Baca PDF (OCR): Geguritan Bagawan Dwala

207 halaman · 207 halaman diproses dengan OCR· 299195 ms

Daftar isi
  1. Geguritan
  2. Bagawan Dwala
  3. I Gusti Putu Gede Dendi
  4. Geguritan
  5. BAGAWAN DWALA
  6. KATA PENGANTAR
  7. DAFTAR ISI
  8. "MOGA-MOGA TAK DAPAT GANGGUAN"
  9. 6. Putera beliau yang laki, bijaksana tak ada bandingannya,
  10. 7.Keindahan istananya seperti sorga, balai mas tinggi men-
  11. 12. (Lalu) Jaka Santosa menjawab, jangan ayahanda susah, ten-
  12. 16. Di daerah Indra Prasta ceriterakan, Semar sekarang,
  13. Gareng dan Petruk, ketiganya semua laki-laki, juga penjel-
  14. Parta.
  15. 32. Rajanya, yang bernama Sri Darma Wangsa, Punta Desa atau
  16. 33. Rakyatnya tidak dihiraukan, hanya berbakti kepada Tuhan, sungguh senang rakyat di sana semua mengusahakan
  17. 34. Para Pendeta banyak yang ahli, rakyatnya banyak ikut me-
  18. 36. Maha raja Punta Desa, di istana Amartha beliau tinggal,
  19. Bima yang terkenal bertempat tinggal di Mungguling, Sana
  20. 38. Memang tanpa Sang Partha, mengenai rupanya, menjadi
  21. beliau sakti dan sangat berkuasa berperang tak pernah
  22. 39. Banyak punya panah utama, Kala Anadah panah utama
  23. Dadali, panah Brahma sakti itu, bila bertanding dalam pepe-
  24. 40.Raden Nakula dan Sadewa, keduanya setia kepada kakanda
  25. 41. Dan Raja Darma Wati, bernama Raja Krisna dan Gatotkaca
  26. 55. Selalu senang yang ada di sana, tidak menghiraukan apa-
  27. 56. Aku dewa dan aku raja, aku rakyat dihormati, tiap-tiap
  28. 57. Tidak susah tidak kerja keras, aku miskin kaya selalu semua
  29. 59. Di Pandawa juga sama, di rumah yang tinggi sekali, di
  30. 61. Dapat pinjam juga tidak tahu, apalagi dapat meminjam,
  31. 71. Oh hanya anakku lagi, nasib anakku memang untung dapat
  32. 73. Riuh rendah rakyat Astina berangkat membawa senjata se-
  33. baru keluar dari istana, sekarang datang Bayuwara lalu
  34. 74. Lalu terdiam raja baru akan berangkat, melihat orang baru
  35. Duryodhana, di sana di balairung, melihat orang baru
  36. 79. Mukanya merah sebab terlalu marah, utusan berbicara lagi,
  37. 84. Itulah sebabnya hamba sebagai utusan, hamba datang
  38. 85. Baladewa tak henti-hentinya mencaci maki, itu pendeta an-
  39. kepala garong, binatang liar menjelma kepadanya. 86. Kamu juga demikian tak beda, otakmu muntahan kambing,
  40. 88. Disuruh ke mari hari ini akan kubunuh, mayatnya diberikan
  41. 89. Lalu berdiri dan ke luar kata-katanya agak keras, ya
  42. dewa, tandingilah sekarang, jika kamu perwira, mari keluar
  43. 90. Lalu berdiri Raja Aladhara, Bayuwara diseretnya, setelah
  44. tiba di luar istana, lalu di sana perang tanding, ribut yang
  45. 92. Bayuwara cekatan mengamuk dan bijaksana, kecepatannya
  46. menghilang tak henti-hentinya menyambar, susah yang
  47. datang kepadamu, hai kamu Dharma Wangsa.
  48. 114. Aku mengangguk-angguk menduduki kursi, dan berpayung
  49. 118. Segera Bima dipeluk, oleh Sri Krisna, Gatotkaca, dipeluk
  50. 123. Sri Dharma Wangsa sekarang, berkata kepada Wrekodhara,
  51. 124. Lalu Bima berbicara, ya tuanku raja, sangat benci hatiku,
  52. 126. Lalu Lurah Semar berkata, sungguh benar tak salah, pikiran
  53. 138. Kalau itu tanda kesatria, bila kukatakan bahu, akan kulit
  54. 139. Lalu Sri Kresna berkata, aduhai adinda Sri Amerta Wangsa,
  55. Bayupaksa beritahukan kepada pendetamu, pesanku sam-
  56. 143. Bagaikan menanam buah-buahan, dan pohon bunga yang
  57. 149. Setelah berhasil tapanya Resi Dwala, sakti ucapannya tak
  58. Bayuwara itu.
  59. 152. Jamur klabet sindrong wayah, jae bangle merica putih, sari
  60. 161. Mengapa kamu gegabah, pura-pura tidak tahu, lalu sang
  61. 164. Siapa sesungguhnya kamu sekarang, sang resi lagi men-
  62. 165. Itu payung yang dipersembahkan olehnya, dan bendera yang
  63. hatimu akan kutandingi, biarpun mati, asalkan jangan
  64. 168. Ini terima oleh kamu Dwala, terlalu berani kamu anjing,
  65. 169. Silakan Sata dan Walmuka, balas ayahmu, lalu mereka
  66. 170. Lalu berdiri putranya, berganti-ganti memukuli, juga dikira
  67. 173. Jika sungguh Aladhara, tunduk kepadaku sekarang, senang
  68. 178. Di sana sembunyikan dirimu, tidak boleh pergi, bila belum
  69. VIII 179. Menderu angin puyuh yang kencang, meniup pertapaan, di
  70. Wadasti Natar, sekarang sang resi juga terkait kursinya, beliau tertelungkup, dan payung kerajaannya rebah, ditiup
  71. 180.Seraya bernyanyi, lalu mengambil payung, dan sambil ber-
  72. 181. Lalu beliau menuding dan katanya agak keras, lalu beliau
  73. 182. Bukankah kamu pelayan Arjuna kamu Petruk, maka kamu
  74. 186. Jangan kamu lancang mengambil kursi dan payung, ini tem-
  75. 187. Bima menggerutu lagi menjawab, yang sekarang
  76. 190.Dikira sang Begawan memukulnya, lalu sang Bima memukul dirinya, berkali-kali sampai terguling-guling, hingga payah
  77. aku mohon maaf.
  78. 197. Kalau tidak Sri Dharma Wangsa, datang meminta payung
  79. 199. Kalau takut menyembah di sini, lalu senangkan hatimu
  80. 200. Sang Begawan lalu menyuruh Gatotkaca, ayo lekas pergi
  81. 201. Berempat berjemur sambil menanam bibit, Gatotkaca yang
  82. 202. Sri Kesawa tinggal di udara diangkasa, lama beliau
  83. melayang-layang seperti burung, karena saktinya maha resi,
  84. beliau terbang tak bisa turun, sampai payah berkeliling,
  85. 203. Semar dan Gareng yang mengiringi, lalu maha mpu
  86. perhatikan, antara takut dan berani dalam pikirannya.
  87. 205. Partha menggigil, panas dingin tak terhingga, pucat rupanya
  88. 206. Tidak ada obat yang jauh, di badanmu ada di sana, hanya
  89. 208. Lalu maha resi memberi perintah, silakan Arjuna, sekarang
  90. 212. Semar terlambat kamu datang, Gareng di mana sekarang,
  91. 215.Tiada lama lalu Semar bernyanyi, nyaring suaranya manis
  92. 216. Bunga sandat bunga gadung, berderet dipinggir jalan aku
  93. menaiki pohon bunga, saya beri upah tiga kepeng (25 sen).
  94. 218. Setelah Gareng tiba di sana, lalu masuk ke dalam gua (dijum-
  95. sawa, lalu maha resi berkata, apa kabar Gareng karena maka
  96. 219. Lalu Gareng tersenyum berkata, dari anugerah Sang Hyang
  97. Widhi menyebabkan, selamat hamba datang kemari dan
  98. 221. Gareng berkata: "ya", lalu ke luar menuju ke perkebunan,
  99. 222. Harkian mereka di dalam perjalanan, semua sudah datang
  100. beliau duduk menyembah, kecuali Wrekodhara saja, sambil
  101. 224. Kambing kota di bawa ke gunung, gemetar bulunya
  102. 227. Lalu Gareng berkata memberi nasihat, ya, tuanku raja
  103. 230. Kesalahan itu dikejar oleh kesengsaraan, kebenaran dikejar
  104. kembali selalu diikuti oleh perbuatan, ke mana pergi tentu
  105. 231. Tidak bisa ditolak tuanku raja, itu adalah bakal menjelma,
  106. disembah itu kewajiban yang memelihara, walaupun susah
  107. 234. Makanya jangan sangat memuji, memang Sanghyang Widhi
  108. 242. Para raja berkata sambil menyembah: "baiklah" semua,
  109. Semar dan Gareng tak ketinggalan, siap sedia akan meng-
  110. 243. Ayo berangkat mereka hari ini, sekarang dan pertolonganmu
  111. 246. Walaupun sulit seperti sekarang, hamba sungguh-sungguh
  112. 248.Sangat mulia bajunya lagi panjang bernama Anta Kusuma,
  113. 253. Tak mungkin manusia dapat menandingi, daya upayaku,
  114. 254. Lalu Batara Siwa tiada panjang bersabda, sekarang pergi
  115. 255. Sangat congkaknya, kepadaku sekarang, mengundang tak
  116. 257. Serta terbang perjalanannya agar cepat, menuju Perang
  117. 259. Apa sebab dewa jahat sebagai sekarang, gelisah dalam
  118. 260.Sang Hyang Siwa merajai para dewa wanita, Sang Hyang
  119. 269. Lalu berkata maha raja, anakku, bagaimana musuh itu semua yang datang memperebutkan Sandatpangasih, tidak-
  120. seribu hamba tak takut, menghadapi kesaktian musuh, lalu
  121. 271. Apakah tidak mungkin ada yang mengatasi, anakku, tak
  122. 277. Lalu terkejut Sri Jayakusuma mengapa mereka yang baru datang, siapa kamu datang berbondong-bondong, banyak
  123. 284. Sebelum putus tanganku kiri-kanan dalam peperangan,
  124. 285. Sangat benci semua mendengarkan, lalu beliau menantang
  125. 287. Pertama kali Aswatama berperang, Karna yang membantu,
  126. 288. Dan saling desak saling banting saling pukul, selalu saling
  127. 300. Lalu panahnya dibidikkan dengan segera, yang di-
  128. 305. Barangkali ada dua panalikan, di angkasa berputaran
  129. 308. Sri Karna jatuh di istana-Astina, bersama Danghyang
  130. 309. Ada yang luka ada lagi yang sumbing, ada yang telanjang,
  131. beruntung mengerang, aduh baru sekarang bisa melayang- layang.
  132. 313. Sebab kabar telah tersebar, ada lagi raja sakti di Jawa, yang
  133. tidak, menerima kabar, jadi anakku unggul dalam pertem-
  134. 314. Begitu pembicaraan dalam istana, lalu ada tanda yang meng-
  135. herankan gempa besar yang mengerikan, terpelanting raja,
  136. 320. Biarlah hamba meninggal, supaya ditiru oleh segala yang
  137. XVII. 323. Lagi diceritakan perjalanan Resi Dwala, pergi ke istana
  138. Gempura, serta pengiring para raja, Semar, dan Gareng tak
  139. 328. Lalu Bima berkata aku sanggup, akan memikul semuanya,
  140. 329. Lalu tersenyum Resi Dwala, seraya berkata, ah, aku tidak
  141. 331. Senjata cakra hamba dipakai mengeringkan airnya, tentu
  142. 351. Setelah tiba waktu berhias, di penghadapan, raja Perang
  143. Gempura sekarang, dihadap oleh para raja, permaisurinya ikut di sana, dan putranya yang bernama Jakasantosa
  144. mempertimbangkan datangnya musuh, penuh sesak
  145. 352. Rakyatnya semua gembira di sana, pada waktu sedang penuh
  146. 354. Yang ada di sana semua terkejut, perkataannya, yang tua
  147. 356. Pinggang lengkung perutnya gendut besar, menonjol pusar-
  148. itu mengkuncir disanggulkan, semua orang tertawa bagaikan
  149. 357. Gareng nyaring suaranya halus, serta manis lagunya, tangan-
  150. 358. Semua rumah kepadanya dan bebas, memberi makanannya,
  151. 360. Terpesona orang yang menonton di sana, meninggalkan
  152. 365. Ada beda perempuan di sana, dengan perempuan di sini?
  153. menular, mukanya yang betina melahirkan telur dari
  154. 371. Resi Dwala menasihati, wahai Semar dan Gareng
  155. 372. Waktu tidurnya bisa sama, lebih-lebih yang telah tua sangat
  156. 380. Terkejut Sang raja, dan semua yang menghadap, melihat
  157. orang yang baru datang, lalu raja mengapa halus manis, ya
  158. 381. Resi Dwala menyahut tersenyum, o, Raja Jaya Kusuma,
  159. namaku Resi Dwala, dengan pengering dua orang bernama
  160. 382. Jelas ada kabar datang kepadaku, itu putra raja, yang ber-
  161. 389. Di pinggir ada orang menyahut, begini landasan orang Jawa,
  162. 393. Bukunya putih halus, suratannya empat semua, warnanya
  163. 394. Membicarakan gampang dan ringan, huruf itu memenuhi
  164. 396. Jangan kau keliru raja, tapaku sangat suci, walaupun aku
  165. 414. Cemas sekali ibu sekarang, barangkali musuh anaknda itu
  166. 415. Yang aneh memang unggul, apakah tidak mungkin anaknda
  167. kalah, karena itu tunduklah anakku kepadanya, supaya
  168. 416. Demikian kata ibunya dan selalu beliau sedih, lalu berdiri
  169. 417. Riuh rendah rakyatnya mengikuti, tak putus-putus bunyi
  170. kentongan, gong bedil dan kendang bersuara, gambelan tak
  171. 420. Semar dan Gareng sudah menurutinya, berkumpul dengan
  172. perang, Resi Dwala tinggal sendiri, menunggu akan
  173. 426.Setelah selesai, tantangannya, di medan perang, rakyatnya
  174. 429. Dengan perkasa lalu menangkap membantingnya, semua menyangka maha resı telah meninggal, sebab maha resi
  175. 438. Tak mundur aku menandingimu, tak hentinya menuding
  176. 440. Setelah meninggal resi tergeletak, terus menerus sorak
  177. 441. Walaupun jin hantu macam yang tak kelihatan dengan
  178. berupa hidung panjang, keturunan yang utama semua kalah,
  179. 443. Berapi-api marahnya putra raja, bersilat menangkisnya sila-
  180. XXII
  181. 458. Hai ayah ada di sini, tak pergi ke mana-mana, Raden Santo-
  182. 459. Lalu kelihatan sekarang, keduanya berhadap-hadapan, raja
  183. 465. Raja putri lagi berkata, rela hamba mati tidak lain jalan yang
  184. 467. Jika anaknda setuju selamanya supaya anakku, masih hidup,
  185. 484. Ceritakan sesudah Raden Santosa meninggal rakyat
  186. 490. Dari itu ramai tangisnya di istana, raja dan permaisurinya
  187. sana, di mana kucari dia, anakku laki-laki hanya seorang,
  188. 493. Memang pasti kita demikian anakku, walaupun Dewi Sandat
  189. dan para raja, Seri Jaya Kusuma sangat terkejut, melihatnya
  190. 495. Raja Perang Gempura, bersama permaisurinya, lalu
  191. 510. Para raja riang gembira, mendengar pertimbangan yang
  192. 513. Semar baik caranya berkata, Sang Arjuna kena sindiran,
  193. dua tiga empat, lagi diulangnya, lipat ganda dapat
  194. 514. Dan Gareng menyambung dengan tarian, sambil tertawa
  195. 518. Dan berlagu sinom Jawa, berkata kepada pelayan berdua,
  196. 519. Pengikutnya berkata, supaya mesti dibayar sekarang, ta-
  197. 520. Kehendak yang demikian itu tidak salah, Gareng lalu me-
  198. 521. Permaisuri tergesa-gesa menyiapkan, segala pakaian yang
  199. 522. Gareng berangkatnya lalu maju, mengapa tidak tuanku
  200. 523. Maha resi lalu melihat dan berkata, biarlah ayah gatal kotor,
  201. 525. Sebutkan setelah sore, matahari makin dingin cahayanya, di
  202. 526. Setelah Dewi Sandat Pangasih mandi, lalu mengenakan
  203. 535. Tiba-tiba I Bayan gigian, ada kambing mengaku suami,
  204. ti hidung biawak, baru melangkah kakinya pincang tak
  205. 536. Nginte dan Ngemban mengusirnya, anjing buta datang
  206. 542. Semar dan Gareng sekarang terkejut, melihat orang yang
  207. 545. Maha resi lalu menjawab, menari dengan bicara yang manis,
  208. 546. Terimalah cucuku pemberian kakek, itu Dewi Sandat
  209. 547. Dewi Sandat Pengasih takut kepada ayah, lama beliau
  210. 548. Emban beliau di sini ayahku Semar, aku sekarang ke istana,
  211. hati-hatilah di sini berkata, janganlah lengah, selalu
  212. 549.Setelah Sang pendeta pergi, menuju ke istana, mereka semua
  213. XXV 551. Yang ditanam sekarang ceritakan, Bimaniyu mendekati serta
  214. 556. Siuman Dewi Sandat Pangasih, bergerak jarinya, kukunya
  215. lemah lembut, tak putusnya beliau membujuk, susunya
  216. tidurnya. 557. Betisnya bagaikan bunga pudak, mengalahkan bambu ku-
  217. 559.Masih disangka maha resi, antara takut dan berani di dalam
  218. 560. Nyanyinya disela penjelasan, suaranya manis nyaring,
  219. 562. Masih adinda melihat hidung panjang, yang sekarang lebih
  220. harum manis, melihat orang yang bagus di sana, sebab sung-
  221. 564. Ketika beliau disetubuhi, pandangannya memaling-maling,
  222. 566.Dewi Sandat Pangasih berkata lemah lembut, ya, hamba
  223. 567. Datangku dari tanah Jawa, maka resi yang membawa
  224. 570. Sangat gembira, (mereka) di dalam taman, seraya berterang
  225. XXVI
  226. 573. Jelas beliau di sana, bersama-sama dengan Bimaniyu,
  227. 574. Bahagia aku, yang dicari telah ketemu, dengan perkasa
  228. 575. Sambil terbang, Hyang Nerada berkata, hai Bimaniyu, ini
  229. 576. Sang Bimaniyu, marah lalu mengejarnya, Semar dan Gareng
  230. 580. Berangkatkah tuanku sampaikan ke istana agung, mumpung
  231. 581. Sesudah berangkat bertapa, semua tunduk, menghadap maha resi, Semar dan Gareng (sengir-sengir), senyum-
  232. 582. Setelah tiba lalu masuk ke dalam istana agung, Semar dan
  233. 583. Harkian, mereka yang ada di penghadapan telah mendengar,
  234. semua terkejut, barangkali sedang berunding, para raja
  235. 584. Tiba-tiba di sana, Bimaniyu terhenyak tersedu-sedu, Gareng
  236. ia ternganga mengaduh-aduh sambil tunggang-tungging,
  237. 585. Bimaniyu, lalu memberitahukan perihalnya di sana, ya
  238. 586. Terkejut waktu itu maha pendeta baru melihat, putranya
  239. 587. Anakku bagus, dari mana datangmu, apa yang menye-
  240. 594. Maha Resi, lalu mengutus Gareng, ayo Gareng cari barang-
  241. 599. Tersebut Raja Perang Gempuran, beserta permaisurinya
  242. bagus, lalu bertanya kepada maha resi, ya maha resi sakti
  243. 601. Semua bergembira yang ada di istana, beserta para raja
  244. 602.Kesayanganku Sandat Pangasih, ingatkan nasihat itu semua,
  245. bersuami kau, ksatriya utama, dengan Bimaniyu, sebagai
  246. 603. Supaya selalu cocok, tingka laku yang baik dan senyum
  247. 612. Menerima perintah suami, jika ia minta senangilah hatinya,
  248. buatanmu supaya benar katamu agar menarik hati, selalu
  249. 613. Suami istri seperti alat timbangan, bendega di dalam laut, dia
  250. berlayar menuju tempat, juru kemudi dan juru dayung, sam-
  251. bil menjaga bidak, supaya lekas, setiap yang dikerjakan.
  252. 615. Telah cukup ibu menasihati anaknda Sang putri telah
  253. 617. Maha resi menjawab itu gampang, kalau biarpun begitu,
  254. 618. Ceritakan di Siwa loka, Batara Guru, utusannya datang
  255. kan bawaannya, dengan pelan-pelan, SanghiangSiwa lalu
  256. 619. Selamat datang resi Narada, yang dipakai anak lalu mohon
  257. 620. Angkutan jatuh berperosok, akan dipersembahkan
  258. 621. Tadi sudah terbawa, Dewi Sandat Pangasih, hamba
  259. dapatkan di taman, sekarang hilang tiba-tiba menjadi batu, bingunghamba tuanku, mohon maaf, Sanghiang Siwa,
  260. 622. Petruk diberikan mengalahkan, sampai aku dijahili, Resi Narada berkata sendiri, konon (ngaronggong), sebab Batara
  261. Siwa sangat marah, Resi Narada berdatang sembah, ya,
  262. 628. Yang melayaninya berkata dengan temannya, baru sekarang
  263. 630. Selesai makan lalu bubar, tamunya pulang semuanya,
  264. 631. Selesai sudah upacara pernikahan, sudah ada pukul 09.30
  265. 636. Apabila tidak berputra, Dewi Sandat Pangasih, ada juga
  266. 637. Ya,raja Jayakusuma, sudah waktunya raja pulang, Bapa
  267. 639. Raja Perang Gempuran menjawab: "baiklah"selamat jalan
  268. 641. Tersedu-sedu Dewi Sandat Pangasih, mendengar nasihat
  269. 643.Maha resi lagi beliau berkata, kepada para pengiringnya tun-
  270. 650. Utara selatan dan paling timur barat, apa sesungguhnya itu
  271. resi, beliau menjawab dari dalam kantong.
  272. 652. Yang sembilan agama artinya, agama yang sesungguhnya
  273. 653. Telunjuk artinya yang ditunjuk tidak mengambil yang tak
  274. 655. Kalau pada golongan binatang mana yang paling berkuasa,
  275. 656. Maha resi lagi beliau berkata-kata, jika di laut mana anakku,
  276. XXIX. 663.Gatotkaca turun di istana, lalu menghaturkan bawaannya di
  277. 666. Para raja semua menjemput, dengan hormat menyapa
  278. 671.Setelah tepat tengah siang sekarang, pengantin lalu dilantik,
  279. jadi hulu balang.
  280. 672. Sesudah upacara selesai, semua mereka masuk ke dalam
  281. 673. Danghiang Drona memimpinnya, Sakuni, Raja Karna dan
  282. 674. Resi Kropa dan Drona menggerakkan, sudah lengkap
  283. 680. Bagawan Drona diduduki, oleh Gde Semar, Resi Kerpa
  284. 685. Ada yang menghadap ke belakang, pantat kudanya disangka
  285. 688. Tak diceritakan yang lari, semua habis tak ada yang keting-
  286. menceritakan, tak terkatakan di sorga, perundingannya
  287. 696. Karena itu batara marah habis-habisan, lalu melepaskan sen-
  288. maha resi, jadi debu panah itu, diulangi lagi, dengan angin
  289. 700. Laju beliau Sanghyang Siwa, seperti kapuk lemas bergulung,
  290. 703. Aduhai cepatlah tolong, terkejut para raja di sana semuanya,
  291. tiba-tiba datangnya Batara Guru, Bima Arjuna dan Kerisna,
  292. 704. Maha resi tetap mengejarnya, dengan perkasa terusmem-
  293. 705. Memaksa Batara Guru lari, tunggang-langgang tanpa arah,
  294. dan merintangi mengejar pendeknya semua tidak dihiraukan
  295. 707. Kasih sayang mereka melihat raja, Kerisna dan para pengi-
  296. 709. Sanghyang Siwa lalu bersabda, Punta Dewa cepat tolong
  297. 710. Sri Dharma belas kasihan segera batara disembunyikannya,
  298. 711. Aduhai anakku Dharma Wangsa, pegang Siwa erat-erat,
  299. 712. Beliau menyapa dengan halus manis, pelan-pelan hormat
  300. halanginya, hamba hanya mempermaklumkan, maafkan
  301. 718. Dimusuhi oleh Siwa, itu adalah dewa, musuh dunia, tukang
  302. 719. Bertiga di Pandawa, Semar dan Gareng lagi dua orang,
  303. hati hormati selalu, senantiasa dipuji, yang tiga orang utama budinya.
  304. bertemu dengan Sanghyang Wenang, Batara Siwa lalu me-
  305. 723. Sanghyang Wenang bersabda, harus Siwa menjaga sekarang,
  306. 724. Dan Siwa itu berarti rumah, rumahnya yang lima orang,
  307. 726. Kedewaan artinya dimasuki dewa jadi, bersama-sama semua
  308. 727. Itu yang berujud tak berujud, kelihatan tidak selalu, sepan-
  309. gegabah, tetapi pikirannya benar, dari tahunya, yang merin-
  310. 731. Apa sesungguhnya yang merintahkan, karenanya gila selalu,
  311. 732. Yang demikian itu bernama agama, yang dipegang siang
  312. 735. Anakku menyembah menghadap ke utara, lebih dulu yang
  313. 736. Sri Kerisna menyembah lalu berkata, masih dungu hamba
  314. 741. Maha resi keranjingan berkata, hai Siwa dengarkan
  315. gni, yang meresap di tubuh manusia, itu yang kepaparkan sekarang.
  316. 742. Pikiran angan-angan dan cita itu, budi dan jiwa selesai
  317. semua, itu ada di dalam tubuh manusia, sudah lima lengkap
  318. 743. Itu suci itu unggul, itu agama sangat suci, itu air (tirtha) itu
  319. luhur berkuasa di dunia, tak dapat lagi di bicarakan, tiap-
  320. matahari dan bulan, pada waktu wafatnya orang yang maha
  321. suci bersatu dengan Tuhan.
  322. 746. Kemudian bila menjelma menjadi orang baik-baik,
  323. 750. Pancaindra itu, itu jadi dua bagian, ke dalam dan ke luar,
  324. 754. Semua orang yang punya takut, manusia yang ada di dunia,
  325. 755. Itu yang mau dipikul, dari lahir sampai mati, membuat diri
  326. 756. Kekayaan pada waktu masih hidup, sampah dunia itu
  327. 757. Perbuatannya yang benar itulah bekal, yang langeng tak ada
  328. 758. Apabila berbekal angin ribut, pada waktu meninggal atau
  329. 760. Memang berbeda penjelmaannya, jelas anakku orang yang
  330. baik yang baik dinikmati dipetik, ke mana kita pergi juga
  331. 776. Dihitung dari bahannya, manusia dan binatang, manusia
  332. 780. Paling sedikit bekalnya delapan macam, yang menjelma
  333. sebagai anakku, tetesan dari Sang Hyang Widhi, jangan me-
  334. salah sekali anakku itu, kurang harta menimbulkan bingung,
  335. 781. Kalau orang melanggar nasehat, tentang ajaran kebenaran,
  336. semasih hidupnya, loba, jijit dan dungu, seperti hidupnya
  337. 782. Supaya pancaindria itu, dikurangi nafsunya, supaya jangan
  338. 784. Tiap-tiap orang yang melanggar larangan itu, subur hawa
  339. kepada manusia, apa sebab dikalahkan oleh binatang.
  340. 787. Disebutkan golongan tumbuh-tumbuhan yang beruas, yang
  341. hidup di dunia, tidak dapat ke sana ke mari, ditempati benih
  342. 788. Sebutkan manusia yang jahat, besarhawa nafsunya, yang
  343. 791. Mengakibatkan menentang perbuatan benar, ucapan ajaran
  344. 795. Tiga cakra yang sedang sesuaikan dan putar selalu, itu di-
  345. 797. Hanya pengetahuan bapak, juga itu bekal untuk menjelma,
  346. 798. Sangat sukar tempat itu, entah berapa lapis, di tiap-tiap urat
  347. 802. Filsafat orang bangsawan, weda utama yang memayungi itu,
  348. depan, belum diperintah sudah berangkat, terbang,
  349. 803. Banyak orang salah terka, menyangka dewa dan Widhi,
  350. agar dia mujarab, itu datang, memberi anugerah kepada
  351. 804. Penuh keahlian orang bangsawan, menjelma jadi raja jadi
  352. 805. Sekarang sudah semua tahu, jangan termangu. di sini
  353. 807. Itu bekal anakku pulang, sampai meninggal dunia, sinar
  354. XXXV
  355. 809. Ya, betul supaya tak kesasar hamba menuju, jalan yang
  356. 810. Anugrah tuanku, hamba junjung siang malam, sangat setuju
  357. 812. Para raja, para pendeta semua datang, mengiringkan maha
  358. 814. Sudah selesai percakapan waktu tengah malam, lalu maha
  359. 816. Karena benar-benar berwujud Widhi (Tuhan), seketika
  360. Prasta).
  361. 818. Para wanita menyayanginya pagi sore dan siang malam,
  362. 820. Sejak itu makin pecah, negara Astina dan Pandawa sejak
  363. Duryodhana, iri hati sangat benci, dan patih Sakuni juga
  364. Geguritan
  365. BAGAWAN DWALA
  366. KEBUDAYAA
  367. GEGURITAN BAGAWAN DWALA
  368. Krop: 108
  369. 2. Pangkah tityang ngawe gita, guru tembang lyunan plih,
  370. 3. Basa Bali popolosan, sumasat anggon pakeling, anggon
  371. 4. Kandane dumadi jadma, matapa lacur digumi, tusing len sai
  372. 13.Ujyong kasaktyan tityang, aturin watek bupati, yan ti-tyang
  373. 14. Sapunika nayan tityang, pade ngunggul tyang ring jurit,
  374. 17. Kabwatan ida manjanma, mangempu sang limang siki, ring
  375. 22. Saget mangguh umah mlah, macelep ditu ngulining, ambu
  376. 24. Ne ada paswecan bapa, tampi cening ane jani, ne baju An-
  377. 27. Nulya ditu nangun tapa, ngalas alas katandurin, kacang bun-
  378. bungkah tetep sami, pala gantung, maka miwah kancan
  379. II. Pupuh Pangkur
  380. 33. Panjak nora kalingwang, nunggil ida mangastiti Sang Wyang
  381. sri bupati, meneng mretah panjak sampun, puput nunas ring
  382. 39. Akweh manah mautama, kala nadah sara tama Pasupati,
  383. Brahmastra luwih puniku, matandingan ring paprangan,
  384. 41. Miwah Prabu Dwarawatya, mapuspata, Sang Prabu Kresna- murti, mwang Gatotkatja rawuh, Prabu ring Pringgabaya,
  385. LurahSemar, Nala Gareng tansah ditu, nangkil maring In-
  386. 42. Icale Angkawidjaja, putran ida, Raaden Premadhi, sareng
  387. 43. Tansah nimbangang wacana, Sri Kresna, plapan ida
  388. 44. Ih-Twalen apa kranannya, pyanak-mu ne, I Petruk tong kar-
  389. III. Pupuh Ginanti
  390. 51. Prabu Ngamarta mawuwus, yogya ujar sri bupati, Raden
  391. Bima mamatutang, patut wantah rereh mangkin, lantarin ban susah payah, masa ke ya tong kapanggih.
  392. 52. Gatotkatja nyembah matur, yaning ratu manglugrahin,
  393. 53. Patut wantah mangkin ruruh, dwaning ical sampun lami,
  394. 54. Wedastimatar kawuwus, Bagawan Dwala ne mangkin, wawu
  395. bangun pasemengan, ringgwa ne sareng sami, nginyah
  396. sambilang matembang, sarwi ngigel madadingkling.
  397. 64. Telung sen aja langkung, payung nyane asen tagih, ayuh
  398. 65. Ring jalan blas tindak ipun, Bajuwara Kastina puri, nuju
  399. 66. Masasocan endih-murub, wirya sang sri narapati, jagat
  400. IV. Pupuh Durma
  401. 74. Nulya kandeg Sang Prabu Karna jaga mangkat, nyingak
  402. Sang wawu prapti, utusan raris manyembah, tangkil ring
  403. 82. Tur ngandika maceguk teken utusan, manyarireng tur
  404. 83. Bayuwara srenggara matur sembah, boya ja buduh sang resi,
  405. 85. Aladhara tan mari kari mamatbat, ento pandita cicing,
  406. 86. Iba masih buka keto tusing bina, utek-mu utahan kambing,
  407. 87. Bayu gunaning dados utusan, atur nya wantah ywakti,
  408. Baladewa duka, tusing nyandang ya idupang, Bayuwara
  409. 94. Ditu Dane Bayuwara mangarepang,maglut ya saling gait,
  410. katinjakin, dugi mangsegang, Baladewa jengkang jengking. 95. Mangalokang masasumbar sarwimatbat, ngalah ungkur
  411. 96. Enek bangkyang matagelan kapangsegang, magaang
  412. 97. Baladewa kimud ida mangaduhang, tahenang sampe nga-
  413. 102. Raris ngandika Prabu Madura, tityang tan ngitung pangir-
  414. ing, nglebonin pun pandita, laker ejuk pantig-pantigang,
  415. 103. Watek ratu telas sami mamatutang, makire pacang mamargi,
  416. 105. Sang Pandawa puput mangkin, matimbang ring Indraprasta,
  417. rereh Angkawidjaja, watek ratu ngiring sampun, reh pacang
  418. 106. Sregep masanjata sami, wawu mijil saking pura, utusan teka
  419. 107. Kagyat ida sareng sami, manyingak tingkah utusan, Prabu
  420. 109. Surate katrima aris, na ring Prabu Dharmawangsa, tumuli
  421. 114. Anggut-anggut negakin kursi, mwang payung emas, o yan
  422. 119. Mangandika sarwi manis, mwang cning Sang Gatotkaca, tan
  423. batur bli Dharma, ingetang awak kawengku, pedihe masih
  424. paksa, dening jati ya kautus, olih Bagawan Dwala.
  425. 129. Prabu Dharma mamingsinggih, ring Sang Bima glis ngandi-
  426. VI. Puh Pangkur
  427. 138. Yan iku tanda satrya, yan ku cangkol wruhing kulit daging,
  428. 141. Wrekodhara jengis-pisan, rupa biru kadi mega ngmu riris,
  429. 142. Kangapeka kaka rakryan, ndatan lyan raga mula tpasin
  430. Widhi, suksrahang mangda puput, sampunang ke sumlang
  431. 144. Mangda tatas sauninga, ring Bagawan Dwala ne sane
  432. Bagawan Dwala iku, dwaning saktine kalintang, pangucape
  433. 146. Prabu Kresna wicaksana, bli ke wantah nyarengin adi jani,
  434. Dharma, patut wantah bli agung, ledang ratu kapatapan,
  435. VII. Sinom
  436. 149. Nasak tapane bagawan, sidi ngucap tan sinipi, kasor Ida
  437. 160. Mangawales sang bagawan, beya Kantong nyaru cai, sang
  438. juna. 161. Dadi cai ngawagawag, mapi-mapi twara uning, sang
  439. 165. To payung aturan ida, tunggul naga to iwasin, pasang ku
  440. 166.·Panak-mu to ajak marebat, Raden Walmuka katuding,
  441. 168. Ne tampi iba Dwala, sanget langgya iba cicing, sang
  442. VIII. Adri
  443. 189. Magyat ida mukulin prabu, tan pegat tangan kalihe, nigtig
  444. mabejunag, bagawan ica masolah, ne ring kursi ne malung-
  445. 192. Sakti bayu tan paguna ring dewek-mu, lamun wani teken
  446. 193. Yaning jati Bungkus ngasor kapin aku, manunas iwang
  447. 195. Kocap Gatotkaca mangkin rawuh, tedun saking ambarane,
  448. 196. Apa perlun-mu tka ring aku, Gatotkaca ujare, payung kursi
  449. 197. Yen twara Ida Sang Dhranasunu, teka nunas payung, iba
  450. lyu, Gatotkaca raris duka, ngadeg ida ukuh nyagur, mana
  451. 200. Sang bagawan raris ida mangutus ayuh lekas pergi kwe,
  452. IX. Puh Ginada
  453. 202.Prabu Kresna karis ngambwang, swe ngindang kadi paksi,
  454. 204.Bagawan raris ngandika, nah I Parta tka mai, inab cai sakit
  455. 215. Tan swe nulih maswara, jangih swaran nyane manis, nulya
  456. 216. Kembang sandat kembang gadung, majajar pinggiring
  457. 218. Dane Gareng rawuh ditu, na ring gwa raris ngaranjing,
  458. 223. Pun Semar ngawasang ditu, swa bawan sang manangkil,
  459. 232. I Semar kedek ngarukuk, sangkan kolo tusing ngiring, nga-
  460. 233.Tutur nanang jani duduk, suba seken tusing pelih, tresna
  461. 236. Panes ati wantah pangguh, salantang marga entasin, tan bina
  462. ne kadi ombak, gde ombak gde angin, agung panjak sama
  463. 237. Mula kordi Sanghyang Agung, manitah watek maurip,
  464. XI. Dangdang
  465. 241. Watek ratu mangda telas mangiring, dwasa pabuncingan,
  466. 242. Watek ratu matur sembah ngiring, sareng samyan, wantah
  467. aku, rahayune pacang tampi, patuh tresna ring sasaman,
  468. 244. Ento tatane anggon nyuluhin, ditu mlawat, gobane bagus
  469. 245. Yan tusing ada ring ati, mangiringang, na ring lampah bapa,
  470. 248. Lwih Antakusuma baju lambih, Sang Bimaniyu,tan mari
  471. XII Maskumambang
  472. XIII. Demung
  473. 270. Sawiji tan hana wani, sisan pejah, sirna sami kapilayu,
  474. 271. Sing nya ada mangungkulin, anak ingwang, tan suka rasa
  475. 273. Yadin telas watek bupati, soring akosa, mangrebut sanga
  476. XIV. Durma
  477. 282. Lintang katah prabu patih sampun alah, katandingin ring
  478. icning, rawuh masewambara, punika margayang tityang,
  479. 285.Kerang-erang sami ida mamirengang, matangtang ngadu
  480. 286. Geger umung gong bdil miwah kendang, mwang tebeh-
  481. tabehan sami, sungu bende lan parwa, gong beri lan suryak,
  482. tapuk tangan maka sami hana ring bancingah, glis mayuda
  483. 287. Sang Swatama ngawit ida matandingan, Sang Karna sane-
  484. 290.Musuhi manangkisin ring medan prang, boya ida mrasa jrih,
  485. 294. Raden Djakasantosa lintang parekosa, tan bina lwir kesari,
  486. na ring payudan, Prabu Karna manandingin.
  487. 314. Mangka ujare ring puryan, nulyan wenten prawesa ngaga-
  488. wokin, nengkejutang linuh agung, ketes ida sang nata,
  489. 319. Punika ne sadianang tityang, ratu Jawa, mangda ngeni ang
  490. 322. Yan titiang nema antaka, sampunang wirang ratu pacang
  491. XVII. Puh Adri
  492. 325. Heh heh cening cening pada watek ratu, Baladewa Kresna
  493. 326. Gatotkaca saha sembah alon matur, yen nora awinan sisip,
  494. 328. Raden Bima mangucap aku sumanggup, pacang muat maka
  495. 329. Nulia mesen sang Bagawan raris muwus, ao nora aku nampi,
  496. 331. Cakran ingsun anggon ngenyat toyan ipun, sida ratu mang-
  497. 333. Ombak agung didesan ana kerag-kerug, dewek teka mangen-
  498. 335. Darma patut ento nyandang gugu, sing nyandang arepe
  499. 338. Maka sami mangiring pada lumaku, mangentap sagara gelis,
  500. 339. Wiakti aris pamargine dug puniku, katantan antuk sang
  501. XVIII Adri
  502. 345. Tukad enyat bakat anyudin, labuh nepen kasur lemah, Nalá
  503. 352. Sami jirna panjake ditu, sedeng ebeke pasare, sang Bagawan
  504. 354. Gihgihan anake pada ditu, pangucap nyane, ane odah ireng
  505. XIX Pupuh Ginanti
  506. 364. Dening luhe lintang kasub, ento krana mangendonin, heh awanane ngojahang, apane korahang lebih.
  507. 365. Apa binan luhe ditu, kapining eluhe dini, ane muani masih
  508. 366. I Gareng sumawur kenyung, mula mataluhne muani, yen
  509. ngendogang, pabahang olihne muani.
  510. 397. Yening suka tekening aku, nanang tulus lakar kawin, yan
  511. 399. Indrapati Jaya Danu papatihe sareng kalih, lintang bendu
  512. 400. Bagawan ngandika kenyung, nanang suka ngarti jani, sebet
  513. XX. Mijil 403. Ngadeg pranda raris ida mijil, lampahe mamobos, Semar
  514. 405. Nulia nantangin I Gareng manyengking, ih Santosa engko,
  515. 406. Dane Semar semu guyu nyawurin, ring pianak ngko, dyah
  516. 408. Yan ring bawa aku ngawas nglingling, inab kerti kawet,
  517. 410. Idan sang prabu nwilia ngandika aris, lunga cening agung
  518. XXI. Durma
  519. 420. Semar Gareng mangiringang sampun tedah, makumpul ring
  520. 427. Geger umung suryake ring payudan, luwir kerug muni ring
  521. 430. Sami ngembul nyumbung Raden Jaka Santosa, merangsang
  522. 431.Semar Gareng masuryak munyine keras, ngualekang mada
  523. king tanah Jawi.
  524. XXII. Samarandana
  525. 447. Salahmune ring gumi, uli cenik sampe tua, mancan buwin
  526. bekel ibane, munjuk jani solah iba, langgiane tekening
  527. 448. Raga iwang tong ngaku pelih, kujang nanang sinempura, he
  528. Bagawan liyunan peta, ujare nerpa putra, merkak petan-
  529. 449.Tonden tentu kalah kai, uduh iba hidung lantang, jani cen-
  530. 456. Ngembulang sambilang ngamirmir, lawut jani ia sentokang,
  531. 457. Nerpa putra malih sengit, dadi angin masiluman, mang ru-
  532. 459. Mulia katone mangkin, sang kalih marep-arepan, nerpa
  533. kakasorang, kaludan kimude ditu, yudane dados tontonan.
  534. XXIII. Adri
  535. 465. Nerpa putra ndugi malih nunas matur, lancaryane titiang
  536. 466. Pranda ugi mangawinang margan ingsun, mantuk ring
  537. 467. Bilih cening kapwa dewa pacang tinut, salawase mangda
  538. 468. Nunas malih nerpa putra nimbal matur, nunas titiang puput
  539. 469. Sawur Resi tuah patut ujarmu, yaning tong dadi ampatin, le-
  540. 477. Mangandika sang Bagawan maran arum, Kresna Arjuna ke-
  541. 480. Lamana olih nugraha ring hyang agung, mulih ring kawitan
  542. 482.Nohan ana sabda mantara karungu, duh Bagawan ati suci,
  543. XXIV. Ginada
  544. 484.Sampun seda nika wuwusan, wadua oreg maka sami, mangu-
  545. 485. Kija laku manyilihang, pakianpanganggon sang buncing
  546. 486. Tagih kapining sang nata, Jaya Kusuma dipuri, anake sang
  547. 488. Wake dadi juru surat, mentas digumine dini, susukat ku kari
  548. 493. Mula pasti titiang dewa, yadiapin Sandat Pangasih, saget
  549. 496. Sami gipih wang ring puryan, gelis ngaturin malinggih,
  550. 497. Sampun katuran palangka, sang pandita tur malinggih, sawi
  551. 501. Ih prabu Jaya Kusuma, pang netepang lamun janji, luwir
  552. Santosa wus pjah, ane jani, Sandat Pangasih juang nanang.
  553. 504. Bagawan nyawis ngandika, bapa nampi maka sami, nora
  554. 506. Kaget sudi kapan bapa durus bapa nganggon rabi, ma bun-
  555. 515. Ne suba panglumbah jagat, uling suba wake ngiring, dari
  556. 516. Mendep Gareng nanang ngucap, he Jaya Kusuma aji, sang
  557. 520. Sadia keto tusing campah, ipun Gareng manulurin, apang
  558. 532. Da paling maslibsiban, ingetang awake nyai, adah nongos
  559. XXV. Sinom
  560. 551. Naring taman mangkin kocap, Bima Niyu manesekin,
  561. 562. Kantum nyingak hidung lantang, ne mangkin lantangan
  562. 563. Manis pangucapne lanang, ledang ratu sane mangkin, sang
  563. 567.Rawuh, saking tanah jawa, sang Resi muatang mariki, mate-
  564. lintang sidi, titiang nunas anggan ratu, ring titiang majatu
  565. 568. Wawu titiang salit arsa, sengguh titiang ida Resi, sane jaga
  566. 569. Wus puput babawos ida, ring paturunan saling sukain,
  567. XXVI. Pucung
  568. 582. Sampun rawuh, ngranjing ring puri agung, Semar Gareng
  569. 584. Maceder ditu, Bima Niyu nyalempoh bekut, I Gareng pun
  570. 585. Bima Niyu, nganturang indike ditu, inggih sangBagawan
  571. XXVII. Ginada
  572. 599. Prabu prang Gempuran kocap, sareng ida prame suari, sami
  573. bah ring pranda, pranda sidi, ne dumun dija magenah.
  574. 606. Tusing doh mangalih imba, ring ragane mula pasti, disebete
  575. 608. Salah tunggai yaning cacad, joh pacang ngalebengang nasi,
  576. 614. Sane ngamong layar ampah, dadi kadat pun dimargi lekok-
  577. 619. Selamat datang hyang Narada, neka putra matur sisip, dua-
  578. 622. I Petruk baang ngalahang, sampe benya kajailin, Bagawan
  579. 623. Nira pacang ngualesang, I Petruk lakar nandingin, di Pan-
  580. 628. Mangalimgim ipangayah, tumben nepukin icang jani, kereng
  581. 642. I Gareng ngiring riwuntat, I Semar diarepan mangiring, ping
  582. XXVIII. Magatruh
  583. 644. Mai cening Sandat Pangasih Bima Niyu, ingetin tongose
  584. 645. Sada aris manuncap sagara agung, bupatine meneng sami,
  585. 651. Prabu Kresna manunasang ring sang putus, mangda terang
  586. 652. Sane sanga agamane teges ipun, gama jatine kaungsi, nika
  587. 654. Yan ring alas encen utamane ngunggul, guna sajagat maka
  588. 655. Yaning buron encen ane ngodag ngunggul, sang Arjuna
  589. XXIX. Samarandana
  590. 663.Gatotkaca temun ring puri, mangaturang babuatan, naring
  591. 668. Bagawan ngandika aris, ilenang jani Subadra, buncingang
  592. 682. Danghyang Drona kabutbutin, kumis jenggot katela — sang,
  593. 684. Wenten ratu lintang jrih, sepan-sepan ngancab jaran,
  594. busan ia aitang, kapecutin gradag-grudug, mamegat jarane
  595. 686. Ana ne tan patali, nigtigin negakin jaran, jaran nóngklang
  596. 687. Ada ne sepanan malaib, kancute enjikin timpal, kamben
  597. XXX. Pangkur.
  598. 695. Onyang Siwane maguna, kakuatanmu, pesuang seribu kali,
  599. 699. Kasambut madian Batara, saking pungkur lintang tekek
  600. engkebang bapa ne jani pang da katepuk, tumedun prabu
  601. 704. Ngetut buri sang Bagawa, parikosa ndatan mari
  602. 705. Ngangsehang ida Batara, pati kepug malayu pati purugin, masangidan pati engsub, sami pada mamelasang,
  603. 706. Uduh Siwa dewa getap, nguda takut delikang matan mune
  604. 708. Kacundukang prabu Darma, sang Nakula Sadewa tan sah
  605. tedun gelis, ngasor saking kursi sampun, nya kupang
  606. XXXI. Sinom
  607. 710. Prabu Darma ida olas, Batara kakebanggelis, kasurung
  608. 715. Pukulun patih Barata, sanghyang wenang ngalinggenin,
  609. 718. Kamusuhan ring sang Siwa, ento dewa musuh gumi, tukang
  610. 719. Sareng tiga ring Pandawa, Semar Gareng malih kakalih sami
  611. 721: Nulia gelis ngapuring, sanghyang Siwa katangkilin, rawuh
  612. medal, na ring ida sanghyang Aji, nggih I Petruk, anggen ida lalingsenan.
  613. 722. Patut ida sanghyang Wenang, ngiring ratu medal gelis,
  614. 725. I Tuwalen madan Semar, ne nyusupin daging gumi, gumin
  615. karangsukin, olih Semar tua puniku, ia tua ia paling odah,
  616. 726. Kadewan rangsukin dewa, dadi buduh sareng sami, asing
  617. 736. Prabu Kresna matur sembah, kari kolug inggih mangkin, in-
  618. XXXII. Ginanti
  619. 749.Sang pandita malih mawuwus, panca gni ujang malih, jaban-
  620. 752. Yening anak kereng nutur, ngadu aksi congah sai, awinan
  621. 769. Nika munggah dados nur, kebus antuk sanghyang rawi,
  622. 771. Sang Resi malih manutur, jati keto sangkan nyane, sang
  623. 772. Nulia ikan raris pangan ipun, ana ring watek uripe, bibit ika
  624. 774. Keto dewa apang tahu, nguda beda manusa ring borun iku,
  625. 779. Dadi jadma dumadine luhur, trima lega ring idepe, imanusa
  626. 780. Kedik ipun bekele sareng kutus, kadi cening numadine,
  627. 782. Pancendriane tuah puniku, punggelin druwakane, apanga
  628. ukud-ukud, saking cangkem metu patpat, banggras gedeg
  629. 784. Asing wang mamurug larangan iku, mokoh indrian nyane,
  630. 785. Sang pandita nartayang indik puniku, nah to kene sangkane,
  631. 788. Ucapang manusane rusuh, gede indrian nyane, sarwa
  632. taluh panca maha buta, sami ngelah darah abang.
  633. 789. Punika sane mertayang ipun, ring watek manusane, sarwa
  634. iku, ika panca maha buta, nyusup ring anggan manusa.
  635. 791. Dadi tempal kapin solah patut, ucapan darma sastrane,
  636. XXXIV. Sinom
  637. 794. Wenten cakra na ring raga, wolu katah nyane sami, nika
  638. 796. Punika dewa elingang, yaning durung tatas uning,
  639. 798. Dahat sengka genah ika, lapis kudang lapis, ring saurat
  640. magenah, awinane lintang sengkil, salah unduk sadi paling,
  641. ing, sayan kolug, peteng atine ngawinang. 799. Jadma anggonin karma melah, dasa bagi luwih-luwih, tosing
  642. Biksu mahutama, ping tiga malih dumadi, kaenggonan sai-
  643. sai, samadine bunter kukuh, uling suba kudang abad,
  644. 806. Sama na ring kasukan jagat, anggen bekel nenu dini, mer-
  645. XXXV. Pucung
  646. XXXVI. Sinom
  647. 816. Dening jati maraga sanghyang, tan pamengan musna sami,
  648. 817. Lurah Kantong mangkin kocap, saduk sanghyang maning-
  649. 818. Watek istri manyayangan, selid sanja lemah wengi, nyum-
  650. 820. Uli ditu sayan sagsag, Astina ring limang siki, duk panca par-
  651. RITAN BAGAWAN
  652. Perpustakaan
  653. Jenderal K
  654. 899.:

Milik Departemen P dan K Tidak diperdagangkan Untuk umum

Geguritan

Bagawan Dwala

I Gusti Putu Gede Dendi

rektorat layaan ndidikan dan Kebudayaan

Milik Dep. P dan K PPS/BI/13/79 Tidak diperdagangkan

Geguritan

BAGAWAN DWALA

Alih Aksara dan Alih Bahasa I GUSTI PUTU GEDE DENDI

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA INDONESIA DAN DAERAH Jakarta 1980

Diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Hak pengarang dilindungi undang-undang

KATA PENGANTAR

Bahagialah kita, bangsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakikatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan ilmu di segala bidang. Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya. Pemeliharaan, pembinaan, dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kita untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya. Saling pengertian antar daerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antar suku dan agama, akan dapat tercipta pula, bila sastra-sastra daerah yang termuat dalam karya-karya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah itu. Kita yakin bahwa segala sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra dunia. Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas, kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra daerah Bali, yang

berasal dari Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas.

Jakarta, 1980 Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah

DAFTAR ISI

  1. Sinom,
  2. Pangkur, 119
  3. Ginanti, 121
  4. Durma, 124
  5. Samarandana, 127
  6. Pangkur, 131
  7. Sinom, 132
  8. Adri, 136
  9. Ginada, 139
  10. Ginanti, 141
  11. Dangdang, 143
  12. Maskumambang, 145
  13. Demung, 146
  14. Durma, 147
  15. Samarandana, 150
  16. Pangkur, 151
  17. Adri, 153
  18. Adri, 154
  19. Ginanti, 157
  20. Mijil, 161
  21. Durma, 162
  22. Samarandana, 165
  23. Adri, 167
  24. Ginada, 169
  25. Sinom, 176
  26. Pucung, 179
  27. Ginada, 182
  28. Magatruh, 186
  29. Samarandana, 188
  30. Pangkur, 191
  31. Sinom, 193
  32. Ginanti, 198
  33. Adri, 201
  34. Sinom, 203
  35. Pucung, 206
  36. Sinom, 206

TERJEMAHAN GEGURITAN BAGAWAN DWALA

"MOGA-MOGA TAK DAPAT GANGGUAN"

I.
1. Tersebut pada hari Jumat Uku Krulut,1) saya mencoba mengarang nyanyian, kebetulan sasih Ketiga,2) bulan ter- tanggal: kelima, tahun Caka 1853 (Seribu delapan ratus lima puluh tiga), bila tahun Masehi 1900, lebihnya 31 (seribu sem- bilan ratus tiga puluh satu).
2. Terlalu berani saya mengarang puisi, sajaknya kebanyakan salah, tetapi isinya yang diperlukan, yang dipikirkan senan- tiasa, tercapainya penjelmaan menjadi manusia, kemuliaan dirinya sendiri seumur hidup, menjadi manusia di mana- mana pembawaanlah yang dinikmati selalu, di tempat yang sunyi, maupun di akhirat.
3. Bahasa Bali yang gampang-gampang dipakai peringatan, dipakai mengajar orang bodoh, dungu, loba dan iri, laki perempuan sekalian jangan kita tidak menghiraukan, jangan lupa kepada tugas, nasehat agama selalu diingat, sebab di sana, semua masalah jelas.
4. Tentang penjelmaan menjadi manusia, mengurangi nafsu di dunia, tiada lain selalu diusahakan, mencari penghidupan sambil bertapa, siang malam itu dipikirkan, mencari peker- jaan jangan malas, dipakai memelihara diri, tugas kebenaran dilaksanakan, meminjam dan meminta, supaya berdasarkan bicara yang baik.

1) Wuku Krulut adalah salah satu nama Wuku dari Pawukon.
2) Sasih Ketiga yaitu bulan September.

  1. Tersebut di dalam kitab, berbahasa Melayu, dipetik dari par- wa Bimaniyu akan kawin, ada raja tėrkenal sakti, bernama I Jaya Kusuma, bertempat tinggal di Kerajaan Perang Gam- purau, beliau mempunyai putera dua orang, laki perempuan, semua sama-sama bijaksana.

    6. Putera beliau yang laki, bijaksana tak ada bandingannya,

Raden Jaka Santosa, termashur, bagus tak ada caċatnya tak ada menyamai, dan sakti luar biasa, sangat ahli di dalam pertempuran, putera raja sangat sakti, gagah perwira, para raja semua menyerah.

7.Keindahan istananya seperti sorga, balai mas tinggi men-

cakar langit, empat pintu gerbangnya berhiaskan emas ber- kilauan, permata berwarna-warni, siang malam berkelip- kelip, siang malam tak berbeda, negara makmur rakyat senang, para raja semua takut, pencuri juga takut, kepada raja Perang Gempurau.

  1. Yang perempuan sekarang diceriterakan, puterinya raja, betul-betul terkenal namanya, cantik muda jelita, benama DewiSandat Pengasih, memang itu puteri cantik, di dunia tak ada menyamai, sampaikan di atas langit, patut dihor- mati, sebagai pengokoh kemuliaan.
  2. Bertempat tinggal beliau di taman, para inang pengasuh menjaga semua, siang malam mereka bernyanyi-nyanyi, ber- sama-sama Raden Sandat Pengasih, di balai emas yang in- dah, balai apung di tengah telaga, halamannya berkerikil in- tan mutiara, semua macam bunyi, ada di sana bunga-bunga berleret-leret.
  3. Karena sangat cantiknya, banyak raja-raja meminang, tetapi semua tidak diterima, oleh puteri raja yang berbudi luhur, (karena itu susah sang raja, menasihati si anak yang cantik, (sebab) surat pinangan tak putus-putusnya (lalu beliau) berkata kepada puteranya yang laki, anakku bagus, apa daya anakku?

  4. Adikmu Sandat Pangasih, karena cantiknya tak ada menyamai, (maka) banyak raja-raja yang meminangnya, (tetapi) semua tidak diterima (karena itu) selalu menimbulkan rasa takut, tidak luput (akan) menimbulkan ke- susahan, marah sekali semuanya, bila datang menyerang negara ayah akan susah, kesenangan menyebabkan kehan- curan.

    12. (Lalu) Jaka Santosa menjawab, jangan ayahanda susah, ten-

tang hal itu, mari hamba akan menangani, jadikan hamba hulu balang sekarang, sebaiknya datangkan para raja itu, surat edarkan, tiga dunia diundang semua, semua raja-raja diberitahukan (kita mengadakan) sayembara.

  1. Puji kekuatan hamba, beritahukan kepada para raja, jika hamba meninggal, janganlah ayahanda duka cita, itulah ja- lan yang paling baik, tewas di dalam pertempuran, serahkan adik hamba dengan tulus ikhlas, karena itulah jodohnya.
  2. Begitulah daya upaya hamba, bila unggul saya di dalam medan perang, teranglah putri ayahanda, Dyah Dewi Sandat Pangasih, tanda jodoh di dunia, kerajaan kita betul-betul kuat, (adikku) menjadi pengokoh kerajaan, (lalu) raja ber- kata halus, itu benar, segala pikiran anakku.
  3. Hulubalang (juga) membenarkan, segera Sri Maha raja, membuat surat undangan, lebih dari lima ribu, diberikan kepada semua raja-raja, tiga dunia geger, sampai di sorga loka sudah menerima berita semua, gelisah di sana, para raja di Pulau Jawa.

    16. Di daerah Indra Prasta ceriterakan, Semar sekarang,

menghamba pada Raja Pandawa, keturunan dewa (mereka) semua, (Semar) punya anak tiga orang, (yaitu) Capot,

Gareng dan Petruk, ketiganya semua laki-laki, juga penjel-

maan dewa pantas sekali, (merupakan) kesayangan Sang

Parta.

  1. Tujuan mereka menjelma, membimbing mereka yang lima orang, di dalam perang Berata supaya menang, tingkah

lakunya semua berbeda, tetapi sama-sama periang tidak per- nah marah, kenyang ataupun lapar (mereka) tak hiraukan, walaupun menjumpai suka duka, juga menari dan ber- nyanyi, (mereka) diberi hak di sana, para Pandawa telah tahu (akan sifat mereka).

  1. Adapun perbuatan si Petruk suka mencuri yang perlu yang baik dibuang-buangnya tidak mementingkan kesenangan yang berlebih-lebihan, seraya menari-nari menyanyi- nyanyi tingkah lakunya seperti orang gila, pakaiannya tak terpelihara, badan gatal kurus kotor, besar tinggi, kakinya pendek di kanan.
  2. Mata besar hidung panjang, tidak malu ditertawai, timbul pikiran tak ragu, taat memuja Tuhan, sifatnya tidak sesuai dengan sifat manusia, tiada memerlukan barang mulia pengasuh yang sangat dicintai, mengasuh putra Arjuna (ber- nama) Bimaniyu, Petruk jadi pengasuhnya.
  3. Warga istana semua mengatakan, Petruk suka mencuri, dinamai kantong bolong, sebab (dia) boros sekali, I Dwala dinamainya lagi (karena badannya) panjang salah ukuran, keluar masuk istana mengasuh putra Arjuna, maka tahu ia tentang isi pembicaraan di istana.
  4. Susah (Sang Pandawa) baru menerima surat, tentang sayem- bara Sandat Pengasih, Petruk ikut (juga) susah, sambil mengasuh kian ke mari, berdua tak ada yang mengetahui pergi semaunya, tiba di Pancaka Tirtha, mandi berdua, teng- gelam (ia) di sana, sampai di bawah air.
  5. Tiba-tiba (ia) menjumpai rumah indah, (lalu) masuk di sana berkeliling, harum semerbak, ada cermin amat indah, Petruk melihat memperhatikan mentertawai dirinya bayangan lain terlihat, orang cantik dan ramping, bagaikan gampang dicapai, lalu diraba-raba (tetapi) tiada dapat.
  6. Dwala menjadi geram, dibantingnya cermin itu, hancur lebur terserak, (lalu) Sang Hyang Maha Kuasa sekarang bersabda halus manis, saya tahu akan kau Petruk, setia dan hormat

kepada para Pandawa yang membuat keselamatan dunia, berbudi halus, suci serta tetap berbakti kepada Tuhan.

  1. Ini ada anugerahku (kepadamu), terimalah sekarang anakku, ini baju (bernama) Anta Kusuma, pakaian seumur hidup, harus pergilah ke gua di gunung, Wadasti Natar namanya pertapaan itu, Bimaniyu digendonglah anakku, diajak di sana, janganlah goyah memuja.
  2. Ini ada empat orang, pakailah rakyat di sana, disuruh (mereka) berjaga-jaga di pertapaan, (mereka) sakti dan akhli semuanya, Bayu Paksa yang pertama, Bayuwara kawannya, Bayusendung yang ketiga dan Bayusiddhi lagi satu, ini diajak di sana, silakan sekarang anakku berangkat.
  3. Kantong Bolong lalu menyembah, seraya mohon diri, Bimaniyu ditaruhnya di dalam saku bajunya, segera mening- galkan taman, siang malam berjalan memasuki hutan naik turun tak diceritakan halnya di jalan, tibalah di pertapaan, sedang sunyi, lalu masuk ke dalam gua gunung (itu).
  4. Lalu di sana (dia) mendirikan asrama, merabas hutan, lalu ditanami kacang buncis, talas, sabrang, ketelawaluh, komak dan ubi kayu, bawang merah tak ketinggalan, suladri kacang hijau, terung, lobak dan kentang, umbi-umbian lengkap semuanya, buah-buahan, dan segala bunga.
  5. Ia berbuat sebagai dukuh, setelah lama barulah semuanya berbuah (tanamannya) sedang lebat semua tak bermusim (lalu) tersebar sekarang, kabarnya pada orang yang ada di sampingnya, sampai ke desa-desa dan di pedalaman apa lagi di pondok-pondok, semua datang mau membeli, semua memberikan, oleh-oleh yang dapat dimakan.
  6. Tetapi tak mementingkan uang pembeliannya yang datang diberi minta tidak mengherankan sampah dunia, penuh rasa hormat, hukum kebenarannya yang dipentingkan, batal gatal-gatal tak dihiraukannya, hanya mengusahakan dunia itu selamat dari sungguh-sungguhnya mengerjakan itu, maka bebaslah sanak saudara datang dengan hormatnya.

  7. Bagaikan memetik tanpa tangan, nafkah selalu men- datanginya, karena sudahsempurna (sakti) ucapannya, semua yang sakit tertolong, semua sehat diobatinya, (dari itu) bertambah-tambah orang menjadi hormat, orang yang miskin dan hina tertolong olehnya, orang pegunungan semua senang, hentikan dahulu, sekarang Kerajaan Madukara diceritakan.
    II

  8. Negara Amartha lebih kecil dari Astina dahulu, dan lebih sedikit rakyatnya, (kalau) dibandingkan dengan rakyat Astina, juga kurang, mengenai keadaan istananya di sana, negara Amartha kalah, karena berperang selalu.

    32. Rajanya, yang bernama Sri Darma Wangsa, Punta Desa atau

Sri Dharma Siwi, betul-betul raja sangat budiman, tidak hirau akan barang yang mulia, selalu manis katanya lemah lembut, beliau dipaksa jadi raja, oleh adiknya yang setia

(kepadanya).

33. Rakyatnya tidak dihiraukan, hanya berbakti kepada Tuhan, sungguh senang rakyat di sana semua mengusahakan

dirinya, baginda raja tetap memerintah rakyat, dan selalu mohon kepada Tuhan supaya memelihara dunia.

34. Para Pendeta banyak yang ahli, rakyatnya banyak ikut me-

lakukan tapa, lain lagi ada pendeta yang datang, berbakti kepada negara Amartha, dan raja, banyak yang menghamba di sana, meniru tingkah laku yang benar, diajarkan oleh raja (Sri Dharma Wangsa).

  1. Raja yang bersifat jahat sombong dan loba, bila mereka sampai di sana di negara Amartha, semua menjadi budiman dan setia, di sana di Pandawa, kepada raja, rakyat dan saudaranya itu semua berlainan tempat tinggalnya (dan) berlainan namanya.

36. Maha raja Punta Desa, di istana Amartha beliau tinggal,

Bima yang terkenal bertempat tinggal di Mungguling, Sana

Partha bertempat tinggal di Madhu Kara, bagusnya tak ada menyamai, tiga dunia semua kalah.

  1. Dan Sang Hyang Kamajaya, sungguh terkenal beliau bertempat tinggal di Cakra Kembang, beliau sesungguhnya paling bagus, digolongkan para dewa, di sorga, tetapi Raden Janaka yang paling unggul para wanita semua gelisah semua asmara jatuh cinta kepada Arjuna.

    38. Memang tanpa Sang Partha, mengenai rupanya, menjadi

penyakit para wanita, para bidadari semua bingung, jatuh cinta kepada Arjuna, istrinya, banyak tak dapat dihitung

beliau sakti dan sangat berkuasa berperang tak pernah

terkalahkan.

39. Banyak punya panah utama, Kala Anadah panah utama

Pasupati, Puli Gni yang terkenal, panah Sangkala Bharuna,

Dadali, panah Brahma sakti itu, bila bertanding dalam pepe-

rangan, paling unggul beliau tak ada menyamai.

40.Raden Nakula dan Sadewa, keduanya setia kepada kakanda

raja (Sri Dharma Wangsa), siang malam ikut raja, mengikuti kakaknya, waktu datang, saudaranya semua rapat yaitu Sang Pandawa, dan dengan para pemuka semua.

41. Dan Raja Darma Wati, bernama Raja Krisna dan Gatotkaca

juga datang, raja di Pringga Bhaya, Lurah Smar, Nala dan Gareng tak ketinggalan di sana, menghadap di Indra Prasta, tiada lain yang dibicarakan (ialah):

  1. Tentang hilangnya Angka Wijaya, putra Raden Arjuna ber- sama-sama dengan Kantong Bolong itu, kesayangan Sang Partha, tiada lain, anaknya Semar yang besar tinggi, (karena itu) ibunya (Bima Niyu) yang bernama Dewi Subadra, beliau sangat berduka cita.
  2. (Subadra) turut memberikan pertimbangan, Sri Kesawa, hati-hati beliau menjawab, bila tidak putus asa anak adinda mengapa dia hilang dengan tiba-tiba itu patut dipertim-

bangkan bersama-sama adikku raja, lalu Bima menggan- tikan menjawab, lurah Semar diajak bicara.

  1. Hai Twalen apa sebabnya, anakmu, Petruk tidak kelihatan sekarang, hilang bersama-sama dengan Bimaniyu lalu Semar menyembah seraya bernyanyi lagu Ginada Candung, menari seraya bergerak, air mukanya berseri dan tiada malu.
    II

  2. Hamba tidak tahu, ke mana tuanku pergi, Bimaniyu, sateria Dwara Wati, bersama-sama Petruk, silakan tuanku cari.

  3. Barangkali mereka perginya tanpa tujuan, entah di mana dia mampir, dan entah ke mana tujuannya, entah apa perlunya juga, tentang itu hamba tidak tahu, sebabnya dia berbuat demikian, lebih baik tuanku tunggu saja kedatangannya kemudian.
  4. Hamba ditanya sungguh-sungguh tidak tahu, ia pergi atas kehendaknya sendiri, masakan tak akan kembali, sampai dicari, sudah besar masak hilang, apa tidak mungkin mener- junkan dirinya ke dalam air.
  5. Apabila Petruk membunuh diri, aku sangat malu di rumah jadi bencana, perginya tak diketahui, lamanya 110 tahun, jangan sekali dicari lagi.
  6. Lalu Semar menyembah seraya berkata, janganlah tuanku cemas, hilangnya Bimaniyu, Kantong Bolong yang mengir- inginya, serahkannya kepada Tuhan, tentu (mereka) akan datang lagi.
  7. Raja lalu berkata, sungguh benar katamu ini, benar Tuhan yang Kuasa, sebelum terjadi beliau sudah tahu, dan sebelum- nya beliau patut memberi anugerah tak mungkin beliau akan dijumpai.
  8. Raja negara Ngamartha berkata, betul kata tuanku raja, Raden Bima membenarkan, patutlah mereka dicari sekarang, walaupun dengan susah payah, masakan mereka tak akan dijumpai.

  9. Gatotkaca menyembah lalu berkata, jika tuanku raja mengi- jinkan, sekaranglah hamba akan mencari adikku, Raden Bimaniyu, lalu Partha menjawab.

  10. Memang benar harus sekarang dicari sebab hilangnya sudah lama, tiada senang hatiku kata Dewi Subadra kesedihan, senantiasa beliau mohon doa restu, bicaranya disertai tangis.
  11. Asrama Wadanti natar diceritakan, Bagawan Dwala sekarang pagi-pagi baru bangun, di dalam gua bersama-sama berjemur seraya bernyanyi-nyanyi serta menari-nari melonjak-lonjak.

    55. Selalu senang yang ada di sana, tidak menghiraukan apa-

apa, selalu berbakti kepada Tuhan, pikirannya bersih selalu, aku menjadi raja hutan, segala binatang saudara semua.

56. Aku dewa dan aku raja, aku rakyat dihormati, tiap-tiap

pemberian dikuasai, tiap-tiap yang minta dimintai tiap-tiap yang menyembah disembah, belum minta sudah diberi.

57. Tidak susah tidak kerja keras, aku miskin kaya selalu semua

sudah dimiliki, segala isi dunia, rumah tahu-tahu ada, tidak tahu yang memberikan.

  1. Gedung batu sangat kuat, tiada payah memeliharanya tidak membiayai dua setengah sen pun, tidak gelisah tidur nyenyak, walaupun tidur terlentang di tanah, juga mendengkur tidur nyenyak.

    59. Di Pandawa juga sama, di rumah yang tinggi sekali, di

rumah emas berhiaskan permata, di kasur yang lembut ber- bantal guling, pada waktu tidur juga terlena, tidak ingat akan baik buruk.

  1. Tiba-tiba sudah tertidur di sana, tiada apa-apa diketahui lagi, apalagi ingat akan diri, oh itu barang mulia, tahu-tahu sudah sadar, tidak terasa dapat pinjam.

    61. Dapat pinjam juga tidak tahu, apalagi dapat meminjam,

dapat membeli ataupun menggadai juga tidak tahu yang memberikan terlanjur dipakai merabas hutan, pergi kian kemari.

  1. Lalu Bagawan Dwala mengutus, pelayannya dua orang, ber- nama Bayu Paksa dan Bayu Wara, aku menyuruh kamu sekarang, Bayu Wara pergi ke Astina, dan Bayu Paksa ke negara Martha.
  2. Sekarang kamu kusuruh, sama-sama meminjam kursi kera- jaan, dan payung kerajaannya masing-masing sebuah, jika tidak diberikan olehnya minta disewa oleh saya.
  3. Minta di sewa kursinya tiga sen jangan lebih, dan payungnya diminta satu sen, ayo berangkat lekas-lekas, harus supaya berhasil, pelayannya lalu menyembah, seraya pergi terbang keduanya.
  4. Di tengah jalan lalu berpisah perjalanannya, Bayu Wara menuju Astina, kebetulan ada rapat di balairung Sri Maha raja sedang dihadap, Raja Kurupati, duduk di kursi emas.
  5. (Kursinya) berhiaskan permata yang menyala berkilauan, berwibawa sekali Sri Maha raja, negaranya makmur dan rakyatnya senang lengkap semua datang menghadap para perdana menteri dan para panglima perang, penuh sesak tidak ada yang ragu-ragu.
  6. Yang mendampingi duduk Sri Kurupati, yaitu Raja Bala- dewa (raja dari Madura, dan raja Sakuni, raja dari Gendara, jadi Patih Mangku bumi.
  7. Raja ketiga Raja Awangga, putra dewa Surya Sri Raja Karna sesungguhnya itu, patihnya yang kedua, tidak jauh memberikan pertimbangan tentang sayembara yang sekarang.
  8. Sri Duryodhana berkata, tolonglah saya sekarang, terutama oleh Kakaknya Karna, sekarang supaya diluangkan terutama oleh Bapa Pendeta, kesusahan saya bantulah sekarang.
  9. Bagawan Drona lalu membuka nujum, mengucapkan weda sambil tersenyum, menggoyang-goyangkan badan selalu menghitung jari lalu berkata kepada Sri Kurupati, ya anakku raja dengarkanlah.

71. Oh hanya anakku lagi, nasib anakku memang untung dapat

Sandat Pengasih, putri jadi pengokoh negara. Di dalam perang Brata dimenangkan.

  1. (Karena itu) Sri Kurupati gembira, lalu bersabda halus manis, kakanda Sri Karna berangkatlah sekarang, bersama- sama dengan Pamanda Sakuni, Dewi Sandat Pangasih ambil dengan paksa.
    IV

73. Riuh rendah rakyat Astina berangkat membawa senjata se-

muanya, Sri Karna menjadi kusir, Sakuni dan Baladewa,

baru keluar dari istana, sekarang datang Bayuwara lalu

masuk (ke dalam istana).

74. Lalu terdiam raja baru akan berangkat, melihat orang baru

datang, utusan lalu menyembah, menghadap kepada Sri

Duryodhana, di sana di balairung, melihat orang baru

datang.

  1. Lalu Sri Suyodhana berkata, hai siapa itu datang kemari, siapa kamu kemari, siapa sesungguhnya namamu, dari mana datangmu, dan siapa yang menyuruh, datangmu tergesa-gesa sekali.
  2. Barangkali ada yang kamu perlukan datang, utusan lalu berkata, benar tuanku, hamba bernama Bayuwara, dari Wadasti Natar, pertama hamba tuanku hamba memang utusan, Resi Dwala betul tuanku.
  3. Perlu sekali beliau mengutus hamba, tuanku raja jika tidak salah, kalau tuanku mengijinkan ada permohonan hamba, pendeknya maksud hamba sekarang, hanya meminjam, kursi emas yang berukir.
  4. Kursi emas ratna mutu manikam kerajaan tuanku raja, itu dipinjam oleh Sang Resi Dwala, maka Sri Kurupati terkejut, baru demikian kata utusan, seraya tersenyum.

79. Mukanya merah sebab terlalu marah, utusan berbicara lagi,

adapun sang pendeta, sangat miskin sekali, dan tidak berba- ju, di dalam gua, di tengah hutan yang sunyi.

  1. Hamba belum jelas tahu bahwa untuk apa meminjam, wa- laupun menyewa beliau tak akan mundur, tetapi jangan mahal sekali, sewa kursinya itu, sebanyak tiga sen beliau setuju, tidak bertempo beliau membayarnya, demikianlah tuanku raja.
  2. Demikianlah utusan itu mengajukan permintaan, marah Sri Suyodhana, hai kamu Bayuwara, jangan kamu berkata lagi sebaiknya kamu pulang saja, Raja Madhura, turut marah sekali.
  3. Dan berkata keras kepada utusan itu, membelalak serta me- nunjuk, ah kamu Bayuwara, pendeta gila, sampai kamu ikut gila sekarang, tidak tahu aturan, gilanya kau bawa ke istana.
  4. Lalu Bayuwara berkata halus manis serta menyembah, tidaklah gila Sang Resi, hamba juga ingat sekali, tidaklah dari gegabahnya, beliau mengutus dengan baik menyuruh hamba, kalau-kalau tuanku mengijinkan.

    84. Itulah sebabnya hamba sebagai utusan, hamba datang

dengan sunguh-sungguh, tiada ada kurang lebih, kata hamba kepada tuanku raja, bila setuju memberi pinjam, atau tak setuju, silakan tuanku memberi tahu.

85. Baladewa tak henti-hentinya mencaci maki, itu pendeta an-

jing, terlalu cacat, itu dungunya terlalu, pendeta itu babi,

kepala garong, binatang liar menjelma kepadanya. 86. Kamu juga demikian tak beda, otakmu muntahan kambing,

kerongkongan batu, jiwamu jiwa kadal, lalu berkata Sri Kar- na, kepada Sri Baladewa, janganlah marah tuanku.

  1. Bayuwara tugasnya hanya sebagai utusan, dan bicaranya memang benar, Baladewa terus marah tak patut ia dihidupkan, hai kamu Bayuwara terimalah sekarang, kalau kamu takut mati, pendetamu cari.

88. Disuruh ke mari hari ini akan kubunuh, mayatnya diberikan

anjing, dan diberikan gagak tetapi kepalamu, supaya diting- galkan dulu di sini, akan kuinjak dengan sandal, Bayuwara, kemudian marah.

89. Lalu berdiri dan ke luar kata-katanya agak keras, ya

sekarang aku pulang, membawa kepalamu, dengarkan Bala

dewa, tandingilah sekarang, jika kamu perwira, mari keluar

bertanding kesaktian.

90. Lalu berdiri Raja Aladhara, Bayuwara diseretnya, setelah

tiba di luar istana, lalu di sana perang tanding, ribut yang

menghadap semua, gemuruh, lalu Sri Kurupati masuk ke dalam istana.

  1. Bagawan Dhrona takut cepat beliau mengikuti, bersembunyi ke dalam istana, Sri Karna marah, dan seratus Korawa, Sri Sakuni marah juga, (karena itu mereka) pergi ke medan perang, merebut musuhnya.

    92. Bayuwara cekatan mengamuk dan bijaksana, kecepatannya

luar biasa, tiada lain bagaikan burung terbang cepat

menghilang tak henti-hentinya menyambar, susah yang

menghadapinya.

  1. Lalu payah sekali seratus Korawa semuanya, tidak mampu menghadapinya, payah karena tak ada yang menggantikan lalu Sri Baladewa membalas, serta mengatakan gampang, seraya menghardik, hai mati kau Bayuwara, aku ini amat sakti.
  2. Waktu itu Bayuwara lalu maju, menggulat saling pukul, Sri Aladhara sangat garang, lalu menangkap serta membantingnya Bayuwara diinjaknya, lagi dibanting berkali-kali, seraya berkata keras.
  3. Menantang serta mencaci maki, beliau membelakangi me- nantangnya, datangkan semua keluargamu, Bayuwara lalu siuman dan bangun pelan-pelan mendekati, serta lalu mendekati menangkap dan membantingnya, karena itu Sri Baladewa terjungkir.

  4. Sakit pinggangnya terlipat dibanting, lalu merangkak me- maksakan, baru ia duduk, Bayuwara lalu menendangnya, jauh beliau jatuh terguling, seperti bola, ditendang kian kemari.

  5. Sri Aladhara malu beliau mengaduh ditahannya sampai mengering, tapi sakitnya lalu dipaksakan mengambil senjata panah bajak, dibidikkan pelan-pelan, kepada Bayuwara, lalu Bayuwara segera terbang.
  6. Dari angkasa Bayuwara menghina, yang begitu kamu minta, mari ke Wadasti Natar, bila kamu perwira, aku lawan berperang, Sri Baladewa, malunya tak terhingga.
  7. Lalu pulang berjaga-jaga di istana, berjumpa dengan seratus Korawa, dengan Karna, dan Sakuni, mereka berunding sebab sangat takut, sama-sama menahan malu karena musuhnya belum mati.
  8. Ramai berganti-ganti mereka berkata, lalu Sri Duryo- dhana menjawab, bagaimana upaya kita paman, aduhai Raja Gendara, Sakuni menjawab, wahai anakku raja, adapun upaya hamba begini.
  9. Bagi kita rakyat tuanku raja, yang sepertiga menjaga istana, yang spertiga kedua supaya berangkat, ke Perang Gempura, yang sepertiga supaya bersama-sama, menangkap resi Dwala, ke Wadasti Natar.
  10. Lalu berkata Raja Madura, saya tidak menggunakan pengikut, menyerang pendeta itu, akan hamba tangkap dan banting-banting, bersama-hamba dua orang, Wisa- ta dan Walmuka, marilah anakku sekarang menyerang.
  11. Para raja semua membenarkan, sudah bersedia akan berangkat, ke Perang Gempuran, telah lengkap semua bersenjata, riuh rendah mereka di jalan, bersayembara, memenangkan Sri Suyodhana.
  12. Dua pertiga rakyatnya sudah berangkat, Sri Sudyodhana tinggal di istana rakyatnya selalu menjaga, Sri Bala dewa sudah berangkat, bersama-sama dengan Karna, diiring oleh rakyat, seratus Korawa semuanya.

V

  1. Pandawa sudah selesai sekarang, berunding di Indra Prasta, bersama Sri Krisna, dan perwira semuanya, akan mencari Bimaniyu, para raja telah setuju, sebab akan bersayembara.
  2. Lengkap (mereka) bersenjata semua baru keluar dari istana, tiba-tiba datang utusan, turun dari angkasa, Sang Bayupaksa, dari jauh ia menyembah berkata, ke- pada Sri Dharma Wangsa.
  3. Terkejut beliau sekalian, melihat tingkah laku utusan itu, Sri Amerta Wangsa bersabda perlahan-lahan, hai siapa namamu, dan dari mana asalmu, ada perlu apa kamu datang kepadaku.
  4. Lalu Bayupaksa berkata lemah-lembut, ya tuanku raja, hamba bernama Bayupaksa, hamba dari Wadasti Natar, hamba bertempat tinggal di gunung pertapaan. Resi Dwala mengutus hamba, serta menghaturkan surat.
  5. Suratnya diterima dengan baik oleh Sri Dharma Wangsa, terus dibuka pelan-pelan, kurang teratur ucapan surat itu, lalu Gatotkaca disuruhnya, Raja .Darmawangsa bersabda dengan lembah-lembut, wahai anaknda coba membaca.
  6. Gatotkaca menjawab dengan manisnya, lalu beliau membaca surat, lama beliau heran dan beliau lalu geleng-geleng kepala lama melongo sebab tak teratur bunyi surat itu karena hurufnya tidak baik, kata-katanya jarang yang berhubungan, lalu Bima berkata keras.
  7. Wah lama aku menunggu, ingin aku tahu Gatotkaca keraskan membaca, bagaimana sesungguhnya bunyinya, Gatotkaca lalu menjawab, ya ayahnda, hurufnya kabur sekali.
  8. Dan lagi jarang-jarang berbunyi tulisannya sebagai cakar ayam, lama beliau berbincang, kesimpulannya maksud surat

itudiberitahukannya, begini bunyinya, aku pendeta suci

datang kepadamu, hai kamu Dharma Wangsa.

  1. Kursi masmu kupinjam, kamu, kamu, kamu Raja Amartha, begitu juga payungmu, dan bendera yang bergambar naga, nah, cobalah diberikan kepadaku, selama hidupku, supaya pernah sekali saja.

    114. Aku mengangguk-angguk menduduki kursi, dan berpayung

emas, o bila kamu memang setuju, Bayupaksa diberikan itu, jika aku diharuskan menyewa, jangan lebih dari dua sen, tiga sen juga mau.

  1. Tempatku duduk menyanyi, aku sesungguhnya Resi Dwala, pendeta yang sangat suci, karena itu Bima merah mukanya, menggerutu dan mengepalkan tangannya, mendengarkan bunyi surat itu, sebab bahasanya sangat kasar.
  2. Tiba-tiba dengan cepat bersama Gatotkaca, lalu utusan dicekik, diseret sampai di luar istana, utusan itu si Bayupaksa, direbut berdua, berganti-gantian beliau mem- bantingnya.
  3. Karena itu hancur hati Seri Dharma Wangsa, dan Sri Krisna, memikirkan si utusan, lalu keluar mereka bersama-sama juga Partha menghalangi yang berkelahi, semua menangkap cepat.

    118. Segera Bima dipeluk, oleh Sri Krisna, Gatotkaca, dipeluk

oleh Phalguna, Bayupaksa, diambil oleh Sri Dharma Wangsa, nanti dulu adikku Bima.

  1. Sri Dharma Wangsa berkata manis, dan anakku Gatotkaca, tak benar utusan itu, akan adikku anakku marahi sebab utusan itu tak bersalah, resi yang mengutusnya bingung Sang Bima.
  2. Banyak kata maha raja, menghibur adiknya, lalu Bima berkata perlahan-lahan, belum puas hatiku, bila tidak mati utusan itu, lalu Sri Krisna menggantikan berkata, tidak boleh adikku Bima.

  3. Utusan tak boleh dibunuh, komat-kamit dan diam, sem- bunyikanlah marah adinda, disimpan dalam hati, bagaikan kepala kakak Dharma Wangsa, ingatkan diri adinda, dikuasai olehnya, biarpun marah juga harus diam.

  4. Di penghadapan teratur semua, yang menghadap kepada Sri Amertha Wangsa, Bayupaksa juga hormat, tak hentinya raja memikirkan, tentang perang itu, aduhai adinda keempatnya, Sri Krisna sebagai saksi.

    123. Sri Dharma Wangsa sekarang, berkata kepada Wrekodhara,

aduhai adinda dengarkanlah, jangan adinda berbuat begitu, kepada utusan Bayupaksa, sebab dia sungguh-sungguh diutus, oleh Resi Dwala.

124. Lalu Bima berbicara, ya tuanku raja, sangat benci hatiku,

karena sangat menghina, tidak tahu akan kerajaan karena ada di kaki tuanku raja, aku juga turut terhina.

  1. Ada pendeta yang berani, meminjam kursi kerajaan pendeta hutan itu, amat panas hatiku, sebagai api disiram minyak, sakit sekali dadaku, tak mengerti aku mendengarkan.

    126. Lalu Lurah Semar berkata, sungguh benar tak salah, pikiran

orang yang masih muda, sebab darahnya masih muda, memang cepat mendidih, menyebabkan cepat marah, dan menimbulkan segera mau perang.

  1. Memang sama tua dan muda, hamba juga demikian, lebih-lebih ketika masih muda, lebih berani dengan Gatotkaca, lalu Gateng tertawa seraya berkata, benar kata bapakku lebih hebat dari Sang Bima.
  2. Lalu Sri Kresna berkata halus manis, silakan adinda Sri Dharma Wangsa, bicarakan perkelahian itu, hukum kebenaran dipakai memutuskan, kesimpulannya Bayupaksa supaya pulang, memberitahukan kepada tuannya.
  3. Sri Dharma Wangsa membenarkan, segera bersabda kepada: Wrekodhara, dan kepada Jalemprong, yang ketiga kepada: Gatotkaca, nah adinda sekalian puas ataupun tidak puas kamu, akan juga memutuskan.

  4. Adiknya menjawab, "benar"Sri Dharmasunu lalu berkata, sekarang maksudku menerka maksud pendeta itu, yaitu Resi Dwala, mau pinjam kepadaku, yaitu payung tunggal dan kursi emas.

  5. Kakak yang berhak semua, aku berhak memberikan, lalu Sri Krisna tersenyum berkata, benar adinda maha raja, semua memang kekuasaan adinda, lalu Bima berbicara perlahan sekehendak tuanku raja.
  6. Betul-betul puas aku sekarang, tentang permintaannya Resi Dwala, dan Bayupaksa utusannya, budinya utama, bunyi suratnya betul kasar, kata-katanya tak bersambung, dan tulisannya kasar.
  7. Dan Bayupaksa tidak salah, maupun maksud pendeta, belum tentu pikirannya loba, barangkali pendeta tidak bersekolah, tidak mengerti akan susunan kata, sebab pendeta kelahiran gunung, tidak tahu tata negara.
  8. Sangat berbeda adikku, bila dibandingkan dengan pendeta di kota, lalu Gareng mengkrenyitkan keningnya serta tertawa gelak-gelak, aku tidak bersekolah Belanda, tamatan sekolah dapur, dapat berhitung sewaktu-waktu.
  9. Tiap bulan dapat dikerjakan, hanya tahu tiga rupiah, delapan belas kali tiga sen, jadi empat ketip empat sen, itu hitungan baru pertama, model baru cara raja, tidak akan bisa dirobah.
  10. Hitam merah kuning putih, jika aku menulis di lontar lalu Lurah Semar segera menjawab, diam-diam kamu banyak bicara, aku lebih sakti daripada kau, lebih pandai dari yang dungu, lalu ia bernyanyi lagu pangkur, seraya menari.
    VI

  11. Di belakang nari orang seperti aku, punya pekerjaan jadi tukang masak, bangsa itu kelihatan bagus, mereka telah

tahu jelas dengan peraturan negara, ikat baju, jarit ikat ping- gang temannya, jam rantai tak ada menyamai, bagus rupanya oleh uang.

138. Kalau itu tanda kesatria, bila kukatakan bahu, akan kulit

dan daging, mempergunakan pakaiannya, tidak memakai berganti-ganti, kalah dan jaya, telah mati pada waktu menangnya, bisa lupa di dalam perang, dan sampai mening- gal karena uang.

139. Lalu Sri Kresna berkata, aduhai adinda Sri Amerta Wangsa,

bagaimana keputusannya, ya sekarang saya berikan hai

Bayupaksa beritahukan kepada pendetamu, pesanku sam-

paikan supaya jangan lama beliau meminjam kursi.

  1. Kalau sudah selesai keperluannya, supaya lekas dikem- balikan kursinya ke mari, saya punya hanya itu saja, Bayupaksa lalu menyembah, ya hamba turuti sabda tuanku raja, dan hamba mohon diri, kepada tuanku raja, kursi itu telah diterima dan telah keluar dari istana.
  2. Bima mau menangis, rupanya biru sebagai mega mengan- dung hujan, ketika melihat kursi itu, Sri Dharma Wangsa, tahu beliau tentang air muka Wrekodhara lalu Sri Amerta Wangsa berkata, aduhai adindaku Bima.
  3. Mengapa kakak bertindak, tidak lain karena kita memang diadili oleh Tuhan, harus kita serahkan supaya selesai, jangan adik bimbang, lahir batin, batin, batinmu supaya ikhlas, tujuannya menghaturkan segala yang mulia, akibat- nya yang sucilah dijumpai.

    143. Bagaikan menanam buah-buahan, dan pohon bunga yang

bunganya harum, berhasilnya amerta harum, lalu Arjuna menjawab, mohon ijin, jika tuanku tak keberatan, hamba akan ikuti ke pertapaan perjalanan utusan itu.

  1. Supaya jelas kita tahu, akan Resi Dwala itu sekarang, sambil mencari Bimaniyu; dan langsung ke Perang Gempuran, di- izinkan, Sri Dharma Wangsa, dan beliau membenarkan, harus adinda menyelidiki.

  2. Bima juga memohon kepada raja, aku juga ikut ke pertapaan menyelidiki, lalu rajaberkata lemah-lembut, jangan adinda menggunakan kekerasan, terhadap pendeta, Resi Dwala itu, sebab saktinya luar biasa, bicaranya sangat sem- purna.

  3. Raka Krsna bijaksana, kakandalah mengikuti adinda sekarang, ke Wedasti Natar itu, berjumlah dengan Resi Dwala, sahut Sri Dharma Wangsa, memang benar kakaknda raja, lebih baik tuanku pergi ke pertapaan, mengikuti adik- adik kita.
    VII

  4. Sekarang semua berangkat, bersama-sama Raja Dwarawati, Semar dan Gareng mengiringi Gatotkaca juga ikut Bima dan Partha męngikuti, tidak diceritakan mereka di dalam per- jalanan, lalu Gatotkaca terbang, segera melayang di angkasa .yang lainnya berjalan masuk hutan.

  5. Ceritakan pada tempat pertapaan, Resi Dwala sekarang, baru bangun pagi-pagi sekali, lalu mengambil minyak sambil bernyanyi-nyanyi, rambutnya yang keriting digosok dengan minyak berkuncir, seperti ekor tikus, lalu keluar mengambil cangkul, tekun beliau mencangkul bercocok tanam, di ping- gir pertapaan.

    149. Setelah berhasil tapanya Resi Dwala, sakti ucapannya tak

terhingga, kalah Batara Siwa, atau para dewa sekalian tiap-tiap yang dikehendaki tercapai, tak hentinya bernyanyi-nyanyi, Surya dan bulan aku punya itu adalah lampu tiap hari, tidak gelisah, sudah jadi milik tak dapat dibeli.

  1. Bintang terang juga ada, angin sejuk mendatangi, jadi milik tiada diketahui, entah siapa yang menciptakan, selalu beliau berkata sendiri, tiba-tiba tertawa gelak-gelak, karena tahu beliau akan halnya kedua utusan itu yang seorang untung dan'yang seorang lagi malang, yaitu Bayupaksa dan

    Bayuwara itu.

  2. Lalu Resi Dwala bernyanyi-nyanyi tembang sinom berlagu Jawa, dan menari suaranya manis, sungguh malang Bayuwara, tidak dipercaya ia meminjam dan Bayu paksa dapat pinjam, tetapi sakit ia direbut, bila aku berlagu dangdang gula semua hafalan sudah habis, dilupakan, belanga ter- bakar, lagu sajak campur aduk.

    152. Jamur klabet sindrong wayah, jae bangle merica putih, sari

lungid danketumbar, buah lombok dan cabai rawit be- bolong dan jeruk nipis, tebu krawos dan jangu, temu hitam temu lawak, temu giri etis, payapuwuh, bayam jagung terung sumangka.

  1. Tiba-tiba utusan itu datang, masih jauh telah terlihat (oleh Resi Dwala), Bayuwara betul kosong, segera lalu menyem- bah, memberitahukan semua halnya, lalu Resi Dwala ter- senyum, seraya mengangguk setelah mendengar, lalu beliau berkata manis pergilah ke sana, sembunyikan dirimu.
  2. Lagi sebentar akan datang, Baladewa mengikuti dirimu, Bayuwara lalu pergi, laludatang Bayupaksa, dilihat mem- bawa kursi payung hijau dan bendera, sangat senang beliau melihat, utusan yang baru datang, setelah diterimakan, lalu beliau masuk ke dalam gua.
  3. Pada tanggal gua itu dipasang, kursi emas yang indah itu, dan diapit oleh tunggul agung, lalu Resi Dwala duduk, sam- bil goyang-goyang, seraya bersiul, ceritakan Raja Madhara, diiringi oleh dua orang putranya, yang bernama Wasata dan Walmuka, bersama-sama mengejar, keduanya sesak nafas lalu mengaso.
  4. Berhenti di bawah pohon beringin, melihat kanan-kiri, tanam-tanaman sangat luas, serba subur semuanya indah, heran raja, melihat tempat yang indah, gunung-gunung bunga terlihat, lalu segera didekati, terlihat di sana, payung dan bendera berkembaran.
  5. Lalu beliau lebih mendekat, memperhatikan keindahan gunung itu, sangat indahnya, tidak ada orang kelihatan, lalu

beliau berkata kepada putranya, rumah besar barangkali ada orangnya, karena telah jelas kelihatan, payung kerajaan, dan bendera bergambar naga kepunyaan Pandawa.

  1. Dikira Sri Dharma Wangsa, di dalam gua duduk, dengan segera beliau maju, lalu dilihatnyaResi Dwala, mengantuk pura-pura tak tahu, duduk pada kursi emas menyala ber- kilauan yang menterkejutkan Sri Baladewa keras suaranya terang ah uh aduh, kamu.
    159.Lalu sang Resi berkata, agak tersenyum seraya bernyanyi, ah uh uduh Aladhara, selamat datang kamu ke mari, itu siapa kamu ajak, karena ituSri Baladewa sesak di hati, sebab bahasa Resi Dwala sangat kasar, apalagi bahasanya akan hormat, air mukanya (Baladewa) susah (lalu bersabda), hai Petruk pura-pura kamu tidak tahu.
  2. Membalas sang resi, bukan Kantong Bolong aku ini sebagai kamu sangka, raja berkata lagi, sungguh Petruk kamu ini, sang Pendeta menjawab, ini bukan Petruk lain aku, Aladhara lagi berkata, anak Semar yang dulu kamu menya- mar kamu jadi pendeta, pelayan sang Partha.

    161. Mengapa kamu gegabah, pura-pura tidak tahu, lalu sang

pendeta berkata, walaupun begitu juga tidak salah aku, oleh karena sekarang tidak masih Petruk, memang betul yang dahulu, aku sekarang telah jadi pendeta, bagaimana kehen- dakmu sekarang, lalu pucat wajahnya Sri Baladewa, maka itu sang resi tertawa dan menggerakkan kepalanya.

  1. Dan aku tidak patut menyembah, kamu yang datang patut hormat, sebab aku jadi tuan rumah, tiap ada yang datang harus hormat, karena kamu mendatangi, apakah keda- tanganmu tidak menghambat padaku, aku sudah menjadi raja hutan menjadi raja sendirian raja yang unggul, memerintah dunia di badanku.
  2. Lalu Aladhara berkata keras, gila si Petruk sekarang, lalu di- jawab oleh sang resi, memang gila selalu, dan kamu datang sekarang ke mari, barangkali kamu lebih gila dari orang yang

gila, siapa yang menyuruhmu, Aladhara menjawab, hai Petruk, mengapa kasar katamu.

164. Siapa sesungguhnya kamu sekarang, sang resi lagi men-

jawab, aku Resi Dwala, yang menyuruh pinjam kursi, Bayu- warayang telah lalu, kepada Sri Kurupati, tiada lagi aku menghendaki, sebab aku sudah dapat pinjam, yang lebih, in- dah kepunyaan Sang Pandawa.

165. Itu payung yang dipersembahkan olehnya, dan bendera yang

bergambarkan naga itu lihatlah, kupasang di mukamu mati (kamu Petruk), Begawan Dwala lalu berkata, sekehendak

hatimu akan kutandingi, biarpun mati, asalkan jangan

membunuh.

  1. Anak itu diajak berperang, lalu Raden Walmuka ditunjuk dan Raden Wisata, dari itu Alahdara bingung semua kurang sopan dilihatnya, setelah dikejar dan didekati dikira si Petruk, lalu memukul serta menjerit.
  2. Kedua putranya terlambat menangkis, tidak berani mela- wan, keduanya menangis, mengaduh berganti-ganti, apa sebab ayahku raja maka saya dirusak lalu Sri Aladhara membalas lagi, serta dipukul, pukulan yang keras kamu minta.

    168. Ini terima oleh kamu Dwala, terlalu berani kamu anjing,

karena itu sang resi tertawa terkekek-kekek masih duduk di kursi, selalu bernyanyi-nyanyi, sambil melihat perbuatan raja, perbuatannya sebagai orang gila, mengamuk beliau dan memukul-mukul, lalu berkata Resi Dwala, menyuruh putra beliau.

169. Silakan Sata dan Walmuka, balas ayahmu, lalu mereka

membalas serta menendang dan memukul berganti-ganti Sri Alandhara baru ingat, dengan dirinya lalu beliau payah, diam sambil mengingat-ingat, mengapa anak kupukuli, menyesal beliau Sang Raja.

170. Lalu berdiri putranya, berganti-ganti memukuli, juga dikira

Resi Dwala, ayahnya ditendang, ke sana ke mari terguling- guling, ini Dwala terima dahulu, kamu membuat aku ribut

dengan ayahku, kepalan keras akan kau minta, hai ribut dengan Dwala gila kau, ini pendeta hidung panjang.

  1. Sangat gembira sang Resi, selalu beliau memperhatikan, waktu ditendang terguling-guling dan terbalik, raja mengaduh dan menangis, ingatkanlah dirimu dulu anakku, mengapa bapak yang kau sakiti, bukan Dwala aku, aku ayahmu, aku ayahmu Raja Madhura.
  2. Karena sakitnya terlalu, lalu mengaduh sampai menangis, lalu beliau berkata serta menundukkan dirinya ampun hai sang Resi, hamba mohon maaf, saya takut kepada tuanku, hamba mohon ampun kepada tuanku, betul-betul sampai di hati, Sang Resi Dwala yang suci, berkata sambil mengang- guk.

    173. Jika sungguh Aladhara, tunduk kepadaku sekarang, senang

hatiku kepadamu, Baladewa berkata, sungguh hamba mohon supaya hidup,Resi Dwala lekas berkata, berhenti kamu hai Walmuka, kasihani ayahmu, duduk dahulu, hai kamu Raden Wisata.

  1. Semua mereka ingat akan dirinya, putranya keduanya baru ingat akan ayahnya, yang telah lalu disangkanya sang resi, ketiganya lalu duduk, jiwa raga sudah diserahkan sekehen- dak hati tuanku, hambakan kami sekarang, ya, tuanku, asalkan hamba masih utuh.
  2. Ha, ha, ha, ha, resi tertawa, sebelumnya kamu tidak per- caya, setelah basah baru meninggikan kain, bapa sudah pendeta suci, aku sudah puas sekarang, karena kamu sudah minta maaf, aku tidak mengapakan kamu, bisa bergerak sendiri, pukul memukul terhadap anak dengan sengitmu.
  3. Mereka yang tiga itu betul-betul bingung, menunduk agak mau menangis, ditambah akan takutnya terlalu, kepada maha resi yang sangat sakti, lalu maha empu berkata, gembira dan agak tersenyum, kamu raja Mahadhura, hantarkan anakmu keduanya, keluarkan itu, ketelanya yang di atas semua.

  4. Apabila perutnya lapar, usahakanlah dirimu sendiri, bakarkanlah dirimu ketela dan jagung dipetik, dipanggang di sana, jangan tidur, kalau mengantuk matamu, di sana gu- lingkan dirimu di sana, di sana ada tempat berteduh sambil mencari hawa sejuk, lebih baik di sana, kamu tidur tanpa ada tikar.

    178. Di sana sembunyikan dirimu, tidak boleh pergi, bila belum

ada perintah bapak, jangan sekali kemari lagi raja lalu berkata, "ya" kemudian mohon diri ketiganya, beliau ber- lindung di perkebunan, di sanalah beliau menananm jagung ketela dan ubi, berganti datang sang Bima sekarang diceritakan.

VIII 179. Menderu angin puyuh yang kencang, meniup pertapaan, di

Wadasti Natar, sekarang sang resi juga terkait kursinya, beliau tertelungkup, dan payung kerajaannya rebah, ditiup

angin puyuh, sebagai tersenyum maha resi, turun dari kursi emas itu.

180.Seraya bernyanyi, lalu mengambil payung, dan sambil ber-

kata sendiri, bicaranya, Bima sekarang datang kemari, ber- tanda anginnya kencang, beliau sangat benci kepadaku, tidak lama beliau datang, berdiri tegak di depan gua itu, ter- belalak matanya waktu beliau melihat maha resi, dan mau menangis.

181. Lalu beliau menuding dan katanya agak keras, lalu beliau

mengambilpayungnya, Petruk di sini kamu, di kursi itu kamu duduk, Pendeta membuat terkejut, wah Bima baru kali ini kamu datang, selamat datang Bima, lalu Wrekodhara mengepalkan tangannya, sebab marahnya tak dapat ditahan.

182. Bukankah kamu pelayan Arjuna kamu Petruk, maka kamu

bersifat sombong, tidak hormat kepadaku, kamu anak Semar bernama kamu Kantong Bolong dan Petruk, terlalu kamu dan dungu, lalu maha mpu berkata, kamu manusia

aku ini raja, tetapi tidak lain sama-sama manusia bilamana patut disembah.

  1. Kedatanganmu berdasarkan perbuatan dungu, sangat per- buatanmu, lalu Bima menjawab, lupa kamu kepadaku, kau sangka orang hina, maka kamu masih angkuh kepadaku, maha resi sebagai tersenyum, yang dulu betul aku, bukankah aku Dewa Surya.
  2. Minta makan kepadamu yang dulu, tetapi sudah berhenti dari lama, menghamba kepada Partha, benar aku Petruk yang dulu, dan Kantong Bolong namaku, lagi tetapi sekarang tukan, sekarang aku telah terkenal, bernama Resi Dwala, yang mengutus Bayupaksa.
  3. Meminjam kursi aku padamu, Bima bertambah-tambah marahnya, lalu berkata tidak putus-putusnya, hai kamu Dwala gila, lalu maha resi menyahut, sukur kamu cari aku, kebetulan bertemu, apa maksudmu datang kemari.

    186. Jangan kamu lancang mengambil kursi dan payung, ini tem-

pat dudukku, makanya masih kududuki, Sri Dharma Wangsa yang memberikan, beliau dengan tulus ikhlas per- caya kepada aku, karena itu kamu tak patut mengambilnya, kemudian bila aku puas sudah, pada waktu itu kupersem- bahkan, begitu Bima supaya kamu tahu.

187. Bima menggerutu lagi menjawab, yang sekarang

kedatanganku, hanya aku mencari kamu berkaki pendek sebelah, sekarang sudah kamu akan mampus, sebab dungumu anak anjing, lalu maha resi tertawa gelak-gelak, serta mengernyitkan kening kata-katanya pantas sekali, ya Bima sekarang bunuh, ya sakiti dirimu sendiri.

  1. Ayo pukuli kepalaku lalu Bima berdiri -serta memukul bingung tak tahu arah seperti disulap, bagaikan gila tersen- tak ke sana ke mari badannya habis digaruk-garuknya, memukul lagi menandang.
  2. Bersemangat beliau memukul kepalanya, tak berhenti- hentinya kedua tangannya, memukul dirinya sambil

berguling-guling, hingga payah, beliau sang Bima serta beliau kegelapan dan tegang badannya, maha resi tertawa sambilmenari, duduk di kursi, sungguh perbuatan orang kuat kebalmu tak ada gunanya.

190.Dikira sang Begawan memukulnya, lalu sang Bima memukul dirinya, berkali-kali sampai terguling-guling, hingga payah

Wrekodhara, sadar dan merasa sakit pada waktu itu, tunduk sang Bima katanya halus, aduhai takut aku begawan resi,

aku mohon maaf.

  1. Lalu menjawab dan tersenyum sang Begawan sambil mengangguk-angguk, telah habis anugrahku, sudah semua dimakan meringgit, lalu Bima berkata, mengaku kalah ber- perang, lalu maha resi berkata, aku tak mengapakan kamu Bima, salahmu sendiri, setelah merasa lalu mengakui dengan dirimu salah.
  2. Kekuatan tenaga pada dirimu tak berguna, jika kamu berani kepadaku, ayo bangunlah sekarang Bima, jangan kamu ter- lentang di sana, dan berguling di tanah, sayang pakaianmu baru, lalu sadar sang Bima gurumu baru, kemudian beliau bangun sakit hati, maka itu beliau lagi membanting dirinya.
  3. Kalau sungguh kamu Bima tunduk kepadaku, permintaan maafmu kuijinkan sekarang kepada kamu sekarang, asalkan kamu mau menuruti, segala macam perintahku Bima me- nyanggupi, maka itu maha resi menari menjingkrak sungguh bagus kamu Wrekodhara, di sana tinggal di kebun.
  4. Dan semua ditanam ketela yang ada di sana, dan itu benih jagungnya, jangan kamu berani pergi, bila tidak aku yang memanggilmu, Bima sudah menuruti, tiada lama beliau ber- jalan, Sri Aladhara dijumpainya di sana, beliau menanam segala umbi-umbian, bersama kedua dengan putranya.
  5. Ceritakan Gatotkaca sekarang datang, turun dari angkasa, lalu menuju gua, setelah beliau datang lalu masuk, kebetulan maha resi diketemui di sana, lalu beliau berkata "aduh Petruk, Petruk sungguh kamu, bernama Dwala sekarang kamu, lalu maha mpu berkata, sungguh begitu Gatotkaca.

  6. Apa perlumu datang kepadaku, lalu Gatotkaca berkata, payung kursi kuambil sekarang, setuju itu tidak akan kuambil itu, lalu maha resi tersenyum berkata, tidak berhak kau mengambilnya, belum puas aku di sini, bila sudah puas waktu itu kukembalikan senangan belum habis.

    197. Kalau tidak Sri Dharma Wangsa, datang meminta payung

ini, sebab kau kuragukan dalam hati, jangan-jangan kau jual nanti sebab kamu ingin akan uang banyak, Gatotkaca lalu marah, berdiri beliau mau memukul, badannya lemah tetapi memaksa diri, akhirnya rebah beliau tiada tahu dengan dirinya.

  1. Setelah sadar penglihatan kabur serta perasaan bingung, dan semua sendi sakit, kepalanya sakit seperti terpukul, terlen- tang tak dapat bangun, lalu maha mpu berkata, silakan sekarang Gatotkaca, sekehendak hatimu mengamuk, aduh sang Begawan, hamba takut seumur hidup.

    199. Kalau takut menyembah di sini, lalu senangkan hatimu

sekarang, supaya kamu berkata sopan, bertatacara sebagai menghadap raja, lalu berdiri Gatotkaca maju lalu menyembah, hamba taat kepada tuanku, jiwa hamba kuasai, sungguh-sungguh mengikuti kehendak tuanku.

200. Sang Begawan lalu menyuruh Gatotkaca, ayo lekas pergi

kamu, kamu jadi tukang kebunku, segala macam supaya siram di sana, jika mati bungaku, kukebiri kontolmu, dari itu Gatotkaca gemetar berjalan, semua dijumpai ke- luarganya.

201. Berempat berjemur sambil menanam bibit, Gatotkaca yang

kelimanya, berkumpul menanam ubi, terhenyak menyesal dalam hati, sambil mengeluh,tidak berani pulang, begini hukuman yang datang, ada yang mau menangis, ada yang menunduk menyesal diri, karena kurang bahagia, sakti dan bijaksana tak berguna.

IX

202. Sri Kesawa tinggal di udara diangkasa, lama beliau

melayang-layang seperti burung, karena saktinya maha resi,

beliau terbang tak bisa turun, sampai payah berkeliling,

lalu datang, Partha bertiga.

203. Semar dan Gareng yang mengiringi, lalu maha mpu

mendekati serta berkata keras, caranya halus manis, menari dan menyanyi lagu pangkur, Danenjaya diam melihat, mem-

perhatikan, antara takut dan berani dalam pikirannya.

  1. Maha pendeta berkata, Oh, Dananjaya datang kemari, barangkali kamu sakit demam, mau minta obat kepadaku, aku dukun sewaktu-waktu, silakan perhatikan, aku ini Resi Dwala.

    205. Partha menggigil, panas dingin tak terhingga, pucat rupanya

konon, keluar seperti serak suaranya, Petruk saya ke- dinginan, terimalah sekarang, salahmu tidak menyembah, obatnya sangat gampang, semua sudah di sini.

206. Tidak ada obat yang jauh, di badanmu ada di sana, hanya

kau mau menyembah, marilah sekarang dan diturutlah perintah bapak.

  1. Lalu Dananjaya menyembah, ya sungguh-sungguh tuanku maha suci, hamba turuti segala perintah, sekalian perintah tuanku, yang tuanku, ya Pendeta yang Maha Mulia, sang Arjuna, berkali-kali beliau menyembah.

    208. Lalu maha resi memberi perintah, silakan Arjuna, sekarang

bantu, Baladewa Bima dan Gatotkaca, mereka di kebun menanam jagung, laluPartha menyembah, daulat tuanku, lalu beliau pergi ke kebun.

  1. Lalu maha mpu berkata, Keresna marilah turun sekarang berhenti melayang-layang begitu, di sini menghadap kepada aku, lalu turun Sri Kesawa, serta menghormat, dan menghadap kepada Resi Dwala.

  2. Masih dipenghadapan Sri Kesawa, lalu Semar datang sekarang, yang datang itu bernyanyi lagu sinom dekat gua itu, baru maha resi mendengar nyanyian lalu memalingkan kepala, hentikan sinomnya, semar.

  3. Semar selalu melihat kepada Sri Kesawa yang menyembah, kepada anaknya Petruk, bersila danmenunduk, Semar mengikuti beliau menyembah, lalu maha pendeta berkata.

    212. Semar terlambat kamu datang, Gareng di mana sekarang,

lalu Semar berkata halus manis, pelayan maha resi masih di tbelakang, lagi sebentar datang, akan menghadap lalu maha resi tersenyum serta mengangguk.

  1. Semar menunduk sambil menanyakan, bingung hamba tuanku pendeta, mengapa hamba heran tiba-tiba di sini ber- jumpa amat gembira hati hamba, yang sekarang, sebab tiba-tiba menjumpai Begawan.
  2. Hamba telah menyuruh sang Pandawa semuanya, silakan tuanku berbicara, lancar, kata-kata Sang Pendeta, diam ayahku Semar, sudah tentu, jangan lagi bapak sedihkan.

    215.Tiada lama lalu Semar bernyanyi, nyaring suaranya manis

lalu Kantong Bolong mendengarkan Semar menyanyikan tembang ginada sandung, dengan asiknya sang Begawan me- narikannya, serta memalingkan kepala dan melanjutkan lagu.

X

216. Bunga sandat bunga gadung, berderet dipinggir jalan aku

payah baru saja mengaso, tiap hari marah, siapa yang mau

menaiki pohon bunga, saya beri upah tiga kepeng (25 sen).

217.Siapa punya burung yang terlepas itu melompat ke pohon blimbing manis, saya yang menulup ketika jalan-jalan itu yang menimbulkan panas hatiku, siapa sanggup menangkap- kan, saya memberikan upah tiga kepeng (25 sen).

218. Setelah Gareng tiba di sana, lalu masuk ke dalam gua (dijum-

painya) maha mpu duduk dikursi emas, dihadap oleh Sri Ke-

sawa, lalu maha resi berkata, apa kabar Gareng karena maka

kemari.

219. Lalu Gareng tersenyum berkata, dari anugerah Sang Hyang

Widhi menyebabkan, selamat hamba datang kemari dan

Angka Wijaya memberi kekuatan kepada hamba, berapa ayam habis, dapat ditangkap oleh hamba.

  1. Lalu maha resi berkata halus manis, kesana kamu Gareng cari sekarang, tukang kebon di perkebunan Baladewa bersama-sama tiga orang, Bima Partha dan Gatotkaca, semua disuruh kemari.

    221. Gareng berkata: "ya", lalu ke luar menuju ke perkebunan,

semua dilihatnya menanam kacang, segera diberi tahukan- nya semua, lalu beliau berangkat tanpa menunda waktu, Nala Gareng yang mengikuti mereka.

222. Harkian mereka di dalam perjalanan, semua sudah datang

sekaraņg, menghadap di halaman gua, dengan tata susila

beliau duduk menyembah, kecuali Wrekodhara saja, sambil

berdiri menyembah.

  1. Semar melihat pada waktu, air muka itu, yang menghadap, semua pucat dilihatnya, tidak puas di dalam hatinya, tetapi Gareng selalu gembira, lalu ia menyanyi menyindir.

    224. Kambing kota di bawa ke gunung, gemetar bulunya

bangun, baru sekali pernah berganti hawa, rumput lebat tidak makan, lalu semar menggantikan serta menggeryit.

  1. Siput sawah naik gunung, diam seperti pertapa-pertapa tidak berobah dia mengisap minum air, tidak putus-putusnya me- ngeluarkan buih, ia susah karena kekurangan air, yang menghadap semua bersedih hati.
  2. Dan di dalam hatinya semua berduka cita, disamai mereka terlalu takut walaupun beliau bangsawan menemui neraka, kena hukuman sakit hati, dijalan berpukulan, lebih buruk dari buruh miskin.

227. Lalu Gareng berkata memberi nasihat, ya, tuanku raja

sekalian ampun tuanku, pikirkanlah tuanku raja pelan- pelan, barangkali Tuhan Yang Maha Esa menghukum, men- jumpai sebagai sekarang ini.

  1. Dan hasilnya ada di badan paduka tuanku, sebab lama memerintah negara, jelas ada kurang lebih, yang salah sekarang dinikmati, jangan tuanku menyesal, bahwa tak dapat diindari tuanku.
  2. Ditimpa nasib jadi raja, Sang Hyang Widhi pandai menamai Sang Hyang Widhi pintar membuat daya upaya, mem- buatkan yang salah semua manusia disayanginya, tiap-tiap yang salah ada yang mengajar.

    230. Kesalahan itu dikejar oleh kesengsaraan, kebenaran dikejar

kesalahan orang menjelma menjadi manusia, berulang-ulang

kembali selalu diikuti oleh perbuatan, ke mana pergi tentu

dinikmati.

231. Tidak bisa ditolak tuanku raja, itu adalah bakal menjelma,

harus kita memperbaiki, itu raja yang harus dijunjung dan

disembah itu kewajiban yang memelihara, walaupun susah

juga dilaksanakan.

232.Semar tertawa kecil, maka aku tidak menuruti untuk jadi raja, hal begini yang kutakuti, paling gampang jadi rakyat, biarpun berdiri dan jongkok tiada salah.
233. Nasihat ayah sekarang pungut, sudah tentu takkan alah, kasih sayang dan keinginan menyebabkan, menimbulkan marah dan sakit hati, mengakibatkan bahaya, celaka dan sedih sini.

234. Makanya jangan sangat memuji, memang Sanghyang Widhi

sungguh pandai, kesaktian kebijaksanaan dan kebenaran, pada waktu tidur memang dilupakan, setelah bangun dibawa kian kemari, rupanya sama setiap hari.

  1. Lalu Nala Gareng menggantikan berkata, ayahnda tahu mentertawai, selama jadi manusia, baik-buruk tentu diketahui, tak beda sebagai berjalan di jalan, waktu musim kemarau yang terik selalu.
  2. Panas hati memang diketemui, sepanjang jalan yang lewati, tak ubahnya sebagai gelombang, besar gelombang, besar angin, bangsawan ataupun rakyat jelata, semua (Tuhan) yang memerintahkan semasih kita hidup.
  3. Memang perbuatan Sang Hyang Maha Kuasa, memerintah segala hidup, ayahnda dan aku diolahnya, sebagai wayang siang malam, hidup kita jadi neraka, bila mati apa dikata.
    238.Mati itu untuk hidup, hidup itu akan mati, raja atau rakyat, karena raja ada rakyat, dan karena rakyat ada raja, manusia sama semua.
    XI

  4. Tan diceritakan sejarang selama di Widastra Natar, itu yang diingat, (karena itu) beliau berkata lemah-lembut, adikku raja yang menghadap kepada aku semua memberitahukan sekarang, aku menerangkan sekarang kepada anakku rajalah ayah sekarang, aku akan pergi istana Perang gempuran, keperluannya akan bersayembara.
    240.Ayah pergi akan kawin yang sekarang, dengan Dewi Sandat Pangasih karena sangat kecantikannya maka ayah meminjam payung, bendera yang bergambar naga kursi kepunyaan Sri Dharma Kusuma, karena ayah sangat miskin, sebabnya ayah meminjam, kursi emas, supaya jadi aku kawin, dengan putri raja itu.

  5. Dan para raja sekalian supaya mengiringi hari baik itu untuk perkawinan, sekaranglah pergantiannya yang menghamba dari dahulu memang harus sekarang mengiringinyą balas kasih sayangnya, supaya ditimbang masak-masak dahulu, lalu Semar berkata sambil menyembah, tuanku raja sekalian mengiringi, turuti kehendaknya (Bagawan).

242. Para raja berkata sambil menyembah: "baiklah" semua,

memang hamba menuruti menghormati kehendak maha resi

Semar dan Gareng tak ketinggalan, siap sedia akan meng-

iringi, gembira maha resi mendengarkan, selalu beliau ber- nyanyi, bila sudah semua, berbuat sebagai sekarang, menolong dengan kecepatan.

243. Ayo berangkat mereka hari ini, sekarang dan pertolonganmu

Krisna, kepada aku, supaya sama hasilnya, menerima pem- balasan dari aku keselamatan yang akan kau terima, supaya sama kasih sayangmu kepada sesama manusia hidup, kemu- dian dinikmati, tidak boleh tidak, menerima anugerah Sang Hyang Maha Kuasa, dewa itu sebagai cermin.

  1. Tata susila itu dipakai menyelidiki, di sana terbayang rupa yang bagus kasa, terang rupa itu pada cermin, demikianlah anakku supaya diketahui, tidak jauh manusia daripada Tuhan, baik buruk tak terpisah, Tuhan yang dahulu mem- buat sifat buruk diketemui, setiap orang, yang kurang ikhlas dalam hatinya, tak mungkin akan menjumpai kebahagiaan.
  2. Apabila tak ada di dalam hatimu, akan mengikuti tujuanku, lebih baik diamkan saja dirimu, sebab aku tak setuju hanya kelihatannya saja, tetapi hati yang sejati, jangan hanya turut-turutan saja, air muka supaya baik, lalu para raja berkata seraya menyembah, hamba setuju, menuruti maha resi, lahir bathin semua bersih.

    246. Walaupun sulit seperti sekarang, hamba sungguh-sungguh

setuju, mikul bersama-sama, betul-betul tak menghiraukan diri lalu maha resi berkata, sangat bahagia ayah anakku ayo sekarang berangkat, bersama-samalah kita berjalan ke istana Perang Gempura, lalu mereka berjalan, Nala Gareng dengan hormat dia berkata baiklah, seraya tersenyum membuat- buat.

  1. Maha resi yang sangat sakti, silakan tuanku mengenakan pakaian, oleh karena maha resi akan kawin, diiring oleh para raja, lalu maha resi menjawab tak berguna berpakaian yang

baik, nanti kita lihat di sana, lalu beliau mengambil baju di dalam gua, segera dikenakannya pelayannya yang empat orang di dalam kantong dimasukkan semua.

248.Sangat mulia bajunya lagi panjang bernama Anta Kusuma,

Bimaniyu, selalu disembunyikannya, ada di dalam kantong beliaubertongkat para raja semua bertepuk tangan, lalu Semar dan Gareng menyembah, maha resi, menari sambil berjalan, berlagu maskumambang.

XII

249.Tersebut, di sorga sekarang, semua para dewa, Sang Hyang Siwa tersebut sekarang, selalu beliau berunding.
250. Semua datang, dewa Nawasanga sekalian dan delapan dewa, dan lagi tujuh resi, dan panca resi enam kahyangan.
251. Kini Batara Siwa bersabda, kepada Resi Narada, marilah rundingkan sekarang, tentang undangan bersayembara.
252. Lalu berkata dan menyembah Resi Narada, bila tuanku akan pergi gampang oleh hamba memikirkan, kalau bermusuh terhadap manusia.

253. Tak mungkin manusia dapat menandingi, daya upayaku,

dewa, pendeknya supaya tak berhasil semua, dan tidak berkabar ke dunia.

254. Lalu Batara Siwa tiada panjang bersabda, sekarang pergi

sekarang, pergi sekarang ke istana Perang Gempura, ambil putri Jayakusuma.

255. Sangat congkaknya, kepadaku sekarang, mengundang tak

semuanya, Resi Narada menyahut, ya, tuanku yang mulia.

  1. Baiklah, hamba tidak tolak sekarang, lalu Resi Narada menyembah, mohon permisi lalu berangkat, laridari sad kahyangan.

    257. Serta terbang perjalanannya agar cepat, menuju Perang

Gempura,Sanghyang Siwa dan Permaisurinya bersama- sama pulang ke sorga.

  1. Sebutkan Resi Narada di jalan, senantiasa beliau mem- bicarakan, disuruh oleh Batara Siwa, karena berbuatlah.

    259. Apa sebab dewa jahat sebagai sekarang, gelisah dalam

hatinya, lama beliau berhenti di jalan, sebab perjalanannya akan mencuri.

260.Sang Hyang Siwa merajai para dewa wanita, Sang Hyang

Satagraja, para dewa semua menghamba, dan manusia dunia semua menyembah.

  1. Manusia semua hormat besar kecil, dan di tanah Jawa, raja Pandawa tentu sekarang, beliau bermusuh terhadap batara.
  2. Para Paradewa memang disayangi oleh Tuhan, nyata beliau dapat kabar, dari istana Perang Gempura, karena ada sayembara.
  3. Bila mereka datang mungkin berebut-rebutan di sana sekarang, berada di dalam pertempuran, merebutkan Sandat pengasih, hanya membuat sorak orang di dunia.
    264.Sebagai Dewa Asu Raga, membuat mala petaka, dicela beliau di dunia, diumpat oleh segala yang berjiwa, ah dewa kegila-gilaan.
  4. Demikian bicaranya di dalam hati, jika diambil, merebutkan wanita, kita turut dicap.
  5. Kalau ditentang Batara Siwa sekarang, kita menerima amarahnya lebih baik sudah dilaksanakan saja, itu, yang dikerjakan sulit sekali.
  6. Mengapa gelisah laksanakan saja sekarang, sebagai tugas utusan, baik buruk belum diketahui, terserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
    XIII

  7. Di negara PerangGempura, tersebut Raja Jaya Kusuma, dengan putranya, berada mereka di istana, para pahlawan sudah datang, terutama putra raja, yang bernama Jakasan- tosa, dan patih utama, dan patih Jayasunu.

269. Lalu berkata maha raja, anakku, bagaimana musuh itu semua yang datang memperebutkan Sandatpangasih, tidak-

lah kalah anakku, sebab banyak musuh yang datang,lalu Raden Jakasantosa, menyembah, seraya berkata "ya". 270. Seorang pun tak yang berani, sisa yang mati, habis semua

lari, selain ia yang tunduk, ada lagi masih sedikit, walaupun

seribu hamba tak takut, menghadapi kesaktian musuh, lalu

maha raja halus berkata, seadanya semua anakku terutama ayah sekarang was-was lalu ikut ibunya berkata.

271. Apakah tidak mungkin ada yang mengatasi, anakku, tak

senang rasa hatiku, mungkin ada musuh para raja men- datangi, melamar adikmu, mereka menunggu di halaman istana sesak penuh.

  1. Pertama para patihnya menjawab, bersama-sama dengan patih Indra Jaya Dhanuh, ya tuanku janganlah tuanku ragu-ragu di dalam hati, tentang putra tuanku, tidak akan kalah beliau di dalam medan perang, lalu Jaya Santosa berkata, menggantikan bicaranya menantang anaknda tak takut.
  2. Walaupun semua para raja, yang ada di bawah langit, merebut anak tuanku raja, tak kalah juga hamba, tidak mungkin akan dapat membunuh, walaupun hamba mening- gal hamba tak sayang akan jiwa itu adalah sorga yang utama, asalkan Sandat Pangasih tak bersuami semau- maunya, supaya bersuami dengan raja yang sakti luar biasa.
  3. Walaupun raja kaya, dan rakyat banyak, kalau kurang saktinya, dan kepandaiannya maha kuasa saktinya, dan walaupun orang miskin orang kebanyakan, bila lengkap ke- utamaannya, melebihi kekuatan hamba, itulah jodonya adikku, itulah yang tetap dimuliakan, benarkah paduka tuanku raja itu?
  4. Sri Jayakusuma sekarang berkata, betul anakku itu, tetapi anaknda jangan kurang hati-hati, musuh anaknda datang ju- taan, memerlukan adikmu, tiap-tiap musuh añaknda datang

itu, hanya anaknda yang menghadapi, lalu Jayasantosa berbicara, jangan susah tuanku raja,

XIV

  1. Ramai sekali rakyat Astina datang, ketika (raja Jakasantosa) berbicara di istana, yaitu Sri Karna, dan seratus Korawa, masuk ke dalam istana, di Perang Gempura; Sri Jayakusuma dibencana.

    277. Lalu terkejut Sri Jayakusuma mengapa mereka yang baru datang, siapa kamu datang berbondong-bondong, banyak

sekali, barangkali ada yang diperlukan datang, lalu Sri Karna, segera menjawab.

  1. Menghormat seraya berkata dengan manis, saya bernama Sri Karna, tuanku, raja Awangga, saya sesungguhnya utusan, dan lagi banyak yang mengiringi, semua saudara Sri Duryodhana, yaitu seratus Korawa semuanya.
  2. Raja Suyodhana mengutus saya bersayembara, saya karena bakti, bila tuanku mengijinkan, permohonan saya, saya mo- hon dengan baik, putri tuanku raja, tak lain Dewi Sandat Pangasih.
  3. Akan diperistri oleh Sri Duryodhana, dijadikan permaisuri di istana, ada di tanah Jawa, jadi raja tak ada yang menya- mai, raja sangat unggul, amat berwibawa, dan kaya tak ada melawan.
  4. Lalu raja Perang Gempura menjawab, sudah terlanjur tuanku raja, saya mengedarkan undangan mengadakan sa- yembara hanya anakkulah yang bertanggungjawab, yang bernama Jakasantosa
  5. Amat banyak para raja dan patihnya telah kalah, dihadapi oleh anakku, datang bersayembara itu yang kulaksanakan anaknya lalu dipanggil, Jakasantosa, bagaimana pikiran anaknda?
  6. Lalu Jakasantosa menyembah seraya berkata, ya, ayahnda raja hanya ada dipertempuran, sama sebagai yang telah lalu,

demikian hamba ikuti supaya jangan berbeda dengan yang telah lalu, janganlah tuanku raja berobah

284. Sebelum putus tanganku kiri-kanan dalam peperangan,

janganlah tuanku raja, menyerahkan anaknda Raden Dewi itu, Dewi Sandat Pangasih, Sri Karna dan seratus Korawa semua mendengar

285. Sangat benci semua mendengarkan, lalu beliau menantang

berperang, sudah selesai perjanjiannya, bersama-sama beliau keluar Jakasantosa banyak juga pengikutnya, semua mau menonton orang yang berperang.

  1. Riuh rendah suara gong bedil dan kendang, dan bunyi- bunyian semua, sungu bende dan parwa, gong beri dan so- rak, bersama dengan tepuk tangan sekalian, ada di luar istana, lalu segera mulai bertempur

    287. Pertama kali Aswatama berperang, Karna yang membantu,

dan seratus Korawa, menonton dari jauh, amat hebat pe- rangnya sekarang, tetapi hanya berdua, saling sepak saling pukul

288. Dan saling desak saling banting saling pukul, selalu saling

sepak tak hentinya dan saling menginjak, seimbang perang- nya itu, akhirnya payah Aswatama, Jakasantosa, makin kuat berperang.

  1. Bagawan Drona malu beliau melihat, sebab anaknya kalah bertempur, lalu beliau menyuruh, Dusasana berperang, dengan segera beliau menolong, Aswatama lalu mundur beliau setelah tertolong
  2. Musuhnya menangkis di medan perang, tak merasa takut, walaupun beliau direbut, Raden Jakasantosa, Dusasana dihadapi keduanya berperang, seperti harimau melawan sapi.
  3. Dusasana badannya besar dan kuat, Jakasantosa tubuhnya kecil, tetapi tegap dan perkasa, ahli dan lagi cepat karena itu Dusasana terlambat beliau menangkis, akhirnya kalah, lalu disepak hingga jungkir.

  4. Sangat payah, hanya bergerak di tempat sebagai kayu, di- injak-injak dipakai titi, makin kuat Jakasantosa, karena itu Dusasana kalah, karena takutnya lalu lari, lalu ada penggan- tinya, bersama Tirtha Nata.

  5. Berhadapan dengan Jakasantosa, Patih Jaya Drathar yang sangat perwira, beliau jadi patih di Astina, beliau amat sakti, bagaikan harimau, caranya waktu berperang.
  6. Raden Jakasantosa amat perkasa, tak ubahnya seperti singa, musuhnya juga perkasa, dari itu Jakasantosa bertambah- tambah perwiranya, makanya kalah Jaya Dratha, dalam per- tempuran, lalu Sri Karna menghadapi.
    295.Sangat galak tingkah lakunya di dalam peperangan, karena mereka sakti dan pandai, maka perangnya seimbang, melilit sebagai ulat, berganti-ganti jungkir, saling lemparkan, saling tusuk, dan saling kejar.
    XV

  7. Bagawan Drona ceritakan sekarang, sangat takut beliau melihat begitu pula seratus Korawa, susah mereka akan menghadapi karena musuhnya sangat kuat, barangkali tak- kan kalah musuh itu, bila dihadapi satu per satu.

  8. Lebih baik dikeroyok ia sekarang si musuh Jaksasantosa, setelah selesai perundingannya, lalu turun bersama-sama, melepaskan senjata cakra, limpung trisula, dan angkus, mengengung suaranya di medan perang.
  9. Jakasantosa menghadapinya, tidak takut beliau direbut, lama-kelamiaan direbut lalu beliau didesak dikurung, payah beliau dalam peperangan disepak jungkir bálik, sebagai orang main bola.
  10. Raden Santosa, lalu melompat ke angkasa (dari sana) banyak sekali caci-makinya, rusuh sekali kamu orang-orang

Astina, tidak menurut peraturan perang, tidak tepat seperti janjimu, beginikah tingkah laku orang Jawa datang kemari.

300. Lalu panahnya dibidikkan dengan segera, yang di-

anugrahkan oleh Batara Rudra, keluar angin' bersuara menderu, kencangnya seratus tambana, dan sekali taupan besar, datangnya dari timur laut, musuhnya dituju.

  1. Pohon-pohon kayu semua ditiup angin, rebah patah habis terlempar, dan musuhnya juga tertiup, ke angkasa diterbangkan taupan, semua mereka menjerit-jerit.
  2. Tersebut Bagawan Drona sekarang tertelungkup beliau di tanah, megang rumput, asal dipegangnya terlepas, sebagai harimau beranak, menggaruk-garuk tak ada pegangan, sang- gulnya terlepas terbungkus rumput.
  3. Ada yang menjerit-jerit minta tolong berulang-ulang, menarik, aduh ibu, aduh bapak, saya diterbangkan angin, keluar kotoran dan kencingnya yang tak sadar mereka di sana tergeletak terangkat ditiup angin, jadi beliau diterbangkan.
  4. Melayang-layang mereka ditiup semua, terbang seperti 'sam- pah serta menangis dan menjerit, seperti burunglayang- layang semerawut, ibu bapa tolong saya, supaya masih hidup, ramai sekali sebagai sundari pecah.

    305. Barangkali ada dua panalikan, di angkasa berputaran

Bagawan Drona terapung-apung, di atas gunung melayang, dan kembali di atas laut, ada yang pingsan muntah darah, sebagai hujan bersama dengan amerta.

  1. Penduduk kota semua ribut, yang ada di perang Gempura, terkena tai, dari itu raja putra kasihan, lalu dipandang mereka yang melayang-layang di angkasa, kembali kamu segala yang jahat, beritahukan kepada bapamu.
    307.Angin topan itu ditiupkan lagi, bagaikan mendung bergelombang mengalun, pada waktu bulan kesembilan (Maret) lalu jatuh di tanah Jawa, terang cuaca kelihatan

sinar matahari, sebab ditinggalkan oleh mendung, ceritakan segaga yang menderita sengsara.

308. Sri Karna jatuh di istana-Astina, bersama Danghyang

Drona, dan seratus Korawa, berturut-turut mereka jatuh semua, dan ada yang jatuh di sepanjang jalan ada di hutan rimba, ada yang jatuh menderita sakit.

309. Ada yang luka ada lagi yang sumbing, ada yang telanjang,

ada yang terkait meratap tangis, ada yang sangkut pada duri ketket dan di atas pohon kelapa miņta-minta tolong, tak

beruntung mengerang, aduh baru sekarang bisa melayang- layang.

  1. Banyak yang menderita duka cita, ya banyak kalau diceritakan, ceritakan Jakasantosa, lalu pulang ke istana diiringi oleh para pahlawannya, kemudian menghadap ke- pada raja, tersenyum raja berkata.
    XVI

  2. Bagaimanakah dalam pertempuran, menghadapi musuh dari Jawa, lalu raja putri menjawab, ya ibuku, telah kalah, musuh hamba semua mundur hilang tak ada tinggal jelas Dewi Sanda Pangasih.

  3. Tetap menjadi kunci kerajaan, selalu ia menunggu ayahnda dan ibunda, lalu raja menjawab, ini sudah betul-betul kalah, kalau dipikir-pikir musuh yang akan datang selalu membuat susah tak mungkin ada yang lebih sakti.

    313. Sebab kabar telah tersebar, ada lagi raja sakti di Jawa, yang

terkenal para Pandawa, itu yang meragu-ragukan kalau

tidak, menerima kabar, jadi anakku unggul dalam pertem-

puran.

314. Begitu pembicaraan dalam istana, lalu ada tanda yang meng-

herankan gempa besar yang mengerikan, terpelanting raja,

dari kursinya, itu tanda akan kalah, kesaktiannya akan diatasi, para raja telah duduk.

  1. Tak berubah di penghadapan mempertimbangkan para raja yang akan datang, burung gagak berkeliaran di sana, di dalam istana, dan anjing, suaranya ramai meraung-raung itu tanda akan kalah, dikatakan oleh orang yang bijaksana.
  2. Karena itu Sri Jayakusuma, turun dari kursi manik, putranya lalu dipeluk, bersama permaisurinya, lalu berkata halus manis, serta beliau mengurut-urut, aduhai, anakku, Jakasantosa, selesaikanlah tugasmu anakku.
    317.Sayembara hentikan, sebab semua tanda-tanda itu tak baik, semua menimbulkan ragu-ragu itu, aduhai anakku sayang, jiwaku, anakku sayang, hilang jiwaku anakku hanya anakku saja yang tinggal.
  3. Lalu raja putra menyembah seraya berkata, jangan paduka tuanku berduka cita, hamba rela mengorbankan jiwa tuanku, lebih bahagia hamba bila mati berperang, membuat, keselamatan dunia, rakyat menjumpai kesenangan, dan adinda Dewi Sandat Pangasih.
  4. Itu yang hamba kehendaki dan raja Jawa, supaya men- dapatkan adikku Ayu, sesudah hamba meninggal, dihatur- kan saja negara, dan rakyat tuanku, supaya beliau menguasai, demikianlah tuanku raja.

    320. Biarlah hamba meninggal, supaya ditiru oleh segala yang

berjiwa, perbuatan hamba tuanku raja, jangan tuanku raja berduka cita kalau hamba meninggal, memang hidup itu me- nyebabkan mati, dan hidup itu sengsara, susah kalau semua dilayani.

  1. Apabila di Jawa beliau bersuami, adikku Dewi Sandat Pangasih, senangkan hati tuanku raja, memang sudah takdir Tuhan, dibenarkan, adikku bersuami di sana, menurunkan raja Jawa, sampai dunia kiamat.
  2. Dan jika hamba meninggal, janganlah tuanku marah akan membela, serahkan negara tuanku, serahkan jiwa -raga, demikianlah selesai haturnya Jaka Santosa di istana,yang lain ceritakan.

XVII. 323. Lagi diceritakan perjalanan Resi Dwala, pergi ke istana

Gempura, serta pengiring para raja, Semar, dan Gareng tak

ketinggalan, sudah tiba di pantai utara.

  1. Lalu Resi Dwala berkata dengan tersenyum, apa daya sekarang dirintangi oleh samudera besar, dan gelombangnya besar sekali, bagaimanakan menyeberang ke utara.
  2. Ha, ha, anak-anakku para raja semua, Aladhara, Kerisna, dan anakku Bima, bagaimana daya upaya kita sekarang, dan anakku Raden Jalemperong.
  3. Gatotkaca disertai sembah lalu berkata, bila tak menyem- bahkah salah, biarlah hamba memikul tuanku, tetapi dengan cara satu persatu, hamba terbangkan menyeberang ke utara.
  4. Geleng-geleng Resi Dwala, tidak setuju, sebab banyak kesulitan dilihat, ditinggalkan kemari masih ada di sana, merasa susah yang ditinggalkan, menurut bapak, tidak setuju.

    328. Lalu Bima berkata aku sanggup, akan memikul semuanya,

mengarungi samudera besar, berenang melakukan dayung, silakan naiki punggungku.

329. Lalu tersenyum Resi Dwala, seraya berkata, ah, aku tidak

menerima, sebab yang diangkut itu basah, diingin kakinya tenggelam, untuk tiba di sana sangat berat.

  1. Lalu Sri Kerisna mendekati serta berkata, ya, tuanku maha resi, sungguh gampang oleh hamba, mengarungi laut, tetapi jauh berdarat.

    331. Senjata cakra hamba dipakai mengeringkan airnya, tentu

dapat maha resi melewatinya, nyata terbakar, semuanya segala, isi laut, demikianlah bakti hamba.

  1. Tak bisa kuterima baktimu, yang menyebabkan kesakitan, air, ikan kecil dan besar, yang tidak ada salahnya, kita tidak pernah susah memeliharanya.

  2. Gelombang besar di daerah orang lain bersuara gemuruh, lalu kita tiba mendatanginya, mengapa marah kepada yang benar, bingung gelisah, begitulah anakku, mengapa kita asik.

  3. Partha maju lalu berkata, habis akalku sekarang, terserah kepada tuanku Bagawan yang suci, lalu Gareng menari, metanjek dan lenggang-lenggok.
  4. Hukum kebenaran itulah yang harus dilaksanakan, tidak benar berpikir marah, terhalang oleh lautan besar, bingung tak dapat memikirkan beginilah menjadi manusia.
  5. Jadi raja tak berguna bijaksana bagus, sakti dan kebal untuk apa, tak dapat menolong waktu ditimpa kesusahan, apa dipakai tanda bakti, hanya ikut-ikutan saja.
  6. (Lalu Resi Dwala berkata) aduh hai bisa dilalui samudra itu, tuntunlah aku bersama kanan kiri bersama-sama berempat, hati-hatilah anakku, tuntun ayah pelan-pelan.
    338.Semua ikut bersama-sama berjalan, mengarungi laut dengan cepat, lalu terapung yang berjalan, berjalan di atas air laut, gelombangnya tenang bergerak teratur pelan-pelan.
  7. Sunggu-sungguh halus perjalanannya waktu itu dituntun oleh maha resi, lalu semua tiba di pertengahan laut, pengikutnya semua herän.
  8. Bagaikan tenggelam rasanya cepat di sana, bukan tidur bukan mimpi terjaga juga bukan, segala yang adasemua dilihat, karena itu pengikutnya heran semua.
    XVIII

341.Semar ingat dengan yang telah lalu, heh, heh, katanya, baru kali ini tahu rasa mimpi, lupa di sini ingat di sana, amat sunyi-sunyi lenyap.

  1. Semua mereka heran tercengangmenganga, setelah lewat dari pertengahan itu, tak ada apa-apa heran tahu-tahu mereka tiba di pantai, tak terasa lamanya, berjalan, sejauh- jauh perjalannya.
  2. Sangat jauh sampai sini, setinggi mendaki dan menurun, walaupun cepat-cepat kita berjalan sampai di sini baru dirasakan.
  3. Gareng berdiri mengalihkan pandangan, pada air yang deras dikaitkannya heran aku merasakan, lalu Semar berkata kasar, oleh karena aku baru merasa.
  4. Pada sungai kering menghayutkan diri, jatuh menimpa kasur empuk, lalu Nala Gareng berkata, bila ayah belum tahu bisa mati waktu sedang hidup bisa hidup pada waktu sedang mati, setelah mati makin bertambah mati.
  5. Baru sadar para raja itu di sana, tetapi tidak tahu akan rasa- nya, tahu-tahu sudah tiba lalu Resi Dwala berkata, marilah anakku raja, ke istana Perang Gempuran, para' raja telah ikut, semua suda berangkat, meninggalkan pantai samudra.
  6. Perjalanannya selalu naik gunung lalu, menuju ke sebelah timur, banyak desa diketemuinya, tiada lama mercka di ja- lan, tiba-tiba sekarang sampai telah, di Jalam lapangan perang luasnya tak terbilang, tersebut setelah senja, hancur medan pertempuran itu.
  7. Sesudah terbemın matahari, di sana mereka bermalam, semua gelimpangan, tak beralas juga jadi di sana, semua ura raja tidur, tak terkatakan malam itu, tiba-tiba sudah terang, pagi-pagi matahari terbit, terang kelihatan medan perang itu.
  8. Lalu Resi Dwala segera berkata, lemah-lembutkatanya, anakku sekalian diam di sini, sembunyikan dirimu dulu, supaya jangan diketahui orang biar ayah saja ke istana, menghadap kepada raja, marilah bertiga saja, Semar dan Gareng mengikuti.

  9. Bima Partha Baladewa dan Sri Kerisna, lalu bersembunyi, Resi Dwala lalu berangkat diiringi oleh Semar dan Gareng, sudah jalan sambil nyanyi, menyegseg ke depan, berganti-ganti menari, sangat gembira hatinya di jalan.

    351. Setelah tiba waktu berhias, di penghadapan, raja Perang

Gempura sekarang, dihadap oleh para raja, permaisurinya ikut di sana, dan putranya yang bernama Jakasantosa

mempertimbangkan datangnya musuh, penuh sesak

di penghadapan, gong dan bedil bersuara riuh rendah.

352. Rakyatnya semua gembira di sana, pada waktu sedang penuh

orang di pasar, lalu Resi Dwala datang, bersama dengan pengikutnya dua orang, semuanya pantas, tak ada yang kurang lebih berjalan, tidak menuruti jalan, srasag-sreseg saling peluk, berganti-ganti bernyanyi dan menggerakkan leher, tingkah lakunya seperti orang gila. 353. Berbarengan ribut orang yang menonton di sana, ini orang

bagaimana, orang dari mana datang kemari, semua ribut di pasar, semua bernyanyi di sana, semua heran melihatnya rupa dan perbuatan sesuai, tak pernah dilihat orang tentang rupa aneh.

354. Yang ada di sana semua terkejut, perkataannya, yang tua

hitam sekali, badannya kuat dada bidang pendek besar, pantat ke belakang dan pinggang besar, belum pantat sudah kepala, mulut lebar rambut pendek, giginya hanya satu, cocok jadi landasan desa.

  1. Yang satu lagi kuat dan besar tinggi, kakinya pendek sebelah, dan tubuhnya panu keseluruhannya dan kotor, lebar mulutnya juga sama kelebihannya hidungnya lebih panjang, dapat mencock jarak sedepa, mata besar dan rambut segelintir, pinggang panjang, bagaikan kuda, hanya saja kurang pelana.

    356. Pinggang lengkung perutnya gendut besar, menonjol pusar-

nya, sanggulnya sebagai sanggul pendeta, karena itu orang yang di sana bersama-sama tertawa, ah, ah, ih-ih ekor tikus,

itu mengkuncir disanggulkan, semua orang tertawa bagaikan

unggul, makin menimbulkan gaya, tiada malu beliau dicela.

357. Gareng nyaring suaranya halus, serta manis lagunya, tangan-

nya bengkok dan kakinya kecil, matanya sayu, dan hidung- nya seperti jambu, dahinya mengkerut dan burik luluh, giginya tinggal satu saja tapi putih, dia menari tidak malu tiap-tiap bait lalu menggerakkan kepalanya, serta berkata minta makan.

358. Semua rumah kepadanya dan bebas, memberi makanannya,

segala macam jajan tak ketinggalan, ada yang belas kasih memberikan pisang, Semar makan tanpa mengupas, tiba- tiba satu sisir dimakannya sekaligus, mulutnya dicibirkan dan digerakkan hingga bersuara, sambil melagukan dangdang gula, saudara-saudara makanannya dekatkan kemari.

  1. Karena itu menimbulkan sorak tak henti-hentinya ramai sekali, lalu Resi Dwala, berkata lemah-lembut, mengatakan dirinya miskin, penyakitnya selalu dipikul itu perutku lapar selalu, lalu beliau menggerakkan keningnya dan mengalih- kan pandangan dan mengatakan kakanda, dengan lagu dur- ma.

    360. Terpesona orang yang menonton di sana, meninggalkan

jualanannya sebab asik ia menonton, sampai habis dimakan anjing, ada lain yang ingin, mencuri segala makanan lupa sebab menonton di sana dagangannya tertinggal olehnya, sudah habis diambil orang.

  1. Asik menonton orang yang pergi mencari dukun, hingga tertinggal bininya, mengaduh akan melahirkan, mencaci maki mulut gudug, bagai manakan sekarang bayi telah lahir, ti- dakkah kamu bersedia, sampai sore tiada datang, bayi sudah selesai dipotong pusarnya, lalu lakinya datang, membawa dukun.
  2. Lemah gemulai geraknya, ia si Gareng, dan Semar bernyanyi manis suaranya, hujani saja dengan pisang rebus, dan sate

lawar panyu, ketupat dan sete ayah, dengan lagu ginanti san- dung karena itu orang-orang kota menanyakan, hai kamu dari mana?

XIX

  1. Sungguh saya tak tahu, tahuku telah ada di sini, entah di mana rumahku, aku mengikuti pendeta sakti, perluku ber- sayembara, memperlihatkan diriku di sini.
  2. Sebab wanitanya terkenal sekali, itulah sebabnya kemari, wahai makanya masyarakat di sini menyebarkan apanya yang dikatakan lebih.

    365. Ada beda perempuan di sana, dengan perempuan di sini?

yang laki juga laki, kelakiannya laku semua, dan bersama- sama bertelur dua butir, dari itu orang yang mendengarkan tertawa sekalian.

  1. Gareng menyahut sambil tersenyum, memang bertelur yang laki-laki, bila diandaikan itik dan ayam, yang jantan

pemberian yang jantan.

  1. Resi Dwala tertawa gelak-gelak, ayahnda Semar supaya mengerti, halnya orang perempuan dengan orang laki-laki, bila rupanya sama semua memang semua dipunyai, tidak lebih orang yang laki-laki daripada wanita.
  2. Hanya alat yang wanita berbeda dengan alat yang laki-laki, yang perempuan semua membawa campang, dan yang laki-laki membawa canggah, kian kemari dibawanya, sekaranglah di sini diperlihatkan.
  3. Tangan yang wanita sungguh sama, sebab punyai hidung te- linga, mata dan mulut juga sama punya, kepala leher dan bibir, perut punggung kerongkongan, siku lutut dan pantat.
  4. Kewanitaannya semua wanita, yang laki membawa kelakiannya itulah yang berlainan, semua manusia yang ada di bawah

langit, laki perempuan sama perkasa, berperang tak ada kalah.

371. Resi Dwala menasihati, wahai Semar dan Gareng

dengarkanlah sekarang, saya menasihati ayahnda, waktu sedang perkasa sama-sama kalah, waktu terpisah punya anak, waktu bersatunya kaku selalu.

372. Waktu tidurnya bisa sama, lebih-lebih yang telah tua sangat

jinak sebab galaknya hilang, lalu semar menyahut, bila bagaimana ada tanda, bagaimana menyatakannya.

  1. Sebelumnya amat samat, tua muda tak dapat diketahui, ada tua-tua keladi, makin tua makin menjadi, dan lagi ada muda-muda kuat sifat, lebih lemas daripada lidi sebatang.
  2. Ayah aku sekarang bercerita, tanda orang yang laki-laki dan perempuan, yang dikuasai oleh dewa, ada tanda dari per- buatan manusia itu, gila, berhias pakai bedan selalu.
  3. Tak bermusim perbuatannya menghias diri serta dia pergi dengan diam-diam, bepergian ke rumah temannya, yang wanita selalu mendatangi,memperlihatkan perhiasannya, supaya ayah tahu akan tanda.
  4. Penduduk di sana senantiasa, meludahi sangat mencemoho- kan, begini rupanya dipertandingkan dalam sayembara da- tang kemari, beberapa orang bagus sudah kalah, dan sakti pandai juga kalah.
  5. Lalu Resi Dwala berganti-ganti nasihat, memang miskin kita semua, dan memang kita bodoh kita sekalian, jadi orang perempuan sungguh utama yang laki menyayanginya, dipakai wakil menguasai dunia.
  6. Marilah kita akui sama-sama perempuan melayani suami menuruti bersetubuh siang malam, jangan menentang suami, sebab jadi pelayan sayang, dipercayakan keluar masuk.
  7. Perut kenyang sambil bernasihat, lalu mereka masuk istana, bertemu di penghadapan, raja sedang hadap, oleh para per- wira, dan patih, mempertimbangkan daya upaya yang rahasia.

380. Terkejut Sang raja, dan semua yang menghadap, melihat

orang yang baru datang, lalu raja mengapa halus manis, ya

maha resi datang dari mana dan apa kepentingan maha resi kemari.

381. Resi Dwala menyahut tersenyum, o, Raja Jaya Kusuma,

ayah ini sungguh-sungguh pendeta, datang dari tanah Jawa,

namaku Resi Dwala, dengan pengering dua orang bernama

S. dan G.

382. Jelas ada kabar datang kepadaku, itu putra raja, yang ber-

nama Jaka Santosa, terkenal sakti tak ada menyamai, unggul tak ada melawan, para semualah olehnya.

  1. Dan lagi anakmu yang perempuan, Dewi Sandat Pengasih sekarang sudah waktunya jodohnya datang sekarang akhir- nya pengaruh secara baik-baik.
  2. Makanya bapak datang sekarang, akan minta Dewi Sandat Pangasih, secara baik-baik, supaya jangan ricuh mem- bicarakan jangan lagi mengadakan perang, dengan tak perlu susah payah melakukan perkawinan.
  3. Lalu maha raja berkata, sebab kata-kataku telah terlanjur agar harus dengan sayembara mengundang para raja, anak- ku Jaka Santosa, akan menghadapi tiap-tiap yang datang.
  4. Ia belum pernah kalah, tuanku, berapa raja sudah semua kalah sangat sakti dan gagah perkasa, dan Dewi Sandat Pangasih, bila mau kepada maha resi, berlainan dengan prayayi.
  5. Badan maha resi besar tinggi, tak sama dengan semua manusia, ada lain lagi ada yang menyebutkan seperti tanggal berkuncir pendek, lain lagi ada yang mengatakan, dikendarai oleh orang dari sorga.
  6. Tersenyum Bagawan lalu menjawab, kedua dunia aku kemari, pakai saja merampas atau secukupnya di sini, lalu Semar mengatakan, aku sudah jadi gembala.

389. Di pinggir ada orang menyahut, begini landasan orang Jawa,

tahu berbicara dan berjalan, lalu Semar menyahut sambil menggeriyit, aku memang landasan lawar, nanti semua terima lawarnya.

  1. Gareng tertawa kecil, untungku menjelma, jadi juru madog menghamba, orang-orang ribut mentertawainya, lalujuru tulis berkata, tangan bengkok dan badan itulah istilah-istilah kotor.
  2. Gareng lalu bangun melonjak dan katanya manis, datangku hanya dikatakan menjadi pancatat daerah menjadi pencatat daerah di sini hanya orang yang sombong saja, jelas aku tak kami mundur.
  3. Kelakuanku kaku tetapi halus, sangat mujarab dan tajam, kalam bergongseng dua buah, geleng-geleng mengangguk dan kertas putih baru terbuka, di pangkal daun pandannya aku menulis.

    393. Bukunya putih halus, suratannya empat semua, warnanya

hitam merah kuning dan putih, hurufnya bisa bersuara, dirinya sendiri bersuara, sendirian menjalankan.

394. Membicarakan gampang dan ringan, huruf itu memenuhi

dunia, pandai merusakkan hutan, ia kemari berkeliling, begitu sasteranya orang sorga, tujuannya kemari akan menulis.

  1. Resi Dwala lalu berkata, sungguh jelek rupaku ini, tidak sa- ma dengan manusia, hidung panjang, dan gigi hanya satu, potongan tinggi dan tulangku besar, aku tahu sendiri.

    396. Jangan kau keliru raja, tapaku sangat suci, walaupun aku

menang berperang, entah anakmu·keduanya, aku dengan baik-baik juga merayu, kepada Dewi Sandat Pangasih.

  1. Kalau ia cinta kepadaku, aku jadikan kawin bila aku tidak dicintainya, aku juga tidak mencintainya Semar dan Gareng membenarkan kita bagus sendiri.

  2. Puji diri kita bagus, kita mahal tak berharga jangan terlalu merendahkan diri, memurah-murahkan harga, jangan memaksa orang yang tak mau, dipuji dan dimintai tiap-tiap hari.

  3. Indra Pati Jayadanu, patihnya berdua sangat marah mendengarkan, dan putra raja, gemetar mau memukul, dan para pahlawan semua.
  4. Resi Dwala tersenyum berkata, aku sudah mengerti sekarang marahmu memaksa dirimu, pada hatimu tidak salah, menghendaki Raja Pandawa, aku mengetahuinya tujuanmu.
  5. Karena itu rugi sangat marah, dan semua yang menghadap selalu memperhatikan/mempertimbangkan dayaupaya, takut berani di dalam hatinya, lalu putra raja maju, jangan takut tuanku raja.
  6. Barangkali hamba takut berperang, baik diusir mereka itu dari sini, jangan tuanku percaya kepada orang gila, walaupun seribu pendeta hamba tak mundur hanya berhidung panjang, hamba tidak menyediniginni.
    XX

  7. Berdiri maha resi lalu keluar, perginya dengan segera, Semar dan Gareng, lalu segera ikut marilah keluar kamu raja muda bersama-sama dengan aku hulubalang datangkan semua sanak aku hulu/keluarga.

  8. Mari kamu warga istana Perang Gempura, tingkah laku, sombong, demikian Semar dan Gareng menantang, mari ini- lah Jaka Santosa hadapi, di halaman muka istana sekarang hadapi pendeta, yang suci.
  9. Lalu Gareng menantang menghardik, hai kamu Jaka Santosa, undang para istrimu suruh kemari, suruh supaya lebih banyak membawa makanan kemari, ikannya diperbanyak oleh karena perutku lapar.

  10. Semar sebagai tersenyum menjawabnya kepada anaknda Dewi Sandat Pangasih, bilamana tidak mau kepada Baga- wan, coba tanyakan apakah tidak cinta kepada aku.

  11. Ketiganya keluar dari dalam istana, raja berkata, sangat benci hatiku, sebab sebagai orang gila tingkah laku tamu itu, bila ia sungguh-sungguh pendeta, bicaranya kasar seperti orang gila.
  12. Kalau dalam air mukanya kuperhatikan, mungkin rupanya besar, budinya susila sangat sucinya, kalau pada perbuatan tak menurut dharma, tidak tahu akan bahasa kasar halus, sebagai tukang pencar di laut.
  13. Putranya dan patihnya dua orang, kepada pendeta-pendeta dungu, rupa kasar sampai kepada pengikutnya, amat beliau benci tak terhingga, mengatakan sang resi bagaikan anjing.
  14. Raja lalu berkata halus, pergilah anakku raja, hadapilah musuh kita itu anakku, yang tiga orang itu musuh kita sungguh-sungguh, sampai dengan pengikutnya, sudah berada di medan perang.
  15. Mereka telah keluar dan menantang, barangkali sudah menunggu, berangkatlah anakku supaya dengan rela, selan- jutnya anakku hati-hati mengadapinya, siapa tahu ia sungguh sakti, mengapa ia tak takut.
  16. Perwira Raden Jaka Santosa, sekarang jawabnya, tidak kalah, saya akan menandinginya sekarang, walaupun seperti air mengalir pendeta yang begini, apalagi seorang, hamba tidak akan mundur.
  17. Lalu ibunya turun dan memeluk dengan segera, serta menahan air mata, aduhai anakku, kesayangan ibu, anaknda, dan kekayaan ibu anakku cantik, demikian kata ibunya kesedihan, selalu beliau merayu-rayu anaknya.

    414. Cemas sekali ibu sekarang, barangkali musuh anaknda itu

utama, tiada gila, pendeta itu apakah tidak mungkin gila membuat-buat, tak hentinya mengkhawatirkan hatiku, aduhai anakku bagus.

415. Yang aneh memang unggul, apakah tidak mungkin anaknda

kalah, karena itu tunduklah anakku kepadanya, supaya

jangan anaknda meninggal, pintalah jiwamu anakku, supaya anaknda masih hidup.

416. Demikian kata ibunya dan selalu beliau sedih, lalu berdiri

Raden Sentosa, jangan susah sebagai kata ibu, tak mungkin hamba akan kalah, menyembah lalu berangkat, Raden Sentosa sudah keluar.

417. Riuh rendah rakyatnya mengikuti, tak putus-putus bunyi

kentongan, gong bedil dan kendang bersuara, gambelan tak

putus-putus berbunyi, sorak berganti-ganti, tiba-tiba sampai di medan perang.

XXI

  1. Tersebutlah Resi Dwala menunggu, di medan perang beliau duduk tak terpisah bertiga, Semar dan Gareng tak keting- galan, Resi Dwala memerintahkan sekarang hai bapakku Semar dan Garen ke sana kau.
  2. Berkumpul di sana bersama-sama dengan Kerisna, Baladewa dan pengikutnya, lihat dari jauh, caraku berperang, dengan Jaka Santosa sekarang, karena ada sorak ramai, dan tepuk tangan.

    420. Semar dan Gareng sudah menurutinya, berkumpul dengan

para raja, mereka menonton peperangan, di dalam medan

perang, Resi Dwala tinggal sendiri, menunggu akan

berperang, menoleh ke sana ke mari berkeliling.

  1. Lalu datang musuhnya tiga orang, terutama Jaka Santosa, mendekati sang Begawan, Resi Dwala segera berkata, bagai tersenyum agak manis, sengaja membuat-buat menyapa orang yang baru datang.
  2. Lama sekali aku menunggu kamu Jaka Santosa, sudahkah kamu siap sedia, menguraikan kesaktianmu, dan wedajapa mantra, mengapa belum keluar taring, bertanduk panjang, dan menyala-nyala keluar api.

  3. Hanya bertiga kamu kemari menandingi, silakan sekarang rebut aku, sekehendakmu Jaka Santosa, bersama-sama dengan patihmu, yang bernama Jaya Dhanuh dan Indra Pati, aku hanya sendiri saja, saling memperlihatkan kesak- tian, hadapilah aku.

  4. Jaka Santosa marah serta berkata keras, percuma aku menghadapi kamu, kamu kaki pincang, hai pendeta hidung panjang, biar aku sendiri, juga kurang silakan cari kawan- mu.
  5. Seratus orang percuma, seribu juga masih kurang, berupa pendeta pincang, sendirian melawan, tidak lagi minta ban- tuan, tak perlu, lalu maha resi menjawab, sambil tidak marah, tersenyum, sakti kamu menghadapi aku.

    426.Setelah selesai, tantangannya, di medan perang, rakyatnya

riuh rendah menyoraki, gong bedil (berbunyi) tak putus- putusnya penuh sesak rakyatnya, lalu maharesi mendekat, juga bersorak, sang Begawan bersilat.

  1. Riuh rendah sorak orang di medan perang bagaikan suara petir di langit, maha resi sangat gembira, senyum-senyum di dalam pertempuran, Jaka Santosa menuding, sangat merah, terlalu dengan perkasa mendahuluinya.
  2. Begawan menangkis dan selalu menari, serta berkata me- nyindir, Jaka Santosa, sakti kamu dan pandai bertempur, pantas tak ada yang berani dari itu bertambah-tambah marahnya (Jaka Santosa), lalu dengan segera dipeluknya maha resi.

    429. Dengan perkasa lalu menangkap membantingnya, semua menyangka maha resı telah meninggal, sebab maha resi

tergeletak, di tanah beliau terlentang, disoraki, memenuhi angkasa.

430.Semua meneriakkan menang dan muji Raden Jaka Santosa, Sang Bima, sekarang marah, lalu segera melompat membela maha resi, lalu Sri Kerisna menasihatinya, nanti dulu adikku Bima, belum tentu maha mpu meninggal.

  1. Semar dan Gareng bersorak dengan keras, menentang sambil bersilat, mati-mati kamu, mati melepaskan nafas, begitu kurang semangatmu, bertanding, jiwamu melayang kubagaimanaan mayitmu sekarang.
  2. Raden Santosa membelakangi mayat, yang bersorak diper- hatikannya, lalu maha resi berdiri, dari belakang beliau men- dekatinya, serta berkata berbisik-bisik, Jaka Santosa, aku sekarang sudah mati.
  3. Raden Santosa terkejut lalu menoleh kemarahan, maharesi ditangkapnya lagi, dengan perkasa membantingnya, menye- pak dan membuang-buang, lalu hilang maha resi, sekarang tak kelihatan, heran yang menonton semua.
  4. Membalas orang daerah Perang Gempura bersorak, tiada lama terlihat lagi, maha mpu memegang erat-erat, pinggang putra raja, segera diangkat, dinaik turunkan, seraya berbisik perlahan-lahan.
  5. Sang Begawan berkata senda gurau, kamu Jaka Santosa sakti, ya janganlah melawan bapa, sayangi dirimu, ke- kuatanmu hanya seruas jari tangan, bila kamu perwira, marilah sekarang mulai lagi.
  6. Sangat marah Raden Jaka Santosa mendengarkan, segera ditendang lagi maha resi, lalu beliau rebah, dicaci maki dan diumpat, lalu wafat maha pendeta rasakan.
  7. Putra raja menantang dengan perkasa, jadi debu mayitmu terbakar, jauh kamu dapat menyamai keperwiraan tak tahu malu kamu menghadapi aku, apalagi manusia, walaupun desa sahabatmu.

    438. Tak mundur aku menandingimu, tak hentinya menuding

(Sang resi), lalu maha pendeta bangun menguap, tersenyum- senyum lalu berkata, sungguh sebagai katamu, mengatakan aku, tak dapat yang menyamai kamu.

  1. Sebagai ditambah-tambah marahnya putra raja, lalu menantang lagi, seraya beliau menghunus gada, dengan segera di- tusuknya maha mpu, tembus dadanya sampai ke punggung, rebah beliau sekaligus, seperti air pancuran darahnya keluar.

440. Setelah meninggal resi tergeletak, terus menerus sorak

(rakyatnya Raden Jaka Santosa), sekarang putra raja memu- ji,keris utama, pusaka maha sakti, rohmu mendapatkan neraka, dan disiksa oleh Sang Hiang Jama.

441. Walaupun jin hantu macam yang tak kelihatan dengan

mudah aku membunuhnya apalagi makhluk yang kelihatan,

berupa hidung panjang, keturunan yang utama semua kalah,

dengan kerisku yang utama ini, segera dimasukkan ke dalam sarungnya.

  1. Lalu berdiri maha resi seraya berkata, sungguh badanku mati, jiwaku menyayanginya, gemuruh para Pandawa, habis-habisan menyoraki dan bertepuk tangan, Semar dan Gareng menarikan.

    443. Berapi-api marahnya putra raja, bersilat menangkisnya sila-

kan Begawan, marilah balas cepat-cepat, maksudku supaya tahu, apakah kamu wira sengaja datang dari tanah Jawa.

XXII

  1. Begawan tersenyum menyahut, aku tidak membalas, bila anaknda tidak tunduk, dan tidak minta ınati, itu sebabnya aku tidak mau (membunuh kamu), takut bersalah kepada Sang Hiang Maha Kuasa, berutang buruk kepada dewa.
  2. Ayah tiada bisa menghidupkan, ayah juga dikuasai, apalagi orang yang semau-maunya melakukan pembunuhan, kalau menanam yang jelek di dunia, akhirnya itu minta dibayar, menyebabkan jalan yang sulit, mengikuti ayah pulang (ke dunia baka).
  3. Karena kamu kusayangi sekarang, itu sebabnya aku tidak mau, menghadapi dirimu, apalagi ayah membunuh, ciptaan Sang Hiang Widhi, ciptaan yang tak dapat ditiru, belum waktunya kamu meninggal.
  4. Kesalahanmu di dunia, dari kecil sampai tua, mana lagi pem- bawaanmu, bertambah sekarang dengan perbuatanmu,

durhaka kepada ayah, karenanya kamu seribu tahun di Jamaloka mendapat kesengsaraan.

  1. Diri salah tak mengaku salah, bagaimana ayah memaafkan- nya, resi banyak bicara, ujar putra, sombong katamu tak keruan perlu apa minta maaf, karena kamu bukan dewa.
  2. Belum tentu aku kalah, wah kamu hidung panjang, sekarang adu kesaktianmu, semua pergunakan kekuatanmu, maha resi menjawab,"ya", setelah Raden Santosa terbang, hilang beliau dari penglihatan.
  3. Tiba-tiba ada suara menantang, silakan cari aku resi adu kesaktianmu, Begawan pura-pura tak mendengar, melongo berkeliling, soraknya terus-menerus, semua rakyat di daerah Perang Gempura.
  4. Sang Resi diam sebentar, Raden Santosa lalu jatuh, terikat tangan kakinya, jatuh di dalam medan perang, pendeta mendekati gelak-gelak tertawa sambil berlagu pangkur, menari menjulurkan tangan.
  5. Begawan melepaskan tali itu sambil tersenyum berkata di mana kehendakmu bertanding, cepat katakan apa mau di laut, lalu Raden Santosa menggantikan berkata, ketakutan merasa kalah.
  6. Silakan sekarang sang resi, hamba perlu kepada maha Mpu,nah ujar Begawan, sekejap mata Begawan sudah hilang, Raden Santosa bingung melihat, maha pendeta masih di sana, dicari kian kemari.
  7. Orang yang menonton melihat semua, bahwa maha resi masih di sana, Raden Santosa, masih mencari berkeliling di sana, Raden Santosa, masih mencari berkeliling, di sini cari tempatku, maha resi berkata di sana, orang yang menonton semua bersorak.
  8. Yang dekat dicari jauh, orang kelihatan tidak diketahui, itu dia di sana tinggal, kamu terlalu cepat bergerak, bingung pa- ling kian kemari, ada di sini dicari di sana, Semar dan Ga- reng mengeluarkan pernyataan menyerah.

  9. Dan menyatakan menang sambil tersenyum, silakan sekarang coba hadapkan jagonya, aku sudah ini orang Jawa, sengaja datang kemari mencobakan rupa, mau melepaskan kepandaian, aku sama-sama sukar membawa daya upaya.

  10. Raja putra lagi berusaha, menghina jadi ingin, mencari pendeta konon, sampai payah berkeliling, juga belum dijum- painya, maha resi tersenyum (sambil) menyanyi, serta berdiri berkata.

    458. Hai ayah ada di sini, tak pergi ke mana-mana, Raden Santo-

sa mendengar konon, berkata di tempat yang tidak ada, di mana tempat maha resi, juga belum kulihat, sekarang aku mengaku kalah.

459. Lalu kelihatan sekarang, keduanya berhadap-hadapan, raja

putri sangat heran, akan keahlian sang pendeta, begitu diri- nya dikalahkan, ditambah malunya pada waktu itu, perang- nya jadi tontonan.

  1. Maha resi lalu berkata halus, ayo hai Santosa, jangan diber- henti, apalagi kamu sendiri, walaupun semua keluarkan, tak mungkin ayah akan segan, kepada orang daerah Gempuran.
  2. Ayah malu tidak kamu percayai, Raden Santosa, lalu ber- duduk, karena akal, kalah tak bisa melawan raja putri lagi berkata, hamba bersedia mengorbankan jiwa.
    XXIII

  3. Hamba mohon sekarang agar dibunuh, sebelum Dewi San- dat Pangasih, kawin dengan sang pendeta, itulah sebabnya sekarang, hamba hanya mohon kalah.

  4. Sebab sudah janji hamba dari dahulu, supaya meninggal hamba sekarang, silakan bunuh hamba sekarang tuanku, lalu sang pendeta menjawabnya, aduhai anakku raja Santosa.
  5. Sayang sekali anak masih muda dan bagus, berkuasa sakti tak ada yang mengalahkan, selamanya sebagai aku menjadi pendeta sakti, belum perlu membunuh orang.

465. Raja putri lagi berkata, rela hamba mati tidak lain jalan yang

baik, mati dalam pertempuran, itu jalan yang paling mulia. 466. Dan maha resi saja membuat jalan bagi hamba untuk pulang

ke sorga yang utama, lalu maha mpu menasihati halus manis, aduhai Raden Santosa yang bagus sayang sekali anaknda olehku.

467. Jika anaknda setuju selamanya supaya anakku, masih hidup,

sebab ayah belum pernah melihat, orang yang sangat sakti seperti anakku, dijadikan pemuka dalam perang Bratayuda.

  1. Raden Santosa lagi mohon, hamba mohon meninggal sekarang, jalan yang baik untuk mati supaya rela tuanku mem- berikan sekarang, perihal itu agar maha resi ingin mengizin- kan sekarang, silakan bunuh hamba.
  2. Jawab maha resi memang betul katamu, kalau tidak bisa dirintangi, tetap anakku minta mati, tunggulah seberitar anakku, tunggu dulu permintaanku.
  3. Tersenyum maha resi lalu berkata, ayah tidak membawa keris, bagaimana maksudmu sang bagus, apakah tombak keris, apakah pedang yang dipakai.
  4. Sekehendak maha pendeta hanya supaya hamba bisa meninggal, demikian permohonannya Raden Santosa, walaupun hamba dipenggal sekehendak tuanku, kesimpulan- nya hamba setuju mati, menjumpai mayat yang maris.
    472.Apabila maha empu susah membunuh hamba, dengan alu besi, silakan dengan kesaktian, memang itulah tujuan hamba, agar musnah mayit hamba.
  5. Hamba minta mayat itu tanpa kuburan, supaya jangan menodai, pada Sang Hyang Pratiwi, itu permohonan hamba sekarang, pikirkanlah tuanku dengan pelan-pelan.
  6. Ada lagi yang saya serahkan kepada tuanku, isi istana seluruhnya, semua tuanku menguasainya dan kerajaan hamba silakan ambil, rakyat semua tuanku yang merintahnya.

  7. Maha resi lalu melambaikan tangan kepada pengiringnya, ialah Baladewa Sri Keresna, Bima Arjuna dan Raden Bungsu dan lagi pengiring yang lain, Semar dan Gareng menggan- tikan berkata halus manis.

  8. Ha ha lain sekarang lain dahulu, Gareng tersenyum, dan menjawabnya, betul sekarang salah dahulu, sudah basah bagaimanakah sekarang, dipakai juga karena telah telajur basah.
  9. Lalu maha resi berkata lemah lembut, hai Kerisna Arjuna begitu juga kamu,Baladewa dan Raden Bungkus, tidaklah aku memaksa sekarang, dari permintaannya perlu sekali.
  10. Sri Kerisna bertanya pada waktu itu, dan semua para raja, tidak sayang akan jiwamu, lalu Raden Santosa menjawab benar, memang karena kaulku.
  11. Ayo ha ha ha Santosa minta mati, salahmu dari dahulu, serahkan dirimu, kepada Sang Hyang Maha Kuasa di dunia, demikian kata maha resi.
  12. Lama dapat anugerah dari yang Maha Besar, kembalilah kepada asalmu dahulu, pulang ke dunia baka, maha resi lalu memandang langit, diam beliau tak berkata.
  13. Memusnahkan dengan pikiran suci, lalu Raden Santosa dipandangnya, lalu beliau rebah dan sudah meninggal mayatnya segera melayang msnah hilang tak kelihatan.
  14. Pada waktu itu ada suara angkasa terdengar, aduhai maha pendeta amat suci, maksudmu sungguh menolong, para Pandawa supaya menang, pada waktu datangnya perang Brata Yudha.
  15. Telah diluluskan permohonanmu duh Sang darma, oleh Sang Hiang Maha Suci, hamba juga turut membantu, mem- buat para Pandawa keselamatan, dari itu yang menonton riang gembira.

XXIV

484. Ceritakan sesudah Raden Santosa meninggal rakyat

berduyun-duyun semua memberitahukan ke istana Semar dan Gareng berkata sambil bergurau, sekarang kita mengiringi pendeta sakti, hanya kali ini.

485.Ke mana meminjamkan beliau, pakaian upacara perkawin- an, karena itu tertawa serentak semua yang menonton di sana, maha resi berkata marilah sekarang ke istana menuntut kebenaran.
486. Minta kepada raja, Jaya Kusuma di istana, putrinya yang gadis cantik jelita, yang bernama Dewi Sandat Pangasih itu, sebagai perjanjiannya yang telah lalu, itu agar ditepati, ia sekarang sudah kita kuasai.
487. Para raja itu mengiringi, lalu mereka berangkat, Semar dan Gareng bersenda gurau, tentang keadaan raja di sana, pendeta kita jadi raja, kalau di sini, jadi raja muda di Gem- pura.
488.Aku jadi juru tulis, bertindak di daerah ini semasih aku je- jaka, mencatat sekalian wanita, yang laki-laki ayah menger- jakan, jangan menolak, sebab ayahnda Semar telah tua.
489. Sekarang ceritakan patihnya, yang bernama Jaya Danuh dan Indra Pati, setelah sampai di istana lalu terhenyak memberitahukan kepada raja, putratuanku sudah tewas, menemui ajalnya, dan mayat beliau telah musnah.

490. Dari itu ramai tangisnya di istana, raja dan permaisurinya

memanggil putranya Raden Santosa permaisurinya gelisah di

sana, di mana kucari dia, anakku laki-laki hanya seorang,

hanya anaknda jiwaku.

  1. Sungguh banyak bila dikatakan, kesedihan di dalam istana, lalu bicarakan konon, suka-duka selalu dijumpai, hidup itu menyebabkan mati, senantiasa diketemui, karena itu memang pembawaan.

  2. Dewa memang penguasa, dan menguasai segala yang ada, kita memang dikuasai, ada belakarg ada muka, menemui ajalnya akan meninggal, bersama-sama, sungguh di sana bersatu.

    493. Memang pasti kita demikian anakku, walaupun Dewi Sandat

Pangasih, mungkin demikian merńpunyai kesalahan, maha raja lalu berkata, lebih baik dipersembahkan jiwa raga kita, kepada Tuhan, sebab beliau yang benar-benar berkuasa.

  1. Setelah itu barulah tangisnya hilang, maha resi baru datang, bersama-sama dengan pengiringnya konon, Semar Gareng

    dan para raja, Seri Jaya Kusuma sangat terkejut, melihatnya

semua datang dari Jawa.

495. Raja Perang Gempura, bersama permaisurinya, lalu

menanya halu manis, kepada tamu yang baru datang, seraya duduk di tanah, yang didatangi, tunduk dan menyembah.

  1. Semua orang-orang yang ada di istana tergesa-gesa, cepat- cepat menyuruh duduk, silakan tuanku senangkan seada- nya, raja lalu berkata, atas kekurangan hamba agar dimaaf- kan, ampun tuanku, supaya rela tuanku memaafkannya.
  2. Sesudah diberikan kursi, si pendeta dan duduk, seraya berkata halus manis, hai anakku, para raja, mari di sini bersama di atas kursi, boleh di sini duduk bersama-sama.
  3. Raja Jaya Kusuma, berdiri di depan maha resi, lalu maha pendeta berkata, supaya anakku jelas tahu, ini semua dari Jawa, raja patih agar jelas mengetahuinya.
  4. Raja Perang Gempura lalu menyembah, silakan tuanku duduk, Sri Krisna Arjuna menjawab halus manis, silakan mari duduk, lalu bercakap berganti-ganti dengan suara manis, semua gembira di penghadapan.
  5. Jamuannya lalu keluar, dipersembahkan kepada para raja, maha resi juga dihaturkan, Semar dan Gareng ikut di situ, setelah selesai makan, sudah sore, maha resi lalu berkata.

  6. Raja Jaya Kusuma, supaya menepati perjanjian, sebagai un- dangan agar setia, ayah mampu dalam peperangan, Raden Santosa telah meninggal, yang sekarang, Dewi Sandat Pangasih ayah ambil.

  7. Raja Perang Gempura duduk lalu berkata daulat tuanku, hamba tak kan berdusta, silakan sekehendak tuanku, dan baik buruknya negara itu semua, memang tuanku memilikinya.
  8. Saksinya Sri Kerisna, dan para raja sekalian, pahlawan menteri rakyat hamba, mereka yang di penghadapan supaya tahu, negara kuserahkan, kepada Pendeta, lalu Pendeta menjawab, ya.
  9. Maha pendeta lalu menggantikan berkata, ayah menerima semuanya, tetapi bukanlah dari lobaku, putrimu Dewi Sandat Pengasih, yang cantik sekarang akan kurayu dengan baik-baik, apabila ayah diterimanya.
  10. Dan bilamana ia tiada mau, ayah tidak jadi merayunya, oleh karena rupa ayah jelek, walaupun ayah berkuasa, tetapi tak boleh ayah memaksa, memperistri, yang bernama istri pendeta suci.
  11. Kalau ia mau kepada ayah, jadi ayah pakai dia bini, kawin dengannya goyang-goyang leher, alat-alat upacara yang indah-indah, dipakaimengikutiayah, menurut peraturan upacara perkawinan, menurut pelaksanaan tata cara kera- jaan.
  12. Ayah tidak menyesal, kalau tidak untung, tidak diterima, sebab ayah telah tahu akan rupa kasar, dan lagi bukan keturunan raja, dari dahulu menjadi abdi, umur tua, itulah yang menjadikan ayah hati-hati.
  13. Tujuan ayah membuat keselamatan dunia, seketurunan supaya baik, dan para Pandawa agar tidak kalah dalam perang Bratayuda yang akan datang, supaya anaknda menuruti semuanya, keselamatan dunia yang diidamkan.

  14. Sri Jaya Kusuma lalu menyembah, pendeknya hamba ikut, walaupun akan mendapat bahaya, asalkan sudah perbuatan tuanku, apalagi akan mendapat bahagia, oleh maha pendeta, pendeknya hamba mempersembahkan.

    510. Para raja riang gembira, mendengar pertimbangan yang

baik, seperti amerta (air suci) baru diperciki, sayang menyayangi puji-memuji, semua pembesar diberikan ber- ganti-ganti, demikian pembicaraan di istana.

  1. Filsafat weda utama, sampai malam dibicarakan, maharesi yang menguraikannya, para raja pendengar di sana, modre dan sastera jendra, dan sruti, isi agama yang utama.
  2. Sudah larut malam, semuanya telah tidur, keesokan harinya setelah terbit matahari, para raja telah bangun, sesudah mandi lalu keluar serta menghadap dan memberi upacara kepada pendeta.

    513. Semar baik caranya berkata, Sang Arjuna kena sindiran,

mengerling sambil batuk-batuk, jarinya dihitung di situ, sat

dua tiga empat, lagi diulangnya, lipat ganda dapat

kemenangan.

514. Dan Gareng menyambung dengan tarian, sambil tertawa

terpingkel-pingkel, itu keuntungan abdi, mengiringi Sang Partha bagus, nomor satu telah terkenal, dan nomor dua, pengiringnya I Madhe yang telah tua.

  1. Ini sudah jago dunia, dari dulu aku mengabdi, dan dari dulu aku terkenal, pada Arjuna wiwaha, di sana dijumpai, aku diundang ke sorga, dipinjam, danganan (tangki keris) bebed papeletan, tangkai keris dililit dilim.
  2. Diam Gareng ayah berkata, Raja Jaya Kusuma, Dewi Sandat Pangasih di mana tinggal agar ayah bisa bertemu, mau merayunya, Dewi Sandat Pangasih, bila mungkin ia suci.
  3. Dewi Sandat Pangasih ada di taman, silakan tuanku men- datanginya, semua mereka duduk, setelah selesai raja ber- sabda, lalu maha pendeta menggerakkan kepalanya seraya tersenyum lalu bersiap berangkat.

518. Dan berlagu sinom Jawa, berkata kepada pelayan berdua,

berkali-kali gerakan kepalanya mengangguk-angguk, Semar Gareng mari ikut berdua, aku pergi ke taman, hari ini Dewi Sandat Pangasih akan kukawini.

519. Pengikutnya berkata, supaya mesti dibayar sekarang, ta-

lenannya tak boleh kurang, kerbau dan babi dipakai mem- bayar, tergesa-gesa ayah dari Jawa, hendak menerima, sebanyak banyaknya lawar akan kumakan.

520. Kehendak yang demikian itu tidak salah, Gareng lalu me-

nyertainya, supaya jangan mengukur nyeremper, talennya dipakai upah lebih dahulu, keadaan upacara pernikahan ditandakan baru kali ini, pendeta kita akan dikawinkan.

521. Permaisuri tergesa-gesa menyiapkan, segala pakaian yang

indah-indah, dipersembahkan kepada pendeta terhormat, memalingkan muka pendeta kemalu-maluan biar ayah ber- pakaian biasa, pergi menikah hanya tata cara lengkapkan.

522. Gareng berangkatnya lalu maju, mengapa tidak tuanku

terima, bila tuanku malu memakainya, hamba menghiasinya tuanku biar bagaimana hamba bisa, menghias pengantin, yang berdestar cacototan.

523. Maha resi lalu melihat dan berkata, biarlah ayah gatal kotor,

supaya jangan ayah salah pakai, hiasan ayah sampai di sana, kalau celaka tidak disetujuinya sangat ayah malu, yang demikian itulah ayah khawatirkan.

  1. Keadaan di dalam istana ceritakan sekarang, raja berkata lemah lembut, kepada prajurit penggawa di istana, disuruh menyediakan jamuan, mengabulkan permintaan Semar, semuanya takut, sebab ia seperti orang gila.

    525. Sebutkan setelah sore, matahari makin dingin cahayanya, di

dalam taman konon, inang pengasuhnya semuanya ribut, di taman mencari bunga, yang wangi-wangi, akan dihaturkan- nya kepada Dewi Sandat Pangasih.

526. Setelah Dewi Sandat Pangasih mandi, lalu mengenakan

pakaian sekarang, emas gemerlapan, ada balai kembang di tengah telaga, bersiap-siap bercengkrama sekaliannya para gadis-gadis yang mengapitnya.

  1. Inang pengasuh mengatur, mengikuti memimpin menghiasi- nya, dibedakkan dengan serbuk emas dan bau-bauan harum semerbak, berdampingan dengan gambar yang indah-indah, ada lagi, patung emas yang mengelilinginya.
  2. Yang mengapit pintu gerbang itu, pancurannya kanan-kiri, airnya bersinar kegemerlapan, di dalam balai kembang ber- cahaya berkilauan, para gadis telah berhias, akan ikut raja putri baru keluar.
  3. Lalu secara kebetulan, terlihat maha resi, bertiga menuju kepadanya, tuan putri lalu mundur, beliau mau menutup pintu, dengan dayang-dayangnya, disebabkan oleh bingung hatinya.
  4. Di dalam rumah beliau kacau balau, sebab takut bercampur malu, mau keluar ke utara, maha resi berdiri, di situ, berpegangan pada pintu, beliau tersenyum-senyum, Semar berkata cepat.
  5. O, jaringan sekarang telah mengenai silakan sekarang adu yang badannya tegap ayah memikil, Sang pendeta tersenyum lalu berkata, mengapa nona terburu-buru perhatikan dulu, kita sama-sama manusia.
  6. Jangan bingung seperti sembunyi-sembunyi, ingatkanlah dirimu, jangan di sana kamu bersembunyi, lihatlah rupaku dulu, sungguh ayah tidak harimau, jangan takut kepadaku, duduklah dan berkata yang jujur.
  7. Lihatlah dahulu adinda, Dewi Sandat Pangasih, aku sudah raja muda, ayah benar jadi suamimu, unggul di sini di dalam perang, jangan adinda lupa, sekarang merencanakan per- nikahan.

  8. Dewi Sandat Pangasih gemetar, sangat takut tidak sedikit, melihat rupa (maha resi) ajaib dan sangat buruk, Dewi Sandat Pangasih rebah lalu pingsan, mendengar bicara maha pendeta, amat takut, melihat hidungnya panjang.

    535. Tiba-tiba I Bayan gigian, ada kambing mengaku suami,

kalau dikatakan kuda juga bukan, hidungnya panjang seper-

ti hidung biawak, baru melangkah kakinya pincang tak

berguna, tak malu kemari berdebat.

536. Nginte dan Ngemban mengusirnya, anjing buta datang

kemari, I Semar berkata dengan maksud meredakan marah cepatlah sapa kakanda ini datang, payah kakanda datang dari Jawa, aku berhati-hati, berkabar campangenya besar.

  1. Semar diludahi lalu si Bayan berkata kerbaunya lancang berkata, mengaku orang Jawa bepergian, rupanya hitam pekat biru laut Gareng lalu-membalasnya, diam kau, aku dengan cara yang benar dan berkata baik.
  2. Maha resi tersenyumsambil berkata, aku ini Resi Dwala suci, yang mengalahkan Raden Santosa, kakakmu aduhai adinda cantik, sekarang beliau sudah tewas menemui ajalnya, dan mayatnya sudah musnah.
    539.(Karena itu) semua takut dan tak berkata, menelungkup tidak berani menoleh, dan keluar keringat lebat, makin pingsan Dewi Pangasih, sebab beliau mendengar kakaknya telah wafat, makin kasihan sebab saudara tunggal.
    540.Sering maha resi berkata, bersama kedua pengiringnya, lama tak dibalas konon kebingungan sang pendeta pada waktu itu, lalu beliau berbisik-bisik berkata, kepada kedua pengiringnya, Semar dan Gareng supaya kau tahu.
  3. Kita bertiga merahasiakan, rahasiaku sekarang terbuka jangan sembarang ayah berkata, menyebarkan di sana-sini, lalu Bimaniyu dikeluarkannya, sangat tampan di lihat dari kantongnya.

542. Semar dan Gareng sekarang terkejut, melihat orang yang

amat tampan, Bimaniyu lalu terhenyak, lalu menyembah kepada maha resi, apa maksud tuanku, maha resi, karena hanya kali ini hamba lihat datang ke mari.

  1. Silakan tuanku katakan, hamba bersedia akan menurutinya, Semar dan Gareng sangat heran, memikirkan perihalnya waktu itu, heran dan kebingungan, karena Bimaniyu sudah hilang, yang dulu di mana tinggal.
  2. Demikian katanya bersama-sama dengan temannya, membicarakan maha resi sakti, beginilah orang yang dungu, tidak tahu tingkah laku, tiga kali atau dua kali kita tidak tahu, hanya menuruti, kenyang perut pada waktu pagi.

    545. Maha resi lalu menjawab, menari dengan bicara yang manis,

wahai anaknda Bimaniyu, jodohmu sekarang datang, lihat sekarang terimalah, peristri olehmu, putri raja daerah Perang Gempuran.

546. Terimalah cucuku pemberian kakek, itu Dewi Sandat

Pangasih, pantas cucuku mengambilnya, ini putri sangat terkenal,putri kunci dunia, yang di Jawa, menang unggul sekali, di dalam medan perang.

547. Dewi Sandat Pengasih takut kepada ayah, lama beliau

pingsan, di sini lalu cucuku tinggal, tunggu beliau yang can- tik jelita, ayah ke istana sebentar, menghadap kepada ayahmu, perlu mempertimbangkan daya upaya.

548. Emban beliau di sini ayahku Semar, aku sekarang ke istana,

hati-hatilah di sini berkata, janganlah lengah, selalu

daripada itu ayah yang punyai, bagi di sini, ini sudah hasil ayahku puasa.

549.Setelah Sang pendeta pergi, menuju ke istana, mereka semua

bersama-sama berunding, membicarakan keadaan di sana, jadi akan dilangsungkan perkawinan besok, dengan Dewi Sandat Pangasih, tidaklah ayah disetujuinya?

  1. Ramai ribut penduduk kota, mengatakan ada perkawinan kentongan berbunyi, konon para perwira dan punggawa ber- kumpul, merencanakan akan membuat ebat, dan para wanita menyediakan upacara pernikahan.

    XXV 551. Yang ditanam sekarang ceritakan, Bimaniyu mendekati serta

memperhatikan si cantik jelita, dari bawahmemandang memperhatikannya, serta mengambil tangan pelan-pelan, merangkul dari belakang, Nala dan Gareng berkata makin ke belakang dengan wajah malu, baru keluar sangat indah hadiahnya menghamba.

  1. Lurah Semar menggantikan berkata, bagaikan penjudi kecil, melawan wasit kawakan (tukang kembar), akan kupakai sisa pilihan, nerima kemenangan di luar, tetapi yang mendam- pingi di sana, silakan tandingi (udeg) tuankuan, I Gareng lalu menyeret ke pinggir, ngukut-ukut dengan segera Bayan diangkatnya.
  2. Bayan lembah gemulai, ia mecengkoh, juga disetubuhi, mumpung sehat, dilakukan, waktu hidup sekarang harus dipenuhi, jadi lelaki mendatangi, selesai kerjanya di sana, takut dan malunya disembunyikan, serang ke depan matanya berkali-kali, sebentar saja sudah bisa sebelum ia mau bercakap-cakap.
  3. Dari luar ia menyuruh, silakan tuanku dekati, Bimaniyu didesaknya, dari atas sampai ke bawah diperhatikannya, aduhai kesayanganku adinda, jantung hatiku, si cantik jelita, di dunia adinda tak ada menyamai, keadaan adinda di bumi, cantik tak tercela, adinda Dewi Sandat Pangasih kehormatan hamba.
  4. Selesaikan cinta kasih adinda, kepada hamba ksateria dari Jawa, adinda dewanya madu, kalah lautan madu itu, waktu tersenyum tak ada menyamai, adinda dewa para putri tak

tercela, dan adinda dewanya kamar tempat tidur, lalu beliau dirangkul dan dibujuk-bujuknya, naik mereka di sana, pada dipan emas.

556. Siuman Dewi Sandat Pangasih, bergerak jarinya, kukunya

panjang gemerlapan, Bimaniyu memijetnya, bicaranya

lemah lembut, tak putusnya beliau membujuk, susunya

montok, mukanya halus kuning langsat, sungguh-sungguh beliau putri cantik jelita, telanjang di dalam kamar tempat

tidurnya. 557. Betisnya bagaikan bunga pudak, mengalahkan bambu ku-

ning, rambutnya hitam lebat terurai, seperti mega mengan- dung hujan, rupanya sebagai bulan terbit, tubuhnya halus kuning langsat, tangannya bergerak-gerak makin sadar beliau sekarang, tetapi beliau payah, sebab beliau masih takut, dari itu beliau menutup mata.

  1. Bimaniyu baru mencumbunya, aduhai adinda Sandat Pangasih, memang adinda jiwaku, kakanda datang amat dungu,tak mungkin kakanda dapat melayani, dan mau mengobati adinda, sebab adinda terdengar sakit, dan mau mengobati adinda, sebab adinda terdengar sakit lihatlah ini kakaknda pelan-pelan, si cantik jelita, menutupkan jari tangannya jarang-jarang.

    559.Masih disangka maha resi, antara takut dan berani di dalam

hati, raba-rabanya menandakan, licin dan halus lancar gerak tangannya dan kulitnya halus kelihatan kuning, Dewi Sandat Pangasih pelan-pelan melihatnya, Bimaniyu lagi berkata membujuk merayu-rayu, adinda cantik jelita, teruskan cinta kasih adinda.

560. Nyanyinya disela penjelasan, suaranya manis nyaring,

bangun adinda lihat kakaknda, Nala dan Gareng berkata di halaman, pelan-pelan dulu perhatikan, jangan-jangan maha resi hidung panjang, membawa pedang akan memenggal, Dewi Sandat Pangasih sekarang rasakan, karena itu Dewi Sandat Pangasih, terkejut dengan segera bangun.

561.Turun beliau lalu lari, Bimaniyu menangkapiya, dipegang tangannya yang kiri, dari belakang beliau memangku dan mencium,Dewi Sandat Pangasih sangat malu kurang baik pandangannya,selalu menjauhkan pandangan, Bimaniyu bergurau, adinda cantik jelita, kakaknda sudah maha resi.

562. Masih adinda melihat hidung panjang, yang sekarang lebih

panjang lagi, Dewi Sandat Pangasih tersenyum mendengar- nya, karena lain dari yang baru, karena itu pandangan beliau

harum manis, melihat orang yang bagus di sana, sebab sung-

guh berlainan, halus sebagai tangan wanita, hilang takutnya, sebab beliau kena panah Dewa Asmara.

  1. Lemah lembut katanya Bimaniyu, sudi kiranya adinda sekarang, Dewi Sandat Pangasih menoleh, saling pandang mereka dan saling memperhatikan, jelas sudah diketahui, rupanya Bimaniyu bagus, mulia wibawanya terang, oleh karena sungguh-sungguh beliau keturunan raja, amat bagus, dari itu gelisah hatinya Dewi Sandat Pangasih.

    564. Ketika beliau disetubuhi, pandangannya memaling-maling,

amat payah beliau dan hatinya berdebar-debar semar di luar pintu mengintai seraya tertawa ia berkata, berpantun mem- bangunkan semangat di sana, dari mana asalnya lintah, dari sawah turun ke kali, Gareng tepat olehnya menjawab dengan bersendau gurau.

  1. Aku tahu asalnya cinta, dari mata turun di hati, aduh ayah, aduh! ayam bertaji seekor, semau-maunya di sana memadu- kan, tentu lukanya samar, bergumul di bawah terurai, Semar lalu menjawab nanti dulu, waktu sedang sengitnya lalu dipisahkannya.

    566.Dewi Sandat Pangasih berkata lemah lembut, ya, hamba

belum tahu, siapakah sesungguhnya tuanku, hamba mohon dengan sesungguhya, jelaskan diri tuanku sekarang, Bimaniyu lalu menjawab, benar kata adinda, oleh karena baru adinda bertemu, Bimaniyu, tiada lain namaku.

567. Datangku dari tanah Jawa, maka resi yang membawa

kemari, beliau yang mempertemukan jodoh, dengan adinda sekarang, Sang Pendeta itu amat sakti,kakakndaku minta adinda, supaya adinda mau bersuami kepadaku, Dewi Sandat Pangasih lalu berkata halus manis ya, tuanku sesuka kakanda menitahkan hamba.

  1. Baru hamba salah terima, hamba kita maha resi yang akan mengambil hamba, Semar beri tanda, bunga serangkai bunga mekati, cempaka jangan dihapus (diikat), Gareng lalu menjawab hidup mati tak peduli, jangandiabus (diikat), Gareng lalu menjawab, hidup mati tak peduli, jangan mengambul (putus asa), pada neraka juga berdua.
  2. Sesudah selesai pembicaraannya, di tempat tidur cinta men- cintai, setelah jam sembilan, keluaran beliau berdua, berpegangan tangan dengan sang putri, bagaikan Dewi Ratih turun tanah bersama-sama dengan Dewa Asmara, amat pan- dai menuntun istrinya, bertamasya di taman yang bercahaya terang.

    570. Sangat gembira, (mereka) di dalam taman, seraya berterang

bulan bau bunga semerbak, anginnya sepoi-sepoi basa membawa bau kasturi yang ada di taman, semerbak, anginnya sepoi-sepoi basa membawa bau kasturi yang ada di taman semerbak mewangi, mengasut, dan mengemban mengiringi, memetik bunga yang harum, Semar di sana, juru membawa tempat sirih.

  1. Nala dan Gareng juru nyanyi, bernyanyi dan menari sangat lucu, Semar juru menerangkan berkeliling semua mengiringi pengiringnya, semua lucu mengasuh dan mengemban ramai sekali tak putusnya berdebat, kembali ceritanya sekarang, yang diceritakan golongan dewa Sang Hiang Narada.

    XXVI

  2. Terbang melayang-layang, Resi Narada berkeliling dina, sampai beliau di taman, mencari Dewi Sandat Pengasih, terlihat di sana, bersenang-senang di dalam taman.

573. Jelas beliau di sana, bersama-sama dengan Bimaniyu,

Gareng dan Semar, serta para inang pengasuh mengiringnya, ribut di situ, sudah jelas dilihatnya.

574. Bahagia aku, yang dicari telah ketemu, dengan perkasa

beliau maju ke depan, lalu mengambil Dewi Sandat Pangasih, segera beliau ke luar, dari taman diterbangkan- nya.

575. Sambil terbang, Hyang Nerada berkata, hai Bimaniyu, ini

Dewi Sandat Pangasih, kuambil dia kupersembahkan kepada Batara Siwa.

576. Sang Bimaniyu, marah lalu mengejarnya, Semar dan Gareng

juga tergesa-gesa, berganti-ganti meloncatinya, sampai payah, makin tinggi Dewi Sandat Pengasih diterbangkan.

  1. Sudah di angkasa, Hyang Narada sudah tinggi, Sang putri dibawa, Bimaniyu tak henti-hentinya menangis tersedu-sedu, (sambil berkata) tolong aku Pak Semar.
  2. Supaya datang (olehmu), Dewi Sandat Pangasih yang cantik jelita, Semar berkata dengan hormat, jangan tuanku sangat sedih mari pulang, beritahukan kepada maha resi.
  3. Oleh karena tuanku, menerima belas kasihan dari maha resi, tiba-tiba hilang sekarang (B. Narada), pendeknya maha resi serahkan tuanku, buruk baiknya, masilah sekarang sampaikan.

    580. Berangkatkah tuanku sampaikan ke istana agung, mumpung

baru sekali hilangnya supaya jangan terlambat sekarang, O ya betul, demikian kata Bimaniyu sambil menangis.

581. Sesudah berangkat bertapa, semua tunduk, menghadap maha resi, Semar dan Gareng (sengir-sengir), senyum-

senyum, mencibir-cibir, hidung sejengkal.

582. Setelah tiba lalu masuk ke dalam istana agung, Semar dan

Gareng memberitahukan sambil menangis mengaduh-aduh, setelah menerangkan itu, maka resi heran beliau mendengar- nya.

583. Harkian, mereka yang ada di penghadapan telah mendengar,

semua terkejut, barangkali sedang berunding, para raja

menghadap Maha Resi Dwala.

584. Tiba-tiba di sana, Bimaniyu terhenyak tersedu-sedu, Gareng

ia ternganga mengaduh-aduh sambil tunggang-tungging,

sampai pingsan di sana, perundingannya waktu itu ada di dalam istana.

585. Bimaniyu, lalu memberitahukan perihalnya di sana, ya

maha resi, kurang bahagia hamba sekarang, memberi dicuri orang.

586. Terkejut waktu itu maha pendeta baru melihat, putranya

datang, tiba-tiba keluar air matanya, serta dipeluk Bimaniyu, oleh partha.

587. Anakku bagus, dari mana datangmu, apa yang menye-

babkanmu duka cita, maha resi tersenyum menjawabnya memberitahukan kepada para raja sekalian.

5&. Bimaniyu dari dulu sudah ayah bawa, sudah kujodohkan, denganDewi Sandat Pangasih tapi celaka, sekarang sudah bapa tahu.

  1. Itu Dewi Sandat Pengasih yang cantik jelita, Resi Narada yang mencuri, jangan anaknda susah, gampang oleh ayah membalasnya, diam dulu, anakku para raja sekalian.
  2. Waktu itu Maharesi Beryoga, sebentar sudah selesai, serta beliau bergaul sambil bertepuk tangan, kejapan matanya berkali-kali, dan berteriak-teriak (ngandup-andup), sebagai menteriakkan anjing liar.
  3. Jatuh Resi Narada di situ, berada di penghadapan, sambil memikul Dewi Sandat Pangasih, serta beliau mendengkul, dan beliau tidur mendengkur.
  4. Waktu itu Resi Dwala, lalu menyuruh, anakku Bimaniyu, ambillah istrimu itu, Bimaniyu, lalu mengambil istrinya sambil mendekam (madekesan).

  5. Tertawa (mengeurkguk), Semar sebagai bersenda gurau, am- bil kenangannya lawannya ditandingi, jangan takut kita menyerang dari tanah Jawa.

    594. Maha Resi, lalu mengutus Gareng, ayo Gareng cari barang-

barang, pikulkan kepada dewa yang jahat, supaya dia malu menjadi dewa kurang ajar.

  1. Gareng mencari batu, susah payah dia memikul, lalu pikulkan kepada Resi Narada, sangat beratnya, silakan bangun, istri hatur-haturkan.
  2. Dewa jahat diberitahukan kepada Dewa Guru, perbuatanmu sewenang-wenang, merusak orang beristri, (demikian) Resi Dwala memerintahkan Resi Narada.
  3. Lalu (Resi Narada) bangun terpejam (matanya) memikul batu terbang, tak boleh dihentikan, itu batunya peluk, lalú terbang Resi Narada.
  4. Setelah terbang, Resi Narada memikul batu, susah payah beliau di jalan nasib terpejam, masih mengutuk, belum sadar akan angkasa.
    XXVII

599. Tersebut Raja Perang Gempuran, beserta permaisurinya

sama-sama bergembira di dalam istana, melihat menantunya

bagus, lalu bertanya kepada maha resi, ya maha resi sakti

dulu di mana tinggal?

  1. Yang bernama Raden Bimaniyu, maha resi lalu berkata ayah mengajak beliau dari dulu, sekarang ayah yang menggen- dongnya diamlah jangan diperpanjang siar sekarang selesai- kan perkawinannya.

    601. Semua bergembira yang ada di istana, beserta para raja

sekalian, karena itu yang berada di istana suka gembira sekalian, pada waktw malam konon ibunya lalu berkata, kepada putrinya Dewi'Sandat Pangasih, menasihatkan ten- tang cara berumah tangga.

602.Kesayanganku Sandat Pangasih, ingatkan nasihat itu semua,

bersuami kau, ksatriya utama, dengan Bimaniyu, sebagai

slepa dapat tutupnya, jangan anakku menolak, sekehendak suamimu. (Bagaikan limau dibelah dua).

603. Supaya selalu cocok, tingka laku yang baik dan senyum

manis, dipakai memelayani Raden Bimaniyu, tingkah laku dan perbuatan agar patut, hati-hati anakku berkata, bicaramu supaya halus manis, demikian caranya berumah tangga.

  1. Laki perempuan agar pasti, istri sebagai tempat dan si suami sebagai isinya yang mulia, diatur dengan pikiran halus, melayani orang mulia, seperti ratna madu, menikah dialas- kan dengan bokor emas.
  2. Pergunakanlah kemuliaan manusia itu, karenaitu adalah amerta yang utama, supaya jangan kocak, kita yang rugi bila jatuh, agar jangan sampai berkelahi dengan suami, menim- bulkan sakit dan perut lapar.
  3. Tidak jauh mencari contoh, pada diri sendiri memang pasti, pada waktu marah tentu kita rugi, aduhai anakku cantik jelita, perbuatan agar baik, gerak teratur dan bicaramu agar halus manis, itulah amerta yang tidak akan hilang (kayang- kayang). demikianlah jadi wanita, jadi tempat amertanya yang men- jadi tutupnya, dipakai untuk memasak beras.
  4. Kalau cacat salah satu tak mungkin ikan dapat memaksak- kan nasi jelas kita akan rugi, sebab tempatnya tidak sesuai, jika sampai begitu siapa yang disesalkan, akibatnya perut lapar.
  5. Dan lagi sebagai sapi dipakai membajak, kalau berbeda salah satu, tidak jadi bekerja, kita payah dan alatnya patah, demikianlah anaknda tiada salah, ditertawakan sanak saudara membicarakan.
  6. Ada lagi nasihat ibu, wahai anakku bagaikan bulan, tugas kita ada lima macam, sebutkan satu persatu, yang pertama

menjaga rumah, yang kedua, menjaga tamu dengan tulus ikhlas.

  1. Yang ketiga menyapa si suami, walaupun datang dari mana, yang keempat pada waktu tidur, dan yang kelima pakaian suami, supaya selalu bersih dan anaknda jangan durhaka kepadá suami, bicara manis dan laksana mulia.

    612. Menerima perintah suami, jika ia minta senangilah hatinya,

jangan anaknda melanggar peraturan waktu tidur segala per-

buatanmu supaya benar katamu agar menarik hati, selalu

cocok dan yang ketiga pikiranmu supaya cocok.

613. Suami istri seperti alat timbangan, bendega di dalam laut, dia

berlayar menuju tempat, juru kemudi dan juru dayung, sam-

bil menjaga bidak, supaya lekas, setiap yang dikerjakan.

  1. Apabila yang menjaga bidak lalai, maka terlambat ia di jalan, berliku-liku. jalannya amat sukar, juru kemudi juga sama, jika ia kurang hati-hati, sangat terlambat, jika nasib sial, akan dibalikkan.

    615. Telah cukup ibu menasihati anaknda Sang putri telah

mengiringi seperti hujan pertama kali, pada waktu bulan Oktober (sasih kapat), semua meresap dimasukkan, ke dalam hati, tak ada sisanya.

  1. Setelah beberapa hari tersebutlah, orang yang dari daerah jauh, semua tertawa Sri Kerisna berkata halus manis, ya paduka maha resi yang mulia, sangat susah pikiran hamba menerima marah Batara Siwa.

    617. Maha resi menjawab itu gampang, kalau biarpun begitu,

akan kuterima sampai tengah malam sekarang orang kota semua tidur nyenyak, tersebut Resi Narada, baru tiba mengangkut batu ke sorga.

618. Ceritakan di Siwa loka, Batara Guru, utusannya datang

pelan-pelan, menghadap kepada Dewa Guru, dan menurun-

kan bawaannya, dengan pelan-pelan, SanghiangSiwa lalu

menyapa.

619. Selamat datang resi Narada, yang dipakai anak lalu mohon

maaf, oleh karena sangat jauh tuanku, maka hamba terlam- bat datang, ini putri yang telah hamba dapati, baru dilihat, batu hitam diturunkan olehnya.

620. Angkutan jatuh berperosok, akan dipersembahkan

sekarang, terkejut Batara Siwa melihatnya (dari itu) Resi Narada sangat malu, dan segera mohon maaf, tidak hamba ketahui, jelas sudah hamba jelas tuanku.

621. Tadi sudah terbawa, Dewi Sandat Pangasih, hamba

dapatkan di taman, sekarang hilang tiba-tiba menjadi batu, bingunghamba tuanku, mohon maaf, Sanghiang Siwa,

marah.

622. Petruk diberikan mengalahkan, sampai aku dijahili, Resi Narada berkata sendiri, konon (ngaronggong), sebab Batara

Siwa sangat marah, Resi Narada berdatang sembah, ya,

tuanku, sekehendak paduka tuanku.

  1. Aku akan membalas, Petruk akan kutandingi, di Indra, Prasta akan kutunggu, selesai pembicaraannya di sana tersebut di daerah Perang Gempura, sesudah pagi, upacara perkawinan sekarang dilaksanakan.
  2. Sesudah jam 08.00 (dauh kalih), sudah berhias, pernikahan sudah akan sudah mulai sekarang, kentongan bertalu-talu suara meriyem ratusan, menggeletar, suara mersu tak putus- putusnya.
  3. Gong gondang ramai sekali, cengceng dan gong beri, berkeliling di halaman dengan istana, tepat matahari di atas kepala sudah selesai, pengantin telah masuk ke istana, amat indah rupanya.
  4. Ratusan ribu bayak tamunya, konon temunya sudah duduk, maha resi sudah dipersembahkan, ajamuan utama Semar dan Gareng diberikan juga.
  5. Semar mengembangkan perutnya, suapnya sebesar sendi, pelayanannya payah heran karena sering-sering minta tam-

bahan, satenya tiga batang sekali makan, lagi minta, sampai terbelalak matanya pada waktu mengunyah.

628. Yang melayaninya berkata dengan temannya, baru sekarang

saya melihat, orang begini kuatnya makan, bagaikan menim- buni jurang, Semar dan Gareng sederu-sederu, sebab sampai di hulu hati, kenyang perutnya masih juga diisi.

  1. Semar mengambil lawar, masih kurang lagi sedikit, dan tuak lagi satu sendok, kupakai bekal pulang besuk di mana cari lawar, seperti sekarang ini sudah landasan banjar.

    630. Selesai makan lalu bubar, tamunya pulang semuanya,

malamnya sekarang menggantikan tari-tarian menggantikan di sini, segala macam tari-tarian, Calonarang sampai pagi.

631. Selesai sudah upacara pernikahan, sudah ada pukul 09.30

(dauh ro), para raja lalu masuk ke istana, setelah berkumpul di dalam istana, menghadap kepada maha pendeta semua para raja bersiap-siap akan pulang.

  1. Setelah selesai perundingan akan pulang, sebab sudah lama beliau meninggalkan istananya, lagi Bimaniyu, diberi upacara di sana, dilantik menjadi raja putra, didudukkan di sana, menjadi putra bersama-sama istrinya, Sandat Pangasih.
  2. Maha resi berkata memberi nasihat, oleh karena ayah berkaul, memuliakan Bimaniyu, waktu pernikahannya, supaya didudukkan pada kursi emas, berpayung kuning, marilah kita iringi berkeliling.
  3. Para raja semua diundang, supaya semua jelas tahu, supaya semua mengiringi demikianlah, dan kemudian di dalam perang supaya unggul, sampai kepada perang Bratayuda, walaupun beliau mangkel, juga terima syukur mengalahkan musuh.
  4. Dan Bima Niyu akhirnya mewariskan keturunan bangsawan yang mulia, hingga sepanjang masa, karena jasanya sudah cukup dapat anugrah Sanghyang Widhi Wasa makanya di- dapat Sandat Pangasih.

636. Apabila tidak berputra, Dewi Sandat Pangasih, ada juga

istrinya yang lain, semua gembira di sana, mendengar pem- bicaraan maha resi suci, serta memuji maha pendeta lagi berkata.

637. Ya,raja Jayakusuma, sudah waktunya raja pulang, Bapa

sekarang ke Indra Prasta, Dewi Sandat Pangasih kuajak, lalu berdiri mata resi suci, anakku tinggal di sini, bapak meninggalkan anaknda.

  1. Sri Kerisna berkata, hamba juga permisi, pulang ke Dwara Wati, mengiringi maha resi suci, Bima Partha, dan Gatot- kaca, juga permisi dan Ratu Kakarsana (Baladewa).

    639. Raja Perang Gempuran menjawab: "baiklah"selamat jalan

tuanku sekalian keduanya (Bimaniyu dan istrinya) lalu ter- duduk bersimpuh, ayah prabu, berangkatlah anaknda baik- baik seraya beliau menangis, tergenang air matanya.

  1. Ingatkan nasihat ibu, anaknda meninggalkan ibu sekarang, bersuamikan sang Bimaniyu, beliau dipakai ayah ibu, walau- pun pelayanan hendaknya disayangi, dimarahi, dan lagi memang beliau yang harus disayangi.

    641. Tersedu-sedu Dewi Sandat Pangasih, mendengar nasihat

orang tua, bingung tak dapat menjawab, air matanya keluar berlinang-linang, lalu mohon pamit dan berangkat bersama pengiring kembali ke istana.

  1. Gareng mengirng di belakang, Semar di depannya meng- iring, paling muka resi Dwala,ceritakan perjalanannya di jalan, laut di sebelah selatan yang dituju, segera tiba di sana, bersiap-siap akan mengarungi lautan.
    XXVIII

643.Maha resi lagi beliau berkata, kepada para pengiringnya tun-

tun ayah anakku bagus, empat-empat kanan kiri beliau berkata lemah lembut.

644..Mari anakku Dewi Sandat Pengasih dan Bimaniyu, ingatkan tempat yang dulu, Bimaniyu lalu masuk, bersama-sama dengan Dewi Sandat Pangasih, langsung masuk ke kantong.
645. Pelan-pelan mereka mengarungi lautan besar, para raja diam semuanya tidak berkata sebab beliau heran di sana merasa- kan di dalam hatinya, tertarik hatinya semua heran.
646. Tak terkatakan lamanya di dalam air, telah sampai di pantai selatan, daerah Wadasti Natar yang dituj, bersama peng- iringnya semua, pelan-pelan masuk ke dalam gua.
647. Lama mereka di sana dua malam, para raja (sekalian) meng- hadapnya, lalu maha pendeta berkata, dengarkan anakku sekalian, sesungguhnya aku sarinya genta.
648. Semar lalu memberikan penjelasannya itu cocok, yaitu kebe- naran, tetapi itu semua berbeda-beda, maha resi berkata lagi, ayahanda membicarakan tanda (kepada anakku sekalian).
649.Silakan anakku berganti-ganti berbicara, dipakai menikmati terang bulan selalu, telah kita masuk ke lautan besar, tidak kena hambatan, sebab kita mengatakan yang tak membuat bencana.

650. Utara selatan dan paling timur barat, apa sesungguhnya itu

anakku, Bimaniyu lalu menjawab ya, itu telunjuk maha

resi, beliau menjawab dari dalam kantong.

  1. Sri Kerisna menanyakan kepada maha resi, supaya jelas mohon jelaskan sekarang, maha resi lalu berkata pelan-pelan, kesimpulannya begini, segala yang diucapkan tak kelihatan.

    652. Yang sembilan agama artinya, agama yang sesungguhnya

dicari, itu patut disembah, dijunjung, dikunjungi oleh segala yang berjiwa, itulah yang sebenarnya anak prabu.

653. Telunjuk artinya yang ditunjuk tidak mengambil yang tak

kelihatan, yang diambil juga sama, itu dunia tak bertepi, hanya telunjuk dipakai anakku.

  1. Jika di hutan mana yang paling unggul, gunanya di seluruh dunia, Sri Kerisna lalu menjawab yaitu gunung, penting gunanya, betul, kata maha Resi.

    655. Kalau pada golongan binatang mana yang paling berkuasa,

Partha menjawab, ya maha resi suci, ialah surga bernama kesari, sahut pendeta: "betul demikian'.

656. Maha resi lagi beliau berkata-kata, jika di laut mana anakku,

Sri Ala Dara menyahut, yang jadi jiwa ikan semua, yaitu air laut.

  1. Maha pendeta selalu mengatakan benar, dan lagi bila di angkasa, mana yang termulia di sana, Bima menjawab- nya: angin kencang tak kelihatan.
  2. Gatotkaca diberi tanda oleh maha resi, ke mana hilangnya api, matahari bulan dan bintangnya, Gatotkaca menjawab, ya hal itu di dalam penglihatan.
  3. Itu semua sudah betul anakku raja, sebab ayah memberikan tanda kepada anakku semua supaya jangan sampai anakku bingung, Semar dan Gareng mendekat di sana, sejak me- nyelami lautan, terang tak ada penglahang jauh.
  4. Mengangguk-angguk maha resi berkata, terasalah oleh anakku, di dalam hati, para raja lalu menjawab, jelas pengertian hamba sekarang, sebagai katanya Semar cocok.
  5. Sudah jelas semuanya anakku, marilah pulang, pulang sekehendakmu masing-masing, Sri Aladara berkata, hamba pulang ke istana Madura, hamba permisi kepada maha resi agung.
  6. Sudah berangkat sang pendeta pulang, Bima, Arjuna Kerisna, mengiringinya, Gatotkaca melompat terbang, dan tung- gulpayung dan kursi kerajaan di bawah ke Indra Prasta.

    XXIX. 663.Gatotkaca turun di istana, lalu menghaturkan bawaannya di

Indra Prasta, menghadap kepada Sri Dharma Wangsa, dan

peperangannya diberitahukan olehnya, dapat putri amat cantik, dari pekerjaan Resi Dwala.

  1. Setelah diberitahukan semuanya, keadaan di Indra Prasta, sibuk di dalam istana bersiap-siap akan menjemput istana sudah dihias,rakyat dan para menteri riang gembira, gong bedil bersuara tak putus-putusnya.
    665.Maha resi sudah datang sekarang, diiringi oleh para raja, Sri Dharma Wangsa, segera menjemput, disertai oleh para wanita semua, Dewi Drupadi dan Dewi Subadra, dan tak ke- tinggalan Sikandi turut, bersama dengan Dewi Sulastri dan Ulupang.

    666. Para raja semua menjemput, dengan hormat menyapa

maharesi, menghaturkan air suci pembasuh kaki, tukar pakaian yang baru, telah masuk ke dalam istana, para raja mengiringinya, setelah dipersembahkan tempat duduk.

  1. Maha pendeta lalu duduk, di kursi emas yang gemerlapan, dan para raja duduk di bawahan, semua berbisik-bisik mengatakan, para raja menjadi rakyat, memang rakyat jadi raja, di Indra Prasta sekarang aneh.
  2. Maha resi lalu berkata, buatkan upacara sekarang Subadra, nikahkan anakmu,Bimaniyu lalu dikeluarkannya bersama Dewi Sandat Pangasih, heran orang yang melihatnya, akan I Petruk bijaksana.
  3. Lalu dipeluk keduanya, oleh ibu Dewi Subadra, amat pan- jang lebar olehnya merayu-rayu, suka-duka yang dikatakan- nya, oleh karena raja sangat berwibawa, malam telah lewat, paginya upacara sudah selesai.
  4. Segala upacara pernikahan, dan telah selesai beliau berhias, lalu keluar ke halaman muka istana, para raja mengiringinya, berkeliling di halaman muka istana, rakyat, dan para menteri riang gembira, sorak tak putus-putusnya.

    671.Setelah tepat tengah siang sekarang, pengantin lalu dilantik,

didudukkan di kursi emas, Resi Dwala mengesahka para .pendeta semua datang, menyaksikan waktu itu, melantik

jadi hulu balang.

672. Sesudah upacara selesai, semua mereka masuk ke dalam

istana, gong besil bersuara tak putus-putusnya, tarian bermacam-macam yang baik-baik, tersebutlah sekarang di Astina, Raja Kuru melongo kesedihan, merapatkan para jurunya.

673. Danghiang Drona memimpinnya, Sakuni, Raja Karna dan

seratus Korawan, merundingkan akan pergi ke Indra Prasta, marilah kita ambil Dewi Sandat Pangasih, paksa ataucuri, dan bunuh sang Bimaniyu.

674. Resi Kropa dan Drona menggerakkan, sudah lengkap

dengan senjata semua, seratus Korawa berangkat dengan berkereta empat perjalanannya di jalan, tiba-tiba sekarang sudah tiba, di halaman muka istana Pandawa.

675.Sang Kerisna sekarang, berkeliling bersenang-senang, terke- jut beliau ada orang datang, dilihat di halaman istana lengkap bersenjata kelihatan para Korawa, Krepa dan Drona jadi penggerak di sana minta ijin kepada Sri Krisna.
676. Ya Raja Krisna, rahasiakan tuanku rahasiakan, datangku ini tiada lain, Dewi Sandat Pangasih akan kuambil, akan dipersembahkan kepada Sri Kuru Pati, tunangannya dari dulu, Sri Krisna tak banyak bicara.
677. Resi Dwala telah mengetahui dari istana, lalu memberi isyarat kepada Raden Bima, Semar dan Gareng, melaporkan kepadanya, Raden Bima lalu melompat, baru keluar ke- ningnya mengerut, memikul gada terus diputar.
678. Para Korawa semua ketakutan, baru kelihatan Raden Bima, lalu lari mereka semua sangat liar, kembali pulang, tanpa permisi, serta dikejar oleh Raden Wrkodara, semua lari tunggang langgang, jurang dan kali dilewati.
679. Bagawan Kerpa dan Drona dapat ditangkap, oleh Semar dan Nala, ditarik ujung kainnya (kancut), di dalam sungai saling tarik, berdua satu-persatu, saling diselamkan sama-sama basah, menggelepar-gelepar lepaskan ayah.

680. Bagawan Drona diduduki, oleh Gde Semar, Resi Kerpa

dilewati, pakaiannya semua diambil, brakbak-brukbuk di- selamkan, gelungnya terlepas di sana, Semar menantangnya.

  1. Kerpa di sini sekarang kawin, lawan aku berdua, telanjangi dirimu, Resi Kerpa gemetar menempil beliau bersembunyi, sambil menutup kemaluannya, aduh lepaskan bapak sekarang.
  2. Danghyang Drona dicabuti kumisnya dan janggutnya di- habiskan, ia menantang, Drona bohong pulang kamu, sang- gulnya diuraikan oleh Semar, agar kamu disangka perem- puan, beritahukan kepada Kurupati.
  3. Aduhsangat bingungnya keluar darah di sana-sini, lalu dilepaskan kemudian lari tunggang-langgang, tak terkatakan beliau di jalan, tersebutlah di atas Astina, Sri Kurupati amat sedih, bingung tak berani membalas.
  4. Ada raja sangat takut, tergesa-gesa memacu kuda jatuh bangun berkali-kali, kudanya masih terikat sudah dipacu, berulang-ulang ia pacu, dipukul dengan cemeti, menderu- deru putus talinya kudanya terlepas.

    685. Ada yang menghadap ke belakang, pantat kudanya disangka

kepala di pegang ekornya, bolak-balik dibuang lalu jatuh ditimpa oleh kuda, tali putus jaran bangun, melompati tem- bok sambil menyepak.

  1. Ada yang tak dipakai tali, memukuli mengendarai kuda, kudanya lari ke sana ke mari, semau-maunya masuk ke desa- desa, dikejar oleh anjing sebab disoraki, lalu rebah menimpa rawa-rawa, diliputi oleh lumpur bersama kudanya.
  2. Ada yang tergesa-gesa lari, ujung kainnya diinjak oleh temannya, kainnya terlepas dan sampai dengan celananya, kemaluannya bergerak kelihatan panjang, tak memikirkan malu, ditertawai kawannya karena telanjang sampai tiba di halaman muka istana.

688. Tak diceritakan yang lari, semua habis tak ada yang keting-

galan, sebagai belalang dipukul-pukul, sekarang ulangi

menceritakan, tak terkatakan di sorga, perundingannya

sepakat, sudah menarik kesimpulan.

XXX

  1. Tersebutlah Batara Siwa, di sorga, beliau sekarang men- dengar, Dewi Sandat Pangasih telah datang, ada di istana Indra Prasta, segera beliau berangkat, tak ada yang menyertai hanya sendirian, oleh karena beliau nyata berwujud dewa, dengan cepat perjalannya terbang.
  2. Dan lengkap dengan segala senjata, konon Resi Dwala sekarang, banyak orang yang menghadap beliau di sana, lalu tahu Resi Dwala, segera beliau keluar, ke halaman muka istana seraya bernyanyi, dilihatnya Batara Siwa, terbang dari angkasa.
  3. Dengan segera Resi Dwala turun serta beliau mendekat, lalu beliau menghardik dan melambaikan tangan, cepat Siwa mari turun, mari berperang sama ayah, lalu Sanghyang Siwa mendekati, turun di sana, resi Dwala menyapa kasar, kau Siwa apa kau cari.
  4. Terkejut beliau mendengarkan, lalu marah, hai Petruk kasar kau berkata, tidak tahu akan Batara Siwa, datang ke mari ke Indra Prasta, aku akan mengambil bininya Bimaniyu ia durhaka kepadaku, tunanganku didahului.
  5. Maha Resi Dwala lalu berkata, Siwa menangis datang kemari barangkali kamu tidak tahu, aku sudah Dwala, memelihara melindungi terhadap baik buruknya tiap orang jahat, akan kumakan, walaupun dewa akan kutusuk hidungnya dengan tali.
  6. Serentakkan senjata utama cakra angkus trisula dan suligi, amat marah batara, tak hentinya menghujani dengan panah, semua panahnya mengkerut, di sana, Bagawan tidak mem- pan beliau menangis dengan meloncat-loncat (kejang- kejing).

  7. Habiskan kepandaian Siwa, kekuatanmu, keluarkan seribu kali, aku tidak takut, masak kamu raja dewa, tidak mati, aku sekarang olehmu, batara menombak bertubi-tubi tidak melukai.

    696. Karena itu batara marah habis-habisan, lalu melepaskan sen-

jata utama berupa puncak gunung ·batu, dipandangoleh

maha resi, jadi debu panah itu, diulangi lagi, dengan angin

puyuh yang kencang, dituding oleh maha pendeta, jadi batu angin itu.

  1. Lagi batara membalasnya, maha resi menandinginya lalu dipukul (Bagawan), oleh palu besi besar, satu lawan satu, bersilat, Bagawan menari di sana, satu pun bulunya tidak ada yang terlepas, Batara Siwa sampai payah memukulinya.
  2. Begawan makin marah, bergulat dengan batara saling ban- ting, maha resi diinjak-injak di situ, berguling-guling beliau Begawan bangun marah dan menangkap menggaruk dan membanting, dahinya diketuk dahinya.
  3. Dipeluk pinggang batara, sangat kuat dipegang dari belakang, dibanting Batara Siwa, dengan perkasa maha resi menyepaknya ke sana ke mari sampai lesu, berkali-kali di- pakai permainan, jarang beliau dapat menginjak tanah.

    700. Laju beliau Sanghyang Siwa, seperti kapuk lemas bergulung,

waktu itu lalu resi berhenti, kelihatan musuhnya tergeletak, bernyanyi-nyanyi (begawan), bangunkan dirimu Siwa, tidak malu kamu tergeletak, kamu dewa tukang curi.

  1. Diam beliau Batara Siwa, ingat beliau akan dirinya dengan pelan-pelan terus mengumpulkan tenaganya, terasa tak kuat melawan, segera beliau berdiri, menterkejutkan terus lari, ke dalam istana Pandawa, tolong bapak Partha.
  2. Sri Kerisna di halaman muka istana, dan Bima bersama Ar- juna, dan seluruh pengiring di sana, tiba-tiba datang Batara Siwa, seraya menangis tolong ayah anakku raja, ayah di- amuk oleh Petruk, kian kemari ayah dikejarnya.

703. Aduhai cepatlah tolong, terkejut para raja di sana semuanya,

tiba-tiba datangnya Batara Guru, Bima Arjuna dan Kerisna,

sembunyikan ayah sekarang agar jangan dilihat lalu turun Sri Kerisna, berkata dengan hormat perlahan-lahan.

704. Maha resi tetap mengejarnya, dengan perkasa terusmem-

buru, lalu Sri Kerisna berdiri di situ, maha pendeta, lalu berkata, cepatlah kamu Kerisna Partha dan Gatotkaca terus pegang ia kuat-kuat, dewa jahat datang kemari.

705. Memaksa Batara Guru lari, tunggang-langgang tanpa arah,

bersembunyi di sana-sini, semua mereka sama-sama melerai,

dan merintangi mengejar pendeknya semua tidak dihiraukan

Bagawan mengejar bergegas-gegas menantang dan menu- ding.

  1. Hai Siwa dewa pengecut, mengapa takut belalakan matamu sekarang, tandingi sekarang I Petruk, berhenti dahulu kamu tergesa-gesa liar melarikan diri sangat mengkerut buah ke- maluanmu, tidak makai pikiran orang laki, menjerit minta tolong.

    707. Kasih sayang mereka melihat raja, Kerisna dan para pengi-

ringnya, bersama-sama semua mengikuti, makin luar Batara, dikira yang menolong disangka musuk, menempel takut bersembunyi, gemetar karena sangat takutnya.

  1. Diketemuinya Sri Dharma Wangsa, Nakula dan Sadewa selalu beliau ikut, waktu itu terkejut Sri Dharma Wangsa, melihat Batara Siwa, segera beliau turun sudah turun dari kursi, mencakupkan tangan menyembah, beliau duduk di atas tanah.

    709. Sanghyang Siwa lalu bersabda, Punta Dewa cepat tolong

ayah sekarang, diamuk oleh Petruk hampir ayah imeninggal, yang sekarang, tak lama akan datang, dengan perkasa mem- buru ayah, ayah takut dikejar.

XXXI

710. Sri Dharma belas kasihan segera batara disembunyikannya,

Batara Siwa didorongnya, segera, disimpannya di dalam gedung, jangan Baginda keluar, sebelum Petruk datang, hamba menunggu di halaman muka istana, Sri Dharma Wangsa ialu keluar, lalu datang, maha resi dengan tergesa- gesa.

711. Aduhai anakku Dharma Wangsa, pegang Siwa erat-erat,

supaya jangan makin jauh, marilah di sini ia dipermainkan sebab itu raja dewa jahat, dewa tidak dapat dipercaya, Sri Dharma Wangsa bergegas turun, bersama Dewi Dropati, seraya menyembah lalu berkata, beliau terduduk di tanah.

712. Beliau menyapa dengan halus manis, pelan-pelan hormat

seraya tersenyum, daulat tuanku, sungguh tuanku amat suci, tuanku unggul tak ada menyamai, hamba tak kan berani, marah tuanku kepada Sanghyang Siwa, tidak berani meng-

halanginya, hamba hanya mempermaklumkan, maafkan

kita hamba.

  1. Dengarkan tuanku kata hamba, hamba dihina memberi per- ingatan maaf yang sebesar-besarnya, permohonan hamba sekarang, hamba anak tuanku, memohonkan maaf, kesalah- annya Sanghyang Siwa hambalah yang memikulnya sudilah tuanku, ijinkan permohonan hamba.
  2. Anakku raja menolongnya mohon salahnya Batara Siwa, lalu Bagawan tersenyum seraya goyang kepala, baru men- dengar kata lembah-lembut, hilang marahsang Resi lalu Bagawan berkata sambil tersenyum, aduhai anakku Dharma wangsa, dari bijaksana maka bakti, kata anakku itu ayah tahu dari asalnya.
  3. Hamba patik batara, Sanghyang Wenang yang memberi anugerah dan memasuki si Dwala dan memberi anugerah kepada Sri Dharma Wangsa, dari tuanku memperlihatkan cinta kasih, aduhai. Tuhanku yang memberi anugerah kepada Pandawa, tak ada yang menyamai sekarang, anugerah Tuhanku hamba menyerahkan jiwa raga.

716 Sri Kerisna lalu datang, bersama-sama Sang Partha, dan Bima tak ketinggalan, duduk bersila menghaturkan sembah, terharu beliau di dalam hati, melihat maha resi di sana, telah hilang marahnya, seperti disapu oleh Dharma Wangsa, sam- bil tersenyum maha pendeta berkata.

  1. Anakku raja sekalian, agar anakku tahu semua, ayah, sebenarnya Sanghyang Wenang, memasuki Petruk sekarang, itu dia sungguh Dwala, ayah pinjam dirinya, mau menjaga lima bersaudara (Pandawa) selalu siang malam, ayah menjaga, menyelamatkan makhluk di dunia.

    718. Dimusuhi oleh Siwa, itu adalah dewa, musuh dunia, tukang

rusak ke Pandawa, hanya ayah yang menyelamatkan sekarang, oleh resi suci, tentu pandawa selamat ini ingatkan nasihat ayah, ayah sekarang akan pulang, itu Petruk pakai pelayan dan sayangi.

719. Bertiga di Pandawa, Semar dan Gareng lagi dua orang,

memang semua keturunan dewa dipakai pelayan dan di- hormati di sini, jangan anakku berani menolaknya, dipakai anak dan dipakai guru dalam perbuatan dipakai rakyat, di

hati hormati selalu, senantiasa dipuji, yang tiga orang utama budinya.

  1. Selesailah sudah nasihat ayah sekarang, para Pandawa berkata, ya, tidaklah hamba akan lupa, menurut ajaran kebenaran, Sri Kerisna dipanggil, cari Batara Siwa Sri Kerisna tak lama, berdiri lalu berangkat, sangat takut, akan perintah maha pendeta.
  2. Lalu cepat-cepat masuk ke istana, menghadap kepada Batara Siwa, setibanya lalu menghormat, duduk bersila me- nyembah, ya, Tuhanku yang mulia, yang terhormat, Sata kertu, Tuanku disuruh keluar, oleh Sanghyang Wenang, ialah Petruk yang dipinjam badannya.
  3. Benar Sanghyang Wenang memanggil Tuhanku, marilah Tuhanku cepat keluar, Batara Siwa tak panjang bicara, segera beliau keluar, langsung ke panghadapan, setelah

bertemu dengan Sanghyang Wenang, Batara Siwa lalu me-

nyembah, dan para raja menyertainya, menghadap di sana. Dilali Sanghyang Wenang.

723. Sanghyang Wenang bersabda, harus Siwa menjaga sekarang,

membuatkan Sang Pandawa selamat, memang Siwa meng- awasi segala mukhluk di dunia ini, daulat Tuhanku, itu semua adalah tunggal loka artinya dunia, dunia itu, sama dengan badannya Siwa.

724. Dan Siwa itu berarti rumah, rumahnya yang lima orang,

yang lima berarti panca, pancaindranya dunia, dunia yang di sini, di sini atau di sana semua sama, sama-sama manusia, manusia dikuasai, oleh yang tiga, ialah Petruk Gareng dan Semar.

726. Kedewaan artinya dimasuki dewa jadi, bersama-sama semua

gila, segala yang dilihat digilai, yang gila tak ketahui, di- suruh ke sana ke mari, yang gila sakti unggul, unggul memenuhi dunia, besar tak pernah ketemu, sangat sulit, kecil tak dapat diambil.

727. Itu yang berujud tak berujud, kelihatan tidak selalu, sepan-

jang jalan hidup mati, si tua sesungguhnya selalu diketemui ke sana ke mari mengikuti juga tidak pernah dilihat, bisa memenuhi dunia, tetap selalu menggoda, makanya susah manusia kebingungan.

  1. Diajar (tetapi kita) tidak tahu, diganggu juga tak diketahui, disangka dewa disangka kala, disangka jin, memasuki salah sendiri menuduh orang lain, tiap diterka salah jadi berkata mengada-ada, membuat yang salah memang gampang mengapa mau dibingungkannya.
  2. kebingungan itu menimbulkan celaka, kesadaran selalu selamat, ingatkanlah anakku ingatkan, yangbenar jelek semua, yang gila cocok selalu, perbuatannya sungguh

    gegabah, tetapi pikirannya benar, dari tahunya, yang merin-

tahkan dirinya.

  1. Lain yang gila dan gegabah itu adalah bingung, itu bernama ogan-ogan, ogan itu berarti sakit, sakit otak jadi gila, bicara tak keruan kejam mencaci-maki, itu bingung sepanjang hari, hati-hatilahanakku mendengarkankata biarpun gila, bila sebagai Sang Dwala.

    731. Apa sesungguhnya yang merintahkan, karenanya gila selalu,

sama dengan pemberitahuan, supaya diketahui yang mem- beritahukan, senantiasasiang malam, mengambil kerjaan bangun tidur, kapan saja diperintahkan, kita patut meng- gantikan baik buruk, bekal mati.

732. Yang demikian itu bernama agama, yang dipegang siang

malam, pada waktu tidur diperintahkannya, waktu tidur apa dilakukan, itu diperbaiki agar pasti, jangan mempercaya yang jauh di sana, bila yang jauh diingatkan, itu bernama gila bingung, tak karuan-karuan tujuannya, terang bulan di- liputi mendung.

  1. Yang disinarinya memang terang, terangnya samar-samar selalu, setelah kurang panas kegelapan, lain terang cahaya matahari, oleh karena sudah selalu siang pada waktu kurang panas terang juga di sana, apa saja terang kelihatan karena pandangan tidak bingung, tidak gelisah sudah bernama terang siang.
  2. Itu sungguh bernama dewa, tinggal memenuhi dunia, tidak ada nama terang, keadaan yang memenuhi dunia, itu yang wajib dimuliakan, dipuja dengan sifat baik, dewa yang benar-benar sudah diketahui, sekehendaknya akan bakti, dari dulu, dewa menang cinta kasih.

    735. Anakku menyembah menghadap ke utara, lebih dulu yang

menerima, sebelum dicipta sudah ada, tidak jauh itu dekat anakku, itu yang melindungi dunia, tiada pisah selaluber- satu itu sunyi berarti suci, sucikan pikiranmu selalu, untuk menjumpai sunyi, tidak bisa dipakai apa.

736. Sri Kerisna menyembah lalu berkata, masih dungu hamba

ini, tentang menutup pancaindra, itu tuanku terangkan

J

sekarang, asalnya semua, maha resi lalu berkata halus manis, sekarang bapak menguraikan, memang susah itu nak, jika cocok itu merupakan hiasan dharma.

  1. Yang benar hanya satu, indra itu lima semuanya yaitu menguasai diri manusia, yang membuat benar dan membuat salah, jalannya hanya dua, itu senantiasa dituruti, kalau tabah menemui kebaikan, yang goyah neraka selalu yang dua itu, menimbulkan keinginan yang, berbeda.
  2. Budi itu sebagai manusia, mengendarai kuda tanpa tali, merintangkan di depan dua, dan di belakang dua memukuli kuda itu larinya bingung, ke sana ke mari semua-maunya, mengendarai kuda tanpa tali, yang mengendarai memang salah, jadinya lapar, dan kurus sebab selalu dilarikan oleh kudanya.
    739.Yang hati-hati kita mengendarai, talinya diperkuat, besi itu dipakai padangal, supaya sukar olehnya lari, walaupun ada orang yang memukul, kuda itu tidak lari, kuattalinya menyebabkan, agar hati-hati mengendarainya waktu makan rumput, pelan-pelan sebab dirintangi oleh padangal.
  3. Sanghyang Siwa berkata, aduhai Tuhanku, desa bayu itu bicarakan, bagi dua itu semua, luar dalam satu-satu, pemu- satan sepuluh tenaga (desa bayu) jika cocok, bagaimana batasnya.
    XXXII.

741. Maha resi keranjingan berkata, hai Siwa dengarkan

sekarang, filsafat yang sepuluh itu, panca tirtha dan panca

gni, yang meresap di tubuh manusia, itu yang kepaparkan sekarang.

742. Pikiran angan-angan dan cita itu, budi dan jiwa selesai

semua, itu ada di dalam tubuh manusia, sudah lima lengkap

semuanya, persatuan panca tirtha, bernama agama sejati.

743. Itu suci itu unggul, itu agama sangat suci, itu air (tirtha) itu

luhur berkuasa di dunia, tak dapat lagi di bicarakan, tiap-

tiap dikatakan semua salah.

  1. Orang yang mempunyai pikiran suci itulah yang dijunjung itu kesucian yang telah menjadi nirwana, beralaskan

    matahari dan bulan, pada waktu wafatnya orang yang maha

suci bersatu dengan Tuhan.

  1. Waktu kita masih hidup agar baik-baik, memelihara badan sebagai rumah, berhiaskan segala yang indah, perbuatan pikiran dan perkataan, supaya semua sesuai, segala tingkah laku yang benar, itu perhiasan jiwa.

    746. Kemudian bila menjelma menjadi orang baik-baik,

Sanghyang Dharma selalu membimbing, melindungi sepan- jang jalan pada waktu kesusahan tiap hari, karena sama-sama darma bekal menjelma yang mulai.

  1. Tetap dengan tingkah laku, dasa sila sesuai selalu, tidak memilih tempat, kuat beryoga dan bersemadi, patut dilaku- kan oleh sang pendeta, memakai tirtha dan weda suci.
  2. Ya anakku selesailah sudah, penjelasannya semua, tentang filsafat dalam badan, sudah selesai panca tirtha itu, Sri Dharma lalu mohon, panca indria itu dijelaskan lagi.
  3. Maha pendeta lagi berkata, panca geni kuuraikan lagi, diluar badan manusia, yaitu nafsu suka duka lupa, yang terakhir takut, selesai yang lima semua.

    750. Pancaindra itu, itu jadi dua bagian, ke dalam dan ke luar,

sama lain yang diingininya, yang menuju ke dalam jalan dharma, dan yang ke luar isi dunia.

  1. Itulah sudah dasa bayu, memang sungguh berlapis sepuluh, ada di tubuh manusia, ia bermusuhan selalu cecok, itulah rua bineda, yang nyata dan tidak nyata anakku.
  2. Bila orang yang kuat berkata, mengadu lihat selalu tak merasa malu, menyebabkan menjauhkan pikiran, akibatnya yang tak kekal menggantikan, yang membuat besar hawa nafsu itu, tak mungkin akan menemui kesucian.

  3. Kalau orang duduk traktak-truktuk, menimbulkan baik, kelihatannya, jadi senang berkumpul, jadi sedih serta lupa, jadi takut sudah malam, itu disebabkan oleh indria.

    754. Semua orang yang punya takut, manusia yang ada di dunia,

yang masih dikuasai hawa nafsu, segala makhluk hormati isi dunia mau dikuasai, semua menyengsarakan jiwa.

755. Itu yang mau dipikul, dari lahir sampai mati, membuat diri

sengsara, jadi tali menghalangi, orang yang bijaksana tiada mau begitu, hanya dipergunakannya waktu masih di sini.

756. Kekayaan pada waktu masih hidup, sampah dunia itu

anakku bekal akan pulang ke dunia baka, walaupun lagi ia menjelma, tidak bisa dipakai itu semua.

757. Perbuatannya yang benar itulah bekal, yang langeng tak ada

bandingannya, kemudian bila kita kembali kepada asal,. itu anakku yang dituju pekerjaan itu dipakai sambilan selama hidup.

758. Apabila berbekal angin ribut, pada waktu meninggal atau

menjelma, itulah anakku yang bernama karma, menjaga mengikuti kita di sini, ada yang lain lagi mendorongnya, kepunyaannya yang dahulu kala.

760. Memang berbeda penjelmaannya, jelas anakku orang yang

dulu, menanam yang jelek yang jelek dipetik, menanam yang

baik yang baik dinikmati dipetik, ke mana kita pergi juga

dinikmati, siapa yang menanam memetiknya ia juga.

  1. Sri Kerisna lagi berkata, lanjutan lagi sedikit, belum puas hati hamba, mendengar ajaran kebenaran, permulaannya bernama karma, itu maha resi jelaskan sekarang.
  2. Maha pendeta berkata lemah lembut, aduhai anakku ber- budi luhur, dengarkanlah baik-baik anakku para raja se- kalian, keadaan jadi manusia, bagaikan roda berputar.
  3. Waktu dunia masih sunyi, langit ruangan angkasa dan tanah, diisi golongan penguasa Sanghyang Titah yang membuatnya, embun di atas langit, dijatuhkan ke bumi.

  4. Dari itu semua tumbuh, tiga macam itu semuanya, yang menyebabkan penuh di dunia, dari telur dari lahir dan dari tumbuh, menimbulkan enam macam, enam rasa tumbuh di dunia.

  5. Wong sato mina manuk, (Manusia) binatang ikan burung, bager bambu, taru buku itu yang lagi dua, itu penuh meme- nuhidunia, tiga dua kali mengisinya, sama-sama mencari golongan, dan mencari tempat sendiri-sendiri.
  6. Bisa mati bisa hidup, bisa hilang bisa datang lagi, tersebut golongan yang enam, keadaan siang malam, pelindung isi dunia, sanghyang Titah menjiwainya.
  7. Dan lagi beliau yang merintah, membatasi siang malam mengganti pagi dan senja, menggantikannya tiap hari, begi- tulah anakkuperihal dunia, ditempati oleh segala makhluk hidup.
  8. Pada malam hari, segala golongan yang telah mati, isi dunia itu waktu itu semua berkumpul, zat angkasanya bersatu, waktu dini hari jadi semua.
  9. Itu naik jadi embun, panas oleh sinar matahari, ditarik makin tinggi, sampai bercampur dengan binatang di angkas? itu, lalu jatuh, pada waktu tengah malam.
  10. Benih itu lalu tumbuh dari tanah bermacam-macam jadi bekal, makhluk hidup sekalian, itu (makhluk hidup) panca bhuta, yang menjadikannya di dunia.
    XXXIII

  11. Maha resi lagi berkata, sungguh demikianlah asalnya, Partha menanyakan lagi, tentang asalnya indria itu, maha pendeta lalu bercerita, dari embun asalnya, mengenai segala yang tumbuh, ada pada daun dan pada buah, pada umbi dan pada pohonnya.

  12. Itulah dimakan, oleh segala makhluk hidup, benih itu yang menjiwainya menjadi darah tenaga, pikiran dan perkataan,

jadi sifat dan tingkah laku, amertha itu di sana meresap itu menjadi air mani, menyebabkan nafsu birahi.

  1. Juga indria namanya, menyebabkan senang hati, laki perem- puan ditempatinya, makanya bisa bertemu, memang dari benih itu, jika mereka tahu akan segala rasa, di tubuhnya ada itu, parca maha buta.
  2. Begitu anakku semua agar tahu, mengapa berbeda manusia dengan binatang, demikian pertanyaan Partha, lebih loba manusia dalam hatinya, loba kepada wanita, bila dibandingkan dengan binatang, mengapa ia punya masa tertentu apa sebabnya tidak sama, silakan maha resi jelaskan.
  3. Lagi ada bedanya biarpun alatnya sama, manusia lebih mengerti, dibandingkan dengan binatang itu, silakan maha mpu terangkan,maha resi lalu berkata lemah lembut, o begini asalnya, binatang dan manusia, berasal dari makanan.

    776. Dihitung dari bahannya, manusia dan binatang, manusia

sepuluh bagian, lima bagian bangsa burung baru naik tingkat, dari binatang lalu berubah menjadi manusia, dungu tak mau diajar, itu yang baru naik tingkat.

  1. Empat bagian bahannya binatang itu, tiga bagian bahannya ikan, dua bagian bahannya burung, yang sebagian bahannya kayu dan rumput, demikianlah asalnya, dari panca maha buta, filsafatnya segala yang hidup, makanya ada penger- tian, berbeda-beda demikianlah.
  2. Sangatlah jasa binatang itu, yang berbahagia naik tingkat, menjadi manusia dungu sekali, walaupun manusia itu juga sama, yang berbuat salah, turun tingkatannya, menjadi binatang, begitulah anakku para raja, memelihara diri agar hati-hati, dekat neraka itu menjadi manusia.
  3. Yang luhur penjelmaannya jadi manusia, menerima ke- puasannya, sebab manusia adalah wakil sanghyang Widhi Wasa, jangan goyah jadi raja, kemudian akan menjumpai kebaikan, sampai ke dunia baru, kalau pulang lagi setelah sampai di sana, supaya dijumpai jalan lancar, itu dunia nir- wana.

780. Paling sedikit bekalnya delapan macam, yang menjelma

sebagai anakku, tetesan dari Sang Hyang Widhi, jangan me-

ngatakan kurang penghidupan, menyesal diri dan sedu sedih,

salah sekali anakku itu, kurang harta menimbulkan bingung,

karena itu kesasar penjelmaan itu, akan turun tingkatan menjelma.

781. Kalau orang melanggar nasehat, tentang ajaran kebenaran,

orang yang demikian kemungkinan, akan celaka, dan neraka

semasih hidupnya, loba, jijit dan dungu, seperti hidupnya

rumput, mati hidup tetap di sana, tidak pernah menyeberang sungai, begitu anakku umpamanya.

782. Supaya pancaindria itu, dikurangi nafsunya, supaya jangan

unggul, sepuluh sila dilaksanakan selalu, namanya masing- masing itu anakku, dari mulut keluar empat macam, yaitu kita kata kasar marah dan mencaci maki, menfitnah berbo- hong, baru empat macam yang diterangkan.

  1. Dari perbuatan tersebut lagi tiga macam, ialah membunuh dan merampok, mabuk dan bersetubuh, banyaknya itu baru tujuh macam, dari pikiran lagi tiga macam, yakni iri hati dan melakukan daya upaya, dan malas, itu sudah selesai yang sepuluh macam telah kupaparkan, bilangan yang disebut salah.

    784. Tiap-tiap orang yang melanggar larangan itu, subur hawa

nafsunya, yang mengakibatkan bingung yang demikian gelap gulita, binatang mengalahkannya, pada pertemuan persetubuhan sang Partha lalu bertanya, heran hamba

kepada manusia, apa sebab dikalahkan oleh binatang.

  1. Maha resi menerangkan hal itu, o itu begini asalnya, binatang ikan dan burung waktu masih benih berupa embun, pada daun dan pada rumput ada yang di buah dan yang di pohon yang dimakannya lalu jadi telur pada dirinya, makanya ia kurang hawa nafsu.
  2. Walaupun ia tahu berjalan, semua berbeda bunyinya, bertemu sambil mencari makan, hanya tahu akan lapar tak

sayang akan dirinya berebutan dengan temannya, mati kau hidup aku, anak bini tak disayanginya, hanya mementingkan

kenyang perutnya saja.

787. Disebutkan golongan tumbuh-tumbuhan yang beruas, yang

hidup di dunia, tidak dapat ke sana ke mari, ditempati benih

dan embun, dari panca maha buta, ia hidup tetapi tak bisa berjalan, berbeda dengan binatang itu makan daun dan yang lainnya, yang menjadi telur kental pada badannya.

788. Sebutkan manusia yang jahat, besarhawa nafsunya, yang

menyebabkan itu makan segala, tidak tahu akan daun- daunan, dan segala tumbuh-tumbuhan sampai dengan buahnya, binatang burung dan ikan, itu semua golongan yang hidup, telur daripada panca maha buta, semua mem- punyai darah merah.

  1. Itu yang dipakai penghidupan, oleh golongan manusia bermacam-macam daging dan darah, itu membangunkan maha loba, sebab di sana ada telur, lahir pada tubuh manusia, menjadi lima bahan, yaitu panca maha buta me- resap pada tubuh manusia.
  2. Loba makan karena indria yang besar, sampai tak dapat bergerak karena gemuknya, jadi ingin dia supaya ditakuti, sebab dia iri hati dan suka dipuji, menentang kebenaran, senang mencela mencaci maki, bagus aku sakti aku, tak ada lagi yang lebih pandai, demikian pikiran orang yang kurang akan ajaran agama.

    791. Mengakibatkan menentang perbuatan benar, ucapan ajaran

agama, ilmu pengetahuan tidak mau melekat, kepada orang yang tidak mau belajar, begitu anakku raja sekalian dari anakku keturunan bangsawan, janganlah anakku lupa me- nyadari, mengatasi suka duka, selalu menerima (suka duka) jadi manusia.

XXXIV

  1. Lagu Sinom menggantikan, melanjutkan nasihat semua, wahai anakku Dharma Wangsa, jadi raja menguasai dunia,

jangan menolak dan jangan minta, terimalah oleh anakku apa saja yang datang, datangnya suka duka, dan lagi sakit mati, jangan takut, menjelma memikul perbuatan.

  1. Walaupun terhadap segala makanan, harus diterima asal datang, jangan menolak dan jangan memilih makanan, terima oleh penglihatan saja, itu tanda tidak bingung, terang benderang namanya, tetap percaya akan kebenaran itu, sungguh-sungguh bangsawan, baik-buruk selalu dipertim- bangkan olehnya.
  2. Ada roda (cakra) di dalam badan, delapan banyaknya semua, itu alat kepandaian, hina itu empat semua, utamanya hanya satu, tiga termasuk media yang menyebabkan jalan ramai, keluar menjadi bayu, sabda, dan pikiran itu di dalam roda yang utama.

    795. Tiga cakra yang sedang sesuaikan dan putar selalu, itu di-

pakai penyelidikan, jauh dekat agar diketahui, karenanya anakku raja utama, supaya waspada pada waktu datang, walaupun perbuatan suka duka, merupakan bekal dirimu datang, agar tahu tetapi sangat sulit sekali.

  1. Itu ingatkan anakku, bila belum jelas tahu, tanyakan kepada guru kalau olehmu jadi sakit, gila sangat jadi bingung, disebut terkutuk sastera ada lain menyebutkan diri kotor mempelajari itu, belum suci karena ilmu pengetahuan itu sangat rahasia.

    797. Hanya pengetahuan bapak, juga itu bekal untuk menjelma,

sepuluh bagian dibawa, sekurang-kurangnya delapan bagian, bekalnya turun menjelma keutamaan agama yang menyebabkannya, mudah ia memutar roda, belum diputar sudah berputar, dan bersatu, yang menyebabkan tembus oleh penglihatan.

798. Sangat sukar tempat itu, entah berapa lapis, di tiap-tiap urat

bertempat, karenanya sangat sulit, jika salahcara jadi bingung, amat rahasia anakku raja, kalau kurang bahan- bahan, tak mungkin akan diketahui, makin dungu, gelap

pikiran menyebabkannya.

  1. Orang-orang yang ditempati oleh perbuatan baik, sepuluh bagian yang utama, keturunan Biksu yang mulia, tiga kali lagi menjelma, selalu ditempati, tetap kekal amat semadinya, dari dahulu berabad-abad, menjelma juga suci, masih jujur, jasanya menjadi contoh.
  2. Sudah tercantum di dalam pepatah, disebarkan di dunia laki perempuan membicarakan dan tua muda anak-anak orang dewasa, suratan tangan yang menyebabkan, menjadi kita miskin, walaupun belajar masih tumpul juga kalahiran bodoh, memang nasib sial, tidak bisa ditolak.
  3. Perbuatan semasih hidup yang menyebabkan menjadi bekal menjelma, jika Biksu menjelma, itu semuanya licin, sebab rodanya selalu berputar, walaupun tidak diputar di sana, pertemuannya tidak tajam, jadi hati-hati dan pandai sekali, memang sesuai, bekalnya orang keturunan bangsawan.

    802. Filsafat orang bangsawan, weda utama yang memayungi itu,

asta guna yang melindungi, kera-putih mengabdi, ituber- nama burung sempati, yang menjaga di belakang, dan di

depan, belum diperintah sudah berangkat, terbang,

mengelilingi dunia, menolong orang yang sengsara.

803. Banyak orang salah terka, menyangka dewa dan Widhi,

pada waktu sedang hidup sengsara, yang meresapi dirinya dan menasihati, memberitahukan bahan obat, itu selalu memberikan, walaupun orang melakukan berata, memohon

agar dia mujarab, itu datang, memberi anugerah kepada

orang yang memohon.

804. Penuh keahlian orang bangsawan, menjelma jadi raja jadi

perlindungan dunia, masyarakat umum menghormati semua, anakku raja sebagai sekarang, agar tahu akan perihal yang dulu, itu pegang baik-baik, dipakai menimbang hidup mati, sampai kemudian hari, memimpin perang Bratayuda.

805. Sekarang sudah semua tahu, jangan termangu. di sini

menikmati asta guna, walaupun dipuji memegang pemerin- tahan bukan bekal itu semuanya, yang delapan perlindungan

kerajaan, dan yang dua kekuatan, dipergunakan di sini memelihara dunia, supaya selamat, perbuatanmu mengatur rakyat.

806.Sama itu dengan kekayaan dunia, hanya dipakai bekal pada waktu masih di sini, dipakai penghidupan sambil mengatur rakyat, bukan itu bekal pulang, pulang ke tempat asal utama, jalan kebenaran tulus ikhlas, tidak obah meng- apalkan weda, lima puluhseratus kali sehari, budi sabar, mencari lampu membawa penerangan.

807. Itu bekal anakku pulang, sampai meninggal dunia, sinar

yang tenang tak ditiup angin, kemudian merupakan lampu kemari lagi jangan anakku ragu-ragu, semasih hidup dan di- junjung, budi yang utama diusahakan, sambil memelihara dunia, berkata sambil tersenyum, para raja Pandawa.

XXXV

  1. Ya, tuanku paduka yang maha mulia, puas hati hamba menerima nasihat sejati, memang benar, dari berbuat baik.

    809. Ya, betul supaya tak kesasar hamba menuju, jalan yang

utama, berpikir dari sekarang, bersama tuanku, kemudian agar kami bersatu.

810. Anugrah tuanku, hamba junjung siang malam, sangat setuju

hati hamba, sebagai ratna utama, menyala berkilauan, yang menjaga dijaga.

  1. Tak terkatakan lamanya mereka bercakap-cakap di sana, semua sama-sama senang, laki-perempuan yang ada di istana, sudah dipersembahkan, makanan yang utama.

    812. Para raja, para pendeta semua datang, mengiringkan maha

resi suci, percakapannya semua baik, sudah selesai, diberikan ajaran utama.

813.Semua sudah selesai, di istana Pandawa, diberikan air suci, disertai dengan doa kemenangan oleh maha resi, Bimaniyu didoakan supaya mempunyai keturunan.

814. Sudah selesai percakapan waktu tengah malam, lalu maha

resi berkata, aduhai anakku, sekalian, supaya baik-baik di sini anak kutinggalkan.

XXXVI

  1. Maha Resi berkata, wahai anakku para raja semua, di sini anakku supaya selamat, ayah meninggalkan sekarang, sete- lah para raja menyembah, lalu keluar Sang Hyang Maha Kuasa, dari badan Dwala, Sanghyang Siwa sama-sama mengikuti, sudah terbang, melayang-layang di angkasa.

    816. Karena benar-benar berwujud Widhi (Tuhan), seketika

hilang semua, semua para Pandhawa bergembira, negara makmur dan penduduknya sangat hormat, barangkali tidak lagi mereka duka cita, Sri Kerisna membimbing di sana, dan Raja Dharma Wangsa, mengatur isi dunia, supaya me- nemui keselamatan, yang berada di negara Madukara (Indra

Prasta).

  1. Tersebut sekarang Lurah Petruk, sejak Sanghyang mening- galkannya, oleh Sanghyang Maha Kuasa, lesu suram dan kuning rupanya, sebagai orang baru bangun, melongo ia duduk bersila, dipeluk oleh Gatotkaca, digendong diajak ke istana, disayangi ia di sana sekehendaknya diberikannya.

    818. Para wanita menyayanginya pagi sore dan siang malam,

menghormati dengan menyajikan bermacam-macam makanan Bimaniyu kasih sayang, tentang caranya mengabdi, Lurah Petruk disetujui di situ, memerintah negara di Indra Prasta, semua orangmempercayainya karena telah dapat bersatu dengan Tuhan dan tahu akan ajaran-ajaran agama.

  1. Terang negaranya di Indra Prasta, perwira menteri gembira semua, dan sampai kepada rakyat juga senang, meniru sifat rajanya, ajaran kebenaran dijunjung, laki perempuan semua menuntut, melaksanakan jalan benar, siang malam tidak berobah tak ada pencuri, sebab bahan makanan tak habis- habisnya.

820. Sejak itu makin pecah, negara Astina dan Pandawa sejak

panca parwa (Udiyoga Parwa), itu mulai pecahnya dulu, Sri

Duryodhana, iri hati sangat benci, dan patih Sakuni juga

Karna, Dusana lagi seorang akhirnya di sana, mengadakan upaya buruk.

  1. Resi Drona memujikan beliau juru adu dan memimpinnya itu perbuatan orang kesasar, tidak bisa dirobah lagi karena sungguh keturunan gandharwa, yang menguasai penjelma- annya, lain dari golongan manusia, panitisan dewa semua, menitis di sana, turun di sana, jadi raja di Indra Prasta.

Geguritan

BAGAWAN DWALA

DIREKTORAT JENDERAL

KEBUDAYAA

A AT

GEGURITAN BAGAWAN DWALA

I. Pupuh Sinom

Krop: 108

  1. Um awighnam astu. Ring Sukran Krulute kocap, iseng tityang ngawi gending, sasih Katiga nujwang, ping lima tanggale nampi, saka war- sane ring Bali, syabangsit seket tlu, yen ring saka Walanda, syabangsit satus mangkin, tanggun ipun, tigang dasa mwang sanunggal.

    2. Pangkah tityang ngawe gita, guru tembang lyunan plih,

wirasane kabwatangne kastuti sai-sai, labdane numadi jalmi, mulyan awake satuwuk, manadi wang paran-paran, bekele buktyang sai, ring desa mungmung, na ring loka Nabastala.

3. Basa Bali popolosan, sumasat anggon pakeling, anggon

ngempu anak muda, mayus punggung. momo drenggi, lanang istri maka sami, eda benya tani lingu, eda engsap teken gagaman, tutur sastra sai gulik, apan ditu, kandane makjang tinggar.

4. Kandane dumadi jadma, matapa lacur digumi, tusing len sai

ulahang, ngalih daar sambil makerti, peteng lemah to pinehin, ngalih gawe aja mayus, anggen ngamretanin awak, darma patute marganin, nyilih nyaluk, mangrawos madasar melah.

  1. Tersebut di dalam kitab, rawos Malayune nguni, papetikan saking parwa, Bimaniyu pacang memanggih, wenten ratu ka- sub luwih, I Djajakusuma iku, hana ring Prang Gampuran, maputra ida kakalih, lanang wadu, sami pada wicaksana.

  2. Putran ida sane lanang, wicaksana tan patanding, Raaden Djakasantosa, kastawa parabe jati, pekik nulus tan patanding, wisesa sakti manrus, lintang waged ring payudan, okan ratu lintang luwih, wirya nulus, watek ratu sami ngandap.

  3. Lwih purine alah swarga, puri mas tegeh manginggil, catur dwara mas dumilah, sasocan mawarni-warni, syang latri pa- kunyitnyit, peteng lemah ditu, saru bumi landuh panjak jir- na, watek ratu samyan jrih, maling takut, ring ratu Prang Gempuran.
  4. Sane istri mangkin kocap, putran ida sri nrepati, kalo ka twi parab dyah, ayu anom tur apekik, Dyah Dewi Sandat- pangasih, nika jati putra ayu, ring jagat tong ada pada, sarahuwing atas langit, nyandang sungsung, maka kancing- ing kagungan.
  5. Malinggih hana ring taman, para inya ngemban sami, syang dalu maka kidungan, ngiring ida raden dewi, maring bale mase asri, bale kembang tengahing ranu, maj lijih inten mutyara, tlas warnan puspa sami, wenten ditu, bungane mejajar-jajar.
  6. Dening ayune kalintang, katah sang ratu mamadik, sami nora kadagingan, dening putri budi suci, meweh ida sri bu- pati, mamawosin hyanak ayu, surat panglamar tan pegat, ngandika ring raden mantri, sang nak bagus, apa upayane nanak.
  7. Arin ida ne sang dyah, dening ayu tan patanding, ratune kweh maminang, sami nora kadagingin, tan mari ngawinang rimrim, tan wangde manados sungsut, saget sengit makabehan, rawuh nya mangrusak gumi, bapa lacur, legane ngawinang rusak.
  8. Djakasantosa mananggal, sampun ratu Sri nrepati, sungkawa indik punika, nunas tityang manangganin, sena patyang mangkin, becikan undangang ratu, sewalapatra margyang, tri lokane undang sami, kancan ratu, kabarin ma- sewambara.

13.Ujyong kasaktyan tityang, aturin watek bupati, yan ti-tyang

ngemasin pejah, sampun ratu pacang sdih, punika margane pinih luhung, mungguh seda ring payudan, aturang raaden dewi, ledang ratu, nika wantah jodon tityang.

14. Sapunika nayan tityang, pade ngunggul tyang ring jurit,

janten wantah-putran bapa, Dyah Dewi Sandatpangasih, tan payodona ring gumi, kagungane wantah kukuh, dadi kan- cing kaagungan, sang prabu ngandika aris, nika patut, luwir ning nayan idewa.

  1. Wira mantri mamatutang, glis ida sri nrepati, makarya surat pangundang, langan ring limang tali, rawuh ring agunge sami, yagat tiga geger umung, rawuh tekeng swarga loka, sampun nrima kabar sami, osah ditu, agunge ring tanah Djawa.
  2. Ring Indraprasta kocapan, dane Semar ane mangkin, ngawula ring Sang Pandawa, tosing dewa maka sami, ngelah pyanak telung diri, Tjapat Gareng miwah Petruk, maka tiga sami lanang, taler dewa manumadi, lintang pangus, kakasih Raden Arjuna.

    17. Kabwatan ida manjanma, mangempu sang limang siki, ring

brata yuda mangda menang, solah nyane beda sami, pada rena nora sengit, btek seduk tusing lingu, yadin nemujle melah, masih ngigel ya manyanyi, kanggo ditu, Sang Pandawa sampun wikan.

  1. Lebih-lebih babikasan, dane Petruk kreng mamaling, perlu banat kutang-kutang, tong mwatang kasukan luwih, sarwi ngigel gending-gending, solah nyane kadih buduh, pangang- gone sarwa wekan, awak keskes turin gudig, gde landung, sukune bawak dikanan.
    19.Mata gde idung lantang, twara kimud kakedekin, pesu cita twara ginggang, tumus mangastiti Widhi, selahe tan manut krami, twara mwatang barang luwung, juru empu-lintang sayang, ngempu anak Sang Keriti, Bimaniyu, Petruk dados pangemban.

  2. Wang puri sami ngojahang, I Petruk kreng mamaling, kadanin I Kantong Bolong, dening kowos tan sinipi, I Dwala adanin malih, dawa panjang alah lacur, psu mulih naring puryan, ngempu okan Sang Premadi, tahu ditu, daging ra- wose ring puryan.

  3. Meweh-wawu nampi kabar, sewambara Sandatpangasih, ya I Petruk milu jengah, sambil ngempu kemo-mai, ngaroro sami tan uning, majalan salaku-laku, ngojok ring Pancaka Tirta, madyus sareng kakalih, kelem ditu, tiba maring dasar toya.

    22. Saget mangguh umah mlah, macelep ditu ngulining, ambu

wangi maimpugan, wenten mka lintang asri, I Petruk ngawas ngalingling, mangedekin awak ipun, lawat Iyan katingalan, anak bagus tusing genjing, inab caluh, usud-usud twara bakat.

  1. Pun Dwala geregetan, pantigang mkane mangkin, belah remuk tur makapyar, Sang Hyang Wenang nulya mangkin, ngandika sada manis, bapa tahu ring I Petruk, tindih bakti ring Pandawa, mangardinin ayun bumi, budi alus, suci ngastawa batara.

    24. Ne ada paswecan bapa, tampi cening ane jani, ne baju An-

takusuma, panganggo satunggun urip, ring gwan gununge paranin, Wedastinatar puniku, arannya ikang patapan, Bimaniyu pundut cening, ajak ditu, aywa obah mangastawa.

  1. Ne ada buwin patpat, anggon panjak ditu cning, tunden ngemit dipatapan, sakti ririh maka sami, Bayupaksa ne abesik, Bayuwara timpal ipun, Bayusendung diping tiga, Bayusiddhi bwin abesik, ajak ditu, kemo yani ya majalan.
  2. Kantong Bolong raris nyembah, tumuli raris mapamit, Bimaniyu jang dikantong, langkung maring taman gelis, peteng lemah ya mamargi, nyusup alas menek tuwun, tan ucapan ya dijalan, ring patapan sampun prapti, kala suwung, jumujug ring gwaning sela.

27. Nulya ditu nangun tapa, ngalas alas katandurin, kacang bun-

cis kladisebrang, ksela waluh komak ubi, brangbange tan kari, suladri kucai niku, tuwung lobak miwah kentang, pala

bungkah tetep sami, pala gantung, maka miwah kancan

kembang.

28.Melaksana dadukuhan, kaswen wawu mawoh sami, nedeng sami tan pamasan, kabiyaya sane mangkin, ortan nyane ring panyanding, ring desa miwah ring dusun, napi malih ring pondokkan, sami rawuh nagih mli, pada asung, mararapan sarwa daar.
29. Tong mwatang panukunnya, asing teka baang ngidih, twara ngitung luwun jagat, sok budi sane astiti, darma sadune pinrih, awak keskes tan kalingu, ngulahang jagate mlah, sa- king jati mangardinin, dadi caluh, nyama braya asih teka.
30. Sasat ngalap tan patangan, mretane sai nekanin, dening suba sidi ngucap, kancan sakit katulungin, sami seger katam- banin, sumingkin anake asung, lacur tiwas katulungan, jan- ma gunung lega sami, sampun dangu, madu kara ne ko- capan.

II. Pupuh Pangkur

  1. Naring nagara Amarta, kari alit ngka ring Astina nguni, lan akedik wadwani pun, bandingang ring Astina, ta ler kirang, kataman pura ne ditu, Marta pura ne kasoran, mangguh yuda sai-sai.
  2. Agunge Sri Dharmawangsa, Puntadewa miwah Prabu Dhar- masiwi, inggih ratu lintang sadu, ta lingu ring barang mulya, sarwi manis, pangucape lemah lembut, kapaksa jumeneng nata, ulyan ari ne subakti.

    33. Panjak nora kalingwang, nunggil ida mangastiti Sang Wyang

Widhi, twah rena panjake ditu, sami mangangkuhang awak,

sri bupati, meneng mretah panjak sampun, puput nunas ring

batara, satata mangempu bumi.

  1. Pandita ne katah wikan, panjak kweh nangun tapa manya rengin, waneh pandita ne rawuh, manyawita ring Amarta, mwang bupati, kweh ane nyeba ditu, niru solah kapatutan, kaajar ring sang bupati.
  2. Ratu corah momo murka yaning rawuh irika ring Marta puri, sami sadu lintang kukuh, irika maring Pandawa, sang mrepati, panjak sanake puniku, sami masnehan pura, bina- bina kawastanin.
  3. Maharaja Puntadewa, maring jro Amarta ida malinggih, Sang Wrekodhara kawuwus, ring Amunggulinga stana, Sang Premadhi, ring Madhukara malungguh, baguse tan patandi ngan, tri loka ne sami lilih.
  4. Ida Sang Hyang Kamadjaja, jadi kasub ring Tjakrakembang malinggih, ida wantah pinih bagus, ring pakumpulan dewa- ta, ring sawargan, Raden Djnaka wantah ngunggul, watek wadu sami osah, renoh sami ring Kiriti.
  5. Ngodag bagus Sang Arjuna, antuk rupa, manados panyakit istri, widyadari sami ibuk, kalulutan ring Djnaka, rabin ida, katah tan kena kaitung, sakti luwih mawisesa, maprang tong tahen kapijig.

    39. Akweh manah mautama, kala nadah sara tama Pasupati,

puli geni ne kawuwus, sangkal I Baruna astra, I Dadali,

Brahmastra luwih puniku, matandingan ring paprangan,

ngunggul ida tan patanding.

  1. Raden Nakula Sadewa, maka rwa tindih maring kaka aji, syang dalu ngiring prabu, mangiringan rakan ida, nuju rawuh, sametonan sami parum, inggih Sang Panca Pandawa, kalih bawudanda sami.

    41. Miwah Prabu Dwarawatya, mapuspata, Sang Prabu Kresna- murti, mwang Gatotkatja rawuh, Prabu ring Pringgabaya,

LurahSemar, Nala Gareng tansah ditu, nangkil maring In-

draprasta, tan tiyos ne kabawosin.

42. Icale Angkawidjaja, putran ida, Raaden Premadhi, sareng

Kantong Bolong iku, kakasih Ida Sang Parta, sing ja lenan, pyanak I Semare gde landung, byange Dewi Subadra, sung- sut ida tan sinipi.

43. Tansah nimbangang wacana, Sri Kresna, plapan ida

nyawurin, yan tan ngambul icning bagus, nguda ilang tan pa- sangkan, nika timbang, sareng-sami adi agung, Wrekodhara sawur nimbal, Lurah Semar kanikain.

44. Ih-Twalen apa kranannya, pyanak-mu ne, I Petruk tong kar-

wan jani, ilang bareng Bimaniyu, Lurah Semar raris nyembah, tur manyanyi, matembang Ginadasandung, mangigel sambil mapolah,semu pangid twara imbih.

III. Pupuh Ginanti

  1. Hambapuntidak tahu, ke mana tuanku pergi, Raaden Angkawidjaja, satrya ring Dwarawati, kalih nya I Kantong Bedah, silahkan tuanku cari.
  2. Mnawi tindak maring embuh, yan mampir dateng ring pun- di, panggenanipun wikana, punapi perlune ugi, ilaptaisa punika, apunten ringenjing benjing.
  3. Pintan ugi nora weruh, lunga karepe pribadi, mongsa tak urung balya, kanti nganggo digoleki, wisgade mangsa ila nga, sing nya malabuhing deli.
  4. Nadyan malabuh I Petruk, sukar ku kapati-pati neng omah dadi mamala, lunga ne oranga nguni, sapuluh satus tahunya, aja pesan uli Bali.
  5. Dane Semar nyembah matur, sampun ratu walang ati, icale Angkawidjaja,'Kantong Bolong ne mangiring, srahana ri ba- tara, tan urungana rawuh malih.
  6. Prabu nulya ida muwus, yogya twah ujar iki, jati dewa ne kwasa, satondene ida uning, yan tonden patut lugra ha, adoh ida pacang panggih.

51. Prabu Ngamarta mawuwus, yogya ujar sri bupati, Raden

Bima mamatutang, patut wantah rereh mangkin, lantarin ban susah payah, masa ke ya tong kapanggih.

52. Gatotkatja nyembah matur, yaning ratu manglugrahin,

mangkin wantah nyadya tityang, mangrereh ida i ari, Raaden Angkawidjaja, SangArdjuna manyawuring.

53. Patut wantah mangkin ruruh, dwaning ical sampun lami,

nora suka manah tityang, Dyah Subadra sarwi sdih, tan mari manunas lugra, ature madulur tangis.

54. Wedastimatar kawuwus, Bagawan Dwala ne mangkin, wawu

bangun pasemengan, ringgwa ne sareng sami, nginyah

sambilang matembang, sarwi ngigel madadingkling.

55.Satata rena ne ditu, twara ngitung napi, malih, sok baktine ring batara, papinehe bunter sai, aku dadi raja hutan, kan- can buron nyama sami.
56. Aku dewa aku ratu, aku panjak kapanjakin, asing reh ya ko- dagang, asing nunas katunasin, asing nyembah ya kasum- bah, tonden tagih kalugrahin.
57. Nora keweh nora tujuh, aku tiwas sugih sai, makejang suba gelahang, salwiring daging gumi, umah dapet suba ada, twara tawang mangicenin.
58. Lintang awet gedong batu, twara tujuhmangitungin, tong mabya ngana gobang, twara-ibuk pules etis, yadin nyalem- pang ditanah, masih ngrok piles etis.
59. Di Pandawa masih patuh, dipuri tegeh manginggil, puri emas masasocan, kasur lembut galeng guling, dipulese masih eng- sap, jele melah tusing eling.
60. Jagjag pules tahu ditu, tuwara ada napi malih, saling awake ingetang, uh ento barang utami, inget suba ada awak, tuwara masa maan nyilih.
61. Maan nyilih tuwara tawu, kaling ke olih manyilih, olih meli maan nyanda, tong tawang ne mangicenin, bakat anggon ngabas alas, ngarorod kapili-pili.

  1. Bagawan raris mangutus, ring parekane kakalih, Bajupaksa Bajuwara, aku ngutus-mu ne jani, Bajuwara ka-Astina, Bajupaksa Marta puri.
  2. Mangke kamu aku ngutus, pada nyilih na ring puri, pada nyelang kursi kagungan, payung agung pada siji, yan nora sang prabu suka, tagih sewa ditu cai.

    64. Telung sen aja langkung, payung nyane asen tagih, ayuh

jalan enggal-enggal, apang musti mapikolih, parekane kalih nyembah, lunga mabur buka kalih.

65. Ring jalan blas tindak ipun, Bajuwara Kastina puri, nuju

parum ring jabayan, sang prabu sedek katangkil, Sang Na- rendra Duryodhana, ring palangkan emas malinggih.

66. Masasocan endih-murub, wirya sang sri narapati, jagat

gemuh panjak jirna, sami tetep rawuh nangkil, wira mantri bawudanda, ebek tan palinggar sami.

  1. Nyanding linggihe sang prabu, Baladewa Sang Nrepati, sang prabu saking Madura, kalih Sang Prabu Sakuni, ratu ring Gendara desa, papatihe mengku bumi.
    68.Ping tiga Awangga Ratu, Surya putra sri nrepati, Sang Karna wantah punika, papatihe nomer kalih, ndatansah nimbang wacana, masewambara ne mangkin.
  2. Sang Kurupati mawuwus, tulung nira ane jani, pamekas Sang Surya putra, sane mangking pikolihin, makadi bapa pandita, meweh tityang tulung mangkin.
  3. Dhanghyang Drona ngupak tenung, ngucar weda sarwi kenyir, ayag ayog mailegan, tan mari metek jariji, maatur ring Kurunata, cening agung pireng jani.
  4. E e e e u u u u, malih wantah cening mangkin, janji dewa wantah sadya, nah keni Sandatpangasih, putri dadi kancing pura, ring brata yuda mikolih.
  5. GirangIda Prabu Kuru, mangandika sada manis, kakang Adipati Karna, lunga sadinane mangkin, sareng Sang Sakuni paman, Sandatpangasih jag ambil.

IV. Pupuh Durma

  1. Geger umung wadwan Astinane mangkat, saha sanjata sami, Sang Karna mangoregang, Sang Sakuni Baladewa, wawu medal saking puri, ne mangkin prapta, Bayuwara mangaran- jing.

    74. Nulya kandeg Sang Prabu Karna jaga mangkat, nyingak

Sang wawu prapti, utusan raris manyembah, tangkil ring

Sang Kurunata, kagyat Prabu Kurupati, na ring paseban, nyingak sang wawu parapti.

  1. Mawacana Prabu Suyodhana, ih to yen teka mai, nyen teka mai, nyen tuwi adan iba, uli dija sangkanya, miwah nyen nu- duhang, tekan iba ulat gati.
  2. Inab ada kabwatan iba teka, sang utusan matur singgih, pukulun Bayuwara, saking Wedastinatar, watek tapa patih aji, wantah utusan, Dwala Resi singgih aji.
  3. Sarat ida ngutus patih maharaja, yan tan madaging sisip, yan ratu asung lugraha, hana ring pinunas tityang, inggih sadyan tityang mangkin, twah manyelang, kursi emase maukir.
  4. Plangkan rukma mani kagungan sang nata, nika kaslang ring sang resi, Sang Sujodhana kagyat, hana ring munyin utusan, knyem matah semu kerit, wawu mamirengang, kipak kipek sarwi knying.
  5. Warna bang dening bendune kalintang, utusane matur malih, munggwing ida padanda, kalintang miskin pisan, malih nenten makulambi, ring tengahing gwa, ring tengah ing alas sepi.
  6. Durung tatas yan jaga napi manylang, yadin nyewa tana gingsir, sampunangke mahel pisan, sewa kursine punika, tigang sen ida ngiring, tan tempowan mayah, sampunika sri bupati.
  7. Sapunika utusane mapinunas, bendu Sang Kurupati, eh iba Bayuwara, oja iba mapta, mlah iba suba mulih, Prabu Madura, sareng bendu tan sipi.

82. Tur ngandika maceguk teken utusan, manyarireng tur

manudingin, ah iba Bayuwara, panditan caine edan, bareng iba buduh jani, tong tahu adat, buduhe aba kapuri.

83. Bayuwara srenggara matur sembah, boya ja buduh sang resi,

tityang inget melah, boya saking ngawagawag, ida ngutus saking aris, ngutus tityang, yaning kapo ratu sudi.

84.Dwaning tityang ne dados utusan, rawuh tityang saking jati, nora ke tuna liwat, atur tityang ring idewa, yaning ledang ngicen nyilih, kapo tan ledang, durusang ratu mawosin.

85. Aladhara tan mari kari mamatbat, ento pandita cicing,

kaliwat candala, to belere kawekas, panditan caine babi, kapala begal, buron alase dumadi.

86. Iba masih buka keto tusing bina, utek-mu utahan kambing,

kakolonganparas, jiwane jiwan lalasan, matur Sang Sri Wanggapati, ring Baladewa, sampun bendu Sri nrepati.

87. Bayu gunaning dados utusan, atur nya wantah ywakti,

Baladewa duka, tusing nyandang ya idupang, Bayuwara

masin jani, lamun iba getap, padandan iba ne alih.

  1. Tunden mai ne jani lakar matyang, bangkenyane bangin cicing, lakar bangin gowak, kewala ke tendas iba, depang kutang malu dini, gundalahin sandal, Bayuwara nulya pedih.
  2. Raris ngadeg pesu munyi sada banggras, nah jani kai mulih, ngaba tendas iba, padingehang Baladewa, centokang twah ne jani, lamun prawira, mai pesu ngadu sakti.
  3. Raris ngadegSang Prabu Baladewa, Bayuwara kapaid, rawuh ring bancingah, matunggalan ditu maprang, uyut pa- nangkil ne sami, magenturan, Sujodhana raris ngranjing.
  4. Danghyang Drona jejeh sada glis mangiringang, mengkeb maring jro puri, Adipati Karna jengah, miwah satus Korawa, wirang Ida Arya Sakuni, mdal kapayudan, ngrebut musuh mangembulin.
    92.Bayuwara sebet ngamuk wicaksana, sebet nayne tan sini pi, tan bina paksi nglayang, gancang dane maya-maya, tan mari manyanderin, keweh pada sang nandingin.

  5. Nulia lengeh satus Korawane samyan, ndatan dugi manan- dingin, luyuk tan pananggal,Baladewa mangwalesang, masasumbar majajengking, uduh mati iba, kai suba lintang sakti.

    94. Ditu Dane Bayuwara mangarepang,maglut ya saling gait,

Baladewa sahasa, nyawup gelis mamantigang, Bayuwara

katinjakin, dugi mangsegang, Baladewa jengkang jengking. 95. Mangalokang masasumbar sarwimatbat, ngalah ungkur

manangtangin, onyang kadang iba, Bayuwara inget melah, bangun alon manesekin, nyawup mantigang, Baladewa ma- nyung kiling.

96. Enek bangkyang matagelan kapangsegang, magaang

nglawan lawanin, bawu mara ya manegak, Bajuwara ya ma- nyepak, adoh runtuh manyuririt, sumasat bola, kasepakin kemo mai.

97. Baladewa kimud ida mangaduhang, tahenang sampe nga-

jengit, sakita kagibrasang, mangambil hru Tenggala, kapen- tangang sada aris, ring Bajuwara, mabur dane gelis.

  1. Ring ambara Bajuwara masasumbar, ane keto lakar tagih, mai ka Wedastinatar, lamuniba pra wira, ngadu jurit kai tandingin, Sang Baladewa, jengah ida tani gigis.
  2. Raris mantuk makemit maring puryan, satus Korawa ne panggih, mwang Adipati Karna, muwang Prabu Gandara- desa, marembug jejeh tan sipi, pada nandang wirang, reh musuhe tonden mati.
  3. Saling tambung rame pada mangucapang, Prabu Kurupati nyawis, punapa dayane.paman, uduh Sang Gendara Raja, Sang Sakuni manyawurin, duh dewa sang nata, munggwing nayan tityang mangkin.
  4. Bagi tiga wadwane ida sang nata, neabagi-ngemit puri, ane kenjang mangda lunga, ka Prang Gempuran pura, neabagi mangda ngiring, ngejuk bagawan, ka Wedastinatar giri.

102. Raris ngandika Prabu Madura, tityang tan ngitung pangir-

ing, nglebonin pun pandita, laker ejuk pantig-pantigang,

bareng nyanak tityang kakalih, Wisata Walmuka, mai jani magagedig.

103. Watek ratu telas sami mamatutang, makire pacang mamargi,

na ring Prang Gempuran, sregep sami masanjata, geger umung na ring, margi, masewambara, makolihin Kurupati.

  1. Kalih bagi Wadwane wus mamarga, Kurupati na ring puri, panjake ngemit satata, Baladewa sampun mangkat, Sang Karna sareng mamargi, miringan panjak, satus Korawane sami.
    V. Smarandhana

    105. Sang Pandawa puput mangkin, matimbang ring Indraprasta,

miwah Ida Prabu Kresna, miwah bala mantri samyan, nga-

rereh Angkawidjaja, watek ratu ngiring sampun, reh pacang

masewambara.

106. Sregep masanjata sami, wawu mijil saking pura, utusan teka

nomplok, tumedun saking ambara, punika sang Baju paksa, saking adoh nyembah matur, ring ida prabu Pandawa.

107. Kagyat ida sareng sami, manyingak tingkah utusan, Prabu

Dharma ngandika alon, ih sapa kita-kocap, mwang saking punapa sangkan, yan ta apa hana perlu, kita dateng ring manira.

  1. Bajupaksa matur aris, singgih ratu sri narendra, Bajupaksa ikang nama, wong saking Wedastinatar, hana ring gunung patapan, Danghyang Dwala mangutus, mangaturang lingga tangan.

    109. Surate katrima aris, na ring Prabu Dharmawangsa, tumuli

kakupak alon, kameng unining sewala, Gatotkaca kandi kayang, wacana manis sang Prabu, cning indayang mamaca.

  1. Gatotkaca masahur aris, nyalempoh mamaca surat, kipak kipek swe bngong, tani karwan munyin surat, dwaning aksa- ane kasar, swarane arang masambung, Brantasena sawur banggras.
  2. Ih wih med aku nyantosin, dot makita manawang, sangetang-mamaca Gatot, kenken to jati munyinnya, Gatotkaca matur sembah, singgih sang aji pukulun, aksarane saru pisan.
  3. Langah-langah pun mamunyi, tulis-kadi kekeh syap, kaswe dane mamawos, cutet swarane katurang, sapuniki swaran surat, pandita suci teka ring mu, eh kamu Dharmakusuma.
  4. Kursi masewake nyilih, ci ci ci Prabu Amarta, kento payungannya, mwang tunggul mapinda naga, nah wake in- dayang baang, salawase aku idup, apang tahen cepok dowang.

    114. Anggut-anggut negakin kursi, mwang payung emas, o yan

lega twah engko, Bajupaksa ento baang, yan pade patute nyewa, dwang sen aja langkung, telung sen masih enyak.

  1. Tongos-ku negak manyanyi, twah aku Danghyang Dwala, pandita lintang sucine, Wrekodhara muka abang, magyet tur magemelan, mirengang surat puniku, ban krumane lintang kasar.
  2. Tan pasamodana gelis, sareng Dane Gatotkaca, kacekuk ikung utusan,kapaid rawuh ring jaba, utusane Bajupaksa, kakembulin tur karebut, magenti dane mantigang.
  3. Tenyuh twas Sang Dharmasiwi, sareng Ida Prabu Kresna, mangenang iyutusan, medal ida sinarengan, tansah Ida Sang Arjuna, mangalangin sang mapagut, sami nyawup mang- lisang.
  4. Sang Bima-kagelut gelis, olih Ida Prabu Kresna, Sang Gatotkaca reko, kagelut ring Sang Arjuna, San Bayupaksa punika, kasambut ring sang prabu, enden adi Brantasena.

119. Mangandika sarwi manis, mwang cning Sang Gatotkaca, tan

yogya utusane, pacang adi cning medihang, utusan twara salah, bagawan sane mangutus, melenger Wrekodhara.

  1. Akweh ujar sri nrepati, mangarumrum anten ida, Wrekodhara matur alwan, durung lega manah tityang, yan tan pe- jah pun utusan, Prabu Kresna nimbal matur, tan wenang adi Sang Sena.
  2. Utusan tan wenang patinin, kmak kmik tur mamandreng, adi pedihe kekepang, jroning atine simpenanang, saksat

    batur bli Dharma, ingetang awak kawengku, pedihe masih

endepang.

  1. Ring paseban tata sami, manangkil ring Prabu Dharma, Bayupaksa taler ngasor, tan mari sang prabu nimbang praka- ra yuda punika, uduh adi maka catur, jajeneng ka ka kesawa.
  2. Prabu Dharmasiwi mangkin, mangandika ring Sang Sena, aduh adi dong pirengang, aywa laksana, ring utusan Bayu

    paksa, dening jati ya kautus, olih Bagawan Dwala.

  3. Arya Bima matur singgih, pukulun sri narendra, sanget bendu manah ku ne, dening sanget mangandapang, twara tahu ring kagungan, hana ring jeng kaka agung, aku masih sam- poleha.

  4. Wanten pandita ya bani, manyilih kursi kagungan, nika pandita alasan, sanget panes manah tityang, kadi geni tibeng minyak, dugi sakit dadan aku, tong bisa aku ningehang.
  5. Lurah Semar manyawurin, jati twah-nora simpang, ambeke sang mraga anom, dwaning darah kari muda, wantah glis, bangun malwab, manadosenggalan bendu, ngwangunang inang mayuda.
  6. Pateh wantah agung alit, tityang wantah sapunika, lebih lebih kari anom, wanenan ring Gatotkaca, pun Gareng kdek ngojahang, ah beneh munyin bapan-ku, aegan ring Wrekodhara.

  7. Sang Kresna ngandika aris, durus adi Prabu Dharma, bawo sin ika yudane, dharma ulah anggen nepas, pamutus indik punika, Bajupaksa mangda mantuk, manyadwang ring twannya.

    129. Prabu Dharma mamingsinggih, ring Sang Bima glis ngandi-

kan, miwah Dane sang Djalamprong, kaping tiga Gatotkaca, nah adi pada makejang, lega yadin tan lega mu, bli wantah mamatusang.

  1. Arine maatur singgih, Sang Dharma raris ngandika, ne ja ni idep kakane, manarka karep pandita, inggih Bagawan Dwala, nagih nyilih kapin aku, payung tunggul kursi emas.
  2. Bli kwsa maka sami, kwasa bli manemitang, Prabu Kresna knyem mabawos, patut adi maharaja, sami wantah kwasan dewa, Brantasena alon matur, ledang ratu kaka nata.
  3. Lega wantah bline jani, luwir pangidih bagawan, Bajupaksa utusane, budine tka utama, munyin surat saja kasar, munyin nyane tan pasambung, sura nyane twi kasar.
  4. Bayupaksa nenten pelih, yadin karepe bagawan, tan tentu karepe momo, sing nya pranda tan sakolah, twara ngarti ma- sang sastra, pandita entikan gunung, sing tahu tata nagara.
  5. Sanget mabinayan adi, banding pandita nagara, makejit Dane I Gareng, dugi kedek kakak-kakak, aku tong skolah Blanda, lepasan sakolah dapur, bakat itung kapah-kapah.
  6. Ngabulan bakan itungin, kna baan telung rupyah, plakutus pang telung sen, petang ktip petang senan, to itungan mara ngenah, model baru cara agung, tusing dadi bakal robah.
  7. Ireng abang kuning putih, yen aku nyurat ring lontar, Lurah Semar nyawis age, dyam-dyam lyunan peta, ku sak tyan teken iba, ririhan ring sane jugul, nembang pangkur ya mapolah.

VI. Puh Pangkur

  1. Kapungkur wong kaya ingwang, akweh twi wangune dadi pasagi, bangsa ika-katon bagus, sirna tatasing sakala, ikat ku lambi, jarit-sabuk timang ipun, jam rante tan sama barang, lwih rupa olih dwit.

    138. Yan iku tanda satrya, yan ku cangkol wruhing kulit daging,

ngamongakan sandangan ipun, tana nganggo sarwa sumlang, ngasor ngunggul, wus mati ing menang ipun, sanadyan engsap ring yuda, wis mati yen antuk dwit.

  1. Prabu Kresna mangandika, duh rakryan Puntadewa-aji, kaya apa putus ipun, inggih mangkin tityang lugra, Bayupaksa aturang ring pandita-mu, pyokas aku ne aturang, aywa lama nyilih kursi.
  2. Yening puput kabwatannya, apang glis antukang kursine mai, glah ku wantah puniku, Bayupaksa raris nyembah, nggih sandikan, tityang pamit ring iratu, kursine sampun ka- tumas, sampun mdal saking puri.

    141. Wrekodhara jengis-pisan, rupa biru kadi mega ngmu riris,

manyingak kursi puniku, Sang Prabu-Puntadewa, wruh ida, ring siptane Raden Bungkus, sang Prabu mawacana, uduh cning Sisena adi.

142. Kangapeka kaka rakryan, ndatan lyan raga mula tpasin

Widhi, suksrahang mangda puput, sampunang ke sumlang

selang, jaba jro, budine mangda manrus, nyembahang sarwa utama, ne suci saja kapanggih.

  1. Lwir nandur pala mula, miwah kembang ne masari wangi- wangi, pikolihe mreta arum, RadenPermadi mananggal, nunas lugra, yening ledang jwa iratu, tityang ngetut kapa- tapan, lampah utusane mangkin.

    144. Mangda tatas sauninga, ring Bagawan Dwala ne sane

mangkin, sambil ngruruh Bimaniyu, raris ka Prang Gem- puran, managingin, Sang Djajakusuma iku, sang prabu ma- matutang, patut adi manilikin.

  1. Wrekodhara mapinunas, aku milu kapatapan manilikin, sang prabu ngandika alus, aja adi guna gada, ring pandita,

    Bagawan Dwala iku, dwaning saktine kalintang, pangucape

lintang sidi.

146. Prabu Kresna wicaksana, bli ke wantah nyarengin adi jani,

ka Wedastinatar puniku, matemu ring Sang Dwala, sahur

Dharma, patut wantah bli agung, ledang ratu kapatapan,

nyarengin ida i ari.

VII. Sinom

  1. Ne-mangkin sami mamarga, ngiring Ratu Dwarawati, Semar Gareng mangiringang, Gatotkaca ndatan mari, Bima Ar- juna manyarengin, tan kocapan maring enu, Gatotkaca nuli mesat, makeber ngambara gelis, lyan puniku, lumaku nyusup ring alas.
  2. Ring umah tapa ne kocap, Danghyang Dwala sane mangkin, wawu bangun pasemengan, ngambil minyak gending- gending rambute kriting apunin, mlecir kadi ikuh bikul, raris medal ngambil tambah, mangatipuk manumbegin, maba- bulung, hana ring tepining patapan.

    149. Nasak tapane bagawan, sidi ngucap tan sinipi, kasor Ida

Sang Hyang Siwa yadin dewa maka sami, asing kitayang ma- nadi, tan mari angidung-ngidung, surya bulan aku ngelah, ento sembe sai-sai, twara ibuk, suba glah tong bakat tumbas.

  1. Bintang galang masih ada, angin dingin manekanin, dadi glah tidong tawang, nyen kaden matamain, ndatan mari mangamilmil, jag kedek mangarukguk, uning dane ring pidadab, utusane makakalih, bagya lacur, Bajupaksa Bajuwara.
  2. Tembang sinom lagu Djawa, mangigel munyine manis, saja lacur Bajuwara, sing guguna ya manyilih, Bajupaksa mahan nyilih, nanging sakit ya karebut, yan matembang dangdang gula, rerambangan tlah engsapin, dangdang puwwun, lagu puluh maadukan.

  3. Jamur klabet sendrong wayah, jae bangle micagundil, sari lungid lan katumbah, pala lombok tabyakrinyi, babolong lan jruk nipis, tebu krawos miwahjangu, tmu ireng temu lawak, temu giri temu etis, payapuwuh,bayem jagung tuwung sumangka.

  4. Utusane kaget teka, kari ejoh kacingakin, Bajuwara tuwi matalang, nylempoh glis ngabakti, ngaturang unduke sami, sang pandita semu guyu, sarwi manggutan mirengang, ngandika ujare manis, kmo laku, twara kebang awak benya.
  5. Bwin ejohan lakar tka, Baladewa ngetut cai, Bajuwara tur matinggal, Bajupaksa nulya prapti, kacingak mamwatang kursi, payung wilis mwang tunggul, lintang ledang ida nyi- ngak, utusane wawu prapti, sampun katur, mangranjing hana ring gwa.
    155.Maring jan gwane kapasang, kursi emas mangrawit, tunggul agung mangapitang, sang resi raris malinggih, ayag-oyog swar-swir, prabu Madura kawuwus, putrane kalih ngir- ingang, Wasata Walmukamalih, sareng ngepung, pada dekah maangsegan.
  6. Mararyan soring wandira, mangawasang kanan kiri, tatan duran lintang jimbar, sarwa mokoh sami asri, kasob ida sri bupati, manyingak genahkulangun, gunung bunga kati- ngalan, nulya-gelis kadesekin, katon ditu, payung tunggul makembaran.
  7. Tan mari ida nangsekang, mangawas gunaning bukit, lintang asri, nora hana wong kaaksi, mawos ring okane ditu, umah jimbar inab hana, tatas sampun katingalin, tedung agung, tunggul naga dwen Pandawa.
  8. Kasengguhang Prabu Dharma, ring jron guwa malinggih, sahasa ida ngarepang, Sang Dwala kacingakin, mangundap mapi tan uning, na ring palangkan ndih murub, nang kju- tang Sang Baladewa, macguk swarane tinglih, ah uh uduh, Kantong Bolong bodri iba.

  9. Mangandika sang bagawan, sada knying tur manyanyi, ah uh uduh Baladewa, slamat dateng cai mai, to enyen ajak cai, sang prabu engsek dikayun, doning basa lintang kasar, ka- lingke basa maktinin, semu sungsut, Kantong Bolong tan- druh iba.

    160. Mangawales sang bagawan, beya Kantong nyaru cai, sang

prabu malih ngandika, ne I Petruk twah to cai, Sang pandita manyawurin, ne tidong dudu aku, Baladewa malih ngucap, panak Semar sane nguni, nyaru biru, panjak Ida Sang Ar-

juna. 161. Dadi cai ngawagawag, mapi-mapi twara uning, sang

bagawan mangandika, dyapin keto twara pelih, bwat seka- rang tidak lagi, memang betul yang dahulu, aku jani sang bagawan, apa karep-mu ne jani, kenyus-kenyus, bagawan kedek milengan.

  1. Aku tidak patut nyembah, kamu dateng patut bakti, wake dadi twan rumah, asing teka ya ngabakti, awak bane ngu- nyain, dong ke tka manjakin aku, aku suba raja hutan, ngadeg agung padidiin, agung ngunggul, mrentah jagatku diawak.
  2. Baladewa nimbal banggras, buduh ki Petruk ne jani, bagawan raris manimbal, mula buduh ne sasai, cai tka jani mai, minab edan ring ibuduh, apa manguduhang iba, sang prabu manyawurin, Petruk Petruk, nguda kasar ptan iba.
  3. Nyen jani twah to iba, bagawan malih nyawurin, aku Bagawan Dwala, nunden nyilih kursi nguni, Bajuwara ane nguni, tekening Sang Prabu Kuru, tusing buwin ku ngene hang, aku suba olih nyilih, lebih luwung, glah Dane Sang Pandawa.

    165. To payung aturan ida, tunggul naga to iwasin, pasang ku

areping kamu mampus, bagawan raris ngandika, sakarep-mu ku nandingin, yadin lampus, kewala eda ngematyang.

166.·Panak-mu to ajak marebat, Raden Walmuka katuding,

miwah dane Sang Wisata, ·Baladewa raris paling sami nga-

wag kacingakin, kadi sunglap rasan ipun, okan raris kauyak, wus kakepung katampekin, sengguh I Petruk, sarwi mukul masasumbar.

  1. Makalihan putran ida, dugi kasep manangkisin, nora purun mangalawan, makakalih pada nangis, aduh aduh slagenti, napi krana yayah prabu, dados tityang uyak bapa sang prabu ngawales malih, tur kajurus, ane tekek tagih iba.

    168. Ne tampi iba Dwala, sanget langgya iba cicing, sang

Bagawan mangrekekang, kantun ngalinggihin kursi, tan mari gending-gending, nonton solahe sang prabu, tingkah lwir anak edan, mangamuk ya manigtigin, ujar Petruk, raris nuduh putran ida.

  1. Lawut I Sata Walmuka, wales jani bapan cai, ngwales ida tur manyepak, mamukulin slagenti, sang prabu wawu eling, na ring raga raris lesu, meneng manuptupang manah, nguda panak yang mukulin, sungguh I Petruk, mapangenan ida sang nata.
  2. Raris ngadeg putran ida, magenti-genti ngaplukin, masih kaden Sang Dwala, ajin ida kasepakin, kmo mai manyuririt, ne Dwala tampi malu, ngadukang kai mabapa, ane tekek lakar tagih, Dwala buduh, ne pandita idung lantang.
  3. Lintang ledang ida pranda, ndatan mari manyingakin, kala sang prabu kasepak, manyuririt manyungkling, aduh-aduh raris nangis, ingetang awake malu, nguda bapa cning uyak, dong I Petruk aduh cning, ku yayah mu, bapan cning Prabu Madura.
  4. Antuk sakita kalintang, aduh-aduh sampe nangis, ngandika ngasorang raga, sinempura duh sang resi, pukulun manunas sisip, jrih tityang ring iratu, minta luput ring idewa, sujati manekeng ati, Dwala putus, ngandika sarwi manggutan.
  5. Lamun saja Baladewa, ngasor teken aku jani, lega nanang teken benya, Baladewa matur singgih, nunas tityang mangda urip, sang pandita glis muwus, suwud cai wih Walmuka, pa- dalem bapane cai, duduk dulu, eh cai Raden Wisata.

  6. Pada eling maring raga, okan ida makakalih, wawu eling maring bapa, ne nguni kaden sang resi, sang tiga raris ma- linggih, angga jiwa srahang sampun, ledang ratu pakayu nan, panjakang tityang ne mangkin, inggih ratu, kewala kari mukudan.

  7. A A a a a ida ica, satondene tong gugonin, dibluse mara cingcingang, nanang suba padanda suci, aku lega ane jani, tekening ko minta luput, wake tusing ngujang-ngujang, bisa cai padidiin, saling pukul, ngajak panak magebegan.
  8. Sang tiga jati kemengan, manguntul sada jengis, kalud takute kalintang, ring pandita lintang sidi, mawacana ida resi, agirang masmu guyu, e cai Prabu Madura, ajak pyanak- mu kakalih, ditu cucul, kaselane duhur onyang.
    177.Saget basang mu ne layah, kehang awak-mu padidi, sela tam- bus jagung alap, tunu ditu pagadangin, yadin matane arip, glibegang awake ditu, ditu ada pasayuban, sambilang mangalih etis, mlah ditu, manyalempang tan pakebat.
    178.Ditu awake singidang, tusing dadi kwe magdi, yening tonden tuduh bapa, eda pesan buwin mai, sang prabu matur singgih, nulya pamit sareng tlu, ring pabyanan masangidan, nandur jagung sela ubi, nanggal rawuh, Sang Bima mangkin kocapan.

    VIII. Adri

179.Mangarudug angine baret ngalinus, nempuh patapane, ring Wadastinatar mangkin, sang pandita taler engsut, dikorsi ida manungkruk, tedung agung nyane rebah, tempuh angine ngalinus,semu guyu sang pandita, tedun saking kursi emas.
180. Sarwi nembang ida raris ngambil payung, manginilmil ujare, Bima jani teka mai, maciri angine agung, sanget sebet teken aku, nora swe raris prapta, jumeleg ring gwa punika, nelik ida sang bagawan, turing jengis Brantasena.

  1. Manudingin ujare maceguk, inulya ngambil tedung nyane, Kantong Bolong iba dini, dikorsine iba nengkul, bagawan ngawe tengkejut, badah Bima tumben teka, rahayu tekan- mü Bungkus, Raden Bima magemelan, bendu tong dadi tanggehang.
  2. Dongke iba panjak Arjunane Petruk, dadi dgag bikas ibane, tusing bakti teken kai, panak Semar Kantong Petruk, liwat murka tampag punggung, bagawan raris ngandika, iba jan- ma kai ratu, tusing bina pada jadma, dikenkene nyandang sumbah.
  3. Tekan iba mararapan solah punggung, degag bikas ibane, Wrekodhara mayawurin, engsap iba teken aku, jadma nista kadenang mu, sangkan hnu iba degag, bagawan masemu ke- nyung, ane malu aku saja, Hyang Baskara aku bukan.
  4. Ngidih amah teken iba ane malu, suba suwud ulih swe, ma- manjak ring Sang Keriti, I Petruk saja ne malu, Kantong Bolong adan aku, tetapi sekarang bukan, jani aku, suba kasub, mabiseka Danghyang Dwala, ne mangutus Bayupaksa.
  5. Nyilih korsi glah teken-mu, Bungkus sumingkin sebete, Brantasena mangamikmik, iba ke Dwala buduh, bagawan raris manimbal, sukur kamu cari aku, kacunduk sedeng me- laha, apa rarapan iba teka.
  6. Eda lancang nywang korsi mwang payung, ne tgakin kaine, dwaning nu ku negakin, Prabu Dharma sane asung, ida ba- res ica ngugu, tusing nyandang iba nywang, pidan subamed aku, ditu aku manulakang, keto Bima apang tawang.
  7. Sang Bima gregetan malih masawur, ne jani tekan kaine, ngalih iba batis tijig, jani subaiba mampus, ban beler ibane kuluk, bagawan kedek mangakak, makejit munyine pangus, nah Sena jani matyang, nah sakitin awah iba.
  8. Ayuh pukulin tendas-mu Bungkus, wireh bani teken wake, nulya ngadeg tur mamukul, bingung paling kade sunglap, lwir buduh pati kepug, awake telas kagasgas, mamukul malih maninjak.

189. Magyat ida mukulin prabu, tan pegat tangan kalihe, nigtig

raga glalak glilik, lesu Ida Raden Bungkus, papetengan tur

mabejunag, bagawan ica masolah, ne ring kursi ne malung-

guh, saja bikas bangsa kwat, teguh tong ada gunanya.

  1. Kadenanga ngdigsang bagawan iku, nulya nigtigragane, ceceh sampe manguliling,nulya lesu Raden Bungkus, tahu ngrasa sakit ditu, mangruguh Wrekodhara, mangasor mu- nyine alus, aduh takut-ku bagawan, ku manunas sinempura.
    191.Nimbal kenyung sang bagawan anggut-anggut, abis lugran akune, onya suba amah engit, Wrekodhara nimbal matur, ngaku kalah pun majuluk, bagawan raris ngandika, aku tong ngujang mu Bungkus, salah mu ne padewekan, mara ngrasa ngaku kalah.

    192. Sakti bayu tan paguna ring dewek-mu, lamun wani teken

wake, ayuh bangun Sena jani, eda nyalempang iba ditu, dita- nahe ya mapupuh, panganggone sayang anyar, meling Dane Raden Bungkus, matangi lintang duhkita, malih maman- tigang raga.

193. Yaning jati Bungkus ngasor kapin aku, manunas iwang

mune, aku lugra ane jani, kewala nyak mu manurut, apa,lwir saprentah aku, Raden Bima manyanggupang, bagawan ngigel ngadengkelung, bagus saja ke I Bima, ditu nongos dikadongan.

  1. Onyang tandur kaselane ditu, to bibit jagunge, da iba bani magedi, yan twara ku ngelunin-mu, Wrekodhara ngiring sampun, nora swe dane ring marga, Baladewa ditu pangguh, nandur srwa palabungkah, sareng kalih akan ida.

    195. Kocap Gatotkaca mangkin rawuh, tedun saking ambarane,

gwane raris kaungsi, rawuh dane raris masuk, bagawan kate- mu ditu, aduh Petruk Petruk saja, madan Dwala jani mu bagawan raris nimbal, keto saja Gatotkaca.

196. Apa perlun-mu tka ring aku, Gatotkaca ujare, payung kursi

jwang ku jani, lega tusing ambil-ku, bagawan ma sawur guyu, tan wenang iba mangwang, tonden waneh di ni aku, pidan waneh ditu ulihang, demen-ku ne tonden telah.

197. Yen twara Ida Sang Dhranasunu, teka nunas payung, iba

sanget slangin ati, lamun tusing adol-mu, kudu tken pipis

lyu, Gatotkaca raris duka, ngadeg ida ukuh nyagur, mana

luyu parikosa, rebah dane papetengan.

198.Bawu meling cingak bwa turing inguh, grah sabilang bukune, sirah sakit kaditigtig, nyalempang tong dadi bangun sang resi raris mawuwus lawut jani Gatotkaca, ulurin karepe ngamuk, aduh ratu sang bagawan, tyang takut saurip tityang.
199. Lamun takut nyembah ida dini malu, leganin jani awake, apang cai matur bakti, tata lwir nangkilin agung, Gatotkaca raris bangun, ngarepang raris manyembah, tityang bakti ring iratu, jiwan tityange kodagang, singgih ngiring pakayunan.

200. Sang bagawan raris ida mangutus ayuh lekas pergi kwe,

kamu jadi tukang kebunku, kancan bunga syamin ditu, ye ning mati bungan nanang, cula nanang butuh mu, Gatotkaca jenger majalan, sami pangguh ring kadongan.

  1. Sareng catur mapanes sarwi nandur, Gatotkaca panglimane, mapunduh manandur ubi, engsek kangen ring kayun, cengah cengeh takut mantuk, kene hukumane teka, ada jengis ada nguntul, nyelsel raga tani bagya, sakti ririh tan paguna.

    IX. Puh Ginada

202.Prabu Kresna karis ngambwang, swe ngindang kadi paksi,

dening sidine bagawan, ngiber tusing dadi tuwun, kanti lesu maindengan, nulya prapti, Sang Ardjuna sareng tiga.

  1. Semar Gareng mangiringang, bagawan nesek manyengking, pangucape manis alon, masolah matembang pangkur, Sang Ardjuna meneng ngawasang, mangulingling, takut bani ma- ring manah.

    204.Bagawan raris ngandika, nah I Parta tka mai, inab cai sakit

ngetor, ngidih tamba teken aku, wake balyan kapah-kapah, nah pdasin, wake Bagawan Dwala.

  1. Sang Arjuna mangedgedang, ngebus dingin tan sinipi, kem- bang rupannyane reko, medal atur sada gawung, Petruk ing- sun kadinginan, masin jani, salah cai twara nyumbah. Tam- banyane lintang gampang, makjang suba ya dini.
  2. Tusing ada tambah adoh, diawak-mu ne ada ditu, sok benya enyak manyumbah, mai jani, maninutin prentah nanang.
  3. Sang Parta raris manyumbah, singgih ratu lwihing suci, tityang ngiring pangandika, sapatuduh singgih ratu, inggih ratu, inggih danghyang mahotama, Sang Pramadi, ceceh reke ida nymbah.
  4. Bagawan jani nuduhang, kmo Parta jani tulungin, Baladewa Sena Gatot, dikadongan nandur jagung, Sang Ardjuna raris nyembah, tityang ngiring manuju na ring kadongan
  5. Bagawan raris ngandika, Kresna mai tuwun jani, suwud ngiber buka keto, dini tangkil kapin aku, nulya tedun Prabu Kresna, tur ngabakti, nangkilin Bagawan Dwala.
  6. Karing nangkil Prabu Kresna, ipun Semar rawuh mangkin, jag rawuh malagu sinom, nesek gwan nyane ditu, wawu ida mireng tembang, mangilegin, carikang sinome Semar.
  7. I Semar tan mari ngawas, Prabu Kresna mangabakti, ring pyanake-Kantong Bolong, manyalempoh sarwi nguntul, dane Semar mangiringang, matur bakti, bagawan raris ngandika.
  8. Cai Semar kasep teka, ya I Gareng dija jani, I Semar maatur- alon, rencang ratu karing pungkur, malih jbos ipun prapta, jaga tangkil, bagawan kenyung menggotan.
  9. I Semar nguntul nunasang, emeng tityang ratu resi, nguda tityang babar engon, kancit dini ya kapangguh, lintang lega manah tityang, sane mangkin, tan pawanan pan ngguh bagawan.
  10. Tityang telas mangaturang, Sang Pandawa maka sami, le dang ratu nggih mamawos, gtar ujare sang putus, dyem- dyem nanang Semar, barang musti, eda bwin nanang nyeng kayang.

215. Tan swe nulih maswara, jangih swaran nyane manis, nulya

mireng Kantong Bolong, matembang ginada sandung, ma ngapirpir sang Bagawan, manyolahin, mailegan nyambung tembang.

X. Ginanti

216. Kembang sandat kembang gadung, majajar pinggiring

margi, sun dekah wawu mangsegan, sasai mamdih ati, nyen olas,menekang bunga, sun upahin telung dwit.

  1. Syapa madwe manuk ucul, makecos ring blingbing manis, ingsun nulup mangalincak, to dadi mamanes ati, enyen sang- gup mangejukang, sun upahin telung dwit.

    218. Dane Gareng rawuh ditu, na ring gwa raris ngaranjing,

bagawan ring kursi emas, Sang Kresna manangkilin, sang resi raris ngandika, apa kabar Gareng mai.

  1. Pun Gareng knyem umatur, swecan Widi mangawinin, slamat dewa tityang tka, Angkawidjaja ngukuhin, kudang- kudang ayam telas, olih tityang manyanderin.
  2. Bagawan ngandika alus, kmo gareng alih jani, tukang kbon ring kadongan, Baladewa sareng tri, Bima Ardjuna Gatot kaca, makejang ya tunden mai.
  3. Matur singgih Gareng pesu, ring kadongan mangararis, sami pangguh nandur kacang, glis aturin maka sami, mamargi tan sangkeyan, Nala Gareng pun mangiring.
  4. Tan kocapan maring hnu, sami sampun mangkin prapti, nangkil ring jabaning guha, matata lungguh ngabakti, kewa- la Sang Branta Sena, sambilang ngadeg ngabakti.

    223. Pun Semar ngawasang ditu, swa bawan sang manangkil,

sama dekus kantenanga, tan lega sajroning ati, I Gareng sa- tata binal, nembang dane masasimbing.

  1. Kambing kota aba kagunung, mangejer bulune jring, wawu tumben ganti awan, padang atub tan lingunin, awak motah payu makenta, dane Semar nimbal makjit.

  2. Kakul sawah munggah gunung, mawono kadi tapi swi, tan obah ngisep we nede, tan pgat ya pesu didih, keweh dwaning kasatan taya, sang manangkil sami sdih.

  3. Jroning atine sami sungsut, kapadenin lintang jrih, kudu agung nemu nraka, kna ukuman prih ati, sig jalane mapu- puhan, langkungan ring kuli miskin.
  4. Pun Gareng matur pawungu, inggih ratu maka sami, sisem- pura ratu tityang, bawos ratu saking aris, minab Widi mami- danda, krana mangguh kadi mangkin.
  5. Ulih na ring ragan ratu, dwaning swe ngempu gumi, si nah wenten tuna liwat, nene sasa jani emasin, sampun satu masel- selan, tan keneng ratu impasin.
  6. Kna ukur dadi agung, Widine dweg ngadanin, Widi dweg ngawe daya, mangardinin sane pelih, manusane sami sayang, bilang plih ada ngajain.
  7. Iwange tutugin lacur, bnehe tutugin plih, anake dumadi jad- ma, bulak balik ulang ulih, satata ya tutug karma, kija laku twah katagih.
  8. Tan dados tulakang ratu, nika bekel manumadi, patut ragane matutang nika ratu sembah sunggi, nika darmane sang ngemban, wyadin keweh kasayubin.

    232. I Semar kedek ngarukuk, sangkan kolo tusing ngiring, nga-

deg agung dadi raja, dikenene katakutin, pinih elahdadi panjak, jangkak jongkok tusing pelih.

233.Tutur nanang jani duduk, suba seken tusing pelih, tresna

demene ngawinang, dadi jengah sakit ati, ento ngawinang sengkala, lacur sedih ulih dini.

  1. Sangkan eda sanget sumbung, twah Widine saja ririh, sakti ririh tan guna, dipulese twah engsapin, dibangune galin- dengang, goba patuh sai-sai.
  2. Nala Gareng nimbal matur, nanang bisa mangedekin, slawa- se dadi manusa, jle melah sinah kapanggih, tan bina ngen- tasin awan, masan endang ngentak sai.

236. Panes ati wantah pangguh, salantang marga entasin, tan bina

ne kadi ombak, gde ombak gde angin, agung panjak sama

rata, manguduhang nune urip.

237. Mula kordi Sanghyang Agung, manitah watek maurip,

nanang wake igelanga, kadi wayang lemah wengi, idupe dadi naraka, yan mati apa itungin.

  1. Patine manjakin idup, idupe manjakin mati, agung alit pada dwang, kaagunge mamanjakin, panjake manga gungang, jlema patuh maka sami.

    XI. Dangdang

  2. Tan kocap swene mangkin, ring Wadastinatar, punika ka elingang, bagawan manis ujare, eh pada tangkil ring aku, bapa nawuhin ne jani, bapa jani manyihnayang, ne ring pada cening agung, tulung twah jani bapa, paeang lunga, ka Prang Gempuran-puri, perlune masewambara.

  3. Bapa lunga pacang kawin ne jani, ring sang dyah, Sandat- pangasih punika, dwaning lwih kaaywane, krana bapa nyilih tdung, tunggul naga miwah kursi, dwen Prabu Dhar- makusuma, dening bapa liwat lacur, to krana bapa manye- lang, kursi emas, apang payu aku mabuncing ring okan ratu punika.

    241. Watek ratu mangda telas mangiring, dwasa pabuncingan,

jani suba pasilih-ne, ne manjak saking sampun, twah patut jani ya iring, mangwalesang kapitresnan, melah timbang- timbang malu, Lurah Semar matur sembah, ring sang nata, margi ratu sami ngiring, dagingin pikarsan ida.

242. Watek ratu matur sembah ngiring, sareng samyan, wantah

tityang mangiringang, mingsinggih pakayune, Semar Gareng tan kantun, sumandang jaga mangiring, ledang bagawan mi- rengang, tansah sarwi makidung, lamun suba pada nyadya, makakencan, ane tawah buka jani, matatulung ban lagawa.

  1. Ayuh mangkat sadinane mangkin, tulung Sang Kresna, ne tekening bapa, apang patuh pikolihe, nampi pang wales ring

    aku, rahayune pacang tampi, patuh tresna ring sasaman,

pada ring manusa idup, kapungkur ne pikolihang, tusing iwang, manampi paswecan Widhi, dewane sumasat meka.

244. Ento tatane anggon nyuluhin, ditu mlawat, gobane bagus

kasar, trang goba dimkane, keto cning apang tahu tan doh manusa ring Widhi, ala ayune tan pasah, Widhine mangardi dumun, kasar solah katemwang, asing jadma, kurang lagwa ring ati, ejoh pacang nemu sadya.

245. Yan tusing ada ring ati, mangiringang, na ring lampah bapa,

melah tongosang awake, tusing kanggo wahyan ipun, dyat- mika sane sujati, eda milu-milu kasar, twah siptane apang alus, watek ratu matur sembah, tityang nyadya, mangiringang sang maharsi, jaba jro sami sukla.

  1. Wyadin abot wantah kadi mangkin, tityang wantah, nyadya mikul sinarengan, inggih tan pangitung dewek, bagawan raris mawuwus, awi bagyan bapa cning, nah jalan jani umangkat, sinarengan jwa lumaku, ring Prang Gempuran- pura, nulya mangkat, Nala Gareng matur singgih, sarwi ke- nyung ngawe polah.
  2. Singgih ratu sang resi maha sidi, nggih durusang, ratu nan- dang busana, dwaning ke pacang kawine, kairing ring watek ratu, bagawan raris nyawurin, tan paguna nganggo melah, nyanan ke awasang ditu, ngambil kawaea ring guha, glis ka- sandang, parikane catur sami, ring Kantong sami kasukan.

    248. Lwih Antakusuma baju lambih, Sang Bimaniyu,tan mari

kakebangang, hana ring dalem kantonge, matateken, tepuk tapak tangan sampun, Semar Gareng sarwi nembah, sang bagawan, masolah sambilang mamargi, matembang ya Maskumambang.

XII Maskumambang

  1. Kacarita, maring kahyangan ne mangkin, sahananing dewa, Sanghyang Siwa kocap mangkin, ndatan sah nimbang wacana.
  2. Sami rawuh, dewa sanga sami. mwang asta dewata, maka miwah sapta resi, panca resi sadkahyangan.
  3. Mawacana Sanghyang Siwa sane mangkin, ring Danghyang Narada ngiring timbang sane mangkin, pangundang mase wambara.
  4. Matur sembah Bagawan Naraga mangkin, yaning pacang lunga, elah antuk ngamanahin, yan mameseh manusa.
  5. Adoh pisan manusane manandingin, upayaning, mangda pisan kado sami, tan pakabar maring pada.
  6. Sanghyang Siwa cutet mangandika ne mangkin, lunga mangkin, lunga mangke bagawan, kai Prang Gempuran- puri, jwang anak Djajakusuma.
  7. Dahat pisan conggah ne ring nira mangkin, ngundang tong sasaman, Hyang Narada nyawurin, singgih dewa panem- bahan.
  8. Inggih tityang baya piwal sane mangkin Hyang Nrada ma- nyembah, mapamit lawut mamargi, tedah saking sad kahyangan.
  9. Sarwi miber pamargine sada glis, nyudi Prang Gempuran Sanghyang Siwa lan dewati, sami mantuk kakayangan.
  10. Caritanan Hyang Narada masing margi, tansah mamasang, kawuwus ring Hyang Pramesti, dening malaksana iwang.
  11. Nguda dewa ne manyoroh buka jani, osah jroning manah, janggel ida swe ring margi, pamargine pacang nyorah.
  12. Sanghyang Siwa ngagungin watek dewati, Sanghyang Satagraja, watek dewa sami nyiwi, jana loka sami nyumbah.

  13. Imanusa sami nyungsung agung alit, mwang ring tanah Djawa, raja Pandawa trang mangkin, ne mamusuh ring batara.

  14. Sang Pandawa mula twah sihin Widhi, sinah olih kabar sa- king Prang Gempuran-puri, dening wenten pasewambaran.
  15. Yening rawuh meh marebut ditu jani, hana ring payudan, ngrebutin Sandatpangasih, tulen ngawe suryak jagat.
  16. Kadi Asuragadewa ngawe weci, kaceda ring jagat, kaumbal ring watek urip, ah dewa kaogan-ogan.
  17. Sapunika babawose jroning ati, yen jwang, mangrebutin anak istri, raga milu kaucapang.
    266.Yan piwalin Sanghyang Guru sane mangkin, benya nampi dedukan, mlah suba ya jalanin, ento kardi sengka pisan.
  18. Nguda osah jalanin ne jani, gunaning utusan, ala ayu tong uningin, sara ditu Sanghyang Titah.

    XIII. Demung

  19. Ring Prang Gempuran-puri, kacarita, Sang Djajakusuma Prabu, lan putra sang prabu, irika hana ring puri, bawudan- da wus datenga, mukya putra sang prabu, maparab Djaka- santosa, miwah mukyaning papatih, kalih patih Djajasunu.

  20. Mangandika sri Bupati, ih ta nanak, angapa ikanang musuh, sakancane rawuh, mangrebut Sandatpangasih, sing kandapi nanak, dwaning kweh musuhe rawuh, Raaden Djakasan- tosa, awot sari, duh pukulun maha raja, singgih sampun molih musuh.

    270. Sawiji tan hana wani, sisan pejah, sirna sami kapilayu,

waneh ipun nungkul, kalih kari akdik, wyadin syunora ging- gang, nandingin saktining musuh, sang prabu alon ngandika, pidaging sami cning, pamkas mangke yayah sumbang, sareng ngandika hyang ibu.

271. Sing nya ada mangungkulin, anak ingwang, tan suka rasa

twas-ku, meh hana kang musuh, watek agung mangendonin, maminang sira sang dyah, ring paseban syuh penuh.

  1. Mukya para patih manyawurin, sama-sama Indrapati Dja- jadanuh, inggih ta sang ulun, tan sumlang sajroning ati, ana ring anak maha raja, sangsaya alah ring ayuh, Djakasantosa angucap, animbal sarwi pangucape masasumbar, patih aji nora kengguh.

    273. Yadin telas watek bupati, soring akosa, mangrebut sanga

ulun, tan kasor jwa sang ulun, kaling ke ngamejahi, wyadin ulun antaka, tan tresna rijiwaning ulun, punika lwihing ka- moksan, kewala Sandatpangasih, tan aswami sakama-kama, mangda ring ratu sakti ngunggul. saktini

  1. Yadiapin ratu sugih, wadwan katah, yan kirang pun, miwah gunan ipun, wisesa mwang kasaktin, wyadin ti- was wangsa panjak. Lamun jangkep wisesan ipun, langkung- an ring wisesan tityang, nika jodone iyadi, nika manggeh utamayang, singgih dewa aji prabu.
    275.Sri Djajakusuma mangkin, ih ta nanak, yening manglah lwir ning wuwus, yogya anak ulun, aja kurang yat na twi, musuh teka yutayan, mamrih anten anaku, nika satru asing teka, cning wantah mananggen, Sang Djaka santosa nyembah, aywa meweh yayah prabu.

    XIV. Durma

276.Geger umung wadwan Astinane prapta, sdek mabawos ring puri, inggih Prabu Karna, miwah sang satus Korawa, mang- ranjing kajro puri, ring Prang Gempuran, Djajakusuma karahati.
277.Nulya kagyat Sang Prabu Djajakusuma, nyapa sang wawu prapti, syapa kita prapta, madulur sareng katah, ulat gati sira prapti, Sang Prabu Karna, diglis ida nyawurin.

  1. Nunas lugra sarwi manising pangucap, ulun Karna sri bupati, prabu saking·Awangga, utusan, wantah tityang malih kweh sane ngiring, sasanak Kurunata, inggih satus Korawa sami.
  2. Prabu Kuru ngutus tityang masewambara, tityang sangka- ning bakti, yaning ratu kapo sweca, na ring pinunas tityang, nunas tityang saking aris, anak idewa, tan len Dewi Sandatpangasih.
  3. Jaga swami antuk Prabu Kurupati, kajenengan ring puri, hana ring tanah Djawa, dados agung tan sama, ratu ngung- gul tan sinipi, kalintang wirya, sugih tan patanding.
  4. Raris nyawis Sang Prabu Pranggempuran, kadong labuh sri bupati, tityang ngundang-ngundang, mangadakang sewam- bara, wantah pyanak tityang jati, mamakusara, sang Djakasantosa nami.

    282. Lintang katah prabu patih sampun alah, katandingin ring

icning, rawuh masewambara, punika margayang tityang,

akane raris nikain, Djakasantosa, sapunapi nayan cning.

  1. Djakasantosa matur saha sembah, inggih ratu sang aji, kewala hana ring prang, pateh-pateh kadi kuna, sampu nika tityang ngiring, mangda tan bina, sampunang obah wa aji.
    284.Durung cempak kiwa tengen ring payudan, sampunan sri bupati, maicayang iyanak, raden dewi punika, Dyah Dewi Sandatpangasih, Sang Prabu Karna, satus Korawa mireng sami.

    285.Kerang-erang sami ida mamirengang, matangtang ngadu

jurit, putus ring ubaya, sinarengan ugi medal, Djakasantosa lampah ngiring, sami nyadyang manonton sang majurit.

286. Geger umung gong bdil miwah kendang, mwang tebeh-

tabehan sami, sungu bende lan parwa, gong beri lan suryak,

tapuk tangan maka sami hana ring bancingah, glis mayuda

mangawitin.

287. Sang Swatama ngawit ida matandingan, Sang Karna sane-

nyanding, lan satus Korawa, manonton saking sambawa, rame yudane mangkin, nging matunggalan, salih sepak salih gedig.

288.Saling surung saling panting saling lempag, saling kaper tan mari, lan saling pangsegang, yudane kadi timbang, lesu Sang Swatama mangkin, Djakasantosa, sayan kwat ngadu jurit.
289. Danghyang Drona dahat merang ida nyingat, dening okane kalilih, raris manuduhang, cning Sang Dusasana,makecos nuli nulungin, Sang Swatama, mundur ida katulungin.

290.Musuhi manangkisin ring medan prang, boya ida mrasa jrih,

yadin te kakembulan, Raden Djakasantosa, Dusasana katan- dingin, sang kalih maprang, kadi macang lawan sampi.

  1. Dusasana raga kukuh tur makwal, Djakasantosa maalit, kenceng parikosa, sebet tur malih gancang, Sang Dusa sana kasep manangkisin, dadi kadahan, kasepakin manyungkil- ing.
  2. Kadi punyu gulak gulik kadi bantang, kadedel kanggen titi, nrepa putra sayan kwat, Sang Dusasana kalah, jrih dane mangudingkling, wonten mananggal, Sang Tritana nan- dingin.
  3. Matandingan ring Sang Djakasantosa, Sang Djajadrata patih, kalintang prawira, papatihe ring Astina, dane sane lintang sakti, rumasat macan, tingkah dane ngadu jurit.

    294. Raden Djakasantosa lintang parekosa, tan bina lwir kesari,

musuhe parikosa, sayan dane prawira, Djajadrata dane lilih,

na ring payudan, Prabu Karna manandingin.

  1. Lintang krura tingkah dane ring payudan, dwaning sami sakti ririh, yudane kadi timbang, malilit kadi uraga, magenti nyungkiling, saling entungang, silih tusuk salih ungsu.

XV. Puh Smarandana

  1. Danghyang Drona kocap mangkin, lintang jejeh ida nyi- ngak, miwah satus Korawane, meweh jaga matandingan, dwang musuh lintang kwat, mirib tong alah imusuh, yen tan- dingin patunggalan.
  2. Mlahan rebut ya jani, musuhe Djakasantosa, sampun adung itungane, tumedun sami sagrehan, sunyuk sara wara cakra, limpung panah tri sula angkus, gumuruh naring payudan.
  3. Djakasantosa manandingin, nora kengguh kakembulan, kas wen karebut reko, kasrepit kaideran, punyu dane ring payudan, kasepakin glantak gluntuk, kadi anak main bola.
  4. Raden Santosa maklid, nulya msat ring umbara, sada akweh pangwangwange, rusuh iba wang Astina, tan manut krama- ning yuda, janjin mu ne tan tuhu, kene prah wang Djawane tka.
  5. Panahe kapentang glis, pican Ida Sanghyang Ludra, mang rudug teka angine, barete satus tambana, ageng nglinus sapisanan, lor wetan sangkan ipun, satrune katam pulekang.
  6. Tarune ampehang sami, sempal papal tlas kabuneang, musuhe katampuh reko, asing gisi dadi empak, sareng sami kaampehang, kaambara ampwang linus, pajrit masasam- batan.
  7. Danghyang Drona kocap mangkin, makakeb hana ring lemah maglantingan ring padange, asing gisi ya mabutan, angganing macan manakan, magesgesan ndatan sambut, pusung kles kaput padang.
  8. Tulung-tulung pati kbis, aduh meme aduh bapa, kalinus an- tuk angine, pesu tai enceh mwah, ne punyu ditu ma guyang, angkab-angkab ampwang aus, tulus ida kaampehang.
  9. Manglayang matampuh sami, ngiber kadi luhun adah, tur manangis manulane lwir sasapi masliyuran, meme bapa tulung tityang, mangda kantun nultul sangu, umung kadi sendari belah.

  10. Meh wenten rwang panelik, diumbarane maulekan, danghyang Drona ngepangepang, luhuring gunung mangin- dang, balik ring duwur segara, wenten lengah mutah lengeh mutah marus, saksat ujan dulur mreta.

  11. Wang nagarane uyut sami, hana ring Prang Gempuran, nguyak bacin padi sedsed, nrepa putra kapitresnan, kapan- dreng sang mangumbang, tulak iba watek rusuh, tuturang ring bapan iba.
  12. Barete kaampehang malih, kadi gulem maombakan, ring sasih Kasanga reko, tumiba ring tanah Djawa, sinang galang surya ngenah, katinggalin antuk mendung, kocapan watek sangsara.
  13. Sang Karna tiba ring puri, masarengan Danghyang Drona, miwah satus Korawane, pacaruduk sami tiba, wenten runtuh salantang jalan, wenten maring alas agung, wenten runtuh nandang lara.
  14. Wenten keset wenten cungih, wenten sane matalanjang, hana engsut ngarodarod, kna ring ketket miwah klapa glar- glur nagih tulungan, tan sadyan magagebug, adah tumben bisa ngindang.
  15. Katah nandang kaprih atin, inggih katah yan ucapang, Djakasantosa ne kocap, nulya mantuk maring puryan, bawu danda mengiringang, nulya nangkil ring sang prabu mesem sang prabu ngandika. XVI. Puh Pangkur
  16. Kaya apa ring payudan, manangganin satrune saking Djawi, arepa putra raris matur, inggih byang ratu tityang, sampun alah, musuh tityang sami rurud, sirna nora magantulan, trang Dewi Sandatpangasih.
  17. Manggeh dados kancing pura, satata ida nenggu ibu aji nyawis ida sang prabu, ne sampun wyakti alah, yan ma- nahin, musuh sane pacang rawuh, tan mari mangunang, sing nya wenten lebih sakti.

  18. Kabar sampun kabyaya, wenten malih ratu saktí hana ring Djawi, ring Pandawa ne kawuwus, nika dadi sumlang slang, sing kaget, nampi kabar, tulus cning ngunggul ring jurit.

    314. Mangka ujare ring puryan, nulyan wenten prawesa ngaga-

wokin, nengkejutang linuh agung, ketes ida sang nata,

saking kursi, nika cicir pacang lacur, kasaktyane ka- ungkulan, watek ratu wus malinggih.

  1. Tan obah ring panangkilan, manimbangin watek ratu pacang prapti, gagak umung pasliyur ditu, hana ring jro kadatwan, miwah asu, swarane rame mangulun, nika ciri pacang kalah, kaucap ring sang prajnyeng aji.
  2. Sang Prabu Djajakusuma, tumedun ida saking kursi manik, putrane raris kagelut, sareng Ida pramiswarya, ngucapa manis, tansah dia ngurut-urut ih dewa Djakasantosa, puputang karyane cning.
  3. Pasewambarane puputang, sahananing cirine tan wenten becik, sami dados slang puniku, uduh dewa mas mirah, jwitan bapa, bapa ibu nanak bagus, tlas jiwan tityang dewa, wantah dewa sane kari.
  4. Nrepa putra matur sembah, sampun ratu pacang sumlang ring ati, lalis tityang ring jiwa ratu, awibagya mati maprang, mangardinin, jagate mangda rahayu, panjake anemu jirna, mwah Dewi Sandatpangasih.

    319. Punika ne sadianang tityang, ratu Jawa, mangda ngeni ang

iadi ayu, disampune tityang pjah, aturang ugi, jagat miwah panjak ratu, mangda ida mangodagang, sapunika dewa aji.

  1. Banggiang titiang nemu pjah, mangda katiru ring sawateking murip, laksanan titiange ratu, sampunang ratu gangsal oka Nrapati sungkawa, mula wantah,patine mawinan lampus, hidupe nemu sanggara, meweh sami kapanjakin.
  2. Yan ring Jawa ida marabian, adin titiang dyah Dewi Sandatpangasih, lilayang kayune ratu, mula wantah kardin hyang, kapatutang, iadi marabian ditu, manurunang ratuJawa, Kanugi ring pamuntat gumi.

322. Yan titiang nema antaka, sampunang wirang ratu pacang

mamelanin, aturang jagate ratu, serah ana angga jiwa, sapu- nika, puput ature sang bagus, ana ring jro kadatuan, guman- ti tuturang mangkin.

XVII. Puh Adri

  1. Muwah carita lampahe Bagawan Petruk, lunga ka Gem- puran puri, lan pangiring watek ratu, Semar Garenge tan mari, tiba maring pasisi lor.
  2. Mangandika sang Bagawan semu kenyung, kenken baan ane jani, alangan samudra agung, ombak agung tan sini pi, ku- diang jani ngliwat lor.

    325. Heh heh cening cening pada watek ratu, Baladewa Kresna

murti, miwah cening Raden Bungkus, kenken upayane jani, miwah cening Raden Jalamprong.

326. Gatotkaca saha sembah alon matur, yen nora awinan sisip,

nggih titiang sumandang ratu, kewala cara ngaja ngin, keberang titiang ngliwata lor.

  1. Kitak kituk sang Bagawan nora kayun, kuwehan rimbit tinolih, tinggal mai enu ditu, marasa keweh sang tinggalin, yening bapa tusing kanggo.

    328. Raden Bima mangucap aku sumanggup, pacang muat maka

sami, ajak ngentap sagara agung, nglangi madayung pa- ranin, to tunggangin awak ingong.

329. Nulia mesen sang Bagawan raris muwus, ao nora aku nampi,

krana sandangane lucut, kumelem sukune dingin, rawuh ditu lintang abot.

  1. Sang Kresna nesekang raris umatur, singgih ratu Maha Resi, wantah gampang antuk ingsun, mangentap ikang udadi, kewala madarat adoh.

    331. Cakran ingsun anggon ngenyat toyan ipun, sida ratu mang-

liwatin, sinah geseng kancan ipun, sawentene daging pasih, sampunika baktin ingong.

  1. Nora kanggo olih aku subaktin mu, makrana pati sakitin, toya iwak ulam agung, tusing ada ngelah pelih, raga tusing tuyuh ngingon.

    333. Ombak agung didesan ana kerag-kerug, dewek teka mangen-

donin, nguda sebet ring ipatut, bingung paling keto cening, nguda ragane kapingon.

334.Sang Arjuna mangarepang raris matur, telas nayan titiang mangkin, ledang ratu Resi putus, pun Gareng mangamprig- amprig, matanjek tur elag-elog.

335. Darma patut ento nyandang gugu, sing nyandang arepe

drenggi, kabelet baan sagara agung, inguh tong bisa ngra- sanin, dikenene manadi wong.

  1. Dadi agung tan paguna ririh bagus, sakti teguh anggon napi, tong tulung ring panangkan kewuh, apa anggon pasubakti, payu ngiring baan oo.
  2. Aduh ae tulus hentas samudra iku. dandan bapa ajak sami, kanan kiri pada nyatur, yatnain te ditu cening dandan bapa alon-alon.

    338. Maka sami mangiring pada lumaku, mangentap sagara gelis,

nulia kambang sang lumaku mamargi duwuring. tasik, ombak degdeg dabdab alon.

339. Wiakti aris pamargine dug puniku, katantan antuk sang

Resi, nulia sami pada rawuh, ring pusering jalanidi, pangiringe sami bengong.

  1. Luwir kumelem rasan nyane jahan ditu, dudu sirep dudu ngepi, yan matangi masih dudu, ana luwir sami kacingak, pangiringe sami bengong.

    XVIII Adri

  2. Dane Semar ingat manggu malu, heh -heh ujare, tumben nawang rasan ngipi, engsap dini inget ditu, sunia sepi-sepi mungmung.

342.Sami gawok bengong enggang, liwat ring puser puniku, nora ana apa-apa, bengong dipasisi tiba, tong marasa suwene lumaku, sadodoh pajalane.
343. Ngonyang joh sampe dini, sategeh menek teken tuwun, yadin imang ia lumaku, teked dini ia rasayang.
344. I Gareng bangun ngalingus, disuluke engsutanga, engok kola ngarasayang, I Semar mamunyi sigug, bana nanang tumben ngasen.

345. Tukad enyat bakat anyudin, labuh nepen kasur lemah, Nalá

Gareng ia mawuwus, lamun nanang tonden nawang, dadi mati jroning hidup, dadi hidup tengahing pjah, mati sayan seda antaka.

  1. Wawu eling watek ratu ditu, ndatan eling ring rasane, ajahan sampun prapti, sang Bagawan raris mawuwus, mai ateh cen- ing agung, kaprang Gempuran pura, watek ratu ngiring sampun, sagrahan sampun mamarga, tedah saking tepi samudra.
  2. Pamargine tan mari munggah gunung, mangetan nulia parane, luwir desa katah panggih, nora suwe ana ring enu, kaget sampun mangkin rawuh, ring tengah tegal payudan, linggahe tan kna hitung, sampun sorene kawuwus, lepug tampaking payudan.
    348.Sore mati sanghyang Surya sampun, ditu marerepan reko, sareng sami pagulilik, tan paled kanggo ditu, sirep sami watek ratu, tan ucapan wengine, tatas galang kaget sampun, enjing medal sanghyang Surya, sinang genahing payudan.
  3. Bagawan gelis mangkin mawuwus, alus wacanane, sami ce- ning kari dini,singidang ragane dumun, mangda ke te tan katemu, bapa doang ngapuriang, tangkil ring anake agung, jalan ajak atelu doang, Semar Gareng mangiringang.
  4. Bima Arjuna Baladewa Kresna prabu, nulia masingidan reke, Bagawan raris lumaris, Semar Gareng ngiring sampun, sarwi nembang ia lumaku, manyagseg mangarepang, magenti-genti masolah, liwat legane dijalan.

  5. Dawuh ayas reke sampun, naring pasiban reke, prabu prang Gempuran mangkin, katangkil ring watek ratu, prami suari sareng ditu, muwang putra Jakasantosa, manimbang tekan- ing musuh, atap maring panangkilan, gong bedil geger umiang.

    352. Sami jirna panjake ditu, sedeng ebeke pasare, sang Bagawan

nulia prapti, pangiringe kalih tumut, sami pangus tan wah wuh, majalan tan manut marga, srasag sreseg saling gelut, magenti nembang mailegan, polah nyane kadi edan.

  1. Masriag uyut anake nonton ditu, ne anak kenken, wong paran ke teke mai, maring pasar dugi uyut, mangaruncung sami ditu, sami angol mangantenang, goba solah dadi adung, tusing taen tepuk anak, jening goba tawah.

    354. Gihgihan anake pada ditu, pangucap nyane, ane odah ireng

wilis, siteng cepag bongkok agung, ejit engging bangkiang lusuh, sepan ejit suba tendas, bungut linggah bok carung- cung, gigine akatih doang, pantes dadi talenan desa. 355. Ne aukud siteng buwin gede landung, sukune bawakan aneh

muah bulenan capuh gudig, linggah bungut masih patuh, le- bihe lantangan cunguh, bisa ngotol selat adepa, mata gede bok parugut, bangkiang dawa alah jaran, kuwang muwat kakasuran.

356.Bangkiang ceng ked basange biyod basur, malondos pungsed nyane, pusung nyane cara Resi, mabriag kedeke ditu, ah ah ih ih ikut bikul, ya malecir kapusungan, kedek sami teka ngunggul, sumingkin mesuang tadah, tuara kimud kajailan. 357. Pun Gareng pangid munyine alus,sarwi manis tembange lima segkok batis picih, mata duda cunguh nyambu, gidat gelgel burik capuh, gigine akatih sentak, masolah ia tuara kimud, bilang nyarik mailegan, tur mucapan nunas dahar.
358.Sami epeh tekan nyane pada caluh, mangicen dahare, war- nan jajane tan mari, ada olas ngentungan biyu, I Semar ngesep tusing meļut, jag aijas sop acepok, bengor-bengor capluk-capluk, sambilangnembang dangdang gula, dahare jro mai paekang.

  1. Suryake tan mari umung, sang Bagawan reke, nebteb sasen- dorne manis, mangucapang dewek lacur, panyakite sai tikul, to basange sai layah, makejit sarwi ngalingus, mangucapang sira kakang, matembang ia durmanggala.
  2. Kapingon anake nonton ditu, ngutang dagangane, katungkul ia mabalih, sampe telah rejag asu, ada len kopagumugut, mamaling sarwa dahar, dening lipia nonton ditu, dagangane bakat kutang, suba telah juang anak.
  3. Kapingon sane luas ngalih dukun, dugi kutang somahe, aduh-aduh kari nyakit, mamisuhin bungut gudug, kujang jani panak pesu, tusing ke iba kikenang, sampe lingsir tusing rawuh, oka puput mategesan, laki teka ngajak balian.
  4. Ngapipir solah nyane tur lemuh, inggih pun I Gareng, Semar sasendor munyi manis, hujaning pisangne makuskus, lan ja- jatah lawar penyu, katipat sasate ayam, matembang ginanti sandung, wang nagara manyesedang, wih jrone uli dija.

    XIX Pupuh Ginanti

  5. Jati titiang tuara tahu, tahu ku dateng disini, yaning dija umah titiang, mangiringang pranda sidi, perlu ku masewam- bara, mapinton rupa disini.

    364. Dening luhe lintang kasub, ento krana mangendonin, heh awanane ngojahang, apane korahang lebih.

365. Apa binan luhe ditu, kapining eluhe dini, ane muani masih

lanang, lalanange kanggo sami, mataluh pada ma dadua, kedek sang mamireng sami.

366. I Gareng sumawur kenyung, mula mataluhne muani, yen

upama bebek siap, ane muani manglalahin, sangkan eluhe

ngendogang, pabahang olihne muani.

  1. Bagawan ica ngarukguk, nanang Semar apang ngarti, kan- daning luh kapin lanang, yan gobane patuh sami, tuah make- jang pada gelahang, tusing gasal lanang istri.

  2. Kewala pekakas ane luh, bina ring pakakas laki, sane luh pada ngaba campang, ngaba canggah ane muani, ileh ileh ia kepangang, jani jua pintonang dini.

  3. Tangan luh saja patuh, mapan ngelah cunguh kuping, mata bungut pada ngaba, tendas baong miwah bibih, basang tun- dun kakolongan, siku entud miwah ejit.
  4. Eluhe makejang luh, ne muani ngaba lalaki, ane keto mabinayan, janmane sabaten langit, eluh muani pada galak, maprang tusing ada jrih.
  5. Sang Bagawan mapi tutur, Semar Gareng pireng jani, wake mituturin nanang, digalake pada jrih, dibelase ngelah pianak, diatepe bengkung sai.
  6. Dipulese dadi patuh, ane odah lebih-lebih, lintang manuh ilang galak, dane Semar manyawurin, dikenkene ada cihna, kujang kone mangingetin.
    373.Yaning tonden lintang saru, tua bajang tan kna ingetin, ada tua-tua sampat, kanean odah kukuh jati, ada bajang-bajang tindak, lemetan ring lidi cenik.
  7. Wake nanang jani nutur, cirin anake luh muani, ane ka- rangsuk ban dewa, sakeng bikas ada ciri, jadmane kadewan- dewan, mapayas mapupur sai.
  8. Tan pamasan bikas ipun, miasan luas mamaling, mangang- gur kumah timpale, ane luh mamaren sai, mangedengang pa- payasan, mangda nanang tahu ring ciri.
  9. Wang nagara tan sah ditu, mangewekang lintang jail, keni gobane centokang, nyewambara teka mai, kudang bagus suba kalah, sakti ririh masih lilih.
  10. Sang tiga maganti tutur, mula lacur sareng sami, mula belog ajak makejang, dadi luh-luh luwih jati, anake muani nyayangang, kanggo wakil ngodag gumi.
  11. Jalan ngangken paturu luh, ngayahin anak muani, ngiring matemu peteng lemah, aja piwal ring lalaki, awak dadi panyrowan sayang, sai kanggo pesu mulih.

  12. Betek basang sambilang nutur, kapuri dane ngararis, kacun- duk ring panangkilan, sang prabu sedek tinangkil, wira man- tri bawu danda, manimbangang naya singid.

  13. Kagiat ida sang prabu, miwah sawatek manangkil, manyi ngak sang wawu prapta, cri Narendra nyapa aris, duh Resi saking punapa, napi perlune mariki.
  14. Nyawis pranda semu guyu, oh Jaya Kusuma aji, nanangne jati pandita, rawuh saking tanah Jawi, Resi Dwala maka ngaran, mairingan duang diri.
    382.Seken ada kabar rawuh, tro pianake cri bupati, kang nama Jakasantosa, kocap sakti tan patanding, ngunggul tong ada manglawan, watek ratu pada lilih.
  15. Buwin pianakmu ne luh, dyah Dewi Sandat Pangasih, jani ia suba masannya, jodon nyane teka jani, dini jani pamuput- nya, tusing len ajak mabucing.
  16. Karana nanang jani rawuh, ngidih Ni Sandat Pangasih, munyi patut papolosan, pang da rewed mangitungin, eda buwin ngitungin siat, saking aluh jua mabuncing.
  17. Sang prabu nimbal mawuwus, kadung sampun labuh munyi, mangda jna masewambara, mangundang watek bupati, pia- nak titiang ki Jakasantosa, manandingin asing prapti.
  18. Durung naen kalah ratu, kudang ratu sami, lilih lintang sakti parikosa, malih Dewi Sandat Pangasih, lamun kayun ring Bagawan, mabinayan ring prayayi.
  19. Ragan ratu gede landung, tan sama ring watek-jadmi, lian wenten mangojahang, kadi jan ia makuncir, endep len ada ngucapang, wang suargane ada negakin.
  20. Kenyem Bagawan sumawur, jaran jagat aku mai, anggon doge jua manyarah, yadin kasukane dini, dane Semar ma- ngucapang, wake suba dadi pakatik.
  21. Dipinggir ada sumawur, kene talenan wang Jawi, bisa ngucap ia majalan, I Semar nyawis makejit, aku mula talenan lawar, nyanan onyang lawar tampi.

  22. I Gareng kedek ngarukkuk, sadian awake numadi, juru madog mamarekan, anake uyut ngedekin, juru surate mangucap, lima sengkok keskes gudig.

  23. Bangun I Gareng ngadungklung, masolah munyine pangid teken akune kaucap, nulisang jagate dini, kewala ban tasne mukakk, awas aku tusing gingsir.
  24. Kala aku kenceng alus, lintang pangan tur maingid, kalambu magongseng dadua, kitak kituk manganggutin, kertas putih wawu kupak, dibongkolpandane nulis.
  25. Cakepane putih alus, tampak nyane catur sami, ireng abang kuning petak, aksarane bisa mamunyi, iban-ibane mucapan, majalan ia padidiin.
  26. Ngonek gampang dadi aluh, sastrane ngebekin gumi, duweg mangrundahang alas, kena mai mangulining, keto sastrane wang suargan, nyadia mai lakar nulis.
  27. Sang Bagawan raris mawuwus, saja bocok rupanku iki tong niru sama manusa, hidung lantang gigia katih, pangadeg lan- dung balung lambas, wake tahu padidiin.
  28. Jangan kamu selang abuk, kerti nanang lintang suci, diapinku menang mayuda, kaget pianakmu kakalih, nanang ngalemesin melah, tekening Sandat Pangasih.

    397. Yening suka tekening aku, nanang tulus lakar kawin, yan

nanang tusing nyakina, nanang tusing mangenyakin, Semar Gareng mamatutang, raga bagus padidiin.

  1. Ajumang ragane bagus, raga mael tan paaji, eda sanget matatanjan, ngamudah mudahang aji, da maksa anak tua ra nyak ajumang suakain sai.

    399. Indrapati Jaya Danu papatihe sareng kalih, lintang bendu

mamirengang, miwah putran cri bupati, mangejer budi ngalempag, miwah bawu danda sami.

400. Bagawan ngandika kenyung, nanang suka ngarti jani, sebet

caine mamaksa, diidepmu tusing pelih, mamudi ang raja Pandawa, wake tahu dayan cai.

  1. Dahat jengah ida sang prabu, miwah sawatek manangkil, tan mari manimbang naya, bani takut jroning ati, putrane raris ngarepang, sampunang resres cri nerepati.
  2. Inab getap sun majulun, becik tundung saking riki, sampunang nyadin wong edan, siyu pranda nora gingsir, bantase macunguh lantang, boya titiang mangimudin.

    XX. Mijil 403. Ngadeg pranda raris ida mijil, lampahe mamobos, Semar

Gareng, nulia ngiring age, mai pesu raja muda iring, aku se- napati, ketongang kadang warganmu.

  1. Mai iba wang Gempuranpuri, bikas bane ngendog, Semar Gareng manangtangin reke, mai dini Jaka Santosa enemin, dibancingah jani, tandingin Bagawan putus.

    405. Nulia nantangin I Gareng manyengking, ih Santosa engko,

undang luh-luh.mune ko marangke, kon liyunangmuat sangu mai, bene paliyunin, dening basang kune seduk.

406. Dane Semar semu guyu nyawurin, ring pianak ngko, dyah

Dewi Sandat Pangasihe, saget Bagawan tusing nyakin, in- dayang takonin, singnya demen teken aku.

  1. Sang tatiga mijil saking puri, sang prabu mabawos, dahat getem, manah kune mangke, kadi edan polahe sang tamui, yan pandita jati, kruna kasar kadi buduh.

    408. Yan ring bawa aku ngawas nglingling, inab kerti kawet,

budi alon, luwihing sucine, yan disolah tan manut krami, tan tahu sor singgih, luwir tukang pencar di laut.

  1. Anak ida muang sang patih kalih, isang pandita pojol, goba kasar muang pangiringe, bendu ida reke tan sinipi, dojahang sang Resi, dahat ida kadi asu.

    410. Idan sang prabu nwilia ngandika aris, lunga cening agung

mandingin to dewa satrune, sang tiga dewa musuhe jati, te- kaning pangiring, ring tegal payudan sampun.

  1. Sampun medal ipun manangtangin, inab sampun ngantos, lunga dewa, mangdaning tiaga, poma cening yatna cening yatna manandingin, singnya saja sakti, ta nguda ia saja takut.
  2. Prawira Raden Santosa mangkin, ature nora kasor, titiang pacang manandingin mangke, diyusta diyus pranda sapuniki, kalihke asiki, titiang pacang kengguh.
  3. Nulia tedun biange ngelut gelis, mangembeng yeh panon, uduh dewa mas imemene, kasukan ibuduh sangapekik, ngandika sarwi sedih, tan sah ida ngukut-ukut.
  4. Sumelang pisan meme ane jani, minab muruh katong, boya buduh panditane ento, singnya buduh-buduh ada ngawi, tan mari ngelangin ati, uduh dewa sanga-bagus.
  5. Sane tawah mula ipun mamurti, singnya cening kasor, to kasoran, cening jua ragane, mangda sampun dewa mangemasin, tunas uripe cening, uripi dewa mangda kantun.
  6. Sambat ibu ndatan mari sedih, ngadeg Raden Anom, aywa sungkawa, ring ujar ibune, aduh titiang pacang jaga ka pijig, nyembeh raris mamargi, Raden Anom medal sampun.
  7. Geger umung waduane mangiring, bulus gendongane, mamunyi gong bedil lan kendange, tatabehan tan pegat mamunyi, suryake mawanti, ring payudan kaget rawuh.

    XXI. Durma

  8. Kacarita sang Bagawan mangantosang, ring tegale maling- gih, tan sah sareng tatiga, Semar Gareng tan pasah, Bagawan nguduhang mangkin, heh bapa Semar, muang Gareng kema cai.

  9. Kumpul ditu ajak I Kresna, Baladewa muang pangiring, ton- ton saking dura, tingkah akune mayuda, ken Jaka Santosa jani, marempagi suryak, tur mokpokang tangan kalih.

420. Semar Gareng mangiringang sampun tedah, makumpul ring

sang bupati, manonton ring payudan, naring tegal pasiatan, sang Bagawan ngraga kari, ngantosang mayuda, salang seleng mangulining.

  1. Nulia prapta musuhe sareng tatiga, raja putra minakadi, manesek sang Bagawan, Bagawan gelis ngandika, semu guyu, sada manis, mangawe polah, magi sang wawu prapti.
  2. Alal aku nyantosang Jaka Santosa, suba ke sergep cai, manguncarang kasaktian, miwah weda japa mantra, nguda tonden pesu caling, matanduk panjang, pataledted pesu api.
  3. Bareng telu cai mai ngarepang, lawut jani kai kembulin, sakarepmu Santosa, ajak papatih iba, Jaya Danuh Indrapati, wake newek duang, saling contok aku tandingin.
  4. Jaka Santosa bendu masawur banggras, nyalah kai manandingin, heh iba batis timpang, ih pandita cunguh lantang, ajin kai padidiin, nulia kuang, berayan iba kema alih.
  5. Satus nyalah siyu nu kuangan, magoba pandita tijig, newek manglawan, tusing buwin katulungan, Bagawan masawur kenying, tan parikosa, sidi iba manandingin.
  6. Sampun puput patangtange ring payudan, waduane umung nyuryakin, gong bedil tan pegatan, siyuh penuh ikang bala, sang pandita manesekin, taler masuryak, sang Bagawan madading kling.

    427. Geger umung suryake ring payudan, luwir kerug muni ring

langit, Bagawan dahat garjita, kenyem-kenyem ring payudan, Jaka Santosa manudingin, kalintang duka, sahasa ngariyinin.

  1. Matangkis Bagawan tan mari mapolah, mangandika mapa piring, ih Jaka Santosa, sakti ririh mayuda, pantes tusing ada bani, sumingkin jengah, kacekuk pranda gelis.
  2. Parikosa nulia nyawup mamantigang, sami pada nalih mati, Bagawan nyalempang, ditanahe ia maguyang, suryakin langit.

430. Sami ngembul nyumbung Raden Jaka Santosa, merangsang

Bima ne mangkin, makeces mangenggalang, mamalesang Bagawan prabu Kresna raris makeling, nden adi sang Bama, tonden karwan seda sang Resi.

431.Semar Gareng masuryak munyine keras, ngualekang mada

dingkling, mati mati iba, mampus ninggalin ang kian, keto da mange matanding, jiwanmu manglayang, kujang nanang bangken mu jani.

  1. Raden Santosa ngalah ungkur naring sawa, sang masuryak kalingling, sang Bagawan jumeleg, saking pungkur mane- sekang, ngandika makisi-kisi, Jaka Santosa, aku jani suba mati.
  2. Raden Santosa kagiat nolih kabangan, Bagawan kasawup malih, sahasa mamatigang, manyepak ngentung-ngen- tungang, Bagawan icalne mangkin, tan paamengan, bengong sang manonton sami.
  3. Nguales wang prang Gempuran masuryak, tan suwe kaci ngak malih, Bagawan ngisiang nekekang, madian sang nerpa putra, kapanjer sada digelis, kapenek tuwunang sarwi alon makisi-kisi.
    435.Sarwi guyu mangandika sang Bagawan, cai Santosa sakti, nah to ja nglawan nanang, awak mu ne sayangang, ke- kuatane tuah aguli, yening cai prawira, jalan jani buwin jumunin.
  4. Lintang merang Jaka Santosa mamirengang, Bagawan kasepak gelis, tumuli pun rebah, kapisuh kapati kacuhang, nulia pjah ida sang Resi, remekang sawa, cunguh lantang jani masin.
  5. Masasumbar nerpa putra parikosa, dados ebukang basmi joh iba manyidayang, mametukangkaprawiran, conggah man- dingin kai, kaling ke manusa, nadian dewa maka kanti.
  6. Tuara kengguh kai manandingin iba, tan mari manandingin, sang Resi bangun mauwab, kenyem-kenyem raris ngandika, saja buka munyin cai, ngojahang nanang, tong ada nan- dingin cai.

  7. Buka wuhin merang ida nerpa putra, nulia masasumbar malih, sarwi ida ngunus gada, kasuduk digelis pranda betel wijang terus kauri, rebah sapisan, luwir pancoran rahe mijil.

  8. Sampun seda sang Resi maguyang, tan uwus suryake mangkin, nerpa putra masasumbar, yeki keris utama, pustaka luwihing sakti, preta nemu naraka, kaerang ring Yamapati.
  9. Yadin ejim hantu bacakane tuara ngenah, gampang aku mamateni, kalingke bangsa ngenah, magoba hidung lan tang, bangsa luwih pada jerih, ring keris utama, kasukang sarungan gelis.
  10. Raris ngadeg Bagawan raris ngandika, saja awakune mati, jiwankune nyayangan, uming sang Pandawa, matelasan ma- nyuryakin, matepuk tangan, Semar Gareng mangigelin.
  11. Ngabar abar sengite sang nerpa putra, masang jurus manangkisin, lawutang jua Bagawan, maike wales engga- lang, nyadia aku apang uning,yen ko prawira,ngendon sa-

    king tanah Jawi.

XXII. Samarandana

  1. Bagawan mesem nyawurin, aku tusing ngawalesang, yaning cening tusing ngasor, tusing mapinunas pjah, ento karana nanang tulak, ajrih iwang ring hyang luhur, mutang ala ring Batara.
  2. Tusing nanang bisa nyiwanin, tuah nanang masih kakodag, kalingke pati patene, nandur ala na ring jagat, wekasan to nagih bayah, mangawinang rurung semput, manglantingin nanang budal.
  3. Jawat mu sayangang jani, ento karana tusing nyak, manan- dingin awak mune, kalingke nanang ngamatiang, pakardin sanghyang utama, pakardin tong nyandang tiru, tonden gan- tin mune lepas.

447. Salahmune ring gumi, uli cenik sampe tua, mancan buwin

bekel ibane, munjuk jani solah iba, langgiane tekening

nanang, karana iba siyu tahun, Diyamaloka kasangsaran.

448. Raga iwang tong ngaku pelih, kujang nanang sinempura, he

Bagawan liyunan peta, ujare nerpa putra, merkak petan-

mune ngawag, buat apa minta luput, dening iba dudu dewa.

449.Tonden tentu kalah kai, uduh iba hidung lantang, jani cen-

tokang kasaktianne, onyang kawisesan iba, Bagawan, masawur nah, nerpa putra mesat sampun, musna na ring tatontonan.

  1. Kaget munyi manangtangin, mai alihku pandita, pagutang kawisesane,Bagawan mapin tan renga, bengong-bengong mailehan, suryake mawantun-wantun, samian ringGem- puranpura.
  2. Ajahan meneng sang Resi, Raden Anom raris tiba, maimpus tangan sukune, runtuh ana ring payudan, Bagawan nesek ngarakgak, sawi ica nembang pangkur, masolah ngembatang tangan.
  3. Bagawan ngembusin tali, sarwi kenyung mangandika, ndi karepe matandingan, enggalang cai petayang, yan maidep ring sagara, Raden Anom nimbal matur, kares-resan marasa kalah.
  4. Durusang mangkin sang Resi, sarat titiang ring Bagawan, Bagawan enah ujare, pranda ilang akijapan, nerpa putra bingung nyingak, sang Bagawan kantun ditu, kaparanin mailehan.
  5. Sang manonton nyingak sami, yan pranda kantun irika, Raden Santosa reko, kari ngrungu mailehan, dini alih genah nanang, Bagawan ngandika ditu, sang nonton sami masuryak.
  6. Ane paek joh alih, anak ngenah tuara tawang, ento apa ditu nongos, awake enggalan rengas, bingung paling mailehan, ada dini alih ditu, Semar Gareng manyuakang.

456. Ngembulang sambilang ngamirmir, lawut jani ia sentokang,

tandingin panglumhahe, kai suba ne wang Jawa, ngendonin mapinton rupa, nyadia ngalumbar kaweruh, pada abot ngaba daya.

457. Nerpa putra malih sengit, dadi angin masiluman, mang ru-

ruh pandita reko, sami lesu mailehan, taler durung kapang- guha, Bagawan kenyung makidung, sarwi ngadeg mangandika.

  1. Heh nanang ada-ada di sini, tan pergi kemana-mana, sang Anom mamireng reko, ring tan ana mangandika, dija genahe Bagawan, masih tonden tepuk aku, jani aku ngaku kalah.

    459. Mulia katone mangkin, sang kalih marep-arepan, nerpa

putra lintang bengong, ring kagunaning pandita, nahan raga

kakasorang, kaludan kimude ditu, yudane dados tontonan.

  1. Bagawan ngandika aris, ayo ae sang Santosa, da suwu dane, kalingke kamu sanunggal, yadin onyang togtogang, du kapanke nanang kimud, teken wang Gempuran pura.
  2. Narang kimud tong gugonin, Raden Jaka Santosa, tumuli raris nyalempoh, putus mungwing daya upaya, alah tong sida manglawan, nerpa putra malih matur, titiang nyadia mapunia jiwa.

    XXIII. Adri

  3. Nunas titiang sane mangkin mangda puput, sadurunge raden dewi, ngiring mabuncing ring sanga putus, punika kranane mangkin, titiang puput nunas kasor.

  4. Duaning sampun janjin titiang saking sampun, mangda padina titiang mangkin, durus cabut mangkin ratu, Bagawan raris nyawurin, heh cening Santosa katong.
  5. Dahat sayang cening bajang bagus, wisesa sakti manginggil, salawase kadi aku, andadi pandita sidi, belum perlu mem- bunuh wong.

465. Nerpa putra ndugi malih nunas matur, lancaryane titiang

mati,tan lian margane rahayu, antaka daleming jurit, nika marga pinih kawot.

466. Pranda ugi mangawinang margan ingsun, mantuk ring

sawarga luwih, pandita makeling alus, aduhdewa sanga- pekik, lintang sayang dumas ingong.

467. Bilih cening kapwa dewa pacang tinut, salawase mangda

kari, duaning bapa durung mangguh, lintang sakti kadi cening, karep ring prang bratayuda.

468. Nunas malih nerpa putra nimbal matur, nunas titiang puput

mangkin, margane rahayu lampus, suweca ratu ngicen mangkin, durus cabut jiwan ingong.

469. Sawur Resi tuah patut ujarmu, yaning tong dadi ampatin, le-

jeh dewa nunas lampus, antosang ajebos cening, pinunas bapane antos.

  1. Nulia mesem sang Bagawan raris muwus, bapa tusing ngaba keris, angapa budine sang bagus, yening prane tumbak keris, yening pedang sane kanggo.
  2. Ledang kewala titiang puput lampus, pinunase raden mantri, diastu munggal ledang ratu, puput titiang ngiring mati, mamangguh manising layon.
  3. Yening keweh sang Resi merolina ingsun, antuk tampak palu wesi, antuk kawisesan durus, nika wantah titiang nyudi, mangda musna sawan ingong.
  4. Lungsur titiang nika sawa tan pakubur, mangda sampunang ngaletihin, ring ibu pratiwi iku, tunas titiang sane mangkin, bawos ratus saking alon.
  5. Wenten malih piserah titiang ring iratu, daging puri maka sami, sami iratu mamungkul, ping kalih jagate ambil, panjak sami ratu ngamong.
  6. Ida Resi ngulapin pangiringe ditu, Baladewa Kresna murti, Bima Arjuna Raden Bungkus, maka lian miwahe pangiring, Semar Gareng nimbal alon.

  7. Heh-heh lain sekarang lain dahulu, pun Gareng kenyem nyawurin, betul sekarang salah dulu, suba belum kujang jani, kanggo masih kadong locot.

    477. Mangandika sang Bagawan maran arum, Kresna Arjuna ke-

tocai, Baladewa Raden Bungkus, boya nanang maksa jani, saking pinunase abot.

  1. Mapitaken prabu Kresna kala ditu, miwah sawatek bupati, tidong sayang ring jiwanmu, nerpa suta matur singgih, mula tuah sasangin ingong.
  2. Ayo hah heh-heh Santosa nunas limpun, salah kamu saking nguni, piserahara dewekmu, maring sang hyang murbeng bumi, nahan ujar Resi katong.

    480. Lamana olih nugraha ring hyang agung, mulih ring kawitan

nguni, naring gumi wayah mantuk, Bagawan maneleng langit, meneng ida nora mawos.

  1. Mapralina ring suklaning adnyana, sang Santosa kadeleng aris, nulia rebah seda sampun, layone ngalayang gelis, musna ilang nora katon.

    482.Nohan ana sabda mantara karungu, duh Bagawan ati suci,

karepe jati manulung, sang Pandawa mangda molih, tekan- ing prang bratayuda.

  1. Wus kalugra pinunase duh sang sadu, olih sanghyang maha suci, titiang wantah sareng tulung, ngawenin sang limang siki, suka lila sang manonton.

    XXIV. Ginada

484.Sampun seda nika wuwusan, wadua oreg maka sami, mangu-

ningang mangadatuan, Semar Gareng ngucap guyu, jani benya mangiringang, pranda sidi, kawin ida katumbenan.

485. Kija laku manyilihang, pakianpanganggon sang buncing

kedeke mabriag reko, suatekeng manonton ditu, Bagawan raris ngandika, jalan jani, naring puri mamatutang.

486. Tagih kapining sang nata, Jaya Kusuma dipuri, anake sang

ayu anom, Sandat Pangasih puniku, luwir prajan jiane suba, ia tuwonin, jani suba ia kua sayang.

  1. Watek ratune ngiringang, tumulilawut mamargi, Semar Gareng masasendon, satingkah panjine ditu, pranda wake dadi raja, nyending dini, raja muda di Gempuran.

    488. Wake dadi juru surat, mentas digumine dini, susukat ku kari

anom, manyacak wateking luh, ne muani nanangngi- tungang, da miwalin, nana Semar awak tua.

  1. Papatihe mangkin kocap, Jaya Danuh Indrapati, rawuh ring puri nyalempoh, ngaturang ring anake agung, putran ratu sampun seda, mangmasin, layon ida sampun musna.
  2. Umung tangise ring purian, sang prabu lan prami suari, nulame ida sang anom, prani suari mulisah ditu, dija alih titiang ida, jalu asiki, jiwan titiang tuah idewa.
  3. Wiakti katah yan ucapang, sedihe ring jro puri, tumuli kabawos reko, sua duhka tan mari pangguh, idupe mawanan pjah, sai panggih, duaning mula tatamian.
  4. Dewane mula kuasa, mangodag watek dumadi, ragane mula kawengkon, wenten uri wenten malu, mangemasin pacang pjah, sareng sami, saja ditu matunggalan.

    493. Mula pasti titiang dewa, yadiapin Sandat Pangasih, saget

keto ngelah dosa, sang prabu raris mawuwus, becik aturang angga jiwa, ring hyang widi, jati widine kuasa.

  1. Tangise wawu mararadan, sang Resi wawu prapti, miwah pangiringe reko, Semar Gareng watek ratu, sang prabu lin- tang kagiat, manyingakin, sami rawuh saking jawa.
  2. Sang Prabu prang Gempuran, sareng ida prami suari, tumuli manyapa alon, naring temui wawu rawuh, tur malunguh maring lemah, sang krawuhin, ngalap kasor tur manyembah.

    496. Sami gipih wang ring puryan, gelis ngaturin malinggih,

durusang ratu ledangang, sang prabu raris matur kawone ratu dreweyang, matur sisip, ledang ratu nginempura.

497. Sampun katuran palangka, sang pandita tur malinggih, sawi

mangandika alon, uduh cening watek ratu, mai dini bareng bapa, naring korsi, dadi dini bareng negak.

  1. Sang prabu Jaya Kusuma, ngadeg ring ajeng sang Resi, Sang Bagawan mangandika, apang cening tatas tahu, niki sami saking jawa, prabu patih, mangda tatas tahu wikan.
  2. Prabu prang Gempuran nyembah, durusang ratu malinggih, Kresna Arjuna nyawis alon, durusang ngiring malungguh, mababawos saling timbal, suara manis, sami jirna ring panangkilan.
  3. Panamuine raris medal, katuran watek bupati, sang Resi katuran reko, Semar Garengbareng ditu, puput sampun ngarayunan, nampih lingsir, Bagawan raris ngandika.

    501. Ih prabu Jaya Kusuma, pang netepang lamun janji, luwir

pangundang apang twon, dipayudan nanang ngunggul, Jaka

Santosa wus pjah, ane jani, Sandat Pangasih juang nanang.

  1. Sang prabu prang Gempuran, ngalap kasor matur singgih, ti- tiang boya pacang adua, ledang wantah kayun ratu, muang ala ayuning jagat, inggih sami, wantah ratu nereweyang.
    503.Saksi ida prabu Kresna, miwah watek prabu sami, wira man- tri balan ingwang, ring paseban mangda tahu, jagate aturang nira, ring sang Resi, pandita masawurnah.

    504. Bagawan nyawis ngandika, bapa nampi maka sami, nora

saking bapa momo, anakmu ida sang ayu, jani pacang lemesin bapa, saking aris, yening bapa kangguanga.

  1. Sing nya kaget tuara nyak, bapa buwung ngalemesin, dening goban bapa bocok, yadin bapa ngodag mengku, tan wenang bapa mamaksa, ngalap rabi, ngaran rabi biksu sukla.

    506. Kaget sudi kapan bapa durus bapa nganggon rabi, ma bun-

cing ia elag-elog, ibu ilen sane bagus, anggon mangiringang bapa, tatan buncing, netepang kramaning jagat.

  1. Tusing bapa maselselan, tan sadiane sing kanyakin, bapa ngasen goba kasar, buwin tusing totos ratu, uling suba dadi panjak, tuwuh lingsir, entone plapanang bapa.
  2. Kertin bapa ngardinin jagat, saturunan mangda becik, Pan- dawane tusing kawon, rin bratayuda kapungkur, knacening manuwutang, sareng sami, rahayu gumine sadiayang.
  3. Sri Jaya Kusuma nyembah, tan panjang titiang mangiring, diastu ta manemu kawon, yening sampun kardin ratu, napi malih nemu suka, de sang Resi, sapisan titiang ngaturang.
  4. Watek ratu suka lila, mamireng tatimbang becik, kadi merta wawu temboh, saling alem saling nyungjung, sami kancane kaujar, magenti-genti, babawose naring paryan.
  5. Tatua dika weda satuan, nampih wengi kabawosin, sang wiku ngujangang reko, watek ratu mireng ditu, modre lawan sastra jendra, lawan seruti, daging gamane utama.
  6. Wengi nyane kaliwatan, sirep sampun maka sami, enjing medal sang hyang surya, watek ratu telas maungu wus masuci raris medal, tur tinangkil, mangilenang ida pranda.
  7. Dane Semar pangid ngojah, sang Parta kni papiring, manye- ledet cekoh-cekoh, jrijine wilangin ditu, satu dua tiga ampat, buwin jumunin, debel pangukupenyan.
  8. Pun Gareng manyambung polah, sambil kedek mungkah mangkih, nika untungi kawula, ngiringang Arjuna bagus, nomer satu suba lumbrah, nomer kalih, pangiring imade odah.

    515. Ne suba panglumbah jagat, uling suba wake ngiring, dari

dulu wake kasoor, naring wiwa ditu pangguh, kasuangan aku kauntap, kapa silih, danganan bebed papeletan.

516. Mendep Gareng nanang ngucap, he Jaya Kusuma aji, sang

dyah dija mahenggon, apang nanang jua cunduk, nyadia ngadia ngalemesin ida, raden dewi, yening kapo ida ledang.

  1. Sang Dewi wenten ring taman, durus ratu mangrawuhin, awot sari sami ngasor, sang prabu matur puput, ida pranda mailegan, kenyar-kenyir, makire raris mamarga.
  2. Nembang sinom lagu jawa, mangandika ring sang kalih, ceceh ilegane ngenggot, Semar Gareng mari turut, karo aku tindak kataman, lemah jani, sang dyah lakar kawinan.
  3. Pangiringe mangatgatang, apang musti bayah jani, talene sing dadi longang, kbo celeng anggo nawur, keruh nanang uli jawa, nyadia nampi, saliyun lawar bakal amah.

    520. Sadia keto tusing campah, ipun Gareng manulurin, apang

eda nyipat ngosod, talene upahin malu, tingkah buncinge ciriyang, tumben jani, pranda wake lakar kawinang.

  1. Prami suari imang nyawisang, sarwa sandangan becik-becik, katuring pranda katong, makipekan pranda kenyus, depang nanang papojolan, luas mabuncing, sapailehe tetepang.
  2. I Gareng jengah ngarepang, sangkan tusing ratu nampi, yan- ing prade kemad nganggo, tiang sanggup mayasin ratu, apang kenken titiang. bisa, ngiyasin buncing, nemaudeng cacototan.
  3. Bagawan mwur nyingak, depang nanang kuskes gudig, apang eda salah enggon, payas nanang teked ditu, dilacure sing nyakina, sanget kabilbil, diketone kimudang nanang.
  4. Maring puri mangkin kocap, sang prabu ngandika aris, ring bala mantri di jro, katuduh nyawisang mangingu, nagingin munyin I Semar, samian jerih, duaning ika dewan-dewan.
  5. Lingsir sore kawuwusan, sang hyang surya sayan etis, naring taman kocap reko, Nginte ngemban pada uyut, ring taman mengrereh sekar, wangi-wangi, jaga katur ring sang dyah.
  6. Raden Dewi wus masiram, nandang payas ane mangkin, ring mase ngaronyoh, bale kembang jroning ranu, mangireyang masasanjan, sareng sami, gadis-gadis mangapitang.

  7. Bibi inya manabdabang, Nginte ngemban mamayasin, ser- buk mas magagandan, bon nyane miik ngalub, nyandin gam- bar sarwa endah, wenten malih, togog mas mailehan.

  8. Pangapit lawang punika, pancorane kanan kiri, toyan nyane pakbiar-biar, ring jro kembangendih murub, gadis-gadis sampun yas, jaga ngiring, raja putri wawu medal.
  9. Dadia ta buka pajogang, kacingak ida sang Resi, sareng tiga manyaroton, tuan putri raris mundur, karep ida nguneb lawang, lan pangiring, kabatek ban ibuk manah.
  10. Ring jrowan maulekan, takute kapili-pili, budi kaja manomplok, Bagawan malejer ditu, masimbangan ring lawangan, kenyir-kenyir, Semar ngucap enggalang.
  11. Tampuse jani suba ngambah, durusang jani kembarin, ne siteng nanang manyangkol, Bagawan sumawur guyu, nguda luh sepanan rengas, nden pedasin, anak patuh pada yadma.

    532. Da paling maslibsiban, ingetang awake nyai, adah nongos

nyai keto, awas goban nanang malu, nanang jati tusing macan, da nakutin, negak ngomong papolosan.

  1. Liatlah dahulu adinda, heh dewi Sandat Pangasih, aku suba raja muda, nanang betul dadi lakimu, ngunggul dini dipayudan, aja lali, mangke ngetangang kawinan.
  2. Dyah ayu magageoran, dahat jrih tidong gigis, rupa tawah lintang kawon, sang putri rebah raris kantu, mireng munyin sang Bagawan, lintang ajrik, manyingak hidunge lantang.
  3. Macengkeng ibayan gigian, ada kambing ngaku rabi, ora hang jarang masih tidong, cunguh lantang cunguh alu, mati ndakan batisne timpang, tan pasaring, pongah mai ngadu peta. 536. Nginte ngemban mangandupang, asu wuta teka mai, I Semar mangucap ngenyor, enggalang sapa kakang rawuh, payah datang dari jawa, ngulayanin, makabar campange besar.

  4. Kekecuwing nibayan ngojah, kbone lancang mamunyi, ngakuwang jawa mapinton, selem bolot pelung makidung, dane Gareng mangwalesang, mendep nyai, saking patut munyi melah.

  5. Bagawan kenyir mangucap, takut Resi duala suci, mangasorang Raden Anom, rakan dewa duh sang ayu, mangkin sampun ida seda, mangemasin, layon ida sampun musna.
  6. Takut sami tan pangucap, makakeb tan purun nolih, pesu peluh pacarodok, sumingkin sang dyah kantu, kaludan rakane seda, sayan kasih, duaning sanak tuah sinunggal.
  7. Ceceh Bagawan ngandika, lan pangiringe kakalih, suwe nora kuales reko, kemengan Bagawan ditu, makisi-kisi ngandika, ring sang kalih, Semar Gareng apang tawang.
  8. Ajak tetelu jua sekepang, rusianku jani kasisi, eda wera nanang mangomong, mapi tutur dini ditu, Bima Niyu kamedalang, bagus genjing, saking kantong katinglan.
  9. Semar Gareng jani kagiat, ngantenang sang luwih apekik, sang bagus raris nyalempoh, nulia nyembah ring sang putus, napi wenten pakayunan, ratu Resi, kadi tembe ulat datenga.
  10. Durusang ratu nikayang, titiangwantah telas mangiring, Semar Gareng bengong gawok, minehin unduke ditu, babar engon ia belbelan, dening lami, ne dumun dija magenah.
  11. Mangomong ajak timpala, ngucapang sang Resi sidi, kene ke awake molog, tuara nawang idang-idung, telu pindo tuara tawang, mangulurin, betek basange semengan.
  12. Ida Resi nulia nanggal, masolah munyine manis, duh cening Angka Wijaya, jodon dewa jani rawuh, itu lihat sekarang tanggap, anggen rabi, putran ratu prang Gempuran.
  13. Tampi dewa tresnan kakiang, to dewi Sandat Pangasih, pantes dewa metu karma, niki putri lintang kasub, putri kan- cing jagat, naring jawi, jaya wijaya ring yuda.

  14. Sang putri takut ring bapa, suwe ida nyele ati, dini malu cening nongos, antosin ida sang ayu, bapa kapuri ajahan, ring ajin cening, magendu rasa upaya.

  15. Hemban dini nanang Semar, wakene jani kapuri, yatnain dini mangomong, eda benya tani lingu, karin ento nanang ngelah, edum dini, ne suba upah makenta.
  16. Sampun lunga sang Bagawan, manuju raris kapuri, sareng sami ditu mabawos, ngortayang unduke ditu, durus mani pa- buncingan, ring sang putri, tidong ke bapa nyakina.
  17. Geger umung wang nagara, mangojahang wenten buncing, gendongan masuara reko, wira mantri sami kumpul, mangi- tungang pacang ngebat, watek putri, mangilenang upakara.

    XXV. Sinom

551. Naring taman mangkin kocap, Bima Niyu manesekin,

mangawas sang ayu dyah, saking sor ngawas ngalingling, ngambil tangan sada aris, manyundang uli dipungkur, nala Gareng mengojahang, ngalah ungkur semu kabilbil, tumben pesu, dahat pris panyawakan.

  1. Lurah Semar nimbal ngucap, angganing babotoh cenik, mangembarin tukang kembar, lakar kangwang sisan pilih, nampi ukupan disisi, nanging ke nyisinin ditu, udeg ratu durusang, I Gareng maid kasisi ngukut-ukut, pun bayan saup enggalang.
  2. Pun lemet matateyengan, macengkoh masih lawanin, sukat seger ia ulahang, ulurin hidupe jani, dadi lanang mangen- donin, puput karyan nyane ditu, takut kimude saruang, ceceh kijapane ngedil, ejahan caluh, masa tonden ia socapan.
  3. Saking jaba mangaturang, rarisang ratu tampekin, Angka Wijaya dupdupang,menek tuwun manglingling, duh mas mirah titiang adi, ratnan titiang duh sang ayu, ring pada toh ada sama, irika ana ring bumi, ayu nerus, Sandat Pangasih dewan titiang.

  4. Puputang suwecan imirah, titiang satria saking jawi, ratu dewaning sakara, kasor madune-apasir, wiadinkenyir tan- patanding, dewaning putri manerus, dewaning pakasutan, nyaup nyangkol ngasih asih, munggah ditu, ana ring palangkan mas.
    556.Mangliliridasang dyah, jrijine pakuritip, maka panjang kumaredap, Bima Niyu mamecikin, sasambate ngasih-asih, tan mari ida ngarumrum, susu gemuh mapidada, mua meres putih gading, putri ayu, mangligas maring pamereman.

  5. Btek batise mamudak, mangasorang pring gading, rambut demdem magambahan, kadi mega ngemu riris, warna kadi sasih mijil, raga luwes gading lumlum, tangane mamedang- medang, sayan meling sane mangkin, tur ngalesu, kari jejeh nekep tingal.
  6. Sang bagus wawu mangaras, duh dewa Sandat Pangasih, at- man titiang tuah idewa, titiang tambet ratu prapti, adoh titiang ngulayanin, nyadia nambanin iratu, duaning kabar ratu sangkan, cingak ratu saking aris, sang dyah ayu, ne- kepang jriji ngalangahang.
    559.Kari kasengguh Bagawan, bani takut jroning ati, usud usude nyiriyang, belig alus lintang kalis, carma lu wes katon gading, sang dyah alon manulu, sang bagus malih ngandika, ngarumrum mangasih-ngasih, ratu ayu, puputang ican imirah.
    560.Sasendorne selag babasan, suarane manis ngurinting, ngadeg ratu cingak titiang, Nala Gareng ngojah di pinggir, dab- dabang malu pedasin, dong ke Resi lantang hidung, ngang- gar pedang lakar munggal, tuan putri jani masin, sang dyah ayu, tongkejut bangun ngeng galang.
  7. Macebur ida nurajang, Bima Niyu ngalantingin, kagamel tangane kiwa, saking pungkur ngaras ngabin, sang ayu sanget kabilbil, cacingake ngawe kengus, tan mari nge- johang tingal, Bima Niyu manguyonin, adi ayu, beli suba sang Bagawan.

562. Kantum nyingak hidung lantang, ne mangkin lantangan

malih, sang ayu kenyung mirengang, dening dudu kadi nguni, smitane arum manis, ngatonang sang bagus ditu, dening jati mabinayan, alus kadi tangan putri, ilang takut, kni panah hyang samara.

563. Manis pangucapne lanang, ledang ratu sane mangkin, sang

dyah matolihan, saling awas saling lingling, terang sampun kauningin, warnane ida sang gabus, luwih wibawane galang, dening jati tos bupati, lintang bagus osah citane sang dyah.

  1. Katuronan samara gama, cingake mamaling-maling, lesu renoh bayu runtag, I Semar diwangan ngintip, sarwi ia kedek mamunyi, mablabad ngadokang ditu, dari mana asalnya lin- tah, dari sawah turun dikali, Gareng pangus,manyawurin gaguyonan.
  2. Aku tahu asalnya cinta, dari mata turun diati, julukang nanang julukang, ayam mataji asiki, ngodagditu mango- bongin, sinah tatun ipun saru, majuk dibatan angkab, I Semar ia manyawurin, enden malu, dingo cohe malang ina.
  3. Sang dyah manyawis dabdab, inggih titiang durung uning, sapa sira wantah idewa, tunas titiang saking jati, tinggarang ratune mangkin, sang anom nyawis masawur, patut wacanan imirah, duaning wawu ratu panggih, Bima Niyu, jati wantah wastan titiang.

    567.Rawuh, saking tanah jawa, sang Resi muatang mariki, mate-

muang majatu karma, ring iyadi sane mangkin, ida pranda

lintang sidi, titiang nunas anggan ratu, ring titiang majatu

karma, sang putri manyembah aris, ngiringratu, ledang mamanjakang titiang.

568. Wawu titiang salit arsa, sengguh titiang ida Resi, sane jaga

ngalap titiang, dane Semar manyiptain, bunga sarangke bunga malati, campaka jangan diapus, dane Gareng raris nimbal, hidup mati tan perduli, jangan ngambul, papa naraka juga berdua.

569. Wus puput babawos ida, ring paturunan saling sukain,

wenten wawu jam ping sanga, mijil ida sang kakalih, madan- dan tangan ring putri, saksat sang hyang ratih turun, kalih sang hyang Kamajaya, ngemban rabi lintang luwih, maku- langun, ring udiana sinang galang.

  1. Salila tengahing taman, sambil ida majang sasih, ambun sekar maimpungan, samiranane ngasisir, muat gandaning kasturi, naring taman ngalup-alup, Nginte ngemban mangir- ingang, metik santun sane merik, Semar ditu, juru muat pamucangan.
  2. Nala Gareng juru nembang, masasendor solah pangid, pun Semar juru ngucapang, mailehan sami ngiring, pangiringe sami pangid, Nginte ngemban geger umung, tan mari magagonjakan, mawantun tuture mangkin, nekawuwus, wangsa dewa sanghyang Narada.

    XXVI. Pucung

  3. Ngumbang mabur, sanghyang Narada nyalupsup ditu, rawuh ida maring taman, ngaruruh Sandat Pangasih, katon ditu, saha lila jroning taman.

  4. Pedas ditu, sareng ida Bima Niyu, Gareng miwah Semar lan wang jrone mangiring, uyut ditu, sinah sampun kakatonang.
  5. Sadian ingsun, nene ruruh sampun tepuk, parikosa mangarepang, manyambut raden dewi, gelis metu, saking taman kakeburang.
  6. Sarwi mumbul, hyang Narada muwus, heh Angka Wijaya, ne dewi Sandat Pangasih, juang aku, katur naring sanghyang Ciwa.
  7. Sang Bima Niyu, kabangan nulia mangepung, Semar Gareng mangimangang, sela genti mangancogin, sampe lesu, sang putri sayan kumambang.

  8. Ngambara sampun, hyang Narada sampun duwur, putrine kabuat, Bima Niyu tan sah nangis, segu-segu, tulung titiang bapa Semar.

  9. Apang rawuh, Sandat Pangasih sang ayu, dane Semar matur sembah, sampun ratu sedih kingking, margi mantuk aturang ring sang Bagawan.
  10. Duaning ratu, nampi suwecan sang putus, kancit mangkin ical, puput ida pranda serahin, ala ayu, ngiringke mangkin aturang.
  11. Marga ratu uningang kapuri agung, kadong ke wawu ical, mangda tan kasepan mangkin, uduh patut, ngandika sambil sigsigan.
  12. Lunga sampun sang tiga sami manguntul, nangkilin Bagawan, Semar Gareng sengir-sengir, kengung kenyung, bengor-bengor cunguh lengkat.

    582. Sampun rawuh, ngranjing ring puri agung, Semar Gareng

mangaturang, doah-dowoh ia mangling, katur ditu, Bagawan bengong mirengang.

  1. Gelising tutur, ring paseban sampun rungu, sami pada kagiat, kanjekan minab magusti, watek ratu, manangkil sang Bagawan.

    584. Maceder ditu, Bima Niyu nyalempoh bekut, I Gareng pun

nyebak, daah doweh tunggang-tungging, kasereb ditu, babawose nasing puryan.

585. Bima Niyu, nganturang indike ditu, inggih sangBagawan

tani bagia titiang mangkin, pican ratu, sampun mangkin pandung anak.

  1. Kagiat ditu, sang Bagawan wawu nulu, putran ida prapta, jag tembok toyaning aksi, tur kagelut, olih ida sang Arjuna.
  2. Nanak bagus, uli dija sangkane rawuh, apa ne sangkan sung kawa, Bagawan kenyir nyawurin, mapitutur, ring watek ratune samian.

  3. Bima Niyu, uling suba bapa mundut, wus majatu karma, ring dewi Sandat Pangasih, nanging lacur, jani suba bapa nawang.

  4. To sang ayu, hyang Narada sane mandung, da cening sung- kawa, gampang nanang manimpalin, mendep malu, cening agung ajak makejang.
  5. Meneng ditu, ajahan ia sampun puput, masuwir matepuk tangan, kijapane sarwi ngedil, ngandup-andup, luwir ngan- dupang asu ajag.
  6. Maglebug, ida hyang Narada ditu, ana ring paseban, mundut dewi Sandat Pangasih, tur malingkuh, seda ngerok ida nidra.
  7. Resi ditu, mangraris ida nguduh, cening Angka Wijaya, rabinmune ento ambil, sang Bima Niyu, ngambilrabi madekesan.
  8. Mangrukguk, I Semar masemu guyu, ukupane saupang, ra- jekane ia timpalin, aja takut ngendon uli tanah jawa.
  9. Resi putus, pun Gareng nulia kautus, ayuk golek babuatan, pondongin dewane rusit, apang kimud, dadi dwa kurang ajar.
  10. Ngalih batu, maceko I Gareng nikul, kabuatin Batara, abot nyane tidong gigis, kema bangun, iluh batu kema aturang.
  11. Dwa ruruh, aturang ring sanghyang Guru, bikase mangodag, tukang olah anak marabi, danghyang putus, nguduh ida hyang Narada.
  12. Lawut bangun,' kidem-kidem muat batu, tong dadi rere- nang, to batune ia jangkutin, raris mabur, inggih ida hyang Narada.
  13. Sampun mabur, hyang Narada muat batu, macekoh dimar- ga, kari ngidem miber gelis, tan uunyungkut, durung eling ring ambara.

XXVII. Ginada

599. Prabu prang Gempuran kocap, sareng ida prame suari, sami

suka ring kadaton, manyingak mantune bagus, matur sem-

bah ring pranda, pranda sidi, ne dumun dija magenah.

  1. Inggih raden Angka Wijaya, sang Resi ngandika aris, bapa ngajak uling kuna, jani bapa sane mundut, mendep to da mamanjangang, apang jani, puputang ida buncingang.
  2. Sami ledang dipurian, kalih para ratu sami, naring wengin nyane reko, biange raris mawuwus, ring putran ida sang dyah, makelingin, satingkah anak marabian.
  3. Sandat Pangasih dewan titiang, elingang pitekete sami, marabining satria katong, ring nanak sang Bima Niyu, luwir selepa olih tekepa, da miwalin, sapakayun anak lanang.
  4. Anute apang satata, salah becik kenyir manis, anggen mangemban sang anom, tindak solah apang patut, plapan dewa makruna, rawos manis, tata kramaning marabian.
  5. Lanang istri mangda pasang, pinaka wadahne istri, sane lanang daging kawot, tatan antuk idep alus, natakin anak utama, sasat manik, sangga antuk bokor mas.
  6. Anggen utaman manusa, nika mertane utami, mangda sam- pun manglencok, raga pocol yaning runtuh, mangda sampe tan marebut, ngiring rabi, sakit durus weteng layah.

    606. Tusing doh mangalih imba, ring ragane mula pasti, disebete

durus kado, uduh cening putri ayu, tindak melah semu ban- ban, munyi manis, nika merta kayang-kayang.

  1. Angganing anak maratengang, kuskusan natakin nasi, tuah keto dadi wadon, mangwadahin mertan ipun, pinaka ke- kebne lanang, manekepin, anggen ngalebengin beras.

    608. Salah tunggai yaning cacad, joh pacang ngalebengang nasi,

sinah ipun p¿cang kado, duaning wadah tusing adung, di- ketone nyen selselang, raga pelih, tulus payu basang layah.

  1. Angganing banteng matekap, yening meda siki-siki, tong tulus makarya reko, raga tuyuh prabot lung, keto dewa sing ja lepas, kaguyonin, nyama braya mangucapang.
  2. Wenten malihpiteket biang, uduh dewa kadi ratih, solah benya limang soroh, wilang dewa ukud-ukud, ping arepe nyaga umah, diping kalih, nyaga tamiyu suka lila.
    611.Ping tiga nyapa sang lanang, yadin rawuh saking napi, diping empat dipaturon, ping lima sandangan dalu, saksi ber- sih nora pang pang, munyi manis, luwih laksana.
  3. Tarima ring panguduh lanang, yaning nagih ia sukanin, aja murug ring paturon, napi luwir solahe patut, mamunyi nebekang manah, adung sai, tiga adunging adnyana.
  4. Lanang istri kadi timbang, mandega ring tengah pasih, malayar manuju enggen, juru mudi juru dayung, sambilang mangamong layar, mangda gelis, asing sane laksana yang.

    614. Sane ngamong layar ampah, dadi kadat pun dimargi lekok-

lekok lintang abot, juru mudi taler patuh, yen ipun kirang pariksa, kadat gati, dilacure lingebanga.

  1. Puput biang makelingang, sang putri telas mangiring, kadi sabeh tembe reko, nibanin sasih kacatur, nyusup sami kapa- sukang, jroning ati, nora wenten magantulan.
  2. Pirang dina kawuwusan, dura desa maka sami, sang Kresna ngandika alon, singgih ratu Resi putus, dahat meweh manah titiang, manandakin, dukan ida sanghyang Siwa.
  3. Bagawan manyawis gampang, yadin keto pacang tampi, tengah wengi mangkin ngantos, wang nagara sirep mung- mung, kocap ida hyang Narada, wawu prapti, muat batu ne kasuargan.
  4. Kocapan ring siwa loka, sanghyang Guru mangantosin, utusane rawuh alon, manangkil ring sanghyang Guru, man nedunang babuatan, sada aris, sanghyang Siwa raris nyapa.

    619. Selamat datang hyang Narada, neka putra matur sisip, dua-

ning ratu lintang adoh, krana kadat titiang rawuh, niki puri wus kawenang, wawu tolih, watu ireng.kaglebugang.

620.Pondongnemagrebiyug tiba, ukur katur nane mangkin, kagiat hyang Siwa ngatonang, danghyang Narada lintang kimud, gelis nunas laluputan, tan uningin, seken titiang ratu titiang.
621. Dituni sampun kawawa, dyah dewi Sandat Pangasih, keniyong titiang maring taman, mindah mangkin kancit watu, heneng titiang panembahan, nunas sisip, sang hyang Siwa ida duka.

622. I Petruk baang ngalahang, sampe benya kajailin, Bagawan

ngarenggeng reko, dening sanghyang lintang bendu, sang Resi matul sembah, singgih mangkin, ledang ratu pakayunan.

623. Nira pacang ngualesang, I Petruk lakar nandingin, di Pan-

dawa pacang antos, puput babawose ditu, ring prang Gem- puran kocap, sampun enjing, buncinge mangkin ilenang:

  1. Dawuh kalih sampun yas, buncing makire mangkin, puput sampun mapayas reko, gendongane lintang bulus, suaran meriyem panyatusan, kuma ridig, mercune tan papegatan.
  2. Gong kendang mawurahan, kadenceng miwah gong beri, mider dibancingah reko, tajek surya sampun puput, buncinge sampun ngapuryang, mangedahin, sasat ratih makem- baran.
    626.Katah tamiyu pangetian, kawuwus sampun malinggih, wa- tek ratu bala katong, pangayahe ngusung-usung, sang Resi sampun katuran, saji luwih, Semar Gareng kaujungan. 627. Pun Semar ngembegang basang, sopane manyendi, pangayahe kenyel bingong, busan-busan nagih imbuh, telung katih sop apisan, buwin nagih, dela-dela maciplakan.

    628. Mangalimgim ipangayah, tumben nepukin icang jani, kereng

anak buka kene, sumasat ngurugin pangkung, Semar Gareng taag-taag, ngulun ati, beteke masih segsegang.

  1. I Semar ngawukang lawar, nu kuangan buwin abedik, teken tuak buwin acedok, anggon nanang bekel mantuk, mani dija ngalih lawar, buka jani, ne suba talenan banjar.

  2. Puput linggih sampun bubar, tamiyu budal maka sami, wengin nyane mangkin ngentos, sasolahan ngentos ditu, sa- warnaning sarolahan, magenti-genti, calonarang buka lemah.

  3. Puput mangkin pabuncingan, wenten sampun dawuh kalih, watek ratu mangadaton, naring puri sampun kumpul, ma- nangkilin ida pranda, ratu sami, mangireyang pacang budal.
  4. Puput wilangane budal, duaning suwe ninggal puri, muang Angka Wijaya reko, kailenang buwin ditu, kaadegang raja putra, pratista malih, sareng rabine sang dyah.
  5. Pateket ujare Bagawan, duaning bapa masasangi, nguta mayang Angka Wijaya, kayange mabuncing ditu, linggi hang ring kursi mas, tedung kuning, jalan iring mai lehan.
  6. Watek ratu sami undang, mangda sami tatas uning, mangda telas ngiring keto, ring payudan besuk ngunggul, tekaning prang bratayuda, yadin mati, masih kasub mangasorang.
  7. Bima Niyu wekas nurunang, treh agung sane luwih, tekaning pamuntat keto, kertin ida tetep sampun, olih panugrahan sanghyang, awinan kni, Sandat Pangasih da sang dyah.
  8. Yan dinorana mamutra, sang dewi Sandat Pangasih, taler wenten saling siyosan, sami ledang pada ditu, mireng tutur pranda sukla, tur mamuji, Bagawan malih ngandika.
  9. Nah prabu Jaya Kusuma, suba masan prabu mulih, ke Pan- dawa jani bapa, sang putrine ajak aku, jumleg pranda sukle, kari cening, bapa ninggalin idewa.
  10. Prabu Kresna mangandika, titiang wantah taler pamit, budal maring Dwara Watia, mangiringang pranda putus, Bima Ar- juna Gatotkaca, taler pamit, malih prabu Dewa.
  11. Matur singgah ratu Gempuran, selamat margi ratu sami, sang kalih raris nyalempah, matimpuh ring yayah prabu, margi dewa apang melah, sarwi nangis, mangembeng wening tingal.

  12. Elingang piteket biyang, maninggalin ibu jani, manyungsung ida sang anom, ida anggen yayah ibu, yadin rencang ia sayangang, kaambulin, tuah ida ne sumbungang.

  13. Sigsigan sang ayu dyah, mireng tutur anak lingsir, belbelan tan sida mawos, toyan aksi dres pesu, mapamit raris mamar- ga, lan pangiring, sang prabu tulak ngadatuan.

    642. I Gareng ngiring riwuntat, I Semar diarepan mangiring, ping

arep Resi Dwala, kocap lampahe ring enu, sagara kidul kaungsiang, gelis prapti, makire ngentap samudra.

XXVIII. Magatruh

  1. Sang Bagawan tur mawali ida muwus, ana ring watek pangiring, dandan bapa cening bagus, ampat-ampat kanan kiri, mangandika sarwi alon.

    644. Mai cening Sandat Pangasih Bima Niyu, ingetin tongose

nguni, Bima Niyu raris masuk, sareng ida Raden dewi, tumu- lih masuk ring kantong.

645. Sada aris manuncap sagara agung, bupatine meneng sami,

tan pangucap engon ditu, ngrasayang jroning ati, kapingone sami bengong.

  1. Tan ucapan lamine jroning banyu, tepi kidul sampun prapti, Wadasti Natare tuju, tan sah pangiringe sami, ngranjing ring gua sada alon.
  2. Lamini ditu kalih wengi kalih dalu, watek ratu manangkilin, sang Resi mapi tutur, tampi cening sareng sami, jatining ku daging genta. 648. Gede Semar ngaturang pangartin ipun, kiku cocok inggih jati, nika sami-sami dudu, pranda ngandika malih, bapa ngujangang pasemon.
  3. Durus cening magenti-genti manutur, anggon ngalang bulan sai, wus masuk ring samudra agung, nora kna malihaling, ngujangang tan kna pinda.

  4. Kaja klod lan panyemah kangin kawuh, napi jatine tocening, Bima Niyu nulia matur, inggih nika tujuh kaki, mangaturang saking kantong.

    651. Prabu Kresna manunasang ring sang putus, mangda terang

ujang mangkin, ida Resi alon muwus, ringkes ipun sapuniki, asing ucapang nora katon.

652. Sane sanga agamane teges ipun, gama jatine kaungsi, nika

nyandang sembah suwun, kasusung watek maurip, pasti nika duh sang katong.

  1. Artin tujuh sane jujuh tuara katemu, nyujuh sane tuara panggih, sane jujuh taler patuh, nika gumi tan patepi, puput tujuh dewa anggon.

    654. Yan ring alas encen utamane ngunggul, guna sajagat maka

sami, prabu Kresna nyawis matur, nika gunung guna luwih, patut ujar Resi katong.

655. Yaning buron encen ane ngodag ngunggul, sang Arjuna

matur nyawis, inggih ratu Resi putus, nggih singa aran kesari, sawur pranda saja keto.

  1. Sang Bagawan malih ida ngujang ditu, ring sagara encen cening, Baladewa nyawis matur, maka jiwan mina sami, inggih toyanikang lod.
  2. Ida Resi tan mari mangujar patut, yaning ring ambara malih, encene utaman ipun, arya bima manyawurin, angin baret nora katon.
  3. Gatotkaca kawangsitin ring sang putus, kija pamulihing gni, Surya Sasih Lintang ipun, Bima suta matur singgih, naring tingal duh sang katong.
  4. Nika sami sampun patut cening agung, tanda pada nora pa- ling, Semar Gareng ngojog ditu, sukate nyilemin pasih, galang tan pabelat adoh.
  5. Anggut-anggut sang Bagawan mapi tutur, krasa ke jro- ning galih, watek ratu nyembah matur, galang manah titiang mangkin, luwih pangojah I Semar cocok.

  6. Sampun galang sami cening, jalan mantuk, mantuk saka repe mulih, Baladewa nyembah matur, titiang Kamadura puri, pamit ring jeng Resi katong.

  7. Sampun mangkat sang pandita sampun mantuk, Bima Ar- juna Kresna ngiring, Gatotkaca mesat mabur, muang tung-. gul payung kursi, naring puri Madukara.

    XXIX. Samarandana

663.Gatotkaca temun ring puri, mangaturang babuatan, naring

Indra Prasta reko, tangkil maring prabu Darma, malih- yudane katurang, polih putri lintang ayu, kardin ida Resi Dwala.

664.Sampun katur maka sami, satingkahe ring Pandawa, oreg na ring puri reko, manyawisang jaga mendak, purine sampun mapayas, bala mantri geger umung, gong bedil tan papegatan.
665. Bagawan rawuhne mangkin, watek ratu mangiringang, prabu Darma age mendak, watek putri telas samian, dyah Drupadi lan Subadra, ndatan sah si Kandi tumut, Sulatri lan ulupwi.
666. Watek ratu telas mendakin, saha bakti nyapa pranda, mangaturang wajik cokor, pasalin sandangan anyar, sam- pung ngranjing maring pura, watek ratu ngiring sampun, kaaturin palinggihan.
667. Bagawan raris malinggih, ringkursi mase dumilah, watek ratune ring soran, pakisi sami ngucapang, ratune manadi panjak, mula panjak dadi ratu, di Pandawa jani tawah.

668. Bagawan ngandika aris, ilenang jani Subadra, buncingang

pianak mune, Bima Niyu kamedalang, Sandat Pangasih tan pasah, gawak bengong sang mandulu, ring I Petruk wicaksana.

  1. Raris kasaup maka kalih, ring biange dewi Subadra, inggih kweh pangrumrume, suka dukane ucapang, dening ratu

luwih wibawa, wengin nyane sampun langkung, enjing puput upakara.

  1. Sailen ilening buncing, wus puput kinenan-payas, medal ring bancingah reko, watek ratu mangiringang, mailehan diban- cingah, bala mantri geger umung, suryke tan papegatan.
  2. Sampun tajeg Surya mangkin, buncing nyane kabiseka, linggihe ring kursi mase, Resi Dwala meratista, panditane rauh samian, mangajengin duk puniku, nyenengang sang sena dipa.
  3. Karyane wus puput mangkin, sama ngranjing kajro pura, gong bedile tan pegatan, sasolahan rupa endah, ring Astina mangkin kocap, Kurupati sedih ngungun, mamawumang bawu danda.
  4. Danghyang Drona mangoregin, sang Sakuni prabu Karna, miwah satus korawane, mangitungang Kapandawa, Sandat Pangasih jalan juang, jagjag begal yadinpandung, rejek sang Angka Wijaya.
  5. Kerpa Drona Mangoregin, sergep sampun ring sanjata, telas satus korawane, mangkat sami mawan rata, gelis lampahe ring awan, kaget mangkin sampun rawuh, ring bancingah ring Pandawa.
  6. Sang Kresna ida ne mangkin, mainyengan nglila-lila, kagiat wenten anak prapta, ring bancingah ida nyingak, sergep katon sang korawa, Kerpa Drona ngoreg ditu, mamatt ring prabu Kresna.
  7. Singgih prabu Arimurti, sekepang dewa sekepang, tekan bapa nora lian, Sandat Pangasih lakar juang, katur maring Suyodana, tatagon ida saking dumun prabu Kresna nora panjang.
  8. Dwala Resi tangeh dipuri, ngwasitin Raden Bima, Semar Gareng manguningang, arya Bima nulia rengas, nambut gada terus melompat, wawu medal ringat-ringut, nadtad gada terus mamandrang.

  9. Sang Korawa kares sami, wawu katon Raden Bima, malaib ia pada rengas, tulak tan papamit budal, lud kake pung de sang Bima, bungkah sami pati kepug, pangkung jurang kali watan.

  10. Kerpa Drona bakat gisi, olih Semar miwah Nala, kage beg tanggun kancute, ditukade saling umad, pada maukud ma- tunggalan, saling silemang pada lucut, ngepeng-ngepeng lebin bapa.
  11. Ida Resi kategakin, antuk dane Gede Semar, kalangkungin dangyang Kerpa, sandangane telas kajuang, brakbak brukbuk kasilemang, prucutnyane gesah ditu, I Semar ia ngwalekang.
  12. Kerpa dini jani mabuncing, ajak wake padaduanan, lalungin awak mune, sang Bagawan mangedngedang, nelpek ida masang kliban, klebi nakep papurus, aduh labin jani bapa.

    682. Danghyang Drona kabutbutin, kumis jenggot katela — sang,

dane mangwalekang reko, Drona bobab kema budal, prucut nyane kagambahan, apang benya kadena luh, tuturang ring kurunata.

  1. Aduhinguh tidong gigis, pesu-getih macabeaban, kalebin mangudampal, tan ucapana ring jalan, ring puri korawa kocap, Kurupati langkung sungsut, ibuk tong bani nglawan.

    684. Wenten ratu lintang jrih, sepan-sepan ngancab jaran,

muntag-mantig labuh reko, nu mategul bakat ancab, busan-

busan ia aitang, kapecutin gradag-grudug, mamegat jarane

lepas.

  1. Ada ne maarep kuri jit jarane kaden tendas, kaglantingin ikuh nyane, mungkrag mangkrig mangunggitang, raris labuh teth jaran, tali pegat jaran bangun, mabar tembok maka- jetan.

    686. Ana ne tan patali, nigtigin negakin jaran, jaran nóngklang

pati tomplok, ngalaku-laku nyusup desa, kepug asu kaan- dupang, magrebiyug nibenin gduh, kaput endut ngajak jaran.

687. Ada ne sepanan malaib, kancute enjikin timpal, kamben

keles calana kecag, puruse ngatoltal panjang, tuara ngitung bakal jengah, kedekin timpal malalung, kanti nekad diban- cingah.

  1. Tan kocapan sang malaib, pada larut tan gantulan, kadi balang kinepwagan, mangkin walinin carita, tan kocapan maring suargan, babawose sampun ingkup, wus nung galang upaya.

    XXX. Pangkur.

  2. Kocapan Batara Siwa, ring kayangan, mamirengang ida mangkin, Sandat pangasih sampun rawuh, ana ring puri Pandawa, gelis mamargi, tan pamengan ngraga sampun, duaning ida dewa sakala, mambur lampahe lumaris.

  3. Sergep ring sarwa sanjata, kocap ida Bagawan Dwala mangkin, atap manangkilin ditu, nulia-tangeh sang Dwala, medal gelis, ring bancingah sarwia ngidung, ka cingak Batara Siwa, saking umara lumaris.
  4. Gelis tedun manesekang, majejengking Bagawan raris ngulapin, enggalang Siwa mai tuwun, lain mapalu ajak nanang, manampekin, sanghyang Siwa tedun ditu, dang- hyang Dwala nyapa kasar, cai Siwa apa alih.
  5. Kagiat sanghyang manicengang, sarwi bendu duh Petruk kasar mamunyi, tusing tahu sanghyang Guru, teka mai Ka- pandawa, lakar nyuang, somahe I Bima Niyu, cakala kapin- ing bapa, tatagon ku kamalunin.
  6. Bagawan raris mangucap, uduh Siwa ngagendong teka mai, inab Siwa tusing tahu, kai suba I Dwala, mangulingling, ngemit ring ala-ayu, asing corah lakar jambal, yadin dewa katlusukin.
  7. Sumiyuki sora wara, cakra angkus trisula muang suligi, Batara dahating bendu, tan sah ngujanin panah, maka sami, panah nyane gempel ditu, sang Bagawan nora silah, matangkis ia kejang kejing.

695. Onyang Siwane maguna, kakuatanmu, pesuang seribu kali,

mengko aku tidak takut, masa aku raja dewa, tusing mati, kai jani olih kamu, Batara ceceh manumbak, masih tusing manatonin.

  1. Jengah sanghyang matelasan, manibakang sila adri kuta luwih, kadeleng ring Resi putus, dadi ebuk kang panah, ngamalihin, antuk angin baret ngalinus, katuding olih Bagawan, dadi batu ikung angin.
  2. Malih sanghyang mangwalesang, sang Bagawan manan- dingin tur katigtig, antuk palu wesi agung, sareng kalih ma- tunggalan, madadengkling, Bagawan masolah ditu, bulune katih tusing as, Batara lesu nigtigin.
  3. Bagawan mangkin sahasa, magulet sareng sanghyang saling pantig, Bagawan kajekjek ditu, gulak gulik kadi bantang, katinjakin, bangun pedih tur manyaup, ngesges ngutgut mangampigang, gidat nyane kakitingin.

    699. Kasambut madian Batara, saking pungkur lintang tekek

kagisinin, kapantigang sanghyang Guru, magimeh sang Bagawan, manyepakin, kma mai sampe kuru, ceceh kanggen cacanglakan, kapah manampak pratiwi.

  1. Layu ida sanghyang Siwa, kadi kapuk lemet mapulilit, sang Bagawan mararyan ditu, katon musuhe nyalempang, gending-gending, mangunang awake Guru, tusing kimud man nyalempang, iba dewa tukang maling.
  2. Meneng ida sanghyang Siwa, meling ida ring ragane sada aris,tan mari nuptupang baju, marasatan kuat manglawan, gelis matangi, nengkejutang nerus malayu, kajron sang Pan- dawa, tulung bapa sang Keriti.
  3. Prabu Kresna ring paseban, Kalih Bima sareng ida sang Per- madi, muang sakweh pangiring ditu, nomplok ida sanghyang Siwa, sarwi nangis, tulung bapa cening agung, I Petruk mangamuk bapa, ideh-ideh kakepungin.
  4. Uduh tulung jua enggalang, kagiat ditu para ratu maka sami, tan pasangkan sanghyang Guru, Bima Arjuna len Kesawa,

engkebang bapa ne jani pang da katepuk, tumedun prabu

Kresna, matur bakti saking aris.

704. Ngetut buri sang Bagawa, parikosa ndatan mari

mangepungin, prabu Krsna jumleg ditu, Bagawan mangan- dika enggalang cai, Krsna Arjuna Raden Bungkus, lawut gisiyangia tekekang, dewa corah teka mai.

705. Ngangsehang ida Batara, pati kepug malayu pati purugin, masangidan pati engsub, sami pada mamelasang,

ngamalangin, cendek sami tak kalingu, Bagawan mangepung imang, mangwalekang manudingin.

706. Uduh Siwa dewa getap, nguda takut delikang matan mune

jani, timpalin jani I Petruk, nden benya sepanan rengas, malaibin, liwat butuh mune gantut, tusing nganggo karep lanang, ngidih tulung jrat-jrit.

  1. Kangen olas ida nyingak, prabu Kresna miwah wateking mangiring, sinarengan sami nugtug, sumingkin Batara rengas, kasengguhang, ane olas kaden musuh, ngepil takut masingidan, ngetor jejeh tidong gigis.

    708. Kacundukang prabu Darma, sang Nakula Sadewa tan sah

mengiring, sang prábu kagiat ditu, manyiangak Batara Siwa,

tedun gelis, ngasor saking kursi sampun, nya kupang

tangan manyumbah, ring pratiwi ida malinggih.

709.Sanghyang Siwa mawacana, Punta Dewa enggal tulung bapa jani, kaamuk baan I Petruk, meh bapa nandang pjah, nene jani, tusing suwe pacang rawuh, parikosa nguber bapà, bapa takut kakepungin.

XXXI. Sinom

710. Prabu Darma ida olas, Batara kakebanggelis, kasurung

Batara Siwa, ring gedong kasimpen gelis, sampun ratu jaga mijil, sadurung I Petruk rawuh, titiang ngantos ring ban- cingah, prabu Darma raris mijil, nulia rawuh, sang Bagawan makedengasan.

  1. Uduh cening Punta Dewa, tekekang sanghyang Siwa gisi, apang eda kadung ngejohang, jalan dini ia kencanin, ento ratun dewa culig, dewa tusing nyandang gugu, prabu tedun imang, saren'g sang dewi Dropadi, nyembah matur, nyalempoh ia maring tanah.
  2. Rumamanis matur nyapa, dabdab alus sada kenying, puku lun Bataran titiang, singgih ratu lintang suci, ratu ngunggul tan patanding, titiang boya pacang purun, bendun ratu ring hyang Siwa, baya purun mangalangin, matur paungu, atur titiang aksamayang.
  3. Pireng ratu atur titiang, titiang inista makeling, ageng ratu sinempura, pinunas titinge mangkin, titiang putran duh sang Resi, waluya manunas luput, iwang ida sanghyangSiwa, waluya titiang nangganin, ledang ratu, linggihin pinunas titiang.
  4. Prabu mangolasang, nunas iwang hyang Pramesti, Bagawan kenyung mailegan, wawu mireng ujar manis, ical bendune sang Resi, mangandika semu guyu, uduh ening Darma Wangsa, inab tahu sangkan bakti, atur prabu, titiang uning na ring sangkan.

    715. Pukulun patih Barata, sanghyang wenang ngalinggenin,

ngalingsenin I Dwala, suweca maring darma siwi, saking ratu ninggarang sih, duh dewa ratu pukulun, sang nugraha ring Pandawa, tan tandingan inggih mangkin, pican ratu, titiang miserah angga jiwa.

  1. Prabu Kresna raris prapta, sareng ida sang Keriti, arya Bima nora pasah, nyalempoh ngaturang bakti, angob ida jroning ati, nyingak Bagawane ditu, wus matinggal dukan ida, luwir sapuh ring darma siwi, sarwi guyu, sang Bagawan mangandika.
  2. Cening agung ajak makejang, mangda cening sami uning, bapa jati sanghyang Wenang, ngalingsenin I Petruk mangkin, ento ia I Dwala jati, bapa nyilih awak ipun, nyadia ngempu limang sanak, lemah peteng sai-sai, bapa ngempu, ngrahayuang bangsa loka.

718. Kamusuhan ring sang Siwa, ento dewa musuh gumi, tukang

rusak ke Pandawa, tuah bapa ngardiri jani, dening Reci suci, sinah Pandawane ayu, ne elingang tutur paba, bapa jani pacang mulih, ia I Petruk, anggon panjak ia sayangang.

719. Sareng tiga ring Pandawa, Semar Gareng malih kakalih sami

wantah tosing dewa, anggen panjak sungsung dini, aywa wani mamiwalin, anggen anak anggen guru, tingkah anggen mamanjakang, diati baktinin sai, sai ajum, sang tiga budi utama.

  1. Puput jani tutur bapa, sang Pandawa matur singgih, boya ti- tiang pacang lupa, mamingsinggih tutur jati, prabu Kresna kandikain, kma alih sanghyang Guru, prabu Kresna nora panjang, jumleg raris mamargi, lintang takut, ring panguduh sang pandita.

    721: Nulia gelis ngapuring, sanghyang Siwa katangkilin, rawuh

ida nunas lugra, nyalempoh ngaturang bakti, duh pukulun sanghyang luwih, panembahan Sata Kertu, katuran Batara

medal, na ring ida sanghyang Aji, nggih I Petruk, anggen ida lalingsenan.

722. Patut ida sanghyang Wenang, ngiring ratu medal gelis,

sanghyang Siwa nora panjang, sada gelis ida mijil, ka pa- seban mangraris, sanghyang Wenang wus kecunduk, sanghyang Siwa raris nyumbah, watek ratu manyarengin, tangkil ditu, ana ring jeng sanghyang Wenang.

  1. Sanghyang Wenang manggandika, nyandang Siwa ngempu jani, mangardinin sang Pandawa, mula Siwa mangawesin sabangsa loka puniki, aneda ta ngwang pukulun, nika sami ngaran tunggal, loka pangawaking gumi, gumi iku sama ring pangawak Siwa.
  2. Siwa ika ngaran umah, umahnya sang limang siki, ne lalima panca, panca wisayaning gumi, gumi jagat sane dini, dini ditu sami patuh, patuh paturu manusa, manusane kasu- supin, ne tatelu, Petruk Gareng miwah Semar.

725. I Tuwalen madan Semar, ne nyusupin daging gumi, gumin

jadmane dipada, sami pada mamuduhin, buduh asing

karangsukin, olih Semar tua puniku, ia tua ia paling odah,

sane odah cerik sai, bajang iku, bajang anom kadewan- dewan.

726. Kadewan rangsukin dewa, dadi buduh sareng sami, asing

katon ia buduhang, sane buduh tan uningin, uduhanga kema mai, sane buduh sakti nguntul, ngunggul mangebekin jagat,

agung tusing taen panggih, lintang celut, cenik tusing bakat jemak.

  1. Nika ne pawak tan pawak, kakatonan tusing sai, hidup mati salantang jalan, itua tuwi sai kapanggih, kemamai mangitutin, masih tusing taen tepuk, bisa mangebekin jagat, goda pageh sai, krana inguh, manusane kapalingan.
  2. Urukanga tusing tawang, gulgulina tong uningin, kaden dewa kaden kala, sengguh jim mangrasukin, awak pelih pati dalih, asing tarka sami dudu, dadi tutur ngadu ada, mangar- dinin sane pelih, anak aluh, nguda nyak palingina.
  3. Palinge dadi sangkala, ingete rahayu sai, elingang dewa elingang, ane tegteg ala sami, ane buduh adung sai, ne tahu teken ba buduh, tingkah nyane saja ngawag, nanging manah nyane jati, saking tahu, ne nguduhang padeweknya.
  4. Bina sane buduh ngawag, ento buduh edan paling, ento madan ogan-ogan, ogan ika ngaran sakit, sakit untek dadi gidih, munyi ngawag gemes mamisuh, ia paling wain- wainan, yatna cening ningeh munyi yadin buduh, lamun kadi sang Dwala.
  5. Apa jatine nguduhang, awinane buduh sai, sama teken dadawuhan apang tawangne nawuhin, peteng lemah sai sai, nyambut karya medem bangun, kali kenken uduhanga, deweke patut nyalinin, ala-ayu, bekele mangawa tara.
  6. Ane keto madan agama, ane agem lemah wengi, disirepe uduhanga, disirepe apa jalanin, nika ajum apang pasti, aja ngugu ne joh ditu, yaning ne joh bakat ingetang, ento madan buduh paling, pati kacuh, ngalang nulan kaguleman.

  7. Ne sundirina saja galang, galange ngaremeng sai, diembone kapetengan, dudu galang sanghyang rawi, dening suba lemah sai, diembone galang ditu, napi luwir terang katonang, pangawase nora paling, tusing ibuk, suba madan galang lemah.

  8. Nika jati madan dewa, malinggih ngebekin gumi, tusing ada karwan adan, ada ne ngebekin gumi, nika ne patut sungkemin, mangastawa antuk alus, jati dewa suba tawang, sakarepe pacang bakti, uling sampun, dewane kaget suweca.
  9. Marep kaja cening nyumbah, dumunan sane manampi, tonden acep suba ada, nora adoh tampek cening, punika ne ngeker gumi, ndatan pasah wit satuwuk, nika sunia ngaran sukla, suklayang idepe sai, mangguh suwung, tusing dadi anggon apa.

    736. Prabu Kresna matur sembah, kari kolug inggih mangkin, in-

dik nutup pancendria, nika ratu ujang mangkin, sangkan ipun maka sami, pranda ngandika alus, jani bapa manar- tayang, mula rikuh nika cening, yening adung, nika payasing kadarman.

  1. Sane darma wantah nunggal, indriane panca sami, merbutin ipawakan, ngajak patut ngajak pelih, rurunge wantah kakalih, punika satata tuwut, asing pageh nemu suka, sane obah naraka sai, rna puniku, dadi demen babinayan.
  2. Budine sumasat jadma, nunggang kuda tan patali, nambakin diarep dadua, dipungkur dadua nigtigin, kudane malaib paling, pati kepug ngalaku-laku, nunggangin kuda malumbar, ne negakin mula pelih, seduk payu, berag sai plaibang jaran.
  3. Ne plapan manunggang talin nyane pasitengin, besine anggon padangal, apang keweh ia ngarejit, yadin ada anak nigtig, kudane tusing malayu, kukuh taline ngawinang, apang tragia tegakin, neda rumput, plapan entukin padangal.

  4. Sanghyang Siwa matur sembah, pukulun duh sanghyang aji, dasa bayune bawosang, bagi kalih nika sami, jaba jro siki- siki, panunggalan dasa bayu, lan panunggal pancendria, awinan sai matanding, yaning adung, sapu napi pawaneng- an.

    XXXII. Ginanti

  5. Resi lalingsen mawuwus, uduh Siwa pireng jani, kandan ento ne adasa, panca tirta panca gni, sane nyusup ring manusa, punika ujangang mangkin.

  6. Kayun angen cita iku, budi idup puput sami, nika ana ring jroning angga, sampun panca puput sami, panunggalan panca tirta, ngaran gamane sujati.
  7. Nika sukla nika ngunggul, nika gama lintang suci, nika tirta, nika agung murbeng bumi, tan kena malih bawosang, sing ucapang sami pelih.
  8. Sang Madrewia adnyana putus, nggih punika kasungkemin, ika sunia nuncap taya, matatkan surya sasih, pamantuking sang adi hyang, panunggalan ring hyang widi.
  9. Kari nyeneng mangda anut, ngamong raga kadi puri, mupa rengga sarwa endah, tindak manah miwah munyi, sami adung solah darma, nika papayasan urip.
  10. Wekas yan manjadma ayu, sanghyang darma ngemban sai, mayungin salantang jalan, ring pakeweh sai-sai, apan matunggalan darma, bekele dumadi luwih.
  11. Tetep na ring solah ayu, dasa sila adung sai, tuara ngitung pagenahan, drama yoga lan samadi, patut dewa sang pan- dita, ngamong tirta weda suci.
  12. Inggih dewa puput sampun, katerangan nyane sami, indik tutur jroning angga, panca tirta puput mangkin, prabu Darma mapinunas, indriane ujang malih.

749.Sang pandita malih mawuwus, panca gni ujang malih, jaban-

ing anggan manusia, manah karsa sebet lali, dados takutne mamuntat, puput panca maka sami.

  1. Pancendriane punika, punika dados kakalih, kajro lawan kajaba, sami dudu ne senengin, ne kajro darma marga, ne kajaba isin gumi.
    751.Nika sampun dasa bayu, lapis dasa wantah jati, ana ring anggan manusa, ia mamusuh adung sai, nika sampun ruabineda, ne sakala niskala cening.

    752. Yening anak kereng nutur, ngadu aksi congah sai, awinan

ngejohang manah, dadi obahne nyalinin, ngawikang mokoh indria, adoh pacang manggih suci.

753.Yen malungguh traktak-truktuk, metu anut aksi, dadi karsa mapupulan, dadi sebet lantas lali, dadi takut sampun sanja, nika indriane mamurti.
754.Ajak sami nyungsung takut, manusane na ring gumi, nekari kodagang indria, sarwa bawa kasungkemin, isin gumi tagih gelahang, tulen nyangsaren urip.
755. Punika ne tagih pikul, uli idup sampe mati, ngawenang awak sangsara, dadi tali nyalimputin, sang sujana tusing nyak, tuah anggona nu dini.
756. Kasukane kari idup, luhun jagat nika cening, bakat dini dini kutang, dudu sangu pacang mulih, yadin malih ia manjad- ma, boya kanggo nika sami.
757. Darma ulah nika sangu, sane degdeg tan pasiring, wekas budal ring kawitan, nika dewa sane ungsi, karya ne anggen sambilan, salawase tunggun urip.
758. Yan mabekel sindung riyut, kala budal muang dumadi, nika dewa ngaran karma, nyaga dini manglantingin, ada ne len manyorogang, kakarene lawan nguni.
759. Tuah bina dumadin ipun, awas dewa sang dumadi, wus macihna maring jagat, karane dini digumi, naraka mikul suka duka, nemu jengah sakit ati.

  1. Makolihang karna letuh, pakardine sane nguni, nandur ala ala alap, nandur ayu ayu bukti, kija laku masih alap, asing nandur ia ngalapin.
  2. Prabu Kresna malih matur, durusang malih akedik, durung waneh manah titiang, manunus pitutur jati, mimi tane madan karma, nika ratu ujang mangkin.
  3. Ida Resi ngandika alus, uduh cening putus budi, becikang dewa mirengang, watek ratu maka sami, kandane dadi manusa, kadi jantra bulak balik.
  4. Saduk jagate kari suwung, langit awang lan pratiwi, kadagingan watek tumitah, sanghyang titiang mangardinin, damuh during akasa, katibakang maring pratiwi.
  5. Inggih nika sami tumbuh, tigang soroh nika sami, ne ngawenang penuh jagat, saking taluh lekat mentik, ngadadenang enem kadang, sadrasa tumbuh ring bumi.
  6. Ong sata mina manuk, taru bukune kakalih, nika penuh ngebekin jagat, telu pindo madagingin, pada ngalih pakadangan, ngalih tongos padidiin.
  7. Bima mati bisa idup, bisa ilang teka malih, kadang eneme kaucap, kaananing lemah wengi, juru empu daging jagat, sanghyang titiang anjiwaning.
  8. Malih ida sane nguduh, ngwanengin lemah wengi, nampi semeng nampi sanja, matampiang ia sasai, keto dewa kandan jagat, genahin watek maurip.
  9. Rahina ana ring dalu, sakatahing watek mati, punika idaging jagat, saduk nika kumpul sami, awan nyane matunggalan, mupu kembang dados sami.

    769. Nika munggah dados nur, kebus antuk sanghyang rawi,

kadedeh sayan negehang, ngagorin bintang ring langit, punika raris tumiba, tengah dalu nyana wengi.

  1. Bibit ika raris tumbuh, saking tanah kudang warni, nika dados babekelan, watek urip maka sami, nika panca maha buta, ne ngadadenang ring gumi.

XXXIII. Adri

771. Sang Resi malih manutur, jati keto sangkan nyane, sang

Arjuna nunas malih, wiwit ikang indria iku, Bagawan raris manurut, saking enur mangawenang, manepen kancan- ing tumbuh, ana ring daun na ring buah, maring umbi muang entiknya.

772. Nulia ikan raris pangan ipun, ana ring watek uripe, bibit ika

ngamertanin, dadi darah dadi bayu, dadi ambek dadi wuwus, dadi solah dadi bikas, nertane ditu manyusup, punika dados samara, mangawinang kasmaran.

  1. Indria taler wastan ipun, dados demen diatine, luh muani kagenahin, awinan bisa matemu, wantah saking bibit iku, yadin nawang kancan rasa, diawaknya ada ditu, ento panca maha buta.

    774. Keto dewa apang tahu, nguda beda manusa ring borun iku,

sang Arjuna pinunase, lebihan memo ring ati, dadi momo kapin aluh, bandingang ring buron ikut, nguda ipun ngelah masa, napi krana boya patuh, nunas ke ratu tinggarang.

  1. Malih wenten binan ipun, duaning patuh pakakase, imanusa lebih ngarti, bandingang ring buron iku, punika ratu bawosang, Bagawan sumawur dabdab, aduh kene sangkan ipun, iburon kapin manusa, wiwit saking papanganan.
  2. Etangan saking lalakaran ipun, manusa teken burone, manusane dasa bagi, limang bagi kedis ipun, munggah kelas wawu-wawu, saking buron wawu munggah, sngkania ada jadma, belog tusing dadi ajar, nika wawu munggah kelas.
    777.. Petang bagi lakar buron iku, telung bagi lakar minane, duang bagi lakar kedis, ne abagi taru rumput, sapunika wiwit ipun, saking panca maha buta, kandannya watek tumuwuh, krana ada pangartian, bina-bina nggih punika.
  3. Ngonyang becik kertin burone puniku, ne sadia menek kelase, dadi jadma belog gati, yadin jadma taler patuh, ne

makerti salah unduk, dadi buron turun kelas keto dewa watek agung, ngamong raga apang tangar, tampek kawahe manjadma.

779. Dadi jadma dumadine luhur, trima lega ring idepe, imanusa

wakil widi, aywa obah dadi agung, wekas manemu rahayu, tekaning kagumi anyar, budal malih rawuh ditu, mangda pangguh rurung antar, punika jagat nirwana.

780. Kedik ipun bekele sareng kutus, kadi cening numadine,

sasaringan sanghyang widi, aywa nalih kurang sangu pari selsel sedih ngunggun, nika dewa iwang pisan, tuna arta dadi bingung, ngawinang sasar manjadma, tedun kelase manjadma.

  1. Yening anak tempal ring tutur, indik tutur kadarmane, jadma doyan manggihin, sangkala naraka enu idup, momo drenggi miwah punggung, waluya idup ipadang, mati idup atep ditu, tuara taen mabar tukad, keto cening upamayang.

    782. Pancendriane tuah puniku, punggelin druwakane, apanga

tusing mamurti, dasa sila among satuwuk, bacak cening

ukud-ukud, saking cangkem metu patpat, banggras gedeg

tur mamisuh, misuna manga dusta, wawu caturne kaujang.

  1. Saking tindak wilang malih tatelu, ngamademang megal reko, mamunyah makrida malih, katah ipun wawu pitu, saking idep malih tatelu, iri ati mangupaya, ngekoh ati puput sampun, adasa wus kaujangan, bacakane kucap iwang.

    784. Asing wang mamurug larangan iku, mokoh indrian nyane,

ne ngawinang bingung paling, ane keto peteng riyut, burone ngasorang ipun, ring patemun masanggama, sang Arjuna nyawis matur, engon titiang ring manusa, napi krana buron ngasorang.

785. Sang pandita nartayang indik puniku, nah to kene sangkane,

sato mina miwah paksa, kari bibit marupa marupa nur, ring daun miwah ring rumput, na ring biah miwah entik, nika sane teda ipun, dadi taluh ring deweknya, krana ia tuna in- dria.

  1. Apin uning ipun malaku, sami lian suarane, matemu sambil ngalih bukti, kewala tahu teken seduk, tan tresna ring dewek ipun, marebút ajak timpala, mati iba idup aku, pianak somah tong sayangang, kewala ngulah betek basang.
  2. Ucapang iwatek taru buku, idup digumine, tuara bisa kema mai, nggening bibit tekaning damuh, sang panca maha buta, ipun urip tong majalan, bina saking buron iku, mangan daun mimbuh lakar, dadi taluh kentel diawak.

    788. Ucapang manusane rusuh, gede indrian nyane, sarwa

baksane ngawinin, tuara tahu sarwa daun, sarwa mentik buah ipun, sato paksi muahmina, nika sami watek idup,

taluh panca maha buta, sami ngelah darah abang.

789. Punika sane mertayang ipun, ring watek manusane, sarwa

daging darah malih, nika nguwangun momo agung, dening taluh ada ditu, lekad ringgan manusa, dadi mawak panca

iku, ika panca maha buta, nyusup ring anggan manusa.

  1. Momo mangan indriane agung, ngipak-ipak mokohe, dadi demen apang imbih, iri ati demen ajum, manglempas maring tutur, pari ceda misuh nyacad, bagus aku sakti aku, tusing ada buwin ririhan, pangrasan sang tuna sastra.

    791. Dadi tempal kapin solah patut, ucapan darma sastrane,

ajerih ida sanghyang Aji, ring jadmane kirang tutur, keto pada cening agung, anggan dewa sang sujana, aywa ta lupa matutur, nandakin isuka duka, sok manerima dadi manusa.

XXXIV. Sinom

  1. Tembang sinom manyawisang, nyambungin piteket sami, uduh cening Darma Wangsa, dadi agung ngodag gumu, aywa nulak aywa nagih, tampi dewa asing rawuh, panangkan isuka duka, maka miwah lara pati, aywa takut, dumadi mamikul karma.

  2. Yadin angken sarwa boga, patut tampi asing prapti, aywa nulak pilih pangan, anggen ugi tingalin aksi, nika tanda nora paling, galang padang wastan ipun, manggeh ngugu kapatutan, punika sujana jati, ala-ayu, tan mari ia mawiweka.

    794. Wenten cakra na ring raga, wolu katah nyane sami, nika

pakakas kaweruhan, papat nista nika sami, utamane tuah abesik, ne tatelu madia ipun, ne ngawinang rame jalan, dadi bayu sabda mijil, idep iku, jroning cakrane utama.

  1. Tatiga cakrane madia, adungang pitehang sai, nika anggen pangawasan, adoh tampek mangda uning, duaning cening agung luwih, mangda awas nangkan rawuh, yadin karma suka duka, rarapan ragane prapti, mangda weruh, nanging dahat sengka pisan.

    796. Punika dewa elingang, yaning durung tatas uning,

manunasang ring paguruan, salah unduk dadi sakit, edan sangar dadi paling, tulah sastrane kawuswus, wenten lian mangucapang, awak leteh papak ambil, tonden putus, cakepane papingitan.

  1. Kewala tatakan bapa, masih bekel sang dumadi, dasa bagi babekelan, kedik ipun kutus bagi, bekele tuwun dumadi, kasusastran lantaran ipun, gampang ipun ngolah cakra, tonden olih jenget sai, tur matemu, ne ngawinang betel tingal.

    798. Dahat sengka genah ika, lapis kudang lapis, ring saurat

magenah, awinane lintang sengkil, salah unduk sadi paling,

lintang pingit cening kirang lalakaran, adoh paran ipun un-

ing, sayan kolug, peteng atine ngawinang. 799. Jadma anggonin karma melah, dasa bagi luwih-luwih, tosing

Biksu mahutama, ping tiga malih dumadi, kaenggonan sai-

sai, samadine bunter kukuh, uling suba kudang abad,

manumadi taler suci, kari jujur, kertine dadi tuladan.

  1. Sampun munggah ring sasonggan, kagegerang na ring gumi, lanang wadon mangucapang, tua bajang cenik kelih tulis gibate ngawinin, mangawinang dewek lacur, yadin malajah puntul pisan, katurunane belog gati, saking lacur, tuara dadi matempahang.
  2. Kertine idup ngawinang, dadi bekel manumadi, yening Biksu ngawatara, punika ne sami kalis, cakrane mapiteh sai, yadin tong olahang ditu, patemune nora pangan, dadi celing ririh gati, mula adung, bekel ida sang sujana.
  3. Katurunan sang sujana, weda luwih manedungin, asta gunane mangemban, wandara putih mamanjakin, punika mawasta sempati, ngemit ida duri malu, tonden uduh suba langsag, mangiber ngalanglang gumi, matatulung, maring anak kasangsaran.
  4. Kuweh wang salah dalihan, ngaden dewa ngaden widi, rimungpung idup sangsara, manglalingse mituturin, lakar tamba makelingin, punika satata asung, yadin anak nangun brata, mapinunas mangda sidi, nika rawuh, asung ring sang mapinunas.
  5. Ngebek gunan sang sujana, dadi agung manumadi, dados pasayuban jagat, pratakjana nyungsung sami, cening agung buka jani, pang tawang unduke malu, nika gamet apang melah, anggen nepas pati urip, tekaning besuk, ngemban prang brata yuda.
  6. Suba jani pada nawang, da kapingon dini cening, mamupon- ing asta guna, yadin kajum ngisi gumi, duduk bekel nika sami, ne akutus dingding agung, ne kakalih kawi sesan, anggen dini ngempu gumi, pang rahayu, solahe nabdabang panjak.

    806. Sama na ring kasukan jagat, anggen bekel nenu dini, mer-

tayang nabdabang panjak, dudu nika bekel mulih, mulih kakwitan luwih, darma marga bakti nulus, tan cala mangun- car weda, ping saket ping satur sai, budi alus, ngalih lampu ngaba damar.

  1. Nika bekel dewa budal, tekaning kapugutan urip, suluh degdeg tan anginan, wekas sundih buwin mai, aywa dewa bari-barin, kari nyeneng muwang kasungsung, nyana luwih patitisang, sambilang mangempu gumi, sawur kenyung, watek ratu ring Pandawa.

    XXXV. Pucung

808.Singgih ratu, panembahan sanghyang luhur, lega manah titiang, nampenin pitutur jati, wantah patut, saking melaksana melah.
809. Inggih patut, tan simpang titiang manuju, margane utama, mawiweka saking mangkin, sareng ratu, wekas titiang matunggalan.
810. Suwecan ratu, siang dalu titiang nyungsung, lintang cumpu manah titiang, waluya manike luwih, endih murub, sang mangemit kinemitan.
811. Tan kaitung, suwene matutur ditu, sami pada suka, lanang istri na ring puri, sampun katur, rayunane mau tama.
812. Watek ratu, lan pandita telas rawuh, ngiring peranda sukla, babawose sama becik, puput sampun, kasungan warah utama.
813. Sami puput, ring puri Pandawa sampun, kicen patirtan, ka- jaya ring sang Resi, Bima Niyu, kapastu nerehang santana.
814. Puput sampun, babawosa tengah dalu, Bagawan ngandika, uduhcening maka sami, apang adung, dini cening tinggal bapa.

XXXVI. Sinom

  1. Ida pranda mawacana, cening agung maka sami, dini cening apang melah, bapa maninggalin jani, watek ratu telas ngabakti, sanghyang Wenang nulia metu saking anggan I Dwala, sanghyang Siwa sareng ngiring, mesat sampun, ring ambara ngawang-awang.

816. Dening jati maraga sanghyang, tan pamengan musna sami,

sami ledang sang Pandawa, jagat buduh lintang bakti, minab tong malih priyatin, prabu Kresna ngempu ditu, kalih ida prabu Darma, manadabin daging gumi, nemu ayu, na ring jagat Madukara.

817. Lurah Kantong mangkin kocap, saduk sanghyang maning-

galin olih ida sanghyang Wenang, lesu kecud warna kuning kadi anakwawu matangi, bengong-bengong iamatimpuh, kasambut ring Gatotkaca, kasangkol ajak dipuri, sayang ditu, sakarepe kauluran.

818. Watek istri manyayangan, selid sanja lemah wengi, nyum-

bungang sarwa rayunan,Bima Niyu sayang kasih, kraman- ing ipun mangiring, Lurah Kantong kanggo ditu, ngempu gumi ring Pandawa, sami pada mangugwaning, darma putus miwah kancaning agama.

  1. Teguh jagate ring Pandawa, wira mantri lega sami, sara wuhing bala suka, niru solah sang bupati, darma tutur sungkemin, luh muani sami anut, malaksana darma marga, siang lantri nora gingsir, ilang pandung, mertane tan papegatan.

    820. Uli ditu sayan sagsag, Astina ring limang siki, duk panca par-

wapunika, kawitan sagsage nguni, sang prabu Kurupati, iri ati lintang bendu, muang patih Sangkuni Karna, Dusasana malih siki, dados ditu, ngentikang upaya kasar.

  1. Danghyang Drona mangajumang, juru adu mangoregin, nika karman anak sasar, tusing daaı puwinsehin, dening totos gandarwa jati, mangrangsuk dumadin ipun, bina sak- ing bangsa loka, totos dewa maka sami, turun ditu, dadi agung ring Pandawa.

RITAN BAGAWAN

Perpustakaan

Jenderal K

PN BALAI PUSTAKA — JAKARTA

899.:

GE