Baca PDF (OCR): Buku Petundjuk Penindakan Huru Hara (No. 72 – 007)

151 halaman · 151 halaman diproses dengan OCR· 228400 ms

Daftar isi
  1. BUKU PETUNDJUK
  2. PENINDAKAN HURU-HARA
  3. No.72-007
  4. 16. TINGKAT HURU-HARA
  5. BAT ADANJA HURU-HARA
  6. SUNANNJA ....
  7. SUSUNAN PELETON SENAPAN PHH.
  8. 24. PENJUSUNAN SATUAN TUGAS P-
  9. HH.....
  10. 25. KOMANDO DAN PENGENDALIAN.
  11. 26. MATJAM² ALAT DAN SENDJATA
  12. B. PERENTJANAAN.
  13. 29. MUM..
  14. 33. SASARAN.
  15. 34. GERAKAN MENDEKAT 35. FORMASI.....
  16. 37. UMM.
  17. 41. TARAF2 PELAKSANAAN ..
  18. 43. PETUNDJUK
  19. 36. ADMINISTRASI DAN LOGISTIK .....
  20. MEMBUAT PANTJANGAN KAKI .....
  21. 45. DRILL PHH FASE KE-I. GERAKAN
  22. PHH adalah tindakan² merentjanakan, mengorganisasi dan menen-
  23. Sebelum memulai dengan suatu gerakan aksi massa jang se-
  24. (2) Pemasangan poster², slogan², karikatur² dan sebagainja. (3) Pengedaran pamflet² gelap.
  25. (4) Hasil jang mereka peroleh dalam kegiatan mereka, se-
  26. b. Demonstrasi :
  27. Usaha untuk mengatasinja adalah lebih sulit daripada huru
  28. Dalam naskah ini kekatjauan jang diakibatkan oleh perasaan panik
  29. 18. TJARA2 DAN ALAT2 PERLAWANAN JANG DIGUNA-
  30. tjara untuk menggagalkan tindakan² jang diambil oleh Satuan PHH.
  31. Tjara² tersebut meliputi :
  32. 19. MATJAM SATUAN-2 JANG DAPAT DIKERAHKAN.
  33. (5) Penerangan.
  34. (3) Mampu menembus bermatjam rintangan jang dibuat pe-
  35. rusuh atau menutup daerah/djalan² pendekat.
  36. (4) Pada huru-hara tingkat-II, Satuan² BERBA karena tidak
  37. (2) Lebih berpengalaman dalam pengendalian massa.
  38. (3) Menjebarkan surat2 selebaran jang berisi perintah², pe-
  39. (5) Mendjatuhkan granat² gas, granat² tjahaja pada waktu
  40. (8) Pesawat helikopter dapat pula digunakan untuk membu-
  41. (4) Melajani mobil pemadam kebakaran.
  42. (1) Unsur depan.
  43. (1) Satuan ini merupakan unsur pemukul bagi DAN jang me-
  44. (2) Satuan Tjadangan ini berada di POSKO selama tidak di-
  45. perintahkan oleh DAN setempat.
  46. (b) Membantu team POM untuk menangkapi oknum²
  47. 国2日2
  48. 24. PENJUSUNAN SATUAN TUGAS PHH.
  49. 1 Jeep 1/4 ton dan 1 truk 3/4 ton.
  50. 2 sepeda motor.
  51. (2) Team/Satuan Andjing Polisi (Police-Dogs).
  52. (d) Mendjaga tahanan/tawanan, agar tidak melarikan
  53. (e) Pengawalan pimpinan² penggerak massa jang berha-
  54. (3) Kelompok Voorryders POM.
  55. (b) Mendjamin kekompakan konvooi selama R.M.
  56. (c) Melakukan dinas koerier apabila hubungan dengan
  57. (d) Melakukan kordinasi dengan POLANTAS-POLRI
  58. (a) Membantu satuan PHH untuk membubarkan massa
  59. b. Tanggung-djawab operasionil ada pada DAN MILDA.
  60. TAKTIK DAN TEHNIK
  61. (b) Keseragaman dalam perlengkapan perorangan (pa-
  62. (d) Berikan perlindungan kepada mereka jang tidak
  63. kekatjauan itu, mengetahui kekuatannja, keadaan dan mak-
  64. 31. KEGIATAN KOMANDAN PASUKAN.
  65. Menutup sesuatu djalan, bagian dari lapangan atau
  66. Mengangkut tahanan atau orang² jang dilindungi.
  67. (7) Walaupun Regu Berbandjar jang mendjadi dasar formasi²
  68. b. Menjerang/mendorong massa/perusuh untuk mengarahkan
  69. (3) Perusuh dibubarkan dengan menggunakan zat² kimia (gas
  70. Tembakan diatas kepala.
  71. DRILL P.H.H.
  72. b. Kepada seluruh anggauta pasukan harus selalu ditekankan,
  73. (a) Fase ke-I.
  74. Gerakan perseorangan.
  75. (b) Fase ke-II.
  76. (c) Fase ke-III.
  77. (d) Fase ke-IV.
  78. (e) Fase ke-V.
  79. (f) Fase keVI.
  80. (1) Senapan.
  81. Per-tama² mengambil sikap dengan sendjata rata²
  82. (3) Pukulan popor mendatar dilakukan pada waktu kaki ka-
  83. Djuga gerakan badan memutar sampai sudut 90°. (4) Parangan.
  84. Dilakukan pada waktu kaki kiri didepan.
  85. (a) Aba² : "Siapkan tongkat, gerak".
  86. Pelaksanaan dari aba² tersebut meliputi empat gera-
  87. (a) Aba2 : "Depan tongkat, gerak".
  88. (4) Sikap istirahat ditempat.
  89. (a) Aba² : "Pukul mata kaki/tulang kering kanan/kiri,
  90. (a) Aba² : "Pukul lengan kanan/kiri, gerak".
  91. (10) Menjodok.
  92. (a) Aba² : "Sodok dada/perut, gerak".
  93. (1) Perlu didjelaskan bahwa gerakan dasar dipergunakan hanja
  94. 梦 叠 梦愛整查
  95. (2) Pelatih (DAN TON) berdiri dimuka Regu menghadap ke
  96. Regunja, dan memberi aba² : "Berhitung, mulai'.. Setelah
  97. IdemSiap gerak. Pen-
  98. 5.ri nomor dua ber-turut² ber-
  99. djuru kanan sbg
  100. Idem
  101. 7. Idem
  102. menurut hitungan DAN RU
  103. DAN RU
  104. No. Pelaksanaan
  105. 2. Madju. Pada aba² peringatan ini,
  106. RU.anggauta² jang bernomor
  107. No. Pelaksanaan
  108. DARI ABA2
  109. kiri DAN RU dibelakang anggauta No. 5, sedang
  110. 5. Idem Aba² pelaksanaan diberikan
  111. gerak.seperti No. 4 diatas tetapi
  112. f. Formasi Paruh Lembing. (lihat Gambar No. 3).
  113. No. DARI ABA2
  114. djalan.Aba² pelaksanaan ini diberi-
  115. ABA2 BUNJI Pelaksanaan
  116. g.Formasi serong ka nan/kiri. (Lihat Gambar No. 3).
  117. No. ABA2
  118. DARI
  119. nan, djalan, gu tetap ditempat sedang
  120. djalan.Dalam keadaan berhenti, Re-
  121. 2. Madju,
  122. RU. kan, apabila No. 2 sudah
  123. pat dibelakang No. 2 dan segaris serong pada DAN
  124. No. DARI ABA2
  125. DAN RU. Madju, djalan.
  126. h. Formasi Paruh Lembing kanan/kiri (lihat Gambar 3).
  127. RU.mengambil tempat dibela-
  128. 5 — tiga langkah
  129. 7 — satu langkah
  130. 4. Idem
  131. 5. Idem
  132. gerak. kan pada waktu kaki kiri
  133. 6. Depan sendjata, Aba² pelaksanaan diberikan
  134. Idem
  135. gerak. seperti tsb. dalam No. 5 di-
  136. (c) DAN RU memberi aba² : "Madju, djalan".
  137. No. 9 dan 10 menudju samping kanan/kiri DAN
  138. (c) DAN RU memberi aba² : "Madju, djalan".
  139. (c) DAN RU memberi aba² : "Madju, djalan".
  140. (b) WADAN RU memberi aba² : "Madju, djalan".
  141. (c) DAN RU memberi aba² : "Buka barisan, djalan".
  142. No. Pelaksanaan
  143. DARI ABA2
  144. Madju, djalan. Setelah BATON melihat
  145. TON.
  146. lan" jang djatuh pada kaki
  147. gerak.No. 5 diatas, tetapi sendjata
  148. d. Peleton Paruh Lembing. (Lihat Gambar No. 5)
  149. No. Pelaksanaan
  150. DARI ABA2 DAN Peleton paruh Dalam keadaan berhenti, Pe-
  151. 1. TONleton tetap ditempat, sedang
  152. djalan.Peleton tetap ditempat bila
  153. RU-I
  154. TON. madju, djalan.
  155. ABA2 BUNJI
  156. No.Pelaksanaan
  157. DARI ABA2
  158. IdemSiap-sedia, gerak Aba² pelaksanaan ini diberi- 7.
  159. 8. Idem Henti, gerak.
  160. 9. DAN RU-
  161. II djalan. gauta membuka 1 langkah
  162. 10. Idem
  163. 11. Idem Sikap siap-sedia,
  164. No. Pelaksanaan
  165. DARI ABA2
  166. 12. DAN Peleton akan ma-
  167. TON RU-II memberi aba² pada
  168. 13. DAN RU-Pada waktu aba² ini semua Depan sendjata,
  169. II anggauta mengambil sikap
  170. 14. Hadap kiri/ha-Semua anggauta mengambil
  171. Idem
  172. dap kanan gerak. haluan semula.
  173. 15. DAN Pada waktu aba² peringatan
  174. Madju, TONini, semua "Madju" diberi-
  175. No.Pelaksanaan
  176. djalan.djatuh ditanah ditambah 2
  177. TON III madju, djalan.
  178. RU-I dan II madju kede-
  179. djalan.Aba² pelaksanaan ini diberi-
  180. No. Pelaksanaan
  181. DARI ABA2
  182. Pada serong kanan Regu-I
  183. (a) Tiap² anggauta dapat mentjegah penerobosan formasi
  184. (b) Bintara Peleton memberi aba²: "Regu-I, Regu-II dan
  185. disamping kanan DAN RU-II dalam bentuk bersjaf, Regu-III madju disamping kiri Regu-II dalam bentuk
  186. (c) Kelompok Komando madju antara tengah² dibelakang
  187. dari Regu-II. Mengenai antaranja tidak ditentukan
  188. (b) Bintara Peleton memberi aba²: "Regu-I, Regu-III,
  189. Kelompok Komando madju, djalan".
  190. (c) Regu-II madju berbandjar di-tengah² dengan djarak
  191. DAN RU-II madju 6 langkah dan melangkah
  192. (4) Pemeriksaan teknis terhadap alat² chusus, kendaraan,
  193. Mempeladjari keterangan²
  194. g. DAN² TON dan DAN²
  195. TJONTOH PERINTAH GERAKAN P. H. H.
  196. KEADAAN UMUM :
  197. Massa berasal dari golongan ....
  198. terdiri dari peladjar², mahasiswa², buruh dan pegawai. Pimpinan pawai demonstrasi belum diketahui. Banjak pengikut-pengi-
  199. Massa tjukup aggressief dan militant.
  200. Djalan² jang_dipergunakan oleh massa untuk pawai demonstrasi adalah Djl., Djl.
  201. dan Djl. ...
  202. 2. TUGAS:
  203. Membubarkan pawai demonstrasi tersebut dan menangkap/mena-
  204. Garis desak/kontak di
  205. (Gerakan dari T.B. ke P.G.).
  206. Apabila selama dalam perdjalanan didjumpai gangguan², rin-
  207. (3) 2 TON depan — 1 TON dibelakang.
  208. (4) Mobil pemadam kebakaran.
  209. Satuan² tersebut diatas, menempatkan diri sesampainja TON
  210. Pelaksanaan :
  211. (1) DAN KI PHH dengan didampingi oleh DAN kelompok
  212. pelopor, DAN team POM dan seorang pesuruh, madju
  213. apabila ternjata bahwa massa jang akan dihadapinja ter-
  214. nja dibelakang dari TON depan.
  215. (2) Aba² : "Regu tjadangan siapkan penjemprot air"
  216. 56. GERAKAN DARI GARIS DESAK KE TITIK PETJAH.
  217. 58. GERAKAN DARI GARIS DESAK KEDAERAH PEMBUBAR-
  218. (a) Mentjegah massa menjusun kekuatannja kembali un-
  219. (d) Pendekatan kepada pimpinan massa (approach) oleh
  220. (2) Tjara² tidak langsung untuk membubarkan massa didaerah
  221. (a) Memperdengarkan lagu² pop lewat pengeras suara
  222. (b) Memasukkan pedagang² es, roti dan pendjadja² ma-
  223. (c) Menjediakan alat² pengangkutan bagi massa, chusus-
  224. 60. LAIN-LAIN.
  225. D. KERDJASAMA KAVALERI BERBA
  226. (1) Formasi² dasar dari satuan² Kavaleri itu sendiri, jang da-
  227. (2) Tjara² pemberian aba² untuk Satuan² Gabungan, untuk ini
  228. (3) Komandan Satuan Gabungan dalam PHH ini penundjuk-
  229. (1) Dalam penggunaan Satuan² Gabungan inipun, kita me-
  230. (2) Penggunaan formasi² serta perubahan²nja, dapat disesuai-
  231. 62. FORMASI PELETON INF DENGAN TON PANSER.
  232. (b) Kendaran membentuk formasi paruh lembing. (c) DAN TON memberi aba² : "Madju, djalan".
  233. Peleton paruh lembing, djalan".
  234. (2) Bila dalam TON Panser itu terdapat ber-matjam² djenis
  235. kendaraan, penggunaannja supaja DAN TON/KI INF
  236. kordinasi dengan DAN TON kedaraan tersebut (menge-
  237. (3) DAN TON/KI INF bertempat dikendaraan Kdo (kenda-
  238. (4) Aba² DAN TON/KI INF apabila tidak mungkin dapat
  239. diberikan, dapat diganti dengan tanda² taktis.
  240. (b) Kendaraan membentuk formasi bersjaf. (c) DAN KI memberi aba² : "Madju, djalan".
  241. "TON belakang tjadangan.
  242. (c) DAN KI memberi aba2 : "Madju, djalan".
  243. (3) 2 TON tjadangan.
  244. (b) Kendaraan membentuk fomasi serong kanan/kiri.
  245. (c) DAN KI memberi aba2 : "Madju, djalan".
  246. (4) DAN TON/KI INF bertempat dikendaraan Kdo (kenda-
  247. Q pat² jang sering keterobosan
  248. o (1) Orang jang didekatnja
  249. (2) Djarak orang-kendara-
  250. 0 merlukan latihan chusus 0
  251. 0ini tjadangan tjepat bertin-
  252. ABA2'DENGAN'ISJARAT
  253. PARUH LEMBING KIRI PARUH LEMBING KANAN
  254. ABA2 DENGAN ISJARAT
  255. GAMBAR_ la
  256. IRASMAD
  257. ABA2 DENGAN ISJARAT
  258. BENTUK2 SIKAP
  259. SIKAP SIAP SEDIA PENDEK
  260. SIKAP DORONG
  261. SIKAP DORONG
  262. SIK AP DEPAN TONGKAT 5 Cm.ALAS
  263. TONGKAT
  264. TONGKAT DORONG
  265. TJAMBUK
  266. GAMBAR 2B.
  267. "WARU"
  268. TOPI PELINDUNG MUKA
  269. 日一四
  270. 日回
  271. 回3 LANGKAH
  272. ☑ 4
  273. 回8
  274. 0一 O←
  275. O←
  276. FORMASI PELETON
  277. Ⅲ Ⅱ
  278. Ⅲ Ⅱ
  279. ⅢⅡ1
  280. POK KO TON
  281. ⅡI Ⅲ
  282. ⅢⅡI
  283. PELETON SERONG KIRI
  284. PEROBAHANFORMASI PELETON
  285. Ⅲ I ↑
  286. Ⅲ Ⅱ
  287. POK.KO TON
  288. POK.KO.TON
  289. A.FORMASI2KOMPI
  290. BERBANDJAR
  291. 2.13.
  292. POK.KO.TON.
  293. TON.I →POK.KO.KI.
  294. TON日 TON.
  295. PARUH LEMSING BERSJAF
  296. 000 000 。。。 000
  297. POK KO KI
  298. SERONG KIRI SERONG KANAN
  299. Ⅱ ⅡI
  300. I I POK KO KE POK KO KI
  301. GAMBAR-7
  302. A.PERUBAHAN2FORMASI KOMPI.
  303. BERBANDJAR KE BERSJAF.
  304. .GAMBAR_8.
  305. BERBANDAR KE PARUH LEMBING
  306. C个
  307. ⅡI
  308. ⅡI
  309. ⅢI
  310. ⅡⅢ
  311. BERBANDJAR KE SERONG KIRI
  312. Ⅱ Ⅲ
  313. Ⅱ Ⅲ
  314. GAMBAR-8B
  315. PARUH LEMBINGIKE BERSJAF
  316. 个 ↑
  317. PARUH LEMBING KE SERONG KIRI
  318. SERONG KIRI KE BERSJAF
  319. GAMBAR-8C
  320. PENETRAPAN FORMASI.
  321. GEAN
  322. RUAH R R
  323. RUAH
  324. I Ⅲ
  325. RUAH
  326. PENETRAPAN FORMASI.
  327. AH MAH M
  328. RUAHつ
  329. RUAH
  330. VIII ×XXX XXXXX
  331. RUAH
  332. RUUMRUAH
  333. x X 1xxx 1XXX
  334. KESATUAN KAVALERI.
  335. SERONG KIRI/KANAN.
  336. 7↑
  337. FORMASITON INF DENGAN KENDARAAN PANCER.
  338. 4 古古古
  339. B 2 óおòó5o
  340. FORMASI PARUH LEMBING TANPA TJADANGAN.
  341. FORMASI PARUH LEMBING DENGAN TJADANGAN.
  342. GAMBAR_II.A.
  343. PELETON SERONG KANAN:IREGU TJADANGAN.
  344. はO
  345. 2 O 0
  346. FORMASI KI INF DENGAN KENDARAAN.
  347. DARI KI BERBANDJAR KE KI BERSJAF:TANPA TJADANGAN
  348. KI BERBANDJAR.
  349. TON,BELAKANG TON. DEPAN TON.TENGAH
  350. TON.BELAKANG 古
  351. DENGAN ITON TJADANGAN. DENGAN 2TON TJADANGAN
  352. 2AKI
  353. BELAKANG!
  354. GAMBAR_12A DARI BERBANDJAR KE SERONG KANAN KIRI
  355. GAMAAI13
  356. BAKKKIDE
  357. KEAAN
  358. SISI
  359. PEMAN ANATPADO KUNG
  360. KEAN
  361. BENTUK2 FORMASI KAVALERI BERKUDA
  362. 十0 Oto2
  363. 十0+0
  364. 10 9
  365. おざお
  366. 古9
  367. 出4
  368. Hぱ
  369. の3目
  370. 030 030
  371. 630个
  372. 213415
  373. 930-
  374. 170-
  375. 570-
  376. 30の 70m 7O2
  377. 7O1+0-30
  378. 3-00
  379. 30030303030
  380. FORMASI BERSJAF
  381. RU POK
  382. SERONG KIRI
  383. 子子
  384. 子子子子子子
  385. LAMPIRAN I
  386. 226 gram. 524,5 gram.
  387. 1 djam. hari.
  388. -00000—
  389. Waktuefektifdi sa-saran(
  390. Ieardssp yards 1..a Ydsba agn 9Nsqi-a 9a g9tn.
  391. Dum-
  392. Wakuefektifdi sasaran(e
  393. Lebardssapyards 50 yds ba agn
  394. Diuu-Gra-
  395. Waktuefektifdi sasaran( ~
  396. TEG U P PGIN
  397. LIebardssapyards 25 ds ba gn
  398. KB MIMA MI M M MIA
  399. DALRPARAS PRAN PR PARAN
  400. Dum-Gtra- H Harea meeb bda LIebarfront Assap-pe- muan TIitik2510.255.
  401. TJIRI² GAS AIR-MATA CN.
  402. Type Bakar Type Serbuk
  403. Tergantung
  404. Aksi — Keluar air-mata — Keluar air-mata. djasmaniah.
  405. Pertolongan Tjutji mata
  406. (3) Meng-agung²-kan popularitas seorang tokoh setjara ber-
  407. (5) Mentjiptakan "sjahidin²" (Mengorbankan seseorang un-
  408. Gedjala²nja :
  409. sedemikian tjepatnja dengan disebar-luaskannja desas-desus,
  410. (2) Muda-mudi tak bermoral (crossboys/crossgirls).
  411. (5) Wartawan² - dalam/luar negeri jang mentjari berita² ha-
  412. 11. UMUM.
  413. (6) Bagaimana keadaan tjuatja pada saat² jang mendatang ?
  414. 13. TAKTIK MASSA UNTUK MEMPENGARUHI PETUGAS
  415. LAMPIRAN - 4
  416. Bab & pa~
  417. 16 I D Dalam keseluruhan pasal² ini dimana
  418. 22, setiapkali disebut JONIF ROI-64, ma- 17
  419. 23,ka dengan itu dimaksudkan bahwa
  420. 18 24. penjusunan Satuan PHH berpedoman
  421. 20 IDBerbagai djenis kendaraan panser se-
  422. 24c bagai-tertulis pada ajat mengenai Satu-
  423. (4).an Panser/Kavaleri ini, dimaksudkan
  424. Hala-Bab &
  425. 21 ID Pemberian pakaian seragam AD kepa-
  426. (6).
  427. 23 IDAlat² perlengkapan tambahan jang di-
  428. 26 d.maksudkan dalam ajat ini, sebagian

MARKAS BESAR ANGKATAN DARAT TERBATAS

BUKU PETUNDJUK

PENINDAKAN HURU-HARA

No.72-007

PENGESJAHAN SURAT KEPUTUSAN KASAD NOMOR : KEP-449/8/1970 TGL. 7 AGUSTUS 1970

DILARANG MEMPERBANJAK ATAU MENGUTIP KASAD SEBAGIAN TANPA DARI IDZIN

D- A

Halaman

DAFTAR-ISI

BAB-I. : UMUM.

A.PENDAHULUAN.
1. TUDJUAN
2. RUANG LINGKUP AN HURU-HARA
4. TUGAS DAN TUDJUAN PHH
5. BATAS2 WEWENANG
B.PENGERTIAN2.
6. MASSA
7. DEMONSTRASI
8. PERUSUH
9. HURU-HARA
11. SENDJATA PSYCHOLOGI
12. BANTUAN MILITER
C.HAKEKAT HURU-HARA.
13. UMUM

HARA 10
15. TJIRI-TJIRI 11
12

16. TINGKAT HURU-HARA

BAT ADANJA HURU-HARA

D. ORGANISASI.
KERAHKAN

7 7

7 7 7

8 8 8 8 9 9 9

13 14

  1. PERANAN AD DALAM PENINDAK-
  2. PENINDAKAN HURU-HARA (P.H.H.).
  3. TANDA2 AKAN TIMBULNJA HURU-
  4. BAHAJA JANG DAPAT TIMBUL AKI-
  5. TJARA2 DAN ALAT2 PERLAWANAN JANG DIGUNAKAN FIHAK PERUSUH
  6. MATJAM SATUAN² JANG DAPAT DI-
  7. PENDJELASAN TENTANG SATUAN
  8. BESARNJA SATUAN DAN PENJU-

SUNANNJA ....

22.PENJUSUNAN SATUAN PHH.
23.
17

SUSUNAN PELETON SENAPAN PHH.

24. PENJUSUNAN SATUAN TUGAS P-

HH.....

25. KOMANDO DAN PENGENDALIAN.

26. MATJAM² ALAT DAN SENDJATA

JANG DAPAT DIPERGUNAKAN .....
22

BAB-II. : TAKTIK DAN TEHNIK.

A.AZAZ-AZAZ.
27. UMUM.
28. AZAZ-AZAZ

B. PERENTJANAAN.

29. MUM..

DAERAH..

  1. ALAT2 PENGENDALIAN

    33. SASARAN.

34. GERAKAN MENDEKAT 35. FORMASI.....

C.PELAKSANAAN.

37. UMM.

  1. PEDOMAN PELAKSANAAN
  2. MENGATASI PERUSUH KEKERASAN
    40.

    41. TARAF2 PELAKSANAAN ..

BAB-III.:: DRILL P.H.H.

A.UMUM.
42. TUDJUAN

43. PETUNDJUK

25 25

28 29 30 31 32 33 36

36 37

37 38 38

  1. KEWADJIBAN KOMANDAN MILITER
  2. KEGIATAN KOMANDAN PASUKAN.

    36. ADMINISTRASI DAN LOGISTIK .....

DENGAN

MEMBUAT PANTJANGAN KAKI .....

B. GERAKAN² DASAR.
44. UMUM....43

45. DRILL PHH FASE KE-I. GERAKAN

PERSEORANGAN 43

  1. DRILL PHH FASE KE-II. MEMBUAT DAN MEROBAH FORMASI² REGU ... 49
  2. DRILL PHH FASE KE-III. MEMBUAT DAN MEROBAH FORMASI2 PELE-TON
    64

  3. DRILL PHH FASE KE-IV. MEMBUAT DAN MEROBAH FORMASI2 KOMPI ... 77

  4. DRILL PHH FASE KE-V. PENETRAP-AN FORMASI² DALAM KEADAAN MEDAN SESUNGGUHNJA .. 77
    C. DRILL APLIKASI KOMPI PHH JANG DI-PERKUAT.
  5. PENJIAPAN PASUKAN PHH 78
  6. PROSEDUR PIMPINAN PASUKAN ... 79
  7. PENEMPUHAN ROUTE MARS MEN-
    DEKAT (Gerakan dari T.B. ke P.G.) ....83

  8. KEGIATAN DI PANGKAL GERAK .... 84

  9. GERAKAN DARI G.A. KE GARIS DESAK
    85

  10. TINDAKAN² BER-TURUT2 DI GARIS DESAK...85

  11. GERAKAN DARI GARIS DESAK KE TITIK PETJAH ... 89
  12. GERAKAN PENGHALAUAN 89
  13. GERAKAN DARI GARIS DESAK KE DAERAH PEMBUBARAN 89
  14. KONSOLIDASI 91
    60.LAIN-LAIN91
    D.KERDJASAMA BERBA IN-
    KAVALERI FANTERI.

  15. UMUM..

  16. FORMASI TON INF DENGAN TON PANSER 92
  17. FORMASI KOMPI DENGAN KENDA-
    RAAN PANSER..... 94

  18. KEMUNGKINAN² TJARA MENERO-BOS 96

  19. KENDARAAN BARIKADE 97
    E.KERDJASAMA KAVALERI BERKUDA DENGAN INFANTERI.
  20. UMUM.. 97
  21. FORMASI TON INF DENGAN RU KAVKUD 98
    LAMPIRAN - 1 : PETUNDJUK2 MENGENAI BEBERAPA ZAT KIMIA. 130

LAMPIRAN — 2 : BEBERAPA DASAR HUKUM DARI

K.U.H.P/K.U.H.P.T. 133
LAMPIRAN - 3 : MASALAH HURU-HARA. 134 LAMPIRAN — 4: LEMBAR PENDJELASAN. 149

一00000—

BAB-I

U M U M

A. PENDAHULUAN.
1. TUDJUAN. Tudjuan DJUKLAP ini ialah untuk memberikan petundjuk tentang tata-tjara pelaksanaan penindakan huru-hara atau keonaran² jang mungkin terdjadi pada setiap tempat dan setiap saat bagi semua unsur² Angkatan Darat.
2. RUANG LINGKUP. Ruang lingkup DJUKLAP ini meliputi pokok² PHH dan petundjuk melatih pasukan untuk penindakan huru-hara.
3. PERANAN AD DALAM PENINDAKAN HURU-HARA.
a. Huru~hara dapat meluas dan menghebat sedemikian rupa, se- hingga alat kekuasaan sipil (termasuk Kepolisian Negara) ti- dak dapat lagi menguasai keadaan. Bantuan militer karenanja perlų dikerahkan untuk mengembalikan keamanan, ketertiban umum dan kewibawaan Pemerintah.
b. Peranan militer ialah mengembalikan keamanan dan ketertiban selekas mungkin, melindungi djiwa manusia dan hak milik, menghargai harta-benda perorangan dan memberikan ke- mungkinan untuk alat² kekuasaan sipil berfungsi kembali.
4. TUGAS DAN TUDJUAN PHH.
a.Tudjuan. Tudjuan PHH adalah untuk mengembalikan ketertiban dan keamanan serta melindungi djiwa dan hak milik.
b. Tugas. Tugas penindakan huru-hara adalah mentjegah meluasnja huru-hara, membubarkan huru-hara dan menangkap pelaku²/ biang keladi perusuh.
5. BATAS2 WEWENANG.
a.Penggunaan pasukan² militer guna penindakan huru-hara di- lakukan dalam rangka pemberian bantuan militer atas permin- taan pedjabat sipil jang berwenang.

b Permintaan bantuan militer diadjukan dengan tertulis, akan tetapi dalam keadaan mendesak, permintaan dapat diadjukan dengan lisan. Dalam hal ini permintaan tertulis disusulkan se- lambat²nja dalam waktu dua puluh empat djam.

C. Wewenang serta kewadjiban untuk memerintahkan penggu- naan pasukan militer untuk penindakan huru-hara, hanja ber- ada pada PANGLIMA DAERAH MILITER, sesuai dengan peraturan² jang berlaku.
d.Dalam keadaan mendesak, setiap Komandan Militer wadjib memberi bantuan militer termasuk penindakan huru-hara atas permintaan pedjabat sipil jang berwenang. Dalam hal ini, maka Komandan Militer termaksud harus segera melaporkan kepada PANGLIMA Daerah jang berwenang.
B. PENGERTIAN2.
6. MASSA. Massa ialah sekumpulan manusia jang relatif besar djumlahnja, tidak teratur, tanpa pimpinan, tidak bersatu dan tidak mempunjai maksud melakukan perbuatan diluar hukum.
7. DEMONSTRASI Demonstrasi ialah kegiatan massa jang terorganisir, mempunjai pimpinan dengan suatu tudjuan mendukung atau menentang keadaan politik, ekonomi dan sosial serta kebidjaksanaan² Pemerintah dan tidak mempunjai maksud melakukan perbuatan jang berten- tangan dengan hukum.
8. PERUSUH. Perusuh ialah massa jang sudah tidak tertib setelah anggauta²nja kehilangan rasa tanggung-djawab dan sudah tidak menghiraukan hukum lagi.
9. HURU-HARA. Huru-hara adalah suatu kekatjauan dimana perusuh bersikap me- ngantjam serta mengatjau dan meskipun menghadapi penindakan, tetap mempunjai hasrat jang kuat untuk dengan djalan kekerasan : menjerang, membahajakan dan atau menimbulkan kerugian harta- benda, djiwa manusia serta kewibawaan Pemerintah.

  1. PENINDAKAN HURU-HARA (P.H.H.).

    PHH adalah tindakan² merentjanakan, mengorganisasi dan menen-

tukan tjara² bertindak jang dikoordinir serta digunakan setjara me- njeluruh untuk mentjegah dan membubarkan huru-hara. 1i. SENDJATA PSYCHOLOGI.

Sendjata psychologi adalah totalitas jang teratur, berdaja dan ber- hasil-guna, saling bersangkut-paut dari pengintegrasian sikap, ting- kah-laku, sifat² pribadi serta sarana dan methoda jang diwudjud- kan dalam pola tertentu untuk mempengaruhi psyche/djiwanja.

  1. BANTUAN MILITER. Bantuan militer ialah segala tindakan oleh satuan² militer jang dila- kukan dalam rangka memenuhi permintaan pedjabat sipil jang ber- wenang dalam usaha:
    a. Mentjegah gangguan keamanan atau memulihkan ketertiban dan keamanan umum.
    b. Mendjaga keselamatan dan keamanan umum bila bentjana alam terdjadi atau diduga akan terdjadi.
    C. Mendjaga bangunan² serta alat² vital jang terantjam.
    C. HAKEKAT HURU-HARA.
  2. U MUM.
    a. Dalam menilaf tingkat dan terdjadinja huru-hara, setiap Ko- mandan harus mengetahui hakekat huru-hara jang berpang- kal pada keadaan massa itu sendiri dimana karena keadaan psychologi, sosial ekonomi dan politik serta pengaruh², baik exogen maupun endogen dapat menimbulkan huru-hara. Huru-hara jang bertendensi sosial/ekonomi/politik/psychologi ter- sebut tidak ada batas tegas, karena dari tiap djenis huru-hara akan dapat berkembang mendjadi djenis jang lain. (Tjontoh : Huru-hara bertendensi sosial dapat berkembang/berobah mendjadi huru-hara jang bertendensi Politik).
    b. Dengan mengikuti perkembangan keadaan jang berlangsung setiap hari, maka kita dapat menentukan dengan segera aspek, latar belakang dan alasan dari suatu gerakan aksi massa. Dengan tjara demikian, kita tidak akan didadak oleh suatu gera-

kan aksi massa jang menimbulkan kerusuhan. Selain daripada itu djuga kita dapat menentukan sasaran utama dari suatu gerakan aksi massa, karenanja dapat ditentukan sifat dan karak- ter dari gerakan aksi massa tersebut, jaitu: Lunak. Menurut. Bandel. Agresif/militant.

Sebelum memulai dengan suatu gerakan aksi massa jang se-

sungguhnja, kadangkala pimpinan² aksi massa jang berpenga- laman terlebih dulu mengadakan suatu move2 pendahuluan untuk mendjadjaki situasi masjarakat dan djuga fihak Pengua- sa/Pemerintah. Aksi² tersebut antara lain:

(1) Aksi tjorat-tjoret.

(2) Pemasangan poster², slogan², karikatur² dan sebagainja. (3) Pengedaran pamflet² gelap.

(4) Siaran² radio amatir jang agresip.
(5) Rapat² umum.
(6) Pawai² allegoris.
(7) Pelantjaran perang urat-sjaraf.
(8) Pemantjingan insiden² dengan petugas² keamanan. Aksi² pendahuluan ini dilakukan fase demi fase.
14. TANDA2 AKAN TIMBULNJA HURU-HARA.
a. Massa dan demonstrasi karena satu dan lain hal dapat ber- kembang mendjadi perusuh. Perkembangan ini terdjadi dise- babkan antara lain :
(1) Penghasutan dan pidato jang ber-api².
(2) Kelemahan dan sikap petugas jang tidak tegas. (3) Muntjulnja seseorang ditempat itu, kepada siapa aksi itu ditudjukan.

(4) Hasil jang mereka peroleh dalam kegiatan mereka, se-

hingga terdorong oleh kemenangan ini mereka dengan nekad dan berbahaja mendesak kedepan.

b. Meningkatnjà suatu massa dan demonstrasi mendjadi perusuh dapat terlihat dengan adanja tindakan² jang tidak bertanggung- djawab dan melawan hukum,seperti :
(1) Menjerang petugas² dengan maki²an.
(2) Hilangnja ketertiban umum.

(3) Menimbulkan kerugian² harta-benda (merusak djendela, bangunan, membakar dan lain²).
(4) Mengantjam dan membahajakan djiwa manusia.
C.Tidak ada batas jang djelas antara massa jang ragu² dan peru~ suh jang njata, terutama dalam keadaan jang genting. Kete- gangan dan kegaduhan adalah sukar di-beda²kan. Massa dan perusuh mudah putus asa, tetapi mudah pula bertambah semangat. Djika mereka berhasil dalam sesuatu usaha, semangat mereka meluap; dan karena tidak berdisiplin, tak dapat atau sukar dikendalikan.
15. TJIRI-TJIRI.
a.Massa:
(1) Sekumpulan orang2.
(2) Belum ada pimpinan.
(3) Masih tersebar, tapi ada ketjenderungan untuk memusat pada objek jang mendjadi perhatian.
(4) Sikapnja masih pasif.
(5) Tidak mempunjai maksud melakukan perbuatan diluar hukum.

b. Demonstrasi :

(1) Sekumpulan orang2.
(2) Sudah ada pimpinan.
(3) Terorganisir.
(4) Mempunjai tudjuan tertentu.
(5) Tidak mempunjai maksud melakukan perbuatan jang me- langgar hukum.
c. Perusuh:
(1) Massa jang sudah terpusat.
(2) Ada orang² jang menondjol dan menghasut.
(3) Biasanja berada disekitar objek jang mendjadi perhatian.
(4) Sikapnja reaktif.
(5) Mempunjai tudjuan tertentu.
d. Huru-hara.
(1) Kekatjauan jang dilakukan oleh perusuh.
(2) Pimpinan biasanja ada, tetapi sudah tidak dapat mengen- dalikan orang²nja, sehingga sukar dibedakan antara pe- mimpin dan jang dipimpin.
(3) Sikapnja/kegiatannja aktif destruktif.

  1. TINGKAT HURU-HARA. Dilihat dari intensitas kerusuhan, maka huru-hara dapat dibagi atas dua tingkat:
    a. Huru-hara tanpa perlawanan bersendjata (tingkat-II). Huru-hara tanpa perlawanan bersendjata adalah kerusuhan² jang dilantjarkan tanpa menggunakan sendjata² tadjam maupun sendjata api. Biasanja huru-hara tersebut mempergunakan tongkat, batu², botol² dan sebagainja sebagai sendjata. Diper- lukan tjara² tertentu untuk mengatasinja, guna menghindari meningkatnja huru-hara itu mendjadi huru-hara tingkat I.
    b. Huru-hara dengan perlawanan bersendjata (tingkat-I). Huru-hara dengan perlawanan bersendjata adalah kerusuhan² jang dilantjarkan dengan menggunakan sendjata² tadjam/api. Ada dua kemungkinan terdjadinja huru-hara tingkat-İ:
    (1) Huru-hara jang terdjadi dari perkembangan tingkat-II jang disebabkan karena sesuatu dan lain hal, kesalahan atau kelalaian penindakan.
    (2) Huru-hara jang memang disiapkan dan direntjanakan se- belumnja dengan menggunakan sendjata.

    Usaha untuk mengatasinja adalah lebih sulit daripada huru

hara tingkat-II. karena kemungkinan adanja korban² manusia dan harta-benda, baik difihak sendiri maupun fihak perusuh besar sekali.

Dalam naskah ini kekatjauan jang diakibatkan oleh perasaan panik

dalam rangka menjelamatkan diri (bentjana alam, kebakaran dan sebagainja), tidak termasuk didalam katagori pengertian huru-hara.

  1. BAHAJA JANG DAPAT TIMBUL AKIBAT ADANJA HURU-HARA. Huru-hara dapat mengantjam kestabilan di-bidang²: politik, ekono- mi, sosial dan HANKAM, baik pada tingkat lokal, regional maupun pada tingkat nasional.

    18. TJARA2 DAN ALAT2 PERLAWANAN JANG DIGUNA-

KAN FIHAK PERUSUH.

Perusuh didalam menghadapi Satuan² PHH menggunakan berbagai

tjara untuk menggagalkan tindakan² jang diambil oleh Satuan PHH.

Tjara² tersebut meliputi :

a. Menurunkan moril Satuan² PHH. Penurunan moril Satuan² PHH dilakukan dengan tjara meng- ikut-sertakan anak², wanita, putra/putri ABRI (dalam kelom- pok²), menjanjikan lagu² perdjuangan, membawa slogan² keadilan dan kebenaran, membawa bendera kebangsaan.
b.Perlawanan setjara pisik. Jang digunakan dalam melakukan perlawanan setjara pisik dapat berupa : serangan dengan alat²/sendjata, mulai dari benda² jang dapat mereka lemparkan, sendjata² tadjam, petjahan² ka- tja atau botol, bom molotov (botol jang diisi dengan bensin dan diberi sumbu api), petasan², air tjabe/lombok dan lain² larutan jang berbahaja, gas air-mata buatan sendiri, tabir asap sampai dengan sendjata api. Selain dari itu mereka djuga melakukan desakan² kedepan dan perkelahian² perorangan.
C. Tindakan² dan perbuatan² jang bersifat membakar emosi/me- lemahkan disiplin Satuan² PHH. Tindakan² tersebut antara lain dapat berupa makian, hinaan, edjekan dan sebagainja. Melantjarkan laporan² palsu.
d. Biasanja sebelum, selama dan sesudahnja gerakan aksi massa berlangsung, markas² dan pos² polisi akan dibandjiri dengan laporan² dari pelbagai sumber dan djurusan. Info² bersimpang- siur dan tidak dapat dipastikan mana jang benar. Karenanja untuk membatasi membandjirinja info palsu, maka sebaiknja pengumpulan berita di markas² penting disentralisir, dimana dapat dilakukan penjaringan dan pengolahan berita jang objek- tif. Nomer telepon Komandan dan POSKO, hanja diketahui oleh sumber² info jang resmi.
e. Untuk menambah menggelora dan menghangatnja situasi, bia sanja suatu gerakan aksi massa (perusuh) berusaha dengan sengadja atau tidak, agar dalam gerakannja tersebut adanja sjahidin² (korban² djiwa difihak perusuh); dengan adanja sjahidin² ini, perdjoangan mereka diliputi semangat kepahlawan- an dan bisa ditjatat dalam sedjarah gerakan aksi massa demi keadilan.
D. ORGANISASI

19. MATJAM SATUAN-2 JANG DAPAT DIKERAHKAN.

a.Untuk PHH, terutama dipergunakan Satuan²:
(1) Infanteri.

(2) Kavaleri Berkuda dan BERBA.
(3) P O M A D.
b. Sebagai Satuan Bantuan dipergunakan Satuan², antara lain :
(1) PENERBAD.
(2) Z EN I.
(3) H U B.
(4) Kesehatan.

(5) Penerangan.

(6) Dan sebagainja.
e.Dalam keadaan tertentu Satuan dari tjabang dan dinas lain dapat dipergunakan untuk PHH dengan terlebih dahulu disu- sun, dilengkapi dan dilatih seperti Satuan² Infanteri.
20. PENDJELASAN TENTANG SATUAN.
a. Infanteri:
(1) Mobilitas penggunaan pasukan Infanteri dalam PHH lebih besar.
(2) Penggunaannja fleksibel.
(3) Efek psychologis terhadap perusuh/demonstran besar se- kali, karena mampu memberikan pengaruh positif terhadap perusuh/demonstran.
(4) Infanteri dengan segala alat-peralatannja (termasuk sen- djatanja), mampu memberikan daja kedjut setjara efektif terhadap kaum perusuh/demonstran.
(5) Karena Satuan² Infanteri akan selalu berhadapan langsung dengan kaum perusuh/demonstran, personil² Înfanteri sen- sitif terhadap perlawanan para demonstran.
b.Kavaleri Berkuda :
(1) Mobilitas besar.
(2) Fleksibel dalam penggunaan.
(3) Daerah pengawasan jang relatif lebih luas.
(4) Mempunjai pengaruh jang tinggi terhadap moril pasukan sendiri/kawan.
(5) Mempunjai efek psychologis jang besar terhadap kaum perusuh, terutama karena sifat² jang chas dari kuda.
(6) Penggunaannja efektif untuk PHH tingkat-II.
C. Satuan BERBA:
(1) Satuan ini mempunjai efek moril dan psychis terhadap perusuh.
(2) Mempunjai mobilitas jang tinggi.

(3) Mampu menembus bermatjam rintangan jang dibuat pe-

rusuh atau menutup daerah/djalan² pendekat.

(4) Pada huru-hara tingkat-II, Satuan² BERBA karena tidak

ada hubungan langsung dengan kaum perusuh jang dapat memberikan efek psychologis jang positif, tjenderung dapat meningkatkan rasa kebentjian dan perlawanan pada fihak perusuh. Tetapi sebaliknja pada huru-hara tingkat- I, Satuan² BERBA mempunjai efek jang besar untuk me- nekan moril perusuh. 5d. POMAD: 2

(1) Sama dengan Infanteri

(2) Lebih berpengalaman dalam pengendalian massa.

(3) Karena tugas dan fungsinja, POMAD dapat dikerahkan pada saat² pertama.
e.PENERBAD:
(1) Mampu memberikan keterangan² jang tjepat dan tentang kegiatan² perusuh dengan pengintaian dan pemotretan jang meliputi daerah jang sangat luas.
(2) Mempertinggi mobilitas Satuan PHH.

(3) Menjebarkan surat2 selebaran jang berisi perintah², pe-

ngumuman² dan berita².

(4) Menurunkan bahan² makanan dan perlengkapan bagi pa- sukan jang terkepung.

(5) Mendjatuhkan granat² gas, granat² tjahaja pada waktu

huru-hara jang menghebat.

(6) Digunakan untuk mengungsikan orang² jang sakit/luka² dan orang² penting.
(7) Satuan ini tidak bisa berdiri sendiri dalam penindakan huru-hara.

(8) Pesawat helikopter dapat pula digunakan untuk membu-

barkan perusuh dengan menggunakan keributan angin dan suara jang ditimbulkan oleh pesawat itu sendiri.

f.HUB:
Untuk melajani alat² komunikasi². ZENI:

g.
(1) Untuk membersihkan/menghantjurkan rintangan.
(2) Membuat barikade/rintangan² serta kubu.
(3) Kadangkala dapat dipergunakan untuk mengawasi/melajani instalasi umum (sumber air, pembangkit tenaga listrik dan sebagainja).

(4) Melajani mobil pemadam kebakaran.

Kesehatan :

h. Memberi pertolongan kepada korban² huru-hara, baik difihak sendiri maupun difihak perusuh.
i. Penerangan: 1Menjadarkan perusuh dengan siaran²nja. 一Menolak/menetralisasi agitasi perusuh.
21. BESARNJA SATUAN DAN PENJUSUNANJA. Dalam menghadapi huru-hara, DAN MILDA membagi pasukannja jang tersedia dalam tiga kelompok:
a.Satuan penindak. Satuan ini bertugas menindak huru-hara setjara langsung ber- hadapan dengan perusuh. Satuan dibagi dalam dua kelompok, jaitu:

(1) Unsur depan.

(2) Unsur tjadangan/pembersih.
b. Satuan Pelindung/Pengaman. Satuan ini bertugas melindungi/mengamankan instalasi penting, hak-milik dan orang jang diperkirakan mendjadi sasaran dari huru-hara. Satuan ini sedapat mungkin sudah harus ditempat- kan sebelum kerusuhan lebih meningkat. Satuan tersebut dapat pula digunakan untuk menutup djalan² jang menudju ketempat kerusuhan.
C. Satuan Tjadangan.

(1) Satuan ini merupakan unsur pemukul bagi DAN jang me-

merintahkan diadakannja PHH djika terdjadi kemungkin- an jang timbul diluar apa jang diperkirakan semula.

(2) Satuan Tjadangan ini berada di POSKO selama tidak di-

perintahkan oleh DAN setempat.

  1. PENJUSUNAN SATUAN PHH.
    a. Penjusunan Satuan PHH berpedoman pada organisasi JONIF ROI-64 dengan beberapa perobahan seperlunja untuk menda- patkan daja-guna jang maksimal dan mempermudah sistim KO-DAL~nja.
    b. Tenaga² tambahan merupakan tenaga bantuan jang bersifat sementara dan se-waktu² dapat dihapuskan bila tugas PHH telah selesai.

c. Sesuai dengan tugas jang dihadapi dan situasi daerah jang ber- beda², dapat disusun suatu organisasi tugas jang unsur²nja terdiri dari berbagai ke-tjabangan dan dinas.
23. SUSUNAN PELETON SENAPAN PHH.
a. Pada Satuan PHH, peleton senapan merupakan satuan taktis jang terketjil. Kepadanja dapat diberi tambahan² personil untuk memperkuat peleton.
b. TON terdiri dari:
(1) DAN TON.
2(2) BA TON.

(3) 3 RU a 10 orang.
(4) Penembak Mortir 2".
(5) Pembantu Mortir 2".
(6) Pelajan radio/pesuruh.
(7) Penembak R.L. 3,5".
(8)Pembantu R.L. 3,5".
(9) Anggauta kelompok Pelopor sebanjak 2 orang dari Kompi.
(10) Team POMAD sebanjak 3 orang. (11)Penembak² mahir dari Kompi.

C.Tugas2 :
(1) No. 1, 2 dan 3 tjukup djelas.
(2) No. 7, 8 dan 9 dikelompokkan mendjadi satu team jang dinamakan "Kelompok Pelopor". Team ini dilengkapi dengan alat² tjambuk dan knuppel. Selain daripada itu, me- reka disiapkan pula untuk menguasai seni bela diri (judo, karate, pentja silat dan sebagainja).
(a) Melindungi para DAN Satuan PHH dan anggauta² pasukan PHH dari antjaman pemukulan, penganiaja- an, pengrojokan dan sebagainja.

(b) Membantu team POM untuk menangkapi oknum²

ABRI, pimpinan² penggerak massa oknum² extreem.

(c) Melakukan sergapan terhadap orang² jang bersendjata api, penembak² gelap untuk ditangkap dan diamankan.
(d) Melumpuhkan anggauta² perusuh jang membandel.
(3) Team POMAD (No. 10). Team ini jang karena fungsinja dapat bertindak sesuai dengan situasi jang dihadapi serta mengadakan penang- kapan², jang kemudian diselesaikan melalui hukum. Selain

dari itu kemungkinan adanja oknum² ABRI jang karena sesuatu hal turut dalam gerakan aksi massa, djuga adanja material ABRI jang digunakan oleh perusuh, maka team POM dapat bertindak untuk mengatasinja, sehingga meng- hilangkan keraguan bertindak pada Satuan² PHH. Adapun tugas²nja jang lain adalah:

(a) Melakukan tindakan² chusus kepolisian lainnja jang ada hubungannja dengan tugas² PHH.
(b) Melakukan tugas ber-sama² dengan Kelompok Pelopor.
(4) Team pelempar granat (No. 4 dan 5). Team ini terdiri dari anggauta penembak mortir 5 jang te- lah dilatih untuk melajani granat² asap dan granat² zat ki~ mia (granat² gas air-mata, granat pentjekik). Mereka djuga harus paham akan pembatasan² pemakaiannja dan tudju- annnja. Team ini dipersendjatai dengan senapan pelontar granat untuk penggunaan pada djarak djauh.
(5) Team penembak mahir (No. 11). Apabila diperlukan pada TON, dapat diberi team penembak mahir 1 atau 2 orang dari Kompi. Tugasnja menem- bak penembak² gelap perusuh atas perintah DAN jang berwenang.
d. Penempatan anggauta² POK RO TON:
王 DAN TON 1 4 5 2 BA TON 3 Pesuruh 3 Kelompok Pelopor 4,5,6,7 = 8 9 10 8,9,10=Team POM Team pelempar granat 11,12 = 13,14=Team penembak mahir.

国2日2

24. PENJUSUNAN SATUAN TUGAS PHH.

Satuan tugas disusun menurut kebutuhan jang disesuaikan dengan tugas dan situasi setempat. Sebagai inti dapat ditundjuk satuan² menurut TOP ROI-64 ditambah/diperkuat dengan unsur² bantuan dari tjabang/dinas lain.

Tjontoh : susunan SATGAS PHH.

a.Inti: 1 Kompi senapan.
b. Unit² Bantuan, terdiri dari:
(1) Mobil Komando

1 Jeep 1/4 ton dan 1 truk 3/4 ton.

(9) Vooryders POM

2 sepeda motor.

(10) Team andjing polisi (11) Team² POM12 orang.

C.Penggunaan taktis unsur² bantuan.
(1) Team/Satuan Kavaleri Berkuda. Gerakan² penghalauan dan penggiringan massa dalam PHH akan dapat dipertjepat dengan menggunakan Team/ Satuan² Kavaleri Berkuda bersama-sama dengan Infanteri. T'eam/Satuan Kavaleri Berkuda dapat menambah daja kedjut dan daja gertak, agar massa tidak ber-kumpul² kembali untuk melakukan suatu gerakan aksi massa dengan satu "serbuan (charge)" jang tjepat dalam waktu jang relatif singkat. Meskipun demikian setiap gerakan oleh Team/Satuan Kavaleri Berkuda harus selalu disertai gerakan pasukan Infanteri untuk mentjegah serangan² para pentolan jang nekad. Tugas Team/Satuan Kavaleri Berkuda adalah :
(a) Membubarkan kelompok² massa jang masih ber-kumpul² setelah ditjerai-beraikan oleh pasukan Infanteri.
(b) Menghalau dan menggiring kelompok² massa ke daerah pembubaran.
(c) Mengedjar oknum-oknum ekstrim jang melarikan diri.
(d) Mempertjepat pembubaran massa.
(e) Membantu melantjarkan kembali lalu-lintas jang ta- dinja matjet akibat demonstrasi massa.
(f) Mengamankan suatu daerah jang telah dibersihkan, agar tidak didatangi kembali oleh para demonstran.

(2) Team/Satuan Andjing Polisi (Police-Dogs).

Pada umumnja manusia djeri menghadapi andjing, dan hal ini diekspliotir se-luas²nja dalam PHH. Meskipun de- mikian penggunaan andjing dalam PHH harus selalu ter- kendalikan, agar efeknja dapat dibatasi sampai intimidasi sadja. Gigitan andjing tjukup berbahaja, dan perintah menggigit kepada andjing hanja diberikan djika terpaksa menghadapi oknum-oknum massa jang dengan terang²an mengantjam keselamatan djiwa pasukan PHH.

Tugas Team/Satuan Hewan Polisi.

(a) Mendjerikan oknum massa jang paling bandel, ku- rang adjar dan berlagak djagoan.
(b) Mengedjar pendjahat² kriminil jang melarikan diri di-tjela² keributan dan kekatjauan (pentjopet², pen- djambret², perampas dan sebagainja).
(c) Mendjerikan pengikut2 wanita/gadis jang ikut²an dalam kerusuhan.

(d) Mendjaga tahanan/tawanan, agar tidak melarikan

diri.

(e) Pengawalan pimpinan² penggerak massa jang berha-

sil ditahan/ditangkap.

(3) Kelompok Voorryders POM.

Pada 1 Satuan PHH diperbanltukan 1 kelompok Voorryders POM jang terdiri dari 4 (empat) buah sepeda motor.

Tugas:

(a) Merintis route perdjalanan konvooi PHH.

(b) Mendjamin kekompakan konvooi selama R.M.

(c) Melakukan dinas koerier apabila hubungan dengan

POSKO terputus.

(d) Melakukan kordinasi dengan POLANTAS-POLRI

untuk mendjaga kelantjaran lalu lintas umum.

(4) Satuan Panser/Kavaleri. Satuan Panser/Kavaleri jang diperbantukan pada satuan PHH terdiri dari 5 (lima) buah kendaraan panser, dengan djenis²nja sebagai berikut:
1 (satu) buah FERRET. 2 (dua) buah SALADIN. 2 (dua) buah SARACEN.

Tugas:

(a) FERRET. Kendaraan perintis dan kendaraan pengintai dari satuan PHH.
(b) SALADIN. Kendaraan bantuan tembakan apabila terdjadi pe-
a nembakan² gelap dari tempat² jang tersembunji.

(c) SARACEN.
Kendaraan pengangkut bagi TON² Tjadangan dalam gerakan² melambung. Kendaraan pengangkut tahanan² penting. Semi-bulldozer untuk membongkar rintangan² ringan jang dipasang oleh massa.

(5) Penerangan mobile. Unit penerangan mobile terdiri dari 1 (satu) buah kendaraan jang diperlengkapi chusus dengan alat² pengeras su- ara, tape-recorde dan sebagainja, dan dilajani oleh 2 (dua) orang anggauta dari dinas penerangan. Unit ini membantu pasukan PHH untuk melaksanakan tjara² pengendalian massa psychologis. Seorang Perwira jang diberi tugas chusus untuk bertindak sebagai djuru bitjara resmi dari POSKO, menggunakan unit ini sebagai suatu media untuk mempengaruhi massa, memberikan penerangan², andjuran² dan sebagainja. Selain dari itu, unit penerangan mobile dapat digunakan sebagai alat perang urat-sjaraf jang ampuh untuk mengatasi agitator² massa. Tugas:

(a) Membantu satuan PHH untuk membubarkan massa

setjara psychologis.

(b) Kendaraan Perwira djuru bitjara POSKO.
(c) Melakukan "netralisasi" terhadap agitasi massa.
(d) Memberikan penerangan²; andjuran² dan sebagainja kepada masjarakat.
(6) Pemadam kebakaran. Kepada satuan PHH dapat diperbantukan 1 atau 2 buah kendaraan pemadam kebakaran untuk djuga melaksanakan tjara² pengendalian massa setjara psychologis. Tanki² dari kendaraan pemadam kebakaran diisi dengan air ber-

sih dari selokan² kota untuk nantinja disemprotkan kepada massa apabila dipandang perlu. Pengaruh semprotan² air ini lebih ampuh daripada serbuan dengan senapan + sangkur. Selain sebagai alat penjemprot massa, djuga di- persiapkan untuk mengatasi kebakaran² jang mungkin dapat terdjadi akibat tindakan² para perusuh. Apabila pema- dam kebakaran diambil dari djawatan sipil, maka para pelajannja diberi pakaian seragam A.D. 5

(7) Ambulance. Perawatan dan penjingkiran orang² luka/tjidera/mati akibat aksi² massa atau gerakan² pasukan sendiri.
(8) Recovery. Penjingkiran kendaraan² umum jang dipakai sebagai pe- rintang² djalan oleh massa, menghapuskan barikade² dan membantu kendaraan pasukan sendiri apabila terdjadi ke- rusakan² dan sebagainja.
(9) Satuan ZIPUR (P. M.). Memasang atau menjingkirkan barikade2, rintangan² jang dapat menghambat gerakan pasukan sendiri.
(10) Satuan truk angkut pasukan. Mengangkut pasukan selama melakukan gerakan dan tindakan PHH. Kendaraan² truk jang akan dipergunakan oleh satuan PHH, sebaiknja berada dalam kondisi jang siap berangkat (startklaar) dan dikemudikan oleh pengemudi-pengemudi militer.

  1. KOMANDO DAN PENGENDALIAN.
    a. Pasukan² jang digunakan mempunjai status bawah perintah pada DAN MILDA jang bersangkutan.

    b. Tanggung-djawab operasionil ada pada DAN MILDA.

  2. MATJAM² ALAT DAN SENDJATA JANG DAPAT DIPERGUNAKAN. Jang digunakan oleh Pasukan PHH:
    a. Suatu pasukan jang ditugaskan untuk penindakan huru-hara membawa semua sendjataorganiknja, jang penggunaannja di- sesuaikan dengan tingkat huru-hara jang dihadapi.

b. Pada huru-hara tingkat-II, penggunaan senapan berfungsi sebagai alat untuk mendorong, memukul dan menjabet (pelak- sanaan seperti perkelahian sangkur, tapi tanpa sangkur). Sendjata² bantuan organik jang ditempatkan diatas kendaraan, berfungsi sebagai deterent factor.
C.Pada huru-hara tingkat-I, bilamana keadaan sedemikian rupa, sendjata² bantuan organik tersebut harus disiapkan untuk dapat dipergunakan daja-tembak sepenuhnja guna penindakan huru-hara.
d.Selain dari sendjata² organik, dapat diberikan tambahan :
(1) Pengeras suara.
(2) Alat² pentung/tongkat dorong.
(3) Tameng2.
(4) Kendaraan² barikade.
(5) Sendjata² kimia (asap dan gas air-mata).
(6) Kendaraan pemadam kebakaran.
(7) Topeng gas/pelindung mata.
(8) Tjambuk.
(9) Tongkat kedjut.
(10) Borgol.

e.Alat² komunikasi sangat diperlukan dalam penindakan huru-hara unltuk hubungan² jang tjepat dalam daerah jang katjau. Diutamakan alat komunikasi/radio jang mudah dibawa.
f. Bilamana diperlukan, perlu disiapkan barikade² jang mudah dipasang serta alat² pionir seperti :
(1) Tangga.
(2) Tali Regu/tali Peleton, linggis, kampak.
(3) Lampu senter (flash light) dan lampu² sorot untuk penindakan malam hari.
一00O00—

e0 2

BAB-ⅡI

TAKTIK DAN TEHNIK

A. AZAZ-AZAZ
27. UMUM. Dalam melaksanakan penindakan huru-hara, setiap Komandan harus tetap berpegang teguh pada azaz² PHH jang pada dasarnja sama dengan azaz² PERATA. Selain dari itu djuga harus dapat mentrapkan semua aspek² dalam setiap situasi, agar tudjuan dari penindakan tertjapai.
28. AZAZ-AZAZ.
a. Pegang teguh tudjuan. Tudjuan PHH, jakni mengembalikan ketertiban dan keama~ nan bukan menghantjurkannja. Karenanja sedapat mungkin harus dihindari pertumpahan darah.
b. Pendadakan. Pendadakan untuk mendapat ruang dan waktu; tidak mem- beri kesempatan kepada pesuruh untuk menjusun kekuatannja jang lebih besar dan dapat membatasi meluasnja huru-hara.
C. Pemusatan kekuatan. Pemusatan kekuatan merupakan unsur jang menentukan suk- ses atau tidaknja PHH. Satuan² jang dikenahkan harus mem~ punjai kekuatan jang sebesar mungkin untuk memberikan efek moril psychologis terhadap perusuh. Pasukan tidak boleh di- petjah-belahkan dalam penindakan huru-hara. Karenanja pilihlah huru-hara jang paling gawat. Inisiatif harus tetap ditangan kita. Mobilitas.
e. Mobilitas gerakan harus senantiasa dipelihara. Kedatangan pasukan dengan tjepat ditempat kekatjauan sangat penting mengingat massa lebih mudah dibubarkan daripada perusuh. Hendaknja pasukan datang pada saat kelompok itu masih merupakan massa.
f. Kekenjalan. Kekenjalan dalam perentjanaan dan pelaksanaan, untuk meng- hadapi setiap kemungkinan jang dapat timbul.

Kedalaman

g. Tjadangan harus selalu tersedia. Djika tjadangan telah diper- gunakan, maka DAN MILDA harus segena membentuk tjadangan baru dari pasukan lain.
h. Keamanan.
(1) Sebelum pasukan digerakkan. harus mengambil tindakan² keamanan, guna menghadapi kemungkinan serangan dari perusuh setjara mendadak.
(2) Harus diambil tindakan, agar pasukan tidak terputus dari hubungan komando dan pengiriman bahan makanan dan air. Djangan se-kali² diberikan kesempatan pada perusuh untuk mengepung satu pasukan ketjil dan djangan membiarkan pasukan jang ketjil terkurung.
(3) Patroli² keamanan dikeluarkian dengan tugas memeriksa tiap² orang jang diketemukan. Aksi² demikian, akan me- ngurangi keberanian orang untuk keluar pada waktu ma- lam hari dan membawa sendjata. Djika patroli menghadapi perangkap, tidak ada gunanja membalas tembakan² dari peranigkap itu dan unltuk itu tetap tinggal ditempat sadja. Dengan gerakan lambung jang kuat orang² jang membuat perangkap itu akan dapat ditangkap.
(4) Anggauta² militer tidak diperkenankan keluar sendirian. Bilamana bepergian, mereka diwadjibkan bersendjata. Kendaraan serta instalasi harus selalu terdjaga untuk mentjegah sabotase.
Ketahanan mental dan disiplin jang kuat.

(1) Dalam penindakan huru-hara, ABRI harus tetap berpe- doman pada ideologi Pantja Sila, Sapta Marga, Sumpah-Pradjurit; pertjaja pada diri sendiri dan pertjaja pada pimpinan. Selain dari itu, satuan PHH harus mempunjai disiplin jang kuat jang merupakan salah-satu unsur dari sendjata psychologis.
(2) Keharusan jang harus ditaati :
(a) Disiplin jang kuat dalam melaksanakan tugas² dan perintah², terutama disipli'n tembakan.

(b) Keseragaman dalam perlengkapan perorangan (pa-

kaian, tutup kepala, tutup kaki dan sebagainja). dan keserentakan dalam gerakan.

(c) Bersikap tenang tetapi tegas.

(d) Berikan perlindungan kepada mereka jang tidak

bersalah, serta hormatilah hak-milik umum dan perorangan. Pasukan jang berdisiplin kuat, seragam, bergerak dengan tangkas dan serentak, tenang dan tegas, akan memberikan kesan pada umum, bahwa mereka mampu menguasai keadaan serta bersedia mendjalankan tugas dan perintah² dengan mengata- si kesukanan² dan perlawanan bagaimanapun djuga. Kelakuan, sikap dan sepak-terdjang perorangan se- hari²pun mempunjai pengaruh. Karena itu, mereka harus selalu rapih, bersih, menghormati hukum dan bersopan-san'tun.

(3) Larangan² jang harus diperhatikan. Tindakan, sikap dan gerakan jang dapat memperuntjing keadaan atau menimbulkan permusuhan harus ditjegah, karenanja :
(a) Djangan bersikap sombong. Kesombongan dari fihak alat/petugas, dapat meng- akibatkan mereka menentang hukum, jang kemudi- an meningkat mendjadi hasrat merusak jang se- waktu² dapat meletus.
(b) Djangan menghiraukan edjekan dan maki²an. Suasana massa kerapkali menjebabkan alat kekua- saan/petugas melakukan tindakan kekerasan jang tidak dapat dibenarkan dan merugikan diri sendiri Mereka akan mengedjek, me-maki², menghina atau mentertawakan kita sebagai petugas. Djika kita memperlihatkan kedjengkelan karena hinaan² dan maki²an ini atau membalasnja dengan ka- ta² jang pedas dan kasar, semangat mereka akan lebih berkobar. Harus diperhatikan djangan sampai pasukan menudju kearah tindakan kekerasan, karena ini akan menguntungkan fihak perusuh. Hinaan² ini djanganlah dihiraukan, tetapi tindakan jang ber- sifat melawan seperti melempar dengan batu, harus segera ditindas (lihat pelaksanaan). Didepan akan kerapkali terdapat wanita dan anak² jang djuga turut mengedjek dan sebagainja. Mereka ini harus ditanggapi dengan sabar, agar tidak menimbulkan ekses jang lebih buruk.

(c) Djangan mengeluarkan antjaman, terutama djika tidak ada dikandung maksud untuk melaksanakannja atau tidak mampu melaksanakan. Mengantjam ber- arti menentang; dan tantangan menimbulkan permu- suhan. Memberikan antjaman tetapi tidak melaksanakannja, akan dianggap sebagai kelemahan.
(d) Djangan melakukan tindakan² jang tidak perlu.
(e) Persahabatan dengan perusuh² atau dengan satu go- longan dari mereka, harus ditjegah.
(f) Penerimaan pemberian dari perusuh dalam bentuk a~ papun dilarang.
(g) Harus dihindari perdebatan² dengan mereka djika mereka hendak membenarkan tindakan mereka dan menjalahkan tindakan fihak lain.
B. PERENTJANAAN.
29. UMU M. Dalam memberì bantuan untuk penindakan huru-hara, harus dibuat rentjana jang teliti dan lengkap serta mendjamin ketjepatan pe- ngumpulan pasukan, ketjepatan gerakan pasukan dan tindakan² jang tjepat terhadap anasir? pengatjau. Urutan kegiatan dalam perentjanaan, dilakukan sesuai dengan prosedur pimpinan pasukan biasa.
30. KEWADJIBAN KOMANDAN MILITER DAERAH. Komandan² Militer Daerah setempa't wadjib pula memperhatikan hal² sebagai berikut :
a. Tjara² untuk mendapatkan keterangan mengenai rentjana² para perusuh.
b. Keterangan singkat tentang slifat dan tempat kekatjauan jang diduga akan terdjadi, djumlah anasir² pengatjau dan sendjata-sendjata api jang mungkin dipergunakan oleh mereka.
C. Penjediaan peta setempat jang menundjukkan bangunan² jang vital, tempat² penjimpanan sendjata dan mesiu, sumber² bahan makanan, air dan bahan bakar, tempat jang memberikan kemungkinan berkemah, bantuan² umum jang mungkin dapat dipergunakan oleh pasukan dan sebagainja.
d. Rentjana untuk mengadakan kerdja sama dengan pedjabat² sipil, Pasukan jang ditugaskan untuk penindakan huru-hara mungkin didatangkan dari tempat lain dan tidak mengetahui keadaan setempat dan latar-belakang kekatjauan itu.

Walaupun alat² kekuasaan sipil setempat tidak mampu me- nguasai keadaan, umumnja mereka mengetahui biang-keladi

kekatjauan itu, mengetahui kekuatannja, keadaan dan mak-

sud²nja. Hubungan jang erat dengan unsur² mass media, harus diada-

e. kan dan dipelihara. Rentjana untuk menjampaikan pemberitahuan kepada pedja-
f. bat² jang penting. DAN MILDA mengkordinir penggunaan semua sarana, baik
g. jang ada pada militer maupun sipil untuk PHH. DAN MILDA menetapkan matjam dan kekuatan pasukan
h. jang digunakan serta sendjata dan alat² jang perlu diperguna-
2 kan serta batas² dan waktu pemakaiannja.

31. KEGIATAN KOMANDAN PASUKAN.

a. DAN SAT mempeladjari tugas jang diterimanja; ia harus tahu rentjana² dan kebidjaksanaan² umum DAN MILDA, teruta- ma mengenai batas² wewenang dan larangan².
b. Rentjana sementara dibuat berlandaskan kepada hasil analisa keterangan (informasi) jang tersedia, baik jang ada pada di- rinja sendiri, maupun jang diterimanja dari para pembantu/ stafnja dan hasil penelitian peta atau bagan² kota.
C. Dengan dasar rentjana sementara, DAN SAT mulai menga- tur/mempersiapkan pasukannja. Kebutuhan akan alat chusus dan barikade² direntjanakan dan segera diusahakan pengada- annja. Pemindahan pasukan dari daerah pangkalan (basis) ketempat terdjadinja huru-hara harus dipersiapkan. Diadakan pemeriksaan jang teliti terhadap keseragaman dan kerapihan pemakaian/penggunaan alat² perlengkapan perorangan.
d. Pengintaian pribadi oleh DAN SAT biasanja tidak dapat dilakukan, karena terbatasnja waktu dan ruang gerak jang ter- batas didaerah terdjadinja huru-hara. Keterangan² tentang keadaan daerah huru-hara dan keadaan perusuh didapat dari DAN MILDA, pedjabat² sipil setempat, anggauta² penje- lidik dan simpatisan² serta dari hasil mempeladjari peta atau bagan daerah. Adakalanja pengintaian dilakukan dari udara dengan menggu- nakan pesawat helikopter.
e. Keputusan DAN SAT mentjakup hal² antara lain : 1
Penentuan penggunaan satuan. Penentuan/pemilihan sasaran. Tjara mendekat ke sasaran.

Arah gerakan dalam penjaluran. Pemilihan Formasi² permulaan. Dan sebagainja.

f. Dalam perintah DAN SAT kepada DAN² bawahannja, se- lain memuat tugas² satuan bawahan, harus ditekankan pula hal² jang bersangkutan dengan baltas² wewenang dan larangan² satuan PHH. Ruang lingkup dan sistematika perintah DAN-SAT, seperti perintah operasi biasa.
g. Pengawasan terhadap pelaksanaan pemerintah² harus dilaku- kan setjara intensif. DAN SAT harus selalu mengetahui keada- an dan memperkirakan kemungkinan² jang dapat terdjadi ber- dasarkan hasil pengamatan sendiri atau laporan² DAN² bawahannja serta anggauta² penjelidik.
32. ALAT2 PENGENDALIAN. Dalam melaksanakan tugas² penindakan huru-hara,harus diperha- tikan mengenai alat² pengendalian sebagai pegangan bagi DAN² satuan PHH, agar gerakan dan tindakannja dapat dilaksanakan dengan lantjar sesuai dengan perentjanaan taktis jang dibuatnja. Alat² pengendalian jang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Daerah Persiapan (DP). DP adalah suatu tempat dimana satuan PHH jang akan mela- kukan tugas dikumpulkan dan disiapkan, diberi pendjelasan² mengenai tugas², larangan² dan keharusan² jang harus diper- hatikannja dan kemudian diberangkatkan. Sjarat² DP adalah :
Tidak djauh dari dislokasi pasukan dimana pasukan dikon- sinjir dan ditempatkan. Tjukup luas untuk mengumpulkan/mengatur pasukan dan konvooi PHH. Adanja djalan keluar-masuk lebih dari satu.

b. Route Mars (RM). Route mars adalah djalan² pendekat jang ditempuh oleh satuan-satuan PHH dalam usahanja untuk mendekati pada suatu gerakan aksi massa (kerusuhan). Sjarat² route mars adalah:
Tertjepat dan terpendek menudju sasaran. Bebas dari kematjetan² lalu-lintas jang kronis. Tidak melalui pusat² perdagangan jang ramai. Tidak menarik perhatian chalajak setjara menjolok.

c. Pangkal Gerak (PG). Pangkal gerak adalah suatu tempat dimana pasukan turun dari kendaraan konvooi, menjusun pasukan, untuk kemudian melan- landjutkan gerakan mendekat dengan berdjalan kaki.
d. Garis Awal (GA). Garis awal seperti djuga pengertian GA dalam suatu penjerang- an, dimana satuan² PHH melalui GA dengan formasi² penindakan, tapi belum mengembang.
e.Garis Desak (GD)/Garis Kontak.
2 Garis desak adalah garis dimana pasukan PHH sudah memben- tuk formasi bersjaf dan siap untuk mendesak perusuh. Unit² bantuan umum (mobil pemadam kebakaran, KAVKUD), sudah siap untuk digunakan.

f. Titik Petjah (TP). Titik petjah adalah suatu titik dimana perusuh dipetjah dan di- tjerai-beraikan.
g. Garis Konsolidasi (GK). Garis konsolidasi adalah garis dimana satuan² PHH telah se- lesai melaksanakan tugas² PHH dan mengadakan pemeriksaan² terhadap seluruh pasukan. DAN SAT laporan kepada DAN MILDA untuk kemudian menunggu perintah selandjutnja.
h. Daerah pembubaran. Suatu tempat jang luas (tanah lapang, lapangan sepak bola/ olah raga), kemana para perusuh disalurkan, disadarkan dan dibubarkan.
33. SASARAN.
a. Komandan jang memimpin pasukan penindakan huru-hara ha- rus tahu dengan djelas apa jang menjebabkan timbulnja huru-hara itu. Hal ini untuk memudahkan pelaksanaan tugas jang mendjadi beban tanggung-djawabnja.
b. Jang mendjadi objek dalam penindakan huru-hara ialah :
(1) Perusuh. Usahakan agar perusuh tersebut ter-pisah²/ter-petjah² mendjadi beberapa bagian ketjil jang relatif tidak mem- punjai kekuatan jang berarti, kemudian dibubarkan.

(2) Biang-keladi. Dengan informasi badan² pengumpul keterangan jang telah disebarkan kedalam massa/perusuh demonstran, akan me- mudahkan diketahuinja siapa² jang menggerakkan huru hara itu; segera diasingkan agar huru-hara tidak dapat berdjalan/berlangsung.
C. Djika huru-hara ini ditudjukan kepada seseorang, maka pasukan PHH harus segera mengambil dan menjingkirkan orang jang bersangkutan dari hadapan perusuh, agar tidak menimbul- kan kemarahan jang me-luap².
d.Terhadap instalasi2, rumah²/bangunan², kendaraan jang berada disekitar tempat huru-hara terdjadi, harus diadakan tindakan keamanan/pendjagaan, djangan sampai mendjadi sasaran pe- lampiasan amarah para perusuh jang tidak puas.
34. GERAKAN MENDEKAT.
a.Tindakan² pengamanan harus diadakan sedjak pasukan mulai dikumpulkan, selama gerakan ketempat kekatjauan dan selama kekatjauan berlangsung.
b. Djika pengangkutan dilakukan dengan kereta api, maka tiap² gerbong harus ditempatkan pengawal untuk mentjegah aksi² permusuhan. Gerakan mendekat menudju daerah kekatjauan tingkat-I, bilamana sudah mendekati tempat kekatjauan, penembak² mahir harus ditempatkan dibagian depan, lambung dan belakang kereta api dengan tugas menembak penembak²-gelap perusuh atas perintah DAN jang berwenang dan bertanggung- djawab.
C. Pasukan diturunkan dari kereta api atau kendaraan² lain (truk) ditempat jang agak luas dibawah perlindungan detasemen pelindung. Tempat ini tidak terlalu djauh dari tempat kekatjauan, tapi tjukup ada kesempatan untuk mengambil formasi² jang te- pat sebelum terdjadi kontak dengan perusuh. Selandjutnja untuk menudju kesasaran ditempuh dengan djalan kaki atau lari, melihat situasi pada waktu itu.
d. Pasukan jang bergerak ketempat kekatjauan menghindari kota² dan daerah² jang berpenduduk padat. Kolone² didahului oleh pasukan pelindung depan jang sejogjanja terdiri dari satuan² pengintai dan panser. Pengamanan lambung-pun harus diper- tikan. Didepan sekali bergerak patroli² pengintai bermotor (voorryders). Patroli ini akan mengusahakan kontak terlebih

dahulu dengan perusuh dan memberikan keterangan² kepada Komandan mengenai tempat (locatie), kekuatan, susunan dan kegiatan² pengatjau² itu.

e. Kendaraan² jang merupakan bagian dari detasemen² pelindung tidak ditempatkan lebih daripada 1 Regu. Pasukan harus siap- sedia untuk bertindak, karena itu kap² kendaraan harus digu- lung. Senapan² mesin ditempatkan pada posisi siap tembak.
f. Kolone² dikawal oleh polisi militer untuk mendjamin kelantjar- an gerakan melalui lalu-lintas. Pesawat helikopter dengan mem- bawa penindjau² dapat djuga dipergunakan untuk memberi gam- baran tentang situasi kepada Komandan. Dalam hal ini djika keadaan udara, penglihatan dan medan mengizinkan.
g. Pasukan didalam gerakannja menghindari djalan² besar dan djalan² jang penuh sesak dengan orang. Djika perlu melalui djalan², hendaknja diambil djalan² jang agak sepi. Massa dapat terdorong oleh nafsu melempari pasukan kita dengan batu dari djendela rumah, samping djalan dan loteng rumah. Wa- laupun hasilnja tidak membahajakan, tetapi hal itu dapat meng- hangatkan keadaan. Pada waktu bergerak, hendaknja djendela² dan atap² rumah diawasi. Penembak² mahir harus disiapkan untuk menembak penembak² gelap (penembak runduk) perusuh, atas perintah DAN jang berwenang.
h. Djika pasukan² jang bertetangga bergerak melalui djalan² jang sedjadjar (parallel), maka djalan² jang melintang dapat didja- dikan "garis berita" (garis² untuk mengadakan kordinasi antara jang satu dengan jang lain).
35. FORMASI.
a.Tudjuan penindakan huru-hara adalah bukan untuk menghan- tjurkan, melainkan untuk mengembalikan ketertiban dan ke- amanan. Karena itu, maka dalam hal ini diperlukan formasi-formasi jang dapat menembus dan mentjerai-beraikan massa dan perusuh jang tidak bersendjata.
b. Faktor² jang perlu diperhatikan dalam menentukan sesuatu formasi, ialah :
Tudjuan. 1 Djumlah pasukan. 1 Keadaan medan. prns Keadaan perusuh.

c. Matjam² formasi dan penggunaannja.
(1) Paruh Lembing. Dipergunakan untuk:
Menembus dan mentjerai-beraikan massa/perusuh. Membersihkan sesuatu lorong ketjil, dimana tempat perusuh jang tinggi morilnja. Untuk membuat pantjangan kaki dengan pasukan jang kemudian dapat diperluas dengan pasukan lain. Untuk menangkap seorang pemimpin atau pengha- sut dari pinggir² massa/perusuh (Regu).

(2) Serong kanan atau kiri. Formasi ini dipergunakan untuk:
Menghadapi massa/perusuh djika kita pada samping kanan atau kiri terlindung oleh tembok dan seba- gainja. Merobah djurusan massa jang sedang dihadapi, mi- salnja mendesak dari djalan besar kedjalan samping.

(3) Bersjaf. Formasi ini dipergunakan untuk:

djalan musuk kesesuatu lapangan atau gedung. Mengusir massa/perusuh dari sesuatu lapangan atau djalan, djika jang diusir itu tidak dapat dan morilnja- pun rendah. (Dalam hal ini, langkah sebaiknja dipertjepat).

(4) Paruh Lembing kiri atau kanan. Formasi ini dipergunakan :
Djika pasukan menerobos antara massa/perusuh dan tembok. Biang-keladi jang berada dipinggir massa, dapat ditangkap dengan formasi paruh lembing. Dalam hal ini pasukan dalam formasi paruh lembing bergerak dengan langkah jang dipertjepat menudju biang-keladi jang hendak ditangkap, berhenti dide- pannja, dan no. 2 menangkap dan memborgol. Kemudian no.2 menjimpang sedikit kekiri dan me- maksa biang-keladi itu masuk dalam formasi, segera no.2 balik kanan. Dalam keadaan tertentu, kemudian pasukan mundur atas perintah Komadan dengan tjepat dan tetap dalam formasi.

Mengangkut tahanan atau orang² jang dilindungi.

Untuk keterangan² selandjutnja tentang formasi tersebut, lihatlah gambar dan petundjuk untuk latihan.

(5) Formasi V (KAVKUD). Formasi ini digunakan oleh satuan KAVKUD untuk men- djaring pimpinan/tokoh² perusuh dan mengamankan orang² jang didjadikan sasaran oleh perusuh. Dalam hal ini satuan² KAVKUD menerobos kedalam perusuh dan mendekati sasaran. Apabila sasaran tersebut telah terdja- ring, maka segera didesak/digiring ketempat jang telah ditentukan.
d. Hal² lain jang perlu diperhatikan :
(1) Harus diingat, bahwa kekuatan pasukan bukan terletak pada keberanian perseorangan, tetapi pada formasinja. Karena itu, waktu bergerak dan berhenti formasi harus tetap terpelihara. Formasi jang tidak terpelihara, akan ke- hilangan kekuatan menjerang dan kekuatan memperta- hankan diri. Pada waktu bergerak dan berhenti, sangkur harus tetap sama tinggi, sehingga merupakan pagar sangkur jang teratur dan kuat (bila bersangkur).
(2) Pasukan dalam formasi, bergerak dengan langkah tegap jang merata, tetapi dengan tempo jang lebih lambat dari- pada gerakan PBB biasa.
(3) Jang boleh ditempatkan digaris depan formasi hanja jang bersendjata senapan atau tongkat dorong, sedang pembawa sendjata2 lainnja : PM, SO dan sebagainja ditempatkan didalam atau dibelakang formasi.
(4) Pada semua formasi, Komandan Peleton, Komandan Kompi dan selandjutnja mengambil tempat darimana ia dengan mudah dapat memberikan pimpinan.
(5) Djarak antara perseorangan, terutama digaris depan, harus sedemikian rupa sehingga tidak mungkin diterobos, tetapi masih memberikan kemungkinan kepada perseorangan untuk bergerak. Djarak ini ialah ± 1 langkah ke- samping dan kebelakang.
(6) Dasar semua formasi ialah formasi² Regu. Dasar formasi² Regu ialah formasi Regu Berbandjar.

(7) Walaupun Regu Berbandjar jang mendjadi dasar formasi²

Regu, tiap² pasukan dalam menghadapi hur-hara, harus dapat merobah formasinja dengan tjepat dari formasi jang satu ke formasi jang lain dengan tidak usah melalui formasi Regu Berbandjar. Hal ini sangat perlu mengingat keadaan huru-hara dan keadaan medan didalam kota jang selalu berobah. Adakalanja formasi dapat berobah dengan merobah haluan sadja sesuai dengan keadaan medan.

  1. ADMINISTRASI DAN LOGISTIK.
    a.Penjediaan alat² chusus. Satuan² PHH selain menggunakan sendjata² organik, djuga menggunakan alat² chusus. Alat² chusus jang tidak dipunjai oleh Kesatuan, diusahakan/disediakan oleh DAN MILDA. Penggunaan alat² chusus milik instansi sipil, diatur oleh DAN MILDA.
    b. Angkutan. Pengangkutan satuan PHH dari daerah pangkalan ketempat terdjadinja huru-hara, mendjadi tanggung-djawab DAN MILDA. DAN MILDA djuga menjediakan kendaraan² barikade, bila- mana diperlukan. Kendaraan² organik satuan² PHH dan Ko- mando Daerah, dipergunakan untuk keperluan tersebut diatas, dan apabila masih belum mentjukupi, DAN MILDA mengusa- hakan tambahannja.
    C.Pengurusan korban² akibat huru-hara. Pemberian pertolongan pada korban² akibat huru-hara, baik pada fihak sendiri maupun pada fihak perusuh atau rakjat, diatur oleh DAN MILDÁ. Dinas² Kesehatan sipil dan militer setempat ditugaskan untuk menampung korban² akibat huru-hara tersebut. Selain daripada itu dibentuk kelompok (unit) PPPK jang di- lengkapi dengan kendaraan² ambulance untuk bergerak setjara mobil didaerah kekatjauan.
    C. PELAKSANAAN.
  2. UMUM.
    a. Pasukan jang terlebih dahulu tiba ditempat kekatjauan, segera mengambil formasi jang tepat untuk melindungi diri terhadap

serangan² dan memberi perlindungan kepada pasukan² jang akan datang.

b.Kadang² dengan datangnja pasukan² jang tjukup besar, massa/perusuh dapat dibubarkan (tidak usah mempergunakan kekerasan); untuk itu pasukan harus pula menggunakan sen- djata psychologis sebagaimana disebut dalam BAB-II pasal-28 sub. i.
DC. Didalam pelaksanaan PHH, pasukan penindak bergerak sede- mikian rupa lebih daripada langkah tegap dalam PBB (lam- bat, langkah tegap, merata dengan sikap tegas), sehingga massa/perusuh mempunjai kesempatan untuk mengundurkan diri.

  1. PEDOMAN PELAKSANAAN.
    a. Dengan formasi jang tepat, arahkan massa/perusuh kedjurusan-djurusan kemana kita kehendaki. Djalan kedjurusan ini harus terbuka.

    b. Menjerang/mendorong massa/perusuh untuk mengarahkan

pada djurusan² jang kita kehendaki, djangan se-kali² dari mu- ka tetapi dari lambung atau belakang.

C. Apabila massa/perusuh berhasil dibubarkan, patroli² segera digiatkan untuk mentjegah pemusatan² baru, dan usahakan agar mereka selalu bergerak. Kendaraan² berlapis badja, kendaraan² barikade dan pasukan berkuda sangat berguna dalam fase ini.
d. Perkelahian seorang lawan seorang harus ditjegah dan dihin- dari. Djika terdjadi serangan perseorangan terhadap salah- satu anggauta dalam formasi, maka mereka jang berada di- belakang formasi depan memberi bantuan. Bila serangan tersebut belum dapat diatasi, maka kelompok pelopor segera dikerahkan.
39. MENGATASI PERUSUH DEÑGAN KEKERASAN.
Sebagai pedoman dapat digunakan urutan tindakan sebagai

a. berikut :
(1) Perusuh didesak dengan menggunakan tongkat dorong/ tjambuk atau senapan tanpa sangkur terpasang.
(2) Perusuh didesak dengan menggunakan sangkur terpasang.

(3) Perusuh dibubarkan dengan menggunakan zat² kimia (gas

air-mata, gas pelemas dan sebagalinja).

(4) Perusuh dibubarkan dengan menggunakan tembakan² :

Tembakan diatas kepala.

Tembakan diarahkan ke-bagian² tubuh jang tidak mematikan. (kaki).

b.Tingkatan tindakan kekerasan ditentukan oleh Panglima/Ko. mandan Militer Daerah jang berwenang.
C.Penggunaan sendjata² chusus maupun organik dalam keadaan terpaksa untuk melindungi diri terhadap bahaja kehantjuran 3 pasukan penindak huru-hara karena tindakan² perusuh, harus seimbang dengan bahaja jang segera mengantjam.
d. Penembak² mahir harus dipersiapkan untuk menembak penembak² gelap jang melepaskan tembakan dari tempat² jang tersembunji (bukan di-tengah² massa), terhadap pasukan serta pemimpin² tertentu. Tembakan hanja diadakan atas perintah Komandan jang berwenang dan bertanggung djawab.
40. MEMBUAT PANTJANGAN KAKI. Adakalanja sebelum kita menindak massa/perusuh, harus membuat pangkalan terlebih dahulu, misalnja kita perlu mengamankar sebuah bangunan Kedutaan jang tidak boleh dimasuki. Dalam hal ini kita harus menerobos djalan terlebih dahulu antara massa/perusuh dan bangunan. Untuk ini dipergunakan formasi paruh lem- bing kanan atau kiri jang diikuti oleh pasukan² lainnja dalam formasi jang sama atau formasi berbandjar. Setelah pasukan depan sampai ditempat dimana hendak diadakan pangkalan, ia segera berhenti dan pasukan lain dikerahkan untuk mendesak dari lam- bung. Untuk ini dibutuhkan gerakan² jang tjepat sekali.
41. TARAF2 PELAKSANAAN.
a.Gerakan dari Pangkal Gerak ke Garis Awal. Setelah satuan PHH turun dari kendaraan, maka segera me- njusun diri untuk mulai mendekati sasaran. Diadakan pemeriksaan achir terhadap pasukan dan alat² chusus jang dipakai. Gerakan dari pangkal gerak menudju ke garis awal harus direntjanakan sedemikian rupa, sehingga satuan² penindak bergerak setjara teratur serta terlindung dari gangguan² lalu-lintas ataupun gangguan perusuh jang extreem. Pada waktu satuan PHH akan melalui garis awal, formasi harus sudah menggunakan formasi penindakan.

b. Gerakan dari garis awal ke garis desak/kontak.
(1) Setelah satuan² PHH melalui garis awal dengan formasi 2 TON didepan (masing² TON paruh lembing) dan 1 TON tjadangan, maka gerakan dilandjutkan ke Garis Desak. Gerakan ini bisa dilakukan dengan djalan kaki atau berlari, disesuaikan dengan situasi kerusuhan pada waktu itu.
(2) Sebelum satuan² penindak sampai pada garis desak, for~ masi segera dirobah mendjadi formasi bersjaf dengan dua TON didepan, sedangkan unit² bantuan umum jang ta- dinja berada dibelakang TON tjadangan, segera menem- patkan diri dibelakang. TON² depan dengan ketentuan siap menunggu penggunaan dari DÁN Satuan.
(3) Apabila TON² depan tiba pada garis desak, DAN Satuan menghentikan pasukannja, dan semua pasukan dalam siap siaga. Setelah itu, DAN SAT dengan diikuti anggauta ke- lompok pelopor, anggauta POMAD dan pesuruh madju kedepan, kemudian dengan suara jang lantang dan penuh wibawa (menggunakan pengeras suara), memberikan seruan pada perusuh jang maksudnja agar segera membu- barkan diri. Apabila seruan dari DAN Satuan ini tidak membawa hasil, maka dengan segera pasukan diperintah- kan untuk melakukan tugasnja.
c。Gerakan mendesak.

(1) Setelah satuan² PHH menerima perintah mendesak, maka TON² didepan melaksanakan gerakan mendesak pada perusuh dengan arah desakan² jang telah ditentukan.
(2) Apabila gerakan mendesak jang dilakukan oleh TON depan mengalami suatu perlawanan jang hebat, hingga sukar untuk didesak ke-arah² jang telah ditentukan, maka atas perintah DAN SAT dapat digunakan alat pembantu jang lain, misalnja mobil pemadam kebakaran. Dengan tjara ini, maka bagian depan perusuh, terutama wanita dan anak² akan segera kotjar-katjir.
(3) Hasil jang diperoleh dari penggunaan alat² pembantu segera diikuti/diteruskan oleh TON² depan untuk mendesak perusuh dengan tongkat/senapan sebagai alat pendorong- nja.

(4) Sementara itu, kelompok pelopor dan team² POMAD me- ngikuti terus gerakan² TON² depan sambil selalu waspada dan siap memberi bantuan untuk mengatasi terhadap se- rangan anggauta² perusuh jang ekstrim, sedangkan team² POMAD untuk mengamankan gembong² perusuh itu sen- diri.
(5) Satuan² tjadangan dapat digunakan untuk gerakan² me- lambung, mengadakan desakan pada perusuh guna menga- tjaukan/membubarkan perusuh jang sifatnja ter-bawa² oleh gerakan aksi massa. Hingga dengan demikian, du- kungan massa dapat dibubarkan.
(6) Apabila inti massa telah tertembus, TON2 depan mulai mengadakan pemetjahan terhadap massa, agar dengan demikian massa dipetjah mendjadi kelompok² jang relatif lebih ketjil untuk memudahkan pembubaran selandjutnja.
d. Konsolidasi. Setelah kerusuhan dapat dibubarkan, satuan² PHH segera mengadakan konsolidasi. Unit² PPPK dengan kendaraan² ambu- lance mengadakan pertolongan kepada seluruh korban², baik fihak pasukan PHH, perusuh, maupun rakjat jang terkena ke- tjelakaan.
— 00O0o

BAB-III

DRILL P.H.H.

A. UMUM
42. TUDJUAN. Tudjuan Drill PHH, ialah untuk:
a.Memupuk disiplin kesatuan jang kuat.
b.Meningkatkan kemahiran bertindak dan bergerak dalam hu- bungan kesatuan.
C. Menekankan dan menegaskan adanja kordinasi antara semua unsur dari tjabang/dinas jang tergabung dalam satuan PHH.
d. Menghindarkan tindakan² perorangan.
e.Menekankan bahwa kekompakan pasukan, menakutkan massa,
f. Membiasakan setiap unsur satuan PHH bisa bertindak reflektip sesuai dengan setiap berkembangnja keadaan. Memiliki daja-gertak dan daja-kedjut jang besar, agar lawan/
g. massa mematuhi kehendak dan keinginan kita.
43. PETUNDJUK.
a.Dalam latihan ini hendaknja Komandan memberikan bantuan- nja kepada Pelatih, agar dapat berdjalan dengan lantjar. Sebelum latihan dimulai, pelatih menjiapkan diri, lapangan, alat² dan perlengkapan jang perlu.

b. Kepada seluruh anggauta pasukan harus selalu ditekankan,

bahwa kekuatan pasukan terletak pada formasi, bukan pada keberanian perorangan. Mereka harus menginsjafi bahwa mereka adalah bagian formasi, berdjuang dalam formasi, untuk kepentingan formasi. Karena itu supaja diperlihatkan djuga kepada mereka, bahwa formasi jang tidak terpelihara akan ke- hilangan kekuatan menjerang dan mempertahankan bahkan mudah diterobos oleh pengatjau. Mereka harus selalu diperi- ngatkan, agar djangan mengambil langkah jang terlalu pandjang dan tjepat.

C.Kepada Perwira², Bintara dan Tamtama supaja diberikan tjeramah² tentang huru-hara, sifat²nja. terdjadinja dan kesukaran² dihadapinja. Selain daripada itu diberi pula tjeramah²/santi- adji tentang Sapta Marga, Sumpah Pradjurit, Pantjasila dan sebagainja untuk mempertebal ketahanan mental. Mereka mem- punjai kepertjajaan untuk menindak tiap² huru-hara. Kepertjajaan ini didasarkan atas pengetahuan tentang apa jang dihadapi-

nja, dan bagaimana menghadapinja, ketjakapan memperguna- kan formasi² PHH, sendjata² dan perlengkapan dan kejakinan bahwa mereka tjukup terlatih. Dengan demikian, dapat ditjapai moril jang tinggi. Seorang Perwira, Bintara atau Tamtama jang tidak mengetahui apa jang harus ia kerdjakan, biasanja takut, lemah dan ragu²; sedang orang jang terlatih tegas, tangkas dan berani.

d. Sebagai bagian dari latihan, para Perwira djuga memetjahkan masalah² huru-hara pada daerah dimana mungkin terdjadi ke- katjauan. Dalam memetjahkan masalah² ini, mereka membuat keputusan taktis.
e. Hasil sesuatu pasukan, tergantung dari pimpinan Perwira dan Bintaranja. Dalam PHH, mereka ini memerlukan nilai² jang sama seperti jang diperlukan untuk mengambil keputusan² taktis dalam pertempuran biasa.
f. Latihan² dapat diselenggarakan sebagai berikut :
(1) Untuk satuan Infanteri dibagi dalam 6 fase.

(a) Fase ke-I.

Gerakan perseorangan.

(b) Fase ke-II.

Membuat dan merobah formasi² Regu.

(c) Fase ke-III.

Membuat dan merobah formasi² Peleton.

(d) Fase ke-IV.

Membuat dan merobah formasi² Kompi. D

(e) Fase ke-V.

Latihan menggunakan formasi² dengan keadaan jang mendekati keadaan jang sesungguhnja.

(f) Fase keVI.

Drill aplikasi Kompi PHH jang diperkuat.

(2) Untuk satuan Kavaleri. Pada dasarnja pembagian fase² pada satuan Kavaleri ada- lah sama dengan jang digunakan pada satuan Infanteri; dengan penambahan fase: latihan kerdjasama Infanteri-Kavaleri.
g. Aba2. Semua aba² untuk pelaksanaan PHH dapat berpedoman pada aba² PBB ABRI (DJUKLAP PBB ABRI No. 72-02). Aba2 dapat diberikan pula dengan isjarat (lihat Gambar no. 1, 1a dan

1b). Untuk perubahan² gerakan dari djalan biasa ke gerakan lari djuga aba²nja menggunakan aba² PBB ABRI (lihat DJUK-LAP PBB ABRI No. 72-02 BAB-III pasal 27). Begitu pula apabila dikehendaki pembentukan/perubahan formasi setjara tjepat, aba² pelaksanaan "MADJU, DJALAN", diganti dengan aba² pelaksanaan "LARI, DJALAN". Untuk mengatasi agar aba² jang disampaikan dapat diterima oleh DAN2 bawahan dan anggauta²nja, maka aba² tersebut hendaknja disampaikan dengan menggunakan radio, pengeras suara dan pesuruh-pesuruh.

B. GERAKAN² DASAR.
44. UMM.
a. Pradjurit² harus dilatih melalui gerakan dasar. Dalam latihan ini, supaja ditekankan keseragaman perlengka- pan dan disiplin. Pada waktu berdjalan dan berhenti, mereka harus memperlihatkan sikap jang tenang dan tegas, tidak ber- bitjara, sehingga jang kedengaran hanjalah aba², perintah Ko- mandan dan derapan² kaki jang serentak.
b. Semua aba² jang diutjapkan, diberikan dengan suara jang nja- ring, tegas dan bersemangat. Aba² jang diberikan dengan isja- rat, diberikan dengan tanda² jang djelas atau dengan peluit (lihat Gambar no. 1, 1a dan 1b).
45. DRILL PHH FASE KE-I. GERAKAN PERSEORANGAN.
Gerakan dasar.

a. Jang terutama diperlukan ialah:
(1) Mengisi sendjata.
(2) Memasang sangkur.
(3) Sikap depan sendjata.
(4) Sikap tempur.
(5) Penggunaan senapan sebagai alat dorong.
(6) Penggunaan tongkat dorong.
(7) Semua gerakan² dalam perkelahian sangkur.
(8) Pembelaan diri tanpa bersendjata.
(9) Penggunaan alat² chusus lainnja.
2 BI

b. Mengisi sendjata. Dalam melaksanakan tugas² PHH, pengisian sendjata dilaku- kan pada saat² tertentu atas dasar penilaian DAN SAT, di-

mana situasi perlawanan perusuh sedemikian nekadnja dan mendjurus pada perlawanan fisik jang akan membahajakan djiwa manusia. Karenanja, setiap anggauta harus dapat dengan tangkas dan tjepat mengisi sendjatanja. Hal ini perlu di- tekankan mengingat pertumpahan darah sedapat mungkin harus dihindari.

C. Memasang sangkur. Untuk menghalau/membubarkan perusuh jang sangat militant, kadangkala diperlukan menggunakan senapan dengan sangkur terpasang. Memasang sangkur ini harus dapat dikerdjakan dengan serentak dan rapih. Tata-tjara pelaksanaan, lihat DJUKLAP PBB ABRI No. 72-02, BAB-IV pasal 48.
d. Sikap depan sendjata dan sikap tempur. Seorang pradjurit jang bertugas menindak huru-hara, dalam kebanjakan hal akan memegang sendjatanja dalam sikap depan sendjata (tata-tjara pelaksanaan, lihat DJUKLAP PBB ABRI No. 72-02 BAB-IV pasal 47) dan sikap tempur pada waktu berhenti atau berdjalan. Djika berhenti dengan sikap tempur, jang dipergunakan ialah sikap siap-sedia pendek seperti dalam perkelahian sangkur, lihat DJUKLAP perkelahian sangkur No. 6519; dan djika berdjalan dengan sikap tempur jang dipergunakan ialah sikap siap-sedia, dengan ketentuan: pada saat mendapat aba² "Siap-sedia, gerak", sendjata dengan tjepat dan tangkas digerakkan kedepan, lengan kiri terken- tjang lurus, sendjata rata² air mengarah lurus kedepan dan popor rapat pada siku kanan dan lambung badan. (Lihat Gam~ bar no. 2).
e. Gerakan² tambahan.
(1) Dari sikap tempur berhenti hendak madju djalan. Pada aba² peringatan "Madju", kaki kanan dirapatkan dengan kaki kiri, badan ditegakkan, hulu popor ditekan- kan pada siku kanan dan lambung, udjung sangkur ditu- runkan mendjadi setinggi perut (rata² air, mengarah kedepan). Pada aba² pelaksanaan "djalan", mulai melang- kah. 4
(2) Pada waktu berdjalan dari sikap depan sendjata ke sikap siap-sedia dan sebaliknja. Aba² pelaksanaan "gerak", didjatuhkan pada kaki kanan ber-sama² dengan langkah kaki kanan berikutnja, aba² dilaksanakan dari sikap depan sendjata ke sikap siap-sedia atau dari sikap tempur ke sikap depan sendjata.

Pelaksanaan ini dilakukan dengan tjepat, sehingga sangkur se-akan² membelah udara.

(3) Dalam sikap tempur untuk hadap kanan atau kiri pada aba² peringatan "Hadap kanan/kiri", sikap dirobah men- djadi sikap depan sendjata. Pada aba² pelaksanaan "gerak", haluan dirobah kekanan/kekiri, kemudian mengam- bil sikap tempur.
f.Penggunaan tali sandang. Untuk mendjamin agar sendjata tidak terlepas dari genggam- an ataupun direbut oleh perusuh, maka tali sandang dari tiap² sendjata jang digunakan untuk PHH (senapan, PM) dapat di- ikatkan pada tangan kanan pembawa.

(1) Senapan.

(a) Aba² : "Kenakan tali sandang, gerak".
(b) Pelaksanaan:
Sendjata dibawa kemuka badan seperti pelaksanaan depan sendjata. Lepaskan kaitan tali sandang bagian bawah dengan tangan kanan. Masukkan tangan kanan pada mata tali sandang samipai pergelangan tangan, kemudian tangan kanan memegang sendjata pada perimbangannja. Tangan kiri mengentjangkan mata tali sandang pada pergelangan tangan kanan, kemudian ken- tjangkan tali sandang dibagian atas. Sendjata kembali disamping badan dengan dian- tar tangan kiri.

(2) P. M.
(a) Aba² : — sama dengan:senapan.
(b) Pelaksanaan:
sama dengan senapan. Penggunaan senapan sebagai alat dorong. (Gambar no. 2a).

g. Didalam gerakan mendesak dengan menggunakan senapan sebagai alat dorong, pelaksanaannja hampir sama dengan pelaksanaan perkelahian sangkur.

(1) Senapan selalu dalam sikap depan sendjata. (DJUKLAP PBB ABRI).
(2) Sikap mendorong. Pelaksanaan :

Per-tama² mengambil sikap dengan sendjata rata²

air didepan dada. Pada waktu kaki kiri atau kanan didepan, senapan didorong kemuka (mendesak lawan) sedjauh ± 30 cm dari badan sendiri. Bersamaan dengan gerakan mendorong ini, kedua lutut agak dibungkukkan kedepan dan badan agak ditjondongkan kedepan, sehingga gerakan mendorong ini dilakukan dalam posisi jang kokoh.

(3) Pukulan popor mendatar dilakukan pada waktu kaki ka-

nan didepan.

Pelaksanaan : Pukulan popor pada bagian badan lawan sebelah kirı antara pinggang dan pundak (bagian badan jang tidak mematikan). Gerakan ini disertai lutut kanan dibengkokkan, badan agak ditjondongkan kemuka. Djarak tangan kanan dan kiri tetap seperti semula.

Djuga gerakan badan memutar sampai sudut 90°. (4) Parangan.

Dilakukan pada waktu kaki kiri didepan.

Pelaksanaan sama dengan pukulan popor mendatar (dilakukan oleh tangan kiri).

(5) Pukulan popor tegak. Dilakukan pada waktu kaki kanan didepan. Pelaksanaan sama dengan pelaksanaan perkelahian sang- kur, dengan tjatatan tidak diarahkan pada bagian badan lawan jang mematikan.
h. Penggunaan tongkat dorong.
(1) Menjiapkan tongkat.

(a) Aba² : "Siapkan tongkat, gerak".

(b) Pelaksanaan:

Pelaksanaan dari aba² tersebut meliputi empat gera-

kan sebagai berikut: Gerakan ke-1 : Tongkat dilepas dari kaitannja dipinggang kanan dan dibawa kedepan badan setinggi dada, kemudian tangan kiri memegang tongkat tersebut dibawah tangan kanan. pronid Gerakan ke-2: Tangan kanan melepaskan genggaman pada tongkat dan memasukkan ibu djari pada tali tongkat. Setelah mata tali melingkar pada ibu djari, maka tangan kanan diajunkan keatas, se- hingga tali mendjadi lurus tegang. Setelah itu tangan bersiap untuk melingkarkan tali tongkat. Gerakan ke-3: Tali tongkat dilingkarkan pada tangan kanan dan menegang, setelah itu tangan memegang tongkat kembali. Gerakan ke-4: Tongkat dibawa kesamping badan seperti membawa pedang dengan diantar oleh tangan kiri.

(2) Sikap tongkat samping.
(a) Aba² : "Tongkat samping, gerak".
(b) Pelaksanaan : Dalam sikap sempurna seperti membawa pedang.
(3) Sikap depan tongkat.

(a) Aba2 : "Depan tongkat, gerak".

(b) Pelaksanaan : Sama seperti sikap depan sendjata. (Gambar 2b).

(4) Sikap istirahat ditempat.

Pelaksanaan : Sama seperti tjara istirahat dengan pedang.

(5) Pukul mata kaki/tulang kering.

(a) Aba² : "Pukul mata kaki/tulang kering kanan/kiri,

gerak".

(b) Pelaksanaan : Dari sikap depan tongkat, mengambil sikap sempur- na, tongkat digenggam oleh kedua belah tangan, ke- mudian kaki kiri/kanan madju kedepan, bersamaan dengan itu mengajunkan tongkat dan diarahkan pada mata kaki/tulang kering daripada lawan. Setelah me- mukul kaki kanan/kiri, melangkah kedepan dan ke- mudian mengambil sikap depan tongkat kembali.
(6) Pukul lengan.

(a) Aba² : "Pukul lengan kanan/kiri, gerak".

(b) Pelaksanaan: Gerakan sama dengan pukul mata kaki, hanja arah~ nja ditudjukan kepada lengan kanan atau lengan kiri lawan.
(7) Pukul kemaluan.
(a) Aba² : "Pukul kemaluan, gerak".
(b) Pelaksanaan: Ditudjukan kepada perusuh laki². Tongkat diajunkan diantara 2 kaki lawan dari ba- wah hingga mengenai kemaluannja.
(8) Pukulan mendatar.
(a) Aba² : "Pukul datar, gerak".
(b) Pelaksanaan : Sama dengan perkelahian sangkur pada tingkat pukulan popor mendatar, dan diarahkan pada dagu lawan.
(9) Mendorong.
(a) Aba² : "Dorong, gerak".
(b) Pelaksanaan: Sama seperti pada penggunaan sendjata. (Gam- bar 2b).

(10) Menjodok.

(a) Aba² : "Sodok dada/perut, gerak".

(b) Pelaksanaan: Sama seperti pelaksanaan perkelahian sangkur dar diarahkan pada dada/perut lawan.

(11) Menjodok dagu.

(a) Aba²: "Sodok dagu, gerak".
(b) Pelaksanaan: Tongkat diarahkan pada dagu lawan. Gerakannja ajunkan tongkat dari bawah keatas sampai pada dagu.
i.Perkelahian sangkur. Walaupun perkelahian sangkur sedapat mungkin harus ditje- gah, tiap² pradjurit harus mahir dalam perkelahian sangkur, sebab adakalanja dapat mematahkan perlawanan seseorang dengan melukainja atau perlu membela diri. Karena itu semua gerakan perkelahian sangkur djuga dilatihkan.
j. Kemampuan pembelaan diri adalah untuk menangkis serangan² tindakan² kekerasan jang dapat menimbulkan korban². Untuk mentjapai kemampuan tersebut diatas, setiap pradjurit harus di- latih mengenai pembelaan diri tanpa bersendjata (lihat DJUK-LAP No. 1704). Disamping itu dapat dilatihkan djuga ketang~ kasan² lain. (Karate, judo, silat dan sebagainja). Penggunaan alat².
k. Memberikan keterampilan pada pradjurit menggunakan alat² jang dipergunakan dalam PHH, misalnja penggunaan tongkat, tameng, granat gas air-mata dan sebagainja.
46. DRILL PHH FASE KE-II. MEMBUAT DAN MEROBAH FORMASI² REGU.
a. Pendahuluan.

(1) Perlu didjelaskan bahwa gerakan dasar dipergunakan hanja

untuk melatih anggauta² Regu dan Peleton membuat formasi dengan lantjar dan rapih, sehingga tiap² anggauta mengetahui tugasnja dengan tidak usah menunggu perin- tah. Dalam keadaan sesungguhnja gerakan dasar (drill) tidak dapat dipergunakan, pasukan harus dapat membuat formasi dengan keadaan taktis (lawan, medan dan sebagainja). Walaupun demikian, tugas tiap² anggauta dan tempat sen- djata² Regu dan Peleton harus berdasarkan. Drill PHH.

(2) Didalam gerakan dasar ini dipergunakan Regu ROI-64 jang terdiri dari 10 orang, jakni : satu orang DANRU, satu

orang WADAN RU dan satu orang penembak SO, dan lainnja penembak senapan. Tetapi dalam keadaan sesung- guhnja, DAN RU harus dapat mempergunakan Regu jang berkekuatan lebih atau kurang dari 10 orang, dengan tidak melupakan gerakan dasar dan dasar² formasi.

(3) Drill RU dalam naskah ini diarahkan/disesuaikan pada pembentukan formasi² TON, mengingat TON PAN me- rupakan satuan taktis terketjil dalam PHH ini.
b.Pekerdjaan sebelum berlatih membuat formasi.
(1) DAN RU mempergunakan Regu-nja dalam bentuk (formasi) bersjaf/berbandjar.
梦 叠 梦

梦 叠 梦愛整查

墨 9 10 7 8 6 5 4 3 1 2 一 1 DAN RU. 9= Penembak SO. WADAN RU. 10= Perhatian : Regu dapat terdiri dari 10 orang (lebih atau kurang), tetapi WADAN RU dan penembak SO harus selalu pada nomor penghabisan.

(2) Pelatih (DAN TON) berdiri dimuka Regu menghadap ke

Regu-nja dan memberi aba² "Regu siap, gerak". Setelah siap, dengan tjepat DAN RU datang menghadap pelatih dan melaporkan kekuatan Regu-nja. Perintah pelatih ialah "Siapkan Regu untuk latihan penindakan huru-hara". DAN RU mengulangi perintah itu. Setelah selesai mengulangi perintah tadi, ia memberi nomor pada anggauta mulai dari kanan kekiri. DAN RU adalah No. 1, se hingga untuk anggauta sebelah kirinja, ia mulai dinomor 2, 3 dan selandjutnja. (Lihat Gambar dihalaman 44). WADAN RU dalam formasi berbandjar/bersjaf berdiri pa- ling udjung kiri belakang, sedang pembawa SO berdiri dimuka WADAN RU disebelah kanannja. Selesai memberi nomor pada tiap² anggauta, DAN RU berdiri dimuka

Regunja, dan memberi aba² : "Berhitung, mulai'.. Setelah

mereka menjebutkan nomornja, maka DAN RU memberi aba2 : "ISTIRAHAT".

c. Hal² jang perlu diperhatikan :
(1) Pasukan dalam formasi, bergerak dengan lambat, dengan langkah jang merata tetapi tegas.
(2) Djika ada perintah "Sikap siap-sedia", semua anggauta jang digaris depan dengan mengambil sikap siap-sedia pendek, sedangkan lain²nja meskipun bersendjata senapan bersangkur, tetap dalam sikap "depan sendjata".
(3) Jang boleh ditempatkan digaris depan formasi, hanja jang bersendjata senapan atau tongkat dorong, sedangkan sendjata lainnja dibelakang.
(4) Djarak ialah kurang lebih 1 (satu) langkah kesamping dan kebelakang, sehingga tidak mungkin diterobos, akan tetapi masih memberikan kemungkinan kepada perorangan untuk bergerak.
(5) Komandan mengambil tempat, darimana ia dapat dengan mudah mengambil pimpinan.

d. Formasi Berbandjar: ABA2 BUNJI
Pelaksanaan No. DARI ABA2 DAN RU Regu mengambil sikap. Aba²

  1. Siap, gerak.
    ini hanja diberikan bila akan laporan kepada Komandan E langsung. DAN RU meng- hadap Pelatih, mengambil sikap sempurna, memberi hormat dan melaporkan ke- kekuatan Regu-nja. Siapkan RU un-DAN RU mengulangi pe-DAN

2.
tuk latihan pe-rintah, lalu kembali ke Pa-TON nindakan huru-sukan. hara. DAN RU Istirahat ditem-Regu mengambil sikap isti-

3.
pat gerak. rahat No. 2, 3, 4, dst. DAN RU memberi nomor

  1. Idem
    mulai dari kanan kekiri. Ia mulai menjebut No. 2 pada orang jang paling kanan dst. Tiap² orang jang diberi nomor oleh DAN RU, mengambil sikap sempurna, mengulangi nomornja, kembali lagi ke sikap istirahat. Masing² anggauta, mulai da-

IdemSiap gerak. Pen-

5.ri nomor dua ber-turut² ber-

djuru kanan sbg

hitung menjebutkan nomor-No. 2 hitung, Mulai. nja. Istirahat ditem-Regu mengambil sikap isti-

Idem

6.
rahat. pat gerak. Regu mengambil sikap sem-Siap, gerak.

7. Idem

purna. Isi sendjata, ge-Hanja anggauta² Regu jang

  1. Idem
    bersendjata senapan mengisi rak. sendjatanja, sedang gerakan
ABA2 BUNJI
No. Pelaksanaan
DARI ABA2
9. Idem Pasang sangkur gerak Anggauta² Regu jang ber- sendjata senapan memasang sangkur menurut hitungan DAN RU. (Bila diperlu-
10. SO sandang sen~ djata, gerak. kan). Penembak SO menjandang sendjatanja dimuka badan dengan larasnja keatas se- rong kiri.
11. Idem Depan sendjata gerak. Semua anggauta Regu jang bersendjata senapan dalam sikap "depan sendjata".
12. Idem kanan, Hadap gerak. Regu menghadap kekanan, mengambil formasi berban-
djar.
13. Dengan demikian, kita mem- peroleh "Regu Berbandjar". Formasi² selandjutnja di- buat dari formasi pokok ini.

DAN RU

e. Formasi Bersjaf. (Lihat Gambar No. 3). ABA2 BUNJI

No. Pelaksanaan

DARI ABA2

  1. DANRU. Regu bersjaf Dalam keadaanberhenti
    djalan. Regu tetap ditempat, kalau sedang berdjalan, Regu te- 4 rus berdjalan. Regu tetap di-4 tempat kalau djalan keadaan berhenti. Pada waktu berdjalan, aba² pelaksanaan ini diberikan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah 2 langkah lagi, lalu ditempat djalan. Pada waktu memberikan aba² pelaksanaan, DAN RU berdjalan te- rus 10 langkah kedepan, kemudian ditempat djalan. Pada waktu DAN RII ditempat djalan, maka No. 2 madju kedepan melalui sebelah kanan DAN RU, dan me- nempatkan dirinja 2 langkah didepan DANRU, kemudian ditempat djalan. WADAN

2. Madju. Pada aba² peringatan ini,

RU.anggauta² jang bernomor

genap menghadap serong kanan, jang bernomor gandjil menghadap serong kiri. Dalam keadaan berdjalan djalan. aba² pelaksanaan ini diberikan pada waktu kaki kanan P djatuh ditanah, ditambah 2 langkah laqi, kemudian terusberdjalan. 公 Anggauta² jang bernomor genap mengambil tempat di- sebelah kanan No. 2, mulai dengan No. 4, 6 dan 8. Se- baliknja anggauta² jang bernomor gandjil ber-turut² ia- lah No. 3, 5 dan 7 meng-

ABA2 BUNJI

No. Pelaksanaan

DARI ABA2

ambil tempat disebelah kiri No. 2. Penembak SO me- ngambil tempat disebelah

kiri DAN RU dibelakang anggauta No. 5, sedang

WADAN RU disebelah kanan DAN RU dibelakang anggauta No. 6 (lihat Gam- bar No. 3). Tiap² anggauta sambil ditempat djalan me- luruskan pada No. 2, se- hingga merupakan satu ga- ris lurus. Djarak antara ma- sing² anggauta ± 1 langkah.

  1. DAN RU. Madju, djalan Aba² pelaksanaan didjatuh-
    kan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah 2 langkah, kemudian berdja- lan mulai dengan kaki kiri dengan langkah tegap, pe- lahan, dan kaki diseret ditanah, muka tetap memandang kedepan.

4.Idem Sikap siap-sedia,Aba² pelaksanaan diberikan
pada waktu kaki kiri djatuh gerak. ditanah, ditambah dua langkah dan dengan serentak se- mua anggauta jang bersen- djata senapan membawa sendjatanja kesikap siap-sedia (tangan kiri lurus), sangkur harus rata² air djika dilihat dari sampinq dan po- por rapat pada siku kanan dan lambung.

5. Idem Aba² pelaksanaan diberikan

Depan sendjata,

gerak.seperti No. 4 diatas tetapi

sendjata dengan serentak di- bawa ke sikap depan sendjata dan tangan kiri setinggi pundak kiri.

f. Formasi Paruh Lembing. (lihat Gambar No. 3).

ABA2 BUNJI Pelaksanaan

No. DARI ABA2

DAN RU. Regu paruh lem-Dalam keadaan berhenti,

1.
Regu tetap ditempat, sedang bing. waktu berdjalan, Regu terus berdjalan. Aba pelaksanaan diberikan djalan. pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah 2 langkah, kemudian ditempat djalan. DAN RU berdjalan terus 10 langkah kemuka, lalu ditempat djalan, maka No. 2 berdjalan melalui sebelah kanan DAN RU dan me- nempatkan dirinja 2 langkah dimuka dan ditempat djalan. Madju, Pada aba² peringatan ini,

  1. WADAN
    anggauta² jang bernomor RU genap menghadap serong kanan, sedang anggauta² jang bernomorgandjil, menghadap serong kiri.

djalan.Aba² pelaksanaan ini diberi-

kan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah dua langkah, lalu mulai berdjalan. Anggauta² jang bernomor genap mengambil tem- pat serong kanan dibelakang No. 2, No. 6 dibelakang No. 4 serong kanan dst. Anggauta² jang bernomor gandjil mengambil empat serong kiri dibelakang No. 2, No. 5 dibelakang serong kiri dari No. 3 dan seterusnja. Dengan demikian, maka No. 2 mendjadi titik udjung de-

ABA2 BUNJI Pelaksanaan

No. DARI ABA2 pan seluruh Regu. Penem- bak SO mengambil tempat disebelah kiri DANRU, se- dang WADAN RU tempat- nja disebelah kanan (lihat Gambar No. 3). Semua anggauta meluruskan ke No. 2. WADAN RU mengatur formasi, djarak ± 1 langkah antara masing² anggauta, dan semuanja di tempat djalan. Aba² pelaksanaan diberikan DAN RU Madju, djalan

3.
pada waktu kaki kanan djatuh ditanah, ditambah dua langkah, lalu mulai berdja- lan dengan kaki kiri langkah tegap, perlahan dan kaki se- retkan ketanah, mata me- mandang lurus kemuka. Sikap siap-sedia, Aba² pelaksanaan diberikan

  1. Idem
    pada waktu kaki kiri djatuh gerak. ditanah, ditambah dua langkah, dan dengan serentak semua anggauta jang ber- sendjata senapan membawa sendjatanja dalam sikap siap-sedia tempur. Sangkur harus sama rata bila dilihat dari samping. (Lihat pelaksanaan RU BERSJAF). Depan sendjata, Aba² pelaksanaan diberikan DAN RU.

5.
gerak. seperti pada No. 4 diatas, tetapi sendjata dengan serentak dibawa ke sikap depan sendjata dan tangan kiri setinggi pundak kiri.

g.Formasi serong ka nan/kiri. (Lihat Gambar No. 3).

ABA2 BUNJI Pelaksanaan

No. ABA2

DARI

Dalam keadaan berhenti Re-

  1. DAN RU. Regu serong ka-

    nan, djalan, gu tetap ditempat sedang

waktu berdjalan, Regu terus berdjalan.

djalan.Dalam keadaan berhenti, Re-

gu tetap ditempat, sedang waktu berdjalan, maka aba² pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah, ditambah 2 langkah lalu mulai ditempat djalan. Pada waktu aba² pelaksana an ini diberikan, DAN RU berpindah satu langkah ke- kiri/kekanan sambil ditempat djalan, No. 2 berdjalan terus 9 langkah kemuka, lalu ditempat djalan.

WADAN Aba² peringatan ini diberi-

2. Madju,

RU. kan, apabila No. 2 sudah

sampai ditempatnja, dan se- mua anggauta menghadap serong kanan.

Aba² pelaksanaan ini diberi-djalan. kan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah, ditambah, 2 langkah, kemudian mulai berdjalan serong kekanan. DAN RU mengambil tempat disebelah kanan/kiri serong dibelakang dari No. 5. Pe- nembak SO, mengambil tem-

pat dibelakang No. 2 dan segaris serong pada DAN

RU. WADÅN RU mengambil tempat dibelakang

ABA2 BUNJI Pelaksanaan

No. DARI ABA2

No. 7 dan djuga segaris se- rong dengan DAN RU. Djarak antara masing² anggauta ± 1 langkah. Regu tetap ditempat djalan. Aba² pelaksanaan ini diberi-

DAN RU. Madju, djalan.

3.
kan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah, ditambah 2 langkah, kemudian mulai berdjalan dengan kaki kiri serta langkah tegap, perla- han dan kaki diseretkan ke- tanah, muka tetap meman- dang kedepan. Aba² pelaksanaan ini diberi-

  1. Sikap siap-sedia Idem
    kan waktu kaki kiri djatuh gerak. ditanah ditambah 2 langkah dan dengan serentak semua anggauta jang bersendjata senapan membawa sendjata. nja kesikap siap-sedia tem- pur. Sangkur harus sama ra- ta djika dilihat dari samping. Aba² pelaksanaan diberikan

  2. Idem Depan sendjata,
    seperti aba² tsb dalam No. 4 gerak. diatas tetapi sendjata senapan dengan serentak diba- wa dalam sikap depan sendjata, tangan kiri setinggi pundak kiri.

h. Formasi Paruh Lembing kanan/kiri (lihat Gambar 3).

ABA2 BUNJI Pelaksanaap No. DARI ABA2 Dalam keadaan berhenti,

  1. DAN RU. Regu paruh lem-
    Regu tetap ditempat, sedang bing kanan, waktu berdjalan, terus berdjalan. Dalam hal ini aba2 pelaksa- djalan. naan diberikan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah, ditambah 2 langkah, kemu- dian ditempat djalan. DAN RU berpindah 1 langkah kekiri sambil ditempat djalan. Bila DAN RU sudah pindah kekiri, maka No. 2 madju 6 langkah kemuka dan ditempat djalan. Pada aba² ini anggauta se-WADAN Madju, djalan.

2.
muanja madju kemuka dan

RU.mengambil tempat dibela-

kang No. 2 tsb, dengan de- mikian, maka merupakan berbandjar, sedangkan Pe- nembak SO mengambil tempat dimuka DAN RU (d1 sebelah kiri No. 4) dan WADAN RU disebelah kiri No. 7. Regu ditempat djalan.

  1. DAN RU. Buka barisan Aba² pelaksanaan diberikan
    djalan. pada waktu kaki kiri djatuh ditanah, ditambah dua langkah, ditempat djalan, dan sesudah itu anggauta mem- buka barisan kekanan: Nomor 3 — satu langkah kekanan. 4 — dua langkah kekanan.

5 — tiga langkah

kekanan.

ABA2 BUNJI Pelaksanaan No. DARI ABA2 Nomor 6 — dua langkah kekanan.

7 — satu langkah

kekanan. DAN RU, WADAN RU dan penembak SO ber-sa- ma² meląngkah satu langkah kekanan. Bilamana anggauta Regu telah merupakan formasi paruh-lembing kanan, semua anggauta tetap ditempat djalan. Madju, djalanAba² pelaksanaan ini diberi-

4. Idem

kan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah 2 langkah, ditempat djalan, lalu mulai berdjalan dengan kaki kiri dengan langkah te- gap, perlahan dan diseretkan ketanah, mata tetap meman- dang kemuka. Sikap siap-sedia, Aba² pelaksanaan ini diberi-

5. Idem

gerak. kan pada waktu kaki kiri

djatuh ditanah ditambah 2 langkah dan dengan seren- tak semua anggauta jang ada dibarisan muka (No. 2, 3, 4 dan 5), membawa sendja- tanja dalam sikap siap sedia, sedang anggauta² jang ber- ada dibarisan belakang (No. 6, 7 dan 8), tetap dalam sikap depan sendjata.

6. Depan sendjata, Aba² pelaksanaan diberikan

Idem

gerak. seperti tsb. dalam No. 5 di-

atas, sendjata dibawa dalam sikap depan-sendjata. (Jang mengerdjakan hanja barisan muka sadja).

i. Perobahan² formasi. (Lihat Gambar no. 4).
(1) Dari berbandjar ke bersjaf. Aba² : "Regu bersjaf, djalan". Pelaksanaan :
(a) DAN RU madju 10 langkah.
(b) No. 2 madju 12 langkah dimuka DAN RU.
(c) WADAN RU memberi aba² : "Madju, djalan". No. 3, 5, 7, menudju kesebelah kiri no. 2; no. 4, 6, 8 menudju kesebelah kanan no. 2. No. 9 dan 10 disebelah kanan/kiri DAN RU.
(2) Dari berbandjar ke paruh lembing. Aba² : "Regu paruh lembing, djalan". Pelaksanaan:
(a) DAN RU madju 10 langkah.
(b) No. 2 madju 12 langkah dimuka DAN RU. RU).

(c) DAN RU memberi aba² : "Madju, djalan".

No. 3, 5, 7, menudju serong kiri no. 2. No. 4, 6, 8, menudju serong kanan no. 2.

No. 9 dan 10 menudju samping kanan/kiri DAN

RU.

(3) Dari berbandjar ke serong kanan. Aba² : "Regu serong kanan, djalan". Pelaksanaan :
(a) DAN RU kekiri 1 langkah.
(b) No. 2 madju 6 langkah.

(c) DAN RU memberi aba² : "Madju, djalan".

Semua pasukan, termasuk no. 3, 4, 5, 6, 7 dan 8 menudju serong kiri no. 2. No. 9 dan 10, dimuka dan dibelakang DAN RU samping kekanan djuga.

(4) Dari berbandjar ke serong kiri. Aba² : "Regu serong kiri, djalan". Pelaksanaan :
(a) DAN RU kekanan 1 langkah.
(b) No. 2 madju 6 langkah.

(c) DAN RU memberi aba² : "Madju, djalan".

Semua pasukan, termasuk no. 3, 4, 5, 6, 7 dan 8, menudju serong kiri no. 2. No. 9 dan 10, dimuka dan dibelakang DAN RU serong kekiri djuga.

(5) Dari berbandjar ke paruh lembing kanan. Aba² : "Regu paruh lembing kanan, djalan". Pelaksanaan:
(a) DAN RU kekiri 1 langkah.

(b) WADAN RU memberi aba² : "Madju, djalan".

Semua pasukan madju 6 langkah hingga no. 5 sedja- djar dengan DAN RU (no. 1). D

(c) DAN RU memberi aba² : "Buka barisan, djalan".

No. 3 melangkah 1 langkah kekanan. No. 4 melangkah 2 langkah kekanan. No. 5 melangkah 3 langkah kekanan. No. 6 melangkah 2 langkah kekanan. No. 7 melangkah 1 langkah kekanan. No. 8 tetap (sedikit madju).

(d) No. 9 dan 10 menempatkan diri dimuka/dibelakang DAN RU. Setelah selesai, pasukan membuka barisan.
(6) Dari berbandjar ke paruh lembing kiri. Aba² : "Regu paruh lembing kiri, djalan". Pelaksanaan:
(a) DAN RU melangkah 1 langkah kekanan.
(b) WADAN RU memberi aba² seperti tersebut diatas.
(c) Pelaksanaan aba² ini sama dengan pelaksanaan seperti diatas, hanja gerakan melangkah semua kekiri (kebalikan dari paruh lembing kanan).
Formasi untuk membawa tahanan.

j. Biang-keladi jang berada dipinggir massa, dapat ditangkap dengan formasi belah ketupat. Pelaksanaannja:
(1) Regu bergerak dengan langkah tjepat menudju ke biang-keladi jang hendak ditangkap.
(2) Berhenti didepannja.
(3) Dua anggauta jang ditundjuk, sangkurnja menudju kepa- da biang-keladi.

(4) Dua anggauta jang ditundjuk, keluar formasi dan mem- borgol biang-keladi, memasukkan dalam formasi.
(5) Balik kanan dan mundur atas perintah DAN RU, bila di- perlukan.
47. DRILL PHH FASE KE-III. MEMBUAT DAN MEROBAH FORMASI² PELETON.
a. Pendahuluan.
(1) Dalam gerakan dasar ini digunakan TON Senapan ROI
64. jang terdiri dari POK KO TON dan 3 RU Senapan, dan diperkuat dengan team POM, kelompok pelopor dan sebagainja (lihat pasal 23b).
(2) DAN TON memberikan aba² peringatan, sedangkan pe- laksanaannja didelegasikan pada BA TON dan DAN² RU.
b. Peleton Berbandjar. ABA2 BUNJI
Pelaksanaan No. DARI ABA2 Lihat DJUKLAP PBB AB-RI No. 72-02 BAB-VII, pasal 74.

C. Peleton Bersjaf. (Lihat Gambar No. 5). ABA2 BUNJI
Pelaksanaan No. DARI ABA2 DANPeleton bersjaf Dalam keadaan berhenti,

  1. TON djalan. Peleton tetap berhenti. Pa-
    da waktu berdjalan, aba² pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah 2 langkah, lalu mulai ditempat djalan dan DANRU-II melangkah 10 langkah kedepan. Setelah sampai ditem- patnja, no. 2 dari Regu-II madju kedepan melalui se- belah kanan DAN RU-II dan mengambil tempat 2 langkah didepannja kemudian ditempat djalan.

  2. WADAN Madju, Aba² pelaksaan didjatuhkan RU-II. djalan. pada kaki kanan, setelah 2
    langkah mulailah melangkah dan Regu membuat formasi bersjaf (lihat Regu Bersjaf) Setelah sampai ditempat, ditempat djalan, kemudian DAN TON mengambil tempat 3 langkah dibelakang DAN RU-II (terus ditempat djalan), DAN RU-I mengambil tempat ± 7 langkah disebelah kiri dari DAN RU-II dan DAN RU-III ± 7 langkah disebelah kanan.

ABA2 BUNJI

No. Pelaksanaan

DARI ABA2

anggauta no. 2 Regu-I dan Regu-III madju 2 langkah didepan DAN RU-nja masing2.

  1. BA

    Madju, djalan. Setelah BATON melihat

TON.

bahwa anggauta² no. 2 RU- I dan RU-III telah sampai ditempat, BA TON mem- berikan aba² "Madju, dja-

lan" jang djatuh pada kaki

19dkanan. Setelah 2 langkah, kemudian RU-I dan RU-III dan Kelompok Komando bergerak ketempat masing². RU-I dan RU-III membuat formasi bersjaf seperti dalam Regu Bersjaf.

  1. DAN Madju, Aba² pelaksanaan ini diberi-
    TON. djalan. kan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah 2 langkah, ditempat, lalu dengan langkah tegap, perla- han dan kaki diseretkan ditanah, mata tetap meman- dang kemuka.

  2. Idem Sikap siap-sedia, Aba² pelaksanaan ini diberi-
    gerak.kan pada waktu kaki kiri djatuh ditanah ditambah 2 langkah dan dengan serentak semua anggauta jang didepan (dalam pagar sang- kur), membawa sendjatanja kesikap siap sedia dan sang- kurnja rata² air kalau dilihat dari samping.

  3. Idem Depan sendjata,Aba² diberikan seperti tsb.

    gerak.No. 5 diatas, tetapi sendjata

dengan serentak dibawa ke sikap depan-sendjata dan tangan kiri setinggi pundak kiri.

d. Peleton Paruh Lembing. (Lihat Gambar No. 5)

ABA2 BUNJI

No. Pelaksanaan

DARI ABA2 DAN Peleton paruh Dalam keadaan berhenti, Pe-

1. TONleton tetap ditempat, sedang

lembing waktu berdjalan, Peleton terus berdjalan.

djalan.Peleton tetap ditempat bila

dalam keadaan berhenti. Ka- lau sedang berdjalan, maka aba² pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah, ditambah 2 langkah lalu mulai ditempat djalan. DAN RU-I madju 10 langkah kemuka. Bila telah sampai, ditempat djalan, No. 2 dari Regu-I madju melalui sebelah kanan DAN RU, lalu menempatkan di- rinja dua langkah didepan- nja, terus ditempat djalan. WADAN Madju, djalan. Pada aba² peringatan, ang-

2.
gauta² Regu-I menghadap

RU-I

serong kanan. Aba² pelaksanaan ini diberikan pada waktu kaki kanan djatuh di~ tanah ditambah 2 langkah, ditempat, lalu mulai berdjalan serong kanan dan mengambil tempat seperti Regu serong kanan. Bila sudah sampai, ditempat djalan. DAN RU-III Aba² pelaksanaan ini diberi-DAN

3.
kan pada waktu kaki kanan

TON. madju, djalan.

djatuh ditanah ditambah 2 langkah, ditempat lalu mulai berdjalan dan mengambil tempat disebelah kiri dari DAN RU-I. Bila telah sam-

ABA2 BUNJI Pelaksanaan No. DARI ABA2 pai ditempat djalan, No. 2 berdjalan melalui sebelah kanannja dan menempatkan dirinja 2 langkah didepan- nja, kemudian ditempat djalan. WADAN Pada aba² peringatan ini

  1. Madju, RU-III. anggauta-anggauta Regu-III
    menghadap serong kiri. Aba² pelaksanaan diberikan djalan. pada waktu kaki kanan djatuh ditanah, ditambah 2 langkah, ditempat, lalu mulai berdjalan serong kiri, dan mengambil tempat seperti dalam Regu serong kanan, dan terus ditempat djalan. Bila Regu-I dan Regu-III telah ditempat, maka DAN TON madju dan menempatkan 2 langkah di-tengah² belakang dari DAN RU-I dan III. Aba² ini hanja berlaku bagi Madju, djalan.

  2. BA TON.
    kelompok Komando. Dilak- sanakan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah 2 langkah, ditempat djalan, laluberdjalan dan mengambil tempat seperti pada formasi bersjaf, dan bilamana telah sampai, ditempat djalan. Aba² pelaksanaan ini diberi-Madju, djalan. DAN

  3. kan pada waktu kaki kanan TON.
    djatuh ditanah ditambah dua langkah, lalu mulai berdjalan.

ABA2 BUNJI

No.Pelaksanaan

DARI ABA2

IdemSiap-sedia, gerak Aba² pelaksanaan ini diberi- 7.

kan pada waktu kaki kiri djatuh ditanah ditambah 2 langkah dan dengan serentak anggauta² jang berada didepan dan bersendjata senapan membawa sendjatanja kedalam sikap siap-sedia dan sangkur rata² air bila dilihat dari samping. Aba² pelaksanaan ini diberi-

8. Idem Henti, gerak.

kan pada waktu kaki kiri djatuh ditanah ditambah 2 langkah dan terus berhenti. Anggauta² jang didepan jang bersendjata senapan dengan serentak mengambil sikap siap-sedia pendek dan anggauta² jang berada dibe- lakang masih tetap dalam sikap depan sendjata. Pada waktu aba² pelaksana-Buka barisan

9. DAN RU-

an ini diberikan, tiap² ang-

II djalan. gauta membuka 1 langkah

keluar. Jang bernomor ge- nap kekanan, jang gandjil kekiri, sedang DAN RU be- serta Wakilnja tinggal ditempat. Hadap kiri/ha-Pada aba² ini, anggauta Re-

10. Idem

dap kanan, gerak gu-II menghadap kekiri dan kekanan. DAN RU-II tetap tinggal ditempat sedangkan WADAN RU menghadap kebelakang. Pada waktu aba² ini, semua

11. Idem Sikap siap-sedia,

anggauta Regu-II jang ber- gerak. sendjata senapan dengan se-

ABA2 BUNJI

No. Pelaksanaan

DARI ABA2

rentak mengambil sikap siap-sedia (pendek). Pada aba² ini, maka DAN

12. DAN Peleton akan ma-

TON RU-II memberi aba² pada

dju. Regu-nja.

13. DAN RU-Pada waktu aba² ini semua Depan sendjata,

II anggauta mengambil sikap

gerak. depan sendjata dengan merapatkan kaki kiri pada kaki kanan dan senapan dengan serentak dibawa ke sikap depan sendjata.

14. Hadap kiri/ha-Semua anggauta mengambil

Idem

dap kanan gerak. haluan semula.

15. DAN Pada waktu aba² peringatan

Madju, TONini, semua "Madju" diberi-

kan maka anggauta² jang berada didepan dan bersen- djata senapan dengan serentak membawa sendjatanja kesikap siap sedia tempur dan pada waktu jang ber- samaan merapatkan kaki kirinja pada kaki kanan.

Pada waktu aba² pelaksana- djalan. an. "djalan" terus berdjalan dengan kaki kiri dilangkah- kan kemuka dengan langkah tegap, perlahan dan kaki di- seretkan ditanah, mata me- mandang kemuka, sedang anggauta² jang berdjalan di- belakangnja dengan tidak merobah formasinja membawa sendjatanja dengan sikap dengan sendjata.

ABA2 BUNJI

No.Pelaksanaan

DARI ABA2

DAN Depan sendjata,Aba² pelaksanaan ini diberi-

16.
TON gerak.kan pada waktu kaki kiri djatuh ditanah ditambah 2 langkah dan dengan seren- tak anggauta² jang berada didepan jang bersendjata senapan membawa sendjata- nja ke sikap depan sendjata.

  1. Idem Peleton berban-Aba² pelaksanaan ini diberi-
    djar madju, kan pada waktu kaki kanan

djalan.djatuh ditanah ditambah 2

langkah dan sesudah itu Peleton djalan berbandjar se- perti formasi semula.

e.Peleton serong kiri/kanan. (Lihat Gambar No.5). ABA2 BUNJI
Pelaksanaan No. DARI ABA2 Peleton berbandjardalam

  1. DAN Peleton serong TON sikap depan sendjata. Pele-
    kanan/kiri, ton tetap ditempat kalau se- dang berhenti. Waktu berdjalan, Peleton terus berdjalan. Dalam keadaanberhenti, djalan. Peleton tetap ditempat. Se- dang waktu berdjalan, maka aba² pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah 2 langkah, lalu mulai ditempat djalan. DAN RU-IImadju 6 langkah kemuka bila su- dah sampai ditempat, lalu ditempat djalanNo. 2 madju kedepan dengan me- lalui sebelah kanan dari DAN RU-II serta menem- patkan dirinja 2 langkah di- depannja, dan ditempat djalan. WADAN Madju, djalan.Aba² pelaksanaan ini diberi-

  2. RU-IIkan pada waktu kaki kanan
    djatuh ditanah ditambah dua langkah, lalu berdjalan dengan langkah tegap, perla- han dan membentuk serong kanan/kiri, djarak tiap² ang- gauta ± 1 langkah (sepertı waktu dalam formasi Regu serong kanan/kiri), lalu ditempat djalan. Pada waktu aba² pelaksana-DAN DAN RU-I dan

3.
an ini diberikan, maka DAN

TON III madju, djalan.

RU-I dan II madju kede-

ABA2 BUNJI Pelaksanaan No. DARI ABA2 pan disebelah kiri/kanan WADAN RU-II dengan serong, lalu ditempat djalan, No. 2 dari Regu-I/III berdjalan dengan melalui sebe- lah kanan dari DAN RU- nja dan mengambil tempat dimukanja, dan merupakan garis serong belakang dengan anggauta² RU-II, kemudian ditempat djalan.

  1. WADAN Madju, Pada waktu aba² peringatan RU-I/III. ini, anggauta² dari Regu-I
    atau Regu-III, serong kanan/kiri.

djalan.Aba² pelaksanaan ini diberi-

kan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah, ditambah 2 langkah, kemudian berdjalan mendekatkan Regunja serong kanan/kiri, dan terus ditempat djalan. Tempat WADAN RU dan penem- bak SO seperti Regu serong kanan/kiri. Bila kedua Regu telah berbentuk serong, ma- ka DAN TON datang di- tengah² antara DAN RU-II dan udjung No. 5 dari Regu-I/II. Klp. Ko. madju, Aba² pelaksanaan ini diberi-

  1. BA TON.
    djalan. kan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah dua langkah, lalu berdjalan, kemudian mengambil tempat seperti dalam formasi ber- sjaf, dan bila sudah sampai, terus ditempat djalan.

ABA2 BUNJI

No. Pelaksanaan

DARI ABA2

KETERANGAN:

Pada serong kanan Regu-I

mendjadi tjadangan. Pada serong kiri, jang mendjadi tjadangan ialah Regu-III. DAN Madju, djalan Aba² pelaksanaan ini diberi-

  1. TON. kan pada waktu kaki kanan
    djatuh ditanah ditambah dua langkah, lalu mulai berdja- lan dengan kaki kiri langkah tegap, perlahan dan kaki di- seretkan ditanah.

  2. Idem Sikap siap-sedia,
    Aba² pelaksanaan ini diberi- gerak. kan pada waktu kaki kiri djatuh ditanah ditambah 2 langkah dan dengan serentak anggauta² jang bersendjata senapan jang berada didepan membawa sendjata- nja ke sikap siap-sedia tem- pur. Bila dilihat dari sam- ping, sangkur harus rata² air.

  3. Madju, djalan. Pada waktu aba² peringatan DAN TON. "Madju" diberikan, maka
    anggauta² jang bersendjata senapan didepan (pagar sangkur), dengan serentak membawa senapannja ke sikap siap sedia pendek dan pada waktu jang bersamaan kaki kanan dirapatkan, kaki kiri madju dengan langkah tegap, perlahan dan diseret- kan ketanah. Regu tjadangan dengan tidak merobah formasi, madju dengan mem-

ABA2 BUNJI Pelaksanaan No. DARI ABA2 bawa senapannja dalam si- kap depan sendjata. Aba² pelaksanaan ini diberi-

  1. Idem Depan sendjata,
    kan pada waktu kaki kiri gerak. djatuh ditanah ditambah 2 langkah dan dengan seren- tak anggauta² didepan mem- bawa sendjatanja dengan si- kap depan sendjata dan langkah tidak berobah. TON madju ber-Aba² pelaksanaan ini diberi-

  2. Idem
    bandjar djalan. kan pada waktu kaki kanan djatuh ditanah ditambah 2 langkah dan sesudah itu Peleton djalan berbandjar se- perti formasi semula.

f. Pendjelasan tentang formasi.
(1) Djarak antara seorang dan seorang (terutama jang ber- ada di pagar sangkur) harus sedemikian rupa, sehingga:

(a) Tiap² anggauta dapat mentjegah penerobosan formasi

dengan sangkur, dengan tidak merobah kedudukannja.

(b) Ada tjukup ruangan untuk bergerak bagi perorangan dan anggauta jang diperlengkapi dengan pentung untuk memberi bantuan. Karena itu, djarak seorang ke- samping dan kebelakang, jaitu ± 1 langkah.
(2) Formasi harus selalu terpelihara. Karena itu adalah kewadjiban WADAN RU untuk meme- lihara formasi itu dan memberitahukan siapa jang kurang kedepan atau kurang kebelakang, kurang kekanan atau ke- kiri.
g. Perobahan Formasi Peleton.
(1) Dari berbandjar ke bersjaf.

Aba² : "Peleton bersjaf, djalan". Pelaksanaan :

(a) — DAN RU-II madju 10 langkah.
No. 2 dari Regu-II madiu 12 langkah (dua langkah dimuka dari DAN RU). WADAN RU-II memberi aba² : "Madju,djalan" (untuk Regu-II). No. 3, 5, 7 menudju/madju disebelah kiri No. 2. No. 4, 6, 8 madju disebelah kanan/kiri DAN RU.

(b) Bintara Peleton memberi aba²: "Regu-I, Regu-II dan

Kelompok Komando madju, djalan". Regu-I madju

disamping kanan DAN RU-II dalam bentuk bersjaf, Regu-III madju disamping kiri Regu-II dalam bentuk

bersjaf.

(c) Kelompok Komando madju antara tengah² dibelakang

dari Regu-II. Mengenai antaranja tidak ditentukan

dengan pengertian asal DAN TON dapat memimpin dengan sempurna. Adapun susunan Kelompok Komando, lihat halaman 12, pasal 23 sub. d.

(2) Dari berbandjar ke paruh lembing. Aba² : "Peleton paruh lembing, djalan". Pelaksanaan :
(a) —DAN RU-I madju 10 langkah, DAN RU-III
madju 10 langkah dan melangkah 1 langkah ke- dalam. No. 2 dari Regu-I dan Regu-III madju 6 langkah dimuka dari DAN RU-nja masing².

(b) Bintara Peleton memberi aba²: "Regu-I, Regu-III,

Kelompok Komando madju, djalan".

(c) Regu-II madju berbandjar di-tengah² dengan djarak

taktis (tetap berbandjar). Kelompok Komando dide- pan dari Regu-II.

(3) Dari berbandjar ke Peleton serong kanan/kiri. Aba²: "Peleton serong kanan/kiri, djalan". Pelaksanaan:
(a) ---

DAN RU-II madju 6 langkah dan melangkah

satu langkah kekiri/kekanan.

N.o 2 dari Regu tersebut madju 2 langkah (dua langkah dimuka DAN RU). WADAN RU-II memberi aba² : "Madju, djalan". Tiap² anggauta Regu-II madju dan membentuk serong kanan/kiri.
(b) Bintara Peleton memberi aba² : "Regu-I dan Kelompok Komando madju, djalan". Regu-I madju dan membuat serong kanan/kiri sebelah kanan dari Regu-II. Regu-III madju dalam berbandjar dibelakang no. 2 dari Regu-II. Kelompok Komando berada diantara Regu-III dan Regu-I dan II.
48. DRILL PHH FASE KE-IV. MEMBUAT DAN MEROBAH FORMASI2 KOMPI.
a.Pendahuluan.
(1) Jang dimaksud dengan KI Senapan dalam DJUKLAP ini, ialah KI Senapan ROI-64 jang terdiri dari POK KO KI 3 TON senapan dan 1 TON bantuan.
(2) Dalam tugas PHH, TON bantuan biasanja dipersendja~ tai senapan dan dipergunakan untuk memperkuat TON senapan, tetapi dalam keadaan tertentu menurut penilaian keadaan taktis DAN KI atau DAN jang lebih tinggi, TON bantuan dapat diikut-sertakan lengkap dengan persendja- taannja.
(3) DAN KI memberikan aba² peringatan dan aba² pelaksa- naan didelegasikan kepada DAN² bawahannja.
(4) Pada dasarnja gerakan² Kompi tidak djauh berbeda dengan gerakan² Peleton.
b. Susunan Formasi Kompi — lihat Gambar no. 7.
C. Perobahan Formasi² Kompi— lihat Gambar no. 8.
49. DRILL PHH FASE KE-V. PENETRAPAN FORMASI DALAM KEADAAN MEDAN SE-SUNGGUHNJA.
a.Pendahuluan.
(1) Setelah satuan² mahir membuat formasi di medan² ter- buka (lapangan), satuan² tersebut harus djuga dilatih membentuk/bergerak diberbagai bentuk medan tertentu

jang disesuaikan dengan kemungkinan² terdjadinja huru hara, misalnja didaerah pusat pemerintahan, didaerah in- stalasi penting dan sebagainja.

(2) Dalam rangka latihan tersebut, djangan sampai meng- ganggu kepentingan dan ketertiban umum.
b. Tjontoh pengetrapan formasi² — lihat Gambar no. 9.
C. DRILL APLIKASI KOMPI PHH
JANG DIPERKUAT.

  1. PENJIAPAN PASUKAN PHH.
    a.Sesuai dengan tingkat kegawatan keadaan, satuan PHH dengan segenap unsur² bantuan jang diterimanja, pada lazimnja telah dikonsinjir disuatu tempat tertentu. Sementara menunggu perintah² untuk bergerak, satuan tersebut mengadakan persiapan² untuk menghadapi tugas jang akan dibebankan kepadanja.
    b. Kegiatan² satuan PHH ditempat konsinjering meliputi:
    (1) Penjiapan alat² perlengkapan satuan PHH.
    (2) Mengikuti dan mempeladjari perkembangan situasi jang sedang berlangsung berdasarkan SITRAP² dan laporan².
    (3) DAN satuan PHH dengan para DAN bawahannja, sela- ma masih tersedia waktu, melakukan pengintaian medan dan route² pendekat, mempeladjari situasi diatas, peta, perkiraan² keadaan, trop-info dan sebagainja, untuk me- lengkapi dan menambah bahan² keterangan jang telah ada.

    (4) Pemeriksaan teknis terhadap alat² chusus, kendaraan,

alat² komunikasi dan sebagainja.

(5) Memberi istirahat kepada pasukan sebanjak mungkin.

PIMPINAN

  1. PROSEDUR PASUKAN.
    a.DAN MILDA mengelu-
    DANKI memerintahkan kepada arkan perintah persiapan WADAN KI untuk mempersiap- dan memanggil DANKI kan Kompi di TB. Selandjutnja PHH untuk menerima pergi ke POSKO untuk mene- perintah operasi. rima perintah disertai : BA TIH. Pelajan radio. 一 Pesuruh.

b. DAN MILDA mengelu-
DAN KI menerima : arkan perintah operasi. — PO lengkap. — PK intell. —Keterangan² lain. BA TIH menerima : —Peta. Sandi suara. — Konsigne's. Pelajan radio. Menjesuaikan slidex dan PROPET HUB.

c. DANKI membuat rentja-1

Mempeladjari keterangan²

na. jang tersedia. Mempeladjari peta. Mengadakan kordinasi de- ngan para pendjabat tertentu. — Mengambil keputusan².

d. WADANKI mempersi-Selama DANKI berada di POS apkan pasukan.
KO, WADANKI mengadakan pemeriksanaan terhadap : — Kekuatan personil. Alat peralatan chusus. Persendjataan. Kendaraan. Alat kesehatan. Alat Komunikasi. Dan sebagainja.

e. DAN KI kembali dari POS KO.
f. DAN KI mengeluarkan perintah operasi.

g. DAN² TON dan DAN²

team bantuan memberi perintah kepada bawah- annja.

h. Pasukan naik kendaraan.
WADAN KI melaporkan segala jang telah dipersiapkan. DAN KI mengumpulkan semua DAN2 TON dan DAN team-bantuan. Isi perintah operasi : (Lihat tjontih). Isi perintah : Inti sari perintah kompi. — Hal² jang perlu untuk bagian- nja. Atas perintah DANKI pasukan naik kendaraan, dibawah pimpin- an masing² DAN. DAN Team Voorijders POM, memeriksa keadaan konvooi dari udjung sampai kendaraan terachir dari konvooi. Setelah itu melaporkan kepada DAN KI, bahwa konvooi telah siap untuk berangkat. DAN konvooi memberi tanda berangkat, dan konvooi menem- puh route mars, sesuai dengan

P.O.
i. DAN KI memerintahkan DAN Team Voorijders POM untuk memeriksa (mencheck) konvooi.
j. DAN KI memerintahkan konvooi berangkat. Tjatatan : Pekerdjaan persiapan dilakukan setjepat mungkin.

TJONTOH PERINTAH GERAKAN P. H. H.

KEADAAN UMUM :

Pada tgl/wkt. ............, hari ini, massa sebanjak 5000
orang telah memulai mengadakan pawai demonstrasi jang ber-
tendensi kerusuhan menudju ke ....

Massa berasal dari golongan ....

terdiri dari peladjar², mahasiswa², buruh dan pegawai. Pimpinan pawai demonstrasi belum diketahui. Banjak pengikut-pengi-

kut liar jang mengikuti pawai demonstrasi tersebut.

Massa tjukup aggressief dan militant.

Djalan² jang_dipergunakan oleh massa untuk pawai demonstrasi adalah Djl., Djl.

dan Djl. ...

Pada djam ... KODIM. dan POLRI telah menempatkan pengaman di .. dan menutup djalan :

2. TUGAS:

Membubarkan pawai demonstrasi tersebut dan menangkap/mena-

han para pimpinan demonstran.

  1. PELAKSANAAN :
    Kompi akan membubarkan perusuh dari arah.

a. dengan menggunakan dua TON didepan dan satu TON seba~ gai tjadangan. TON 1 bergerak disebelah kiri.
b.
C. TON 2 bergerak disebelah kanan.
d.TON 3 tjadangan.
e. Instruksi kordinasi:
Route mars mendekat adalah Djalan dan Djl.
lewat Djl. .....
Pangkal gerak di Garis awal di

Garis desak/kontak di

Arah penjaluran ke Djalan : Garis konsolidasi di Ketentuan² jang bersangkutan dengan tindakan kekeras- an

ADMINISTRASI & LOGISTIK :

4.
P. M.
5. KOMANDO DAN HUBUNGAN : Hubungan : gunakan PROPET jang berlaku. Tanda²
Tanda "MERAH" gerakan dimulai. Tanda "PUTIH" Pengedjaran. Tanda "HIDJAU" konsolidasi. Ada pertanjaan?
Sekarang djam ......., tjotjokkan djam
Perintah selesai.
Pasukan .......... berangkat!

  1. PENEMPUHAN ROUTE MARS MENDEKAT.

    (Gerakan dari T.B. ke P.G.).

a.Route Mars Mendekat (RMM) sedapat mungkin ditempuh dalam waktu jang se-singkat²nja dengan mengambil djarak jang se-dekat²nja. Pemilihan route, harus teliti, terlindung dan aman.
b.DAN team voorrijders POM sebagai perintis dan pembuka djalan konvooi PHH menempuh route, sesuai dengan rentjana, mengatur ketjepatan rata² konvooi dan memeriksa apakah tidak ada kendaraan konvooi jang tertinggal karena gangguan atau kerusakan.
C.Disiplin mars mendekat dipelihara.
Seluruh anggauta pasukan PHH mendjaga kesiapan dan kesiagaan. Bersikap korrek selama dalam perdjalanan. Dan sebagainja.

d.Kendaraan² jang dilengkapi dengan sirine², selama dalam perdjalanan dibunjikan untuk menambah efek psychologis kepada massa.
e.Tanda berhenti hanja diberikan oleh DAN konvooi, atas pe- rintah DAN KI PHH.

Apabila selama dalam perdjalanan didjumpai gangguan², rin-

tangan², blokade² dan sebagainja, maka hanja pasukan jang diperintah oleh DAN SAT untuk penjingkiran jang turun dari kendaraan. Bagian² jang tidak ditugaskan, tetap berada diatas kendaraan konvooi.

g.Hubungan dengan POSKO tetap dipelihara melalui radio.
h.Apabila dalam perdjalanan mendjumpai massa lain jang bukan mendjadi sasaran pokok dari KI PHH, maka massa tersebut tidak perlu dihadapi, tjukup dilaporkan kepada POSKO. DAN KI PHH, tetap menudju ke sasaran jang telah ditentukan.

  1. KEGIATAN DI PANGKAL GERAK.
    a. Setelah menempuh RMM, maka KI PHH berhenti di PG, dan pasukan turun dari kendaraan. Peleton² menjusun dirinja dalam formasi berbandjar. Tergantung kepada luas/sempitnja djalan/medan, maka ben- tuk formasi KI dapat tersusun sebagai berikut :
    (1) Tetap dalam formasi berbandjar.
    (2) 1 TON depan — 2 TON dibelakang.

    (3) 2 TON depan — 1 TON dibelakang.

b.Di PG, komandan² melakukan pemeriksaan terachir terhadap satuan serta perlengkapannja. Alat² chusus dikenakan (dipa- kai).
C. Setelah pemeriksaan selesai, maka KI digerakan ke G.A, jang didahului oleh TON depan, kemudian disusul oleh unsur-unsur bantuan umum jang terdiri dari:
(1) Jeep KO SAT PHH.
(2) Satuan KAV panser.
(3) Mobil penerangan.

(4) Mobil pemadam kebakaran.

(5) Satuan KAVKUD.
(6) Satuan hewan polisi.

Satuan² tersebut diatas, menempatkan diri sesampainja TON

depan di GA, setelah unsur² bantuan umum masuk formasi, menjusul TON tjadangan menempatkan diri.

d. TON depan meninggalkan PG dengan merobah formasi dari berbandjar ke bersjaf sebar-lebar atau paruh lembing. Tergantung kepada luas/sempitnja djalan/medan, formasi TON depan dapat berbentuk 1 eselon, 2 atau 3 eselon ber-turut². Gerakan membentuk formasi dilakukan dalam keadaan berdja- lan biasa.
e. Unsur² bantuan memperbaiki penempatannja dalam formasi, sesuai dengan keadaan djalan/medan sambil madju mengikuti TON depan.
f. TON² tjadangan sambil madju djuga membuka formasi, sesuai dengan keadaan taktis.

g. Apabila TON depan telah sampai dekat dibelakang G.A., DAN TON depan memberi tanda kepada DAN KI, kemudian DAN-KI menghentikan pasukan.
54. GERAKAN DARI GARIS KE GARIS DESAK.
a.Gerakan dari GA ke GD, adalah gerakan menjerbu massa (charge a mass).
b. DAN KI menghentikan pasukan pada GA untuk melakukan pemeriksaan terachir terhadap formasi pasukannja, seluruh per- hatian dan tenaga pasukan kini dikonsentrir pada gerakan ini. Setelah jakin, bahwa pasukan keseluruhannja telah siap, maka DAN KI memerintahkan "MADJU" menudju ke G.D.
C. Gerakan madju dilaksanakan dengan berlari dalam formasi. Kendaraan² jang dilengkapi dengan sirene, membunjikan sire- nenja untuk lebih menjeramkan gerakan ini.
d. Tepat satu meter dihadapan massa, pasukan dihentikan. Aba² "Pasukan henti", diberikan oleh DAN TON depan.
55. TINDAKAN2 BER-TURUT2 DI GARIS DESAK. Terbagi atas 5 tindakan pokok, jaitu : Ke-1 : Tindakan penjeruan kepada massa untuk bubar. Ke-2 : Mendesak massa dengan menggunakan tongkat/senapan. Ke-3 : Mentjeraikan massa dengan penjemprotan air. Ke-4 : Memperbesar hasil jang telah ditjapai, disertai penang-
kapan/penahanan pimpinan massa. Ke-5 : Tindakan pergantian eselon oleh TON tjadangan. Tindakan penjeruan kepada massa untuk bubar.

a. Tudjuan dari tindakan penjeruan, adalah untuk mengingatkan kepada pimpinan massa dan massanja, agar massa mau mem- bubarkan dirinja atas kehendak sendiri. Tindakan ini bersifat : "Penjadaran".

Pelaksanaan :

(1) DAN KI PHH dengan didampingi oleh DAN kelompok

pelopor, DAN team POM dan seorang pesuruh, madju

kedepan dan menempatkan dirinja pada TON depan, atau

apabila ternjata bahwa massa jang akan dihadapinja ter-

njata keliwat aggressip dan mungkin ada bahaja penjergap- an terhadap DAN KI, maka DAN KI menempatkan diri-

nja dibelakang dari TON depan.

(2) Dengan mempergunakan megaphone (pengeras suara), DAN KI kemudian menjerukan seruannja dengan suara jang keras, mantap dan mejakinkan. Tjontoh "SERUAN":
(a) Perhatian! Perhatian! (2 ×).
(b) Saudara² sudah melanggar larangan PANG-LIMA KOMANDO OPERASI PEMULIH-AN KEAMANAN DAN KETERTIBAN. (2 ×).
(c) Saudara² dilarang melakukan gerakan atau- pun aksi dalam bentuk dan dengan dalih apa- pun djuga (2 ×).
(d) DIMINTA, saudara² segera bubar dan kembali kerumah masing². Saudara² sudah di- hasut oleh orang² jang tidak bertanggung- djawab.(2 ×).
(e) Kami beri waktu lima menit untuk bubar. Kalau tidak, kami akan bertindak tegas.(2 ×).
(f) Perhatikan .......... kurang 4 menit (2 ×).
(g) Kurang ....... 3 menit (1×).
(h) Kurang ....... 2 menit (1 ×). Apabila pada peringatan "kurang 2 menit" tidak ada reaksi dari massa untuk bubar, malahan menentang dan membangkang seruan DAN KI, maka DAN KI memerintahkan kepada pasukannja: "SIAP DESAK".
... 1 menit
(i) Kurang …..
(j) Waktu habis kita bertindak.
(3) DAN KI kembali ketempatnja di Jeep KO dan memerintahkan kepada DAN TON depan untuk membubarkan massa.

Menurut kebiasaan, massa jang membandel tidak mau bu- bar dan akan mengambil sikap "Sitdown" (duduk) didepan pasukan. Sikap tersebut dimaksudkan untuk menen- tang pasukan PHH, apakah pasukan tersebut akan benar² bertindak atau tidak. Untuk itu, dilakukan tindakan beri- kutnja.

b. Mendesak massa dengan menggunakan tongkat/senapan, dibantu dengan satuan hewan polisi. DAN TON depan segera memerintahkan Peletonnja untuk mendesak dan mendorong massa kebelakang. Tindakan mendesak dan mendorong disertai dengan gerakan penggunaan tongkat/senapan, sesuai dengan keadaan jang dihadapi. Perusuh² dihadapi oleh regu² jang berada disjaf terdepan. Bila salah satu anggauta jang berada disjaf depan tersebut mendapat serangan langsung dari perusuh, maka anggauta² jang berada dibelakang- nja (No. 9, 10 dan No. 1) segera memberikan bantuan. Kelom- pok pelopor selalu mengawasi keadaan didepan dan selalu siap untuk membantu regu² depan jang tidak berhasil mengatasi serangan² perusuh terhadap anggauta² regunja. Dibelakang TON depan, ikut-serta team hewan polisi jang bertugas untuk menjergap perusuh jang berusaha menerobos formasi TON depan. Team POM pun mengawasi gerak gerik para "pimpinan" massa, begitu ada tanda indentifikasi segera team POM dengan dibantu klompok pelopor menjergap dan menangkap pimpinan perusuh jang telah diindentifikasi. Tindakan penangkapan harus dilakukan dengan tjepat dan diusahakan agar jang ditangkap tidak dapat melarikan diri lagi. Setelah diborgol, maka oknum tersebut diserahkan kepada unsur tjadangan. Tindakan² tersebut diatas, tjukup "mengatjaukan" para demonstran. Apabila DAN TON depan telah menilai keadaan bahwa massa telah berhasil ditjerai-beraikan kekompakannja dan dipisahkan dari pimpinannja, maka ia segera akan beralih pada tindakan beri- kutnja.
C. Mentjerai-beraikan massa dengan penjemprotan air. Apabila KI tidak dapat mendesak perusuh dengan dorongan² bertong- kat/bersenapan. maka dapat digunakan semprotan air.
(1) DAN TON depan setelah menerima perintah dari DAN KI untuk membubarkan massa, melaksanakan perintah tersebut dengan menjemprot perusuh dengan penjembur air dari mobil pemadam kebakaran.

(2) Aba² : "Regu tjadangan siapkan penjemprot air"

Anggauta² Regu segera menudju ke mobil pemadam kebakaran dengan dibantu anggauta² pemadam kebakaran tersehut: mengeluarkan slang² air berikut pe-

njemprot²nja. Kemudian dengan dibagi dua, team penjemprot menempatkan diri di-tengah² formasi TON z depan. Setelah team penjemprot siap, DAN TON depan memberikan tanda kepada DAN pemadam kebakaran agar "kran air" dibuka. Arus semprotan air, per-tama² ditudjukan dari bawah kearah kaki² para perusuh, dan kemudian ditudjukan diagonal keatas. Semprotan air djangan langsung ditudjukan kepada tubuh para demonstran, karena ke- kuatan arus penjemprotan sangat kuat dan dapat me- nimbulkan tjedera. Diusahakan agar dengan penjemprotan, massa dapat dibubarkan. Akibat penjemprotan tersebut diatas, maka kekompakan massa bertjerai-berai dan kesempatan ini dipergunakan untuk segera melakukan tindakan berikutnja.

(3) DAN TON depan memerintahkan untuk menghentikan penjemprotan, dan Regu tjadangan kembali menggulung slang² dan alat² penjemprotnja dan diatur kembali diatas mobil pemadam kebakaran.
d. Memperbesar hasil jang telah ditjapai. Apabila bagian terdepan dari tubuh massa telah berhasil ditje rai-beraikan, maka tindakan berikutnja adalah mendesak INTI TUBUH MASSA oleh TON tjadangan. DAN KI memerintahkan kepada DAN TON tjadangan untuk segera melakukan pengertian dengan TON depan. TON depan kembali dalam formasi berbandjar. dan kemudian mendesak massa kesamping selandjutnja memagar daerah jang telah dibersihkan. Setelah TON tjadangan melewati formasi TON depan, maka satuan Kavaleri Berkuda ditempatkan didepan TON tjadangan. Dengan didahului oleh satuan KAVKUD, TON tjadangan memperbesar hasil jang telah ditjapai dan memetjah inti tubuh massa mendjadi kelompok² jang lebih ketjil. Sementara itu, klompok pelopor dan team POM meringkus oknum² ekstrim jang masih terdapat diantara kelompok² jang sudah ter-petjah² tersebut.
e. Tindakan pergantian eselon oleh TON tjadangan. Pergantian eselon depan oleh TON tjadangan dilakukan apabila gerakan mendorong dan mendesak oleh TON depan me- merlukan tenaga jang segar. Agar tenaga jang digerakkan tetap segar, maka gerakan pendesakan ini dilakukan silih-berganti, lindung melindungi dan saling mengamankan oleh eselon tjadangan jang rapat menjusul. Ketjuali untuk tetap menjegarkan tenaga, maka pengerahan dan pergantian eselon depan oleh TON tjadangan dilakukan untuk memperbesar hasil jang telah ditjapai.

56. GERAKAN DARI GARIS DESAK KE TITIK PETJAH.

(Gerakan memetjah).

a. Bersamaan dengan gerakan TON tjadangan melakukan gerak an "memperbesar hasil", maka DAN KI tidak melewatkan ke- sempatan untuk menghadapi massa jang berada dibelakang inti tubuh massa. Massa jang berada dipaling belakang, pada umumnja terdiri dari pengikut² liar, bahkan besar kemungkinan pula terdapat oknum² kriminil jang mentjoba memantjing dalam air jang keruh. Apabila massa jang terdepan sudah mulai "ka- tjau", biasanja oknum² tersebut memulai dengan tindakan² kri- minalitasnja. Perampokan pada toko², pembakaran-pembakaran kendaraan, perampasan² dan sebagainja. Dengan dalih "ma- rah", oknum² tersebut menghasut untuk merusak; dan hasutan ini biasanja tjepat menular. Gerakan memetjah dilakukan oleh TON 3 tjadangan jang ge-
b. rakannja dilakukan setjara melambung, baik berkendaraan atau berdjalan kaki. Pada titik petjah (TP), TON 3 merangsak buntut massa dan menghalau massa tersebut dengan didahului lemparan² granat asap atau apabila perlu dengan granat gas air mata. Gerakan memetjah ini, harus dilakukan dengan tegas dan tjepat; apabila tidak, maka kerugian dan kerusakan materiil jang ditimbulkan oleh oknum² liar tersebut akan sukar diatasi.
C. Setelah gerakan memetjah oleh TON tjadangan dianggap se- lesai, maka gerakan tersebut diteruskan dengan gerakan penge- djaran.
57. GERAKAN PENGHALAUAN. Untuk mejakinkan, bahwa tidak akan terdjadi lagi pengumpulan massa, dan kemungkinan terdjadinja ekses², maka Kompi PHH melakukan gerakan penghalauan sepandjang route kembali dari massa jang telah berhasil ditjerai-beraikan tersebut. Susunan formasi Kompi dalam gerakan penghalauan, adalah berbandjar dengan TON tjadangan sebagai TON depan. Sementara pasukan gerakan penghalauan, unsur² bantuan umum menjusun dirinja kembali dalam formasi konvooi PHH semula dan mengikuti Kompi dari belakang.

58. GERAKAN DARI GARIS DESAK KEDAERAH PEMBUBAR-

AN.

a. Apabila gerakan penghalauan tidak dapat dilakukan, misalnja karena kekurangan pasukan, medan tidak memungkinkan dan sebagainia; maka massa dapat didesak kedaerah pembubaran. Daerah pembubaran adalah suatu tempat jang luas (tanah la-

pang, lapangan olah-raga, taman dan sebagainja), kemana para perusuh disalurkan, disadarkan dan dibubarkan.

b.Apabila tubuh massa telah berhasil dihalau oleh TON 1 sampai dengan djarak mendjauh dari gedung/bangunan, maka DAN SAT memerintahkan kepada TON 2 dan TON 3 untuk me- mulai dengan gerakan penghalauan sisa massa jang masih ter- tinggal. Gerakan ini lebih mirip dengan gerakan penggiringan. Formasi penggiringan disesuaikan dengan keadaan taktis, dengan diikut sertakan semua unsur² bantuan umum Perlawanan² jang mungkin terdjadi, diatas dengan sergapan oleh Pok Pelo- por, dan peringkusannja diserahkan kepada team POM. Sisa massa jang terachir ini, biasanja terdiri dari orang² fanatik dan aggresief. Tindakan pelumpuhan terhatap orang² ini dilakukan tjepat proses gerakan penggieingan tersebut.
C. Setelah sisa massa berhasil digiring dari daerah gedung/bangu- ana, maka usaha penggiringan dilandjutkan ber-sama² dengan TON 1 kedaerah pembubaran jang telah dipersiapkan.
d. Tindakan didaerah pembubaran. Apabila massa telah berhasil disalurkan dan digiring kedaerah pembubaran, maka tindakan² selandjutnja adalah tindakan pengamanan untuk mentjegah massa kembali mengepung gedung/bangunan, darimana mereka telah berhasil kita usir.
(1) Tindakan² didearah pembubaran, adalah :

(a) Mentjegah massa menjusun kekuatannja kembali un-

tukmelandjutkan aksinja.

(b) Mengusahakan agar massa merasa tidak tahan/tidak betah dikumpulkan didaerah pembubaran dan bubar atas kemauan sendiri.
(c) Menjadarkan massa dengan penerangan² jang positip bahwa aksi jang mereka lakukan adalah sia² dan me- nimbulkan hambatan² pada kelantjaran penghibupan masjarakat se-hari².

(d) Pendekatan kepada pimpinan massa (approach) oleh

team chusus MUSPIDA. agar tidak melakukan gerakan-gerakan demonstrasi lagi.

(2) Tjara² tidak langsung untuk membubarkan massa didaerah

pembubaran.

(a) Memperdengarkan lagu² pop lewat pengeras suara

dengan volume jang keras.

(b) Memasukkan pedagang² es, roti dan pendjadja² ma-

kanan lainnja kedalam daerah pembubaran untuk mengorganisir kekompakan massa.

(c) Menjediakan alat² pengangkutan bagi massa, chusus-

nja para pengikut wanitanja, untuk mengangkut me- reka kembali ketempat asalnja. (Galanterie-service jang tendensieus).

  1. KONSOLIDASI.
    a. Setelah gerakan penindakan massa selesai, maka DAN KI PHH memerintahkan untuk mengadakan konsolidasi. Tindakan² jang dilakukan adalah :
    (1) Melaporkan keadaan kepada POSKO.
    (2) Memeriksa keadaan dan kondisi pasukan.
    (3) Meneliti peralatan dan perlengkapan chusus PHH. ..
    (4) Mengutip tahanan² untuk pengusutan lebih landjut.
    (5) Menjusun kembali konvooi PHH.
    (6) Merawat anggauta pasukan jang tjedera/luka². .........
    (7) Pentjatatan barang² sitaan.
    (8) Kordinasi dengan petugas² keamanan setempat. (KODIM, KORAMIL,POLRI, POLANTAS,WAN-KAMRA dan sebagainja).
    b. Apabila tidak ada perintah² untuk menghadapi sasaran lain, maka KI PHH kembali ketempat dislokasi semula.

    60. LAIN-LAIN.

Apabila sebelum KI PHH mendapat kontak dengan massa, massa telah ditindak terlebih dahülu oleh pasukan-penghambat KODIM setempat, maka pada saat KI PHH mengambil-alih penindakan massa dari pasukan KODIM di Garis Kontak/Desak, maka pasukan KODIM menggabung dengan KI PHH dan selandjutnja bertugas sebagai pasukan tjadangan. Pasukan tersebut tetap menggabung dengan KI PHH. sampai dengan konsolidasi atau mendapat perintah lain.

D. KERDJASAMA KAVALERI BERBA

DENGAN INFANTERI.

61.UMU M.
a.Sebelum penggunaan gabungan satuan² Infanteri dengan KAvaleri BERBA, maka terlebih dahulu harus mengetahui:

(1) Formasi² dasar dari satuan² Kavaleri itu sendiri, jang da-

lam hal ini formasi² dasar jang digunakan adalah sama dengan satuan² Infanteri (lihat Gambar No. 10).

(2) Tjara² pemberian aba² untuk Satuan² Gabungan, untuk ini

digunakan aba² isjarat² dan djuga aba² biasa, baik langsung ataupun dengan radio. Semua aba² berdasarkan atas aba²

jang diberikan untuk satuan² Infanteri.

(3) Komandan Satuan Gabungan dalam PHH ini penundjuk-

kannja dapat berpedoman pada petundjuk taktik pertem- puran.

b. Formasi.

(1) Dalam penggunaan Satuan² Gabungan inipun, kita me-

ngenal beberapa formasi:

(a) Formasi berbandjar.
(b) Formasi paruh lembing.
(c) Formasi bersjaf.
(d) Formasi serong kanan/kiri.

(2) Penggunaan formasi² serta perubahan²nja, dapat disesuai-

kan dengan situasi dan kondisi serta tempat dimana ter- djadinja huru-hara.

62. FORMASI PELETON INF DENGAN TON PANSER.

a. Dari TON berbandjar ke TON bersjaf. Aba²: "Peleton bersjaf, djalan". Pelaksanaan:
(1) Peleton berdjalan ditempat.
(2) Kendaraan membentuk formasi bersjaf.
(3) DAN TON memberi aba² : "Madju, djalan".
TON segera membentuk formasi. (Lihat Gambar No. 11).

b.Dari TON berbandjar ke TON paruh lembing.
(1) Tanpa tjadangan. Aba² : "Peleton paruh lembing, djalan".

Pelaksanaan:

(a) Peleton berdjalan ditempat.

(b) Kendaran membentuk formasi paruh lembing. (c) DAN TON memberi aba² : "Madju, djalan".

TON Segera membentuk formasi. (Lihat Gambar no. lla).

(2) 1 Regu tjadangan. Aba²:
"Regu tengah tjadangan". puered

Peleton paruh lembing, djalan".

Pelaksanaan:

(a) Peleton berdjalan ditempat.
(b) Kendaraan membentuk formasi paruh lembing.
(c) DAN TON memberi aba2 : "ladju, djalan".
TON segera membentuk formasi. (Lihat Gambar no. lla).

C.Dari TON berbandjar ke TON serong kanan/kiri.' 1 Regu tjadangan. Aba²:
"Regu kiri/kanan tjadangan. pouens Peleton serong kanan/kiri, djalan". Pelaksanaan:

(1) Peleton berdjalan ditempat.
(2) Kendaraan membentuk formasi serong kanan/kiri
(3) DAN TON memberi aba² : "Madju, djalan".
TON segera membentuk formasi. (Lihat Gambar no. llb).

d.Formasi kembali ke berbandjar dari berbagai bentuk formasi. Aba² : "Peleton Berbandjar, djalan". Pelaksanaan:
(1) Kendaraan kembali ke berbandjar.
(2) Peleton kembali ke formasi berbandjar.
e. Keterangan lain² mengenai bentuk² formasi.
(1) Bila terdapat 1 TON Panser jang terdiri dari 5 buah kendaraan, maka jang 1 kendaraan digunakan sebagai tjadangan.

(2) Bila dalam TON Panser itu terdapat ber-matjam² djenis

kendaraan, penggunaannja supaja DAN TON/KI INF

kordinasi dengan DAN TON kedaraan tersebut (menge-

nai formasi kendaraan).

(3) DAN TON/KI INF bertempat dikendaraan Kdo (kenda-

raan no. 1).

(4) Aba² DAN TON/KI INF apabila tidak mungkin dapat

diberikan, dapat diganti dengan tanda² taktis.

FORMASI KOMPI DENGAN KENDARAAN PANSER.

63.
a. Dari berbandjar ke bersjaf.
(1) Tanpa tjadangan. Aba2 : "Kompi bersjaf, djalan". Pelaksanaan :
(a) Kompi berdjalan ditempat.

(b) Kendaraan membentuk formasi bersjaf. (c) DAN KI memberi aba² : "Madju, djalan".

KI segera membentuk formasi. (Lihat Gambar no. 12).

(2) 1 TON tjadangan. Aba²: quouw

"TON belakang tjadangan.

prons"Kompi bersjaf, djalan". Pelaksanaan :

(a) Kompi berdjalan ditempat.
(b) Kendaraan membentuk formasi bersjaf.

(c) DAN KI memberi aba2 : "Madju, djalan".

KI segera membentuk formasi. (Lihat Gambar No. 12).

(3) 2 TON tjadangan.

Aba²: yoond"Peleton tengah, Peleton belakang tjadangan. Kompi bersjaf, djalan". Pelaksanaan:

(a) Kompi berdjalan ditempat.
(b) Kendaraan membentuk formasi bersjaf.
(c) DAN KI memberi aba² : "Madju, djalan".

KI segera membentuk formasi. (Lihat Gambar No. 12).

b. Dari berbandjar ke paruh lembing.
(1) 1 TON tjadangan. Aba² :
"Peleton belakang tjadangan. Kompi paruh lembing, djalan". Pelaksanaan :

(a) Kompi berdjalan ditempat.
(b) Kendaraan membentuk formasi paruh lembing.
(c) DAN KI memberi aba² : "Madju, djalan".
KI segera membentuk formasi. (Lihat Gambar No. 12a).

(2) 2 TON tjadangan. Aba²:
"Peleton tengah, Peleton belakang tjadangan. Kompi paruh lembing, djalan". Pelaksanaan :

(a) Kompi berdjalan ditempat.
(b) Kendaraan membentuk formasi paruh lembing.
(c) DAN KI memberi aba²: "Madju, djalan".
KI segera membentuk formasi. (Lihat Gambar No. 12a).

c. Dari berbandjar ke serong kanan/kiri.
(1) 1 TON tjadangan. Aba²:
"Peleton belakang tjadangan. Kompi serong kanan/kiri, djalan". Pelaksanaan:

(a) Kompi berdjalan ditempat
(b) Kendaraan membentuk formasi serong kanan/kiri.
(c) DAN KI memberi aba² : "Madju, djalan".
KI segera·membentuk formasi. (Lihat Gambar No. 12b).

(2) 2 TON tjadangan. Aba²:
"Peleton tengah, Peleton belakang tjadangan. Kompi serong kanan/kiri, djalan".

Pelaksanaan:

(a) Kompi berdjalan ditempat.

(b) Kendaraan membentuk fomasi serong kanan/kiri.
(c) DAN KI memberi aba2 : "Madju, djalan".

KI segera membentuk formasi. (Lihat Gambar No. 12b).

d.Formasi ke berbandjar dari berbagai bentuk formasi. Aba² : "Kompi berbandjar, djalan". Pelaksanaan:
(1) Kendaraan kembali ke berbandjar.
(2) Kompi kembali ke formasi berbandjar.
e. Keterangan lain² mengenai semua formasi.
(1) Membentuk segala formasi dikerdjakan dari berbandjar. Ketjuali bila kedaan tak memungkinkan (menghadapi keadaan sesungguhnja), dapat dikerdjakan langsung ke formasi jang dikehendaki dari formasi jang telah terbentuk menurut pertimbangan keadaan taktis.
(2) Bila terdapat 1 TON Panser jang terdiri dari 5 buah kendaraan, penggunaan supaja jang satu kendaraan diguna- kan sebagai tjadangan.
(3) Bila dalam TON Panser itu terdapat ber-matjam² djenis kendaraan, penggunaan supaja DAN TON/KI INF kor- dinasi dengan DAN TON kendaraan tersebut (mengenai formasi kendaraan).

(4) DAN TON/KI INF bertempat dikendaraan Kdo (kenda-

raan No. 1).

(5) Aba² DAN TON/KI INF apabila tidak mungkin dapat di- berikan, dapat diganti dengan tanda² taktis.
64.KEMUNGKINAN TJARA MENEROBOS.
a. Menurut pengalaman tem-
Q

Q pat² jang sering keterobosan

/kebobolan ialah antara kendaraan dan orang² jang ada didekatnja. o 9↑ Ini karena :

o (1) Orang jang didekatnja

o ragu².

(2) Djarak orang-kendara-

an kurang rapat karena O Oumumnja orang Inf. se- gan terlampau rapat dengan kendaraan. Ini me-

0 merlukan latihan chusus 0

untuk membiasakan ber- djalanrapat dengan o O Panser.

b. Ada baiknja diatas kendaraan ditempatkan dua orang Inf untuk mendjaga bila ada jang akan lontjat naik kendaraan (ini terdjadi berulang kali dan menjebabkan ka- tjaunja formasi selandjutnja). Orang² ini djuga mendapat latihan dan instruksi chusus.
0 O Diperlengkapi dengan tong- kat/pentung.

C. Kemungkinan penerobosan
o0 lewat bawah kendaraan harus diperhitungkan. Untuk

0ini tjadangan tjepat bertin-

0 dak. Ketjepatan bertindak 1 dapat ditjapai bila mereka te- ↓ lah diberitahu lebih dahulu kemungkinan² jang akan terdjadi.

65.KENDARAAN BARIKADE. Untuk disesuatu daerah jang tidak ada satuan Kavaleri maka seba- gai pengganti dari pada kendaraan² berlapis badja, dapat digunakan kendaraan² organik Infanteri (34 Ton, 1/4 Ton) dengan pe- nambahan pemasangan barikade² kawat berduri didepan kendaraan dan samping kendaraan. Adapun taktik dan tehnik untuk ini, sa- ma halnja dengan apa jang digunakan pada operasi² gabungan (Infanteri dan Kavaleri). (Lihat Gambar No. 13).
E. KERDJASAMÀ KAVALERI BERKUDA
DENGAN INFANTERI

  1. UMUM. a, Seperti djuga pada kerdjasama KAV BERBA dengan Infanteri,
    maka terlebih dahulu harus diketahui:

(1) Formasi dasar dari Satuan² KAV KUD jang terdiri dari :

(a) Formasi Berbandjar.
(b) Formasi Bersjaf.
(c) Formasi Paruh Lembing.
(d) Formasi Bentuk V.
(e) Formasi Serong Kanan/Kiri.
(f) Formasi Kelompok Dua-Tiga. Bentuk² formasi tersebut dapat dilihat dalam Gambar² no. 14 dan 15..
(2) Aba² jang digunakan dalam kerdjasama ini adalah aba² biasa dan aba² dengan isjarat. Chusus untuk aba² isjarat dalam perubahan bentuk² formasi bagi Satuan² KAV KUD itu sendiri, terdapat sedikit perbedaan dengan aba² isjarat jang digunakan oleh Satuan² Infanteri; hal ini disebabkan keadaan anggauta² jang harus menguasai kuda-nja. Se- lain daripada itu, djuga terdapat tambahan aba², mengingat adanja bentuk² formasi jang tidak terdapat pada bentuk² formasi di Satuan Infanteri. Untuk aba² isjarat ini, lihat Gambar no. 1b.
b. Formasi2. (Lihat Gambar no. 16).
(1) Formasi² untuk Satuan² Gabungan KAV KUD dan Infanteri, terdiri dari:
(a) Formasi Berbandjar.
(b) Formasi Bersjaf.
(c) Formasi Paruh Lembing.
(d) Formasi Serong Kanan/Kiri. Pada setiap formasi, RU KAV KUD selalu terdapat di- muka dari Satuan² Infanteri. Untuk formasi berbandjar, RU KAV KUD membentuk formasi paruh lembing atau formasi bentuk V, tergantung dari situasi dan tudjuannja.
(2) Penggunaan formasi² serta perubahan²nja, dapat disesuai- kan dengan tugas dan tudjuan serta situasi dan kondisi dimana terdjadinja huru-hara tersebut.
(3) Besar susunan satuan² Gabungan ini, mengingat organisasi KAV KUD hampir sama dengan organisasi Infanteri dan djuga dilihat dari daja guna KAV KUD, maka susunan tersebut se-ketjil²nja adalah 1 RU KAV KUD dengan 1 TON Infanteri.
67. FORMASI TON INF DENGAN RU KAV KUD. (Lihat Gambar 16).
a.Dari berbandjar ke bersjaf. Aba² : "Peleton bersjaf, djalan". (Oleh DAN TON). Pelaksanaan :

(1) RU KAV KUD. DAN RU KAV KUD memberikan aba2 "Madju, djalan". untuk RU-nja. Kemudian melaksanakan formasi bersjaf.
(2) TON Infanteri. Segera setelah menerima perintah dari DAN TON. BA TON memberikan aba² "Madju, djalan", kemudian me~ laksanakan perubahan formasi dari berbandjar ke bersjaf.
(3) Gerakan² perubahan formasi ini dilakukan sambil berdjalan. Adakalanja TON Infanteri melaksanakannja sambil berlari, untuk menjesuaikan gerakan dengan RU KAV KUD. Aba² jang diberikan oleh BA TON, hanja merubah "MADJU" diganti dengan "LARI", mendjadi "Lari, djalan".
(4) Djarak dari RU KAV KUD dengan TON Infanteri kurang lebih 5 meter.
b.Dari berbandjar keparuh lembing (lihat Gambar 16). Aba² : "Peleton parus lembing, djalan". (DAN TON). Pelaksanaan :
(1) RU KAV KUD. DAN RU memberikan aba²: "Madju, djalan". RU melaksanakan perubahan formasi ke formasi jang di- maksud. Kalau RU dalam formasi paruh lembing, tetap berdjalan seperti biasa tanpa mengadakan perubahan formasi.
(2) TON Infanteri. Pelaksanaan, lihat perubahan² formasi TON Infanteri.
(3) Djarak antara RU KAV KUD dengan TON Infanteri kurang lebih 5 meter.
c.Dari berbandjar ke serong kiri/kanan. (Gambar 16). Aba² : "Peleton serong kiri/kanan, djalan". Pelaksanaan :
(1) RU KAV KUD. DAN RU memberikan aba² "Madju, djalan". Kemudian RU melaksanakan perubahan formasi ke formasi jang di- maksud.
(2) TON Infanteri. Pelaksanaan, lihat perubahan² formasi TON Infanteri.
(3) Djarak antara RU KAV KUD dengan TON Infanteri, kurang lebih 5 meter.

ABA2'DENGAN'ISJARAT

BERSJAF PARUH LEMBING

SERONG KIRI SERONGKANAN

PARUH LEMBING KIRI PARUH LEMBING KANAN

GAMBAR_1

ABA2 DENGAN ISJARAT

PARUH LEMBING BERSJAF

SERONG KIRI SERONG KANAN

PARUH LEMBING KANAN PARUH LEMBINGKIRI

GAMBAR_ la

IRASMAD

ABA2 DENGAN ISJARAT

BERBANDJAR

BERSJAF PARUH LEMBING

BENTUK-V SERONG KANAN

SERONG KIRI KELOMPOK DUA TIGA GAMBARIB

BENTUK2 SIKAP

SIKAP DEPAN SENDJATA SIKAP SIAP_SEDIA TEMPUR.

SIKAP SIAP SEDIA PENDEK

SIKAP PEMBAWAAN SENDJATA SEBAGAI ALAT DORONG

SIKAP DEPAN SENDJATA. SIKAP DEPAN SENDJA HORISONTAL.

SIKAP DORONG

GAMBAR—2A.

SIKAP PEMBAWAAN TONGKAT SEBAGAI ALAT DORONG

5cm. UDJUNG TONGKAT DIAMETER 6 cm TERSUAT DARI KARET KERAS

TALI PENGI KAT PERGELA-NGAN DARI KULIT

10cm.

SIKAP DORONG

SIK AP DEPAN TONGKAT 5 Cm.ALAS

TONGKAT

DILPIS BESI BADJ

TONGKAT DORONG

90cm

60 cm.

TJAMBUK

DIAMETER 2½2cm

GAMBAR 2B.

TUBUH KAJU TERSUAT 95 DARI cm. KAJU

"WARU"

PENDJALIN BAMBU

DIAMETER 4cm

TOPI PELINDUNG MUKA

REGU. FORMASI

1 LANGKAH
2ANGKAH !
O.LANGKAH 回IO.LANGKA

B ⑥ 5 7日 圆 3 回B 7

中 自

日一四

B B A 4 3 日 6 6 7 7

B B
2 2LANGKAH 9 10 回 日

REGUPARUH LEMBING. REGU BERSJAF 2 [3] 3] 4 24 B 45° ⑥ [5]

S. LANGKAH
中 日 ⑥ 7 7 回 ⑧日 回 S 2 团 3 3 4 KETERANGAN. 国 5 = 1 DAN RU. 7 = 6 回 圆] 同 =WADAN.RU. 回 = PENEMBAK SENAPAN 回

REGU SERONG KANAN REGU SERONG KIRI 司

FORMASIREGU

2 2 LANGKAH 5LANGKAHo 3

日回

4 个 8 2 LANGKAH 4 △ T ó回 22

回3 LANGKAH

LANGKAH [6] 日 0也 ↑ 回 7 日 LANGKAH 8 回

日 o □o 2 2 3 3]

☑ 4

日 日 同 B 2 7 3 回

回8

578 6 [1] 回6

REGU PARUH LEMBING KANAN. REGU PARUH LEMBING KIRI

GAMBAR-3 a.

FORMASI REGU PEROBAHAN

O 3 O ① ← 2 1 ○ ① O 0 O O① 0 O ↑ ↑

↑ O 0 0 ① 0
11 C1O O OO ① の ① 0

o1 O O 05O 1 R ↑1↑ 0 IC ① O 一 0 ① O 0 ① 1 O O の 0 ①

① 5 4 O O 0 →0 O 0 6 O →0 O O O OoO 7O t0 ① 0O O Ox O 7 0 O O O ① ① OK O 0 ,O O —7 O ① ①

0一 O←

0 →0 ① 0 cr

O←

① 8 O ① O 9 0 O O C O O O O 0 O O ① O 0 0← A O↑ O 10 ↑ ↑ ↑O O O O a O o ←0 0 7 09 0 ← 0 ① O O →0 O— 0 6 ① 7—0 O- 90 ① 0 O O O 10O J O O O O 11O O O ↑ ↑1 O O O← K O O 0 O 7 0 o O 8o OO O O O O O O F O GAMBAR.4 KETERANNAN:

1
3 DARI PARUH LEMBING KE SERONG.DARI
4 DARI
5 DARI
6. DARI
7 DARI

DARI SIAP BERSJAF KE REGU PARUH LEMBING 2 SERONG KIRI KE PARUH LEMBING KANAN. SERONG KIRI KE PARUH LEMBING. SERONG KANAN KE PARUH LEMBING KIRI SERONG KANAN KE PARUM LEMBING KANAN KANAN.

8 PARUH LEMBING KANAN KE SERONG
10. 9 11. DARI SERONG KANAN KE BERSJAF. PARUH LEMBING KE,BERSJAF.

DARIPARUH LEMBING KE SERONG KANAN DARI DARI PARUH LEMBING KIRI KE SERONG KIRI

FORMASI PELETON

I 11

Ⅲ Ⅱ

1 POK.KO.TON ó ó m 51 rn POK.KOTON 10 ILANGKAH LANGKAH

Ⅲ Ⅱ

ⅢⅡ1

POK.KO.TON|

PELETON BERSJAF.

POK KO TON

PELETON PARUH LEMBING

I Ⅱ

ⅡI Ⅲ

G.LANGKAH
POK.KO.TON I f 个POK.KO.TON

ⅢⅡI

1 1

POK.KO.TO POK.KO.TON

PELETON SERONG KIRI

PELETON SERONG KANAN

GAMBAR_5

PEROBAHANFORMASI PELETON

I Ⅲ Ⅱ

Ⅲ I ↑

OK.KO.TON POK.KO.TON

Ⅲ Ⅱ

π POK.KO.TON ↑

I ⅡI I Ⅲ

POK.KO.TON

Ⅲ 7 Ⅱ Ⅱ IⅢI I Ⅲ POK.KO.TON POK.KO.TON

ⅡI Ⅱ

Ⅱ I Ⅲ I

POK.KO.TON POK.KO.TON

ⅢI II ⅡI I ⅡI ⅡI

lI Ⅲ

POK.KO TON

GAMBAR-6

POK.KO.TON

KETERANGAN:

  1. DARI BERSJAF KE PARUH LEMBING. REGU I MENDJADI TJADANGAN.
  2. DARI PARUH LEMBING BERSJAF. REGU TJADANGAN MENDJADI SJAF KANAN.
  3. DARI PARUH LEMBING KE SERONG KANAN.
  4. DARI PARUH LEMBING KE SERONG KIRI.
  5. DARI SERONG KIRI KE PARUH LEMBING
    6.DARI SERONG KANAN KE PARUH LEMBING.

A.FORMASI2KOMPI

BERBANDJAR

  1. 000

    2.13.

TON.I 1 000 01 BERSJAF I

POK.KO.TON.

口→TON.I KI POKKO 000 PARUH LEMBING 000 000

TON.I →POK.KO.KI.

→TCN. Ⅱ Ⅲ 200000

TON日 TON.

PARUH LEMSING BERSJAF

1.
2.
000 000

000 000 。。。 000

Ⅱ IⅢI E

POKKOKI 口POK KOKI

POK KO KI

000 000

Ⅲ Ⅲ

SERONG KIRI SERONG KANAN

o 00c

Ⅱ ⅡI

000 000

I I POK KO KE POK KO KI

ⅢⅢI

GAMBAR-7

A.PERUBAHAN2FORMASI KOMPI.

BERBANDJAR KE BERSJAF.

000 00O o0 个 口 个 00

000 000

oO O00 4 o o5 ↑

O 00o

6000o0o o00

.GAMBAR_8.

BERBANDAR KE PARUH LEMBING

0 O

C个

C 020

000 I

000 000

ⅡI

ⅡI

000 000 Ⅲ

ⅢI

3 o

O I

ⅡⅢ

GAMBAR_8A.

BERBANDJAR KE SERONG KIRI

i.
0oO

A 个 a ↑ C

Ⅱ 000 000

Ⅱ Ⅲ

00o 日

3.
I ooO 00

Ⅱ Ⅲ

GAMBAR-8B

PARUH LEMBINGIKE BERSJAF

o 000

个 ↑

PARUH LEMBING KE SERONG KIRI

SERONG KIRI KE BERSJAF

0 00

o a0

GAMBAR-8C

PENETRAPAN FORMASI.

Ⅱ H A

GEAN

工 I 4 2 つ

RUAH R R

RUAH

3 3

HxX

I Ⅲ

A MM U U

RUAH

R RRUAH

XxXXxx

1 3 3

×1 x 1xx 1X×+=XXX

PENETRAPAN FORMASI.

I 工AII K 4 α E

AH MAH M

RUAHつ

RUR

RUAH

Dnnhintn anun 3

VIII ×XXX XXXXX

+

XXXXXXX

X × 工 A AM つ

RUAH

α

RUUMRUAH

XXX X

x X 1xxx 1XXX

FORMASIDASAR

KESATUAN KAVALERI.

BERBANDJAR PARUH LEMBING. KENDARAAN KOMANDO 7

DARI BERBANDJAR KE 2 PARUH LEMBING 34 ↑ ↑ 3 2

4 3

n

BERSJAF

SERONG KIRI/KANAN.

DARI BERBANDJAR KE BERSJAF. DARI BERBANDJAR KE SERONG KIRI/KANAN 3 2 4 3 4 7 个 ↑ 个 71 2 2 7A 3 4

7↑

3 2 2 4 3 3

4 4

GAMBAR_IO

FORMASITON INF DENGAN KENDARAAN PANCER.

PELETON BERBANDJAR 日KENDARAAN KOMANDO

4 古古古

000 000 000 000 000 000 000 000 000

KLP KO.TON.

REGU TENGAH REGU KANAN REGU KIRI 6000 000 0000 600 000 0000 4

B 2 óおòó5o

otò

POK KO TON

GAMBAR_II

FORMASI PARUH LEMBING TANPA TJADANGAN.

O O 2 O O RU.TENGAH RU.TENGAH O O O O O O は 0O O O oto oおo RU.KIRI 3 RU.KANAN 4

FORMASI PARUH LEMBING DENGAN TJADANGAN.

0o 2 O O 0 ó o O RU.KIRI 古 は ö O O o RU.KANAN ó 0 O O 3 0 4 O O 0 O O O C

ORU-TENGAH TJADANGAN C O O

O

GAMBAR_II.A.

PELETON SERONG KANAN:IREGU TJADANGAN.

00 o 3 O RU.TENGAH O

はO

O O 000 O O 2 O O O 古 O RU.KANAN ó O O O は O ó O O O O 4 O

TJADANGAN PELETON SERONG KIRI:IREGU

o00 4 O RU.TENGAH古 O ó O O は O ó O

2 O 0

O O OO RU.KIRI は O O ao o 0 O O 3 O

GAMBAR_II.B

FORMASI KI INF DENGAN KENDARAAN.

DARI KI BERBANDJAR KE KI BERSJAF:TANPA TJADANGAN

KI BERBANDJAR.
TON,BELAKANG TON. DEPAN TON.TENGAH

RKI RK1 RT RT RKA RT RKA RT RKA RKI /2 /2 2 2 B 4 KENDARAAN KDO. DAN.TON.KEND ö 3DAN.KI.INF. 古 む 可 口口 TJARAKA. PENEMBAK MAHIR

KLP.KO.KOMPI. ö TON. DEPAN. Ⅲ KLP.KO.PELETON 古 TON.TENGAH. 111

は TON.BELAKANG.

FORMASI KOMPI DGN :I TON TJAD. FORMASI KOMPI DGN:2TON TJAD. TON.DEPAN TON.TENGAH TON.DEPAN

RKI RT RKA RKI RT RKI RT RT RKA RKA 3 12 2 7/2 4 4

ö

E

は TJADANGAN

TON.BELAKANG 古

TON.TENGAH

む TON TJADANCAN

MADTONBELAKANG

GAMBAR_12

KE PARUH LEMBING DARI BERBANOJAR

DENGAN ITON TJADANGAN. DENGAN 2TON TJADANGAN

2 RT 1 主 古 RKI RKA

RKAV
5 4

TON TON DEPAN1 TENGAH 2 B RKA Yz

2AKI

ö RT 日 RT TON TON TENGAH

BELAKANG!

TJADANGAN TON BELAKANG

GAMBAR_12A DARI BERBANDJAR KE SERONG KANAN KIRI

DENGAN 1 TON TJADANGAN DENGAN 2 TON TJADANGAN

RKA3 TON TON DEPAN RKI RT RKA DEPAN

2 古 2

は RKI 1TON BELAKANG 口 A RK 古TJADANGAN RT TON TENGAH 日 3 TON RKI TENGAH ö 古

TJADANGAN RKI 日 TON BELAKANG 口

GAMBAR_12b

GAMAAI13

BAKKKIDE

KEAAN

BERURI

SISI

PAOA

PEMAN ANATPADO KUNG

KEAN

BENTUK2 FORMASI KAVALERI BERKUDA
  1. BERBANDJAR.

    十0 Oto2

+03

4 t0

5 10 6 70 7 8

十0+0

10 9

  1. BERSJAF. 97 o ö540 370 1出O 23074 070 070
    7 7 ↑ 1 7 o 3 4

  2. 6 7

    おざお

古9

GAMBAR_14.

PARUHLEMBING.

33 2 7$² 530 3 7 ぱぱ

出4

4 130 7 5

Hぱ

の3目

K$8

BENTUK_V

030 030

R ↑ ↑

630个

n3目 ↑4 m3目 ←23

213415

9 GAMBAR_14A1 0 出

SERONGKANAN/KIRI o8

930-

o6

170-

o

570-

3302 o² 4 os o6 201 y8 og

9 o9 DARI BERBANDJAR DARIBERBANDJAR KE SERONG KANAN KE SERONG KIRI KELOMPOKDUA_TIGA 300 200 o

30の 70m 7O2

7O1+0-30

3-00

4 5 6 7 8

30030303030

O GAMBAR—14 b

FORMASI BERSJAF

FORMASI BERSJAF RU I RUⅡ

POK KO TON RU I

POK KO TON eu 日 RU Ⅱ

RU FORMASI PARUH LEMBING Ⅲ

RU I 日

RU POK

KOTON FORMASI BENTUK_V

RU RU RUIⅡ Ⅲ POK KO TON

RU Ⅲ SERONG KANAN.

SERONG KIRI

RU I RU POKI RUPOK KO TON Ⅱ KOTON

RU RU RU Ⅱ Ⅲ Ⅲ

GAMBAR—15

KERDJASAMA TON INF DENGAN RU KAV KUD.

BERBANDJAR BERSJAF_A 0 ó呂告 告告 ö y o o ó o o POK KO TON ó ó ó

BERSJAF_B. 告告告告告告告告告 PARUH LEMBING o ó o POK KO TOM o o

子子

ó o POK KO TON

2 SERONG KIRI SERONG KANAN. ó ó ó ö ó 王 o o ö POK KOTON POK KO TON

子子子子子子

ó GAMBAR_16

LAMPIRAN I

BEBERAPA PETUNDJUK DAN SIFAT2 DARI GRANAT TANGAN HURU-HARA CN.M.23 A1 DAN CN.M. 7 A1

Keterangan tehnis CN.M.23 — A1 CN.M.7—A1
I s i Berat isian Serbuk CN. Serbuk CN. 368,5 gram.
Saat bekerdja Keawetan di medan Tergantung keadaanTergantung keadaan segera. 20 — 60 sekon.
terbuka angin. Ber-minggu² sampai6 djam. angin.
Keawetan dalam ruangan besar Mungkin beberapa
Djarak efektif asap50 yard. 200 yard.

85 gram. Berat seluruhnja

226 gram. 524,5 gram.

Keawetan dalam ruangan tertutup ruangan dianginkan

1 djam. hari.

dari 1 gram : (dalam keadaan jang me- nguntungkan).

-00000—

1444 ni)

Waktuefektifdi sa-saran(

1 25305.0

Ieardssp yards 1..a Ydsba agn 9Nsqi-a 9a g9tn.

1175 120 nat. 1ahGra-

Dum-

n)

Wakuefektifdi sasaran(e

101252030

Lebardssapyards 50 yds ba agn

25255080 ia nat.

Diuu-Gra-

n)

Waktuefektifdi sasaran( ~

TEG U P PGIN

1.030

LIebardssapyards 25 ds ba gn

KB MIMA MI M M MIA

DALRPARAS PRAN PR PARAN

46 nat.2040 1ah

Dum-Gtra- H Harea meeb bda LIebarfront Assap-pe- muan TIitik2510.255.

TJIRI² GAS AIR-MATA CN.

Type Bakar Type Serbuk

pdChloracetophe-Komposisi. Chlorasetophe- none. none diserbuk- kan. — Serbuk tak berasap. — Magnesium-oxide.

一Max. 10 menit. — Tergantungangin Keawetan dimedan terbuka.1— Lebih awet di-

Tergantung

medan tertentu. angin. Perlindungan efektif mTopeng gas. — Topeng gas. minimum. — Katjamata jang — Katjamata jang rapat, terbatas rapat, terbatas pada mata sadja. pd mata sadja.

Aksi — Keluar air-mata — Keluar air-mata. djasmaniah.

—Pedih/gatal² — Kulit gatal sedikit pada atau panas. kulit. Tak ada akibat permanen (tetap)

Pertolongan Tjutji mata

Tjutji mata pertama. dengan air. dengan air. msBila ada boor-Bila ada boor- water atau so- water atau so- dium sulfite dium sulfite 1/4 %. 1/4 %. — Buka mata — Buka mata dan menghadap dan menghadap angin. angin.

LAMPIRAN-2

Beberapa dasar hukum dari K.U.H.P./K.U.H.P.T. :

a. Fatsal 49 :
(1) Barang siapa melakukan perbuatan jang terpaksa dilaku- kannja untuk mempertahankan dirinja atau diri orang lain, mempertahankan kehormatan atau benda kepunjaan orang lain dari serangan jang melawan hak dan mengantjam dengan se-konjong² atau pada ketika itu djuga, tidak boleh dihukum.
(2) Melampaui batas pertahanan jang sangat perlu djika perbuatan itu dengan se-konjong² dilakukan karena perasaan tergontjang hebat jang timbul lantaran serangan itu, tidak boleh dihukum.
b. Fatsal 413: Panglima Tentara jang menolak atau dengan sengadja lalai mempergunakan kekuatan jang dibawah perintahnja atas per- mintaan jang sjah dari Pembesar Sipil, dihukum pendjara se- tinggi²nja 4 (empat) tahun. (KUHP 36,216).
-00000~

LAMPIRAN - 3 MASALAH HURU-HARA.

A. PENDAHULUAN.
1. UMM.
a.Perlindungan djiwa, harta-benda serta hak² azazi adalah hak dari setiap warga negara, karenanja merupakan tanggung djawab pedjabat² dan penguasa² keamanan dalam wilajahnja masing-masing. ABRI sebagai unsur pelaksana berkewadjiban untuk mendjamin kehidupan masjarakat jang aman, tertib dan teratur dengan segenap kemampuan jang ada padanja. Berda- sarkan kepada pokok² doktrin HANKAMNAS,setiap bagian dari ABRI telah diberi kekuasaan, wewenang serta tanggung-djawab untuk menanggulangi setiap antjaman bahaja, baik jang datang dari dalam maupun dari luar negeri sesuai dengan fung- sinja masing².
b. Kerusuhan² dan kekatjauan jang timbul, baik karena direntja- nakan sebelumnja, maupun jang timbul karena spontanitas jang kemudian meluas mendjadi huru-hara, sudah hampir merupakan peristiwa² jang terbiasa dikebanjakan negara di dunia ini. Meskipun demikian setiap peristiwa huru-hara jang berulang- kali terdjadi akan tjukup menggontjangkan kedudukan peme- rintahan jang bagaimanapun stabilnja. Kestabilan keamanan dalam suatu negara sangat tergantung pada sikap dan kewiba~ waan dari penguasa keamanan jang dibebani tanggung-djawab, demikian pula kepada tingkat kemampuan satuan² keamanan jang ada dibawah perintahnja.
C. ABAD KE XX merupakan suatu abad jang penuh dinamika. Perobahan² penting setiap saat dapat terdjadi. Kemadjuan disegala bidang madju dengan pesat, tetapi tuntutan² Pemba- haruan dan perombakan² tata-hidup jang dianggap sudah la- puk dan usang,djuga tidak kalah "ramai'-nja mengiringi evo- lusi djaman kita dewasa ini. Keadaan jang demikian "ribut" tidak sadja terdjadi di negara² jang kita kenal sebagai negara² Demokrasi (U. S. A. — Eropah Barat), tetapi djuga di negara² jang disebut sebagai negara2 Sosialis (Hongaria, Tjechoslo- wakia). Negara Republik Indonesia jang masih tergolong dalam negara² jang sedang berkembang, pembangunan, perbaikan dan peningkatan kehidupan sosial rakjatnja, merupakan pro- gram Pemerintahnja. Meskipun setiap usaha apapun jang di- lakukan oleh Pemerintah kita untuk lebih men-sedjahterakan Negara, didukung oleh segenap lapisan masjarakatnja, namun

ada sadja aliran² dan kekuatan² tertentu jang bersembunji dalam tubuh masjarakat jg senantiasa merasa "tidak puas" dan merasa diperlakukan "tidak adil". Negara Republik Índonesia jang berlandaskan kepada PANTJASILA tjukup tolerant dan ber- lapang-dada terhadap setiap tuntutan darimanapun datangnja, dan didjamin akan ditanggapi sebagaimana mestinja, tetapi apabila tuntutan² tersebut diforsir dengan djalan memperkosa te- gaknja hukum dan terganggunja keamanan dan ketertiban umum, maka Pemerintah kita tidak akan segan² mengambil tindakan jang tegas. Lebih² apabila tuntutan² tersebut disertai dengan penjusunan kekuatan setjara illegaal, mengingkari ideo- logi PANTJASILA dan U.U.D.-45, menimbulkan kekatjauan dan terror maka terpaksalah tindakan² dan kegiatan² tertentu tersebut harus kita anggap sebagai suatu tindakan jang me- ngantjam keselamatan Negara dan Bangsa Indonesia.

d. Terlepas dari klasifikasi peristiwa kerusuhan dan huru-hara jang sering terdjadi, pada umumnja timbul karena adanja ke- tegangan² dalam masjarakat itu sendiri. Peristiwa² tersebut terdjadi kadang² tanpa diketahui sebelumnja. Dan bilamana sudah terdjadi, maka sorotan tadjam dari masjarakat bukan ditudjukan kepada para pelaku peristiwa tersebut, tetapi djustru ditudjukan kepada para penguasa keamanan dengan unsur² keamanan jang ada dibawah perintahnja; karenanja tugas pe- nindakan huru-hara adalah suatu tugas jang paling tidak me- njenangkan. Selain dari itu, djuga tidak ada suatu kesatuan PHH dinegara manapun jang dipudji, mereka selalu diketjam di-surat² kabar, tindakan²-nja di-besar²-kan dengan gambar jang menjolok. Lawan dan kawan mentjatji-maki setiap gerak jang dilakukan oleh satuan² PHH. Lawan dan kawan-mentjatji-maki setiap move jang dilakukan oleh satuan² PHH dan kalaupun tugasnja dilakukan dengan se-baik²nja, tidak akan ada anugerah bintang djasa atau bintang penghargaan PHH kepada para Komandan Satuan PHH dengan para bawahan- nja, karena memang tidak akan pernah ditjiptakan dan disedia- kan.
e. Seorang pradjurit jang disiapkan untuk tugas² pertempuran, lazimnja bertudjuan untuk menjerahkan dan membunuh mu~ suh. Akan tetapi dalam tugas² PHH, ia akan mendjum- pai keadaan jang sangat djauh berbeda. Setiap tindakan ge- raknja harus dipersiapkan dengan penuh pertimbangan dan perhitungan, djuga harus mampu mengambil keputusan jang tjepat dan tepat untuk menentukan, apakah tindakan kekerasan dari massa harus dibalas pula dengan kekerasan. Hal ter-

sebut diatas perlu diperhatikan mengingat bahwa setiap gerakan dan tindakan jang dilantjarkan oleh massa, mengandung djebakan² untuk mendjatuhkan prestigenja sendiri, terutama apabila suatu gerakan aksi massa dipimpin dan dikendalikan oleh orang² jang berpengalaman.

f. Suatu massa aksi memang merupakan salah-satu taktik komunis Dalam konsep strategi kaum komunis, massa aksi bukan suatu hal jang baru, bahkan alat routine. Tetapi bagaimanapun djuga sulit untuk dipastikan sebelumnja, apakah suatu gerakan aksi massa diarahkan dan dikendalikan oleh orang² komunis atau komunis² sewaan. Pemastian apriori bahwa suatu gerakan aksi massa selalu komunistis adalah tidak benar mungkin taktik²nja me-niru² massa aksi komunis, tetapi djiwanja mungkin lain. Bagaimanakah tjiri² sebenarnja dari suatu gerakan aksi massa komunis? Tjiri² jang tidak dapat dihapus bagaimanapun dirobahnja akan segera nampak pada waktu kita berhadapan muka (fase to fase) dengan suatu gerakan aksi massa komunis Tjiri²-nja ialah :
(1) Hyper emosionil dan hyper sentimentil. (Teriakan² jang histeris-air mata jang ber-linang²).
(2) Penggunaan mass media setjara meluas.

(3) Meng-agung²-kan popularitas seorang tokoh setjara ber-

lebih²an. (Poster-potret jangbesar dan slogan²)

(4) Membakar semangat rakjat dan mengobar-ngobarkan ke- pahlawanan.

(5) Mentjiptakan "sjahidin²" (Mengorbankan seseorang un-

tuk kemudian di-sandjung² sebagai pahlawan rakjat)

(6) Pengkambing-hitaman satuan² keamanan Negara.
B. PANDANGAN UMUM MENGENAI
GERAKAN MASSA.

2.GERAKAN MASSA JANG PERTAMA. Pada waktu Palestina (sekarang Israel) diduduki oleh Negara Turki diawal abad pertengahan, maka kebebasan orang² Nasrani untuk berziarah ke-tempat² sutji mereka tidak terdjamin lagi, bahkan achirnja Palestina tertutup bagi umat Kristen. Tindakan Sultan Saladin (Radja Turki) tersebut menimbulkan kemarahan terhadap umat Kristen umumnja dan chususnja Negara² Kristen di Eropah, jang kemudian berkembang mendjadi perang salib. Kampanje anti Turki dan anti Islam segera dilantjarkan keseluruh Benua Eropah dan dengan serentak beribu-ribu manusia laki² dan wanita menja- takan keinginannja untuk segera membebaskan Palestina. Dibawah

pimpinan seorang kesatria bangsawan jang bernama Godfried De Banillon, dibentuklah suatu angkatan perang expedisi untuk me- njerbu Palestina. Tetapi karena lebih banjak didorong oleh fana- tisme dan nafsu kemasjhuran, pada hakekatnja angkatan perang ini lebih banjak menjerupai suatu pengerahan massa jang kurang ter- organisir. Tapi walaupun demikian achirnja expedisi ini dapat memenangkan perang, dan Palestina dapat diduduki oleh orang² Kristen dan ber- achirlah perang salib jang pertama. Dengan pengalaman² jang di- dapat ini, Sultan Saladin lima tahun kemudian dapat merebut kem- bali Palestina, dan sedjak itu orang² Kristen tidak berhasil lagi untuk memerangi Negara Turki, walaupun telah diusahakan oleh kaum Geredjawan untuk mengirimkan expedisi² pembebasan bah- kan diantaranja ada jang hanja terdiri dari anak² sadja. Peristiwa perang salib oleh ahli² sedjarah militer tidak dinilai sebagai suatu gerakan militer untuk menaklukkan suatu wilajah, tetapi hanja suatu pengerahan dan gerakan massa jang genial, jang dilakukan oleh orang² jang fanatik kepada Agama Kristen. Diakui pula, bahwa sampai saat ini gerakan massa seperti jang terdjadi pada waktu perang salib, belum pernah terdjadi lagi.

  1. GERAKAN MASSA SEMASA REVOLUSI PERANTJIS. Pada pertengahan abad ke-18, meletuslah revolusi Perantjis jang terkenal untuk menumbangkan kekuasaan radja jang tiranis dan tak berperi-kemanusiaan. Gerakan pembebasan dari belenggu feodalis- me, ditiru dan diikuti oleh rakjat negara² lain. Dengan timbulnja gerakan massa di Perantjis itu, rakjat dibanjak negara merasa dibangunkan dari tidurnja jang lelap, mereka kemudian sadar bahwa rakjatpun memiliki suatu sendjata jang ampuh untuk melawan kekuasaan jang se-mena2, dan sedjarah telah mem- buktikan bahwa rakjat jang dapat menggunakan alatnja dengan baik, berhasil mentjapai tudjuannja. Sedangkan bagi negara² jang belum terkena oleh aksi massa rakjatnja, segera pula merubah ke- bidjaksanaan pemerintahannja.
  2. GERAKAN MASSA MODERN. Ketjenderungan dan keinginan generasi muda, jang pada umumnja dipelopori oleh kaum mahasiswa untuk membangun struktur peng- hidupan jang lebih tinggi dan baik, merombak idea² lama dengan idea² baru, menandai tjiri² chas dari ambisi kaum muda pada de- wasa ini. Kaum muda tidak sabar menunggu selesainja suatu proses transisi dalam suatu evolusi; mereka ingin segera beralih dari satu

djaman kedjaman lain, kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Tjita² kaum muda jang ideal jang begitu bersih ini mendjadi rasa tidak puas, dan diverpelitiseer dengan pelbagai dalih dan pendapat. Inilah jang mendjadi sumbu penjalaan dari suatu gerakan aksi massa modern dengan segala akibat dan ekses²nja.

  1. PEMBATASAN GERAKAN AKSI DARI SEGI PENINDAKAN HURU-HARA.
    a. Suatu gerakan aksi massa jang dilantjarkan dan menimbulkan kerusuhan dari huru-hara adalah suatu TINDAK PIDANA; berdasarkan itu, maka tugas penindakan huru-hara adalah su- atau tindakan penegakkan hukum dan tata-tertib jang harus dilaksanakan dengan tegas dan konsekwen. Tanggung-djawab sepenuhnja terletak dalam tangan Penguasa Keamanan.
    b. Apapun jang mendjadi latar-belakang suatu gerakan aksi massa, satuan ABRI jang diberi tugas PHH, harus mampu untuk mengatasi dan menindak setiap saat. Para komandan satuan² tidak perlu pusing kepala untuk memikirkan faham ideologis jang dianut oleh suatu gerakan aksi massa, baginja jang penting adalah matjam, tingkat dan sifat dari sesuatu gerakan aksi massa.
  2. HAL2 JANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN TUGAS PHH.
    a. Sudah dimaklumi bahwa tugas PHH adalah suatu tugas makan hati bagi satuan² jang diserahi tugas tersebut. Segenap kemam- puan mental dan pisik dihadapkan kepada bahaja² potensiil jang akan mengikis dan merangsang daja-tahannja. Proses konfrontasinja akan berlangsung ber-djam², ber-hari² bahkan sampai ber-minggu². Ketjerobohan dan kelengahan jang dilakukan oleh satuan PHH, meskipun tidak begitu berarti, akan segera disebar-luaskan oleh mass media dalam dan luar negeri.
    b. Kita sebagai petugas, kadangkala apabila menjaksikan suatu pawai allegoris jang dilakukan oleh suatu golongan tertentu, mau tidak mau, kita akui bahwa kitapun kadang² tersentuh pula hati nurani kita dan membenarkan apa jang kita saksikan tersebut. Lalu timbul kemudian pertanjaan² dalam hati, dima- nakah letaknja kebenaran? Tapi walaupun demikian, berkat doktrin² jang ampuh dari SAPTA MARGA, SUMPAH PRADJURIT dan PANTJA-SILA sebagai ideologi negara, maka setiap keadaan jang me- ragukan kita, dapat ditempatkan kembali pada proporsi jang sebenarnja.

c. Kemadjuan dibidang komunikasi dewasa ini sudah sedemikian pesatnja, hingga penjebaran berita atas sesuatu peristiwa akan sukar sekali dibatasi (dilokalisir). Akibatnja akan mem- bawa pengaruh di luar negeri, hingga hubungan antara negara dimana peristiwa itu terdjadi dengan negara² lain akan ter- ganggu. Selain dari itu akibat langsung jang dialami oleh penguasa² keamanan setempat dengan satuan² jang ada dibawah perintahnja seketika itu djuga berada dalam satu posisi per- adilan, dimana seluruh masjarakat kita sendiri dan forum luar negeri mendjadi hakim dan odituurnja. Mereka sudah siap dengan vonnisnja, selagi kita masih sibuk dengan tugas² penindakan. Sudah djelas bahwa tindakan² kita kemudian mendjadi serba salah, terlalu tegas salah, dengan kebidjaksanaanpun salah.
d.Tjontoh: Pada tahun 1967 di Caracas — Venuzuela, telah terdjadi suatu gerakan aksi massa jang dipimpin oleh mahasiswa² golongan kiri. Satuan² PHH di negara tersebut membutuhkan 72 djam untuk menindak, dan sementara itu korban jang mati berdjum~ lah 40 orang. Salah seorang pemimpin mahasiswa jang ditang- kap dan diperiksa oleh penguasa² pengamanan mengatakan, bahwa sebenarnja gerakan jang dipimpinnja gagal sama sekali, karena ia tidak menduga bahwa satuan² PHH akan bertindak bidjaksana dan "lunak". Andaikata satuan² PHH lebih banjak me-nembak² dan menim- bulkan lebih banjak "sjahidin", maka gerakan massanja akan mendapatkan dukungan penuh dari suatu negara tetangga ter- tentu, dan Pemerintah jang sedang berkuasa dapat diguling- kan dengan mudah. Sementara itu, sebelum mahasiswa tersebut mengeluarkan pernjataannja, komandan satuan PHH jang bertugas pada saat itu telah dipetjat, karena dianggap terlalu bengis terhadap massa. Ribuan peristiwa gerakan aksi massa sepandjang sedjarah me- nundjukkan bahwa pengaruh² dan akibat² dari suatu gerakan aksi massa, telah menentukan adanja bentuk penghidupan masjarakat seperti jang kita lihat dewasa ini. Negara², pemerintah², keradjaan² telah tumbang dalam bergeloranja suatu gerakan aksi massa jang hebat. Üntuk membuktikan hal itu, tjukuplah apabila kita radjin membatja surat² kabar jang memberitakan peristiwa² sematjam itu setiap hari dan jang terdjadi hampir disetiap pelosok dunia.

C. KERUSUHAN RASIAL
7. UMUM.
a.Ketegangan rasial adalah suatu bentuk kerusuhan jang paling berbahaja dan memalukan jang dapat terdjadi disuatu negara. Apa lagi apabila kerusuhan tersebut terdjadi dinegara jang men- djundjung tinggi azas² demokrasi dan azas² perikemanusiaan. Di Indonesia sadja sedjak tahun 1960 sampai sekarang telah terdjadi 10 kali kerusuhan rasial jang terdjadi karena memang direntjanakan maupun karena spontanitas belaka.
b. Jang mendjadi sasaran kerusuhan ini adalah djiwa manusia dan harta-bendanja. Akibat dari kerusuhan rasial ini melumpuhkan sarana² penghidupan masjarakat se-hari², jang berlansung se- lama waktu jang tidak dapat ditentukan. Walaupunfaktor² penjebabnja sering ber-beda², namun pola penjalaannja dan tjiri2 perkembangannja menundjukan persamaan, meskipun tempat, waktu dan keadaannja berbeda.
8. PROSES PENJALAAN SUATU KERUSUHAN RASIAL.

Gedjala²nja :

a. Ketegangan. Setelah melalui suatu periode ketegangan antara dua golongan jang berlainan suku, karena :
(1) Iri hati.
(2) Rasa dendam.
(3) Sengketa perorangan.
(4) Perebutan mata pentjaharian.
(5) Tersinggung rasa kehormatan.
(6) Dan sebagainja, terdjadilah insiden² pertengkaran mulut jang disusul dengan perkelahian². Dalam waktu jang singkat suasana mendjadi eks- plosip dan meluas. Demi situasi jang demikian, satuan² setempat harus segera bertindak dan mengamankan oknum² jang ter- libat langsung dalam insiden² tersebut dari kedua belah fihak. Desas-desus.
b. Apabila tindakan satuan² keamanan setempat terlambat dalam mengambil langkah² pengamanan, maka masing² fihak akan giat menjusun kekuatan masing². Penjusunan kekuatan ini akan

sedemikian tjepatnja dengan disebar-luaskannja desas-desus,

berita² sensasionil di surat² kabar kuning dan radio amatir.

C. Kegelisahan. Apabila kesatuan² setempat belum djuga bertindak, maka sua- sana kegelisahan lebih memuntjak lagi dengan dipertadjamnja desas-desus dan ungkapan² emosionil dari oknum² jang terlibat langsung dalam insiden² sebelumnja. Sumbu peledak telah me- njala.
d. Solidaritas. Rasa senasib, seikatan, semarga, serumpun, sesuku, segolongan tumbuh dengan tjepat. Masing² individu merasa berkewadjiban dan terikat satu sama lain untuk bertindak. Dalam situasi jang sedemikian tidak terdapat lagi perbedaan tingkatan, kedudukan sosial, kepentingan diri sendiri, jang ada hanja rasa kesatuan dan keloyalan terhadap satu sama lain, sedangkan akibat se- suatunja akan dipikul bersama.
e. Mass Histeria. Apabila suatu golongan massa telah dihinggapi massa histeria maka akal sehat, rasa perikemanusian, rasa keadilan serta ke- sadaran hukum lenjap, jang ada hanja tjetusan emosi jang me- luap-luap.
f. Sasaran2. Sasaran² jang pada umumnja didahulukan adalah :
(1) Tokoh² lawan jang sudah lama diintjer.
(2) Rumah² fihak lawan.
(3) Gudang² dan toko².
(4) Kendaraan².
(5) Dan sebagainja.
9. PROSES PERKEMBANGAN SUATU KERUSUHAN RASIAL.
a.Apabila kerusuhan rasilal ini dibiarkan terlalu lama oleh satu- an² keamanan, maka akan mengakibatkan adanja penunggang- an² oleh golongan² tertentu, baik bersifat politik maupun kriminil.
b. Orang² jang biasanja suka ikut²an dalam suatu kerusuhan rasial ialah :
(1) Para gelandangan.

(2) Muda-mudi tak bermoral (crossboys/crossgirls).

(3) Oknum² kriminil (pentjopet²/pendjambret² dsb.).
(4) Penonton² jang sok ingin tahu, dan bangga bahwa mereka sempat menjaksikan dengan mata kepala sendiri terdjadi- nja suatu peristiwa. (Orang² inilah jang membesar²-kan lalat mendjadi gadjah).

(5) Wartawan² - dalam/luar negeri jang mentjari berita² ha-

ngat untuk diinterpreteer menurut pandangan mereka sendiri.

(6) Anggauta² Angkatan Bersendjata jang mendjadi "back- ing" tokoh² tertentu dari fihak² jang saling bertentangan. Terhadap oknum² tersebut, Penguasa segera harus bertin- dak, bila tidak, suasana jang mungkin sudah mereda akan kambuh lagi dan berekor pandjang. Diantara peristiwa² kerusuhan/huru-hara, maka kerusuhan ra- siallah jang paling sukar dan sulit untuk dihadapi dan ditang- gulangi. Memadamkan suatu kerusuhan rasial dapat disamakan dengan memadamkan kebakaran di-kilang² minjak. Apabila alat pemadamnja kurang tepat, maka kebakaran akan lebih meng- hebat dan meluas.
10. TINDAKAN² JANG DIRASAKAN DALAM SUATU KERUSUHAN RASIAL.
a.Tutuplah segera daerah² dimana terdjadinja, akan terdjadi atau terantjam kerusuhan rasial.
b. Batasi lalu-lintas keluar masuk daerah kerusuhan.
C.Bilamana perlu, adakan djam malam lokal.
d. Intensifkan perondaan dan pengamanan lokal.
e.Putuskan atau blokkir sementara hubungan² telepon ke atau dari daerah kerusuhan.
f. Batasi ruang gerak njamuk² pers.
g. Larangan sementara terhadap radio² amatir.
h. Konsinjir semua anggauta² ABRI, ketjuali petugas² keamanan.
D. TJIRI2 GERAKAN AKSI MASSA.

11. UMUM.

Tanpa mengikuti perkembangan keadaan jang berlangsung setiap hari, sukarlah bagi kita untuk menentukan dengan segera aspek², latar-belakang dan alasan dari suatu gerakan aksi massa. Observasi terus-menerus terhadap setiap ketegangan jang terdjadi adalah suatu pekerdjaan jang sangat mendjemukan dan melelahkan, namun perlu, kalau kita tidak ingin didadak (verrast) oleh suatu peristiwa jang menggemparkan. Tergantung apa jang mendjadi sasaran UTAMA dari suatu gerakkan aksi massa, dan tokoh² mana jang dikambing-hitamkan, maka sifat dan karakter dari suatu gerakan aksi massa dapat diklassificeer sebagai:

a.Lunak.
b.Menurut. Bandel.
c.
d. Bengis.
e.Aggressief.
f. Militant.

Pada mulanja suatu gerakan aksi massa selalu akan memperguna- kan kedok untuk merebut simpati masjarakat. Apabila situasi dan kondisi sudah dianggap matang dan menguntungkan mereka maka kedok disingkirkan, dan tudjuan sebenarnja akan terbuka dengan djelas. Sudah mendjadi resep jang populair di-mana², apabila Pemerintah jang mendjadi sasaran Utama, maka sudah pasti bahwa Angkatan Bersendjata jang mendjadi bulan²an dan kambing-hitam jang pertama, dan didjadikan sasaran² antara untuk di "kelintjikan". Apabila peng "kelintjian" berhasil baik, maka serangan frontal terhadap Pemerintah dimulai dengan "artilleri" jang besar dan "kasar". Serangan balas jang dilakukan oleh Pemerintah tidak boleh meleset begitu dilantjarkan, gerakan aksi massa harus bisa dilumpuhkan sampai akar²nja. Illustrasi. Pada awal tahun 1968 di Paris, Perantjis terdjadi demonstrasi besar²an jang dilakukan oleh para mahasiswa Perantjis. Kedok jang dipakai adalah : Penuntutan perobahan scope² kuliah dipelbagai Uni- versitas di Paris. Maksud jang sebenarnja adalah, penggulingan Pre- siden De Gaulle jang dianggap oleh para mahasiswa sangat kolot conservatif. Gendarmerie Perantjis jang bertugas sebagai satuan² PHH dikambing hitamkan sedemikian rupa, sehingga tugasnja di- ambil-alih oleh stuan² AD jang sebenarnja bertugas di Djerman Ba- rat sebagai satuan² NATO. Satuan² inipun hampir kewalahan me- ngendalikan keadaan. Demontrasi Mahasiswa Paris pada waktu itu dipimpin oleh seorang mahasiswa jang berasal dari Djerman, dan bernama DANIEL COHN BENDIT (Red Danny). Mahasiswa ini terkenal sebagai seorang mahasiswa jang radikaal dan beraffiliasi kiri. Pada saat² jang sangat kritis sekali, tiba² Pemerintah Perantjis mengeluarkan suatu pernjataan bahwa seluruh gerakan mahasiswa pada saat itu sebenarnja adalah suatu gerakan KOMUNIS. Dan memang rakjat Perantjis, chususnja masjarakat kota Paris tidak suka dengan apa sadja jang berbau komunis, maka bujarlah demonstrasi² mahasiswa tersebut. Daniel Cohn Bendit terpaksa me- njingkir ke Belgia.

  1. TEKNIK MEMPERSIAPKAN SUATU GERAKAN AKSI MASSA.
    a. Pengerahan Massa. Tindakan pertama untuk memulai suatu gerakan aksi massa, adalah mengerahkan massa tersebut. Lazimnja, djauh sebelum ditentukan "tanggal mainnja/hari "H" nja", maka pimpinan golongan² tertentu jang berniat hendak melakukan suatu ge-

rakan aksi massa, telah menjebarkan kader²nja ke setiap pen- djuru daerah untuk mempersiapkan pengerahan massa apabila waktunja telah tiba. Tjara² mempersiapkan massa ber-matjam², ada dengan tjara menghasut, membudjuk, mendjandjikan, ada pula dengan tjara mengantjam. Tjara jang "populair" jang ma- sih dipakai di daerah-daerah tertentu di Indonesia adalah dengan tjara mengantjam, baik dengan tjara halus maupun dengan tjara kasar. Tjontoh antjaman jang ampuh untuk menge- rahkan massa dewasa ini adalah "Kalau saudara/saudari be- sok tidak ikut demonstrasi, maka saudara/saudari dianggap orang² PKI". Maka ber-bondong²lah orang² dengan suka-rela ikut berdemonstrasi.

b. Agitasi. Dibawah pengaruh seorang "tukang pidato" jang masjhur atau seorang tokoh jang populer dikalangan masjarakat luas, maka massa jang telah dikerahkan disuatu tempat, digembleng dan dibakar semangatnja, sehingga massa kehilangan daja pikiran- nja jang rasioneel. Agitator² proffesional benar² menguasai ilmu mass-psychology, sehingga dalam waktu jang relatif singkat, massa sudah mentjapai "top heat"-nja.
C.Sasaran. Sasaran pokok dalam demonstrasi nantinja tidak akan diu- mumkan dahulu kepada massa, jang ditundjukkan dengan dje- las dan njata adalah sasaran² antaranja. Ini dilakukan untuk mendjaga security dan prestige. Sasaran sebenarnja diberita- hukan nanti selama demonstrasi sedang berlangsung dan apabila sasaran² antara telah berhasil di "ganjang".
d.Waktu. Apabila para pimpinan gerakan aksi massa menganggap bah- wa "pemanasan" massa belum mentjapai suhu jang dikehendak kinja, maka demonstrasi jang direntjanakan ditunda lebih dahulu. Penentuan waktu "main" sangat penting dalam suatu gerakan aksi massa. Banjak faktor² jang harus dipenuhi, sebe- lum waktu main tersebut ditentukan, diantaranja ialah:
(1) Apakah dukungan masjarakat sudah tjukup mantap ?
(2) Sampai dimanakah para penguasa akan bertindak apabila gerakan aksi massa dilantjarkan ?
(3) Apakah sasaran² sudah tjukup matang untuk di "ga~ njang"?
(4) Apakah massa tepat pada waktunja dapat dikerahkan ?
(5) Apakah pendjagaan² jang dilakukan oleh ABRI dan Po- lisi kuat?

(6) Bagaimana keadaan tjuatja pada saat² jang mendatang ?

(7) Dan sebagainja.
e.Aksi² pendahuluan. Pimpinan² suatu gerakan aksi massa jang berpengalaman, tidak akan begitu sadja menggerakkan masanja tanpa mendja- djaki lebih dahulu pendapat umum jang akan mendukungnja Aksi² pendahuluan dilantjarkan sebagai move² pertjobaan, dengan tudjuan untuk mengetahui reaksinja, baik dari fihak masjarakat maupun dari fihak penguasa/pemerintah. Apabila reaksinja menguntungkan, frekwensi dari aksi²nja ditingkat- kan, tetapi apabila merugikan, aksi²nja disempurnakan, dengan lebih mengintensifkan kampanje² merebut simpati masjarakat. Aksi² pendahuluan jang sering kita lihat adalah:
(1) Aksi tjorat-tjoret (tembok², rumah², gedung², kendaraan² dan sebagainja).
(2) Pemasangan poster², slogan², karikatur² dan sebagainja.
(3) Pengedaran pamflet² gelap.
(4) Siaran² Radio Amatir jang Agresip.
(5) Rapat² umum.
(6) Pawai² allegoris.
(7) Pelantjaran perang urat-sjaraf (desas-desus).
(8) Pemantjingan insiden² dengan petugas keamanan.
(9) Demonstrasi.
(10) Huru-hara. Setiap aksi dilaksanakan fase demi fase, dan apabila kondisi dan situasi benar² sudah masak dan matang, maka para pimpinan gerakan aksi massa memberikan komando terachir : "MULAI". Bagaikan air bah jang ganas, massa akan menjer- bu sasarannja, dan tjelakalah satuan² keamanan apabila tidak ada persiapan sama-sekali, atau dengan ngantuk² berusaha membendungnja.

13. TAKTIK MASSA UNTUK MEMPENGARUHI PETUGAS

KEAMANAN.

Ahli² aksi massa telah menemukan suatu resep jang sangat mudja- rab untuk membuat petugas² keamanan tidak berdaja, ragu² untuk bertindak, atau sama sekali tidak bisa berbuat apa². Resep jang di- pakai adalah unik dan harus diketahui oleh setiap petugas keamanan, kalau ia tidak ingin dibuat "klintji" oleh massa. Resepnja ialah :

a.Kegaduhan. Suatu gerakan aksi massa selalu gaduh. Kegaduhan tersebut memang sengadja ditimbulkan. Sepintas lalu nampaknja bahwa kegaduhan tersebut adalah akibat dari pada tidak rapihnja me- njusun pengerahan massa, padahal kegaduhan tersebut diren- tjanakan, dipersiapkan dan diarahkan. Yel2 - njanjian² - teriakan-teriakan ditjiptakan dan dikarang dengan maksud² tertentu. Penggunaan megaphone², alat² pengeras suara me-nambah² kegaduhan. Makin gaduh makin baik, dan kesemuanja bertu~ djuan untuk tetap memelihara semangat dan agresiviteit dari pada massa.
b. Tjatji makian. Pengikut² massa jang memiliki "mulut besar" sengadja ditugaskan untuk melontarkan tjatji²-makian setjaraterus menerus dan ditudjukan kepada satuan² keamanan dan satuan² PHH. Tjatji makian bertudjuan untuk menurunkan moril dan disiplin para pradjurit kita, agar para pradjurit tersebut mendjadi ma- rah dan bertindak setjara perorangan. Apabila pradjurit² kita terpantjing oleh tjatji makian massa, maka clash fisik tidak da- pat dihindarkan lagi.
C. Pelemparan². Untuk memaksa satuan² keamanan bertindak terhadap mereka, maka ada pula pengikut² massa jang ditugaskan untuk melem- pari pradjurit² kita dengan barang² kotor setjara sembunji-sembunji. Barang² jang dilemparkan diantaranja:
(1) Buah² busuk.
(2) Telor busuk.
(3) Batu.
(4))Botol² kosong.
(5) Bungkusan² berisi kotoran manusia.
(6) Kaleng2.
(7) Dan sebagainja. Kesemuanja dimaksudkan untuk me-mantjing² perkelahian jang bisa mengarah kesuatu insiden jang serius. Bendera-bendera.
d. Untuk menundjukkan betapa militantnja suatu gerakan aksi massa, maka bendera² organisasi dibawa-serta dan dilambai²- kan setjara megah. Untuk lebih menggagahi petugas² keamanan maka bendera² Nasional dibawa-serta. Apabila suatu gerakan aksi massa membawa bendera² berwarna merah, maka hal itu adalah suatu tanda bahwa gerakan aksi massa tersebut adalah suatu gerakan jang revolusioner jang pantang menjerah. Dan

apabila djuga dibawa-serta bendera hitam, maka massa ingin menundjukkan bahwa djiwa manusia tidak ada artinja bagi- nja, asal tudjuan tertjapai.

e. Slogan², boneka², poster². Dalam suatu aksi massa, slogan², boneka², poster² adalah alat² specifik, dan dimaksudkan untuk memberikan pengaruh meng- hasut kepada masjarakat jang melihatnja. Djuga terbatja tun- tutan² jang diadjukan oleh aksi massa tersebut. Suatu gerakan aksi massa jang terorganiseer baik, akan membawa alat² tersebut sampai kepada sasaran. Isi dan nada slogan²/poster² tersebut harus memberikan impact jang positif kepada massa dan masjarakat, dan dibuat oleh orang² jang "mengerti".
f. Wanita²/gadis²/anak². Sudah mendjadi suatu kebiasaan dalam suatu gerakan aksi massa, bahwa wanita²/gadis²/anak² diikut-sertakan. Mereka ditempatkan di-barisan² paling depan dari formasi massa dan merupakan "tirai pengaman" bagi formasi² "tempur" dibela- kangnja. Tirai pengaman ini menurut pengalaman adalah sangat efektif dan menjulitkan satuan² PHH kita untuk bertindak dengan te- gas. Penjemprotan dengan air dan dengan zat "X" adalah alat jang paling tepat untuk mentjerai-beraikan "tirai" tersebut.
14. TAKTIK DESEPSI AKSI MASSA.
a. Laporan² palsu. Menurut pengalaman dan kebiasaannja, maka sebelum, selama dan sesudah sesuatu gerakan aksi massa berlangsung, markas² dan pos² polisi akan dibandjiri dengan laporan² dari pelbagai sumber dan djurusan. Telepon² terus berdering untuk menga- tjaukan gerak dan tindak satuan² keamanan. Info² bersimpang- siur dan tidak dapat dipastikan mana jang benar. Untuk mem- batasi membandjirinja info palsu, maka sebaiknja saluran² telepon di markas² penting didesentraliseer melalui suatu wissel- bord, dimana dapat dilakukan penjaringan dan pengolahan be- rita jang objektip. Nomer telepon para Komandan dan POS-KO, hanja diketahui oleh sumber info jang resmi sadja.
b. Sjahidin (Matyrs). Suatu gerakan aksi massa dan demonstrasi tidak akan sempur- na kalau tidak ada "sjahidin²-nja. Apakah seorang sjahidin itu ? Seorang sjahidin adalah seorang demonstrasi jang mati selama dilantjarkannja aksi² massa tersebut. Lebih baik kalau matinja orang itu disebabkan oleh tindakan² "kekedjaman" satuan² keamanan. Ia akan dipudja² setinggi langit dan diangkat mendja-

di pahlawan pembela "keadilan dan kebenaran". Lebih banjak sjahidin² jang mati lebih bagus. Kalau sjahidin² tersebut tidak dapat ditjiptakan atau dikreasikan, maka suatu gerakan aksi massa jang fanatiek akan membuat sendiri sjahidin²-nja, jaitu dengan tjara "menjuruh" pengikutnja jang paling fanatiek untuk bunuh diri. Pada dewasa ini tjara bunuh diri jang paling tinggi pasarannja adalah tjara bunuh diri dengan tjara membakar diri. Effeknja luar biasa, lebih² di negara² Asia dimana pe- ngorbanan seseorang atas kemauan sendiri mendapat pudjaan jang tertinggi, chususnja bagi mereka jang beragama Budha. (Djepang-Vietnam-Birma-India). Àdanja sjahidin oleh semangat kepahlawanan dan bisa ditjatat dalam sedjarah suatu perdjoangan demi keadilan. Djuga agar perdjoangan tersebut bisa/dapat disutjikan oleh djatuhnja kor- ban² sjahidin tersebut. Illustrasi : Presiden Vietnam Selatan, Ngo Dien Diem djatuh dari kekuasaannja, akibat djatuhnja sjahidin jang ke-7 jang membakar diri jang terdiri dari paderi² Budha jang menentang kekuasaannja.

C.Insiden berdarah. Insiden berdarah dalam suatu gerakan aksi massa, djuga suatu peristiwa jang sengadja ditjiptakan atau dikreasikan. Tudjuan- nja lebih banjak untuk mendapatkan nilai² historis agar dapat dipergunakan nanti apabila suatu perdjoangan aksi massa telah tertjapai.
15.KESIMPULAN. Force majeure (overmacht) dan psychological trics adalah tjiri-tjiri chas dari pelaksanaan taktik tempurnja suatu gerakan aksi massa modern. Pengetahuan jang mendalam dan pengertian tentang mas- alah huru-hara ansich harus dikuasai oleh para Komandan/Pimpin- an satuan² PHH, agar tidak terdjebak dan masuk perangkapnja ka- um aksi massa jang fanatik, terlatih dan berpengalaman. Meskipun demikian, kita tetap mengharapkan agar di Negara kita tidak akan terdjadi gerakan² aksi massa seperti di Negara² lain, karena Negara kita ber-PANTJASILA, tjinta damai, tetapi djuga lebih tjinta kemerdekaan.
-00O00~

LAMPIRAN - 4

LEMBAR PENDJELASAN

Bab & pa-Halaman Isi pendjelasan : sal ID Setiap satuan jang disiapkan untuk 14 menghadapi dan melaksanakan tugas 19 c. PHH, harus merupakan suatu satuan jang sudah dilatih dan diperlengkapi dengan kelengkapan sebagai suatu satuan-tugas PHH. Dalam susunan sebagai suatu satuan-tugas PHH, maka satuan tersebut diperlengkapi dengan alat peralatan jangmirip dengan kelengkapan pokok satuan² Infanteri.

ID Dengan menjebutkan PENERBAD 15 dalam naskah ini, dapat diartikan se- 20 e. setiap Satuan Udara, baik itu bagian dari Angkatan lain maupun dari Kepo- lisian jang disiapkan dan diperbantu~ kan untuk melaksanakan bantuan-udara sebagai jang dimaksud dalam tugas² PENERBAD dalam naskah ini.

Dengan kata² "DAN MILDA", di- I D 16 maksudkan setiap Komandan Militer 21 sebagai jang dimaksudkan dalam halaman 2 tersebut pasal 5 d, jaitu bagi Angkatan Darat jang dimaksud dengan DAN MILDA adalah se-rendah²nja seorang Komandan Bataljon atau Komandan Distrik Militer jang mendapat delegasi wewenang setjara tertulis dari Panglima Komando Daerah Militer (dalam naskah halaman 2 disebut sebagai PANGLIMA DAERAH).

Bab & pa~

Halaman Isi pendjelasan sal

16 I D Dalam keseluruhan pasal² ini dimana

22, setiapkali disebut JONIF ROI-64, ma- 17

23,ka dengan itu dimaksudkan bahwa

18 24. penjusunan Satuan PHH berpedoman

dan atau dilakukan lebih dahulu penjesuaian dengan susunan organisasi se- perti pada Bataljon Infantri A.D. Demikian pula dengan susunan Peleton Senapan PHH (ihalaman 11), dan Satuan Tugas PHH (halaman 12), ha- rus diartikan bahwa didalam rangka penjusunan satuan² tugas PHH itu (ba- ik Peleton maupun Kompi) selalu berpedoman/dilakukan penjesuaian susu- nannja dengan susunan organisasi Bataljon Infanteri. Dengan demikian, ma- ka pada hakekatnja setiap Satuan dalam AD jang setjara kekuatan personil dan materiilnja dapat disesuaikan su- sunannja dengan susunan Satuan² Infanteri dimaksud dapat disiapkan, dila- tih dan dikerahkan untuk melaksana- kan tugas² PHH.

20 IDBerbagai djenis kendaraan panser se-

24c bagai-tertulis pada ajat mengenai Satu-

(4).an Panser/Kavaleri ini, dimaksudkan

hanja sebagai tjontoh jang terdapat pada Satuan² Kavaleri AD. Jang sebenarnja adalah bahwa setiap satuan-panser jang diperbantukan pada Satuan PHH tersusun atas : Isi pendjelasan: satu buah kendaraan panser ri- ngan tanpa kanon, satu buah kendaraan panser ri- ngan dengan kanon, dua buah kendaraan panser angkut personil, Dalam keadaan tertentu kendaraan panser dapat digantikan perananja oleh

Hala-Bab &

Isi pendjelasan man pasal

kendaraan² tank/roda rantai jang se- suai dengan visualisasi tugas Satuan PHH jang bersangkutan.

21 ID Pemberian pakaian seragam AD kepa-

da anggauta² pemadam kebakaran dari 24c djawatan sipil, tidak mutlak. Jang pen-

(6).

ting adalah bahwa seluruh personil jang dikerahkan untuk melaksanakan tugas² PHH dan jang tergabung dalam Satuan PHH itu mengenakan pakaian seragam sehingga memberikan effect psikologis dan memudahkan kontrol/ pengendalian.

23 IDAlat² perlengkapan tambahan jang di-

26 d.maksudkan dalam ajat ini, sebagian

merupakan alat tambahan jang sangat diperlukan dalam tugas² penindakan huru-hara; oleh karena itu kalimat ini harus diartikan bahwa setiap Koman- dan wadjib berusaha sekeras-kerasnja untuk mengusahakan tersedianja alat² tambahan itu pada Satuan-satuan jang disiapkan untuk dikerahkan dalam tugas PHH.

—00O00—