena sedang mencari kekasih saya."
"Ha ... ha ... ha ... ! Rupanya, engkau ini sedang mencari kekasihrnu , " kata Raja Jin mengagetkan Bareno karena suaranya keras sekali.
"Siapa nama kekasihrnu itu anak muda?" lanjutnya.
"Em .. , nama kekasihku Putri Talayang," jawab Bareno agak gugup.
Ketika mendengar nama Putri Talayang, merah padam muka Raja Jin. Dengan suara yang lebih keras, dia membentak Bareno , "Anak muda! Ketahuilah bahwa Putri Talayang itu tunanganku. Dia calon istriku. Akulah Raja Jin, calon suami Putri Talayang . "
Malin Bareno terkejut mendengar perkataan Raja Jin. Dia pernah mendengar nama itu dari Nenek Gabayan. Belum hilang rasa kagetnya, mendadak badan Bareno diangkat oleh Raja Jin itu. Bareno dengan segala kemampuannya berusaha melepaskan diri dari tangan Raja Jin itu. Namun, usahanya tidak berhasil. Dengan badan dan tenaga yang besar, Jin itu dengan mudah meringkus Bareno. Perlawanan yang dilakukan oleh Bareno pun tidak ada artinya.
puan dasar yang dimiliki Bareno . Selain itu dia memcffig anak yang cerdas dan raj in. Hampir setiap hari tidak ada waktu yang terlewatkan tanpa berlatih. Kakek pertapa dengan sabar mengarahkannya. Gerakan-gerakan yang kurang tepat dibetulkan oleh Kakek pertapa. Suatu hari, Bareno berlatih bertarung melawan binatang buas. Kakek itu sebelurnnya memanggil seekor harimau besar. Bareno diminta untuk menghadapinya . Begitu dilepas, harimau itu langsung menerkam Bareno. Namun, dengan sigap Bareno menghindar. Terkaman-terkaman harimau itu dapat dielakkannya. Bahkan, pada suatu kesempatan, kepala harimau itu dapat dipukulnya. Harimau itu kesakitan dan akhirnya tak berdaya menghadapi Bareno . Kakek pertapa sangat senang melihat kemajuan Bareno . Dia memuji kecerdasan Bareno. Oleh karena itu, dia pun lalu memberikan ilmu kekebalan tubuh agar tidak mempan digerinda gergaji, tidak mempan kena besi, dan tidak mempan kena pedang tajam. Bareno juga dibekali dengan ilmu penegar dan penderas. Tujuannya, agar tidak merasa gentar dan takut pada binatang. Bukan hanya itu saja, Bareno masih diberi jimat geliga hikmat berupa gelang akar bahar. Gelang itu terbuat dari batu yang bermantik naga . Jika pagi hari berwarna merah , dan bila sore hari berwarna hijau. Jika gelang itu dipakai di tangan kanan, segal a racunlbisa dapat lenyap. Jika gelang itu dipakai di tangan kiri, semua orang akan mati kena pukulannya. Anehnya, jika gelang itu dipakai di pangkal lengan, pemakaianya seperti bersayap sehingga dia dapat terbang . Setelah dirasa cukup, kakek pertapa sudah ikhlas melepas badan Bareno pun memar-memar. Pakaiannya compang36 33 kepergian Bareno. Dia berpesan agar Bareno dapat menjaga
Tubuh Bareno yang sangat kecil di hadapan jin yang berbadan raksasa itu dibanting-bantingkan ke tanah . Selain dibanting, tubuh Bareno pun diinjak-injaknya. Jika bukan Bareno, mungkin dia telah mati. Belurn puas menginjak-injak dan membanting-bantingkan, tubuh Bareno dilemparkan ke atas. Dengan teriakan yang keras, Raja Jin itu berkata, "Matilah engkau, anak muda. Semoga mayatmu dimakan binatang buas . II
Akibat lemparan yang sangat kuat dari Raja Jin itu, tubuh Bareno melayang-Iayang jauh ke angkasa. Setelah melayanglayang cukup lama, akhimya tubuh Bareno jatuh ke dalam gua batu di sebuah bukit.
Kakek pertapa yang tinggal di situ agak terkejut melihat benda melayang-Iayang di angkasa. Untungnya, benda itu segera ditangkapnya sehingga tidak sampai mengenai batu . Ternyata benda yang melayang-Iayang itu adalah tubuh Bareno . Dengan saksama, diperhatikannya tubuh Bareno yang tergolek lemas itu. Dalam hati kakek itu menduga bahwa pemuda yang ditolongnya itu pasti bukan orang sembarangan . Wajahnya yang penuh luka masih memancarkan cahaya.
Bukan hanya wajahnya saja yang penuh luka, sekujur
camping terkena batu dan ranting kayu hutan. Tubuh Bareno yang penuh luka segera diobati pertapa tua itu.
Kakek pertapa terkekeh-kekeh mendengar jawaban Bareno. Dia tertawa karena sudah tahu apa yang terjadi pada Putri Talayang. Dia lalu berkata, "Bareno, ketahuilah bahwa kekasihmu itu sedang menjalani hukuman." Kakek pertapa itu kemudian menceritakan keadaan Putri Talayang. Diceritakannya bahwa Putri terkena kutukan orang tuanya. Dia dikutuk karena berkeras hati kawin dengan Bareno. Akibat kutukan itu, Putri Talayang berubah menjadi bunga Cempaka Dewa atau bunga Bala Dewi. Dia sekarang tumbuh di Telaga Biru dekat bukit Mambang Sakti dan dijaga oleh naga besar, buaya, harimau, serta binatang buas lainnya. Bunga Cempaka Dewa itu akan berubah menjadi gadis lagi seperti semula jika sudah dipetik dan dipatahkan. Bareno, yang mendengar keterangan kakek itu, menjadi senang sekaligus gundah. Dia merasa senang karena dapat mengetahui keberadaan Putri Talayang. N amun, dia juga bersedih karena Putri Talayang sedang dihukum oleh ayahnya. Semuanya itu akibat kesalahannya karena bercinta dengan sang Putri. Dia ingin segera menolong Putri agar dapat berubah kembali ke wujud aslinya. Namun, kakek per tapa menahannya untuk tinggal di tempat itu beberapa saat. Di situ Bareno akan diberi berbagai ilmu bela diri . Karena tanpa bekal ilmu-ilmu itu, Bareno tidak mungkin dapat mengalahkan para penjaga Telaga Biru itu. Bareno tidak dapat menolak kehendak kakek pertapa itu. Oleh karena itu, dia menuruti segala perintahnya. Dengan tekun dipelajarinya berbagai ilmu bela diri yang diturunkan Kakek pertapa kepadanya. Dalam waktu singkat Bareno telah menguasai berbagai ilmu bela diri. Semua itu karena kemam34 35
Akan halnya Kakek itu, dia sudah seratus tahun bertapa di tempat itu. Karena lamanya bertapa,janggutnya memutih dan memanjang hingga dada.
Beberapa saat setelah dirawat oleh kakek pertapa, Bareno pun siuman. Dengan pelan dia berkata, "Di manakah saya ini. Siapa yang telah menolong saya."
Kakek pertapa mengingatkan Bareno agar jangan terlalu banyak bergerak dan bicara dulu. Badannya masih terlalu lemah.
"Anak muda, jangan banyak bergerak dulu. Nanti jika badanmu sudah segar, kaubaru boleh bergerak dan banyak bicara, " kata Kakek mengingatkan Bareno.
Setelah diberi ramu-ramuan dari berbagai tanaman di hutan, tubuh Bareno pun segera pulih. Kakek pertapa itu menjadi lega karena pemuda yang ditolongnya telah selamat. Dengan lemah lembut dia menanyakan kejadian yang menimpa Bareno.
"Bareno, mengapa engkau sampai jatuh di tempat ini. Apa yang kaualami," tanya pertapa itu.
Bareno menjadi terheran-heran karena pertapa tua itu telah tahu namanya. Dengan agak tergapap-gagap Bareno menjawab, "Kek, saya baru saja dilemparkan oleh jin raksasa. Saya ,. tidak dapat melawannya, Kek."
Dia semakin yakin bahwa orang tua yang telah meno , longnya ini adalah orang yang sakti. Dia pun lalu melanjutkan ceritanya, "Saya bertemu denganjin itu karena sedang mencari seorang gadis, Kek. Namanya Putri Talayang. Katanya, dia itu anak Raja Langit. "
Kakek pertapa terkekeh- kekeh mendengar jawaban Bareno. Dia tertawa karena sudah tahu apa yang terjadi pada Putri Talayang. Dia lalu berkata, "Bareno, ketahuilah babwa kekasihmu itu sedang menjalani hukuman." Kakek pertapa itu kemudian menceritakan keadaan Putri Talayang.
camping terkena batu dan ranting kayu hutan. Tubuh Bareno yang penuh luka segera diobati pertapa tua itu. Akan halnya Kakek itu, dia sudah seratus tahun bertapa di tempat itu. Karena lamanya bertapa, janggutnya memutih dan memanjang hingga dada. Beberapa saat setelah dirawat oleh kakek pertapa, Bareno pun siuman. Dengan pelan dia berkata, "Di manakah saya ini. Siapa yang telah menolong saya. " Kakek pertapa mengingatkan Bareno agar jangan terlalu banyak bergerak dan bicara dulu. Badannya masih terlalu lemah. "Anak muda, jangan banyak bergerak dulu. Nanti jika badanmu sudah segar, kaubaru boleh bergerak dan banyak bicara," kata Kakek mengingatkan Bareno. Setelah diberi ramu-ramuan dari berbagai tanaman di hutan, tubuh Bareno pun segera pulih. Kakek pertapa itu menjadi lega karena pemuda yang ditolongnya telah selamat. Dengan lemah lembut dia menanyakan kejadian yang menimpa Bareno. "Bareno, mengapa engkau sampai jatuh di tempat ini. Apa yang kaualami," tanya pertapa itu. Bareno menjadi terheran-heran karena pertapa tua itu telah tahu namanya. Dengan agak tergapap-gagap Bareno menjawab, "Kek, saya baru saja dilemparkan oleh jin raksasa. Saya tidak dapat melawannya, Kek." Dia semakin yakin bahwa orang tua yang telah menolongnya ini adalah orang yang sakti. Dia pun lalu melanjutkan ceritanya, "Saya bertemu denganjin itu karena sedang mencari seorang gadis, Kek. Namanya Putri Talayang. Katanya, dia itu anak Raja Langit. " menguasai berbagai ilmu bela diri. Semua itu karena kemam34 35
Diceritakannya bahwa Putri terkena kutukan orang tuanya. Dia dikutuk karena berkeras hati kawin dengan Bareno. Akibat kutukan itu, Putri Talayang berubah menjadi bunga Cempaka Dewa atau bunga Bala Dewi. Dia sekarang tumbuh di Telaga Biru dekat bukit Mambang Sakti dan dijaga oleh naga besar, buaya, harimau, serta binatang buas lainnya. Bunga Cempaka Dewa itu akan berubah menjadi gadis lagi seperti semula jika sudah dipetik dan dipatahkan.
Bareno, yang mendengar keterangan kakek itu, menjadi senang sekaligus gundah. Dia merasa senang karena dapat mengetahui keberadaan Putri Talayang. Namun, dia juga bersedih karena Putri Talayang sedang dihukum oleh ayahnya. Semuanya itu akibat kesalahannya karena bercinta dengan sang Putri.
Dia ingin segera menolong Putri agar dapat berubah kembali ke wujud aslinya. Namun, kakek pertapa menahannya untuk tinggal di temp at itu beberapa saat. Di situ Bareno akan diberi berbagai ilrnu bela diri. Karena tanpa bekal ilmu-ilmu itu, Bareno tidak mungkin dapat mengalahkan para penjaga Telaga Biru itu .
Bareno tidak dapat menolak kehendak kakek pertapa itu. Oleh karena itu, dia menuruti segala perintahnya. Dengan tekun dipelajarinya berbagai ilmu bela diri yang diturunkan Kakek pertapa kepadanya. Dalam waktu singkat Bareno telah
puan dasar yang dimiliki Bareno. Selain itu dia memdllg anak yang cerdas dan raj in. Hampir setiap hari tidak ada waktu yang terlewatkan tanpa berlatih. Kakek pertapa dengan sabar mengarahkannya. Gerakan-gerakan yang kurang tepat dibetulkan oleh Kakek pertapa.
Malin Bareno terkejut mendengar perkataan Raja Jin. Dia pernah mendengar nama itu dari Nenek Gabayan. Belum hilang rasa kagetnya, mendadak badan Bareno diangkat oleh Raja Jin itu. Bareno dengan segala kemampuannya berusaha melepaskan diri dari tangan Raja Jin itu. Namun, usahanya tidak berhasil. Dengan badan dan tenaga yang besar, Jin itu dengan mudah meringkus Bareno. Perlawanan yang dilakukan oleh Bareno pun tidak ada artinya. Tubuh Bareno yang sangat kecil di hadapan jin yang berbadan raksasa itu dibanting -bantingkan ke tanah. Selain dibanting, tubuh Bareno pun diinjak-injaknya. Jika bukan Bareno, mungkin dia telah mati. Belum puas menginjak-injak dan membanting-bantingkan, tubuh Bareno dilemparkan ke atas . Dengan teriakan yang keras, Raja Jin itu berkata, "Matilah engkau, anak muda. Semoga mayatmu dimakan binatang buas. " Akibat lemparan yang sangat kuat dari Raja Jin itu, tubuh Bareno melayang-Iayang jauh ke angkasa. Setelah melayanglayang cukup lama, akhirnya tubuh Bareno jatuh ke dalam gua batu di sebuah bukit. Kakek pertapa yang tinggal di situ agak terkejut melihat benda melayang-Iayang di angkasa. Untungnya, benda itu segera ditangkapnya sehingga tidak sampai mengenai batu. Ternyata benda yang melayang-layang itu adalah tubuh Bareno. Dengan saksama, diperhatikannya tubuh Bareno yang tergolek lemas itu. Dalam hati kakek itu menduga bahwa pemuda yang ditolongnya itu pasti bukan orang sembarangan. Wajahnya yang penuh luka masih memancarkan cahaya. Bukan hanya wajahnya saja yang penuh luka, sekujur badan Bareno pun memar-memar. Pakaiannya compang36 33
Suatu hari, Bareno berlatih bertarung melawan binatang buas. Kakek itu sebelumnya memanggil seekor harimau besar. Bareno diminta untuk menghadapinya. Begitu dilepas, harimau itu langsung menerkam Bareno. Namun, dengan sigap Bareno menghindar. Terkaman-terkaman harimau itu dapat dielakkannya. Bahkan, pada suatu kesempatan, kepala harimau itu dapat dipukulnya. Harimau itu kesakitan dan akhirnya tak berdaya menghadapi Bareno .
Kakek pertapa sangat senang melihat kemajuan Bareno. Dia memuji kecerdasan Bareno. Oleh karena itu, dia pun lalu memberikan ilmu kekebalan tubuh agar tidak mempan digerinda gergaji, tidak mempan kena besi, dan tidak mempan kena pedang tajam. Bareno juga dibekali dengan ilmu penegar dan penderas. Tujuannya, agar tidak merasa gentar dan takut pada binatang. Bukan hanya itu saja, Bareno masih diberi j imat geUga hikmat berupa gelang akar bahar. Gelang itu terbuat dari batu yang bermantik naga. Jika pagi hari berwarna merah, dan bila sore hari berwarna hijau. Jika gelang itu dipakai di tangan kanan, segala racunlbisa dapat lenyap. Jika gelang itu dipakai di tangan kiri, semua orang akan mati kena pukulannya. Anehnya, jika gelang itu dipakai di pangkal lengan, pemakaianya seperti bersayap sehingga dia dapat terbang.
Setelah dirasa cukup, kakek pertapa sudah ikhlas melepas kepergian Bareno. Dia berpesan agar Bareno dapat menjaga
diri. Lebih lanjut dia berkata, "Bareno, sekarang sudah saatnya engkau pergi. Semua ilmu yang telab kuturunkan kepadamu dapat melindungimu dari kesulitan. Pesanku,janganlah engkau menjadi sombong. Kesombongan itu akan menghancurkan diri sendiri . Berbuatlah kebaikan. Tolonglah orang yang membutuhkan pertolongan. "
Dipandanginya gubuk tua milik Nenek Gabayan. Dia sangat berat meninggalkan nenek yang sudah merawatnya. Namun, dikuatkan dan ditabahkannya juga hatinya agar dapat mencapai tujuannya. Dia berjalan terus seolah tanpa arah. Dengan perasaan yang masih galau, dia sampai di hutan rimba. Ditelusurinya " setiap penjuru hutan. Bukit-bukit di hutan itu didaki, lembahlembah dituruninya, tetapi Putri yang dicarinya belum juga didapatkan. Jika badan terasa capai, dia beristirahat di bawah pohon rindang. Di kala badan sudah segar kembali, langkahnya pun diteruskan. Dia pantang menyerah sebelum tujuannya tercapai. Setelah beberapa saat mengelilingi hutan, dia berjumpa dengan jin raksasa. Jin yang sangat besar badannya itu bertanya, "Hai, anak muda, siapa dirimu dan apa yang kaucari di sini? Beraninya kaumasuk wilayah kekuasaanku. " Dengan perasaan takut, Bareno menjawab, "Nama saya Bareno. Saya tersesat di hutan ini ka'rena sedang mencari kekasih saya. " "Ha ... ha ... ha ... ! Rupanya, engkau ini sedang mencari kekasihmu," kata Raja Jin mengagetkan Bareno karena suaranya keras sekali. · "Siapa nama kekasihrnu itu anak muda?" lanjutnya. "Em .. , nama kekasihku Putri Talayang," jawab Bareno agak gugup. Ketika mendengar nama Putri Talayang, merab padam muka Raja Jin. Dengan suara yang lebih keras, dia membentak Bareno, "Anak muda! Ketahuilah babwa Putri Talayang itu tunanganku. Dia calon istriku. Akulah Raja Jin, calon suami Putri Talayang." 32 37
Pes an yang penuh makna itu diresapi Bareno dengan sungguh-sungguh. Dia berjanji akan mengamalkan semua petuah kakek pertapa itu. Karena hari sudah terlalu sore dan malam pun segera datang, Bareno disuruh tinggal di gua itu dulu. Keesokan harinya Bareno baru pergi meninggalkan gua untuk melanjutkan perjalanan.
