ZINE#1
Gabungan Romusha Ngamuk Zine#1
Préambule: The Only Limit Is You
have hardly tamed the new generation. Continuing the process of as-
commodiϐied, or outϐlanked. Riots without punk shows; black sweat-
and rebellion without anthems, without aesthetics, without hope. If any-
reacting against a subculture that in-
rebellion; too much entertainment,
is already characterized by destruc-
a little more art, creativity, and optimism.” (Crimethinc, 2022)
perjalanannya di nusantara ini me-
yang sama dengan yang aslinya. Be-
bertahun-tahun perdebatan tentang mana yang paling shahih, bagaikan sebuah lika-liku tak berkesudahan dari labirin yang kita sendiri sedang
akan terus berkutat dalam jebakan labirin yang sama bila kita tidak per-
Kami adalah salah satu dari sekian
melalui single terakhir kali nya yang berjudul Lions and Lambs. Fakta bah-
adalah objek dari apa-apa yang mer-
munculnya suatu kesadaran terse-
“sebuah pengetahuan” bila akhirnya hanya mentok pada batasan “sadar saja”. Beberapa substansi memang
kita tahu bahwa ada hal yang me-
bila kita dapat memulai untuk men-
“Of course, social media platforms beromantisir didalamnya. Semuanya
similation and reinvention, today’s nah tahu apa yang sebenarnya kita uprisings draw on every aspect of bisa dan mampu lakukan dalam ke- punk that could not be domesticated, hidupan subkultur ini.
shirts without patches on them, so banyak orang yang tertampar oleh the police can’t identify you; deϐiance sebuah “penegasan” dari Have Heart
thing, we have overcorrected against wa apa yang telah selama ini kami the vestiges of the hippie era that lakukan tak pernah membuat kami persisted in the ϐirst phase of punk. sadar bahwa kami hanya berjalan di When the Pistols came out, they were tempat dan tak pernah berlari; kami
volved too much art, and not enough eka sayangkan keberadaannya.
and not enough disruption; too much Namun yang terpenting dari itu optimism, and not enough reality. As semua adalah tentang bagaimana we move deeper into a century that reaksi yang bisa kita timbulkan atas
tion and despair, we could do with but. Semuanya hanya akan menjadi
Whatever the fuck you call it, (for sudah selayaknya hanya berhenti us) it remains alive. Mungkin dalam dalam taraf pengetahuan, tapi ketika
mang telah bermutasi menjadi suatu mang benar-benar bisa kita lakukan sub-genetik baru, yang memang dari hasil “proses menyadari” terse- tak pernah dilahirkan dari embrio but, maka sudah selayaknya pula
ratus-ratus teori dan manifestasi gambil langkah pertama dari reaksi dalam pengejawantahan maknanya, tersebut.
Gabungan
Zine ini merupakan wadah tambah- an dari berbagai pemikiran yang ti-
Romusha Ngamuk:
dak tertampung dalam materi musik
Eksplanasi Lirik
kami. Bukan hanya birahi saja yang harus disalurkan, tetapi pemikiran Pasca penjajahan “fase kedua” pun harus tetap kudu bucat hahaha. oleh Jepang circa 1945-1947, jalur Beberapa tulisan diambil dari rang-Tagogapu-Padalarang1 pada ma- kaian kontemplasi dan point of view kami terhadap apa-apa yang sedang sanya pernah menjadi jalur yang terjadi dewasa ini, khususnya dalam profan bagi para pemakai jalan lingkup subkultur yang sedang kita dan siapapun yang dirasa memiliki semua jalani. Kami rasa agak penting kekayaan yang lebih daripada yang untuk mendokumentasikan luapan lain. Adalah sekumpulan eks romu- pemikiran ini karena jika tidak ditu-
rokok.
Pada akhirnya, hanya diri kita sendiri yang benar-benar bisa kita kenda- likan, dan diri kita sendiri pula yang menjadi batasan utama diantara
yang ada. Sudah saatnya kita semua membangun tatanan skena ideal kita sendiri. Nyala obor dari pres- ent generation subkultur ini harus tetap menyala dan selalu membakar semua ketidaksesuaian yang ada.
You have a voice, express your anger You have a mind, deny their power You have two eyes, know your enemy You have one life, the choice is yours!
Dropdead-You Have A Voice (Self Titled, 1993)
sha yang menjadi dalang dari ser-
Jepang dipukul mundur dari Indonesia oleh serangkaian peristiwa yang berkaitan sebelumnya. Masyarakat kala itu memanggil mereka dengan sebutan garong yang merupakan akronim dari gabungan romusha ngamuk. “Entah bagaimana mereka kemudian menjadi orang-orang jahat yang kerjaannya merampok orang-orang yang lewat di wilayah Padalarang dan sekitarnya. Para garong ini tidak peduli korbannya orang Republik atau pihak Belanda, selama bertahta dan berduit maka mereka 1 akan menyikatnya tanpa ampun.” Ya, nama band ini terinspirasi dari orang-orang “pesakitan” yang memilih meneruskan hidup mereka untuk menjadi segerombolan bangsat. Kami tak ingin menelusuri lebih jauh mengenai motif dari para eks romusha ini, namun ada hal lain yang
liskan biasanya sering lupa dan ikut amnya jalur antar-wilayah tersebut. menguap bersama hembusan asap Mereka dipulangkan setelah akhirnya
semua kesempatan-kesempatan
sedikitnya bertemu dengan tujuan hati akan “memberi” kepada semua kami dalam “meminjam” nama mer-orang -kaya, miskin, baik, jahat, can- eka. Dikatakan bahwa para gabungan tik, jelek, dan semua turunan yin dan romusha ngamuk ini tak akan pan-yang-tentang apa yang kami pikir-dang bulu dalam menjarah, mereka kan dan kami rasakan sejauh peng- tak mempedulikan tingkatan derajat, etahuan yang kami punya. Band "an harkat, dan martabat korbannya se-introvert-esque power(that hate) lama orang-orang itu masih punya violence quartet” ini sejujurnya tak harta untuk mereka rampas. Dengan lebih dari sekumpulan “masyarakat berbekal semua pengalaman dan awam kurang pintar takut neraka” kemalangan saat dipaksa mencicipi yang ingin mencoba bersuara peri- panasnya “neraka”, opsi yang terse-hal apapun yang berbagi kegemaran dia bagi mereka untuk menentukan musik yang sama. “Mun teu hoream” pilihan hidup seakan-akan mengeru-adalah satu-satunya batasan yang cut kedalam satu titik yang sangat kami pasang dalam semua aktivi- mungkin dicampuri oleh sentimen tas band-bandan orowodol kami. dendam, kemarahan, pembalasan, Terakhir, kami ingin mengutip se- dan kebebasan. Stigma dan respon dikit ide dari Jean-Paul Sartre bahwa negatif dari masyarakat mengenai “manusia dikutuk untuk menjadi be- perilaku keharaman mereka pun bas, karena ketika telah dilahirkan ke seakan-akan hanya menjadi substan-dunia, manusia bertanggungjawab si “masuk kanan keluar kiri”. Yang atas semua hal yang mereka lakukan”. terpenting adalah bagaimana mereka Menjadi bebas bukan hanya seka- bisa menjalani kehidupan yang mer-dar bisa dan mampu melaksanakan eka percayai, perihal jawaban antara semua hasrat yang terkekang tanpa benar atau salah terbatasi oleh sekat menghiraukan hukum sebab-akibat tipis tak bercelah bernama kematian. dari tindakan yang dilakukan. Leb-Berkaitan dengan wasilah kami da-ih dari itu, sebagai makhluk hidup lam memulai band-bandan yang yang dianugerahi akal sehat dan orowodol ini, sangat barang tentu otak yang bisa berpikir, sedikitnya tujuan kami tak seekstrim seperti kita harus tahu tentang apa yang narasi yang kami ungkapkan dia-sebetulnya kita -dan akan-lakukan, tas, kami masih tidak seberani itu. dan akhirnya memegang tanggu-Melainkan ide utama dari perilaku ng jawab penuh atas hal itu semua. garong itu sendiri yang menjadi in- 1 https://historia.id/politik/articles/sejarah-ga- spirasinya. Tapi, instead of menjarah,rong-gabungan-romusha-ngamuk-DWe8B/page/1 merampas, ataupun perilaku “mengambil” lainnya, kami dengan senang
secara tidak langsung tertanam
1. BEASISWA GRATIS UN-
dalam benak orang-orang diatas, TUK MUDA MUDI RICHMOND maka izinkanlah kami untuk tetap Masih ingat dengan rentetan misi berteriak dan selalu mendo’akan bom bunuh diri sebuah keluarga “yang terbaik” bagi mereka di alam yang menargetkan beberapa gereja dunia dan kubur (baca: neraka) sana di Surabaya awal tahun 2021 silam? Atau dengan “trendinya” kembali agenda-agenda mass shooting yang belakangan terjadi di seluruh penju- ru dunia? Atau bagi semua orang diluar sana yang dengan sewenang-se- wenangnya memaksakan kehendak dan kuasa mereka melalui jalan kekerasan, kebrutalan, kebiadaban, serta membuang jauh sisi privat dan hak dari masing-masing orang? Kami jadi tergerak untuk beranggapan bahwa sebuah kepercayaan akan sesuatu hal dapat membuat manusia untuk melakukan hal-hal yang diluar batas kewajaran dan akal sehat, membu- takan semua aspek kehidupan demi sebuah capaian akan tujuan per- ilakunya. Dalam lagu ini, kami ingin menunjukan bahwa tak peduli seberapa kecil substansi dari “sebab” yang dilakukan, akan selalu menghasilkan “akibat” yang muncul dari sana. Ken- dati aftermath yang timbul mungkin tak akan terasa di dunia, kami masih percaya bahwa akan selalu ada pembalasan kepada siapapun dan dimanapun -yang berhubungan- atas “sebab” yang orang tersebut lakukan. Jika hidup memang benar-benar sebuah simulasi realistik dari game “Grand Theft Auto” yang mungkin
2. GLOSARIUM KEBENCIAN
YANG TIDAK PANTAS DIDEN-
DANGKAN KEPADA BINATANG
Hal yang getek (geli) ini terus berulang-ulang dalam benak kami. So- called-leftist-esque dan para “social justice warrior” akan selalu beranggapan bahwa ihwal tersebut merupakan hak pribadi masing-masing orang; sebagai wujud kesyukuran nikmat; sebagai bentuk apresiasi diri; sebagai bentuk penyaluran eksistensi diri; sebagai penanda chek- point pencapaian hidup; dan blab- lablabla. Ya, itu semua memang benar, kami pun sama sekali tak menentang fakta itu. Silakan lakukan apa yang kalian suka. Jika perlu, budidaya perilaku ϐlexing ini harus tetap turun temurun ilaa yaumil qi- yamah, agar kami masih tetap punya alasan untuk selalu tertawa dan ter- hibur atas apa yang kalian sebut sebagai “kemewahan hidup” (kami berbicara tentang semua strata “standar kemewahan” setiap kalangan masyarakat). Sehat-sehat kalian semua!
