Baca PDF (OCR): Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli

28 halaman · 28 halaman diproses dengan OCR· 87424 ms

Daftar isi
  1. NUKILAN
  2. Ledjarah Tjirebon Asli
  3. P. S. SULENDRANINGRAT
  4. TJETAKAN KE-II
  5. Penerbit "Pusaka" Tjirebon.
  6. INDO-8291
  7. NOKILAN
  8. Ledjarah Tjireban Asli
  9. P. S. SULENDRANINGRAT
  10. DS646
  11. T56S91 lamnja menjinggung sedjarah Islam masuk Negeri kita Indonesia, jang
  12. Tjirebon, 17 Djanuari 1968.
  13. Selandjutnja tyranie dari pendjadjah Belanda dan Djepang pada
  14. perang kemerdekaan, tetapi setelah merdeka hingga berusia 21 tahun
  15. dengan kabinetnja jang beranggotakan Wali Sembilan telah memerintah
  16. sadja pelepasan diri dari keempat propinsinja tadi oleh karena pada he-
  17. putri sulungnja jalah Ratu Purbasari, Ibukota Padjadjaran dipindahkan
  18. putra sulungnja jalah Sang Prabu Linggahiang, Sang Prabu Linggahiang
  19. lungnja jalah Prabu Mundingkawati, Prabu Mundingkawati setelahnja di
  20. dengan terang?an menjebarkan adjaran² agama Islam di Djawa chususnja
  21. artinja tak berani terang²an. Pada abad 13 ke 14 Masehi Sjech Kuro
  22. telah membuka pengguron atau pesantren Islam di Krawang. Dipantai
  23. gurnja Senapati ing ngalaga Islam ialah Sunan Undung jang mati sahid
  24. djud tunggal atau tunggalnja kaula dan Gusti. Arti tunggal itu bukan
  25. kama kunta ma'duman kobla takwin ". Artinja: Sesungguhnja kamu itu
  26. mentjapai deradjat Insankamil kita sejogjanja bertingkah laku seperti orang
  27. kaprah (lumrah/umum) jang berkelakuan baik. Dalam bathinijah kita se-
  28. jogjanja mempunjai tekad bahwa wudjud kita itu seperti lintang karahi-
  29. nan (bintang kesiangan). Tegasnja harus menuruti tingkah laku Nabi Be-
  30. sar kita Muhammad s a.w. lahir batin. Lahirnja kita harus mendjalankan
  31. nah Rosul hingga kita memiliki sinar berikut Nurnja Islam. Inilah muti-
  32. 22. Agendrajana
  33. 6. Sultan Radja Samsudin
  34. SILSILAH SULTAN KANOMAN TJIREBON.
  35. Sunan Gunung Djati
  36. SILSILAH PANGERAN KATJIREBONAN TJIREBON
  37. Aripudin K usumabratawirdja
  38. b. " M. Sulendrakusuma
  39. Setelah Sultan Sepuh Matangadji dinobatkan sebagai Slt. Sepuh ialah:
  40. Oplaag 5000 ex.

NUKILAN

Ledjarah Tjirebon Asli

DISUSUN OLEH:

P. S. SULENDRANINGRAT

GURU AGAMA ISLAM PENGGURON PRABONAN TJIREBON

TJETAKAN KE-II

Penerbit "Pusaka" Tjirebon.

INDO-8291

NOKILAN

Ledjarah Tjireban Asli

DISUSUN OLEH :

P. S. SULENDRANINGRAT

GURU AGAMA ISLAM PENGGURON PRABONAN TJIREBON

TJETAKAN-KE-II

KATAPENGANTAR

DS646

Saja telah membatja beberapa buku² sedjarah Indonesia terutama

.29
jang dipeladjarkan di sekolah², baik sekolah² negeri maupun sekolah² partikulir, baik sekolah² menengah maupun sekolah² rendah jang dida-

T56S91 lamnja menjinggung sedjarah Islam masuk Negeri kita Indonesia, jang

mana kurang dapat diterima oleh saja, oleh karena isinja menurut hemat saja adalah kurang klop. Menurut hemat saja sesuatu perkara besar, misalnja sesuatu agama masuk sesuatu Negara tidak bisa begitu sadja terlalu simple atau mudah perihal masuknja agama itu dengan dibawa oleh pedagang² sambil lalu seperti angin lalu, ada kalanja me-njinggung² para Wali Sembilan tetapi setjara samar2. Sesuatu agama harus dibawa kedalam sesuatu Negara dengan "Toh pati" oleh exponent² atau tokoh² tertentu, tokoh² ini harus te- kun, gigib, dan penuh dengan rasa tanggung djawab bahkan mati²-an memperdjoangkannja agar berhasil, misalnja perihal perdjoangan Agama daripada para Nabi2 jang dahulu² dan jang paling achir dan paling he- bat serta dahsjat ialah perdjoangan Agama Islam dari Nabi Besar kita Muhammad S.A.W. di Mekah dan seluruh Zadjirah Arabiah pada mu- lanja. Demikian pulalah Agama Islam telah masuk Indonesia berkat perdjoangan mati²an dari para Wali Sembilan jang diantaranja terdapat seorang tokoh Wali Sembilan ialah Sunan Gunung Djati. Djustru intisari Sedjarah Tjirebon adalah Sedjarah perdjoangan para Wali Sembilan jang diketuai oleh Sunan Gunung Djati menanam Agama Islam di Tjirebon chususnja di Indonesia umumnja sedjak tahun 1389 Masehi dengan berhasil gilang gemilang, dari mana telah berbuah chusnul chuluk jang artinja dengan istilah Tjirebon ialah: "Betjik budi pekerti" alias baik budi pekerti alias mental / moral, jang mana ternjata berisi lima unsur, ialah: 1. Iman/takwa alias Ketuhanan J. M. E. 2. Kemanusiaan

  1. Persatuan 4. Kerakjatan dan 5. Keadilan Sosial, jang mana pula ternjata sekarang disebut orang dengan nama Pantjasila. Kebetulan saja adalah salah seorang turunan Sunan Gunung Djati, bukan untuk membanggakan diri saja, samasekali tidak, akan tetapi dengan me-njebut² turunan itu saja bermaksud bahwa saja mempunjai tjatatan² langsung dan dipertjaja pula oleh keterangan² leluhur turun- temurun (walaupun tidak bisa lepas dari kekurangan²) perihal Sedjarah Tjirebon jang identik dengan Sedjarah Islam masuk Indonesia. Dengan karja saja jang sederhana ini, saja bermaksud turut me- njumbang sekelumit bakti dalam bidang saja kepada Negara, Agama, Nusa dan Bangsa. Selandjutnja saja menerima dengan gembira pengurangan dan pe- nambahan jang bersifat constuctief/membangun dari ahli² bukan debat atau kritik² jang bersifat destructief/merusak.
    Tjirebon, 17 Juni 1956. Penjusun.

KATA PENGANTAR TJETAKAN KE-II.

Seribu buah buku² tjetakan ke-I jang telah beredar pada tahun 1956 terbagi habis dalam satu minggu, akan tetapi oleh karena maksud- nja hanja untuk bandingan maka tidak diadakan tjetakan ke-II. Ter- njata sekarang banjak minat kepada Sedjarah Tjirebon. Oleh karena inilah tjetakan ke-II diselenggarakan dan untuk menjesuaikannja dengan djaman sekarang dan memperbaiki bahasa In- donesianja maka pula bentuknja diperbaharui setjara keseluruhan dan banjak tambahan dimasukan. Mudah²an bertambah manfaat.—

Tjirebon, 17 Djanuari 1968.

Penjusun.

PEMBUKAAN.

Saja gembira bahwa orang mulai haus kepada Sedjarah Tjirebon. Orang ingin membawa Indonesia datang ke-idam²annja, ialah adil makmur dan diridhoi oleh Tuhan itu harus mengenal terlebih dahulu asal mulanja Indonesia dengan perkataan lain orang harus tahu sedjarahnja Indonesia sebelum didjadjah oleh Belanda, kalau tidak nistjaja orang akan datang kepada visieuse cirkel atau lingkaran jang tidak terbatas, oleh karena hukum "de geschiedenis repeteert" = Sedjarah berulang itu pada umumnja berlaku sepandjang masa. Djustru Sedjarah Tjirebon lah adalah laksana Samudra sedjarah Indonesia pada umumnja jang menge- mut/mengandung berbagai mutiara jang tak ternilai harganja jang sejog- janja harus digogohi/diambil dari dalamnja guna orang djadikan leidster atau bintang penundjuk atau mertjusuar untuk membawa Indonesia da. tang kepada idam²an kita ialah Negara Indonesia merdeka adil-makmur dan diridhoi oleh Tuhan alias Rakjat tjukup pendidikan, perumahan, sandang pangan, berbudi pekerti luhur/bermoral dan beribadah alias so- cialisme religieus/berketuhanan Jang Maha Esa alias berpantjasila. Untuk mentjapai ini semua kita harus ichtiar/bekerdja dan memohon/beribadah kepada'Tuban. Djustru Sedjarah Tjirebon lah adalah riwajat perdjuangan angkatan Wali Sembilan jang diimami/diketuai oleh Sunan Gunung Djati Tjirebon sebelum didjadjah oleh Belanda jang telah berhasil membebaskan rakjat Indonesia pada waktu itu keluar dari gelap masuk kedalam tjahaja te- rang jang berarti beliau² dengan berlandaskan Agama Islam telah berhasil membimbing rakjat Indonesia pada waktu itu keluar dari djalan jang ber-liku² penuh babaja masuk kedalam djalan jang lurus alias sirotol- mustakim jang berarti baldatun tojjibatun wa Robbun gofur = Negara adil-makmur dan diridhoi oleh Tuhan. Selandjutnja saja mencitir sebuah firman Tuhan ialah: Lakod cholaknal insana fi achsani takwim tsumma rodadnahu asfala safilin illaladzina amanu waamilus solichati falahum adjrun goiru mamnun, artinja: sesungguhnja kami djadikan manusia dalam indahnja permulaan kemudian kami kembalikan ia kepada djeleknja djelek hanja orang² jang beriman dan beramal solich maka mereka memperoleh pahala/gandjaran jang tak habis²nja. Murad rasanja: Pada awalnja manusia² itu adalah baji² jang mu ngil-mungil lutju dan elok/bagus jang enak dipandang dan dikasih sa- jangi oleh siapapun kemudian setelah melalui puntjak masa pertumbuh- annja manusia dikembalikan oleh Tuhan kepada keadaan tua, berambut putih, kurus kering, ketjot tidak bergigi dalam keadaan djeleknja djelek dan pikun (kakek² bertingkah laku seperti kanak²), tidak enak dipandang dan tidak disukai (njenjetil = Tjirebon) oleh siapapun ketjuali orang2 jang beriman dan beramal soleh biarpun sudah tua akan tetap segar- bugar dan ber-seri² dan senantiasa dikerumuni oleh pemuda dan pemudi bahkan tua-muda oleh karena achlak/moral/budi pekertinja, elmu/penga- laman/petundjuk²nja dan pengajomannja pula pada achirnja akan meng-

huni sorga dengan berusia kurang lebih 33 tahun untuk selama-lamanja kekal dan abadi. Pula seperti dedaunan pada awalnja hidjau rojo² enak dipandang kemudian setelah melalui proces pada suatu waktu mendjadi kuning kering lantas djatuh ketanah dan achirnja dikumpulkan orang untuk di bakar atau dibuang. Sebuah tamsil lagi: Ada suatu padang rumput jang luas, bersih dan hidjau rojo2 sedap untuk dipandang dan disukai oleh siapapun. Setelah melalui proces beberapa waktu lamanja dalam padang rumput itu bertumbuhanlah rumput berduri (bajem ri = Tjirebon) berkembang biak seperti djamur sehingga hampir mengebaki padang rumput itu. Nah, pada saat inilah datang jang Empunja merabuti rumput duri2 itu hingga habis untuk dibakar atau dibuang, jang dibiarkan hidup terus sepandjang masa hanja rumput² jang hidjau sadja. Proces tamsil inilah jang berlaku sepandjang masa sedjarah kemanusiaan didunia, artinja orang² jang tidak berubah warnalah (tetap iman dan beramal solich jang akan utuh/tidak rusak dan babagia duniawi dan uchrowi. Selandjutnja saja bawakan sedjarah seorang Radja Mesir kuno jang dinamakan oleh Al-Qur'an dengan Fir'aun oleh Indjil dan Tauret dengan nama Faraho dan istilah Tjirebon nja adalah Pirngon. Sjahdan tertjeritera Radja Mesir jang tak mempunjai Putra sulung dan jang selama pemerintahannja diperdanamentri-i oleh Nabi Ju. suf a.s. wafat din setelah Nabi Jusuf a.s. pulang kealam baka tachta keradjaan Mesir pada waktu itu dengan kehendak rakjat Mesir djatuh ketangan putra sulung Nabi Jusuf a s. jang bernama Fara Aitum. Akan tetapi oleh karena ia belum baligh/dewasa pemerintahan atas seluruh Keradjaan Mesir dipolmaki oleh seorang penghuni Kepala/Perdana Men teri II jang bernama Ra'aun (Rangon = Tjirebon). Dan setelah inilah Radja² Mesir pada waktu itu dan seterusnja disebut orang dengan se- butan Fir'aun. Adapun manusia adalah manusia, Rangon pada awalnja adalah seorang polmak jang baik, adil, berachlak/bermoral dan beribadah Akan tetapi setelah beberapa lama ia mengenjam kelezatan sebagai Ra dja dan senantiasa dikerumuni oleh wanita² jang tjantik² ia tergod oleh iblis. Firman Illahi: Aladzi juwaswisu fi sudurinnasi minal djinnat wannas = Iblis jang menggojang gojang/menggoda dalam hati manusi dari dalam dan dari luar. Fir'aun lambat laun meluntjur dan achirnja terdjatuhlah ia dalam pelukan nafsu angkara murkanja ialah nafsu sjah wat/sex. Dalam hatinja berkenjamuklah perasaan bahwasanja enak sekal orang jang mendjadi Radja itu dan ia ingin memiliki seluruh wanita tjantik disekelilingnja dan diseluruh Keradjaan Mesir. Walaupun ia sudah tua itu tak mendjadi soal fikirnja oleh kare na ia akan memupuk kekuatan sexnja dengan djamu kuat ramuan Mesir berchasiat sama misalnja dengan pil hormon atau suntik hormon djaman sekarang. Fir'aun dari sedjak itu tidak mau melepaskan lagi tachta keradjaan Mesir dan menjingkirkan Fara Aitum jang divolmakinja dan menjatakan diri djadi Maha Radja seluruh keradjaan Mesir bergelar

Fir'aun, bahkan nafsu sexnja men-djadi² meluntjur terus hingga mengaku mendjadi Tuhan jang Maha Besar dan tidak ada lagi Tuhan diatasnja. Untuk mengelabuhi rakjatnja ia mem-bikin² agama jang berbeda 100 % dengan agama jang telah dibawa oleh Nabi Jusuf a.s. semula ialah ia membikin berhala² besar ketjil dari batu² pualam, djamrut bahkan dari emas. Ia mengarang ceremoni²/peraturan² keagamaan beraneka ragam jang ber-belit² dan ber-liku² penuh bahaja sedemikian rupa hingga me- matikan semangat rakjat Mesir pada waktu itu. Sedjak itu merata meradjalelalah agama dholim Fir'aun diseluruh Mesir laksana sebuah padang rumput hidjau rojo² jang luas jang hampir seluruhnja dikebaki oleh rumput² duri. Pada saat inilah ialah saat kedholiman telah mentjapai puntjaknja datanglah jang Empunja ialah Gusti Allah S.W.T., merabutnja dengan dhohirnja angkatan Nabi Musa dan Nabi Harun A M.S. jang ditakuti oleh Fir'aun cs. Sebelumnja dari Banisrail, golongan jang paling tertindas di Mesir pada waktu itu menjelenggarakan "Eine umgestaltung von grund aus" = mendjebol orde lama Fir'aun dari akar²nja dan memba- ngun orde baru berdasarkan agama jang dibawa Beliau². Sedjak ini sedjarah kemanusiaan lurus kembali berdasarkan firman²:

  1. Wanuridu an namunna 'ala ladzinastudh'ifu fil ardhi wanadj- 'alahum aim mataw wanadj'alahumul waritsin = Dan kami kehendaki untuk memberi anugrah atas orang² jang tertindas didunia dan kami djadikan mereka tuan² dinegerinja sendiri dan mewarisi kemuliaan² sipenindas diseluruh negeri.
  2. Wanumakkina lahum fil ardhi wanurija Fir'auna wa hamana wadjunuda huma minhum makanu jachdarun =. Dan kami tetapkan mereka dinegeri itu (setelah bebas) dan memperlihat- kan kepada Fir'aun dan Patih Haman dan wadia bala mereka berdua muntjulnja orang Pemimpin dari golongan jang tertindas (angkatan Nabi Musa dan Nabi Harun A. M. S.) jang mereka takuti sebelumnja. Proces sedjarah kemanusiaan ini berulang kembali terus sepan-
    djang masa. Misalnja waktu kedholiman mentjapai puntjaknja dari Agranie Keradjaan Romawi dibawah pimpinan Nero dan Cesar, Gusti Alah menitahkan Angkatan Nabi Isa a.s. untuk mendjebolnja dan mem- bangun orde baru selaras dengan Agama jang bibawanja. Begitu pula kala waktu kedholiman dari Regim Mekah Djazirah Arabiah jang dipimpin oleh Abudjahal cs. sudah pada puntjaknja, Tuhan telah menitahkan Djeng Nabi Muhammad s.a.w. untuk meluruskan- nja kembali. Demikian pula Agama Sanghiang di Padjadjaran dan Modjopahit di Indonesia pada achirnja diluruskan kembali oleh Angkatan Wali Sem- bilan dengan dipimpin oleh Sunan Gunung Djati Tjirebon biidnillah/dengan idzin Tuhan.

Selandjutnja tyranie dari pendjadjah Belanda dan Djepang pada

achirnja diluruskan kembali oleh Angkatan 45 biidnillah. Dan achirnja kediktatoran dari Gestapu / Orla dengan kehendak Tuhan telah diluruskan kembali oleh Angkatan 66 harmonies dengan ABRI. Djustru setelah pengalaman inilah sekarang sudah "sedeng ku- kupe" = tinggi waktunja seluruh potensi nasional bersatu teguh dengan ABRI dan Angkatan 66 harmonies homogeen kompak untuk lebih² men djaga, mengamalkan dan mengamankan Pantjasila. Oleh karena inilah djustru apa jang tersirat dalam sedjarah Tjirebon itu adalah tak lain tak bukan paralel dengan Pantjasila sojogjanja- lah harus kita gali kembali sedjarah Tjirebon dari bumi Pertiwi Indonesia guna didjadikan landasan/pegangan hidup dan pengawal Pantjasila itu oleh karena Pantjasila ternjata bersumber kepada Al-Qur'anulkarim. Tjoba kita lihat :

  1. Ketuhanan Jang Maha Esa bersumber kepada firman: Wama
    cholaktul djinna walinsa illa lija'budun = Tidak nanti Kami mendjadi- kan Djin dan Manusia hanja untuk menjembah Kami, djadi menjembah Tuhan adalah wadjib kalau tidak nistjaja dihapus. Tjontoh: Sodom, Gomorah, Namrud, Fir'aun, Nebukadnesar, Babilon, Nineve, Cesar, Abudjahal, Madajim, Djengis Khan, dan achirnja Gestapu/Orla dihapus oleh Illahi dari muka bumi tiada rangdanja. Djadi kita sejogjanja harus bertingkah laku hidup paralel dengan sarinja firman: Watawakkal 'alal chajjiladzi la jamut = serah djiwa ra- ga kepada hidup jang tan mati =. hidup langgeng tan kena owah ialah sumber hidup kita jang achirnja mati. Murad rasanja: Kita harus meladeni karsa Illahi agar kehendak kita nantinja diladeni lagi oleh Illahi jang akan berbuah kepada kete- nangan djiwa, jang mana bersendikan tiga unsur: stabil iman, stabil politik dan stabil ekonomi. Arti kata meladeni itu ialah menjembah, arti kata menjembah itu ialah eling dan arti kata eling itu diantaranja jang terutama ialah mengamalkan sembahjang lima waktu.

  2. Kemanusiaan bersumber kepada firman: Walana a'maluna
    walakum a'malukum = Laku kita adalah laku kita, lakumu adalah lakumu, djadi kalau kita tidak mau didjiwit djanganlah mendjiwit orang alias saling toleransi, artinja saling kasih sajang kepada sesama hidup.

  3. Persatuan bersumber kepada firman : Jaajjuhannas Inna
    cholaknakum min dhakkarin wauntsa wadja'alnakum sjuu'ban wakabaila lita'arofu = Wahai bangsa manusia sesungguhnja Kami djadikan kamu dari lelaki dan perempuan (Nabi Adam a.s. dan Babu Hawa) dan Kami bina kamu ber-golong2.an dan ber-bangsa² untuk saling kenal-mengenal, djadi untuk bersatu, damai dan tenang, tidak untuk tjakar-tjakaran dan berkelahi atau gontok-gontokan, hidup sederadjat dan saling hormat- menghormati alias duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, (saling mengakui hak azasi manusia).

  4. Kerakjatan bersumber kepada firman: Wamata'un ilachin
    = Ber-senang²lah dan menetaplah (berdaulatlah) kamu didunia hingga dikembalikan kehadirat Tuhan, djadi ingatlah kamu sekalian pada suatu waktu pasti akan dipanggil kembali menghadap Tuhan, kamu sekalian harus dapat mempertanggung-djawabkan amal perbuatannja kelak.

  5. Keadilan Sosial bersumber kepada firman: Wama min da-
    batin fil ardhi illa 'alallohi ridjkuha = Tak ada bagi segenap jang me- rajap diatas bumi hanja atas Tuhanlah redjkinja, djadi seluruh machluk didunia chususnja manusia berhak diberi ridjki jang lajak oleh Tuhan. Sama rasa sama bahagia tidak boleh ada jang ber-lebih²an dan tidak boleh ada jang berkekurangan seperti dalam djaman pemerintahan Orde lama jang mana hingga sekarang masih kita rasai bekas²nja jang mana ialah disamping ada golongan² jang terketjil, golongan² jang dapat mem buat Firdaus plus perempuan² tjantiknja didunia, sedangkan golongan² terbesar melarat bahkan ada sebagian jang tidur di-tiamtang2 Tionghoa dan kolong² djembatan, pula ada jang berumah didalam bekas keran- djang areng di-pinggit² kali Tjiliwung Djakarta. Dalam hal ini kita sejogjanja harus tepa selira artinja kita tidak boleh ingin menang sendiri, ingin hidup sendiri, ingin enak sendiri dan lain sebagainja. Djadi kalau demikian naga²nja ironie Tjirebon bilang: "Balung2 langka daginge, wong di tulung2 langka elinge" = Kita telah sama² didjadjab, kita telah sama² berkorban dan kita telah sama² ber-

perang kemerdekaan, tetapi setelah merdeka hingga berusia 21 tahun

rakjat jang terbanjak masih kebagian hanja tulangnja sadja seperti telah kita alami dalam djaman Ordelama. Ini adalah kontras dengan achlak/ mental, budi pekerti dan moral Al-Qur'an. Marilah segenap kekuatan potensi nasional bersatu teguh, kompak homogeen, harmonies dengan ABRI, Angkatan 66 dan Angkatan 45 rem bati rata madju terus pantang mundur, meluruskan kematjetan² ini hingga sukses semaksimal-maksimalnja tritura dan mengabdi kepada A m pera, Amanat Penderitaan Rakjat diganti dengan kebahagiaan Rakjat sesuai dengan sarinja doktrin Al-Qur'an dan Sunah Rosul alias Sosialisme religious/Ketuhanan Jang Maha Esa, alias Pantjasila. Sedangkan sari Pantjasila mengarah kepada Nasionalisme bertaqwa. Definisi taqwa adalah berdasarkan firman²:

  1. Inna akromakum indallohi atkokum = Sesungguhnja kemuliaanmu sekalian disisi Allah adalah taqwamu sekalian.

  2. Sifatnja taqwa adalah: Ala-dhina ju'minuna bil goibi P. TJAKRABUWANA DAN RT. MAS RARASANTANG wajukimunas solata wamimma rodjak nahum junfikun = Orang2 jang beriman kepada goib jang bersembah-Orang Tjirebon jang dahulu dan jang sekarang menamakan djaman jang lima waktu dan jang membagi ridzki.
    achir sekarang ini adalah djaman tutup kendang. Jang dimaksud dengan goib adalah Tuhan, Malaikat² Arti kata djaman tutup kendang itu ialah kalau djaman dahulu-Tuhan, Rosul2 Tuhan chususnja Nabi Muhammad s.a.w.,nja demikian nistjaja djaman achirnja demikian pula. hanja sifatnja sa-Kitab² Tuhan chususnja Al-Qur'anul Karim, Sorga, dja jang berubah, misalnja kedjadian² djaman dahulu itu sejogjanja harus Neraka, hari Kijamat, dsb. tjotjok, pantas, sesuai dan serasi dengan djamannja jang berlaku pada djaman dahulu itu dan demikian pulalah dengan kedjadian² pada djaman Achirulkata marilah kita gali Sedjarah Tjirebon dari Ibu Pertiwi achir sekarang ini, dengan lain perkataan hanja sifatnja jang berubah Indonesia hingga berhasil untuk didjadikan landasan, pegangan hidup mausufnja tidak berubah. Djadi dengan istilah asing ialah "de geschiede- dan pengawal bagi Pantjasila. Dan dengan Pantjasila marilah kita me-nis repeteert" artinja sedjarah berulang. Ini adalah hukum iradat dari nudju kepada idam²an kita jang terachir ialah "Baldatun tojjibatun wa Tuhan. Robbun gofur = Negara adil-makmur dan diridhoi oleh G. Allah s.w.t. Untuk kita mengetabui kedjadian atau sedjarah permulaannja Tjirebon sejogjanja kita mengetahui terlebih dahulu sedjarah Indonesia sebelumnja setjara keseluruhan. Pada awalnja tersingkaplah disini tabir sedjarah Nusantara (batja Indonesia) kita sedjak ternjata adanja negara Kesatuan Nusantara Merdeka dan berdaulat penuh terdiri atas beribu pulau² sambung-menjam- bung dari Sabang hingga Merauke terletak digaris Chatulistiwa dibelahan bumi sebelah Timur-tenggara jang sekarang disebut orang Asia Tenggara laksana rangkaian Djamrut nan indah pada abad 6 ke 7 Masehi, ibu kotanja di Bandjaransari terletak disekitar Bandjar Tjiamis Djawa Barat sekarang, jang sekarang telah berubah sifatnja mendjadi petilasan pame- radan Tjiung Wanara Karangkamulian ditepi djalan Tjiamis-Bandjar. Istana Negaranja (dahulu istilahnja "Kraton") bernama Galuh Lelean. Kepala Negaranja (dahulu istilahnja "Radja") adalah Prabu Lelean ber- gelar Sri Maha Prabu Bandjaransari (istilahnja kalau sekarang misalnja Pemerintah Djakarta, disinilah ternjata pula bahwa djaman achir kita ini adalah djaman tutup kendangnja djaman dahulu kita (dahulunja ada, sedjarah berulang), oleh karena agar sesuai dengan djaman sekarang sifatnja telah berubah, misalnja : Negara Republik Indonesia, mausufnja sama sadja, tidak berobah, ialah Negara Merdeka dan berdaulat. Dan perbendaharaan sedjarah Indonesia di Tjirebon hanja men- tjeriterakan kedjadian² jang ter-besar dan ter-penting2 jang telah terdjadi dipulau Djawa sadja oleh karena pulau² Indonesia lainnja dari dahulu hingga sekarang pada umumnja ma'mum sadja kepada Djawa. Agama jang berlaku pada waktu itu pada umumnja adalah agama Sanghjang. Prabu Lelean berputra sulung dua, kakak beradik dari dua per- maisuri: 1. PRABU TJIUNGWANARA dan 2. PRABU ARJANGBA. NGA. Setelah ajahandanja merad (ngahijang, ilang tanpa krana-mele- njapkan diri dari dunia tanpa bekas = tanpa kuburan) kedua putra ini perang tanding giri gamana toja gamana (perang diatas bukit dan perang

diatas air berebut tachta) masing² didukung oleh separoh dari Rakjat Indonesia pada waktu itu, sama sakti digdjajanja, tidak ada jang kalah tidak ada jang menang, berbulan-bulan hingga berdua datang disuatu tempat didaerah Tegal berperang surungan, artinja saling dorong-men- dorong hingga tanah jang mereka pidjak petjah mendjadi parit. Disinilah mereka berhenti berperang dan semupakat kedua belah pihak bahwasanja Indonesia sedjak itu terbagi mendjadi dua negara. Mereka dapat ilham dan pertjaja bahwa ini adalah suratan (putusan) dari Dewata. Selan- djutnja dari parit itu kebarat mendjelma mendjadi Negara Pedjadjaran Merdeka dan berdaulat penuh dan diperintah oleh Prabu Tjiung Wanara seturun-turunnja hingga pada suatu waktu tertentu, dan dari parit itu ke timur lahirlah Negara Madjapahit, djuga Merdeka dan berdaulat penuh, diperintah oleh Prabu Arjangbanga seturun-turunnja hingga pada suatu waktu tertentu. Sedjak inilah mereka masing2 pamali (dilarang) melintasi parit itu. Prabu Tjiungwanara se-turun²nja pamali melintasi parit itu ke timur dan Prabu Arjangbanga se-turun²nja pamali melintasi parit itu ke barat. Dengan lain perkataan mereka sedjak itu pamali (dilarang) saling perang memerangi, saling takluk-menakluki sebaliknja mereka harus rukun kembali dan hidup damai dalam negaranja masing2. Setelah melalui proses ber-ratus² tahun parit ini berubah mendjadi kali besar jang sekarang bernama kali Tjipamali di daerah Tegal. Mereka dalam ilhamnja mendapat wedjangan pula dari dewata bahwasanja kelak pada suatu waktu djaman achir jang akan disebut orang djaman tutup kendang Nusantara atau Indonesia setelah melalui penderitaan2 jang hebat dalam suatu djaman penjelang jang berarti djaman pendjadjahan Belanda dan Djepang, kembali bersatu merdeka dan berdaulat penuh seperti semula (waluja kembali).— -00o— LAHIRNJA TJIREBON DAN BANTEN 870 Hidjriah 791 Hidjriah dan tahun1381 Djawa (tahun 1302 Djawa 1468 Masehi 1389 Masehi Tak lama setelah berdirinja Pedjadjaran ada 4 propinsinja (isti- lah djaman dahulu adalah Kadipaten) terletak disepandjang tapal batas kali Tjipamali melepaskan diri dari Pedjadjaran dan menjatakan diri masing2 berdiri sendiri² merdeka dan berdaulat penuh. Keempat negara ini hingga abad 14 ke 15 masehi adalah:

  1. Radjagaluh, ibu kotanja Radjagalub, Prabu Tjakraningrat sebagai Kepala Negaranja.
    2.Luragung, ibu kotanja Luragung, Prabu Luragung sebagai Kepala Negaranja.
  2. Telaga, ibu kotanja Telaga, Prabu Putjukumum sebagai Kepala Negaranja.
  3. Indramaju, ibu kotanja Indramaju, Prabu Indrawidjaja sebagai Kepala Negaranja. Adapun batas2 daerahnja kesebelah Barat dari 4 Negara baru
    jang ketjil² ini jalah kurang lebih sama dengan tapal batas daerah² Tjirebon dan Periangan sekarang dengan tjatatan kelak pada waktu djaman para Wali keempat Negara ini digabung mendjadi satu Negara merdeka dan berdaulat penuh jalah negara Tjirebon oleh Sunan Gunung Djati, Ketua Wali Sembilan (djaman dahulu istilahnja jalah Imam). Negara ini diperintah atas dasar falsafah democratie dan takwa kepada Allah jang selaras dengan kebudajaan dan kepribadiannja ma- sjarakat setempat dan berlaku dan sesuai untuk djaman dahulu oleh Wali Sembilan jalah sosialisme religious atau sosialisme ber-Tuhan jang mana diambıl dari nurnja firman Illahi: "Robbana atina fiddunnja chasanah wafilachiroti chasanah wakina 'adabannar", artinja : Tuhan Kami beri- lah kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan acherat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka". Serasi dengan nurnja atau sarinja firman ini ada seorang pudjang- ga Islam asing telah berkata "Wie lichamelijk en geestelijk even beza- digd is, heeft het leven van heden en het leven van het hiernamaals". Artinja: "Siapa jang raga dan sukmanja sama padatnja ia mempunjai kebahagiaan hidup dunia dan kebahagiaan hidup landjutan dari dunia ini (acherat). Murad rasanja ini adalah untuk kita bahagia duniawi dan uchrowi sejogjanja kita harus kaja badani dan kaja sukmani, jang mana akan berbuah mendjadi ketenangan djiwa dan beramal solich jang diridhoi oleh Tuhan. Firman Illabi dalam Al.Qur'anulkarim adalah: "Waridhwanum minallohi akbar dhalika huwal fauzul 'adhim". Artinja: adapun orang jang diridhoi oleh Gusti Allah Jang Maha Besar itu itulah bagdja jang besar. Adapun artikata kaja ragani atau badani ialah kaja materie dan arti kata kaja sukmani adalah kaja kawruh ilmu agama. Dari beberapa agama jang ada beredar didunia pada waktu itu, para Wali Sembilan pilihannja djatuh kepada suatu agama jang bersum- ber dari pada kata² emas ialah: "Watamassak bilqur'anil'adhim wasuna- ti Rasulillahil Karim tahtadu watatsbudu 'ala sirothillahil mustakim" artinja: berpeganganlah anda kepada Al-Qur'an jang besar dan sunah Rosul Allah jang mulia nistjaja anda memperoleh petundjuk dan ditetapkan diatas djalan Allah jang lurus. Arti kata jang memperoleh petundjuk itu ialah orang akan di- tundjuki kepada idam²annja, ja'ni kebahagiaan duniawi dan uchrowi, dan arti kata ditetapkan diatas djalan Allah jang lurus itu adalah setelah orang mentjapai idam²annja itu ia dilanggengkan dalam kebahagiaan jang diridhoi oleh G. Allah itu dan setelahnja akan mentjapai kedudukan berada disisi Allah jang berarti wusulun ila Robbini-datang kepada Tuhan-nja

Atas dasar inilah Sunan Gunung Djati Sech Sjarif Hidajatullah

dengan kabinetnja jang beranggotakan Wali Sembilan telah memerintah

Tjirebon jang merdeka dan berdaulat penuh pada abad 14 ke 15 Masehi. Pula Tjirebon pada waktu itu merupakan pusat, sumber peman- tjaran dari sinar tjahaja Islam, pula sebagai basis penjebaran Islam ke seluruh pelosok Indonesia bahkan hingga ke Negeri Tiongkok (Tartar Manchuria). Kembali pada pokok karja ini Prabu Tjiungwanara membiarkan

sadja pelepasan diri dari keempat propinsinja tadi oleh karena pada he-

matnja negara² ketjil jang baru ini akan menduduki fungsi sebagai buf- ferstaten (negara² penjangga) antara Padjadjaran dan Madjapahit. Prabu Tjiungwanara setelah tjukup landjut usianja merad dengan istananja sama sekali, jang tinggal hingga sekarang hanja petılasannja sadja jang tersebut diatas tadi, jalah patilasan pameradan Tjiungwanara Karangkamulijan ditepi djalan Tjiamis Bandjar. Tjatatan : Penganut² agama Sanghiang djaman dahulu jang berilmu tinggi dan jang telah mendjalani tapa dengan sempurna pada umumnja mem- peroleh kelebihan (istilah dahulu kadidjajan) salah satunja bisa merad. Setelah pemerintah Prabu Tjiungwanara dilandjutkan oleh seorang

putri sulungnja jalah Ratu Purbasari, Ibukota Padjadjaran dipindahkan

ke Bogor. Ratu Purbasari membangun sebuah istana baru jang diberi nama Galuh Pakuan terletak kemungkinan disekitar kebun raya Bogor dan Batu tulis. Sedjak itu ibukota Padjadjaran bernama menurut istana ne- garanja jalah Galuh Pakuan (Bogor sekarang). Setelah Ratu Purbasari pemerintahan dilandjutkan oleh seorang

putra sulungnja jalah Sang Prabu Linggahiang, Sang Prabu Linggahiang

setelahnja dilandjutkan oleh seorang putra sulungnja jalah Prabu Linggawesi. Prabu Linggawesi setelahnja dilandjutkan oleh seorang putra sulungnja jalah Prabu Wastu. Prabu Wastu setelahnja pilandjutkan oleh seorang putra sulungnja jalah Prabu Susuktunggal, setelah Prabu Susuktunggal dilandjutkan oleh seorang putra sulungnja jalah Sri Anggalarang, Sri Anggalarang setelahnja dilandjutkan oleh seorang putra su-

lungnja jalah Prabu Mundingkawati, Prabu Mundingkawati setelahnja di

landjutkan oleh seorang putra sulungnja jalah Prabu Mundingwangi, Prabu Mundingwangi setelahnja dilandjutkan oleh putra sulungnja jalah PRABU SILIWANGI. Prabu Siliwangi inilah jang meru pakan titik tolak sedjarah Tjirebon.— Pada abad 13 ke 14 Masehi misi2 perorangan Islam baru berani

dengan terang?an menjebarkan adjaran² agama Islam di Djawa chususnja

dan Indonesia pada umumja. Sebelumnja abad² ini kemungkinan sudah ada misi2 Islam jang telah masuk Indonesia tapi dengan tjara geruisloos

artinja tak berani terang²an. Pada abad 13 ke 14 Masehi Sjech Kuro

telah membuka pengguron atau pesantren Islam di Krawang. Dipantai

Palimanan (Tjirebon sekarang) di Gunung Djati sebelah Utara Gunung Sembung tempat makam Sunan Gunung Djati telah timbul pengguron/ pesantren Islam dari Sjech Nurdjati. setelah Sjech Nurdjati pergi dari tempat itu untuk melandjutkan bertapa, pesantren dilandjutkan oleh seorang muridnja jalah Sjech Datuk Chafid seorang adik dari Pangeran Pandjunan hingga wafatnja disitu. Sedang di Djawa Timur di Ngampel Surabaja Sunan Ngampel seorang kerabat dari Prabu Brawidjaja telah membuka Pesantren pula. Di Palembang berdirilah sebuah pesantren pula jang dipimpin oleh Sultan Palembang Ariadila seorang pernah kemenakan dari Prabu Brawidjaja. Djuga pada waktu itu telah berdiri Kesultanan Atjeh jang diperintah oleh Sultan Atjeh seorang pernah kemenakan dari Prabu Siliwangi. Pada suatu hari Prabu Siliwangi dengan pengiringnja berkenan menginspeksi pesantren Sjech Kuro di Krawang. Beliau memeriksa dgn. teliti, seluruh pesantren Krawang hingga santri²nja baik wanita maupun pria djuga tidak ketinggalan. Pada waktu itu kebetulan dipesantren Krawang ada seorang santri wanita sedang mesantren jang bernama Rara Subangkrantjang seorang putri dari Tjempa Malaka. Prabu Siliwangi setelah melihat putri itu lantas djatuh tjinta. Beliau meminangnja kepada Sjech Kuro Sjech Kuro mendjawab akan menanjai dahulu santri putrinja itu. Putri Rara Subangkrantjang setelah ditanjai pada mulanja me- nolak dengan tegas. Akan tetapi Sjech Kuro adalah seorang Wali, pada umumnja Wali² Allah itu diberi fadhol, artinja kelebihan jang bernama keramat oleh Tuhan, salah satunja ialah weruh sadurunging winarah artinja tahu suratan² (putusan²) Tuhan jang tertera di Lavchilmachfud artinja daun jang diraksa, jang mana kalau dengan istilah sekarang ialah lembaran keradjaan Tuhan. Sjech Kuro setelah melihat lauchilmachfud berkata kepada murid putrinja bahwa Rara Subangkrantjang sudah takdir Allah harus mema- suki istana Padjadjaran, oleh karena dari Prabu Siliwangi inilah beliau akan melahirkan dua putra sulung kakak beradik pria dan wanita jang akan bernama Pangeran Walangsungang Tjakrabuana dan Ratu Mas Ra- rasantang jang akan mendjadi lantaran bergantinja Padjadjaran chususnja Indonesia umumnja kepada agama Islam. Oleh karena inilah putri Rara Subangkrantjang dengan korban perasaan tunduk kepada Gurunja, beliau mau ditikah oleh Prabu Siliwangi dengan sjarat: 1. Harus mendjadi permaisuri.

  1. Beliau setelah ditıkah tidak pindah dari agama Islam kepada agama jang berlaku di Padjadjaran, dengan lain perkataan Rara Subangkrantjang setelah mendjadi permaisuri Pedja- djaran akan tetap mengamalkan sarengat² Islam terutama sembahjang lima waktu dan beliau ikrar Sjech Kuro jang akan bertindak sebagai walinja,

Setelah putusan² ini dengan hormat diberitahukan oleh Sjech Kuro kepada Prabu Siliwangi, Prabu Siliwangi menerimanja. Selandjutnja tepatlah ramalan Sjech Kuro itu, permaisuri Pedjadjaran Rara Subangkrantjang pada waktunja dikarunia ber-turut² dua putra pria dan wanita kakak beradik jang mana masing² diberinama Pangeran Walangsungsang Tjakrabuana dan Ratu Mas Rarasantang. Kedua putra ini oleh Ibunda- nja dengan diam² dididik agama Islam. Pada suatu hari setelah dewasa P. Walangsungsang Tjakrabuana menghadap ajahandanja mohon idzin untuk masuk agama Islam dan keluar dari Istana mendjadi Guru agama Islam. Prabu Siliwangi meno- laknja. Tetapi P. W. Tjakrabuana telah bulat tekadnja. Pada suatu ma. lam th. 1386 M. beliau dengan diam² keluar dari lstana masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun gunung ber-minggu² hingga datang pada suatu tempat di Gunung Merapi. Disinilah beliau dapat petundjuk dan djodo pula dengan seorang putri bernama Nji Indang Geu lis, seorang putri dari seorang wiku bukan Islam ialah Pandita Dan u w arsih. Dari petundjuk inilah beliau harus meneruskan perdjalanan keutara hingga datang kepantai laut Djawa dipinggir mana beliau akan bertemu dengan seorang Walijullah Sjech Nurdjati, seorang Guru Besar Islam. Suatu hari P. W. Tjakrabuana dengan istri mau berangkat, adiknja Rt. Mas Rarasantang datang menjusul, tak tertjeritera lagi didjalannja dilalah beliau bertemu dengan kakaknja di G. Merapi. Djuga Rt. Mas Rarasantang pada suatu malam diam² keluar dari Istana Pedjadjaran. Selandjutnja bertiga setelah berpamit dari ajah mertuanja melandjutkan perdjalanan menudju ke Utara. Tak tertjeritera lagi didjalannja mereka bertiga pada suatu hari telah datang di G. Djati lantas masuk Islam dan berguru kepada Sjech Nurdjati. Setelah tjukup tjakap dan sempurna lahir bathinnja ketiga Murid ini diperintah oleh Sang Guru babakjasa dedukuh beberapa kilo meter keselatan. Lantas mereka turun Gunung dan setelah 5 kilometer menjusur pantai keselatan mereka mendjumpai satu²nja rumah seorang tua jang belum Islam bernama Ki Gedeng Alang2 pada th. 1389 M. Rumahnja disebut Witana jang berarti awit ana umah, permulaan ada rumah terletak dibelakang balai desa Lemahwungkuk jang sekarang men djadi kraton Kanoman. Kraton Kanoman terletak dibelakang balai desa Lemahwungkuk Tjirebon. Mereka didjadikan anak angkat oleh kaki tua tadi dan membabad hutan rawa belukar sekitarnja untuk didjadikan ke. bun dan ladang, pada Ahad Kliwon 1 Sura th. 791 H. atau 1389 M. Pula mereka mendirikan industri rumah Trasi dan belendrang (masakan tjai/air rebon) dengan alat lumpang batu dan alu batu besar. Lumpang dan alu batu hingga kini masih berada dipinggir Alun² Kraton Kanoman.

Lama-kelamaan kedjadian ini terdengar oleh Rakjat Radjagaluh dan Palimanan, mereka ber-dujun² datang guna membeli Trasi dan tjai-rebon. Sedjak itulah dukuh itu disebut orang dukuh Tjirebon, pula ada 47 orang jang permulaan turut menetap di dukuh Tjirebon pada tahun 1391 M. Jang mendjadi pikuat atau Kuwu orang mengangkatnja Ki Gedeng Alang2 dan agamanja seluruh dukuh Tjirebon adalah Islam. Permulaan ada daerah Islam di Djawa. Ki Gedeng Alang2 pulalah jang mendjadi penghuni dan Kuwu pertama dari Kota Tjirebonsekarang. Tak lama setelah diangkat mendjadi Kuwu, Ki Gedeng Alang2 mangkat (makamnja kini berada dibelakang paimaman Masdjid Agung Tjirebon) dan sebagai gantinja P.W. Tjakrabuana diangkat oleh Rakjat mendjadi Kuwu Tjirebon dengan Gelar Sri Mangana dan lambat-laun Tjirebon madju dan mendjadi besar. Setelah berhasil membangun dukuh Tjirebon P. W. Tjakrabuana bertiga menghadap gurunja, Sjech Nurdjati. Beliau menerima bakti mereka dan meramalkan bahwa Tjirebon akan djadi negara besar dan djaja kelak, akan pula mendjadi pusat Islam di Indonesia dan tempat ber Musjawarah Wali Sembilan jang dipimpin oleh seorang Sul- tonul Awlija jang memerintah negara Tjirebon. Beliau beri perintah lagi kedua muridnja untuk naik Hadji, Ibu Indang Geulis ditinggal tunggu rumah. Mereka berdua berangkat ke Mekah. Setelah menunaikan ibadah hadji mereka berdjumpa dengan Pa- tih Keradjaan Islam Mesir, Djamalulail. Beliau diperintah oleh Sri Sultan Chut dari Mesir untuk mentjari isteri jang menjerupai Ratu Sultannja almarhumah untuk didjadikan Ratu Sultan Mesir. Sultan Chut adalah seorang turunan ke 6 dari Rasululloh s.a.w. kemungkinan dalam djaman Kalifaat Abasijah. Ratu Mas Rarasantang kebetulan serupa dengan Rt. Sultan Mesir Almarhumah. Mereka bertolak bersama ke Negeri Mesir dan setelah mufakat kedua belah fibak Ratu Mas Rarasantang ditikah oleh Sri Sultan dan mendjadi Ratu Sultan Mesir bernama Sja- rifah Mudaim pada th. 1394 M. Sebagai Walinja bertindak kakaknja seajah seibu P. W. Tjakrabuwana. Waktu Rt. Sultan mengandung tudjuh bulan Sultan Chut wafat dan pada waktunja lahirlah dua putra sulung kembar jang kesatu diberi nama Sjarief Hidajatullah dan jang kedua Sjarief Nuru1loh pada th. 1308 Dj./796 H /1395 M. Setelah dewasa Sjarief Hidajatullah dinobatkan mendjadi Maulana Sultan Mesir dengan gelar Maulana Sultan Machmud pada th. 1417 M. Akan tetapi setelah beberapa tahun memerintah Mesir beliau turun tach- ta, keradjaan Mesir diserahkan kepada adiknja, Sjarief Nurulloh. Beliau dengan ibunja bertolak pulang ke Tjirebon pada awal th. 1426 M. Di Tjirebon mereka diterima dengan dua tangan oleh P. W. Tjakrabuwana dan kemudian Sunan Gunung Djati diangkat oleh seluruh Wali mendjadi Sultonui Aulya Alloh pula mendjadi Imam dengan beranggotakan Wali

Sembilan (misalnja waktu djaman Kandjeng Nabi dengan sochabat empat djadi lima dengan Kandjeng Nabinja, begitu pula Wali Sembilan djadi sepuluh dengan Sunan Gunung Djatinja). Setelah para Wali Sem bilan bermusjawarah di Ngampel dibawah formateur Sunan Ngampel membentuk dewan Wali pada th. 1426 M. Susunan Dewan Wali : Sunan Gunung Djati sebagai Imamnja. Sedangkan anggota²nja:

  1. Sunan Ngampel, 2. Sjech Maulana Magribi, 3. Pangeran Bonang, 4. Sunan Undung, 5. Sunan Kalidjaga, 6. Pangeran Kudus, 7. Sjech Lemahabang, 8. Sjech Bentong dan 9. Sjech Madjagung. Tjatatan: Dalam perbendaharaan sedjarah Indonesia di Tjirebon telah ter-
    singkap bahwa pada th. 1426 para Wali dibawah pimpinan Sunan Ngampel setelah mengadakan musjawarah di Ngampel Surabaja pararel dengan penetapan² Tuhan di Luchilmachfud telah menelorkan sebuah Dewan Wali Sembilan dengan Imam Sunan Gunung Djati dan beranggotakan sembilan orang Wali jang telah tersebut diatas tadi. Pada waktu itu oleh karena agama Islam baru sadja beredar di Indonesia dan orang² Islam belum banjak djumlahnja, djadi urusan² ke- negaraan (politis) dan tindak pidana dll. praktis belum n a m p a k dengan tegas, Wali Sembilan lebih mementingkan pelebaran sajap, kalau ada kedjadian² dalam bidang fungsinja masing² mereka baru bertindak dalam perkara itu selaras dengan fungsinja masing2. Dari sinilah saja telah dapat mengambil sarinja perkataan2 orang tua² djaman dahulu misalnja dengan terlontarnja tjeritera² bahwa Sjech Maulana Magribi adalah Pangeran Kedjaksan, Su nan Kalidjaga adalah suka mengadili perkara dan setelah wafatnja Sunan Ngampel Sunan Kalidjaga mendjadi wakil Imam dsb. Kedudukan tetap untuk berhimpun adalah Masdjid Agung Tjirebon jakni untuk Dewan Wali didalam Bait Masdjid dan untuk Musjawarah umum didalam Serambi Masdjid (Kabinet dan Parlemen). Pada th. 1428 Sunan Gunung Djati atas nama Rakjat mempro- klamirkan (istilah Tjirebon ialah "anggiaraken") berdirinja negara Tjirebon Merdeka dan berdaulat penuh dengan Sunan Gunung Djati sebagai Kepala Negaranja pula dihaturkan gelar kepada S. G. Djati oleh para Wali dan Rakjat Tjirebon sedjak itu ja'ni: Ing kang Sinuhun Kandjeng Susuhunan Djati Purba Penetep Pa- nata Agama Awlya Allah Kutubidjaman Chali- fatur Rosulullah s.a.w. Ibukotanja Kota Tjirebon (Kota besar Tjirebon sekarang) dan Istana negaranja bernama Pa k u n g w a ti (Kraton Kasepuhan sekarang).

Dewan Proklamasinja itu Tjirebon Automatis melepaskan diri pula dari negara Radjagaluh, oleh karena pada waktu itu Tjirebon terletak dipantai Propinsi Palimanan, Kepala Daerahnja adalah seorang Guber- nur (istilah djaman dahulu ialah Dipati) bernama K i b a n, sebuah propinsi dari negara Radjagaluh. Tjirebon pada waktu itu adalah meru- pakan stoot kapital (modal pokok) bagi perdjuangan sutji para Wali Sembilan seperti Jogjakarta demikian pula pada awal perang kemerde. kaan kita. Sebelum th. 1426 S. G. Djati mengembangkan agama Islam keberbagai daerah bahkan keseberang, mitsalnja ke Tartar, Manchuria, Negeri Tiongkok pada th. 1426 dengan djulukan (memakai nama) Maulana Insan kamil, hingga kini di Tartar ada djutaan Mus limin. Kala waktu di Tartar S. G. Djati bertunangan dengan seorang Putri Kaisar Tiongkok bernama Ong Tien Nio dan diberi empat propinsi asal mau mendjadi wakil Kaisar (Radja Muda) akan tetapi beliau menolak dan pulang ke Tjirebon dan tak lama kemudian nona Ong Tien Nio dengan pengiringnja menjusul beliau ke Tjirebon. Bukti²nja masih ada : Kong2, piring2 pandjang kuno, dsb. pembawaan Putri Tiongkok itu berada di Astana Agung Gunung Djati Tjirebon. Setelah datang di Tjirebon dari negara Tiongkok, S. G. Djati menikah dengan Putri sulung dari Sri Mangana Ki Kuwu Tjirebon jang bernama Ratu Mas Pakung wati Kemudian Sri Mangana menjerahkan seluruh daerah Tjirebon kepada Sunan Gunung Djati. Tjatatan: Pada waktu S. Gunung Djati di Tartar beliau disamping djadi Guru Agama Islam djuga termasjhur waspada (weruh sadurunging wina- rah) hingga Kaisar Tiongkak ingin mentjobanja. Kaisar mengikat sebuah bokor Kuningan diatas perut seorang putri sulungnja bernama Ong Tien Nio dan di-make up sedemikian rupa hingga kelibatan sebagai orang jang sedang hamil. Setelah itu beliau memanggil S.G. Djati diperintah me nebak bahwasanja putri itu betul2 sedang mengandung atau kena penjakit.

S. G. Djati tahu bahwa itu adalah bokor Kuningan jang diikat diatas perutnja putri itu, akan tetapi beliau mendjawab bahwa putri itu betul² sedang hamil tanpa berhubungan dengan pria hanja kadar Illahi jang memastikannja. Oleh karena inilah Kaisar murka dan diperintahkan S. G. Djati keluar dari negeri Tiongkok. Akan tetapi sabda Wali itu Sidik. Setelah beliau pulang ke Tjirebon Putri ternjata betul² hamil. Kaisar dan Putri sangat malu oleh karenanja. Putri menangis siang dan malam dan ingin dinikahkan dengan S. G. Djati, kalau tidak diluluskan oleh ajahandanja, Kaisar Tiongkok, beliau akan membunuh diri. Kaisar terpaksa mengi- dzinkannja. Dengan dikawal seorang patih dan sepasukan balatentara Tiongkok dan dengan membawa barang² berharga dari Istana Tionhkok Kong2, piring² pandjang kuno, dsb. jang hingga kini masih berada di Astana Agung Gunung Djati Tjirebon. Putri bertolak dengan menum- pang tiga Kapal Angkatan Laut Tiongkok ke Tjirebon dengan amanat Kaisar bahwa putri semoga dinikah, pula Kapal² dengan seluruh isinja

diberikan kepada beliau sebagai pembawaan Putri dari Tiongkok dan kalau mau pulang ke Tiongkok, beliau akan diberi empat propinsi dan diangkat mendjadi wakil Kaisar/Putra Mahkota negeri Tiongkok (Tjalon Kaisar).

S. G. Djati setelah datang di Tjirebon dari negeri Tiongkok dan setelah menikah dengan R a t u M as P a k un g w a ti lantas bertolak ke Luragung dengan maksud meng-Islam-kannja. Prabu Luragung dengan seluruh Pembesar-pembesarnja dan Rakjatnja dengan suka rela masuk agama Islam. Selagi S. G. Djati masih berada di Luragung disertai oleh Prabu dan Pembesar2 negara Luragung. Putri Ong Tien Nio berlabuh dipantai Tjirebon dan segera menjusul dengan segenap pengiringnja ke Luragung. Setelah datang di Luragung Putri dengan seluruh pengiringnja masuk Islam dan beliau beralih nama dengan nama RatuMas Rarasum anding. Kemudian pernikahan terdjadi antara S. G. Djati dengan Rt. M. Rarasumanding. Ini adalah pernikahan jang kedua dari beliau, akan tetapi tawaran ajah Putri agar beliau pulang ke negeri Tiongkok dsb. ditolaknja. Setelah itu bokor Kuningan djatuh dilantai dan Rt. M. Rarasumanding pulih kembali seperti semula masih gadis dan tak hamil. S. G. Djati mentjipta bokor Kuningan itu mendjadi baji laki² jang kelak setelah dewasa mendjadi Adipati (Gubernur) propinsi Kuningan bernama Adipati Awangga. Sesudah beres segala²nja S.G. Djati dengan Rt. Mas Rarasumanding dikawal oleh balatentara Tiongkok jang telah Islam pulang ke Tjirebon. Ratu Mas Rarasumanding tak pandjang usia. tak berapa lama beliau me- ninggal dunia sebelum mempunjai turunan dari kandungan jang sewadjar- nja dan dimakamkan di Astana Gn. Djati Tjirebon. Luragung setelah masuk Islam menggabungkan diri kepada Tjirebon, setelah masuk Islam tanpa perang ber-turut2 adalah: Luragung, Kuningan, setelah dewasa P. Adipati Kuningan alias Adipati Awangga. se-turun²nja hingga batas waktu tertentu mendjadi Gubernur Kuningan, beliau adalah seorang putra
S.G. Djati dari Ibu Putri Tiongkok tersebut diatas, Padjadjaran dan Kawunganten (Banten). akan tetapi Prabu Siliwanggi merad atau ngahiang tak mau Islam menggabung kepada Tjirebon. Pada tahun² berikutnja ber-turut2 menggabungkan diri kepada Tjirebon. ja'ni Telaga dan Radjagaluh setelah masuk Islam dengan perang, Prabu²nja merad, Indramaju tanpa perang dan pada achir th. 1513 setelah Krawang dan Sundakelapa (Dja karta) masuk Islam tanpa perang menggabungkan diri kepada Tjirebon. agama Islam pada umumnja praktis meliputi seluruh bekas wilajah Padjadjaran dan dari padanja lahirlah dua negara merdeka dan berdaulat penuh:
1. Kesunanan Tjirebon dengan Ibu-kotanja Kota Tjirebon, Sunan Gunung Djati sebagai Kepala Negaranja, dan
2. Kesultanan Banten, dibangun oleh S.G. Djati pada th. 1468 dengan Ibu-kotanja Kota Banten ( Kawunganten setelah djadi Kesultanan diganti namanja dengan Banten, seperti Sundakelapa dengan Djakarta) dengan
Sultan Chasanudin sebagai Kepala Negaranja, dilahirkan pada tahun 1441, nama aslinja adalah Panembahan Sebakingking seorang putra pertama S.G. Djati dari Ibu Rt. Mas Kawunganten, jang mana pernikahannja telah berlangsung pada th. 1438. Rt. M. Kawunganten adalah seorang putri sulung Ki Gedeng Kawunganten. Adapun batas² daerahnja satu sama lain dari negara² Tjirebon dan Banten pada waktu itu adalah kurang lebih sama dengan batas daerah² Pria- ngan dan Banten sekarang. Pada th. 1527 Armada Portegis dipukul mundur oleh gabungan Armada Tjirebon dan Djakarta dari pelabuhan Djakarta. Kepala negara Tjirebon pada waktu itu adalah P á n em b a h an Ratu, seorang Bujut (tjitjit) dari S.G. Djati, termasjur sebagai S. Gunung Djati I, dengan tjatatan bahwa ajahanda dan kakeknja, seorang pu- tera sulung S.G. Djati telah wafat terlebih dahulu sesama S.G. Djati masih hidup. Ajahandanja itu adalah Pangeran Dipati Tjirebon dan kakeknja itu adalah Pangeran Pasarean. Tjatatan : Menarik peladjaran dari karja jang terurai diatas ini saja mempunjai kesimpulan bahwa perdjuangan nasional kita ini adalah paralel dengan perdjuangan nasional Islam jang pernah sekali terdjadi di Indonesia kita ini ialah perdjuangan sutji S.G. Djati dan para Wali Sembilan. Oleh karena itu perdjuangan nasional kita ini adalah betul² berada di atas relnja, ja'ni rel kepribadian nasional kita. Maka dari pada itu marilah kita rembatirata madju terus, Insja Allah nistjaja kita pasti akan mentja- pai idam²an kita bersama pada achirnja jalah "Baldatun tejjibatum wa robbun gefur" jang berarti Negara adil-makmur dan diridhoi oleh Tuhan. Selandjutnja waktu Sunan Gn. Djati berada di Keling dipanggil orang dengan Maulana. Pada waktu itu ada seorang Patih dan serom- bongan penganutnja dari Keling setelah masuk Islam turut S.G. Djati pulang ke Tjirebon menetap hingga turun-menurun dan beralih nama dengan nama Adipati Suranenggala. Djeneng dan pegawai² (jang disebut orang2 Kraman) Astana Agung Gunung Djati jang mengurus makam2 S.G. Djati dan turunan²nja adalah turunan orang Keling tadi, oleh karena menurut tradisi lain turunan tidak diperbolehkan mengurus Astana Agung

G. Djati. Jang terachir di Djawa Barat masuk Islam dengan suka-rela kpd.
S.G. Djati adalah Sundakelapa pada th. 1513. Pada tahun itu djuga nama Sundakelapa oleh beliau diganti dengan Djajakarta (Djakarta sekarang) Dari sebuah desa Djakarta oleh S.G. Djati diperluas dan diperbesar mendjadi Kota Djakarta dan sekelilingnja, sebagai Kepala Dáerahnja beliau mengangkat Pangeran Djakarta sebagai Adipati atau Gubernur Djakarta. Menilik setelah mengalami gontjangan² jang hebat ja'ni pergantian Agama baik dengan perang maupun dengan damai orang dibekas wilajah Padjadjaran diwaktu itu menghendaki sangat kembalinja ketenangan, ke-

adilan, kemakmuran dan perdamaian. Oleh karena inilah Sundakelapa jang merupakan daerah terachir Islam dalam wilajah bekas Padjadjaran jang mana telah berubah mendjadi dua negara jang merdeka dan berdaulat penuh ialah Tjirebon dan Banten oleh S.G. Djati dengan segera diganti namanja dengan Djajakarta jang selandjutnja hingga sekarang disebut orang dengan nama Djakarta jang berarti "djaja" dan "aman". Pada th. 1527 Armada Portugis dipukul mundur oleh Armada Tjirebon dari pelabuhan Djakarta. Djakarta sudah Islam. Dalam pergantian nama Sundakelapa dengan Djajakarta orang me- nafsirkan suatu kemenangan jang sempurna (een volbroehte zege) bagi S. Gn. Djati adalah tepat, tetapi bukan karena kemenangan atas seluruh Padjadjaran se-mata2, ja'ni karena ada kemenangan jang lebih penting, lebih mendalam dan lebih tinggi nilainja lagi dari kemenangan² jang ter- sebut diatas, ialah kemenanganagama dan mempunjai wadah jang sempurna ialah tanah air/negara jang merdeka dan berdaulat penuh bebas dari penghisapan manusia atas manusia atau dari penghisapan golongan/ bangsa atas golongan/bangsa. Inilah jang paling penting bagi para Wali, kawan2 Allah dan wakil-wakil Rosulullah s.a.w. Setelah Agama Islam tertanam menjeluruh di Nusantara (Madjapahit djatuh ditangan para Wali pada th. 1508) beliau² merasa selesai dengan tugasnja. bagi para Wali tak ada jang lebih mele- gakan hati, lebih menggirangkan, lebih puas dan lebih nikmat dari pada berbakti dengan sempurna kepada Tuhan dengan memenuhi tugasnja dengan sempurna diantaranja ialah menolong sesama umat manusia keluar dari jang gelap kepada jang terang dan memimpin mereka dari djalan jang ber-liku² dan penuh bahaja kepada Djalan jang lulus (sirotol mus-. takim). Pembebasan atau kemerdekaan jang luas lahir dan bathin bagi umat manusia adalah mempunjai wadah jang sempurna didunia dan pe- njembahan langsung kepada satu Tuhan Jang Maha Esa, Tuhan Seru seluruh semesta Alam ialah Allah s. w. t. Firman Tuhan: "Kulhuw AllahuAhad Allahus Somad lam jalid walam julad walam jakun lahu kufuan Achad" artinja: "Bilang wahai Muhammad, Dia Aliah satu. Esa tidak dua, Allah jang lengkap sempurna jang meliputi seluruh alam semesta, tempat seluruh macbluk memobon sesuatu, tidak kepada lainnja, tidak beranak tidak dilahirkan oleh Ibu-Bapa dan tidak ada satu jang menjertai Dia, Esa". Sunan Gunung Djati dilahirkan di Istana Ibu kota Mesir, Kairo pada th. 1395 dan wafat pada th. 1515 di Istana Tjirebon. Beliau berusia 120 tahun. -00₀-

DJATUHNJA PADJADJARAN (TH. 1426 M.) Setelah mendengar dan telah ± 40 tahun (1386- 1426) tak ber- djumpa dengan putra tjutjunja tertentu (putra ialah P. W. Tjakrabuana dan Rt. M. Rarasantang dan tjutju ialah S. G. Djati dan Rt. M. Pa- kungwati) Prabu Siliwangi ingin sekali bertemu dengan beliau². Pada achir th. 1426 M. Prabu Siliwangi terlebih dahulu mengutus Tumenggung Djagabaja dengan pengiring 60 orang wadiabala Padjadjaran ke Tjirebon membawa warta bahwa beliau akan datang menengok dan te. rus masuk Islam dengan seluruh rakjatnja. TumenggungDjagabaja dengan pengiringnja setelah datang di Tjirebon dengan suka rela memeluk Islam. Tak sabar menunggu pulangnja Tumenggung Djagabaja dari Tjirebon pada tahun itu djuga Pr. Siliwangi dengan rombongan para Pem- besar dan sebahagian wadiabala Padjadjaran ber-kemas² akan bertolak ke Tjirebon. Tapi sebelum berangkat seorang wiku tua Padjadjaran jang sangat berpengaruh bernama BUJUT SEMAR datang terlebih dahulu di Istana Pakuan mentjegah Prabu Siliwangi memeluk Islam dan menjaran- kan beliau merad atau ngahiang. Pula dihalaman Istana Padjadjaran di- tanami djimat pusaka Sada-lanang (njere-lalaki/lidi lelaki) oleh Bujut Semar agar Kratonnja tak tertampak. Pr. Siliwangi menurut dan segera merad dengan Bujut Semar. Lain²nja ditinggalkan di Istana Pakuan jang pada lahirnja telah berubah sifatnja mendjadi hutan belukar.

P. W.Tjakrabuana dan S. G. Djati sebelum Pr. Siliwangi datang
ke Tjirebon hendak mendjemputnja ke Pakuan sebagai hormat kepada orang-tua. Istana Pakuan jang telah beralih sifat mendjadi hutan belukar masih djelas terlihat oleh beliau² seperti sediakala, tapi mengetahui bahwa Prabu Siliwangi telah merad. Lalu Istana dimasuki. Pangeran Radja Sengara adik P. W. Tjakrabuana dari lain Ibu tertangkap dan memeluk Islam dituruti oleh seluruh rakjat Padjadjaran ketjuali 2 orang Dipati seba- wahannja, ja'ni. 1. Dipati Siput jang seterusnja mendjadi matjan Putih dan penganut2nja mendjadi Matjan Loreng, hingga kini disebut orang matjan daden² Lodaja atau m atjan Siliwangi, dan 2. Dipati Argatala sepenganutnja seterusnja mendjadi M r e k a j an g a n. Pusaka dan segenap kepunjaan Istana Pakuan dipindahkan ke Istana Tjirebon (hingga kini diantaranja masih ada di Astana Agung Gn. Djati ialah jang disebut orang mande Padjadjaran ja'ni sebuah balai2 besar tempat duduk Pr. Siliwangi kala waktu saban bermusjawarah) se- dangkan P. R. Sengara dipersilahkan pindah kelain tempat, oleh karena Istana Pakuan sudah ditakdirkan djadi hutan belukar. Sedjak itulah Istana Pakuan dan sekitarnja disebut orang Para- hijangan atau Periangan, hingga kini sebutan itu meluas sedaerah Periangan. Dari Pakuan P. W. Tjakrabuana dan S. G. Djati terus ke Kadi- paten Kawunganten (Banten). Dipati/Ki Gedeng Kawunganten dan se-

luruh rakjatnja dengan suka-rela masuk Islam ketjuali rakjat Tjibeo di biarkan tak memeluk Islam hingga sekarang paralel dengan toleransi Islam dari Firman : "Lakum dinukum waliadin" jang berarti "Untukmu "agamamu dan Untukku agamaku". Di Kawunganten S. G. Djati menikah dengan putri sulung Ka. wunganten ialah Rt. M. Kawunganten. Setelah menetap beberapa waktu di Kawunganten P. W. Tjakrabuana, S. G. Djati dan Rt. Mas Kawunganten pulang ke Tjirebon. Setelah Djakarta (Sundakelapa) pada achir th. 1513 memeluk Islam tanpa perang menggabungkan diri kepada Tjirebon, Negara Tjirebon dengan Ibu-kota Tjirebon berdaulat atas seluruh bekas wilajah Padjadjaran sebagai kelandjutan dari kedaulatan Padjadjaran, demikian pula negara Demak dengan Ibu-kota Demak berdaulat sebagai kelandjutan kedaulatan Madjapahit atas seluruh bekas wilajah Madjapahit pada th.

  1. Pada th. 1468 S. G. Djati menjerahkan Kawunganten (sekaresi- denan Banten sekarang) kepada putranja dari Ibu Rt. Mas Kawunganten ialah Panembahan Sebakingking mendjadi Sultan di Banten sebagai peng- ganti mutlak beliau dengan gelar Sri Sultan Chasanudin. Sedjak itulah di bekas wilajah Padjadjaran berdiri dua negara jang merdeka dan berdaulat penuh jakni: 1. Kesunanan Tjirebon dan 2. Kesultanan Banten.-
    -o0o— DJATUHNJA MADJAPAHIT DAN LAHIRNJA KESULTANAN DEMAK PADA TAHUN 1508 M. Pada achir abad 15 masehi Rd. Patah seorang Putra Prabu Brawidjaja dari seorang ibu wanita Tiongkok mesantren pada Sultan Palembang Ariadila dalam tingkat hukum Sjar'i agama Islam. Setelah Rd. Patah memeluk Islam dan tjukup tjakap dalam hukum Sjar'i agama Islam beliau dan Sultan Ariadila dengan membawa armada dan sebahagian tentara Islam Palembang berlajar ke Ampeldenta Surabaja dengan maksud mohon idzin Wali Sembilan untuk mengislam- kan ajahandanja dan seluruh Madjapahit. Mereka datang menghadap Sunan Ngampel dan menerangkan maksudnja. Sunan Ngampel memanggil Dewan Wali bersidang di Ampel Lantas Dewan Wali bersidang dibawah pimpinan S. G. Djati untuk me- rundingkan permohonan Rd. Patah dan Sultan Ariadila.

S. G. Djati semupakat para Wali menjerahkan soal ini kepada Sunan Ngampel; Wali tertua dan gurunja para Wali, putusan Sunan Ngampel jang mana dioper mendjadi penetapan Dewan Wali Sembilan adalah semasa
Sunan Ngampel masih hidup hendaknja Madjapahit djangan diganggu, oleh karena walaupun Prabu Brawidjaja belum islam, akan tetapi beliau baik budi dan kasih sajang terhadap orang² Islam. Setelah Sunan Ngampel wafat barulah Madjapahit boleh di Islam kan, pula diandjurkan Rd. Patah membangun dedukuh terlebih dahulu di Djawa, jang mana harus akan terletak di Golagawangi jang berarti sebidang tanah rawa jang berbau harum, oleh karena golongan Rd. Patah harus mempunjai akar terlebih dahulu di Djawa jang berupa simphati dan dukungan luas dari rakjat Djawa agar perdjoangannja terhindar dari kegagalan dan sekali pukul harus positif berhasil. Rd. Patah tunduk kepada penetapan Dewan Wali ini. Kemudian beliau Sultan Ariadila dan Wadiabala Palembang tjari sebidang tanah jang denek jang berarti sebidang tanah jang berair jang bergelaga wangi jang berarti berawa berbau harum. Setelah sebulan mentjari mereka mendjumpainja dipantai laut Se- marang sebelah selatan G. Muria. Disini mereka membangun dedukuh dan Sultan Palembang Ariadila membangun pesantren. Lambat laun dukuhnja ramai dikundjungi orang guna mesantren dan menetap dari mana² hingga mendjadi kota dan daerah sekelilingnja kian hari kian meluas hingga termasjhur disebut orang Kadipaten Demak jang mana berasal dari perkataan demek/berair tadi: Pada th. 1491 Prabu Madjapahit meresmikan kadipaten (propinsi) Demak dan Rd. Patah diangkat mendjadi Pangeran Adipati (Gubernur) Demak. Masdjid Agung Demak dan Masdjid Agung Tjirebon telah di- bangun oleh Wali Sembilan. Adapun Masdjid Agung Tjirebon didjadi- kan tempat berkumpul tetap dari Dewan Wali untuk ber-Musjawarah perihal Ilmu Agama Islam dalam tingkat sjar'i dan hakiki pula se-waktu² dalam urusan kenegaraan (politik). Pada suatu waktu Sunan Ngampel wafat. Setelah selesai mengurus djenadjahnja Dewan Wali Sembilan pulangnja ke Demak dan mengadakan rapat bertempat di Masdjid Agung Demak, djuga Sri Mangana ialah

P. W. Tjakrabuana turut hadlir pada awal th. 1508. Dalam perundingan ini P. A. Patah dan Sultan Ariadila menggu- gat djandji Dewan Wali terhadap Madjapahit Diputuskan oleh Imam ialah Sunan Gunung Djati semupakat, para Wali Sembilan agar mengirim su- rat permohonan terlebih dahulu supaja Prabu Brawidjaja dan seluruh rakjatnja dengan suka-rela memeluk Islam, kalau' Madjapahit menolak dan menghendaki perang kami lawan dan sebagai Senapati ing ngalaga/ Panglima Islam ditundjuk Sunan Undung. Tjatatan; Sebetulnja perang Madjapahit ini bukan chusus dengan Demak akan tetapi perang Agama. Perang ini adalah perang besar2an, perang habis²an perang kalah menang, perang mati hidup, boleh dibilang perang antara ORBA dan ORLA jang berarti perang antara kekuatan Orde Baru jang sedang tumbuh dan kekuatan Orde Lama jang sedang

menurun di lndonesia pada waktu itu, ialah perang antara Negara besar Tjirebon jang beragama Islam dan jang dipimpin oleh Dewan Wali Sembilan dengan negara besar dan kuat Madjapahit jang beragama bukan Islam, dan jang dipimpin oleh Pr. Brawidjaja cs. Demak adalah hanja merupakan sebuah pion atau kantong Islam dalam wilajah negara Madjapahit. Kalau Tjirebon pada waktu itu kalah perang nistjaja Madjapahit akan berdaulat diseluruh Indonesia dan agama Madjapahit pada umumnja tetap berlaku hingga sekarang di Indonesia. Akan tetapi sudah "di- ngin pinasti anjar pinanggih" Indonesia pada umumnja harus berganti Agama Islam hingga sekarang dan seterusnja. Kemudian sebagai hormat terhadap Madjapahit dikirim 7 orang duta membawa surat permohonan tadi. Setelah menerima dan membatja surat itu Pr. Brawidjaja murka, mengusir 7 orang duta tadi dan terus memobilisir seluruh wadiabala Madjapahit untuk menggempur Demak. Senopati ing ngologo Madjapahit adalah Adipati Teterung, jang mungkin masih bergelar symbolic GADJAH MADA jang berarti GADJAH RANGKAP. Tak lama tudjuh orang duta itu datang menghadap Dewan Wali dan melaporkan pengalamannja di Madjapahit. Segera wadiabala induk Tjirebon ketjuali jang ditinggalkan di Demak sebagai tjadangan, dibantu oleh Wadiabala Palembang. Demak dan Barisan santri dari Undung dan Ampel disiap siagakan memapag djurit dengan Pa n glim a Sun an Undung. Setelah pada suatu tempat tentara Islam dan tentara Madjapahit bertemu petjahlah perang besar ber-minggu² tak ada jang kalah dan tak ada jang menang (istilah Tjirebon ialah perang leled). Akan tetapi pada babak pertama setelah kedua belah pihak menelan banjak korban tentara Islam dapat dipukul mundur oleh tentara Madjapahit dengan gu-

gurnja Senapati ing ngalaga Islam ialah Sunan Undung jang mati sahid

perang sabil oleh Senopati ing ngologo Madjapapit ialah Adipati Teterung. Selandjutnja Dewan Wali Sembilan melempar tentara tjadangan Tjirebon kemedan perang setelah dengan segera tentara sisa Islam dihim- pun kembali. Adapun Senapati ing ngalaga diganti oleh Pangeran Kudus. Lantas dengan serentak para Walli ber-sama² turut madju kemedan perang. S. G. Djati dibarengi oleh P. W. Tjakrabuana menggunakan ke- ramatnja dengan mentjipta ber-djuta² tikus putih menjerang tentara Madjapahit terus ke Ibukota Madjapahit, Sultan Ariadila mentjipta gelap gulita atas tentara Madjapahit dan seluruh Ibukota Madjapahit sedang- kan Sunan Bonang mengeluarkan ber-djuta² Tawon atau kumbang menjerang Madjapahit. Setelah sementara waktu diserang gelap gulita, dari atas diantupi atau disengati oleh Kumbang dan dari bawah digigiti oleh tikus, Madjapahit tak tahan dan ambruk sama sekali (istilah Tjirebon ialah bubar ketawuran) dan menjerah tanpa sjarat, akan tetapi Pr. Brawidjaja merad, Dipati Teterung ditawan oleh Pangeran Kudus dan rakjatnja

seluruh Madjapahit memeluk Islam, adapula sebagian ketjil jang lari ke- gunung2 dan pulau² hingga kini tak Islam, misalnja: kedapatan pegunu- ngan Tengger dan pulau² Nusatenggara Barat. Dipati Teterung memeluk Islam. Setelah itu S. G. Djati dan para Wali menobatkan P. A. Patah mendjadi Sri Sultan Bintoro Ngabdul Patah jang memerintah atas seluruh wilajah bekas Madjapahit beristana diibukota Demak sebagai peng- ganti jang sjah dari ajahandanja ialah Pr. Brawidjaja. Ibukota Madjapahit dipindahkan ke Demak, segenap kepunjaan Pr. Brawidjaja dari istana Madjapahit dibawa ke Demak. Sedjak ini berdirilah Kesultanan Demak merdeka dan berdaulat penuh berwilajah seluruh bekas wilajah Madjapáhit pada th. 1508. Sultan Palembang Ariadila turut ke Tjirebon untuk masuk guru kepada S. G. Djati dalam agama Islam tingkat hakiki. Pada th. 1509 pula Sultan Demak masuk guru kepada S.G. Djati disamping itu beliau meminang putra S. G. Djati jang bernama Pangeran Djajalelana dan Pangeran Bratalelana guna dinikahkan dengan dua putrinja adik dari P. Sebranglor dan P. Trenggono, jang bernama Rt. Pulung dan Rt Njawa. Pada th. 1512 kedua pasang mempelai dikawin- kan berbareng di Istana Demak. Akan tetapi pada th. 1513 waktu pulang ke Tjirebon melalui djalan laut P. Bratalelana terbunuh oleh badjak laut, djenadjahnja dimakamkan dipantai Laut Mundu Pesisir di Tjirebon oleh karenanja disebut orang pula P. Sedanglautan. Dan atas mufakat- nja kedua belah pihak Rt. Njawa dinikahkan lagi dengan seorang adik

P. Bratalelana almarhum, ja'ni Pangeran Dipati Moch Arifin di Tjirebon, jang menikahkan di Demak dan di Tjirebon adalah Sunan Kalidjaga. Adapun jang mendjadi wakil Sultan Demak hadir dalam perkawinan Rt. Njawa dan P. Dipati Moch, Arifin di Tjirebon ialah P. Sebranglor dan Aria Kenduruan. Selandjutnja Demak dan Tjirebon hidup damai dan saling hormat menghormati tak saling mengganggu dalam negerinja masing² hanja se- waktu² mengadakan kentak individueel sebagai murid dan Guru, pula se. terusnja masing² turunannja hidup damai setjara persaudaraan hingga lenjapnja kesultanan Demak. Sedjak djatuhnja Madjapahit dan berdirinja Kesultanan Demak
S.G. Djati tak keluar dari istana Tjirebon, oleh karena sudah selesai tu- gasnja, jalah menanam Agama Islam diseluruh pulau Djawa chususnja dan diseluruh Indonesia pada umumnja, pula usia beliau sudah sangat landjut, pada th. 1513 usia beliau adalah 118 tahun. Beliau pulang ke- alam baka pada th. 1515 dan dimakamkan di Gunung Sembung. Tjirebon Lagi pula diseluruh Indonesia pada waktu itu setelah Padjadjaran dan Madjapahit. pusat² keradjaan besar bukan Islam lenjap, dengan sendirinja pusat² agama bukan Islam lenjap pula dari Indonesia pada umumnja dan seterusnja perkembangan agama Islam diserahkan kepada Sultan Demak dan pemimpin² Islam jang akan datang.
-000—

DJATUHNJA RADJAGALUH PADA TH. 1509. M. Sedjak berdirinja Tjirebon Prabu Tjakraningrat, Kepala Negara Radjagaluh, mengirim beberapa rombongan duta via Dipati Kiban, Gubernur propinsi Palimanan berulang kali ke Tjirebon membawa putusan Kepala Negara mengharuskan Tjirebon mengakui Radjagaluh sebagai pu- satnja dengan status propinsi atau negara bagian oleh karena pada he- matnja Tjirebon adalah daerah pantai Palimanan bawahan Radjagaluh. Berkat keramatnja S.G. Djati rombongan² duta itu tak dapat menemui Tjirebon, ber-putar2 didaerah luar Tjirebon pulang kembali ke Palimanan. Diantaranja ada rombongan duta jang bisa masuk kota Tjirebon lalu dengan sukarela memeluk Islam terus menetap di Tjirebon tak mau pulang lagi. Hingga pada tahun 1509 Prabu Radjagaluh mengirim serombongan duta jang dipimpin oleh Demang Dipasara langsung ke Tjirebon. Kebetulan ditapal batas Tjirebon rombongan Dipasara berpapasan dengan

P. Dipati Awangga. gubernur Kuningan, diiring oleh Wadiabala Kuningan akan menghadap ajahandanja. Sunan Gunung Djati. Setelah mengetahui maksudnja Dipasara P. D. Awangga memerintahkan ia pulang kembali ke Radjagaluh dengan amanat bukan Tjirebon jang harus menakluk sebaliknja Radjagaluh jang harus menggabungkan diri kepada Tjirebon dan memeluk Islam, kalau tidak Radjagaluh akan digempur. Dengan ter-gesa² rombongan Dipasara pulang ke Radjagaluh dengan membawa amanat P.D. Awangga untuk Prabu. Setelah menerima amanat itu Prabu Tjakraningrat segera menjiapsiagakan bala tentara Radjagaluh dengan dipimpin oleh Senapati Ingalaga Dipati Kiban bergaris pertahanan dikaki gunung Gundul Palimanan guna menanti serangan Kuningan. Adapun P.D. Awangga lalu menghadap ajahandanja sambil mohon idzin menggempur-Radjagaluh, setelah melaporkan pengalamannja ditapal-batas Tjirebon tadi kepada Ajahandanja dan membentuk pertahanan di Plered Tjirebon barat. Sebelum menjerang Radjagaluh beliau sebagai hormat mengirim serombongan duta dipimpin oleh Ki Demang Singagati membawa surat permohonan dengan hormat semoga Prabu Tjakraningrat serakjatnja dengan sukarela memeluk Islam dan Radjagaluh menggabungkan diri kepada Tjirebon. Singagati ditolak dan diperintahkan pulang kembali. Sepulangnja Singagati, tentara Kuningan madju menjerang pertahanan Radjagaluh di Palimanan dan peperangan berkobarlah. Dipati Awangga dan Dipati Kiban perang tanding giri gamana toja gamana keluar garis dan tak tertampak lagi dimedan perang. Ber- hubung Pasukan Kuningan tak mempunjai pimpinan lagi dalam medan perang S.G. Djati memobilisir induk pasukan Tjirebon dengan dipimpin Senapati Ing Ngalaga P.W. Tjakrabuwana madjumem. bantu tentara Kuningan. Setelah masuk guru kepada S G. Djati Sultan Demak kebetulan masih bulum pulang dan tentara pengiringnja sebanjak 700 orang menggabungkan diri kepada tentara Tjirebon membantu turut berperang.
Pula Radjagaluh segera menjiapkan induk pasukannja dibawah pimpinan Sangiang Gempol madju memperkuat pertahanannja di Palimanan. Tentara Kuningan terdesak, akan tetapi setelah tentara Tjirebon dan Demak datang tentara Radjagaluh dipukul mundur dan ambruk sama sekali sisanja masuk Islam. Sangiang Gempol tak tahan perang tanding dengan P.W. Tjakrabuana dan lari masuk kedalam salah satu guha G. Gundul ngahiang. Selandjutnja tentara gabungan Tjirebon, Kuningan dan Demak madju terus mengepung Istana Radjagaluh. Tetapi sekeliling Istana Radjagaluh ada kali jang airnja djuga peribawanja djauh keangkasa dan djauh kealam bumi sangat panas sekali hingga siapa jang melalui dan merenangi kali itu akan mati seketika itu djuga. Pula seluruh Istana Radjagaluh keliha- tan gelap gulita, oleh karena Prabu Tjakraningrat mempunjai Djimat Pu- saka leluhur dari Dewa Mulia ialah Kendaga mas berisisarpa (ular) m a s. Tentara Tjirebon tak bisa masuk dan tunggu disebrang kali itu. P. K ar an g k en d al mentjoba terbang keangkasa untuk dapat melalui kali itu tetapi tak berhasil, masuk kedalam bumi gagal pula oleh karena-tak tahan panasnja itu. Lantas P.W. Tjakrabuana mengirim laporan kepada S.G. Djati, setelah menerima laporan beliau memerintahkan seorang muridnja, Wali Wanita ialah Rt. M. Ga n d as ari (makamnja sekarang didesa Pangu- ragan Ardjawinangun Tjirebon) untuk memasuki Radjagaluh dan mengambil djimatnja. Rt. M. Gandasari kemudian berangkat ke Radjagaluh, terdjun ke- kali itu dan dikentjinginja. Beliau memasuki Istana Radjagaluh dengan sjarat pura² mau ditikah oleh Pr. Tjakraningrat dan berusaha mendapat tahu dari beliau dimana disimpan djimatnja itu. Oleh karena Pr. Radjagaluh sangat djatuh tjinta kepada Ratu Mas Gandasari beliau tak menaruh tjuriga dan ditundjukannja dimana tempat menjimpan djimat Kandaga mas berisi naga mas itu. Setelah mengetahui- nja Rt. M, Gandasari dengan diam² mengambil djimat itu terus dibawa lari. Pr. Radjagaluh memburu dan dipapagi oleh P.W. Tjakrabuana dan

P. Karangkendal, tunangannja Rt. M. Gandasari, makamnja sekarang masih berada didesa Karangkendal Tjirebon. Setelah itu panasnja kali itu lenjap sama sekali dan Istana keliha- tan njata. Lalu tentara Tjirebon menjerbu masuk istana dan Pembesar² Radjagaluh jang berkumpul diistana ditangkapi dan masuk Islam. Pr. Tjakraningrat jang tak tahan perang tanding dengan P. W. Tjakrabuana merad atau menghiang. Rt. Mas Gandasari menghaturkan Djimat Radjagaluh kepada Su. nan Gn. Djati dan ditjipta oleh beliau mendjadi Keris ka ki Kantanaga.

Setelah Pr. Radjagaluh merad P.W. Tjakrabuana selandjutnja men- tjari Dipati Awangga dan Dipati Kiban jang sedang perang tanding. Mereka diketemukan olehnja, dengan segera P.W. Tjakrabuana mewakili Dipati Awangga perang tanding dengan Dipati Kiban Dipati Kiban ternjata tidak kuat melawan P.W. Tjakrabuana lantas lari masuk Gunung Gundul dan merad. Radjagaluh setelah djatuh selandjutnja mendjadi daerah Islam dan digabungkan kepada Tjirebon. -00o- DJATUHNJA TELAGA PADA TH. 1512 M. Pada th. 1512 kala waktu mengarak kedua mempelai putra S.Gn. Djati ialah P. Djajalelana dan P. Bratalelana dengan dikawal dari depan dan dari belakang oleh pasukan Demak dan Tjirebon tak dengan dise- ngadja arak²an ini telah memasuki daerah negara Telaga. Orang² Telaga heboh karenanja dan melaporkannja kepada Prabu Putjukumum. Beliau dengan segera memerintahkan serombongan pendjaga keamanan dibawah pimpinan Damang Telaga untuk menanjakan pasukan dari mana dan apa maksudnja. Demang Telaga dan pasukannja segera berangkat menanjakan dan memeriksanja. Pengawal depan ( barisan Djawa ) tak mengerti pertanjaan dalam bahasa Sunda dan diam sadja tak mendjawab, oleh karenanja Demang Telaga dan pasukannja tersinggung, naik darah dan mengamuk akan tetapi dapat dikalahkan oleh barisan depan. Ia lari dan melaporkan ke- djadian itu kepada Prabunja. Lantas keluar mengamuklah P. Aria Salingsingan, pemuda putra sulung dari Telaga dengan membawa sebuah sendjata jang amat sakti, sebuah pusaka dari Telaga berupa tombak jang bernama Kaki Tjuntang barang. Barisan depan tadi kotjar-katjir, rusak hebat dan banjak jang mati. Oleh karena itu S. G. Djati madju kedepan akan melihat apa sebabnja jang mendjadikan ribut2 didepan. Melihat beliau P. A. Saling. singan menombaknja dengan Ki Tjuntangbarang, akan tetapi tak mem- pan, sebaliknja ia sendiri djatuh lumpuh berbaring diatas tanah, tak mempunjai sedikitpun tenaga untuk bisa berdjaga kembali. Ia memohon ampun kepada S. G. Djati. Beliau memerintahkan ia memeluk Islam dan membatja Sjahadat kalimah dua. Ia menurut dan setelah mendjalankan perintahnja ia dapat bangun lagi sebagai tanda se- tia ia menghaturkan Kaki Tjuntangbarang kepada S. G. Djati. KemudianS. G. Djati menanjakan dimana ajahnja, Pr. Putjukumum. P. A Salingsingan mempersilahkan beliau masuk Istana Telaga untuk bertemu dengan ajahnja. Ternjata setelah S. G. Djati memasuki

Istana Telaga Prabu Putjukumum telah merad. Pula adik wanita Putjukumum Rt. Mas Tandurangagang tak mau Islam meloloskan diri dari Istana dan pergi bertapa. Kemudian seluruh rakjat Telaga memeluk Islam dan selandjutnja Telaga digabungkan kepada Tjirebon. Sedjak djatuhnja Telaga pada umumnja meratalah agama Islam diseluruh bekas wilajah Padjadjaran. -000— SAJEMBARA NJI GEDENG PANGURAGAN (RT. MAS GANDASARI) Setelah dewasa pula setelah berilmu dari P. W. Tjakrabuana, Ratu Mas Gandasari masuk bengat (mlebu guru) atau sabda wirid atau tarek kepada S. Gn. Djati Tjirebon. Setelah sempurna ilmu dan tapanja beliau mengadakan sajembara, ja'ni: Siapa² jang bisa mengalahkan atau dapat menangkap beliau akan mendjadi djodohnja. Banjak para pembesar Negara turut serta dalam sajembara itu dan tidak ada jang m an g ga pulia (menang) artinja dikalahkan semua oleh Ratu Mas Gandasari. Bersamaan dengan itu dinegeri Sjam Arab (Siria) ada hidup seorang Wali jang masih muda-belia lagi sakti bernama P. Soka atau Sjech Magelung. Beliau bernama Sjech Magelung karena rambutnja selama hidup tak pernah dipotong, hingga pandjang- nja menjentuh tanah, oleh karena itu rambutnja digelung. Rambutnja itu tidak bisa dipotong oleh siapapun djuga atau dengan pisau jang ba- gaimanapun tadjamnja, hingga pada suatu saat beliau berniat dan djan- dji dalam hati, jakni : Siapa² jang dapat memotong rambutnja beliau akan berguru kepadanja (mendjadi muridnja orang jang dapat memotong rambutnja). Diseluruh Sjam Arab ditjobanja, akan tetapi tidak ada jang sanggup memotong rambutnja, sehingga beliau mendengar kabar, bahwa di Tjirebon (Djawa-Indonesia) ada seorang Sultonul Awlya ialah S. G. Djati. Beliau terbang menudju Tjirebon dengan maksud mentjapai tjita². nja tadi. Kebetulan Beliau mendarat di Karanggetas. Beliau berdjumpa dengan seorang kakek² di Karanggetas dan tanja kepada kakek2 tadi bahwa ini adalah negeri apa namanja, Kakek² mendjawab, babwa tuan ini tak lumrah dengan lainnja, jakni berambut begitu pandjang dan Kakek² tadi minta melihatnja dari belakang. Setelah Sjech Magelung mem- belakanginja, Kakek2 lantas dengan gampang memotong rambutnja Sjech Magelung dengan dua djarinja hingga potongan rambut tadi djatuh ke- tanah (dari inilah asal nama Karanggetas). Sjech Magelung terperandjat dan memikir: "Inilah orangnja jang akan saja djadikan Guru. Akan tetapi setelah beliau berbalik menghadap lagi, Kakek2 tadi telah lenjap. Beliau menjesal dan bermaksud akan mentjarinja hingga ketemu. (Kakek2 adalah pengrupaan diri dari Sunan Gunung Djati).

Lantas beliau terbang lagi dan me-lihat²- kearah-empat pendjuru, Beliau lihat disebelah Barat ada rame2 dan orang² bersorak-sorai riuh rendah. Beliau menudju ketempat jang ramai tadi ingin tahu ada apa. Setelah datang ketempat itu dengan heran beliau lihat Rt. Mas Gandasari sedang kehabisan musuh dan ses u m b ar atau menantang siapa lagi jang akan berani mentjoba mendjadi djodohnja. Sjech Magelung turun dari udara dan memohon idzin turut da. lam Sajembara. Lantas Rt. Mas Panguragan dengan Sjech Magelung mu- lai perang tanding. Lama² Rt. Mas Gandasari merasa bahwa

P. Soka lebih sakti dari pada dirinja. Beliau sudah lelah dan lemah dan chawatir dapat tertangkap olehnja. Beliau lari dan merupakan Ke m b an g atau bunga jang harum sekali baunja. P. Soka waspada dan tjepat sekali beliau merupakan diri djadi Ta won Ku m b ang jang lantas hinggap dimana bunga tadi dengan bermaksud menghisap madunja dari dalamnja. Kembang lenjap dan sebagai gantinja djauh dari tempat itu ada pohon djambu jang berbuah lebat sekali. P. Soka me- ngetahui lagi siapa djambu itu dan mentjipta diri mendjadi burung tjitji hinggap pada pohon djambu tadi dan akan memetik buahnja. Dengan sekedjap pohon djambu lenjap dan mendjelma mendjadi a pi be s a r. P. Soka mendjadi m e n d u n g lantas mendjadikan hudjan besar. Lantas api tadi lenjap dan mendjelma djadi Ular Nagagini jang besar sekali P. Soka mendjadi burung Garuda jang tak kalah besarnja dengan platuk dari besi Pur a s ani dan memerangi Naga tadi. Naga tak kuat menandingi Garuda tadi dan lekas terbang setinggi awan dan mendjelma mendjadi awan bertjampur dengan awan² lainnja.
P. Soka terbang menjusul, mentjipta diri djadi angin besar dan
mengobrak-abrik awan² tadi. Setelah itu Rt. M. Gandasari lari se-tjepat² nja diudara dengan diburu oleh P. Soka, hampir sadja tertangkap. Rt. Mas Gandasari bingung djerih dan hampir putus asa, tidak tahu tempat lagi dimana beliau dapat menjembunjikan diri lari terus sekuat tenaga. Dalam kebingungan beliau dapat pikiran akan sembunji dibelakang tubuhnja Gurunja ialah S. Gn. Djati Tjirebon. Kebetulan Sunan Gunung Djati sedang berdiri diluar Kraton. Beliau terus sadja sembunji dibalik tubuh S. Gn. Djati, Dengan bernafsu P. Soka akan menangkap Rt. Mas Gandasari jang bersembunji tadi, hingga hampir sadja menjentuh S. G. Djati, tetapi sebelum menjentuhnja, beliau djatuh rubuh lumpuh tak berdaja apa2, hanja bisa bersuara sadja, dibawah depan S. G. Djati. Beliau memohon ampun dan bertoubat dan memohon didjodohkan dengan Rt. Mas Gandasari jang bersembunji dibelakang itu. Sunan Gunung Djati mengampuni dan menanja Rt. M Gandasari "bagaimana". Rt. M. Gandasari tunduk pada karsa S. G. Djati dengan sjarat tak mau ditikah oleh P. Soka didunia, tetapi di achirat, landjutan hidup kita.

S. G. Djati berbalik menanja kepada P. Soka "bagaimana". P.
Soka menjanggupinja.

Setelah itu S. G Djati bersabda, bahwa Sjech Magelung dan Ratu Mas Gandasari akan menikah kelak di achirat. Sabda Wali itu satu kali djadi Setelah itu Rt. Mas Gandasari meneruskan tapanja di Panguragan dan Sjech Magelung tapa di Karangkendal. Tjatatan: Selandjutnja dari sedjak itu Karanggetas berwatak bahwasanja siapa² dan dari manapun datangnja musuh² lndonesia pada umumnja dan Tjirebon pada chususnja kalau meliwati Karanggetas nistjaja dika- lahkannja oleh kita (istilah Tjirebon = apes/getas, artinja rapuh).

  1. Ini telah terbukti dan njata kala waktu Clash II Bala-tentara Be- landa meliwati Karanggetas achirnja dikalahkan oleh kita.
  2. Bala tentara Djepang bermarkas di Karanggetas achirnja dikalahkan oleh kita. Sebaliknja ada ramalan dari Leluhur setelah Indonesia kembali merdeka dan berdaulat penuh akan lahirlah seorang Penghulu (kekuasa- an tertinggi di Tjirebon) dari anak tjutju Indonesia jang bermarkas di Tjirebon. Ternjata sekarang Skorem 63 S. G. D. berada di Komplex Karanggetas Tjirebon.—23
    -o0o— LAHIRNJA NAMA2 TJIREBON, TRASI DAN SABRANG DJEPUN = TJIREBON / TJENGEK = SUNDA / TJABERAWIT = INDONESIA. ===== Pada suatu waktu datanglah beberapa orang Radjagaluh kerumah

P. Tjakrabuana. Oleh karena hari sudah sore mereka mohon idzin me- nginap disana. Oleh P. Tjakrabuana mereka diterima dengan kegembi- raan dan lantas diberi djamuan makan dengan lauk pauk bakaran bebekan rebon. masakan rebon, dan masakan airnja jang mana disebut petis blendrang hingga sekarang. Para tetamu makannja enak dan lahap sekali, mereka baru me-lihat dan mendjumpai makanan baru jang sedemikian lezatnja lantas menanjakan perihal itu dan memintanja sekedar sebagai oleh2 kalau mereka pulang. Oleh beliau dibalas seperlunja dan permintaan mereka dipenuhinja hingga pada keesokan harinja para tetamu pulang ke Radjagaluh dengan membawa oleh² beberapa glondongan² ketjil bebekan rebon dan air masakan rebon. Setelah datang dirumah mereka dengan segera memberi chabar kepada sanak keluarganja pula tetangga²nja dan memberi kesempatan untuk mentjitjipinja makanan jang baru tadi. Tak lama kemudian berita jang hangat ini petjahlah mendjadi rahasia umum diseluruh pelosok Kota

Radjagaluh. hingga terdengar oleh Radja dan Patihnja. Lantas paman Patih memerintahkan mereka menghadap Radja dan diharuskan membawa serta makanan jang baru tadi. Mereka menghadap Radja dan Patih dan menjerahkannja. Kemudian beliau² mentjobanja dengan menjelenggarakan makan dgn. lauk pauk makanan jang baru. Beliau² seleranja terpikat sedemikian rupa kepada lezatnja makanan jang baru tadi hingga Radja memerintahkan kepada paman Patih agar memberi perintah kepada sebanjak mungkin pegawai negeri Radjagaluh berangkat menudju ketempat jang mengeluarkan makanan baru tadi dan membelinja sebanjak mungkin. Paman Patih meneruskan perintah Radja agar pegawai² negeri Radjagaluh ini membeli glondongan² ketjil bebekan rebon dan masakan air = tjai rebon jang mana ter a sih oleh Radja se-banjak²nja. Sedjak inilah glondongan2 ketjil bebekan rebon disebut orang dengan nama T r asi dan daerah jang mengeluarkannja dengan nama Tjirebon, pada th. 1389 M. alias tahun satu berdirinja Kodya Tjirebon sekarang. Pegawai² negeri jang menerima perintah itu pula dikuti oleh beberapa rombongan rakjat berangkat menudju dukuh Tjirebon dengan membawa bukan uang tetapi n at u r a, seperti: beras, padi, ajam, ketja- pu, ketela, diagung dsb. Segera setelah mereka datang di Tjirebon terdja- dilah perdagangan setjara barter/ruilhandel/tukar-menukar. Oleh P. Tjakrabuana natura tadi dimasak dan disuguhkan kem- bali kepada orang2 Radjagaluh itu dan dimakan bersama dengan tuan rumah sekeluarga. Mereka menginap beberapa hari di Tjirebon dan sa- ban² malam harinja sebelum tidur P. Tjakrabuana dengan bidjaksana sekali memberi mereka santapan rochani Islam sedemikian rupa hingga achirnja mereka dengan suka rela memeluk Islam. Kemudian pada waktunja mereka pulang ke Radjagaluh sudah Islam dan membawa Trasi dan tjai = air rebon bernama petis blendrang hingga sekarang, bahkan ada ± 47 orang tidak mau pulang dan menetap djadi penghuni Tjirebon. Tjatatan: Kebidjaksanaan P. Tjakrabuana ini diteruskan oleh anak-tjutjunja turun-temurun hingga sekarang. Oleh karena inilah anak-tjutju Tjirebon mempunjai murid² dari mana² dan sedjak itu lahirlah suatu tradisi murid2 Tjirebon kalau datang menghadap gurunja di Tjirebon membawä sementara Natura sebagai oleh² dan menginap beberapa hari di Penggu- ronnja, diberi djamuan dan makan bersama dengan gurunja sekeluarga hasil dari sementara masakan natura tadi dan pulangnja mereka membawa sekedar ilmu, buah dari santapan rochani Islam, ketjap, ikan asin, gula pasir, dlsb. sebagai oleh² timbal balik. Tak lama kemudian P. Tjakrabuana diangkat oleh Rakjat Tjirebon mendjadi Ki Kuwu Tjirebon. setelah wafatnja Ki-Gedeng Alang2. Lambat

laun penduduk Tjirebon berkembang dengan pesatnja jang terdiri dari orang² pendatang dari seluruh pelosok Indonesia terutama dari Djawa Barat, Djawa Tengah dan Djawa Timur, selandjutnja Tjirebon termahsjur sebagai daerah Islam disalah satu pantai Laut Djawa. Sehingga terdengar oleh seorang Radja seberang dari negara belum Islam jang kuat dan be- sar. Oleh karena Radja dan rakjat dari negara tadi memeluk suatu agama jang polytheoistis/embrehala jang telah berlaku ber-abad² lamanja, sedang- kan Tjirebon dichabarkan memeluk suatu agama jang menethoistis/Ketu- hanan Jang Maha Esa. kabar lahirnja Tjirebon diterima oleh mereka sebagai tantangan dan penghinaan terhadap agamanja. Pada suatu waktu Radja negara tadi terdorong oleh nafsu iri, chasud dan dendam kesumatnja mengirim suatu Armada balatentaranja dengan membawa sendjata jang paling ampub pada waktu itu ialah bidji2 ratjun jang berupa tjabe rawit, dengan tjatatan pada waktu itu siapa jang makan bidji tjabe rawit itu nistjaja meninggal seketika itu djuga. Menu. dju ke Tjirebon untuk menghukum Tjirebon dengan maksud untuk mele- njapkan Tjirebon dari muka bumi.

P. Tjakrabuana adalah seorang Walijullah, beliau diberi kelebihan/
fadhol jang bernama keramat diantaranja ialah weruh sadurunging wina- rah, artinja tahu sebelumnja terdjadi dan bagaimana menawar sesuatu ratjun. Pada suatu waktu rakjat Tjirebon dikumpulkau dan diberi tahu bahwasanja pada suatu hari tepat tanggalnja dan djamnja akan ada musuh datang ke Tjirebon, mereka diberi petundjuk setjukupnja dan dipe- rintahkan untuk menerima musuh itu setjara kekeluargaan dan ramah-tamah dan pada waktunja rakjat Tjirebon harus siap sedia didepan ru- mahnja masing2 dengan alat2: nasi, tjowet, uleg, lalab²an, ujah dan terasi. Tepat pada waktunja tentara negara seberang tadi datang di Tjirebon .dengan muka bengis dan pedang terhunus mengharuskan orang² Tjirebon memakan tjabe rawit jang mengandung ratjun tadi. Dengan ramah tamah dan muka ber-seri² rakjat Tjirebon meneri manja dan dengan segera menggerusnja ditjampur ujah dan trasi didalam tjowet jang telah tersedia. Kemudian setelah djadi sambel mereka makan nasi dengan lalab²an, setelah ditjowel dengan sambel tsb. ternjata dan disaksikan/dilihat oleh bala tentara musuh tadi mereka makan dengan lahap dan nikmat sekali. Oleh karena pengaruh keramat P. Tjakrabuana unsur ratjun jang dikandung didalam tjabe rawit tadi lenjap seketika itu djuga. Bala tentara musuh setelah kedjadian ini berdiri dengan tertje- ngang, morilnja djatuh, oleh karena menurut hematnja rakjat Tjirebon adalah manusia² jang luar biasa dan sakti digdjaja diantaranja kebal ter hadap ratjun dan ternjata rakjat Tjirebon ilmu dan kesaktiannja/keku- atannja lebih tinggi dari mereka, seketika itu djuga mereka takluk dan dengan suka rela menjatakan memeluk Islam kepada P. Tjakrabuana, kemudian turut makan ber-sama² rakjat Tjirebon dan tidak mau pulang kenegerinja lagi. Selandjutnja mereka menetap di Tjirebon mengasimilir dengan rakjat Tjirebon mendjadi penghuni Tjirebon untuk se-lama²nja.

份 Sedjak itulah tjabe rawit hilang unsur ratjunnja tinggal pedasnja sadja. Sedangkan mata pentjaharian orang² dari bala tentara tadi di Tjirebon selandjutnja ialah menanam tjabe rawit/tjengek/sabrang djepun. Dan Tjirebon chususnja Indonesia pada umumnja sedjak itulah hasil bu- minja bertambah dengan suatu rupa hasil bumi lagi ialah tjabe rawit. —00o-- SUNAN GUNUNG DJATI ADALAH BUKAN PALETEHAN. Setelah pada th. 1511 Malaka direbut orang Portugis, pada th. 1521 Pasei djuga djatuh ditangan Portugis. Salah seorang ulama Islam dari Pasei jang bernama Fatchullah Khan terpaksa lari ke Demak. la disebut oleh orang Portugis dengan nama Faletehan. Di Demak ia ka- win dengan salah seorang adik dari P. Trenggono. Setelah wafatnja S. G. Djati pada th. 1515 di Tjirebon penjeleng- garaan tabligh se-olah² berhenti. Ini lambat-laun terdengar oleh negara tetangga Tjirebon ialah Demak. Oleh karena inilah Demak ingin turut menghidupkan kembali barisan mubaligh di Tjirebon dengan memohon idin diperbolehkan mengirim seorang mubaligh besar ialah Fatchullah Khan alias Faletehan ke Tjirebon. Tjirebon mengidzinkannja dan tidak lama kemudian Fatchullah Khan alias Faletehan bertabligh untuk sementara waktu di Tjirebon. Kemudian ia berangkat ke Banten. Pada perdjalanan pulang ke Demak ia singgah di Tjirebon dan wafat. Djenadjahnja dimakamkan di Astana Agung Gn. Djati, tempat makam² Sultan² Tjirebon dan keturunannja, Oleh karena ia adalah seorang menatu dari Sultan Demak seperti misalnja: Seorang Kepala Ne. gara Tjirebon ialah Panembahan Girilaja dengan rombongan, seorang putra dan penérus Panembaban Ratu Tjirebon, kala waktu berkundjung kenegaraan di Mataram wafat diibukota Mataram dan dimakamkan di Imogiri, tempat pemakaman radja² Matarm seketurunannja hingga seka. rang (ini terdjadi kala waktu Sultan Amangkurat II). Djadi Fatchullah Khan alias Paletehan adalah bukan Sunan Gunung Djati. Menurut hemat saja istilah nama Faletehan adalah product poli. tik divide et empera/pemetjah belah Belanda. Dengan penondjolan nama Faletehan Belanda bermaksud mendiskreditkan/merendahkan S. G. Djati, bahwa beliau bukan seorang turunan Djeng Nabi Muhammad s. a. w. dan bahwa Tjirebon adalah taklukan dari Demak (pengadu dombaan antara Tjirebon dan Demak). Dengan inilah Belanda bertudjuan untuk melenjapkan suatu pegangan sedjarah dari rakjat Indonesia/anak tjutju Tjirebon untuk memungkinkan Belanda mendjadjah Indonesia untuk se. lama²nja (tudjuan menghalalkan segala tjara). Oleh karena inilah kita anak tjutju Tjirebon/rakjat Indonesia ha- rus menolaknja dengan tegas.

SILSILAH S.G. DJATI TJIREBON DARI GARIS AJAH.

K. Nabi Muhammad Rosulullah s.a.w.
1. Siti Fatimah
2. Sajid Chusen Asabti
3. Sajid Djaenal Abidin
4. Sultan Maulana Idris Alakbar Djenalkabir
5. Sultan Idris Alasgar Abdulazis Maulana Sultan Mesir
6.Sultan Chut Sjarief Abdullah Maulana Sultan Mesir
7. SJECH SJARIF HIDAJATULLAH SUNAN GUNUNG DJATI TJIREBON. SILSILAH S.G. DJATI TJIREBON DARI GARIS IBU. Prabu Lelean
1. Prabu Tjiungwanara
2. Prabu Dewi Purbasari
3. Prabu Linggahiang
4. Prabu Linggawesi
5. Prabu Wastu
6. Prabu Susuktunggal
7. Prabu Sri Anggalarang
8. Prabu Mundingkawati
9. Prabu Mundingwangi
10. Prabu Siliwangi
11. Rt. Mas Rarasantang Sjarifah Mudaim
12. SUNAN GUNUNG DJATI TJIREBON SJECH SJARIEF HIDA. JATULLAH. Sebuah petikan dari ilmu sedjati (hakiki) salah satu ilmu para Wali. Untuk dapat mentjapai deradjat insankamil (manusia sempurna) sejogjanjalah orang mengetahuinja bedanja kaula dan Gusti dan tunggalnja kaula dan Gusti. Bedanja kaula danGusti: Oleh karena nafinja (taka- dannja) sifat Uluhijah atau Ilahijah dan isbatnja (tetapnja, beradanja, dipunjainja, haknja) di Gusti, teranglah bahwa kaula itu beda dari Gusti. Sifat Uluhijah adalah sifat Kepangeranan atau sifat dua puluh. Tunggalnja kaula dan Gusti: Setelah ia tahu bahwasa- nja sifat Uluhijah itu nafi dari kaula djadi mengetahui bahwa kaula itu didjadikan dengan kodrat Gusti, dari itu ia tahu pula bahwa kaula itu berasal dari 'adam, artinja: dari tiada (oranana). Maka walau setelah ada mendjadi kenjataanpun adalah tetap masih 'adam dalam hakikinja.
-37

Adapun artinja 'adam itu-oranana (tiada). Djadi-wudjud kaula itu sesungguhnja oranana (tiada) seperti rupanja bajangan begitu ja'ni djadi jang mempunjai bajangan (Gusti) jang ada, inilah jang disebut wu-

djud tunggal atau tunggalnja kaula dan Gusti. Arti tunggal itu bukan

sama, bukan dua tapi satu. Mana chudjahnja agar kita menerima dalam akal kita bahwa kaula itu 'adam dalam hakikinja Chudjahnja adalah demikian: Umpamanja ada seseorang mentjipta atau menghajal sebuah barang, misalnja sebuah rokok Comodor, barang itu sudah ternjata terlihat dalam rasa penglihatan sipentjipta-nja itu, maka wudjud barang itu sesungguhnja masih tetap 'adam dalam hakikinja, djadi jang ada hanja sipentjiptanja itu. Inilah hadisnja jang menundjukan. S a b d a N a bi s. a. w. "Inaka ma' dumun

kama kunta ma'duman kobla takwin ". Artinja: Sesungguhnja kamu itu

tiada, seperti barang adanja kamu tiadanja sebelumnja kamu ada. Murad rasanja ini Ilmu: Dalam lahirijah untuk dapat

mentjapai deradjat Insankamil kita sejogjanja bertingkah laku seperti orang

kaprah (lumrah/umum) jang berkelakuan baik. Dalam bathinijah kita se-

jogjanja mempunjai tekad bahwa wudjud kita itu seperti lintang karahi-

nan (bintang kesiangan). Tegasnja harus menuruti tingkah laku Nabi Be-

sar kita Muhammad s a.w. lahir batin. Lahirnja kita harus mendjalankan

sunah² beliau dan bathinnja kita harus mengadji Ilmu beliau hingga ha. kikinja (wu-sulun ila Robbihi) artinja : Datang kepada Gustinja. Selandjutnja selamilah dan minumlah samudra Al-Qur'an dan sun-

nah Rosul hingga kita memiliki sinar berikut Nurnja Islam. Inilah muti-

ara jang tak ternilai harganja. —o0o—

SILSILAH PRABU LELEAN. Nabi Adam a.s. 1, Nabi Sis a.s.

  1. Sajid Anwar
  2. Sanghiang Nurtjahja
    4.,Nurasa
    5.” Wenang 99
  3. Tunggal Sri Mahapunggung awal
    7.Betara Guru, beristana di Alam/Planit Hasna
  4. Betara Brama
  5. Bramani Raras (pula menurunkan bangsa djin dan setan)
  6. Jang Tritusta
  7. Bagawan Manomanasa
  8. Sambarana
  9. Sukrem
  10. Sakri
  11. Palasara
  12. Bagawan Abijasa
  13. Pandudewanata
  14. Ardjuna
  15. Abimanju
  16. Parikesit
  17. Adji Hudajana

    22. Agendrajana

  18. Setrajana

  19. Djajamidjaja Gung
  20. Djajamisena
  21. Prabu Kusuma Witjitra
  22. Tjitrasoma
  23. Pantjadria Linuwih
  24. Anglingdria
  25. Radja Selatjaja Anglingdarma
  26. Jang Srimahapunggung achir
  27. Prabu Kendihawan
  28. Resi Kendujuhan
  29. Lembu Amiluhur
  30. Rawisrangga
  31. Prabu Lelean
    一0Oo—

SILSILAH SULTAN KASEPUHAN TJIREBON. Sunan Gunung Djati

  1. Pang. Pasarean
  2. Dipati Tjarbon
  3. Panembahan Ratu
  4. Pang. Dipati Anom Tjarbon
10. 9. Tjarbon Katjirebonan Moh. Kaerudin
13. 12. Rahardia Madenda Dendawidjaja
  1. Panembahan Girilaja
    6. Sultan Radja Samsudin

Tadjularipin Djamaludin

7.
8. ,9
9. ,,

Sepuh Radja Djaenudin 99 ,, Sena Moh. Djaenudin Safiudin Matangadji

10.
11.Sultan Sepuh Hasanudin
12.Sultan Sepuh I

13. ,,
14. 9, 99
15. ,, "
16. 19 ,9
,, ,,

Radja Samsudin I Samsudin II Radjaningrat Djamaludin Aluda Radja Radjaningrat

17.
—0Oo—

SILSILAH SULTAN KANOMAN TJIREBON.

Sunan Gunung Djati
8. Kusumawaningjun
9. Brataningrat
,9
11. ,9
12. 9 Adikusuma
  1. Pang. Pasarean
  2. Dip. Tjarbon
    3.Panembahan Ratu
  3. Pang. Dip. Anom Tjarbon Panembahan Girilaja
    5.
    6.Sultan Moh. Badridin Kanoman
  4. Anom Radja Manduraredja Kadirudin
8. ,, Alimudin
,,
10. ,",
11. ”,
12. ,,
13. ,
14. ,
15. ,, Moh Nurus.

99 99 Moh. Kaerudin
9.
Abusolech Imamudin Moh. Komarudin I Komarudip II Radja Dulkarnen Radja Nurbuat

—0Oo—

SILSILAH PANGERAN KATJIREBONAN TJIREBON

Sunan Gunung Djati

  1. Pangeran Pasarean
  2. Dip. Tjarbon
  3. Panembahan Ratu
  4. Pangeran Dip. Anom Tjarbon
  5. Panembaban Girilaja
  6. Sultan Moh. Badridin Kanoman
  7. Anom Radja Manduraredja Kadirudin
    8.99
    Alimudin

  8. Pangeran Radja Madenda ,,
    14.,,Radja Madenda
    15.
    Harkat Natadiningrat —oOo— SILSILAH RADJA KAPRABONAN DAN GURU2 AGAMA ISLAM PENGGURON PRABONAN TJIREBON Sunan Gunung Djati

  9. Pangeran Pasarean
    2.
    Dip. Tjarbon

  10. Panembahan Ratu

  11. Pangeran Dip. Anom Tjarbon.
  12. Panembahan Girilaja
  13. Sultan Moh. Badridin Kanoman
  14. Pangeran Radja Adipati Kaprabon Kaprabonan 99
  15. Radja Suleman Sulendraningrat
    Aripudin K usumabratawirdja

13.
Angkawidjaja beradik Pang. Moh. Apiah Adikusuma

  1. Radja Kaprabonan Guru
    K. Adikusuma.
  2. a. "

    b. " M. Sulendrakusuma

C. " M. A. Purbaningrat ,,
d.S. Sulendraningrat ,,
—oOo— SILSILAH SULTAN2 BANTEN Sunan Gunung Djati Tjirebon

  1. Sultan Banten Maulana Hasanudin
    2.
    Jusup.

3.,9Moh Sebakingkin Abumapakir Abd. Kodir Abumaali Akmad 456 Abd. Patah

Setelah Sultan Sepuh Matangadji dinobatkan sebagai Slt. Sepuh ialah:

  1. Sultan Abunasir Abd. Kohar
    8., Abumaksum Djenalabidin
    9.,, Abd. Patah Moh. Sjapah Abd. Patah Moh. Muchjidin
    10., ,,
  2. Moh. Rapiudin (diasingkan ke Surabaja oleh Belanda).
    —0Oo— DIBANGUNNJA MASDJID AGUNG TJIREBON DAN MASDJID AGUNG DEMAK OLEH WALI SEMBILAN PADA TAHUN 1498 M. Pada djaman kramat banjak hidup Wali2 disamping Wali2 jang termasuk dalam formasi Wali Sembilan, seperti pada djaman Mudjidjat banjak hidup Nabi2 disamping formasi Nabi2 Rosul jang duapuluh lima itu Sebelum ada Masdjid Agung jang sekarang Kesunanan Tjirebon masdjid Umumnja sementara adalah Masdjid Pedjelagrahan terletak diluar tembok keliling Kraton Kesepuhan sebelah timur di Kampung Grubugan jang sekarang masih ada. Kemudian pada suatu malam ba'da Isa tabun 1498 M. Wali Sembilan membangun Masdjid Agung Tjirebon jg. sekarang dengan dilambari kekuatan Keramatnja hingga pada djam 10 malam bangunan itu hampir selesai. Adipati Patah Gubernur Kadipaten Demak, sebuah propinsi Keradjaan Madjapahit (Waktu itu belum Djadi Kesultanan ), adalah seorang Wali pula/setelah wafatnja Sjech Lemahabang beliau dimasukkan dalam formasi Wali Sembilan), beliau Weruh sadurunging Winarah" dari Demak beliau pada malam itu djuga dapat melihat bahwa Wali Sembilan sedang membangun Masdjid Agung Tjirebon. Beliau tjepat menulis surat permohonan dan mengutus beberapa orang pembesar Kadipaten Demak jang berderadjat Wali pula ke Tjirebon menghadap Wali Sembilan dengan maksud pada malam itu djuga mohon dibangunkan sebuah Masdjid Agung dikota Demak. Para utusan Demak datang di Tjirebon pada djam 10 malam itu Djuga dan menjerahkan surat permohonan tadi Lantas Wali Sembilan berangkat ke Demak dan membangun Masdjid Agung Demak jang sekarang masih ada dengan dilambari kekuatan keramatnja hingga pada djam 3 pagi itu djuga Masdjid Agung Demak selesai. Pada waktu subuhnja Masdjid Agung Demak dapat dipakai berdjama'ah solat subuh dan sebagai Imam bertindak P. Adipati Patah. Akan tetapi Wali Sembilan ti- dak sampai turut berdjama'ah solat subuh oleh karena setelah selesai membangun Masdjid Agung Demak itu beliau2 pada Djam 3 pagi itu djuga bertolak pulang ke Tjirebon untuk menjelesaikan Masdjid Agung Tjirebon dan pada kurang lebih djam 4 pagi itu djuga Masdjid Agung Tjirebon dapat diselesaikan. Djadi awal achir Permulaan Masdjid Agung

Tjirebon dibangun kemudian Masdjid Agung Demak, tetapi Masdjid Agung Tjirebon selesainja belakangan. Akan tetapi pada achirnja ternjatalah sakanja / tihangnja kurang satu untuk memenuhi ini Sunan Kalidjagalah jang diberi tugas. Lantas

S. Kalidjaga Sidakep sinuku tunggal" menghilangkan bag2gan jang empat perkara ialah : pengambu pengutjap pendeleng, dan pengrungu alias me- nunggal djasmani dan Sukmaninja melahirkan bawah sadarnja dengan njata, setelahnja beliau bertindak mengumpulkan tatal dan dengan satu rabaan tatal tadi mendjelma seketika itu djuga mendjadi tihang kaju djati jang mana bentuknja bulatnja balusnja lurusnja dan pandjangnja presis sama dengan tihang2 kaju djati lainnja jang telah dipasang, jang mana pula seterusnja disebut orang dan nama Saka tatal" hingga sekarang. Setelah saka tatal itu dipasang pada tempatnja komplit selesailah
M. Agung Tjirebon itu dan kemudian pada waktu subuhnja didalamnja diselenggarakan berdjama'ah solat Subuh dan sebagai Imamnja bertindak- lah Sunan Gunung Djati. Tjatatan; Dengan telah terdjadinja peristiwa Saka Tatal ini Wali Sembilan Sunan Kalidjaga chususnja mempunjai maksud memberi semu/sasmita/ramalan kepada kita bahwasanja nanti pada djaman achir ialah djaman kita inilah ked a ulatan berada di tangan rakjat alias dari rakjat oleh rakjat, untuk rakjat alias dengan istilah Latin: "Vox pupili vox Dei = Suara rakjat adalah suara Tuhan". Ternjata terbuktilah ramalan itu sekarang. Selandjutnja waktu mengep as arah Kiblat Mesdjid Agung Tjirebon Sunan Kali terbang diudara, tangan kirinja memegang paimaman Masdjid Agung Tjirebon dan tangan kanannja mulur memandjang mendjangkau/memegang Ka'bah, ditariknja ke Tjirebon dan digantukan/ disentuhkan hingga pas betul dengan paimaman Masdjid Agung Tjirebon. Setelah para Wali Sembilan lainnja menjahidi/menjakseni dengan lisan bahwa itu adalah pas betul S. Kali melepaskan Ka'bah dan Ka'bah pulang kem bali ke tempat asalnja di Mekah. Demikian telah terdjadi pula dengan paimaman Masdjid Agung Demak. Kedjadian ini mengandung maksud pula bahwasanja Wali Sembilan, chususnja Sunan Kali, memberi rakjat Indonesia suatu petundjuk pula bahwa kita sejogjanja uchrowi berkiblat kepada Ka'bah dan dunia- wi kepada Ibu Pertiwi Indonesia kita ini.
—0O₀— HILANGNJA MEMOLO MASDJID AGUNG TJIREBON Sebermula Masdjid Agung Tjirebon biasa lumrah sadja seperti lain² masdjid mempunjai memolo. Pada suatu waktu ada seorang Satria jang bernama Mendjangan Wulung jang belum Islam telah mendjalani tapa dengan berat dan men-

tjapai deradjat Sanghjang, artinja ia sakti digdjaja. Ia iri, chasud, den- dam dan Islamofobie. Ia ingin membasmi seluruh muslimin Tjirebon dengan djalan berdiri diatas memolo Masdjid Agung Tjirebon, akan te- tapi dengan dilambari adji menghilangnja ia tidak tertampak dan tidak dapat terlihat oleh siapapun djuga ketjuali oleh para Wali. la mematek adji/mengetrapkan adji jang bernama adji Mendjangan Wulung, dari badannja mengalir hawa ratjun meliputi Masdjid Agung Tjirebon. Ternjata pada waktu itu orang2 jang solat didalam Masdjid Agung Tjirebon mendadak mati seketika itu djuga. Oleh karena inilah Wali Sembilan mengadakan sidang darurat kilat dengan diketuai oleh Sunan Gunung Djati dan putusannja untuk mengusir musuh itu diserahkan kepada Sunan Kalidjaga. Sunan Kali memerintahkan adiknja jalah Rt. Mas Kadilangu untuk membasminja. Dengan dikramati oleh Sunan Kali Ratu Mas Kadilangu mengomandoi 7 orang Muslimin jang terpilih masuk kedalam beit Masdjid presis dibawah memolo, diatas mana berdiri Satria Mendjangan Wulung itu untuk menjelenggarakan adan tudjuh hingga sekarang masih berlaku saban² solat Djum'ah, Akibatnja hebat luar biasa. Setelah adan tudjuh berachir terdengarlah suara menggelegar jang dahsjat luar biasa hingga terdengar dikota Banten. Berbareng dengan itu putuslah memolo Masdjid Agung Tjirebon melajang diudara menudju Banten dan ditanggapi oleh Ratu Mas Ka- wunganten, Ibunda Sultan Banten Hasanudin/Sebakingkin dan diterap k an diatas memolo masdjid Agung Banten, makanja memolo M. Agung Banten hingga sekarang bertumpuk dua. Adapun satria Mendjangan Wulung mati seketika itu djuga dan badannja hantjur berkeping-keping berterbangan diudara menudju kea- rah utara daerah Indramaju. Kepingan Djasadnja itu berdjatuhanlah pada achirnja disuatu tempat, jang djatuh ditanah mendjelmalah mendjadi tetumbuhan walu hitam (anak tjutju Tjirebon untuk se-lama²nja dilarang memakan walu hitam ini oleh karena kemungkinan mengandung ratjun), jang djatuh dipepohonan djadilah pepohonan itu mengandung ratjun Mendjangan Wulung. Tertjeriteralah hingga sekarang kalau ada orang jang sedang sa. ling bermusuhan, salah seorang mengambil sepotong tangkai ketjil dari pohon ratjun Mendjangan Wulung itu dengan diam² digoreskan dibawah piring makanan atau gelas/tjangkir minuman jang disuguhkan oleh la- wannja kepada musuhnja nistjaja musubnja itu setelah makan atau mi- num suguhannja itu akan muntah darah dan keluar dari lubang, keringat- nja darah jang segar dan kalau tidak tjepat ditolong ia akan bisa mati. Adapun Ratu Mas Kadilangu wafat sebagai pahlawan wanita Islam dan kemanusiaan dan dimakamkan didalam paimaman Masdjid Agung Tjirebon. sebagai hormat dibuatlah tanda berbentuk seperti djantung pohon pisang di dalam sebelah atas paimaman menondjol kebawah diba-

wah lengkungan tembok paimaman Artinja sebagai tanda bahwa seorang Imam di M. Agung Tjirebon. berdirinja djangan sampai melampaui ma- kam Ratu Mas Kadilangu itu. Pula setelah M. Agung Tjirebon tidak ada memolonja itu adalah sebagai tanda bahwa kelak pada djaman achir, ialah djaman kita inilah, di Tjirebon chususnja di Indonesia umumnja tidak ada orang² jang" pun- djul lngapapak" orang² jang luar biasa seperti para wali. dengan lain perkataan orang² Djaman sekarang sama sadja (sama rata), dengan lain perkataan pula orang² djaman sekarang harus berdiri sama tegak dan duduk sama rendah, saling hormat saling tolong, saling kasih sajang, saling toleransi, bersatu homogin kompak dan hormonis. —00₀— PAKSI NAGA LIMAN Pada djamannja Sultan Chaerudin Sultan ke IV dari Kesultanan Kanoman, beliau berkenan menugaskan seorang keluarga dekatnja· ialah

P. Dendaningrat jang berumah di Keprabonan Tjirebon, seorang jang pandai mengukir barang² antik untuk membuat sebuah kendaraan temanten jang mengandung arti moral/mental mengarah kepada kebahagiaan duniawi dan uchrowi.
P. Dendaningrat masih radjin mengamalkan raclat-udjlat/tapa, oleh
karenanja beliau masih agak kebagian kekuatan Kramat Beliau sedang mendjalankan tugasnja dengan tekun mengukir bahan² kaju jang tersedia, pada achirnja beliau merasa lelah dan tidak sabar beliau mengheningkan tjipta menunggalkan Sukmani dan djasmaninja melahirkan kemauan ba- wah sadarnja dengan njata, setelahnja beliau sekonjong-konjong melihat diudara segumpal mega besar me-lajang² berupa sesuatu bentuk. Kemu- dian dengan masih memandang mega itu beliau menepak bahan² kaju jang tersedia itu dan djadilah dari bahan² kaju itu sebuah bentuk berupa Paksi Naga Liman jang sekarang. Paksi Naga Liman ini digunakan untuk mengarak temanten² laki2 perempuan anak tjutju Sultan dan keluarga² Kraton jang terdekat sedjak itu hingga waktu sebelum perang. Adapun arti nama Paksi Naga Limanitu adalah.

  1. Paksi=burung, ia bisa terbang tinggi diudara, ini mengandung maksud, bahwa temanten² baru itu jang memulai mengarungi bahtera hi- dup dalam masjarakat luas agar berguna untuk diri sendiri dan masjarakat sejogjanja harus berbudi-pekerti dan ber-tjita² luhur
    2.Naga=radja ular dan berbentuk pandjang, ini mengandung maksud, bahwa temanten² baru itu sejogjanja harus berusaha sepenuh tenaga dengan penuh romantika mendjadi pemimpin keluarga sendiri dan bangsanja, berpemandangan luas dan berpenglihatan djauh untuk dapat membimbing keluarga dan bangsanja datang kepada Idam²annja ialah selamat, iman, adil, makmur dan diridhoi oleh Tuhan

  2. Liman = Gadjah, ini mengandung maksud bahwa temanten2 baru itu sejogjanja harus berdjiwa besar dan kuat, djudjur, bertoleransi dan berperikemanusiaan agar dapat mendjadi pegangan dan pelindung rakjat

  3. Oleh karena bentuk Paksi Naga Liman itu dapat menurun dari mega kemungkinan mempunjai watak sedjuk, damai dan tenang. Inilah kurang lebih jg. dikandung maksud arah dan pendidikan moral/mental jang tinggi dari sebuah Pusaka Kasultanan Kanoman Tjirebon, Paksi Naga Liman, bagi bunga² bangsa kita.
    -0Oo— KETERANGAN: Agar djalannja fikiran kita tidak dogmatis dan statis sejogjanja kita dapat mengikuti peredaran djaman baik jang telah dan jang seka- rang maupun jang akan datang untuk kita dapat menerima apa jang tersurat dan tersirat dari buku Sedjarah Tjirebon ini minimal tidak berat dan tenang dan maksimal pertjaja. Seperti kita sama² maklum seumur hidup dunia kita ini hingga achirul ajjam/kiamat peredaran djaman terbagi atas tiga fase:

  4. Fase I adalah djaman Mudjidjat = Keluhuran.

  5. Fase II adalah djaman Keramat = Kemulian.
  6. Fase III adalah djaman Istidjrad/Pangluluh = Kemuliaan duniawi/
    materialistis/schijn- heilig / pura² / tidak kekal, achirnja men- djurus kepada malapetaka kalau tidak di barengi iman dan perikemanusiaan.

1.Djaman Mudjidjat adalah djamannja para Nabi2. Sifatnja: Orang pada waktu itu beriman sempurna/penuh kepada Gusti Allah s.w.t. alias monotheoistis/berketuhanan Jang Maha Esa, beribadah, beramal solich, berperikemanusiaan dan bertapa berat. Buahnja: Mendjadi Nabi, Nabi Rosul, bisa berdialoog dengan Tuhan, menerima wahju Tuhan, berkawan akrab dengan Malaikat Djibril a.s. dan Malaikat² lainnja, bisa melahirkan kemauan bawah sadarnja = "satjiptane dumadi" =Tjirebon=, "weruh sadurunging winarah" =Tjirebon= dlsb. untuk melindungi, menjelamatkan kemanusiaan pada umumnja pada waktu itu dari malapetaka kedho- liman sesama hidupnja dan mendjadi penundjuk kearah djalan jang lurus. Misalnja : Nabi Musa a. s. dengan hanja berkawan Nabi Harun a.s. bisa me- remuk rendamkan magendheid kl. I didunia pada waktu itu/Kera- djaan terkuat didunia dari Fir'aun untuk membebaskan kemanusiaan
pada umumnja pada waktu itu dari kedholimannja dan keembraha- laannja dengan mudjidjatnja, diantaranja jalah: Nabi Musa a. s. mentjipta berdjangkitnja penjakit sampar diseluruh ibu kota Mesir, melemparkan tongkatnja mendjadi ular naga besar untuk menelani habis ular² berbisa dari sunglapan achli2 sihir tinggi dari Fir'aun, mentjipta seluruh air sungai Nil, sumur² seluruh air minum Istana dan wadiabala tentara Fir'aun mendjadi darah hingga mereka men- derita kehausan (hanja kepunjaan rakjat jang tertindas jang tidak mendjadi darah), Nabi Musa a.s. mentjipta ber-djuta² katak me- njerbu Istana Fir'aun dan rumah² bangsawan dan tentara Mesir disb, dan achirnja beliau dengan tongkatnja membelah air laut Merah mendjadi dua/lorong untuk mengubur Fir'aun dan seluruh tentaranja jang terkuat didunia pada waktu itu komplit dengan alat sendjata perlengkapan perangnja. Demikianlah adanja pada umumnja mudjidjat dari para Nabi, pula diantaranja mudjidjat jang menondjol dari Nabi Isa a. s. misalnja: diantaranja jalah beliau dengan do'a dan rabaannja bisa menjembuhkan orang2 berpenjakit kusta dan menghidupkan kembali orang² mati seketika itu djuga dan achirnja diantara mudjidjat jang paling menondjol dari Nabi Besar kita Muhammad s. a. w. jalah : beliau dengan dikawal oleh Malaikat Djibril a. s. dan rombongan Malaikat dengan berkendaraan langit/Burok bisa melampaui langit ke 7 masuk chidjab jang tertinggi, jalah chidjab ke 7 menghadap dan berdialoog langsung dengan Tuhan Jang Maha Esa, diantaranja menerima langsung dari Tuhan perintah sembabjang lima waktu hanja dalam waktu kurang satu malam pergi pulang, jalah beliau datang lagi didunia pada sebelum subuh, pula beliau pernah pada suatu malam purnama sidik telah menundjuk bulan purnama jg. sedang bertjahaja penuh sigar/belah mendjadi dua dan disaksikan. oleh seluruh penduduk kota Mekah. Mudjidjat dari para Nabi ini adalah suatu anugrah dan perlindungan dari Tuhan dlm. waktu peredarannja agar kemanusiaan pada umumnja terhindar dari embrehala dan malapetaka total oleh keku- atan destruktip dholim jg. dahsjat dari lawan² Tuhan dan kemanusiaan. Djaman mudjidjat ini berpusat pada waktu itu di Mekah Arabia dan Pelestina-Timur Tengah. Setelah djaman mudjidjat berachir ke- kuatan destruktip/dholim jg. dahsjat itu terus beredar bahkan mening kat, oleh karena inilah perlindungan dan anugrah dari Tuhan djuga meningkat dengan beredarnja :

  1. Djaman. keramat adalah djamannja para Wali alias penegak2 ketu- han J.M.E. alias chalifah Rusulullah Sipatnja: Orang pada waktu itu beriman sempurna / penuh kepada Gusti Allah s. w. t., beribadah beramal salich, berperikemanusiaan dan bertapa berat, misalnja diantaranja menanam / mengubur diri hidup² hingga 3 tahun tapi tidak mati bahkan setelahnja djadi sempurna / menunggal sukmani dan djasmaninja. Buahnja: mendjadi Wali² Chalifah-Rasulullah bisa me-

nerima ilham dari Tuhan/setingkat dibawah wahju Tuhan,/sesekali ber- dialoog dengan malaikat Djibril a.s. dengan merupa sebagai kakek2 sesekali bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w. dialam bardjach, bisa melihat Dhat Tuhan, bisa melahirkan bawah sadarnja dengan njata, "Weruh sadurunging winarah" =Tjirebon= tan Lauchilmahpud, "satjiptane dumadi " =Tjirebon=, bisa merupa diri dlm. rupa lain sekehendaknja, bisa terbang keangkasa tanpa sajap dan alat, bisa menghilang. bisa berdjalan diatas air, bisa melumpuhkan orang, tidak mempan / kebal oleh sendjata apapun dlsb. pendeknja Nabi/ Wali adalah seorang insanulkamil alias manusia jg. sempurna untuk senantiasa melindungi menjelamatkan kemanusiaan pada waktu itu pada umumnja dari malapetaka kedholiman sesama hidupnja dan mendjadi penundjuk kearah djalan jg. lurus. Djustru apa jg tersurat dan tersirat dari buku Sedjarah Tjirebon inilah terdjadi pada waktu djaman Keramat/Wali Djaman Keramat ini berpusat pada waktu itu di Tjirebon, Kra- wang, Tuban, Ampel Surabaja, Kudus, Atjeh, Palembang, Indonesia, Tjempa, Pasai, Bagdad dan Kairo. Kemudian setelah djaman Keramat beredarlah.

3.Djaman Istidjrad, adalah djaman achir kita ini sipatnja : Orang jg. beriman dan jg. tidak bergaul simpang siur tjampur aduk. jg. beri- badah, jang beramal solich, jg. berperikemanusiaan dan jg. tidak simpang siur tjampur aduk, pada umumnja tidak bertapa. Buahnja: sangat djarang sekali jg. bisa menerima ilham Tuban, pada umumnja tjondong kepada kemewahan materie tamak, mementingkan diri/ golongan sendiri, penglihatan orang kurang djernih, banjak bisikan/ godaan Iblis, tjondong kepada napsu sjahwat/sex (sachta-harta, wanita), hilang sarinja makanan, brekatnja bumi asinnja ujah, harum- nja bunga, manisnja gula dan wirangnja / perasaan malunja wanita (banjak anggauta² vital dari wanita "mintal-mintul, ngalor-ngidul" terlihat orang didjalanan), banjak tjolong-djupuk alias maling, begal tjopet, todong terdjadi dimana² dora andadra alias bohong di-mana2 wong akeh ura² alias banjak demonstrasi, terdjadinja pergaulan ular dng. katak musang dng. ajam kutjing dng. tikus alias ko-exatensi dgn. damai alias terdjadinja berkawan antara theis dan atheis dlsb. Pula djaman achir kita ini disebut oleh leluhur kita dng. djaman "Kila" alias djaman manuk/burung, artinja djaman pidato, siapa jg. pintar pidato nistjaja banjak penganutnja, akan tetapi banjak jg. tidak satunja omong dan perbuatan/ngetjap. Selandjutnja djaman achir sekarang ini disebut oleh leluhur kita bahwasanja orang banjak akalnja, misalnja orang sekarang dengan ketjerdasan otaknja bisa merombak adat dari benda² Tjontoh dian taranja ialah besi di air tenggelam, tetapi oleh manusia djaman sekarang dirombak besi bisa mengapung di air, jalah kapal laut misalnja, bahkan besi, sekarang bisa terbang di angkasa, bahkan kebulan
dan planit² misalnja: kaal2 terbang dan kapal2 ruang angkasa,orang sekarang membikin bom² atom, nuklir hidrogin, roket2, peluru² ken- dali antar benua, alat perang serba modern, alat kedokteran. alat pertanian serba modern dlsb. dlsb. Djaman Istidjrad ini berpusat di Amerika, Rusia, Inggris, Frantjis dan R.R.T. Oleh karena diantara negara² ini ada jg. tjenderung ingin mengua- sai dunia dan ingin memaksakan ideologienja kepada dunia kemungkinan achirnja dunia meluntjur kepada petjahnja perang nuklir. Mungkin perang inilah jg. disebut orang perang Armagedon di Timur-Tengah Dan kalau ini terdjadi akan lahirlah lawannja dja- 0 manIstidjrad jalah djaman maunat djaman pertolongan dari Ilahi IE untuk menghindarkan kemanusiaan dari malapetaka kehantjuran total. Perang Armagedon inilah kemungkinan terdjadi dalam perang dunia ke III atau ke IV selandjutnja kalau setelah perang dunia ke II muntjul bigfive lima besar, jalah : Amerika, Rusia, Inggris, Pran- tjis, dan R. R. T., sebaliknja setelah perang Armagedon hanja akan muntjul big Two = dua besar Adapun negara² mana jang akan memegang peranan sebagai dua besar ini saja serahkan kepada waktu jang akan datang. Dalam djaman inilah akan beredar bersama : djaman Mudjidjat, djaman Keramat dan djaman Ma'unat sekali gus (djusteru djaman inilah jang saja maksud jang mana sering2 saja sebut2 dalam tjera- ramah-tjeramah saja dengan djaman "the man behind the gun" alias djaman bermoral/bermental tinggi), jang tentu sadja akan tjotjok dan sesuai dengan djaman jang akan datang itu sendiri. Setelah ini terdjadi barulah keadaan aman, damai, tenang, adil makmur dan diridhoi oleh Gusti Allah s.w.t. akan terselenggara merata diseluruh dunia. Wa Allohu a'lam bissowab.—

—= TAMAT =-

Oplaag 5000 ex.