Baca PDF (OCR): Reflek fonem proto Melayu Polinesia dalam varian bidayuhik ribun

106 halaman · 106 halaman diproses dengan OCR· 143123 ms

Daftar isi
  1. ISBN 978-979-685-704-3
  2. Reflek Fonem PotoMelayu Polinesia
  3. dalam Varian i idyuhkRibun
  4. Dedy Ari Asfar
  5. IPic Rubl0
  6. sering ganggu tanda sayang ya! Terima kasih kepada Ibunda yang
  7. Sulah, Ibu Yustinawati, Ibu Maria Ita, Pak Asterius Lihoi, Pak
  8. mewariskan epistemologi lokal Bidayuhik kepada penulis. Berkat
  9. Akhirnya, penulis berharap, semoga laporan penelitian ini
  10. Pontianak, 6 November 2007
  11. Dedy Ari Asfar
  12. 45yang merupakan refleks dari PMP berupa split, merger, dan
  13. DAFTAR ISI
  14. Halaman
  15. BABI PENDAHULUAN
  16. 1.10 Sistematika Laporan Penelitian
  17. BAB II
  18. VARIAN BIDAYUHIK RIBUN
  19. 2.1 Pengantar 2.3 Diftongisasi Varian Bidayuhik Ribun
  20. 2.4 Refleks Fonem PMP dalam BR
  21. 2.4.1 Refleks Vokal dan Diftong PMP dalam BR
  22. 2.4.2 Refleks Konsonan PMP dalam BR 2.4.2.1 Refleks PMP *p
  23. 2.4.2.2 Refleks PMP *b
  24. 2.4.2.6 Refleks PMP *g 2.4.2.7 Refleks PMP *k
  25. 2.4.2.8 Refleks PMP *z/Z
  26. 2.4.2.9 Refleks PMP *j
  27. 2.4.2.10 Refleks PMP *m 2.4.2.11 Refleks PMP *n
  28. 2.4.2.12 Refleks PMP *η 2.4.2.13 Refleks PMP *s
  29. 2.4.2.15 Refleks PMP *q 2.4.2.16 Refleks PMP *1
  30. 2.4.2.17 Refleks PMP *R
  31. 2.4.3 Inovasi dan Retensi Fonem
  32. DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
  33. PMPProto-Melayu Polinesia
  34. Melayu
  35. Dayak
  36. Mengapit unsur fonem
  37. dan eksis untuk terus hidup dan berkembang menggunakan
  38. bahasa orang Ribun penting untuk dideskripsikan karena para
  39. 2 Bredsdorff dalam Yabit (2004:24) menerangkan sebab-sebab bahasa
  40. Secara linguistik, klasifikasi bahasa yang ada di
  41. Kalimantan Barat terbagi menjadi tiga kelompok besar bahasa, yaitu kelompok Bahasa Melayik, Bidayuhik, dan Tamanik.
  42. Adelaar (1995) menggunakan istilah Melayik untuk
  43. yang tidak biasanya dianggap sebagai dialek Melayu, termasuk
  44. /ason/ ~ Bugis /asəng/, padi *pajəy Tamanik /ase/ ~ Bugis /ase/
  45. mengelompokkan bahasa-bahasa di Kalimantan Barat memberi
  46. [tiga], [talu]∼ Bidayuhik [taru(h)], [toruh]. Melayik [lima] ~
  47. berpendidikan formal³, (4) sehat jasmani dan rohani, (5) dapat
  48. 3 Informan utama dalam penelitian ini minimal berpendidikan formal
  49. Peta 1.1 Lokasi Penelitian
  50. Tinggi
  51. Frikatif Tbs.
  52. Togo{η Toso°n
  53. *dilaq *nipay *diaq
  54. Tiga *təlu
  55. Hidup
  56. Hidung *ujuSun tondu³η
  57. Refleks PMP *i > BR i merupakan perubahan yang teratur,
  58. Refleks fonem vokal PMP *u > BR u merupakan perubahan yang
  59. Rf t a ea dd n
  60. Kulit *kulit
  61. Refleks fonem vokal PMP *m hadir dalam BR menjadi m, η, n,
  62. Refleks fonem vokal PMP *n hadir dalam BR menjadi n, jn, dan
  63. Hujan *quZan
  64. PMP *n > BR n, j, η
  65. Burung
  66. Gigi *ipən
  67. Hidung *ujuSun
  68. Refleks PMP *1, *R, dan *r pada posisi awal, tengah, dan akhir
  69. LAMPIRAN 1
  70. THE INTERNATIONAL PHONETIC ALPHABET
  71. (revised to 1993, corrected 1996)
  72. Isntrve
  73. Eor l Bih
  74. LAMPIRAN III
  75. PETA ADMINSTRASI
  76. KABUPATEN SANGGAU
  77. KE SELUAS
  78. KETAPANG
  79. EBALA BEWAK KETERANGAN
  80. LAMPIRAN IV
  81. PETA PROVINSI KALIMANTAN BARAT
  82. LAMPIRAN V
  83. Peta Penyebaran Kelompok Budayuhik di Pulau Borneo
  84. Versi Wurm dan Hattori (1983)
  85. short machete, chopping
  86. PERPUSTAKAAN
  87. PUSAT BAHASA
  88. DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

ISBN 978-979-685-704-3

Reflek Fonem PotoMelayu Polinesia

dalam Varian i idyuhkRibun

Dedy Ari Asfar

BALAI BAHASA PROVINSI KALIMANTAN BARAT PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009

IPic Rubl0

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas limpahan rahmat-Nya kepada penulis sehingga dengan izin dan kehendak-Nya, penulis diberi kemampuan untuk menyelesaikan laporan penelitian Refleks Fonem Proto-Melayu Polinesia dalam Varian Bidayuhik Ribun sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Laporan penelitian ini mendapatkan bantuan secara langsung dan tidak langsung dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. James T. Collins yang telah mengajar dan menghadiahkan buku-buku tentang linguistik komparatif historis; mengirimkan pelbagai tulisan bahasa dan budaya Borneo; melibatkan penulis dalam membuat kajian lapangan di pedalaman Kalimantan Barat; dan bersedia memeriksa dan memberi catatan terhadap hasil laporan penelitian ini. Namun, tidak semua nasihat beliau mampu Penulis terjemahkan dalam laporan ini. Terima kasih sahabatku Albertus seorang linguis yang senang masalah hutan dan konflik etnik selalu menjadi teman diskusi yang menyenangkan, terus berjuang dan jangan berpaling dari ranah linguistik! Terima kasih juga untuk Sujarni yang berkenan membagi data persebaran masyarakat etnik di Kalimantan Barat. Terima kasih untuk Dr. Yusriadi yang selalu mengingatkan perlunya karya-karya akademik dipublikasikan dan disebarluaskan; Bidayuhik merupakan salah satu topik yang kita "rebut" dan diskusikan. Terima kasih penulis sampaikan kepada Kepala Balai Bahasa Kalbar yang telah memfasilitasi penelitian mandiri ini dan rekan- rekan peneliti di Balai Bahasa Kalbar atas kerja samanya, terus berjuang dengan idealisme sebagai pekerja akademik! Terima kasih penulis sampaikan juga kepada Prima Duantika yang bersedia membuat catatan dan membantu mengetik ketika masa- masa luang yang terbuang dan Daffa Priska Febianti yang selalu i PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

子 4

sabar menunggu giliran untuk menggunakan komputer, sering-

sering ganggu tanda sayang ya! Terima kasih kepada Ibunda yang

selalu berdoa demi keberhasilan penulis. Selanjutnya, terima kasih penulis sampaikan kepada Pak Antonius Siban, Pak Andi, Pak Se’en, Pak Ekuy Alian, Pak Yani, Pak Dono, Ibu Ida, Ibu

Sulah, Ibu Yustinawati, Ibu Maria Ita, Pak Asterius Lihoi, Pak

Heri Tornado, Pak Umba', Pak Nuranus dan lain-lain yang telah

mewariskan epistemologi lokal Bidayuhik kepada penulis. Berkat

Bapak dan Ibu, laporan penelitian ini ada. Mohon kerelaan dan keikhlasannya!

Akhirnya, penulis berharap, semoga laporan penelitian ini

bermanfaat bagi para peminat lingustik yang ingin lebih mendalami kekerabatan bahasa-bahasa Austronesia di KalimantanBarat.Apabilaadakekurangandan ketidaksempurnaan dalam laporan ini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

4w-24

Pontianak, 6 November 2007

Dedy Ari Asfar

00002439

ii

—4

ABSTRAK Penelitian ini memfokuskan masalah Refleks Fonem 一 Proto-Melayu Polinesia (PMP) dalam Varian Bidayuhik Ribun (BR). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan retensi dan inovasi fonem dalam varian Bidayuhik Ribun yang merupakan refleks fonem Proto-Melayu Polinesia. Berdasarkan hasil penelitian, varian BR memiliki enam vokal, yaitu vokal tinggi depan /i/, vokal tinggi belakang /u/, vokal rendah tengah /a/, vokal madya depan /e/, dan vokal madya belakang /o/, dan vokal madya tengah /ə/. Konsonan terdiri atas 19 fonem, yaitu tujuh konsonan plosif /p, b, t, d, k, g, ♀/ empat konsonan nasal /m, n, η, j/, dua konsonan lateral likuida /l, r/, dua konsonan frikatif /s, h/, dua konsonan afrikat /c, j/, dan dua konsonan semivokal /w, y/. Selain itu, varian BR mengalami proses diftongisasi vokal pada posisi suku kata akhir. Refleks fonem PMP dalam BR memperlihatkan adanya inovasi dan retensi. Inovasi fonem BR

45yang merupakan refleks dari PMP berupa split, merger, dan

substitusi.

5 4

iii

S 如

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR BAGAN DAFTAR PETA 制 DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

BABI PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
1.2 Masalah Penelitian
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
1.5 Tinjauan Pustaka
1.6 Kerangka Teori
1.7 Metode Penelitian14
1.7.1 Penelitian Kepustakaan15
1.7.2 Penelitian Lapangan15
1.7.2.1 Pengumpulan Data Lapangan16
1.7.2.1.1 Informan17
è

1.7.2.1.2 Daftar Tanyaan atau Soal Selidik18
1.7.2.1.3 Perekaman19
21 An

1.8 Analisis Data
1.9 Daerah Penelitian22
24

1.10 Sistematika Laporan Penelitian

iv

REFLEKS FONEM PROTO-MELAYU POLINESIA DALAM

BAB II

VARIAN BIDAYUHIK RIBUN

2.1 Pengantar 2.3 Diftongisasi Varian Bidayuhik Ribun

2.4 Refleks Fonem PMP dalam BR

2.4.1 Refleks Vokal dan Diftong PMP dalam BR

2.4.1.1 Refleks PMP *i
2.4.1.2 Refleks PMP *u
2.4.1.3 Refleks PMP *ə
2.4.1.4 Refleks PMP *a
2.4.1.5 Refleks Diftong PMP dalam BR

2.4.2 Refleks Konsonan PMP dalam BR 2.4.2.1 Refleks PMP *p

2.4.2.2 Refleks PMP *b

2.4.2.3 Refleks PMP *d
2.4.2.4 Refleks PMP *D
2.4.2.5 Refleks PMP *t

2.4.2.6 Refleks PMP *g 2.4.2.7 Refleks PMP *k

2.4.2.8 Refleks PMP *z/Z

2.4.2.9 Refleks PMP *j

2.4.2.10 Refleks PMP *m 2.4.2.11 Refleks PMP *n

2.4.2.12 Refleks PMP *η 2.4.2.13 Refleks PMP *s

2.4.2.14 Refleks PMP *S

2.4.2.15 Refleks PMP *q 2.4.2.16 Refleks PMP *1

2.4.2.17 Refleks PMP *R

2.4.2.19 Refleks PMP *w

2.4.3 Inovasi dan Retensi Fonem

V 冬 d

..25
...25
....25
..31
..34
..34
..34
..35
.36
.37
..37
..38
..38
.39
..39
.40
.40 41 41 42
.42
.43
.43
.44
.44
.45
.45 46
.46
.47
.47
2.2. Sistem Fonem Vokal dan Konsonan Bidayuhik Ribun

2.4.3.1 Inovasi Fonem47
2.4.3.1.1 Split
2.4.3.1.2 Merger.55
2.4.3.1.3 Subtitusi.56
2.4.3.1 Retensi Fonem
BAB III PENUTUP

.60
4.1 Pengantar
4.2 Simpulan60
4.3 Saran62
9

Daftar Pustaka

Lampiran I ... Lampiran II.72 73 Lampiran III Lampiran IV74 Lampiran V .75 Lampiran VI76 Lampiran VII92

vi

a 4 DAFTAR TABEL No. Tabel Halaman

2.1 Distribusi Fonem Vokal Varian Bidayuhik Ribun 30
2.2 Ribun Inventarisasi Konsonan Varian Bidayuhik 32
2.3 Distribusi Fonem Konsonan Varian Bidayuhik 33

Ribun

口

二 D

a vii e

DAFTAR BAGAN

No. Bagan Halaman 29 Vokal Bidayuhik Ribun

2.1
5 4

合 viii

DAFTAR PETA No. Peta Halaman

1.1 Lokasi Penelitian 26
é 三

e A

ix e

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

PMPProto-Melayu Polinesia

BR Bidayuhik Ribun
BI M D Bahasa Indonesia
Bs Bersuara Bentuk berkembang dari Di lingkungan
[] 11 Mengapit unsur bunyi
{} Mengapit unsur morfem

三

Melayu

Dayak

Tbs Takbersuara
* Asterik, melambangkan bentuk purba
> < 1 Bentuk berubah menjadi

Mengapit unsur fonem

x

é

N Nasal K Konsonan V Vokal a Bunyi schwa seperti pada kata beri 8 0 Kosong (zero) 2 Konsonan plosif glotal tidak bersuara Konsonan nasal palatal n 9 Konsonan nasal velar η -9Konsonan frikatif velar bersuara Y 3 Berkorespondensi e 9

xi e

BABI PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian terhadap bahasa orang Ribun atau Hibun di wilayah Kabupaten Sanggau dalam beberapa tahun terakhir ini masih belum banyak diminati oleh linguis. Catatan yang ada menunjukkan bahwa kajian sepintas telah dilakukan Hudson
巴 (1970) terhadap bahasa Ribun. Hal ini tampak dari catatan kaki yang dibuat Hudson (1970) dengan mengindentifikasi adanya perubahan bunyi // pada bahasa Melayu menjadi /h/ dalam bahasa Ribun. Misalnya, Melayu /kulit/ menjadi Ribun /kuhi?/; Melayu /bulu/ menjadi Ribun /buhuh/. Namun, ada juga kajian terkini yang sudah cukup mendalam mengenai pemakaian bahasa orang Ribun yang dilakukan oleh Asfar (2006). Penelitian Asfar (2006) mengklasifikasikan bahasa Ribun yang dituturkan di s kawasan Hulu Sungai Tayan sebagai salah satu varian bahasa Bidayuhik. 0 Penelitian Asfar (2006) terhadap bahasa orang Ribun semakin mengukuhkan pengetahuan persebaran bahasa dan etnisitas di Kalimantan Barat yang selama ini masih sangat terbatas. Karena, wawasan tentang etnik dan bahasa yang telah dibangun lebih banyak berdasarkan pada pengetahuan yang e ditulis pakar-pakar kolonial (lihat Asfar 2005). Padahal, bahasa dan etnik di Kalimantan Barat sangat beragam dan kompleks 9secara linguistik dan antropologi. Malahan, kepelbagaian bahasa di Kalimantan Barat ini membuat para pakar linguistik mendudukan Kalimantan Barat sebagai tanah asal-usul bahasa Melayik Purba (lihat Collins 1995, 1998b, 1999a, 2006a; Adelaar 1995; Nothofer 1996; Bellwood 2000). Penelitian Refleks Fonem Proto-Melayu Polinesia dalam Varian Bidayuhik Ribun merupakan penelitian lanjutan yang e

disarankan Asfar (2006). Penelitian ini menggunakan sudut pandang linguistik komparatif historis yang melihat perubahan bunyi pada bahasa kerabat yang diturunkan dari bahasa purba. Artinya, fonem-fonem yang terdapat dalam varian Bidayuhik Ribun (BR) diasumsikan berasal dari fonem Proto-Melayu Polinesia (PMP). Penelitian seperti ini belum pernah dilakukan secara terperinci terhadap kelompok bahasa Bidayuhik di Kalimantan Barat kecuali beberapa varian Melayik dan Melayu pada umumnya (lihat Collins 1996, 2005; Nothofer 1996; Susilo dkk 2002). Penutur varian Bidayuhik Ribun ini diperkirakané berjumlah sekitar 18.902 jiwa yang tersebar di sekitar Kecamatan Tayan Hulu, Tayan Hilir, Bonti, Kembayan, dan Parindu.' Kenyataan ini menunjukkan bahwa orang Ribun mampu bertahan

dan eksis untuk terus hidup dan berkembang menggunakan

bahasa ibu yang diwariskan kepada mereka. Oleh karena itulah, pendokumentasian dan penelitian

bahasa orang Ribun penting untuk dideskripsikan karena para

penuturnya masih memelihara dengan baik bahasa ini. Apalagi bahasa selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu² sehingga penelitian terhadap varian Bidayuhik Ribun merupakan suatu usaha untuk melihat pemakaian bahasa tersebut sebagai

Berdasarkan hasil penelitian etnolinguistik yang dilakukan oleh Institut Dayakologi, terdapat 91 kampung yang melabelkan diri sebagai Orang Ribun atau Hibun. Kategori Ribun/Hibun sendiri diklasifikasikan menjadi Hibun Sobo’ Hibun Dohit, dan Hibun Tudo. Fenomena ini menunjukkan kekompleksan bahasa dan etnik Ribun secara intraetnik di tataran lokal (lihat Sujarni 2006).

