M
口
州
7550 B..S5 Bro 圆 HF
ON
STER PYER
BY AIR MAIL
A
AVIONAIR MAILREG A AAIL
(亚
A 1 1
CL
EST 2015
O
ORE子
index
Catatan Pembuka dan Segala
Tetek Bengeknya Lintas Musik Irish Folk
Pengalaman & Tips Band Indonesia Tour ke Luar Negeri
Menghakimi Selera Dan Susahnya Menjadi Orang Yang Terkini
Pengakuan Dosa Seorang Perusak Mesin Waktu
Interview dengan Triaman “Sambreng”
Memperingati Melalui Pita :
Menelusuri Gulungan Yang
Kusut
Makna (Musik) Mana yang Kita Bela ?
facebook : facebook.com/jogjarecordstoreclub instagram : @jogjarecordstoreclub twitter : @ykrecstoreclub
[Catatan Pembuka
dan Segala Tetek
Bengeknya]
Selamat datang kembali di lembaran zine kolektif Jogja Records Store Day yang kedua. Setelah absen dari hingar bingar gelaran sebelumnya, kali ini kami sepakat untuk merilis edisi kedua dari zine ini bertepatan dengan perayaan Cassette Store Day 2016 chapter Yogyakarta. Sebenarnya apa sih yang kita rayakan dari event ini? Jika pertanyaan ini diajukan ke kami selaku kolektif yang menggelar acara ini, tentu akan mendapatkan jawaban yang berbeda. Tapi mungkin beberapa jawaban yang tersedia tidak jauh dari aroma merayakan format rilisan fisik yang semakin tergerus dengan jaman (baca: digital). 1 Bagi saya pribadi, rilisan album fisik entah itu cd, vinyl, kaset tidak akan pernah menghilang, mungkin hanya tidak akan terdengar lagi hingar bingarnya di media. Kecenderungan media mainstream saat ini seolah mengatakan bahwa saat ini adalah era kebangkitan rilisan fisik yang sebelumnya hampir punah pun bisa saya bantah karena rilisan fisik tidak pernah mati, setidaknya belum. Atau mungkin media yang menganggap bahwa rilisan fisik sekarang hanyalah trend karena sejatinya sekarang itu masa digital. Masih banyak records label yang merilis kaset, cd maupun segelintir vinyl. Kalau parameternya yang dipakai adalah tutupnya gerai toko musik besar atau seretnya major label, memang bisa jadi rilisan fisik terlihat memudar. Tapi coba lihat ke lingkup grass root, masih banyak minor label merangkap mata rantai distribusi yang berdiri tegak melapak di setiap gigs musik di kota masing-masing. Yang harus dilakukan adalah mendapatkan informasi dari networking yang solid untuk mengetahui keberadaan mereka.
Ah okay, saya seakan membakar pembajakan atau mental gratisan romantisme disini. Saya tahu era saya dan kamu belum tentu sama. Mungkin kalimat kembali ke preferensi masing- masing dalam mendengarkan musik bisa menjadi penengah disini.
Era digital memang banyak menggerus pelaku yang masih berkutat di rilisan
fisik dan belum siap menghadapi era perdagangan bebas yang cenderung memilih hal yang lebih praktis, dalam hal ini memeluk tehnologi digital. Tapi apa yang perlu ditakutkan apabila rilisan kamu memang bagus dan menarik? Ambil contoh album Frau yang dirilis digital bebas unduh di situs Yes No Wave, rilisan fisiknya berupa
CD dan vinyl pun tetap ludes bak
kacang goreng. Oke, mungkin band kamu tidak se-menarik Frau atau label kamu tidak se-fenomenal Yes No Wave tapi masih ada celah disitu daripada sekedar menyalahkan era digital apalagi pembajakan musik.
Di situs penjualan rilisan digital semacam Bandcamp menerapkan win
- win solution dengan mempersilahkan setiap oranguntukstreaming sebuah album sebanyak 3x sebelum kemudian muncul fitur yang meminta orang tersebut untuk membeli rilisan digital tersebut. Ini dilakukan supaya orang tidak merasa seperti membeli kucing dalam karung. Bandcamp pun memberikan fitur bagi band/labei yang membuka pemesanan album fisik dari rilisan tersebut. Tapi kalo di Indonesia mungkin kebanyakan orang akan memanfaatkan Internet Download Manager untuk segera mendownload secara gratis rilisan tersebut. Maaf Iho ya kalau menggeneralisir :)
Daripada membuang waktu melawan
yang (sayangnya) sulit untuk hilang di tanah air ini, mungkin salah satu alternative yang bisa dilakukan selain memberikan gimmick untuk rilisan fisik adalah mengedukasi para penikmat musik mengeñai bagaimana
sebuah karya diproduksi sehingga bisa menjadi sebuah komposisi yang
bisa mereka nikmati. Sehingga para penikmat musik ini sadar dengan sendirinya lalu men-support band
favorite mereka. Sungguh mimpi yang
indah :)
Ah, kenapa jadi ngelantur ya. Tugas saya disini sebenarnya kan cuma mēmbuat tulisan pembuka untuk zine ini :) Disini kita bakal membaca tulisan dari 8 penulis yang bercerita tentang tema zine kali ini yaitu Musik dan Perkembangannya Hari Ini. Ada Dea Karina (Gigs Jogja) yang menceritakan kembali tentang kegiatan screening film The Other Option serta diskusi bersama Eka (Brilliant At Breakfast/ Nervous) dam Rully (Senyawa/ Zoo) mengenai suka duka tour bersama band mereka keluar negri.
Adi Renaldi yang kembali menulis
cerita fiksi tentang penghakiman seseorang hanya dari selera musik yg didengarkan. Sementara itu Aris Setyawan (Aurette & The Polska Seeking Carnival) datang untuk mempertanyakan tentang fenomena penonton yg kebanyakan menilai performance live sebuah band itu harus sama seperti di albumnya serta pemaknaan musik yang sekarang cenderung dibikin rumit.
Dari ranah musik Irish Folk, Miko (Dirty Glass/WLRV Records) menulis mengenai perkembangan dan sejarah musik Irish Folk/Celtic beserta sub genre nya. Kolom interview diisi oleh
Arie (Mindblasting Netlabel) yang
bertanya jawab dengan Triaman “Sambrenk”, seorang shop keeper dari Demajors Jogja yang mempunyai sebuah proyek arsip perpustakaan Hip Hop dimana dia mengoleksi rekaman kaset pita rilisan grup Hip Hop dari seluruh penjuru tanah air.
Kakak beradik Wiman (Spider's dan Last Moment/Heartcorner) Irfan Rizkidarajat (Jalan Pulang) berkolaborasi menceritakan masa kecil mereka yang berhubungan dengan menikmati musik dalam media kaset dan bagaimana kemudian preferensi mereka berbeda dalam menikmati musik di saat ini. Cerita masa kecil juga disuguhkan oleh Titah (Warning Magz) ketika teringat pernah merusak koleksi tape bapaknya serta dibumbui bahasan ilmiah dan kritis.
Ohya, saya merasa harus menjawab pertanyaan Titah di tulisan dia yang menanyakan tentang proses kurasi kompilasi Cassette Store Day dan tetek bengek tentang perayaan CSD kali ini. Kompilasi ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan band baru dari Jogja atau band lama yang belum pernah merilis sesuatu. Hal ini berangkat dari minimnya dokumentasi rekaman band-band Jogjakarta di masa dahulu yang lebih menitikberatkan pada bermain di acara ketimbang merekam dan mendokumentasikan karyanya. Tentunya ada proses kurasi dari tim Jogja Records Store Club yang terdiri dari para pemilik records labeí, lapak musik online dan offline serta musisi band di Yogyakarta. Parameter kurasi yang kami pakai lebih ke arah taste personal masing-masing kurator disamping melihat track records serta potensi sebuah band untuk menjadi lebih berkembang nantinya.
Dan kenapa kami pilih kaset sebagai mediumnya, tidak lain dan tidak bukan karena kesepakatan bersama diantara tim kurator serta tidak menutup kemungkinan karena kami lebih familliar dengan medium kaset disamping harga produksi yang lebih terjangkau dibanding cd atau vinyl :)
Di event CSDYK 2016 ini seperti di tahun-tahun sebelumnya kami bekerjasama dengan agen booking band tour, YK Bookingyang menyediakan alat band untuk sesi live music. Pada saat bersamaan juga ada 3 musisi asing yang sedang mengadakan tour di Indonesia dan diorganisir oleh YK Booking yang jatuh pada hari yang bersamaan sehingga menjadi masuk akal apabila ada band asing bermain di event ini toh event ini pun sifatnya sebuah perayaan internasional. Apalagi salah satu musisi yang tampil, Robert Pepper (Pas Musique) juga seorang pemilik records label dari USA, akan turut mengisi sesi diskusi yang bertemakan Musik dan Perkembanganya Hari Ini. Sementara 2 musisi/band lain yang juga bermain di event ini, Mengayunkayu dan Terasering juga turut mengisi kompilasi kaset Jogja Records Store Club #3.
Nah jadi tambah semakin panjang
saja kan pembukaan kali ini :) Okay, daripada semakin melebar, silahkan baca tulisan teman-teman di zine ini. Jumpa lagi di edisi selanjutnya.
Martinus Indra Hermawan (Director Jogja Records Store Club)
Lintas Musik Irish Folk
Jr Miko
Bicara soal perkembangan musik pasti kita akan membuka lembaran kitab dari masa ke masa untuk menengok sejarahnya. Perkembangan musik folk/irish/celtic punk saat ini memang sedang mengalami kemajuan pe- sat, dari proses merangkak menuju jalan setapak. Bermula di tanah Irlandia, negara yang dulunya sedang berkonflik hingga menimbulkan perang saudara akhirnya banyak musisi disana membuat lagu rakyat (folk) dengan tema pem- berontakan, protes dan nasionalismenya. Rupanya kantong imigran Irlandia (irish diaspora) dan komunitas Skotland- ia yang tersebar di Inggris (London), Australia (Sydney & Australia Selatan), Amerika Serikat (Boston, Los Angeles), Kanda (Vancouver & Newfoundland), menjadi tongkat estafet penyebaran musik irish folk tersebut. Musik dengan instrumen tradisional seperti banjo, akordeon, mandolin, tin whistle, bag pipes, bodran ini akhirnya digunakan oleh grup musik Ronnie Drew Group untuk menjadi pioneer irish folk ditahun 1960an. Joseph Ronald “Ronnie” Drew menggandeng musisi seperti Luke Kelly untuk pertama kalinya tampil di O'Donoghue's Pub yang berlokasi di Dublin. Akhirnya mereka menggandeng Ciaran Bourke dan Barney McKenna untuk membentuk “Ronnie Drew Group” yang pada akhirnya berganti nama menjadi The Dubliners. Pada masa The Dubliners sedang naik daun, Luke Kelly akhirnya meninggal diusia 43 tahun 1984.
Pada dekade 80-an muncul seorang tergabungkan dengan musik irish folk.
pemuda dengan gigi ompong dari In- ggris (London) bernama Shane MacGowan yang akhirnya membentuk sebuah grup musik bernama “Pogue Mahone" atau lebih dikenal dengan sebutan The Pogues. Grup musik ini digawangi oleh Shane MacGowan, Spider Stacy, Jem Finer, James Fearnley, Andrew Ranken, Darryl Hunt dan Terry Woods sebelum akhirnya diperkuat oleh Joe Strummer (The Clash) untuk sementara waktu karena Gowan mengalami masalah dengan minuman beralkoholnya. Se- cara musik tak jauh beda, dengan spirit dan akar pohon yang sama akhirnya The Pogues juga pernah berko- laborasi dengan The Dubliners.
Memasuki tahun 90-an musik irish folk makin berkembang dan menye- bar luas diberbagai negara. Bahkan di
negara yang tidak ada hubungan teri-
tory dengan Irlandia sekalipun. Berarti musik irish folk sudah diterima dika- langan Internasional. Semenjak saat
itu, banyak sekali bermunculan grup musik dengan genre yang sama. Sei-
ring berubahnya zaman terjadi perali- han dari musik irish tradisional menuju ke irish modern. Tak menjadi masalah,
karena akar pohon ini sebenarnya
sama hanya ditambah dengan instru- men elektrik berdistorsi di generasi modern ini. Selain itu dibeberapa negara juga terjadi “Fusion” musik irish folk. Apa itu fusion musik irish folk? Seperti halnya basic musik irish folk digabungkan dengan berbagai genre musik hingga menjadi satu kesatuan.
Mari kita bahas satu persatu genre
apa saja yang selama ini telah bisa
- Celtic – Punk Dropkick Murphys, band asal Boston dengan basic attitude punk & skin- headnya ini membawakan karakter musik punk ditiap lagunya. Mengga- bungkan beat punk dengan balutan kombinasi alat tradisional irish. Bisa dibilang mereka adalah salah satu band yang mempopulerkan genre celtic punk ini, selain The Tossers, Blood or Whiskey, Flogging Molly, The Mahones.
- Celtic – Rock Penggabungan antara musik celtic dengan musik rock. Saya akan mengambil “The Waterboys”sebagai salah satu contohnya. Grup musik ber-attitude rock n roll ini mengga- bungkan lagu dengan sentuhan musik celtic dengan tambahan instrument bi- ola, banjo dan akordeon. Track favorit saya adalah Fisherman's Blues.
- Celtic – Ska Bagaimana jadinya jika celtic punk digabungkan dengan musik ska? Ya, Pork Pie Tribe menjawab pertanyaan itu. Grup musik 2tone ska asal Florida, Amerika Serikat ini memainkan musik ska dengan tambahan instrument Bag Pipes didalamnya. Untuk mengeta- hui bagaimana musiknya, kalian bisa mencari lewat halaman Youtube. Selain itu adalah The Trojans, pada al- bum Ala-Ska (1987) mereka membuat lagu Gaelic Ska. Terasa sekali grup musik dengan basic Ska memainkan instrument celticnya ini. Dan pada tahun 1994 mereka kembali merilis al- bum “Celtic Ska” berisi 14 track yang
dirilis oleh Gaz Rockin Records.
- Celtic – Reggae Tak jauh dari akar rumput Ska, yai- tu Reggae. Paddyrasta, adalah per- wakilan grup band yang menjadi crossover atau fusion dari musik reggae dan irish folk. Tambahan instrument banjo, mandolin, biola, tin whistle dan akordeon dengan permainan beat ala-ala Bob Marley ternyata mampu membuat irama ini menyatu. Dan salah satu track favorit saya adalah “Listen To Your Heart”.
- Celtic – Pop Rasanya sudah tak asing ditelingan kalian, The Corrs adalah salah satu band legendaris yang mewakili fusion ini. Grup musik yang beranggotakan 3 perempuan dan 1 pria ini adalah satu darah keluarga. Sudah tidak diragukan lagi ketika melihat show live mereka, Andrea sang vokalis sekaligus peniup tin whistle menjadi frontline perempuan dalam grup musik ini membawa khalayak menuju ke dunianya ketika mendengarkan seluruh komposisi instrument yang dibawakannya.
- Celtic – HipHop Percaya tidak percaya, kedua genre musik ini telah berhasil tergabungkan oleh grup musik Beltaine's Fire dan Manau. Beat rapp hiphop dengan ko- laborasi instrument banjo, bag pipes dan biola rupanya mampu menam- bah taste pada musik hiphop mereka. Salah satu track favorit saya untuk Manau adalah La Tribu De Dana.
- Celtic – New Age Ketika menulis New Age, pertama kali yang terlintas dibenak saya ada-
lah Eithne Patricia Ni Bhraonain atau kerap dikenal dengan nama “Enya”. Dara kelahiran 1961 ini adalah musi-
si solois dari Irlandia. Enya memang
berasal dari keluarga musisi, tahun 2000 adalah tahun terbaik untuknya. Pasalnya album “A Day Without Rain” dengan salah satu track “Only Time” berhasil meraih penjualan 15 juta kopi diseluruh dunia.
- Celtic – Electronica Nuansa irish jig dan disko, kedua fusion antara musik celtic dan elec- tronika ini diwakili oleh Martyn Ben- nett. Grup musik dengan instrument bagpipes dan biola, serta perpaduan musik ala-ala elektronika ini akan membuat kalian seperti sedang ber- irish dance di dalam diskotik!
- Celtic – Metal Sepertinya fusion ini menarik untuk di- bahas. Saya akan mengambil contoh grup musik “ULTERIA”, frontliner perempuan dengan iringan drum double pedal ala-ala metal mampu merangkul pemain bagpipes untuk mengisi part- part didalamnya. Cukup mengejutkan, ternyata diluar negri sana sudah ban- yak grup musik yang memainkannya entah dari Irlandia atau negara bagian lain. Sebenarnya di Indonesia juga terjadi fusion musik irish folk dengan genre musik yang lain, tetapi bahasan itu akan saya terbitkan untuk newslet- ter yang sedang saya rintis bersama WLRV Records pada WLRV Newslet- ter Vol. 3 bulan depan.
PENGALAMAN
& TIPS BAND
INDONESIA TOUR KE LUAR
NEGERI
Tour, Finansial, Audiens, dan Pertemanan
Dea Karina
ebenarnya saya menulis ini sudah lama sekali dan merupakan sebuah artikel yang sedang dalam progress namun belum selesai karena saya tidak tahu harus mempublish ini ke mana, akhirnya berakhir menjadi koleksi prib- adi saja. Sudah 8-9 bulan yang lalu tetapi saya belum selesai untuk dipublish ini. Kebetulan saya diundang Mas Indra Menus untuk kontribusi sebuah artikel, dan menurutsayatulisaninipasuntukdibagikan. Mariflashbackke8-9bulan yanglalu.
Pada hari Jumat, 8 Januari 2016 saya menghadiri acara screening DVD “The Other Option” dan diskusi tentang melakukan tur ke luar negeri yang diada- kan di Pier 14 Coffee Shop, Bumijo Tengah, Yogyakarta. Acara tersebut diawali dengan menonton bersama film dokumenter “The Other Option” yang menceri- takan tentang perjalanan sejarah punk dan hardcore Australia melakukan tur di Asia Tenggara.. Sayang sekali saya datang sedikit terlambat dan melewatkan beberapa adegan dalam film tersebut, namun cukup untuk menarik kesimpulan bahwa band-band tersebut sangat menghargai komunitas underground Asia Tenggara yang sangat passionate. Menurut mereka, bermain di Asia Tenggara itu wajib menjadi lanjutan setelah khatam tur di negara-negara maju seperti Australia dan Amerika Serikat yang memang sudah banyak menampung musisi-musisi underground sejak lama. Setelah film tersebut selesai, acara dilanjutkan dengan sesi break 5-10 menit dan diskusi yang dimoderatori oleh Gisela Swaragita. Pembicara dalam acara ini ada dua, yaitu Eka (Brilliant at Breakfast) dan Rully (Zoo, Senyawa). Kedua
pembicara tersebut mempunyai pen- galaman tour di luar negeri yang akan menjadi topik dalam diskusi ini.
Tour
Kedua pembicara dalam diskusi ini sudah banyak berpengalaman dalam tur ke luar negeri; Rully sudah menjalani tour di berbagai macam
negara di Asia dan Eropa bersama
Zoo dan Senyawa, dan Eka sudah tour di Singapura dan Jepang bersama Brilliant at Breakfast. Pernyata- an pertama adalah, “Kok bisa tur ke luar negeri gimana sih ceritanya?"
Eka (Brilliant at Breakfast) Brilliant at Breakfast telah melakukan mini tour pada tahun 2011 di Singapura dan pada tahun 2012 ke Jepang di daerah Shinjuku and Shibuya. Menurut Eka, memang skala tour tersebut tidak terlalu besar. Awal Jan- uari 2011 Brilliant at Breakfast merilis album pertama dan sebelum melaku-
kan perjalanan ke luar negeri itu sudah melakukan mini tour ke beberapa kota di Indonesia. Selain itu, social media dan internet pada umumnya sangat membantu. Kebetulan Brilliant at Breakfast mempunyai teman di Singapura yang in charge pada salah satu program Esplanade yang bernama Rocking Region dan di- tawari untuk melakukan pertunjukan disana (Singapura). Tahun 2012 (saat menjalani tour Jepang), peran internet lumayan besar. Dari komunitas sudah ada kontak dengan teman sesama penggemar shoegaze di Jepang. Da- hulu Eka sempat terlibat di acara radio bernama Afterbeat. Setiap hari Rabu ada sesi tersendiri untuk mengang- kat Japanese shoegaze. Biasanya band-band shoegaze berasal dari UK, nah kalau ada band shoegaze dari Jepang ini pasti menarik dan akhirnya berlanjutlah dengan ngobrol bersama shoegazer-shoegazer dari Jepang. Lalu dari komunikasi ini Eka
dan kawan kawan sesama shoegazer Jogja membantu organize acara Jap- anese Whisper yang mendatangkan Texas Pandaa. Berlangsung sekitar tahun 2010 Acara tersebut dilak- sanakan di Jogja sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi juga. Tahun 2012 kawan dari Jepang menawarkan untuk membantu Brilliant at Breakfast untuk melakukan tour. Mengapa Brilliant at Breakfast yang berangkat, karena saat itu CD Brilliant at Break-
fast sudah dijual di Jepang
Ketika berada di Jepang, Brilliant at Breakfast bermain di Shinjuku di da- lam sebuah live house (semacam club tetapi lebih ke band atau live music) pada malam pertama. Malam kedua Brilliant at Breakfast bermain di venue kolektif setempat yang berbentuk club kecil. Sebelumnya pihak dari Jepang sudah berhubungan dengan Brilliant at Breakfast lewat social media. Kebetu- lan pada show pertama itu mereka ada
slot mingguan, jadi pas/klop waktunya.
Finansial Finansial memang utama. Ketika Brilliant at Breakfast bermain di Es- planade mereka mendapat fee yang bisa menutup biaya penginapan. Ke-
tika tur sangat tergantung dengan low
cost airline, baik yang ke Singapu- ra atau Jepang, terutama pada tiket promo. Untuk pengeluaran pribadi ya tetap ditanggung masing-masing. Sebagai konsekuensi, Brilliant at Breakfast banyak mengambil tawaran bermain di Jogja yang berbayar. Se- lain itu ada subsidi silang, bantuan orang tua, dan saling membantu untuk personil yang kira-kira kurang mampu dari hasil manggung dan jualan merchandise. Akhirnya fee dibagi tetapi bisa langsung habis untuk makan. Show yang kedua tidak berbayar, hanya disediakan fasilitas tetapi cukup terbantu oleh penjualan
manggung ya manggung aja entah merchandise (dapat menutup trans- port). Pada saat itu yang berangkat mereka tahu apa tidak haha. Setelah itu mereka bersalaman dengan au-
ke Singapura sekitar 9-10 orang, dan
yang ke Jepang sekitar 10-11 orang.
Audiens Kalau saat di Singapura, acara Esplanade diadakan di venue outdoor. Acara tersebut adalah acara rutin week- end yang gratis dan di tempat terbuka, jadi rame. Menurut Eka, di Singapura audiens cenderung lebih kaku secara
general; mereka sekedar duduk dan
menonton. Ditambah lagi Esplanade ada kebijakan tidak boleh joget-joget di depan. Uniknya, tidak terkira akan penuh. Namun mereka lebih responsif terhadap merchandise (CD dan kaos habis semua).
Kesimpulannya, di Singapura crowd lebih responsif beli tetapi tidak begi- tu responsif di gerakan. Kalau di Jepang seru banget, agak gila karena budaya “work hard play hard” mere-
ka. Selain itu mereka sangat on time ke gig. Kayanya pada langsung dari
kantor karena ada yg bawa koper dan masih pake kemeja. Masuk klubn-
ya pun on time banget, acara sesuai
schedule, setengah jam saat open door sudah lumayan yang datang. Dari pertama mulai sudah ada yang di depan joget-joget. Saat nonton show mereka senang-senangnya benar-benar maksimal. Saat itu ada 4 band dan Brilliant at Breakfast mendapat slot ketiga. Dari penampilan band pertama crowd-nya memang sudah lumayan dan mereka sudah joget-joget. Yang dikuatirkan justru kendala
bahasa hanya itu mengatasinnya ya
cuek aja, ngomong ya ngomong aja,
diens dan audiens meminta maaf tidak bisa berbahasa Inggris. Saat itu crowded banget. Mungkin karena kultur mereka semangat untuk have a good time. Kesimpulan: di Jepang mereka bersemangat untuk berse- nang-senang; ngegigs aja disiplin. Mereka semangat; minum, mengo- brol, menikmati musik juga semangat.
Rully (Zoo, Senyawa) Rully menceritakan pengalamannya Asia Tenggara bersama Zoo. Saat itu, semua diorganisir sendiri dengan menghubungi teman-teman di Indone- sia, Singapura, dan Malaysia. Menurut dia, pengalaman tour itu menarik karena tour itu pengalaman esensial untuk band. Dengan tur, band dapat “naik kelas” secara mental, salah satu alasannya karena bermain di hada- pan orang yang bukan teman sendiri.
Akan lebih baik kalau menghadapi
orang asing. Tour itu melatih kedi- siplinan, berorgansisasi, waktu, ke-
matangan, dan stamina. Tour harus padat karena bila tidak akan rugi uang, jadi tour itu pekerjaan. Tour itu bisa menghasilkan sekali; Menurut Rully tour paling lama yang per- nah dialami, berdurasi 2 bulan dan melaksanakan 32 konser di 9 negara. Menurutnya, kalau bisa, sikapilah tur sebagai pekerjaan, bukan liburan atau plesir, karena ini sumber uang buat musisi. Kalo musisi profesional harus tour, kalo tidak ya itu hobi. Apapun musiknya ada pasarnya/musiknya,
SENYAWA in Mediterrania 2016 02/04 IRTIJAL FESTIVAL Beirut, Lebanon 07/04 BORDERLINE FESTIVAL
jadi jangan khawatir musiknya apa yg penting punya karya yang yakin bisa diterima orang. Siapapun bisa tour sekarang dan di negara apa saja; link itu gampang. Mungkin bahkan lebih gampang tur DIY yang digelar sendiri. Yang penting mengeluarkan karya, dan harus bangun jaringan. Kata Rully, saat tour ke Aussie pulang ya duitnya ga ada tapi setelah kedua-ketiga kali udah enak. Dari situ kan ada payoff nya apalagi networking, jadi harus dicoba dulu. Yang menarik adalah karena Żoo kan band punk bawa merchandise, tapi pen- jualan merch sangat baik dan itu bs cover penginapan, akomodasi, padahal itu br pertama kali, jadi jangan khawatir. Saran dia, kalau tur jangan banyak hari libur karena akan habis duitnya. Kalo main bisa makan di venue gratis dan akomodasi bisa ditanggung. Hindari hari libur karena tur itu bekerja, bukan jalan-jalan. Eka menambahkan bahwa tur itu penting karena menggembleng mental, mela- tih disiplin dan membuka pengalaman baru yg berguna banget dalam perspek- tif kamu bikin karya dari segi kreatif jadi bisa menghasilkan karya dan punya cara pikir yg beda.
Pertemanan Mengenai pertemanan, Rully mempunyai pengalaman menarik. Dia berkata bahwa tur itu selalu menyenangkan, dan yg paling berkesan itu respon audi- ens. Rully bercerita, “Pada suatu saat ada anak kecil 11 taun menonton, lalu setelah kami selesai main orangtua si anak ini datang dan bilang kalau anaknya
suka banget, dia mengundang kami makan siang di rumahnya. Kami dijem- put di hotel dan bersama mereka kami makan siang seperti keluarga normal. Anaknya lalu minta email dan sering berkirim email sampe sekarang”. Selalulah bikin teman. Kalau orang semuda itu bisa terkesan banget dan sampe tua bisa punya kesan yang lain. Itu yang menarik.
Selalulah bikin teman. Kalau orang semuda itu bisa terkesan banget dan sampe tua bisa punya kesan yang lain. Itu yang menarik. Kalau pertemanan di band sendiri, Rully menyarankan bahwa pertemanan memang harus dijaga bener, pasti kalo tour itu pasti bosan, menginap di tempat sama selalu bareng. Biasanya pulang berantem gitu. Kalo beneran profesional hal-hal seperti itu dikesampingkan. Lalu Eka menambahkan bahwa interaksi antar band personil banyak karakter yang berbeda-beda; ada pressure dan semua hectic-standar karena semuanya harus on the move karena periode yang sebentar. Menurut Eka “Pertemanan yang dapat dari sana juga ada, nongkrong habis manggung, kenalan di sana, ternyata mereka yang jauh lebih keren. Ternyata orang eksis sana tapi mereka ga bilang juga. Menjalin pertemanan dengan banyak orang Jepang diajak minum bareng tapi karena kendala bahasa jadi cuma angguk-angguk tapi pertemanan bagus dan terjalin sampai sekarang”. Dia mengakui pen- galaman tersebut penting dan berguna. Berkenalan, mengobrollah dan saling bertukar kontak
Dea Karina aktivis gigsjogja.com dan @ykbooking sumber foto dari akun facebook Senyawa dan Brilliant at Breakfast
Menghakimi Selera
dan Susahnya Menjadi
Orang yang Terkini
Adi Renaldi
Mata Joni menatap nanar ke luar jendela gerbong kereta rel listrik yang membawanya ke Tanah Abang. Earphone terpasang di kedua lubang telinganya. Sesekali ia sedikit mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya mengikuti hentakan musik yang terpancar dari smartphone hasil kreditan bulan lalu. “Lagi dengerin apa, Jon?” tanya Simo, rekan Joni sejak SMP, sambil mencolek lengannya. Joni terkesiap dari lamunannya sambil melepas earphone. “Lagi dengerin apa," ulang Simo. "Oh, ini Mo, lagi dengerin D'Masiv," jawab Joni enteng. “Walah, hari gini kok masih dengerin musik kayak gitu lho,” ujar Simo heran. "Lha, memangnya kenapa sih, Mo," “Kamu kok gak ngerti musik banget, Jon. Dengerin tuh ya mbok musik-musik keren gitu. Kayak gini nih,"Simo berkata, sambil menunjukkan kaos bersablon tulisan sebuah band Ibukota.
"Itu band apa, Mo? Kok aku baru tahu ya," tanya Joni terheran-heran. “Duh, kampungan bener lu!” cerca Simo, sementara kereta terus melaju dengan lantangnya menembus kemacetan kota Jakarta. Joni baru sebulan tinggal di Jakarta. la datang dari udik. Dan seperti orang-orang dari kampung, la mencoba mencari peruntungan di Jakarta. Sembari mondar- mandir cari pekerjaan, Joni tinggal di kontrakan Simo, sohibnya kentalnya itu, yang sudah 9 tahun mencari sesuap nasi di Jakarta. Joni kadang terheran-heran, dari mana Simo bisa melek soal musik. Kenapa la mendadak menjadi semacam kritikus yang mencela selera musik orang.
Setiap kali Joni lagi santai di kontrakan dan nyetel musik dari smartphone-
nya, Simo ikut nimbrung. Memberi
komentarwalau Joni nggak
bertanya.
“Memang ada yang salah ya dengan selera musikku. Kok
Simo sampai segitunya
sewot," batin Joni.
Perkara selera kadang bisa menjadi persoalan gawat. Selera bisa dihakimi. Selera bisa menentukan posisi kita di masyarakat. Orang tidak segan menaikkan seleranya, demi 'naik kelas'. Selera adalah anak tangga agar kita diakui. Diakui oleh siapa?
Penghakiman selera bisa mereduksi diri hingga level sub- atom, jika dilihat dari kacamata eksistensialis. Ironisnya begitulah cara kita hidup. Dari kehidupan bermasyarakat tersebut kita membentuk identitas, baik individual maupun kolektif. Orang berharap bisa menemukan identitas dalam pembentukan selera itu. Bahwasanya “Aku adalah individu yang unik. Aku berbeda dari kamu."
Lucunya, ketakutan terhadap penghakiman justru menegasikan identitas diri. Dan pada akhirnya, orang bakalan terjerembab dalam labirin hingga sadar bahwa keunikan individu adalah omong kosong saat ajal mendekat. Pembentukan selera terjadi dalam skala masif. Selera adalah milik industri, tangan-tangan yang tak terlihat. Kita sebagai target ya harus manut saja.
Dari situ, 'tangan-tangan' tersebut mendikte, mencocok hidung, menyuapi kesadaran bahwa dengan gaya hidup inilah kita bisa diakui.' Lantaran takut
dicap ketinggalan jaman, kita tergesa-gesa mengikuti kemajuan zaman
dengan segala ingar-bingar pernak-perniknya. Gara-gara takut dicap berselera
kampungan, kita buru-buru jatuh hati ke skena tekno Kopenhagen. Tapi tenang, tidak perlu takut dengan kenyataan ini. Tiada yang salah juga. Toh, kita semua adalah Joni-Joni yang terhakimi.
Dan jangan kaget. Saya-lewat tulisan ini-barusan juga menghakimi Anda Iho.
Pengakuan Dosa
Seorang Perusak
Mesin Waktu
Titah Asmaning W.
etidaktahuan adalah luka. Dan setiap luka, tidak seharusnya diobati dengan zat adiktif bernama lupa. Lupa, kau tahu, adalah benteng paling rapuh apalagi jika dihadapkan pada monster bernama memori alias inga- tan. Tulisan ini adalah sebuah pengakuan dosa, tentang luka yang saya buat di hati seseorang karena ketidaktahuan. Luka yang baru disadari korban tiga belas tahun kemudian, tepat semalam sebelum deadline tulisan ini dikumpulkan
Bayangkan sedang memutar sebuahBagi gadis kelas 3 SD, tumpukan kar- kaset. Mari saya bimbing kalian me-dus yang ukurannya hampir sama mencet tombol playback di linimasa dengan tinggi tubuhnya itu adalah wa- cerita ini. Ke sebuah masa dima-hana yang seru sekali. T dan 2 orang na seorang anak SD kelas 3 tengah teman karib yang tinggal di sebelah melakukan hal keji terhadap belasan rumahnya berlarian dan saling sem- musisi legendaris Indonesia era 80-bunyi di antara tumpukan kardus, ber- an. pura-pura ada di setting film Ultraman. Saat Godzilla sudah hampir memukul Tiga belas tahun lalu, T, seorang ga-Ultraman yang lampu dadanya sudah dis kecil berambut keriting tengah asik berkelip-kelip lowbat, permainan usai. bermain di antara tumpukan kardus T tidak sengaja membuka satu kardus coklat besar di ruang tamunya. Di atas di hadapannya. Berisi puluhan benda meja marmer di tengah ruangan ada segi empat dengan 2 iubang berjejer 3 dus menumpuk, bertebaran di seki-di tengahnya. Dengan sampul war- tarnya ada belasan lainnya tak bera-na-warni beraneka rupa. T tahu itu turan. Ada bagian tembok lebih putih adalah kaset, ia sendiri punya bebera- di beberapa sudut ruangan, bekas pa kaset Trio Kwek-Kwek, tapi definisi lemari dan sofa yang baru diangkut mainan lebih menggoda di kepalanya. setelah sekian lama menempel di Menggunakan jari kecilnya, T menar- tempat yang sama. Rumah itu adalah ik salah satu pita coklat bening yang rumah kontrakan yang sudah ditem-mencuat di salah satu lubang. Voila... pati si gadis sejak ia lahir, setahun ini pitanya tidak habis-habis walaupun Bapaknya membangun rumah sendiri sudah ditarik panjang. Dan kau tahu dan mereka akan pindah. anak kecil kan?
Mereka bertiga kemudian membawa
kardus ke belakang rumah. Mengeluarkan semua isinya, menarik keluar semua pita coklatnya. Saling mengikatnya, berselang-seling. Ber- pura-pura itu adalah rambut, bulu genderuwo, bakmi goreng kebanya- kan kecap, sampai monster cacing
pita yang siap memakan korban. Mer-
eka menyobek kertas-kertas warna warni di dalamnya, dan tidak jarang wadah beningnya terinjak atau jatuh lalu pecah. Singkat cerita, ketika sore sudah hampir hilang, T dan 2 teman- nya ingin mengembalikan mainannya tersebut ke keadaan semula. Tapi seperti nasi yang sudah menjadi bubur, pita kaset sudah menjadi bolah ruwet, ketiga anak lugu tersebut justru mem- bawanya ke tempat rongsokan jauh di belakang rumah dan menutupinya dengan karung dan botol bekas. Lalu kembali ke rumah dengan kepolosan khas anak kecil yang baru merusak barang berharga, kau tahulah. Keluar-
ga gadis T lalu pindah rumah dan ke-
jadian tersebut tidak pernah dibahas. Lupa begitu saja.
Sampai tiga belas tahun kemudian,
seorang om om legenda skena musik
indie Jogja bernama Indra Menus me- minta saya menuliskan sesuatu ten- tang kaset. Singkat cerita saya kemudian tahu, bahwa kardus tersebut berisi koleksi kaset Bapak saya waktu masih muda. Setumpuk mainan seru saya waktu itu adalah setumpuk arsip diskografi sebuah era musik, sebuah koleksi berharga milik seorang yang pernah muda. Dari Bapak saya, saya tahu korban kebiadaban saya waktu itu terdiri dari Sam Bimbo, D'Lloyd, Kantata Takwa, Gombloh dengan Lemon Tree, beberapa album Ebiet
G. Ade, Ermy Kulit, suara aduhai Vina Panduwinata, Edy Silitonga, The Mer- cy's, Rinto Harahap, Rita Butar-Butar, Godbless, Ikang Fauzi, Soneta Grup, Om AWARA, Ida Laila dan banyak lagi. Saya sendiri hanya mengenal beberapa karya mereka. Tapi dari koleksi tersebut, saya jadi tahu masa kejayaan selera musik Bapak saya ada di tahun 80'an, dan selera Bapak cukup beragam dari mulai pop, rock hingga dangdut. Saya lalu membayangkan tiap muncul musisi baru yang oke, Bapak saya yang masih muda dan parlente kerap datang ke toko musik kesayangannya. Tindakan mengoleksi yang dilakukan Bapak tidak seperti yang dilakukan anak-anak muda jaman sekarang. Di circa 80'an tersebut, Bapak membe- li kaset karena kaset adalah media musik yang paling demokratis. Ben- tuknya mudah dibawa, harganya lebih murah dan lebih banyak dijual. Seber- apapun kaya Bapak waktu itu, atau seinginnya Bapak untuk mengoleksi musik dalam bentuk lain, kaset adalah pilihan paling masuk akal. Sedang- kan sekarang ini, ketika muncul acara semacam Cassette Store Day dan ke- bangkitan kaset di antara gempuran format MP3, CD dan lainnya, mengoleksi kaset adalah pilihan sadar. Bulan Oktober 2014 lalu, saya sem- pat datang ke Preliminary Notes #1 LARAS edisi 1. Saat itu muncul per- tanyaan dari Nuning Juliastuti ten- tang apakah mengoleksi kaset juga bisa disebut sebagai sebuah gerakan baru, yang memunculkan diskusi asik. Salah satu pemateri, Antariksa lalu mengeluarkan sebuah istilah yang sangat menarik: Critical Collecting.
Sebuah tindakan mengoleksi yang kritis. Jika saya ingat-ingat lagi, kata ‘critical' yang mengikuti kata kerja 'collecting' disini mungkin mengacu pada pemaknaan yang sama seperti ketika menyebut istilah Critical Think- ing'. Antariksa saat itu memang belum membuat rumusan pasti, ketika saya cari literaturnya di internetpun belum ada. Jadi kalau boleh saya rumuskan sendiri berdasar berbagai sumber, Critical Collecting adalah tindakan mengoleksi yang melibatkan proses berpikir, mengonsep, menganalisis, mensintesis, atau mengevaluasi infor- masi yang dikumpulkan dari atau di- hasilkan oleh observasi, pengalaman, refleksi, penalaran atau komunikasi yang kemudian digunakan sebagai
panduan untuk melakukan sebuah
tindakan atau meyakini sebuah ide. Dalam hal ini mengoleksi kaset, laku tersebut bisa diaplikasikan ke cara mengoleksi, mengumpulkan koleksi dan mendistribusikan koleksi.
Dari Antariksa juga saya paham bahwa tindakan mengoleksi ini mungkin saja berakar dari revolusi industri
yang terjadi di Eropa tahun 1750-
- Detilnya bisa kalian pelajari sendiri di buku sejarah. Poinnya adalah bahwa revolusi industri yang pada intinya mengubah basis perekonomi- an dari pertanian ke manufaktur ini memunculkan perbedaan kelas, yaitu kaum borjuis dan proletar. Kaum borjuis inilah yang mengawali tindakan mengoleksi seperti yang sekarang kita pahami. Keadaan ekonomi mere- ka yang unggul memungkinkan mere- ka melakukan tindakan tersier, seperti mengoleksi barang-barang yang punya nilai ekonomi. Setelah tidak lagi
bermasalah di sisi ekonomi, kita bisa memahami bahwa sebagian besar tindakan mengoleksi lalu didasari pada hal-hal romantik yang berhubungan dengan perasaan.
Melihat konteks sekarang ini, ketika pasar rilisan kaset yang disebut-sebut kembali berjaya ini adalah anak muda kelas menengah (mayoritas -ke atas) dengan background label-label in- telektual apapun itu, rasanya konsep
yang dimunculkan Antariksa terse-
but menarik sekali untuk digalakkan. Saya rasa para kolektor kaset muda ini harus punya alasan yang lebih oke daripada sekedar supaya dibilang hip- ster.
Menerapkan laku Critical Collecting saat mengoleksi kaset sekarang ini mungkin bisa dipraktekkan dengan mengoleksi yang tidak hanya karena trend'. Dengan laku ini, hobi mengoleksi kaset bisa sangat menarik. Karena kolektor akan bisa menemukan berbagai nilai yang tersimpan dalam kaset tersebut, entah sebagai arte- fak musik lama, sebuah penanda era, nilai historisnya, wacana tentang ban- gkitnya, pemaknaan ulang, bahkan sampai memunculkan wacana-wacana baru dari hal-hal yang ditemui di seputar proses datang ke Cassette Store Day – memilih – bertemu pegiat skena – nonton band – rebutan limited releases – nonton band – pulang ke rumah – memasukkan kaset ke tape recorder dan seterusnya.
Misalnya dalam memburu rilisan ter-
anyar V/A Jogja Records Store Club 2016, sebelum rebutan atau meng-
goda Mas Menus untuk menyimpank-
an 1 copy untuk kalian, kalian bisa menanyakan kenapa harus dibuat kompilasi ini, apa perlunya ini dibuat, bagaimana kurasi band di dalamnya, apakah kompilasi ini bisa merepresen- tasikan sesuatu, atau kalau tiba-tiba JRSC menjualnya dengan harga ma- hal, bisa ditanyakan atas dasar apa, harga produksinya berapa, sampai kemana larinya uang hasil penjualan. Setelah pulang bisa dibuat bahan di- skusi dengan teman atau pacar, band mana yang seharusnya nggak masuk atau kenapa yang tampil di Cassette Store Day Yogyakarta justru band-band dari luar negeri alih-alih band yang tergabung dalam kompilasi. Ya,
mungkin kita bisa mewujudkan Critical
Collecting sesederhana itu.
Terlebih, ketika tindakan mengoleksi sekarang ini bisa dimaknai sebagai sebuah ruang yang luas, istilah yang bisa dimaknai secara berlapis. Tidak
seperti misalnya yang dilakukan Ba-
pak saya di circa 80'an dulu, ketika mengoleksi kaset adalah perkara ka- hanan alias keadaan. Meskipun sekarang, ketika saya sudah paham ten- tang berbagai wacana di dunia musik atau bisa googling, saya juga bisa mengkritisi selera musik Bapak. Tapi untuk kasus ini saya lebih tertarik untuk membahas apa yang ditimbulkan oleh koleksi lama tersebut.
Saya bisa membayangkan, Bapak dulu bisa menghabiskan seluruh uan- gnya untuk membeli kaset. Setelah menikah, hobi mengoleksi kasetnya harus dibatasi. Maka setelah menikah dan punya dua anak, melihat tumpukan kaset koleksinya mungkin bisa jadi eskapisme yang sangat menyenangkan.
Tumpukan kaset Bapak adalah mesin waktu untuknya. Mereka mungkin akan membawa Bapak pada kenan- gan masa mudanya lagi. Saat ia dan kawannya mungkin diam-diam ma- buk saat menonton konser GodBless. Menilapkan uang SPP demi suara aduhai Vina Panduwinata atau bah- kan ingat mantan-mantan pacarnya sebelum akhirnya menambatkan hati pada ibu saya. Kau tahu, memori itu seperti senjata, ia bisa membuatmu bahagia atau ingat pahitnya berbagai perasaan. Untuk saya sendiri, musik selalu membawa memori tertentu.
Dan tiga belas tahun lalu saya telah merusak mesin waktunya. Saya telah merusak salah satu jembatan Bapak ke masa mudanya. Padahal menurut saya, tiap orang berhak punya artefak
pribadi. Sebelum ke akhir cerita saya harus
memberi tahu sesuatu. Dengan berbagai alasan, jarang sekali rasanya saya menghubungi Bapak. Paling-paling hanya urusan SPP atau uang bayar kosan. Tidak apa-apa, tumbuh dewasa memang kadang seperti itu. Namun demi tulisan ini, saya yang sudah jarang sekali mengontak Bapak di rumah, semalam mengirimkan
pesan singkat. Saya mengirim pesan
sebagai berikut, sebuah pertanyaan sederhana, "Pak, sebutin nama-nama band yang dulu Bapak punya koleksi kasetnya."
Tidak sampai lima menit kemudian, handphone saya berbunyi, nama “Bapak” tertera di layar. Secara otoma- tis jempol saya mengambil gerakan swipe ke kiri, dalam waktu sepersekian detik tersebut, saya sempat berharap saya tadi sedang main Tinder. Suara
tHS 15 SALVADOR MINTINE "GUERNICA"
a
illustrasi : Yonas Kristy-Silent Dining Table 2014
bapak muncul dari sebrang sana. “Ha ngge opo to daftar kae mau? Bapak tau nduwe koleksine kabeh, tapi pas pindahan ilang mbuh nengdi” ujarnya. Saya bisa membayangkan semalam
Bapak sedang merokok di meja ruang
tamu belakang di rumah memakai cel- ana pendek favoritnya sedang mem- baca buku. "Lagi bikin tulisan tentang
kaset Pak. Anu, sebenere, pas pinda-
han mbiyen, kardus sing isine kasete
sampeyan tak ngge dolanan neng
mburi omah Pak, pitane ruwet kabeh njuk tak buang,” ujar saya sambil menahan napas.
Kemudian saya merasa hening lama, padahal sebenarnya cuma 2-3 detik. Kau tahu, mungkin rasa bersalah yang bercampur gugup bisa mengaburkan konsep ruang dan waktu di kepalamu.
“Oalah... dadi sampean to pelakune, yo yo," jawabnya dengan nada yang
tidak berubah. Spontan saya meng-
hela napas. Hore Bapak nggak mar- ah! batin saya dalam hati. Tapi dosa adalah dosa, ketika sedang berada di altar pengampunan, tetap adalah sebuah tindakan bijak untuk melaku- kan permintaan maaf dengan cara seksama dan dalam tempo yang ses- ingkat-singkatnya. Berjaga agar tidak ada tetek bengek yang menyususl setelahnya.
Saya kemudian berniat pamit dan langsung menutup telepon. Niat saya masih lancar hingga lidah saya sam- pai ke kata kesembilan..
"lyo Pak, gitu. Maaf ya hehehe. Yawis aku arep..."
“Ngomong-ngomong kuliahe samean pie toh nasibe? Jare wis skripsi?
Kanca-kancane samean wis lulus kok
samean hurung? Wis digarap urung
toh? Rak panggah nonton band wae, dolan wae, kewajibane digarap... blablablablabla
Biar lanjutan ceramah pahit tersebut hanya saya, Bapak, satelit provid- er ternama Indonesia ini dan Tuhan yang tahu. Ah seharusnya saya tidak memilih mengerjakan ide tulisan ini. Tahu gitu saya garap ide dari Soni Tri- antoro, “Wow! Inilah 7 poster Cassete Store Day Paling Oke!” atau panduan Mbribik Gitaris Gondrong For Dum- mies. Sekian, selamat hari raya kaset. Kelak kalau ada yang entah bagaima- na kenal sama Bapak saya, tolong
jangan diadukan kalau saya masih
lebih rajin nge-gig daripada skripsian.
Yogyakarta, 22 September 2016
Titah Asmaning W. | menulis untuk warningmagz.com dan lain-lain.
Interview dengan
Triaman “Sambreng“
Iriaman atau lebih dikenaldengan panggilan Sambreng adalah salah satu sosok yang tidak terlalu banyak terlihat. Biasa ditemui di tempat bekerjanya, Art & Music Shop yang terletak di dalam lingkungan Jogja National Museum. Toko musik yang menjual CD, kaset dan piringan hitam. Memanjakan hasrat para penikmat musik, pemburu rilisan fisik. Beberapa tahun terakhir ini Sambreng menjalankan sebuah misi pribadi, membuat sebuah perpustakaan hip hop. Mengumpul- kan artefak artefak dan dokumentasi rilisan fisik seniman hip hop nusantara dan manca. Berikut ini adalah hasil obrolan ringan bersama beliau.
Ceritakan perkenalan awal anda dengan hip hop
Awal menyukai musik hiphop dari pertama ngelihat vidio klip ditivi, awalnya Iwa K, yaaa itu dengan gaya menyanyi yang cepet beda sama penyanyi-penyanyi lainnya dan suka denger di radio-radio itu era tahun 90 an, kalau yang radio itu di Geronimo FM dulu ada program “hiphop fanatic program” (setiap rabu malam jam 20.00 wib kalau nggak salah) yang memutar lagu-lagu rap dari manca dan lokal, di dengerin ini siapa yang ngerap kadang juga direkam dikaset, ada salah satu group dari jogja yang sekarang jadi lagend “G Tribe” itu awal punya kaset rap, ngak tau sekarang masih ada ngak program itu, belum tau juga waktu itu ada
albumnya atau nggak, main-main ke toko kaset, tanya-tanya dan ternyata ada dan banyak album rap indonesia dan manca, tapi nggak sempat kebeli semua karena belum bisa beli sendiri dan harus nabung, kalau sekarang sih lumayan banyak yang nawarin fisiknya (CD/Kaset/Vinyl). Juga nonton konsernya. Waktu itu masih sedikit, pada era 2000an mulai banyak bermunculan rapper rapper di indonesia sampai sekarang. Oh iya, saya lebih seneng nyebutnya rap ya, hehhee
Apa yang menarik dari lingkungan hip hop yang ada di Yogyakarta
Yang menarik lingkungan hiphop jogja itu dari segi pasedulurannya (persaudaraan-red) ya, respect terhadap para pelaku dan juga membuat inovasi baru, menambahkan suara-suara gamelan, ada yang pakai lirik bahasa jawa, sempat jogja jadi barometer musik rap indonesia karena beragam aliran musik rap dan banyak group/rapper di jogja tapi ya gitu seleksi alam lah kalau sekarang.
Ceritakan tentang Psychotrapy
Psychotrapy merupakan project pribadi saya, dulu bikin group ngisi acara acara 17an atau pameran teman, Crappes namanya, karena kesibukan masing masing akhirnya bubar dan akhirnya bersolo karir. Tahun 2010 sempat buat group JKH2C, itu sama kasusnya karena sibuk masing masing akhirnya vakum sampai sekarang
Beberapa tahun terakhir anda berkonsenstrasi dalam pengarsipan hip hop, mendokumentasikan rilisan dan membuatnya sebagai perpustakaan pribadi, sebenarnya apa yang menjadi latar belakang anda melakukan hal ini?
lya, sebenarnya sudah lama ya pengen punya koleksi kaset/vinyl/cd dan bisa jadi kebanggaan tersendiri, yang menjadi latar belakangnya adalah dimana kita bisa mengetahui jenis musik rap dari awal sampai perkembangan musik rap sekarang ya, belum banyak yang menyukai rilisan dan mengoleksinya, jadi terlihat beda sendiri, dari situ kita bisa tau perjalanan si artis, tema lirik yang dibawa, bisa menjadi bagian dari perjalanan sejarah musik indonesia
Suka duka dalam pengarsipan apa saja sih?
Suka dukanya, dari sukanya disaat kita menemukan rilisan yang kita cari lama ngak ketemu-temu dan akhirnya nemu entah dipasar atau online dengan harga bersahabat terutama musik rap yang rilis indie ya, dapat hibahan dari teman atau barter sama penyuka rilisan musik rap. Dukanya susah mendapatkan rilisan musik rap yang indie dari artis idola juga
susah mendapatkan rilisan manca yang nggak sampai di indonesia. Seller kadang nawarin harga yang tidak lazim, seumpama kaset group A harga pasarannya cuma 35 ribu tapi ditawari dengan harga ratusan ribu, padahal itu bukan barang rare, dengan embel-embel ini rare dan kamu kolektor, f*ck ya itu, tapi akhirnya dapat juga album yang sama dengan harga bersahabat :)
Jumlah koleksi semakin bertambah, apakah ada niatan untuk membuka akses “perpustakaan” ini kepada masyarakat atau mereka yang membutuhkan informasi
Ya, memang rencana nanti akan jadi perpustakaan untuk umum, untuk memberikan informasi-informasi tentang musik rap, sementara waktu untuk pribadi dulu dan di uplod di sosmed dengan hastag #perpushiphop
Dari Sekian banyak arsip/dokumentasi rilisan fisik hip hop/rap yang anda miliki apakah ada yang menjadi favorit ?
Ada beberapa seh yang jadi favorit, antara lain : Perang Rap Doyz G Tribe Pesta Rap 1-3 Homicide Molothuvs Beastie boys Public Enemy KRS One RUN DMC
Bicara tentang iklim hip hop/rap Indonesia saat ini, apa pendapat anda? Dengan banyaknya project project baru, dari karya yang dihasilkan dan sebagainya.
Sepertinya iklimnya lagi panas ya saat ini dan menurutku banyak kemunduran dalam artian roh hiphop/rap sudah hilang seperti kata NAS “hiphop is dead'. Tapi ada kabar baik juga, para veteran hiphop/bangkit lagi mulai berkarya kembali dan ada juga yang merilis ulang albumnya baik dalam bentuk cd maupun vinyl.
Memperingati
Melalui Pita:
Menelusuri Gulungan
yang Kusut
Wiman Rizkidarajat & Irfan R. Darajat
Wim: Enam belas tahun lalu saya merengek pada Bapak untuk dibelikan kaset The Offspring album Americana. Permintaanku tentu saja membuatnya kelabakan. Alasannya, video klip pertama The Offspring yang berjudul “Pretty Fly for A White Guy” terlalu vulgar. Perempuan memakai baju bikini, pantat bergoy- ang-goyang, semuanya bertebaran dalam video itu. Liriknya juga dinilai terlalu kasar. Aku menonton video itu pertama kali lewat saluran televisi yang dinilai sebagai parameter gaul saat itu, MTV. Aku sadar, mungkin baginya itu bukan konsumsi yang baik buat anak seusiaku.
Irf: Itu hari yang biasa di kota Purwokerto. Panas tapi tidak terlalu panas. Sudah dua toko kaset kami sambangi, toko kaset Delta dan Nusantara, hasilnya sama; nihil. Kaset Offspring album Americana habis terjual. Aku sempat bertanya dalam hati, apa benar habis? Atau sebenarnya itu cuma alasan penjaga toko kaset saja karena memang belum ada stoknya? Aku ingat sempat membalas pertanyaan sinis Bapak yang bertanya dengan nada kesal, “Masa sih, kaset band lagunya gitu aja kok habis, laris banget?!". Kubilang saja mungkin karena memang bagus dan banyak yang suka. Hari selanjutnya kaset itu berhasil kami bawa pulang. Kami bertiga mendengarkannya bersama. Duduk bertiga, aku dan kakakku berebut cover albumnya, mengamati satu persatu gambar dan teks lirik yang ada di dalamnya.
Wim: lya, bapak akhirnya membelikan kaset itu buatku. Tapi syaratnya banyak sekali! Mulai ia harus berada disebelahku saat mendengarkannya sampai tak mem- perbolehkanku mengamini “Americana my way” pada lagu “Americana”. Katan- ya saya tak boleh menjadi ke-Amerika-amerika-an, tapi tidak lantas boleh men-
0000
O.O
jadi ke-Lenin-lenin-an. Saya harus yang paling sering didengarkan oleh tetap menjadi Indonesia dan Islam. la malah kadang mencoba meyakink- anku bahwa si ditaktor itu tidak kalah telak tapi hanya lengser keprabon. Entah bagaimana maksudnya. Irf: Saat itu, aku tidak tahu apa yang ter- jadi persisnya pada tahun 98. Yang pasti, sepulang sekolah aku hanya boleh menunggu dijemput bapakku di dalam sekolah, tak boleh menunggu di pinggir jalan. Dan beberapa minggu setelahnya, kami bertiga pergi ke sebuah gerobak penjual ayam goreng a la KFC. Nama kiosnya “TungTo”, kata bapakku, itu artinya Gantung Suharto. Penjualnya adalah salah satu maha- siswa yang diajar oleh bapakku. Dia tukang demo, katanya.
Iwan Fals, nama itu selalu saja terasa asing sekaligus akrab dalam diri- ku. Bapakku yang mengenalkannya padaku. Dia juga “tukang demo” kan? Album Mata Dewa, adalah album
bapakku. Album yang saat itu tak pernah bisa kumengerti benar apa yang sedang dikumandangkannya. Tentu saja dengan sederet penyanyi lainn- ya yang sering didengarkan oleh bapakku, seperti Ebiet, Chrisye, Queen, Def Leppard, semuanya terasa asing di telingaku. Tapi kini aku malah tak pernah bisa lari dari nada-nada yang mereka hadirkan.
Wim: Sebagai penikmat kaset, saya tak sendirian. Adikku yang berjarak usia satu setengah tahun, tinggal satu kamar denganku. Entah bagaimana awalnya, ia memilih menjauhi hal keamerika-amerikaan dengan, secara mengejutkan, memilih kaset Boo- merang bertitel Xtravaganza sebagai kaset pertama dalam daftar koleksin- ya. Selain berbagi kamar kami juga berbagi sebuah tape bermerk Poly- tron yang dahulu sengaja dibeli bapak untuk menyanyikan keras-keras “Love
of My Life” milik Queen atau menjadi lagu berjudul Pelangi milik Boomer-
alat untuk mendudukan aku dan adikku lalu memutarkan sambil mendon- geng pesan-pesan dalam album Mata Dewa milik Iwan Fals dan Kamelia 1-4 milik Ebiet G. Ade.
Irf:
Kakakku adalah sumber musik utama setelah bapakku. Aku merasa telah mengikuti ke mana pun telinganya dil- etakkan. Dia suka grup musik Nirva-
na, aku ikut suka. Dia beli kaset Limp Biskit, aku ikut mendengarkannya.
Dia dan bapakku penggemar berat klub sepakbola Manchester United, aku ikut suka. Asal kau tahu, poster Nirvana yang banyak terpampang di kamar kami, itu aku yang membelin- ya. Ketika aku masih duduk di seko- iah dasar, kakakku sudah menempuh SMP. Letak sekolahku lebih dekat dengan penjual poster-poster sosok
musik idola pada saat itu. Tentu saja
semua poster tersebut kubeli dengan uang sakunya.
Bisa dibilang kami adalah anak yang paling keren di desa. Itu disebabkan karena rumah kami memasang an- tena parabola dan dapat menonton siaran musik di MTV dengan leluasa. Bahkan pada awalnya, anak-anak sebaya kami setiap sore main di rumah kami untuk menonton film serial Ksatria Baja Hitam. Tapi hal itu sama sekali tidak mengijinkanku untuk som- bong. Karena beberapa teman di de- saku mahir bermain gitar bolong. Lagu yang dimainkannya kebanyakan lagu grup musik Indonesia. Lagu-lagu yang sangat jarang aku dengar di rumah. Ini semua karena kakakku. Temanku
bahkan bisa memainkan melodi gitar
ang, dan aku tak tahu lagu itu. Aku ingin bisa mengikuti teman-temanku yang bisa bernyanyi lagu Boomerang, aku harus memiliki kasetnya.
Wim:
Suatu hari entah karena gangguan
virus atau intervensi transmisi alien entah dari planet apa, tape tersebut terkena gangguan. Setiap kali tape
itu dinyalakan, fungsinya langsung
menyala pada frekuensi radio yang tak berpenghuni dalam volume ham- pir maksimal. Akibat kejadian hari itu kami sekarang tidak terkejut dengan gelombang noise yang menjadi tren karena telah terbiasa sejak usia dini. Dan sampai kalimat ini dituliskan, kami berdua masih mengingat untuk kemudian tertawa lepas seperti saat kejadian itu pertama kali terjadi.
Kami melanjutkan perjalanan mengo-
leksi kaset sampai hari ini. Saya yang sudah kadung terhisap dalam budaya MTV menjadi pengoleksi kaset-kaset yang sangat MTV. Sesekali saya masih membeli memori-memori yang hil- ang dengan membeli ulang kaset-kaset idolaku yang muncul lewat MTV Non-Stop Hits, sempat menjadi MTV
Artist Of The Month, atau yang seka-
dar menjadi MTV Hotseat selama satu minggu.
Sedang adikku melanjutkan kegema-
rannya pada musik pop/rock Indone-
sia saat itu dengan membeli album / Rif, Jamrud, Tic band, Dewa tanpa 19, Gigi, dan band-band lain yang menurutku adalah pilihan yang sangat asing.
Irf: Aku mudah terpengaruh oleh temanku pada waktu itu, juga oleh kakak se-
teknik-teknik merekam lagu yang sedang hits di radio ke dalam sebuah kaset. Sejak saat itu, aku tidak han- ya membeli kaset pemusik favoritku, tapi juga membeli kaset kosong yang nantinya bisa kuisi dengan lagu dari siapapun yang aku mau, yang sedang
populer di Radio. Meskipun di akh-
ir lagu aku akan menemui “bumper” radio tersebut, atau langsung disaut dengan sapaan sang penyiar, aku cukup menikmatinya. Wim:
Kami tidak pernah merasa berbagi
kaset dan membagi rak masing-masing dengan demarkasi yang tegas. Sampai akhirnya suatu hari, sep- ulang sekolah ia yang mendapat jatah membeli kaset lebih dari satu karena menduduki peringkat 5 besar di rapor caturwulannya, membawa dua buah kaset milik Toploader dan soundtrack
MI 2 yang memuat beberapa band
idola milikku, Limp Bizkit, Kid Rock, dan Uncle Kracker. Sejak itu kami mulai bertukar koleksi.
Irf:
Aku lebih terbuka dalam mendengarkan lagu dan menyerap banyak sekali musik yang mungkin tidak masuk bagi selera kakakku. Bisa dibilang telingaku lebih kaya dari telinga kakakku. Tapi pernyataan itu tentu saja tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jelas dia mendengarkan banyak sekali musik yang kelak kutemui dalam fold- er rapi di dalam komputernya, yang
aku baca nama artisnya saja tidak.
MTV membuatku bosan, aku banyak mencari variasi musik dari sumber
Pesta di Indosiar, acara Musik Delta di RCTI, aku banyak menemukan musik-musik yang lain dari yang didengar- kan oleh kakakku. Hingga mengubah sikapku dalam menyukai musik. Kalau dulu aku mendengarkan apa yang kakakku dengarkan, dan turut menyuka- inya. Semua berubah, aku menyukai grup musik yang tidak disukainya, atau yang belum pernah didengarnya, atau bahkan yang pernah dia sukai dan dia tinggaikan, musik itu bertahan dalam telingaku.
Wim: Karena berjarak usia satu setengah tahun, kami berdua mengalami dan melihat hal yang terjadi dalam sisi
pandang yang tidak jauh berbeda.
Mulai dari kemunculan sesaat Britney Spears yang segera disusul ketidak- warasannya, Justin Timberlake ber- solo karier, Dave Grohl membentuk Foo Fighters dan berceramah di penobatan hall of fame Nirvana, sampai menyaksikan Lorde menyanyikan “All Appologies” dengan penuh pengha- yatan pada penobatan tersebut.
Irf: Maksudnya ketika aku bilang, aku menyukai musik yang dulu pernah disukai oleh kakakku dan sekarang dia tinggalkan adalah bagaimana aku tetap mengikuti Radiohead dan Foo Fighters hingga kini, meskipun melalui ritual yang baru yaitu unduh gratis. Sedangkan kakakku, mungkin
yang lain. Dari radio, acara musik pupuku. Dia mengenalkan padaku
tidak seantusias dulu. Padahal aku sama adalah bergeraknya tren analog pernah menyaksikan beberapa kali menjadi digital. Kami tak terlalu ambil kegigihannya dalam merunut dan pusing, kami tidak mempermasalah- kan hal tersebut dan kami menikmat- merapikan kembali kaset Foo Fighters yang kusut, sampai badannya penuh inya. keringat. Atau matanya yang berka-
CLER VICE AUO SO OOF
COUNTER
MC-30
SESET-MM M-535V
V·O-R
SOY
ca-kaca ketika kaset Radioheadnya hilang atau rusak. Dia mengajarkanku merawat kaset pita; menggulung dengan pensil atau ballpoint, atau meny- impannya dalam freezer kulkas, dia juga yang mengajarkanku mengun- duh lagu; membikin pengaturan fold- er dalam komputer agar mudah dicari dan sedap dipandang. Dia mengajarkanku bahwa setiap rilisan dalam for- mat yang berbeda memiliki perlakuan yang berbeda pula. Berbeda dalam merawatnya, mengarsipkannya, dan mencintainya.
Wim: Hal yang kami alami dan sepakati ber-
Tinggal berbeda kota dalam waktu yang lama membuatku mulai kekuran- gan intensitas untuk bertatap muka dengan adikku. Tapi itu tidak menjad- ikan kami lupa mengulang masa-masa mendengarkan kaset bersama seperti empat belas tahun lalu. Apabila tanggal di kalender berwarna merah karena hari raya atau karena adikku men- jadikannya sebagai tanggal merah, kami masih tetap duduk di depan tape deck, memutar album Americana, dan meneriakan lirik “Americana my way” bersama. Atau melakukan melocot, melody cocot, ketika lagu Pelangi mengalun.
Tape deck yang kini aku gunakan juga kaset Jingga milik kakakku. Tapi aku sudah bukan Polytron yang pernah terpisah kota dengannya. Mungkin dan selalu mengagetkan kami. la su-aku akan memutarnya lewat Youtube dah harus tutup usia. Mungkin karena saja. sudah tua atau karena pesan alien yang entah datang dari planet apa tel-*Ditulis berdua oleh Wiman Rizkidarajat dan Irfan R. Darajat. ah berhasil dipecahkan oleh banyak kalangan muda di Indonesia. (Wiman Rizkidarajat, tinggal di Pur- wokerto dan kerap kapiran mengu-
Irf:
Ternyata tidak semudah itu untukrusi heartcorner.net) (Irfan R. Darajat, tinggal di jogja menjadi tekun. Beberapa kaset yang dan menulis lagu di grup musik
masih kukoleksi di Jogja ada yang
putus pitanya. Aku mungkin saja men-Jalan Pulang) guasai teknik menggulungnya, tapi mungkin aku tak mewarisi ketekunan
kakakku. Aku mungkin tahu bagaima-
na mengunduh lagu-lagu album terba- ru secara gratis, tapi aku masih saja membiarkannya terserak dalam folder unduhan dan tak segera kurapikan secara alphabetical seperti yang pernah kakakku contohkan.
Kami sedang tidak mengatakan bah- wa menikmati musik dalam format kaset adalah yang terbaik. Kami berba- hagia menyambut segala jenis format rilisan musik yang ditawarkan. Kakakku mengoleksi piringan hitam, aku pun memilikinya dengan jumlah yang tentu saja lebih sedikit dari miliknya. Kami sama-sama mengoleksi CD, dan lagi-lagi koleksiku sudah pasti lebih sedikit dari koleksinya.
Sebagai sebuah format, kaset me- mang lebih lekat dengan ingatan kami. Terlebih lagi, bagiku kaset seperti ingatan manusia. Mudah kusut dan tidak terlalu bisa diandalkan jika tidak benar-benar tekun merawatnya. Sekarang, aku ingin mendengarkan
Makna (Musik) Mana
Yang Kita Bela?
Aris Setyawan*
ita sering mendengar tipikal Works,1 bahwa audiens musik yang
komentar seperti ini: “aduh kok menggemari sebuah lagu di rekaman (vinyl, cd, cassette, mp3) kemudian
band atau musisi ini memainkan
musiknya di konser nggak mirip sama sekali ya dengan versi di album”, atau “sayang sekali si anu menyanyikan lagunya improve begitu, nadanya nggak sama persis dengan yang di versi rekaman." Di masa sekarang penikmat musik sering menilai pertunjukan atau konser musik yang ditontonnya berdasarkan parameter hasil rekaman album sang musisi.
Loh memangnya kenapa? Memang harusnya begitu kan? Konser atau pertunjukan musik adalah perpanjan- gan dari rekaman, jadi sang musisi atau band harusnya tampil dan memainkan musiknya persis sesuai ben- tuk musik yang diabadikan di rekaman. Pertunjukan langsung itu harus
memenuhi ekspektasi penonton yang
berangkat ke venue berbekal imaji musikal sesuai apa yang ada di rekaman.
Premis di atas bisa jadi benar jika kita
berkeinginan mendengar versi yang sama di konser. Premis ini menjadi keniscayaan di era teknologi: musik dalam rekaman adalah kebenaran, maka sebisa mungkin musik yang di-
mainkan live harus mirip dengan versi
rekaman.
Lebih lanjut menurut Byrne, premis ini tidak pernah ada di jaman ketika teknologi rekaman belum ditemukan. Di masa ketika musik adalah pertunjukan langsung, audiens hadir ke pertunjukan tersebut tanpa ekspektasi ber- lebih. Musik dimaknai bagus atau tidak dari kepiawaian sang musisi menyam- paikan pesan estetisnya saat itu juga, saat pertunjukan berlangsung. Setiap audiens yang hadir secara langsung menjadi bagian dari konteks pertunjukan itu, berbeda dengan masa sekarang saat teknologi memungkinkan setiap orang secara individual mampu mendengarkan rekaman musik di ru- mah masing-masing, kemudian mem- menggunakan paradigma penikmat bawa bekal penilaian saat berangkat musik yang hidup di jaman tatkala menonton pertunjukan. teknologi rekaman telah ditemukan.Menyitir gagasan sosiolog H. Stith Bennet, kita telah mengembangkan Seperti dicatat vokalis cum gitar- is band punk jebolan CBGB David sebuah kesadaran yang disebutnya Byrne dalam bukunya How Music sebagai 'recording consciousness.'
Artinya, kita sering beranggapan suara di dunia seharusnya sama dengan suara yang kita dengar di rekaman. Teknologi rekaman sesungguhnya sangat memban- tu kehidupan manusia, karena musik yang sebelumnya hanya didengarkan di momen saat ada pertunjukan tiba-tiba bisa didengarkan kapan pun di mana pun. Namun sayang kebiasaan indi- vidualistik ini menjadikan manusia modern menganggap suara dalam rekaman itu parameter un- tuk menilai suara di dunia, atau menurut Bennet “we internalize how the world sounds based on how recordings sound."
Gagasan Bennet mengenai recording consciousness dapat menjelaskan kenapa sekarang jamak kita temukan komentar seperti tertulis di awal tulisan ini. Kemudahan mendengarkan musik melalui teknologi menjad- dalam recording session. Musik itu ikan penikmat musik era modern harus di-take atau direkam, lalu di- memiliki recording consciousness, poles sana dan sini dalam proses mix- kemudian mencerap suara di dunia ing dan mastering, diamplifikasi, ada (suara alam seperti desir angin, ri- proses penambahan efek, nada-nada nai hujan, hingga konser musik) dan sumbang dari pita suara penyanyi ha- membandingkannya dengan suara rus diluruskan dengan piranti lunak rekaman yang menurut mereka ada- semacam Melodyne yang seringnya lah sebuah kebenaran absolut. punya fitur koreksi nada, dan berbagai tetek bengek prosesi recording lainn-Penilaian kebenaran absolut tersebut ya. tentu saja rancu jika kita maknai pro- duk rekaman musik sebagai sesuatu Tidak dapat dipungkiri, hasil akhir yang artifisial. Maksudnya, sebelum sempurna dari sebuah musik terwujud sebuah bentuk musik menjadi versi karena proses panjang kerja studio jadi yang siap didengarkan dari media ini. Buntutnya, agak rancu dan ber- penyimpanan rekaman, musik terse- masalah dong jika kita menjadikan but harus melewati berbagai proses musik rekaman ini sebagai kebenaran
absolut macam dogma, kemudian menggunakannya sebagai parameter
musik live.
Suara sumbang si penyanyi di konser adalah sesuatu yang manusiawi, siapa tahu pita suaranya tengah ber- masalah karena kealpaan sebelum konser kok minum tiga gelas es teh, siapa tahu sang penyanyi tak mampu menjangkau register nada yang bi- asanya mampu didendangkan karena saat itu konsentrasinya terpecah oleh baper memikirkan kisah asmara.
Siapa tahu sebenarnya band atau mu- sisi yang tampil sengaja memainkan musiknya dalam aransemen yang ber- beda dengan di versi rekaman karena mereka sedang mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan estetis lain dari musik itu, atau untuk mengakali kebosanan memainkan bentuk musik yang sama sepanjang tur 30 kota. Jika boleh mengadaptasi kon- sep false consciousness Marx bahwa “gagasan senantiasa menyembun- yikan kepentingan kelompok yang
berkuasa, gagasan bukan kebenaran,
melainkan kepentingan yang dipalsu- kan." Di dalam tataran ideologis, recording consciousness bisa juga di- anggap sebagai bentuk kesadaran palsu. Musik hasil rekaman adalah gagasan yang seolah dicitrakan sebagai kebenaran absolut, padahal di baliknya ada kepentingan-kepentingan yang dipal-
sintesa suara alam, perangkat lunak untuk mengkoreksi ketidakmampuan seorang penyanyi mencapai nada
sempurna, metronome untuk menutupi ketidakmampuan drummer men-
hingga mixing untuk memoles hasil akhir musik terdengar manis dan rup- awan.
Bentuk lain kesadaran palsu yang pal- ing bertahan lama di kancah musik arus utama Indonesia adalah: lip- sync dan minus-one yang dicitrakan sebagai kebenaran, menutupi kepentingan-kepentingan kapital di baliknya, menjaga penonton kelas menengah ke bawah dalam kepasifan.
Mungkin false consciousness dalam recording consciousness ini yang menyebabkan komponis dan konduktor musik klasik Amerika John Philip Sousa mengkritik keras record- ed music di awal kelahirannya. Di dalam esainya yang terbit tahun 1906 bertajuk “The Menace of Mechanical Music,"Sousa menuding musik rekaman sebagai mesin yang mereduk- si ekspresi musikal menjadi seka- dar sistem matematis dalam bentuk
megaphone, roda, cakram, silinder,
dan benda-benda yang berputar (vi- nyl, cd, dan lain lain).²
Terlepas dari kepentingan Sousa sebagai komponis dan konduktor pertunjukan musik live yang tentu terancam oleh teknologi baru musik rekaman, kekhawatirannya cukup beralasan jika kita menilik komentar-komentar yang kita bicarakan di awal: saat khalayak
bukan dari ekspresi estetisnya, tapi berdasarkan mirip tidaknya dengan versi rekaman.
jaga kestabilan tempo saat rekaman,
menilai bagus tidaknya pertunjukan
sukan: synthesizer untuk membuat penikmat musik menilai kualitas musik
Sampai di sini seharusnya kita tel- ah menemukan kesimpulan: jadi mana nih yang paling benar? Musik rekaman, atau musik pertunjukan langsung? Mencoba mencari jalan tengah un- tuk pertanyaan di atas, kata kunci
apa yang kita bicarakan adalah mim-
icry atau peniruan. Penikmat musik modern beranggapan pertunjukan langsung musik adalah peniruan yang harus semirip mungkin meniru kebenaran absolut dalam rekaman. Sementara penikmat musik serta praktisi semacam Sousa di era pra-rekaman beranggapan sebaliknya bahwa musik yang dimainkan secara langsung adalah kebenaran sementara musik rekaman merupakan bentuk peniru-
annya. Jika kita lebarkan konteks pembicaraan kita, seni atau secara
spesifik musik adalah bentuk peniruan atau mimicry dari nature atau alam.
Pakar neurologi Mark Changizi menyebut bahasa dan musik ada-
lah upaya manusia meniru alam.³
Menurut Changizi suara nature atau alam sebenarnya terlampau pelik un- tuk dipahami dengan keterbatasan otak manusia, sebab ada frekuensi-frekuensi di level rendah tak mampu diterjemahkan datum indera manusia. Musik buatan manusia adalah upaya meniru alam hanya dengan menghad-
irkan frekuensi-frekuensi level tinggi
yang dapat dipahami manusia.
Contoh dari pendapat Changizi dapat disimak dari penjelasan ahli mitologi Joseph Campbell. Menurut Campbell manusia membangun candi dan ge-
reja dengan mengedepankan aspek
akustika suara di bangunan itu. Ini karena manusia sedang menirukan akustik dalam sebuah gua, tempat manusia generasi pertama mera- sakan kerinduan spiritual. Tentu saja manusia tidak akan mampu menang- kap standar akustik dalam gua secara persis, apa yang bisa dilakukan adalah membangun peniruan itu dengan simplifikasi.
Simplifikasi ini dapat didengar dan di- runut dalam setiap musik buatan manusia. Misalnya, suara debur ombak adalah produk alam yang coba ditiru sinden, maka pendendang laras Jawa ini akan melatih suaranya di pantai, membandingkan larasnya dengan debur ombak. Kemudian suara sinden ini ditiru ulang oleh penyanyi modern dalam berbagai aransemen, misalnya sepotong nyanyian ala sinden di per- tengahan lagu Putih milik Efek Rumah Kaca.⁴
Tulisan ini akan diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang sangat klise: jadi manusia nggak boleh jumawa dan takabur. lya, klise sih. Tapi me- mang benar toh? Apakah kita ma- sih bisa jumawa setelah mengetahui musik dan produk peradaban manusia lainnya hanyalah bentuk mimicry dari alam raya? Apakah kita bisa menyombongkan diri memiliki kualitas musikal lebih baik dan berhak meng- hakimi penampilan langsung sebuah band hanya berdasarkan persepsi setengah-setengah yang ditimbulkan kesadaran palsu ala recording con- sciousness?
Apakah seseorang berhak menyom-
bongkan diri sebagai manusia paling mengerti musik karena mampu hadir di ratusan konser, lalu ingin membas- mi penonton lain yang menurutnya kurang mengapresiasi konser tertentu
hanya karena terdiam tanpa gerak.⁵
Apakah saya berhak jumawa dan menyombongkan diri melalui tulisan ini? Padahal ini hanya saripati pe-
mikiran-pemikiran manusia lain yang
saya olah dengan secuil pemahaman pribadi saya tentang apa itu musik, bagaimana menciptakan, mendengar- kan, dan memaknai musik. Mengutip lirik lagu Barasuara: “makna-makna dalam aksara / makna, mana yang kita bela?” Ada sebuah subyektifitas yang sangat kentara dalam setiap bahasa yang kita bicarakan atau kita dengarkan. Anggap musik sebagai bahasa, ada subyektifitas yang sangat kentara memengaruhi
makna mana yang kita cerap dan
akan kita bela. Artinya, mau memaknai musik dengan paradigma manusia modern pemuja kesempurnaan rekaman, atau se-
bagai bentuk seni pertunjukan persis
era pra-modern, itu adalah suyektifit- as yang akan dibela mati-matian oleh seseorang. Mau menjadi penikmat musik yang jumawa hanya karena mampu hadir ke ratusan konser dan mengkoleksi ribuan rilisan musik, atau penikmat musik yang legowo men- yadari prosesi menikmati musik menja- dikannya sadar bahwa masih banyak musik belum didengarkan dan musik justru menggambarkan kekecilan manusia di alam raya, itu semua pilihan bersalut subyektifitas yang tentu akan dibela mati-matian.
Saat nanti seorang pembaca nyasar ke tulisan ini, barangkali kemudian tidak sepakat dengan be- berapa poin klise yang saya paparkan di tulisan ini, saya tentu akan membe- la mati-matian makna dalam barisan aksara ini, sampai titik darah pengh- abisan saat argumen saya terbukti lemah dan kalah telak oleh argumen dari barisan aksara seorang pembaca yang nyasar itu. Pusing kan? Sama, saya juga. Kena- pa perkara memaknai musik harus se- rumit ini sih ya? Hahahaha.
*Aris Setyawan. Co-founder dan editor in chief media seni dan bu- daya serunai.co, bermain drum di Aurette and The Polska Seeking Carnival, tukang arsip di kolektif seni Roemansa Gilda. Dapat di-
hubungi di twitter @arissetyawan
dan instagram setyawanaris, atau surel [email protected]
- Jika belum dihapus karena perkara copy- right, versi digital buku How Music Works karya David Byrne dapat diunduh di tautan berikut: http://gen.lib.rus.ec/book/index.php?m- d5=0e59829d6f2accc6228da698e9f40810
- Versi digital esai The Menace of Mechanical Music oleh John Philip Sousa dapat diunduh di tautan berikut: http://ocw.mit.edu/courses/music-and-theater-arts/21m-380-music-and-tech- nology-contemporary-history-and-aes- thetics-fall-2009/readings-and-listening/ MIT21M380F09read02_sousa.pdf
- Mark Changizi. Language and Music Mimic Nature. http://www.scientificamerican.com/ article/language-music-mimic-nature/
- Dari album Sinestesia (2015).
- Raka Ibrahim. Polisi Skena dan Lingkaran Setan Cyberbullying. http://wearedisorder.net/ konten/polisi-skena-dan-lingkaran-setan-cyberbullying
Jogja Record Store Club Present :
CASSETTE STORE DAY 2016
CHAPTER YOGYAKARTA
Lapak Musik: 42 Music Store Oval Klithikan Labirin Artshop Launching Zine dan Kompilasi Well Antique V/A Jogja Records Store Club #3 Disko Hobi (Solo) WLRV Records Diskusi sore santai tema: Pooks Store (Bekasi) “Musik dan Hari Ini”
| DoggyHouse Records | “Musik dan Hari Ini” | |
|---|---|---|
| Deep X Altar Apokalips Solonesia (Solo) | Pas Musique (USA) | Live Performance: |
| (at) Demajors_Jogja Jesuiscidal Records | Numbfoot (VietnamìUSA) Emil Paime (Denmark) | |
| Rudi Kaset Squonk (Solo) | 0 | Mengayunkayú |
川
Terasering
RHATHIE
Yes No Shop Mindblasting Netlabel Rilisan Fisik Jajan Musik A Fiend Merch (Solo) Retroactive ALL FOR ONE ONEFOR ALL Roots Music θ ALDILA Noer Kaset & Books Samstrong Records X Otakotor Records
Lapak Kuliner: Pier 14 Coffee LKJJN (Klaten) 8 Oktober 2016 12 AM - 9 PM Halaman Bentara Budaya Jalan Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
Organized by: Supported by :
KANAL WENEED
WLRV
TIGAPULUH MORESTAGESblurg!
GIGSJOGA
川) (
WARN.NG
wwww wnnwmw STORE Bk
23WNSKY 106.1FM
OTOR OTA Uhk GERONIMO weldgood WW MAGAZINE
HO PE HIE PUUT
NOMAL IEVI/TPEIN
台份TDK DT空
DYNSSSTIC CNSTE
A GREAT SONG IS A GREAT SONG, WHETHER IT'S ON VINYL OR CD OR CASSETTE OR REEL TO REEL OR MP3. THEN AGAIN, THAT MIGHT BE AN OVERLY OPTIMISTIC VIEW, BUT I DO THINK THAT GREAT MUSIC WILL TRANSCEND THE MEDIUM IN WHICH IT IS DELIVERED.