TIDAK DIPERDAGANGKAN UNTUK UMUM
MALIN BARENO DAN
PUTRI TALAYANG
il
Hite 3aitce ape Ayn 2
5981101
uatkeoal 10
L wure
wijlree antnn ui W boui w4 ania
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
kxjainButhree Jakarta muen UIe0ia m 1999
W bax s(a11iwotn
bbur 411 Axifrie Au
TIDAK DIPERDAGANGKAN UNTUK UMUM
MALIN BARENO DAN PUTRI TALAYANG
Diceritakan kembali oleh Suladi
PERPUSTAKAAN PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
00004004 Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta
BAGIAN PROYEK PEMBINAAN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH-JAKARTA TAHUN 1998/1999 PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Pemimpin Bagian Proyek : Dra. Atika Sja'rani
Bendahara Bagian Proyek : Ciptodigiyarto
Sekretaris Bagian Proyek : Drs. B. Trisman, M.Hum. Staf Bagian Proyek : Sujatmo Sunarto Rudy Budiyono Sarnata Ahmad Lesteluhu
ISBN 979-459-945-X erpustakaanPusatPembinaandanPengembanganBahasa:
No. KasifikasiNo. Induk: 551 PB
Tgl.:17.6.99
Ttd. rub
398.205 981
SUL HAK CÍPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG m
Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak
dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.
ii
KATA PENGANTAR
Khazanah sastra Nusantara dicoraki dan sekaligus diperkaya oleh karya-karya sastra yang menggambarkan dinamika dan tingkat kehidupan masyarakat daerah yang bersangkutan. Dinamika dan tingkat kehidupan yang terekam dalam karya sastra daerah itu memperlihatkan kemantapan budaya, antara lain yang berupa ajaran dan nasihat yang amat berguna bagi para pembaca sastra daerah khususnya dan bagi generasi muda bangsa Indonesia pada umumnya. Itulah sebab- nya kekayaan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam sastra daerah di Nusantara itu perlu dilestarikan. Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk meles- tarikan kekayaan budaya Nusantara itu adalah dengan menerjemahkan nilai-nilai yang terkandung dalam sastra daerah itu ke dalam cerita anak-anak. Upaya seperti itu bukan hanya akan memperluas wawasan anak terhadap sastra dan budaya masyarakat Nusantara, melainkan juga akan memper- kaya khazanah sastra dan budaya Indonesia itu sendiri.
Dengan demikian, hal itu dapat dipandang sebagai upaya
membuka dialog antarbudaya dan antardaerah yang me- mungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat
bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan
keindonesiaan.
iii
Sehubungan dengan hal itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber dari sastra daerah. Buku Malin Bareno dan Putri Talayang ini bersumber pada terbitan Bagian Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun 1982 dengan judul Kaba Curito Puti Talayang yang disusun kembali dalam bahasa Indonesia oleh Suladi. Ucapan terima kasih saya tujukan kepada Dra. Ani Mariani sebagai penyunting dan Sdr. Tazul Arifin sebagai ilustrator buku ini. Mudah-mudahan buku ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pembaca.
Jakarta, Januari 1999 Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
Dr. Hasan Alwi
iv
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt karena berkat rahmat-Nya Cerita Bareno dan Putri Talayang ini dapat diselesaikan. Cerita ini merupakan penceritaan kembali dari sebuah kaba yang berasal dari daerah Sumatra Barat. Cerita asli kaba ini berupa yang ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Minangkabau dan bahasa Indonesia. Judul asli kaba itu adalah Puti Talayang dalam bahasa Minangkabau atau Putri Talayang dalam bahasa Indonesia. Kaba Puti Talayang ditulis oleh Moechtar Naim. Kaba Puti Talayang ini diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982. Kaba itu sarat dengan ajaran, baik moral maupun pendidikan. Dalam kaba itu dikisahkan perjuangan seorang pemuda bernama Malin Bareno. Dia adalah seorang pemuda yang sangat patuh kepada orang tuanya. Dia juga sangat tekun belajar dan berlatih. Berkat ketekunannya itu, dia menjadi pemuda yang hebat. Segala ilmu yang diajarkan oleh gurunya dapat dicerapnya dengan baik. Meskipun sudah mempunyai ilmu yang tinggi, dia tetap rendah hati. Dia mau menolong orang yang memerlukannya. Dia mau mendengarkan setiap nasihat orang lain. Terhadap orang yang lebih tua pun dia selalu hormat.
V
Penceritaan kembali cerita ini tidak mungkin dapat terlaksana tanpa bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada
- Dr. Hasan Alwi, selaku Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa;
- Dr. Yayah B. Lumintaintang, selaku Kepala Bidang Bahasa Indonesia dan Daerah yang telah mengizinkan penulis dalam kegiatan ini;
3.Dra. Atika S.M., selaku Kepala Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah yang telah memberikan kepercayaan untuk menceritakan kembali Kaba Puti Talayang ini; - Staf Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, yang telah memberikan bantuannya.
Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat bagi para siswa di seluruh Nusantara dan para penikmat sastra lainnya.
Jakarta, 11 September 1998 Penulis
vi
DAFTAR ISI Halaman
KATA PENGANTAR iii
UCAPAN TERIMA KASIH
DAFTAR ISI vii
1. Tersesat 1
11
3. Putri Talayang Kena Kutukan 23
4. Bertempur dengan Raja Jin 30
41
6. Bareno Menolong Kamala Neli 52
Raja diNegeri Sendiri 64
V
- Bertemu Putri Talayang
- Bareno di Negeri Mendang Kemulan
Bertemu Kembali dengan Putri Talayang dan Menjadi
viiTERSESAT
Suatu pagi yang cerah, mentari tampak kemerah-merahan. Kicau burung terdengar sangat merdunya. Di suatu kampung di tepi hutan tampak seorang ibu dan anaknya sedang duduk di balai-balai rumahnya. Mayang Sari nama ibu itu, sedang- kan anaknya bernama Malin Bareno. Malin Bareno sangat rajin membantu ibunya. Tidak pernah sekali pun dia bangun siang. Dia selalu bangun ketika ayam hutan mulai berkokok. Setiap hari dia membantu ibunya membersihkan rumah dan halaman. Dia jugarajin berkebun. Segala tanaman sayuran menghiasi kebun di belakang rumahnya. "Bareno, kelihatannya terung dan kacang panjang di kebun kita sudah dapat dipetik, " kata ibunya. "Sudah, Bu. Cabe dan tomat pun sudah bisa kita petik. Ibu mau masak apa hari ini?" tanya Bareno. "Ibu akan masak sayur kesukaanmu. Selagi hari masih pagi, petikkan sayur untuk Ibu, ya," kata ibu Bareno. Bareno segera menuju kebun di belakang rumahnya untuk memetik sayur. Diambilnya beberapa buah terung dan kacang panjang serta cabe yang sudah tua. Ibunya sangat bersyukur karena dikaruniai anak yang saleh dan rajin. "Alangkah
bahagianya setiap ibu seandainya semua anak berperilaku seperti Bareno. Dia anak yang baik," gumam ibu Bareno. Malin Bareno sebenarnya seorang keturunan raja. Ayahnya dulu seorang raja di negeri Antah Berantah. Karena mendapat kutukan dewa, negeriyang sangat subur itu berubah menjadi hutan belantara. Rakyat yang sangat setia pun berubah menjadi binatang, sedangkan istana tempat raja tinggal menjadi gubuk yang sekarang ditempati Bareno dan ibunya. Peristiwa itu terjadi sebelum Bareno lahir sehingga dia tidak mengetahui bahwa dirinya adalah keturunan raja. Selain itu, Bareno tidak pernah mengenal wajah ayahnya karena telah meninggal sebelum dia lahir. Ibunya juga tidak pernah bercerita. Bareno hanya bisa membayangkan bahwa ayahnya adalah seorang yang gagah perkasa, pemberani, dan berbudi luhur. "Bu, apakah Ayah seorang yang gagah, pemberani, dan baik hati?" tanya Bareno kepada ibunya.
"Bareno, ayahmu itu memang gagah, pemberani, dan berbudi. Sama seperti dirimu, Nak," jawab ibunya. "Sayang,
ayahmu meninggal sebelum kamu lahir. Ayahmu berpesan kepada Ibu agar mendidikmu menjadi anak yang baik. Ibu telah berupaya untuk memenuhi keinginan ayahmu. Ibu sangat bersyukur kepada Tuhan karena kaudapat memenuhi harapan ayahmu, Nak," tutur ibunya sambil terisak teringat suaminya yang sudah meninggal. "Bu, maafkan Bareno, ya, Bu. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Ibu. Saya berjanji untuk memenuhi harapan Ayah, saya berjanji, Bu!" kata Bareno menghibur ibunya. Hari itu belum terlalu siang. Matahari masih rendah dan
belum terlalu panas. Bareno meminta izin kepada ibunya untuk berburu ke hutan. Dia, memang gemar berburu binatang ke hutan. Tidak pernah Bareno pulang dengan tangan hampa. Dia selalu membawa binatang buruan untuk lauk.Terkadang
dia mendapatkan seekor rusa, tidak jarang pula dia
mendapatkan beberapa ekor kelinci hutan. "Bareno, hati-hati, ya, Nak. Di hutan banyak binatang buas. Jaga dirimu baik-baik, ya, " pesan ibunya mengingatkan. Dengan menenteng tombak, dia melangkah dengan tegap layaknya pemuda yang hendak berangkat ke medan laga. Ibunya membekalinya dengan singkong dan pisang rebus serta air putih. Bareno memang terkenal sebagai jago berburu. Dengan senjata tombak sebagai andalannya, dia tidak pernah luput setiap mengincar buruannya. Namun, dia tidak serakah. Setiap kali berburu, binatang yang diburunya hanya secukup- nya saja. Rupanya, hari itu Bareno benar-benar bernasib sial. Tak satu pun binatang buruan didapatkannya. Bahkan, menam- pakkan diri pun tidak. "Tuhan sedang menguji ketabahanku," pikir Bareno dalam hati. "Hari ini tidak seperti biasanya, seekor kelinci pun tidak kutemukan. Padahal, aku sudah mengelilingi seisi hutan ini," keluhnya. Bareno telah mengelilingi hutan itu hingga kecapaian. Akhirnya, Dia berhenti di bawah pohon besar dan akan tertidur. Belum begitu nyenyak tidurnya, dia dikagetkan oleh kehadiran seekor menjangan emas. Dia segera bangun dan dilihatnya binatang itu sungguh menakjubkan. Tanduknya seperti emas dan bulunya seperti beludru keemasan. Dia makan rumput tidak jauh dari tempat Bareno tertidur.
Dengan sigap diambilnya tombak, lalu dilepaskan ke arah menjangan itu. Anehnya, menjangan itu tidakmerasa takut oleh tombak Bareno. Setiap tombak yang diarahkan kepadanya selalu dielakkannya. Bareno menjadi kesal. "Binatang macam apa ini, belum pernah aku menemu- kannya selama ini," kata Bareno dalam hati. "Tanduknya kuning keemasan, bulunya pun halus dan indah," lanjutnya. Binatang itu memang aneh. Setiap dikejar dia selalu lari, tetapi jika yang mengejar berhenti dia pun berhenti. Bahkan, dia seperti menari-nari di depan mata Bareno. Dengan santainya dia makan rumput sambil menaik-naikkan kakinya seperti sedang bermain-main. Sudah cukup lama Bareno mengejar menjangan itu hingga tidak terasa hari hampir sore. Sialnya, Bareno tidak tahu jalan kembali ke rumahnya. Dia tersesat, masuk terlalu jauh ke dalam hutan belantara. Pada saat Bareno sedang putus asa, terjadilah peristiwa yang sangat aneh dan mengejutkannya. Menjangan itu ternyata dapat berbicara. Bareno menjadi terkesima. "Anak muda, hari sudah sore. Sebentar lagi malam akan tiba. Jika tidak mau kemalaman di tengah hutan dan dimakan binatang buas, engkau turutlah denganku. Ikutilah aku," kata menjangan emas kepada Bareno. Bareno akhirnya mengikuti langkah menjangan emas itu dari belakang. "Benar juga kata menjangan itu,daripada dima-
kan binatang buas lebih baik mengikutinya," pikir Bareno.
Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka sampai di suatu tempat. Di situ terdapat sebuah gubuk tua. Bareno pun diajaknya masuk. Dia semakin heran karena di gubuk tua itu
ada perabotan rumah tangga. "Apakah ada orang yang tinggal di tengah hutan seperti ini. Jika ada, siapa dia itu?" kata Bareno dalam hati. Belum hilang rasa keterkejutannya, muncul seorang nenek tua dari dalam rumah. "Selamat malam, anak muda!" Kaujangan takut. Nama saya Gabayan. Orang memanggilku NenekGabayan. Aku sudah mendengar banyak dari menjangan emas," kata Nenek Gabayan. "Oh, iya, menjangan emas itu binatang kesayanganku. Dia banyak bercerita tentang dirimu. Kautinggal di kampung dekat hutan ini, kan? Dia mengatakan namamu Bareno, benar begitu, Nak?" tanyanya kemudian. "Iya, Nek. Saya tadi berburu binatang, tetapi tersesat," jawab Bareno jujur. "Saya juga minta maaf karena telah memburu binatang kesayangan·Nenek," lanjutnya. "Anak yang baik, tidak apa-apa. Saya kagum atas kejujuranmu. Jika cucu mau tinggal di sini, silakan!Boleh kan, nenek menyebutmu cucu!" pinta Nenek Gabayan. "Tentu saja, Nek. Saya sangat senang karena di tengah hutan yang sepi ini ada orang yang begitu baik dan berbudi seperti nenek ini," jawab Bareno dengan perasaan senang. "Baiklah, cucuku, sekarang beristirahatlah dulu. Nanti jika nenek sudah memasak, engkau kubangunkan, ya,"kata Nenek Gabayan. Malam itu Bareno menginap di rumah Gabayan. Dia memang anak yang baik. Kerajinannya tidak hanya diper- lihatkanpada ibunya saja, di tempat itu pun dia tunjukkan pula. Setiap pagi, seperti kebiasannya di rumah, dia selalu
membantu pekerjaan Nenek Gabayan. Diisinya gentong dengan air yang diambilnyadari pancuran di bukit belakang rumah. Dia juga memetikkan sayur dan buah-buahan yang tumbuh di sekitar rumah untuk Nenek Gabayan. Kehidupan anak muda dan seorang nenek itu hari berganti hari semakin akrab. Nenek Gabayan menjadi bertambah sayang kepada Bareno. Dia menganggapnya seperti cucunya sendiri. Di tempat itu Bareno tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan bertubuh kekar. Ditambah dengan sifat dasarnya yang pemberani menjadi lengkaplah sosok Bareno sebagai pemuda idaman. Seandainya dia hidup di perkampungan, banyak gadis yang akan terpikat kepadanya. Dia sangat cakap dalam segala hal, rajin bekerja, baik budi pekertinya, dan suka menolong. Meskipun mendapat kasih sayang dari Nenek Gabayan, hatinya tidak tenang. Dia selalu teringat ibunya yang tinggal seorang diri. Dia mengkhawatirkan keadaan ibunya. "Bareno cucuku, saya sangat bangga kepadamu. Ternyata engkau anak yang cerdas, terampil, dan rajin. Nenek percaya bahwa suatu saat engkau akan menjadi pemimpin, " kata Nenek Gabayan pada suatu hari. "Nenek juga merasakan kerinduanmu pada ibumu. Perca- yalah cucuku, suatu saat engkau pasti berkumpul kembali dengan ibumu. Dia juga merindukanmu. Engkau jangan khawatir karena ibumu baik-baik saja. Setiap hari menjangan emas saya suruh menjenguk ibumu," lanjutnya. "Terima kasih, Nek. Nenek telah banyak berbuat baik kepada saya. Bagaimana saya akan membalas budi baik Nenek?" isak Bareno sambil merebahkan diri di pangkuan Nenek Gabayan.