3. MADE IN CHINA
Ada sebuah pepatah berbunyi, “99% kan dua pengalaman konyol kami kala itu: Pertama, seorang teman han, dan 1% sisanya adalah buatan kami yang agak mabuk berat saat itu China”. Sebuah data menunjukan sudah lupa jika dia menjadi sasaran kemarahan panitia acara atas per- na menjadi yang terdepan perihal ilaku “rehe”-nya karena dikatakan persentase ekspor barang ke seluruh “telah merusak properti” set panggung mereka dengan melakukan stage ilaku dan budaya orang Tionghoa diving yang sebenarnya nggak cha- sana nyatanya tak menggoyahkan os-chaos amat (baca: sampai meru- posisi mereka sebagai salah satu sak alat); Kedua, ketika kami men- -jika boleh dikatakan-sumber daya gadakan small gigs disebuah tempat manusia yang paling produktif di yang -diluar kesepakatan- stage-nya alam jagat raya ini. Setiap negara tiba-tiba dilindungi oleh beberapa
seluruh isi dunia adalah ciptaan tu-
bahwa pada tahun 2018 silam Chi-
dunia. Semua stereotip tentang per-
pun pasti memiliki daerah “China-
berperilaku rasis dan semacamn-
ujung-ujungnya kami tak terlalu am-
-yang bisa kita lakukan-adalah kem-
sachet, masa bodo teuing lah lieur!
2 https://chinapower.csis.org/trade-partner/
4.HAIL TO THE ANTI ARCHAIC TROUPE
Lagu ini sebetulnya dibuat berdasar-
pria berbadan kekar dengan dalih
ton bayaran sebuah lenong di stasiun
Catatan penting, sangat tidak dibe-
hati loncat ke sana ke sini, hiraukan
5. IT’S ALMOST THE SAME BUT IT’S NOT THE SAME AT ALL
Kala itu jagat media sosial diheboh- kan dengan “kelakuan” Atta Halil- intar yang membuat sebuah konten youtube mengenai kesedihan Aurel Hermansyah tepat -tidak berang-
town”-nya tersendiri. Kami sama agar situasi tetap kondusif, memaksa sekali tak memiliki intensi untuk kami untuk menjadi seperti penon-
ya, tapi kami hanya heran mengapa televisi. Ya, sedikit sentimental me- orang-orang Indonesia -termasuk mang. Tapi kalau kita lihat lebih luas, kami-tidak bisa sehebat mereka fenomena gigs intruder ini memang padahal “sarua dahar sangu”. Tapi agak sedikit menjengkelkan sih.
bil pusing, karena satu hal yang pasti narkan pula untuk bertindak sesuka
bali melanjutkan siklus hidup yang semua masalah di muka bumi ini membosankan ini, sembari udud hingga merusak properti dan stage garpit dan ditemani seduhan kopi set alat yang ada. Biasa aja meureun.
sur lama-setelah istrinya itu men-kedua anak saya yang masih kecil-ke- galami keguguran. Dilanjut dengan cil serta permohonan keluarga besar kabar tentang Gofar Hilman yang saya kepada majelis hakim yang terlibat dalam tindakan pelecehan mulia, akhirilah penderitaan kami ini seksual, dan kata-kata pembelaan dengan membebaskan saya dari sega- 3 dari para penggemarnya menjadi la dakwaan…”. Kutipan dari pleidoi ramai diperbincangkan. Apakah yang diajukan oleh Sang Maha Tidak pantas bagi seorang publik ϐigur un-Bersalah, Juliari Batubara, mengenai tuk menjual kemalangan diri sendi-keterlibatan dirinya dalam kasus ri, istri, atau keluarga demi sebuah korupsi Bansos pandemi Covid-19 produk digital yang mereka sajikan, tahun 2021 silam. Sang Penyamun bukan semata-mata meraih empati mencoba melindungi dirinya sendiri khalayak melainkan udang dibalik dengan mengelak segala fakta yang batunya adalah mencoba mencari telah jelas dibeberkan, lalu mencoba keuntungan dari itu semua? Dan bermain sebagai korban yang tidak apakah hal yang bijak bagi para tahu menahu tentang masalahn- suporter seorang publik ϐigur untuk ya. Katanya, pelaku pemerkosaan menjadi ultras buzzer idola mereka dan kejahatan terhadap anak-anak yang bukannya ikut berdiri bersa-biasanya sering menjadi sasaran ma penyintas tapi malah menyerang bullying oleh para napi senior di balik penyintasnya itu sendiri? He-lembaga pemasyarakatan. Kami kira mat kami, orang-orang ini sepertin-tak ada salahnya bila pelaku korup- ya ingin mencoba menormalisasi si bansos covid ditambahkan dalam hal-hal yang mereka pikir benar, tapi sasaran tersebut untuk mendapa-ternyata berbanding terbalik den-tkan “sambutan” yang sama. gan kata benar itu sendiri. Lantas, apa itu hal yang benar-benar benar? 3 https://www.kompas.com/tren/ Tapi akhirnya, kami jadi lebih men- gerti bahwa semuanya selalu ber-7. NO SUPERMAN? NO PROBLEM gantung pada yang namanya uang. Sangat sulit untuk merubah stigma masyakarat yang dari dulu sering
6. I’D RATHER BE ROT IN dilabelkan kepada beberapa orang THESE MANOR FARMS, BUT yang berkecimpung dalam suatu THIS PLACE ARE FINE TOO bidang tertentu, yang dalam konteks
ini yaitu seorang tukang becak. “Nak, “Oleh karena itu permohonan saya, kamu harus jadi orang pintar ya, ha- permohonan istri saya, permohonan rus rajin belajar agar tidak menjadi
tukang becak”, ”Kamu kalau masih melewati kehidupannya dan bukan terus nakal kayak gini jangan salahin karena mereka ini tidak pintar. Ka-Ibu ya kalo kamu nanti udah gede lau pengertian pintar ini dinilai dari perspektif akademis, mungkin benar nya yang sering berseliweran yang mereka banyak yang kurang. Tapi kami sendiri pernah dengarkan betul apakah adil jika kita menilai mereka hanya dari perspektif akademik saja?. Penilaian itu seolah-olah hanya cak dan Nasib” dari Dion Yoga yang akan menjadi hukuman sosial yang justru akan sangat mudah digener- alisir oleh masyarakat bahwa tukang ggapan anda ketika seorang tukang becak itu memiliki stigma buruk bagi becak (mungkin) dianggap sebagai kehidupan sosial kemasyarakatan…”
jadi tukang becak”, dan stigma lain-
ketika kami masih kecil. Kami lam- pirkan kutipan tulisan “Tukang Be- 4 sangat mewakili pemikiran kami. “…Lalu apa yang menjadi dasar an-
orang bodoh? Apakah bodoh karena kenapa mau menjadi tukang becak?, dianggap bodoh karena tukang becak terstigma secara sosial sebagai pekerja berpendidikan sangat rendah?, atau berkeyakinan kalau tukang becak tidak memiliki keahlian apa-apa selain “nggenjot”? atau lebih luas lagi, apa karena tukang becak tidak mendapatkan kompensasi yang sepadan yang semestinya di- siapkan oleh negara demi kehidupan yang layak sesuai UUD 45? Bagaimana perasaan anda ketika mengetahui kalau seorang tukang becak mampu membiayai anaknya kuliah hingga selesai di fakultas kedokter- an di salah satu Universitas Negeri ternama? Bukankah kenyataan itu banyak kita jumpai? Ternyata tukang becak seperti hal nya manusia pada umumnya memiliki kewajiban dan hak yang sama dalam memper-oleh kehidupan, hanya tukang becak tersebut kurang beruntung dalam
4 https://www.kompasiana.com/akudion_017/55289c- cdf17e6190698b4593/tukang-becak-dan-nasib
8. BEHOLD! THAT FAMOUS PREACHER HAS ALLOWED THIS FOR ONCE A WEEK
5, Katanya ada 3 hal yang dapat men- gontrol fungsi ereksi bagi pria, yaitu reϐlexogenic (rangsangan sentuhan), nocturnal erection (seperti “morning wood”), dan psychogenic (rangsangan dari fantasi dan panca indera). Dari ketiga kategori diatas, psychogenic nerves (wabil khusus untuk jomblo-jomblo sange-an diseluruh dunia) menjadi alasan yang paling sering muncul, dan dalam beberapa kasus tertentu dapat mengilhami bibit-bibit perilaku sexual offend- 6 ers. Hal yang paling umum tentu berawal dari nonton si goblog bokep. Intinya pesan kami adalah use bokep responsibly. Silakan gunakan
bokep ketika memang “media peny-meremehkan wabah yang mematikan alur birahi” lainnya agak sulit untuk ini, sebagian yang lain masih tetap dijangkau, baik secara materil, moril, berpegang teguh pada pendiriann- kemampuan, dan kendala beungeut. ya, sebagian yang lain terus berkutat Tapi ketika bokep itu sendiri sudah dalam pertanyaan siapa yang salah, mulai melahirkan intensi dan fantasi sebagian yang lain tak pernah tahu diluar nalar, aturan, dan kesehatan apa yang harus mereka perbuat, dan (contoh: rapist, pedophile, sexual sebagian yang lainnya masih melan- abuse terhadap anak-anak, dan lain-jutkan perjuangannya untuk mencari lain), jauhi bokep -dan hal-hal arous-makna dari kehidupan itu sendiri. ing lain-sejauh-jauhnya dalam ruti-Rest in peace untuk semua orang nitas diri kita, berlatih menghindari yang telah gugur dalam melawan pornograϐi dan mulai mendekatkan covid, semoga tuhan memberkati. diri kepada Gusti nu Maha Suci (teu kétang, kumaha manéh wéh ieumah).
10. PREDATOR KENIK-
5 https://healthmatch.io/erectile-dysfunction/ what-nerves-control-erectile-function#how-do-MATAN HAUS ORGASME these-nerves-work-together-to-produce-an-erection 6 https://www.linkedin.com/pulse/sexual-fanta- sies-crime-risk-factors-prediction-michelle-jorgensen Sejujurnya, kami tak terlalu mempedulikan praktik promiskui- tas di kalangan anak muda masa
9. ISYARAT KEPARAT
kini, karena yang kami tahu para PENYEBAB MELARAT pelakunya memang sudah paham (bagi yang sudah paham) mengenai Pandemi Covid-19 medio 2020-2021 konsekuensi dan prinsip konsensu- dan saat puncaknya lalu seakan-akan alnya. Tapi kampretnya, masih ban-mengukuhkan pemikiran Albert yak yang sangat hobi untuk ϐlexing Camus tentang betapa absurdnya keahlian dan “kelebihan ϐisiknya”, dunia yang kita tinggali ini. Ketika seakan-akan mereka semua su- semua hal yang tidak pernah kita dah jauh melampaui ketampanan bayangkan sebelumnya, menjadi seseorang Bokir Segan dan kecanti- buah malapetaka yang rasanya tak kan Dian Sastrowardoyo dengan kunjung usai. Sebagian orang sudah potongan rambut bondol. Lagi, ini mulai lupa mengenai tujuan menga- memang perkara sentimental, tapi pa ia masih hidup, sebagian yang lain kami sedikit gatal untuk tidak mele- mulai mempertanyakan mengapa deknya. Ya, siap, kalian semua me- mereka seakan-akan “dipilih” untuk mang cantik dan tampan! Tapi kami sakit, sebagian yang lain masih terus yakin, cinta yang kalian gunakan
sebagai landasan bukan tentang butkan contohnya. Tapi sebenarnya, objeknya, melainkan predikat dari apa yang kita semua cari dan dapa- praktiknya itu sendiri. Emang ba- reuki éwéan wéh lah maranéh mah.
11. TRADISI BER-SYUKUR DI HARI RAYA
Diceritakan ada seorang pemuda pengusir rasa gugup, obat insomnia, beriman yang dijebak oleh seorang dan sumber daya bagi kebutuhan pelacur di dalam rumahnya. Ia dihadapkan oleh dua pilihan yang sulit. pembenaran bahwa kami menaϐikan Pemuda beriman tersebut diminta semua fakta betapa jahanam-nya al- untuk melakukan salah satu dari kohol, tapi berikan kami ruang untuk dua pilihan yang diberikan oleh sang berkata: Fuck off bagi kalian semua pelacur: membunuh seorang anak yang rehe; Fuck off bagi kalian semua atau menyetubuhi sang pelacur. Dan yang madot ukur keur gagayaan ketika sang pemuda menolak untuk hungkul; Fuck off and go straight to melakukan kedua pilihan tersebut, fucking hell bagi kalian semua yang sang pelacur akan berteriak bahwa tidak responsible dalam penggunaan ia telah diperkosa oleh sang pemuda. alkohol dan memilih alkohol sebagai Tapi sang pemuda beriman diberikan pilihan alternatif, yaitu me-
sang pelacur. Lantas pilihan alternatif itu pun segera ia laksanakan, yang -singkat cerita-membuat dir-
semua perbuatan dosa yang di- tawarkan; menyetubuhi sang pelacur dan membunuh seorang anak.
Benar, alkohol memang seberbaha-
kadang memang berawal dari minuman jahanam itu, tak perlu kami se-
tkan dari sebuah minuman beral- kohol? Mengapa alkohol seringkali dikambinghitamkan sebagai biang kerok dari semua permasalahan, ke- celakaan, dan tindakan kekerasan? Bagi kami, alkohol tak lebih dari sebuah penghangat perbincangan,
dopamin kami. Ini bukan tentang
shortcut untuk pemulus kalian dalam perilaku kekerasan, pelece-
GUSUR MINUMAN ENERGIKU
“Hari ini ada momen sejarah. Kita mulai (pembangunan) dengan mendahulukan kepentingan mas-
ing dijadikan tempat bermanfaat seramai Alun-alun Bandung di pu-
nenggak minuman keras bersama han, dan perilaku goblog lainnya.
inya secara tidak sadar melakukan 12. ATAS DASAR VISUAL KAU
ya itu. Tak dapat dipungkiri bahwa, yarakat. Daripada (lahan kosong) faktanya, penyebab segala kerusakan ini menjadi tempat lewat Jin mend-
sat kota,” kata Ridwan Kamil dalam lamanya di area tersebut. Mereka sambutannya saat peletakan batu digusur paksa tanpa diberi solusi pertama Taman Asia Afrika. Sebuah kemana mereka akan direlokasi. One sambutan dari walikota saat acara peletakan batu pertama Taman jutnya silih berdatangan dari rasa Asia Afrika (yang kemudian biasa bingung menjajakan dagangannya disebut warga setempat Taman Ko- rea). Pernyataan yang menurut kami tkan pelanggan setianya lagi. Dan blunder dan kurang valid. Mengapa? jika disimak betul-betul, secara ti-Karena kami ingin mempertanyakan dak langsung dengan membeli dari masyarakat yang seperti apa yang para pedagang tersebut kami telah menginginkan dibangunnya tempat berhasil meminimalisir ketergantun- rekreasi semacam itu. Seperti diketa- hui pada pertengahan 2015, ribuan korporat (baca: toko minuman be- rumah dan juga sejumlah pabrik sar legal menurut pemerintah yang yang berada di Jalan Jakarta, Jalan menjual minuman bercukai yang Banten, dan Jalan Karawang, digusur tentunya mahal), sebenarnya karena pemerintah. Warga sudah tinggal di teu boga duit loba wéh jadi manggih sana lebih dari 20 tahun. Walikota jalan alternatifna hahaha. Sama hal- menjanjikan akan membangun apar-
tematik tersebut, dilaksanakan untuk memenuhi permintaan mas-
“pesanan” dari kelompok-kelompok tertentu? Wallahualam.
“proyek strategis” pemerintah ter-
termasuk tukang ciu (baca: minuman alkohol dengan segala keari- fannya) yang sudah berniaga sekian
thing lead to another, masalah selan-
dimana hingga bagaimana mendapa-
gan kami pada toko-toko minuman
nya yang dirasakan para pedagang,
itnya merenggut kebahagiaan kami. Miris memang, demi memenuhi has-
rela melakukan apa saja tanpa memberikan solusi nyata dari datangnya
gembel tapi nihil. Mungkin dari ka-
temen rakyat sebanyak seribu unit. kami merasakan jalan alternatif kami Tapi masalahnya, apa benar dengan di jegal paksa oleh kelompok ter-dibangunnya taman yang bersifat tentu (baca: pemerintah) dan sedik-
yarakat, atau hanya memenuhi rat kelompok tertentu pemerintah
Sebenarnya di lagu ini kami tidak permasalahan-permasalahan baru. ingin membahas tentang hal-hal Sampai saat ini kami tidak tahu para berbau pemerintahan itu. Yang kami penjual ciu Jl. Jakarta ini pindah resahkan adalah bagaimana dampak kemana. Kami pun telah melaku- yang ditimbulkan dari segala macam kan pencarian-pencarian bersifat
hadap penduduk existing setempat, lian ada yang tahu larinya kemana?
13. WHEN CAMUS MET SARTRE IN A BIKINI BOTTOM’S COURTHOUSE
Kami sadar bahwa kadar ego seorang manusia sangat bervariatif, kultur nangkring yang menjangk- tak cukup untuk bisa ditakar dengan alat ukur yang universal karena di negeri ini, loba teuing nangkring ambang batasnya pun akan selalu beak duit, kurang nangkring asa menyesuaikan dengan lingkungan teu hirup. Tapi lagu ini sebetulnya dan hal-hal yang dihadapinya. Tapi lebih berkonteks sebagai gumaman ihwal alamiah yang selalu tampak, hati ketika terjebak dalam sebuah adalah bagaimana sebuah ego bisa “forum” tongkrongan runtah (baca: membuat seseorang merasa menja-
seluruh umat”. Ketika bertemu den-
indikasi yang diperlihatkan baik se-
Lagi, perihal penerimaan dan pe-
merasa dirinya tuhan bagi yang lainnya. Kalian Memang Menyedihkan.
14. LATE NIGHT WEEK-END ROUTINE
apapun tapi tetap ditenggak tentu akan menghasilkan efek samping atau ketidaknyamanan yang tidak diinginkan, setali tiga uang dengan
iti semua kalangan usia dan sosial
ngaler ngidul haha-hihi). Bayang-
diakhir bulan sepulang kerja setelah
akan check-in sebentar mengambil
hat, tak dinyana sudah banyak teman
ya makan malam dan rasa penat lelah setelah bekerja. Tai emang.
15. IT’S LUNCHTIME YOU MOTHERFUCKER
di -in superlative way- “tuhan bagi kan situasi seperti ini: Rabu malam
gan orang yang dibawah kelasnya melewati berbagai deadline peker- (dalam hal ilmu, pengetahuan, dan jaan tai anjing, rencananya Anda pengalaman), tak sungkan-sungkan ingin mengambil pesanan pre-order untuk menahbiskan dirinya sebagai yang sudah lama dinantikan diru- “Sang Maha Tahu” melalui berbagai mah teman Anda. Niat hati hanya
cara tersurat maupun sebaliknya. barang lalu pulang untuk beristira-
nilaiannya pun sulit untuk diukur lainnya yang seakan-akan mence- dan dibakukan, karena katanya gah Anda untuk pulang lebih cepat, “semua orang punya batasannya yang akhirnya membuat Anda ber-masing-masing”, But Fuck It! Satir tahan lebih lama ditengah terjangan ini ditujukan bagi semua orang yang stomach rumble akibat terlewatn-
Sebuah obat yang jika dikonsumsi Kami pikir lagu ini memiliki lirik melebihi anjuran dosisnya, ataupun yang paling lugas diantara lagu yang ketika tidak mengalami keluhan lain. Ini adalah rangkuman cara pan-
dang dan pemikiran idealis kami masih akan terus berlaku. What’s mengenai output -dalam hal ini karya makes us pleasant, it always matter. musik-dari apa yang kami sebut sebagai band-bandan. Semua orang berhak beropini, this music’s sucks, 16. TIM DUNCAN IS THE PER- that music’s awesome, blablabla…. SON WE NEED RIGHT NOW! Kami tak ingin terlalu ambil pusing dengan hal itu semua. Kita semua Ya, tak ada yang istimewa, tak pula tahu, dalam skala terkecil, perkem-memiliki makna yang tersirat. Lagu bangan zaman telah memberikan ini hanyalah sebuah nostalgic scene tekanan yang lebih besar bagi kita dari kegoblogan remaja-remaja ku- untuk dapat bertahan dalam ke-rang bergaul pada zamannya. Tapi hidupan bersosial (“bersosial” disini kami yakin, saat itu kami sangat dimaknai sebagai standar moral yang membutuhkan Tim Duncan sebagai sudah semakin men-direct tentang “petugas damkar” ulung yang selalu apa yang harus dan apa yang tidak siap siaga mengevakuasi kami dari boleh), atau setidaknya bisa berada “kebakaran” yang telah kami perbuat. di jalur yang sama dengan mayoritas. Ya, sangat cheesy sekali memang ketika mulut berkata punk, tapi raga tak lebih dari seorang masyarakat 17. PAKET SUPER DUP- mayoritas taat aturan. Tapi katan-ER HEMAT DARI KACZYNSKI ya, punk itu sendiri adalah sebuah state of mind, kalian mungkin lebih Theodore Kaczynski mungkin ada-paham, dan kami pun rasanya tak lah salah satu dari sekian orang perlu (baca: tak berkapasitas) berk-yang menyadari dan meyakini bah- hotbah lebih lanjut tentang hal itu. wa perkembangan teknologi indus-Kami kira, ketika dihadapkan dengan tri adalah sebuah kemunduran bagi fakta-fakta diatas, menjalani hidup peradaban manusia. Dalam essaynya sebaik-baiknya masih lebih penting yang berjudul “Industrial Society and 8 ketimbang mempermasalahkan hal-It’s Future” yang menjadi bendera 9 hal yang diluar kontrol kita. Akhirn-putihnya atas teror yang ia lakukan ya, dalam konteks ini, bagaimana (Kaczynski menawarkan “gencatan kalau kita sama-sama menyantap senjata” dengan pihak otoritas se- makan siang yang sudah kita cari tempat untuk berhenti melakukan dengan susah payah bercucuran ke-teror dan mengirim paket bom raki- ringat selama sebulan penuh, karena tan ke berbagai universitas, dengan there is no such things as free lunch syarat essaynya yang berjudul “In-
dustrial Society and It’s Future” di-
18. FOREVER LOS SANTOS
publikasikan dalam The Washington Post, sebelum akhirnya tetap tertang-Jika SPEED membuat lagu One Blood kap juga karena di-cepu-kan oleh ka-We Bleed sebagai ode bagi komuni- kaknya sendiri), ia curhat mengenai tas hardcore di hometown mereka, pemikirannya mulai dari modern serta Agnostic Front yang dengan leftism, revolusi, hingga probabilitas bangganya mengukuhkan For My keberhasilan genetic engineering Family sebagai tribute song bagi pada manusia. Beberapa bahasannya seluruh kawan-kawan mereka di menurut kami mungkin tidak rele-Lower East Crew, maka izinkanlah van dan berseberangan, namun lebih kami untuk sedikit “mengenang” si- banyak pula pemikiran beliau yang sa-sisa reruntuhan dari tempat kami bertemu dengan pemahaman dan berasal, yang menjadi wadah awal keyakinan kami, bahkan dewasa ini bagi kami untuk memahami apa yang sudah banyak yang terjadi dari pe- -secara universal-disebut sebagai mikiran-pemikiran yang sudah dia kolektif do-it-yourself. Kami belajar prediksikan. “Omong Kosong Sistem bagaimana mengorganisir kegia-Ini, Omong Kosong Revolusi Ini” di- tan secara mandiri, menormalisasi maknai sebagai bentuk ekspresi satir collective funding dalam seluruh dari buah perjuangan dan pemikiran agenda kami, hingga bermutualisasi beliau, ketika memang nyala obor dengan ruang-ruang grassroot lain-yang ia kobarkan sedari lalu tak ada nya. Sedikit cerita, terhitung medio yang membuatnya tetap berapi. Tapi 2012-2017 merupakan rentang ek- omong-omong, kami jadi tergelitik sistensi dari kokolektifan ini. Los untuk mengaitkan, mungkin Ted Santos sendiri diambil dari sebuah Kaczynski ini adalah seorang fanboy rumah terbengkalai yang menjadi dari band Milisi Kecoa, karena jika venue pertama kolektif ini mengor- dipikir-pikir ia adalah sebuah repre- 10 lagu Kami Marah milik mereka, ha-
untuk bisa bergerak secara kolektif.
8 https://web.cs.ucdavis.edu/~rogaway/classes/188/mate- rials/Industrial%20Society%20and%20Its%20Future.pdf 9 https://en.wikipedia.org/wiki/Unabomber_Manifesto 10 http://milisikecoa.blogspot.com/search/label/lyrics
ganisir gig (kabar terakhir rumah ini
redupnya kolektif ini bukan tentang
dengan korporat seperti yang sering banyak dinarasikan, melainkan karena pemikiran kami pribadi yang lebih mendahulukan realistis ketimbang idealis, atau mungkin lebih tepatnya kami masih belum sanggup untuk menjalani “kehidupan punk yang
sentasi yang “terlalu ekstrim” dari sudah ada yang menghuni). Namun,
nya saja dia mungkin teu boga batur perkara sellout, atau “berkompromi”
Let’s Dancing Your
“stasiun pemberhentian sementara”Asses Off Until You Fi-
nally Realize How Em- barrassed You Are
ya berakhir ketika masing-masing
sesungguhnya”. Secara gambaran umum, kami ingin meminjam kalimat
milik Herry Sutresna. Seperti cerita masa muda pada umumnya, semuan-
tokoh mulai berkutat dengan “kehidupan sebenarnya”. Ketika impian masa depan, himpitan ekonomi, dan tuntutan kebutuhan untuk bertahan hidup mulai mempersempit ruang gerak untuk terus aktif mengorganisir kolektif. Catatan penting, kami tidak akan pernah melupa- kan semua nilai-nilai yang pernah kami dapatkan dan perjuangkan.
Secara lebih luas, lagu ini kami ded- ikasikan bagi semua insan kolektif yang masih terus bergelut dan mem-
“You are the dancing queen Young and sweet, only seventeen Dancing queen Feel the beat from the tambourine, oh yeah”
“You can dance, you can jive Having the time of your life See that girl, watch that scene Digging the dancing queen”
Mungkin salah satu ungkapan yang cukup tepat untuk menggambarkan
perasaan mereka saat menari. Bu-
lihatkan bahwa dansa merupakan
sebuah ritual pelipur lara, ungkapan suka cita, maupun tradisi pen- giring kematian. Tapi sejujurnya, makan tahi dengan prolog ini, yang sangat ingin kami sampaikan adalah bagaimana keheranan sekaligus ke- takjuban kami saat memperhatikan para sobat skena spektator ekshibi- si musik-musik “bawah tanah” yang terlalu menjiwai kutipan lirik dari Dancing Queen milik ABBA diatas.
Kami tak tahu sejarah kemunculan
kanan kiri atas bawah selalu men-
terus menyala melalui masing-mas-
ingat dari mana kita semua berasal.
11 https://subkulturindonesia.wordpress. com/2017/05/18/jalan-lain-dan-batas-kompromi/ read/2021/08/10/174500065/5-poin-pleidoi-juliari--mo- hon-dibebaskan-hingga-minta-maaf-ke-jokowi-dan?page=al
pertahankan etos-etos yang telah semangat dan gairah para pemu- lama dipegang teguh; ketika tekanan da-pemudi dalam mengekspresikan
erjang, semangat pergerakan masih daya barat pun acapkali memper-
ing jalan yang diyakininya. Selalu salah satu kegiatan yang menjadi
kawan-kawan “dancer” ini -dan sama pop kultur zaman sekarang: The sekali tidak ingin tahu-tapi dari se-Worm Dance, merayap ala tentara, menjak kami mulai menyukai skena The Spongebob’s Cramp Dance, dan (entah skena apalah ini namanya) ini, gerakan-gerakan lain yang mungkin fenomena “pogo” masih terus lestari terlihat nyeleneh -semakin aneh se- sampai sekarang. Medio 2010-2012 makin keren-. Ini betul-betul kami kami ingat betul ketika kami masih temukan di gig terakhir yang kami SMP, para kader-kader penari akro-saksikan. Lalu pertanyaannya, apa- batik ini punya kegiatan akhir pekan kah salah mereka berbuat hal sema- bernama -tanpa bermaksud untuk cam itu? Dan bolehkah kita melarang berkelakar terhadap genre musik mereka untuk berbuat hal tersebut? tersebut- “Latihan Beatdown”. Sesi Mari kita coba jawab pertanyaan ini grup ini biasanya dilakukan dengan dengan menguraikan beberapa hi- menu latihan: jungkir balik; koprol; potesis berbasis asumsi mengenai tendangan tak beraturan; tendangan motif dari kawan-kawan (kami ke- putaran 360 derajat; pukulan tak be-habisan label untuk menamai mer- raturan; dan gerakan-gerakan lainn-eka) ini, dengan demikian mungkin ya yang bersifat pukulan dan tendan-setidaknya kita bisa menilai apakah gan. Semua gerakan itu dilakukan ini hal yang normal dilakukan da- secara bersamaan oleh tiap-tiap lam suatu pentas, atau bisa menja-orang dalam satu lingkaran “moshpit”, di sebuah whistleblower yang layak atau berupa semacam kontes bagi diperdebatkan bagi teman-teman orang-orang itu untuk saling menilai yang memiliki keheranan yang sama. gerakan mana yang paling sangar dan brutal dalam latihan tersebut. Motif pertama: tidak lain dan tidak Latihan ini selanjutnya akan mere-bukan adalah karena passion mereka ka salurkan dalam gigs akhir pekan akan musik itu sendiri. Tiap orang yang pada masa itu memang banyak punya caranya masing-masing saat diadakan, baik dari kawan-kawan menikmati musik dalam sebuah gig, kolektif maupun oleh tim promotor dan tipe orang ini lebih memilih panggung rigging. Di dalam moshpit menikmatinya dengan cara mereka: yang sesungguhnya itu rekan-rekan agak sulit dijelaskan tapi kalian mun- pogo-ers mengeluarkan keahliannya gkin lebih tahu yang biasa orang-yang mungkin sebelumnya telah di-orang ini lakukan saat band mulai asah dengan rajin pada saat latihan. bermain. Kita tak boleh lupa men-Hingga sampai dengan gig terakhir genai fakta bahwa beberapa adegan yang sudah kami datangi, fenomena perkelahian dalam sebuah gig selalu pogo ini makin berevolusi melahir-diawali dengan sentimen “senggol kan beberapa gerakan baru yang bacok”, dan jika dirunut ke hulunya mungkin mengikuti perkembangan (dengan mengabaikan faktor-faktor
lain) kesalahan pasti dimulai dari Motif kelima: Tak bisa menolak aja-orang yang “terlalu bersemangat” kan sirkelnya ketika datang ke gig dalam hal cara mereka menikmati untuk ikut bersenang-senang den-musiknya. Kami berbicara tentang gan cara yang biasa mereka laku-lingkup yang lebih besar dari sekadar persoalan “dancing queen” ini. Seder- hananya, jika masalah gigs intruder
elemen dari himpunan A itu sendiri.
Motif kedua: Ingin mencoba ger-
pernah mereka saksikan sebelum-
sejawat mereka; atau dari referen-
mereka tertarik untuk mencobanya.
Motif ketiga: menonton pagelar-
dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Motif keempat: terpengaruh band-
di dunia persilatan mereka. Orang-orang dengan motif ini lebih cenderung sebagai pengikut keramaian:
melakukan aksi tersebut, mereka ti-
dari itu. Tapi jika tak ada satupun yang memulai, mereka akan tetap berpo-
panggilan perang akhirnya ditabuh.
kan -mengokupasi sebagian space dalam moshpit dengan melakukan kegiatan mereka (kami kurang pa-
kan alakadarnya karena memang dipaksa untuk ikut melakukannya.
tian dan respek orang lain. Di zaman
yang memiliki kepribadian atten-
han dalam kehidupan bersosial: Bisa iya bisa tidak, karena pada akhirnya suara publik yang biasanya akan me-
kan respek kami karena masih bisa tampil maksimal dan mengabaikan prasangka buruk bagi mereka, disaat
menggerutu, mengernyitkan dahi, lalu berkelakar “ari si eta kunaon?”).
berikan gambaran tentang bagaima-
dilakukan oleh seorang makhluk hidup yang bernapas. Namun sejat-
pelaku bela diri” (oh kami masih punya ternyata) ini dengan orang-orang
adalah sebuah himpunan A, maka ham istilah untuk menggambarkan-persoalan dancing queen ini hanya nya)-. Mereka mungkin biasanya salah satu dari sekian banyaknya hanya ikut berpogo dengan gera-
akan-gerakan baru yang mungkin Motif keenam: Ingin mencari perha-
nya: dari gig terakhir yang mereka yang serba viral ini sangat mudah datangi; dari youtube; dari kawan bagi kita untuk menghakimi orang
si-referensi lainnya yang membuat tion-seeking sebagai sebuah kesala-
an musik sambil berolahraga? nentukan benar atau salahnya. Dalam Mengapa tidak. Sekali merengkuh hal ini, kami kira mereka mendapat-
wagon effect dari teman atau orang mungkin sebagian orang terdistraksi lain yang lebih dulu berkecimpung dengan tingkah laku mereka (sambil
jika crowd sudah mulai banyak yang Keenam motif diatas sedikitnya mem-
dak akan segan untuk berbuat lebih na bisa hal sedemikian uniknya itu
sisi sikap sempurna sampai dengan inya, terdapat garis tipis antara “para
yang memang bersenang-senang akan tetap berlaku. Siapalah kami dalam menikmati ketukan cepat ala ini berhak mengatur apa yang harus band hardcore pada umumnya. Bisa dilakukan oleh orang lain. Adalah hal kita rasakan sendiri atmosfer antara yang naif bila kami ingin menjejal- moshpit dengan crowd yang bergu-kan kehendak dan keinginan kami mul di depan panggung, diiringi hilir kepada orang-orang tertentu un- mudik para old-school-slammer yang tuk memiliki perspektif yang sama berlomba-lomba untuk *crowd-surf-*dengan apa yang kami ingin dan ing diantara lautan manusia seperti kehendaki. Tapi poin pentingnya, halnya crowd-set impian saat konser kendali masih tetap berada di tan- Last Show-nya Have Heart 2009 si-gan kita. Kita bisa membatasi ruang lam (maaϐkan tata bahasa memalu-lingkupnya dengan mengorganisir kan campuran kami), dibandingkan sendiri “tatanan impian” kita, atau dengan kondisi crowd yang telah menjalankan misi pendakian gunung kita pertanyakan sebelumnya dalam Everest: dengan sedikit demi sedikit paragraf diatas. Dalam beberapa mencoba mengubah apa yang telah pentas yang lebih intim semacam melenceng dari jalurnya. Dan batu studio gigs atau showcase lebih jarang bata pertama yang bisa kita susun ditemukan kehadiran para *gigs in-*untuk memulai itu semua adalah truder ini, karena memang biasanya dengan membangkitkan kembali kegiatan ini lebih eksklusif dengan gairah akan collective-based move- hanya beberapa teman dekat dari ment, yang -bisa dikatakan-menjadi *band-*nya itu sendiri yang tahu -dan salah satu motivasi bagi kita untuk diberi tahu-. Yang kami tahu kultur setidaknya bisa memperbaiki apa ini agak sedikit hilang eksistensinya yang bisa kita perbaiki, dan me- dari waktu ke waktu (terlepas dari mantik kembali hal esensial yang pengaruh pandemi covid yang masih -secara tidak sadar-sudah lama berlangsung). Jika dulu medio 2011-meredup dari tujuan utamanya. 2019 (yang kami ingat) banyak gigs kolektif yang agak rutin dilaksanakan semacam: studio gigs di Elang Musik Studio; *gigs on-the-house-*nya Rumah Pirata; dan gigs dari teman-teman kolektif lainnya yang mungkin sampai sekarang masih terus rajin dilaksanakan under the radar.
Pada akhirnya, istilah “there’s no such thing as a moral police” dalam per-skena-an duniawi masih terus dan
JANGAN PERCAYA APAPUN JUGA
CHEAPTALK BY JQ dimuat dalam zine Hardcore Sudah Mati
semua bentuk metaϐisik. Jangan percaya pada apapun terutama pada
Jangan sampai kita tertipu oleh hal-
pada hal yang kita tidak rasakan.
absolut. Pertanyakan apa yang su-
semua hal sesuai dengan kesadaran
atau perintah orang lain. Apalagi ber-
kebutuhan kita, dan keinginan kita.
kita terima dengan akal kita. Per-
semua hal belum tentu benar adan- ya, sebab semua itu juga bisa saja di rekayasa untuk membelenggu kebebasan kita. Kita punya pikiran dan sanggup berdiri diatas kaki sendiri. Terbangkan angan pikiran kita untuk berdialektika dan memberi negasi-negasi terhadap semua hal yang
sesuatu yang belum ada sebelumnya.
bab kita bebas, kita punya pilihan.
kunci hukum, sebab kita bisa melebihi hukum, akal pikiran kita bisa
badan alat negara. Jangan percaya
negara, kalau perlu pertanyakan
tuhan. Jangan seperti orang kebanyakan yang ngaku percaya sama tuhan
bahkan bikin pasukan perang un-
Apa yang ada didepan kita, jangan kita temui. Jangan menyerah dengan begitu saja kita percaya. Terutama sedikit saja cobaan, sebab barangkali kabar selentingan, omongan, dan kita akan menemukan kegunaan dari
hal-hal yang tidak kita butuhkan. Jangan hanya menurut perintah, se-
hal yang tidak dapat kita rasakan dan Kita hidup terlahir sebagai makhluk buktikan. Alami semua hal di dalam yang bebas, yang punya akal. Apapun dunia ini, alami semua kejadian yang yang akan kita lakukan pastilah kita bisa kita alami. Percaya sama apa bisa memberi alasan mengapa kita yang kita rasakan, bukan percaya melakukan hal tersebut. Jangan ter-
Buktikan semua hal yang kita temui, menginterpretasikan sesuatu lebih ragukan terus semua itu, sebab luas lagi daripada sekadar hukum tidak ada suatu kebenaran yang atau aturan yang dibuat oleh badan-
dah ada. Pertanyakan apakah kita negara, sebab mereka tidak pernah membutuhkan itu semua, mengapa merubah nasib kita. Kita yang me- kita melakukan itu semua. Kerjakan nentukan apa yang ingin kita perbuat.
kita. Jangan berdasarkan suruhan Jangan taati hukum, jangan percaya
dasarkan hukum atau ajaran turun kenapa kamu percaya sama tuhan. temurun. Lakukan itu berdasarkan Apa kebutuhan kamu percaya sama
Lakukan dengan alasan yang bisa tapi suka memaksakan kehendak
tanyakan semua hal sampai kita tuk membunuh orang lain, memang muak dengan semua itu. Sebab tuhan menghalalkan pembunuhan.
Ingat… tuhan nggak pernah mem- lit untuk kami persepsikan dalam beri hak kepada manusia untuk sebuah kata-kata. Agak terasa geli menghilangkan nyawa orang lain. mendengarnya tapi memang itu yang sebenar-benarnya kami rasakan. Jangan terprovokasi hanya karena Setelah kami telusuri, keadaan terse-rasa heroisme yang anjing edan, tapi but dinamakan dengan frisson, yang kamu pertanyakan kembali mengapa menurut Wikipedia memiliki arti se- terjadi keterasingan diantara kita. bagai sebuah respons psikologis dari Mengapa manusia masih ingin sal- rangsangan pendengaran dan peng- ing menguasai. Jadi jangan pernah lihatan yang seringkali menstimulasi percaya pada apapun juga. Percaya keadaan afektif yang menyenangkan sama semua hal yang kamu alami dan bersifat sementara. Ada pula sesuai dengan kebutuhan kamu, riset yang telah dilakukan menge- jangan lakukan hal yang berlebihan, nai fenomena “ganjil” tersebut, yang sebab ketika kita rakus, kita akan pada akhirnya didapatkan hipotesis semakin terjebak pada komodiϐi- kasi hasil rekayasa para borjuis. pembesaran volume ϐiber pada otak
article/11/6/884/2223400?log-
Does the Glamorous Bow are Way More
Important than the Un-sharp Arrows?
Tulisan ini terinspirasikan dari pengalaman kami ketika mendengar-
bahwa hal tersebut disebabkan dari
yang menjadi penyambung antara korteks pendengaran dengan area yang memproses emosi. (baca selengkapnya mengenai riset tersebut di https://academic.oup.com/scan/
in=false).
Sebagai manusia praktis yang seringkali mempunyai sikap “screw your theory, i’ll get my own prove” kami kira pendekatan secara “teoritis ilmi- ah” (atau apapun itu namanya) tidak lebih dari hanya membuka wawasan
lain-lain yang sedikit banyak su-Ketika ada beberapa orang yang tel-
kan sebuah lagu yang menimbulkan keilmuan itu sendiri dan sekadar perasaan yang sulit digambarkan “masuk kanan keluar kiri”. Tapi se- ketika mendengarkan lagu tersebut. dikit banyak, berlandaskan dari teori Nafas terasa agak sedikit sesak dan dan pengalaman tersebut, masih ada berat; dada terasa bergetar dengan hal yang mengganjal bagi kami, yaitu frekuensi yang tidak lama; leher bagaimana sebuah rangsangan pen- bagian belakang terasa dingin; ada dengaran -dalam hal ini musik-bisa perasaan senang di dalam hati; dan menyebabkan hal seunik itu terjadi.
ah mendeklarasikan dirinya bahwa dan sejalan dengan teori mengenai “this music really changed my life” “honest signal” yang sedikit kurang pada sebuah karya musik, kami kira berdeϐinisi: pesan yang tidak akan hal itu bukan bullshit naivety bela-mungkin dipalsukan kecuali dalam ka, karena pemahaman kami ber-kondisi terdesak. Kami ingin sedikit kata bahwa mereka sendiri -secara meng-highlight salah satu ide dari es- pribadi- memang merasakan hal itu say mereka yang sedikitnya bertemu (meskipun tidak dapat dipungki-dengan pemahaman dan keresahan ri bahwa sebagian yang lain hanya yang kami rasakan. Berikut kutipan-omong kosong belaka). Berkaitan nya: “Engagement with music thus dengan itu, kami kira musik memang affords access to multiple and simul- memiliki efek magis tersendiri. Kami taneously available layers of meaning, berpendapat bahwa ada substansi allowing participants in a musical be- yang menjadi salah satu pengaruh haviour to interpret the signiϔicance penting dalam pembuatan musik itu of the music individually and inde- sendiri. Kami tak mencoba berlaga pendently while collectively affording membuat deϐinisi dari fungsi sebuah to participants a sense that the music musik, tapi perasaan kami berkata embodies an honest signal. Hence mu- bahwa ada hal yang -mungkin- se-sic can be viewed as embodying the dikit luput dari kerangka berpikir characteristics of the medium opti- kebanyakan orang, yang sejatinya mally adapted for the management ingin kami ingatkan kembali dalam of social uncertainty outlined earli- tulisan sampah ini. Kami akan men-er, though one feature attributed to coba menulis kegelisahan kami ini that medium, that of being rooted in secara to the point selurus-lurusnya. mechanisms that would increase the likelihood that participants would ex- Sedikit riset gembel yang kami perience each others’ states and inten- lakukan, ada ide yang menarik dari tions as mutually manifest, remains to essay milik Ian Cross dan Ghofur be properly addressed for the case of Eliot Woodruff dalam “Music as a music.” (Cross & Woodruff, 2009:9). Communicative Medium”, yang lebih (baca selengkapnya mengenai es- kurang menguraikan bahwa musik say tersebut di https://www.music. adalah sebagai sebuah medium un-org/pdf/summit/2014medium.pdf). tuk berkomunikasi, dan secara har-Mereka mencoba mengungkapkan ϐiah mungkin bisa dikategorikan bahwa musik akan selalu meng-sebagai wadah penyampaian pesan hasilkan multi-interpretasi yang sedari satu orang -pembuat musik-layaknya tidak harus dikendalikan ke orang yang lainnya -pendengar oleh siapapun, meskipun pada akh- musik mereka-. Bahwa musik mer-irnya hanya akan ada satu manifes- upakan sebuah komunikator emosi, tasi yang memang sesuai dengan
yang ditulis oleh si penulis lagu. Ide paikan dalam sebuah musik. Objek tersebut menurut kami adalah se-substansi itu semua kami kira tidak buah sudut pandang mahfum yang bisa diwujudkan secara universal, dibangun dari kombinasi antara te-yang mana penyampaiannya pun ori dan pengalaman. Maksud kami secara eksplisit memang betul-bet- adalah, sebuah pemikiran seringkali ul dibubuhkan oleh si pembuat lagu selalu muncul dari rangkaian kon-ataupun dimaknai dalam manifes- templasi maupun pengamatan atas tasi liar yang dibuat oleh para pen- segala hal yang kita rasakan dan dengar lagu, karena “multiple layers alami, yang selanjutnya ditopang of meaning” yang disampaikan oleh oleh teori-teori pendukung yang Cross dan Woodruff sama sekali tidak selaras dengan pemikiran mereka. bisa kita kesampingkan. Kami kira tidak ada aturan baku yang harus Kami selalu percaya bahwa bobot dijadikan default “setelan pabrik” dari sebuah musik bukan melulu mengenai “siapa harus mengikuti tentang kerumitan akord yang dipi-siapa” tentang pemahaman makna lih; seberapa ear-catchy nya materi sebuah lagu, pun dengan si pembuat instrumen yang diracik; dan sefan-lagu yang tidak selayaknya menggen- tastis apa performance atau “atrak-eralisasi dan memaksakan kehen- si” yang ditampilkan. Sejatinya, ada dak mereka, akan menjadi hal yang substansi yang menjadi nilai esensial tidak menyenangkan lagi menulis yang kadang terlupakan dari sebuah musik bila hal demikian itu terjadi. musik itu sendiri, yaitu mengenai Kami kira keberagaman manifestasi makna atau pesan atau ikhtisar yang yang dihasilkan menjadi keunikan ingin disampaikan oleh si penggu-tersendiri dalam sebuah karya musik. bah musik atau penulis lagu kepada orang-orang yang mendengarkan Berkaitan dengan perwujudan pe- lagu mereka. Kami memiliki keyak-san yang disampaikan, banyak inan bahwa musik itu sendiri masih metode yang bisa diaplikasikan -dan akan selalu-menjadi alternatif kedalam berbagai macam “wadah” dari beberapa medium yang sudah yang ada. Yang paling konkret ten- ada dalam menyampaikan segala tu melalui lirik, tapi sejatinya ma- macam perasaan yang membuncah, sih banyak metode lain yang sebe- dan luapan dari pemikiran-pe-tulnya menjadi kapabilitas sebuah mikiran yang sedikitnya terlintas band, penyanyi, dan lain-lain. Kami dalam benak si penulis lagu. Hal ini coba uraikan pendapat kami se- membuat kami lebih yakin bahwa jauh yang kami tahu dan pahami. substansi yang dimaksud adalah
1. Lirik menjadi salah
mengenai pesan; isu; konteks; atau satu jalan yang paling instan un- apapun itu namanya, yang tersam-
tuk menyampaikan pesan. Kami speech selama kita merasa substansi kira tak ada yang lebih lugas dan yang ingin kita bicarakan telah ter- berkelanjutan selain melalui lirik. sampaikan. Agak naif memang, tapi
Kami kira instrumen kami ingin meminimalisir “negative musik bisa dikategorikan sebagai words” dalam tulisan ini, dan mem-wadah alternatif yang lebih ban-
berikan encouragement bagi kawan- yak menghasilkan manifestasi. kawan band yang lain agar tak perlu Jika kata-kata -lirik-lebih mudah merasa malu untuk menyampaikan diproses dan dicerna (karena ber- pendapatnya saat mereka tampil. hubungan dengan bahasa), instru-Sebuah sikap atas isu atau
men musik -yang wujudnya lebih permasalahan yang sedang terja-sulit untuk dimengerti- kami kira di kami kira bisa menjadi sebuah akan lebih cenderung “ditang- cara untuk menyampaikan pesan. kap” melalui emosi dan perasaan. Kampanye anti-rasis, anti-seksis,Penampilan atau stage act
kesetaraan gender, dan lain-lain ada-kami rasa bisa menjadi salah satu lah salah satu contoh yang sering cara yang bisa digunakan. Hampir disuarakan oleh sebuah band, yang setiap performer di setiap gigs pasti bahkan dapat melenyapkan eksis- selalu menyelipkan makna dari lagu tensi dari band itu sendiri ketika yang mereka tulis. Menurut kami ini sudah tidak sesuai dengan apa yang cukup penting untuk dilakukan, agar mereka pegang teguh. Contoh kasus audience setidaknya sedikit lebih yang kami tahu yaitu bubarnya True tahu apa yang akan mereka dengarkan. Beberapa performer kadang lebih suka menyampaikan speech tentang concern dan keresahan mereka
penampilan, yang sedikitnya berko-
mereka. Kami merasa etika dan ke- cakapan berbicara dalam menyam-
penting memperhatikan hal tersebut,
Identity terkait kasus personil mereka, Jim Hesketh, yang melakukan sexual harassment terhadap seorang fan yang berumur 14 tahun, yang
nya mengenai kasus tersebut dalam:
com/blogs/news/true-identi- ty-break-up-following-child-preda-
di scene ini-yang terjadi, dan men-
mengenai isu ataupun permasalahan dia lakukan ketika masih menjadi yang sedang terjadi di sela-sela jeda vokalis Champion. (baca selengkap-
relasi dengan salah satu dari lagu https://straightedgeworldwide.
paikan pendapat atau speech saat tion-allegations). Poinnya adalah penampilan berlangsung menjadi bagaimana kita mencoba untuk poin ke-69 atau ke-212. Tak terlalu aware terhadap isu-isu -terutama
ketika kita memang tahu apa yang coba bereaksi atas hal tersebut. sebetulnya ingin kita sampaikan. Satu hal yang pasti, sudah men-Tidak harus selalu “terlihat pintar” jadi kewajiban bagi kita untuk ketika menjelaskan keresahan dalam selalu bersama para penyintas.
rational man? man bahwa ada beberapa produk Our bodies bring us nowhere, might does not make right. There’s a gift inside your head gkin merchandise atau gimik-gimik Called your mind.”
produk tersebut, tapi yang mungkin Have Heart-Armed with a Mind
(The Things We Carry, 2006)
- Kami memiliki pemaha- karya dari sebuah band yang bukan hanya tentang sebuah musik. Mun-
lainnya termasuk kedalam alternatif
masih jarang disentuh adalah sebuah karya tulisan: artikel, leaϔlet, zine, dan media-media tulisan lainnya. Kami ingin mencoba membumikan kembali pemikiran bahwa sebuah band bukan melulu tentang rilisan musik, bahwa sebuah band sendiri memiliki kapabilitas sebagai “sekelompok mi- sionaris” yang selalu mempertanyakan keadaan dan ketidaksesuaian dari apa-apa yang sedang terjadi. Bila pun tidak bisa memberikan pengaruh terhadap yang lainnya, sedikitnya kita bisa “menyelamatkan diri kita sendiri” dengan mengetahui dan menyadari bahwa memang ada yang salah dengan realita ini. Bukankah awal tercetusnya kehidupan per-skena-an ini berasal dari keresahan dan kebosanan atas kondisi dan keadaan yang sedang terjadi?
“It’s the absent-minded fool who’s afraid to think To extend an open hand To dare to earn a thing It’s the gift inside our heads not to take for granted Because an unexamined life is a seed unplanted As the animals, they can’t reason But as humans we can So are you just a wild animal or a
YOUR EXISTENCE IS MORE POTENTIAL
THAN YOU THINK OF
Saat proses brainstorming membahas perampungan zine ini saya tak sengaja melihat koleksi rilisan musik milik teman yang sebelumnya saya tak pernah tahu akan di-reissue, yaitu album Dorr Darr Gelap Communique dari Hark! It’s A Crawling Tar-Tar yang dirilis ulang oleh Grimloc Records. Rilisan itu dibundel dengan sebuah booklet yang berisi beberapa tulisan, lirik plus eksplanasinya, juga dokumentasi foto dan ϔlyer. Saya masih ingat medio tahun 2011-an pertama kali mendapatkan album ini dari transfer ϔile mp3 koleksi lagu-lagu di pc sepupu saya, yang kebetulan selalu menjadi tempat pembaruan referensi musik bagi bocah SMP sophomore year yang ingin mulai mendengarkan musik-musik so called underground (baca: saya). Pada masa itu, ketika mencoba mendengar dan memproses semua musik-musik yang saya
dapatkan, saya seperti seorang anak langsung pinjam semuanya. Saya SD apatis yang melaksanakan study bungah ketika menemukan sebuah tour ke sebuah museum, menco- lagu yang membuat saya berpikir ba mengikuti alur kegiatan hingga dan mencoba menelurkan manifes- selesai sambil sesekali melihat dan tasi-manifestasi liar dalam mengin- melakukan lirikan singkat pada se- terpretasikan lagu tersebut. Dan 14 buah diorama dan benda-benda lagu dalam album itu benar-benar antik yang ada. Sejalan dengan im- membuat saya banyak berpikir. presi awal saya ketika pertama men-Berbagai manifestasi dan pesan yang dengarkan album Dorr Darr Gelap disampaikan di Dorr Darr Gelap Com-Communique, tak ada intensi untuk munique dibungkus sangat rapi da- mencoba mengulik lebih dalam lagi, lam campuran diksi yang -menurut karena saat itu isi kepala saya selalu dijejali dengan pemikiran “yang penting dengerin dulu aja, makin banyak yang didengerin makin bagus”. Singkat cerita, ketika saya sudah lebih memahami “materi ajar” dari pengetahuan musik yang saya dapatkan
saya-agak sulit diproses dalam satu kali bacaan. Runutan antar kalimat dalam lirik bagaikan sebuah labirin yang sekali lagi menantang pendengar untuk mencoba bertamasya dalam pengejawantahan maknanya; Dorr Darr Gelap Communique adalah
lagu tak pernah saya dapatkan dalam ilmu pendidikan praktis, dan seringkali menjadi jembatan bagi cabang-
besar” pada aspek lyrical-nya, dan ti-
juga belum pernah tahu betul lir-
Namun dibalik kegembiraan itu, muncul sebuah tanda tanya dalam
dianugerahi wahyu yang langsung
ilmu pengetahuan, referensi pe-
(saya senang menganalogikan karya sebuah holy grail yang sangat dicari musik yang saya “dengarkan” sebagai bagi para lyrics nerd. Hal tersebut sebuah ilmu pengetahuan, karena semakin mengukuhkan saya untuk sangat sering saya jumpai beberapa menahbiskan Ari Ernesto sebagai substansi yang terkandung dalam salah satu lyricist idola saya.
cabang wawasan ilmu yang lainnya), benak saya. Herry Sutresna, Ari Er- saya mulai memiliki -not in sexual nesto, Jordan Dreyer, Patrick Flynn, way-fetish terhadap lagu-lagu yang dan para penulis lirik hebat lain-mempunyai “kekuatan yang lebih nya bukanlah seorang nabi yang
dak hanya fokus pada musikalitasnya diberikan oleh Tuhan. Mereka ti- saja. Maka ketika menemukan rilisan dak serta merta dengan mudahnya Hark! It’s A Crawling Tar-Tar yang membubuhkan bait-bait lirik yang disertai lampiran booklet extras-nya “mencerahkan” pada tiap lagunya. (saya kepincut dengan judul-judul Menurut saya, ada semacam pondasi yang dibubuhkan pada lagunya, dan yang ditopang oleh hal-hal seperti:
ik-liriknya), tanpa pikir panjang saya mikiran, gagasan, wawasan, pengala-
man, dan pemahaman isu-isu sosial mungkin pernah dijalani oleh gener- kemasyarakatan. Itu semua men-asi-generasi diatas saya, atau bahkan jadi sebuah landasan yang sedikit sebaliknya. Namun sebaran ilmu dan banyak mengilhami benak mereka informasi dewasa ini seakan-akan dalam proses penulisan lirik. Ponda-terus mendobrak batas antara yang si-pondasi itu juga yang membentuk mengalami dan yang mengetahui. mereka menjadi seperti sekarang ini Pamudji Slamet (eks vokalis Runtah) (atau yang sebelumnya pernah lebih pun mengakui (dikutip dari tulisan- vokal dalam “pengaplikasiannya”). nya yang dimuat dalam zine Beyond Mulai dari produk aktual sebuah the Barbed Wire edisi pertama) bah- band (lagu) hingga mengadapta-wa salah satu faktor yang membuat sikannya ke dalam aksi nyata, adalah dirinya “tetap menjadi punk” ada-contoh konkret dari -jika boleh saya lah karena sebaran informasi yang katakan-karya yang dihasilkan dari terbatas pada saat itu. Mungkin pondasi tersebut. Tetapi, tanda tanya ceritanya akan lain jika ia hidup di itu dimulai dari sini. Jika radius cak-zaman serba digital seperti sekarang. upannya (seorang lyricist) kita coba Lagipula di era ini, bagi masyarakat stretch lebih besar (seorang personil dengan common sense “mayoritas”, band), semakin besar (insan-insan semuanya dituntut untuk lebih men- perskenaan duniawi), dan lebih besar garah ke hal yang pragmatis dalam lagi (semua orang yang melabeli di-setiap aspek, and everyone needs a rinya sebagai punk), seberapa besar straight solution. Maka sudah selay- urgensi kita untuk memiliki “pon-aknya jawaban yang disajikan baikn- dasi-pondasi” tersebut? Atau jika ya sesuai dengan yang diharapkan. kita semua memang tidak seserius itu, bagaimana jika kita fokus pada Kita sebenarnya punya kapabilitas salah satu layer terluar yang ingin yang lebih besar dari yang kita kira, saya bahas: Apa sih yang sebenarnya namun secara tidak sadar itu semua kita (yang katanya sebagai generasi terbatasi dengan hanya sekadar “suka penerus dari kehidupan subkultur musiknya aja”. Akuilah, beberapa dari ini) bisa lakukan di dalam subkultur kita bahkan masih berada di fase “a ini? poser-esque spectator” di dalam dunia persilatan ini. Emangnya itu salah Saya pikir akan terlalu basi jika saya yah? Tentu saja bisa saya katakan coba kaitkan poin pertanyaan dia-tidak, karena itu hak setiap mas- tas dengan semua sejarah mengenai ing-masing orang. Tapi jika kita in- counterculture punk. Saya memang gin mencoba menjawab pertanyaan anak ingusan dari Generasi Z yang diatas, maka sudah barang tentu tak pernah mengalami betul tentang boundaries yang ditancap dalam kesahihan dari punk itu sendiri, yang “suka musiknya aja” harus benar-be-
nar kita remukkan. Terus saya harus
teman nyetir dijalan; penambah semangat ketika jogging; atau backsong
stone pertama yang bisa kita lakukan
(selalu ingat perbedaan antara “den-
betul suatu karya musik, akan tera-
mendengar musik. Selanjutnya, saya
identik: mempelajari lagu, memaha-
sedikit riset gembel mengenai “kand-
mendapatkan referensi yang baru.
Ok, saya udah mulai “mendengarkan” musik, saya harus gimana lagi? Ketika
sudah memahami betul bahwa mayoritas keresahan yang ada dalam se-
dunia yang pernah-sedang-akan terjadi. Berbagai macam metode penyampaian pesan yang dipakai men-
masing-masing lagu dan band. Lan-
apa yang kita dapatkan dari musik,
tidak harus selalu bersinggungan dengan apa yang kita dapatkan se-
ha) untuk cari ilmu pengetahuan dan
ilmu yang diamalkan. Yes, the world’s
fucked up. Namun semakin kita sadar
mungkin gerakan untuk mencoba
bentuk. Ketika kita sudah mencoba
jalani dalam skena ini, sedikitnya pasti akan menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri kita. Penyaluran perasaan tidak nyaman ini yang
agai macam cara, yang selebihnya saya kira pasti sedikit banyak dikua-
alan ketidaknyamanan dan keresahan ini, ketika sama-sama dirasakan juga oleh orang lain, saya kira dapat
selanjutnya bisa kita katakan sebagai
gimana dong? Mencoba mulai sadar kita harus tahu pula tentang berb-bahwa musik bukan hanya sekadar agai realitas-realitas lainnya yang
penyamar suara ewean. Musik (dan belumnya. Poinnya adalah selalu cari segala yang ada dalam lingkupnya) tahu dan pertanyakan terus tentang bagaikan sebuah jurnal atau catatan semua hal. Gunakan internet bukan yang membukakan jalan bagi ilmu hanya untuk ngapornhub saja, tapi pengetahuan. Maka dari itu, stepping juga (ngabokep ge penting sih haha-
adalah mulai “mendengarkan” musik hal-hal yang bermanfaat lainnya.
gar” dan “mendengarkan”). Ketika Sudah cukup sampai disini? Saya kita memang benar-benar menelaah rasa tidak. Ilmu yang baik adalah
sa bedanya dengan hanya sekadar still fucked up when we know it was
kira hal itu akan menimbulkan suatu bahwa realitasnya banyak hal yang kebiasaan yang alurnya pun pasti tidak baik-baik saja, bukan tidak
mi lirik dan pesannya, browsing dan merubah hal itu akan sendirinya ter-
ungan” dalam lagu atau band terkait, lebih peka terhadap isu-isu yang se- dan ilmu baru pun didapatkan. Siklus dang terjadi, terlebih lagi yang bers- ini akan terus berulang ketika kita inggungan dengan yang sedang kita
sudah berada di fase ini, seharusnya akhirnya diaplikasikan melalui berb-
buah lagu pasti diambil dari realitas sai oleh ego dan keberanian. Gump-
jadi suatu ciri khas tersendiri bagi menimbulkan hal-hal potensial yang
tas, agar selalu tersinkron dengan sebuah “ancaman” yang menurut
para dedengkot-dedengkot punk all dengan apa yang kita masing-masing over the world sudah lama pudar di-yakini. Silakan tularkan nilai-nilai makan jaman. Jangan pernah mera-yang kalian jalani, tapi jangan pernah sa tidak diikutsertakan, semuanya coba paksakan itu semua pada setiap bisa bergerak melalui perannya orang yang kalian tularkan. Mari kita masing-masing. Bagi kawan-kawan ajarkan para bedebah fasis-fasis itu yang “diberkahi” jejaring luas (atau tentang bagaimana caranya bertoler- yang tidak pun) bisa memanfaat-ansi antar sesama. Paragraf terakhir kan inϔluencing ability-nya untuk dari essay milik Pam dalam “Akuilah terus mempromosikan movement Bahwa Kita Adalah Pecundang: (I) atau raising issue yang sedang terja-Kegagalan Punk” saya kira bisa men- di, wabilkhusus di dalam subkultur jadi closing statement yang membara. ini. Bagi kawan-kawan yang merasa “less powerful” bisa terus mengikuti “Semuanya tergantung kita sendi-kabar terkini dan bisa ikut andil da-ri, apakah kita akan terus berdiam lam setiap pergerakan yang sedang diri dan menjalani saja apa yang ada dan akan terjadi, syukur-syukur bisa tanpa berusaha untuk membuat ses- menginisiasi sendiri dan ikut mem-uatu menjadi lebih baik, ataukah kita bantu kawan-kawan whistleblower belajar mengoreksi diri kita sendiri yang terus aktif dalam radar. Semua demi perbaikan dan kemajuan bagi kemungkinan bisa kita coba, selama diri kita sendiri maupun bagi semua kita tahu betul apa yang sudah sep-penghuni scene ini, saat ini dan yang antasnya benar. akan datang. Semuanya tergantung pada diri kita.” Sekali lagi ingin saya katakan bahwa tulisan ini bukan sebuah langkah-langkah “how to be a modern punk”, atau cara agar supaya keren dan beken tai ucing. Ini murni sebagai sebuah ekspresi keresahan
NOW IS THE TIME
yang muncul dari kontemplasi dan pengalaman, yang bersyukurnya saya dianugerahi kemampuan untuk bisa Dikutip dari pagelaran Sound and menuliskannya kedalam artikel ini. Fury 2019 lalu, Patrick Flynn pernah Semua orang punya caranya sendiri berpendapat dalam outro-speech-untuk mengaplikasikan nilai-nilain- show nya, “start your own fucking ya, tak pernah ada aturan baku yang band, don’t wait on the past, you con- dibuat. Semua berhak bebas. Satu trol you, peace and love”. Sedikitnya hal yang pasti, mari kita sama-sama bisa kita simpulkan bahwa ketika jalani kehidupan subkultur ini sesuai
beberapa pribadi yang telah berke-Dibawah ini tertera lagu-lagu dari daft- cimpung dalam skena “abang-aban-ar putar yang kami beri judul “Playlist gan” medio 2000-an silam, yang Keren Banget Waw Duarrr”. Selamat merasa bahwa terdapat perubahan yang signiϐikan dalam perjalanan scene ini, ada beberapa hal yang memang telah melenceng jauh dari yang mereka perkirakan. Tak ada yang mengira perkembangan scene “keramat” ini bisa melesat sejauh apa yang telah mereka perkirakan pada masa lalu. Intinya adalah, mereka terlalu lelah dengan orang-orang yang memang “belum bisa move on” dari kejayaan para “raksasa” skena dari generasi sebelumnya. lalu pertanyaannya adalah, apakah kita bisa menjawab keresahan yang mereka rasakan? dan bagaimana caranya? Jawabannya sangat sederhana: adalah dengan ikut andil dan menjadi bagian dari pergerakan itu sendiri. Bisa dikatakan bahwa kita adalah perpanjangan tangan dari generasi sebelum kita. Layaknya sebuah tradisi pada umumnya, eksistensi akan memudar bila suatu hal tidak dilestarikan secara turun temurun kepada generasi berikutnya. Panggilan pengingat telah disuarakan; semangat dan persistensi siap dipertahankan. Terus organisir lingkaran terkecil dibawah radar. Ban- gun jejaring seluas yang bisa kalian dapatkan. Terapkan selalu semangat pergerakan dan kolektif semampu kalian. Karena sekarang bukan lagi nanti. Karena sekarang adalah waktunya. Peace out.
menikmati.
1. U2 - MLK
2. Dropdead-The Circle Com-
plete
- La Dispute-King Park
4. Have Heart-Armed With A
Mind
Touché Amoré-Anyone /
AnythingElectro Hippies-Am I Punk
Yet?Deaϐheaven-Sunbather
8. D’Lloyd-Hidup Di Bui
9. Dead Prez-They School
10. Crass-End Result
11. DS 13 - Proletarian Song
12. Vitamin X-Herida Profunda
13. Fugazi-Arpeggiator
14. House of Pain-Top O’ the
Morning to Ya
15. Charles Bradley-Changes
16. Suzanne Vega-Tom’s Diner
17. Orchid-Death of a Modern-
ist
- Benyamin Sueb-Superman
19. Napalm Death-You Suffer
20. Forgotten-Tuhan Telah
Mati
- The Cure-Picture Of You
22. Milk-Outpunk