HIKAYAT MARIAM ZANARIAH DAN NURDIN MASRI
食DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Milik Depdikbud Tidak Diperdagangkan
HIKAYAT MARIAM ZANARIAH DAN NURDIN MASRI
Tim Penerjemah Ketua: Drs. Musni Umberan, M.S.Ed Anggota: Drs. I Made Satyananda Dra. Yupiza
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya 1994/1995
PERPUSTAKAAN KEBUDAYAAN DITJEN KEBUDAYAA'N TRIMA CATAT INDEK (1 KOPLRE
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Penerbitsn buku sebagai salah satu usaha untuk memperluas cakra- wala budaya masyarakat merupakan usaha yang patut dihargai. Pe- ngenalan berbagai aspek kebudayaan dari berbagai daerah diIndone- sia diharapkan dapat mengikis etnosentrisme yang sempit di dalam masyarakat kita yang majemuk. Oleh karena itu kami dengan gembira menyambut terbitnya buku yang merupakan hasil dari "Proyek Peng- kajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya" pada Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Penerbitan buku ini kami harap akan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai aneka ragam kebudayaan di Indonesia. Upaya ini menimbulkan kesaling-kenalan dan dengan demikian diharapkan tercapai pula tujuan pembinaan dan pengembangan kebudayaan na- sional kita. Berkat adanya kerjasama yang baik antarpenulis dengan para peng- urus proyek, akhirnya buku ini dapat diselesaikan. Buku ini belum merupakan suatu hasil penelitian yang mendalam, sehingga di dalamnya
iüi
masih mungkin terdapat kekurangan kelemahan, yang diharapkan akan dapat disempurnakan pada masa yang akan datang. Sebagai penutup saya sampaikan terima kasih kepada pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaga bagi penerbitan buku ini.
Jakarta Desember 1994. Direktur Jenderal Kebudayaan
.M Prof. Dr. Edi. Sedyawati
iv
PRAKATA
Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Ke- budayaan telah mengkaji dan menganalisis naskah-naskah lama di antaranya naskah yang berasal dari daerah Kalimantan Barat yang berjudul Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri, Isinya ten- tang nilai-nilai yang bersumber dari Agama Islam. Yang terkandung di dalam naskah ini adalah nilai Ketuhanan, Kesetiakawanan atau Jiwa Sosial, mau bekerja keras, nilai perju- angan, nilai kasih sayang, nilai setia. pada hakikatnya nilai-nilai tersebut sangat diperlukan dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Kami menyadari bahwa buku ini masih mempunyai kelemahan-kelemahan, karena bukan berdasarkan hasil penelitian yang mendalam. karena itu, semua saran untuk perbaikan yang di sam- paikan akan kami terima dengan senang hati.
V
Kami sampaikan terimakasih kepada para pengkaji dan semua
pihak atas jerih payahnya telah membantu terwujudnya buku ini.
Jakarta, Desember 1994 Pemimpin Proyek,
上 Drs. S o i m un
NIP 130 525 911
vi
KATA PENGANTAR
Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, penerjemahan naskah kuno Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri telah dapat kami selesaikan. Penerjemahan naskah kuno ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mendokumentasikan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Naskah tersebut sarat dengan nasehat-nasehat, petuah dan petun- juk serta pedoman yang sangat berguna dalam mengarungi kehidupan di dunia fana untuk kedamaian di alam akhirat, sungguh mempunyai ajaran yang sangat tinggi dan luhur. Kami menyadari bahwa hasil penerjemahan ini masih perlu disem- purnakan mengingat adanya keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh Tim Penerjemah baik dari segi pengetahuan, ketrampilan maupun dari segi pengalaman. Untuk itu saran yang membangun demi perbai- kan hasil penerjemahan ini sangat kami harapkan. Akhirnya kepadasemua pihak yang telah membantu kami dalam
vii
menyelesaikan laporan ini kami ucapkan banyak terima kasih. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita dalam upaya menyebarluaskan dan melestarikan budaya bangsa.
PONTIANAK, DESEMBER 1993
TIM PENERJEMAH
viii
DAFTAR ISI
Smbutan Direktur.. iii V
Prakata....
Kata Pengantar.. vii Daftar Isi... ix
Bab I-Pendahuluan Pengungkapan Nilai Budaya
dari Naskah .... 1
Bab II-Ringkasan..9 Bab II-Translitasi dan Terjemahan 15 Daftar Pustaka...123 Lampiran. 125
ix
BABI PENGUNGKAPAN NILAI BUDAYA DARI ISI NASKAH
1.1 Deskripsi Naskah
Naskah yang berjudul Mariam Zanariah dan Nurdin Masri adalah sebuah naskah yang bisa digolongkan buku lama. Seperti diketahui bahwa buku lama atau naskah kuno itu adalah tulisan atau buku ber- umur paling sekikit 50 tahun. Naskah Mariam Zanariah dan Nurdin Masri ditulis pada tahun 1323 Hijriah atau 1905 Masehi. Meskipun naskah ini sudah tua, namun keadaannya masih baik, masih utuh, tu- lisannya masih jelas, lengkap dan tidak ada yang sobek atau hilang halamannya. Hal itu diketahui dengan masih urutnya halaman-halaman naskah, berasal dari Palembang yang ditulis atau dikarang oleh Said Abdul Rahman bin Hamid Al Habsyi 88 tahun yang silam. Tidak diketahui siapa pembawanya dan mengapa sampai di Pontianak, tetapi yang jelas naskah ini masih terawat baik oleh salah seorang punggawa yang juga masih keturunan keraton Kadarian yaitu Bapak Syekh Machmud Syarwani. Sampai umur ± 70 tahun beliau masih te- kun mengoleksi naskah-naskah kuno pada khususnya dan benda-benda kuno pada umumnya. Kalau kita perhatikan, meskipun naskah ini ma-
sih lengkap namun sudah kelihatan rapuh, kertasnya sudah mulai me-
nguning apalagi keadaan kertas itu agak tipis, jadi harus hati-hati cara
membukanya. Ukuran naskah adalah 22 x 15 cm, ukuran teks 16,5 x
11 cm dan tebal 148 halaman. Setiap halaman terdiri dari 20 baris
yang berbentuk syair, dalam penulisannya terdiri dari 2 baris kanan kiri yang dibatasi oleh dua buah garis tegak. Pada awal dan akhir nas-
kah terdapat prolog sebagai pengantar dan penutup tulisan yaitu ha-
laman 1 dan halaman 148 yang terdiri atas 18 baris dan 7 baris dalam bentuk prosa. Pada halaman 1 merupakan ringkasan cerita sedangkan pada halaman 148 menunjukkan diterbitkannya naskah dan nama pe-
ngarangnya. Halaman 2 dan 3 berisi 10 baris saja dengan hiasan pada
bagian atas yang menerangkan tentang tokoh utama dalam naskah yaitu Mariam Zanariah dan Nurdin Masri. Antara sampul dan kertas dalam sama jenisnya jadi pada halaman sampul, karena paling luar maka kelihatan kertasnya tipis. Cara penjilidannya pun hanya dilem yang kurang kuat. Demikianlah gambaran keadaan naskah Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri.
1.2 Bahan dan Huruf Naskah Bahasa yang dipergunakan pada naskah ini adalah bahasa Melayu. Meskipun naskah ini tergolong naskah kuno atau buku lama, namun bahasa Melayu yang dipergunakan tidaklah terlalu sulit untuk dimengerti, malah cenderung mudah dipahami. Namun demikian ada juga satu dua kata atau istilah yang sudah jarang dipergunakan sekarang ini. Selain bahasa Melayu, juga ada beberapa kata yang berasal dari bahasa Arab. Hal demikian memang dapat dimengerti karena naskah ini menceritakan tentang tokoh utama yang berasal dari Mesir. Kata-kata yang berasal dari bahasa Arab itu antara lain: ghafurur Kahim (MZ:8), rabbul azati (MZ:70), lillahi taala (MZ:80)lauhul mahfuz, (MZ:86) alhamdulillah (MZ:104) dan sebagainya. Adapun huruf yang dipakai pada naskah ini adalah huruf Arab dengan tinta warna hitam. Karena tulisan ini memakai huruf Arab maka cara membaca atau membuka naskah ini pun seperti membaca Al Qur'an yaitu dari belakang. Pada naskah ini mempergunakan bahasa Melayu sedangkan tulisannya dengan huruf Arab, dengan kata lain merupakan tulisan Arab Melayu. Namun demikian keseluruhan huruf "G" pada naskah tidak memakai tanda titik ( ... = g, tetapi yang
tertulis .....).
Selain adanya kekurangan tanda baca seperti tsb. diatas, masih ada lagi beberapa kekurangan atau malah kelebihan huruf pada bebe-
rapa kata tertentu seperti:
mengadap sebenarnya menghadap
mengilangkan sebenarnya menghilangkan mengidangkan menghidangkan sebenarnya
suda sebenarnya sudah dan sebagainya.
Dari contoh tersebut jelas diketahui bahwa setiap konsonan (H) sering dihilangkan baik di tengah atau di akhir kata. Penghilangán konsonan "H" yang ada di akhir baris mungkin dimaksudkan untuk menyamakan ujaran sebagai persaratan penulisan syair. Demikian juga untuk penulisan antara vokal "i" yang disamakan dengan diftong "ai" yang terjadi pada akhir baris. Sebaliknya, ada juga penambahan huruf "H" pada beberapa kata seperti: seharusnya pulah pula kerjah seharusnya kerja seharusnya gerejah gereja
Banyak sekali dijumpai huruf "K" pada akhir kata yang tidak
berfungsi yang mungkin dipengaruhi oleh pelafalan bahasa daerah seperti: memintak seharusnya meminta membawak seharusnya membawa kepalak seharusnya kepala
Juga sering dijumpai adanya kata-kata yang kehilangan huruf "R" terutama pada penambahan awalan "ber" seperti:
belari seharusnya berlari belayar seharusnya belayar
Adanya ketidak-konsistenan penulis atau pengarang dalam penulisan suatu kata seperti penulisan kata: kapitan sering berganti kapten; bercerita sering berganti bercitra;
menengar sering berganti mendengar; umpama sering berganti upama.
Sedangkan untuk penulisan nomor halaman pada naskah asli ditulis dengan angka Latin. Demikianlah huruf-huruf yang dipakai dalam penulisan Naskah Hikayat Mariam Zanariah, bagaimana sesungguhnya dapat kata de- pan, kata ulang dan partikel dalam transliterasi disesuaikan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Untuk penulisan yang hurufnya lebih atau kurang dalam transliterasinya tetap ditulis apa adanya. Hal itu dilakukan semata-mata untuk menunjuk- kan ciri khas dari naskah.
1.3 Kajian Isi
Setiap pengarang atau penulis suatu naskah, pasti akan menyelip- kan atau menyampaikan pesan dan amanat, baik itu yang tersirat mau- pun yang tersurat kepada pembacanya. Pesan atau amanat itu kadang bisa tersurat pada naskah, dalam arti pesan itu tertulis secara jelas, kadang-kadang hanya tersirat saja. Maka untuk mengetahui pesan yang disampaikan pengarang lewat hasil karyanya itu, kita harus bisa memahami keseluruhan isi yang terkandung pada naskah. Untuk memahami isi naskah itu antara lain dengan cara membaca secara berulang- ulang sambil diresapi maksudnya. Setelah kita memahami isi yang terkandung pada naskah Hiakayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri, kemudian kita bisa meresapi dan mengetahui maksud yang terkandung di dalamnya, sehingga kita bisa menemukan nilai-nilai luhur yang bisa kita petik manfaatnya karena masih sesuai dengan kehidupan kita sehari-hari. Adapun nilai-nilai luhur yang terkandung dalam naskah Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri ini antara lain:
1.3.1 Nilai Ketuhanan Nilai luhur yang pertama-tama kita temukan dalan naskah ini yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita sebagai umat berbangsa dan beragama adalah unsur ketuhanan. Kalau diperhatikan, unsur ketuhanan di sini ditampilkan bukan hanya melalui satu agama saja, melainkan ada dua agama yang bersama-sama diceritakannya,
yaitu agama Islam dan agama Kristen, meskipun tidak tersurat atau
ditulis secara jelas adanya kedua agama tersebut, tetapi kita dapat memahami lewat kalimat-kalimat yang ditulis. Seperti tokoh Nurdin itu beragama Islam. Hal ini dapat kita mengerti dari beberapa kalimat yang menunjukkan pengertian agama Islam tertulis dalam halaman 63 yang bunyinya: Ya Illahi Tuhan Subhani, Apakah dosa hambamu ini, Engkau yang murah amat mengasihani, Ambillah nyawa hamba di sini. Dari satu bait syair itu dapatlah kita ketahui bahwa unsur agama Islam jelas terlihat di sini. Selain itu, pada halaman 121, juga tertera salah satu bait syair yang berbunyi: Berdoa dia pada itu masa, Ya Illahi Tuhan Yang Esa, Lepaskanlah hamba daripada siksa, Jumpakan Mariam muda berbangsa. Dengan kedua contoh cuplikan syair di atas, jelaslah bahwa tokoh Nurdin sangat kuat pada Allah, setiap saat selalu menyebut nama-Nya sebagai pertanda bahwa ia sangat mengakui adanya Tuhan. Selain tokoh Nurdin, dalam naskah ini disebutkan juga tokoh Mariam Zanariah yang beragama Kristen. Hal ini dapat dimengerti lewat bait syair halaman 95 .yang berbunyi:... "Datang ke mari hendak sembahyang, Semalam-malaman sampailah siang Memberi selamat dari melayang,
Itu genta engkaulah goyang...." Dari keterangan tempat yang ditun-
juk (ke mari) yaitu gereja, maka dapat dimengerti kalau Mariam Zanariah itu beragama Kristen dan dia menampakkan ketaatannya pada agama yang dianut. Kalau kita bandingkan dengan kehidupan sehari- hari bangsa Indonesia, hal tersurat dalam naskah sangat relevan dengan sila I yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
1.3.2 Nilai Kesetiakawanan atau Jiwa Sosial Kesetiakawanan dalam naskah Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri tampak jelas pada diri tokoh Mansur yang selalu membantu orang yang sedang mengalami kesulitan. Hal demikian ditun- jukkan pada tokoh Nurdin yang sering mendapatkan kesulitan seperti yang terlihat pada halaman 14 yang bunyinya: "..Baharu sekarang datangnya beta, Tempat singgahan dicari ser- ta. Mansur berkata suka hatinya, Ke rumah ayahanda apa salahnya.
Tangan Nurdin lalu dipegangnya, Dibawa pulang pada rumahnya...."
Dari baris-baris tersebut di atas, betapa sosialnya jiwa Mansur yang mau membantu Nurdin yang tidak diketahui asal usulnya dan menga-
jaknya tinggal di rumahnya karena ia tahu baru datang dan mencari penginapan.
1.3.3 Nilai Kesetiaan Kesetiaan memang selalu dituntut dari setiap orang, sejauh setia pada hal-hal yang terpuji. Setia pada pendamping hidupnya, setia pada tugas dan kewajiban, setia pada atasan dan sebagainya. Kesetiaan yang ditunjukkan pada naskah ini terlihat pada tokoh Mariam Zanariah yang sangat setia pada suaminya meskipun suaminya orang yang tidak punya, dia tetap setia, hal ini lebih dipertegas lagi ketika Mariam dirayu oleh menteri Ur kesetiaannya pada Nurdin tidak luntur. Tokoh Mariam walaupun menerima tawaran menteri Ur tidak lain sebagai upayanya agar dia dapat bertemu Nurdin suaminya. Kesetiaannya itu lebih jelas lagi tatkala Mariam mengajak Nurdin melarikan diri, hal demikian ditunjukkan pada bait syair halaman 99 yang berbunyi: "Wak- tu berjeri dari semula, Kedua pihak dictrakan segala, Kemudian mufa- kat kedua terala, Supaya hendak larinya pula".
1.3.4 Mau Bekerja Keras Salah satu sikap yang selalu dianjurkan bagi kita semua bangsa Indonesia sekarang ini adalah sikap mau bekerja keras. Ternyata sikap semacam ini sudah diterapkan pada saat naskah ini ditulis. Kemauan bekerja keras itu diperlihatkan oleh tokoh Mariam Zanariah saat dia sudah dibayar oleh Nurdin dari bangsa Maghribi. Meskipun asalnya dari keluarga raja, namun dia tidak segan-segan bekerja guna mencu- kupi kebutuhan hidupnya bersama Nurdin yang telah dipilihnya untuk menjadi suaminya. Begitu pula yang dilakukan oleh tokoh Nurdin. Keduanya bekerja tanpa memperdulikan dari mana asal mereka, Mariam yang menyulam sutera untuk dijadikan ikat pinggang, sedangkan Nurdin yang menjualnya ke pasar. Begitu yang selalu mereka lakukan setiap harinya untuk dapat mempertahankan hidupnya.
1.3.5 Nilai Perjuangan Berjuang bukannya hanya berarti harus berperang melawan musuh atau penjajah. Berjuang yang dimaksudkan dalam naskah Mariam Zanariah dan Nurdin Masri adalah berjuang dalam arti yang lebih umum,
yaitu berjuang mempertahankan hak-haknya yang dijajah, berjuang mempertahankan hidupnya dan sebagainya. Dalam naskah Hikayat
Mariam Zanariah dan Nurdin Masri hal itu tidak tersirat secara jelas,
namun mengandung nilai perjuangan yang sangat berat, yakni ber-
juang untuk hidup dengan bekal 1000 dinar sebelum dihukum oleh
ayahnya, berjuang untuk hidup tanpa bekal dengan istrinya ketika berada di negeri orang, juga berjuang agar segera dapat bertemu dengan
istrinya yang dilarikan oleh menteri Ur untuk dibawa pulang ke ne-
gerinya. Perjuangan yang paling berat yang dilakukan oleh tokoh Nur-
din ketika dia akan dibunuh oleh hulubalang kerajaan Pranja. Ter- akhir adalah perjuangan tokoh Nurdin yang beragama Islam mau men-
jadi pesuruh di gereja sungguh suatu perjuangan yang berat kalau ti-
dak didasari dengan iman yang kuat. Perjuangan hidup yang pantang menyerah agar dapat kembali bersatu demi kesetiaannya pada istrinya Mariam.
1.3.6 Nilai Kasih Sayang
Kasih sayang sesama manusia pada umumnya, kasih sayang antara orang tua kepada anaknya, kasih sayang antara pemuda dengan pemudi adalah salah satu alat yang bisa dipakai menjembatani suatu kerja sama dan jiwa sosial dalam masyarakat. Nilai kasih sayang itu bisa kita tauladani pada Naskah Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri dari tokoh ibu Nurdin pada Nurdin. Dalam naskah itu ditunjukkan betapa besarnya kasih seorang ibu kepada anaknya. Hal itu terlihat jelas ketika Nurdin mau dihukum oleh ayahnya karena telah berbuat hal yang tidak terpuji yang dilarang oleh agama yaitu minum minuman keras bersama teman-temannya meskipun hal itu dilakukannya atas bujuk rayu temannya.Sang ibu dengan kasih sayangnya memberi Nurdin uang 1000 dinar dan menyuruh Nurdin pergi meninggalkan rumah daripada harus menerima hukuman siksa dari ayahnya. Pada halaman lain juga ditunjukkan, sebenarnya betapa sayangnya ayahnya kepada Nurdin, meskipun pada pernyataan di atas ayahnya mau menghukumnya, itu didorong oleh rasa kasih sayangnya pada Nurdin. Hal itu dinyatakan pada pernyataan berikutnya bahwa semen- jak kepergian Nurdin, kedua orang tua itu terus memikirkannya dan memerintahkan para pembantunya agar mencarinya ke berbagai negeri, hingga badannya kurus kering. Pernyataan itu tertera pada halaman
70 yang berbunyi: "Kepada istri ia berkata, Dua puluh bulan sudahlah nyata, Nurdin tidak pulang bertahta, Kita bertambah menaruh cinta. Bertambah bercinta saudagar bestari, Kurus kering dua laki sitri, Ada
kepada suatu hari, Saudagar Taju lalu berperi."
1.3.7 Janji Harus Ditepati Hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati itu kata pe- patah. Bagi umat beragama, tidak memandang agama apa, namanya janji harus ditepati. Hal demikian juga diterapkan oleh tokoh Mariam dan Nurdin dalam cerita naskah ini. Dalam naskah Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri ini, pada halaman 50 dan 51 disebutkan bahwa: "Hendak diceritakan waktu sekarang, Jam pukul dua lebih dan kurang, Kakanda janji kepada orang, Jika tak betul menjadi we- rang. Karena orang mungkirkan janji, Berdosa serta kelakuan keji, Tiada siapa hendak memuji, Dihinakan orang tidak beraji. Dari dua bait pernyataan di atas, dapat kita pahami bahwa orang yang ingkar janji itu tidak akan dihormati. Perbuatan itu dianggap perbuatan yang tidak terpuji, bahkan orang akan menganggap hina. Dalam agama apapun hal itu tidak dibenarkan, justru akan berdosa orang yang ingkar janji itu. Hal demikian bisa kita jadikan contoh dalam kehidupan kita sehari-hari.
2
BAB II RINGKASAN HIKAYAT MARIAMZANARIAH DAN NURDIN MASRI
Tersebutlah kisah seorang saudagar kaya di negeri Mesir yang bernama Tajuddin. Beliau sangat arif dan bijaksana serta taat menjalan- kan ajaran agama. Saudagar Tajuddin mempunyai seorang putra yang tampan dan gagah perkasa bernama Nurdin. Pada suatu hari atas ajakan dan hasutan teman-temannya Nurdin melakukan perbuatan yang tidak terpuji yaitu minum-minum bersama teman-temannya sampai mabuk. Mengetahui hal itu, ayahnya sangat marah dan Nurdin akan dihukum keesokan harinya. Mengetahui pu- tranya akan dihukum diam-diam ibunya memberi tahu Nurdin dan menyuruhnya pergi malam itu juga agar tidak kena hukuman ayahnya. Dengan berbekal uang 1000 dinar pemberian ibunya, pergilah Nurdin ikut sebuah kapal yang kebetulan berlayar ke Iskandariah. Sampai di Iskandariah, Nurdin bertemu Mansur dan ikut tinggal di rumahnya. Nurdin dinasehati untuk berniaga dengan modal uang yang dibawanya. Pada bagian selanjutnya dikisahkan ada sebuah kerajaan besar bernama Pranja. Raja Pranja mempunyai 4 orang anak, satu dian- taranya seorang putri bernama Mariam Zanariah. Mariam Zanariah terkenal cantik jelita dan pandai dalam berbagai hal sehingga ayahnya
berjanji akan membawanya belajar pada seorang pendeta. Ketika tiba saatnya, Mariam Zanariah diantar oleh menterinya untuk belajar kepada pendeta dengan naik sebuah kapal. Di tengah perjalanan mereka dihadang oleh penyamun. Banyaklah pengiring yang terbunuh dan ada yang melarikan diri. Mariam sendiri dirayu dan akan dijadikan istri oleh kepala penyamun. Mariam menerima ajakan itu dengan syarat bertanding terlebih dahulu dengannya. Kepala penyamun berhasil di- kalahkan dan Mariam sendiri melarikan diri ke dalam hutan dengan menunggang seekor kuda. Selama 4 hari di dalam hutan Mariam merasa lapar dan berjumpa dengan penyamun bangsa Badui. Mariam berpura- pura mengaku orang Badui juga yang sdang mencari kawan untuk menghadang kafilah besar. Selamatlah Mariam, kemudian dia diajak ke rumah para penyamun itu untuk makan bersama. Setelah itu rombongan itu berangkat ke sebuah bukit dan dilihatlah rombongan kafilah yang sedang berjalan. Mariam mengajak Badui untuk menghadang kafilah itu. Terjadilah peperangan, para penyamun Badui pun kalah. Mariam sendiri ditangkap oleh kafilah yang dipimpin oleh Maghribi. Sampai di Iskandariah Mariam dibawa pulang ke rumahnya oleh Maghribi. Melihat suaminya pulang membawa seorang perempuan cantik, istri Maghribi mencela dan menghajar Mariam. Diperlakukan kasar oleh istri Maghribi Mariam segera hendak membalas. Untung datang Maghribi yang segera membawa istrinya pergi. Akhirnya tinggallah Mariam seorang diri di rumah itu. Dalam kesendiriannya itu Mariam putus asa dan mau bunuh diri. Sebelum terlaksana niatnya itu terden- garlah orang ramai mendatangi rumah Maghribi yang menghendaki agar Mariam dilelang saja dan uangnya dibagi rata. Pada hari itu juga, dibawalah Mariam ke pasar. Banyak saudagar kaya yang ikut melelang dengan harga tinggi, tetapi tidak satupun yang berkenan di hati Mariam. Singkat cerita, Nurdinlah yang berhasil mendapatkan cintanya dengan membelinya dari Maghribi 1000 dinar. Mariam pun dibawa pulang ke rumah Mansur dan Nurdin pun menceritakan semua kejadiannya. Mendengar hal itu, terbetiklah hati Mariam untuk menyuruh Nurdin meminjam uang pada Mansur seban- yak 10 juni. Hari itu juga Nurdin disuruhnya pergi ke pasar untuk membeli segala keperluan hidupnya. Mulai saat itu Mariam bekerja menyulam ikat pinggang sutera di rumah, sedang Nurdin menjualnya ke pasar. Demikianlah pekerjaan itu dijalaninya sampai Nurdin ber-
hasil mengembalikan uang Mansur dari hasil jerih payah Mariam me-
nyulam ikat pinggang. Diceritakanlah tentang menteri Ur yang ditugasi raja mencari Mariam telah sampai pula ke Iskandariah. Menyadari akan kedatangan menteri Ur Mariam berpesan kepada Nurdin untuk tidak menjual ikat pinggang kepada orang Pranja. Firasat Mariam akan berpisah dengan Nurdin timbul tatkala terpandang olehnya kedatangan menteri Ur. Suatu hari, saat Nurdin pergi ke pasar ia dihadang oleh orang Pranja yang hendak membeli ikat pinggangnya. Dengan tipu musli- hatnya orang Pranja akhirnya berhasil mendapatkan berita tentang ke- beradaan Mariam Lewat sebuah perjamuan yang diadakan oleh orang Pranja. Nurdin dibuat mabuk dan dibujuk agar mau menjual Mariam pada orang Pranja. Menyadari hal bahwa dirinya telah tertipu, me- nyesallah Nurdin, tetapi semua sudah terjadi. Walaupun Mariam tidak mau untuk diajak ke Pranja, dengan paksa akhirnya menteri Ur berhasil juga membawa Mariam pulang. Nurdin berusaha menyusulnya dengan menumpang sebuah kapal Dikisahkan semenjak kepergian Nurdin, ayahnya sangat bersedih. Rumah dan tokonya kemudian dijual dan dibelinya sebuah kapal untuk dipakainya berniaga sambil mencari anaknya Nurdin. Dalam perniagaan itu sampailah saudagar Tajuddin ke Iskandariah dan didapatkanlah berita tentang anaknya yang sudah lari mengejar Mariam setelah me- nikam saudagar Surati. Saudagar Tajuddin berpesan kepada Mansur agar membawa Nurdin ke Baghdad kelak bila sudah kembali karena ia akan membuka perkampungan di sana. Tersebutlah kisah Mariam yang telah dibawa lari oleh menteri Ur Ia menangis tiada hentinya karena teringat akan kekasihnya Nurdin. Begitu sampai di Pelabakan Menteri Ur segera memberitahukan keda- tangannya membawa pulang Mariam yang telah dilarikan dan dijual orang di Iskandariah. Raja akhirnya mengadakan selamatan untuk ke- pulangan putrinya. Karena dendam Raja kemudian memerintahkan untuk merampok semua kapal Islam yang datang dan membunuh semua awak kapalnya. Kapal yang ditumpangi Nurdin ikut tertangkap dan semua awak kapalnya dibunuh, kecuali Nurdin. karena ada orang tua yang memohon kepada raja untuk dijadikan penunggu gereja. Ketika menjadi penunggu gereja inilah ia bisa bertemu dengan Mariam dan keduanya sepakat untuk melarikan diri ke Iskandariah
sambil melarikan peti nazar. Sampai di Iskandariah Nurdin menitip- kan peti nazar di rumah Mansur, Mariam ditinggal seorang diri di tepi laut. Saat itu datanglah menteri Ur bersama Habib yang tengah menca- rinya. Melihat yang datang adalah menteri Ur, Marian melakukan perlawanan sampai berhasil membunuh adiknya sendiri, Habib. Mariam lalu dikurung oleh pasukan menteri Ur dan berhasil diringkus dan di- ikat dengan tali. Dalam keadaan terikat Mariam kembali dirayu oleh menteri Ur untuk dijadikan istri. Bujukan itu akhirnya diterima Mariam dengan syarat perkawinan dilaksanakan setelah sampai di Pranja. Mengetahui Mariam dilarikan oleh menteri Ur, Nurdin segera menyusulnya dengan menaiki sebuah sampan. Sampan yang dinaiki Nurdin akhirnya ditangkap oleh pengikut menteri Ur dan dibawa ke Pranja. Menteri Ur memerintahkan agar orang tangkapan dimasukkan ke dalam kandang kuda dalam keadaan dirantai. Pada suatu malam, dalam tidurnya Nurdin didatangi oleh seorang tua yang mengajarinya bagaimana mengobati kuda raja yang sedang sakit dengan delima muda. Berkat pengobatan Nurdin kuda kesayangan raja Pranja berhasil disembuhkan dan seba- gai imbalannya Nurdin segera dibebaskan dan dikeluarkan dari kandang kuda. Suatu hari, bertemulah Mariam dengan Nurdin yang saat itu men- dendangkan sebuah pantun. Untuk kedua kalinya Mariam dan Nurdin sepakat untuk melarikan diri dari Pranja. Setelah tiba hari yang telah disepakati, Nurdin dengan kedua kuda kesayangan raja menunggu Mariam di belakang gereja. Mariam dengan lihainya mengelabuhi dayang-dayang dan berhasil membunuh menteri Ur dan mengambil semua perhiasannya. Malam itu juga keduanya melarikan diri. Mengetahui Mariam dan Nurdin sudah lari dan berhasil membunuh menteri Ur raja menitahkan kedua anaknya yang bernama Nasir dan Najib beserta dengan 1000 prajurit untuk mengkap Mariam. Namun sial bagi kedua putra raja itu, mereka terbunuh oleh Mariam dan prajurit yang masih hidup melarikan diri. Selamatlah Nurdin dan Mariam, kemudian mereka berkuda menuju Iskandariah ke tempat Mansur. Nurdin lalu menceritakan semua kejadian demikian juga tentang diri Mariam. Sebaliknya Mansur pun menceritakan pertemuannya dengan ayah Nurdin dan segera mengajak Nurdin untuk pergi ke Baghdad menemui kedua orang tuanya. Kedatangan rombongan Nurdin disambut meriah oleh saudagar
Tajuddin. Saudagar Tajuddin kemudian menikahkan putranya Nurdin dengan Mariam dan dirayakan selama 40 hari. Sejak pernikahan itu Mariam dan Nurdin berjanji untuk sehidup semati akan bersama sampai akhir hayatnya.
BAB III TRANSLITERASI DAN TERJEMAHAN
INILAH SYAIR YANG BERNAMA MARIAM ZANARIAH DARIPADA BANGSA ORANG PUTIH YANG TERLALU AMAT INDAH-INDAH CERITERANYA
Yaitu ceritera anak saudagar Tajuddin di negeri Mesir bernama Nurdin sebab ia meminum arak lari daripada bapanya lalu pergi ke negeri Iskandariah. Lalu berjumpa dengan putri Mariaın Zanariah ke- mudian ini putri dirampas oleh menteri raja Pranja dibawanya ke ne- gerinya, maka Nurdin dengan tangisnya pergi cari Mariam. Jumpa satu kapal ia naik lalu berlayar sampai di tengah laut datang penya- mun daripada bangsa Pranja. Disamun itu kapal dan sekalian orangnya dibawa ke negeri Pranja sampai dibawa mengadap pada raja Pranja lalu diperintahkan bunuh sekaliannya. Tatkala dibunuh tinggal Nurdin, datang orang tuah mintak itu Nurdin disuruh tunggu kanisah yaitu gerejah. Anak raja Pranja, Mariam Zanariah pergi sembahyang di gerejah jumpa Nurdin keduanya mufakat lalu lari dikejar oleh menteri Pranja berjumpa di Iskandariah lalu di bawa pulang, menteri lalu dikawinkan oleh raja Pranja dengan Mariam Zanariah. Akhirnya Nurdin curi itu Mariam maka jadi berperang dengan raja Pranja. Anak raja
Pranja dibunuh, Mariam akhirnya tetap jadi istri Nurdin. Itu Mariam lalu pulang ke negeri Baghdad berjumpa itu bundanya. Cobalah tuan- tuan baca syairnya bukanlah kepalang indah-indah citranya dan ke- lakuannya ...
MARIAM ZAKARIAH
Bilangan Hijrah syair direka, seribu tiga ratus dua puluh tiga, Hari Isnin masa kartika, pukul delapan kepada jangka Jumadil akhir lima tanggalnya, inilah permulaan kami mengarangnya Asal hikayat Arab bahasanya, dimelayukan dengan beberapa susahnya Citranya indah kami dengarkan, inilah maka kami syairkan, Kemudian itu kami capkan, harganya murah suda ditentukan Alkisah madah terkarang, ceritera yang indah zaman sekarang, Mengilangkan gundah hati bersarang, memberi faedah kepada orang Kepada orang yang baca surat, boleh mengambil tamsil ibarat, Ceritera saudagar di tanah barat, perniagaan besar laut dan darat ..2
NURDIN MASRI
Laut dan darat banyak macamnya, Tajuddin konon namanya, Di negeri Mesir tempat duduknya, gayanya tidak ada bandingnya Tidak bandingnya pada itu jaman, bijaksana arif budiman Tiada melanggar Hadis dan firman, taat kepada Illahi Rahman Illahi Rahman Tuhan sejani, sekalian larangan tidak berani Saudagar nian sangat hati nurani, mukanya persi terlalu jerni Terlalujerni sukar bandingnya, seorang laki-laki ada anaknya Nurdin konon namanya, sangatlah cantik akan rupanya Akan rupanya tidak berlawan, siapa memandang bercinta rawan Banyak birahi segala perempuan, tidur bangun igau-igauan.. 3 Igau-igauan terbayang-bayang, jadi teringat malam dan siang Siapa terlihat bercinta sayang, iman yang teguh jadi bergoyang Jadi bergoyang di dalam hati, Nurdin sangat berbuat bakti Kepada Tuhan Rabbul Izati, ayah bundanya sangat ditakuti Sangat ditakuti apa katanya, tiada membantah perbantahannya
Saudagar tu sangat kasih sayangnya, laki istri sama keduanya Adapun akan saudagar jauhari, suatu gedung tempat sendiri Di situ berniaga setiap hari, berjual batu yakut baiduri Yakut baiduri emas dan intan, gedung nian indah bukan buatan Dibandingnya cermin berkilatan, siapa melihat hilang ingatan
Hilang ingatan ajaib lakunya, melihat gedung sangat eloknya Berpatutan pula dengan tuannya, Nurdin tidak tolok bandingnya Tolok bandingnya jau sekali, Nurdin berlajar berjual beli Siapa melihat jadi terlalai, arwah seperti tidak kembali
Ada kepada suatu hari, Nurdin ganti ayahanda sendiri Berjual beli intan baiduri, banyaklah orang tidak terperi
Tengah berniaga muda yang puata, sepuluh orang datangnya nyata Anak-anak saudagar yang banyak harta, mengajak Nurdin bersuka cinta Bersuka cinta pergi ke Bostan, taman yang indah bukan buatan Buahan banyak manggis rambutan, tapah dan romana bagai lautan...4 Nurdin menengar kabar begitu, ingin hati bukan suatu Menunggu ayahnya datang ke situ, hendak bermohon supaya tentu Tengah ia berkata-kata, ayahnya datang nampak di mata Nurdin bermohon bersuka cinta, anak-anak saudagar mengajak beta
Mengajak anaknda sekarang waktunya, kepada ayahanda narap kabulnya Ayahnya menyahut dengan segeranya, pergilah anaknda dengan selamatnya Dengan selamatnya pergi anaknda, Nurdin pun segera menaik kuda Serta anak saudagar yang muda, berjalan sambil gurau dan senda Gurau dan senda sepanjang jalan, membawa mainan musik gamelan Sama kaya-kaya satu kumpulan, kepada Nurdin hendak berkenalan Hendak berkenalan sekalian suka, dengan Nurdin yang baik muka Sangat dimuliakan oleh mereka, hati Nurdin sangat terbuka Sangat terbuka sangatlah girang, karena dimuliakan sekalian orang
Tiadalah hamba panjangkan mengarang, ke dalam taman sampai se- karang
Adapun taman yang nyata, perbuatan saudagar yang banyak harta
Indahnya tidak dapat dikata, seolah-olah saudagar dipandang mata
Dipandang mata tidak berlawan, yang jaga taman bernama Ribuan
Pakaian indah kilau-kilauan, siapa melihat berhati rawan Adapun anak-anak saudagar itu, sekalian suda sampai ke situ
Mula terlihat di muka pintu, bertulis mas sepuluh mutu......5
Bertulis mas pada pintunya, dindingnya marmer pada kotanya Siapa melihat sangat sukanya, demikian konon bunyi tulisnya Tuan saudagar yang kaya-kaya, disilakan masuk di tempat yang mulia Seratus dinar bayaran dia, boleh melihat surga dunia Anak saudagar sekalian rata, lalulah masuk di pintu kota Ribuan pun datang bersuka cinta, mengelu-ngelukan sekalian rata Sekalian suda masuk ke taman, di dalam hati sangatlah nyaman
Melihat segala tanam-tanaman, tiada berbanding pada itu zaman
Pada itu jaman tiada bandingan, kiri dan kanan diatur jambangan Sekalian bunga berkembangan, bahunya harum berpelayangan Indahnya tidak dapat terperi, bermainlah sekalian anak jauhari Semacam mainan sahaja dicari, sehingga sampai setengah hari Tersebut Ribuan yang jaga taman, bersediakan alat makan minuman Buah-buahan tapah dan roman, sekalian lezat rasanya nyaman Rasanya nyaman tidak terperikan, di atas balai suda disediakan Ribuan pun turun lalu menyatakan, anak-anak saudagar dipersilakan Dipersilakan santap naik ke balai, tuan-tuan bermain jangan terlalai Tuan Nurdin saudagar asli, serta yang lain semua sekali Sekalian anak saudagar jauhari, berhenti bermain lalu berperi Mengajak Nurdin muda bestari, sekalian pun naik ke balai seri..6 Ke balai seri perhentiannya, makan dan minum sekaliannya
Makanan lezat cita rasanya, bermacam-macam akan rupanya
Akan rupanya berbagai warna, habislah makan sekalian teruna Maka Ribuan yang bijaksana, mengeluarkan buah di dalam cerana
Di dalam cerana yang amat indah, beserta dengan halua juada Sekaliannya makan berhenti suda, ribuanpun segera mengeluarkan kedah
Mengeluarkan piala arak minuman, arak yang lezat perbuatan Yaman Nurdin satu orang beriman, di dalam hati tiadalah nyaman
Tiada nyaman di dalam hati, karena ia orang yang bakti Anak-anak saudagar berganti-ganti, mengambil piala minumlah pasti Pada Nurdin Ribuan idari, Nurdin takut tidak terperi Lalu berangkat hendaknya lari, anak-anak saudagar tiada memberi Tiada memberi Nurdin berangkat, masing-masing lalu mendekat Memujuk Nurdin sekalian mufakat, diam Nurdin tiada berharkat
Tiada berharkat gundah lakunya, piala diberi tiada diminumnya Anak saudagar memujuk padanya, minumlah tuan tidak apanya Nurdin segera ia berkata, tuan jangan memaksa beta Karena arak haramnya nyata, ditegahkan Allah kepada kita Ribuan pun dekat dengan berani, ayuhai Nurdin wajah yang jerni
Jikalau takut haramnya ini, Allah Ta'ala sangat mengampuni.....7
Ghafurur Rahim sifatnya Tuhan, sangat mengampuni serta kasihan Minumlah arak jangan ditahan, menggagahkan badan pula tambahan Jikalau takut ayah dan bunda, di tempat ini dia tiada Adat bercampur sama muda-muda, jangan ditolak apa yang ada Sekalian anak saudagar kaya, bermacam-macam perkataan dia Memujuk dengan berapa upaya, sampai Nurdin tiada berdaya Tiada berdaya hilang akalnya, diambil piala lalu diminumnya Masing-masing suka hatinya, lalu bersorak sangat ramainya Sangat ramainya bukan kepalang, sekalian minum sulang menyulang Nurdin suda akalnya hilang, tiada ingat hendaknya pulang Lalu berkata pula Ribuan, kepada Nurdin serta tuan-tuan Jikalau mau dengan perempuan, seorang cantik tidak berlawan
Tidak berlawan sekalian parasnya, gambus kecapi pandai semuanya Jikalau tuan-tuan suka padanya, sekarang dipanggil segera datangnya Akal Nurdin hilanglah suda, kepada Ribuan menjawab madah Jikalau ada perempuan yang inda, saya mau mengilangkan gunda Ribuan menengar madah dan jura, sukanya tidak terkira Berjalanlah ia kedengan segera, ada sesaat pada antara Pada antara saatnya waktu, segera kembali Ribuan ke situ Seorang perempuan sertanya itu, kepada Nurdin diserahkan tentu...8 Kemudian Ribuan lalu berkata, Tuan-tuan jikalau kasihankan beta Berilah berapa kadarnya harta, supaya kebajikan nampaknya nyata
Mula pertama anak jauhari, namanya konon Abdullah Masri Sepuluh dinar ia memberi, ramai bersorak tidak terperi Kemudian berdiri pula keduanya, Abdul Fatah konon namanya Dua puluh dinar diberikannya, bersorak pula sangat ramainya. Kemudian berdiri ketiganya pula, Abdul Aziz nama semula tiga puluh dinar diberikan segala, ramai menggila-gila Kemudian berdiri pula keempat, Abdullah Hindi yang baik sifat Empat puluh dinar diberikan cepat, sekalian bersorak terlompat-lom- pat Kemudian berdiri yang kelima, Abdul Kahar ia bernama Lima puluh dinar diberikan semua, bersorak pula bukan umpama Berdiri pula keenam orang, Abdul Kadir namanya terang Enam puluh dinar tiadalah kurang, bersorak pula terlalu girang Yang ketujuh berdiri serta, Abdul Ghani di dalam warta Tujuh puluh dinar diberikan nyata, bersorak ramai jangan dikata Yang kedelapan berdirilah tentu, Abdul Salam namanya itu Delapan puluh dinar dilebihi satu, bertambah sorak bukan suatu Saudagar sembilan pula dinyatakan, Abdul Razak nama digelarkan Sembilan puluh dinar ia berikan, soraknya ramai tidak terperikan...9 Yang kesepuluh pula berdiri, Abdul Halim namanya diri Uang diangkat sambil menari, seratus dinar ia memberi
Akan Nurdin muda bangsawan, dua ratus dinar memberi Ribuan
Bertambah sorak sampai mengawan, Ribuan suka tidak berlawan
Tidak berlawan suka hatinya, menyuruh perempuan membawa nyanyi- nya
Berpantunkan anak saudagar semuanya, Nurdin jadi kepalanya Tiadalah kami panjangkan ceritera, orang yang mabuk berbagai perkara
Semacam tingkah tidak berkira, lupa segala cacat dan cidera Cacat dan cidera tiadaiah sangka, bermacam tingkah mencari suka Sehingga malam waktu ketika, mabuknya keras sekalian mereka
Akan Nurdin muda bangsawan, sebelah tangan memegang perem-
puan
Ke dalam balai masuknya tuan, rebah jatuh dalam peraduan
Anak-anak saudagar sekaliannya, masing-masing dengan halnya Ada yang pulang ia ke rumahnya, ada yang berjalan selarat-laratnya Adapun Nurdin muda bestari, sampai tengah malam waktunya hari Lalulah bangun berperi-peri, berjalan ia seorang diri
Seorang diri pulangnya itu. kepada rumahnya tujunya tentu
Sampailah ia ke muka pintu, teruslah masuk seperti hantu Seperti hantu berjalan miring, lalu ke peraduan rebah terbaring Ayahnya melihat segera mengiring, dilihatnya Nurdin seperti ge-
ring....10
Seperti gering sakit lakunya, dengan segera ayahnya bertanya Engkau ini dari mana datangnya, demikian kelakuan apa mulanya Nurdin menyahut kedengan segera, anaknda ke taman beroleh cidera Mendapat sakit tidak terkira, kepala panas seperti bara Nurdin menjawab perkataan begitu, ayahnya berbau araknya teniu Marahnya saudagar bukan suatu, lalulah keluar ketika itu Ketika itu keluar dianya, terus pergi pada istrinya Merah padam warna mukanya, istrinya takut melihatkannya Istrinya bertanya pada kakanda, apalah sebab demikian ada Sangatlah heran di dalam dada, gerangan apa salah adinda Saudagar menjawab kedengan pasti, suatu tidak salah cik siti
23 Anak Nurdin yang membuat bakti, meminum arak hampirlah mati
Hampirlah mati baring terjungkit, katanya ia kepaia sakit Tetapi bahunya sangatlah bangkit, meminum arak bukan sedikit Hari siang sahaja ku nanti, hendak dipukul dengan cemeti Menurut hukum Rabbul Izati, biar sampai dianya mati
Setelah saudagar berura-ura, masuk peraduan tidurlah segera Istrinya susah tidak terkira, sayangkan anak mendapat mara Mendapat mara jadi kesusahan, hatinya pilu tidak tertahan Kepada Nurdin sangatlah kasihan, lalu berangkat perlahan-lahan...11 Perlahan-lahan seorang dirinya, ke tempat Nurdin sampai dianya Nurdin tidur sangat nyadarnya, lalu digoyang dibangunkannya Dibangunkannya berperi-peri, Nurdin lalu sadarkan diri Dilihatnya ada bunda sendiri, dekat peraduan ia berdiri Ia berdiri sambil berjura, ayuhai anakku larilah segera Ke mana kehendakmu pergi ngembara, karena ayahmu sangat gembira Sangat gembira dengan sumpahnya, mehukumkan anaknda besok pagi- nya Pikiran bunda tentu dibuatnya, baiklah lari dengan segeranya Nurdin miendengar kata begitu, takutnya ia bukan suatu Segera berdiri ketika itu, mengambii kain bajunya tentu
Kain dan baju lalu dipakaikan, bundanya segera pula bekalkan Seribu dinar uang diberikan, Nurdin menangis mintak doakan
Bundanya menangis tidak terperi, dipeluk dicium anak sendiri Baiklah baik piara diri, tuan belum biasa bercerai Biasa bercerai belum sekali, suda takhasus dari azali Sepuluh bulan tuan kembali, jangan sekali anakku lalai
Jangan lalai anakku gusti, bunda nian tentu berusak hati Sepuluh bulan bunda menanti, hiianglah marah ayahmu pasti Sepuluh bulan jikalau suda, bunda tanggunglah marah ayahanda Pulanglah tuan jangan tiada, jangan merusakkan hatinya bunda...12
Jikalau tiada kembali bertahta, matilah bunda dengan bercinta Nurdin bermohon dengan air mata, kedua menangis jangan dikata Nurdin pun turun dengan segeranya, berjalan dengan air matanya Ke tepi laut yang ditujunya, hari pun siang sampai dianya Sampai dianya ke tepi segara, dilihatnya ramai tidak terkira Di situ ada satu bahtera, hendak berlayar pada kira-kira
Pada kira-kira itu waktunya, Nurdin lalu segera bertanya Kapal berlayar ke mana perginya, hamba hendak mengikut sertanya Orang kapal lalu menyahuti, Iskandariah yang dihajati Jikalau hendak mengikut pasti, naik jangan nanti menanti Nurdin menengar kata begitu, membelilah makanan ia di situ Turun pada itunya waktu, mencari tempat supaya tentu
Tiadalah kami panjangkan citra, juragannya turun berlayarlah segera Kapal menempuh tengah segara, Nurdin pilu tidak terkira Tidak terkira pilu hatinya, kapal berlayar sangat lajunya Sepuluh malam kira-kiranya, Iskandariah sampai dianya Kapal belabuh sudahlah tentu, Nurdin turun ke negeri itu Di dalam hati terlalu mutu, tiadalah kenal orang suatu
Suatu orang tiada kenalan, sekehendak kaki ia berjalan Niatnya hendak mencari taulan, tempat singgah dengan kebetulan...13 Berjalan ia sehingga lelah, di situ dituju di situpun salah Orang yang baru demikian ulah, kepada orang jadi nampaklah Ada seorang di dalam ceritanya, Mansur ia konon namanya Melihat Nurdin demikian halnya, lalu hampir ia bertanya Lalu bertanya berperi-peri, tuan ini rupanya orang lain negeri Nampaknya baru sampai ke mari, apalah juga hendak dicari Segera menyahut Nurdin puata, betullah juga seperti kata Baharu sekarang datngnya beta, tempat singgahan dicari serta Mansur berkata suka hatinya, ke rumah ayahanda apa salahnya Tangan Nurdin lalu dipegangnya, dibawa pulang pada rumahnya Pada rumahnya kampung suatu, rumahnya besar berdinding batu
Kedua serta masuk ke situ, Nurdin diberi tempat suatu Suatu tempat ia berikan, sekalian cukup tiada kurangkan
Serta diberi minum dan makan, demikian konon orang ceriterakan
Mansur nan banyak kebajikannya, Nurdin sangat suka hatinya Seribu dinar diberikannya, mintak simpankan ia kepadanya Mansur simpankan dengan amanat, tiada sedikit niat khianat Nurdin diajar disuruhkan hemat, jangan berbelanjah yang besar amat Demikian hal sehari-hari, Iskandariah Nurdin idari
Berjalan ia seorang diri, melihat segala hal dan peri....14
Mansur nian seorang tiada berputra, kepada Nurdin tulus dan mesra Kasi sayang tidak terkira, seperti anaknya ia pelihara Ada kepada suatu hari, kepada Nurdin ia mengajari Apa sudahnya demikian peri, duduk pelesir keliling negeri
Keliling negeri tiada berguna, bukan aturan yang bijaksana
Seribu dinar uang sempurna, baik berdagang janganlah lena Nurdin menyahut dengan takzimnya, pikir anaknda demikian adanya
Lagi mencari mana baiknya, karena belum tahu adatnya
Belum tahu adatnya negeri, sebab itu lagi dipikiri Anaknda berjalan tiap-tiap hari, suatu dagangan hendak dicari
Terhenti perkataan Nurdin puata, tersebut pula suatu cerita
Raja Pranja di atas tahta, besar kerajaan tidak terkata
Besar kerajaan tidak berlawan, berapa banyak hulubalang pahlawan
Rakyatnya penu berkawan-kawan, sukar bandingan di bawah awan
Wazir Ur nama menterinya, sekalian rakyat di bawa hukumnya
Baginda nian ada empat ànaknya, tiga laki-laki di dalam kabarnya Seorang perempuan anak baginda, Mariam Zanariah nama anaknda Tujuh tahun umurnya ada, sangatlah kasi ayahanda bunda Kasi baginda tidak bandingan, diajar anaknda segala ketukangan Tulis menulis karang-karangan, sekian pandai tiada kepalangan...15
Tidak kepalangan pandainya itu, tekat menekat yang nomor satu
Sekalian tukang kalalah tentu, terlalu suka baginda ratu
Empat belas tahun sampai umurnya, sekalían petukangan pandai semuanya rocir cuiuo asileioz aeihod si mqurel msu
Bertambah-tambah elok rupanya, tiada berbanding pada masanya
Sifatnya lengkap tujuh laksana, budi dan bahasa amat sempurna
Sebarang tingkah semuanya kena, mashurlah kabar kemana-mana
Kemana-mana mashur gunawan, melengkapi sekalian sifat puan-puan Tambahan gagah tidak berlawan, sehingga kalah segala pahlawan D Baginda nian konon ada nazarnya, jika sampai umur anaknya tnn( Hendak dibawa pada gurunya, suatu puluh tempat duduknya Ada kepada suatu hari, baginda bertitah kepada menteri 02101 Disuruh bawa anak sendiri, kepada guru orang yang bahari IZ8A Menteri mendengar titah baginda, bersedialah kapal tulis perada 4sbA Sekalian alat cukuplah ada, adat raja-raja kurang tiada SAHNOD Setelah mustaib sekalkian rata, menteri mengadap ke bawa tahta Kepada baginda menyembahkan warta, baginda nian suka di dalam cinta Baginda bertitah kepada menteri, berangkatlah engkau pada esok hari Bawa Mariam anaknda putri, kepada guruku pendeta bahari Setelah bertitah duli baginda, lalulah masuk mendapat anaknda
Disuruh sedia jangan tiada, serta hadiah apa yang ada....16
Apa yang ada bawalah tuan, serta dengan sekalian perempuan Berapa banyak menteri pahlawan, ayahanda suruh mengiring tuan Mariam pun segera menjawab kata, apa ayahanda tiada beserta CRA Menteri hulubalang juga semata, tiadalah sedap di hati beta Baginda segera menjawab madah, kepada Mariam putri yang indah1 Anaknda jangan berhati gundah, ayahanda bersama tidak faedah Karena cukup hulubalang menteri, kapalnya besar ayaħanda beri
Tempat tiada jauhnya negeri, kadar peliaraan satu dua hari
Putri pun diam gunda lakunya, tiadalah sedap pada hatinya Tiadalah lagi panjang kalamnya, keesokan hari sampai dianya
Setelah sampai esoknya hari, Mariam dihíaskan bunda sendiritsbiT
Berkain songket buatan Misri, baju bertabur intan baiduri
Bergelang intan emas ditata, memakai pula cincin permata Elok laksana tulisan peta, siapa terlihat jadilah cinta Intan dikarang lailat sanggulnya, empat pasang cucuk kondenya Berkalung merjan sangat indahnya, siapa melihat rusak hatinya
Bergelang kaki emas dikarang, bertudung muka kasa yang jarang Cantiknya bukan lagi sebarang, memberi birahi sekalian orang Tiadalah hamba panjangkan peri, setelah berhias tuannya putri Wajah laksana anak bidadari, tiada berbanding seluruh negeri...17
Setelah mustaib sekaliannya, putri bermohon ayah bundanya
Di dalam hati sangat gundanya, berlinang-linang air matanya Suda bermohon putri nian tuan, berjalanlah dengan berhati rawan Diiringkan beribu-ribu perempuan, serta segala menteri pahlawan Apabila sampai ke tepi segara, naik sekoci bertanda sutra Siapa mengikut naiklah segera, ramainya tidak lagi terkira Sekoci pun sampai di kapal sana, sekaliannya naik jantan betina Putri pun duduk di singgasana, di dalam hati gundah gulana Gunda gulana hatinya bimbang, sauh dibongkar layar terkembang Kapal pun berlayar seperti terbang, tenggelam timbul dihayun gelom- bang Sehari semalam di dalam cerita, berlayarlah Mariam putri yang puata Dekatlah suda pulau Pendeta, angin pun mati sekejap mata
Sekejap mata angin pun hilang, keluarlah penyamun tidak terbilang Sekoci sampan berpencalang, sorak dan tampik berulang-ulang Berulang-ulang tampik soraknya, kepada kapal rapat semuanya
Orang kapal bersikap dirinya, memegang senjata sekaliannya
Sekaliannya suda bersikap diri, penyamun naik tiada terperi Ada duluan ada di buri, ada di kanan ada di kiri
Ada di kiri sekalian orang, lantas menetak lantas memarang
Sekalian penyamun terlalu garang, di dalam kapal jadi berperang...18 Jadi berperang tiada berhenti, parang memarang berganti-ganti Orang kapal banyaklah mati, penyamun nian gagah terlalu sakti80185 Terlalu sakti dengan beraninya, orang Pranja habis dibunuhnya
28 Mana yang sempat melarikan nyawanya, dengan sekoci berdayung
dianya Kepala penyamun terlalu suka, kamar dinding sekalian dibuka Mencari harta sekalian mereka, kepada Mariam terpandang muka Terpandang muka nila utama, cantiknya tidak ada yang sama Laksana bulan penuh purnama, penyamun tercengang berapa lama Penyamun melihat putri nian tuan, sertanya beberapa banyak perem- puan Kepala penyamun suka kelakuan, masing-masing lalu menawan Kepala penyamun dengan sukanya, kepada Mariam dihampirinya Dipegang tangan ditarikkannya, kepada perahu diturunkannya Adapun Mariam muda yang bakti, ia menangis tiada berhenti Sangatlah isykal di dalam hati, dari hidup ridholah mati
Kepada penyamun Mariam berkata, ayuhai penyamun bunuhlah beta Aku nian jangan dibuat lata, memadai suda mengambil harta
Karena aku tiada biasa, ditarik tangan dengan paksa Dibuat seperti binatang rusa, aku tiada mempunyai dosa Kata penyamun yang besar sekali, huriat tidak perduli Siapa-siapa hendak membeli, nanti kujual semua sekali...19 Suda diturunkan sekalian harta, banyaknya tidak dapat dikata Membuka layarnya sekalian rata, terlalu suka di dalam cinta
Terlalu suka di dalam hatinya, lalu berlayar sekaliannya Kepada pinggiran yang ditujunya, sehari semalam sampai dianya Sampai dianya di pinggir situ, sekalian menaikkan hartanya itu Kepala penyamun asyiknya tentu, kepada Mariam yang nomor satu Tiada perduli pada hartanya, Mariam juga yang dibawanya Lalulah masuk pada rumahnya, hati Mariam sangat susahnya Sangat susahnya tidak terperi, kepala penyamun lalu mengampiri Lalu dipegang tangannya putri, tuan nian jangan takut dan ngeri Kepala penyamun serta berkata, ayuhai adinda putri yang puata Adakah suka bersuami kita, tuan bilanglah supaya nyata
Supaya nyata bilanglah suka, janganlah banyak kalam direka Lepas dari sini jangan disangka, jadi istriku mestilah juga Mariam berpikir di dalam hati, jikalau begini tentulah mati Tetapi katanya baik kuturuti, aku hendak mengadu sakti Mariam suda habis pikirnya, kepada penyamun demikian katanya Bersuami engkau sangat sukanya, tetapi ada satu syaratnya Jikalau engkau gagah perkasa, lawan aku cobalah rasa Jikalau menang dengan sentosa, aku menurut sebarang paksa...20 Baiklah kita pergi ke padang, bermain tombak bermain pedang Boleh sama tendang menendang, siapa kalah nanti meradang Jikalau aku tentulah kalah, sebarang kehendak aku ridholah Jadi istrimu aku turutlah, tiadalah lagi aku berhelah Penyamun menengar katanya putri, tertawa ia tidak terperi Kehendak tuan tidak dipikiri, hendak melawan penyamun pencuri Bukanlah tuan dengan kapalnya, cukup hulubalang dengan laskarnya Sekalian kuambil dengan mudahnya, itulah kemenangan aku semuanya Segera menyahut putri yang puata, penyamun jangan banyak cerita Jikalau suka beristri kita, marilah segera bermain senjata Penyamun tertawa sambil berdiri, menarikkan segera tangannya putri Suatu pedang Mariam diberi, keduanya berjalan berperi-peri Sekalian tentara penyamun jati, melihat tuannya demikian seperti Kepada putri mengadu sakti, sekalian mengikut hendak melihati Telah sampai ke padang sujana, putri membuka pakaian betina Pakaian laki-laki pula terkena, berupa pahlawan amat sempurna Penyamun melihat suka kelakuan, pikirnya ini satu perempuan Kepada aku hendak melawan, sekali kutendang jatuhlah sawan Tetapi salah demikian peri, karena hendak kubuat istri Mukanya cantik amat berseri, di dalam dunia sukar dicari...21 Jika begitu baik kuberikan, mana pendatangnya aku tangkiskan Mana kehendaknya aku turutkan, kemudian baharu aku tangkapkan Setelah habis dipikirkannya, menunggu sahaja mana datangnya
Putri pun suda sikap dirinya, lalu berkata dengan maniśnya ean uaruzi ibsi sagasaib nsanpi iniz isb zegol Kepada penyamun ia bersabda, hendak bermain di atas kuda Demikian adat pahlawan muda, penyamun mienyahutsegeralah' ada Aebnon us iniua Aed syaste iqsiT Penyamun menyuruh pada khadamnya, dua kuda segera dibawanya Kuda peperangan sangat indahnya, kedua haik dengansegeranya phe ) 6ynaue lsnsa uslano imsuzo8 Dengan segeranya naiklah putri, lalu melompat ke kanan ke kiri Seperti laku orang menari, sekalian penyamun herankandiri Pikiran Mariam di dalam hati, baik kubunuh penyamun yang' sakui Biarlah aku sekali mati, apalah guna demikiąn pekertt Setelah habis di dalam pikirnya, Mariam segera mengertäkkan kudanya Kepada penyamun dekat dianya,lalu diparang denganpedangnya Penyamun menangkis segeralah cepat, serta kudanya'sama' melompat Mariam menombak sertalah rapat,penyamunmenangkistiadalah sempato anavnen aswskom Asbaod hiliqi dsbt asu dsbnoros Kenalah sebelah tangannya kiri, penyamun pun marah tidak terperi Lalu berkata kepada putri, kenapa bermain demikianperi Jika bermain demikian pekerti, sebentar juga putri nian mati Janji hendak mengadu sakti, karena kawin hendak dinanti..22 Mariam tersenyum lalu berkata, demikian inilah kehendak beta
Jikalau tidak dimakan senjata, malam ini kawinlah kita
Penyamun menengar sangat marahnya, diambil cakmar dipalukannya Mariam melompat sangat pantasnya, sambil memarangdenganpe- dangnya nug astps gasbeq os isqasa dsiot Penyamun tiada sempat menyalah, kena tangannya putus sebelah Dari kudanya ia jatuhlah, rakyatnya melihat tuannya kalah aeuasiea cua sm cuavne
Tuannya kalah nyatalah cidera, sekalian marah tidak terkira
Mengunus senjata kedengan segera, kepada Mariam sekaliannya mara osa noq nailimob dalez tquioT Sekaliannya mengepung Mariam putri, Mariam melihat,demikian peri Membalikkan kudanya lalulah lari, menuju ke dalam hutan dan duri DA6 oblab a ao le ag Eil Tinggallah penyamun sangat masgulnya, pulang ke tempat membawa tuannya
Mariam nian lari amat kerasnya, ke dalam hutan lepas dianyà
Lepas dianya berjalan seorang, seperti laki-laki pahlawan garang Pakaian seperti orang berperang, hutan dan padang sahaja diserang Berjalan kira-kira tiganya hari, laparnya Mariam tidak terperi Memandang ia ke kanan ke kiri, dilihatnya empat orang berdiri Empat orang berdiri di situ, bangsa Badui kabarnya itu Kerjanya membekal sebilang waktu, kepada Mariam pikirnya tentu Keempat mendekatkepada putri,ada dihadapan ada di buri
Ada di kanan ada di kiri, dengansenjata sekalian berdiri.....23
Lalu berkata Badui yang tua, ayuhai pahlawan apa dibawa Lekas keluarkansekarang jua, supaya lepas engkau punya nyawa Mariam tersenyum manis kelakuan, berkata sambil hatinya rawan Ayuhai Badui empat sekawan, tanya dahulu supaya ketahuan Dengarlah juga aku berperi, bangsaku Badui penyamun pencuri Biasa membekal keliling negeri, sekarang ada hendak kucari
Karenabapaku ada di sanamengadang kafilah amat besarnya Membawahartasangat banyaknya, aku nian hendak mencari teman-
Serta bapaku sepuluh orang, pada pikirku tentulah kurang Baik berjumpa kamu sekarang, boleh bersama kita menyerang siod avnaqed s(neib deab Badui menengar mariam berkata, di dalam hati bersuka cinta Keempat segera menyarung senjata, rupanya ini sebangsa kita EnUsd aHCiO
Mariam Zanariah segera berperi, ayuhai keempat saudara sendiri
Beta nian lapar tidak terperi, di dalam hutan suda dua hari agqexanet ioasnt Jikalau boleh dengan segeranya, berilah makanan berapa adanya Badui menengar sangat sukanya, kuda Mariam lalu ditariknya rogn detsbs Lalu ditariknya oleh mereka, kepada kampungnya dekatlah juga Mariam pun turun hatinya, ke rumah badui masuk belaka
Badui pun masuk dengan segera, menyediakan makanan berbagai
20ETO0 8SWSKn 00 perkara
Karena hatinya sudalah mesra, kelimanya makan tiada antara....24
tti squta ast ungor Badui yang tua kurang percaya, dilihatnya Mariam amat bercahaya Tiadalah patut:sebangsa dia, rúpa seperti orang yang mulia
Setelah makan sekalian rata, Mariam Janariah lalu berkata Besok pagi keluarlah kita, kafilah itu hampirlah nyata Tiadalah sahaya panjangkan peri, tempat Mariam badui memberi Tidurlah ia seorang diri, hingga sampai siangnya hari Siangnya hari nyata ketahuan, Badui memberi pula jamuan Makan minum lima sekawan, hatinya Mariam sangatlah rawan Sangatlah rawan di dalam hati, memikirkan hal demikian peri Belumlah tahu hidup dan mati, untung nasib juga dituruti Nasib dituruti berhati mutu, tiada panjangkan lagi di situ Menaik kuda kelimanya itu, berjalan menuju ke gunung batu Menuju ke gunung batunya belah, sekalian berhenti karena lelah Kabarnya itu jika tak salah, lalu berjalan satu kafilah Satu kafilah nampaknya nyata, banyak membawa dagangan harta Keempat Badui bersuka cinta, kepada Mariam ia berkata Ia berkata sangatlah garang, di mana bapamu waktu sekarang Kafilah nian banyak nampaknya terang, tiadakan cukup berlima orang Mariam berpikir di dalam hati, mengenangkan nasib demikian pekerti
Daripada hidup ridholah mati, Badui keempat lalu disahuti......25
Lalu disahuti kedengan nyata, tak usah ditanya bapanya beta Tentulah jauh daripada kita, sekarang apa berbanyak kata Berbanyak kata apalah guna, bukannya kita orang betina Baik rampoklah supaya kena, beta mulai di sebelah sana Kamu keempat dari hadapan, beta di belakang mencari tangkapan Seorang kita musuh delapan, demikian beta punya untapan Badui kelima mendengar peri, di dalam hati adalah ngeri Kafilah itu banyak bansa Malbari, tetapi malu di hati sendiri Di hati sendiri malunya terang, kepada Mariam pahlawan garang Anak yang muda umurnya kurang, berani melawan beratus orang Apalah lagi ia keempat, mashur penyamun setiap tempat Biasa berperang lompat melompat, sekarang mundur tentu tak dapat Keempat habis pikir di hati, kepada Mariam lalu disahuti
Sekarang pergilah engkau dapati, dari belakang engkau menanti Mariam mendengar kata mereka, di dalam hati sangatlah suka Melarikan kudanya dengan seketika, kepada kafilah berpandang muka Badui keempat berjalan serta, kepada kafilah berpandang mata Kafilah melihat penyamun nyata, sekaliannya lalu menghunus senjata Badui yang tua segera melompat, kepada kafilah diparangnya cepat
Hendak menangkis tiadalah sempat, seorang Maibari lalulah wafat....26
Orang kafilah melihat halnya, sangatlah marah di dalam hatinya Keempat Badui dikelilingnya, dengan senjata dihujaninya Keempat Badui terlalu garang, mengamuk membunuh beberapa orang Dua puluh Malbari tanyalah kurang, dengan Badui mati berperang Mariam berpikir di dalam hati, Badui keempat tentulah mati Apalah guna aku turuti, baiklah sahaja aku menanti Tiadakan Badui menang perangnya, orang Malbari sangat banyaknya Keempat Badui lelah rupanya, tentulah mati juga akhirnya Ada sesaat perangnya itu, keempat Badui matilah tentu Mariam berdiri dekat disitu, di dalam hati sangatlah mutu Malbari melihat Mariam berdiri, sekaliannya lalu datang ngampiri Hendak menikam kanan dan kiri, kepala kafilah tiada memberi Tiada memberi membunuh dianya, karena tiada satu salahnya Bangsanya Badui lain rupanya, disuruh tangkap jua adanya Lalulah datang sekalian Malbari, Mariam ditangkap mendiamnkan diri Dibawa kepada kepalanya sendiri, kepalanya itu bangsa Maghribi Maghribi memandang diamat-amati, pahlawan nian elok bukan seper- ti Maghribi sangka di dalam hati, nyata perempuan pahlawan pasti Maghribi segera ia berkata, kepada Malbari sekalian rata
Buka pakaiannya supaya nyata, aku hendak bertanya warta....27
Baertanya warta pada pahlawan, pikir hatiku tentu perempuan Buka selapis baju berawan, kepada aku supaya nyata ketahuan SekalianMalbari terlalu suka, baju Mariam hendak dibuka
Mariam melihat terlalu murka, mengunus parangnya dengan seketika Maghribi segera menyambar tangan, sambil berkata terjangan-jangan Pekerjaan kecil sangat kepalangan, hendak dijadikan pula peperangan Mariam berkata dengan marahnya, kerja demikian sangat salahnya Jika tuan-tuan hendak bertanya, beta bilangkan dengan sebenarnya Maghribi segera menjawab kata, tuan kabarkan kepada kita. Karena kami bukannya buta, tuan perempuan nampaklah nyata Mariam berkata benarlah tuan, beta ini orang perempuan Berlayar dengan laskar pahlawan, di tengah laut terkena tawan Sekaliannya hal dikisahkan, dari awal hingga akhirnya Orang kafilah sangat sukanya, seorang berkata aku maunya Seorang berkata jangan begini, kamu ini sangat berani Memang asal aku orang bini, dianya lari berjumpa di sini Maghribi berkata jangan begitu, seorang tiada boleh -ditentu Jadi berkelahi akhirnya itu, baiklah sabar sedikit waktu Sedikit waktu sampai ke negeri, nanti aku lelang sendiri
Siapa yang lebih uang memberi, tentulah ia dapat istri....28
Kata seorang tiadalah patut, tentu Maghribi nak rewel buntut Kita menangkapnya terkentut-kentut, tangkal dia mainkan catut Maghribi tertawa geli hatinya. pada sekalian orang temannya Janganlah kamu salah sangkanya, aku berkata dengan sebenarnya Aku tiada boleh beristri, karena tiada perkakas bahari Hilang sudah beberapa hari, hingga sekarang aku mencari Seorang berkata dengarlah taulan, perkakas Maghribi icul-iculan Sudah hilang setengah buían-bulan, kalau terjatuh di tengah jalan Mariam mendengar sangat bencinya, tetapi geli di dalam hatinya Hendak tertawa ditahankannya, selaku marah juga dianya Tiada hamba panjangkan peri, kafilah berangkat pada itu hari Sertalah Mariam wajah berseri, ia berjalan jauh sendiri Apabila malam hari nian ada, Mariam pun tidur di atas kuda Nama bercampur sekali tiada, karena takutnya di dalam dada
Selang tiada berapa lamanya, ke Iskandariah sampai dianya Masing-masing pulang tempatnya, Mariam dibawa Maghribi ke
rumahnya
Ke rumah Maghribi dibawanya tuan, Mariam pun memakai cara
perempuan Cantik majelis sukar dilawan, siapa memandang bercinta rawan Adapun Maghribi punya istri, melihat Mariam muda bestari
Laksana bulan empat belas hari, marahnya tidak lagi terperi.....29
Sangkanya suaminya baru beristri, membawa dari lainnya negeri Dengan segera ia hampiri, pada Mariam hendak ditampari Serta dengan kata dan nista, sundal gatal tidak bermata Mengambil lakiku engkau nian nyata, apa tak tahu kepada kita Istri Maghribi berkata begitu, sambi! menampar Mariam di situ MarahnyaMariam bukan suatu, lalu berdiri ketika itu Ketika itu berdiri segera, ditangkapnya pinggang perempuan jura Hendak dihempaskan kepada kira, Maghribi menjerit sekuat suara Sekuat suara sambil berlari, apalah sebab demikian peri Baharu datang pada ini hari, hendak membunuh aku punya istri Mariam pun segera melepaskannya, kepada Maghribi demikian katanya Tiada suatu salah padanya, tiba-tiba menista dengan iamparnya Maghribi pikir di dalam hati, inilah perempuan jahat pekerti Aku nian tuan nyatalah pasti, Mariam tiada sekali kuhajati Diambil anak pikiran dia, mauk dicarikan suami yang kaya Karena rupanya amat bercahaya, sekarang sudah mendapat bahaya Maghribi marah bukannya laku, kepada Mariam serta mengaku Jika mauk jadi istriku, mas kawinnya sekalian harta bendaku Mariam pun marah tidak terperikan, kepada Maghribi ia katakan Tak sahkan kawin tuan hajatkan, menyentuh badan aku haramkan...30 Setelah berkelahi ketikanya rata, hari pun malam sudahlah nyata Maghribi istrinya larilah serta, tinggal Mariam duduk bercinta Duduk bercinta seorang diri, menangis ia tidak terperi
Mengambil senjatanya ulu baiduri, niatnya hendak membunuh diri Baharu dihunus senjatanya itu, didengarnya ramai di luar pintu Orang mengetuk tidak bertentu, Mariam terkejut hatinya mutu Maghribi keluar segera dianya, membuka pintu serta dilihatnya Orang masuk sangat banyaknya, orang kafilah datang semuanya Datang semuanya lalu berkata, ke mana Mariam ia tak nyata Maghribi segera menyahut serta, di situ duduknya gelap gulita Sekalian berkata kedengan garang, Mariam tak boleh diambil seorang Melainkan dilelang kedengan terang, berapa harganya lebih dan kurang Jawab Maghribi dengan segeranya, ayuhai saudara dengar semuanya Mariam tak boleh demikian adanya, karena ia keras hatinya Kiranya mau bersuami aku, ia kuberikan sekalian hartaku Dihadapan kamu aku mengaku, boleh dituliskan di dalam buku Empat miliun di dalam peti, sepuluh rumah sewa ada menanti Jikalau kiranya suka Cik Siti, sekalian itu kuberikan pasti Tetapi besok aku jualkan, kepadanya aku suruh pilihkan
Kepada siapa dia sukakan, itulah orang aku berikan.......31
Jika dapat uang harganya, kita bagi sama ratanya Jika kita paksa padanya, menjadi bala juga akhirnya Betullah dia satu perempuan, tetapi lebih dari pahlawan Gagah berani sukar dilawan, bagaimanalah jua pikir tuan-tuan
Sekalian Mulbari orang kafilah, katanya itu sangat betullah Kepada Mariam tiadakan salah, perbuatan itu tentu ridholah
Perkataan Mulbari sekalian rata, didengar Mariam terlalu nyata Berpikir ia di dalam cinta, baiklah aku menurut kata
Karena aku pilih sendiri, laki-laki yang patut membuat istri Mudah-mudahan senang di belakang hari, baik kusabar membunuh diri Tiada panjangkan lagi kalamnya, masing-masing pulang pada tem- patnya Hari pun siang nyata adanya, orang kafilah datang sekaliannya
Kepada Mariam Maghribi katakan, engkau ini hendak kujualkan Mana laki-laki engkau sukakan, kepadanya juga aku berikan Mariam menengar pilu hatinya, segera menyahut dengan tangisnya Mana yang betul kamu semuanya, baiklah buat dengan segeranya Misalnya aku seorang yang mati, boleh dibuat sekehendak hati Jahat dan baik aku menanti, segerakanlah supaya pasti Maghribi berkata sekalian orang, baik ke pasar dibawa sekarang
Supaya berjual kedengan terang, boleh dipilihnya sekalian orang.....32
Sekaliannya suda membetulkan, suatu unta Mariam didudukkan Sekalian Maalbari pada mengiringkan, ke tengah pasar yang ditujukan Terhenti dahulu perkataan itu, tersebut pulah kisah suatu Nurdin berjalan ke pasar batu, duduk melengong pikirnya buntu Pikir buntu tidak kebetulan, tiba-tiba ramai orang berjalan Menarik unta serta pikulan, di atasnya jariah sebagai bulan Sebagai bulan gemilang cahaya, pakaian seperti orang yang mulia Ramai berkumpul sekalian manusia, terlalu banyak miskin dan kaya Miskin dan kaya berkawan-kawan, melihat elok rupa perempuan Maghribi berteriak suara mengawan, ayuhai encik serta tuan-tuan Serta tuan-tuan yang ada di sini, hamba mau jual perempuan ini Siapa juga ada berani, membeli dia kedengan tunai Kedengan tunai orangnya kontan, perempuan cantik bukan buatan Cahaya laksana permata intan, sekalian tuan-tuan nampak kelihatan Maka seorang menarik harganya, seratus dinar berani dianya Lain orang melebihinya, ada yang lain lebih beraninya Ada pulah saudagar suatu, dua ratus dinar dua puluh satu Seperti lelang kabarnya itu, masing-masing inginnya tentu Seorang pula menaikkan harga, sampai tiga ratus lima puluh tiga
Mana yang berani belibihi juga, sama saudagar ia berlaga ..... 33
Ia berlaga bersalin tiggi, sampai lima ratus dilebihi lagi Seorang berkata tiadalah rugi, karena pantas isi mahligai Seorang saudagar datang berhawa, berapa orang dinaikkan pula
Sampai tujuh ratus sepuluh dua, kemudian datang saudagar tua Saudagar tua sangat garangnya, sembilan ratus dinaikkannya Seorang pun tiada melebihinya, Mahgribi pun segera ia bertanya Ia bertanya pada cik siti, adakah tuan bersuka hati Sembilan ratus harganya mati, laki-laki itu orang yang bakti Mariam Janariah segera berkata, sampainya 'ami membuat beta Macam laki-laki tua meronta, hendak dijadikan suami kita Bukannya beta kata takabur, orang yang tua matanya kabur Sedikit lagi masuk di kubur, pekakasnya lembut seperti bubur Damai saudagar menengar mada, marahnya tidak lagi bersuda Ia berkata sambil berluda, perempuan celaka si haram jada Marah saudagar tiada berhenti, maka yang lain pulah mendekati Yaitu saudagar dari Surati, kurus tinggi hitamnya pasti Hitamnya pasti terlalu garang, ia perkata kedenga terang Saksi kamu sekalian orang, sembilan ratus kubeli sekarang Kepada Mariam Maghribi bertanya, sekarang apa pulah celanya
Orangnya muda dengan hebatnya, serta pula banyak uangnya.....34
Mariam berkata ayuhai 'ami, hilangkan sampai membuat kami Semacam ini dibuat suami, tiadakah lain di dalam bumi Badannya hitam giginya putih, tingginya bagai penjolok petih Matanya serong jika mengintih, pantasnya ia kepala luntih Apabila saudagar menengarkan, marahnya tidak terperikan Membuka surban lalu dipukulkan, kepada Maghribi yang dikenakan Maghribi berteriak melolong-lolong, kepada orang memintak tolong Dipukul oleh saudagar wolong, saudagar nian masih berkelong-kelong Berkelong-kelong dipegang orang, saudagar ngelupa mata tak terang Perempuan jahanam harinya kurang, mengata aku sebarang-barang Ramailah orang membuat masalah, tuan saudagar jangan berbelah Bermusuh perempuan jadi malulah, lalulah diam kedua belah Datanglah pulah saudagar Hindustan, gemuk pendek sangat keberatan Sembilan ratus membayar kontan, kepada Maghribi mintak suratan
Maghribi pun tanya pada perempuan, sekarang ini bagaimanalah tuan Saudagar nian indah sukar dilawan, adakah surga emas tempawan Apabila Mariam menengar katanya, tersenyum manis geli hatinya Lain macam pulah datangnya, gemuk pendek besar perutnya Besar perutnya tentu cacingan, pada aku bukan layak bandingan
Bersuami dia kuharap jangan, baiklah cari lain tunangan.....35
Saudagar menengar sangatlah malu, kepada Maghribi marah terlalu Segera dikejar hendak dipalu, Maghribi lari ke hilir ke hulu Ke hilir ke hulu melarikan nyawa, ramainya tidak lagi berdua Banyaknya orang muda dan tua, ada yang takut ada yang ketawa Demikian hal laku cik siti, berapa saudagar berganti-ganti Sekalian jadi bersakit hati, mana yang tinggal tiada menyahuti Tiada menyahuti menawar harganya, karena takut malu dirinya Tinggal Maghribi kesal hatinya, kepada Mariam ia bertanya Bertanya pada Mariam bangsawan, sekarang apa maksudnya tuan Semuanya saudagar menjadi lawan, pilihlah sendiri supaya ketahuan Adapun Nurdin ketika itu, dianya duduk di atas batu Melihatkan hal orang di situ, asyik tertawa bukan suatu Tetapi hatinya sangat bercinta, di dalam kalbu berkata-kata Coba aku mempunyai harta, tiada kulepaskan siti yang puata Adapun akan itu perempuan, cantik sungguh sukar dilawan Sedikit mukanya nampak ketahuan, laksana bulan di celah awan Di celah awan indah lakunya, kepada Nurdin juga pandangnya Sama birahi ia keduanya, sama bermaksud di dalam hatinya Tatkala Maghribi bertanyakan dia, lalu menyahut Mariam yang mulia
Jikalau maksud hati sahaya, itu seorang yang muda belia......36
Kepada Nurdin diberi nyata, jikalau ada ia berharta Boleh menebus dirinya beta, demikian maksud di dalam cinta Jikalau lain hendak diberikan, tiadalah ridho hamba dijualkan Biarlah diri hamba bunuhkan, akhir kalam hamba katakan Maghribi pun segera ia bertanya, pada saudagar sekaliannya
orang itu siapa namanya, kaya atau miskin dianya Hamba bertanya pada tuan-tuan, karena itulah kehendak perempuan Saudagar menengar suka kelakuan, ramai tertawa berkawan-kawan Seorang saudagar lalu berkata, namanya Nurdin yang telah nyata Anak yatim tiada berharta, terlalu hina nampak di mata Seorang saudagar berkata terang, anak Mashiri kabarnya orang Diusir bapanya ia sekarang, karena di Mesir makanan kurang Saudagar tua menyahutilah, karena hatinya lagi bernyala Itu Nurdin anak yang gila, kerjanya itu jadi gembala Lalu menyahut saudagar Surati, karena panas di dalam hati Ini Nurdin bapanya mati, jadi baru kabarnya pasti Saudagar Hindustan menyahut segera, betul kata sekalian saudara Kembali binatang beruk dan kera, perempuan sundal yang pelihara Sekalian hal Maghribi bertanya, pada saudagar sekaliannya Perkataan saudagar itu semuanya, Nurdin menengar sangat nyata- nya...37 Nurdin menengar sangatlah pilu, bagai dihiris dengan sembilu Tambahan pula terlalu malu, hatinya sakit bagai dipalu Dengan segera ia berdiri, pada Maghribi ia hampiri Dengan keras mengeluarkan peri, seribu dinar aku memberi Itu perempuan aku membelinya, serta memintak surat jualnya Supaya aku bayar harganya, lebih daripada saudagar semuanya Saudagar sekalian ramai berkata, engkau tiada mempunyai harta Tiada suatu nampak di mata, sahaja datang berbuat dosa Nurdin berkata ayuhai saudara, sekalian jangan banyak bicara Tuan saudagar mulut pelihara, jangan menjadi cacat dan cidera Hamba nian dagang seorang diri, berani mati tiadakan lari Tuan yang kaya pelihara diri, jangan sebarang mengeluarkan peri Mengeluarkan peri hendak diamati, jangan terlalu menyakitkan hati Anak Mesir berani mati, seratus kamu kita menanti Oleh karena ada uangnya, maka berani menawar harganya
Jika bermain ada tempatnya, kata dan nista apa gunanya Sekalian saudagar menengar begitu, diam serta berhati mutu Benar perkataan Nurdin itu, sekaliannya lari tiada bertentu Maghribi berkata dengan sukanya, ambillah uang dengan segeranya
Janganlah panjang lagi kalamnya, ini perempuan tuan yang punya....38
Nurdin pun segera berjalan pulang, didalam hatinya sangatlah wa- lang Karena uangnya tentulah hilang, tiada yang lain boleh menyelang Tambahan pula sangat malunya, kepada Mansur dipikirkannya Mencari barang aku disuruhnya, sekarang suda lain jadinya Nurdin pikir di hati sendiri, makanku ini Mansur memberi Betapa kelak kemudian hari, karena aku laki istri Setelah berpikir di ulang-ulangnya, terlalu sesak di dalam hatinya Di rumah Mansur sampai dianya, memberi salam dengan takzimnya Dengan takzimnya hormat beserta, kepada Mansur ia berkata Mintak uangnya sekalian rata, karena berguna sekarang nyata Mansur berkata juga sekali, barang apa tuan membeli Seribu dinar semua sekali, takut kalau tidak kembali Nurdin menyahut segan lakunya, satu jariah dibelikannya Seribu dinar itu harganya, itulah sebab dimintak semuanya Mansur menengar hal begitu, diam melengong ia termutu Kemudian berkata kedengan tentu, heran hatiku bukan suatu Bukankah hendak membeli barang, dengan jariah dibeli sekarang Lagi harganya terlalu larang, tidak patut kepadà orang Lagi aku hendak nyatakan, engkau kuberi minum dan makan
Aku nian tidak mintak balaskan, tetapi tiada engkau pikirkan....39
Sekarang baik engkau pikiri, makanmu tiada lagi kuberi Tahulah engkau cari sendiri, buat nafkah pada istri Mansur segera memberikan uangnya, seribu dinar dibilangkannya Nurdin terima isykal hatinya, kepada Allah diserahkannya Nurdin bermohon ketika itu, berjalan lalu ke pasar batu
Maghribi sedia jaga di situ, Nurdin membayar uangnya tentu
Uangnya tentu Maghribi terima, surat jualnya serta bersama Mariam nian suka bukan umpama, memberi tahu dia punya nama Nurdin lalu memegang tangannya, dibawa berjalan dengan segeranya
Ke rumah Mansur sampai dianya, Mariam pula lalu membuka tudungnya
Membuka tudung dengan segeralah, teranglah cahaya amat terasalah Mansur terpandang napas pun lelah, berdiri duduk serba salah Sangkanya itu anak bidadari, sebentar duduk sebentar berdiri Kepada Nurdin bertanya peri, siapa ini datang ke mari Nurdin menjawab sangatlah hali, inilah jariah anaknda membeli Seribu dinar semua sekali, Mansur menjawab murah sekali Jikalau permpuan macam begini, seratus ribu aku berani Untung anakku mendapat bini, kedua kamu duduklah di sini Mendapat segera memberi tempatnya, segala perkakas cukup semuanya
Suatu tidak ada kurangnya, serta berkata demikian perinya....40
Demikian peri ia berkata, kepada Nurdin diberi nyata Sekalian perkakas pakailah serta, tetapi ongkos tiadalah beta Kemudian Nurdin segera berperi, serta memimpin tangan istri Bawa masuk di tempat sendiri, Nurdin nian susah tidak terperi Tidak terperi susah hatinya, suatu makanan tiada padanya Pada Mansur hendak bertanya, di dalam hati sangat malunya Adapun akan Mariam yang puata, pada Nurdin ia berkata Berilah makanan sedikit beta, sangatlah lapar tidak menderita Sebab tiga hari sampai keempat, suatu makanan tidak didapat Perut adinda sudahlah rapat, berilah sekikit supaya sehat Nurdin menengar kata cik siti, sangatlah pilu di dalam hati Air mata terhambur tiada berhenti, kepada Mariam segera disahuti Lalu diceritakan sekalian halnya, dari awal hingga akhirnya Mariam mendengar geli hatinya, pada Nurdin demikian katanya Janganlah kakanda besarkan kemaluan, adinda lapar tiada tahan
Akhirnya nanti jadi kesusahan, kepada Mansur pergilah tuan
Pergilah tuan sekarang ini, pinjamlah uang sepuluh juni Besok pagi dibayar tunai, segeralah tuan bawa ke sini Nurdin tidak panjang cerita, lalu berangkat berjalan serta
Kepada Mansur dicari rata, serta bertemu ia berkata....41
Ia berkata sangat werang, pinjamkan uang anaknda sekarang Sepuluh dinar janganlah kurang, besok dibayar kedengan terang Mansur mendengar Nurdin berkata, diambil uang diberikan serta Besok bayar jangan tak nyata, karena janji jangan berdusta Nurdin sudah pikiran hilang, perkataan tidak lagi diselang Mengikut sahaja berulang-ulang, pada istrinya ia pun pulang Setelah sampai pada istri, uang itu lalu diberi Mariam pun segera berperi-peri, pergilah ke pasar kakanda sendiri Pergilah kakanda beli makanan, macam-macam lain-lainan Pilih kakanda mana berkenan, halua maskat buatan Yunan
Belikan mana suka kakanda, delapan dinar habiskan ada Daging dan roti jangan tiada, serta buah-buahan apa yang ada Dua dinar beli sutera mastuli, sekaliannya segera bawa kembali Suruh angkat kepada kuli, rusip belacan jangan dibeli Nurdin suka tidak terperi, melihat pentas kelakuan istri Gilang gemilang amat berseri, lebih dari bulan empat belas hari Di dalam hati sangat disabarkan, karena istrinya belumlah makan Lalulah segera pergi ke pekan, sekalian pesan ia dibelikan Sepuluh dinar habislah suda, hati Nurdin sangatlah gunda Hendak membayarnya bukannya muda, tiadalah jalan mencari
faeda .....42
Setelah habis dia membeli, disuruh angkat kepada kuli Dengan segera Nurdin kembali, pada Mariam diserah sekali Mariam segera ia menyebutkan, ke dalam piringlalu dihidangkan Tangan Nurdin ia cucurkan, kedua-dua lalulah makan
Setelah habis sekalian peri, Nurdin baharu memandang istri Sukanya hati tidak terperi, seperti dapat anak bidadari
Setelah malam hari nian nyata, asyik Nurdin jangan dikata Mariam laksana dian pelita, ditarik Nurdin ke atas genta Mariam menyembah bermohon diri, adinda jangan tuanku cari Karena hendak bersihkan diri, badan kotor tidak terperi Sabarlah tuan sabar kakanda, sebentar lagi hilang tiada
Lebihlah takut rasanya adinda, berdosa tidak menurut sabda
Nurdin menengar kata istri, bertambah asyik tidak terperi Peluk dicium kanan dan kiri, di dalam hati sangat disabari Nurdin baring letih rasanya, Mariam pun segera memicit kakinya Hati Nurdin sangat geramnya, lalu tertidur dengan syiknya Adapun Mariam muda yang kahra, berangkat bangun dengannya segera Lalu mengambil mastuli sutera, pantasnya tidak lagi terkira
Tidak terkira pantas lakunya, sutera diambil lalu disulamnya
Satu ikat pinggang suda dibikinnya, indahnya tidak ada bandingnya...43 Tengah malam sudalah hari, Mariam pun mandi bersihkan diri Bersalin kain muda bestari, indah tak boleh hamba kabari Kemudian memakai bahu-bahuan, bahu yang harum tidak berlawan Cahaya gemencar kilau-kilauan, tidak berbanding di bawah awan Setelah Mariam habis kerjanya, lalu baring hampir suaminya Nurdin terkejut sadar dirinya, kepada Mariam terpandang dianya
Terpandang Mariam muda teruna, sekalian pikiran hilanglah musna Terhantar laksana emas kencana, tidak berbanding barang di mana Hamba tak boleh lagi sifatkan, laksana bidadari juga dimisalkan Nurdin tidak lagi sabarkan, maklumlah tuan yang menengarkan Yang menengarkan maklumlah tentu, asyik dan maksyuk suda ber- satu Lenyap musna ke mana itu, seorang tidak ada membantu Orang membantu tentu tak kalu, kerja larangan dibuat selalu Hamba mengarang rasanya malu, sampai di sini berhenti dahulu Pendeknya Nurdin dapat sempurna, lagi perawan muda teruna Tiadalah banding barang di mana, sekalian tingkah semuanya kena
Mariam pun segera hendak berdiri, dipegang Nurdin tidak diberi Mariam lepas lalulah lari, nyatalah suda siangnya hari Nurdin lalu ngikut bersama, ke tempat mandi muda kesuma
Indahnya bukan lagi umpama, setelah suda pulang bersama....44
Bersama pulang persi yang indah, Mariam menghidangkan penganan juada Kedua sama makanya suda, kemudian Mariam lalu bermadah Ayuhai kakanda yang bijaksana, ini ikat pinggan amat sempurna Perbuatan hamba orang yang hina, tuan juallah barang di mana
Tetapi pesan hamba sekali, jikalau orang Pranja hendak membeli Jangan dijual sekali-kali, tuan tinggalkan segera kembali Nurdin menengar madah cik siti, diambil ikat pinggang diamat-amati Eloknya bukan lagi seperti, sangatlah heran di dalam hati Dibawa Nurdin ikat pinggang itu, lalu berjalan ke pasar batu Banyak saudagar ada di situ, berjual beli bukan suatu Nurdin berkata kedengan segera, tuan saudagar sekalian saudara Hendakkah membeli ikat pinggang sutera, perbuatan indah tidak terkira Tidak terkira indah rupanya, ramai saudagar hendak melihatnya Betul sekali sangat eloknya, sepuluh dinar aku membelinya Seorang berkata jangan begini, inilah ikat pinggang serani Harganya ini seratus Juni, jikalau dikasih aku berani Aku berani memili dianya, jikalau ada berapa banyaknya Nurdin menjawab dengan segeranya, hanya satu ini adanya Lalu diambil saudagar itu, uangnya dibayar juga di situ
Nurdin heran bukan suatu, pencarian besar sudahlah tentu.....45
Lalu diterima semua sekali, pergilah ke pasar ia berbeli Kemudian itu ia kembali, mendapat Mariam muda yang asli
Nurdin terpandang muda yang puata, laksana gambar tulisan peta Mariam tersenyum sambil berkata, selamat datang kekasih beta
Belian Nurdin segera disambutnya, Nurdin memberikan uang lebihnya Mariam berkata apa gunanya, bayarlah Mansur dengan segeranya
Nurdin berjalan ketika itu, bertemu Mansur di muka pintu
Melihat Nurdin datang ke situ, membayar uangnya kedengan tentu
Mansur segera ia berperi, .wahai anakku muda bestari Di mana dapat uang dicari, makanya utang tuan bayari Nurdin katakan sekalian halnya, seratus dinar pencarian istrinya Di dalam sehari boleh didapatnya, Mansur menengar heran hatinya
Jikalau begitu murah sekali, harga Mariam anaknda beri Sepuluh hari boleh kembali, tuah anakku besar sekali Setelah habis berkata-kata, Nurdin bermohon pulanglah serta Mendapatkan istri bagai dipeta, hilang segala duka dan cinta Tiadalah hamba panjangkan peri, demikian hal tiap-tiap hari Seratus dinar mudah dicari, pencarian Mariam muda bestari Terhenti dahulu perkataan itu, tersebut pula kisah suatu
Orang Pranja masanya tentu, tatkala dirampok di kapal ratu ....46
Harta dan Mariam hilang semuanya, yang mana hidup membawa
dirinya Menaik sampan didayungkannya, hingga sampai pada negerinya
Apabila sampai sekalian rata, langsung menghadap ke bawah tahta
Sekalian menangis tidak menderita, raja terkejut di dalam cinta Raja terkejut tidak terkira, serta bermada nyaring suara Apa sebab mula perkara, kamu menangis demikian cara Tunduk menyembah sekalian mereka, ampun tuanku seri paduka Patik sekalian dapat celaka, serta anaknda intan mustika Patik ini sekalian ada, orang mengiringkan paduka anaknda Anak kapal tulis perada, sampai di laut kena penggoda Kena penggoda penyamun jalang, harta dan putri sekalian hilang Mana melawan ditetak malang, patik yang lepas inilah pulang
Sekalian kata didengar baginda, murkanya sangat di dalam dada Wazir Ur dipandang baginda, anakku itu tahulah ada
Engkau kujadikan wazir dan menteri, meliharakan semua jajahan negeri Sekarang engkau bawa sendiri, hilang anakku demikian peri
Pantasnya engkau buta sebelah, tiada mengetahui benar dan salah
Hilang anakku sudah terjamalah, barangkali engkau empunya helah Jikalau betul rampok Benggali, apalah sebab kamu kembali
lawan sungguh jangan perduli, biar mati semua sekali ....47
Bukan tiada alat senjata, cungkap kekaman sekalian rata Apa sebab berlari serta, tiada lain syur si buta Si buta ini kalau kuturutkan, tentu nyawanya aku padamkan Sekarang segera engkau ikhtiarkan, anakku itu mintak adakan Mintak adakan segeralah cari, dengan selamat bawa ke mari Jikalau tiada demikian peri, kubunuh engkau tiada yang kari Jikalau anakku tiadalah nyata, kubunuh engkau hai si buta Anak istrimu kubunuh serta, kaum kerabatmu sekalian rata Wazir Ur menengar murka, pucat kuning warnanya muka Tunduk menyembah seri paduka, ampun tuanku patik durhaka Dari anaknda tentu hilangnya, atas patik yang mencari Berapa ikhtiar seboleh-bolehnya, hingga mendapat juga adanya Baginda bertitah murka suara, sekarang inilah berangkat segera Siapkan alat suatu bahtera, pergi cari segenap negara Wazir menyembah bermohon pergi, pulang ke rumah tak boleh lagi Bersiaplah kapal Andara Janggi, alat peperangan berbagi-bagi Tiadalah kami panjangkan peri, wazir berlayar keliling negeri Mencari kabar Mariam Janari, belumlah dapat juga didengari Belumlah juga kabar didapat, Wazir Ur hatinya cupat Berlayar pula lain tempat, ke Iskandariah tujunya cepat...48 Ke Iskandariah cepat tujunya, sampai di pelabuhan dengan selamatnya Wazir Uwara dengan temannya, naik ke darat berjalan dianya Berjalan dianya keliling kota, setiap lorong dijalani rata Ke sana-sini memandang mata, hendak mencari kabar berita Kabar berita hendak dicari, berjalan masuk di lorong Mansuri Mariam terpandang kepada menteri, hatinya berdengar tidak terperi Tidak terperi berdebar hatinya, tetapi Ur tiada memandangnya
Berjalan juga dengan temannya, lalu ke pasar haluan tujunya Adapun masa ketika itu, Nurdin hendak ke pasar batu Hendak menjual ikat pinggang tentu, dipegang Mariam di muka pintu Di muka pintu Mariam memegang, serta ditarikkan itu ikat pinggang
Kakanda berjalan sahaja berlenggang, ini hari jangan berdagang
Jangan berdagang tuan kiranya, tiada baik pada ketikanya Nurdin berkata apa mulanya, karena saudagar hendak membelinya Hendak membelinya saudagar kaya, suda berjanji dengan setia Ini hari dibawakan dia, kakanda mungkir tidak upaya Karena suda berjanji pasti, pukul dua setengah kakanda dapati Dekat kedai orang Surati, di situ janji kakanda menanti Pal dan ketika jangan percaya, perjalanan pahlawan talu dan jaya
Sekalian bid'ah lagi sia-sia, cuma-cuma memungkirkan setia.....49
Mariam lalu menjawab kata, sambil berlinang airnya mata Jikalau kakanda takut berdusta, ingatkan sahaja pesannya beta Jika berjalan kakanda kiranya,bertemu Pranji buta matanya Barangkali dia hendak membelinya, jangan sekali jual padanya Atau diajaknya berkata-kata, segera tinggalkan larilah serta Karena perasaan di hati beta, itulah alamat perceraian kita Pikiran adinda di dalam hati, tuanlah suami sehidup semati Dijauhkan Tuhan berlain ganti, demikian niat suda terpasti Nurdin menengar kata begitu, hati berdebar semangat tak tentu Ayuhai adinda yang nomor satu, cobalah ceritakan kabarnya itu Kabarnya ituPranji sekawan, apalah juga kepada tuan Apa tunangan emas tempawan, kabarkan juga supaya ketahuan Kakanda tidak jadi berjalan, karena adinda jadi kemasgulan Walaukan mungkir kepada taulan, barang yang tidak jadi kebetulan Mariam Zanariah lalu menjawabkan, berjanji mungkir jangan dibiasa- kan Baiklah juga kakanda dapatkan, cuma pesanan jangan dilupakan Dari pisahnya hal adinda, apabila nanti pulang kakanda
Baru diceritakan apa yang ada, karena panjang bukannya pada Hendak diceritakan waktu sekarang, jam pukul dua lebih dan kurang
Kakanda janji kepada orang, jika tak betul menjadiwerang.....50
Karena orang mungkirkan janji, berdosa serta kelakuan keji Tiada siapa hendak memuji, dihinakan orang tidak beraji Dari mendapat senang mudarat, kembalikan Tuhan empunya kudrat Karena dahulu suda tersurat, ikhtiarkan sahaja janganlah berat Berjalanlah kakanda tuan pilihan, serahkan diri kepada Tuhan Ingatkan pesan jangan bantahan, diharap selamat mudah-mudahan Setelah habis berura-ura, Nurdin lalu berjalan segera Serta membawa ikat pinggang sutera, sampai ke pasar pada kira-kira Sampai di pasar muda bestari, dihadapan kedai ia berdiri Memegang ikat pinggang amat berseri, banyaklah saudagar datang ngampiri Ada sangat kiranya waktu, berjalanlah Peranji lima sekutu Dilihatnya ramai kumpulan itu, lalulah singgah ia ke situ
Dilihatnya orang tiadalah renggang, orang kaya-kaya orang berdagang Menawar sehelai ikatnya pinggang, Peranji melihat serta dipegang Serta dipegang diamat-amati, nyata perbuatan Mariamnya gusti Nurdin terlihat berdebar hati, karena teringat pesan cik siti
Ditarikkan ikat pinggang dibawa lari, dipegang Pranji kanan dan kiri Kita ini bukan pencuri, hendak membeli datang ke mari Jawab Nurdin tidak perduli, meskipun kamu hendak membeli
Tidak dijual semua sekali, karena aku hendak kembali....51
Saudagar-saudagar melihat halnya, jadi tertawa sangat ramainya Nurdin ini sangat bodohnya, orang hendak membeli barangnya Masakan orang hendak mencuri, orang ramai tidak terperi Peranji menjawab muka berseri, berapa harganya kita tawari Nurdin bingung isykal hatinya, menjawab sebarang keluar mulutnya Jikalau Peranji hendak membelinya, seribu dinar itu harganya Peranji itu berseri muka, sekesil tuan sekalian mereka
Tuan-tuan saudagar sekian semua, berjalanlah juga bercengkerama Tuan saudagar jadi saksinya, karena yang punya sangat takutnya Apabila suda diterima uangnya, supaya senang di dalam hatinya Rumah kita dekat disitu, di sebelah belakang pasarnya batu Baharu di sewa sekarang waktu, betul dihadapan tukang cerutu Sekalian saudagar lalu berkata, baiklah juga perginya kita Nurdin ini akalnya buta, takut hilang dia punya harta Adapun Nurdin muda bestari, bingung dan isykal hati sendiri Tambahan teringat pesan istri, sekarang jadi demikian peri Berjalanlah Peranji jadi kepala, serta sekalian saudagar segala Nurdin sebagai orang yang gila, melengong-lengong menggeleng kepala...52 Berjalan tiada antara lama, ke rumah Peranji sampailah semua Diajak masuk serta diterima, Nurdin masuk sekalian bersama Di atas kursi dudukkan serta, sekalian suda diatur rata PeranjiUr sebelah buta, di dalam hati bersuka cinta Ia pikir di dalam hatinya, Mariam tu hampir ada kabarnya Karena nyata perbuatannya, orang muda ini tentu mengetahuinya Baik kubikin ikhtiar yang halus, supaya maksud mendapat lulus Dibantu dengan rial dan pulus, tentu saudagar sekalian tulus Sekalian -tulus iklas padaku, sebarang kehendak baru berlaku Orang muda ini tentu mengaku, akhirnya Mariam di dalam tanganku Setelah habis pikir si buta, lalu berangkat mengambil harta Seribu dinar dibilangkan nyata, kepada Nurdin diberikan serta Diterima oleh muda bestari, serta berangkat bermohon diri Oleh Peranji tiada diberi, dimintak sampai malamnya hari Tuan saudagar juga sekaliannya, diharap duduk sedikit masanya Hendak dijamu apa adanya, supaya jadi kenal selamanya Selamanya supaya jadi kenalan, menjadi sahabat andai dan taulan Sahaya nian dagang mandari Silan, hendak mencari teman berjalan Sekalian saudagar menengarkan bahasa, masing-masing suka termasa
Hanya Nurdin tiada sentosa, duduklah juga oleh terpaksa....53
Di dalam saudagar sekalian itu, saudagar Surati ada di situ Saudagar Hindustan yang nomor satu, musuh Nurdin suda tertentu Karena waktu Mariam dibelinya, sekalian saudagargila hatinya Mariam tiada mauk padanya, akhir Nurdin yang mendapatnya Tiadalah saya panjangkan warta, hari malam sudalah nyata Peranji memasang dian pelita, kursi meja diatur rata Menteri Ur yang kurang sifat, merintah kepada teman keempat Pergi ke pasar segeralah cepat, beli makanan lontong ketupat Lontong ketupat mentega roti, daging kambing sepuluh kati Masak pelikat atau surati, ayam panggang burung merpati Panggang merpati panggangan punai, nasi balu nasi beriyani Anggur puti serta sempani, buah-buahan lebihnya ini Soda water air Belanda, separuhnya beli limunada Bir itam bir cap kuda, bir cap kunci jangan tiada Serta sepuluh pun air batu, halua manisan sertanya itu Belikan satu peti cerutu, buatan Manila yang nomor satu Habis pesan Peranji handalan, keempat lalu segera berjalan Tambahan terang cahayanya bulan, pelesir betul ini kumpulan Ada satu jam lebih dan kurang, kembali Peranji keempat orang Membawa makanan tiadalah kurang, diatur di meja yang amat te-
rang.....54
Maklum membaca maklumlah tuan, orang putih punya jamuan Sekarang masa nyata ketahuan, putih bersi piring dan cawan Apalagi serbet seprahnya, bersi sekali amat indahnya Makanan diatur cukup sekaliannya, Pranja menyilakan saudagar semuanya Kepada Nurdin sangat dihormati, karena padanya tanda cik siti Masing-masing makan berganti-ganti, kemudian kenyang lalu ber- henti Buah-buahan pula dikeluarkan, Nurdin saudagar serta silakan
Masing-masing sudalah makan, gelas minuman lalu diaturkan Pranja menuang berendi soda, es dicampur air belanda Disilakan minum apa yang ada, jamuan tidak berapa inda Saudagar di situ memangnya royal, pesta minuman sangatlah hayal Tambahan tiada keluar rial, tiada teringat pekerjaan sial Nurdin itu memang biasa, budak tiada tahukan dosa Sekalian pun minum dengan sentosa, sulang menyulang tidak berasa Pranji sebagai menuang berendi, sekaliannya mabuk bertambah jadi Saudagar Surati saudagar Hindi, lantas bernyanyi cara komedi Komedi Stambul komedi bangsawan, dahulu tiada itu kelakuan Di syair ini diadakan kawan, salah betulnya tiada ketahuan Demikian perkataan saudagar Surati, hambalah yang bernama Indra Jati
Raja api yang amat sakti, menaklukkan jin beribu keti....55
Saudagar Hindi bernyanyi pula, ubah laku cara Benggala Hambalah raja naga bercula, di dalam laut takluk segala Ha ha ha kata Pranji, tuan bermain saya memuji Saudagar lain pula berjanji, tanding kuat putar jeriji Nurdin tertawa terlalu suka, merah padam warnanya muka Sekalian suda mabuk belaka, bermacam-main gurau jenaka Setelah malam jauhnya hari, Pranji Ur lalu berperi Tuan-tuan sekalian orang bestari, hamba bertanya tuan dengari Saudagar dan Nurdin menyahut kata, pertanyaan tuan keluarkan serta Jangan malu tuan nian nyata, karena menjadi saudara kita Peranji menengar sangat sukanya, ikat pinggang dikeluarkannya Ini ikat siapa membuatnya, sulaman ini sangat indahnya Lalu menyahut saudagar Hindustan, istri Nurdin punya buatan Namanya Mariam seperti setan, perempuan begitu tiada berkatan Tiada berkatnya dipiara lama, pilnya jahat tidak bersama Mariam Nurdin bersalahan nama, dibuang sembilan tinggalnya lima Tinggal lima tentulah jahat, di dalam ramalnya suda dilihat
Akhirnya sakit tiadalah sehat, mati dibunuh pada hari Ahad Berapa lama hendak ingatkan, pada Nurdin hendak dikatakan
Perempuan itu segera buangkan, akhirnya mudarat didapatkan.....56
Tetapi kami takut bicara, kalau menjadi malu dan cidera Sekarang suda jadi saudara, baik dikatakan kedengan segera Pranji menengar kata begitu, sangat sukanya bukan suatu Jikalau tak baik pilnya itu, baik jualkan supaya tentu Nurdin suda menengar kata, pikiran mabuk di dalam cinta Barangkali benar ini cerita, akhirnya aku mendapat lata Nurdin berkata dengan segeranya, Mariam itu mahal harganya Seribu dinar hamba membelinya, lagi tiada ada gantinya Bagaimana hamba hendak jualkan, pencariannya besar hamba dapatkan Seratus dinar boleh ditentukan, di mana boleh hendak dijanjikan Pranji menengar itu bicara, terlalu suka di dalam kira-kira Hamba tolong pada saudara, sepuluh ribu dinar dibeli segera Lalu berkata saudagar Surati, Nurdin jangan lagi bernanti Segeralah jual Mariam siti, akulah jamin memberi ganti Jikalau Mariam dijual tentu, Nurdin hamba ambil menantu Anak hamba lebih daripada itu, rupa kepandaian nomornya satu Saudagar Hindustan berkatasama, Nurdin jangan beranti lama Engkau nian bodoh bukan umpama, sepuluh ribu bolehlah terima Sepuluh ribu dinar jangan tak inda, menjadi saudagar engkau nian suda
Buka kedai cari faeda, permpuan cantik dicari muda ......57
Karena Peranji ia berkata, hendak menolong kepada kita Mariam tu jahat pilnya nyata, engkau digantinya kedengan harta Lagi untungnya banyak sekali, seribu asal engkau membeli Lipat ganda sepuluh kali, segera jualkan jangan bertali Nurdin berpikir di dalam hati, baik kujualkan ini cik siti Harganya banyak aku dapati, apa gunanya aku bernanti Setelah habis pikir seorang, lalu berkata kedengan terang
Mariam itu kujual sekarang, sepuluh ribu tiadalah kurang Peranji berdiri memegang tangannya, sepuluh ribu hamba membeli- nya Sekarang bikin surat jualnya, uangnya besok terima semuanya Setelah habis sekalian bicara, membuatlah surat kedengan segera Saksi sekalian saudagar jura, hari pun siang hampir ketara Setelah habis sekalian peri, teken meneken tiada yang kari Masing-masing lalu bermohon diri, Pranja nian suka tidak terperi Terhenti dahulu perkatan itu, hamba sebutkan kisah suatu SepeninggalNurdin berjalan tentu, Mariam duduk di muka pintu Karena tidak senangnya hati, Nurdin juga dinanti-nanti Hingga malam nyatalah pasti, keluh kesah Mariam siti
Malam nian suda keluar bintang, Nurdin ditunggu tiadalah datang
Mariam menangis rebah terguntang, kemudian bangun pulah menen-
tang....58
Menentang pintu Mariam selalu, hingga hari nyatalah dalu Di dalam hatinya sangatlah pilu, lalu menangis merebahkan hulu Merebahkan hulu berbangkit pula, lantas membuka tingkap jendela Sambil menangis muda terala, laku seperti orang yang gila Semalam-malaman demikian lakunya, berangkat duduk dengan tangis- nya Menunggu Nurdin tiada datangnya, hingga siang nyata terangnya Terhenti perkataan Mariam pertilang, tersebut Nurdin berjalan pulang Mabuknya suda merasa hilang, baharu terpikir pekerjaan malang Pekerjaan malang menjual istri, lantas menyesal tidak terperi Menangis konon Nurdin jauhari, hingga sampai ke rumah sendiri
Ke rumah sendiri sampailah sudah, terpandang muka Mariam yang indah Mariam menangis memberi gundah, sesal Nurdin tidak faedah Marian memandang muka suaminya, berlinang-linang air matanya. Diketahui suda perceraiannya, Mariam pun segera mencium kakinya Sambil berkata tersegan-segan, apakah adinda suda dijualkan
Berapa harganya tuan terimakan, sampainya abdi tuan buatkan
Nurdin menengar kata begitu, hancurnya hati suda tertentu Laksana kacah terhempas di batu, lalu menangis sama di situ Lalu berkata dengan tangisnya, hamba ditipu orang semuanya
Diberi minum sangat mabuknya, adinda disuruh jual padanya.....59
Sekalian saudagar jadi penggoda, disuruh jual pada kakanda Tatkala hilang akal yang ada, lantas terlafaz menjual adinda
Bukannya maksud di dalam hati, hendak menjual adikku gusti Mesra dan kasi bukan seperti, tuanlah teman kakanda mati Meski dibeli berapa banyaknya, adinda tidak ada harganya Jikalau terjadi jua kiranya, matilah kakanda demikian adanya Betul jual suda terkata, tetapi uangnya belum beserta Kakanda semalam ditipu rata, kakanda mesti balik cerita
Mariam menengar kata yang ada, hilang arwah di dalam dada Alangkan sampai hati kakanda, rupanya benci pada adinda Pikir adinda di dalam hati, kakandalah menjadi tuan dan gusti Biarlah sampai jiwa nian mati, tiadalah niat berlain ganti Sambil menangis Mariam berkata, basahlah baju dengan air mata Tinggal tuan tinggal cinta, sekali ini bercerailah kita Adinda nian tuan jangan diingati, segera tuan mencari ganti Adinda ini tentulah mati, karena hancur di dalam hati
Tengah bertangisan ia keduanya, Peranji nian datang dengan teman- nya Membawa uang serta dipikulnya, beberapa saudagar mengiringkan- nya Apabila sampai Peranji menteri, mengangkat sembah sepuluh jari
Daulat tuanku seri negeri, setahun suda patik mencari....60
Baharu kemarin bertemu bungasnya, patik tuntut hingga akhirnya Rupanya di .sini tuanku adanya, marilah pulang dengan segeranya Dengan segeranya kita dapati, ayahanda bunda bersusah hati Tuanku juga dinanti-nanti, baiklah segera tuanku gusti
Tuanku gusti yang amat jerni, tiada lagi sangkutan di sini Lepas milik orang punya bini, patik tebus sekarang ini Sepuluh ribu suda dijanjikan, surat keterangan pátik terimakan Sekarang uangnya hendak diserahkan, sekalian saudagar yang men- yaksikan Apabila Mariam melihat menteri, sangatlah panas hati sendiri Dengan marah Mariam berperi, pergilah engkau pulang ke negeri Berkenakannya aku hamba si buta, ditebus pula kedengan harta Janganlah engkau berbanyak kata, aku tak mau pulang bertahta Inilah sehabis jahatnya menteri, orang menyamun dia berlari Sekarang datang pulah mencari, pergilah jauh jangan ke mari Peranji menengar kata tuannya, sangat panas di dalam hatinya Ia berbisik dengan temannya, baiklah kita paksa padanya Baiklah juga kedengan paksa, tidakkan boleh jalan sentosa Karena dia berlain rasa, bercerai Nurdin tidak kuasa Kepada Nurdin Peranji berkata, terimalah uang yang ada serta
Menurut perjanjian surat yang nyata, Mariam itu miliknya kita.....61
Dengan segera Nurdin jawabkan, Mariam tidak aku jualkan Semalam aku kamu tipukan, uangnya tak mauk aku terimakan Peranji berkata kasar lakunya, merontak dengan keras suaranya Surat ini siapa yang punya, sekalian saudagar ini saksinya Mansur terdengar gemparnya itu, segeralah keluar di muka pintu Dilihatnya Peranji banyak di situ, lalu bertanya kedengan tentu Apa sebab apa karena, apa pasal menjadi bahana Siapa musuh ada di mana, ceritakan dahulu supaya sempurna
Supaya sempurna tiada berebut, tidaklah kadah berkalang kabut Umpama rebung kedengan umbut, masak dahulu barulah lembut Peranji menengar perkataan Mansur, bertambah kasar madah dan tutur Hoperdum lu jangan campur, biar sampai menjadi gempur
Mansur menengar marahlah pula, hatinya bagai api bernyala Di dalam rumahku kamu segala, aku tak suka membuat bahala
Membuat bahala di dalam rumahku, sungar dan bengis tingkanya laku Tidak sekali membilang aku, lekas hundur nanti kupaku Lalu menyahut saudagar Hindustan, Mansur jangan memberi keberat- an Karena di sini ada sangkutan, jikalau tidak pakai persiatan Mansur salah memberi peribasa, rebung dan umbut makanan desa
Hati Peranji suda merasa, sangkanya mengaji dia punya bangsa....62
Peranji pula kami sebutkan, tangan Mariam segera ditarikkan Mariam menangis tidak terperikan, pinggang Nurdin ia gantungkan
Mariam berkata terlalu murka, kepada Ur dipandang muka Pantas lakumu menteri celaka, kepada aku membuat durhaka Mariam sambil berkata-kata, ke kanan ke kiri memandang mata Niatnya hendak mencari senjata, tidak nampak ada melata
Peranji yang lain melihat halnya, diketahui Mariam sangat gagahnya Masing-masing berkata baik segeranya, jikalau lambat lain jadinya Peranji Ur serta segala, Mariam lalu segera dihela Mariam menangis sebagai gila, serta Nurdin demikian pula
Segera datang saudagar Surati, karena masi berdendam hati Nurdin dipukulnya dengan cemeti, rebahlah pingsan selaku mati Memegang Mariam orang berempat, dua memegang Nurdin yang lim- pat
Tidak terpisa bertambah rapat, Ur pun marah segera melompat
Segera melompat mengambil cemeti, ditarikkan dari saudagar Surati Lalu dipukul Mariam siti, merasalah sakit tuanku gusti
Mariam menangis meratap serta, berhamburan dengan airnya mata Sampainya hati membuat beta, baik bunuh dengan senjata Ya Illahi Tuhan Subhani, apalah dosa hambamu ini Engkau yang murah amat mengasihani, ambillah nyawa hamba di si-
ni....63
Ya Illahi Tuhan Yang Baka, matikan hamba ini ketika Cukuplah suda hamba yang duka, jangan jatuh di tangan celaka
Nurdin suda sadar dirinya, dilihat Peranji memukul istrinya Habis darah seluruh badannya, Mariam pun pingsan hilang napasnya Nurdin melihat hal begitu, pingsan pulah ketika itu Peranji melihat halnya tentu, Mariam pun diangkat mandari situ Peranji mengusung Mariam yang puata, lalu berjalan sekalian rata Ke tepi laut sampailah nyata, naik sekoci berdayung serta Tersebut Mansur orang jauhari, melihat Nurdin tak sadar diri Diambil air lalu dicucuri, Nurdin ingat mencari istri Mansur berkata terlalu kena, ayuhai anaknda muda teruna Mariam suda hilangnya musna, dibawa Peranji entah ke mana Nurdin tiada lagi berkata, hingga bercucur airnya mata Lalu segera berjalan serta, ke tepi laut dipandang nyata Dipandang nyata sekoci bertandah, sampai di kapal berlayar sudah Tinggal Nurdin berhati gundah, menangis tidak lagi faedah Saudagar Hindustan saudagar Surati, pada Nurdin datang mendekati Serta berkata menyakitkan hati, berlayar ke mana itu cik siti Itu cik siti tentulah hilang, ibarat ayam disambar helang
Baiklah engkau kembali pulang, apalah guna hidup meralang.....64
Hidup meralang apalah guna, istri cantik hilanglah musna Rupa begitu dapat di mana, baiklah segera nyawa nian fana Baiklah fana membunuh diri, tak guna hidup demikian peri Menanggung gundah sehari-hari, istri elok terkena curi Terkena curi tidak disangka, terlalu sangat bersuka-suka Daripada hidup menanggung duka, baiklah pulang ke negeri yang baka Negeri yang baka negeri akhirat, tidak panjang lagi melarat Demikian nasibmu suda tersurat, tidak sampai sebagai hasrat Hasrat tak sampai senantiasa, baiklah makan racun yang bisa Supaya segera mati terpasa, habis upíur senang sentosa
Nurdin menengar kata saudagar, di dalam hati sangat berdegar Kuping berdenging badan pun segar, berangkat lalu ia melanggar
59
Melanggar menambuk saudagar Hindustan, saudagar Surati suda
ketakutan Nurdin bagai harimau jantan, mukanya mera serta geregetan Saudagar Hindustan kena tempiling, sampai monyar tujuh keliling Kemudian jatuh lalu terguling, Nurdin segera ia berpaling Berpaling pada saudagar Surati, sambil mengunus pisau belati Ditikamnya kena di hulu hati, mencarlah dara tidak berhenti Tidak berhenti bertambah-tambah, saudagar Surati jatuhlah rebah
Mukanya pucat suda berubah, Nurdin melihat hatinya gulabah.....65
Hatinya gulabah datang takutnya, kalau dibunuh orang dianya Karena saudagar banyak kaumnya, terlalu susah rasanya hatinya Nurdin lalu larilah segera, menyusur pantai tepi segara Berjalan cepat tersara-sara, takut kalau mendapat cidera Berjalan tiada berselang waktu, sampailah ia di tempat suatu Dilihatnya banyak orang di situ, hendak belayar ketika itu Nurdin segera datang ngampiri, kepada seorang bertanya peri Hendak ke mana tua-tua jahari, naik sampan begini hari Seorang menjawab dengan ketetapan, hendak belayar pada harapan Jikalau tuan ada untapan, marilah segera turun ke sampan Nurdin menyahut kedengan segera, hendak belayar bagaimana cara Suatu bekal tidak ketara, akhirnya membikin susah saudara Juragannya berkata dengan umpama, jikalau betul hendak bersama Jadi khadamku aku terima, marilah turun janganlah lama Janganlah lama berpikir lagi, kami nian lambat menjadi rugi Karena hendak segeralah pergi, mengambil saat waktunya pagi Tidak berkata itam dan putih, Nurdin pun turun mandari penitih Naiklah sampan bertali rantih, duduklah Nurdin badan nan letih Sampan didayung dengan segeranya, berika budam yang ditujunya
Setelah sampai naik semuanya, kapal pun bongkar akan saunya....66
Saunya naik suda tersangkang, datanglah angin dari belakang Kapal belayar berlintang pukang, kelasinya repot terjangkang-jangkang
60 Terjangkang-jangkang ke hilir ke hulu, karena juragannya kemandir
selalu Mengurut kumis memintir bulu, sambil berteriak bertalu-talu
Perkataan belayar dahulu berhenti, disebutkan hal saudagar Surati Terhantar ia seperti mati, banyak orang pada mendekati
Saudagar Hindustan dengan segeranya, memberi tauk sanak saudar- nya Kaum Surati datang semuanya, saudagarnya tidak kabarkan dirinya Kaum Surati ramai berkata, apa mulanya menjadi lata Saudagar Hindustan memberi nyata, ditikam Nurdin sekejap mata Sekejap mata ia pun lari, barangkali pulang ke rumah sendiri Kaum Surati segera mengkari, dengan senjata berperi-peri
Kaum Surati itu setengahnya, membawa saudagar pulang ke rumahnya Yang pergi itu sangat ramainya, ke rumah Mansur yang ditujunya Mansur melihat hal begitu, orang banyak bukan suatu Ada membawa kayu dan batu, Mansur pun segera menutup pintu Bertanya dari tingkap jendela, apalah hal kamu segala Orang Surati menyahut pula, Nurdin itu kami mauk hela Karena melukakan saudagar Surati, entahkan hidup entahkan mati Nurdin itu hendak dilihati, segera keluarkan kedengan mesti...67 Jikalau tidak engkau keluarkan, rumah engkau kami rejamkan Karena Nurdin hendak dibalaskan, Mansur menengar heran terpekan Heran terapkan seraya berkata, Nurdin tidak di rumah beta Tadi keluar sekalian rata, saudagar Suratilah temannya nyata Ada seorang namanya Suut, dengan segera ia menyaut Nurdin tadi tergaut-gaut, ia berjalan di tepi laut Orang Surati segera tak lena, berjalan menuju di pantai sana Mencari Nurdin sudalah musna, hilang gaib entah ke mana Terhenti dahulu ini cerita, tersebutlah pula suatu kata Bunda Nurdin duduk bercinta, berendam dengan airnya mata Tatkala Nurdin keluar keluar rumahnya, hari siang dengan nyatanya Saudagar Tajuddin ia bertanya, anak Nurdin ke mana perginya
Istrinya segera menjawab peri, entah ke mana ia nian lari Tatkala masih malamnya hari, ia keluar mandari puri Saudagar Tajuddin menengar begitu, sangat terkejut bukan suatu Ke mana gerangan perginya itu, jangan pula tiada bertentu Tiada bertentu ke timur ke barat, akhirnya kelak dapat melarat Apa sebabnya ia mengirat, adinda kabarkan janganlah berat Karena semalam kakanda berkata, hendak dihukum dipukul serta
Supaya jangan lagi dicinta, jangan dibuatnya kerja yang lata....68
Kemudian hendak disuruh bertobat, kerjah yang jahat jangan tertam- bat Anak-anak saudagar hadiral ibat, tak mauk dikasi dibuat sahabat Apalah sebab ia nian lari, di manakah tauk hal dan peri Tentu adinda yang mekabari, barangkali dia keluar negeri Istri menengar kata suaminya, datanglah sesal di dalam hatinya Lalu berkata dengan sebenarnya, adinda memberi tauk padanya Karena di dalam pikir adinda, tentu betul cakap kakanda Barangkali dibunuh Nurdin anaknda, di dalam hati sangatlah beda Di hati adinda sangatlah ngeri, lantas adinda suruh lari Pergi berlayar di lain negeri, seribu dinar adinda beri Tetapi suda dijanjikan nyata, sepuluh bulan kembali serta Pikir adinda ada dalam cinta, Nurdin tentu menurut kata Saudagar menengar kata istrinya, terkejut besar di dalam hatinya Berebang-rebang air matanya, terkenang kasihan akan putranya Karena dia betullah salah, tetapi orang membuat ulah Umurnya belum sempurna jumlah, ke mana gerangan ia berlelah Saudagar diam tiada berkata, sekedar berlinang airnya mata Di dalam hati sangat bercinta, wajah Nurdin seperti nyata Istrinya melihat hal suaminya, lalu menangis pilu hatinya Saudagar pun berangkat masuk peraduannya, serta berbaring seorang dirinya...69.
Istri saudagar dengan segeranya, menyuruh kepada hamba sahayanya Sepuluh orang di dalam kabarnya, mencari Nurdin di mana tempatnya
Di mana tempat disuruh cari, sekalian berjalan keliling negeri Tiada berjumpa muda bestari, hingga sampai malamnya hari Sekalian pulang memberi kabar, tiada berjumpa muda muktabar Saudagar Taju hati berdebar, sambil mengucap Allahu Akbar Demikianlah hal setiap hari, sekalian hambanya disuruh mencari Saudagar Taju laki istri, duduk bercinta tidak terperi Kedainya tidak lagi dibuka, karena hati terlalu duka Kepada Nurdin pikir berika, duduk di rumah setiap ketika Tiada berjalan ke mana-mana, duduk bercinta di dalam istana Dua puluh bulan sudalah musna, Nurdin tidak nampaknya warna Bertambah bercinta saudagar bestari, kurus kering dua laki istri Ada kepada suatu hari, saudagar Taju lalu berperi Kepada istri ia berkata, dua puluh bulan sudalah nyata Nurdin tidak pulang bertahta, kita bertambah menaruh cinta Asalnya kita tidak berputra, berniat bergaul setiap negara Kemudian dapat muda perwira, sekarang suda hilang ketara Sudahlah takhsis Rabbul Azati, tidak sampai masuk di hati
Jikalau demikian hal pekerti, percintaan kita sampailah mati....70
Di dalam pikiran suda terjali, anaknda Nurdin tiadakan kembali Baik dijualkan kampung sekali, suatu kapal kita membeli Apa yang ada segala harta, di dalam kapal dimuatkan serta Hamba dan sahaya sekalian rata, kita berlayar setiap kota Setiap kota kita layari, di mana ada desa dan negeri Kepada Nurdin kita mencari, barangkali bertemu muda bestari Jikalau negeri keliling suda, tiada juga memberi faeda Kita carilah negeri yang inda, di sana boleh kita berpinda Istri saudagar menyahut kata, sambil menyapu airnya mata Mana-mana pikiran di dalam cinta, adinda ini menurut serta Setelah habis berura-ura, saudagar Taju berjalan segera Kepada seorang kaya ketara, di sana saudagar duduk bicara Duduk bicara menjual rumahnya, kampung halaman sekaliannya Orang kaya itu suka membelinya, harga yang patut diputuskannya
63 Diputuskannya semua sekali, satu miliun lebih setali
Kemudian ia mohon kembali, suatu kapal hendak dibeli Saudagar berjalan di gedung suatu, tempat perniagaan konon di situ Jual beli kapal setiap waktu, saudagar masuk ketika itu Ketika itu masuk saudagar, kemudian lantas mendapat kabar
Suatu kapal amatlah besar, hendak dijual harganya kasar.....71
Kapal nian baru dari galangan, besar sungguh tiada kepalangan Tiada yang beli betapa gerangan, barangkali takut modal kekurangan Saudagar Taju jadi membelinya, delapan puluh ribu tetap harganya Kemudian saudagar pergi memeriksanya, di tepi laut tempat belabuh- nya Tiadalah hamba panjangkan peri, di dalam perniagaan saudagar jauhari Demikian hal beberapa hari, mustaib suda tiada yang kari Saudagar menurunkan sekalian harta, tiada tinggal suátu nukta Laki istri turunlah serta, hamba sahaya mengiring rata Setelah sampai saudagar pilian, ke dalam kapal beramai-ramaian Sanak saudar mengikut sekalian, hamba dan sahaya berapa koyan Kapal nian suda cukup segala, mualim seteriman serta panjeruala Alat bekalan beberapa pula, suatu tidak ada yang cela Tidak yang cela semua alatan, sau dibongkar tidak keberatan Datanglah angin dari selatan, kapal pun tuju tengah lautan Pelayaran tidak disebutkan peri, sahajalah singga setiap negeri Dengan berniaga saudagar jauhari, serta Nurdin juga dicari Setiap negeri saudagar bertanya, seorang tidak tahu rupanya Saudagar berlayar berapa lamanya, kemudian ke Iskandariah pula tujunya Ke Iskandariah tujunya pasti di dalam pelabuhan kapal berhenti Banyaklah saudagar turun mendapati, hendak membeli barang yang
mesti.....72
Barang yang mesti jadi dagangan, berebut turun tiada berkurangan Mansur pun sama di situ gerangan, mengikut saudagar iring-iringan Iring-iringan menaik sampan, berdayung segera orang delapan
Sampai di kapal dengan ketetapan, saudagar Taju tertib dan sopan Tertib sopan segala kelakuan, disilakan naik sekalian tuan-tuan Saudagar pun naik berkawan-kawan, duduk beratur di kursi berawan Saudagar negeri bertanya nyata, apa dagangan dibawak serta Diharap dijual kepada kita, hendak diborong sekalian rata Karena di dalam kita sekalian, ada lima saudagar pilian Kaya besar harta berkoyan, selam begitu suda kejadian
Suda kejadian kapal yang datang, diambil semuanya dagangan yang
terbentang Harganya tunai tidak berutang, jikalau tidak tentu terguntang Terguntang tidak ada yang terima, demikian adat selama-lama Saudagar di sini mufakat semua, kepalanya inilah saudagar berlima Saudagar Taju tersenyum dianya, bermadah sambil ia bertanya Saudagar yang lima siapa namanya, supaya hamba kenal padanya Madah segera Mansur sahuti, seorang itu saudagar Surati Abdul Muluk namanya pasti, uangnya ada tengah dua kati Satunya itu saudagar Hindustan, namanya Piliadi Mustan
Uangnya banyak bukan buatan, lima ratus ribu yang ada kontan....73
Saudagar Maghribi yang ada satu, kepala kafilah ialah tentu Abdul Razak namanya itu, kaya besar tiada sekutu Satu saudagar di ini negeri, nama Zainuddin bijak bestari Uangnya banyak tidak terperi, duduk berniaga setiap hari Yang satu itu matanya juling, hitam seperti burung perling Ialah saudagar mandari Keling, kaya besar mashur keliling Mansur berkata sambil memandang, hamba ini orang mengadang Menjadi dilalu terkadang-kadang, mengikut saudagar menjadi kon- dang Saudagar Taju menengarkan peri, tersenyum berkata saudagar jauhari Dagangan hamba dibawa ke mari, hanya sedikit intan baiduri Jikalau tuan-tuan hendak membelinya, serta boleh diambil semuanya Hamba lebih lagi sukanya, asal patut dengan harganya
Saudagar Taju buka suara, menyuruh ambil kepada Busra
Peti conto intan muntiara, bawa ke mari kedengan segera Busra berjalan pantas lakunya, peti conto suda dibawanya Di atas meja diletakkannya, saudagar Taju lalu membukanya Membukanya segera diberi nyata, berapa berlian intan permata Zamrud mera jangan dikata, kecil besar adalah serta Berapa mutiara suda terkarang, yang belum pernah dilihat orang Pakaian raja-raja nyata tak kurang, ditunjukkan saudagar kedengan
terang....74
Saudagar Taju seraya berkata, lihatlah tuan-tuan itu permata Sekaliannya conto diberi nyata, lainnya banyak kepada kita Kalung mutiara intan bertali, harganya suda tentu sekali Raja Mesir suda membeli, lima ratus ribu suda ternilai
Adapun kalung ini mutiya, sepuluh kalung yang ada sedia Intan besar-besar amat bercahaya, pakaian anak orang kaya-kaya Sekalian saudagar heranlah hati, tambahan pula saudagar Surati Melihatkan banyak isinya peti, sekaliannya itu contolah pasti Contonya pasti demikian adanya, berapa pula banyak barangnya Sekalian saudagar sangat herannya, berpandang-pandangan sama sendirinya Sama sendirinya di dalam pikiran, sekali ini dapat kupiran Saudagar Mesir punya kebesaran, jadi termangu hilang angkaran Mansur berpikir nyat begitu, melihat conto demikian itu Harta saudagar sekaliannya tentu, habis dibelikan conto suatu Perkataan besar suda dahulu, sekarng tentu mendapat malu Hendak berkata rasanya kelu, saudagar Mesir kaya terlalu Saudagar Keling menggoyang kepala, berkata sambil berbalik sila Dagangan tuan indah segala, sedikit tidak nampaknya cela Jikalau hamba ambil seorang, berapa banyak pun tentulah kurang
Tetapi apa boleh buat sekarang, saya berniaga lainnya barang.....75
Coba ada batiknya Jawa, berapa banyak boleh dibawa
Sepuluh kapal pun diambil semua, tidakkan ada boleh kecewa Dahulu saya banyak berani, dagang permata macam begini Contonya sahaja lima kali ini, tetapi bukan saya di sini Tatkala saya masih di Madras, berdagang intan berdagang beras Di sana lakunya banyaklah keras, menulis buku sehari sepuluh kuras Mansur menengar Keling berkelakar, membalik lida tiadalah sukar Halnya di Madras bercotok bercakar, di rumahnya tidak sehelai tikar Saudagar Taju arif jauhari, suda diketahui hal dan peri Keling pandai berlepas diri, tidak susah dia mencari Kemudian Tajuddin ia berkata, tuan saudagar sekalian rata Adakah maksud di dalam cinta, membeli sekalian intan permata Lalu menyahut saudagar Surati, ada juga maksud di hati Tetapi tidak semuanya pasti, karena tak laku akhirnya nanti Tajuddin berkata hamba tak gusar, negeri ini bukannya besar Buakn seperti di negeri Mesir, macam ini dijual di pasar Iskandariah bukan layaknya, hendak memborong permata semuanya Karena di sini lambat lakunya, hamba nian tahu juga kabarnya Jikalau tuan hendak membeli, tak usah memborong semua sekali
Ala kadar mampu ternilai, jangan berkata membuta tuli.....76
Sekalian saudagar menengar begitu, malunya bukan lagi suatu Hati mendongkol seperti batu, lalulah turun ketika itu Ketika itu turun mengirat, naik sampan berdayung ke darat Mansur seorang hatinya berat, tinggal di kapal duduk berkarat Karena pikirnya di dalam cinta, kepada Tajuddin hendak berkata Jikalau dia percaya serta, menumpang membawa satu dua permata Akan Tajuddin saudagar asli, dilihatnya Mansur tidak kembali Sambil berkata hatinya geli, saudagar di sini sombong sekali Mansur berkata suka kelakuan, betul sekali balasan tuan Malu sekalian berkawan-kawan, masing-masing tentu menanggung rawan Tambahan itu saudagar Surati, terlalu jahat laku pekerti
Itu hari hampirlah mati, kena tikam pisau belati
Saudagar Taju suka menengarnya, kepada Mansur mintak ceritanya Siapa gerangan yang menikamnya, apa sebab mula karenanya Mansur bercitra laku bersenda, dahulu datang seorang muda Dari Mesir kabarnya ada, di rumah hamba tinggal tersenda Nurdin namanya pasti, ialah bermusuh saudagar Surati Asal membeli Mariam siti, diçeritakan Mansur tidak berhenti
Tidak berhenti dari awalnya, hingga sampai pada akhirnya Sampai·Nurdin melenyapkan dirinya, ke mana gerangan akan
perginya....77
Selalu hamba keliling negeri, akan Nurdin hendak dicari Hati nian sayang tidak terperi, rasa seperti anak sendiri Capek hamba berjumpa tiada, lalu bertemu seorang muda Ditanyakan ia kabarnya ada, berlayar mengikut suatu nakhoda Mengikut nakhoda menjadi khadamnya, hamba menengar sangat ka- sihannya Dua hari menangisi dianya, hingga sekarang tiada lupanya Laki istri hamba bercinta, jika teringat cucur air mata Perbuatan saudagar sekalian rata, baercerai Mariam Nurdin serta Apabila didengar Taju jahari, nyata Nurdin anak sendiri Arwah melayang akal berlari, gelap penglihatan tidak terperi Oleh sebab kasihan hati, tambahan disusahkan saudagar Surati Saudagar Taju pingsanlah pasti, rebah terjatuh seperti mati Khadam-khadamnya terkejut bukan buatan, ramai menangis berjerit- an Saudagar pingsan hilang ingatan, Mansur melihat jadi ketakutan Dengan segera lalu dicucuri, dengan air mawar air kasturi Saudagar bangun sadarkan diri, memeluk Mansur tidak terperi
Memeluk menangis seraya berkata, ke mana gerangan anaknya kita Berapa negeri dikelilingi rata, mencari dia tidaklah nyata Baharu sekarang ada kabarnya, sangat melarat konon dianya
Syukurlah tuan memeliharakannya, kasih besar hamba me- nanggungnya...78 Mansur berpikir di dalam hati, kemudian baharu ia mengerti Akan Nurdin muda yang jati, anak Tajuddin saudagar pasti Lantas segera Mansur bertanya, akan Nurdin apa mulanya Maka berlayar demikian halnya, dicitrakan Tajuddin dari mulanya Mansur baharu mendapat terang, Nurdin tu bukan sebarang orang Anak saudagar harta tak kurang, kemanalah gerangan ia sekarng Akan saudagar Tajuddin jauhari, Mansur pulang belum diberi Tajuddin masuk di kamar sendiri, ia berjumpa pada istri Pada istri dikabarkan sekalian, akan Nurdin punya bagian Istrinya tengah dihadap kedian, lalu menangis beramai-ramian Saudagar suda berura-ura, keluarlah ia kedengan segera Kepada Mansur duduk bicara, bercakap hal bagai perkara Tengah bercakap kedua di sana, keluarlah makanan berbagai warna Saudagar Taju yang bijaksana, menyilakan Mansur tiadalah lena Makanlah konon kedua mereka, hatinya Mansur sangatlah suka Karena baiknya suda terbuka, kepada saudagar yang sangat duka Jikalau aku membawa barangnya, mudah-mudahan diberikannya Hajat hendak mencari untungnya, demikian pikir di dalam hatinya Makan dan minum habislah suda, Mansur pun mengeluarkan mada Hendak membawa batu yang inda, karena hendak mencari faeda.. 79 Mansur berkata lakunya tentu, mintak membawa satu dua batu Hendak mencari faedahnya tentu, jikalau percaya demikian itu Saudagar Taju menengarkan peri, lalu berkata saudagar jahari Hamba berlayar pada esok hari, tiada dijual intan baiduri Cuma hamba mauk hadiahkan, kepada Mansur hendak diberikan Karena Nurdin banyak menyusahkan, laki istri tuan peliharakan Saudagar Taju mengeluarkannya, beberapa permata sangat indahnya Beratus ribu akan harganya, kepada Mansur diberikannya Seribu dinar pula beserta, kepada Mansur diberikan nyata
Saudagar Taju seraya berkata, tuan terimalah hadiahnya kita Tuan terimalah ini hadiah, karena tuan susah dan payah Akan Nurdin Mariam Zanariah, berapa lama di Iskandariah Mansur melihat hadiahnya itu, sukanya bukan lagi suatu Tetapi berkata jugalah tentu, maaf tuan yang nomor satu Hamba pelihara Nurdin terala, niat hendak mencari pahala Menerima upa jadilah cela, perbuatan hamba Lillahi Ta'ala Saudagar Taju menengar bicara, di dalam hati tulus dan mesra Tuan suda menjadi saudara, terimalah juga tidakkan cidera Pesan hamba janganlah lupa, jikalau Nurdin tuan berjumpa
Tuan tahan tidak mengapa, bawa ke Baghdad janganlah alpa.....80
Karena hamba berniat sudah, ke negeri Baghdad hendak berpindah Di sana tempat sangatlah indah, perintahnya adil hukumnya mudah Hamba berlayar besoknya pagi, ke negeri Basrahlah pergi Hamba tidak berlayar lagi, kapal dijual untung dan rugi Di negeri Basrah hamba tak lena, terus ke Baghdad berhenti di sana Membeli kampung rumah istana, demikian azam jikalau kena Jikalau Nurdin kabarnya ada, tulis surat jangan tiada Tuanlah menjadi saudara muda, diharap pesanan jangan berbeda Mansur menengar kata begitu, sangatlah suka bukan suatu Serta berkata ia di situ, jikalau Nurdin kabarnya tentu Kabarnya tentu di mana negeri, biar hamba berlayar sendiri Dibawa ke Baghdad muda bestari, tuan tak usah susah mencari Telah habis berkata-kata, hari hampir malamnya nyata Mansur bermohon bersuka cinta, pulang membawa beberapa harta
Mansur tidak dipanjangkan kalamnya, sampai ke rumah jumnpa is-
trinya Kabarkan sekian hal ikhwalnya, istrinya suka tidak bandingnya Maklumlah suda orang perempuan, melihat permata kilau-kilauan Mintak buatkan kerabu kuncir berawan, anting-anting gunil namanya tuan
Melihat dinar mera bernyala, kalung cakik mintak buatkan pula
Serta gelang kepalak ula, Mansur menengar menggaut kepala....81
Tidak di sini dipanjangkan peri, tersebut saudagar Taju jauhari Setelah sampai keesokan hari, kapal pun belayar berperi-peri Tiada berapa lama antara, ke negeri Basrah sampailah ketara Saudagar pun naik sempurna bicara, menyewa rumah kedengan sege- ra Istrinya pun naik sekalian pada, hamba dan sahaya mana yang ada Kemudian menaikkan harta dan benda, barang yang tinggal suatu tiada Kapal dijual di pelabuan Basrah, lebih kurang harganya murah Kepada yang beli suda terserah, hamba sahayanya pula digerah Digerah disuruh berkemas diri, berapa sekedup disuruh cari Ada yang disewah janji diberi, ada sekedup dibeli sendiri Berkemas sampai hari kelima, suda sedia cukuplah semua Berangkatlah saudagar nila utama, di jalan tidak berapa lama Dipendekkan sahaja citranya itu, sampai ke Baghdad saudagar tentu Membeli rumah kampung suatu, duduklah konon dia di situ Sehari-hari ia berniaga, kabar anaknya ditanyakan juga Setiap yang datang berhingga, sampai dua tahun hampir ketiga Di negeri Mesir ada wakilnya, jikalau datang di sana anaknya Di negeri Baghdad tempat dianya, disuruh bawa dengan segeranya Terhenti perkataan saudagar jahari, tersebut pula suatu peri
Mariam Zanariah muda bestari, tatkala Pranja membawak lari....82
Dibawak lari dengan lupanya, sampai di kapal didudukkannya Di dalam kamar dikunci pintunya, Mariam pun ingat sadar dirinya Sadar dirinya perasa yang inda, serta menangis tidak bersuda Terkenang Nurdin bertambah gunda, bercerai kekasi bukannya muda Kapal pun suda bongkar saunya, lalu belayar dengan segeranya Tidak menoleh lagi belakangnya, angin pun kencang sangat lajunya Menteri Ur buta sebelah, naik turun serba salah
Hatinya rindu bukannya ulah, kepada Mariam wajah terserilah
Wajah terserilah laksana bulan, suaranya menangis bagai gamelan
Siapa melihat muda andalan, air diminum tidak tertelan
Tidak tertelan tentu keselak, batuk bersin menjadi pilak
Mata meleleng seperti dalak, melihat Mariam tidakkan malak
Tidakkan malak liur meleleh, hendak dipegang tiadakan boleh Orang sudah berhati soleh, tiadakan mauk hati disembeleh
Mențeri Ur tidak tersabar, hati menggoncang berdebar-debar
Mariam seperti hendak disambar, hendak diajak tidur bergembar
Tidur bergambar kepada maksut, demikian pikir menteri yang hasut Tidakkan sampai menjadi kusut, itu barang masakan susut Nurdin satu budak yang hina, tak tentu mak bapak di mana
Kepada Mariam suda mengena, apalagi aku menteri perdana....83
Demikian pikiran si Ur menteri, waktupun suda malamnya hari Berjalanlah Mariam hendak digari, kunci kamar dibuka sendiri
Dibuka sendiri masuklah cepat, pintu kamar segera dirapat
Mariam melihat hendak melompat, dipegang Ur tiadalah sempat Tiadalah sempat Mariam nian lari, dipegang Ur kanan dan kiri Mariam segera ia berperi, kenapa begini piilmu menteri Dengan segera Ur berkata, adu tuan emas juwita Kakanda lama menaruh cinta, baharu sekarang bertemu kita Lagi tuan masi di negeri, kakanda bercinta sehari-hari Hendak disampaikan hasrat sendiri, di dalam hali takut dan ngeri Ngeri karena tentulah tuan, lagi kecil lagi perawan Kepada ayahanda kalau ketahuan, akhirnya mati tidak karuan Sekarang ini tentu tak nyata, kita sekedar bersuka cinta Tuan pun suda rusak dan lata, sekalian orang merasa rata Rata suda keliling negeri, bukan saja Nurdin sendiri SaudagarSurati selalu mengkari, demikian kabar hamba dengari Hamba dengar kabarnya taulan, jikalau Nurdin pergi berjalan
Datanglah berapa saudagar kenalan, kepada tuan royal-royalan
Sekarang kita sama sebangsa, ingin juga hendak merasa
Marilah tuan kemala desa, kita tidur dengan sentausa......84
Apabila Mariam menengar kata, marahnya tidak menderita Tangannya segera ditarikkan serta, menteri ditampar dicucuk mata Kemudian ditangkap diangkat tentu, lalu dihempaskan diluar pintu Menteri pun kelengar ketika itu, banyaklah kelasi melihat ke situ Dilihatnya menteri ada terhantar, kaki dan tangan mengetar-ngetar Menjadi riuh dengan sebentar, isi kapal sekalian gentar
Seteriman juragan turun semuanya, melihat menteri demikian halnya Diambil air dicucurinya, menteri pun ingat sadar dirinya Sekalian Peranji bertanya rata, apalah mula mendapat lata Mentri Ur malunya nyata, katanya jatuh tidak menderita Karena hamba berjalan cepat, lalu terpijak sekeping sepat Daripada celana terlalu rapat, terus terjatuh kaki terlipat Setelah suda demikian peri, Ur pun naik ke atas catri Hatinya panas tidak terperi, tetapi bercampur takut dan ngeri Kapal berlayar malam dan siang, angin keras ombak menggoyang Seperti tercabut rupanya tiang, lajunya kapal bagai melayang Bagai melayang seperti burung, di lautan besar suda mengarung Mariam wurang di dalam kurung, pilu dan gunda suda tersarung Suda tersarung di dalam kalbu, cinta kenangan beribu-ribu
Teringat Nurdin waktu menyumbu, hancurlah hati sebagai labu......85
Sebagai labu melayang suda, bertambah teringat bertambah gunda Lalu menangis paras yang inda, meratap dengan berapa mada Berapa madah ratap cik siti, serta menangis tidak berhenti Ya Illahi Rabbul Izati, hancurlah lulur rasanya hati
Kepada-Mu juga hamba bergantung, jasad jasmani serasa putung Hati bercerai kedengan jantung, betapa gerangan bahagian untung Ayuhai Nurdin muda bangsawan, alangkah sampai hatinya tuan Meinbuang adinda demikian kelakuan, baiklah bunuh supaya ketahuan Baiklah bunuh supaya mati, di padang mahsyar adinda menanti
Tuan seoranglah menjadi gusti, surga neraka adinda turuti Tuanlah gusti tidak berdua, tempat adinda berserah nyawa Tidaklah lagi adinda tertawa, melainkan dihadapan kakanda jua Adinda tebusan kakanda ningrat, di lauhul mahfuz suda tersurat Tidak berubah di dalam hasrat, menjadi hamba dunia akhirat Jikalau tidak bertemu mata, matilah adinda dengan bercinta Ya Illahi tolonglah serta, pertemukan Nurdin gustinya beta Demikianlah hal Mariam putri, meratap menangis setiap hari Kapal berlayar berperi-peri, hampirlah sampai ke negeri sendiri Tiada berapa lama antara, negeri Peranji nampak ketara Sampailah kapal di perlabuhan negera, sekaliannya suka tidak ter-
kira....86
Sukanya Ur tidak terperi, meriam dipasang kanan dan kiri Bahana kedengaran ke dalam negeri, sehingga sampai ke balairung seri Ke balairung seri kedengaran nyata, raja Peranji di atas tahta Sangat terkejut di dalam cinta, kepada menteri ia berkata Ia berkata gopoh ketara, apalah gempar bahana suara Baiklah suruh lihatnya segera, barangkali ada suatu mara Seorang menteri menengar titahnya, lalu menyembah berangkat di- anya Ke tepi laut segera tujunya, kepada orang ia bertanya Ia bertanya gempar di mana, Wak Gafar menyahut tiada lena Sangat keras kedengaran bahana, bunyi meriam di kapal sana
Menteri menengar kabarnya nyata, naiklah tambangan berdayung serta Setelah sampai bertanya warta, Menteri Ur menjawab kata
Menjawab kata demikian peri, akulah Ur perdana menteri Pulang membawa Mariam putri, sembahkan kepada mahkota negeri Menteri suruan menengar begitu, pulanglah ia ketika itu Langsung mengadap rajanya tentu, menyembahkan kedatangan putra- nya ratu
Raja menengar sembahnya menteri, sukanya tidak lagi terperi Lantas masuk ke dalam puri, memberi tauk permaisuri Permaisuri menengar kabar, di dalam hati sangat berdebar
Rasanya tidak tertahan sabar, hendak berjumpa muda muktabar....87
Hamba dan sahaya dikerahkan pada, hendak menjemput paduka anaknda Permaisuri dengan baginda, segera turun lenga tiada Menteri hulubalang sangat repotnya, menyediakan perahu dengan ten- danya Laki-laki perempuan riuh bunyinya, baginda pun turun gopoh lakunya Beratus perahu kabarnya orang, laki-laki perempuan tiadalah kurang Menuju kapal ia menyeberang, ramainya bukan lagi sebarang Ramainyaitu tidak terhingga, sorak dan tampik bahana berlaga Kepada kapal sampailah juga, baginda pun melompat ke atas tangga Ke atas tangga naiklah ia, memimpin tangan suri yang mulia Di dalam hati sangatlah raya, menteri Ur sudalah sedia
Sudalah sedia menyembah serta, ampun tuanku duli mahkota Patik menjunjung titah dan kata, anaknda putri dibawa serta Menteri Ur menyembahkan halnya, dari awal hingga akhirnya Raja Pranja isykal hatinya, menengar rusak suda anaknya Demikian juga permaisuri, isykal hati tidak terperi Menengarkan hal anaknda putri, dijual orang ke sana ke mari Tetapi apa hendak dikatakan, nasibnya suda ia dapatkan Siapa boleh hendak menyalahkan, bertemu sahaja kita syukurkan Setelah habis berura-ura, permaisuri turunlah segera
Serta baginda dua setara, di kamar Mariam nampak ketara....8
Mariam melihat ayah bundanya, segeralah keluar dari tempatnya Lalu menyembah dengan tangisnya, permaisuri memeluk dianya Memeluk dianya meratap serta, ayuhai anakku cahaya mata Lamalah tuan meninggalkan tahta, nasibnya tuan mendapat lata Permaisuri menangis menggila, memeluk anaknda intan kemala Tangis dan ratap tidak bersela, suda dia baginda pula
Jikalau hamba panjangkan karangan, habislah kertas masih berku- rangan Orang berjumpa banyak kenangan, ratap dan tangis berpanjangan Itu sebab dipendekkan sahaja, jangan banyak membuat kerja Turunlah kedua baginda raja, serta anaknda utama manja Utama manja paras yang inda, ke dalam sampan turunlah suda Di dalam hati terlalu gunda, teringat kasih bukannya muda Bukannya muda gundah berpalu, bertambah teringat bertambah pilu Paras Nurdin nampak selalu, tambahan terkenang masa dahulu
Orang berdayung tersebut kata, ramainya tidak menderita Sorak tampik gagak gempita, di tepi pantai sampailah nyata Baginda dengan permaisuri, serta memimpin anaknda putri Diiringkan segala hulubalang menteri, langsung masuk ke dalam puri Adapun akan duli baginda, menyuruhkan menteri mana yang ada
Bersuka-suka jangan tiada, selamat kedatangan paduka anaknda.....89
Kata orang empunya cerita, negeri Pranja ramailah nyata Seisi negeri bersuka cita, segala permainan adalah serta Suatu hari duli baginda, menyuruhkan hulubalang yang muda-muda Alat peperangan cukupkan ada, naikkan di kapal harimau janda
Demikian titah duli si alam, menjaga di laut siang dan malam Jika bertemu kapal orang Islam, disuruh samun bikin tenggelam Orangnya disuruh ikat segala, bawak ke negeri hendak disula Karena ia membuat bahala, sampai anakku mendapat cela Orang Islam hendak kubalas, selama ini perutku mulas Seratus orang hendak kupulas, hendak direbus hendak digilas Menteri Pistil menteri Jandabah, keduanya itu lalu menyembah Ampun tuanku daulat bertambah, titah terjunjung tidak diubah
Patik kedua mengerjakannya, membalas perbuatan Islam semuanya Baginda menengar sangat sukanya, pergilah kamudengan segeranya Dengan segera kamu kerjakan, Pistil menyembah mintak doakan Keduanya berjalan hulubalang digerahkan, alat senjata suda dicukupkan
Suda dicukupkan sekalian ada, turun di kapal harimau janda Menteri hulubalang yang muda-muda, lalu berlayar sekalian pada Berlayar mengedar tengah lautan, jikalau ada kapal kelihatan Dikejar diperiksa dengan kekuatan, segala nakhoda jadi ketakutan...90 Jadi ketakutan kita rantikan, perkataan lain pula disebutkan Pelayaran Nurdin hendak dinyatakan, supaya senang orang mene- ngarkan Tatkala Nurdin belayar suda, di dalam hati sangatlah gunda Teringat Mariam paras yang inda, sesal Nurdin tidak faeda Tidak faedah sesal berkabut, ditempuh gelombang dipukul ribut Tidak berhenti Mariam disebut, aduh nyawaku yang lemah lembut
Yang lemah lembut tidak kusangka, akan bercerai ini ketika Malang kakanda nasib celaka, menjual adinda gunung mestika Gunung mestika intan baiduri, di manalah tempat desa dan negeri Seboleh-boleh kakanda mencari, sehingga mati tidakkan jeri
Tidak jeri tidak berhenti, mencari tuan nyawaku gusti Jika lambat tidak didapati, tentulah segera kakanda mati Kakanda mati tidak berjumpa, pada tuan yang putih sopa Hidup melarat miskin dan papa, hendak bergantung pada siapa Pada siapa teman berbika, masing-masing dengki belaka Melainkan diharap Tuhan Yang Baka, menyampaikan maksud mengi- langkan duka Terhenti kata Nurdin jahari, pelayaran kapal disebutkan peri Angin bagus setiap hari, juragan berdiri di atas catri
Di atas catri memandang mata, dua buah kapal nampaknya nyata
Menuju kapal keduanya serta, lajunya tidak menderita.....91
Juragan memanggil sekalian orang, disuru lihat kapal sekarang Barangkali ia hendak menyerang, baiklah sedia alatnya perang Sekaliannya lalu segera memandang, serta Nurdin asal yang sedang Kapal nian datang nampak meradang, orangnya banyak bersenjata pedang
Sekalian di kapal datang hatirnya, masing-masing memegang senja- tanya Kapal kedua hampir sampainya, Nurdin termangu susah hatinya
Adapun kapal kedua itu, kapal Peranji nyatalah tentu Disuruh rajanya kerjah begitu, merampas Islam sebarang waktu Karena dendam di dalam hati, orang Islam punya pekerti Mariam dirampas dijual pasti, ke sana-sini berganti-ganti
Kapal Peranji itu keduanya, di kapal Islam sampai dianya Satu di kanan satu di kirinya, orang Peranji melompat semuanya
Melompat semuanya di kapal nakhoda, beratus orang pahlawan muda Bersenjata pedang tombak dan gada, orang Islam diamlah pada
Diamlah pada tiada melawan, melihat terlalu banyak pahlawan Pranja pun lalu merampas menawan, sekalian diikat tidak karuan
Tidak karuan diikat tali, hartanya dirampas semua sekali Kapalnya ditenggelamkan tiadalah hali, orangnya lalu dibawa kembali
Dibawa kembali sekaliannya serta, ke negeri Peranji sampailah nyata Orang Islam sekaliannya rata, dibawalah masuk ke dalam kota...92
Ke dalam kota dibawaklah pada, langsung kembali mengadap baginda Raja Peranji segera bersabda, orang darimana terikat ada Menteri Pistil menteri Jandabah, kepada baginda mengangkat sembah Ampun tuanku daulat bertambah, inilah titah tidak diubah Tidak diubah tidak melawan, menjunjung titah yang dipertuan Orang Islam disuruh tawan, sekarang ini nyata ketahuan Baginda memandang Islam semuanya, di dalam hati sangat murkanya Disuruh pancung sekaliannya, seorang jangan ada tinggalnya
Adapun Islam sekalian rata, Nurdin di situ adalah serta Menengar titah duli mahkota, sekalian terkejut tidak menderita
Tidak menderita di hati walang, kepada baginda lalu menjulang Ampun tuanku ratu cemerlang, apalah dosa patik yang malang
Patik yang malang apalah dosa, membuat salah belum merasa Dirampas harta kedengan paksa, hendak dibunuh sekarang masa Baginda menengar sembahnya Islam, terlalu murka duli si alam Kepada siapa mengamburkan kalam, bunuhlah segera jangan berma- lam Siapa suda menengar sabda, segera dibawa bahriah nakhoda Di tengah laman diaturkan ada, disuruh berbaris sekalian pada Sekalian pada dua puluh lima, ujung baris Nurdin bersama
Pada menangis Islam nian semua, bermaaf-maafan saling terima....93
Suda bermaafan sekalian pada, raja Peranji hadirlah ada Siapa memulai memancung nakhoda, tercerailah kepala terjatuh suda Terjatuh suda yang lain pula, berpelantinganlah sekalian kepala Setelah habis Islam segala, tinggal Nurdin duduk bersila Duduk bersila dengan masgulnya, kepada Allah hadir hatinya Berserah diri dengan iklasnya, mintak kelepasan dari matinya Siapa segera datang mengampiri, hendak mancung Nurdin jahari Mengangkat pedang sambil berperi, orang ini nampak tak ngeri
Dengan kuadrat Tuhan Yang Baka, tiba-tiba datang dengan seketika Perempuan tua bertudung muka, kepada siapa ia berbika Kepada siapa ia bersabda, jangan dibunuh ini orang muda Hendak kupohonkan dengan baginda, penunggu kanisa sekarang tiada Orang tua itu dengan segeranya, kepada baginda menyembah dianya Orang bunuan dipohonkannya, penunggu kanisa pantas rupanya Ambillah segera jawabnya raja, hanya tinggal seorang sahaja Boleh dibuat penunggu gereja, serta disuruh sebarang kerja Mendapat ijin si orang tua, Nurdin diambil lalu dibawa Nurdin suka tidak berdua, oleh lepas dianya punya nyawa Lepas nyawa daripada mati, mudah-mudahan jumpa cik siti
Negeri Peranji nyatalah pasti, barangkali di sini muda yang bakti....94
Ajuz membawa Nurdin itu, ke dalam gerejah sampailah tentu Nurdin diberi tempat suatu, kerjanya menyapu setiap waktu
Setiap waktu berapa lama, hingga sampai dua purnama
Hatinya gundah bukan umpama, terkenang Mariam muda kesuma
Ada kepada suatu hari, kepada Nurdin Ajuz berperi Ini malam tuannya putri, hendak datang ia ke mari Datang ke mari hendak sembahyang, semalam-malaman sampailah siang Memberi selamat dari melayang, itu genta engkaulah goyang Goyang genta tandanya petang, tiada boleh seorang datang Atau ke mari hendak menentang, demikian perintah suda terlintang Suda terlintang perintah itu, kerjalah segera sekarang waktu Nurdin pun segera menggoyang tentu, siapa yang menengar takut ke situ Apabila suda malamnya nyata, kanisa dipasangi dian pelita Terangnya tidak dapat dikata, Nurdinlah bekerja sekalian rata Sekalian rata kerja sendiri, capeknya tidak lagi terperi Selesai pekerjaan muda bestari, duduklah ia menyenangkan diri Menyenangkan diri di muka pintu, di dalam hati sangatlah mutu Pikiran tidak ada bertentu, mengenangkan Mariam sebilang waktu Tiba-tiba pada ketika masa, datanglah perempuan beribu laksa Mengiringkan konon putri berbangsa, Nurdin memandang sangat
terpasa......95
Sangat terpasa di dalam pikiran, banyaknya perempuan memberi heran Putri nian datang dengan kebesaran, Nurdin berdiri hormat angkaran Nurdin berdiri memberi hormat, datanglah putri dengan selamat Putri terpandang tercengang amat, terkejut hati terlalu ajimat Terlalu ajimat di dalam hati, Nurdin dipandang diamat-amati Nyatalah terang Nurdin gusti, sukanya bukan lagi seperti Tetapi pura-pura tiada perduli, masuklah juga semua sekali Adapun pengiring utama duli, sekaliannya itu disuruh kembali Disuruh kembali itu ketika, di luar pintu sekalian mereka Hatinya putri sangatlah suka, berjumpa Nurdin tidak disangka
Putri bersabda suara merawan, ayuhai pengiring sekalian perawan
Tunggulah di luar berkawan-kawan, masuk ke dalam janganlah tuan Janganlah kamu berani masuk, aku hendak sembahyang kusuk
Menyembah Tuhan menyembah Yusuk, hendak menghilangkan hati
yang busuk Adapun Nurdin ketika itu, dilihatnya putri Mariamlah tentu Heran tercengang jadilah mutu, tidak bergerak seperti batu Mariam putri segera bersabda, penunggu kanisa orang yang muda Tutup pintu sekalian yang ada, kemudian ke mari jangan tiada Nurdin terkejut menengar peri, merasa takut kepada putri
Menutuplah pintu berlari-lari, putri di dalam seorang diri.....96
Setelah tertutup sekalian rata, putri berteriak sangatlah nyata Penunggu kanisa marilah serta, aku hendak berkata-kata Nurdin pikir di hati sendiri, seperti Mariam rupanya putri Tiada bersalahan tangan dan jari, hendak disangka rasanya ngeri Rasanya ngeri takutkan cela, jikalau bukan menjadi bahala Di dalam hati seperti gila, memandang putri bagai kemala Nurdin habis menutup pintu, didengarnya suara putri nian tentu Memanggil dia nyatalah itu, Nurdin pun segera datang ke situ Datang ke situ berhati ngeri, lalu menyembah sepuluh jari Duduk jauh tidak terperi, lalu tersenyum tuannya putri Tuannya putri seraya bersabda, khadam kanisa orang yang muda Engkau ini baharu tersenda, dahulu tidak kulihat ada Kulihat ada baharulah ini, darimana engkau datang ke sini Kabarkan padaku engkau jalani, berkata bohong jangan berani Jangan berani engkau berdusta, dengan sebenarnya engkau berkata Siapa namamu berilah nyata, serta bangsamu juga beserta Nurdin menengar putri berbika, lalu menyembah mengangkat muka Nurdin nama patik yang duka, dibawa nasib untung celaka Untung celaka patik yang hina, mak bapak di Mesir sana
Di Iskandariah pula terkena, ditipu orang bermacam warna.....97
Bermacam warna patik dapati, berapa kali hampirnya mati
Patik nian orang berusak hati, karena kehilangan seorang gusti Lalu tersenyum putri yang puata, di dalam hati bersuka cita Suaminya Nurdin sudahlah nyata, sambil mendekat ia berkata la berkata dengan sukanya, gusti engkau siapa namanya Baik nyatakan dengan sebenarnya, barangkali di sini ada dianya Nurdin melihat putri yang mulia, berkata sambil mendekat dia Hatinya takut kalau tak jaya, hendak undur tidak upaya Menjawab sambil menundukkan ulu, kepada putri berasa malu Gusti patik yang hilang dahulu, Mariam Zanariah dipanggil selalu Putri segera menjawab kata, Mariam tak usah lagi dicinta Barang hilang daripada mata, sekarang ini gantinya beta Beta memang lama menanti, kasih Mariam hendak diganti Karena mesra di dalam hati, boleh menjadi suami dan gusti Nurdin menengar perkataan putri, heran hatinya tidak terperi Tunduk juga mendiamkan diri, Mariam pun segera datang mengkari Datang mengkari lakunya suka, Nurdin dipegang dipandang muka Nurdin tidak juga menyangka, badannya gemetar hatinya duka Mariam memandang demikian peri, dihadapan Nurdin merebahkan diri Lalu menangis putri bestari, mencium kaki Nurdin jahari...98 Nurdin baharu tahkik sejati, istrinya Mariam nyatalah pasti Lalu disambut Mariam siti, serta bertangisan bukan seperti Maklumlah tuan sama bercinta, tidaklah boleh dipanjangkan kata Hendak menerangkan ini cerita, pengarang tidak melihat nyata Karena hamba orang mengarang, di situ tidak melihat terang Kadar menengar cerita orang, harap maaf lebih dan kurang Kata orang empunya peri, berkisahlah ia laki istri Mana penemunya diri sendiri, dari awal waktu bercerai Waktu bercerai dari bermula, kedua pihak dicitrakan segala Kemudian mufakat kedua terala, supaya hendak larinya pula Larinya pula mandari situ, mufakatnya belum lagi bertentu
Mariam berkata ketika itu, sekarang ini hampirlah waktu Hampirlah waktu siangnya hari, takut ketahuan orang di negeri Perkataan adinda kakanda dengari, jangan dilanggar barang sejari Malam besok malamnya sabtu, kira-kira tengah malam pukulnya satu Kakanda ambillah peti di situ, peti kanisa nyatalah tentu Intan berlian itu isinya, nazar orang disitu tempatnya Beratus tahun dikumpul semuanya, kakanda angkatlah besok malamnya Terus jangan banyak bicara, angkat hingga di tepi segara
Naikkan di sekunyar catinya mera, kakanda juga naiklah segera....9
Naik segera janganlah alpa, jangan perduli pada siapa Di situlah nanti kita berjumpa, pesan nian jangan kakanda lupa Setelah habis berperi-peri, berpeluk bercium laki istri Mariam bermohon pulang ke puri, karena hampir siangnya hari Adapun putri empunya teman, sekalian menunggu di tengah halaman Hingga sampai semalam-malaman, masing-masing merutuk tiada senyuman Tiada senyuman merutuk mereka, sembahyang apa sangatlah leka Jangan pula buat durhaka, hatiku ini ada menyangka Menyangka hati tentulah ada, penunggu kanisa sangatlah muda Tatkala kita baharu tersenda, putri memandang sangat berbeda Sangat berbeda pada mukanya, orang itu sangat diamatinya Kita disuruh keluar semuanya, tutup pintu pula disuruhnya Seorang mengiring menyahut pula, masakan putri membuat cela Meski laki-laki yang muda laila, di dalam kanisa tidakkan gila Seorang pula segera menyahuti, akupun menyangka di dalam hati Tidakkan putri berbuat bakti, tentu salah laku pekerti Karena aku menengar peri, cerita dari Urnya menteri Di negeri Islam tuannya putri, kerjanya jahat sehari-hari Itu barang kalau biasa, di mana kan ingat kepada dosa
Kita di sini duduk terpaksa, dia di dalam senang sentosa.....100
Seorang segera menjawab mada, kerjah itu tidakkan muda
Jikalau belum serasan suda, tentu takut kalau tak yada Misalnya kita mauk mereka, barangkali dia tidakkan suka Masakan jadi dengan seketika, di hati beta tidak menyangka Seorang menjawab lakunya angkang, ibaratnya laki-laki mashur terpe- gang Kucing didekatkan ikannya panggang, tentu ditangkap tak boleh reng- gang Jikalau pun alim sufi danwarak, ibadatnya sungguh tidak bergerak Barang wasiat jika terparak, bertepuk tangan dia bersorak Apalagi laki-laki yang muda laila, masakan payah hendak dihela Misami sahaja dari jendela, hatinya suda mengila-gila Pendeknya jikalau betina galak, tidakkan ada laki-laki bertolak Walaupun tidak sekopo sualak, lihatlah nanti jadinya gelak Karena tadi kulihat nyata, putri tak lepas memandang mata Penunggu kanisa rupanya dicinta, lalu diusirnya sekalian kita
Aku menengar putri berkalam, penunggu kanisa dipanggil ke dalam Sembahyang apa bermalam-malam, putri tentu hatinya kelam Kelam pada penunggu kanisa, kita sekalian disuruh berpisa Kita menanti kedengan serasa, dia di dalam tentulah basa Seorang menjawab dengarlah semua, pikiran kamu tidak kuterima
Jikalau bermain bersentuh roma, masakan sampai begini lama....101
Tidak dipanjangkan madah di situ, bermacam-macam sangkanya itu Putri keluar mandari pintu, kepada pengiringnya sampailah tentu
Sampailah tentu tuannya putri, sekalian pengiring sekalian berdiri Putri pun berjalan pulang ke puri, citranya tidak lagi terperi Perkataan Nurdin disebutkan pula, apabila siang terang bernyala Ia membukalah pintu jendela, bagaimana adat sedia kala
Apabila sampai malamnya Sabtu, bersiaplah Nurdin ketika itu Hanya lagi menanti waktu, menunggu haripukulnya satu Pukulnya satu sudah meniti, Nurdin lalu mengangkat peti Berjalanlah segera tidak berhenti, hingga sampai ke tepi pantai
84 Dilihatnya satu sekunyar merah, di tepi pantai memasang benderah
Kapitannya bengis sangat pemarah, Nurdin disuruh naik digerah Digerah naik kedengan segera, Nurdin pun naik tersara-sara Sekunyar ditolak tiada antara, haluan berpusing menuju utara Kapitannya bengis berjanggut pula, kelasinya lambat dipukul dihela Perintahnya keras tidak bersela, memegang tongkat menggila-gila Nurdin pun heran tidak terperi, tidaklah nampak Mariam putri Hendak bertanya rasanya ngeri, hanya diam menyingkirkan diri Menyingkirkan diri takutkan kena, kapitan memukul tidak sempurna Kelasinya repot terlalu bina, terjangkang-jangkang ke sini sana... 102 Ke sini sana terjangkang-jangkang, itupun dipukul dari belakang Kelasi belari berlintang pukang, ada yang lalu jatuh tersengkang Tersengkang masih dipukul disakiti, sekunyar berlayar tidak berhenti Nurdin heran di dalam hati, kapitan nian gila nyatalah pasti Semalam-malaman belayar itu, sampailah siang ketika waktu Kapitan bertambah mengamuk di situ, memukul tidak lagi bertentu Tidak bertentu lagi pukulnya, kelasi tidak tahan badannya Masing-masing melawan dianya, kapitan melihat bertambah marahnya Bertambah marah bertambah garang, mengunus pedang terus mema-
rang Matilah kelasi beberapa orang, Nurdin melihat takut tersarang
Takut tersarang di dalam hati, lalu bersembunyi di selah peti Kapitan memarang tidak berhenti, habislah suda kelasinya mati Nurdin berpikir di dalam hatinya, kerjaku ini tentu salahnya Mariam tentu lain kapalnya, kunaiki ini bukan dianya Bukan dianya tentulah cela, terkena pula juragan gila Akhirnya aku tentu dihela, karena kelasinya habis segala Tengah Nurdin berpikir sendiri, dilihatnya kapitan datang mengkari Ditariknya Nurdin tangannya kiri, hati Nurdin sangatlah nger Sangatlah ngeri juragan berkata, hai Nurdin tolonglah beta
Membuang mayat sekalian rata, janganlah tuan takut dicinta.....103
Nurdin berangkat dengan segeranya, membuang mayat itu semuanya
Kapten pun tertawa dengan sukanya, sedikit tidak ada marahnya Nurdin pikir di dalam hati, kapten nian gila nyatalah pasti Sekarang marahnya suda berhenti, hiduplah aku daripada mati Nurdin pun segera ia bertanya, tuan kapten ampun kiranya Sekunyar ini ke mana perginya, kelasi suda habis semuanya Kapten segera menjawab berkata, sambil tertawa bersuka cinta Kakanda nian tidak mengenal beta, hamba tuan sudahlah nyata Kapten pun membuka segala pakaian, janggut palsu dibuang sekalian Nyatalah wajah intan berlian, Mariam Zanariah nyata terbayan Nurdin memandang dengan nyatalah, serta mengucap Alhamdulillah Kenapa adinda membuat ulah, jadi kakanda serba salah Mariam pun menarap mencium kakinya, ampun maaf kakanda kiranya Adinda membuat demikian adanya, hendak membunuh kelasi semuanya Kelasi semuanya apalah guna, tidak boleh jadi sempurna Akhirnya jadi bala bencana, baiklah sekalian dianya fana Nurdin pun menyambut Mariam putri, sukanya tidak lagi terperi Baharu tauk bangsanya istri, anak raja besar memerintah negeri Nurdin bertanya sekalian, asal melarat punya kejadian Dicitrakan Mariam semua terbayan, dari awalnya tiada berkarian ..104 Tiada berkarian kisahnya semua, awalnya hendak mengadap ulama Diajak oleh penyamun panglima, dibawa ke rumahnya berapa lama Berapa lama di bawa ke rumah, kemudian ditipu penyamun dibunuhnya Kemudian lari ke hutan dianya, bertemu Badui empat orangnya Kemudian pula bertemu kafilah, Badui menyamun di sana berbelah Keempat Badui berperang kalah, dia seorang menjadi masalah Kepala kafilah Maghribi tua, ke Iskandariah adinda dibawa Sekalian halnya dicitrakan semua, tiada yang tinggal suatu jua Nurdin menengar kisahnya itu, kasihan hatinya bukan suatu Cucur air mata ia di situ, istri disambut diciumnya tentu Putri Mariam pula bertanya, kakanda ini darimana asalnya Di rumah Mansur apa sebabnya, nampak bukan sanak kerabatnya
Nurdin lalu bercitra pula, sekalian kisahnya dari bermula Asal ia mendapat bahala, meminum arak kerjah yang cela Dikisahkan Nurdin dari permulaan, tiada tinggal hingga kešeduhan Putri menegar sangatlah kasihan, air mata cucur tidak tertahan Tiadalah hamba panjangkan peri, berlayar konon dua laki istri Juru mudinya Nurdin jahari, menarik layar tuannya putri Terhenti perkataan muda perwira, di negeri Peranji disebutkan citra
Di dalam istana ratu negara, waktu siang nyata ketara ....105
Segala perkan dayang dan siti, mencari Mariam tidak didapati Riuh rendah laku pekerti, baginda mendengar berdebar hati Segera baginda datang bertanya, kamu gaduh apa sebabnya Sekaliannya menyembahkan dengan takutnya, mengatakan putri hilang dianya Apabila baginda menengar peri, terkejut hati tidak terperi Tambahan pula permaisuri, sekalian dayang disuruh cari Tengah ramai tidak menderita, seorang ajuz datangnya nyata Lalu menyembah duli mahkota, ampun tuanku raja bertahta Raja bertahta tuan junjungan, patik menyembahkan ada kehilangan Penunggu kanisa yang panjang tangan, peti nazar dibawanya gera- ngan Raja Peranji menengar begitu, bertambah heran bukan suatu Murka baginda sudalah tentu, lalulah keluar ketika itu Keluar baginda ke balairung seri, hadir segala hulubalang menteri Baginda belum mengeluarkan peri, datanglah menyembah seorang menteri Menteri laut konon dianya, kehilangan sekunyar disembahkannya Baginda menengar sangat murkanya, apalah sebab demikian adanya Dengan murka baginda bersabda kepada Ur Menteri berida Ketahui segala menteri yang ada, anaknda Mariam juga tiada Juga tiada hilangnya musna, entahkan ia pergi ke mana Penunggu gerejah orang yang hina, hilang mencuri peti di sana...106 Sekarang sekunyar juga pun hilang, pikirlah segala menteri huluba-
lang Lalu menyembah Ur terbilang, pikiran patik tidak terselang Pikiran patik tentulah nyata, putri Mariamlah yang membuat lata Karena dia sangat bercinta, di Iskandariah sudah nyata Dahulu waktu patik tebusi, dia tak mauk hingga dikerasi Seorang muda wajahnya persi,itulah dia bercinta kasi Namanya Nurdin disebut orang, pikiran patik sudalah terang Penunggu kanisa diajak berbarang, melayarkan sekunyar kedua orang Ke Iskandariah tentu perginya, kepada Nurdin hendak digarinya Mariam tu sudah rusak hatinya, pikiran patik demikian adanya Apabila raja menengarkan sembah, wajah yang manis pucat berubah Berkata sambil dada ditemiah, anak celaka anak bedebah Raja Peranji sangatlah murka, sambil menyumpah anak celaka Sangat sekali membuat durhaka, rupanya diambil dia tak suka Tambahan pula dia mencuri, nazar orang di dalam negeri Tidak sangka demikian peri, seperti kata perdana menteri Adapun akan baginda ratu, tiga laki-laki anaknya tentu Hasib namanya yang tua itu, Hasib tu sedang mengadap disitu Baginda bertitah dengan murkanya Hasib dan Ur disuruhkannya
Cari Mariam di mana adanya, jikalau bertemu ikat dianya....107
Ikat dianya bawalah serta, hendak kubunuh supaya nyata Daripada membuat nama yang lata, baik menjadi isim senjata Hasib dan Ur mendengar bahana, kedua menyembah berjalan tak lena Suatu kapal di laut sana, keduanya turun dengan sempurna Dengan sempurna turun keduanya, kapal nian suda lengkap alatnya Tidak dipanjangkan lagi citranya, ke Iskandariah yang ditujunya Yang ditujunya sebelah selatan, lajunya kapal bukan buatan Sebentar menempuh tengah lautan, negeri Peranji hilang penglihatan Hilang penglihatan jaunya silam, kapal berlayar timbul tenggelam Menempuh ombak lautan dalam, pelayaran entah berapa malam Berapa malam pelayaran itu, ke Iskandariah sampailah tentu
Berlabuhlah ia konon di situ, Ur dan Hasib hatinya mutu
Hatinya mutu terlalu radang, sekunyar tiada nampak dipandang
Duduklah konon ia mengadang, berapa hari duduk bergadang
Duduk bergadang berapa hari, meneropong juga ke kanan ke kiri Nampaklah jau tidak terperi, sekunyar merah yang dicari Yang dicari nyata kebenaran, dengan benderanya berkibaran Sedang berlabuh pada pinggiran, Ur pun berkata tertib aturan Tertib aturan berkata, ayuhai Hasib marilah kita
Sekunyar tu terang nampaknya nyata, ajak sepuluh orang beserta.. 108
Ur pesan pada maklumnya, jika Mariam masih di perahunya Aku berlayar dengan dianya, pulanglah kamu dengan segeranya Hasib dan Ur kedua orang, beserta sepuluh pahlawan garang Serta membawa alatnya perang, kepada Mariam hendak diserang Karena Ur suda ketahuan, Mariam betul orang perempuan Gagahnyatidak dapat dilawan,sukar juga dapat ditawan
Setelah cukup alat semuanya, berdayunglah konon dengan segeranya
Sekunyar mera yang ditujunyam Ur dan Hasib bersikap dirinya Adapun Nurdin ketika itu, di Iskandariah sampailah tentu
Di pinggir sekali berlabuh di situ, tali sekunyar diikat di batu
Kepada Mariam Nurdin berkata, tinggal di sini cahaya mata Bertemu Mansur dahulu beta, memberi tahu kedatangan kita Kakanda pergi tidakkan lama, kepada Mansur jadi umpama Barngkali dia tidak terima, jadi malu jika bersama Kata Mariam putri yang bakti, Kakanda bawalah sekali peti Di rumah Mansur duduklah pasti, bersegeralah kakanda adinda menanti Setelah Nurdin menengar peri, peti diangkat dipikul sendiri Berjalanlah Nurdin muda bestari, di rumah Mansur tuju digari Apabila sampai Nurdin ke situ, Mansur tengah di muka pintu
Dilihatnya Nurdin nyatalah tentu, hatinya terkejut bukan suatu.....109
Bukan suatu terkejut hatinya, Mansur pun turun menyambut petinya Tangan Nurdin serta ditariknya, naik ke rumah ia keduanya Mansur berkata ke mana anaknda, selama ini dicari tiada
Sangatlah susah di dalam dada, kemudian bertemu dengan ayahanda
Ayahanda tuan datang ke mari, berjumpa mamanda satunya hari Dia berlayar keliling negeri, kepada tuan dia mencari Kata Nurdin muda perwira, nantilah mamanda kita berjura Mariam menunggu di tepi segara, hendak diambil kedengan segera Ur dan Hasib tersebut kata, di sekunyar mera sampailah nyata Sekaliannya naik tidak menderita, dilihatnya Mariam duduk bertahta Duduk bertahta scoran gdirinya, Ur pun segera merintah temannya Tali sekunyar lalu dipotongnya, layar pun dibuka dengan segeranya Dengan segeranya dibuka ikatan, haluan ditujukan tengah lautan Mariam melihat demikian buatan, terkejut hati hilangingatan
Hilang ingatan bukan seperti, memegang kayu serta mendekati
Ur dipukulnya lepaslah pasti, Hasib memandang murka di hati
Di hati radang terlalu murka, merah padam warnanya muka Katanya ayuhai saudara celaka, engkau nan sangat membuat durhaka Membuat durhaka tidak senunuh, nama yang jahat sudahlah penuh
Patut sekali engkau dibunuh, pantas disulah pantas ditunuh.....110
Mariam menengar kata saudara, marahnya tidak lagi terkira Berkata sambil dengan gembira, engkau jangan banyak bicara Jangan banyak bicara di sini, baiklah lari sekarang ini Supaya tidak nyawamu fani, jangan menurut Ur setani Hasib menengar kata yang terang, marahnya bukan lagi sebarang Anak celaka ajarnya kurang, pedang dihunus Mariam diparang
Mariam diparang sangatlah cepat, Mariam memandang segera me- lompat
Kemudian Mariam segera merapat, memukulkan kayu muda yang limpat
Muda yang limpat sangat pantasnya, kepala Hasib nyata kenanya Belah dua keluar otaknya, Hasib rebah mati dianya
Ur temannya sekalian menentang, Hasib suda mati terguntang Pahlawan sepuluh segeralah datang, memarang Mariam ada yang menyintang
Pantasnya Mariam tidak terperi, menangkis ke kanan ke kiri Sedikit tidak mengenai diri, sepotong kayu senjatanya putri Sepotong kayu ada sehasta, itulah dibuat tolak senjata Tombak dan pedang sekalian rata, tidak sekali hampir anggota Putri berelak mempukul pula, seorang pahlawan kena kepala Remuk redam mati tersula, Ur melihat hati bernyala Hati bernyala tidak terperi, mengunus pedang ulu baiduri
Segera diparang tuannya ptri, Mariam menangkis lepaslah diri....111
Lepaslah diri melompat dianya, tersangkut tali konon kakinya Mariam terjatuh rebah badannya, Ur segera menangkap tangannya Sembilan pahlawan datang ngampiri, lalu diikat tuannya putri Tak boleh bergerak kanan dan kiri, demikian dibuat Ur menteri
Mariam melihat diikat mereka, berkata ia kedengan murka Wahai Ur menteri celaka, bunuhlah aku sekarang ketika Ur segera menyahut kata, ini bukan kehendak beta Disuruh oleh duli mahkota, karena hendak dibunuh nyata Tambahan tuan membunuh saudara, apabila diketahui seri betara Bertambah murka tidak kira, tentu dibunuh tidak bicara Memintak bunuh apalah guna, hamba tidak kuasa bagaimana Apabila tuan sampai ke sana, tidak mungkir tentulah fana Putri berpikir di dalam hati, jikalau begini tentu aku mati Tidaklah bertemu Nurdin gusti, menangis konon Mariam Siti Sekunyar belayar sangat lajunya, di lautan besar sampai dianya Putri berpikir di dalam hatinya, mencari ikhtiar berlepas dirinya Adapun akan Urnya menteri, rindu dendam kepada putri Adalah kepada suatu hari, kepada Mariam ia berperi Ayuhai tuan seri mahkota, maukah tuan bersuami beta
Kematian tuan lepaslah nyata, tahulah hamba membalik kata......12
Membalik kata pada baginda, kematian Hasib sakit di dada Tuan lari tentu tiada, dikatakan dicuri penyamun penggoda Jikalau suka tuan turutkan, tuan tidak hamba ikatkan Sekarang ini hamba lepaskan, tetapi bersumpah hamba kehendakkan
Apabila Mariam menengar kata, ia berpkir di dalam cinta
Jalan kelepasan sudalah nyata, baiklah kubetulkan kata si buta Hingga kawin sampai ke negeri, di situ gampang membunuh menteri
Baharulah pengabisan nasibnya diri, hidup mati tiada ku singkiri
Sekarang kalau berkeras hati, tentu juga aku nian mati Putuslah harap Nurdin gusti, di mana kelak dia tuntuti Jika kubetulkan seperti kata, gampang sekali menipu si buta Kematian dia sudalah nyata, masakan sampai maksudnya serta Setelah habis ia pikiri, tersenyum berkata tuannya putri Jikalau betul katanya menteri, maukiah beta jadi istri
Jadi istri menteri yang garang, tetapi tak mauk dibuat sebarang Hendak berjanji juga sekarang, maksud beta supaya terang Supaya terang supaya nyata, apabila ke negeri suda bertahta Segera kawin kedua kita, pasal bercampur angkatlah beta Angkat beta kadar bertempuh, empat bulan janganlah gupuh
Karena badan sakit dan lumpuh, hendak berobat hendak disepuh.....113
Hendak bersepuh hati yang duka, menghilangkan kenangan nasib celaka Empat bulanlah kepada jangka, demikian perjanjian jikalau suka Apabila Ur menengar katanya, suka tidak lagi keduanya Mariam lalu disumpahkannya, Mariam pun bersumpah dengan segeranya Dengan segeranya bersumpah putri, ikat dilepaskan olehnya menteri Mariam pun duduk di kamar sendiri, tidaklah hamba panjangkan peri
Peri tidak hamba panjangkan, Nurdin pula kita sebutkan Dia berjalan Mansur sertakan, di tepi laut yang ditujukan Apabila sampai ia ke sana, dilihatnya sekunyar layar tergenda Peranji banyak riulah bahana, sambil berlayar gaiblah musna Nurdin melihat demikian adanya, lalu menangis mengempas dirinya Mansur menyambut dengan segeranya, sabar anakku apalah kiranya Nurdin menangis seraya berkata, ayuhai mamanda lepaskan beta Mariam nian hendak dituntut seerta, biarlah hancur jiwa anggota
Kata Mansur ayuhai anaknda, ingatkan tuan ayahanda bunda Baiklah pulang sekarang ada, masakan kurang perempuan muda Nurdin tidak menyahut lagi, tangannya ditarik berjalan pergi Hatinya mungkal bukan sebagi, lalu memandang martabat tinggi Damai terpandang sampan melata, sampan menteri si Ur buta
Tidak sempat dibawa serta, Nurdin turun berdayung serta......114
Mansur melihat demikian halnya, tiada terkata lagi dianya Suda jauh Nurdin dipandangnya, Mansur lalu pulang ke rumahnya Adapun kapal Urnya menteri, yang disuruhkan pulan gsendiri Hendak berlayarlah pada itu hari, kapitannya kemudir di atas catri Tengah merintah semua kelasinya, dilihatnya orang berdayung sen- dirinya Dikenali sampan dia yang punya, yang dipakai oleh Ur tadinya Nurdin lalu dipanggil nyata, Nurdin berdayung dekatlah serta Kapitan merintah kelasinya rata, sampan nan ikat naikkan serta Segala kelasi segera mengerjakan, Nurdin di sampan juga disertakan Setelah suda ia naikkan, Nurdin itu kapitan panggilkan Kapitan panggil serta bertanya, engka ini siapa namanya Sampan di mana engkau dapatnya, Nurdin menjawab dengan segeranya Dengan segeranya ia berkata, dipandangnya Peranji sekalian rata Pikirnya baik aku berdusta, nama hamba Mahmudlah nyata Kapitan lalu ngeluarkan peri, sampan aku engkau mencuri Sekarang ini hukum kuberi, ikat tangannya kanan dan kiri
Kelasi mengerjakan tiadalah sayang, Nurdin diikat kepada tiang Demikianlah konon malam dan siang, kapal berlayar bagai melayang Tersebut Mariam putri yang mulia, ke negeri Peranji sampailah ia
Menteri Ur bersuka ria, sekalian orangnya suda bersetia......115
Ur dahulu naik sengaja, hatinya suka mukanya benja Terus ia mengadap raja, baginda bertanya menandang durja Baginda bertanya seraya menentang, menteri Ur bilalah datang
93
Apa berjumpa anak binatang, Ur menyembah tangan terbentang
Ampun tuanku duli mahkota, salah sangka patik yang lata
Mariam tidak larinya nyata, dicuri penyamun putri yang puata
Kepala penyamun nyatalah terang, bangsa Islam sangatlah garang
Di tengah laut patik berperang, Mariam tu menangis bukan sebarang Bukan sebarang mengenangkan diri, dua kali terkena curi Patik nian kasihan tidak terperi, untungnya mati kepala pencuri Dari Hasib paduka anaknda, waktu pulang sekalian pada Dia sakit angin di dada, sebentaran mati bangsawan muda bestari Setelah raja menengar kabar, di dalam hati sangat berdebar Sangatlah pilu raja mukabar, ditahankan sahaja kedengan sabar Oleh karena sukanya pula, Mariam tidak membuat cela Ur dititahkan raja terala, disuruh campur perempuan segala Ur menyembah sepuluh jari, ampun tuanku mahkota negeri
Jikalau diijinkan tiada menyukari, patik bawa ke rumah sendiri......116
Patik takutkan suatu mara, seiamanya mendapat nama yang cidera
Patik juga turut sengsara, baik patik sekali pelihara Tambahan belum ada jodonya, inilah sebab panjang kisahnya Jikalau diijinkan tuanku kiranya, patik kelak carikan musunyá Baginda menengar sembahnya menteri, tahulah maksud mau kan putri Baginda pikir di hati sendiri, baik juga dia kuberi Jikalau hendak menurut aturan, Mariam nian suda tidak kebenaran Namanya jahat suda gelaran, selamanya membuat susah pikiran Setelah suda pikir baginda, segera ia mengeluarkan sabda Ambil engkau Mariam anaknda, buat jadi istri yang muda
Karena hatiku sudalah luka, tidak senang memandangnya muka
Menjahatkan nama memberi duka, ambillah bawa di mana suka Sama diakan menjadi abdi penjuri, dibawa orang keliling negeri Baiklah engkau buat istri, aku suka tidak terperi
Apabila Ur menengar kata, sukany atidak menderita
Laksana mendapat gunung permata, menyembah menjulang dui:
mahkota Setelah habis sekalian perinya, Ur segera pulang ke rumahnya Menyuruh semua hamba sahayanya, menjemput Mariam dengan sukanya Apabila Mariam naiknya suda, suatu istana disediakan ada Cukup dayang dengan bedunda, di situlah duduk bangsawan
muda....117
Ur suda memanggil paderi, suda kawin kedengan putri Tinggal menunggu janji terperi, empat bulan sepuluh hari Sepuluh hari itu lebihnya, disebutkan pula lain perinya Kapal Peranji sampai ke negerinya, kapitannya naik dengan segeranya Segera naik sekalian rata, Nurdin terikat dibawa serta Kepada Ur diserahkan serta, pencuri Islam dianya nyata
Kapitan berkabar kedengan sopan, Islam ini orang tangkapan Di Iskandariah mencuri sampan, bunuhlah jangan panjang harapan Ur pun segera memandang rupa, kepada Nurdin ingat-ingat lupa Rasanya bagai suda berjumpa, kata Ur engkau siapa Siapa engkau hai pencuri, kepada aku hendak benar berperi Rasanya suda berjumpa diri, Nurdin segera menjawab menteri Menjawab menteri dengan segeranya, nama hamba Mahmud adanya Kerjah memancing beberapa lamanya, bertemu sampan hanyut dianya Hanyut dianya tidak bertali, hamba mencuri tidak sekai Niat hendak dikasih kembali, pada yang punya mintak kenali Kata Ur kedengan murka, engkau jangan berbanyak reka Orang Islam memang durhaka, hendak dibunuh menunggu ketika Ur bertitah pada khadamnya, orang ini bawa dengan segeranya Di kandang binatang penjara dianya, hendak dibunuh menunggu
ketikanya......118
Khadam segera ia membawa, Nurdin dirantai tangan kedua Di kandang binatang dikuncikan jua, khadam meninggalkan sambil tertawa Sambil tertawa ia menentang, katanya duduk dengan binatang
Memakan rumput pagi dan petang, tunggu sampai aku nan datang Aku nan datang akan termasa, mengilangkan segala engkau punya dosa Daripada engkau menanggung siksa, baiklah mati dengan sentosa Setelah suda khadam berbahana, berjalanlah hilang entah ke mana Tinggal Nurdin muda teruna, kaki tangan rantai terkena Nurdin melihat hal dirinya, sangatlah pilu dalam hatinya Sangat menangis konon dianya, terhentilah di situ perkataanya Raja Peranji tersebut peri, bercakap dengan permaisuri Mariam diserahkan kepada menteri, biarlah dia buat istri Karena dia sudahlah nyata, tiada terperlihara kepada kita Selamanya membuat nama yang lata, memberi gaib semata-mata Permaisuri suda membenarkan, tiada panjang lagi dipikirkan Di dalam hati suda dilipaskan, demikian itulah orang citrakan Adapun akan duli baginda, ada mempunyai sepasang kuda Antiru negeri banding tiada, baginda nian kasih bukannya pada Beberapa raja-raja lainnya negeri, inginkan kuda itu tidak terperi
Disuruh hulubalang pergi mencuri, tetapi dijaga setiap hari.....119
Adapun masa ketika itu, kuda tu sakit nyatalah tentu Baginda nian susah bukan suatu, Ur dipanggil ketika itu Ketika itu Ur pun ada, seraya menyembah kepada baginda Raja Peranji segera bersabda, aku nian sangat menyusahkan kuda Kuda itu sakit keduanya, keluar bungus mulut hidungnya Cari dokter yang mengobatinyaa, kuharap baik dengan segeranya \Jikalau baik kuda diobati, nyatalah engkau empunya bakti Apa maksud engkau hajati, tentu aku memberi pasti Setelah Ur menengar sabda, menyembah ia pada baginda Patik pohonkan kedua kuda, hendak dibawa sekarang ada Hendak dibawa ke rumah sendiri, supaya diobatkan settiap hari Siapa yang pandai patiklah cari, supaya tidak jadi nyukari Titah baginda seri betara, kuda itu bawalah segera
Jangan lambat berkira-kira, takut kalau mendapat cidera Ur menengar sabda terbilang. menvembah baginda serta menjulang
Kedua kuua dibawa pulang, sampailah tidak lamanya selang
Tidak selang antara lama, ke rumah Ur sampailah semua Kedua kuda sangat diumpama, dengan Nurdin didudukkan sama Ur suda pulang dianya, Nurdin pula disebut citranya
Sangatlah azab rasa badannya, kepada Allah berdoa dianya........120
Berdoa dia pada itu masa, Ya Illahi Tuhan Yang Esa Lepaskanlah hamba daripada siksa, jumpakan Mariam muda berbangsa Setelah berdoa muda bcstari, kelam malam sudahiah hari Nurdin terlenyap perasaan diri, seorang tua nampak terdiri Nampak terdiri seorang tua, ia berkata sambii tertawa Hai Nurdin dengarlah jua, obatkan olehmu kuda kedua Obatnya itu delima muda, tentulah baik kedua kuda Lepaslah engkau tak dapat tiada, istrimu Mariam sedialah ada Setelah orang itu berkata, gaiblah ia daripada mata Nurdin sadar terkejut sertä, sangatlah suka di dalam cinta Apabila sampai keesokan hari, datanglah ke situ Urnya menteri Memeriksa kuda ia berdiri, penyakitnva bertambah tidak terperi Nurdin segera ia bertanya, tuan menteri ampun kiranya Kuda ini apa sebabnya, hampir mati nampak rupanya Ur segera ia menyahuti, kuda ini hendak diobati Siapa membaikkan dengan seperti, apa kehendaknya kuberi pasti Nurdin menyahut dengan segeranya, jikalau hamba miengobatinya Kedua kuda baik dianya, apa gerangan diberi upahnya Menteri Ur menjawab kata, jikalau engkau membaikkan nyata
Kulepaskan dari mati bercinta, kuberi upah beberapa harta.......121
Nurdin suka seraya berperi, penyakit kuda tiada menyukari Ini malam boleh hamba tawari, baiklah tidak beberapa hari Tetapi hamba mintak carikan, delima muda mintak bawakan Supaya boleh hamba obatkan, ini malam hamba mulakan
Ur menengar kata begitu, sukanya bukan lagi sesuatu
Khadamnya disuruh sekarang itu, delima muda dicari tentu Khadamnya segera pergi melompat, ia berjalan kedengan cepat Tidak sampai sejam seperapat. delima muda sudalah dapat Sudalah dapat kepada menteri, kedengan Nurdin segera diberi Belenggu Nurdin dibuka menteri, Nurdin hormat serta berdiri Serta berdiri muda kesuma, ia menyambut buah delima Di kurungan kuda masih bersama, menteri berkata dengan umpama Dengan umpama menteri berida, obatkanlah dahulu kedua kuda Jikalau baik nampaknya tanda, kulepaskkan engkau mungkir tiada Seetelah habis ia berperi, pulanglah sudah Urnya menteri Tingga! Nurdin seorang diri, mengobatkan kuda sebagai diajari Sebagai diajari di daiam mimpinyaa, kuda nian suda lain rupanya Seketika itu baik keduanya, Nurdin pun heran melihatkannya Hari pun malam sudalah tentu, Nurdin pun tidur ketika itu
Hingga siang nyatalah waktu, Ur suda datang ke situ......122
Ke situ memandang kuda kedua, dilihatnya baik tiada kecewa Sukanya serta tertawa-tawa, Nurdin masih tidurnya jua Kandang kuda segera dibuka, Nurdin dibangunkan itu ketika Menteri Ur sangatlah suka, disuruh keluar Nurdin yang duka Disuruh khadam beberapa orang, dimandikan bersih ia sekarang Diberi persalin pakaian yang terang, cukup lengkap tiadalah kurang
Segeralah Nurdin pada itu pagi, dibawa Ur naik mahligai Diperjamu makan berbagai-bagai, diberi temıpat martabat yang tinggi Di situlah konon muda bestari, duduk bersenang beberapa hari Pilu dan rawan tiada terperi, teringat kepada Mariam putri Adapun tempat Nurdin itu, bertentangan mahligai Mariam di situ Tiada jauh bertemu pintu, tepinya mahligai menjadi satu Adalah kepada suatu masa, duduk di jendela muda berbangsa Teringat Mariam senantiasa, pilunya hati bukan-bukan rasa Bukan-bukan rasa pilunya hati, seperti hendak segeralah mati
Adapun Mariam muda yang puata, berjumpa pencuri gelap gulita Sangka Mariam Nurdinlah pasti, diikut berjalan bersungguh hati Kemudian Mariam diamat-amati, nyatalah bukan Nurdin gusti
Dihunus pedang dengan segeranya, kepada pencuri diparangkannya Putuslah dua mati dianya, Mariam pun mengambil kuda keduanya Kembali di belakang gerejah sana, dilihatnya Nudin beradu lena Dibangunkan Mariam dengan sempurna, Nurdin pun sadar terkejut bahana Terkejut melihat Mariam ada, sangatlah suka di dalam dada
Masing-masing naik ke atas kuda, lalu berjalan kedua muda......129
Kedua muda berjalan dianya, Mariam berkisahkan hal ikhwalnya Di mahligai Ur mati semuanya, serta pencuri ia membunuhnya Ia membunuh pencuri kuda, untung sekali bertemu adinda Serta ditunjukkan mavatnva ada. Nurdin melihat mengurut dada Mengurut dada terheran-heran, nyaris sahaja dapat kapiran Baiknva adinda jumpa kebenaran, jikalau tidak susah pikiran Mariam tertawa seraya berperi, jika harapkan kakanda jauhari Tentu malam ini tak iadi lari, ke manalah gerangan membawa diri
Bercakap keduanya sambil berjalan, kuda nian tangkas sangat kebetu-
lan Masuk hutan kedua taulan, pukul tiga terbitlah bulan Terbit bulan amatlah terang, ke dalam hutan ia menyerang Tiada berhenti kedua orang, hingga siang nyata benderang Nyata benderang siangnya hari, berjumpalah sungai amat berseri Airnya jernih tidak terperi, lalu berhenti kedua jauhari Lalu berhenti kedua muda, di pohon kayu diikatkan kuda Kedua mandi di sungai yang ada, kemudian naiklah bersenanglah pada Bersenang pada ketika itu, Mariam membuka bingkisan suatu Berisi bekalan nyatalah tentu, kedua makan ia di situ Keduanya itu terhenti cerita, disebutkan pulah suatu kata
Raja Peranji disebutkan warta, hari siang sudalah nyaa......130
Sudalah nyata siangnya hari, baginda berkata pada permaisuri Sekarang ini bersiaplah diri, kita pergi ke rumah Ur menteri Hendak melihat Mariam anaknda, apakah ia mufakat suda Permaisuri pun suka di dalam dada. bersianlah segala davano bedunda Apabila suda siap sekaliannya, baginda pun berjalan dengan surinya Cukup dengan alat kebesarannya, berapa banyak yang mengiringkan- nya Ke rumah Ur sampailah ia, didengarnya banyak bunyi manusia Mengatakan menteri mendapat bahava. dibunuh oleh Mariam Zanaria Mariam Zanariah suda tiada, hilang serta kedua kuda Apabila didengar oleh baginda, sehabis murka di dalam dada
Anak baginda masih dua orang, Najib namanya kepala perang Satunya Nasir terlalu garang, dititahkan baginda panggil sekarang Najib dan Nasir datanglah segera, menyembah baginda seri betara Dititahkan baginda kedengan segera, mencari Mariam di hutan belan- tara Bawa pahlawan seribu mereka, pergilah segera ini ketika Jikalau berjumpa anak celaka, bunuhlah jangan dipandang muka Najib dan Nasir dengan segeranya, seribu pahlawan berkuda semuanya Menuju ke hutan sangat tangkasnya, baginda mengiring juga di be- lakangnya Adapun akan permaisuri, pulang ia ke dalam puri Menangis meratap tidak terperi, mengenangkan anaknya Mariam Zanari...131
Mariam Nurdin tersebut cerita, tengah duduk berkata-kata Didengar bunyi gegap gempita, seribu pahlawan dengan senjata Najib dan Nasir dahulu dianya, Mariam dilihat dengan nyatanya Serta bertampik demikian katanya, anak zinah di sini rupanya Nurdin melihat demikian peri, tergopoh-gopoh hendaklah lari Segera ditahan Mariam Zanari, kakanda jangan takut dan ngeri Jangan ngeri jangan ketemasan, hari inilah hari pengabisan Baiklah mati tak banyak rasan, jikalau tidak tentu kelepasan
Apalah hajat mahkota insan, apakah hendak mengajak pernisan Berjalanlah Ur tiadalah lengah, di mahligai Mariam di kamar tengah Setelah sampai Ur terngangah, memandang Mariam seperti bungah
Seperti bunga mawar yang kembang, memberi cinta rawan mengam- bang Mariam tersenyum memberi bimbang, asyiknya Ur tidak tertambang Tidak tertambang di dalam hati, memberi hormat pada cik siti Apalah hajat adikku gusti, memanggil kakanda tak bolel bernanti...126 Mariam tersenyum sangat indahnya, serta berkata dengan manisnya Beta ini sangat rindunya, menunggu janji sangat lamanya Sangat lamanya janji yang terbeda, tiada pula tahan adinda Terbayang-bayang wajah kakanda, inilah sebab dipanggil ada Karena pikiran suda berika. ini malam hendak bo Kakanda panggil janganlah lika, sekalian dayang ini ketika Sekalian isi mahligai seri, kakanda suruh kumpul ke mari Bermain gambus tari menari, makan minum sampai siang hari Karena suda niatnya beta, hendak bermain bersuka cita Sekarang inilah dimulai serta, malam besck bercampur kita
Ur menengar kata begitu, sukanya bukan lagi suatu Sekalian dayang dipanggil tentu, seisi mahligai pada itu waktu Sekalian permainan diadakan semuanya, gambus kecapi ada sekalian- nya Beberapa makanan disediakannya, arak dan anggur pula sertanya Ur nian suka tidak terperi, beperapa alatan disediakan sendiri Adapun akan Mariam putri, obat bihus dapat dicari Sekalian makanan yang ada itu, ditaruknya bilus satu persatu Kemudian memulai bermain tentu, ramainya bukan lagi suatu
Sekalian perempuan berjepin pada, bernyanyilah mana yang muda- muda
Mariam duduk di kursi perada. bersama Ur di situ ada.....127
Kira tengah malam suda waktunya, dayang mengeluarkan makanan semuanya
Sekaliannya makan sangat ramainya, Ur pun serta juga dianya Akan Mariam muda terala, menuangkan anggur di dalam piala Serta mengatur makanan pula, suda ditaruk bihus segala Piala diberikan Urnya menteri, Ur menyambut muka berseri Sukanya tidak lagi terperi, segera diminun tidaklah kari Sekalian orang mana yang ada, makan minumlah gurau dan senda Adasaat nampaklah berbeda, mulai mengantuk berbaring pada Ur pun suda jatuh terlentang, tidak bergerak seperti batang Sekalian yang lain juga terguntang, Mariam sangat suka menentang Mariam pun berjalan dengan segeranya, hazanah Ur dibuka semuanya Mas dan intan segera diambilnya, suatu pedang pula dibawanya Suatu pedang ia membawa, ke tempat Ur terbaring sumua Mariam memandang sambil tertawa, berkata ia seorang jua Hai Ur menteri Peranji, kepada raja memintak puji Rupa seperti iblis yang keji, sekarang aku menyampaikan janji Mariam waktu ia berkata, sambil memarang Ur yang buta Bercerailah kepalanya sudalah nyata, yang lain pula diparang serta Yang lain itu diparanglah pasti, habis seorang seorang diganti
Seratus dua orang yang mati, baharu puas rasanya hati .....128
Mariam baharu puas hatinya, kemudian keluar dengan segeranya Ke belakang gereja haluan tujunya, terhenti dahulu ini kisahnya Tersebut ada raja seorang, musuh raja Peranji yang garang Raja tu menengar kabar yang terang, raja Peranji mempunyai kudanya perang Sepasang kuda indah terlalu, hijau berkilat warnanya bulu Suda dibawa berperang selalu, siapa yang naik tak boleh talu Raja tu menyuruh seorang hambanya, pergi mencuri kuda keduanya Itu malam sampai dianya, di belakang gerejah didapatinya Adapun Nurdin ketika waktu, ia berbaring tiduriah tentu Pencuri kuda sampailah ke situ, dilihatnya nyata kudanya itu Kuda raja dilihatnya nyata, dibuka talinya dibawa serta
Terbayang-bayaang wajah cik siti, sebagai sungguh laku pekerti
Laku pekerti sebagai nyata, berdebar-debar di dalam cinta
Nurdin pun cucur airnya mata, lalu bernyanyi muda yang puata
Bunga mawar bunga cempaka, ditanam dekat bunga kasturi Adinda penawar hati yang duka, di mana kakanda hendak men-
cari....123
Ditanam dekat bunga kasturi, di dalam taman raja angkasa Di mana kakanda hendak mencari, tentukan tempat muda berbangsa
Tiadalah kami panjangkan citra, Nurdin bernyanyi berbagai perkara Rawannya hati tidak terkira, serasa hendak matilah segera Adapun Mariam ketika itu, ia berdiri dekatnya pintu Didengarnya suara berpantun di situ, berdebarlah hatinya semangat tak tentu
Semangat tak tentu hilang melayang, terdengar pantun yang kasih
sayang
Gemetarlah badan sendi bergoyang, wajah Nurdin nampak berbayang
Nampak berbayang di ekor mata, karena tak lepas di dalam cinta Mariam pun cucur airnya mata, seorang diri berkata-kata
Wahai kakanda Nurdin bestari, di mana gerangan kakanda mencari Adinda nian duduk di aatas duri, di bara api sehari-hari Jikalau tidak berjumpa segera, hanguslah badan dimakan bara Panas rasanya tidak terkira, hampirlah kelak mendapat cidera Mariam berkata berulang-ulang, arwah semangatnya sudalah hilang Terbayang melayang ke mega malang, jatuh pingsan wajah cemerlang Adapun Nurdin pula disebut, menengar suara yang lemah lembut Arwahnya terbang dibawa ribut, semangatnya hilang pula tercabut Semangat tercabut rebah terhantar, kaki dan tangan jadi gemetar
Tidak bergerak tidak berkitar, demikian halnya ada sebentar.......124
Ada sebentar demikian halnya, kemudian ingat sadar dirinya
Duduk di jendela pula dianya, duduk termangu letih badannya
Adapun Mariam demikian pula, ingat letih badan segala Lalu berangkat badan dihela, memandang dekat tingkap jendela
99 Apabila memandang konon cik siti, berpandanglah Nurdin nyatalah
pasti Nurdin demikian laku pekerti, sama menerpah di dalam hati Mariam memandang dengan nyatanya, tiada syak lagi sangkanya Membukalah pintu dengan segeranya, ke tempat Nurdin didapatkan- nya Nurdin suda di muka pintu, bertemulah konon keduanya itu Berpeluk bercium dia di situ, bertangis-tangisan keduanya tentu Nurdin segera menarik tangannya, ke dalam kamar tempat tidurnya Di situlah duduk ia keduanya, sama-sama bercitra akan halnya Mariam lalu ia berpeeri, baik segera kita nian lari Malam inilah adinda pikiri, sekali ini biarlah cerai Biarlah cerai biarlah binasa, tak boleh lagi orang memaksa Si buta nian hendak diberi rasa, supaya kita dapat sentosa Nurdin segera menjawab kata, bagaimana ikhtiar muda yang puata Kepada orang jangannya nyata, supaya lepas kedua kita Mariam segera menyahut sabda, malam ini keluarlah kakanda
Serta bawak kedua kuda. di belakang gereiah tunggu adinda.......125
Setelah habis berperi-peri, Mariam lalu bermohon diri Takut kalau ketahuan menteri, berjalanlah masuk Mariam putri
Nurdin tinggal ia seorang, menantikan malam juga sekarang Hari pun suda habisnya terang, hati Nurdin sangatlah girang Sangatlah girang di dalam hati, waktu gelap juga dinanti Sepertiga malam nyatalah pasti, Nurdin keluar kuda didapati Kuda didapati dibuka talinya, lalu dibawa dengan segeranya Di belakang gerejah menanti dianya, lalu berbaring seorang dirinya Mariam pula disebutkan kata, hari pun malam sudalah nyata Seorang dayang disuruhnya serta, memanggil Ur menteri yang buta Dayang berjalan berperi-peri, sampailah kepada Urnya menteri Dayang menyembah sepuluh jari, tuan dipanggil Mariam putri Ur menengar perkataan lisan, sukanya hati bukan-bukan rasan
Sambil berkata ia keduanya, Mariam pun naik atas kudanya Nurdin pun naik ia sertanya, disuruh Mariam jaga di belakangnya Mariam menggertakkan kuda sendiri, rupa laksana orang menari Najib dan Nasir datang ngampiri, menikamkan tombak kanan dan kiri Sangat pantas Mariam yang puata, ditangkap dipatahkan kedua senjata Najib murka tidak menderita, mengunus pedang diparangkan serta Mariam menangkis dengan ulu pedangnya, lepaslah dia dengan mudahnya Nasir pula memarang dianya, Mariam melompat dengan kudanya Kudanya mendekat serta gembira, ikat pinggang Nasir ditangkapnya segera Nasir dilambungkan ke atas udara, jatuh ke bumi kepala pun cidera Kepada Nurdin Mariam berperi, paranglah Nasir sebelum berdiri Nurdin memarang hatinya ngeri, matilah Nasir kepalanya cerai...132 Najib melihat saudaranya mati, bertambah murka di dalam hati Memarang Mariam tidak berhenti, ditangkiskan Mariam sahajalah pasti Pahlawan seribu melihat demikian, semuanya menyerbu beramai- ramaian Mariam melihat pahlawan sekalian, Najib segera dikasih bahagian Dikasih bahagian segera diparangnya, Najib menangkis dengan peri- sainya Tetapi tidak tahan olehnya, putuslah Najib serta kudanya Serta kudanya Najib yang limpat, putus keduanya menjadi empat Pahlawan melihat tuannya wafat, masing-masing segera melompat
Belum sampai pahlawan mara, Mariam menggertakkan kudanya segera Menempuh pahlawan tidak terkira, siapa dihadapannya tentulah cidera Pahlawan nian belum sempat memandang, kepalanya suda disambar pedang Berpelantinganlah kepala di tengah padang, Mariam bertambah hatinya radang
105 Kuda Mariam sebagai melompat, dikumbuli pahlawan masuklah rapat
Diparang Mariam mana yang dapat, pahlawan menangkis tiadalah
sempat Mana diparang dari kepalanya, belah dua sampai di kudanya Mana yang kena pada pinggangnya, putus tidak ada tinggalnya
Demikian itulah Mariam memarang, mati kira-kira dua ratus orang
Sekalian yang tinggal pahlawan garang, datang takutnya bukan seba-
rang Bukan sebarang hatinya ngeri, melihat hal demikian peri
Masing-masing segeralah lari, dikejar oleh Mariam bestari.....133
Adapun baginda duli sampaian, melihat dari jauh hal kejadian Dilihat pahlawan lari sekalian, baginda pun lari takut terkemudian
Pahlawan lari baginda pun lari, sekalian menujuu ke dalam negeri
Mariam kembali seorang diri, mendapat Nurdin muda bestari
Adapun Nurdin pada itu masa, diam termenung bagai terpasa Melihatkan Mariam punya perkasa, beratus oranng semua binasa Setelah Mariam sampainya nayta, kepada Nurdin ia berkata Baiklah juga bersegera kita, supaya jangan mendapat lata Tentu ayahanda bertambah murka, disuruhnya nanti beribu mereka Akhirnya kita dapat celaka, baiklah berjalan ini ketika Setelah suda mufakat kedua, sekalian bungkusan diambil semua Tiada tinggal suatu jua, berjalanlah ia tiadalah jua Berjalan ia dekat-dekatan, kudanya tangkas bukan buatan
Masuklah hutan keluar hutan, ke Iskandariah tuju pekatan
Tersebut baginda pulang ke negeri, sampai ia ke istana sendiri Berjumpa kepada permaisuri, dikabarkan sekalian hal dan peri
Dari anaknya keduanya mati, dibunuh Mariam berganti-ganti Permaisuri bertambah susahnya hati, menangis tidak lagi berhenti Adapun baginda raja terbilang, masgulnya bukan lagi kepalang Keluar di pengadapan menteri hulubalang, bersabda baginda beru-
lang-ulang....134
Bagaimana ikhtiar kamu sekaliannya, anakku Mariam sangat jahatnya
Siapa cakap membunuh dianya, apa hendak kuberi semuanya Adalah menteri tua sekali, seraya menyembah ke bawa duli Pikiran patik yang bebal tuli, Mariam tak usah diambil perduli Karena jikalau kita tuntuti, bertambah-tambah menyusahkan hati Karena dia lain pekerti, berapa banyak yang suda mati Tambahan ia sudahnya lari, apalah guna hendak dicari Cuma-cuma menyusahkan mahkota negeri, baik hilangkan di hati sendiri Jikalau dapat dibunuh gerangan, suatu tidak ada gantungan Mencari dia berpanjangan, baik hilangkan di angan-angan Baginda pikir di hati sendiri, benar juga sembahnya menteri Apalah guna hendak dicari, biarlah dia demikian neri
Mariam pula tersebut perinya, kedua berjalan berapa lamanya Ke Iskandariah sampai dianya, ke rumah Mansur yang ditujunya Mansur tengah duduk di beranda. dilihatnva datang dua orang berkuda Nurdin Mariam keduanya pada, Mansur pun heran mengurut dada Sangatlah suka di dalam hati, meneriakkan istrinya kedengan pasti Disuruh menyambut Mariam Siti, kedua turun dengan seperti
Istri Mansur dengan takjimnya, Mariam disilakan naik ke rumahnya
Mariam pun turun dari kudanya, Nurdin serta jùga keduanya...... 135
Kedua kuda Mansur ikatkan, Nurdin Mariam segera disilakan Keduanya naik tiada dilambatkan, Mansur sangat suka melihatkan Diaturkan kursi jantera bertali, perkakas Mansur baharu membeli Sekalian hamparan indah sekali, Mariam memandang sangat mengenali
Mansur berkata dengan sukanya, anaknda memandang perkakas semuanya Berkat anaknda juga keduanya, ayahanda terbeli ini sekaliannya Ayahanda Nurdin punya berkatan, diberinya berapa permata intan Seribu dinar uangnya kontan, kasihnya itu bukan buatan Mansur mekisahkan dari mulanya, ayah Nurdin bertemu padanya Nurdin menengar sangat pilunya, lalulah cucur air matanya
Kemudian Mansur bertanya pula, kisah Mariam dari bermula Dikisahkan Mariam segala-gala, Mansur menengar menggeleng kepala Mansur pula ia berkata, sekarang hendaklah segera kata Ke negeri Baghdad tuan bertahta, mamanda hendak mengikut beserta Ayahanda Nurdin apalah halnya, duduk bercinta berapa lamanya Mamanda ini cakap padanya, hendak membawa tuan keduanya Mamanda pun hendak pindah ke sana, tinggal di sini apalah guna Anaknda kedua suda tersena, menjadi anak lanang betina Karena tempuh tuan tinggalkan, makan minum tiada diindahkan
Tuan kedua juga dipikirkan, hendak mencari tidak berdayakan.......36
Keempatnya itu duduk bicara, hendak ke Baghdad kedengan segera Lima hari lagi pada kira-kira, tidak mauk lebih antara Tiada hamba panjangkan kata, Mansur berjual sekalian harta Rumah dan kampung sekalian rata, tidaklah tinggal suatu-nukta
Akan Mariam Nurdin sertanya, menjual beberapa permata padanya Membeli perkakas akan perjalanannya, cukup tidak ada kurangnya Hamba laki-laki seratus orang, hamba perempuan sedikit kurang Berapa banyak lainnya barang, dibeli Nurdin masa sekarang Masa sekarang baharulah suka, membeli barang berbagai nika Peti kanisa belum dibuka, di situlah hazanah tiada terhingga. Tiada terhingga akan banyaknya, intan zambrud sangat indahnya Permata yang sangat mahal harganya, di dalam itulah akan tempatnya Mansur pun tiada tahu isinya, kepada Nurdin ia bertanya Peti ini apa ada di dalamnya, hamba simpankan beberapa lamanya Mariam menyahut kata di situ, belum tahu isinya itu Entahkan harta entahkan batu, nantilah di Baghdad dibuka tentu Telah mustaib masa sekarang, lima puluh unta membawa barang Serta hambanya seratus orang, sekalian memakai alatnya perang Apabila sampai waktu dan masa, turunlah Mariam muda berbangsa
Serta Nurdin sejak perkasa, naik kudanya amat biasa.......137
Akan Mansur dengan istrinya, naik unta itu biasanya
Berjalanlah angkatan sangat eloknya, siapa melihat sangat herannya Di syair nian tidak kita sifatkan, lima puluh unta sekalian dihiaskan Satu unta dua hamba menjagakan, serta hiasan suda dinatutkkan Seratus pulah hamba perempuan, lima puluh membawa makanan perjamuan Ada yang membawa tungkal berawan, ramainya tidak lagi berlawan Lagi berjalan di dalam negeri, ditonton orang kanan dan kiri Hingga lepas ke hutan duri, berjalanlah angkatan berperi-peri Berperi-peri berjalan angkatan, berapa melalui rimba dan hutan Di mana tempat indah penglihatan, berhentilah di sana mengambil kesehatan Berapa bertemu gunung dan desa, berhenti di sana suka termasa Jau perjalanan muda berbangsa, sambil bermain tidak berasa Suda antara berapa lamanya, di negeri Baghdad hampir dianya Di simpangan jalan itu masanya, banyak orang pada dilihatnya Sepuluh orang ada berdiri, kepada kafilah datang ngampiri Apabila sampai ia berperi, kafilah darimana datang ke mari Nurdin menjawab segera tak lena, iskandariah datang dari sana Kamu bertanya apalah makna, kabarkan juga dengan sempurna Sepuluh orang menjawab kata, patik nian hendak bertanya warta Nurdin anak saudagar nvata. barangkali tuan berjumpa mata...138 Adapun patik semua sekali, hamba Tajuddinsaudagar asli Segala kafilah disuruh kenali, barangkali anaknya ada kembali Apabila suda siangnya hari, patik sekalian keluar negeri Di jalan inilah bertanyakan peri, barangkali berjumpa muda bestari Apabila malam patik nian pulang, saudagar bertanya berulang-ulang Tidak didapat kabar terbilang, saudagar menangis bukan kepalang Demikian kerjah patik sekaliannya, tujuh tahun demikian adanya Tuan nian kalau menengar kabarnya, Nurdin itu di mana tempatnya Kami nian kasihan tidak terperi, melihat saudagar ke sana ke mari Apabila suda malamnya hari, menangislah ia laki istri
Apabila Nurdin menengar cerita, pilunya tidak dapat dikata Tidak berasa cucur air mata, kepada hamba dipandang serta Berkata Nurdin muda yang asli, pulanglah kamu semua sekali Katakan sembahku ke bawa duli, akulah Nurdin suda kembali
Seorang sahaja pada aku bersama, supaya tahu ayahanda punya ruma Di belakang kamu tidakkan lama, sampilah segera kami nian semua
Apabila hamba menengar peri, segera menyembah Nurdin bestari Kemudian masing-masing berkuda sendiri, dipencutnya pulang tidak terperi Ada sesaat itu lamanya, di rumah saudagar sampai sekaliannya Tajuddin terkejut menengar kudanya, segera dilihat nyata ham-
banya....139
Nyata hambanya sembilan orang, saudagar segera bertanya terang Mengana kamu pulang sekarang, ke mana kawan kamu seorang Hambanya menyahut dengan goponya, tuan Nurdin datang dianya Membawak barang sangat banyaknya, sekarang suda hampir adanya Apabila saudagar menengar peri, rebahlah pingsan tak sadar diri Datanglah hamba berlari-lari, segera menyiramkan saudagar jahari Disapu air mawar muka badannya, baharulah ia sadar dirinya Saudagar pun masuk ke dalam rumahnya, memberi tauk pada istrinya Istrinya menengar kabar begitu, sukanya bukan lagi suaatu Memanggil sekalian kerabatnya di situ, beratus orang pada hari itu Saudagar Taju pulah disebutkan, beratus kambing disuruh sembelihkan Mana kenalannya disuruh panggilkan, datang Nurdin juga dinantikan
Berapa alat sudalah sedia, dibentang hamparan yang mulia-mulia Dipanggil berapa saudagar yang kaya, sekaliannya datang tidak berse- lia
Istri saudagar demikian kerjanya, berapa banyak perempuan di- panggilnya Berapa jamuan sedia semuanya, luar dan dalam sangat ramainya Istri saudagar tak tauk peri, sangkanya Nurdin datang sendiri Tiada disangkanya membawa istri, demikian juga saudagar jauhari
Pada tengah hari suda sampailah, nampak datang kumpulan kafilah Sekalian yang hadir pada turunlah, berdiri di halaman pada menanti-
lah......140
Apabila dekat kafilah turun, berpecah dua dengan sempurna Separuh masuk di jalan betina, separuh terus dihadapan istana Setelah sampai Nurdin yang puata, dilihatnya ayahnya berdiri nyata Datanglah Nurdin dengan air mata, memeluk kaki ayahnya serta Jangan dikata pula ayahnya, menangis memeluk leher anaknya Dipimpin dibawa naik ke rumahnya, auringkan beratus sanak kera- batnya Mansur pun bertemu saudagar pilihan, berjabat tangan dengan kesukaan Saudagar menyilakan mereka sekalian, duduk beratur di tempat ter- bayan Saudagar berkata dengan kepiluan, Mansur wai sampai kasihnya tuan Hingga ke mari diturut mengawan, tiada terbalas hamba yang rawan Saudagar habis kata-katanya, tangan Nurdin masih dipegangnya Dibawa masuk pada istrinya, di situ pula sangat ramainya Sangat ramainya sebagai apa, ibunya datang turut menerpa Menangis menjerit sangat ngelupa, karena anak baharu berjumpa Saudagar Tajuddin keluarlah suda, kepada Mansur berkalam bermada Tersebut Nurdin paras yang inda, kepada bundanya ia bermada
Berhentilah bunda menangis merawan, segeralah lihat di pintu perempuan Istri Mansur yang setiawan, istri anaknda serta kawan-kawan Bundanya terkejut menengar peri, rupanya anakku membawak istri Di manalah gerangan menantuku berdiri, aku nian tidak sadarkan
diri.....141
Ibunya segera ia mengkerahkan, sekalian perempuan disuruh men- galukan Sekalian pun turun tak terperikan, keluar di halaman ia menantikan Kafilah perempuan sampailah semua, istri Mansur Mariam bersama Tampillah perempuan yang menerima, menyilakan dengan tatah ker-
ama Ibu Nurdin ketika itu, berdiri menanti di muka pintu Sukanya hati bukansuatu, menerima anak menerima menantu Apabila Mariam sampai dianya, masih dengan tutup mukanya Ibu Nurdin menyambut tangannya, dipimpin masuk ke dalam rumahnya Mariam pun suda sangka di hati, inilah ibu Nurdin pasti Mariam pun hormat dengan seperti, menarik tangannya mengiringlah siti Mengiringlah siti di belakang mertua, ibu Nurdin tertawa-tawa Sukanya tidak lagi berdua, sampailah di majelis perempuan semua Mariam pun membuka tutun mukanva serta membuka baiu luarnva ferserilah cahaya amat terangnya, sekalian yang melihat termangu semuanya
Bersinarlah majelis amat cemerlang, cahayanya Mariam gilang gemi- lang Cantiknya itu tidak kepalang, sekalian yang melihat berhati walang Ibu Nurdin disebut peri, melihat keelokan Mariam putri Tahkiklah hati anak bidadari, dibawa Nurdin datang ke mari Disuruhlah duduk Mariam yang puata, diajak mertua berkata-kata
Ibu Nurdin tertambatlah cinta, kasih sayang sudahlah nyata .....142
Sudalah nyata kasih sayangnya, didalam berkata-kata nampak rupanya Sehabis suka di dalam hatinya, Nurdin pun datang ke situ dianya Bundanya segera ia berperi, anakku di mana dapat bidadari Mariam pun tersenyum manis berseri, melihatkan hal mertua sendiri
Nurdin pun keluar mendapat ayahnya, di situ menjamu orang semuanya Makan minum sangat ramainya, perempuan di dalam demikian ker- janya Makan minum luar dan dalam, hingga hampir hari nian malam
Tiada di sini dipanjangkan kalam, masing-masing dipulang hari pun
kelam Ibu Nurdin tersebut peri, duduk mehiaskan Mariam putri Kemudian dipimpin ia sendiri, mengkari suami saudagar jahari
Tajuddin tengah duduk di kursi, Nurdin dan Mansur duduk di sisi Ibu Nurdin datang mengiasi, membawak Mariam yang amat persi Istri Mansur bersama juga, beratus perempuan mengiring belaka
Tajuddin terkejut memandang muka, karena dia tidak menyangka
Siapa adinda bawa ke mari, di mana dapat anak bidadari Istrinya segera menyahut peri, anaknda Nurdin empunya istri
Bertambah terkejut ia menengarnya, kakanda tiada sekali menge-
tahuinya Disangka Nurdin datang sendirinya, rupanya membawa istri dianya Tersenyum Mariam sedikit tertawa, sambil mencium tangan mertua
Ibu Nurdin berkata jua, besok memulai bekerjah sema....143
Saudagar Tajuddin menjawab peri, bekerjah apa besoknya hari Segera dijawab oleh istri, hendak mengantinkan anak sendiri Di mana jadi habis perkara, besok mintak mulai segera Panggilkan sekalian sanak saudara, kita nian puas menanggung Iara Sepuluh tahun menanggung duka, sekarang inginlah hendak bersuka Sekalian mainan panggilkan belaka, damaikan niat suda direka Anak Nurdin jangan masuk ke dalam, biar di luar dia bersilam Mulai bertunangan pada ini malam, Tajuddin tertawa menengar kalam Menengar kalam tertawa tak ranti, sangat sukanya di dalam hati Mana kehendak kakanda turuti, tidak sekali jadi memberati Setelah habis perkataannya, Mariam dibawa oleh mertuanya Masuk ke dalam diberi tempatnya, suda dihiaskan sangat eloknya Adapun saudagar Tajuddin itu, kampungnya besar sudalah tentu Sanak kerabatnya berkeliling di situ, diberi rumah seorang suatu Lima puluh rumah keliling rumahnya, semuanya itu sanak pamilinya Masih ada rumah kosongnya, kepada Mansur diberikannya Malam itu Mansur berpinda, serta istrinya siti yang inda Sekalian perkakasnya dilihatnya ada, diaturkan orang kurang tiada Adapun muda perwira, dengan ayahnya berjalan segera Pergi di gudang tempat bendahara, memeriksa barangnya yang tidak terkira...144
Peti kanisa ada di situ, dibuka nurdin ketika waktu Dilihatnya permata isinya itu, tak boleh dikira harganya tentu
Taju tercengang ia memandangnya, hai anakku darimana datangnya Raja-raja tak punya demikian banyaknya, anakku darimana dapat dianya Nurdin tunduk menjawab peri, nantilah sekalian anaknda kabari Keluarlah di gudang kedua jahari, oleh Nurdin dikunci sendiri Keduanya serta naik ke ruma, Tajuddin duduk di kursi teluma Akan Nurdin di sisinya bersama, disuruh kisahkan halnya semua Berhikayatlah Nurdin dari mulanya, hingga datang pada akhirnya Tajuddin terkejut menengarnya, Mariam tu anak raja rupanya Tajuddin segera masuk ke puri, memberi tahu pada istri Mariam itu seorang putri, anak raja memerintah negeri Jangan dibuat sebarang-barang, aturan raja janganlah kurang Apa kehendaknya jangan dilarang, maklumlah tuan pikirkan terang Dikisahkan Taiu pada istrinva. bagaiman kicoh N padanva Istrinya heran menengarkannya, bertambah pula cinia kasihnya Tiada beradu Tajuddin jahari, sama keduanya laki istri Daripada sukanya tidak terperi, asyik berjalan ke luan ke buri Apabila siang hari nian nyata, memanggil hambanya Taju yang puata Disuruh bekerja sekalian rata, ada yang memanggil kerabatnya serta...145 Sanak kerabatnya kumpui sekalian, membuat kerjah akan keramaian Ada yang menjahit berapa pakaian, ada yang mengarang intan berlian Ada memajang sekalian jendela, pakai lisu mera perkala Setiap pintu diberi pula, memotong kain beratus hela Beratus hela tiap-tiap pintu, kain air mas sepuluh mutu Ramai bekerjah orang di situ, di luar rumah lainlah tentu Bekerjah masing-masing mana berkenan, ada yang memukul main- mainan Ada yang membetulkan tempat jalanan, ada yang bersedia membuat makanan
Bermacam-macam pekerjaan orang, tampik dan sorak tiadalah kurang Pekerjaan besar bukan sebarang, hamba tak cakap hendak mengarang Hal di dalam demikian iuga keriah nerempuan punva neraga Riuh renda tidak terhingga, ada setengah terus berlaga Tiadalah hamba panjangkan peri, pekerjaan sampai empat puluh hari Dihiaskan orang Mariam putri, indahnya tidak dapat dikabari Hari suda pukul sembilan, mulai datang orang panggilan Mariam terserilah laksana bulan, siapa melihat gundah kemasgulan Orang laki-laki demikian kerjanya, orang panggilan datang semuanya Beribu orang dalam citranya, jamuan besar tidak bandingnya Nurdin suda dihiaskan orang, diarak ramai bukan sebarang Semacam mainan tiadalah kurang, kemudian dinikahkan supaya te-
rang.....146
Setelah nikah Nurdin yang puata, Tajuddin memimpin dimasukkan serta Di kanan Mariam dibariskan rata, siapa yang memandang jadi ber- cinta Sekalian perempuan orang panggilan, masing-masing berkata dengan kenalan Kedua pengantin sangat kebetulan, inilah matahari kedengan bulan pengantin perempuan sangat cantiknya, anak siapa gerangan dianya Berapa ribulah isi kawinnya, alangkan sayang diberikan maknya Tiadalah kami panjangkan peri, pengantin masuklah di peraduan seri Dilabuhkan orang sekalian tirai, tertawa konon Mariamnya putri Akan Nurdin ia tawakan, pengantin basi sangat diramaikan Nurdin tertawa juga menengarkan, di luar pula kami sebutkan Orang laki-laki disebut gerangan, Tajuddin menjamu beratus hidan- gan Adat kami-kami tiada kekurangan, makan minum tidak kepalangan Orang perempuan juga demikian, makan minum juga sekalian Riuh rendah beramai-ramaian, tidak sedikit savang kerugian Tidaklah hamba panjangkan peri, selesai jamuan pada itu hari
Sekaliannya pulang ke rumah sendiri. disebutkan pula Nurdin bestari
Kasih sayang pada istri, apa kehendak semua diberi Ayah bundanya demikian peri, Mariam seperti anak sendiri Berapa dicarikan segala permainan, disukakan hati mana berkenan
Tidaklah ada lagi keinginan. sekaliannya hadir tidak kenonan..... 147
Saudagar Tajuddin sangat sukanya, dibuatkan taman tempat mandinya Sekalian buahan bunga semacamnya, di dalam taman ada semuanya Di tengahnya pula suatu kolam, airnya jernih terlalu dalam Tempat mandi selam menyelam, memberi suka hati di dalam Mariam dengan Nurdin yang puata, sehari-hari bersuka cinta Keadaan seperti raja bertahta, hamba dan sahaya jangan dikata Berkasih-kasihan tidak terperi, bermain sahaja setiap hari Pergi-pergian ke sana ke mari, tidak suatu ada menyukari Sanak kerabat sangat banyaknya, hara hura itulah kerjanya Bersuka-sukaan sepanjang masanya, kekal ikrar sampai kematian
Khatamlah ini syair Mariam Zanariah pada tanggal 2 Rajab Tahun 1323 bersamaan dengan 2 September 1905 tercap di tempat cap Said Hamid bin Husein Al Habsyi oleh Said Abdul Rahman bin Hamid Al Habsyi ampung 13 Hulu alembang148
i
2.2. Terjemahan kata-kata khusus Ami' Angkang Angkaran Antiru Azam Balu Benggali Benja Beraji Beranti Berbika Berdegar Berebang-rebang Bergembar Berika Beriyani Berkelong-kelong Berkenakan Berkoyan Berpelayangan
= = = 二 = = =
= = = = = = = = = 二 = = = =
| Berselia | tidak henti-hentinya |
|---|---|
| Bertandah | terkenal |
| Berura-ura | bersenang-senang |
| Bid' ah | mengada-ngada |
| Bihus | racun |
| kayuh terpenuhi keinginannya | |
| Bungus | buih |
| Cakmar | pecut, cemeti |
= = = = = = = =
paman sombong tidak perduli, acuh tak acuh seluruh kuat, tak bisa diganggu gugat tunggal suku yang sangat kejam dan bengis masgul berharga menunggu, menanti bercakap berdebar berlinang-linang terbaring berduaan mengira nasi kuning bohong, berdusta diijinkan berlimpah menyebar
Budam Bungas
Cati Catri Cerana Dalu Digerah Dikumbuli Dilalu Disula Ditemiah Ditunuh Dulak Gulabah Hali
Halua juadah
Hasut Hatir Hazanah Huriat
Huperdum
Icul-iculan Isykal Jariah Jentera Jeri Juni Jura Kadah Kahra Kalu Kari
二 = = = = = = = = = = = 二 = = = = = I
cat tempat di kanal tempat sirih berganti, berlalu dikerahkan dikeroyok dilewati, dilintasi disalib ditempuk dibunuh juling gundah jujur, berterusterang
berbagai jenis makanan
iri, dengki siap, siaga harta benda anak buah
Cacian ucapan pelampiasan kemarah-
an berjenis-jenis yakin
perempuan setir jera
pecahan uang rial berulangkali, terus menerus
kami angkuh iklas menghalangi
= 二 = = = = = 二 =
Kedah Kedian Kemendir Ketemasan kuras Lata Leka Lontih Limpat Lisu Madah Malak Maskat Mastuli Melengong Mengintih Mengkari Mengirat Menyelang Menyintang Meradang Meralang Misami Moyar Merutuk Mungkal Mustaib Musu Mutu Nyadar Pal
二 = = = = 二 二 = = = = = 二 二 = = = = 二 二 = = = = = = = = =
makanan penutup pesta atau acara selir memerintah cemas, khawatir lembar, halaman sengsara membantah sundal malang berlipat=lipat perkataan terbelalak makanan Melayu gulungan bingung mengintai mencari, menyusul menyangka mendahului, memotong menangkis tiba-tiba berangan=berangan mendongakkan kepala pusing mengumpat perasaan tak senang pasti jodoh,pasangan memendam rasa terlelap, nyenyak saat, waktu
Pelikat Petih Penjeruala Perkan Persiatan Rejam
Rusip
Sekedup Sekunyar Sekupu sualak Selarat-laratnya Seprah Serani Serati Sungar Syura Tahkik Takhsis Talu Teluma Terala Terbayan Tergenda Terguntang Terjali
Terlafaz
Terparak
Terpekan Tersangkang Tersara-sara
= = 二 = = = = = = = = = = = = 二 = = = = = = 二 = = = = = = = =
makanan yang dimasak kental penjolok langit, tinggi sekali tukang kemudi kumpulan dayang-dayang kalung, hiasan, pakaian melempari barang vang tidak berguna, tidak perlu rumah usungan sekoci ada ikatan saudara, ada jalinan darah semaunya kain panjang alas hidangan makanan Nasrani, Kristen sejenis itik tingkah laku tak sopan perasaan yakin takdir lancar singgasana jujur, dipercaya peraduan terkembang, terpasang berguling,gelisah, terlentang terbayang sibuk ke sana ke mari terucap tersurat termenung terpasang tergesa=gesa
Terjangkang-jangkang
Tersenasepakat Tuluk lawan senjata panjang tungkal pendapat, keinginan Ungtapan susah, masgul
Walang
marah
Werang
susah, murung
Wurang
ditawar Yanda
DAFTAR PUSTAKA
Ikram, Achadiati, 1980. "Perlunya Memelihara Sastra Lama", Analisis Kebudayaan, Tahun I nomor 3, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Subadio, Haryati, 1980. "Mencari Akar-akar Kebudayaan
Nasional". Analisis Kebudayaan, Tahun I nomor 1, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kebijaksanaan Teknis Ope- rasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.
Koentjaranigrat, 1990. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia Jam- batan, Jakarta. Majelis Pemusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, "Ketetapan MPRR No. IV/MPR/1978". Pedoman Penulisan Pengkajian Nilai-nilai Luhur Dari Tradisi Tulis Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Pendukungnya, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
Proyek Penerbitan Buku Sastra dan Daerah 1981, Pedoman Alih Aksara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Petunjuk Pelaksanaan Perekaman dan Penganalisaan Naskah Kuno,
- Penataran Tenaga Teknis Kesejarahan dan Nilai Tradi- sional, Jakarta.
Purwadarminta, W.J.S, 1985. Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN Balai Pustaka, Jakarta. Tarigan, Henri Guntur, 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra, angkasa, Bandung.
PERPUSTAKAAN
KEBUDAYAAN
DAFTAR INVENTARISASI NASKAH KUNO
- SYAIR SULTAN MAHMUD ISKANDAR MUDA
- SYAIR ABDUL MULUK
- SYAIR INDRA BANGSAWAN
- SILSILAH MELAYU DAN BUGIS DAN SEKALIAN RAJA-RAJANYA
- SYAIR SITI JUBAIDAH
- SYAIR HIKAYAT MARIAM ZANARIAH
- SYAIR BULAN TERBIT
- SYAIR SARUNG TANGAN MERAH
- BILAL
- SYAIR HIKAYAT SULTAN MADI
- SYAIR HIKAYAT MEMBAUR CINA