TIdAk SPEsIaL JanGAn TerLALu BanYAk BerharAP
hIduP TIdak beGItu IstImewa APaLAGI IsI ZIne InI
(tidak) disarankan untuk membuka link:
bit.ly/mei8tracks sebelum membaca zine ini.
sebuah media ala kadarnya yang bersedia menampung segala keluh kesah dan menanggung beban isi kepala semua kontributor yang berada di sini.
isi dalam zine ini sepenuhnya adalah opini pribadi para kontributor. simpan saja opinimu sendiri, atau kirimkan pada kami.
kirim karya gambar, tulisan, puisi, ocehan, resensi musik, film, dan lain sebagainya ke email: [email protected], ke twitter: @submisi_zine atau ke instagram: @submisi
Submisi Zine Edisi percobaan: Mei 2020
Penyunting: Kusmartono Aji Kontributor: Terlampir di setiap submisi Penata letak: @joeyaholic Perancang sampul: @joeyaholic
Anda dapat menyalin, menyebarluaskan kembali, menggubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, selama Anda mencantumkan identitas kontributor yang sesuai, dan menyatakan bahwa ada perubahan yang dilakukan (jika ada).
| PANJANG UMUR dI ketInGGIan Lah kok TItIk BaLIk | Prakata - 01 destInAsI PILIhan thInker - 08 ForbIddEn - 08 demam berdarah terbakar - 09 daftar PanJanG ANTIvIRUs - 11 HeLeH - 12 sanGkALa MasehI PoLItIk Lu: TaI KucInG TIdak Ada KoreLasInYA #HIdUPAdaLAHKonsEr Poser EverYwHerE MarIGoLd - 23 CumA bI(a)sa - 25 PoLa, KeYakInAn, dan KetErGAntunGan Part 1: MenGAkuI EksIstensI YanG AcaP KaLI dIabAIkan | DestInAsI PILIhan | - 02 - 04 - 08 - 09 - 09 - 10 - 13 - 15 - 16 - 17 - 21 - 24 - 27 - 29 |
|---|---|---|---|
| 02 |
- seLamAt mEnIkmatI
-
PANJANG UMUR
Tiga orang pria duduk melingkar
mengelilingi api unggun yang
berukuran tidak terlalu besar.
Pria pertama bernama Jono,
seorang buruh bangunan berusia
sekitar 30 tahun. Pria kedua
bernama Husni. Usianya baru
menginjak 25 tahun dua minggu
yang lalu. Husni bekerja
sebagai montir di bengkel motor
yang dimiliki oleh tetangganya,
Pak Sumin. Pria ketiga adalah
pria dengan postur tubuh paling
kecil di antara ketiganya.
Namanya Ansori. Teman-teman dan
orang-orang yang dekat
dengannya biasa memanggilnya
Aan. Aan bekerja sebagai buruh
di satu-satunya pabrik gula di
desa tempat ketiga orang itu
tinggal dan dia berusia 21
tahun, membuatnya menjadi pria
termuda di antara ketiganya.
Tiga orang pria duduk melingkar
mengelilingi api unggun yang
berukuran tidak terlalu besar.
Api unggun itu mereka buat di
atas tanah yang berjarak
sekitar delapan belas kaki dari
bibir sungai. Saat itu waktu
telah menunjukan pukul setengah
sepuluh malam. Tidak jauh dari
mereka, tiga batang gagang
pancing tampak tergeletak diam
di sebelah sebuah tas usang
berukuran sedang dan dua buah
kaleng susu kecil berisi umpan
dan dua keranjang rotan tempat
menaruh ikan dan sebilah parang
berukuran sedang. Tas usang itu
berisi senar pancing, stok mata
kail, cutter, senter, losion
anti nyamuk, dua bungkus roti
berbentuk bulat, dan obat anti
masuk angin berbentuk cair.
Tiga orang pria duduk melingkar
mengelilingi api unggun yang
berukuran tidak terlalu besar.
Rencananya, mereka akan mulai
melemparkan kail ke arah sungai
ketika jam menunjukkan pukul
sebelas malam. Kegiatan
memancing di malam hari seperti
ini sudah menjadi semacam
rutinitas bagi ketiga pria
tersebut. Mereka biasanya
melakukan kegiatan ini seminggu
sekali, tepatnya pada malam
sabtu setiap minggunya.
Biasanya mereka berangkat
berempat. Pria keempat bernama
Supriyadi, biasa dipanggil
Yadi. Yadi berusia 23 tahun dan
bekerja sebagai buruh di
peternakan ayam milik Haji
Soleh.
Tiga orang pria duduk melingkar
mengelilingi api unggun yang
berukuran tidak terlalu besar
dan menunggu kedatangan pria
keempat.
“Kok tadi si Yadi berangkatnya
nggak bareng kamu, An?” tanya
Husni seraya memijat-mijat
batang rokok kretek dengan
kedua jari telunjuk dan
jempolnya lalu menyelipkan
batang rokok kretek itu di celah
bibirnya.
Aan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan
kepadanya. Dia teringat kejadian dua hari yang lalu saat
dia dan Yadi terlibat baku hantam.
Jono menyenggol lengan Husni dengan gerakan yang sungguh
samar lalu saat keduanya bertatap mata, Jono mengirimkan
sinyal melalui gerakan matanya yang seolah-olah berbunyi
‘jangan dibahas’. Menyadari kesalahannya, Husni hanya bisa
terdiam dengan perasaan canggung lalu menghisap rokok
kreteknya dalam-dalam.
Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang
berukuran tidak terlalu besar. Husni menghisap rokok kreteknya dalam diam, Jono menambahkan
potongan kayu berukuran kecil ke atas bara untuk
memperpanjang nyawa api unggun, dan Aan duduk memeluk lutut
sembari mengingat kejadian dua hari yang lalu saat dia secara
tidak sengaja memergoki istrinya sedang bercumbu dengan
Yadi di ruang tamu rumahnya.
Waktu itu Aan pulang lebih cepat dari pabrik tempatnya bekerja.
Betapa terkejutnya ia saat
sampai di rumah dan menemukan istrinya sedang bersama pria
lain. Lebih terkejut lagi saat ia menyadari bahwa pria lain itu
adalah Yadi, teman dekatnya sendiri yang sudah dianggapnya
sebagai saudara. Ratih, istri Aan, langsung berlari keluar rumah, berteriak bagaikan orang
gila. Semua berlangsung begitu cepat. Tiba-tiba saja Aan dan
Yadi sudah bergumul di perkarangan rumah.
Orang-orang mulai berdatangan, termasuk Jono dan Husni. Dengan
sigap keduanya melerai Aan dan Yadi dibantu beberapa orang warga. Bibir Yadi pecah dan
mengeluarkan darah. Tonjolan tulang di bawah mata kiri Aan
terlihat semakin menonjol dengan sapuan warna biru samar.
Atas saran Jono, Husni membawa Yadi pulang ke rumahnya, sementara Jono sendiri
merangkul Aan kembali masuk ke dalam rumah. Ratih masih
menangis saat diajak Wulan, istri Jono, untuk mengungsi
sementara waktu ke rumah mereka.
Tiga orang pria duduk melingkar
kedatangan pria keempat.
“Si Yadi kok belum datang, ya?”
tanya Aan tiba-tiba.
Jono mengangkat wajahnya yang
sedari tadi hanya memperhatikan
tarian lidah api, tampak
sedikit terkejut, menatap lurus
ke arah Aan, lalu saling
berpandangan dengan Husni.
Husni hanya diam. Jono lalu
memalingkan wajahnya dari wajah
Husni, menatap melampaui
pundaknya, lalu tersenyum.
“Akhirnya datang juga,” ujarnya
pelan.
Aan tiba-tiba berdiri dengan
canggung.
“Maaf, aku terlambat, tadi
masih ada kerjaan sedikit di
rumah,” kata Yadi dengan suara
yang sedikit bergetar. Dia
hanya melayangkan pandangannya
ke arah Jono dan Husni, tak
berani menatap mata Aan.
Aan berjalan ke arah tumpukan
perlengkapan memancing, tak
mempedulikan kehadiran Yadi.
| mengelilingi api unggun yang | “Wah, panjang umur kamu!” seru |
|---|---|
| berukuran tidak terlalu besar | Husni. “Kita baru aja ngomongin |
| dan mereka masih menunggu | ka—“ |
| Husni tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Matanya tiba-tiba melotot. Mulutnya menganga lebar. Husni menunjuk ke arah Yadi dengan ekspresi histeris. Sedetik kemudian dia terduduk | “Ternyata umurnya nggak panjang-panjang amat…” ujar Aan lirih seraya menatap lidah api yang menari perlahan. Tiga orang pria duduk melingkar mengelilingi api unggun yang berukuran tidak terlalu besar. Kini dengan tambahan berupa seonggok mayat. TAMAT |
|---|---|
| lemas. Jono ikut melotot. Dia langsung berdiri dengan tergesa. Mulutnya membuka seperti ingin mengatakan sesuatu namun yang keluar dari kerongkongannya hanya udara hangat yang kemudian bercampur dengan udara malam yang dingin. Lalu terdengar suara ‘bruuk’, seperti suara buah durian yang jatuh dari pohonnya. Aan mencabut parang yang sedari | |
| tadi bersarang di tempurung kepala Yadi yang kini telah terbaring tak bernyawa di dekat kakinya. Aan lalu kembali duduk di posisinya semula, meletakkan parang yang berlumur darah tepat di sampingnya. | ditulis oleh: tw: @sinefilth ilustrasi line art oleh: tw: @joeyaholic pertama kali dipublikasikan di donysaur.wordpress.com/ 2016/07/03/panjang-umur/ |
| 07 |
forbIDDeN
demam ThINKer BErdarAh
ilustrasi submisi dari
IG: @linesofdeath
- TerbakAr • • TerbakAr •
dibanding menyalakan lilin dibanding menyalakan lilin
kami lebih senang
melihat simbol negara
dalam keadaan yang
benar-benar terbakar
- daftAr PanJAnG • • daftAr PanJAnG • • daftAr PanJAnG • negara memiliki file excel negara memiliki file excel berisi daftar panjang nama-nama korban kekerasan
yang ia lakukan sejak pertama kali ia berdiri
~ sampai hari ini mereka belum memiliki niat
untuk menghentikan jumlahnya agar terus bertambah
~ diperbarui setiap malam jumat
selepas para anggota intel pulang kamisan
- DI KetInGGIAn • tidak ada yang menarik dari atas sini semua hal terlihat kecil dan tak berdaya
~
kita semua tahu
yang bergerak dan berkedip
bukanlah lagi hal yang istimewa
~
satu hal
yang spektakuler
dari ketinggian ini
hanyalah
melompat
[semua tulisan adalah hasil buah pikir: A]
@yogipratama.id
IG:
[ilustrasi submisi dari: Yogi pratama-warga desa visual]
LAH KOK
situasi tahun 2020 yang cukup pening ini membuat kita
bertahan dalam kurungan beton, hingga tak terasa sudah
berbulan-bulan dan lah kok...
pada ke mana? rindu ke luar, tapi di luar sana jahat.
Akankah muncul sebuah kebiasaan baru yang membuat
manusia normal menjadi manusia normal yang baru?
lah kok gini?
@yogipratama.id
IG:
[ilustrasi submisi dari: Yogi pratama-warga desa visual]
ANTIVIRUS
terdeteksi adanya virus berbahaya yang menyerang
secara makjegagik terhadap seluruh aspek kehidupan
di bumi yang sudah tua ini,
sehingga hooman harus melindungi diri
dengan berbagai macam cara.
@nogoworks
IG:
[ilustrasi submisi dari: igoy hape]
HELEH
#dirumahaja
heleh... di rumah aja kalo ga ada internet mau
ngapain? kalo ga ada sosmed mau ngapain?
ucapkan terima kasih dulu ke internet.
terima kasih internet :)
SanGkAkaLA MasehI
Akan kusingkirkan jejak sajak
sejak puluhan anak tangga telah
letih kupijak. Sehingga setiap
kalimat bijak hanyalah menjadi
sebuah babak dalam manuskrip
acak.
Dan entah sudah berapa banyak
arak yang kutenggak untuk
menutupi puntung dan abu di
dalam asbak. Bak pendosa yang
mencoret akhlak, mengajak orang
suci untuk menandak dalam riak
diiringi alunan anjing-anjing
yang menyalak.
Sampai tenggorokanku penuh
dengan dahak yang akan
kumuntahkan di atas kanvas
secara abstrak. Jangan dulu kau
beranjak sebab belum tuntas
semua barak prosa ini kubajak.
Tak akan aku beri satupun alasan
agar kau terkesan, sebab ini
bukanlah pesan yang bisa diukir
di atas nisan. Hanya sebuah
catatan kebosanan ketika lisan
tak bisa meletupkan amukan atas
semua kekesalan yang menumpuk
di ujung labuhan. Kelak nanti
akan terdengar deras alunan
hujan dari ujung jalan.
Yang kau hiraukan sehingga
dengan telak ia membuatmu
kebasahan. Dan tak seorang pun
menyimpan belas kasihan yang
bisa dibagikan.
Atur kembali arah kiblat jika
itu memang perlu diralat. Tapi
jangan kau turuti para penjahat
berkedok penyelamat, atau
sesungguhnya itu adalah isyarat
yang mencoba mengangkat dirimu
sebelum membanting ke liang
lahat. Dan tentang ayat-ayat
muslihat yang dipahat di atas
altar berkedok nasehat, silakan
kau intip jagat akhirat yang
pernah kau catat di buku ibadat.
Terlalu banyak horor menghiasi
teror malam fosfor tahun baru
penuh dekor. Dan terlalu banyak
gembar-gembor dari sang
pendonor membuat ingin kubakar
obor dari kolor molor tanpa
nomor. Lalu dengan api yang
membara akan kutoyor
congor-congor para orator kotor
yang berkotbah tanpa faktor,
hingga suara mereka meredup dan
yang terdengar hanyalah derap
langkah yang menggedor.
| Dan mari lupakan soal resolusi, sebuah kata fiksi yang hanya digadang-gadang demi gengsi, minim fungsi, dan hanya sekadar fiksi. Tidak perlu banyak asumsi untuk slogan-slogan basi yang hanya merupakan pengulangan diksi abadi. Perlu adopsi amunisi untuk merevolusi diskusi supaya bisa berevolusi menjadi solusi. Serupa ereksi yang perlu dituntaskan dengan onani, erupsi ejakulasi yang | Angkat sedikit semangat, berkat bakat yang mengikat semenjak diputusnya tali pusat hingga kini kau mulai berkarat. Karena waktu terus bergulir, dan semua pilihan tidak bisa kau anulir. Jalani hidup walau sampai kaki terkilir dan hadapi semua cibir dengan biji pelir bagai hulu ledak nuklir. Semoga lekas sembuh! | |
|---|---|---|
| seharusnya menjadi asasi. Kini direpresi oleh konstitusi atas nama moralis yang berdifusi dengan api persekusi. Biar mereka buas memulas batas dengan antusias. Hingga mereka puas merias ruas yang membias. Biar mereka puas sampai bablas dan menjadi ampas. Hingga saatnya tiba, kita bilas dan kibas sisa kuasa mereka yang beringas. Karena sekilas bara harapan harus dikipas demi api yang akan menjadi napas sehingga para sineas bisa kembali menghias layar bebas dengan ide seluas atlas. | ||
| Atas nama pikiran yang semakin redup, dan di antara degup | ||
| jantung penyelundup yang gugup dengan keringat kuyup dan nyali yang makin ciut. 14 | ditulis oleh: @joeyaholic pertama kali dipublikasikan di joeyaholic.wordpress.com /2017/12/31/sangkakala-masehi/ |
PoLItIk Lu:
Politik hanya untuk para
pengecut yang takut mati.
Bohong sana-sini, jilat
kesana-kemari, agar kamu naik
TaI KucInG
status, naik level, naik
| Berpolitik bukan berarti kamu | jabatan, hidup lebih lama, kaya |
|---|---|
| harus bersenggama di ruangan luas yang akustiknya menggema, | raya. |
| dengan mikrofon-mikrofon | Sekarang, lihat-lihat baik |
| kecilnya di tiap meja, serta | wajah buruk rupamu di cermin, |
| air mineral kemasan kaca di | sudah sampai mana perjuangan |
| atasnya. | politikmu? Sudah untung banyak? Sudah berapa orang yang kamu |
| Berpolitik bisa terjadi di | bunuh? Siapa lagi yang akan |
| rumah, tongkrongan, tempat kerja, atau di manapun kamu | jadi korbanmu selanjutnya? |
| berada. Berpolitik adalah tanda bahwa kamu terlalu pengecut | …………………………………………………… |
| untuk menghadapi semuanya | Kalau saja kamu berani. |
| sendirian. Berpolitik adalah | Kalau saja kamu tidak takut |
| keadaan saat kamu hanya peduli | mati. |
| dengan apa yang kamu dapat, | Lawan aku sini. |
| dengan cara yang tidak sehat. Berpolitik adalah saat kamu | Kita saling bunuh sampai mati. Aku tidak peduli. |
| remas habis-habisan payudara | Duh. |
| montok atasanmu, agar kamu | Andai saja kamu berani. |
| mendapatkan suplai air susu | Sudah lama aku ingin memecahkan |
| yang tak ada habisnya. | batok kepala anjing, pelacur |
| Berpolitik adalah ketika kamu | kotor bertitel politisi. |
hisap mati-matian penis kecil
bosmu, karena hanya itu
keahlian yang kamu punya.
Hahaha.
ditulis oleh:
Shoni Hawari
Berpolitik adalah waktu di mana
kamu takut bercinta dengan cita-cita
bahaya, dan malah sibuk
bersembunyi di ketiak hangat talenta
orang tua.
cinta
Berpolitik adalah ketika kamu
punya wajah lebih dari dua,
karena ungkapan “muka dua”
sudah usang dimakan usia.
TIdak Ada KorELasInYA
“BANGSAT!” teriaknya keras sesaat setelah layar komputernya mendadak teriaknya keras sesaat setelah layar komputernya mendadak
menghitam. rustam sudah mengetik sejak dua jam lalu dan baru sadar menghitam. rustam sudah mengetik sejak dua jam lalu dan baru sadar
kalau ia belum menyimpan hasil kerjanya.
rustam lalu bangkit dari duduknya setelah sebelumnya menggebrak rustam lalu bangkit dari duduknya setelah sebelumnya menggebrak
monitor tabung berwarna kekuningan yang umurnya sudah hampir 13 monitor tabung berwarna kekuningan yang umurnya sudah hampir 13
tahun. “KOMPUTER TAIK!” makinya.
sebatang rokok dikeluarkan dari bungkusnya. rustam melongok isinya. sebatang rokok dikeluarkan dari bungkusnya. rustam melongok isinya.
tersisa satu batang lagi. “ROKOK ANJING!” hujatnya. saking sibuknya hujatnya. saking sibuknya
ia hari itu, sampai lupa memperhatikan asupan tembakau hariannya. ia hari itu, sampai lupa memperhatikan asupan tembakau hariannya.
rustam memang membatasi untuk hanya merokok satu bungkus setiap rustam memang membatasi untuk hanya merokok satu bungkus setiap
harinya. dengan ketentuan itu adalah rokok yang dibeli menggunakan harinya. dengan ketentuan itu adalah rokok yang dibeli menggunakan
uangnya sendiri. rokok minta, rokok ditawari, dan rokok bebas di uangnya sendiri. rokok minta, rokok ditawari, dan rokok bebas di
tongkrongan itu beda urusan.
rustam pergi ke dapur dan mengambil gelas, menggunting bungkus kopi rustam pergi ke dapur dan mengambil gelas, menggunting bungkus kopi
instan, menuangkannya dalam gelas dan beranjak menuju dispenser untuk instan, menuangkannya dalam gelas dan beranjak menuju dispenser untuk
menyeduhnya. baru setengah gelas terisi, air dispenser rupanya sudah menyeduhnya. baru setengah gelas terisi, air dispenser rupanya sudah
habis. “DISPENSER NGENTOT!” bentaknya.
dengan setengah gelas kopi panas dan sebatang rokok yang baru dengan setengah gelas kopi panas dan sebatang rokok yang baru
dibakarnya, rustam kembali ke meja komputernya. duduk dengan kaki dibakarnya, rustam kembali ke meja komputernya. duduk dengan kaki
kirinya diangkat dan memandang kosong ke monitor usangnya, rustam kirinya diangkat dan memandang kosong ke monitor usangnya, rustam
dengan lirih mengucap “sial, ini pasti gara-gara aku belum mandi.” dengan lirih mengucap “sial, ini pasti gara-gara aku belum mandi.”
sungguh, tidak ada korelasinya sama sekali. sungguh, tidak ada korelasinya sama sekali.
ditulis oleh: @joeyaholic
pertama kali dipublikasikan di
https://joeyaholic.wordpress.com /2018/12/22/tidak-ada-korelasinya/ dengan perubahan seperlunya
#HIDUPAdaLAhkOnSEr
DarI PersPEktIF ArIan TIGAbELas
Halo, Kang Arian13. Apa kabar?
Gimana nih covid-19, apa yang paling mengganggu?
Halo, I’m good! Kegiatan
sehari-hari yang terganggu, dan
rasa bosan.
Kenyataan bahwa pemerintah di awal
sudah menyepelekan pandemi dan
akhirnya terlambat untuk
mengatasinya.
Jadwal manggung Seringai udah berapa banyak yang dibatalkan
sejauh ini?
Sekitar 16 shows yang sudah fixed
batal. Actually, 2020 ini kami
belum sempat bermain live sama
sekali.
Selain mengelola Kartel Lawless, untuk mengisi waktu luang, lagi
ngerjain projek apa aja sekarang?
Nggak ada sih, memang banyak fokus
di Lawless Jakarta saja sekarang.
Ngomong-ngomong soal manggung, sejauh 20 tahun lebih bermusik
boleh cerita sedikit ga panggung paling memorable itu kapan dan di
mana? Yang buruk boleh, yang menyenangkan boleh.
Buruk: ketika diintimidasi oleh
ormas rasis karena kami sempat
menyuarakan ketidaksetujuan dengan
mereka. Menyebalkan.
Menyenangkan: banyak sekali!
Gigs kecil maupun show besar.
Mungkin terakhir yang sangat
menyenangkan itu HighOctane
Superfest, 2019 silam.
Sebagai seorang concert-addict, kenapa begitu menggilai konser
sampai membuat hashtag
#HidupAdalahKonser? Boleh cerita sedikit arti di balik hashtag itu?
Itu hanya hashtag iseng-iseng,
karena seorang teman pernah
berkomentar kalau gue dianggap
gila karena mau menabung uang yang
lumayan besar dari jauh-jauh hari
hanya untuk menonton konser/
festival musik yang ketika dia
lihat tidak satupun pengisi
festivalnya dia kenal. Haha!
Sudah menjadi passion untuk gue
sih. Gue pribadi memang senang
musik live, jadi sudah menjadi
kebutuhan. Selain itu dari musik
live yang bagus, gue bisa banyak
belajar sebagai seorang performer
musik juga.
Kalau dilihat-lihat kan lo ini sering banget nonton festival
musik di luar Indonesia. Apa yang dicari sih, Kang?
Awalnya lebih ke semangat menonton
band-band yang nampaknya mustahil
ke Indonesia.
Bahkan gue menjadi jurnalis di
sebuah majalah musik pun terdorong
karena semangat ini, dan memang
akhirnya sempat meliput beberapa
festival musik yang sekiranya
menarik tanpa harus mengeluarkan
biaya untuk beberapa tahun. Dari
sana akhirnya merasakan kalau
traveling sendiri juga
menyenangkan juga belajar menage
keuangan supaya tidak hambur
(kecuali untuk merchandise haha!),
dan akhirnya menjadi suatu
kebutuhan.
Bagi gue menonton musik live dari
band/musisi yang gue suka itu
sebuah kegiatan spiritual,
terlepas apapun genrenya. Damai.
Haha!
Apa yang membuat sebuah festival musik itu dikategorikan sebagai
festival yang berhasil, atau festival yang keren tuh yang
seperti apa sih menurut lo?
Satu packaging sih, dari para
pengisi festival-nya, kerapihan
pengorganisasian festival
tersebut, sound system yang
mumpuni, kemudahan ke venue dan
lainnya. Kalau untuk gue juga, gue
ternyata lebih menyukai
festival-festival yang berukuran
medium, bukan festival-festival
raksasa. Festival kecil atau
medium menontonnya bisa lebih
maksimal saja dan energi yang
terkuras tidak sebanyak kalau
mendatangi festival raksasa.
Festival musik mana yang menguras harta lo paling banyak? Habisnya
di pos apa biasanya?
Haha. Ini lebih ke festival-
festival awal di mana gue mulai
menggunakan uang sendiri. Habisnya
karena kalap melihat booth
merchandise kemudian belanja
merchandise banyak banget. Gak
enak juga karena lalu membawa
ransel berat sambil menonton,
lebih capek kan. Tapi itu dulu,
kalau sekarang gue jauh lebih bisa
mengontrol sih, atau malah gue
bisniskan sekalian lewat jastip.
Sekarang cenderung lebih irit juga
karena selama ini gue banyak
networking dengan teman-teman
luar, dan akhirnya mendapatkan
berbagai kemudahan. Hal yang sama
gue lakukan ketika teman-teman
luar ini bertandang ke Indonesia.
Apa saja sih memang yang perlu disiapkan kalau mau nonton
festival musik, terutama yang di luar negeri ya.
Kalau di luar negeri, sudah pasti
uang sih. Gue harus punya dana
lebih just in case kalau gue ada
apa-apa sementara jauh dari rumah.
Misalnya, gue pernah pas beres
festival kena sakit yang
mengharuskan gue berobat ke dokter
di sana. Bayar dokter dan membeli
obat. Karena kalau misalnya gue
sakit yang mengharuskan istirahat
lama bisa saja tidak diperbolehkan
naik pesawat pulang dan artinya
extend kan.
Background photo by
frankie cordoba on Unsplash
Kalau kamu menggunakan kartu
kredit, sebisa mungkin tidak ada
tagihan terlambat atau sudah
dilunaskan biar aman, dan
koordinasi dengan bankmu supaya
tidak disangka kartu kreditnu
tiba-tiba digunakan orang lain di
luar negeri. Gue pernah soalnya
sedang ke LN, pas hari terakhir
uang menipis kartu kredit diblokir
oleh bank karena disinyalir ada
pemakaian di luar, disangka
digunakan oleh hacker atau
sejenisnya. Padahal yang pake ya
gue.
Kalau untuk festivalnya sendiri
biasanya gue menyiapkan detil,
supaya uang yang keluar tidak
sia-sia. Misalnya jarak venue
dengan hotel. Bisa saja lo cari
hotel murah tapi ternyata jaraknya
terlalu jauh dari tempat lo
tinggal dan lo malah kesulitan
mencari transportasi pulang.
Cari tahu kira-kira pengeluaran
sehari-hari di sebuah negara itu
berapa, misalnya untuk makan atau
transportasi.
Cari tahu negara tersebut di
tanggal festival cuacanya
bagaimana. Rata-rata walaupun
summer seringkali tetap dingin,
jadi harus menyiapkan layer ekstra
biar nggak kedinginan sebagai
wakil dari negara tropis. Hal-hal
kecil seperti power bank yang
bagus, atau colokan multi jenis
karena tiap negara suka berbeda
juga.
Ada cerita paling bodoh ga saat nonton festival? Atau unexpected
situation which leads you to a bad/good moment?
Gue pernah nyamperin seseorang
dengan rambut gondrong karena gue
kira dia gitaris Orange Goblin.
“You’re Orange Goblin’s guitarist,
right?”, “Uhm.. no.” Haha!
Unexpected situation, beberapa
kali, seperti ketika gue dan Ricky
(gitaris Seringai) sudah senang
karena akhirnya kami akan
berangkat menonton Bolt Thrower di
Melbourne, Australia, pas seminggu
sebelum berangkat tournya
cancelled karena drummer mereka
meninggal. Sedih tapi juga tidak
bisa cancel tripnya. Akhirnya
lumayan luntang-lantung di
Melbourne.
Atau, ketika gue sedang berangkat
ke bandara mau menuju London,
ketika hampir sampai bandara,
seorang teman dari London kirim
pesan mengabari kalau festival
yang mau gue datangi cancelled
karena low ticket sales. Akhirnya
gue bingung di bandara, dan
memutuskan meng-cancel trip
tersebut.
“Bagi gue menonton musik live dari band/musisi yang gue suka
itu sebuah kegiatan spiritual, terlepas apapun genrenya.
Damai.”- Arian13 -
Ada target festival mana yang pengen banget lo datengin dan
kenapa?
Kalau ditanya gini, keinginan sih
banyak banget ya. Gak kelar-kelar
festival bagus hadir.
Mungkin kalau disempitkan:
Psycho Fest, Oblivion Access,
atau mungkin Migration Fest.
Simply karena para bandnya gue
suka atau kalaupun belum pernah
dengar bisa jadi setelah lihat
jadi suka.
Apa tips yang paling penting, perlu banget diinget, dan pastinya
musti dilakuin buat para festival-goers?
Sebisa mungkin jangan membawa dana
pas-pasan kalau ke luar negeri
terutama kalau jaraknya cukup jauh
atau makan waktu.
DO’s & DON’Ts paling standar buat lo saat nonton festival musik?
Do have freaking fun.
Don’t disrespect local culture
or underestimate festival rules.
Terakhir nih, apa yang perlu diperbaiki buat organizer yang
bikin festival musik di indonesia?
Ini termasuk ke organizer gigs kecil juga sih, siapa tau sarannya
membangun buat skena.
Organizer besar sih biasanya gak
banyak yang kacau selama yang gue
datangi ya.
Kalau organizer kecil, mungkin
harus memperhatikan disiplin
waktu. Termasuk bandnya juga,
kalau main festival at least
persenjatai diri dengan
pengetahuan main di panggung yang
sekiranya akan banyak kendala jadi
bisa meminimalisir kendala-kendala
tersebut. Bagaimanakah cara
membuat sound bagus dengan hanya
line check saja misalnya? Begitu.
(joey)
gambar diambil dari IG: @aparatmati
Poser evErYwHerE
Jam 5 sore di kosan seorang kawan,
gue nonton MV dari satu idol
group. Berawal dari ngeliat satu
video yang tematik banget, gue
langsung kepincut sampai
sekarang. Walaupun ga terlalu
intens seperti kawan lainnya, gue
tetep ikutin perkembangan mereka.
Sampai pada suatu saat, di
kelompok lain gue ditanyain
kenapa kok suka sama idol group.
Gue jawab kalau gue poser aja.
Temen gue balas lagi kalau poser
itu ga intens fanboy-ing nya.
Tapi apa masa iya kalau poser atau
tidak itu dilihat dari intensitas
obsesi seseorang ke pelaku seni?
Ada dua rujukan buat gue soal
poser. Pertama, dari pendapat
Sammy(1) (bassist Seringai) di
Kumparan. Sammy menekankan ke
pengetahuan fans ke band.
Mengutipnya, “paling enggak kalau
dia pakai baju band A, dia kenal atau tahu siapa band itu.”
Di artikel yang sama, diceritain
juga kalau poser itu ya ngeliat
siapa yang lagi populer aja.
Dicontohin di situ misalnya ada
pensi yang lineup nya ada BESIDE,
dan pas banyak anak SMA yang pakai
bajunya BESIDE. Tapi pas BESIDE
manggung, yang pakai kaos mereka
pada diem aja.
Ngikutin trend yang ada, baik di
skala besar atau kecil, bisa jadi
momen bertumbuhnya fans baru,
sama seperti yang dijelasin di
referesnsi kedua gue(2).
Balik lagi ke idoling,
ketertarikan ke idol grup itu
datang setelah gue dikenalin ke
salah satu lagu dari mereka oleh
kawan gue lainnya. Musiknya enak
didenger dan gue saat itu mulai
nanya-nanya soal siapa yang
nyanyi, struktur grupnya kayak
apa, di bawah manajemen siapa,
sampai mulai gali informasi lebih
jauh supaya lebih deket ke grup
tersebut.
Akhirnya suatu saat gue punya
seorang idola yang bisa buat gue
menggilai grup ini. Lagu-lagu
dari sang idola ini mulai gue
dengerin lebih sering, foto-foto
sang idola mulai gue koleksi,
beberapa album sang idola mulai
gue pertimbangin untuk gua beli,
nama-nama anggota generasi
idolnya mulai gue tahu, sampai
gue mulai gabung ke salah satu
komunitas.
Kalau mengacu ke rujukan
sebelumnya, harusnya gue bukan
poser sih. Tapi ada satu artikel
lainnya yang mungkin bisa lebih
ngejelasin batasannya, di sini₃
ada pendapat bahwa lo tuh poser
kalau elo enggak berkontribusi
langsung untuk band tersebut dan
memberikan manfaat untuk band
tersebut. Bukan hanya sekedar
mendengarkan band itu, tapi juga
membeli album, merchandise,
sampai nonton gigsnya.
Pernyataan Sammy sebelumnya
menurut gue logis, karena ya ga
masuk akal aja kalau seseorang
beli kaos band, pakai kaos itu ke
konsernya, tapi ga tahu bandnya.
Di sisi idoling, aktivitas gue
masih kalah jauh dibandingin
kawan lainnya. Gue ga memberikan
benefit untuk mendukung idol
group tersebut. Ga pernah datang
ke aktivitas-aktivitas grup
tersebut yang masih dalam
jangkauan, ga beli album dan ga
beli merchandise langsung dari
mereka. Bahkan ada beberapa kawan
yang sampai kerja di manajemen
idol grup tersebut yang jelas
jelas kelihatan kontribusinya.
Intensitas obsesi bahkan bisa
dijadiin penilaian fans
seseorang. Tapi emang jadi poser
itu selalu negatif? Poser juga
bisa jadi batu pinjakan.
Teringat omongan temen gue kalau
fans itu bisa dibagi jadi tiga:
Poser, Digger, dan Real Fans.
Elo poser karena lo tuh baru tahu
lagunya aja. Ketika elo mulai
suka sama lagunya, elo mulai tuh
cari informasi soal band tersebut
sampai ke industrinya. Itu fase
digger. Nah fase Real Fans itu
ketika lo konsisten dengerin band
tersebut, update soal informasi
mereka sampai lo memahami value
apa yang diberikan band itu.
Jadi, lo poser, digger, apa real fans?
(3) https://independentmusicpromotions.com/dont-industry-poser/
ditulis oleh:
Ahop
(1) https://kumparan.com/millennial/enggak-perlu-sinis-kita-semua-mungkin-pernah-jadi-poser/full
(2) https://metalsucks.net/2014/02/04/music-nerds-decide-ok-liek-poser-bands-scientific-analysis/
MArIGoLD
Inspired by a street vendor
I saw one day on my walk home,
carrying a basket of
marigold garlands over his head
accompanied by his daughter.
Depiction of the struggle to
support someone in the hope that
they can land farther than you
did.
I’m a graphic
designer and
illustrator
born and bred
in Bangkok.
I draw girls
in my free time.
Come join my
reclusive party
if you want to!
IG: @hmnxrbt
| Rutinitas yang sudah kita | |
|---|---|
| bentuk sebelumnya sudah mulai tergantikan dengan hal-hal baru. Sebelumnya kita tak pernah mau belajar bagaimana penggunaan sistem daring pada kegiatan sehari-hari. Kita tak mau menggunakan gadget, yang | Sampai akhirnya rutinitas baru pun terbentuk. Semua mulai berganti menjadi sistem daring, di mana kita mulai menyadari bahwa interaksi sosial secara fisik pun mulai dirindukan. |
| sering kita manfaatkan untuk mencari cuan, untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan lain. | Yang kita nanti adalah saat di mana pandemi ini berakhir, di mana kita mulai bisa |
| Kita terlalu nyaman dengan rutinitas yang telah terbentuk, sementara kita tak tahu ada banyak hal rumit yang kita normalisasi. Setelah rutinitas kita terganggu karena suatu kondisi, kita baru menyadari banyak hal yang seharusnya bisa kita minimalisir tapi belum pernah terpikir untuk mencobanya. | berinteraksi secara fisik tanpa dibatasi jarak lagi. Di mana kita bisa kembali ke rutinitas lama kita kembali; ketika kita menormalisasikan basa-basi dengan teman, berjabat tangan ketika ketemu dengan kenalan, meeting dengan klien di kedai kopi, menanyakan ke rekan kerja mau pesan makanan apa siang ini, menonton konser secara langsung, dan berbagai hal-hal |
| Seminggu, dua minggu berlalu, masih belum terbentuk rutinitas | sederhana yang kurang berarti di mata kita sebelumnya. |
| baru karena kita masih mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Setelah sebulan barulah kita bisa menemukan zona di mana kita | Kita tak ingin kembali ke masa normal lagi, kita sedang menanti titik balik dari sebuah titik balik yang kita lalui. |
| merasa nyaman dan produktif dengan kondisi baru kita. | |
| TItIk baLIk darI | ditulis oleh: pemuda yang nggak muda-muda amat asal surabaya yang nggak murni produk surabaya ini usut punya usut namanya Stanley Adam. twitter: @Menyublim_ sebuah tItIk baLIk |
| 24 |
CUMA BI(a)sa
instagram: @tukangfotommy
sendiri itu tidak selamanya
sendirian.
sendirian bukan berarti dalam
kesendirian.
seorang remaja pada masanya, pemakan tumbuhan.
manusia penuh keraguan dan terlalu banyak pertimbangan.
memilih memainkan kamera untuk menjadi senjata utama dalam menjalani kutukan peng-aba-di cahaya.
walaupun cuma bisa gitu aja. biasa!
instagram: @tukangfotommy
PoLa, KeYAkInan, dan KetErGAntunGan
Kadang terasa lucu ketika
memikirkan betapa tergantungnya
manusia terhadap familiaritas,
apapun bentuknya. Misalnya pola,
rutinitas, ataupun ritme yang
biasa dijalani oleh seseorang.
Manusia bisa gila kalau
rutinitasnya dicabut karena hal
yang mereka pegang teguh (dalam
hal ini rutinitas) dirampas begitu
saja, dan tanpanya, ya mereka akan
hilang arah. Nggak percaya? Coba
tanyakan kerabat yang mungkin
kewarasannya dapat dipertanyakan
akibat disrupsi pada rutinitas
yang disebabkan wabah COVID-19
ini.
Orang juga kerap bergantung pada
logika terhadap kehidupan. Ada
sebab, ada akibat. Ada aksi, ada
reaksi. Ya… padahal juga nggak
gitu-gitu amat. Kalau ada yang
menganut paham logika hitam-putih,
pasti sering kecewa, deh. Ya masak
nggak kecewa? Karena hidup itu
seringkali ngerjain kita. Iya,
hidup ya sebercanda itu.
Payahnya, bercandaan hidup lebih
sering jelek ketimbang bagus.
Bagaimana tidak? Contohnya begini:
Anda adalah orang yang doyan
banget sarapan bubur ayam, tiap
pagi Anda jalan ke tukang bubur
dekat kantor untuk beli sarapan.
Logika di sini adalah ketika Anda
jalan dari titik A (kantor) ke
titik B (tukang bubur) maka hasil
yang Anda dapatkan adalah C (bubur
ayam). Simpel? Cuma kedengarannya!
Nyatanya, ada banyak variabel yang
dapat memengaruhi outcome
perjalanan beli bubur itu. Gak
cuma C, tapi boleh jadi hasilnya
ya D, E, F, G, H sampai Z.
Alternate outcome selain dapat
bubur ya kalau hari itu buburnya
habis atau si penjual lagi tidak
berjualan. Itu saja hasilnya sudah
berubah, dari yang harusnya bisa
sarapan bubur enak, malah kembali
ke kantor dengan misuh-misuh
karena gagal mendapatkan sarapan
bubur yang biasanya setiap hari
Anda santap.
Misalnya lagi, ketika jalan kaki
menuju penjual bubur, Anda apes
dan ditabrak mobil dan tewas di
tempat. Ya, perjalanan dari titik
A ke B hasilnya bukan C lagi ‘kan?
Ketika Anda mati, ya Semesta hanya
tertawa acuh tak acuh, sukses
dengan lawakan jeleknya.
Satu hal yang menarik dari
ketergantungan manusia terhadap
pola dan familiaritas adalah
menjadi bagian dari sesuatu. Ya,
bisa saja Anda adalah anggota geng
motor, atau sekte sesat, atau
perkumpulan apapun itu. Orang
cenderung mencari orang-orang
dengan pemikiran atau minimal
latar belakang yang serupa agar
mereka tidak merasa sendirian.
Sayangnya, manusia itu dikutuk
dengan kesendirian sepanjang
hayat.
Mengapa demikian? Itu ada porsi
pembahasan sendiri di waktu
mendatang, ya!
Kembali lagi ke mengapa
orang-orang senang menjadi bagian
dalam suatu kelompok, karena
selain berkumpul dengan
orang-orang yang berpikiran
serupa, atau setidaknya dari latar
belakang yang mirip, biasanya
kelompok-kelompok tersebut
menawarkan sense of belonging and
security yang dirasa tidak bisa
didapatkan di tempat lain.
Parahnya, tidak sedikit juga yang
menawarkan imbalan maupun hukuman
atas tindakan-tindakan tertentu
guna mendapatkan kepatuhan/
loyalitas absolut dari anggota
mereka. Makanya banyak yang ikutan
geng, sekte sesat, atau ya taat
beragama.
Selain yang disebutkan barusan,
menjadi bagian dari suatu kelompok
juga dapat memberikan suatu tujuan
buat seseorang. Terlepas dari
tujuan tersebut nyata atau fiktif,
atau bahkan orang ini dimanfaatkan
belaka demi “tujuan” tersebut,
yang penting ada tujuan dalam
hidupnya. Tergantung sudah sejauh
mana keterlibatan seseorang dengan
kelompok tersebut, keyakinan
mereka biasanya cenderung juga
bertambah kuat. Semakin kuat
doktrin yang ditanamkan, semakin
kuat juga keyakinan orang
tersebut.
Kembali lagi, familiaritas, pola.
Ketika seseorang sudah berada di
zona nyaman dengan suatu rutinitas
yang sudah dilakoni selama
beberapa waktu, dapat dipastikan
dedikasi dan pengabdian orang
tersebut cukup kuat. Salut rasanya
ketika melihat orang-orang yang
rela dijadikan pion demi
kepentingan kelompok mereka. Itu
berarti siapapun yang memberikan
doktrin telah sukses memanfaatkan
hasrat kuat ingin menjadi bagian
dari sesuatu dalam diri
orang-orang tersebut.
Entah karena keinginan kuat untuk
menjadi berguna atau mendapatkan
imbalan tertentu, atau karena
ketakutan yang sama kuatnya karena
mereka tidak ingin merasa
sendirian di dunia yang sinting
ini, tidak ada yang tahu.
Yang jelas, keyakinan dalam diri
mereka sudah tidak tergoyahkan
lagi, and boy oh boy do beliefs do
wonders!
Terlepas dari ketergantungan
manusia pada pola dan rutinitas
tertentu, hidup itu sayangnya
nggak pernah bisa ditakar pakai
nalar aja, apalagi kalau nalarnya
hitam-putih, capek man! Coba
bayangkan, udah capek-capek
mempertahankan satu logika dengan
harapan semuanya akan baik-baik
saja, tapi bisa hilang dalam
sekejap tanpa disangka-sangka
(apalagi kalau penyebabnya konyol
macam tukang bubur yang tutup). Ya
memang, hidup dan Semesta itu ya
sebercanda itu, lebih lagi selera
humor yang sering ditampilkan
super jelek.
Makanya kalau sering menghabiskan
waktu memikirkan gimana caranya
bisa antisipasi masa depan, lebih
baik waktunya dihabiskan untuk
bersenang-senang. Jangan lupa
untuk bersyukur juga karena kalau
sekarang Anda sedang membaca
tulisan ini, kemungkinan besar
Anda lebih waras ketimbang
orang-orang yang sukses
terindoktrinasi di luar sana. :p
ditulis oleh: Sobersherlock
Too numb to think,
too alive to kill myself,
too dumb to feel;
too dead to carry on.
| Part I | Di dalam film yang berjudul | |
|---|---|---|
| Mengakui Eksistensi yang | “Kucumbu Tubuh Indahku” berkisah | |
| Acap Kali Diabaikan | tentang seorang pemuda bernama |
Juno yang sedari kecil sudah harus
merasakan kekerasan terhadap
hidupnya, melihat kesadisan yang
dilakukan orang lain di
lingkungannya dengan mata
kepalanya sendiri. Belum lagi
harus hidup sedari kecil tanpa
adanya peran kedua orang tuanya.
Saya menganggap dewasa ini banyak
sekali orang yang mengabaikan
perihal sejarah hidup. Sejarah
hidup diri sendiri, ataupun
sejarah hidup orang lain. Dengan dia mengabaikan sejarah hidup mereka sendiri, berarti mereka menutup mata akan eksistensi diri mereka sendiri. Bukankah manusia banyak mencari eksistensi mereka dalam berkehidupan?
Mencari-cari apa alasan yang tepat
untuk bisa membuktikan eksistensi
mereka.
“Sejarah tak bisa dihapus.
Luka yang pahit akan senantiasa
“Setiap tubuh menyimpan traumanya
bersemayam dalam kandung.”
masing-masing dan yang bisa kita
adalah kutipan selanjutnya dari
lakukan adalah menerimanya. Tubuh
film “Kucumbu Tubuh Indahku”.
juga memendam hasrat, ingatan masa Kita hidup dengan segala kenangan lalu, ironi, amarah, hingga masa lalu yang pernah kita alami, ketidakberdayaan yang membuat sang tapi banyak sekali yang tuan hanya bisa mengutuk atau mengabaikan kenangan-kenangan masa mungkin justru mensyukurinya.” lalu. Begitulah ungkapan dari sebuah film yang berjudul “Kucumbu Tubuh Indahku”.
Banyaknya orang yang berpikir
kenangan hanya akan tersimpan di
kepala, semua trauma-trauma yang
dirasakan, semua ketakutan, semua
amarah, semua rasa yang dihasilkan
sekarang merupakan representasi
dari keadaan masa lalu.
Rasa-rasanya susah sekali untuk
mengakui kenangan masa lalu ini
adalah hal yang nyata, adalah
bagian dari realita hidup kita.
Terutama kenangan pahit. Yang
perlu kita sadari di sini adalah,
bukan hanya pikiran kita yang
merespon saat ini atas kejadian-
kejadian masa lampau.
Bukan.
Tetapi seluruh anggota tubuh kita
menyimpan memorinya masing-masing.
Tangan kita akan merespon dengan
gerakannya sendiri atas satu hal
berdasarkan kejadian lampau yang
pernah ia lalui. Mata kita akan
merespon berbeda, kaki kita akan
merespon berbeda, begitu pula
pikiran kita, ia akan bereaksi
dengan beda. Rasa-rasanya susah
sekali untuk bisa mengambil alih
tubuh kita secara utuh, alih-alih
mengambil alih kendali atas tubuh
kita secara utuh kita
membiarkannya bergerak secara
parsial.
Secara individual. Sampai akhirnya
kita tidak memperdulikan tentang
eksistensi memori yang kita simpan
di dalam tubuh kita. Ironis
rasanya ketika seorang manusia
tidak memiliki kendali atas
tubuhnya sendiri.
Jedediah Leland, karakter dalam film “Citizen Kane” berkata “That's one of the greatest curses ever inflicted on the human race: memory”.
Memori/kenangan adalah salah satu
kutukan terbesar yang pernah
dimiliki manusia. Memori dibuat dengan hidup di alam kejadian saat itu. Ketika kejadian itu selesai, itu akan menjadi sebuah memori. Memori sangat bersifat subjektif, setiap orang akan melihat sebuah kejadian dengan responnya masing- masing.
Tergantung memori-memori apa yang
disimpan di dalam tubuhnya, maka
respon yang diberikan pun akan
berbeda untuk tiap-tiap manusia.
Ketika membuat sebuah memori,
banyak sekali orang yang mengutuk
akan masa lalunya dan menginginkan
untuk menghapus masa lalunya. Tapi
sebenarnya apa arti memori itu
sendiri? Apakah kejadiannya?
Apakah respon yang kita berikan?
Atau malah perasaannya. Tidak ada
yang tahu pasti. Hanya kalian yang
merasakan yang bisa mengetahuinya.
Sudah susah payah melewati hari
yang berat setelah dimarahi dan
dicaci maki oleh atasan, atau
dosen yang memberikan nilai E
tanpa kejelasan, melihat orang tua
bertengkar di depan mata sendiri
kemudian bercerai, melihat tangan
kita mencoba memotong urat nadinya
sendiri, mencoba sabar dalam
merespon kejadian, ketika sudah
selesai kejadian itu menjadi
sebuah memori lantas merasa
menyesal, merasa ingin menghapus
memori tersebut.
Manusia kebanyakan selalu merasa lebih tertarik akan hal yang berintervensi dengan hal negatif. Kita manusia, cenderung menyukai sesuatu yang menyakitkan, hal yang menyakitkan akan lebih lama bertahan di dalam memori ketimbang sesuatu yang menyenangkan.
Dalam skala waktu, kenangan baik
akan lebih lama terbentuk sebelum
kita mengakuinya sebagai memori
baik, sedangkan kenangan buruk
akan dengan sangat cepat dan tanpa
pikir panjang akan kita akui
sebagai kenangan buruk, dan kita
langsung menolak keberadaan memori
buruk ini.
Sejatinya eksistensi diri manusia
saat ini, detik ini dibentuk oleh
keberadaan memori-memori ini.
Tanpa adanya mereka, kita manusia
hidup dalam kehampaan. Bahkan
ruang kosong menyimpan memori.
Setiap sudut ruangan kamarmu
menyimpan memorinya sendiri.
Setiap benda yang kau sentuh akan
memberikan ingatan ke dalam benda
itu. Jadi kau lebih memilih mana?
Hilang memori dan kehilangan
dirimu atau bertahan dengan memori
yang sudah terbentuk? Akui
keberadaan mereka dan responlah
kehidupan bersama memori yang kau
punya.
Bentuk respon-respon yang baru
terhadap kejadian-kejadian yang
akan datang seperti yang Napoleon
Hill, seorang penulis asal Amerika
Serikat di tahun 1930-an bilang,
“Whatever the mind can conceive
and believe, the mind can
achieve.” Lantas, bagaimana caranya untuk bisa mengakui keberadaan memori-memori ini? Dengan cara membuat revolusi!
Membuat revolusi di kepalamu
sendiri bisa membantumu sedikit,
atau mungkin bisa juga banyak
membantu, mungkin terasa sakit
sedikit, mungkin juga bisa terasa
sangat sakit.
Tapi apapun itu buatlah revolusi
di kepalamu terlebih dahulu.
Ketika kamu mempercayai kepalamu,
kamu bisa mengambil alih kontrol
atas bagian-bagian tubuhmu.
Meresponlah dengan bijaksana.
Maka kau akan merasakan eksistensi
dirimu sendiri.
Selamat membuat revolusi!
semua tulisan dan foto oleh: Bismo Angger
masih umur belia, sangat muda sekali dibanding kawan-kawan sejawatnya, namun
membenci kemudaan. lebih suka kegelapan. senang dalam berfikir, dengan aksi
tentunya supaya tidak hanya berakhir di pikiran, pikiran saya ini. takut
dengan kehidupan yang stagnan. kegemarannya memotret dari keresahan yang ada
dalam diri sendiri.
semoga bisa merevolusi diri bersama-sama. IG: @bismoangger
- SamPAI JumPa dI
EdIsI SeLanJutnYA -
hubungi kami di:
email- [email protected]
twitter- @submisi_zine
instagram- @submisi
PrototYPe EdItIon
meI 2020