Badan Pengembangan Bahasa dan PerbukuanSetia Naka Andrian
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
SETIA NAKA ANDRIAN
Narasi Perjumpaan di Jagat Mandar
Bacaan untuk Remaja Setingkat SMA PB
NARASI PERJUMPAAN DI JAGAT MANDAR
Setia Naka Andrian
NARASI PERJUMPAAN DI JAGAT MANDAR
| Penulis | : Setia Naka Andrian |
|---|---|
| Penyunting | : Setyo Untoro |
| Ilustrator | : - |
| Penata Letak | : Setia Naka Andrian dan Riko Rachmat Setiawan |
Diterbitkan pada tahun 2019 oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun Jakarta Timur
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
“Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah”.
| PB | Katalog Dalam Terbitan (KDT) |
|---|---|
| 398.209 598 | Andrian, Setia Naka |
| AND | Narasi Perjumpaan di Jagat Mandar/Setia Naka |
n Andrian; Penyunting: Setyo Untoro; Jakarta: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019. xiii; 190 hlm.; 21 cm.
ISBN: 978-602-437-916-2
- Karya Sastra-Indonesia
Mengirim Sastrawan ke Daerah 3T
Menjaga NKRI
Pada dasarnya, sastra dapat dijadikan sebagai sarana diplomasi lunak (soft diplomacy) untuk memartabatkan bangsa dalam pergaulan global. Selain itu, sastra juga dapat memperteguh jati diri bangsa, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan mencerdaskan bangsa. Sastra yang memotret peradaban masyarakat bahkan dapat memberikan pemahaman lintas budaya dan lintas generasi. Sayangnya, masyarakat dunia kurang mengenal karya sastra dan sastrawan Indonesia. Hal itu mungkin terjadi karena sastra belum menjadi kebutuhan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Karya sastra belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana strategis pembangunan bangsa. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah merasa perlu memfasilitasi sastrawan untuk berpartisipasi nyata dalam pembangunan bangsa secara paripurna. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan telah menyelenggarakan program Pengiriman Sastrawan Berkarya sejak tahun 2016. Pada tahun 2016 satu orang sastrawan dikirim ke luar negeri (Meksiko) dan lima orang sastrawan ke daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal), yaitu Sabang, Aceh; Nunukan, Kalimantan Utara; Halmahera Barat, Maluku Utara; Belu, Nusa Tenggara Timur; dan Merauke, Papua. Pada tahun 2017 enam orang sastrawan dikirim ke daerah 3T, yaitu Natuna, Kepulauan Riau; Bengkayang, Kalimantan Barat; Talaud, Sulawesi Utara; Dompu, Nusa Tenggara Barat; Morotai, Maluku Utara; dan Raja Ampat, Papua Barat. Pada tahun 2018 enam orang sastrawan dikirim ke daerah 3T, yaitu Kepulauan Meranti, Riau; Nias, Sumatra Utara; Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah; Konawe Kepulauan, Sulawesi
iii
Tenggara; Buru, Maluku; dan Seram Bagian Barat, Maluku. Pada tahun 2019, ada delapan orang sastrawan yang dikirim ke delapan daerah 3T, yaitu Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat; Boalemo, Gorontalo; Polewali Mandar, Sulawesi Tenggara; Parigi Moutong, Sulawesi Tengah; Seruyan, Kalimantan Tengah; Sampang, Jawa Timur; Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat; dan Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Adapun alasan pengiriman sastrawan ke daerah 3T di Indonesia adalah untuk memenuhi salah satu Nawacita Presiden Republik Indonesia, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa-desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sastrawan yang dikirim ke daerah-daerah tersebut diharapkan dapat mengangkat warna lokal daerah dan memperkenalkannya ke dunia yang lebih luas melalui sastra. Salah satu rangkaian dalam penerbitan buku ini adalah proses penilaian yang telah dilakukan oleh Pusat Perbukuan. Buku ini merupakan karya para sastrawan yang diperoleh dari hasil residensi selama kurang lebih tiga puluh hari. Buku karya sastrawan ini mengangkat potensi, kondisi, dan kearifan lokal daerah 3T. Semoga buku ini dapat memperkaya khazanah sastra Indonesia dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sastra Indonesia.
Jakarta, Oktober 2019
Dadang Sunendar
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
iv
Dari Pinggiran Kita Mengenali
Kebinekaan Indonesia
Ada dua frasa penting dalam Nawacita ketiga dan kesembilan program pembangunan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, yaitu “membangun Indonesia dari pinggiran” dan “memperteguh kebinekaan”. Nawacita ketiga memastikan perlunya kebijakan afirmatif dalam membangun daerah pinggiran, sedangkan Nawacita kesembilan menyebut perlunya menjaga kebinekaan Indonesia. Dalam kerangka penyediaan bahan bacaan tentang sosial budaya daerah pinggiran untuk mengenalkan kebinekaan Indonesia, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program Pengiriman Sastrawan Berkarya ke Daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal). Program ini merupakan salah satu program penguatan kemitraan kebahasaan dan kesastraan, khususnya kemitraan dengan sastrawan. Para sastrawan yang dikirim ke daerah 3T dipilih oleh tim juri yang terdiri atas sastrawan terkemuka, akademisi, dan peneliti sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan dengan mekanisme, syarat, dan ketentuan yang diatur dalam panduan seleksi. Dalam program tersebut, sastrawan menulis cerita, puisi, prosa, dan/atau esai tentang daerah 3T. Program pengiriman sastrawan ke daerah 3T sudah dimulai sejak tahun 2016. Artinya, tahun ini merupakan tahun keempat pelaksanaan program ini. Program ini masih menggunakan model yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni model residensi. Akan tetapi, berdasarkan evaluasi pelaksanaan program pada 2018, waktu residensi sastrawan pada tahun ini diperpanjang menjadi tiga puluh hari. Selama bermukim di daerah penugasan, para sastrawan bersilaturahmi, bersosialisasi, berkomunikasi, berinteraksi, dan
v
berdiskusi dengan berbagai lapisan masyarakat, komunitas, dan pemerintah daerah setempat untuk memperoleh informasi yang terkait dengan budaya, adat istiadat, tradisi, modal sosial, perubahan masyarakat, dan masalah-masalah terkini yang sedang terjadi. Sekembali dari daerah penugasan, selama kurang lebih dua bulan, para sastrawan menuliskan pengamatan, pengalaman, dan pengetahuannya ke dalam buku yang diberi tajuk “Catatan Jurnalisme Sastrawi” dari daerah pinggiran. Delapan karya yang dihasilkan melalui program Pengiriman Sastrawan Berkarya 2019, yaitu Narasi Perjumpaan di Jagat Mandar oleh Setia Naka Andrian; Berlabuh di Bumi Sikerei oleh Tjak S. Parlan; Mengintip Tanah Wetu Telu dari Sebalik Sisa Reruntuhan Gempa oleh Mutia Sukma; Ke Parimo (Kisah Perjalanan di Kabupaten Parigi Moutong) oleh Eko Triono; Melawat ke Seruyan: Mengabadikan Epistolari Perjalanan di Seruyan oleh Aksan Taqwin; Ke Sabu, Kita ke Raijua oleh Hary B. Kori’un; Boalemo, Surga yang Tertidur oleh Faisal Syahreza; dan Melacak Denyar Sampang (Catatan Perjalanan di Sampang, Madura) oleh Agit Yogi Subandi. Dengan demikian, sampai tahun 2019 sudah ada 25 buku catatan jurnalisme sastrawi tentang daerah 3T—dari Sabang hingga Merauke dan dari Belu hingga Talaud. Hal itu sesungguhnya telah merentang kebinekaan Indonesia yang nyaris sempurna. Dari daerah pinggiran, kita menemukan betapa masyarakatnya merawat tradisi, bergotong- royong, guyub, dan senantiasa menjaga keharmonisan antara manusia dan alam lingkungannya. Kehebatan masyarakat pinggiran, terutama daerah yang berbatasan langsung dengan negara lain juga dapat kita temukan. Mereka mampu menyiasati tekanan ekonomi tanpa kehilangan nasionalismenya. Meski kadang-kadang terabaikan dalam ikhtiar pembangunan, masyarakat perbatasan ini senantiasa terus merawat jiwa dan pikirannya sebagai orang Indonesia menjadi “penjaga Republik”.
vi
Catatan jurnalisme sastrawi dalam 25 buku ini sesungguhnya telah menampilkan lanskap tradisi, keyakinan terhadap cara mengelola alam sekitar, cara merawat nilai-nilai baik, dan cara masyarakat 3T menghadapi perubahan sosial. Semua makna ini ditulis dengan begitu sublim oleh sastrawan, suatu cara lain mengabarkan informasi demografi dengan mengandalkan kekuatan kata-kata, tidak sekadar angka-angka numerik, sebagaimana laporan sensus pembangunan yang disediakan oleh Badan Pusat Statistik. Pula, catatan jurnalisme sastrawi tentang daerah 3T ini sesungguhnya telah memberi sisi lain dari penggambaran perubahan masyarakat. Dengan membaca buku ini kita seakan telah pergi berjumpa dengan masyarakat di daerah yang jauh dari pusat kemajuan di kota-kota besar di Indonesia. Dari sini, kita mendapatkan pengetahuan dan kesadaran, tidak saja mengenai ketangguhan masyarakat, ketimpangan antarwilayah di Indonesia, tetapi juga yang amat sangat penting adalah kita semakin menemukan Indonesia begitu beragam. Dari pinggiran kita menemukan keragaman dan catatan atas keberagaman itu tersublimasi melalui kata-kata. Pemerintah, terutama pemerintah daerah, yang wilayahnya ditulis oleh sastrawan berkarya ini sejatinya dapat menjadi sumber, hikmah, dan bahan bagi perancangan pembangunan daerah yang meletakkan manusia sebagai titik edar pemajuan daerah. Selamat membaca daerah 3T dalam lanskap kata dan gambar. Temukanlah makna terdalam di balik kata dan gambar ini untuk tetap menjaga keindonesiaan kita yang beragam.
Jakarta, Oktober 2019
Hurip Danu Ismadi
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan
vii
Narasi Perjumpaan di Jagat Mandar ini merupakan sebuah kerja merekam jejak-jejak perjumpaan yang dilalui selama menjalani Program Sastrawan Berkarya di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
viii
Sebuah Pengantar Kecil
Sungguh kesempatan berharga bagi saya, dapat mengikuti Residensi Sastrawan Berkarya ke Wilayah 3T dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ini. Keinginan saya pun begitu besar untuk mengikuti program ini. Terbukti, tahun lalu (2018) saya turut serta mengikuti seleksi residensi ini, tetapi tidak lolos. Saya tak patah semangat, tahun berikutnya (tahun ini) memberanikan diri untuk mendaftar lagi, dan syukur alhamdulillah saya lolos serta mendapat kesempatan untuk residensi ke Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Barang tentu, saat pengumuman dari Badan Bahasa diedarkan, saya pun kaget ketika nama saya tercantum. Sungguh keberuntungan, tak lebih dari itu. Sebab, saya bersanding dengan nama-nama besar yang lebih berkibar sangat lebih jauh daripada saya. Meski di antaranya masih ada beberapa nama yang masih seusia, atau meski selisih, ya selisih sedikit di atas saya. Tahun ini, ada delapan yang terpilih untuk mengikuti Residensi Sastrawan Berkarya ke Wilayah 3T. Tujuh kawan lainnya, yakni Hary B. Koriun (Riau ke Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur), Agit Yogi Subandi (Lampung ke Sampang, Jawa Timur), Mutia Sukma (Yogyakarta ke Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat), dan Eko Triono (Yogyakarta ke Parigi Moutong, Sulawesi Tengah), Faisal Syahreza (Bandung ke Boalemo, Gorontalo), Aksan Takwim (Banten ke Seruyan, Kalimantan Tengah), dan Suparlan (Lombok ke Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat). Tentu, saya mengucap syukur kepada Allah Swt. dan terima kasih kepada Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selanjutnya, terima kasih pula saya sampaikan kepada para kurator, yang telah memilih, di antaranya Triyanto Triwikromo, Djoko Saryono, F. Rahardi, N. Riantiarno, dan Agus Sri Danardana. Terima kasih pula kepada pendamping saya, yang telah menemani serta membantu mengurus segala administrasi perjumpaan awal saya di Polewali
ix
Mandar, Sulawesi Barat, Pak Setyo Untoro dan Mbak Dwi Estina dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud, serta Pak Abdul Rasyid (Balai Bahasa Makassar). Pun, terima kasih setinggi-tingginya pula saya ucap kepada tujuh kawan residensi tahun ini. Tentu, bagi saya sendiri, tidak sedikit yang telah saya serap dari mereka. Banyak hal yang menjadi pelajaran saya tersendiri, saat saya bersama mereka awal-awal pembekalan dan selepas usai residensi di Wisma Badan Bahasa. Wajib pula, saya ucap terima kasih kepada segenap Orang Mandar, yang begitu besar membantu saya dalam segala hal, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Ibu Hj. Andi Nursami Masdar beserta keluarga; Bustan Basir Maras beserta segenap kawan-kawan komunitas literasi di Korumta (Komunitas Rumah Kita) Malunda, Kab. Majene, Sulawesi Barat; Muhammad Munir beserta segenap kawan-kawan di Rumpita (Rumah Kopi dan Perpustakaan) Tinambung, Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat; Muhammad Ridwan Alimuddin beserta segenap kawan-kawan pegiat literasi di Nusa Pustaka Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat; beberapa kawan lain di antaranya, Thamrin Uai Randang, As’ad Sattari, Muhammad Ishaq, Sri Musdikawati, Asnun Mahmoeddin, Muh Dalif, Ramli Rusli, Muh. Rahmat Muchtar, Sahabuddin Mahganna, Syuman Saeha, Abd. Basith Wahab, serta kawan-kawan lain dan segenap Orang Mandar yang tak bisa saya sebutkan satu-satu. Terima kasih, saya ucap sepenuh rasa hormat, kepada Bapak/Ibu pimpinan di Universitas PGRI Semarang; Rektor, Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, dan Kaprogdi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah berkenan memberi izin untuk menunaikan perjalanan selama sebulan penuh di tanah residensi sastrawan berkarya ini, di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Terima kasih tak hingga kepada istri, Ulfatur Rohmah, yang telah merelakan beberapa waktu yang hilang, lebih kurang satu bulan itu, yang seharusnya saya berikan keberadaan di sampingnya.
x
“Narasi Perjumpaan di Jagat Mandar” adalah sebuah kerja merekam jejak-jejak perjumpaan yang saya lalui selama lebih kurang satu bulan di Polewali Mandar Sulawesi Barat. Perjumpaan terhadap manusia, alam, kebudayaan, benda-benda, atau apa saja. Sungguh, awalnya (saat hendak berangkat) satu bulan itu terasa sangat panjang. Bahkan, saya merasa kebingungan, hendak melakukan apa saja dalam waktu sepanjang itu. Namun ternyata, selepas terjun, bergumul dengan Orang Mandar yang begitu baik-baik, satu bulan terasa sangatlah pendek. Bahkan saya merasa banyak hal yang belum tunai. Banyak janji-janji perjumpaan dengan Orang Mandar yang belum sepenuhnya tuntas. Dan, untuk menghibur diri dan mereka, saya meyakinkan, bahwa suatu saat saya pasti akan kembali lagi ke Mandar. Ya, suatu saat, dan tentu dalam kesempatan lain.
Kendal, Juli 2019 Setia Naka Andrian
xi
Daftar Isi
Mengirim Sastrawan ke Daerah 3T Menjaga NKRI.........................................iii
Dari Pinggiran Kita Mengenali Kebinekaan Indonesia................................v
Sebuah Pengantar Kecil..................................................................................................x
Daftar Isi..................................................................................................................................xii
Jakarta, Pilek, dan Takdir Sebuah Perjalanan...........................................................1
Sahabat Karmuji dan Saiyyang Pattuqduq.................................................................7
Sebuah Perjumpaan Awal, Sanggar, dan Tubuh yang Bergetar.........................13
Pagi Hari, Waktu Kerja di Daerah Tertinggal............................................................19
Pantai Mampie dan Saat Pendamping Harus Pulang............................................23
Hari Minggu Pertama di Polman....................................................................................31
Berteduh di Masjid Imam Lapeo....................................................................................35
Prasatsi Allamungan Batu di Luyo.................................................................................39
Ramli Rusli dan Kisah Masa Kecilnya di Sungai Mandar.....................................46
Amma Cammana, Sang Maestro Rebana.....................................................................53
Lapak Baca ‘Bergerak’ di Jagat Mandar.......................................................................59
Syekh Abdul Rahim Kamaluddin di Pulau Tosalama ............................................66
Robohnya Museum Kami...................................................................................................71
Kebun Kakao di Landi Kasunuang.................................................................................80
Yusri, Rumah Penyu, dan Solusi Bagi Warga Pemburu Telur Penyu ..............87
xii
Jejak Festival Sungai Mandar di Hutan Bambu Alu................................................99
Passauq Wai dan Ibu-Ibu Tangguh Itu.........................................................................107
Penenun Muda Dari Pambusuang.................................................................................113
Keluarga ‘Sangat Literasi’ .................................................................................................119
Kembali (Lagi) ke Makam Todzilaling..........................................................................124
Sumur To Salama di Samasundu, Meluap Saat Kemarau Datang.....................130
I Calo Ammana Wewang dan Sejarah Perlawanan.................................................136
Makam Raja-Raja Banggae Mandar di Bukit Ondongan Majene......................141
Makam Suryodilogo di Makam Mara’dia Pamboang Majene Sulbar...............145
Mesjid Purbakala Syekh Abdul Mannan Salabose..................................................149
Berteduh (Lagi) di Masjid Imam Lapeo.......................................................................154
Tajriani Thalib, Pakkacaping Tobaine..........................................................................160
Hari Ujung di Polman..........................................................................................................173
Saya Harus (Benar-Benar) Pulang.................................................................................177
Jumpa Kawan Seperjuangan di Wisma .......................................................................183
Daftar Informan..................................................................................................................187
Biodata Penulis...................................................................................................................189
Biodata Penyunting...........................................................................................................190
xiii
Setia Naka Andrian
Jakarta, Pilek, dan Takdir Sebuah Perjalanan
Narasai Perjumpaan di Jagat Mandar
akarta, kota yang tak pernah diam. Dalam ingatan masa lalu saya, sejak masa
Jkecil, Jakarta menjadi kota impian yang hendak saya kunjungi. Barangkali
segala ini dirasakan pula oleh anak-anak kecil lainnya, apalagi saya sebagai anak desa. Salah satu mimpi saya adalah ingin mengunjungi Jakarta, ibu kota Indonesia. “Suatu saat, saya pasti akan ke Jakarta!” Syukurlah, sejak usia kuliah, saya kerap berkunjung ke Jakarta untuk menghadiri acara-acara kesenian. Meski, kali pertama ke Jakarta sesungguhnya saat mengunjungi saudara, lalu kali kedua, saat saya sempat kabur dari rumah. Selama satu minggu di Jakarta, namun pada akhirnya tetap tinggal di rumah saudara. Pada akhirnya pula, tetaplah pulang ke kampung halaman kembali, di Kendal, Jawa Tengah. Dan, 2019 ini, Jakarta memanggil saya kembali, dalam kerja Residensi Sastrawan Berkarya di Wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud untuk menapaki di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Tujuh kawan lainnya, yakni Hary B. Koriun (Riau ke Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur), Agit Yogi Subandi (Lampung ke Sampang, Jawa Timur), Mutia Sukma (Yogyakarta ke Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat), dan Eko Triono (Yogyakarta ke Parigi Moutong, Sulawesi Tengah), Faisal Syahreza (Bandung ke Boalemo, Gorontalo), Aksan Takwim (Banten ke Seruyan, Kalimantan Tengah), dan Suparlan (Lombok ke Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat). Beberapa kawan tak lain adalah kawan-kawan yang kerap jumpa dalam beberapa perhelatan sastra. Bahkan beberapa di antaranya telah saya kenal jauh-jauh saat masih duduk di bangku kuliah, awal-awal selepas lulus SMA. Dalam program ini, kami seakan reuni. Paling tidak, meski ada satu-dua jika sebelumnya belum beruntung berjumpa tubuh, tetapi kami telah akrab dalam teks. Rabu, 1 Mei 2019, kami berdelapan harus bergegas melanjutkan perjalanan menuju daerah 3T masing-masing. Selepas melalui hari-hari pembekalan (dua hari sebelumnya) bersama para kurator, di antaranya Triyanto Triwikromo, Djoko Saryono, F. Rahardi, N. Riantiarno, dan Agus Sri Danardana. Nama-nama yang tentu tak asing bagi saya.
Setia Naka Andrian
Polewali Mandar (Polman), saya datang! Perjalanan saya ditemani Pak Setyo Untoro dan Mbak Dwi Estina dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Pagi buta, kami beranjak dari Jakarta. Bahkan, sebelum subuh saya sudah harus bersiap dari Wisma Badan Bahasa. Selepas alarm membanting bunyi-bunyinya, menghancurkan tidur pulas saya. Meski tubuh sungguh sedang tak karuan. Selama dua hari di Wisma, saya berkawan dengan pilek berat. Di sebelah ranjang saya, cerpenis muda bercahaya Eko Triono tampak pulas. Kami berdelapan kerap menghabiskan malam-malam hingga larut di Wisma dan berkeliling di sekitar, menyambangi malam-malam di Jakarta. Saya pamit keluar kamar, selepas Mbak Estina menggerakkan pesan singkat ke WhatsApp saya, “Mas, saya sudah di Pos Satpam.” Bergegaslah, kami menuju Bandara Soekarno-Hatta, saya bersama Mbak Estina. Pak Untoro memilih untuk jumpa di bandara, sebab rumah tinggalnya lebih dekat menuju bandara daripada harus ke Badan Bahasa terlebih dahulu, akan bolak-balik. Ya, bergegaslah kami menuju bandara diantar Gocar, sebuah armada yang cukup membantu bagi pengembara serupa saya ini. Lebih-lebih saat berada di kota besar seperti Jakarta ini, kota yang membuat siapa saja akan merasa cemas jika harus berhadapan dengan deretan angka-angka harga. Sesampai di Bandara Soetta, saya dan Mbak Estina mencari sarapan, sedangkan Pak Untoro sedang mengantre boarding. Ia tiba di bandara beberapa saat selepas kami sampai, sehingga ia mengantre belakangan. Ya, selepas saya dan Mbak Estina berkeliling, ditemukanlah soto Surabaya. Sontak, bayangan saya menerawang dan jatuh di sebuah warung pinggiran di kampung halaman. Ya, itu warung soto Surabaya yang begitu saya gemari. Warung itu ada di dekat rel kereta, yang kerap mengadang saya saat berangkat kerja pagi hari. Ya, kereta-kereta lewat itu yang menghibur kami, para pengagum soto Surabaya di rel kereta Kaliwungu, Kendal itu. Namun, ternyata soto yang saya jumpai di Soetta ini beda. Tak senikmat yang saya jumpai di kampung halaman. Meski sungguh, ini jauh lebih mahal berkali-kali lipat. Ya, beginilah harga-harga makanan di bandara, selalu saja berkali lipat lebih mahal dari segala yang ada di luar sana. Namun, tetap
saja pembeli menghampiri. Barangkali dengan penuh keterpaksaan. Seperti saya, karena harus diburu waktu jam keberangkatan pesawat pagi hari. Mau bagaimana lagi. Mbak Estina tak ikut sarapan, ia hanya memesan teh panas. Entah kenapa, guraunya sih, karena sedang diet. Ah, memang perempuan selalu begitu. Menyiksa diri dengan segala bentuk program menjaga tubuh. Beginilah enaknya jadi laki-laki, tak begitu memikirkan kondisi tubuh. Kasihan jadi perempuan, begitu terbatas geraknya, terutama dalam konsumsi makanan. Tak lama kemudian, selepas saya usai makan, Pak Untoro datang menyambangi kami. Ia pun sama, tak ikut sarapan. Katanya, sudah sarapan di rumah. Lalu, saya pun minum obat masuk angin cair, setidaknya sedikit meredakan pilek dan nuansa demam yang belum kunjung reda melingkupi tubuh saya. Seusai itu, kami bergegas, melanjutkan jalan kaki. Kami bertiga menuju pesawat yang menunggu kami. Udara masih dingin, meski saya paham, ini udara dingin yang kuat dari pendingin ruangan. Udara inilah yang mengantar sekaligus melepas kami dari Jakarta. Ya, masih terhitung pagi itu, kami terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Dua jam setengah perjalanan udara. Lalu transit sejenak di Makassar, yang saya rasa hanya mengurus perpindahan pesawat semata. Kemudian kami naik kembali sebuah pesawat kecil menuju Mamuju. Ya, tak saya duga sebelumnya. Ternyata ada pula pesawat sekecil ini. Tak saya bayangkan sebelumnya. Sungguh, saya serupa anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Bahkan, serupa naik wahana mainan anak-anak di sebuah pasar malam. Saya bahagia, campur sedikit takut. Merasa seperti terbang dalam pesawat mainan. Yang begitu kecil, bagi saya. Ya, ini memang pesawat lokal, yang terbang tak jauh-jauh. Saya kira, terbangnya tak tinggi-tinggi pula. Saya seakan diajak berkendara, terbang mengelilingi tepi-tepi pulau huruf “K” yang begitu memukau dan artistik di dalam peta, dalam ingatan masa silam saya, semasa awal-awal menjumpai gelaran peta Indonesia yang menempel di dinding-dinding kelas sekolah dasar kala itu. Perjalanan yang pendek, tak lebih dari satu jam, kami mendarat di Mamuju. Sore hari, sekitar pukul 15.00 kami tiba di Mamuju. Ya, Bandara
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Bersama Pendamping; Pak Untoro dan Mbak Estina
Tampa Padang Mamuju menyambut kami. Sekaligus di situ, Pak Abdul Rasyid (Balai Bahasa Makassar) pun menyambut kedatangan kami meski sesungguhnya, kami awalnya janjian jumpa di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Namun, sepertinya, ruang dan waktu menghendaki kami untuk jumpa di Bandara Tampa Padang Mamuju. Sesungguhnya kami berada dalam satu pesawat yang mengantarkan kami ke Mamuju. Namun, sepertinya kami tak cukup upaya dan tak berjodoh untuk jumpa. Walau dikata, kami sama-sama dalam sebuah pesawat lokal yang kecil. Tentu, sekecil itu, hanyalah persepsi saja sebab, mau tak mau, kecil itu bergantung dari seberapa besar wujud yang dijumpai sebelumnya. Bisa dikatakan bahwa selepasnya lebih kecil, lebih sederhana, atau lebih-lebih lainnya. Begitulah manusia. Kami kini menjadi berempat, tiga laki-laki dan seorang perempuan. Kami pun kemudian mencari mobil sewaan yang ternyata sudah disiapkan dan dipesan lebih awal oleh pendamping saya dari Badan Bahasa, tak lain, oleh Pak Untoro dan Mbak Estina. Tentu keduanya sudah berkoordinasi dengan pendamping saya dari Makassar, Pak Abdul Rasyid. Kami pun naik ke dalam sebuah mobil Innova hitam. Sopirnya masih cukup muda, sepertinya dengan deretan usia di atas saya sedikit. Ya, dari tampang
dan gelagatnya cukup meyakinkan saya. Sudah, pedal gas ditekannya, kami melaju. melanjutkan perjalanan darat menuju Polewali Mandar Sulawesi Barat. Sebuah kabupaten yang akan saya singgahi, akan saya hinggapi, akan saya kelilingi, selama lebih kurang satu bulan. “Ya, mari kita lanjutkan perjalanan. Kita akan menempuh perjalanan darat ini sekitar lima jam, untuk sampai di Polewali Mandar, Sulawesi Barat,” tutur Bang Hasrul, pengendali Innova hitam yang mengantarkan kami menuju Polewali Mandar dengan penuh ketabahan. Dalam perjalanan, lebih banyak kami gunakan untuk memejamkan mata. Meski sesekali, saya melihat kanan dan kiri. Di kanan saya lihat laut, dan di kiri kerap saya temukan bukit-bukit. Ya, inilah jalan trans-Sulawesi itu. Jalan yang menghubungkan beberapa provinsi di Sulawesi ini. Sekali kami mampir makan malam, dan salat magrib. Sesudah itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Saya sendiri, dalam perjalanan, selain membayangkan dan mengimajinasikan seperti apa nanti di Polewali Mandar, saya juga menghubungi beberapa kawan pegiat literasi di tanah Mandar itu. Tak sedikit, cukup banyak mereka yang saya hubungi, semua berkat Mas Bustan Basir Maras, seorang muda yang saya kenal ketika ia masih di Yogyakarta, dan berjumpa sekali sepertinya, dalam sebuah perhelatan Napak Tilas Iman Budhi Santosa di Medini, Boja, Kendal. Ya, salah satu rangkaian dari gelaran tahunan Kemah Sastra yang diselenggarakan oleh Komunitas Lerengmedini Boja, Kendal. Di situ ada Mas Heri dan kawan-kawan, Mas Sigit, dan kawan-kawan lain di Boja, Kendal. Waktu seakan cepat melaju, saat beberapa aktivitas begitu khidmat dijalankan. Meski itu hanya dikerjakan dalam sebuah ponsel, menghubungi beberapa kawan, dan berkabar kepada istri, kepada keluarga di kampung halaman. Tak disangka, sekitar pukul 21.00 WITA, kami tiba di penginapan. Nirmala Hotel di Polewali menjadi tempat melabuhkan diri kami, menjadi tujuan kami untuk mengistirahatkan diri selepas menjalani perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Ya, inilah Polewali, salah satu kecamatan di Polewali Mandar. “Polewali itu sebuah ibu kota kabupaten dari Polewali Mandar,” ungkap salah seorang penerima tamu, di hotel, di tempat menginap kami.
Setia Naka Andrian
Sahabat Karmuji dan Saiyyang Pattuqduq
Malam hari, selepas sampai di Polewali, masih Rabu, 1 Mei 2019, ada seorang teman yang hendak berjumpa. Kami sebelumnya tak pernah jumpa, tetapi kami sepakat untuk bertemu. Kami tak kenal, hanya karena sebuah organisasi maka kami saling merespons sapa. Beginilah perjumpaan, tak harus sebelumnya mengenal. Setidaknya, karena sebuah organisasi, atau komunitas, siapa saja dapat mengenal lebih dekat. Begitu pula perjumpaan awal saya di Polewali, kali pertama saya dikunjungi oleh sahabat Karmuji di sebuah penginapan. Saya menunggu di ruang tamu di depan resepsionis. Saya sendiri menunggu. Tampak layu, belum mandi, belum juga sekadar cuci muka. Entah apa yang ada di benak kedua penerima tamu penginapan itu. Entah, saya tak mau menebak atau menerkanya. Yang pasti mereka menganggap saya aneh, baru datang dari jauh, tetapi tak lekas ke kamar, malah menanti tamu, yang entah itu siapa, bagi mereka. Tiba-tiba ada suara motor melintas di depan. Saya yakin, pasti itu dia, tamu yang saya tunggu, sahabat yang hendak berjumpa. Saya siap berdiri, ketika ia di bibir pintu, jika ada tatapan yang menyambut darinya, saya tinggal langsung berdiri. Biasa, saat perjumpaan dengan orang baru, jika kami saling berhubungan dalam satu komunitas, atau ruang tertentu, pasti selalu saya kenakan atribut atau minimal kaus. Seperti malam ini, saya kenakan kaus terbitan Lesbumi Kendal, bertajuk “Ramadan di Kampung Halaman”, sebuah program penulisan narasi bulan Ramadan yang saya turut serta mengerjakan bersama dengan pegiat di Kendal, Jawa Tengah. Tepat sekali, begitu tiba di bibir pintu, langsung saya dapat mengenalinya. Meski sempat sudah saling bersapa melalui pesan singkat di WhatsApp, saya tak melihat wajahnya. Sebab ia tak menggunakan fotonya dalam profil di WA. Namun, saya mengenalinya. Ia menatap saya dengan tatapan sambutan hangat. Saya pun begitu yakin bahwa dialah orangnya. Sahabat Karmuji. Apalagi saat saya melihat kausnya, bergambar Mbah Hasyim Asy’ari. Pasti ini, tidak salah lagi. “Alhamdulillah, selamat datang di Polman, Sahabat!” begitu permulaan sapa-sambutnya.
Setia Naka Andrian
“Alhamdulillah, akhirnya saya bisa jumpa pula. Dan tentu, saya bisa hinggapi tanah Polman ini,” sambutku, sambil sesungguhnya sedikit menahan lelah. Namun, saat berjumpa dengan sahabat, pastilah segala itu runtuh. Kami saling berkenalan, lalu berlanjut berkisah tentang beberapa aktivitas yang kami lakukan dalam keseharian masing-masing. Tentu segala itu membuat kami semakin dekat, dalam latar belakang kerja organisasi (komunitas) yang begitu berjauhan. Obrolan semakin hangat, hingga saya lupa menawarkan minum kepadanya. Hanya satu botol air mineral yang masih ada, saya berikan. Ia pun tak begitu menanggapinya. Sepertinya tak cocok jika diminum dalam suasana malam seperti ini. Namun, bagaimana lagi, saya hendak mengajaknya keluar, tetapi sepertinya pasti ia pun akan menolak sebab ia juga melihat saya baru datang, pasti sangat lelah. Pun saya paham, ia pun sedang sibuk dalam kerja Bawaslu. Begitulah, bulan politik, tentu kerja-kerja seperti ini akan dikerjakan oleh beragam kawan-kawan organisasi, untuk turut serta mengisi peluang-peluang kerja yang sangat membutuhkan keahlian tertentu, dan pasti dari kawan-kawan pegiat sudah sangat akrab dengan kerja-kerja seperti itu. Saya melihat ke samping, saat saya merasa kedua penerima tamu penginapan mencuri tatapan kepada kami. Entah, sungguh benar mereka pasti mencoba mencuri-curi dengar pula tentang apa yang sedang kami perbincangkan. Meski, sesungguhnya tak ada yang penting-penting juga dalam perbincangan kami. Hanya saja, saya agak merasa kurang enak. Meski, ya saya pun tak jadi soal saat mereka diam-diam mencuri dengar, bahkan mendengar sepenuhnya perbincangan kami. Entahlah, pasti dalam benak mereka, “Ternyata, tamu ini yang ditunggu-tunggu. Malam-malam begini, di sebuah penginapan, seorang lelaki muda gelisah menunggu tamu. Dan, tamu yang ditunggu, ternyata lelaki muda pula!” Ah, biarlah. Saya lanjutkan perbincangan saya dengan sahabat Karmuji. Saya lalu menanyakan apa yang ada di Polewali Mandar. Tentu, saya harus menggali berbagai informasi itu. Yang pasti, tentang banyak hal yang tak saya ketahui, atau tak pernah saya jumpai saat di kampung halaman, saat di Kendal, Jawa Tengah.
“Sahabat, kiranya apa yang dapat kau kisahkan kepadaku tentang Polman ini?” pertanyaan klise pun muncul dari bibirku. “Banyak. Namun, ini ada yang sangat menarik. Dan tentu di kampung
halamanmu tiada yang seperti ini ....”
“Apa itu, Sahabat?” saking antusiasnya saya penggal perkataannya. “Saiyyang pattuqduq.” “Saiyyang pattuqduq?” saya sambut pertanyaan kembali atas istilah itu dengan mengeja. “Ya, saiyyang pattuqduq, Sahabat. Saiyyang memiliki arti ‘kuda’. Dan pattuqduq adalah ‘menari’.” “Berarti ‘kuda yang menari’?” “Benar, Sahabat. ‘Kuda yang menari’.” “Lantas?” saya mencoba menggali dengan pertanyaan kecil, karena tak mungkin pula saya harus bertanya lancang, misal, apa yang menarik dari itu? “Saiyyang pattuqduq tidak selalu ada. Sebab, saiyyang pattuqduq ini hanya ada saat merayakan sebuah acara khataman Alquran. Tidak selalu ada.” “Kenapa hanya ada saat ada khataman Alquran saja, Sahabat?” “Begini, saiyyang pattuqduq merupakan sebuah laku adat yang sudah turun-temurun ada di sini. Tentu ini akan menjadi, atau memicu, semangat tersendiri bagi anak-anak untuk bergegas mengkhatamkan Alquran. Sebab jika khatam, anak itu akan dihadiahi pertunjukan saiyyang pattuqduq itu.” Saya seakan mencoba untuk menerawang jauh, membayangkan seperti apa. Mencoba sekeras-kerasnya pula untuk mengimajinasikan. Karena sungguh, sebelumnya saya belum pernah tahu saiyyang pattuqduq yang dimaksudkan ini. Memang, saya sebelumnya tak begitu banyak berselancar di internet atau mencari informasi tertentu tentang Polewali Mandar yang hendak saya kunjungi ini. Alasan saya, hanya satu, saya ingin menemukan kejutan-kejutan dalam segala perjumpaan yang saya hadapi. Sahabat Karmuji kemudian melanjutkan kisahnya. Ia tahu bahwa saya sedang melamunkan sesuatu. Maka pastilah, ia pun ingin memecahkan lamunanku. Salah satu caranya, ya hanya dengan melanjutkan kisahnya.
Setia Naka Andrian
“Dalam acara saiyyang pattuqduq, seekor kuda akan ditunggangi oleh seorang anak yang telah selesai, atau khatam Alquran. Ia akan dinaikkan ke atas kuda yang dihias berbagai aksesori layaknya kuda-kuda yang ditunggangi raja-raja pada masa kerajaan. Ia akan diarak beramai-ramai mengelilingi kampung. Betapa bahagianya anak-anak saat mendapatkan segala itu. Dan ini semua, menjadi cita-cita tersendiri bagi kami, bagi anak-anak sini untuk lekas mengkhatamkan Alquran.” Mata sahabat Karmuji sambil mengarah ke mata saya, dengan sepenuh meyakinkan. “Kuda-kuda yang digunakan dalam saiyyang pattuqduq apakah kuda-kuda sembarangan atau kuda-kuda terlatih, Sahabat?” tanya saya, yang seakan begitu sangat lugu. “Tentu, itu kuda-kuda yang terlatih. Mana bisa kuda sembarangan bisa diajak menari, diarak keliling kampung begitu? Sebab kuda tersebut adalah kuda-kuda yang sudah sangat terlatih dan lihai dalam mengikuti irama rebana. Bahkan saat musik berhenti, kuda pun juga akan berhenti dalam tariannya.” “Awal mulanya, atau sejarahnya bagaimana tentang saiyyang pattuqduq ini, Sahabat?” “Di daerah bawah sana, ada Imam Lapeo, orang sini menyebut tosalamaq, kalau di Jawa disebut kiai. Beliau salah satu penyebar agama di Mandar. Supaya menyemangati anak-anak untuk mengaji, hingga mengkhatamkan
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Patung Saiyyang Pattuqduq (Kuda Menari) di Polewali Mandar
Alquran, maka sejak masa beliau pada tahun 1800-an diperkirakan saiyyang pattuqduq mulai ada.” (Daerah bawah dan atas adalah sebutan dari warga Polman. Polewali disebut sebagai daerah di atas, bagian bawah yang dimaksud adalah daerah ke utara, ada Wonomulyo, Campalagian, Tinambung, dan seterusnya.) Perjumpaan kami tak terasa telah memakan waktu, satu jam sudah kami lewati. Saya mencoba menoleh ke samping, melihat kedua penerima tamu penginapan. Mereka sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing, dipegang kedua tangan mereka yang disandarkan di meja resepsionis. Ah, meskipun mereka berdekatan, bahkan sangat berhimpit, mereka sedang asyik dengan dunianya masing-masing. Sepertinya mereka telah lupa pula dengan keberadaan kami. Sudahlah, hari sudah larut. Udara di luar bertiup semakin dingin pula. Sahabat Karmuji pun sudah hendak pamit pulang. “Saya permisi pamit dulu, ya, Sahabat. Suatu saat semoga ada waktu dan kesempatan lain untuk melanjutkan obrolan kita yang seakan terpenggal waktu yang semakin larut ini. Selamat beristirahat dan semoga lancar dalam segala urusan dan menikmati tinggal di Polman ini,” ucap sahabat Karmuji sembari hendak undur diri. Saya mengantar sampai di bibir pintu penginapan, di sebelah ruang tamu, di hadapan kedua penerima tamu penginapan itu. Sahabat Karmuji menyalakan motornya, lalu ia kendarai melalui gerbang penginapan, menuju ke arah kanan. Saya pun berjalan masuk kembali, melewati kedua penerima tamu itu. Mereka tersenyum manis menyambut senyuman yang saya tebarkan pula. Saya cukup lega. Entah, mereka lega pula atau sebaliknya. Saya tak peduli. Yang utama bagi saya kali ini adalah masuk ke kamar, mengistirahatkan tubuh, setelah menempuh perjalanan panjang ini.
Setia Naka Andrian
Sebuah Perjumpaan Awal, Sanggar, dan Tubuh yang Bergetar
Kamis, 2 Mei 2019, saya menyambut pagi tak seperti biasanya. Pagi ini saya paksakan diri untuk lebih bermalas-malasan. Sebab, sisa kantuk dan sisa lelah perjalanan serta pilek masih kian ingin bersarang di tubuh yang tak tebal ini. Saya masih berselimut di penginapan. Di sebelah, saya melirik kecil, Pak Untoro, dari Badan Bahasa itu, telah beraktivitas, sepertinya juga telah usai mandi. Adapun saya, yang lebih muda ini, masih sembunyi di balik selimut. Ya, tentu Pak Untoro paham dengan saya yang sedang agak tak enak badan dan cukup kelelahan. Pak Untoro satu kamar dengan saya, yang ternyata ia juga orang kelahiran Kendal. Kami sempat berbincang banyak hal tentang Kendal, terutama dalam kenangan Pak Untoro. Sementara itu, Mbak Estina di kamar lain. Pak Abdul Rasyid (Balai Bahasa Makassar) pun di kamar lain. Sekitar pukul 09.00 WITA, saya baru bertenaga untuk membangunkan diri meski sungguh saya paksa. Sebab, tubuh seakan masih belum mau diajak kompromi. Belum lagi, selama perjalanan hingga bahkan di penginapan ini, saya belum mampu menyesuaikan diri dengan makanan. Entah kenapa, semoga saja semua ini hanya karena sedang tak enak badan, bukan karena tak cocok dengan masakan di sini. Bahaya jika sampai begitu, sebulan saya akan kerepotan mengurusi perut semata. Selepas mandi, saya sarapan di penginapan. Dengan menu seadanya yang disediakan penginapan. Ah, sungguh. Berderet menu hanya ada nasi goreng dengan campuran jagung, serta di sebelahnya telur dadar, sosis goreng, kerupuk, dan sekitar masakan-masakan yang pantas disandingkan dengan nasi goreng. Saya mendadak turun nafsu untuk menyantap makanan itu. Bagaimana lagi, tenggorokan sedang kering tak enak. Namun, bagaimana lagi, semua harus dilalui. Menu sarapan (gratis) dari penginapan pun harus disantap pula. Mau makan apa lagi, belum tahu pula arah ke mana jika hendak mencari warung. Belum lagi nanti akan berhadapan dengan cocok atau tidaknya masakan. Aduh. Tak lama setelah itu, pesan singkat dari Syuman Saeha bergerak melalui WhatsApp, kami berjabat pesan untuk bertemu. Sekitar setengah jam perjalanan Syuman Saeha menuju tempat penginapan saya. Kami akhirnya bertemu, setelah beberapa lama saling berjabat sapa, sejak sebelum saya sampai di Mandar.
Setia Naka Andrian
Lalu kami melanjutkan perjumpaan di sebuah kedai kopi kecil, yang berada persis di sebelah penginapan. Kami saling menyapa, dan tentu awal-awalnya melanjutkan perbincangan yang tak jauh beda dengan yang sempat kami rangkai dalam pesan singkat melalui WhatsApp sebelumnya. “Bang, saya sungguh seperti tak asing dengan Anda. Sungguh, sepertinya saya sudah sempat berjumpa dengan Anda, namun entah dalam perjumpaan apa dan yang mana, saya tak ingat,” saya mulai dengan ucapan itu. “Sama, saya pun merasa begitu,” dengan senyum yang khas, Syuman Saeha merespons ucapan saya. Ah, ternyata memang begitu. Segalanya terkadang seakan telah terangkai. Namun, bermula dari mana, kapan, kita semua tak tahu. Yang pasti, kita tak ingat apa-apa. Hanya saja, kita tahu, bahwa kita telah melewati perjumpaan itu. Namun, itu kapan dan di mana, kita tak kuasa menjawabnya. Atau barangkali, perjumpaan itu bukan perjumpaan lahir, bisa jadi itu perjumpaan batin, atau bahkan perjumpaan imajinasi semata. Ah, sudahlah. Yang ada saat inilah yang patut kita hadapi. Ya, Syuman Saeha, seorang penyair, penulis buku Bayi Langit, salah seorang seniman dari Mandar yang cukup menyita perhatian saya. Ia berperawakan sedang, berambut panjang, dan kerap lebih memilih menggunakan celana pendek. Hari itu masih sangat pagi, sepagi perjumpaan saya dengan Syuman Saeha. Namun, tidak untuk tingkat keakraban. Sepertinya, saya sendiri telah merasa mengenal lama. Mengenal jauh, meski entah di mana. Saya mencoba menyodorkan sebuah pertanyaan kecil, paling tidak, untuk melanjutkan perbincangan. “Bang, sempat menggarap teater?” Pertanyaan sederhana, untuk menggali informasi yang sempat saya temui saat berselancar di medsosnya. “Ya, saya berproses teater pula. Teater Palatto. Terakhir ini, saya menggarap naskah Anos, yang saya tulis dan saya sutradarai pula. Sempat pentas di TIM Jakarta,” jawabnya dengan tenang dan meyakinkan. Tubuh saya tiba-tiba bergetar meski saya tak tahu, itu berpusat di mana. Yang pasti, di lubuk hati yang jauh di sana. Saya semakin terpompa, bahwa bagi kawan yang, mohon maaf tinggal di daerah yang tercatat sebagai daerah
3T, tetapi tetap bersemangat dan sangat serius berproses. Bagaimana tidak? Mereka telah diberi kesempatan untuk pentas teater di TIM Jakarta. Ah, betapa tampak semakin malas dan kurang beruntungnya apa lagi hamba ini. “Oh, ya, di Mandar ini sendiri, didapati orang mana saja?” pertanyaan sederhana mencoba memulai perbincangan lagi, agar setidaknya suasananya tak jadi lengang. “Di sini didapati banyak suku. Ada Bugis, Mandar, Jawa, Makassar. Dan, itu yang membuat kami sangat berterima dengan suku mana pun. Kami menyambut baik, selagi mereka berbuat baik pula kepada kami. Namun, jika kami dijatuhi yang tak baik, tentu kami akan lebih berbuat tidak baik bagi mereka.” Beberapa saat kemudian, Syuman Saeha tahu, jika sebentar lagi saya hendak berjumpa dengan orang-orang dari Dinas Pendidikan. Ia pun berencana untuk pamit duluan. Ya, ia pamit. Kami berdua menuju parkir penginapan dan ternyata Syuman Saeha telah kenal dengan kedua orang staf dari Dinas Pendidikan tersebut. Ia berbincang dengan bahasa Mandar kepada salah seorang. Ah, sungguh begini nasib orang luar, akan selalu tak paham dengan perbincangan para akamsi (‘anak kampung sini’). Barangkali, ini yang tidak disadari mereka, bahwasanya kini sedang ada tamu dari luar yang tidak paham bahasa mereka. Namun, apa boleh buat, mereka tetap santai saja, menikmati bercakap dengan bahasa daerah. Selepas itu, perjumpaan selanjutnya, kami dijemput oleh dua orang staf dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Polewali Mandar, Bang Basith dan Bang Fandy. Mereka berdua masih terbilang pegawai muda. Barang tentu, tak membuat ada jarak komunikasi di antara kami. Obrolan pun mengalir hangat, hingga menggiring kami untuk menuju tempat makan siang. Sekaligus melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi Sanggar Sossorang, yang diasuh oleh Muh. Dalif. “Mau makan apa kita hari ini?” tanya Bang Basith kepada kami. “Apa saja, yang kiranya menarik,” jawab saya, dan memecah tawa di antara kami. Akhirnya beloklah mobil menuju sebuah rumah makan yang tak begitu jauh dari penginapan. Hanya sekitar sepuluh menit. Kami memesan makanan
Setia Naka Andrian
dan minuman. Di antara kami, banyak yang memesan konro sebagai menu pilihan yang katanya sangat khas, di Mandar, atau di Makassar. Selepas usai makan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Sungguh jalan yang tak begitu ramai. Bisa dibilang cukup lengang. Sungguh, ini tak saya jumpai di Jawa. Apalagi saat di Semarang, lebih-lebih di Jakarta, sangat mustahil adanya. “Ini jalan poros Sulawesi. Jalan yang menghubungkan beberapa provinsi di Sulawesi. Biasanya cukup agak ramai jika malam hari. Banyak didapati mobil-mobil besar mengangkut barang-barang, juga bus, yang berlalu-lalang dari Makassar ke Mandar, atau sebaliknya,” tutur Syuman Saeha kepada kami, sambil mata kami menerawang jauh ke depan, ke arah jalan poros Sulawesi yang kami lalui. Terik memang, tetapi udara berbalut AC di dalam mobil cukup mendinginkan tubuh kami.
Tiba di Sanggar Sossorang
Berkunjunglah kami ke Sanggar Sossorang, yang didirikan dan dikelola hingga saat ini oleh Muh. Dalif. Perjalanan cukup jauh, jika saya sandingkan dengan saat saya di kampung halaman. Namun, di Polman, satu jam adalah perjalanan yang sangat pendek. Setiap kali hadir di sebuah sanggar, pasti selalu saja tubuh saya bergetar. Saya sangat angkat topi dan begitu takjub dengan siapa saja yang dengan tulus mengelola sebuah ruang berproses serupa ini. Apalagi di situ tak sedikit didapati anak-anak bermain, anak-anak muda berproses kesenian, apalagi di sini, di Sanggar Sossorang ini, mereka melakukan proses kesenian yang masih erat dengan napas tradisi. Sungguh! “Selamat datang di Sanggar Sossorang. Beginilah keadaannya,” ucap Muh. Dalif, menyambut dan mempersilakan kami untuk masuk, dan duduk di Sanggar Sossorang. “Oh, Sanggar Sossorang. Kegiatannya apa saja di sini?” timpal tanya Pak Untoro. “Ya, kegiatannya terkait segala yang berkait tentang pelestarian seni tradisi, Pak. Upacara, dan lainnya. Namun, sangat sayang, ini hari mendekati bulan Ramadan. Dan nanti selama di sini Mas Naka juga sepenuhnya dalam
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Saya, Syuman Saeha, dan Muh. Dalif di Sanggar Sossorang
bulan Ramadan. Tentu akan sangat jarang ada kegiatan-kegiatan, atau upacara yang dimaksud,” jawab Muh. Dalif. Sore hari makin merangkak. Anak-anak kecil berlarian, berlalu-lalang di depan sanggar. Sepertinya mereka telah usai menunaikan “ibadah” bermainnya hari ini. Mereka bergegas hendak pulang. Jika tidak, tentu mereka akan dimarahi ibunya. Saya keluar dari bibir pintu sanggar. Melihat keluar, rumah-rumah panggung khas Mandar seakan menyambut kedatangan saya. Rumah-rumah itu berdiri kokoh, tetapi tak angkuh menawarkan pandangan-pandangannya ke hadirat mata saya, mata yang baru dikenal mereka. Tiba-tiba, segerombolan motor dengan knalpot “grung” berkonvoi. Arak- arakan itu melewati jalan kecil di depan sanggar. Ingar bingar suaranya, menyambar kedua telinga kami. Oh, ternyata itu pawai kesuksesan mereka, yang baru saja lulus sekolah. Begitu berakhir suara-suara berantakan knalpot motor itu, telah menjadi penanda pula, menjeda perbincangan kami. Hari sudah makin sore. Kami berpamitan. Hendak melanjutkan perjalanan menuju penginapan kembali. Muh. Dalif pun mengantar kami hingga tepi jalan. Ia lambaikan tangan, melepas pamit kami.
Setia Naka Andrian
Pagi Hari, Waktu Kerja di Daerah Tertinggal
Jumat, 3 Mei 2019 pagi hari, masih pada waktu kerja. Sesaat selepas orang-orang beranjak dari kamarnya, untuk lekas mandi, sarapan, dan menjatuhkan punggungnya di ruang-ruang kerjanya masing-masing, saya turut serta. Di penginapan, kali ini saya berupaya bangun pagi. Sejak malam sebelumnya, Pak Untoro dan Mbak Estina, serta Pak Abdul Rasyid, menyampaikan bahwa pagi ini akan ada audiensi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Yes, saya bangun pagi. Barangkali, ini lebih pagi daripada yang mereka kehendaki. Tak apa, sesekali anak muda harus bangun lebih pagi, lebih pagi dari pagi yang diharapkan oleh siapa pun. Kami akan audiensi, ketuk pintu di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kami upayakan datang lebih awal daripada tamu undangan lain. Syukur alhamdulillah, saat sampai di Gedung Dinas Pendidikan, kami benar-benar lebih awal daripada tamu undangan lain. Kami langsung disambut hangat oleh Kepala Dinas Pendidikan, Hj. Andi Nursami Masdar. Selepas perkenalan, perbincangan awal kami menyasar pada daerah tertinggal. Kami menyampaikan dan tentu sekaligus menanyakan, bahwasanya tertinggal yang seperti apa Polewali Mandar ini. Kami seperti masuk ke dalam sebuah wilayah yang tak begitu tertinggal. Bahkan kami masih begitu mudah menemukan mesin ATM atau pom bensin. Bahkan, kami merasa, sangat mudah menemukan penjual bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis premium, pertalite, dan pertamax. Di jalan-jalan sangat berhamburan, sekejap kami melangkahkan roda kendaraan, sekejap pula kami mendapati penjual bahan bakar eceran. Segalanya itu kami dapatkan dengan harga yang wajar, tak berselisih jauh dari harga yang ditawarkan di pom bensin. “Ya, begitulah Polewali Mandar (Polman) ini. Kami targetkan keluar dari daerah tertinggal itu pada tahun 2020, tahun depan ini,” tutur halus nan lugu dari Ibu Kepala Dinas, yang tampak masih begitu bersemangat muda dalam memperjuangkan kerjanya, khususnya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan di Polman. Begitulah yang disampaikan oleh Ibu Kadis tentang daerah tertinggal. Entah mengapa, dalam benak kami pun sungguh bertanya-tanya. Apalagi
Setia Naka Andrian
saya, paling tidak enak jika memendam pertanyaan-pertanyaan serupa ini. Barangkali, ada hal lain yang membuat Polewali Mandar masih tercatat sebagai sebuah daerah tertinggal. Di pusat sana, masih terpatri bahwa daerah Polman ini salah satu daerah tertinggal di Indonesia, yang masih perlu dimajukan, masih perlu diberi bantuan agar lekas bangkit dan keluar dari ketertinggalannya.
Jumpa dengan Para Seniman
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Berjumpa para seniman di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Polewali Mandar
Selepas perjumpaan dengan Ibu Kadis, kami berlanjut mengikuti acara resmi. Tak lain adalah penyambutan kami, terkhusus memperkenalkan saya ke hadapan para seniman yang ada di Polewali Mandar. Sungguh, saya jadi merasa aneh. Baru kali ini dalam kegiatan (proses) berkesenian saya harus disambut dengan begitu resmi. Harus dihadirkan pula para seniman daerah setempat serta acara dipandu pembawa acara resmi dan nanti selanjutnya akan dibuka oleh Ibu Kepala Dinas. Aduh, mimpi apa saya beberapa malam ini? Acara pun lekas dimulai. Tamu undangan telah siap. Saya, Pak Untoro, Ibu Kepala Dinas, dan perwakilan seniman (budayawan), yakni Pak Mukhlis Hannan duduk di depan. Berhadapan dengan sekitar 14 tamu undangan dari seniman, budayawan, serta sastrawan yang bergiat di Polewali Mandar, di
antaranya Sri Musdikawati, Asnun Mahmoeddin, Muh. Dalif, Ramli Rusli, Muh. Rahmat Muchtar, Sahabuddin Mahganna, Syuman Saeha, dan Abd. Basith Wahab, S.Pd. (Disdikbud). Perkenalan kami berlangsung hangat. Seperti biasa, saya merasa harus memperkenalkan diri dengan gaya secair-cairnya. Bahkan saya harus pula membeberkan perihal nama saya dengan sedikit lelucon garing. “Perkenalkan, nama saya, Setia Naka Andrian. Jika ada yang merasa pernah menggombali pacarnya, bahwa saya ini cowok setia, saya ini cewek setia. Itu selesai semua. Selepas saya bilang, saya sudah setia sejak dari nama!” Lalu pecahlah tawa di antara hadirin. Hingga akhirnya tak lagi ada ketegangan di antara kami. Kemudian saya melanjutkan perkenalan, serta mencoba untuk sedikit mengurai maksud kehadiran saya di Polewali Mandar ini. Begitu pula, saya menyampaikan tentang program Sastrawan Berkarya ke Wilayah 3T yang saya ikuti ini, yang merupakan program tahunan dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bagi saya ini penting untuk saya sampaikan. Lebih-lebih, di antara hadirin tak sedikit didapati seniman yang saya kira masih seumur saya. Begitu pula, saya sampaikan beberapa aktivitas saya, saat berproses kreatif di kampung halaman, saat berproses bersama teman-teman komunitas sastra dan kesenian pada umumnya. Akhirnya, pelan-pelan beberapa hadirin tampak menganggukkan kepala. Meski tak semuanya tampak, berdasarkan yang saya tangkap dari tatapan mata mereka, saya meyakini mereka begitu mengangguk, mengiyakan beberapa hal yang saya sampaikan. Jika boleh bersombong, latihan bermain peran saya saat masih di bangku kuliah begitu berguna saat ini. Hadirin tampak puas dengan pembawaan (penguasaan) panggung saya, di panggung resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Polewali Mandar ini. Waktu pun bergerak makin siang. Selepas saya berkenalan, Ibu Kadis membuka acara, dan Pak Mukhlisin Hannan memberikan sambutan, kami pun dipersilakan untuk lekas menyantap makan siang yang telah disiapkan. Kami mengikuti, meski sambil santap siang, kami tetap melanjutkan perbincangan bersama para seniman (budayawan) di Polman tersebut.
Setia Naka Andrian
Pantai Mampie dan Saat Pendamping Harus Pulang
Sabtu, 4 Mei 2019, saatnya pendamping pulang. Pak Setyo Untoro dan Mbak Dwi Estina bergegas untuk kembali ke Jakarta, dan Pak Rasyid akan pulang pula ke Makassar. Sebelumnya kami sempatkan diri untuk berjalan-jalan menuju beberapa pantai terdekat dengan penginapan. Yang menjadi tujuan kami adalah Pantai Mampie. Pantai Mampie kami kunjungi, saat sore hari pada hari sebelum para pendamping meninggalkan saya seorang diri di Polman. Perjumpaan saya dengan para pendamping terasa begitu sangat singkat. Beberapa hari saat di Polman, sekitar lebih kurang tiga hari, kami habiskan dalam perjalanan dan patahan-patahan perjumpaan yang begitu saja habis dalam aktivitas formal, semisal saat beraudiensi dengan Kepala Dinas. Jadi, selepas mereka hendak pamit meninggalkan saya, terasa ada yang lepas. Ada yang tertinggal, tetapi saya tak tahu itu apa. Barangkali ya hanya kenangan, dan tentu kebaikan-kebaikan mereka mengurus segala administrasi dan mendampingi saya, yang boleh dibilang terkadang saya masih selalu masuk dalam golongan orang-orang yang begitu susah diurus. Bahkan segala itu yang membuat saya harus berbalik arah untuk mengulang, dan mengenang keberadaan mereka saat di Pantai Mampie. Saya kenang sedalam-dalamnya saat mereka hendak berpamitan, hingga mereka benar-benar pergi, melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Jakarta (Pak Untoro dan Mbak Estina) dan menuju Makassar (Pak Rasyid). Ya, Pantai Mampie. Pantai kesekian yang sempat saya kunjungi di Indonesia ini. Semuanya mengagumkan, begitu pula Pantai Mampie ini. Begitu menyita perhatian saya. Sungguh, ini anugerah yang tak terkira bagi siapa saja yang dikaruniai kesempatan untuk menikmatinya. Anugerah besar pula bagi Indonesia ini, yang begitu rupa dijatuhi beragam keistimewaan alam di mana-mana. Pantai Mampie ini, menurut Muhammad Munir, merupakan salah satu pantai yang dimiliki Polewali Mandar, yang terletak di Dusun Mampie, Desa Galeso, Polewali Mandar. “Sebuah objek wisata yang dirintis sejak tahun 2007 dan dikelola secara profesional sejak tahun 2010. Objek wisata ini dapat diakses dari Wonomulyo melalui Tumpiling. Pantai Mampie membujur
Setia Naka Andrian
sepanjang tiga kilometer dan tepat menghadap Selat Makassar,” tutur Muhammad Munir, penulis dan pegiat literasi Sulbar, yang bergiat di Rumpita (Rumah Kopi dan Perpustakaan) Tinambung, Polewali Mandar.
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Pak Untoro, Saya, dan Mbak Estina di Pantai Mampie
Siapa saja yang berkunjung ke Pantai Mampie pasti akan digoda dalam sebuah kawasan pantai dengan puluhan gazebo yang berdiri di antara pohon kelapa yang rindang. Gazebo dapat digunakan dengan leluasa setelah menyewanya pada pihak pengelola. Selain itu, didapati fasilitas-fasilitas wisata lainya, di antaranya banana boat, wahana bebek, perahu wisata. Semua itu dapat dinikmati dan disewa dengan harga yang ditentukan.
Saat singgah ini, saya sendiri harus merasa sedikit prihatin atas pengelolaannya yang seakan kurang serius. Entah, ini selalu saja menjadi persoalan untuk tempat-tempat wisata. Entah pula, ini sesungguhnya salah siapa? Meski, dalam hal serupa ini, tak begitu penting menyalahkan pihak-pihak tertentu, apalagi perseorangan tertentu. Segala ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Seperti saat di Pantai Mampie, saya sempatkan beberapa kali berfoto, dan sesekali saya unggah di akun media sosial saya. Sungguh, tidak sedikit di antara teman-teman saya berkomentar, bahwasanya itu tempat bagus. Mereka bertanya pula tempat istimewa itu berada di mana dan saya jawab dengan lantang, “Ini di Indonesia!” Itu bidikan dari sisi-sisi eksotis. Saya berupaya mencari bagian-bagian yang tampak bersih. Saya sedemikian rupa menutupi, bahkan sangat tidak memperlihatkan dalam bidikan kamera, bagian mana saja yang dirasa kotor atau bahkan sangat tak terawat. Sungguh, berkali-kali saya prihatin. Saat hendak masuk, kami cukup kesulitan. Kami harus melalui pintu yang mana? Tak kami dapati ada penjaga, bahkan, mohon maaf, kami temukan beberapa kotoran hewan ternak, sepertinya kotoran sapi yang berceceran di sana-sini. Lalu saat masuk, benar, ada sapi yang berkeliaran sedang asyik merumput, dan di sekitarnya pun berhamburan kotorannya. Ah, sungguh, saya tak bisa membayangkan lebih jauh. Namun, bagaimana lagi, saya hadir sebagai tamu yang terbatas. Mohon maaf, saya pun belum begitu paham dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Hanya saja, saat masuk di bibir pantai, saya melihat ada tumpukan tanggul batu-batu yang begitu tegar menatap laut. Dari situ, saya menganggap, pantai ini sempat terkena imbas abrasi, atau barangkali saat bencana mengguncang Palu. Benar, pantai ini terkena dampak bencana tersebut. Saat mencoba saya pastikan dengan bertanya kepada salah seorang ibu yang saya jumpai saat ia sedang mencari kerang di bibir pantai. “Pantai ini sepi, Bu?”
Setia Naka Andrian
Dijawabnya dengan agak kaget, “Ya, sepi. Tak begitu ramai sejak ada dampak dari bencana di Palu itu. Apalagi ini bukan hari libur.” Perbincangan pun tak berlangsung lama. Ibu itu sedang asyik dengan aktivitasnya. Hari pun makin sore. Matahari pelan-pelan kian hendak tenggelam, meninggalkan kami. Kami pun bergegas untuk pulang, meninggalkan banyak pertanyaan, dan tentu tidak sedikit kenangan yang kami jatuhkan di Pantai Mampie ini. Begitulah sedikit kisahnya. Saat kami hadir di Pantai Mampie. Sehari sebelum para pendamping saya pamit pulang, di hari ini. Mereka berkabar, dalam perjalanan, juga mampir di beberapa tempat wisata di Majene, sebuah kabupaten yang bersebelahan dengan Polman ini. Mereka juga sempat bercakap, yang sempat saya dengar, bahwa dalam perjalanan pulang juga akan disempatkan pula untuk mampir di warung-warung tepi pantai yang menjual menu ikan terbang. Ya, ikan yang dipakai dalam tayangan sebuah stasiun televisi nasional itu. Angan saya pun menerawang jauh, dan meyakinkan diri serta membahagiakan diri, “Ya, suatu saat saya juga hendak mampir ke Majene, dan mencoba menyantap ikan unik itu!”
Sesaat Selepas Para Pendamping Benar-Benar Pulang
Selanjutnya, masih pada hari yang sama, Sabtu, 4 Mei 2019, saya ada janji untuk berjumpa seniman di Tinambung. Siang hari, tepatnya sekitar pukul 11.30 WITA. Saya naik becak motor (bentor) dari penginapan hingga Pasar Polewali (disebut Sentral oleh orang Polman sini), dimintai ongkos lima belas ribu. Saya dijatuhi peringatan keras oleh Syuman Saeha melalui pesan singkat dalam WhatsApp, “Aduh, jangan pakai bentor. Lekas naiklah petepete (sebutan untuk angkutan umum bagi warga Polman). Turun di Sentral, nanti berlanjut naik petepete sampai Wonomulyo, nanti ketemuan di Alfamidi Wonomulyo. Paling ongkosnya hanya sepuluh ribu.”
Selanjutnya, seperti yang disarankan Syuman Saeha, saya turun di Sentral lalu mencari petepete hingga tiba di Wonomulyo. Selepas beberapa saat sampai, akhirnya saya berjumpa dengan Syuman Saeha di minimarket tersebut. Saya turun dari petepete, saya berhenti sejenak, sama sekali tidak melangkahkan kaki. Saya lihat langit, sangat terang. Lalu pandangan saya jatuhkan menuju beberapa arah di depan saya, dan sesekali membalikkan barang, dan menerawang pandangan sekitar pula. Sungguh, Wonomulyo ini begitu ramai. Sebuah kecamatan di Polewali Mandar yang kata teman di kampung halaman, yang sempat singgah di sini, “Kau akan enak di sana, banyak didapati orang Jawa di sana.” Barangkali yang dimaksudkan oleh salah seorang di kampung halaman saya adalah ini, ya, Wonomulyo. Sebuah kampung Jawa. Pasti, saya yakin pasti ini yang dimaksudkan. Dari namanya saja sudah tampak, bahwa ini adalah sebuah daerah yang begitu padat dipenuhi orang-orang Jawa. Selepas menerawang pandang itu, saya lalu mulai bergerak menuju sebuah toko swalayan, untuk sekadar mencari air minum sambil menunggu kedatangan Syuman Saeha, ya, penyair, penulis buku puisi Bayi Langit itu. Tak lama selepas saya mencari-cari minuman, Syuman Saeha menghampiri saya, meski tanpa sebelumnya saya beri kabar bahwa saya sedang mencari air minum lebih dahulu. Ternyata *signal-*nya begitu kuat untuk menemukan saya. Barangkali, Syuman Saeha sangat tajam indra penciumannya untuk mengetahui keberadaan saya, apalagi saya orang asing, bukan orang Mandar sini. Tentu dengan mudah ia dapat lekas mengetahui keberadaan saya. Gelagat dan segala gerak-gerak kecil yang saya kerjakan pun pasti berbeda dengan orang-orang di sini. Itulah yang membuatnya begitu mudah menemukan saya. Ah, sudahlah. Itu tak begitu penting. Itu urusan kelihaian Syuman Saeha semata tentunya. “Sudah, bagaimana kita lanjut bergerak ke Tinambung?” begitulah ajakan lembut dari penyair Syuman Saeha kepada saya. Ia meluncurkan pertanyaan sekaligus bernada ajakan untuk lekas ke Tinambung. Ya, kata Syuman Saeha, atau bahkan berdasarkan yang disampaikan beberapa kawan
Setia Naka Andrian
di Mandar, bahwasanya Tinambung adalah sebuah daerah yang begitu kental dengan seni. Tidak sedikit yang bilang pula, Tinambung adalah “Jogjanya” Polewali Mandar. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Tinambung. Kami bersama melaju, menggunakan motor Bang Syuman Saeha. Di tengah perjalanan, karena hari sudah cukup siang, perut saya sudah berontak. Lalu saya adukan kepada Syuman Saeha, “Bang, cari tempat makan ya. Sekiranya yang asyik untuk ngopi pula ya.” “Oke, siap! Nanti kita cari yang ada di tepi jalanan,” jawab Syuman Saeha. Tak lama kemudian, motor Syuman Saeha membelok ke kanan, menuju sebuah warung makan sederhana, tetapi dengan desain yang sepertinya tak bisa dibilang sederhana. Desain bangunannya begitu ramah dengan konsep tradisi yang masih tampak di sana-sini. Kayu-kayu ulin pun saya jumpai pada sebagian besar bangunannya. “Mau makan apa?” Syuman Saeha bertanya kepada saya, sambil menyodorkan menu makanan. Di sebelah depan tempat kami duduk, ditunjukkannya bahwa nanti saat memesan menu, para pemesan diminta untuk memilih sendiri ikan-ikan yang segar, yang nanti akan digoreng atau dibakar. Ya, kami berdua sama-sama memilih ikan bakar. Dengan minuman tentu yang segar-segar, jus buah yang kami pilih. Sambil menunggu makanan dihidangkan, kami bercakap. Percakapan awal kami mulai dengan pertanyaan-pertanyaan kecil tentang beberapa aktivitas yang dilakukan. Ternyata, kami hampir memiliki kesamaan yang cukup banyak, perihal aktivitas harian. Saya mengajar, Syuman Saeha pun sama. Saya sempat berproses dalam teater, Syuman Saeha juga. Saya menulis puisi, cerita pendek, dan esai; Syuman Saeha juga mengerjakannya. Ah, entah, segala memang diciptakan untuk dipertemukan karena kesamaan-kesamaan. Meski di luar itu, dari segala kesamaan-kesamaan itu, akan sangat penuh ditemukan betapa besar perbedaan yang menumbuhkan bangunan-bangunan baru. Terutama bagi kami saat itu, beberapa perbedaan menjadi bangunan tersendiri bagi kami, untuk belajar dan menjadi pengalaman tersendiri untuk proses-proses selanjutnya.
Saya pun begitu takjub, jika diperkenankan saat itu, saya hendak cium tangannya bolak-balik, dan memeluknya bolak-balik pula berkali-kali. Bagaimana tidak, Syuman Saeha, sesungguhnya, mohon maaf, tidak bermaksud apa-apa, SD saja ia tidak tamat. Ia hanya sampai kelas tiga SD, lalu memutuskan untuk keluar dari sekolah karena terlibat kasus perkelahian. Bayangkan, ia SD saja tidak tamat, tetapi begitu besar upayanya untuk menggerakkan napas literasi di sekitarnya. Misalnya saja, ia terlibat dalam proses di beberapa ruang kreatif. Di antaranya di Teater Flamboyant, Teater Palatto, lalu mengajar ekstrakurikuler sastra atau pun teater di beberapa sekolah, mengikuti beberapa aktivitas pembukuan karya bersama baik tingkat lokal maupun nasional, lalu seabrek aktivitas kesenian lainnya. Tentu, segalanya ini tak sembarang dapat dilakukan oleh orang-orang di luar sana. Tentu segala yang dilakukannya berpijak pada ketulusan, bukan karena sesuatu hal. Misalnya saja, mau menulis buku karena ingin menambah nilai, menaikkan jabatan. Tidak, segala ini tidak berlaku bagi Syuman Saeha.
Setia Naka Andrian
Hari Minggu Pertama di Polman
Minggu, 5 Mei 2019, ini hari Minggu pertama saya di Polewali Mandar. Saya berniat untuk bersantai, melepas lelah. Hari Minggu ini, saya diberi pinjaman motor plat merah oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Akhirnya, siang hari saya kendarai motor itu seorang diri. Saya ikuti perputaran roda motor, berkeliling sekenanya, mencari angin dan menyibak jalanan baru yang entah. Tanpa sadar, motor terus melaju, hingga ke sebuah kecamatan bernama Matakali. Nama yang unik, yang tentu tak saya duga sebelumnya nama yang elok serupa itu. Jika boleh meraba makna penggalan nama itu, Matakali berarti ‘matanya sungai’. Roda terus berputar, menggelinding entah akan menuju ke mana. Sesaat kemudian, ponsel yang saya pegang di tangan kiri lampunya menyala-nyala. Ya, ini ada panggilan masuk. Saya memang tak mengaktifkan nada atau pun getar. Hanya nyala lampu semata yang bergerak-gerak ketika ada panggilan atau pesan masuk. Saya lihat, ternyata dari istri yang sedang di rumah sendirian. Maka menepilah saya di tepi jalan, ternyata panggilan tak terjawab. Ia sepertinya memanggil hanya untuk memberi tahu bahwa ada pesan darinya yang harus lekas dibaca. Ah, ada apa lagi ini. Pesan saya buka, ternyata isinya pesan yang seakan biasa-biasa saja. Namun, itu tak biasa, bagi budak-budak cinta. Bagaimana tidak, itu pesan-pesan rindu. Saya jadi ingat, menerawang waktu bertahun-tahun silam saat-saat kami berdua masih awal-awal mengenal dan sedang belajar merajut cinta. Entah apa yang terjadi dan sedang dialami istri saya sepertinya juga sedang saya rasakan pula. Hari Minggu pertama ini buktinya, hari ini saya tak karuan sesungguhnya. Aduh, sungguh tak kusangka. Betapa kerinduan membuat segala hal di luarnya menjadi berubah warna, lari dari segala yang semestinya. Kembali lagi motor saya kendarai, melaju, menyusur tepi jalanan yang entah. Dari segala pesan-pesan singkat kiriman istri tadi membuat tubuh ini agak sempoyongan. Ya, ini memang perantauan terlama yang pertama saya lakukan. Satu bulan, bukan waktu pendek bagi kami untuk membentangkan jarak antara kampung halaman dengan Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Pantai Bahari Polewali
Saya melihat ke kanan dan kiri tepi jalanan. Rumah-rumah yang tumbuh tegar, rumah yang beragam, tak sedikit yang masih bertahan dengan rumah-rumah panggung, tak sedikit pula yang sudah bermekaran menjadi rumah-rumah baru. Di depan rumah, saya menyaksikan berbagai hasil bumi dijemur. Kakao, kelapa, kakao, kelapa, seakan memberi jawaban dan harapan tersendiri bagi saya, atau siapa saja yang lewat di depan rumah-rumah itu. Bahwasanya, ada ketahanan hidup di balik rumah-rumah itu. Ada tubuh-tubuh yang berjuang, memelihara segala pengharapan. Roda seakan makin memperlambat geraknya sendiri. Saya pun mengikuti kemauannya. Roda kian pelan memutar, kian pelan, dan akhirnya berhenti. Di depan jalanan makin sepi, sesunggunya belum sampai ujung. Namun, seakan ada yang berkata lain selain perkataan dari dalam hati kecil saya. Entah itu dari mana, yang pasti, seakan bilang, “Berhenti sampai sini saja, putar balik, dan lanjutkanlah perjalanan lain.” Tanpa banyak pertimbangan, saya pun berputar balik. Kembali berselancar di jalanan beraspal poros Sulawesi, terus melaju, roda memutar begitu tegas, akhirnya, sampailah di sebuah taman kota Polewali Mandar,
atau populer dengan nama Taman Bahari. Ya, ini taman di tepi pantai. Sangat cocok bagi diri serupa saya, yang sedang gundah menghadapi kesendirian di jagat rantauan serupa ini. Saya sungguh sadar, ini saya rasakan barangkali karena awal-awal keberadaan saya di tanah rantau. Barangkali ini yang dihadapi oleh beberapa kawan residensi di daerah lain. Atau entah, barangkali mereka juga bisa jadi tak merasakan kegundahan dan kegelisahan seperti yang saya rasakan ini. Ah, sudahlah. Saya rebahkan saja tubuh ini di bawah pohon, di atas pot raksasa yang melindungi pohon besar yang entah tak saya gubris namanya. Yang penting, saya menemukan tempat berteduh, menemukan ruang untuk melepas pandang, jauh ke seberang sana. Meski tetap saja, pandangan terbatas, dan tak melihat apa-apa, kecuali bayangan yang berlalu-lalang, serta harapan yang begitu besar. Yang tetap harus saya lalui, sepanjang waktu, sepenuhnya, sebulan ini, hampir sepenuh masa puasa di Polewali Mandar. Di sebelah kanan sisi saya tiduran, ada segerombolan anak-anak kecil bermain. Mereka berlari-larian. Tiba-tiba, gerombolan itu pecah gara-gara ada seorang perempuan asing, berkulit putih, berambut pirang, bertubuh langsing. Mereka semua terpecah. Satu-satu di antaranya mengerumuni perempuan asing berkulit putih dan bermata biru itu. Sontak saya berpikir, mengapa bukan saya yang dikerumuni anak-anak itu, ya? Ah, barangkali anak-anak itu menganggap saya masih serupa dengan mereka. Masih satu bangsa, masih satu tubuh. Meski sesungguhnya, saya pun orang asing, yang berasal dari seberang jauh sana. Saya melihat, anak-anak itu bahagia, mengerumuni perempuan bermata biru itu. Perempuan itu di kedua tangannya sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Ternyata, oh ternyata, ia sedang membuat sebuah gelang. Akhirnya, beberapa gelang itu diberikan perempuan itu kepada beberapa anak. Mereka bahagia. Entah, anak-anak sekecil itu bercakap dengan bahasa apa kepada perempuan bermata biru itu. Tak sanggup saya terawang meski sayup-sayup yang saya dengar, hanya senyum-senyum dan tawa-tawa semata komunikasi mereka. Ah, begitulah rahasia bahasa. Barangkali, komunikasi tetap akan terjaga bila di antaranya masih memegang kepercayaan dan cinta.
Setia Naka Andrian
Berteduh di Masjid Imam Lapeo
Senin, 6 Mei 2019, adalah hari pertama di bulan puasa Ramadan, yang saya arungi di Polewali Mandar. Tentu ada perasaan yang tak karuan, saat menghadapi puasa pertama di sebuah rantauan. Sungguh, baru kali ini saya alami dalam sepanjang sejarah hidup saya. Bagaimana rasanya, sungguh berkecamuk yang entah. Saya tak begitu terbiasa jauh dengan orang tua, apalagi dengan keluarga, dengan istri. Bisa dibilang belum terlalu lama usia pernikahan kami dan saya harus meninggalkannya sendirian. Barangkali, ini yang dirasakan oleh istri saya, barangkali pula yang dirasakan oleh kedua orang tua saya. Namun, bagaimana lagi, seperti apa pun, harus saya hadapi dan harus saya tunaikan dengan tegar. Harus dihadapi dengan sepenuh kepalan tangan. Maka tanpa banyak pertimbangan, saya langsung bergegas menyalakan motor, pilihan tepat di bulan puasa hari pertama sepertinya tak akan afdol jika tak mengunjungi masjid. Masjid Imam Lapeo adalah tujuan pertama yang saya ingin kunjungi, sebuah masjid bersejarah di Polewali Mandar, yang merupakan masjid tertua dari Imam Lapeo, seorang penyebar agama Islam pertama di Polewali Mandar. Perjalanan saya tempuh sekitar satu jam dari rumah Ibu Kadis, hari itu. Selepas sampai di masjid, saya langsung dihadapkan dengan masjid yang berdiri kukuh, di bawah terik yang tak main-main, di bawah langit yang dilalui garis khatulistiwa. Tak terbayangkan, betapa teriknya, saat puasa lagi, saat puasa hari pertama lagi. Maka tak harus berpikir panjang, saya langsung masuk ke dalam masjid, tak lain karena saya ingin lekas ngadem, memanjakan sedikit tubuh saya yang baru dihantam panas jalanan. Lekaslah saya bertanya kepada tiga orang tua yang sedang di masjid, yang tak saya tahu namanya. Saya bertanya di mana tempat wudu laki-laki, lalu bergegaslah saya berwudu, lalu salat, meski tak berjamaah. Telah usai sekitar setengah jam yang lalu jamaah salat zuhur di Masjid Lapeo, Polewali Mandar itu. Selepas salat, saya berjalan menuju ruang takmir di sebelah kiri area masjid. Namun sayang, beberapa kali saya jatuhkan salam, tak kunjung juga menuai jawaban. Entah, ruang sedang benar-benar sepi atau hanya suara saya yang kurang lantang (bergaya efek puasa).
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Alquran Raksasa di Masjid Imam Lapeo
Berdiri beberapa menit di depan pintu ruang takmir membuat saya cukup lelah. Kaki saya menempel di lantai yang cukup dingin, dan itu membuat saya tergoda untuk lekas meredakan panas di tubuh. Akhirnya, sontak saya lekas berjalan masuk ke masjid, tiduran di lantai sambil mendengar lantunan ayat-ayat suci Alquran yang begitu merdu dilafalkan oleh seorang anak perempuan kecil di depan pintu masjid. Ia membacakan ayar-ayat dari sebuah Alquran raksana yang berada tak jauh di depan pintu masjid, dengan dipandu oleh dua orang ustaz sambil mengarahkan dan sembari membuka lembar-lembar Alquran raksasa itu. Sore hari, hampir asar, sekitar pukul 14.30 WITA, saya mendapat kabar dari seorang teman seniman Polman yang bernama Ridhai. Ia kabarkan melalui pesan WhatsApp bahwasanya ia sedang kedatangan tamu, seorang seniman, pegiat teater di rumahnya. Saya diminta untuk ke rumahnya. Ia sampaikan pula, bahwa rumahnya tak jauh dari Masjid Imam Lapeo yang sedang saya kunjungi, hanya berjarak tempuh sekitar setengah jam. Akhirnya tanpa berlama-lama, saya langsung bergegas menuju rumah Bang Ridhai.
Selepas berbincang dengan Bang Ridhai dan Bang Adil, dengan begitu hangat, akhirnya mereka berdua menawarkan kepada saya, “Di dekat sini, ada Makam Raja Todzilalung, raja pertama Balanipa. Dari sini tak jauh, hanya sekitar lima belas menit waktu tempuhnya. Bagaimana, apakah kiranya mau kau kunjungi? Mumpung di sini, sekalian ngabuburit.” Akhirnya saya pun setuju, dan sangat tertarik untuk mengunjungi, ziarah ke makam raja pertama di Balanipa tersebut. Bang Adil berkendara sendiri, saya dan Bang Ridhai berboncengan. Kami menyusuri jalan-jalan kampung.
Setia Naka Andrian
Prasasti Allamungan Batu di Luyo
Rabu, 8 Mei 2019, sore hari, selepas asar saya singgah di rumah tinggal Sahabuddin Mahganna. Ya, saya akan ditemani untuk singgah ke situs perjanjian di Luyo. Jalanan yang saya lalui tampak masih menyengat, meski udara tak berdebu. Tak seperti yang saya jumpai di kota. Ah, beginilah daerah-daerah luar di Indonesia. Selalu memanjakan bagi siapa pun yang menghinggapinya. Saya sudah berjanji hendak berjumpa dengan Sahabuddin Mahganna, melalui pesan singkat WhatsApp kami saling bersapa. Sungguh, saat ini komunikasi sudah begitu rupa dimanjakan, kita dengan leluasa dapat berkomunikasi dengan siapa pun, kapan pun, tak terbatas, tak berjarak. Hanya saja, siapa pun harus pandai mengelolanya. Jika tidak, ya kita akan kelelahan menyambut segala gerak yang muncul dari ponsel-ponsel kita. Selepas lima belas menit perjalanan, sampailah saya di rumah tinggal Sahabuddin Mahganna di Mapili. Ia telah menghadang saya di tepi jalanan, di depan rumahnya. Senyum hangatnya pun menyambut saya, sangat akrab, seakan kami telah lama saling mengenal. Tanpa masuk ke rumah, kami langsung meluncur menuju situs perjanjian di Luyo. Sahabuddin Mahganna dalam perjalanan bersama saya, berkendara dalam motor, ia telah mulai berkisah tentang perjanjian di Luyo itu. Kami melewati jalan-jalan kampung yang entah tak begitu saya hafal seluruh nama-namanya. Saya ikuti kendara yang dikendalikan Sahabuddin Mahganna, melewati gang-gang kampung, tepi sawah, hingga tepi sungai. “Naka, kita akan bergerak ke Allamungang Batu di Luyo. Sebuah situs sejarah, di sana dulu telah terjadi sebuah perjanjian, sebuah kesepakatan, empat belas kerajaan di Mandar. Antara kerajaan-kerajaan yang ada di daerah atas, Pitu Ulunna Salu (Tujuh Hulu Sungai) dan di daerah bawah, Pitu Baqbana Binanga (Tujuh Muara Sungai). Batunya, yang hingga saat ini masih dapat ditemui. Yang nanti ini akan kita singgahi,” ungkap Sahabuddin Mahganna dalam perjalanan, sambil sesekali ia setengah menengok ke belakang, berupaya meyakinkan bahwa saya yang sedang di belakangnya sepenuh mendengar apa yang dikisahkannya.
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Gerbang Situs Allamungan Batu di Luyo
“Saat itu, telah didapati federasi empat belas kerajaan lokal di daerah Mandar. Ya, pada kisaran abad XVII. Saat itu, kerajaan dari daerah atas, di antaranya Tabulahan, Rantebulahan, Mambi, Aralle, Bambang, Matangnga, dan Tabang. Kemudian kerajaan di daerah bawah, di antaranya Balanipa, Sendana, Banggae, Pamboang, Mamuju, Tappalang, dan Binuang,” tambah Sahabuddin Mahganna berkisah, dan kami sampai. Di depan gerbang, saya diminta berfoto. Saya pun ikuti saja, dengan gaya biasa, berdiri dengan tatapan mata lelah. Sangat tampak, bahwa sore itu hanya sisa-sisa energi yang ada dalam tubuh. Namun, saya sangat bersemangat mengikuti pengisahan Sahabuddin Mahganna, guru musik di sebuah sekolah menengah atas yang begitu akrab dengan kebudayaan di daerahnya. Guru muda yang penuh energi. Beberapa karya musiknya pun kerap merespons kearifan lokal di daerahnya, di kampung halaman tercintanya. Termasuk, sempat pula ia merespons teks perjanjian di Luyo ini sebagai karya musiknya. Selanjutnya, ia membacakan dengan penuh penghayatan, teks perjanjian empat belas kerajaan di Mandar, Pitu Ulunna Salu (Tujuh Hulu Sungai) dan Pitu Baqbana Binanga (Tujuh Muara Sungai).
Tallemi manurunna pinenean, pasambulobuloi ana appona, pitu ulunna salu di pitu baqbana binanga. Nasaqbii dewata riaya, dewata riong, dewata rikanan, dewata rikairi, dewata riolo, dewata riwoe, menjarimi passemandaran. Tandisappa tandiatonang, maallonang mesa, mallatte samballa, siruangan sambu-sambu. Sirondong langi-langi, tassipande pioqdong, tassiparundu pelango, tassipelei dzi pandra, tassipelei dzi apiangan. Sipatuppu dzi adza, sipalete dzi rapang. Adza tuo di pitu ulunna salu, adza mate di muane, adzaqna pitu baqbana binanga. Sapu tangan di pitu ulunna salu, simmbolong di pitu baqbana binanga. Pitu ulunna salu mimmata dzi sawa. Pitu baqbana binaga mimmata ri mangiwang. Sisaraqpai mata malotong anna mata mapute, anna siaraq. Pitu ulunna salu anna pitu baqbana binanga. Mua diang to mangipi, mangirang, mambattangan tommu- tommuane, namappasisara pitu ulunna salu anna pitu baqbana binanga. Sirumungngi, anna musessei, pasungi anaqna, manusangi sau dzi uwai tammendulu.
Setia Naka Andrian
“Kau paham, Naka?” tanya Sahabuddin Mahganna, tampak melempar gurau kepada saya. Tentu dengan lekas saya gelengkan kepala sambil melempar senyum lebar. “Pendahulu dari tujuh kerajaan di hulu sungai dan tujuh kerajaan di muara berkumpul dan berikrar atas lahirnya perserikatan Mandar. Dewa di segala penjuru telah bersaksi, dengan tanpa batas, menjunjung adat, menghargai sesama, tidak mengenal racun, tidak menjebak. Susah senang kita menyatu. Adat terlahir di hulu sungai, muara secara jantan mempertahankan adat yang akan tenggelam. Pitu Ulunna Salu menjaga musuh di gunung, Pitu Baqbana Binanga menghalau lawan di pantai. Andai mata hitam dan mata putih telah beralih, maka ikrar ini akan teringkari. Jika suatu saat di antara kita pernah bermimpi tentang seorang wanita hamil, lalu anak yang dikandung adalah seorang laki-laki yang telah ditengarai berniat menghancurkan persaudaraan ini, keluarkan anak itu secara paksa, dan hanyutkan dia ke sungai sebagai tanda kesetiaan,” begitulah Sahabuddin Mahganna. Saya terpukau, dan begitu mendalam teks perjanjian itu. Saya mendengarkannya dengan begitu khidmat, apalagi dengan pembawaan Sahabuddin Mahganna dalam mengucap, yang sangat memperhatikan vokal, artikulasi, dan penjiwaannya. Saya seakan diajaknya dalam dialog-dialog yang dihadirkan dalam sebuah panggung teater terbuka, yang dipentaskan di dekat prasasti batu di Luyo. Ya, tengah alam yang sangat terbuka, dikelilingi pohon-pohon besar dengan tamparan angin-angin serta nyanyian merdu burung-burung. Yang tentu, menjadi ilustrasi tersendiri bagi perjumpaan kami. Di sela-sela itu pun, saya diperdengarkan sebuah karya musik garapan Sahabuddin Mahganna. Ia perdengarkan kepada saya, diputarnya melalui sebuah ponsel dalam genggaman tangannya. Yang saya ingat, ada beberapa gelang yang melingkarinya, menampakkan diri dan memantapkan mata siapa saja yang melihat, bahwa Sahabuddin Mahganna adalah seorang seniman. Begitu pun saya mengakuinya, bahkan sangat meyakini, apalagi saat sore itu, saya diperdengarkan sebuah karya musiknya yang merespons tentang
perjanjian di Luyo. Yang tak lain, tak jauh-jauh syairnya serupa dengan yang dikatakan, ya, isi perjanjian itu. Sungguh mengena hingga ke relung dada ini, meski sungguh, saya sama sekali tak paham dengan bahasanya. Namun, ternyata alunan nada-nada yang beraroma etnis itu begitu rupa memberi ruang-ruang kontemplasi bagi saya. Saya pun leluasa memasukinya, leluasa memilih melalui pintu yang mana. “Secara sederhana begini kisah dalam karya saya ini, atas respons terhadap perjanjian. Bahwasanya suatu ketika akan lahir seorang anak dari rahim ibunya. Bahwa kelahirannya itu sudah diterawang, nanti akan menghancurkan dunia. Dan ditengarai akan menghancurkan persaudaraan orang-orang yang ada di daerah atas (gunung) dengan orang-orang yang ada di daerah bawah (pantai) itu. Seorang laki-laki, lalu dikeluarkan secara paksa dan dihanyutkan ke dalam sungai sebagai tanda kesetiaan. Begitu tafsir sederhana saya, yang saya tuangkan dalam karya musik itu,” Sahabuddin Mahganna mencoba sedikit mengurai tentang karya cipta musiknya. Sambil saya lihat, ia memegangi batu perjanjian di Luyo itu, sesekali mengelap bagian-bagiannya, mengusap jika barangkali ada debu-debu atau kotoran-kotoran kecil yang menempel. Seusai itu, kami pun beranjak dari Allamungang Batu di Luyo, sebuah prasasti perjanjian yang ada di Desa Luyo, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sambil bergerak pulang, meninggalkan prasasti itu, pikiran saya menerawang jauh. Membayangkan bagaimana kiranya masa itu. Mencoba merasakan bagaimana kesepakatan, perjanjian sudah muncul kala itu. Tak terkira, ada empat belas kerajaan di gunung dan di pantai, semuanya bersepakat dalam sebuah perjanjian bersama. Di sini, di Luyo. Saya pun kembali menjatuhkan pengisahan itu, dan kemudian membanting setir pada peristiwa-peristiwa politik saat ini. Hanya dua kubu saja, sudah riuhnya minta ampun. Sepertinya, begitu sulit saat-saat ini, untuk sekadar menyusun sebuah perjanjian dan kesepakatan bersama, untuk menemukan tujuan bersama, demi segala kepentingan bersama, bukan kepentingan salah satu kelompok atau salah satu sisi golongan semata.
Setia Naka Andrian
Begitulah, perjumpaan kecil saya dengan Sahabuddin Mahganna, seorang guru, lulusan program studi musik dari Universitas Negeri Makassar, seorang musisi, pegiat seni, bahkan selain bermusik, sempat pula ia menggarap sebuah pertunjukan tari dengan tajuk Sitalli, yang berarti ‘berikrar’. Yang tak jauh pula, karya ini pun merespons perjanjian empat belas kerajaan di gunung dan di pantai itu. “Tari ini bertemakan tentang kepatriotan masyarakat Mandar yang sebagian masih menjalani kelaziman budaya, khususnya tentang paham yang meyakini dan menghargai adanya sejarah,” pungkas Sahabuddin Mahganna, sesaat sebelum saya pamit dari rumahnya yang dihiasi beberapa alat musik tradisional Mandar, termasuk calung dan kecapi Mandar.
Ramli Rusli dan Kisah Masa Kecilnya di Sungai Mandar
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Sungai Mandar
Setia Naka Andrian
Jumat, 10 Mei 2019, saya jatuhkan tubuh ini di depan rumah Ramli Rusli. Sudah seperti perjumpaan lain bersamanya, saya telah sebelumnya saling berkirim pesan singkat, entah sekadar menyapa, atau melingkari beberapa angka dalam kalender untuk berjumpa, atau mengantar jumpa. Meski melalui ponsel, Ramli Rusli tak menggunakan aplikasi WhatsApp seperti kebanyakan orang. Namun, ia menggunakan messenger dari Facebook. Entah kenapa, saya tak tahu, dan tak pernah saya tanyakan pula kepadanya. Ya, jalan sangat kecil di depan rumah Ramli Rusli ini, barangkali satu-satunya yang paling sering menjumpai diri saya di sini. Tak lebih dua meter kiranya, lebar jalan yang menghubungkan banyak hal, dari mulai keyakinan hingga segala yang tak diduga dalam pikiran dan hati siapa saja. Sengaja, saya kerap berdiam jika sudah sampai. Saya merasa tak ingin banyak mengganggunya. Ya, lebih-lebih saat-saat ini Ramli Rusli sedang banyak mengeluarkan waktu, tenaga, pikiran, dan segala hal untuk mengurus ibundanya yang sedang sakit. Sempat suatu saat, saya memberanikan diri untuk turut serta menengok. Meski berat, saya beranikan diri. Saya sungguh tak cukup kuat untuk menengok ibu-ibu sakit, apalagi saat ibunda Ramli Rusli terbaring lumpuh itu. Sungguh, sempat mata ini hendak mengucurkan airnya, tetapi entah, air itu seakan hendak keluar dan tak saya tahu kenapa, sepertinya hilang kembali begitu saja. Barangkali, saya lihat betapa tegar, kuat, dan tulusnya lelaki kurus, berkulit gelap, dan gondrong itu. Ya, Ramli Rusli namanya. Pegiat Teater Flamboyant, penyair, yang turut serta bergiat pula dalam Rumah Pustaka, sebuah taman baca yang berada persis di sebelah rumah tinggalnya. Ia kerap berproses bersama anak-anak muda di sekitar rumah tinggalnya, berinteraksi langsung dengan titik-titik dalam sebuah perkampungan, dalam upaya menemukan nilai-nilai hidup dan berkehidupan. Di jalan ini, beraspal tipis-tipis di atas batu-batu kecil ini, sesekali ada orang yang berjalan. Entah menuju ke mana. Setiap kali mata ini mengikutinya, selalu saja terputus, lenyap dimakan belokan gang di sebelah sana. Sesaat lagi ada yang lewat lagi, saya tak sepenuhnya berani menatap, karena sepertinya
ia sedang terburu. Maka sudah, perhatian saya alihkan menuju genggaman ponsel. Seakan telah begitu khidmat menanti kabar-kabar yang akan bermunculan, entah dari mana. Motor pun saya parkir. Persis di tepi pagar, di depan Rumah Pustaka, sebuah taman baca yang dikelola Ramli Rusli bersama para pegiat di kampung ini, yang sangat dekat dengan Sungai Mandar ini. Kaki pun saya langkahkan menuju tepi sungai. Langit begitu cerah, biru dengan gumpalan dan bercak- bercak awan yang begitu memukau. Saya tak sanggup menerka bentuk apa saja yang tepat untuk awan-awan itu. Kepala mendongak beberapa detik, terpukau diri ini. Lalu gazebo yang bermekaran di tepi sungai seakan melambai-lambai. Mereka berebut untuk saya singgahi. Ya, akhirnya saya pun tergoda dan memilih salah satu di antaranya untuk saya hampiri. Tentu yang paling dekat, dan saya rasa sangat strategis. Saat Ramli Rusli terbangun nanti, ia dengan sangat mudah dapat menemukan keberadaan saya. Tas punggung berwarna ungu saya lepas. Saya baringkan di gazebo. Maka bersandarlah kepala saya di atas tas punggung ungu itu. Kaki melipat ke bawah, hanya karena masih malas untuk melepas sepatu. Rasanya, telah saya temukan istirahat yang begitu sempurna. Semilir angin pun berkali-kali menyapa dari samping kanan dan kiri. Mata pun saya pejamkan pelan-pelan hingga benar-benar memejam, tetapi tak tertidur. Langit begitu terang, cahaya lepas dijatuhkan di permukaan sungai. Namun, angin dari kanan dan kiri menampari tubuh saya. Angin yang menenangkan. Di sebelah sana, saya dengar suara ibu-ibu sedang berbincang dan mencuci pakaian dan memandikan dirinya.
“Bang Naka ....”
Telinga sudah mendengar, ada yang memanggil nama saya. Namun, mata belum mau membuka. Baru saya ingat, itu suara yang sangat saya kenali. Ya, suara Ramli Rusli. Orang yang sedang saya nanti, karena hari ini saya ada janji dengannya. Ia akan mengantar saya ke rumah Amma Cammana, sang maestro rebana dari Mandar. Pelan-pelan, kedua mata saya buka meski sungguh begitu
Setia Naka Andrian
berat. Mata tak tertidur, hanya memejam saja. Namun, hampir tidur, dan itu yang membuat mata ini susah dibuka kembali. Seperti sudah hampir tidur, tetapi gagal. Selepas mata saya buka pelan-pelan, seorang lelaki gondrong tersenyum hangat, membangunkan tidur saya. Berkata lagi dirinya, “Sudah lama, Bang Naka?” sapanya, mencoba membangunkan sepenuh diri yang hampir tertidur ini. “Ya, Bang Ramli. Lumayan. Namun, tak lama-lama amatlah. Paling baru setengah jam bergerak,” jawab saya seraya membangunkan diri. Akhirnya kami pun duduk di gazebo itu, di tepi sungai Mandar yang menawan dan menawar itu. Perbincangan pun mulai bergerak saat kedua mata kami memandang teduh permukaan sungai sambil sesekali pula mata kami memandang jauh di seberang sana, pohon-pohonan rimbun dan kokoh. Seakan memberikan jawaban atas segala pertanyaan seputar kemakmuran yang belum sempat ditanyakan oleh siapa pun. Setelah beberapa saat kami duduk bersebelahan di gazebo tepi sungai Mandar itu, selepas kami sama-sama melamunkan diri entah ke mana, saya mencoba memulai perbincangan. Saya lemparkan pertanyaan kecil kepada Ramli Rusli, “Bang, apakah ada suatu kisah tentang Sungai Mandar ini? Barangkali yang nyangkut di benak Bang Ramli.”
“Oh, tentang Sungai Mandar ini .... Apa, ya?” katanya sambil matanya
menerawang jauh, kemudian ia seakan ingat sesuatu, “Ya, tentang buaya, saya sempat menemukan ada buaya di sungai ini.” “Buaya? Buaya apa, Bang?” tanya saya dengan penasaran, sepertinya ada sesuatu yang hendak dikisahkan Ramli Rusli. Kedua mata Ramli Rusli masih menerawang jauh entah ke mana. Mulutnya pelan-pelan membuka, hendak melanjutkan kisahnya, “ Buaya putih bulis. Buaya bermulut putih. Kita akan diambil ke sana. Kita akan dibawa ke sana, kalau memang kita menyalahi. Kalau ada siapa saja yang menyalahi. Melakukan sesuatu yang tercela,” begitulah yang dikatakan Ramli Rusli. Sambil sesekali tangan kanannya menunjuk ke arah ujung sana. Titik yang
mana saya tak paham. Hanya ada arah ke ujung sana, di sebuah titik yang tentu tak sepenuhnya utuh disampaikannya. Itulah yang membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Karena sangat ingin mengetahuinya, dengan khidmat saya dengar sungguh bagaimana jalan kisahnya yang hendak dijatuhkan ke telinga saya ini. “Sejak kecil, saya dan siapa saja seakan percaya, bahwa ini sungai betul-betul mempunyai kekuatan. Boleh kita tengok, sampai sekarang pun, sungai ini masih selalu memberi kehidupan bagi masyarakat. Airnya pun bisa menjadi air penawar, sebagai obat. Kami percaya begitu.” “Lantas mengenai buaya itu bagaimana, Bang?” “Ya, buaya itu. Saya ingat, saat itu saya masih kecil. Saya ingat, saat itu saya masih SMP, saya alami ini beberapa kali. Saya jumpa buaya itu. Saat saya mandi. Malam hari itu. Habis magrib, menjelang isya. Saya mandi di sungai ini. Seorang diri. Saya menjebur. Sungai ini kerap makin dalam karena dikeruk pasirnya, untuk bangunan. Di tengah sungai, saat saya berdiri, hanya kepala saja yang tampak. Tubuh saya benamkan di sungai. Tiba-tiba saya rasakan seakan ada yang menginjak. Saya bertanya-tanya sendiri. Siapa ini? Akankah ada teman yang jahil atau bagaimana? Namun, nyatanya sungai sedang sepi, selepas magrib begini. Pelan-pelan saya berpikir keras, hingga agak takut. Pelan-pelan saya rasakan, ternyata saya makin paham wujudnya. Meski saya tak melihat, hanya meraba-raba atas yang saya rasakan. Ternyata saya diinjak kaki buaya, saya rasakan ada semacam kuku buaya. Dan saya tak bisa bergerak. Sangat kuat kakinya menginjak kaki saya. Pelan-pelan pun saya mencoba menggeser sedikit-sedikit. Namun, ia malah mengikuti. Akhirnya, pelan-pelan pun kaki saya bisa terlepas dari injakannya. Saya pun akhirnya kencang, sekencang-kencangnya meninggalkan sungai, menuju rumah. Saya lari dengan telanjang bulat. Tak memikirkan panjang hal lain, yang penting lari. Akhirnya saya lari telanjang itu, meninggalkan sungai.” Ramli Rusli mengisahkan dengan begitu serius. Sesekali ia menatap saya, dan lebih sering menjatuhkan matanya di permukaan sungai yang tampak dengan gairah angin menggerakkan permukaan air itu.
Setia Naka Andrian
“Itu benar-benar saya alami. Saya ingat betul. Masa itu, saya sudah SMP. Tentu saya tak lagi bisa sepenuhnya dibilang anak-anak yang penuh dengan hal-hal yang tak masuk akal atau fantasi apa. Sudah begitu, sepenuhnya yang saya alami seperti sungguh benar adanya seperti itu. Ya di sungai ini. Karena saya memang lahir dan besar di sini. Saya pun ingat, ada luka di kaki saya. Seperti tergores sesuatu. Itu pasti karena kuku kaki buaya itu. Atau entah bagian lain atau benda lain saat saya mencoba melepaskan injakan kaki untuk lekas lari. Bahkan saat saya bilang kepada tetangga yang lihat, saat saya sampai di depan rumah, saya dikira bercanda.” Barangkali yang kita hadapi memang begitu. Sepenuhnya tak ada yang percaya. Meski yang mengalami terkadang sepenuh luka mengisahkan dan meyakinkannya. Entah itu sebuah kisah tentang penunggu sebuah tempat atau apa pun di sekitar kita. Ya, sama seperti yang dialami oleh Ramli Rusli tersebut. “Selain itu, saya juga sempat dengar tentang adanya sebuah kehidupan di sana,” kedua mata Ramli Rusli sambil menunjukkan ke sebuah arah yang tak tentu. Saya tak bisa menerka apa-apa. Hanya khidmat, ingin lekas mendengar kelanjutan pengisahan yang keluar dari mulut Ramli Rusli, pegiat literasi yang juga seorang pegiat teater itu. “Entah ini kebenarannya bagaimana. Namun, saya mendengar dan bahkan diperkuat dengan kejadian yang saya alami dengan mata kepala saya sendiri itu tadi. Ya, mereka katanya setiap malam naik. Ada perkampungan mereka di sana.” “Perkampungan? Adakah penghuninya pula atau bagaimana, Bang?” “Entah dihuni siapa, yang pasti bukan masyarakat sini, bukan manusia pula penghuninya. Saya ingat, suatu saat ada sebuah pembangunan di sana. Ada orang yang mengemudikan buldoser. Hendak membangun tanggul di sana. Ya, mau bagaimana pun, itu sebuah kerja. Proyek yang harus dituntaskan, pembuatan tanggul di sana. Tiba-tiba, ada seorang ibu yang kesurupan. Ya, seorang ibu yang sedang menonton buldoser tadi. Ibu itu berteriak sangat kencang. Dia bilang, ‘Kau timbun jalan masuk ke rumahku! Jangan kau timbun jalan masuk ke rumahku!’ Terus teriak-teriak begitu. Karena diyakini,
itu lokasi yang dikeramatkan. Yang hendak ditanggul itu. Akhirnya, yang bagian itu tak jadi ditanggul. Karena kami percaya, di situ ada terowongan yang entah tak tahu menghubungkan ke mana. Entah, itu seakan terowongan yang dibangun di bawah daratan tanah ini. Ya itu, pintunya melalui bagian yang tak jadi ditanggul itu. Entah larinya menuju ke gunung atau ke mana. Namun, suatu saat, sempat ada seseorang yang hendak membuktikan. Ia masuk ke dalam, diikat tubuhnya. Diulur terus talinya saat seorang itu masuk ke terowongan itu. Katanya, ia mendengar ada azan di dalam sana. Saat ia makin masuk, seakan ada masjid di sana. Ada sebuah perkampungan yang entah dihuni siapa. Katanya, dari jauh tampak ada rumah dan atap-atap perkampungan. Begitulah adanya. Begitulah sungai ini. Suatu ketika pun, kerap saat hujan turun, sungai ini membawa keberkahan tersendiri bagi kami. Seluruh warga turun, menemukan kayu-kayu kelapa yang terbawa aliran sungai. Ya, tentu semua itu diambili warga. Ya, keberkahan yang dibawa Sungai Mandar ini untuk kami semua,” pungkas Ramli Rusli, seakan hendak mengakhiri kisahnya. Beberapa saat kemudian saya tunggu kelanjutannya pun tak kunjung ada. Akhirnya, saya menanyakan dan sekadar mengingatkan kepadanya tentang janji perjumpaan yang hendak kami tunaikan selanjutnya, “Bang, jadi silaturahmi ke rumah Amma Cammana, sang maestro rebana itu?”
Setia Naka Andrian
Amma Cammana, Sang Maestro Rebana
Jumat, 10 Mei 2019, sekitar pukul 10.00 WITA, saya diantar Ramli Rusli dan Rahmat Muchtar menuju rumah Amma Cammana. Ya, maestro rebana di Mandar yang kerap kali disebut-sebut oleh tak sedikit orang-orang yang saya jumpai di Mandar. Amma Cammana pun disebut orang-orang sebagai “ibundanya” Emha Ainun Nadjib di Mandar. Saya berboncengan dengan Ramli Rusli. Saya yang mengendarai di depan sebab Ramli Rusli tak bisa mengendarai sepeda motor, sedangkan Rahmat Muchtar berkendara sendirian. Kami berangkat dari Sanggar Uwake’, yang tak lain juga rumah tinggal Rahmat Muchtar. Kami bergerak melewati gang-gang kecil dari perkampungan Tinambung hingga menuju ke rumah Amma Cammana, di Limboro. “Amma Cammana tinggal di Desa Limboro, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar. Sebuah kampung yang sangat dekat dengan Sungai Mandar. Sekitar empat kilometer dari Tinambung, atau 290 kilometer arah utara dari Makassar,” begitu ungkap Rahmat Muchtar, dalam perjalanan kami. Ya, memang begitulah, meski dalam perjalanan mengendarai motor, kami masih bisa mengobrol. Jalanan tak ramai, barangkali hanya dikuasai kami bertiga. Sesekali jalanan agak susah dilewati, terjal dan penuh bebatuan yang setiap saat bisa menjatuhkan siapa saja yang lewat, yang kurang sepenuh mengendalikan sepeda motornya. Begitu tiba, selepas kami memarkir sepeda motor kami, saya langsung diajak naik, masuk ke rumah Amma Cammana. “Mari lekas masuk, Naka,” begitu ajak Rahmat Muchtar kepada saya, Ramli Rusli pun mengikutinya. Ya, saya telah sampai di rumah tinggal Amma Cammana, sang maestro rebana yang begitu dikenal di Mandar ini. Amma Cammana berusia sekitar 82 tahun. Ia merupakan seorang seniman rebana perempuan, yang mengalir darah seni dari bapak dan ibunya. Keduanya juga seniman. Saya ingat, dari dokumentasi Muhammad Ridwan Alimuddin, ya, seorang penulis muda Mandar yang begitu gigih mencatat dan mendokumentasikan Mandar itu. Darinya saya ingat, bahwasanya Amma Cammana lahir di salah satu “empat negeri besar” (appe banua kaiyyang) yang membentuk Kerajaan Balanipa, yakni Samasundu, pada 1944. Bapak Amma Cammana seorang seniman Mandar, beliau bernama Dzani. Bapaknya, selain sebagai pemain rebana, juga pemahat batu nisan, guru pencak silat, guru tasawuf, dan
Setia Naka Andrian
mantan juru tulis kepala kampung. Ayahnya Amma Cammana meninggal pada 1987. Ibunya bernama Joe, seorang pemain kecapi, guru mengaji, dan guru spiritual. Ia wafat tahun 2003. Segala itu menjadi bukti betapa darah seniman yang mengalir dalam diri Amma Cammana tak lain adalah dari darah seniman kedua orang tuanya.
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Bersama Amma Cammana, di rumahnya
Amma Cammana keluar dari kamarnya. Kami menyalaminya. Lalu kami disilakan untuk duduk. Ya, rumah panggung yang ditinggali Amma Cammana, seseorang yang tampak sudah begitu tua itu. Namun, seakan menyimpan energi besar, semangat besar pula. Tampak saat ia menjumpai kami, menjumpai saya, yang katanya dalam bahasa Mandar yang sudah diterjemahkan Ramli Rusli, “Datang jauh-jauh dari Jawa ke Mandar ini sendirian? Tidak takut?” begitu kata Amma Cammana menyambut kedatangan saya. Saya pun tak begitu banyak bercakap atau bertanya kepada Amma Cammana sebab ia tak begitu mahir berbahasa Indonesia, boleh jadi sangat tak bisa. Maka saya hanya menyimak perbincangan Amma Cammana dengan Ramli Rusli dan Rahmat Muchtar semata. Sambil sesekali di antara mereka berdua ada yang menerjemahkannya untuk saya. Namun, tidak selalu begitu,
mereka seperti orang-orang Mandar lain yang kerap saya jumpai. Saat sudah saling berbahasa Mandar, dilupakanlah saya. Mereka asyik sendiri menggunakan bahasanya. Saya pun melongo semata. Ah, begitulah. Saya pun menyaksikan, betapa yang dikatakan kawan-kawan sebelumnya mungkin memang benar. Amma Cammana memang benar adanya, ia adalah ibunda dari Emha Ainun Nadjib di Mandar. Bahkan ada orang Mandar yang bilang, bahwasanya Emha Ainun Nadjib adalah orang Mandar yang lahir di Jombang. Begitulah. Saya menyaksikan sendiri, dengan mata kepala saya sendiri. Foto-foto Emha Ainun Nadjib terpampang di sudut-sudut ruang, di dinding-dinding rumah tinggal Amma Cammana. Penuh. Tidak hanya satu foto. Ada yang sendirian, ada yang berfoto bersama Amma Cammana, ada pula bertiga, ditambah dengan istri Emha Ainun Nadjib pula. Sempat pula ada kisah, yang saya terima dari kawan Mandar. Sempat suatu ketika, Emha Ainun Nadjib singgah ke rumah Amma Cammana. Mereka berdua bertemu, katanya, mereka saling menangis. Mereka tak bercakap, tetapi saling menangis. Entah bagaimana komunikasi mereka berdua, tak ada yang tahu. Barangkali menggunakan bahasa lain, yang tak dijangkau orang biasa. Sebab, mereka saling menangis. Tentu sudah sangat jauh perbincangan dan perjumpaan batinnya. Begitu pula saat ini, saya lebih banyak diam. Mendengar percakapan, perbincangan, candaan yang saya raba-raba dari Amma Cammana, Ramli Rusli, dan Rahmat Muchtar. Amma Cammana tak berbahasa Indonesia, ia berbahasa Mandar. Saya hanya mampu meraba, dan sesekali memasuki atas terjemahan bebas yang disampaikan oleh Rahmat Muchtar atau Ramli Rusli. Sudah begitu. Saat kami duduk bersila di rumah tinggal Amma Cammana, saya kembali teringat satu-satu peristiwa yang sempat dikisahkan beberapa teman di Mandar. Sebelum perjumpaan, sebelum singgah saya ke rumah tinggal Amma Cammana ini. Ya, saya ingat, saat itu saya bersama Muh. Dalif. Ia mengatakan, bahwa Amma Cammana terkenal dikarenakan parrawana perempuan di Mandar tidaklah sebanyak parrawana laki-laki, yang jumlahnya mencapai ratusan. Cammana dikenal unik pula sebab beliau memiliki suara yang khas dan juga beliau diyakini masyarakat memiliki kemampuan supranatural.
Setia Naka Andrian
Muh. Dalif pun sempat berhari-hari lamanya mengamati segala yang dilakukan Amma Cammana. Ia tinggal, menginap di rumah Amma Cammana kala itu saat ada kebutuhan riset, yang juga didokumentasikan oleh Muhammad Ridwan Alimuddin itu. “Jadi, kalau saya amati, dalam kegiatan 24 jam Amma Cammana itu. Saat itu, saya hitung mulai jam lima sore. Saat itu, sore hari itu menurutnya ada perubahan suasana yang ada. Maka beliau selalu tidak pernah lepas untuk melakukan ritual tolak bala. Amma Cammana membakar dupa, sabut kelapa di bawah tangga menuju masuk rumahnya. Itu terus yang dilakukan setiap hari begitu. Kemudian, beliau melanjutkan salat magrib. Saat menunggu salat, ia menggunakan waktu menunggu untuk bersalawat dan zikir. Saat salat magrib atau selepas salat magrib, kalau ada tamu ya menunggu beliau sampai benar-benar selesai. Karena kalau beliau sudah memasang mukena, sudah duduk, bersimpuh, memegang tasbih. Ya tak bisa diganggu. Dan selepas salat magrib, kalau tak ada tamu, beliau tak pindah posisi. Masih di tempat salat itu, hingga waktu salat isya tiba.” Saya ingat pula yang disampaikan Muh. Dalif, seorang seniman muda dari Sanggar Sossorang itu, bahwasanya Amma Cammana setiap malam Jumat selalu membaca surah Yasin dan melakukan ritual tolak bala. Didapati pula makanan dan sesajian yang datang dari mana-mana. “Bahkan saat saya di sana, saat hendak pulang, saya kerap diminta untuk bawa jajanannya. Banyak pula yang saya bawa kala itu. Kemudian kalau jam sembilan malam, jika tidak ada tamu maka Amma Cammana gunakan untuk istirahat. Meski sebelum tidur malam, tak lupa beliau memakai ramuan tradisional tepung. Kemudian sebelum tidur, beliau selalu menyanyikan lagu-lagu Mandar. Lalu tidurlah beliau, dan akan terbangun lagi pada jam satu atau jam dua malam, dini hari. Beliau kemudian melakukan salat tahajud. Saat salat tahajud itu, bukan berarti dilakukan untuk pribadinya saja. Namun, beliau juga tak lupa mendoakan untuk seluruh umat Islam yang cinta kepada Rasul.” Menurut keterangan Muhammad Ridwan Alimuddin, dalam dokumentasinya, bahwasanya Amma Cammana seperti seniman-seniman Mandar lainnya, misalnya pakkacaping, paccalong, parrawana (laki-laki), Cammana juga dibesarkan dan makan asam garam berkesenian dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung. Cammana lebih menyukai bermain di
rumah, alasannya lebih bebas dan lebih berkonsentrasi. Jika di panggung ada batasan waktu, tak bisa mengobrol lepas. “Parrawana perempuan biasanya dimainkan empat sampai tujuh orang. Pertunjukan umumnya diadakan malam hari, di atas rumah yang melakukan hajatan, misalnya perkawinan, sunatan, dan peresmian rumah baru. Umumnya parrawana diundang untuk pemenuhan nazar si pelaksana hajatan. Syair lagu parrawana berisi kisah-kisah keagamaan dan nasihat,” kata Muh. Dalif kala itu, saat kami jumpa malam-malam, selepas santap buka puasa di sebuah warung makan di Mandar. Amma Cammana diketahui telah dua kali menikah. Suami pertamanya bernama Kandrasari. Darinya lahir putri bernama Hasna. Hasna dan anak-anaknya sering menemani Cammana pergi bermain rebana. Sepeninggal suami pertama, Cammana menikah dengan Nurdin. Lahirlah Nurmuah (almarhum), Sahapiah, Najamuddin, dan Dahlan. Dari 13 cucu dari suami kedua, enam di antaranya telah bisa memainkan rebana. Yang lain belum karena terhitung masih kecil. Cammana mulai bermain rebana pada usia 9 tahun, saat berada di daerah pengungsian saat pemberontakan DI/TII yang di wilayah Mandar dipimpin Andi Selle dengan pasukan 710-nya. Saya, Ramli Rusli, dan Rahmat Muchtar tak begitu lama saat berkunjung ke rumah Amma Cammana. Karena itu pula, ini saya manfaatkan sebagai upaya perjumpaan tubuh secara langsung kepada Amma Cammana sendiri, kepada rumahnya, serta kepada apa saja yang melingkupinya selepas beberapa kali saya dikisahkan tentang Amma Cammana oleh beberapa kawan-kawan Mandar. Ya, waktu memang terus bergerak cepat, melampaui siapa saja yang membayangkan apalagi yang mencoba untuk menghentikan. Kami pun harus bergegas pamit sebab hari sudah siang, dan hari itu hari Jumat. Sebentar lagi akan menginjak waktu salat Jumat. Akhirnya kami pun lekas berpamit, kepada Amma Cammana. Ya, sang maestro rebana di Mandar, yang telah mendapatkan beberapa penghargaan. Di antaranya, Anugerah Sipakaraya yang didapat pada 27 September 2009, kemudian Tipalayo Award yang ia terima pada 28 Desember 2009. Kemudian Piagam Tanda Kehormatan Satya Lencana Kebudayaan yang diperoleh pada 27 Maret 2010.
Setia Naka Andrian
Lapak Baca ‘Bergerak’ di Jagat Mandar
Minggu, 12 Mei 2019, pagi hari, saatnya saya menunaikan janji untuk jumpa Muhammad Ridwan Alimuddin di Nusa Pustaka Pambusuang. Perjumpaan ini sungguh melewati jalan yang cukup panjang, hingga menemu kesepakatan untuk melingkari salah satu angka di kalender kami. Sesungguhnya, sudah beberapa hari sebelum saya menginjakkan kaki di Polewali Mandar, saya sudah mulai menyapa dan berkabar keberadaan kepada Muhammad Ridwan Alimuddin. Ya, ia pegiat literasi yang cukup dikenal kalangan luas di Indonesia. Ia sosok penulis beberapa buku tentang kebaharian yang sempat diulas oleh Muhidin M. Dahlan dalam sebuah esainya di halaman “Di Balik Buku Jawa Pos”. Dalam perjalanan, ingatan saya memutar ke belakang. Seakan diri ini hendak mempersiapkan diri, karena hendak jumpa dengan Muhammad Ridwan Alimuddin, yang begitu disarankan beberapa kawan, agar saya mengunjunginya, sowan kepadanya. Saya jadi ingat, belakangan ini begitu menjamur laku literasi di berbagai daerah. Entah apa sebabnya, tetapi pasti segala itu bukan karena Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang digemborkan pemerintah. Para pegiat literasi seakan berasyik masyuk dalam geraknya, meski dalam lingkup lebih kecil, yakni di kampung halamannya masing-masing. Jika di dekat kampung halaman saya, di Kendal, Jawa Tengah, ada geliat beberapa ruang (komunitas) yang kerap menjaga napas literasi yang tidak sekadar berkegiatan apa adanya lalu seusai acara langsung berfoto dengan mengacungkan jari tangan berbentuk “L”. Di antara komunitas itu adalah Komunitas Lerengmedini Boja Kendal dengan salah satu programnya Wakul Pustaka, Pelataran Sastra Kaliwungu Kendal dengan diskusi dan penebitannya, Lapak Baca Ora Niat dengan program lapak jalanannya, Jarak Dekat Kendal dengan program forum Jurasik (Jumat Sore Asyik), diskusi-diskusi, serta penerbitan buku-buku indie-nya, Lesbumi Kendal, Sanggar Kejeling dengan perpustaan di kampung Sidomulyo, Lestra Kendal dengan program Hajatan Kebun Sastra, dan lainnya. Lalu pada bulan Mei ini, terhitung sejak 1 Mei 2019 hingga nanti bulan ini usai, saya berkesempatan mengikuti Residensi Sastrawan Berkarta ke Wilayah 3T. Saya ditempatkan di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi
Setia Naka Andrian
Barat. Tentu, bayangan saya sebelum berangkat residensi sudah menerawang jauh bagaimana geliat “Pustaka Bergerak” yang begitu kentara di Sulawesi Barat, khususnya di Polewali Mandar (Polman). Maka tak ambil waktu lama, beberapa hari selepas di Polman, saya langsung memburu beberapa pegiat literasi “bergerak” di sini. Alhasil, berkat koneksi beberapa teman lama serta berkat jaringan internet yang aman, saya lekas dapat menghubungi beberapa pegiat literasi tersebut untuk lekas berjumpa. Sebutlah, di antaranya ada Muhammad Ridwan Alimuddin (Nusa Pustaka), Ramli Rusli (Rumah Pustaka), dan M. Rahmat Muchtar (Uwake’ Culture Foundation). Pagi ini pun, saya tiba menghinggapi Nusa Pustaka di Pambusuang. Sebuah ruang literasi yang dikelola oleh Muhammad Ridwan Alimuddin. Kedatangan saya disambut dengan hangat oleh Muhammad Ridwan Alimuddin, yang tak lain, ia boleh dikata satu-satunya penulis buku-buku kebaharian di Mandar yang masih terus menempa pahatan-pahatan literasi baca-tulisnya tentang kebaharian, hingga saat ini. Buku-buku yang telah ditulisnya, di antaranya berjudul Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut? (2004), Sandeq: Perahu Tercepat Nusantara (2009), Kabar Dari Laut (2013), Ekspedisi Bumi Mandar (2013), Orang Mandar Orang Laut (2013), dan beberapa judul lain. Bahkan saat ini, ia juga tengah proses penulisan buku tentang perhajian di tanah Mandar. Ah, membuat diri ini tertampar, untuk terus menulis lagi, menulis lagi, dan lagi. Pagi hari hingga siang, kami berbincang banyak hal perihal Mandar. Saya begitu terbantu, banyak informasi yang saya dapatkan tentang Mandar. Bagaimana alamnya, budaya, dan manusianya. Sore hari, saya berkesempatan untuk diajak melapak bersamanya. Ridwan pada sore itu hendak menuju ke sebuah perkampungan di tepi pantai Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia membawa sepeda yang membawa buku-buku bacaan. Buku-buku bacaan anak-anak diangkut dalam tas yang digantungkan di kanan dan kiri boncengan sepedanya. Armada itu ia beri nama “Sepeda Pustaka”. Meski, Ridwan juga kerap melapak dengan menggunakan ATV Pustaka, serta “Perahu Pustaka” yang begitu moncer itu.
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Lapak Baca yang digelar Muhammad Ridwan Alimuddin
Bagi Ridwan, sesungguhnya bukan persoalan minat baca yang kurang bagi anak-anak, khususnya di sebuah perkampungan nelayan yang disinggahinya. Tidak sedikit didapati anak-anak yang berkerumun dan begitu antusias untuk memilih serta meminjam buku yang dibawanya. Begitu sampai tepi pantai (yang tak lain juga didapati para pembuat perahu sandeq, perahu tercepat Nusantara itu), Ridwan menggelar lapaknya. Buku-buku ditata. Tanpa jeda lama, anak-anak di kampung pantai itu langsung bergegas memilih buku-buku yang dilapaknya. Ya, mereka anak-anak dari para nelayan dan pembuat perahu di tepi pantai itu. Mereka berdesakan, mengantre, untuk meminjam buku. Mereka pinjam buku itu selama beberapa hari. Ridwan mencatat buku-buku yang mereka pinjam. Jika di antara mereka ada yang tak bisa hadir untuk meminjam, orang tua merekalah yang turut serta mengantrekan untuk meminjam buku. Hari lainnya pun, Ridwan akan dikerumuni anak-anak pantai itu. Terus begitu, berkelanjutan. Tiada pernah berkesudahan. Saya pun terdiam. Duduk di batu-batu, di dekat katinting, perahu-perahu kecil yang menunggu selesai proses itu. Sambil bayangan saya menerawang jauh.
Setia Naka Andrian
Di sini, Tuan. Segalanya bermula dan bermuara. Perahu-perahu diciptakan. Sandeq dilangitkan dari sini, dari Pambusuang, segalanya digetarkan. Anak-anak tepi pantai pun bergairah menanti pelapak bacaan. Ia bersepeda, berperahu, berkuda, membawa buku-buku yang bakal rajin dibaca. Ya, anak-anak pantai itu. Anak-anak para pencipta perahu, anak-anak nelayan itu. Mereka berkerumunan, berdesakan, meminjam buku, membaca, hingga berhari-hari. Sampai tiba saat nanti disambangi lagi. Ya, menanti para pengedar bacaan yang sabar dan sangat tabah itu. Lalu anak-anak riang kembali, mengembalikan buku, dan meminjam lagi. Jika anak-anak itu tak hadir, maka ibu atau bapak merekalah yang bakal turut berkerumun, meminjam dan mengembalikan buku-buku lagi. Ah, aku hanya saksi kecil, melihat energi besar yang tumbuh bersanding dengan perahu-perahu. Sore hari, menjelang berbuka, segala buku tumbuh, melampaui segala waktu. Benak dan batinku tiba-tiba menerawang jauh. Lepas menuju garis batas laut yang kian tak berujung itu. Pelapak bacaan duduk tenang di atas tumpukan kayu-kayu yang tak lama lagi akan tumbuh menjadi perahu-perahu. Dari mulutnya, ia tiupkan kata-kata dengan pelan, kepada anak-anak pantai itu. “Duduk manislah, Nak. Kemari, bersama demokrasi. Tanamlah napas buku-buku itu di dinding-dinding dadamu, di segenap relung yang tak pernah gugup.”
“Hai, Nak. Sedang apa? Kenapa kau duduk di situ?” “Aku sedang tidak cukup perjalanan untuk menghambatmu.” “Aku melihat segalanya seakan berhenti bergerak. Ayo ke sini, duduk dan ciptakan meja kerjamu. Meja dari batu-batu, dari kayu, dari pasir. Atau dari apa saja, bahkan kau boleh mencari dari segala yang tak mungkin diciptakan di mana-mana. Lihatlah, Nak. Di sebelah kanan sana, tidak lebih lima langkah kaki. Buku-buku bermekaran. Ladang kata yang siap kau panen kapan saja. Lihatlah, ia menjadi dunia kecil yang lucu. Mata mereka berkilauan, tak jauh seperti matamu. Kau tahu, Nak. Kaki mereka, adalah roda yang akan terus mengunjungi dan menemanimu saat segalanya tak mungkin untuk bertemu. Coba kau lihat, Nak. sandeq itu, segala puji bagi ketegaran yang selalu tak gagal dikirim dari segala arah dan mata waktu.” Sayang hari terang telah tenggelam. Dijatuhkan pelan di atas lautmu yang mahir menyimpan segala sisa untuk hari esok dan kemudian. Pengedar bacaan pulang. Anak-anak pantai bertebaran memeluk tangannya, bersama buku-buku yang tumbuh, melampaui segala waktu.
Setia Naka Andrian
Lamunan terpatah, saat salah seorang anak “pelanggan” bacaan menyodorkan sebuah buku kepada saya. Baginya, saya pun pengedar bacaan. Sama seperti Bang Ridwan. Dalam hati, sungguh bahagia tak terkira. Mereka menganggap keberadaan saya. Pegiat lain yang saya jumpai ialah M. Rahmat Muchtar dan Ramli Rusli. Kedua pegiat ini tak beda dengan apa yang dikerjakan Ridwan. Rahmat menggunakan “Bendi Pustaka” dan Ramli pun menggunakan “Sepeda Pustaka” seperti yang digunakan oleh Ridwan. Mereka sama-sama, menelusuri kampung-kampung di sekitar tempat tinggal mereka. Segala itu mereka kerjakan dengan penuh ketelatenan, kesabaran, dan ketabahan. Baik Ridwan, Rahmat, dan Ramli, tak jarang harus menyisihkan bahkan mengalahkan segala kebutuhan pribadi demi memanjangkan napas “Pustaka Bergerak” yang mereka kerjakan. Sudah tentu segala itu sangat menyita materi, tenaga, waktu, dan pikiran. Mereka harus berkeliling, menjemput para pembaca di kampung-kampung. Sebab, bagi mereka, begitu yang lebih efektif. Anak-anak dijemput, lapak-lapak digelar di jalan-jalan kampung. Meski sesungguhnya, mereka pun memiliki perpustakaan yang dikelola secara mandiri. Baik dibangun di dekat rumah atau di dalam rumah para pegiat literasi itu. Bahkan, ada di antara mereka yang rela menggunakan sepetak tanahnya untuk didirikan perpustakaan meski dirinya sendiri harus rela tidak membangun rumah tinggal di area perpustakaan itu. Sungguh!
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Saya mengikuti Pak Rifai, juru kunci, untuk memasuki makam
Syekh Abdul Rahim Kamaluddin di Pulau Tosalama
Setia Naka Andrian
Senin, 13 Mei 2019 itu, siang hari, sekitar pukul 13.00 WITA. Saya janji berjumpa dengan Nelsi dan Ratnawati. Ya, mereka adalah mahasiswa Unasman, sebuah universitas swasta yang ada di Polewali Mandar. Mereka berdua yang akan mengantarkan saya menuju ke Pulau Tosalama, yang di sana, didapati makam Syekh Abdul Rahim Kamaluddin. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Muhammad Munir, Syekh Abdul Rahim Kamaluddin atau “tosalamaq dibinuang” merupakan sosok yang pada masa itu begitu hebat dan dibilang sukses dalam berdakwah. Objek dakwah beliau kerap menyasar pada upaya untuk mengislamkan kaum bangsawan. Terbukti, Kanne Cunang (Mara’dia Pallis) adalah bangsawan pertama yang mampu beliau Islamkan. Kami berkendara, menggunakan dua sepeda motor. Saya mengendarai sendirian. Nelsi dan Rahmawati, mahasiswa semester 4 di Unasman itu berkendara berboncengan. Kami bergerak dari Polewali hingga Pulau Tosalama. Tak jauh, hanya menempuh waktu perjalanan sekitar 30 menit. Selepas sampai di sebuah perkampungan tepi laut, yang menghubungkan menuju Pulau Tosalama itu, kami mencari pemilik perahu. Pak Maskur yang kami temukan. Ia akan mengantarkan kami menyeberang dan menunggui kami. Tak mahal, hanya dengan biaya 25 ribu per orang. Sudah perjalanan pergi dan pulang, kembali lagi. Selepas usai dari ziarah nanti. Pak Maskur berjanji akan menunggu kami, hingga usai. Kami pun diantar menyeberang, menaiki sebuah perahu kecil. Serupa sandeq. Di sini, disebut katinting, ya, sebutan perahu kecil itu. “Wah, cepat sekali, ngebut perahunya, Pak!” ucap saya kepada Pak Maskur, yang agak main-main melempar candaan kepada kami dengan mengegas perahunya dengan begitu kencang. Nesli dan Ratnawati teriak-teriak. Saya dan Pak Maskur hanya senyum-senyum. Saya paham, Pak Maskur menggoda kami. Meledek kecil-kecilan dengan permainan gas perahunya. Perahu kecil, katinting itu, melaju dengan begitu cepatnya. Sesungguhnya saya takut. Namun, bagaimana lagi, berupaya tegarlah. Sebab, di belakang ada Nelsi dan Ratnawati, mahasiswa Unasman itu. Masak saya harus
menampakkan ketakutan pula. Dan, sampailah kami di Pulau Tosalama. Selepas menempuh penyeberangan yang hanya menempuh waktu tak lebih dari lima menit. Kami kemudian diantar oleh Pak Maskur, menuju ke rumah juru kunci Makam Syekh Abdul Rahim Kamaluddin. Beliau bernama Pak Rifai. “Assalamualaikum, Pak. Maaf jika kedatangan saya mengganggu Bapak. Saya, Naka. Dari Jawa Tengah.” Sapa saya, mencoba memperkenalkan diri kepada Pak Rifai, juru kunci makam. “Ini di sebelah saya, Nelsi dan Ratnawati. Mereka berdua ini mahasiswa Unasman, yang menemani perjalanan saya, serta mengarahkan dan menunjukkan tempat-tempat yang hendak saya kunjungi saat berada di Mandar. Salah satunya, ya saat saya hendak ke Makam Syekh Abdul Rahim Kamaluddin ini. Begitu kiranya, Pak.” “Oh, ya, tak apa, Mas. Senang bisa menyambut kehadiran Mas Naka, Mbak Nelsi dan Mbak Ratnawati.” “Oh, ya, Pak. Maaf, beberapa waktu lalu ya saya mendapat info, diminta untuk menghubungi Pak Haruna. Namun, sepertinya komunikasi kami terpatah. Entah kenapa, barangkali beliau sedang sibuk atau ada kegiatan lain.” “Oh, itu kakak saya, Mas. Ya, tak apa, nanti bisa saya antar, Mas.” Akhirnya kami pun beranjak, diantar oleh Pak Rifai untuk menuju makam Syekh Abdul Rahim Kamaluddin. Kami berjalan, mengikuti Pak Rifai. Membuntutinya seakan kami lupa jika gerak kaki kami pun seirama langkah dengan beliau. Hingga beberapa langkah, yang tak jauh-jauh, kami telah menemukan kompleks makam tersebut. Ya, area makam itu agak tinggi, seakan berada di perbukitan dalam pulau kecil, Pulau Tosalama ini. Kami melepas alas kaki, kemudian menaiki tangga beberapa langkah naik. Pak Rifai membukakan pintu makam dan menyilakan kami agar masuk satu persatu. Sebuah makam pun terlihat cukup besar. Dikelilingi sebuah beton seukuran bata biasa. Penanda makam itu sebuah batu, yang pasti itu menandakan posisi kepala jasad yang dikubur di bawahnya. Ya, yang tak lain adalah Syekh Abdul Rahim Kamaluddin. Selanjutnya, kami berdoa, tahlil bersama. Pak Rifai saya minta untuk memimpin kami.
Setia Naka Andrian
Selepas tahlil usai, kami diajak berjalan-jalan mengitari area sekitar makam. Ya, saya melihat sekeliling. Didapati beberapa rumah. Tak lebih dari sepuluh kepala keluarga, yang ada di sekitar pemakaman. “Pak Rifai, apakah di Pulau Tosalama ini ada sekolah?” tanya saya kepada Pak Rifai, mencoba untuk membuka perbincangan. “Ada, Mas. Ada satu sekolah. Itu pun sekolah SD. Hanya itu. Kalau sudah lulus SD, ya mereka, anak-anak sini melanjutkan sekolah ke luar. Ya harus menyeberang, menggunakan perahu,” jawab Pak Rifai memberikan keterangan kepada kami. Dengan penuh keramahan. “Ada berapa kepala keluarga yang ada di pulau ini, Pak?” tanya saya kembali kepada Pak Rifai. “Ada sekitar 80 kepala keluarga, Mas.” “Lantas ini pulau ini masuknya daerah mana, Pak?” “Pulau Salama ini secara administratif masuk dalam wilayah Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar.” “Apa mayoritas pekerjaan masyarakat di sini, Pak?” “Ada yang petani, itu di sebelah sana banyak perkebunan. Ada pula yang bekerja sebagai nelayan, pencari ikan.” Menurut keterangan Muhammad Munir, Pulau Tosalama ini merupakan pulau yang memiliki beberapa nama. Di antaranya bernama Pulau Tangnga (tengah) sebab pulau ini berada pada posisi di tengah gugusan pulau di Polewali Mandar. Selanjutnya, ada nama lain, yakni Pulau Tosalama. Nama Tosalama dikarenakan di pulau ini dimakamkan seorang wali, penyebar agama Islam pertama di daerah Mandar, yakni Syekh Abdul Rahim Kamaluddin, yang telah tercatat sebagai salah satu situs cagar budaya di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Setiap saat tak jarang para pendatang, peziarah berkunjung ke makam Syekh Abdul Rahim Kamaluddin. “Ya, Mas. Hampir setiap hari saya mengantar orang-orang yang hendak ke makam Syekh Abdul Rahim Kamaluddin. Ya, alhamdulillah, menjadi mata pencaharian kami para pemilik perahu di kampung ini, Mas,” tutur Pak Maskur, saat dalam perjalanan mengantarkan kami kembali menyeberang untuk pulang.
Begitulah orang baik, semasa hidupnya menebarkan kebaikan, menyebarkan agama. Orang yang bermanfaat bagi umat manusia, saat beliau masih hidup. Selepas beliau meninggal, ya, Syekh Abdul Rahim Kamaluddin itu, masih terus memberi manfaat bagi siapa saja. Contoh kecil, bagi Pak Maskur dan para pemilik perahu lainnya, yang kerap kali mengantarkan para peziarah. Belum lagi jika sedang tak bulan puasa seperti sekarang ini. Tentu warga di sini akan berjualan, warga sekitar makam akan berjualan makanan dan banyak hal. Tentu akan membawa rezeki tersendiri. Bagi siapa saja.
Setia Naka Andrian
Robohnya Museum Kami
Rabu, 15 Mei 2019, bangun tidur yang agak kesiangan. Terbangun karena gerah di badan. Sebuah kondisi wajar bagi seorang pemalas, atau seseorang yang doyan begadang, lalu tidur terlalu larut atau bahkan terlalu pagi. Maka pastilah, ia hanya akan terbangun jika mendapati situasi yang sangat tidak nyaman. Salah satunya, jika merasa gerah tak terkira menyerang badan. Hari ini, saya berencana untuk bergerak ke Museum Mandar, yang ada di Kabupaten Majene. Sebuah kabupaten yang berada di sebelah Kabupaten Polewali Mandar. Saya pun bergegas mandi, bersih-bersih, dan menyiapkan diri untuk lekas gerak menuju Museum Mandar. Sejak berhari-hari lalu, saya seakan telah begitu ingin lekas singgah ke museum. Entah kenapa, beberapa kali berjumpa kawan Mandar, saya kerap ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama, “Sudahkah ke Museum Mandar di Majene? Sudah sempat singgah di Museum Mandar di Majene?” Ya, selalu begitu. Berulang kali. Meski dari mulut yang beda. Nah, akhirnya, hari ini saya memberanikan diri untuk singgah ke Museum Mandar yang ada di Majene itu. Seorang diri. Mengendarai sepeda motor. Bergegaslah berangkat. Ini perjalanan yang boleh dikata beda dengan perjalanan-perjalanan yang lalu. Kali ini saya hendak menyeberang ke kabupaten sebelah. Keluar dari Kabupaten Polewali Mandar. Ya, memang demikian. Narasi Mandar tidak hanya ada di Polewali Mandar semata. Bahkan kabupaten tempat residensi saya ini, dahulunya hasil pemekaran. Dahulu bernama Polewali Mamasa, lalu akhirnya bermekar menjadi Polewali Mandar dan Mamasa. Ya, begitulah daerah-daerah di Indonesia tercinta ini. Wilayahnya masih utuh, bahkan kerap berkurang. Namun ,bermekaran nama-nama wilayahnya. Dipecah-pecah. Bahkan saat ini pula, saat saya melewati Kecamatan Balanipa, saya melihat ada spanduk, bertuliskan akan ada kabupaten baru, yakni Kabupaten Balanipa. Suatu saat nanti, Polewali Mandar akan bermekar. Salah satu kecamatannya, Kecamatan Balanipa akan malih rupa menjadi Kabupaten Balanipa. Entah, ini ada kaitannya dengan gerak politis atau tidak. Namun, saya sempat membincang itu, dengan salah seorang teman. Ia bernama Sahabuddin
Setia Naka Andrian
Mahganna. Dalam sebuah perjumpaan kala itu, saya sempat menyinggung perihal pemekaran Kabupaten Balanipa tersebut. Bagi Sahabuddin Mahgana, secara pribadi dirinya tak setuju. Sebab, segala itu berpengaruh pada nasib seni dan kebudayaan di Mandar. “Ya, jika niatan pemekaran wilayah itu baik, tak ada masalah. Namun, jika ternyata ujung-ujungnya politis, menyangkut uang, kekuasaan. Lalu bagaimana?” tutur Sahabuddin Mahgana kala ini, seorang pengajar mata pelajaran musik yang juga aktif mencipta karya-karya lagu itu.
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Museum Mandar di Majene
Sudahlah, mari kita lanjutkan pada perjalanan saya, saat menuju Museum Mandar di Majene. Ya, perjalanan cukup panjang. Saya tempuh sekitar satu jam, saat bergerak dari Polewali, ibu kota Polewali Mandar itu. Di jalanan, banyak hal yang saya pikirkan. Seakan bertebaran, bertabrakan, dan tak karuan. Bahkan suatu ketika saya seakan tak sadar jika sedang mengendarai sepeda motor. Saya seakan hanyut dalam lamunan-lamunan yang entah.
Ya, saat sampai perbatasan antara Polewali Mandar dan Majene pun, saya melihat spanduk yang sama. Tentang rencana pemekaran, minta doa restu, sebentar lagi akan ada Kabupaten Balanipa. Entah, kenapa juga di perbatasan ini ada pula. Yang biasanya perbatasan kota menjadi upaya menyambut kedatangan dan kepergian. Namun kini, ada beban baru. Minta doa restu. Atau sekadar mengabarkan, bahwa akan ada kabupaten baru. Buah hasil pemekaran wilayah. Dengan dalih, agar makin sejahtera. Biasanya begitu. Roda sepeda motor terus bergerak. Google Maps dalam ponsel pun mengisyaratkan bahwa tak lama lagi akan tiba di Museum Mandar di Majene. Ya, tak lama lagi. Jalan mulai berkelok-kelok. Petunjuk ke kanan dan ke kiri dituntun dari Google Maps yang maha-membantu dan menemani saya itu. Jalanan mulai menyempit. Persimpangan-persimpangan kecil mulai berdatangan. Jalanan juga semakin menanjak. Kian asyik, meski sungguh melelahkan. Ya, dari atas mendekati museum, saya melihat pantai-pantai di Majene dari atas bukit. Langit yang begitu birunya pun memberi kesan kelegaan mendalam bagi siapa saja yang mampir menatap pelan-pelan, dari arah kejauhan sekalipun. Ya, saya menikmatinya. Alhamdulillah. Saya telah tiba di Museum Mandar di Majene. Selepas satu kali tanya di sebuah warung. Sebab, ini museum tak tampak saat Google Maps menyampaikan bahwa saya sudah sampai. Museum yang tak tampak sebagai museum. Bangunan tua. Seperti sebuah rumah. Ya, rumah zaman kolonial Belanda. Saya pun masuk. Mengisi buku tamu. Ya, museum ini sungguh tak terawat. Bahkan sama sekali tak tersentuh. Kini kondisinya roboh. Makin saya masuk ke dalam, semua berserakan. Atap pun sudah berlubang-lubang nyaris runtuh. Saya pun dalam hati heran dan merasa terenyuh. Lalu bagaimana selama ini. Bagaimana dinas terkait yang mengelola museum ini. Saya tak sanggup membayangkan dan memikirkan lebih jauh. Bahkan hingga tak habis pikir. Kenapa bisa begini. Jika rusak, ya kerusakan sederhana langsung bisa ditangani, diperbaiki oleh pengelola atas restu dinas terkait. Misalnya begitu. Lantas ini sepertinya tidak. Sempat dibiarkan lama, hingga harus menunggu atapnya rubuh dulu, baru diperbaiki.
Setia Naka Andrian
Meski sungguh, di museum ini, tersimpan tidak sedikit benda-benda berharga bagi Mandar. Sejarah benda-benda tersimpan di sini. Riwayat orang Mandar terekam di museum ini. Berdasarkan data yang saya peroleh melalui Muhammad Munir, Museum Mandar ini merupakan sebuah museum (satu-satunya) di Mandar yang didirikan berdasarkan salah satu keputusan Seminar Kebudayaan Mandar I di Kabupaten Majene pada 2 Agustus 1984 silam. “Dalam seminar kebudayaan tersebut, telah diajukan sebuah permohonan kepada Pemda Tingkat II Majene, kala itu. Usul pendirian Museum Daerah Mandar tersebut disambut baik oleh Pemda Tingkat II Majene dengan menunjuk bekas rumah kediaman Bupati Tingkat II Majene atau pernah ditempati berkantor pembantu Gubernur Wilayah I (sekarang bangunan Rujab Wakil Bupati Majene). Hasil keputusan seminar kebudayaan tersebut berlanjut dengan upaya didirikannya Yayasan Museum Mandar oleh beberapa tokoh masyarakat. Dengan tujuan, tak lain adalah untuk meningkatkan pembangunan dalam bidang pelestarian benda-benda budaya nasional, terutama yang bersumber dari Mandar,” tutur Muhammad Munir, kala saya singgah di rumah tinggalnya, yakni Rumpita (Rumah Kopi dan Perpustakaan) di Tinambung, Polewali Mandar. Menurut Muhammad Munir, selanjutnya pada 1989, status Museum Mandar berubah dari status swasta (yayasan) menjadi status Pemerintah Kabupaten Majene. Dengan menempati gedung rumah sakit lama Majene (tinggalan masa kolonial Belanda tahun 1908) di Jalan Raden Suradi Nomor 17, Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene. Hingga sekarang. Masih menggunakan gedung itu. Rumah sakit sisa masa kolonial itu. Saya menyaksikan sendiri, di sebuah ruang yang digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda, ada dalam ruang operasi. Ya, masih tampak sebagai sebuah ruang operasi masa kolonial. Lampu operasi yang begitu besar itu pun masih terpajang di atas. Saya merasa ngeri sendiri. Saya seakan terbawa dalam ruang waktu masa itu. Saat di sudut-sudut ruang didapati
orang-orang yang saling berpelukan, menangis, menunggui salah seorang yang dicintanya sedang mengidap sakit parah dan sedang menjalani operasi serius. Ah, sungguh, suasana mencekam. Ditambah lagi, dengan kondisi ruang-ruang yang tak terurus. Tak bisa saya bayangkan, bagaimana jika malam hari kondisi museum ini. Tentunya lebih mengerikan. Di sebuah ruangan lain, yang saya lewati pun, didapati beberapa pekerja bangunan yang sedang asyik mengepul-ngepulkan asap rokoknya. Ya, saat siang bolong serupa itu. Saya sesungguhnya geram. Namun, bagaimana lagi, saya tamu. Sesungguhnya dalam hati pun saya tak jadi soal, jika mereka hendak merokok. Saat bulan puasa, saat siang bolong. Namun, janganlah merokok di museum. Tentu asap itu sangat tidak baik untuk benda-benda yang tersimpan, dan mencoba diabadikan di sebuah museum. Aturan itu pun sesungguhnya sudah ada. Namun bagaimana lagi, aturan memang selalu ada untuk selalu dilanggar. Udara yang pengap, air hujan bersisa di lantai. Sudah tampak tertimbun lama air itu. Sudah ada hewan-hewan kecil yang mengeraminya. Bau anyir seakan muncul pula, menampari hidung saya. Ditambah lagi asap rokok. Sungguh, membuat saya mual. Hendak muntah berkali-kali. Namun, kerap urung, tak jadi muntah. Namun, lagi-lagi mual, hendak muntah. Namun, begitu, tak jadi lagi. Saya dibawa keliling oleh seorang pemandu museum yang tak saya ketahui namanya. Saya tak sempat menanyakan namanya. Namun, saya ingat, ia masih muda dan ia sesungguhnya bukan pemandu museum. Ia hanya pekerja yang entah. Saya yakin begitu. Sebab, sepertinya ia tak paham benda-benda yang disajikan dalam museum. Hanya mengantar saja. Menemani saya keliling. Yang sesungguhnya saya sudah hendak mengakhiri. Hendak lekas usai dan keluar dari museum. Namun, bagaimana lagi, pemandu museum yang sesungguhnya bukan pemandu itu terus saja menemani saja, dan terkesan memaksa saya untuk menyambangi seluruh ruang, memelototi seluruh benda-benda yang ada. Sepertinya pun ia tak paham, jika saya di sini, sudah hendak muntah. Udara pengap menyengat. Bau air sisa hujan yang telah lama menggenangi lantai. Air yang sudah nyaris mengental itu. Telah menyemburkan bau anyir.
Setia Naka Andrian
Meski sesungguhnya entah, benar dari air itu atau bukan. Namun, saya menerka dari situ, atau bisa jadi ada air lain. Yang pasti, saya ingin lekas keluar. Lekas mengakhiri melihat-lihat seluruh benda-benda museum. Namun, pemandu museum yang sesungguhnya bukan pemandu itu terus menyeret saya, memasuki setiap sudut ruang museum yang sesungguhnya ruang-ruang rumah sakit sisa masa kolonial itu. Selepas sekiranya setengah jam saya berkeliling menyusuri sudut-sudut museum, saya bisa usai. Penuh berkeling yang tak bisa diputus. Akhirnya saya keluar. Merasa lega. Sepertinya tubuh sempoyongan, seakan hendak pingsan. Namun, tetap saya kuat-kuatkan, saya tegar-tegarkan. Meski ini, saya merasa akan sakit lagi. Padahal sudah sejauh ini, selama di Mandar, alhamdulillah saya sehat-sehat saja. Hanya saat awal di Jakarta saja, saat masa pembekalan itu, saya meriang dan flu berat. Meski di Polewali Mandar ini cuacanya sangat panas, tetapi alhamdulillah, saya sehat. Hanya kali ini saja, merasa mual berat. Gara-gara museum yang rusak dan sangat tak terawat. Museum yang pengap. Sungguh seram dengan penampilan barang-barangnya di ruang operasi rumah sakit lampau. Ya, masih ada lampu operasinya. Baunya berkali-kali membuat saya selalu saja hampir muntah. Meski selepas itu tak jadi. Namun, selanjutnya hendak muntah lagi, dan tak jadi lagi. Begitu terus. Hingga akhirnya, dalam perjalanan pulang, saya seakan tak kuasa mengendalikan tubuh. Ditambah selanjutnya dalam perjalanan pulang, saya kepanasan pula. Matahari begitu menyengat. Akhirnya, saya melihat ada seorang ibu sedang asyik meracik es degan yang ada di hadapannya. Di sekitarnya tampak puluhan kelapa muda yang hijau, tampak segar. Di sebelahnya pun saya lihat ada bapak-bapak yang sepertinya sedang asyik memesan. Tanpa banyak pikir, saya langsung belok. Putar arah, saat ternyata sebelumnya saya kebablasan ke depan. Saat melihat itu, selepas berpikir sejenak tentang niatan membatalkan puasa. Akhirnya terputuskan untuk singgah sejenak melepas dahaga. Obat agar tidak oleng karena situasi dan
kondisi yang menghampiri saya saat di Museum Mandar tadi. Maka parkirlah saya di depan bapak-bapak itu. Di depan sebuah ruang kotak ukuran tiga meter persegi. Lalu saya melangkah menuju ibu penjual es degan. Saya memesan. “Bu, es degan satu.” “Ya, Mas,” jawab ibu penjual es degan dengan masih mengurus racikan es degan yang ada di hadapannya. “Maaf Bu, bolehkah diminum di sini?” Ibu penjual es degan itu tak menjawab. Hanya menatap mata saya. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu melalui mata. Dan sambil meraba pelan, saya beranikan diri untuk menatap kembali mata ibu penjual es degan yang tak saya ketahui namanya itu. Akhirnya, saya menemukan jawaban. Meski sebenarnya ini jawaban terkaan saya semata. Bahwasanya, ibu penjual es degan itu tidak memperbolehkan saya meminum es degannya di situ. Barangkali memang benar adanya begitu, sebab hari sedang puasa. Hari masih siang, di siang yang sangat bolong itu. Langit masih terang. Matahari sedang panas dan ganas-ganasnya menaburkan dahaga kepada siapa saja. Akhirnya pun saya bingung. Es degan yang sudah dibungkus ini hendak diminum di mana. Oh ternyata, bapak-bapak yang berkumpul ini bukanlah pemesan es degan. Ternyata mereka tukang ojek, yang sedang menunggu penumpang di sebuah pangkalan ojek. Ya, pangkalan ojek yang saya kira sebuah gazebo tempat menunggu ibu penjual es degan tadi menyajikan es degan segarnya. Saya salah kira, untung saja bapak-bapak itu tak mengamuk. Atau sampai membentak dan memukuli saya beramai-ramai. Sebab, tadi pun, saya memarkir sepeda motor di hadapan mereka pun tanpa permisi. Tanpa melempar senyum sapa atau apa. Saya menyelonong saja. Memarkirnya saja dengan tanpa dosa. Dengan wajah yang polos, datar, dan lugu. Perjalanan panjang pun saya lalui kembali. Bukan lagi perjalanan panjang yang saya lalui dari Museum Mandar di Majene menuju ke Polewali. Namun, perjalanan panjang untuk mencari tempat yang aman, yang bisa saya gunakan untuk meminum bungkusan es degan hijau yang segar itu. Perjalanan yang
Setia Naka Andrian
jauh. Tengok kanan dan kiri di tepi jalanan, tetap tak menemukan tempat yang aman untuk membatalkan puasa. Sesekali saya memegang bungkusan es degan, hanya sekadar untuk memastikan, es masih dingin atau sudah kehabisan dingin. Selalu begitu. Berkali-kali saya cek keadaan dinginnya. Sambil membayangkan betapa segarnya jika diluncurkan melalui tenggorokan ini. Tenggorokan yang sudah merasa muak dengan rasa-rasa di museum tadi. Selepas menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya saya menjumpai Pantai Pallipis. Saya pun lekas belok, masuk ke area pantai yang sepi itu. Saya menepi tanpa memarkir sepeda motor. Di dekat salah satu gazebo itu, saya dan sepeda motor menyenderkan diri. Pelan-pelan membuka bungkusan es degan yang masih separuh dingin itu. Lalu menyedot airnya pelan-pelan, menyembuhkan dahaga dan segala aroma museum yang tersisa. Sambil sesekali saya tengok ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Hanya sekadar untuk memastikan, bahwa suasana dan keadaan memang benar-benar masih aman.
Kebun Kakao di Landi Kasunuang
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Berbincang dengan Sunarya, salah seorang pekerja inti di Saung Kakao
Kita tahu, siapa pun kiranya pasti tak pernah berpikir panjang, tentang riwayat cokelat yang manis lembut dan menggairahkan saat dikunyah. Dari mana muasalnya atau seperti apa keringat orang-orang yang memperjuangkan di balik biji-biji cokelat itu. Ya, memang begitu. Saya juga sama. Hanya saja, saat di Polewali Mandar ini, saya berkesempatan untuk singgah di sebuah kebun kakao yang ada di Desa Landi Kasunuang, Kecamatan Mapili, Kabupaten Polewali Mandar.
Setia Naka Andrian
Ya, pada Kamis, 16 Mei 2019, saya ditemani Rinaldi, salah seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Unasman. Pemuda berperawakan tinggi, berambut lurus itu yang menemani saya. Kami bergerak, selepas memilih janji titik temu di Unasman. Kami berangkat pelan mengendarai satu sepeda motor. Saya memilih di belakang, selepas Rinaldi menawarkan diri untuk mengendarai. Ia seakan menyadari diri, jika ia lebih muda dari saya. Tak banyak bercakap, saya pun menurutinya. Dalam perjalanan, saya merasa menempuh sebuah jarak yang sangat panjang. Entah kenapa. Saya berupaya menyibukkan diri dengan menengokkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Sebab, yang menemani saya saat ini, Rinaldi, terbilang sebagai sosok muda pendiam. Jika tak disenggol dengan beberapa kata pancingan, tentu ia tak melepas satu patah kata pun. Ya, meski saya tahu, Rinaldi adalah seorang aktivis di kampusnya, Unasman itu. Entah kenapa, saat jumpa saya seakan semua jadi beda. Barangkali karena kami belum kenal lama. Sesekali pun saya mencoba untuk melempar kata kepada Rinaldi. Agar perjalanan tak terasa sangat lama. Lebih-lebih perjalanan memang panjang. Jalanan yang kami lewati pun tak semulus yang saya bayangkan. Tak sedikit didapati jalanan berlubang, kering, berbatu. Perjalanan kami nyaris hampir satu jam. Bisa dibilang lokasi kebun kakao yang hendak kami tuju berada di dataran tinggi, salah satu wilayah di Kabupaten Polewali Mandar, yakni di Desa Landi Kasunuang, Kecamatan Mapili. Maka tibalah kami di kebun kakao. Ini kebun tidak jauh dari rumah tinggal Rinaldi. Masih satu desa. Kedatangan kami disambut oleh Sunarya. Ia salah seorang pekerja inti di Saung Kakao, yang ada di Desa Landi Kasunuang itu. Sunarya, sosok yang terbilang masih muda itu, dalam perkenalan mengaku berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Dalam hati, saya berkata lirih, ternyata tak sedikit orang dari Pulau Jawa yang saya jumpai di daratan Sulawesi ini. “Ya, beginilah, Mas. Sudah bertahun-tahun saya tinggal di sini. Beristri, beranak pinak di sini. Meskipun istri juga bukan orang sini. Kami semua dari Jawa Barat.” Begitu kata Sunarya, salah seorang pekerja inti di Saung Kakao, yang merupakan sebuah kebun kakao seluas enam hektare yang dimiliki oleh
Prof. Agus Purbantara, yang berasal dari Jawa Tengah. Satu wilayah lahir dan tinggal saya ternyata. Sunarya, mengaku awalnya bekerja tak di kebun kakao seperti sekarang ini. Sebelumnya ia bekerja di sebuah perusahaan pembuatan pupuk. Kemudian, berlanjut, sudah berjalan lima tahunan ini ia mengabdikan diri sepenuhnya untuk membantu mengelola kebun kakao di Saung Kakao ini. Kami makin asyik berbincang. Sesekali saya lempar setitik pertanyaan. Kemudian disambut Sunarya dengan berpanjang-panjang jawaban. Ya, ia sungguh sosok yang baik. Menyambut kehadiran saya pun dengan sangat hangat. Dan Rinaldi, ia menyibukkan diri dengan membantu mengabadikan momen saya dengan Sunarya. Sesekali ia mengambil video, dan berkali-kali mengambil foto-foto sebagai penguat dokumentasi saya. Bekal untuk dibawa pulang, baik sebagai laporan kepada Badan Bahasa, juga sangat penting sebagai kenangan saya. Bahwa sungguh, segala ini menjadi riwayat tersendiri bagi diri saya. Kelak, di kemudian hari. Berpuluh-puluh tahun selanjutnya. Tentu sangatlah berarti. Seperti saat ini, saat saya dan Sunarya berbincang. Di bawah pohon-pohon kakao yang sedang khusyuk mengabdikan diri kepada pengagum cokelat. Kepada siapa saja di luar sana yang gemar melumat makanan yang cukup digemari saat hari Valentine tiba. Ya, saat hari jatuh pada 14 Februari setiap tahunnya itu. Langit sedang terang-terangnya. Sungguh menyengat. Sepertinya di atas kepala, hanya miring ke barat tiga puluh derajat. Kami berlindung di bawah rimbunan daun-daun kakao. Kami masih bersetia membincang segala tentang kakao, kebun, dan orang-orang yang menyertainya. Rinaldi masih melakukan aktivitas sama, mendokumentasikan perjumpaan saya dan Sunarya. Sesekali merekam video dengan ponsel pintarnya, berkali-kali memotret gambar. Ia tampak menikmati. Begitu baik seorang muda mahasiswa Unasman itu. Begitu membantu saya. “Beginilah kebun kakao ini. Jika mereka tumbuh sehat, dan jauh dari hama, usianya mampu bertahan hingga 20 tahun,” tutur Sunarya, menyambung perbincangan. Selepas ada jeda sejenak. Kami hanyut suasana rindang di bawah daun-daun kakao.
Setia Naka Andrian
“Lantas berapa usia kakao, saat ia sudah bisa berbuah, Bang?” tanya saya pelan, sambil membayangkan biji-biji cokelat yang bergelantungan di pohon, di atas kepala saya itu beterbangan memenuhi piring-piring di meja makan saya. “Ya, itu tergantung bibit kakaonya yang kita tanam. Biasanya ada yang usia 18 bulan sudah bisa berbuah. Yang sekarang direkomendasi, ada upaya yang dilakukan untuk menyambung pucuknya. Ya, okulasi itu. Bisa berbuah pada usia 18 bulan. Kalau yang hibrida itu, bisa berbuah pada usia sekitar 2 sampai 2,5 tahun,” ucap Sunarya. “Lantas dengan produksi buahnya bagaimana, Bang?” “Sebetulnya ya hampir sama, antara kedua bibitnya itu. Namun, yang untuk bibit biasa itu, yang murah, biasanya hanya 75 persen saja yang bisa berbuah. Sisanya gagal. Namun, untuk yang sambung pucuk, okulasi itu sudah jelas produksi buahnya. Itu harganya 6 ribu bibitnya. Ya, bibit usianya sekitar 5 bulan. Untuk tinggi bibit itu kiranya 30 hingga 50 cm,” tutur Sunarya. “Lantas perihal masa produktif kakao itu bagaimana, Bang?” “Pohon cokelat masa produktifnya kisaran 20 tahun ke bawah. Kalau tua sudah nggak bisa. Namun, tergantung juga. Bisa dipangkasi pula, saat ada semacam luka-luka serupa ini. Karena jika sudah usia 20 tahun ke atas sudah ada kanker batang serupa ini. Ya semacam luka ini. Ini tandanya batangnya sudah rusak. Kakinya telah rusak begini tak bisa berbuah.” “Pengobatannya bagaimana, Bang?” “Petani, siapa pun biasa mengobati. Ya, begini mengupas dari kulitnya. Diobati begini,” sambil ia menunjukkan, mengupas, membersihkan dengan golok yang baru dilepas dari tempat golok yang diikatkan di pinggangnya. “Atau bisa dengan obat semacam organik, semi-organik ini. Ya ini, memakai kunyit. Biasanya seperti itu. Kami biasanya pakai injeksi pula. Nanti kita bor ini batangnya. Baru dikasih masuk kunyitnya ini. Tiap pohon nanti 20 mililiter.” “Kalau mengenai panennya bagaimana, Bang? Harus sering dipanen atau bagaimana?”
“Tentang panen, biasanya lebih saat sering dipanen akan lebih bagus. Itu semua dapat menekan siklus hama. Ya, bolehlah dipanen dalam jangka 15 hari sekali. Atau 10 hari.” “Lalu buahnya tiap pohon, ada berapa buah rata-ratanya, Bang?” “Kalau banyaknya buah, tergantung kapasitas pohonnya bagaimana. Saat panen kemarin itu, ya itu biji kering, bisa keluar sekitar 800 kilogram.” Hari makin bergerak, dan kami pun masih asyik berbincang. Masih sama. Saya lempar satu pertanyaan, begitu panjang jawaban yang dilepas Sunarya untuk saya. Sungguh, lelaki yang masih terhitung muda itu. Ya, ia sangat baik menyambut orang baru. Ia menganggap seperti sudah kenal jauh lebih lama. Buktinya saat ini, saya disambutnya dengan sebaik mungkin. Meski sesungguhnya saya tak enak sendiri. Saya merasa telah mengganggu kerjanya. Sebab, saat saya dan Rinaldi datang, ia sedang sibuk membabat alang-alang yang tumbuh liar tak jauh dari pohon-pohon kakao. “Bang, maaf, hendak tanya lagi. Kenapa buahnya itu ada yang dibungkus?” “Oh, itu. Memang seharusnya dibungkus semua. Itu akan membuat lebih terjaga. Itu akan lebih mengurangi penggunaan pestisida. Kenapa tidak semua dibungkus, ya karena tenaganya yang terbatas. Memang yang lebih bagus terbungkus. Yang tentu akan lebih terjaga kualitasnya.” “Lalu bagaimana dengan proses panennya dan selepas dipanen? Selepas dipetik dari pohonnya, Bang?” “Mulai bisa dipetik yang sudah tampak cokelat merah. Meski yang cokelat hijau lebih kentara. Selepas dipanen, kemudian dibuka. Selepas itu ada proses fermentasi, ada pengeraman. Atau jika tidak, bisa langsung dijemur. Ya, tergantung kebutuhan. Jika melalui fermentasi ya akan melalui proses pengeraman itu. Didiamkan selama satu minggu.” “Proses penjemurannya berapa lama, Bang?” “Proses penjemuran dalam cuaca normal memakan waktu sekitar 3 sampai 4 hari. Kalau yang biji jelek, agak lumayan lama penjemurannya.” “Mengenai penjualannya bagaimana, Bang?” “Biasanya pembelinya sangat banyak. Baik dari Sulawesi sendiri atau dari luar. Karena begini, kalau punya colekat itu lebih istimewa dari punya emas. Sebab, pembeli bisa datang sendiri. Memburu ke sini.”
Setia Naka Andrian
“Prosesnya hingga menjadi cokelat bisa dimakan apakah juga dikerjakan dari sini, Bang?” “Kalau berdasarkan yang saya dengar, dari sini hanya sampai pada proses sudah jadi pasta. Lalu selepas itu dikirim ke luar negeri. Ya, proses menjadi cokelat utuh memang tak dikerjakan di sini. Dikerjakan di sana, di luar negeri. Memang ada juga yang saya dengar dikerjakan atau diproduksi di Indonesia. Namun, tak manis. Lemaknya susah dipisahkan. Jadi tak laku.” “Kalau makan saat masih biji apakah pernah, Bang? Sebenarnya mau coba, namun masih puasa ini ...,” canda saya, disambut tawa kami lepas. “Sesudah difermentasi, lalu dijemur itu, saya sempat mengunyah. Merasakannya. Ya itu, rasanya awalnya memang terasa pahit. Namun, kelamaan terasa gurih juga. Ternyata tak disangka, perbincangan kami nyaris memakan waktu lebih dari satu jam. Kami seakan menghabiskan masa siang di kebun kakao, sambil menanti saatnya berbuka. Membunuh waktu pelan-pelan, sambil berbincang di kebun kakao. Meski sayang, kami tak bisa turut serta mencicip kakao itu. Hari siang kian merambat hendak mengubah diri menjadi sore. Kami pun berupaya untuk lekas pamit. Tampak di kejauhan sana. Lima orang tengah memetik buah kakao. Berkeranjang di punggungnya. Hampir penuh. Ya, saya dan Rinaldi pun siap-siap berkemas. Kata Sunarya, sehari saja tak cukup waktu untuk menurunkan seluruh buah kakao di kebunnya. Apalagi jika panen raya tiba. Begitulah yang ada. Apalagi jika ditambah kakao yang tumbuh di kebunnya begitu produktif. Tak akan pernah cukup lima hari untuh panen seluruh pohon kakao di kebunnya. Bagi Sunarya, saat-saat ini harga kakao mencapai 60 ribu per kilogram. Bahkan, ada pula penjual dan pembeli eceran. Baik satu atau dua kilogram. Namun, jika eceran, mereka akan menguliti sendiri. Pembeli dan penjual pun telah paham, mana yang mahal, mana yang berkualitas. Dari baunya telah tampak. Harumnya mencolok jika yang berkualitas. Itu semua karena cara fermentasinya yang bagus.
“Jika yang biasa, paling tinggi harganya 40 ribu per kilogram. Dan di kebun ini sendiri, mampu memanen 800 kilogram tiap akhir semester. Itu artinya sekitar satu pohon menghasilkan satu kilogram buah yang masih kering. Sekitar 50 pot (butir) setiap pohonnya,” pungkas Sunarya, sambil kami berjalan menuju parkir sepeda motor. Kemudian kami bersalaman. Pamit pulang. Tanpa melambaikan tangan.
Setia Naka Andrian
Yusri, Rumah Penyu,dan Solusi bagi Warga Pemburu Telur Penyu
Senin, 20 Mei 2019, saya menjatuhkan janji untuk berjumpa dengan Muhammad Yusri, atau biasa akrab dikenal dengan nama Yusri Mampie. Rumah Penyu yang berada di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo merupakan sebuah ruang berkegiatannya, ruang berbagi, dan segala macam aktivitas terkait dunia konservasi serta segala hal yang melingkupinya. Sudah beberapa hari lalu saya menemukan nomor ponselnya, meski awalnya saya hanya mendapati namanya dari sebuah media sosial. Saya tak sengaja melihat profilnya saat tertandai dalam sebuah media sosial teman lain, yang ada di Polewali Mandar. Akhirnya, saya kirim pesan melalui messenger dalam medsos tersebut, dan saya meminta nomor ponselnya. Selepas zuhur, saya bergerak dari Polewali, ibu kota dari Polewali Mandar, menuju Pantai Mampie, tempat Rumah Penyu yang didirikan dan digerakkan oleh Muhammad Yusri sejak 2013. Perjalanan saya tempuh sekitar satu jam, hingga sampai tepi pantai. Siang itu cukup panas, memang selalu begini. Meski panas, udara tampak bersih tak menghamburkan debu-debu. Pantai sudah menampakkan diri, selepas perkampungan telah usai saya lewati, dan area tambak sudah mulai tampak di sisi kanan dan kiri jalanan. Saya masih ingat betul, beberapa saat lalu saya telah melewati jalan yang tak lebar ini, saat ke Pantai Mampie bersama dua pendamping dari Badan Bahasa dan seorang pendamping dari Balai Bahasa Makassar. Kali ini pun, saya singgah seorang diri. Masih begitu akrab saya lalui jalanan ini, yang saya yakin, ini jalan masih baru saja dibangun. Tentu tak lama, pasti saat-saat mulai siapa saja hendak mengunjungi Pantai Mampie, ingin menikmati tempat wisata lokal yang sedang moncer akhir-akhir ini. Ya, tibalah saya di pintu gerbang Pantai Mampie. Pintu yang saya bayangkan akan ada orang-orang yang berlalu-lalang, muncul dan terbenam, seperti halnya matahari yang terbit dan tenggelam, melangit dan menjatuhkan diri di garis pantai sana. Namun ternyata, tak saya dapati segala itu. Entah, Pantai Mampie ini begitu sepi. Masih sama seperti yang saya lihat saat itu, saat bersama
Setia Naka Andrian
beberapa pendamping dari Badan Bahasa dan Balai Bahasa Makassar kala itu. Entah, apa ini karena bulan puasa. Namun, saat itu juga sepi, meski saat itu belum bulan puasa. Saya jadi ingat, bagaimana pantai di kampung halaman saya, biasanya pada bulan puasa cenderung ramai, dikunjungi orang-orang untuk sekadar membunuh waktu dan menanti waktu berbuka. Ah, namun tentu segalanya beda, di sana dan di sini tentu tak bisa disamakan. Sudahlah, tak penting segala itu. Yang terpenting sekarang, saya harus lekas menemukan Rumah Penyu. Kata Muhammad Yusri, setelah saya sampai di Pantai Mampie, saya akan dengan mudah menemukan Rumah Penyu. Semua orang tahu. Namun, saya belum menemukannya. Ya, saya harus ke toko itu, membeli bensin eceran dan sekalian bertanya, di mana keberadaan Rumah Penyu. “Bensin, dua liter, Bu.” “Ya, Mas.” “Maaf, Bu. Sekalian bertanya, Rumah Penyu itu di sebelah mana ya, Bu?” “Oh, Rumah Penyu, silakan ke arah sana, itu akan ada papan, Rumah Penyu.” “Oh, ya, Bu. Terima kasih.” Saya ikuti petunjuk dan arahan ibu penjual bensin di warung tadi. Motor bergerak, menyusuri jalan poros pantai Mampie. Ternyata belum kunjung juga saya temukan papan yang menunjukkan ada tulisannya Rumah Penyu. Yang saya bayangkan, ini sebuah rumah penangkaran yang sangat dipenuhi penyu, tentu menjadi tempat menarik dan mudah diakses oleh siapa saja, apalagi sangat berdekatan dengan Pantai Mampie. Namun, ternyata saat itu, saya rasa tidak. Saya sempat menemukan ada tanda panah, menuju penangkaran penyu. Wisata Penangkaran Penyu. Batin saya, wah, sudah menemukan titik terang, sebentar lagi saya akan menemukan Rumah Penyu. Ternyata tidak, saya ikuti arah panah, tetapi tak kunjung pula saya temukan. Malah saya temukan jalanan pasir yang tebal, hingga membuat roda motor susah memutar. Akhirnya saya kembali memutar arah, menuju
kembali jalan arah masuk tadi, mencari orang lagi, untuk bertanya lagi. Sebenarnya pun, saya dengan mudah dapat bertanya dengan mengirim pesan singkat atau melakukan panggilan kepada Muhammad Yusri melalui ponsel. Namun, sepertinya tak enak, saya rasa kurang mengejutkan, dan begitu dipermudah, apalagi jika harus minta berbagi titik lokasi. Ah, yang terlalu mudah itu terkadang tak begitu menyenangkan. Selepas beberapa kali menyeterika jalan poros Pantai Mampie, nyatanya saya tak kunjung juga menemukan arah yang tepat menuju Rumah Penyu. Tak lama kemudian, tanpa saya memberi kabar, Muhammad Yusri menelepon saya. Ia menanyakan di mana keberadaan saya. Akhirnya, saya diberi petunjuk, menuju Rumah Penyu. Saya pun kembali menghela napas, betapa pun sudah gamblang dan sederhana, jalan yang hendak kita tuju pun tak selamanya mudah ditempuh. Muhammad Yusri menanti di tepi jalan, di depan sebuah rumah panggung sederhana. Ia melambaikan tangannya, mengarahkan sepenuhnya kepada saya. Dengan senyum hangatnya pula, yang begitu saya kenal, meski sebelumnya hanya sekilas saya lihat dari beberapa foto di akun media sosial dan foto profil di WhatsApp miliknya. Motor saya parkir, di depan rumah panggung itu. Ya, seperti saat saya memarkir motor, seperti biasanya. Selama di Polman ini, saya kerap menemukan motor-motor diparkir tanpa dikunci lehernya. Entah kenapa, sepertinya di Polman ini masyarakat begitu saling percaya, seakan mereka begitu yakin dengan keamanannya. Akhirnya pun, selepas itu, seperti saat ini pula, saya tak mengunci leher motor. Hanya diparkir begitu adanya. Di depan rumah panggung, yang saya ketahui ini rumah ibunda Muhammad Yusri, pendiri dan penggerak Rumah Penyu itu. Muhammad Yusri mengulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan, bersalaman, berkenalan. Kemudian saya diajak berjalan ke belakang rumah, menuju Rumah Penyu. “Beginilah, Mas. Keberadaan Rumah Penyu,” ucap Muhammad Yusri, sambil berjalan ke belakang rumah, menuju Rumah Penyu, yang tak jauh dengan rumah ibundanya.
Setia Naka Andrian
Rumah Penyu
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Muhammad Yusri, pegiat Rumah Penyu
“Ya, saya tadi beberapa kali menyisir jalan poros depan sana. Mencari-cari keberadaan Rumah Penyu. Namun, tak kunjung ketemu juga. Meski sempat beberapa kali bertanya kepada beberapa orang. Sempat pula menemukan papan petunjuk arah, menuju penangkaran penyu, namun ternyata tak ketemu juga,” ucap saya, sambil mencoba melegakan diri, bahwasanya saya pun tersesat untuk menemukan Rumah Penyu. “Ya, itu memang sengaja. Diberi panah petunjuk arah, menuju penangkaran penyu. Meski sesungguhnya penangkaran itu tak ada,” tutur Muhammad Yusri, dengan entengnya, dan saya bertanya-tanya, mengapa ada Rumah Penyu, lalu tak ada penangkaran. Ah, coba nanti, pasti akan ada jawaban atas teka-teki pernyataan Muhammad Yusri ini. Oh, ini ternyata Rumah Penyu yang sejak tadi, hampir setengah jam kiranya menguber untuk mencari keberadaannya. Ya, sebuah bangunan kayu cokelat, berbentuk unik, meruncing, limas segi empat. Berdiri tegak di tepi pantai, ya, Pantai Mampie yang sempat membuat saya berpikir beberapa kali, mengapa pantai yang begitu memukau ini tak terawat. Bahkan tak habis pikir, ketika banyak saya temui hewan-hewan ternak, mengunyah rumput-rumput. Ya, sapi-sapi itu, mereka makan dan berak di sana-sini, di tepi Pantai Mampie ini. “Biasanya ke Rumah Penyu setiap hari atau bagaimana, Mas?” tanya saya, saat kami sudah masuk di Rumah Penyu. “Saya ke sini biasanya kalau ada kegiatan. Namun, jadwal rutin saya ke sini ya hari Sabtu dan Minggu.” “Apa saja yang dilakukan di Rumah Penyu ini, Mas?” “Sesungguhnya banyak hal yang kami kerjakan di Rumah Penyu ini. Yang pasti, tidak melulu perihal penyu. Belajar kami pun tidak selamanya tentang konservasi. Namun, belajar banyak hal. Termasuk bagaimana berorganisasi dengan baik. Bagaimana belajar supaya bisa diterima masyarakat tentang program-program yang hendak kami bawakan kepada masyarakat.” “Sudah sejak kapan Rumah Penyu ini berdiri, Mas?” “Rumah Penyu ini sudah berdiri sebagai sebuah ruang, sebuah komunitas sejak 2013. Meski sebagai sebuah gerakan pribadi, yang saya kerjakan sendiri sudah sejak tahun 2005. Ya, Rumah Penyu berdiri sejak dari 2013. Meski
Setia Naka Andrian
begitu dikenal pada sekitar 2015—2016. Saat kerap dikunjungi dan banyak diliput oleh berbagai media. Serta banyak teman yang terlibat. Di antaranya, Ridwan Alimuddin, serta teman-teman yang dari Pambusuang, Tinambung.” Bagi Muhammad Yusri, Rumah Penyu ini berawal dari kegelisahannya, saat melihat masyarakat yang memburu telur penyu. Meski sesungguhnya masyarakat sudah tahu, perihal penyu yang sudah kian kecil populasinya. Masyarakat tak kunjung menemukan pula solusinya. “Boleh dikata, salah satu tempat penampungan penyu yang dikirim ke Bali ya di sini, dari kampung halaman saya ini. Sejak sekitar tahun 1999. Saat itu masih banyak didapati telur penyu, sampai 2012. Lantas, kami tidak punya daya untuk menghentikan laku masyarakat itu. Karena bagaimana pun, sebagian masyarakat mata pencariannya ya itu, mencari telur penyu. Bahkan saya sempat penasaran, akhirnya saya membeli telur penyu. Namun, tak juga bisa menetas setelah berapa lama. Yang katanya, selama 50--60 hari baru menetas. Namun, ya itu, nggak juga menetas yang saya bawa itu. Selanjutnya, saya bilang kepada warga yang menemukan telur penyu, untuk tak usah digali. Saya bilang kepada mereka, sampaikan saja kepada saya, nanti saya bayar. Nah, saya beli itu telur. Jika biasanya dijual dengan harga Rp1000, akan saya beli dengan harga Rp100.000. Ya, menggunakan uang dari kantong saya sendiri,” kenang Muhammad Yusri, sembari sesekali saya lihat, matanya menerawang jauh, entah ke mana, menuju sebuah titik yang tak sanggup saya duga. Seperti halnya laku yang ia kerjakan di Rumah Penyu ini. Entah, seribu berbanding satu barangkali, laku serupa yang dikerjakan Muhammad Yusri ini, seorang muda usia 30 tahun ini. Yang ternyata, satu garis usia dengan saya. Ya, seorang muda yang gigih dalam bergiat dan memperjuangkan segala laku positif yang patut ditempuh. Meski ia mengakui hanya lulusan SMP, semangatnya terus menyala untuk belajar dan berjuang di jagat konservasi. “Saya sering minta petunjuk, belajar, kepada siapa saja, kepada siapa pun yang saya kira patut dan telah memiliki pengalaman atau kemampuan lebih. Misalnya, kepada Muhammad Ridwan Alimuddin, yang sangat paham tentang kelautan, ya saya belajar kepadanya. Tentu saya manfaatkan, kepada
siapa saja, atau teman-teman di sekitar saya yang memiliki pengetahuan lebih jauh. Ya, tentunya saya memanfaatkan teman-teman yang tahu persis tentang apa saja yang dapat membantu saya dalam mengembangkan laku yang sesungguhnya hobi saya ini. Kenapa saya betah, dan bertahan dalam dunia penyu ini, meski sesungguhnya boleh dibilang teman-teman hampir tak ada yang mau melakukannya. Ya, tak lain karena ini merupakan bagian dari hobi saya. Ketika kegiatan sebagian dari hobi, menyelamatkan penyu ini merupakan bagian dari hobi saya, ya bagaimana pun, dan berapa pun biaya yang harus saya keluarkan, tak pernah saya pikirkan,” terang Muhammad Yusri, meyakinkan betapa menyelamatkan penyu merupakan bagian dari hobinya. Beberapa saat, obrolan kami pun terhenti. Di luar sana, suara ombak begitu kentara. Seolah tak mau tinggal begitu saja, untuk ambil bagian dalam perjumpaan kami. Di Rumah Penyu, bangunan unik yang sepenuhnya kayu ini, berlantai dua. Sepenuh lantai dan dindingnya dari kayu. Ya, kayu ulin yang begitu kukuh dan kuat. Apalagi saat terkena air, tersiram hujan, akan membuatnya makin kukuh. Lantas, saya mencoba melanjutkan perbincangan dengan melempar pertanyaan lagi kepada Muhammad Yusri. “Mas, apakah aktivitas ini ada atas latar belakang dari keluarga, barangkali, atau kiranya dari mana?” “Saya memang tinggal dan besar di sini. Saya bekerja di salah satu media swasta nasional, yakni Liputan 6. Sudah sekitar enam tahun, dan itu yang membantu saya. Gaji saya sebagian saya sisihkan buat membeli telur penyu,” tutur Muhammad Yusri. Kemudian tak lama berselang, ia melanjutkan kembali pengisahannya. “Saya dan keluarga sesungguhnya pengonsumsi berat telur penyu. Ya, dimasak, lalu kami makan. Kami tak tahu manfaat, tahunya ya hanya bisa dikonsumsi. Bisa dimakan. Kenyal-kenyal begitu saat dimakan, nggak padat. Barangkali kandungannya hampir serupa telur-telur lainnya. Ya, kami, semua warga sebagian besar mengonsumsi. Kalau yang jual sudah menjadi masakan, sepertinya tak ada,” tak lama kemudian, selepas jeda, ia melanjutkan kembali. “Sesungguhnya yang paling sulit dalam
Setia Naka Andrian
gerakan ini, ya meyakinkan keluarga. Bagaimana meyakinkan keluarga itu yang sangat sulit. Karena bagaimana pun, kami mengonsumsi telur penyu sudah sejak dulu kala. Bahkan aktivitas yang saya lakukan ini, awalnya tidak saya sampaikan kepada keluarga. Apalagi mengenai uang yang saya gunakan jika berasal dari kantong pribadi. Yang diketahui keluarga, ini semua dikira dari dana pemerintah. Namun, setelah ketahuan, ya mereka paham sendiri. Selepas mereka tahu saat saya diliput beberapa media, akhirnya keluarga bisa menerima pula,” begitulah laku Muhammad Yusri, seorang jurnalis yang sudah bekerja di media sejak 2013 sampai sekarang. Muhammad Yusri, selain bergiat di Rumah Penyu, kesehariannya ia jalani dengan bekerja sebagai seorang jurnalis di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Selepas perbincangan yang melulu perihal Rumah Penyu dan sekitar penyu itu, akhirnya, kami membincang pula perihal Pantai Mampie. Yang tak lain, telah menyita perhatian saya, sejak beberapa waktu lalu sempat singgah bersama beberapa pendamping dari Badan Bahasa dan Balai Bahasa Makassar kala itu. “Mas, jika ada sesuatu atau mungkin pembangunan perihal pantai dan sekitarnya, apakah teman-teman juga dilibatkan untuk turut serta?” “Ya, akhir-akhir ini memang pantai seakan tak terurus. Persoalan pantai menjadi beban pikiran masyarakat. Dengan kegiatan pelestarian penyu ini, kami kerap dilibatkan. Sehingga sedemikian rupa, terkait pengamanan pantai agar tidak menghalangi penyu yang hendak bertelur. Maka yang dibuat pemecah ombak itu, meski awalnya sih hendak dibuat tanggul. Awalnya kan memang hendak dibangun tanggul. Ya, memang begitu, segala yang berkait dengan pembangunan pantai, sebagai diri saya pribadi atau teman-teman kerap diajak berdiskusi membincang itu. Misalnya, terkait penanganan abrasi, kami mencari bagaimana solusi terbaik. Nggak mungkin ditanggul, seperti yang sekarang itu. Ada celah sekitar 100 meter terbuka. Agar setidaknya penyu bisa masuk. Selain itu, dengan pemecah tanggul serupa itu, akhirnya bisa dibuat nelayan untuk singgah. Sehingga, tanggul menjadi keuntungan juga, langsung berlindung di balik pemecah ombak itu,” terang Muhammad
Yusri, begitu antusias mengisahkan banyak hal kepada saya, meski sungguh kami hanya berbincang saja. Tiada kopi, tiada apa pun di hari siang bulan puasa ini. Hanya debur ombak yang berkali-kali menyuburkan suasana perbincangan kami. Muhammad Yusri meyakinkan kepada saya, bahwasanya sudah sejak 2017 sampai saat ini, warga sudah tidak lagi menjual ke pasar. Jika ada warga yang menemukan telur penyu, akan lekas diberitahukan dan bisa juga diserahkan kepada Muhammad Yusri. Saya tak habis pikir, dan tentu saya sungguh angkat topi kepada Muhammad Yusri, saat mendengar segala itu. Ya, Muhammad Yusri, sosok muda kurus itu, yang telah mampu mengubah pola pikir warga. “Awalnya, nelayan tidak punya tambak, tidak punya perahu. Yang paling banyak ya melakukan perburuan penyu. Lalu saya berpikir keras. Bahwa warga di sini punya kendaraan, dan pedagang ikan setiap hari selalu mengambil ikan ke sini. Lalu saya sampaikan kepada mereka yang mengambil ikan dari sini, bagaimana kalau bapak atau para pengusaha, cukup menyampaikan kami, nanti kami mengantar, upahnya menyesuaikan berapa. Dan, mereka setuju, kami perdayakan, orang-orang ini yang mengantar, ojek ikan, tujuh puluh ribu. Satu kali berangkat setiap hari, menuju pasar. Tak ada musimnya, mereka senang. Hal tersebut menjadi solusi, dan tentu dapat mengubah pola pikir warga, yang tadinya menjual telur penyu, harus bangun jam satu dini hari cari telur penyu. Akhirnya, kini hanya bangun jam dua untuk menjadi ojek ikan, mengantar ke pasar. Nah, ini yang menjadi jawaban, menjadi solusinya. Bahkan yang saya dengar, menurut informasi, mereka saat ini juga sudah mulai melapak juga. Menjual ikannya juga, jadi tidak hanya sekadar menjadi ojek. Meski mereka tetap mengojek juga, setelah mengantar pesanan bos, lalu dilanjut untuk jualan juga. Menjadi pedagang ikan pula,” kisah Muhammad Yusri dengan penuh keyakinan dan saya pun mendengarnya dengan tenang. Ada jalan yang menjadi solusi, agar warga tak lagi menjadi pemburu telur penyu.
Setia Naka Andrian
“Begitulah, Mas. Penyu yang kerap tampak 30 meter di garis pantai itu. Mereka bertelur, meski pasang surut, dan dia tidak mendekat dengan pohon-pohon kelapa. Di pantai yang kerap disambangi abrasi itu. Setiap tahun 10 meter. Sudah berapa permukiman warga saja yang termakan. Saya ingat, pada tahun 2004 masih 100 meter dari sini ini masih perkampungan, permukiman warga. Ya, saat jalan poros di depan sana itu belum ada.” “Lalu mengenai banyak penangkaran yang ada di luaran sana bagaimana menurut pendapat Anda, Mas?” “Ya, seperti halnya di sini. Saya kerap menyampaikan, bahkan sebelumnya sering ditanya, ini Rumah Penyu, sebagai upaya mempelajari, mengenalkan penyu, lalu mana penyunya. Dan saya jawab dengan lantang, mengenai dinosaurus, kita sama sekali tak diperlihatkan wujud dinosaurus, namun kita dengan leluasa dapat memahami, tahu detailnya, bagaimana wujudnya. Sama halnya dengan penyu yang kami hadirkan di sini. Memang, dulu kami sempat pelihara penyu, sampai dewasa, kami anggap cara yang tepat. Ternyata salah. Jadi selanjutnya dapat saya simpulkan, bahwa penangkaran yang ada di Indonesia yang melakukan pembesaran penyu, adalah bisnis yang berkedok konservasi. Entah berbagai alasan apa pun. Ngapain juga harus membesarkan lebih dari lima. Cukup satu saja. Jika tidak, itu sudah tentu bisa dikategorikan bisnis, yang di mana setiap tahun dianggarkan biaya pemeliharaan, dan lainnya, kalau itu dari lembaga pemerintah atau yang mendapatkan pendanaan pemerintah. Dan kalau yang swasta, tentunya sangat berkait dengan bisnis terselubung. Ya, misalnya tempat wisata, yang di sana ada kegiatan melepas satu tukik dengan membayar. Misalnya, membayar sepuluh ribu rupiah atau berapa untuk setiap tukik anakan penyu yang hendak dilepas. Ya, penyu, yang usianya berdasarkan penelitian, penyu itu bisa hidup sampai ratusan tahun. Berdasarkan data yang saya pelajari, mengatakan usia paling muda, pertama kali bertelur penyu berusia tiga puluh tahun. Maka sungguh, kalau di sini nggak ada penangkaran. Bukan penangkaran, bukan pemeliharaan. Kalau ada wisata penyu, saat masuk di sana, ada arah panah, itu kedok saja. Biar orang penasaran, lalu masuk ke
sini. Ya, itu tadi. Sama saja begini, mengajari anak-anak tentang penyu, tidak harus memperlihatkan penyu secara langsung. Satu contoh, dinosaurus itu, contoh yang membantahkan alasan penangkaran yang ada di Indonesia. Jika dianggap langka, ya bukan malah ditangkarkan, harus dilepas. Dibebaskan di alam lepas.” Begitulah pungkas Muhammad Yusri, pendiri dan penggerak Rumah Penyu, yang kerap tak lelah-lelahnya selalu menjalani hobinya untuk menyelamatkan penyu, spesies yang kian hari kian langka itu. Ia perjuangkan terus. Dari mulai waktu itu, harus membeli telur sampai dibeli dengan harga jauh lebih mahal, berkali-kali lipat. Namun, kini seakan telah lega. Muhammad Yusri tak lagi gelisah seperti saat-saat beberapa tahun itu. Kini warga telah tak lagi memikirkan bagaimana memburu telur penyu, telur yang berukuran sebesar bola pingpong itu. Mereka telah menemukan solusi, salah satunya, menjadi ojek ikan, dan sekaligus pedagang ikan di pasar-pasar.
Setia Naka Andrian
Jejak Festival
Sungai Mandar di Hutan Bambu Alu
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Gerbang Hutan Bambu di Alu
Selasa, 21 Mei 2019, kunjungi lokasi Festival Sungai Mandar di Hutan Bambu Alu. Ya, Festival Sungai Mandar, tahun ini memang telah lewat, telah usai. Saya datang ke Mandar, saat gelaran tahunan ini telah tinggal kenangan. Ingin sesungguhnya sekali menyaksikan langsung gelaran yang melangitkan sungai ini. Namun, mau bagaimana lagi. Saya belum berjodoh. Tahun ini, saat saya berkesempatan hinggapi Mandar, festival itu telah lewat beberapa bulan yang lalu. Saya pun sempat mengadu kepada beberapa teman penggerak Festival Sungai Mandar, yang begitu rupa merespons agung keberadaan Sungai Mandar tidak sebatas sebagai sungai. Namun, jika boleh mengatakan, Sungai Mandar sudah menjadi kehidupan tersendiri bagi masyarakat. Begitu lekat dan erat, berdampingan dalam gerak kehidupan ini bersama seluruh masyarakat Mandar. “Apakah Festival Sungai Mandar bisa diulang kembali, Bang?” rengek saya kepada Rahmat Muchtar, pegiat seni dari Sanggar Uwake’ yang merupakan ketua penyelenggara Festival Sungai Mandar tahun ini. Ia tak menjawab apa-apa, hanya tertawa. Lalu saya pun memaksa kembali dengan pertanyaan dan permintaan lain.
Setia Naka Andrian
“Kapan saya diajak ke Hutan Bambu di Alu itu, hutan yang menjadi saksi penyelenggaraan Festival Sungai Mandar itu, Bang?”
“Ayo. Sekarang ....”
“Benar, Bang?” “Ya, dong. Kapan lagi. Keburu kau pulang malah nanti kalau kelamaan
....” Selepas jawaban ini keluar dari mulut Rahmat Muchtar, kami berdua
pun lekas tertawa bersama. Sambil Rahmat Muchtar mulai berkemas, dan memberi kode kepada saya untuk lekas bersiap-siap pula. Kami bergegas berangkat menuju Hutan Bambu di Alu. Saya sungguh sangat bahagia, akan diajak mengunjungi Hutan Bambu. Dalam hati, ah, ini sekalian untuk menyegarkan diri. “Ya, kau enak. Nanti akan bisa main air di Sungai Mandar di atas sana ...,” ucap Rahmat Muchtar mencoba menghibur saya, yang tak lain, baginya saat di Mandar, saya juga butuh diajak menyegarkan pikiran dengan berjalan-jalan ke tempat-tempat menyejukkan dan menyegarkan. Tidak hanya badan saja, jiwa pun patut disegarkan. Agar selanjutnya karya-karya akan lahir dan tumbuh bermekaran. Begitu kata Rahmat Muchtar. Ya, sosok seniman Mandar yang dahulu sempat mengenyam pendidikan di Yogyakarta. Rahmat Muchtar pun dikenal sebagai seniman serba bisa. Ia berteater, bermusik, bersastra, pun melukis. Ada yang membuat saya terkesan saat bersama Rahmat Muchtar. Salah satunya ini, yang paling berkesan. Saat itu, saya selepas diajak menghadiri dan membacakan karya dalam gelaran Mimbar Puisi Ramadan di Tinambung, di daerahnya. Acara usai hingga larut, bahkan sudah hampir pagi. Saya ingat, saat itu acara usai sekitar pukul 02.00 WITA. Acara terselenggara di halaman rumah Muhammad Ishaq. Akhirnya selepas acara usai, saya diajak pulang, tidur di Sanggar Uwake’, yang tak lain adalah rumah tinggal Rahmat Muchtar. Saat itu, saya diajak naik. Anak tangga dari kayu, satu per satu saya mendaki tiap-tiap anak tangga itu. Yang tak lebih dari setengah meter kiranya. Ya, saya diajak ke sebuah studio berkarya yang sering dipakai Rahmat Muchtar dalam berproses dan menempa segala capaian estetika karya. Ini bukan kali pertama saya diajak ke ruang ini. Namun, sudah berkali-kali. Hanya saja, kalau pada saat petang, baru kali ini. Saya agak merasa aneh. Apa karena gelap. Lantas jiwa penakut saya muncul. Yang memang sudah
sejak dahulu kala. Bahwasanya, saya selalu saja takut dengan yang namanya gelap. Entah, gelap yang seperti apa pun dan bagaimana pun macamnya, selalu saya takuti. Termasuk juga gelap saat di Sanggar Uwake’, di dalam studio kerja Rahmat Muchtar. Ya, begitu dahulu. Agak reda, selepas saya hendak diajak santap sahur duluan. Meski baru pukul 02.00 WITA itu. Akhirnya saya turun ke ruang makan, yang ada di ruang bawah dalam rumahnya. Kami makan berdua, menikmati makanan seperti biasanya, yang kerap saya dapati saat makan di rumah-rumah orang Mandar. Ya, menu utama, tak lain adalah beragam jenis ikan yang tak saya hafal nama-namanya. “Naka, mari ngopi dulu. Naik ke atas, di studio kerja saya ya.” “Ya, mari, Bang.” Kami berdua minum kopi hitam bersama, tetapi tentu, dalam cangkir yang berbeda. Kami pun berbincang tentang beberapa aktivitas proses kreatif kami masing-masing, yang dilakukan saat bersama teman-teman komunitas. Tak lain tentu karena merespons atas panggung Mimbar Puisi Ramadan yang baru saja saya saksikan itu. Selepas perbincangan cukup, tak sampai lima belas menit, saya melihat ada gelagat aneh dari Rahmat Muchtar. Sepertinya ia sudah mulai mengantuk. “Naka, saya tidur dulu ya. Kau tidur di sini ya. Biasa kalau ada teman, atau siapa saja. Selalu tidur di sini. Itu sempat ada seniman dari luar negeri pun senang jika saya suruh tidur di studio kerja saya ini.”
“Ya, Bang .... Ya, tak apa ....”
Sungguh, saya sebenarnya tak kuasa harus menjawab apa. Namun, sepertinya tak ada pilihan jawaban lain, selain menjawab mengiyakan. Sudah. Itu saja. Meski sesungguhnya, saya sangat takut kala itu. Ya, bagaimana tidak. Memang tidak sepenuhnya gelap, tetapi sangat remang. Saya berupaya mencari sumber listrik untuk mengisi daya ponsel pun tak ada. Padahal ya ponsel juga hampir usai baterainya. Aduh, sungguh sial malam itu. Saya melihat di sekitar sana, ada sebuah ranjang bambu, yang di atasnya, di samping persis ditempelkan payung. Ya, sebuah payung yang saya tahu persis
Setia Naka Andrian
itu seperti payung hiasan yang digunakan dalam Saiyyang Patuqduq. Malah jika saya ingat yang ada di Jawa, payung-payung itu mirip seperti payung yang digunakan untuk mengantar jenazah menuju ke kuburan, saat hendak dimakamkan. Lha ini, saya diminta Rahmat Muchtar untuk tidur di bawahnya. Mana saya berani. Akhirnya saya pun memaksa membuka mata terus. Saya menjauh dari ranjang bambu itu. Saya memilih di sebelahnya, sekiranya lima meter dari ranjang bambu itu. Saya berbaring, dengan memaksa mata agar tidak memejam. Meski sesungguhnya mata telah mengantuk. Namun, apa daya, saya mending menunggu hingga benar-benar matahari menjemput ketakutan saya kala itu daripada harus menidurkan diri. Apalagi harus menidurkan diri dalam ranjang bambu berpayung rumbai-rumbai yang menyeramkan itu. Ya, bagaimana lagi. Saya pun tak kuasa jika tidak mengiyakan. Masak saya harus mengaku takut. Kala itu, saya pikir, sangat tidak kerenlah. Masak ada seorang seniman residensi takut gelap, takut tidur sendirian di sanggar. Ah, bakal memalukan dunia persilatan. Akhirnya, hingga matahari benar-benar menghampiri ketakutan saya, barulah saya terjaga. Ya, sudahlah. Biarlah itu menjadi kenangan manis, saat saya di Sanggar Uwake’, di rumah tinggal Rahmat Muchtar, seniman serba bisa itu. Sudah, kini saya lanjutkan saat saya bersama Rahmat Muchtar hendak menuju Hutan Bambu di Alu. Ya, kami berboncengan, menempuh perjalanan mendaki, melewati jalan-jalan beraspal yang bagus. Namun, separuhnya harus kami tempuh dengan kecepatan sangat rendah. Jalanan mendaki naik lumayan terjal. Batu-batu pun berserakan di antara aspal-aspal yang telah melepaskannya. Perjalanan kami sekitar setengah jam, baru kami sampai. Tiba di Hutan Bambu, yang beberapa waktu lalu telah digunakan sebagai lokasi Festival Sungai Mandar, yang terselenggara beberapa hari dengan lancar dan sukses. Meski kata Rahmat Muchtar, saat di Alu, di Hutan Bambu itu, siapa saja tak bisa menggunakan ponsel berjaringan internet dengan baik, hanya bisa menggunakan jaringan telepon atau pesan singkat SMS saja. Itu pun tidak semua operator bisa.
Akibat dari itu, seluruh orang yang mengikuti festival itu bisa sepenuhnya fokus pada kegiatan. Ya, memang, saya pun begitu. Saat tiba, langsung membuka ponsel dan sama sekali tiada jaringan internet yang nyangkut. Akhirnya ya sudah, saya gunakan sepenuhnya untuk berjalan-jalan menjejaki ruang-ruang sunyi di Hutan Bambu. Yang memang, tidak didapati siapa-siapa, kecuali saya dan Rahmat Muchtar. Entah, jika memang ada yang lain turut serta, tetapi saya tak lihat. Maaf, saya tak bisa turut menghitung. “Bang, warung-warung, gazebo-gazebo bambu ini yang membuat siapa? Panitia atau warga yang hendak terlibat?” tanya saya kepada Rahmat Muchtar. “Ya, ini mereka sendiri yang mendirikan. Ya, mereka warga sini yang hendak terlibat. Menjual makanan atau apa saja yang kiranya patut dijual. Termasuk ada pula dibuat sebagai stand-stand komunitas atau sanggar yang hendak berpartisipasi dalam festival ini. Hendak menyajikan barang-barang karyanya pula di sini,” tutur Rahmat Muchtar yang seakan turut menyelam dalam, mengenang bagaimana suasana kekhusyukan Festival Sungai Mandar kala itu. Bagi Rahmat Muchtar, festival yang terselenggara di Hutan Bambu ini setidaknya menjadi pembuka ruang-ruang baru dalam pemenuhan gerak seni dan budaya, khususnya bagi warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Mandar. Ya, saya melihat, betapa ketulusan kawan-kawan pegiat yang telah melangitkan aktivitas di Hutan Bambu ini. Saya masih bisa merasakan, bagaimana kerumunan kawan-kawan dan siapa saja yang turut serta menghinggapi Hutan Bambu ini. Upaya menggerakkan, melangitkan, dan menghidupi Sungai Mandar begitu rupa tertuang dalam beberapa bagian kegiatan. Di antaranya, sekolah sungai, pertunjukan seni, serta beragam laku literasi yang terus menancapkan bambu-bambu pengetahuan di Jagat Mandar ini. Hanya saja, saat ini, saya melihat betapa sunyinya Hutan Bambu. Saya tak melihat kehidupan apa-apa, kecuali sisa-sisa gubuk bambu, gazebo-gazebo bambu yang semuanya telah mengering itu. Ya, semuanya seakan lesu selepas
Setia Naka Andrian
Festival Sungai Mandar kala itu. Ya, mereka berdiri di bawah bambu-bambu hijau yang tumbuh subur, di tepi Sungai Mandar yang gemericik, airnya mengalir, menapaki batu-batu. Saya hanya bisa berdoa, semoga melalui geliat serupa Festival Sungai Mandar itu, suatu saat akan terus membuat Hutan Bambu ini dipadati orang-orang beraktivitas, berkesenian, berbudaya. Saya dan Rahmat Muchtar terus berkeliling, berjalan pelan-pelan. Sesekali berhenti, menatap ke langit, dan memandangi lagi sisa-sisa bangunan bambu dalam festival kala itu. Saya tak tahu, bahasa apa yang paling tepat untuk menyapa sisa-sisa bangunan bambu-bambu itu. Ya, begitulah. Siapa pun akan merasa rindu pada sesuatu yang telah lewat, dan begitu berarti kala itu. Termasuk, pasti Rahmat Muchtar saat itu. Kemudian, saya pun memberanikan diri, memecah segala lamunan itu. Pelan-pelan saya tiupkan kata-kata kepada Rahmat Muchtar, “Bang, mari kita lanjut. Sepertinya sudah semakin sore.” Rabu, 22 Mei 2019. Selepas sahur, saya harus mengalahkan diri untuk tidak memejamkan mata lagi. Meski sungguh, mata ini mengumpat atas beban 50 kilogram kantuk karena semalam mata menanggung derita atas bertubi-tubi kabar yang menggedor media sosial di genggaman ponsel saya. Baru pukul 01.00 WITA, saya sedikit bisa meredakan nyala mata, sesaat setelah mencoba mengenang hari-hari baik yang sempat dicipta kekasih melalui kotak ingatan yang kerap dibuka Facebook yang maha-menebar kenangan. Maka selepas itu tertidurlah saya, dalam hitungan tak lebih enam puluh pukulan ibu-ibu penumbuk padi. Lantas, tepat pukul 03.00 WITA, nada serupa petasan meledak menjadi alarm, melompat dalam ponsel yang saya letakkan tepat di sebelah telinga kiri. Maka bangunlah raga dengan ditandai mata yang membuka meski sedikit-sedikit masih meredup-redupkan nyala. Kemudian mengikutilah jiwa yang seakan dipaksa berdiri, tegap di antara lantai dan langit-langit kamar. Sahurlah jiwa saya, sahurlah badan saya. Bersama ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan yang bergerak memenuhi barisan tak beraturan di halaman piring saya, bergeletakan pula cabai dengan bumbu-bumbu istimewa yang diracik khusus dari tangan-tangan peramu rasa tradisional di Jagat Mandar.
Kemudian, tunai sudah tugas menjalani sahur saya pada Rabu, 22 Mei 2019 ini. Sembari menunggu imsak dan juga karibnya yang bernama subuh, hadir mengetuk pintu kamar penginapan saya. Maka mulailah saya mengisi waktu tunggu, dengan menata ingatan tentang segala perjumpaan saat residensi ini. Apa saja yang sudah dijejaki, apa saja yang perlu dipadati, dan apa saja yang harus lekas dihinggapi. Mengingat, ini sudah hari ke-22, untuk menuju hari ke-30 tentu tinggal sejengkal pasang barisan siang-malam lagi. Ah, tak terasa imsak telah menggedor pintu kamar. Kemudian tak lama lagi, karibnya yang bernama subuh ikut-ikutan datang. Sudah, selepas itu saya langsung mandi meski sungguh berat. Dingin begitu leluasa memukuli tubuh yang tak begitu berjaket tebal ini. Sesaat kemudian, ketika saya sudah merasa cukup bersih, wangi, dan lumayan tampak ganteng (versi quick count), bergeraklah saya menuju Tinambung agar lekas jumpa passauq wai, ibu-ibu tangguh itu. Masih pagi, saya menuju rumah seorang kawan, Ramli Rusli. Namun sayang, beberapa pesan saya kirim menuju ponselnya, tetap tak kunjung ada jawaban. Ya, saya baru ingat, ia saat-saat ini sedang menunggui ibundanya yang sedang sakit. Pasti ia semalam tak tidur, sepenuhnya menjaga ibundanya. Kini, pasti ia masih tidur. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung bergegas naik menuju jalan poros, jalan trans-Sulawesi itu. Saya menuju jembatan. Dari situ, saya akan memotret ibu-ibu penimba air itu melalui ponsel sederhana saya. Saya berdiri, bertopi, mengenakan tas di punggung, menanti dari tepi jembatan. Menanti ibu-ibu yang tangguh itu, di antara lalu-lalang kendaraan yang mulai bergerak menjemput pagi. Menjemput rezekinya masing-masing, melalui jalannya masing-masing. Udara belum tampak panas, masih berasa dingin. Tak tahu jika lebih siang lagi. Saya lihat pergelangan tangan, sebuah jam digital yang melingkar di pergelangan tangan, menunjukkan pukul 07.00 WITA. Ya, saya merasa, sebentar lagi ibu-ibu tangguh itu akan melewati jembatan ini, seperti yang dikatakan oleh Ramli Rusli beberapa waktu lalu. Bahwa ibu-ibu passauq wai, para ibu penimba air yang tangguh itu, akan melewati jembatan ini. Jembatan yang tak jauh dengan rumah tinggal Ramli Rusli.
Setia Naka Andrian
Passauq Wai dan Ibu-Ibu Tangguh Itu
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Ibu-ibu passauq wai di Sungai Mandar
Benar, tak lama kemudian, ibu-ibu passauq wai melewati jembatan ini. Dalam hati, saya mengucap maaf, “Maaf Bu, saya mengambil gambar dari atas. Bukan maksud apa-apa, namun inilah kerja kecil yang harus saya tunaikan. Maaf, Bu,” sambil membidik gambar melalui ponsel sederhana saya, beberapa kali, membidik melalui mata kamera ponsel, seakan membuat mata ini berkaca-kaca, menapaki laku ibu-ibu yang begitu tangguh itu. Saya pun sontak jadi ingat ibu saya yang sedang di kampung halaman, yang tentu ibu yang sungguh memperjuangkan hidup saya. Barangkali, tanpa ibu, saya tak mungkin bisa hidup hingga kini, hingga bisa mengejar dan memperjuangkan segala mimpi. Hingga bisa sampai bersinggah menjalani residensi di Polewali Mandar ini. Sesusah saya memotret ibu-ibu passauq wai dari jembatan di atas Sungai Mandar, saya kembali ke rumah Ramli Rusli. Namun, ternyata ia masih tidur. Pesan yang saya kirim masih belum kunjung terjawab. Sebenarnya bisa saja saya naik (ke rumah panggungnya), dan mengetuk pintu. Tapi, tidaklah, itu akan mengganggu istirahat Ramli Rusli. Beberapa waktu lalu saya sempat pula ke rumahnya, dan berkesempatan pula menjenguk ibundanya yang sedang terbaring sakit. Saya melihat, dari sorot mata Ramli Rusli, yang begitu menyayangi ibundanya. Begitu tulus pula ia merawat ibundanya meski darinya saya melihat betapa sedih dirasa. Saya tak sanggup membayangkan, apalagi merasakan bagaimana posisinya. Ibundanya sedang sakit, sepertinya mengalami kelumpuhan, tak bisa jalan, dan hanya terbaring. Saya pun lekas berjalan menuju tepi sungai. Saya melihat beberapa gubuk kecil, berderetan di tepi sungai, di atas batu-batu yang seakan telah ditata sebagai bantaran sungai. Di situ, ternyata telah ada seorang lelaki setengah baya, saya yakin ia tetangga Ramli Rusli. Sontak, saya mendekati dan menyapanya, “Maaf Pak, bolehkah saya turut duduk?” “Ya, silakan, Nak.” sahutnya dengan lembut. “Jika boleh tahu, nama Bapak siapa?” “Saya, Rahman. Mas?”
Setia Naka Andrian
“Saya, Naka. Ini tadi hendak ke rumah Bang Ramli, saya temannya yang datang dari Jawa. Semalam sudah janjian dengan Bang Ramli, namun sepertinya masih tidur.” “Ya, benar. Ibunya sedang sakit. Ia pasti semalaman menunggu ibunya,” jawab Pak Rahman, mencoba melegakan. Saya melihat, matanya memandangi riak-riak air di Sungai Mandar. Saya pun mencoba mengikuti pandangannya, mencoba mencari pula apa yang sedang dipikirkan lelaki separuh baya seusia pensiun ini. Sepertinya, ia sudah tak lagi punya aktivitas apa-apa. Ya, barangkali hari-harinya dihabiskan seperti ini. Memandangi sungai. Apalagi saat bulan puasa serupa ini. Hal yang paling patut dikerjakan oleh seorang tua ya menyendiri. Menikmati kesunyian. “Bapak asli Mandar?” “Ya, Mas. Sejak lahir, saya di Mandar,” jawabnya dengan tenang, sembari saya mencuri pandang, matanya tampak masih menatap permukaan sungai. Lalu, datanglah seorang cucu laki-lakinya. Ia tetap sama, pantang tergoda. Masih tetap menatap permukaan sungai. “Pak, mohon maaf, Bapak tahu tentang ibu-ibu passauq wai itu?” tanya saya dengan pelan, saya takut mengganggu pandangannya yang tajam mengarah ke permukaan sungai. Pak Rahman menoleh kepada saya. “Ya, mereka warga muara sini. Mereka setiap hari mencari air. Bahkan pagi-pagi sekali, mereka sudah bangun dari tidur, sudah beranjak dari rumahnya. Sebelum kita semua terjaga. Saat kita masih memejamkan mata, mereka sudah keluar rumah, memburu air, untuk keberlangsungan pasokan air warga di sini. Untuk kehidupan kita semua. Saya dulu juga pencari air seperti mereka,” jawab Pak Rahman dengan tenang, dan membuat saya pun menjadi tenang. Sebab, saya masih cukup takut, bila dirasa mengganggu kenikmatan matanya memandangi permukaan sungai. Ya, Sungai Mandar yang banyak dikata sebagai sungai penawar itu. Dipercaya sebagai pengobat segala macam penyakit. Sekitar dua puluh menit perbincangan kami, tibalah Ramli Rusli hadir ke hadapan kami. “Hai, Bang. Maaf membuatmu menunggu. Maaf banget, ya.”
“Wah, Bang Ramli. Tak apa. Santai saja. Ini saya bercakap dengan Pak Rahman. Saya ditemaninya,” jawabku mencoba meringankan Ramli Rusli, yang merasa bersalah karena ia baru terbangun dari tidurnya. “Sudah lama, Bang?” “Tidak lama, barusan. Tadi juga sudah sempat memotret ibu-ibu passauq wai. Ya, di jembatan itu,” jawabku lagi, sambil tersenyum segar pagi hari. Ramli Rusli pun turut melepas senyumnya. Hilanglah rasa bersalahnya karena baru bangun dari tidur. “Oke kalau begitu. Sekali lagi maaf ya, Bang,” kembali pinta Ramli Rusli kepada saya. “Ah, santai saja. Begitu saja kok,” tegas saya kepadanya. “Kalau begitu, ayo saya antar ke tempat salah seorang ibu-ibu passauq wai. Jam segini biasanya mereka sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Selepas usai mengedarkan air-air ke rumah-rumah pemesan air, atau mengedarkan keliling kampung,” tawar Ramli Rusli kepada saya, tampak matanya masih merah. Sepertinya, memang ia masih kurang istirahat. Hari-hari, malam-malam, sepenuhnya ia habiskan untuk ibunda tercintanya. Sungguh, saya jadi tak enak hati sendiri. Seakan kehadiran saya mengusik keberadaannya untuk menjaga ibundanya yang sedang terbaring sakit. Ah, apa boleh buat. Ia pun juga menawarkan kepada saya, untuk menemani menjumpai salah seorang ibu hebat, pencari air itu. Kami berjalan kaki, menyibak gang-gang kecil di perkampungan Tinambung. Ya, kami tiba di sebuah rumah sederhana, bukan rumah panggung seperti rumah Ramli Rusli. Di tepi pintu sudah menanti Asalia, seorang ibu tangguh yang menghabiskan hari-hari paginya untuk menyusur tepi sungai, memburu air Sungai Mandar. “Maaf, Bu. Barangkali kedatangan saya mengganggu waktunya,” sapa saya, sambil disilakan duduk oleh Ibu Asalia. “Ya, Mas. Tak apa. Ini sudah santai. Silakan duduk, maaf tak ada hidangan apa-apa,” candaan Ibu Asalia kepada kami, yang memang ini masih bulan puasa.
Setia Naka Andrian
“Setiap hari mencari air begini ya, Bu?” tanya saya yang begitu kuno, menyambarnya. “Ya, Mas. Setiap hari. Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi mata pencarian saya. Paling tidak bisa membantu pemenuhan kebutuhan keluarga kami. Membantu suami,” jawabnya dengan begitu tabah. Ya, ini yang terjadi di Mandar. Seorang istri di sini juga turut serta bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadi, memang sudah sejak dahulu kala, misalnya saat suami melaut, istri menanti sambil membunuh waktu dengan menenun. Nah, saat suaminya pulang, istri yang akan menjualkan ikan-ikan hasil melautnya. Yang begitu akrab bagi orang di Mandar sebagai siwalipari, yang berarti ‘saling menopang, saling membantu dalam sebuah rumah tangga’, antara istri dan suaminya. Meski, saya lihat, di Mandar hampir seratus persen masyarakatnya beragama Islam, yang dalam ajarannya bahwa yang wajib bekerja adalah seorang lelaki (suami). “Alhamdulillah, Mas. Meski sehari-hari menghabiskan pagi memburu air ke sungai. Saya sangat bersyukur. Seratus jeriken saya bawa. Siangnya sudah habis. Lihat itu di depan, berjejer jeriken yang baru selesai saya cuci,” tutur Ibu Asalia. “Berapa harga air tiap jeriken, Bu?” “Satu jeriken seharga tujuh ratus rupiah. Itu jeriken berisi lima liter,” jawab Ibu Asalia, sambil matanya meyakinkan kepada saya, bahwa ia benar-benar bersyukur meski sungguh saya bayangkan betapa berat kerjanya. Sepagi buta itu, ia bersama ibu-ibu lainnya harus berjalan menempuh waktu satu jam menuju tepi sungai di atas sana. Dilingkarkannya seratus jeriken kosong itu, melingkari tubuhnya. Ya, semua itu demi memberi tambahan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Demi kisaran uang tujuh puluh ribu rupiah setiap harinya. Ya, siwalipari dipegangnya, pun oleh ibu-ibu passauq wai lainnya. Mereka memegang kuat, bahwa saling menopang adalah tujuan utamanya. Saling membantu dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga, yang tentu, kian hari kian naik, melangit, dan terus melangit.
Selepas ibu-ibu itu sampai di atas, di tepi sungai, di sumur-sumur yang telah dimilikinya. Sumur selebar diameter setengah meter itu, yang setiap harinya telah menyaring air sungai Mandar. Air yang telah tersaring alami melalui batu-batu dan ijuk. Air sungai Mandar, air sungai yang begitu kuat diyakini sebagai air penawar itu, pelan-pelan meresap dari bawah, dari dasar sungai. Hingga air sungai sepenuhnya mengaliri sumur-sumur yang telah dimiliki oleh ibu-ibu itu. Passauq adalah ‘penimba’, wai adalah ‘air’. Tentu, ibu-ibu selanjutnya, sepagi itu, saat siapa saja masih bergulat dengan selimut, ibu-ibu hebat telah menimba air jernih itu dari sumur-sumurnya. Mereka masukkan ke dalam jeriken, yang telah disiapkan, yang telah dibawa dari rumahnya amsing- masing. Selepas semua jeriken berisi lima liter air itu penuh, kembalilah seratus jeriken itu mereka ikat dengan tali. Kemudian, jeriken-jeriken berisi air bersih itu dibawanya melalui aliran sungai. Mereka, ya, ibu-ibu passauq wai itu menghanyutkan diri ke dalam aliran sungai. Paling tidak, itu cara tepat agar tak memberatkan diri. Ya, menghanyutkan diri hingga ke muara adalah pilihan yang tepat bagi mereka. Yang tak menghabiskan banyak tenaga, tak menghabiskan bahan bakar pula jika menggunakan kendaraan. Ya, mereka menghanyutkan diri hingga perkampungan yang tak jauh dengan jembatan Tinambung itu. Lalu naiklah mereka, dan membawa jeriken-jeriken itu keliling kampung. Menuju para pemesan air bersih, atau menawarkan kepada siapa saja yang berminat untuk membeli. Ibu-ibu membawanya menggunakan gerobak kecil, yang cukup memuat seratus jeriken berisi air lima liter itu. Di Tinambung, perkampungan di sekitar bantaran Sungai Mandar itu, sebagian besar warganya lebih memilih air dari ibu-ibu passauq wai, ketimbang air PAM, yang mohon maaf, bagi mereka, kerap didapati bau-bau kimia. Warga sangat paham dan tak suka dengan aroma itu. Maka tentulah, mereka memilih air dari Sungai Mandar, ya, air yang diyakini membawa banyak manfaat, diyakini sebagai penawar, pengobat berbagai macam penyakit.
Setia Naka Andrian
Penenun Muda dari Pambusuang
Rabu, 22 Mei 2019, siang hari, selepas zuhur, saya diantar Muhammad Ridwan Alimuddin menuju rumah Nurhaerana, perempuan muda Mandar yang mahir menenun sutra, masih satu kampung dengan Muhammad Ridwan Alimuddin, tak jauh dari rumahnya. Kami berjalan kaki, menyusuri gang-gang kecil di perkampungan Pambusuang. Ya, tempat Muhammad Ridwan Alimuddin tinggal, di mana Nusa Pustaka Pambusuang yang begitu tegap bergerak itu. Lebih kurang selama lima menit, kami tiba di rumah Nurhaerana, atau biasa dikenal dengan nama Rianna Dahlan. Saya dan Muhammad Ridwan Alimuddin diam-diam saja, selepas tiba di depan rumahnya. Tampak Rianna Dahlan sedang asyik menenun, begitu gigih ia merangkai benang-benang sutra. Di pangkuannya, berderet benang-benang itu ditimang-timang. Di atas kedua kakinya, seakan kami melihat betapa tabahnya Rianna Dahlan dalam menempuh ruang-ruang sunyinya untuk merajut benang-benang sutra menjadi kain tenun khas Mandar. Sungguh karya yang tak biasa, melewati proses panjang dalam pembuatannya. Akhirnya, kedatangan kami pun tercium oleh Rianna Dahlan. Ia melihat kedatangan kami. Sontak ia lari ke dalam, selepas berucap, “Ah, Kak Iwan, kok diam-diam saja sih!” Ya, begitulah panggilan Muhammad Ridwan Alimuddin di kampung halamannya sini. Begitu sapaan akrabnya. Ya, ia sudah dikenal, seakan akrab dan kenal dengan siapa saja. Bahkan, saat melangkahkan kaki hendak ke rumah Rianna Dahlan ini, beberapa kali Muhammad Ridwan Alimuddin harus berhenti sejenak. Saat jumpa dengan bapak-bapak nelayan, yang sedang asyik bercakap dengan teman-teman sesama nelayan di tepi pantai, ia berhenti, menyapa, bercakap pula dengan bahasa Mandar, yang sama sekali tak saya pahami maksudnya. Sudah itu, di persimpangan lain, jumpa dengan seorang anak muda, yang katanya, anak muda itu salah seorang relawan Perahu Pustakanya. Ya, begitulah Muhammad Ridwan Alimuddin, yang begitu dekat dan akrab dengan siapa saja. Seakan kebaikan-kebaikan telah ditanamkannya di mana-mana, di mana pun ia memijakkan kaki. Selalu ia tebarkan nyala teduh kebaikan. Serupa seperti kegigihannya dalam menebarkan denyut napas literasi di jagat ini. Tak lain, saat di rumah Rianna Dahlan, ia tampak
Setia Naka Andrian
begitu akrab, mengenal dekat dengan penenun muda itu. Pun kepada seorang ibunya, yang saat itu pula tampak sedang berduduk santai, menunggui anak perempuannya yang sedang menenun. Ya, menenun di dalam rumah, di dekat ruang tamu. “Mbak, sudah sejak kapan mulai menenun?” tanya saya kepada Rianna Dahlan, yang sedang khusyuk menenun.
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Rianna Dahlan, Penenun Mandar yang tinggal di Pambusuang
“Sejak kelas 5 SD sudah mulai menenun, Mas.” “Wah, sudah sejak lama, ya. Saat itu usia berapa, Mbak? Saat kelas 5 SD itu?” “Saat itu usia saya 12 tahun. Ya, saya ingat, saat itu saya sudah mulai menenun,” kenang Rianna Dahlan, sembari kembali melanjutkan tenunannya, merangkai benang-benang sutranya. “Wah, berarti sudah cukup lama ya, Mbak?” “Ya, Mas. Jika saya saat ini usia saya 30 tahun, berarti sejak saat SD kelas 5 itu usia saya 12 tahun, maka sudah 18 tahun. Ya, tepat, sudah 18 tahun,
hari-hari saya habiskan untuk menenun. Meski selain menenun, saya juga mengajar,” tutur Rianna Dahlan, yang ternyata selain menenun, ia habiskan hari-harinya untuk mengabdikan diri sebagai pengajar di sebuah sekolah menengah atas di daerahnya. “Awalnya belajar sama siapa, Mbak?” “Saya belajar sama nenek, Mas. Meski sempat, saat nenek sakit, saya belajar di tetangga. Meski, ya, ibu juga bisa menenun. Darah menenun ini mengalir dari nenek saya,” jawab Rianna Dahlan, sambil tetap menggerakkan kedua tangannya, merangkai berbaris benang sutra di pangkuannya. “Ya, sampai saat ini. Terus saya tempa. Karena saat itu, saat nggak kepikiran akan kuliah, maka yang ada saat itu ya bagaimana hidup, ya bekerja. Sampai saat ini, ya ini, saya mengeluarkan produk sendiri, dengan merek sendiri, Malolo namanya. Yang berarti ‘cantik’.” “Semua produksi tenun ini dikerjakan sendirian, Mbak?” “Ya, dikerjakan sendiri selama mampu. Kecuali kalau ada pesanan banyak, misalnya ada pesanan dari lembaga tertentu. Maka butuh produksi banyak, ya sudah, saya minta bantuan kepada orang lain, terutama tetangga sini,” terang Rianna Dahlan, menguatkan jawaban. “Lantas, alatnya ini, sudah lama?” “Ya, sebenarnya alat yang saya gunakan sudah sejak dari nenek saya. Alat sudah ada sejak dari ibu, dari nenek, Turun-temurun, Mas. Namun, yang ini baru, karena sudah pernah hilang. Saat sempat alat yang dari nenek itu satu paket hilang. Saat sempat dipinjam, digunakan dalam sebuah acara musik. Ya, sebagai properti pertunjukan musik di Makassar. Akhirnya hilang entah ke mana, lalu diganti dengan yang baru. Ya, yang saya pakai ini, meski beberapa bagian sempat pula saya sudah ganti, saat ada yang sudah rusak,” kenang Rianna Dahlan, yang sepertinya saya lihat, ia mengenang jauh, bagaimana neneknya, yang kali pertama mengajarinya menenun. “Saya ingat apa yang dikatakan nenek saya, saat itu. Jadi, sesungguhnya memang saya menenun ini bukanlah paksaan pula. Seperti yang kerap terjadi saat-saat ini, misalnya seorang anak sering dipaksa oleh orang tuanya untuk menjadi sesuatu yang diinginkan, atau dicita-citakan oleh orang tuanya. Sehingga anak itu akan terpaksa, mengejar apa yang diinginkan orang
Setia Naka Andrian
tuanya, bukan apa yang dicita-citakan oleh anaknya. Meski saat itu terkesan saya dipaksa nenek saya, namun itu nenek tuangkan melalui kata-katanya. Bahwasanya, tidak jadi perempuan sejati jika tidak menenun. Sebab, kata nenek, seberapa banyak kain yang ditenun, itulah nanti yang menjadi ukuran kelayakan untuk dijadikan istri oleh seorang lelaki,” kenang Rianna Dahlan, mengenang segala yang diucap dan ditanamkan oleh neneknya. Hingga saat ini, ia terus memegang erat apa yang dikatakan oleh neneknya itu. Menenun itu, adalah bukti kesabaran, keuletan, ketelatenan seseorang. Tak sembarang orang dapat melakukan. Lebih-lebih saat ini, tak banyak pula ditemukan sosok muda serupa Rianna Dahlan, yang rela menekuri jagat tenun, yang menjadi warisan sejak neneknya. Boleh jadi, ia rela tak bermain sembarangan bagi anak-anak seusianya, saat ia masih kelas 5 SD. Semua itu ia kerjakan demi sebuah kerja menenun yang sungguh membutuhkan ketabahan ekstra. Bayangkan saja, setiap hari Rianna Dahlan menenun lebih kurang empat jam. Jika pagi, kerap ia kerjakan pada pukul 07.00 hingga 08.30, dan sore pukul 16.00 hingga 18.00. “Dalam sekali produksi satu kain tenun, memakan waktu produksi dari tujuh hari sampai satu bulan. Ini tergantung dengan bagaimana keadaan, dan kondisi diri. Meski tak jadi soal, namun setiap kali lelah, konsentrasi menjadi buyar, dan akan sering putus benangnya. Nah, saat itu, maka saya harus berhenti. Istirahat dulu, dan melanjutkannya lagi nanti, saat semua sudah kembali enak. Belum lagi, jika kerja menenun ini juga butuh patuh terhadap kepercayaan yang ada. Didapati pantangan-pantangan yang harus ditaati. Misalnya saja, ada yang meninggal, entah keluarga atau tetangga. Maka ya harus berhenti dulu, misal sampai tujuh hari. Pun harus menyesuaikan dengan hari baik, bergantung hari baik penenunnya. Nah, ini semua pun harus dipatuhi oleh seorang penenun,” tutur begitu panjang Rianna Dahlan kepada kami. Saya pun mengangguk berkali-kali, betapa berat proses yang harus ditempuh. Meski, tampaknya Rianna Dahlan begitu menikmatinya. Saya yakin, bukan perihal berapa yang akan didapatkannya saat kain tenun sutera buatannya ini berhasil dijual. Namun, lebih kepada keteguhannya dalam menjaga tradisi, warisan sejak dari neneknya, atau barangkali sejak jauh ke sana, dari para leluhurnya di Mandar.
Laku menenun ini juga merupakan salah satu upaya perempuan (istri) meneguhkan siwalipari, sebagai upaya saling menopang, saling membantu dalam sebuah rumah tangga, antara istri dan suaminya. “Di sini kan banyak seorang suami melaut. Suami melaut berhari-hari, lalu seorang istri akan mengerjakan apa di rumah? Tentu harus bisa menghasilkan sesuatu sebagai tambahan pemenuh kebutuhan keluarga. Ya, salah satunya seorang perempuan menenun di rumah,” tambah Rianna Dahlan, seakan menjadi penguat, bahwa inilah laku siwalipari, yang selalu dipegang oleh segenap keluarga di Mandar meski siapa pun paham, bahwa di Mandar hampir sebagian besar masyarakatnya beragama Islam, yang dalam ajarannya bahwa yang wajib bekerja adalah seorang lelaki (suami). Hari pun tak terasa kian bergerak, sudah tampak redup, pelan-pelan hendak menutupkan tirainya. Saya pun memberi kode kecil kepada Muhammad Ridwan Alimuddin, agar lekas pamit. Lalu, kami pun beranjak dari rumah tinggal Rianna Dahlan. Ia dan ibundanya mengantar kami hingga di bibir pintu. Saya dan Muhammad Ridwan Alimuddin berjalan kaki, menembus beberapa gang kecil di perkampungan Pambusuang. Saya yakin, Rianna Dahlan pasti melanjutkan kerja tenunnya lagi. Merangkai berbaris-baris benang-benang sutra hingga sepenuhnya rampung menjadi kain tenun khas Mandar selebar 4 x 4 meter yang begitu indah, Malolo, cantik seperti merek cipta produksinya. Rianna Dahlan, saya yakin pun akan tetap bertahan sampai kapan pun, mempertahankan tradisi tenunnya itu, meski di luar sana kini sudah mulai percaya menenun menggunakan mesin. Yakinlah Rianna Dahlan, kain tenun yang asli dari perempuan penenun akan lebih bernilai, bahkan melampaui nilai ekonomi. Sungguh, melampaui segala itu. Yang benar-benar dari tangan penenun, pasti kainnya akan lebih rapat pula. Beda yang dari mesin itu, pasti akan sangat kelihatan. Mesin hanya mampu untuk menjangkau produksi massal. Berbeda dengan karya cipta tenunanmu. Itu yang pasti, akan sangat disayangkan jika nanti tiba di tangan orang-orang. Pasti mereka akan sangat sayang, jika kainnya akan digunting- gunting atau dibuat baju. Ah, tentu akan dipajang saja, sayang kalau digunting. Beda dengan yang dari mesin itu. Percayalah, Rianna Dahlan. Percayalah!
Setia Naka Andrian
Keluarga ‘Sangat Literasi’
Minggu, 22 Mei 2019, malam hari, saya berkesempatan jumpa sebuah keluarga yang “sangat literasi”. Kakeknya (Suradi Yasil) penulis, pamannya (Muhammad Ridwan Alimuddin) penulis, cucunya Suradi Yasil (dan keponakannya Muhammad Ridwan Alimuddin), yakni Nabilah Haruna, pun penulis. Pada kesempatan Minggu malam, saya diundang keluarga itu, berbuka puasa sekaligus meluncurkan dua buah buku karya Nabilah Haruna yang berjudul Lolos Beasiswa Unggulan dan Surat Terakhir. Saya hadir dalam undangan ini berkat diajak oleh Muhammad Ridwan Alimuddin. Sore hari, selepas asar, saya kembali ke Nusa Pustaka. Selepas diantar Muhammad Ridwan Alimuddin, berjumpa penenun muda Mandar, Rianna Dahlan yang rumah tinggalnya tak jauh-jauh dari Nusa Pustaka. Perjalanan menuju rumah tinggal Nabilah Haruna pun tak jauh-jauh dari Nusa Pustaka. Jika kami berkendara dengan motor, hanya menempuh perjalanan sekira tak lebih dari dua puluh menit. Saya mengendarai motor seorang diri, sedangkan Muhammad Ridwan Alimuddin memboncengkan seorang anaknya yang nomor dua, bernama Sophia. Awalnya saya biasa-biasa saja, saat hendak diajak menghadiri peluncuran buku Nabilah Haruna. “Mas Naka, sebentar malam (nanti malam) luang? Kalau luang, boleh ikut saya menghadiri peluncuran buku keponakan saya, Nabilah Haruna di Tinambung. Nanti akan hadir pula paman saya, Suradi Yasil, penulis buku ini,” ucap Muhammad Ridwan Alimuddin sambil menunjukkan bukunya kepada saya. “Wah, tak apa, Bang. Namun maaf, lha saya sama sekali belum membaca buku yang hendak diluncurkan itu,” jawab saya, sambil agak tak enak. Apa daya diri ini, hadir dalam sebuah momen baik merayakan buku, tetapi sama sekali belum membuka satu pun halaman dari buku itu. “Tak apa, ini hanya momen sederhana. Namun, ini yang biasa kami lakukan. Sebelum diluncurkan di muka umum, kami terbiasa meluncurkan di dalam lingkup keluarga dulu. Ya, setidaknya sebagai sebuah selamatan,” tutur Muhammad Ridwan Alimuddin seakan menyelamatkan ketakutan saya. Ya, ini adalah peristiwa sakral. Benar, buku tentulah kehidupan itu sendiri. Ia bergerak, menyambangi tubuh-tubuh siapa saja, jiwa-jiwa di mana saja. Ia pun hidup, seperti penulisnya, bahkan melampaui kehidupannya.
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Keluarga penulis, Suradi Yasil, Muhammad Ridwan Alimuddin, dan Nabilah Haruna
Kali ini, Nabilah Haruna, keponakan Muhammad Ridwan Alimuddin telah menerbitkan buku. Sepertinya tak cukup dirinya semata yang berbangga, berbahagia, dan bersorak ria di dada. Tentu orang-orang di sekitarnya, orang-orang terdekat pun haruslah turut serta menyambut kehadirannya. Ya, benar. Apalagi ini dua buku sekaligus yang hendak diluncurkan. Bapak dan ibunya, seorang adiknya, serta kakeknya (Suradi Yasil) serta pamannya (Muhammad Ridwan Alimuddin) patutlah berbangga atas terbitnya dua buku ini. Dan saya? Tentu, saya pun turut berbangga. Bagaimana tidak, bagi perempuan semuda Nabilah Haruna, yang ternyata baru saja lulus dari sebuah universitas di Malang ini, yang masih belia, mampu menerbitkan dua buah buku. Buku yang ditulisnya sendiri, buku pertama, langsung dua karya. Ah, ini jarang. Meski saya tak berpikir jauh, apa isi yang ditulisnya. Ya, memang, satu buku berisi tentang kiat-kiat
lolos Beasiswa Unggulan, yang kata Nabilah Haruna, buku itu terbit atas banyaknya pertanyaan yang kerap menghampirinya. Pertanyaan-pertanyaan yang datang dari siapa saja dan kapan saja. Semua pertanyaan sama, semua tentang bagaimana agar bisa lolos Beasiswa Unggulan. Akhirnya Nabilah Haruna pun agak jengkel sendiri, meski ini saya yakin kejengkelan dalam diri, dalam batin. Bahwasanya, Nabilah Naruna harus memberikan jawaban-jawaban yang cenderung sama atas pertanyaan-pertanyaan yang datang bertubi-tubi, dari siapa saja dan kapan saja. Lalu Nabilah Haruna pun berpikir, kenapa tidak dituliskannya saja semua kiat-kiat agar bisa lolos Beasiswa Unggulan. Seperti yang dialaminya, bagaimana mempersiapkannya dahulu, saat ia mendaftar. Bagaimana pula menulis esainya, dan persiapan-persiapan lainnya. Nah, tulisan-tulisan itu pun akhirnya dikumpulkan. Dibukukanlah semua tulisan tentang kiat menembus Beasiswa Unggulan tersebut. Jadilah, terbit sebuah buku bertajuk Lolos Beasiswa Unggulan. Buku kedua, yang diluncurkan saat itu, adalah buku kumpulan puisi dan cerita pendek, dengan tajuk Surat Terakhir. Ya, tentu ini puisi-puisi dan cerita pendek yang tak jauh-jauh dengan kehidupan dan segala hal yang dilalui oleh seorang muda bernama Nabilah Haruna ini. Pemuda yang saya lihat, saat jumpa di rumahnya, adalah sosok yang kreatif, yang tentunya sulit saya jumpai dalam lingkaran-lingkaran anak-anak muda di luar sana. Ya, Nabilah Haruna, yang pada saat-saat ini sedang berencana melanjutkan studinya. Semoga lekas menemukan kampus, untuk melanjutkan studi pascasarjana, ya, Nabilah Haruna. Tentu, proses tak pernah akan berakhir begitu saja. Proses akan terus bergerak, berjalan, melewati banyak perjumpaan di depan sana. Dan kau, Nabilah Haruna, kau telah memulainya. Kau pun patut berbangga, kau hidup dan tinggal di antara dua nama besar, Suradi Yasil dan Muhammad Ridwan Alimuddin. Keduanya tentu akan jadi anutan tersendiri bagimu. Yang keduanya, sama-sama serius mencatat Mandar. Suatu saat pun, kau akan tiba pada saat-saat yang tepat untuk melanjutkan kerja kepenulisan kakekmu (Suradi Yasil) dan tentu, pamanmu (Muhammad Ridwan Alimuddin). Kau bisa, Nabilah Haruna!
Setia Naka Andrian
Peluncuran buku dilakukan dengan sederhana, tetapi hangat. Kami berbuka puasa bersama. Selepas membatalkan puasa dengan minum dan memakan makanan ringan, pisang hijau. Lalu kami semua diajak untuk berjemaah di musala terdekat. Selepas itu, kami melanjutkan perbincangan tentang proses kreatif Nabilah Haruna, dan selanjutnya kami semua diminta untuk angkat bicara, ya, memberikan spirit bagi Nabilah Haruna meski saya rasa Nabilah Haruna telah memiliki segala itu. Dari sorot matanya, saya telah membaca dengan jelas.
Kembali (Lagi) ke Makam Todzilaling
Sabtu, 25 Mei 2019, kembalilah saya singgah ke makam Todzilaling, selain penasaran hendak menghitung tangga naik, saya juga merasa ada panggilan lain. Bahwasanya panggilan itu kian membesar, bahwa saya harus kembali singgah ke makam raja pertama Balanipa itu. Dengan sepenuh diri, sepenuh jalan yang seharusnya, tak dengan tergesa, tak dengan jalan yang barangkali tak diinginkan. Ya, selain memang saya penasaran dengan hitungan saat mendaki tangga menuju makam. Diyakini oleh masyarakat bahwasanya bagi siapa saja yang menghitung jumlah tangganya selalu saja akan tidak sama hitungannya. Saya pun membuktikan, saat naik saya begitu pelan-pelan menghitung anak tangga yang saya naiki satu per satu. Hasil hitungan saya dari mulai pijaki anak tangga hingga sampai di atas, ada 178. Namun, berbeda lagi saat turun saya menghitung bersamaan dengan Amir Hamzah, Muhammad Munir, dan Thamrin Uai Randang.
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Muhammad Munir, saya, dan Thamrin Uai Randang
“Ada makam di bawah pohon ini. Ya, mereka turut menguburkan diri, dayang-dayangnya itu. Segala itu direkam dalam lontar di Mandar. Meski kita tak tahu yang mencatat siapa. Itu yang tertulis dalam lontar, dimakamkan dengan dayang-dayangnya, dan telah diceritakan turun-temurun,” tutur Muhammad Munir. “Biasanya warga ke makam Todzilaling ini selain ziarah, mereka inginkan apa?” tanya saya, pelan, sambil sesekali memandangi sekitar. Bukit-bukit menjulang, begitu kekar, kukuh, seakan mengitari makam raja pertama Balanipa ini. “Mereka ziarah, meski terkadang mereka ada nazar. Ada sesuatu yang sedang hendak mereka kerjakan. Lihatlah, di sini banyak ikatan-ikatan. Mereka, orang-orang yang bernazar, hal-hal yang diyakini, berdoa, mengikat, dan jika telah berhasil mereka akan kembali. Mereka ingin menempuh sesuatu, mendapatkan sesuatu, dengan berdoa melalui lantaran. Ya, memang dalam hadis juga ada. Kita akan makin didengar doanya, di tempat-tempat
istimewa, pada hari-hari tertentu yang dianggap istimewa. Misalnya ini, beliau selama hidupnya mampu mengayomi, memimpin, mengumpulkan orang. Ini orang istimewa. Maka tak heran, jika banyak orang atau siapa saja yang hendak menunaikan hajatnya, selalu berupaya untuk mengunjungi makam ini. Berdoa, berlantaran dari sini,” ungkap Muhammad Munir. “Terkadang malah dari luar sana bisa sampai 300 orang yang berkunjung ke sini. Kalau siswa biasanya saat hari-hari tertentu, namun untuk orang umum, mereka nggak menentu. Lihat itu, banyak ikatan tali di pohon-pohon itu. Tali, kain, atau penanda lain. Nantinya mereka akan kembali lagi ke sini setelah berhasil. Jika sudah berhasil namun nggak ke sini, seakan ditagih. Kan itu sudah termasuk nazar mereka, yang tentu harus ditunaikan. Ya, ikatan yang ditinggal itu. Jika sudah terkabul, maka harus kembali dan dilepas. Kendatipun, bukan ikatan awal yang diikatkan yang dilepas, bisa melepaskan ikatan yang lain,” tambah Thamrin Uai Randang. “Lantas, doa-doa apa saja yang bisa, atau yang boleh dibacakan di makam Todzilaling ini?” “Doa-doa yang dibawa, doa sapu jagat saja, karena dalam riwayatnya beliau tidak muslim.” Kami berbincang, duduk-duduk di area makam, di akar dari pohon-pohon yang besar itu. Pohon yang tidak dibiarkan begitu saja tumbang, yang sudah mati di bawahnya, atau di sebelahnya, akan diapit oleh pohon lain. Yang mati akan terbungkus, jika didapati ada yang mati akan dibungkus oleh pohon lainnya sehingga yang tertinggal tidak tumbang, tidak akan pernah hilang, selalu dibungkus dengan pohon lainnya, yang selalu menguatkan pohon-pohon lainnya meski pohon itu telah mati. Saya pun begitu khidmat, mendengar pengisahan yang dilangitkan dari Muhammad Munir dan Thamrin Uai Randang tentunya. Ya, kedua sejarawan Mandar yang begitu gigih ini. Saya kerap menanyakan dengan pertanyaan-pertanyaan pendek, tetapi terus bertubi diberi jawaban dan keterangan yang begitu panjang-panjang. “Begini kisah Kerajaan Balanipa. Berdasarkan cerita yang dituturkan secara turun-temurun, nama Balanipa terdiri dari dua kata, yakni bala yang berarti ‘kandang’ dan nipa yang berarti ‘palma’ (jenis pohon palem).
Setia Naka Andrian
Tumbuhan tersebut tentu masih banyak dapat kita jumpai di daerah ini. Namun, pemerintah daerah bersama dengan masyarakat, khususnya masyarakat Balanipa perlu melestarikan. Sebab, itu merupakan salah satu kearifan lokal. Konon ceritanya, batang pohon palem (nipa) yang dijadikan kandang tempat bertarung antarmanusia laki-laki untuk menyelesaikan sengketa. Membuktikan dirinya apa bersalah atau tidak. Itu merupakan sebuah peradilan yang menganut hukum rimba, siapa yang kuat itulah yang bakal jadi pemenangnya.” Dikisahkan Muhammad Munir, yang tampaknya begitu hafal dan lekat dengan kisah itu. “Apakah ada kisah versi lain, atau memang kisah tunggal begitu?” tanya saya, mencoba menggali. “Ada versi lain, yang saya temukan pada saat melakukan studi banding di Kabupaten Gowa. Ada salah seorang keturunan bangsawan Kerajaan Gowa menuturkan, bahwasanya pada saat I Manyambungi meninggalkan Kerajaan Gowa, ia berangkat bersama istri dan anaknya ke negerinya di Mandar dengan menggunakan perahu pinisi (ba’go’). Dalam perahunya itu dipenuhi dengan batang pohon palma/palem (nipa) sebagai bahan baku minuman arak (manyang). Dan setibanya di tanah kelahirannya di Napo, pohon palma itu sebagian dijadikan pagar rumah. Itulah awalnya disebut Balanipa. Bahkan jauh sebelum I Manyambungi ke Kerajaan Gowa, Gowa dan Mandar (Napo) sudah terjalin hubungan kekeluargaan. Hubungan itu berawal ketika Raja Gowa ke-7, Bataraguru Pakkeretau Tunijallo kawin dengan I Rerasi yang berasal dari bangsawan Mandar (Napo). Dari perkawinan itu, lahir Daeng Matandre Karaeng Manguntungi Tumaparissi Kallona yang kelak kemudian menjadi Raja Gowa ke-9,” terangnya, mengisahkan kisah versi lain. “Versi lain lagi, menyebutkan bahwa I Rerasi bersaudara tiga orang, yaitu La Palangki Aru Palakka yang tinggal di Bone, I Tabittoeng tinggal di Mandar, dan I Rerasi sendiri tinggal di Gowa. Berdasarkan salah satu silsilah Mandar, disebutkan bahwa La Palangki Arung Palakka yang lahir tidak seibu dengan Tabittoeng dan I Rerasi. Tetapi ibunya adalah seorang tomanurung yang turun di daerah Toro. Ketiganya bersaudara satu bapak, yaitu Tonipani Bulu Matasilompoe Manurungngeri Matajang. Sebelum menjadi mangkau di Bone
yang pertama, beliau pernah menjadi Tomakaka Napo,” terang Thamrin Uai Randang, menambahkan. Selanjutnya, bagi Muhammad Munir, selama I Manyambungi berada di Kerajaan Gowa, ia banyak belajar tentang militer, politik, dan pemerintahan dari petinggi Kerajaan Gowa. Pengetahuan itulah yang membekalinya dalam membentuk Kerajaan Balanipa di tanah Mandar. Bahkan I Manyambungi diikutkan dalam perang untuk menaklukkan Tambora, Nusa Tenggara Barat dan Perang Pariaman. Dari penaklukan Tambora dan Pariaman tersebutlah, I Manyambungi menjadi kesayangan Kerajaan Gowa dan kemudian dikawinkan dengan anaknya, Karaeng Suria kerabat dekat raja Gowa. Dalam hubungan darah tersebut, I Manyambungi memanfaatkan fasilitas kerajaan dengan niat dalam hati bahwa suatu saat akan kembali mengabdi pada leluhurnya di tanah Mandar. “Tentulah, untuk mempererat keakraban antara Gowa dengan Mandar (Balanipa) diberikan beberapa benda pusaka. Situs sejarah makam Todzilaling berada di puncak Gunung Lapuang, Desa Napo, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar. Situs seluas 50 x 40 meter persegi ini berbatasan dengan Gunung Tammengundur di timur, Gunung Mengnganga di utara, Tandassura di barat, dan Pandewulawang di selatan. Itulah letak makam sang legendaris, tokoh pembaru dalam dunia pemerintahan di beberapa kerajaan di tanah Mandar. Tentunya, situs ini perlu dipelihara dengan baik. Di sini telah dikunjungi tidak kurang dari 250 orang setiap bulannya. Seperti yang saya dengar dan dituturkan langsung oleh juru kunci, penjaga makam ini. Mereka berdatangan, mulai dari Makassar, Balikpapan, Malaysia, Parepare, dan tidak terhitung jumlahnya pengunjung lokal. Mereka datang untuk menunaikan nazar atau hajatnya, berziarah, berwisata, tak terkecuali para peneliti,” ungkap Muhammad Munir. Bagi Thamrin Uai Randang, sejarawan muda yang merupakan seorang pengajar ini, bahwasanya sosok I Manyambungi Todzilaling bagi masyarakat Mandar adalah nama yang begitu familier. Namanya tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya Kerajaan Balanipa. Beliau diperkirakan lahir pada
Setia Naka Andrian
abad XV Masehi, di Lemo, Desa Pendulangan yang sekarang tergabung dalam Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar. Ia adalah putra dari Tomakaka’ Napo, Puang Digandang dengan We Apas, putri dari I Taurra-urra. I Taurra-Urra sendiri adalah anak dari Tabittoeng, anak dari Topali’, Tomakaka di Lemo. “Menurut adat Tomakaka’ pada masa itu, anak yang dilahirkan pada masa orang tuanya memangku jabatan sebagai pemimpin, berhak mewarisi jabatan orang tuanya. Adapun Puang Digandang, ayah dari I Manyambungi, merupakan salah satu dari sekian Tomakaka’ yang ada di Mandar pada masa itu. Sebelum mendirikan Kerajaan Balanipa, I Manyambungi sempat menjadi panglima perang di Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Gowa IX, Daeng Matenre’ Karaeng Manguntungi Tomaparisi’ Kallona. I Manyambungi diangkat menjadi panglima perang di Kerajaan Gowa, tentu tidak terlalu sulit, karena antara I Manyambungi dengan raja Gowa yang ke- 9 adalah keponakan (I Manyambungi bersaudara bapak dengan I Rerasi, ibu kandung dari Daeng Matendre),” tambah Thamrin Uai Randang. “Lantas, sesungguhnya apa yang menjadi dasar hubungan Kerajaan Balanipa dengan Kerajaan Gowa? Sepertinya dalam kisahnya, begitu erat.” “Hubungan antara Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Balanipa sulit dipisahkan. Bisa dikata semua perkawinan yang pernah dilakukan semuanya bermuatan politik. Bukan saja I Rerasi (putri bangsawan Napo) yang mempunyai suami raja Gowa ke-7, Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna yang melahirkan Daeng Matandre Karaeng Manguntungi Tumaparisi Kallona (raja Gowa ke-9), tetapi juga Todilaling mempersunting kemenakan raja Gowa ke-9 yang bernama Karaeng Surya yang melahirkan Tomepayung. Entah kebetulan atau direncanakan, tetapi yang pasti proses pertalian darah melalui pernikahan ini sangat menguntungkan secara politik kedua belah pihak. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam ikrar kedua belah pihak (Balanipa-Gowa) ketika Todzilaling dijemput untuk kembali ke tanah Mandar,” pungkas Muhammad Munir.
Sumur Tosalama di Samasundu, Meluap Saat Kemarau Datang
Sabtu, 25 Mei 2019, saya diantar bersama tiga teman pegiat literasi yang kerap berkeliling di Sulawesi Barat. Ya, mereka adalah Muhammad Munir, Thamrin Uai Randang, dan Amir Hamzah. Saya diajak mereka untuk menyinggahi sebuah sumur tua yang akan meluap airnya saat kemarau dan akan mengering ketika musim hujan tiba. Sumur tua itu ada di Desa Samasundu, Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kaki saya melangkah, menuju area sumur itu. Sejak perjalanan, sebelum kami sampai, saya telah disirami pecahan kisah tentang sumur tua di Samasundu ini. Orang Mandar menyebutnya sumur tosalama (‘orang yang selamat’). Tak ayal, saat turun dari kendaraan, saya langsung melangkah. Seolah kaki ini melangkah dengan sendirinya. Sejak perjalanan pun, pikiran saya seakan lari duluan, jauh meninggalkan tubuh saya ini. Saya sungguh penasaran. Lekas ingin menghampiri betapa sumur tua, sumur To Salama itu, sumur yang akan meluap airnya saat kemarau dan akan mengering ketika musim hujan tiba.
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Muhammad Munir, saya, dan Thamrin Uai Randang di Sumur Tosalama
Tak kusangka, sumur itu tak besar, hanya berdiameter kecil, tak lebih satu meter. Namun, sungguh, ada 61 pipa yang menyelam ke sumur itu. Bertahun-tahun, pipa-pipa itu melindungi gerakan air-air atas tarikan pompa air yang juga 61 buah itu. Ya, pompa-pompa air itu tertata tak rapi di bawah langit-langit atap yang meneduhkan sekitaran lokasi sumur. Namun, pompa-pompa air itu begitu tabah, mengangkat air-air dari sumur tua itu, menuju ke rumah-rumah di Desa Samasundu. Ah, tak habis pikir, betapa sumur yang akan meluap airnya saat kemarau dan akan mengering ketika musim hujan tiba. Namun, bagaimana lagi, jika ini yang dikehendaki oleh Yang Maha-Mengatur segalanya, pastilah semua akan sangat mungkin kita terima. Saya mendapati seorang lelaki muda yang sedang mandi dan seorang ibu separuh baya mencuci pakaian. Lantas saya menyapa seorang muda itu, dan kami berkenalan, ia bernama Arman. Tampak ia sangat menemukan kesegaran saat mengguyur tubuhnya dengan air dari sumur tua To Salama yang menghidupi itu.
“Mas, selalu mandi di sini?” “Ya, setiap hari saya selalu mandi di sini. Banyak warga yang selalu mandi di sini,” jawab Arman dengan agak terbata menggunakan bahasa Indonesia. Lalu saya berjalan, di sebelah, ada seorang ibu setengah baya, saya berkenalan dan beberapa kali bercakap. Meski ibu setengah baya yang mengaku bernama Jawang itu sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia, saya dibantu Amir Hamzah untuk menerjemahkannya. “Dipakai untuk apa saja sumur ini, Bu?” tanya saya, sambil menatap mata ibu itu, untuk meyakinkan, bahwa saya mengajaknya bercakap. Ibu Jawang menjawabnya pelan dengan bahasa Mandar, lalu Amir Hamzah menerjemahkannya. “Sumur ini dimanfaatkan kami, warga sini, di Samasundu ini untuk keperluan minum, memasak, juga mandi, dan untuk mencuci pakaian. Itu ada penampungan juga dipakai untuk mandi, mencuci, kalau yang itu yang lebih bersih dipakai untuk keperluan air minum dan memasak. Alirannya sama, namun terpisah. Itu yang lebih bersih,” jawab Ibu Jawang, dengan bahasa yang entah, saya hanya bisa mengira saja, selanjutnya menanti penerjemahan Amir Hamzah, yang akhirnya saya tulis dalam percakapan ini. “Sumur ini merupakan salah satu peninggalan tokoh agama. Ia adalah Puang Langgarang. Ia dikenal masyarakat Mandar dengan sebutan To Salama, yang berarti ‘orang yang selamat’,” sambung Ibu Jawang. Saya melihat matanya yang masih begitu tajam, meski tubuh sudah tampak menua, dengan lilitan jarit yang dikenakannya saat mencuci beberapa pakaiannya, agaknya selepas ia usai mandi di sumur tua itu. “Sumur ini selalu memberikan penghidupan bagi warga di sini, Bu?” kembali, saya lempar tanya kecil, sambil saya lipat satu tangan kiri di atas perut, tangan kanan memegang ponsel, merekam perbincangan kami. “Ya, kami meyakini segala berkah yang dialirkan melalui air dari Sumur To Salama ini. Air yang yang terus mengalir saat musim kemarau serupa ini, tak akan pernah kering. Sungguh, meski musim kemarau telah tiba, dan melanda kami bertubi-tubi. Sudah sejak dulu, sejak leluhur kami masih mendiami perkampungan ini. Namun, katanya, segala keberkahan itu masih terus akan mengaliri kehidupan kami, sepanjang waktu, terus-menerus, asalkan kami
Setia Naka Andrian
semua bisa menjaga dan merawatnya dengan sebaik-baiknya, serta tentu, kami semua terus menjauhkan diri dari hal-hal pantangan-pantangan. Hal-hal yang buruk tentunya, atau memanfaatkan buruk air dari sumur tua ini,” ia kisahkan sambil mulai mengemasi pakaian yang baru dicucinya, kemudian tak lama lagi, ia pamit, meninggalkan kami. Sepertinya ia terburu. “Saya pamit dulu, ya. Anak-anak sudah menunggu saya. Harus lekas memasak,” pamitnya pelan. “Ya, Bu Jawang. Hati-hati ...,” seru kami pelan dan nyaris bersamaan. To Salama itu orang yang baik, orang yang berbuat baik, pemuka agama, yang menjadi pegangan bagi warga untuk selalu menjadikan diri dengan taburan kebaikan-kebaikan. Beberapa saat kemudian, selepas kami beberapa kali berkeliling, meski sekadar untuk menghitung berapa jumlah pipa air yang menyedot sumur tua itu, yang ternyata dalam hitungan salah seorang teman kami, Amir Hamzah, ada 61 pipa yang ditarik melalui pompa-pompa air itu. Kami pun membasuh wajah kami dengan air sumur To Salama itu. Segar, apalagi di bulan puasa. Katanya, air sumur tua itu selain membawa banyak keberkahan, diyakini dapat mendekatkan diri dengan jodoh. Saya saat itu berdoa dalam dada. Betapa beberapa di antara kami ada yang jomblo, semoga lekas menemukan jodohnya. Di antara kami yang sudah menikah, semoga menemukan jodoh-jodoh lain. Tentunya, bukan jodoh sebatas pasangan semata, tetapi jodoh yang berarti segala kebaikan-kebaikan yang dapat kami jumpai kelak, selanjutnya, tentu sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha-Memberi. Kami selanjutnya pulang, melanjutkan perjalanan lagi. Entah, saya akan dibawa ke mana oleh ketiga teman dari Mandar itu. Ya, Muhammad Munir, Thamrin Uai Randang, dan Amir Hamzah. Mereka yang begitu baik-baik, mengantarkan saya menyusur beberapa tempat, dalam sisa-sisa minggu-minggu akhir keberadaan saya di Mandar. Dalam perjalanan, Muhammad Munir, jika boleh saya sebut, sejarawan muda Mandar itu, berkata, ”Sumur tua itu diperkirakan sejak dari masa Kerajaan Balanipa, yang memosisikan sebagai bapak, sedangkan Sendana itu sebagai ibu, Banggai sebagai anak. Tidak ada istilah besar, namun kesepakatan, sifat keibuan, hubungan kekerabatan di antaranya. Misalnya,
Sendana layaknya seorang ibu, ya menyusui, yang mengurus persediaan makanan. Lalu Balanipa, sebagai bapak, yang tentu lebih mengatur. Nah, di sini, Banggai, sebagai anaknya. Ini yang justru luar biasa. Yang bakal duluan mati, sederhananya, anak yang bakal duluan membela mati-matian bapak dan ibunya dalam menghadapi musuh. Nah, ini yang terjadi di antara kerajaan-kerajaan itu,” tutur Muhammad Munir, dalam perjalanan ia kisahkan riwayat kerajaan-kerajaan di Mandar, sambil ia mengemudikan mobilnya, membawa kami berkeliling. “Begitulah kerajaan-kerajaan di Mandar ini. Ada lagi, Malunda, yang tak ikut dalam perjanjian. Sebagian orang Balanipa, berpikir panjang. Itu sikap politiknya. Tak mau ikut dalam perjanjian. Ya, Perjanjian Allamungan yang prasasti batunya ada di Luyo itu. Padahal secara geografis sangat berdekatan dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Malunda tak masuk dalam federasi itu. Coba, itu Ullumanda yang dari gunung sana saja turut serta. Nah, namun kenyataannya tidak sedikit permasalahan yang ada justru selesai di Malunda. Penculikan istri raja Balanipa, misalnya. Ya, terjadi kisruh, yang akhirnya diselesaikan di pemerintahan Malunda. Sungguh, Malunda bisa jadi ditakuti. Ini yang saat ini saya rasa belum ada generasi kawan-kawan Malunda yang fokus menulis dan meneliti itu. Dan tentu, segala itu jangan dianggap biasa, ketika Malunda tak masuk dalam federasi itu, dalam perjanjian di Luyo itu. Karena tak bisa kita beranggapan saat itu, tak mungkin juga kan tak ada manusia di situ. Ya, kita tunggu kawan-kawan di Malunda tergerak. Saat ini ya hanya baru satu penulis yang ada, Bustam Basir Maras itu,” papar Muhammad Munir dengan begitu serius. Kami semua menyimak, sesekali Thamrin Uai Randang dan Amir Hamzah menimpali, dan saya hanya mengangguk berkali-kali sambil menyela pertanyaan-pertanyaan kecil. Ya, kecil sekali. Selepas pengisahan tentang kerajaan-kerajaan di Mandar itu, obrolan kami menyasar pada gelaran festival yang setiap tahun di antaranya digerakkan oleh kawan-kawan bertiga itu. Ya, tentu niatannya sungguh mulia, Mandar Writers Culture. Yang tahun ini, tema yang rencananya hendak diusung adalah putika.
Setia Naka Andrian
“Putika, yang akan kami angkat. Misalnya, di dalamnya ada tentang pencarian hari-hari baik di Mandar. Semoga ini akan menjadi upaya dalam terus-menerus membincang Mandar lebih serius dan lebih ilmiah. Kalau tidak dimunculkan, tidak akan familier di tengah generasi kita. Ini tentu akan menjadi sumber ilmu. Putika mengatur, dipercaya masyarakat, misalnya saat menentukan hitungan hari ketika mau berangkat ke suatu tempat, bepergian, merantau, hingga penentuan tanggal menikah. Menentukan bahwa ini antara pernikahan yang dilangsungkan hari ini, pasti cerai, mati, dan lain sebagainya. Ada hitungannya, termasuk juga perihal kekuatan hari lahir,” dan pengisahan pun seakan tak ada habisnya, termasuk perihal Mandar Writers Culture. Katanya tahun ini penyelenggaraan kali kedua, dan saya mendapatkan kaosnya yang tahun lalu. Saya rasanya ingin datang, menghampiri gelaran ini, karena disampaikan Muhammad Munir, bahwasanya nanti akan pula dihadiri oleh penyair Iman Budhi Santosa dari Yogyakarta itu, penyair yang sempat napak tilas di Medini Boja, ya sebuah kecamatan di Kabupaten Kendal tempat lahir dan tinggal saya hingga saat ini.
I Calo Ammana Wewang dan Sejarah Perlawanan
Sabtu, 25 Mei 2019, siang itu, saat matahari sedang begitu terik-teriknya, saya diantar Muhammad Munir, Thamrin Uai Randang, dan Amir Hamzah. Perbincangan terus bergerak, saya sungguh berterima kasih kepada ketiga kawan dari Mandar ini. Mereka sungguh sangat baik menyambut kehadiran saya. Bahkan, Amir Hamzah pun begitu rupa mendokumentasikan keberadaan kami, perjumpaan kami dalam menjejaki ruang-ruang masa lampau di Jagat Mandar ini. Tak lain, ketika kami singgah di Makam I Calo Ammana Wewang ini.
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka: AndrianMakam I Calo Ammana Wewang
“Kau tahu, Naka. I Calo Ammana Wewang adalah pejuang melawan Belanda di awal abad ke-20. Dalam perlawanannya, beliau tertangkap dan diasingkan ke Pulau Belitung. Lebih dari tiga puluh tahun lamanya. Beliau terlahir di Kampung Lutang, sekarang di dalam wilayah Kelurahan Tande, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, pada 1854. Anak dari I Ga’ang dan I Kena. I Ga’ang, Mara’dia Alu, I Kena adalah putri Mara’dia Banggae. Nenek dari pihak bapaknya bernama Ma’dusila alias Lippo Ulang, Mara’dia Pamboang, dan neneknya dari pihak ibu ialah To Cabang Mara’dia Pamboang. Sebelum memperoleh keturunan dari permaisuri, dipopulerkan dengan panggilan Ammana I Wewang. Begitulah. Adapun I Wewang adalah nama seorang kemanakan permaisurinya. Penyematan gelar/panggilan seperti itu sudah menjadi tradisi bagi keturunan bangsawan Mandar. Tidak sopan atau tidak hormat jika masih menyebut nama pribadi (nama kecil) kepada seseorang bangsawan setelah berkeluarga,” kisah Muhammad Munir.
Saya pun mengangguk pelan, berkali-kali mendengar pengisahan itu. Sambil saya amati sungguh-sungguh, makam seorang diri yang katanya awalnya tidak di sini, di Kandoor, dekat Talolo, telah dipindah dari tempat sebelumnya yang berada di belakang Masjid Limboro, yang jaraknya sekitar 2,5 km dari Tinambung, Polewali Mandar. I Calo Ammana Wewang wafat pada 11 April 1967. “Dia mempunyai tiga saudara, yaitu Kaco Puang Ammana I Pattolawali, Caca’na Pattolawali, dan Caca’na I Sumakuyu. Pada usia ke-30 dinobatkan menjadi Mara’dia Malolo Kerajaan Balanipa menggantikan I Tammanganro (yang memangku jabatan Mara’dia Balanipa waktu itu ialah Tokape). Tahun 1886 ia dilantik menjadi Mara’dia Alu, dan tetap sebagai Mara’dia Malolo Balanipa. Jika melihat postur yang ada di dalam foto, nyaris tidak terbayangkan bahwa ia pernah mengobrak-abrik tangsi militer Belanda di Kabupaten Majene. Ia salah satu panglima perang Mara’dia Malolo Kerajaan Balanipa yang paling antipati pada penguasaan Belanda. Perawakannya sedang, tidak pendek, tidak pula tinggi. Tapi, ia berani mengangkat senjata dan mencoba teknik konfrontasi dengan penjajah. Setelah menolak teknik diplomasi yang ditawarkan oleh pihak Belanda.” Kembali Muhammad Munir mengisahkan I Calo Ammana Wewang. “Jika boleh saya tahu, perlawanan apa yang ditempuh I Calo Ammana Wewang?” “Seirama dengan Arajang pada masanya ‘Tokape’ ia juga menempuh teknik perang gerilya, tidak menetap dan lebih mengutamakan mobilitas untuk melakukan penyerangan secara sporadis, mulai dari penyerangan tangsi militer Belanda di Majene dan beragam pemberontakan lainnya yang ia susun bersama tokoh penentang semasanya, yaitu Kaco Puang Ammana Pattolawali, yang masih saudara kandungnya. Tertangkapnya Tokape membuat perlawanan Ammana Wewang menggunakan sistem gerilya. Belanda semakin garang sebab susah ditangkap. Belanda kemudian meminta dukungan Mandawari dan I La’ju Kanna Doro untuk memberikan informasi keberadaan Ammawa Wewang. I La’ju Kanna Doro kemudian mencari tahu
Setia Naka Andrian
siapa orang dekat Ammana Wewang. Akhirnya dia mendapat informasi bahwa tokoh masyarakat Tandassura bernama Ka’tabbas mengetahui siapa tukang pijat Ammana Wewang. Namanya Ka’sawa dan Ka’mana. Kepada Ka’tabbas dijanjikan kedudukan dan terhadap tukang pijat akan diberi hadiah seribu ringgit. Akhirnya, si tukang pijit memberitahukan tempat persembunyian Ammana Wewang,” jelas Muhammad Munir. Kata Muhammad Munir, saat Ammana Wewang istirahat (tidur), si tukang pijit menghubungi prajurit Belanda. Rombongan serdadu membawa serta beberapa bambu dan seutas tali ijuk. Karena Ammana Wewang dikenal kebal, Belanda menggunakan cara tersendiri untuk menangkapnya dengan cara tubuh dihimpit dengan bambu lalu diikat. “Dengan tubuh yang terikat, Ammana Wewang dibawa ke Majene. Kejadian ini terjadi pada 23 Juli 1907. Selama sebulan ditahan lalu diadili di Campalagian. Dia divonis dua puluh tahun penjara. Tanggal 24 Agustus 1907, Ammana I Wewang kembali disidangkan untuk selanjutnya ditahan di Benteng Rotterdam, Makassar. Setengah bulan ditahan lalu dikirim ke Batavia. Lalu pada akhir 1907, Ammana I Wewang bersama sembilan pengikutnya diasingkan di Pulau Belitung, Sumatra Selatan. Ammana I Wewang hampir empat puluh tahun berada di Pulau Belitung. Pada 1 April 1942, dengan menggunakan perahu lete dari Mandar, Ammana I Wewang meninggalkan Pulau Belitung. Dia tiba di Ba’babulo, Pamboang pada 22 Mei 1942. Ammana I Wewang wafat di Limboro, pada 11 April 1967,” pungkas Muhammad Munir, seakan mengakhiri kisah, dan hendak lekas melanjutkan perjalanan kembali. Ia tahu, betapa ini adalah hari-hari yang hampir usai, yang sedang saya lalui di Polewali Mandar. Ada satu hal penting yang patut saya sampaikan, atas segala upaya yang dikerjakan oleh Muhammad Munir dan segenap kawan-kawan pegiat literasi Rumpita (Rumah Kopi dan Perpustakaan) Tinambung, Polewali Mandar. Bahwasanya I Calo Ammana Wewang ini termasuk dalam garis tokoh pejuang perintis kemerdekaan di Mandar. Bagi Muhammad Munir dan kawan pegiat lain, I Calo Ammana Wewang yang lahir di Kampung Lutang, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene ini sangat layak diusulkan sebagai pahlawan
nasional dari Mandar. Segala ini telah begitu serius dicatat Muhammad Munir, bahkan tidak hanya menelusuri jejak-jejaknya di Mandar semata. Namun, Muhammad Munir telah melakukan riset di Pulau Belitung. Ya, I Calo Ammana Wewang sempat diasingkan di pulau tersebut oleh Belanda. Lebih dari tiga puluh tahun diasingkan di sana.
Setia Naka Andrian
Makam Raja-Raja
Hadat Banggae Mandar di Bukit Ondongan Majene
Minggu, 26 Mei 2019, saya diajak kembali berkeliling oleh Muhammad Munir, Thamrin Uai Randang, dan Amir Hamzah. Kami bergerak, menggunakan armada mobil Xenia warna putih milik Muhammad Munir yang baik hati itu. Makam raja-raja Banggae Mandar ini memang di luar Kabupaten Polewali Mandar, yakni berada di Bukit Ondongan Majene, sebuah kabupaten di sebelah Polewali Mandar. Jika ditempuh dari kota kabupaten, dari Polewali, akan menempuh waktu kisaran satu jam dalam perjalanan. Namun, saat itu kami tempuh dari Tinambung, dari Rumpita (Rumah Kopi dan Perpustakaan) yang ada di Tinambung. Maka sangatlah dekat, hanya ditempuh sekitar setengah jam, sudah sampai di Bukit Ondongan. Saat tiba di makam raja-raja Banggae ini, saya tak menyangka bahwa saya menapakkan kaki di sebuah makam. Saya merasa, ini bukanlah makam. Ini sebuah taman. Bagaimana tidak, sungguh sangat bersih, begitu terawat. Rumput-rumput hijau pun begitu rupa tumbuh subur. Bahkan, tak sedikit pun saya temukan barang sampah, sekecil apa pun. Entah, saya tak paham bagaimana pengelolaan makam raja-raja Banggae yang begitu bersih ini. Belum lagi, saat saya menoleh ke kanan, selepas masuk ke dalam gerbang, di sana tampaklah laut yang membentang. Ah, sungguh pemandangan yang mengagumkan. Menikmati lautan lepas, tepi pantai yang dihuni puluhan perahu-perahu kecil, yang seakan menanti siapa saja untuk disinggahi atau sekadar berfoto, atau sekadar memandanginya dari kejauhan. Seperti yang saya lakukan saat ini. Saya diajak berkeliling, sesekali diambil gambarnya oleh Amir Hamzah, pemuda tangguh yang kerap mendokumentasikan segala aktivitas kami. Ya, Amir Hamzah salah seorang pegiat Rumpita, yang boleh dibilang masih begitu muda. Jika dalam hitungan angka usia, ia berada di bawah saya satu angka saja kiranya. Saya pun percaya, betapa semangatnya yang menyala-nyala dalam gerak literasi. Kami berkeliling, dan seperti biasanya, perihal sejarah di Mandar, Muhammad Munir dan Thamrin Uai Randang selalu ambil bagian untuk memberikan informasi dan segala pengisahan kepada saya. Sungguh, dari kedua sejarawan muda Mandar ini, saya menjumpai riwayat masa lalu Mandar yang begitu lengkap dan gamblang. Meski setidaknya, kerap kali membuat saya harus meraba-raba.
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Kompleks Makam Raja-Raja Hadat Banggae Mandar
Di area permakaman raja-raja Banggae, kami pun sesekali duduk di sebuah gazebo, di antara beberapa yang terpasang tegak di Bukit Ondongan ini. Ya, gazebo-gazebo yang menghadap pantai, menghadap laut lepas. Hingga membuat siapa saja yang hinggap di atasnya, akan merasa tenteram dan tenang. Dapat leluasa melempar pandangan sejauh-jauhnya dan entah akan dijatuhkan ke titik mana. Bahkan bukan hanya pantai, perahu-perahu, atau lautan lepas saja. Bukit-bukit di sebelah, perkampungan penduduk pun tampak dari Bukit Ondongan ini. “Di sini, terdapat 480 buah makam besar dan kecil. Nisan yang paling menonjol itu adalah nisan menhir. Itu yang diyakini masyarakat sebagai nisan makam raja Kerajaan Banggae pertama hingga ketiga. Meski hingga kini, belum diketahui namanya. Ya, beginilah keberadaan makam raja-raja Banggae di Bukit Ondongan yang cantik ini,” kembali ia melepas pandangan yang seakan mengisyaratkan kepada saya untuk turut serta melepaskan pandangan sesuai pandangannya, “sebuah makam raja-raja yang terletak di bukit pesisir laut, yang menghadap ke pelabuhan tradisional Pantai Majene itu,” sambil mengarahkan telunjuk jarinya, Muhammad Munir mencoba membuka pengisahannya tentang makam raja-raja Banggae ini. “Dan kau tahu, di kaki bukit itu, didapati dua buah gua yang dibuat pada masa pendudukan
Jepang di Indonesia. Gua itu digunakan sebagai tempat persembunyian. Di bukit itulah pula didapati ratusan makam raja-raja Banggae yang ada di Ondongan,” tambah Muhammad Munir, menyampaikan perihal gua yang ada di kaki Bukit Ondongan. Saya, Muhammad Munir, Thamrin Uai Randang, dan Amir Hamzah sama-sama memandangi laut, di gazebo itu. Kami tak membayangkan apa-apa. Kami pun seakan lupa, jika hari ini adalah hari puasa. Sebab, kami seakan tak merasakan bagaimana rasa dahaga. Meski di sini panas, sangatlah lepas angin bertebaran dari berbagai arah. Begitu menyegarkan keberadaan dan perbincangan kami. Ya, batu-batu hitam yang menjadi penanda makam raja-raja itu pun seakan menikmati keberadaan dan segala nikmat di Bukit Ondongan ini. Ratusan makam yang tampak ada yang sangat besar, sedang, dan kecil itu, menurut Muhammad Munir, menunjukkan makam siapa. Jika itu seorang raja, pasti paling besar batu-batunya. Jika istri raja, agak kecil atau sedang. Bagi keluarga raja, maka akan lebih kecil lagi, dan seterusnya begitu. Didapati tingkatan-tingkatan yang menunjukkan jasad siapa yang ada di bawah batu-batu hitam itu. “Kau tahu, Kerajaan Banggae ini mulanya merupakan sebuah kelompok masyarakat yang pada saat itu dipimpin oleh seorang ketua suku. Ya, ketua suku itu saat itu memiliki gelar Tomakaka. Ia tinggal di Poralle, merupakan sebuah nama tempat yang ada di Salabose ini. Dan itu yang membuat selanjutnya disebut Tomakaka Poralle. Dan selain itu pula, didapati Tomakaka lain yang diketahui telah memimpin pada kelompoknya masing-masing. Tomakaka itu tinggal di sekitar Banggae. Maka, di antaranya ada Tomakaka Pullajonga, Tomakaka Salogang, Tomakaka Totoli, Tomakaka Pepattoang,” tutur Muhammad Munir, sambil sesekali ia melangkahkan kaki, mengajak kami mengelilingi area permakaman raja-raja Banggae. Di sini, di makam raja-raja ini, beberapa kali saya merasa ada energi besar, meski entah saya tak tahu kebenaran sumbernya. Atau entah apa. Yang pasti, saya turut bangga, menjadi Indonesia, yang begitu panjang memiliki riwayat masa lalu kejayaan raja-raja, yang ada di belahan pulau mana pun. Termasuk di sini, di Mandar, Sulawesi Barat.
Setia Naka Andrian
Makam Suryodilogo
di Makam Mara’dia Pamboang Majene Sulbar
Masih pada Minggu, 26 Mei 2019, saya ditemani Muhammad Munir, Thamrin Uai Randang, dan Amir Hamzah. Ya, perjalanan saya bersama tiga kawan Mandar ini memang saya khususkan pada jejak-jejak masa lalu. Beginilah, segala hal berkait sejarah, tentu tak jauh-jauh dengan benda-benda, petilasan, situs, makam. Sungguh-sungguh perjumpaan sunyi. Namun, tentu segala ini menjadi pijakan utama dalam segala gerak peradaban, terutama yang sedang saya singgahi, di Jagat Mandar ini. Kali ini, kami bergerak, tepatnya, saya diantar untuk singgah menuju makam Raden Mas Suryodilogo. Ya, nama ini yang kerap berkali-kali terdampar di telinga, benak, dan batin saya. Ketika tidak sedikit orang-orang yang saya jumpai di Mandar, selalu menyebut nama Raden Mas Suryodilogo ini. Ya, karena mereka tahu, bahwa saya dari Jawa, dan pastinya, jika saya di suatu tempat yang saya pijaki ada hubungannya dengan seseorang, sudah seharusnya seseorang itu perlu untuk menyapa, mengunjungi, menyinggahi. Ya, benar adanya, Raden Mas Suryodilogo datang dari Jawa. Kali pertama mendengar nama Raden Mas Suryodilogo di Mandar, saya sudah merasa tenang. Saya merasa tidak seorang diri singgah di Jagat Mandar ini. Nama itu berkali-kali menyinggahi pula telinga, benak, dan batin saya. Akhirnya, ketenangan itu makin memadat, dan terus memadat penuh. Akhirnya kian menggerakkan diri ini untuk lekas menelusuri keberadaan makam Raden Mas Suryodilogo. Kami turun dari mobil Muhammad Munir. Lantas ia menanyakan kepada warga, ke mana jalan menuju makam Raden Mas Suryodilogo sebab ini jalan tak seperti yang dilewati Muhammad Munir biasanya. Ia lupa, harus melewati jalan mana. Akhirnya, seorang ibu memberikan keterangan, selepas ditanya Muhammad Munir dengan menggunakan bahasa Mandar, yang entah tak saya pahami bagaimana artinya. Hanya saja, saya paham, Muhammad Munir menanyakan jalan menuju makam Raden Mas Suryodilogo. Ibu itu kemudian memberikan perintah kepada seorang anaknya yang masih kecil. Kiranya anak itu masih duduk di bangku SD. Kami diantarnya, dalam perjalanan yang cukup panjang, melewati sela rumah-rumah, gang sempit, hingga kebun-kebun dan tanah lapang yang dipenuhi hewan-hewan ternak. Kami berjalan seolah hendak memburu sesuatu. Saya pun tiba-tiba
Setia Naka Andrian
membayangkan, kami ini seakan Si Bolang yang sedang menjelajah dan ingin mencari sesuatu. Kami pun berjalan berderet, mengikuti jalan anak kecil itu. Saya pun awalnya agak ragu, ini perjalanan yang cukup jauh. Namun, belum juga kunjung sampai. Apakah ini anak benar-benar hafal dengan keberadaan makam Raden Mas Suryodilogo, atau ia hanya main-main belaka. Ah, itu pikiran kotor semata. Ternyata, sampailah di area permakaman Raden Mas Suryodilogo. Kami benar-benar diantar oleh anak kecil itu. Sungguh anak kecil yang baik, yang patuh kepada perintah ibunya.
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Makam Mara’dia Pamboang Majene Sulawesi Barat
Muhammad Munir mengarahkan untuk memasuki gerbang pemakaman yang tadinya terkunci. Pemakaman batu-batu hitam, seperti halnya yang kerap saya jumpai di Jawa. Ya, batu-batu hitam dengan beragam ukiran sedemikian rupa, memenuhi sejumlah permakaman. Muhammad Munir berjalan paling depan, berikut saya, Thamrin Uai Randang, dan Amir Hamzah membuntuti di belakangnya, melewati berbaris-baris makam. Ya, akhirnya, sampailah Muhammad Munir menunjukkan yang mana makam Raden Mas Suryodilogo. Ia menjongkok, kami pun mengikuti. Kami semua berdoa, mendoakan kepada Raden Mas Suryodilogo.
Namun entah, saya melihat makam Raden Mas Suryodilogo seakan tak terawat. Seakan makam ini berserakan. Batu-batu yang melingkarinya telah lepas, berserakan di sekitar. Entah mengapa, makam dari salah seorang tokoh penyebar agama semasyhur ini seakan tak terawat dan tak diperhatikan. Saya pun hanya bisa menunduk, dan memegangi beberapa batu yang tatanannya seakan berserakan itu dengan mencoba mengelus dan merapikannya. “Mas Naka, ini makam leluhurmu pula. Beliau, Raden Mas Suryodilogo pada kisaran akhir abad ke-17 Masehi datang langsung dari Pulau Jawa ke Kerajaan Pamboang. Ya, Kerajaan Pamboang yang pada masa itu kita ketahui sebagai salah satu bandar perdagangan. Dan kerajaan Pamboang itu juga kita ketahui sebagai tempat penentuan arah pelayaran bagi para pelaut yang berlayar ke Pulau Jawa dan Kalimantan.” Begitulah Muhammad Munir membuka pengisahan tentang Raden Mas Suryodilogo. Menurut pengisahan Muhammad Munir, yang katanya berdasarkan sumber yang tertulis dalam lontar Mandar, kala itu masyarakat Pamboang merupakan masyarakat yang dikenal sebagai pelaut yang memiliki keberanian tinggi. Mereka berani berlayar mengarungi laut ke seluruh Nusantara. “Meski kita tahu, semua orang Mandar sejak dulu sudah dikenal sebagai pelaut ulung di Sulawesi. Bahkan orang-orang di luar pun tentu telah banyak yang mengakuinya. Orang Mandar, atau para pelaut Mandar, telah melakukan ekspedisi menggunakan perahu khas mereka. Kemudian, perihal proses masuknya Islam ke Mandar, tentu sangat berbeda dengan proses masuknya Islam di kawasan etnik Bugis. Jika kita tahu, proses masuknya Islam di Bugis telah begitu mendapat banyak penentangan, sedangkan di kawasan Mandar ini, tentu tidak. Bahwasanya masuknya Islam di Mandar ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, dengan cara damai. Itu salah satu yang membuat Islam berkembang begitu pesat di Mandar. Tentunya sangat dibantu oleh golongan bangsawan, perkawinan, pendidikan, dan budaya. Dan Raden Mas Suryodilogo ini, salah seorang penyebar Islam di Mandar ini. Yang datang langsung dari Jawa, melalui Kerajaan Pamboang. Ia hadir langsung, menyebarkan dari dalam, dari ruang-ruang strategis di lingkungan kerajaan,” tutur Muhammad Munir.
Setia Naka Andrian
Mesjid Purbakala Syekh Abdul Mannan Salabose
Minggu, 26 Mei 2019, saat zuhur telah lewat beberapa saat, kami tiba di Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose. Ya, saya masih bersama Muhammad Munir, Thamrin Uai Randang, dan Amir Hamzah. Kali ini tiba singgah di Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose. Hari begitu panas, apalagi letak masjid ini berada di daerah atas. Panas pun menggiring kami untuk lekas masuk ke dalam masjid. Kami tidur sejenak, memejamkan mata. Namun, tak sepenuhnya tidur. Masjid ini merupakan salah satu masjid tua yang ada di Mandar. Tepatnya berdiri di Salabose, Desa Pangali-ali, Kabupaten Majene. Dalam tulisan yang tertera di gerbang masjid, “Mesjid Purbakala Syekh Abdul Mannan Salabose”. Tak lama kemudian, tak lebih lima menit, kami bangun kembali, kemudian salat. Kami pun keluar, menuju serambi masjid. “Mas Naka, Syekh Abdul Mannan merupakan salah seorang penyebar agama Islam di tanah Mandar ini. Ya, khususnya di Kerajaan Banggae, pada masa itu. Syekh Abdul Mannan adalah seseorang yang telah mengislamkan mara’dia Banggae ke-4, yakni I Sukkilang Tomatindo Dimasigi, yang berarti ‘orang yang meninggal di masjid’,” tutur Muhammad Munir, sambil mengarahkan mata saya, melalui matanya, untuk melihat-lihat sekujur masjid yang bercat dominasi warna hijau dan putih itu. Bagi Muhammad Munir, Syekh Abdul Mannan diperkirakan telah datang ke Kerajaan Banggae pada 1608, dan kemudian beliau bermukim di Salabose. “Kedatangan Syekh Abdul Mannan di Salabose ini tentu tidak serta merta mendapat izin dari Mara’dia Banggae. Tidak semudah itu. Namun, Syekh Abdul Mannan terlebih dahulu telah melalui negosiasi yang begitu panjang. Kala itu beliau hendak membentuk sebuah kelompok pengajian terhadap warga Salabose. Namun, bagaimana, beliau terlebih dahulu harus membuktikan keistimewaannya. Bayangkan saja. Sampai sebegitunya. Nah, kala itu, ujiannya, atau pembuktian keistimewaannya adalah beliau kala itu harus mampu mencabut keris sakti (pusaka milik kerajaan) dari warangka- nya. Dan, apabila Syekh Abdul Mannan mampu melakukan dan berhasil mencabut keris tersebut, maka raja berjanji akan mengikuti seluruh ajaran yang diberikan oleh Syekh Abdul Mannan. Bahkan bukan hanya itu saja, bahkan seluruh warga Salabose siap mengikuti ajaran Syekh Abdul Mannan
secara utuh ....”
Setia Naka Andrian
Mesjid Purbakala Syekh Abdul Mannan Salabose
“Lalu selepas itu bagaimana, Bang?” tanya saya, menimpali dengan segera, sambil saya pandangi Muhammad Munir yang begitu serius mengisahkan jejak Syekh Abdul Mannan. “Ya, saat mendapat tantangan seperti itu, Syekh Abdul Mannan pun akhirnya menerimanya. Ya, beliau terima tantangan itu. Alhamdulillah, atas izin Allah, keris tersebut dengan begitu mudahnya dapat dicabut dari tempatnya. Lalu akhirnya, mara’dia pun menepati janjinya dan masuk Islam pada saat itu juga. Selanjutnya, jika mara’dia sudah masuk pula, maka masyarakat lain pun mengikutinya. Sesuai dengan janji mara’dia di awal tadi, tidak hanya dirinya saja yang akan masuk Islam, seluruh warga Salabose siap masuk Islam pula, mengikuti sepenuhnya ajaran dari Syekh Abdul Mannan,” kisah Muhammad Munir, sambil ia mengenakan sepatu. Saya pun mengikutinya. Kami berjalan di depan area masjid agar kian bisa menyeluruh, mengamati tubuh masjid
yang bersejarah itu dengan lebih leluasa. Dari depan, dari arah yang lebih panas, terang, dengan sepenuh kepungan cahaya pekat panas, tetapi tak membuat tubuh ini kepanasan. Justru angin bergerak begitu leluasa kala itu. Segar. Ya, masjid salah seorang penyebar Islam pertama di Jagat Mandar. “Kau tahu, Naka, penyebaran agama Islam, atau syiar agama Islam yang dilakukan Syekh Abdul Mannan kala itu, tidak hanya sebatas di Salabose ini semata. Namun, Syekh Abdul Mannan telah menyebarkan sampai ke Tande, Baruga. Bahkan boleh dikata, dalam penyebaran agama Islam yang dilakukan beliau tersebut, boleh dikata dalam waktu yang tidak lama, sudah diterima dan sudah begitu populer di seluruh penjuru Kerajaan Banggae ini. Bayangkan saja, bahkan juga di beberapa kerajaan tetangga,” pengisahan Muhammad Munir yang begitu penuh keyakinan. Bagi Muhammad Munir, ada pula keistimewaan lain yang dimiliki oleh Syekh Abdul Mannan, yakni saat Syekh Abdul Mannan melakukan sebuah perjalanan dan melewati perkampungan Salombok bersama muridnya hendak menunaikan ibadah salat zuhur. “Di sebuah perkampungan yang dilalui Syekh Abdul Mannan itu tidak ada sumber air yang dapat digunakan warga untuk berwudu. Lalu Syekh Abdul Mannan memohon pertolongan kepada Allah Swt. Tongkatnya beliau tancapkan pada tiga titik di tanah yang dipijaki. Dari tiga titik tersebut kemudian keluarlah air. Dan, dari sumber ketiga mata air tersebut yang saat ini dikenal dengan nama “Passauang Tallu”. Dari situ, dari masing-masing titik sumber mata air itu dikenal fungsinya, di antaranya, mata air yang pertama sebagai tempat berwudu, yang kedua sebagai sumber air minum, dan yang ketiga sebagai tempat mandi.” “Oh, ya, Bang.” Saya mengangguk berkali-kali, dan kembali bertanya, “Syekh Abdul Mannan ini seseorang yang pertama kali mensyiarkan, menyebarkan agama Islam di Mandar ini, Bang?” “Ya, menurut catatan sejarah begitu. Syekh Abdul Mannan merupakan seseorang yang pertama kali mensyiarkan ajaran Islam ke Majene, Sulawesi Barat. Hal tersebut diperkuat dalam catatan bahwa Islam diperkirakan telah
Setia Naka Andrian
mulai memasuki wilayah Sulawesi Barat, termasuk Majene, pada abad ke- 16 masehi. Dan begitu, bagi orang sini, Syekh Abdul Mannan diberi gelar To Salamaq di Salabose. Seorang penyelamat di Salabose, di Tanah Mandar ini.” Begitulah jejak-jejak Syekh Abdul Mannan Salabose yang dikisahkan Muhammad Munir. Amir Hamzah terus membantu memotret. Thamrin Uai Randang pun setia menemani dan memberikan keterangan-keterangan tambahan, yang begitu menguatkan gerak kaki saya di Tanah Mandar ini. Ya, begitulah jejak-jejak sejarah Syekh Abdul Mannan. Selain masjid tua ini, ada pula Alquran tertua yang ditulis tangan oleh beliau, dengan menggunakan tinta pohon pada abad ke-16 Masehi. Ya, tak jauh-jauh dari mesjid ini pun, didapati makam Syekh Abdul Mannan. Yang berada pula di Salabose, Kelurahan Pangali-Ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi beliau, seseorang yang pertama menyebar agama Islam di Jagat Mandar.
Berteduh (Lagi) di Masjid Imam Lapeo
Senin, 27 Mei 2019, saat matahari benar-benar bertengger di atas kepala, saya bergerak di jalanan beraspal. Ya, jalanan trans-Sulawesi yang begitu tabah menghubungkan segala arah itu. Saya seakan sangat berkawan dengan jalanan ini. Meski berkali-kali ketika saya melewati jalan ini, berkali-kali pula saya kerap ingat Jalan Raya Pos di kampung halaman. Yang begitu dekat dengan rumah tinggal, jalanan yang hampir setiap hari menghubungkan banyak perputaran roda-roda dan seabrek kenangan, pengorbanan, perjuangan, serta apa saja yang terkadang menyeka seisi pikiran.
Setia Naka Andrian
Entah kenapa, hari ini, saya merasakan perjalanan hari yang saya lalui di tanah residensi seakan makin padat dan tua. Dalam kendara motor, pohon-pohon di halaman rumah-rumah itu seakan turut berkendara pula. Berkejaran, dan hendak menggapai diri saya, dalam kendara motor setengah tenaga ini. Sesekali saya dongakkan kepala ke atas, langit masih biru. Bahkan yang saya rasakan sejak kali awal mendaratkan kaki di tanah residensi ini, di tanah Mandar ini, saya merasa, seperti ada yang beda antara langit di Jawa dengan di sini. Sejak awal itu, saya berpikir berat untuk menemukan jawabannya. Apa bedanya. Namun, tak kunjung juga saya temukan jawabannya. Baru akhir-akhir ini saja, saat-saat saya hampir melepaskan diri dari tanah residensi ini. saya merasa, di sini langit masih begitu terang-terangnya. Masih bersih, dan selalu menebar nyala yang sejuk, meski sungguh di sini lebih panas daripada di Jawa. Buktinya, kulit saya lebih gelap daripada biasanya. Terbakar, dan diobati dengan beragam gaya aplikasi dalam kamera. Saat beberapa kali menebar kabar di sini, kepada kawan yang di sana, di kampung halaman, atau di mana saja. Selalu begini, dalam perjalanan, entah di mana saja, kerap saya memikirkan banyak hal. Entah dari yang sangat kecil atau segala yang sesungguhnya tak sanggup saya pikirkan. Ya, meski saya akui, ini sebuah kenikmatan tersendiri. Akan beda, jika saya berkendara tak sendirian. Pasti akan didapati tak sedikit perbincangan, yang tentu akan lebih banyak tak berfaedahnya. Roda motor terus memutar, membawa tubuh saya ini melaju. Entah sampai pada titik mata, tak pernah sekali pun saya tandai. Ya, saya hanya ingin leluasa bergerak. Motor pun seakan menggerakkan dirinya, tanpa saya beri komando atau aba-aba. Tak disangka, seakan baru sekejap saja bergerak, tubuh saya telah terbawa sampai pada titik jalanan di hadapan Masjid Imam Lapeo. Tubuh dan motor kebablasan beberapa puluh meter ke depan. Akhirnya saya rem, dan menolehkan kepala ke arah masjid. Kedua mata saya gerakkan untuk menyasar sekuat tenaga, sekujur tubuh masjid. Saya berharap ada
sesuatu. Sesekali pun saya arahkan kedua mata untuk menyusuri beberapa bangunan di sekitar Masjid Imam Lapeo. Kedua mata beberapa kali terketuk untuk memberhentikan diri menyelami pelan-pelan rumah yang ada di hadapan Masjid Imam Lapeo itu. Ya, rumah berlantai dua. Tampak bangunan tak baru. Namun, masih begitu kokoh dengan corak sederhana. Didapati pula, sebuah tangga yang sepertinya menampakkan diri dan disilakan untuk dilewati siapa saja. Ya, orang-orang berlalu-lalang menaiki tangga itu. Anak-anak kecil yang berjalan sendiri, menaiki sendiri, atau ada pula yang naik dalam turut serta gendongan ibu atau bapaknya. Kedua mata ini seakan mengajak saya untuk singgah kembali ke masjid. Beberapa pertanyaan sepintas tentang rumah di hadapan masjid itu makin kuat menyita perhatian saya. Sontak, motor pun saya ajak memutar arah, menuju ke Masjid Imam Lapeo. Berdasarkan informasi yang saya terima dari Muhammad Munir, pegiat Rumpita (Rumah Kopi dan Perpustakaan) dari Tinambung itu, Imam Lapeo adalah K.H. Muhammad Thahir. Beliau merupakan seorang tosalama, seorang penyelamat berkelas wali yang begitu terkenal di Mandar, Sulawesi Barat, bahkan di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Imam Lapeo lahir pada tahun 1838 M, yang merupakan seorang imam di sebuah perkampungan yang sekarang dikenal dengan nama Desa Lapeo. Keluarga beliau berakar dari sebuah kampung tua yang bernama Pambusuang. Ayahnya bernama H. Muhammad bin Abd. Karim bin Aba Talha. Saya ingat, apa yang disampaikan Muhammad Munir kala itu, bahwasanya Imam Lapeo merupakan salah seorang penyebar agama Islam di Mandar yang melakukan dakwah dengan cara mengikuti budaya dan tradisi yang berkembang dan dikerjakan oleh masyarakat sekitar. Awalnya Imam Lapeo berdakwah di Lapeo. Pada saat itu, di Lapeo warganya begitu akrab dengan tuak (manyang pai’) dan dunia perjudian. Pada awalnya sama sekali tak ada yang tertarik dengan Imam Lapeo. Namun, tetap saja beliau berusaha menyampaikan dakwah-dakwahnya. Hingga suatu ketika, pelan-pelan didapatilah warga yang mendengar dakwah beliau. Selanjutnya, diajaklah
Setia Naka Andrian
mereka oleh Imam Lapeo untuk bersama-sama membangun masjid. Bagi Imam Lapeo, dengan dibangunnya masjid tersebut, agar segenap warga masyarakat Lapeo dan masyarakat sekitarnya pelan-pelan dapat bertobat, tak lagi mengonsumsi tuak dan melakukan perjudian. Selanjutnya, segala itulah yang menjadikan masjid tersebut diberi nama Masjid At-Taubah Lapeo, yang kemudian menjadi Masjid Nuruttaubah Lapeo. Atau kerap dikenal luas dengan nama Masjid Imam Lapeo. Siang itu, saya kembali ke Masjid Imam Lapeo. Saya berupaya mengetuk pintu takmir, yang berada di area masjid. Namun, sangat disayang, ternyata tak kunjung juga ada yang mendengar ketukan dan salam saya. Akhirnya, saya mencari info tentang keturunan Imam Lapeo. Kiranya tinggal di mana. Lalu, saya mendapatkan informasi, ternyata rumah anak dari Imam Lapeo. Saya selanjutnya berjalan ke rumah tersebut. Ya, rumah kayu yang sederhana tadi, yang sempat menyita perhatian saya, dan seperti ada sesuatu yang menggerakkan diri saya untuk mengarahkan segala pandangan kepadanya. Ternyata benar, beberapa kali pun, saat awal-awal, saat kali pertama saya singgah di Masjid Imam Lapeo ini, saya kerap tergoda pandang untuk mengarah selalu ke rumah ini. Memang begini, aura baik dari rumah orang-orang yang sangat baik, tentu selalu menyita pandangan siapa saja. Begitu pula kedua mata saya. Ya, saya makin ingat, saat itu, selalu saja kedua mata saya tertuju untuk memandangi rumah sederhana dan besar ini. Ya, sesuai dengan petunjuk yang telah disampaikan oleh beberapa kawan pula, bahwa anak keturunan Imam Lapeo tinggal di sekitar masjid. Tak salah lagi. Akhirnya saya melangkahkan kaki, menuju rumah yang berada tepat di depan Masjid Imam Lapeo. Tentu rumah yang beda, lain dengan rumah-rumah di sebelahnya yang begitu rupa dengan bangunan-bangunan yang lebih modern. Di lantai dua, di rumah itu, dari halamannya, saya lihat berkerumun mengantre beberapa orang tua dan anak-anaknya. Saya bertanya kepada salah seorang ibu, ternyata mereka mengantre untuk berzakat, dari para santri di pondok pesantren yang diasuh oleh anak dari Imam Lapeo. Beliau adalah Nangguru Kuma (Marhuma).
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Nangguru Kuma (Marhuma), anak bungsu Imam Lapeo
“Bolehkah saya tanya sesuatu tentang Imam Lapeo?” tanya saya, kepada salah seorang yang mendampingi Nangguru Kuma. Ia bernama Habib Muhammad, salah seorang pengajar di pondok pesantren yang diasuh oleh Nangguru Kuma. Ya, Nangguru Kuma, biasa orang-orang memanggil beliau, anak bungsu Imam Lapeo, satu-satunya yang masih ada. Saya melihat sendiri, dengan usianya yang begitu tua itu masih dikerumuni orang-orang, masih melayani orang-orang, masih mengurus tegaknya generasi, umat yang selalu ingin menabur dirinya dengan segala ilmu agama. “Maaf, Mas. Nagguru Kuma sedang mengurus para santri yang berzakat. Mas bisa menjumpai cucu beliau, rumahnya ada di sebelah sana. Silakan bisa tanya, di kompleks sebelah masjid.” Tanpa banyak berkilah, saya pun segera mengangguk dan menuruti petunjuk dari Ustaz Habib Muhammad. Dengan begitu, saya pun turun, mencari informasi kembali, di mana rumah cucu Imam Lapeo, yang tak lain
Setia Naka Andrian
adalah anak dari Nagguru Kuma. Saya mendapatkan informasi dari salah seorang santri, yang entah tak saya tahu namanya. Ia mengantarkan saya, menuju rumah cucu Imam Lapeo, yakni rumah Pak Ahmad Saehu. Santri itu mengantar saya hingga tepat berada di depan rumahnya. Ya, rumah itu ada tepat di tepi jalan Campalagian. Jika dari Masjid Imam Lapeo, saya harus berjalan ke atas, menuju ke arah Polewali. Namun, tak begitu jauh, dengan kendaraan bermotor hanya butuh waktu sekitar tak lebih lima menit. Rumah berderet, masih satu sisi dengan masjid, rumah menghadap ke arah yang sama dengan masjid. Saya pun lekas mengetuk pintu gerbang, dan seorang ibu keluar, menjumpai saya. Yang saya yakin, itu adalah istri dari Pak Ahmad Saehu, cucu Imam Lapeo. Ibu itu menanyakan kedatangan saya, hendak bertemu siapa dan ada perlu apa. Saya pun menyampaikan maksud kedatangan saya sejujur- jujurnya. Saya sampaikan pula, bahwasanya saya sebelumnya juga telah ke rumah Nangguru Kuma, tetapi diarahkan Ustaz Habib Muhammad untuk menjumpai Pak Ahmad Saehu. Namun sayang, Pak Ahmad Saehu masih di kantor, di tempat kerjanya, yang begitu jauh, di Tubbi Tarramanu. Akhirnya, saya pun berbalik. Kembali pamit, melanjutkan perjalanan lagi, menunaikan perjumpaan yang lain lagi. Dalam perjalanan, nama Imam Lapeo berkali-kali seakan memutar sendiri dalam benak dan batin saya. Entah mengapa. Saya berupaya sekuat- kuatnya untuk turut larut dan menangkapnya. Ya, saat gerimis mulai turun menimpali saya bersamaan dengan nama Imam Lapeo yang berkali-kali memutar sendiri. Tanpa saya minta. Saya pun jadi ingat, atas penggalan video yang sempat diputarkan Muhammad Ridwan Alimuddin di Nusa Pustaka. Dalam video Amak Cammana itu, diterangkan pula Imam Lapeo yang lahir di Pambusuang, penyebar Islam di Mandar yang hidup pada 1839—1952. Imam Lapeo mengajarkan tasawuf di Mandar sehingga ada kaitan pula dengan penciptaan lagu-lagu yang dibawakan dalam permainan rebana Amak Cammana. Ya, Imam Lapeo yang dikenal masyarakat sebagai seorang wali.
Tajriani Thalib, Pakkacaping Tobaine
Selasa, 28 Mei 2019, sore hari, menjelang berbuka, saya janjian jumpa dengan Tajriani Thalib. Ia salah seorang pemain kecapi Mandar. Di Mandar disebut pakkacaping tobaine (pemain kecapi perempuan). Ya, ia perempuan, dan bisa dibilang masih sangat muda, baru berusia 25 tahun. Lulus dari Program Studi Psikologi, Universitas Negeri Makassar, 2017 lalu. Ussul adalah topik penelitian yang membawanya memperoleh gelar sarjana. Sebuah lakuan, ritual, pamali yang boleh dan tidak. Termasuk dalam ruang keyakinan. Ya, begitulah. Saya sempat menyasar patahan-patahannya di blog pribadinya, tajrianithalib.blogspot.com.
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Saya dan Tajriani Thalib
Perjumpaan awal saya dengan Tajriani Thalib boleh dibilang sangat tak sengaja. Waktu itu, saya bersama Muhammad Ridwan Alimuddin hendak diajak ke rumah saudaranya, tepatnya keponakannya yang bernama Nabilah Haruna, hendak meluncurkan dua buku barunya, yakni berjudul Lolos Beasiswa Unggulan dan Surat Terakhir. Dalam perjalanan, ia mampir ke rumah Tajriani Thalib untuk mengambil cetakan beberapa lembar majalah National Geographic Indonesia yang memuat tentang Tinambung. Pertemuan yang tak sengaja, dan kami pun tak begitu membahas siapa Tajriani Thalib. Namun, beberapa hari kemudian, Tajriani Thalib menarik perhatian saya, selepas saya berjumpa dengan Muh. Rahmat Muchtar (Sanggar Uwake’) bahwa ada pakkacaping tobaine muda di Mandar ini.
Sontak, saya meminta Muh. Rahmat Muchtar untuk menjembatani, agar bisa berjumpa dengan Tajriani Thalib. Ternyata, Muh. Rahmat Muchtar tak memiliki nomor ponsel Tajriani Thalib. Ya sudah, akhirnya atas kebaikan Muh. Rahmat Muchtar, saat itu pula saya diajak ke rumahnya yang tak begitu jauh dari Sanggar Uwake’, yang tak lain masih satu kecamatan, yakni Tinambung. Saya sempat ke rumahnya bersama Muhammad Ridwan Alimuddin, tetapi saya tak ingat lagi jalan menuju ke rumahnya, ya, rumah Tajriani Thalib. Gang-gang yang begitu berderet, membuat saya susah menghafal dalam sekejap. Begitu pun Muh. Rahmat Muchtar, ia pun ternyata juga lupa. Akhirnya kami menyusur jalan-jalan kampung Tinambung yang cukup padat, jika merujuk pada ruang hidup di Sulawesi Barat. Meski sungguh, lebih padat lagi Wonomulyo, lebih-lebih pasar dan denyut hidup masyarakatnya. Ah, memutar nyaris 24 jam bernapas, tanpa jeda, tanpa tidur. Selepas bertanya-tanya ke sana-sini, Muh. Rahmat Muchtar dengan menggunakan bahasa Mandar kepada beberapa orang-orang yang ramah di tepi jalanan, akhirnya kami menemukan rumah Tajriani Thalib. “Benar ini kan rumahnya yang kau singgahi kemarin, Naka?” tanya Muh. Rahmat Muchtar kepada saya, dan saya pun mengangguk. Sambil meraba ingatan beberapa waktu lalu saat hadir bersama Muhammad Ridwan Alimuddin. “Assalamualaikum,” Muh. Rahmat Muchtar mengucap salam sambil turun dari motor, menghampiri seorang ibu yang sedang duduk di depan rumah. Saya pastikan itu adalah ibu dari Tajriani Thalib. Benar, tebakan saya tak meleset. Ah, lagi-lagi, Muh. Rahmat Muchtar seperti orang-orang Mandar lainnya, keasyikan jika berjumpa dengan sesama orang Mandar. Bahasa pun meluncur dengan derasnya, ya, bahasa Mandar itu. Hingga ia lupa, jika di sebelahnya ada orang seberang, yang begitu berat untuk memasuki ruang bahasa yang bisa dibilang begitu asing, begitu rumit itu. Lalu, saya pun memberi kode, sambil menepuk paha kaki kanannya yang sedang bersila. “Oh ya, ini perkenalkan, namanya Setia Naka Andrian. Ia berasal dari Kendal, Jawa Tengah. Kehadirannya di Polman selama lebih
Setia Naka Andrian
kurang satu bulan ini, mengikuti program Residensi Sastrawan Berkarya ke Wilayah 3T dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Naka ini salah satu dari delapan sastrawan yang tahun ini pula dikirim ke beberapa daerah. Nah, kehadirannya ke sini, siang ini, hendak berjumpa dengan Tajriani Thalib,” tutur Muh. Rahmat Muchtar kepada ibunda Tajriani Thalib. Ibunda Tajriani Thalib pun seolah menerawang jauh. Sambil sedikit berkisah, “Taj sedang ke Polewali. Ia sedang mengurus nomor ponselnya. Beberapa waktu lalu, ia kena jambret saat di Makassar. Ponselnya dibawa lari oleh jambret itu.” Saya dan Muh. Rahmat Muchtar pun mengangguk serius beberapa kali, dengan nada prihatin atas peristiwa penjambretan yang dialami Tajriani Thalib tersebut. Begitulah memang, tidak di Jawa, tidak di Sulawesi, penjambretan tetap ada, selama siapa saja masih banyak yang menginginkan hidup berlebih, menuruti hasrat yang entah, agar bisa dengan mudah mendapatkannya, maka direngkuhlah dengan berbagai cara. Ya, itu, salah satunya dengan menjambret, merampok milik orang. Bahkan tidak hanya di jalanan saja, di ruang-ruang pemerintahan, di pasar, di sekolah-sekolah, bahkan, mohon maaf, di ruang-ruang suci, di garis-garis lingkaran agama pun tak jarang begitu. Sungguh! Ya, hari ini hari puasa. Tak jauh dengan hari-hari lainnya. Meski sesungguhnya tak ada yang beda, tanpa kopi atau tanpa teh, semua bergantung pada perbincangan yang dilangitkan. Terkadang, yang menjadi soal adalah jarak, rentang usia, atau aktivitas yang dijalani saat ini. Misalnya saja, barangkali saya dan Muh. Rahmat Muchtar terpaut cukup jauh jika menilik usia. Namun, kami tetap berjalan, tiada hambatan, karena ada magnet-magnet tersendiri di antara kami. Sama-sama punya harapan untuk terus meluncurkan perbincangan, dan segala lainnya. Selanjutnya, kami pamit pulang. Selepas ibunda Tajriani Thalib memberi kami nomor ponsel sementaranya. Kami pamit, kembali ke Sanggar Uwake’. Saya sendiri, sambil kirim pesan kepada Tajriani Thalib, untuk mengatur
waktu perjumpaan meski sungguh cukup sulit perjumpaan diatur. Sebab, saat-saat itu pula, Tajriani Thalib sedang proses pendaftaran melanjutkan studi melalui jalur beasiswa tertentu. Pastilah tidak sedikit berkas-berkas yang harus dipersiapkan, dari mulai menyiapkan surat kesehatan dari rumah sakit, hingga berkas-berkas lain serupa sertifikat dan piagam-piagam yang harus dipindai, dan diabadikan dalam seabrek file yang harus lekas diunggah sebelum batas waktu yang ditentukan. Beberapa kali kami melingkari angka-angka di kalender untuk berjumpa, tetapi berakhir gagal. Beberapa kali begitu. Hingga tiba pada hari Selasa, 28 Mei 2019, sore hari, menjelang berbuka, kami benar-benar berjumpa. Kami sekalian menanti waktu berbuka, di sebuah kedai kopi yang ternyata tak lama dibuka. Kami berkenalan, berbincang, dan saling melempar pertanyaan serta menguatkan jawaban. Terus berjalan begitu. Hingga waktu benar-benar menggiring kami untuk berbuka puasa. Pesanan makanan berat pun belum kunjung diantar, sepertinya memang benar, kedai kopi ini baru saja buka. Maka tak heran, pelayanannya pun terkesan lamban. Para pelayan dan segalanya masih terkesan serampangan dan tergesa. Saya dan Tajriani Thalib pun belajar lebih bersabar dari peristiwa kecil ini. Lalu akhirnya, saya menawarkan sebuah permen kepada Tajriani Thalib, untuk membatalkan puasa. Sebab, air mineral pun belum kunjung diantar. Apa boleh buat, permen pun menjadi jalan kami membatalkan puasa. Tidak membatalkan dengan cara menggunjing orang, atau membatalkan dengan memukul pelayan kedai kopi. Ah, begitulah. Sambil membunuh waktu tunggu untuk menanti makanan berbuka, saya mencoba memecah segala itu dengan pertanyaan kecil kepada Tajriani Thalib, “Taj, apa yang membuat kau bertahan untuk menjadi pemain kecapi perempuan, pemain kecapi Mandar ini?” Lalu dijawabnya dengan pelan, sambil dilumatnya permen, pembatal puasa itu, “Tahun 2014 saya mulai memainkan kecapi. Ya, 2014 itu. Saat masih awal-awal duduk di bangku kuliah, semester empat. Saya harus bolak-balik Mandar--Makassar, kecapi kerap saya bawa. Menemani hari-hari saya. Akhirnya, saya begitu akrab dengan alat musik itu.”
Setia Naka Andrian
“Lantas, adakah yang melatarbelakangimu, hingga akhirnya kecapi menjadi tambatan?” Tajriani Thalib menjawab kembali, sambil masih dengan melakukan hal kecil yang sama, saya lihat, dengan masih melumat permen. Menanti pelayan kedai kopi mengantarkan makanan berat untuk berbuka. Bukan, bukan kopi dahulu. “Sesungguhnya, kehadiran saya di dunia seni, sejak masih SMA. Saat itu, saya sempat ikut sebuah sanggar di SMA. Berlanjut di kampus, saya ikuti paduan suara. Oh ya, untuk paduan suara, saya sudah ikut pula sejak SMA. Dan sesungguhnya sudah sejak masih anak-anak, saya kerap ikuti lomba menyanyi, salawat, kasidah. Ya, sepertinya sudah sejak kecil, balita.” Tanpa saya jeda, dan belum sempat saya sanggah, atau saya lemparkan pertanyaan lagi, Tajriani Thalib melanjutkan kisahnya. Matanya menerawang jauh, entah di titik mana ia labuhkan, saya tak punya daya merabanya. Hanya dapat khidmat untuk menyimaknya. “Dalam permainan kecapi Mandar ini, saya belajar dari kedua maestro pemain kecapi perempuan di Mandar ini. Merekalah maestro kecapi Mandar yang boleh dibilang, sudah berusia lanjut. Keduanya sudah berusia di angka 80 tahun lebih. Saat itu, saya harus bolak-balik pula dari kediaman maestro tempat saya menimba permainan kecapi. Dari rumah tinggal saya di Desa Lekopadis, Kecamatan Tinambung menuju ke rumah maestro kecapi di Desa Renggeang, Kecamatan Limboro. Sesungguhnya saya ingin banget belajar kepada pakkacaping tobaine, ya maestro pemain kecapi perempuan itu. Di rumah Amma Satuni atau Amma Marayama. Namun, karena persoalan jarak rumah tinggal saya ke rumah maestro itu begitu jauh, akhirnya saya memilih lebih intens untuk belajar kepada pakkacaping tommuane (pemain kecapi laki-laki). Ya, beliau adalah A’bah Fatima, yang tinggal di Batulaya, yang cenderung lebih dekat, saat ditempuh dari rumah tinggal saya. Kalau saya ke sana, sejak pagi hari saya singgahi ke kebunnya. A’bah Fatima selalu ada kecapi di kebunnya. Ya, saya mainkan di kebun A’bah Fatima. Sambil menyerap nada-nada dari alam lepas. Meski, saya akan tetap belajar kepada pakkacaping tobaine, saat ada waktu luang. Misalnya, saat tiba waktu libur kuliah, libur
semester,” tutur Tajriani Thalib pelan, sepelan kesabaran kami menanti pelayan kedai kopi mengantar makanan berbuka yang sudah dipesan, jauh waktu tadi, sebelum azan berkumandan jatuh di telinga kami. Tajriani Thalib melanjutkan lagi, “Sesungguhnya, saya merasa begitu berat, memikul segala ini,” Tajriani Thalib sedikit menunduk. “Kenapa, Taj?” tanya saya, penuh harap. “Saya takut, sejak beberapa penampilan saya di muka publik, seakan banyak orang berharap kepada saya. Seakan mereka punya harapan besar. Saya dianggap akan meneruskan kedua mastro pakkacaping tobaine itu. Ya, melanjutkan Amma Satuni dan Amma Marayama. Sebab, di sisi lain, sebenarnya saya ingin fokus bidang akademik dulu, ingin melanjutkan studi lagi, ingin kuliah lagi.” Saya melihat kebimbangan itu, Tajriani Thalib. Namun, bagaimana lagi, hidup ya memang begitu itu. Saya pun pasti akan sama pula, saat menghadapi pilihan seperti yang kau alami. Bisa jadi, saya akan jauh lebih bimbang lagi, daripada kebimbanganmu. Ya, saya pun turut menerawang jauh. Seakan tanpa jeda. Masih sama pula, menanti menu berbuka, dari salah satu pelayan kedai kopi, yang entah akan muncul kapan di panggung titik jumpa kami. Sebuah kedai kopi yang belum lama hadir menyapa masyarakat, di Tinambung ini. “Lalu, bagaimana dengan keluargamu, Taj? Orang tuamu, bapak dan ibumu, apakah mendukungmu penuh?” pertanyaan klise pun, terpaksa muncul dari bibir saya, yang tentu, akibat dari perut yang kian memberontak, dan menjadi-jadi. “Orang tua mendukung. Meski, awalnya sembunyi-sembunyi,” jawab Tajriani Thalib, dengan penuh keyakinan. Atas jawaban itu, saya pun jadi ingat dengan masa awal perjumpaan saya dengan jagat seni. Bagaimana orang tua saya mengetahui hingga menanggapi segala keanehan dan lelucon (bagi mereka) atas yang saya alami. Namun, bagaimanapun, segala itu pelan-pelan saya buktikan kepada mereka. Ya, kedua orang tua saya melihat sendiri, bagaimana yang seharusnya saya kerjakan dan yang saya lakukan dalam jagat kesenian ini menuai manfaat. Tidak hanya bagi saya semata, tetapi bagi orang-orang di luar diri saya.
Setia Naka Andrian
Begitu pula yang dialami Tajriani Thalib, saya mencoba menerka pun begitu. Awalnya pasti akan sembunyi-sembunyi. Orang tua mana yang ingin anaknya memiliki masa depan tak karuan? Pasti tak ada. Biasanya, orang tua cenderung menekan, atau bahkan melarang anak-anaknya saat melakukan beberapa laku yang aneh, misalnya saat berproses kesenian. Terkesan tak punya harapan dan masa depan yang baik. Biasanya dipandang begitu. Maka siapa pun punya hak untuk menjawabnya dengan tegas, bahwa jagat ini pun memiliki masa depan yang baik. Punya harapan baik pula. Ya, pasti. Orang tua Tajriani Thalib pasti merasakan itu. Betapa tidak, Tajriani Thalib terbukti telah turut serta dalam sejumlah pementasan kecapi yang dilakoninya. Misalnya saja saat di Makassar, dalam sebuah acara silaturahmi mahasiswa dari Mandar di Makassar. Kemudian saat Tajriani Thalib tampil di TVRI Sulawesi Barat, dalam sebuah program seni budaya. Orang tua mana yang tak leleh? Kemudian lagi, saat Tajriani Thalib terlibat dalam acara Erau International Folk and Art Festival, Kutai. Selain perhelatan itu, ada pula penampilannya dalam “Debat Kandidat Calon Gubernur Sulawesi Barat”. Ah, itu beberapa deret panggung yang dihinggapi Tajriani Thalib bersama permainan kecapinya. Bagi Tajriani Thalib, sesungguhnya perjumpaannya dengan kecapi Mandar ini boleh dibilang tak begitu disengaja. Pada 2014, Tajriani Thalib mengikuti seleksi Pertukaran Pemuda Antar-Negara di Mamuju. Dalam seleksi itu, peserta harus memiliki kemampuan bidang seni tradisional yang akan dipentaskan. Akhirnya Tajriani Thalib mencari-cari, kesenian tradisional apa kiranya yang bisa ia pelajari. Lalu kecapi Mandar menjadi pendaratan keinginannya untuk belajar salah satu kesenian tradisional dari Mandar. Dari situ, Tajriani Thalib seakan menemukan jawaban, pun menemukan kegoyahan-kegoyahan. Paling tidak, ia harus pula memikirkan pemenuhan kebutuhan untuk melanjutkan studi, melanjutkan kuliah lagi. Beberapa saat lengang, tiada perbincangan di antara kami. Sesekali kami menengok cemas, ke arah dalam, mengadah pada dapur kedai. Ya, alhamdulillah, penantian berakhir. Salah seorang pelayan kedai membawa nampan, berisi makanan yang kami pesan. Dua porsi nasi campur, namanya. Jika di kampung halaman saya, akrab disebut sebagai nasi rames.
Kami pun menyantap makanan itu sembari memulai lagi perbincangan kecil-kecilan, di sela kami punya jeda waktu saat mengunyah makanan. Dari arah samping meja lingkar tempat duduk kami, didapati sebuah panggung kecil. Tampaknya akan ada kegaduhan. Ya, benar dugaan saya. Sebuah kibor ditata, pun sound system sederhana telah siap di sampingnya. Tampak seorang musisi muda yang masih terlihat segar menatap masa depannya. Ia mulai memukul berderet tuts dalam papan kibor yang tak saya tahu mereknya. Di hadapannya pun, dari pelantang suara siap ditiupkan nada-nada yang keluar dari mulut musisi muda itu. Yang pastinya, dari mulut yang baru saja tunai berbuka. Tidak seperti mulut kami, yang masih khusyuk menggiling suap demi suap nasi campur. Patahan-patahan telur, ayam suwir, mi, tempe kering, memenuhi ruang pengedar suara dalam tubuh kami. ”Ouw, ada yang tak beres dari musisi muda itu,” keluh saya, spontan ketika baris syair pertama ditiupkan oleh musisi muda, berkulit gelap, yang entah tak saya tahu namanya. “Bagaimana jika saya bilang agar berhenti dulu?” tanggap Tajriani Thalib. “Jangan, biarkan saja.” “Tapi, kita kan sedang wawancara.” “Tak perlu, Taj. Tak apa. Biarkan ia melantunkan kemerdekaannya dalam berekspresi. Barangkali itu kemerdekaannya satu-satunya. Jangan sampai karena kita, ia jadi tak tunai menikmati kebebasannya,” jawab saya, mencoba mendamaikan suasana. Sungguh, sejujurnya, kami sangat terganggu dengan sajian musik yang tersaji. Lagu-lagu populer yang dibawakannya menjadi ruang baru, sekaligus membawa kami lari, kehilangan fokus untuk melanjutkan perbincangan. Ya, memang, dalam hati, saya berucap, sesungguhnya musisi muda itu pentas di studio dahulu. Jangan keburu tampil di muka publik serupa ini. Apalagi ini sebuah kedai kopi, kedai yang baru berdiri lagi. Sudah seharusnya pemilik memikirkan sungguh hal ini. Paling tidak, perlu penguatan branding dalam awal buka sebuah kedai kopi di sebuah daerah di Tinambung ini, yang dikatakan menjadi “Jogjanya” Polewali Mandar ini. Ya, memang, Tinambung ini kampung yang begitu seni, bagi beberapa orang di sini, bagi saya, atau bagi siapa saja yang menghinggapi. Sungguh!
Setia Naka Andrian
Ini kedai kopi kedua yang saya kunjungi, saat berada di Tinambung. Meski, kedai ini lebih mending daripada yang saya hinggapi kali pertama itu. Memang, pertama, kedai ini memiliki ruang ekspresi, sebuah panggung kecil yang lengkap dengan sound system dan alat musik, yang dapat dimanfaatkan sedemikian rupa sebagai ajang mengasah kreativitas, khususnya bagi para pegiat seni panggung. Pembacaan puisi, pentas musik akustik, dramatic reading, komedi tunggal, atau pertunjukan lainnya. Kalau kedai yang pertama itu, tidak ada. Bahkan sangat sempit. Kata Tajriani Thalib, sangat jarang didapati panggung-panggung seni yang menyasar ruang-ruang serupa kedai kopi, di Tinambung ini. Para pegiat lebih leluasa membuat sebuah gelaran acara seni di sanggarnya masing-masing. Ya, menyulap panggung sedemikian rupa di depan rumah mereka sendiri. Seperti yang sempat saya saksikan pula, saat ada gelaran Malam Puisi Ramadan, yang diselenggarakan di halaman rumah Muhammad Ishaq. Namun, sangat disayangkan pula, jika ada ruang-ruang yang serupa di kedai ini, yang tak tersentuh. Tentu, para pegiat sekitar harus punya upaya untuk meresponsnya. Jika tidak, ini menjadi ruang-ruang yang boleh dikatakan, maaf, mubazir. Lalu, kembali lagi, saya lempar pertanyaan kecil kepada Tajriani Thalib, “Kenapa tadi kau tak bawa kecapi, Taj? Pasti mereka akan tahu, bahwa di sini ada pelantun nada yang lebih bersungguh-sungguh menyuarakan kemerdekaan berekspresi. Paling tidak, akan menjadi tamparan halus, bahwa hendak pentas di muka umum, perlu latihan dahulu. Tidak langsung asal tabrak saja.” Tajriani Thalib hanya tersenyum kecil. Lalu, tiba-tiba, terputus perbincangan kami, ketika di jalanan sana. Di jalanan depan kedai, ada perkelahian sepasang kekasih. Entah, sepertinya mereka suami-istri. Usianya sudah tampak matang. Ya, mereka ada persoalan di rumah, dan dibawa keluar, ke jalanan, dan menjadi tontonan orang-orang. Penuh, hampir menyesaki bibir jalan. Segala mata tertuju kepada mereka. Sudah, kami menyaksikan sesaat karena bagi kami tak begitu penting. Sudah ada pula yang mencoba melerai, mendamaikan mereka. Akhirnya, berjalanlah kami kembali ke meja kedai, melanjutkan makan kembali,
melanjutkan perbincangan lagi. Saya mulai lagi, dengan pertanyaan kecil, “Taj, kalau boleh sebut, kau adalah penghubung antara generasi lalu dengan generasi selanjutnya, generasi setelah kau, yang jauh lebih muda. Apakah kau tak ingin, misal mengumpulkan mereka, atau membuat ruang-ruang belajar bersama mereka, yang sama-sama menekuri kecapi Mandar sebagai jalan menyuarakan dan menebarkan nada-nada kebaikan kepada khalayak? Ataukah tak ada teman seusiamu? Atau memang memainkan kecapi Mandar ini bisa dikata cukup susah atau bagaimana, Taj?” “Ya, yang saya alami sendiri, benar, sesungguhnya cukup susah dimainkan. *Solmisasi-*nya tak ada, cenderung susah. Barangkali ini yang membuat tak ada anak muda yang ingin memainkannya, atau belajar memainkannya dengan sungguh-sungguh. Entah kenapa, jika menengok ukurannya, kecapi Mandar lebih besar jika dibanding dengan kecapi Bugis. Petikan dan nada yang dikeluarkannya pun beda. Barangkali sebab beda dari ukuran tabungnya, maka nada yang diproduksinya pun jelas beda juga. Kalau kecapi Bugis itu tadi, *solmisasi-*nya jelas. Tampak dari do rendah hingga do tinggi. Kalau kecapi Mandar tidak.” “Lantas, terkait pakkacaping tobaine, pemain kecapi perempuan lain? Yang sama muda sepertimu, apakah ada, Taj?” tanyaku sedikit mendesak, sambil selepas itu meneguk sisa-sisa air es teh, yang sungguh sudah tak terasa lagi tehnya. “Pernah ada, pemain kecapi perempuan. Muda pula. Dari daerah Wonomulyo. Kalau tak salah, tahun 2014. Namun, sepertinya tak melanjutkan lagi. Setahu saya sekarang ia tinggal di Mamuju. Sempat ada ia unggah video di Youtube, tetapi memainkan kecapi Bugis, yang cenderung lebih sederhana, ada *fret-*nya. Nada-nadanya mudah terbentuk, sedangkan untuk kecapi Mandar tidak begitu. Seolah kita harus pandai meraba dan menemukan nada-nada itu. Sempat pula ada dari Polewali, ada komunitas pegiat, satu kali menghadirkan perempuan muda dua orang. Namun, saya tak begitu yakin, apakah menyanyi atau metik karena saat itu saya kebetulan tidak menghadiri acara itu, hanya melihat dalam sebuah unggahan foto. Dan sekarang, saya tak
Setia Naka Andrian
tahu lagi informasinya. Ada beberapa yang lain pula, yang ingin belajar. Namun, kami belum sempat jumpa, mereka bahkan jauh lebih muda dari saya. Ada yang dari Majene, ada pula mahasiswi dari Sendratasik UNM, mereka gelisah juga. Saya sendiri, seakan merasa diberi pesan, sebuah wasiat kecil dari para guru, para maestro itu. Dan itu seakan membuat saya berat memikulnya. Saya takut, jika semakin banyak yang berharap kepada saya,” begitulah Tajriani Thalib mencoba membeberkan, seakan hendak menjatuhkan segala kisah dan unek-unek, serta segala kegelisahan yang tersimpan. Tajriani Thalib kembali mengaduk-aduk gelas es teh yang ada di hadapannya. Ya, sama seperti yang saya lakukan tadi. Sama-sama es teh dalam gelas yang tak lagi tampak rasa tehnya. Hanya berisi air es yang kian mencair, kian mengecil batunya. Lalu, saya kembali melempar pertanyaan kecil lagi kepada Tajriani Thalib, “Taj, saya kemarin sempat memainkan kecapi Mandar, saat di Sanggar Uwake’, sanggarnya Muh. Rahmat Muchtar. Terasa sulit memang ya. Kalau kau sendiri bagaimana, saat awal-awal memegang kecapi Mandar itu?” “Ya, saat awal-awal saya belajar kecapi bersama sang maestro, guru saya. Guru hanya bilang, sudah main saja. Tak ada tahapan, coba mainkan begini dulu, atau bagaimana. Tak ada. Urutannya bagaimana, ya tak ada. Begitu yang saya alami saat belajar bersama maestro, guru saya. Seakan saya digiring untuk menemukan sendiri, bagaimana takdir permainan kecapi saya. Meski sungguh, saya ikuti betul-betul bagaimana cara guru saya memainkannya. Selanjutnya, ya itu tadi, saya kerap berupaya untuk memainkan dengan gaya dan warna saya sendiri. Tentu, yang nyaman saya mainkan,” tambah Tajriani Thalib, sambil menatap dinding-dinding ruang kedai, yang kian menampakkan diri, dan menunjukkan bahwa hari makin mematangkan malam. Selepas itu, perjumpaan kami pun kian diakhiri. Sambil, pada akhir-akhir perjumpaan, kami mengabadikannya dalam sebuah foto bersama. Ya, saya minta bantuan salah seorang pelayan kedai, yang telah menguji kesabaran kami. Lalu, karena ia telah mau dan memotret kami dengan cukup apik, akhirnya, kami pun seakan memaafkan segala lakunya, dalam memberikan
pelayanan buka puasa bagi perjumpaan kami. Sebuah perjumpaan yang boleh dibilang sangat langka, momen yang tak mungkin berulang pula. Lebih-lebih, kami telah dipenggal jarak. Sangatlah jauh, bagi hamba seperti kami, antara Kendal, Jawa Tengah dengan Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Meski, saya pun meyakinkan, “Suatu saat, sampai jumpa lagi, Taj. Tentu dalam kesempatan lain, yang lebih kreatif!” Saya tahu, tak lama lagi, ia pun akan bertandang ke Yogyakarta, dalam presentasi karya hasil residensinya pula dari Bienalle Jogja. “Berkabarlah kelak jika kau ke Jogja, insyaallah, saya akan hadir menjadi salah satu saksi mata, menyaksikan karyamu.”
Setia Naka Andrian
Hari Ujung di Polman
Rabu, 29 Mei 2019, adalah hari ujung keberadaan tubuh saya di Polman. Selepas sahur, saya tak bisa kembali mengistirahatkan mata kembali. Entah kenapa, satu sisi dalam diri saya seakan sudah ingin lekas pula ke kampung halaman, satu sisi diri seakan susah untuk beranjak dari Polman yang begitu menawan hati ini. Saya jadi ingat kembali, “Jika kau sudah minum air Mandar, maka kau sudah otomatis menjadi orang Mandar.” Kerap saya dihujani pernyataan itu dari beberapa perjumpaan saya dengan tidak sedikit orang Mandar. Ternyata, pernyataan itu begitu nyata saat-saat saya sudah hendak pulang, bergerak dari Polman, dari Jagat Mandar mempertemukan diri ini dengan beragam ketakjuban. Selepas santap sahur itu, di sebelah saya ada seorang teman. Edi namanya, seorang pemuda dari Tubbi Tarramanu. Ia bekerja di Polman, seorang perawat di sebuah rumah sakit daerah. Saya tak tahu, ia tiba-tiba berucap yang cukup mengejutkan dan mengharukan, “Mas Naka hendak pulang?” Begitu katanya. Tatapannya agak serius, seperti tak ada lelucon seperti biasanya, padahal biasanya kami kerap melempar gurau. Tak terbatas, tak berjarak sama sekali. Kami pun seakan merasa telah puluhan tahun saling mengenal. Edi pun kerap berkisah tentang banyak hal, dari mulai kampung halamannya, hingga hal-hal yang menyangkut perasaan dan kekasih. “Bang Naka tak ingin Tubbi Tarramanu?” tanyanya serius kepada saya. “Ya, kan kau tak bisa menemani saya, Bro,” begitu saya menjawab, dan menyapanya. Panggilan keakraban yang saya jatuhkan kepadanya.
“Ya, memang, Bang. Maaf ya, Bang ....”
“Ya, tak apa, Bro. Barangkali belum saat-saat ini waktu yang tepat,” jawab saya mencoba meredakan dan menenangkannya. “Titip salam untuk Indonesia di luar sana, Bang. Saya yakin, di luar sana siapa saja lebih bahagia. Namun, yakinlah, kami di sini juga menemukan kebahagiaan kami. Tentu sangat hakiki. Bahkan saudara-saudara saya di kampung halaman, di Tubbi Tarramanu itu, selalu punya harapan besar untuk bangsa ini. Selalu punya harapan untuk Indonesia ini. Tentu, untuk
Setia Naka Andrian
pemerintahan ini. Setiap saat, setiap tahun selalu begitu. Meski dari tahun ke tahun masih selalu sama. Kami masih menjalani segala laku yang sama. Meski sungguh, alam sangat mendukung kami. Ya, kekayaan itu mencukupi sehari-hari napas kami. Bahkan sangat melampaui. Namun, ya itu, kami seakan menemukan surga kami sendiri. Saat keluar, ya berarti kami meninggalkan surga kami dan kami akan tergiur dengan surga luar. Lalu akan melupakan surga asal di mana segenap hidup telah melahirkan kami, dan tak pernah sekali pun ingin mematikan kami,” tutur Edi, pelan-pelan ia kembali merangkakkan kisah, menuju beberapa hal yang kiranya terisak di dada. Selepas itu, saat hari masih pagi, sambil menunggu pakaian-pakaian kering dari jemuran di tempat pencucian, saya bergerak menuju Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Polewali Mandar. Saya mendengar kabar, bahwasanya hari itu ada sebuah workshop patuqduq, sebuah tarian Mandar. Saya pun bergegas berangkat, seorang diri.
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Saya dan Nurul Armila Utami, penari pattuqduq
Tak lama kemudian, saya sampai. Saya masuk ke dalam sebuah aula. Di sana saya lihat penuh orang-orang. Semuanya perempuan. Sedikit saja laki-laki yang tampak di situ. Mereka berlatih menari patuqdud. Sesekali saya lihat pula Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Ibu Hj. Andi Nursami Masdar yang baik hati itu, turut serta hanyut dalam lautan para penari-penari muda dalam workshop. Yang tak lain, kebanyakan di antara mereka adalah guru-guru menari dari sekolah-sekolah yang ada di Polewali Mandar. Kemudian berjumpalah saya dengan Nurul Armila Utami. Ia merupakan salah seorang mahasiswa Unasman yang kala itu turut serta hadir dalam workshop patuqduq itu. Ya, ia merupakan salah seorang penari terbaik, yang tentu begitu mendambakan dirinya sebagai sosok muda yang menghargai kebudayaan daerahnya. Nurul Armila Utami mengaku sangat ingin serius menjalani proses dalam upaya melambungkan kesenian tradisional ini. Meski ia juga masih tercatat sebagai mahasiswa, kecintaannya terhadap pattuqduq juga begitu besar. Tentu hari-harinya tak sedikit yang dihabiskan untuk proses kreatifnya menari. Jadi, ia tidak hanya menjadi mahasiswa yang melulu kuliah semata. Proses kreatif juga menjadi pijakan utama.
Setia Naka Andrian
Saya Harus (Benar-Benar) Pulang
Kamis, 30 Mei 2019, saya sudah benar-benar harus pulang, meninggalkan Sulawesi Barat. Berat masih begitu terasa mengidap dada ini. Namun, bagaimana lagi. Ini yang mesti ditempuh, dan segala ini paling tidak menjadi bulatan-bulatan tersendiri dalam kalender harian saya. Perjalanan yang cukup panjang, dari Polewali Mandar menuju Mamuju, Bandara Tampa Padang. Lima jam melewati jalur trans-Sulawesi, malam hari, jalan berkelok, naik-turun, membuat saya was-was. Ya, di sebelah kiri jalanan saya dapat menengok laut, sebelah kanan bukit-bukit. Sopir yang mengendarai mobil Innova hitam tampak begitu kencang menekan gasnya. Berkali-kali mata ingin hendak memejam, mengantuk, tetapi berkali-kali pula gagal. Mobil-mobil besar pun sesekali muncul dari arah berlawanan. Begitu lampu menyorot nyala kuat, seketika pula lekas berpapasan, di sebelah mobil yang saya naiki. Ah, itu-itu terus, sungguh membuat diri terkaget, dari mengantuk, hendak memejamkan mata, lalu terbangun lagi. Terus begitu, berkali kali. Meski begitu, saya akui betapa mahir sopir yang mengendarai mobil Innova hitam yang saya tumpangi itu. Ya, mobil sekaligus sopir yang saya sewa, dengan dinaiki saya seorang diri dari Polewali menuju Mamuju, dengan biaya yang tak mahal-mahal untuk ukuran perjalanan jarak tempuh lima jam. Saya hanya mengeluarkan lima ratus ribu rupiah saja. Semua berkat rekomendasi dari salah seorang teman dari Mandar. Ya, lelah perjalanan itu pun membuat saya tak kuasa berbuat apa-apa. Saya merasa diri ini makin tua saja. Hingga malam hari, selepas sampai di Mamuju, saya pun tak sempat santap sahur. Sudah lelah duluan saat tiba di penginapan, yang juga mendapat rekomendasi dari sopir yang membawa saya dari Polewali menuju Mamuju itu. Kami banyak berbincang, terutama saat kami sama-sama santap makan malam saat tiba di Mamuju, sebelum saya diantar ke sebuah penginapan. Saya menjalani hari-hari akhir di Mandar seorang diri, terutama saat saya sampai di Mamuju, di kota Bandara Tampa Padang yang hendak mengantarkan saya menuju Jakarta. Meski sebelum ini, saya telah berkabar
Setia Naka Andrian
kepada Bustan Basir Maras untuk mengatur waktu perjumpaan. Melalui pesan singkat WhatsApp saya menyampaikan pesan itu, “Bang Bustan, maaf, 29 dan 30 Mei apakah kiranya di Mamuju atau tidak, Bang? Insyaallah, saya berencana bergerak ke Mamuju besok malam, agar aman waktu dan tidak terburu. Begitu kiranya, Bang. Terima kasih. Salam.” “Pesawat jam berapa?” “Siang, jam 13, Bang.” “Garuda? Tanggal 30 Mei, ya?” “Ya, Bang. Garuda. 30 Mei, siang hari.” “Begini saja, saya besok kan ada acara ke Mamuju Tengah, nanti kau ikut saya dulu saja, ya. Di sana saya ada safari. Bagaimana? Setidaknya dirimu sudah keliling separuh Sulbar.” “Ya, tak apa, saya ikut safari, Bang Bustan. Lalu saya besok malam menuju Mamuju Tengah begitu, Bang? Tepatnya di mana itu?” “Itu Mamuju Tengah di Tapoyo, ibu kota Mateng. Dekat kok. Hanya sekitar dua jam dari Mamuju. Oh ya, usahakan tiba di Mamuju paling lambat jam 9 pagi. Kita langsung ke Mamuju Tengah jam 10 pagi sama operatorku, Safari Ramadan. Malam habis tarawih jam 8 kita langsung balik. Jam 9 pagi nanti diantar sopirku ke bandara, sebab saya akan langsung ke Majene dan Polman. Bagaimana jika begitu? Nanti kita akan safari di kota tua Babana. Legendaris dalam banyak folklor Mandar. Babana itu adalah bandar labuh terpenting di masa lalu, sebelum jalan trans-Sulawesi dibangun.” “Maaf Bang, itu Safari Ramadannya besok sore?” “Ya, besok sore. Usahakan berangkat dari Polman besok selepas sahur, menggunakan mobil yang pertama berangkat dari Polman, ya. Nanti akan tiba di Mamuju sebelum jam 9. Bagaimana?” “Oke, Bang. Saya usahakan begitu. Nanti jika besok sudah hendak berangkat, saya akan berkabar. Terima kasih ya, Bang.” Beberapa saat kemudian, saya baru ingat. Ternyata saya salah baca, salah maksud dari pesan yang dikirim Bustan Basir Maras. Awalnya yang saya tahu saya diminta berangkat selepas zuhur, bukan selepas sahur. Padahal
Bustan Basir Maras menghendaki saya berangkat selepas sahur. Ah, zuhur dan sahur dalam ponsel sesekali juga mengecoh pandangan mata. Akhirnya, saya pun urung, tak jadi turut serta Bustan Basir Maras untuk bersafari Ramadan ke Mamuju Tengah. Ya, Bustan Basir Maras adalah salah seorang pekerja dalam Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial. Kegiatan-kegiatannya pada bulan Ramadan ini, di antaranya Safari Ramadan itu. Berkeliling ke daerah-daerah terpencil di Sulawesi Barat, dengan menyelenggarakan kegiatan dan lainnya, yang tentu masih sangat dekat dengan gerak literasi yang dilangitkannya bersama kawan-kawan literasi di Sulawesi Barat. “Astagfirullah. Maaf, Bang. Ini saya kira besok selepas zuhur, ternyata selepas sahur yang dimaksudkan. Maka dengan berat hati, saya belum bisa ikut Safari Ramadan tersebut, Bang. Dikarenakan besok saya masih harus berkemas, mengurus cucian pakaian, yang baru akan selesai besok, Bang. Dan hari ini saya masih melanjutkan perjumpaan-perjumpaan yang sekiranya masih bisa dikejar, hingga malam nanti, Bang. Maaf, begini saja, Bang. Saya nantinya langsung ke Mamuju. Semoga Kamis itu sebelum terbang, saya masih berkesempatan untuk jumpa Bang Bustan di kota tinggal, Mamuju. Begitu kiranya, Bang. Sekali lagi maaf, sungguh, sesungguhnya saya sangat ingin ikut Safari Ramadan itu di Mamuju Tengah, yang tentu melengkapi perjumpaan saya, setidaknya akan lengkap separuh perjumpaan saya di Sulawesi Barat.” “Oh, kalau begitu pagi sebelum terbang saja kita jumpa ya. Sebab pagi itu juga saya hendak bergerak ke Majene. Sebab, saya juga paling baru pulang dari Mateng tanggal 30 Mei itu menjelang sahur. Wah, sayangnya memang waktunya mepet di akhir-akhir ini ya. Kalau bisa ikut Safari Ramadan ke Mateng itu, artinya kau telah menjejaki kiranya separuh Sulawesi Barat. Sebab kau telah dapat 3 kabupaten, yakni Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju Tengah. Sisanya tinggal tiga kabupaten lagi. Oke, begitu ya, terima kasih.” Saat sudah tiba di Mamuju pun, saya lekas berkabar kepada Bustan Basir Maras, “Bang Bustan, maaf, ini saya sudah di Mamuju. Ini saya kirim titik lokasi penginapan saya.”
Setia Naka Andrian
“Ya, ini saya juga baru tiba dari Mamuju Tengah. Oke, besok pagi saya usahakan mampir ke situ sekira jam 9 pagi ya. Sebab selepas itu saya juga harus ke Polewali Mandar, perjalanan 5 jam lagi. Terima kasih, ya.”
“Oke, Bang. Lancar dan berkah selalu ya safarinya ....”
“Oke, siap, terima kasih. Saya memejamkan mata sejenak ya. Selamat
istirahat pula. Sampai jumpa besok ya ....”
Selanjutnya, beberapa kali paginya saya menghubungi Bustan Basir Maras, tetapi tak kunjung pula terbalas pesan singkat saya. Entah kenapa. Entah ia lupa atau bagaimana. Akhirnya, saya pun lekas bergerak ke Bandara Tampa Padang, Mamuju, sebab saya takut jika terlambat. Wah, bisa tambah susah jika sampai terlambat. Tak bisa saya bayangkan, menjelang Lebaran begini, betapa susahnya mencari jadwal penerbangan. Selepas saya bergerak dari penginapan menuju bandara, selepas memesan armada online, Bustan Basir Maras pun mengirim pesan singkat melalui WhatsApp berikut, “Astagfirullah. Ampun, ampun, Mas Naka. Saya ketiduran. Ini baru bangun. Sungguh, saya kelelahan selepas dari Mateng itu. Ini sudah di bandara ya? Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Sukses selalu. Salam buat Mas Heri C.S. dan teman-teman di Kendal. Insyaallah suatu saat kita
jumpa lagi. Amin ....”
“Oke, Bang. Siap. Santai saja, Bang. Sampai jumpa suatu saat di lain kesempatan. Suatu saat insyaallah kita pasti akan jumpa lagi. Entah di Jawa atau di Mandar lagi. Terima kasih atas perjumpaan di Mandar dan segala
kebaikan-kebaikannya, Bang. Sukses dan berkah selalu. Amin ....”
Ya, Bandara Tampa Padang Mamuju ini, yang kali pertama menjadi gerbang masuk saya ke tanah residensi. Ya, sebulan lalu saya tiba di sini. Saat ini, saya harus lekas terbang, melepas segalanya di sini. Ya, panas yang sama seperti yang menyentuh saya kali itu. Semua masih sama, hanya bedanya, dahulu saya ditemani pendamping, Pak Untoro dan Mbak Estina. Bedanya pula, saat itu saya hadir sepenuh kekosongan, menyediakan banyak ruang dalam segala memori dalam tubuh, dan saat ini, ruang-ruang itu seakan telah penuh jejak-jejak dan kenangan yang saya punguti selama sebulan di Jagat
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Saat di Bandara Tampa Padang Mamuju Sulawesi Barat
Mandar, ya, tanah residensi yang begitu menawan dan begitu menyambut diri yang biasa ini dengan segala yang luar biasa. Bahkan, di luar dugaan dan ketakutan saya sebelumnya, yang sempat saya bawa dari rumah. Ya, ini saat saya benar-benar harus pulang, menerbangkan diri, melambaikan tangan kepada Jagat Mandar. Saya pun mengirim pesan-pesan salam perpisahan berkali-kali kepada kawan-kawan Mandar yang telah banyak membantu dan sungguh tulus ikhlas direpotkan saya saat di Mandar. Dalam pesan-pesan singkat dan dalam hati terdalam, saya berucap, suatu saat, ya, suatu saat, pasti kita akan jumpa lagi. Jika tidak di Mandar, ya di Jawa, tentu dalam kesempatan yang lebih kreatif dan menggairahkan. Insyaallah.
Setia Naka Andrian
Jumpa Kawan Seperjuangan di Wisma
Sore hari menjelang malam, Kamis, 30 Mei 2019 itu, saya tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Syukur alhamdulillah, saya tiba di Tanah Jawa. Selepas sebulan di Tanah Mandar, saya seakan telah lama saya meninggalkan tanah kelahiran, yang telah tiga puluh tahun ini memelihara segenap raga, jiwa, dan imajinasi yang kerap berlalu-lalang dalam diri ini. Saat tiba di bandara, saya janji berjumpa Aksan Taqwin sebab di antara kami berdelapan, hanya tersisa saya dan Aksan Taqwin yang belum sampai Jakarta, jadwal penerbangan kami berdua yang paling akhir. Kami pun bergerak menuju Wisma Badan Bahasa. Sesampai di Wisma Badan Bahasa, kami langsung menuju ruang administrasi, untuk lekas menyerahkan segala administrasi residensi di daerah 3T, yang telah kami jalani satu bulan penuh itu. Ya, tak berselang lama, hanya beberapa puluh menit, semuanya usai. Kami pun lekas menuju kamar di Wisma Badan Bahasa itu. Teman-teman lain telah menyambut kami dengan hangat, lebih-lebih telah disiapkan pula makan malam. Ah, sungguh saat yang tepat. Saat tubuh telah lelah dihajar perjalanan panjang, baik darat maupun udara, saat tubuh telah lapar dan dahaga, teman-teman yang telah duluan sampai di Wisma Badan Bahasa, menyiapkan kami makan malam, yang sudah lengkap pula dengan minumannya. Kami pun berbincang tentang segala yang telah dikerjakan dan dilalui di tanah residensi. Banyak cerita tentunya. Banyak pula kesan baik yang ditangkap di antara kami masing-masing. Ternyata, saya merasa baru saja kemarin menggerakkan tubuh ke Jakarta, menuju Wisma Badan Bahasa ini untuk mendapat pembekalan dari para kurator. Baru saja saat itu diterjunkan ke daerah 3T, baru saja. Namun, kini tubuh ini telah kembali lagi ke Wisma Badan Bahasa ini. Tujuh kawan seperjuangan saya, yakni Hary B. Koriun (Riau, ke Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur), Agit Yogi Subandi (Lampung, ke Sampang, Jawa Timur), Mutia Sukma (Yogyakarta, ke Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat), dan Eko Triono (Yogyakarta, ke Parigi Moutong, Sulawesi Tengah), Faisal Syahreza (Bandung, ke Boalemo, Gorontalo), Aksan Takwim (Banten, ke Seruyan, Kalimantan Tengah), dan Suparlan (Lombok, ke Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat), begitu hangat mengisahkan beberapa hal yang berkait dengan perjumpaan mereka di daerah 3T.
Setia Naka Andrian
Dokumentasi Setia Naka Andrian: Bersama Kawan Seperjuangan. Bang Hary yang tak ikut, sudah istirahat duluan, sedang sakit.
Kami larut, hingga malam meski di antara kami tampak dengan tubuh lelahnya masing-masing. Bahkan telah ada yang meriang. Ya, barangkali meriang seperti yang saya alami kala masa keberangkatan sebulan yang lalu itu. Ya, Eko Triono dan Hary B. Koriun tampak meriang. Mereka berdua pamit tidur lebih dahulu, selepas semua perbincangan dirasa harus diakhiri. Meski, belum tunai perbincangan kami dan berharap suatu saat kami lanjutkan kembali. Paling tidak, momen serupa ini tak mungkin dapat berulang dan kembali lagi. Saat jumpa dengan teman-teman penulis serupa ini, apalagi bagi saya pribadi, pastilah menjadi momen yang sangat saya nanti. Tentu dari perjumpaan seperti ini, akan banyak informasi tentang dunia kepenulisan dan jagat proses kreatif yang sangat berguna bagi kesehatan proses saya. Lebih-lebih, ketujuh teman seperjuangan saya dalam residensi sastrawan berkarya ini, tak lain mereka adalah orang-orang pilihan yang telah lama saya amati dan saya lihat jejak proses kreatifnya di medan kepenulisan, khususnya penulisan sastra di Indonesia ini.
Sudah, perjumpaan seakan telah sepenuhnya usai. Jumat pagi hari, 31 Mei 2019, saya harus bergerak pulang ke rumah, ke kampung halaman, melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Bandara Ahmad Yani, Semarang. Ya, istri telah menanti di bandara, menjemput kepulangan saya, kekasihnya satu-satunya. Tentu tak ada yang lebih memanjangkan kenangan, kecuali perjumpaan yang panjang-panjang.
Daftar Informan
| Nama | : Syuman Saeha |
|---|---|
| Tempat/tanggal lahir | : Campalagian, 17 Agustus 1975 |
| Pekerjaan | : Penyair, Teaterawan, Budayawan Polewali Mandar |
| Nama | : Muh. Rahmat Muchtar |
| Tempat/tanggal lahir | : Tinambung, 10 Juli 1974 |
| Pekerjaan | : Seniman, Budayawan Polewali Mandar |
| Nama | : Ramli Rusli |
| Tempat/tanggal lahir | : Tinambung, 3 Desember 1973 |
| Pekerjaan | : Seniman, Budayawan Polewali Mandar |
| Nama | : Muhammad Ridwan Alimuddin |
| Tempat/tanggal lahir | : Tinambung, 23 Desember 1978 |
| Pekerjaan | : Budayawan Polewali Mandar, Penulis Buku, di |
antaranya “Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut?” (Ombak 2004), “Orang Mandar Orang Laut” (KPG
2005), “Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara” (Ombak 2009), “Mandar Nol Kilometer” (Koran Mandar, 2011).
Nama : Sahabuddin Mahganna Tempat/tanggal lahir : Tinambung, 5 juni 1982 Pekerjaan : Guru, Seniman, Etnomusikolog Mandar, Budayawan Polewali Mandar
| Polewali Mandar | |
|---|---|
| Nama | : Muhammad Munir |
| Tempat/tanggal lahir | : Campalagian, 15 Februari 1979 |
| Pekerjaan | : Pegiat Literasi, Budayawan Polewali Mandar, |
Penulis Buku, di antaranya buku berjudul “Kamus Sejarah dan Kebudayaan Mandar”, “Mengeja Mandar Lewat Balanipa”, “Demokrasi Benu Base”, Novel “Bamba Sangi’ Anna Cawa”, kolekserium puisi “Serigala Bertopeng Nabi”.
Nama : Thamrin Uwai Randang Tempat/tanggal lahir : Majene, 1 Januari 1984 Pekerjaan : Pegiat Literasi, Pengelola Rumah Baca dan Museum
| Naskah I Manggewilu | |
|---|---|
| Nama | : Bustan Basir Maras |
| Tempat/tanggal lahir | : Majene, 9 September |
| Pekerjaan | : Sastrawan, Budayawan Sulawesi Barat |
| Nama | : Tajriani Thalib |
| Tempat/tanggal lahir | : Tinambung, 24 Mei 1994 |
| Pekerjaan | : Pemain Kecapi Perempuan |
| Nama | : Muhammad Yusri |
| Tempat/tanggal lahir | : Polewali Mandar, 4 Agustus 1989 |
| Pekerjaan | : Pegiat Lingkungan, Pengelola Rumah Penyu Desa Galeso, Kec. Wonomulyo, Kab. Polewali Mandar |
| Nama | : Muhammad Dalif |
| Tempat/tanggal lahir | : - |
| Pekerjaan | : Teaterawan, Pegiat Seni Tradisi |
| Nama | : Sri Musdikawati |
| Tempat/tanggal lahir | : - |
| Pekerjaan | : Dosen, Penulis, Budayawan Mandar |
Bidata Penulis
Setia Naka Andrian, Lahir dan tinggal di Kendal, sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Tulisannya berupa puisi, cerpen, esai dan resensi dimuat di beberapa media lokal maupun nasional. Menerbitkan buku puisi tunggal, “Perayaan Laut” (Rumah Diksi Pustaka, April 2016), dan bunga rampai Remang-Remang Kontemplasi (Rumah Diksi Pustaka, November 2016) yang telah mendapatkan Penghargaan Acarya Sastra 2017 dari Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pada Agustus 2017 menerbitkan dua buku puisi, Manusia Alarm dan Orang-Orang Kalang (Garudhawaca Yogyakarta). Meraih Anugerah Sastra Litera 2018 sebagai Penulis Puisi Unggulan. Mengikuti Residensi Sastrawan Berkarya ke Wilayah 3T 2019 dari Bangan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud RI. Juara 1 Penulisan Puisi Festival Sastra Jawa Tengah 2019. Ia tinggal di Sarang Lilin Art Space yang beralamat di Perumahan Griya Pantura Regency Blok A No. 4 Desa Tosari, Kec. Brangsong, Kab. Kendal, Jawa Tengah. Dapat disapa melalui facebook dengan akun sesuai nama lengkap, SMS/WhatsApp 085641010277, twitter @setianaka, instagram @setianakaandrian, dan narablogsetianakaandrian.blogspot.com
Bidata Penyunting
Setyo Untoro lahir di Kendal, 23 Februari 1968. Saat ini ia tinggal di Bekasi bersama seorang istri dan dua orang anak. Sebelum bekerja di Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ia pernah bermagang sebagai reporter di The Jakarta Post, Jakarta (1994) dan menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra, Universitas Dr. Soetomo, Surabaya (1995—2001). Saat ini ia terlibat dalam kegiatan penelitian, penyuluhan, penulisan, penerjemahan, dan penyuntingan, serta pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Ia pernah menduduki jabatan struktural selama beberapa tahun, tetapi kemudian mengundurkan diri. Ia merupakan salah satu ahli bahasa yang kerap terlibat, antara lain, dalam penyusunan rancangan peraturan perundang- undangan di DPR RI serta menjadi saksi ahli dalam perkara tindak pidana di kepolisian dan di pengadilan. Selain itu, ia sesekali mengikuti kegiatan seminar dan konferensi kebahasaan dan kesastraan, baik nasional maupun internasional.
MILIK NEGARA Setia Naka Andrian
TIDAK DIPERDAGANGKAN
“Narasi Perjumpaan di Jagat Mandar” adalah sebuah kerja merekam jejak-jejak perjumpaan yang saya lalui selama lebih kurang satu bulan di Polewali Mandar Sulawesi Barat. Perjumpaan terhadap manusia, alam, kebudayaan, benda-benda, atau apa saja. Sungguh, awalnya (saat hendak berangkat) satu bulan itu terasa sangat panjang. Bahkan, saya merasa kebingungan, hendak melakukan apa saja dalam waktu sepanjang itu. Namun ternyata, selepas terjun, bergumul dengan Orang Mandar yang begitu baik-baik, satu bulan terasa sangatlah pendek. Bahkan saya merasa banyak hal yang belum tunai. Banyak janji-janji perjumpaan dengan Orang Mandar yang belum sepenuhnya tuntas. Dan, untuk menghibur diri dan mereka, saya meyakinkan, bahwa suatu saat saya pasti akan kembali lagi ke Mandar. Ya, suatu saat, dan tentu dalam kesempatan lain.
“Jika kau sudah minum air Mandar, maka kau sudah otomatis menjadi orang Mandar.” Kerap saya dihujani pernyataan itu dari beberapa perjumpaan saya terhadap tidak sedikit orang Mandar. Ternyata, pernyataan itu begitu nyata saat-saat saya sudah hendak pulang, bergerak dari Polman, dari Jagat Mandar mempertemukan diri ini dengan beragam ketakjuban.
Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan