ZINE#1
Préambule: The Only Limit Is You
“Of course, social media platforms have hardly tamed the new generation. Continuing the process of assimilation and reinvention, today’s uprisings draw on every aspect of punk that could not be domesticated, commodiϐied, or outϐlanked. Riots without punk shows; black sweatshirts without patches on them, so the police can’t identify you; deϐiance and rebellion without anthems, without aesthetics, without hope. If anything, we have overcorrected against the vestiges of the hippie era that persisted in the ϐirst phase of punk. When the Pistols came out, they were reacting against a subculture that involved too much art, and not enough rebellion; too much entertainment, and not enough disruption; too much optimism, and not enough reality. As we move deeper into a century that is already characterized by destruction and despair, we could do with a little more art, creativity, and optimism.” (Crimethinc, 2022)
Whatever the fuck you call it, (for us) it remains alive. Mungkin dalam perjalanannya di nusantara ini memang telah bermutasi menjadi suatu sub-genetik baru, yang memang tak pernah dilahirkan dari embrio yang sama dengan yang aslinya. Beratus-ratus teori dan manifestasi dalam pengejawantahan maknanya,
bertahun-tahun perdebatan tentang mana yang paling shahih, bagaikan sebuah lika-liku tak berkesudahan dari labirin yang kita sendiri sedang beromantisir didalamnya. Semuanya akan terus berkutat dalam jebakan labirin yang sama bila kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kita bisa dan mampu lakukan dalam kehidupan subkultur ini.
Kami adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tertampar oleh sebuah “penegasan” dari Have Heart melalui single terakhir kali nya yang berjudul Lions and Lambs. Fakta bahwa apa yang telah selama ini kami lakukan tak pernah membuat kami sadar bahwa kami hanya berjalan di tempat dan tak pernah berlari; kami adalah objek dari apa-apa yang mereka sayangkan keberadaannya.
Namun yang terpenting dari itu semua adalah tentang bagaimana reaksi yang bisa kita timbulkan atas munculnya suatu kesadaran tersebut. Semuanya hanya akan menjadi “sebuah pengetahuan” bila akhirnya hanya mentok pada batasan “sadar saja”. Beberapa substansi memang sudah selayaknya hanya berhenti dalam taraf pengetahuan, tapi ketika kita tahu bahwa ada hal yang memang benar-benar bisa kita lakukan dari hasil “proses menyadari” tersebut, maka sudah selayaknya pula bila kita dapat memulai untuk mengambil langkah pertama dari reaksi tersebut.
Zine ini merupakan wadah tambahan dari berbagai pemikiran yang tidak tertampung dalam materi musik kami. Bukan hanya birahi saja yang harus disalurkan, tetapi pemikiran pun harus tetap kudu bucat hahaha. Beberapa tulisan diambil dari rangkaian kontemplasi dan point of view kami terhadap apa-apa yang sedang terjadi dewasa ini, khususnya dalam lingkup subkultur yang sedang kita semua jalani. Kami rasa agak penting untuk mendokumentasikan luapan pemikiran ini karena jika tidak dituliskan biasanya sering lupa dan ikut menguap bersama hembusan asap rokok.
Pada akhirnya, hanya diri kita sendiri yang benar-benar bisa kita kendalikan, dan diri kita sendiri pula yang menjadi batasan utama diantara semua kesempatan-kesempatan yang ada. Sudah saatnya kita semua membangun tatanan skena ideal kita sendiri. Nyala obor dari present generation subkultur ini harus tetap menyala dan selalu membakar semua ketidaksesuaian yang ada.
You have a voice, express your anger You have a mind, deny their power You have two eyes, know your enemy You have one life, the choice is yours!
Dropdead - You Have A Voice (Self Titled, 1993)
Gabungan Romusha Ngamuk: Eksplanasi Lirik
Pasca penjajahan “fase kedua” oleh Jepang circa 1945-1947, jalur Tagogapu-Padalarang1 pada masanya pernah menjadi jalur yang profan bagi para pemakai jalan dan siapapun yang dirasa memiliki kekayaan yang lebih daripada yang lain. Adalah sekumpulan eks romusha yang menjadi dalang dari seramnya jalur antar-wilayah tersebut. Mereka dipulangkan setelah akhirnya Jepang dipukul mundur dari Indonesia oleh serangkaian peristiwa yang berkaitan sebelumnya. Masyarakat kala itu memanggil mereka dengan sebutan garong yang merupakan akronim dari gabungan romusha ngamuk. “Entah bagaimana mereka kemudian menjadi orang-orang jahat yang kerjaannya merampok orangorang yang lewat di wilayah Padalarang dan sekitarnya. Para garong ini tidak peduli korbannya orang Republik atau pihak Belanda, selama bertahta dan berduit maka mereka akan menyikatnya tanpa ampun.”1 Ya, nama band ini terinspirasi dari orang-orang “pesakitan” yang memilih meneruskan hidup mereka untuk menjadi segerombolan bangsat. Kami tak ingin menelusuri lebih jauh mengenai motif dari para eks romusha ini, namun ada hal lain yang
sedikitnya bertemu dengan tujuan kami dalam “meminjam” nama mereka. Dikatakan bahwa para gabungan romusha ngamuk ini tak akan pandang bulu dalam menjarah, mereka tak mempedulikan tingkatan derajat, harkat, dan martabat korbannya selama orang-orang itu masih punya harta untuk mereka rampas. Dengan berbekal semua pengalaman dan kemalangan saat dipaksa mencicipi panasnya “neraka”, opsi yang tersedia bagi mereka untuk menentukan pilihan hidup seakan-akan mengerucut kedalam satu titik yang sangat mungkin dicampuri oleh sentimen dendam, kemarahan, pembalasan, dan kebebasan. Stigma dan respon negatif dari masyarakat mengenai perilaku keharaman mereka pun seakan-akan hanya menjadi substansi “masuk kanan keluar kiri”. Yang terpenting adalah bagaimana mereka bisa menjalani kehidupan yang mereka percayai, perihal jawaban antara benar atau salah terbatasi oleh sekat tipis tak bercelah bernama kematian. Berkaitan dengan wasilah kami dalam memulai band-bandan yang orowodol ini, sangat barang tentu tujuan kami tak seekstrim seperti narasi yang kami ungkapkan diatas, kami masih tidak seberani itu. Melainkan ide utama dari perilaku garong itu sendiri yang menjadi inspirasinya. Tapi, instead of menjarah, merampas, ataupun perilaku “mengambil” lainnya, kami dengan senang
hati akan “memberi” kepada semua orang -kaya, miskin, baik, jahat, cantik, jelek, dan semua turunan yin dan yang- tentang apa yang kami pikirkan dan kami rasakan sejauh pengetahuan yang kami punya. Band "an introvert-esque power(that hate) violence quartet” ini sejujurnya tak lebih dari sekumpulan “masyarakat awam kurang pintar takut neraka” yang ingin mencoba bersuara perihal apapun yang berbagi kegemaran musik yang sama. “Mun teu hoream” adalah satu-satunya batasan yang kami pasang dalam semua aktivitas band-bandan orowodol kami. Terakhir, kami ingin mengutip sedikit ide dari Jean-Paul Sartre bahwa “manusia dikutuk untuk menjadi bebas, karena ketika telah dilahirkan ke dunia, manusia bertanggungjawab atas semua hal yang mereka lakukan”. Menjadi bebas bukan hanya sekadar bisa dan mampu melaksanakan semua hasrat yang terkekang tanpa menghiraukan hukum sebab-akibat dari tindakan yang dilakukan. Lebih dari itu, sebagai makhluk hidup yang dianugerahi akal sehat dan otak yang bisa berpikir, sedikitnya kita harus tahu tentang apa yang sebetulnya kita -dan akan- lakukan, dan akhirnya memegang tanggung jawab penuh atas hal itu semua.
1. BEASISWA GRATIS UNTUK MUDA MUDI RICHMOND
Masih ingat dengan rentetan misi bom bunuh diri sebuah keluarga yang menargetkan beberapa gereja di Surabaya awal tahun 2021 silam? Atau dengan “trendinya” kembali agenda-agenda mass shooting yang belakangan terjadi di seluruh penjuru dunia? Atau bagi semua orang diluar sana yang dengan sewenang-sewenangnya memaksakan kehendak dan kuasa mereka melalui jalan kekerasan, kebrutalan, kebiadaban, serta membuang jauh sisi privat dan hak dari masing-masing orang? Kami jadi tergerak untuk beranggapan bahwa sebuah kepercayaan akan sesuatu hal dapat membuat manusia untuk melakukan hal-hal yang diluar batas kewajaran dan akal sehat, membutakan semua aspek kehidupan demi sebuah capaian akan tujuan perilakunya. Dalam lagu ini, kami ingin menunjukan bahwa tak peduli seberapa kecil substansi dari “sebab” yang dilakukan, akan selalu menghasilkan “akibat” yang muncul dari sana. Kendati aftermath yang timbul mungkin tak akan terasa di dunia, kami masih percaya bahwa akan selalu ada pembalasan kepada siapapun dan dimanapun -yang berhubungan- atas “sebab” yang orang tersebut lakukan. Jika hidup memang benar-benar sebuah simulasi realistik dari game “Grand Theft Auto” yang mungkin
secara tidak langsung tertanam dalam benak orang-orang diatas, maka izinkanlah kami untuk tetap berteriak dan selalu mendo’akan “yang terbaik” bagi mereka di alam dunia dan kubur (baca: neraka) sana
2. GLOSARIUM KEBENCIAN YANG TIDAK PANTAS DIDENDANGKAN KEPADA BINATANG
Hal yang getek (geli) ini terus berulang-ulang dalam benak kami. Socalled-leftist-esque dan para “social justice warrior” akan selalu beranggapan bahwa ihwal tersebut merupakan hak pribadi masing-masing orang; sebagai wujud kesyukuran nikmat; sebagai bentuk apresiasi diri; sebagai bentuk penyaluran eksistensi diri; sebagai penanda chekpoint pencapaian hidup; dan blablablabla. Ya, itu semua memang benar, kami pun sama sekali tak menentang fakta itu. Silakan lakukan apa yang kalian suka. Jika perlu, budidaya perilaku ϐlexing ini harus tetap turun temurun ilaa yaumil qiyamah, agar kami masih tetap punya alasan untuk selalu tertawa dan terhibur atas apa yang kalian sebut sebagai “kemewahan hidup” (kami berbicara tentang semua strata “standar kemewahan” setiap kalangan masyarakat). Sehat-sehat kalian semua!
3. MADE IN CHINA
Ada sebuah pepatah berbunyi, “99% seluruh isi dunia adalah ciptaan tuhan, dan 1% sisanya adalah buatan China”. Sebuah data2 menunjukan bahwa pada tahun 2018 silam China menjadi yang terdepan perihal persentase ekspor barang ke seluruh dunia. Semua stereotip tentang perilaku dan budaya orang Tionghoa sana nyatanya tak menggoyahkan posisi mereka sebagai salah satu -jika boleh dikatakan- sumber daya manusia yang paling produktif di alam jagat raya ini. Setiap negara pun pasti memiliki daerah “Chinatown”-nya tersendiri. Kami sama sekali tak memiliki intensi untuk berperilaku rasis dan semacamnya, tapi kami hanya heran mengapa orang-orang Indonesia -termasuk kami- tidak bisa sehebat mereka padahal “sarua dahar sangu”. Tapi ujung-ujungnya kami tak terlalu ambil pusing, karena satu hal yang pasti -yang bisa kita lakukan- adalah kembali melanjutkan siklus hidup yang membosankan ini, sembari udud garpit dan ditemani seduhan kopi sachet, masa bodo teuing lah lieur!
2 https://chinapower.csis.org/trade-partner/
4.HAIL TO THE ANTI ARCHAIC TROUPE
kala itu: Pertama, seorang teman kami yang agak mabuk berat saat itu sudah lupa jika dia menjadi sasaran kemarahan panitia acara atas perilaku “rehe”-nya karena dikatakan “telah merusak properti” set panggung mereka dengan melakukan stage diving yang sebenarnya nggak chaos-chaos amat (baca: sampai merusak alat); Kedua, ketika kami mengadakan small gigs disebuah tempat yang -diluar kesepakatan- stage-nya tiba-tiba dilindungi oleh beberapa pria berbadan kekar dengan dalih agar situasi tetap kondusif, memaksa kami untuk menjadi seperti penonton bayaran sebuah lenong di stasiun Lagu ini sebetulnya dibuat berdasarkan dua pengalaman konyol kami televisi. Ya, sedikit sentimental memang. Tapi kalau kita lihat lebih luas, fenomena gigs intruder ini memang agak sedikit menjengkelkan sih. Catatan penting, sangat tidak dibenarkan pula untuk bertindak sesuka hati loncat ke sana ke sini, hiraukan semua masalah di muka bumi ini hingga merusak properti dan stage set alat yang ada. Biasa aja meureun.
5. IT’S ALMOST THE SAME BUT IT’S NOT THE SAME AT ALL
Kala itu jagat media sosial dihebohkan dengan “kelakuan” Atta Halilintar yang membuat sebuah konten youtube mengenai kesedihan Aurel Hermansyah tepat -tidak berang-
sur lama- setelah istrinya itu mengalami keguguran. Dilanjut dengan kabar tentang Gofar Hilman yang terlibat dalam tindakan pelecehan seksual, dan kata-kata pembelaan dari para penggemarnya menjadi ramai diperbincangkan. Apakah pantas bagi seorang publik ϐigur untuk menjual kemalangan diri sendiri, istri, atau keluarga demi sebuah produk digital yang mereka sajikan, bukan semata-mata meraih empati khalayak melainkan udang dibalik batunya adalah mencoba mencari keuntungan dari itu semua? Dan apakah hal yang bijak bagi para suporter seorang publik ϐigur untuk menjadi ultras buzzer idola mereka yang bukannya ikut berdiri bersama penyintas tapi malah menyerang balik penyintasnya itu sendiri? Hemat kami, orang-orang ini sepertinya ingin mencoba menormalisasi hal-hal yang mereka pikir benar, tapi ternyata berbanding terbalik dengan kata benar itu sendiri. Lantas, apa itu hal yang benar-benar benar? Tapi akhirnya, kami jadi lebih mengerti bahwa semuanya selalu bergantung pada yang namanya uang.
6. I’D RATHER BE ROT IN THESE MANOR FARMS, BUT THIS PLACE ARE FINE TOO
“Oleh karena itu permohonan saya, permohonan istri saya, permohonan
kedua anak saya yang masih kecil-kecil serta permohonan keluarga besar saya kepada majelis hakim yang mulia, akhirilah penderitaan kami ini dengan membebaskan saya dari segala dakwaan…”3 . Kutipan dari pleidoi yang diajukan oleh Sang Maha Tidak Bersalah, Juliari Batubara, mengenai keterlibatan dirinya dalam kasus korupsi Bansos pandemi Covid-19 tahun 2021 silam. Sang Penyamun mencoba melindungi dirinya sendiri dengan mengelak segala fakta yang telah jelas dibeberkan, lalu mencoba bermain sebagai korban yang tidak tahu menahu tentang masalahnya. Katanya, pelaku pemerkosaan dan kejahatan terhadap anak-anak biasanya sering menjadi sasaran bullying oleh para napi senior di lembaga pemasyarakatan. Kami kira tak ada salahnya bila pelaku korupsi bansos covid ditambahkan dalam sasaran tersebut untuk mendapatkan “sambutan” yang sama.
3 https://www.kompas.com/tren/
7. NO SUPERMAN? NO PROBLEM
Sangat sulit untuk merubah stigma masyakarat yang dari dulu sering dilabelkan kepada beberapa orang yang berkecimpung dalam suatu bidang tertentu, yang dalam konteks ini yaitu seorang tukang becak. “Nak, kamu harus jadi orang pintar ya, harus rajin belajar agar tidak menjadi
tukang becak”, ”Kamu kalau masih terus nakal kayak gini jangan salahin Ibu ya kalo kamu nanti udah gede jadi tukang becak”, dan stigma lainnya yang sering berseliweran yang kami sendiri pernah dengarkan betul ketika kami masih kecil. Kami lampirkan kutipan tulisan “Tukang Becak dan Nasib” dari Dion Yoga4 yang sangat mewakili pemikiran kami. “…Lalu apa yang menjadi dasar anggapan anda ketika seorang tukang becak (mungkin) dianggap sebagai orang bodoh? Apakah bodoh karena kenapa mau menjadi tukang becak?, dianggap bodoh karena tukang becak terstigma secara sosial sebagai pekerja berpendidikan sangat rendah?, atau berkeyakinan kalau tukang becak tidak memiliki keahlian apa-apa selain “nggenjot”? atau lebih luas lagi, apa karena tukang becak tidak mendapatkan kompensasi yang sepadan yang semestinya disiapkan oleh negara demi kehidupan yang layak sesuai UUD 45? Bagaimana perasaan anda ketika mengetahui kalau seorang tukang becak mampu membiayai anaknya kuliah hingga selesai di fakultas kedokteran di salah satu Universitas Negeri ternama? Bukankah kenyataan itu banyak kita jumpai? Ternyata tukang becak seperti hal nya manusia pada umumnya memiliki kewajiban dan hak yang sama dalam memperoleh kehidupan, hanya tukang becak tersebut kurang beruntung dalam
melewati kehidupannya dan bukan karena mereka ini tidak pintar. Kalau pengertian pintar ini dinilai dari perspektif akademis, mungkin benar mereka banyak yang kurang. Tapi apakah adil jika kita menilai mereka hanya dari perspektif akademik saja?. Penilaian itu seolah-olah hanya akan menjadi hukuman sosial yang justru akan sangat mudah digeneralisir oleh masyarakat bahwa tukang becak itu memiliki stigma buruk bagi kehidupan sosial kemasyarakatan…”
4https://www.kompasiana.com/akudion_017/55289ccdf17e6190698b4593/tukang-becak-dan-nasib
8. BEHOLD! THAT FAMOUS PREACHER HAS ALLOWED THIS FOR ONCE A WEEK
Katanya5, ada 3 hal yang dapat mengontrol fungsi ereksi bagi pria, yaitu reϐlexogenic (rangsangan sentuhan), nocturnal erection (seperti “morning wood”), dan psychogenic (rangsangan dari fantasi dan panca indera). Dari ketiga kategori diatas, psychogenic nerves (wabil khusus untuk jomblo-jomblo sange-an diseluruh dunia) menjadi alasan yang paling sering muncul, dan dalam beberapa kasus tertentu dapat mengilhami bibit-bibit perilaku sexual offenders6 . Hal yang paling umum tentu berawal dari nonton si goblog bokep. Intinya pesan kami adalah use bokep responsibly. Silakan gunakan
bokep ketika memang “media penyalur birahi” lainnya agak sulit untuk dijangkau, baik secara materil, moril, kemampuan, dan kendala beungeut. Tapi ketika bokep itu sendiri sudah mulai melahirkan intensi dan fantasi diluar nalar, aturan, dan kesehatan (contoh: rapist, pedophile, sexual abuse terhadap anak-anak, dan lainlain), jauhi bokep -dan hal-hal arousing lain- sejauh-jauhnya dalam rutinitas diri kita, berlatih menghindari pornograϐi dan mulai mendekatkan diri kepada Gusti nu Maha Suci (teu kétang, kumaha manéh wéh ieumah).
5 https://healthmatch.io/erectile-dysfunction/ what-nerves-control-erectile-function#how-dothese-nerves-work-together-to-produce-an-erection 6 https://www.linkedin.com/pulse/sexual-fantasies-crime-risk-factors-prediction-michelle-jorgensen
9. ISYARAT KEPARAT PENYEBAB MELARAT
Pandemi Covid-19 medio 2020-2021 dan saat puncaknya lalu seakan-akan mengukuhkan pemikiran Albert Camus tentang betapa absurdnya dunia yang kita tinggali ini. Ketika semua hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, menjadi sebuah malapetaka yang rasanya tak kunjung usai. Sebagian orang sudah mulai lupa mengenai tujuan mengapa ia masih hidup, sebagian yang lain mulai mempertanyakan mengapa mereka seakan-akan “dipilih” untuk sakit, sebagian yang lain masih terus
meremehkan wabah yang mematikan ini, sebagian yang lain masih tetap berpegang teguh pada pendiriannya, sebagian yang lain terus berkutat dalam pertanyaan siapa yang salah, sebagian yang lain tak pernah tahu apa yang harus mereka perbuat, dan sebagian yang lainnya masih melanjutkan perjuangannya untuk mencari makna dari kehidupan itu sendiri. Rest in peace untuk semua orang yang telah gugur dalam melawan covid, semoga tuhan memberkati.
10. PREDATOR KENIKMATAN HAUS ORGASME
Sejujurnya, kami tak terlalu mempedulikan praktik promiskuitas di kalangan anak muda masa kini, karena yang kami tahu para pelakunya memang sudah paham (bagi yang sudah paham) mengenai konsekuensi dan prinsip konsensualnya. Tapi kampretnya, masih banyak yang sangat hobi untuk ϐlexing keahlian dan “kelebihan ϐisiknya”, seakan-akan mereka semua sudah jauh melampaui ketampanan seorang Bokir Segan dan kecantikan Dian Sastrowardoyo dengan potongan rambut bondol. Lagi, ini memang perkara sentimental, tapi kami sedikit gatal untuk tidak meledeknya. Ya, siap, kalian semua memang cantik dan tampan! Tapi kami yakin, cinta yang kalian gunakan
sebagai landasan bukan tentang objeknya, melainkan predikat dari praktiknya itu sendiri. Emang bareuki éwéan wéh lah maranéh mah.
11. TRADISI BERSYUKUR DI HARI RAYA
Diceritakan ada seorang pemuda beriman yang dijebak oleh seorang pelacur di dalam rumahnya. Ia dihadapkan oleh dua pilihan yang sulit. Pemuda beriman tersebut diminta untuk melakukan salah satu dari dua pilihan yang diberikan oleh sang pelacur: membunuh seorang anak atau menyetubuhi sang pelacur. Dan ketika sang pemuda menolak untuk melakukan kedua pilihan tersebut, sang pelacur akan berteriak bahwa ia telah diperkosa oleh sang pemuda. Tapi sang pemuda beriman diberikan pilihan alternatif, yaitu menenggak minuman keras bersama sang pelacur. Lantas pilihan alternatif itu pun segera ia laksanakan, yang -singkat cerita- membuat dirinya secara tidak sadar melakukan semua perbuatan dosa yang ditawarkan; menyetubuhi sang pelacur dan membunuh seorang anak.
Benar, alkohol memang seberbahaya itu. Tak dapat dipungkiri bahwa, faktanya, penyebab segala kerusakan
apa yang kita semua cari dan dapatkan dari sebuah minuman beralkohol? Mengapa alkohol seringkali dikambinghitamkan sebagai biang kerok dari semua permasalahan, kecelakaan, dan tindakan kekerasan? Bagi kami, alkohol tak lebih dari sebuah penghangat perbincangan, pengusir rasa gugup, obat insomnia, dan sumber daya bagi kebutuhan dopamin kami. Ini bukan tentang pembenaran bahwa kami menaϐikan semua fakta betapa jahanam-nya alkohol, tapi berikan kami ruang untuk berkata: Fuck off bagi kalian semua yang rehe; Fuck off bagi kalian semua yang madot ukur keur gagayaan hungkul; Fuck off and go straight to kadang memang berawal dari minuman jahanam itu, tak perlu kami sebutkan contohnya. Tapi sebenarnya, fucking hell bagi kalian semua yang tidak responsible dalam penggunaan alkohol dan memilih alkohol sebagai shortcut untuk pemulus kalian dalam perilaku kekerasan, pelecehan, dan perilaku goblog lainnya.
12. ATAS DASAR VISUAL KAU GUSUR MINUMAN ENERGIKU
“Hari ini ada momen sejarah. Kita mulai (pembangunan) dengan mendahulukan kepentingan masyarakat. Daripada (lahan kosong) ini menjadi tempat lewat Jin mending dijadikan tempat bermanfaat seramai Alun-alun Bandung di pu-
sat kota,” kata Ridwan Kamil dalam sambutannya saat peletakan batu pertama Taman Asia Afrika7 . Sebuah sambutan dari walikota saat acara peletakan batu pertama Taman Asia Afrika (yang kemudian biasa disebut warga setempat Taman Korea). Pernyataan yang menurut kami blunder dan kurang valid. Mengapa? Karena kami ingin mempertanyakan masyarakat yang seperti apa yang menginginkan dibangunnya tempat rekreasi semacam itu. Seperti diketahui pada pertengahan 2015, ribuan rumah dan juga sejumlah pabrik yang berada di Jalan Jakarta, Jalan Banten, dan Jalan Karawang, digusur pemerintah. Warga sudah tinggal di sana lebih dari 20 tahun. Walikota menjanjikan akan membangun apartemen rakyat sebanyak seribu unit. Tapi masalahnya, apa benar dengan dibangunnya taman yang bersifat tematik tersebut, dilaksanakan untuk memenuhi permintaan masyarakat, atau hanya memenuhi “pesanan” dari kelompok-kelompok tertentu? Wallahualam. Sebenarnya di lagu ini kami tidak ingin membahas tentang hal-hal berbau pemerintahan itu. Yang kami resahkan adalah bagaimana dampak yang ditimbulkan dari segala macam “proyek strategis” pemerintah terhadap penduduk existing setempat, termasuk tukang ciu (baca: minuman alkohol dengan segala kearifannya) yang sudah berniaga sekian
lamanya di area tersebut. Mereka digusur paksa tanpa diberi solusi kemana mereka akan direlokasi. One thing lead to another, masalah selanjutnya silih berdatangan dari rasa bingung menjajakan dagangannya dimana hingga bagaimana mendapatkan pelanggan setianya lagi. Dan jika disimak betul-betul, secara tidak langsung dengan membeli dari para pedagang tersebut kami telah berhasil meminimalisir ketergantungan kami pada toko-toko minuman korporat (baca: toko minuman besar legal menurut pemerintah yang menjual minuman bercukai yang tentunya mahal), sebenarnya karena teu boga duit loba wéh jadi manggih jalan alternatifna hahaha. Sama halnya yang dirasakan para pedagang, kami merasakan jalan alternatif kami di jegal paksa oleh kelompok tertentu (baca: pemerintah) dan sedikitnya merenggut kebahagiaan kami. Miris memang, demi memenuhi hasrat kelompok tertentu pemerintah rela melakukan apa saja tanpa memberikan solusi nyata dari datangnya permasalahan-permasalahan baru. Sampai saat ini kami tidak tahu para penjual ciu Jl. Jakarta ini pindah kemana. Kami pun telah melakukan pencarian-pencarian bersifat gembel tapi nihil. Mungkin dari kalian ada yang tahu larinya kemana? 7https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4454862/lahan-bekas-gusuran-di-kawasan-kiaracondong-akan-jadi-superblok.
13. WHEN CAMUS MET SARTRE IN A BIKINI BOTTOM’S COURTHOUSE
Kami sadar bahwa kadar ego seorang manusia sangat bervariatif, tak cukup untuk bisa ditakar dengan alat ukur yang universal karena ambang batasnya pun akan selalu menyesuaikan dengan lingkungan dan hal-hal yang dihadapinya. Tapi ihwal alamiah yang selalu tampak, adalah bagaimana sebuah ego bisa membuat seseorang merasa menjadi -in superlative way- “tuhan bagi seluruh umat”. Ketika bertemu dengan orang yang dibawah kelasnya (dalam hal ilmu, pengetahuan, dan pengalaman), tak sungkan-sungkan untuk menahbiskan dirinya sebagai “Sang Maha Tahu” melalui berbagai indikasi yang diperlihatkan baik secara tersurat maupun sebaliknya. Lagi, perihal penerimaan dan penilaiannya pun sulit untuk diukur dan dibakukan, karena katanya “semua orang punya batasannya masing-masing”, But Fuck It! Satir ini ditujukan bagi semua orang yang merasa dirinya tuhan bagi yang lainnya. Kalian Memang Menyedihkan.
apapun tapi tetap ditenggak tentu akan menghasilkan efek samping atau ketidaknyamanan yang tidak diinginkan, setali tiga uang dengan kultur nangkring yang menjangkiti semua kalangan usia dan sosial di negeri ini, loba teuing nangkring beak duit, kurang nangkring asa teu hirup. Tapi lagu ini sebetulnya lebih berkonteks sebagai gumaman hati ketika terjebak dalam sebuah “forum” tongkrongan runtah (baca: ngaler ngidul haha-hihi). Bayangkan situasi seperti ini: Rabu malam diakhir bulan sepulang kerja setelah melewati berbagai deadline pekerjaan tai anjing, rencananya Anda ingin mengambil pesanan pre-order yang sudah lama dinantikan dirumah teman Anda. Niat hati hanya akan check-in sebentar mengambil barang lalu pulang untuk beristirahat, tak dinyana sudah banyak teman lainnya yang seakan-akan mencegah Anda untuk pulang lebih cepat, yang akhirnya membuat Anda bertahan lebih lama ditengah terjangan stomach rumble akibat terlewatnya makan malam dan rasa penat lelah setelah bekerja. Tai emang.
15. IT’S LUNCHTIME 14. LATE NIGHT WEEKEND ROUTINE YOU MOTHERFUCKER
Sebuah obat yang jika dikonsumsi melebihi anjuran dosisnya, ataupun ketika tidak mengalami keluhan
Kami pikir lagu ini memiliki lirik yang paling lugas diantara lagu yang lain. Ini adalah rangkuman cara pan-
dang dan pemikiran idealis kami mengenai output -dalam hal ini karya musik- dari apa yang kami sebut sebagai band-bandan. Semua orang berhak beropini, this music’s sucks, that music’s awesome, blablabla…. Kami tak ingin terlalu ambil pusing dengan hal itu semua. Kita semua tahu, dalam skala terkecil, perkembangan zaman telah memberikan tekanan yang lebih besar bagi kita untuk dapat bertahan dalam kehidupan bersosial (“bersosial” disini dimaknai sebagai standar moral yang sudah semakin men-direct tentang apa yang harus dan apa yang tidak boleh), atau setidaknya bisa berada di jalur yang sama dengan mayoritas. Ya, sangat cheesy sekali memang ketika mulut berkata punk, tapi raga tak lebih dari seorang masyarakat mayoritas taat aturan. Tapi katanya, punk itu sendiri adalah sebuah state of mind, kalian mungkin lebih paham, dan kami pun rasanya tak perlu (baca: tak berkapasitas) berkhotbah lebih lanjut tentang hal itu. Kami kira, ketika dihadapkan dengan fakta-fakta diatas, menjalani hidup sebaik-baiknya masih lebih penting ketimbang mempermasalahkan halhal yang diluar kontrol kita. Akhirnya, dalam konteks ini, bagaimana kalau kita sama-sama menyantap makan siang yang sudah kita cari dengan susah payah bercucuran keringat selama sebulan penuh, karena there is no such things as free lunch
masih akan terus berlaku. What’s makes us pleasant, it always matter.
16. TIM DUNCAN IS THE PERSON WE NEED RIGHT NOW!
Ya, tak ada yang istimewa, tak pula memiliki makna yang tersirat. Lagu ini hanyalah sebuah nostalgic scene dari kegoblogan remaja-remaja kurang bergaul pada zamannya. Tapi kami yakin, saat itu kami sangat membutuhkan Tim Duncan sebagai “petugas damkar” ulung yang selalu siap siaga mengevakuasi kami dari “kebakaran” yang telah kami perbuat.
17. PAKET SUPER DUPER HEMAT DARI KACZYNSKI
Theodore Kaczynski mungkin adalah salah satu dari sekian orang yang menyadari dan meyakini bahwa perkembangan teknologi industri adalah sebuah kemunduran bagi peradaban manusia. Dalam essaynya yang berjudul “Industrial Society and It’s Future”8 yang menjadi bendera putihnya9 atas teror yang ia lakukan (Kaczynski menawarkan “gencatan senjata” dengan pihak otoritas setempat untuk berhenti melakukan teror dan mengirim paket bom rakitan ke berbagai universitas, dengan syarat essaynya yang berjudul “In-
dustrial Society and It’s Future” dipublikasikan dalam The Washington Post, sebelum akhirnya tetap tertangkap juga karena di-cepu-kan oleh kakaknya sendiri), ia curhat mengenai pemikirannya mulai dari modern leftism, revolusi, hingga probabilitas keberhasilan genetic engineering pada manusia. Beberapa bahasannya menurut kami mungkin tidak relevan dan berseberangan, namun lebih banyak pula pemikiran beliau yang bertemu dengan pemahaman dan keyakinan kami, bahkan dewasa ini sudah banyak yang terjadi dari pemikiran-pemikiran yang sudah dia prediksikan. “Omong Kosong Sistem Ini, Omong Kosong Revolusi Ini” dimaknai sebagai bentuk ekspresi satir dari buah perjuangan dan pemikiran beliau, ketika memang nyala obor yang ia kobarkan sedari lalu tak ada yang membuatnya tetap berapi. Tapi omong-omong, kami jadi tergelitik untuk mengaitkan, mungkin Ted Kaczynski ini adalah seorang fanboy dari band Milisi Kecoa, karena jika dipikir-pikir ia adalah sebuah representasi10 yang “terlalu ekstrim” dari lagu Kami Marah milik mereka, hanya saja dia mungkin teu boga batur untuk bisa bergerak secara kolektif.
18. FOREVER LOS SANTOS
Jika SPEED membuat lagu One Blood We Bleed sebagai ode bagi komunitas hardcore di hometown mereka, serta Agnostic Front yang dengan bangganya mengukuhkan For My Family sebagai tribute song bagi seluruh kawan-kawan mereka di Lower East Crew, maka izinkanlah kami untuk sedikit “mengenang” sisa-sisa reruntuhan dari tempat kami berasal, yang menjadi wadah awal bagi kami untuk memahami apa yang -secara universal- disebut sebagai kolektif do-it-yourself. Kami belajar bagaimana mengorganisir kegiatan secara mandiri, menormalisasi collective funding dalam seluruh agenda kami, hingga bermutualisasi dengan ruang-ruang grassroot lainnya. Sedikit cerita, terhitung medio 2012-2017 merupakan rentang eksistensi dari kokolektifan ini. Los Santos sendiri diambil dari sebuah rumah terbengkalai yang menjadi venue pertama kolektif ini mengorganisir gig (kabar terakhir rumah ini sudah ada yang menghuni). Namun, redupnya kolektif ini bukan tentang perkara sellout, atau “berkompromi” dengan korporat seperti yang sering banyak dinarasikan, melainkan karena pemikiran kami pribadi yang lebih mendahulukan realistis ketimbang idealis, atau mungkin lebih tepatnya kami masih belum sanggup untuk menjalani “kehidupan punk yang
8https://web.cs.ucdavis.edu/~rogaway/classes/188/materials/Industrial%20Society%20and%20Its%20Future.pdf 9https://en.wikipedia.org/wiki/Unabomber_Manifesto
10http://milisikecoa.blogspot.com/search/label/lyrics
sesungguhnya”. Secara gambaran umum, kami ingin meminjam kalimat “stasiun pemberhentian sementara” milik Herry Sutresna11. Seperti cerita masa muda pada umumnya, semuanya berakhir ketika masing-masing tokoh mulai berkutat dengan “kehidupan sebenarnya”. Ketika impian masa depan, himpitan ekonomi, dan tuntutan kebutuhan untuk bertahan hidup mulai mempersempit ruang gerak untuk terus aktif mengorganisir kolektif. Catatan penting, kami tidak akan pernah melupakan semua nilai-nilai yang pernah kami dapatkan dan perjuangkan.
Secara lebih luas, lagu ini kami dedikasikan bagi semua insan kolektif yang masih terus bergelut dan mempertahankan etos-etos yang telah lama dipegang teguh; ketika tekanan kanan kiri atas bawah selalu menerjang, semangat pergerakan masih terus menyala melalui masing-masing jalan yang diyakininya. Selalu ingat dari mana kita semua berasal.
Let’s Dancing Your Asses Off Until You Finally Realize How Embarrassed You Are
“You are the dancing queen Young and sweet, only seventeen Dancing queen Feel the beat from the tambourine, oh yeah”
“You can dance, you can jive Having the time of your life See that girl, watch that scene Digging the dancing queen”
Mungkin salah satu ungkapan yang cukup tepat untuk menggambarkan semangat dan gairah para pemuda-pemudi dalam mengekspresikan perasaan mereka saat menari. Budaya barat pun acapkali memperlihatkan bahwa dansa merupakan salah satu kegiatan yang menjadi sebuah ritual pelipur lara, ungkapan suka cita, maupun tradisi pengiring kematian. Tapi sejujurnya, makan tahi dengan prolog ini, yang sangat ingin kami sampaikan adalah bagaimana keheranan sekaligus ketakjuban kami saat memperhatikan para sobat skena spektator ekshibisi musik-musik “bawah tanah” yang terlalu menjiwai kutipan lirik dari Dancing Queen milik ABBA diatas.
1 1 https://subkulturindonesia.wordpress.
read/2021/08/10/174500065/5-poin-pleidoi-juliari--mohon-dibebaskan-hingga-minta-maaf-ke-jokowi-dan?page=al
Kami tak tahu sejarah kemunculan
kawan-kawan “dancer” ini -dan sama sekali tidak ingin tahu- tapi dari semenjak kami mulai menyukai skena (entah skena apalah ini namanya) ini, fenomena “pogo” masih terus lestari sampai sekarang. Medio 2010-2012 kami ingat betul ketika kami masih SMP, para kader-kader penari akrobatik ini punya kegiatan akhir pekan bernama -tanpa bermaksud untuk berkelakar terhadap genre musik tersebut- “Latihan Beatdown”. Sesi grup ini biasanya dilakukan dengan menu latihan: jungkir balik; koprol; tendangan tak beraturan; tendangan putaran 360 derajat; pukulan tak beraturan; dan gerakan-gerakan lainnya yang bersifat pukulan dan tendangan. Semua gerakan itu dilakukan secara bersamaan oleh tiap-tiap orang dalam satu lingkaran “moshpit”, atau berupa semacam kontes bagi orang-orang itu untuk saling menilai gerakan mana yang paling sangar dan brutal dalam latihan tersebut. Latihan ini selanjutnya akan mereka salurkan dalam gigs akhir pekan yang pada masa itu memang banyak diadakan, baik dari kawan-kawan kolektif maupun oleh tim promotor panggung rigging. Di dalam moshpit yang sesungguhnya itu rekan-rekan pogo-ers mengeluarkan keahliannya yang mungkin sebelumnya telah diasah dengan rajin pada saat latihan. Hingga sampai dengan gig terakhir yang sudah kami datangi, fenomena pogo ini makin berevolusi melahirkan beberapa gerakan baru yang mungkin mengikuti perkembangan
pop kultur zaman sekarang: The Worm Dance, merayap ala tentara, The Spongebob’s Cramp Dance, dan gerakan-gerakan lain yang mungkin terlihat nyeleneh -semakin aneh semakin keren-. Ini betul-betul kami temukan di gig terakhir yang kami saksikan. Lalu pertanyaannya, apakah salah mereka berbuat hal semacam itu? Dan bolehkah kita melarang mereka untuk berbuat hal tersebut? Mari kita coba jawab pertanyaan ini dengan menguraikan beberapa hipotesis berbasis asumsi mengenai motif dari kawan-kawan (kami kehabisan label untuk menamai mereka) ini, dengan demikian mungkin setidaknya kita bisa menilai apakah ini hal yang normal dilakukan dalam suatu pentas, atau bisa menjadi sebuah whistleblower yang layak diperdebatkan bagi teman-teman yang memiliki keheranan yang sama.
Motif pertama: tidak lain dan tidak bukan adalah karena passion mereka akan musik itu sendiri. Tiap orang punya caranya masing-masing saat menikmati musik dalam sebuah gig, dan tipe orang ini lebih memilih menikmatinya dengan cara mereka: agak sulit dijelaskan tapi kalian mungkin lebih tahu yang biasa orangorang ini lakukan saat band mulai bermain. Kita tak boleh lupa mengenai fakta bahwa beberapa adegan perkelahian dalam sebuah gig selalu diawali dengan sentimen “senggol bacok”, dan jika dirunut ke hulunya (dengan mengabaikan faktor-faktor
lain) kesalahan pasti dimulai dari orang yang “terlalu bersemangat” dalam hal cara mereka menikmati musiknya. Kami berbicara tentang lingkup yang lebih besar dari sekadar persoalan “dancing queen” ini. Sederhananya, jika masalah gigs intruder adalah sebuah himpunan A, maka persoalan dancing queen ini hanya salah satu dari sekian banyaknya elemen dari himpunan A itu sendiri.
Motif kedua: Ingin mencoba gerakan-gerakan baru yang mungkin pernah mereka saksikan sebelumnya: dari gig terakhir yang mereka datangi; dari youtube; dari kawan sejawat mereka; atau dari referensi-referensi lainnya yang membuat mereka tertarik untuk mencobanya.
Motif ketiga: menonton pagelaran musik sambil berolahraga? Mengapa tidak. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Motif keempat: terpengaruh bandwagon effect dari teman atau orang lain yang lebih dulu berkecimpung di dunia persilatan mereka. Orangorang dengan motif ini lebih cenderung sebagai pengikut keramaian: jika crowd sudah mulai banyak yang melakukan aksi tersebut, mereka tidak akan segan untuk berbuat lebih dari itu. Tapi jika tak ada satupun yang memulai, mereka akan tetap berposisi sikap sempurna sampai dengan panggilan perang akhirnya ditabuh.
Motif kelima: Tak bisa menolak ajakan sirkelnya ketika datang ke gig untuk ikut bersenang-senang dengan cara yang biasa mereka lakukan -mengokupasi sebagian space dalam moshpit dengan melakukan kegiatan mereka (kami kurang paham istilah untuk menggambarkannya)-. Mereka mungkin biasanya hanya ikut berpogo dengan gerakan alakadarnya karena memang dipaksa untuk ikut melakukannya.
Motif keenam: Ingin mencari perhatian dan respek orang lain. Di zaman yang serba viral ini sangat mudah bagi kita untuk menghakimi orang yang memiliki kepribadian attention-seeking sebagai sebuah kesalahan dalam kehidupan bersosial: Bisa iya bisa tidak, karena pada akhirnya suara publik yang biasanya akan menentukan benar atau salahnya. Dalam hal ini, kami kira mereka mendapatkan respek kami karena masih bisa tampil maksimal dan mengabaikan prasangka buruk bagi mereka, disaat mungkin sebagian orang terdistraksi dengan tingkah laku mereka (sambil menggerutu, mengernyitkan dahi, lalu berkelakar “ari si eta kunaon?”).
Keenam motif diatas sedikitnya memberikan gambaran tentang bagaimana bisa hal sedemikian uniknya itu dilakukan oleh seorang makhluk hidup yang bernapas. Namun sejatinya, terdapat garis tipis antara “para pelaku bela diri” (oh kami masih punya ternyata) ini dengan orang-orang
yang memang bersenang-senang dalam menikmati ketukan cepat ala band hardcore pada umumnya. Bisa kita rasakan sendiri atmosfer antara moshpit dengan crowd yang bergumul di depan panggung, diiringi hilir mudik para old-school-slammer yang berlomba-lomba untuk crowd-surfing diantara lautan manusia seperti halnya crowd-set impian saat konser Last Show-nya Have Heart 2009 silam (maaϐkan tata bahasa memalukan campuran kami), dibandingkan dengan kondisi crowd yang telah kita pertanyakan sebelumnya dalam paragraf diatas. Dalam beberapa pentas yang lebih intim semacam studio gigs atau showcase lebih jarang ditemukan kehadiran para gigs intruder ini, karena memang biasanya kegiatan ini lebih eksklusif dengan hanya beberapa teman dekat dari band-nya itu sendiri yang tahu -dan diberi tahu-. Yang kami tahu kultur ini agak sedikit hilang eksistensinya dari waktu ke waktu (terlepas dari pengaruh pandemi covid yang masih berlangsung). Jika dulu medio 2011- 2019 (yang kami ingat) banyak gigs kolektif yang agak rutin dilaksanakan semacam: studio gigs di Elang Musik Studio; gigs on-the-house-nya Rumah Pirata; dan gigs dari temanteman kolektif lainnya yang mungkin sampai sekarang masih terus rajin dilaksanakan under the radar.
Pada akhirnya, istilah “there’s no such thing as a moral police” dalam perskena-an duniawi masih terus dan
akan tetap berlaku. Siapalah kami ini berhak mengatur apa yang harus dilakukan oleh orang lain. Adalah hal yang naif bila kami ingin menjejalkan kehendak dan keinginan kami kepada orang-orang tertentu untuk memiliki perspektif yang sama dengan apa yang kami ingin dan kehendaki. Tapi poin pentingnya, kendali masih tetap berada di tangan kita. Kita bisa membatasi ruang lingkupnya dengan mengorganisir sendiri “tatanan impian” kita, atau menjalankan misi pendakian gunung Everest: dengan sedikit demi sedikit mencoba mengubah apa yang telah melenceng dari jalurnya. Dan batu bata pertama yang bisa kita susun untuk memulai itu semua adalah dengan membangkitkan kembali gairah akan collective-based movement, yang -bisa dikatakan- menjadi salah satu motivasi bagi kita untuk setidaknya bisa memperbaiki apa yang bisa kita perbaiki, dan memantik kembali hal esensial yang -secara tidak sadar- sudah lama meredup dari tujuan utamanya.
JANGAN PERCAYA APAPUN JUGA
CHEAPTALK BY JQ
dimuat dalam zine Hardcore Sudah Mati
Apa yang ada didepan kita, jangan begitu saja kita percaya. Terutama kabar selentingan, omongan, dan semua bentuk metaϐisik. Jangan percaya pada apapun terutama pada hal-hal yang tidak kita butuhkan. Jangan sampai kita tertipu oleh halhal yang tidak dapat kita rasakan dan buktikan. Alami semua hal di dalam dunia ini, alami semua kejadian yang bisa kita alami. Percaya sama apa yang kita rasakan, bukan percaya pada hal yang kita tidak rasakan.
Buktikan semua hal yang kita temui, ragukan terus semua itu, sebab tidak ada suatu kebenaran yang absolut. Pertanyakan apa yang sudah ada. Pertanyakan apakah kita membutuhkan itu semua, mengapa kita melakukan itu semua. Kerjakan semua hal sesuai dengan kesadaran kita. Jangan berdasarkan suruhan atau perintah orang lain. Apalagi berdasarkan hukum atau ajaran turun temurun. Lakukan itu berdasarkan kebutuhan kita, dan keinginan kita.
Lakukan dengan alasan yang bisa kita terima dengan akal kita. Pertanyakan semua hal sampai kita muak dengan semua itu. Sebab
semua hal belum tentu benar adanya, sebab semua itu juga bisa saja di rekayasa untuk membelenggu kebebasan kita. Kita punya pikiran dan sanggup berdiri diatas kaki sendiri. Terbangkan angan pikiran kita untuk berdialektika dan memberi negasi-negasi terhadap semua hal yang kita temui. Jangan menyerah dengan sedikit saja cobaan, sebab barangkali kita akan menemukan kegunaan dari sesuatu yang belum ada sebelumnya.
Jangan hanya menurut perintah, sebab kita bebas, kita punya pilihan. Kita hidup terlahir sebagai makhluk yang bebas, yang punya akal. Apapun yang akan kita lakukan pastilah kita bisa memberi alasan mengapa kita melakukan hal tersebut. Jangan terkunci hukum, sebab kita bisa melebihi hukum, akal pikiran kita bisa menginterpretasikan sesuatu lebih luas lagi daripada sekadar hukum atau aturan yang dibuat oleh badanbadan alat negara. Jangan percaya negara, sebab mereka tidak pernah merubah nasib kita. Kita yang menentukan apa yang ingin kita perbuat.
Jangan taati hukum, jangan percaya negara, kalau perlu pertanyakan kenapa kamu percaya sama tuhan. Apa kebutuhan kamu percaya sama tuhan. Jangan seperti orang kebanyakan yang ngaku percaya sama tuhan tapi suka memaksakan kehendak bahkan bikin pasukan perang untuk membunuh orang lain, memang tuhan menghalalkan pembunuhan.
Ingat… tuhan nggak pernah memberi hak kepada manusia untuk menghilangkan nyawa orang lain.
Jangan terprovokasi hanya karena rasa heroisme yang anjing edan, tapi kamu pertanyakan kembali mengapa terjadi keterasingan diantara kita. Mengapa manusia masih ingin saling menguasai. Jadi jangan pernah percaya pada apapun juga. Percaya sama semua hal yang kamu alami sesuai dengan kebutuhan kamu, jangan lakukan hal yang berlebihan, sebab ketika kita rakus, kita akan semakin terjebak pada komodiϐikasi hasil rekayasa para borjuis.
Does the Glamorous Bow are Way More Important than the Un-sharp Arrows?
Tulisan ini terinspirasikan dari pengalaman kami ketika mendengarkan sebuah lagu yang menimbulkan perasaan yang sulit digambarkan ketika mendengarkan lagu tersebut. Nafas terasa agak sedikit sesak dan berat; dada terasa bergetar dengan frekuensi yang tidak lama; leher bagian belakang terasa dingin; ada perasaan senang di dalam hati; dan
sebuah kata-kata. Agak terasa geli mendengarnya tapi memang itu yang sebenar-benarnya kami rasakan. Setelah kami telusuri, keadaan tersebut dinamakan dengan frisson, yang menurut Wikipedia memiliki arti sebagai sebuah respons psikologis dari rangsangan pendengaran dan penglihatan yang seringkali menstimulasi keadaan afektif yang menyenangkan dan bersifat sementara. Ada pula riset yang telah dilakukan mengenai fenomena “ganjil” tersebut, yang pada akhirnya didapatkan hipotesis bahwa hal tersebut disebabkan dari pembesaran volume ϐiber pada otak yang menjadi penyambung antara korteks pendengaran dengan area lain-lain yang sedikit banyak sulit untuk kami persepsikan dalam yang memproses emosi. (baca selengkapnya mengenai riset tersebut di https://academic.oup.com/scan/ article/11/6/884/2223400?login=false ) .
Sebagai manusia praktis yang seringkali mempunyai sikap “screw your theory, i’ll get my own prove” kami kira pendekatan secara “teoritis ilmiah” (atau apapun itu namanya) tidak lebih dari hanya membuka wawasan keilmuan itu sendiri dan sekadar “masuk kanan keluar kiri”. Tapi sedikit banyak, berlandaskan dari teori dan pengalaman tersebut, masih ada hal yang mengganjal bagi kami, yaitu bagaimana sebuah rangsangan pendengaran -dalam hal ini musik- bisa menyebabkan hal seunik itu terjadi. Ketika ada beberapa orang yang tel-
ah mendeklarasikan dirinya bahwa “this music really changed my life” pada sebuah karya musik, kami kira hal itu bukan bullshit naivety belaka, karena pemahaman kami berkata bahwa mereka sendiri -secara pribadi- memang merasakan hal itu (meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian yang lain hanya omong kosong belaka). Berkaitan dengan itu, kami kira musik memang memiliki efek magis tersendiri. Kami berpendapat bahwa ada substansi yang menjadi salah satu pengaruh penting dalam pembuatan musik itu sendiri. Kami tak mencoba berlaga membuat deϐinisi dari fungsi sebuah musik, tapi perasaan kami berkata bahwa ada hal yang -mungkin- sedikit luput dari kerangka berpikir kebanyakan orang, yang sejatinya ingin kami ingatkan kembali dalam tulisan sampah ini. Kami akan mencoba menulis kegelisahan kami ini secara to the point selurus-lurusnya.
Sedikit riset gembel yang kami lakukan, ada ide yang menarik dari essay milik Ian Cross dan Ghofur Eliot Woodruff dalam “Music as a Communicative Medium”, yang lebih kurang menguraikan bahwa musik adalah sebagai sebuah medium untuk berkomunikasi, dan secara harϐiah mungkin bisa dikategorikan sebagai wadah penyampaian pesan dari satu orang -pembuat musikke orang yang lainnya -pendengar musik mereka-. Bahwa musik merupakan sebuah komunikator emosi,
dan sejalan dengan teori mengenai “honest signal” yang sedikit kurang berdeϐinisi: pesan yang tidak akan mungkin dipalsukan kecuali dalam kondisi terdesak. Kami ingin sedikit meng-highlight salah satu ide dari essay mereka yang sedikitnya bertemu dengan pemahaman dan keresahan yang kami rasakan. Berikut kutipannya: “Engagement with music thus affords access to multiple and simultaneously available layers of meaning, allowing participants in a musical behaviour to interpret the signiϔicance of the music individually and independently while collectively affording to participants a sense that the music embodies an honest signal. Hence music can be viewed as embodying the characteristics of the medium optimally adapted for the management of social uncertainty outlined earlier, though one feature attributed to that medium, that of being rooted in mechanisms that would increase the likelihood that participants would experience each others’ states and intentions as mutually manifest, remains to be properly addressed for the case of music.” (Cross & Woodruff, 2009:9). (baca selengkapnya mengenai essay tersebut di https://www.music. org/pdf/summit/2014medium.pdf). Mereka mencoba mengungkapkan bahwa musik akan selalu menghasilkan multi-interpretasi yang selayaknya tidak harus dikendalikan oleh siapapun, meskipun pada akhirnya hanya akan ada satu manifestasi yang memang sesuai dengan
yang ditulis oleh si penulis lagu. Ide tersebut menurut kami adalah sebuah sudut pandang mahfum yang dibangun dari kombinasi antara teori dan pengalaman. Maksud kami adalah, sebuah pemikiran seringkali selalu muncul dari rangkaian kontemplasi maupun pengamatan atas segala hal yang kita rasakan dan alami, yang selanjutnya ditopang oleh teori-teori pendukung yang selaras dengan pemikiran mereka.
Kami selalu percaya bahwa bobot dari sebuah musik bukan melulu tentang kerumitan akord yang dipilih; seberapa ear-catchy nya materi instrumen yang diracik; dan sefantastis apa performance atau “atraksi” yang ditampilkan. Sejatinya, ada substansi yang menjadi nilai esensial yang kadang terlupakan dari sebuah musik itu sendiri, yaitu mengenai makna atau pesan atau ikhtisar yang ingin disampaikan oleh si penggubah musik atau penulis lagu kepada orang-orang yang mendengarkan lagu mereka. Kami memiliki keyakinan bahwa musik itu sendiri masih -dan akan selalu- menjadi alternatif dari beberapa medium yang sudah ada dalam menyampaikan segala macam perasaan yang membuncah, dan luapan dari pemikiran-pemikiran yang sedikitnya terlintas dalam benak si penulis lagu. Hal ini membuat kami lebih yakin bahwa substansi yang dimaksud adalah mengenai pesan; isu; konteks; atau
substansi itu semua kami kira tidak bisa diwujudkan secara universal, yang mana penyampaiannya pun secara eksplisit memang betul-betul dibubuhkan oleh si pembuat lagu ataupun dimaknai dalam manifestasi liar yang dibuat oleh para pendengar lagu, karena “multiple layers of meaning” yang disampaikan oleh Cross dan Woodruff sama sekali tidak bisa kita kesampingkan. Kami kira tidak ada aturan baku yang harus dijadikan default “setelan pabrik” mengenai “siapa harus mengikuti siapa” tentang pemahaman makna sebuah lagu, pun dengan si pembuat lagu yang tidak selayaknya menggeneralisasi dan memaksakan kehendak mereka, akan menjadi hal yang apapun itu namanya, yang tersampaikan dalam sebuah musik. Objek tidak menyenangkan lagi menulis musik bila hal demikian itu terjadi. Kami kira keberagaman manifestasi yang dihasilkan menjadi keunikan tersendiri dalam sebuah karya musik.
Berkaitan dengan perwujudan pesan yang disampaikan, banyak metode yang bisa diaplikasikan kedalam berbagai macam “wadah” yang ada. Yang paling konkret tentu melalui lirik, tapi sejatinya masih banyak metode lain yang sebetulnya menjadi kapabilitas sebuah band, penyanyi, dan lain-lain. Kami coba uraikan pendapat kami sejauh yang kami tahu dan pahami. 1. Lirik menjadi salah satu jalan yang paling instan un-
tuk menyampaikan pesan. Kami kira tak ada yang lebih lugas dan berkelanjutan selain melalui lirik. 2. Kami kira instrumen musik bisa dikategorikan sebagai wadah alternatif yang lebih banyak menghasilkan manifestasi. Jika kata-kata -lirik- lebih mudah diproses dan dicerna (karena berhubungan dengan bahasa), instrumen musik -yang wujudnya lebih sulit untuk dimengerti- kami kira akan lebih cenderung “ditangkap” melalui emosi dan perasaan. 3. Penampilan atau stage act kami rasa bisa menjadi salah satu cara yang bisa digunakan. Hampir setiap performer di setiap gigs pasti selalu menyelipkan makna dari lagu yang mereka tulis. Menurut kami ini cukup penting untuk dilakukan, agar audience setidaknya sedikit lebih tahu apa yang akan mereka dengarkan. Beberapa performer kadang lebih suka menyampaikan speech tentang concern dan keresahan mereka mengenai isu ataupun permasalahan yang sedang terjadi di sela-sela jeda penampilan, yang sedikitnya berkorelasi dengan salah satu dari lagu mereka. Kami merasa etika dan kecakapan berbicara dalam menyampaikan pendapat atau speech saat penampilan berlangsung menjadi poin ke-69 atau ke-212. Tak terlalu penting memperhatikan hal tersebut, ketika kita memang tahu apa yang sebetulnya ingin kita sampaikan. Tidak harus selalu “terlihat pintar” ketika menjelaskan keresahan dalam
speech selama kita merasa substansi yang ingin kita bicarakan telah tersampaikan. Agak naif memang, tapi kami ingin meminimalisir “negative words” dalam tulisan ini, dan memberikan encouragement bagi kawankawan band yang lain agar tak perlu merasa malu untuk menyampaikan pendapatnya saat mereka tampil. 4. Sebuah sikap atas isu atau permasalahan yang sedang terjadi kami kira bisa menjadi sebuah cara untuk menyampaikan pesan. Kampanye anti-rasis, anti-seksis, kesetaraan gender, dan lain-lain adalah salah satu contoh yang sering disuarakan oleh sebuah band, yang bahkan dapat melenyapkan eksistensi dari band itu sendiri ketika sudah tidak sesuai dengan apa yang mereka pegang teguh. Contoh kasus yang kami tahu yaitu bubarnya True Identity terkait kasus personil mereka, Jim Hesketh, yang melakukan sexual harassment terhadap seorang fan yang berumur 14 tahun, yang dia lakukan ketika masih menjadi vokalis Champion. (baca selengkapnya mengenai kasus tersebut dalam: https://straightedgeworldwide. com/blogs/news/true-identity-break-up-following-child-predation-allegations). Poinnya adalah bagaimana kita mencoba untuk aware terhadap isu-isu -terutama di scene ini- yang terjadi, dan mencoba bereaksi atas hal tersebut. Satu hal yang pasti, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu bersama para penyintas.
5. Kami memiliki pemahaman bahwa ada beberapa produk karya dari sebuah band yang bukan hanya tentang sebuah musik. Mungkin merchandise atau gimik-gimik lainnya termasuk kedalam alternatif produk tersebut, tapi yang mungkin masih jarang disentuh adalah sebuah karya tulisan: artikel, leaϔlet, zine, dan media-media tulisan lainnya. Kami ingin mencoba membumikan kembali pemikiran bahwa sebuah band bukan melulu tentang rilisan musik, bahwa sebuah band sendiri memiliki kapabilitas sebagai “sekelompok misionaris” yang selalu mempertanyakan keadaan dan ketidaksesuaian dari apa-apa yang sedang terjadi. Bila pun tidak bisa memberikan pengaruh terhadap yang lainnya, sedikitnya kita bisa “menyelamatkan diri kita sendiri” dengan mengetahui dan menyadari bahwa memang ada yang salah dengan realita ini. Bukankah awal tercetusnya kehidupan per-skena-an ini berasal dari keresahan dan kebosanan atas kondisi dan keadaan yang sedang terjadi?
“It’s the absent-minded fool who’s afraid to think To extend an open hand To dare to earn a thing It’s the gift inside our heads not to take for granted Because an unexamined life is a seed unplanted As the animals, they can’t reason But as humans we can So are you just a wild animal or a
rational man? Our bodies bring us nowhere, might does not make right. There’s a gift inside your head Called your mind.”
Have Heart - Armed with a Mind (The Things We Carry, 2006)
YOUR EXISTENCE IS MORE POTENTIAL THAN YOU THINK OF
Saat proses brainstorming membahas perampungan zine ini saya tak sengaja melihat koleksi rilisan musik milik teman yang sebelumnya saya tak pernah tahu akan di-reissue, yaitu album Dorr Darr Gelap Communique dari Hark! It’s A Crawling TarTar yang dirilis ulang oleh Grimloc Records. Rilisan itu dibundel dengan sebuah booklet yang berisi beberapa tulisan, lirik plus eksplanasinya, juga dokumentasi foto dan ϔlyer. Saya masih ingat medio tahun 2011-an pertama kali mendapatkan album ini dari transfer ϔile mp3 koleksi lagu-lagu di pc sepupu saya, yang kebetulan selalu menjadi tempat pembaruan referensi musik bagi bocah SMP sophomore year yang ingin mulai mendengarkan musik-musik so called underground (baca: saya). Pada masa itu, ketika mencoba mendengar dan memproses semua musik-musik yang saya
dapatkan, saya seperti seorang anak SD apatis yang melaksanakan study tour ke sebuah museum, mencoba mengikuti alur kegiatan hingga selesai sambil sesekali melihat dan melakukan lirikan singkat pada sebuah diorama dan benda-benda antik yang ada. Sejalan dengan impresi awal saya ketika pertama mendengarkan album Dorr Darr Gelap Communique, tak ada intensi untuk mencoba mengulik lebih dalam lagi, karena saat itu isi kepala saya selalu dijejali dengan pemikiran “yang penting dengerin dulu aja, makin banyak yang didengerin makin bagus”. Singkat cerita, ketika saya sudah lebih memahami “materi ajar” dari pengetahuan musik yang saya dapatkan (saya senang menganalogikan karya musik yang saya “dengarkan” sebagai sebuah ilmu pengetahuan, karena sangat sering saya jumpai beberapa substansi yang terkandung dalam lagu tak pernah saya dapatkan dalam ilmu pendidikan praktis, dan seringkali menjadi jembatan bagi cabangcabang wawasan ilmu yang lainnya), saya mulai memiliki -not in sexual way- fetish terhadap lagu-lagu yang mempunyai “kekuatan yang lebih besar” pada aspek lyrical-nya, dan tidak hanya fokus pada musikalitasnya saja. Maka ketika menemukan rilisan Hark! It’s A Crawling Tar-Tar yang disertai lampiran booklet extras-nya (saya kepincut dengan judul-judul yang dibubuhkan pada lagunya, dan juga belum pernah tahu betul lirik-liriknya), tanpa pikir panjang saya
langsung pinjam semuanya. Saya bungah ketika menemukan sebuah lagu yang membuat saya berpikir dan mencoba menelurkan manifestasi-manifestasi liar dalam menginterpretasikan lagu tersebut. Dan 14 lagu dalam album itu benar-benar membuat saya banyak berpikir. Berbagai manifestasi dan pesan yang disampaikan di Dorr Darr Gelap Communique dibungkus sangat rapi dalam campuran diksi yang -menurut saya- agak sulit diproses dalam satu kali bacaan. Runutan antar kalimat dalam lirik bagaikan sebuah labirin yang sekali lagi menantang pendengar untuk mencoba bertamasya dalam pengejawantahan maknanya; Dorr Darr Gelap Communique adalah sebuah holy grail yang sangat dicari bagi para lyrics nerd. Hal tersebut semakin mengukuhkan saya untuk menahbiskan Ari Ernesto sebagai salah satu lyricist idola saya.
Namun dibalik kegembiraan itu, muncul sebuah tanda tanya dalam benak saya. Herry Sutresna, Ari Ernesto, Jordan Dreyer, Patrick Flynn, dan para penulis lirik hebat lainnya bukanlah seorang nabi yang dianugerahi wahyu yang langsung diberikan oleh Tuhan. Mereka tidak serta merta dengan mudahnya membubuhkan bait-bait lirik yang “mencerahkan” pada tiap lagunya. Menurut saya, ada semacam pondasi yang ditopang oleh hal-hal seperti: ilmu pengetahuan, referensi pemikiran, gagasan, wawasan, pengala-
man, dan pemahaman isu-isu sosial kemasyarakatan. Itu semua menjadi sebuah landasan yang sedikit banyak mengilhami benak mereka dalam proses penulisan lirik. Pondasi-pondasi itu juga yang membentuk mereka menjadi seperti sekarang ini (atau yang sebelumnya pernah lebih vokal dalam “pengaplikasiannya”). Mulai dari produk aktual sebuah band (lagu) hingga mengadaptasikannya ke dalam aksi nyata, adalah contoh konkret dari -jika boleh saya katakan- karya yang dihasilkan dari pondasi tersebut. Tetapi, tanda tanya itu dimulai dari sini. Jika radius cakupannya (seorang lyricist) kita coba stretch lebih besar (seorang personil band), semakin besar (insan-insan perskenaan duniawi), dan lebih besar lagi (semua orang yang melabeli dirinya sebagai punk), seberapa besar urgensi kita untuk memiliki “pondasi-pondasi” tersebut? Atau jika kita semua memang tidak seserius itu, bagaimana jika kita fokus pada salah satu layer terluar yang ingin saya bahas: Apa sih yang sebenarnya kita (yang katanya sebagai generasi penerus dari kehidupan subkultur ini) bisa lakukan di dalam subkultur ini?
Saya pikir akan terlalu basi jika saya coba kaitkan poin pertanyaan diatas dengan semua sejarah mengenai counterculture punk. Saya memang anak ingusan dari Generasi Z yang tak pernah mengalami betul tentang kesahihan dari punk itu sendiri, yang
mungkin pernah dijalani oleh generasi-generasi diatas saya, atau bahkan sebaliknya. Namun sebaran ilmu dan informasi dewasa ini seakan-akan terus mendobrak batas antara yang mengalami dan yang mengetahui. Pamudji Slamet (eks vokalis Runtah) pun mengakui (dikutip dari tulisannya yang dimuat dalam zine Beyond the Barbed Wire edisi pertama) bahwa salah satu faktor yang membuat dirinya “tetap menjadi punk” adalah karena sebaran informasi yang terbatas pada saat itu. Mungkin ceritanya akan lain jika ia hidup di zaman serba digital seperti sekarang. Lagipula di era ini, bagi masyarakat dengan common sense “mayoritas”, semuanya dituntut untuk lebih mengarah ke hal yang pragmatis dalam setiap aspek, and everyone needs a straight solution. Maka sudah selayaknya jawaban yang disajikan baiknya sesuai dengan yang diharapkan.
Kita sebenarnya punya kapabilitas yang lebih besar dari yang kita kira, namun secara tidak sadar itu semua terbatasi dengan hanya sekadar “suka musiknya aja”. Akuilah, beberapa dari kita bahkan masih berada di fase “a poser-esque spectator” di dalam dunia persilatan ini. Emangnya itu salah yah? Tentu saja bisa saya katakan tidak, karena itu hak setiap masing-masing orang. Tapi jika kita ingin mencoba menjawab pertanyaan diatas, maka sudah barang tentu boundaries yang ditancap dalam “suka musiknya aja” harus benar-be-
nar kita remukkan. Terus saya harus gimana dong? Mencoba mulai sadar bahwa musik bukan hanya sekadar teman nyetir dijalan; penambah semangat ketika jogging; atau backsong penyamar suara ewean. Musik (dan segala yang ada dalam lingkupnya) bagaikan sebuah jurnal atau catatan yang membukakan jalan bagi ilmu pengetahuan. Maka dari itu, stepping stone pertama yang bisa kita lakukan adalah mulai “mendengarkan” musik (selalu ingat perbedaan antara “dengar” dan “mendengarkan”). Ketika kita memang benar-benar menelaah betul suatu karya musik, akan terasa bedanya dengan hanya sekadar mendengar musik. Selanjutnya, saya kira hal itu akan menimbulkan suatu kebiasaan yang alurnya pun pasti identik: mempelajari lagu, memahami lirik dan pesannya, browsing dan sedikit riset gembel mengenai “kandungan” dalam lagu atau band terkait, dan ilmu baru pun didapatkan. Siklus ini akan terus berulang ketika kita mendapatkan referensi yang baru.
Ok, saya udah mulai “mendengarkan” musik, saya harus gimana lagi? Ketika sudah berada di fase ini, seharusnya sudah memahami betul bahwa mayoritas keresahan yang ada dalam sebuah lagu pasti diambil dari realitas dunia yang pernah-sedang-akan terjadi. Berbagai macam metode penyampaian pesan yang dipakai menjadi suatu ciri khas tersendiri bagi masing-masing lagu dan band. Lantas, agar selalu tersinkron dengan
apa yang kita dapatkan dari musik, kita harus tahu pula tentang berbagai realitas-realitas lainnya yang tidak harus selalu bersinggungan dengan apa yang kita dapatkan sebelumnya. Poinnya adalah selalu cari tahu dan pertanyakan terus tentang semua hal. Gunakan internet bukan hanya untuk ngapornhub saja, tapi juga (ngabokep ge penting sih hahaha) untuk cari ilmu pengetahuan dan hal-hal yang bermanfaat lainnya.
Sudah cukup sampai disini? Saya rasa tidak. Ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan. Yes, the world’s still fucked up when we know it was fucked up. Namun semakin kita sadar bahwa realitasnya banyak hal yang tidak baik-baik saja, bukan tidak mungkin gerakan untuk mencoba merubah hal itu akan sendirinya terbentuk. Ketika kita sudah mencoba lebih peka terhadap isu-isu yang sedang terjadi, terlebih lagi yang bersinggungan dengan yang sedang kita jalani dalam skena ini, sedikitnya pasti akan menimbulkan rasa ketidaknyamanan dalam diri kita. Penyaluran perasaan tidak nyaman ini yang akhirnya diaplikasikan melalui berbagai macam cara, yang selebihnya saya kira pasti sedikit banyak dikuasai oleh ego dan keberanian. Gumpalan ketidaknyamanan dan keresahan ini, ketika sama-sama dirasakan juga oleh orang lain, saya kira dapat menimbulkan hal-hal potensial yang selanjutnya bisa kita katakan sebagai sebuah “ancaman” yang menurut
para dedengkot-dedengkot punk all over the world sudah lama pudar dimakan jaman. Jangan pernah merasa tidak diikutsertakan, semuanya bisa bergerak melalui perannya masing-masing. Bagi kawan-kawan yang “diberkahi” jejaring luas (atau yang tidak pun) bisa memanfaatkan inϔluencing ability-nya untuk terus mempromosikan movement atau raising issue yang sedang terjadi, wabilkhusus di dalam subkultur ini. Bagi kawan-kawan yang merasa “less powerful” bisa terus mengikuti kabar terkini dan bisa ikut andil dalam setiap pergerakan yang sedang dan akan terjadi, syukur-syukur bisa menginisiasi sendiri dan ikut membantu kawan-kawan whistleblower yang terus aktif dalam radar. Semua kemungkinan bisa kita coba, selama kita tahu betul apa yang sudah sepantasnya benar.
Sekali lagi ingin saya katakan bahwa tulisan ini bukan sebuah langkah-langkah “how to be a modern punk”, atau cara agar supaya keren dan beken tai ucing. Ini murni sebagai sebuah ekspresi keresahan yang muncul dari kontemplasi dan pengalaman, yang bersyukurnya saya dianugerahi kemampuan untuk bisa menuliskannya kedalam artikel ini. Semua orang punya caranya sendiri untuk mengaplikasikan nilai-nilainya, tak pernah ada aturan baku yang dibuat. Semua berhak bebas. Satu hal yang pasti, mari kita sama-sama jalani kehidupan subkultur ini sesuai
dengan apa yang kita masing-masing yakini. Silakan tularkan nilai-nilai yang kalian jalani, tapi jangan pernah coba paksakan itu semua pada setiap orang yang kalian tularkan. Mari kita ajarkan para bedebah fasis-fasis itu tentang bagaimana caranya bertoleransi antar sesama. Paragraf terakhir dari essay milik Pam dalam “Akuilah Bahwa Kita Adalah Pecundang: (I) Kegagalan Punk” saya kira bisa menjadi closing statement yang membara.
“Semuanya tergantung kita sendiri, apakah kita akan terus berdiam diri dan menjalani saja apa yang ada tanpa berusaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik, ataukah kita belajar mengoreksi diri kita sendiri demi perbaikan dan kemajuan bagi diri kita sendiri maupun bagi semua penghuni scene ini, saat ini dan yang akan datang. Semuanya tergantung pada diri kita.”
NOW IS THE TIME
Dikutip dari pagelaran Sound and Fury 2019 lalu, Patrick Flynn pernah berpendapat dalam outro-speechshow nya, “start your own fucking band, don’t wait on the past, you control you, peace and love”. Sedikitnya bisa kita simpulkan bahwa ketika
beberapa pribadi yang telah berkecimpung dalam skena “abang-abangan” medio 2000-an silam, yang merasa bahwa terdapat perubahan yang signiϐikan dalam perjalanan scene ini, ada beberapa hal yang memang telah melenceng jauh dari yang mereka perkirakan. Tak ada yang mengira perkembangan scene “keramat” ini bisa melesat sejauh apa yang telah mereka perkirakan pada masa lalu. Intinya adalah, mereka terlalu lelah dengan orang-orang yang memang “belum bisa move on” dari kejayaan para “raksasa” skena dari generasi sebelumnya. lalu pertanyaannya adalah, apakah kita bisa menjawab keresahan yang mereka rasakan? dan bagaimana caranya? Jawabannya sangat sederhana: adalah dengan ikut andil dan menjadi bagian dari pergerakan itu sendiri. Bisa dikatakan bahwa kita adalah perpanjangan tangan dari generasi sebelum kita. Layaknya sebuah tradisi pada umumnya, eksistensi akan memudar bila suatu hal tidak dilestarikan secara turun temurun kepada generasi berikutnya. Panggilan pengingat telah disuarakan; semangat dan persistensi siap dipertahankan. Terus organisir lingkaran terkecil dibawah radar. Bangun jejaring seluas yang bisa kalian dapatkan. Terapkan selalu semangat pergerakan dan kolektif semampu kalian. Karena sekarang bukan lagi nanti. Karena sekarang adalah waktunya. Peace out.
Dibawah ini tertera lagu-lagu dari daftar putar yang kami beri judul “Playlist Keren Banget Waw Duarrr”. Selamat menikmati.
1. U2 - MLK
2. Dropdead - The Circle Complete 3. La Dispute - King Park
4. Have Heart - Armed With A Mind
5. Touché Amoré - Anyone / Anything
6. Electro Hippies - Am I Punk Yet?
7. Deaϐheaven - Sunbather
8. D’Lloyd - Hidup Di Bui
9. Dead Prez - They School 10. Crass - End Result
11. DS 13 - Proletarian Song
12. Vitamin X - Herida Profunda 13. Fugazi - Arpeggiator
14. House of Pain - Top O’ the Morning to Ya
15. Charles Bradley - Changes
16. Suzanne Vega - Tom’s Diner
17. Orchid - Death of a Modernist
18. Benyamin Sueb - Superman
19. Napalm Death - You Suffer
20. Forgotten - Tuhan Telah Mati
21. The Cure - Picture Of You 22. Milk - Outpunk
23. Alice In Chains - Rooster