"Nenek cukup bahagia jika engkau dapat berbuat serupa
pada orang lain. Ketahuilah cucuku, hidup ini harus selalu tolong-menolong. Jika diberi kekuatan, engkau bantulah yang lemah. Jika diberi kelebihan, engkau bantulah yang kurang," kata Nenek Gabayan. Alangkah mulianya budi Nenek Gabayan itu. Dia hidup seorang diri di tengah hutan dan jauh dari keramaian, tetapi suka menolong orang lain. Ilmu pengetahuannya pun luas. Karena sikap seperti itulah Bareno merasa betah tinggal di tempat itu. Walaupun sering teringat kepada ibunya, dia tidak merasa khawatir karena ibunya selalu dijaga NenekGabayan lewat menjangan emas. Dalam hati dia berjanji bahwa suatu saat nanti dia harus dapat membahagiakan ibunya. Oleh karena itu, dia selalu belajar keras tentang apa saja. Dia tidak malu bertanya jika memang tidak tahu. Semenjak Bareno tinggal di tempat Nenek Gabayan itu, keadaan sekitar rumah menjadi sejuk dan indah. Seperti yang pernah dilakukannya sewaktu masih bersama ibunya, dia menanami kebun di belakang rumah dengan segala tanaman. Segala sayur-mayur tumbuh dengan subur. Walaupun seorang laki-laki, Bareno ternyata juga mencintai keindahan. Di depan
rumah Nenek Gabayan ditanami dengan berbagai bunga yang
diambilnya dari bukit. Terkadang Nenek Gabayan tersenyum sendiri melihat Bareno yang sedang menyirami tanaman. "Alangkah bahagianya ibu yang melahirkannya. Dia benar- benar anak yang rajin," gumam Nenek Gabayan. Kekaguman Nenek Gabayan memang dapat dimengerti. Hampir setiap pekerjaan selalu dapat diselesaikan Bareno dengan baik. Bahkan, hal-hal yang tak terpikir olehnya dilakukan Bareno. Dulu tidak terpikir olehNenek Gabayan
untuk memelihara itik, ayam, dan sebagainya. Karena menurutnya, di hutan telah disediakan. Kini setelah Bareno tinggal bersamanya, semua jenis unggas itu dipeliharanya. Setiaphari ada yang bertelur sehingga dapat digunakan untuk lauk. Jika menginginkan daging pun, mereka tinggal memo- tongnya. "Mengapa dulu tak terpikir untuk memelihara ayam, ya. Untung Bareno melakukannya. Nenek tidak perlu berburu jika ingin daging ayam," kata Nenek Gabayan kepada Bareno. "Iya, Nek. Dengan memelihara ternak itu kita dapat mengembangbiakkannya dan sebagian dapat kita sembelih untuk lauk. Kebiasaan memelihara ternak itu kan sudah saya lakukan sejak di kampung, Nek," kata Bareno menimpali neneknya. Setiap pagi Bareno memberi makan ternak-ternak piara- annya itu. Setelah itu, dia ke kebun belakang rumah untuk menyiangi tanamannya agar dapat tumbuhsubur. Dia tidak lupa mengambilkan air dari pancurań dekat danau untuk neneknya. Setiap menjelang malam, Bareno menyempatkan ber- bincang-bincang dengan menjangan emas yang pernah menolongnya. Binatang itu telah menjadi sahabatnya. Ke mana pun dia pergi, menjangan itu selalu diajaknya. Karena kasih sayang Bareno kepadanya, menjangan itu pun tahu membalas budi. Setiap Bareno mendapat kesulitan, dia selalu menolongnya. Walaupun menjangan itu seekor binatang, dia dapat hidup berdampingan dan saling menolong dengan manusia. "Bareno, Nenek sering berkata kepada saya bahwa kita harus selalu tolong-menolong. Kita tidak dapat hidup sendirian. Kita pasti membutuhkan orang lain sekecil apa pun
itu," kata menjangan emas. "Saya juga bangga padamu, Bareno. Belum pernah saya menjumpai orang sebaik kamu. Seandainya semua manusia itu seperti dirimu, dunia ini mung- kin akan aman dan damai. Tidak ada peperangan," lanjutnya. "Saya juga bangga denganmu, Menjangan. Walaupun engkau seekor binatang, ternyata hatimu lebih baik daripada hati manusia yang serakah. Banyak orang di dunia ini yang tidak dapat mengalahkan diri sendiri. Engkau lebih mulia daripada orang semacam itu, Menjangan," kata Bareno. Rupanya, kedua insan itu telah banyak mendapat petuah dari Nenek Gabayan. Mereka dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk. Mereka dapat menilai perilaku yang terpuji dan tidak terpuji. Keduanya walaupun berasal dari jenis yang berbeda, mereka seperti saudara. Pada suatu hari, matahari sudah sepenggalah, ada cahaya kuning yang diiringi petir tunggal. Bareno terkejut karena baru kali ini dia melihat kejadian itu. Dia bertanya kepada Nenek Gabayan tentang kejadian yang dilihatnya itu. "Nek, tadi saya melihat ada seberkas sinar kuning. Ada juga suara petir yang terdengar sekali. Ada apa ini, Nek?" tanya Bareno. "Baiklah cucuku, akan aku jelaskan. Sinar kuning diiringi suara petir yang kaulihat itu pertanda akan turunnya putri dari langit. Putri itu berjumlah tiga orang. Mereka kakak beradik. Sudahlah, sekarang makanlah dulu. Mereka tidak akan tampak oleh manusia. Jangan dipikirkan, ya, " jawab Nenek Gabayan jawaban itu rupanya belum memuaskan Bareno. Bareno sangat ingin tahu.
Malin Bareno sedang memburu menjangan emas. PERPUSTAKAAN PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN
DAN KEBUDAYAAN
- BERTEMU PUTRI TALAYANG
Nenek Gabayan segera menyiapkan peralatan untuk menyambut kedatangan putri. Digelarnya tikar pandan dan disiapkanlah sirih di tembikar. Itulahyang selalu disiapkan Nenek Gabayan setiap kali putri-putri dari langit itu akan turun. Bareno semakin penasaran. Dia ingin melihat putri yang diceritakan oleh Nenek Gabayan. Karena hanya binatang dan orang tertentu yang dapat melihatnya, Bareno mengubah dirinya. Dengan ilmu yang dikuasainya, dia berhasil mengubah dirinya menjadi seekor kucing hitam belang tiga. Ilmu itu sebenarnya telah lama dimilikinya. Dia tidak pernah mema- merkannya pada orang lain. Nenek Gabayan terkejut, "Hah ..." Namun, dia segera menyadari bahwa Bareno memang bukan orang sembarangan. Bareno itu merupakan pemuda yang punya kelebihan, seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya. Lalu katanya, "Bareno cucuku, engkaukah itu, Nak?" "Ya, Nek, " jawab Bareno. "Mengapa kaulakukan ini. Untuk apa, Nak? Apakah kauingin..., "Nenek Gabayan belum menyelesaikan pertanya- annya sudah dijawab Bareno, "Benar, Nek, saya ingin melihat
putri yang Nenek ceritakan itu." Nenek Gabayan pun tidak dapat menolak keinginan cucu kesayangannya itu. Dia hanya meminta Bareno agar tidak berbuat jahat atau tidak melakukan hal yang tidak terpuji. "Jika itu kemauanmu, Nenek tidak dapat menghalanginya. Nenek hanya berpesan, engkau jangan berbuat yang tidak baik, ya! Sebentar lagi putri-putri itu akan turun. Mereka akan mandi di telaga di bawah bukit itu," kata Nenek Gabayan menasihati Bareno. "Saya akan turuti nasihat Nenek,"jawab Bareno. Tidak lama setelah mereka berbicang-bincang, terdengar suara petir tunggal. Bersamaan dengan itu kelihatan sinar kuning di langit. Dari sinar kuning itu muncul tiga putri cantik. Lalu mereka turun ke bumi. Nenek Babayan kemudian memberitahu nama ketiga putri itu kepada Bareno, putri yang tertua bernamaPutri Reno Sari. Dia telah bertunangan dengan Raja Mambang yang memerintah langit tinggi. Adiknya bernama Putri Mayang Sani. Dia bertunangan dengan Raja Bala Dewa, Raja Kayangan. Putri ketiga bernama Putri Talayang. Dia telah dijodohkan dengan Raja Jin. Ketiga putri itu memang sangat cantik. Rambutnya panjang mengurai, hidungnya mancung, dan kulitnya putih bersih. Mereka segera memberi salam kepada Nenek Gabayan. "Selamat siang, Nek," kata mereka serempak. "Oh, Tuan Putri, selamat siang," jawab Nenek Gabayan dengan suara khasnya. Dia memang sudah tua sehingga suaranya agak serak. Ketiga putri itu pun segera berucap, "Nek, kami sangat berterima kasih atas sambutan Nenek. Semoga Nenek diberi umur panjang." "Terima kasih Tuan Putri. Hamba sungguh senang dapat
melayani Tuan Putri. Hanya ini yang dapat hamba lakukan, tukas Nenek Gabayan." Suasana di rumah Nenek Gabayan siang itu sangat meriah. Walaupun hanya ada empat orang, suara riuh dan tawa ria mereka terdengar jelas. Mereka sangat bahagia. Pada saat sedang bersendau gurau, mereka melihat seekor kucing yang manis melintas di depan mereka. Kucing berbulu hitam halus dan belang tiga itu lalu mereka belai bergantian. Kemudian mereka bergantian mengelus-elusnya. "Nek, kucing hitam belang tiga ini milikNenek!" tanya putri tertua, Reno Sari. "Benar, Tuan Putri. Kucing ini memang milik hamba. Kucing itu hamba dapatkan di dekat bukit di sana itu. Dia sangat manja, " jawab Nenek Gabayan meyakinkan. Putri Talayang sangat terpikat oleh kucing itu. Bulunya halus dan lembut. Warna bulunya yang hitam dengan belang tiga sangat indah dipandang. Dia tak henti-henti mengelus-elusnya. "Nek, boleh tidak kucing inikuminta. Aku ingin memilikinya, Nek," pintanya merengek. Karena asyiknya bercengkerama dengan kucing itu, mereka hampir lupa tujuannya turun ke bumi. Jika tidak diingatkan Nenek Gabayan, mereka barangkali sudah lupa. Mereka tidak menyesal telah membuang waktu karena bermain-main dengan kucing itu. Meskipun demikian, mereka tetap ingin mandi di telaga. Mereka pun kemudian minta izin kepada Nenek Gabayan untuk mandi. "Rupanya hari telah siang, Nek. Matahari pun mulai beranjak naik. Izinkan kami mandi dulu di telaga. Seusai mandi, nanti kami akan kembali ke sini, Nek," kata ketiga putri minta diri kepada Nenek Gabayan.
"Memang seharusnya begitu, Tuan Putri. Sebaiknya Tuan Putrimandi dulu agar badan menjadi segar," jawab Nenek Gabayan. Mereka pun segera menuju ke telaga. Telaga itu terletak di kaki sebuah bukit. Dari perbukitan itu mengalir air yang sangat jernih. Jika dilihat dari kejauhan, tampak aliran air yangmemutih berkilau diterpa sinar matahari. Indah sekali pemandangan di tempat itu. Kejernihan air itu selalu terjaga karena tidak ada orang yang mengotorinya. Sumber mata airnya pun tidak pernah kering karena hutan di tempat itu belum rusak. Tidak seorang pun yang berani merusak hutan itu. Pohon-pohon dengan anekajenisnya tumbuh dengan suburnya. Semua satwa yang ada di hutan itu merasa terlindungi. Batang dan ranting pohon besar menjadi tempat tinggal para binatang. Karena keadaan hutan dan seisinya yang terjaga baik ini, masyarakat sekitar dapat menikmatinya. Daun-daun kering yang jatuh tertiup angin membawa berkah bagi warga kampung sekitar hutan. Tanah-tanah mereka menjadi subur. Daun yang sudah kering dapat menjadi humus. Dengan adanya humus tanahmenjadigembur sehingga segala tanaman dapat tumbuh subur. Ketiga putri dari langit itu tidak henti-hentinya memuji keindahan alam sekitar itu. Mereka sangat bangga pada Nenek Gabayan. Berkat dialah hutan dan segala isinya itu dapat terjaga. Segala binatang hidup rukun. Segala tanaman hidup subur. Karena keindahan alam inilah ketiga putri itu selalu ingin berkunjung ke bumi. Mereka senang menikmati kese- jukan dan kejernihan air gunung yang alami. Air yang belum tercemar oleh limbah.
Sementara itu, di rumah Nenek Gabayan, Bareno yang
telah menjadi kucing hitam belang tiga sedang gelisah. Dia masih terkesima oleh kemolekan ketiga putri itu, terlebih-lebih kepada Putri Talayang. Putri itu sungguh cantik. Dia belum pernah bertemu dengan gadis secantik itu. Dalam hatinya timbul rasa cinta. Sehingga dia ingin memilikinya. "Alangkah cantiknya putri-putri itu," gumam Bareno, "Seumur hidupku baru sekarang berjumpa dengan gadis secantik itu. Apalagi putri ketiga, aku sungguh telah jatuh hati. Aku haruscari akal supaya dia bisa tinggal di sini lebih lama," kata Bareno dalam hati. Bareno segera mengambil buah-buahan, antara lain, pisang dan jambu. Buah-buahan itu diberinya mantra pengasihan. Mantra yang dibacakan Bareno hanya ditujukan kepada Putri Talayang. Seusai menyiapkan segala sesuatunya, buah-buahan itu pun diletakkan di tempat makan. Sementara itu, Nenek Gabayan juga telah menyiapkan makan siang untuk ketiga
putri itu. Memang demikianlah kebiasan Nenek Gabayan
setiap kali putri-putri itu turun ke bumi. Pada waktu mereka sedang mandi di telaga, NenekGabayan selalu menyiapkan makan untuk mereka. Sementara nenek Gabayan menyiapkan hidangan untuk ketiga putri itu di telaga, ketiga putri itu mandi dengan riangnya. Mereka berenang saling berkejaran dengan tawa ria. Telah berjam-jam mereka berenang, tapi mereka tak juga merasa capai. Mereka sangat terkesan oleh pemandangan panorama di sekitar tempat itu.Bermacam-macam bunga, seperti mawar, anggrek, melati, dan bunga-bunga hutan tumbuh bermekaran tertata rapi di tepi telaga. Setelah merasa agak lelah, mereka merebahkan diri di
bebatuan dekat telaga itu. Rambut mereka yang panjang mengurai sangat harum baunya karena bunga-bunga yang
berjatuhan di air telaga. Setelah itu, biasanya mereka berenang
lagi sampai berjam-jam lamanya. "Dinda, mari kita segera kembali ke tempat Nenek!" ajak Putri Reno Sari kepada kedua adiknya. "Hari sudah siang, matahari pun sudah tegak di atas," lanjutnya. "Baik, Kak. Kami akan segera ke tepi, "jawab putri kedua dan ketiga serempak. Mereka pun segera kembali ke tempat Nenek Gabayan. Mereka merasa tidak enak jika nenek terlalu lama menunggu. Di rumah Nenek Gabayan, segala hidangan hasil hutan dan kebun belakang rumah pun sudah siap menanti. Nenek Gabayan sudahmenunggu ketiga putri itu di depan pintu rumahnya. Dari jauh tampak mereka sedang berjalan ke rumah Nenek Gabayan. Mereka berjalan sambil bergurau. Kadang- kadang mereka saling menyindir. Nenek Gabayan sangat gembira melihatnya. Pada saat itu, si kucing hitam belang tiga mengubah dirinya menjadi manusia lagi. "Bareno, kautelah kembali ke wujudmu semula, Nak," tanya Nenek Gabayan. Bukankah sebentar lagi ketiga putri itu akan segera tiba. Bagaimana aku harus mengatakannya, cucuku," lanjut Nenek Gabayan agak bingung dan gugup.