Di perjalanan dia masih teringat nasihat kakek pertapa. Petuah yang paling berkesan dalam hidupnya. "Alangkah mUlianya kakek itu," bisiknya dalam hati.
Belum sempat tersadar dari lamunannya, dia dikejutkan oleh datangnya jin raksasa yang pemah melemparkannya. Jin raksasa itu tanpa basa-basi segera menghampiri Bareno.
"Anak muda, rupanya engkau masih hidup, ya. Sekarang mau minta mati, haa, .. , "kata jin raksasa.
"Jin raksasa, aku masih hidup seperti yang kaulihat. Apakah engkau masih ingin bertempur lagi denganku? Hai,jin yang tak tabu diri, aku tidak takut lagi kepadamu," kata Bareno menan tang .
Muka Raja Jin itu pun menjadi merah padam menahan amarah. Giginya yang besar berdetak. Air liurnya mengalir deras menahan hasrat untuk menelan pemuda itu. Dengan congkaknyajin raksasa itu menjawab, "Bareno, ilmu apa yang akan kauandalkan untuk melawanku. Ayo, tumpahkan segala kepandaianmu. Kuhajar kau seperti dulu. "
Perang tanding antara Bareno dan Raja Jin pun tak dapat dihindarkan. Pertarungan itu berlangsung sang at seru. Raja Jin dengan tubuh besarnya berusaha menangkap Bareno untuk dibantingkannya. Bareno yang dihadapinya sekarang ternyata tidak seperti dulu. Tubuhnya yang lebih kecil dari tubuh jin raksasa itu dapat berkelit. Bahkan, jin raksasa itu tidak kuat mengangkat tubuh Bareno. Raja Jin itu menjadi terkejut melihat kemampuan Bareno. Dia tidak menyangka kalau Bareno telah menguasai berbagai ilmu.
Lakukanlah apa yang memang seharusnya menjadi tugasmu." Kata-kata neneknya itu lama-kelamaan merasuk ke dalam hatinya. Dia kemudian menyadari bahwa sikapnya selama im tidak benar. Dia sudah bertekad untuk memperbaikinya. "Nek, maafkan sikapku selama ini. Saya terlalu larut dalam kesedihan. Saya berjanji akan berbuat yang lebih baik," kata Bareno sambil terisak. Dia memang telah bertekad untuk mencari kekasihnya. Setelah sadar akan kesalahannya, Bareno pun segera mengutarakan niatnya. Nenek Gabayan merasa senang mendengarnya. N amun, dalam hatinya, N enek Gabayan merasa khawatir. Dia tidak tahu ke mana Bareno akan mencari Putri Talayang. Semenjak meninggalkan rumahnya dulu, khabar keberadaan dan nasib Putri pun tak diketahuinya. liKe mana, ya, Bareno akan rriencari Putri. Tempatnya pun tak diketahuinya," pikir Nenek Gabayan. Akan tetapi, Nenek Gabayan sang at yakin dengan kemampuan cucunya itu. Dengan kemampuannya itu, Bareno pasti dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Malin Bareno yang sudah bertekad mencari kekasihnya segera pam it kepada Nenek Gabayan. Dia tidak lupa mohon doa restu kepada neneknya itu. Dengan penuh kasih sayang, Nenek Gabayan membelainya. Bareno tahu neneknya dengan berat hati mengizinkannya pergi. rtu diperlihatkannya dengan cara memberi Bareno semangat sehingga kesedihannya tak ditampakkannya. Sebagai orang tua, tidak lupa dia berpesan, "Bareno, engkau harus dapat menjaga diri. Engkau jauh dari orang tua. Doa nenek menyertaimu, Nak. Selamat jalan, semoga engkau selamat dan berhasil mendapatkan keinginanmu. " Dengan berat hati, Bareno melangkah ke luar rumah. 38 31
Akibat pertarungan itu, banyak binatang hutan berlarian menyelamatkan diri. Suara gemuruh oleh derap langkah jin raksasa yang sangat besar itu sangat menakutkan. Burungburung beterbangan . Ranting-ranting kering berjatuhan. Daundaun berguguran, sepertitertiup angin. Bumi yang diinjak pun bergetar. Keadaan di hutan itu seperti terkena gempa bumi.
Bareno yang telah dibekali berbagai ilmu oleh kakek pertapa tidak gentar sedikit pun. Dengan tenang dia melayani jin raksasa itu berkelahi. Setiap kali dia dipukul, dia merhbalasnya dengan tendangan. Dengan kelincahannya, dia dapat menghindar dari terkaman Raja Jin. Bahkan, seringkali tendangannya mengenai sasaran. Pukulan Raja Jin yang keras ridak dirasakannya. Semua itu terjadi karena dia telah memiliki ilmu kebal sehingga kulitnya menjadi keras seperti besi.
Tubuh Raja Jin yang sangat besar itu dibuatnya tidak berdaya. Akibat kelincahan Bareno, pukulan Raja Jin banyak yang tidak mengenai sasaran. Lama-kelamaan fisiknya semakin lemah, gerakannya pun menjadi sangat lamban. Raja Jin sudah tidak mampu lagi mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatannya.
"Hai, Raja Jin! Sekarang rasakan pembalasanku. Tubuhmu
yang sebesar gajah itu akan kubuat tak bisa bangun," kata Bareno dengan Ian tang.
Raja Jin hanya bisa me nahan amarah. Batinnya ingin sekali melahap Bareno, tetapi tenaganya sudah tidak kuat. Dia hanya berujar, "Kurang ajar! Beraninya kauejek Raja Jin ini. Terimalah hadiah ini, keparat!" seru Raja Jin dengan gusarnya sambil melepaskan sebuah pukulan kerasnya.
4. BERTEMPUR DENGAN RAJA JIN Kepergian Putri Talayang telah membuat Malin Bareno patah hati. Dia sangat bersedih . Siang dan malam dia selalu memikirkan Putri Talayang. Melihat keadaan itu, Nenek Gabayan menjadi sedih. Dia bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Segala upay a untuk menenangkan hati Bareno telah dilakukannya . Namun, Bareno sepertinya tidak menghiraukan petuah neneknya itu. Bahkan, semakin hari dia semakin tampak berse dih. Setiap kali disuruh makan, dia tidak pernah mau . Nenek Gaba yan pun akhirnya hanya berpasrah kepada Sang Pencipta. "Bareno, cucuku . Ikhlaskan saja kepergian Putri. Nenek tahu perasaanmu. Jika dia memang jodohmu, Yang Kuasa pasti akan mempertemukan kalian . Percayalah kepada Nenek, Nak!" kata Nenek Gabayan menghibur Bareno. Siapa pun yang mengalami peristiwa seperti Bareno akan merasakannya. Akan tetapi, sebagai seorang pemuda dia seharusnya tidak cepat patah semangat. Masih banyak yang bisa dilakukannya. Nenek Gabayan pun tidak henti-hentinya membesarkan hatinya. Katanya, "Bareno, setiap orang pernah mengalami kesedihan. Tapi, jangan sampai kesedihan itu menghancurkan hidupmu. Engkau harus segera bangkit. 30 39
Bareno yang waspada segera menghindar. Pukulan Raja Jin itu dapat dielakkannya sehingga Raja Jin itu sempoyongan . Kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Bareno. Ditendangnya dada jin raksasa itu hingga terjerambab. Jimat giga hikrnat yang berupa gelang akar bahar itu dia gunakan untuk melumpuhkan lawannya . Gelang itu dipakaianya di tangan kiri dan dipukulkannya ke tubuh jin itu. Seketika itu juga tubuh j in raksasa roboh. Dia tidak bisa bangkit lagi. Karena lukanya sangat parah, Raja Jin itu pun akhirnya mati.
Bareno lalu beristirahat sejenak menghilangkan penat. Dia kelelahan karena bertarung habis-habisan dengan Raja Jin itu. Walaupun sangat lelah, dia merasa sangat lega. Musuh yang menghalanginya telah berhasil dikalahkannya. Sambil beristirahat di bawah pohon, dia berpikir arah mana yang akan ditujunya. Dia lupa bertanya kepada kakek arah menuju ke Telaga Biru.
Setelah beristirahat sejenak, dia membersihkan badannya di pancuran . Dia mandi sepuas-puasnya. Segar rasanya setelah bertempur lalu mandi. Dia juga tidak lupa menyiapkan bekal untuk perjalanannya. Buah-buahan segar dipetiknya di hutan. Daging burung pun dipanggangnya. Dengan bekal itu, dia berharap perjalanannya akan lancar.
, ( ," " .... ...; ., . ,r .. r ' .: ••J.... .' .' ! , i'it . •:,.. , ' " .) I ' I"l} . ' . . , \ '- ....... ..) .... ! ;' '... . ..: ,." ,. ... . 'r r;(;. / /: ": ,........ .., -.( ' .. • ____ 1 ' .• . .. ' ·f·· ,-- .. ..... ... ""'" . . " ... .. -'- /"..... .._.... '
.-.-....{' ) -----"'. , ., .;..: . '. " I - ...,.. .. : ..:.:..... _...........: \1 \ , . ! / Mereka terkejut mendengar apa yang dikatakan ayahnya. "Ta/ayang , karena engkau "Hai , Raja lin! Sekarang rasakan pemba/asanku, Tubuhmu yang sebesar gajah itu sudah membuat maw ayahmu dan bangsamu. akan kubuat tak bisa bangun , " kata Bareno dengan /amang. engkau harus menerima hukumann ya. 'if " /' <1 ( .I , " L r ;.r . -,: ( / /' ... 40 29
5. BARENO DI NEGERI MENDANG KEMULAN
sang at kehilangan karena ditinggal adiknya. Melihat sernua itu, Raja Langit sedikit rnenghibur. Dia berkata, "Putriku, kalian jangan berlarut-larutdalam kesedihan. Adikmu hanya rnernbersihkan dosanya. " Lalu lanjutnya, "Kalian jangan khawatir dengan keadaan adikmu. Di tern pat itu adikmu arnan. Di sana dia dijaga oleh nag a dan buaya besar serta binatang-binatang berbisa. Tak ada yang mengganggunya. " Menurut Raja Langit, hanya orang sakti yang dapat menyentuh bunga Cempaka Dewa itu. Orang yang menginginkan bunga itu harus bertarung terlebih dulu dengan binatang yang menjaga telaga itu. Tidak sembarang orang dapat melakukannya. lika ada yang berhasil, pasti dia orang yang mempunyai ilmu kesaktian. Kedua kakak Putri Talayang pun menjadi agak terhibur. Mereka sudah tidak terlalu khawatir dengan nasib adiknya itu. Pada suatu saat nanti, adiknya pasti ada yang menolongnya. Bahkan, menurut ayahnya, setelah dipetik orang, bunga itu akan berubah kembali menjadi Putri Talayang. 28 41
Setelah berhasil membunuh jin raksasa, Bareno melanjutkan perjalanan. Karena tidak tabu arah menuju Telaga Biru, dia berjalan tanpa arah yang pasti. Akhirnya, dia sampai di suatu negeri di Pulau lawa. Dia tahu, dia sudah terlalu jauh meninggalkan daerahnya.
Negeri yang didatangi itu bernama Mendang Kemulan, negeri yang sangat subur. Penduduknya hidup dalam kecukupan. Keadilan sangat dijunjung tinggi di negeri ini. Segala hasil bumi sudah dapat mencukupi warganya. Bahkan, sisanya dijual ke negeri lain. Bermacam-macam binatang ternak dipelihara dengan baik. Singkatnya, negeri itu boleh dikatakan telah adil dan makmur. Orang negeri itu menyebutnya sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi.
Rakyat dan pemimpinnya membaur, menyatu menjadi satu. Raja yang memimpin waktu itu adalah Raja Indo lati. Dia sangat dihormati rakyatnya. Segala kesulitan dan keluhan rakyatnya didengarkannya dengan sungguh-sungguh. Tidak mengherankan apa bila dia sangat dicintai oleh rakyatnya.
Raja Indo lati mempunyai seorang puteri bernama Kamala Neli. Meskipun putrinya hanya seorang, dia tak pernab memanjakannya. Dia mendidiknya sebagaimana rakyatjelata.
Hari itu dia sedang duduk bersantai dengan putrinya itu. Dia selalu menyisipkan nasihat di saat santai sekalipun.
"Hai , Putri kecilku! Mengapa Nanda mengecewakan Ayah. Bukankah engkau telah dipinang oleh Raja Jin. Beraninya engkau bercinta dengan manusia," katanya penuh amarah . "Bagaimana jadinya jika Raja Jin tahu semua ini, Ayah malu, " lanjutnya. Putri Talayang hanya diam seribu bahasa. Mukanya pucat pasi. Dalam hati dia hanya pasrah menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya. Kedua kakaknya pun sangat cemas. Mereka takutjika ayahnya mengutuk adiknya. Mereka sebenarnya bermaksud meredakan amarah ayahnya, tetapi tidak ada keberanian . Yang keluar dari mulut mereka hanya desahan panjang. Kekhawatiran mereka memang beralasan karena mereka tahu sifat ayahnya. Sesuatu pasti akan menimpa adiknya. Belum hilang rasa khawatirnya, mereka terkejut mendengar apa yang Clikatakan ayahnya. "Talayang, karena engkau sudah membuat malu ayahmu dan bangsamu, engkau harus menerima hukumannya. Tidak pantas engkau menjadi seorang putri. Engkau sebaiknya menjadi bunga," kata ayahnya . Perkataan Raja Langit yang penuh amarah itu ternyata merupakan sebuah kutukan. Mendapat kutukan seperti itu, seketika berubahlah Putri Talayang menjadi sekuntum bunga . Raja Langit memberinya nama bunga Cempaka Dewa atau bunga Bala Dewi. Bunga itu kemudian dilemparkan ke dunia. Setelah melayang-layang di angkasa, akhirnya bunga itu jatuh di sebuah telaga yang kebiru-biruan airnya. Tempat itu bernama Telaga Biru dan berada di bukit Mambang Sakti. Di tempat itu terdapat ular naga, buaya besar, dan binatang berbisa lainnya . Kedua kakak Putri Talayang sangat bersedih. Mereka 42 27
"Kamala putriku, engkau satu-satunya penerusku. Sepeninggalanku nanti, hanya engkau yang kuharapkan," kata Raja Indo Jati kepada putrinya pada suatu waktu. "Mulai sekarang engkau harus sudah berlatih. Banyaklah turun ke desa, bergaullah dengan rakyatmu. Dengan begitu, engkau akan mengetahui keadaan yang sebenamya," lanjutnya .
"Baik, Ramanda. Nanda akan senantiasa mengingat petuah Ramanda," jawab Kamala Neli.
Seorang pemimpin memang harus raj in turun ke daerah, ke kampung-kampung. Dengan turun ke kampung, dia akan mengetahui keadaan rakyatnya. Dia tidak akan dengan mudah menerima laporan bawahannya. Setiap ada laporan dari bawahannya, raja yang baik dan bijaksana pasti akan mengecek kebenarannya. Jika laporan itu benar, akan segera diselesaikan permasalahannya. Namun, jika laporan punggawanya itu tidak benar, raja akan memberinya sanksi atau hukuman yang setimpal.
Raja Indo Jati yang memerintah Kerajaan Mendang Kemulan juga dikenal sebagai raja yang arif dan bijaksana. Tidak mengherankan jika putri satu-satunya juga mempunyai sifat dan watak seperti ayahnya. Walaupun tugas-tugas kerajaan sangat padat, dia masih menyempatkan diri mendidik putrinya itu. Dia tidak sepenuhnya mempercayakan pendidikan putrinya kepada inang pengasuhnya.
Tidak terasa hari berganti hari, bulan pun cepat berlalu, dan tahun pun telah berganti-ganti. Putri Kamala Neli telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Kabar mengenai kecantikannya telah terdengar sampai negeri-negeri tetangga.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak raja dan pangeran dari negeri seberang dan pemuda-pemuda tertarik padanya.
Yang Kuasa pasti akan memberi anugerah. Percayalah itu, Tuan Putri. " "Iya, Nek. Saya pasti ingat pesan Nenek. Semua cobaan ini harus aku lalui dengan tabah. Saya sangat berutang budi pada Nenek, " kata Putri Talayang penuh haru. Dia lalu mendekati Bareno dan berkata, "Bareno, saya tidak dapat melupakan kebaikanmu. Saya berharap suatu saat nanti kita dipertemukan kembali. Jaga dirimu baik-baik." Ketika mendengar perkataan Putri Talayang, Bereno tidak mampu berkata-kata. Tak sepatah kata pun dapat diucapkannya. Mukanya yang putih bersih menjadi memerah. Nenek Gabayan pun tidak mampu menahan kesedihan. Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani tak tega melihat kejadian yang memilukan itu. Keduanya mengerti betapa mereka sangat menyayangi adiknya. Namun, keduanya harus membawa adiknya pulang karena amanat ayahandanya. "Nek, kami mohon diri. Maafkan kami, karena kami harus membawa Talayang pulang," kata mereka berdua kepada Nenek Gabayan. Setelah mengenakan pakaian khasnya, mereka segera terbang ke langit. Di sana, ayahandanya, Raja Langit sudah menunggu. Dengan muka yang agak merah karena menahan marah, dia menyambut kedatangan ketiga putrinya. Belum sempat ketiganya memberi salam, dia sudah menarik tang an Putri Talayang. Seraya menyuruh Talayang duduk, dia menanyakan banyak hal. Putri Talayang yang sudah tahu bahwa ayahnya marah tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terkunci. Kedua kakaknya hanya berdiam menanti apa yang akan terjadi. Dengan suara yang lantang, Raja Langit membentak-bentak Putri Talayang . memimpin Mendang Kemulan. Setelah dipikirkan masak26 43
Raja Indo Jati menyadari bahwa putrinya telah tumbuh menjadi gad is dewasa. Sudah saatnya Kamala Neli mencari pendamping hidup. Dia tidak ingin putrinya itu mendapat suami yang tidak bertanggung jawab. Dengan penuh kebapakan, dia menasihati putrinya agar berhati-hati memilih pendamping. Sebagai putri yang akan menggantikan ayahnya menjadi raja, Kamala harus mendapatkan suami yang sederaj at.
"Kamala, sekarang engkau telah menjadi gadis yang dewasa. Sudah saatnya dirimu akan mencari pendamping hidup . Pesanku, carilah suami yang dapat melindungimu, " pesan Raja Indo Jati kepada Kamala Neli.
Dengan senyum manisnya, Kamala menjawab, "Ramanda, biarlah Nanda belajar memimpin rakyat Mendang Kemulan dulu. Masih banyak yang harus Nanda pelajari. Jika sudah tib... saatnya, pasti Nanda akan mendapatkan pasangan yang Nanda harapkan. "
Begitulah sikap Kamala setiap kali ditanya ayahnya mengenaijodoh. Dia tidak ingin terlalu memikirkannya karena memikirkan negara jauh lebih penting. Ayahnya tidak dapat memaksanya. Dia hanya berharap agar putrinya mendapatkan pendamping yang baik.
Usia Raja Indo Jati memang sudah cukup tua. Tenaganya sudah tidak kuat lagi untuk memikirkan negerinya yang sangat luas. Sudah waktunya dia menyerahkan kekuasaan kepada putrinya. Dia menganggap bahwa Kamala Neli sudah mampu
masak, dipanggilnya Kamala N eli.
"Putriku, aku sudah tua. Aku menganggap engkau telah mampu memimpin negeri ini. Bersiaplah menggantikanku, Kamala," kata Raja Indo lati.
Keduanya mengucapkan salam seperti biasanya. Nenek Gabayan pun menyambut dengan gembira. Namun, Putri Talayang sudah menduga bahwa ayahandanya marah. Putri Reno Sari lalu mengutarakan apa yang dipesankan oleh ayahandanya. "Dinda Talayang, sekarang Kanda tidak dapat berbuat sesuatu lagi untukmu. Ayahanda sudah tahu semua yang terjadi di siru. Dinda harus pulang bersama kami," suara Reno Sari lirih . Dia tak sanggup lagi melanjutkan bicaranya. Air matanya deras berderai mengalir dari pelupuk matanya. Semua yang ada di rumah Nenek Gabayan tak kuasa menahan tangis. Mereka terharu mendengar kata-kata Reno Sari. Putri Talayang pun tak kuasa menahan tangisnya. Bareno dan Nenek Gabayan· tidak tega melihat Putri Talayang. Ketiganya saling berpelukan seolah tidak mau dipisahkan. Mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi pada diri Putri Talayang. Kebersamaan Nenek Gabayan, Bareno, dan Putri Talayang sangat terasa. Walaupun keberadaan Putri Talayang di tempat itu hanya sebentar, dia sudah seperti keluarga Nenek Gabayan sendiri. Nenek Gabayan pun sudah menganggapnya sebagai cucunya sendiri, seperti Bareno. Bahkan, Putri juga sudah tidak merasa sungkan lagi kepada N enek Gabayan. Dia sering bermanja dengan meminta Nenek Gabayan mengepang rambutnya yang panjang. Tidak jarang dia menyenderkan tubuhnya di bahu Nenek Gabayan. Nenek Gabayan berkata, "Tuan Putri, Nenek berharap Tuan Putri tabah menghadapi cobaan ini. Tidak ada cobaan tanpa akhir. lika Tuan Putri sabar dan kuat mengahadapinya, 25 \:.4
"Ramanda, mengapa terburu-buru? Bukankah Ramanda masih kuat memimpin negeri ini. Nanda merasa belum siap," jawab Kamala.
Raja Indo lati terus memberi dorongan kepada putrinya. Dia menyatakan bahwa setelah mundur, dia akan tetap mendampingi putrinya sebagai penasihat kerajaan. Akhirnya, usaha Indo lati meyakinkan putrinya berhasil. Kamala Neli bersedia menggantikannya menjadi raja di Mendang Kemulan.
Setelah Kamala Neli bersedia, Raja Indo lati segera memanggil si Selamat. Dia menyuruh Selamat membunyikan tabuh larangan. Mendengar bunyi tabuh larangan itu, masyarakat segera menyahuti dengan bunyi tabuh serupa sehingga seisi negeri mendengamya. Rakyat Mendang Kemulan telah hafal makna bunyi itu. Mereka segera berkumpul di alun-alun, suatu tempat lapang yang digunakan untuk berkumpul para punggawa dan rakyat.
Mereka saling bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa mereka disuruh berkumpul di alun-alun. Seseorang yang agak tua bertanya kepada tetangganya, "Kang, ada apa, ya, kita disuruh kumpul di alun-alun. Apa ada musuh yang akan menyerang negeri kita, ya?"
Mendengar pertanyaan seperti itu, yang lain pun ikut menjawab, "Saya juga tidak tahu, Kang! ,.
Rakyat Mendang Kemulan yang sangat setia kepada rajanya itu menanti dengan cemas di alun-alun. Tua-muda, laki-Iaki-perempuan, besar-kecil, semua berkumpul di situ.
Setelah mereka beristirahat sebenrar, datang si Selamat dengan membawa secarik kertas yang digulung. Dia akan menyampaikan maklumat raja.
Raja Langit tahu apa yang dirasakan oleh kedua putrinya. Kemudian dia, dengan sedikit agak lunak, berkata pada mereka . Dia menyuruh mereka menemui Putri Talayang sekali lagi. Mereka diminra mencerirakan bahwa ayahnya telah tahu apa yang telah terj adi . "Putriku, Ayah tahu apa yang kalian rasakan. Kalian sangat mencintai adikmu. Akan tetapi, Ayah lebih tahu apa yang harus Ayah lakukan. Untuk itu, kalian turunlah ke bumi sekali lagi. Ajaklah adikmu pulang. Katakan padanya bahwa Ayah sudah tahu semuanya," kata Raja Langit menyuruh kedua anaknya turun ke bumi. Setelah mendapat perintah ayahnya itu, mereka lalu turun kembali ke bumi. Sebenarnya, mereka tidak sampai hati mengatakan apa yang diperinrahkan ayahandanya kepada Putri Talayang. Namun, merekajuga tidak berani menolak kehendak ayahandanya. Dengan berat hati mereka segera menuju ke rumah Nenek Gabayan. "Kanda Reno, nanti Kanda saja, ya, yang mengatakan kepada Dinda Talayang. Dinda Mayang tidak tega menyampaikannya itu," bujuk Putri Mayang Sani kepada Reno Sari. "Baiklah Dinda, nanti Kanda saja yang mengatakannya," sahut Reno Sari sambil mengajak adiknya mempercepat terbangnya. Di tempat kediaman Nenek Gabayan, suasana masih tampak seperti semula. Mereka masih terlihat begitu bahagia. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan ramu yang sudah tidak asing. Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani, tamu yang sudah akrab dengan keluarga Nenek Gabayan. Mereka saling berpandangan. Putri Talayang menatap kedua kakaknya penuh rasa khawatir. 24 45
"Hai, rakyat negeri Mendang Kemulan yang saya cintai, saya datang membawa perintah Baginda Raja. Saya disuruh membacakan maklumatnya. Dengarkan baik-baik, pada hari Anggoro kasih (Selasa Kliwon) Baginda akan mengangkat Putri Kamala Neli menjadi raja. Putri Kamala Neli akan menggantikan Baginda Raja Indo lati," kata si Selamat dengan lantang.
Rakyat Mendang Kemulan yang berkumpul di alun-alun itu menyambutnya dengan suka cita. Tepuk tangan dan teriakan kegembiraan membahana. Mereka tahu bahwa Putri Kamala Neli akan memimpin dengan arif dan bijaksana seperti ayahnya. Si Selamat pun segera memerintahkan seluruh rakyat untuk mempersiapkan pesta penobaran Kamala Neli.
Negeri Mendang Kemulan benar-benar merayakan pesta penobatan Putri Kamala secara besar-besaran. Walaupun begitu, semua biaya yang digunakan untuk pesta tidak membebani rakyatnya. Pesta penobatan pun diadakan selama tujuh hari tujuh malam . Berbagai hiburan dipertunjukkan. Dalam pesta itu, rakyat yang agak kekurangan disantuninya. Tidak ada rakyat yang kelaparan di negeri itu.
Pada hari yang telah ditentukan, Raja Indo lati beserta para penasihat dan punggawa kerajaan segera mengadakan upacara . Hari itu baginda Indo J ati melepas mahkota yang selama ini dipakainya. Mahkota itu diserahkannya kepada Putri Kamala Neli . Sejak saat itu Putri Kamala Nelilah yang menjadi raja di Negeri Mendang Kemulan. Sesaat setelah penobatannya, Indo Jati berpesan kepada putrinya. Katanya, "Kamala, sekarang
engkau telah menjadi seorang raja. Segala tingkah laku dan perbuatanmu akan menjadi contoh bagi rakyatmu. Saya titipkan negeri dan rakyat ini di pundakmu, anakku!"
Keesokan harinya, setelah pesta penobatan usai, Ratu Kamala Neli mulai menjalankan tugasnya. Segala sesuatu yang dulunya dilakukan oleh ayahnya sekarang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun sudah menjadi raja, sifatnya yang ramah tamah dan suka menolong tidak pernah berubah. Dia juga tidak segan untuk meminta pendapat bawahannyajika memang tidak tahu.
3. PUTRI TALAYANG KENA KUTUKAN Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani gagal membawa adiknya pulang. Mereka seger a melapor kepada ayahan danya, Raja Langit. Mereka mengatakan bahwa Putri Tala yang belum bersedia pulang bersamanya. Mereka sebenarnya ingin menutupi apa yang telah terjadi pada diri adiknya. Keduanya tidak ingin adiknya mendapat eel aka karena murka ayahanda -nya . Ayahanda mereka rupanya telah mengetahui apa yang dialami oleh putri bungsunya . Dengan cermin gaibnya, dia dapat melihat apa yang terjadi di dunia. Dia dapat melihat apa yang ingin diketahuinya. "Putriku Reno Sari dan Mayang Sani, kalian tidak perlu menyembunyikan rahasia. Rupanya, adikmu telah ber buat kesalahan. Dia telah meneintai manusia, " kata ayahnya penuh amarah. Lalu katanya, "Kalian tahu, dia itu sudah bertunangan dengan Raja Jin. Jika Raja Jin tahu hal ini, apa jadinya nanti. Dia pasti akan marah . " Kedua putri itu tidak berani berkata sepatah kat a pun . Mereka hanya merunduk. Tidak ada keberanian sedikit pun untuk menatap ayahandanya. Dalam hati mereka hanya berharap agar ayahandanya tidak murka terhadap Putri Talayang. 46 23
Negeri Mendang Kemulan di bawah kepemimpinannya tumbuh dan berkembang pesat. Banyak negeri lain yang iri melihat kemajuan yang dicapai negeri itu. Banyak juga raja dari negeri tetangga yang ingin belajar kepada Ratu Kamala Neli. Berbagai negeri diajaknya untuk saling bekerja sarna dan tolong-menolong.
Karena kesibukannya mengatur dan memimpin negerinya, Ratu Kamala Neli sampai lupa memikirkan dirinya. Dia sampai lupa bahwa dia sudah saatnya untuk bersuami. Sebenarnya , banyak pangeran dan raja dari berbagai negeri yang melamarnya. Tidak satu pun dari mereka yang diterimanya dengan alasan Kamala belum siap untuk menikah. Ada raja dan pangeran yang dapat memahaminya. Namun, banyak pula yang kecewa terhadap sikap Ratu Kamala Neli itu.
Pada suatu hari, datanglah utusan Raja Hangat Garang. Utusan itu mengatakan bahwa Raja Hangat Garang ingin melamar Ratu Kamala Neli. Semua yang hadir di istana Mendang Kemulan saling berpandangan. Mereka tahu bahwa Raja Hangat Garang terkenal kejarnnya. Banyak rakyaknya yang dipaksa membayar pajak tinggi untuk bersenang-senang.
Dia terkenal sebagai raja yang senang berjudi, dan bermabukmabukan. Mereka khawatir jika rajanya mau menerima lamaran itu. Utusan itu pun segera disurnh agak ke depan. Dia dipersilakan mengatakannya sendiri kepada Ratu Kemala Neli.
\ .. i; ;;:-: •. Purri Talaya ng memeluk dan mengelus kucing hitam belang tiga dengan penuh kasih sayang, 22 47
"Yang Mulia Ratu Kamala Neli, hamba utusan Raja Hangat Garang . Hamba diminta menyampaikan pesan tuanku," kata utusan itu ke hadapan Ratu Kamala Neli dan para punggawa.
"Hai utusan , katakan apa pesan rajamu ," kata Raja Kamala ,
"Yang Mulia, Tuanku Raja Hangat Garang bermaksud melamar paduka, " jawab utusan itu.
Ratu Kamala Neli sudah terbiasa bersikap tegas. Dia memutuskan saat itu juga . Dia langsung menjawab lamaran Raja Hangat Garang itu. "Hai, utusan, katakan kepada rajamu bahwa saya tidak bersedia menjadi istrinya," katanya lantang.
Utusan itu segera pulang ke negerinya dan menyampaikan pesan itu kepada rajanya. Setelah mendengar jawaban Kamala, Raja Hangat Garang menjadi marah. Dia akan menyerbu negeri Mendang Kemulan. Dengan galaknya dia berteriakteriak , "Hai, punggawa-punggawaku. Kalian harns segera bersiap. Kumpulkan segala senjata . Kita akan menyerang Mendang Kemulan . Kita jadikan lautan api negeri itu," katanya penuh amarah .
Panglima perang dan para prajuritnya pun dipersiapkan. Setelah semua dirasa sudah siap, mereka berangkat menuju Mendang Kemulan. Jarak kedua negeri itu memang tidak terlalu jauh. Hanya beberapa hari perjalanan kaki , pasukan Raja Hangat Garang sudah sampai di negeri Mendang Kemulan . Mereka segera menggelar taktik perang. Terompet perang dibunyikan sebagai pertanda tantangan .
Rakyat Mendang Kemulan yang mengetahui pasukan musuh segera melapor kepada punggawanya. Ratu Kamala Neli memerintahkan kepada pang lima perang dan seluruh prajurirnya menghadang musuh. Pertempuran kedua pasukan itu pun tidak terelakkan. Bunyi Pedang yang saling beradu dan panah yang berseliweran menambah kekhawatiran rakyat jelata . Banyak korban berjatuhan. Dengan gagah berani pasukan Mendang Kemulan hampir dapat mengalahkan pasukan Raja Hangat Garang. Mereka hampir mendesak musuh hingga daerah perbatasan.
Hari-hari berikutnya Nenek Gabayan, Putri Talayang, dan Bareno menjalani hidup dengan penuh ceria. Rumah tempat tinggal Nenek Gabayan menjadi agak meriah. Dengan bertambahnya penghuni, Nenek Gabayan menjadi tidak terlalu kesepian. Biasanya, jika Bareno pergi ke kebun atau berburu binatang, dia hanya tinggal seorang diri. Menjangan kesayangannya pun selalu ikut dengan Bareno. Sekarang, Nenek Gabayan punya ternan bicara, yaitu Putri Talayang. Bareno juga menjadi lebih bersemangat. Dia selalu bangun lebih pagi dari biasanya. Pagi sekali dia sudah berangkat ke kebun untuk memetik sayur-sayuran. Dia merasa sangat senang karena bisa dekat dengan orang yang dicintainya. Putri Talayang pun tidak segan-segan turun ke kebun . Dia belajar cara menanam sayur, menyianginya, hingga cara memetiknya. Semua dilakukannya dengan senang hati . Sebagai putri yang hidup di langit, dia belum pernah mengenal cara bercocok tanam. Baru kali inilah dia belajar semua itu. 48 21
Raja Hangat Garang yang melihat pasukannya hampir kalah segera memanggil burung garuda raksasa kesayangannya. Burung itu selalu dipanggil setiap dia mengalami kesulitan.
Ketika mendengar siutan Hangat Garang, burung garuda itu pun segera meluncur ke bawah. Setelah sampai di hadapan tuannya, dia segera diperintahkan untuk mengancurkan pasukan musuh.
"Garudaku, musnahkan pasukan Mendang Kemulan. Buat porak -poranda mereka. Hancurkan temp at tinggal rakyat negeri itu," kata Raja Hangat Garang memerintah garuda untuk menyerbu musuh.
Burung itu pun segera terbang ke tempat pertempuran. Di sana dia melihat pasukan musuh dengan berbagai senjatanya. Dia segera mengepakkan sayapnya. Pasukan negeri Mendang Kemulan sangat terkejut melihat kedatangan burung itu. Belum hilang rasa kagetnya, burung raksasa itu telah menyambar-nyambar mereka. Segala senjata dilepaskan ke arah burung itu, tapi tak satu pun mampu menembusnya. Bahkan, mereka dibuat kalang kabut. Banyak pasukan
Mendang Kemulan mati terbunuh. Mereka dipatuk dan disambar hingga tung gang langgang.
kepada kakaknya. "Dinda, Ayahanda sudah berpesan, Dinda harus pulang bersama kami. Jika Dinda tidak mau pulang, Ayahanda akan marah. Kautahu, Dinda, bagaimana kalau Ayahanda marah," kata kakaknya membujuk Putri Talayang. Putri Talayang temyata tidak mau diajak pulang ke langit. Kedua orang kakaknya sudah tidak dapat membujuknya lagi. Merekajuga sudah minta tolong kepada Nenek Gabayan untuk membujuk Putri Talayang. Meskipun Nenek Gabayan sudah membujuknya, Putri Talayang tetap tidak mau pulang. Dia masih ingin tinggal di rumah nenek Gabayan. Dia masih ingin selalu de kat dengan Bareno. Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani pun segera pamit kepada N enek Gabayan. Mereka akan melaporkan keadaan Putri Talayang kepada ayahandanya. Sebenamya, mereka juga khawatir ayahandanya sampai marah kepada adik tercintanya itu. Jika ayahandanya marah, malapetaka bakal menimpa Putri Talayang. Mereka telah berusaha agar Putri Talayang mau pulang, tetapi usahanya tidak berhasil. Putri Talayang tidak mau kembali ke langit bersama mereka. "Nek, bolehkah saya tinggal di sini untuk beberapa hari? Saya masih ingin menikmati suasana alam di sekitar sini, Nek, I' kata Putri Talayang berkilah pada Nenek Gabayan. Nenek Gabayan yang sebenarnya sudah mengetahui perasaan Putri Talayang hanya tersenyum saja. Sambil meletakkan sirih di tempolong, dia berkata, "Oh, tentu saja boleh, Tuan Putri. Kalau Tuan Putri ada di sini rumah ini akan menjadi ramai. Bareno, cucuku pun menjadi tidak sering melamun lagi," jawab Nenek Gabayan sambil menyindir Putri. Orang yang disindir hanya tersenyum-senyum malu. 20 49
Burung raksasa itu rupanya belum puas hanya dengan membantai musuhnya. Rumah-rumah penduduk pun dirobohkannya. Dahan-dahan besar banyak yang jatuh berserakan menghalangi musuh melarikan diri. Penduduk yang tidak tahumenahu perang pun menjadi sasaran kemarahan burung raksasa itu. Raja Hangat Garang tertawa riang melihat burung kesayangannya berhasil memporak -porandakan dan mengacaubalaukan musuh.
"Ha .. . ha ... ha ... sebentar lagi negeri Mendang Kemulan akan jatuh ke tanganku. Kamala Neli pun akan menjadi tawanan," kata Raja Hangat Garang sambil terbahak-bahak kegirangan.
Para prajurit Mendang Kemulan tidak ada yang kuasa melawan keganasan burung garuda raksasa itu. Senjata mereka pun tidak dapat melukainya . Burung itu rupanya kebal terhadap senjata, seperti pedang, panah, dan tombak. Panglima perang negeri segera memerintahkan pasukannya untuk mundur.
"Pasukan mundur ... ,kita harus mundur dulu. Atur strategi baru untuk mengahadapinya," kata Pang lima kepada para prajuritnya.
Setelah semua prajurit mundur, pang lima perang segera menghadap Ratu Kamala Neli. Dengan penuh rasa kekecewaan, dia mengatakan, "Baginda Raja, hamba mohon ampun. Hamba tidak dapat menjalankan tugas dengan bail<. Kami telah dikalahkan oleh garuda raksasa. "
"Panglima, kau tidak perlu merasa bersalah. Saya tahu bahwa kalian telah berjuang. Jika memang kalah, kita harus
mencari jalan keluarnya," kata Kamala Neli meyakinkan panglima perangnya .
Bareno. Dengan sabar Bareno berusaha menyembuhkannya. Tidak berselang lama, penyakit yang diderita Putri Talayang pun dapat sembuh. Putri Talayang sangat senang. Demikian pula dengan Bareno, dia sangat sukacita. Nenek Gabayan yang melihat perkembangan mereka menjadi gembira. Hari berganti hari, waktu pun terus berlalu. Mereka menjadi semakin akrab. Keduanya bersepakat pada suatu saat nanti mereka akan menjadi suami istri. Namun, Putri Talayang menjadi khawatir karena kedua kakaknya akan menjemputnya. lika mereka menjemputnya, Putri pasti akan dipaksa pulang ke langit. Padahal, dia sangat ingin tetap tinggal di rumah NcDck Gabayan bersama Bareno . Apa yang dikhawatirkan Putri Talayang ternyata menjadi kenyataan. Kedua kakaknya turun ke bumi untuk menjemputnya. Mereka mengatakan bahwa Putri Talayang harus pulang bersamanya. Jika Putri Talayang tidak mau pulang, mereka akan melaporkan keadaan sebenarnya kepada ayahandanya . Mereka sudah mengetahui bahwa Putri Talayan g telah jatuh cinta kepada Bareno. Padahal, Putri Talayang itu sudah ditunangkan dengan Raja Jin. Ayahnya pasti akan marah jika mengetahui hal itu. "Dinda, kami datang untuk menjemputmu. Mari kita pulang. Dinda kan sudah sembuh," kata Putri Reno Sari kepada Putri Talayang. "Ayahanda sudah berpesan agar Kanda membawa Dinda pulang," kata Mayang Sani menimpali kakaknya. "Kanda, Dinda masih ingin di sini untuk beberapa hari lagi. Sekarang Kanda pulang saja dulu. Katakan pada Ayahanda bahwa saya akan pulang sendiri. Kanda tidak usah menjemput Adinda," jawab Putri Talayang memberi alasan 50 19
Seluruh punggawa dan penasihat kerajaan segera dik-umpulkan. Mereka dimintai pertimbangan untuk mengatasi permasalahan. Yang hadir pada pertemuan itu termasuk Indo lati, ayahandanya. Mereka saling bermusyawarah. Meskipun para penasihat telah bermusyawarah, jalan keluar belum juga didapatkan. Semua saling berpandangan. Mereka saling menunggu usulan dan saran dari yang lain. Ratu Kamala Neli tampak tenang meskipun menghadapi situasi yang gawat seperti itu.
"Ramanda Indo lati dan Paman semua, kita memang sedang dalam kesulitan . Akan tetapi, kita tidak boleh larut dalam kesedihan itu . lika berlarut-Iarut, hal itu justru akan menguntungkan pihak musuh," kata Ratu Kamala Neli dengan sangat tenang.
Para penasihat dan punggawa tidak menyangka kalau Ratu Kamala Neli dapat setegar itu menghactapi cobaan. Indo Jati dalam hatinya sangat bangga terhadap putrinya itu. Semua yang hadir menunggu apa tindakan yang akan diputuskan Rajanya.
gurau, tiba-tiba Putri Talayang merasa pusing. Dia pun lalu roboh. Badannya demam, tenaganya seperti hilang semua. Dia tak kuat lagi berdiri. Kedua kakaknya bingung. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong adiknya, Putri Talayang. Nenek Gabayan yang tahu rencana Bareno hanya diam saja. Bareno lalu menawarkan diri untuk merawatnya. Dalam hati, Putri Talayang sebenarnya juga senang. Dia akan menj adi semak in dekat dengan Bareno. Kedua kakaknya pun menyetuju inya . Kedu anya lalu memutu skan untuk kembali ke lang it dan akan menj emput Tal ayang bebera pa hari lagi. "Kanda, biarkan saya di sini bebera pa hari lagi. Kakak seba iknya pul ang saja. Setelah badan saya kuat, nanti saya akan pulang sendiri," pinta Putri Talayang kepada kedua kakaknya. "Dinda, Kakak pulang dulu karena khawatir Ayahanda akan mencari-cari kita. Nanti akan kakak ceritakan keadaanmu kepada Ay ahanda. Kemudian kami akan segera kemb ali ke sini untuk menjemputmu," jawab Reno Sari mengh ibur Talayang. Keduanya lalu berpamitan kepada nenek Gabayan. "Nek, kami pamit dulu, titip adik kami, ya, Nek!" katanya. Mereka berjanj i akan segera menjemput adiknya. Dengan pakaian yang khusus dipakai oleh para putri, mereka lalu terbang pulang ke lang it. Sebenarnya mereka tidak tega melihat keadaan adiknya yang terbaring lemah. Namun, jika mereka tidak segera pulang, ayahnya akan bingung mencari mereka. Akhirnya, mereka merelakan adiknya tinggal di tempat N enek Gabayan. Mereka tidak khawatir karena di situ ada nenek Gabayan dan Bareno yang bersedia merawatnya. Sepeninggal kedua kakaknya, Putri Talayang dirawat oleh 18 51
Panglima perang menghadap Ratu Kamala Neli. Dengan penuh rasa kekecewaan, dia mengatakan, "Baginda Raja. hamha mohon ampull. Hamba tidak dapat menjalankan tugas dengan baik.
6. BARENO MENOLONG KAMALA NELl
sebagai cucunya. Lalu dia berujar, "Nenek memang sudah pikun, Nak, sudah tua. Baru kemarin aku bilang kaucucuku, sekarang lupa lagi. " Tidak lama setelah mereka berbincang, ketiga putri itu pun datang. Ketiganya segera disambut dengan sukacita oleh Nenek Gabayan. Bareno belum menampakkan dirinya. Dia masih duduk di dalam kamarnya. Ketiga putri itu pun lalu diajak nenek makan. Rupanya, mereka lebih senang makan buah. Kata mereka buah sangat baik untuk kesehatan. Buah dapat membantu mencernakan makanan, di samping banyak mengandung vitamin. Hampir semua buah yang disajikan Bareno dimakannya. Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani paling suka makan buah pepaya dan pisang, sedangkan Putri Talayang lebih suka makan buah apel dan jernk. Ketiga putri itu sangat terkejut karena ada pemuda yang gagah dan tampan muncul di ruang itu. Mereka segera menanyakannya kepada Nenek Gabayan . Nenek Gabayan menceritakan bahwa pemuda itu bernama Bareno. Dia adalah cucu satu-satunya yang barn saja datang. Mereka lalu saling berkenalan. Dalam hati mereka sangat mengagumi ketampanan dan kegagahan pemuda itu. Yang paling tertarik kepada Bareno adalah Putri Talayang. Kulit bersih, badan tegap, dan perangai bagus, itu yang membuat Putri Talayang tertarik . Selain itu, baik tutur katanya dan halus budi pekertinya. Mereka pun cepat menjadi akrab. Mereka saling menceritakan kehidupannya. Nenek Gabayan hanya tersenyum-senyum melihat keakraban mereka. Mereka bercerita sambil makan buah-buah yang dihidangkan Nenek Gabayan. Sehabis makan buah-buahan itu, mereka merasa segar bugar kembali. Namun, pada saat mereka sedang bersendau 52 17
Sementara orang-orang di dalam istana Mendang Kemulan masih bingung memikirkan jalan keluar, di sebuah sungai di pinggir desa seorang anak muda sedang duduk melepaskan lelah. Dia selesai mandi di sungai yang airnya jernih itu. Pemuda itu berkata dalam hati, "Ehrn, sepi sekali kampung ini. Sepertinya ada yang tak beres. Saya harns mencari tahu."
Sehabis melepas lelah, pemuda itu segera menuju kampung terdekat dari sungai itu. Dia ingin tahu apa yang terjadi di sini . Dia pun ingin tahu nama daerah tempat yang disinggahinya itu.
Pemuda itu tak lain adalah Bareno. Dia menemui orang tua yang sedang duduk di serambi rnmahnya . Orang tua itu kelihatannya sangat berduka. Bareno segera menghampirinya.
"Pak, di manakah saya sekarang ini," tanya Bareno.
Orang tua itu tidak segera menjawab. Dia sepertinya penuh selidik curiga. Bareno menangkap firasat itu dengan meyakinkan orang tua itu bahwa dia orang baik dan sedang tersesat.
Dengan sedikit keraguan, orang tua itu menjawab, "Anak sekarang berada di N egeri Mendang Kemulan . Kalau Bapak boleh tahu, Anak ini dari mana?"
Bareno segera menjawab bahwa dirinya berasal dari negeri
seberang. Dia sedang mencari kekasihnya yang hilang, tetapi tersesat. Orang tua itu menjadi percaya bahwa Bareno itu anak yang baik. Karena ingin tahu kejadian yang menimpa daerah itu, Bareno pun banyak bertanya kepada orang tua itu.
bebatuan dekat telaga itu. Rambut mereka yang panjang mengurai sangat harum baunya karena bunga-bunga yang berjatuhan di air telaga. Setelah itu, biasanya mereka berenang lagi sampai berjam-jam lamanya. "Dinda, mari kita segera kembali ke tempat Nenek!" ajak Putri Reno Sari kepada kedua adiknya. "Hari sudah siang, matahari pun sudah tegak di atas, " lanjutnya. "Baik, Kak. Kami akan segera ke tepi, "jawab putri kedua dan ketiga serempak. Mereka pun segera kembali ke temp at Nenek Gabayan. Mereka merasa tidak enak jika nenek terlalu lama menunggu. Di rumah Nenek Gabayan, segala hidangan hasil hutan dan kebun belakang rumah pun sudah siap menanti. Nenek Gabayan sudah menunggu ketiga putri itu di depan pintu rumahnya. Darijauh tampak mereka sedang berjalanke rumah Nenek Gabayan. Mereka berjalan sambil bergurau. Kadangkadang mereka saling menyindir. Nenek Gabayan sangat gembira melihatnya. Pada saat itu, si kucing hitam be lang tiga mengubah dirinya menjadi manusia lagi. "Bareno, kautelah kembali ke wujudmu semula, Nak," tanya Nenek Gabayan. Bukankah sebentar lagi ketiga putri itu akan segera tiba. Bagaimana aku harus mengatakannya, cucuku, " lanjut Nenek Gabayan agak bingung dan gugup. "Nek, bukankah Nenek telah menganggap saya sebagai cucu. Jadi, katakan saja pada mereka bahwa saya cucu Nenek. Beres, kan!" jawab Bareno meyakinkan Nenek Gabayan. Ketika mendengar penjelasan Bareno, Nenek Gabayan tertawa sendiri. Dia lupa bahwa Bareno telah dianggapnya 16 53
"Pak, saya lihat kampung ini sepi sekali. Sepertinya ada yang tidak beres. Ada apa, Pak?" tanya Bareno ingin tahu.
Karena sudah percaya kepada ketulusan Bareno, orang tua itu mau memberi tahu keadaan yang sedang terjadi di negeri Mendang Kemulan. "Negeri ini sedang dilanda peperangan, Nak. Ada raja yang jahat menyerang raja kami. Dia mengerahkan semua pasukannya serta seekor garuda raksasa yang kejam," kata orang tua itu penuh haru.
Dengan air mata yang membasahi pelupuk matanya, dia melanjutkan, "Banyak prajurit negeri ini yang mati terbunuh oleh burung raksasa ifu. Anak Bapak pun terbunuh bersama prajurit lainnya. Tidak hanya itu saja, Nak, rumah-rumah penduduk pun dihancurkannya."
Bareno yang mendengar cerita orang tua itu menjadi iba. Dia ingin sekali menolong rakyat negeri yang disinggahinya itu. Dia ingat pes an gurunya bahwa hidup itu harus selalu tolong-menolong. Selagi masih dapat membantu mengapa tidak dilakukannya. Bareno kemudian menanyakan keberadaan musuh kepada orang tua itu. "Pak, di mana burung raksasa itu berada. Saya bermaksud menolong rakyat negeri ini, Pak," kata Bareno.
"Nak, pikirkan dulu. Burung itu sangat ganas. Panglima perang negeri ini pun tidak sanggup melawannya," jawab orang tua itu penuh ragu.
"Bapak jangan khawatir. Saya akan berusaha membantu Bapak dan seluruh rakyat di sini. Percayalah, Pak, bahwa
segala kejahatan akan dapat dikalahkan oleb kebajikan. " kata Bareno menyemangati orang tua itu.
Sementara itu. di rumah Nenek Gabayan, Baren o yang telah menjadi kucing hitam belang tiga sedang gelisah . Dia masih terkesima oleh kemol ekan ketiga putri itu, terlebih -lebih kepada Putri Tal ayang. Putri itu sungguh cantik. Dia belum penlah berternu dengan gadis secantik im . Dalam batinya timbul rasa cinta . Sehingga dia ingin memilikinya. "Alangkah cantiknya putri-p utri itu ," gumam Bareno, "Seumur hidupku baru sekarang berju mpa dengan gadis secantik iru. Apalagi putri ketiga, aku sungguh telab jaruh hati Aku harus cari akal supaya dia bisa tinggal di sini lebih lama," kata Bareno dalam hati . Bareno segera mengambil buah-buahan, antara lain, pisang dan jambu. Buah-buahan itu diberinya mantra pengasihan . Mantra yang dibaca kan Bareno hanya ditujuk an kepada Putri Talayang . Seusai menyiap kan segala sesuatunya, buah-buahan itu pun diletakkan di temp at makan. Sementara im, Nenek Gabayan juga telah menyiapkan rnakan siang untuk ketiga putri iru . Memang demikianlah kebiasan Nenek Gabayan setiap kali putri-put ri itu turun ke bum i. Pada waktu mereka sedang mandi di telaga, Nenek Gabayan selalu menyiapkan makan untuk mereka. Sement ara nenek Gabayan menyiap kan hidanga n untuk ketiga putri itu di telaga, ketiga putri itu mandi dengan riangn ya. Mereka berenang saling berk ejaran dengan tawa ria. Telah berjam-jam mereka berenang, tapi mereka tak juga merasa capai . Mereka sangat terkesan oleh pemandangan panorama di sekitar tempat itu. Bermacam-ma cam bunga , sepe rti mawar, anggrek, melati, dan bunga-bu nga hutan rumbuh bermekaran tertata rapi di tepi telaga. Setelah merasa agak lelah, mereka mereb abkan diri di 54 L
Orang tua itu pun memberi tabu bahwa pasukan Raja Hangat Gatang dan burung raksasa itu sedang menuju istana Mendang Kemulan. Mereka akan menghancur an istana dan akan menawan raja beserta punggawanya. Bareno yang mendenga r penjelasan orang itu seger a pamit dan menuju ke istana Mendang Kemulan. Orang tua itu sangat beran ada anak muda yang sangat pembera ni. Padahal, dia bukan rakyat negeri itu . Orang tua itu juga berbarap agar pemuda itu dapat mengalahkan musuhnya sehingga negerinya kembali aman damai seperti semula.
Menjelang tengah hari, matahari hampir di atas kepala. Pasukan Raja Hangat Garang beserta burung kesayangannya hampi r mendek ati gerb ang istana. Selurub punggawa yang telah mende ngar akan kedatangan musub merasa was -was. Mere ka sudah mend uga kalau musuh sampai masuk ke istana, hampir dipastik an kerajaan akan jatuh. Prajur it Menda ng Kemulan yang tersisa banyak yang masib terluk a . Panglim a perang pun menjadi sangat khawa tir.
Dari kejauban sudab tampak iring-iringan pasukan musuh mendekati gerbang. Burung raksasa terbang sambil meru sak segala yang dilaluinya. Raky at yang meliliat kejadian itu sangat panik. Tidak ada seorang pun yang berani ke luar rumah . Pintu rumah mereka kunci rapat-rapat. Mereka hanya berani mengintip dari dalam.
Raja Hangat Garang sudah merasa yakin dapat menghancurkan negeri Mendang Kemulan. Tiba-ti ba dia dikejutkan oleh suara yang mencurigakan. Setelah diamati , ternyata burung garuda raksasa tengah bertempur dengan seorang
pemuda. Dia sangat heran melihat keterampilan dan kegesitan anak muda itu.
"Memang seharusnya begitu, Tuan Putri. Sebaiknya Tuan Putri mandi dulu agar badan menjadi segar," jawab Nenek Gaba yan . Mereka pun segera menuju ke telaga. Telaga itu terletak di kaki sebuah bukit. Dari perbukitan itu mengalir air yang sangat jernih. Jika dilihat dari kejauhan, tampak aliran air yang memutih berkilau diterpa sinar matahari . Indah sekali pemandangan di tempat itu. Kejernihan air itu selalu terjaga karena tidak ada orang yang mengotorinya. Sumber mata airnya pun tidak pernah ker ing karena hutan di tempat itu belum rusak. Tidak seorang pun yang berani meru sak hutan itu. Pohon-pohon dengan aneka jenisnya tumbuh dengan suburnya. Semua satwa yang ada di hutan itu merasa terlindungi. Batang dan ranting pohon besar menjadi temp at tinggal para binatang . Karena keadaan hutan dan seisinya yang terjaga baik ini, masyarakat sekitar dapat menikmatinya. Daun-da un ker ing yang jatuh tertiup angin membawa berkah bagi warga kampung sekitar hutan. Tanah-tanah mereka menjadi subur . Daun yang sudah kering dapat menjadi humus. Dengan adanya humus tanah menjadi gembur sehingga segala tanaman dapat tumbuh subur. Ketiga putri dari langit itu tidak henti-hentinya memuji keindahan alam sekitar itu. Mereka sangat bangga pada Nenek Gabayan . Berkat dialah hutan dan segal a isinya itu dapat terjaga . Segal a binatang hidup rukun. Segala tanaman hidup subur. Karena keindahan alam inilah ketiga putri itu selalu ingin berkunjung ke bumi. Mereka senang menikrnati kesejukan dan kejernihan air gunung yang alami . Air yang belum tercemar oleh limbah. 14 55
Garuda raksasa yang sangat ditakuti prajurit ' musllh sekarang mendapat lawan yang seimbang. Bareno yang dihadapinya dapat mengimbangi kekuatan burung itu. Pertempuran antara burung raksasa dan seorang pemuda itu pun berlangsung sangat seru . Rakyat Mendang Kemulan yang melihat dari celah rumahnya sangat berharap pada pemuda itu. Mereka sempat bertanya-tanya dalam hati. Siapa gerangan pemuda yang sangat pemberani itu?
Bareno dengan berbekal ilmu yang diberikan oleh kakek pertapa sangat merepotkan musuhnya. Dia menggunakan mantra saktinya dan digunakanlah gelang akar bahar . Dengan segal a ilmunya itu , Bareno dapat menahan serbuan burung raksasa . Sambaran-sambaran dan patukan burung itu dapat ditahannya. Bahkan, deng an gelang akar baharnya dia bisa terbang. Mula-mula dipatahkan bagian sayap kirinya . Burung raksasa itu menjadi limbung. Dia tidak punya keseimbangan lagi karena sayapnya tinggal sebelah. Kesempatan itu segera dimanfaatkan Bareno . Disambarnya sayap yang tinggal sebelah itu dan dipatahkan . Akibatnya, kedua sayap burung itu patah sehingga dia sudah tidak dapat terbang.
Meskipun sudah tidak bersayap, burung itu masih ganas. Patukannya masih keras sekali. Batu besar pun dapat dipecahkan dengan sekali patuk. Namun , Bareno tidak kekurangan akal. Dipegangnya tubuh garuda raksasa itu, lalu dilemparkan ke arah bukit. Tubuh burung itu pun terkulai lemas . Melihat kesempatan itu, Bareno segera mengerahkan semua kekuatannya. Dengan sekali pukulan, burung raksasa itu akhirnya mati.
Raja Hangat Garang yang menyaksikan kejadian itu, menjadi naik pitam. Pasukanya segera disuruh menggempur pemuda itu. Namun, bukan Bareno kalau tidak dapat melayani mereka. Pasukan Hangat Garang dibuat kocar-kacir. Satu persatu prajurit Raja Hangat Garang dihajarnya sehingga membuat prajurit yang tersisa ketakutan. Meskipun Raja Hangat Garang terus-menerus memberi semangat, pasukannya tak mampu mengalahkan Bareno. Segala senjata digunakan untuk membunuh Bareno. Akan tetapi, tak satu pun yang mampu melukainya.
melayani Tuan Putri. Hanya ini yang dapat hamba lakukan, tukas Nenek Gabayan." Suasana di rumah Nenek Gabayan siang itu sangat meriah . Walaupun hanya ada empat orang, suara riuh dan tawa ria mereka terdengar jelas. Mereka sangat bahagia. Pada saat sedang bersendau gurau, mereka melihat seekor kucing yang manis melintas di depan mereka. Kucing berbulu hitam halus dan belang tiga itu lalu mereka belai bergantian. Kemudian mereka bergantian mengelus-elusnya. "Nek, kucing hitam belang tiga ini milik Nenek!" tanya putri tertua, Reno Sari. "Benar, Tuan Putri. Kucing ini memang milik hamba. Kucing itu hamba dapatkan di dekat bukit di sana itu. Dia sangat manja," jawab Nenek Gabayan meyakinkan. Putri Talayang sangat terpikat oleh kucing itu. Bu]unya halus dan lembut. Wama bulunya yang hitam dengan belang tiga sangat indah dipandang. Dia tak henti-henti mengeluselusnya. "Nek, boleh tidak kucing ini kuminta. Aku ingin memilikinya, Nek," pintanya merengek. Karena asyiknya bercengkerama dengan kucing itu, mereka hampir lupa tujuannya turun ke bumi. Jika tidak diingatkan Nenek Gabayan, mereka barangkali sudah lupa. Mereka tidak menyesal telah membuang waktu karena bennain-ma in dengan kucing itu. Meskipun demikian, mereka tetap ingin mandi di telaga. Mereka pun kemudian minta izin kepada Nenek Gabayan untuk mandi. "Rupanya hari telah siang, Nek. Matahari pun mulai beranjak naik. Izinkan kami mandi dulu di telaga. Seusai mandi, nanti kami akan kembali ke sini, Nek," kata ketiga putri minta diri kepada Nenek Gabayan. 56 13
"Kurang ajar, beraninya pemuda ingusan itu mencampuri urusanku . Rupanya, dia belum tahu siapa Raja Hangat Garang, " kat a Hangat Garang penuh emosi.
"Tuanku, dia sangat sakti. Tubuhnya kebal terhadap senjata. Pedang, panah, dan tombak tidak mampu menembus tubuhnya," sahut prajurit yang masih hidup.
Raja Hangat Garang segera maju menghadapi Bareno . Dia menyerang dengan penuh emosi. Akibatnya, banyak pukulan yang tidak mengenai sasaran. Tendangannya pun menjadi tidak menentu arahnya. "Mati kauanak muda," teriaknya.
Dia sangat bernafsu untuk membunuh lawannya. Segala cara ditempuhnya. Gerakan dan jurus silat yang dikuasainya dikeJuarkan. Namun, karena dia sangat emosi, gerakan tubuhnya menjadi kacau. Jurus-jurus yang biasanya sangat ditakuti kini tidak tampak. Sebaliknya, Bareno melayani lawannya dengan sabar. Dia menunggu saat lawannya lengah. Jika lawan lengah, dia baru melepaskan pukulan. Dengan cara itu, dia berhasil memukul lawannya.
Raja Hangat Garang menjadi bertambah emosi. Gerakannya menjadi bertambah kacau. Jurus-jurusnya semakin tidak
beraturan. Dia hanya menerjang ke sanake mari sambil berteriak-teriak. "Keparat Bareno, kuhajar kau," teriaknya sambil merrgayun-ayunkan pedangnya.
putri yang Nenek eeritakan itu." N enek Gabayan pun tidak dapat menolak keinginan eueu kesayangannya itu . Dia hanya meminta Bareno agar tidak berbuat jahat atau tidak melakukan hal yang tidak terpuji. "Jika iru kemauanmu, Nenek tidak dapat menghalanginya. Nenek hanya berpesan, engkaujangan berbuat yang tidak baik, ya! Sebentar lagi putri-putri itu akan turun. Mereka akan mandi di telaga di bawah bukit itu," kata Nenek Gabayan menasihati Bareno. "Sa) ,\ akan turuti nasihat Nenek," jawab Bareno. Tidak lama setelah mereka berbieang-bineang, terdengar suara petir tunggal. Bersamaan dengan itu kelihatan sinar kuning di langit. Dari sinar kuning itu muneul tiga putri camik, Lalu mereka turun ke bumi, Nenek Babayan kemudian memberitahu nama ketiga putri itu kepada Bareno, putri yang tertua bernama Putri Reno Sari. Dia telah bertunangan dengan Raja Mambang yang memerintah langit tinggi. Adiknya bernama Putri Mayang Sani. Dia bertunangan dengan Raja Bala Dewa, Raja Kayangan. Putri ketiga bernama Putri Talayang, Dia telah dijodohkan dengan Raja Jin. Ketiga putri itu memang sangat eantik. Rambutnya panjang mengurai, hidungnya maneung, dan kulitnya putih bersih. Mereka segera memberi salam kepada N enek Gabayan. "Selamat siang, Nek," kata mereka serempak. "Oh, Tuan Putri, selamat siang," jawab Nenek Gabayan dengan suara khasnya. Dia memang sudah tua sehingga suaranya agak serak , Ketiga putri itu pun segera berueap, "Nek, kami sangat berterima kasih atas sambutan Nenek. Semoga Nenek diberi umur panjang." alun-alun. Di hadapan Ratu Kamala Neli, punggawa itu berka12 57 "Terima kasih Tuan Putri. Hamba sungguh senang dapat
Bareno tidak mempan segala senjata lawan. Dia telah menggunakan ilmu kebal pemberian kakek pertapa. Hal itu membuat lawannya kehabisan akal. Raja Hangat Garang dibuat tidak berdaya. Akhirnya, sewaktu lawannya lengah, Bareno segera melepaskan pukulan mautnya, Raja Hangat Garang mati seketika, Bareno merasa lega telah mengalahkan lawannya.
Rakyat Mendang Kemulan sangat gembira, Mereka yang semula hanya mengintip dari rumah serentak berhamburan keluar. Mereka mengelu-elukan Bareno . "Hidup anak muda . Hidup pahlawan kita, " teriak penduduk yang belum mengenal Bareno. Orang tua yang pernah bertemu Bareno juga berteriak, "Hidup Bareno. Bareno pahlawan sejati. "
Teriakan orang-orang itu mengundang para punggawa keluar dari balairung. Para punggawa terkejut karena rakyat Mendang Kemulan sudah bertumpah ruah di alun-alun. Mereka lebih terkejut karena yang dielu-elukan adalah orang asing. Seorang pemuda yang belum dikenalnya.
"Luar biasa pemuda itu. Dia masih mud a tetapi sangat hebat. Raja Hangat Garang yang sakti pun dapat dikalahkan. Pasti dia bukan orang sembarangan," kata salah seorang punggawa kepada rekannya.
Punggawa lainnya menyahut, "Sebaiknya kita segera melapor kepada Baginda Ratu Kamala Neli. Baginda pasti sangat senang. "
Sebagian punggawa segera melaporkan kejadian itu kepada rajanya . Sebagian punggawa lainnya tetap bersama rakyat di
ta, "Baginda Ratu Kamala, hamba punggawa menghadap."
Ratu pun menjawab, "Ada apa punggawa. Segera laporkan apa yang terjadi. Jangan kaututup-tutupi kenyataan! Berterusteranglah , Punggawa!"
Punggawa segera melap or bahwa Raja Hangat Garang telah dibunuh . Semua pasukan lawan pun sudah bertekuk lutut. Mendengar berita yang menggembirakan itu, Kamala segera menyahut, "Punggawa, segera katakan siapa orang yang telah menyelamatkan negeri ini. Saya akan segera menemuinya."
2. BERTEMU PUTRI TALA YANG N enek Gabayan segera menyiapkan perala tan untuk menyambut kedatangan putri. Digelarn ya tikar panda n dan disiapkanlah sirih di tembikar . ltulah yang selalu disiapkan Nenek Gabayan setiap kali putri-putri dari langit itu akan turun. Bareno semakin penasaran. Dia ingin melihat putri yang diceritakan oleh Nenek Gabayan . Karena hanya binatang dan orang tertentu yang dapat melihatnya, Bareno mengubah dirinya . Dengan ilmu yang dikuasainya, dia berhasil mengubah dirinya menjadi seekor kucing hitam belang tiga. lImu itu sebenarnya telah lama dimilikinya . Dia tidak pernah memamerkannya pada orang lain . Nenek Gabayan terkejut, "Hah .. . " Namun, dia segera menyadari bahwa Bareno memang bukan orang sembaran gan . Bareno itu merupakan pemuda yang punya kelebihan , seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya. Lalu katan ya, "Bareno cucuku, engkaukah itu, Nak?" "Ya, Nek, " jawab Bareno. "Mengapa kaulakukan ini. Untuk apa, Nak ? Apakah kauingin ... , "Nenek Gabayan belum menyelesaikan pertan yaannya sudah dijawab Bareno, "Benar , Nek, saya ingin melihat 58 11
Punggawa itu menjelaskan bahwa yang mengalahkan lawannya adalah Bareno . Dia seorang pemuda yang sedang berkelana . Dia sangat tampan . Perawakannya tinggi tegap. Kulitnya putih bersih. rambutnya hitam ikal. Hidungnya mancung. Walaupun sangat sakti, dia sangat ramah kepada setiap orang yang dijumpainya.
Ratu Kamala N eli minta untuk segera diantar ke hadapan pemuda itu. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu . Katanya, "Pungg awa antarkan saya ke hadapan p'emuda itu . Saya akan mengucapkan terima kasih padanya . " Dengan diantar punggawa itu, Kamala Neli menghampiri Bareno di alun-alun.
Dia sangat terpesona begitu melihat Bareno . Hatinya berdebar-debar. Perasa annya tidak menentu. Dengan ramah dia berkata , "Ki sanak, atas nama rakyat Mendang Kemulan, saya menguc apkan terima kasih. Jika tidak engkau tolong, mungkin negeri kami sudah hancur. "
Bareno menjawab sambil menyembah, "Baginda , sebagai manu sia kita harus saling menolong. Saya hanya menjalankan kewajiban itu, Baginda."
Ratu Kamala N eli bertambah rasa kagumnya kepada Bareno. Jawaban Bareno yang begitu polos menunjukkan
kejujurannya. Raja pun segera mengajak Bareno ke dalam istana. Rakyat Mendang Kemulan yang berkumpul di alunalun serentak melambaikan tangannya dan bertepuk tangan riuh. Mereka mengantar pahlawan itu sampai gerbang istana.
Di dalam istana sudah berkumpul para penasihat dan punggawa . Mereka menyambut Bareno dengan senang. Jabat tangan dan salam hangat diterima Bareno. Segala makanan dan hidangan lain segera dikeluarkan untuk menyambut pahlawannya. Bareno tetap rendah hati. Dia mengucapkan terima kasih atas sambutan dan perhatian punggawa dan seluruh rakyat Mendang Kemulan. Seusai penyambutan itu, Bareno dipersilakan untuk beristirahat.
Pad a keesokan harinya, ratu, para penasihat, dan punggawa mengadakan rapat. Rapat itu membahas hadiah yang pantas untuk Bareno. Indo Jati, ayah Ratu Kamala, berkata, "Baginda, para penasihat dan puriggawa, saya mengusulkan agar Bareno diangkat menjadi panglima perang . Menurutku, dia mempunyai kemampuan dan kesaktian. \I
Ratu Kamala Neli menyerahkan keputusan itu kepada rapat. Meskipun seorang raja, dia tidak pernah memutuskan sesuatu seorang sendiri. Dia berpedoman bahwa segala sesuatu itu harus diputuskan melalui musyawarah. Semua peserta rapat itu menyetujui usul dari penasihat Raja Indo Jati. Akhirnya, dalam rap at itu diputuskan bahwa Bareno diangkat menjadi panglima perang.
' - . ---, "". 'I ; ;, " I',/J .------= I' . . . .. . .. . I Jo. . . c;,. l .tfl::;. 'J' ,.,,; a - _<;.:,_ . . ,l _ \"-\; lot _. _., ,;/ - . M .6.,.-::;::" ....... ,,\ n. ')JJ .. I . . Malin Bareno sedang memburu menjangan emas. PERPUSTAKAAN 10 59 'USAT PEMBINA AN DAN PE'NGEMBA NGA N B,tI HA SA DEPARTEMEN PENOIDIKAN DAN KEBUOAYAAN
Bareno kemudian dinobatkan menjadi pang lima perang N egeri Mendang Kemulan. Seluruh rakyat menyambutnya dengan suka cita. Pesta pun diadakan untuk mensyukuri kemenangan . Negeri Mendang Kemulan menjadi aman damai di bawah kepemimpinan orang-orang yang bijak. Negerinya
sejahtera karena dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Negeri menjadi aman dan damai berkat pimpinan panglima perang yang sakti, tetapi baik budi .
itu," kata menjangan emas. "Saya juga bangga padamu , Bareno. Belum pernah saya menjumpai orang sebaik kamu. Seandainya semua manusia itu seperti dirimu, dunia ini mungkin akan aman dan damai . Tidak ada peperan gan, " lanjutn ya. "Saya jug a bang ga denganrnu , Menjangan. Walaupun engkau seekor binatang, ternyata hatimu lebib baik daripada hati manusia yang serakah . Banyak orang di dunia ini yang tidak dapat mengalahkan diri sendiri . Engkau lebib mulia daripada orang semacam itu, Menjangan, " kata Bareno . Rupanya, kedua insan itu telah banyak mendapat petuah dari Nenek Gabayan. Mereka dapat membed akan perbuatan yang baik dan buruk. Mereka dapat menilai perilaku yang terpuji dan tidak terpuji. Keduanya walaupun berasa l darijenis yang berbeda , mereka seperti saudara. Pada suatu hari , matahari sudah sepenggala h, ada cahay a kuning yang diiringi petir tunggal. Bareno terkejut karena bam kali ini dia melihat kejadian itu . Dia bertanya kepada Nenek Gabayan tentang kejadian yang dilihatnya itu. "Nek, tadi saya melihat ada seberkas sinar kuning. Ada juga suara petir yang terdengar sekali . Ada apa ini, Nek?" -' tanya Bareno . "Baiklah cucuku, akan aku jelaskan. Sinar kuning diiringi suara petir yang kaulihat itu pertanda akan turu nnya putri dari langit. Putri itu berjumlah tiga orang. Mere ka kakak beradik. Sudahlah , sekarang makanlah dulu. Mereka tidakakan tampak oleh manusia. Jangan dipikirkan , ya, " jawab Nenek Gabayan jawaban itu rupanya belum memuaskan Bareno. Bareno sangat ingin tahu. 60 9
Hubungan raja dengan panglima peran g memang sangat deka t. Dari pertemuan pertama, sebenarnya Ratu Kamala Neli telah jatuh hati kepadany a. Pada suatu kesempatan, Kamala mengataican, "Panglima Bareno, alangkah bahagiany a aku jika • keinginanku tercapai. "
Bareno pun menjawab , "Baginda, apa yang menjadi keinginan Baginda. Jika hamba dapa t mencarik annya, pasti akan hamba lakukan."
Ram Kamala Neli lalu mengutarakan niatnya. Dia ingin agar Bareno bersedia mendampinginya sebagai suami.
"Panglima Bareno, maukah engkau memenuhi keinginanku? " kata Kamala.
"Baginda , hidup dan mati hamba hanya untuk Baginda dan negeri ini," jawab Bareno .
Ratu Kamala segera melanjutkan pertanyaa nnya dengan sedikit malu, "Maukah engkau mendamp ingiku sebagai suami?"
Bareno menjawab dengan ragu, "Hamba hanya orang biasa, Baginda. Apakah pantas hamba mendampingi Baginda?"
Ratu Kamala Neli meyakinkan bahwa semua manu sia itu sama. Baren o tidak dapat menolak keinginan Kamala Neli. Keduanya sepakat untuk menjadi suami istri . Me reka berjanji untuk membangun negerinya itu bersama-sama.
Pesta menyambut pernikahan raja dan panglima perang segera dimulai. Rakyat menyambut dengan sangat bersemangat. Jalan-jalan dibersihkan. Umbul-umbul pun dipasang di sepanjang jalan . Pesta pernikahan Ratu Kamala Neli dengan
Panglima Bareno akan diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Banyak tamu yang akan diundang. Mereka itu adalah raja-raja dan panger an dari negeri tetangga serta rakyat Mendang Kemulan.
untuk memelihara itik, ayam, dan sebagainya. Karena menurutnya, di hutan telah disediakan . Kini setelah Bareno tinggal bersamanya, sernua jenis unggas itu dipeliharanya. Setiap hari ada yang bertelur sehingga dapat digunakan untuk lauk. Jika menginginkan daging pun, mereka tinggal memotongnya. "Mengapa dulu tak terpikir untuk rnemelihara ayam, ya. Untung Bareno melakukannya. Nenek tidak perlu berburujika ingin daging ayam," kata Nenek Gabayan kepada Bareno. "Iya, Nek. Dengan rnemelihara ternak itu kita dapat mengembangbiakkannya dan sebagian dapat kita sembelih untuk lauk. Kebiasaan memelihara ternak itu kan sudah saya lakukan sejak di kampung, Nek," kata Bareno menimpali neneknya. Setiap pagi Bareno rnemberi makan ternak-ternak piara annya itu. Setelah itu, dia ke kebun belakang rumah untuk men yiangi tanamannya agar dapat tumbuh subur. Dia tidak lupa mengambilkan air dari paneura 'il dekat danau untuk neneknya. Setiap menjelang malam, Bareno menyempatkan berbineang-bineang dengan menjangan em as yang pemah menolongnya. Binatang itu telah menjadi sahabatnya. Ke mana pun dia pergi, menjangan itu selalu diajaknya. Karena kasih sayang Bareno kepadanya, menjangan itu pun tahu membalas budi. Setiap Bareno mendapat kesulitan, dia selalu menolongnya. Walaupun menjangan itu seekor binatang, dia dapat hidup berdampingan dan saling menolong dengan manusia. "Bareno, Nenek sering berkata kepada saya bahwa kita harus selalu tolong-menolong. Kita tidak dapat hidup sendirian . Kita pasti membutuhkan orang lain sekeeil apa pun 8 61
Pada pesta itu semua tamu yang diundang hadir. Seluruh rakyat pun menyambut para tamu dengan sangat ramah. Tidak ada satu orang pun rakyat Mendang Kemulan yang tidak senang. Semuanya menyambut dengan gembira. Mereka sangat berharap pada Ratu Kamala dan Panglima Bareno. Setiap ada orang bergerombol, yang dibicarakan pasti pasangan pemimpin mereka.
Pasangan baru itu hidup berbahagia. Mereka dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Tidak lama berselang , Ratu Kamala pun hamil. Seluruh rakyat menyambut dengan suka eita . Mereka sangat bergembira. Di neger inya akan muncui pemimpin baru. Seluruh kerabat istana pun tidak ketinggalan bersuka eita pula. Untuk mensyukuri karunia Tuhan itu, Raja membagikan makanan kepada rakyat yang masih miskin . Semuanya dikumpulkan di istana dan diajak makan bersama raja. Pulangnya, mereka masih diberi bekal.
"Alangkah mUlianya raja kita," kata salah seorang yang datang di istana.
Yang lain pun menimpali, "Beruntunglah kita mempunyai pemimpin seperti itu. Mudah-mudahan keturunannya kelak seperti Baginda. "
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kandungan Ratu Kamala pun sudah menginjak usia tujuh bulan. Di istana diadakan upaeara adat mitoni, tujuh bulan usia kandungan. Segala sesaji yang diperlukan telah dipersiapkan. Para penasihat dan punggawa hadir menyaksikannya. Mereka kelihatan
sangat ceria. Tidak satu pun yang menampakkan kesedihan. Mereka akan segera menyambut datangnya sang pangeran atau putri, calon raja Mendang Kemulan.
"Nenek cukup bahagia jika engkau dapat berbuat serupa pada orang lain. Ketahuilah cucuku, hidup ini harus selalu tolong-menolong. Jika diberi kekuatan, engkau bantulah yang lemah. Jika diberi kelebihan, engkau bantulah yang kurang," kata Nenek Gabayan. Alangkah mulianya budi Nenek Gabayan itu . Dia hidup seorang diri di tengah hutan dan jauh dari keramaian, tetapi suka menolong orang lain. Ilmu pengetahuannya pun luas. Karena sikap seperti itulah Bareno merasa betah tinggal di tempat itu. Walaupun sering teringat kepada ibunya, dia tidak merasa khawatir karena ibunya selalu dijaga Nenek Gabayan lewat menjangan emas. Dalam hati dia berjanji bahwa suatu saat nanti dia harus dapat membahagiakan ibunya. Oleh karena itu, dia selalu belajar keras tentang apa saja. Dia tidak malu bertanya jika memang- tidak tahu. Semenjak Bareno tinggal di tempat Nenek Gabayan itu, keadaan sekitar rumah menjadi sejuk dan indah. Seperti yang pernah dilakukannya sewaktu masih bersama ibunya, dia menanami kebun di belakang rumah dengan segala tanaman. Segala sayur-mayur tumbuh dengan subur. Walaupun seorang laki-laki, Bareno ternyatajuga mencintai keindahan. Di depan rumah Nenek Gabayan ditanami dengan berbagai bunga yang diambilnya dari bukit. Terkadang Nenek Gabayan tersenyum sendiri melihat Bareno yang sedang menyirami tanaman. "Alangkah bahagianya ibu yang melahirkannya. Dia benarbenar anak yang rajin," gumam Nenek Gabayan. Kekaguman Nenek Gabayan memang dapat dimengerti. Hampir setiap pekerjaan selalu dapat diselesaikan Bareno dengan baik. Bahkan, hal-hal yang tak terpikir olehnya dilakukan Bareno. Dulu tidak terpikir oleh Nenek Gabayan 62 7
Seusai acara adat itu, Panglima Bareno menyendiri. Dia teringat akan Putri Talayang. Rupanya, dia tidak dapat melupakannya . Dia berniat akan mencari kembali orang yang dikasihinya itu. Segala yang pernah dialaminya itu diceritakan kepada istrinya. Kemudian, dia mengutarakan niatnya, "Dinda Kamala, bolehkah Kanda pergi berjalan seorang diri?" tanyanya.
Ratu Kamala tidak tega melihat penderitaan Bareno. Dia mengizinkan suaminya pergi mencari kekasibnya itu.
"Kanda, bukankah kita suami istri. Jika Kanda bersedih, dinda pasti ilrut merasakan kesedihan itu. Dinda rela Kanda pergi. Carilah dia, Kanda," jawab Kamala.
"Alangkah baik budimu, Dinda. Kanda akan mencarinya . Setelah bertemu, kanda akan segera menemuimu, " kata Bareno penuh haru. Bareno begitu terharu mendengar ketulusan istrinya itu.
Sebelum pergi, Bareno berpesan kepada istrinya, "Dinda, jika anak kita lahir laki-Iaki, beri dia nama Maha Dewa. Jika lahir perempuan, beri nama Maharani. "
Setelah berpesan begitu, Bareno segera pam it. Dia akan mencari Putri Talayang. Dia berkelana seperti dulu.
.. Ci r<'.' C">. (f?>
membantu pekerjaan Nenek Gabayan. Diisinya gentong dengan air yang diambilnya dari pancuran di bukit belakang rumah. Dia juga memetikkan sayur dan buah-buahan yang tumbuh di sekitar rumah untuk Nenek Gabayan. Kehidupan anak mud a dan seorang nenek itu hari berganti hari semakin akrab. Nenek Gabayan menjadi bertambah sayang kepada Bareno. Dia menganggapnya seperti cucunya sendiri. Di tempat itu Bareno tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan bertubuh kekar. Ditambah dengan sifat dasarnya yang pemberani menjadi lengkaplah sosok Bareno sebagai pemuda idaman. Seandainya dia hidup di perkampungan, banyak gadis yang akan terplkat kepadanya . Dia sangat cakap dalam segala hal, rajin bekerja, balk budi pekertinya, dan suka menolong. Meskipun mendapat kasih sayang dari Nenek Gabayan, hatinya tidak tenang. Dia selalu teringat ibunya yang tinggal seorang diri. Dia mengkhawatirkan keadaan ibunya. "Bareno cucuku, saya sangat bangga kepadamu. Ternyata engkau anak yang cerdas, terampil, dan rajin. Nenek percaya bahwa suatu saat engkau akan menjadi pemimpin, " kata Nenek Gabayan pada suatu hari. "Nenekjuga merasakan kerinduanmu pada ibumu. Percayalah cucuku, suatu saat engkau pasti berkumpul kembali dengan ibumu. Dia juga merindukanmu. Engkau jangan khawatir karena ibumu balk-balk saja. Setiap hari menjangan em as saya suruh menjenguk ibumu," lanjutnya. "Terima kasih, Nek. Nenek telah banyak berbuat balk kepada saya. Bagaimana saya akan membalas budi balk Nenek?" isak Bareno sambil merebahkan diri di pangkuan Nenek Gabayan. 6 63
Raw Kamaifl Neli menghampiri Baren o di alun-alulZ. Dengan ramah dia berkata. 'Ki safUlk, alas nama rakyat Mendang KemuifllZ, saya mengucapkan lerima kasih . Jika ridak engkau toiong , mungkin negeri kami sudah honcur. "
7. BERTEMU KEMBALI DENGAN PUTRI TALAYANG DAN l\1ENJADI RAJA DI NEGERI SENDIRI
ada perabotan rumah tangga. "Apakah ada orang yang tinggal di tengah hutan seperti ini. Jika ada, siapa dia itu?" kata Bareno dalam hati. Belum hilang rasa keterkejutannya, muncul seorang nenek tua dari dalam rumah. "Selamat malam, anak muda!" Kaujangan takut. Nama saya Gabayan. Orang memanggilku N enek Gabayan. Aku sudah mendengar banyak dari menjangan emas, " kata Nenek Gabayan. "Oh, iya, menjangan emas itu binatang kesayanganku. Dia banyak bercerita tentang dirimu. Kautinggal di kampung dekat hutan ini, kan? Dia mengatakan narnamu Bareno, benar begitu, Nak?" tanyanya kemudian. "Iya, Nek. Saya tadi berburu binatang, tetapi tersesat," jawab Bareno jujur. "Saya juga minta maaf karena telah memburu binatang kesayangan- Nenek," lanjutnya. "Anak yang baik, tidak apa-apa. Saya kagum atas kejujuranmu. Jika cucu mau tinggal di sini, silakan! Boleh kan, nenek menyebutmu cucu!" pinta Nenek Gabayan. "Tentu saja, Nek. Saya sang at senang karena di tengah hutan yang sepi ini ada orang yang begitu baik dan berbudi seperti nenek ini," jawab Bareno dengan perasaan senang. "Baiklah, cucuku, sekarang beristirahatlahdulu. Nantijika nenek sudah memasak, engkau kubangunkan, ya," kata Nenek Gabayan. Malam itu Bareno menginap di rumah Gabayan. Dia memang anak yang baik. Kerajinannya tidak hanya diperlihatkan pada ibunya saja, di tempat itu pun dia tunjukkan pula. Setiap pagi, seperti kebiasannya di rumah, dia selalu 64 5
Bareno mulai melakukan perjalanan. Agar tidak diketahui oleh rakyat Mendang Kemulan, dia melepaskan pakaian kebesarannya. Dia menyamar seperti rakyat jelata. Pakaian yang dikenakannya seperti yang dipakai oleh rakyatnya. Tidak satu pun rakyat Mendang Kemulan mengetahui kepergiannya.
Entah sudah berapa jauh dia meninggalkan istana. Dia keluar masuk kampung, dari satu kampung ke karnpung lain. Dia dengarkan setiap pembicaraan orang. Dia bertanya kepada setiap orang yang ditemui. Hanya satu yang dicarinya, yaitu bunga Cempaka Dewa.
"Boleh tanya, Pak! Apakah Bapak pemah lihat bung a Cempaka Dewa," tanya Bareno kepada setiap orang yang ditemuinya. Anehnya, tidak satu orang pun tahu nama bunga itu. Mereka pada umurrmya selalu menjawab, "Jangankan melihat, mendengar namanya saja baru sekali ini."
Bareno tidak berputus asa. Dia telah banyak mendapat petuah dari para orang tua. Hidup ini tidak boleh berpatah semangat, tidak boleh putus asa. Pedoman itu selalu diterapkannya di mana pun dia berada. Setelah gagal memperoleh
keterangan, dia meneruskan perjalanannya. Mungkin sudah beratus-ratus kampung telah dijelajahinya.
Dengan sigap diambilnya tombak, lalu dilepaskan ke arah menjangan itu. Anehnya, menjangan itu tidak merasa takut oleh tombak Bareno. Setiap tombak yang diarahkan kepadanya selalu dielakkannya. Bareno menjadi kesal. "Binatang macam apa ini, belum pernah aku menemukannya selama ini," kata Bareno dalam hati. "Tanduknya kuning keemasan, bulunya pun halus dan indah, " lanjutnya. Binatang itu memang aneh . Setiap dikejar dia selalu lari, [etapi jika yang mengejar berhenti dia pun berhenti. Bahkan, dia seperti menari-nari di depan mata Bareno. Dengan santainya dia makan rumput sambil menaik-naikkan kakinya seperti sedang bermain-main. Sudah cukup lama Bareno mengejar menjangan itu hingga tidak terasa hari hampir sore. Sialnya, Bareno tidak tahu jalan kembali ke rumahnya. Dia tersesat, masuk terlalu jauh ke dalam hutan belantara. Pada saat Bareno sedang putus asa, terjadilah peristiwa yang sang at aneh dan mengejutkannya. Menjangan itu ternyata dapat berbicara. Bareno menjadi terkesima. "Anak muda, hari sudah sore. Sebentar lagi mal am akan tiba. Jika tidak mau kemalaman di tengah hut an dan dimakan binatang buas, engkau turutlah denganku. Ikutilah aku," kata menjangan emas kepada Bareno. Bareno akhirnya mengikuti langkah menjangan em as itu dari belakang. "Benar juga kata menjangan itu,daripada dimakan binatang buas lebih baik mengikutinya, " pikir Bareno. Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka sampai di suatu tempat. Di situ terdapat sebuah gubuk tua. Bareno pun diajaknya masuk. Dia semakin heran karena di gubuk tua itu 4
Setelah di kampung-kampung tidak diperolehnya, Bareno mencoba mencari ke hutan. Hutan-hutan kecil ditelusurinya. Lembah dan ngarai dituruni. Bukit-bukit pun didakinya. Bunga Cempaka Dewa yang dicari belum juga didapat.
Siang itu udara begitu panasnya. Matahari seperti menyengat tubuh. Kala itu memang sedang musim kemarau. Bareno melepaskan lelahnya. "Sebailcnya aku istirahat dulu di bawah pohon besar itu," katanya dalam hati. Semilirnya udara segar membuat Bareno terlelap. Enak sekali dia tidur di bawah pohon itu walaupun hanya beralaskan akar.
Setelah cukup istirahatnya, Bareno seger a terbangun. Dia terkejut karena matahari sudah condong ke barat. Itu pertanda bahwa hari sudah sore: Sebentar lagi malam akan tiba. Dalam hati dia berkata, "Haah .. ,rupanya hari sudah sore. Saya harus mencari temp at bermalam." Begitu pikir Bareno sambil berjalan.
Bareno sudah agak kecapaian. Jalannya sudah mulai lamban. Kebetulan tidak jauh dari tempat itu ada seorang penjual bunga.
"Bu, bolehkah saya menumpang tidur di rumah Ibu," tanya Bareno kepada penjual bunga. "Saya kemalaman di sini, Bu," lanjutnya .
Penjual bunga itu pun mempersilakan Bareno. "Oh .. boleh, boleh saja, Nak , " jawabnya. "Di rumah Ibu ini banyak yang pernah menginap, Nak. Kebanyakan mereka itu pengembara . Di depan sana kan hutan belantara . Ibu senang kok Anak menginap di sini," lanjut penjual bunga itu.
Mereka saling memperkenalkan diri. Bareno sekarang tahu
bahwa penjual bunga itu bernama Rubiah. Dia tinggal seorang diri. Suaminya telah lama meninggal. Umurnya sudah tua sehingga hampir seluruh rambutnya telah memutih . Pada malam itu , Nenek Rubiah banyak bercerita kepada Bareno. "Nak , lbu sudah lama berjualan bunga di sini. Biasanya pada hari-hari tertentu banyak orang membutuhkan bunga. Kebetulan hari ini agak sepi," kata Nenek Rubiah memulai ceritanya.
belum terlalu panas. Bareno meminta lZlll kepada ibunya untuk berburu ke hutan. Dia, memang gemar berburu binatang ke hutan. Tidak pernah Bareno pulang dengan tangan hampa. Dia selalu membawa binatang buruan untuk lauk . Terkadang dia mendapatkan seekor rusa, tidak jarang pula dia mendapatkan beberapa ekor kelinci hutan . "Bareno, hati-hati, ya, Nak. Di hutan banyak binatang buas. Jaga dirimu baik-baik, ya," pesan ibunya mengingatkan. Dengan menenteng tombak, dia melangkah dengan tegap layaknya pemuda yang hendak berangkat ke medan laga . lbunya membekalinya dengan singkong dan pisang rebus serta air putih. Bareno memang terkenal sebagai jago berburu. Dengan senjata tombak sebagai andalannya, dia tidak pernah luput setiap mengincar buruannya. Namun, dia tidak serakah . Setiap kali berburu, binatang yang diburunya hanya secukupnya saJa. Rupan ya, hari itu Bareno benar-benar bernasib sial. Tak satu pun binatang buruan didapatkannya. Bahkan, menampakkan diri pun tidak. "Tuhan sedang menguji ketabahanku , " pikir Bareno dalam hati . "Hari ini tidak seperti biasanya, seekor kelinci pun tidak kutemukan . Padahal, aku sudah mengelilingi seisi hutan ini," keluhnya. Bareno telah mengelilingi hutan itu hingga kecapaian. Akhirnya, Dia berhenti di bawah pohon besar dan akan tertidur . Belum begitu nyenyak tidurnya, dia dikagetkan oleh kehadiran seekor menjangan emas. Dia segera bangun dan dilibatnya binatang itu sungguh menakjubkan. Tanduknya seperti emas dan bulunya seperti beludru keemasan. Dia makan rumput tidak jauh dari tempat Bareno tertidur. 3 .•
Bareno mendengarkan dengan saksama. Dia juga banyak bertanya dari mana Nenek Rubiah mendapatkan bunga-bunga dagangannya. Nenek Rubiah mengatakan bahwa dia mendapatkan bunga dari hutan. Dia pun bercerita tentang bunga aneh yang ada di tengah hutan.
"Nak, lbu pernah libat bunga di tengah hutan. Warnanya sangat indah. Tetapi, bunga itu dijaga naga besar, buaya ganas, dan binatang berbisa. Tak seorang pun dapat memetiknya, " cerita Rubiah pada Bareno.
Setelah mendengar cerita Rubiah, Bareno ingin tahu lebib banyak. "Bu, saya sangat tertarik cerita lbu. Apa nama bunga itu , Bu? Dia tumbuh di mana," tanya Bareno bertubi-tubi dan penuh semangat.
"Kata orang, bunga itu bernama Cempaka Dewa. Kadangkadang orang menyebutnya bunga Bala Dewi," jawab nenek Rubiah .
Dia lalu melanjutkan, "Bunga itu hidup di sebuah telaga. Kalau lbu tidak salah namanya Telaga Biru. Telaga itu terdapat di tengah hutan dekat Bukit Mambang Sakti , Nak."
"Bu, maukah Thu mengantarkan say a ke telaga itu. Saya akan melihat bunga itu, Bu," pinta Bareno .
"Tentu saja, Nak. lbu setiap hari kan ke hutan itu mencari
bunga. Besok kita berangkat agak pagi, ya," kata Rubiah penuh semangat.
bahagianya setiap ibu seandainya semua anak berperilaku seperti Bareno. Dia anak yang baik," gumam ibu Bareno. Malin Bareno sebenaruya seorang keturunan raja. Ayahnya dulu seorang raja di negeri Amah Berantah. Karena mendapat kutukan dewa, negeri yang sangat subur itu berubah menjadi hutan belantara. Rakyat yang sangat setia pun berubah menjadi binatang, sedangkan istana tempat raja tinggal menjadi gubuk yang sekarang ditempati Bareno dan ibunya. Peristiwa itu terjadi sebelum Bareno lahir sehingga dia tidak mengetahui bahwa dirinya adalah keturunan raja. Selain itu, Bareno tidak pernah mengenal wajah ayahnya karena telah meninggal sebelum dia lahir. Ibunya juga tidak peruah bercerita. Bareno hanya bisa membayangkan bahwa ayahnya adalah seorang yang gagah perkasa, pemberani, dan berbudi luhur. "Bu, apakah Ayah seorang yang gagah, pemberani, dan baik hati?" tanya Bareno kepada ibunya. "Bareno, ayahmu itu memang gagah, pemberani, dan berbudi. Sarna seperti dirimu, Nak," jawab ibunya. "Sayang, ayahmu meninggal sebelurn kamu lahir. Ayahmu berpesan kepada Ibu agar mendidikmu menjadi anak yang baik. Ibu telah berupaya untuk memenuhi keinginan ayahmu. Ibu sangat bersyukur kepada Tuhan karena kaudapat memenuhi harapan ayahmu, Nak," tutur ibunya sambil terisak teringat suaminya yang sudah rneninggal. "Bu, maafkan Bareno, ya, Bu. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Ibu. Saya berjanji untuk memenuhi harapan Ayah, saya berjanji, Bu!" kat a Bareno menghibur ibunya. Hari itu belum terlalu siang. Matahari masih rendah dan 2 67
Malam itu hati Bareno menjadi lega. Dia akan menemukan orang yang dicarinya. Semalaman dia hanya memikirkan Putri Talayang. Putri yang telah dikutuk ayahnya menjadi sekuntum bunga. Kegembiraan Bareno tidak terlukiskan dengan katakata.
Begitu ayam jantan berkokok, Bareno sudah bersiap-siap. Dia sudah tidak sabar ingin segera mencari bunga itu. Nenek Rubiah mengingatkan bahwa hari masih terlalu petang. Keduanya menunggu hari agak terang. Setelah semburat atau cahaya merah dari lang it timur tampak, keduanya berangkat ke hutan. Nenek Rubiah berpesan agar Bareno berhati-hati .
Sampai di tengah hutan, matahari sudah memancarkan sinarnya. Udara segar inenghembus dari sela-sela pepohonan. Dari jauh tampak air kebiru-biruan.
"Itukah Telaga Biru yang diceritakan Nenek Rubiah," pikir Bareno. Dia jadi teringat apa yang pernah diceritakan oleh kakek pertapa. Ceritanya sarna dengan yang diceritakan Nenek Rubiah .
"Bunga Cempaka Dewa, Telaga Biru, dijaga binatang berbisa. Bukankah kata-kata itu pernah diucapkan kakek pertapa," pikir Bareno.
Bareno menjadi sangat bersemangat. Dia berkata, "Bu, izinkan say a memetik bunga itu. Saya sangat ingin meiniliknya," katanya kepada Rubiah.
N enek Rubiah terkejut mendengar permintaan Bareno. "Nak, itu sangat berbahaya. Katanya, engkau hanya akan melihatnya. Jangan lakukan itu, Nak," jawab Rubiah penuh kekhawatiran.
"Ibu tak usah khawatir. Saya dapat menjaga diri. Doakan saja agar say a selamat, Bu," kata Bareno meyakinkan Rubiah.
Bareno sudah bertekad mendapatkan bunga itu. Dia segera mendekati Telaga Biru. Dari dalam telaga muncul seekor naga raksasa. Disusul kemudian buaya-buaya besar dan ganas. Berbagai binatang berbisa lainnya pun bermunculan. Nenek Rubiah sangat ketakutan melihat itu. Dia disuruh Bareno untuk menjauhi temp at itu.
1. TERSESAT Suatu pagi yang cerah, mentari tampak kemerah-merahan. Kicau burung terdengar sangat merdunya. Di suatu kampung di tepi hutan tampak seorang ibu dan anaknya sedang duduk di balai-balai rumahnya. Mayang Sari nama ibu itu, sedangkan anaknya bernama Malin Bareno. Malin Bareno sangat raj in membantu ibunya. Tidak pernah sekali pun dia bangun siang. Dia selalu bangu n ketika ayarn hutan mulai berkokok. Setiap hari dia membantu ibunya membersihkan rumah dan halaman . Dia juga rajin berkebun . Segala tanaman sayuran menghiasi kebun di belakang rumahnya. "Bareno, kelihatannya terung dan kacang panjang di kebun kita sudah dapat dipetik, " kata ibunya. "Sudah, Bu. Cabe dan tomat pun sudah bisa kita petik . Ibu mau masak apa hari iill?" tanya Bareno. "Ibu akan masak sayur kesukaanmu. Selagi hari masih pagi, petikkan sayur untuk Ibu, ya," kata ibu Bareno. Bareno segera menuju kebun di belakang rumahnya untuk memetik sayur. Diambilnya beberapa buah terung dan kacang panjang serta cabe yang sudah tua. Ibunya sangat bersyukur karena dikaruillai anak yang saleh dan rajin . "Alangkah 1
Binatang-binatang itu bersiap menyerang Bareno. Mereka sudah diperintah dewa untuk menjaga bunga Cempaka Dewa. Tidak seorang pun boleh menyentuhnya. Gerakan binatangbinata ng itu sungguh menakutkan. Air telaga menjadi berge muruh. Naga raksasa dan buaya-buaya itu menggerakgerakkan ekornya. Segala yang terkena sabetan ekor itu bertumbangan.
Setelah melihat binatang-binatang yang begitu ganas itu, Bareno segera mempersiapkan diri. Dia lalu membaca mantran ya. Dikenakannya gelang akar-baharnya. Dia berdoa kepada sang Pencipta. Dia memohon keselamatan. Setelah selesai, dia pun lalu terjun ke dalam telaga itu. Di situ dia langsung disambut binatang penjaga bunga itu. Perkelahian antara Bareno dan binatang-binatang buas pun berlangsung seru. Orang yang melihat perkelahian itu tentu akan merasa gentar.
"Binatang-binatang iill memang luar biasa. Saya harus berhati-hati," kata Bareno dalam hati . Dengan segala kemampuannya, Bareno mulai membunuh lawan-Iawannya. Binatang yang kecil-kecil dihabiskan dulu. Setelah itu, buaya dan naga dihadapinya. Jika tidak punya ilmu kebal, badan Bareno mungkin sudah terkoyak. Sabetan ekor buaya sangat
keras. Namun, tak ada luka di rubuhnya. Sebaliknya, satu per satu buaya-buaya itu dibunuhnya. Dengan sekali pukul, buaya itu mati.
Naga raksasa tinggal sendirian. Dia meliuk-liukkan tubuhnya. Mulutnya yang besar siap menerkam Bareno . Berkat kelincaharmya, Bareno dapat menghindar. Bahkan, pada suatu kesempatan Bareno melepaskan pukulan mautnya. "He .. naga, rasakan pukulan pamungkasku! " teriak Bareno sembari melesat di atas kepala naga. Sekali pukul naga itu pun roboh.
ltulah kehebatan Bareno. Kehebatan yang diperoleh dengan kerja keras. Selain itu, dia selalu bersungguh-sungguh dalam berlatih. Tidak satu pun petuah gurunya diabaikan. Oleh karena itu, Bareno telah berhasil mengalahkan musuh yang sangat berat. Nenek Rubiah gembira dan heran. Dia sangat heran akan kehebatan Bareno. Belum ada orang yang be rani mendekat telaga itu. Bareno justru turun ke dalam telaga .
Semua binatang yang menjaga bunga itu mati terbunuh. Bareno ingat pesan kakek pertapa. Putri Talayang akan kembali kewujud semula jika bunga Cempaka Dewa dipetik dan dipatahkarmya. Dia segera berenang ke tengah telaga. Dipetiknya bunga itu dan dipatahkanlah daharmya. Tidak beberapa lama kemudian muncul keajaiban. Bunga yang telah dipetik Bareno mendadak berubah menjadi seorang gadis. Seorang gadis yang sangat rupawan.
"Kanda Bareno!" kata Putri Talayang dengan girangnya.
"Putri,akhirnya kita dipertemukan kembali, "jawab Bareno sambil menuntun Putri Talayang ke tepi telaga. Bareno sangat berbahagia. Putri pujaan telah kembali. Keduanya lalu ke tepi telaga. Di sana sudah menunggu Nenek Rubiah yang berdiri terheran- heran.
"Bu, perkenalkan ini Putri Talayang. Gadis inilah yang selama ini say a cari-cari," kata Bareno kepada Rubiah.
Nenek Rubiah hanya manggut-manggut. Dia masih terkesima oleh keelokan rupa gadis itu. Dalam hatinya dia hanya berucap , "Memang mereka itu pasangan yang serasi . Semoga mereka hidup berbahagia."
Setelah melepaskan lelah, Bareno mengajak Putri Talayang ke tempat ibunya. Nenek Rubiah pun diajaknya. Ketiganya lalu berangkat untuk menemui ibu Bareno .
DAFTAR lSI Halaman KAT A PENGANT AR . . . . . ....... . ... . .... . . 111 UCAPAN TERIMA KASIH . .. .. . ... .... .... .. . v DAFT AR lSI . .. .. .. .... . . ..... . .. .. . .. ... vii 1. Tersesat ......... ... ... . . . .... . .... . .... 1 2. Bertemu Putri Talayang . .. .. ....... . . . . ... . 11 3. Putri Talayang Kena Kutukan ... .. .. . . .. .... . 23 4. Bertempur dengan Raja Jin .. ... . . ....... . ... 30 5. Bareno di Negeri Mendang Kemulan . . .. . . .. ... 41 6. Bareno Menolong Kamala Neli . .... . ....... . . 52 7 . Bertemu Kembali dengan Putri Talayang dan Menjadi Raja di Negeri Sendiri . . . .. ... . ..... . ..... 64 70 Vll
Di sebuah desa yang jauh dari keramaian, seorang ibu sedang menenteng kayu bakar. Rambutnya yang sudah memutih tidak mengurangi kecantikannya. Meskipun sudah rna, orang itu masih kelihatan cantik. Kulitnya tampak putih bersih. Melihat orang tua itu, Bareno segera berlari mendekati .
Dia berteriak , "Ibu, saya pulang, Bu. Bareno telah kembali, Bu. "
Baren o mendekati ibunya lalu memeluk erat-erat. Dia terisak-isak di pelukan ibunya. Ibunya pun tidak segera melepaskan pelukann ya. Dia menangis terharu. Anak satusatunya yang telah lama hilang telah kembali . Wanita tua itu ternyata ibu Bareno.
Putri Talayang dan Nenek Rubiah terharu melihat adegan itu . Mereka tidak kuasa menahan air matanya. Keduanya ikut menangis . Nenek Rubiah menggumam, "Oh .. ibu yang beruntung . Alangkah beruntungnya ibu yang melahirkan Bareno. Pemuda yang saleh dan berbudi luhur . "
Bareno segera tersadar . Diperkenalkannya kedua wanita yang bersamanya itu kepada ibunya. Ibu Bareno merasa sangat senang. Dia akan mempunyai menantu secantik Putri Talayang. Dia juga akan mempunyai ternan sebaya, yaitu
Nenek Rubiah. Mereka lalu dipersilakan masuk ke rumah.!bu Bareno menyiapkan makan malam untuk mereka.
Penceritaan kembali cerita ini tidak mungkin dapat terlaksana tanpa bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pad a kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada 1. Dr. Hasan Alwi , selaku Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa; 2. Dr. Yayah B. Lumintaintang , selaku Kepala Bidang Bahasa Indonesia dan Daerah yang telah mengizinkan penulis dalam kegiatan ini; 3. Ora. Atika S.M ., selaku Kepala Proyek Penerbitan Buku Sastra Indone sia dan Oaerah yang telah memberikan kepercay aan untuk mencer itakan kembali Kaba Puri Ta/ayang ini; 4. Staf Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah yang tidak dapat say a sebutkan satu per satu, yang telah memberikan bantuannya. Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat bagi para siswa di seluruh Nusantara dan para penikmat sastra lainnya. Jakarta, 11 September 1998 Penulis VI 71
Pada malam ibu Bareno banyak bercedta tentang kisahnya. Kisah itu dimulai dari negerinya yang dikutuk dewa dan suaminya yang meninggal. Kisah Bareno waktu kecil pun diceritakannya . Suasana malam itu benar -benar menyenangkan. Tidak pernah di rumah itu seramai malam itu.
Rupanya , yang menar ik perhatian Putri Talayang adalah kisah negeri yang dikutuk dewa . Oengan kelebihan yang dimilikinya , dia mencoba mengernbalikan ke ujud asliny a. Dia mempunyai kemampuan karena dia seorang putri dari langit. Setelah membaca mantra dan doa , dia memoho n kepada dewata . Dia meminta supaya tempat itu dikemba likan ke ujud aslinya. Seluruh dewa di langit mendengar permoilonan Putri. Seketika rumah itu bernbah menjadi istana yang arnat indah. Hutan-hutan di sekitarnya berubah menjadi rumah tinggal penduduk negeri itu. Semua binatang penghuni hutan berubah menjadi manusia. Kutukan dewa yang berlangsung beber apa tahun itu telah berakhir.
"Kanda Bareno, sekarang negeri ini milik Kanda . Kami semua akan mendukung Kanda. Kandalah yang berhak memimpinnya," kata Putri Talayang memohon kepada Bareno.
Bareno tidak berhak memutuskan sendiri . Dia harns meminta persetu juan seluruh rakyatnya karena negeri ini memang milik rakyat.
"Putri, Bunda sangat berterima kasih. Jika tidak ada Putri mungkin negeri ini tetap menjadi hutan," kata ibu Bareno kapada Putri Talayang.
"Bunda, yang hamba lakukan hanya kewajiban. Dulu saya ditolong Kanda Bareno, sekarang negeri ini memerlukan
pertolongan. Kebetulan saya dapat melakukannya, "jawab Putri Talayang merendah.
Atas kesepakatan seluruh rakyat, Bareno diangkat menjadi raja di Negeri Antah Berantah itu. Dia bergelar Sultan Bareno. Rakyat merayakan pengangkatan Bareno itu dengan suka cita. Negeri itu menjadi am an damai. Rakyat yang adil dan makmur dapat dicapainya. Tidak ada warga yang kelaparan. Sernua papan dicukupi, semua sandang dipenuhi.
UeAPAN TERIMA KASm Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt karena berkat rabmat-Nya Cerita Bareno dan Putri Talayang ini dapat diselesaikan . Cerita ini merupakan penceritaan kembali dari sebuah kaba yang berasal dari daerah Sumatra Barat. Cerita asli kaba ini berupa yang ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Minangkabau dan bahasa Indonesia. Judul asli kaba itu adalah Puti Talayang 'dalam bahasa Minangkabau atau Putri Talayang dalam bahasa Indonesia. Kaba Puti Talayang ditulis oleh Moechtar Nairn. Kaba Puti Talayang ini diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982. Kaba itu sarat dengan ajaran, baik moral maupun pendidikan. Dalam kaba itu dikisahkan perjuangan seorang pemuda bernama Malin Bareno. Dia adalah seorang pemuda yang sangat patuh kepada orang tuanya. Dia juga sangat tekun belajar dan berlatih. Berkat ketekunannya itu, dia menjadi pemuda yang hebat. Segala ilmu yang diajarkan oleh gurunya dapat dicerapnya dengan baik. Meskipun sudah mempunyai ilmu yang tinggi, dia tetap rendah hati. Dia mau menolong orang yang memerlukannya. Dia mau mendengarkan setiap nasihat orang lain. Terhadap orang yang lebih tua pun dia selalu hormat. 72 v
Ibu Bareno dan Nenek Rubiah turut merasakan kebahagiaan rakyat negerinya. Terlebih-lebih Sultan Bareno, dia sangat bahagia. Dia sudah mendapatkan apa yang selama ini dicita-citakan. Putri Talayang pun tidak kalah bahagiany(;l.. Dia sudah bertemu dengan orang yang dikasihinya.
Pada suatu waktu, Bareno mengatakan kisah perjalanannya. Dia mengembara mencari Putri Talayang. Dalam pengembaraannya, dia sampai di suatu negeri di tanah Jawa . Negeri Mendang Kemulan tempat dia singgah. Di sana dia sudah beristri. Semua kisah suka dukanya diceritakan. Putri Ta layang mendengarkan dengan sabar. Bahkan, dia menyuruh Sultan Bareno untuk menjemputnya .
Sultan Bareno segera menjemput istri pertamanya, Kamala N eli. Kamala N eli ternyata telah melahirkan. Anaknya kembar, satu laki-laki, sedangkan satunya lagi perempuan. Sesuai dengan pesan Bareno, kedua anak itu dinamai Mahadewa dan Maharani. Mahadewa mirip dengan ayahnya, Bareno. Maharani mirip dengan Kamala Neli, ibunya.
Mereka lalu berangkat ke negeri temp at Sultan Bareno bertahta. Di sana rupanya mereka telah ditunggu oleh keluarga istana. Putri Talayang, ibu Bareno, Nenek Rubiah, serta seluruh rakyat telah menantinya. Mereka sangat bahagia
melihat Sultan Bareno menggendong dua anak: kecil. Di belakangnya berjalan mengiringi seorang wanita cantik . Bareno memperkenalkannya kepada mereka.
Sehubungan dengan hal itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-lakarta , menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber dari sastra daerah. Buku Malin Bareno dan Putri Talayang ini bersumber pada terbitan Bagian Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-lakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun 1982 dengan judul Kaba Curito Puti Talayang yang disusun kembali dalam bahasa Indonesia oleh Suladi. Ucapan terima kasih sayatujukan kepada Dra. Ani Mariani sebagai penyunting dan Sdr. Tazul Arifin sebagai ilustrator buku ini. Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pembaca. lakarta, lanuari 1999 Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Dr. Hasan Alwi IV 73
"Bunda, ini Putri Kamala Neli. Inilah istri pertamaku yang bertahta di Negeri Mendang Kemulan. Kami sudah dikaruniai dua anak kembar. Inilah mereka, Bunda," kata Bareno kepad a ibunya.
Mereka yang berkumpul di situ turut berbahagia. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Putri Talayang tak lupa memperkenalkan dirinya.
"Kanda Putri, perkenalkan saya istri kedua Kanda Sultan , " katanya memperkenalkan diri.
Putri Talayang sarna sekali tidak merasa cemburu. Dia juga sangat mencintai kedua anak tirinya. Bahkan, dia menggendong salah satu anak tirinya itu .
"Nanda, siapa namamu, Nak," tanyanya kepada anak tirinya yang laki-Iaki.
Dia mengelus-elus dengan penuh kasih sayang . Si anak pun merasa seperti berada dipelukan ibunya sendiri.
"Namaku Mahadewa, Bunda," jawab anak kecil itu . Alangkah bahagianya Putri Talayang dirinya dipanggil bunda . Tak henti-hentinya dia membelainya.
Putri Kamala Neli tersenyum senang. Wanita yang menjadi madunya itu ternyata berhati mulia. Dia menganggap Talayang sebagai adik. Sebaliknya, Putri Talayang pun menganggap Kamala Neli seperti kakaknya.
"Ternyata apa yang dikatakan Kanda Sultan benar . Istri keduanya memang wanita yang berbudi luhur. Dia amat menyayangi anak-anakku," bisiknya dalam hati.
Begitulah kehidupan mereka sangat rukun. Dengan rasa
einta kasih, mereka bersama-sama membangun N egeri Antah Berantah. Negeri itu dulunya memang menyimpan banyak kenangan. Bareno dilahirkan di temp at itu. Dia dibesarkan oleh ibunya di tempat itu juga. Negeri yang dulu pemah menerima kutukan dew a kini telah kembali seperti semula. Negeri itu menjelma menjadi sebuah negeri yang sangat makmur.
KATAPENGANTAR Khazanah sastra N usantara dieoraki dan sekaligus diperkaya oleh karya-karya sastra yang menggambarkan dinamika dan tingkat kehidupan masyarakat daerah yang bersangkutan. Dinamika dan tingkat kehidupan yang terekam dalam karya sastra daerah itu memperlihatkan kemantapan budaya, antara lain yang berupa ajaran dan nasihat yang amat berguna bagi para pembaea sastra daerah khususnya dan bagi generasi mud a bangs a Indonesia pada umumnya. Itulah sebabnya kekayaan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam sastra daerah di Nusantara itu perlu dilestarikan . Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk melestarikan kekayaan budaya Nusantara itu adalah dengan menerjemahkan nilai-nilai yang terkandung dalam sastra daerah itu ke dalam eerita anak-anak. Upaya seperti itu bukan hanya akan memperluas wawasan anak terhadap sastra dan budaya masyarakat Nusantara, melainkan juga akan memperkay a khazanah sastra dan budaya Indonesia itu sendiri. Dengan demikian, hal itudapat dipandang sebagai upaya membuka dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan. 74 111
"Kanda Putri, kita sekarang telah berkumpul. Kita bersama-sama membantu Kanda Sultan memajukan negeri ini. Bukankah Kanda Putri telah berpengalaman memimpin negeri?" kata Putri Talayang kepada Kamala Neli.
"Benar Dinda, sekarang kita hams mendukung Kanda Sultan," jawab Kamala Neli.
Sultan Bareno sang at bangga terhadap kedua istrinya. Mereka sangat rukun. Tak ada sedikit pun rasa eemburu di antara mereka. Meskipun demikian, Bareno juga bersikap adil terhadap mereka. Rakyat Negeri Antah Berantah pun mencintai mereka. Kedua anak Putri Kamala Neli pun dianggap sebagai putra mahkota negerinya.
Ibunda Sultan Bareno tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Dia bersyukur karena anaknya telah kembali bersama negerinya yang hilang.
"Kini Bareno telah menjadi raja di negerinya sendiri," bisiknya penuh suka eita.
Walaupun usianya sudah tua, dia masih sering memberi nasihat. Nasihat yang utama ditujukan kepada rakyatnya.
"Kita hams menjaga negeri ini agar dapat dinikmati oleh anak cueu kita," ujarnya.
Maju mundurnya suatu negeri ditentukan oleh rakyat negeri itu sendiri. Rakyat negeri itu sangat mencintai
negerinya . Mereka menjaganya, memeliharanya, dan memajukannya . Tidak mengherankan apabila negeri itu berkemb ang pesat. Sultan Bareno beserta negerinya menjadi harum namanya. Semuanya itu berkat persatuan , kesetiaan, dan kerja keras , seperti yang telah ditunjukkan oleh Bareno.
BAGIAN PROYEK PEMBINAAN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH-JAKARTA TAHUN 1998/1999 PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA DEPARTEMEN PENDIDlKAN DAN KEBUDAY AAN Pemimpin Bagian Proyek : Ora . Atika Sja'rani Bendahara Bagian Proyek : Ciptodigiyano Sekretaris Bagian Proyek Drs. B. Trisman, M .Hum . Staf Bagian Proyek Sujatmo Sunarto Rudy Budiyono Samata Alunad Lesteluhu ISBN 979-459-945-X f ] e rpustakaan Pus.tPembinaan dan Pongemballgan Bahasa : 1M lsi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya , dilarang diperbanyak dalarn bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, 11 75 kecuali dalarn hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan i1miah .
- ( '7,7; 'l \ :!i /
TIDAK DIPERDAGANGKAN UNTUK UMUM MALIN BARENO DAN PUTRITALAYANG Diceritakan kern bali oleh Suladi PUSAT PEMOINAPN DAN PE'NG MBA tJ GAN BP HAS A DEPARTEMEN H NO IOIKAN DAN KEBUOAYAAN 1111/"1/ ' 00004004 /111 Pusat Pernbinaan dan Pengernbangan Bahasa Departernen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 76 E' 1'l r BAN [j AN Bft Hi, SA 1999
SU/lan Bareno bersendau gurau dengan kedua anaknya, Di sampingnya tampak. kedua istrinya, ibunya dan Rubiah. Mereka tampak. berbahagia.
uS USAT P E MOl A j DEPAATE.MEN Pf: N'l IUIKA N DAN KEBUOAYAAN
F 398.21 Sl I