Seri Bacaan Sastra Anak Nusantara Pusat Bahasa
Jaka Satya
dan Jaka Sedya
SULADI
313 L
Des D DAN
Jaka Satya
dan Jaka Sedya
PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA DERWRTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 00002562
PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA 2903 No. Induh Kiasifikasi 32004
13 Tgl.
8992313
Eem Tta. SUL
j
Jaka Satya dan Jaka Sedya oleh Suladi Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta 13220 Perwajahan oleh Ibrahim Abubakar Tata rupa sampul dan ilustrasi oleh Lalan Sutisna Diterbitkan pertama kali oleh Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta Pusat Bahasa, 2003
Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.
ISBN 979 685 363 9
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT BAHASA
Masalah kesastraan di Indonesia tidak terlepas dari
kehidupan masyarakat pendukungnya. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia telah terjadi berbagai perubahan baik sebagai akibat tatanan kehidupan dunia yang baru, globalisasi, maupun sebagai dampak perkembangan tek- nologi informasi yang amat pesat. Kondisi itu telah mem- pengaruhi perilaku masyarakat Indonesia. Gerakan refor- rnasi yang bergulir sejak 1998 telah mengubah paradigma tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan ber- negara. Tatanan kehidupan yang serba sentralistik telah
berubah ke desentralistik, masyarakat bawah yang men-
jadi sasaran (objek)kini didorong menjadi pelaku (subjek) dalam proses pembangunan bangsa. Sejalan dengan perkembangan yang terjadi tersebut, Pusat Bahasa berupaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat akan kebu- tuhan bacaan sebagai salah satu upaya perubahan orien- tasi dari budaya dengar-bicara menuju budaya baca-tulis serta peningkatan minat baca di kalangan anak- anak. Sehubungan dengan itu, Pusat Bahasa, Departe- men Pendidikan Nasional, melalui Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Jakarta, secara berke- lanjutan menggiatkan penyusunan buku bacaan sastra
iv
anak dengan mengadaptasi dan memodifikasi teks-teks cerita sastra lama ke dalam bentuk dan format yang dise- suikan dengan selera dan tuntutan bacaan anak masa kini. Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-anak Indonesia pada rnasa kini dan penda- hulunya pada masa lalu agar mereka akan semakin me- ngenal keragaman budaya bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia. Bacaan keanekaragaman budaya dalam kehidupan Indonesia baru dan penyebarluasannya ke warga masya- rakat Indonesia dalam rangka memupuk rasa saling me- miliki dan mengembangkan rasa saling menghargai diharapkan dapat menjadi salah satu sarana perekat bangsa. Buku sastra anak ini merupakan upaya memperka-
ya bacaan sastra anak yang diharapkan dapat memper-
luas wawasan anak tentang budaya masa lalu para pen- dahulunya. Atas penerbitan ini saya menyampaikan penghar-
gaan dan ucapan terima kasih kepada para penyusun bu-
ku ini. Kepada Sdr. Teguh Dewabrata, Pemimpin Bagian
Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-
Jakarta beserta staf, saya ucapkan terima kasih atas usa- ha dan jerih payah mereka dalam menyiapkan penerbitan buku ini. Ucapan terima kasih saya sampaikan pula kepada Sdr. Lalan Sutisna yang telah membantu menjadi ilustrator dalam penerbitan ini. Mudah-mudahan buku Jaka Satya dan Jaka Sedya ini dibaca oleh segenap anak Indonesia, bahkan oleh
guru, orang tua, dan siapa saja yang mempunyai per- hatian terhadap cerita rakyat Indonesia demi memperluas wawasan kehidupan masa lalu yang banyak memiliki nilai yang tetap. relevan dengan kehidupan masa kini.
Dr. Dendy Sugono
SALAM PEMBUKA
Adik-adik,
Cerita Jaka Satya dan Jaka Sedya ini kakak persem- bahkan kepadamu. Sumber penulisan cerita ini kakak gu- bah dari buku teks berbahasa Jawa, Jaka Satya lan Jaka Sedya, karangan Mas Arjasuwita yang selesai dikarang pa- da bulan Agustus, tahun 1910 di Yogyakarta. Harapan kakak, semoga cerita ini dapat memberikan pengetahuan baru kepadamu mengenai cerita-cerita di tanah air kita. Selain itu, dengan sering membaca cerita dari negeri sendiri dapat memperkaya imajinasi dan mem- perluas wawasan keindonesianmu. Selamat membaca.
Suladi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT BAHASA .i SALAM PEMBUKA..vi ..vii
DAFTAR ISI
1.SAUDAGAR BRANAHARDA.
2. BERGURU PADA KIAI WASITA...10
3.MIMPI KIAI WASITA ....23
4. MENGABDI KE KERAJAAN 41
5. PENGEMBARAAN SI KEMBAR....62
Bagian 1
SAUDAGAR BRANAHARDA
"Ya, Tuhan, siapa yang akan mewarisi kekayaanku ke- lak. Kini aku sudah tua. Anak pun aku tak punya. Ah ... ah, buat apa harta yang hamba miliki sebanyak ini kalau tak punya anak," keluh Branaharda sambil duduk termenung seorang diri memikirkan nasibnya. Branaharda memang seorang saudagar yang berhasil dan kaya raya. Berbagai usaha dagangnya banyak disukai oleh masyarakat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ke- kayaan yang dimiliki sangat berlimpah. Rumahnya mewah bagaikan istana raja. Namun, ia sering menyendiri seolah-olah tidak dapat menikmati hasil kekayaannya. la sering merenungi nasibnya yang belum dikarunia anak. "Ya, Tuhan, engkau telah memberi hamba harta yang berlimpah. Semua usaha dagangku berhasil. Tapi, hari-hari hanya kulalui bersama istriku karena aku belum mempunyai anak," katanya sedih di dalam hati. Tiba-tiba pikiran Branaharda melayang. la membayang-
kan telah mempunyai beberapa orang anak. la memandang anak-anaknya yang sedang əsik bermain. Istri Branaharda mengamati suaminya. la sedih melihat suaminya tampak ter- menung. Kemudian, dihampirinya suaminya. "Kakang, sudah beberapa hari ini aku melihat engkau senang menyendiri di sini. Apakah soal anak lagi yang men- jadi beban pikiranmu," selidik istri Branaharda. "Sebenamya, aku pun demikian. Sebaiknya, kita harus lebih banyak berdoa memohon pertolongan kepada Allah, Kang." Branaharda terjaga dari lamunan. la terkejut ketika men- dengar suara istrinya. "Ya, aku memang sedang memikirkan dan ..." jawab Branaharda agak gagap karena terkejut, "Aaaku .. aku mem- bayangkan kehadiran seorang anak, istriku. "Sejak saat itu, Branaharda dan istrinya lebih tekun beribadah. Siang dan malam suami istri itu tidak pemah melalaikan ibadahnya. Meski sibuk dengan pekerjaannya, mereka selalu ingat kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar segera diberi putra. Ada perubahan dalam diri Branaharda. "Kuperhatikan, Kakang semakin rajin beribadah," kata istri Branaharda. Pada suatu malam, di saat semua orang sudah ter- lelap dalam tidumya, Branaharda bermimpi. Dalam mimpinya itu, dia didatangi oleh seorang kiai yang rambutnya sudah me- mutih. Berjalan pun dia harus menggunakan tongkat. Dalam
mimpi itu, Kiai menghampiri saudagar yang sedang duduk. "Hai, Branaharda aku datang memenuhi keinginan kali- an berdua. Permintaanmu seorang anak akan segera terka- bul. Kini makanlah buah wuni ini," perintah kiai dalam mimpinya. Dalam mimpi itu, ia menerima buah wuni dan langsung memakannya. Bersamaan dengan itu, kiai yang telah beram- but putih itu tiba-tiba menghilang. Meski rasanya tidak enak, dihabiskannya buah wuni pemberian kiai tadi. Ketika selesai makan, Branaharda terjaga dari tidurya. "Rupanya saya baru saja bermimpi," katanya di dalam hati sambil mengusap matanya yang masih mengantuk. la duduk di sisi ranjang. Masih terbayang dengan jelas mimpi yang baru saja dialaminya. Saudagar kaya itu berdiri seperti orang yang sedang bi- ngung. Di benaknya masih terbayang wajah laki-laki tua yang mengatakan bahwa dirinya dapat mempunyai anak. Ditatap- nya tubuh istrinya yang tidur lelap di sampingnya. Lelaki itu memikirkan mimpinya kembali. la tidak dapat memejamkan matanya lagi. Hatinya gelisah dan ingin segera menceritakan mimpinya kepada istrinya. Namun, ia ragu untuk melakukannya. Hatinya kembali gelisah. Akhimya, ia pun segera membangunkan perempuan itu. "Istriku, bangunlah!" "Ada apa, Kakang? tanya istri Branaharda sambil mem-
buka matanya yang terasa berat karena masih mengantuk. "Aku baru saja bermimpi." "Mimpi?" "Benar, istriku. Aku baru saja bermimpi. Di dalam mimpi itu aku didatangi oleh seseorang yang sudah tua ..," kata Branaharda memulai ceritanya. "Apa? Orang tua?" tanya istri Branaharda memotong cerita suaminya. "lya. Benar, istriku," jawab saudagar itu yang heran me- lihat istrinya terkejut. Istri Branaharda diam sejenak. Kemudian, ia mengusap mukanya dengan kedua tangannya. Dengan usapan itu, wa- jahnya tampak agak segar. Ada sesuatu yang ingin disampai- kan kepada suaminya. "Teruskan, Kakang. Bagaimana selanjutnya cerita mimpi Kakang tadi," kata perempuan itu sambil merapikan duduknya di atas kasumya. Apa yang baru saja dialami oleh Branaharda di dalam mimpi diceritakan kepada istrinya. Tidak sepotong pun cerita yang terlewati. Sementara itu, dengan rasa kantuk yang berat, perempuan itu berusaha mendengar cerita suaminya. "Kakang, sebenamya aku juga bermimpi didatangi oleh seorang laki-laki yang sudah tua. Aku pun disuruhnya mema- kan buah wuni." Kini, giliran Branaharda mendengarkan cerita istrinya.
Raut wajahnya memancarkan keheranan. Sekali-kali ia me- ngerutkan dahinya sambil menatap wajah istrinya. "Rasanya ada yang aneh. Mengapa mimpi kita bisa sa- ma, ya, Kakang." "Ya, istriku. Dalam mimpiku itu kiai tadi mengatakan bah- wa keinginan kita untuk mempunyai anak akan terkabul," jelas saudagar kaya itu dengan raut wajah yang cerah dan penuh harap, "Mudah-mudahan Allah segera mewujudkan keinginan kita." Istri saudagar itu memperhatikan cerita suaminya. la juga mengangguk-anggukkan kepalanya. Raut wajahnya juga memancarkan harapan untuk segera memiliki anak. Tanpa disadarinya, ia menarik napas panjang. la merasa lega dengan penjelasan suaminya. Harapan untuk segera dapat memiliki anak terasa sudah di pelupuk matanya. Perem- puan itu tampak bersemangat. Sejak itu, Branaharda dan istri itu bertambah tekun men- jalankan ibadahnya. Mereka juga tak lupa berikhtiar. Mereka bertekad untuk selalu berusaha. "Kakang, kita harus menggiatkan ibadah. Jangan lupa berdoa agar keinginan kita untuk segera memiliki anak dapat terwujud." Tak berapa lama, berkat kuasa Allah, istri Branaharda hamil. Saudagar kaya itu sangat senang. la pun bersujud syukur kepada Allah.
"Terima kasih, ya Allah. Engkau telah mengabulkan per- mohonan hamba. Kini, istriku sedang hamil. Lindungilah kami, ya Allah. Semoga kandungannya tetap sehat sampai saatnya ia melahirkan nanti," doa Branaharda. Tanpa disadarinya, air matanya mengalir saat ia berdoa. Air mata kebahagiaan. Sejak saat itu, perhatian saudagar yang selalu berhasil dalam usaha dagang itu tercurah pada kehamilan istrinya. la selalu menjaga kesehatan istrinya dengan hati-hati. la me- mang sangat mendambakan seorang anak. Hari berganti hari dan bulan-bulan pun dilalui oleh si istri dengan lancar. Tidak ada gangguan apapun di dalam kandungannya. Sementara itu, Branaharda sibuk menyiapkan semua keperluan calon bayinya. Dibelinya pakaian bayi yang bagus- bagus dan perlengkapan bayi dari bahan yang bermutu tinggi. Menjelang bulan kelahiran anaknya, suami-istri itu ter- lihat sangat gelisah. Mereka sangat cemas menantikan keha- diran buah hatinya. Mereka berupaya untuk mengurangi kece- masan dengan bersimpuh dan memohon kepada Allah. Ketika sampai pada waktunya, lahirlah bayi kembar dari rahim istrinya. Mereka sangat cakap. Anak yang pertama diberi nama Jaka Satya dan anak kedua diberi nama Jaka Sedya. Keduanya tampak cakap-cakap dan lucu-lucu. Setiap orang yang melihatnya pasti ingin menggendongnya. Banyak yang memberi doa ketika melihat kedua bayi itu.
"Lihat itu. Lekas lihat. Aduh, gemas sekali aku," kata seorang ibu yang melihat kedua bayi itu.
"Iya ya, mereka lucu-lucu dan cakap sekali. Aku ingin
menggendongnya," sambung ibu yang lain.
"Semoga, kedua anak ini menjadi anak yang saleh," doa
seorang ibu yang baru datang menengok bayi kembar itu. Branaharda sangat senang dan bahagia. la telah men-
dapatkan dua orang anak sekaligus. Sebagai rasa syukur,
saudagar kaya itu mengadakan upacara selamatan dan ber-gembira bersama penduduk kampung setempat.
"Silakan-silakan, nikmati hidangan dan kue-kue ini, ja- ngan ragu-ragu Saudara-Saudaraku."
Saudagar kaya itu menyambut tamu-tamu yang datang
dengan selalu menebar senyum. Dari raut mukanya tampak ia sangat gembira hatinya. "Aku sengaja mengadakan syukuran atas kelahiran kedua putraku. Acara semacam ini kuadakan supaya Saudara-Saudara juga merasakan kesenangan seperti yang kami alami sekarang ini. Allah telah mengabulkan permintaanku," kata
Branaharda.
Sementara itu, sang istri masih di dalam kamamya. Pe- rempuan itu mendengar dengan jelas perkataan suaminya. la
sibuk dengan kedua bayi kembamya. Kedua Jaka kecil itu
menangis karena bajunya basah. "Kakang, tamu kita banyak sekali. Mereka juga ikut ber-
gembira atas kelahiran anak kita." "Alhamdulilah, warga desa ini ternyata juga menyayangi kita. Sebagai rasa syukur, kita harus banyak berderma kepada fakir miskin." Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Semakin lama bayi kembar itu tumbuh menjadi besar dan sehat. Suasana rumah yang semula tampak sepi menjadi ramai. "Kang, anak kita telah mengubah suasana rumah." "lya, dulu rumah kita sangat sepi, kini menjadi ramai." "Tapi, Kakang, jangan terlalu memanjakan mereka. Sa- ya takut mereka menjadi cengeng dan manja." "Tidak, kok. Kakang hanya membelikan mainan yang bermanfaat." ★*★
Seiring dengan perjalanan waktu, Jaka Satya dan Jaka Sedya tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu. Sepanjang hari ayah yang bahagia itu selalu bersama dengan anak kem- barnya. la ikut bermain dengan kedua Jaka kecilnya. Branaharda menyembunyikan mukanya di balik kedua tangannya. Jaka Satya mencoba berdiri dan meraih tangan ayahnya, tapi tak sampai. Sementara itu, Jaka Sedya mem- perhatikan kakaknya dengan raut wajah yang menggemas- kan. Air liumya menetes. la ingin melakukan hal yang sama. Kemudian, Jaka Sedya mencoba berdiri dan tangannya diju- lurkan ke arah kakaknya sambil teriak, "Aaah .. ah."
Bocah cilik itu jatuh terduduk. Branaharda secepatnya mengulurkan tangannya seraya memegang tubuh Jaka kecil. "Hap .. aaaa engkau belum bisa berdiri sendiri, Nak," ujar Branaharda dengan riangnya. la segera menangkap tubuh Jaka Sedya yang jatuh. Sementara itu, istri Branaharda memandang ketiga orang yang dicintainya dengan senyuman. Hatinya sangat bahagia karena suaminya kini kembali ceria. "Terima kasih, ya, Allah. Kini suamiku telah kembali bahagia," ucap perempuan yang keinginannya untuk memiliki anak sudah terkabul. Istri saudagar itu mendekati suami dan kedua anaknya yang sedang bermain-main. "Sudah, Kakang. Jaka kan mau tidur dulu. Jangan lama- lamamainnya," kata istri Branaharda sambil tersenyum bahagia melihat tingkah laku suaminya. ★★*
Seiring dengan perputaran waktu, Jaka Satya dan Jaka Sedya tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu. Sejak kela- hiran bocah kembar itu, usaha dagang Branaharda semakin maju. Kedua orang tuanya semakin sayang kepadanya. Para pembantu yang mengabdi di rumah Branaharda juga sangat sayang pada kedua bocah yang lucu itu.
PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL.
Bagian 2
BERGURU KE KIAI WASITA
Beberapa tahun kemudian, kedua putra Branaharda tumbuh menjadi bocah yang sehat. Mereka dibesarkan layak- nya seorang pangeran. Saudagar dan istrinya sangat mem- perhatikan semua keperluan kedua putra kembarnya. Pakaian dan sepatu kedua bocah kembar itu bagus-bagus dan terbuat dari bahan pilihan. Semua kehendaknya dilayani oleh para pengasuhnya. Pada suatu sore, istri saudagar itu berada di taman ber- sama dengan kedua anak kembarmya. Jaka Satya langsung berlari ke tempat kolam ikan yang berada di tengah taman. Jaka Sedya, sang adik, mengikuti langkah kakaknya. Mereka berdiri di pinggir kolam ikan. Sementara itu, ibu si kembar menuju bangku yang terbuat dari batu. la duduk seorang diri di sana. Dari tempat du- duknya, perempuan itu mengamati kedua putranya yang se- dang asik bermain air kolam. "Terima kasih, ya, Allah, kedua putraku tumbuh sehat,"
doa istri saudagar yang mengucap syukur kepada Yang Mahakuasa. Tak lama kemudian, Branaharda menuju ke taman juga. la menghampiri istri dan kedua anaknya. Namun, istri Branaharda tak mengetahui kedatangan suaminya. la masih tampak termenung di tempatnya. Ibu yang berbahagia itu meman- dangi kedua anaknya yang sedang bermain. Saudagar itu lalu memegang bahunya. "Eh, Kakang," jawab istri Branaharda yang terkejut sambil tangannya menunjuk kepada kedua anaknya, "Kang, aku sedang memperhatikan mereka. Coba lihat anak kita sudah besar dan sudah pintar, ya?" Dari tempatnya berdiri, Branaharda mengalihkan pan- dangannya kepada dua bocah kembar itu. Lalu, ia melihat ist- rinya dan duduk di sampingnya sambil memperhatikan kedua anaknya yang sedang bermain. Orang tua itu sangat bahagia. Kedua anaknya tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Dari kejauhan kedua anak itu bermain perang-perangan. Layaknya seorang pendekar, kedua bocah kembar itu meni- rukan gerakan-gerakan para pesilat. Jurus-jurus yang pernah dilihatnya dipratikkannya. Sejenak kemudian, mereka melihat kedua orang tuanya. Si kembar pun berlarian menghampir ayah dan ibunya. "Ibu, tadi adik Sedya curang," kata Jaka Satya mengadu. "Enggak, Bu. Kak Satya tadi memukul adik benaran. Li-
hat, tanganku memerah kena pukulan," kilah Jaka Sedya. "Sudah, sudah. Kalian tidak boleh bertengkar. Kalian ha- rus istirahat dulu," kata ibunya. "Baik, Bu," jawab keduanya serempak. "Bu, perutku sudah lapar," rengek Jaka Sedya. Istri Branaharda pun mengajak kedua anaknya masuk ke dalam rumah. Perempuan itu membasuh kedua tangan anak kembamya. Lalu, diberinya mereka makan. "Ayo, sini. Coba belajar makan sendiri, ya, Nak," perintah istri Branaharda kepada kedua anaknya. Tanpa diberi perintah lagi, kedua bocah yang masih ber- usia lima tahun itu duduk dengan tenang di atas bangku. Mereka menurut apa yang dikatakan oleh ibunya. Tak lama ke- mudian, kedua Jaka kecil itu makan dengan lahapnya. Sementara itu, Branaharda mengikuti dari belakang. Dia memperhatikan kedua anaknya yang sedang makan. Dilihat- nya beberapa butir nasi jatuh dari piring dan berhamburan di atas meja. "Anakku sudah bertambah pintar," bisik Branaharda di dalam hati. Dia merasa bangga terhadap kemajuan yang di- capai oleh kedua anaknya. Seiring dengan perputaran waktu, semakin lama Jaka Satya dan Jaka Sedya tumbuh menjadi dewasa. Mereka menjadi pemuda yang cakap. Keceriaan dan gelak tawanya mera- maikan rumah saudagar kaya itu.
Meskipun Branaharda sibuk sebagai saudagar, ia selalu
meluangkan waktu untuk mendidik putra-putranya. Namun, ia
belum merasa puas.
"Anakku sudah tumbuh remaja. Meskipun aku sudah
mendidiknya, tapi aku merasa belum puas karena waktuku tidak sepenuhnya untuk mereka. Aku ingin memanggil Kiai Wasita, guru yang terkenal itu. Tapi, menurut kabar ia sedang bertapa," kata saudagar itu di dalam hati. Saudagar itu tampak termenung karena memikirkan masa depan pendidikan kedua putranya. Bersamaan dengan itu, istri saudagar memasuki kamar suaminya. Perempuan itu me- lihat suaminya termenung seorang diri. "Kang, apa yang sedang kakang pikirkan lagi. Aku me- lihat dirimu tampak termenung," kata perempuan yang setia kepada suaminya.
"Aku memikirkan masa depan anak-anak. Aku ingin me-
manggil guru yang dapat membantu mendidik mereka. Aku merasa ilmu yang kuajarkan kepadanya belum cukup. Semen- tara itu, mereka tampaknya menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Menurutku, mereka perlu se-
orang guru yang lebih baik." "Kang, kita panggil Kiai Wasita saja."
"Bukankah dia sekarang sedang mengembara melaku-
kan tapa?" "Itu dulu, Kang. Sekarang Kiai Wasita sudah kembali.
Cobalah Kakang ke. rumahnya untuk memastikan dan katakan bahwa kita perlu pertolongannya. Tapi, sebelumnya Jaka Satya dan Jaka Sedya sebaiknya diberi tahu tentang rencana kita agar mereka dapat menyiapkan diri untuk menerima pelajaran yang diberikan oleh Kiai Wasita." "Baiklah, istriku. Nanti aku akan katakan tentang hal itu kepada kedua anak kita." Akhimnya, kedua suami istri itu sepakat untuk memanggil seorang guru untuk mendidik kedua putranya. Setelah itu, Branaharda menemui kedua orang putranya yang sedang berada di dalam kamarnya. Dari pintu saudagar itu melihat kedua anaknya sedang membaca buku. Ada rasa bangga pada dirinya karena kedua anaknya sedang belajar tanpa harus disuruh. "Hmm ... kalau begitu sungguh tepat usulku untuk segera memanggil seorang guru," kata Branaharda di dalam hati. Tidak lama kemudian, saudagar itu memasuki kamar anaknya. Kedua putra kembar Branaharda itu mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya. "Anakku, Jaka Satya dan Jaka Sedya, ada yang hendak Ayah bicarakan dengan kalian." "Ada apa, Ayah?" tanya Jaka Satya sambil menyambut Ayahnya. "Kemarilah kalian berdua. Ayah bermaksud memanggil
seorang guru untuk membantu belajar kalian berdua. la sangat terkenal dan luas pengetahuannya. Namanya Kiai Wasita. Beliau berasal dari Negeri Sokarengga. Ayah minta agar kalian berdua menyiapkan diri untuk menerima pelajaran darinya." "Baik Ayah. Aku sangat senang dengan kabar ini. Aku berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh, Ayah," kata Jaka Satya. "Benar, Ayah. Aku pun akan belajar dengan baik," janji Jaka Sedya. Betapa senang hati Saudagar Branaharda mendengar perkataan kedua anaknya. Keesokan harinya, Branaharda pergi seorang diri ke negeri Sokarengga menemui guru Wasita. Setelah melalui perundingan, akhimnya guru yang sangat terkenal dan luas pengetahuannya datang ke rumah saudagar yang kaya itu. Sejak itu, Kiai Wasita memberi pelajaran ber- bagai macam ilmu kepada Jaka Satya dan Jaka Sedya. "Kak, aku sudah siap untuk memulai pelajaran pertama," kata Jaka Sedya. "Aku juga, Dik. Mari kita segera menemui Kiai Wasita. la sudah menunggu kita di sana," ajak Jaka Satya. Kedua kakak beradik itu sangat bersemangat untuk me- nuntut ilmu. Mereka mendengar penjelasan guru dengan sungguh-sungguh. Semakin lama, keduanya menunjukkan
kemajuan yang sangat pesat. Branaharda sangat senang mendengamya. Semua yang diajarkan oleh Kiai Wasita tidak ada yang tercecer, semuanya dapat ditangkap oleh kedua muridnya. Walaupun demikian, mereka masih ingin melanjut- kan pelajaran dan tak henti-hentinya menanyakan tambahan pelajaran yang lain. Mereka bersemangat untuk belajar. Kiai Wasita sangat puas dengan kemajuan murid-muridnya. "Hmm ... Aku bangga dengan kedua muridku ini. Mereka mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar. Sudah banyak ilmu yang kuturunkan kepadanya, tapi mereka tidak menunjukkan kesombongan. Aku merasakan semakin tinggi ilmu yang diperolehnya semakin tinggi pula budi pekerti mereka," pikir Kiai Wasita. Guru yang sangat luas pengetahuannya itu mengamati kedua muridnya. la mengangguk-anggukan kepalanya karena senang dengan kemajuan yang dicapai oleh kedua muridnya itu. "Hmm ... aku tidak sia-sia menurunkan semua ilmuku kepada mereka. Hanya satu ilmu yang belum kuajarkan kepadanya. Ya, ilmu kebal tubuh terhadap senjata belum aku ajarkan kepada murid-muridku itu," kata Kiai Wasita di dalam hati. Sebenarnya, kedua Jaka murid Kia Wasita itu belum puas dengan ilmu yang sudah diperolehnya. Mereka meng- inginkan ilmu yang lebih tinggi lagi. Mereka ingin mempelajari ilmu kebal tubuh.
"Kak, kita sudah menguasai semua ilmu yang diberikan oleh guru. Tapi, tampaknya ada satu ilmu yang belum kita ketahui." "Benar, Dik. Aku pun demikian. Kita belum memperoleh ilmu kebal tubuh." "Ya, aku ingin mempelajarinya, Kak." "Sama, Dik. Aku juga ingin. Sebaiknya kita segera menemui guru, Dik. Kita minta supaya beliau mau mengajari kita ilmu kebal tubuh itu." Keduanya lalu menemui Kiai Wasita dan mengutarakan keinginannya. "Guru, mengapa aku tak kauajarkan tentang ilmu kebal tubuh?" tanya Jaka Satya. "Ya, aku pun ingin mengetahuinya, Guru, agar kami ke- lak menjadi lebih kuat dan dapat terhindar dari bahaya," sam- bung Jaka Sedya. Kiai Wasita tidak segera menjawab permintaan kedua muridnya. Tampak sejenak ia mengamati murid-muridnya itu. la menangkap bahwa kedua muridnya sangat bersemangat untuk menuntut ilmu. "Wahai muridku, aku senang bahwa kalian berdua sangat bersemangat untuk mencari ilmu. Memang ada satu ilmu yang belum engkau ketahui, yaitu ilmu kebal tubuh. Yang lebih penting lagi, ada satu hal yang harus kalian ketahu. Sesung- guhnya raja kita di negeri ini melarang untuk berlatih ilmu
kebal karena seseorang yang telah memiliki ilmu tersebut biasnya menjadi sombong dan akan menyalahgunakan ilmu itu untuk kepentingan sendiri. Sebenamya, raja kita berke- inginan agar dengan ilmu itu seseorang dapat membantu se- sama yang mengalami kesulitan. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat mengamalkannya, Nak," jelas Kiai Wasita. Kedua murid itu diam sambil menundukkan kepalanya ketika mendengar penjelasan gurunya. Ada rasa kecewa, te- tapi mereka berusaha untuk memahami peraturan raja tersebut. "Baiklah, guru. Jika demikian, kami tidak memaksa. Kami akan mematuhi perintah raja," kata Jaka Satya. "Benar, guru, kami akan patuh pada peraturan," jawab Jaka Sedya. Akhirnya, mereka mematuhi larangan itu. Kiai Wasita emandang kedua muridnya dengan kagum. la tampak ter- menung. Kepalanya diangguk-anggukkan seraya memikirkan sikap dan tingkah laku kedua muridnya selama dalam bim- bingannya. "Hari-hari banyak kulalui bersama mereka. Rasanya aku sudah cukup mengenal watak mereka masing-masing. Fira- satku mengatakan bahwa mereka mempunyai budi yang luhur dan tidak sombong. Rasanya aku tidak ragu-ragu untuk meng- ajarkan ilmu kebal tubuh kepadanya. Aku yakin jika sudah memperoleh ilmu tersebut, mereka
tidak akan sombong. Malah sebaliknya, mereka akan rendah hati. Meskipun begitu, jika aku akan mengajarkan ilmu kebal tubuh itu, aku tetap akan minta mereka mau berjanji untuk tidak menyalahgunakan ilmu itu," kata Kiai Wasita sambil me- ngamati kedua muridnya. Akhimya, setelah dipikir masak-masak, Kiai Wasita me- mutuskan untuk memberi pelajaran sesuai dengan yang di- inginkan oleh muridnya. Dengan hati mantap, guru yang sa- ngat luas ilmunya itu segera menurunkan ilmu kebal tubuh kepada kedua muridnya. "Wahai kedua muridku, setelah aku pikir dan melihat si- kap serta watakmu, aku tidak ragu untuk memberi pelajaran ilmu kebal tubuh seperti yang kalian inginkan." Kedua Jaka kembar yang duduk dengan tenang di ha- dapan gurunya saling bertatapan. Mereka heran ketika men- dengar perkataan dan penjelasan gurunya. Kemudian, mereka memandang wajah lelaki yang menjadi gurunya itu seakan- akan tidak percaya dengan apa yang didengamya. "Sebelum memulai pelajaran tersebut, aku ingin memin- ta janji kalian berdua dan bersumpahlah kepadaku bahwa engkau tidak akan menyalahgunakan ilmu kebal tubuh yang akan engkau pelajari nanti. Bagaimana? Apakah kalian berdua bersedia," lanjut Kiai Wasita. Raut wajah kakak beradik itu memancarkan kebahagia- an. Secara serempak mereka menganggukkan kepalanya
sambil tersenyum. "Baik, guru. Aku berjanji dan bersumpah bahwa aku tidak akan menyia-nyiakan ilmu yang telah kuperoleh. Aku juga tidak akan menyalahgunakan ilmu kebal tubuh yang telah kuperoleh," jawab sang kakak, Jaka Satya. "Benar guru. Aku pun demikian, aku bersumpah tidak akan menyia-nyiakan dan menyalahgunakan semua ilmu yang kuperoleh itu," kata Jaka Sedya. Secara bergantian, mereka berjanji kepada Kiai Wasita. Sejak itu, kedua murid Wasita rajin mempelajari ilmu kebal tubuh. Secara bertahap, mereka diberi latihan-latihan yang semakin hari semakin berat. Bahkan, kedua saudara itu berlatih tanding untuk mempraktikkan ilmu yang telah diperolehnya. "Ciat ... ciat," teriak Jaka Sedya sambil mengayunkan kedua tangannya. Kedua kakinya dibuka dengan posisi kuda-kuda. Dengan sikap siaga ia siap menerima serangan dan pukulan dari Jaka Satya. Jaka Sedya berlatih tanding melawan kakaknya sendiri, Jaka Satya. Dengan gerak yang lincah dan gesit, Jaka Sedya mampu menghindar dari serangan kakaknya. Di lain pihak, Jaka Satya tak kalah dengan kemampuan adiknya. la dapat mengimbangi serangan sang adik yang se- dang dihadapinya. Lalu, tiba-tiba, "Ciat... hap!" teriak Jaka Satya yang mencoba melompat karena menghindari pukulan adiknya.
21 Dalam latih tanding itu, kedua murid Wasita menunjuk- kan kemampuan yang sangat andal. Mereka mengeluarkan jurus-jurus silat yang telah dipelajarinya. Sementara itu, Kiai Wasita memperhatikan pertarungan kedua muridnya dari jarak yang tak jauh. la mondar-mandir mengikuti gerak kedua pendekar yang sedang latih tanding UAD
Kiai Wasita memperhatikan dengan saksama pertarungan latih tanding kedua muridnya.
itu. Sesekali tampak ia menggeleng-gelengkan kepalanya ke- tika melihat kehebatan murid-muridnya. la kagum atas kelin- cahan dan ketangkasan kedua muridnya. Salah satu muridnya belum ada yang kalah. Pertarungan sudah berjalan cukup lama. Namun, kedua murid itu belum menunjukkan kelelahan. Kiai Wasita sangat kagum terhadap ketangkasan Jaka Satya dan Jaka Sedya. Akhimya, guru menghentikan pertarungan itu.
"Stop ... stop muridku. Kalian memang benar-benar he-
bat," teriak Kiai Wasita sambil bertepuk tangan untuk menghentikan pertarungan itu, "Sekarang kita harus istirahat. Pasti kalian juga telah merasakan lelah." "Baik, guru," jawab serempak kedua muridnya. Kedua murid kakak beradik itu berjalan di belakang gurunya. Mereka mengikuti perintah gurunya. Jaka Satya dan Jaka Sedya pun beristirahat. Kemudian, keduanya kembali ke rumah menemui kedua orang tuanya. Sementara itu, Kiai Wasita juga kembali ke tempatnya. Dia melepaskan lelah sambil menembang. Alunan Kidung yang dibawakannya sungguh enak didengar. Kiai Wasita memang tidak hanya pandai dalam ilmu kanuragan saja. Dia juga pintar dan sangat menguasai ilmu susastra.
Bagian 3
MIMPI KIAI WASITA
Ketika sedang beristirahat, Kiai Wasita tertidur. Dalam tidumya ia bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua yang berjalan dengan menggunakan sebuah tongkat kayu. Kakek itu menuju Kiai Wasita. Kemudian, ia memegang bahu Kiai Wasita yang sedang duduk di bawah pohon yang rin- dang. Dalam mimpi itu, Kiai Wasita terkejut karena di dalam hutan ia dapat berjumpa dengan seseorang. Seperti orang yang sudah mengenalnya, Kakek itu langsung menyapa Kiai Wasita. "Anakku, janganlah engkau takut kepadaku karena aku hanya ingin memberi tahu sesuatu kepadamu. Di lereng gu- nung ini banyak ditumbuhi tanaman, tetapi hanya ada satu pohon kepala yang buahnya pun hanya satu. Carilah segera buah itu, Nak. Buah kelapa itu ajaib. Setelah meminum buah kelapa itu, engkau akan menjadi raja," kata kakek di dalam mimpi Kiai Wasita. Setelah berkata-kata, Kakek yang berjalan dengan ban-
tuan tongkat itu segera menghilang. Ketika Kakek itu pergi, Kiai Wasita terjaga dari tidumya. la mengusap mukanya dengan kedua matanya. "Di mana aku?" kata Kiai Wasita lirih sambil menoleh ke kiri dan ke kanan di dalam kamamya. Lalu, diusapnya kedua matanya sekali lagi. Di dapati dirinya tertidur di atas bangku dengan kepala tertunduk di atas meja. "Ya, Allah, temyata aku bermimpi," katanya di hati. la tampak termenung. Kiai Wasita bingung dengan mimpinya itu. Kemudian, ia berdiri dan berjalan menuju jendela kamar. Matanya memandang ke luar.
Sambil berdiri di dekat jendela, guru yang sangat ter-
kenal itu masih memikirkan mimpinya. "Jadi Raja," katanya seorang diri dengan suara lirih, "buah kelapa." Dua kata itu silih berganti memenuhi otaknya. Kiai Wasita bingung dengan arti mimpinya itu. Benaknya kembali dipe- nuhi oleh bayangan buah kelapa ajaib dan raja. Laki-laki yang telah banyak makan asam garam itu tampak berpikir. Matanya masih memandang ke luar jendela. "Ah, apakah itu pertanda aku akan jadi raja?" katanya seorang diri di dalam kamamya. Kiai Wasita berusaha melupakan mimpi yang baru di- alaminya. Namun, ia tak kuasa. Hatinya berdebar dan cemas. Tiba-tiba ia teringat pesan kakek yang muncul dalam mim-
pinya. "Buah kelapa," katanya lagi di dalam hati, "Aku harus se- gera mencarinya dan mendapatkannya." la berusaha mengingat semua pesan kakek yang dijum- painya di dalam mimpinya. Matanya masih memandang ke luar jendela, tapi pikirannya penuh dengan bayang-bayang mimpinya.
"Apakah aku harus ke lereng gunung seperti yang di-
maksud kakek tadi?Tapi, tempat itu sangat jauh," kata Kiai Wasita kepada dirinya sendiri.
Tiba-tiba pandangan matanya menangkap sekumpulan burung yang sedang terbang. Ditatapinya terus burung-burung itu. Bola matanya mengikuti ke arah burung-burung yang terbang. Makin lama sekumpulan burung itu hilang di ujung bumi Ditatapinya terus arah tempat burung itu menghilang. Tanpa disadarinya mulut Kiai Wasita bergumam, "Jauh sekali burung itu terbang." Dari tempat burung-burung menghilang itu, secara sa-
mar-samar Kiai Wasita melihat bayangan bukit dan gunung.
Ditatapinya terus tempat itu. "Ha. Di sana tampak pengunungan. Apakah lereng gunung itu yang dimaksud oleh kakek tadi," kata Kiai Wasita yang terus menatap ke luar jendela, "Mengapa burung-burung itu menghilang di tempat itu? Apakah di sana ada pohon ke-
lapa seperti yang dimaksudkan kakek tadi. Aku harus segera ke sana untuk membuktikan mimpiku itu." Keinginan untuk segera pergi ke lereng gunung sangat kuat di dalam diri Kiai Wasita, tetapi selalu ditentang oleh pe- rasaan hatinya yang selalu memikirkan kedua murid kembar- nya. "Jika aku pergi, bagaimana dengan kedua muridku ini. Aku memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai di sana. Dalam rentang waktu itu tentu aku tidak dapat menemani mereka belajar dan berlatih," kata Kiai Wasita di dalam hati. Hati Kiai Wasita bimbang. Namun, keinginan untuk melihat buah kelapa di lereng gunung sangat kuat. Akhirnya, guru yang sangat terkenal itu memutuskan untuk membuktikan mimpinya. la akan pergi ke lereng gunung. "Aku akan minta izin beberapa hari saja kepada Tuan Branaharda. Aku akan katakan bahwa aku ada keperluan sangat penting dan mendadak," pikir Kiai Wasita sambil menyu- sun rencana kepergiannya. Setelah dipikir panjang, Kiai Wasita segera menemui Saudagar Branaharda. la menyampaikan maksud kepergiannya. Akhimya, Kiai Wasita pergi dengan izin saudagar itu. la menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan untuk sampai di lereng gunung. Sesampainya di lereng gunung, Kiai Wasita segera ber- istirahat sejenak. la melihat tempat di sekelilingnya yang asing
baginya. la berdiri dan kembali duduk sambil mengipas-ngipas tubuhnya yang kepanasan. Setelah hilang rasa penatnya, guru yang masih tampak gagah dan kuat itu berjalan perlahan ke arah kiri lereng gunung. Ditelusurinya daerah itu dengan teliti. Namun, ia belum menemukan pohon kelapa itu. Di tengah terik panas matahari, Kiai Wasita terus berjalan menyusuri daerah itu. Matanya mengamati setiap pohon yang dijumpainya. Pohon kelapa yang dicarinya belum dite- mukan. Perjalanan Kiai itu sangat jauh. Badannya basah ku- yub oleh keringat. Bajunya sobek karena tersangkut ranting pohon. Meskipun belum berhasil menemukan pohon kelapa, Kiai Wasita tidak putus asa. la terus menelusuri lereng gunung itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk berbelok arah. Di sebelah kanan lereng gunung itu Kiai Wasita menyusuri jalan. Matanya mencari pohon kelapa. Namun, ia belum juga menemukan- nya. Guru yang sangat terkenal itu tidak putus asa. la berjalan terus menyusuri lereng gunung. Tak lama kemudian, Kiai Wasita merasakah lelah. la duduk di bawah pohon. Pung- gungnya disandarkan di batang pohon yang besar sambil matanya memandang sekeliling tempat yang asing baginya. Tanpa disadarinya, ia menangkap bayangan pohon kelapa yang dipantulkan oleh sinar matahari.
"Ha, itu seperti bayangan pohon kelapa," katanya di dalam hati sambil berdiri. la mencari sumber bayangan itu. Akhimya, Kiai Wasita berhasil menemukan pohon kelapa seperti yang tergambar di dalam mimpinya. Diamatinya pohon kelapa itu. "Benar kata kakek itu. Ternyata, di sini hanya ada satu pohon kelapa. Pohon itu sangat tinggi dan mempunyai buah hanya satu. Hm tidak ada yang aneh dengan pohon ini. Tam- paknya seperti pohon kelapa biasa," kata Kiai Wasita seorang diri sambil menengadahkan kepalanya. Guru itu kembali mengamati pohon kelapa. Tangan ka- nannya menepuk-nepuk pohon kelapa yang berdiri kokoh. Kemudian, ia memanjat dan mengambil buahnya. Buah kelapa itu tidak dijatuhkan ke tanah karena Kiai Wasita ingat pe- san kakek yang muncul di dalam mimpinya bahwa kelapa itu ajaib. la memasukkan kelapa ajaib itu ke dalam kantong dan segera turun. Sesampainya di bawah, Kiai Wasita mengeluarkan kelapa dari kantong. la kembali mengamati kelapa itu. Diputar- putarnya buah kelapa itu dan diamatinya serat-serat buah kelapa yang berwarna hijau itu. Namun, ia tidak segera memi- numnya. "Tidak ada yang aneh dari buah kelapa ini," katanya di dalam hati, "Kelapa ini sama bentuknya dan warmnanya seperti yang ada di pasar."
Setelah puas mengamati buah kelapa, Kiai Wasita me- nyimpannya di dalam karung. Kemudian, ia kembali ke rumah Saudagar Branaharda. Sesampainya di rumah, ia segera me- nyimpan buah kelapa itu ke dalam lemari. Kemudian, ia mem- bersihkan diri dan beristirahat. Di atas pembaringan Kiai Wasita tidak dapat memejam- kan mata walapun badannya terasa capai sekali. Pikirannya banyak diwarnai oleh buah kelapa yang baru diperolehnya. la ingin segera meminumnya, tapi ia masih ragu untuk melaku- kannya. Buah kelapa itu kembali disimpan di dalam lemarinya. "Ah, aku pergi lebih cepat dari yang kuperkirakan. Jadi, aku masih punya waktu dua hari lagi untuk istirahat. Selama dua hari itu akan aku gunakan untuk berjalan-jalan ke rumah saudaraku," kata Kiai Wasita di dalam hati, "Tapi, bagaimana dengan buah kelapaku? Selama aku pergi amankah buah kelapa itu aku simpan di sini? Sebaiknya, aku titipkan kepada Tuan Branaharda saja supaya aman." Keesokan harinya, dengan memberanikan diri, Kiai Wasita menemui Saudagar Branaharda. la menyampaikan mak- sudnya. "Tuan Branaharda karena aku pulang lebih cepat dari waktu yang ditentukan, izinkanlah aku pergi sebentar sebelum aku kembali mengajar." "Baiklah, Kiai, tapi berapa hari lagi engkau akan pergi," "Tidak lama, Tuan. Sebenarnya, aku hanya ingin menje-
nguk saudaraku yang kabamya sedang sakit. Setelah itu aku akan kembali mengajar Jaka Satya dan Jaka Sedya." "Baiklah, Kiai. Aku tidak keberatan." Kiai Wasita senang karena Saudagar Branaharda kembali mengizinkan dirinya pergi. Ketika berada di hadapan saudagar, terbersit bayangan buah kelapa di benak Kiai Wasita. Namun, ia tidak menceritakan kepada saudagar itu ten- tang asal-usul buah kelapa yang telah diperolehnya. Kiai Wasita kemudian menitipkan buah kelapanya kepada Saudagar Branaharda. "Tuanku, selama aku pergi, aku memohon pertolongan- mu." "Apa yang dapat aku tolong," tanya saudagar. "Aku hendak menitipkan buah kelapa ini kepada Tuan. Esok, setibanya aku dari pebergian aku akan mengambil buah itu kembali." Saudagar yang sangat kaya itu mendengar permintaan Kiai Wasita. la mengangguk-anggukkan kepalanya karena ia tidak keberatan dengan buah kelapa yang akan dititipkan kepada dirinya. "Ah, permintaan kiai itu tidak berlebihan. Aku tidak keberatan untuk dititipi buah kelapanya," pikir saudagar itu sambil melihat buah kelapa yang ada di tangan Kiai Wasita. Tak lama kemudian, Kiai Wasita meletakkan kelapanya di atas meja. Setelah itu, ia segera pergi meninggalkan rumah
Saudagar Branaharda dengan hati yang lega. la senang kare- na buah kelapanya dirasa aman di tempat itu. Ketika Kiai Wasita pergi, Branaharda segera memin- dahkan buah kelapanya. la meletakkan buah kelapa itu di atas meja makan. Kemudian, ia masuk ke dalam kamamya untuk beristirahat. Pada saat itu masuklah Jaka Satya dan Jaka Sedya ke dalam rumah. Mereka tampak kelelahan setelah melakukan latihan bela diri di taman. Badan mereka basah kuyub oleh ke- ringat. Mereka tampak sangat kehausan. "Hmm... panas sekali. Aku haus. Apa kau tak kehausan, Dik," tanya Jaka Satya sambil membersihkan keringatnya. la mengipas-ngipaskan kertas ke arah tubuhnya. Lalu, ia du- duk di atas lantai yang dingin. "Ya, aku juga, Kak. Hei, lihat! Di atas meja ada buah kelapa. Pasti ayah yang membelinya, tapi mengapa hanya satu? Sebaiknya, cepat kita pecah saja agar hilang rasa haus kita," sahut Jaka Sedya sambil berjalan ke arah meja makan. Dengan kedua tangannya, Jaka Sedya mengambil buah kelapa yang terletak di atas meja. Digoyang-goyangkannya buah kelapa itu sekan-akan ia ingin melihat air yang ada di da- lamnya. "Kak, lihat buah kelapa ini berat sekali. Pasti aimya ba- nyak. Cepat kita buka, Kak," kata Jaka Sedya sambil meng- angkat buah kelapa dengan kedua tangannya, "Aku saja yang
membelahnya, ya, Kak." Sementara itu, sang kakak, Jaka Satya masih duduk di lantai dengan telanjang dada. Bajunya dilepaskan dan pung- gungnya disandarkan ke dinding tembok. la mengalihkan pan- dangannya ke buah kelapa. "Ya, tapi apa kau bisa, Dik?" "Akan aku coba dulu, Kak." Tak lama kemudian, Jaka Satya bangun. la berdiri me- ngikuti adiknya. Di kamar belakang, didapatinya Jaka Sedya sudah memegang parang. la siap memecah buah kelapa dengan parang yang sangat tajam. Dengan hati-hati Jaka Sedya membuang kulit kelapa yang berwarna hijau itu. Diirisnya kulit kelapa itu sepotong de- mi sepotong sampai bagian ujung kelapa itu terlihat batoknya. Sementara itu, Jaka Satya duduk di hadapan Jaka Sedya yang sedang mengupas kelapa. la memperhatikan adiknya yang sibuk mengupas kelapa sambil memainkan serpihan kulit kelapa. "Coba lihat, Kak. Sudah terlihat batoknya. Akan kuiris se- dikit batok itu supaya kita bisa meminum airnya," kata Jaka Sedya sambil memiringkan buah kelapanya. Tak lama kemudian, ia segera mengiris batok kelapa. Bersamaan dengan itu, tampak air kelapa keluar dari batoknya dan menetes membasahi lantai.
Jaka Sedya mengupas buah kelapa yang ditunggui oleh Jaka Satya.
"Kak, coba lihat! Aku berhasil mengupas batoknya. Lihat, airnya sangat banyak," kata Jaka Sedya dengan riang. Kemudian, ia menengadakan kepalanya dan mengangkat buah kelapa. Jaka Sedya mencicipi air kelapa itu seraya berkata, "Manis, Kak, dan segar rasanya."
"Eee, tunggu! Jangan kau minum dulu. Aku dulu yang meminumnya baru engkau. Aku kan lebih tua dari kamu," jelas Jaka Satya mengingatkan adiknya. Tanpa menunggu perintah lagi, Jaka Sedya menyerah- kan buah kelapa itu kepada kakaknya. Kemudian, Jaka Satya segera meminumnya. "Jangan dihabiskan, Kak." Jaka Satya sangat kehausan. la menikmati segamya air kelapa. la tidak mendengar protes adiknya. Tanpa disadari- nya, air kelapa itu habis oleh Jaka Satya. Kemudian, Jaka Sedya memegang buah kelapa yang masih dipegang oleh kakaknya. "Ya, habis. Mengapa kau habiskan aimya, Kak?" gerutu Jaka Sedya sambil mengangkat buah kelapa di atas kepala. la menengadahkan kepalanya dan mencoba meminum aimya. Namun, ia hanya mendapatkannya sedikit. "Kalau begitu, daging kelapanya untuk aku," kata Jaka Sedya seraya membelah buah kelapa itu. Jaka Sedya segera memakan daging buah kelapa. Ke- dua kakak beradik yang telah selesai latihan bela diri itu ter- lihat tampak segar kembali setelah meminum dan memakan buah kelapa. Lalu, mereka pergi berlatih lagi. Sementara itu, Saudagar Branaharda keluar dar kamar- nya. Ketika sedang beristirahat, ia teringat buah kelapa yang dititipkan oleh Kiai Wasita. la segera menuju meja makan. Be-
tapa kaget hati Saudagar itu. Dari pintu masuk ruang tengah, buah kelapa yang terletak di atas meja tidak terlihat. "Aduh, celaka! Kemana buah kelapa itu? Ah .. mudah- mudahan Kiai Wasita tidak marah hanya karena buah kelapa. Nanti akan aku ganti, berapa pun yang dia minta," pikir Branaharda sambil kepalanya melongok ke bawah meja. Tiba-tiba ia teringat pesan Kiai Wasita untuk menyim- pankan buah kelapa itu agar aman, tapi ia tidak dapat me- nyimpannya dengan baik. la berusaha mencari buah kelapa di sekeliling ruang tengah. Namun, sia-sia saja. la tidak mene- mukannya. Kemudian, saudagar itu menuju ruang belakang. la ter- kejut ketika melihat serpihan dan potongan kulit buah kelapa. "Ha, siapa yang telah memotong kelapa ini?" kata Branaharda sambil matanya mencari orang yang memotong buah kelapa. la melihat baju anaknya yang tergeletak di dekat ong- gokan kulit kelapa. Akhimya, ia mengetahui bahwa buah kelapa itu dihabiskan oleh kedua anaknya. "Hmm, itu baju Jaka Satya. Mengapa ada di sini. Pasti kedua anakku yang telah menghabiskan buah kelapa itu. Mereka tidak tahu kalau kelapa itu punya orang lain. Kalau begitu aku akan segera menyuruh pembantu untuk membeli beberapa buah. Biar kuganti saja buah kelapa kepunyaan Kiai Wasita itu," kata Branaharda seorang diri. Saudagar yang kaya itu segera membeli beberapa buah
kelapa. la akan mengganti buah kelapa Kiai Wasita yang dititipkan kepadanya. Saudagar itu tidak mengetahui bahwa buah kelapa yang dititipkan kepadanya adalah kelapa ajaib. Keesokan harinya, Kiai Wasita kembali dari bepergian. la segera menemui sang saudagar dan menanyakan buah kelapanya. "Silakan Kiai Wasita. Bagaimana keadaanmu?" "Baik, Tuan. Kini aku sudah kembali dan ingin mengambil buah kelapa yang kutitipkan itu." "Silakan Kiai. Kelapa itu ada di atas meja." Tak lama kemudian, Kiai Wasita berdiri. la menuju meja dan hendak mengambil buah kelapanya. Alangkah terkejut di- rinya ketika melihat kelapa lain di atas meja. Kelapa itu bukan miliknya. Ditatapinya buah kelapa yang ada di atas meja. Lalu, ia mengangkat dan mengamatinya. "Ini bukan kelapaku. Mengapa wamanya agak pudar dan beratnya agak berkurang?" kata Kiai Wasita di dalam hati sambil mengamati kelapa yang ada di tangannya. Sementara itu, Saudagar Branaharda mengikuti Kiai Wi- sata dari belakang. la memperhatikan sikap kiai yang tampak terkejut dan heran. la mengetahui kelapa itu memang bukan milik kiai. "Hmm ... Kiai, maafkan aku, Kiai. Kelapa itu memang bukan kelapa yang engkau titipkan kepadaku." "Apa, Tuan? Bukan kelapaku?" tanya Kiai Wasita me-
motong penjelasan Saudagar Branaharda. "Benar Kiai, kelapa ini bukan milikmu, tapi kelapa yang baru aku beli tadi." Belum selesai Branaharda berbicara, Kiai Wasita tampak tertegun ketika mendengar penjelasan saudagar itu. Guru yang telah melakukan perjalanan jauh itu melihat wajah Branaharda seakan-akan ia menginginkan penjelasan selanjut- nya. "Begini, Kiai. kelapa yang engkau titipkan itu sudah diha- biskan oleh kedua anakku." "Jaka Satya dan Jaka Sedya?" sela Kiai Wasita mem- pertegas penjelasan saudagar. "Benar, Kiai. Tapi, engkau jangan khawatir karena aku sudah menggantinya dengan yang baru." Betapa kaget diri Kiai Wasita ketika mengetahui Jaka Satya dan Jaka Sedya yang menghabiskan buah kelapanya. la tampak termenung. la kembali teringat akan mimpinya yang lalu. Benaknya dipenuhi oleh bayangan kakek dan buah kelapa ajaib. Tiba-tiba ia terngiang-ngiang dengan perkataan kakek, "Jika engkau memakan buah kelapa itu engkau akan menjadi raja." Kiai Wasita tampak termenung dan berpikir. Kemudian, ia menyadari kekeliruannya bahwa orang lain tidak ada yang tahu tentang kelapa ajaibnya, termasuk Saudagar Branaharda dan kedua muridnya. Sementara itu, ia tidak menceritakan ih-
wal kelapa itu kepada orang lain. Setelah dipikir panjang, akhimya, Kiai Wasita hendak menceritakan hal yang sebenamya tentang kelapa itu kepada saudagar Branaharda. "Tuan, jika demikian, sebaiknya kedua putramu meng- abdi kepada raja kita. Kedua muridku, Jaka Satya dan Jaka Sedya adalah orang-orang yang cakap dan tangguh. Mereka pasti akan menjadi kepercayaan Raja." Saudagar Branaharda heran dan terkejut ketika mende- ngar penjelasan Kiai Wasita. Ditatapinya mata kiai itu. "Mengapa Kiai tiba-tiba berkata begitu?" "Begini, Tuan. Sesungguhnya ada satu hal yang belum Tuanku ketahui tentang buah kelapa yang kutitipkan itu." Kemudian, Kiai Wasita menceritakan mimpi yang telah dialaminya. la juga menceritakan pengalamananya dalam me- ngembara untuk membuktikan mimpinya. Sementara itu, Saudagar Branaharda mendengarkan cerita Kiai Wasita dari awal hingga akhir. "Jadi, kelapa itu adalah kelapa ajaib? Dan, siapa yang memakannya akan menjadi raja?" tanya Branaharda hampir tak percaya dengan penjelasan Kiai Wasita. "Benar, Tuan. Kakek yang muncul dalam mimpiku itu mengatakan báhwa barang siapa yang meminum air kelapa, kelak akan menjadi raja," jelas Kiai Wasita membuka rahasia mimpinya.
Raut wajah Saudagar Branaharda masih tampak terte-
gun. Kepalanya tertunduk dan ada sesuatu yang dipikirkan.
"Baiklah Kiai. Jika itu yang baik menurutmu, aku tidak
keberatan kedua putraku mengabdi kepada Raja."
Setelah mendengar penjelasan guru yang sangat ter- kenal itu, Branaharda segera menemui istrinya. la mencerita- kan buah kelapa ajaib milik Kiai Wasita. "Begitulah istriku, mimpi guru Wasita kemarin. la berhasil menemukan buah kelapa ajaib itu. Sampai akhimya, buah itu dihabiskan oleh kedua putra kita. Sebaiknya, kedua putra kita segera mengabdi di kerajaan. Jika sudah takdimya, tentu me- rekalah yang akan menjadi raja itu," jelas saudagar Branaharda kepada istrinya. "Jadi, mereka harus berpisah dengan kita, Kakang?" ta- nya istri Branaharda dengan menunjukkan rasa sedih. "Begitulah kenyataannya, istriku. Memang kita harus perpisah dengan mereka. Demi masa depan mereka juga restuilah kepergian anak kita." Perempuan itu tampak diam terpaku ketika mendengar penjelasan suaminya. la termenung dan sedih karena akan berpisah dengan kedua putranya. Kepalanya ditundukkan se- raya berpikir. Dari tempatnya berdiri, Branaharda memperhatikan si- kap istrinya. Laki-laki itu menangkap pancaran kecemasan di mata istrinya. Kemudian, ia berusaha menghibumya.
"Istriku, percayalah. Jaka Satya dan Jaka Sedya tidak akan lama meninggalkan kita. Restuilah kepergian mereka agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik." "Baiklah, Kakang. Aku merestui kepergian kedua anak kita. Tapi, apakah Kakang sudah membicarakan hal ini kepada mereka?" "Aku belum memberi tahu hal ini kepada mereka. Aku ingin engkau mengetahuinya lebih dulu, istriku. Setelah itu, aku akan memberi tahu hal ini kepada mereka berdua.
Bagian 4
MENGABDI KE KERAJAAN
Saudagar Branaharda segera menemui kedua putranya. Sementara itu, istrinya duduk di sudut kamar sambil memper- hatikan pembicaraan antara suami dan kedua anaknya. 'Wahai anakku, Jaka Satya dan Jaka Sedya, ada sesu- atu yang hendak aku sampaikan kepada kalian berdua." "Ada apa Ayah. Kami berdua siap mendengarkannya," kata Jaka Satya yang berdiri di samping adiknya. "Anakku, perlu kau ketahui bahwa buah kelapa yang kalian makan itu milik Kiai Wasita yang dititipkan kepadaku. "Ha! Milik Guru?" tanya Jaka Satya memotong perkata- an ayahnya dengan raut wajah yang sangat terkejut. "Benar, anakku. Kelapa itu kepunyaan Kiai Wasita. "Apakah ia sudah tahu bahwa kelapanya telah kami makan, Ayah?" tanya Jaka Sedya dengan rasa khawatir. "Lalu, apakah ia marah kepada kami?" tanya anak su- lung saudagar Branaharda. "Hmm ... Jangan khawatir anakku. Meskipun ia sudah ta-
hu siapa yang memakan kelapanya, Kiai Wasita tidak marah," jelas Branaharda yang mencoba meyakinkan anaknya. Kedua anak saudagar Branaharda tampak terpaku de- ngan penjelasan Ayahnya. Mereka masih berdirimematung di hadapan ayahnya seakan-akan siap menerima hukuman dari Ayah atau gurunya. Jaka Satya dan Jaka Sedya tampak kikuk di hadapan Ayahnya. Mereka diam dan tidak berani memandang Ayahnya. Mereka merasa bersalah karena telah mengambil milik orang lain tanpa izin, terlebih-lebih kelapa itu adalah milik gurunya sendiri. Saudagar Branaharda memperhatikan perubahan sikap anaknya. Tak lama kemudian, saudagar itu berusaha mencair- kan suasana yang tampak kaku. la berjalan dan berdiri di an- tara kedua anaknya. "Wahai anakku, janganlah kalian khawatir seperti itu. Aku yakin Kiai Wasita tidak akan marah. Aku memanggilmu karena aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu bahwa se- sungguhnya, buah kelapa itu bukanlah seperti buah yang lain, tetapi kelapa itu mempunyai keistimewaan." Ayah dua anak itu berhasil mengubah suasana. Situasi yang tampak kaku tidak terasa lagi. Sementara itu, istrinya memperhatikan dari tempat duduknya. "Apa keistimewaannya, Ayah?" tanya Jaka Satya de- ngan rasa ingin tahu yang besar.
Branaharda tidak jadi mengatakan rahasia buah kelapa itu. "Biarlah waktu yang akan membuktikan kebenarannya," bisiknya dalam hati. "Apa keistimewaan buah kelapa itu, Ayah?"
"Hmm... hmm... istimewanya karena... buah kelapa itu
milik guru," kata Branaharda seakan meralat ucapannya tentang rahasia buah kelapa. la pun lalu mengatakan niatnya se- perti yang disarankan Kiai Wasita. "Anakku, ayah perhatikan kalian telah berhasil mengua- sai semua ilmu yang diajarkan guru." "Memangnya ada apa, Ayah?" "Menurut Kiai Wasita, hanya dengan berbekal ilmu saja belum cukup bagi kalian. Untuk itu, gurumu menyarankan agar kalian mengabdi kepada raja. itu semua demi kebaikan kalian." "Kenapa harus mengabdi kepada raja, Ayah?" "Dengan mengabdi di kerajaan, pengalaman hidup kalian akan bertambah. Kalian juga dapat bergaul dengan banyak orang di sana," kata Branaharda meyakinkan kedua putranya. Kedua anak saudagar itu mendengar penjelasan ayahnya dengan sungguh-sungguh. Mereka berusaha memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya. Jaka Satya dan Jaka Se- dya tampak membicarakan tentang penjelasan ayahnya. "Bagaimana, Kak, dengan penjelasan ayah tadi?" "Ya, sebaiknya kita menurut perintah ayah.. Kita berdua
harus segera mengabdi ke raja," kata Jaka Satya. Sambil berdiri di depan ayahnya mereka berkata, "Ayah, kami akan mematuhi perintah Ayah. Kami akan berkemas dan
segera menuju ke istana." "Baiklah, Nak. Ayah dan Ibumu merestuimu. Semoga
kalian berdua dapat mengatasi setiap masalah yang ada,"
kata Saudagar Branaharda. Istri sang saudagar yang duduk di sudut kamar memper- hatikan pembicaraan antara suami dan kedua anaknya. Lalu, ia mendekati kedua anaknya. "Anakku, jaga diri baik-baik dan jangan kau melupakan kami, ya Nak," kata istri Branaharda sambil menahan isak tangisnya. la membelai punggung anak bungsunya. Hatinya berat melepas kepergian putra kesayangannya. "Anakku, di istana nanti kau harus patuh dan hormat pa- da perintah raja. Kepada semua orang, kalian berdua harus bersikap baik dan sopan," kata perempuan beranak dua itu sambil memegang bahu anaknya. Kedua putra Branaharda menundukkan kepalanya. Mereka tak kuasa melihat ibunya yang hampir tampak menangis. Mereka tidak segera menyahut, tetapi memperlihatkan rasa sedih karena akan berpisah dengan ayah dan ibunya. Setelah mendengar nasihat kedua orang tuanya, Jaka Satya dan Jaka Sedya segera melakukan persiapan. Langit cerah dan tidak ada mendung di mana pun. Dengan restu
kedua orang tuanya, kakak beradik itu segera menuju Istana Puspawarna. Kedua putra Branaharda itu bertekad akan me- ngabdi kepada sang raja. Sesampainya di istana, Jaka Satya dan Jaka Sedya segera menghadap raja. Namun, mereka hanya diterima oleh patih. Kedua kakak-beradik itu membungkukkan badannya seraya memberi hormat.
Sang patih memandangi keduanya yang duduk ber-
simpuh di depannya. Rupanya ia menaruh hati kepada kedua calon abdi kerajaan yang menampakkan sifat dan sikap yang baik. "Kedua anak itu tampaknya baik. Otot tubuhnya tampak kekar seperti seorang pendekar. Semoga mereka dapat mela- kukan pekerjaan sesuai dengan keinginan Raja," kata patih di dalam hati. la berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekati kedua pemuda itu. Kedua matanya memandang tajam calon abdi kerajaan yang masih duduk bersimpuh. 'Wahai anak muda, jika aku terima engkau bekerja di si- ni, apakah engkau sanggup mengikuti dan menaati peraturan kerajaan?" "Hamba Tuan Patih, " jawab Jaka Satya dan Jaka Sedya hampir serempak. "Jika sanggup, kalian dapat mulai bekerja besok. Aku akan segera melaporkan kepada Raja tentang kalian berdua."
Di tempat barunya itu, mereka berlaku sopan. Kedua Jaka kakak beradik itu dapat menempatkan diri. Mereka bekerja dengan cepat dan rajin. Banyak teman yang menyukainya. Bahkan, raja pun senang akan kehadirannya. Tanpa disadari- nya, Jaka Satya dan Jaka Sedya telah menjadi kepercayaan raja. Tapi, tidak bagi seorang abdi. Kedekatan raja dengan keduanya membuatnya iri dan dengki. "Kurang ajar! Sekarang giliran Jaka Sedya yang me- nyakiti hatiku. Kemarin, Jaka Satya telah membuat aku ter- singgung. Mereka benar-benar berhasil merebut perhatian raja dariku. Mengapa selalu mereka yang diberi tugas penting oleh Raja. Aku harus melakukan perhitungan terhadap mereka. Belum ada sebulan mereka di sini, tapi semua tugas penting banyak diserahkan kepadanya," pikir Kajo, seorang abdi yang telah lama bekerja di istana. Kajo memang seorang abdi kerajaan yang telah lama bekerja di Istana Puspawama. Ketika pertama kali bekerja, ia memang seorang pekerja yang sangat rajin dan jujur. Selain itu, ia mempunyai ilmu bela diri yang cukup andal sehingga cukup disegani oleh kawan-kawannya. Saat itu, raja sangat senang mempunyai pekerja yany sangat rajin seperti Kajo. Raja sangat mempercayainya. Semua pekerjaan ada di bawah pengawasannya. Kemudian, ia diangkat oleh Raja dari seorang abdi biasa menjadi kepala hu-
lubalang. Kajo sangat menikmati jabatan baru yang diberikan oleh raja. Di dalam pekerjaan barunya itu, ia banyak berhubungan dengan masalah uang dan kebutuhan sandang pangan para pekerja yang lain. Tanpa disadarinya, ia banyak menggunakan keuangan negara untuk kepentingan dirinya. Semakin lama Kajo me- nyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh raja. Lama kelamaan semua tindakan yang dilakukan oleh Kajo diketahui oleh raja. Akhimnya, Kajo dihukum dan diturunkan ke jabatan semula. Pada saat itu, datanglah Jaka Satya dan Jaka Sedya ke istana. Mereka bekerja dengan rajin dan jujur. Kedua kakak beradik itu menunjukkan sikap dan sifat yang baik sehingga raja menyukai dan memberinya kepercayaan penuh kepada- nya. Hal itu membuat iri dan dengki Kajo menjadi besar. la tidak menyukai kehadiran Jaka Satya dan Jaka Sedya. la berusaha untuk menyingkirkan keduanya. Berbagai usaha li- ciknya dilakukan agar kakak beradik itu tidak disukai oleh • orang lain. Usahanya berhasil. la menghasut temannya dan mengadakan pertemuan rahasia. "Percayalah padaku, kawan? Aku tadi mendengamya sendiri. Kalau Jaka Sedya yang melaporkannya kepada raja. Raja langsung percaya saja hingga engkau mendapat hukum-
an seperti ini," hasut Kajo kepada seorang abdi yang lain. Kajo berhasil menghasut kawannya, seorang pengawal yang mendapat hukuman dari raja. Padahal, ia tidak mengetahui apa yang dibicarakan antara raja dan kakak beradik Jaka itu. la hanya mengetahui bahwa kedua Jaka itu dipanggil oleh Raja. Namun, ia berhasil membakar emosi kawannya itu. "Benar Kakang. Sejak kedatangannya, kita semua ter- singkir. Raja selalu memperhatikan Jaka Satya dan Jaka Sedya. Padahal, mereka termasuk orang-orang yang baru di sini," kata pengawal yang lain. Kajo juga berhasil memancing emosi teman-temannya yang lain. Berbagai cara dilakukan agar semua temannya membenci Jaka Satya dan Jaka Sedya. "Kita harus mencari akal, kawan agar mereka tidak sukai oleh Raja," usul seorang pengawal yang mendengarkan pem- bicaraan teman-temannya. "Benar, usulmu itu sungguh baik, kawan," sahut yang lain. "Kita singkirkan saja!" celetuk yang lain. "Aku setuju! Sekarang kita atur siasat agar kita mudah menyerangnya. Atau, jika mereka mendapat tugas dari Raja, kita cegat. Lalu, kita hajar mereka beramai-ramai." "Setuju! Setuju!" Akhirnya, usaha Kajo berhasil. la dapat mempengaruhi dan menghasut teman-temannya. Setelah diadakan pertemu-
an rahasia untuk yang ketiga kalinya, para abdi yang tidak me- nyukai Jaka Satya dan Jaka Sedya bersepakat untuk segera melumpuhkan lawannya. Suatu hari raja memanggil kedua putra kembar Brana- harda. la mengutus Jaka Satya dan Jaka Sedya menjadi kurir ke kerajaan lain. Mereka akan membawa emas dan permata yang akan dikirim ke kerajaan tetangga. Pada saat itu, pembicaraan antara raja dan Jaka kakak beradik diketahui oleh seorang pengawal yang bertugas di pintu masuk istana. la segera memberi tahu berita itu kepada teman-temannya yang lain, termasuk kepada Kajo. "He kawan, sebentar lagi Jaka Satya mendapat tugas baru dari Raja. la akan menjadi kurir ke kerajaan tetangga sa- na," kata seorang pengawal yang merasa tersisih dengan kehadiran kedua Jaka. "Apa, mereka mendapat tugas lagi? Kau tahu dari mana. Teman, jika salah satu di antara mereka pergi sendiri, tentu kita tidak akan mengalami kesulitan untuk melumpuhkannya. Akan tetapi, jika mereka pergi berdua, kita akan memerlukan tenaga ganda untuk melumpuhkannya," jelas Kajo dengan suara berbisik. "Aku melihatnya sendiri, Kang Kajo. Pada saat itu aku sedang bertugas di dekat Raja. Seharian aku menjaga tempat singgasananya dan aku mengetahuinya bahwa raja memanggil kedua Jaka itu. Jadi, setahuku, Jaka Satya tidak pergi sen-
diri, tetapi akan ditemani oleh adiknya." Akhimya, tugas yang akan diemban oleh kedua kakak beradik itu telah diketahui oleh semua abdi yang lain. Setelah mengetahui hal itu, Kajo tampak berpikir. Kedua tangannya di- letakkan di belakang punggungnya. Lalu, ia berjalan mondar- mandir. Kajo segera meninggalkan pengawal. Kemudian, ia segera mengadakan pertemuan rahasia lagi serta menyusun rencana untuk menghadang kepergian Jaka Satya dan Jaka Sedya. la akan menyampaikan rencananya kepada teman-temannya. "He, kawan, aku dapat berita baru. Jaka Satya dan Jaka Sedya akan melakukan perjalanan jauh. la mendapat tugas baru dari Raja." "Ya, aku sudah tahu kemarin," jawab pengawal yang lain. "Apa?Mereka akan melakukan perjalanan jauh! Kema- na?" tanya seorang pengawal bertubuh pendek yang duduk di antara teman-temannya di dalam pertemuan rahasia, "Cari tahu kawan, ke mana mereka pergi. Kemudian, kita sergap
mereka dan kita lumpuhkan."
"Aku tahu, Kang! Mereka akan berjalan ke arah utara. Untuk mencapai tempat itu hanya ada satu jalan, Kang. Salah satu di antara kita harus berangkat dulu sebelum mereka pergi. Di tengah jalan baru kita sergap mereka secara bersama-
sama," jelas Kajo dengan bersemangat. Kajo tampak bersemangat untuk menyingkirkan Jaka Satya dan Jaka Sedya, sedangkan teman-teman yang lain mendengarkan perkataan Kajo. Akhirnya, mereka sepakat akan menyerang dua orang yang menjadi kepercayaan Raja itu. Di tempat terpisah, Jaka Satya dan Jaka Sedya melaku- kan persiapan. Mereka tidak mengetahui rencana jahat yang sudah disusun oleh Kajo dan kawan-kawannya. Jaka Satya sibuk menyiapkan kereta dan kuda-kuda. "Ah, tugasku kali ini cukup berat. Aku tidak ingin menge- cewakan Raja. Oleh karena itu, aku harus benar-benar mem- perhatikan kereta dan kuda-kudaku karena aku harus menem- puh perjalanan yang jauh," kata Jaka Satya di dalam hati sam- bil membersihkan sepatu kuda, "Hmm ... tidak ada yang mengkhawatirkan. Tampaknya, kereta dan kedua kuda itu semuanya baik. Besok pagi aku siap akan pergi." Sementara itu, di tempat lain Jaka Sedya sibuk dengan perbekalan dan senjata yang akan dibawanya. Diamati dan di- bersihkannya senjata-senjata itu. Semua perlengkapan yang akan dibawa sudah disiapkan. Kedua kakak beradik yang menjadi kepercayaan Raja Negeri Puspawama itu memusatkan perhatiannya dengan tu- gas yang akan diembannya. Mereka tidak mengetahui bahwa bahaya akan mengancamnya. Orang-orang yang tidak me-
nyukainya akan mencelakainya. Mereka sudah pergi men- dahului Jaka Satya dan Jaka sedya karena mereka akan me- nyerang kedua kakak beradik itu. Keesokan harinya, setelah melakukan persiapan sing- kat, keduanya segera meninggalkan istana. Cuaca tampak cerah. Matahari memancarkan sinamya dengan terang. Tampak kedua kakak beradik jalan beriringan. Di depan, Jaka Satya mengendarai kereta kuda yang memuat bingkisan emas dan permata. Kereta itu ditarik oleh dua ekor kuda. Di atas kereta itu Jaka Satya mengendalikan kudanya dengan gagah. Sementara itu, Jaka Sedya mengendalikan kuda seorang diri tanpa kereta. la berjalan di belakang kereta yang dikendarai oleh kakaknya. Panas terik matahari memanggang kuda-kuda keduanya. Ketika mereka akan berbelok ke arah kiri, Jaka Sedya merasakan air membasahi tubuhnya. Kemudian, ia menenga- dahkan kepalanya ke atas. Di tatapnya langit yang tampak cerah. la tampak heran dengan suasana yang dirasakannya. Pada saat yang bersamaan, di atas kereta Jaka Satya juga merasakan hal yang sama dengan adiknya. la mende- ngar suara titik air hujan membasahi atap kereta kudanya. la menoleh ke belakang. Sepintas ia melihat barang-barang yang dibawanya aman. Kemudian, kereta kudanya berjalan sangat perlahan. Tak lama kemudian, ia segera menatap ke depan. Tangannya segera dijulurkan seraya merasakan air
yang turun. Tanpa disadarinya, ia berucap, "Hujan?" Kemudi- an, ia segera mengendalikan kekang tali kuda agar kuda-kudanya segera berhenti. "Haa? Mengapa ada hujan di terik panas seperti ini? Pertanda apakah ini? Ada apa dengan perjalananku ini?," ta- nya Jaka Sedya di dalam hati. Tanpa membuang waktu lebih lama, Jaka Sedya segera menghentakkan kakinya dan kedua tangannya mengendalikan tali kekang kuda agar kudanya dapat berjalan lebih cepat lagi. Ketika Jaka Sedya berada di samping kakaknya, ia segera memberi aba-aba agar menghentikan keretanya. Badan- nya tampak kuyub oleh air hujan. la membersihkan muka dan tangannya dengan kain. "Kak, hujan. Aku heran mengapa tiba-tiba turun hujan di terik panas ini." "Ya, benar, Dik, aku juga merasakannya. Ini suatu pertanda, Dik. Biasanya hujan di terik panas matahari menanda- an akan ada peristiwa yang tidak kita inginkan." "Benar, Kak. Aku juga merasakan keanehan itu. Ah, mu- ah-mudahan tidak terjadi apa-apa di dalam perjalanan kita. La- lu, bagaimana dengan barang-barang yang kita bawa, Kak?" "Barang-barang itu aman di dalam kereta dan tidak ba- sah. Sebaiknya, kita segera melanjutkan perjalanan ini. Kita serahkan saja kepada Allah semoga kita aman di dalam per-
jalanan. Ayo kita segera berangkat, Dik!" "Baik, Kak." Akhimya, mereka melanjutkan perjalanan dengan pera- saan yang was-was tak menentu. Pada saat itu hujan sudah berhenti. Namun, secara tiba-tiba kereta yang ditumpangi oleh Jaka Satya berjalan oleng. Roda sebelah kanannya patah. Jaka Satya segera menghentikan langkah kudanya dengan menarik tali kekang kuda. Kedua kakak beradik itu kembali berhenti. Jaka Satya segera turun dari keretanya. la jongkok me- ngamati roda keretanya. Sementara itu, Jaka Sedya juga menghentikan kudanya. la mengikuti kakaknya. "Ruji roda patah, Dik. Padahal, semalam aku sudah me- meriksanya. Semuanya masih dalam keadaan baik, tapi kena- pa tiba-tiba jadi patah seperti ini. Jangan-jangan ini juga suatu pertanda, Dik. Mengapa kita pergi kali ini ada-ada saja peng- halangnya," tanya Jaka Satya sambil raut wajahnya meman- carkan keheranan. "Mudah-mudahan ini bukan suatu pertanda tidak baik, Kak. Sekarang cepat kita ganti roda ini, Kak." Jaka Satya dan Jaka Sedya segera mengganti roda kereta. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanannya. Kereta dan kuda kedua kakak beradik itu jalan beriringan. Mereka melalui bukit dan hutan. Ketika sampai di bukit yang kedua, mereka beristirahat.
Tali kekang kedua kuda itu ditambatkan di sebuah po- hon yang besar dan rindang. Kedua Jaka itu segera beristi- rahat dan membuka bekal makanan dan minuman yang di- bawanya. Setelah itu, Jaka Sedya menuju ke kudanya. Diusap dan ditepuk-tepuknya kuda-kuda itu. Kemudian, ia memberi makan dan minum. Sementara itu, Jaka Satya mengamati daerah yang asing baginya. la berjalan mengelilingi tempat itu. Tanpa disadarinya, Jaka Satya menuju suatu tempat yang sangat rindang. la mengamati daerah itu dengan sak- sama. Tiba-tiba tatapan matanya tertuju ke sebuah onggokan kayu bakar. Kemudian, ia memandang sekeliling daerah itu dengan teliti. "Ah, sepertinya ada orang yang baru melewati daerah ini dan membuat kayu bakar," kata Jaka Satya di dalam hati, "Aku harus segera memberi tahu kepada Jaka Sedya." Jaka Satya segera berlari menuju adiknya sambil matanya memandang daerah sekelilingnya. Jaka Satya melihat adiknya yang sedang membersihkan kuda-kudanya. Dengan terengah-engah, ia segera menghampiri adiknya. "Dik, cepat ke sini," teriak Jaka Satya sambil berlari. "Ada apa, Kak." Jaka Sedya segera meninggalkan kuda-kudanya. la segera menyambut kedatangan kakaknya yang tampak terengah-engah.
"Ada apa, Kak. Apa yang kau lihat di sana?" "Aku melihat onggokan bekas kayu bakar di sana. Tam- paknya ada orang baru saja lewat di sini. Apakah kau tadi me- lihatnya, Dik?" "Aku dari tadi bersama kuda-kuda itu sehingga aku tidak melihat ada orang yang lewat di sini." "Dik, cepat kita berkemas. Kita harus segera meninggal- kan tempat ini." JakaSedya segera berkemas-kemas. la menurut dengan perintah kakaknya. Ketika tengah bersiap-siap, mereka dikejutkan dengan suara ringkik kuda yang datang dari arah berlawanan. Dari kejauhan tampak segerombolan manusia bertopeng. Dengan langkah kudanya yang kokoh,mereka menuju ke arah Jaka Satya dan Jaka Sedya. Kedua kakak beradik itu memandang sekelompok tamu yang tak diundang dengan rasa yang was-was. Tiba-tiba mereka teringat dengan hujan di panas terik dan roda kereta yang patah. "Manusia bertopeng," kata Jaka Sedya dengan suara li- rih, "Mudah-mudahan mereka adalah orang-orang yang baik, tapi mengapa mereka memakai topeng?" Suara ringkik dan derap kaki kuda manusia bertopeng semakin dekat. Jaka Satya dan Jaka sedya siap siaga di tempat untuk menyambut kedatangan mereka. "Siapa mereka, Kak. Semua bertopeng. Adakah engkau
57 mengenalnya?"
"Aku tak tahu! Tampaknya mereka berbahaya! Apa mereka mengetahui kalau kita utusan raja! Kita harus hati-hati, Dik. Lihat! Mereka mengeluarkan pedangnya. Ayo kita hadapi bersama. Gunakan ilmu yang telah kita peroleh dari guru."
"Baik, Kak."
Kedua kakak beradik itu siap menyambut kedatangan tamu-tamu yang tak diundangnya. Sementara itu, gerombolan manusia yang bertopeng dan berkuda itu semakin dekat dengan kedua kakak beradik itu. Secara serentak manusia bertopeng berusaha menyergap dua orang kepercayaan Raja itu. Dengan senjata pedang di tangannya itu, mereka me- nyerang Jaka Satya dan Jaka Sedya. Namun, kedua murid Kiai Wasita itu tidak gentar menghadapi musuh-musuhnya. Dengan gerakan yang membuat posisi kuda-kuda, mereka menyambut serangan yang bertubi-tubi dar lawannya. "Ciat.. Ciat!" terak salah seorang yang bertopeng sambil mengayunkan pedang ke arah lawan. Wusss ... secepat kilat Jaka Satya menghindar. Bersa- maan dengan itu ia memberi serangan balik yang terus me- nerus ke arah lawan. Murid tertua Kiai Wasita itu berhasil me- nguasai medan. Akhimya, satu per satu lawan Jaka Satya dapat dikalah- kannya. Namun, tinggal satu lawan lagi belum dapat dilum- puhkan.
Jaka Satya dan Jaka Sedya bertarung satu lawan satu dengan musuh bertopeng itu.
Semakin lama, lawan Jaka Satya tampak kendor. Na- mun, Jaka Satya memberi perlawanan secara terus menerus. Ketika keadaan memungkinkan, Jaka Satya mencari adiknya sambil memberi perlawanan kepada musuhnya itu. Secara se- lintas ia melihat pergulatan adiknya. Jaka Satya ingin segera
mengakhiri pertarungan yang dihadapinya karena ia ingin me- nolong adiknya. Kemudian, dengan kekuatan yang dimilikinya, ia melancarkan tenaga dalam dan sekaligus mengayunkan pedangnya ke arah lawan. Akhimya, manusia bertopeng itu jatuh ke bumi. Sementara itu, Jaka Sedya menghadapi empat orang lawan. Murid kedua Kiai Wasita itu membuat gerakan salto. la tidak gentar. Dengan ilmu yang diperolehnya ia berhasil me- lompati empat orang manusia bertopeng dan sekaligus me- ngerahkan tenaga dalam ke arah lawannya. Akhimya, empat orang musuh yang bertopeng itu dapat dilumpuhkan. Satu per satu mereka itu dapat dikalahkan. Di luar perhitungannya, Jaka Sedya menghadapi lawan yang licik. Jaka Sedya kurang cermat. Di saat ia memusatkan perhatiannya kepada empat orang yang menyerangnya, ia tidak melihat seorang lawan yang datang dari arah belakang. Dengan sekali pukulan yang cukup telak, manusia bertopeng itu berhasil melumpuhkan Jaka Sedya. Di bawah ancaman senjata pedang, Jaka Sedya ber- jalan mengikuti perintah lawannya. la menjadi tawanan musuh. Kemenangan sementara yang telah diperolehnya gagal dipertahankan. Pada saat yang genting itu, Jaka Satya melihat keadaan adiknya. "Ha, Jaka Sedya dalam bahaya," kata Jaka Satya di dalam hati.
Dengan langkah hati-hati, Jaka Satya segera menuju ke tempat adiknya. la mengumpulkan tenaganya dan memusat- kan perhatiannya kepada lawannya yang menahan Jaka Sedya. Tiba-tiba Jaka Satya melakukan suatu gerakan yang sangat luar biasa dan sangat cepat. Pada saat itu juga ia se- kaligus membuat gerakan salto. Tidak ada orang yang dapat melakukan gerakan sehebat itu kecuali murid Kiai Wasita. Ketika Jaka Satya semakin dekat dengan menusia bertopeng yang sedang menghunus pedang kearah Jaka Sedya, ia membuat gerakan yang sangat mengejutkan lawannya. Saat itu manusia bertopeng segera menoleh ke belakang. Ke- adaan yang sangat baik itu tidak dibiarkan oleh Jaka Sedya. la segera memberi serangan balik ke lawannya. Secara bersamaan, Jaka Satya juga memberi perlawan- an kepada musuh. Serangan yang secara tiba-tiba datang dari dua arah itu membuat manusia bertopeng kewalahan. Musuh yang berbadan kecil itu jatuh. Pada saat itu, Jaka Satya dan Jaka Sedya menghunus pedang ke arah lawannya. "Cepat berdiri!," kata Jaka Satya sambil menghunus pedang ke musuhnya. Sementara itu, Jaka Sedya siap siaga dengan senjata di tangannya. la juga mengarahkan pedang ke manusia bertopeng. "Siapa kau dan dari mana asalmu," tanya Jaka Sedya
sambil mengarahkan pedangnya. Pemuda bertopeng itu tetap membisu. Kepalanya ditundukkan. Secara selintas ia melihat sekelilingnya. Teman- temannya sudah terkapar di tanah. Hanya dia sendiri yang masih hidup.
"Cepat buka topengmu, aku ingin melihat tampangmu!"
perintah Jaka Satya. Pemuda bertopeng itu masih tetap membisu. Badannya tampak lemas dan Kepalanya masih ditundukkan. "He, cepat buka topengmu! Atau kau ingin merasakan pedang ini seperti kawanmu yang lain?" gertak Jaka Satya. "Cepat buka!" perintah Jaka Sedya lagi. Dengan ancaman senjata pedang, manusia bertopeng itu mengangkat tangannya. Kemudian, ia membuka ikatan yang ada di belakang kepalanya. Pemuda itu segera membuka topengnya. Saat topeng itu sudah terlepas, kedua murid Kiai Wasita itu sangat terkejut ketika melihat wajah di balik topeng. "Ha! Engkau? Kenapa kau tega melakukan ini terhadap- ku?" tanya Jaka Satya dan Jaka Sedya hampir serempak. Akhimya, kedua putra saudagar Branaharda itu mengetahui siapa orang-orang yang telah menyerangnya.
Bagian 5
PENGEMBARAAN SI KEMBAR
Kedua putra Branaharda itu masih tampak terkejut dengan musuh yang menjadi tawanannya. Mereka sangat me- ngenalnya. Ternyata, pemuda bertopeng itu tidak lain adalah teman sekerja kedua kakak beradik Jaka itu. la adalah seorang pengawal raja juga. "Bukankah engkau seorang pengawal raja?" tanya Jaka Satya kepada pemuda yang tampak takut. Pemuda itu diam. Kepalanya tertunduk dengan kedua tangannya terikat. "Jawab pertanyaanku!" hardik Jaka Satya sambil meng- ancamkan pedang ke lawannya. "Benar, Kang. Aku memang seorang abdi raja" katanya dengan suara lirih. Jaka Sedya membungkukkan badannya di depan pemuda yang duduk di tanah. la memegang sepotong kayu. la mengarahkan kayu itu ke dagu sanderanya seraya mengang- kat kepalanya yang masih tertunduk terus.
"Siapa namamu!" bentak Jaka Sedya dengan suara keras sambil menatap mata tawanannya yang memancarkan ketakutan. Tangan kanan Jaka Sedya masih memegang kayu un- tuk menyangga wajah pemuda yang menjadi sanderanya agar tetap terdongak ke atas hingga kedua kakak beradik itu dapat melihat wajahnya. "Na... Namaku Kadi." Sementara itu, Jaka Satya yang berdiri di samping adik- nya mengawasi terus ke arah pemuda yang menjadi tawanannya. la kemudian berjalan mendekati pemuda yang tampak masih ketakutan. "Siapa yang menyuruhmu!" Tidak ada jawaban dari pemuda yang tampak pucat itu. la duduk di tanah dengan kedua tangannya terikat. "Siapa yang menyuruhmu!" bentak Jaka Satya meng- ulangi pertanyaannya dengan suara keras. Tiba-tiba Jaka Sedya menarik baju Kadi. Murid Kiai Wa- sita itu tampak kehilangan kesabaran terhadap sikap tawanannya yang banyak berdiam diri itu. Tangan Jaka Sedya yang kekar menarik baju tawanannya hingga terangkat. Kepala Kadi terangkat dan terdongak ke atas hampir mendekati wajah Jaka Sedya yang tampak menahan emosi. Pemuda itu me- nangkap pancaran kebengisan di mata Jaka Sedya yang seakan-akan hendak menerkam dirinya.
"Jawab pertanyaan itu!" perintah Jaka Sedya sambil me- ngangkat tubuh Kadi dengan menarik bajunya.
"Aaa... Aku di... di.. di..su..ruh oleh Kaaaakang ...."
jawab Kadi dengan suara gagap. "Siapa!" bentak Jaka Sedya. "Ka... Kakang Kajo!" kata Kadi lemas. Jaka Sedya melepas genggamannya seketika pada saat ia mendengar nama Kajo disebut. Akibatnya, tubuh tawanan- nya jatuh terduduk di atas tanah. Dengan kedua tangan yang masih terikat, Kadi berusa- ha melihat Jaka Sedya yang tampak sangat terkejut. "Kakang Kajo!?" kata Jaka Sedya di dalam hati. la masih tidak percaya dengan apa yang didengamya. Kemudian, Jaka Sedya jongkok dan mendekati Kadi hingga wajahnya hampir dekat dengan pemuda itu. "Benar Kakang Kajo yang menyuruhmu?" tanya Jaka Sedya kepada Kadi. "Ya, Kakang Kajo yang menyuruhku." Jaka Sedya masih tampak tertegun. Benaknya dipenuhi oleh bayangan Kajo yang dianggapnya sebagai orang yang dihormati. Jaka Sedya masih tidak percaya jika Kajo yang memberi perintah untuk melakukan penyerangan terhadap dirinya. "Aku tidak menyangka Kakang Kajo mempunyai niat jahat seperti itu. Aku akan melakukan perhitungan," pikir Jaka
Sedya. Kemudian, ia menghampiri kakaknya yang wajahnya menampakkan rasa keheranan. "Kak, tadi engkau mendengar pengakuan Kadi, bukan?" tanya Jaka Sedya, "Ternyata, Kajo yang mempunyai otak pe- nyerangan itu. Kita harus membuat perhitungan. Aku tak me- nyangka karena selama ini aku sangat menaruh hormat ter- hadapnya." "Benar, Dik. Aku tidak mengira dia yang menjadi biang keladinya. Kita harus lapor kepada raja setelah tugas kita selesai." Jaka Satya dan Jaka Sedya terdiam sesaat. Mereka me- mikirkan pemuda yang menjadi tawanannya. Akhimnya, kedua Jaka itu mengambil keputusan bahwa mereka akan menye- rahkan tawanannya kepada Raja. "Dik, menurutku, sebaiknya kita bawa saja Kadi dalam perjalanan kita. Setelah tugas selesai, kita secepatnya kembali dan kita serahkan Kadi kepada Raja. Biar nanti Raja saja yang memberi hukuman kepada Kadi dan kawan-kawannya." "Baiklah, Kak. Menurutku, itu juga jalan yang terbaik. Kita tidak akan melepaskan tawanan itu sebelum kita serahkan kepada Raja." Tak lama kemudian, kedua kakak beradik dan Kadi yang menjadi tawanannya segera meninggalkan tempat. Mereka bertiga pergi ke negeri tetangga untuk menyampaikan ama- nah Raja.
Setelah selesai menjalankan tugasnya, ketiga pemuda
kembali ke istana. Jaka Satya dan Jaka Sedya segera mem-
bawa Kadi ke hadapan Raja. Dengan tangan terikat di bela- kang punggungnya, Kadi berjalan diapit oleh Jaka Satya dan
Jaka Sedya.
Di hadapan Raja, Jaka Satya menceritakan semua keja-
dian yang menimpa dirinya yang tiba-tiba diserang oleh orang-
orang yang bertopeng. Tidak ada satu peristiwa pun yang terlewatkan.
"Demikianlah, Tuanku, hingga akhimya kami dapat me-
nangkap hidup-hidup seorang di antara mereka yang bertopeng itu. Sekarang hamba serahkan tawanan itu kepada Tuanku," jelas Jaka Satya.
Sementara itu, Kadi duduk bersimpuh di hadapan sang
raja. Kepalanya tertunduk lemas. la siap menerima hukuman.
"He, pengawal mengapa kau melakukan tindakan itu?
Siapa yang menyuruhmu!"
"Ampun, Tuanku. Hamba disuruh oleh Kakang Kajo. Dia
yang memerintah kami untuk melakukan penyerangan terha- dap Jaka Satya dan Jaka Sedya," jawab Kadi lalu ia menun- dukkan kepalanya. Raja memandang Kadi yang duduk bersimpuh di hadap- annya. la segera berdiri dan memanggil seorang pengawal- nya. "Cepat panggil Kajo ke sini!" perintah Raja kepada se-
orang pengawal yang berdiri di samping pintu masuk. Tanpa membuang waktu lagi, pengawal itu segera ke- luar. la mencari Kajo. Sementara itu, kedua kakak beradik Jaka itu berdiri di sebelah kanan raja. Mereka memperhatikan tindakan raja yang sedang mengadili Kadi. Raja kembali duduk di atas singgasananya. Orang yang sangat berkuasa di negerinya itu kembali menatap pemuda yang pakaiannya tampak kotor. "Lalu, mengapa engkau menyerang Jaka Satya dan Jaka Sedya yang sedang menjalankan perintahku. Kadi, itu tandanya engkau dan kawan-kawanmu telah berkhianat ke- padaku." Tak ada jawaban dari Kadi. la masih menundukkan kepalanya. "Cepat katakan! Mengapa kalian menyerang mereka!?" bentak raja mengulangi pertanyaannya sambil menunjuk ke Jaka Satya dan Jaka Sedya. Dengan gerak yang lamban, Kadi mengangkat kepalanya. la berusaha memberi jawaban kepada Raja. "Ka... Kami melakukan penyerangan itu karena selama ini hanya Jaka Satya dan Jaka Sedya yang selalu mendapat tugas. Kami merasa iri, Tuanku." Tak lama kemudian, Kajo datang dengan diringi oleh seorang pengawal. la bingung dengan pemanggilan terhadap dirinya.
"Mengapa Raja tiba-tiba memanggilku?" tanya Kajo dengan hati yang was-was. Namun, ia tak berani bertanya. Di dekat pintu masuk ia melihat beberapa orang duduk di hadapan raja. Tiba-tiba, hatinya berdegup keras ketika matanya menatap Jaka Satya dan Jaka Sedya. Mereka tam- pak segar bugar duduk di samping raja. "Ha! Celaka! Rencanaku gagal," kata Kajo di dalam hatinya. Pengawal yang bertahun-tahun mengabdi dan telah berkhianat itu memperhatikan situasi. la berjalan perlahan menuju singgasana raja. Sambil berjalan, ia berusaha mencari tahu siapa seseorang yang bersimpuh di hadapan raja. Ketika semakin dekat dengan singgasana, tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat mengetahui bahwa pemuda itu ternyata Kadi. "Celaka aku! Raja tahu!" kata Kajo di dalam hati. Raja melihat Kajo berjalan dengan hati yang bimbang. Matanya menatap tajam ke arah Kajo yang berjalan perlahan. Kajo segera menundukkan kepalanya seraya menyembah kepada raja
"Cepat ke sini, kau!" perintah Raja dengan suara keras,
"Kau mengenal siapa pemuda yang ada di hadapanku itu." Kajo tidakmenjawab. la menundukkan kepalanya dengan hati yang berdegup keras. la sadar raja telah mengetahui rencana penyerangannya terhadap utusan raja. Laki-laki itu telah pasrah dengan keputusan yang akan dijatuhkan pa-
danya. Hukuman akhimya ditimpakan kepada Kadi, Kajo, dan kawan-kawannya yang telah berkhianat kepada raja. Peristiwa itu membuat Jaka Satya dan Jaka Sedya memutuskan untuk tidak meneruskan tinggal di istana. Mereka mengembara mencari penghidupan baru. Bukit, hutan, dan sungai telah dilewatinya bersama-sama dengan selamat. Pada suatu saat mereka sampai di puncak gunung. Mereka melalui tebing-tebing yang terjal, batu-batu yang besar, dan pohon yang besar. Secara tiba-tiba datang angin topan yang sangat dasyat melanda mereka. Jaka Satya dan adiknya berlindung. Keduanya saling berpegangan tangan karena seakan-akan mereka terbang ditiup angin topan. "Pegang tanganku, Dik! Pegang erat!" teriak Jaka Satya. Kekuatan angin topan melebihi kekuatan tenaga kedua kakak beradik yang sedang berjuang di dalam terpaan angin. Angin topan semakin ganas menerjang keduanya. Akhimya, mereka berpisah. Masing-masing mempertahankan diri dari terjangan angin topan dan kabut tebal. "Aaaahhh," teriak Jaka Satya. Tangan kanannya masih terjulur. la masih berusaha menggapai tangan adiknya yang terlepas dari genggamannya. Tubuh Jaka Satya terbawa angin topan. la terantuk dan terbentur dengan benda-benda yang juga tertiup oleh angin topan. "Tolong .. tolong aku, Kak" teriak Jaka Sedya yang ta-
ngannya terlepas dari genggaman kakaknya. Jaka Satya tidak mampu menolong adiknya. Mereka berpisah karena tiupan angin topan. Pohon-pohon bergerak ke kiri dan ke kanan. Daun-daun bergoyang dan saling ber- sentuhan hingga menimbulkan suara gemerisik yang sangat menakutkan. Angin bertiup sangat kencang dan menerjang semua benda yang ditiupnya. Pohon besar tercabut dari akamya. Ba- tang kayu dan batu-batu berserakan. Tidak ada satu benda pun yang selamat dari terpaan angin topan. Ketika situasi aman kembali temyata Jaka Satya sudah tersangkut di atas pohon. Sementara itu, Jaka Sedya tidak ada di samping dirinya. la berusaha turun untuk mencari adiknya. Namun, tidak dijumpainya. Jaka Satya dengan berat hati melanjutkan perjalanan sambil mencari adiknya. Tanpa disadarinya, ia sampai di negeri Pusparadya yang ketika itu sedang mengadakan sayembara. la mengikuti sayembara itu dan berhasil memenangkannya. Akhimya, Jaka Satya menjadi raja. la memimpin kerajaan itu dengan adil dan bijaksana. Sementara itu, ketika angin topan datang menerjang, Jaka Sedya terlempar ke sebelah bukit. la tergeletak pingsan karena hempasan tiupan angin topan yang sangat kencang. Ketika sadar, Jaka Sedya berusaha bangun, tapi ia merasakan sakit yang sangat luar biasa di kaki kirinya. la melihat di seki-
tamya. Di sekelilingnya penuh dengan pohon dan kayu yang berserakan. Jaka Sedya bangun kemudian ia mencari kayu untuk menyangga tubuhnya. Dengan jalan tertatih-tatih karena pin- cang, Jaka Sedya mencari kakaknya. la berjalan mengembara sampai akhimya tiba di Kerajaan Pusparadya. Sesampainya di sana Jaka Sedya mengetahui bahwa kakaknya telah menjadi Raja Pusparadya. Namun, ia ragu untuk segera menemuinya. Jaka Sedya takut jika nanti kakaknya tidak mau mene- rima dan mengakui adiknya lagi karena ia kini sudah kaya dan menjadi raja. Sementara dirinya hanya seorang pengembara. "Aku ragu apakah kakakku masih mengenaliku lagi. Jangan-jangan nanti aku diusimya karena aku kotor," pikir Jaka Sedya "Tapi, aku sudah rindu padanya. Aku ingin segera menemuinya." Karena rasa rindunya yang sangat besar kepada kakaknya, akhimya, Jaka Sedya memutuskan untuk mengabdi di kerajaan Pusparadya. la menyamar sebagai Jaka Sungkawa. Namun, kehadirannya telah diketahui oleh Raja Jaka Satya. Diap-diam, Raja memperhatikan Jaka Sungkawa yang sangat rajin bekerja. "Pengawal, siapakah Jaka Sungkawa itu." "Duli tuanku, ia hanya seorang budak. Menurut peng- akuannya ia adalah anak Kiai Wasita dari negeri Sokarengga." "Apa!? Sokarengga?" tanya Raja memotong perkataan
pengawalnya. Raja terdiam. la mengemyitkan dahinya. "Bukankah Kiai Wasita satu-satunya guru yang terkenal dari negeri Sokarengga. Tapi, dia rasanya tidak mempunyai anak," pikir raja. Dengan rasa penasaran yang besar, Raja memanggil Jaka Sungkawa. Tenyata, Jaka Sungkawa itu adalah adiknya yang selama ini dicarinya. Rasa rendah diri dan sungkan da- lam tubuh Jaka Sedya lenyap ketika melihat sikap kakaknya yang langsung memeluknya. Tenyata, Jaka Satya yang telah menjadi raja tidak sombong dan angkuh. Akhirnya, mereka menceritakan pengalamannya sendiri. Kemudian, mereka menjemput Ayah dan Ibunya untuk berkumpul kembali.
PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKCAN NASIONAL
SERI BACAAN
SASTRA ANAK
INDONESIA
Langit Dewa Bumi Manusia Pangulima Laut Selimut Sakti Dewi Joharmanik Putri Luwu yang Baik Hati Di Balik Derita Siboru Tombaga Harimau Sombong Mantra Hantu Batumpang Melengkar Pahlawan dari Kutai Awan Putih Mengambang di Atas Cakrawala
Putri Burung
Jaka Satya dan Jaka Sedya Mimi, Sang Primadona Gemerincing Pohon Ringgit Putri Lumimuut Sang Putra Mahkota Mohulintoli Si Cantik dan Menteri Hasut Legenda Tanjung Terputu: Si Gando
S Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jin. Daksinapati Barat IV Rawamangun Jakarta 13220