2 Bredsdorff dalam Yabit (2004:24) menerangkan sebab-sebab bahasa

berubah karena beberapa faktor, yaitu akibat salah dengar, salah paham, salah pengambilan, kecacatan alat tutur, kemalasan, analogi, keinginan untuk berlainan, keperluan untuk mengutarakan ide-ide baru, dan pengaruh dari bahasa-bahasa asing.

1d

sebuah khazanah kekayaan lokal yang perlu digali secara mendalam. Selain itu, dengan membuat penelitian terhadap pemakaian bahasa di kalangan orang Ribun—dapat membina dan menimbulkan keyakinan kepada para penutur bahasa tersebut untuk lebih memantapkannya sebagai bahasa lingua franca intraetnik yang wajib dipertahankan dan diapresiasi secara positif.

1.2 Masalah Penelitian
3 Penelitian lingusitik historis komparatif dalam penelitian ini memfokuskan masalah Refleks Fonem Proto-Melayu Polinesia (PMP) dalam Varian Bidayuhik Ribun (BR). Masalah ini dititikberatkan pada masalah retensi dan inovasi fonem dalam varian BR yang merupakan refleks dari PMP.

1.3 Tujuan Penelitian
é Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan retensi dan inovasi fonem dalam varian Bidayuhik Ribun yang merupakan refleks fonem Proto-Melayu Polinesia. Oleh karena itu, penelitian ini mendeskripsikan fonem-fonem yang dimiliki Proto-Melayu Polinesia dalam bahasa Bidayuhik Ribun

1.4 Manfaat Penelitian
心 Penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoretis dan praktis. Secara teoritis, manfaat penelitian ini dapat mengidentifikasi variasi bahasa Bidayuhik Ribun yang ditemukan di daerah penelitian. Deskripsi ini diharapkan bermanfaat bagi perkembangan linguistik bagi bahasa-bahasa Austronesia yang ada di Nusantara. Manfaat praktis penelitian ini antara lain untuk pembinaan bahasa daerah. Selain itu, hasil penelitian ini memberikan sumbangan yang berharga dalam bidang kekerabatan bahasa di Pulau Kalimantan. 品

1.5 Tinjauan Pustaka Penelitian bahasa-bahasa pribumi di Kalimantan Barat telah dimulai sejak pertengahan abad ke-19 yang dilakukan oleh seorang misionaris asal Amerika dalam bentuk catatan ringkas yang kemudian menerbitkan catatan tersebut dalam bentuk tiga pucuk surat dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Catatan yang dibuat misionaris ini memuat maklumat bahasa Dayak yang dituturkan oleh masyarakat Oto di Karangan. Beliau menyenaraikan perbedaan bahasa Dayak (D) dan bahasa Melayu (M) di kawasan tersebut, misal M /radang/ ~ D /radakn/, M /bulan/~ D /bura'n/, dan M /jagung/ ~ /jagokn/ (lihat Aman 2005:33—34, Collins 2006b). Pada abad ini masih belum ada catatan komprehensif mengenai klasifikasi bahasa yang ada di Kalimantan Barat. Penelitian bahasa di kawasan Kalimantan Barat mulai menunjukkan usaha yang menggembirakan tatkala seorang ahli linguistik bernama A.B. Hudson mengadakan survei bahasa di Pulau Kalimantan. Hudson memulai kerja lapangannya di Kalimantan Selatan dan menggumpulkan daftar kata terbatas lebih dari dua puluh lima varian bahasa Kalimantan. Ia menggunakan beberapa daftar kata ini untuk membuat klasifikasi varian yang digunakan di Lembah Sungai Barito. Pada penelitian awal tersebut, Hudson mengklasifikasikan bahasa dengan mengikuti tradisi yang telah ada, yaitu menggunakan istilah "Dayak" untuk merujuk bahasa yang digunakan oleh orang-orang asli Kalimantan, yakni bahasa yang tidak menunjukkan afiliasi yang lebih dekat dengan bahasa pribumi daerah di luar Kalimantan daripada bahasa di Kalimantan sendiri. Hudson menggunakan “Melayu" sebagai istilah untuk menunjukkan bahasa yang lebih dekat hubungannya dengan bahasa Melayu di daerah Sumatera Selatan dibanding dengan bahasa pribumi lainnya di Kalimantan (lihat Hudson dalam Collins 1999b).

Hudson kembali melakukan penelitian bahasa-bahasa asli Kalimantan, yaitu di Sarawak dan Kalimantan Barat pada tahun 1969--1970. Menurut Hudson (1970) klasifikasi Melayu-Dayak yang pernah dibuatnya pada tulisan (Hudson 1967) mulai diperhalus. Pertama, Hudson menemukan bahwa bertentangan dengan penamaan yang populer sampai sekarang, Selako adalah bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan bahasa Melayu, walaupun Selako, seperti Iban pada umumnya tidak beragama e Islam. Jadi, untuk menekankan pemecahan bahasa dan budaya antara Selako dan bahasa pribumi yang telah mendapat cap Dayak Gunung. Hudson memperkenalkan istilah Dayak Melayik untuk merujuk varian bahasa yang dipakai oleh orang Dayak bukan Islam, yang kenyataannya lebih dekat hubungannya dengan bahasa Melayu dibanding dengan bahasa Kalimantan lainnya. Jadi Dayak Melayik dimaksudkan untuk membedakannya dengan Dayak Gunung di daerah Kalimantan S Barat. Hudson (1970:302) mengakui bahwa Dayak Melayu adalah istilah yang kedengaran tidak baik, tetapi Hudson mendukung istilah itu sebagai pilihan lain dari yang digunakan oleh Cense dan Uhlenbeck (1958) dengan menamakan Iban sebagai dialek Melayu, yang banyak menimbulkan kemarahan masyarakat setempat. Selanjutnya, dari istilah Dayak Melayik, Hudson memperkenalkan istilah Melayik sebagai suatu istilah 4umum untuk merujuk pelbagai turunan bahasa Melayik-Purba, seperti bahasa Melayu, Iban, Selako, dan Minangkabau di mana pun mereka berada. Hudson juga memberi istilah Dayak Islamik pada kelompok Dayak yang beragama Islam. Hudson (1970) mengakui bahwa kategori ini masih sangat kasar dan umum. Dalam tulisan Hudson (1978), tidak lagi digunakan istilah Dayak Islamik. Keputusan Hudson ini dianggap oleh Collins (1999b) sebagai putusan yang bijaksana.

e

Secara linguistik, klasifikasi bahasa yang ada di

Kalimantan Barat terbagi menjadi tiga kelompok besar bahasa, yaitu kelompok Bahasa Melayik, Bidayuhik, dan Tamanik.

Adelaar (1995) menggunakan istilah Melayik untuk

menggambarkan suatu subkelompok yang anggotanya termasuk dialek Melayu dan juga varian bahasa yang berhubungan dekat

yang tidak biasanya dianggap sebagai dialek Melayu, termasuk

Iban, Selako, Kendayan. Pada awalnya, para penutur bahasa Bidayuhik dikenal dengan sebutan bahasa Dayak Gunung Land Dayak' (Hudson 1970). Istilah Bidayuhik dipopulerkan oleh Collins (1999b). Bahasa Tamanik dianggap memiliki hubungan yang erat dengan bahasa di Sulawesi, yaitu bahasa Bugis. Hal ini dapat dilihat pada tataran fonologi, kesamaannya adalah adanya refleks s untuk bahasa Proto-Polinesia Purba *j mengalami inovasi bersama dalam bahasa Tamanik dan Bugis, misal hari *qanjaw Tamanik /aso/ ~ Bugis /əsso/, nama *ajan Tamanik

/ason/ ~ Bugis /asəng/, padi *pajəy Tamanik /ase/ ~ Bugis /ase/

(lihat Adelaar 1994). Penelitianyang dilakukan Hudson dalam

mengelompokkan bahasa-bahasa di Kalimantan Barat memberi

kesan yang sangat berarti. Hudson menemukan perbedaan yang mendasar antara kelompok bahasa Melayik dengan bahasa Bidayuhik. Perbedaan yang sangat signifikan terjadi pada angka bilangan 1—10. Menurut Hudson ciri kata bilangan Melayik lebih mengarah pada ciri bilangan bahasa Melayu sedangkan bahasa Bidayuhik memiliki ciri tersendiri. Misalnya, Melayik

[tiga], [talu]∼ Bidayuhik [taru(h)], [toruh]. Melayik [lima] ~

Bidayuhik [rima?], [rimo(h)]. Kata-kata ini diuji lagi dengan kata Melayik [tulan]~ Bidayuhik [turakņ], Melayik [kulit]~ Bidayuhik [kurit]. Data di atas memperlihatkan adanya

korespondensi bunyi antara /V/ dalam bahasa Melayik dan bahasa kerabatnya dengan /r/ dalam bahasa Bidayuhik. Penelitian lain yang sangat berarti dalam kajian bahasa Bidayuhik adalah penelitian Topping (1970) yang mengadakan penelitian bahasa Bidayuhik dengan menerapkan kaidah leksikostatistik. Dalam penelitiannya, Topping menggunakan 215 item kosakata dari daftar kata dasar yang lazim digunakan para linguis pada 30 buah kampung di Sarawak. Dalam penelitiannya itu, Topping sudah sampai pada tahap analisis. Topping beranggapan bahwa persentase kognat yang tinggi dianggap dialek yang sama tetapi Topping juga menghadapi kesulitan dalam menentukan status sebuah varian apakah bahasa, dialek, atau subdialek karena tidak ada formula baku dalam menentukan suatu varian termasuk bahasa yang terpisah atau masih dialek yang sama dalam satu bahasa. Namun, persentase kognat 70% sering Topping gunakan untuk menentukan suatu varian termasuk è dialek. Selain itu, digunakan juga uji kesalingpahaman untuk menentukan suatu varian termasuk bahasa atau dialek. Hasil analisis Topping menunjukkan bahwa terdapat lima kelompok dialek yang berasingan dalam bahasa Bidayuhik semuanya menunjukkan persentase kata seasal yang kurang dari 65%. Lima dialek ini tidak dapat diartikan antara satu sama lainnya maka dianggap lima bahasa yang berlainan. Dalam perhitungannya itu, Topping membuat kesalahan dengan memasukkan satu varian bahasa Melayik, yaitu Selako ke dalam kelompok bahasa Bidayuhik. Selanjutnya, penelitian terkini variasi dialektal Bidayuhik telah dijalankan oleh Chong Shin dan Collins (2001). Mereka menemukan enam varian Bidayuhik yang dituturkan oleh masyarakat Lembah Sungai Sekadau, yaitu Nanga Rakan, Lubuk Tajau, Leminang, Nanga Mongkok, Selampong, dan Canayan. Berdasarkan penelitian tersebut korespondensi bunyi l:r yang

pernah dibuat oleh Hudson dapat diperluas lagi menjadi l:r:y:3:h:y:ø pada varian Bidayuhik di Sungai Sekadau. Berdaśarkan sudut pandang linguistik historis komparatif, Chong Shin dan Collins melihat bahwa fakta korespondensi pada bahasa Bidayuhik ternyata lebih kompleks. Walaupun hanya mengkaji enam varian, mereka membuktikan hal ini lewat beberapa kata Bidayuhik di Sungai Sekadau yang diturunkan dari rekonstruksi Proto-Melayu Polinesia dengan *R. Contohnya, *Rumaq, *ZaRum, *baqəRat, *Rimba. Ada juga kata lain yang tidak direkonstruksikan tetapi dapat dibandingkan dengan kata-kata dalam bahasa Melayu dengan bunyi /r/, misalnya 'kera', ‘kerak', dan kura-kura'. Chong Shin dan Collins mengemukakan bahwa *R dan *1 telah bergabung dalam bahasa Bidayuhik di Sungai Sekadau. Chong Shin dan Collins beranggapan bahwa jika kata-kata di atas bukan pinjaman dari bahasa Melayu maka merupakan bentuk warisan. Menurut Chong Shin dan Collins, ada tiga aspek sistem bunyi bahasa Bidayuhik di Sungai Sekadau yang juga menarik selain penyatuan *1 dan *R. Pertama, kata-kata yang terdiri dari dua suku kata (dwisuku) biasanya memperlihatkan bunyi /o/ sebagai bentuk turunan dari bunyi *ə dalam bahasa Austronesia Purba pada posisi suku praakhir atau pada suku akhir. Misalnya, *baqəRat 'berat’ dengan bentuk turunan Nanga Rakan [boyat] dan Canayan [bohat] dan *qutək ‘otak’ dengan bentuk turunan Leminang dan Selampong [ontok], Canayan dan Lubuk Tajau [untok]. Kedua, banyak bentuk turunan *a yang berubah menjadi /o/ pada suku praakhir, ada juga sejumlah pengecualian. Ketiga, mereka menemukan bahwa bentuk turunan dari PMP *dilaq lidah’tidak memperlihatkan metatesis /d/ dan /l/, seperti pada bahasa Melayu *dilaq > lidaq (>lidah). Dalam bahasa Bidayuhik *d dan *1 tidak mengalami pergantian, tetapi semua varian

Bidayuhik yang dikaji di Sekadau memperlihatkan palatalisasi *d: *d > j dalam kata yang diturunkan dari *dilaq. Contohnya, Lubuk Tajau [jiyah], Selampong [jiwa], Canayan [jihah], Nanga Mongkok [jira] dan Leminang [jirah]. Namun bentuk turunan *1 menjadi *r di Nanga Mongko dan Leminang tidak dapat dijelaskan. Bentuk turunan *LuZaq meludah' dalam varian Melayu dan Melayik memperlihatkan /d/, ludah, dan bukan /j/ sebagai bentuk turunan *Z. Dalam varian-varian Bidayuhik di lembah Sungai Sekadau, *Z menjadi /j/, misal Lubuk Tajau [ņayuja], Nanga Mongkok [ņəyujah] dan Canayan [ņahujah] 'meludah'. Penelitian Bidayuhik lain di Kalimantan Barat pernah juga dilakukan Effendy et.al (1987) merupakan kajian bahasa Bidayuhik yang berasaskan pada bahasa Bidayuh yang dituturkan di kawasan Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Kajian ini merangkumi tiga aspek, yaitu fonologi, morfologi, dan sintaksis bahasa Bidayuh. Selain itu, ada juga Kroeger (1994) mendeskripsikan tiga varian Bidayuhik di Sarawak, yaitu Biatah, Bau-Jagoi, dan Bukar Sadong. Kroeger mendeskripsikan sistem fonologi bahasa Biatah, seperti ciri-ciri suprasegmental diantaranya tekanan, kepanjangan, dan penyengauan; ciri-ciri segmental seperti deskripsi vokal, konsonan, diftong, serta gugus vokal dan konsonan dalam kata. Kroeger juga mengklasifikasi kelompok Bidayuhik tersebut dengan menggunakan kaidah leksikostatistik untuk menentukan kekerabatan antarvarian Biatah, Bau-Jagoi, dan Bukar Sadong, dan Lara'. Usaha lain dalam penelitian bahasa Bidayuhik dapat dilihat melalui tulisan Albertus (2003) yang melihat kedudukan dan ciri-ciri fonologi varian Tengon yang dituturkan di Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak sebagai salah satu varian Bidayuhik. Sujarni (2004) merupakan kajian yang melihat

sebaran varian bahasa Bidayuhik Semandang di Ketapang. Aman (2005) membuat rekonstruksi dan klasifikasi Bahasa Bidayuhik Utara Purba dengan menggambil sampel varian-varian Bidayuhik di bagian utara yang berbatasan langsung antara Kalimantan Barat, Indonesia dan Sarawak, Malaysia. Asfar (2006) mengamati enam varian Bidayuhik di Hulu Sungai Tayan. Hasil penelitian Asfar menunjukkan bahwa keenam varian tersebut memiliki hubungan kekerabatan sangat dekat karena mengalami retensi dan inovasi bersama. Bahkan, memiliki kekerabatan dengan varian Bidayuhik di Sarawak dan di Kalimantan Barat. Penelitian Asfar (2006) menyarankan untuk melihat secara keseluruhan refleks fonem Proto-Melayu Polinesia pada semua varian BHST agar dapat dimanfaatkan untuk merekonstruksi fonem-fonem Bahasa Bidayuhik Purba (BBP).

1.6 Kerangka Teori Kajian linguistik historis komparatif modern pada mulanya dipelopori oleh Sir William Jones (1746—1794). Jones adalah seorang hakim Inggris yang ditempatkan di India. Pada tahun 1786 beliau memberikan sambutan yang sangat terkenal mengenai bahasa Sanskerta. Dalam sambutannya itu, Jones secara tidak langsung telah mengemukakan dua konsep penting dalam disiplin linguistik historis komparatif, yaitu hubungan bahasa dan bahasa purba. Bahasa Sanskerta, Latin, Yunani, dan Jermanik dilihat oleh Jones sebagai satu keluarga bahasa yang mempunyai hubungan yang sangat dekat dan diduga memiliki satu bahasa asal (lihat Crowley 1992:24; Bloomfield 1995:10; Robins 2003:167). Penelitian tentang perubahan bunyi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam bidang linguistik historis komparatif (Campbell 1998:16). Perubahan bunyi merujuk pada satu istilah yang menerangkan perubahan sistem bunyi bahasa

dari satu tahap ke tahap lain dalam sejarahnya (Kridalaksana 1983:133). Dalam pengertian yang luas, perubahan bunyi adalah perubahan bentukfonetik,baik segmental maupun suprasegmental yang diakibatkan oleh proses fonologis (Jeffers dan Lehiste 1979:13). Perubahan bunyi biasanya diklasifikasikan menurut kehadiran bunyi itu sendiri, yaitu apakah bunyi itu hadir secara 建 teratur (regular) ataupun tidak teratur (sporadic). Perubahan sporadik hanya terjadi pada satu atau beberapa kata dan tidak pada keseluruhan kata tersebut. Dengan kata lain, kita tidak dapat meramalkan kata-kata manakah yang akan mengalami perubahan. Contohnya, speech pada bahasa Inggris modern mengalami pengguguran r dari bahasa Inggris Purba spræc ‘bahasa, pertuturan', sedangkan r biasanya tidak digugurkan pada konteks ini seperti yang terdapat pada kata spring, sprig, spree. Begitu juga pada kata glamour berasal dari kata grammar, perubahan ini terjadi melalui perubahan sporadik r menjadi l sedangkan perubahan ini tidak teratur pada kata-kata lain, misal graft, grain, grasp (Campbell 1998:17). Perubahan bunyi dapat dianalisis dengan kaidah perbandingan. Campbell (1998:112—114) menyarankan tiga langkah minimum yang perlu dilakukan dalam usaha menyusun kaidah perbandingan. Langkah-langkah tersebut tidak semestinya tersusun tetapi lebih baik dilakukan mengikut susunan yang biasa seperti berikut. Langkah pertama, menyusun kata sepadan yang berpotensi di antara bahasa-bahasa berkait. Kata-kata sepadan ini biasanya dari kumpulan kata-kata asas, seperti anggota tubuh, istilah kekerabatan yang terdekat, angka-angka dasar, istilah geografi umum. Kata-kata tersebut biasanya tidak akan mudah menerima peminjaman dari bahasa lain.

Langkah kedua, kita menentukan korespondensi bunyi, yaitu bunyi-bunyi yang diturunkan dari bunyi yang sama yang hadir secara mengulang. Bunyi-bunyi yang mengulang di sini bermaksud bunyi-bunyi tersebut akan dijumpai pada kata-kata lain. Langkah ketiga, kita merekonstruksi bunyi purba, yaitu bunyi asal pada bahasa purba yang telah menghasilkan bunyi-bunyi pada bahasa kerabat yang telah kita kaji. Bunyi-bunyi tersebut bisa sama bentuknya dengan bahasa sekarang. Namun, tidak kurang juga dalam beberapa kasus, bunyi-bunyi tersebut telah mengalami perubahan pada semua atau sebagian dari bahasa turunannya. Perubahan tersebut bisa mengakibatkan bunyi-bunyi tersebut tampak lain dari bentuk asalnya pada tataran bahasa purba. Bunyi dan kata yang dihasilkan dari rekosntruksi akan ditandai dengan bintang *(asterik) yang bermaksud bunyi atau kata belum dibuktikan kewujudannya. Masalah hubungan antarbahasa sekerabat dalam telaah komparatif pada prinsipnya dapat dibuktikan berdasarkan unsur-unsur warisan dari bahasa asal atau protobahasa. Para linguis percaya bahwa bahasa itu tidak statis tetapi senantiasa berubah dan merupakan kelanjutan dari bahasa asalnya (proto). Ada beberapa proses yang mengakibatkan terjadinya perubahan bunyi. Sehubungan dengan itu, perubahan bunyi yang lazim terjadi dalam suatu bahasa menunjukkan bentuk retensi dan inovasi. Retensi adalah unsur warisan dari bahasa asal yang tidak mengalami perubahan pada masa sekarang. Artinya retensi adalah milik umum untuk seluruh rumpun bahasa yang diwarisi oleh beberapa bahasa kerabat dari bahasa purba. Inovasi memperlihatkan perubahan bunyi proto ke dalam bahasa sekarang. Artinya, suatu bahasa telah mengalami perubahan dan kemudian telah berpisah meninggalkan bentuk-bentuk perubahan ini pada bahasa turunannya (lihat Crowley 1992:164; Campbell

1998:170). Perubahan bunyi yang lazim wujud dalam suatu bahasa dapat dalam bentuk asimilasi, disimilasi, pelesapan, merger (penyatuan), split (pemisahan), metatesis, sinkope, apakope, protesis, dan epentesis. Asimilasi adalah suatu proses adanya dua bunyi yang menjadi sama atau serupa disebabkan oleh pengaruh satu bunyi pada satu bunyi yang lain atau suatu proses perubahan bunyi yang dipengaruhi oleh bunyi tetangganya. Contoh, bahasa Latin noctem (malam) menjadi notte dalam bahasa Italia, yaitu /k/ berasimilasi dengan /t/ yang mengikutinya (Crystal 1987:328). Disimilasi adalah suatu proses yang mengakibatkan dua hal yang sama menjadi tidak sama. Misal, pasangan bunyi r dan r dihindarkan dan menjadi l dan r, seperti kata belajar (dari berajar) dan telantar (dari terantar) (KBBI 2005:268). Pelesapan memperlihatkan perubahan protofonem menjadi zero (Ø) pada bahasa sekarang. Substitusi merupakan sebuah protofonem menjadi fonem lain pada bahasa sekarang (Fernandez 1996:22). Merger (penyatuan) adalah dua bunyi yang menjadi satu. Hal ini terjadi dalam bahasa Inggris Purba, misal pada bahasa Inggris Purba /e:/ dan /æ:/ menjadi /i:/ pada bahasa Inggris modern seperti kata clean ‘bersih' (Inggris Purba clæne) (Crystal 1987:328). Split (pemisahan) adalah suatu proses perubahan dari satu bunyi terpecah menjadi dua atau perubahan sebuah protofonem menjadi dua fonem atau lebih pada bahasa sekarang. Contoh, dalam bahasa Inggris Purba yang direalisasikan sebagai [z] hanya di antara bunyi-bunyi bersuara, seperti dalam perkataan thousand ‘ribu’(Inggris Purba thÎsend); dalam bahasa Inggris Modern pula, /z/ berpecah dari /s/ dan menjadi fonem tersendiri (Crowley 1992:49).

Metatesis adalah perubahan urutan kata dalam kalimat, atau urutan bunyi dalam kata menyimpang dari penggunaan biasa atau dengan kata lain pertukaran dua bunyi yang menggantikan tempat satu dengan yang lain. Contoh, bahasa Inggris Purba brid menjadi bird tetapi perubahan seperi ini dapat juga terjadi karena tersilap kata, misal ask ‘bertanya' menjadi aks (Crystal 1987:217). Sinkope adalah pengguguran satu atau lebih bunyi atau huruf dari tengah-tengah kata. Contoh, pengguguran dalam tidak menjadi tak dan sahaja menjadi saja atau bahasa Latin domina menjadi bahasa Sepanyol donna (lihat Yabit 2004:28; Kridalaksana 1983:154). Apokope, yaitu pengguguran satu atau lebih suatu bunyi atau huruf di ujung kata. Contohnya penyebutan an sebagai /ən/ dalam snakes and ladders atau penyebutan kata of seperti dalam cup of tea (Yabit 2004:29; Kridalaksana 1983:13). Epentesis adalah penyisipan di tengah kata, yang terdiri atas satu bunyi atau lebih, atau satu huruf atau lebih. Beberapa varian bahasa Inggris selalunya menyisipkan vokal tengah /ə/ di antara dua konsonan dalam perkataan [film]‘filem’ untuk menghasilkan perkataan [filəm] dalam bahasa Melayu (Yabit 2004:29). Dalam bahasa Indonesia misalnya, penyisipan [ə] dalam kata [kəlas] (bandingkan Kridalaksana 1983:41).

1.7 Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Agar dapat menguraikan tujuan penelitian yang ingin dicapai, penelitian ini menggunakan kaidah penelitian yang bersifat kepustakaan (dokumen) dan kajian lapangan yang komprehensif.
1.7.1 Penelitian Kepustakaan

Suatu ciri yang sangat menonjol dalam sebuah tulisan ilmiah adalah tulisan disusun berdasarkan teori. Teori dirujuk untuk melihat sumber ilmu yang dapat dijadikan sebagai referensi pada saat merancang penelitian dan selama penelitian berlangsung. Dalam suatu tulisan yang bercirikan penelitian, data yang dikumpulkan tentunya berdasarkanpengalaman- pengalaman atau data empiris seseorang yang telah lama melakukan penelitian terhadap komunitas atau objek penelitian, yang kemudian dijadikan premis awal dalam melihat fakta. Premis awal ini diolah kembali menjadi satu kajian yang bersifat penelitian sehingga dengan data empiris yang sudah ada dan dilanjutkan dengan penelitian lapangan—dapat mendeskripsikan struktur masyarakat dan membina teori yang menjelaskan struktur itu (Collins 2001). Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa dengan mengkaji data empiris yang sudah tersusun dalam bentuk tulisan, mengkaji teori dan referensi yang ada, serta membuat tinjauan terhadap kepustakaan yang relevan dengan objek penelitian akan semakin menyempurnakan hasil kajian. Oleh karena itu, penelitian kepustakaan menjadi data dasar dan bandingan untuk penelitian ini. Selain itu, penelitian kepustakaan dapat mendeskripsikan teori-teori yang relevan dan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya sesuai dengan objek kajian dalam penelitian ini.

1.7.2 Penelitian Lapangan Tujuan utama penelitian lapangan adalah penulis turun langsung ke lapangan dan menetap di lokasi penelitian dengan menerapkan metode observasi-partisipasi (Hutomo 1991:82). Metode observasi-partipasi melibatkan penulis sebagai peneliti, yang terlibat secara langsung dalam kehidupan masyarakat, bergaul, dan bertemu ramah dengan masyarakat lokal yang

menjadi objek penelitian. Metode ini merupakan tradisi profesional para pakar antropologi (Shamsul 1992:11). Usaha ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan data objek penelitian dengan melakukan pendekatan terhadap kehidupan masyarakat lokal sehingga pemunggutan kosakata dan perekaman pertuturan lisan, yang menjadi fokus penelitian dapat dilaksanakan dengan baik, lancar, dan tanpa hambatan. Prinsipnya, dalam penelitian etnografi, harus dibina dan dibangun hubungan yang harmonis, saling memercayai, bersikap rendah hati, tidak sok tahu, dan menggurui serta mengembangkan sikap yang menyenangkan masyarakat, terutama terhadap informan yang hendak diambil datanya. Komunikasi antara peneliti dengan masyarakat harus terjalin dengan baik. Oleh kerana itu, kemampuan peneliti untuk mengomunikasikan maksud dan tujuannya kepada informan dan masyarakat merupakan realitas lapangan yang mesti dikukuhkan dalam pergaulan dan sikap yang saling menghargai (lihat Spradley

1997).
1.7.2.1 Pengumpulan Data Lapangan Penelitian lapangan bertujuan untuk mengumpulkan data yang ada di lokasi kajian. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancara langsung informan-informan di daerah penelitian. Objek penelitian ini adalah BR yang dipakai oleh penutur dan penduduk asli yang tinggal di daerah penelitian, yaitu BR di kampung Riyai. Oleh karena itu, populasi penelitian ini adalah semua tuturan BR dengan aspek-aspeknya. Berkaitan dengan populasi di atas, sampel yang dipilih adalah tuturan BR yang telah ditetapkan dalam bentuk daftar tanyaan sekitar 200 kosakata dasar yang dikembangkan menjadi 467 kosakata yang berkaitan dengan BR dan rekaman tuturan lisan. Dengan demikian, untuk melakukan penelitian ini, tiga asas utama yang

harus dilakukan dalam pengumpulan data lapangan adalah pemilihan informan, penyusunan daftar tanyaan atau soal selidik, dan perekaman. Ketiga aspek ini diuraikan sebagai berikut.

1.7.2.1.1 Informan Berdasarkan penelitian dialek geografi tradisional, pemilihan informan yang baik biasanya didasarkan pada informan yang tidak pernah meninggalkan daerahnya, sudah berusia lanjut atau tua, orang kampung, dan berjenis kelamin
基 lelaki. Pemilihan informan yang demikian dikenal dengan istilah NORM, yaitu Nonmobile, Old, Rural, dan Male. Menurut pandangan sebagian ahli dialektologi, informan yang memenuhi syarat seperti ini dianggap lebih konservatif đan mungkin mengekalkan bentuk pertuturan asli daerahnya. Namun, anggapan ahli dialek geografi tradisional ini diragukan kebenarannya dan mendapat kritikan dari beberapa ahli linguistik. Kurath (dalam Collins 1983, 1987) mengusulkan pemilihan 8 informan juga harus menyertakan pertuturan orang yang berpendidikan dan yang lebih muda. Chambers dan Trudgill (1990:43--46 dan 70--83) juga mengkritik pemilihan informan yang terbatas pada golongan tua yang terpencil saja. Mereka malah menyarankan untuk memilih informan yang bertentangan dengan NORM. Bahkan, seorang informan harus terdiri dari pelbagai latar belakang status sosialnya. Status sosial yang dimaksud adalah pekerjaan, tingkat pendapatan, dan tingkat pendidikan. Dalam penelitian ini, peneliti menempatkan informan perempuan yang agak tua karena perempuan tua menunjukkan bentuk percakapan yang paling konservatif dan mengekalkan pertuturan asli daerah dan jarang meninggalkan daerahnya (Collins 1987:25). Dengan demikian, informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) berjenis kelamin pria atau wanita,

(2) berusia 16--65 tahun, (3) berpendidikan formal dan tidak

berpendidikan formal³, (4) sehat jasmani dan rohani, (5) dapat

berkomunikasi dengan baik atau tidak cacat wicara, (6) tidak pernah meninggalkan kampungnya dalam waktu yang lama (bertahun-tahun), (7) dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua dari suku asli daerah yang diteliti. Oleh karena itu, para informan dalam penelitian ini terdiri atas seorang informan utama dan tiga orang informan pendamping.

