Seri Pengenalan Budaya Nusantara
Kabupaten 50 Kota
Kapur Sembilan Pangkalan Kota Baru Bukit Barisan月 Gunung Mas Hardu Mungka Suliki Guguak Payakumbuh Akabiluru Kota Luhak Situah Limo
Haiii! Namaku Panca, umurku 11 tahun. Aku suka sekali bertualang. Aku juga senang mendengar cerita rakyat yang ada di berbagai daerah di Indonesia.
Kali ini aku diajak kakekku ke negeri yang indah sekali, seperti negeri dongeng!
Maya Lestari GF Larasputri Setyawati
Namanya Tarantang dan Sarilamak. Letaknya di Sumatra Barat. Di sana kami menonton pertunjukan tentang asal-usul nama Sarilamak. Dongeng
itu membuatku menyadari satu hal penting untuk masa depanku! Apa itu? Penasaran, kan? Baca cerita lengkapnya di buku ini, ya!
Buku nonteks pelajaran ini telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang, Kemendikbud Nomor: 2557/H3.3/PB/2019 tanggal 11 Maret 2019 O tentang Penetapan Buku Pengayaan Pengetahuan dan Buku Pengayaan Kepribadian sebagai Buku Nonteks Pelajaran yang Memenuhi Syarat Kelayakan untuk Digunakan sebagai Sumber DIREKTORAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YME DAN TRÁDISI Belajar pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN ISBN 978-602-6477-52-1 DIREKTORAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YME DAN TRADISI Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Gedung E Lantai 10, JI. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270 786026 477521
All Cover Panca 21 November 2018 - Dikha,indd_15
Seri Pengenalan Budaya Nusantara
Dongeng dari
Nagari Sarilanak
月
i amak 17 Oktober 2018.indd119/12/2018 8:57:58
ii
Sarilamak 17 Oktober 2018.indd 2 19/12/2018 8:57:59
电
Seri Pengenalan Budaya Nusantara
Dongeng dari
Maya Lestari GF Larasputri Setyawati
Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2017
iii Sarilamak 17 Oktober 2018.indd 319/2/2018 8:57:59
Seri Pengenalan Budaya Nusantara:
Dongeng dari Nagari Sarilamak
Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau isi seluruh buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Penulis: Maya Lestari GF ★ Sumber Foto: Maya Lestari GF Perancang Sampul: Larasputri Setyawati
Penataletak Isi: Larasputri Setyawati
llustrator: Larasputri Setyawati Editor: Pradikha Bestari
Cetakan I, 2019
Penerbit Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Komplek Kemendikbud Gd. E Lt. 10. JI. Jend. Sudirman, Senayan Jakarta 10270
ISBN:978-602-6477-52-1
iv
大
★ ★
长x ★
★
Daftar Isi
Kata Sambutan vix Kata Pengantar vii
★1
Rumah Gadang Itiak Pulang Patang
大
Lembah Harau
Surau Tuo Taram
131434 Glosarium
★ 36
Referensi & Narasumber37 Profil Penulis, Ilustrator, Editor 38
x x
★ ★★
V 大 x ★
Kata Sambutan
Anak-anakku,
Masyarakat Indonesia pada umumnya bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka sangat mencintai dan menjunjung tinggi tradisinya. Salah satu tradisi mereka adalah upacara adat. Upacara adat tersebut dilaksanakan untuk memohon kesuburan tanah dan keberkahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga untuk menghadapi masa paceklik dan bencana alam. Upacara adat merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang mengandung nilai-nilai gotong royong, persatuan, dan kesatuan. ★
Tradisi lainnya dalam masyarakat petani dan nelayan adalah cerita rakyat yang
melatari berkembangnya tempat-tempat di pelosok nusantara. Kisah-kisah tersebut menyimpan kearifan tradisional dan nilai-nilai luhur. Nilai-Nilai tersebut dapat membuat kalian bangga sebagai anak Indonesia yang tumbuh dibesarkan oleh pengetahuan tentang budaya kalian.
Di era modern ini, amat penting bagi kalian untuk mengenal keragaman tradisi ini agar kalian dapat lebih mencintai tanah air kita, Indonesia, dengan budayanya 大yang beragam. Ibu berharap agar kalian dapat memetik nilai dan hikmah, untuk membentuk karakter dan jati diri kalian sebagai anak-anak Indonesia. Selamat membaca!
Jakarta, November 2017 Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradisi
★
Sri Hartini
vi
★ x ★ ★
Kata Pengantar
Halo, adik-adik di seluruh Nusantara!
Terima kasih, ya, telah memilih buku "Dongeng dari Nagari Sarilamak". Buku ini menceritakan Nagari Sarilamak, sebuah kampung yang indah di Sumatra Barat. Ssstt, ini kampung Kak Maya lo. Kampung ini berada di tengah Lembah Harau yang sangat indah. Ada cerita yang sangat keren di balik namanya yang unik. Adik-adik bisa membaca kisahnya di dalam buku ini.
Selain bercerita tentang Nagari Sarilamak, buku ini juga mengisahkan Syekh Taram, seorang ulama terkenal yang menyebarkan agama Islam di Taram, tak jauh dari Nagari Sarilamak. Kak Maya beruntung bisa melihat langsung benda- benda bersejarah peninggalan beliau.
Nah, semoga adik-adik suka ceritanya dan makin mengenal Sumatra Barat dari
cerita-cerita Kakak. Selamat membaca!
Salam,
Maya Lestari GF
vii
Halo,
Pembaca!
Kabupaten 50 Kota
Kapur Sembilan Pangkalan Kota Baru Bukit Barisan Gunung Mas Harau Mungka Suliki Guguak
Akabiluru
viii
Sarlamak 17 Oktober 2018.indd819/12/2018 8:58:04
HalO,namaku Panca.Umurku11tahun.AkutingaldiJakarta.Aku SUkaaa
sekali bertualang ke berbagai daerah di Indonesia. Cita-citaku adalah mengunjungi
seluruh daerah Indonesia. Jadi, ketika aku besar nanti, aku bisa cerita ke setiap orang tentang keragaman budaya Indonesia, penduduknya yang ramah, dan alamnya yang indah.
Aku amat beruntung. Setiap liburan, ada saja anggota keluarga atau temanku yang mengajak bertualang. Aku jadi kenal banyak tempat di Indonesia, tahu banyak upacara adat dan cerita rakyat yang unik dan seru. Kamu mau tahu juga? Baca cerita
petualanganku, ya. Buku ini bercerita tentang petualanganku di Kota Payakumbuh
dan Kabupaten 50 Kota di Sumatra Barat bersama Kakek. Yuk, ikuti kisahku.
SUMATRA KALIMANTAN KEPULAUAN MALUKU SULAWESI
PAPUA
JAWABALI KEPULAUAN NUSA TENGGARA BARAT KEPULAUAN NUSA TENGGARA TIMUR
Sarilamak 17 Oktober 2018.indd1 19/12/2018 8:58:06
Aku hampir tidak bisa tidur malam ini. Aku gagal lagi masuk sepuluh besar padahal aku sudah belajar keras. Rasanya menyedihkan melihat namaku berada di urutan kesebelas. Saat aku mencoba memejamkan mata, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. “Panca." Itu suara Kakek. “Masuklah, Kek,” sahutku.
Pintu kamar terbuka. Wajah Kakek tampak cerah. Beda jauh dengan aku yang sedang muram. “Halo!” Kakek tersenyum lebar. “Kakek punya cerita tentang anak yang berhasil menangkap belut raksasa. la tinggal di sebuah lembah indah yang dikelilingi tebing-tebing gagah. Langit paginya berwarna ungu kebiruan. Ketika ayam jantan pertama berkokok, cahaya matahari kuning keemasan muncul malu-malu dari balik tebing karang. Mau dengar?"
水 大
水 大 大 水 水
“Mau, mau!” pintaku, mulai tertarik. “Baiklah, Kakek akan memulai dongeng ini dengan.…. pada suatu malam ada seorang kakek yang memiliki selembar tiket pesawat untuk cucunya," Kakek mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. “Hah?” cetusku kaget.
"Kita akan ke Payakunbu, Panca. Ke neger indah itu."
Wah, sungguh kejutan. Kuambil tiket di tangan Kakek.“Terima kasih, Kek. Payakumbuh itu di mana?” “Sumatra Baraț, Paņca. Negerinya orang
Minangkabau."
Pesawat yang membawa aku dan Kakek mendarat di Bandara Internasional Minangkabau pada pukul 09.00 WIB. Ini perjalanan pertamaku ke Sumatra Barat.
Aku merasa takjub melihat atap bandara yang unik. Runcing-runcing gitu, lo. Mirip dengan aap rumh adat tradisional orang Minangkabau yang biasa
disebut rumahgadang.Sebagian pengunjung dibandarabercakap-
cakap menggunakan bahasa yang asing di telingaku.
“Itu bahasa Minang, Panca. Bahasa Minang adalah bahasa sehari-hari orang Minangkabau. Bahasa Indonesia hanya dipakai dalam acara-acara resmi," Kakek menjelaskan.
O O
“Nah, itu Ali." Kakek menunjuk seorang pemuda yang berjalan menghampiri kami. Kakek mengenalkannya sebagai Uda Ali, anak teman Kakek. “Ali, apo kaba?” tanya kakek. Mereka bersalaman. Apo kaba artinya apa kabar. Ini sapaan yang biasa digunakan orang Minang setiap kali bertemu. “Kaba baiak, jawab Uda Ali yang berarti kabarnya baik. Kami lalu berjalan ke tempat parkir
AYANI
BANDAR UDARA INTERNASIONAL
MINANGKABAU
Perjalanan dari Padang ke Payakumbuh ternyata memakan waktu 4 jam. “Lama sekali, ya,” gumamku. “Tenang saja," ujar Uda Ali yang sedang menyetir, “pemandangan sepanjang jalan sangat indah. Lagi pula, kita nanti akan melewati Air Terjun Lembah Anai. Air terjunnya tepat di tepi jalan!”
“Wah, ada air terjun?” Aku kembali bersemangat. Mataku terus memandang ke luarjendela, menunggu air terjunnya muncul.
Seteļah 1,5 jam perjalanan kami sampai Pdi
Lembah Anai. Suhunya digin.
Brrr, untung aku memakai jaket. Di kiri kananku membentang hutan yang sangat indah. Pohon- pohonnya tinggi-tinggi. Pucuk-pucuknya berselimut kabut. Air terjun menderu-deru deras menuju sungai di dasar lembah.
“Lihat, Panca, ada monyet!” seru Kakek sambil menunjuk jendela. Wah benar! Belasan monyet duduk-duduk di pinggirjalan sambil melihat-lihat para pengendara. Aku melambaikan tanganku pada monyet-monyet itu.
“Ayo kita foto-foto dulu di sini,” ujar Uda Ali sambil memarkir mobil. Dengan gembira aku menuju lokasi air terjun. Kumasukkan kakiku ke kolam air terjun yang jernih. Brrr, dingin, seperti air es. Tempias air terjun mengenai wajahku. Kupandang airnya yang jatuh menghempas dari ketinggian. “Betapa indah dan megahnya ciptaan Tuhan," aku bergumam pada diriku sendiri sambil memotret pemandangan tersebut. Setelah puas menikmati
keindahan air terjun, kami pun melanjutkan perjalanan.
WURI
AAMAAMAAA
Kami sampai di Kota Payakumbuh pada pukul 13.45 WIB. Kotanya sang bersih dan teratur. Uda Ali kemudian membawa kami ke rumahnya di Balai Kaliki. Di sini aku melihat sesuatu yang unik. Aku bukan hanya melihat banyak rumah gadang tapi juga rumah-rumah kecil dari kayu yang beratap runcing.
“Itu apa sih, Da? Apakah rumah juga?” aku menunjuk salah satu rumah kecil itu.
"Itu namanya rangkiang. Biasa digunakan
orang dulu untuk menyimpan hasil panen dan bibit tanaman," jawab Uda Ali.
MAAAA AAAA
WAAAN
ilamak 17 Oktober 2018.indd 9
HNTTADANE
Kami sampai di rumah Uda Ali. Di halamannya, seorang lelaki sebaya kakek berdiri menyambut kami. Beliau adalah Kakek Syarif, sahabat kakek. Beliau seorang datuk di sini. Mereka tertawa dan bersalaman lama sekali. Dua sahabat itu sudah lama tidak bertemu. Kebahagiaan tampak di kedua wajah mereka. Aku turut senang menyaksikannya.
Ternyata kampung Uda Ali adalah kampung cagar budaya. Aku baru tahu
hal ini ketika diajak jalan-jalan oleh Kakek dan Kek Syarif pada sore hari.
“Di sini ada 11 rumah gadang dan 14 rangkiang yang sudah berusia di atas
satu abad," terang Kek Syarif. Aku sungguh takjub mendengarnya.
“Wah, sudah tua sekali ya, Pak," ujarku, “apakah rumah itu tidak lapuk?”
“Tidak. Rumahnya terbuat dari kayu pilihan," jawab Kek Syarif.
19/12/2018 8:58:17
★★
Rumah Gadang
RumahGadang Foto oleh: Maya Lestari
- Rumah adat yang paling tua di Balai Kaliki adalah rumah adat Mandailiang.
- Rumah itu didirikan tahun 1905 oleh Datuk Gindo Sinaro Nan Kuniang.
- Semua rumah gadang di Balai Kaliki dibuat dari kayu jua yang berusia di atas 50 tahun.
- Sebelum digunakan, kayu itu direndam selama berbulan-bulan dalam lumpur supaya menjadi lebih padat. x x
x
Itiak Pulang Patang
Rumah gadang Minangkabau penuh ukiran indah. Bentuk ukiran di Minangkabau biasanya terinspirasi dari alam. Salah satunya, ukiran /tiak pulang patang atau itik pulang senja terinspirasi dari rapinya barisan kawanan itik saat pulang menuju kandang. Ukiran ini bermakna dalam hidup kita sebaiknya seiring sejalan, mematuhi peraturan dan menjaga kerukunan hidup. ★
YANI
uuvss ★
★
Kami lalu naik ke salah satu rumah. Setelah minta izin pada empunya rumah, kami lalu diperkenankan melihat-lihat isi rumah gadang itu. Aku melihat ada bagian lantai rumah yang lebih tinggi dari yang lain. “Kenapa lantai ini lebih tinggi, Kek?” tanyaku. “Itu khusus untuk tempat duduk para datuk, Panca," jawab Kek Syarif.
“Mereka sangat kami hormati."
Aku mengangguk paham. Di mana-mana datuk atau tetua memang selalu dihormati.
Keesokan harinya, Kakek memanggilku saat aku sedang memotret anak-anak setempat bermain kelereng. “Panca, masih ingatkah kamu dengan cerita Kakek tentang negeri dongeng yang terkurung dalam tebing itu? Bersiaplah karena kita akan ke sana hari ini bersama Ali," ujar
Kakek.
“Horeeee!" aku nyaris melompat saking senangnya, “apa nama negerinya, Kek?" aku merasa tidak sabar “Namanya
TarantangdanSarilanak"jawab Kakek.
“dan di Sarilamak itulah kisah belut besar berada."
“Apakah di situ ada perpustakaan tempat kita bisa membaca ceritanya, Kek?" tanyaku. Kakek tertawa. “Tidak, Panca. Kita akan menonton pertunjukan dongeng itu nanti sore." Wah! Mataku berbinar.
WURI
Kakek pandai betul membuat hatiku senang.
P
Perjalanan dari Kota Payakumbuh ke Sarilamak memakan waktu 20 menit. Adapun jarak tempuh Sarilamak-Tarantang tidak sampai lima menit. Begitu aku memasuki Tarantang aku tak hentinya berdecak kagum.
Kakek benar, tempat itu bagai di negeri dongeng. Tebing-tebing tinggi berwarna cokelat tanah, kuning tanah liat, dan hitam batu bara menjulang tinggi. Sebagian tebing itu berselimut perpohonan yang hijau merona. Hamparan sawah membentang sampai ke kaki-kaki tebing dalam warna kuning jerami. Sepertinya masa panen hampir tiba. Kubuka jendela mobil. Udara masih cukup dingin. Selapis tipis kabut kulihat mengambang di atas tebing-tebing itu.
“Udaranya segar,” ujarku sambil menghirup napas dalam-dalam. Aku jadi merasa bersemangat. Sekelompok burung terbang tak jauh dari kami. Mungkin mengincar bulir padi yang sudah masak. “Kakek tahu kamu pasti suka," Kakek tertawa, “ini namanya
Lembah Harau, Panca. Lembah yang sangat terkenal di
Sumatra Barat." “Indah sekali, Kakek, Seperti di negeri dongeng.” “Ya, seperti di negeri dongeng,"Kakek tertawa.
Kami lalu sampai di rumah Pak Ade, teman kakek. Beliau memiliki sebuah sanggar teater anak di Tarantang. Sanggar beliau nanti malam akan mengadakan pertunjukan dongeng untuk anak-anak. Para pemain tampak
tengah bersiap-siap dengan berbagai perlengkapan panggung.
“Sungguh kejutan, sahabatku!” seru Pak Ade begitu melihat Kakek, “kalian akan menjadi penonton istimewa kami sore ini." “Kami tidak sabar untuk menonton pertunjukanmu yang hebat ini,” kata Kakek sambil tertawa.
SANGGAR TEATER
ANAK TARANTANG
x x
·8
O ò
AWUEA
★
ASAL MULA NAMA
Pertunjukan itu dimulai pada pukul 16.00 WIB di lapangan kecil di samping sanggar seni Pak Ade. Ada sebuah panggung kecil di situ tempat pertunjukan berlangsung. Di depan panggung ratusan orang sudah ramai berkumpul. Anak-anak duduk paling depan. “Sanggar Teater Anak Tarantang ini rutin mengadakan pertunjukan sekali sebulan," kata Kakek, “sekarang mereka akan menampilkan pertunjukan berjudul Asal Mula Nama Nagari Sarilamak." “Apakah itu cerita tentang belut besar yang Kakek bilang?” “Ya," jawab Kakek.
19/12/2018
MA NAGARI SILAMAK
Sekelompok anak yang mengenakan aneka kostum kemudian memasuki lapangan kecil itu. Kehadiran mereka disambut tepuk tangan penonton. “Para pemainnya sudah datang,” ujar Kakek, ia tampak sangat bersemangat, “pasti pertunjukannya akan hebat." Kakek benar, pertunjukan itu memang hebat. Beginilah ceritanya.
19/12/2018 8:58:27
Pada zaman dahulu ada seekor belut yang sangat besar, lebih besar dari
seekor kuda. Panjang badannya nyaris sepanjang jalan sebuah kampung kecil di
pinggir hutan Lembah Harau. Belut ini kerap menganggu para pencari kayu di
hutan, Orang-orang yang pergi ke sawah, dan ibu-ibu yang hendak mengambil air di sungai. Sudah banyak yang berusaha menangkapnya, namun gagal karena belut itu begitu besar, licin dan kuat.
Sarllamak 17 Oktober 2018.indd 24 19/12/2018 8:58:28
Suatu kali, ada seorang anak lelaki pincang bernama Buyung yang ingin menangkap belut itu. Orang-orang menertawakannya. “Orang yang sempurna fisiknya saja tidak bisa menangkap belut, apalagi kamu!" teriak orang-orang. Buyung tidak merasa rendah diri dengan ejekan orang-orang, sebab ia punya ide cemerlang. la yakin idenya itu bisa menangkap belut tersebut. “Saya yakin bisa menangkapnya,” ujar Buyung. “Kalau kau memang bisa, kau akan kami beri satu_petak sawah sebagai hadiah," kata orang-orang kampung. Maka, berangkatlah Buyung melaksanakan rencananya.
Buyung pergi ke benteng bukit batu Lembah Harau. Di situ ada sebuah ceruk bukit tempat ia memasang perangkapnya. la kemudian menaruh berkantong- kantong udang sungai kecil dari benteng itu menuju rawa tempat tinggal si belut. Tak lama menunggu, belut besar itu pun muncul. Hewan itu jadi lapar begitu menghidu aroma udang, makanan kesukaannya. la merayap ke tempat udang-udang itu berada. Setelah habis satu tumpuk udang, ia merayap menuju tumpukan udang berikutnya. Begitu terus hingga ia memasuki ceruk bukit dan melahap habis seluruh udang di situ. la menjadi begitu kenyang hingga tak mampu bergerak lagi.
Buyung segera menutup ceruk kecil itu dengan pintu jeruji bambu yang sudah ia buat sebelumnya. Kemudian ia berlari memanggil penduduk kampung untuk beramai-ramai menangkap si belut.
Betapa takjubnya penduduk melihat hewan yang selama ini mereka takuti, terbaring dalam ceruk seperti tidak berdaya. Mereka lalu ramai-ramai memasukkannya dalam jaring dan membawanya ke lapangan desa.
Sarilamak 17 Oktober 2018.indd–27 19/12/2018-8:58:32
Belut itu kemudian dimasak di sebuah tanah lapang oleh penduduk. Aroma daging belut bercampur bumbu menguar harum dari belasan kuali besar yang digunakan untuk memasak dagingnya. Nasi ditaruh di daun-daun pisang dan daging-daging belut tersebut dijadikan lauk. Setiąp kali memakan
‘seiris enak'. Akhirnya, daerah itu diberi nama Sarilamak, berasal dari kata sairih lamak.
Sesuai janji penduduk, Buyung kemudian mendapat hadiah sepetak sawah. Penduduk desa merasa sangat berterima kasih kepadanya. Ternyata, keterbatasan fisiknya tak membuat Buyung patah semangat. “Bagus sekali ceritanya ya, Kek," ujar Panca di akhir pertunjukan. “Ya, jadi jangan sampai rendah diri kalau punya kekurangan," kata Kakek, “seperti Buyung, kekurangan fisiknya berupa kaki yang pincang, tertutupi oleh kecerdasan dan kepercayaan dirinya."
Sarilamak 17 Oktober 2018.indd 29 19/12/2018 8:58:37
Sepanjang jalan pulang aku terus teringat kisah Buyung. Aku merasa malu pada diri sendiri. Buyung memiliki kekurangan pada fisiknya, tapi itu tak menghambatnya untuk melakukan hal-hal hebat. Sedangkan aku? Aku cuma belum berhasil masuk sepuluh besar tapi sudah merasa seakan tak punya harapan. Aku teringat lagi dengan raporku. Aku dapat angka tujuh untuk matematika, tapi nilai IPA dan IPS delapan. Aku bahkan mendapat nilai sembilan di pelajaran Bahasa. Aku suka menulis. Aku bisa menuliskan kisah perjalananku ke sini dan mengirimkannya ke koran. Mungkin nilai matematikaku biasa-biasa saja, tapi di bidang bahasa, aku yakin bisa juara. Semangatkubangkitkembali. Aku
memandang ke luar jendela mobil.
PPemandangan Lembah Harau di
sekelilingku semakin indah. Seindah masa depanku nanti.
P
E
★ x
Lembah Harau
Lembah Harau adalah sebuah
lembah yang dikelilingi tebing-
tebing karang setinggi 100-300 meter.
DiLembah Harau adabeberapa
HAair terjun (sarasah), diantaranya
adalah Sarasah Aka Barayun,
Foto oleh: Maya Lestari
Sarasah Bunta, Sarasah Tango,
dan Sarasah Murai.
Tanaman khas di lembah ini adalah pakis monyet. Hewan yang acap ditemui di sini adalah monyet ekor panjang. Tempat ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah pada 10 Januari 1993.
Foto oleh: Maya Lestari
★
x 大 x x 大
IbrahimMuftidiSurau Tuo, Taram.Perjalanannyasebentar,hanya
20 menit dari Kota Payakumbuh. Kami langsung menuju Surau Tuo. Bentuk
atap surau ini sangat unik, bertingkat-tingkat. Ketika kutanya ke Kakek, beliau
bilang umumnya atap surau-surau lama di Sumatra Barat memang berbentuk
seperti itu.
19/12/2018 8:58:40
Tak lama kemudian seseorang menghampiri kami. Kek Syarif menyapanya dan mengenalkan kami semua. Ternyata beliau adalah teman Kek Syarif, biasa dipanggil Angku Datuk. “Angku Datuk bukan penjaga surau, tapi beliau hampir setiap hari ada di sini," ujar Kek Syarif, “beliau banyak mengetahui sejarah surau ini." Kami kemudian diajak ke makam Syekh Ibrahim Mufti yang terletak di samping surau. Setelah berdoa sebentar kami lalu diajak berkeliling surau. Sambil jalan Angku Datuk banyak bercerita perihal Syekh Ibrahim Mufti kepada kami.
x x x
Surou
tuo taram
Menurut Bp. Ramli, ahli waris Syekh Ibrahim Mufti, Surau Tuo Taram diperkirakan didirikan oleh ulama besar tersebut pada abad 17. Surau Tuo Taram menjadi tempat beliau mengajarkan ilmu-ilmu agama. Dua benda warisan beliau yang masih bisa ★dilihat hingga kini adalah tongkat dan ember mandi.
★ C Syekh Ibrahim Mufti membuat aliran air dari sumber mata air Kapalo Banda ke Taram dengan tongkatnya. ★ Ini membuat masyarakat bisa mendapatkan air dengan mudah. Sampai kini aliran air yang beliau buat masih ada.
Rendang Asli Payakumbuh
Wah, tidak terasa sudah tiga hari aku berada di Payakumbuh. Sudah waktunya aku pulang. Sebelum pulang, Uda Ali membawa aku dan Kakek ke kampung rendang di Lampasi. Di sini banyak sekali tungku randang, sebuah istilah untuk produsen rendang. Jenis rendang yang dibuat pun beragam. Selain rendang daging sapi, juga ada rendang belut, rendang ubi, rendang daun pisang dan rendang telur. Uda Ali membawakan berbagai macam rendang itu untuk keluarga dan teman-teman di rumah. Aku senang sekali. Perjalananku kali ini rasanya seru sekali. Banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang bisa kutulis!
Sarilamak 17 Oktober 2018.indd 35 19/12/2018 8:58:44
x x x x ★ ★ ★
Glosarium
- Angku Datuk: panggilan untuk lelaki yang sudah tua dan bergelar datuk.
- Datuk (biasa disingkat Dt): panggilan untuk seorang laki-laki yang mengepalai kaum di sebuah suku. Kaum merupakan sebutan untuk sebuah keluarga besar yang sudah berkembang banyak. Satu suku biasanya terdiri dari beberapa kaum. Minangkabau memiliki banyak suku, di antaranya Caniago, Piliang, Kampai, Mandailiang dan Pitopang.
Gadang: besar. Rumah gadang artinya rumah besar.
★Hidu, menghidu: mencium.
YANI
Sarasah: air terjun. Sarasah Bunta berarti Air Terjun Bunta.
- Uar, menguar: mengeluarkan uap (aroma).
★
★
大
★ x ★ ★
Referensi
Amir Sjarifoedin Tj.A. 2011. Minangkabau Dari Dinasti Iskandar Zulkarnain Sampai Tuanku Imam Bonjol. Gria Media. 9 e
Narasumber
Bapak Muhammad Arif Dt. Bijo Nan Hitam, Sekretaris Kerapatan Adat Nagari (KAN) Kenagarian Koto Nan Gadang, Kec. Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh. Bapak Ramli Dt. Marajo Basa, ahli waris Syekh Ibrahim Mufti.
大
大 ★★ x x x
Tentang
Penulis
Maya LestariGFadalah seorang penulis cerita anak dan remaja. Tahun 2014, bukunya yang berjudul Attar dan Peta Beliyaka menjadi nominator buku fiksi anak terbaik Indonesia Islamic Book Award. ★
e
tentang
Ilustrator
★
Larasputri Setyawati adalah ilustrator freelance yang menyukai dunia anak-anak. Berpengalaman sebagai_ilustrator dan desainer grafis di Disney Editorial Department-Kompas Gramedia Majalah, menangani Majalah Girls dan Barbie.
G e
Tentang
Editor
★ Pradikha Bestari adalah editor buku anak untuk Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Sebelum menjadi editor, Dikha pernah menjadi jurnalis dan penulis cerita untuk Majalah Bobo, serta menjadi penulis skenario untuk tayangan televisi Jalan Sesama.
★
大★ x x ★
Judul Lain
dalan Seri Ini
Upacara Sesaji MandiSafar
水
★ SesajiRwanda
*** ' ' ' ' '** *'
Buku versi digital (pdf) dapat diunduh pada tautan : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditkt/buku-seri-pengenalan-budaya-nusantara-2017