Resistance Against Empire adalah sebuah buku rilisan PM Press (California, 2010), berisi sekumpulan interview atau wawancara yang dikerjakan oleh Derrick Jensen bersama sepuluh orang yang secara aktif terus berusaha untuk dapat membongkar dan menyingkapkan segala mekanisme penjajahan peradaban dunia modern serta memberikan analisa mendalam tentang akibat atau konsekuensi yang mungkin timbul darinya.
Kesepuluh orang aktivis ini, memberikan sebuah dakwaan yang tajam dan pedas atas segala praktek ketidakadilan serta ketidaksetaraan yang menjadi landasan terus beroperasinya sistem kapitalisme pada peradaban dunia ini. Ramsey Clark mendeskripsikan satu sejarah panjang invasi atau penyerangan-penyerangan militer yang terjadi di dunia, Alfred McCoy memberikan sebuah penggambaran detail tentang hubungan yang terjadi antara aktivitas yang dilakukan oleh CIA dengan meningkatnya jumlah perdagangan heroin di pasaran dunia, Stephen Schwartz melaporkan carut- marut pembiayaan persenjataan nuklir, juga Katherine Albrecht yang mengusut dan menyingkap horor yang terjadi akibat aktivitas memata-matai, mengawasi, atau penjagaan setiap penduduk yang dilakukan oleh banyak negara-negara modern di dunia. Penelusuran-penelusuran atas praktek kekuasaan global ini sangat penting untuk terus diinformasikan, dalam rangka untuk memberikan sebuah ajakan bagi kita untuk turut-serta melakukan sebanyak mungkin aksi perlawanan.
Projek penerjemahan ini dikerjakan serta dirilis sewaktu-waktu secara berseri, disesuaikan dengan bab-bab atau topik perbincangan
yang terjadi di dalam buku.
Projek penerjemahan buku ini didedikasikan bagi seluruh masyarakat yang tertindas di manapun mereka berada, orang-orang yang
dipinggirkan atas nama pembangunan pusat-pusat perdagangan dan perkantoran birokrasi yang hanya berfungsi untuk menyejahterakan
segelintir kelas borjuasi (kaya), bagi orang-orang terbuang yang bersatu dengan tanpa memandang ras, agama, gender, maupun
kelompok, untuk mereka yang berani mengangkat kepala demi diri mereka sendiri dan membangun solidaritas bersama melawanBagian 1
kebrutalan aparatus polisi dan militer juga negara dan hukum yang berdiri di belakangnya.
Hidupkan kembali semangat perlawanan demi sebuah perubahan yang berarti, sebuah hidup yang tidak semata-mata hanya untuk Wawancara Derrick Jensen
sekedar bertahan hidup. sebuah masyarakat dimana masing-masing diri kita dapat memegang kendali sepenuhnya atas hidup danBersama J.W. Smith
kehidupan kita sendiri.
Semua materi yang ditulis (dan kemudian diaplikasikan berdasarkan) dalam / dari penerbitan terjemahan ini dikerjakan dengan tanpa ijin dari penulis, editor, ataupun pemilik hak cipta. Tak ada hak cipta yang dihargai. Seluruh isi dan materi terbitan ini dapat direproduksi dan ditransformasikan dalam dan dengan segala cara dan bentuk.
[email protected] hantammassa.blogspot.com
INTRODUCTION
Pada akhirnya, sama sekali tidak ada yang gratis. Peradaban ini berjalan berdasarkan aktivitas pengubahan segala bentuk kehidupan (“bahan baku mentah”, atau “sumber daya”) menuju kematian: produksi bagi keuntungan atau profit. Semua ini adalah kenyataan sebagaimana halnya dengan telepon-telepon selular sebagaimana halnya dengan panel-panel surya sebagaimana halnya dengan televisi sebagaimana halnya dengan kertas karton sebagaimana halnya dengan pesawat F-16. Bahan-bahan baku mentah selalu datang dari suatu tempat. Dan di sana selalu ada banyak konsekuensi atau akibat atas proses pengerukan serta pengambilalihan bahan-bahan mentah tersebut.
Konsekuensi yang terutama dan mendasar tersebut untuk sebagian besar tidaklah ditanggung oleh mereka-mereka yang menggunakan dan memanfaatkan produk-produk tersebut, lebih sedikit lagi yang ditanggung oleh mereka yang membuat, merakit, dan menghasilkan produk-produk tersebut. Akan tetapi konsekuensi yang terbesar harus ditanggung oleh mereka-mereka yang telah tercuri kemakmurannya serta tereksploitasi. Kekuasaan imperium menggunakan jalan kekerasan (atau juga dengan ancaman kekerasan) untuk mendapatkan segala yang mereka kehendaki, dari berbagai bentuk kehidupan dan tenaga kerja manusia atau budak-budak non-manusia sampai anak-anak kuda, batu bauksit, serta minyak. Tentu saja, alasan atau tujuan pokok dari imperium ini adalah untuk mengeruk sebanyak mungkin sumber bahan-bahan baku mentah serta mengeksploitasi seluruh sumber daya yang ada, dan berikut pemindahalihan segala konsekuensi yang ditimbulkannya kepada pihak-pihak lain.
Buku ini membongkar serta menjabarkan banyak hal tentang konsekuensi-konsekuensi yang muncul akibat praktek imperium dan seluruh metode yang digunakan untuk menyelenggarakan dan memaksakan undang-undang atau hukum yang mereka sahkan untuk mengeruk dan mengekspolitasi. Anuradha Mittal menjabarkan tentang banyak efek yang mungkin muncul atas kolonialisme atau penjajahan dan akibat perdagangan global atas terjaminnya keamanan sumber pangan. Juliet Schor, Katherine Albrecht, dan juga Christian Parenti mendiskusikan beberapa mekanisme represi yang terjadi di dalam negeri, sebagaimana ketika setiap warganegara akan mendapatkan terlalu banyak beban kerja, terus diawasi dan dijaga ketat, dan dijebloskan ke dalam penjara. J.W. Smith menjelaskan bagaimana kekuasaan imperial ini dimulai dengan terjadinya proses monopoli “Sebenernya apa sih kerjaan tentara-tentara itu? Latihan-latihan terus tapi pertanahan dan berakhir dalam satu situasi ekonomi global yang berbasiskan pada gak perang-perang. Udah gitu tiap bulan duit pajak kita habis buat bayar kontrol yang sangat ketat dan masif. gaji sama beli senjata buat mereka itu. Senjatanya juga malah dipake buat Suara-suara tersebut, bersama-sama dengan yang lainnya di dalam buku ini, secara mukulin sama nembakin kita lagi. Polisi-polisi itu juga, kalo ada mereka bertubi-tubi mengkomparasikan sebuah dakwaan yang serius melawan kekuasaan di dekat kita kok rasanya malah kita jadi kayak gak aman yah, jadi serba imperium yang menyebabkan planet kita ini tersandera hingga pada nafsu was-was gitu, kayak yang bakal ada apa-apa nih...” keserakahannya yang keji. Kekuasaan imperium ini tidak mengecualikan apapun,
**- -***satu komentar yang bisa jadi hanya sekedar kekonyolan di satu sesi*
dan tak seorangpun, dalam rangka mengejar suatu, tujuan atau sasaran paling curhat-curhat pengisi waktu di sore hari ketika tidak jadi hujan penting dan mendasar: profit, atau keuntungan. Langkah pertama untuk dapat padahal mendung sudah terlalu tambun sedari pagi. membebaskan diri kita sendiri dari jerat penjajahan tersebut adalah dengan membongkar dan menyingkapkan segala mekanisme penjajahan yang mereka gunakan beserta segala akibat atau konsekuensi yang mungkin timbul darinya. Dan langkah berikutnya adalah melawannya.
J.W. Smith, seorang ekonom, secara tajam mengungkapkan suatu kebenaran kepada kita: “bahwa ada banyak bagian atas kekayaan kita yang tercuri.” Pencurian tersebut dimulai dengan adanya proses monopoli atas tanah oleh pada khususnya segelintir elit yang kaya, dan ditambah lagi oleh semua orang yang telah mapan dan berkecukupan, kemudian secara cepat bergerak menuju proses pemonopolian atas teknologi dan tenaga kerja (buruh). Pada awalnya masyarakat melawan balik para pencoleng ini, akan tetapi penaklukan-penaklukan di awal telah melapangkan jalan kepada bentuk-bentuk hukum yang lebih terstruktur untuk melindungi “hak-hak” para pencoleng ini. Pada tahap akhir adalah proses penghapusan sejarah perlawanan ini dari memori atau ingatan sosial masyarakat kita yang dikombinasikan dengan satu bentuk mitos-mitos yang dipaksakan untuk cocok dan secara beriringan terkesan memaafkan proses pencurian ini sehingga ketika masyarakat awam menyatakan beberapa saran tentang penyusunan yang lebih pantas dan wajar akan menjadi tidaklah mudah, tidak efisien, atau bahkan tak mungkin. Sekarang ini kita menerima proses monopolisasi ini sebagai sesuatu yang normal, dan dengan demikian semua bahaya dan akibat kerugiannya––atas kemiskinan global, atas kondisi para pekerja di dunia perindustrian, dan utamanya atas planet kita––akan menjadi tidak tampak. Akan tetapi di balik ajaran kesucian tentang kepemilikan privat selalu ada bid'ah tentang kebenaran, dan Smith adalah salah seorang dari para pembangkang ini. Dia berargumen bahwa setiap kota selalu memiliki ketergantungan pada daerah pedalaman atau pinggiran kota untuk kelangsungan hidupnya––makanan, bahan bangunan, dan bahan mentah lainnya––dan ketergantungan ini selalu diback-up atau dilindungi oleh kekuasaan dan kekuatan militer. Penduduk di daerah pinggiran atau pedesaan selalu dipaksa untuk melimpahkan sumber daya atau bahan baku yang mereka miliki kepada daerah perkotaan sehingga dengan demikian akan dipaksa untuk berada pada posisi harus membeli barang-barang kebutuhan yang diproduksi di perkotaan daripada memproduksinya sendiri. Dengan cara demikian penduduk di pedesaan telah menyerahkan kemandirian ekonominya. Proses ini telah dikembangkan oleh negara-negara penjajah terhadap koloni atau negara jajahannya dan hingga sekarang secara global telah melingkupi dunia ini dengan apa yang Smith sebut sebagai “proses pergerakan atau perubahan dari penjarahan dengan cara pengepungan bersenjata menjadi penjarahan dengan cara pertukaran komoditas atau perdagangan.” Pada akhirnya adalah kabar bagus: efek terakhir atas monopoli adalah revolusi. Smith telah menulis, “Menghapuskan kemiskinan tidaklah sulit secara filosofis.”
Wawancara Dilakukan Pada 13 Juli 2000
Mudah saja: penduduk di daerah yang diberkahi dengan kekayaan sumber daya
di Kediaman J.W. Smith di Santa Maria, California.
perlu untuk meraih kembali kontrol atas perekonomian mereka sendiri. Dan mereka akan memperjuangkan kembali apa yang telah menjadi milik mereka. Sekali orang-orang mengecap atau mendapatkan “rasa kebebasan atau kemerdekaan, akan sangat sulit untuk menjauhkan dan mengenyahkannya kembali”
J.W. Smith menamatkan gelar PhD pada kajian Ekonomi Politik. Dia telah menulis enam buku tentang penghapusan kemiskinan dan perang, termasuk Economic Democracy: The Political Struggle of the Twenty-First Century (Sharpe) and Cooperative Capitalism: A Blueprint for Global Peace and Prosperity (IED). Dia adalah direktur penelitian pada Institute for Economic Democracy.
Derrick Jensen: Anda telah menulis, “Menghapuskan dan mengenyahkan kemiskinan tidaklah sulit secara filosofis,” Untuk melakukan hal ini, anda mengatakan, bahwa kita akan perlu untuk “menghapuskan proses monopoli atas tanah, teknologi, dan modal keuangan, dan pembayaran yang adil atas kerja produktif yang setara, baik untuk perekonomian internal maupun pada perdagangan antar bangsa.” Komentar anda tentang ini?
J.W. Smith: Pertama-tama marilah kita berbicara tentang proses pemonopolian atas tanah. Jika seseorang terlahir dalam kultur atau budaya kita dengan kemampuan kecerdasan yang telah terbangun secara utuh sebagai seorang dewasa, tapi tanpa dikondisikan oleh kondisi sosial kita hari ini, satu dari kenyataan pertama yang membingungkan yang akan dihadapinya adalah bahwa semua tanah yang ada telah menjadi milik orang lain. Ini adalah situasi yang gila. Sebelum dia dapat benar-benar berdiri, duduk, berbaring, atau tidur, kebanyakan akan sedikit mendapatkan kebutuhan makanannya, dia diharuskan untuk membayar pada siapapun yang memiliki sebidang tanah tersebut. Sekarang ini adalah satu hal untuk dapat memiliki sesuatu yang telah anda buat––sebuah kursi, mungkin, atau sebuah meja, atau sepatu––akan tetapi tanah, udara, dan air adalah keseluruhan kategori-kategori yang berbeda. Mereka ini memelihara kehidupan, dan dibutuhkan untuk hidup, dan telah ada di sini sebelum kita dilahirkan (ini berarti bahwa mereka sama sekali bukanlah kreasi atau ciptaan kita). Menghilangkan orang-orang dan hal lain––segala bentuk kehidupan, bukan hanya manusia––akses terhadap tanah berarti butuh kemampuan untuk membunuh mereka ini. Saya tidak tahu jika ini telah menjelaskan lebih banyak ketimbang Rousseau, yang telah menuliskan, “manusia pertama yang, telah menutupi atau menduduki sejengkal tanah, mengatakan pada dirinya sendiri 'ini adalah milikku' dan mendapati masyarakat cukup mudah untuk mempercayai dia, adalah pendiri sebenarnya atas konsep masyarakat sipil. Dari banyaknya kejahatan, peperangan, dan pembunuhan, dari sedemikian banyaknya horor dan ketidakberuntungan tak seorangpun dapat menyelamatkan manusia, dengan menghentikan pertaruhan, atau memenuhi parit, atau meratap pada kawanannya: 'Berhati-hatilah ketika mendengarkan penipu yang lihai ini; kamu telah terlepas jika sekali waktu melupakan bahwa buah bumi ini adalah milik kita semua, dan bumi ini sendiri bukanlah milik siapapun.'” DJ: Hal tersebut mengingatkan saya pada satu ungkapan terkenal dari seorang anarkis abad sembilanbelasan Proudhon: Property is theft (Hak milik adalah pencurian). JWS: Setelah sekian lama mengalami proses akulturasi secara menyeluruh, serta sama sekali tidak pernah mengalami atau membayangkan susuatu yang lain, beberapa kalangan menyadari bahwa semua kepemilikan atas lahan atau tanah tidak lebih daripada sebuah ketentuan sosial atau adat; ini berarti, sejumlah besar kayu dan pertambangan dan kepemilikan tanah dan perusahaan minyak dan selebihnya “memiliki” tanah mereka hanya dikarenakan kita semua menyetujui––semua orang telah diajarkan untuk mempercayai––bahwa mereka memang memilikinya. Kepercayaan sosial ini menghilangkan hak-hak orang-orang lain atas berkah yang telah diberikan oleh alam kepada bumi ini. DJ: Apakah anda menentang semua bentuk kepemilikan atas tanah?
JWS: Tidak semua. Saya menentang monopilisasi atas kepemilikan tanah ini yang kita semua menerimanya sebagai sesuatu yang nampak seolah-olah adalah alami. Dan proses monopolisasi ini tidaklah setua itu, ketika anda menyadari hal ini dalam rentang masa keberadaan manusia. Tentu saja, kebanyakan masyarakat pribumi tidak mempercayai hal kepemilikan privat atas tanah tetapi lebih melihat secara komunal pengadaan tanah sebagai sebuah bentuk kekayaan sosial, sesuatu dimana harga diri diletakkan, untuk dipelihara. Selanjutnya, sebagaimana Rosseau telah menyatakan, kemudian datanglah peradaban (penjajahan), dengan basis dasarnya adalah kepemilikan privat. DJ: Kata ini sendiri “private (privat)”, omong-omong, muncul dari akar yang sama dengan deprive (mencabut, melucuti, menghilangkan), dengan bentuk latinnya deprivare, disebabkan oleh orang-orang kaya atau kaum bangsawan Romawi memasang batas berupa tembok-tembok pada lahan atau tanah untuk kepentingan privasi mereka, menghilangkan akses orang-orang yang lain. JWS: Tidak butuh waktu lama bagi orang-orang Romawi tersebut untuk terbiasa dengan tindakan-tindakan tersebut. Awalnya seluruh penduduk Romawi memiliki hak yang tidak dapat dicabut atas perumahan serta pekarangan, dengan segala sesuatunya diadakan sebagaimana biasanya. Tetapi dengan berakhirnya masa Imperium atau Kekaisaran Romawi hanya delapan belas persen orang yang memiliki keseluruhan “dunia yang nampak.” Lebih awal kaum Yunani telah mencoba hal yang sama: pada satu titik hanya 2 persen dari orang-orang Yunani yang menguasai keseluruhan kerajaan. Hari ini kita melihat hal yang serupa terjadi lagi: pada 1974 Federal Reserve (Bank Sentral) mengestimasikan bahwa 25 persen dari keseluruhan warga Amerika tidak memiliki net assets (modal bersih). Pada 1988 telah bertambah menjadi 54 persen. Dan tentu saja hari ini secara rata-rata lebih tinggi lagi. Ketidaksamaan ini menjadi jelas ketika seseorang mempelajari bahwa negara sosialis Kuba memiliki 85 persen rasio kepemilikan perumahan dengan tanpa hutang sementara Amerika memiliki 68 persen kepemilikan perumahan dengan bantuan hutang secara besar-besaran. Jika hutang seseorang adalah 85 persen dari nilai perumahan, seseorang hanya memiliki 15 persen dari rumah seseorang tersebut. DJ: Bagaimana monopilisasi atas tanah berlangsung? JWS: Pertama melalui penaklukan, dan berikutnya dengan segala ketidaksetaraan yang secara terus-menerus disusun ulang menjadi bentuk hukum. Para penguasa semakin memahami akan kegunanaan hukum-hukum ini guna memfasilitasi proses monopolisasi tanah. Dan tentu saja mereka inilah yang mendapatkan sertifikat atas mayoritas tanah. Kaum bangsawan Yunani mendapatkan hal ini dengan cara pengerahan kekuatan dan perampasan dari orang-orang pribumi dan dari kaum petani kecil. Kaum Romawi juga melakukan hal yang sama. Kemudian setelah keruntuhan Kekaisaran Romawi, pada masa yang dikenal sebagai Dark Age (Masa Kegelapan), para petani kecil ini merebut dan mendapatkan kembali tanah mereka. Sebuah keyakinan akan kebebasan dan hak-hak alamiah dapat berlangsung hingga berabad- abad, sampai pihak gereja, negara, serta kaum-kaum yang memiliki kekuasaan bergabung untuk merebut secara paksa tanah-tanah dan menjauhkannya dari penduduk. Petr Kropotkin menyebut pembantaian para pemilik tanah kecil––ratusan dari ribuan yang lainnya––oleh kaum bangsawan sebagai “kelahiran dari negara modern.”
Ketika tanah telah dirampas dari tangan rakyat, aturan-aturan hukum diloloskan untuk membuat pencurian-pencurian (tanah) menjadi legal, dan percobaan- percobaan untuk menuntut ganti-rugi tanah ini dapat dibinasakan melalui pengerahan kekuatan penuh dari negara. Antara 1760-1844, sebagai contoh, mendekati angka empat ribu pasal keputusan atau undang-undang tentang hak pemagaran atas tanah yang telah diloloskan di Inggris. Hasilnya adalah hanya butuh waktu singkat bagi lima belas persen kelompok-kelompok keluarga untuk dapat memiliki 90 persen dari keseluruhan tanah di sana.
Sekali proses monopolisasi atas kepemilikan tanah ini telah dilegalkan secara hukum, tahap berikutnya adalah usaha untuk menghapuskan segala memori atau ingatan kolektif kita akan kepemilikan sosial. Semua tulisan, diskursus, pembahasan, wacana-wacana, serta pembicaraan-pembicaraan utama, dari mimbar ke mimbar hingga tingkat universitas sampai rilisan-rilisan media, mengabarkan kembali pada kita, lagi dan lagi, bahwa bentuk-bentuk kehidupan komunal dengan jalan saling mendukung secara mutual dimana orang-orang tetap berusaha mempertahankan kehidupan mereka hingga munculnya satu bentuk negara adalah sulit untuk diwujudkan, tidaklah efisien, merusak, atau dianggap bahwa mereka ini tidak pernah ada. Sementara mereka yang berada pada kekuasaan berkhotbah bahwa kepemilikan atau penguasaan mereka atas kekayaan dunia adalah efisien, adil dan pantas, serta demi kepentingan seluruh rakyat. Jika kita mendengarkan hal ini cukup sering, dan semenjak kita sama sekali tidak menyadari bahwa sejumlah besar bagian atas kekayaan kita adalah hasil curian dari orang lain, kita akan mempercayainya. Tentu saja kita juga tidak menyadari bahwa ada sejumlah besar kekayaan yang sebenarnya justru telah disia-siakan guna membiayai pemeliharaan suatu sistem yang menyediakan kemakmuran yang sewajarnya untuk kaum yang lemah.
Semua hal ini juga terjadi di Amerika Serikat. Pertama tanah dirampas dari orang-orang Indian dengan pengerahan kekuatan militer. Kemudian tanah-tanah ini dibagi- bagi kepada orang-orang kaya. Tiga perempat dari New York telah dibagikan kepada tiga puluh orang, sedangkan lahan-lahan yang lain telah dijual oleh pemerintah kepada orang-orang kaya dengan harga dua sen per acre (hampir setengah hektar). Atau diberikan kepada kaum hartawan untuk beberapa alasan atau lainnya.
DJ: Sepuluh persen dari luas wilayah yang berdekatan di Amerika Serikat hilang untuk rel atau jalan kereta api.
JWS: Di Texas, pemerintah sebenarnya menghibahkan untuk perusahaan pembangunan jalan kereta api lebih delapan juta acre dibanding hak hibah yang sebenarnya!
Dan tentu saja bukan hanya kaum Indian saja yang telah dibantai, tetapi orang-orang Amerika non-Indian juga, yang telah mencoba untuk melakukan perlawanan. Terdapat sejumlah besar pemberontakan berdarah selama bertahun- tahun––terutama oleh para petani, yang telah ditindas dan direpresi sepanjang sejarah––pemberontakan-pemberontakan meluas dan cukup kuat sehingga mereka mampu memiliki kekuasaan yang mengancam para pemonopoli tanah. Tapi di waktu kemudian lahan telah menjadi lebih atau kurang secara legal dihibahkan kepada kaum elit, rakyat Amerika telah diajarkan untuk percaya bahwa ini adalah bagaimana seharusnya masyarakat kita disusun. Menyadari kekuatan dengan bantuan gereja kepemilikan privat dikhotbahkan kepada kita semua hari ini.
DJ: Efek atau akibat-akibat apakah yang ditimbulkan atas proses monopolisasi tanah ini?
JWS: Keseluruhan sistem pengupahan ekonomi, tentu saja, kapitalisme, adalah berdasar pada sistem monopoli ini. Bagaimana anda menempatkan orang untuk bekerja pada anda dengan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya mereka tidak menyukainya? Baiklah, akan selalu ada kekuatan angkatan kerja. Tapi hal itu sangatlah mahal dan akan sangat mendekati atau menyerupai perbudakan. Semenjak orang-orang membutuhkan tanah untuk survive atau bertahan hidup, jika anda dapat mengontrol akses mereka terhadap tanah, teknologi, dan uang, maka anda dapat mengontrol mereka. Anda bisa memaksa mereka untuk bekerja kepada anda dengan berapapun upah yang anda inginkan untuk dibayarkan pada mereka.
Akibat lainnya dari pemonopolisasian ini adalah pemborosan. Kapanpun seseorang memiliki kayu, minyak, batu bara, atau hak-hak atas pertambangan, proses pemaksimalan profit atau keuntungan membutuhkan penjualan maksimum atas sumber-sumber ini. Kayu dikerjakan secara tebang-habis, sangat merusak ekosistem. Sedangkan yang kita kenal sebagai model hutan industri yang sustainable atau berkelanjutan seringkali hanya akan menahan tingkat keuntungan, dikarenakan pohon eucalyptus (pohon kayu putih) dan pepohonan lainnya yang mereka tanam dengan tujuan untuk menggantikan pepohonan yang lama tidaklah asli. Mereka bisa menjadi spesies yang terlalu dominan, kekurangan air, dan seterusnya, dan tak terelakkan berdampak pada lahan di sekitar hutan sebagaimana hal-hal lain yang bergantung pada keberadaan hutan-hutan tersebut. Daerah-daerah puncak di pegunungan dibongkar dan diambil-alih untuk mendapatkan batu bara, bagian ini sangatlah berharga untuk dapat didulang. Sumur-sumur minyak dibangun di tempat yang memungkinkan dimanapun––dan dalam kesibukan atau ketergesa-gesaan dalam penyulingan minyak, seringkali sia-sia. Lebih jauh gas alam telah dimatikan karena tidak menguntungkan secara ekonomi dengan struktur pengangkutan dan penjualan saat ini. Industri agrikultur menyebabkan erosi pada lapisan atas permukaan tanah, penipisan air, pencemaran bahan kimia pada persediaan air, dan seterusnya, sedangkan pertanian-pertanian kecil yang dimiliki oleh keluarga-keluarga kecil sangatlah lebih efisien, dan agrikultur atau pertanian berbasiskan keanekaragaman hayati (bio-diversity) adalah lebih ramah terhadap lingkungan. Apa yang saya ungkapkan adalah mereka yang mempunyai perijinan untuk pertambangan tidak dapat dipungkiri akan menjualnya untuk mendapatkan uang, sedangkan segala ketergesaan untuk membuat uang tersebut sangatlah memboroskan ketersediaan segala sumber daya yang ada.
Proses dinamika yang serupa umumya terjadi pula di dalam proses pemonopolisasian teknologi. Di satu titik semua teknologi dimiliki oleh kelompok, untuk dipergunakan demi keuntungan atau manfaat bagi kelompok tersebut. Tetapi selama berlangsungnya waktu hal ini telah berlalu seiring dengan apa yang terjadi pada tanah. Industri tenaga listrik menjelaskan satu contoh bagus tentang akibat privatisasi teknologi: sekitar 24 persen dari populasi di Amerika Serikat dilayani secara mandiri untuk keperluan listriknya. Meski demikian kebanyakan dari populasi ini berada di pedesaan, sehingga memiliki tingkat kepadatan rendah, ini berarti biaya per kapita yang lebih tinggi akan dikeluarkan bagi para penyedia jasa, sarana peralatan untuk pemenuhan kebutuhan listrik yang dimiliki secara privat memiliki beban biaya 42,5 persen lebih. Hal ini mengakibatkan secara jelas selama 2001 bagaimana krisis kelistrikan telah terjadi di California. Perusahaan-perusahaan listrik yang dimiliki secara mandiri oleh para konsumen pengguna, ketimbang terancam oleh pemadaman-pemadaman total (blackouts), malah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dengan menjual pelayanan listrik kepada sektor privat.
Tidaklah mungkin untuk membincangkan monopolisasi teknologi tanpa membahas tentang paten. Hak paten mempunyai sejarah yang sungguh menarik. Apakah anda pernah membayangkan mengapa pembayaran atas hak-hak paten disebut sebagai royalties (royalti)? Hal ini disebabkan karena para raja dan ratu merundingkan hak paten atas tanah dan penemuan-penemuan favorit mereka, dengan pengertian bahwa seseorang yang difavoritkan akan memotong harga atas bagian penghasilan––yaitu royalti––kembali kepada keluarga kerajaan. Pendeknya, asal mula paten adalah tidak dapat dibedakan dengan pembayaran uang sogok atau suap demi hak istimewa untuk menjalankan bisnis.
Dan sedemikian sebagaimana monopolisasi atas tanah telah didudukkan serta dipelihara dengan kekuatan bersenjata, sehingga, sedemikian juga, monopolisasi atas teknologi terjadi. Pada masa Middle Ages (Abad Pertengahan), sebagai contoh, teknologi pembuatan serta pencelupan pakaian telah ditemukan yang mana lebih efisien daripada metode manual yang lebih tua. Tetapi teknologi ini secara mudah dapat direproduksi, sehingga pertanyaannya menjadi, bagaimana orang-orang di perkotaan dapat mempertahankan monopoli atas teknologi mereka? Jawabannya adalah sama dengan yang terjadi pada pertanahan. Di sepanjang abad ke empat belas secara teratur ekspedisi-ekspedisi yang dipersenjatai bepergian dari perkotaan menuju daerah pedesaan yang jauh dan terpencil, mengemas serta mengangkut perkakas tenun dengan tong-tong yang penuh.
DJ: Perdagangan bebas beraksi...
JWS: Tepat sekali: ini adalah kelahiran perekonomian pasar modern. Tapi kita akan sampai ke sana sebentar lagi. Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah sebagaimana halnya dengan yang terjadi atas tanah, monopoli teknologi yang secara asali sejalan dengan kekuatan militer kini sejalan dengan tradisi. Hari ini, karena kita dibiasakan dengan hal ini dan menjadi tidak waspada akan kehilangan atau kerugian-kerugian kemasyarakatan (dan milik kita sendiri), kita menerima monopoli atas teknologi ini sebagai sesuatu yang normal. Pada kenyataannya, kita bahkan tidak menyadari bahwa monopoli-monopoli ini benar-benar ada.
Saya senang anda mengangkat dugaan atau gagasan tentang pasar bebas, terlebih, karena perubahan besar yang kita sebut sebagai perkembangan sejarah kapitalisme adalah sejatinya proses pergerakan atau perubahan dari penjarahan dengan cara pengepungan menjadi penjarahan dengan cara pertukaran komoditas atau perdagangan.
DJ: Saya tidak memahami maksud anda.
JWS: Baiklah, hal penting yang perlu untuk diingat mengenai perkotaan yang telah saya kemukakan beberapa waktu yang lalu, dan pada kenyataannya tentang perkotaan secara umum, adalah bahwa mereka ini tidak memiliki sumber daya. Mereka bergantung pada daerah-daerah pinggiran atau pedesaan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Begitulah cara kerjanya, dan seperti itulah selalu keadaan yang terjadi di perkotaan. Ketika para penggarap tanah datang ke kota dari desa-desa yang terpencil dan melihat pada perkakas tenun dan tong-tong yang terisi penuh, mereka berkata, “Nah, kita bisa melakukannya.” Mereka telah memiliki sumber bahan bakunya, bahan-bahan mentahan (yang mana tidak dimiliki oleh masyarakat di perkotaan). Kembali mereka pergi ke pedesaan kecil mereka, dimana mereka hanya memproduksi perkakas tenun beserta tong-tong mereka sendiri, dan serta apapun yang lain yang dibutuhkan.
Tetapi jika mereka tetap diijinkan untuk tetap mengerjakan seperti itu, apa yang akan terjadi dengan kota-kota? Masuk terperosok ke dalam terowongan gelap jadinya. Jika kota tidak memiliki monopoli atas kapital, kota-kota ini tidak akan bertahan hidup. Sehingga selama beberapa ratus tahun pihak penguasa di perkotaan menyerang daerah pedesaan tersebut, menghancurkan perlengkapan serta peralatan produksi, dan memaksa penduduknya untuk menjual dan menyerahkan sumber dayanya serta dipaksa untuk membeli produk-produk dari pabrik-pabrik di perkotaan. Pertukaran atau perdagangan semacam ini antara kota-kota yang kaya dengan daerah pinggiran pedesaannya di dunia ini masih terjadi hingga saat ini.
Sekarang ini, kota-kota telah menaklukkan daerah-daerah pedesaan, tahap berikutnya dalam proses evolusi ini adalah kompetisi antara kota-kota yang berbeda. Jika suatu kota telah mampu untuk merebut atau mengambil alih pasaran serta sumber daya kota yang lain, sehingga kota ke dua tersebut akan terperosok ke dalam lubang-lubang terowongan secepat sebagaimana ketika daerah pedesaan memproduksi sendiri kebutuhan pakaian mereka serta segala perkakas mereka. Maka kota-kota ini akan berperang. Kita telah mempelajari tentang peperangan yang terjadi antara negara-negara kota di Yunani di sekolah, tapi tak seorangpun pernah mengungkapkan kepada kita mengapa mereka saling bertempur. Mereka ini tidaklah saling berperang tanpa tujuan, tidak pula mereka selalu bertempur dengan alasan perbedaan-perbedaan ideologis atau filosofis. Mereka bertempur demi kelangsungan hidup mereka sendiri, sebagaimana yang mereka rasakan sendiri. Sang pemenang akan mendapatkan kontrol atas sumber daya dan menentukan serta memaksakan serangkaian aturan-aturan hukum perdagangan yang tidaklah adil terhadap pihak yang dikalahkan di peperangan. Prosesi dinamika yang serupa ini kemudian dipindahkan atau diteruskan dalam bentuk negara-negara kebangsaan, dan negara-bangsa tersebut berkembang menjadi kerajaan atau kekaisaran. Peperangan adalah pertempuran demi kontrol atas sumber daya dan kemenangan perdagangan.
Permasalahan dengan peperangan, berdasarkan perspektif atau sudut pandang pihak penguasa kota-kota ini, atau kekaisaran, adalah bahwa peperangan ini sangatlah mahal. Akan sangat lebih efisien untuk secara gampangnya memaksakan serangkaian aturan dagang yang tidak setara dan tidak adil. Tentu saja kekuatan bersenjata akan selalu berdiri dibalik tirai perdagangan yang tidak adil dan tidak setara tersebut, tetapi perampasan atau penjarahan melalui (perang) perdagangan tidaklah membutuhkan biaya yang semahal ketika penjarahan ini dilakukan dengan penyerangan militer.
DJ: Apakah yang anda maksudkan dengan perampasan melalui perdagangan?
JWS: Sejarah menyingkapkan kembali dan lagi bahwa negara-negara yang lebih kuat, demi pemenuhan kebutuhan ekonomi pasaran mereka sendiri, selalu meniadakan bagi negara-negara yang lemah untuk mengadakan peralatan-peralatan untuk memproduksi barang-barang kebutuhan mereka sendiri dan malahan memaksa mereka untuk menukar atau memperdagangkan sumber daya mereka yang berharga demi produk-produk yang relatif murah yang sebenarnya mampu mereka buat secara mandiri.
Apakah anda teringat dalam sebuah film berjudul Gandhi ketika para penduduk India diingkari haknya bahkan untuk keperluan mengumpulkan garam dari lautan, dan diwajibkan secara hukum untuk membeli kebutuhan garam mereka serta kebutuhan-kebutuhan pokok hariannya dari monopoli Inggris? Apa yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang adalah bahwa sebelum kedatangan Inggris, India mempunyai kondisi ekonomi yang luar biasa, dengan perindustrian yang tumbuh subur dan pertanian yang makmur, bahkan hingga saat ini di beberapa kawasan yang dimiskinkan seperti Bangladesh. Sangatlah penting bagi pihak Inggris untuk menghancurkan infrastruktur tersebut dalam rangka membuat mereka mampu untuk mengkondisikan para penduduk India membeli barang-barang hasil produksi Inggris: penjarahan lewat perdagangan. Apa yang terjadi di Cina adalah contoh lainnya. Pada tahun 1800, standar kehidupan di Cina melampaui standar di Eropa. Tetapi dikarenakan negeri Inggris mengkonsumsi dalam jumlah yang sangat besar akan produk teh dari Cina, sedangkan orang-orang di Cina tidaklah tertarik untuk membeli barang-barang produksi Inggris, pihak Inggris memaksa––di bawah todongan senapan––orang-orang Cina untuk membeli opium, membuat kecanduan beberapa generasi di Cina, sesuatu yang kemungkinan merupakan perniagaan terbesar pada saat itu untuk segala jenis komoditas. Ketika Cina menentang, 20.000 tentara (termasuk 5.000 pasukan Amerika di dalamnya) masuk untuk membantu tetap terlaksananya perdagangan tersebut. Karena jumlah penjualan opium melampaui jumlah pembelian teh, Inggris mampu untuk mempertahankan kemakmurannya sendiri. Pihak Amerika Serikat bekerjasama dalam penindasan tersebut dan terus mempraktekkan penindasan yang serupa hingga hari ini. Anda ingat kebijakan keji “pintu terbuka” yang mana telah dipaksakan oleh Amerika Serikat kepada pasaran Asia di bawah todongan senapan? Nah, “perdagangan bebas” masih terus dipaksakan dengan todongan senapan hari ini; lihat saja pemecahbelahan yang terjadi di Yugoslavia. DJ: Saya masih belum bisa memahaminya. JWS: Sudah sangat jelas: jika anda harus menaklukkan mereka dengan kekuatan bersenjata, anda lakukan saja seperti itu. Akan tetapi anda tidak perlu menggunakan kekuatan bersenjata jika saja anda mampu untuk menyerap atau menghisap kemakmuran penduduk bangsa lain dengan jalan terus memproduksi untuk masyarakat tersebut segala sesuatu yang seharusnya mampu mereka produksi untuk mereka sendiri. Kuncinya adalah dengan membiarkan mereka terus bergantung kepada anda, menjadi tidak mampu untuk membangun tenaga kerja yang cakap dan terampil, mengembangkan inovasi atau penciptaan, perindustrian, ataukah kemakmuran bagi mereka sendiri. Pada prakteknya berarti anda akan menjual sebanyak mungkin barang-barang kebutuhan konsumen, sementara secara simultan terus-menerus menjauhkan mereka untuk mengakses teknologi, industri, modal keuangan, dan juga, jika semuanya memungkinkan, akses terhadap tanah mereka sendiri. Keseluruhan proses ini sesungguhnya adalah suatu pemborosan. Saya selalu menyukai deskripsi yang diberikan oleh Lewis Mumford tentang hal apakah yang telah dilakukan para kolonialis Inggris terhadap baik India maupun Inggris: “Hasilnya adalah desa-desa yang dimiskinkan di India, kota-kota yang menyeramkan dan penuh kemelaratan di Inggris, serta pembuangan sampah secara besar-besaran dalam jumlah ton dan tenaga kerja manusia yang memenuhi lautan yang terbentang di antara keduanya.”
Hal ini tidaklah mengejutkan bahwa ketika satu masyarakat membeli dari masyarakat yang lain segala sesuatu yang seharusnya dapat diproduksi sendiri, maka akan timbul sampah serta pemborosan-pemborosan dalam jumlah yang menakjubkan dalam prosesnya, dan terutama kemiskinan masal di daerah-daerah yang ditaklukkan secara ekonomi.
Tetapi penjarahan dengan jalan perdagangan ini juga mahal bagi para pemenangnya. Setelah dua perang dunia besar-besaran di abad dua-puluhan, kekaisaran Inggris yang lama, Perancis, dan seterusnya telah terlalu bangkrut untuk tetap dapat mempertahankan kontrol atas dunia––mereka tidak lagi punya kekayaan atau kekuasaan untuk terus menundukkan dunia di bawah kontrolnya––sehingga mereka hanya sedikit memegang tongkat kekuasaan atau panglima di bawah Amerika Serikat. Dan kita semua menjaga kondisi dunia dari berseminya kebebasan. Itulah masa yang kita sebut sebagai Cold War (Perang Dingin). Kebanyakan dari kita sama sekali tidak menyadari bahwa demi mempertahankan kontrol atas dunia tersebut, Amerika Serikat telah membantai paling tidak dua belas hingga lima belas juta orang. Keseluruhan rakyat menyadari tentang peperangan yang terang-terangan dan telanjang tetapi pihak pemerintah mengatakan kepada rakyat bahwa perang tersebut adalah untuk tetap menjaga dunia “bebas dari komunisme.” Alasan sebenar- benarnya adalah sama serupa sebagaimana yang terjadi atas perkotaan delapan ratus tahun yang lampau: bahwa kita tidak berani membiarkan daerah pinggiran atau pedesaan berkembang dan bersemi secara bebas. Jika mereka ini dibiarkan bebas, mereka akan menggunakan segala sumber daya mereka untuk kepentingan masyarakat mereka sendiri.
DJ: Saya dapat memahami bagaimana hal ini menjadi mahal dan sangat boros bagi mereka yang berada di pihak jajahan, tetapi saya tidak mengerti bagaimana penjarahan lewat jalan perdagangan ini menjadi mahal dan butuh banyak biaya juga bagi pihak A.S.
JWS: Anda benar, bahwa tidaklah semahal itu bagi pihak A.S.; mereka memperoleh keuntungan serta kekayaan. Tapi lihatlah pemborosan yang terjadi. Dan pihak A.S. harus mengeluarkan biaya besar-besaran untuk memelihara dan membiayai penyebaran kekuatan militernya. Bayangkan apa yang bisa dikerjakan bahkan jika hanya separo dari uang tersebut, yang digunakan oleh pihak Amerika Serikat untuk membiayai angkatan bersenjata, dapat digunakan demi kepentingan kehidupan yang berkelanjutan hingga akhir hayat.
Tetapi berapapun biayanya, kita harus tetap meneruskannya. Perhitungan matematis di balik ini sebenarnya sangat sederhana sekali. Hanya terdapat cukup sumber makanan atau sumber daya di dunia ini untuk sekitar 20 persen penduduk dunia dengan standar kehidupan di Amerika Serikat. Itu adalah fakta fisikal sederhana. Ini berarti bahwa jika Amerika Serikat ingin mempertahankan posisi tersebut, berarti tidak akan pernah diijinkan bagi bagian belahan dunia yang lain untuk dapat mengembangkan industri dengan cara yang sama. Itulah kenapa kita harus menenggelamkan Uni Soviet. Sekarang ini kita menghadapi negeri yang luas yang lain di luar sana, Cina. Dua puluh persen penduduk dunia, semuanya berada pada satu titik. Cina haruslah ditahan. Mereka-mereka yang berada dalam kekuasaan tidaklah bodoh.
Mereka paham bahwa mereka tidak bisa membiarkan Cina untuk memiliki industri atau satu standar hidup yang cocok atau harmonis dengan standar orang-orang di
A.S. Tidak akan ada cukup sumber daya bagi hal tersebut. Pada beberapa poin dalam pembangunannya, Cina tidak akan mampu untuk meningkatkan tingkat konsumsi kecuali kita menurunkan tingkat konsumsi kita. DJ: Beritahu saya seandainya saya terlalu berterus-terang menanggapi hal ini. Hal pokok terpenting untuk memahami sistem perekonomian ini adalah bahwa negara-negara yang ada tidak memiliki sumber daya yang memadai atau mencukupi, sehingga untuk dapat mempertahankan standar kehidupan mereka maka mereka harus mengeksploitasi daerah-daerah pinggiran atau pedesaan di lingkungan sekitarnya. JWS: Ada di manakah sumber daya yang dimiliki oleh Jepang? Yang ada di sana adalah gundukan karang. Di manakah sumber daya milik Taiwan? Gundukan batu-batu karang yang lain juga. Di manakah sumber daya Korea Selatan? Di manakah sumber daya Eropa? Mereka telah mengkonsumsinya atau tidaklah pernah memilikinya dari semenjak semula. Kawasan Eropa secara kasar mengkonsumsi empat belas kali lebih banyak sumber daya yang terbentang di dalam batas wilayahnya. Di sana ada terdapat kisah di balik sejarah kekerasan di Eropa, bisa dikatakan. Amerika kebetulan saja telah memiliki sumber daya yang memadai, tapi bukan untuk tingkat konsumsi yang sekarang ini: dengan hanya 5 persen jumlah penduduk dunia Amerika menghabiskan 28 persen keseluruhan sumber daya yang ada di dunia. Kita mengkonsumsi sumber daya yang ada lebih jauh daripada yang kita miliki di dalam wilayah kita. Tak ada bedanya kita dengan kota-kota tersebut delapan ratus tahun yang lalu. DJ: Dan akibat atas hal tersebut pada daerah-daerah jajahan adalah tak salah lagi berupa kemiskinan... JWS: Bukan hanya dengan pengambilalihan secara langsung atas sumber daya yang ada, tapi juga dengan perdagangan yang tidak adil dan tidak setara berdasarkan pada tingkat kemakmuran yang tidak setara. Ini sangatlah menarik. Begini perhitungan matematisnya: jika seorang pekerja di negara yang memiliki ketergantungan mendapat satu dolar selama satu jam untuk pembayaran tenaga kerja hal tersebut sama produktifnya dengan pekerja di negara imperium yang mendapatkan sepuluh dolar untuk satu jam, normalnya kita pikir hal tersebut disebabkan adanya sepuluh kali perbedaan dalam tingkat daya beli. Akan tetapi ini lebih jauh dari sekedar seperti itu. Katakanlah anda adalah pekerja tersebut di Third World (Negara Dunia ke-Tiga) yang dibayar satu dolar satu jam untuk membuat mobil-mobil mainan, dan mampu membuat satu buah mobil per jam. Kemudian, di Amerika Serikat, saya membuat mobil mainan dengan model yang sedikit berbeda, juga dengan kemampuan produksi satu buah mobil tiap jamnya. Saya dibayar sepuluh dolar satu jam. Anda di Negara Dunia ke-Tiga harus bekerja selama sepuluh jam dan memproduksi sepuluh mobil untuk dapat membeli satu dari mobil produksi saya. Dalam sepuluh jam yang sama tersebut saya memproduksi sepuluh mobil yang sama tetapi saya dapat membeli sebanyak seratus mobil-mobil produksi anda. Perbedaan tingkat upah, dan dengan demikian potensi akumulasi kekayaan, adalah bertingkat, berlipatganda atau berpangkat-pangkat, tidaklah konstan.
Itulah mengapa dunia perindustrian memperjuangkan sedemikian keras untuk menjaga upah pada tingkat yang rendah. Itulah mengapa mereka semua menginginkan NAFTA, GATT, WTO, IMF, dan World Bank untuk memaksa pengesahan penyesuaian-penyesuaian struktural tersebut di Negara Dunia ke-Tiga. Hal tersebut mampu menurunkan tingkat harga untuk tenaga kerja serta meningkatkan akumulasi kekayaan berpuluh kali lipat di negara dengan tingkat penghasilan yang baik. DJ: Dapatkah anda menggambarkan beberapa mekanisme yang terjadi dalam perdagangan yang tidak adil atau tidak setara? Kita mendengar sepanjang waktu tentang protes-protes yang dilakukan di Seattle, Quebec, dan yang lainnya, tapi tidaklah selalu jelas apakah yang sebenarnya diprotes oleh orang-orang. Maksud saya, apa yang mungkin salah dengan adanya perdagangan bebas? JWS: Perdagangan bebas akan baik-baik saja jika memang benar-benar bebas. Tetapi ternyata tidak. Disebut perdagangan bebas sepanjang semua ini sejalan dengan kehendak para penguasa negara. Jika ada negeri-negeri di sekitar mengatur keputusan perundang-undangan mereka bersama-sama dan memulai untuk meraih kontrol atas nasib mereka sendiri, sanksi-sanksi atas perjanjian-perjanjian tersebut akan mampu mempertahankan keadaan ketergantungan negeri tersebut. Jikalau anda menginginkan untuk dapat membangun perekonomian negara anda, anda berinvestasi pada pendidikan anda, sarana jalan raya, serta perindustrian. Anda akan mendukung perindustrian anda. Kita telah mendapatkan dukungan-dukungan yang sangat masif atas pertanian serta perindustrian saat ini, meskipun kita menyatakan dan menegaskan bahwa kita tidak mendapatkannya. Dukungan-dukungan tersebut sangatlah masif, begitulah bagaimana Amerika serta setiap negara yang sukses yang lain telah dibangun dan dikembangkan, dan sekalipun begitu bagian dunia yang berkembang memaksakan filosofi atau pemikiran yang berlawanan atau bertentangan dengan negeri-negeri yang lemah perkembangan ekonominya. Jika sanksi-sanksi yang dijatuhkan di bawah kesepakatan-kesepakatan perdagangan tersebut tidak bekerja dengan baik, maka pihak A.S., dengan dukungan dari negara-negara berkembang dan kaya yang lainnya, secara diam-diam akan mengganggu kestabilan atau keseimbangan negeri-negeri tersebut. Jika hal tersebut tidak berhasil, maka A.S. akan benar-benar melakukan invasi atau penyerbuan. DJ: Bagaimana A.S. mempertahankan citra dirinya sebagai berkah pemberian tuhan bagi planet ini? JWS: Letakkan diri serta sudut pandang anda pada posisi kacamata resmi pemerintah. Bagaimana mungkin anda akan menepi atau melepaskan diri kemudian mengatakan, “Baiklah, kita tidak akan melakukan hal tersebut”? Bisakah para penguasa kota-kota tersebut pada delapan ratus tahun lampau menyingkir dan mengatakan, “Biarkanlah daerah pinggiran itu untuk memiliki modal mereka sendiri”? Jika anda melakukan seperti itu, rakyat di dalam perkotaan akan merasa dilukai, bahkan mereka akan kelaparan. Perdagangan yang adil hanya memiliki arti seperti itu, perdagangan yang adil. Perdagangan-perdagangan ini secara mengerikan tidaklah adil atau setara dan tak seorangpun dari pemimpin di Amerika dapat menekankan sebuah kebijakan perdagangan yang benar-benar jujur. Karena jika hal ini dikerjakan berarti akan ada lebih banyak kekayaan atau kemakmuran bagi daerah pinggiran kota yang selama ini telah termiskinkan, tetapi pencapaian penghasilan yang mereka dapatkan akan berarti hilangnya kekayaan atau kemakmuran yang serta merta bagi para warga Amerika.
Selamanya semenjak penjarahan lewat perdagangan telah dimapankan berabad- abad yang lampau, negara-negara yang kuat di penjuru dunia ini telah terkunci dan terikat di dalamnya, dan mereka tidak bisa melepaskan diri darinya. Jika ada siapapun pemimpin yang mencobanya, keseluruhan populasi akan berpaling kepada mereka ini. Tidak ada jalan lain. Keseluruhan populasi akan menyadari bahwa mereka bisa hidup berkecukupan atas pencurian kekayaan dari orang-orang yang lain––lagipula telah dikatakan kepada mereka semua bahwa dunia ini bergantung kepada mereka lebih daripada ketergantungan mereka akan kemakmuran belahan dunia yang lain––dan pemerintahan akan segera dirobohkan.
Secara keseluruhan sistem perdagangan yang berbeda-beda dapat disusun atau dikembangkan jika satu masyarakat telah mempunyai sebuah filosofi atau pemikiran tentang kesetaraan akan hak-hak asasi ketimbang sebuah bentuk masyarakat yang dibangun berdasarkan ketidaksetaraan akan hak-hak asasi. Telah ada pertarungan demi kesetaraan hak-hak ini di sepanjang perjalanan sejarah, tetapi kesetaraan hak tersebut tidak pernah benar-benar tercapai.
Melalui pengambilalihan kontrol atas sumber daya mereka, dunia yang sedang berkembang dapat memperbaiki kualitas kehidupan mereka. Dan semenjak hal tersebut berarti hanya ada lebih sedikit sumber daya dan kekayaan bagi para elit di negara berkembang, negara-negara yang lemah haruslah meniadakan setiap kontrol bagi nasib mereka sendiri. Kuba adalah contoh terbaik akan hal tersebut. Kuba memiliki pelayanan kesehatan serta sistem pendidikan sejajar dengan Amerika Serikat. Dan hingga embargo Amerika benar-benar mulai menyengat, tak seorangpun akan kelaparan di Kuba. Berdasarkan embargo ini, setiap kapal yang berhubungan dengan pelabuhan di Kuba tidak akan bisa berlabuh atau mendarat di Amerika Serikat, dan setiap perusahaan di dunia yang berani melakukan hubungan bisnis dengan Kuba akan menghadapi sanksi-sanksi dari A.S. Hal tersebut telah benar-benar membuat Kuba harus berhenti beroperasi. Sampai hari ini negeri tersebut masih melakukannya dengan jauh lebih baik dibandingkan semua negeri-negeri di Amerika Latin lainnya dan nampaknya secara perlahan mendapatkan hasilnya. Tentu saja kita tidak akan pernah mengakui segala hasil yang sudah dicapai tersebut, dan sikap atau tindakan untuk membuat Kuba tidak stabil terus berlanjut. Karena jika Kuba dapat dibiarkan bebas, mendapatkan kontrol atas nasibnya sendiri serta atas sumber dayanya sendiri, standar penghidupan mereka akan berubah meningkat secara dramatis. Keseluruhan dunia akan menyaksikannya, lalu, boom, kita akan kehilangan kontrol atas dunia secepat itu. Itulah mengapa Patrice Lumumba harus mati di Kongo, terbunuh oleh agen-agen CIA yang berputar-putar dengan tubuhnya di dalam bagasi mobil mereka sepanjang siang. Itulah kenapa Amerika Serikat harus menggulingkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis di Guatemala, Iran, Chili, dan di seluruh penjuru bumi ini. Itulah kenapa Amerika Serikat harus menggulingkan pemerintahan yang terpilih secara demokratis di Indonesia dan membujuk sang diktator yang baru untuk membantai delapan ratus ribu warga negaranya sendiri.
DJ: Bagaimana kita di Amerika Serikat bisa terus terlupa dengan hal ini?
JWS: Propaganda yang diluncurkan tidak pernah dihentikan. Pikirkan tentang Perang Dingin. Kita diberitahukan bahwa di sana ada celah untuk peluru kendali. Celah untuk pesawat pembom. Sebuah jendela yang dapat dengan mudah diserang.
Semua itu berakhir dengan hanya berupa laporan-laporan palsu yang dibuat-buat. Semua kebohongan tersebut disiarkan untuk memelihara, membiayai, menegakkan serta mendukung sebuah kekuatan militer dari negara. Sekarang ini kita diberitahu bahwa kita harus khawatir terhadap sesuatu yang biasa disebut sebagai negara-negara bajingan, atau bahkan dengan banyak individu-individu. Irak. Osama bin Laden. Korea Utara. Ini semacam James Madison yang pernah menulis kepada Thomas Jefferson, “Mungkin ini adalah satu kebenaran universal bahwa hilangnya kebebasan atau kemerdekaan di rumah, di dalam negeri sendiri, haruslah dapat dibebankan pada ketentuan (hukum) dalam menghadapi bahaya baik itu memang asli, benar-benar ada ataukah dengan kebohongan tertutup atau penipuan yang sengaja dianggap ada dan disiarkan atau disebarkan dengan luas di luar negeri.” Pikirkan tentang hal itu ketika dalam periode-periode berikutnya beberapa politikus mencipta atau tiba-tiba memunculkan suatu image, imaji, ataukah pencitraan tentang teroris-teroris asing.
Propaganda ini sangatlah penting dalam hal pememeliharaan serta penegakan sistem mereka. Kita harus mempercayai diri kita sendiri sebagai pihak yang telah banyak menyediakan segala kebutuhan bagi dunia. Jika ada cukup banyak orang yang dapat benar-benar meyakini secara mendalam suatu pemahaman bahwa Negara-negara Dunia ke-Tiga tidaklah bergantung kepada Amerika Serikat, dan lebih jauh lagi bahwa kita tidaklah bergantung kepada monopoli-monopoli tersebut, tetapi justru bahwa United State-lah yang bergantung pada Negara-negara Dunia ke-Tiga, dan monopoli-monopoli tersebut sangatlah bergantung kepada kita, untuk segala sumber daya untuk membiayai dan memelihara perekonomian, seluruh rakyat akan segera bangkit serentak dalam sekejap.
DJ: Bagaimanakah propaganda ini dapat tetap dipelihara dan ditegakkan? Anda tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa Amerika Serikat telah menyerang atau menginvasi negeri-negeri di Amerika Latin...
JWS: Kita selalu mempunyai sebuah alasan pembenaran yang baik untuk menyerang. Kita justru melindungi rakyat mereka sendiri, kita bisa katakan, dari teroris dan para diktator. Kita umumkan, Lumumba adalah seorang diktator. Ya ampun, padahal dia adalah seorang George Washington bagi rakyat Kongo. Kita tidak bisa mengijinkan George Washington untuk dapat dipilih di negeri Kongo, bukan? CIA beserta badan atau biro-biro intelijen lainnya memiliki juru bicara yang akan mengurus segala apapun yang terjadi di dunia dan menempatkannya secara menyeluruh bersama-sama sehingga massa akan mengerti dan memahaminya sebagaimana yang mereka inginkan. Saya pernah sekali waktu berbincang dengan Ralph McGehee, mantan mata-mata CIA yang kemudian merasa sangat bersalah dan lebih mendengarkan hati nuraninya, kemudian dia keluar, dan menulis sebuah buku Deadly Deceits: My 25 Years in the CIA (Penipuan dan Kebohongan-kebohongan yang Mematikan: Pengalaman Saya 25 Tahun di Dalam CIA). Saya bertanya, “Apakah benar bahwa A.S. membentuk atau menyusun regu-regu atau pasukan pembunuh di seluruh penjuru dunia?” Dia bilang, “Tentu saja.” Dia juga mengatakan, “Saya tidak pernah tahu jika CIA pernah mengatakan sesuatu yang benar kepada Congress (Kongres, Perwakilan Rakyat A.S yang terdiri dari Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat).”
CIA dan FBI memiliki segala sarana serta infrastruktur yang sangat besar dan gemuk demi penyebaran informasi yang salah dan juga untuk menghancurkan paling tidak reputasi atau nama baik lembaga atau organisasi-organisasi yang memiliki perbedaan pendapat dan ketidakpersetujuan dengan mereka. Terdapat ratusan tahanan-tahanan politik di dalam penjara-penjara Amerika yang dimasukkan ke sana melalui Operation Cointelpro dari FBI, yang didirikan dan dibentuk dengan tujuan spesifik untuk mengganggu kestabilan atau mencegah kemunculan atau bermekarannya kelompok atau grup-grup politis yang bisa saja mendapatkan akses perhatian media dan maka itu akses kepada rakyat, jika mereka pernah memilih seorang pemimpin untuk berkuasa. Para penguasa kita, menggunakan kata-kata yang dibuat dan disusun oleh juru bicara dari CIA, mengatakan kepada kita bahwa orang-orang yang mereka bunuh di El Savador, Guatemala, dan dimanapun di tempat yang lain adalah para komunis dan para teroris, dan pihak korporasi media terus mengulang-ulang cerita-cerita ini kata demi kata. Akan tetapi seseorang yang mereka bunuh, disamping banyak para petani miskin dan kaum Indian (ini bukan berarti akan boleh-boleh saja untuk membunuh seorang komunis), adalah guru- guru, para profesor, para pemimpin buruh, para pemimpin yang kooperatif, dan para pemuka gereja––kesemuanya adalah rakyat atau orang-orang yang jauh dari aksi atau tindakan kekerasan (non-violent).
Hal terbesar yang ditakuti di negeri kita adalah demokrasi. Itulah sebabnya kenapa ketika kapanpun kita melihat adanya satu kemunculan atau kebangkitan rakyat kita harus segera memadamkannya dan kemudian menempatkan seorang diktator di sana. Pada tahun 1970-an Trilateral Commission (Komisi Tiga Negara) menyampaikan hal ini bersamaan dengan laporan mereka yang berjudul, The Crisis of Democracy (Krisis Demokrasi). Mereka takut serta cemas bahwa rakyat akan memperoleh “terlalu banyak” demokrasi.
Ada sesuatu hal tentang ini, meskipun begitu, yang memberikan harapan besar pada saya, yang mana adalah keberanian serta ketetapan hati banyak orang yang mengetahui bahwa jika mereka bangkit berdiri nama-nama mereka akan diletakkan dalam daftar orang-orang yang harus diburu dan dibunuh, oleh regu-regu atau pasukan pembunuh, tetapi mereka tetap berdiri tegak dan melawan. Rakyat dan setiap orang secara mendasar adalah sangat baik; mereka haruslah terlebih dahulu dibentuk serta terus dikondisikan lewat propaganda untuk melakukan kekerasan-kekerasan, membuat segalanya atau berbagai hal menjadi tidak adil dan tidak setara.
DJ: Anda telah berkali-kali membicarakan tentang segala sampah dan pemborosan, dan juga tentang betapa busuknya keseluruhan sistem ini.
JWS: Dalam beberapa cara dan bentuk semua ini terhubungkan kembali dengan perang. Karena perang adalah destruktif atau sangatlah bersifat merusak dan sia-sia, kita harus membangun suatu kapasitas perindustrian yang sangat besar selama, contohnya, Perang Dunia II, meskipun kita bisa saja dengan mudah merujuk pada berbagai peperangan yang lain sebagai sebuah contoh. Tetapi apa yang anda lakukan dengan semua kapasitas perindustrian tersebut ketika perang telah usai? Setelah tahun 1950, kita harus mengganti semua kehilangan serta kerugian selama perang, dan kita masih harus melipat-gandakan industri yang telah diakibatkan untuk dapat menjalankan negeri ini. Setiap ahli ekonomi dapat mengatakakan pada anda apa artinya itu: depresi––dengan seketika.
DJ: Saya yakin hal tersebut disebut sebagai crisis of overcapacity, bukan?
JWS: Dalam rangka menekan angka depresi, kita menjaga kapasitas tersebut agar tetap berjalan menggunakan perlombaan persenjataan. Kita membangun banyak barang yang secara langsung atau sengaja sama sekali tidak memiliki fungsi atau kegunaan bagi masyarakat. Kita memproduksi segala macam barang hanya untuk menjaga agar mesin-mesin tetap berputar. Disebabkan oleh efek pelipatgandaan, jika anda menyetop atau menutup barak-barak militer, dengan segera tiba-tiba 30 persen dari masyarakat di negeri ini akan menjadi pengangguran. Jadi anda harus tetap menjaga agar orang-orang tersebut tetap diperkerjakan, padahal mereka ini sebenarnya sama sekali tidak mengerjakan sesuatu yang konstruktif. Hal utama apakah yang diproduksi oleh bala tentara tersebut? Sama sekali bukanlah berupa makanan. Bukan pula pakaian. Bukan tempat tinggal. Dan kita telah mendemonstrasikan atau menunjukkan bahwa peperangan ini adalah benar-benar muncul dari pusat imperium, pusat-pusat kekuasaan. Dengan perkecualian pada usaha-usaha untuk meraih kemerdekaan, perang-perang tersebut tidaklah datang dan dimulai dari sekeliling daerah pusat kekuasaan tersebut.
Untuk masalah tersebut, berapa banyak orang yang sebenarnya telah benar-benar memproduksi sesuatu? Seymour Melman menuliskan sebuah buku penuh tentang tema tersebut berjudul Profits Without Production (Laba/Keuntungan Tanpa Produksi). Dia menghitung atau mengkalkulasikan bahwa lebih dari 50 persen penyelenggara atau pengelola perusahaan Amerika sebenarnya tidak perlu dan sama sekali tidaklah dibutuhkan. Mereka ini berada di tempat-tempat tersebut bukanlah untuk tujuan produksi, tetapi untuk menjegal proses produksi.
Atau pikirkan tentang keusangan yang memang telah direncanakan. Ini berada di tengah-tengah ekonomi konsumen kita. Satu dari favorit saya adalah bohlam lampu pijar. Para insinyur telah mengembangkan produksi bohlam lampu pijar dengan rentang waktu pijar selama seribu jam. Alasannya adalah jelas: untuk membuat para konsumen membeli lebih banyak lagi bohlam lampu pijar. Tetapi para buruh yang bekerja di dalamnya, di samping para pekerja yang terlibat dalam proses pengubahannya, kesemuanya adalah pemborosan.
Contoh dari pemborosan ini ada di mana-mana. Junk mail (surat sampah). Kita mendapatkan lebih banyak kiriman surat-surat berisi sampah dibandingkan surat-surat yang sebenarnya. Iklan-iklan yang tidak diinginkan serta tak dibutuhkan ini menghabiskan 90 juta pepohonan setiap tahunnya serta jutaan jam kerja dari para buruh, dan yang dihasilkan adalah sampah, dan sampah ini mencoba untuk dapat memasarkan produk-produk dimana di sebagian terbesar orang-orang tidak akan pernah merasa rugi atau kehilangan bahkan meski mereka tidak pernah mendengar suatu hal tentang produk tersebut.
Industri per-asuransian secara buruk terkenal sangat boros. Setiap tahunnya perusahaan industri asuransi mengumpulkan dan mengelola dengan penuh kepercayaan sejumlah angka mendekati $400 milyar untuk premi-premi asuransi, mempekerjakan lebih dari 2.2 juta orang. Kesemua ini adalah gundukan besar sampah...
DJ:... tolong hentikan tekanan-tekanannya...
JWS:... karena perusahaan-perusahaan asuransi mengembalikan kepada publik melalui klaim-klaim tagihan asuransi hanya sekitar setengah dari apa yang sudah diambil. Bandingkan hal itu dengan Social Security (Jaminan Sosial), dana simpanan asuransi milik publik, yang mempekerjakan hanya 63,500 orang, dan mengembalikan lebih dari 99 persen dari apa yang sudah dikumpulkan kepada klien-klien atau nasabahnya.
Beberapa bentuk asuransi melakukan lebih sedikit pemborosan dibandingkan yang lainnya. Asuransi kesehatan bagi tenaga kerja atau buruh yang terorganisasi di Amerika Serikat, sebagai contoh, mengembalikan sekitar 87 persen dari apa yang sudah mereka ambil. Semenjak adanya interview, angka ini merosot secara tajam. Individu atau perorangan, bagaimanapun, dapat mengharapkan untuk mendapatkan tingkat pengembalian kurang dari 50 persen. Asuransi perumahan secara umum mengembalikan sekitar 58 persen dari apa yang sudah anda bayarkan. Asuransi kejiwaan secara luar biasa adalah sangat tidak efisien.
Pada intinya adalah bahwa semua ini hanyalah bohong-bohongan, kerja yang sia-sia dan boros. Jika benar-benar tertarik dalam berbagi macam bentuk efisiensi, dalam hal kebutuhan yang benar-benar bagi warga negara kita untuk bertemu dengan pihak asuransi, sebagai ganti usaha menciptakan sejumlah kekayaan bagi para hartawan dan mempekerjakan secara sia-sia bagi sedemikian banyak orang, semua ini dapat saja dilangsingkan, maka bermilyar-milyar dolar serta berjam-jam kerja akan dapat dibebaskan.
Kita bisa memakai alasan yang sama untuk sistem legal atau hukum kita. Bukan hanya kebanyakan para pengacara yang ada tidaklah berguna, mereka ini seringkali merugikan dan membahayakan: Supreme Court (Mahkamah Agung) terdahulu Chief Justice (Jaksa Agung) Warren Burger memberikan klaim pernyataan bahwa 50 persen dari para pengacara yang membuka layanan praktek adalah tidak memiliki kompetensi serta sunguh-sunguh merugikan atau membahayakan hak-hak klien mereka yang seharusnya mereka bela. Kita mungkin bisa mengeliminasi sekitar 80 persen para pengacara, benar-benar memangkasnya sampai ke atas, tanpa kehilangan produktivitas apapun.
DJ: Bagaimana bisa?
JWS: K asus perceraian, kecelakaan-kecelakaan, serta gugatan pertanggungjawaban merupakan paling sedikit 80 persen dari keseluruhan gugatan atas perkara-perkara perdata. Banyak dari kasus-kasus ini dapat diselesaikan atau diputuskan dengan jaminan tanpa kesalahan dan dengan bentuk format yang mudah.
Berdasarkan pada Jeffrey O'Connel dan Andrew Tobias, para pemegang otoritas dalam hal pemborosan dalam bagian atau segmen–segmen perekonomian ini, jika publik atau khalayak umum diberikan akses kepada bentuk atau format formulir isian yang sudah distandarisasi, sekitar 70 persen dari pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan hukum bisa dieliminasi atau dikurangi. Di New Zealand, Accident Compensation Corporation (Perusahaan Kompensasi Kecelakaan) mengawasi proses-proses pengajuan klaim atau tuntutan untuk pertanggungjawaban. Orang-orang yang terluka mengajukan serta mencatatkan klaim-klaim tuntutan atau tagihan, apakah kecelakaan yang mereka alami terjadi di tempat kerja, di rumah, atau di lokasi manapun, dan kompensasi atau ganti-rugi telah diberikan secara penuh, baik, dan wajar.
Perusahaan pertanian yang memproduksi makanan yang hanya menghancurkan ekonomi pertanian di negara-negara lain, sesungguhnya pernah mengembangkan sistem-sistem pemeliharaan kesehatan yang mengurusi hal-hal yang berkenaan dengan kimiawi serta perawatan mata pisau lebih sering dibandingkan peringatan-peringatan, hak-hak paten yang sudah dimonopoli, dan keuangan yang dimonopilisasi: kita bisa membahas semua ini satu per satu dan menunjukkan bahwa masing-masing tersebut adalah tidak efisien. Semua hal tersebut adalah pemborosan tenaga kerja. Dan kesemuanya ini adalah pokok, berkaitan dengan pusat sistem kita.
DJ: Bagaimana bisa begitu?
JWS: Ini berkaitan dengan monopoli-monopoli tersebut.
Sekali ketika anda memahami tentang pendistibusian ekonomi dengan jalan penempatan tenaga-tenaga kerja yang tidak perlu dan sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan sebagaimana yang telah dijabarkan di dalam The World's Wasted Wealth 2 (Pemborosan Kekayaan di Dunia, ed.2), anda bisa berjalan memasuki sebuah bangunan kantor di kota-kota manapun, lihatlah tanda-tanda peringatan atau pemberitahuan yang terpasang di pintu-pintu, dan berkata, “Nah, astaga, yang itu sebenarnya tidak dibutuhkan, yang itu tidak penting, yang itu juga.” Ketika orang-orang menyadari tentang hal seputar ini, mereka akan melihat bahwa ternyata ada bagian yang sangat besar atas bangunan infrastruktur ekonomi kita yang telah dibangun padahal tidak diperlukan, sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan, atau merupakan suatu pemborosan.
DJ: Tetapi bagaimana kita dapat mempengaruhi infrastruktur yang sebenarnya tidak diperlukan ini? Pihak pemerintah secara rutin memberikan subsidi atau tunjangan dana untuk aksi-aksi destruktif, merusak, dan tak bermoral yang dikerjakan secara telanjang dan besar-besaran, sesuatu yang justru tidak akan menghasilkan manfaat-manfaat ekonomis apapun. Pemerintahan pusat memberikan subsidi pada perusahaan-perusahaan penebangan kayu besar untuk menebang habis hutan-hutan, ketika sebenarnya bisa semudah itu untuk memberikan subsidi bagi mereka untuk menanami kembali hutan tersebut. Tapi hal tersebut tidak dikerjakan.
JWS: Saya akan menambahkan kata “tidak efisien” pada destruktif dan tak bermoral itu tadi. Ketika orang-orang Eropa memasuki negeri ini, daerah Midwest penuh ditumbuhi oleh pohon-pohon dari jenis kayu-keras dan kita malah membakarnya hingga ludes. Kita sudah membakar habis pohon-pohon kayu-keras dengan jumlah yang kemungkinan cukup untuk membuat furnitur atau perabotan permebelan untuk setiap keluarga yang ada di dunia. Dan hal yang sama terjadi saat ini, baik di sini maupun di seluruh penjuru dunia. Australia memiliki hutan yang penuh dengan pepohonan yang telah mati dengan lingkaran-lingkaran yang digali di sekitarnya untuk mempersiapkan hutan tersebut untuk dibakar, tetapi pekerjaan tersebut tidak pernah terselesaikan. Kapitalisme, sebagaimana telah disusun, sudah menjadi sifatnya untuk boros dan menghasilkan banyak sampah: justru memberikan penghargaan untuk pengkonsumsian secara tak terbatas atas segala sumber daya yang ada, baik di situ ada ataukah tidak suatu bagian akhir yang produktif. Itulah mengapa perusahaan-perusahaan penebangan kayu menebang habis pepohonan. Dengan tanpa pemikiran atau gagasan tentang masa depan, mereka menghabiskan juga pohon-pohon berusia tiga puluh tahun hanya karena dengan begitu maka mereka dapat melakukan panen penebangan dengan lebih mudah. Ini adalah pola pemikiran yang sama yang pernah mendasari kita untuk membakar habis hutan-hutan berisi pepohonan kayu keras terdahulu. Suatu hari nanti, tentu saja, mereka-mereka yang berada pada kursi kekuasaan akan mengatakan, “Ups, waduh, saya kira kita tidak seharusnya menebang atau membakar habis semua hutan-hutan tersebut.”
Banyak hal tidak akan, atau mudahnya tidak dapat, berubah selama kita masih memiliki hak-hak yang berkelebihan ini atas property. Dan jika kita tidak melakukan perubahan, kita benar-benar sedang menuju pada sebuah kehancuran besar. Dunia ini benar-benar tidak dapat menahan atau menopang tingkat konsumsi saat ini.
Berita baiknya adalah bahwa hal-hal tersebut dapat diatur dan disusun ulang. Satu- satunya jalan supaya kita dapat melakukan hal itu adalah dengan sharing (berbagi), dengan penyusunan ulang akan hak-hak ekonomi berdasarkan kesetaraan tepat sebagaimana kita mengharapkan untuk dapat memiliki hak-hak politik yang setara hari ini.
DJ: Akan seperti apakah visi atau pandangan anda tentang masa depan terlihat?
JWS: Orang-orang memperbincangkan tentang bagaimana perang menimbulkan banyak sekali inovasi teknologi. Baiklah, itu semua adalah omong kosong: apa yang memunculkan inovasi adalah uang dan banyak waktu telah dihabiskan untuk memecahkan masalah tersebut. Coba pikir atau bayangkan jika saja kita menyalurkan sejumlah uang yang sama dengan sebuah kewarasan, tepat dan adil, untuk aktivitas ekonomi yang berkelanjutan? Akan ada sangat banyak perubahan-perubahan yang muncul dalam semalam. Pikirkan betapa menyenangkan serta menggairahkan jadinya bisa hidup di dalam bentuk masyarakat tersebut.
Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa kita ingin berada di sini sepuluh ribu tahun dari sekarang. Bagaimana kita akan menginginkan untuk menyusun bentuk masyarakat kita untuk mewujudkan hal tersebut? Bagaimana kita akan menginginkan untuk menggunakan sumber-sumber daya yang ada?
Dan jujur saja, saya tidak yakin bahwa konsumsi atas sumber daya adalah masalah terbesar kita. Saya pikir kita akan segera meracuni diri kita sendiri dengan polusi jauh sebelum kita mengkonsumsi habis planet ini. Sehingga, seandainya kita menginginkan untuk berada di sini untuk sepuluh ribu tahun dari saat ini, kita haruslah mengurangi atau meredakan polusi.
DJ: Semua yang anda sarankan sangatlah masuk akal. Sebuah pertanyaan penting yang saya punya, berdasarkan atas apa yang telah terjadi dan segala yang akan terus berlanjut atas setiap orang yang menentang proses pemonopolian atas tanah, memperbincangkan dan menyebarkan wacana, kesemuanya, adalah, bagaimana kita dapat sampai ke tujuan tersebut mengingat kondisi serta situasi hari ini?
JWS: Rakyat atau kebanyakan orang-orang tidak biasanya berubah atau bergerak sampai bencana menyerang serta membuktikan kepada mereka bahwa segala apa yang sedang mereka kerjakan adalah salah. Seperti itulah apa yang seringkali harus terjadi di sini. Kita mengalami keseluruhan sistem kepercayaan yang telah dipaksakan kepada kita dengan maksud untuk melindungi tegaknya struktur kekuasaan beserta keseluruhan kekayaan yang tercuri olehnya. Selama tidak ada bencana-bencana yang benar-benar besar––bencana-bencana yang menyerang kemapanan ekonomi kelas menengah dan kelas atas––kebanyakan orang akan terus-menerus tidak mau tahu, dan dengan begitu menjadi tidak peduli, tentang siapa-siapa yang sebenarnya telah mereka sakiti di luaran sana di daerah pinggiran sekitarnya. Sepanjang masih ada cukup makanan di meja makan, dan permainan- permainan untuk menghibur diri, kebanyakan rakyat Amerika tidak akan memikirkan tentang segala permasalahan orang lain, dan tidak akan mendengarkan segala macam diskusi atau perbincangan berkenaan dengan hal tersebut. Lebih buruknya lagi, cara-cara mereka mengumpulkan penghasilan untuk penghidupan sangatlah terkait dengan sistem yang ada, sehingga sampai tiba saatnya bagi sistem untuk ambruk kemungkinan kita dapat berhitung bahwa kebanyakan orang-orang akan terus mengabaikan adanya ketidakefisienan serta ketidakadilan yang terjadi.
Itu berarti, kita harus berusaha untuk terus menekan sehingga ketika bencana benar-benar datang menyerang dan merubah segalanya haruslah disiapkan suatu pemahaman atau pengetahuan di sana untuk dapat merestruktur atau menyusun ulang sistem yang baru untuk memastikan akan adanya hak-hak ekonomi yang adil untuk semua orang.
DJ: Dengan cara seperti apa anda melihat proses transisi ini akan menempatkan diri ketika datang bencana besar tersebut?
JWS: Ini akan selalu keras dan sulit: mereka yang ada di kursi kekuasaan akan terus melawan untuk bisa tetap menguasai serta mempertahankan adanya ketidakadilan yang telah terstruktur tersebut secara hukum. Dan bahkan seandainya segala sesuatu secara menyeluruh telah menjadi kolaps dan diruntuhkan, akan selalu ada mereka-mereka yang tetap terikat pada sistem yang lama, yang benar-benar bebal dan tidak mampu untuk memikirkan cara lain, yang akan berusaha untuk dapat membangun serta memaksakan kembali bentuk-bentuk sistem yang serupa seperti sebelumnya. Karena hanya seperti itulah yang mereka tahu dan mampu mereka pahami.
Proses perubahan ini akan penuh dengan kekerasan, bagaimanapun. Tetapi jika kita tidak melakukan upaya-upaya restrukturisasi untuk menciptakan terwujudnya hak-hak ekonomi yang adil dan setara, kita akan terus melihat makin tumbuh dan berkembangnya suatu kontrol atas keseluruhan penjuru dunia ini dari sejumlah kecil dan lebih kecil lagi suatu kelompok orang-orang dan organisasi-organisasi. Dengan kata lain adalah kita bisa terus memperjuangkan satu perubahan, sambil terus menjaga kewaspadaan akan adanya kekerasan-kekerasan semacam itu yang bisa saja akan dikandung serta ditimbulkan atas proses perubahan tersebut (termasuk juga adanya kekerasan yang terutama yang dilakukan oleh mereka yang ada di panggung kekuasaan untuk melawan kita), atau kita bisa saja menerima satu kontrol fasis atas dunia ini, yang secara esensial adalah apa yang sedang kita rasakan dan alami sekarang ini.
DJ: Bisa anda jelaskan tentang fasisme tersebut?
JWS: Fasisme adalah kontrol atas negara––atau dunia––oleh industri dan kekayaan, bekerja secara diam-diam dan secara terbuka dengan tangan-tangan militer untuk dapat tetap memelihara dan mempertahankan kontrol tersebut.
DJ: Apa yang seharusnya kita lakukan dalam pada itu hingga datangnya bencana kehancuran global tersebut? Dengan hanya terus berbicara?
JWS: Kita harus terus mencoba untuk dapat memahaminya. Kita semua harus terus mengusahakan sekeras mungkin semampu kita untuk mendapatkan pemahaman tersebut beserta seluruh artikulasi atau bentuk-bentuk mata rantainya di luaran sana sejauh mungkin yang kita mampu. Karena ketika sistem ini telah benar-benar hancur––hal ini absolut dan pasti akan benar-benar terjadi; sebagaimana yang telah banyak terjadi di masa-masa yang lalu––pemahaman serta pengetahuan tersebut haruslah sudah berada di sana. Orang-orang akan mengetahui serta dapat memahami kesalahan-kesalahan apa yang terjadi di masa lalu, sehingga dapat diharapkan bahwa mereka tidak akan membuat kesalahan-kesalahan yang sama. Kebebasan serta kemerdekaan adalah jauh lebih berharga ketimbang politik. Seseorang bisa saja memiliki suatu kebebasan politik dan tetap menderita kelaparan atau beku dan tak berdaya hingga ajal menjemputnya. Orang-orang harus dapat memahami bagaimana mereka akan menyusun bentuk masyarakat mereka sendiri sehingga semua pihak dapat meraih suatu kebebasan yang sejati, dan kemerdekaan yang sejati adalah berarti juga adanya hak-hak ekonomi yang adil dan setara serta adanya hak-hak yang adil dan setara atas tanah beserta pengelolaannya.