1.7.2.1.2 Daftar Tanyaan atau Soal Selidik Daftar tanyaan yang digunakan dalam penelitian ini, pertama adalah daftar tanyaan Swadesh yang direvisi oleh Blust's (1981). Daftar tanyaan ini memuat 200 kosakata dasar bahasa Proto-Melayu Polinesia. Kedua, daftar tanyaan Blust yang dikembangkan dan dimodifikasi oleh Collins menjadi 467 kosakata untuk keperluan proyek pemetaan bahasa di Kalimantan Barat. Keempat ratus enam puluh tujuh kosakata tersebut meliputi kosakata yang mengandung makna anggota tubuh, warna, sistem kekerabatan, waktu, alat-alat rumah tangga, rumah dan bagian-bagiannya, kata ganti nama, bilangan, musim dan keadaan alam, makanan dan minuman, aktivitas, dan binatang. Perlu dijelaskan bahwa teknik yang digunakan untuk menggali kosakata daerah berdasarkan daftar tanyaan dalam penelitian ini menggunakan teknik langsung dan tidak langsung. Teknik langsung telah dipraktikkan oleh E. Edmont (Chambers and Trudgill 1990:25--26). Usaha ini dibuat dalam bentuk pertanyaan langsung, misalnya informan ditanya mengenai perkataan lengkuas'. Lalu peneliti bertanya "Lengkuas dalam bahasa kampung disebut apa?" Lalu, teknik tidak langsung

3 Informan utama dalam penelitian ini minimal berpendidikan formal

SD, sedangkan yang tidak berpendidikan dijadikan sebagai informan tambahan kecuali di kampung tersebut tidak ada satu pun penduduk yang berpendidikan formal,kita dapat memilih yang tidak berpendidikan formal.

misalnya digunakan dalam menunjukkan sesuatu/benda/objek tanpa menyebut kata tersebut, menggunakan gerak-gerik anggota tubuh, dan berilustrasi dengan menjelaskan gambaran atau deskripsi sesuatu objek secara tidak langsung. Misalnya, untuk menanyakan kata ‘tangan atau lidah', peneliti menunjuk tanggannya atau lidahnya dan terus berkata “Ini dalam bahasa kampung disebut apa?" Contoh lain, kata 'kunyah', peneliti mempraktikkan gerakan mengunyah di hadapan informan, kemudian bertanya “Apa yang sedang saya lakukan?" dan contoh yang terakhir misal peneliti ingin mendapatkan kata minum' atau makan'. Peneliti dapat menggunakan ilustrasi pertanyaan dengan berkata “Apa yang akan Bapak lakukan kalau Bapak haus atau lapar?" Teknik ini digunakan pascaera Gilliéron dan Edmont sekitar tahun 1920. Dalam konteks ini, peneliti lebih sering menggunakan teknik tidak langsung dan hanya sesekali saja menggunakan teknik langsung, yakni ketika benda/objek tanya sukar untuk dijelaskan dan untuk memberi penegasan pada kata yang sudah ditanya dengan teknik tidak langsung. Selain itu, peneliti juga menggunakan alat bantu pandang dengan menunjukkan objek yang bergambar (lihat Collins 1987:29--30). Hasil wawancara antara peneliti dengan informan berdasarkan kosakata yang ada dalam daftar tanyaan—kemudian langsung dicatat dengan menerapkan lambang fonetik, yaitu menggunakan International Phonetic Alphabet (IPA) standar, versi revisi tahun 1993.

1.7.2.1.3 Perekaman Pengumpulan kosakata dengan menggunakan daftar tanyaan digunakan untuk mendapatkan leksikal yang diinginkan. Teknik lain yang sepadan dengan usaha daftar tanyaan adalah perekaman. Yang dimaksud dengan perekaman dalam penelitian ini adalah pertama, wawancara yang peneliti lakukan terhadap

informan pada satu jam pertama sesi tanya jawab direkam. Hal ini untuk mendengar kembali isu-isu penting bunyi bahasa yang diteliti. Kedua, perekaman dilakukan terhadap cerita rakyat, kisah kehidupan/aktivitas sehari-hari informan, dialog antara dua orang atau lebih penduduk kampung dalam bahasa daerah yang diteliti, dan sebagainya. Dalam konteks ini, peneliti tidak terlibat dalam percakapan sehingga pertuturan yang di dapat lebih bersifat alami.4 Menurut Pedersen (dalam Collins 1987:29) pendekatan ini dianggap metode yang paling produktif dan terbaik dalam meneliti tata bunyi dan sintaksis karena kata atau frasa yang muncul lebih bersifat alami. Rekaman cerita rakyat, kisah kehidupan/aktivitas sehari-hari informan, dialog antara dua orang atau lebih penduduk kampung ditranskripsi dalam lambang fonetis. Proses pentranskripsian teks-teks lisan yang diperoleh menggunakan pencatatan secara fonetik dengan menggunakan sistem International Phonetic Alphabet (IPA). Proses pentranskripsian ini dibantu oleh seorang asisten peneliti yang berperan sebagai juru bahasa untuk menjelaskan makna tiap-tiap perkataan selama proses penerjemahan. Asisten peneliti juga berperan sebagai informan bahasa dalam usaha untuk pencatatan bunyi bahasa secara fonetik. Selain itu, asisten peneliti harus berasal dari masyarakat lokal yang dibesarkan di tempat itu (lokasi penelitian) sehingga bahasanya sama dengan pertuturan yang direkam.

4 Perekaman tidak selalu menuntut kehadiran peneliti utama dalam mengambil data di lapangan, sekiranya hal itu berat dilakukan karena terbatasnya waktu dan materi. Seorang peneliti utama dapat mewakilkan orang lain, yang dapat dianggap sebagai asisten lapangan peneliti. Dengan syarat, orang tersebut sudah dilatih untuk membuat rekaman dan wawancara terhadap informan yang dijadikan objek penelitian. Hal ini pula yang dilakukan oleh Gilliéron terhadap Edmont Edmont (lihat Chambers dan Trudgill 1990).

Penerjemahan dilakukan dengan menerapkan teknik word for word translation (terjemahan kata demi kata) dan juga free translation (terjemahan bebas). Peneliti mencatat dan menerjemahkan data teks lisan dengan menggunakan terjemahan kata demi kata dan memerikan medan makna dengan menuliskan bentuk-bentuk linguistiknya. Selanjutnya, diikuti dengan terjemahan bebas pada bagian yang tersendiri dan berasingan dari terjemahan kata demi kata. Selain itu, dapat pula menempatkan terjemahan bebas di bawah terjemahan kata demi kata (lihat Asfar 2004). Pembuatan transkripsi dan terjemahan dengan kerja sama informan dan asisten peneliti dapat mewujudkan tumpukkan data yang betul-betul alami. Data ini berguna untuk memeriksa ulang catatan daftar tanyaan, supaya lambang fonetis lebih akurat dan tepat. Selain itu, transkripsi ini bermanfaat sebagai sumber data yang unggul untuk pembahasan morfologi dan sintaksis. Tidak jarang juga wacana yang direkam ini mengandung istilah dan kata yang penting untuk perbandingan leksikal (lihat Collins 1987:31).

1.8 Analisis Data Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode padan intralingual. Metode padan ini menggunakan teknik hubung banding membedakan dan menyamakan (Mahsun 1995:136). Dengan kata lain, metode yang digunakan dalam analisis ini menggunakan kaidah perbandingan (lihat Jeffers dan Lehiste 1979:31--41; Trask 1996:202--216; Bynon 1994:43--56; Campbel 1998:111--114).

1.9 Daerah Penelitian Penelitian ini berusaha untuk meneliti refleks fonem PMP dalam varian BR di kampung Riyai yang terdapat di Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Penelitian terhadap varian BR di Riyai merupakan kajian lanjutan untuk mendeskripsikan fenomena kebahasaan secara komprehensif di kampung ini. Untuk gambaran lebih jelas posisi kampung, dapat dilihat melalui Peta 1.1.

Peta 1.1 Lokasi Penelitian

1.10 Sistematika Laporan Penelitian Penelitian ini terbagi atas tiga bab. Bab I berjudul Pendahuluan, berisi tentang latar belakang, masalah, tujuan, dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penelitian, daerah penelitian, dan sistematika laporan penelitian. Bab II berjudul Refleks Fonem Proto-Melayu Polinesia dalam Varian Bidayuhik Ribun. Pada bab ini, dideskripsikan sistem fonem vokal, konsonan, dan diftongisasi dalam varian BR serta refleks bunyi vokal dan konsonan PMP dalam varian BR dengan mendeskripsikan inovasi dan retensi PMP dalam BR. Bab III berjudul Penutup. Pada bab ini dideskripsikan simpulan dan saran. Pada akhir laporan ini disajikan daftar pustaka yang menjadi sumber acuan. Selain itu, laporan penelitian ini dilengkapi juga dengan lampiran.

BABII

REFLEKS FONEM PROTO-MELAYU POLINESIA DALAM VARIAN BIDAYUHIK RIBUN

2.1 Pengantar Refleks fonem PMP dalam varian BR merupakan kajian penting untuk melihat fonem-fonem dalam BR yang ada pada saat ini, yang merupakan refleks dari fonem PMP. Penelitian ini menerapkan kaidah linguistik komparatif historis. Bab ini secara khusus mendeskripsikan sistem fonem varian BR di Hulu Sungai Tayan. Aspek yang dideskripsikan mencakup fonem vokal, konsonan, dan distribusinya. Secara khusus, bab ini membahas refleks fonem PMP dalam varian BR dengan mendeskripsikan inovasi dan retensi fonologi fonem PMP dalam BR.
2.2 Sistem Fonem Vokal dan Konsonan Bidayuhik Ribun Varian Bidayuhik Ribun memiliki enam vokal, yaitu /i, u, e, ə, o, a/. Keenam vokal ini dibuktikan melalui pasangan minimal yang ada dalam varian BR. Jika suatu bunyi tidak ditemukan pasangan minimalnya, bunyi itu ditentukan berdasarkan pasangan yang mirip (hampir minimal) atau
三 distribusi yang komplementer. Inventarisasi fonem varian ini dapat dilihat dalam bagan 2.1.

2 Bagan 2.1 Fonem Vokal Bidayuhik Ribun

Depan Tengah Belakang u

Tinggi

i

e 0 ə Madya

a Rendah

Keenam fonem vokal tersebut ditentukan berdasarkan pasangan minimal dan hampir minimal yang terdapat dalam bahasa yang dikaji. Fonem vokal tersebut dapat dibuktikan dengan pasangan minimal dan hampir minimal berikut.

(1) /kojo/ kaki' -- /kijo/ kerja’, pasangan /o/ - /i/;
(2) /sowo/ ‘tahun' -- /sawo/ ‘ular sawa', pasangan /o/ - /a/;
(3) /coha/ ‘serai’ -- /cohi/ ‘sarang babi', pasangan /a/ - /i/;
(4) /tuhu/ ‘telur' -- /tuha/ kemaluan laki-laki’, pasangan /u/ - /a/;
(5) /se: s/ ‘isi (daging)’ -- /sa: s/ ‘dalam’, pasangan /e/ - /a/;
(6) /kopu³n/ pusat' -- /koping/ kuping’, pasangan /ə/ - /i/ Vokal tinggi depan /i/, vokal tinggi belakang /u/, vokal
o madya depan /e/ hanya hadir pada posisi tengah dan akhir kata, suku kata terbuka dan suku kata tertutup. Vokal rendah tengah /a/ dan vokal madya belakang /o/ hadir pada semua posisi suku kata, yaitu pada suku kata awal, suku kata tengah, suku kata akhir, suku kata terbuka dan suku kata tertutup. Selanjutnya, vokal

madya tengah /ə/ hanya hadir pada posisi suku kata tengah, suku kata terbuka dan suku kata tertutup. Tabel 2.1 Distribusi Fonem Vokal Varian Bidayuhik Ribun

Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
i/ /mudi/ 'buritan'
/a/ /o1 /ampus/ /sau?/'dada' /tuha/ ‘kemaluan laki-laki' /kopoho/
/u/ /kuhi?/'kulit' 'tenggelam' /ombu/'bahu'
/el /ne?/‘nenek' /bobe/

Fonem -- /dinan/'teman'

'pergi' /oti'/ 'hati' /dopup/‘depa' 'ketiak' - /al-- /təmilik/ - -- 'berkata'

Selanjutnya, varian Bidayuhik Ribun ini memiliki 19 fonem konsonan, yaitu tujuh konsonan plosif /p, b, t, d, k, g, ?/ empat konsonan nasal /m, n, η, j/, dua konsonan lateral likuida /l, r/, dua konsonan frikatif /s, h/, dua konsonan afrikat /c, j/, dan dua konsonan semivokal /w, y/. Kesemua konsonan tersebut dapat dibuktikan berdasarkan pasangan minimal dan hampir minimal berikut.

(1) /pako?/ 'kemaluan perempuan’- /bokoª?/ 'buta', pasangan /p/ - /b/;
(2) /tudo?/ ‘cempedak' -- /dudo"k/ ‘duduk', pasangan /t/ - /d/;
(3) /koley/ ‘keli' -- /gole?/ ‘sebuah’, pasangan /k/ - /g/;

i

(4) /cohi/ ‘sarang babi’ -- /jo™i/ muka', pasangan /c/ - /j/;
(5) /nisuk/ ‘menyusu'-- /nicu?/ ‘menikam dengan tombak', pasangan /k/ - /1/;
(6) /maran/ berjalan’ -- /malah/ ‘malas', pasangan /r/ - /V/;
(7) /howan/ ‘atap'-- /towan/ luka', pasangan /h/ - /t/
(8) /togo³η/ rusuk’ -- /toso³η/ leher’, pasangan /g/ - /s/;
(9) /nota/ tertawa’ -- /pota/ ‘petai’, pasangan /n/ - /p/; (10) /monun/ ‘malu'-- /moņut/ ‘muda’/n/ - /t/; (11) /monko?/ ‘makan'-- /bonko?/ ‘bengkak', pasangan /m/
- /b/;
(12) /ηopuk/ ‘memotong (sayur)’-- /kapuk/ ‘memotong dengan parang', pasangan /η/ - /k/; (13) /mono?/ ‘burung'-- /nono?/ memasak', pasangan /m/ - /n/; (14) /niho?/ mengiris’ -- /jiho/ lidah', pasangan /p/ - /j/; (15) /ba?/ ‘baik’ -- /wa?/ urat', pasangan /b/ - /w/; (16) /buwo?/ ‘angin'-- /bayo?/ ‘buaya', pasangan /w/ - /y/; Tabel 2.2 Inventarisasi Konsonan Varian Bidayuhik Ribun

Bilabial Gigi-Palatal Glotal Velar Gusi Plosif Tbs.p

t k 2
g
n r 1 η
s h

d

Bs. b
Nasal Bs. m
Getaran Bs.
Lateral Bs.

a n

Frikatif Tbs.

