PyaPuisi
pli
Kuypin
Ge
51WA
koreswanna ikj-Dut
AKAREA
PUISI YA PUISI
kumpulan puisi mahasiswa ikj-lpkj
sigit dimitri * Joze rizal * Kiki suparman * Iwan Gontarela Say inna lingga * Harry Budianto krisno * Nana Mulyana * Iin noerDwt Yan _ Soebarkah Hadi Sarjana * Mira sato
- Boyke mulyana
(th WJCCL
,上对 上一市 1002
Daftar Isi.:
Taufik Ismail Kata pengantar
N. Riantiarno Sardono W Kusumo
Sigit Dimitri-Senandung Lan Giok Lie
- Hamil
- Tiba Tiba
- Kehabisan Gagasan
- Sajak Ini Bangkit Manakala tak terjadi apà apa atas diri siapa saja karena sudah demikian kenyataannya
- Kebahagiaan
- Lilin Dan Roti Keju
- Tikungan
- Sajak Dalam Diam
Perjalanan Pulang
Jose Rizal-Memandang Senjakala turun Diatas DermagaSajak Sunyi
- Sajak Bisu
......( tanpa judul)
Kiki Suparman Hs.- ...... ( tanpa judul )
Iwan Gontarella-KesalLuput
Say Inna Lingga-Untuk Adikku
Harry Budianto-Puisi Orange
- Aku dan Kamu
- Ada yang berbisik lewat daun
Indonesia
KrisnoBeban
......... ( tanpa judul )
idem idem idem
Nana Mulyana-Penyair
- Sajak Tentang Senja
- Siapa
- Kotaku
- Kini
- Kepada Yang terhormat Bapak Bapak Kami
..... ( tanpa judul )
Iin Noer-Cuma satu
Lenyap
Dwi Yan
Soebarkah Hadisardjana- .. ( tanpa judul )
( seluruhnya tanpa judul )
Mira SatoKip Zonder Kop
Boyke MulyanaStulen Dans
Jakarta
31-8-1983
KATA PENGANTAR
Kumpulan puisi ini dirangkum dari karya sejumlah mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, yang dipilih mereka sendiri dan di- terbitkan mereka sendiri pula. Tigabelas anak muda dari sebuah sekolah yang mengandung berbagai disiplin kesenian (musik, drama tari, seni rupa, sinema) mengumpulkan sejumlah puisi, 48. buah, ditulis ratà-rata dalam jangka waktu satu sampai dengan lima tahun terahkir ini. Jadi, apa relevansi yang pantas ditarik dari pekerjaan mengumpul- ngumpul ini? Bisa saja puisi di kumpulan ini ditulis sendiri-sendiri, dalam arti dilingkungan pribadi masing-masing, tanpa persen.tuhan satu sama lain. Ini sah juga sebagai suatu kemungkinan: Tapi lantas,
apa yang membedakannya dalam segi ini, dari antologi lain?
Tidak ada.
Kemungkinan berikutnya adalah bahwa puisi ketigabelas orang ini
ditulis disuatu lingkungan dengan persentuhan, pergesekan dan bahkan perbenturan satu sama lain, dalam jangka waktu tertentu yang cukup panjang, misalnya lewat suatu sanggar penulisan. Ini jelas akan membuatnya berbeda dan unik dari antologi lain mana-
pun. Ini akan relevan dengan asal-usul mereka : IKJ itu. IKJ ber-
cita-cita memberi sosok pada interaksi berbagai disiplin keseni- annya. Tapi tentu saja perlu rentang waktu, dan kemudian pemban- .dingan. Kedua kemungkinan ini sah-sah saja. Namun subyektifitas saya me- ngatakan bahwa yang lebih menarik adalah kemungkinan yang kedua. 学学部 ak ku. Lsi-puisi ini,
12.
tlac
| tlac | ||
|---|---|---|
| Cunghepan | cidak banyck. | 32 |
| borkerut | Oe.CAN | |
| -(v, | ||
| 15.1 | be. | J .... |
| an | tlan tipis im. Beronvk Tuhan bukan adres | -rons. |
.pad jue.. tid pada amirny. t Letet ltot iny von. bp
Kegelisahan seperti tak kunjung habis dalam puisi-puisi ini, suatu hal yang jamak pada anak muda. Tidak sampai pada rasa getir, tidak, berontak juga belum dan alhamdulillah tidak ber- hiba-hiba minta dikasihani. Pengungkapan masih perlu diserut dan diamplas. Di sana-sini terasa ada ungkapan segar tidak banyak. Untung tidak semuanya serius berkerut dahi, ada yang suka bercanda jugà seperti Boyke dan Sigit. Syukurlah kalau be- gitu, kalau tidak alangkah keringnya hidup ini bila serius itu berkepanjangan. Bergulat dengan makna yang hakiki, sehingga sampai pada proses kerohanian yang ultimat, belum nampak pada kumpulan tipis ini. Berontak juga tidak, apalagi damai yang taslim. Tuhan bukan a- dres tempat, mengeluh dan mengadu melulu. KepadaNya pada ahkir- nya kita berserah diri menyeluruh, setotal-totalnya total, tan- pa menyerah pada yang lain.**
Taufiq Ismail
. 1 September 1983
Puisi, bagaimanapun tetap merupakan hasil dari perenungan.. Sebagai ekspresi, ia sah, betapapun buruknya puisi itu. Ketika kita menatap goyang pohon pinus, merasakan semilir angin, mendengar deru mesin pabrik, mencium pacar, menyak- sikan kematian atau terjebak di dalam perang-segala hal, bisa mengakibatkan kita bergetar. Dan jika kita penyair (atau berkehendak menjadi penyair), lahirlah puisi. Lalu mengapa ada puisi buruk dan puisi bagus? Mengapa ada puisi 'gelap: dan puisi 'jelas:? Mengapa pula ada puisi 'abadi' dan puisi isesaat: ( yang biasanya langsung masuk keranjang sampah dan dilupakan?) Bukankah kata orang-orang, karya seni tidak bisa dinilai dengan hitungan, macam mate- matika. Alat apakah yang bisa dipergunakan untuk menilai sehingga yang 'bagus bisa segera nampak? Pertama : menimbang adą tidaknya 'kekuatan kata'. Memang su- lit melahirkan hanya satu kata, misalnya, yang mampu memba- has seluruh kejadian atau peristiwa (boleh kita ambil contoh "bulan diatas kuburan", Sitor Situmorang). Kedua : bagi saya, penyair saya anggap sebagai'ahli bahasa'..
Seorang penyair tidak -- sekali lagi : tidak -- boleh merusak
bahasa, tapi justru seharusnya menciptakan kata, ungkapan a- taupun bahasa yang tadinya tidak lazim menjadi lazim.
Ketiga dan keempat, biarlah tidak usah saya tuliskan. Nanti
dikira ini makalah tentang 'bagaimana cara menilai sebuah puisi'.Membaca 48 puisi tulisan kawan-kawan dari IKJ, sampai- lah saya pada kesimpulan bahwa 'bentuk' masih merupakan masa- lah utama. Isi yang dicoba untuk diangkat ke permukaan, masih sangat umum sifatnya. Memerlukan proses pengalaman batin ber- liku. Mungkin beberapa tahun lagi. Ada rasa gamang terhadap tema yang hendak diungkapkan, sehingga setiap kata yang lahir kurang tuntas. Encer. Mungkin ini lahir karena kurangnya pe-
ngalaman batin, serta' kurang akrabnya si penyair dengan masa-
lah.
Tapi tidak semuanya. Ada pula beberapa puisi yang menarik untuk diketengahkan. Saya mencatat puisi karya Sigit Dimitri, berjudul AKU SEPERTI MELIHATMU, bisa merupakan titik awal penuh, harapan. Kemudian puisi-puisi lucu karya Boyke Mulyana KIP ZONDER KOP dan STOELEN DANs, sanggup .menjelaskan apa, yang ada di benak si penciptanya. Puisi-puisi karya Mira Sato, yang rata-rata tidak pakai ju- dul, baik sekali. Ke-4 puisi karyanya itu, bisa menjadi do- kumentasi perjalanan batinnya yang sangat berharga. Tapi sudahlah, tidak perlu mendengarkan penilaian ini. Perjalanan masih panjang dan kritik hanya titik. Yang paling u- tama kita tahu untuk apa kita berbuat sesuatu (misalnya, me- nulis puisi), meskipun barangkali kita tahu tak semua hal bisa kita ungkapkan. Puisi, bagaimanapun tetap merupakan hasil dari perenungan. Sebagai ekspresi, ia sah, betapapun buruknya puisi itu..
Puisi-puisi yang, ada dalam buku ini (kecuali yang sudah saya sebut di atas). tidaklah buruk, melainkan masih belum melewati perenungah yang panjang.
Jakarta,.1 September 1983
N.Riantiarno
Sebuah Institut Kesenian semacam IKJ memang telah lama memper- tanyakan diri, kenapa selain seni Tari, Drama, Musik, Film, Seni Rupa, tak ada akademi seni sastra. Satu akadeni yang mendekati sastra. lebih ·sebagai kesenian dari pada pengetahuan dan penelaahan ke-sastraan. Jawaban terhadap masalah ini tak terjawab sampai umur IKJ yang kedua belas tahun. Tapi tak berarti kegiatan seni sastra tak ada dilingkungan IKJ. Workshop penulisan dirintis oleh penyair Taufik Ismail ( rektor dahulu ). Perubahan struktur organisasi lembaga pendidikan yang berobah- obah, tak menjamin kontinuitas program workshop tersebut. Untuk sementara kegiatan berhenti dan akan dimulai lagi tahun ini, dengan pembimbing saudara Arswendo Atmowiloto. Dilembar lembar berikut akan bisa dilihat hasil dari banyak pe- serta workshop penulisan ini. Beberapa telah sering terlihat karyanya di Sinar Harapan, Zaman atau beberapa majalah dan surat kabar lain. Tidaklah ini berarti bahwa mereka baru menulis puisi sejak ada- nya workshop penulisan IKJ. Tapi memang apa yang tersaji saat ini memang dalam kemasan kegiatan para Mahasiswa IKJ dalam pasar seni ITB. Tulisan ini. sekedar menghantar kedatangan ke kampus tetangga.
Sardono W, Kusumo Purek III IKJ
tidak semudah anda bayangkan ketika semua yang ada melintas pikiran mulai dari yang tampak maupun yang tidak kasat mata, adalah bayangan semu yang'bergerak digerakan oleh sesuatu kekuatan gaib semua diatur dan mengatur dengan sendirinya keduanya sudah berjalan dengan tanpa kontrol yang mengakibatkan kenapsuan dan sulit untuk membedakan mana yang lumrah dan mana yang tidak lumrah bila ingin mengetahui dan membedakan keduanya harus mencapai -. pada kesadaran yang tinggi dan mutlak dengan demikian akan tampak satu persatu dan itu semua sama tidak berbeda dan tidak dibedakan ternyata satu sumber dari pikiran kita sendiri yang mana selalu menganggap dan menanggapi
soebarkah 27.6.1983
dalam arti yang nyata dan tampak didalam manusia yang ada hanya
satu turunan dan temurun sudah tidak bisa disangkal lagi, bahwa yang baru adalah lama lama sekali sejak lahir, atau ini dianggao baru
dan pengulangan pengulangan hakekatnya ingin mencari kebenaran
kebenaran adalah juga kesalahan tergantung dari tempat dan berbuat yang dirasa paling enak baginya terus menjadikan patokan atau standart sehingga muncul suatu klasifikasi atau penggolongan-penggolongan dan juga fanatikisme mudah sekali membentuk sebagai fanatikisme, sehingga wawasan menjadi terbatas banyak peperangan karena fanatikisme lawan arti fanatikisme adalah bebasisme bebaisme disebut juga bijaksana yang tidak ada batas untuk segala-segalanya dan tidak ada yang benar dan salah ,semuanya lumrah relatif langgeng,
soebarkah hs.
Sigit Dimitri
tikungan
tikungan itu mengingatkan pada perang diponegoro atau perjuangan orde baru suharto ada darah tercecer berkarat jadi lukisan tikungan itu telah jadi hantu
jakarta, 82.
sajak dalam diam
dalam diam orang terbang menunjuk waktu menjadikan sunyi dalam diam orang membuat bisu membenci sunyi sajak ini adalah diam menanti tuhan bersepatu tentara melepaskan tembakan jakarta, 14 feb. 82.
perjalanan pulang
kepingan kepingan dingin
mulai menjalar dalam sisa nafasku ada apa dibalik lelah dan perjuangan ini
atau cuma sekedar membuang saat
dalam perjalanan pulang
jakarta, 20 nov. 81.
Sigit
AKU SEPERTI MELIHATMU
Aku seperti melihatmu pada pecah hujan di Cikini antara etalase supermarket cina toko kelontong dan souvenir kaca-kaca
Aku seperti melihatmu diantara… sampah-sampah pasar hitam dan kere-kere langgarai Kadang-kadang melintas Eagasan ingin untuk mengejarmu dikala engkau termangu dalam lengahmu
Aku seperti melihatmu pada poster-poster jam mati taman Ismail Marjuki pada penjual rokok ketengan dan kerumunan seniman ingin aku mendakwamu
Aku seperti melihatmu aku seperti kau tinggalkan aku seperti kehilangan ditelapak usiaku.
14 Juni 1980.
Sigit
KEHABISAN GAGASAN
Orang jadi lucu dan salah tingkah ketika gagasannya habis seperti kemarin sore aku kehabisan nyawa di tengah orang banyak bayangkan
1980
sajak ini bangkit
manakala tidak terjadi apa-apa
atas diri siapa saja
karena sudah demikian kenyataannya
sore kering oleh debu jahat manusia seseorang melamun di atas jalan raya langsung mati seketika entah apa sebabnya
1980
KEBAHAGIAAN Kebahagiaan adalah minum es sirop memacu dusta kencing di tiang listrik ketawa panjang di bis kota
kalau jawabnya, " ya !"
maka itu adalah seratus juta rakyat Indonesia
23 apri 1981
LILIN DAN ROTI KEJU
Lilin dan roti keju jadi satu
akan terasa nikmatnya kalau kita mamah
dengan ketololan kita
Sigit
HAMIL
Adalah perutku hamil tua berkerak menyusun ancang-aneang untuk sekarat nasib bergerak mampet perut yang bengkak lantaran cuma merayu harapan perutku hamil dikepalaku
i ii xeye 1981. Cikini raya 1981
TIBA TIBA
Tiba-tiba aku merasa jadi penakut dan sepi mendadak dan tiba-tiba aku merasa menjadi binatang sementara kusentuh minyak wangi agar aku sempurna jadi binatang liar
Tak ada baju yang terbagas untuk dapat jumpa denganmu dan tak ada perjumpaan yang abadi untuk sementara
aku cuma dapat berbuat tiba-tiba
jadi anjing.
Desember 1980.
Sigit
SENANDUNG LAN GIOK LIE
Lan giok lie yang diberangi bapaknya yang dipecundangi ibunya bila bercengkrama dengan orang jawa
manismu mirip cina asimilasi tingkahmu lembut memerak hati bicaramu medok naif dan komis
memang kau spesifik gadis cina namun sesungguhnya gadis Indonesia kau
Lan giok lie kekasihku yang matanya sipit pandai bersajak gemar menyanyi pramukä ia gemari dan suka sekali menulis puisi yang sejuta juta sajaknya berisi
mendoakan orang tuanya agar lekas mati
januari 1978
Jose Rizal MEMANDANG SENJAKALA TURUN DI ATAS DERIAGA Bianglala mengambang di atas gelombang bagaskara mencelupkan badannya ke laut mataku yang resah, menelan nuansa yang menggaris jingga langit dan bumi salaman di cakrawala bagaskara mencelupkan badannya ke laut sukmaku yang gelisah, hanyut dalam timbangan fatamorgana aku terkesima ! aku terkesima! senandung ombak dibawah dermaga aku terkesima ! dari arah angin yang bertiup lemah sepasang camar yang sedang kasmaran berkejar-kejaran! sebentar menukik, sebentar mengangkasa bebas, lepas berkejar-kejaran aku terkesima ! aku terkesima ! senandung ombak di bawah dermaga aku terkesima ! langit dan bumi salaman di cakrawala bagaskara mencelupkan badannya ke laut sukmaku yang gelisah, telanjang mabuk kepayang bianglala mengambang di atas gelombang bagaskara mencelupkan badannya ke laut mataku yang resah, memandang senjakala turun di atas dermaga
tanjung práok, 1978
J. E RIZAL Jose Rizal SAJAK SUNYI Angin diam mega mega menari flora bisu fauna bisu mega mega berbuah rupa tes! tes! jakarta,1980
SAJAK BISU
Padang tandus
tanah retak retak retak. Tuhan tanah retak retak.
Tuhan
retak
retak. jakarta, 21 jan 1980
Pantat di lantai mata mengolah mimpi
Mpls,1981
Kiky Suparman Hs.
Dan kau dengar
deru nafas mu dan nafas ku
menyatu dan kau dengar diamku dan diammu bermakna menyatu dan kau dengar
suaramu dan suaraku berkata
menyatu
semua dalam diam
menyatu semua dalamberbuat menyatu dan kau lihat keringatmu dan keringatku menyatu
sampai semua menjadi diam
menyatu dalam hening abadi sampai semua terjadi
menyatu sesaat dan tak kembali
dan kau dengar tangismu dan tangisku menyatu sampai semua terjadi sampai tak ada tangis lagi semua diam menyatu dan kau lihat matamu dan mataku berbinar menyatu dalam redup yang diam diam terkadang memang emas meski sesaat bermakna, banyak makna aku dan kamu diam
betawi--21-.-4-.-83,-
Inna Lingga
UNTUK ADIKKU
Bangunlah dari tidur kanak-kanakmu, dik hidup yang sesungguhnya akan mulai dalam masa masa resah kita pada kenyataan dunia yang mengerikan berat, sesungguhnya berat hidup ini, memang tanggungjawab dan kedewasaan berpikir adalah beban kita lalu, kita semuapun berpisah pada masing-masing jalan yang tersedia dialur nasib hingga, aku, aku-ku kau, kau-mu dia, dia-lah sedih, sungguh sedih semua, memang sebab sesungguhnya masih ingin, kita tetap dengan boneka-boneka di ruang mainan kita bercanda manja dan bermimpi indah bagai dongeng dongeng Hans Cristian Andersen
iil 26 juli 1982
Iwan Gontarella
KESAL
Ingin:kubenci semua orang
yang bercerita tentang batu-batu
seraya mengasah tulang rawannya di awang-awang namun sejuta kesalku t'lah kubenamkan bersama batu batu juga
yang kuikatkan bersamanya
LUPUT
Kemilau bayangan ! jeratmu tak dapat meraih senja karena kau ada dalam sekejap
Harry Budianto
ADA YANG BERBISIK LEWAT DAUN
Daun yang bergulir malam tadi jatuh tercampak disudut halaman
dan pagi ini gerimis mencabik kebekuannya
menggugah kantuk yang tinggak sisa
semalam ia merintih pendek bagai pesakitan sekarat melepas nyawa tanpa pesan dan air ma ta tapi angin membawanya segera
daun yang jatuh malam tadi
berbisik halus pada rembulan redup ! menántikan dengan setia dipenghujung sana
nyawansipesakitan kan segera tiba
hanya sekelumit yang sampai ke tehinga
lalu gemuruh angin mencampakan pula sampai jauh kesudut halaman dan pagi ini gerimis tengah memacu namaun kebekuannya yang-tinggal sisa
Matraman 16-2-78
Harry Budianto
AKU DAN KAMU
Pikirku melayang direnggut orang
ragaku berenang mengikuti arus
pandangku menembus langit biru
kakiku menapaki tangga ke surga tanganku menggapai bulan tinggal separuh mulutku mengunyah tanah yang kering hidungku mencium bangkai pacarku leherku menelan ludah beracun perutku memamah alam raya kelaminku membuang kotoran apa saja telingaku berisi musik dan kata-kata dadaku penuh debu abad modern darahku mengalir dipipa-pipa penyulingan
rambutku dipintal pabrik kosmetik
jemariku ingin menunjuk siapa kamu lidahku berat berucap mengapa begini !!! Hasratmu dan hasratku tak mungkin terpadu adamu dan adaku siapa yang tahu?
matraman, 1-9-81
Harry Budianto
PUISI ORANGE I Pilar pilar tegak membayang keangkuhan mendalam dimataku dimataku : duh ! ada sebatang ranting mulai kering !
II
sudut sudut ruang yang ditembusi bayang suatu sinar ada kau ada kau : bah ! kita sama-sama diam
III
tanganmu tanganku bergelut dalam hening ma ta mu ma taku berkaca pada keggerian Matraman, 16 juni 1980
Krisno
Rintihan di kolong jembatan itu lama-lama enak kedengarannya dan tetanggaku bilang itu untuk mengiringi santapan malamnya
1980
Mereka pergi bersama-sama menuju kelam kembali ke alam mimpi dan bersatu di awang-awang
1980
Mata itu sudah tidak mampu lagi menatap bulan karena terlalu seringnya
ia melihat pasar malam 1980
Krisno INDONESIA Indonesiamu menatap bulan tanpa memandang Indonesiaku menatap bumi dengan kaki terpéndam Indonesia kita bersama-sama-membunuh manusia dengan Indonesiamu
BEBAN Beban dipanggulnya tak ingin dilepas sebelum sampai di tujuan benaknya yang selalu ingin mendahului.kurun waktu saling menyusul dengan masa lalunya sayang hari ini tak sempat istirahat kalau saja sempati beban itu tidak akan makin memberat dan menimpanya di akhir perjalanannya sesudah senja
Aneh anjing di rumah gedung itù sudah tidak kedengaran lagi gonggongannya aku dengar ia sudah tidak lagi jadi anjing
Nana mulyana
KINI!
Seandainya kau masih melahap semua solar mentah, potongan seng kaleng biskuit, tanah kuburan dan air kali, lantas kata-kata dimacetkan dan kita mogok dibiarkan. Dipalsukan senyum kebebasan difitnah tindakkan, Disilet mata dan jari -nya dipaku, maka kita akan sama-sama turun ke jalan, buat menjawab kepentingan masing-masing. Sejarah, milik siapakah engkau kekasihku yang sunyi ? orang banyak atau peliharaan kekuasaan. minta ampun ! ---- kesenjangan apa ini ?
II
Aku menemukan kesendirianku di pojok.Merenung-renung, kudengar dari mulutnya mengucapkan sesuatu, berkecap-kecap Matanya berkedip-kedip.Seakan-akan diriku dan dirinya putus asa. Tapi demi Tuhan---aku dengar suaranya ! Angin sekitar itu rontok, udara bergemerincing, suara anjing nyap-nyap, gerimis yang miring menancap, merangsang bau bumi. Wajahku separo malam.Wajahnya lengket lampu jalan.Hatinya bercak- bercak.Kering kerak.Remang lampu, kuning mayat, aspal basah, pagar.Semuanya bengong, semuanya heran.Kata-kata telah di- ucapkannya hanya dengan memandangku.Memandangnya. Tapi demi Tuhan---aku tidak bersuara ! Akukah itu ?Atau kesepianku redup arti, meski terbujur kaku. " Kami ini kotoran yang tergenang di got sisa kekejaman jaman!"
III Kesunyian apa ini ?Adakah maknànya.Malam selali gelap, angin selalu dingin.Cuma itu.Kitapun meronda saban malam, saban waktu berjaga-jaga.Seandainya saja.Siapa tahu.
- tapi hari esok selalu bencana kekuasaan menawarkan kesalahan yang sama Ya gusti !---kesunyian apa ini.?:
ta.
sturada-kab.cirebon 1983
KEPADA YAIG TERHORMAT BAPAK-BAPAK KAMI Nana mulyana,-
Kemana lagi kámi mesti ziarah pak ? sekedar mengejawantah rasa hormat kami bekajar menyadari kesalahan bersama.Memadatkan keredupan di luar
- tempat ziarah tak ada lagi. ! tertimbun masa lalu.Ambrol dalam sejarah kemana lagi kita mesti memetik, mencari dan membuang kembang sebab membelipun kámi harus ber-urusan dengan perut dan syahwat kemana lagi kami mesti pergi ? di tempat ini bapak sudah mengusir para penziarah dengan ramáh. II Dari hari ke hari mesti jadi arti dari ruang ke ruang jadi uang dari letih ke letib jadi pamrih dari utang ke utang jadi kutang dari ondal-andil jadi adil dari jas ke jas jadi satu azas dari usil ke usil jadi bedil dari ras ke ras jadi keras dari bor ke bor jadi slebor oh negeriku, dari jam ke jam jadi kejam III Waktu itu kamu lewat sebentar saling menegur sementara. kami menghitung, sisa kau lupakan hutang kehidupan lewat sasaran yang belum sampai rindu kami : kentut !
widut, cirebon 1982-83
Nana Mulyana KOTA-KU
Telah dikawinkan angin gunung dan angin laut udarac: ada bau samudra menggigit dan kau adalah terdakwa tidak boleh berkata-kata selalu ditipu tepi darat makmur, pesisir pasir cuma cerita penyair yang langgeng adalah pengkhianatan sehdiri atau bersama-sama ( dan lirihmu tak sempat terjaga ) Telah dikawinkan angin gunung dan angin laut udara ada bau samudra menggigit matahari botak mabok terguling terkapar di jalan raya.
II
Andai kau perempuan aku minta dilupakan sebab debu bisa melayang dan kalimat bisa sampah kau ada hilang terpencar bisakah kita bigara selain cinta dibiarkan semaunya musim angin tua mengabur kota dengan debu gedung-gedung tua sisa sampah dari rimbun warna andai kau perempuan kekasihmu berkulit domba
III Endapan tetap beban meski langit berjalan cape warnamu sephia, begitu purba begitu setia menunggu kita dikubur disini saja ade irm .cirebon 1983...
Nana Mulyana
Seekor rusa mati dengan daun alang-alang tersangkut di gigi-nya
- mana lagi punya kita ? macan mengerang kita jadi macan menyerang Sebuah gambar depan koran pagi singa jantan dari- kertas dan taring dari tusuk gigi : adalah kita !
SIAPA
kepada dera.
Antara laut dan langit siapakah cermin siapakah ombak yang menjelia susah dimengerti siapakah angin yang bersijingkrat memetik daun-daun bakau siapakah matahari yang pecah berkeping-keping diatas laut siapakah ujung laut yang bingung tempat.sembunyi kapal-kapal siapakah saksi diam bermata biru yang timbul tenggelam siapakah kisahku yang jadi saksimu ?
1982.
SAJAKTENTANG SENJA
ketika mega kribo.Cahaya bumi separo awan di got seperti negro lalu matahari ambles.,i kawat-kawat listrik.Burung dan waktu-waktu pohon-pohon biru.Swara gaib
satu tanjakan.Langitnya melongo.
linggajati 1980.
Nana Mulyana
PENYAIR
Sudahlah kita akhiri pendakian ini kawan. karena puncak kita daki makin tinggi sedang mana kekuatan yang berhasil kita sembunyikan ?
- kamu nyengir apa sih yang diharapkan dari penyair kalau sajak sudah tak bisa ditukar kue coklat ayolah kita kembali kerumah masing-masing malam ,kakak kandung paling tua telah tiba Sudahlah·kita akhiri pendakian ini kawan mana hutan rotan belum kita lalui,akar akar, setan dedemit menghadang roti perbekalan
Apa sih yang diharapkan dari penyair sebelum kita beku lantaran dingin Nih, penyair itu adalah kita yang kesasar di hutan.
ciremai 1978.
Iin noor
CUMA SATU
Aku dan ruang tanpa batas Ruang belum menjadi ruang tanpa perangkat
83.
Dwi Yan
LENY AP.
Musim berganti
matahari menampakan ketuaannya
bulan mengintip kemaluan putih bagai salju salju turun tapi kemanakah perginya salju turun kəmarin
Soebarkah Hadisardjana
Sore, langit mulai memerah di barat dan timur sudah menggelap lampu depan rumah sinyalakan sesososk bayangan yang tak jelas, ada dianaara pohon-pohon didepan jendelakada
wajahnya pucat, sinis, matanya tajam bersinar sesaat memberi senyum dan kubalas keseluruhannya mirip aku sekali mengherankan? tak ada sepatah katapun terucap saling pandang bercampur tanya
oh, bayangkanku sendiri pantulan dikaca.
mira. sato
aku melihat burung mati melayang aku mendengar ikan menggelepar di keranjang aku mengendus bau bangkai tikus dari jalanan mabukmu, mabukmu, asmara neraka pengantin yang miskin bahagiakah bahagianya mabukku, mabukmu, asmara siapa aku membayangkan aum harimau yang lemah dari hutan maut, kutahu kau menunggu mabukku ini, cuma mabuk sebuah pesta
jakarta 1979
Mira Sato
mengguyur scpi ladang angan angan tak kembali Mahakam 1981.
Mainan kanak-kanak, granat dan dinamit dari plastik cinta kita, plastik di -jual seribu tiga seperti dangdut
hidupmu
dangdut jakarta 1980
15.a6 Lihatlah gadis manis itu makan sebatang tebu matanya yang hitam mewakili hati setiap insan wajahnya yang bening mendapat:tempat dalam kedamaian lihat giginya yang indah dan kuat itu tebu besar dan keras tak berdaya dibuatnya kuingin melihat cintanya. yang jingga berkepak bersama enggang melayang di atas hutan lihatlah ampas tebu bertebaran di tegalan bagaikan sampah bumi bertekuk lutut karena kemurnian gadis manis itu tertawa mengambil tebu lainnya betapa karibnya jiwaku dia teduhkan
tanjung manis 1981
e:
Mira Sato
Lihatlah bayang bayang kehidupan kita yang ruwet mengendap dalam senja kabur tertatih sepanjang trotoir tak berbunyi aku merasa tersungkur cerai berai dalam gaduh kita berebut makna hari seolah-olah Tuhan telah mati, dan tak ada disini lihatlah kita saling menyebut bagaikan anjing berkaing sebelum rampung beradu nasib yang karib, sepi yang makin tak tertib dan sia-sia bertanya : " Tuhan, kenapa jadi begini brengsek ?" cinta makin tak jelas dan sepet ayo sekarang kita balapan
siapa cepat dapat sepah-sepah kegembiraan hidup.
jakarta 1981
Jakarta mengangkang seperti lonte telah kau sedot darahnya sampai pelautku mabuk ,karena mimpinya jeritnya melata sepanjang ciliwung menguap dalam asap polusi konyol diperkosa bis kota darah mabuk, darah orang mati darahnya Jakarta kau lihat tingkahnya genit, dan mulai membanci
jakarta 1981
Boyke Mulyana
Kip zonder kop
Oh centong salepku Kalau engkau jauh aku lebih jauh Jauh ibarat kalau kamu jalan Terus jauh kesandung batu cincin Lalu kamu beethoven blidedarm Jauh itu perasaan harmonika serta koper Apalagi kalau jauh dari bis tingkat Hati hati kalau naik bis Selamat naik bis deh Oh iya nama saya sudah dapat sudah Dapat pinjan uang di kedutaan Inggris Selamat menyetop bis ya say Semoga ukulele dan kontra bass tetap jaya Hidup PLN serta pak jaya seru para alim ulama.
Stolen dans
Belanda berjalan dan rollade Mereka belanda biasanya di suster market Dia juga seneng belanda apalagi belanda dalam duka Dia bule dia belanda dia sering pinsan Apalagi pingsan goreng hmm heerlyk zeg Pingsan rebus daag jij maar tante getalt Tapi biar gimanapun saya dipihak gerhana Bersakit sakit dahulu dirawat ke Belanda kemudian Dan belanda terus berjalan sambil mengemudikan.
Jakarta, tempo hari,
Mengucapkan terima kasih banyak kepada :
Sigit Dimitri Dwi Yan Nana Mulyana Boyke Mulyana Barkah Krisno Mamok Pratomo Say Inna Lingga Telly Mira Sato Jose Rizal: Didi Pe te t
C. Nani Firman Triyadi Iwan G Dedi P Setia Dharma Ida Baron Teater Nisk Kiki Mas Sardono W Kusumo Mas N. Riantiarno Mas Taufiq Ismail
Kulit muka : Iwan Koeswanna Judul kumpulan puisi : N. Riantiarno Jakarta, September 1983 Institut Kesenian Jakarta.