SUASANA
GUNUNG KAWI
QLEH: IM YANG TJU
SUASANA
GUNUNG KAWI
Oleh: IM YANG TJU
Penerbit: TOKO ASTAGINA" KAWATAN 146 SURABAJA
BUKU ini tidak boleh DISALIN atau DIKUTIP. Hak pengarang dilindungi oleh Stb. 1912, No. 600. Fatsal 11.
Buku ini adalah buku jang kedua, maka sebelumnja membatja ini, lebih dahulu orang harus membatja buku: ,RIWAJAT EJANG DJUGO PANEMBAHAN GUNUNG KAWT".
EJANG
DJUGO
PANEMBAHAN
SEPATAH KATA. Buku ini adalah petundjuk guna orang mentjari bahagia. Djikalau sudah dibatja, harus disimpan untuk nanti dibatja lagi. Karena isinja jang bersusun-susun, akan memberi berbagai-bagai penerängan menu- rut bertambahnja pengalaman-pengalaman baru. Djikalau buku ini tibatja pada waktu jang tepat, akan memberi suatu pengertian tentang apa sebenarnja jang dinamakan bahagia itu, Maka saja ulangkan, ¿jangan dibuang-buang, simpanlah untuk dibatja dan dibatja lagi, se- hongga mendapat sari dan faidahnja. IM YANG TJU. Wisiking Ngatapa Wiwaraning Ngaurip.
HIDUP JANG MENGHIDUPKAN. Tatkala Ejang Djugo masih hidup, Ejang Djugo telah menggunakan badan djasmaninja untuk melakukan darma dan tjita-tjita keba- ájikannja. Tapi kekuatan badan djasmani itu sangat berwatas, adanja pun tjuma satu, maka untuk melaksanakan dana-weweh dan welas-asihnja itu, dengan tidak ragu-ragu pula dirinja telah dikorbankan, djasmani jang tjuma satu itu, disadjikan guna maksud sutji jang laras dengan titahnja Swarga. Dana itu adalah jang dinamakan Dana-sarira, cana-sutji berdasar welas-asih tidak berbatas kepada bangsa manusia sadja, bahkan sampai kepada binatang sapi, sehingga segala benda ang tidak berdjiwa. Orang jang bisa datang, datang kepada Ejang Djugo untuk men- dapat welas-asihnja. Tapi djikalau orang tidak bisa datang, Ejang Djugo jang datang kepadanja untuk melaksanakan kasih-sajangnja. Dengan raganja jang sudah tua, membawa tungkat, Ejang Djugo me- ngembara kemana-mana, handeladjah desa milangkori, guna mendja- lankan dawuhnja Jang Maha Kuasa, diwaktu sijang kepanasan, diwak- 3 tu malam kedinginan dan kegelapan, karena ia biasanja lebih suka tinggal didalam hutan. Pajung mega kandung langit, kidang jang menjusui merak jang mengemuli, sebagai daun keliang kabur kanginan, tidak tahu kemana djatuhnja. Orang jang batjik tentu bahagia hidupnja. Dunia adalah sawah ladangnja, tinggal tunggu kapan panennja. Diacherat adalah lumbung- nja, ia tinggal menerima simpanannja. Orang jang hidup hanja ber- tudjuan keduniaan, tentu takut pada kematian, tapi siapa jang hidup dalam kebatinan, mati itu adalah kebahagiaan. Untuk menjebar kebadjikan Ejang Djugo'waktu hidup tjuma dapat menggunakan satu badan, maka pada waktu mati, mati dengan tersenjum, karena dengan djiwanja jang sudah lebur mendjadi satu dengan akasa, ia dapat mempajungi lebih banjak manusia jang membutuhkan perlindungannja. Maka djangan heran djikalau dimana-mana ada orang ketemu Pak 'Ndilalah, jang memimpin orang-orang baik ke- djalan selamat. Sang Resi pada mulanja babad Gunung Kawi, telah menanam kopi untuk penghidupannja orang-orang jang bekerdja, hatsilnja dibagi-bagi untuk siapa jang membutuhkan pertulungannja. Pohon kelapa jang oitanam diwilajah Gunung Kawi, jang sampai sekarang djanurnja masih mendjulang melambai-lambaí diangkasa, dinamakan orang kelapa seribu negeri. Dulu orang-orang jang datang minta berkahnja Ejang Djugo, dari berbagai-bagai desa, dari segala wilajah jang djauh-djauh. ada membawa olih-olih buah kelapa, maka buah-buah kelapa itu lalu ditanam tersebar dimana-mana, kalau sudah berbuah boleh diminta siapa sadja jang membutuhkan. Bibit kelapa-kelapa itu asalnja dari seluruh desa di Djawa Timur, sampai ada djuga jang dari wilajah Kedu dan
'ekalongan, maka lalu dinamakan orang pohon-pohon kelapa dari seribu negeri. Tidak ada orang jang mengira, bahwa lambang itu achir- nja berwudjut sesungguhnja, Gunung Kawi sekarang mendjadi tempat ziarahnja orang-orang dari seribu negeri, bukan dari seluruh tanah Djawa sadja, tapi dari seluruh Indonesia, bahkan banjak jang datang dari Singgapur, dari Hongkong dan lain-lain tempat tanah Tiongkok. Orang tidak ada jang tahu berapa umurnja Ejang Djugo, hanja tjuma bisa dikira-kira sadja dengan kata-katanja ketika pertama ia catang di Gunung Kawi, 'mbah Iman Sudjono disitu menanjak, arah mana jang Sang Wiku tudju, maka Ejang Djugo mendjawab, tjari tempat jang banjak tumbuh pohon nangka, karena dulu ia pernah me- nebar beton bidji nangka disitu. Betul sadja tempat itu telah dike- temukan, tapi pohon nangkanja sudah besar-besar, entah sudah berapa puluh tahun usianja. Disitulah orang sama bertjekat keheran-heranan. waktu djaman apa Ejang Djugo tanamnja beton-beton nangka itu. maka sudah berapakah umurnja Sang Bagawan itu. Pohon-pohon nangka itu dari sebab sudah sangat tuanja, maka sekarang sudah sama tumbang, tinggal bekas-bekas tonggaknja sadja jang masih kelihatan dan ada beberapa pohon jang masih hidup, tapi pohon-pohon lebih mu- da jang tumbuh belakangan, anak tjutjunja pohon-pohon jang dulu. dari bidji-bidjinja jang djatuh dimakan burung. Dari daja pribawanja seorang pandita sutji, maka suasana di Gu- uung Kawi mendjadi bersih dan hening, memberikan rasa senang dan tenteram. Seorang terpeladjar jang datang di Gunung Kawi pernah menjatakan, seperti perasaannja seorang jang sembunji didalam lobang perlindungan diwaktu perang, hudjan peluruh dan suaranja me- riam tiada hentinja, anak-anaknja sudah sama lemas dan menangis ke- laparan, karena sudah beberapa hari tidak berani mengisar dari tem- patnja, sedang diseputarnja rumah-rumah sama terbakar, jang kede- ngaran hanja suara tangisan dan ketakutan. Maka sekonjong-konjong segala suara jang maha dahsjat itu mendadak djadi sirap, diam dan sunji senjap, kemudian terdengar suaranja terompet jang menjatakan bahwa perang sudah berhenti. Dengan menggiring isteri dan anak-anaknja ia keluar dari lobang perlindungan jang gelap dan demak, melihat sorotnja matahari jang gilang-gemilang dibawah langit jang hidjau, terdengar suaranja musik perdamaian diikuti sorak dan pudji kegira- ngan. Begitulah perasaannja sesuatu orang jang datang mengundjungi Gunung Kawi, tenang hening senang dan tenteram. Lain lagi dengan Poei A.D. jang hanja melihat segala dari sudut batin. Ia berkata: Bagai orang jang menjangkal, kodrat itu adalah suatu djepitan jang menjakitkan. Tapi bagai orang narima darma se- pandumnja dumadi, maka kodrat itu lunak halus seumpama rabahan- nja tangan ibu. Menghijakan jang bukan, membukankan jang betul, nienghijakan jang tidak, mentiadakan jang ja. Djubriah tidak tahu
hahwa dirinja sedang kesasar. Bahagia itu datang karena dari daja jiptanja sendiri, siapa jang tudjuan tjiptanja baik tentu ketemu baik. lang Maha Kuasa hanja melulusi keinginan orang menurut pengadja- pannja sendiri. Siapa jang tidak mengetahui hal ini, adalah karena kehalingan oleh ketiadaan rasa pertjajanja. Hanja orang sadar dan sutji mengetahui sedjatinja kesunjatan, sudah dapat menghijakan jang ja dan mentidakkan jang tidak. Djikalau orang sudah tidak tjidra kepada Jang Maha Kuasa, barulah ia nanti dapat merasakan keindahan dan keheibatan dajanja Gunung Kawi. Banjak orang jang menanjak, Ejang Djugo itu bangsa apa? Ada jang menduga ia orang Tionghoa, ada jang mengira ia orang Indonesia. Tapi Ejang Djugo sendiri tidak pernah mengatakan ia bangsa apa. karena bagai ia hal itu sama sekali tidak ada perlunja. Ditilik dari penghidupannja dan dari perbuatannja, Panembahan Djugo adalah bangsa Manusia. Tidak pilih kulit, tidak perduli kaja atau miskin, pintar atau bodo, siapa jang mengenal prikemanusiaan, adalah anak tjutjunja. Jang dinamakan bangsa atau kebangsaan bagai Ejang Djugo tidak ada. Sedari ia masih hidup. jang ditjita-tjitakan adalah kesedjahteraan Ketika ia masih tinggal didesa Djugo, jang menerima ketjintaannja dalah segala bangsa, hingga pengikutnja pun terdiri dari bangsa Indonesia, Tionghoa dan Belanda, malahan njonja Schiller menurut pendapat orang adalah bangsa Djerman, jang oleh Ejang Djugo disajang sebagai anaknja sendiri. Sehingga Ejang Djugo meninggal dunia, pesarean dan sekelilingnja telah menjiptakan suatu dunia baru, jang lain dari jang lain, tidak ada perbedaan antara kaum tinggi dan kaum rendah, tidak ada kaja atau miskin, tidak ada bangsa dan bangsa. Siapa sadja jang iatang kesana, duduk bersama, tidur bersama, makan bersama, gembira hersama. Orang Indonesia, orang Belanda, orang Tionghoa, orang India. jang hendak ambil surat obat atau tjiamsi, sama datang bersudjud di Patkwating. Didepan makam, asap hioswa tertjampur dengan asapnja kemenjan. mendjadi satu dengan harumnja bunga aneka warna. Diatas medja sesadji. buah lengkeng disebelahnja buah apel dan anggur, buah letji disampingnja buah dukuh, djeruk dan semangka, lambang interna- sional jang tidak mengenal perbedaan bangsa. Orang Tionghoa jang catang disana sudah mengerti betul tjaranja duduk bersilah mengepung tumpeng selamatan, disebelah para saudaranja bangsa Indonesia, Belanda dan India, sama-sama makan dalam satu tetampah dengan tidak meng- gunakan sendok, garpu atau sumpit, hanja dengan lima djari tangannja. sembari makan sembari tertawa gembira, tidak ingat lagi bahwa disana- sana ada jang sedang berperang, ada jang sedang menghunus pedang. ada jang sedang membikin bom atoom. Dajanja Gunung Kawi, siapa sadja jang datang kesana, setelah mengisap suasananja jang tenteram, damai, hening dan heneng, pasti irgin datang lagi. Datangnja lagi dengan mengadjak sobat kerabat
A
dan lain-lain orang, karena, dengan pengertian atau tiada dengan pengertian, mengetahui atau tidak mengetahui, sebetulnja didalam batinnja ada berdjangkit suatu keinginan, supaja rasa senang dan rasa bahagia jang a pernah dapatkan, ia hendak bagi-bagikan kepada jang lain, supaja turut sama-sama merasakannja. Umum didalam dunia, tidak ada orang jang ingin membagi-bagi keuntungannja jang bersifat harta ke- kajaan atau deradjat kemuliaan, djadi apa jang menjenangkan hatinja ia tidak ingin dibagikan kepada orang lain. Tapi kesenangan dan rasa bahagia jang didapat dari Gunung Kawi, dengan iklas dan ridlah suka bagikan kepada jang lain. Inilah tanda suasananja Gunung Kawi ada- lah sutji dan murni. hingga dapat merobah watak orang jang egois memikirkan kepentingannja diri serdiri sadja, mendjadi orang jang tjinta kepada sesamanja. Itulah daja kesutjiannja Gunung Kawi.
KENANGAN DIDJAMAN LAMPAU. Pengikutnja Ejang Djugo ada beratus-ratus banjaknja, memanggil kepada Sang Wiku rupa-rupa sebutannja, ada jang menjebut Pontjo- kaki, ada jang memanggil 'Mbah Djenggot, ada sebagian besar jang tnenjebut 'Mbah Tani, karena jang digemari dan diperhatikan oleh Sang Wiku jalah bertani tanam padi disawahnja jang lohdjinawi, diantara desa Djugo dan Sanggrahan. Para pengikut itu, bukan murid jang datangnja hendak minta diwedjang ilmu atau peladjaran jang dakik- dakik, hanja mereka sama datang kedesa Djugo untuk bantu kepada Sang Bagawan, ada jang membawa sapi, ada jang membawa luku dan ratjul, datang dari lain-lain desa djauh, sama menginap tidur disitu. tiap hari ada jang bekerdja disawah, ada jang mentjari ikan disungai Prantas, pendapatannja dibawa pulang kepedepokan akan dimakan sama-sama. Hatsil padi dan lain-lain dari ladangnja Ejang Djugo untuk dimakan ramai-ramai, dapurnja tidak pernah padam apinja, sebentar-sebentar masak nasih, sehingga 'mbah Dawud jang kewadjibannja djadi djuru rerateng sampai keteter, perlu dibantu oleh ki Paidin jang bela- kangan ganti nama tuwa djadi pak Karsokromo, tapi oleh kawan2nja cinamakar si Djendil. Penghidupan dipedepokan Djugo pada waktu itu adalah menjenang- kan sekali, berpuluh-puluh orang sama tidur bersama, djikalau sudah petang ada jang menjanji ura-ura tjara pedusunan, sekelompok disana sama bitjara kasak-kusuk sembari menghadapi api untuk mengusir ujamuk sekalian membakar puhung. Dilain kelompok sama bertjanda. mnalah ada jang adu tenaga membanggakan kekuatannja. Diantara mereka tidak kurang jang memang achli kanuragan, an- laranja jang termashur adalah Baharudin dari Kedu, dan ki Tjolowo dari desa Keduwong. Baharudin dengan latihan dari tjabang Gagak- handoko terkenal kekuatannja, tapi Tjolowo mengandalkan rikat dan se- hatnja karena ia memang ada mempunjai kesaktian adji Kidangken- tjana. Kerap kali mereka tantang-tantangan dan uber-uberan, kendati hanja bertjanda memain namun tjaranja seperti berkelahi sesungguh- rja, diandjuri dan disuraki oleh kawan-kawan jang lain. Ejang Djugo sendiri tidak ambil pusing segala perbuatan para pengikutnja itu. Ia sering berkata dengan tersenjum, bahwa orang boleh berbuat apa sadja untuk menjampaikan kesenangan hatinja, asal dengan duga dan kira-kira, terutama djangan sampai berbuat jang me- rgandung dosa. Siapa jang suka tidur, biarich dia tidur, siapa jang suka mendongeng, biarlah dia mendongeng, siapa mau makan, biarlah dia makan. Ada suatu kedjadian jang tak dapat dilupakan, jalah pada suatu hari Tjolowo naik kereta api dari djurusan Kepandjen, ditengah djalan kereta itu telah dihentikan oleh polisi dengan djawatan kesehatan, ka-
rena pada waktu itu sedang musim penjakit menular. Penunmpangnja semua diturunkan untuk disemprot dengan obat dan belirang. tapi entah bagaimana ketika gilirannja ki Tjolowo sedang disemprot, menda- dak kereta api sudah djalan, hingga Tjolowo ketinggalan. Tjolowo ma- rah besar, ia mengantjam akan mengamuk sedjadi-djadinja, hingga kepala setasiun dan mantri polisi disitu mendjadi bingung, achirnja Tjolowo diantarkan ke Djugo dengan dokar. Sesampainja didesa Djugo. Tjolowo masih mengomel tiada sudahnja, dimana orang jang mengan- tarkan kepadanja tidak boleh turun dari dokar, hanja harus pergi se- ketika itu djuga, sehingga djauh Tjolowo masih mentjertja sembari mengamang-amangkan tindjunja. Ejang Djugo mendapat dengar, maka pada suatu malam Tjolowo telah disuruh menjeritakan kembali apa jang sudah kedjadian atas arinja. Kemudian dengan tertawa Ejang Djugo berkata: ,Ja pantas si Tjolowo mendjadi petjitjilan, karena merasa dirinja dirugikan. Te- tapi, Tjolowo, alangkah baiknja djikalau engkau bisa menerima kedjadian itu dengan tidak usah mengamuk dan petjitjilan begitu rupa". Rupanja perkataan Ejang Djugo telah mendjadi ilham, maka setelah diam sementara waktu Tjolowo lalu mendjawab: Ejang, saja memang ingin dapat mengendalikan napsu berangasan saja, tapi didalam detik jang menggetarkan itu saja tidak berkuasa atas diri sendiri. Semua itu terdjadi diluar kekemauan saja, seolah-olah ada suatu kekuatan lain jang menggerakannja". Ejang Djugo berkata lagi: Engkau melatih diri dengan kanuragaa đan ilmu kesaktian. Djikalau sudah didapatkan, sebetulnja bukan engkau jang menggunakan ilmu itu, hanja ilmu itu jang menggunakan di- rimu. Maka sebaiknja engkau lalukan sadja ilmu sematjam itu, supaja drimu mendjadi bersih dan enteng". Ejang, bagaimana tjara membuangnja?" Sang Bagawan memandang Tjolowo seraja berkata dengan suara sedikit keras: Apa betul-betul engkau ingin melalukannja?" Betul, Ejang". djawab Tjolowo. Maka pada saat itu djuga Tjolowo sudah lupa tidak ingat lagi segala mantra jang mendjadi sumbu dari ilmu kesaktiannja. Dan sedari waktu itu kelakuannja Tjolowo sudah tidak bentjorangan lagi. Rupanja watak dasarnja Tjolowo memang bukan terlalu kasar, hanja karena tersurung oleh perasaannja sendiri jang sudah merasa sakit hingga mendjadi sombong dan adigung. Demikianlah djago dari Keduwong itu telah mendapatkan keinsjafannja. Ada pula seorang namanja ki Munari, entah orang dari mana, jang datang kedesa Djugo dengan sudah lama mendjalani tapabrata, sudah bertahun-tahun tidak makan nasi, tidak tidur dibawah atap rumah, tidak mandi dan tidak bitjara. Ia telandjang hanja pakai tjawet sadja, masuk keluar dipedepokan sesuka-sukanja, tidak ada jang dikerdjakan, tidak ada orang jang tahu maksudnja, seperti orang jang tak beres pikirannja.
Setelah agak lama disitu, Munari telah dipanggil oleh Ejang Djugo dan dinasehati begini: Hai Munari, engkau tapa membisu, tidak makan tidak tidur, apa jang kau inginkan? Djikalau engkau sudah mendapat apa jang digajuh, engkau sudah sakti, kesaktian itu hendak kau guna- kan apa? Orang jang bisa masuk kedalam sorotnja lampu, perlunja buat apa, djikalau tidak untuk mendjadi maling? Bisa meniup lemari terkuntji djadi terbuka sendirinja, gunanja apa djikalau tidak buat mentjuri? Perdjalanan jang kau tudju itu semuanja keliru, Munari, citjarinja dengan susah pajah, tapi hatsilnja bentjana dan kesusahan belaka. Orang hidup menerimalah sepandumnja dumadi, siapa jang bisa dagang, berdaganglah. Siapa jang senang bertani, bekerdjalah disawah. Semua itu akan memberi hidup dan bahagia jang dapat di- turunkan sampai kepada anak-tjutjunja". Sedjak dinasehati demikian, ki Munari telah sadar, maka ia lalu hidup tjara biasa. Satu waktu ia suka diadjak oleh Raden Mas Iman Sudjono pergi kepasar Kesamben. Tapi ketika Ejang Djugo pindah ke Gunung Kawi, Munari tidak ikut kesana, entah pergi kemana. Ha- nja belakangan ki Munari tertampak lagi diseputar daerah situ, tapi keadaannja sudah seperti orang jang kurang waras pula. Kemudian a membakar rumahnja seorang Belanda di Garum, bukan Garum Blitar, lanja Garum Pelampangan. Oleh polisi ki Munari diuber-uber, achir- nja ketangkap dan dibawa ke Blitar, ketika ditanjai Bupati Blitar apa sebabnjà ia membakar rumah, ki Mu nari mendjawab, bahwa jang membakar rumah itu adalah ,,api perempuan". Lantaran itu maka ki Munari telah dihukum, sesuiah kcluar pendjara tidak ketahuan lagi ia pergi kemana. Dengan begitu djadi njata sekali Ejang Djugo tidak membenarkan ájikalau ada orang jang mau mentjari ilmu gaib, karena membawa tji- laka kepada orang lain dan kepada dirinja sendiri. Orang jang ingin bahagia dan selamat, harus mendjalankan benar. Itulah pituturnja Ejang Djugo, tetap tidak akan bisa salah lagi sehingga diachir djaman, karena memang itu adalah pituturnja para pandita
agung sedari djaman purbakala, jang berdasar atas apa jang tertulis
a.dalam kitab-kitab sutji. Gunung bisa gugur, lautan bisa kering, musim bisa salah mangsa, tapi pitutur jang mengandung kebenaran itu dak bisa mendjadi salah untuk selama-lamanja. Ketika R. Prawirosastro, pegawai telepon dari Kepandjen ingin me- ngikut Ejang Djugo dengan meninggalkan pekerdjaannja, Sang Wiku melarangnja, karena perbuatan itu keliru. Demikianpun ketika salah satu pengikutnja, bangsa Tionghoa bernama Tjan Thian, jang oleh orang-orang desa Djugo dinamakan Bah Sipat, kemudian ganti nama mendjadi Djokarmo, hendak meninggalkan pekerdjaannja sebagai tu- kang ukur djalan kereta api dan mau ikut Ejang Djugo sebagai tjan- triknja, Ejang Djugo telah berkata: .Engkau bisa mengukur djalan
karena dari beladjar dan pengalaman jang bertahun-tahun. Maka engkau beladjar dan mengerdjakan, tentu sebab suka dengan pekerdjaan itu dan dari situ engkau telah mendapat penghidupanmu. Kesukaanmu. keadaanmu, tugasmu dan penghidupanmu, itulah darmamu. Kenapa eugkau mau meninggalkan darmamu dengan mentjari lain djalan jang belum tentu tepat untuk diri dan keadaanmu? Djokarmo kuatkanlah hatimu, djangan diwasesa oleh goda jang tidak-tidak. Djalankanlah sadja darmamu sendiri, karena disitulah letaknja rasa bahagia jang se- benar-benarnja". Demikianlah maka orang dari mana-mana sama datang dipedepokan Djugo, karena tinggal berdekatan dengan Sang Panembahan mereka merasa tenteram dan bahagia, maka tidak heran djikalau disitu sela- manja ramai dan gembira. Pribawanja Ejang Djugo makin lama makin besar, tidak surut sehingga ia meninggal dunia, bahkan makin me- luas-luas, maka dipesarean Gunung Kawi sekarang ini, jang datang bertambah banjak, beratus, beribu, tiada putus-putusnja, karena siapa sadja jang berada disitu merasakan tenteram, tenang dan Dahagia, merasa dirinja didalam perlindungan jang sentausa rahaju dan aman jang tidak ada taranja.
Gambar diatas adalah Srojo. Dahulu waktu tempat ini masih: nj, penduduk desa situ kedatangan bentjana balang sangit, jang membinasa- kan seantero tetanaman, dari djagung, padi sehingga daun kelapa habis gundul sara sekali. Fada waktu itu Ejang Djugo sering tertampak dihutan-hutan Bowerno, orang namakan dia Ki Badjul karena tidak ada seorang pun jang tahu namanja sedjati. Mereka lalu bermufakatan untuk mentjari Ejang Djugo, minta ditulungi supaja dihindarkan dari malapetaka balang sangit itu. Ketika mereka ketemukan Ejang Djugo. salah satu antaranja berkata: Ejang, kami mohon tulung dilindungi dari bentjana balang sangit itu". Ejang Djugo mendjawab: Balang makanannja memang dedaonan, jikalau tidak diperbolehkan makan daon, mereka harus disuruh makan apa?" Djikalau balang hanja satu dua ekor sadja, tidak mendjadikan kami menderita". Kata mereka. ,Tapi balang itu berdjuta-djuta ba- rjaknja, satu kali datang habislah tetanaman kami, jang sudah dipiara Sesudah itu engan keringat dan perihatin berbulan-bulan lamanja. anak-isteri kami lalu menderita kelaparan, sehingga ada jang makan bonggol pisang. Balang sangit adalah melapetaka, kalau Ejang tidak suka menolong, kami tentu bakal tjelaka". ,Sokur djikalau kamu sudah tahu bahwa balang sangit itu malapetaka", Djawab Sang Wiku. Tapi ketahuilah lebih djauh. melapetaka tidak datang pada sembarang orang dan pada sembarang waktu. Dji-
kalau tempat itu bersih dan orangnja baik-baik, tidak akan kedatangan malapetaka.Maka sekarang ingatlah nasehatku, pada waktu-waktu jang tertentu kamu harus membersihkan rumah dan pekaranganmu, ajangan suka menganiaja apa sadja jang berdjiwa, djangan suka me- mandang rendah kepada sesama manusia. Satu sama lain djangan suka bersombong-sombong, djangan suka saling berdjusta, tiap hari ¿janganlah lupa kepada Jang Maha Kuasa, karena Dialah jang melindungi kehidupanmu sekalian". Setelah itu Ejang Djugo lalu ikut mereka, kedatangannja disambut dengan bersurak-surak dan berseruh: ,Ejang Srojo datang, Ejang Srojo catang". Artinja srojo jaitu orang jang diundang akan melindungi dan membirat kesusahannja. Ejang Djugo tidak suka melindungi jang satu dengan membinasa- kan jang lain. Ia hanja minta ditjarikan sampah pasar, dibakar dite- rgah sawah pada malam hari, dan ia serdiri lalu tinggal berdiam di- úalam sebuah gubuk jang djauh dari sana-kemari. Tidak ada jang tahu apa jang diperbuat, hanja ketika paginja, daerah situ telah bersih, tidak ada kedapatan lagi seekor pun balang sangit. Tapi pada pagi hari itu djuga Ejang Djugo sudeh tidak tertampak' pula, tidak ada jang tahu ia telah pergi kemana. Penduduk desa situ sangat bersokur dan terharu atas kebadjikan- nja Sang Pandita, maka sebagai peringatan lalu desa itu dinamakan desa Srojo, sehingga sekarang ini. Srojo terletak diantara perdjalanan Labad dan Bodjonegoro, desa kelurahan masuk keasistenan Sumberredjo. kewedanan Baurena, atau Bowerno.
BABAD GUNUNG KAWI II TAHUN 1931.
Jang djongkok dgn. pakaian hitam
adalah Tan Yam waktu masih muda.
TAN YAM mengasoh setelah tjapek bekerdjamemperbaiki pesarean Gunung Kawi.
'MBAH KARSOKROMO. Waktu muda namanja Paidin atau Djendil, pembantunja 'mbah Dawud, djuru masak nasi dipedepokan Djugo, ketika Ejang Djugo masih tinggal disana.
'MBAH NAPSIJAH, djuga dipanggil 'mbah Ngapijah, salah seorang pe- ngikutnja Ejang Djugo. Ia djuga mendjadi modin disana.
'MBAH MARSIPAH. Salah seorang' pengikutnja Ejang Djuga, asalnja dari desa Dawung, Pagerwodjo, sebelah timurnja desa Ngrembang. Belakangan ia tinggal disebuah gubug ketjil didekat pasar desa Nawangan, sering didatangi orang banjak jang ingin mendapat sawabnja.
'MBAH KARTODJO, berasaldari daerah Tulungagung. Datang didesa Djugo mengabdi Sang Wiku.
'MBAH TOKARJO,
pengikutnja Ejang Djugo, asalnja
dari desa Ngrembang. Kesamben.
'MBAH KARTOREDJO, djuga pengikutnja Ejang Djugo.
SEBRANGAN SUNGAI BRANTAS. Keadaan pada djaman jang lampau.
SUNGAI BRANTAS, pada waktu dulu. Disinilah parapengikutnja Ejang Djugo sama mentjari ikan dan mandi diwaktu sore.
S U B A R I (kiri) Djuru kuntji pedepokan Djugo, anaknja Djojo- dikromo. tjutjunja 'Mbah Tasiman. Gambar sebelah kanan adalah Kar- tosentono, pembantu Subari.
TASMAIN. Kader pemuda P.K.D. jang mendjaga ke- amanan dipesarean Gunung Kawi.
FADJAR DI WANASUKA. Didekat pesarean Gunung Kawi, didalam gerombolan pepohonan jang diselimuti halimun gunung. djikalau fadjar menjingsing. orang mendengar suaranja ajam hutan berkerujuk mengganter-ganter. mem- hangunkan mereka jang masih tidur, hajo bangun akan sama-sama menikmati sinarnja Sang Hjuang Diwangkara jang akan muntjul di- puntjak bukit sebelah Timur, menguning emas gilang-gemilang mene- zangi seluruh djagad dalam keindahan jang sempurna. Sang Ajam Hutan itu dalam suara berkerujuknja ada mengandung pudji-pudjian atas kebesarannja Tuhan Jang Maha Kuasa, berbareng dengan sesorah, bahwa resia-resia Ketuhanan jang keliwat tinggi, adalah termasuk wadi atau terlarang untuk dibitjarakan disembarang tem- pat, disembarang waktu dan pada sembarang orang. Tentang kesu- jatan memang ada harganja untuk dipeladjari, diudi ditjari sedalam- čalamnja, tapi djangan disebar sesukanja, seperti mutiara disebar untuk makanan ajam. Karena siapa jang berbuat begitu. tentu akan mendapat walat akibat jang tidak baik. O gawat, gawat keliwat-liwat, tentang keadaannja Tuhan Jang Maha Kuasa itu. Djikalau orang membitjarakan dibawah batas ma- saalah itu indah sekali, bermanfaat dan hatsilnja orang akan mendapat kesadaran, menenteramkan hati dan membahagiakan hidupnja. Tapi ċjikalau dibitjarakan mendjangkah sampai diluar batas kemampuannja, mereka akan kesasar, kepelantrang-pelantrang, dengan tiada tahu ke- mana tudjuannja. Histanja sebagai berdjalan ditengah padang pasir waktu mendung, tidak ada matahari, tidak ada rembulan dan bintang- hintang, hingga tidak mengetahui empat keblat, maka siapa jang merasa djalan kearah Timur, tidak mendusin sebenarnja sedang menudju ke Barat, dan siapa jang merasa djalan kedjurusan Selatan, tidak sadər bahwa ia sedang menudju kearah Utara. Sekali sudah kesasar, tidak ada jang dapat membilukkan, karena ia merasa didjalan jang benar. sehingga nanti sesudah kebentur Betara Kala, barulah mendusin tapi terlambat sudah, karena dirinja telah rongsok, djiwanja telah rusak. mau kembali sudah tidak ada kesempatan lagi, karena sudah habis te- uuganja. Jang ketinggalan hanja rasa ketjewa dan menjesal tiada na- his-habisnja. Tidak mudah mentjari tapaknja kuntul melajang. Keagungannja Maha Dia tidak dapat dikira-kira lagi, maka djika. !au dibitjarakan oleh orang jang kurang bidjaksana, walat akibatnja djadi kesasar-sasar. Djikalau dibitjarakan oleh orang belum sutji, men- djadi tjamah. Mentjamahkan Tuhan adalah dosa. Sebagai tjebol meng-
gajuh lintang, meski bagaimana tiada akan sampai, maka bagai orang
biasa, lebih baik menulad sadja perdjalanannja orang bidjaksana. Per- hatikan sadja pitutur dan petundjuknja orang-orang jang sudah tinggi rengetahuannja. Sebagai perdjalanan hidupnja Ejang Djugo jang tidak pernah suka
membitjarakan kesunjatan atau ilmu jang luhur-luhur, hanja menasehati supaja orang djangan berbuat jang tidak baik, karena itu tidak mem- heri bahagia. Ejang Djugo tidak tjuma bitjara, tetapi mendjalani betul- hetul pedoman itu. Orang harus berbuat baik, bitjara baik, berpikir baik dan bertjita-tjita baik, karena perdjalanan baik akan memimpin orang kealam jang baik, maka didalam dunia hidupnja akan mendapat hahagia dan sesudah mati pun akan mendapat tempat ang aman. Djanganlah berbuat sebaliknja dari baik itu, siapa jang berbuat djahat, wet alam dan wet negeri sudah menentukan hukumannja. Hukum ne- pori masih dapat dimungkiri, diuber polisi masih bisa sembunji. Tapi Tukum alam hendak dimungkiri bagaimana, karena jang dimungkiri ada- lsh pengertiannja sendiri, jang djadi hakim pun dirinja sendiri? Di- ber polisi masih bisa sembunji, tapi diuber alam mau menjingkir ke- mana, karena dimana-mana pun dalam ajam? Didalam lobang semut masih didalam alam, di Saptapertala masih didalam alam, di akerat pun masih didalam alam djuga? Perbuatan baik itu ada banjak pilah-pilahnja. maka supaja djangan bingung, segala jang akan diperbuat dibagi sadja mendjadi dua, baik tau tidak baik, kalau tidak baik dljangan dilakukan, kalau baik boleh ilakukan. Jang dibilang baik pokoknja tidak menjusahkan orang, ti- iak menjilakakan, tidak merugikan dan lain2 jang sifatnja tidak me. njenangkan seperti apa jang dirinja tidak mau djika diperbuat orang lain. Didalam dunia ini adalah taman lelangennja pantjaindrija, maka djikalau masih kepingin hidup, hidupkanlah pantjaindrija. Boleh diken- dalikan, karena kalau dilepas sesukanja, nanti kesasar dan membawa tjilaka. Tapi ingat, pantjaindrija itu harus hidup, maka djanganlah citindas sehingga mati, karena kalau kuda itu mati, jang naik pun tidak berdaja pula. Orang-orang bidjaksana tidak terlalu takut pada pemotahnja pantjaindrija, karena meski sukar masih dapat dikekang. Mata, kuping. ridung, mulut dan badan, masih mempunjai tudjuan jang tentu. Mata tidak kepingin lihat barang jang nadjis, hidung tidak ingin tjium bau jang busuk, kuping tidak ingin dengar suara jang tidak menjenangkan, mulut tidak ingin makan barang jang tidak enak, badan tidak ingin menderita sakit. Jang harus mendapat perhatian istimewa adalah in- crija jang keenam, karena selain lima indrija tadi, masih ada lagi satu idrija, indrija jang sukar dikekang. jaitu pikiran. Djustru indrija ang keenam inilah jang harus kendalikan sebaik-baiknja, karena dialah jang wataknja suka njeleweng. sedang pengaruhnja besar sekali, dialah jang memimpin lima indrija jang lain. Banjak orang-orang jang mendjalankan ilmu batin, bertapa, semedi, tidak makan barang ber- diiwa dan lain-lain, djalan untuk mengekang pantjaindrija, tapi mereka hanjak jang lupa memperhatikan dajanja indrija jang keenam, hingga achirnja mendjadi batal, gagal ditengah djalan. Jang ditjari kesunjatan,
tapi jang didapat kerusakan. Dialan kebatínan jang murni, bukan sadja harus benar dan mantap, tapi djuga harus tahu tudju dan panudju, was- pada dan witjaksana. Tudjuan dari orang jang menggajuh kasunjatan, sebetulnja tidak beda dari gegajuhan dan tjita-tjita hidupnja semua manusia umum. iaitu untuk mendapatkan rasa bahagia. Dari jang bodo sehingga jang pintar, dari pengemis sehingga radja, semua pengharapannja satu rupa, jalah ingin senang dan bahagia. Oleh karena itu sudah mendjadi ko- drat, maka Ejang Djugo mendjurungi anak-anaknja asal djangan me- njimpang keluar dari djalanan jang benar, karena kalau keliru djalan- nja, nanti bukan bahagia jang didapat, hanja sengsara. Rasa bahagia hanja satu, tapi adanja bertingkat-tingkat dan pun- tíak bahagia adalah bahagia jang abadi. Tidak sembarang orang dapat mentjapai bahagia jang sempurna itu, tapi semua orang ada mendapat kesempatan untuk mentjapainja, djikalau sanggup membajar pembeliannja. Djanganlah menggajuh bahagia jang abadi, kalau belum pernah merasakan bahagia jang laras dengan keadaannja. Maka lebih dahulu, usahakanlah supaja mendapat kesadaran, sebab sadar itu adalah unda- kan pertama untuk mendapat bahagia. Sudah baik kalau diri sendiri telah mendapat rasa bahagia, tapi bahagia itu belum bahagia jang sempurna, djikalau belum dapat membahagiakan rumah tangga. Anak-istri tidak tjukup dengan hanja disuruh turut merasakan bahagianja diri sendiri, karena mereka harus makan pakai dan terdjamin hidupnja. Lantaran itu maka orang harus bekerdja sekuatnja supaja dapat me- njukupi kewadjibannja. Djikalau rumah tangga sudah makmur, anak- isteri dan ajah-bunda sudah turut mendapat bahagia, toch bahagia itu belum sempurna apabila sobat-sobat dan tetangganja sama menderita, karena orang tidak akan dapat merasakan enaknja barang jang dima- kan, djikalau dihadapannja ada seorang jang hampir mati lantaran lapar. Orang jang utama tidak akan bisa merasa bahagia, djikalau sendiri kaja-raja tapi semua tetangganja dalam sengsara dan menderita. Lantaran itu maka untuk menjempurnakan kebahagiaannja orang harus berbuat sesuatu untuk sesamanja, menulung sesanggupnja, dana weweh, can apa sadja jang baik untuk orang jang sedang kekurangan. Djika sudah dapat melakukan itu, rasa kebahagiaannja tentu akan mendjadi lebih besar, tapi djuga belum bahagia jang sempurna; karena meski mata sudah tidak menampak segala penderitaan, tapi kupingnja masíh mendengar djikalau ada malapetaka jang menimpah manusia dilain tempat, bahaja bandjir, lindu, pagebluk, patjeklik dan lain-lain bentjana alam, maka dana kasihnja harus diluwaskan, menjokong sekuasanja. karena perbuatan itu adalah kewadjiban terhadap sesama manusia, jang buahnja adalah rasa bahagia bagai siapa jang melaksanakannja. Tapi sekarang ada suatu pertanjaan, mungkinkah kalau diri senditi
dan anak isterinja dalam kekurangan, dapat menjumbangkan dermanja repada orang lain? Hal ini sukar dilakukan, djika ada jang melakukan tol hatsilnja tidak ada, karena perbuatan itu pintjang dan tidak laras dengan keadaannja. Dari itu maka Ejang Djugo mengandjurkan supaja orang menggajuh kebahagiaan dengan bekerdja, diperkenankan mendjadi seorang jang kaja raja, agar dengan hartanja dapat digunakan untuk bantu meringankan kesengsaraannja orang Jain. Tapi ingat. djanganlah bekerdja atau mentjari kekajaan dengan djalan jang tidak halal, karena harta jang didapat dengan djalan tidak halal, tidak akan kekal dan tak bisa memberi kebahagiaan. Djikalau harta jang haran itu digunakan untuk dana derma menulung orang, tidak akan ada fae- dahnja, karena tidak bermanfaat bagai jang menerima, djuga tidak membahagiakan kepada jang memberi. Kebadjikan adalah kebesaran. Meski asalnja dilakukan dari kalangan jang ketjil, tapi djikalau dipiara akan mendjadi luas sekali, hingga meleber dapat meliputi seluruh djagad. Murah hati dan kebadjikan jang dilakukan oleh Ejang Djugo, mula-mulanja pun dalam kalangan berwatas, tapi karena tjita-tjitanja jang setinggi djumantara, maka kebadjikannja djadi melar, hingga besarnja menutupi djagad. Ejang Djugo bukan radja, maka tidak dapat melakukan kebadjikan dengan sesadji Radjasuya sebagai Maha Prabu Dharmakesuma. Ejang Djugo bukan seorang hartawan besar, maka tidak dapat melakukan kebadjikan dengan sesadji Haswameda. Tetapi karena tjita-tjita dan murah hatinja jang sangat besar maka bukan dengan kekuatan dana weweh- nja sadja, tetapi raganja pun ia sadjikan dengan mengembara kemana. mana, untuk meringankan penderitaan manusia, bahkan binatang sapi dan kerbau pun dilepaskar. dari bentjana dan kesengsaraannja. Untuk menjampaikan maksud itu, karena ia tidak kaja, maka ditekadi dengan tiipta sabdanja, dengan daja gaib jang sebenarnja ia tidak suka undjuk- kan sehingga orang mengetahui. Djikalau darma kebadjikan didalankan dengan sesungguh-sungguh- pja dari muda sehingga tua, sehingga tiba pada djaman achirnía, kebadjikan itu tidak turut mati, bahkan meluas makin lebar, tetap dimuka bumi. Seorang jang badannja mendjadi sasananja satu djiwa mulia. kalau djiwa itu telah meninggalkan raganja, siraga akan dikembalikan kepada Pantja Maha Buta. Jang dari bumi pulang kepada bumi, jang cari air pulang kepada air, jang dari logam pulang kepada logam, jang lari api pulang kepada api, jang dari angin pulang kepada angin. Tapi pengembalian djasad itu tidak tjuma untuk makanan tjatjing, karena masih tetap dalam tjita-tjita kebadjikannja, jaitu airnja akan mendjadi sir jang sutji, berchasiat dapat menjembuhkan orang sakit. Logamnja mendjadi emas dengan sifat harta jang akan digunakan untuk dana weweh bagai jang perlu pertolongan. Tanahnja akan subur lohdjinawi, mengeluarkan polowidjo jang tudjuannja buat. menghilangkan lapar.
Apinja untuk rerateng masak nasi dan untuk membakar dupa sesadji Dewata. Anginnja akan mendjadi samirana jang memberi daja segar dan daja hidup bagai tetanaman, sarwa dumadi dan sarwa kumelip jang ada di Mertjapada. Satu badan jang mendjadi dangkanja djiwa raseksa, diwaktu hidup ckan mendjalankan kedjahatan, djikalau sudah mati djiwa itu akan niengembara dengan tetap membawa napsu angkaranja, mendjadi hantu ang memimpin orang kedjurang djahanam. Raganja pun balik keasal merdjadi lima anasir lagi,tapi meneruskan salurannja jang dulu. Ap:- rja membakar rumah, airnja mendjadi bandjir ladu, logamnja mendjadi sendjata pembunuh, anginnja mendjadi taofan, tanahnja mendjadi lum- pur lendut jang penuh "bentjana. Maka orang-orang bidjaksana memberi nasehat, hiduplah menurut pituduhnja Agama, karena segala Agama memimpin kedjalan jang badjik dan selamat. Djangan suka mendjadi hudaknja kedjahatan, karena diwaktu masih hidup tak mungkin men-Japat bahagia dan nanti djikalau sudah mati, djiwanja tetap sengsara. Demikianlah, kebadjikan raganja akan tetap membawa malapetaka. atau kedjahatan tidak didalam batas waktu hidup sadja, tapi akan furut terbawa sampai kealam kubur. Jang belum mengerti sering berkata: orang mati bisa berbuat apa? Oh itulah keliru, orang mati bisa berbuat segala rupa lebih dari orang hidup Hal inf telah diketahui lama oleh para bidjaksana. Betara W'isnu ketika lahir mendjadi Hardjuna Sasrabahu tidak mau membunuh Kahwana, bukan lantaran menuruti permintaannja Bagawan Pulasta, tapi karena ia tahu djikalau Rahwana dimatikan, djahanam itu akan herbuat kedjahatan jang lebih besar lagi. Setelah Betara Wisnu lahir !agi mendjadi Rama, barulah Rahwana dibinasakan, karena itu sudah citetapkan Dewata, guna melaraskan djalannja kodrat alam jang sudah üitentukan mendjadi rentjana perhidaran djaman Tjatur Yuga. Maka sesudah mati djiwanja Rahwana telah keluar sebagai pelembungan ketjil-ketjil, naik keatas udara, dimana setelah ketemu dengan dajanja Betara Kali, lalu meletus tiap-tiap butir petjah mendjadi tigaratus djuta pelembungan jang lebih ketjil lagi, hingga mata manusia sampai mikroskop tidak dapat melihatnja. Duapuluh satu ribu djuta pelembungan jang semuanja berisi Rahwana, lalu membiak tersebar mem- renuhi dunia, bertjampur dengan endek-endek amun-amun, siapa jang kemasukan pelembungan itu akan mendjadi alatnja Rahwana. Tidak rilih tingkatan, semua manusia jang kurang sutji bisa dimasukinja, orang biasa lelaki atau perempuan, radja-radja sehingga para pandita jang tidak teguh batinnja pun dapat dimasuki pelembungan-pelembungan ajahanam itu. Dari sebab demikian, maka sesudah Rahwana mati, malah kedjahatannja makin mendjadi-diadi, mendadrah memenuhi dja- yad, tiada habis-habisnja menimbulkan kesengsaraan pada segala jang hidup sampai sekarang inf.
Sukma jang angkara-murka, dajanja mendjalar sampai kepada raga, meresap masuk sampai kedalam darah dagingnja. Maka djikalau sukma itu sudah meninggalkan wadaknja, wadak jang sudah pernah men- cjadi alatnja sukma angkara-murka itu, tetap mendjadi alat akan men- djalankan peranan tudjuannja. Budukbasu merindukan Dewi Sri terus tari hidup sehingga mati. Dewi Sri mendjadi padi, bangkainja Budukbasu separo mendjadi ikan air, separonja lagi mendjadi heiwan. Tu- (juannja tetap ingin tjampur berangkap dengan Sang Dewi. Dari sebab itu, maka pada djaman dulu sebagian besar orang-orang jang beragama Wisnu tidak makan barang berdjiwa, hanja makan sajur dan dedaunan sadja, karena tidak suka perutnja akan didjadikan gelanggang pembu- ruan. tempat Budukbasu menjampaikan napsunja.
BRAHMANA LANGKING. Didalam salah satu lontar Mamenang jg. mendjadi babonnja Pustaka Kadja, ada beberapa jang ketinggalan tidak tertjatat dalam karangan- nja Ronggowarsito, jaitu tentang hikajatnja Brahmana Langking, bahwa djasmani dari orang jang sudah mati, masih bisa melandjutkan. tjita-tjita dari sukmanja. Pada djamannja Prabu Wirata Basukiswara, dibawah Gunung Ni- landusa, sekarang dinamakan Gunung Wilis, ada seorang sangat miskin: bernama Danju, tinggal ditengah ara-ara sunji jang dinamakan Tegaloak. Danju tinggal disitu dalam gubuk bobrok, bersama anak-isterinja. Penghidupannja mentjari kaju kering, gelagah dan daon djati, didjual kepasar pendapatannja untuk sesuap nasi mereka beramai. Ara-ara. Tegaloak adalah bumi tandus jang tidak dapat ditanami palawidja atau karangkitri jang boleh dimakan, jang tumbuh hanja alang-alang, gele- tang warak, widuri dan pohon tembelek. Dari pagi sehingga petang selamanja terbenam dalam kesunjian, jang terdengar hanja suaranja burung dandang dan pritgantil jang menjajukan hati. Djikalau malam jang terdengar hanja suaranja kuwuk, garangan dan lowak jang menje- ramkan. Pada suatu hari ditengah ara-ara Tegaloak jang sepi itu, ada ter- tampak seorang pandita jang badannja kurus kering, djalannja sempo- jongan, sebentar-bentar berhenti mengasoh untuk memandjangkan na pasnja, sembari pegangan tungkatnja jang pandjang, untuk menun- ¿jang tubuhnja jang sudah lemas lelah kurang makan. Setindak demi: setindak pandita itu berdjalan perlahan, ketika sampai didepan gubuk- rja Danju, ia telah ambruk pingsan tidak dapat bangun lagi. Menampak demikian, Danju berlari-lari menghampiri, sang pandita dipondong, dibawa masuk kedalam rerompoknja, diberi minum air jang sedjuk, maka sang pandita lalu ingat dirinja lagi. Danju merawati pandita itu dengan sungguh hati, ia diberi makan lebih dulu, barulah anak-isterinja dan ia sendiri makan sisah lebihnja. Lama-lama sang pandita badannja mendjadi segar kembali, tapi ia tidak dapat berdjalan pula, karena kakinja sudah djadi lumpuh dan usianja sudah terlampau tua. Pandita itu berasal dari tanah Ngatasangin, namanja Brahmana Langking, jang sedang bertapa mengembara separan-paran, sehingga sampai di Tegaloak, dan sekarang ngebrok tidak dapat berlalu lagi dari gubuknja Danju. Tapi Danju tidak merasa keberatan ditumpangi seorang tua jang lumpuh itu, malah ia hormati dan rawati dengan te- later sebagai kepada ajahnja sendiri. Satu waktu Brahmana Langking pernah menjatakan, bahwa ia ingin bisa berbuat sesuatu untuk balas budi meringankan penderitaan hidup nja Danju. Ia kata dalam hidup dengan badan serongsok itu ia tidak sapat berbuat suatu apa, tapi nanti sesudah mati ia akan membantu Danju dengan daja kekuatan jang diterbitkan dari buah kasutapannja..
Danju tidak mengharapkan, hanja ia mohon supaja sang pandita tidak lekas mati, karena adanja ia disitu. ia merasakan hidupnja aman dan tenteram. Ketika sudah dekat dengan hari djandjinja, maka Brahmana Langking memesan Danju supaja djikalau ia sudah mati majatnja djangan dibakar sebagai umumnja orang pada djaman itu, tapi ia minta supaja dikubur sadja ditengah-tengahnja ara-ara Tegaloak. Danju perhatikan betul keinginannja sang pandita, ketika ia meninggal dunia, majatnja lalu dikubur ditempat jang telah ditundjukan. Tidak antara lama se- telah kedjadian itu, maka tanah ara-ara Tegaloak jang dulunja kurus kering, perlahan-lahan berobah mendjadi tanah jang subur, dapat di- tanami segala pohon buah-buah jang berharga, palawidja, palapendem. nalasimpar, tumbuhnja tjepat, hatsilnja berpikul-pikul tiada habisnja. Karangkitri ngerembajak hidjau melebar sampai kepuntjak bukit. Hudjan jang dulunja djarang turun diwilajah situ, sekarang turun tiada putusnja didalam musim rendeng ataupun musim ketiga, seluruh daerah telah mendjadi gemuk dan subur, gemah ripah loh djinawi. Redi Ni- landusa mendjadi lebih hidjau warnanja, hidjau rio-rio surup dengan namanja, maka sehingga sekarang dinamakan Gunung Wilis, jang diam dan anteng, gunung jang pernah menjaksikan segala kedjadian pada djamannja Maha Prabu Hadji Djajabaya. Demikianlah tjeritera Purwa jang indah itu. Sang Danju telah mendjadi seorang jang kaja raja. Ia tahu bahwa itu semua dapat dari anugrahnja Brahmana Langking jang keral budi. Tapi Danju tidak mengerti bagaimana tjaranja sang pandita melakukannja, ia hanja tahu bahwa tidak ada suatupun jang tidak mungkin kedjadian, djikalau itu iikerdjakan oleh orang bidjaksana, atas daja kekuasaannja Jang Maha Agung. Djasadnja Brahmana Langking jang dikubur ditengah-tengah ara-ara Tegaloak, diatas pangkuannja Ibu Pertiwi telah bujar mendjadi segala anasir menürut masing-masing asalnja. Mendjadi rabuk jang daja kekuatannja tidak berwatas, mendjalar dibawah tanah seluruh wilajah Tegaloak. Sukmanja Brahmana Langking tidak lelana mengembara
separan-paran sebagai sukma sengsara. Sukmanja seorang utama, dji-
kalau lolos dari raganja lantas bersatu manunggal dengan Jang Maha Kuasa, mendjadi suasana. sutji mengandung rahayu, mendjadi angin
jang bersih, mendjadi air embun jang sedjuk, mendjadi hudjan jang
baik, menjiram bumi sehingga subur makmur, merupakan berkah anu- grah bagai segala jang hidup didalam dunia. Maka djanganlah gegabah lantas mengatakan bahwa orang mati tidak dapat berbuat sesuatu apa, karena djustru pekerdjaannja orang
jang sudah matilah jang dajanja mengheibat-heibatkan, meluas-luas be-
bas sealam djagad.
DANA JANG TEPAT. Ketika Prabu Yudistira sedang prihatin didalam hutan tempat peni- buangannja, ia kedatangan seorang pandita agung bernama Resi Markandea. Sang wiku menghiburi dan menasehati, sehingga Prabu Yudistira hilang kesusahannja. Sang prabu telah menanjak: O pandita lmnuwih, apakah saja boleh mengetahui tentang apa jang dinamakan sutji?" Resi Markandea mendjawab: ,Jang dikatakan sutji ada tiga rupa, aitu sutjinja bitjara, sutjinja perbuatan dan sutjinja badan. Djikalau orang bisa melakukan tiga kesutjian itu ia akan mendapat anugrah cari Jang Maha Kuasa. Tempuhannja angin pagebluk jang mengandung penjakit, dajanja bintang-bintang jang djahat, djikalau mengenakan drinja orang jang sudah diselimuti oleh kesutjian tiga rupa itu, dajanja jang buruk akan berbalik mendjadi daja baik jang menjehatkan. Raseksa brekasakan jang makan daging mentah, hantu jang djahat dan menakutkan, tidak akan berani mendekati kepada orang jang se- sutji tadi, karena mereka akan terbakar hangus djikalau berani meng- ganggu kepadanja". Prabu Yudistira menanjak pula: ,Oh Maharsi jang witjaksana, ke- hadjikan dana kasih adalah djalan jang sangat tepat untuk orang jan: menggajuh hidup bahagia, maka oleh Agama dan kitab-kitab sutji ada diandjurkan. Tapi saja tidak tahu patitising dana, jaitu dana jang tepat tudjuannja. Apakah saja boleh mendengarkan petundjuknja?" O radja jang diberkahi", kata Resi Markandea. Pengetahuan itu adalah pengetahuan jang dipundi-pundi oleh para bidjaksana, maka de- ngarkanlah apa jang akan saja tuturkan. Menurut petundjuk daları kitab Pruti dan Semwriti, siapa jang suka memberi makan kepada crang jang sedang kelaparan, memberi pakaian kepada orang jang se- cang kedinginan, memberi tungkat kepada orang jang sedang berdjalan ditanah jang litjin, memberi air minum kepada jang sedang dahaga kehausan, memberi obat kepada orang jang sakit, mengundjukkan djalan kepada orang jang kesasar, itu semua boleh dianggap dana. Siapa jang mendirikan sebuah rumah pemberhentian untuk orang mengasoh tjapek lantaran berdjalan djauh, lebih lagi djika ada orang jang me- awat dan menerimanja, maka orang jang mendirikan rumah itu dan crang jang menerima tetamunja, akan mendapat berkah anugrah sebe- sar anugrahnja orang jang sesadji kepada Dewa. Dana pertolongan pa sadja jang tjaranja memberikan dengan tata-susila sopan-santun, d'ana jang dikasihkan dergan hati iklas rila-legawa, dana jang diberi- kan dengan hati jang penuh welas-asih, itulah jang dinamakan dananja orang utama, maka berkaknja akan meliputi anak-isteri dan rumah- tangganja. Membikin perigi, sumur atau pantjoran untuk orang-orang desa jang membutuhkan air. mendirikan pesanggrahan untuk orang menjembah Jang Maha Kuasa menurut petundjuk Agama, membikin
cjembatan diatas sungai jang sukar didjalani orang, mengeringkan djalanan jang betjek, meratakan djalanan jang pating berendjol, melapang- kan djalanan jang rungkut, itu gemua anugrahnja akan mendapat ke- hormatan dan rasa bahagia jang tidak ada habisnja. Memberi peladja- san kepada jang bodo, menghiburi kepada jang sedang menanggung diuka-nastapa, mengingatkan kepada jang lupa, menjedarkan kepada jang sedang hilap, itu semua pun termasuk dana, maka bukan orang ang kaja sadja sanggup memberi dana, hanja orang miskin djuga da- pat berbuat dana kebadjikan, jang berkahnja sama dengan sesadji Waiswanawa, jaitu sesadji luku kentjana, jang akan memberikan rasa bahagia selama hidupnja didalam dunia". Sekianlah antara sebahagian dari petundjuknja Resi Markandea ten-
tang patudju antjar-antjarnja darma dedana, kepada Sang Adjatasatru.
TULISANNJA ANGGANG-ANGGANG. Di Sumber Manggis ada seekor Anggang-anggang, jang tiap hari bergerak melintjah-lintjah diatas air jang djernih. Pada suatu hari ada seekor burung Tjikakak, hinggap diatas dahan pohon jang mang- lung diatas sungai. Menanmpak Anggang-anggang jang menganggang tiada berhentinja, burung Tjikakak itu ingin tahu apa maunja, maka ia lalu menanjak: Hai sumitra, pekerdjaan apa jang sedang kau lakukan disitu?" Saja sedang menulis", djawab Anggang-anggang, ,menulis perintahnja Tuhan". Apa bunjinja?" tanjak pula Tjikakak. Batjalah sendiri". djawabnja Anggang-anggang. Saja tidak mengerti". Djikalau jang batja tidak mengerti, bukan salahnja jang menulis". Tjikakak melengak. Kemudian ia berkata lagi: Tjoba kau tje- ritakan sadja apakah jang dinamakan perintahnja Tuhan?" Jang dinamakan perintahnja Tuhan", djawabnja Anggang-anggang, jaitu segala jang ada didalam dunia, jang berdjiwa atau jang tidak berdjiwa, jang bergerak atau jang tidak bergerak, semua harus berada cidalam keadaannja. Djangan berbuat apa sadja jang tidak semesti- rja. Engkau burung Tjikakak, tjarilah ikan, sebab makananmu ikan, djangan engkau mentjari uang dengan membawa linggis, karena itu akan membawa dirimu kedalam tjilaka. Manusia harus berbuat sebagai manusia, djangan buas sebagai matjan, djangan ganas sebagai sri- gala, djangan melibat-libat sebagai ular, djangan njeruduk sebagai kambing, djangan menggogos sebagai babi. Djikalau senang meletik sebagai balang, minta dilahirkan sadja mendjadi balang, supaja laras dengan keadaannja. Manusia djangan nakal sebagai monjet, karena Tuhan akan mengiringi apa jang disukainja, nanti kalau ia lahir lagi pasti didjadikan monjet. Kalau suka merangsang sebagai beruang, dja- rgan sesambat bila nanti masuk didalam kerangkeng. Djika suka men- turi sebagai lowak, djangan melolong bila nanti digebuki orang. Pe- vintah Tuhan, oleh sebagian machluk didunia telah didjalankan dengan baik, kodok rupanja kodok dan hidupnja sebagai kodok, pohon tjemara pun hidup sebagai pohon tjemara, bungah mawar pun hidup sebagai bunga mawar. Hanja manusia jang hidupnja mau menjalahi perintah Tuhan, mengadakan segala aturan jang menjusahkan, ada jang mau hi- cup diluar kodrat, malah ada jang mau merobah kodrat, seakan-akan airinja lebih besar dari Tuhan sendiri". Burung Tjikakak berkata: Sijang dan malam datangnja berganti- ganti, iklim berobah-robah, musim pun bertukar-tukar, sehingga djaman djuga bersilih ganti. Semua itu adalah didalam kodratnja Jang Maha Kuasa, maka apakah salahnja djikalau segala rupa jang mendjadi isi- pja dunia pun turut berobah?"
Perobahan memang didalam kodrat", djawabnja Anggang-anggang. Mau atau tidak, segala mesti berobah-robah, karena semua ada diba- wah wagesaning mangsakala. Kaju jang kuat·nanti djadi keropos. hatu jang keras bisa hantjur, sedang gunung pun bisa gugur, tapi perobahan itu semua laras dengan keadaan. Semua machluk akan men- újadi tua dan achirnja mati, tapi didalam perdjalanan hidupnja dibolehkan untuk menambah kepintarannja supaja makin tinggi pengetahu- annja. Manusia dibolehkan menjilam didalam air, manusia dibolehkan terbang lebih tinggi dari burung, malah sorotnja matahari boleh di- buat powotan, lebih djauh kuwung-kuwung pelangi jang indah itu pun boleh didjadikan djembatan ke Indraloka, malah suasana jang kosong run boleh didjadikan undakan pergi ke Swarga Hidjau kahjangannja letara Werarg. Semua itu boleh dilakukan, djikalau bisa dan tidak mneninggalkan kodrat. Djaman jang terbagi dalam empat yuga, memang selalu terputar berganti-ganti, dan masing-masing djaman ada mempunjai daja pengaruh sendiri-sendiri. Djaman Kerta dajanja sutji. cjaman Treta dajanja badjik, djaman Dwapara dajanja pintar, djaman Kali dajanja djahat. Dajanja empat djaman jang bergantian itu akan mempengaruhi manusia, sangat kuat hingga sukar dilawan, maka orang jang bidjaksana tidak mau melawan aliran geiombangnja djaman. Pa- kaian boleh berganti, tapi manusianja tidak boleh berganti, harus tetap miendjadi manusia jang mendjalankan perintahnja Tuhan. Manusia jang waspada, tiap-tiap datang waktu pada pungkasannja djaman, lalu se- sadji dan menjembah kepada Betara Sandya, maka ia tidak akan turut tenggelam kelelap didalam arusnja djaman, tinggal kalis dan bersih, kendati didalam djaman jang bagaimana pun dahsjatnja. Maka sebaik- laiknja orang jang lupa, lebih baik orang jang sadar dan waspada". Burung Tjikakak berkata: Apakah sudah semua itu perintahnja Tuhan" O masih banjak lagi", djawab Anggang-anggang. Masih beribu- ribu bagian pula banjaknja. Karera Sastra Djendra Yuningrat pun masih termasuk sebagian ketjil sadja diantaranja". Burung Tjikakak menggeleng-gelengkan kepalanja sembari berkata: Hai Anggang-anggang, bitjaramu terlalu besar, belum tentu kau sanggup mengerdjakan seperti jang kau kata dalam tjeramahmu sen- ri. Buktinja kau hanja mendjadi Anggang-anggang di sungai ketjil. Djikalau memang kau bangsa pinundjul, kau akan mendjadi Anggang-anggang di Sungai Gangga". ,Ini pun Sungai Gangga", djawab Sang Anggang-anggang. karena
sini adalah tempat pemandiannja orang jang sudah mendjalankan
"arma Trisanta".
Burung Tjikakak memberi hormat, lalu ia terbang pergi kesebelah
T.mur sembari tertawa mengakak-ngakak, kumandangnja terdengar se- hingga ketempat djauh.
Sementara itu, Anggang-anggang terus menganggang tiada berhen- ti-hentinja, seperti katanja sendiri, ia sedang menulis perintahnja Tuhan. Batjalah kalau bisa membatja.
MENJAKAR LANGIT. Di Gunung Kawi ada dua ekor burung gagak, djantan dan betina, turunan dari gagak werda dipegunungan Dijeng, jang sekarang sudah habis, karena ketika salah seekor gagak kena penjakit kolera, bangkai- rja telah dimakan oleh para gagak kawannja, hingga mereka sama mati keratjunan. Bangkai mereka pun dimakan lagi oleh jang lain, hingga semuanja telah habis binasa. Sekarang dimana-mana djarang kedapatan burung gagak, kalu ada hanja tjuma satu dua ekor sadja, antaranja jalah jang kini ada di Gunung Kawi, hidup merdeka sesuka- suka. Karena burung gagak adalah burung pemakan bangkai. tidak agung seperti burung garuda jang makan naga, maka burung gagak dianggap burung Sudra. Gagak lelaki pandai bitjara, ia mengangkat dirinja mendjadi pandita dengan nama Bagawan Sontolojo. Tiap hari sesudah ke- njang makan reruntuk dibelakang restoran, lalu terbang setinggi ang- kasa, kalau sudah tjapek lalu berhenti hinggap diatasnja pohon rengas, cimana ia sesumbar, menggelar kepandaiannja, supaja semua orang tahu bahwa dia itu adalah resi pinundjul. Gagak betina hanja menghijakan sadja segala omongannja jang leiaki, sebab djikalau ia tidak membenarkan kodjahnja, mungkin ia di- kaniaja. Betina biasanja memang !ebih tjerdik, biarlah kodjah setinggi langit, diantap sadja sudah, kalau mulutnja sudah bengor lama-lama tentu berhenti sendiri. Orang perempuan tahu apa, darma mengikut. Swarga nunut Noraka katut. Bagawan Sontolojo djikalau sudah sesorah lupa daratan, ia bitjara cengan mengumbar harda semau-maunja, sampai mulutnja kemebul ke- lvar asapnja. Siapa jang bitjara dengan bernapsu, bisa dinamakan mengumbar harda. Bagawan Sontolojo tidak mau pakai peladjaran Har- áabusara atau Hardapramana. Jang disenangi olehnja jalah Hardawi- tjara. Djikalau sudah sesorah tidak perduli ada atau tidak ada jang mau dengar. Tapi meski Bagawan Sontolojo bitjara sekoak-koaknja sadja, djikalau diteliti ada djuga jang penting. Bukankah Pudjangga kita didjaman kuna pernah berkata: Ikang wisa anamerta 'ngkana, inarjaken ikang wisanja, amertanja djuga ikang inalap de sang pradjna". Jang artinja: Djikalau didalam ratjun itu ada air penghidupannja, maka oleh orang bidjaksana ratjunnja diting- galkan, hanja air penghidupannja sadja jang diambilnja". Maka silah- kanlah perhatikan apa jang dikatakan oleh ki Sontolojo. Rumah, perabotannja dan lain-lain benda, tjukuplah asal sudah dapat dipakai menurut kebutuhannja. Djangan terlalu mewa hingga menjilokan dan menambahkan kesedihannja orang jang tidak punja. Tapi badan djasmanilah jang harus dipiara dan dirawat sebaik-baiknja, Gjangan sampai tjatjat oleh perbuatan jang kurang benar, djangan sampai mendjadi rongsok oleh karena penjakit kotor. Djuga djangan di-
kaníaja dengan rasa haus dan lapar, djangan dikasih makan barang jang tidak berfaedah. Karera bukan sadja djiwa, tapi raga pun ada kepunjaan dan mendjadi sasananja Jang Maha Kuasa. Djikalau merusak raga seperti merusak Jang Punja, walat akibatnja mendjadi se- (rang jang tanpadaksa, tidak kesampaian segalá keinginannja, selama hidupnja akan menderita. Buat mengerti rasianja sifat rongpuluh sadja jang sudah mendjadi sifatnja sendiri, orang sampai mentjari güru kesana-kemari. Sesudah tahu lalu menganggap bahwa itu ada ilmu besar, tipi kenjataannja a sama-sekali tidak mendapatkan sedikitpun kefaedahannja. Tak usah sifat duapuluh, djikalau tahu sifat jang empat sadja, dan bisa meng- eunakan dengan tepat, menurut empan papan dan mangsakale, lebih pala djikalau tidak lupa kepada Jang Maha Kuasa, tidak nanti kurang bahagia didalam seumur hidupnja. Kebanjakan orang tergesah-gesah ingin terus berdiri diatas, tidak tahu bahwa sebelumnja sampai diatas harus lebih dahulu mandjat dari Lawah. Orang ingin lantas tahu sadja resianja Agame dengan tak usah nendjalani perintahnja. Histanja seperti orang naik pohon waringin jang besar tinggi dengan sebuah tangga, sesampanja ditengah-tengah tjabang pangkalnja, tangganja djatuh, ia mau terus tidak sanggup. mau turun tidak bisa, takut dan lemas, achirnja djatuh binasa. Mengerti resianja Agama tapi tidak pernah melakukan perintahnja Agama, itulah orang pintar, tapi bodo. Djikalau melakukan perintahnja Agama tapi tidak mengerti resianja Agama, itulah orang bodo, tapi pintar. Orang jang mengerti resianja Agama dan mendjalankan perintahnja Agama, itulah orang jang sesungguhnja pintar. Orang jang tiiak mengetahui resianja Agama dan djuga tidak mendjalankan perintahnja Agama, itulah orang jang sesungguhnja bodo. Tapi orang jang intar tidak gampang-gampang mau mendjalankan perintahnja Agama, cikalau ia belum mengerti resianja. Sedang orang jang bodo, meski- pun dikasih mengerti resianja Agama, tidak nanti bisa mengerti. Oh jang begini sadja sukar dipikirkannja, apa lagi mentjari tambinja pu- tjang, apakah tiada lebih sukar pula? Banjak orang jang mengudi dan memudja kebebasan, tapi tidak ada jang dapatkan kebebasan, karena tidak tahu apa dan bagaimana sebenarnja jang dinamakan bebas itu. Orang mengeluh bahwa dirinja tidak bebas. Tidak bisa pergi kemana-mana karena anak-isterinja tidak boleh ditinggalkan, kuatir bagai keselamatannja. Rumah tangga tidak dapat ditinggalkan, karena ada barang-barangnja, kuatir nanti ctjuri orang. Pekerdjaan tidak dapat ditinggalkan, kuatir katjau- balau, dan banjak lain-lain lagi jang mendjadikan dirinja tidak mérasa bebas. Tapi umpamanja sudah tidak mempunjai arak-isteri, tidak ber- rumah tangga, tidak mempunjai pekerdjaan, apakah sudah bebas? Ti- riak, sebab dika bidupnja' masih serba tjingkrang pun bélum bebas
Djikalau tidak mempunjai uang pun tidak bebas, karena tidak bisa pergi kemana-mana menuruti tudjuan hatinja. Kepingin makan tapi tidak ada jang dimakan pun tidak bebas. Kepingin pakai tapi tidak ada jang dipakai pun tidak bebas. Tjobalah tanjak kepada orang-orang jang tidurnja dibawah djembatan, apakah mereka merasa bebas? Orang jang sudah tiada beranak-isteri, tiada berumah tangga, ta,i mempunjai uang untuk mentjapai maksudnja pergi kemana-mana, itu pun belum bebas, karena masih berbadan raga, djikalau raga itu sakit. djangan kata pergi kemana-mana, keluar dari selimutnja sadja tidak berani, karena menderita. Orang jang sudah tidak ada tanggungannja dan sudah tidak be- kerdja apakah sudah bebas? Djuga belun? bebas, karena djikalau ma- s dikasih makan orang, atau dikasih makan anak-anaknja mereka masih harus diperhatikan keadaannja, mendjaga supaja mereka tida runtuh, memudja minta supaja tetap kuat kedudukannja. Itu pun men- djadi suatu palang jang merintangi wudjutnja kebebasan. Orang jang sudah tidak ada tanggungannja, tidak ada pekerdjaannja tapi nasibnga baik, maka ada mempunjai tabungan jang tjukup untuk sangu sehingga seumur hidupnja, apakah itu sudah bebas? Ini pun belum bebas, karena ia belum boleh berbuat sekehendak hatinja, tidak boleh berbuat ciluar hukumnja tata-susila, meski bagaimana pun panasnja, ia tidak holeh keluar dengan badan telandjang. Sedang berbuat kebaikan sadja tidak bebas, karena masih berbuat. siapa jang masih berbuat, ia tidak bebas untuk tidak berbuat. Djadi perbuatan itulah jang tidak mendjadikan kebebasannja. Berbuat tidav bebas, tidak berbuat pun tidak bebas, maka bagaimanakah jang dika- takan bebas? Lebih sukar pula djikalau orang merasa bebas untuk berbuat se- suka-suka, bebas menjilakakan orang, bebas melanggar perasaannja lain orang, bebas berbuat kedjahatan, orang itu akan mendapatkan ke- adaan jang sangat tidak bebas lagi. Karena didalam kerangkeng ada- lah wudjud tidak bebas jang senjata-njatanja. Kebebasan tidak dapat dibikin, tidak dapat ditjari, tidak dapat di- usahakan. Karena kebebasan itu sebenarnja tidak ada, tidak ada di- slam dunia dan tidak ada di alam baka. Orang mati pun belum bebas. karena ia harus ngembalikan segala apa jang ia dapat pindjam dari jang punja, jaitu Sang Hjuang Pantja Maha Buta. Sukmanja pun masih tidak bebas, karena jang baik masih harus melandjutkan kebaikan- rja, jang djahat masih tetap melakukan kedjahatannja. Orang merundingkan tentang kebebasan, mentjarinja dengan segala
usana, tapi semua gagal. Ada jang mengira kebebasan dapat ditjapai
iengan djalan kebatinan, ini pun gagal, sama gagalnja seperti jang rnen-
jari kebebasan dengan menggunakan harta dunia. Orang jang ingin kebebasan dengan daja upaja keduniawian, tidak kesempaian maksud-
nja, maka lalu mengira dengan djalan kebatinan, kebebasan itu akan dapat ditjapai. Tapi ini pun gagal, sebab kebebasan itu hampir sama dengan kepuasan, meski maksudnja sudah kesampaian djikalau masih ada lain keinginan lagi, jaitu keinginan jang bersusun-susun tiada ba- tasnja, jang dinamakan puas itu tidak akan ada, maka ia tidak akan merasakan bebas, sebab ada sadja keinginan baru, jang selamanja men- cjadi rintangan akan timbulnja rasa bebas. Para bidjaksana pernah berkata, jang terdekat dan mirip keadaan- nua dalam arti maksud bebas, jalah djikalau orang sudah tidak mempunjai keinginan. Tidak mempunjai keinginan ada sangat lain dengan menindas keinginan. Orang jang tidak mau berpakaian bagus sebab tidak mampu membelinja, itu bukan tidak mempunjai keinginan, hanja menindas keinginan. Orang jang makan tempe sebab tidak mampu membeli daging, itu bukan tidak mempunjai keinginan, hanja menindas keinginan. Orang jang makan bubur sebab gginja ompong, bukan tidak ingin makan sate kambing. hanja kepaksa menindas keinginannja. Orang jang terkurung didalam pendjara merasa tidak bebas, sebab ia ingin keluar. Djikalau memang sesungguhnja ia tidak ingin keluar. maka ia tidak akan merasa bahwa dirinja tidak bebas. Meskipun didalam rumahnja sendiri, djikalau ingin keluar tapi tidak dapat sebab repot, ia pun akan merasa tidak bebas. Djikalau sedang hudjan lebat i mengaup dibawah pohon, tidak berani terus berdjalan karena takut basah, ia pun akan merasa tidak bebas kendati ia berada didalam alam jang luas. Ada jang menganggap sukma tidak bebas didalam badan wadagnja. sebagai burung didalam kurungan, tunggu sampai kurungan itu bobrok. barulah si burung bisa bebas. Ini djuga kurang tepat, sebab sukma itu sebenarnja tidak bebas, meski sudah bebas dari sangkar djasmaninja, djikalau ia masih mengandung napsu, ia masih didalam kurungannja sang napsu. Tapi meski sukma itu masih terkurung didalam raganja, djikalau ia sudah tidak mempunjai keinginan, sukma itu tidak merasa tidak bebas. Sukma jang angkara murka lebih merasa tidak bebas lagi djikalau ia didalam raga jang tjatjat dan lemah, karena segala napsunja tiada kesampaian. Dan itulah merupakan suatu penderitaan, xarena raganja sendiri dianggap musuhnja, ia kepingin berpisah dengan raga itu, tapi raganja meski tjatjad tidak lekas lebur. Seumpa- na burung jang mengharap-harap keluar dari kurungannja, tapi sangkar itu tidak rusak-rusak, hingga si burung sendiri jang mendjadi rusak iugatannja, rusak kepintarannja dan rusak keadaannja. Orang jang bertjatjad tubuhnja, tidak akan merasakan penderitaannja, djikalau ia tidak mempunjai keinginan jang tidak laras dengan keadaannja. Bagai orang utama tjatjadnja badan tidak akan mendjadikan penderitaannja. larena ketjilakaan dan segala penjakit luar, tidak akan bisa menembus sampai kepada djiwanja.
Jang boleh dinamakan tjatjad, sebenarnja bukan jang kelihatan di- mata sadja. Karena tjatjad jang menghinggapi batin manusia, bukan main banjaknja, tapi karena tidak tertampak, maka tidak ada jang tahu, malah jang bertjatjad sendiri pun tidak mengetahuinja. Seorang jang kebetulan mendapat tjilaka sehingga menderita tjatjad, seharusnja tidak perlu terlalu berduka, karena tidak ada seorang pun jang masih hidup tidak menderita. Jang miskin menderita keku- rangan, jang kaja menderita keruwetan. Berusaha tidak madju, men- c'erita. Berdagang tidak laku, menderita. Penderitaannja orang lain ang ditjinta pun mendjadi penderitaannja sendiri. Kalau anak atan isterinja sakit ia pun turut menderita. Penderitaan itu ada rupa-rupa keadaannja. karena iri hati terhadap keberuntungannja orang lain pun menderita. Orang temaha djuga menderita, karena keinginannja ber- tumpuk-tumpuk banjak jang tidak kesampaian. Maka djanganlah terlalu memprihatinkan penderitaan, karena didalam dunia tidak ada orang iidup jang sama sekali tidak menderita. Beberapa orang mengatakan bahwa dimana ada kemauan tentu ada ojalanan, seakan-akan tidak ada suatu tudjuan jang tidak dapat di- sampaikan. Sebagaian ada jang menganggap bahwa perkataan itu ada- lah terlalu lantjang, atau mendahului karsanja Gusti. Tapi ada orang cang mer ganggap bahwa itu bukan hal jang mustahil, karena Tuhan mendjurungi dan memberi segala apa jang diminta, asal sadja usaha- nja tjukup dan tepat. Sebetulnja memang segala gegajuhan akan kesampaian, djikalau saratnja tjukup dan alatnja tepat untuk menjampaikannja. Djikalau tidak tjukup sjaratnja dan tidak tepat alatnja, djangan pun gegajuhan jang tinggi, pengharapan jang ketjil sadja tidak akan kesampaian. Orang tidak akan bisa melihat djikalau tidak mempunjai mata. Orang tidak bisa mendengar djikalau tidak mempunjai kuping, tidak bisa mentjium djikalau tidak mempunjai hidung. Tapi sebab djagad dan penghidupan masih dibawah purbawasesanja Jang Maha Kuasa, maka janganlah Dia dianggap sepi, sebab ada karena Dia, tidak ada pun karena Dia. Tapi masih ada orang jang beranggapan lain, menurut kejakinannja ada rupa jang tidak dapat dilihat dengan mata, ada ke- haruman jang tidak dapat ditjium dengan hidung, ada suara jang tidak dapat didengar dengan telinga, jaitu jang dinamakan suaraning ngasepi. Segala itu tidak dapat ditjapai dengan alat-alatnja pantjaindrija. Itu pun tidak salah, tapi kejakinan lain jang menganggap Swarga pun dapat ditjapai bilamana ada tangganja jang sampai kesana, djuga tidak lcliru, karena kejakinan jang demikian pun ada berdasar atas keper- tjajaan adanja Tuhan. Kekuasaannja Tuhan dan kebesarannja Tuhan tidak untuk disembunjikan, orang boleh merasakan, orang boleh melihat djikalau sanggup melihat. Soal jang sulit jaitu, sanggupkah merasakan? Sanggupkah melihat? Maka djangan keburu napsu, sebe-
imnja tjoba melihat itu, beladjarlah lebih dahulu melihat apa isinja bambu wungwang. Mentjari kekajaan dan mengumpulkan harta bukan suatu perbuatan dosa, asal sadja dengan djalan jang benar dan halal. Hanja sudah di- bawah hukum alam, djika gampang tjarinja tentu gampang habisnja. .Jang mendjadi soal jalah bagaimana tjara menggunakannja, djikalau aigunakan untuk prikebadjikan, tentu sadja mendjadikan berkah. Sebaliknja ilmu kebatinan djikalau digunakan untuk djubriah, sombong. nerendahkan orang jang lebih bodo, menang-menangan supaja dirinja kelihatan pintar, lebih lagi kalau perindahan orang digunakan untuk nentjari keuntungan atau untuk menipu orang jang lemah, sama djuga ajahatnja dengan orang kaja jang menggunakan uangnja untuk me- mndas jang lemah atau untuk merusak kehormatan orang lain. Lan- taran ada orang-orang kebatinan jang menggunakan pengetahuannja wntuk melakukan hal jang tidak senono seperti diatas, maka mendjadi njata, bahwa napsu djahat itu tetap ada meliputi segala manusia, jang hidup diatas kedunjaan atau pun jang menggajuh kebatinan. Segala jang sudah tertjapai dan mendjadi keadaannja, akan me- nerbitkan rasa bosen dan djemu, maka lalu orang mentjari-tjari ganti- rja. Jang sudah kaja lalu mentjari kebatinan, Orang jang tinggal ditempat ramai, lalu ingin beristirahat ketempat sunji. Jang tinggal ditempat sunji, ingin djalan-djalan ketempat ramai. Orang jang sudah kaja, lalu ingin mejakinkan kebatinan. Sedang jang sudah menggajuh kebatinan, lalu kepingin kaja. Itu semua terbit karena orang merasa tidak tjukup dan tidak puas dalam masing-masing keadaannja. Dalam menggajuh kasunjatan sebetulnja jang perlu mendapat per- hatian dan harus dikekang sekerasnja, adalah sang napsu, karena napsu itulah jang sering mendjerumuskan orang kedalam Noraka. Tapi banjak orang-orang penggajuh kasunjatan jang dengan tidak mendusin telah berbuat sebaliknja. Patrap semedi atau duduk diam tafakur, me- mang ada salah satu antara djalan menggajuh kasunjatan, tapi crang jang kurang pengetahuan malah menggunakan itu untuk mengum- har hardanja. Banjak orang semedi dengan tudjuan nglintang sukma, jaitu supaja sukmanja bisa djalan-djalan kelain tempat, ada jang kata suikmanja sudah bisa pergi ke Amerika, ada jang kata bisa melihat fa- mili atau sobatnja dilain tempat sedang berbuat ini dan itu. Orang jang begini djadi njata napsunja masih besar, tapi tidak ada kemam- puan untuk pergi kemana jang diinginkan, maka ia ambil tjara demi- kian, kemudian dengan bangga ia namakan dirinja si lumpuh jang me- ngelilingi djagad. Tidak tahu bahwa perbuatan itu ada bertentangan dengan maksudnja semedi, jang sebetulnja mau diam permanem, bukan hadannja sadja jang diam, tapi djiwanja pun supaja diam, dengan mnenghentikan segala dajanja pantjaindrija, supaja mendapat hening dan heneng jang sempurna. Djikalau mau mengumbar napsu untuk melam-
piaskan keinginannja, masih ada djalan jang lebih tepat, tapi tidak dari djalan semedi, jang sebetulnja mendjustai diri sendiri, kemudian !engan tidak merasa telah mendjustai orang lain. Ada lagi jang semedi engan maksud hendak mentjapai kenikmatan dari detik hangles jang terdjadi pada waktu mengantjik saat antara, jaitu diantara diam dan lampir diam, diantara tidur dan hampir tidur, diantara lupa dan hampir lupa. Mentjari kenikmatan sematjam itu disurung oleh napsu ingin suatu kecnakan dan kesenangan. Kenikmatan sematjam itu jang se- benarnja bukan abadi, masih dapat ditjapai dengan lain djalan jang iebih mudah, tapi tidak dengan djalan kasunjatan, karena kenikmatan itu masih mendjadi kenikmatan djasmani. Tapi orang sama mengang- gap bahwa itu sudah dinamakan kasunjatan, tiada mengerti bahwa itu tidak lebih dari permainan anak-anak. Harta dunia kalau dapatnja tidak dari djalan halal, tidak akan memberi rasa bahagia. Begitupun ilmu kebatinan djikalau didapatnja cengan djalan tidak halal, tidak akan bisa dibuat pandjatan ke Swarga. lang dinamakan kebatinan didapat dari djalan tidak halal, jalah pengetahuan kasunjatan jang dapatnja tidak dengan djalan tapa, tidak dari cjalan melakukan kebenaran setjara perintahnja Agama. Orang jang hanja bisa menangkap lafal-lafal dari kitab sutji dan faham runtunan- r'a, sehingga dapat mengulangkan diluar kepala untuk sesorah dan tcramah, membitjarakan indahnja perbuatan dari orang-orang budiman didjaman dahulu, pituturnja para bidjaksana dibitjarakannja seakan- akan sudah mendjadi pengetahuan dan perdjalanannja sendiri, tapi nja- tanja sama sekali ia tidak melakukannja, malah diam-diam banjak jang nendjalankan sebaliknja, tidak beda dengan orang jang mentjari uang cengan pentung, lantaran itu maka ilmu kasunjatannja tidak akan ber- guna bagi dirinja. Kenapa harta jang tidak didapat dari keringat tidak berfaedah? Karena enaknja orang duduk mengasoh dari sebab tjapek habis bekerdja berat. Djikalau tidak habis bekerdja atau habis dari djalan djauh. cuduk itu bukan mengasoh, malah menerbitkan rasa pegal dan rasa tjapek, sehingga ingin berdiri dan djalan-djalan. Demikian pun ilmu ratin djikalau tidak dengan djalan bertapa, tidak dengan perihatin, ti- cak dengan djalan menderita menurut wadjib Agama, ilmu itu tidak akan ada manfaatnja. Itulah sebabnja maka banjak orang-orang jang nendjalankan kebatinan hidupnja korat-karit, rumah tangga dan anak- isterinja tidak terpelihara, malah banjak jang sudah dianggap guru-guru kasunjatan, tapi waktu hampir mati menderita kesengsaraan, berbulan- bulan mati tidak hidup pun tidak, hingga merupakan keadaannja se- orang jang sedang direbus didalam belangah Noraka. Terhadap orang-orang kebatinan sematjam itu, boleh djuga diang-
gap guru, tapi perkataan guru dari kiratabasa: boleh digugu tapi tidak
Loleh ditiru. Aitinja boleh didengarkan peladjarannja, tapi tidak boleh
éitiru perdjalanannja. Lantaran ini maka banjak dongeng jang menu- turkan murid jang melakukan betul peladjaran dan petundjuk gurunja, ketika naik Swarga mentjari gurunja tidak ketemu, karena tempatnja guru itu adalah di Noraka. Murid jang dapat manfeat begitu adalah bahagia, tapi jang berbahaja djustru banjak guru jang menjasarkan muridnja, karena ia sendiri memang didalam kesasar, hingga murid jang rasibnja malang karena memang karmanja djelek, akan katut larut bablas masuk kedalam penghidupan alam gurunja. Djikalau orang tidak dapat ketemukan jang sedjatinja guru, lebih baik beladjar kepada pohon-pokon jang bisu. Ranting dan daun jang bergojang ditiup angin, sebenarnja ada mengandung petundjuk djalan ke Swarga. Daun-daun jang sudah kering rontok melajang-lajang dja- tuh kebawah, perhatikanlah keadaannja daun-daun itu, mereka sebetul- rja sedang menangis atau tertawa? Suara berkitjaunja burung Tju- tjakrawa didalam dahan-dahan jang lebat, suaia djeritannja kidang mendjangan ditempat-tempat djauh, suaranja angin jang menderu-deru. dantara kesunjian alam jang njenjap, ada penuh dengan peladjaran ang langsung dari Maha Guru sedjati, peladjarannja tidak habis meskı ipeladjari seribu tahun lamanja. Kalau mau tjari orang pandai, tjarilah Dia jang bisa mengetjat lombok dan mengukir katjang. Nanti djikalau sudah mendapat peladjaran dan pengetahuan jang sedjati, djanganlah disebar disepandjang djalan, djangan dibeber dite- ngah pasar, djanganlah diawur-awur disegala tempat jang bukan mes- tinja. Ilmu sedjati itu harus dihargai setinggi-tingginja, karena harganja tidak kalah dengan' harta dunia. Djikalau harta sadja orang mau menjimpan dengan hati-hati, kenapakah harta jang lebih berharga itu dilempar-lempar semaunja? Dikodjahkan pada segala orang jang belum dapat menerimanja? Menurut hukum alam, barang jang dibuang-Muang tentunja barang jang tidak ada harganja. Maka siapa jang mengawur-awur ilmu kasunjatan, tandanja tidak menghargai kasunjatan. * Barangkali ada jang mau kata, bukan menganggap pengetahuan batin lebih rendah dari harta dunia, hanja karena harta dunia kalan diempar bisa habis, tapi harta kebatinan djustru sebaliknja, makin qiberikan kepada lain orang tidak makin kurang hanja malah makin rertambah banjak. Djikalau jakin bahwa anggapan itu betul, berani mengakuhi kepada diri sendiri dan berani berterus terang dihadapan orang banjak, tidak berpura-pura mengomong begitu supaja kelihatan betul-betul bidjaksana, supaja kelihatan sudah betul-betul tinggi keba- tinannja, perlunja agar orang makin hormat dan makin memudji-mudji. maka orang jang demikian teimasuk bilangannja orang jang tahu diri, orang jang djudjur dan pikirannja terang. Orang jang berpen- dapatan bahwa ilmu batin tidak lebih dari ilmu mentjari duwit, bahwa muwit dikeluarkan dengan maksud mendapat bunganja, maka sesorah
perlu untuk menambal: pengetahuannja, orang itu pantas dihargakan eberaniannja. Pengetahuan tentang kasunjatan memang ada suatu pengetahuan utji, jang dianggup mulia dan diadji-adji oleh para witjaksana. Orang-crang mengudi pengetahuan itu, karena mengerti bahwa pengetahuan itu aken dapat mengangkat naik kedalam alam jang tinggi. Sebagai orang jang tanam bidji dari keswargan, harus diatas tanah jang baik, mengerti empan dan papan, harus pada waktu jang tepat, mengerti da- tangnja mangsakala. Bidji dari kaswargan itu, dibekali oleh Jang Maha Kuasa, tempat. nja didalam pusat sanubarinja manusía jang paling tersembunji, maka tidak mudah tumbuhnja. Tapi karena bidji itu memang ada, maka djikalau diudi dengan kemauan jang teguh, dengan kasutapan, dengan daja sutjinja kebadjikan dan dengan dajanja kawitjaksanan, tentu bidji itu al:an tumbuh dengan sendirinja. Sebagai bidji tetanaman lsin jang sudah kinodrat diatas bumi, maka bidji itu pun membutuhkan daja sinarnja Betara Surya, tíahajanja rembulan, silirannja angin, tetesannja air embun, siraman- nja hudjan. Demikian pun bidji keswargan itu, membutuhkan rabuk jang timbul dari dajanja perbuatan baik, murah-hati, welas-asih, pi- kiran sutji, pengalaman dan kebidjaksanaan. Tanpa bantuannja semua itu, bidji keswargan tidak akan bisa tumbuh. Dengan pengertian, tahu can pintar sadja, tidak tjukup untuk menumbuhkan bid'i itu. Tapi tahu, mengerti dan pintai jang sesungguhnja, djustru jang bisa mendjangkit- ran tekad jang mewudjutkan perbuatan jang indah tadi. Maka djika. lau orang tjuma bisa membitjarakan, kelihatan tahu dcn mengerti, tapi tidak sanggup melakukan segala perbuatan indah seperti diatas, maka crang itu seberarnja belum pintar. belum tahu dan belum mengerti. Apa jang kelihatan tadi hanja baru dalam keadaan antara, jaitu antara mengerti dan tidak mengerti, antara tahu dan tidak tahu, antara pintar can tidak pintar, djadi belum jakin jang sesungguhnja jakin. Keja- kinan jang sesungguhnja, tentu tidak mengandung ragu-ragu. -Sebagai ujuga orang tentu tidak suka makan kotoran, karena jakin bahwa kotoran itu bukan makanannja. Orang jang sedang dahaga, tentu mau minum air jang bersih, karera jakin air itu akan menghilangkan da- haganja. Itulah jang boleh dinamakan jakin. Djikalau tahu kebaikan- nja tapi tidak mau mendjalankan, itulah bukan jakin. Lantaran itu, maka orang bidjaksana, tidak gampang pertjaja orang dari omongan- nja, tapi memperhatikan tingkah dan perbuatannja. Tidak ada orang sutji jang berbuat durhaka, djikalau berbuat durhaka tandanja bukan srang sutji. Djikalau ada orang jang hidupnja masih kotor tapi berani sesorah tentang baiknja kesutjian, orang itu pasti ada mengandung lain maksud jang tertentu. Maka ájikalau belum mengerti pokoknja, dja- gan mentjari udjungnja. Djikalau belum dapat melakukan segala
'ang benar, djangan mentjari kasunjatan, karena bidji keswargan itu tidak akan tumbuh, djikalau tidak disiram dengan air dari keswargar米 djuga. Tidak mudah orang bisa dapatkan galihnja kangkung. Bagawan Sontolojo sesongaran, kalau bitjara tidak mau berlenti tidak dapat diselai lain orang. Ia tidak senang kalau ada lain orang Litjara, tidak mau ia mendengarkan, karena dianggap sebagai saingan Kalau ada orang jang kelihatannja kagum dan memperhatikan pemii tjaraannja, maka dia makin umuk-umukan makin menggeladrah, mak lebih baik kita tinggalkan sadja, biar ia bitfara sendiri sama sang !etina, jang mendengarkan dengan ngantuk, kalau dibentak djadi gela sapan dan lantas berkata: amin.
BANGUN TAMAN SRIWEDARL Tatkala para Pandawa mengembara didalam penbuangannja, me- aka telah sampai dilampingnja Gunung Kilasa, dimana mereka telah úisambut oleh para pandita jang sudah tinggi-tinggi pertapaannja. Pada suatu pagi, didalam suasana sutji jang diselimuti oleh hilimunnja Hardi Kilasa jang dinginnja sampai menembus sungsum, para Panduputra diperkenankan ikut hadlir didalam pesamuannja para resi jang sudan entur pengetahuannja itu. Ketika para pandita minta ditjeritakan bagaimana asal mula ke- ojadiannja ketika Betara Wisnu menjipta Taman Sriwedari jang mem- buat asrinja kahjangan Nguntaraloka, maka Resi Darmadjati lalu me- nuturkan begini: Pada waktu apa jang dinamakan sifat mulai berwudjud, semista aian. sudah mulai bergojang, maka dalam peridaran alam jang maha rapi itu, telah terdjadi suatu kegandjilan, jaitu ada sebuah djagad di- antara berdjuta-djuta djagad lainnja, menjimpang dari tudjuan jang se-
n.estinja, maka Betara Brahma jang merasa kuatir semista alam akan miendjadi katjau-talau, lalu mohon kepada Betara Wisnu supaja hal itu ditjegahnja. Betara Wisnu lalu mengambil sendjata Tjakra, djagad jang haluan- nja menjimpang dari kemestiannja itu lalu digempur dengan sendjata jang maha dahsjat itu, maka djagad jang hendak mendjadi djahanam itu lalu lebur mendjadi debu. Sebetulnja bukan gigi-gigi Tjakranja Betara Wisnu jang menghantjurkan djagad itu, karena sendjata itu belum menjinggung, tapi djagad itu sudah keburu lebur mendjadi endak-endek amun-amun. Betara Brahma terkesiap sedjenak, lalu ia meneliti sebab-sebabnja. lemudian ketahuan ternjata ketika Tjakra disabetkan, sebelumnja sampai menjinggung djagad itu, lebih dahulu telah membelah lapisan suasa. na jang membungkus djagad itu, jang berdjuta-djuta lapis banjaknja, telah bujar hingga menerbitkan suatu kekosongan. Ketika Tjakra sudah liwat, dalam seperdjuta detik sadja lapisan itu sudah merangkap kembali, merangkapnja telah menimbulkan suatu getaran jang maha haibat, menerbitkan hawa jang panasnja melebihi seribu kali dari panasnja Betara Surya, menerbitkan suara jang melebihi seribu kali darí halilintarnja Betara Indra, menerbitkan sindungriwut jang melebihi scribu kali dari bekahnja Betara Bayu. Segala jang maha dahsjat itu terbitnja berbareng, mendjadi suatu letusan jang tidak dapat dikira- kira lagi haibatnja, maka pada seketika itu djuga djagad djahanam itu telah hantjur luluh, dengan kemusnaan jang sempurna, sifat dan dja- sadnja telah kembali kedalam datnja. Dari tidak ada, pulang asal mendjadi tidak ada. Suara gemuruhnja, sinar tjahjanja, hawa panasnja, daja penjapu- nja telah menempuh seluruh semista alam, susul-menjusul dengan masing-masing menurut kekuatan dan ketjepatannja sendiri.
Betara Wisnu melesat dengan ketjepatan djati, mendahului djalan- nja segala kedjadian itu, dari alam Selatan balik ke alam Utara, di- mana lalu ia menjipta Taman Sriwedari, jang lalu terdjadi pada sesaat itu djuga. Tapi Taman itu belum berwudjud sifatnja, karena harus menunggu seribu tahun lagi baru tjahja kilatnja permusnaan tadi sampai di Nguntaraloka, tjahja itu menerbitkan sesuatu daja tampak. Seribu tahun kemudian baru sampai lagi suara gemuruhnja, jang karena menembusi suasana alam Utara, telah berobah mendjadi suatu irama jang sangat merdu. Menunggu lagi seribu tahun, baru sampai pula bayu-badjranja jang sudah herobah mendjadi getaran jang lemah lem- but, maka pepohonan dan rumput-rumput lalu bersemi, bunga-bunga lalu berkembang semarak, harum dan indah, bergojang-gojang dalam permainan samirana. Betara Wisnu telah menghantjurkan suatu djagad untuk membina suatu djagad baru. Dengan memusnakan jang satu akan mendjadikan jang lain. Karena sudan kodrat, apa jang berdiri terbitnja dari kerun- tuhan, jang indah terbit dari jang djelek, jang harum terbit dari jang tusuk, jang ada terbit dari tidak ada. Akan kemudian kembali lagi. dari hidup mendjadi mati, dari indah mendjadi djelek, dari harum men- ájadi busuk, dari ada mendjadi tidak ada. Para Pandita, dan para Panduputra, dengan sekali gus sama ber- seru: Djaja, djaja, djaja, ketika penuturannja Sang Resi sampai pada bagian itu. Kemudian disambung sesanti dan pudji-pudjian kepada Jang Maha Kuasa, diutjapkan bersama-sama, serempak mendjadi irama jang merdu meraju-raju. Perhatian sematjam itu, menerbitkan rasa gembira didalam hati- nja Sang Bagawan, sehingga lupa, lalu meneruskan penuturannja jang seharusnja tidak diperbolehkan. O para mitra", demikianlah katanja, langit dan udara jang tampaknja kosong ini, sebetulnja tidak kosong, hanja padat sebagai djeladren dari kawah Tjandradimuka jang sudah kering seribu tahun lamanja. Itulah jang menjebabkan ketika Prabu Yayati karena sudah habis waktunja telah didjengkangkan dari Swargaloka, melajang-lajang turun tapi tidak djatuh, hanja mengambang tinggal terapung-apung di- tengah udara. Tapi sukar dibitjarakan, karena kalau dikata padat, kenjataannja kosong, berbukti sedang selembar bulu sadja jang rontok djatuh dari sajapnja sang Garuda, mesti turun kebawah sehingga terletak diatas bumi. Maka kepadatan itu hanja melulu bagai jang tahu sadja. Sedang jang tahu tidak banjak, karena pengetahuan itu adalah wadi dan mendjadi sesengkerannja Maha Dewa Sang Hjuang Hutipati. Saja sendiri tidak tahu, tidak mengerti, sebagai pohon baniyan itu, jang tu- kul bersemi, ngerembajak subur sehingga udjungnja menjundul angkasa, tapi tidak mengerti apa dan kenapa mendjadi demikian. Ia tjuma tahu adanja, tapi tidak tahu terbit dari asal jang lain, dan jang lain itu
pun ada asalnja lagi, jang sumbernja dari berdjuta-djuta lapisan asal, schingga Betara Brahma sendiri djuga tidak dapat menguraikannja. Ketika djagad djahanam jang digempur Tjakranja Betara Wisnu it: meledak, suara letusannja, tjahja kilatnja, hawa panasnja dan ba- ybadjra tekanannja, semua menjerang angkasa, ditangkis oleh daja rertahanannja sang suasana. Tapi dari sebab daja kekuatannja sipe- pempuh ada lebih besar, maka sidaja penahan keseser mundur, tapi riundurnja itu tidak makin kalah, tidak makin lemah, hanja malah dljadi makin bertambah kuat, karena ia ada dilindungi oleh suatu daja lagi jang disebut daja tunggal, tapi ini bukan nama jang betul, karena tidak ada dalam semista alam ini jang sanggup memberi nama, tidak ada jang melihat, tidak ada jang sanggup membitjarakan, tidak ada jang sanggup merggambarkan, bahkan mergira-kirakan sadja pun tidak dapat. Jang Maha Luhur itu, adalah sangkan-parannja sarwa du- madi, asal dari segala jang hidup, asal dari segala jang tidak hidup. asal dari segala jang ada dən asal dari segala jang tidak ada. Karena Lumber dari semista alam, maka Ia pun mendjadi djuga paran tudjuan baliknja semista raya. Suasana jang kalah dan mundur itu, mundurnja
n.asuk kepada Dia, sedang daja penggempur jang menang, mendesak torus madju, madjunja pun masuk kepada Dia. Lantaran itu, maka sipenjerang dengan sendirinja djadi berhadapan dengan Jang MahaKuat iu, sementara sipetjundang jang mundur djadi mendapat perlindungan- nja. Maka daja kekuatannja sipenjerang tertelan lebur, sifatnja horobah mendjadi sebaliknja, sidaja panas mendjadi sedjuk, sidaja ki- lat jang menjilokan mata djadi suasana padang permai, sidaja tekanan mendjadi siliran halus jang njaman, dan sidaja suara gemuruh djadi suara jang merdu meraju-raju. Ini semua histanja sebagai air jang keruh menjerang bumi, meresap diisap, makin dalam makin djauh, achir- nja disebrang sana air itu keluar sebagai air jang djernih. Dari sebab iulah maka segala sifat dahsjat jang terbit dari musnanja djagad djahanam disebelah Selatan, setelah sampai di alam kahjangan Nguntara teiah berobah mendjadi sebaliknja, itulah jang mendjadikan indah per- mainja Taman Sriwedari, dimana bunga-bunganja tidak laju, burung- blirungnja tidak ada jang mati, dedaonannja tidak pernah rontok, la- ngitnja tetap biru, kekal langgeng selama-lamanja. Betara Wisnu jang menjipta Taman Sriwedari, tapi jang mendjadikan adalah Sang Maha Dia. Djikalau tidak ada Sang Maha Dia, Betara Wisnu pun tidak bakal ada. Sedari djaman kuna para achli ke- hatinan sama berdaja akan mengetahui siapa adanja Maha Dia, namun tidak ada seorang pun jang dapat kesampaian maksudnja. Djangan kata orang biasa jang dirinja masih berlumuran dosa, sedang para Dewa dan para Resi jang hanja makan hawa sadja, pun tidak ada jang dapat mengetahui senjatanja, hanja tjuma bisa mengira-kira, menggambarkan dengan pengertian sekadarnja. Dengan beribu-ribu djalan orang hen-
dak mertjari Sang Maha Dia, tapi tidak bisa diketemukan, karena siapa jeng mentjari kesana, tandanja tidak tahu bahwa Maha Dia ada disini dan ada dimana-mana didalam semista alam, bahkan semista alam itu malah ada didalam genggamannja. Beribu-ribu nama sudah ditjarikan untuk memanggil Sang Maha Dia, tapi satu pun tidak ada tepat. Tapi Maha Dia boleh orang panggil dengan nama sesukanja, karena itu sama sadja. Fara Dewa sama mergira, bahwa hanja seorang Dewa sadja jang mengetähui namanja, Dewa itu adalah Dewa jang terdjadi dengan tidak ada jang mendjadikan, jaitu Sang Hjuang Narayana. Tapi dia tidak pernah mengatakan, hanja pada suatu hari ketika ia mendjelma djadi Dewa Badjang ia pernah sesanti djaja-djaja, dalam sesantinja itu
ic. ada mengutjap begini....
Sewaktu itu mendadak terdengar suara Berhenti!". Maka Sang Resi lalu menengok, ternjata jang mengutjapkan seru- an itu adalah Prabu Darmakesuma. Berhenti", kata ia sembari menjembah, ,oh Bagawan, djanganlai ilandjutkan. Tjukup sampai disini sadja pengudaran itu, karena djika d:Jandjutkan Triloka akan mengalami kiamat. Lihatlah Drupadi jang pinggangnja scperti tawon kemit, dadanja sudah tidak bergerak-gerak lagi, karena napasnja sudah hilang sedari tadi. Lihatlah Nakula dan Sahadewa jang bagus dan mengerti susila, sekarang sudah rebah tidak berkutik pula, karena sudah lama mereka pingsan tidak ingat dirinja. Lihatlah Hardjuna jang gagah dan tidak mengenal takut, sekarang telah ngelumpruk, karena urat dan tulangnja sudah pepas, lemah dan lemas sebagai kapuk. Lihatlah Bratasena jang kekuatannja seperti banteng seribu, kini telah diam mati berdiri, sebagai tugu batu, seluruh tubuhnja telah tasah mandi keringat jang warnanja merah, sebab tertjampur úsrah. Maka sudahilah sadja penuturan paduka, djangan dilandjutkan, kalau tidak tentu nanti semista alam ini akan lebur mendjadi awang- uwung sebagai asalnja lagi". Oh Sang Bagawan, hentikanlah penuturan itu sampai digini sadja. Saja tidak kepingin mendengar lagi penuturan jang menimbulkan pe- ngorbanan dan penderitaan jang tidak ada batasnja. Bic:lah saja tidak mengctahui keadaannja Sang Maha Dia, biarlah saja mendjadi satu machluk jang bodo dan rendah sadja, karena saja tidak suka mendjadi seorang jang pintar dengan dapat menjaksikan penderitaannja orang lain jang tertampak didepan mata. Pengetahuan jang tinggi dari se- seorang, akan membikin bertambah njata kebodohannja orang lain. Hal itu sebetulnja sangat menjedihkan, karena kepintaran itu tidak me- ruuliakan dirinja sipintar, tapi menjengsarakan dirinja sibodo. Guna apa saja pintar djikalau lain orang bodoh. Guna apa saja kaja djikalaı: lain orang miskin. Guna apa saja senang djikaiau lain orang menderita.
Gunc apa saja naik Swarga djikalau lain orang masuk Noraka. Oh, Sang
Rtesi, kukutlah pengetahuan itu, biarlah seluruh manusia tidak menge-
tahui siapa adanja Sang Maha Dia, asal sadja mereka hidup dalam ba- hagia, kalis dari perbuatan dosa hidup beruntung bersama-sama". Bagawan Darmadjati sendiri ketika menjaksikan keadaan disepu- tarnja telah kesima. Memang satu seloka sadja pengudaran tentang Maha Dia, sudah tjukup untuk orang djadi merasa pintar. Tidak mendusin bahwa merasa pintar itu menimbulkan rasa sombong. Kesom- hongan adalah tanda bahwa djiwanja rusak. Apakah orang pintar ha- rus rusak djiwanja? Kalau begitu lebih baik mendjadi seorang jang bodo tapi djiwanja mulia. Pengetahuan jang dibeber oleh Sang Darmadjati mengakibatkan ke- rusakan, membikin mabok siapa jang mendengar. Djiwa-djiwa jang mendengar sama merasa sudah pintar,merasa dirinja besar hingga dja- gad dengan seantero isinja mendjadi ketjil. Djiwa-djiwa itu merasa terbang tinggi diatas udara, tidak mendusin bahwa raganja mendjadi bangkai jang kosong, terhantar kentang-kentang diatas tanah jang betjek. Pada waktu itu para pandita dengan tidak atas maunja sendiri sukmanja telah sama lolos meninggalkan raganja. Ada jang mumbul terapung sampai di Tjakrawala. Ada jang mengembara sampai dipun- tjaknja Hardi Mahendra. Ada djuga jang terseret kodrat masuk meni- tis didalam dunia, hidup berpuluh tahun, beristeri dan berputera, tapi sebetulnja didalam alam Kilasa tjuma beberapa djam sadja. Maka ketika Sang Resi menghentikan tjeritanja, mereka sama bangun mendusin, seperti jang baru sadar dari impian. Mereka tidak tahu apa ang tadi dibitjarakan, segala pengudaran tadi sebagai asap jang ditiup maruta, musna tidak karuan parannja. Orang satu-satunja jang dapat menerima dan mendengarkan pela- ¿jaran tadi hanja Sang Yudistira, maka Resi Darmadjati lalu berkata: Oh Prabu Yudistira, radja jang berdjiwa radja. Siapa jang bitjara tidak mendengar. Siapa jang ada hak mendengar tetap mendengar. Sebagai Tirta Amerta jang balik kedalam tjupunja, maka pe- nerangan jang tadi memang ada mendjadi bagianmu sendiri. Saja jang bitjara malah tidak mengerti. karena jang bitjara memang bukan jang mendengarkan. Bahagialah orang jang mendengarkan, lebih lagi djikalau tjaranja mendengarkan dengan duduk diam diatas permadani tata-susila, maka anugrahnja Betara Gana jang diambilkan dari bokor kentjana akan menggujur sehingga meresap kesanubarinja". ,Sekianlah dongengannja Resi Darmadjati tentang mula bangunnja Taman Sriwedari, suatu tjerita jang diadji-adji oleh para utama.
RESI MUNGGALA. Bagawan Abiasa pernah mendongengkan riwajatnja Sang Munggala. didengarkan oleh para tjutjunja, jaitu para Pandawa jang mulia hati- nja. Beginilah dongeng itu: Pada djaman dahulu ada seorang pandita namanja Resi Munggala. tinggal dedepok ditanah Kurusetra. Sang Munggala setia teguh pada tudjuannja, tidak pernah ia berbuat jang menjimpang dari djalan ke- badjikan. Tapanja Sang Munggala adalah suatu tapa jang lain pandita djarang dapat melakukan, jaitu jang dinamakan Tapa Sila dan Ontja, áengan mendjalani hidup sebagai burung deruk. Tiap bulan hanja lima- belas hari ia mengumbara disawah-sawah jang habis panen, gampung :nentjari padi atau djagung jang ketinggalan, sedikit demi sdikit, di- 'umpulkan dalam sebuah tjemung, sore dibawa pulang kalau pagi pergi mentjari lagi. Hari-hari lain jang setengah bulannja. adalah untuk Sang Munggala mengasoh dirumah, makan runtukan djagung dan padi iang dapat dikumpulkannja, bersama-sama dengan anak-isterinja. Mes- ki dalam hidup jang semelarat itu, Sang Munggala suka menjuguh te- !amu, menghidangkan makanannja jang tidak seberapa itu. Tiap hari tidak pernah lupa ia sesadji Istakrata menurut tata-tjaranja Agama. Selain itu pun ia suka sesadji Darsa dan sesadji Durnamasja. Djikalau vebetulan ada tetamu, Sang Munggala hanja makan sisahnja tetamu can sisahnja sesadji. O Panduputra, tiap malam djika terang bulan. Betara Indra dengan lain-lain Dewa suka turun dari kahjangan. perlu- nja makan sesadjinja Sang Munggala itu. Pada suatu hari Sang Munggala mendapat tjoba jang sangat besar. la kedatangan Manarsi Druwasa jang sengadja tingkah lakunja dibuat sebagai orang gila, hampir telandjang bulat, kepalanja gundul pelantos tidak pakai ketu. Mentjertja dan mengedjek kepada Sang Munggala. lemudian lalu minta makan. Kedatangannja pandita owah itu diterima cleh Sang Munggala dengan kehormatan selajaknja, lebih dahulu ia dihaturi segendi air sedjuk untuk gurah minumnja sang tetamu, dan sebokor air bersih untuk menjutji kakinja jang penuh debu. Sesudah lerem sementara, maka dedaharan lalu disadjikan dengan laku susila. jang lantas sadja dimakan oleh Resi Druwasa dengan lahapnja, sehingga habis sama sekali. Sisahnja jang masih ada dipinggir piring lalu diambili untuk blonjoh digosokkan keseluruh tubuhnja, reruntuknja jang ketjetjaran terserak diatas tanah pun diindjak digusek-gusek sehingga tidak dapat diambil lagi. Sesudah berbuat demikian, lantas kelepat
pergi tanpa pamit, sembari menjanji tidak karuan lagunja. Dengan
sabar Sang Munggala lalu mengangkat dulang dan adjang bekas teta- munja tadi, dan pada malam itu ia tidur tanpa makan, karena tidak ada barang makanan jang masih ketinggalan. Besuk harinja, pagi-pagi orang edan itu sudah kelihatan lagi, datang minta makan seperti hari kemarinnja dengan tjara sesongaran seperti jang sudah. Tapi Sang Munggala tetap melajani dengan sopan santun, tidak berobah perka-
taannja, tidak berobah wadjah mukanja. Begitulah selandjutnja, tiap hari diganggu oleh pandita gila itu, tapi Sang Munggala tinggal tetap kesabarannja. Setelah tetamunja jang djahat itu pergi, lalu Sang Munggala membawa tjemungnja pergi keladang-ladang jang habis dipaneni, mentjari djagung jang masih ketinggalan, sedikit pendapatannja lalu dimasukkan kedalam tjemungnja, dibawa pulang untuk makan dan se- suguh djikalau ada tetamu jang datang. Sigila saban-saban datang mengundjungi Sang Munggala, sehingga tudju hari !amanja. Ketika tetap teguh kelakuan susilanja Sang Munggala, maka pada waktu se- habisnja makan, Resi Druwasa lalu berkata, dengan tjahja muka jang menandakan hatinja marem dan senang. Beginilah katanja: .'Duh Resi pinundjul, didalam dunia tidak ada manusia jang kebadjikan dan kesabarannja seimbang dengan sang resi. Kesengsaraan menderita la-Lar biasanja dapat menggojangkan keteguhannja orang utama, tapi ternjata pikirannja sang resi tidak bisa digojangkan meski serambut. ( pandita jang bidjaksana, pikiran manusia gampang sebali berobah. tapi sang resi dapat mengekang pantjaindrija, sehingga indrija jang ke- enam pun dibawah wasesamu. itulah kasutapan jang setinggi-tingginja. Tidak mudah orang ridlah memberikan kepunjaannja jang didapat de- ugan sengsara, namun sang resi bisa melakukan dengan baik, maka siapa sadja jang berdekatan dengan sang resi, akan kesinaran praba- wanu jang penuh ketenteraman itu. Sang resi sudah bisa mengekang tjipta, sentausa, adil dan menang terhadap dajanja Pantjaindrija, semua itu sudah disaksikan oleh manusia dan para Dewa, maka sang resi tentu apat naik didalam alam jang mulia. Oh pandita jang murah hati, pintunja segala swarga sudah terbuka selebar-lebarnja, sang resi dibolehkan pergi naik kesana dengan sekalian badan kasarnja". Demikianlah sabdanja Maharsi Druwasa, maka pada seketika itu ójuga, telah datang seorang Dewa, naik didalam sebuah kereta kentjana, ditarik oleh gangsa Kalahamsa, burung bango dan sandanglawe. Ke- :eta itu risa terbang keatas udara dan bisa sampai dimana sadja jang ciinginkan. Dewa itu lalu memberi hormat dan berkata: Oh pandita jang bidjaksana, oleh karena sudah gentur tapabratamu, maka sang resi dibolehkan naik kedalam kereta ini, .supaja sang bagawan dapat merasakan kemuliaan buah dari penderitaan tapamu". ,Oh Pukulun". djawab Sang Munggala, ,saja mohon diberi pe- rgundjukan, patokan apa jang dipakai oleh para minulia jang tinggal diatas Swarga. Apa djandjinja, apa jang mendjadi pengharapannja. Ch Duta Kaswargan, jang dinamakan kebahagiaan swarga itu bagai- mana keadaannja? Dan apakah di Swarga itu tidak ada haral sambi- kalanja? Saja mohon diterangkan sedjelas-djelasnja, sebab hati saja niasih ragu-ragu. Nanti djikalau sudah Pukulun terangkan, dan sesu- dahnja saja pikir bahwa saja sanggup menerima anugrah itu, barulah saja suka menurut akan berangkat keatas alam jang indah itu"
Utusan Dewa itu mendjawab: .,'Duh pandita jang berbadan keuta- raan, saja tidak berani menganggap bahwa sang resi belum tahu seka- lian hal itu. Tapi karena permintaanmu demikian, maka akan saja tjeritakan djuga. Alam jang dinamakan Swarga itu, pernahnja ada dilapisan atas dari alam-alam jang lainnja. Djalanan kesana indah sekali, hanja para Dewa sadja jang sering berdjalan disitu. Siapa jang tidak mempunjai kepertjajaan, orang jang tidak djudjur, orang jang tidak pernah bertapa dan orang jang tidak pernah sesadji besar, tidak hisa sampai di Swarga. Hanja orang-orang sutji, orang jang mulia hatinja, orang jang welas-asih, pradjurit jang berani, pradjurit jang badannja luka bekas sendjata perrang, dan orang menetapi kewadjiban. harulah bisa datang dan tinggal didalam alam jang mulia itu. O sang resi, dalam kitab-kitab sutji ada diterangkan, bahwa ada beberapa ba- ujak alam jang keadaannja berbeda-beda. Alam Swarga adalah sangat indah dan permai, jang tinggal disitu hanja para Dewa, para Sadia, para Waesawa, para Maharsi, para Yama, para Dama, para Gandarwa dan para Habsara. Ja disitulah tempatnja gunung kentjana jang dinamakan Meru. Seputar besarnja gunung itu adalah tigapuluh tiga ribu Yodjana. Diwilajah itu djuga tempat taman-tamannja para Dewa, taman jang paling indah namanja Taman Nandana. Siapa jang sudah tjukup tapabratanja, dapat masuk kesitu, lalu tidak menderita lagi rasa lapar, rasa dahaga, rasa tjapek, rasa ngantuk, rasa dingin atau panas, dan lain-lain rasa jang tidak menjenangkan. Disitu tidak ada bebauan apa djuga, selainnja bau harum, sedap dan segar. Angin disitu menjembuhkan penjakit. Segala suara kedengarannja merdu dan me- rjenangkan hati. Disitu tidak ada susah, tidak bisa tua, tidak ada ke- sukaran, tidak ada rasa menjesal. Segala apa jang ada disitu bertjahja disitulah tempat buahnja perbuatan, tapi jang dapat memimpin djalan hesitu hanja keutamaan jang sudah didjalani sendiri. Keutamaannja ajah bunda tidak dapat mengangkat orang datang ketempat itu. Disitu tidak ada keringat atau peluh, tidak ada daki kotoran jang keluar dari kulit, tidak ada debu jang mengotori pakean, kembang sumping, ontjen- ontjen, kalung bunga, sunting sanggul, semua tidak ada jang bisa laju. Siapa jang tinggal disitu semua ada mempunjai kereta kentjana jang üitarik oleh burung-burung kaswargan, maka semua sama merasa ber- tahagia. Jang gilang-gemilang dan paling indah bertjahja, adalah Brah- napura, jaitu kahjangannja Betara Brahma, jang boleh tinggal disitu hanja para Ribus, jalah para Dewanja Dewa, jang sudah djauh dari watak dunia dan tidak makan sesadji atau makanannja para Dewa. Fara Ribus sudah tidak ketempatan hewa napsu, tidak ketempatan rasa lain selainnja rasa nikmat dan mufangat. Para Dewa ingin sekali me- ngetahui keadaan dan perasaannja para Ribus, tapi tidak ada jang ke- sampaian. Para Ribus djumblah banjaknja ada tigapuluh tiga orang. jang tidak dapat dilihat oleh siapa djuga, selainnja orang jang sudah
gentur bertapa, orang jang sudah tjukup dana kebadjikannja. Duh Resi Munggala, sang resi sudah mendjalani tapabrata jang paling tinggi, kemurahan hatimu menjundul langit, maka sang resi dibolehkan da- tang ditempat jang mulia itu, didalam alam jang tidak dapat dilukiskan keindahannja". Sang Munggala berkata: ,O Pukulan, saja sudah dengar semua keadaan dialam Swarga, tapi baru dituturkan kebesaran dan kemuliaan- rja sadja. Sekarang, Pukulun, saja ingin diterangkan, disitu selainnja indah dan mulia, apakah ada tjatjatnja atau sudut-sudutnja jang mengetjewakan hati?" Ada, sang resi", djawab Dewa utusan itu. ,Didalam Swarga tatjatnja tidak langgeng. Karena disitu adalah taman buah dari jang sudah menanam, Siapa sadja jang pernah menanam bidji baik didalam dunia, ia akan dapat petik buahnja disitu. Tapi buah dari pekerdjaan- rja sendiri, buah dari pekerdjaannja orang lain atau buah dari pekerdjaannja orang tuanja, tidak dapat dipetik disitu. Buah jang tumbuh di Swarga itu ledzad dan njaman sekali rasanja, tapi mengetjewakan- nja, orang tidak dapat petik menurut keinginannja, hanja sebanjak apa jang sudah dikerdjakannja sadja, tidak bisa lebih, tapi djuga tidak hisa kurang, hingga orang tidak ada kemerdekaan untuk memilih se- sukanja. Meskipun enak manfaat, tapi djikalau sudah kenjang, orang bisa merasa djemu, itulah jang mengetjewakan. Selain itu pun masih ada sudut tjatjadnja lagi, jaitu djikalau buah jang mendjadi anugrah- rija sudah habis, menurut batas takeran dari apa jang sudah mendjadi pekerdjaannja sendiri, maka lalu ia didjengkangkan sehingga terpental djatuh kembali kedalam dunia, atas djalan dari guwa garbanja seorang ibu jang melahirkannja, dimana ia lalu mendjalani lelakonnja lagi, ba- hagia dan tjilaka bergantian menurut tingkah polahnja sendiri. Oh resi linuwih, orang jang didjengkangkan dari Swarga, sakit dan seng- sara sekali rasanja. Bagai orang jang sudah pernah mendapat kemu- laan, lantas djatuh mendjadi hina, berat sekali penderitaannja. Didalam dunia ia nanti mengenang-ngenangkan kemuliaan jang dulu pernah dinikmatinja. Ia ingin mendapatkan kembali kenikmatan itu, djikalau latinja kurang sabar dan diliputi kebodohan karena dilahirkan dalam halangan kulawarga jang rendah, imamnja tentu akan runtuh, mendjadi ludjangnja napsu angkara, jang menuntun ia kedalam djurang kekeli- ruan. Sebaliknja dari mendapat Swarga jang ia kenang-kenangkan. malah terdjerumus kedalam Noraka jang lebih-lebih menjengsarakannja lagi".
,,'Duh Uutusan dari Swarga", kata Sang Munggala, ,semoga Pu-
kulun suka menerima sembah bekti saja. Tapi saja biarlah Pukulun tinggalkan sadja, karena saja tidak sanggup tinggal didalam Swarga jang demikian keadaannja. Pengharapan saja bisalah tinggal didalam Swarga jang sedjati, jang tidak mengetjewakan kepada siapa jang da-
pat naik disitu. Djadi tidak dengan dikaniaja seheibat itu. Tidak ada kesengsaraan hati jang lebih besar dari sengsaranja seorang kaja men- ajadi miskin. Tidak ada penderitaan jang lebih heibat dari penderitaan- nja seorang besar jang telah turun deradjatnja. Sangat sukar penderitaan itu dipertahankannja, karena meski dulunja pintar, akan berobah mendjadi bodoh. Djikalau orang belum mengalami kaja, miskin itu bukan apa-apa. Djikalau orang belum pernah mulia, hina itu djuga bukan apa-apa. Tapi satu kali pernah mendjadi orang kaja dan muliz. kemiskinan dan kehinaan adalah lebih heibat dari kematian. O Pukulun, saja mohon diundjuki Swarga jang lain sadja, tidak Swarga jang matjam itu, karena Swarga jang sudah pukulun tjeriterakan tadi, men- djadikan hati saja sangat giris". Maka utusan Dewa itu lalu berkata lagi: Diatasnja Brahmaloka rasih ada lagi suatu tempat jang lebih mulia, jaitu tempat kediaman- nja Betara Wisnu, Dewa agung jang dinamakan: Parabrahma. Orang jang masih kesengsam pada taman lelangennja Pantjaindrija, tidak akan dapat datang naik didalam kahjangan itu. Orang jang wataknja dju- mawa, tjetil, djahil, metakil, bodoh, buteng, angkara, ngangsa-angsa. semua tidak bisa sampai disitu. Alam disitu keadaannja tenteram dan ajem. Tidak ada orang jang menjanji, tapi tidak ada orang jang me- nangis. Tidak ada orang jang gembira, tapi tidak ada orang jang mengeluh. Tidak ada harta jang kemilau-kilau, tapi tidak ada kemiskinan. Tidak ada kegirangan, tapi tidak ada penderitaan. Sorotnja Eetara Surya jang sampai disitu sudah sama adamnja dengan tjahjanja Rembulan. Betara Yamadipati djikalau sampai disitu lantas hilang ke- bengisannja. Burung gagak djika sampai disitu mendjadi putih, harimau mendjadi djinak seperti mendjangan. Disitulah tempatnja orang jang welas-asih dan murah-hati, tempatnja orang jang badannja sudah nung- gal dengan kebadjikan". O Duta Kaswargan", kata Resi Munggala, ,,saja merasa puas dan rena mendengar keadaannja Swarga itu. Apakah saja dibolehkan masuk kesitu?" Pandita linuwih Sang Munggala jang bidjaksana boleh masuk kedalam Swarga itu". Djawab utusan Dewa. Sang Munggala berkata pula: Djikalau memang saja dibolehkan masuk kedalam Swarga itu, hati saja tidak ragu-ragu lagi untuk ting- gal didalamnja. Tapi, oh Duta Dewa, saja tidak mau pergi kesana, saja mau Swarga itu jang datang kemari, supaja berkahnja melimpah djuga kepadn. orang-orang jang telah turut menderita kesengsaraan atas per- djalanan saja". Terdjadilah segala jang diinginkan oleh orang jang bidjaksana". Demikian djawabnja Utusan dari Swarga itu. Begitulah, maka Sang Munggala telah mendapat Nirwana. Sekianlah dongengnja Maharsi Kresna Dwipayana, jang didengar-,
kan dengan penuh perhatian oleh para Pandawa lima. Siapa sadja orang-orang jang suka membatjakan dongeng ini untuk didengarkan lain orang, akan mendapat berkah tenteram selama hidupnja. Siapa ang mendengarkan dengan perhatian sehingga dapat mengambil sari- rja, oräng itu akan terbebas dari segala perbuatan dosa. Orang jang suka menuturkan lagi dongeng ini kepada orang lain, orang itu akan mendapat bahagia selama-lamanja.
- Djaya djaya widjayanti.
DHARMAMON★
OBAT BLOEDDRUK
JANG SANGAT BAIK
TERDJUAL DI SEMUA TOKO OBAT 1 tube Rp. 7. ongkos Rp. 1.50. Pesan 6 tube, ongkos prei.
Tablet luar biasa menghilangkan tiapek lesuh dan lemah.
PILKITA
Malam makan 2 bidi besuk pagipulih segar sehat gagah dan kuat.