Afrikat Tbs. c Bs.j SemivokalBs. W y

Konsonan plosif tidak bersuara /p, t, k/ hadir dalam semua posisi kata, sedangkan konsonan plosif tidak bersuara /2/ hadir pada posisi tengah dan akhir kata. Konsonan plosif bersuara /b, d, g/ hadir dalam posisi awal dan tengah kata. Konsonan nasal /m, n, iη/ terdapat dalam semua posisi kata dan hanya konsonan nasal /p/ saja yang tidak terdapat pada posisi akhir kata. Selanjutnya, konsonan frikatif /s, h/ hadir pada semua posisi kata. Konsonan frikatif velar terdapat dalam semua posisi kata. Konsonan afrikat /c, j/ hanya hadir dalam posisi awal dan tengah kata saja. Konsonan likuida /l, r/ hadir dalam semua posisi kata. Konsonan semivokal /w/ hadir dalam posisi awal dan tengah kata sedangkan semivokal /y/ hadir dalam posisi tengah kata saja. Konsonan semivokal /w, y/ ini membentuk diftong jika berdistribusi pada akhir kata. Varian Bidayuhik Ribun ini memiliki tiga diftong, yaitu /-ay, -aw, -ey/. Contoh data diftong tersebut misalnya /bay/ parang', /mapaw/ ‘putih', /sagaw/ ‘sagu', dan /muntey/ 'bambu'. Perhatikan contoh distribusi konsonan dalam tabel berikut. Tabel 2.3 Distribusi Fonem Konsonan Varian Bidayuhik Ribun Fonem Awal Tengah Akhir P /puduh/ /cikup/‘siku' /kopu³n/‘pusat' 'empedu' b /bo:2/ /kabis/ ‘membunuh' 'kepala' t /nota/ 'tertawa' /tokut/ /tonan/

“

d

k

g

2 c

j m

n

n

η

s

h i r

w

'tangan''berdiri' /dobuw/-- /nkoduk/ 'tumit' 'debu' /kojo2/ /təmilik/ /honka/‘bohong' 'kaki''tenggelam' -- /golo2/ /niga/ 'takut''mengigau' -- taPuh/'kanan' /moyi?/ 'kiri' /co"2/ cucu' /nicu?/- ‘menikam dengan tombak' /jiho/ 'lidah'-- /onjan/ 'tangga' /mu:h/ /somo?/‘semak' /gaham/ 'ladang' garam' /nicu/ 'bakar/guntuh/‘guntur' /pun/ pohon' ladang' -- /nije2/ /spiut/ 'manis''mengisap jari' 'di /notou/ /suni/ ‘sungai' /ninjin/ sini' 'pinjam' /suma/ /bisuh/ 'basah' /bi:s/'tidur' 'semai' /himu/ /guntuh/ /dohit/gunung' limau''guntur' /arus/‘arus' /putar/ /ran/daun' 'pusaran air' /blido/ 'belida' /tobal/ 'tebal' /ladikg/ 'pisau' /wa?/- 'akar/jowo?/

y tanah'-- 'biawak'
'perempuan'
2.3 Diftongisasi Varian Bidayuhik Ribun

/nayu³n/

Fenomena diftongisasi merupakan sesuatu yang lazim dalam bahasa-bahasa Austronesia, hal ini dapat ditemukan dalam Collins (1983, 1987) dan Asfar (2004). Di Semenanjung dan Sarawak, diftongisasi lazimnya menunjukkan diftong dengan vokal geluncuran, yaitu vokal tinggi yang diikuti dengan geluncuran, vokal itu bercirikan [ + tinggi] (lihat Collins 1983, 1987; Asfar 2004). Dalam varian Bidayuhik Ribun, fenomena diftongisasi cukup kompleks dan berbeda dengan fenomena di Semenanjung dan Sarawak. Ada dua fenomena diftongisasi dalam varian Bidayuhik Ribun. Pertama, dalam varian Ribun diftongisasi muncul untuk menunjukkan diftong dengan vokal geluncuran, yaitu vokal tinggi /u/ dan vokal madya /o/ yang diikuti dengan geluncuran pada akhir kata, yang tidak diikuti apa- apa konsonan. Perhatikan contoh diftongisasi berikut. BI BR Debudobuw tundun pungow Initouw

Kedua, vokal tinggi depan /i/, vokal tinggi belakang /u/, vokal rendah tengah /a/, vokal madya depan /e/, dan vokal madya belakang /o/ mengalami geluncuran pada posisi suku akhir yang ditutupi konsonan. Akan tetapi, corak diftongisasi ini berbeda- beda, pada posisi ini, vokal tinggi /i/ menunjukkan geluncuran [ə]

depan /9/, /h/, dan nasal /η/. Vokal tinggi belakang /u/ memperlihatkan geluncuran [a] depan /h/ dan geluncuran [ə] depan /h/ dan /η/. Perhatikan contoh berikut.

BI BR
kunyit seorang kupi? todi?
pahit berpikir pikih poyi?
mulut sombi³h
menangis langit-langit lanih nonih
banyak kamar obin panki³n
longgar gohu²h
akar onku°h kluncu²h
seberang lipu²h
kerongkongan kopu³n hoku³n

tergelincir

pusat

hidung tondu³η perempuan nayu³η

Vokal rendah tengah /a/, memperlihatkan geluncuran [u] depan /?/. Vokal madya depan /e/, memperlihatkan geluncuran [y] dan [a] depan //. Vokal madya belakang /o/ menunjukkan

e

kehadiran geluncuran [ə] depan /η/, munculnya geluncuran [u] depan /3/, /h/, /k/, dan munculnya geluncuran [a] depan /♀/, /h/, /η/. Perhatikan contoh berikut. BI terantuk Hitam Tungku Dapur Mandi Adik Ketel Melihat Katil Rusuk Leher Otak Mulut Meludah Pengayuh Belanga Duduk Buta Menguap [buah] jatuh Nyamuk Bintang

BR santa"? gaba"? tunka"? dapa"? mande'? ode'? cihe'? ntile? lankea?

Togo{η Toso°n

nto"? tuko"? huco"h pənayoh piyo"k dudo"k bokoa7 mpoa2} gago²h pungo}

klinto²

2.4 Refleks Fonem PMP dalam BR Refleks dalam linguistk komparatif historis merupakan unsur atau bentuk yang dianggap mewakili unsur atau bentuk yang lebih tua (proto) (lihat Kridalaksana 1983:144). Dalam penelitian ini, refleks fonem PMP dalam BR berarti unsur atau bentuk fonem turunan dari fonem PMP yang wujud dalam bahasa sekarang (BR) yang diasumsikan berasal dari bahasa Proto-Melayu Polinesia.
2.4.1 Refleks Vokal dan Diftong PMP dalam BR
2.4.1.1 Refleks PMP *i Refleks fonem vokal PMP *i hadir sebagai /i/ dalam BR pada posisi praakhir, suku kata akhir tertutup, dan suku kata akhir terbuka secara teratur. Pada posisi awal PMP *i menjadi /Ø/ dalam BR. Namun, pada posisi suku kata akhir tertutup PMP *i ada juga yang direfleksikan sebagai /e/ dalam jumlah yang sangat terbatas. Perhatikan contoh berikut.
PMP

Ibu BI ndo"? BR
Ikan *iSəkan ka:n
Kilat Lidah *kilat jiho kila?
Ular Tidak nipuh kea
Menangis Pilih nonih Mileh
Tali *kulit *talih kuhi? tohis
Langit honi?

*indu

Gigi jipun *ipən

*dilaq *nipay *diaq

(0)
*piliq *tanis Kulit

*lanit

sumpit Sumpit *k-əpit odia Dia *(si)ia dahi Lelaki *laki

2.4.1.2 Refleks PMP *u Fonem vokal PMP *u direfleksikan secara teratur dalam semua posisi kata menjadi /u/ dalam BR, yaitu pada posisi awal, praakhir, suku kata akhir tertutup, dan suku kata akhir terbuka. Namun, terjadi juga perubahan secara sporadik dalam jumlah yang sangat terbatas refleks fonem PMP *u menjadi /o/ pada posisi praakhir dan refleks fonem PMP *u menjadi /o/, /i/, dan /Ø/ pada posisi suku kata akhir. Refleks fonem vokal PMP /u/ yang mengalami retensi dan inovasi dalam BR dapat dilihat dalam contoh berikut. BI Muntah Tulang Meludah Kulit Buka Kutu Bulan Buah

Payudara tisuk
Bulu buhuh
tuhu

Hujan Jarum Telur Kabut
PMP *(m)-utaq *tuqəlan *luZaq *kulit *buka *kutu *bulan *buaq *susu *bulu *quZan *zaRum *qatəluR *kabut

BR

(y)uto tuhon huco"h kuhi? muko? gutis
é buhakn buwuh

jakn jahikn

kabut

Debu dobu"
*manuk mono?
Batu botuh
Bakar *asu *tunu kosuh nicu
Tahu Aku *aku ta? oko

*dəbu Asap *qasu asoa} Burung *batu Anjing

*(ma)-taqu

2.4.1.3 Refleks PMP *ə Fonem vokal PMP *ə direfleksikan sebagai /o/, /ə/, /a/, /u/, dan /e/ dalam BR pada posisi praakhir. Pada posisi suku kata akhir tertutup PMP *ə direfleksikan sebagai /a/ dan /u/. Pada posisi suku kata akhir tertutup PMP *ə menjadi BR /u/. Perhatikan contoh berikut.

BI Berat PMP BR
Debu *dəbu *(ma)-bəRəqat boha?
Benar *(ma)-bənəR bənah
Tahun
Telur *qatəluR Tuhu
Basah Bisuh

dobuw

Tiga *təlu

Gigi *ipən Jipun *(ma)-basəq Daging *həsise:s

2.4.1.4 Refleks PMP *a Fonem vokal PMP *a hadir sebagai /o/ dalam BR pada semua posisi kata, yaitu posisi awal, praakhir, suku kata akhir tertutup, dan suku kata akhir terbuka secara teratur. Pada suku kata awal, vokal PMP *a direfleksikan sebagai /o/. Pada posisi praakhir PMP *a direfleksikan sebagai /o/, /a/, dan /i/. Pada posisi suku kata akhir tertutup PMP *a direfleksikan sebagai /o/, /a/, dan /u/. Perubahan PMP *a menjadi BR /o/ pada posisi awal kata, praakhir, dan suku akhir tertutup terjadi secara teratur, sedangkan perubahan PMP *a menjadi /a/, /u/, dan /i/ terjadi secara sporadik. Perhatikan contoh berikut.

BI PMP BR
*anak ono?
Nama
Hati oti
Batu Patah poto botuh
Muntah guto
Mata Memasak *mata *tanək motuh nono?
Dahan
Abu Istri *qasawa *qabu abuh
Basah *(ma)-basəq bisuh

Anak
*ajan odan *qatəy *batu *pataq *(m)-utaq

*daqan dan 日 osa

2.4.1.5 Refleks Diftong PMP dalam BR Diftong *-aw dan *-ay mengalami proses monoftongisasi vokal tinggi /u/ dan /i/. PMP *-aw > /u/, misal /Danaw/ > /donu/ dan PMP *-ay > /i/, /u/, misal /sunay/ > /suni/, /nipay/ > /nipuh/. Namun, ada perubahan yang menunjukkan tidak seutuhnya

2 terjadi monoftongisasi pada kata-kata tertentu, contoh PMP *babaw dan PMP *nipay memperlihatkan /h/ pada posisi akhir kata. Leksikal Bidayuhik Ribun ini diisi oleh vokal terbuka pada suku kata akhir dengan mengalami proses epentesis geseran glotal /-h/ (bandingkan Rahim 2005:215). Deskripsi lengkap diftong *-aw dan *-ay dapat diperhatikan dalam contoh berikut.

BI PMP BR
Limau Tikus *limaw himu bohobuh
Danau Mencuri *Danaw donu

*babaw

*takaw nonku Sungai *sunjay suni Ular *nipay nipuh

Selain itu, ada juga diftong PMP *-əy, *-uy, *-iw yang direfleksikan dalam BR. PMP *-əy > /i/, PMP *-uy > /i/, dan PMP *-iw > /u/. PMP *-iw mengalami perubahan bunyi dari kaSiw > kaiw > kayu, /i/ > y dan /w/ > u. Dari perubahan tersebut kemudian ditambah dengan geseran glotal /h/ pada akhir kata sebagai bagian dari proses epentesis dalam bahasa Bidayuhik. Perhatikan contoh berikut. BI PMP BR Hati oti *qatəy Api *Sapuy opi Kayu *kaSiw koyuh

2.4.2 Refleks Konsonan PMP dalam BR
2.4.2.1 Refleks PMP *p Refleks fonem PMP *p wujud secara teratur menjadi /p/ dalam BR pada posisi awal dan antarvokal. Fenomena ini dapat diperhatikan dalam contoh berikut.

BI PMP BR Pilih *piliq pileh Gigi *ipən jipun Ular *nipay nipuh Api opi *Sapuy Empat *Səpat mpa?

2.4.2.2 Refleks PMP *b Refleks fonem PMP *b wujud secara teratur menjadi /b/ dalam BR pada posisi awal dan antarvokal. Fenomena ini dapat diperhatikan dalam contoh berikut.

Bulu BI *buluPMP buhuh BR
Buka Buah bu″uh buko?
Benar Suami bənah bonuh
Berat boha?
Basah bisuh
Batu Bulan botuh
Kabut Abu kabut abuh

*buka *buaq *bana *(ma)-bənəR *(ma)-bəRəqat *(ma)-basəq *batu *bulan buhakn *kabut *qabu

2.4.2.3 Refleks PMP *d Refleks fonem PMP *d secara teratur menjadi /d/ dalam BR pada posisi awal. Fonem PMP *d berubah secara sporadik menjadi /j/ dalam BR pada posisi awal. Fenomena ini dapat diperhatikan dalam contoh berikut.

BI PMP BR Debu dobuw *dəbu Dahan *daqan dan Danau donu *danaw Lidah jiho *dilaq

2.4.2.4 Refleks PMP *D Refleks fonem PMP *D wujud secara teratur menjadi /d/ dalam BR pada posisi awal dan antarvokal. Pada posisi akhir kata fonem PMP *D wujud menjadi /t/. Fenomena ini dapat diperhatikan dalam contoh berikut. BI
PMP BR Dua *DuSa dukuh

Hidup

*(ma)-quDip midi? Berdiri tokut *tuquD

2.4.2.5 Refleks PMP *t Refleks fonem PMP *t secara teratur menjadi /t/ dalam BR pada posisi awal, antarvokal, dan akhir kata. Fenomena ini dapat diperhatikan dalam contoh berikut. BI Tulang Tiga Membakar Berdiri Tahu Telur Mata Batu Muntah
PMP *tuqəlan *təlu *tunu *tuquD *(ma)-taqu *qatəluR *mata *batu *(m)-utaq

BR tuhon tahun ticu tokut ta? tuhu motuh botuh

(y)uto

Hati oti *qatəy

Kabut Kilat *kabut kabut kila?
boha?
Kulit Refleks fonem PMP *g menjadi /k/ dalam BR pada posisi awal. Pada posisi antarvokal dan suku kata akhir PMP *g menjadi /g/. Pada posisi akhir kata fonem PMP *g menjadi /7/. Fenomena *kulit kuhi?
BI ini dapat diperhatikan dalam contoh berikut. PMP BR

*kilat Berat *(ma)-bəRəqat Empat *Səpat mpa?

2.4.2.6 Refleks PMP *g Gosok gusuk
kuso"? Bagus
bagus bagah Piring *pingan pingan Mengayak *qayag noyo?

2.4.2.7 Refleks PMP *k Refleks fonem PMP *k secara teratur menjadi /k/ dalam BR pada posisi awal dan antarvokal. Selain itu, pada posisi awal terjadi juga perubahan secara sporadik PMP *k menjadi /s/, /g/, dan pada posisi antarvokal PMP *k menjadi /h/ dalam jumlah sangat terbatas. Pada posisi akhir kata refleks fonem PMP *k menjadi /7/. Fenomena ini dapat diperhatikan dalam contoh berikut.

BI PMP BR
Kulit Kilat *kulit *kilat kuhi?

kila?

i

Kabut *kabut kabut
*kaSiw koyuh
Kutu Mencuri *takaw
Buka Aku *aku buko? oko
Memasak Lelaki *laki *tanək dahi nono?
Anak Gosok *anak ono? kuso"?

Kayu Sumpit *k-əpit sumpit *kutu gutis nonku *buka

*gusuk

2.4.2.8 Refleks PMP *z/Z Fonem PMP *z, *Z diturunkan dalam BR sebagai /j/ pada posisi awal. Pada posisi antarvokal PMP *z, *Z direfleksikan sebagai /j/, /c/.

BI Jarum PMP *zaRum BR
Meludah huco"h

jahikg *luZaq Hujan *quZan jakn

2.4.2.9 Refleks PMP *j Refleks fonem PMP *j secara teratur menjadi /d/ dalam
i BR pada posisi antarvokal dan suku kata akhir. Andaian perubahan tersebut seperti pada kata Suaji > uadi > ode?. Dapat dikatakan bahwa refleks PMP *S, *w > Ø dalam BR dan refleks PMP *j > d dalam BR (lihat Rahim 2005). Lebih lengkap perhatikan contoh berikut.

BI PMP BR Adik*Suaji odey?

Hidung *ujuSun tondu³η

Nama*ajan odan Mencium noduk *Sajək Hari ondu *qaləjaw Empedu puduh *qapəju

2.4.2.10 Refleks PMP *m Refleks fonem PMP *m secara teratur menjadi /m/ dalam BR pada posisi awal. Namun, ada juga perubahan secara sporadik fonem PMP *m menjadi /g/ dalam posisi awal. Pada posisi antarvokal PMP *m menjadi /p/ dalam jumlah yang terbatas. Pada posisi akhir kata fonem PMP *m berubah menjadi /n/. Perhatikan contoh berikut.

BI PMP BR
Mata *mata *manuk
Mengunyah mopo
Muntah ga guto

motuh Burung mono? *mamaq Dan/Dengan *ma *(m)-utaq 吕 Enam *mne ni:n

2.4.2.11 Refleks PMP *n Refleks fonem PMP *n menjadi /p/ dalam BR pada posisi awal. Pada posisi antarvokal fonem PMP *n menjadi /n/ dalam BR. Pada posisi akhir kata fonem PMP *n menjadi /n/ dan /η/. Perubahan fonem PMP * n > n pada akhir kata hadir dalam

jumlah yang terbatas sedangkan fonem PMP *n > η terjadi secara teratur pada posisi akhir kata. Perhatikan contoh berikut.

Ular BI PMP BR
Memasak *tanək *manuk *ene nipuh nono? mono? ni:n

*nipay Burung Enam Gigi *ipən jipun Nama *ajan odan Dahan *daqan dan Hidung *ujuSun tondu³η 5 Bulan *bulan buhakn Hujan *quZan jakg

2.4.2.12 Refleks PMP *n Refleks fonem PMP *η menjadi /n/ dalam BR pada posisi antarvokal dan akhir kata secara teratur. Perhatikan contoh berikut. BI PMP BR Menangis
*tanis nonih Langit *lanit honi? Bernapas *qasə nason Tulang *tuqəlan tuhon

2.4.2.13 Refleks PMP *s Refleks fonem PMP *s secara teratur menjadi /s/ dalam BR pada posisi antarvokal. Perhatikan contoh berikut.

BI PMP BR
aso?
Basah *asu bisuh kosuh

Asap *qasu *(ma)-basəq Anjing Daging *həsise:s

2.4.2.14 Refleks PMP *S Refleks fonem PMP *S secara teratur pada posisi awal menjadi /Ø/ dalam BR, misal Suaji > uadi > ode'? sehingga fonem PMP *S > ∅ dan PMP *j > d. Selain itu, ada juga perubahan fonem PMP *S > n pada posisi awal dalam jumlah yang terbatas. Perhatikan contoh berikut.

BI PMP BR
Adik *Suaji odey?
Mencium Api *Sajək opi noduk

*Sapuy

2.4.2.15 Refleks PMP *q Refleks fonem PMP *q menjadi /Ø/ secara teratur dalam BR pada posisi awal. Pada posisi antarvokal fonem PMP *q menjadi /k/ dalam jumlah yang terbatas. Pada posisi akhir kata fonem PMP *q menjadi /h/ dan /Ø/. Perhatikan contoh berikut.

Hati BI PMP oti BR
Abu *quZan abuh
Istri Berdiri *qasawa tokut
Berat boha?
Basah *(ma)-basəq bisuh

*qatəy *qabu Hujanjakg osa *tuquD *(ma)-bəRəqat

*piliq

Pilih Patah mileh
Muntah 2.4.2.16 Refleks PMP *1 guto
BI PMP BR
Meludah huco"h
himuh
Kulit mileh kuhi?
Tali Bulan tohis
buhuh
tahun
tuhu
2.4.2.17 Refleks PMP *R
BI berikut. PMP

*pataq poto *(m)-utaq

Refleks fonem PMP *1 menjadi /h/ secara teratur dalam BR pada posisi awal dan antarvokal. Perhatikan contoh berikut.

Langit *lanit honi? *luZaq Lima *lima Tulang *tuqəlan tuhon Kilat *kilat kila? Lidah *dilaq jiho Pilih *piliq *kulit *talih *bulan buhakn Bulu *bulu Tiga *təlu Telur *qatəluR

Refleks fonem PMP *R menjadi /h/ secara teratur dalam BR pada posisi awal, akhir, dan antarvokal. Perhatikan contoh

BR Rumah *Rumah homin Kering *(ma)-Ranaw hanka

Jarum *zaRum jahikg Benar bənah *(ma)-bənəR

2.4.2.18 Refleks PMP *w Refleks fonem PMP *w menjadi /w/ dalam BR pada posisi awal dan antarvokal. Perhatikan contoh berikut.

BI PMP BR
Akar *wakaR wa?
Laba-laba mpawo

*lawa(q)

2.4.3 Inovasi dan Retensi Fonem
2.4.3.1 Inovasi Fonem
2 Inovasi memperlihatkan perubahan bunyi proto ke dalam bahasa sekarang. Artinya, suatu bahasa telah mengalami perubahan dan kemudian telah berpisah meninggalkan bentuk-bentuk perubahan ini pada bahasa turunannya (lihat Crowley 1992:164; Campbell 1998:170). Perubahan bunyi secara fonologis dalam suatu bahasa dapat terjadi dalam bentuk asimilasi, disimilasi, merger (penyatuan), split (pemisahan), metatesis, sinkope, apakope, protesis, dan epentesis.

2.4.3.1.1 Split Split (pemisahan) adalah suatu proses perubahan dari satu bunyi terpecah menjadi dua atau lebih. Dengan kata lain, perubahan sebuah protofonem menjadi dua fonem atau lebih pada bahasa sekarang (lihat Crowley 1992:49). Split yang terjadi pada BR adalah sebagai berikut.
(1) PMP *i Fonem PMP *i > BR i, e.

Refleks PMP *i > BR i merupakan perubahan yang teratur,

sedangkan PMP *i > BR e merupakan perubahan yang tidak teratur. Perhatikan contoh berikut. BI PMP BR Ibu *indu ndou? Ikan *iSəkan ka:n Gigi jipun *ipən Kilat *kilat kila? Lidah *dilaq jiho Ular *nipaynipuh Tidak *diaq kea Pilih *piliq mileh Menangis *tanis nonih Kulit *kulit kuhi?

Tali tohis
Dia odia sumpit
Lelaki BI dahi
Meludah huco"h tuhon

(2) PMP *u

*talih Langit *lanit honi? Sumpit *k-əpit *(si)ia *laki

PMP *u > BR u, o, i, ∅

Refleks fonem vokal PMP *u > BR u merupakan perubahan yang

terjadi secara teratur dalam semua posisi kata, sedangkan PMP *u > BR o, i, Ø terjadi secara sporadik. Perhatikan contoh berikut. PMPBR Muntah *(m)-utaq (y)uto Tulang *tuqəlan *luZaq

Kulit *kulit
Buka muko?
Kutu Bulan *kutu gutis
Payudara Buah *susu bu"uh tisuk
Bulu *bulu *quZan buhuh
Jarum *zaRum
Telur *qatəluR tuhu
Debu Kabut *dəbu *kabut *qasu *manuk dobuw kabut aso? mono?
Batu *batu
Bakar *asu *tunu kosuh nicu
Tahu Aku ta? oko

kuhi? *buka

*bulan buhakn *buaq

Hujan ja'g jahit

Asap Burung botuh Anjing *aku *(ma)-taqu

(3) PMP *ə PMP *a> BR ə, o, a, u, e Refleks fonem vokal PMP *ə dalam BR menjadi ə, o, a, u, e. Perhatikan contoh berikut.

BI Berat PMP BR boha?
Debu *dəbu dobu"
Benar *(ma)-bənəR bənah

*(ma)-bəRəqat

Tiga *təlu tahun Telur tuhu *qatəluR Gigi *ipən jipun

Basah bisuh
se:s
PMP *a> BR a, 0, u, i
dan i. Perhatikan contoh berikut. BI PMP BR
Anak Nama Hati *anak
Batu Muntah botuh
Mata motuh
Memasak Dahan *tanək nono?
Abu Istri abuh
Basah bisuh

(4) PMP *a

*(ma)-basəq Daging *həsi

Refleks fonem vokal PMP *a hadir dalam BR menjadi a, o, u,

ono? *ajan odan otiy *qatəy *batu Patah *pataq poto *(m)-utaq guto *mata

*daqan dan *qabu *qasawaosa *(ma)-basəq

(5) PMP *ay PMP *ay > BR i, u Refleks fonem vokal PMP *ay hadir dalam BR menjadi i dan u. Perhatikan contoh berikut.

BI PMP BR
Suas P dMd (9) P RP < P d! ms
Perhai eotin ehtiul. BI Deu PMP BRR
Lidah
Daban
Daa PP t A PMd (L) dana* nuop
BI Periiq eoin eaikut. PMP BR
Dua Berdi DuSsa quku ¿idi tokut
PP D
'peri eein etik 't. osok PMP BR K¿usno

Sunua UIa nipay duh

Rf t a ea dd n

nqep* nqop dlla iio daba drap

R t a a d s anm

dipiH db-() nb4 3 dMd (8) Ret a d dan BI nsns Baus aa bqagah

Piring *pingan pingan Mengayak *qayag noyo?

(9) PMP *k PMP *k > BR k, s, h, g, ? Refleks fonem vokal PMP *g hadir dalam BR menjadi k, s, h, g, dan ?. Perhatikan contoh berikut.

BI PMP BR
kuhi?
Kilat *kilat kila?
Kabut *kabut kabut
Kayu koyuh

Kulit *kulit

*kaSiw Sumpit sumpit *k-əpit Kutu *kutu gutis Mencuri *takaw nonku Buka *buka buko?

Aku oko
Lelaki Memasak *laki *tanək nono? dahi
Anak *anak

*aku

ono? Gosok *gusuk kuso"?

(10) PMP *z, *Z PMP *z, *Z> BR j, c Refleks fonem vokal PMP *z, *Z hadir dalam BR menjadi j dan

c. Perhatikan contoh berikut. BI PMP BR Jarum *zaRum
jahikg Meludahhuco"h *luZaq

jakn

Refleks fonem vokal PMP *m hadir dalam BR menjadi m, η, n,

BR Motuh mono? mopo na guto ni:n

Refleks fonem vokal PMP *n hadir dalam BR menjadi n, jn, dan

Hujan *quZan

(11) PMP *m PMP *m > BR m, η, n, p

dan p. Perhatikan contoh berikut. BI PMP Mata *mata *manuk Burung Mengunyah *mamaq Dan/Dengan *ma Muntah *(m)-utaq Enam *mne

(12) PMP *n

PMP *n > BR n, j, η

η. Perhatikan contoh berikut. BI PMP Ular *nipay Memasak *tanək *manuk

Burung

Enam *enə

Gigi *ipən

Nama *ajan Dahan *daqan

Hidung *ujuSun

Bulan *bulan

BR nipuh nono? mono? ni:n jipun odan dan tonduy

buhakn

Hujan *quZan ja'n (13) PMP *S PMP *S > BR Ø, n Refleks fonem vokal PMP *n hadir dalam BR menjadi n, jn, dan

y. Perhatikan contoh berikut. BI PMP
BR *Suaji

Api Adik ode? opi
Mencium noduk

*Sapuy *Sajək Refleks fonem vokal PMP *S hadir dalam BR menjadi Ø dan n. Refleks fonem PMP *S secara teratur pada posisi awal menjadi /Ø/ dalam BR, sedangkan PMP *S > n pada posisi awal dalam jumlah yang terbatas. (14) PMP *q PMP *q > BR ∅, k, h Refleks fonem vokal PMP *q hadir dalam BR menjadi Ø, k, dan

h. Perhatikan contoh berikut.

BI Hati PMP BR
Abu *qabu abuh
Berdiri Istri Berat Basah Patah Pilih *qasawa tokut bisuh boha? poto mileh

*qatəy oti Hujan *quZan jakn osa *tuquD *(ma)-bəRəqat *(ma)-basəq *piliq *pataq Muntah *(m)-utaqguto

2.4.3.1.2 Merger Merger (penyatuan) adalah dua bunyi yang menjadi satu (Crystal 1987:328). Merger yang terjadi dalam BR adalah sebagai berikut.
(1) PMP *aw
BR u *iw

Refleks fonem diftong PMP *-aw dan *-iw dalam BR menjadi u. Refleks PMP *-aw dan *-iw pada posisi akhir kata terjadi perubahan berupa merger sehingga pada BR menjadi u. Perhatikan contoh berikut.

BI BR
Tikus Limau *babaw bohobuh
Danau donu
Mencuri *takaw

PMP

*limaw himu *Danaw nonku Kayu *kaSiw koyuh

(2) PMP *ay
BR i *uy-Refleks fonem diftong PMP *-əy dan *-uy dalam BR menjadi i. Refleks PMP *-əy dan *-uy pada posisi akhir kata terjadi perubahan berupa merger sehingga pada BR menjadi i. Perhatikan contoh berikut. BI PMP BR Hati oti *qatəy Api *Sapuyopi

(3) PMP*1
BR h *R Refleks fonem PMP *1, *R, dan *r dalam BR menjadi h.

Refleks PMP *1, *R, dan *r pada posisi awal, tengah, dan akhir

kata terjadi perubahan berupa merger sehingga pada BR menjadi

h. Perhatikan contoh berikut.

BI BR
Lima himuh
Pilih mileh
Tali Bulan tohis kuhi?
Telur Benar tahun

PMP Langit *lanit honi? Meludah *luZaq huco"h *lima Tulang *tuqəlan tuhon Kilat *kilat kila? Lidah *dilaq jiho *piliq Kulit *kulit *talih *bulan buhakn Bulu *bulu buhuh Tiga *təlu *qatəluR tuhu *(ma)-bənəR bənah

2.4.3.1.3 Subtitusi Substitusi merupakan sebuah protofonem menjadi fonem lain pada bahasa sekarang (Fernandez 1996:22). Substitusi yang terjadi pada BR adalah sebagai berikut. Refleks fonem PMP *j secara teratur menjadi /d/ dalam BR pada posisi antarvokal dan suku kata akhir. Pengandaian

perubahan tersebut seperti pada kata Suaji > uadi > ode?. Dapat dikatakan bahwa refleks PMP *S, *w > Ø dalam BR dan refleks PMP *j > d dalam BR (lihat Rahim 2005). Perhatikan contoh berikut.

Adik BI *Suaji PMP BR ode'?
Nama Mencium *Sajək Noduk odan
Hari *qaləjaw *qapəju Ondu Puduh

Hidung *ujuSun tondu³η *ajan

Empedu

2.4.3.1 Retensi Fonem Retensi adalah unsur warisan dari bahasa asal yang tidak mengalami perubahan pada masa sekarang. Artinya, retensi adalah milik umum untuk seluruh rumpun bahasa yang diwarisi oleh beberapa bahasa kerabat dari bahasa purba (lihat Collins 1986:1314).
(1) PMP *p > BR p Refleks fonem PMP *p pada posisi awal dan antarvokal menjadi BR p. Perhatikan dalam contoh berikut.
PMP

Pilih BI mileh BR
Gigi
Ular
Api opi

*piliq *ippn jipun *nipay nipuh *Sapuy Empat *Səpat mpa?

。

(2) PMP *b > BR b Refleks fonem PMP *b pada posisi awal dan antarvokal menjadi BR b. Perhatikan contoh berikut.

BI Bulu PMP BR
Buka
Buah
Benar bənah
Basah bisuh boha?
Batu botuh
Bulan *bulan
Kabut kabut
abuh
BI BR

*bulu buhuh *buka buko? *buaq buwuh Suami *bana bonuh *(ma)-bənəR Berat *(ma)-bəRəqat *(ma)-basəq *batu buhakn *kabut Abu *qabu

(3) PMP *t > BR t Refleks fonem PMP *t pada posisi awal, antarvokal, dan akhir kata menjadi BR t. Perhatikan contoh berikut. Tulang Tiga Membakar Berdiri Tahu
e Telur Mata Batu Muntah Hati

PMP *tuqəlan *təlu *tunu *tuquD *(ma)-taqu *qatəluR *mata *batu *(m)-utaq *qatəy

tuhon tahun ticu tokut ta? tuhu motuh botuh

(y)uto otiy PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

Kabut *kabut Kabut Kilat *kilat kila?

Kilat *kilat
Berat *(ma)-bəRəqat boha?
Kulit *kulit

Empat *Səpat mpa? kuhi?

(4) PMP *η > BR η Refleks fonem PMP *η pada posisi antarvokal dan akhir kata menjadi BR η. Perhatikan contoh berikut. BI PMP BR Menangis *tanis nonih Langit *lanit honi? Bernapas naso{η
*qasən Tulang *tuqəlan tuhon

(5) PMP *s > BR s Refleks fonem PMP *s pada posisi antarvokal menjadi BR s. Perhatikan contoh berikut.

BI PMP BR
Basah *asu *həsi Bisuh Kosuh se:s

Asap *qasu asoa2
*(ma)-basəq Anjing Daging

(6) PMP *w > BR w Refleks fonem PMP *w pada posisi awal dan antarvokal menjadi BR w. Perhatikan contoh berikut.
PMP

BI BR
Akar wa?
Laba-laba mpawo

*wakaR *lawa(q)

BAB III PENUTUP

3.1 Pengantar Penelitian varian BR di Hulu Sungai Tayan merupakan usaha untuk membuat gambaran etnik lokal dan pemakaian bahasa non-Melayu yang ada di Lembah Sungai Tayan secara mendalam. Hal-hal yang menjadi fokus penelitian ini adalah ciri- ciri fonologis dengan mendeskripsikan sistem fonem vokal dan konsonan serta refleks fonem PMP dalam BR. Secara ringkas, bab ini membahas temuan-temuan penting yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya. Bab ini mendeskripsikan simpulan hasil penelitian varian BR dengan perspektif linguistik komparatif historis. Bab ini juga mengemukakan saran yang perlu dilakukan untuk penelitian selanjutnya.
3.2 Simpulan Varian BR memiliki enam vokal, yaitu vokal tinggi depan /i/, vokal tinggi belakang /u/, vokal rendah tengah /a/, vokal madya depan /e/, dan vokal madya belakang /o/, dan vokal madya tengah /ə/. Konsonan terdiri atas 19 fonem, yaitu tujuh konsonan plosif /p, b, t, d, k, g, ♀/ empat konsonan nasal /m, n, η, j/, dua konsonan lateral likuida /l, r/, dua konsonan frikatif /s, h/, dua konsonan afrikat /c, j/, dan dua konsonan semivokal /w, y/. Selain itu, varian BR mengalami proses diftongisasi vokal pada posisi suku kata akhir. Ada dua fenomena diftongisasi dalam varian Bidayuhik Ribun. Pertama, dalam varian Ribun diftongisasi wujud untuk menunjukkan diftong dengan vokal

Be y a a / l a eung dde en a a e e a, s da d. kd e t ad t ka vl. voka a d oda da a a a da n s ad me lan ditet di it kios dt dd etk da ea eu ea a sd d a e, e s / d me as ar, ied,, Mua sa e [a eumen eum e e [ rn e dea eian, d,,, Rei em m mem m el nnya inovs ev o n me e is a rs drn mur ur ue du dit Rmag am ls onam a da o-nm e d p. P P P PP P g < P M ) B-BR e- a an a a ma a mn < p < n- - d < -* R ue sns ubm ua m ue-am Bam a dd Pd Reta er fa d e es fa ei saim PM < P : < Pd P < d Pd (P Pd P P PP P P P i

yang terjadi dari PMP dalam BR merupakan unsur warisan dari bahasa asal yang tidak mengalami perubahan pada masa sekarang.

3.3 Saran 1 Penelitian ini telah menggambarkan inovasi dan retensi fonem PMP yang terjadi dalam BR secara terperinci. Penelitian lanjutan secara lebih spesifik dalam bidang morfologi, sintaksis, dan semantik pada varian BR diperlukan untuk menuju sebuah tata bahasa Bidayuhik Ribun yang lebih sahih. Selain itu, yang perlu dilakukan oleh para pengkaji bahasa dalam meneliti varian BR adalah dengan membuat kamus secara lebih dalam dan deskriptif demi pelestarian dan dokumentasi kosakata daerah.

DAFTAR PUSTAKA

Adelaar, K.A. 1994. The Classification of the Tamanic Languages. In Language Contact and Change in The Austronesian World, T. Dutton and D. Tryon (Eds.), pp.1- -41. Berlin, New York: Mouton de Gruyter.

Adelaar, K.A. 1995. Proto-Malayic: The Reconstruction of Its Phonology and Parts of Its Lexicon and Morphology. Pacific Linguistic C-119. Canberra: Australian National University.

Ahmad, Mohd. Thani dan Zaini Mohamed Zain. 1988. Rekonstruksi dan Cabang-Cabang Bahasa Melayu Induk. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Ahmad, Zaharani B. 1993. Fonologi Generatif: Teori dan Penerapan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Albertus. 2003. “Klasifikasi Varian Tengon dalam Rumpun Bidayuhik (Borneo Barat)". Tesis S-2. Universiti Kebangsaan Malaysia.

Aman, Rahim. 2005. "Rekonstruksi dan Klasifikasi Bahasa Bidayuhik Utara Purba (BUP)". Tesis Doktoral. Universiti Kebangsaan Malaysia.

Asfar, Dedy Ari. 2004. “Sastra Lisan Iban Sungai Rimbas Sarawak: Perspektif Etnopuitika". Tesis S-2. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Asfar, Dedy Ari. 2005. "Identitas Lokal dan "Ilmu Kolonial" di Kalimantan Barat". Dalam Yusriadi, Hermansyah, Dedy Ari Asfar (editor). Etnisitas di Kalimantan Barat. Pontianak: STAIN Press.

Asfar, Dedy Ari. 2006. "Varian Bidayuhik di Hulu Sungai Tayan". Laporan Penelitian. Pontianak: Balai Bahasa Kalimantan Barat.

Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Edisi Revisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Blench, Roger and Matthew Spriggs (ed.). 1997. Archaelogy and Language I: Theoretical and Methodological Orientation. London: Routledge.

Bloomfield, Leonard. 1995. Bahasa. Terjamahan I. Sutikno. Jakarta: Gramedia.

Blust, Robert A. 1981. "Variation in Retention Rate Among Austronesian Languages". Paper Presented at the Third International Conference on Austronesian Linguistics. Bali, January.

Blust, Robert A. 1992. The Austronesian Settlement of Mainland Southeast Asia. In papers from the Second Annual Meeting of the Southeast Asian Linguistics Sociaety, K. Adams and T.J. Hudak (Eds.), pp. 25--83. Tempe: Arizona State University.

Blust, Robert A. 1997. Nasal and Nasalization in Borneo. Oceanic Linguistic 36 (1): 149—179.

Bynon, T. 1994. Linguistik Sejarawi. Diterjemahkan Noor Ein Mohd. Noor. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Campbell, Lyle. 1998. Historical Linguistic: An Introduction. Edinburgh. Edenburgh University press.

Cense, A.A. and E.M. Uhlenbeck. 1958. Critical Survey on The Languages of Borneo. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Chambers, J. T dan P. Trudgill. 1990. Dialektologi. Diterjemahkan oleh Annuar Ayub. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Chong Shin dan James T. Collins. 2001. Six Bidayuhic Variants in Sekadau River. Borneo Homeland Data Paper Series No.3. Bangi: Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Chuchu, Jalaludin. 2003. Dialek Melayu Brunei dalam Salasilah Bahasa Melayu Purba. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.

Collins, James T. 1983. Dialek Ulu Terengganu. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Collins, James T. 1986. Antologi Kajian Dialek Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Collins, James T. 1987. Dialek Melayu Sarawak. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

3 Collins, James T. 1995. Pulau Borneo sebagai Titik Tolak Pengkajian Sejarah Bahasa Melayu. Jurnal Dewan Bahasa 39:868--879.

Collins, James T. 1996. Khazanah Dialek Melayu. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Collins, James T. 1998a. Klasifikasi Varian Melayik di Ketapang: Kepelbagaian Bahasa di Kalimantan Barat. Jurnal Dewan Bahasa 42: 233--260.

Collins, James T. 1998b. Malay, World Language: A Short History. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Collins, James T. 1999a. Wibawa Bahasa: Kepiawaian dan Kepelbagaian. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Collins, James T. 1999b. Keragaman Bahasa di Kalimantan Barat. Makalah yang disampaikan dalam Seminar Festival Budaya Nusantara Regional Kalimantan. Pontianak, 22 September 1999.

Collins, James T. 2001. "Metodologi Penyelidikan Bahasa". Kertas kerja yang disampaikan dalam ceramah Penelitian Kualitatif di STAIN Pontianak, 17 Juli 2001.

Collins, James T. 2005. "Ibanic Languages in Kalimantan Barat, Indonesia: Exploring nomenclature, distribution and characteristics". Borneo Research Bulletin 35:17—47.

Collins, James T. 2006a. Homelands and The Homeland of Malay. In Collins, James T. dan Awang Sariyan (ed.). Borneo and The Homeland of The Malays: Four Essays, hal.1—44. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Collins, James T. 2006b. "Ablaut: Menuju Deskripsi Morfologi Bidayuhik". Naskah.

Crystal, D. 1987. The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridge: Cambridge University Press.

Crowley, T. 1992. An Introduction to Historical Linguistic. Auckland: Oxford.

Dempwolff, von Otto. 1938. Vergleichende Lautlehre Des Austronesischen Wortschatzes. Hamburg: Friederichen, De Gruyter & Co.

Dunselman, D. 1949--1950. Bijdrage tot de kennis van de taal en adat der Kendajan-Dayaks van West-Borneo. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 105:59--105, 147-- 218; 106:321--373.

Effendy et.al. 1978. “Struktur Bahasa Bidayuh". Laporan Penelitian. Pontianak: Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Fernandez, Inyo Yos. 1996. Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores. Ende: Nusa Indah.

b

Hudson, A.B. 1970. A Note on Selako: Malayic Dayak and Land Dayak Languages in Western Borneo. Sarawak Museum Journal 18:301—318.

Hutomo, Suripan Sadi. 1991. Mutiara yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI.

Jeffers, Robert J. And I Lehiste. 1979. Prinsip dan Metode Linguistik Historis. Diterjemahkan oleh Abd. Syukur Ibrahim dan Machrus Syamsudin. Surabaya: Usaha Nasional.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Jakarta: Balai Pustaka.

Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Kroeger, Paul R. 1994. The Dialect of Biatah. Paper Presented at the Third Biennial International Conference of the Borneo Research Council, Pontianak.

Kroeger, Paul R. 1998. Language Classification in Sarawak: A Status Report. The Sarawak Museum Journal. 53(74):137- -173.

Mahsun. 1995. Dialektologi Diakronis: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Gadjahmada University Press.

Nothofer, Bernd. 1996. Migrasi Orang Melayu Purba: Kajian Awal. Sari 14:33--53.

Robins, R.H. 2003. Sejarah Ringkas Linguistik. Diterjemahkan oleh Noor Ein Mohd. Noor. Kuala Lumpur: Balai Pustaka.

Shamsul Amri Baharuddin. 1992. Metodologi Penyelidikan Sains Sosial: Suatu Pertimbangan Kritis. Kota Kinabalu: Fakulti Sains Pembangunan, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Diterjemahkan oleh Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Sujarni. 2004. "Klasifikasi Bahasa Bidayuhik Dialek Simpang Di Borneo Barat Daya". Tesis S-2. Universiti Kebangsaan Malaysia.

Susilo, Firman dkk. 2002. "Refleks Fonem Proto-Melayu—Jawa dalam Dialek Melayu Melawi". Laporan Penelitian. Pontianak: Universitas Tanjungpura.

Toping, D.M. 1970. “A Summary Statement of the Dialect Survey of the Land Dayaks of Sarawak". RELC Bulletin 1(2):52—55.

Trask. R. L. 1996. Historical Linguistic. London: Arnold.

Verhaar, J.W.M. 1981. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Wurm, S.A. and S. Hattori. 1983. Language atlas of the Pacific area, Part II: Japan area, Taiwan (Formosa), 良

Philippines, Mainland and Insular South-East Asia. Sheet 41, Northern Part of Borneo; Sheet 42, Southern Part of Borneo, compiled by S.A. Wurm. Canberra: Australian Academy of the Humanities in collaboration with the Japan Academy.

Yabit Alas. 2004. "Rekonstruksi Bahasa Dusunik dan Klasifikasi Varian-Variannya".TesisDoktoral.Universiti Kebangsaan Malaysia.

LAMPIRAN 1

THE INTERNATIONAL PHONETIC ALPHABET

(revised to 1993, corrected 1996)

Consonauts (Pulmonic) BilabialLabiodontal Postalveolar Dental Alveolar RetroßtexPalntal Velar Uvular Glottal Pharyngeal t Plosive Pb d c kg t d q G 2 Nasal m n m η N n n Thill B rR Tap or flap 5r β f v θ Fricative Φ S 8 os 3 5 n z j xY 5hh Z x 4 B

Isntrve

Approxdmant v1 是 j Latexel 1 1 L approodmant K sations judged impóonible. Consonants (Non-Pulmonic) Vowels Vaiced implosives Clicks Ejectives Central Front Back Bülablal 6 Babial Close-iqu Exemples uu iy u IY 1 Dental p a d Deotal alveolnt9 e x Close-mid ! Postialveolar f Pralotal to. Dental/alveolar # Palatoatveolar gvelar Open-mid G C Ik' Velax εæ-3 ae il Alveolar loteenlGUnlar S° Alvevlar fricative a Open Other Symabols

M. Voicela ablal-velar tricative repr
Alveolo-pulatal frkatives 1 W Votcad labial-velar approdmant Alveciar laterat Bap Volced labial-palatal appeomant Staulaneous J and X 6 H Voicelem epiglottal fricstive Suprasegmentals Voicod epiglottal fricative , 3 Primary streas Epiglottal plosive 1 Secondary strews p Dlacritics founa'tsən 8 e: : Long 。 Half-long e Voiceless.. Dreathy volced nd b a DentalQ Extra-shortě Voiced ~ Craaky volced 1 δ t b 8 Minor (too) gooup Apical $d h Asplrated Linguolablal Major (intonation) group r dh 1 d Larninal 1d a Syllable break Ji.aekt More rounded 3 Lablallzed Nasulized ē r d Linking (abence of a break) 1 Less rounded 2 Palataliced u d Nasal relense d Advanced Velartzod Tones and Word Accents 4 tr dY Lateral relense d LetdContour 5 Retracted e t ds No audible release Pharyngoalized d' ěor A Risaing

Eor l Bih

ë Velarined orpharyngealized Centralilzedé 1 Hügh e V Falling e Mid-centrallzed Ralsed é ē Mid e ( voiced alveolar fricative) Hüigh ristng è1 1ow eI Low risting Syllabic Lowered n e voled labialappoimánt) e 8 」B Riaing-talling Non-syllabic e e ↑Global rise ↓ Downtep Rhotelty Retracted tongue root ↓ e 1 Upotep Global (all

三

e LAMPIRAN II SENARAI INFORMAN

Jenis No.Nama Umur PekerjaanPendidikan Kelamin

  1. Ekuy Alian 43 tahun Laki-laki Petani SD
    2.Yustinawati38 tahun Perempuan Petani
    SD Heri

3.27 tahun Laki-laki Swasta SMA Tornado
4. Sulah 37 tahun Perempuan Petani SMP

Ida 25 tahun Perempuan
Antonius 41 tahun 41 tahun 50 tahun Perempuan Laki-laki Laki-laki
Asterius
  1. Petani SMP
  2. Laki-lakiPetani
    SD Siban

  3. Maria Ita Petani SD

  4. Umba' Petani SD
  5. Nuranus 36 tahun Swasta SMA
  6. 45 tahun Laki-laki Petani
    SD Lihoi Tidak

  7. Asin 70 tahun Perempuan Petani
    berpendidikan

  8. Yani 25 tahun Laki-lakiPetani SD

LAMPIRAN III

PETA ADMINSTRASI

KABUPATEN SANGGAU

KE SELUAS

KE SENANING KE NG. MERAKN KE SERIMBU

ESEKADAO KE LANDAK

4KE Sel. Ayax KE PONTANAK KE SEKAPALI

KETAPANG

EBALA BEWAK KETERANGAN

BATAS KABUPATEN BATAS KECAMATAN BATAS INTERNASIONAL JALAN SUNGAI IBUKOTA KABUPATEN IBUKOTA KECAMATAN

LAMPIRAN IV

adovasT ete9

PETA PROVINSI KALIMANTAN BARAT

1127 nf if MALAYSIA

KALIMANTAN TIMUR

KALIMANTANTENGAH

LAMPIRAN V

Peta Penyebaran Kelompok Budayuhik di Pulau Borneo

Singkawang.

KALIMANTAN

50 km

Versi Wurm dan Hattori (1983)

LAMPIRAN VI SENARAI KATA VARIAN BIDAYUHIK RIBUN (BR)

No. IndonesiaRiyai English

1hand tangan tonan 2 siku elbow cikup 2adepa fathom dopup

3 fingernail
4
5 kiri kanan tafuh
kaki mata kaki tumit malleolus heel
10 lutut knee
11 betis
12 sila?
13 walk maran
14 lari run bədədas
15 go
16 perahu bertolak ampus
17 come ntək
18 return ure?
19 belok turn belok
20 swim

kuku siru? jari finger tup'uk leftside moyi? 6 rightside 7 leg kojo 8 jalan 9 nkoduk jalan calf paha thigh berjalan

pergi ampus leave by boat datang balik kembali

berenang kolonon

è

22 21 mandi timbul float bathe mande'?
23 24 25 hanyut tenggelam bersih təmilik
26 kotor kotua
27 mencuci baju wash nombe? bojuh
28 cuci muka "clotheš washfacē komah
28a 29 30 31 mencuci piring debu pinggang dust skin waist nombe'7 pin⁹an kuhi? huntuk posik

timbua sink maman clean ntinin dirty

dobu" kulit belakang back of bodý

32 perut stomach tonik
33 a
34 pusat navel
35 36 kemaluan laki-laki kemaluan perempuan female male genitals tuha
37 bone
38 39 hati usus liver intestines oti tonik kas 0
40 41 heart
42 43 bahu susu shoulder breast tisuk ombu
44 45 ketiak tulang selangka collarbone armpit kopoho
46 47 dada rusuk chest rib sau?
76 8

kopu³g pako? genitals

tulang tuhon
jantung empedu puduh jantug

gall

tuhon ombu togo°g

è

48 neck
49 50 tundun
51 tahu ta?
52 think
53 takut
54 darah blood
55 kepala head bo:?
56 otak brain nto"?
58 59 forehead face
60 61 62 chin pompi
63 64 nose
65 mencium noduk
66 mulut
67 68 mulut sombi²h
69 70 gusi lidah daduh
71 72 menganga
73 tertawa nota
74 menangis cry
75 muntah vomit
76 meludah
77 eat rou?
78 makan (kata kasar) eat coarsē
79 mengunyah mopo

leher toso pungow kerongkongan throat hoku³n know berpikir pikih fear golo? doyo

57 rambut "headhair buhubo? dahi lankeh mukajo"i 5 pipi cheek dagu ho° rahang jaw tuhon ho³g hidung tondun bernapas breathe2 gaso° sniff 4 mouth tuko"? mouth gigi toothw jipun gum tongue jiho ntogo? langit-langit palate lani²h asmile noni°h guto spit huco"h makan monko? mchew

80 masak nasi cook rice nono? tubi?
81 82 kerak nasi scorched rice koho?
83 minum
84 bite
85 mengisap jari suck finger
86 mengisap gula-gula suck candý
87 88 89 90 menyusu telinga mendengar tidak bisa mendengar deaf suckle ear hear nisuk
92 91 mata alis mata eye eyebrow motuh bahansu
93 94 95 96 97 98 98a 99 100 melihat tidak bisa melihat menguap tidur katil bantal see yawn lie down dream delirious bed ntile'? bokoª? nala bi:s mpumu niga banta
101 102 103 duduk kaki kebas berdiri sit numb stand dudo"k
104 105 orang human man opno dahi
106 woman
107 anak ono?
108 suami husband bonuh
109 110 istri adik wife younger osa

belanga claý potpiyo"k drink pindi? menggigit mita? səpiut ninkiņ

kopin gopin bana

blind mpoª7 berbaring a sleep bermimpi mengigau lanke²? pillow

monkea 0 tokut

lelaki perempuan nayu°η child

i ode'?

旦

π

sibling 111 kakak lelaki older mbu? rahi brother 112kakak perempuan older mbu? dayu°η sister 113 ibu mother ndo"? 114 bapak father moan 115 nenek ne? grands mother 116 kakek grands aba éfather 116a co"?

cucu grandchild
117 118 sepupu cousin brother or
119 sisterinlaw
120 teman friend
121 rumah
122 atap
123 124 kasau rafter kasa
125 door
126 wall
128 127 jendela bendul threshold window lanta
129 stairs
130 dapur kitchen
132 bakul botol bottle basket kundi
133 ketel kettle
134 hearth
135 para rack above

sdpeus ipar poªh

kawan friend kawan 3dinan house homin 4roof howan

tiang post tiyon pintu gigin dinding dindin

jəndela tangga onjan 4 dapa"? 131 bakua cihe? tungku tujka"? pa:s hearth

136 pelataran back porch kaki lima?
137 verenda kaki lima?
138 nama name
139 140 berkata say mute bobe awa?
141 142 talk
143 answer
144 lie
145 akal mind, lie
146 tali rope
147 tie
148 unfastened
149 150 151 loose
152 153 menjahit sew needle tumuh
154 hunt
155 hamba
156 157 menembak menikam dari atas shoot stab from nimba?
above
158 stab from
below
159 menikam dgn tombak jab with
160 161 162 luka berkelahi menumbuk [jotos] spear wound towan

front porch odan

tidak bisa omong bercakap gumu°η bertanya ask mise'? menjawab nawoª? bohong honka aka tohis mengikat nisia? lepas lopah longgar gohu²h simpul knot pimpua putus snapped off potik 9 jarum jahikg berburu [anjing] ganoª? with dog berburu [sembunyi] hunt by hiding

9 nupjam menikam dari bawah nupjam nicu?

fight dohuh pound gamo?

合 tempeleng slap

163a 163 cubit nampa
163b 163c 164 165 pulas telinga bermain twist hit with wood motek

pinch kumbi? jentik tihis pukul dgn kayu panku°g play aja 165a bermain gasing nkaja osik 166 dorong push cuhu°η 167 tarik pull tahe?

168 mencuri
169 memberi
170 take
171 membunuh kill
172 mati die
173 midi?
174 scratch
175 bisul pohoncis
177 176 gosok mengusap rub kuso"? mulah
178 daki skin dirt
179 memotong [sayur] cut vegetable
180 memotong dengan
181 182 slice
183 membelah
184 tajam [hujung]
185 sharpbladed

steal nonku give pilae mengambil miyu²h kabis kobis hidup live menggaruk goyulo boil é wipe

hino? gopuk kapuk 日parang mengiris niho? kayu wood koyuh o split miyo? sharp hojo pointed tajam [mata] hojo jowi ba:y 186 tumpul [hujung] blunt gkuli²h φ1"point

187 tumpul [mata] blunt edgě gkuli²h jo"i 188bekerja work kijo 189perahu boat ohut 190 kayuh paddle bəkayo"h 191 pengayuh a paddle pənayoh

192 rakit/tepian hakik
193 timba ruang
194 sail
195 196 kemudi
197 boat seat
198 terbalik
199 luan luan
200 buritan stern
201 unirrigated agricultural mu:h
201a menanam field
202 muhuh
203 mencabut
204 205 memilih beras choose
205a 206 207 208 209 menampi tumbuh bengkak winnow broken gampey
210 memeras tihis
211 memegang grasp
212 catch
213 nuces
213a menebuk tobok, nobok

bailer pənimbo layar layar rudder hiam galah punt pole punah sengkar ko:n kəlinkoª? prow mudi lading 9 plant cangkul mattock pull out nobuh mileh bohah mengayak sifter noyo?

grow lanton 0 buat [meja] make moņki mija swollen bonko? patah poto wring nigikg tangkap noki? menggali dig

画

214 membeli
215 jual
216 borrow
217 218 membuka open close muko?
219 220 menumbuk padi melamparkan [batu] pound throw a stone nikam botuh
222 221 tersangkut, trip and batan
223 jatuh fall down fall
224 fall of fruit
225 226 kera macaque koho kosuh
227 226a beruk cat boho"?
229 228 ayam bird chicken mono?
231 230 telur bulu egg tuhu buhuh
232 233 jengger sayap wing cock's.comb ha?
234 235 paruh cakar talon tuko"?

buy mihis sell jua pinjam nip'in 部 tutup titi? nimpuh podi membuang [rokok]. throw [cigarette] pəlantin terpelanting jotuk [buah] jatuh gago²h anjing dog

kucing ci*n burung siyoª? 通 feather

nkuha? beak noka 236 taji cock's spur taji 237terbang fly layo° e daging dagikn

238 239 isi flesh meat se:s
240 241 lemak minyak fat oil lomu
243 242 tikus mouse tupa bohobuh

minoª? tupai squirrel

244 kuwi?
244a ekor [2 ekor]
245 snake
246 racun ular venom biso
247 ular sawa sawo
248 lipan
249 luminous centipede
250 cacing tanah earthworm
251 lintah leech
252 kutu rambut headlouse
252a telur kutu
253 254 louse fowl
255 babi hutan ci:s
256 tusk

ekor [panjang] tail snolo ular nipuh

python centipede tihipan sj lipan kecil mayih

cacin mi'ito"? gutis tuhu gutis kutu ayam koces kutu anjing louse"doğ sampa"? forest pig taring tahig 257sarang babie pig's nest cohi 258 tempat babi mandi pig wallow pəhonkan

259 ndih johan ci:s
260 mosquito
261 mosquito larvae
262 agas nahit
263 labah-labah mpawo
265 264 buaya biawak crocodile monitor lizard
266 ikan fish
267 268 mata kail sekawan ikaņ fish hook motuh kaia
269 keli
270 belida
271 seaturtle

jalan babi pig's path nyamuk pungo jentik

gnat spider A bayo? jowo? ka:n school of fish kolonoan

koley blido tapah tapuh

己

π

273 272 kura-kura labi-labi turtle riverine turtle kuho biduh
274
275 276 modam
277 278 dahan branch tree pun
280 279 281 280a daun bunga durian root leaf wa? ran sua? dian onku²h
283 282 284 rambutan liar kecil rambutan forest rambutan sago palm rambutan bu"uh rambut sagaw
286 285 buah nangka jackfruit fruit bu"uh
287 288 tudo?
289 rumput grass
291 290 292 bambu buku bambu fern coka? bukuh
293 tanah "bamboõ poyo
294 295 296 batu air stone sand water botuh
297 298 flow
299 laut sea

udang shrimp anga"? busuk [bau] smelly busuk [kayu] jehopo"? pohon dan akar [tanah] akar [gantung] durian flower

homun pohon sagu

nanko cempedak type of àjackfruit peria bitter gourd ciyo du:h paku bamboo muntey 8 node

soil a pasir kohosey? pikn mengalir maman banjir flood lampa la:k

e

a

300 kuala estuary nogu
301 302 303 304 garam danau sungai lake salt gaham donu
306 305 air pasang air surut rise tidë cuhut
307 arus current arus
308 309 paya rawa-rawa swamp swamp bia
310 kolam pool kolam
311 hutan forest tohu'n
312 semak undergrowth somo?
313 314 becek, lumpur gunung mountain mud dohit
315 316 317 bukit bukit kecil hill hillock bokit
318 matahari sun motuh ondu
319 bulan
320 star
321 322 kabut awan cloud mist, fog mokik kabut
323 rain
324 guntur thunder
325 326 kilat
327 328 329 [aku] panas hot self hoť teã lotik lotik
330 cold
331 332 basah wet bisuh

river suni pusaran air whirlpool putar popuh ebb

lobo?

licoª?

mpahtu? 0 langit sky honi? moonbuhakn bintang klintoªη

hujan jakn guntuh B lightning kila? angin wind buwo? 0 bertiup blow layoªη

[the] panas dingin coloª? kering dry hanka

心 333 aga? bisuh 334 boha? 335 nagan 336 opi 337 nugu'n

338 337a ember nicu baho
339 asap
340 341 ash
342 343 merah ntoco²? mapaw
344 ntomu

asoª? abuh Daba"?

345 346 347 348 349 4

hampir kering berat ringan api bakar [ayam] bakar [ladang] bara api abu hitam putih

kuning hijau kecil besar pendek [orang] pendek [baju]

350 351 panjang dombah
352 353 malas malah
354 355 356 tebal hidi sumpit
358 359 360 sakit mondam da:s mondam bo:? mondam tonik
kosik

rajin tipis

sempit baju sempit [jalan] lebar

sakit perut sakit kepala kencing buang air besar ngilu

damp heavy light fire burn

smoke

black white red yellow green small big short height

long harworking lazy thin thick tight narrow wide painful head ache urinate

smarting pain

ja: na:y? da:s kidik kidik

hajikg

tobal

sumpit à 357 0

361 361a 362 tike? hiņih

363 malu
364 tua old muntuh
365 muda young mogut
366 367 baru [sampai] lama [sampai] recently bah mondik
368 369 [baju]baru
370 baik
371 bitter
372 manis sweet
373 bad
374 true bənah
375 mentah raw monto
376 moso?
377 378 licin lurus straight slippery
379 round
380 380a kosong empty kusu'g
381 382 malam malam tadi

shy mogun

long time otay mondik new boju bah [baju] lama old boju tiyan good ba:?, bagah pahit poyi? pije? jahat biyet benar

masak ripe buju? pcuhu bulat巴 penuh full pinu?

night gohitg last night gohi'g atis 383 hari day ondu 384 semalam last night, gohi'ą gohis yesterday yesterday8

385 kemarin mindus
386 dua hari lalu two days ago. dokas mihindus
387 besok lusa tomorrow tomorrow mosi? pahaji?
389 tulat
390 391 tahun kapan when sowo ndah
392 dulu hamih

pahaji?0 388 day after

. days hence pahaji? siha? year

prior, first

è

393 kemudian
394 395 naik bersembunyi go up koso"? simo?
396 turun go down təmono
397 398 di meja di dalam kamar in room at tablē ho? mija?mijo
398a luar outside
399 di atas kursi on chaiř tuduh banku
400 400a di bawah meja di pinggir rumah under tablē nomo? homin
401 mana tempat where kokes
402 403 itu ini this that tou
404 dekat near somo?
405 406 far where kokes
407 rumah sendiri "oneš own
408 saya 1 house oko
409 kamu you omo
410 dia he, she, it odia
411 412 kita kami weincl weexcl mimo? mimo?
413 414 kamu sekalian mereka dimo?
415 apa what oneh
416 417 aku sendiri 1 myself who oses
418 lain other
419 semua

later mosi? han hide

sa:s panki³η

sigan mija

njia

jauh di mana homin todi³? homin todi³?

all of you a they di'ia?

èsiapa oko todi³? bikikn all sodo? 420 dua orang saja only two dokuh kunan persons e421 dapQQ00Q00 and oko ga omo

e

è

422 kalau
423
424 karena [dia pergi...]
425 426 mengapa
427 belum not yet
428 bukan no
429 tidak no kea
430 431 ya yes
432 sebuah one fruit
433 seorang one~mañ
434 seekor one~animal
435 436 count
437 437a sedikit a little
438 satu one
439 two dukuh
440 three tahun
441 empat
442 himuh
443 enam six
444 seven
445 ma
446 nine
447 sepuluh ten
447a sebelas eleven
448 ohas
449 laos lonkah
450 serai coha
451 turmeric

if.....
sebab hujan because səbab because kərna

why goneh bagaimana how monkes gu:a bikikg

muhan, muhean sebiji one“itemñ gole? bigey? gole? todi? gole? sənolo menghitung bihituη berapa how many kudu cik 8 banyak many obin anja? dua tiga four mpa? lima five ni:n e tujuh ju: delapan eight sembilan0 pihi tusimu°y səbolah jahe ginger galangale lemongrass kunyit kuni³?

B

452 453 454 455 456 457 458 458a 459 460 461 462 463 464 464a 465 466 467

petay jengkol kerbau tanduk pulau limau pisau parang semai mendaki tergelincir terantuk di sana di situ di sini di seberang di hulu di hilir

type of tree type of tree water buffalo horn island lemon knife

sow climb hill slip

over there yonder

other side upstream downstream

pota nkode kohoba tondo"? pula himu ladikg bay suma pcino? klupcu²h santa"? gunjah nunjia gotou ho? lipuh ho? soju ho? sobo

short machete, chopping

161.malu (ma)-Siaq (ma)-tuqah monun
162.tua first, ancient, go before') muntuh
163.baru baqeRu bah
164.baik (ma)-pia, dia zaqat, zaqət ba: ?, bagah
166.benar 167.malam 168.hari (ma)-bənəR bəRni-n qaləjaw, daqani, waRi ondu bənah
169.tahun taqun SOwO
170.kapan ndah
171.sembunyi 173.di buni (pa)-naSik qi, di koso"? jncino?
174.dalam sa:s
175.atas babaw
176.bawah qi babaq
177.ini 178.itu qi-ni, a-ni qi-na (distant), qi-tu tou

(DISCARD: (ma)- Suna ‘old (of things),

165.jahat biyet
gohikg

-ijan

172.mendaki
ho7 qi Daləm, lem qi taqas, a taqas, qi tuduh sigan

F (nar hearer)pjia 二

!

4、

179.dekat azani somo?
180.jauh (ma)-Zauq
181.di mana i-nu
182.saya 183. engkau (i) aku (i) kaSu, (i) Su oko

kokes kokes -

184.dia (si) ia odia
(i) kita (incl.), (i)
185.kita
kami) (excl.)

186.kamu kamiu (i) (kamu), kamuyu, mimo?
187.mereka (si) IDa (i) sai oses
190.lain duma amin sodo?
193.jika 192. dan/dengan a, ka, ma, na ka, nu na
194. bagaimana kua, mana diaq, qazi monkes kea [bikikn]

di'ia? apa, sapa (DISCARD:

  1. apaanu ‘whatchamacallit')oneh
    4

189.siapa
4 bikikg

191.semua
-

195.tidak
196.menghitung bilaņ, qi (n) tunbihitu°g
197.satuasa, əsa, isa, sa, tasa
anja?

198.dua DuSa dukuh
a 神 品 e

10-0012

  1. təlu tahun tiga
    200.empat Səpat mpa?

    PERPUSTAKAAN

PUSAT BAHASA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL