TIDAK DIPERDAGANGKAN UNTUK UMUM
KISAH I KUKANG
Direktorat dayaan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
AOD:3282/Fa.1/142. 015 81d.301 TIDAK DIPERDAGANGKAN UNTUK UMUM NAF
KISAH I KUKANG
Diceritakan kembali oleh: Martin
KEBUGOYAAN
UNHIRUDA1AN EREDSSAAN
22-12-99
22-12-99 362/99
398.909.598. MAR 4
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta
PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH-JAKARTA TAHUN 1991/1992 DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
Pemimpin Proyek : Dr. Nafron Hasjim Bendahara Proyek : Suwanda Sekretaris Proyek : Drs. Farid Hadi Staf Proyek : Ciptodigiyarto Sujatmo Warno
45/763
大.
2012.92.
ISBN 979 459 235 8
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.
ii
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
Usaha pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian seperti itu bukan hanya akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia, melainkan juga akan memperluas wawasan sastra dan budaya masyarakatnya. Dengan kata lain, upaya yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan dapat digunakannya sastra daerah sebagai salah satu alat bantu untuk mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan. Sehubungan dengan itu, sangat tepat kiranya usaha Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah dalam menerbitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita yang dapat mem- bangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai, jiwa, dan semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh anak agar mereka dapat menjadikan kesemuanya itu sebagai sesuatu yang patut diteladani. Buku Kisah I Kukang ini bersumber pada buku terbitan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen
iii
Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1986, yang berjudul Kisah I Kukang, berbahasa Makassar, karangan A. Gani. Kepada Dr. Nafron Hasjim, Pemimpin Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah tahun 1991/1992, beserta staf- nya (Drs. Farid Hadi, Suwanda, Ciptodigiyarto, Sujatmo, dan Warno) saya ucapkan terima kasih atas penyiapan naskah buku ini.
Ucapan terima kasih saya tujukan pula kepada Dra. Udiati
Widiastuti, sebagai penyunting dan Sdr. Didi Kurnia sebagai ilustrator buku ini.
Hasan Alwi Jakarta, Maret 1992
iv
DAFTAR ISI
iii KATA PENGANTAR.. DAFTAR ISI
- I Kukang Anak Yatim.......1
- I Kukang Menjadi Anak Angkat 26
- I Kukang Hidup Mandi.. … 57
- I Kukang Mendapat Coban..
I Kukang Sukses Kembali …. 96
VI KUKANG ANAK YATIM
Orang-orang sekampung menamainya I Kukang. Dalam bahasa Makassar I Kukang berarti 'Si Yatim'. Memang I Kukang anak yatim, tiada beribu dan berayah lagi. Ketika dia masih kecil, ayah bundanya yang baik budi telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. I Kukang hidup tanpa sanak keluarga. Pekerjaannya setiap hari membantu orang-orang kampung yang memer- lukan tenaganya. Pakaiannya pun sudah compang-cam- ping, kumal, dan tidak lagi cerah warnanya. Untuk memperoleh sesuap nasi, dia dengan hati yang jujur membantu orang mengangkat air, membuang sam- pah, atau membersihkan halaman rumah. Sebagai upahnya, orang memberinya sepotong kue atau sedikit uang. Jika malam mulai tiba, dia kembali ke makam orang tuanya yang dikubur berdampingan. Di sanalah dia tidur. Sekali-sekali dibersihkan dan ditanaminya bunga-bunga di pinggir makam itu. Pada suatu malam, tiba-tiba hujan turun dengan le- batnya. Angin bertiup kencang menggoncangkan pohon-
Sebuah rumah di perkampungan dengan pekarangan yang luas.
I Kukang sedang menyapu pekarangan itu
pohon di sekitar makam dan perkampungan. I Kukang terbangun dari tidurnya karena air hujan mulai memba- sahi tempat itu. Dicarinya tempat berteduh, tetapi di sekitarmakam itu tidak ada sebuah gubuk jua untuk se- kedar tempat berteduh. Maka, dengan cepat digalinya sebuah lubang dan dimasukkannya pakaiannya yang hanya sepotong ke dalam lubang itu. "Biarlah aku hanya memakai celana dalam, asalkan pakaianku yang tinggal sepotong ini tidak basah kena hujan," pikirnya. Dingin- nya air hujan dan hembusan angin malam membuat dia menggigil. Sambil duduk berlutut dan bersandar pada batu nisan, pikirannya kembali menerawang jauh sampai ke masa-màsa ketika orang tuanya masih hidup. Dia membayangkan anak tetangga yang tidur dengan damai bersama orang tuanya. "Oh, malang sekali nasibku kini," desahnya di sela-sela giginya yang gemeletuk karena kedinginan. Ketika menjelang pagi, hujan mulai reda. Sang surya terbit dengan cerahnya untuk menghapus hujan yang tinggal rintik-tintik. I Kukang bangun, lalu mengemasi pakaiannya. Sesudah mandi di kali, dia pergi ke pasar untuk mencari makan karena perutnya sangat lapar. "Berapakah harga kue ini sepotong, Bu?" tanya I Kukang dengan wajah yang memelas ketika sampai di pasar. "O, itu hanya dua sen, Nak!" jawab Ibu pemilik warung-yang terletak di sudut pasar. "Kalau begitu, berilah saya sepotong dan teh manis satu cangkir." kata I Kukang sambil menyodorkan uang tiga sen. Ibu pemilik warung menerimanya sambil mela- yani permintaan I Kukang.
I Kukang makan dengan lahap. Tanpa sepengetahuan- nya, ibu pemilik warung itu memperhatikan I Kukang dan berkata dalam hati, "Siapa gerangan anak ini, tingkah
laku dan bicaranya sangat sopan."
I Kukang kembali ke makam orang tuanya setelah selesai makan. Sambil berjalan dia berkata dalam hati, "Kalau hujan turun lagi, akan kedinginan lagilah saya." Maka, pergilah I Kukang ke tengah hutan mencari kayu, rotan, dan daun rumbia. Dia ingin membuat gubuk di atas makam orang tuanya sehingga kalaupun hari hujan dan panas tengah hari, dia dapat bernaung. Sudah agak jauh ke tengah hutan dia berjalan. Keri- ngatnya bercucuran dan kakinya mulai penat melangkah. Di sebuah pohon yang agak rimbun dia berhenti melepas- kan lelah. Duduk termenung dengan mata memandang kosong. Dalam keadaan demikian, timbul perasaan sedih yang tak tertahan mengenang kasih sayang, kebaikan, kesabaran, dan ketulusan hati orang tuanya semasa masih hidup. Tanpa disadari, air mata I Kukang mulai memba- sahi pipinya. "Sungguh senang orang yang sebaya aku, tetapi masih memiliki orang tua," katanya pada diri sendiri. Tiba-tiba dia tersentak dari lamunannya. Suara burung-burung riuh, saling berkejaran. Ada pula yang berebut
memakan buah-buahan pada sebatang pohon besar yang
tidak berapa jauh dari tempat duduk I Kukang. Dia memperhatikan burung itu dengan seksama. Pohon itu berbuahbanyak.Dan, di sekitarnya masih banyak pohon yang berbuah seperti itu. Sambil mengamati, dalam hati dia berkata, "Mungkin buahini dapat dimakan." Akan tetapi, timbul keraguan-
nya karena dia belum pernah melihat dan memakan buah itu. I kukang berpikir-pikir lagi. Kemudian teringat dia bahwa burung-burung di atas juga memakannya. "Ini pasti buah yang dapat dimakan dan tidak mengandung
racun. Buktinya burung-burung itu tidak mati." pikirnya.
Dengan penuh keyakinan, dia mengambil buah yang jatuh di tanah, lalu dimakannya. Dirasakannya buah itu, agak sepat kulitnya, tetapi isinya sangat manis. Pada saat itu legalah hatinya. "Apabila buah ini biasa dimakan orang, saya akan menjualnya ke pasar," bisiknya lagi. Saya akan mendapat uang dan tidak terlalu susah lagi membeli makanan. Sesudah itu, bergegaslah dia mencari kayu, rotan, dan daun rumbia untuk membuat gubuk tempat tinggalnya di makam. Tidak lupa di- bawanya beberapa buah-buahan untuk diperlihatkan kepada orang di pasar. Jalannya semakin gagah karena harapannya dapat menjual buah-buahan. Hatinya pun sangat senang. Dengan bernyanyi-nyanyi kecil, dia memikul barang-barang cariannya menuju ke makam. Ketika matahari mulai me- mancarkan sinar kemerah-merahan di ufuk barat, sam- pailah dia di makam orang tuanya. Begitu meletihkan perjalanannya, dari tengah hutan sampai ke makam, se- hingga I Kukang tertidur dengan nyenyak. Pagi-pagi I Kukang berjalan ke pasar. Tangannya menenteng sekeranjang kecil buah-buahan. Buah-buahan iîu akan diperlihatkannya kepada para pedagang dan dijualnya jika ada orang yang mau. Seorang pedagang dari jauh sudah memperhatikan I Kukang. Pedagang itu tahu bahwa buah yangdibawa
I Kukang tertidur di tengah-tengah kuburan orang tuanya.
Di sampingnya terletak kayu, rotan, dan dau rumbia yang
dibawanya dari hutan
I Kukang bagus dan enak rasanya. Buah seperti itu agak sukar didapat jika tidak pada musimnya. Sewaktu I Kukang lewat, dengan ramah pedagang itu bertanya, "Hendak engkau bawa ke mana buah itu, Nak?." I Kukang menjawab dengan suara yang agak bergetar, "Pak, buah ini akan saya perlihatkan kepada orang. Jika ada yang mau, buah ini akan saya jual." "Oh, sini, Nak, sini!" katanya lagi dengan wajah tersenyum. I Kukang berhenti dan memperlihatkan buah yang dibawanya. Pedagang-pedagang yang laīn juga mulai berdatangan ingin melihat. Salah seorang pedagang dengan agak keras menarik keranjang yang dipegang I Kukang. "Biar aku yang mémbelinya,"katanya. Seorang lagi juga ingin membelinya dan ditariknya juga keranjang buah itu sehingga ter- jadi rebutan. Ketika 'melihat keadaan itu, I Kukang berkata, "Bapak-bapak janganlah berebutan. Saya minta maaf karena buah ini akan saya jual kepada Bapak itu (pedagang yang pertama kali memanggilnya)." Pedagang yang pertama itu memang terlihat tenang saja, tetapi tetap mengawasi I Kukang. Dia mengetahui tabiat teman-temannya sesama pedagang yang selalu ber- laku kurang sopan. Kadang-kadang bertindak curang karena ingin membeli buah dengan harga murah. Akan tetapi, pedagang yang pertama tadi membelinya dengan harga yang pantas. "Terima kasih, Pak." kata I Kukang, "Saya permisi dulu." Betapa gembira hatinya mendapat uang dari hasil jualannya. "Terima kasih kembali, Nak!" jawab Bapak itu. "Dan, kalau masih ada, bawalah kemari. Saya akan mem-
borongnya," katanya lagi. "Baik, Pak!" jawab I Kukang sambil berjalan mening- galkan pasar buah yang ramai itu. Demikianlah setiap hari I Kukang pergi ke tengah hutan mengambil buah-buahan. Tempat itu hanya dia yang tahu. Kadang-kadang sampai dua kali dalam sehari dia harus pergi ke hutan karena belum sampai ke pasar, buah-buahannya telah dibeli orang-orang kampung. Namun, pedagang pelanggannya di pasar tidak pernah dikecewakannya. Setiap hari paling tidak satu keranjang disiapkannya untuk bapak itu. Pedagang yang baik hati itu semakin senang berlang- ganan buah I Kukang. Demikian juga sebaliknya, I Kukang dengan hati yang ikhlas dan jujur selalu mem- bawakan buah-buahan kepadanya. Pada saat itu hari masih pagi. I Kukang berangkat lagi mencari buah-buahan, lalu diantarkannya kepada pedagang pelanggannya. Pedagang yang pemurah itu bernama IMallang. Dia merasa senang dengan kebaikan dan kesopanan I Kukang. Ketika I Kukang sampai di pasar, I Mallang sedang berbincang-bincang dengan I Mannyang,saudara kandung I Mallang. Dengan sedikit menundukkan kepala untuk memberi hormat I Kukang berkata, "Pak, ini buah-buahansaya." "Ya, bawa kemari, Nak. Wah, hari ini buah yang engkau bawa lebih bagus-bagus. Engkau memang anak yang pandai." kata I Mallang sambil mengusap-usap kepala I Kukang seperti anaknya sendiri. Setelah pedagang itu memberi uang, I Kukang pulang dengan tidak lupa mengucapkan terima kasih dan permisi. I Kukang memang selalu diperlakukan I Mallang seperti
anaknya sendiri, sedangkan I Kukang pun selalu berusaha mencarikan buah untuknya. Rupanya I Mannyang sejak tadi memperhatikan I Kukang.
Tidak berapa lama, kemudian I Mannyang bertanya
kepada saudaranya, "Apa yang dibawa anak itu?"
"Buah-buahan. Anak itu pelanggan saya yang
sangat baik. Dia suka membantu saya dan sudah banyak
uang yang diperolehnya dari hasil menjual buah." kata
I Mallang menjelaskan. Kemudian I Mannyang bertanya lagi, "Engkau tahu siapa anak itu?" Namanya I Kukang. Selain itu, aku tidak tahu, "sahut
I Mallang.
"Tampaknya dia adalah anak sahabat karib saya. Wajahnya mirip ayahnya. Lagi pula, dia mempunyai ciri- ciri yang sama, dengan ayahnya, yaitu belang di dadanya
dan tahi lalat di kening." kata I Mannyang.
Bertanyalah I Mallang selanjutnya, "Bagaimana
engkau kenal orang tuanya?"
Mulailah I Mannyang menceritakan ayah I Kukang.
"Orang tuanya adalah bangsa Hindi. Saya yang meng-
ajarinya berbahasa Makassar. Ketika pertama kali datang, dia masih belum lancar berbicara bahasa Makassar. Orangnya sangat baik, pintar, dan jujur. Sayang, ketika dia meninggal, saya tidak berada di sini. Hanya kabar berita yang kudengar setelah tiba dari pelayaran," kata
I Mannyang.
"Lalu bagaimana pula persahabatanmu dengan ayah I Kukang itu?" tanya I Mallang dengan tak sabar. Dijawab I Mannyang, "Ketika ayahnya masih hidup, kami seperti saudara kandung. Sama-sama berkelana ke
sana kemari. Sependeritaan dalam merasakan pahit getirnya perdagangan. Hanya suratan nasibnya yang ku- rang baik sehingga kehidupannya sangat sederhana." "Ke mana saja engkau pernah berlayar bersamanya?" sambung I Mallang lagi. "Begini," kata I Mannyang sambil memegang dahinya mengingat-ingat peristiwa dahulu. "Ayah I Kukang itu bernama I Darasi. Kami pernah berlayar bersama ke Bali. Tujuan kami pada saat itu adalah menagih utang di sana. Tetapi, waktu berlayar, kami lupa membawa bekal makanan sehingga kelaparan
di tengah jalan."
Lalu, aku bertanya kepada I Darasi, "Bagaimana ini, kita tidak mempunyai kenalan di sini. Hari sudah ma- lam, sementara perutku sangat lapar?" Ayah I Kukang memalingkan mukanya ke arahku dan berkata, "Jangan cemas, mari kita singgah di rumah orang Bali itu." Setelah tiba di sana, kami dipersilakan masuk ke
rumah. Kami diambilkan tikar untuk tempat duduk. Kemudian, tuan rumah mulai bertanya, "Dari manakah asal kalian sehingga berada di sini?" Ayah I Kukang pun menyahut dalam bahasa Bali,
"Kami adalah pedagang," jawabnya dengan gaya seorang
musafir memanfaatkan waktu. Hajat kunjungan kami ke sini penuh dengan harapan. Seseorang memberi tahu kami
bahwa konon ada sebuah cerita lama yang mempunyai
hubungan dengan kisah Ratu Pajajaran di Jawa. Cerita itu bukan main bagusnya. Tuan rumah agaknya sangat tertarik mendengar celoteh I Darasi. Setelah itu, kata tuan rumah, "Apa kira-kira
nama cerita itu karena setiap cerita pasti ada namanya?" "Saya juga kurang mengetahui namanya, tetapi saya masih ingat bahwa cerita itu menghisahkan binatang," kata ayah I Kukang. Tuan rumahselanjutnya bertanya, "Dapatkah Bapak ceritakan sebagian cerita itu; saya ingin mendengarkan- nya." I Darasi mulai bercerita dengan wajah yang sungguh- sungguh. "Adalah seekor burung Alo bersahabat karib dengan seekor burung Cibang. Burung Cibang itu mempunyai teman lagi, namanya burung Pote. Pada suatu hari da- tanglah seekor burung Kala (gagak) mengajak pergi ke sebatang pohonrindanguntukbermain-main. Karena sedang musim buah, pohon-pohon berbuah sangat lebat. Sambil bercanda ria burung Alo berkata kepada burung Cibang, "Coba suruh burung Pote itu berdongeng, mungkin dia mau!" Hatta, berdongenglah burung Pote. "Sebuah kampung yang sangat indah permai dikelilingi pepohonan yang berjajar rapi sepanjang jalan sampai ke perbatasan. Di depan setiap rumah ditanami bunga-bunga yang indah dan berwarna-warni, di belakang dan sekitarnya tumbuh pohon buah-buahanyang rindang. Tiba-tiba saja datang seorang penggergaji kayu me- minta buah-buahan di kampung itu. Akan tetapi, seluruh tuan tanah di kampung melarang. "Buah di kampung ini tidak boleh diambil karena raja yang empunya," kata mereka. Penggergaji itu berkata lagi, "Tidak banyak yang saya inginkan, hanya dua atau tiga buah cukuplah."
Tuan tanah menjawab, "Biar seberapa pun tidak akan kami beri!" Dengan hati yang kesal, berpalinglah penggergaji itu, diam seribu kata, dan pergi tanpa berpamitan. Esok harinya apa yang terjadi. Tuan tanah sangat terkejut bukan kepalang. Dilihatnya semua daun pohon menjadi layu, buahnya jatuh berguguran. Dia tidak habis- habisnya berpikir mengapa jadi demikian. Hatinya kesal bercampur menyesal dansambil bergumam, "Mungkin penggergaji yang meminta kemarin menyebabkan pohon-pohon layu dan buahnya berguguran. Burung gagak yang mengajak mereka tadi sibuk melayaninya dengan memberi buah-buahan. Matanya melotot melihat burung Pote berdongeng. I Darasi pun selesai bercerita. Begitulah kelakuan dan siasat IDarasi untuk me- mancing tuan rumah orang Bali. Sebagian cerita itu belum habis, tetapi kue-kue telah dihidangkan ke hadapan kami. Oleh karena itu, kenyanglah perut saya dan I Darasi yang sejak pagi menahan lapar. Tuan rumah orang Bali itu berpesan, "Kalau lusa Bapak kembali, singgahlah ke rumah untuk menyambung cerita ini. Saya baru mendengar sebahagian, tetapi cerita itu sudah sangat menarik," katanya.
I Mallang mendengar cerita I Mannyang dengan meng-
angguk-anggukkan kepala. Tetapi, dia belum puas dan belum percaya betul kalau I Mannyang dan I Darasi ber- sahabat karib dalam perdagangan. Dalam hatinya ia memuji kepandaian I Darasi mengatasi masalah kelaparan di negeri orang. Berikutnya, I Mallang bertanya lagi, "Di mana engkau
pernah kandas dalam pelayaran bersáma I Darasi?" Berceritalah juga I Mannyang untuk mempercayakan saudaranya. I Mallang. "Pada waktu itu musim panen padi, sekitar lima belas tahun yang lalu. Kami berlayar kembali ke Bali untuk memuat beras. Perahu yang kami gunakan bernama Lamberek Pangngante. Kami terlalu tamak ketika itu, memuat beras terlalu sarat sehingga perahu hampir tenggelam. Muatan sebanyak itu kami bawa bukan karena serakah sebenarnya, melainkan karena kami tidak mau disaingi saudagar yang lain." Belum jauh berlayar dari pelabuhan Bali, angin topan dan gulungan ombak besar datang menghantam perahu. Hanya pada hari mulai berangkat, kami dapat saling bertemu dengan saudagar lain. Sesudah itu, tidak pernah lagi. Selama dua hari dua malam di tengah lautan, tak sebuahpun perahu kelihatan. Sementara itu keadaan
perahu kami sangat mengkhawatirkan. Kemudi sudah patah, layar sudah robek. Dengan keadaan demikian,
perahu berjalan tanpa arah dan hampir karam. Tak ubahnya bagaikan burungterbang yang patah sayapnya. Perut lapar ditahan. Kesempatan memasak nasi tidak terlakukan, karena arus gelombang dan tiupan angin kencang.
"Wah, situasi dalam keadaan berbahaya jika demikian,"
kata I Mallang. "Jadikah perahu kalian karam? Dapatkah kalian mengatasinya?"lanjut I Mallang dengan wajah yang agak ragu.
"Ya, tentunya dapat teratasi. Kalau tidak, bagaimana
mungkin saya masih selamat dan sehat seperti ini," kata I Mannyang sambil tertawa lebar.
"Bagaimana seterusnya?" tanya I Mallang tak sabar.
"Nasib kami masih mujur," katanya. "Menjelang matahari terbenam, tampak dari kejauhan
sebuah benda hitam seperti tempurung tertelungkup, te- tapi belum diketahui secara pasti apa gerangan benda itu.
Hati kami mulai rusak, jangan-jangan benda itu punggung
seekor ikan hiu. Kalau itu ikan hiu, tamatlah riwayat kita," bisikkukepada ayah I Kukang.
"Astaga, benarkah ituikan hiu yang sangat besar?"
kata I Mallangdengan wajah tegang.
"Tenang, tenang,"I Mannyang secepatnya menimpali.
"Setelah perahu mendekat dibawa gelombang, barulah jelas terlihat bahwa benda itu adalah pulau, bukan ikan hiu yang mengerikan. Semakin dekat semakin terdengar hempasan ombak ke tepi pantai. Akhirnya, perahu kandas ke tepi, rusaknya juga semakin parah, dan barang-barang bawaan terhambur ke lautan. Kami pun ikut terdampar dengan tenaga yang hampir habis. Selanjutnya, baru diketahui bahwa pulau itu adalah Pulau Marasendek. Malam pun sudah larut. Kami beristirahat di pulau itu. Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa saat itu karena kami tetap dilindungi-Nya. Angin dan gelombang yang berpukul-pukulan masih bergelora sehingga kami harus menunggu dan bermalam pada malam berikutnya. Besoknya, kami turunkan sebuah sampan. Ke dalam sampan itu dimasukkan semua barang-barang yang masih tersisa untuk dibawa ke sebuah pulau karang. Pulau karang itu terletak agak jauh dari Pulau Merasendek tempat kami terdampar. Dari Pulau Karang itu, maksud kami seterusnya menuju arah Pulau Marasedeng.
"Mengapa harus pergi ke pulau Marasedeng?" tanya I Mallang, "Apakah di sana ramai orang berdagang?" "Tidak," jawab I Mannyang. Di dalam pikiran kami, di sanalah kami menunggu perahu lain yang mungkin lewat. Jika ada, perahu itu akan dipanggil untuk datang menolong kami. Selain itu, di pulau itu kami dapat beristirahat lebih aman dari ancamian puting beliung. Itulah sebabnya kami membuat rakit dari sisa-sisa perahu yang hancur. Setelah rakit selesai, sampan yang diturunkan sebelumnya diangkat ke atas rakit dan dijadikan sebagai sayapnya. Kemudian, diikat kuat-kuat agar tidak terlepas diterpa badai. Di situlah barang-barang yang masih bisa dibawa kami simpan. Tiga buah tiang layar juga dipasang sebagai alat peren- tang kain layar. Kalau layar ditiup angin, bergeraklah rakit sesuai dengan kemudi tujuan. Seluruh pekerjaan telah selesai, lalu naiklah kami untuk memulai lagi ber- layar menuju Pulau Marasedeng itu. "Tetapi,.. ." kata I Mannyang sambil sejenak berhenti berbicara. "Tetapi, apa.. .?" dengan cepat I Mallang bertanya. "Baru beberapa mil kami bergerak dari pantai, badai angin datang menghadang lajunya perjalanan rakit," kata I Mannyang sambil menghembuskan napas panjang. "Malang rupanya belum berakhir bagi kalian," sam- bung I Mallang. "Ya, begitulah," kata I Mannyang. "Rakit seolah-olah berputar-putar, bergerak tanpa terkendalikan. Kami sadari bahwa rakit saat itu mirip dengan ubur-ubur atau sampah yang hanyut. Semuanya hanya arus dan angin yang patut
diikuti. Seperti yang tertulis dalam sebuah syair nyanyian Makassar: Gosseya lonna mammanyuk Niyak gusung narampei Ikatte iya Arusukkaji kipinawang. Artinya: Rumput laut jika hanyut Ada pulau tempat terdampar Akan tetapi, kita Arus jualah yang diikuti. Penderitaan kami semakin lama semakin berat. Mulai dari pelabuhan di Bali sampai dengan terdampar di Pulau Marasendek belumlah seberapa sakitnya. Lapar dua hari dua malam tidak menjadi bebanyang terlalu berat. Akan tetapi, setelah berada diatas rakit, hanya Tuhan Yang Maha Pengasih yang mengetahui nyawa dan raga kami. Angin sajalahyang kami turuti, arus gelombang yang kami ikuti, ke mana rakit hanyut ke situ badan dan jiwa kami." "Cek, cek, cek .." suara keluar dari mulut I Mallang. "Seterusnya,.. ." kata I Mannyang. Keadaan terombang-ambing seperti itu berlangsung selama empat belas hari empat belas malam. Kami tidak makan nasi, tidak minum air tawar, dan tidak pula makan sirih. Demikian juga kami tidak lagi mengenal mana arah barat, yang mana arah timur, mana selatan, dan utara. Hanya matahari pada siang hari dan bintang pada malam hari yang dapat dijadikan kompas atau pedoman dalam melihat arah. Namun, arah tujuan bukan sedikit pun sekehendak kami. Kami bagaikan sampah terapung.
Sebuah perahu terombang-ambing di tengah laut luas
Gelombang dan badai mengamuk menerpa perahu
Ayah I Kukang dan I Mannyang berdiri di geladak
Apabila hari panas, tersengatlah kulit kami; masanya hujan turun, basah kuyuplah sekujur tubuh kami. Jangan harap dapat memejamkan mata barang dua tiga menit, kalau tidak mau jiwa dan raga lenyap seketika ditelan gelombang. Tidak lebih dari tiga kali saja kami menemukan makanan selama sekian hari itu. Lepas dari makanan ketiga, air lautlah yang direguk," cerita I Mannyang sejenak ber- henti.
"Makanan apa yang tiga kali itu?" tanya I Mallang
terus mendesak agar cepat diceritakan. I Mallang heran mengapa di tengah lautan dapat menemukan makanan. "Mula-mula.. .," kata I Mannyang, "kami menemukan telur ikan terbang. Telur ikan itu melekat pada rumput laut yang hanyut terbawa ombak. Telur itu dibagi-bagikan sedikit demi sedikit." "Cobalah engkau bayangkan,"kata I Mannyang kepada I Mallang "Telur ikan seperti itu harus dibagi-bagi ter- hadap tiga orang awak perahu kami dan ditambah lagi seorang Cina yang sudah ikut sejak dari Bali."
"Hm, paling-paling hanya menjadi tahi gigi," kata I Mallang.
"Demi persahabatanm senasib sepenanggungan, kami tidak memakan telur itu berdua saja. Dibagi rata, semuanya mendapat bagian,"I Mannyang menjelaskan. Yang kedua, kami mendapat seekor burung camar. Burung camar itu secara kebetulan hinggapdi kepala I Darasi. Dengan cepat dan sigapnya ayah I Kukang me- nangkapnya. Itu pulalah yang kami perebutkan, kami potong-potong bersama-sama. Kelaparan yang telah lama menyerang menjadikan
kami orang buas. Burungmasih bergerak-gerak, tetapi sudah digigiti. Jangankan dicuci, bulunya punbelum habis dicabuti, tetapi burung itu sudah kami kunyah. Akhirnya, habislah burung itu dimakanbersama bulu- bulunya. Yang ketiga, setelah kami hampir terdampar di tanah Mandar, terapung-apung sebuah kelapa muda yang sudah terbelah. Mungkin kelapa ini merupakan sajian istimewa bagi orang-orang hanyut. Itulah yang kami bagi-bagi lagi, dagingnya kami kunyah-kunyah dengan lahapnya, sampai-sampai batok kelapa yang masih muda itu pun tidak ada yang tersisa. Setelahtiga macam makanan itu, benda apa pun tak ada yang singgah ke perut kami. Tiga orang awak perahu menceburkan diri ke laut karena lapar dan lemas. Semen- tara kami yang tertinggal di rakit diam sambil berpegang erat pada tiang layar. Kami tidur dalam keadaan duduk. Berpeluk lutut untuk mengganjal perihnya perut menahan lapar. Ada yang mengigau minta kapur sirih; mengigau ingin makan; dan ada yang minta kopi. Masing-masing mengigau sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan di rumah atau negeri yang dikunjungi. Yah, sudah dulu,
besok kita sambung. Saya sudah capai," kata I Mannyang
mengakhiri cerita. "Ya, aku akan menunggumu di sini," kata I Mallang.
Esok harinya I Mallang sudah duduk di warungnya
dengan dagangan bermacam-macam buah. Lalu lalang orang di pasar buah itu tidak terlalu dihiraukannya. Hati- nya telah tertambat pada cerita I Mannyang. Satu dua orang pembeli dilayaninya juga. Namun, harapannya adalah secepatnya I Mannyang datang untuk meneruskan
cerita.
Tiba-tiba dari belakang I Mannyang datang. Dia ingin
menepati janji kepada saudaranya itu karena janji kata orang tua-tua adalah sebagian dariutang. Ditepuknya pundak I Mallang dari belakang. "Apa kabar?" kata I Mannyang sambil tersenyum.
"Baik," jawab I Mallang. Dipersilakannya I Mannyang
duduk. Kopi juga disuguhkannya beserta beberapa potong kue. "Ayo, teruskan cerita kita kemarin," katanya setelah semua pembeli buah pergi. I Mannyang menghirup kopi yang disediakan beberapa teguk. Lalu, "Ya, baiklah," katanya.
"Orang Cina yang juga turut serta itu ternyata seorang
pemadat. Pipa candunya sudah terlempar entah ke mana. Ada sedikit sisa candu dibawanya ke rakit. Tetapi, setelah ombak besar menyapu bersih rakit, hilangkah semuanya. Akaibatnya, dia yang paling parah keadaannya. Mirip orang gila igauannya. Setelah sekian lama rakit terkatung-katung di laut luas, Tuhan memperlihatkan kekuasaan-Nya. Orang Cina itu tidak mati karena tidak makan atau ditelan ombak. Tidak pula mati atau gila karena ketagihan candu. Tuhan seru sekalian alam masih berkenan memelihara hamba yang lemah, orang Cina itu. "Engkau sendiri bagaimana saat itu?" bertanya
I Mallang. I Mannyang meneruskan lagi ceritanya. "Saya pun
ketika itu sudahlemah. Jika haus dan lapar menyerang, saya peluk lutut erat-erat. Berdoa meminta perlindungan kepada Yang Maha Pemurah. Kadang-kadang saya terlena dalam mimpi, merasakan makan enak dan kenyang sekali.
Sering pula bermimpi terbaring di bawah pohon kayu, lalu datang hujan dan meneteskan air melalui daun-daun ke dalam mulutku. Sebuah pancuran pernah juga saya impikan. Di situlah rasa dahaga lenyap seketika. Dengan mulut ternganga, saya menadah. Maka, terguyur habis seluruh tubuh. Setelah terjaga dari tidur, saya merasa segar kembali. Seperti- nya betul-betul terjadi, tiap-tiap mimpi itu membawa rasa yang nikmat. Mungkin itu yang menyebabkan kami sering mengigau." IMannyang memakan sepotong kue. Kopi pun diminumnya lagi untuk membasahi kerongkongannya. KataIMannyang, "Orang yang ditakdirkan Tuhan pendek umur diberilah nikmat secepatnya. Nikmat itu dapat berupa apa yang diberikan atau diperlihatkan kepada saya sewaktu bermimpi." Akal yang pendeklah yang membuat ketiga teman melompat ke laut. Rupanya dia ingin selekasnya mengambil apa yang diimpikannya dalam tidur. Saya tidak secepat itu putus asa menghadapi suatu masalah."
kata I Mannyang.
"Sebaiknya memang kita jangan cepat kehabisan ha-
rapan. Walau seberat apa pun cobaan itu, kita masih dapat berharap melalui doa kepada Tuhan." Kata I Mallang menimpali kata-kata saudaranya. "Setelah itu,.. .", kata I Mannyang lagi.
"Kandaslah rakit kami di tanah Mandar. Orang-orang
Mandar datang berbondong-bondong ke pinggir laut. Ada yang dengan sedih melihat, tetapisebagian besar datang menolong kami. Teman yang lain tidak ada yang sanggup lagi bangun, kecuali saya dan I Darasi yang dapat ber-
jalan terhuyung-huyung. Teman-teman itu diangkat be- ramai-ramai persis seperti mayat. Di tepi pantai, mulut mereka ditetesi air gula. Lambat- laun sadarlah mereka. Kata-katanya keluar satu-satu, "Ma.. ., Pa.. ., a a.. .", dengan lidah yang kelu. Masih di tepi pantai itu, bertanyalah orang-orang Mandar kepada kami, "Kalian berasal dari mana? Bagaimana kejadiannya sehingga kalian terdampar hanya dengan menggunakan rakit?" Diceritakanlah oleh I Darasi semua kejadian yang sebenarnya, mulai dari awal di Bali sampai kami terdampar didaerah Mandar. Singkat cerita, dibawalah kami ke rumah raja Mandar. Sesampai di sana, para pembantu raja disuruh merawat kami, memberi makan minum sebaik-baiknya. Ternyata raja orang Mandar bukan raja yang suka angkara murka. Beliau sangat pengasih dan penyayang terhadap sesama manusia. pantaslah dia memerintah rakyatnya dengan bijaksana. Demikianlah hari demi hari kami lalui dengan rasa nyaman. Kesehatan kami juga berangsur-angsur pulih. Saya, I Darasi, dan juga orang Cina yangturut bersama kami sudah sehat. Sayang, orang Cina itu kurang tahu diri. Dia tidak mau bergeser dari dapur, sebentar-sebentar membakar pisang lagi, makan singkong rebus, dan makan apa saja yang disediakan. Dialah akhirnya orang yang paling gemuk diantara kami. "Katamu, orang Cina itu adalah pemadat berat. Apakah dia di sana tidak ingin merokok madat juga?" tanya I Mallang.
Dengan mengernyitkan kening, I Mannyang mencoba
mengingat-ingat lagi ceritanya. "O, ya... masalah itu
demikian kejadiannya," kata I Mannyang. Mula-mula orang Cina itulah yang paling kurus. Te- tapi, setelah kejadian di tengah lautan kami alami, dia tidak mengisap madat lagi. Berdasarkan pengakuannya, dia sudah berusaha mencari obat untuk menghentikan ketagihan terhadap candu. Disadarinya sudah bahwa candu merupakan benda yang tidak dapat dimain- mainkan. Candu dapat mengirim kita secepatnya ke neraka. Di mana ada tabib yang terkenal, dia sudah
berada di sana. Di sebuah kampung ada orang yang dapat
menyembuhkan pemadat, belum sampai matahari terbe- nam sudah didatanginya tempat itu. Mulai dari dukun yang paling ahli sampai ke dokter sudah semua dico- banya. walaupun biayanya sepuluh bahkan dua puluh ringgit, bukan masalah baginya. Namun, orang Cina itu belum dapat menghilangkan kebiasaan buruk itu.
Sekarang, kejadian di laut lepas yang hampir mem-
bawa maut itu dapat melepaskan deritanya dariserangan candu. Tanpa ongkos satu peser pun, tanpa harus lelah mencari obat-obatan, obat mujarab diberikan Tuhan kepadanya. Karena tidak pernah mengisapnya selama di laut, berhenti dia mengisap candu. Sekian lamanya saya menanggung derita, menjadikan saya melarat, dan sekarang saya sudah sembuh. Jika saya kembali mengulangi mengisap candu, itu berarti suatu ke- bodohan bagiku. Demikianlah kata orang Cina itu kalau ditanya. "Memang tidak ada gunanya mengisap candu, dapat mengancam nyawa," kata I Mallang menimpali cerita
I Mannyang. "Selanjutnya, dengan cara apa kalian pulang
ke negeri?" tanya I Mallang yang ingin mendengarkannya lebihjauh.
"Setelah sekian lama kami tinggal di rumah raja
Mandar, "I Mannyang melanjutkan ceritanya. "Kami tetap dirawat dan dipelihara dengan baik, dirawat seperti sau- dara sendiri. Secara kebetulan barang-barang kami masih ada yang tertinggal. Sebuah gong, sepucuk bedil, serta sampan kami jual semuanya. Uangnya kami belikan bahan keperluan yang penting dan beberapa buah cin- deramata dari tanah Mandar.
Pertolongan dan bantuan raja Mandar tidak terhingga
banyaknya. Atas perintah beliau, pembantu-pembantunya memulangkan kami ke Jumpandang.
Demikianlah sebagian penderitaan yang telah saya
alami bersama dengan ayah I Kukang semasa hidupnya. Semakin lama semakin eratlah hubungan saya dengan- nya, makin akrab, makin erat tali persaudaraan dengan- nya. Empat belas hari terkatung-katung di atas rakit bukanlah waktu yang singkat. Akan tetapi I Darasi tak henti-hentinya menghibur hatiku. Sekali dua dia berceri- ta, kali lain berdongeng. Dongengannya semua masuk akal, ceritanya lucu-lucu sehingga terhiburlah diriku.
Terlupakanlah rasa lapar dan dahaga sedari pagi sampai
dengan sore. Yang terakhir terdamparlah kami di negeri Mandar. Lalu, kami dipulangkan oleh raja Mandar yang budiman ituke Jumpandang ini. Dan, di Jumpandang ini barulah kamiberpisah." "Saya menjadi sekarang. Engkau telah dipertemukan dengan orang yang jujur, berani, dan bijaksana. Saya
yakin bahwa anaknya, I Kukang, juga mempunyai sifat seperti itu. Kehidupan I Kukang sangat memprihatinkan. Dia tidak mempunyai rumah, juga sanak keluarga untuk ditumpangi. Oleh karena itu, apa salahnya kita ambil dia menjadi anak," kata I Mallang. "Saya kira memang perlu melakukan itu," kata I Mannyang. Syahdan setelah selesai bercakap-cakap, kembalilah I Mallang dan I Mannyang ke rumah masing-masing.
- I KUKANG MENJADI ANAK
ANGKAT
Sesekali I Kukang ikut bermain dengan anak-anak kampung. Kadang-kadang dia membantu temannya menggembalakan kambing ke padang luas. Jika berte- patan pergi ke padang luas, I Kukang suka bercerita atau berdongeng kepada teman-temannya. Dongeng-dongeng itu diperoleh dari ayahnya waktu masih hidup. Teman-temannya selalu tekun mendengarkan duduk di bawah pohon yangrindang, sambil mengawasi kambing-kambing yang sedang merumput. Seperti biasanya, pagi itu I Kukang membawakan buah-buahan untuk pelanggannya. Dia berjalan kaki ke pasar. Sekeranjang buah dipikulnya perlahan-lahan. Se- sampai di pasar, I Mallang pelanggannya bertanya, "Di mana engkau tinggal, Nak?" "Di gotong-gotong di atas gua kembar, di -kampung yang bernama "Dharul Fana," jawab I Kukang. (Artinya, 'di atas kuburan kembar, negeri yang dinamai dunia'). I Malang keheranan mendengar jawaban I Kukang. Dia bertanya lagi, "Baru pertama kali saya mendengar
I Kukang berjalan di tengah jalan kecil di tepi hutan Sebuah keranjang berisi buah-buahan dipikulnya Matahari pagi bersinar terang
nama tempat itu. Katakanlah kepadaku yang sebenarnya, aku ingin mengetahuinya." Sebaliknya I Kukang bertanya, "Apakah maksud
Bapak sehingga bertanya kepada saya?"
"Tidak bermaksudapa-apa. Hanya sekadar bertanya. Saya ingin mengajak engkau tinggal bersama saya jika Ananda bersedia,"kata I Mallang. I Kukang berpikir, bagaimana cara menjawab seka- ligus menguji kebaikan yangditawarkan I Mallang. Kemudian dia berkata, "Betul, tidak ada salahnya. Tetapi, saya teringat sebuah cerita. Cerita itu tentang burung pipit yang dipermainkan oleh burung kutilang."
"Ceritakanlah! Saya ingin mendengarkannya agar
saya mengerti maksud Ananda," kata I Malang. Maka, I Kukang pun mulai bercerita. "Alkisah ada seorang pemburu yang suka memasang pikat. Pikat biasanya dipasang pada sebatang pohon kayu. Seekor burung kutilang terbang ke pohon kayu itu. Burung itu mencari makanan sejenis ulat atau binatang kecil dari satu dahan ke dahan lain. Akhirnya, kutilang sampai pada dahan kayu yang telah dilumuri pikat (getah). Dan, setelah kenyang, kutilang ingin terbang. Barulah diketahuinya bahwa getah merekat di kakinya. sayapnya dikepak-kepakkan ingin terbang, tetapi justru getah semakin banyak memenuhi sayap. Harapan kutilang terbang kembali sudah pupus. Sementara itu, seekor burung pipit terbang ke pohon itu. Melompat-lompat dari satu ranting ke ranting lain. Dan, semakin dekat ke kayu tempat kutilang terjerat. Burung ketilang melihatnya. Dalam hatinya berkata, saya sudah terlanjur menginjak getah. Lebih baik berdua ce-
laka daripada saya sendiri. Kutilang pun bergaya seolah-olah tidak ada bahaya. Kepalanya diangguk-anggukkan turun naik, berayun-ayun, sambil bernyanyi-nyanyi. Burung pipit melihatnya dengan heran. Mengapa kutilang bernyanyi-nyanyi sambil berayun-ayun. Tidakkah ada kerjanya. Maka, bertanya burung pipit kepada kutilang, "Sedang mengapakah engkau?" Burung kutilang pura-pura tidak mendengarnya. Malahan semakin kuat dia mengayunkan tangkai pohon itu. Bertanya lagi pipit, "Apakah yang engkau kerjakan?" Kutilang memperlahan nyanyiannya. Dengan suara lem-
but dia berkata, "Janganlah mengganggu saya, saya
sedang memandang surga dengan jelas." Kembali burung pipit bertanya, "Wahaisaudaraku, aku belum mengerti maksudmu. Apakah tujuan ke- lakuanmu itu?" Burung kutilang menjawab, "Janganlah engkau bertanya-tanya. Mudah-mudahan saya bisa terbang masuk ke dalam surga. Surga tampak jelas dari sini. Perasaanku pun sudah nyaman karena terhembus angin surga. Jika engkau ingin juga melihat surga, mari mendekat ke arahku. Pohon-pohon yang lain telah penuh dengan anak bidadari dari surga. Mereka datang bergantian mengelus-elus aku, mencari kutu, membersihkan bulu, dan mengipas-ngipas aku. Hanya tempatku bertengger ini yang masih kosong, kata kutilang. Tiba-tiba pipit melompat ke dahan tempat kutilang bertengger, pipit pun ikut terkena getah. Dia tak dapat terbang lagi. Demikian kisah kedua burung itu. "Saya berkata kepada Bapak seperti itu karena takut dipermainkan atau
ditipu," kata I Kukang kepada I Mallang. Untuk menjawab kata-kata I Kukang, I Mallang juga ingin bercerita. Ceritanya ini bermaksud memperjelas kejujuran. I Mallang memang tidak ingin memper- mainkan I Kukang. I Mallang berkata, "Oh, kalau engkau mengingat semua itu, tiada mungkin kita dapat bersahabat. Biarpun ayah, ibu, kakak, atau adik kandung sendiri, kita tidak akan mengetahui seluruh isi hatinya." "Apakah engkau pernah mendengar cerita orang yang tidak mau memperhatikan nasihat temannya?" tanya I Mallang. "Saya belum pernah mendengarnya. Bagaimana ceritanya, Pak?" tanya I Kukang. Maka, berceritalah I Mallang. "Ada dua ekor burung bersahabat karib, seekor burung merpati dan sekor burung jalak. Suatu hari yang cerah, kedua burung itu terbang bermain-main. Terbang ke sana kemari. Akhirnya keduanya sampai di tepi sebuah perkampungan. Merpati dan jalak melihat sebuah sangkar terbagi dua yang tergantung di pohon waru. Sebelah dalam sangkar itu ada beberapa burung gereja serta di depannya tergantung beberapa tangkai padi. Di depan pintu ada bagian yang kosong. Bagian yang kosong itu, pintunya terbuka. Ketika melihat sangkar dan burung gereja, merpati dan jalak merasa heran. Namun, sesaat kemudian merpati mengerti. Sangkar itu adalah sejenis perangkap. Sayang, jalak tidak mengerti akan hal itu. Burung merpati berkata dalam hati, andaikata rumahnya sendiri yang ditempati, burung gereja itu pasti akan mengundang kami masuk.
Mereka seharusnya gembira sekali karena banyak makanan di hadapannya. Mereka akan lupa penderitaan, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Burung gereja itu terlibat sangat murung. Merpati mendekati jalak, lalu berkata. "Marilah kita pergi. Janganlah engkau berharap akan mendapat bagian di sana. Bulir padi itu tak mungkin engkau makan, justru
kesulitan yang engkau dapati nanti."
"Tunggu dulu," jawab jalak, "Saya ingin menajamkan penglihatan ke arah sangkar itu." Burung merpati terus mendesak burung jalak untuk pergi. Namun, jalak tetap pula berkeras tidak mau pergi. Malahan jalak terbang mendekati sangkar itu. Kemudian merpati berkata lagi, "Janganlah engkau lengah. Siapa tahu nasibmu dapat menjadi seekor anak ayam yangtidak menuruti nasihat induknya. Oleh karena itu, burung elang yang buas menyambar dan membawanya ke atas pohon." "Cerita lengkapnya bagaimana? Saya inginmende- ngarnya," kata Jalak. Merpati pun menceritakannya. Alkisah seekor induk ayam membawaanak-anaknya ke tumpukan sampah. Induk ayam mengais-ngais sampah untuk mencari makanan. Tiba-tiba induk ayam terkejut melihat seekor elang terbangdi atasnya. Lalu, dia memanggil anak-anaknya sambil mengepak-ngepakkan sayap. Anak-anaknya berdatangan, masuk menyelusup ke dalam sayap induk. Bersembunyi untuk menghindari sergapan elang. Burung elang belum berapa jauh terbang. Akan tetapi, sekor anak ayam lari ke luar dari sayap induknya. Dia ingin mematuk sebutir beras yang tergeletak di tanah. Induk ayam melarangnya, tetapi dia tidak menghiraukan-
nya. Induk ayam menasihatinya, "Wahai anakku, ada tiga makhluk yang harus diwaspadai. Makhluk itu adalah
manusia, musang, dan elang."
Anak ayam terus berlari saja. Tidak sedikit pun dide- ngarnya nasihat indukayam. Burung elang melihatnya. Lalu, menyambar anakayam, membawanya terbangke atas dahan kayu,kemudian dimakannya. Demikianlah jika seseorang tidak mau mendengarkan nasihat, mara ba- haya akan segera datang," kata merpati kepada jalak. Burung jalakmenjawab, "Kematian anak ayam itu karena kerakusannya. Jika dia tidak rakus, elang tidak akan menyambarnya.Setelah mendengar tuturanmu, saya menjadi teringat sebuah cerita. Cerita tentang seekor kerbauditakut-takuti olehpelanduk. Akhirnya, kerbau mati karena percaya kepada akal bulus pelanduk."
"Ceritakanlah dengan lengkap. Bagaimana maksud-
mu," kata merpati. Burung jalak bercerita pula kepada merpati.
"Alkisah ada dua buah gunung tinggi yang ber-
dekatan. Jurang di antara gunung itu terjal dan sangat dalam. Seekor kerbau sedang memakan rumput di kaki gunung. Tiba-tiba seekor pelanduk menyelusup dari balik semak-semak. Pelanduk itu berlari-lari dari hutan sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Dia melihat kerbau yang sedang merumput itu. Dengan perlahan-lahan dihampiri- nya kerbau, lalu duduk di hadapannya. badannya dilurus- luruskan sambil memandang ke langit. Mulutnya komat- kamit sambil menjulur-julurkan kaki depan, persis seperti seorang dukun membaca matera untuk melaksanakan sesuatu. Kerbau melihatnya tanpa sengaja. Sekali lagi dilihat-
nya lebih lama. Kerbau heran melihat perbuatan pelan-
duk,kemudian bertanya, "Mengapaengkau berbuat
demikian?" Sang pelanduk menjawab dengan tenang, "Apalah daya kita. langit sebentar lagi akan runtuh. Lihatlah ke atas, langit diatas kita bergerak. Kita akan ditimpanya. Aku telahmembaca simsalabim, tetapi tampaknya tidak mempan. Oleh karena itu, mari kita berlari ke gunung yang sebelah. Kita bersembunyi di dalam gua yang ada di sana. Jika tidak mau, engkau yangmula-mula akan ditimpanya, karena engkau berbadan tinggi dan besar, sedangkan aku berbadan kecil. Aku dapat menyelinap di balik batu ini. Kerbau diam sambil memandang ke langit. Dilihatnya langit bergerak karena awan di atas dihembus angin. Tanpa pikir panjang, dia melompat dengan cepat ke tebing yang curam. Dia jatuh ke dalam jurang, dan akhirnya mati. "Demikian ceritanya," kata jalak. Oleh karena itu, kita jangan dahulu pergi. Saya ingin memandang dinding sangkar ini dengan saksama. Sangkar itu sangat bagus buatannya sehingga burung gereja betah tinggal di sana. Merpati menasihati sambil berkata, "Marilah kita cepat pergi. Hari sudah siang. Kita nanti dapat beristira- hat di tengah jalan." Jalak tidak menghiraukan nasihat merpati. Dia ter- bang dan melompat masuk ke dalam sangkar burung gereja. Ketika seluruh badan jalak masuk, tertutup pula- lah pintu sangkat. Burung jalak pun menggelepar-gelepar di dalam. Dia
ingin mencari jalan ke luar, tetapi sia-sia. jalak sudah terperangkap. Burung merpati terbang mendekatinya. Kemudian dia berkata, "Nasihat saya tidak engkau dengarkan. Akibatnya engkau terjerat. Sekarang engkau tidak akan lepas lagi. Jika nanti indukmu beranak, barulah ada gan- timu. Sebentar lagi manusia akan menangkapmu, kemudian mempermainkanmu sesuka hatinya." Burung jalak hanya dapat menangis. Menyesai nasibnya. "Demikian akhir cerita itu," kata I Mallang kepada I Kukang. "Walaupun demikian, teliti dahulu setiap nasihat orang. Selain itu, engkau juga dapat membayangkan keadaan kita selama berlangganan. Kita belum pernah bersalah paham, sejak awal lebatnya buah-buahan sampai dengan habis sekarang. Pernahkan engkau rasakan bahwa saya ingin berbuat curang walau sepeser pun?" tanya
IMalang.
I Kukang kemudian berkata, "Betul, kita belum pernah bersalah paham. Kita sebagai manusia mempunyai pikiran. Pikiran itu dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang salah dan yang benar. Mudah-mudahan kita terhidar dari kejadian seperti cerita ini. Seorang raja, tanpa meneliti atau melihat kebenaran- nya, langsung bertindak. Akhirnya dia menyesali diri. Namun, penyesalan itu sia-sia belaka."
"Cobalah engkau ceritakan selengkapnya. Aku ingin
mendengarkansekaligus memahami maksudmu," kata
I Mallang.
I Kukang bercerita panjang lebar. Katanya, "Ada seorang rajayang arif lagi bijaksana. Kekuasaannya sa-
ngat besar. Karena besarnya, di bawah kekuasaan itu ter- dapat pula kerajaan-kerajaan kecil. Suatu hari Sang Raja inginbermain di kebun. Permaisuri, putra-putrinya, dan penghuni istana dibawanya. Anak-anak negeri juga ba- nyak yang mengiringinya. Ada yang naik kuda. Ada yang diusung. Dan, ada pula yang berjalan kaki. Permaisuri naik kuda. Dia dikawal oleh seorang anak bangsawan. Kuda permaisuri memakai pelana lima lapis. Gurdinya terbuat dari rantai. Semuanya berjalan beriringan. Raja juga naik kuda, tetapi agak jauh di belakang.
Tiba-tiba ada seekor lipan melekat pada kembang
sanggulpermaisuri. Anak bangsawan, pengawal per- maisurimelihatnya. Lalu, pengawal ingin memberi- tahukannya kepada raja. Namun, permaisuri berteriak ter-
lebih dahulu, "Buanglah cepat!"
Orang-orangsegan membuangnya. Pengawaljuga bimbang karena takut kepada baginda raja. Permaisuri memaki-maki pengawalnya karena dia tidak mau mem- buang lipan itu. Akhirnya, barulah pengawal memberani- kan diri untuk membuangnya. Saat itu juga raja me- lihatnya dari belakang. Baginda belum mengetahui apa yang terjadi. Ketika anak bangsawan sedang menangkap lipan, kuda melompat sambil meringkik. Permaisurijatuh ter- pelanting. Kuda pun lari dengan kencang. Begitu melihat kuda lari, anak bangsawan pengawal permaisuri mengejarnya. Baginda raja memacu kudanya menyusul dari balakang. Dia tidak langsung menolong permaisuri, tetapi mengejar si pengawal. Setelah dekat, raja menombak
pengawal itu sampai mati. Lalu, raja kembali menyusul permaisuri. Sesampainya di tempat permaisuri jatuh, sang raja mendapat penjelasan tentang sebab-sebab kejadian, mulai dari awal sampai akhir Raja menyesal bukan kepalang, karena telah membunuh anak saudaranya. Demikianlah ceritanya. Saya merasa wajib memeriksa sesuatu, sebelum melaksanakannya. Atas kebaikan Bapak, saya mengucapkan terima kasih terlebih dahulu," kata
I Kukang.
I Mallang tidak lagi menjawab perkataan I Kukang. Dia sangat kagum atas kepandaian I Kukang berkata dan bercerita. I Kukang memang bercerita dengan fasih dan wajah yang serius. Seterusnya, I Malang berkata, "Kemarilah, kita duduk-duduk di rumah. Saya akan memanggil kakakku, saudara kandung saya. Dia sahabat karib ayahmu semasa hidup. Engkau boleh berbincang-bincang dengannya."
"Ya, baiklah," kata I Kukang. Maka, I Mallang pergi memanggil I Mannyang,
saudaranya. Tidak lama kemudian, I Mallang dan I Mannyang datang dan masuk ke rumah. Mereka duduk bersama dengan I Kukang. Orang-orang yang melihat mulai berdesak-desak. Maklumlah, rumah itu berdempet dengan tempat menjual buah-buahan. Mereka berkerumun di depan warung itu, ingin mendengarkan I Kukang bercerita. Berapa orang yang lewat, itulah yang singgah. Ada yang menjadi busuk ikannya, ada yang melupakan apa yang ingin dibelinya, ada pula yang telah disusul anak-istrinya karena terlalu
lama belum kembali, dan ada juga yang sampai lupa
makan. Orang-orang itu semua hanya ingin mendengar
I Kukang, I Malang, dan I Mannyang duduk bersila di dalam rumah Mereka sedang berbincang-bincang Di depan rumah, ada warung tempat menjual buah-buahan
I Kukang berkata-kata. I Mannyang pun mulai bertanya, "Di manakah ayahmu sekarang? Ibumu saya tahu. Dia meninggal dunia ketika saya berangkat berlayar." "Persis setelah satu hari ibu meninggal dunia, ayah menyusul meninggal juga. Kuburan ayah-ibu akhirnya dibuat berdampingan," kata I Kukang dengan suara serak. "Engkau sendiri bertempat tinggal di mana?" tanya IMannyang selanjutnya. "Sejak kedua orang tua saya tiada, saya tinggal di pusaranya sampai sekarang," kata I Kukang. "Apakah engkau tidak takut sendirian," tanya I Mannyang. "Saya sebenarnya merasa takut. Tetapi, ke mana lagi saya harus pergi. Saya tidak mempunyai sanak keluarga di sini. Jadi, saya terpaksa memberanikan diri. Saat-saat tertentu memang ada yang menakutkan dalam tidur. Kalau sesuatu itu sudah sangat menakutkan, saya pergi mencari tempat lain. Saya pergi ke hutan, ke gua, atau ke tepi kampung," kata I Kukang. I Mannyang bertanya lagi, "Apakah engkau tidak mengenal saya? Sayalah yang sering mengajak dan membawa ayahmu berlayar ke mana-mana. Kami senasib sependeritaan. Kami sudah seperti saudara kandung. Jika engkau bersedia saya pungut menjadi anak saya, di si- nilah kita sehidup semati bersama. Nasi yang saya makan, nasi pula yang engkau makan. Ketela yang saya telan, ketela jugalah yang engkau telan. pasir yang saya makan, pasir pulalah yang engkau makan. Saya tidak berputra. Selain itu, saya sudah meminta engkau kepada ayahmu ketika dia masih hidup. Saya
mengatakan kepadanya bahwa engkau akan saya pelihara baik-baik. Ayahmu ketika itu berkata, "Ke mana dia akan pergi kalau bukan kepadamu. Biarlah dia sedikit lebih besar." Jadi, ayahmu pun sudah mengetahui hasrat hatiku," kata I Mannyang. "Saya sudah lupa-lupa ingat kepada Bapak. Saat itu saya masih kecil sehingga kurang memperhatian Bapak. Maafkan saya.. .," kata I Kukang. Seterusnya I Mannyang berkata, "Lebih baik begini, Nak. Engkau telah melakukan hal yang baik dan mulia karena tinggal di makam orang tuamu. Namun, engkau lebih mulia lagi jika tinggal bersama saya. Engkau dapat saya jadikan anak kandung karena saya tidak mempunyai anak. Selebihnya, dari dahulu saya dengan ayahmu sudah seperti saudara seibu-sebapak. Anggaplah saya sekarang ayahmu yang hidup kembali. Apabila engkau sudi kemari, saya akan mengasuhmu tanpa pamrih." "Saya sangat berterima kasih, Pak. Tidak ada lagǐ kegembiraan di atas kegembiraan saya sekarang ini," kata I Kukang, "Saya junjung tinggi kebajikan Bapak. Saya tidak menganggap jelek. Kasih sayang Bapak tiada ter- hingga, membawa saya ke kanan, bukan ke kiri. Kepada siapa lagi yang pantas saya mengadu, kalau bukan kepada Bapak berdua (Maksudnya I Mallang dan I Mannyang). Ibu' dan ayah sudah meninggal. Hanya saja, saya belum memenuhi permintaan Bapak seluruhnya. Sekarang saya teringat akan cerita ayah waktu hidupnya," kata I Kukang. "Ceritakanlah, agar saya mengerti maksudmu," kata
I Mannyang.
I Kukang mulai bercerita tentang elang dan bangau.
I Kukang berkata, "Di sebuah hutan ada seekor elang bersahabat dengan seekor bangau. Mereka saling menyayangi. Bangau kadang-kadang sampai jauh mencari makan, sehari-semalam perjalanan. Apa saja yang diper- olehnya dari perjalanan dibawa pulang. Makanan itu dinikmati bersama dengan sahabatnya. Burung elang demikian juga. Apa yang dapat disambarnya, itulah yang dibawa kepada sahabatnya untuk dimakan bersama-sama. Setelah sekian lama bersahabat, sayang-menyayangi, burung bangau akhirnya bertelur. Telur kemudian mene- tas menjadi anak. Bangau meninggalkan anaknya jika ingin mencari makan. Maka, tinggallah burung elang menjaga anak bangau. Induk jantan bangau tidak pernah berada di sarang. Dia selalu terbang ke sana kemari karena induk betina bagau masih banyak. Jadi, elang saja yang selalu menjaga dan mengurusi anak bangau. Hari berganti hari. Minggu juga akan berlalu. Bebe- rapa hari kemudian induk bangau mati dengan tiba-tiba. Anakyang ditinggalkannya belum dapat terbang. Bu- lunya belum tumbuh sempurna. Dengan demikian, burung elang yang harus memeliharanya, mencarikan makanan untuk anak bangau. Makin hari anak bangau makin besar. Bertambah hari bertambah pula makanan anak bangau. Burung elang masih tetap memeliharanya. Pada suatu hari, naas menghampiri elang. Dia telah berkeliling mencari makanan, tetapi tidak mendapatnya. Ada ikan yang dapat disambarnya, sayang jatuh lagi dari cengkeramannya. Dia mencoba menyambar anak ayam, tetapi induk ayam siap mematuknya. Hati elang menjadi sedih. Badannya terasa capai. Maka, elang kembali ke
sarang karena hari sudah senja. Sesampai di sarang, hatinya menjadi panas. Marahnya mulai keluar. Apa yang akan saya makan kalau hari sudah malam, katanya pada diri sendiri. Meskipun ada yang saya dapat, saya harus membaginya kepada anak bangau. Sementara itu, anak bangau riuh sambil menciap-ciap. Mulutnya menadah ke atas meminta makan kepada elang. Burung elang mematukanak bangau itu karena kesalnya menjadi-jadi. Lalu, dikoyak-koyaknya dan dimakannya anak bangau. "Demikianlah cerita itu." kata IKukang. "Jadi, saya belum dapat menyetujui dan menerima panggilan Bapak. Bapak hanya sahabat ayah saya, tidak ada pertalian darah. Terlebih dahulu saya meminta maaf. Biar bagaimanapun baiknya, mungkin suatu saat Bapak merasakan saya orang lain. Lain halnya jika sanak saudara kandung sendiri. Barangkali dia tidak berperikemanusiaan, tetapi mungkin merasa malu terhadap tetangga. Kalaupun tidak ada rasa kasih dan sayangnya, barangkali ada rasa ibanya." I Mannyang pun menjawab, "Betul sekali perkata- anmu, Nak. Namun, Tuhan menciptakan adayang disebut manusia dan ada yang disebut binatang. Ada yang dina- makan pohon kayu, ada yang disebut batu. Semuanya itu
disebut mahluk. Kita ini, manusia, adalah mahluk yang
paling mulia. Kita lain dengan binatang. Andaikata semua sama, tidak ada yang disebut manusia. Maka, binatanglah kita semua. Binatang hanya dapat diibaratkan dalam cerita. Pera- ngainya atau kelakuannya tidak dapat disamakan seperti manusia. Apalagi aku yangbersahabat karib dengan
ayahmu, kasihku kepadamu seorang. Aku dan orang tuamu seperti pinang dibelah dua. Maka, ibarat langit dan bumi perbedaan aku dan ceritamu itu. Kata I Mannyang lagi, "Hatiku tidak tega berbuat cu- las. Engkau tidak mungkin kusamakan dengan anak bangau. Engkau kukasihi, pada mulanya sampai pada penghabisannya. Inikulakukan karena persahabatanku dengan ayahmu. Ayahmu selalu kuingat, selalu kukenang. Seperti bibit engkau akan kusemaikan pada tanah yang subur. Tidak kekurangan air. Tidak kekurangan cahaya matahari. "Nak IKukang, dengarkan keinginanku. Dengar- kanlah nasihatku," pinta I Mannyang. Anak-anak syaratnya harus dinasihati. Orang tua syaratnya harus menasihati. Buanglah jauh-jauh dari hatimu prasangka jelek itu. Aku bukan elang dan anak bangau bukan engkau. Tidak baik menduga-duga terlebih dahulu."Aku tidak ingin disindir oleh nyanyian orang Makasar ini. Macilaka dudu tongi Maklamung-lamung pakmaik Iyasek timbo Iyaseng lamate pucuk Passangergalinna iyaji kupari pakmaik rikan angkanaya Kuminasaiko sunggu Kutinjakiko matekue Manna pucukmu Tangkenmu matekne ngaseng
Artinya: Sungguh malang nasibku ini Bertanamkan kasih sayang Ada yang tumbuh
Namun, pucuknya pun mati Melainkan yang kuharap padamu adalah Kudambakan engkau bahagia Kudoakan dirimu sejahtera Mulai pucukmu Cabangmu, bahagia semuanya
I Kukang diam. Semua petuah I Mannyang didengar- kannya. Duduknya tidak bergeser, I Mannyang berkata lagi, "Walaupun demikian, harapanku semua bergantung padamu. Engkau memang harus berhati-hati jika ada sesuatu yang disampaikan orang. Biarpun sesamamu anak-anak, engkau wajib memikirkannya. Apakah ayahmu belum pernah menceritakan per- sahabatan dua anak laki-laki?Mereka awalnya berkasih- kasihan, tetapi akhirnya berselisih paham. Yang seorang beroleh kebaikan, seorang lagi beroleh kemiskinan," kata I Mannyang. "Seingat saya belum pernah ayah menceritakannya. Bagaimana ceritanya, Pak?" tanya I Kukang. "Baiklah, demikian ini ceritanya," kata I Mannyang. Ada dua orang anak laki-laki. Yang seorang bernama I Tunruk, seorang lagi bernama I Jamalak. Mereka berdua saling menyayangi. Orang tua mereka juga masih hidup. Dan, ada seorang guru tempat mereka mengaji setiap hari. Setiap pagi mereka bertemu. Lalu bersama-sama ber- angkat mengaji pada guru itu. Selesai mengaji, mereka pulang bersama dan berpisah menuju rumah masing- masing. Mereka sering juga berkeliling ke mana-mana. melihat-lihat orang membuat bangunan, menanam marki- sa, menangkap ikan, dan sebagainya. Semakin hari se-
makin pandai mereka. Suatu hari sepulang mengaji, mereka berjalan sambil bercakap-cakap. I Jamalak berkata, "Maukah engkau menginap di rumahku? Aku akan bercerita sesuau yang baru." "Saya mau, tetapi engkau harus meminta izin kepada orang tuaku,"jawab I Tunruk.
"Ya, aku mau meminta izin dulu untuk mengajakmu,"
kata I Jamalak.
Mereka akhirnya berpisah menuju rumah masing-
masing. Setelah sampai di rumah, I Jamalak berkata kepada bapaknya, "Bapak, saya ingin memanggil I Tunruk. Bo- lehkah dia akan bermalam di rumah kita."
"Boleh saja, tetapi kalian jangan melupakan pekerjaan
sehari-hari," kata bapak I Jamalak. Maka, I Jamalak berangkat ke rumah I Tunruk untuk menjemputnya. Di sana, I Jamalak mendapati ayah I Tunruk sedang memikul kayu. I Jamalak menundukkan kepala untuk memberi hormat kepada ayah I Tunruk. "Ada apa, Nak Jamalak?" tanya ayah I Tunruk,
"Mengapa engkau datang waktu magrib?"
"Saya ingin mengajak I Tunruk bermalam di rumah saya," jawab I Jamalak. Ayah I Tunruk menganggukanggukan kepala setelah kayu yang dipikulnya diletakkan di samping rumah. Sambil mengibaskan tangan membuang kotoran yang melekat di bajunya, ayah I Tunruk berkata, "Oh, itu.. .! Baik boleh saja, tetapi pagi-pagi benar kalian harus cepat bangun dan pergi mengaji."
"Baik, Pak! Kami akan bangun pagi dan pergi me-
ngaji," jawab I Jamalak. I Jamalak dan I Tunruk berangkat sambil bergande- ngan tangan. Ada-ada saja senda gurau mereka, kejar- kejaran, atau kadang-kadang pukul-pukulan. Setelah beberapa jauh berjalan, I Tunruk berkata, "Tolong gen- dong saya teman. Saya takut karena banyak cacing di jalan." "Ah, terlalu sekali engkau. Mentang-mentang saya ajak, engkau minta digendong pula," jawab I Jamalak Namun, walaupun berkata demikian? Jamalak mau juga menggendong I Tunruk. I Tunruk digendongnya sampai ke depan rumah. Singkat cerita, mereka berdua makan malam. Setelah itu, mereka berbaring-baring di tempat tidur. Sambil bergolek-golek I Tunruk berkata, "Ceritalah, saya ingin mendengarkan. Bukankah engkau berjanji akan bercerita kepadaku?" "Ya, aku akan bercerita tentang sesuatu yang sangat menarik," kata I Jamalak. Dibetulkannya terlebih dahulu letak bantal dan guling. Lalu, diambilnya dua buah sarung, satu dipakainya dan satu lagi diberikannya kepada I Tunruk.
Kata I Jamalak, "Ada seorang saudagar yang sangat
kaya. Kunci laci dan lemarinya saja tidak dapat diangkat oleh seekor kuda. Saudagar itu mempunyai seorang nakhoda kapal yang sangat mujur. Jarang sekali dia tidak beruntung. Setiap berdagang atau belayar, keuntungan selalu didapatnya. Akan tetapi, keuntungan yang selalu diperolehnya tidak pernah bertahan lama. Berapa diperolehnya, sekian itu pula habis dalam beberapa hari. Itulah sebabnya dia tidak bisa menjadi orang kaya. Dia sedih
sekali mengenang nasibnya. Bukan karena tidak men- dapat rezeki, bukan karena kurang usaha, tetapi karena dia tidak dapat menjadi kaya. Apa saja petunjuk orang selalu diturutinya. Yang ini pemali atau pantang kata orang, cepat dia menghindari- nya. Tolak bala perlu dilakukan. Apa yang dikatakan orang-orangtua, itu pula yang dikerjakannya. Nazarnya bertumpuk, sedekahnya berceceran dimana-mana. Di mana ada makan bertuah, dia sudah berkaul di sana. Semua itu dilakukannya karena ingin menjadi orang kaya. Tetapi, nakhoda itu tetap saja hidup serba sederhana. Jangankan mobil, rumah tempat tinggal pun dia hampir tak punya." "Huh, masa dia sering beruntung dan mujur, tetapi hidup miskin? sungguh menyedihkan juga nasibnya," kata I Tunruk. "Ya, memang begitulah nasib manusia. Untung tidak dapat dikejar-kejar. Jika sudah rezeki kita, rezeki itu tidak akan lari. Bala juga tidak dapat ditolak. Jika sudah da- tang, kita tidak dapat mengelak," jawab I jamalak. "Seterusnya," kata I Jamalak lagi. "Pada suatu hari, dia pergi bertandang ke rumah temannya. Temannya itu bercerita bahwa ada seorang rohaniwan. Dia cerdik dan pandai, bermacam-macam ilmu ganjil diketahuinya. Maka, nakhoda itu pergi ke sana. Di sana dia menceritakan nasibnya kepada rohaniwan itu. Dia juga mengatakan bahwa dia ingin menjadi kaya. kalau boleh, dia menjadi kaya seperti saudagar tempatnya bekerja." Rohaniwanitu berkata, "Baiklah, mudah-mudahan Tuhanmengabulkan permintaanmu. Saya akan mencoba
menolongmu. Sekarang engkau ambil uang sebanyak- banyaknya dan bawa kepada saya." Si nakhoda pergi mengambil uangnya, lalu diberikan- nya kepada rohaniwan. Rohaniwan yang memiliki ilmu- ilmu ganjil itu memanterai uang itu. Kemudian, nafsu si nakhoda itu keluar seperti seekor cecak. "Inilah hawa nafsumu," kata rohaniwankepada nakhoda. "Lihatlah, apa saja yang lewat di depan hawa nafsu itu ingin diam- bilnya. Makanan, permainan, perhiasan, semua dibelinya. Segala yang dapat dimakan cepat dilahapnya." Kemudianrohaniwanberkata, "Hai nakhoda, engkau perhatikan baik-baik nafsumu itu. Dia yang selalu meng- habiskan keuntungan dan rezekimu. Semua harta yang engkau peroleh dapat dihabiskannya dalam seketika. Nafsumu dapat disamakan dengan lautan luas. Laut luas dapat menampung semua sungai serta apa saja yang dibawa sungai. Laut tidak dapat diukur daya tampungnya. Nakhoda diam seribu kata. Dia tetap menatap hawa nafsunya yang berbentuk seekor cecak itu. Semakin lama semakin panjang, sudah sedepa panjangnya. Lalu berubah lagi menjadi lebih besar seperti alat tenun, berubah lagi menjadi seekorkambing. Bertambah dan berubah menjadi kerbau. Dari sebesar kerbau, berubah menjadi seekor gajah. Setelah melihat kejadian itu, nakhoda menjadi bingung dan takut. Mulutnya bungkam melihat hawa nafsunya sendiri. Rohaniwan juga diam, tetapi matanya mengawasi gerak-gerik nakhoda. Nakhoda mulai berkata-kata dalam hati. Wah, bagaimana jadinya nafsu ini kelak. Beberapa saat saja sudah sebesar gajah. Besok, lusa, seminggu kemudian,
pasti akan menjadi seekor raksasa yang mengerikan. Sekonyong-konyong, nakhoda menyentakkan keris ber-
tuahnya dari sarung. Dia menetak kepala hawa nafsu yang
sudah sebesar gajah. "Clak, clak, clak," suara keris yang
berbisa itu memotongnya. Hawa nafsu berbentuk gajah itu rebah, jatuh ke tanah. Akhirnya nakhoda menyesali perbuatannya selama ini. Kemudian dia patuh menger- jakan ibadah, menyembah Tuhan seru sekalian alam. Selanjutnya dia menjadi kaya. "Hei, ceritaku sudah selesai," kata I Jamalak sambil menggoyang-goyangkan badan I Tunruk.
"Oh, ya.. .! Hebat sekali cerita itu," jawab I Tunruk
sambil menguap. "Engkau masih ingin mendengar satu lagi?" tanya I Jamalak. "Tidak, saya sudah mengantuk. Saya sudah bosan meng-ya ya-kan dongenganmu," jawab I Tunruk, "Lagi pula, hari sudah larut malam. Marilah kita tidur agar besok tidak kesiangan. Kita akan dimarahi guru jika ter- lambat. Atau, bisa-bisa dipukul orang tua kita." I Jamalak tidak langsung membantahnya. Dia meng-ingat-ingat kejadian sore tadi ketika mereka di rumah guru mengajinya. LaluI Jamalak berkata, "Apakah engkau tidak mendengarperkataan istri guru kita tadi sore! Waktu kita mengambil air, saya tidak sengaja memecahkangucinya." Saya mendengarkan dengan sayup-sayup katanya, "Iyo, tunggulah bagianmu besok pagi. Aku akan menyuruh gurumu menjepitmu. Karena engkau telah memecahkan guciku." Itulah yang sangat kutakuti. Jadi, lebih baik saya bersembunyi besok pagi ke tempat lain.
Setelah sore, kita akan pulang ke rumah masing-masing," kata I Jamalak. "Jangan berlaku seperti itu," kata I Tunruk, "Biarlah kita dijepitnya, jika guru kita mau menjepitnya. Biarkan dipukul jika dia maumemukulnya. Tidak mungkin dia sampai hati menjepit jari kita sampai putus. Atau, dia tidak akan tega memukul kita sampai pinggang patah. Janganlah khawatir dan takut terlebih dahuluI Jamalak! Mereka pasti memiliki rasa kasihan kepada kita. Mereka tidak akan lebih menghargai guci itu daripada kita anak manusia."
"Bolehlah kita bersembunyi untuk beberapa lama.
Jika kita diketemukannya, bukan saja nanti kita dijepit, mungkin juga kita dipukulsampai babak belur. Mungkin kita akan dipukul dua kali, karena kita bersembunyi kita dipukul sepuluh kali. Ditambah pula, bapak marah kepada
kita. Kita tidak menuruti perintahnya, justru pergi ke
tempat yang tidak tentu arahnya," kata I Tunruk. Setelah bertengkar agak lama, mereka terdiam. Tanpa disengaja mereka pun akhirnya tertidur. Tidur sambil bermimpi yang buruk-buruk. Esok harinya, I Tunruk lebih dahulu bangun. I Jamalak dibangunkannya. Keduanya mandi, lalu akan berangkat ke tempat pengajian. Di perempatan jalan, I Jamalak berkata, "Pergilah engkau mengaji. Saya akan menyusulmu nanti dari be- lakang." "Ayo, kita bersama-sama. Hendak ke mana lagi engkau?", tanya I Tunruk. "Sudahlah, engkau saja yang mengaji, aku tidak," jawab I Jamalak. Seterusnya, mereka berpisah. I Tunruk pergi mengaji.
I Jamalak bersembunyi di perahu-perahu yang berdatang- an. Singkat cerita, I Jamalak ditangkap oleh orang perahu, dibawanya pergi ke negeri lain, lalu dijualnya. Mereka, tamatlah riwayat I Jamalak. Sebaliknya I Tunruk mengaji terus dan akhirnya tamat. Dia menjadi orang saleh, pan- dai, dan bijaksana. Karena kepandaiannya, dia se- lanjutnya diangkat untuk memerintah sebuah kampung oleh raja di negeri itu. Pengalamannya semakin hari semakin bertambah. "Demikianlah contoh yang buruk dan yang baik, akibat perbuatan yang benar dan akibat perbuatan yang salah," kata I Mannyang kepada I Kukang. I Kukang menganguk-angguk kepala tanda setuju. Lalu berkata kepada I Mannyang, "Benar sekali apa yang Bapak katakan. Pikiran siapa pun tidak akan ada yang menyalahkannya. Dengan demikian, saya tidak mempu- nyai alasan lagi menolak permintaan Bapak. Saya akan tinggal bersama Bapak. Belas kasih Bapak sangat besar. Jika orang tua saya masih ada, pasti demikian juga kasihnya kepadaku. Sekarang Bapak berdua mengasihi dan menyayangi saya. Saya bersyukur dan berterima kasih karena Bapak memelihara saya yang hina ini." "Oleh karena itu, camkanlah baik-baik," sambung I Mannyang, "Jangan sebab perbuatan yang engkau pikirkan, tetapi, akibat perbuatan itu yang selalu harus engkau ingat. Jika kita memperhatikan akibat dari sebuah perbuatan, bahaya yang datang tidak akan parah. Kalaupun tertimpa musibah, kita tidak terlalu sakit." "Lihatlah, misalnya I Jamalak. Dia memperhatikan sebab memecahkan guci sehingga tidak mengaji. Akibat
tidak mengaji tidak dipikirkannya. Dia pintar menceri- takan orang yang dapat menyembelih hawa nafsu, tetapi, tidak mengerti makna dan tujuan yang ada dalam cerita itu. Andaikata tahu tujuannya, dia tidak akan menghindari gurunya. Dan, akhirnya tak mungkin dia ditangkap oleh orang perahu, dibawa ke negeri lain, lalu dijual untuk dijadikan budak," kata I Mannyang. "Saya belum paham betul tentang cerita itu," kata I Kukang, "Bagaimana caranya agar dapat mengalahkan hawa nafsu yang berlebihan. Tolonglah berikan penger- tian dan maksudnya, Pak." pinta I Kukang. I Mannyang mencoba menjelaskannya kepada I Kukang. "Begini maksudnya, Nak." kata I Mannyang. Hawa nafsu yang tidak terbatas ialah keinginan ter- hadap sesuatu. Apa-apa yang diinginkan hati kita tetap diusahakan walaupun sukar memperolehnya. Sudah diperoleh, tetapi kita tidak merasa puas. Kita selalu ingin yang lebih. Hawa nafsu seperti itu disamakan dengan lautan nan luas. Setiap orang tidak dapat menduganya. Namun, setelah hawa nafsu dapat dikendalikan, kita dapat hidup. Kita yang menghidupkan hawa nafsu, bukan hawa nafsu yangmenghidupkan kita. Itulah sebabnya, engkau harus mendahulukan akal dan pikiran. Pikirkan dahulu sebelum melakukan sesuatu, dari belakang, dari depan, dari kanan, kiri, atas, bawah, atau segi baik dan buruknya. Jika pikiranmu mengatakan hal itusukar, tetapi membawa kebaikan, boleh engkau ker- jakan. Walaupun mendapat kesukaran, engkau tidak akan celaka. Tetapi, jika pikiranmu mengatakan buruk, jangan sekali-kali engkau lakukan. Meskipun seorang menge-
luarkan air mata darah untuk merayumu, tetap jangan engkau turuti. Itu yang dimaksud menyembelih hawa nafsu, Nak." kata I Mannyang. I Kukang menarik nafas panjangdengan perasaan lega. Kata I Mannyang lagi, "Sepahit-pahit sabar pasti besar faedahnya. Seperti seorang pengembara yang tidak sabar melihat tempat rezeki, akhirnya dia sendiri merusak sumber rezeki itu." "Cerita itu, bagaimana lagi selengkapnya, Pak?" tanya I Kukang. "O, engkau masih ingin mendengarkan ceritaku?" tanya IMannyang. "Ya, saya sangat senang mendengar cerita yang berisi nasihat," kata I Kukang. "Tersebutlah seorang laki-laki yang bernama Majnun," kata I Mannyang mulai bercerita. Dia tinggal di negeri Arab. Telah lama ia ingin melihat tempat rezeki. Ada lagi orang tua, rambutnya sudah putih, jenggotnya juga putih dan panjang. Orang tua itu pernah berkata kepada Majnun, "Jika engkau ingin melihat tempat rezeki, pergilah ke gunung Arafah. Di sana ada seorang wali Allah. Engkau boleh menanyakan keinginanmu itu kepadanya." Maka, Majnun berangkat menuju Arafah. Setelah sampai, dia melihat wali Allah itu sedang duduk-duduk di sebuah batu putih di bawah pohon. Majnun memberi salam dan hormat. Wali Allah menyambut dan memper- silakan duduk di sampingnya. Sambil tersenyum wali itu bertanya, "Apakah maksud kedatanganmu ke tempat yang sunyi dan sepi ini?"
"Sengaja hamba berkunjung kemari, Tuanku. Hamba mohon dikasihani. Kata orang, tuanku dapat menolong orang yang sakit batin. Hambalah salah satu yang sakit batin itu. Hamba sangat mengharap pertolongan tuanku," kata Majnun. Majnun belum menjelaskan keinginannya. Keinginannya itu yang membuat Majnun sakit batin. Akan tetapi, wali Allah sudah dapat mengetahuinya. "Baiklah, saya sudah tahu apa yang engkau inginkan, tanpa engkau ceritakan," kata wali itu. "Sekarang tutup kedua matamu. Setelah kusuruh buka, barulah engkau buka," katanya lagi. "Ya, tuanku," jawab Majnun sambil menutup matanya. Hatinya terlalu berharap sehingga pikirannya melayang-layang entah ke mana. Setelah beberapa lama, wali itu berkata, "Sekarang bukalah matamu. Lihat apa yang ada." Majnun membuka matanya. Dilihatnya sebuah tempat yang amat besar, tinggi, dan lebar. Dia tidak mengenal tempat itu. Heran bercampur cemas mulai timbul di hatinya. Dalam hati dia bertanya-tanya, "Emaskah tempat ini, tembaga, suasa, atau emas muda?" Pancuran yang beribu- ribu jumlahnya memenuhi tempat itu. Berpetak-petak dan semuanya mengeluarkan air.Ada yang mengeluarkan air sedikit, ada yang sedang, ada yang sangat deras, tetapi ada juga yang hanya menetes dan merembes. "Apa arti semua ini, tuanku?" tiba-tiba Majnun bertanya. "Itulah yang engkau cari selama ini," katanya. Sekarang engkau telah melihat tempat rezeki. Lihatlah tempat rezeki tiap-tiap manusia telah ditentukan. Semua manusia
telah mempunyai pancuran masing-masing. Pancuran yang deras mengeluarkan air berarti banyak rezekinya. Pancuran yang sedikit keluar atau menetes airnya berarti sedikit rezekinya. "Mana pancuran anak, istri, saudara saya, Tuanku?" tanya Majnun. Wali Allah menjawab, "Ini pancuran anakmu. Dan, itu pancuran istri dan saudaramu." Majnun melihat hanya mengeluarkan air sedikit pada pancuran istrinya. Pancuran anaknya hanya menetes. Pancuran saudaranya juga sedikit. Dan, pancurannya sendiri mengeluarkan air agak banyak. Di kanan-kiri, Majun melihat pancuran orang lain sangat deras. Timbul dalam pikirannya untuk memperlebar lubang pancuran. maksudnya agar deras air keluar, sehingga banyak pula rezekinya seperti orang kaya di sebelahnya. Sepotong kayu diambilnya. Lalu lubang pancuran ditusuk dengan kuat. Tiba-tiba kayu itu patah. Potongan kayu itu tertinggal di dalam lubang pancuran. pancuran menjadi tersumbar sehingga merembes pun tidak lagi.
Maka, lubang rezeki Majnun tertutup atas perbuatannya
sendiri. Wali itu berkata-kata kepada Majnun, "engkau telah berbuat yang salah. Engkau telah menghancurkan dan menutup lubang rezekimu sendiri. Dan, itu tidak dapat diperbaiki lagi. Sifatmu memang serakah, tidak pernah merasa puas, dan iri kepada rezeki orang lain. Majnun hanya dapat menangis. Dia menyesali perbuatannya. Namun, tiga ember pun air matanya keluar, tidak akan mungkin diperbaiki. "Walaupun apa pun yang engkau perbuat, tidak akan
ada artinya. Sekarang tutuplah kembali matamu," kata wali kepada Majnun. Majnun menutup matanya. Kata wali itu seterusnya, "Nah, buka matamu." Majun membuka matanya. Bersamaan dengan dia membuka mata, lenyap jugalah tempat dan pancuran- pancuran tadi. Sekarang dia merasakan dirinya berada di tempat semula. Duduk bersampingan dengan wali di atas batu putih. Wali Allah menyuruhnya pulang karena semuanya telah selesai. Majnun pulang dengan hati yang kecewa. Seterusnya, Majnun tidak mempunyai sumber rezeki lagi. Istri dan saudara-saudaranya yang memberi dia makan, menghidupinya sepanjang hari dan seterusnya. "Itulah akibat menurutkan hawa nafsu," kata I Mannyang kepada I Kukang, "Engkau dengarkan dan camkan, lalu ambil nasihat yang ada di dalamnya. Jangan engkau turutkan keinginan nafsu jika tidak ingin celaka." Setelah itu, I Kukang sujud di kaki I Mallang dan I Mannyang. Diciumnya lutut kedua orang tua itu sambil mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya. "Maafkan saya. Saya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Bapak. Di dunia dan diakhirat, dari awal sampai dengan peng- habisan, serta lahir dan batin. Hanya Bapak berdua yang menjadi penggantiibu-bapak saya. Saya ikut bersama- sama ke mana saja Bapak pergi," kata I Kukang sambil berurai air mata. Dengandemikian, I Kukang menjadi anak I Mallang dan I Mannyang yang budiman.
I Mallang dan I Mannyang duduk berdampingan di dalam rumah I Kukang sujud sambil mencium lutut kedua orang tua itu
.3. I KUKANGHIDUP MANDIRI
I Kukang sudah menjadi anak angkat I Mannyang. Dia sangat menyayangi bapak angkatnya. Bapak angkatnya juga sangat sayang kepada I Kukang. I Kukang setiap hari bekerja keras. Dia seorang anak yang ringan tangan. Semua pekerjaan dilakukan dengan cekatan. I Mannyang belum menyuruh mengerjakansesuatu, tetapi I Kukang sudah lebih dahulu menyelesaikannya. Halaman rumah tidak pernah terlihat kotor. Mencucipiring, mencuci pakaian, selalu dilakukannya. Perabot rumah selalu bersih dan tersusun rapi. Pagar di depan sampai ke belakang rumah tertata rapi. Sesekali dia ikut juga menjual buah- buahan di warung. Hatinya senang dapat membantu meringankan beban ayah angkatnya, I Mannyang. I Mannyang sangat memperhatikan I Kukang. Apa saja keperluan I Kukang selalu dipenuhinya. Tidak sedikit pun berkurang kasihnya, seperti ayah dengan anak kan- dungnya sendiri. Pada suatu sore hari, I Mannyang sedang duduk- duduk bersama I Kukang di beranda rumah. Mereka
mengobrol sambil makan singkong goreng. I Mannyang
membelai-belai kepala I Kukang, lalu katanya, "Saya merasakan bahwa engkau perlu bersekolah. Di sekolah kampung kita ada seorang guru yang sangat baik. Dia dapat mendidik dan mengajarimu." "Bagaimana mungkin, Pak. Kita mempunyai banyak pekerjaan. Saya tidak tega melihat bapak terlalu banyak bekerja," kata I kukang.
"Tidak mengapa,Nak." jawab I Mannyang. "Saya
sangat mengharapkanengkau menjadi anak yang pandai. Semoga saja pengetahuanmu bertambah, sehingga engkau dapat membuka keadaan yang baru. Baru bagi kita dan baik bagi sesama manusia. Dengan demikian, engkau pun dapat memperlihatkan kembali nama baik orangtuamu pada masa hidupnya." "Saya sangat gembira, Pak." jawab I Kukang.
"Saya akan menjunjung tinggi apa yang Bapak
katakan. Saya akan melaksanakan segala apa yang Bapak anggap baik. Akan tetapi, apakah tidak aneh, saya sudah terlalu besar dan hampir dewasa?"
Itu tidak menjadi masalah, Kukang. Yang penting
engkau mau dan giat," kata I Mannyang. "Ya, saya akanbekerja sambil sekolah, Pak. Tapi bagaimana kalau caranya begini saja, Pak." kata I Kukang. "Bapak berbicara dahulu dengan Pak Guru. Barangkali saya dapat diajar tersendiri jika ada kesem- patannya. Apakah malam, apakah siang, atau pagi, ter- serah kepada Pak Guru. Dengan demikian, saya di sana dapat membantu Pak Guru sambil belajar. Dan, sekali- sekali saya datang kemari menjenguk Bapak. Di rumah Pak Guru, saya dapat bekerja sepantasnya menurut
kesanggupan saya. Tetapi, di sini saya tetap sebagai anak yang selalu memperhatikan Bapak." kata I Kukang lagi. "Saya kira sangat baik cara yang engkau katakan itu," jawab I Mannyang. Biarlah terlebih dahulu saya menemui guru untuk membicarakan hal ini. Mudah-mudahan dia bersedia. Selain itu, saya juga akan mencari orang pintar untuk mencarikan hari baik bagi permulaan sekolahmu." Singkat cerita, pembicaraan dengan guru sudah sele- sai. Pak Guru dengan senang hati mendidik I Kukang. Hari baik yang ditentukan oleh orang pintar sudah tepat. I Mannyang membawa I Kukang ke rumah Pak Guru. I Kukang tinggal bersama Pak Guru untuk belajar yang sesuai dengan pelajaran anak sekolah. Setiap hari I Kukang belajar dengan tekun. Setelah belajar, dia tidak lupa membantu gurunya. Mengerjakan apa saja yang dapat meringankan pekerjaan guru. Hari berganti minggu. Minggu berlalu berganti bulan. Tidak terasa, I Kukang sudah pandai mengetahui banyak pelajaran. Semakin hari semakin senang Pak Guru me- lihat I Kukang. Setiap tugas dan pekerjaan rumah dapat dikerjakan IKukang dengan benar. Dan, tidak memer- lukan waktu yang lama. Selain itu, Pak Guru juga menyenangi tingkah laku dan kesungguhan I Kukang. Maka, dia diberi kepercayaan oleh Pak Guru. Pekerjaan
di sekolah dan kunci-kunci sekolah pun sudah dipegang
oleh I Kukang. Sudah beberapa tahun lamanya I Kukang tinggal bersama gurunya. Tidak satu pun kelakuannya jelek
di mata Pak Guru. Setiap pekerjaan dilakukan
dengan kesungguhan. Sesekali dia tetap menjenguk orang tua angkatnya, I Mannyang. Suatu hari,
.59
I Kukang belajar dengan tekun di sebuah ruangan Seorang guru memberikan pelajaran kepadanya
seorang pembesar Belanda datang kepada Pak Guru. Orang Belanda itu minta tolong dicarikan seseorang yang dapat dipercaya menjaga toko. "Tolonglah, Pak. Saya mencari orang yang jujur dan pandai sebagai penjaga toko, "katanya kepada Pak Guru. "Saya tidak mengetahui orang lain, selain I Kukang," jawab Pak Guru. "Selama bersama saya, dia belum per- nah berbuat jelek. Sebaliknya, apa-apa yang belum saya pikirkan, kadang-kadang sudah diketahuinya. Akan tetapi, Bapak jangan mencelanya. Dia masih muda, baru berumur15 tahun, untuk disalah-salahi." "O, I Kukang. Saya sudah sering mendengar kebaikan I Kukang. Rupanya dia anak didik Bapak. Baiklah, saya sangat senang kepada sifat dan pribadinya," kata orang Belanda itu. "Ya, saya akan memberitahukan ini kepada I Kukang. Sekaligus memberitahukannya kepada orang tua angkatnya. Mudah-mudahan I kukang dan orang tua angkatnya tidak menolak permintaan Bapak yang baik ini," jawab Pak Guru. Singkat cerita, I Kukang bersedia bekerja bersama orang Belanda. I Mannyang ayah angkatnya juga tidak keberatan. I Kukang pun mulai bekerja di toko saudagar Belanda itu. Gajinya lima sen sebulan dan ditam- bah makan siang gratis. Jika jam kerja selesai, I Kukang pulang ke rumahgurunya atau kadang-kadang ke rumah orang tua angkatnya. Di mana saja I Kukang bekerja, dia selalu cekatan, jujur, dan sungguh-sungguh. Demikian juga di tempat saudagar Belanda itu. Dari hari ke hari, majikan semakin menyenanginya. Kepercayaan demi kepercayaan diberi-
kan kepada IKukang.Suatu hariI Kukang diberi keper- cayaan lagi untuk memegang seluruh kunci toko. Gajinya dinaikkan setiap bulan. Tidak terasa, I Kukangsemakin dewasa. Pengalamannya semakin bertambah. Saudagar menilainya sangat berhati-hati. I Kukang mempunyai kesungguhan terhadap semua pekerjaan. Serta, mempunyai kepandaian dan kecermatan dalam menghitung penjualan. kalau tiba-tiba pun majikan ber- tanya, "Di mana tempat penyerahan barang itu? Bagaimana bentuk barang yang ini?Berapa lagi jumlah yang tersisa? Apa jenisnya dan berapa yangsudah ter- jual? dapat dijawab oleh I Kukang dengan segera. Pada saat itu juga, tanpa harus membuka catatan, dia menjelas- kannya sesuai dengan kenyataan. Itulah sebabnya, dia diangkatmenjadi pengawas utama. Bertambah jugalah penghasilan I Kukang. Saudagar Belanda memberinya gaji delapan ringgit setiap bulan. Perjalanan hidup berlalu terus. Sampai pada suatu saat yang kurang menguntungkan bagi I Kukang. Hati I Mannyang dan guru I Kukang saling tidak senang. Keti- daksenangan ini terjadi karena I Kukang tidak menetap tinggal pada salah satu dari mereka. Jika I Kukang bermalam di rumah I Mannyang, gurunya marah. Se- baliknya, kalau I Kukang bermalam di rumah gurunya, I Mannyang tidak senang.·I Kukang menjadi serba salah.
Suatu hari, sambil duduk-duduk termenung, I Kukang
berpikir. Keadaan saya begini terus tentu tidak baik, bisiknya dalam hati. Pekerjaan semakin lama semakin bertambah. Saya hampir tidak mempunyai kesempatan untuk beristirahat. Tugas yang menumpuk membuatku sibuk kesana kemari. Seperti kata pepatah lama, ikan
bakar digantung di kaki tidak akan dimakan kucing karena kaki selalu bergerak. Maka, lebih baik saya meminta untuk tinggal di kamar yang kosong di toko kepada majikan. Mudah-mudahan majikan mengizinkannya. Ala- san saya nanti adalah agar lebih dekat menjaga toko. Selain itu, kalau tiba-tiba kapal barang datang, saya akan mudah memuatnya ke gudang walaupun pada malam hari. Dengan demikian, saya tidak perlu bermalam di rumah guru atau bapak angkat. Kedatanganku juga dapat kuatur tanpa salah seorang marah atau tidak senang. Mereka nanti tidak akan saling iri hati lagi karena aku tinggal di toko. Singkat cerita, I Kukang mengajukan keinginannya kepada majikannya orang Belanda. Majikan ternyata sangat senang dan mengizinkan untuk tinggal di sana. Majikan memberi surat kepada I Kukang untuk disampai- kan kepada istrinya. Istri majikan menerima surat itu, lalu membacanya. Selesai membacanya, istri majikan memberi I Kukang perlengkapan sebuah rumah tangga: kelambu, kasur, sprei, bantal, guling, selimut, sarung, dan beberapa jenis obat-obatan ringan. I Kukang meneri- manya dengan sangat gembira. Selanjutnya, nyonya majikan berkata, "Minta saja kalau masih ada yang engkau butuhkan! Jangan engkau segan-segan." "Terima kasih, Bu. Ini saja sudah sangat banyak dan sudah lebih dari cukup," kata I Kukang dengan mata yang berkaca-kaca. "Untuk mengangkat barang-barang ini, panggillah bendi. Jangan engkau yang mengangkat sendiri, terlalu berat. Nanti saya yang membayar sewa bendi itu," kata
nyonya itu lagi. "Ya, terima kasih banyak, Bu," jawab I Kukang. Demikianlah, kehidupan I Kukangsemakin baik. Bertambah-tambah kekayaannya. Rumah sendiri sudah ada. Sawah dan kebun sudah punya. Gaji bertambah tinggi. Namun, ayah angkat dan guru tidak pernah di- lupakannya. Dia sudah menjadi orang yang hidup man- diri.
Sebuah bendi yang ditarik kuda sedang melintas di jalan. Bendi itu
penuh muatan barang-barang rumah tangga. Kusir dan I Kukang duduk
di depan
- I KUKANG MENDAPAT COBAAN
Tahun pun sudah berganti beberapa kali. I Kukang sangat betah bekerja bersama orang Belanda, majikannya. Karena sudah betul dewasa dia akhirnya berkeluarga. Istrinya bernama I Souda. I Souda adalah seorang gadis yang cantik jelita. Dia juga bekerja pada tempat yang sama sebagai pegawai dibagian jahit-menjahit pakaian. Pada pesta perkawinannya, I Mannyang sebagai ayah
I.Kukang dan gurunya sebagai saksi utama. Pesta itu cukup meriah. Karyawan-karyawan turut diundang. Sanak keluarga dari isterinya, teman sejawat, dan majikan turut menyaksikan. I Kukang hidup tenteram bersama isteri. Tidak ada kekurangan apa-apa.Rumàh sudah ada, harta benda sudah cukup banyak. Tiba-tiba suatu hari I Kukang mendapat musibah berat. Dia terkena penyakit yang sangat parah. Penyakititu tidak kunjungsembuh walaupun sudah dibawa berobat ke mana-mana. Banyak ahli nujum melihat nasibnya. Tidak kurang tabib mencoba me- ngobatinya. Tidak kurang dukun mencoba memanterai
obat yang akan diminum oleh I Kukang. Tenaga dokter sudah hampir putus asa merawatnya. Akan tetapi, penya-
kit belum ada tanda-tanda berkurang.
Uanguntukmembeli obat sudahhabis banyak. Biaya untuk memanggil dukun atau tabib tidak terhitung berapa banyak sudah habis. Harta benda kekayaan yang didapat- nya mulai dijual satu per satu. Sawah, kebun, perhiasan, dan barang-barang lain digadaikan untuk mendapatkan uang pembayar obat. Akhirnya habis semua hasil usaha yang dicarinya selama ini. Yang terakhir, dia menjual kain dan pakaian. Uangnya dibelikan obat. Obat itu dibuat dari berbagai akar dan daun oleh seorang dukun tua yang tinggal di kaki gunung. Setelah meminum ramuan itu, barulah I Kukang agak membaik. Jalannya masih lemah. Seluruh badannya terasa lemah. Selera makannya belum pulih. Lambat laun penyakitnya sembuh juga. Tetapi,
seluruh kekayaannya sudah lenyap. Hidupnya kembali
miskin. Pekerjaan di toko majikan sudah lama dihentikan. Biarpun demikian, I Kukang tidak patah semangat. Kehidupan barudimulainya lagi. Pada suatu hari yang tidak disangka-sangka, I Kukang
bertemu dengan seorang yang berasal dari Tanah
Hindustan. Dia termasuk dukun juga. I Kukang mulai mengambil perhatiannya. Orang itu dibaik-baiki, dan akhirnya mereka tinggalserumah. Orang Hindustan itu juga menyenangi I Kukang karena pandai membawa diri dan rendah hati. Selain itu, I Kukang pandai mengambil hatinya dan cepat merasa akrab. Suatu sore, mereka sedang berbincang-bincang di serambi depan rumah. Orang Hindustan memang suka menceritakan apa-apa yang dialaminya selama perjalanan
I Kukang berbaring di tempat tidur karena sakit parah Seorang dukun tua duduk di sampingnya sambil mengobati I Kukang I Souda berdiri sambil memegang secangkir air putih
meninggalkan negerinya. I Kukang demikian juga, tetapi selalu menyangkut liku-liku pahit getirnya kehidupan. "Tuan yang baik hati," kata I Kukang, "Saya ingin menceritakan keadaan saya sehingga merana begini." "Oh, ya, cobalah engkau ceritakan. Aku memang belum jelas mengetahui keadaanmu sejak kita bersama," kata orang itu. I Kukang berkata, "Hati saya sangat susah. Pikiran saya masih goncang. Saya sering mengingat masa-masa lampau. Saat-saat permulaan bekerja pada seorang sau- degar Belanda. Pertama, gaji saya hanya satu sen, tetapi cukup untuk makan dan belanja. Lama-lama naik menjadi lima sen, empat rupiah, dan terus naik setiap bulan. Saya dapat membeli pakaian, perhiasan, serta menabung. Gaji terakhir sudah sampai delapan ringgit dan tambahan lain. Tidak lagi habis untuk dimakan, harta benda sudah banyak, rumah sudah terbeli, dan simpanan juga banyak." "Tentu sudah pernah enak hidupmu. Namun, sekarang mengapa dapat menjadi begini?" tanya orang Hindustan.
"Yah, itulah yang sangat menyedihkan," jawab
I Kukang. "Ketika itu, saya sudah beberapa bulan menikah. Tiba-tiba saya terkena penyakit yang sangat parah. Sudah dicarikan obat ke sana kemari, mulai dari tabib yang terkenal sampai dengan dukun, orang-orang yang memiliki ilmu ganjil, dan dokter. Uang, harta kekayaan, dan perhiasan habis terjual untuk biaya pengobatan. Sekarang jangankan sepeser, alas pundi-pundi tempat uang itu pun habis tergadai. Oleh karena itu, apakah Tuan mengetahui orang yang dapat memberi berkat atau ilmu agar cepat kaya?"
"Aku turut bersedih mendengar kisahmu, Namun, aku tidak dapat memberi berkat atau ilmu seperti itu. Aku tidak punya. Orang yang tahu tentang ilmu itu, saya kira, tidak ada. Kenyataannya, hal itu mustahil ada. Bekas- bekasnya pun tidak pernah kulihat. Jika ada, sebenarnya aku juga berhasrat memilikinya," kata orang Hindustan. Orang itu berkata seterusnya, "Ada juga sebangsaku di sini. Mungkin ilmu itu dapat diperoleh darinya, karena pertama kali dia datang di sini juga sangat miskin, sama seperti saya. Mulanya dia hanya pekerja panggilan, akhirnya, menjadi kaya raya." "Yang mana orangnya, Tuan. Siapa tahu, saya dapat diterima bekerja bersamanya. Saya sangat mengharap dapat bekerja kembali," kata I Kukang dengan wajah memelas.
"Tidakkah engkau kenal Tambi Hakim? Seorang sau-
dagar kaya yang dulunya juga menjadi dukun. Barangkali dia pernah ke toko majikanmu, orang Belanda itu," katanya. "Saya tidak dapat mengingatnya lagi, Tuan. Lagi pula saya tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang datang," kata I Kukang. "Ya, kalau begitu, saya tunjukkan kepadamu besok," sambung orang Hindustan. Singkat cerita, pagi-pagi benar I Kukang dan orang Hindustan berangkat menuju saudagar Tambi Hakim. Mereka pergi naik bendi. Setelah I Kukang bertemu dengan Tambi Hakim, orang Hindustan mohon diri untuk pulang karena masih mempunyai pekerjaan yang lain. Tinggallah I Kukang dan Tambi Hakim berbincang-bin- cang.
I Kukang menyampaikan seluruh maksud dan keinginannya. Juga diceritakan tentang sakit parah se- hingga harta bendanya habis. Penyakit yang sampai sekarang nasih membekas. Terakhir I Kukang berkata,
"Saya sudah sembuh dari sakit itu, tetapi pendengaran
dan mata saya belum sembuh benar." Tambi Hakimberkata, "Pancaindera yang sehat sa- ngat diperlukan. Panca artinya 'lima'dan indera artinya 'tubuh'. Jadi, artinya kira-kira 'lima tubuh sebagai alat perasa', yaitu mata, hidung, telinga, mulut, dan kulit. Kalau tubuh itu sakit, tubuh yanglain tidak akan dapat bekerja dengan baik. Kalau sehat, seluruh bagian tubuh merasa nyaman. Jangan engkau cari orang yang tahu tentang ilmu kaya. Anak-anak, orang tua, besar kecil, dan laki-laki perempuan dapat mengatakannya. Namun, memelihara uang yang sudah ada yang biasanya sukar."
"Betul, Tuan. Tetapi, saya belum mengerti," kata I Kukang. "Tidak sukar memahaminya,"lanjut Tambi Hakim.
"Uang akan pergi ke tempat uang yang paling banyak.
Sebuah pasar yang ramai akan hidup terus jika uang berkumpul di sana. Orang-orang berlalu lalang tidak berbelanja. Kita hanya melihat-lihat saja di pasar sudah memerlukan uang. Demikian besarnya peranan uang itu."
"Saya belum juga mengerti maksud Tuan," kata
I Kukang sambil memegang-megang kening. "Ya, saya ceritakan saja perbandingannya. Agar
engkau dapat memahaminya," kata Tambi Hakim. "Ada seorang turunan Wajo. Sejak kecil dia sudah diajari mencari uang. Bersama temannya, dia sering
pergi berdagang dari satu negeri ke negeri lain. Di mana mereka kemalaman, di situ juga mereka tidur. Dalam perjalanan, jika mereka kemalaman, di padang luas, di tepi hutan, di perkampungan asing, di kota, atau di tepi sungai, tidak segan-segan langsung bermalam. Kuda yang biasa digunakan sebagai alat pengangkut dilepaskan dari bebannya. Barang-barang di letakkan di tengah. Api unggun dinyalakan di tepi. Dan, mereka tidur bergantian. Yang mendapat giliran bangun selalu siap dengan senjata. Kalau ingi mendatangi tempat yang jauh, mereka selalu membawabekal sirih, pinang, beras, dan ikan kering yang ditumbuk dengan garam dan cabai. Jika di rumah, mereka tidak akan menyalakan lampu sembarang- an. Lampu atau pelita hanya dinyalakan kalau ada per- lunya. Tidak ada pekerjaan yang mendatangkan uang, barulah lampu menyala. Atau, paling sedikit hasil pekerjaan itu dapat menutupiharga minyak yang habis. Orang itu tidak pernah mengenal istirahat. Pagi, siang, sore, malam, selalu bekerja dan berusaha. Ada yang menenun sarung. Ada yangmembuat tali pinggang, su- tera, atau kesumba. Ada yang memintal benang, membuat celana. Ada juga yang pandai besi dan perajin emas serta pekerjaan lainnya. Mereka sangat kikir. Sepeser pun mereka tidak ingin kehilangan .Bahkan, satu sen pun tidak pernah diberikan kepada fakir miskin. Dalam berdagang, setengah sen juga sangat dihargai, dan tidak dipandang enteng. Tidak ada uangseribu rupiah jika kurang dari setengah sen, begitu- lah semboyan mereka jika ditanya. "Wah, luar biasa pelit mereka," kata I Kukang. "Tetapi, apakah ada yang kaya orang sepelit itu?"
"Cukup banyak," kata Tambi Hakim, "Ada yang juta- wan. Ada yang rumahnya besar dengan harta melimpah. Ada yang memiliki perahu, perahu pinisi, dan kapal laut. Dengan demikian, mereka tidak khawatir pergi jauh dari satu negeri ke negeri lain untuk mencari penghidupan." "Cara mereka berusaha baik juga ditiru," kata I Kukang. "Ya, tetapi sangat berbeda dengan cara kita," jawab Tambi Hakim. "Kita berada di negeri sendiri. Tidak mau keluar mencari pengalaman. Selalu berkutat di situ-situ saja. Kita bagaikan anak kecil yang tidak bisa lepas dari susu ibunya. Persis seperti kata peribahasa, Seperti katak di bawah tempurung. Tanah segenggam dikiranya tempat satu-satunya. Tempurung dikiranya langit satu-satunya. Kita menganggap tidak ada tanah yang lebih baik. Hanya negeri ini yang diturunkan nenek moyang, kakek, dan orang tua, maka kita pun tertancap tetap di situ. Oleh karena itu, mulut orang dengan ringan dapat mencela, kalau kita mencoba-coba berbicara tentang negeri orang—negeri yang tidak pernah kita pijak. Orang akan berkata, "Tempat yang diduduki saja belum engkau jelajahi, mengapa tempat yang jauh diobrolkan?" "Sebegitu parahkah perangai orang Wajo, Tuan? tanya I Kukang. "Ya, begitulah," kata Tambi Hakim. "Ada dua bangsa yang saya tahu seperti itu. Satu lagi adalah orang Cina. Namun, orang Cina tidak sama persis dengan orang Wajo. Mereka sungguh-sungguh berusaha. Bayangkan saja, betapa jauh negeri Cina dari sini. Mereka juga datang kemari untuk mencari penghidupan. Sudah menjadi buah mulut orang, orang Cina datang dengan selembar celana
dan sepotong baju. Di negeri kita, mereka ada yang menjual kacang goreng. Ada yang menjual kue dan bakpau. Ada juga yang menjadi kuli di kebun sayur, menjadi pendorong gerobak, membuka toko kelontong, dan lain-lain. Usaha mereka sampai juga pada perdagangan besar, di luar negeri dan di dalam negeri. Berapa yang mereka dapat sebagai hasilnya, lebih banyak yang disimpan daripada yang dimakan. Misalnya, ada enam hasilnya, dua dimakan dan empat ditabung. Rumah orang Cina kelihatan seperti gubuk dari luar. tetapi, di dalamnya seperti istana. Penampilannya cukup sederhana, tetapi berpeti-peti pakaian bagusnya. Mereka juga tidak pernah lupa berziarah ke makam orang tua atau kakek neneknya, sebagai tanda rasa terima kasih. Doa dan restu selalu dipanjatkan demi usaha anak dan cucu." "Di manakah mereka belajar sehingga dapat berusaha menjadi kaya raya di negeri orang?" tanya I Kukang. "Ilmu yang dapat menjadikan kaya sebenarnya tidak ada, Nak." kata Tambi Hakim. "Tempat belajar dan berguru juga tidak ada. Jika ingin kaya, pangkalnya adalah usaha. Kita harus pandai, sabar, dan jujur. Tidak menghabiskan hasil yang didapat. Dan, yang terpenting kita jangan berputus asa. Kita berdoa sambil bekerja. Janganlah kita seperti orang yang tidak mengenal Tuhan," lanjut Tambi Hakim. "Bagaimana seharusnya kita bertingkah laku jika mengenal Tuhan?"tanya I Kukang. Maka, Tambi Hakim seolah-olah berkhotbah walaupun hanya I Kukang sebagai pendengarnya. Tambi Hakim memulai kata, "Tingkah laku seseorang
tidak akan beradab jika tidak mengenal Tuhan. Engkau sendiri dapat melihat. Pencuri melakukan pencurian. Pemadat mengisap madat atau candu. Penjudi bermain judi. Pemabuk meminum arak, alkohol, atau minuman keras lain. Orang suka berkata dusta, iri hati, dan ingin memiliki barang orang lain secara tidak sah. Senang mengeluarkan kata-kata kotor. Suka memaki dan mem- pergunjingkan keburukan orang lain. Pekerjaan sendiri tidak dilakukan, tetapi pergi mengamat-amati rumah atau keluarga tetangga. Lalu, dijadikan pembicaraan .ke mana- mana. Tidak segan-segan membunuh untuk mendapatkan harta bendanya. Serta, mengusik ketenangan orang atau bahkan memperkosanya. Rasa takut dan malu tidak mereka miliki. Mereka salingmengambil anak laki-laki atau perempuan. Berbuat seperti suami istri. Berpacaran melewati batas. Bahkan, ada yang merasa tidak senang atau benci terhadap seseorang, lalu menyuruh dukun untuk menyakiti atau meracuninya." "Ada juga orang yang menjadi perompak di laut. Mereka menakut-nakuti kapal dagang yang sedang ber- layar. Setelah takut, barang-barang bawaan habis diram- pas. Dengan merampok dua atau tiga kapal dagang saja, mereka akan menjadi kaya raya. Tetapi, bukan cara itu yang disebut ilmu yang dapat menjadikan cepat kaya, Nak Kukang," kata Tambi Hakim dan kemudian berhenti berbicara.
"Saya dapat mengerti semuanya, Tuan," kata
I Kukang. "Tetapi, tujuan utama saya kemari belum saya dapat. Sudah sekian lama kita mengobrol, tidak sedikit jua terselip kata-kata Tuan sebagai penawar hatiku.
Penyesalan saya belum terobati. Saya datang menemui Tuan untuk mendapatkan berkat dan kemujuran Tuan. Bukankah awalnya Tuan dahulu miskin, lalu menjadi dukun, dan akhirnya menjadi saudagar kaya? Bagaimana caranya Tuan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Cara memperolehnya dan mengusahakannya sehingga menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda." Kata I Kukang lagi, "Saya dulu juga miskin. Kemudian bekerja pada orang Belanda dan menjadi kaya. Dan, setelah sakit, saya kembali hidup merana. Saya persis orang yang kalah berjudi, Tuan." "Mengapa engkau berkata demikian," tanya Tambi Hakim. "Tampaknya sangat berat beban hidup yang engkau pikul. Hatimu tidak tenang dan selalu gelisah. Wajahmu agak muram dan kecut." "Betul, Tuan. Saya tidak dapat menyembunyikan kegelisahan hati," kata I Kukang. "Saya sudah berusaha tersenyum, tetapi Tuan dapat mengetahui keadaan sebenarnya. Seperti kata pepatah, "Sepandai-pandai menyembunyikan durianmasak, akhirnya akan tercium juga." "Tuan adalah seorang yang budiman. Tuan seorang saudagar kaya. Akan tetapi, saya orang yang miskin di permukaan bumi ini. Pakaian saya tidak akan mengenyangkan jika dimakan seekor belalang karena hanya selembaryang melekat di badan ini. Permintaan saya adalah cara berusaha dan berkat dari Tuan. Mengapa keburukan orang yang tidak mengenal Tuhan saja yang Tuan ceritakan?"tanya I Kukang. "Oh, rupanya engkau belum mengerti, Kukang," jawab Tambi Hakim.
"Coba engkau perbaiki cara berpikirmu. Jika yang
buruk-buruk sudah diceritakan, tentu yang baik yang dapat dijadikan pegangan. Dengan kelakuan yang baik itu, berarti engkau telah mempunyai ilmu. Ilmu itu dapat digunakan untuk mencari penghidupan. Mata uang rupiah, mata uang dolar, emas atau berlian belum tentu laku, Nak. Tetapi, tingkah laku yang baik, kejujuran, dan sifat suka menolong adalah mata uang yang laku di mana dan kapan saja. Dari ujung dunia kutub utara sampai dengan ujung dunia kutub selatan, mulai dari matahari terbit sampai matahari terbenam dan terbit lagi, perilaku seperti itu sangat mahal harganya dan sukar dicari. Jadi, engkau jangan jauh-jauh berguru atau mencari ilmu kaya. Dirimulah awal dan pangkalnya. Dan, itu kulihat ada pada dirimu." "Terima kasih, Tuan," jawab I Kukang. "Saya sudah mengerti sekarang. Di mana pun menginjak bumi, di mana saja menjunjung langit, kita harus beradab dan berperikemanusiaan." "Benar sekali yang engkau katakan," jawab Tambi Hakim, "Saya senang sekali engkau dapat menyimpulkan semua ceritaku." I Kukang berkata lagi, "Kalau demikian, saya hanya tinggal berharap pada Tuan. Barangkali Tuan dapat me- ngasihi sesama manusia, seperti saya juga. Tuan memberi berkat kepada saya. Menjelaskan cara mendapatkan rezeki dalam kehidupan. Satu lagi, saya mohon dicari- kan pekerjaan seperti di toko dulu, jika Tuan tidak ke- beratan. Apabila sakit saya sudah sembuh benar, barulah saya kembali ke majikan Belanda. Sekarang ini, saya ber-
pindah kepada Tuan. Apa yang menurut Tuan dapat dikerjakan, akan saya kerjakan. Tidak usah diberi gaji. Cukuplah Tuan tanggung makan saya sekeluarga." "Baiklah, kalau engkau bersedia bekerja di sini. Te- tapi, harus ada izin dari tuanmu yang dulu. Saya tidak mau dicurigai orang. Jangan sampai ia berpikir bahwa aku yang meminta engkau bekerja di sini. Saya tidak ingin merampas milik orang lain. Karena saya mendengar dan mengetahui, engkau adalah pekerja yang disenangi, disayangi, diberi kepercayaan, baik dan jujur," kata Tambi Hakim. "Mudah-mudahan nama baik Tuan tetap terjaga. Sampai sekarang saya sudah tidak diberi gaji lagi. Ketika saya masih sakit, hanya tiga bulan berturut-turut diberi gaji. Setelah itu, tidak lagi. Saya pun tidak meng- harapkannya karena memang tidak bekerja. Namun, tuan dan nyonya Belanda itu masih sering memberi belanja ala kadarnya," kata I Kukang. Singkat cerita, I Kukang mohon diri untuk menemui majikan lama. Dia membuat alasan yang baik, yaitu mencari obat dan bekerja sesuai dengan kemampuan. "Saya akan kembali kalau sudah sembuh benar," kata I Kukang kepada tuan dan nyonya Belanda. Tuan Belanda mengizinkannya. Maka, I Kukang mulai tinggal dan bekerja pada Tambi Hakim. Dukunnya dari Tanah Hindustan juga disertakan. Tambi Hakim menerimanya dengan baik. Sepetak kamar diberikan kepada orang Hindustan untuk tidur. Sebuah rumah kecil ditempati I Kukang sekeluarga. Mereka membantu usaha dan perdagangan Tambi Hakim. Setelah beberapa lama di rumah Tambi Hakim,
semakin hari semakin baik keadaan I Kukang. Telinganya sudah jelas mendengar. Matanya sudah jelas melihat. Pekerjaan juga semakin banyak. Sura-surat yang di- tujukan kepada pedagang lain, kongsi-kongsi, dan pem- beli sudah dipecayakan kepada I Kukang. Urusan barang yang keluar masuk negeri juga menjadi tanggung jawab- nya. sama seperti di tempat orang Belanda dulu, I Kukang dapat mengerjakan semua dengan baik dan benar. Bertambah bulan, bertambah rasa sayang dan percaya
Tambi Hakim kepada I Kukang. Karena sejak dia tinggal
bersama, perdagangan dan usaha-usahanya semakin lan- car dan berhasil. Lebih-lebih lagi istri I Kukang, dia diserahi membuat makanan dan minuman. Tidak pernah patah selera makan Tambi Hakim dibuatnya, karena, istri I Kukang sudah terbiasa mengurus soal makanan. Sejak kecil, dia sudah belajar kepada ibunya. Selain itu, I Souda (istri I Kukang) juga mendapat kerja tambahan, membuat pakaian, baju dan celana. Hatta, beberapa lama pekerjaan berjalan dengan lan- car. Tambi Hakim hanya memeriksa, meneliti, dan me- ngawasi. I Kukang sibuk dengan segala macam surat, keluar masuk barang-barang, jual beli dagangan, dan hubungan kerja lain. Orang Hindustan tidak pernah tinggal diam membantu I Kukang. I Souda repot dengan jahit-menjahit dan masak-memasak. Perdagangan, pelayaran, dan perusahaan semua maju pesat. Bertambah tahun, bertambah jugalah rezeki semuanya. Pada waktu itu, hari masih pukul setengah delapan malam. Semuanya telah selesai makan malam. Tambi Hakim duduk-duduk di teras rumah sambil mengisap rokok. Di hadapannya telah tersedia kopi dan beberapa
potong kue ringan. Di luar rumah, bulan bersinar mene- rangi alam. Sesekali terdengar suara burung hantu yang terbang sambil mencari makan. I Kukang perlahan-lahan mendekati tuannya. Lalu, duduk di kursi sebelah. Tambi Hakim diam saja. Dia mengira akan ada yang dibicarakan I Kukang. Namun, setelah sekian lama, I Kukang juga tetap diam. Matanya memandang jauh, menikmati sinar bulan purnama.
"Sudah beres semua pekerjaan kita hari ini?" tanya
Tambi Hakim memulai bicara. "Sudah, Tuan. Hari ini pekerjaan tidak terlalu merepotkan,"jawab I Kukang. "Engkau memang pantas memegang semua itu. Tetapi, saya mohon jangan engkau hianati kepercayaanku kepa- damu," kataTambi Hakim. "Saya tidak akan membalas budi baik Tuan dengan kejahatan," jawab I Kukang. "Terima kasih. Kalau engkau mau memakai uang, berapa saja, janganlah berat hatimu memintanya kepadaku,"kata Tambi Hakim. "Kepada siapa lagi saya berharap, kalau bukan kepada Tuan. Akan tetapi, pada saat ini, saya belum memerlukan- nya karena semua keperlua saya dan keluarga sudah Tuan cukupi. Ada satu permintaan saya. Mungkin Tuan dapat menceritakan hal rezeki, menurut apa yangsudah Tuan dapat. Saya terlalu bangga atas keberhasilan Tuan," kata
I Kukang.
Hati Tambi Hakim terasa nyaman. Bertambah-tambah senangnya terhadap I Kukang. "Jika itu saja yang engkau minta, tidak sukar," jawabnya. "Saya akan mengingat- ingat lebih dahulu. Ada dua atau tiga macam. Itu
merupakan obat mujarab dalam mencari rezeki. Orang yang baik tentu harus tahu. Harus menyimpannya dalam hati. Seperti menyimpan jarum, harus jeli dan hati-hati Dan, setiap saat perlu direnungkan." Kata Tambi Hakim seterusnya, "Kalau kita melihat batu karang di laut saat air pasang surut semua tam- pak rata, bermacam-macam, dan indah-indah. Ada yang batunya masih lembut, ada yang sudah keras dan lama. Bentuk dan warnanya juga berbeda-beda. Ada yang putih, ada yang hitam, ada yang coklat, ada yang biru, dan ada juga yang hijau. Besarnya juga beragam. Sebesar kepala kuda ada. Sebesar rumah ada. Bahkan, ada yang sebesar gunung, Di tepi laut bertebaran kerang-kerangan, siput, lokan, batu-batu berwarna-warni, dan lain-lain. Pada saat air laut akan pasang naik, semua itu akan terendam. Jika kita berdiri di sana, air laut masih menyentuh telapak kaki. Tiba-tiba sudah sampai pada mata kaki. Belum menyebut sampai di mata kaki, tahu-tahu sudah sampai ke lutut. Belum disangka sampai ke lutut, lalu sudah mencapai paha. Belum lagi dikira sampai ke paha, kemudian sudah berada di leher. Batu karang pun demikian juga. Pertama, kita me- lihatnya bermunculan di sana sini. Semakin lama semakin menyusut dan mengecil. Lama kelamaan akhirnya lenyap. Semua menjadi rata. Hanya laut yang terlihat semakin lebar dan luas. Begitu juga kedatangan rezeki. Tidak dapat disangka-sangka. Tuhan sudah mengatur seluruhnya. Tetapi hamba-Nya memang tidak menge- tahuinya. Kalausudah datang, tidak akan ke mana. Jika sudah diberi-Nya, tidak akan dapat direbut oleh orang
lain. Tuhan maha segala-galanya."
I Kukang terpana. Dia teringat cerita ayah angkatnya,
yaitu sebuah tempat yang beribu-ribu jumlah pancuran mengalirkan air. Banyak sedikitnya jumlah rezeki orang ada di sana. jangan sekali-kali ingin memperlebar lubang pancuran. Dapat terjadi sebaliknya, pancuran tersumbat potongan kayu. Dia ingin mengetahui cerita selanjutnya, lalu bertanya, "Bagaimana seterusnya, Tuan?" "Seterusnya akan saya ceritakan besok. Malam sudah larut. Agar pekerjaan kita tidak terbengkalai, engkau harus istirahat dan tidur. Aku yakin, engkau letih seharian bekerja. besok, aku berjanji akan meneruskannya," kata Tambi Hakim. I Kukang melirik jam dinding. "Oh, betul, Tuan. Jam itu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit," kata I Kukang. Kemudian, dia permisi untuk beristirahat. Di kamar dia menemui I Souda yang sudah lama menunggu. Tuannya juga beranjak menuju pera- duan. Hari pun pagi, siang, kemudian sore menyusul. Malamnya Tambi Hakim sudah duduk di teras rumah menunggu I Kukang. Dia ingin bercerita lebih jauh lagi. Katanya setelah I Kukang duduk tenang di sam- pingnya, "Saya selalu memanfaatkan tutur kata orang Bugis, yaitu watutuha yang artinya 'berhati-hatilah' dan wajagaha yang artinya 'berjaga-jagalah'. Saya menyesuai- kan pengertian itu dengan perubahan hati. Kata watutuha sebenarnya berarti 'memelihara mulut agar tidak lancang; memelihara kaki, tangan, mata, dan telinga agar tidak mengerjakan yang aib'. Kita dianjurkan untuk memper- baiki tabiat dengan sebaik-baiknya. Orang Bugis mengatakan macinnong mariti kitti.
Orang Makassar mengatakan malaynying macikuong na- macikuong. Artinya 'suci bersih dengan sebersih-ber- sihnya'. Itulah yang dikehendaki agar kita mengetahuinya. Kita tetap berbaik sangka dalam hati terhadap orang. Tidak menaruh dendam, tetapi saling. memaafkan. Kita semua adalah umat manusia yang sama, diciptakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Diturunkan-Nya melalui sumber yang sama, dari Nabi Adam. Tuhan melihat sama dengan mata yang terang. Kulit hitam, kulit putih, dan kulit sawo matang tidak dibedakan. Adapun yang disebut adat, manusia yang mem- buatnya. Tingkat-tingkat manusia, seperti Karaeng Makgauk, Pabi Cara Butta, Tumailalang, ke bawah lagi Batesalapanga, dan dibawahnya disebut Januang (kepala kampung), serta Surosurowa (rakyat biasa, sampai ke hamba sahaya (budak). Manusia yang membedakannya, tetapi sekarang kita harus menganggap sama. Adat itu tidak mengenal sesama, tetapi kasih kita harus merata." "Ya, kita memang wajib mengasihi sesama manusia. Terutama kaum miskin dan papa," kata I Kukang menam- bahkan. "Betul katamu. Itu merupakan pahala yang besar," jawab Tambi Hakim. "Di samping itu, kita memperkuat dengan segala yang ada pada diri kita. Tuhan Yang Maha Penyayanglah yang dapat menghidupkan kita. Apa-apa yang kita lakukan diketahui-Nya. Segala dilihat-Nya, semua didengar-Nya, semua dirasakan-Nya. Jangankan perbuatan kita yang tercela di dalam kamar, sedangkan semut
hitam berjalan di lubang kecil yang gelap gulita dan hitam pekat di bawahtanah, dapat diketahui-Nya. Sungguh benar, tidak salah sedikit pun, kata-kata orang tua dulu, "Kebaikan yang engkau kerjakan, kebaikan juga yang datang padamu. Keburukan yang engkau lakukan, maka keburukan pula yangmengunjungimu". Banyak sekali orang yang menyesali diri. Banyak orang yang mencelakakan diri sendiri. Dan, tidak sedikit orang yang merusak kebaikan dan keberuntungan sendiri karena berbuat salah. Salah yang tidak dapat diperbaiki." I Kukang teringat lagi peristiwa seseorang yang ingin melihat tempat rezeki. Lubang rezekinya ingin diperlebar, tetapi malah tertutup akibat salah sendiri. Salah yang tidak dapat disesali. "Lalu, bagaimana seterusnya, Tuan?" sela I Kukang. Tambi Hakim mengambil sebatang rokok hugo. Lalu, membakarnya dengan mancis dan mengisapnya. Asap mengepul tebal, berwarna putih, keluar dari mulutnya. Kemudian, diteguknya lagi kopi. Perasaan lega dan nikmat tersembunyi dari permukaan wajah Tambi Hakim. "Sedangkan yang disebut wajagaha, berarti kita harus waspada akan perbuatan sendiri,"katanya sambil mene- piskan abu rokok. "Kebiasaan kita kadang-kadang dapat melupakan segalanya. Yang dapat merusakkan segalanya itu adalah hawa nafsu. Pada masalah itu, engkau dapat mengambil nasihat dari cerita orang Wajo. Orang Wajo dapat dikatakan tutu. Tutu artinya 'hemat, hati-hati, dan mengendalikan nafsu'. Sedangkan orang meng- anggap orang Wajo itu benar. Tetapi bagi saya, orang Wajo benar setengah. Dari segi hemat dan hati-hati
menjaga nafsu, orang itu tidak salah. Namun, segi menolong manusia, mereka terlalu kikir. Fakir miskin dan anak yatim piatu tidak pernah dihiraukannya." "Saya sependapat, Tuan. Mereka terlalu kikir untuk memberi sedekah," balasI Kukang. Tambi Hakim berkata terus, "Jangan engkau kira, mereka tidak dapat mengganti bekal makanannya, yang hanyagaram dan ikan tumbuk. Mereka dapat membeli mentega kaleng, minyak sapi, ayam goreng, ikan bakar, dan makanan lain yang enak-enak. Tetapi, hemat selalu dipegangnya untuk mendapatkan hasil yang melimpah pada masa yang akan datang. Ada sebuah peribahasa yang selalu menjadi pedoman mereka, yaitu "Nantilah kamu tidur, kalau tempat tidur sudah berkasur tebal dan tinggi. Nantilah kamu makan, kalau ayam gurih lauk paukmu". I Kukang menambahkan, "Awalnya, saya berpikir bahwa orang Wajo terlalu pelit pada diri sendiri. Bukti- nya, bekal makanan yang dibawa kalau pergi jauh, hanya sirih, pinang, beras, dan ikan tumbuk. Tetapi, sekarang, mereka berbuat demikian untuk berhemat sebelum men- capai hasil yang baik." "Apa sebenarnya maksud peribahasa itu, Tuan?" tanya I Kukang. Tambi Hakim menjawab, "Kasur besar dan tinggi maksudnya adalah 'keadaan yang sangat mengantuk'. Jika sudah sangat mengantuk, kita akan dapat tidur nyenyak walaupun di tanah. Meskipun badan terkena hujan, meskipun setengah badan terpanggang terik ma- tahari, kita tidur saja dengan nyaman. Mengantuk yang amat sangat disamakan dengan kasur besar dan tinggi.
Jadi, kita jangan tidur kalau belum mengantuk benar. Nantilah kita tidur, kalau sudah benar-benar mengantuk. Maksud ungkapan ayam gurih lauk-pauk adalah 'keadaan yang sangat lapar'. Jika sudah merasa sangat lapar, kita akan makan dengan lahap. Walaupun hanya berlaukkan garam dan terasi, selera makan tidak akan berkurang. Karena sangat lapar, lauk pauk apa saja akan kita santap dengan cepat. kalau kebetulan ada sayur daun-daunan atau ikan teri saja pun, sudah amat enaklah rasanya. Jadi, kita jangan makan kalau belum lapar benar. Nantilah kita makan kalau sudah benar-benar lapar." "Sudah peribahasa yang cukup berguna, Tuan. Ya, kalau sudah mengantuk berat, tidur di tepi jalan yang ramai pun dapat sambil mendengkur. Kalau sudah lapar, jangankan nasi, singkong atau ubi pun akan dimakan dengan lahap," kata I Kukang. "Saya pernah mengalami seperti itu, Tuan. Ketika saya belum berapa lama ditinggalkan orang tua," katanya lagi. "Oleh karena itu, simpanlah uangmu jika engkau dapat. Kalau Tuhan Yang Mahaesa telah memberi rezeki, jangan habiskan hari ini. Ingat hari esok. Pesan itu selalu terngiang-ngiang di telingaku. Pesan itu dikatakan oleh guruku semasa aku kecil," kata Tambi Hakim. "Pesan lain guru itu adalah menggunakan perhitung- an. Segala yang didapat harus dihitung dengan cermat, harus dilihat, dan harus ditandai. Tentang hal apa saja. Apakah banyak, ataukah sedikit. Kalau pengeluaran dalam sehari, seminggu, sebulan, ataupun setahun, lebih besar daripada pemasukan, akan berbahaya. Periksa diri sendiri baik-baik. Tetapkan dalam hati, jangan sampai
belanja keperluan lebih banyak daripada penghasilan. Sungguh suatu perbuatan yang keliru, kalau hal itu sam- pai terjadi. Kita harus menggunakan perhitungan tambah (+). Jika mendapat satu, harus ditambah satu menjadi 1 + 1 = 2 + 1 = 3 + 2 = 5 dan seterusnya. Lebih baik lagi, kalau menggunakan perhitungan kali (x). Itu akan sangat baik. Jika mendapat dua, harus dikali dua menjadi 2 x 2 = 4 x 2 = 8 x 3 = 24 dan seterusnya. Dengan demikian, penghasilan tetap lebih banyak daripada pengeluaran. Bukan sebaliknya yang dipakai. Kita akan rugi dan akhirnya melarat. Misalnya, kita menggunakan perhitungan kurang (-). Kalau kita mendapat empat dikurangi satu menjadi 4 − 1 = 3 - 1 = 2 − 1 = 2 − 1 = 1 - 1 = 0. Akhirnya habis, tinggallah utang. Penghasilan tidak ada, sedangkan pengurangan dan pengeluaran berjalan terus. Maka, kemiskinan sudah menunggu di depan." "Saya sangat setuju dengan perhitungan itu, Tuan. Kita harus menggunakan perhitungan tambah. Atau, jika mungkin, perhitungan kali, sehingga penghasilan semakin hari semakin bertambah atau berlipat ganda. Sebaliknya, perhitungan kurang pasti membawa mala- petaka," tandas I Kukang. "Dan, ini yang paling penting," kata Tambi Hakim kemudian. "Tidak ada pengaruh yang paling besar, kecuali uang. Orang-orang akan menjadi termasyhur namanya. Seorang raja akan semakin besar kekuasaannya. Rakyat jelata akan menjadi naik dan tinggi martabatnya. Kemuliaan seseorang akan bertambah-tambah, derajat akan naik, dan pengaruh semakin besar. Itu semua karena harta benda
dan uang."
"Sebagaimana juga seorang raja yang berkuasa
menjadi kaya raya. Seorang saudagar miskin menjadi kaya. Hanya dengan perhitungan yang benar," kata Tambi
Hakim. "Tolong beri penjelasan, Tuan. Saya ingin meneladani
yang baik dari cerita itu. Dan, jika mengandung pepatah dan nasihat, mungkin dapat dijadikan pedoman hidup,"
pinta I Kukang.
"Demikian ini cerita selengkapnya," kata Tambi Hakim untuk memenuhi permintaan I Kukang. "Ada seorang raja yang sangat berkuasa. Namanya Sultan Hasannuddin. Kerajaannya berada di Ri Butta Lompowa (tanah kebesaran), sangat besar, dan ter- masyhur ke mana-mana. Anaknya ada seorang perempuan. Wajahnya amat cantik. Hidungnya mancung dan bangir. Mata hitamnya amat hitam. Mata putihnya sangat putih, sehingga terba- yang-bayang warna matanya biru muda. Pipinya bagaikan asam dipauh. Keningnya sangat elok. Lehernya jenjang. Rambutnya hitam bagus, panjang sampai ke lutut. Setiap saat dan setiap waktu diberi minyak dan wewangian. Kulitnya kuning langsat dan bersih. Bentuk tubuhnya sedang, bibirnya selalu merekah bagaikan buah delima. Giginya putih, rata, dan tersusun rapi seperti baris biji mentimun. Sebuah mahligai dibuatkan di depan istana untuknya. Mahligai yang paling baik dan dimuliakan. Terali besi dipasang di sekelilingnya. Garnbar-gambar indah se- cukupnya dan taman yang seindah-indahnya. Tentu engkau memakluminya, karena orang kaya dan berkuasa,'
kata. Tambi Hakim.
"Ya, saya dapat mengerti," jawab I Kukang.
Tambi Hakim meneruskan cerita. "Orang Jepang dijadikan sebagai pekerja di sana. Orang Eropa disuruh merencanakan bentuk dan tempatnya. Mahligai itu seperti Macang Kiyokuo rumah orang Cina. Segala macam ukiran ada di dalam.Segala bentuk bunga ada di taman. Dan, di puncak paling atas diberi gambar burung merak, burung uang, dan burung cenderawasih. Tuan Putri dapat melihat dari balik jendela. Indah dan bagus sekali. Tuan Putri tinggal di atas mahligai. Dia ditemani pengasuhnya, ibu yang menyusukannya, dan dayang- dayang sebagai penghibur di kala duka. Hamba perwira selalu menjaga, bergantian, siang dan malam. Syahdan, di dalam kerajaan itu, ada seorang saudagar kaya. Namanya Amir Daawaji. Kekayaannya sudah menyaingi harta benda raja. Ada juga anaknya seorang laki-laki. Namanya Muh Nur. Saudagar itu tidak tanggung-tanggung memanjakan anaknya karena meru- pakan anak semata wayang. Sangat dicintai, sangat disa- yang, dan sangat dikasihinya. Tetapi, Muh Nur tidak sombong, tidak menjadi pongah dengan perlakuan ayahnya seperti itu. Dia menjadi anak yangbaik, rajin belajar, jujur, dan suka menolong sesama. Pada suatu malam, Amir Daawaji terbangun dari tidur. Hatinya berbisik ingin mengawinkan anaknya, Muh Nur. Anak itu memang sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Maka, paginya berita disiarkan ke seluruh penjuru negeri bahkan sampai ke luar negeri. Namun, belum ada yang sesuai dijadikan pasangan Muh Nur. Sampai pada satu pembicaraan untuk mengambil anak Raja Sultan
Hasanuddin. Tuan Putri Sultan Hasanuddin juga anak satu-satunya. Amir Daawaji bingung memikirkan perbedaan dirinya dengan raja. Biarpun dirinya kaya, tetapi berbeda tingkat kebangsawanannya. Dia bersandar ke dinding tempat tidur. Termenung seperti orang tepekur. Memikirkan bagaimana jadinya nasib Muh Nur. Tanpa dirasakannya, jam sudah menunjukkan pukul tiga malam. Dia termangu, dan tiba-tiba tertidur kembali. Di dalam tidur, dia bermimpi melihat orang yang sangat besar badannya. Baunya sangat harum. Bentuk wajahnya sangat cantik karena ia seorang perempuan ber- sayap putih. Orang itu mengambil Amir Daawaji, me- masukkannya ke dalam kantong bajunya yang sangat besar. Sebatas leher Amir Daawaji di dalam kantong itu. Lalu, membawa terbang ke luar bumi. Amir Daawaji hanya dapat menoleh ke belakang, melihat rumahnya semakin lama semakin kecil. Akhirnya lenyap ditelan kejauhan. Tinggal matanya memandang bumi seperti raga yang bulat. Lalu, mereka sampai pada lautan yang amat luas. Di tengah ada sebuah pulau kecil, seperti batu akik. Pasirnya emas. Rumputnya kumakuma (tumbuhan yang harum baunya). Dan sejauh mata memandang, hanya air laut berkejar-kejaran menuju pantai. Amir Daawaji diturunkan di sana. Orang itu berkata, "Maukah engkau mengetahui tempat ini? Tempat ini yang disebut Kutub Selatan. Tempat yang engkau duduki itu bernama batu akik. Batu itu dijunjung oleh ikan Nun. Ikan Nun itu berada di bawah lautan ini. Dan, jangan sekali-kali engkau kira lautan ini lautan dunia yang per- nah kaulihat.
Lihatlah sapi itu besarnya! Seorang malaikat berdiri di tanduknya. Dia yang menatang, dengan telapak tangan, bumi yang engkau tempati dulu. Di luar lautan ini ada gunung Tapparinring, yang dikelilingi oleh perbukitan Kaf. Dia jugalah yang memelihara ikan Nun agar gelom- bang yang besar tidak masuk kemari, meruntuhkan batu tempat dudukmu itu. Amir Daawaji masih ngeri melihat laut luas, batu tempatnya duduk yang selalu hampir dihempas ge- lombang, sapi yang sangat besar dengan seorang malaikat yang berjubah putih. Tetapi, tiba-tiba orang itu kembali mengangkat Amir Daawaji, memasukkannya ke dalam kantong, lalu menerbangkannya kembali ke tempat asalnya di bumi. Amir Daawaji terkejut. Kemudian dia bangun. Hati- nya menjadi "dag-dig-dug" karena memikirkan mimpi yang masih membayang di mata. Akhirnya, timbul ke- inginan Amir Daawaji membuat seekor burung emas. Burung emas yang dapat terbang. Setelah pagi, Amir Daawaji mengambil seke- ping papan besar. Papan itu ditulisnya sebuah ungkapan "Tidakada yang tidak bisa jika ada uang". Lalu, menyuruh pembantu untuk memasangnya di pintu peka- rangan. Banyak orangyang berlalu-lalang melihat dan membaca papan pengumuman itu. saling memberi tahu dengan yang lain. Maka, berita itu tersebar ke seluruh penjuru negeri. Sultan Hasanuddin juga mendengar. Dia langsung memerintahkan agar Amir menghadap raja. Raja sangat murka atas perbuatannya. Daawaji masih jauh di lapangan, tetapi raja sudah
marahsambil mengetuk-ngetukkan tongkat. "Betulkah engkau yang memasang pengumuman, berbunyi "Tidak ada yang tidak bisa jika ada uang?" tanya raja ketika Daawaji sudah dekat. Daawaji berjalan perlahan mendekati raja. Begitu sampai, dia sujud mencium kaki raja sambil minta am-
pun. "Betul, saya tidak menyangkal, saya yang memasang
papan itu, Tuan Paduka," katanya. "Baik," kata raja, "Saya akan besabar. Saya ingin melihat bukti. Engkau saya beri waktu 40 hari untuk memberi bukti itu. kalau nanti tidak berhasil, engkau terpaksa saya bunuh. Lehermu akan kupancung." Amir Daawaji mohon diri pulang. hatinya menjadi gundah gulana. Tiada tenang sedikit pun lagi hidupnya.
Sesampai di rumah, Daawaji langsung mencari tukang besi yang biasa membuat mesin. Seorang lagi tukang
emas yang dapat menyepuh emas mesin berbentuk seekor burung. Burung emas itu menggunakan mesin sehingga dapat menerbangkan seorang manusia. Memiliki banyak telur emas. Dapat hinggap di tempat yang tinggi. Dapat berkata-kata dengan berbagai bahasa, dan kepandaian lainnya. Singkat cerita, burung emas selesai 40 hari. Segala
bekal sudah lengkap dan Muh Nur masuk ke perut burung,
lalu terbang. Burung emas terbang dekat ke mahligai Tuan Putri. Dayang-dayang, ibu pengasuh, dan para pengawal ber- hamburan ingin menangkapnya. Tapi, burung itu terbang mendekat dan menjauh sambil menjatuhkan telur-telur emas. Sementara orang-orang berebutan telur, burung itu bernyanyi, "Meskipun engkau mengupah saya dengan
intan, membujukku dengan permata, saya tidak akan dapat dikuasai." Dayang-dayang dan anak negeri semakin gila. "Aduhai, pintar benar burung itu bernyanyi," kata mereka. Ada yangmengulurkan tangan. Ada yangmelambaikan tangan untuk memanggil. Ada juga yang menjulurkan kayu dan berkata, "Di sinilah engkau hinggap, hai burung emas!" Mendengar suara gaduh, Tuan Putri ke luar. Berdiri di serambi sambil menatap sekeliling. Burung emas bernyanyi lagi, "Ada derita yang jatuh terpelanting. Jatuh terguling-guling. Pungutlah dia. lalu simpan dalam hati," Tuan Putri terpana melihat dan mendengarnya. Burung emas akan terbang jauh, tetapi, Tuan Putri me- manggilnya. Lalu mendekat lagi sehinggadapat di- tangkap. Tuan Putri membawanya ke dalam. Sultan Hasanuddin melihat burung itu. Diajaknya berbahasa Arab, burung emas mengerti. Diajak berbicara bahasa Hindia, tetap mengerti. Diajak berbicara Bugis Makassar, apalagi. Tidak ada bahasa yang tidak di- mengerti oleh burung emas. Singkat cerita, burung emas sudah lama di mahligai Tuan Putri. Raja sudah lupa akan janjinya dengan Daawaji. Suatu malam, suara laki-laki terdengar dalam mahligai. Suara itu adalah Muh Nur. Para pengawal, dayang-dayang, dan anak-anak negeri mengetahuinya. Maka, mereka menjadi ribut sambil berkata, "Ada laki-laki dalam mahligai Tuan Putri." Adalah aib yang besar jika ada laki-laki masuk ke dalam mahligai Tuan Putri. Raja terkejut. Lalu menyuruh pulang semua anak-anak negeri. Burung emas dibawanya kepada permaisuri
Di sebuah ruangan I Kukang duduk sambil menulis. Di hadapannya para karyawan sibuk bekerja.
untuk diperiksa. Sehabis diperiksa, pokok persoalan pun diketahui. Raja tiba-tiba teringat janjinya dengan Amir Daawaji. Selanjutnya, raja memanggil Amir Daawaji. Amir Daawaji masih di tangga, tetapi raja sudah turun untuk menuntunnya. "Sungguh benar, apa yang engkau tulis di papan," kata raja, "Anak saya terpikat oleh burung emas. Oleh karena itu, ambillah anakmu untuk kita nikahkan. Sebagai penutup aib, karena orang banyak te- lah mengetahuinya. Amir Daawaji menyetujuinya. "Demikianlah ceritanya,"kata Tambi Hakim. I Kukang mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda puas.
- I KUKANG SUKSES KEMBALI
I Kukang bekerja terus di tempat Tambi Hakim, walaupun sudah sembuh dari sakit. Dia tidak kembali kepada Saudagar Belanda karena saudagar itu telah pu- lang ke negeri asalnya. I Kukang selalu mengingat cerita-cerita yang mengan- dung nasihat. Nasihat-nasihat itu dijadikan pegangan hidupnya. Nasihat yang terakhir didapatnya dari tuannya, Tambi Hakim, yaitu kekuasaan harta/uang yang sangat besar dan hidup jangan boros. Dengan demikian, I Kukang belajar sambil bekerja. Sudah hampir seluruh perusahaan dan perdagangan Tambi Hakim dipercayakan kepada I Kukang. Dia me- mang pantas mendapat kepercayaan itu. Karena, dia bekerja sungguh-sungguh, cekatan, pandai, dan jujur. "Aku sudah tua. Engkaulah nanti yang meneruskan usaha-usaha kita ini.Mudah-mudahan engkau bahagia bekerja denganku," kata Tambi Hakim. I Kukang tersenyum sambil melirik I Souda, istrinya.
Wallahu a'lam.
PERPUSTAKAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN
Peminjam Tanggal kembali
12618
Perpus Jende