"Nek, bukankah Nenek telah menganggap saya sebagai
cucu. Jadi, katakan saja pada mereka bahwa saya cucu Nenek. Beres, kan!" jawab Bareno meyakinkan Nenek Gabayan. Ketika mendengar penjelasan Bareno, Nenek Gabayan
tertawa sendiri. Dia lupa bahwa Bareno telah dianggapnya
sebagai cucunya. Lalu dia berujar, "Nenek memang sudah pikun, Nak, sudah tua. Baru kemarin aku bilang kaucucuku, sekarang lupa lagi.' Tidak lama setelah mereka berbincang, ketiga putri itu pun datang. Ketiganya segera disambut dengan sukacita oleh Nenek Gabayan. Bareno belum menampakkan dirinya. Dia masih duduk di dalam kamarnya. Ketiga putri itu pun lalu diajak nenek makan. Rupanya, mereka lebih senang makan buah. Kata mereka buah sangat baik untuk kesehatan. Buah dapat membantu mencernakan makanan, disamping banyak mengandung vitamin. Hampir semua buah yang disajikan Bareno dimakannya. Putri Reno Sari dan PutriMayang Sani paling suka makan buah pepaya dan pisang, sedangkan Putri Talayang lebih suka makan buah apel dan jeruk. Ketiga putri itu sangat terkejut karena ada pemuda yang gagah dan tampan muncul di ruang itu. Mereka segera menanyakannya kepada Nenek Gabayan. Nenek Gabayan menceritakan bahwa pemuda itu bernama Bareno. Dia adalah cucu satu-satunya yang baru saja datang. Mereka lalu saling berkenalan. Dalam hati mereka sangat mengagumi ketam- panan dan kegagahan pemuda itu. Yang paling tertarik kepada Bareno adalah Putri Talayang. Kulit bersih, badan tegap, dan perangai bagus, itu yang membuat Putri Talayang tertarik. Selain itu, baik tutur katanya dan halus budi pekertinya. Mereka pun cepat menjadi akrab. Mereka saling menceritakan kehidupannya. Nenek Gabayan hanya tersenyum-senyum melihat keakraban mereka. Mereka bercerita sambil makan buah-buah yang dihidangkan Nenek Gabayan. Sehabis makan buah-buahan itu, mereka merasa segar bugar kembali. Namun, pada saat mereka sedang bersendau
gurau, tiba-tiba Putri Talayang merasa pusing. Dia pun lalu roboh. Badannya demam, tenaganya seperti hilang semua. Dia tak kuat lagi berdiri. Kedua kakaknya bingung. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong adiknya, Putri Talayang. Nenek Gabayan yang tahu rencana Bareno hanya diam saja. Bareno lalu menawarkan diri untuk merawatnya. Dalam hati, Putri Talayang sebenarnya juga senang. Dia akan menjadi semakin dekat dengan Bareno. Kedua kakaknya pun menyetujuinya. Keduanya lalu memutuskan untuk kembali ke langit dan akan menjemput Talayang beberapa hari lagi. "Kanda, biarkan saya di sini beberapa hari lagi. Kakak sebaiknya pulang saja. Setelah badan saya kuat, nanti saya akan pulang sendiri," pinta Putri Talayang kepada kedua kakaknya. "Dinda, Kakak pulang dulu karena khawatir Ayahanda akan mencari-cari kita. Nanti akan kakak ceritakan keadaanmu kepada Ayahanda. Kemudian kami akan segera kembali ke sini untuk menjemputmu," jawab Reno Sari menghibur
Talayang.
Keduanya lalu berpamitan kepada nenekGabayan. "Nek, kami pamit dulu, titip adik kami, ya, Nek!" katanya. Mereka berjanji akan segera menjemput adiknya. Dengan pakaian yang khusus dipakai oleh para putri, mereka lalu terbang pulang ke langit. Sebenarnya mereka tidak tega melihat keadaan adiknya yang terbaring lemah. Namun, jika mereka tidak segera pulang, ayahnya akan bingung mencari mereka. Akhirnya, mereka merelakan adiknya tinggal di tempat Nenek Gabayan. Mereka tidak khawatir karena di situ
ada nenek Gabayan dan Bareno yang bersedia merawatnya.
Sepeninggal kedua kakaknya, Putri Talayang dirawat oleh
Bareno. Dengan sabar Bareno berusaha menyembuhkannya. Tidak berselang lama, penyakit yang diderita Putri Talayang pun dapat sembuh. Putri Talayang sangat senang. Demikian pula dengan Bareno, dia sangat sukacita. Nenek Gabayan yang melihat perkembangan mereka menjadi gembira. Hari berganti hari, waktu pun terus berlalu. Mereka menjadi semakin akrab. Keduanya bersepakat pada suatu saat nanti mereka akan menjadi suami istri. Namun, Putri Talayang menjadi khawatir karena kedua kakaknya akan menjemputnya. Jika mereka menjemputnya, Putri pasti akan dipaksa pulang ke langit. Padahal, dia sangat ingin tetap tinggal di rumah Nenek Gabayan bersama Bareno. Apa yang dikhawatirkan Putri Talayang ternyata menjadi kenyataan. Kedua kakaknya turun ke bumi untuk menjem-
putnya. Mereka mengatakan bahwa Putri Talayang harus
pulang bersamanya. Jika Putri Talayang tidak mau pulang, mereka akan melaporkan keadaan sebenarnya kepada ayahandanya. Mereka sudah mengetahui bahwa Putri Talayang telah jatuh cinta kepada Bareno. Padahal, Putri Talayang itu sudah ditunangkan dengan Raja Jin. Ayahnya pasti akan marah jika mengetahui hal itu. "Dinda, kami datang untuk menjemputmu. Mari kita
pulang. Dinda kan sudah sembuh," kata Putri Reno Sari
kepada Putri Talayang. "Ayahanda sudah berpesan agar Kanda membawa Dinda
pulang, " kata Mayang Sani menimpali kakaknya.
"Kanda, Dinda masih ingin di sini untuk beberapa hari lagi. Sekarang Kanda pulang saja dulu. Katakan pada
Ayahanda bahwa saya akan pulang sendiri. Kanda tidak usah
menjemput Adinda," jawab Putri Talayang memberi alasan
kepada kakaknya. "Dinda, Ayahanda sudah berpesan, Dinda harus pulang bersama kami. Jika Dinda tidak mau pulang, Ayahanda akan marah. Kautahu, Dinda, bagaimana kalau Ayahanda marah," kata kakaknya membujuk Putri Talayang. Putri Talayang ternyata tidak mau diajak pulang ke langit. Kedua orangkakaknya sudah tidak dapat membujuknya lagi. Mereka juga sudah minta tolong kepada Nenek Gabayan untuk membujuk Putri Talayang. Meskipun Nenek Gabayan sudah membujuknya, Putri Talayang tetap tidak mau pulang. Dia masih ingin tinggal di rumah nenek Gabayan. Dia masih ingin selalu dekat dengan Bareno. Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani pun segera pamit kepada Nenek Gabayan. Mereka akan melaporkan keadaan Putri Talayang kepada ayahandanya. Sebenarnya, mereka juga khawatir ayahandanya sampai marah kepada adik tercintanya itu. Jika ayahandanya marah, malapetaka bakal menimpa Putri Talayang. Mereka telah berusaha agar Putri Talayang mau pulang, tetapi usahanya tidak berhasil. Putri Talayang tidak mau kembali ke langit bersama mereka. "Nek, bolehkah saya tinggal di sini untuk beberapa hari? Saya masih ingin menikmati suasana alam di sekitar sini, Nek," kata Putri Talayang berkilah pada Nenek Gabayan. Nenek Gabayan yang sebenarnya sudah mengetahui perasaan Putri Talayang hanya tersenyum saja. Sambil meletakkan sirih di tempolong, dia berkata, "Oh, tentu saja boleh, Tuan Putri. Kalau Tuan Putri ada di sini rumah ini akan menjadi ramai. Bareno, cucuku pun menjadi tidak sering melamun lagi," jawab Nenek Gabayan sambil menyindir Putri. Orang yang disindir hanya tersenyum-senyum malu.
Hari-hari berikutnya Nenek Gabayan, Putri Talayang, dan
Bareno menjalani hidup dengan penuh ceria. Rumah tempat
tinggal Nenek Gabayan menjadi agak meriah. Dengan bertambahnya penghuni, Nenek Gabayan menjadi tidak terlalu kesepian. Biasanya, jika Bareno pergi ke kebun atau berburu binatang, dia hanya tinggal seorang diri. Menjangan kesa- yangannya pun selalu ikut dengan Bareno. Sekarang, Nenek
Gabayan punya teman bicara, yaitu Putri Talayang.
Bareno juga menjadi lebih bersemangat. Dia selalu bangun lebih pagi dari biasanya. Pagi sekali dia sudah berangkat ke kebun untuk memetik sayur-sayuran. Dia merasa sangat senang karena bisa dekat dengan orang yang dicintainya. Putri Talayang pun tidak segan-segan turun ke kebun. Dia belajar cara menanam sayur, menyianginya, hingga cara memetiknya.
Semua dilakukannya dengan senang hati. Sebagai putri yang
hidup di langit, dia belum pernah mengenal cara bercocok tanam. Baru kali inilah dia belajar semua itu.
Putri Talayang memeluk dan mengelus kucing hitam belang tiga dengan penuh kasih sayang.
- PUTRI TALAYANGKENA KUTUKAN
Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani gagal membawa adiknya pulang. Mereka segera melapor kepada ayahandanya, Raja Langit. Mereka mengatakan bahwa Putri Talayang belum bersedia pulang bersamanya. Mereka sebenarnya ingin menu- tupi apa yang telah terjadi pada diri adiknya. Keduanya tidak ingin adiknya mendapat celaka karena murka ayahanda-nya. Ayahanda mereka rupanya telah mengetahui apa yang dialami oleh putri bungsunya. Dengan cermin gaibnya, dia dapat melihat apa yang terjadi di dunia. Dia dapat melihat apa yang ingin diketahuinya. "Putriku Reno Sari dan Mayang Sani, kalian tidak perlu menyembunyikan rahasia.Rupanya, adikmu telah berbuat kesalahan. Dia telah mencintai manusia, " kata ayahnya penuh amarah. Lalu katanya, "Kalian tahu, dia itu sudah bertunangan dengan Raja Jin. Jika Raja Jin tahu hal ini, apa jadinya nanti. Dia pasti akan marah." Kedua putri itu tidak berani berkata sepatah kata pun. Mereka hanya merunduk. Tidak ada keberanian sedikit pun untuk menatap ayahandanya. Dalam hati mereka hanya ber- harap agar ayahandanya tidak murka terhadap Putri Talayang.
Raja Langit tahu apa yang dirasakan oleh kedua putrinya. Kemudian dia, dengan sedikit agak lunak, berkata pada
mereka. Dia menyuruh mereka menemui Putri Talayang sekali lagi. Mereka diminta menceritakan bahwa ayahnya telah tahu
apa yang telah terjadi.
"Putriku, Ayah tahu apa yang kalian rasakan. Kalian sangat mencintai adikmu. Akan tetapi, Ayah lebih tahu apa yang harus Ayah lakukan.Untuk itu, kalian turunlah ke bumi sekali lagi. Ajaklah adikmu pulang. Katakan padanya bahwa Ayah sudah tahu semuanya," kata Raja Langit menyuruh kedua anaknya turun ke bumi. Setelah mendapat perintah ayahnya itu, mereka lalu turun kembali ke bumi. Sebenarnya, mereka tidak sampai hati
mengatakan apa yang diperintahkan ayahandanya kepada Putri
Talayang. Namun, mereka juga tidak berani menolak kehendak ayahandanya. Dengan berat hati mereka segera menuju ke rumah Nenek Gabayan. "Kanda Reno, nanti Kanda saja, ya, yang mengatakan kepada DindaTalayang. Dinda Mayang tidak tega menyam-
paikannya itu," bujuk Putri Mayang Sani kepada Reno Sari.
"Baiklah Dinda, nanti Kanda saja yang mengatakannya," sahut Reno Sari sambil mengajak adiknya mempercepat terbangnya. Di tempat kediaman Nenek Gabayan, suasana masih tampak seperti semula. Mereka masih terlihat begitu bahagia. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan tamu yang sudah tidak asing. Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani, tamu
yang sudah akrab dengan keluarga Nenek Gabayan. Mereka
saling berpandangan. Putri Talayang menatap kedua kakaknya penuh rasa khawatir.
Keduanya mengucapkan salam seperti biasanya. Nenek Gabayan pun menyambut dengan gembira. Namun, Putri Talayangsudah menduga bahwa ayahandanya marah. Putri Reno Sari lalu mengutarakan apa yang dipesankan oleh ayahandanya. "Dinda Talayang, sekarang Kanda tidak dapat berbuat sesuatu lagi untukmu. Ayahanda sudah tahu semua yang terjadi di sini. Dinda harus pulang bersama kami," suara Reno Sari lirih. Dia tak sanggup lagi melanjutkan bicaranya. Air matanya deras berderai mengalir dari pelupuk matanya. Semua yang ada di rumah Nenek Gabayan tak kuasa menahan tangis. Mereka terharu mendengar kata-kata Reno Sari. Putri Talayang pun tak kuasa menahan tangisnya. Bareno dan Nenek Gabayan tidak tega melihat Putri Talayang. Ketiganya saling berpelukan seolah tidak mau dipisahkan. Mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi pada diri Putri Talayang. Kebersamaan Nenek Gabayan, Bareno, dan Putri Talayang sangat terasa. Walaupun keberadaan Putri Talayang di tempat itu hanya sebentar, dia sudah seperti keluarga Nenek Gabayan sendiri. Nenek Gabayan pun sudah menganggapnya sebagai cucunya sendiri, seperti Bareno. Bahkan, Putri juga sudah tidak merasa sungkan lagi kepada Nenek Gabayan. Dia sering bermanja dengan meminta Nenek Gabayan mengepang ram- butnya yang panjang. Tidak jarang dia menyenderkan tubuh- nya di bahu Nenek Gabayan. Nenek Gabayan berkata, "Tuan Putri, Nenek berharap Tuan Putri tabah menghadapi cobaan ini. Tidak ada cobaan tanpa akhir.Jika Tuan Putri sabar dan kuat mengahadapinya,
Yang Kuasa pasti akan memberi anugerah. Percayalah itu, Tuan Putri." "Iya, Nek. Saya pasti ingat pesan Nenek. Semua cobaan ini harus aku lalui dengan tabah. Saya sangat berutang budi pada Nenek," kata Putri Talayang penuh haru. Dia lalu mendekati Bareno dan berkata, "Bareno, saya tidak dapat melupakan kebaikanmu. Saya berharap suatu saat nanti kita dipertemukan kembali. Jaga dirimu baik-baik." Ketika mendengar perkataan Putri Talayang, Bereno tidak mampu berkata-kata. Tak sepatah kata pun dapat diucapkan- nya. Mukanya yang putih bersih menjadi memerah. Nenek Gabayan pun tidak mampu menahan kesedihan. Putri Reno Sari dan Putri Mayang Sani tak tega melihat kejadian yang memilukan itu. Keduanya mengerti betapa mereka sangat menyayangi adiknya. Namun, keduanya harus membawa adiknya pulang karena amanat ayahandanya. "Nek, kami mohon diri. Maafkan kami, karena kami harus membawa Talayang pulang," kata mereka berdua kepada Nenek Gabayan. Setelah mengenakan pakaian khasnya, mereka segera terbang ke langit. Di sana, ayahandanya, Raja Langit sudah menunggu. Dengan muka yang agak merah karena menahan marah, dia menyambut kedatangan ketiga putrinya. Belum sempat ketiganya memberisalam, diasudah menarik tangan Putri Talayang. Seraya menyuruh Talayang duduk, dia mena- nyakan banyak hal. Putri Talayang yang sudah tahu bahwa ayahnya marah tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terkunci. Kedua kakaknya hanya berdiam menanti apa yang akan terjadi. Dengan suara yang lantang, Raja Langit membentak-bentak Putri Talayang.
"Hai, Putri kecilku! Mengapa Nanda mengecewakan Ayah. Bukankah engkau telah dipinang oleh Raja Jin. Beraninya engkau bercinta dengan manusia," katanya penuh amarah. "Bagaimana jadinya jika Raja Jin tahu semuaini, Ayah malu," lanjutnya. Putri Talayang hanya diam seribu bahasa. Mukanya pucat pasi. Dalam hati dia hanya pasrah menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya. Kedua kakaknya pun sangat cemas. Mereka takut jika ayahnya mengutuk adiknya. Mereka sebenarnya bermaksud meredakan amarah ayahnya, tetapi tidak ada keberanian. Yang keluar dari mulut mereka hanya desahan panjang. Kekhawatiran mereka memangberalasan karena mereka tahu sifat ayahnya. Sesuatu pasti akan menimpa adiknya. Belum hilang rasa khawatirnya, mereka terkejut mendengar apa yang dikatakan ayahnya. "Talayang, karena engkau sudah membuat malu ayahmu dan bangsamu, engkau harus menerima hukumannya. Tidak pantas engkaumenjadi seorang putri. Engkau sebaiknya menjadi bunga," kata ayahnya. Perkataan Raja Langit yang penuh amarah itu ternyata merupakan sebuah kutukan. Mendapat kutukan seperti itu, seketika berubahlah Putri Talayang menjadi sekuntum bunga. Raja Langit memberinya nama bunga Cempaka Dewa atau bunga Bala Dewi. Bunga itu kemudian dilemparkan ke dunia. Setelah melayang-layang di angkasa, akhirnya bunga itu jatuh di sebuah telaga yang kebiru-biruan airnya. Tempat itu bernama Telaga Biru dan berada di bukit Mambang Sakti. Di tempat itu terdapat ular naga, buaya besar, dan binatang ber- bisa lainnya. Kedua kakak Putri Talayang sangat bersedih. Mereka
sangat kehilangan karena ditinggal adiknya. Melihat semua itu, Raja Langit sedikit menghibur. Dia berkata, "Putriku, kalian jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Adikmu hanya member- sihkan dosanya." Lalu lanjutnya, "Kalian jangan khawatir dengan keadaan adikmu. Di tempat itu adikmu aman. Di sana dia dijaga oleh naga dan buaya besar serta binatang-binatang berbisa. Tak ada yang mengganggunya." Menurut Raja Langit, hanya orang sakti yang dapat menyentuh bunga Cempaka Dewa itu. Orang yang mengi- nginkan bunga itu harus bertarung terlebih dulu dengan binatang yang menjaga telaga itu. Tidak sembarang orang dapat melakukannya. Jika ada yang berhasil, pasti dia orang yang mempunyai ilmu kesaktian. Kedua kakak Putri Talayang pun menjadi agak terhibur. Mereka sudah tidak terlalu khawatir dengan nasib adiknya itu. Pada suatu saat nanti, adiknya pasti ada yang menolongnya. Bahkan, menurut ayahnya, setelah dipetik orang, bunga itu akan berubah kembali menjadi Putri Talayang.
Mereka terkejuı mendengar apa yang dikatakan ayahnya. "Talayang, karena engkau
sudah membuat malu ayahmu dan bangsamu, engkau harus menerima hukumannya.
- BERTEMPUR DENGANRAJA JIN
Kepergian Putri Talayang telah membuat Malin Bareno
patah hati. Dia sangat bersedih. Siang dan malam dia selalu
memikirkan Putri Talayang. Melihat keadaan itu, Nenek Gabayan menjadi sedih. Dia bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Segala upaya untuk menenangkan hati Bareno telah dilakukannya. Namun, Bareno sepertinya tidak menghiraukan petuah neneknya itu. Bahkan, semakin hari dia semakin tampak bersedih. Setiap kali disuruh makan, dia tidak pernah mau. Nenek Gabayan pun akhirnya hanya berpasrah kepada Sang Pencipta.
"Bareno, cucuku. Ikhlaskan saja kepergian Putri. Nenek
tahu perasaanmu. Jika dia memang jodohmu, Yang Kuasa pasti akan mempertemukan kalian. Percayalah kepada Nenek, Nak!" kata Nenek Gabayan menghibur Bareno. Siapa pun yang mengalami peristiwa seperti Bareno akan merasakannya. Akan tetapi, sebagai seorang pemuda dia seharusnya tidak cepat patah semangat. Masih banyak yang bisa dilakukannya. Nenek Gabayan pun tidak henti-hentinya membesarkan hatinya. Katanya, "Bareno, setiap orang pernah mengalami kesedihan. Tapi, jangan sampai kesedihan itu menghancurkan hidupmu. Engkau harus segera bangkit.
Lakukanlah apa yang memang seharusnya menjadi tugasmu." Kata-kata neneknya itu lama-kelamaan merasuk ke dalam hatinya. Dia kemudian menyadari bahwa sikapnya selama ini tidak benar. Dia sudah bertekad untuk memperbaikinya. "Nek, maafkan sikapku selama ini. Saya terlalu larut dalam kesedihan. Saya berjanji akan berbuat yang lebih baik," kata Bareno sambil terisak. Dia memang telah bertekad untuk mencari kekasihnya. Setelah sadar akan kesalahannya, Bareno pun segera mengutarakan niatnya. Nenek Gabayan merasa senang mendengarnya. Namun, dalam hatinya, Nenek Gabayan merasa khawatir. Dia tidak tahu ke mana Bareno akan mencari Putri Talayang. Semenjak meninggalkan rumahnya dulu, khabar keberadaan dan nasib Putri pun tak diketahuinya. "Ke mana,
ya, Bareno akan mencari Putri. Tempatnya pun tak
diketahuinya," pikir Nenek Gabayan. Akan tetapi, Nenek Gabayan sangat yakin dengan kemampuan cucunya itu. Dengan kemampuannya itu, Bareno pasti dapat melakukan
pekerjaannya dengan baik.
Malin Bareno yang sudah bertekad mencari kekasihnya segera pamit kepada Nenek Gabayan. Dia tidak lupa mohon doa restu kepada neneknya itu. Dengan penuh kasih sayang, Nenek Gabayan membelainya. Bareno tahu neneknya dengan berat hati mengizinkannya pergi. Itu diperlihatkannya dengan cara memberi Bareno semangat sehingga kesedihannya tak ditampakkannya. Sebagai orang tua, tidak lupa dia berpesan, "Bareno, engkau harus dapat menjaga diri. Engkau jauh dari orang tua. Doa nenek menyertaimu, Nak. Selamat jalan, se- moga engkau selamat dan berhasil mendapatkan keinginanmu." Dengan berat hati, Bareno melangkah ke luar rumah.
Dipandanginya gubuk tua milik Nenek Gabayan. Dia sangat berat meninggalkan nenek yang sudah merawatnya. Namun, dikuatkan dan ditabahkannya juga hatinya agar dapat mencapai tujuannya. Dia berjalan terus seolah tanpa arah. Dengan perasaan yang masihgalau, dia sampai di hutan rimba. Ditelusurinya setiap penjuru hutan. Bukit-bukit di hutan itu didaki, lembah- lembah dituruninya, tetapi Putri yang dicarinya belum juga didapatkan. Jika badan terasa capai, dia beristirahat di bawah pohon rindang. Di kala badan sudah segar kembali, langkah- nya pun diteruskan. Dia pantang menyerah sebelum tujuannya tercapai.
Setelah beberapa saat mengelilingi hutan, dia berjumpa
dengan jin raksasa. Jin yang sangat besar badannya itu bertanya, "Hai, anak muda, siapa dirimu dan apa yang kaucari di sini? Beraninya kaumasuk wilayah kekuasaanku." Dengan perasaan takut, Bareno menjawab, "Nama saya Bareno. Saya tersesat di hutan ini karena sedang mencari kekasih saya."
"Ha... ha... ha...! Rupanya, engkau ini sedang mencari
kekasihmu," kata Raja Jin mengagetkan Bareno karena suaranya keras sekali.
"Siapa nama kekasihmu itu anak muda?" lanjutnya.
"Em.., nama kekasihku Putri Talayang," jawab Bareno agakgugup. Ketika mendengar nama Putri Talayang, merah padam muka Raja Jin. Dengan suara yang lebih keras, dia membentak
Bareno, "Anak muda! Ketahuilah bahwa Putri Talayang itu
tunanganku. Dia calonistriku. Akulah Raja Jin, calon suami Putri Talayang.'
Malin Bareno terkejut mendengar perkataan Raja Jin. Dia
pernah mendengar nama itu dari Nenek Gabayan. Belum
hilang rasa kagetnya, mendadak badan Bareno diangkat oleh Raja Jin itu. Bareno dengan segala kemampuannya berusaha melepaskan diri dari tangan Raja Jin itu. Namun, usahanya tidak berhasil. Dengan badan dan tenaga yang besar, Jin itu dengan mudah meringkus Bareno. Perlawanan yang dilakukan oleh Bareno pun tidak ada artinya. Tubuh Bareno yang sangat kecil di hadapan jin yang berbadan raksasa itu dibanting-bantingkan ke tanah.Selain dibanting, tubuh Bareno pun diinjak-injaknya. Jika bukan Bareno, mungkin dia telah mati. Belum puas menginjak-injak dan membanting-bantingkan, tubuh Bareno dilemparkan ke atas. Dengan teriakan yang keras, Raja Jin itu berkata, "Matilah engkau, anak muda. Semoga mayatmu dimakan binatang buas." Akibat lemparan yang sangat kuat dari Raja Jin itu, tubuh Bareno melayang-layang jauh ke angkasa. Setelah melayang-layang cukup lama, akhirnya tubuh Bareno jatuh ke dalam gua batu di sebuah bukit. Kakek pertapa yangtinggal di situ agak terkejut melihat benda melayang-layang di angkasa. Untungnya, benda itu segera ditangkapnya sehingga tidak sampai mengenai batu. Ternyata benda yang melayang-layang itu adalah tubuh Bareno. Dengan saksama, diperhatikannya tubuh Bareno yang tergolek lemas itu. Dalam hati kakek itu menduga bahwa
pemuda yang ditolongnya itu pasti bukan orang sembarangan.
Wajahnya yang penuh luka masih memancarkan cahaya.
Bukan hanya wajahnya saja yang penuh luka, sekujur
badan Bareno pun memar-memar. Pakaiannya compang-
camping terkena batu dan ranting kayu hutan. Tubuh Bareno yang penuh luka segera diobati pertapa tua itu. Akan halnya Kakek itu, dia sudah seratus tahun bertapa di tempat itu. Karena lamanya bertapa, janggutnya memutih dan memanjang hingga dada. Beberapa saat setelah dirawat oleh kakek pertapa, Bareno pun siuman. Dengan pelan dia berkata, "Di manakah saya ini. Siapa yang telah menolong saya." Kakek pertapa mengingatkan Bareno agar jangan terlalu banyak bergerak dan bicara dulu. Badannya masih terlalu lemah. "Anak muda, jangan banyak bergerak dulu. Nanti jika badanmu sudah segar, kaubaru boleh bergerak dan banyak bicara," kata Kakek mengingatkan Bareno. Setelah diberi ramu-ramuan dari berbagai tanaman di hutan, tubuh Bareno pun segera pulih. Kakek pertapa itu menjadi lega karena pemuda yang ditolongnya telah selamat. Dengan lemah lembut dia menanyakan kejadian yang me- nimpa Bareno. "Bareno, mengapa engkau sampai jatuh di tempat ini. Apa yang kaualami," tanya pertapa itu. Bareno menjadi terheran-heran karena pertapa tua itu telah tahu namanya. Dengan agak tergapap-gagap Bareno menja- wab, "Kek, saya baru saja dilemparkan oleh jin raksasa. Saya tidak dapat melawannya, Kek." Dia semakin yakin bahwa orang tua yang telah meno- longnya ini adalah orang yang sakti. Dia pun lalu melanjutkan ceritanya, "Saya bertemu dengan jin itu karena sedang mencari seorang gadis, Kek. Namanya Putri Talayang. Katanya, dia itu anak Raja Langit."
Kakek pertapa terkekeh-kekeh mendengar jawaban Bareno. Dia tertawa karena sudah tahu apa yang terjadi pada Putri Talayang. Dia lalu berkata, "Bareno, ketahuilah bahwa kekasihmu itu sedang menjalani hukuman." Kakek pertapa itu kemudian menceritakan keadaan Putri Talayang. Diceritakannya bahwa Putri terkena kutukan orang tuanya. Dia dikutuk karena berkeras hati kawin dengan Bareno. Akibat kutukan itu, Putri Talayang berubah menjadi bunga Cempaka Dewa atau bunga Bala Dewi. Dia sekarang tumbuh di Telaga Biru dekat bukit Mambang Sakti dan dijaga oleh naga besar, buaya, harimau, serta binatang buas lainnya. Bunga Cempaka Dewa itu akan berubah menjadi gadis lagi seperti semula jika sudah dipetik dan dipatahkan. Bareno, yangmendengar keterangan kakek itu, menjadi senang sekaligus gundah. Dia merasa senang karena dapat mengetahui keberadaan Putri Talayang. Namun, dia juga bersedih karena Putri Talayang sedang dihukum oleh ayahnya. Semuanya itu akibat kesalahannya karena bercinta dengan sang Putri. Dia ingin segera menolong Putri agar dapat berubah kembali ke wujud aslinya. Namun, kakek pertapa menahannya untuk tinggal di tempat itu beberapa saat. Di situ Bareno akan diberi berbagai ilmu bela diri. Karena tanpa bekal ilmu-ilmu itu, Bareno tidak mungkin dapat mengalahkan para penjaga Telaga Biru itu. Bareno tidak dapat menolak kehendak kakek pertapa itu. Oleh karena itu, dia menuruti segala perintahnya. Dengan tekun dipelajarinya berbagai ilmubela diri yang diturunkan Kakek pertapa kepadanya. Dalam waktu singkat Bareno telah menguasai berbagai ilmu bela diri. Semua itu karena kemam-
puan dasar yang dimiliki Bareno. Selain itu dia memang anak yang cerdas dan rajin. Hampir setiap hari tidak ada waktu yang terlewatkan tanpa berlatih. Kakek pertapa dengan sabar mengarahkannya. Gerakan-gerakan yang kurang tepat dibetul- kan oleh Kakek pertapa. Suatu hari, Bareno berlatih bertarung melawan binatang buas. Kakek itu sebelumnya memanggil seekor harimau besar. Bareno diminta untuk menghadapinya. Begitu dilepas, harimau itu langsung menerkam Bareno. Namun, dengan sigap Bareno menghindar. Terkaman-terkaman harimau itu dapat dielakkan- nya. Bahkan, pada suatu kesempatan, kepala harimau itu dapat dipukulnya. Harimau itu kesakitan danakhirnya tak berdaya menghadapi Bareno. Kakek pertapa sangat senang melihat kemajuan Bareno. Dia memuji kecerdasan Bareno. Oleh karena itu, dia pun lalu memberikan ilmu kekebalan tubuh agar tidak mempan digerinda gergaji, tidak mempan kena besi, dan tidak mempan kena pedang tajam. Bareno juga dibekali dengan ilmu penegar dan penderas. Tujuannya, agar tidak merasa gentar dan takut pada binatang. Bukan hanya itu saja, Bareno masih diberi jimnat geliga hikmat berupa gelang akar bahar. Gelang itu terbuat dari batu yang bermantik naga. Jika pagi hari berwarna merah, dan bila sore hari berwarna hijau. Jika gelang itu dipakai di tangan kanan, segala racun/bisa dapat lenyap. Jika gelang itu dipakai di tangan kiri, semua orang akan mati kena pukulannya. Anehnya, jika gelang itu dipakai di pangkal lengan, pemakaianya seperti bersayap sehingga dia dapat terbang. Setelah dirasa cukup, kakek pertapa sudah ikhlas melepas kepergian Bareno. Dia berpesan agar Bareno dapat menjaga
diri. Lebih lanjut dia berkata, "Bareno, sekarang sudah saatnya engkau pergi. Semua ilmu yang telah kuturunkan kepadamu dapat melindùngimu dari kesulitan. Pesanku, janganlah engkau menjadi sombong. Kesombongan itu akan menghancurkan diri sendiri. Berbuatlah kebaikan. Tolonglah orang yang membu- tuhkan pertolongan." Pesan yang penuh makna itu diresapi Bareno dengan sungguh-sungguh. Dia berjanji akan mengamalkan semua petuah kakek pertapa itu. Karena hari sudah terlalu sore dan malam pun segera datang, Bareno disuruh tinggal di gua itu dulu. Keesokan harinya Bareno baru pergi meninggalkan gua untuk melanjutkan perjalanan. Di perjalanan dia masih teringat nasihat kakek pertapa. Petuah yang paling berkesan dalam hidupnya. "Alangkah mulianya kakek itu, " bisiknya dalam hati. Belum sempat tersadar dari lamunannya, dia dikejutkan oleh datangnya jin raksasa yang pernah melemparkannya. Jin raksasa itu tanpa basa-basi segera menghampiri Bareno. "Anak muda, rupanya engkau masih hidup, ya. Sekarang mau minta mati, haa..., "kata jin raksasa. "Jin raksasa, aku masih hidup seperti yang kaulihat Apakah engkau masih ingin bertempur lagi denganku? Hai, jin yang tak tahu diri, aku tidak takut lagi kepadamu," kata Bareno menantang. Muka Raja Jin itu pun menjadi merah padam menahan amarah. Giginya yang besar berdetak. Air liurnya mengalir deras menahan hasrat untuk menelan pemuda itu. Dengan congkaknya jin raksasa itu menjawab, "Bareno, ilmu apa yang akan kauandalkan untuk melawanku. Ayo, tumpahkan segala kepandaianmu. Kuhajar kau seperti dulu."
Perang tanding antara Bareno dan Raja Jin pun tak dapat dihindarkan. Pertarungan itu berlangsung sangat seru. Raja Jin dengan tubuh besarnya berusaha menangkap Bareno untuk dibantingkannya. Bareno yang dihadapinya sekarang ternyata tidak seperti dulu. Tubuhnya yang lebih kecil dari tubuh jin raksasa itu dapat berkelit. Bahkan, jin raksasa itu tidak kuat mengangkat tubuh Bareno. Raja Jin itu menjadi terkejut melihat kemampuan Bareno. Dia tidak menyangka kalau Bareno telah menguasai berbagai ilmu. Akibat pertarungan itu, banyak binatang hutan berlarian menyelamatkan diri. Suara gemuruh oleh derap langkah jin raksasa yang sangat besar itu sangat menakutkan. Burung- burung beterbangan. Ranting-ranting kering berjatuhan. Daun- daun berguguran, seperti tertiup angin. Bumi yang diinjak pun bergetar. Keadaan di hutan itu seperti terkena gempa bumi. Bareno yang telah dibekali berbagai ilmu oleh kakek pertapa tidak gentar sedikit pun. Dengan tenang dia melayani jin raksasa itu berkelahi. Setiap kali dia dipukul, dia membalasnya dengan tendangan. Dengan kelincahannya, dia dapat menghindar dari terkaman Raja Jin. Bahkan, seringkali tendangannya mengenai sasaran. Pukulan Raja Jin yang keras tidak dirasakannya. Semua itu terjadi karena dia telah memi- liki ilmu kebal sehingga kulitnya menjadi keras seperti besi. Tubuh Raja Jin yang sangat besar itu dibuatnya tidak berdaya. Akibat kelincahan Bareno, pukulan Raja Jin banyak yang tidak mengenai sasaran. Lama-kelamaan fisiknya sema- kin lemah, gerakannya pun menjadisangat lamban. Raja Jin sudah tidak mampu lagi mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatannya. "Hai, Raja Jin! Sekarang rasakan pembalasanku. Tubuhmu
yang sebesar gajah itu akan kubuat tak bisa bangun," kata Bareno dengan lantang. Raja Jin hanya bisa menahan amarah. Batinnya ingin sekali melahap Bareno, tetapi tenaganya sudah tidak kuat. Dia hanya berujar, "Kurang ajar! Beraninya kauejek Raja Jin ini. Terimalah hadiah ini, keparat!" seru Raja Jin dengan gusarnya sambil melepaskan sebuah pukulan kerasnya. Bareno yang waspada segera menghindar. Pukulan Raja Jin itu dapat dielakkannya sehingga Raja Jin itu sempoyongan. Kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Bareno. Ditendang- nya dada jin raksasa itu hingga terjerambab. Jimat giga hikmat yang berupa gelang akar bahar itu dia gunakan untuk melumpuhkan lawannya. Gelang itu dipakaianya di tangan kiri dan dipukulkannya ke tubuh jin itu. Seketika itu juga tubuh jin raksasa roboh. Dia tidak bisa bangkit lagi. Karena lukanya sangat parah, Raja Jin itu pun akhirnya mati. Bareno lalu beristirahat sejenak menghilangkan penat. Dia kelelahan karena bertarung habis-habisan dengan Raja Jin itu. Walaupun sangat lelah, dia merasa sangat lega. Musuh yang menghalanginya telah berhasil dikalahkannya. Sambil beristirahat di bawah pohon, dia berpikir arah mana yang akan ditujunya. Dia lupa bertanya kepada kakek arah menuju ke Telaga Biru. Setelah beristirahat sejenak, dia membersihkan badannya di pancuran. Dia mandi sepuas-puasnya. Segar rasanya setelah bertempur lalu mandi. Dia juga tidak lupa menyiapkan bekal untuk perjalanannya. Buah-buahan segar dipetiknya di hutan. Daging burung pun dipanggangnya. Dengan bekal itu, dia berharap perjalanannya akan lancar.
"Hai, Raja Jin! Sekarang rasakan pembalasanku. Tubuhmu yang sebesar gajah itu akan kubuat tak bisa bangun," kata Bareno dengan lantang.
- BARENO DI NEGERI MENDANG KEMULAN Setelah berhasil membunuh jin raksasa, Bareno melanjut-
kan perjalanan. Karena tidak tahu arah menuju Telaga Biru, dia berjalan tanpa arah yang pasti. Akhirnya, dia sampai di suatu negeri di Pulau Jawa. Dia tahu, dia sudah terlalu jauh meninggalkan daerahnya. Negeri yang didatangi itu bernama Mendang Kemulan, negeri yang sangat subur. Penduduknya hidup dalam kecukup- an. Keadilan sangat dijunjung tinggi di negeri ini. Segala hasil bumi sudah dapat mencukupi warganya. Bahkan, sisanya dijual ke negeri lain. Bermacam-macam binatang ternak dipelihara dengan baik. Singkatnya, negeri itu boleh dikatakan telah adil dan makmur. Orang negeri itu menyebutnya sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi. Rakyat dan pemimpinnya membaur, menyatu menjadi satu. Raja yang memimpin waktu itu adalah Raja Indo Jati. Dia sangat dihormati rakyatnya. Segala kesulitan dan keluhan rakyatnya didengarkannya dengan sungguh-sungguh. Tidak mengherankan apa bila dia sangat dicintai oleh rakyatnya. Raja Indo Jati mempunyai seorang puteri bernama Kamala Neli. Meskipun putrinya hanya seorang, dia tak pernah memanjakannya. Dia mendidiknya sebagaimana rakyat jelata.
Hari itu dia sedang duduk bersantai dengan putrinya itu. Dia selalu menyisipkan nasihat di saat santai sekalipun. "Kamala putriku, engkau satu-satunya penerusku. Sepe- ninggalanku nanti, hanya engkau yang kuharapkan," kata Raja Indo Jati kepada putrinya pada suatu waktu. "Mulai sekarang engkau harus sudah berlatih. Banyaklah turun ke desa, bergaullah dengan rakyatmu. Dengan begitu, engkau akan mengetahui keadaan yang sebenarnya," lanjutnya. "Baik, Ramanda. Nanda akan senantiasa mengingat petuah Ramanda, " jawab Kamala Neli. Seorang pemimpin memang harus rajin turun ke daerah, ke kampung-kampung. Dengan turun ke kampung, dia akan mengetahui keadaan rakyatnya. Dia tidak akan dengan mudah menerima laporan bawahannya. Setiap ada laporan dari bawahannya, raja yang baik dan bijaksana pasti akan mengecek kebenarannya. Jika laporan itu benar, akan segera diselesaikan permasalahannya. Namun, jika laporan pungga- wanya itu tidak benar, raja akan memberinya sanksi atau hukuman yang setimpal. Raja Indo Jati yang memerintah Kerajaan Mendang Kemulan juga dikenal sebagai raja yang arif dan bijaksana. Tidak mengherankan jika putri satu-satunya juga mempunyai sifat dan watak seperti ayahnya. Walaupun tugas-tugas kerajaan sangat padat, dia masih menyempatkan diri mendidik putrinya itu. Dia tidak sepenuhnya mempercayakan pendi- dikan putrinya kepada inang pengasuhnya. Tidak terasa hari berganti hari, bulan pun cepat berlalu, dan tahun pun telah berganti-ganti. Putri Kamala Neli telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Kabar mengenai kecantikannya telah terdengar sampai negeri-negeri tetangga.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak raja dan
pangeran dari negeri seberang dan pemuda-pemuda tertarik
padanya. Raja Indo Jati menyadari bahwa putrinya telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Sudah saatnya Kamala Neli mencari pendamping hidup. Dia tidak ingin putrinya itu mendapat suami yang tidak bertanggung jawab. Dengan penuh kebapakan, dia menasihati putrinya agar berhati-hati memilih pendamping. Sebagai putri yang akan menggantikan ayahnya menjadi raja, Kamala harus mendapatkan suami yang sede- rajat. "Kamala, sekarang engkau telah menjadi gadis yang dewasa. Sudah saatnya dirimu akan mencari pendamping hidup. Pesanku, carilah suami yang dapat melindungimu, pesan Raja Indo Jati kepada Kamala Neli. Dengan senyum manisnya, Kamala menjawab, "Ramanda, biarlah Nanda belajar memimpin rakyat Mendang Kemulan dulu. Masih banyak yang harus Nanda pelajari. Jika sudah tiba saatnya, pasti Nanda akan mendapatkan pasangan yang Nanda harapkan."
Begitulah sikap Kamala setiap kali ditanya ayahnya
mengenai jodoh. Dia tidak ingin terlalu memikirkannya karena memikirkan negara jauh lebih penting. Ayahnya tidak dapat memaksanya. Dia hanya berharap agar putrinya mendapatkan pendamping yang baik. Usia Raja Indo Jati memang sudah cukup tua. Tenaganya
sudah tidak kuat lagi untuk memikirkan negerinya yang sangat
luas. Sudah waktunya dia menyerahkan kekuasaan kepada putrinya. Dia menganggap bahwa Kamala Neli sudah mampu memimpin Mendang Kemulan. Setelah dipikirkan masak-
masak, dipanggilnya Kamala Neli. "Putriku, aku sudah tua. Aku menganggap engkau telah mampu memimpin negeri ini. Bersiaplah menggantikanku, Kamala," kata Raja Indo Jati. "Ramanda, mengapa terburu-buru?Bukankah Ramanda masih kuat memimpin negeri ini. Nanda merasa belum siap," jawab Kamala. Raja Indo Jati terus memberi dorongan kepada putrinya. Dia menyatakan bahwa setelah mundur, dia akan tetap mendampingi putrinya sebagai penasihat kerajaan. Akhirnya, usaha Indo Jati meyakinkan putrinya berhasil. Kamala Neli bersedia menggantikannya menjadi raja di Mendang Kemulan. Setelah Kamala Neli bersedia, Raja Indo Jati segera memanggil si Selamat. Dia menyuruh Selamat membunyikan tabuh larangan. Mendengar bunyi tabuh larangan itu, masyarakat segera menyahuti dengan bunyi tabuh serupa se- hingga seisi negeri mendengarnya. Rakyat Mendang Kemulan telah hafal makna bunyi itu. Mereka segera berkumpul di alun-alun, suatu tempat lapang yang digunakan untuk berkumpul para punggawa dan rakyat. Mereka saling bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa mereka disuruh berkumpul di alun-alun. Seseorang yang agak tua bertanya kepada tetangganya, "Kang, ada apa, ya, kita disuruh kumpul di alun-alun. Apa ada musuh yang akan menyerang negeri kita, ya?" Mendengar pertanyaan seperti itu, yang lain pun ikut menjawab, "Saya juga tidak tahu, Kang!" Rakyat Mendang Kemulan yang sangat setia kepada rajanya itu menanti dengan cemas di alun-alun. Tua-muda, laki-laki-perempuan, besar-kecil, semua berkumpul di situ.
Setelah mereka beristirahat sebentar, datang si Selamat dengan membawa secarik kertas yang digulung. Dia akan menyampai- kan maklumat raja. "Hai, rakyatnegeri Mendang Kemulanyang saya cintai, saya datang membawa perintahBaginda Raja. Sayadisuruh membacakanmaklumatnya. Dengarkan baik-baik, pada hari Anggoro kasih (Selasa Kliwon) Baginda akan mengangkat Putri Kamala Neli menjadi raja. Putri Kamala Neli akan menggantikan Baginda Raja Indo Jati," kata si Selamat dengan lantang. Rakyat Mendang Kemulan yang berkumpul di alun-alun itu menyambutnya dengan suka cita. Tepuk tangan dan teriakan kegembiraan membahana. Mereka tahu bahwa Putri Kamala Neli akan memimpin dengan arif dan bijaksana seperti ayahnya. Si Selamat pun segera memerintahkan seluruh rakyat untuk mempersiapkan pesta penobatan Kamala Neli. Negeri Mendang Kemulan benar-benar merayakan pesta penobatan Putri Kamala secara besar-besaran. Walaupun begitu, semua biaya yang digunakan untuk pesta tidak membebani rakyatnya. Pesta penobatan pun diadakanselama tujuh hari tujuh malam. Berbagai hiburan dipertunjukkan. Dalam pesta itu, rakyat yang agak kekurangan disantuninya. Tidak ada rakyat yang kelaparan di negeri itu. Pada hari yang telah ditentukan, Raja Indo Jati beserta para penasihat dan punggawa kerajaan segera mengadakan upacara. Hari itu baginda Indo Jati melepas mahkota yang selama ini dipakainya. Mahkota itu diserahkannya kepada Putri Kamala Neli. Sejak saat itu Putri Kamala Nelilah yang menjadi raja di Negeri Mendang Kemulan. Sesaat setelah penobatannya, Indo Jati berpesan kepada putrinya. Katanya, "Kamala, sekarang
engkau telah menjadi seorang raja. Segala tingkah laku dan perbuatanmu akan menjadi contoh bagi rakyatmu. Saya titipkan negeri dan rakyat ini di pundakmu, anakku!" Keesokan harinya, setelah pesta penobatan usai, Ratu Kamala Neli mulai menjalankan tugasnya. Segala sesuatu yang dulunya dilakukan oleh ayahnya sekarang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun sudah menjadi raja, sifatnya yang ramah tamah dan suka menolong tidak pernah berubah. Dia juga tidak segan untuk meminta pendapat bawahannya jika memang tidak tahu. Negeri Mendang Kemulan di bawah kepemimpinannya tumbuh dan berkembang pesat. Banyak negeri lain yang iri melihat kemajuan yang dicapai negeri itu. Banyak juga raja dari negeri tetangga yang ingin belajar kepada Ratu Kamala Neli. Berbagai negeri diajaknya untuk saling bekerja sama dan tolong-menolong. Karena kesibukannya mengatur dan memimpin negerinya, Ratu Kamala Neli sampai lupa memikirkan dirinya. Dia sampai lupa bahwa dia sudah saatnya untuk bersuami. Sebenarnya, banyak pangeran dan raja dari berbagai negeri yang melamarnya. Tidak satu pun dari mereka yang diteri- manya dengan alasan Kamala belum siap untuk menikah. Ada raja dan pangeran yang dapat memahaminya. Namun, banyak pula yang kecewa terhadap sikap Ratu Kamala Neli itu. Pada suatu hari, datanglah utusan Raja Hangat Garang. Utusan itu mengatakan bahwa Raja Hangat Garang ingin melamar Ratu Kamala Neli. Semua yang hadir di istana Mendang Kemulan saling berpandangan. Mereka tahu bahwa Raja Hangat Garangterkenal kejamnya. Banyak rakyaknya yang dipaksa membayar pajak tinggi untuk bersenang-senang.
Dia terkenal sebagai raja yang senang berjudi, dan bermabuk- mabukan. Mereka khawatir jika rajanya mau menerima lamaran itu. Utusan itu pun segera disuruh agak ke depan. Dia dipersilakan mengatakannya sendiri kepada Ratu Kemala Neli. "Yang Mulia Ratu Kamala Neli, hamba utusan Raja Hangat Garang. Hamba diminta menyampaikan pesan tuanku," kata utusan itu ke hadapan Ratu Kamala Neli dan para punggawa. "Haiutusan, katakan apa pesan rajamu, "kata Raja Kamala. "Yang Mulia, Tuanku Raja Hangat Garang bermaksud melamar paduka," jawab utusan itu. Ratu Kamala Neli sudah terbiasa bersikap tegas. Dia memutuskan saat itu juga. Dia langsung menjawab lamaran Raja Hangat Garang itu. "Hai, utusan, katakan kepada rajamu bahwa saya tidak bersedia menjadi istrinya," katanya lantang. Utusan itu segera pulang ke negerinya dan menyampaikan pesan itu kepada rajanya. Setelah mendengar jawaban Kamala, Raja Hangat Garang menjadi marah. Dia akan menyerbu negeri Mendang Kemulan. Dengan galaknya dia berteriak- teriak, "Hai, punggawa-punggawaku. Kalian harus segera
bersiap. Kumpulkan segala senjata. Kita akan menyerang
Mendang Kemulan. Kita jadikan lautan api negeri itu," katanya penuh amarah. Panglima perang dan para prajuritnya pun dipersiapkan. Setelah semua dirasa sudah siap, mereka berangkat menuju Mendang Kemulan. Jarak kedua negeri itu memang tidak terlalu jauh. Hanya beberapa hari perjalanan kaki, pasukan Raja Hangat Garang sudah sampai di negeri Mendang Kemulan. Mereka segera menggelar taktik perang. Terompet perang dibunyikan sebagai pertanda tantangan.
Rakyat Mendang Kemulan yang mengetahui pasukan musuh segera melapor kepada punggawanya. Ratu Kamala Neli memerintahkan kepada panglima perang dan seluruh prajuritnya menghadang musuh. Pertempuran kedua pasukan itu pun tidak terelakkan. Bunyi Pedang yang saling beradu dan panah yang berseliweran menambah kekhawatiran rakyat jelata. Banyak korban berjatuhan. Dengan gagah berani pasukan Mendang Kemulan hampir dapat mengalahkan pasukan Raja Hangat Garang. Mereka hampir mendesak musuh hingga daerah perbatasan. Raja Hangat Garang yang melihat pasukannya hampir kalah segera memanggil burung garuda raksasa kesayangan- nya. Burung itu selalu dipanggil setiap dia mengalami kesulitan. Ketika mendengar siutan Hangat Garang, burung garuda itu pun segera meluncur ke bawah. Setelah sampai di hadapan tuannya, dia segera diperintahkan untuk mengancurkan pasukan musuh. "Garudaku, musnahkan pasukan Mendang Kemulan. Buat porak-poranda mereka. Hancurkantempat tinggal rakyat negeri itu," kata Raja Hangat Garang memerintah garuda untuk menyerbu musuh. Burung itu pun segera terbang ke tempat pertempuran. Di sana dia melihat pasukan musuh dengan berbagai senjatanya. Dia segera mengepakkan sayapnya. Pasukan negeri Mendang Kemulan sangat terkejut melihat kedatangan burung itu. Belum hilang rasa kagetnya, burung raksasa itu telah menyambar-nyambar mereka. Segala senjata dilepaskan ke arah burung itu, tapi tak satu pun mampu menembusnya. Bahkan, mereka dibuat kalang kabut. Banyak pasukan
Mendang Kemulan mati terbunuh. Mereka dipatuk dan disam- bar hingga tunggang langgang. Burung raksasa itu rupanya belum puas hanya dengan membantai musuhnya. Rumah-rumah penduduk pun diroboh- kannya. Dahan-dahan besar banyak yang jatuh berserakan menghalangi musuh melarikan diri. Penduduk yang tidak tahu- menahu perang pun menjadi sasaran kemarahan burung raksasa itu. Raja Hangat Garang tertawa riang melihat burung kesayangannya berhasil memporak-porandakan dan mengacau- balaukan musuh.
"Ha...ha...ha...sebentar lagi negeri Mendang Kemulan
akan jatuh ke tanganku. Kamala Neli pun akan menjadi tawanan," kata Raja Hangat Garang sambil terbahak-bahak kegirangan. Para prajurit Mendang Kemulan tidak ada yang kuasa melawan keganasan burung garuda raksasa itu. Senjata mereka pun tidak dapat melukainya. Burung itu rupanya kebal terhadap senjata, seperti pedang, panah, dan tombak. Panglima perang negeri segera memerintahkan pasukannya untuk mundur. "Pasukan mundur...,kita harus mundur dulu. Atur strategi baru untuk mengahadapinya," kata Panglima kepada para prajuritnya. Setelah semua prajurit mundur, panglima perang segera menghadap Ratu Kamala Neli. Dengan penuh rasa keke- cewaan, dia mengatakan, "Baginda Raja, hamba mohon ampun. Hamba tidak dapat menjalankan tugas dengan baik. Kami telah dikalahkan oleh garuda raksasa." "Panglima, kau tidak perlu merasa bersalah. Saya tahu bahwa kalian telah berjuang. Jika memang kalah, kita harus
mencari jalan keluarnya," kata Kamala Neli meyakinkan panglima perangnya. Seluruh punggawa dan penasihat kerajaan segera di- kumpulkan. Mereka dimintai pertimbangan untuk mengatasi permasalahan.Yang hadir pada pertemuan itu termasuk Indo Jati, ayahandanya. Mereka saling bermusyawarah. Meskipun para penasihat telah bermusyawarah, jalan keluar belum juga didapatkan. Semua saling berpandangan. Mereka saling menunggu usulan dan saran dari yang lain. Ratu Kamala Neli tampak tenang meskipun menghadapi situasi yang gawat seperti itu. "Ramanda Indo Jati dan Paman semua, kita memang sedang dalam kesulitan. Akan tetapi, kita tidak boleh larut dalam kesedihan itu. Jika berlarut-larut, hal itu justru akan menguntungkan pihak musuh," kata Ratu Kamala Neli dengan sangat tenang. Para penasihat dan punggawa tidak menyangka kalau Ratu Kamala Neli dapat setegar itu menghadapi cobaan. Indo Jati dalam hatinya sangat bangga terhadap putrinya itu. Semua yang hadir menunggu apa tindakan yang akan diputuskan Rajanya.
Panglima perang menghadap Ratu Kamala Neli. Dengan penuh rasa kekecewaan, dia mengatakan, "Baginda Raja, hamba mohon ampun. Hamba tidak dapat menjalankan tugas dengan baik.
- BARENO MENOLONGKAMALA NELI Sementara orang-orang di dalam istana Mendang Kemulan
masih bingung memikirkan jalan keluar, di sebuah sungai di pinggir desa seorang anak muda sedang duduk melepaskan lelah. Dia selesai mandi di sungai yang airnya jernih itu. Pemuda itu berkata dalam hati, "Ehm, sepi sekali kampung ini. Sepertinya ada yang tak beres. Saya harus mencari tahu." Sehabis melepas lelah, pemuda itu segera menuju kampung terdekat dari sungai itu. Dia ingin tahu apa yang terjadi di sini. Dia pun ingin tahu nama daerah tempat yang disinggahi- nya itu. Pemuda itu tak lain adalah Bareno. Dia menemui orang tua yang sedang duduk di serambi rumahnya. Orang tua itu kelihatannya sangat berduka. Bareno segera menghampirinya. "Pak, di manakah saya sekarang ini," tanya Bareno. Orang tua itu tidak segera menjawab. Dia sepertinya penuh selidik curiga. Bareno menangkap firasat itu dengan meyakin- kan orang tua itu bahwa dia orang baik dan sedang tersesat. Dengan sedikit keraguan, orang tua itu menjawab, "Anak sekarang berada di Negeri Mendang Kemulan. Kalau Bapak boleh tahu, Anak ini dari mana?" Bareno segera menjawab bahwa dirinya berasal dari negeri
seberang. Dia sedang mencari kekasihnya yang hilang, tetapi tersesat. Orang tua itu menjadi percaya bahwa Bareno itu anak yang baik. Karena ingin tahu kejadian yang menimpa daerah itu, Bareno pun banyak bertanya kepada orang tua itu. "Pak, saya lihat kampung ini sepi sekali. Sepertinya ada yang tidak beres. Ada apa, Pak?" tanya Bareno ingin tahu. Karena sudah percaya kepada ketulusan Bareno, orang tua itu mau memberi tahu keadaan yang sedang terjadi di negeri Mendang Kemulan. "Negeri ini sedang dilanda peperangan, Nak. Ada raja yang jahat menyerang raja kami. Dia menge- rahkan semua pasukannya serta seekor garuda raksasa yang kejam," kata orang tua itu penuh haru. Dengan air mata yang membasahi pelupuk matanya, dia melanjutkan, "Banyak prajurit negeri ini yang mati terbunuh oleh burung raksasa itu. Anak Bapak pun terbunuh bersama prajurit lainnya. Tidak hanya itu saja, Nak, rumah-rumah
penduduk pun dihancurkannya."
Bareno yang mendengar cerita orang tua itu menjadi iba. Dia ingin sekali menolong rakyat negeri yang disinggahinya itu. Dia ingat pesan gurunya bahwa hidup itu harus selalu tolong-menolong. Selagi masih dapat membantu mengapa tidak dilakukannya. Bareno kemudian menanyakan keberadaan musuh kepada orang tua itu. "Pak, di mana burung raksasa itu berada. Saya bermaksud menolong rakyat negeri ini, Pak," kata Bareno. "Nak, pikirkan dulu. Burung itu sangat ganas. Panglima perang negeri ini pun tidak sanggup melawannya," jawab orang tua itu penuh ragu. "Bapak jangan khawatir. Saya akan berusaha membantu Bapak dan seluruh rakyat di sini. Percayalah, Pak, bahwa
segala kejahatan akan dapat dikalahkan oleh kebajikan," kata
Bareno menyemangati orang tua itu. Orang tua itu pun memberi tahu bahwa pasukan Raja Hangat Gatang dan burung raksasa itu sedang menuju istana Mendang Kemulan. Mereka akan menghancuran istana dan akanmenawan raja beserta punggawanya. Bareno yang mendengar penjelasan orang itu segera pamit dan menuju ke istana Mendang Kemulan. Orang tua itu sangat heran ada anak muda yang sangat pemberani. Padahal, dia bukan rakyat negeri itu. Orang tua itu juga berharap agar pemuda itu dapat mengalahkan musuhnya sehingga negerinya kembali aman damai seperti semula. Menjelang tengah hari, matahari hampir di atas kepala. Pasukan Raja Hangat Garang besertaburung kesayangannya hampir mendekati gerbang istana. Seluruh punggawa yang telah mendengar akan kedatangan musuh merasa was-was. Mereka sudah menduga kalau musuh sampai masuk ke istana, hampir dipastikan kerajaan akan jatuh. Prajurit Mendang Kemulan yang tersisa banyak yang masih terluka. Panglima
perang pun menjadi sangat khawatir.
Dari kejauhan sudah tampak iring-iringan pasukan musuh mendekati gerbang. Burung raksasa terbang sambil merusak segala yang dilaluinya. Rakyat yang melihat kejadian itu sangat panik. Tidak ada seorang pun yang berani ke luar
rumah. Pintu rumah mereka kunci rapat-rapat. Mereka hanya berani mengintip dari dalam.
Raja Hangat Garang sudah merasa yakin dapat menghan- curkan negeriMendang Kemulan. Tiba-tiba dia dikejutkan
oleh suara yang mencurigakan. Setelah diamati, ternyata
burung garuda raksasa tengah bertempur dengan seorang
pemuda. Dia sangat heran melihat keterampilan dan kegesitan
anak mudaitu. Garuda raksasa yang sangat ditakuti prajurit 'musuh sekarang mendapat lawan yang seimbang. Bareno yang dihadapinya dapat mengimbangi kekuatan burung itu. Pertem- puran antara burung raksasa dan seorang pemuda itu pun berlangsung sangat seru. Rakyat Mendang Kemulan yang melihat dari celah rumahnya sangat berharap pada pemuda itu. Mereka sempat bertanya-tanya dalam hati. Siapa gerangan
pemuda yang sangat pemberani itu?
Bareno dengan berbekal ilmu yang diberikan oleh kakek pertapa sangat merepotkan musuhnya. Dia menggunakan mantra saktinya dan digunakanlah gelang akar bahar. Dengan segala ilmunya itu, Bareno dapat menahan serbuan burung raksasa. Sambaran-sambaran dan patukan burung itu dapat ditahannya. Bahkan, dengan gelang akar baharnya dia bisa terbang. Mula-mula dipatahkan bagian sayap kirinya. Burung
raksasa itu menjadi limbung. Dia tidak punya keseimbangan
lagi karena sayapnya tinggal sebelah. Kesempatan itu segera dimanfaatkan Bareno. Disambarnya sayap yang tinggal sebelah itu dan dipatahkan. Akibatnya, kedua sayap burungitu patah sehingga dia sudah tidak dapat terbang. Meskipun sudah tidak bersayap, burung itu masih ganas. Patukannya masih keras sekali. Batu besar pun dapat dipecahkan dengan sekali patuk. Namun, Bareno tidak kekurangan akal. Dipegangnya tubuh garuda raksasa itu, lalu dilemparkan ke arah bukit. Tubuh burungitu pun terkulai lemas. Melihat kesempatan itu, Bareno segera mengerahkan semua kekuatannya. Dengan sekali pukulan, burung raksasa itu akhirnya mati.
Raja Hangat Garang yang menyaksikan kejadian itu, menjadi naik pitam. Pasukanya segera disuruh menggempur pemuda itu. Namun, bukan Bareno kalau tidak dapat melayani mereka. Pasukan Hangat Garang dibuat kocar-kacir. Satu persatu prajurit Raja Hangat Garang dihajarnya sehingga membuat prajurit yang tersisa ketakutan. Meskipun Raja Hangat Garang terus-menerus memberi semangat, pasukannya tak mampu mengalahkan Bareno. Segala senjata digunakan untuk membunuh Bareno. Akan tetapi, tak satu pun yang mampumelukainya. "Kurang ajar, beraninya pemuda ingusan itu mencampuri urusanku. Rupanya, dia belum tahu siapa Raja Hangat Garang, " kata Hangat Garang penuh emosi. "Tuanku, dia sangat sakti. Tubuhnya kebal terhadap senjata. Pedang, panah, dan tombak tidak mampu menembus tubuhnya," sahut prajurit yang masih hidup. Raja Hangat Garang segera maju menghadapi Bareno. Dia menyerang dengan penuh emosi. Akibatnya, banyakpukulan yang tidak mengenai sasaran. Tendangannya pun menjadi tidak menentu arahnya. "Mati kauanak muda," teriaknya. Dia sangat bernafsu untukmembunuh lawannya. Segala cara ditempuhnya. Gerakan dan jurus silat yang dikuasainya dikeluarkan. Namun, karena dia sangat emosi, gerakan tubuhnya menjadi kacau. Jurus-jurus yang biasanya sangat ditakuti kini tidak tampak. Sebaliknya, Bareno melayani lawannya dengan sabar. Dia menunggu saat lawannya lengah. Jika lawan lengah, dia baru melepaskan pukulan. Dengan cara itu, dia berhasil memukul lawannya. Raja Hangat Garang menjadi bertambah emosi. Gerakan- nya menjadi bertambah kacau. Jurus-jurusnya semakin tidak
beraturan. Dia hanya menerjang ke sanake mari sambil berteriak-teriak. "Keparat Bareno, kuhajar kau," teriaknya sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Bareno tidak mempan segala senjata lawan. Dia telah menggunakan ilmu kebal pemberian kakek pertapa. Hal itu membuat lawannya kehabisan akal. Raja Hangat Garang dibuat tidak berdaya. Akhirnya, sewaktu lawannya lengah, Bareno segera melepaskan pukulan mautnya. Raja Hangat Garang mati seketika. Bareno merasa lega telah mengalahkan lawannya. Rakyat Mendang Kemulan sangat gembira. Mereka yang semula hanya mengintip dari rumah serentak berhamburan keluar. Mereka mengelu-elukan Bareno. "Hidup anak muda. Hidup pahlawan kita, " teriak penduduk yang belum mengenal Bareno. Orang tua yang pernah bertemu Bareno juga berteriak, "Hidup Bareno. Bareno pahlawan sejati." Teriakan orang-orang itu mengundang para punggawa keluar dari balairung. Para punggawa terkejut karena rakyat Mendang Kemulan sudah bertumpah ruah di alun-alun.
Mereka lebih terkejut karena yang dielu-elukan adalah orang
asing. Seorang pemuda yang belum dikenalnya. "Luar biasa pemuda itu. Dia masih muda tetapi sangat hebat. Raja Hangat Garang yang sakti pun dapat dikalahkan.
Pasti dia bukan orang sembarangan," kata salah seorang
punggawa kepada rekannya. Punggawa lainnya menyahut, "Sebaiknya kita segera mela- por kepada Baginda Ratu Kamala Neli. Baginda pasti sangat senang." Sebagian punggawa segera melaporkan kejadian itu kepada rajanya. Sebagian punggawa lainnya tetap bersama rakyat di
alun-alun. Di hadapan Ratu Kamala Neli, punggawa itu berka-
ta, "Baginda Ratu Kamala, hamba punggawa menghadap." Ratu pun menjawab, "Ada apa punggawa. Segera laporkan apa yang terjadi. Jangan kaututup-tutupi kenyataan! Berterus- teranglah, Punggawa!" Punggawa segera melapor bahwa Raja Hangat Garang telah dibunuh. Semua pasukan lawan pun sudah bertekuk lutut. Mendengar berita yang menggembirakan itu, Kamala segera menyahut, "Punggawa, segera katakan siapa orang yang telah menyelamatkan negeri ini. Saya akan segera menemuinya." Punggawa itu menjelaskan bahwa yang mengalahkan lawannya adalah Bareno. Dia seorang pemuda yang sedang berkelana. Dia sangat tampan. Perawakannya tinggi tegap. Kulitnya putih bersih. rambutnya hitam ikal. Hidungnya mancung. Walaupun sangat sakti, dia sangat ramah kepada setiap orang yang dijumpainya. Ratu Kamala Neli minta untuk segera diantar ke hadapan pemuda itu. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu. Katanya, "Punggawa antarkan saya ke hadapan pemuda itu. Saya akan mengucapkan terima kasih padanya." Dengan diantar punggawa itu, Kamala Neli menghampiri Bareno di alun-alun. Dia sangat terpesona begitu melihat Bareno. Hatinya berdebar-debar. Perasaannya tidak menentu. Dengan ramah dia berkata, "Ki sanak, atas nama rakyat Mendang Kemulan, saya mengucapkan terima kasih. Jika tidak engkau tolong, mungkin negeri kami sudah hancur." Bareno menjawab sambil menyembah, "Baginda, sebagai manusia kita harus saling menolong. Saya hanya menjalankan kewajiban itu, Baginda." Ratu Kamala Neli bertambah rasa kagumnya kepada Bareno. Jawaban Bareno yang begitu polos menunjukkan
kejujurannya. Raja pun segera mengajak Barenoke dalam istana. Rakyat Mendang Kemulan yang berkumpul di alun- alun serentak melambaikan tangannya dan bertepuk tangan riuh. Mereka mengantar pahlawan itu sampai gerbang istana. Di dalam istana sudah berkumpul para penasihat dan punggawa. Mereka menyambut Bareno dengan senang. Jabat tangan dan salam hangat diterima Bareno. Segala makanan dan hidangan lain segera dikeluarkan untuk menyambut pahla- wannya. Bareno tetap rendah hati. Dia mengucapkan terima kasih atas sambutan dan perhatian punggawa dan seluruh rakyat Mendang Kemulan. Seusai penyambutan itu, Bareno dipersilakan untuk beristirahat. Pada keesokan harinya, ratu, para penasihat, dan punggawa mengadakan rapat. Rapat itu membahas hadiah yang pantas untuk Bareno. Indo Jati, ayah Ratu Kamala, berkata, "Baginda, para penasihat dan puniggawa, saya mengusulkan agar Bareno diangkat menjadi panglima perang. Menurutku, dia mempu-
nyai kemampuan dan kesaktian."
Ratu Kamala Neli menyerahkan keputusan itu kepada rapat. Meskipun seorang raja, dia tidak pernah memutuskan sesuatu seorang sendiri. Dia berpedoman bahwa segala sesuatu itu harus diputuskan melalui musyawarah. Semua peserta rapat itu menyetujui usul dari penasihat Raja Indo Jati. Akhirnya, dalam rapat itu diputuskan bahwa Bareno diangkat menjadi panglima perang. Bareno kemudian dinobatkan menjadi panglima perang Negeri Mendang Kemulan. Seluruh rakyat menyambutnya dengan suka cita. Pesta pun diadakan untuk mensyukuri kemenangan. Negeri Mendang Kemulan menjadi aman damai di bawah kepemimpinan orang-orang yang bijak. Negerinya
sejahtera karena dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Negerimenjadi aman dandamai berkat pimpinan panglima perang yang sakti, tetapi baik budi. Hubungan raja dengan panglima perang memang sangat dekat. Dari pertemuan pertama, sebenarnya Ratu Kamala Neli telah jatuh hati kepadanya. Pada suatu kesempatan, Kamala mengatakan, "Panglima Bareno, alangkah bahagianya aku jika keinginanku tercapai." Bareno pun menjawab, "Baginda, apa yang menjadi keinginan Baginda. Jika hamba dapat mencarikannya, pasti akan hamba lakukan." Ratu Kamala Neli lalu mengutarakan niatnya. Dia ingin agar Bareno bersedia mendampinginya sebagai suami. "Panglima Bareno, maukah engkau memenuhi keinginanku?" kata Kamala. "Baginda, hidup dan mati hamba hanya untuk Baginda dan negeri ini,"jawab Bareno. Ratu Kamala segera melanjutkan pertanyaannya dengan sedikit malu, "Maukah engkau mendampingiku sebagai suami?" Bareno menjawab dengan ragu, "Hamba hanya orang biasa, Baginda. Apakah pantas hamba mendampingi Baginda?" Ratu Kamala Neli meyakinkan bahwa semua manusia itu sama. Bareno tidak dapat menolak keinginan Kamala Neli. Keduanya sepakat untuk menjadi suami istri. Mereka berjanji untuk membangun negerinya itu bersama-sama. Pesta menyambut pernikahan raja dan panglima perang segera dimulai. Rakyat menyambut dengan sangat berse- mangat. Jalan-jalan dibersihkan. Umbul-umbul pun dipasang di sepanjang jalan. Pesta pernikahan Ratu Kamala Neli dengan
Panglima Bareno akan diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Banyak tamu yang akan diundang. Mereka itu adalah raja-raja dan pangeran dari negeri tetangga serta rakyat Mendang Kemulan. Pada pesta itu semua tamu yang diundang hadir. Seluruh rakyat pun menyambut para tamu dengan sangat ramah. Tidak ada satu orang pun rakyat Mendang Kemulan yang tidak senang. Semuanya menyambut dengan gembira. Mereka sangat berharap pada Ratu Kamala dan Panglima Bareno. Setiap ada orang bergerombol, yang dibicarakan pasti pasangan pemimpin mereka. Pasangan baru itu hidup berbahagia. Mereka dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Tidak lama berselang, Ratu Kamala pun hamil. Seluruh rakyat menyambut dengan suka cita. Mereka sangat bergembira. Di negerinya akan mun- cul pemimpin baru. Seluruh kerabat istana pun tidak keting- galan bersuka cita pula. Untuk mensyukuri karunia Tuhan itu, Raja membagikan makanan kepada rakyat yang masih miskin. Semuanya dikumpulkan di istana dan diajak makan bersama raja. Pulangnya, mereka masih diberi bekal. "Alangkah mulianya raja kita," kata salah seorang yang datang di istana. Yang lain pun menimpali, "Beruntunglah kita mempunyai pemimpin seperti itu. Mudah-mudahan keturunannya kelak seperti Baginda." Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kandungan Ratu Kamala pun sudah menginjak usia tujuh bulan. Di istana diadakan upacara adat mitoni, tujuh bulan usia kandungan. Segala sesaji yang diperlukan telah dipersiapkan. Para pena- sihat dan punggawa hadir menyaksikannya. Mereka kelihatan
sangat ceria. Tidak satu pun yang menampakkan kesedihan. Mereka akan segera menyambut datangnya sang pangeran atau
putri, calon raja Mendang Kemulan.
Seusai acara adat itu, PanglimaBareno menyendiri. Dia teringat akan Putri Talayang. Rupanya, dia tidak dapat melupakannya. Dia berniat akan mencari kembali orang yang dikasihinya itu. Segala yang pernah dialaminya itu diceritakan kepada istrinya. Kemudian, dia mengutarakan niatnya, "Dinda Kamala, bolehkah Kanda pergi berjalan seorang diri?" tanyanya. Ratu Kamala tidak tega melihat penderitaan Bareno. Dia mengizinkan suaminya pergi mencari kekasihnya itu. "Kanda, bukankah kita suami istri. Jika Kanda bersedih, dinda pasti ikut merasakan kesedihan itu. Dinda rela Kanda
pergi. Carilah dia, Kanda," jawab Kamala.
"Alangkah baik budimu, Dinda. Kanda akan mencarinya. Setelah bertemu, kanda akan segera menemuimu, " kata Bareno
penuh haru. Bareno begitu terharu mendengar ketulusan istri-
nya itu. Sebelum pergi, Bareno berpesan kepada istrinya, "Dinda, jika anak kita lahir laki-laki, beri dia nama Maha Dewa. Jika lahir perempuan, beri nama Maharani."
Setelah berpesan begitu, Bareno segera pamit. Dia akan
mencari Putri Talayang. Dia berkelana seperti dulu.
Ratu Kamala Neli menghampiri Bareno di alun-alun. Dengan ramah dia berkata. "Ki sanak, atas nama rakyat Mendang Kemulan, saya mengucapkan terima kasih. Jika tidak engkau tolong, mungkin negeri kami sudah hancur."
7.BERTEMU KEMBALI DENGAN PUTRI TALAYANG DAN MENJADI RAJA
DI NEGERI SENDIRI
Bareno mulai melakukan perjalanan. Agar tidak diketahui oleh rakyat Mendang Kemulan, dia melepaskan pakaian kebesarannya. Dia menyamar seperti rakyat jelata. Pakaian yang dikenakannya seperti yang dipakai oleh rakyatnya. Tidak satu pun rakyat Mendang Kemulan mengetahui kepergiannya. Entah sudah berapa jauh dia meninggalkan istana. Dia keluar masuk kampung, dari satu kampung ke kampung lain. Dia dengarkan setiap pembicaraan orang. Dia bertanya kepada setiap orang yang ditemui. Hanya satu yang dicarinya, yaitu bunga Cempaka Dewa. "Boleh tanya, Pak! Apakah Bapak pernah lihat bunga Cempaka Dewa," tanya Bareno kepada setiap orang yang ditemuinya. Anehnya, tidak satu orang pun tahu nama bunga itu. Mereka pada umumnya selalu menjawab, "Jangankan melihat, mendengar namanya saja baru sekali ini." Bareno tidak berputus asa. Dia telah banyak mendapat petuah dari para orang tua. Hidup ini tidak boleh berpatah semangat, tidak boleh putus asa. Pedoman itu selalu diterap- kannya di mana pun dia berada. Setelah gagal memperoleh
keterangan, dia meneruskan perjalanannya. Mungkin sudah beratus-ratus kampung telah dijelajahinya. Setelah di kampung-kampung tidak diperolehnya, Bareno mencobamencari ke hutan. Hutan-hutan kecil ditelusurinya. Lembah dan ngarai dituruni. Bukit-bukit pun didakinya. Bunga Cempaka Dewa yang dicari belum juga didapat. Siang itu udara begitu panasnya. Matahari seperti menyengat tubuh. Kala itu memang sedang musim kemarau. Bareno melepaskan lelahnya. "Sebaiknya aku istirahat dulu di bawah pohon besar itu," katanya dalam hati. Semilirnya udara segar membuat Bareno terlelap. Enak sekali dia tidur di bawah pohon itu walaupun hanya beralaskan akar. Setelah cukup istirahatnya, Bareno segera terbangun. Dia terkejut karena matahari sudah condong ke barat. Itu pertanda bahwa hari sudah sore. Sebentar lagi malam akan tiba. Dalam hati dia berkata, "Haah..,rupanya hari sudah sore. Saya harus mencari tempat bermalam." Begitu pikir Bareno sambil berjalan. Bareno sudah agak kecapaian. Jalannya sudah mulai lamban. Kebetulan tidak jauh dari tempat itu ada seorang penjual bunga. "Bu, bolehkah saya menumpang tidur di rumah Ibu, " tanya Bareno kepada penjual bunga. "Saya kemalaman di sini, Bu," lanjutnya. Penjual bunga itu pun mempersilakan Bareno. "Oh..boleh, boleh saja, Nak," jawabnya. "Di rumah Ibu ini banyak yang pernah menginap, Nak. Kebanyakan mereka itu pengembara. Di depan sana kan hutan belantara. Ibu senang kok Anak menginap di sini," lanjut penjual bunga itu. Mereka saling memperkenalkan diri. Bareno sekarang tahu
bahwa penjual bunga itu bernama Rubiah. Dia tinggal seorang diri. Suaminya telah lama meninggal. Umurnya sudah tua sehingga hampir seluruh rambutnya telah memutih. Pada malam itu, Nenek Rubiah banyak bercerita kepada Bareno. "Nak, Ibu sudah lama berjualan bunga di sini. Biasanya pada hari-hari tertentu banyak orang membutuhkan bunga. Kebetulan hari ini agak sepi," kata Nenek Rubiah memulai ceritanya. Bareno mendengarkan dengan saksama. Dia juga banyak bertanya dari mana Nenek Rubiah mendapatkan bunga-bunga dagangannya. Nenek Rubiah mengatakan bahwa dia mendapatkan bunga dari hutan. Dia pun bercerita tentang bunga aneh yang ada di tengah hutan. "Nak, Ibu pernah lihat bunga di tengah hutan. Warnanya sangat indah. Tetapi, bunga itu dijaga naga besar, buaya ganas, dan binatang berbisa. Tak seorang pun dapat memetiknya," cerita Rubiah pada Bareno. Setelah mendengar cerita Rubiah, Bareno ingin tahu lebih banyak. "Bu, saya sangat tertarik cerita Ibu.Apa nama bunga itu, Bu? Dia tumbuh di mana, " tanya Bareno bertubi-tubi dan penuh semangat. "Kata orang, bunga itu bernama Cempaka Dewa. Kadang- kadang orangmenyebutnya bunga Bala Dewi," jawab nenek Rubiah. Dia lalu melanjutkan, "Bunga itu hidup di sebuah telaga. Kalau Ibu tidak salah namanya Telaga Biru. Telaga itu terdapat di tengah hutan dekat Bukit Mambang Sakti, Nak." "Bu, maukah Ibu mengantarkan saya ke telaga itu. Saya akan melihat bunga itu, Bu," pinta Bareno. "Tentu saja, Nak. Ibu setiap hari kan ke hutan itu mencari
bunga. Besok kita berangkat agak pagi, ya," kata Rubiah penuh semangat. Malam itu hati Bareno menjadi lega. Dia akan menemukan orang yang dicarinya. Semalaman dia hanya memikirkan Putri Talayang. Putri yang telah dikutuk ayahnya menjadi sekuntum bunga. Kegembiraan Bareno tidak terlukiskan dengan kata-kata. Begitu ayam jantan berkokok, Bareno sudah bersiap-siap. Dia sudah tidak sabar ingin segera mencari bunga itu. Nenek Rubiah mengingatkan bahwa hari masih terlalu petang. Keduanya menunggu hari agak terang. Setelah semburat atau cahaya merah dari langit timur tampak, keduanya berangkat ke hutan. Nenek Rubiah berpesan agar Bareno berhati-hati. Sampai di tengah hutan, matahari sudah memancarkan sinarnya. Udara segar menghembus dari sela-sela pepohonan. Dari jauh tampak air kebiru-biruan. "Itukah Telaga Biru yang diceritakan Nenek Rubiah," pikir Bareno. Dia jadi teringat apa yang pernah diceritakan oleh kakek pertapa. Ceritanya sama dengan yang diceritakan Nenek Rubiah.
"Bunga Cempaka Dewa, Telaga Biru, dijaga binatang
berbisa. Bukankah kata-kata itu pernah diucapkan kakek pertapa," pikir Bareno. Bareno menjadi sangat bersemangat. Dia berkata, "Bu,
izinkan saya memetik bunga itu. Saya sangat ingin
memiliknya, " katanya kepada Rubiah.
Nenek Rubiah terkejut mendengar permintaan Bareno. "Nak, itu sangat berbahaya. Katanya, engkau hanya akan
melihatnya. Jangan lakukan itu, Nak," jawab Rubiah penuh
kekhawatiran.
"Ibu tak usah khawatir. Saya dapat menjaga diri. Doakan saja agar saya selamat, Bu," kata Bareno meyakinkan Rubiah. Bareno sudah bertekad mendapatkan bunga itu. Dia segera mendekati Telaga Biru. Dari dalam telaga muncul seekor naga raksasa. Disusul kemudian buaya-buaya besar dan ganas. Berbagai binatang berbisalainnya pun bermunculan. Nenek Rubiah sangat ketakutan melihat itu. Dia disuruh Bareno untuk menjauhi tempat itu. Binatang-binatang itu bersiap menyerang Bareno. Mereka sudah diperintah dewa untuk menjaga bunga Cempaka Dewa. Tidak seorang pun boleh menyentuhnya. Gerakan binatang-binatang itu sungguh menakutkan. Air telaga menjadi bergemuruh. Naga raksasa dan buaya-buaya itu menggerak- gerakkan ekornya. Segala yang terkena sabetan ekor itu bertumbangan. Setelah melihat binatang-binatang yang begitu ganas itu, Bareno segera mempersiapkan diri. Dia lalu membaca mantranya. Dikenakannya gelang akar baharnya. Dia berdoa kepada sang Pencipta. Dia memohon keselamatan. Setelah selesai, dia pun lalu terjun ke dalam telaga itu. Di situ dia langsung disambut binatang penjaga bunga itu. Perkelahian antara Bareno dan binatang-binatang buas pun berlangsung seru. Orang yang melihat perkelahian itu tentu akan merasa gentar. "Binatang-binatang ini memang luar biasa. Saya harus berhati-hati," kata Bareno dalam hati. Dengan segala kemampuannya, Barenomulai membunuh lawan-lawannya. Binatang yang kecil-kecil dihabiskan dulu. Setelah itu, buaya dan naga dihadapinya. Jika tidak punya ilmu kebal, badan Barenomungkin sudah terkoyak. Sabetan ekor buaya sangat
keras. Namun, tak ada luka di tubuhnya. Sebaliknya, satu per satu buaya-buaya itu dibunuhnya. Dengan sekali pukul, buaya itu mati. Naga raksasa tinggal sendirian. Dia meliuk-liukkan tubuhnya. Mulutnya yang besar siap menerkam Bareno. Berkat kelincahannya, Bareno dapat menghindar. Bahkan, pada suatu kesempatan Bareno melepaskan pukulan mautnya. "He..naga, rasakan pukulan pamungkasku!" teriak Bareno sembari melesat di atas kepala naga. Sekali pukul naga itu pun roboh. Itulah kehebatan Bareno. Kehebatan yang diperoleh dengan kerja keras. Selain itu, dia selalu bersungguh-sungguh dalam berlatih. Tidak satu pun petuah gurunya diabaikan. Oleh karena itu, Bareno telah berhasil mengalahkan musuh yang sangat berat. Nenek Rubiah gembira dan heran. Dia sangat heran akan kehebatan Bareno. Belum ada orang yang berani mendekat telaga itu. Bareno justru turun ke dalam telaga. Semua binatang yang menjaga bunga itu mati terbunuh. Bareno ingat pesan kakek pertapa. Putri Talayang akan kembali kewujud semula jika bunga Cempaka Dewa dipetik dan dipatahkannya. Dia segera berenang ke tengah telaga. Dipetiknya bunga itu dan dipatahkanlah dahannya. Tidak beberapa lama kemudian muncul keajaiban. Bunga yang telah dipetikBareno mendadak berubah menjadi seorang gadis. Seorang gadis yang sangat rupawan. "Kanda Bareno!" kata Putri Talayang dengan girangnya. "Putri, akhirnya kita dipertemukan kembali, "jawab Bareno sambil menuntun Putri Talayang ke tepi telaga. Bareno sangat berbahagia. Putri pujaan telah kembali. Keduanya lalu ke tepi telaga. Di sana sudah menunggu Nenek Rubiah yang berdiri terheran-heran.
"Bu, perkenalkan ini Putri Talayang. Gadis inilah yang selama ini saya cari-cari," kata Bareno kepada Rubiah. Nenek Rubiah hanya manggut-manggut. Dia masih terkesima oleh keelokan rupa gadis itu. Dalam hatinya dia hanya berucap, "Memang mereka itu pasangan yang serasi. Semoga mereka hidup berbahagia." Setelah melepaskan lelah, Bareno mengajak Putri Talayang ke tempat ibunya. Nenek Rubiah pun diajaknya. Ketiganya lalu berangkat untuk menemui ibu Bareno. Di sebuah desa yang jauh dari keramaian, seorang ibu sedang menenteng kayu bakar. Rambutnya yang sudah memutih tidak mengurangikecantikannya.Meskipun sudah tua, orang itu masih kelihatan cantik. Kulitnya tampak putih bersih. Melihat orang tua itu, Bareno segera berlari mendekati. Dia berteriak, "Ibu, saya pulang, Bu. Bareno telah kembali, Bu." Bareno mendekati ibunya lalu memeluk erat-erat. Dia terisak-isak di pelukan ibunya. Ibunya pun tidak segera melepaskan pelukannya. Dia menangis terharu. Anak satu- satunya yang telah lama hilang telah kembali. Wanita tua itu ternyata ibu Bareno. Putri Talayang dan Nenek Rubiah terharu melihat adegan itu. Mereka tidak kuasa menahan air matanya. Keduanya ikut menangis. Nenek Rubiah menggumam, "Oh.. ibu yang beruntung. Alangkah beruntungnya ibu yang melahirkan Bareno. Pemuda yang saleh dan berbudi luhur." Barenosegera tersadar. Diperkenalkannya kedua wanita yang bersamanya itu kepada ibunya. Ibu Bareno merasa sangat senang. Dia akan mempunyai menantu secantik Putri Talayang. Dia juga akan mempunyai teman sebaya, yaitu
Nenek Rubiah. Mereka lalu dipersilakan masuk ke rumah. Ibu Bareno menyiapkan makan malam untuk mereka. Pada malam harinya, ibu Bareno banyak bercerita tentang kisahnya. Kisah itu dimulai dari negerinya yang dikutuk dewa dan suaminya yang meninggal. Kisah Bareno waktu kecil pun
diceritakannya. Suasana malam itu benar-benar menyenang-
kan. Tidak pernah di rumah itu seramai malam itu. Rupanya, yang menarik perhatian Putri Talayang adalah kisah negeri yang dikutuk dewa. Dengan kelebihan yang dimilikinya, dia mencoba mengembalikan ke ujud aslinya. Dia mempunyai kemampuan karena dia seorang putri dari langit. Setelah membaca mantra dan doa, dia memohon kepada dewata. Dia meminta supaya tempat itu dikembalikan ke ujud aslinya. Seluruh dewa di langit mendengar permohonan Putri. Seketika rumah ituberubah menjadi istana yang amat indah. Hutan-hutan di sekitarnya berubah menjadi rumah tinggal penduduk negeri itu. Semua binatang penghuni hutan berubah menjadi manusia. Kutukan dewa yang berlangsung beberapa tahun itu telah berakhir. "Kanda Bareno, sekarang negeri ini milik Kanda. Kami semua akan mendukung Kanda. Kandalah yang berhak me- mimpinnya," kata Putri Talayang memohon kepada Bareno. Bareno tidak berhak memutuskan sendiri. Dia harus meminta persetujuan seluruh rakyatnya karena negeri ini memang milik rakyat. "Putri, Bunda sangat berterima kasih. Jika tidak ada Putri mungkin negeri ini tetap menjadi hutan," kata ibu Bareno kapada Putri Talayang. "Bunda, yang hamba lakukan hanya kewajiban. Dulu saya ditolong Kanda Bareno, sekarang negeri ini memerlukan
pertolongan. Kebetulan saya dapat melakukannya, "jawab Putri Talayang merendah. Atas kesepakatan seluruh rakyat, Bareno diangkat menjadi raja di Negeri Antah Berantah itu. Dia bergelar Sultan Bareno. Rakyat merayakan pengangkatan Bareno itu dengan suka cita. Negeri itu menjadi aman damai. Rakyat yang adil dan makmur dapat dicapainya. Tidak ada warga yang kelaparan. Semua papan dicukupi, semua sandang dipenuhi. Ibu Bareno dan Nenek Rubiah turut merasakan kebaha- giaan rakyat negerinya. Terlebih-lebih Sultan Bareno, dia sangat bahagia. Dia sudah mendapatkan apa yang selama ini dicita-citakan. Putri Talayang pun tidak kalah bahagianya. Dia sudah bertemu dengan orang yang dikasihinya. Pada suatu waktu, Bareno mengatakan kisah perjalanan- nya. Dia mengembara mencari Putri Talayang. Dalam pengembaraannya, dia sampai di suatu negeri di tanah Jawa. Negeri Mendang Kemulan tempat dia singgah. Di sana dia sudah beristri. Semua kisah suka dukanya diceritakan. Putri Talayang mendengarkan dengan sabar. Bahkan, dia menyuruh Sultan Bareno untuk menjemputnya. Sultan Bareno segera menjemput istri pertamanya, Kamala Neli. Kamala Neli ternyata telah melahirkan. Anaknya kembar, satu laki-laki, sedangkan satunya lagi perempuan. Sesuai dengan pesan Bareno, kedua anak itu dinamai Mahadewa dan Maharani. Mahadewa mirip dengan ayahnya, Bareno. Maharani mirip dengan Kamala Neli, ibunya. Mereka lalu berangkat ke negeri tempat Sultan Bareno bertahta. Di sana rupanya mereka telah ditunggu oleh keluarga istana. Putri Talayang, ibu Bareno, Nenek Rubiah, serta seluruh rakyat telah menantinya. Mereka sangat bahagia
melihat Sultan Bareno menggendong dua anak kecil. Di belakangnya berjalan mengiringi seorang wanita cantik. Bareno memperkenalkannya kepada mereka. "Bunda, ini Putri Kamala Neli. Inilah istri pertamaku yang bertahta di Negeri Mendang Kemulan. Kami sudah dikaruniai dua anak kembar. Inilah mereka, Bunda," kata Bareno kepada ibunya. Mereka yang berkumpul di situ turut berbahagia. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Putri Talayang tak lupa memperkenalkan dirinya. "Kanda Putri, perkenalkan saya istri kedua Kanda Sultan," katanya memperkenalkan diri. Putri Talayang sama sekali tidak merasa cemburu. Dia juga sangat mencintai kedua anak tirinya. Bahkan, dia menggendong salah satu anak tirinya itu. "Nanda, siapa namamu, Nak," tanyanya kepada anak tirinya yang laki-laki. Dia mengelus-elus dengan penuh kasih sayang. Si anak pun merasa seperti berada dipelukan ibunya sendiri. "Namaku Mahadewa, Bunda," jawab anak kecil itu. Alangkah bahagianya Putri Talayang dirinya dipanggil bunda. Tak henti-hentinya dia membelainya. Putri Kamala Neli tersenyum senang. Wanita yang menjadi madunya itu ternyata berhati mulia. Dia menganggap Talayang sebagai adik. Sebaliknya, Putri Talayang pun menganggap Kamala Neli seperti kakaknya. "Ternyata apa yang dikatakan Kanda Sultan benar. Istri keduanya memang wanita yang berbudi luhur. Dia amat menyayangi anak-anakku," bisiknya dalam hati. Begitulah kehidupan mereka sangat rukun. Dengan rasa
cinta kasih, mereka bersama-sama membangun Negeri Antah Berantah. Negeri itu dulunya memang menyimpan banyak kenangan. Bareno dilahirkan di tempat itu. Dia dibesarkan oleh ibunya di tempat itu juga. Negeri yang dulu pernah menerima kutukan dewa kini telah kembali seperti semula. Negeri itu menjelma menjadi sebuah negeri yang sangat makmur. "Kanda Putri, kita sekarang telah berkumpul. Kita bersama-sama membantu Kanda Sultan memajukan negeri ini. Bukankah Kanda Putri telah berpengalaman memimpin negeri?" kata Putri Talayang kepada Kamala Neli. "Benar Dinda, sekarang kita harus mendukung Kanda Sultan," jawab Kamala Neli. Sultan Bareno sangat bangga terhadap kedua istrinya. Mereka sangat rukun. Tak ada sedikit pun rasa cemburu di antara mereka. Meskipun demikian, Bareno juga bersikap adil terhadap mereka. Rakyat Negeri Antah Berantah pun mencintai mereka. Kedua anak Putri Kamala Neli pun dianggap sebagai putra mahkota negerinya. Ibunda Sultan Bareno tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Dia bersyukur karena anaknya telah kembali bersama negerinya yang hilang. "Kini Bareno telah menjadi raja di negerinya sendiri," bisiknya penuh suka cita. Walaupun usianya sudah tua, dia masih sering memberi nasihat. Nasihat yang utama ditujukan kepada rakyatnya. "Kita harus menjaga negeri ini agar dapat dinikmati oleh anak cucu kita," ujarnya. Maju mundurnya suatu negeri ditentukan oleh rakyat negeri itu sendiri. Rakyat negeri itu sangat mencintai
negerinya. Mereka menjaganya, memeliharanya, dan memaju- kannya. Tidak mengherankan apabila negeri itu berkembang pesat. Sultan Bareno beserta negerinya menjadi harum nama- nya. Semuanya itu berkat persatuan, kesetiaan, dan kerja keras, seperti yang telah ditunjukkan oleh Bareno.
URUTAN
Sulian Bareno bersendau gurau dengan kedua anaknya. Di sampingnya tampak kedua istrinya, ibunya dan Rubiah. Mereka tampak berbahagia. PERPUSTAKAAN PUSATPEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN