Baca PDF (OCR): Masa Depan Politik Kepulauan Kita

44 halaman · 44 halaman diproses dengan OCR· 94088 ms

Daftar isi
  1. MASA-DEPAN POLITIK KEPULAUAN KITA
  2. Dr. TENGKU AASAN MUHAMMAD di TIRO
  3. lang ke negerinja, untuk mengatakan kepada mereka supaja berbenti men-
  4. nangkabau untuk menjerang Atjeh, dan mengirimkan pasukan-pasukan Atjeh
  5. memungkinkan pembangunan, kemadjuan, dan civilisasi. Dibawah 'pimpinan"
  6. ke zaman kegelapan, ke zaman siksaan, dan ke zaman pembakaran kitab dan
  7. sedjenak, bahwa sedang djumlah penduduk kita berlipat-ganda setiap 20
  8. keturunan kita ini, dan tidak akan berhasil dimasa jang akan datang, oleh
  9. SUMATERA BERDAULAT Medan

Manifesto

MASA-DEPAN POLITIK KEPULAUAN KITA

Oleh

Dr. TENGKU AASAN MUHAMMAD di TIRO

N

Sepatah Kata Pengantar Manifesto ini kami tudjukan kepada seluruh putera bangsa-bangsa Kepulauan Kita jang senasib dibawah penindasan kolonialisme baru jang berkulit saw oh- matang -- kolonialisme Djawa -- jang telah menggantikan kolonialisme lama jang berkulit putih dan berkulit kuning di Kepulauan Kita, sehabis Perang Dunia ke-ⅡI. Manifesto ini menolak pendudukan dan penguasaan Tanah Ibu kamí Sumatera, de- mikian djuga Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, Pasundan dan Irian, oleh kaum kolonialis Djawa. Manifesto ini menundjukkan bahwa selama dunia terkembang, dan sedjak ne- nek-mojang kita memulai sedjarah kita dibagian dunia iní, konsepsi politik"Indonesia" itu tidaklah pernah ada, sampai pendjadjah Barat mengadakannja: konsepsí "Indonesia" adalah konsepsi asing, ber-lafaz asing, diadakan untuk kepentingan pendjadjah menjatukan djadjahannja: kesatuan jang dilambangkannja adalah kesatuan tanah djadjahan; tudjuannja jang tertinggi: exploitatie, pemerasan. Bagi kita bangsa Sumatera, bangsa Sulawesi, bangsa Maluku, bangsa Kalimantan, bangsa Sunda, bangsa Bali, dan laín-lain jang mendjadi korban pemerasan itu, tidak ada alasan sedjarah, atau ekonomi, atau politik, atau kebudajaan, atau sosíal, untuk menelan konsepsi kolonial ini. Sebelum pendjadjah Belanda datang, sedjak ribuan tahun, kita telah mempunjai negara-negara jang merdeka dan berdaulat di Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali dan Pasundan. Tetapi "Indonesia" ? Tidak pernah! Malah karena Belanda tidak dapat menghantjurkan kekuasaan negara-negara kita itulah maka Belanda terpaksa memilih d e s a Djakarta sebagaí basis kekuasaan kolonialnja untuk menjerang seluruh Kepulauan Kita, suatu per- buatan jang kini sedang diteruskan pula oleh kolonialis baru. Kita hanja perlu membatja sedjarah kita dengan teliti untuk mengetabui ini! Manifesto ini bukanlah satu panggilan untuk "memetjah-belah". Djauh dari itu, kita hanja menuntut apa jang menurut hukum, adat, dan sedjarah, adalah mendjadi hak kita: pengembalian hak memerintah diri-sendiri kepada semua bangsa-bangsa Kepulauan Kita; pengembalian kedaulatan atas Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Irian, Bali dan Sunda kepada bangsa-bangsa itu sendiri. Manifesto ini mengadjak bangsa-bangsa Kepulauan Kita untuk menggantikan kolonialisme Djawa-- jang kini sedang menghadapi keruntuhan moral, politik dan eko-nomi -- dengan satu bentuk kerdjasama politik jang baru antara kita, dalam sebuah Konfederasi Asia Tenggara (KASIAT), dimana Sumatera, Sulawesi, Maluku, Bali, Kalimantan, Pasundan, Irian, dan lain-lain jang ikut serta, merupakan anggota jang sama-sama berdaulat, bukan lagi sebagai djadjahan belaka dari kaum kolonialis Djawa. Kesatuan "Indonesia" jang dikchendaki oleh kolonialis Djawa adalah kesatuan pasukan-pasukan "romusja" jang tjompang-tjamping dibawah komando Sukarno Sosrodihardjo; persatuan Kepulauan Kita jang dikehendaki oleh MASA-DEPAN POLITIK KEPULAUAN KITA adalah persatuan bangsa-bargsa berdaulat, persatuan dalam kemerdekaan dan kebebasan, kerdjasama antara bangsa-bangsa Kepulauan Kita dalam suasana hormat-menghormati, dan pengakuan terhadap masing- masing sebagaí Tuan dirumahnja sendiri. Dr. Hasan Muhammad di Tiro

New York, 3 Desember, 1964

I

INILAH INDONESIA-DJAWA

Apa jang kita persaksikan sekarang ini di Tanah Ibu, kampung-halaman kita, bukanlah suatu keadaan sementara, tetapi suatu keadaan jang tetap dan mungkin kekal. Satu perobahanpun tak akan terdjadi dengan sendirinja dimasa jang akan datang. Duapuluh tahun adalab suatu masa jang sangat lama, sama dengan ber- lalunja satu keturunan manusia. Dalam masa duapuluh tahun ini beberapa buah keradjaan besar sudah dibagi-bagi dan dibubarkan, lebih enam-puluh buah negara-negara baru sudah dibangunkan, hampir seluruh bangsa-bangsa jang dahulunja terdjadjah sudah memperoleh kembali kemerdekaan mereka, seluruh ekonomi dan irdustri benua Eropah dan Djepang sudah selesai dibangunkan kembali dari runtuhan puing Perang Dunia ke I. Apa jang sudah'tertjapai" dan terdjadi di kepulauan kita dalam masa jang selama itu adalah terlalu menjedihkan untuk diperbintjangkan disini. Tetapi apa jang sudah kita alami selama masa satu keturunan bukanlah lagi suatu keadaan sementara; ini adalah suatu keadaan jang kekal dari Indonesia-Djawa. Inilah rupa dan wadjah Indonesia-Djawa jang sebenar-benarnja: dimana rakjat makin sehari makin bertambah lapar; dimana polítik keuangan negara terdiri dari pemotongan wang setiap setahun berselang; dimana inflasi merupa- kan satu sifat jang kekal dari ekonomi jang telah meruntuhkan simpanan, harta benda, kekajaan dan kehormatan rakjat kita; dimana tidak ada lagi kebebasan beragama ketjuali a la Djawa, tidak ada lagi kebebasan berbitjara, tidak ada lagi kebebasan menulis, dan tidak ada lagi kebebasan dari ketakutan dan antja- man; dimana setiap orang terantjam oleh penahanan dan penangkapan jang se- wenang-wenang, bahkan oleh pembunuhan jang semena-mena oleh polisi dan tentera; dimana tidak ada lagi keadilan dan hukum; dimana Undang-undang Dasar negara ialah apa jang disebut oleh fuehrer Djawa belaka; dimana rakjat sudah kehilangan hak-hak politik dan hak-hak asasi kemanusiaan mereka; dimana pertumpahan darah terdjadi terus-menerus dengan tidak berbenti-henti- nja ketjuali di daerah-daerah bangsa Djawa; dimana semua orang baik-baik jang dahulunja sudah berdjuang untuk kemerdekaan Indonesia-Djawa berada dan meringkuk dalam pendjara, sedang mereka jang seharusnja dalam pendjara berada diluar membangga-banggakan pakaian seragam djenderal-djenderal dan kedudukan menteri-menteri. Inilah gambaran dan rupa Indonesia-Djawa, "satu negara pentjuri dan perampok jang disalah-perintahi oleh orang-orang setengah gila", sebagai seorang penulis sudah berhasil mensifatkannja dengan tepat sekali. Inilah gambaran dari Indonesia-Djawa semendjak duapuluh tahun jang si- lam. Inilah gambaran dari Indonesia-Djawa untuk duapuluh abad jang akan datang, djika kita putera-putera Sumatera, Kalimantan, Sulawesí, Maluku, Bali, Sunda, dan lain-lain, tidak bangun serentak dari tidur kita, dan tegak berdiri merebut kembali kemerdekaan dan kehormatan kita jang selama duapuluh tahun ini sudah di abai-abaikan dan direndah-rendahkan oleh kaum kolonialis Djawa. Waktunja sudah sampai buat kita untuk menjuruh kaum kolonialis Djawa itu

lang ke negerinja, untuk mengatakan kepada mereka supaja berbenti men-

diktekan kita bagaimana memerintah Tanah Ibu, kampung-halaman kita sendiri, bagaimana mempergunakan wang kekajaan kita sendiri, dan bagaimana mendidik anak-turunan kita sendiri. Kalau kita tidak segera mendapati kembali perasaan harga-diri kita, perasaan pertjaja pada diri kita sendiri dan mengambil kekuasaan atas Tanah Ibu, kampung-halaman, rumah-tangga dan harta-benda kekajaan kita sendiri, maka masa sekarang dan masa depan kita dan keturunan kita akan hilang lenjap untuk selama-lamanja sebagaimaa halnja dengan masa silam kita seketurunan ini.

II KOLONIALISME BELANDA TIDAK DIHAFUSKAN TETAFI DITERUSKAN DENGAN NAMA BAFU Apa jang sudab terdjadi di kepulauan kita selama duapuluh tahun ini bukanlab penghapusan dari kolonialisme jang telah didirikan oleh Belanda, tetapi adalah penerusan dan pemeliharaannja dalam bentuk dan dasar- dasarnja jang sungguh asli. Jang berobah hanjalah orang-orang jang men- duduki istana-istana di Djakarta dan di Bogor. Apa jang sudah terdjadi sebenarnja hanja pertukaran nana-nama pegawai, seorang Belanda jang bernama Hubertus van Mook telah diganti oleh seorang Djawa jang bernama Sukarno Sosrodihardjo. Sedang seluruh sistem pendjadjahan Belanda, dalam bentuk keluasan dan kesatuan daerahnja, dalam bentık susunan politik dan administrasinja, semuanja pada dasarnja dipelihara bulat-bulat sebagai se- mula. Pengorbanan terachir, penjerahan bangsa Irian Barat kepada kaum kolonialis Djawa telah dilakukan atas "kekuatan" alasan jang bahwa mereka itupun dahulunja didjadjah oleh Belanda dan karena itu merekapun masuk daftar "hak-milik" dan "harta-benda" Hindia-Belanda jang harus diserahkan kepada keturunan Hindia-Belanda itu, jaitu Indonesia-Djawa. Sudahlah te- rang-benderang bahwa djika hasil dari penaklukan Belanda diserahkan kepada Djawa, maka akibatnja tidak boleh tidak melainkan pendirian satu imperialisme Djawa diatas tempat jang tadinja diduduki oleh imperialisme Belanda. Karena itu tidaklah mengherankan kalau inilah jang sebenarnja jang sudh terdjadi. Bagaimana maka hal jang sematjam ini telah diterima sebagai satı "pemberian kemerdekaan" dan sebagai satu tindakan penghapusan pendjadjahan di kampung-halaman kita adalah suatu hal jang sungguh mengherankan! Pada waktu pendjadjahan Inggeris telah diachiri dengan mengembalikan hasil-hasil dari penaklukan Inggeris kepada pemilik-pemilik aslinja: India dikembalikan kepada orang India, Pakistan dikembalikan kepada orang Pakistan, Burma dikembalikan kepada orang Burma, Ceylon kepada orang Ceylon, Ghana kepada orang Ghana, Kenya kepada orang Kenya, Kuweit kepada orang Kuweit, Iraq kepada orang Iraq, Jordan kepada orang Jordania, Mesir kepada orang Mesir, dan demikianlah seterusnja; pada waktu pendjadjahan Perantjis sudah dihapuskan dengan mengembalikan semua hasil dari

penaklukan Ferantjis masing-masing kepada penduduk aslinja jang berhak : Syria dikembalikan kepada orang Syria, Lebanon dikembalikan kepada orarg Lebanon, Tunisia dikembalikan kepada orang Tunisia, Aldjazair dikemba-likan kepada orang Aldjazair, Mauretanía dikembalikan kepada orang Mau- retania, Madagaskar kepada orang Madagaskar, Congo kepada orang Congo, Vietnam kepada orang Vietnam, Kambodja kepada orang Kambodja, Laos kepada orang Laos, dan demikianlah seterusnja. Tetapi bertentangan sekali dengan aliran zaman ini, dan berlawanan sekali dengan segala hukum keadilan, maka pendjadjahan Belanda di kepulauan kita telah dipelihara bulat-bulat, tanah-tanah jang ditaklukkannja tidaklah dikembalikan kepada bangsa aslinja jang berhak atas tanah-tanah itu jang dahulunja direbut oleh Belanda dari mereka dengan peperangan jang berlumur darah: Sumatera tidaklah dikembalikan kepada orang Sumatera, kalimantan tidaklah dikembalikan kepada orang Kalimantan, Sulawesi tidaklah dikembalikan kepada orang Sulawesi, Maluku tidaklah dikembalikan kepada orang Maluku, Bali tidaklah dikembalikan kepada orang Bali, Pasundan tidaklah dikembalikan kepada o- rang Sunda, tetapi semuanja telah diserahkan bulat-bulat kepada kaum kolonialis Djawa, dengan tidak ada pertanjaan dan pemilihan. Semuanja dengan serta-merta telah diserahkan kepada Djawa, se-akan-akan kita semua adalah 'hak-milik" dan "harta-benda" dari Hindia-Belanda jang dapat diwa- riskan demikian sadja kepada keturunannja, jakni Indonesia-Djawa. Olch karena itu, tindakan pemerdekaan (decolonization) sebagaimana jang dike-hendaki oleh Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa belumlah lagi didjalankan di kepulauan kita sebagaimana sudah didjalankan di Indotjina, Asia dan Af- rika. Oleh karena republik Indonesia-Djawa jang sekarang dalam teori-nja dan dalam kenjataannja adalah landjutan dari pendjadjahan Belanda dan waris dari pada segala hasil penaklukan jang tidak sah dan perampokan be- laka dari Hindia-Belanda, maka masalah ke-legal-an kekuasaan dan pen- diriannja adalah masalah jang sangat penting sekali, karena republik Indo-nesia-Djawa jang sekarang ternjata suatu negara jang tidak sah dan suatu negara jang tidak mempunjai dasar hukum. Walaupun republik Indonesia-Djawa sekarang mondiduli Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian Barat, Bali, Sunda dan lain-lain, kenjataan pendudukan sadja tidaklah me- legalkan apa-apa, dan tidaklah memberi hak-hukum kepada kaum kolonialis Djawa untuk menguasai negara-negara besar tersebut. Hak hukum atas sesuatu tanah tidaklah berasal dari pendudukan dan tidak pula berdasarkan pada pendudukan itu, tetapi berdasarkan pada bagaimana hal-ibwal dan asal usul terdjadinja pendudukan itu dimasa jang sudah dan bagaímana hal itu dipertahankan sekarang. Untuk membuktikan keadilan sesuatu-tuntutan ter- hadap sesuatu tanah atau daerah (territory) kita barus memeriksa lebíhda- hulu tentang tata-tertib (procedure) jang dengan melaluinja tanah itu suda h diambil atau diperoleh. Dan achirnja dengan memastikan kedudukan dari tata-tertib ini dalam Hukum Internasional. Apakah tata-tertib jang dipakai oleh orang Belanda dalam mengambil Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, dan lain-lain, dan dalam membuat negeri-negeri ítu mendjadi bagian dari Hindia-Belanda?

Rasanja tidaklah perlu kita paparkan lagi disini tentang sedjarah peperangn kedjam jang telah dilakukan oleh Belanda untuk menaklukkan Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, dan lain-lain, dalam usahanja untuk m- rebut dan menempatkan negeri-negeri itu kebawah pendjadjaban Hindia-Belanda, jang kemudiannja oleh Belanda sendiri ditukar namanja mendjadi "Indonesia". Ratusan ribu nenek mojang kita telah mengorbankan djiwa ra- ga mereka dengan kepahlawanan jang tak ada taranja untuk mempertabarkan Tanah Ibu, kampung-halaman kita dari aggressi Belanda dan kaki-tangan-nja serdadu-serdadu sewaan. Ini adalah sebagian dari sedjarah kita jan g tak bisa di obab-obab lagi. Inilah tata-tertib dan tjara jang dipakai oleh Belanda dalam mengambil Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Balidan lain-lain, dan dalam menempatkan negeri-negeri ini dibawah kekuasaan pendjadjahan mereka jang berpusat di Djawa. Inilah 'tata-tertib" jang dengan melaluinja kedaulatan Sumatera, Sulawesi, dan lain-lain, telah dihan- tjurkan. Ini adalah terang-terangan suatu perbuatan jáng tidak sah, suatu tindakan aggressi dan perampokan belaka. Tindakan-tindakan sematjam ini tidak pernah dapat dibenarkan, baik menurut Hukum Nasional, maupun menurut Hukum Internasional. Djika dasar Hindia-Belanda adalah salah, mala Indonesia-Djawa jang seratus persen didasarkan atas Hindia-Belanda, baik mengenaí daerahnja, maupun mengenai hak hukum-nja, tidaklah dapat mendjadi benar. Dasar Hukum Nasional dan Hukum Internasional jang menga- takan bahwa ex injuria jus non oritur, bahwa " Hukum (hak ) tidak dapat berasal dari perbuatan jang tidak berdasar hukum" atau " Kebenaran tidak datang dari kesalahan (kebathilan )", adalah masih mendjadi dasar hukum dari dunia beradab. Kesalahan dan ketidak-adilan jang bersedjarah ini hanja dapat diperbaiki dan dipulihkan dengan mengembalikan kedaulatan atas Sumatera kepada bangsa Sumatera, kedaulaatan atas Kalimantan kepada bangsa Kaliman tan, kedaulatan atas Sulawesi kepada bangsa Sulawesi, atas Maluku kepada bangsa Maluku, atas Bali kepada bangsa Bali, atas Fasundan kepada bangsa Sun- da, dan lain sebagainja. Kesalahan dan ketidak-adilan ini sekali-kali tidak dapat diperbaiki dan tidak dapat dipulihkan dengan memelihara kesatuan daerah Hindia-Belanda, walaupun dengan memakai merek baru sebagai "Indonesia". Perbuatan jang sedemikian menjolok mata ini takkan diterima orang di bagian dunia jang manapun djuga. Tak ada bangsa jang masih ber- kehormatan akan menerima penipuan-penipuan sematjam ini. Djika bal jang sematjam ini berlaku dibagian dunia jang lain, maka lebih 60 buah negara-negara baru jang telah mendjadi anggota Perserikatan Bangsa-bangsa takkan pernah memperoleh kerbali kemerdekaan mereka. Djika demikianlah ke- dudukan perkara dan penjelesaiannja, maka Kambodja, Vietnam dan Laos takkan pernah mendapat kembali kemerdekaan mereka dari Perantjis, karena kedaulatan atas negeri-negeri mereka dengan mudah dapat diserahkan kepada satu "Republik Indotjina" jang dibuat-buat sadja; djika demikianlah gerangan duduk perkaranja, maka Fakistan, Burma, dan Ceylon takkan pernah mendapat kemerdekaan mereka kembali dari Inggeris karena seluruh daeah djadjahan Inggeris di benua Asia dengan mudah dapat dimasukkan dalam satu negara kesatuan India; djika demikian gerangan soalnja, maka Tunisia,

Maroko, Aldjazair, dan Mauretania takkan pernah ada lagi, karena semua mereka dapat diserahkan pada satu negara kesatuan Afrika Parantjis dengan sesuatu nama samaran jang lain. Djika demikianlah aturannja, maka Kenya, Tanganyika, Zanzibar, Ghana, Ivory Coast, Sierra Leone, dan lain-lai n, takkan pernah memperoleh kembali kemerdekaan mereka, karena semuanja dapat diserahkan kepada sesuatu negara kesatuan Afrika Inggeris dengan m- makai sesuatu nama samaran jang lain. Demikian djuga Madagaskar, Cong, Mali, Togo, dan lain-lain, takkan pernah dapat mentjapai kemerdekaan mereka kembali karena semua mereka dapat dimasukkan dalam sesuatu Afrika Perantjis dengan sesuatu nama lain jang dibuat-buat pula. Tetapi inilab bentuk dan isi dari 'kemerdekaan" jang telah diberikan kepada bangsa-bargs kepulauan kita. Teranglah sudah, djika kesatuan daerah kekuasaan (territorial integri- ty) dari Hindia-Belanda tetap dipertahankan dan tetap dipelibara', maka tidak mungkin dan mustahil Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, dan lain-lain, dapat merdeka, karena pemeliharaan kesatuan daerah kekuasaan Hindia-Belanda dengan nama baru apapun, berarti perkosaan jang terus-menerus atas kedaulatan Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, Sunda, dan lain-lain. Selama kedaulatan itu belum dikembalikan kepada kita, maka kemerdekaan kitapun belumlah dikembalikan. Ketika Belanda pergi dari kepulauan kita, kedaulatan jang mendjadi hak kita itu tidaklah d- kembalikan kepada kita. Sebaliknja, kedaulatan kita itu sudah diserahkan bulat-bulat kepada pemerintah Djawa di Djakarta. Pada hal kita mengetahui bahwa keputusan pemerintah kolonialis Belanda untuk memusatkan segala kekuasaan administrasinja di Djakarta, dan mendjadikan Djakarta sebágai ibu-kota djadjahan mereka, adalah berdasarkan pada pertimbangan kepenti-ngan kaum kolonialis Belanda sendiri untuk memudahkan pemerasan djadjahan mereka, dan bukan karena pertimbangan-pertimbangan untuk kepenti-ngan kita bangsa-bangsa kepulauan ini. Djuga pembikinan Djakarta sebagai ibukota Hindia-Belanda itu dipaksakan oleh keadaan mereka sendiri waktu itu, dimana Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, dan lain-lain, masih dalam keadaan merdeka dan berdaulat, dan belum lagí dapat dikalahkan oleh Belanda. Sekarang kaum kolonialis Djawa berbitjara se-akan-akan Djakarta telah didjadikan oleh Tuhan sebagai ibukota bagi kita semua. Pembentukan Djakarta sebagai ibukota Indonesia-Djawa adalah seratus persen bikinan kolonialis Belanda dan dipaksakan dengan kekerasan sendjata semata-mata. Tak ada alasan sedjarah, alasan hukum, alasan politik, ekonomi atau admi- nistrasi mengapa kita bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, dan lain-lain dari luar Dawa harus menerima diktat dari mereka jang berada di Djakarta jang hendak meneruskan pendjadjahan atas kita di abad ke duapuluh ini! Apa jang sudah terdjadi di Tanah Ibu, kampung-halaman kita, ditahun 1945 dan 1950 adalah suatu akte pemindahan kekuasaan dari satu kekuasaan imperialis kepada satu kekuasaan imperialis jang lain, dari imperialis la- ma kepada imperialis baru, jaitu pemindahan kekuasaan atas seluruh kepulauan kita dari imperialisme Belanda kepada imperialisme Djawa, dengan kesatuan daerah kekuasaan negara pendjadjahan Hindia-Belanda dipelihara

!8

sebulat-bulatnja. Tetapi pemelibaraan bulat-bulat dari daerah kekuasaan sesuatu negara berarti dan sama dengan pemeliharaan dari negara itu. Sesuatu negara kolonial tidaklah dibubarkan dan ditiadakan djika daerah ke-kuasaannja dipelihara dan dipertabankan bulat-bulat. Tindakan penghapu-san kolonialisme hanja dapat dilakukan dengan mengembalikan hak kedau- latan atas tiap-tiap daerah kepada bangsa aslinja jang berhak, dan ini berarti kembali kepada status quo ante, artinja, kembali kepada keadaan sebe- lum pendjadjahan atau kolonialisme itu didirikan. Tindakan penghapusan kolonialisme ini belumlah lagi didjalankan di kepulauan kita. Tindakan penghapusan pendjadjaban ini tidaklah dapat dilakukan dengan menukar nam "Hindia-Belanda" dari bahasa Belanda ke bahasa Junani, jakni hanja dengan menukar nama 'Nederlandsch Indie" dengan "Indonesia". Penghapusan sesuatu negara djadjaban tidaklah dapat dilakukan dengan menukar na m anja, tetapi harus dilakukan dengan memulangkan kembali daerah kekuasa annja kepada bangsa asli jang berhak menerimanja, dari nenek mojang siapa daerah-daerah itu sudah direbut oleh sipendjadjah. Djadi teranglah sudah babua Sumatera haruslab dikembalikan kepada bangsa Sumatera, Kalimantan kepada bangsa Kalimantan, Sulawesi kepada bangsa Sulawesi, Maluku kepadla bangsa Maluku, Bali kepada bangsa Bali, Irian kepada bangsa Irian, Sunda kepada bangsa Sunda, dan demikianlah seterusnja. Hanja sesudah itu baru- lah pendjadjaban sudah dibapuskan dari bumi kepulauan kita. Satu djalan legal lagi dalam membubarkan sesuatu kolonialisme atau pendjadjahan ialah dengan pemungutan suara bebas dari bangsa-bangsa jang bersangkutan, untuk memilih sesuatu bentuk pemerintahan baru jang mereka ingini sendiri. Sudah sama-samalah kita ketahui bahwa baik djalan jang pertama, maupun djalan jang kedua ini, tidaklah pernah didjalankan di kepulauan kita. Apa jang sudah terdjadi ialah bahwa kita semua, dengan sert a merta, telah diserahkan kebawah keluasaan pemerintah kolonial Djawa di Djakarta itu. Kaum kolonialis Djawa tidaklah mempunjai suatu hak apapun djuga, baik hak sedjarah, maupun hak politik, apalagi hak moral, untuk mendjadjah bangsa-bangsa lain di kepulauan kita. Segala matjam pendjadjahan dalam bentuk dan warna apapun djuga, baik putih, kuning, atau sawoh-matang, tidaklah dapat diterima oleh bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali. Sunda, dan lain-lain. Kita tidak menentang untuk bekerdja- sama dengan segala bangsa, termasuk bangsa Diawa, tetapi kerdjasama ini haruslah berdasarkan pada sama-sama berdaulat (soyereign equals). Zamn pendjadjahan, termasuk pendjadjahan Djawa, sudah berachir di kepulauan kita. Dalam pada itu patutlah kita kemukakan dari semula bahwa kolonialisme Djawa, sebagaimana semua kotonialisme jang lain, bukanlab kolonialisme jang disokong oleh seluruh rakjatnja. Kolonialisme Djawa disokong oleh satu golongan dari bangsa Djawa; penjokong-penjokong ini terdiri dari golongan-golongan jang menerima keuntungan langsung atau tidak langsung dari pendjadjahan Djawa atas seluruh kepulauan kita. Mereka ini terdiri dari puluh- an ribu orang-orang Djawa jang mempunjai kedudukan sebagai perwira dan peradjurit dalam angkatan darat, laut, dan udara; kepala-kepala djawatan

dan pegawai-pegawai; kepala-kepala perusahaan negara dan diplomat-diplomnat Djawa;kepala-kepala dan anggota-anggota partai, termasuk serikat-serikatse- kerdja, jang kesemuanja memegang monopoli dalam segala lapangan pekerdjaan jang terbaik di kepulauan kita. Tetapi sebenarnja memang tidak ada satu kolonialisme-pun dalam sedjarah jang disokong oleh selurub rakjatnja. Walaupun kolonialisme Inggeris, Belanda, Perantjis, Spanjol, dan lain-lain, tidaklah pernah mendapat sokongan lebi h dari segolongan jang ketjil sekali dari bangsa-bangsa itu. Bahkan orang-orang jang paling anti-kolonialisme sebenarnja terdapat di Inggeris, seperti Jeremy Bentham, John Hobson, dan lain-lain. Tetapi walaupun demikian tidaklahdapat disangkal tentang adanjakolonialisme Inggeris, tentang adanja kolonialisme Belanda (walaupun Multatuli! ), dan demikianlah seterusnja. Oleh karena itu, kalau kita menjebut kolonialisme Djawa, maka kita tidaklah bermaksud untuk mengatakan bahwa semua orang Djawa itu koloníalis, walaupun sampai hari ini, duapuluh tahun sesudah kolonialisme Djawa didirikan, kita masih belum men- dengar satu orang Djawapun jang mempunjai kedjudjuran untuk mengakui dan mempunjai keberanian untuk mengetjam kolonialisme Djawa itu sebagaimana John Hobson telah mengetjam kolonialisme Inggeris, dan sebagaimana Multatuli telah mengetjam kolonialisme Belanda!

III "INDONESIA" ARTINJA "KEPULAUAN KELING" BUKAN NAMA BANGSA KITA

Propagandis-propagandis Djawa, didalam dan diluar negeri, sudah beru- saha untuk mengabui mata kita dan mata dunia guna untuk menutup-nutup kolonialisme Djawa jang sedang mereka lakukan di kepulauan kita, dengan me- ngemukakan kepada orang-orang jang tidak mengetahui sedjarah kita bahwa nama 'Indonesia" itu se-akan-akan menundjukkan nama sesuatu bangsa jang sesungguhnja, jang orangnja dengan tegas-tegas dapat ditundjukkan dan di- buktikan. "Indonesia" adalah kata-kata babasa Junaní jang berarti 'kepulauan Keling", dipakai pertama kali oleh seorang wartawan Austria jang bernama Bastiaan, kira-kira 50 tahun jang silam, karena ia tidak mengetahui sesuatu nama collective jang lain untuk ménjebut seluruh kepulauan kita. Nama ini paling banjak dapat diterima sebagai suatu geographic expression (hanja se- kedar sebutan nama dipeta bumi) jang sama balnja dengan nama-nama dan-sebutan-sebutan "Indotjina", "Afrika", "Eropah", atau "Amerika". Nama-nama ini tidaklah menundjukkan sesuatu bangsa jang tertentu, tetapí hanja menundjukkan sesuatu tempat di muka bumi. Nama 'kepulauan Keling" atau dalam bahasa Junani "Indonesia" jang sudah diberikan orang kopada bagian

dunia kita ini, tidaklah mempunjai sangkut-paut apa-apa dengan sedjarah kita. Nama ini tidaklal mempunjai sedjarah dan tidak mempunjai masa silam; dan orang Djawa golongan kolonialis sudah merusakkan masa sekarangnja: karena itu nama ini tidak mempunjaí masa depannja lagi selaín dari pada sebagai topeng belaka bagi kolonialisme Djawa. Sesuatu dakwaan bahwa nama 'kepulauan Keling" atau dalam bahasa asing 'Indonesia" itu bukan hanja nama sebutan daerah peta bumi belaka, dakwaan jang serupa itu tidak boleh tidak akan langsung bertentangan dengan kenjataan kenjataan ilmu sedjarah, ilmu keturunan ma nusia ( anthropology), ilmu bag sa-bangsa (ethnology ), ilmu masjarakat (sociology ), ilmu djiwa masjarakat (social psychology), dan kebudajaan (cultures ) dari pada bangsa-bangsa jang mendjadi penduduk bagian dunia kita jang amat luas ini. Mungkin bangsa-bangsa penduduk bagian dunia kita ini pada suatu masa akan mendjadi satu bangsa, -- dan ini bergantung pada kemadjuan kerdjasama jang adil antara kita semua, -- tetapi masa itu barangkali baru akan datang bila dalam sedjarah perkembangan kemanusiaan ,orang Perantjis, orang Inggeris, orang Spa- njol, Belanda, Italia, Djerman dan Rusia semuanja akan mendjadi satu bangsa "Eropah"; orang-orang Kanada, Kuba, Mexico, Brazil, Panama, Argen- tina, dan lain-lain, semuanja akan mendjadi satu bangsa "Amerika"; orang-orang Kambodja, Laos dan Vietnam semuanja akan mendjadi satu bangsa "Indotjina"; tetapi sebelum hari itu datang, orang tidak dapat meminta kita dari Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, dan lain-lain untuk mendjadi bangsa 'kepulauan Keling" dengan begitu sadja, apalagi bila gela- ran "megah" itu sebenarnja dipakai sebagai kedok dan topeng belaka untuk merebut kekajaan alam dan merampas tanah pusaka kita. Djuga saranan-saranan sudal dikemukakan bahwa bangsa-bangsa penduduk kepulauan kita ini sudah dibuat mendjadi satu bangsa jang tunggal, jang tidak dapat di beda-bedakan dan dipisah-pisahkan lagi, oleh 'persamaan nasib" (community of fate ) jakni olch pendjadjahan Belanda selama "350 tabun" itu. Tak ada suatu hal jang lebih djauh dari keadaan jang sebenarnja. Pertama sekali, tak ada satu bangsapun diseluruh kepulauan kita jang didja- djah oleh Belanda selama 350 tahun selain bangsa Djawa sendiri. Tak ada satu bangsapun jang lain dibagian dunia kita jang luas ini jang mengalami sedjarah jang begitu menjedihkan dan menjesalkan ini. Sedjarah mereka masing-masing telah membuktikan bahwa bangsa-bangsa jang lain di kepulauan kita sudah berperang mati-matian mempertahankan kedaulatan mereka dari serangan Belanda, dan pada umumnja mereka tidak djatuh kebawah pendjadjaban Belanda lebih dari rata-rata 50 tabun. Sedang bangsa Atjeh tidak hilang kemerdekaannja kepada Belanda lebih dari 29 tahun (dari ber- achirnja Perang Belanda-Atjeh ditabun 1913 sampai kedatangan Djepang di tahun 1942), itupun sesudah peperangan jang terhebat dibagian dunia kita iní, jang dimulai di tahun 1873 dan baru berachir ditahun 1913. Dalam perang 40 tahun terus-menerus ini bangsa Atjeh telah memperlihatkan kepahlawanan jang dapat dibandingkan dengan kepahlawanan bangsa manapun dalam sedjarah dunia. Demikian djuga halnja dengan bangsa Bugis, Bali, dan lain-lain. Oleh karona itu tidaklah mungkin bagi kita putera-putera Sumatera, Sulawesi, Bali dan lain-lain, untuk menerima "thesis Djawa" tentang

"350 tahun pendjadjahan" itu, se lama kita masib mengenal dan mengetahui sedjarah kita, selama kita tidak dapat melupakan tindakan-tindakan kepahlawanan nenek-mojang kita. Sebenarnja kita akan harus memalsukan sedjarah kita, kita akan harus mengchíanati ingatan dan kenang-kenangan kepada djasa kepahlawanan nenek-mojang kita, sebelum kita dapat menerima "thesis Djawa" jang memalukan ini sebagai sedjarah kita. Sudah terang tak ada manusia terpeladjar dan bangsa-bangsa jang sudah beradab dapat diha- rapkan untuk mengikuti kehendak kaum kolonialis Djawa ini. Semua ini menundjukkan pula bahwa kita sebenarnja tidaklah mempunjai hubungan apa-apa dengan orang Djawa dalam sedjarah kita selain dari pada kadang-kadang kita menghadapi mereka sebagai sipendjadjah atau sebagai alat sipendjadjah jang lain. Kita tidaklah mempunjai persamaan sedjarah politik dengan mereka, kita tidaklah mempunjai satu sedjarah kebangsaan jang sama dengan mereka, dan karena itu kita tidak mempunjaí persamaan ingatan dan kenang-kenangan dengan mereka. Kita tidaklah mempunjai persamaan rasa-bangga dan rasa-sedih atau rasa-dihinakan jang berhubungan dengan kedjadian-kedjadian jang sama dalam sedjarah kita dimasa jang silam. Sebenarnja kita sekarang malah sudah kebiasaan selama 20 tahun jang achir-achir ini dimana pahlawan-pahlawan kita di Sumatera, Sulawesi dan Maluku serta Kalimantan disebut "pengchianat" oleh orang Djawa. Sungguh kita mempunjai penilaian jang tidak sama dengan kaum kolonialis Djawa mengenai masa silam kita, mengenai masa sekarang kita, dan mengenai masa depan kita. Jang kedua mengenai dongeng 'persamaan nasib". Sudahlah mendjadi pengetahuan umum dalam sedjarah kita bahwa pendjadjahan Belanda telah berbasil dipaksakan atas Tanah Ibu, kampung-halaman kita dengan memper- gunakan serdadu-serdadu sewaan Djawa sotjara besar-besaran. Karena itu adalah suatu hal jang sewadjarnja untuk kita bertanja:apakah mungkin ter- dapat suatu persamaan nasib antara golongan serdadu-serdadu sewaan dengan bangsa-bangsa jang diperangi oleh mereka, dibagian dunia jang mana- pun djuga? Disamping itu patutlah diketabui dan ditjamkan bahwa pendjadjahan tidaklah pernah menjatukan sesuatu bangsa di zaman apapun, dan dima- napun djuga. Orang Polandia, orang Tjek, orang Slevak, orang Hongaria, orang Austria, orang Yugoslavia, tidaklah pernah mendjadi satu dan tidaklah pernah melupakan diri mereka masing-masing walaupun mereka itu semuanja berabad-abad lamanja mengalami 'persamaan nasib' dibawah penindasan radja-radja Austria-Hongaria. Sebaliknja 'persamaan nasib" ini telah membuat mereka itu lebih bermusuhan dengan satu sama laín, karena radja-radja Austria-Hongaria memperalat satu golongan untuk me- nindas golongan jang lain. Demikian djuga orang Kambodja, orang Laos dan orang Vietnam tetap setia kepada bangsa mereka masing-masing walaupun mereka itu mengalami 'persamaan nasib'dibawah pendjadjaban Perantjis. Mereka tidaklah mendjadi bangsa "Indotjina" oleh karena 'persamaan nasib" itu. Walaupun demikian masih ada orang-orang jang mentjoba-tjoba menga- takan bahwa kita orang Sumatera, orang Sulawesi, orang Kalimantan, orang Maluku, dan lain-lain, karena 'persamaan nasib" dibawah Belanda, maka kita semua telah berobah sifat, telah mendjadi satu bangsa 'kepulauan Keling".

Orang India, orang Pakistan, orang Ceylon, dan orang Burma tidaklah pernah melupakan dan melepaskan kebangsaan aslinja masing-masing, walau-pun mereka itu mengalami "persamaan nasib" dibawah pendjadjahan Ingge-ris. Kenjataan ini dapat kita kadji lebih landjut sampai meliputi seluruh be- nua Afrika, Latin Amerika, dan lain-lain, dimana "persamaan nasib" jang dipaksakan oleh pendjadjahan Perantjis, Inggeris, Portugis dan Spanjol tidaklah pernah menjatukan siapapun dan tidaklah pernah mengobah sesuatu bangsa mendjadi sesuatı bangsa jang lain. Apa jang disebut 'persamaan nasib" dibawah pendjadjahan asing itu telah semakin lebih memetjah-be lah- kan bangsa-bangsa itu dari pada menjatukannja. Tetapi semua omong-kosong ini telah dipropagandakan seakan-akan merupakan "rukun iman" oleh kaum kolonialis Djawa untuk mengabui mata kita dan membuat kita menerima pemerasan mereka. Kaum kolonialis Djawa menginginkan kesatuan seluruh kepulauan kita, tetapi kesatuan jang mereka inginkan itu bukanlah untuk ke- bebasan kita semua, tetapi kesatuan seluruh kepulauan kita sebagai djadja- han mereka, kesatuan "romusha" dibawah gembalaan mereka, supaja dapat diperalat dengan lebih mudab dan teratur untuk dipekerdjakan dan diperas guna kepentingan kolonialisme Djawa sendiri.

IV

KOLONIALISME DJAWA TELAH MENGGANTIKAN KOLONIALISME BELANDA

Orang-orang Djawa jang dahulunja paling tertindas dan melarat kini su- dah menukar status dan kedudukan mereka mendjadi golongan jang memerin- tab atas seluruh kepulauan kita, suatu kèdudukan jang mereka pusakai dari Belanda 20 tahun jang silam. Mereka sekarang memegang monopoli atas se- gala pekerújaan jang terpenting dan terbaik, serta memegang kendali kekuasaan dalam pemerintahan negara Indonesia-Djawa. Ambillah sesuatu daftar dari nama wakil-wakil Indonesia-Djawa di negara manapun diseluruh dunia, atau daftar nama-nama dari sesuatu kementerian penting, terutama dalam lapangan ketenteraan dan kepolisian. Djika saudara mengenal nama-nama Djawa, maka daftar-daftar itu akan melompat hidup dihadapan mata saudara (demikianlah ibaratnja), untuk menerangkan pada saudara apa jang di maksudkan dengan kolonialisme Djawa, kalau saudara sendiri belum djuga menjadarinja. Merek dan nama pemerintah ini mungkin "Indonesia", tetapi orang-orang jang memegang kekuasaan adalah njata-njata orang Djawa. Merek diluar kaleng pura-pura menjatakan kemerdekaan, tetapi isi jang sesurg- guhnja didalam adalah kolonialisme, pendjadjahan: penguasaan oleh satu bangsa atas bangsa-bangsa jang lain, dan pemerasan sesuatu bangsa untuk kepentingan sesuatu bangsa jang lain.

:1

Kaum kolonialis Djawa sudah membuat diri mereka, diatas persada Anah Ibu kita sendiri, sebagai golongan atas, golongan jang memerintah dalam ma- sjarakat Indonesia-Djawa, golongan jang kedudukan dan djabatannja lebih ter- djamin. Sedang golongan-golongan jang bukan Djawa makin sehari makin ter- singkir djauh dari segala lapangan jang turut menentukan haluan politik nega- ra. Kedjauhan dan perpisahan antara kelas kolonialis Djawa dengan bangsa-bangsa jang didjadjah mereka di daerah-daerah jang disebut mereka sebagai "tanah seberang" semakin bertambab lagi dengan adanja perbedaan-perbedaan bangsa, perbedaan bahasa dan perbedaan budaja antara rakjat 'tanah seberang" itu dengan kaum kolonialis Djawa. Ditempat-tempat jang terbaik di kampung-halaman kita, dimana dahulunja terdengar bahasa Belanda, kini telah digantikan oleh babasa Djawa -- satu bahasa jang asing dari famili bahasa-bahasa Melaju. Sedang pemuda-pemuda Djawa disiapkan untuk menduduki djabatan-djabatan penting dalam pemerintahan dan perusabaan-perusahaan (karena di Indonesia-Djawa segala-galanja dibawah kekuasaan pemerintah jakni pemerintah Djawa! ), orang-orang dan pemuda-pemuda jang bukan-Djawa dari sehari kesehari semakin mendjadi sipemikul air dan sipemotong kaju bagi "bangsa tuan-tuan" jang baru muntjul itu. Tetapi setiap langkah jang diarnbil oleh kaum koloníalis Djawa untuk mendjamin kekalnja kedudukan dan status baru mereka harus dibajar dengan harga jang semakin bertambah mahal dan dengan bahaja jang semakin bertambah besar. Perkembangan ini sudah memutuskan hubungan moral dan politik antara kaum kolonialis Djawa itu dengan bangsa-bangsa jang telah di- tipu mendjadi anak djadjahan mereka di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, Irian Barat, dan lain-lain. Kenjataan balwa kesemua "anak seberang" itu mempunjai sedjarah jang berbeda, bahasa jang berlainan, tra- disi jang tidak sama, kebudajaan jang lain dan malah nama-nama jang sangat berbeda dari orang Djawa, semua ini semakin memperdjauh bubungan lahir dan hubungan batin antara mereka dengan kaum kolonialis Djawa itu. Perkembangan ini sudah membuat kaum kolonialis Djawa mendjadi tudjuan dan sasa- ran jang tidak dapat dielakkan dari proses perkembangan politik dan masja- rakat jang berupa perlawanan dan pemberontakan jang tidak berkesudaban, jang sudah terdjadi terus-menerus mulai dari Sumatera sampai ke Maluku. Djalan menudju imperialisme dan kolonialisme Djawa jang telah diambil oleh pemimpin-pemimpin politik Djawa dengan maksud untuk memperkuat kedudukan bangsa mereka dengan tidak mengindahkan hak-hak bangsa-bangsa lain, telah membawa bangsa Djawa bukan kepada kedudukan jang lebih selamat, tetapi kepada kedudukan jang sebenarnja lebih berbahaja dan lebil banjak mengandung anasir-anasir keruntuhan, karena mereka tidak boleh tidak, achirnja akan harus menghadapi perlawanan jang serentak dari bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Bali, Sunda, Kalimantan, dan lain-lain. Sebagaimana kolonialisme jang lain-lain, kolonialisme Djawa djuga mempunjai kaki-tangan dan collaborator-nja. Tetapi collaborator ini djumlahnja ketjil sekali dibandingkan dengan kita bangsa-bangsa "seberang lautan" jang berdjumlah puluban djuta itu. Fara collaborator itu bekerdja sebagai buruh- nja Sukarno Sosrodibardjo, diterima atau dipetjat menurut kehendak dan se- suka hatinja. Kaum kolonialis Djawa pada umumnja mempergunakan mereka

ini sebagai alat propaganda keluar dan kedalam negeri untuk menimbulkan P kesan umum seakan-akan kita bangsa-bangsa "seberang lautan" djuga'ti-Twakili" dalam pemerintaban kolonialis Djawa. Alat jang terpenting dari pendjadjaban Djawa ialah negara kesatuan jang mereka paksakan atas seluruh kepulauan kita. Sebenarnja inilah lang- kah pertama jang diambil oleh kaum kolonialis Djawa untuk mendirikan pendjadjahan mereka dibagian dunia kita ini. Satu negara kesatuan, dengan segala-galanja dikendalikan dari Djawa telah dipaksakan atas kita dengan tidak ada pertanjaan, penerangan, permusjawaratan, apalagi pemilihan. Suatu birokr asi pusat, dengan dibantu oleh polisi (rabsia dan terbuka) jang dikendalikan dari Djawa pula, ditambah dengan tentera, angkatan laut dan udara jang hampir kesemuanja terdiri dari orang-orang Djawa, telah me-lahirkan pendjadjahan Djawa kealam kenjataan dengan seterang-terangnja. Alat jang lain dari kolonialisme Djawa ialah ketiga-tiga partai politik besar jang dikendalikan oleh orang Djawa, jaitu PKI (Partai Komunis Indb- nesia), FNI (Partai Nasionalis Indonesia), dan NU (Nahdatul Ulama). Partai partai politik jang lain jang tidak dibawah pengaruh orang Djawa, seperti Masjumi (Madjlis Sjura Muslimy Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia) telah dilarang dan dibubarkan oleh kaum kolonialis Djawa karena partai-partai ini menghalang-halangi politik mereka. Tetapi mengetahui nama-nama dari partai-partai ini sadja tidaklah tju- kup. Kita harus mengetahui pula golongan-golongan bangsa jang mendjadi anggotanja dalam bentuk darah-daging mereka. Dalam hubungan ini, pem- bubaran dan pelarangan partai Masjumi adalah sangat penting karena hal ini menjingkap tabir politik kaum kolonialis Djawa untuk kesekian kalinja. Sebagaimana umum diketahui sebagian jang terbesar sekali dari anggota-anggota Masjumi terdiri dari bangsa Sumatera, bangsa Sulawesi, bangsa Kalimantan, bangsa Maluku, bangsa Sunda, dan lain-lain, tegasnja bukan bangsa Djawa. Hal ini telah dibuktikan dengan setegas-tegasnja oleh kemenangan Masjumi dalam pemilihan umum jang silam, dimana Masjumi selalu mendapat kemenangan diluar pulau Djawa. Oleh karena anggotanja terdiri dari bangsa-bangsa "seberang" maka Masjumi adalah satu partai jang mau tidak mau harus membela kepentingan bangsa-bangsa "seberang", tegasnja kepentingan bangsa-bangsa jang bukan Djawa. Inilah sebab politik jang sebenarnja maka Sukarno Sosrodihardjo, dengan disokong oleh golongan kolonialis Djawa jang lain-lain, telah melarang hidupnja Masjumi. Walaupun partai-partai PKI, PNI, dan NU tiada berhenti-hentinja me- njatakan diri mereka sebagai partai-partai "Indonesia", ketiga-tiga partai itu, dialam kenjataan, didarah-dagingnja, adalah partai-partai bangsa Djawa belaka. Hasil pemilihan umum tabun 1955 umpamanja, menundjukkan dgn angka-angka jang tak dapat disalah-pahami lagi dimana kekuatan dan si- apa anggota-anggota partai PKI jang sebenarnja. Dalam pemilihan umum tahun itu PKI hanja mendapat beberapa ratus ribu suara di luar pulau Djawa, itupun berasal dari suara-suara jang diberikan oleh kaum pe- ngungsi Djawa jang terdapat di daerah-daerah itu jang kebanjakan dari mereka terdiri dari pengikut-pengikut FKI. Tetapi di Djawa Tengah dan Djawa Timur PKI mendapat lebih dari empat-setengah djuta suara.

Pemilihan umum tabun 1955 itu menundjukkan angka-angka suara bagi PKI sebagai berikut: Provinsi: Suara PKI: Djakarta. 96,363 Sumatera Selatan.. 176,900 Sumatera Tengah. 90,513 Sumatera Utara dan Timur...258,875 Kalimantan Barat.. 8,526 Kalimantan Timur... 8,209
Kalimantan Selatan.........17,210
Sulawesi Utara dan Tengah..... 33,204
Sulawesi Selatan.......17,831
Nusa Tenggara. 71,075 Maluku... 4,792 Djawa Barat. 755,634 Djawa Tengah 2,326,108 Djawa Timur 2,299,602 Hasil pemilihan umum pada bulan Agustus tahun 1957 (jang terachir di- lakukan) menundjukkan pula perbandingan suara antara PKI, PNI, NU dan Masjumi dalam tiga provinsi pulau Djawa, termasuk Djakarta, sebagai berikut: Nama Partai: Djakarta: Djawa Barat: Djawa Tengah: Djawa Timur: PKI 137,305 1,087,269 2,704,523 2,706,893 PNI 124,955 1,055,801 1,899,782 2,235,714 NU 104,892 5 97,356 1,771,556 2,999.785 MASJUMI 153,709 1,841,030 714,722 977,443 Sebagaimana dengan mudah dapat dipersaksikan, djumlah suara jang dibe- rikan kepada ketiga-tiga partai jang menjokong kolonialisme Djawa, jaitu PKI, PNI dan NU datangnja dari Djawa Tengah dan Djawa Timur, jaitu tanah air bangsa Djawa sendiri. Suara untuk ketiga partai Djawa ini jang diperdapat di Djawa Barat datangnja dari daerah-daerah perbatasan dengan Djawa Tengah jang diduduki ole bangsa Djawa. Hasil pemilihan ini menguatkan lagi kenja- taan bahwa PKI, PNI, dan NU walaupun mereka memakai nama-nama jang berlainan bahkan bertentangan, mereka itu pada hakikatrja adalah partai-partąf orang Dja wa; mereka tumbuh dari tanah jang sama, anggota-anggota mereka terdiri dari anggota-masjarakat jang sama, jang menghadapi persoalan dan kesukaran-kesukaran ekonomi jang sama; mereka memakai satu babasa, mempunjai satu kebudajaan, mempunjai satu tradisi dan satu sedjarah; karena itu mereka tidak boleh tidak harus mempunjai kepentingan-kepentingan ekonomi jang sama, kepentingan sosial jang sama, kepentingan kebudajaan jang sama, dan karena itu djuga kepentingan politik jang sama, atau sekurang-kurangnja tidak djauh berbeda, karena jang satu dengan jang lainnja berdjalin rapat dan tak dapat dipisah-pisahkan, sebagai sudah dibuktikan oleh mereka sendiri kepada dunia, jaitu dengan sokongan mereka bersama terhadap kolonialisme Djawa dikepulauan kita ini. Mereka mempunjai satu kepentingan, jaitu kepentingan nasional Djawa jang mempersatukan mereka dalam menentang kepentingan nasional kita bangsa-bangsa luar Djawa.

Sukarno Sosrodihardjo sekarang telah mengusulkan persatuan ketiga se- P rangkaí ini setjara resmi (setjara tidak resmi sebenarnja mem ang mereka 1 selalu bersatu) dalam satu kabinet " NASAKOM" katanja. "Nas" berarti Nasionalis atau PNI; "a" berarti agama atau NU; "kom" berarti komunis atau PKI. Apa jang tidak disebutkan ialah bahwa "NASAKOM" ini sebenarnja hanja satu topeng baru untuk menutup-nutup koloníalisme Djawà atas bangsa-bangsa kepulauan kita ini. Tudjuan dari pada 'NASAKOM" ini ialah untuk mengabui mata dunia guna mengesankan seakan-akan pemerintah kolonialis Djawa di Djakarta itu adalah didukung oleh tiga partai besar dari berbagai aliran jang tidak ada sangkut-pautnja dengan bangsa Djawa. Pada hal jang sebenarnja ketiga-tiga partai itu adalah partai-partai Djawa sendiri dan aliran-aliran jang diwa- kili mereka adalah aliran-aliran Djawa sendiri djuga. Salah satu alat jang amat penting pula dari imperialisme Djawa ialah sistem pemilihan umum jang berdasarkan menghitung kepala atas dasar partai-partai ( proportional representation) jang mereka paksakan atas kepulauan kita pada waktu mereka masih belum dapat mengelakkan pemiliban umum. Sistem ini memberi kemungkinan kepada mereka untuk achirnja dapat me- nguasai kepulauan kita dengan melalui pemilihan umum sadja. Sistem pemilihan ini jang berdasarkan perhitungan kepala atas nama partai-partai -- dengan tidak mengindahkan kepentingan daerah dan kepentingan bangsa-bangsa luar Djawa -- memberi kesempatan kepada partai-partai Djawa, seperti PKI, PNI, NU dan lain sebagainja, untuk mentjari pengikut diluar Djawa, dan dengan demikian menambah djumlah suara dibawah kendali orang Djawa,mele- bihi dari djumlah jang mendjadi hak mereka. Sistem pemilihan hitung-kepala anggota-partai ini telah menghantjurkan kepentingan daerah dan kepentingan bangsa-bangsa luar Djawa, karena sistem ini telah memindahkan kekuasaan jang menentukan dari daerah, ketangan pemuka partai-partai Djawa; sistem ini telah membuka pintu negeri dan wilajah luar Djawa dengan selebar-lebar- nja untuk mendjadikan daerah-daerah itu main-mainan politik orang Djawa belaka; sistem ini melindungi dan melegalkan tjampur-tangan dan intervensi kaum kolonialis Djawa dalam urusan rumah-tangga bangsn-bangsa luar Djawa dengan tidak memberikan keserpatan jang serupa kepada bangsa-bangsa luar Djawa untuk bertindak demikian terhadap urusan rumah tangga bangsa Djawa sendiri; sistem ini telah mendjerumuskan bangsa-bangsa luar Djawa dalam kantjah perpotjahan dan perebutan kedudukan jang tidak ada artinja sesama moroka sendiri, karena sistem ini membuka djalan baru bagi orang-orang setempåt jang gila pangkat dan jang tidak mendapat dukungan bangsa daerah- nja sendiri untuk mentjari pangkat dengan mendjilat orang-orang Djawa: djika seseorang tidak berhasil mendapat dukungan bangsanja didaerahnja sendiri untuk sesuatu kedudukan, ia dapat memasuki salah-satu partai Djawa jang mempunjai pengaruh dikalangan pemerintah kolonialis Djawa di Djakarta, dan dengan perantaraan partai ini meminta dirinja diangkat pada kedudukan jang tak dapat ditjapainja setjara demnokratis tadi. Melalui sistem merusak jang menjebarkan bibit-hibit opportunisme dan perpetjaban dikalangan bangsa-bangsa luar Djawa inilah maka partai-partai Djawa telah dapat melebarkan

sajapnja sampai kepelosok-pelosok kampung bangsa-bangsa luar Djawa jang telah mengakibatkan perpetjahan dan keruntuhan bangsa-bangsa itu s en di ri. Sistem ini merupakan sendjata jang tadjam sekali ditangan kaum politisi Djawa dalam mendjalankan politik petjah-dan-djadjah mereka atás bangsa-bangsa kepulauan kita. *水水

V

SIFAT KOLONIALISME DJAWA DAN SIFAT INDONESIA-DJAWA

Adalah suatu peladjaran dari sedjarah bahwa suatu negara seperti Indonesia-Djawa, dimana beberapa bangsa berada dibawah penindasan satu bangsa jang tertentu, negara jang demikian itu selalu terlibat dalam dua m- tjam peperangan: peperangan dalam negeri atau peperangan dengan luarne- geri. Peperangan dalam negeri disebabkan oleh pemberontakan dari bangsa bangsa jang tertindas dalam usaha mereka membela kepentingan nasional mereka dari perkosaan bangsa jang menindas mereka, tepat sebagaimana apa jang sudah terdjadi dinegeri kita, di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Sunda selama lebih sepuluh tahun ini. Peperangan dengan luar negeri, disebabkan oleh usaha-usaha golongan jang memerintah untuk me- mindahkan perhatian rakjat dari kesusaban dan kesukaran hidup kepada mu- suh dari luar, karena sesudah terdjadi pemberontakan-pemberontakan ke- adaan mendjadi sedemikian rupa sehingga lebih mudah untuk memelihara keamanan dalam negeri kalau golongan jang memerintah dapat menakut- nakuti rakjat akan adanja bahaja serangan dari luar. Apalagi kalau dapat ditjari satu negara tetangga jang ketjil jang dapat didjadikan sasaran jang tidak begitu berbahaja. Suatu tjontoh jang menjolok mata dari politik ini ialah apa jang disebut 'konfrontasi"-pia Sukarno Sosrodihardjo terhadap negara tetangga kita Malaysia jang ketjil itu. Tetapi taktik djahat ini tidak akan selalu dapat dikendalikan, karena sedikit sadja terdjadi kesalahan perhitungan dapat menbawa negara penje- rang -- inilah sifat jang tak dapat dielakkan lagi dari Indonesia-Djawa -- kepintu gerbang keruntuhannja. Sesuatu pəperangan dengan negara luar, walaupun dilakukan oleh Indonesia-Djawa, mempunjai arti melibatkan diri dan bermain-main dengan keseimbangan kekuasaan di dunia, dengan segala akibatnja jang sangat berbahaja. Walaupun kekuatan militer Indonesia-Djawa mungkin lebih besar bila dibandingkan dengan kekuatan militer Malavsia, tetapi kekuatan militer semua negara dalam sesuatu peperangan dengan negara lain adalah relative, artinja lebih-kurang dan bergantung pada beberapa faktor jang lain. Kekuatan militer sesuatu negara tidaklah mempunjai arti apa-apa ketjuali bila dibandingkan dengan kekuatan militer dari negara jang hendak diserangnja tambah dengan kekuatan militar negara-negara se- kutu dari negara jang hendak diserang itu. Karena itu untuk "menggajang

d Malaysia", Sukarno Sosrodihardjo memerlukan kekuatan jarg lebih besar dari 1 kekuatan militer Malaysia tambah dengan kekuatan militer negara-negara se- C kutu Malaysia, jaitu Australia, New Zealand dan keradjaan Inggeris. Terang-lah sudah bahwa Sukarno Sosrodihardjo tidak akan pernah dapat mengatasi ini. Tetapi suatu peperangan gerilja ketjil-ketjilan diperbatasan Serawak dan Sabh mungkin ada gunanja bagi Sukarno Sosrodibardjo sekodar untuk memalingkan perhatian rakjat jang melarat didalam negeri kepada musuh dari luar jang tentunja akan dipersalahkan sebagai jang bertanggung djawab atas kebobrokan ekonomi dalam negeri Indonesia-Djawa, walaupun sebenarnja segala kebobrokan itu adalah buah tangan kaum kolonialis Djawa sendiri. Demikian djuga d- ngan adanja peperangan diperbatasan dengan Malaysia ini Sukarno Sosrodihm- djo dan kaum kolonialis Djawa jang lain mengharapkan agar dengan demikian peperangan dalam negeri jang sebenarnja lebin berbahaja bagi mereka dapat dielakkan. Kaum kolonialis Djawa dewasa ini sudah sampai pada taraf kedudukan kaum pendjadjah jang sulit, dimana oleh karena perkembangan sosial dan poli-tik, mereka akan selalu harus memilih salah satu diantara dua perkara jang berbahaja ini: menghadapi peperangan dalam negeri, atau menghadapi pepe-rangan dengan luar negeri. Kalau pada suatu saat jang bersedjarah kedua ma- tjam peperangan ini akan terdjadi pada waktu jang sama dan serentak, maka hari itu akan merupakan hari berachirnja dan hari musnahnja kolonialisme Djawa dikepulauan kita, dan hari tibanja kemerdekaan jang sedjati bagi bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Irian Barat, Bali, dan Sunda, ketika kedaulatan atas negeri-negeri mereka masing-masing akan kembali ke tangan mereka sendiri! Sedjarah bangun dan djatuhnja keradjaan Austria-Hongaria akan memberi- kan peladjaran dan teladan jang sangat berguna kepada penindjau-penindjau kehidupan kolonialisme Djawa di kepulauan kita, dan tentang kepastian kehan- tjuran kolonialisme Djawa ini. Keradjaan Austria-Hongaria adalah satu keradjaan jang rakjatnja terdiri dari bangsa-bangsa Eropah Tengab jang ditakluk- kan, seperti bangsa Tjek, bangsa Slovak, bangsa Gerbia, bangsa Croatia, Tbangsa Polandia, bangsa Yugoslavia, dan beberapa lagi jang lain. sclama asa-berdirinja,keradjaan Austria-Hongaria selalu terlibat dalam dua ma- tjam peperangan, adakalanja peperangan dalam negeri, adakalanja peperangan dengan luar negeri. Cleh karena ia selalu terlibat dalam peporangan, keradjaan ini achirnja berobah sifatnja mendjadi keradjaan militer semata- mata. Peperangan dalam negeri-nja disebabkan oleh pemberontakan jang ti- ada berhenti-hentinja dari bangsa-bangsa jang tertindas jang mentjoba men- dapatkan kemerdekaan mereka kembali; sedang peperangan dengan luar negeri ditimbulkan oleh usaha pemerintah Austria-Hongaria untuk memaling-kan perhatian rakjat kepada musuh dari luar, untuk dapat memelihara kea- manan dalam negeri. Untuk beberapa waktu kekuasaan pemerintah Austria-Hongaria telah dapat dipertahankan berkat politik petjah-dan-djadjah merda, dengan mengirimkan pasukan-pasukan Tjek untuk menindas pemberontak-pemberontak Slovakia, mengirimkan bataljon-bataljon Slovakia untuk menun- dukkan pemberontak-pemberontak Polandia, dan demikianlah seterusnja, sama sebagai perbuatan Sukarno Sosrodihardjo mengirimnkan pasukan-pasukan Mi-

nangkabau untuk menjerang Atjeh, dan mengirimkan pasukan-pasukan Atjeh

menduduki Maluku, mengirimkan pasukan-asukan Maluku menjerang Sulawesi, dan demikianlah seterusnja, suatu politik petjah-dan-djadjah jang be- gitu terkenal kepada kita semua: Keradjaan Austria-Hongaria terlibat da-lam segala peperangan besar dan ketjil jang terdjadi sebelum kehantjuran- nja ditahun 1918. Diachir tabun 1914 peinerintah Austria-Hongaria melakukan suatu kesa- lahan politik jang besar, jaitu melibatkan dirínja dalam peperangan dengan luar negeri pada waktu dan saat jang salah, walaupun disebabkan oleh pro- vokasi jang besar, jaitu dibunuhnja putera mahkota Austria-Hongaria oleh kaum revolusioner Serbía di Serajevo. Peperangan jang dimulai oleh Austria-Hongaria terhadap keradjaan Serbia jang ketjil itu telah menggontjang- kan keseimbangan kekuasaan antara negara-negara desar di Eropah jang membawa kepada pertjampuran tangan mereka jang achirnja menimbulkan Perang Dunía ke I. Bangsa-bangsa jang tertindas dibawah kekuasaan peme- rintah Austria-Hongaria mengambil kesempatan itu untuk menjatakan diri mereka merdeka atas dasar hak mereka untuk menentukan nasib diri-sendiri, suatu hak jang dipunjai oleh segala bangsa. Demikianlah, atas runtuhan negara Austria-Hongaria timbullah beberapa negara baru: Tjekoslovakia, Polandia, Yugoslavia, Austria dan Hongaria. ** *

VI

KAUM KOLONIALIS DJAWA TIDAK SANGGUP MEMBANGUN KEPULAUAN KITA

Oleh karena Indonesia-Djawa selalu terlibat dalam peperangan, baik peperangan dalam negeri, maupun peperangan dengan luar negeri, maka tidak pernah ada kesempatan untuk membangun dan mentjapai kemadjuan, sebagaimana sudah ternjata selama duapuluh tahun ini, dan tidak akan ada kesempatan untuk membangun itu dimasa jang akan datang selama Indonesia-Djawa masih berdiri sebagai sekarang. Pada waktu seluruh dunia-sudah selesardi- bangunkan kembali dari runtuhan puing Perang Dunia ke-ⅡI, kaum kolonialis Djawa, dalam masa duapuluh tahun ini, sudah "berhasil" merusakkan segala apa jang sudah ada lebih dahulu di Tanah Ibu, kampung-haiaman kita. Mereka sudah merampok apa jang dapat mereka ambil dinegeri-negeri kita dari Atjeh sampai ke Maluku. Mereka sudah membakar rumah-rumah kita, me- rampas harta-benda kita, dan membawa segala jang mereka bisa bawa ke Djawa. Sukarno Sosrodihardjo sedang membangun negerinja sendiri --pulau Djawa--dengan kekajaan Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Bali. Tetapi sebenarnja kaum kolonialis Djawa tidaklah mempunjai ketjakapan dan kesanggupan untuk membangun kepulauan kita, sebagaimana telah ternjata dan terbukti dengan seterang-terangnja selama duapuluh tabun ini. Hal ini disebabkan, terutama sekali, oleh hal-hal jang berikut: Pertama, suasana jang tidak berketentuan, ketidak-adilan, korupsi, pe- nindasan, inflasi, birokrasi dan peperangan jang terus-menerus, jang ke

é somuanja adalah pertanda dan "trademark" dari Indonesia-Djawa, tidaklah 1

memungkinkan pembangunan, kemadjuan, dan civilisasi. Dibawah 'pimpinan"

C kaum kolonialis Djawa kita akan dipaksa untuk kembali ke zaman djahilijah,

ke zaman kegelapan, ke zaman siksaan, dan ke zaman pembakaran kitab dan

1buku-buku! Kedua, kepentingan bangsa Diawa sobagai satu golongan adalah berlainan sekali dari kepentingan nasional kita bangsa-bangsa Sumatera Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, dan lain-lain. Perbedaan kepentingan nasional anta- 'ra kita dengan bangsa Djawa itu begitu besar sehingga kalau kita tidak bodoh sebenarnja kita tidak akan membolehkan mereka menentukan bagaimana ru-mah-tangga kita harus diatur. Perbedaan antara kepentingan nasional kita dengan kepentingan nasional mereka, dan antara persoalan hidup kita dengan persoalan-persoalan hidup mereka adalah begitu besar sehingga kita tidak dapat mengharapkan mereka dapat memahami persoalan-persoalan hidupkita, apalagi mengharapkan mereka menjelesaikan persoalan-persoalan itu untuk kita. Sesungguhnja kita tidak ada alasan untuk berada dalam satu negara dengan mereka, apalagi dibawah mereka. Sebagai tjontoh, marilah kita perbintjangkan satu persoalan penghidupan jang paling penting bagi bangsa Djawa sekarang ini, jaitu persoalan 'kele- bihan" penduduk. Oleh karena persoalan ini, maka kebutuhan bangsa Djawa jang terpenting sekarang ini ialah persoalan pembagian tanah ("land reform'). Tetapi untuk kita di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan lain-lain, ini adalah soal jang paling ketjil, bahkan sama sokali bukan satu soal jang perlu kita hadapi dalam abad ini! Tetapi oleh karena kita hidup dalam satu negara dibawab genggaman orang Djawa, maka-kepentingan kita sudah dile- takkan dibawah kepentingan mereka, hak-hak kita sudah dikorbankan untuk kesenangan mereka: karena orang Djawa membutuhi pembagian tanah, maka tanah kita, -- bukan tanah mereka! -- di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan lain-lain, jang dibagi-bagikan kepada orang-orang Djawa. Ini adalah suatu perampokan setjara besar-besaran. Tak ada suatu bangsapun didunia ini, baik di Timur ataupun di Barat jang akan menerima perkosaan hak mereka setjara ini dengan tidak memberi perlawanan. Walaupun kita pada waktu ini belum mempergunakan seluruh tanah kita, tetapi kepentingan nasional kita masing-masing menghendaki kita memeli- hara setiap djengkal Tanah Ibu, kampung-halaman kita masing-masing untuk keturunan kita dimasa jang akan datang. Perhitungan ilmu demography sudah membuktikan bahwa pada urumnja penduduk tiap-tiap negeri mendjadi berlipat-ganda dalam tiap-tiap satu keturunan, jaitu tiap-tiap 20 tahun: kalau umpamanja pada tahun 1965 penduduk Sumatera berdjumlah 20 djuta, maka 20 tahun kemudian, jakni ditahun 1985, penduduk Sumatera akan mendjadi 40 djuta; 20 tahun kemudian, jakni ditahun 2005, penduduk Sumatera akan mendjadi 80 djuta; dan dalam satu keturunan sesudah itu, jaitu ditahun 2025 Sumatera akan berpenduduk 160 djuta. Oleh karena itu adalah satu per- tanjaan jang sangat penting jang harus kita djawab sekarang ini djuga: bagai- manakah kita bangsa Sumatera dapat mendjamin ponghidupan jang patut kepada turunan kita jang bakal berdjumlah 160 djuta, dalam waktu jang hanja 60 tahun lagi ítu? Dalam pada itu haruslah djangan kita lupakan walaupun

sedjenak, bahwa sedang djumlah penduduk kita berlipat-ganda setiap 20

tahun itu, tetapi tanah kita, Sumatera kita, tetap seluas sekarang djuga; sedang penduduk kita bertambab-banjak, tanah kita tidaklah bertambah lu- as walaupun satu djengkal! Oleh karena itu maka kepentingan nasional Sumatera menghendaki kita harus mendjaga setiap djengkal bumi Sumatera -- dari Kutaradja sampai ke Telukbetung -- tetap ditangan bangsa Sumate ra. Kalau turunan kita nanti tidak dapat hidup lagi di Sumatera karena kepada-tan penduduknja, djanganlah diharapkan mereka akan dapat pindah ke negri lain. Tak ada satu negarapun didunia jang akan menerima mereka. I nilah latar-belakang dan pertimbangan-pertimbangan jang telah melahirkan undang-undang immigrasi dari segala bangsa didunia, dan inilah sebabnja me- ngapa tidak ada satu bangsa jang bersedia membiarkan negerinja didatangi begitu sadja oleh pengungsi bangsa lain. Semua bangsa jang beradab did unia telah membuat perhitungan jang sematjam ini untuk mendjamin ke hi du p an keturunan mereka. Apakah kita bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku Kalimantan, dan lain-lain telah menunaikan tanggung-djawab kita kepada keturunan kita? Inilah tanggung-djawab kita generasi jang sudah lahir ter- hadap generasi jang belum lahir: untuk memelihara tanah pusaka kita dl r keadaan tetap-bulat dan tidak retak, sebagaimana kita telah menerimanja dari nenek-mojang kita. Keturunan kita tidaklah mempunjai orang lain untuk memikirkan kepentingan mereka selain kita sendiri. Kalau hal jang sepen- ting ini kita lalaikan, kita akan ditjap dalam sedjarah kita sebagai nenek-mojang jang berotak udang! Tetapi tidakkah kita sekarang sedang membíarkan Tanah Ibu kita di ba- bagi untuk orang Djawa jang didatangkan berdujun-dujun ketengah-tengah kita?Pada saat kita membiarkan hal ini terdjadi, maka pada saat itu djuga berarti kita sudah mendjatuhkan hukuran atas pundak turunan kita jang belum lahir untuk hidup bergelandangan dengan tak ada lagi c awahdan ladang mendjadi seperti orang merantau diatas persada tanah pusaka mereka sendiri. Disaat hal ini kita biarkan, maka kita sudah menghantjurkan masade- pan anak-tjutju kita: kita sudah mendjual tanah pusaka mereka, membagí-bagikannja kepada kaum kolonialis Djawa jang bakal mendjadjah mereka, bahkan hal inilah jang akan mendjamin tetap terdjadjahnja mereka untuk se- lama-lamanja; karena pemindahan penduduk sebenarnja adalah satu bentuk pendjadjahan jang paling berbahaja, djauh lebih berbahaja dari pendjadjahan biasa. Pemindaban penduduk adalah satu pendjadjahan jang kekal, jang se- kali didjalankan tidak akan dapat dihapuskan lagi. Pendjadjahan dalam bentuk lain dapat dihapuskan dengan mudah: pendjadjahan Belanda telah datang dan pergi, pendjadjahan Djepang telah masuk dan keluar, tetapi pendjadjalan dengan pemindahan penduduk adalah pendjadjaban jang akan kəkal, jang ta k dapat diusir lagi, karena sipendjadjah akan mengerumuni kita, mengikat tangan dan kaki kita sehingga kita tidak akan dapat memerdekakan diri lagi. Dalam bukunja Il Prinsep, jang ditulis 400 tahun jang silam, Niccolo Machiavelli menguraikan bagaimana keradjaan-keradjaan besar di za man jang silam telah mempergunakan pemindahan penduduk sebagai tipu-musli- hat untuk mendjadjah bangsa-bangsa dan negara-negara lain.

CMachiavelli menulis: 1 "Suatu djalan lain jang mudah (untuk mendjadjah ) ialah dengan me- ngirimkan pengungsi atau melakukan pemindahan penduduk ke bebe- rapa tempat supaja mereka itu mendjadi kuntji untuk menguasai se- suatu daerah; inilah jang harus dilakukan, atau kalau tidak, maka haruslah dikirim tentera dan pasukan-pasukan bersendjata. Pendja- djah tidaklah perlu melakukan pengeluaran wang jang banjak u ntuk keperluan orang-orang jang dipindahkan itu. Fengungsi-pengungsi itu dapat dikirim keluar dengan portjuma atau dengan biaja jang se- dikit sekali bagi sipendjadjah. Mereka jang tidak sonang kepada pe- ngungsian itu hanjalah penduduk-penduduk asli jang tanah dan rumah mereka telah diambil untuk diberikan kepada pengungsi-pengungsi baru itu. Tetapi orang-orang jang hak mereka sudah dilanggar dan hati mereka sudah disakiti ini, hanja merupakan golongan pendulu k jang ketjil djumlahnja. Dan karena mereka itu bertjerai-berai dan miskin, maka mereka itu tidaklah membahajakan. Sedang golonga n lain jang dibiarkan sendiri dan tidak diganggu dengan sendirinja mudah didiamkan, dan merekapun tidak berani berbuat salah karena mereka takut akan mengalani nasib sebagai tetangga mereka jang sudah dirampas harta-benda dan tanahnja. Pendeknja, pemindaban penduduk ini. biajanja lebih murah dari biaja tentera, mereka lebih setia dari tentera, dan mereka mendapat tentangan jang djauh lebih kurang. Sedang penduduk'asli jang sudah disakiti dan dirampas harta-benda dan tanahnja, oleh karena mere ka itu bertjerai-berai dan miskin, mereka tidaklah berdajà untuk me- lawan pendjadjahnja. Tetapi djika tentera jang dikirimkan dan bukan pengungsi-pengungsi, biajanja akan besar sekali dan segala hasil dari padjak dan kekajaan negeri itu akan habis dipakai untuk menga- wal dan mendjaganja, sehingga apa jang mestinja laba akan mendjadi rugi. Djuga penggunaan tentera akan lebih menjakitkan hati pendu-duk asli, karena perpindahan tentera dari satu tempat ketempat jang lain, menjusahkan seluruh penduduk, dan karena semua mereka mereka merasa kesusahan dan penindasan, semuanja akan mendjadi musuh... Oleh karena itu, ditilik dari segala sudut, maka tjara mendjaga dan mempertahankan pendjadjahan dengan pemindahan penduduk adalah djauh lebih menguntungkan dari pada dengan meraa- kai tentera. Keradjaan Roma telah mendjalankan politik pendjadjab- an dengan pemindaban penduduk ini terhadap daerah-daerah jang mereka kuasai dengan tjermat sekali. Mereka mendirikan daerah- daerab kolonisasi dan daerah-daerah pemindahan penduduk, dan mereka membudjuk bangsa-bangsa jang lemah untuk lebih melemahkan
mereka itu lagi....
Alasan ketiga, mengapa kaum kolonialis Djawa tidak mempunjai kesag- gupan untuk membangun kepulauan kita ialah karena tjara mereka itu berpi- kir jang sangat fanatik pada tahjul dan dongeng sistern ekonomi paksaan ko- munis dan sosialis totaliter dalam membangun kepulauan kita sudah njata-njata tidak berhasil, sebagaimana telah terbukti selama masa sat u

keturunan kita ini, dan tidak akan berhasil dimasa jang akan datang, oleh

karena alasan-alasan berikut:

a) Kebutuhan-kebutuban hidup dan tudjuan-tudjuan ekonomi dari berba -
gai-bagai bangsa jang berdjumlah lebih seratus djuta manusía jang berse-rak-serak diatas permukaan bumi sepandjang 4500 kilometer disekitar chat tulistiwa, jang satu bagiannja terpisah dan tidak mempunjai hubungan apa- apa dengan bagian lainnja, dan terdiri dari bangsa jang berlaín-lainan jang masing-masing mempunjai masalah ekonominja sendiri-sendiri jang djauh berbeda dari jang lain-lain, kepentingan ekonomi dari bangsa-bangsa jan g begini tidaklah dapat diperhitungkan dan direntjanakan dengan tepat dari hanja satu pusat jang tertentu sadja. Rentjana pembangunan ekonomí bag i bangsa-bangsa dan negeri-negeri jang bersifat seperti ini hanja bisa dilaku- kan sendiri-sendiri, dan masing-masing, oleh bangsa-bangsa dan dinegeni- negeri jang bersangkutan itu sendiri. Dalam keadaan jang sekarang satu-satu perkara jang dapat direntjanakan lebih dahulu dan dapat diketahui dgn pasti-pasti hanjalah kebutuhan militer sadja, karena hal inilah jang paling mudah diperhitungkan: oleh karena itu maka rentjana'pembangunan dmnomi" dari sesuatu negara jang sematjam ini, seperti halnja dengan Indonesia-Djawa, dialam kenjataan telah mendjadi pembangunan kemiliteran sebagaí- mana jang sudah terdjadi dan sudah merupakan satu kenjataan. "Pembangunan" jang sematjam ini telah melahirkan militerisme di kepulauan kita dan bukan kemakmuran bagi bangsa-bangsa kepulauan kita.

b) Rentjana pembangunan ekonomi jang berhasii untuk sesuatu daerah jg
sangat luas, dan untuk suatu penduduk jang sangat banjak, menghendaki pe- nentuan jang mutlak tentang tudjuan ekonomi nasional (national economic objectives) jang mana diambil dari pengertian jang tegas-tegas tentang kepentingan kebangsaan (national interests). Oleh karena kepentingan kebangsaan, dan karenanja kepentingan ekonomi dari bangsa Djawa itu begitu buzar perbedaannja dari kepentingan kebangsaan dan kepentingan ekonomi kita bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan sebagainja, maka tidaklah mengherankan kalau orang Djawa telah menempatkan kepen-tingan kebangsaan dan kepentingan ekonomi Djawa diatas darí kepentingan kebangsaan dan kepentingan ekonomi bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan sebagainja. Ini berarti kepentingan ekonomi bangsa bangsa jang bukan Djawa akan diletakkan dibawah kepentingan ekonomi bangsa Djawa. Ini berarti pula bahwa bangsa-bangsa jang bukan Djawa akan ha-rus menunggu perbaikan kehidupan ekonomi mereka sampai sesudah orang Djawa, "bangsa tuan-tuan", sudah diperbaiki kehidupan ekonomi mereka lebih dabulu. Tidak sjak lagi, ini adalah suatu penungguan jang hanja bisa ber- achir dengan hari kiamat.

c) Oleh karena segala rentjana pembangunan ekonomi negara, sekali su-
dah ditetapkan haruslah didjalankan, kalau perlu dengan memakaí alat-alat kekerasan negara, maka pelaksanaan rentjana pembangunan ekonomi Djawa di kepulauan kita berarti pemakaian alat kekuasaan negara Indonesia-Djava untuk menguasai segala sumber-sumber kekajaan alam seluruh kepulauan kita untuk kepentingan dan kesenangan golongan kolonialis Djawa jang me- ngendalikan dan menguasai pernerintahan ini.

d) Rentjana pembangunan ekonomi totaliter menghendaki bahwa segala
kegiatan ekonomi dari seluruh rakjat haruslah disesuaikan dengan rentjana ekonomi pemerintah, dan bukan dengan kemauan atau keinginan golongan-golongan rakjat. Segala kegiatan ekonomi jang tidak sesuai dengan rentjana pemerintah haruslah dilarang. Karena itu maka rentjana ekonomi totaliter selalu disertai oleh pema kaian kekerasan setjara besar-besaran, jang mna berarti pemerintahan sewenang-wenang dan kediktatoran. Dalam teori-nj a sosialisme dan komunisme m enghendaki penggantian kekuasaan perseorangan tuan-tuan tanah jang lama dengan kekuasaan badan-badan negara j ang baru, tegasnja penggantian kekuasaan pribadi dengan kekuasaan rakjat ba- njak. Tetapi teori ini sebenarnja omong-kosong belaka, karena sebagaida- pat diperbatikan dialam kenjataan oleh siapapun djuga, sistem sosialis tota liter dan komunis selalu memerlukan diktator, atau apa jang disebut mereka "pemimpin besar",untuk mentjapai, atau lebih tepat untuk mentjoba mer tjapai maksudnja, tegasnja penggantian tuan-tuan tanah perseorangan (jang sekurang-kurangnja mempunjai hak-hukum atas tanahnja, dan "kekuasaan"- nja atas negara sangat ketjil) dengan tuan tanah jang baru, jang tidak mempunjai hak-hukum sama sekali, dan jang bulat-bulat menguasai negara se- bagai miliknja sendiri. Demikianlah sosialisme Rusia telah memerlukan Stalin, komunis Tionghoa telah memerlukan Mao Tse-Tung, "sosialisme a la Indonesia-Djawa" memerlukan Sukarno Sosrodihardjo!

e) Dasar organisasi sosialisme dan komunisme ialah tata-usaha jang ra-
pi dan tjermat. Suatu ekonomi merdeka dan bebas masih dapat berdjalan dan hidup walaupun dengan urusan tata-usahanja jang tidak tjermat dan tidak rapi. Tetapi satu ekonomi sosialis atau komunis tidak akan dapat berdjalan dengan tidak ada rentjana jang tjermat dan tata-usaha jang rapi. Sjarat ini- lab jang tidak dapat dipenuhí olch kaum kolonialis Djawa. Orang Djawa m- sih belum mempunjai ketjakapan untuk menjusun rentjana ekonomi jang tjermat, mereka belum mempunjai kesanggupan mendjalankan suatu sistem tata-usaba jang rapi. Rentjana-rentjana ekonomi mereka jang selalu lebih me- mentingkan kepentingan Djawa sudah pasti mendapat tentangan, setjara te- rang-terangan atau setjara diam-diam, dari bangsa-bangsa luar Djawa. Ka- úm kolonialis Djawa masih termasuk golongan bangsa-bangsa terkebelakang, mereka tidak lebih dari kita di Sumatera, Sulav esi, Maluku, Kalimantan, atau Bali. Mereka malah belum mempunjai kes inggupan untuk mengurus eko nomi mereka sendiri, betapa lagi untuk mengurus ekonomi kita! Perbuatan mereka meruntubkan ekonomi kita selama masa 20 tahun, sudah lebihd ari tjukup untuk membuktikan ketiadaan kesanggupan mereka dalam hal ini.

f) Achirnja, sosialisme berarti penguasaan ari satu pusat kekuasaan
atas ekonomi nasional dan kekajaan nasional. Sekali lagi ini berarti dahm kenjataan penguasaan oleh kaum kolonialis Djawa atas segala-galanja di- mem- tanah air kita. Kaum kolonialis Djawa sudah bei basil memakai dan peralat nama sosialisme untuk menutup imperialisme mereka jang l o ba dan tamak itu. Sosialisme dan komunisme membenarkan penguasaan dari satu pusat, dan penguasaan dari satu pusat ini meletakkan segala kekajaan perseorangan dan kekajaan bangsa-bangsa dari seluruh bagian dunia kita ini dalam djengkauan kaum kolonialis Djawa. Apa jang disebut mereka sebrgai

"sosialisme a la Indonesia" sebenarnja tidak lain dari pada satu topeng lagi untuk menutup kolonialisme Djawa di kepulauan kita. Sekarang kiranja djelaslah sudah bahwa djalan Indonesia-Djawa, ditlik dari sudut manapun djuga, telah dan bakal terus-menerus menjeret kita kedalam kantjah penindasan, korupsi, ketidak-adilan, kekedjaman, kedikta- toran, peperangan dan keruntuhan!

VII

INDONESIA-DJAWA BAHAJA BAGI PERDAMAIAN DUNIA

Keluar negeri, sebagaimana halnja djuga kedalam negeri, Indonesia-Djawa sudah mendjadi satu penjakit dan satu bahaja jang mengantjam perdamaian dan ketenteraman di Asia Tenggara. Fertama sekali,dizaman mo- dern ini, dan dalam dunia kita dimana satu bagian dunia saling bergantu ng dan berhubungan dengan bagian lainnja, persiapan perang dalam sesuatu negara bukan hanja mempengaruhi penghidupan rakjat negara itu sendiri, tetapi djuga akan mempengaruhi penghidupan rakjat dari seluruh negaranegara tetangganja. Dalam hal ini, persiapan perang jang dilakukan oleh Indonesia Djawa, mau tidak mau, akan harus diikuti oleh persiapan perang oleh negara-negara tetangga, djika mereka mengetabui kepentingan nasional mere ka sebagaimana kebanjakan bangsa memang mengetahuinja. Tak ada satu nega- rapun didunia ini, jang mengotahui kepentingannja, dapat membiarkan kekuatan militer jang terlalu berlebih-lebihan dari sesuatu negara tetangganja. Djika keadaan jang demikian sampai timbul, maka keseimbangan kekuatan haruslah dikembalikan dengan segera, dengan mengadakan pula kekuatan jg tjukup besar untuk mengimbangi kekuatan negara tetangga jang pertama a- di. Sedang bagi negara-negara tetangga jang ketjil, keadaan ini dapat dan harus diatasi dengan mengadakan persekutuan dengan negara-negara lain jg mempunjai kepentingan jang sama. Oleh karena itu, persiapan perang Indonesia-Djawa langsung mempengaruhi kchidupan politik, ekonomi dan kema- sjarakatan rakjat di Malaysia, Pilipina, Australia, New Zealand, dan lain-lain, karena negara-negara itu haruslah memperkuat pertahanan mereka pula, jang mana berarti membuang-buang wang jang seharusnja dapat dipa- kai untuk alat-alat kemakmuran, untuk membeli sendjata kemiliteran jang tidak menghasilkan apa-apa itu. Djadipolitik kaum kolonialis Djawa bukan sadja telah merusakkan kemakmuran bangsa-bangsa kita di Sumatera, Suk- wesi, Kalimantan, Maluku, Bali, Sunda dan lain-lain, tetapi djuga meru-sakkan kemakmuran rakjat negara-negara tetangga kita seperti Malaysia, Pilipina, Australia, New Zealand, dan lain-lain. Kedua, kebutuhan jang tidak habis-habisnja dari Indonesia-Djawa untuk selalu harus mempunjai antjaman peperangan dengan luar negeri guna un-tuk memelihara keamanan didalam negeri, mendjadikan seluruh negara-negara tetangga tidak aman, lebib-lebih negara tetangga jang ketjil. Bah wa

Malaysia sudah didjadikan mangsa jang kedua dari aggressi Indonesia-Djae sesudah Irian Barat, tidaklah mengherankan sama-sekali; dan pastipula bahwa Malaysia bukanlah sasarannja jang terachir. Ketiga, akibat strategis dari didjadjahnja Sumatera, Sulawesi, Kaliman tan, Maluku, Bali, Irian Barat, dan lain-lain, oleh Djawa adalah mentjela- kakan kesentosaan dan keamanan bagian dunia kita ini, karena ini berarti pengbantjuran keseimbangan kekuasann dalam Dunia Melaju, dan karena tu djuga di Asia Tenggara. Ketiadaan keseimbangan kekuasaan dalam Dun ia Melaju jang maha luas iní, karena didalamnja hanja tinggal dua buah negara jang sangat tidak seimbang, jang satu Indonesia-Djawa dengan penduduk lebih 100 djuta dan daerah seluas satu benua, dan jang satu lagi, Malaysia dengan penduduk hanja 10 djuta dan daerah jang ketjil dibandingkan dengan Indonesia-Djawa, maka hal inilah menurut dasar-dasar dan prinsip-prinsip keseimbangan kekuasaan (balance of power) jang mendjadi sumber d an asal-usul jang terpenting dari keadaan dan situasi sekarang, jakni pertjoba an dari Indonesia-Djawa untuk menelan Malaysia.Sudahlah terang bah wa Malaysia tidak akan dapat mempertahankan dirinja dengan tidak memasuk i dalam sesuatu persekutuan dengan negara-negara lain dari luar Dunia Me-laju. Halnja sama djuga dengan Pilipina, walaupun orang-orang Filipina sekarang sedang menipu diri dengan mendjilat-djilat kaum kolonialis Djawa Pilipina tidak akan dapat mempertahankan dirinja dari serangan Indonesia-Djawa ketjuali dengan perlindungan dari sesuatu persekutuan dengan sesuatu negara besar dari luar Asia Tenggara ini. Australia dan New Zealand djuga mempunjai nasib jang sama. Djadi teranglah sudah bahwa Indonesia-Djawa adalah satu babaja besar, bukan sadja bagi perdamaian kita bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, Irian, Sunda dan lain-lain, tetapi djuga bagi perdamaian bangsa-bangsa Malaysia, Filipina, Australia dan New Zealand. Keempat, dalam usahanja jang terus-menerus untuk mengadakan pepe-rangan dengan luar negeri, sudah tentu Indonesia-Djawa akan berusaha untuk mendapatkan negara-negara ketjil dan lemah untuk didjadikan sasaran-nja, agar peperangan jang dilakukannja itu dapat dibatasi dan dikendalikan-nja. Tetapi tiap-tiap peperangan itu adalah merupakan suatu permainan por- taruhan. Tak ada suatu pepe angan jang l00% dapat dikendalikan. Lebih-lebih dizaman modern ini, segala peperangan, bahkan peperangan jang ketjil, dapat merembet mendjadi peperangan besar, bahkan mendjadi perangduia, manakala peperangan ketjil ini menjinggung dan menjintuh keseimbangan kekuasaan didunia antara negara-negara besar. Perang Dunia ke-I t el ah dimulai oleh negara Austria-Hongaria -- suatu tjontoh jang terdahulu dari Indonesia-Djawa -- sebagai satu peperangan ketjil untuk memalingkan per- hatian rakjat dari kemerosotan keadaan didalam negeri kepada musuh dari luar negeri. Peperangan ini telah dilakukan terhadap keradjaan Serbia jang sangat ketjil itu. Tetapi perang terhadap Serbia jang ketjil inilah jang kemu diannja merembet-rembet mendjadi Ferang Dunia ke-I. Djuga Perang Du-nia ke-II telah dimulai dengan peperangan ketjil "setempat" oleh Hitler te hadap Polandia. Tetapi peperangan setempat Hitler ini telah menjinggung koseimbangan kekuasaan di Eropah jang tidak dapat dibiarkan oleh negara-

negara lain dan jang achirnja merembet-rembet mendjadi Perang Dunia ke II. Oleh karena itu sesuatu negara jang memakai peperangan sebagai a l at politik kenegaraannja -- sebagaimana halnja dengan Indonesia-Djawa -- negara itu mungkin sekali akan menjebabkan timbulnja krisis internasional jang akan membawa kepada peperangan besar jang dapat melibatkan seluruh dunia. Karena itu pula maka politik kaum kolonialis Djawa bukan sadja telah mengantjam keamanan dan kesentosaan kita di Sumatera, Sulawesi,K a- limantan, Maluku, dan lain-lain, tetapi djuga mengantjam keamanan d an kesentosaan Asía Tenggara dan seluruh dunia. *水 *

VIII KELEMAHAN-KELEMAHAN IMPERIALISME DJAWA

Dalam pada itu, imperialisme Djawa adalah satu imperialisme jang pa- ling lemah dalam sedjarah dunia; sebenarnja ia merupakan suatu paradox, suatu keadaan jang sangat menjolok-mata di abad ke 20 ini. Semua imperialisme dalam sedjarah modern adalah imperialisme dari bangsa-bangsa jg sudah berindustri atas bangsa-bangsa tani. Kekuatan industri merekalah jg telah membuat bangsa-bangsa Eropah depat mendjadjah Asia, Afrika dan Latin Amerika dimasa jang lampau. Tetapi-bangsa Djawa masih satubangsa jang masuk golongan bangsa-bangsa jang masih berekonomi tani. Kolonia-lisme Djawa adalah satu kolonialisme jang dilakukan oleh satu bangsa tani atas bangsa-bangsa tani jang lain. Orang Djawa tidak mempunjai industri, mereka tidak tahu bagaimana membuat sendjata, oleh karena itu mereka tidaklah mempunjai sumber kekuatan sendiri untuk dapat terus-menerus mendjadjah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Bali, Sunda dan lain-lain,djika putera-putera negeri-negeri itu menjatakan kemerdekaan mereka. Segala sendjata jang merúpakan alat kekuasaan jang berada dalam tela- pak tangan kaum kolonialis Djawa adalah sendjata-sendjata jang telab dibe- rikan kepada mereka oleh bangsa-bangsa berindustri dari luer negeri. Orang Djawa masih tidak pandai menghasilkan sendiri walaupun seputjuk pistol! Karena itu kontrole atau penguasaan mereka atas kepulauan kita ini adalah berdasarkan atas kosanggupan mereka untuk mengontrole atau meg- hambat masuknja alat-sendjata ke bagian dunia kita ini dari negeri-negeri luar. Oleh karena kaum kolonialis Djawa tidaklah mempunjai kontrole atas produk si sendjata didunia, demikian djuga mereka tidaklah mempunjai ka trole atas alat-alat pengangkutan dan perkapalan dunia, maka seben arnja mereka tidaklah mempunjai kontrole jang sesungguhnja atas masuknja alat-alat sendjata ke kepulauan kita, djika negara-negara asing menolak dakwa- an kaum kolonialis Djawa jang palsu, tidak adil, dan tidak berbak itu, jakni bahwa Indonesia-Djawa, pengganti Hindia-Belanda itu, mempunjai hak me- megang kedaulatan atas bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Kalimantan,

Maluku, Bali, Sunda, dan lain sebagainja. Negara-negara luar akan menolak dakwaan bohong kaum kolonialis Djawa ini djika bangsa-bangsa Sumatera, Su lawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, dan lain-lain akan menjatakan kemerde- kaan mereka kepada dunia, dan bila iní dilakukan merekapun akan dapat ber- hubungan sendiri dengan langsung dengan selurub dunia. Apa jang sudah terdjadi ialah babwa bangsa-bangsa berindustri telah terlandjur mengakui kepulauan kita sebagai negara Indonesia-Djawa, oleh karena kesalahan politik jang kita lakukan sendiri ditabun 1945. Kaumn kolonialis Djawa sudah mempergunakan kenjataan pengakuan ini untuk mengham- bat negara-negara asing membolehkan pengiriman sendjata kepada kepulauan kita, walaupun kita dapat membelinja, kalau tidak seizin Djawa. Terang- lah sudah babwa ini adalah suatu tempat berpidjak jang sangat rapuh untuk mendirikan dan mempertabankan sesuatu imperialisme. Sesungguhnja im-oleh perialisme Djawa itu sudab dapat ditegakkan oleh karena dibiarkan bangsa-bangsa berindustri, dan dengan bantuan politik dan bantuan m or al dari mereka, karena mereka itu sebenarnja tidak mengetahui apa jang sudah dan sedang terdjadi di kepulauan kita. Karena itu imperialisme Dja-wa adalah sati imperialisme jang bersandarkan pada propaganda bohong dan penipuan pendapat umum diluar negeri. Sekali propaganda bohong dan penipuan ini dibuka kedoknja diluar negeri, imperialisme Djawa tidak akan dapat dipertahankan lagi, karena pemeliharaannja bergantung pada kemurahan bati dan belas-kasihan negara-negara industri dari bagian dunia jang lain. Inilah satu imperialisme jang tidak mempunjai alat untuk mempertahankan dirinja sendiri, karena ia tidak mempunjai sumber-sumber industriun- tuk tempat berpegang. Imperialisme Djawa ini bergantung 100% pada belas-kasihan bangsa-bangsa berindustri dari kedua-belah pihak dari tirai-besi untuk mengakui penguasaan Djawa atas selurub kepulauan kita. Satu-satunja djalan jang terbuka kepada kaum kolonialis Djawa untuk mempertahankan kedudukan mereka di kepulauan kita hanjala!: dengan mendjadikan diri mereka sebagai "satellite", pengikut dan alat dari sesuatu negara besar, baik Amerika Serikat atau Sovjet Rusia. Inilah jang sudah terdjadi selama ini. Kepada Amerika Serikat, pemimpin-pemimpin Djawa berkata:"Tuan-tuan harus membantu kami supaja pengaruh komunis dapat dibendung"; ke p ad a Sovjet Rusia, pemimpin-pemimpin Djawa berkata:"Tuan-tuan harus mem-bantu kami supaja pengaruh Amerika dapat dihantjurkan". Pemimpin-pemin- pin Djawa telah berusaha untuk mendapat bantuan dari kedua belah pibak, Tetapi sebagai mereka berhasil melakukannja dimasa jang sudah-sudah. djika jang satu pihak mənolaknja, maka kaum kolonialis Djawa akan terpak- sa mendjual diri mereka kepada sesuatu pibak, dan membuat diri mereka sebagai agent dari pibak itu, karena hanja dengan djalan inilah mereka bisa mendapat dan bisa dihadiahkan sendjata jang banjak untuk dapat menindas seluruh kepulauan kita. Dalam pada itu kepentingan kita bangsa-bangsa luar Djawa tidaklah mendjadi soal sara sekali bagi mereka itu. Kepentingen kita telah dikorbankan untuk kepentingan orang Djawa memegang kekuasaan tertinggi, untuk kepentingan Amerika membendung pengaruh Sovjet Rusia atau Komunis Tiongkok, atau untuk kepentingan Sovjet Rusia dan Komunis Tiongkok untuk membendung pengaruh Amerika. Sedang kita bangsa-bangsa

Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, Sunda, dan laín-lain, telah mendjadi korban; kepentingan dan hak nasional kita tidak diindahkan dan hí- lang lenjap dalam perebutan pengarub antara orang-orang luar itu diatas persada Tanah Ibu, kampung halaman kita sendiri. Ringkasnja, hidup-matinja dan tegak-runtuhnja kolonialisme Djawa ber- gantung pada kesanggupan kaum kolonialis Djawa untuk mengontrole hubungan luar negeri kepulauan kita. Tetapi kontrole jang sematjam ini t idak dapat mengatasi pendidikan dan kemadjuan: sebegitu lekas bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, Sunda, dan lain-lain mendjadi lebih terdidik, mereka tidak akan dapat dikurung lagi oleh kaum kolo- niaiis Djawa dari berhubungan sendirí dengan seluruh masjarakat bangsa-bangsa di dunia. Bila bangsa-bangsa ini sudah sanggup melakukan hubungan laar negeri mereka sendiri, kolonialisme Djawa, mau tidak mau, akan run- tuh. Djadi berachirnja kolonialisme Djawa adalah suatu kebarusan sedjarah, suatu akibat dari pada pendidikan dan kemadjuan, suatu hal jang tak dapat dielakkan, dan karena itu suatı bal jang pasti akan datang, dan kapan da- tangnja hanja soal waktu sadja. Jang sudah pasti sekarang ini ialah ba h w a generasi baru, Angkatan 65, dari bangsa-bangsa kepulauan kita suda hlah memasuki pintu-gerbang kesadaran dan keinsafan kepada kepentingan nasional mereka masing-masing, kepada harga-diri, kepada kepertjajaan pada diri-sendiri, kepada kekuatan dan kekajaan mereka, dan kepada kedudu- kan mereka di d u n i a! 车衣车

IX DJALAN KELUAR: MELALUI HAK MENENTUKAN NASIB DIRI-SENDIRI

Bagaimanakah kita dapat mengobah sistem kolonialisme Djawa jang tak dapat kita terima di Tanah Ibu, kampung-halaman kita? Dengan nasibat-nasihat dan budjukan-budjukan? Djarang ada orang atau golongan jang mau n- lepaskan kekuasaan mereka dengan sukareia. Segala andjuran dan nasihat kepada kaum kolonialis Djawa untuk mengobah sistem pendjadjahan mereka se- sudah lama terbukti sia-sia belaka. Fenulis sendiri termasuk salah orang jang dalam beberapa waktu jang lampau telah mengusulkan satu kompromi jang adil dengan orang Djawa dalam suatu bentuk pemerintahan fede- rasi. Dalam buku Demokrasi Untuk Indonesia (1958), penulís sudah membe- ri peringatan kepada golongan kolonialis Djawa, bahwa djika kompromi fe- derasi itu mereka tolak, maka tidak ada djalan lain bagi bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan lain-lain, "melainkan menindjau kembalike- dudukan dan "status" mereka serta apa jang telab terdjadi atas hak luhur dan hak mutlak Lnereka untuk memerintah diri-sendiri dan untık menentukan nasib diri-sendiri jang didjamin oleh Piagam Perserikatan Ba ngsa- bangsa." Sebenarnja inilah kata-penutup dari Demokrasi Untuk Indonesia.

Tetapi sebagai umum sudah mengetahui segala usaha djudjur itu tidaklah mempunjai kesan apa-apa pada kaum kolonialis Djawa jang memegang tam- puk kekuasaan di Djakarta. Apakah keadaan jang bobrok sekarang ini dapat diobah dengan mengadakan pemberontakan-pemberontakan dengan tiada menjatakan kemerdeka an setjara jang sudah-sudah? Langkah ini sudah diambil selama lebih 10 tabun jang si lam dan semuanja telah berachir dengan kegagalan, ketjuali di Sulawesi, jang meninggalkan kira-kira 200, 000 pahiawan-pahlawan jang gugur mulai dari Atjeh sampai ke Maluku. Pemerintah Djawa jang berada di Djakarta tidak dapat lagi ditumbangkan dengan pemberontakan dalam negeri semata-mata, jakni pemberontakan dengan tidak ada pernjataan kemerdekaan, karena apa jang disebut "Republik Indonesia" itu sudah berobah sifat-nja mendjadi satu negara imperialisme Djawa. Dan sesuatu negara imperialisme tidaklah dapat diperangi dengan perang saudara. Kehidupan pemerint ah kolonialis Djawa di Djakarta tidak lagi bergantung pada kemauan rakjat di Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, dan sebagainja, jang kedu- dukan mereka sudah diturunkan mendjadi anak negeri tanah djadjahan Djawa. Sebagaimana pemberontakan rakjat di kepulauan kita tidak dapat merobah pemerintah kolonialis Belanda di Den Haag dahulu, demikian djuga pemberontakan di Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan lain-lain, tidak dapat lagi mendjatuhkan pemerintah kolonialis Djawa di Djakarta sekarang ini. Oleh karena itu idee mengadakan pemberontakan setjara jang sudah-sudah itu haruslah dibuang sama sekali sebagai perbuatan jang sia-sia belaka Jang kita maksudkan dengan tjara pemberontakan jang sudah-sudah i tu ialah tjara-tjara pemberontakan jang telah dilakukan oleh saudara-saudara kita jang gagah berani disegala kepulauan kita terhadap regime kolonialis Djawa tetapi dengan tidak menjatakan diri mereka merdeka dari Djawa. Oleh karęna itu mereka sendiri telab membuat pemberontakan mereka itu sebagai satu soal 'dalam negeri" semata-mata jang tidak mempunjai hak untuk mendapat perhatian dunia, dan tidak mempunjai hak untuk men dapat perlindungan Hukum Internasional, dan dengan demikian, memustahilkan sama sekali pengakuan dan bantuan luar negeri terhadap perdjuangan me-reka itu sendiri. Pada hal pemberontakan mereka terhadap kolonialisme Djawa mempunjai sifat-sifat perdjuangan internasional jang tidak ku ra ng dari pemberontakan terhadap kolonialisme Belanda dahulu, atau perdjuangan menentang koloníalisme di bagian dunia jang lain, jang berhak mendapat bantuan dan pengakuan dunia internasional. Pemimpin-pemimpin jang baik dari pemberontakan jang sudah-sudah itu mempunjai tjukup keberanian untuk menghunus pedang mereka dari sarungnja, tetapi mereka masih t idak berani menjatakan diri mereka m e r d e k a dari Indonesia-Djawa. Mereka merasa djidjik, dengan alasan-alasan jang sungguh tjukup, terhadap per buatan regime kolonialisme Djawa, tetapi waktu mereka bertindak, rupanja mereka tidaklah memikirkan sampai ke-achirnja bagaimana mereka dapmt mentjapai kemenangan dengan melalui politik samar-samar jang me r eka pergunakan itu. Kesadaran balwa musuh jang mereka hadapi bukanlahlagi pemerintah dari seluruh bangsa-bangsa kepulauan kita, tetapi adalah regime kolonialis Djawa, timbulnja sangat terlambat jaitu sesudah mereka men de- kati kekalaban.

Perobahan sifat dari pemerintah Indonesia jang telah mendjadi alat jang effectief dari kolonialisme Djawa tidak disadari pada waktunja oleh kebanja- kan pemimpin-pemimpin pemberontakan jang menjebablan politik dan stra- tegí rnereka mendjadi katjau-balau, salah-raba dan salah-guna: merekase- benarnja berperang menentang satu regime kolonialis, tetapi ini dilakukan semata-mata dengan mempergunakan strategi perang saudara; mereka se-benarnja menghadapi peperangan internasional jakni peperangan dengan musuh jang terdiri dari bangsa asing jang datang mendarat dari seberang laut, tetapi ini telah dilakukan dengan mempergunakan politik dan taktik perang dalam negeri. Oleh karena tidak ada ketegasan tentang tudjuan, dan til ak ada ketegasan pula tentang tjara-tjara mentjapai tudjuan itu, maka akibatnja ialah, didalam negeri, timbul kesamar-samaran umum tentang siapa sebenarnja lawan dan siapa sebenarnja kawan; tidak diketahui siapa jang sebe-narnja musuh, dan siapa jang sebenarnja saudara, suatu keadaan jang me- ngundang musuh kedalam selimut, pengchíanatan dan kegagalan. Sedang di luar negeri dan di dunia internasional, oleh karena tidak ada pernjataan le- merdekaan dan tidak ada tuntutan jang tegas-tegas untuk hak menentukan nasib diri-sendiri, maka pemberontakan mereka itu telah memberi kesan seakan-akan hanja perebutan kursi belaka antara mereka jang tidak mem- punjai kedudukan dengan mereka jang duduk dikursi pemerintahan. Kesan- kezen jang begini diluar negeri tidaklah membantu pemberontakan mere ka di dunia internasional. Sedang soal jang sebenarnja, jaitu soal hak menentukan nasib diri-sendiri melawan kolonialisme Djawa tidak pernah dikemu- kakan dengan tegas-tegas, ketjuali oleh Maluku Selatan, karena pemimpin-pemimpin pemberontakan takut ditjap "pengchianat" "kepulauan Keling"oleh kaum kolonialis Djawa. Pada hal kalau kita tidak takut ditjap "pengchianat" oleh koloníalis Belanda, kitapun tidaklah perlu takut ditjap "pengchianat" o- leh kolonialis Djawa! Sudahlah pasti bahwa usaba-usaha perlawanan terha-dap sesuatu kolonialisme setjara setengah-hati itu tentu menemui kegagalan. Dalam pada itu tidaklah boleh dilupakan bahwa dalam dunia modern de-wasa ini, dimana penghidupan bangsa-bangsa dan negara-negara sangat bergantung pada satu sama lainnja, sesuatu negara itu dapat berdiri atau tidak, bahkan sesuatu pemberontakan itu berbasil atau gagal, bergantung pada dukungan nasional (dukungan dalam negeri) dan dukungan internasional (dukungan luar negeri ). Kedua matjam dukungan ini sama pentingnja, dan jg satu tak dapat ditegakkan dengan tidak ada jang lainnja. Dalam dunia jg se- demikian ini, suatu pemberontakan dalam negeri semata-mata sudah tidak dapat dipergunakan lagi untuk merobah sesuatu negara jang sudah diakui o- leh dunia internasional. Lebih-lebih negara-negara tani diseluruh dunia, termasuk Indonesia-Djawa, jang bergantung pada negara-negara industri untuk memperoleh alat-sendjatanja, sangatlah dipengaruhi oleh pergantu- ngan keluar negeri itu. Bahkan dibagian dunia kita, bagian dunia jang masih berekonomi tani, terdapat suatu keadaan dimana politik luar negeri meme- gang peranan jang lebih penting dari politik dalam negeri. Oleh ka rena itu dalam menjusun suatu rentjana perdjuangan jang effectief untuk melepaskan diri kita dari penindasan regime kolonialis Djawa, kita haruslah menjusun satu strategi jang bisa mendapat dukungan bukan sadja didalam tetapi djuga

diluar negeri. Suatu kesalaban jang telah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin pemberontakan jang sudah-sudah ialah mereka sudah mengambil langkah-langkah jang perlu untuk mendirikan negara baru, didalam negeri, tetapi mereka sama sekali tidak mengambil langkah-langkah jang perlu untuk melegalkan tindakan mereka di luar negeri setjara jang dapat di men gerti dan dapat didu-kung oleh dunia internasional. Pemberontakan dan pendirian negara baru hanja dapat dibenarkan dan disokong oleh dunia internasional kalau hal itu berdasarken atas hak menentukan nasib diri-sendiri jang dinh- takan dengan proklamasi kemerdekaan. Tetapi sesudah bertahun-tahun be- rontak dan berperang melawan regime kolonialis Djawa, tak ada pemimpin perlawanan jang dengan tegas-tegas menuntut hak menentukan nasib serdiri dan menjatakan kemerdekaan dari Djawa, jaitu langkah-langkah jang sebe-narnja dapat me-legal-kan pemberontakan mereka dalam Hukum Internasional dan di dunia internasional. Oleh karena itu suatu djalan baru menudju kepada kemerdekaan jang sedjati, jang mempergunakan tjara-tjara nasional dan internasicaal, harus- lah ditjari untuk bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, Sunda, dan lain sabagainja : djalan baru ini tidak dapat lain melainkan djalan hak menentukan nasib diri-sendiri jang menudju kepada kemerdekaan jang sedjati! Hak menentukan nasib diri-sendiri adalah kuntji kepada mas a depan politik bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, Sunda, dan lain-lain di kepulauan kita. Kalau kita tidak menuntut dan mem- pertabankan hak luhur kita ini, maka kita tidak mempunjai lagi masa depan politik, kita tidak mempunjai lagi masa depan ekonomi, kita tidak mempu-njai lagi masa depan sosial, dan kita tidak mempunjai lagi masa depan utuk pembangunan dan kemadjuan. Djalan Indonesia-Djawa adalah djalan jang langsung menudju perbudakan, kemunduran, kebodohan, dan kemungkinan kehantjuran sebagaimana telah dibuktikan oleh 20 tahun pendjadjahan kolo-nialis Djawa selama ini. Sumatera hanja dapat dibangunkan olehbang s a Sumatera, Sulawesi oleh bangsa Sulawesi, Maluku oleh bangsa Maluku, Kalimantan oleh bangsa Kalimantan, Bali oleh bangsa Bali, Sunda oleh bangsa Sunda, dan demikianlah seterusnja. Kita tidak memerlukan kaum kolonialis Djawa untuk mengadjar kita bagaimana memerintah Tanab Ibu, kampung ha- laman, tanal pusaka dari nenek-mojang kita! Duapuluh tabun dibawah pen- djadjaban mereka jang morat-marit itu sudah tjukup inemberikan b u k t i kepada kita dan kepada seluruh dunia bahwa kaum kolonialis Djawa tidaklah mempunjai kesanggupan dan ketjakapan untuk mendjadi pemimpin bagian dunia kita ini. Sebegitu djauh kesombongan dan kedjahatan mereka sudah dapat dilakukan oleh karena adanja s endjata-sendjata bikinan dan hadiah orang a- sing. Sebegitu djauh kita sudah menentang kedjahatan mereka hanja didalam negeri -- dengan pemberontakan jang berlumuran darab kaum-kerabat, ka- wan seperdjuangan kita -- tetapi sebegitu djauh kita belum lagi menentang kolonialisme Djawa itu didunia internasional dimana sebenarnja terdapat akar jang sesungguhnja dari kolonialisme Djawa itu -- dari mana sendjata didatangkan. Hak menentukan nasib diri-sendiri dari segala bangsa telah mendjadi dasar ketertiban dunia sədjak Perang Dunia ke-I, dan sudah lebih dikuatkan lagi sesudah Ferang Dunia ke-II dengan ditjantumkannja dalam P i a g a m

Perserikatan Bangsa-bangsa. Hak ini telah dihormati oleh hampir s emua bekas negara-negara imperialis, dengan mengembalikan hak menentukan hasib diri-sendiri kepada bangsa-bangsa jang pernah didjadjah mereka. Se- gala negara baru didunia jang berdiri sedjak selama setengah abad ini, telah memperoleh hak hidup mereka, setjara langsung atau tidak, dari pad a bak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib diri-sendiri. Pengakuan sedja-gat terhadap hak ini menandakan kemadjuan dan ketinggian peradaban manusia dalam menudju pendjundjungan kebenaran dan keadilan. Ini adalah satu pertanda pula dari peradaban ummat manusia dalam lapangan hubungan an- tara bangsa pada pertengahan abad ke 20 ini. Walaupun demikian hak menentukan nasib diri-sendiri dari bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali dan Sunda belumlah di- kembalikan kepada mereka masing-masing sampai sekarang. Saat un tuk mengembalikan kedaulatan atas setiap negeri di kepulauan kita kepada bangsa asli jang berhak, kini sudah tiba. Pendjadjaban sudah diketjam disegala pelosok dunia jang lain; pəndjadjahan tidak bisa dan tidak dapat dipeliharadi kepulauan kita. Pendjadjahan Djawa telah dimungkinkan dengan tipu-musli- hat jang achirnja menimbulkan toleransi bangsa-bangsa ber-industri d ar i luar Asia Tenggara ini. Dalam dunia kita jang saling berhubungan rapat ini, tak ada sesuatu ketertiban, baik ketertiban pendjadjahan atau jang lainnja, lebih-lebih dibagian dunia tani, dapat dipertabankan atau dipelibara dengan tidak ada persetudjuan, setjara terang-terangan atau setjara diam-diam, dari bagian dunia jang lainnja. Karena itu kita bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, Sunda, Irian Barat dan lain sebagai- nja haruslah menjatakan kepada seluruh masjarakat manusia di dunia, kepada setiap negara anggota Perserikatan Bangsa-bangsa tentang kehendak kita untuk menentukan nasib diri-sendiri dan memegang kedaulatan k i t a sendiri, suatu hak jang sudah dimiliki oleh semua bangsa-bangsa jang ber- adab didunia, ketjuali kita. Dunia tidak dapat menentang kolonialisme Barat di Afrika dan dibagian Asia jang lain, sedang pada saat itu djuga melindungi dan membiarkan koloníalisme Djawa di Asia Tenggara.

x

PENDIRIAN REPUBLIK-REPUBLIK SUMATERA, SULAWESI, MALUKU, KALIMANTAN, SUNDA, BALI, IRIAN,DJAWA DAN KONFEDERASI ASIA TENGGARA (KASIAT)

Pendirian Republik Sumatera (luas daerah: 182, 859 mil persegi ), Republik Sulawesi (luas daerah: 72, 986 mil persegi ), Republik Kalimantan (luas daerah: 200, 800 mil persegi), Republik Maluku (luas daerah:28,766 mil persegi), Republik Irian (luas daerah:160, 618 mil persegi), Republik Bali (luas daerah: 2, 095 mil persegi ), Republik Sunda (luas daerah:17, 200 mil persegí ), akan mengembalikan hak menentukan nasib diri-sendiri dibagian dunia kita ini kepada pemilik-pemiliknja jang sah den jang berhak atasnia

Kita tidak perlu meminta maaf atau memberi alasan-alasan jang lebar-pan- djang untuk membenarkan pembangunan negara-negara ini kembali, karena masing-masing putera-putera bangsa ini mempunjai hak sedjarah dan h ak bukum, baik berdasarkan hukum nasional, maupun berdasarkan hukum in- ternasional, untuk mengurus dan memerintah diri mereka sendiri. Republik Sumatera, dengan penduduk kira-kira 20 djuta, bukanlah hanja satu negara ketjil, tetapi akan merupakan satu negara menengah, jang menurut penduduknja setingkat dengan Thailand, Burma, Iran, Yugoslavia, Ca- nada, Ethiopia, Rumania dan Argentina. Diantara ll (seratus-sebelas) negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-bangsa dewasa ini, 93 (sembilan puluh-tiga!) diantaranja lebih ketjil dari Sumatera. Republik Sulawesi, dengan penduduknja jang 9 djuta itu sama tingkafnja menurut djumlah penduduk dengan Australia, Austria, Belgium, Ceylon, Cu- ba, Junani, Hongaria, Nepal, Portugis, Sweden, dan Saudi-Arabia. Diantara negara-negara jang mendjadi anggota PBB sekarang ini, 58 (lima-puluh de- lapan!) diantaranja lebih ketjil dari Republik Sulawesi. Republik Kalimantan, dengan penduduk 5 djuta, sama tingkatnja menurut djumlah penduduk dengan Kambodja, Denmark, Ecuador, Finland, Ghana, Madagaskar dan Jaman. Diantara negara-negara anggota PBB, 45 diantaranja lebih ketjil dari Republik Kalimantan. Republik Maluku dan Republik Bali, dengan perduduk masing-masing 2 djuta, sama besarnja dengan Albania, Costa Rica, Dahomey, Honduras, Is- rael, Jordan, Laos, Libanon, New Zcaland, Paraguay, dan Somalia. Walaupun demikian masih ada lagi 19 buah negara anggota PBB jang lebih ketjil dari Republik Maluku dan Republik Bali. Republik Irian, dengan penduduk 750, 000 djiwa sama besarnja dengan Congo (Brazzaville), Cyprus, Gabon, Iceland, dan Iuxembourg jang kese- muanjaadalah negara-negara anggota PBB. Sedang iuas wilajah Irian sama sekali tak dapat diperbandingkan dengan luas wilajah jang djauh lebih ketjil dari negara-negara itu. Republik Sunda, dengan penduduk 25 djuta, berhak mendapat kedudukan jang sama dengan Pilipina, Turki dan Mesir. Sedang lebih 100 buah negara-negara anggota PBB lebih ketjil dari Republik Sunda menurut djumlah penduduknja. Dalam bagian dunia antara pulau Inggeris dan Iran terdapat lebih 25 buah negara-negara berdaulat: siapapun tak dapat bertengkar babwa 8 buah negara -- kita hítung satu negara Djawa, karena kita tidak menolak hak memerintah diri sendiri bagi orang Djawa, walaupun mereka itu menolaknja untuk kita, -- dalam satu daerah jang sama luasnja adalah terlalu banjak u n tu k Asia Tenggara, karena djarak antara Sumatera dan Irian Barat adalah sama sebagai antara Inggeris dan Iran. Demikian djuga kalau didunia sekarang terdapat 24 buab negara-negara Amerika, 25 buah negara-negara Ercpah, 24 buah negara-negara Negro Afrika, 4 buah negara-negara Indotjina, dan 15 buah negara-negara Arab, siapakah mengatakan bahwa kita tidak boleh mempunjai 8 buah negara merdeka di Dunia Melaju, satu bagian dunia jang tjukup luas dan mempunjai penduduk tjukup banjak dibandingkan dengan bagian-bagian dunia jang lain itu? Djanganlah kita sampai terperdaja o l e h

propaganda kaum kolonialis Djawa jang mentjoba-tjoba mengabui mata k ta seakan-akan pintu idjtihad kearah keselamatan Tanah Ibu kita masing-masing sudah tertutup dibagian dunia kita untuk selama-lamanja. Pi n t u idjtihad kearah keselamatan Tanah Ibu dan kemerdekaan jang sedjati bagi kita semua masih terbuka selebar-lebarnja, dan kuntjinja ada pada tangan kita masing-masing. Marilah kita mempergunakan kuntji ini untuk membu- ka pintu gerbang baru jang dapat membawa kita dan bangsa-bangsa k i t a semua kepada "baldatun thaijibatun wa Rabbun Ghafur", -- negara j a n g makmur dan Tuhan Jang Pengasih dan Pengampun. Pengeibalian kedaulatan atas Sumatera kepada bangsa Sumatera, atas Sulawesi kepada bangsa Sulawesí, atas Maluku kepada bangsa Maluku, atas Irian kepada bangsa Irian, atas Bali kepada bangsa Bali, atas Pasundan kepada bangsa Sunda, dan atas daerah bangsa Djawa kepada bangsa Djawa, adalah semata-mata suatu tindakan keadilan jang sudah lama sekali tidak dilakukan! Inilah satu-satunja djalan untuk mengembalikan keamanan, ke- tenteraman, dan ketenangan kepada bagian dunia jang amat luas iní j a n g hingga kini terlibat dalam kantjah kekatjauan, penindasan, perampasan, ke- tiadaan hukum dan ketidak-adilan, disebabkan oleh pemberontakan j a n g tiada berhenti-hentinja terhadap kolonialisme Djawa disatu pihak, dan dilain pihak oleh penindasan-penindasan kedjam terhadap bangsa-bangsa jang be- rontak itu oleh kaum pendjadjah Djawa. Dengan tindakan keadilan ini maka sumber kekatjauan dan perselisihan jang terbesar, jaitu satu bangsa dari satu pulau mentjoba-tjoba memperbudakkan bangsa-bangsa dari pulau-pulau jang lain, akan tak dapat dilakukan lagi. Sebaik keamanan dan perdamaian sudah dapat dikembalikan, maka d ja- lan menudju pembangunan dan kemadjuan akan terbuka dengan selebar-lebarnja, jang mana sudah ditutup selama 20 tahun ini oleh kolonialisme Djawa dan akibat-akibatnja. Pembangunan akan dapat dilakukan karena masing-masing bangsa itu sudah memiliki apa jang mendjadi hak mereka. M cre ka akan mendjadi Tuan dirumah mereka masing-masing. Masalah tata-usaha atau administrasi masing-masing negara akan dapat dikendalikan dan di- pimpin dengan rapi karena luas daerahnja sudah dibatasi dalam ukuran jang sedang dan dalam wilajah jang sesungguhnja. Dengan demikian rentjana- rentjana ekonomi akan dapat didjalackan dialam kenjataan. Atas dasar sama-sama berdaulat dan sederadjat iní maka suatu susunan kerdjasama jang baru antara negara-negara jang benar-benar merdeka ini akan dapat kita bangunkan di kepulauan kita dalam bentuk satu Konfederasi Asia Tenggara ( KASIAT) jang terdiri dari Republik Sumatera, Republik Sulawesi, Republic Maluku, Republik Kalimantan, Republik Irian, Republik Bali, Republik Sunda, dan Republik Djawa, sebagai anggota jang sederadjat dalam memadjukan kepentingan kita bersama, dengan keadilan untuk semua dan dengan tidak ada kerugian untuk pihak manapun. Dalam lingkungan Konfederasi Asia Tenggara jang besar dan adil ini, kita bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Irian, Bali, Sunda, Kalimantan dan Djawa a k an dapat bekerdjasama atas dasar keadilan dan persamaan dalam usaha mem- bangun dunia baru untuk kita sendiri dan anak-turunan kita, dalam s uasa na bantu-membantu jang diberikan dengan keichlasan dan bukan dalam suasana

penindasan, kediktatoran, dan pendjadjahan sebagai jang terdjadi d a l a m republik Indonesia-Djawa sekarang ini. Oleh karena masing-masing kita sudah mendapat kesempatan untuk me- ngurus dan membereskan rumah-tangga kita masing-masing lebih d ahulu maka kita akan dapat menolong satu sama lain setjara lebih baik dan lebih berarti. Bahkan soal kepadatan penduduk dipulau Djawa akan dapat kita ata- si setjara lebih bidjaksana dengan usaha bersama semua negara-negara anggota Konfederasi Asia Tenggara, dengan rentjana pemindahan penduduk jang bertanggung djawab, ke wilajah-wilajah anggota Konfederasi jang eko- nominja dapat menampung penduduk-penduduk baru itu. Dengan demikian kita akan dapat memindahkan persoalan kepadatan penduduk di pulau Djawa itu dari gelanggang politik -- dimana persoalan ini sekarang dipakai orang sebagai alat politik untuk mentjapai sesuatu maksud jang lain dan bukan untuk menolong golongan orang jang melarat itu sendiri, -- kelapangan ke- manusiaan, kemasjarakatan dan perekonomian dimana terletak tempat jang sebenarnja dari persoalan ini, untuk kebaikan kita semua, baik bagi mereka jang benar-benar menghadjati tempat baru, maupun bagi mereka jang menerimanja.

XI KONFEDERASI ASIA TENGGARA DAN PERDAMAIAN DUNIA MELAJU Dipandang dari sudut politik internasional, dan politik nasional, pendirian satu Konfederasi Asia Tenggara, jang anggotanja terdiri dari Republik Sumatera, Republik Sulawesi, Republik Maluku, Republik Kalimantan, Re-publik Bali, Republik Irian, Republik Sunda dan Republik Djawa, akan mem- bawa perdamaian dan ketenteraman politik kembali kepada bagian dunia kita ini, karena dengan demikian segala akar-akar perselisihan sudah dibongkar sampai ke udjung-udjungnja dan ditiadakan. Dengan pendirian negara-negara ini maka suati sistem keseimbangan kekuasaan ( balance of power ) jang dapat bekerdja dan berdjalan sendiri sudah ditimbulkan dibagian dunia kita ini. Sedjak dunia terkembang keseimbangan kekuasaan itu adalah mendjadi d asar perdamaian dibagian dunia jang manapun djuga. Pada waktu ini dalam Dunia Melaju kita tidak ada lagi keseimbangan kekuasaan itu, karena itu perdamaian tak akan dapat dikembalikan di Asia Tenggara sampai keseimbangan kekuasaan itu dapat dibangunkan kembali. Dalam sedjarah, aggressí atau pe- njerangan itu sclamanja merupakan suatu akibat jang tak dapat dielakkan dari ketiadaan keseimbangan kekuasaan antara dua negara jang berdekatan. Malaysia sudah didjadikan sasaran jang kedua dari aggressi Indonesia-Djawa sesudah Irian Barat, karena Malaysia berada sangat dekat dan mudah didjadikan mangsa. Sesudah Malaysia, kalau imperialisme Djawa berhasil, maka akan datang pula giliran Filipina, Australia, New Zealand, dan negara-negara lain jang ketjil disekitar bagian dunia kita ini. Oleh karena tak ada satu

negarapun dibagian dunia kita ini jang lebib besar dari Indonesia-Djawa, semua negara-negara jang berdekatan haruslah mentjari perlindungan bagi keselamatan mereka dengan mengadakan persekutuan dengan negara-negara jang lebih besar dari luar bagian dunia kita ini. Ini telah merupakan satu ke- harusan strategi bagi semua negara-negara tetangga Indonesia-Djawa Dalam lingkungan Asia Tenggara sendiri dewasa int tidak ada lagi satu negara jang dengan sendirinja dapat menahan agressi Indonesia-Djawa, karena itu bagian dunia kita ini sudah mendjadi satu bagian dunia jang paling gontjang, dimana perdamaian hanja bisa dipertahankan dengan tjampur-tangan atau intervensi sesuatu kekuasaan dari luar daerah ini. Dengan berdirinja Republik Sumatera, Republik Sulawesi, Republik Maluku, Republik Kalimantan, Republik Irian, Republik Balí, Republik Sunda dan Republik Djawa, maka pertama sekali, ketenteraman politik akan dapat dikembalikan kebagian dunia ini sebagaimana dizaman sebelum pendjadjahan Belanda, karena dalam susunan jang adil iní perbedaan kekuatan antara negara-negara dibagian dunia kita ini sudah dikurangi. Tak ada lagi negara jang terlalu besar dan tak ada pula jang terlalu ketjil. Persatuan semua mereka dalam satu Konfederasi Asia Tenggara akan dapat mem pertahankan bagian dunia kita dari serangan dari luar atau serangan dari dalam, karena kalau salah satu diantara mereka ingin mendjadi sipenjerang seperti Djawa dewasa ini, maka akan dapat ditundukkan dengan mudah. Djawa akan berhenti mendjadi negara aggressor, negara penjerang, karena ia takkan dapat lagi bertindak dengan tidak bertanggung djawab sebagai sekarang, karena Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, dan lain-lain, tak dapat diperas lagi untuk membangunkan kekuatan militer jang tidak bertanggung djawab sebagai sekarang. Lagi pula dalam bentuknja jang sekarang, walaupun Indonesia-Djawa itu mempunjai daja menjerang dan daja merusak, tetapi sebe- narnja ia tidak akan dapat dipertahankan dari serangan dari luar, karena ia selalu terlibat dengan permusuhan'tlalam negeri" Kebenaran ini rupanja telah luput dari mata orang-orang jang ingin melihat Indonesia-Djawa sebagai imbangan Komunis Tiongkok dibagian dunia kita ini. Dalam pada itu aggressi dari Indonesia-Djawa tidak dapat dibentikan lagi dengan tak ada tjampur-tangan atau intervensi sesuatu kekuasaan besar dari luar bagian dunia kita ini. Karena itu Indonesia-Djawa telah mendjadi penjakit kanker politik di Asia Tenggara jang membahajakan keselamatan nasional dan ketertiban internasional dibagian dunia kita ini. Kedua, pendirian kembali negara-negara ini akan menambah ketenteraman politik dibagian dunia ini karena dengan demikian djumlah negara-negara jang akan ikut serta dalam sistem keseimbangan kekuasaan disini a k a n bertambah. Makin banjak negara jang ikut serta maka sistem keseimbangan kekuasaan itu semakin kuat. Ketiga, republik-republik ini, karena letaknja jang sangat baik, jang satu terpisah dari jang lainnja dengan suatu djarak jang sedang, dan kebanjakannja dipisah oleh perairan internasional dan lautan lepas, semua ini akan memban- tu pula menenteramkan bagian dunía kita ini, karena letak negara-negara jang sangat berdekatan dengan satu sama lainnja memang merupakan salah satu se- bab pula dari mudah timbulnja peperangan, sebagaimana terbukti dalam sedjarah.

Ke-empat, manakala kedelapan republik ini mengambil tempat jang mendjadi hak mereka di forum internasional sebagai anggota Perserikatan Bangsa-bangsa dan badan-badan internasional jang lain-lain, hal ini akan menam- bah pengarub, peranan dan kehormatan kita bangsa-bangsa Melaju di d u nia internasional; hal ini akan membawa kita kepada kedudukan diplomatik baru jang amat penting, dan akan lebíh memudabkan bagi kita untuk mempertahan- kan kepentingan kita bersama, baik dibagian dunía kita ini, maupun diforum internasional, karena suara jang baru kita peroleh kembali dalam lapangan politik internasional ini akan mendjadi harapan dan tjarian orang, dan keputusan-keputusan kita bersama sebagai anggota Konfederasi Asia Tenggara, a- kan mempunjai nilai jang besar dalam pertjaturan politik dunia. Hal ini djauh sekali bedanja darí keadaan kita sekarang jang sama sekali tidak mempunjai kedudukan internasional, bahkan kita bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, Sunda, Irian, dan lain-lain, se- akan-akan tidak ada didunia. Kedudukan-kedudukan jang mendjadi hak kita di madjlis-madjlis internasional telah diserobot oleh delegasi kaum kolonialis Djawa jang kerdjanja hanja membeo kepada sesuatu negara be.sar jang mau menghadiahkan sendjata kepada mereka. Dengan susunan baru, kita akan dapat merebut kembali kedudukan dan status jang mendjadi hak kita di d u n i a, dan kita akan mendapat 7 buah suara baru di Perserikatan Bangsa-bangsa, di- mana kita sekarang katanja "diwakili" oleh Indonesia-Djawa jang hanja mempunjai satu suara, dan suara jang satu ini sebenarnja dipergunakan untuık me- niadakan dan bukan untuk mempertabankan hak kita. Dan achirnja, untuk kemakmuran dan perdamaian bagian dunia kita ini, Konfederasi Asia Tenggara dapat diperluas meliputi Pilipina, Malaysia, Thai- land, Australia, New Zealand, Vietnam dan Kambodja, djika negara-negara ini bersedia menjertainja sebagai anggota jang sederadjat dan sama-sama berdaulat dengan kita dari Sumatera, Sulawesi, Maluku, Irian, Kalimantan, Bali, Sunda dan Djawa.

xII KESIMPULAN : PANGGILAN KEHORMATAN

Walaupun kita tidak dapat lagi menguasai masa-silam kita, tetapí kita masih dapat menguasai masa-depan kita. Ahli-ahli sedjarah memandang bahwa masa-depan itu adalah perkembangan dan kelandjutan dari masa-silam, tetapi dalam perkembangan dan kelandjutan ini termasuk djuga anasir-anasir keinginan, kemauan, hasrat, tekad dan rentjana kita sekarang. Masa-depan kita untuk sebagian besarnja bergantung pada apa jang kita lakukan pada masa sekarang. Kita dapat mengobah keadaan dan peng- hidupan bangsa-bangsa kita jang morat-marit sekarang ini; kita dapat me- lemparkan belenggu-belenggu pendjadjahan Djawa; kita dapat mentjapai hak menentukan nasib diri-sendiri; d j i k a kita sadar pada kepentingan

nasional bangsa kita sendirí, d j i k a kita sadar pada sedjarah kita, da n pada tradisi kita. Tetapí suatu bangsa jang sudah hilang ingatannja, jang su- dab melupakan sedjarahnja, jang sudah meninggalkan tradisinja, jang tid ak memahami kepentingan kebangsaannja sendiri, bangsa-bangsa jang sema-tjam ini tidak akan memperoleh hak menentukan nasib diri-sendiri lagi, mereka sudah masak untuk didjadjah dan diperbudakkan. Bangsa-bangsa jang sematjam ini sudah seperti kapal tidak berkemudi, seperti orang tidak beringatan, seperti organisasi tak bertudjuan, -- semua ini tidak lagi ber- djalan menudju sesuatu tudjuan jang tertentu dan pasti, tetapi hanja hanjut dengan tak tentu arah-tudjuan lagi. Dan mereka jang hanjut sudah kehila-ngan kontrole dan kendali mereka atas masa-depannja sebagaimana sudah hilang kontrole dan kendali mereka atas masa-silamnja. Saat sedjarah untuk menjatakan kemerdekaan Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Bali, Sunda dan Irian Barat kiní sudah sampaí ditengah-tengah kita! Saat sedjarah ini sudah tiba ditengah-tengah kita setelah me- lalui perkembangan-perkembangan sedjarah jang tak dapat dielakkan, jang sudah bekerdja selama 20 tahun ini, dalam waktu mana imperialisme Djawa sudah berkembang dari baji mendjadi dewasa. Imperíalisme Djawa itu sekarang sudah memasuki lagi dalam satu taraf sedjarah jang tidak dapat di-elakkan, dimana ia telah memasuki lapangan pertarungan bersendjata didalam dan diluar negeri, tegasnja melibatkan dirinja sendiri dalam peperang- an dalam dan luar negeri pada satu saat jang sama. Didalam negeri dengan kita di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Irian dan Pasundan; diluar negeri dengan negara-negara disekitar kita: Malaysia, Australia, New Zea- land dan Inggeris. Sebagaimana halnja semua negara didunia ini adalah dike- lilingi oleh negara-negara lain, -- Indonesia-Djawa tak terketjuali,-- maka adakalanja tiba suatu saat dalam sedjarah dimana keadaan perhubungan anta- ra negara-negara itu mendjadi sederikian rupa sehingga memungkinkan se- suatuı perobahan jang radikal. Kita sekarang sedang berhadap-hadapan muka dengan saat sedjarah ini. Kita harus mempergunakan saat sedjarah ini untuk menjatakan kemerdekaan kita dari kolonialisme Djawa dan mengambil kembali segala hak pusaka kepunjaan kita! Perdjuangan untuk mentjapai kemerdekaan dan hak menentukan nasíb diri sendiri tidak pernah suatu perdjuangan jang sia-sia. Bangsa-bangsa Sumatera, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Irian Barat, Bali, Sunda, dan lain-lain, marilah kita bersatu, marilah kita dirikan satu persekutuan sutjí untuk me- lawan penindas kita bersama, jaitu kaum kolonialis Djawa! Djanganlah kita sampai membiarkan saat sedjarah ini terlepas dari tangan kita, karena dji- ka kita kehilangan kesempatan ini, maka ini mungkin berarti kehilangan kesempatan untuk selama-lamanja. Kita harus bersjukur kepada Tuhan, karena saat sedjarah jang hilang bagi kita ditabun 1945 -- karena kekurangan penger- tian politik, -- kini sudah kembali sekali lagi untuk kedua-kalinja dalam masa hidup kita, suatı hal jang sungguh djarang terdjadi dalam sedjarah dunía. Kita harus bangun merebut saat dan kesempatan ini, karena apa jang kita lakukan, disini dan sekarang, akan menentukan nasib Tanah Ibu, kampung-halaman kita,

Ke- djadi untuk masa jang akan datang jang berabad-abad lananja. Marilah kita mempergunakan kesempatan saat sedjarah ini untuk membela kehorma- tan kita,dan untuk memelihara masa-depan anak-keturunan kita, dengan men.erdekakan Tanah Ibu kita masing-masing dari penindasan kolonia- lisme Djawa!

Hasan Mubammad di Tiro

New York, 3 Desember, 1964

untuk me mem-

Penerbit:

SUMATERA BERDAULAT Medan