Baca PDF (OCR): Tentang Front Persatuan Nasional

52 halaman · 52 halaman diproses dengan OCR· 83837 ms

Daftar isi
  1. M.H. LUKMAN
  2. Tentang
  3. Front Persatuan Nasional
  4. Djakarta, Djuni 1960.
  5. gunakan sembojan jang baik ini, hal inipun tidak akan
  6. politik front persatuan nasional. Karena dari pengertian
  7. Dengan dorongan ke-sungguh²an dan ketekunan jang
  8. tuk menjélubungi kepentingan2 klas daripada proletariat
  9. sjarat² atau ukuran² dari kebebasan Partai Komunis di-
  10. klas proletar mendjadi kekuatan politik jang berdiri sen- diri, membangkitkan kaum tani melawan kaum tuanta-
  11. nah,....dan dengan demikian mempersiapkan sja-
  12. rat2 jang diperlukan untuk hegemoni dari proletariat". Kita telah mengalami bagaimana praktek dari lepas-
  13. nja kebebasan Partai kita dalam front persatuan nasional
  14. Djuga kita harus mentjegah sukubangsa jang besar dan jang sudah lebih madju memandang rendah sukubangsa²
  15. Pokoknja, pertama, apa jang sungguh² diperlukan
  16. Rp. 35,—

M.H. LUKMAN

TENTANG FRONT PERSATUAN NASIONAL

EROOT BEA

KAUM BURUM SEMUA NEGERI, BERSATULAH !

M.H. LUKMAN

Tentang

Front Persatuan Nasional

Tjetakan kedua

Jajasan Pembaruan" Djakarta 1962

PENGANTAR

Seperti dinjatakan pada penutupnja, isi brosur inı adalah suatu uraian jang diharapkan bisa membantu untuk lebih memahami apa jang dimaksudkan dengan front persatuan nasional olch kaum Komunis. Front persatuan nasional bagi kaum Komunis adalah djalan untuk men- tjapai baik Pemerintah Gotongrojong maupun Pemerintah Demokrasi Rakjat. Oleh karena itu, isi brosur ini pada pokoknja merupakan pendjelasan mengenai rumus- an front persatuan nasional didalam Program PKI jang berbunji: Hanja suatu front persatuan nasional jang di- bentuk atas dasar persekutuan buruh dan tani, dipimpin olch klas buruh, dan terbentuk sebagai hasil gerakan Rakjat jang se-luas2nja dan perdjuangan revolusioner daripada massa, akan memungkinkan Rakjat menudju ke- menangannja". Sudah beberapa waktu lamanja isi brosur ini mendjadi bahan peladjaran tentang front persatuan nasional di Sekolah2 Partai dipusat dan di-daerah2 tingkat I. Ia di- susun oleh Kawan M.H. Lukman, Wakil Ketua I CC PKI, sebagai diktat untuk mata peladjaran front persatuan nasional. Oleh karena itu, sebagai diktat ia telah lama diketahui dan dipeladjari oleh sebagian dari kader² Partai. Tetapi sekarang dengan diterbitkannja diktat ini mendjadi brosur, terbukalah kesempatan untuk membatja dan mempeladjarinja bukan sadja bagi kader² dan anggota² Partai tetapi djuga bagi umum. Semakin luas isi brosur ini dipeladjari dan difahami olch kader2 dan anggota2 Partai dan orang2 diluar Partai, semakin baik. Sebab hal ini berarti lebih memberikan sjarat² untuk diwudjudkan- nja front persatuan nasional itu didalam praktek. Bagi kader² dan anggota² Partai, semakin mercka me- ngerti tentang pentingnja arti front persatuan nasional dan tentang sjarat2 daripada front persatuan nasional, semakin bisa diharapkan bahwa mereka akan mendjadi lebih tekun dan lebih teguh lagi didalam perdjuangan untuk mewu- djudkan front persatuan nasional itu didalam praktek.

Sebaliknja, bagi orang diluar Partai jang berkemauan baik, semakin mereka mengerti apa jang sesungguknju di- maksudkan dengan front persatuan nasional olch kaum Komunis, tentunja semakin dapat diharapkan bahwa ka- laupun tidak turut aktif didalam perdjuangan mewudjud- kan front persatuan nasional, se-kurang2nja mereka tidak lagi turut2 dengan kaum reaksioner memfitnah politik front persatuan nasional dari Partai Komunis. Pendeknja. dengan lebih memahami isi brosur ini diharapkan bahwa orang2 diluar Partai jang banjak sedikitnja su icih ambil bagian dalam penggalangan front persatuan nasional akan mendjadi lebih aktif lagi didalam memberikan sumbangannja bagi terwudjudnja front persatuan nasional; sedangkan bagi mereka jang tadinja mempunjai pur- basangka djelek terhadap politik front persatuan nasional dari kaum Komunis diharapkan bisa menghilangkan atau sedikitnja mengurangi purbasangkanja itu. Tertjapainja pengertian jang tepat dan lebih dalam mengenai front persatuan nasional dikalangan kader dan anggota Partai dan dikalangan orang2 diluar Partai ber- arti suatu kemenangan bagi perdjuangan menggalang front persatuan nasional itu sendiri. Dibrosurkannia dik- tat Tentang Front Persatuan Nasional adalah djustru un- tuk mentjapai maksud ini. Demikianlah, semoga penerbitan brosur ini akan mentjapai maksudnja. Dep. Front Persotuan CC PK1

Djakarta, Djuni 1960.

Sembojan front persatuan nasional telah mendjadi buah bibir se-hari2 dikalangan kita kaum Komunis dan dikalangan gerakan Rakjat pekerdja pada umumnja. Pada setiap penutup rapat umum dimana berbitjara orang Komunis atau pemimpin2 gerakan Rakjat progre- sif lainnja, begitu djuga dalam pernjataan² tertulis, selaln diserukan sembojan2 jang bersangkutan dengan front persatuan nasional. Ini adalah baik, karena sembojan front persatuan nasional adalah scmbojan jang benar dan baik. Terlaksana- nja sembojan front persatuan nasional dalam praktek mendjadi sjarat jang menentukan bagi kemenangan kita dalam perdjuangan untuk kemerdekaan nasional Indone- sia jang penuh. Semakin populer sembojan ini dikalangan Rakjat semakin baik. Olch karena itu, mempropagandakan dan menjerukan sadja sembojan front persatuan nasional dikalangan Rakjat sudahlah merupakan ke- baikan. Bagi mercka jang sungguh² berkemauan dan bermaksud baik, mempropagandakan dan menjerukan sembojan front persatuan nasional berarti djuga dorongan dan per- ingatan bagi diri mereka sendiri untuk berbuat sesuai dengan sembojan jang diserukannja, jaitu berusaha supaja sembojan front persatuan nasional itu tidak tinggal dalam omongan belaka, melainkan mendjadi kenjataan dalam praktek. Djika orang bermaksud menipu Rakjat dengan meng-

gunakan sembojan jang baik ini, hal inipun tidak akan

menguntungkan baginja. Sebab dengan sembojan2 atau andjuran² jang benar dan baik, Rakjat akan bisa djuga lebih dipertjepat dan ditingkatkan kesedarannja untuk mengudji perbuatan seseorang dengan omongannja. Orang jang bermaksud menipu Rakjat dengan meng gunakan sembojan² atau andjuran² jang baik berarti semakin mempertjepat membukakan kepalsuannja sendiri dimata Rakjat. Pendeknja, mempropagandakan dan menjerukan sembojan2 atau andjuran² jang benar, bagaimanapun djuga, adalah perbuatan jang baik.

Meskipun demikian, didalam praktek sampai sekarang kita masih sering mengalami kesukaran dan rintangan² serta kesalahan², jang djustru datangnja dari kalangan kita sendiri, dalam melaksanakan sembojan front persatuan nasional. Sudah tentu sebab dari semuanja ini bukanlah karena kurang atau tidak adanja ke-sungguh2an dari fihak kita sendiri didalam mempropagandakan dan melaksanakan sembojan front persatuan nasional itu. Djadi, dimanakah letak scbabnja? Sebab jang terutama jalah terletak pada kekurangan pengertian kita mengenai teori dari front persatuan nasional sebagai garis politik atau taktik Partai. Lebih dulu perlu diperingatkan bahwa pemakaian isti- lah taktik disini samasekali bukanlah dalam arti kata muslihat jang mengandung tipuan, sebagaimana biasanja di- pakai dalam pertjakapan se-hari2, terutama dikalangan orang2 diluar kaum Komunis. Apa jang dimaksudkan dengan taktik oleh kaum Komunis samasekali bukanlah soal tipu-muslihat atau gerak-tipuan. Jang dimaksudkan dengan taktik, djelasnja, taktik Partai, jalah .,garis politik dari Partai" (Lenin). Taktik Partai ditetapkan" berdasar- kan penilaian jang tenang dan se-mata2 objektif atas semua kekuatan2 klas disesuatu negara (dan di-negara2 tetangga dan semua negara didunia) dan djuga atas pengalaman gerakan2 revolusioner" (Lenin). Rintangan2 dan kesalahan2 jang datangnja dari kita sendiri dalam melaksanakan garis politik front persatuan nasional haruslah kita hapuskan atau se-tidak2nja kita kurangi sampai pada batas minimum. Untuk ini kita perlu mempeladjari teori dari politik front persatuan nasional. Tetapi djika kita nanti sudah mengerti teori dari politik front persatuan nasional, maka hal ini tidaklah berarti bahwa kita terus dengan sendirinja akan bisa dengan gampang dan tepat melaksanakan politik front persatuan nasional itu. Ketjakapan dan ketepatan kita dalam mendjalankan politik front persatuan nasional, sesudah kita banjak-sedikitnja mengerti teorinja, terutama akan kita peroleh dari pekerdjaan praktek se-hari2. Djadi, djuga dalam hal ini kita tetap berpegang pada prinsip satunja teori dengan praktek. Tetapi bagaimanapun djuga, dengan pengertian jang lebih dalam dan tepat mengenai teori dari politik front

persatuan nasional, dapatlah diharapkan bahwa akan timbul dorongan jang lebih besar pada kita untuk lebih sungguh² dan lebih tekun lagi didalam mendjalankan

politik front persatuan nasional. Karena dari pengertian

teori ini kita akan mendjadi lebih sedar tidak sadja akan pentingnja dan kcharusan kita mendjalankan politik front persatuan nasional, tetapi djuga akan kesulitan2nja jang berbagai matjam.

Dengan dorongan ke-sungguh²an dan ketekunan jang

iehih besar, jang didapatkan dari pengertian teori, maka dapatlah ditimbulkan aktivitet dan daja-upaja serta ke- sabaran jang lebih besar lagi dalam mendjalankan politik front persatuan nasional. Dengan demikían, berartilah kita mentjiptakan sjarat² untuk bisa meningkatkan ketja- kapan dan ketepatan kita dalam mendjalankan garis politik front persatuan nasional, dan mengurangi rintangan² ideologis serta kesalahan2 sampai pada batas minimum dari fihak kita sendiri. Ada lima pokok persoalan dari front persatuan nasior nal jang kita bitjarakan dibawah ini, jaitu: Pertama, soal ide jang mendjadi dasar atau melahirkan politik front persatuan nasional, jalah soal perbedaan revolusi dinegeri djadjahan dan dinegeri imperialis. Kedua, soal basis dari front persatuan nasional, jalah soal persekutuan buruh dan tani. Keliga, soal kebebasan Partai Komunis dalam front persatuan nasional. Keempat, faktor agama dan sukubangsa dalam front persatuan nasional. Kelima, soal organisasi front persatuan nasional.

  1. PERBEDAAN REVOLUSI DINEGERI DJADJAHAN DAN DINEGERI IMPERIALIS Dasar dari politik front persatuan nasional, atau ide
    jang melahirkan politik front persatuan nasional jalah pendirian Leninis jang membedakan revolusi dinegeri imperialis dengan revolusi dinegeri djadjahan dan negeri tergantung. Dalam laporannja tentang masalah nasional dan kolo- nial pada Kongres Kedua Komintern, Lenin ada menga- takan: ,,Apakah ide jang paling penting dan pokok dari

tesis kita? Ide itu jalah perbedaan antara bangsa2 tertin- das dan bangsa2 penindas. Kita menekankan perbedaan ini, tidak seperti Internasionale Kedua". Sesuai dengan apa jang dikatakan olch Lenin ini, Stalin memberikan pendjelasan bahwa: ,Adalah suatu perbedaan jang tegas antara revolusi di-negeri2 imperialis, negeri2 jang menindas bangsa2 lain, dan revolusi di-negeri2 djadjahan dan negeri2 tergantung, negeri2 jang menderita penindasan imperialis dari negara2 lain. Revolusi di-negeri2 imperialis adalah satu soal: di-negeri2 itu bur- djuasinja adalah penindas bangsa2 lain; ia adalah kontra-revolusioner dalam segala tingkatan dari revolusi; elemen nasional, sebagai suatu elemen didalam perdjuangan untuk emansipasi, tidak terdapat di-negeri2 ini. Revolusi di-negeri2 djadjahan dan negeri2 tergantung adalah soal lain: di-negeri2 ini penindasan jang dilakukan oleh imperialisme negara² lain adalah salahsatu faktor dari revolusi; penindasan ini tidak boleh tidak mengenai burdjuasi nasional djuga; burdjuasi nasional, pada tingkatan tertentu dan untuk masa tertentu, bisa menjokong gerakan revolusioner dinegerinja melawan imperialisme, dan elemen nasional, sebagai suatu elemen didalam perdjuangan untuk emansipasi, adalah suatu faktor revolusioner. Tidak membikin perbedaan ini, tidak mengerti perbedaan ini .dan menjamakan revolusi di-negeri2 imperialis dengan revolusi di-negeri2 djadjahan, adalah menjimpang dari djalan Marxisme. dari djalan Leninisme, dan menempuh djalan dari mereka jang menjokong Internasionale Kedua". Revolusi di Rusia tahun 1905, meskipun menurut waktaknja adalah revolusi burdjuis demokratis, ia ditudju- kan terhadap burdjuasi, jaitu terhadap burdjuasi liberal. Sebabnja jalah karena burdjuasi liberal dari suatu negara imperialis tidak boleh tidak tentu kontra-revolusioner. Se- bagaimana kita ketahui, Rusia tsar pada waktu itu adalah djuga negara jang mendjadjah bangsa2 lain. Oleh karena itu, kaum Bolsjewik pada waktu itu tidak dan tidak bisa mempertimbangkan untuk membikin blok dan kerdjasama, meskipun untuk sementara waktu, dengan burdjuasi liberal. Berbeda dengan revolusi di Tiongkok, jang djuga adalah revolusi burdjuis demokratis, sebelum ia mentjapal

kemenangan dan perkembangannja kerevolusi sosialis, di- sana kaum Komunis bisa dan perlu membikin blok dan mengadakan kerdjasama dengan burdjuasi nasional. Sebabnja jalah karena Tiongkok adalah negeri jang ditin- das negeri setengah djadjahan, dan dalam revolusinja burdjuasi nasional bisa membantu gerakan revolusioner melawan imperialisme. Inilah tjontoh sedjarah jang menundjukkan perbedaan pemetjahan masalah revolusi dinegeri imperialis dan revolusi dinegeri djadjahan, meskipun watak ke-dua² revolusi itu sama, jaitu revolusi burdjuis demokratis. Dengan keterangan diatas ini kiranja tjukup djelas, bahwa pada pokoknja mengerti perbedaan revolusi dinegeri imperialis dan dinegeri djadjahan berarti mengerti bahwa dalam revolusi dinegeri djadjahan gerakan klas buruh bisa dan perlu membikin blok dan mengadakan kerdjasama dengan burdjuasi nasional, jaitu bisa dan perlu menggalang front persatuan dengan burdjuasi nasional untuk melawan imperialisme asing. Revolusi dinegeri djadjahan, seperti Revolusi Indone- sia, biasa djuga disebut revolusi nasional. Sebabnja jalah karenà ia adalah revolusi untuk mentjapai kemerdekaan nasional dan untuk mendirikan negara nasional jang merdeka. Olch karena itu, berbitjara tentang djalan pemetjahan masalah revolusi dinegeri djadjahan, sama artinja dengan berbitjara tentang djalan pemetjahan masalah gerakan nasional. Dengan gerakan nasional, atau lengkapnja, gerakan kemerdekaan nasional, dimaksudkan gerakan dari sesuatu nasion untuk mentjapai kemerdekaan nasional dan mendirikan negara nasional jang merdeka. Sebab itu dapat- lah dikatakan bahwa revolusi nasional merupakan pun- tjak dari perkembangan gerakan nasional, ia lahir atau meletus dari gerakan nasional. Dan memang demikian- lah jang kita alami dengan revolusi nasional kita, Revolusi Agustus '45. Berhubung dengan itu, untuk bisa memahami faktor² objektif dari politik atau taktik front persatuan nasional, maka kita perlu mengetahui sedjarah dan faktor2 jang melahirkan gerakan nasional pada umumnja. Kita bisa memperolch pengertian jang tepat mengenai hal ini dengan mempeladjari buku karangan Stalin: ,Marxisme

dan Masalah Nasional" pada bagian ,,Gerakan Nasional". Untuk kepentingan pendjelasan mengenai faktor2 ob- jektif dari politik atau taktik front persatuan nasional, dan sebagai bahan perbandingan untuk memahami ben- tuk² dan tjiri2 dari gerakan nasional kita, maka baiklah kita kutip sebagian besar dari tulisan Stalin itu sbb.: Suatu nasion bukanlah suatu kategori sedjarah se- mata² melainkan suatu kategori sedjarah jang termasuk dalam suatu zaman tertentu, zaman kebangkitan kapitalisme. Proses lenjapnja feodalisme dan perkembangan kapitalisme adalah bersamaan dengan itu suatu proses persatuan orang2 mendjadi nasion2. Demikianlah halnja, misalnja, di Eropa Barat. Orang2 Inggeris, Perantjis, Djerman, Italia dan lain2nja membentuk diri mendjadi nasion2 diwaktu kemadjuan jang djaja dari kapitalisme serta kemenangannja atas perpetjahan feodal. ,Tetapi pada waktu itu terbentuknja nasion² bersamaan dengan itu berarti berubahnja nasion² itu mendjadi negara2 nasional jang merdeka. Nasion2 Inggeris, Perantjis dan nasion2 lainnja adalah bersamaan dengan itu negara2 Inggeris, Perantjis, dsb. Irlandia, jang tidak ikut- serta dalam proses ini tidaklah merubah gambaran umum: nja. Di Eropa Timur djalannja agak berlainan. Sementara di Barat nasion² berkembang mendjadi negara, di Timur terbentuklah negara2 multi-nasional, masing2 negara ter- diri dari beberapa nasionalitet. Demikianlah halnja dengan Austria-Hongaria dan Rusia. Di Austria, ternjata orang2 Djerman jang paling madju dalam politik, dan merekalah jang mempersatukan nasionalitet2 Austria mendjadi suatu negara. Di Hongaria, jang paling sesuai untuk organisasi negara jalah orang2 Magyar — inti dari nasionalitet2 Hongaria -- dan merekalah jang memper- satckan Hongaria. Di Rusia, peranan sebagai tukang memadukan nasionalitet2 dipegang oleh orang2 Rusia-Raja, jang dipelopori oleh suatu birokrasi aristokrat mi- liter, jang telah terbentuk menurut sedjarah dan kuat serta terorganisasi baik. Demikianlah halnja di Timur. Metode pembentukan negara2 jang chusus ini dapat berlaku hanjalah ditempat dimana feodalisme hclum lenjap, dimana kapitalisme lemah perkembangannja, di-

mana nasionalitet2 jang telah didorong kebelakang masih belum dapat mengkonsolidasi diri dilapangan ekonomi mendjadi nasion2 jang integral. ,Tetapi kapitalisme mulai berkembang djuga dinegara² Timur. Perniagaan serta alat² perhubungan berkembang. Kota2 besar muntjul. Nasion² mendjadi terkonsolidasi dilapangan ckonomi. Kapitalisme, jang melodak didalam kehidupan jang tenang dari nasionalitet2 jang terdesak, membangkitkan serta menggerakkan mereka untuk bertindak. Perkembangan pers dan teater, aktivitet Reichsrat (Austria) dan Duma (Rusia) membantu memperkuat Sentimen2 nasional'. Inteligensia jang sudah bangun di- resapi dengan 'ide nasional' dan bertindak kedjurusan
jang sama ..........
Tetapi nasion2 jang terdesak, jang tergerak untuk hidup merdeka, tak dapat lagi membentuk diri mendjadi negara² nasional jang merdeka; mereka mendjumpai per- lawanan jang kuat dari lapisan2 jang berkuasa dari nasion2 jang memerintah, jang sudah lama memegang ke- kuasaan negara. Mereka terlambat. Setjara inilah orang2 Tjeko, Polandia dsb., membentuk diri mereka mendjadi nasion² di Austria; orang² Kroat, dsb., di Hongaria; orang2 Let, Lithuania, Ukraina. Georgia, Armenia. dsb., di Rusia. Apa jang telah mendjadi perketjualian di Eropa Barat (Irlandia) mendjadi kebiasaan di Timur. Di Barat, Irlandia mendjawab kedudukannja jang luarbiasa itu dengan gerakan nasional. Di Timur, nasion2 jang sudah bangun pasti mendjawab dengan tjara jang sama. Dengan begitu timbullah keadaan² jang mendorong nasion2 jang masih muda di Eropa Timur kedjalan perdjuangan. Perdjuangan itu mulai dan berkobar, sudah tentu, tidak diantara nasion² sebagai keseluruhan tetapi diantara klas2 berkuasa dari nasion² jang memerintah dan nasion2 jang terdesak. Perdjuangan itu biasanja dilaku- kan olch burdjuasi ketjil kota dari nasion jang tertindas terhadap burdjuasi besar dari nasion jang memerintah (bangsa Tjeko dan bangsa Djerman), atau dilaknkan olch burdjuasi desa dari nasion jang tertindas terhadap tuantanah² dari nasion jang memerintah (bangsa Ukrai na di Polandia), atau oleh seluruh burdjuasi 'nasional'

dari nasion² jang tertindas terhadap kaum ningrat jang berkuasa dari nasion jang memerintah (Polandia, Lithua- nia dan Ukraina di Rusia). Burdjuasi memainkan peranan memimpin. Masalah utama bagi burdjuasi muda jalah masalah pasar. Tudjuannja jalah mendjual barang2nja dan keluar sebagai pemenang dari persaingan dengan burdjuasi dari nasionalitet lain. Karena itu keinginannja jalah menda- patkan pasarnja 'sendiri', pasar 'dalamnegeri'-nja. Pasar adalah sekolah pertama dimana burdjuasi beladjar kenal dengan nasionalismenja. Tetapi soalnja biasanja tidak terbatas pada pasar sa- dja. Birokrasi setengah-burdjuis, setengah-feodal, dari nasion jang memerintah tjampur-tangan dalam perdjuangan dengan metode2nja sendiri jaitu metode2 'menahan dan mentjegah'. Burdjuasi dari nasion jang memerintah, baik besar atau ketjil, dapat menghadapi saingan²nja lebih 'tjepat' dan 'menentukan'. 'Kekuatan2' dipersatar- kan dan serentetan peraturan² pembatasan didjalankan terhadap burdjuasi 'asing', peraturan2 jang berubah men- djadi tindakan² penindasan. Perdjuangan beralih dari lapangan ekonomi kelapangan politik. Pembatasan etas kemerdekaan bergerak, penindasan atas bahasa, pembatasan hakpilih, pembatasan beragama dan seterusnja di- tumpuk diatas kepala 'saingan'. Sudah barang tentu peraturan² sedemikian itu dimaksudkan tidak hanja untuk kepentingan klas2 burdjuis dari nasion jang memerintah, tetapi djuga untuk mengedjar tudjuan2 kasta jang isti- mewa, boleh dibilang, dari birokrasi jang memerintah. Tetapi dilihat dari sudut hasil2 jang ditjapai hal ini sama- sekali tidak penting: klas2 burdjuis dan birokrasi dalam hal ini bergandengan tangan — apakah ia itu di Austria

  • IIongaria atau di Rusia. Burdjuasi dari nasion jang terdindas, jang digentjet dalam segala lapangan, sewadjarnjalah bangkit bergerak. Ia berseru kepada 'Rakjat bumiputera'-nja dan mulai menggembar-gemborkan tentang 'tanahair', menjatakan bahwa tudjuannja sendiri adalah tudjuan nasion sebagai keseluruhan. Ia mengumpulkan suatu tentara dari ka-
    langan 'orang2 setanahairnja' untuk kepentingan .......
    'tanahair'. Djuga 'Rakjat' tidak selalu tinggal diam terhadap seruan2nja, mereka berhimpun disckitar pandji2-

nja: penindasan dari atas mengenai diri mereka djuga dan menimbulkan ketidak-puasan mereka. Dengan begitu mulailah gerakan nasional. Kekuatan gerakan nasional ditentukan oleh tingkatan sampai kemana lapisan2 jang luas dari nasion, proletariat dan kaum tani, turut serta didalamnja. Apakah proletariat berhimpun kesekitar pandji2 nasionalisme burdjuis adalah bergantung pada tingkatan perkembangan kontradiksi2 klas, pada kesedaran klas serta tingkatan organisasi proletariat. Proletariat jang ber- kesadaran-klas mempunjai pandji2nja sendiri jang sudah terudji, dan ia tak perlu berbaris dibawah pandji2 burdjuasi. Mengenai kaum tani, ikutsertanja mereka dalam gerakan nasional bergantung per-tama² pada watak dari-pada penindasan. Djika penindasan itu mengenai 'tənah', seperti halnja di Irlandia, maka massa petani terus berhimpun kesekitar pandji² gerakan nasional. Sebaliknja, djika misainja, di Georgia tidak ada nasionalisme anti-Rusia jang serius, maka sebabnja jang per-tama² jalah karena disana tidak ada tuantanah2 Rusia atau burdjuasi besar Rusia jang menjediakan bahan- bakar bagi nasionalisme sedemikian itu dikalangan massa. Di Georgia terdapat nasionalisme anti-Armenia; tetapi ini adalah karena disana ada burdjuasi besar Armenia jang, karena memukul burdjuasi ketjil Georgia jang ma- sih belum terkonsolidasi, mendorong burdjuasi ketjil Georgia itu kenasionalisme anti-Armenia. Bergantung pada faktor2 ini, gerakan nasional itu akan mempunjai watak massal dan terus tumbuh (seperti di Irlandia dan Galicia), atau berubah mendjadi serentetan bentrokan² ketjil2 jang kian lama kian mero- sot mendjadi pertjektjokan2 dan perkelahian²' mengenai papannama² (seperti dibeberapa kota di Bohemia). Sudah barang tentu sifat dari gerakan nasional itu tidak akan sama di-mana²: seluruhnja ditentukan oleh berbagai tuntutan jang diadjukan oleh gerakan. Di Jr- landia gerakan itu mempunjai watak agrania, di Bohemia bertalian dengan 'bahasa'; disatu tempat tuntutannja jalah persamaan deradjat warganegara dan kemerdekaan beragama; ditempat lain tuntutannja jalah pegawai2 dari nasion itu 'sendiri' atau Madjelis sendiri. Berbagai ma-

tjam tuntutan itu tidak djarang menjingkapkan ber-ma- tjam² tjiri jang menandai suatu nasion pada umumnja (bahasa, wilajah, dll.). Perlu diperhatikan bahwa kita tidak pernah mendjumpai suatu tuntutan jang bertalian dengan 'watak nasional' jang mentjangkum se-gala2nja dari Bauer. Dan ini adalah wadjar: 'watak nasional' itu dengan sendirinja adalah sesuatu jang sukar ditangkap dan, seperti dengan tepat dinjatakan oleh J. Strasser, 'apa jang dapat diperbuat dengan itu dalam politik?' Demikianlah, pada umumnja, bentuk² serta tjiri2 gerakan nasional. Dari apa jang telah dikatakan tadi mendjadi djelas- lah bahwa perdjuangan nasional didalam keadaan kapi- talisme jang sedang bangkit adalah satu perdjuangan dari klas2 burdjuis diantara mereka sendiri. Kadang2 burdjuasi berhasil menarik proletariat kedalam gerakan nasional, maka perdjuangan nasional itu pada lahirnja se- akan2 mempunjai watak 'senasion'. Tetapi begitu itu hanja pada lahirnja sadja. Pada hakekatnja ia selamanja adalah suatu perdjuangan burdjuis, suatu perdjuangan jang terutama menguntungkan dan tjotjok bagi burdjuasi. ,Tetapi dari sini tidaklah berarti bahwa proletariat lalu tidak boleh melakukan perdjuangan melawan politik penindasan nasional. Pembatasan kemerdekaan bergerak, pentjabutan hak- pilih, penindasan atas bahasa, pembatasan sekolah² dan bentuk² penindasan lainnja tidak kurang mengenai kaum buruh, kalau tidak lebih, daripada burdjuasi. Keadaan jang sedemikian itu hanjalah membantu menghambat perkembangan setjara bebas dari kekuatan² intcick proletariat dari nasion² bawahan (djadjahan). Tak &kan bisa ada kemungkinan bagi perkembangan sepenuhnja dari bakat² intelek buruh Tatar atau Jahudi djika dia tidak diperbolehkan mempergunakan bahasa aslinja dalam rapat2 dan tjeramah2, dan djika sekolah2nja dítutup. Tetapi politik penindasan nasional itu berbahaja bagi perdjuangan proletariat djuga dalan arti jang lain. Ia mengalihkan perhatian lapisan² penduduk jang luas dari soal2 kemasjarakatan, soal2 perdjuangan klas, ke-soal2 nasional, soal2 jang 'umum' bagi proletariat dan burdjuasi. Dan ini mentjiptakan tanah jang baik untuk pro- paganda palsu tentang 'keharmonian kepeutingan²', ur-

tuk menjélubungi kepentingan2 klas daripada proletariat

dan untuk perbudakan intelek daripada kaum buruh. Ini menimbulkan rintangan jang serius bagi pekerdjaan mempersatukan kaum buruh dari semaa nasionalitet. Djika sebagian besar dari kaum buruh Polandia masih dalam perbudakan intelek pada kaum nasionalis burdjuis, djika mereka masih menjisihkan diri dari gerakan buruh inter- nasional, maka sebabnja jang utama jalah kareoa politik anti-Polandia jang ber-abad2 lamanja dari 'pemerintah jang berkuasa' mentjiptakan tanah bagi perbudakan ini, dan menghalangi pembebasan kaum buruh daripadanja Tetapi politik penindasan itu tidak berhenti disini sa dja. Tidak djarang ia beralih dari 'sistim' monghasut nasion² satu sama lain, kesuatu 'sistim' penjembelihan² besar2an dan pogrom. Sudah barang tenti jang tersebut belakangan ini tidak selalu dan dimana sadja mvngkin, tetapi dimana mungkin — dengan tidak adanja hak2 sivil jang elementer ia seringkali mengambil bentuk jang mengerikan dan mengantjam akan menenggelamkan tu- djuan persatuan kaum buruh dalam darah dan airmata. Kaukasia dan Rusia Selatan memberikan banjak tjontoh. 'Memetjah-belah dan menguasai' itulah riaksud politik menghasut nasion² satu sama lain. Dan dimana politik sedemikian itu berhasil sangatlah buruk bagi proletariat dan merupakan rintangan jang serius bagi pekerdjaan mempersatukan kaum buruh dari semua nasionalitet dalam negara". Dari tulisan Stalin diatas ini, ketjuali kita mendapat- kan pengertian² jang djelas dalam berbagai segi me- ngenai gerakan nasional, kita djuga bisa menarik berbagai peladjaran dan kesimpulan dalam hubungan dengan masalah front persatuan nasional. Misalnja, dalam tulisan diatas ini Stalin dengan sangat djelas dan mudah difahamkan menerangkan bagaimana hubungannja gerakan nasional dengan proses pemben- tukan sesuatu nasion dan negara nasional jang merdeka, bahwa gerakan nasional timbul karena penindasan ter- hadap perkembangan jang wadjar dari seșuatu nasion mendjadi negara nasional jang merdeka. Kepada kita ditundjukkan bahwa pada zaman bang- kitnja kapitalisme dan runtuhnja feodalisme, jaitu zanian lahirnja -nasion² dan negara2 nasional (artinja : pada

zaman feodalisme belum ada nasion² dan negara² nasional), pada zaman itu gerakan nasional dalam hakekat- nja jalah selalu perdjuangan burdjuis, perdjuangan jang terutama menguntungkan dan tjotjok bagi burdljuasi. Rol pimpinan dalam gerakan nasional pada waktu itu djuga dipegang oleh klas burdjuis. Tetapi dari sini, se- kali2 tidak boleh diartikan bahwa klas buruh tidak boleh ber-sama² dengan klas burdjuis melakukan perlawanan terhadap politik penindasan nasional. Sebab politik penindasan nasional tidak kurang, malahan bisa lcbih mengenai klas buruh daripada mengenai klas burdjuis sendiri. Djuga didjelaskan kepada kita bahwa jang menentu- kan kekuatan gerakan nasional jalah tingkatan sampai dimana klas buruh dan kaum tani turut didalamnja, bahwa berhimpun atau tidaknja klas buruh kesekitar pandji2 nasionalisme burdjuis adalah bergantung pada tingkatan perkembangan kontradiksi2 klas, pada kesedar- an klas serta tingkatan organisasi proletariat, dan bahwa turutnja kaum tani dalam gerakan nasional bergantung per-tama2 pada penindasan kekuasaan asing mengenai tanah". Dengan pendjelasan ini mengertilah kita bahwa memang ada faktor jang sangat membantu untuk kuatnja gerakan nasional dinegeri kita. Hal ini djika kita ingat bahwa penindasan kolonial Belanda di Indonesia djuga banjak mengenai tanah". Malahan penindasan jang mula2 dilakukan oleh kaum kolonialis Belanda terhadap Rakjat Indonesia jalah mengenai kaum tani, seperti jang dilakukan melalui V.O.C. Ketjuali itu, majo- ritet jang sangat besar dari kaum buruh Indonesia beker- dja pada perusahaan² imperialis, berhubung klas burdjuis Indonesia pada umumnja adalah kapitalis dagang dan lemah. Hal ini berarti tidak memberikan dasar ma- teriil jang kuat untuk adanja kontradiksi jang tadjam antara klas buruh Indonesia pada umumnja dengan klas burdjuisnja, dan sampai batas2 tertentu hal ini membantu dalam penggalangan front persatuan nasional. Selandjutnja, dalam tulisan Stalin itu dengan djelas djuga ditundjukkan kerugian² dan bahaja² jang bisa di- timbulkan oleh politik penindasan nasional bagi perdjuangan klas buruh, seperti misalnja: terhambatnja perkembangan jang bebas dari kekuatan² intelek klas buruh,

mengaburkan perdjuangan klas, menimbulkan perbudak- an intelek dari kaum buruh kepada kaum nasionalis burdjuis, merintangi persatuan dan solidaritet klas buruh setjara internasional, dsb. Apakah dalam zaman imperialisme, jaitu zaman bang- krutnja kapitalisine, gerakan nasional mendjadi tidak lagi mengandung watak burdjuis? Tentang hal ini Lenin dalam Laporan Komisi Me- ngenai Masalah Nasional Dan Kolonial Kepada Kongres Kedua Komintern" (26 Djuli 1920) ada mengatakan: Tidak perlu diragukan sedikitpun djuga bahwa setiap gerakan nasional tidak bisa lain adalah gerakan burdjuis- demokratis, karena bagian jang sangat besar dari massa penduduk di-negeri2 terbelakang terdiri dari kaum tani jang mewakili hubungan2 burdjuis-kapitalis". Dengan demikian djelaslah, bahwa nasionalisme seperti jang terdapat pada zaman bangkitnja kapitalisme masih ada djuga pada zaman imperialisme dan zaman peralih- an dari kapitalisme ke Sosialisme sekarang ini. Ia terdapat di-negeri2 kolonial dan negeri2 tergantung seperti di-negeri2 Asia-Afrika pada umumnja dan Amerika La- tin. Sebabnja jalah karena klas burdjuis nasional di-negeri² ini mempunjai kepentingan2 jang bertentangan, per- tama2, dengan kepentingan2 imperialisme, kedua, dengan kepentingan² kekuatan² feodal jang terbelakang dinegeri- nja. Dalam karangannia ,Internasionalisme dan Nasionalisme", Liu Sau-tji ada mengatakan: .,Nasionalisme burdjuis di-negeri2 ini (maksudnja di-negeri2 kolonial dan semi-kolonial Mhl.) mempunjai arti progresif jang menentukan djika burdjuasi memobilisasi massa dalam perdjuangan melawan imperialisme dan kekuatan² feodal. Seperti dinjatakan oleh Lenin (didalam pidato jang diutjapkan pada Kongres Kedua Bangsa2 Timur), nasionalisme matjam ini 'mempunjai pembenaran sedjarah'. Oleh karena itu, dengan tudjuan menggulingkan kekua- saan imperialisme dan kekuatan² feodal, proletariat harus bekerdjasama dengan nasionalisme burdjuis jang memain- kan rol anti-imperialis dan anti-feodal jang pasti, asal sa- dja, seperti dikatakan olch Lenin, bahwa persekutuan² ini tidak merintangi kita dalam mendidik dan mengorga- nisasi kaum tani dan massa luas dari Rakjat jang terhisap didalam semangat revolusioner.

Tjontoh jang paling terang dari kerdjasama sematjam ini jalah apa jang terdjadi antara kita kaum Komunis Tiongkok dan Sun Jat-sen". Pada zaman bangkitnja kapitalisme, karena proletariat masih muda, maka tidak bisa lain bahwa proletariat belum bisa mendjalankan rol memimpin didalam perdjuangan nasional melawan burdjuasi asing. Rol memimpin pada waktu itu dimainkan oleh burdjuasi nasional dan kemenangan komplit daripada perdjuangan nasional waktu itu jalah berdirinja negara nasional jang merdeka jang mendjamin perkembangan kapitalisme lebih landjut. Sebaliknja, dalam zaman imperialisme, zaman bang krutnja kapitalisme sckarang ini, perdjuangan nasional melawan imperialisme, artinja djuga melawan burdjuasi asing, tidak mungkin mentjapai kemenangan komplit, kemenangan jang sempurna, djika hegemoni tidak ditangan proletariat. Tetapi bagaimanapun djuga, dalam gerakan nasional pada ke-dua2 zaman itu, terdapat kebutuhan objektif jang sama, jaitu kebutuhan akan kerdjasama dan per- sekutuan antara burdjuasi nasional dan proletariat untuk melawan penindasan nasional. Tetapi klas burdjuis nasional, meskipun nasional, adalah klas penghisap. Oleh karena itu, antara klas burdjuis nasional dan klas buruh serta Rakjat pekerdja lainnja, jang majoritetnja terdiri dari kaum tani, tetap terdapat pertentangan kepentingan, jaitu tetap terdapat perdjuangan klas. Tetapi karena adanja apa jang dikatakan oleh Stalin elemen nasional, sebagai suatu elemen dalam perdjuangan untuk emansipasi", jaitu adanja penindasan terhadap elemen jang mendjadi bagian dari tjiri2 nasion, maka didalam revolusi majoritet daripada nasion, dari burdjuasi nasional sampai kepada kaum buruh dan kaum taninja bisa bekerdjasama dan bersekutu didalam front persatuan nasional anti-imperialisme. Pendeknja dalam front persatuan nasional itu bekerdjasama dan bersekutulah semua kekuatan jang anti-imperialis. Mengingat kenjataan bahwa kekuatan pokok dari revolusi nasional adalah klas buruh dan kaum tani, sebagai dua kekuatan jang paling konsekwen anti-imperialisme dan anti-feodalisme serta tidak mempunjai pertentangan kepentingan satu sama lain, maka pada pokoknja masa-

lah front persatuan nasional adalah masalah front persatuan antara klas buruh dan kaum tani disatu fihak dengan klas burdjuis nasional difihak lain. Mengukur kekuatan klas burdjuis nasional tidaklah terutama dari djumlah orang jang termasuk dalam klas itu atau dari kckuatan organisasi partainja, melainkan dari kekuatan pengaruh politik dan ideologinja dikalang- an massa Rakjat. Djika dilihat dari djumlah orang dan kekuatan organisasi partainja sadja barangkali bisa dikatakan bahwa burdjuasi nasional tidaklah besar kekuat- annja. Tetapi djika dilihat dari pengaruh politik dan ideologinja maka tidak ragu lagi harus dikatakan bahwa kekuatan burdjuasi nasional itu adalah besar. Dasar pertimbangan jang objektif dari politik front persatuan dengan burdjuasi nasional jalah bahwa: dalam revolusi nasional klas burdjuis nasional bukan sadia tidak mendjadi sasaran revolusi, tetapi malahan sampai batas2 tertentu bisa turut mengambil bagian didalam revolusi Gerakan nasional atau revolusi nasional adalah pertama2 perdjuangan jang ditudjukan untuk mengguling- kan kckuasaan burdjuasi asing atau imperialisme. Sebab itu burdjuasi asing atau imperialisme mendjadi sasaran atau musuh jang utama dan pertama dari gerakan nasic- nal atau revolusi nasional. Oleh karena itu. berdjuang melawan imperialisme ber- sama kompradornja, jang masih merupakan kekuatan jang besar, dengan tidak menggalang front persatuan dengan burdjuasi nasional adalah sama artinja dengan mendjalankan politik menumbukkan kepala kepada tem- bok batu.

II. PERSEKUTUAN BURUH DAN TANI Didalam Anggaran Dasar (Preambul Konstitusi) PKI ada diterangkan: ,,Karena Indonesia adalah negeri jang masih belum merdeka penuh dan masih setengah-feodal, maka revolusi Indonesia dalam tingkat sekarang ditudjukan untuk mclawan imperialisme, feodalisme, burdjuasi komprador dan kaum kapitalis birokrat. Tenaga² peng- gerak revolusi Indonesia adalah kaum buruh, kaum tani, klas burdjuis ketjil dan elemen2 demokratis lainnja, se- dangkan tenaga pokoknja adalah kaum tani. Karena sa-

saran2 dan tenaga2 penggerak revolusi ini, karena di Indonesia sudah ada Partai Konmunis jang makin lama ber- tambah kuat dan berpengaruh, dan karena keadaan² in- ternasional sekarang, semuanja ini menentukan bahwa revolusi Indonesia dalam tingkat sekarang adalah revolusi burdjuis-demokratis tipe baru atau revolusi burdjuis-demokratis dalam zaman imperialisme dan revolusi proletar dunia. Revolusi Indonesia dalam tingkat sekarang adalah revolusi Demokrasi Rakjat, jaitu revolusi daripada massa Rakjat jang luas, jang untuk bagian terbesar terdiri dari kaum tani, dibawah pimpinan proletariat." Dari perumusan diatas teranglah bahwa revolusi Indonesia dalam tingkat sekarang, meskipun pada dasarnja berwatak burdjuis-demokratis, tetapi tudjuannja bukan lagi terbentuknja masjarakat kapitalis dan negara dibawah diktatur burdjuis, melainkan masjarakat demokrasi baru dan negara dibawah kekuasaan bersama dari semua klas jang revolusioner. Oleh karena itu sudah dengan sen- dirinja bahwa tugas dan tanggungdjawab untuk memimpin revolusi Indonesia supaja bisa mentjapai tudjuannja jang objektif, tidak bisa lain ketjuali djatuh diatas pun- dak klas buruh. Tegasnja revolusi Indonesia hanja bisa mentjapai kemenangan sempurna berupa kemerdekaan nasional jang penuh djika hegemoni ada ditangan proletariat. Apakah sjarat²nja supaja klas buruh bisa memenuhi tugasnja memimpin revolusi sampai menang? Pertama, seperti diterangkan dalam Program PKI: Klas buruh harus memelopori perdjuangan seluruh Rakjat. Untuk tudjuan ini klas buruh sendiri harus meningkatkan aktivitetnja, mendidik dirinja sendiri dan men- djadi kekuatan jang besar dan sedar. Klas buruh tidak hanja harus melakukan perdjuangan untuk memperbaiki tingkat hidupnja, ia djuga harus meningkatkan tugas2nja ketingkatan jang lebih luas dan lebih tinggi. Ia harus membantu perdjuangan klas2 lainnja. Klas buruh harus membantu perdjuangan kaum tani untuk tanah, perdjuangan inteligensia untuk hak2nja jang pokok, perdjuangan burdjuasi nasional melawan persaingan asing, perdjuangan seluruh Rakjat Indonesia untuk kemerdekaan nasional dan kebebasan² demokratis. Rakjat bisa mentjapai kemenangan hanja apabila klas buruh Indonesia sudah merupakan kekuatan jang bebas, sedar, matang

dalam politik, terorganisasi dan mampu memimpin perdjuangan seluruh Rakjat, hanja apabila Rakjat sudah melihat klas buruh sebagai pemimpinnja". Tetapi klas buruh Indonesia mempunjai kelemahan² jang tidak bisa dihindari, jaitu: 1) djumlahnja ketjil djika dibandingkan dengan djumlah kaum tani dan lapisan burdjuasi ketjil kota, 2) usianja masih muda djika dibandingkan dengan klas buruh negeri2 kapitalis jang sudah madju di Eropa, dan 3) tingkat kebudajaannja masih rendah djika dibandingkan dengan tingkat kebudajaan burdjuasi. Dengan kelemahan² ini mengertilah kita betapa mendjadi lebih berat dan sukarnja tugas klas buruh Indonesia untuk memimpin revolusi. Sebab, dengan djumlah jang ketjil, klas buruh Indonesia harus tjukup mempunjai daja tarik dan daja mempersatukan majoritet dari massa Rakjat jang djumlahnja berlipat kali djauh lebih besar. Dengan usia jang muda, dan usia muda berarti kurang pengalaman, klas buruh Indonesia harus bisa memberikan pimpinan kepada perdjuangan seluruh Rakjat melawan burdjuasi asing jang sudah banjak pengalaman dalam menindas gerakan klas buruh dan gerakan Rakjat umumnja. Dan dengan tingkat kebudajaan jang masih rendah, klas buruh Indonesia harus menempati ke- dudukan jang memberikan pimpinan kepada seluruh gerakan Rakjat, termasuk gerakan klas burdjuis nasional jang dengan sendirinja tingkat kebudajaannja lebih tinggi daripada klas buruh sendiri. Semua kelemahan ini adalah kelemahan² jang tidak bisa dihindari, karena ia adalah sebagai akibat jang djuga tidak bisa dihindari, jaitu akibat penindasan kolonial- isme. Tetapi kelemahan² jang tidak bisa dihindari ini samasekali tidak berarti bahwa semua itu tidak bisa di- atasi. Berhubung dengan kelemahan pertama, kelemahan dalam hal djumlah ketjil, Dimitrov pernah berkata: Tetapi, satu soal jang tidak boleh dilupakan: disemua negeri dimana proletariat menurut perbandingan ketjíl djumlahnja, dimana kaum tani dan lapisan burdjuis ketjil kota djumlahnja djauh lebih besar, maka mendjadi lebih² penting lagi untuk melakukan segala usaha guna membentuk front persatuan klas buruh sendiri jang teguh, 2i

supaja ia bisa menempati kedudukannja sebagai faktor pimpinan didalam hubungan dengan semua Rakjat pe- kerdja". Perkataan Dimitrov ini sepenuhnja berlaku untuk Indonesia. Sebab itu djalan jang harus kita tempuh untuk mengatasi kelemahan klas buruh Indonesia dalam hal djumlahnja jang ketjil itu, jalah dengan sungguh2 men- djalankan apa jang dikatakan olch Dimitrov, jaitu me- lakukan segala usaha guna membentuk front persatuan klas buruh sendiri jang teguh". Mengenai kelemahan kedua, kelemahan dalam hal usia muda, jang berarti kurang pengalaman, hal ini bisa di- atasi dengan ke-sungguh²an dan keradjinan kita didalam mempcladjari pengalaman2 gerakan klas buruh dari negeri2 kapitalis jang sudah madju, dan chususnja dari pengalaman2 gerakan klas buruh jang sudah menang. Pengalaman2 mereka jang sangat kaja itu sudah banjak ditulis mendjadi teori perdjuangan klas buruh berupa li- teratur Marxis-Leninis, jang 'sekarang ini disamping sudah banjak terdapat dinegeri kita dan malahan sudah agak banjak jang diterdjemahkan kedalam bahasa Indonesia, djuga sudah mulai diubah dan dipadukan dengan pengalaman revolusi Indonesia dalam bentuk tulisan2 dari kaum Komunis Indonesia sendiri. Se-sukar2nja perdjuangan klas buruh Indonesia sekarang ini tidaklah begitu-sukar seperti perdjuangan klas buruh Rusia jang per-tama2 mendapat kemenangan. Kesukaran2 didalam perdjuangan kita sekarang ini bisa mendjadi tidak begitu sukar lagi, dan kesalahan² bisa dikurangi atau dihindari, asal sadja kita mau dengan sungguh2, setjara teliti dan kritis mempeladjari pengalaman2 gerakan klas buruh jang sudah menang dan gerakan klas buruh dari negeri2 jang sudah lebih madju. Pendeknja, ketinggalan dalam pengalaman karena usia jang masih muda bisa kita kedjar dengan beladjar dari pengalaman2 gerakan klas buruh jang sudah menang dan jang sudah lebih madju. Djuga mengenai kelemahan jang ketiga, kelemahan dalam hal rendahnja tingkat kebudajaan, ada djalan untuk mengatasinja. Djalan itu jalah dengan sungguh² mendjadikan aktivitet beladjardari pemberantasan butahuruf sampai kepada beladjar pengetahuan umum sebagai salahsatu aktivitet jang terpenting, disamping

perdjuangan politik dan perdjuangan perbaikan nasib se-hari2, didalam gerakan klas buruh dan gerakan Rakjat progresif pada umumnja. Untuk menggalang front persatuan klas buruh, dinegeri kita terdapat faktor2 objektif jang sangat menguntungkan. Faktor2 objektif jang menguntungkan itu antara lain, jalah bahwa organisasi2 buruh di Indonesia telah sama lahir kembali dalam masa Revolusi Agustus '45, jang telah memberikan tradisi persatuan dan tradisi revo- lusioner jang sangat dalam dikalangan kaum buruh. Dju- ga reformisme jang merupakan tanah subur bagi serikatburuh2 dengan pimpinan jang reaksioner tidak mempu- njai dasar jang kuat dinegeri kita. Hal ini disebabkan karena kaum buruh dan Rakjat pekerdja umumnja meng- alami penghisapan dan penindasan jang luarbiasa, se- dangkan kaum imperialis dan burdjuasi kompradornja, jang sudah semakin bangkrut karena tidak gampang lagi dan scmakin sempit sumber²nja untuk memperoleh ke- untungan luarbiasa, mendjadi lebih terbatas sjarat2nja untuk melakukan suapan guna mentjiptakan lapisan atas jang agak luas dari klas buruh jang bisa dipergunakan untuk menekan dan memetjah-belah gerakan klas buruh. Tetapi disamping itu perlu diperingatkan, bahwa djika kemelaratan jang luarbiasa dan merata dinegeri kita tidak memberikan tanah jang subur untuk reformisme, maka sebaliknja ia mendjadi tanah jang subur untuk penjakit radikalisme ke-kiri²an dan anarkisme. Untuk melawan penjakit ini kita harus dengan sabar dan ulet mendidik dan melatih massa kaum buruh dan massa pekerdja umumnja dalam praktek aksi2 setjara terorganisasi dan dengan berpegangan kepada sembojan aksi ketjil-hasil". Berhasilnja penggalangan front persatuan klas buruh ini bergantung pada kader2 Komunis jang dengan sedar bisa mempergunakan faktor2 objektif jang sangat menguntungkan dan jang dengan sedar melakukan segala usaha untuk mengatasi kelemahan² klas buruh Indonesia jang tidak bisa dihindari itu. Untuk ini kader2 Komunis jang bekerdja dikalangan kaum buruh harus lebih tjepat dan lebih keras lagi didalam usahanja untuk meninggi- kan tingkatan politik dan ketjakapannja sebagai trade unionist (orang serikatburuh), supaja bisa lebih banjak membangkitkan kesatuan² aksi dari massa kaum buruh, sebagai sendjata jang paling tadjam untuk melawan dan

menelandjangi aktivitet petjah-belah dari pemimpin² reaksioner dalam gerakan buruh. Kedua, klas buruh harus bisa menetapkan dan menarik sekutunja jang terbesar dan tepertjaja. Soal sekutu adalah soal jang sangat penting bagi siapa jang hendak menudju dan bersiap untuk memegang kekuasaan negara. Didalam Anggaran Dasar (Preambul Konstitusi) PKI seperti jang dikutip diatas terdapat kalimat : Revolusi Demokrasi Rakjat, jaitu revolusi daripada massa Rakjat
jang luas ......" Siapakah jang dimaksudkan dengan
massa Rakjat jang luas" didalam kalimat ini? Karena Rakjat Indonesia sebagian besar adalah kaum tani, maka jang dimaksudkan dengan massa Rakjat jang luas" itu tidak bisa lain jalah terutama kaum tani. Itulah sebabnja orang djuga suka mengatakan bahwa revolusi agraria, jaitu revolusinja kaum tani. Sebab itu teranglah, bahwa sekutu jang sebenarnja, jang tepertjaja dan jang terbesar dari klas buruh didalam revolusi jalah kaum tani. Begitu pentingnja kedudukan kaum tani sebagai sekutu bagi proletariat untuk bisa mentjapai dan seterus- nja mempertahankan kekuasaan, sehingga dikatakan oleh Stalin : ,masalah tani adalah bagian dari masalah umum dari diktatur proletariat, dan dengan demikian mendjadi salahsatu masalah jang vital dari Leninisme". Bagaimanakah klas buruh bisa menarik kaum tani mendjadi sekutunja? Dengan kaum tani disini terutama dimaksudkan tanimiskin dan tanisedang. Buruhtani sudah terang merupakan proletariat desa, sedangkan kaum tanimiskin, jang merupakan massa tani jang sangat luas, jang tidak mempunjai tanah atau sedikit mempunjai tánah, mereka adalah semi-proletariat desa. Kaum tanisedang pada umumnja tidak melakukan penghisapan, tetapi malahan mengalami penghisapan oleh imperialisme, tuantanah dan burdjuasi. Öleh karena itu, kaum tanisedang bukan sadja bisa turut dalam revolusi anti-imperialis dan revolusi agraria, melainkan djuga bisa menerima Sosialismc. Kaum tanikaja, meskipun mereka tidak bisa kita masuk- kan sebagai klas tuantanah, karena mereka sendiri pada umumnja masih djuga melakukan pekerdjaan, tetapi mereka disamping menjewakan sebagian dari tanahnja djuga melakukan pekerdjaan sebagai lintahdarat dan menghisap

kaum buruhtani. Oleh karena itu, kaum tanikaja ini pa- ling2 bisa netral dalam revolusi agraria dan bisa mem- bantu sekedarnja dalam perdjuangan anti-imperialis. Djadi djelasnja, jang bisa dan harus ditarik dari kaum tani sebagai sekutu klas buruh jalah pada pokoknja kaum tanimiskin dan kaum tanisedang. Untuk mena- rik mereka sebagai sckutu, maka mereka harus mendapat bantuan dan pimpinan didalam perdjuangan mereka untuk melawan penindasan dan ikatan² dari kaum tuan- tanah dan kaum lintahdarat, dan untuk mendapatkan tanah garapan. Mereka harus mendapat bantuan dan pimpinan setjukupnja supaja bisa mengorganisasi diri didalam perdjuangan mereka se-hari2. Hal ini hanja bisa ditjapai djika terdapat tjukup banjak kader Komunis jang mengerti betul2 tentang hubungan agraria, tentang tuntutan² serta kehidupan kaum tani dan setjara militant, ichlas serta giat bekerdja dikalangan mereka. Djelaslah kiranja, bahwa hakekat dari persekutuan buruh dan tani itu terletak dalam politik jang didjalankan oleh Partai Komunis mengenai kaum tani. Oleh karena itu, persekutuan buruh dan tani hanja bisa diwudjudkan didalam praktek sebagai hasil dari garis politik Partai Komunis mengenai kaum tani, jaitu sebagai hasil dari ak- tivitet kaum Komunis didesa jang setjara politik dan or- ganisasi memberikan pimpinan kepada kaum tani. Ada satu faktor jang menguntungkan untuk tertjipta- nja persekutuan buruh dan tani dinegeri kita, jalah karena usianja jang masih muda maka klas buruh Indo- nesia sebagian besarnja masih dekat sebagai keturunan, dan malahan masih langsung sebagai keluarga kaum tani jang bangkrut. Hal ini disatu fihak mempunjai segi jang merugikan, jaitu masih kuatnja melekat ideologi burdjuis ketjil dari kaum tani dikalangan klas buruh Indoncsia, te- tapi difihak lain mempunjai segi jang menguntungkan, jaitu terdapatnja pertalian2 jang wadjar berupa hubungan keluarga antara kaum buruh dan kaum tani jang luas. Dengan pertalian2 jang wadjar antara kaum buruh dan kaum tani ini, maka aksi2 dan pengalaman² revolusioner dari kaum buruh dikota bisa lebih mudah disampaikan dan disebarkan dikalangan kaum tani didesa. Djika dua matjam pekerdjaan diatas ini bisa dilak- sanakan dengan se-baik2nja, jaitu membentuk front persa- tuan klas buruh jang teguh dan memberikan pimpinan

politik dan organisasi jang setjukupnja dan tepat kepada kaum tani, maka barulah bisa ditjiptakan persekutuan buruh dan tani jang kuat dibawah pimpinan klas buruh. Dengan demikian tertjiptalah basis front persatuan nasional jang luas dan kuat. Tanpa persekutuan buruh dan tani kita tidak bisa bitjara tentang front persatuan nasional jang sesungguhnja, dan kita tidak bisa bitjara tentang kemenangan revolusi.

III. KEBEBASAN PARTAI KOMUNIS DALAM FRONT PERSATUAN Seperti sudah diterangkan diatas, masalah front persatuan nasional pada pokoknja adalah masalah front persatuan antara klas buruh dan kaum tani disatu fihak dan klas burdjuis nasional difihak lain. Klas burdjuis nasional adalah klas jang melakukan penghisapan sedangkan klas buruh dan kaum tani (maksudnja kaum tani- miskin dan tanisedang) bukan sadja pada pokoknja tidak melakukan penghisapan tetapi malahan dihisap. Djadi, antara klas burdjuis nasional dan klas buruh serta kaum tani terdapat perbedaan watak dan kepentingan klas. Bersumber kepada perbedaan watak dan kepentingan klas ini, maka klas buruh dan kaum tani disatu fihak dan klas burdjuis nasional difihak lain, masing2 mempunjai konsep politik sendiri dalam hubungan dengan penjelesaian revolusi. Sebagaimana diketahui, dalam hubungan dengan soal penjelesaian tuntutan2 Revolusi Agustus 1945, kaum buruh, kaum tani, dan burdjuasi ketjil kota, sebagai ke-

k.atan2 progresif dibawah pimpinan Partai Komunis, mempunjai konsep untuk menghapuskan hak2 kaum imperialis dilapangan politik, ekonomi dan kebudajaan, dan untuk menghapuskan milik feodal atas tanah serta mengadakan perubahan tanah guna melaksanakan sem- bojan tanah untuk petani". Sedangkan konsep kekuatan tengah, jaitu kekuatan burdjuasi nasional, jalah supaja di Indonesia diadakan perubahan² dengan maksud mem- bela kepentingan sendiri untuk perkembangan kapital- isme. Karena perbedaan konsep ini maka dengan sendirinja diantara klas buruh dan klas burdjuis nasional terdjadi

persaingan untuk bisa memegang hegemoni didalam revolusi. Apakah bisa digalang front persatuan diantara dua kekuatan, jaitu kekuatan klas buruh dengan sekutunja kaum tani — dan klas burdjuis nasional, jang mempunjai perbedaan kepentingan dan perbedaan konsep politik dengan tidak salahsatunja meleburkan diri atau me- lepaskan kebebasannja? Memang pertentangan kepentingan antara klas buruh dan klas burdjuis nasional, dan perbedaan konsep masing² jang menimbulkan persaingan untuk bisa memegang hegemoni didalam revolusi tidak bisa dihindari apa lagi dilenjapkan. Tetapi untuk kepentingan perdjuangan melawan musuh bersama, jaitu melawan imperialisme asing, pertentangan antara klas buruh dan klas burdjuis nasional itu bisa diselaraskan. Inilah jang bisa kita namakan menjelaraskan perdjuangan klas dengan perdjuangan nasional dalam arti jang benar2 revolusioner. Apakah jang bisa didjadikan ukuran untuk menetapkan bahwa Partai Komunis sungguh2 memegang kebebasannja didalam mendjalankan politik front persatuan dengan klas burdjuis nasional? Karena Partai Komunis mempunjai programnja sen- diri dan program itu hanja bisa ditjapai dengan perdjuangan revolusioner dari massa, maka ukuran jang harus kita pakai untuk menetapkan kebebasan Partai Komunis dalam front persatuan dengan klas burdjuis nasional ja- lah, per-tama2 apakah Partai Komunis itu mendjalankan programnja berdasarkan perdjuangan jang revolusioner dari massa ataukah tidak. Kita bisa lebih memahami lagi

sjarat² atau ukuran² dari kebebasan Partai Komunis di-

dalam front persatuan ini djika kita teliti apa jang per- nah dikatakan oleh Stalin bahwa: ,Suatu front persatuan bisa mempunjai arti revolusioner hanja djika dan kalau ia tidak menghalangi Partai Komunis untuk mendjalankan pekerdjaan politik dan organisasinja jang bebas, hanja djika ia tidak merintanginja untuk mengorganisasi

klas proletar mendjadi kekuatan politik jang berdiri sen- diri, membangkitkan kaum tani melawan kaum tuanta-

nah,....dan dengan demikian mempersiapkan sja-

rat2 jang diperlukan untuk hegemoni dari proletariat". Kita telah mengalami bagaimana praktek dari lepas-

nja kebebasan Partai kita dalam front persatuan nasional

jaitu dari tahun 1945 sampai tahun 1948. Kesalahan pokok jang menjebabkan lepasnja kebebasan Partai pada waktu itu jalah kesalahan dilapangan politik dan organisasi setjara bersamaan jang saling pengaruh-mempenga- ruhi. Pada waktu itu kaum Komunis setjara sukarela telah mempertahankan bentuk ilegal dari Partai disam- ping adanja Partai jang legal, jang ditempatkan pada tempat jang tidak semestinja, dan mendirikan Partai2 klas buruh lainnja, jalah PBI (Partai Buruh Indonesia) dan Partai Sosialis. Kesalahan dilapangan organisasi ini, seperti diterangkan didalam Djalan Baru", telah menjebabkan PKI sebagai Partai dan organisasi samasekali tidak mewudjudkan kekuatan jang berarti, dan dalam politik menjebabkan terlampau banjak memberikan kon- sesi kepada imperialisme dan klas burdjuis. Kesalahan fundamentil dari Partai jang menondjol pada waktu itu jalah kesalahan dilapangan politik, jaitu kesalahan mengenai persetudjuan Linggardjati dan Ren- ville. Pada waktu itu kesalahan fundamentil dilapangan organisasi tidak menondjol dimata umum, karena ia tidak difahami oleh umum dan djuga oleh kebanjakan anggota Partai sendiri. Sumber dari kesalahan dilapangan organisasi ini terletak pada kesalahan pimpinan organisasi jang setjara sukarela menempatkan diri pada kedudukan ilegal atau semi-ilegal. Ini berarti setjara sukarela mem- batasi aktivitet dan menjempitkan lapangan bergerak dari Partai. Sudah dengan sendirinja bahwa sebagai akibatnja jang wadjar jalah Partai tidak bisa mendjadi besar dan kuat. Adalah satu prinsip organisasi Partai Komunis bahwa ia tidak boleh setjara sukarela bekerdja ilegal atau semi-ilegal. Dalam Djalan Baru" lebih landjut ditundjukkan ba- gaimana kesalahan Partai dilapangan organisasi itu sangat menghambat pertumbuhan kesedaran politik dari massa Rakjat, baik buruh maupun tani, pemuda maupun wanita, massa pradjurit, dsb. Dalam hubungan dengan kaum buruh, misalnja, didalam Djalan Baru" itu ditundjukkan: Oleh karena sikap jang anti-Leninis dalam hal politik-organisasi ini, maka dilapangan serikat- buruhpun kaum Komunis dengan demikian telah sangat menghalangi tumbuhnja keinsjafan politik kaum buruh seumumnja sebagai pemimpin Revolusi Nasional. Kaum

Komunis jang memimpin gerakan buruh (serikatburuh) lupa, bahwa menurut Lenin serikatburuh itu adalah se- kolahan untuk Komunisme. Melalaikan propaganda Komunisme dikalangan kaum buruh, berarti dengan lang- sung menghalangi bertambah sedarnja kaum buruh sebagai pemimpin revolusi nasional jang anti-imperialisme dan anti-feodalisme. Berarti melupakan arti gerakan kaum buruh sebagai sumber jang terpenting bagi PKI untuk mendapat kader²nja". Dan mengenai kaum tani dinjatakan bahwa: Pengaruh dari kesalahan dalam lapangan organisasi jang telah dilakukan oleh kaum Komunis dengan djelas dan terang nampak djuga dikalangan perdjuangan tani, dimana pengaruh PKI djuga sa- ngat lemah. Padahal kaum tani amat besar artinja sebagai sekutu kaum buruh dalam Revolusi Nasional. Dengan tidak adanja bantuan jang aktif dari kaum tani, Revolusi Nasional tentu akan kalah". Djadi, dilepaskannja kebebasan Partai didalam front persatuan nasional berarti pada pokoknja dilepaskannja tugas mengorganisasi kaum buruh dan kaum tani setjara terbuka untuk mempersiapkan sjarat2 jang diperlukan untuk hegemoni dari proletariat. Klas burdjuis nasional dan orang2 jang mengabdi klas burdjuis, karena disatu fihak menindas klas buruh, atau karena ideologinja sebagai ideologi klas penghisap pada umumnja, dan difihak lain ditindas oleh imperialisme, maka didalam perdjuangan ia mempunjai watak jang bimbang dan bermuka dua. Disatu fihak ia mau melawan imperialisme, tetapi difihak lain ia kuatir akan kelan- djutan dari revolusi jang bisa mendatangkan kemenang- an bagi klas buruh. Dalam menghadapi watak jang bimbang dan bermuka-dua dari burdjuasi nasional ini, kaum Komunis bisa mem- buat dua matjam kesalahan dalam hubungan dengan front persatuan nasional, jaitu kesalahan oportunisme kanan atau oportunisme kiri. Djika Partai Komunis meni- tikberatkan pada perlunja bersatu sadja dengan burdjuasi nasional tanpa melakukan perdjuangan terhadap watak- nja jang bimbang dan bermuka-dua itu, maka ia akau menjeleweng mendjalankan kesalahan oportunisme kanan. Tetapi sebaliknja, djika Partai Komunis lebih meni- tikberatkan pada perdjuangan dan kurang melihat ke- harusannja untuk bersatu dengan burdjuasi nasional.

maka ia akan menjeleweng mendjalankan kesalahan opor- tunisme kiri. Oleh karena itu, ada dua prinsip jang harus kita pe- gang teguh dan kita djalankan setjara bersamaan didalam melaksanakan politik front persatuan dengan burdjuasi nasional, jaitu jang pertama, prinsip bersatu, dan jang kedua, prinsip berdjuang. Atau djika kedua prinsip ini dipersatukan ia mendjadi prinsip bersatu dan berdjuang". Karena prinsip berdjuang disini ditudjukan tidak terhadap musuh jang harus dihantjurkan, melainkan terhadap sekutu jang harus ditarik, maka didalam praktek ia harus berupa kritik jang bersifat mendidik untuk me- rubah. Bagaimanapun djuga tadjamnja kritik itu, ia harus tidak bolch melewati batas, jaitu batas2 front persatuan. Menurut pengalaman, tjara melakukan kritik jang tidak tepat terhadap kelemahan2 burdjuasi nasional bisa berakibat sangat merugikan politik front persatuan nasional. Kritik jang tidak tepat bisa membantu mendorong burdjuasi nasional bertindak reaksioner. Kita ambillah salahsatu pengalaman jang dimuat didalam Resolusi Djalan Baru". Mengenai pemerintah pada waktu itu dikemukakan: ,Ternjata bahwa didalam 6 bulan jang belakangan ini, sedjak pimpinan negara di- pegang oleh elemen2 burdjuis komprador, tumbuhnja politik jang reaksioner berdjalan dengan tjepatnja. Ma- lahan pada beberapa bulan jang belakangan sudah tam- pak tanda2, bahwa politik pemerintah jang reaksioner itu akan tumbuh ketingkatan kontra-revolusioner". Dan mengenai sebab²nja, antara lain dinjatakan: Hal ini sebagian disebabkan karena agitasi dan propaganda darı fihak kaum Komunis untuk menjedarkan massa Rakjat pekerdja tentang kekeliruan² politik pemerintah, disana- sini telah didjalankan dengan tjara jang kurang bidjak- sana, hingga menjinggung perasaan". Disamping harus pandai mengemukakan kritik setjara tepat terhadap kebimbangan dan kckeliruan² politik dari klas burdjuis nasional, kita harus djuga bisa setjara tepat mendorong dan mempopulerkan sikap dan tindakan jang madju dari kalangan burdjuasi nasional. Dengan tjara mengkritik jang tepat terhadap kebimbangan dan kesalahan2, dan mendorong serta memudji jang baik dari

kalangan burdjuasi nasional, maka setiap pernjataan dari klas buruh dan partainja akan mempunjai daja jang mejakinkan dan berarti memegang inisiatif. Dalam melakukan tjara ini satu soal jang sangat penting untuk selalu diingat, jalah perubahan keadaan: kapan dan dalam hal apa harus ditckankan pada kritik, dan kapan serta dalam hal apa harus ditekankan pada dorongan. Tetapi bagaimanapun djuga, didalam mengadjukan kritik harus sclalu disertai dengan dorongan dan harapan jang berarti memberikan puitu kepada mereka untuk menempuh djalan perbaikan. Sikap jang tepat menghadapi watak jang bimbang dan bermuka-dua dari burujuasi nasional sangat besar ban- tuannja dalam mcwudjudkan front persatuan nasional. Tetapi ada sjarat² jang menentukan untuk berhasinja Partai Konunis mempertahankan kebebasannja dan se- kaligus menarik klas burdjuis nasional sebagai sekutu dı- daiam front persatuan nasional. Sjarat2 itu jalah: Pertama, Partai harus disatu fihak, terus-menerus be- kerdja untuk memperiuas dan mengkonsolidasi perseku- tuan buruh dan tani dan difihak lain dengan teguh dan pandai melakukan perdjuangan melawan imperialisme dan kekuatan² reaksioner didalam negeri. Dengan kekuatan progresif jang besar, serta dengan teguh dan pandai meiakukan perajuangan melawan imperialisme dan kekuatan² reaksioner didaiam negeri, maka klas burdjuis nasional akan bisa ber-angsur2 ditarik untuk solider dau didorong untuk lebih teguh sikapnja didalam melawan imperiausme. Sendjata jang paling ampuh untuk menarik solidaritet dan mendorong sikap jang lebih teguh dari burdjuasi nasional jalah pukulan² jang tepat dan ber hasil terhadap kekuatan² kaum imperialis dan kakitang- annja didalam negeri. Disinilah letak kegunaannja dalam memberikan pukuian² jang tepat terhadap kaum imperialis dan kekuatan² reaksioner dalamnegerı untuk menarik klas burdjuis nasional kedalam front persatuan nasio nal. Kedua, memperhatikan kepentingan2 jang masuk-akal dari klas burdjuis nasional. Misalnja, kaum buruh tidak sadja sangat memperhitungkan kekuatan modal dari kaum kapitalis nasional dalam hubungan dengan tuntut- an² perbaikan nasibnja, tetapi djuga dengan kuat mem-

bantu perdjuangan mereka untuk mendapatkan perlin- dungan dan dalam melawan persaingan asing. Ketiga, meluaskan kekuatan2 jang madju dikalangan kaum burdjuis nasional dan mendorong mereka jang termasuk golongan tengah supaja mendjurus kekiri, mem- bangkitkan mereka jang terbelakang dan mengisolasi me- :eka jang kepalabatu. Dalam perdjuangan ini.perlu mem- perhatikan perbedaan antara kaum intelcktuil burdjuis dan kaum kapitalis nasional. Kaum intelektuil burdjuis biasanja tidak mempunjai alat produksi, mereka umum- nja bisa mendjadi lebih patriotik dan lebih mempunjai pengertian politik, disamping mereka adalah tulangpung- gung jang menguasai ilmu modern dan kebudajaan. Pe. ngaruh mereka adalah besar dikalangan kaum kapitalis nasional, oleh karena itu sangat penting untuk per-tam:2 berusaha menarik mercka kefihak Rakjat pekerdja. Partai2 jang termasuk demokratis diluar Partai Komunis adalah merupakan perwakilan dari klas burdjuis nasional dan burdjuis ketjil. Oleh karena itu, partai2 ini bisa dan harus didjadikan saluran untuk mengatur hu- bungan dan menarik klas burdjuis nasional kedalam front persatuan. Tetapi disamping partai2 ini harus djuga dli- tjari saluran dengan melalui grup2 dan tokoh² non-partai jang demokratis. Dari semua keterangan diatas djelaslah, bahwa bisa tertjipta atau tidaknja front persatuan dengan burdjuasi nasional adalah, disatu fihak, bergantung kepada sikap burdjuasi nasional sendiri, dan difihak lain, bergantung kepada tepat atau tidaknja politik jang didjalankan oleh Partai Komunis. Bisa terdjadi bahwa politik Partai Komunis sudah tepat, tetapi tekanan kekuatan kaum im- perialis begitu rupa besarnja sehingga klas burdjuis nasional bisa menjerah dan meninggalkan front persatuan nasional. Sebaliknja bisa djuga terdjadi bahwa faktor? objektif sangat menguntungkan untuk menggalang front persatuan dengan burdjuasi nasional, tetapi Partai Komunis mendjalankan politik jang salah dan tidak tepat, sehingga burdjuasi nasional djuga lari kefihak reaksi dan memusuhj front persatuan dengan klas buruh. Tetapi bagaimanapun djuga dapatlah kita tarik ke- simpulan dari pengalaman2, bahwa jang terutama zae- nentukan berhasilnja penggalangan front persatuan ra- sional itu jalah imbangan kekuatan, baik setjara nasional

maupun internasional. Berdasarkan kesimpulan ini kita bisa menjatakan bahwa faktor2 untuk penggalangan front persatuan nasional dinegeri kita masih tetap menguntungkan. Pertama, kita mempunjai Partai Komunis jang tjukup besar pengaruhnja. Ini berarti, bahwa kekuatan pro- gresil sudah agak besar. Kedua, imbangan kekuatan setjara internasional sekarang ini sudah lebih menguntungkan kekuatan progresif pada umumnja. Ketiga, tradisi persatuan tjukup kuat dinegeri kita. Djadi, tinggal lagi menambah satu faktor subjektif, jaitu faktor ketjakapan dan ketepatan orang2 Komunis dalam mendjalankan politik front persatuan. Djika bisa digalang front persatuan jang lama dan teguh dengan burdjuasi nasional sampai selesainja revo- lusi nasional-demokratis, maka sesudah selesai nanti front persatuan ini akan lebih mempunjai sjarat2 untuk hisa diteruskan setjara menguntungkan bagi pembangunan So- sialisme. IV. FAKTOR AGAMA DAN SUKU-BANGSA DALAM FRONT PERSATUAN NASIONAL Seperti sudah diterangkan diatas, pelaksanaan politik front persatuan nasional terutama ditjarikan dasarnja dalam persamaan kepentingan melawan kekuasaan impe- rialisme asing untuk kemerdekaan nasional jang penuh. Djadi, pokoknja jang bisa dan harus didjadikan dasar untuk mempersatukan majoritet dari nasion dalam front persatuan nasional jalah berbagai tuntutan gerakan nasional jang pada umumnja berhubungan dengan sjarat² jang mendjadi tjiri dari nasion (bahasa, wilajah, ekono- mi dan kebudajaan). Tetapi ada faktor lain jang penting djuga, jang bisa mempengaruhi pelaksanaan politik front persatuan dalam arti bisa membawa kebulatan atau keretakan dalam front persatuan nasional, jaitu faktor agama dan sukubangsa. Meskipun Partai sudah bisa dengan tepat mengadju- kan politik-front persatuan nasional, tetapi djika tidak disertai dengan sikap politik Partai jang tepat mengenai agama dan sukubangsa, maka pelaksanaan politik front persatuan nasional itu akan mendjadi sangat sukar dan bisa mendjadi kurang berhasil. Agama jang paling berpengaruh di Indonesia jalah

Islam dan kemudian Kristen -(Protestan) dan Katolik. Bagi massa Rakjat jang masih terbelakang, perbedaan agama ini sudah bisa mendjadi alasan untuk tidak bersa- tu atau mengurangi eratnja persatuan, dan menutupi kenjataan adanja persamaan kepentingan dilapangan eko- nomi dan politik. Pendeknja, ia bukan sadja bisa menje- limuti dan mengaburkan perdjuangan klas, tetapi djuga bisa merenggangkan persatuan nasional. Kita bisa me- lihat hal ini, misalnja, dari kenjataan adanja organisasi massa jang ter-pisah² didalam satu lapangan kerdja jang terutama hanja didasarkan atas perbedaan agama. Le- bih² lagi karena kaum imperialis dan kakitangannja me- mang dengan sengadja mempergunakan agama untuk me- metjah-belah massa Rakjat. Sedar akan besarnja pengaruh agama, terutama agama Islam, dikalangan massa Rakjat, dalam hubungannja dengan pelaksanaan politik front persatuan Kawan Aidit dalam suatu laporan Politbiro kepada Sidang Pleno CC telah memberikan analisa mengenai pembagian masjarakat kita menurut pengaruh aliran² politik. Dalam laporan itu diterangkan: ,,Pada umumnja Rakjat kita dipenga- ruhi oleh tiga aliran politik, jaitu aliran Komunis, Nasionalis dan Islam. Inilah aliran² jang meresap sampai ke- kalangan Rakjat banjak. Aliran sosialis kanan, sekarang terkenal dengan nama aliran 'soska' (sosialis kanan) jang di Indonesia diwakili olch PSI, tidak mempunjai pengikut jang luas dikalangan Rakjat banjak. Tetapi dengan ini tidak berarti bahwa aliran 'soska' tidak perlu mendapat perhatian. Disamping aliran Komunis dengan tradisi revolusio- nernja jang gemilang dan heroik, aliran Nasionalis dan Islam djuga mempunjai tradisi dalam masjarakat kita. Aliran Nasionalis dan partai politik Nasionalis mulai dikenal oleh Rakjat Indonesia sedjak permulaan abad ke- 20, ia dikenal ber-sama2 dengan lahirnja gerakan nasional dinegeri kita. Agama Islam sudah dikenal ratusan tahun, sedjak agama Islam datang di Indonesia, tetapi partai politik Islam baru dikenal djuga sedjak permulaan abad ke-20. Politik dari partai2 Nasionalis dan partai2 Islam tergantung pada klas2 dari orang2 jang memimpin partai2 itu". Berdasarkan kenjataan ter-bagi²nja masjarakat menurut pengaruh aliran politik, dimana Islam merupakan

salahsatu daripadanja, Kawan Aidit didalam laporan Politbiro jang lain kepada Sidang Pleno CC menjatakan, bahwa PKI menghargai sembojan jang djuga diandjur- kan oleh Bung Karno, jaitu sembojan tentang kerdja- sama kaum Agama, Nasionalis dan Komunis", karena sembojan ini tjotjok dengan kebutuhan jang mendesak dari Rakjat Indonesia sekarang, jaitu persatuan. Dengan mengakui ter-bagi2nja massa Rakjat menurut aliran² politik, hal ini samasekali tidak mengurangi ke- benaran bahwa pada achirnja persamaan kepentingan materiil dari massa adalah merupakan pertalian jang lebih kuat daripada pertalian menurut aliran² politik. Kawan Aidit mengatakan: ,Pengalaman menundjukkan, bahwa massa Nasionalis dan massa Islam tidak sedikit jang setudju pada Partai kita. Djuga massa Nasionalis dan massa Islam jang tidak setudju dengan kita, dan malahan mungkin masih menentang kita, sangat banjak jang melihat adanja persamaan kebutuhan dengan massa Komunis. Satu kenjataan jang tak dapat dibantah, bahwa antara massa Komunis dengan massa Nasionalis dan Islam lebih banjak terdapat titik2 pertemuan daripada antara orang2 jang memimpin mereka. Oleh karena itu- lah, perundingan satu dengan lain, saling mendekati dan mengadakan persetudjuan2 dalam banjak hal adalah mungkin dan djalan inilah jang harus kita tempuh. Ke- sinilah perhatian harus kita tjurahkan, sebagai salahsatu usaha kita jang penting untuk lebih meluaskan persatuan semua kekuatan nasional." Bagi kita aliran Nasionalis sudah terang dasar klasnja Tetapi dengan aliran Islam orang bisa keliru se-akan² aliran Islam itu mempunjai dasar klas jang tersendiri atau tidak berdasarkan klas samasekali. Hal ini adalah tidak benar. Djadi, apakah alasannja sampai kita bisa menghargai sembojan front persatuan nasional jang didasarkan persatuan aliran² politik, dimana termasuk didalamnja aliran Islam? Hal ini tidak lain adalah karena didorong oleh kepentingan Partai untuk menundjukkan sikapnja jang menghormati setiap agama, dan dalam hal ini agama Islam jang paling besar pengaruhnja dikalangan massa Rakjat. Sikap menghormati tiap agama ini sudah tentu tidak

berarti bahwa kita tidak harus dengan djelas menjatakan sikap kita jang menentang digunakannja perbedaan aga- ma untuk memetjah-belah persatuan nasional. Mengenai pentingnja faktor sukubangsa dalam hu- bungan dengan front persatuan nasional, diwaktu jang lalu masih kurang tjukup mendapat perhatian dan sering terdjadi salah-faham. Karena selama ini jang populer dan terus dipopuler- kan jalah sembojan bahwa kita adalah satu bangsa dalam arti satu nasion, maka mengemukakan masalah sukubangsa dianggap sebagai hendak mem-bangkit2kan pera- saan sukubangsa jang dianggapnja sudah lama tidak ada lagi. Memang ada golongan jang dengan sengadja me-non- djol²kan persoalan sukubangsa hanja sekedar untuk mengadu-domba sukubangsa jang satu dengan lainnja dan untuk memetjah-belah persatuan nasional Rakjat Indonesia. Dulu pemerintah Hindia Belanda djuga mendjalankan politik petjah-belah dengan mengadu-domba sukubangsa. Kaum kolonialis Belanda memupuk perbedaan² diantara sukubangsa jang satu dengan lainnja djustru untuk mem- pertentangkannja satu sama lain. Tetapi karena penin- dasan dan penghisapan kaum kolonialis Belanda dulu di- rasakan langsung lebih berat oleh seluruh Rakjat Indonesia sebagai satu-nasion, maka pertentangan2 jang ditjip- takan oleh Belanda diantara sukubangsa² itu bisa dika- lahkan oleh pertentangan antara seluruh Rakjat Indonesia sebagai kesatuan dengan kaum kolonialis Belanda. Sesudah Indonesia memperolch kemerdekaan politik, keadaan mendjadi agak berbeda dimana Belanda tidak berkuasa lagi setjara langsung. Kaum imperialis dengan menggunakan kaum burdjuis komprador sampai batas² tertentu berhasil mem-bangkit²kan semangat separatisme dengan menunggangi ketidakpuasan Rakjat di-daerah2. Mereka mergabui mata Rakjat dengan menutupi kenja- taan, bahwa perbedaan diantara satu daerah dengan lainnja, terutama dalam hal perbedaan madju atau terbe- lakangnja daerah² atau sukubangsa2 itu, adalah sebagai akibat politik kolonial Belanda selama ratusan tahun di Indonesia. Adalah wadjar bahwa sesudah Indonesia mentjapai

kemerdekaan politik, Rakjat mengharapkan perbaikan penghidupan setjara lebih tjepat. Karena memang kemerdekaan politik adalah merupakan sendjata dan harus didjadikan sendjata untuk memperbaiki penghidupan Rakjat. Tetapi sudah terang, bahwa apa jang di- namakan daerah bergolak, atau pertentangan antara daerah dengan pusat, adalah terutama ditimbulkan oleh politik imperialis dan keserakahan tokoh² lapisan atas dari daerah2 atau sukubangsa jang hendak menggunakan kemerdekaan politik sekarang ini untuk berkuasa sendiri dan memperkaja diri sendiri. Sjarat mutlak untuk bisa mengadakan perbaikan penghidupan Rakjat setjara radikal dan memulai pembangun- an jang sungguh2 untuk kepentingan Rakjat diseluruh daerah jalah likwidasi sampai ke-akar2nja kekuasaan eko- nomi imperialis dan sisa2 feodalisme. Tetapi kenjataannja, pemimpin2 separatis dan pemberontak ,,PRRI"-Permesta jang selalu menggembar-gemborkan sembojan pemba- ngunan dacrah samasekali bukannja membawa Rakjat untuk berdjuang melawan imperialisme dan tuantanah, tetapi mereka malahan bersatu dan mendjalankan politik kaum imperialis dan tuantanah. Berbeda dengan kaum separatis, kalau kita kaum Ko- munis mengemukakan persoalan sukubangsa, maka se- babnja jalah djustru karena kita mengetahui adanja perbedaan² diantara sukubangsa satu dengan lainnja, baik dalam hal besar ketjilnja, dalam bahasanja, dalam ke- budajaannja maupun adat-istiadatnja. Perbedaan² ini tidak perlu mendjadi bahan perpetjahan asal sadja dipa- kai prinsip hak sama dan saling menghormati diantara semua sukubangsa dengan tidak memandang besar-ketjilnja dan madju atau terbelakangnja. Djika kenjataan perbedaan² sukubangsa ini tidak diperhatikan dan tidak di- tjarikan djalan pemetjahan jang tepat, maka perbedaan² itu akan tumbuh mendjadi benih pertentangan dan perpetjahan dan bisa meretakkan, bahkan bisa menghan- tjurkan samasekali persatuan nasional Rakjat Indonesia. Bagaimanakah pelaksanaan dari politik hak sama dan saling menghormati diantara semua sukubangsa itu? Didalam suatu laporan Politbiro kepada Sidang Pleno CC, Kawan Aidit menerangkan: ,,Pelaksanaan daripada politik hak sama bagi semua sukubangsa adalah politik otonomi bagi sukubangsa² dibawah pemerintah jang ber-

sifat kesatuan. Hak otonomi berarti hak mengurus-soal² sendiri bagi sukubangsa2, misalnja berhak mengurus soal2 politik dan ekonomi dalam lingkungan sukubangsa masing2, berhak memakai bahasa masing2 disamping bahasa Indonesia dan berhak mengembangkan kebudajaan masing2. Politik otonomi sukubangsa inilah satu2nja politik jang dapat memetjahkan masalah sukubangsa2". Mengenai apa jang dinamakan otonomi di Indonesia, Kawan Aidit mendjelaskan: Kenjataan sekarang me- nundiukkan, bahwa soal otonomi jang sekarang banjak dibitjarakan bukanlah otonomi jang berdasarkan sukubangsa, akan tetapi berdasarkan daerah administratif dan disebut 'otonomi daerah'. Pembagian administratif peme- rintahan sekarang pada pokoknja masih meneruskan pembagian administratif zaman kolonial dulu. Dalam rangka program tuntutan sekarang, PKI dapat menjetu- djui 'otonomi daerah', diadi belum otonomi sukubangsa, asal untuk daerah² itu diadakan pemilihan DPRD2 se- tiara demokratis, dan dibentuk DPD² berdasarkan per- wakilan berimbang. Tetapi ini adalah pemetjahan semen- tara selama belum dibentuk otonomi2 berdasarkan sukubangsa. Djadi, kita tidak boleh berhenti sampai pada 'otonomi daerah' sadja. Bersamaan dengan menerima 'otonomi daerah', kita harus menielidiki dan menjimpulkan persoalan² sukubangsa2, misalnja soal batas2 daerah di- mana sesuatu sukubangsa hidup. soal kesatuan bahasa dan kebudaiaan dari tiap² sukubangsa, dsb. Berdasarkan hasil2 penjelidikan dan kesimpulan ini ber-angsur2 kita mendirikan otonomi2 berdasarkan sukubangsa2, ses iai dengan kepentingan seluruh bangsa". Selandjutnja diterangkan oleh Kawan Aidit bah:va: Dalam memetjahkan masalah sukubangsa kita narus mentjegah timbulnja perasaan tinggihati pada sukubangsa jang besar, kita harus mentjegah sukubangsa besar-isme.

Djuga kita harus mentjegah sukubangsa jang besar dan jang sudah lebih madju memandang rendah sukubangsa²

lainnja dan memaksakan keinginannja sekalipun mung- kin dengan maksud untuk memadjukan sukubangsa2 lainnja itu. Pendeknja, tiap2 sukubangsa harus madju dengan tiada paksaan dari sukubangsa lain. Sukubangsa jang sudah madju harus mempunjai perasaan berkewadjiban

membantu sukubangsa² lain, tetapi pelaksanaan daripada kewadjiban ini tidak bolch dengan memaksa. Sukubangsa jang besar harus menghormati sukubangsa2 jang ketjil. Djikalau ada kekurangan2 didalam pekerdjaan mengatur negeri maka jang per-tama² harus mengadakan selfkritik jalah sukubangsa jang besar dan sudah madju. Dikalangan sukubangsa2 ketjil kita harus mentjegah timbu'nja sukubangsa-isme jang sempit, jang sifatnja tidak mau menerima segala sesuatu dari sukubangsa lain. Sukubangsa-isme sempit membikin lambat kemadjiuan sukubangsa itu sendiri. Disamping itu sukubangsa-isme sempit mudah digunakan olch kaum imperialis untuk mengadu-domba antara sukubangsa² dan untuk meme- tjah-belah persatuan Rakjat Indonesia. Ini berarti me- metjah-belah dan sangat memperlemah kedudukan Re- publik Indonesia jang bersifat kesatuan. Djuga perasaan merasa ketjil-diri harus ditjegah dikalangan sukubangsa2 tersebut karena perasaan ini djuga merupakan perintang bagi kemadjuan sukubangsa2 jang bersangkutan". Dalam hubungan dengan pekerdjaan front persatuan nasional, harus djuga kita masukkan pekerdjaan dikalangan minoritet keturunan asing. Tentang ini Kawan Aidit mengatakan: Disamping masalah sukubangsa2 ada lagi masalah lain jang hampir sama persoulaunja, jaitu masalah minoritet keturunan asing, misalnja keturunan Arab, Eropa dan Tionghoa. Golongan minoritet ini berbeda dengan sukubangsa2, karena minoritet keturunan asing ini walaupun mempunjai bahasa dan kebu- dajaan sendiri, tetapi tidak mempunjai daerah tempst tinggal jang tertentu. Oleh karena itu pemetjahan masalah minoritet keturunan asing lebih sukar. Tetapi ini tidak berarti bahwa soal ini tidak bisa dipetjahkan. Peme- tiahan soal ini djuga hanja bisa dengan politik hak sama, jaitu hak sama semua warganegara. Djadi soalnja jalah, dengan konsekwen mendjalankan apa jang :ertjartum dalam UUD tentang haksama bagi semua warganegara. Berhubung dengan pemetjahan masalah minoritet keturunan asing, disatu fihak harus ditjegah timbulnja nasionalisme sempit dikalangan majoritet warganegara 'bumiputera'. Jang terachir ini harus menghormati minoritet warganegara keturunan asing. Difihak lain harus dihilangkan rasa superior (tinggihati) golongan atas daripada minoritet keturunan asing jang dizanian pendja-

djahan memang dipupuk olch kaum pendjadjah untuk dapat diadu-dombakan dengan majoritet humiputera'. Pendidikan patriotisme Indonesia, pendidikan tjinta ta- nahair dan tjinta Rakjat Indonesia, harus diperdalam dan diperluas dikalangan minoritet keturunan asing. Ini tidak berarti bahwa pendidikan patriotisme Indonesia dikalangan warganegara 'bumiputera' sudah tidak di- perlukan". Pengalaman menundjukkan bahwa dalam pekerdjaan front persatuan faktor agama dan sukubangsa ini sering- kali terdjalin mendjadi satu. Suatu sikap jang tidak tepat mengenai sesuatu agama jang kebetulan dianut olch majoritet dari massa sesuatu sukubangsa, bisa dianggap se- bagai langsung menjinggung djuga scturuh s:kubangsa itu. Begitu djuga sebaliknja, mereka bisa merasa tersinggung kepertjajaan agamanja djika perasaan sukubangsanja tersinggung. Itulah sebabnja tokoh2 agama atau sukubangsa jang meskipun kadang² politiknja sudah dikenal reaksioner, masih djuga belum ditentang oleh massa Rakjat jang ber- samaan agama atau sukubangsanja. Oleh karena itu, membangkitkan kesedaran politik dari massa jang masih terbelakang, jang ada dibawah penga- ruh tokoh² agama atau sukubangsa adalah sangat sukar djika tidak mendapat bantuan dari tokoh² itu, apa- lagi djika mendapat tentangan dari mereka. Oleh karena itu, untuk bisa melaksanakan politik fron: persatuan na- sional, adalah diuga sangat penting bagi kita untuk ber- usaha menarik dan bekerdjasama dengan to-koh2 agama dan sukubangsa dari pusat sampai ke-daerah2. Dengan menjatakan pentingnja usaba monarik dan kerdjasama dengan tokoh² agama dan sukubangsa, tidak- lah berarti bahwa pekerdjaan membangkitkan massa jang masih terbelakang dan menganut sesuatu agama di-dac- rah² sukubangsa harus selalu dengan perantaraan tokoh² agama dan sukubangsa. Jang paling penting dan menen- tukan dalam hal ini jalah sikap dan pandangan kita jang tepat mengenai agama dan sukubangsa. Seperti sudah diterangkan diatas, mengenai agama, sikap kita jalah menghormati setiap kepertjajaan agama. Dengan sikap menghormati kepertjajaan agama kita bisa memegang inisiatif jang besar dilapangan politik. Sikap

jang scbaliknja akan menjebabkan kita berkedudukan pasif dilapangan politik. Salahsatu tjontoh jang barangkali bisa mejakinkan dalam hal ini jalah sikap Partai kita mengenai Pantjasila. Sebab, kita bisa melihat dengan njata betapa cesar arti politik dan akibat bagi kaum reaksioner jang biasa menggunakan agama sebagai kedok dalam perdjuangan politiknja, seperti kaum reaksioner dari Masjumi, dengan sikap Partai kita jang mencrima Pantjasila. Dan dasar pertimbangan jang penting untuk mengambil sikap me- nerima Pantjasila ini jalah antara lain karena sikap kita jang menghormati setiap kepertjajaan agama. Mengenai soal sukubangsa, seluruh keterangan diatas adalah dimaksudkan untuk memberikan kejakinan bahwa memang soal sukubangsa dan minoritet keturunan asing merupakan persoalan jang serius jang harns men- dapatkan pemetjahannja setjara tepat. Adalah keliru dan berbahaja anggapan jang menjatakan se-akan2 tidak ada soal2 sukubangsa dan minoritet keturunan asing, bahwa adanja soal2 ini hanja karena ditimbulkan oleh politik kita sendiri. Kenjataan bahwa kaum reaksioner dari Masjumi-PSI telah dapat menggunakan sentimen sukubangsa untuk menimbulkan gerakan separatis dan pemberontakan PRRI"-Permesta, dan menggunakan sentimen rasial anti-Tionghoa untuk merusak kesatuan kewarganegaraan Republik Indonesia, hendaknja kenjataan2 ini bisa meng- hapuskan anggapan2 jang keliru jang mengabaikan persoalan sukubangsa dan minoritet keturunan as.ng. Satu2nja politik jang dapat memetjahkan masalah sukubangsa jalah politik otonomi sukubangsa sebagai pe- laksanaan dari prinsip hak sama dan saling menghormati diantara semua sukubangsa dengan tidak memandang per- bedaan besar-ketjilnja dan madju atau terbelakangnja. Sedang untuk memetjahkan masalah minoritet keturunan asing jalah pada pokoknja dilaksanakan setjara konsek- wen dan sepenuhnja prinsip hak sama dari semua warga- negara dengan tidak memandang asal keturunan atau kejakinan politik dan kepertjajaan agamanja. Aspirasi atau tjita2 setiap sukubangsa, misalnja ke- inginan untuk melihat kemadjuan kebudajaan sukubang- sanja dan untuk melihat adanja pemimpin2 Rakjat dan

pemimpin2 pemerintahan, se-tidak²nja pemerintahan da rah, dari sukubangsanja hanja bisa dipenuhi deagan memberikan otonomi sukubangsa. Djika otonomi sukubangsa ini dilaksanakan dibawah Pemerintah Kesatuan Republik Indonesia, maka hasilnja tidak bisa lain jalah persamaan kedudukan, saling pertjaja dan kerdjasama serta persatuan jang lebih erat dan lebih teguh lagi -lari semua sukubangsa dalam kesatuan nasion Indncsi. Karena dibawah kekuasaan dan dalam tingkat peidju- angan sekarang ini belum bisa dilaksanakan otonomi sukubangsa, maka sudah akan memadailah djika otonomi daerah berdasarkan Undang2 No. 1 Tahun 1957 Tentang Pokok2 Pemerintahan Daerah dilaksanakan sepenuh- nja dan dengan konsekwen. Djika otonomi daerah ini sungguh² dilaksanakan setjara demokratis, maka hal ini sebenarnja berarti pendemokrasian pemerintahan dterah. Dengan pemerintahan daerah jang demokratis, dimana ada DPRD dan DPD-nja jang dipilih oleh Rakjat didac- rah masing2, maka tuntutan² Rakjat dacrah intuk sc- bagiannja bisa ditampung dan dipetjahkan olch Rakjat daerah sendiri. Pada umumnja apa jang dinamakan tuntutan² dacrah atau tuntutan² Rakjat daerah, pada hakekatnja adalah tuntutan² sukubangsa. Dengan demikian djelaslah, bahwa otonomi daerah atau pendemokrasian pemerintahan dacrah sesungguhnja bisa merupakan sendjata jang baik untuk melawan hasutan² kaum separatis dan pemberontak jang selalu menggembar-gemborkan sembojan kosong tentang memperhatikan kepentingan dacrah atau tentang pembangunan daerah. Oleh karena itu, adalah keliru dan akan mentjapai hasil jang sebaliknja, djika ada orang jang disatu fihak, menghendaki kesatuan Republik Indonesia mendjadi lebih teguh, tetapi, difihak lain, tidak menjetudjui dan malahan merintangi pelaksanaan otonomi dacrah seperti jang dikehendaki oleh Undang2 No. 1 Tahun 1957. Untuk bisa melaksanakan dengan baik politik menge- nai sukubangsa dan minoritet keturunan asing, diperlu- kan politik pemeliharaan dan penempatan kader sukubangsa dan kader pusat setjara tepat, baik didalam Par- tai, didalam organisasi2 massa Rakjat, maupun didalan pemerintahan.

Terhadap kader sukubangsa, kita harus memberikan perlakuan dan pemeliharaan jang istimewa dalam hal mengutamakan kesempatan beladjar bagi mereka. Kita harus tidak bolch ragu² dalam memberikan kesempatan akan berakibat mengganggu pekerdjaannja untuk semen- tara waktu. Mengenai kader dari pusat jang akan ditempatkan di-dacrah2 sukubangsa, maka sjarat2nja jang penting, disam- ping ketjakapan dan keuletan, jalah terutama keichlasan dan kedjudjuran untuk membantu daerah. Sjarat2 ini sungguh diperlukan supaja penempatau kader dari pusat bisa berhasil baik dengan mentjiptakan kerdjasama jang baik dan persatuan jang erat antara kader jang dari pusat dan kader daerah. Sudah tentu, difihak lain, diperlukan djuga sjarat2 keichlasan dari kader2 dacrah (sukubangsa) untuk mene- rima bantuan kader² dari pusat. Berbitjara tentang sjarat2 penempatan kader dari pusat di-dacrah2, dalam hal ini jang kita maksudkan bukan sadja penempatan kader dari pusat di Daerah² Besar, tetapi djuga penempatan kader2 dari pusat" Daerah Besar di-daerah² dalam lingkungan Daerah Besar itu sen- diri. Dalam hubungan dengan pemetjahan masalah bangsa² minoritet di Tiongkok, Mau Tse-tung pernah mengata- kan: ,,Adalah mustahil untuk memetjahkan soal bangsa2 minoritet dengan konsekwen dan mengisolasi samasekali kaum reaksioner dari berbagai bangsa minoritet djika tidak ada sedjumlah besar kader Komunis jang berasal dari bangsa2 minoritet". Apa jang dikatakan oleh Mau Tse-tung ini sepenuhnja berlaku bagi Partai kita dan pemetjahan soal sukubangsa² dinegeri kita. Disinilah pentingnja politik pemeliharaan dan penempatan kader sukubangsa jang setjara tepat.

V. SOAL ORGANISASI FRONT PERSATUAN
NASIONAL

Djika kita sampai merasa perlu mengemukakan soal organisasi front persatuan nasional disini, maka sebabnja bukanlah karena soal organisasi ini merupakan soal jang sama penting dan fundamentilnja seperti soal2 lain dari

front persatuan nasional jang sudah diterangkan diatas. Soal front persatuan nasional memang per-tama2 bu- kanlah soal organisasi, melainkan, seperti sudah diterangkan dalam pendahuluan, adalah soal garis politik, soal taktik dari Partai. Djadi, apakah maksudnja kita kemukakan djuga soal organisasi front persatuan nasional itu disini? Maksudnja jalah hanja sekedar memberikan pendje- lasan guna menghapuskan pengertian jang kaku dan formil mengenai organisasi, chususnja organisasi front pei- satuan nasional. Untuk beberapa waktu sosudah adanja Resolusi Djalan Baru", dikalangan kita kaum Komunis agak luas djuga terdapat fikiran jang kaku dan formil mengenai organisasi front persatuan nasional. Didalam Djalan Baru" ada dinjatakan: Walaupun kemudian mereka mulai sedar akan kepentingan Front Nasional itu, akan tetapi kaum Komunis belum faham sungguh2 tentang hakekat Front Nasional dan tentang tjara membentuknja. Beberapa matjam bentuk Front Nasional selama tiga tahun ini telah didirikan, akan tetapi selalu tinggal diatas kertas belaka, hanja berupa kon- vensi diantara organisasi2 atau diantara pemimpin2 sadja, sehingga djikalau ada sedikit perselisihan diantara pemimpin2 Front Nasional itu lalu menjebabkan bubarnja". Selandjutnja dalam hubungan dengan bentuk atau organisasi Front Nasional, didalam Djalan Baru" diterangkan: Front Nasional jang tulen harus disusun dari bawah, semua anggota partai2 jang sudah menjetudjui Front Nasional scharusnja memasukinja setjara indivi- duil. Selain daripada itu diberi djuga kesempatan kepada beribu orang jang tidak berpartai dan jang progresif turut serta dalam Front Nasional. Komite2 Front Nasional, baik didacrah maupun dipusat, harus dipilih setjara de- mokratis dari bawah. Front Nasional sematjam ini, sekali berdiri tidak akan mudah hantjur, bahkan tidak terlalu bergantung lagi kepada kehendak pemimpin2 partai. Front Nasional sematjam itu memungkinkan djuga pe- ngurangan perselisihan politik dan djuga memperketjil adanja oposisi sampai pada batas minimum". Dengan menafsirkan setjara berat sebelah apa jang dinjatakan didalam Djalan Baru" itu, dikalangan kita telah timbul sematjam semangat anti, atau menjalahkan,

djika kita kaum Komunis menjetudjui dan turut dalam badan² kerdjasama diantara partai2 dan organisasi² jang tidak memakai nama Front Nasional dan tidak berang- gotakan setjara perseorangan, dan hanja merupakan per- temuan2 diantara pimpinan²nja sadja. Kerdjasama2 sematjam ini mau diremchkan begitu sadja, karena diang- gapnja bukanlah merupakan Front Nasional. Menurut anggapannja, jang dinamakan Front Nasional haruslal berupa organisasi jang memakai nama Front Nasional dan mempunjai keanggotaan setjara perseorangan. Tafsiran sematjam ini mengenai Front Nasional jang diterangkan didalam Djalan Baru" adalah tafsiran jang berat scbelah. Sebab, dengan demikian se-akan2 ,Djalan Baru" mengkritik kaum Komunis pada waktu itu hanja dalam hal belum faham sungguh2 tentang tjara memben- tuk Front Nasional, dan bukannja per-tama2 bahwa kaum Komunis pada waktu itu belum faham sungguh² tentang hakckat Front Persatuan Nasional. Padahal dalam Djalan Baru" itu sendiri, dalam kali- mat jang menundjukkan kekurangan pengertian kaum Komunis tentang Front Persatuan Nasional pada waktu itu, djustru jang discbutkan per-tama2 jalah bahwa kaum Komunis belum faham sungguh2 tentang hakekat Front Persatuan Nasional". Djuga didalam ,Djalan Baru" ada diterangkan: Oleh karena pada dewasa ini telah ada program nasional jang sudah disusun, disetudjui dan diterima pula oleh semua partai, maka tidak salah djika program nasional ini di- pakai dengan segera sebagai dasar untuk mewudjudkan Front Nasional", dan bahwa Front Nasional jang tulen harus disusun dari bawah". Apakah artinja ini? Ini berarti bahwa Front Nasional jang tulen jalah Front Nasionai jang dilahirkan oleh suatu program jang bisa mempersatukan dan membangkitkan aksi2 bersama dari berbagai golongan massa Rakjat. Ini berarti bahwa kaum Komunis harus bisa merumuskan tuntutan2 atau program jang mengenai kepentingan bersama dari berbagai golongan massa Rakjat, dan berdasarkan tuntutan² atau program itu mengadakan berbagai bentuk kerdjasama untuk melaksanakan aksi2 bersama dari berbagai kalangan massa Rakjat dan mengenai berbagai lapangan, seperti lapangan ckonomi, politik, kebudajaan, dsb.

Oleh karena itu, seperti halnja wudjud dari persekutu- an buruh dan tani tidak harus dilihat dari adanja bentuk organisasi jang formil, jang mempersatukan kaum buruh dan kaum tani, melainkan harus dilihat dari adanja gc- rakan dan aksi2 kaum tani jang terorganisasi, sebagai hasil dari pelaksanaan politik Partai Komunis mengenai kaum tani, jaitu sebagai hasil dari aktivitet kaum Komunis di- desa jang setjara politik dan organisasi memberikan pim- pinan kepada kaum tani, maka djuga wudjud daripad.a front persatuan nasional tidak per-tama2 harus dilihat dari adanja organisasi front persatuan nasional jang formil, jang mempunjai anggota2 perseorangan dari kaun buruh, tani, burdjuis nasional, dsb., mclainkan dari adanja gerakan Rakjat jang luas dari berbagai klas jang revolusioner, sebagai perwudjudan daripada perdjuangan melaksanakan-suatu program, atau bagian² dari program, jang meliputi kepentingan semua klas jang anti-imperialis untuk mentjapai kemerdekaan nasional jang penuh. Front nasional dalam bentuk orgapisasi biasanja lahir pada waktu meningkatnja perdjuangan nasional atau naiknja gelombang revolusi. Program Partai kita adalah program jang meliputi kepentingan massa Rakjat dari semua klas jang anti-impe- rialisme dan anti-feodalisme. Ia bisa dan harus kita pakai sebagai dasar untuk mengadakan kesatuan² aksi dari berbagai golongan massa Rakjat dan mengenai berbagai soal jang langsung menjangkut kepentingan massa Rakjat dan kepentingan nasional. Program Partai kita adalah Program jang seluruhnja atau bagian²nja bisa didjadikan dasar untuk mewudjudkan front persatuan nasional. Se- bab itu, Program Partai kita adalah sesungguhnja suatn program nasional, suatu program jang berisi tuntutan² jang meliputi kepentingan nasional. Sudah djelaslah kiranja bahwa satu elemen pokok jang bisa mendjadi semen persatuan dimana sadja dan di- waktu kapan sadja jalah: kesatuan dalam aksi mengenai soal2 jang langsung bersangkutan dengan kepentingan massa Rakjat. Oleh karena itu, sesudah kita mempunjai politik atau program jang tepat, maka djalan untuk mentjapai persatuan dari berbagai golongan massa Rakjat dan untuk mentjapai persatuan nasional, bukanlah per-tama2 men- tjarikan bagaimana bentuk organisasinja jang formil,

melainkan bagaimana mengemukakan politik atau prog- ram itu dengan kata2 dan tjara² jang bisa difahami oleh berbagai golongan massa Rakjat, dengan menghindari pemakian sembojan2 kosong serta sikap angkuh: ,teri- ma atau tidak!" Sikap sederhana dan rendah hati didalam mendjalankan politik front persatuan adalah sangat penting. Ter- hadap mereka jang mau bekerdjasama dengan kita, kita harus menundjukkan bahwa kita sungguh² mau beladjaı dari mereka, bahwa kita tidak mau memaksakan pen- dapat² kita kepada orang lain. Disatu fihak, kita harus pertjaja bahwa orang lain djuga bisa melakukan sesuatu seperti kita, tetapi, difihak lain, kita tidak boleh meng- harapkan orang lain sepenuhnja seperti kita. Kita harus mendidik diri kita untuk bisa bergaul dan bisa berunding dengan orang lain, dan disamping berusaha mendjadi teladan didalam kesetiaan mendjalankan putusan2 ber- sama, kita harus menghindari memonopoli semua kedu- dukan atau pekerdjaan didalam front persatuan. Untuk kesempurnaan tjara kerdja dalam mendjalankan politik front persatuan nasional, sangat pentinglah djika kita ingat dan kita djadikan pedoman dalam aktivitet kita se-hari2, apa jang dikatakan oleh Mau Tje-tung, sbb.: ,Dalam bekerdja untuk massa kita harus mulai dari kebutuhan² mercka, tidak dari keinginan² kita, bagai- manapun djuga baiknja. Ada kalanja terdjadi bahwa massa setjara objektif membutuhkan perbaikan, tetapi setjara subjektif belum sedar untuk itu dan belum bersedia atau belum bertekad untuk melaksanakan hal itu mendjadi kenjataan; dalam hal ini kita harus sabar menung- gu, dan melaksanakan perubahan itu, hanja djika, me- lalui pekerdjaan kita, kebanjakan daripada massa sudah mendjadi sedar akan kebutuhan itu dan bersedia serta bertekad untuk memulainja, sebab djika tidak demikian, kita sudah tentu akan mengisolasi diri kita sendiri dari massa.

Pokoknja, pertama, apa jang sungguh² diperlukan

oleh massa dan bukan apa jang kita duga diperlukan oleh mereka; dan kedua, apa jang massa bersedia dan bertekad untuk melakukannja, dan bukan apa jang kita bertekad untuk melaksanakannja atasnama mereka". 美荟美

Demikianlah, tulisan ini adalah suatu usaha jang kira- nja bisa membantu untuk lebih memahami apa jang di- maksudkan dengan taktik front persatuan nasional olch kaum Komunis, sebagai sendjata, baik untuk mentjapai Pemerintah Gotongrojong, maupun Pemerintah Demokrasi Rakjat, seperti jang dirumuskan dalam Program PKI dan berbunji sbb.: Hanja suatu front persatuan nasional jang dibentuk atas dasar persekutuan buruh dan tani, dipimpin oleh klas buruh, dan terbentuk sebagai hasil gerakan Rakjat jang se-luas2nja dan perdjuangan revolusioner daripada massa, akan memungkinkan Rakjat Indonesia mendirikan suatu Pemerintah Demokrasi Rakjat dan memimpin Rakjat menudju kemenangannja".

Rp. 35,—

Sampul ditjetak di P.L.R. — 608/62 - 10.000 ex. Isi ditjetak di Persatuan 522/62