UMBUL TLATAR
Sumber Air tidak Pernah Kering
82 R
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA
UMB UL TLATAR
Sumber Air tidak Pernah Kering
Diceritakan kembali oleh Mardiyanto
| I IIIII | ERPUSTAKAAN SAT BAHASA lD!PJmn~EN PENOIOIKAN NASIONAL | |
|---|---|---|
| 00002988 | PUSA T BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2006 |
UMBUL TLATAR Sumber Air tidak Pernah Kering
Diceritakan kembali oleh Mardiyanto
ISBN 979-685-588-7
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun, Jakarta Timur
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
lsi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah
KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT BAHASA
Sastra itu mengungkap kehidupan suatu masyarakat, masyarakat desa ataupun masyarakat kota. Sastra berbicara tentang persoalan hidup pedagang, petani, nelayan, guru, penari, penulis, wartawan, orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Sastra menceritakan kehidupan sehari-hari mereka dengan segala persoalan hubungan sesama, hubungan dengan alam, dan ataupun hubungan dengan Tuhan. Tidak hanya itu, sastra juga mengajarkan ilmu pengetahuan, agama, budi pekerti, persahabatan, kesetiakawanan, dan sebagainya. Melalui sastra, kita dapat mengetahui adat dan budi pekerti atau perilaku kelompok masyarakat. Sastra Indonesia menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia, baik di desa maupun di kota. Bahkan, kehidupan masyarakat Indonesia masa lalu pun dapat diketahui dari karya sastra pada masa lalu. Kita memiliki karya sastra masa lalu yang masih relevan dengan tata kehidupan sekarang. Oleh karena itu, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional meneliti karya sastra masa lalu, seperti dongeng dan cerita rakyat. Dongeng dan cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia ini diolah kembali menjadi cerita anak. Buku Umbul Tlatar: Sumber Air tidak Pernah Kering ini
bersumber pada terbitan Kepustakaan Kei, Bandung yang
berjudul Awan Wedus Gembel yang ditulis oleh Mardiyanto
iii
iv
dan Heru Sudarnoto. Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari membaca buku cerita ini karena buku ini memang untuk anak-anak, baik anak Indonesia maupun bukan anak Indonesia yang ingin mengetahui tentang Indonesia. Untuk itu, kepada pengolah kembali cerita ini saya sampaikan terima kasih. Semoga terbitan buku cerita seperti ini akan mem- perkaya pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu yang dapat dimanfaatkan dalam menyikapi perkembangan kehidupan masa kini dan masa depan.
Jakarta, 1 September 2006Dendy Sugono
UCAPAN TERIMA KASIH
Asal Mula Umbul Tlatar adalah merupakan cerita rakyat daerah Kabupaten Boyolali. Cerita tersebut termuat dalam kumpulan cerita rakyat yang berjudul Awan Wedus Gembel yang ditulis oleh Mardiyanto dan Heru Sudarnoto, terbitan Kepustakaan Kei, Bandung. Cerita ini diceritakan kembali dengan bahasa Indonesia yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Tujuan pencerita- an kembali cerita ini adalah untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak. Agar cerita lebih menarik dan dikenal oleh pembaca, judul cerita diubah menjadi Umbul Tlatar Sumber Air tidak Pernah Kering. Selamat menikmati buku ini. Mudah-mudahan, adik-adik memperoleh hiburan dan manfaat dari buku ini.
Penulis, Mardiyanto
V
DAFTAR ISI
Kata Pengantar Kepala Pusat Bahasa. iii
Ucapan Terima Kasih..
vi
1. Kademangan Catur Sari .. 1
2. Malapetaka Menimpa Kademangan Catur Sari ...
3. Ratu Adil..
4. Perjalanan Menuju Kayangan Si Pendok. 29
44
6. Terjadinya Umbul Tlatar. 52
7. Zaman Keemasan Kademangan Catur Sari. 56
V Daftar Isi... 5 17
Bagus Kencana Bertapa di Kayangan Si Pendk...
viKADEMANGAN CATUR SARI
Pada zaman dahulu di daerah Kabupaten Boyolali ada sebuah kademangan, yaitu Kademangan Catur Sari. Kademangan Catur Sari telah terkenal ke segenap penjuru mata angin sebagai daerah yang subur dan maju pertaniannya. Semua tanaman yang ditanam di daerah ini dapat tumbuh subur dan buahnya lebat. Sungai yang membelah daerah ini airnya tidak pernah surut sepanjang tahun. Sawah-sawah penduduk yang terletak di perbukitan semuanya tampak menghijau, Sawah-sawah itu bersaf-saf sehingga dari ke- jauhan tampak begitu indah. Penduduk Kademangan Catur Sari juga terkenal keru- kunannya, mereka tidak ada yang iri dan dengki terhadap satu sama lainnya. Hal itu disebabkan oleh taraf hidup mereka sejajar, tidak ada yang terlalu kaya dan tidak ada yang terlalu miskin. Mereka saling menghormati dan menjunjung tinggi sifat gotong-royong. Kehidupan di Kademangan ini aman tenteram dan damai, tidak ada pencuri. Hewan piaraan dilepas pagi-pagi dari kandang dan sore hari pulang ke kandang tidak ada yang hilang.
Kademangan Catur Sari ini dikelilingi oleh hutan yang sangat rindang. Pohon-pohon besar yang tumbuh di hutan itu di antaranya pohon randu alas, leses, serta pohon jati. Tanaman untuk obat-obatan pun ada, yaitu kunyit, jahe, cabe, temuireng, pathikan kebo, kumis kucing, dan brotowali. Berbagai macam binatang buas, binatang memamah biak, dan berbagai macam unggas terdapat di hutan lindung ini. Penduduk Kademangan Catur Sari mau menjaga kelestarian hutan. Mereka mengetahui bahwa hutan lindung dapat men cegah bencana banjir pada musim penghujan. Mereka juga mengetahui bahwa akar-akar pohon di hutan dapat menyerap dan menyimpan air hujan sehingga pada musim kemarau kawasan Kademangan Catur Sari tidak kekurangan air. Air sungai yang jernih terus mengalir sepanjang tahun dan sumur-sumur penduduk juga tidak pemah kering. Kademangan ini dipimpin oleh orang yang arif dan bijak sana, bemama Ki Demang Among Warga. la mempunyai se orang istri yang sangat setia bemama Nyi Demang Among Warga. Anak Ki Demang Among Warga dua orang, yang tua perempuan bemama Roro Priyanti dan adiknya laki-Iaki ber nama Bagus Priyanto. Dalam menjalankan pemerintahannya, Ki Demang Among Warga tidak membeda-bedakan rakyat nya. la tidak pilih kasih terhadap orang kaya ataupun orang miskin. Laki-Iaki dan perempuan mempunyai kedudukan sarna. Berkat kebijaksanaannya itu, Ki Demang Among Warga dicintai dan dihormati oleh rakyatnya. Ki Demang Among Warga ingin menjaga keseimbangan alam di Kademangan Catur Sari. la kemudian menyuruh pegawai Kademangan mengumpulkan warga. Setelah semua warga berkumpul di Kademangan, Ki Demang Among W arga mengumumkan peraturan yang harus ditaati oleh warganya,
yaitu larangan menebang pohon di hutan ataupun di pe- karangan melebihi kebutuhan yang diperlukan. Jika menebang sebuah pohon harus menanam pohon yang sejenis untuk mengganti pohon yang ditebang. Siapa pun yang me- langgar peraturan itu akan diberi sanksi dengan tegas. Selu- ruh penduduk Kademangan Catur Sari taat pada peraturan itu. Berkat ketaatan penduduk pada peraturan itu, Kademangan Catur Sari terhindar dari bencana álam, seperti banjir dan kekeringan. Sebagian besar penduduk Kademangan Catur Sari adalah petani. Hasil pertanian mereka adalah padi, jagung, dan palawija. Di samping itu ada pula yang berusaha di bidang peternakan sapi, kerbau, kambing, ayam, dan bebek. Hasil pertaniandan peternakan dapat mencukupi kebutuhan penduduk Kademangan Catur Sari. Bahkan, mereka dapat menjual hasil pertanian dan peternakan itu ke berbagai tempat, di antaranya ke Ngaglik, Sunggingan, dan Canggal.Setelah hasil dagangan mereka laku, mereka lalu membeli berbagai per- kakas rumah tangga, alat-alat pertanian, dan kebutuhan sehari-hari yang tidak dihasilkan di Kademangan Catur Sari. Banyak pedagang dari luar yang datang ke Kademangan Catur Sari untuk membeli hasil bumi dan petermakan. Selain itu, ada pula pedagang yang menjual perabot rumah tangga yang menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah. Warga setempat menamakan pedagang itu dengan sebutan mendring. Kebanyakan mendring itu berasal dari Pulau Jawa bagian barat. Pada masa pemerintahan Ki Demang Among Warga ini Kademangan Catur Sari mencapai zaman keemasan, warga- nya hidup berkecukupan dan kemakmuran merata.
Ki Demang Among Warga mengumumkan peraturan yang harus ditaati oleh warganya.
| 2. MALAPETAKA | |||
|---|---|---|---|
| mereka hormati. | MENI MPA KADEMANGAN CATUR SARl Kini Ki Demang Among Warga telah semakin tua dan kesehatannya telah menurun. Akhimya, Ki Demang Among Warga meninggal dunia. Seluruh penduduk Kademangan Catur Sari turut berduka. Bahkan, para pedagang dari luar Kademangan Catur Sari pun turut berkabung. Mereka mera sa kehilangan seorang pemimpin yang mereka cintai dan Kematian Ki Demang Among Warga cepat menyebar ke berbagai tempat. Banyak sahabat Ki Among Warga yang se dih dan mereka menyatakan ikut berduka cita. Berita duka tersebut akhirnya sampai di Desa Klatak Sari, ya kni sebuah desa ya ng dihuni oleh berbagai macam berandal/penjahat. Ki Angkara, yang memimpin para penjahat di desa itu, tidak se | ||
| dih. | la Warga itu. | bahkan | Ki Among sangat senang atas kematian "Kin; kesempatanku untuk merampok di Kademangan Catur Sari telah tiba," guman Ki Angkara setelah mendengar kematian Ki Among Warga. |
| Ki Angkara kemudian mengumpulkan seluruh berandal | |||
|---|---|---|---|
| jadi demang, Kala apa-apa karena Ki | Klathak Sari untuk merampok dan menguras seluruh kekaya an Kademangan Catur Sari. Pada malam harinya, Ki Angkara mengerahkan anak buahnya menuju ke Kademangan Catur Sari. Warga Kademangan Catur Sari tidak berdaya meng hadapi keberingasan para berandal pimpinan Ki Angkara. Ki Jagabaya, kepala keamanan Kademangan Catur Sari, tewas dikeroyok para berandal. Rakyat Kademangan Catur Sari ke takutan dan tidak memberikan perlawanan. Semua harta ben da yang diminta oleh berandal-berandal itu mereka berikan. Ki Angkara sangat senang karena telah berhasil meram pok di Kademangan Catur Sari. Namun, ia belum puas jika belum menguasai Kademangan Catur Sari, terutama hutan jati yang umumya sudah ratusan tahun. Untuk melaksanakan maksudnya itu, Ki Angkara mengangkat Kala Murka menjadi demang di Kademangan Catur Sari. Setelah diangkat men Murka semakin sombong dan tamak. Seluruh penduduk Kademangan Catur Sari tidak menyukai Ki Demang Kala Murka. Namun, mereka tidak dapat berbuat Demang Kala Murka mendapat perlin dungan para berandal pimpinan Ki Angkara. Ki Angkara dan anak buahnya mulai memperkenalkan permainan judi dan minuman keras di Kademangan Catur | ||
| Sari. | Para Sari. Para keras. | sinoman sinoman | 'muda-mudi' yang imannya tidak kuat banyak yang terjerumus ke dalam budaya yang disebarkan oleh para berandal itu. Kini tempat perjudian dan penjualan minuman keras tersebar di desa-desa Kademangan Catur tidak mau lagi memikirkan pembangunan tanah kelahirannya. Badan mereka menjadi rusak dan pikiran mereka menjadi tumpul karena mereka kebanyakan minuman |
Ki Demang Kala Murka memperkenalkan din sebagai demang baru di Kademangan Catur Sari
Ki Demang Kala Murka telah resmi diangkat menjadi demang di Kademangan Catur Sari. la kemudian mengada kan pertemuan dengan segenap warga Kademangan Catur Sari. Pertemuan itu dihadiri para pamong kademangan dan tokoh masyarakat. Maksud pertemuan itu adalah perkenalan Ki Demang Kala Murka dengan segenap warga Kademangan Catur Sari. Setelah semua warga hadir di kademangan, Ki Demang Kala Murka memulai pidatonya. "Bapak dan Ibu yang sa ya hormati, saya adalah de mang baru di sini. Nama saya Kala Murka. Dan, orang yang duduk di sebelah kiri saya ini adalah Ki Angkara ," kata Ki Demang Kala Murka seraya mempersilakan Ki Angkara ber diri, "B eliau inilah orang yang saya percaya dapat memba ngun Kademangan Catur Sari. " Ki Kala Murka diam. W arga Kademangan Catur Sari yang hadir da/ am pertemuan itu memperhatikan sosok laki laki yang baru diperkenalkan itu. Ki Kala Murka kemudian rne nyuruh Ki Angkara memperkenalkan diri. "Bapak dan Ibu yang saya hormati, tadi Ki Demang Kala Murka telah menyebutkan nama saya, yaitu Ki Angkara. Saya berasal dari Padhukuhan Klatak Sari. Saya merasa bangga dan bersyukur karena diperkenankan ikut rnembangun Kade mangan Catur Sari," kata Ki Angkara singkat lalu mempersila kan Ki Demang Kala Murka rnelanjutkan pidatonya. Ki Demang Kala Murka pun lalu rnemaparkan rencana nya dalam membangun Kademangan Catur Sari, "Bapak dan Ibu yang saya hormati, biaya untuk membangun wilayah kita ini tidak sedikit jumlahnya. Tetapi, kita tidak perlu khawatir karena wilayah Kademangan Catur Sari ini sangat kaya raya. Hanya saja kekayaan itu belurn pemah kita manfaatkan
dengan baik. Kita dapat memanfaatkan kekayaan alam yang kita miliki dengan cara membuat peraturan baru. Dan, mulai hari ini saya selaku penguasa di Kademangan Catur Sari mencabut peraturan lama yang melarang penebangan hutan. Sebaliknya, saya mengizinkan penebangan hutan untuk ke- pentingan umum." Para pamong Kademangan dan pemuka masyarakat diam terpaku mendengar keputusan Ki Demang Kala Murka tersebut. Di antara peserta pertemuan itu ada seorang tokoh masyarakat yang sangat peduli terhadap lingkungan hidup, dia bernama Ki Juru Pameling. Ki Juru Pameling tidak setuju pada rencana Ki Demang Kala Murka, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak karena ia kalah suara dan banyak mendapat tekanan dari pengikut Ki Angkara. Selesai pertemuan itu, Ki Juru Pameling pulang ke rumahnya dengan langkah gontai. Rumah Ki Juru Pameling tersebut terletak di tepi hutan, sebelah utara kali. Di kali itu terdapat sebuah belik 'sumber air yang airnya jernih dan tidak pernah kering pada musim kemarau. Ki Juru Pameling mempunyai seorang istri dan dua orang anak laki-laki. Anak yang tua bernama Bagus Sulendra telah menikah dengan Rara Priyanti, putri sulung almarhum Ki Demang Among Warga. Adik Bagus Sulendra masih perjaka bernama Bagus Kencana. la kini masih nyantrik 'menuntut ilmu' pada Bagawan Biyasa di pertapaan Gunung Pitu. Pada suatu malam, Ki Juru Pameling tidak dapat tidur karena memikirkan nasib Kademangan Catur Sari. la kemudi- an membuka buku primbon Katurangganing Manungsa 'sebuah buku kuno yang berisi tentang perwatakan manusia'.
"Aduh celaka. Ki Demang Kala Murka telah dipengaruhi oleh Ki Angkara. Di kademangan ini pasti akan te~ad i mala petaka besar karena primbon ini menjelaskan bahwa Ki Angkara orang yang tidak baik. la orang yang berwatak berangasan 'suka marah', ringan tangan, suka iri dan dengki, suka menipu, dan memeras orang. Selain itu, Ki Angkara suka memfitnah serta suka melakukan kejahatan dengan ke jam," kata Ki Juru Pameling dalam hati. Ki Juru Pameling tidak dapat berbuat apa-apa. la berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar anaknya, Bagus Kencana, terus menuntut ilmu untuk kepentingan Kademang an Catur Sari. Ki Juru Pameling akhimya tertidur. Janji Ki Angkara untuk memajukan Kademangan Catur Sari hanyalah janji yang diucapkan oleh seorang be randal 'penjahaf. Janji Ki Angkara tidak akan pemah terwujud kare na ia sebenamya hanya ingin mengeruk kekayaan Kade mangan Catur Sari. la tidak punya niat untuk memajukan Kademangan Catur Sari. Sebaliknya, ia ingin menghancurkan Kademangan Catur Sari. Ki Angkara tidak segan-segan memimpin anak buahnya untuk menebangi hutan lindung Kademangan Catur Sari. "Para kadang berandal, semua kayu jati dan kayu yang berharga lainnya harus kalian tebang. Kalian harus tahu saat ini adalah sedang musim panen tembakau di desa Sela, Tlagaiele, Jrakah, dan daerah lainnya. Para petani tembakau itu pasti akan membeli kayu jati dalam jumlah banyak," kata Ki Angkara di tengah hutan jati. "Beres, Juragan," jawab anak buah Ki Angkara seren tak. PERPUSTAKAAN
PUSAT BAHASA
OEP RTEMEN PENnrOIKAN NASIONAL
Dalam beberapa hari saja anak buah Ki Angkara ber- hasil menebang lima hektar hutan jati. Glondongan-glondongan 'batangan-batangan' kayu jati tersebut kemudian dipisah- pisahkan, yang besar disatukan dengan yang besar, yang kecil disatukan dengan yang kecil, sedangkan rencek 'ranting kecil' dijadikan kayu bakar. Glondongan-glondongan kayu jati itu kemudian langsung digergaji di situ untuk dibuat tiang, papan, kaso 'usuk', dan reng. Ki Angkara senyum-senyum karena semua kayu jati telah digergaji. la membayangkan akan mendapatkan uang berjuta-juta rupiah. "Tugas kalian sekarang adalah membawa kayu ini ke kota. Agar perjalanan kalian cepat, pergunakanlah gerobak sapi," perintah Ki Angkara. Anak buah Ki Angkara tidak ada yang berani menolak perintah itu. Mereka segera menaikkan kayu-kayuyang telah digergaji itu ke atas gerobak untuk diangkut ke kota. Kayu Jati yang berasal dari Kademangan Catur Sari ini cepat laku karena mutunya sangat baik. Telah ribuan gerobak kayu jati diangkut ke kota. Ki Angkara pun menjadi orang yang kaya raya. Setiap pulang dari menjual kayu di kota Ki Angkara membawa oleh-oleh untuk Ki Demang Kala Murka, dan tidak lupa ia memberikan upeti be- rupa uang dan emas. Lama-kelamaan Ki Demang Kala Murka pun menjadi kaya raya pula. Pada suatu hari Ki Angkara memimpin anak buahnya untuk membabat hutan di bukit-bukit yang terletak di sebelah utara kota Kademangan Catur Sari.
"Anak buahku pasti tidak akan kelaparan karena sungai yang mengalir di bukit ini banyak ikannya. Keindahan pe mandangan bebukitan ini akan segera sirna jika bukit-bukit di sini telah aku gunduli. Sebenarnya, aku merasa sayang ..., te tapi aku ingin mengumpulkan kekayaan yang melimpah ruah," guman Ki Angkara ketika ia dud uk di bawah sebuah pohon rindang. Kesejukan udara di bukit-bukit itu membuat Ki Angkara menjadi ngantuk. la kemudian tertidur di situ. Ketika matahari mulai condong ke barat, ia terbangun. Untuk menyegarkan tubuhnya, ia menuju ke belik 'sumber air' yang tidak jauh dari tempat itu. Pada waktu sedang berendam di air, ia melihat benda kemerahan di antara bebatuan. Benda kemerahan itu kemudian diambil dan digosok-gosok sehingga benda itu me mancarkan sinar. nOh, ini adalah merah delima dan harganya sangat mahal. Aku bakal menjadi orang yang paling kaya di muka bumi ini,N teriak Ki Angkara kegirangan. Ki Angkara mengambil galah dan dicakar-cakarnya ta nah di sekitar belik itu. la semakin terkejut karena tanah di situ mengandung emas. "Hem, memang benar-benar melimpah ruah kekayaan burni Kademangan Catur Sari ini. SeJain tanahnya subur, juga terdapat tambang emas dan batu pennata," kembali Ki Ang kara berteriak kegirangan. Anak buah Ki Angkara heran melihat majikannya ber teriak kegirangan sendiri. Mereka kemudian menuju ke belik tempat mandi Ki Angkara. Ki Angkara kemudian menjelaskan kepada anak buahnya bahwa daerah ini terdapat tam bang emas dan batu permata.
"Mulai hari ini kalian kuperintahkan menjaga tempat ini. Siapa pun tidak boleh masuk ke tempat ini tanpa seizinku," perintah Ki Angkara kepada anak buahnya. Han itu juga Ki Angkara menghadap Ki Demang Kala Murka untuk melaporkan temuannya. Ketika itu Ki Demang Kala Murka sedang duduk di pendapa. "Ki Angkara, malam-malam begini ada perlu apa?" sapa Ki Demang Kala Murka kepada Ki Angkara. "Ki Demang Kala Murka, saya menemukan tambang emas dan permata di lereng bukit sana," kata Ki Angkara sambil menunjuk bukit sebelah utara kota Kademangan Catur Sari, "Dan, kalau diperkenankan saya akan menambangnya." "Boleh saja, emas dan permata itu engkau gali. Asalkan dua pertiga bagian menjadi milikku," jawab Ki Demang Kala Murka. "Baiklah, saya ikut pada keputusan Ki Demang saja. Namun, para penambang akan menggunakan cara saya sen- din." "Bagaimana caranya?" tanya Ki Demang Kala Murka, "Membakar hutan adalah pilihan yang tepat. Biayanya murah dan hasilnya cepat," jawab Ki Angkara. "Apakah rakyatku tidak akan curiga?" "Ki Demang Kala Murka hendaknya jangan memikirkan hal itu. Cara kerjaku rapi dan semuanya pasti beres," jawab Ki Angkara mantap. Di alun-alun Kademangan Catur Sari akan diadakan pesta syukuran atas keberhasilan panen padi di awal musim kemarau. Pesta kali ini diadakan secara besar-besaran dan biayanya ditanggung oleh Si Raja Kayu, Ki Angkara. Segala
macam pertunjukan digelar dan dipusatkan di alun-alun. Pada siang hari dipertunjukkan kesenian Jathilan Kramaleya, jaran kepang, penthul tembem, dan reyog. Pada malam hari digelar kesenian wayang kulit semalam suntuk, kethoprak, ludruk dari Brang Wetan, dan tayuban. Di tempat keramaian tersebut disediakan nasi liwet, nasi uduk, nasi lenggi serta lauknya berupa ayam panggang, kam- bing guling, empal sapi dan kerbau, dan telur rebus. Di sam- ping itu juga disediakan berbagai macam jajanan, yaitu jadah, wajik, lemper, carabikan, dan geplak. Minuman yang disajikan pada malam hari berupa arak, tuak, dan ciu. Semua makanan dan minuman itu disediakan secara gratis. Malam itu para pemuda dan pemudi makan dan minum sepuas-puasnya sehingga mereka menjadi mabuk dan lupa diri. Semua penduduk Kademangan Catur Sari telah larut dalam pesta kesenangan itu. Orang-orang kepercayaan Ki Ang- kara secara diam-diam menuju ke hutan dengan membawa obor. Di hutan telah disiapkan tumpukan-tumpukan daun kering di berbagai tempat. Orang-orang kepercayaan Ki Ang- kara kemudian melemparkan obor mereka ke tumpukan-tumpukan daun kering itu. Dalam waktu yang tidak lama, tumpukan-tumpukan daun kering itu terbakar sehingga api menjadi besar. Hutan lindung di sebelah utara kota Kademangan Catur Sari pun mulai terbakar. Penduduk Kademangan Catur Sari tidak tahu bahwa hutan lindung mereka mulai terbakar. Mereka masih terus menikmati pesta pora di alun-alun sam- pai pagi. Pagi harinya, seluruh penduduk Kademangan Catur Sari masih mengantuk. Bahkan, para pemuda dan pemudi kepala-
nya masih pusing karena mereka kebanyakan minum ciu, tu ak, dan arak. Oleh karena itu, mereka sama sekali tidak mempedulikan hutan lindung mereka yang terbakar. Dalam wa ktu yang singkat, api merambah ke berbagai bukit hutan lindung sehingga api tidak dapat dikuasai lagi. Berbagai po hon besar dan tinggi kini mulai tumbang dilalap api dan akhir nya rata dengan tanah. Binatang penghuni hutan lari tak menentu arahnya un tuk menyelamatkan diri. Akan tetapi, sebagian besar dari binatang-binatang itu te ~eba k api dan terpanggang hidup hidup sehingga mati. Hanya sebagian kecil saja binatang yang dapat menyelamatkan diri. Ada kisah yang sangat memilukan hati, yaitu seekor kera betin'a yang tubuhnya penuh dengan luka bakar. Kera betina itu menggendong anaknya yang masih kecil menuju ke perkampungan penduduk. Setelah bertemu dengan seorang penduduk, kera betina itu lalu menyerahkan anaknya. Tidak lama kemudian, kera betina itu mati karena luka bakar di tubuhnya sangat parah. Orang itu merasa trenyuh 'iba' dan meneteskan air matanya. Hutan lindung di bukit-bukit itu telah musnalh terbakar. Tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di situ. Bukit-bukit itu dahulu hijau dan udaranya sejuk. Kini bukit-bukit itu berwama hitam dan udaranya menyengat, bau bangkai binatang yang terpanggang. Air su ngai dan telaga pun berbau busuk karena banyak ikan-ikan ya ng mati mengambang di situ. Penduduk Kademangan Catur Sari langsung menerima dampaknya. Mereka banyak menderita sesak napas karena gangguan asap tersebut.· Asap tersebut terbawa angin hingga ke
wilayah-wilayah lain. Akhirnya, asap tersebut sampai ke ibukota kerajaan. Orang yang dapat tertawa atas terjadinya malapetaka itu adalah Ki Angkara dan Ki Demang Kala Murka. Mereka dengan mudah dapat mengambil isi perut bumi Kademangan Catur Sari. Berkarung-karung emas dan batu permata yang indah berhasil mereka keruk. Setelah merdapatkan emas dan batu permata yang tidak termilai harganya itu Ki Angkara dan Ki Demang Kala Murka meninggalkan Kademangan Catur Sari secara diam-diam. Mereka melarikan diri ke tem- pat yang jauh.
3. RATU ADIL
Berita kebakaran hutan lindung di Kademangan Catur Sari yang mengerikan itu telah menyebar ke berbagai daerah Tanah Jawa. Bagawan Biyasa di pertapaan Gunung Pitu telah mendengar be rita itu dari seorang sahabatnya yang kebetulan singgah di pertapaan. Bagawan Biyasa ikut prihatin atas musibah kebakaran itu. la berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar rakyat Kademangan Catur Sari tabah me nerima cobaan itu. Pada sa at itu para cantrik 'murid' di pertapaan Gunung Pitu baru saja selesai mempersiapkan perJengkapan untuk acara pendadaran 'ujian'. Salah satu cantrik yang lulus dalam pendadaran itu bemama Bagus Ke ncana, pemuda dan Ka demangan Catur Sari, anak Ki Juru Pameling. Bagus Kencana meru pakan lulusan terbaik di antara 40 cantrik yang akan diwisuda. Hari wisuda itu pun tiba. Keempat puluh cantrik yang akan diwisuda itu diarak ke sebuah sendang 'telaga kecil'
yang letaknya tidak jauh dari pertapaan Gunung Pitu. Selama upacara wisuda, semua cantrik harus merendam tubuhnya dalam sendang itu. Bagawan Biyasa duduk pada watu leter 'batu datar' sambil memberikan nasihat kepada para cantrik. "Anak-anakku, Kalian telah selesai menuntut ilmu di pertapaan ini. Semua ilmuku telah kalian kuasai. Oleh karena itu, semua ilmu yang telah kalian kuasai itu harus dipergunakan dan diamalkan untuk kebaikan. Jika tidak kalianı gunakan dan amalkan ilmu kalian tidak ada gunanya," kata Bagawan Biyasa sambil memandangi para cantrik. Para cantrik diam. Mereka terus mendengarkan nasihat Bagawan Biyasa. Bagawan Biyasa pun lalu melanjutkan petuahnya. "Anak-anakku. Janganlah kalian merasa paling pandai meski telah menguasai berbagai ilmu. Tetaplah kalian rendah hati, tidak menyombongkan diri. Gunakanlah ilmumu untuk hal-hal yang bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan negara. Jangan sekali-sekali ilmu yang kalian miliki itu kalian pergunakan untuk kepentingan pribadi. Ilmu yang kalian miliki harus kalian pergunakan untuk kepentingan masyarakat." Para cantrik dengan khikmad terus mendengarkan ama- nat yang disampaikan oleh guru junjungannya itu. "Sebelum kalian pulang ke tempat kalian masing- masing, kalian harus mengucapkan sumpah di hadapanku. Apakah kalian sanggup? “tanya Bagawan Biyasa kepada para cantrik. "Baik, Guru!" jawab para cantrik serentak. Selanjutnya para cantrik mengucapkan sumpah di hadapan Bagawan Biyasa bersama-sama. Bunyi sumpah itu sebagai berikut.
(1) "Aku bersumpah dengan disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Esa bahwa aku akan mengamalkan semua ilmu yang aku pelajan" di Pertapaan Gunung Pitu untuk kepentingan nusa, bangsa, dan negara".
(2) "Aku bersumpah dengan disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Esa bahwa aku tidak akan menyalah gunakan i1mu yang aku pelajan" di Pertapaan Gunung Pitu untuk kepentingan pn"badiku dengan menyengsarakan pihak lain".
(3) "Aku bersumpah dengan disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Esa bahwa aku akan selalu berjalan pada jalan yang utama dan benar". Begitulah sumpah yang diucapkan aleh para cantn"k di
hadapan Bagawan Biyasa. Setelah selesai mengucapkan sumpah tersebut para cantrik kembali ke asrama. Para cantrik yang akan kembali ke desa masing-masing tersebut menghadap Bagawan Biyasa satu per satu. Mereka ingin berpamitan serta mahan daa re stu kepada Bagawan Biyasa. Satu per satu para cantrik menghadap Bagawan Biyasa. Akh imya, giliran Bagus Kencana lulusan terbaik di antara 40 orang cantrik menghadap Bagawan Biyasa. "Anakku, Bagus Kencana. Majulah ke hadapanku," pe rintah Bagawan Biyasa. "Baiklah Guru," jawab Bagus Kencana seraya maju dan duduk di hadapan Bagawan Biyasa. "Bagus Kencana, saat ini Kademangan Catur Sari se dang tertimpa bencana. Hutan lindung Kademangan Catur Sari musnah terbakar. Oleh karena itu, engkau harus segera
kembali ke desamu. Amalkan semua ilmu yang engkau pelajari di Pertapaan Gunung Pitu. Bangunlah desamu dari puing-puing kehancuran," kata Bagawan Biyasa sambil me- megang pundak Bagus Kencana, "Cepatlah engkau pulang. Tenagamu sangat dibutuhkan." "Baiklah Guru," jawab Bagus Kencana, "Tapi, hamba mohon petunjuk bagaimana caranya agar hamba dapat mem- bangun Kademangan Catur Sari itu dengan baik dan benar?" "Bagus Kencana, engkau telah aku ajari berbagai macam ilmu, di antaranya ilmu pertanian, ilmu palintangan 'perbintangan', ilmu pengobatan, ilmu beladiri, dan ilmu olah batin. Dan, engkau jangan ragu-ragu dalam mengamalkan ilmumu itu," kata Bagawan Biyasa. "Baiklah Guru," kata Bagus Kencana seraya menyem- bah dan mohon doa restu. Bagus Kencana pun kemudian turun dari Padepokan Gunung Pitu. la berjalan melalui jalan setapak dengan berlari- lari kecil. la ingin cepat sampai di Kademangan Catur Sari. Masyarakat Kademangan Catur Sari masih menang- gung duka karena hampir semua tempat porak-poranda. Mereka kehilangan segalanya, semua kekayaan alam telah dibawa lari oleh Ki Angkara dan Ki Demang Kala Murka ke Negeri Antah Berantah. Semua hutan lindung pun musnah terbakar. Satu-satunya tempat yang terhindar dari kebakaran adalah pekarangan Ki Juru Pameling. Api tidak dapat mene- robos ke tempat tersebut karena terhalang sebuah sungai yang cukup lebar dan airnya deras. Sang Pencipta Alam rupanya masih melindungi Ki Juru Pameling. Angin tidak mengarah ke pekarangan dan rumah Ki Juru Pameling se-
hingga tempat itu terhindar dari polusi asap. Banyak pen duduk Kademangan Catur Sari yang beriindung yang me ngungsi ke tempat Ki Juru Pameling. Ki Juru Pameling didesak oleh masyarakat Kade mangan Catur Sari supaya menjalankan urusan pemerin tahan karena Ki Demang Kala Murka telah melarikan diri ber sama Ki Angkara. Apabila keadaan telah normal kembali akan diadakan pemilihan demang baru sesuai dengan ke inginan masyarakat. Ki Juru Pameling tidak dapat menolak tugas yang dibebankan oleh masyarakat Kademangan Catur Sari. la segera berupaya mengatur Kademangan Catur Sari agar keadaan normal kembali. Ki Juru Pamel ing mengumpulkan warga masyarakat Ka demangan Catur Sari di halaman rumahnya untuk diberi pe tunjuk seperlunya. "Saudara-Saudara, saya sangat prihatin dengan musi bah ini. Semoga musibah ini dapat kita ambil hikmahnya. Jangan sampai peristiwa seperti ini terulang lagi pada masa yang akan datang," kata Ki Juru Pameling memulai pidato nya, "Ketika mulai te~adi kebakaran hutan, kita terlena oleh tontonan di al un-alun. Banyak sinoman 'muda-mudi' mabuk karena kebanyakan minuman keras sehingga mereka ke hilangan kewaspadaan. Akibatnya, api yang membakar hutan Iindung Kademangan Catur Sari itu cepat menjalar ke mana mana dan tidak dapat kita padamkan. Musibah yang me nyedihkan ini tidak akan terjadi jika kita waspada dan muda mudi .tidak mabuk-mabukan." Ki Juru Pameling diam sejenak. Para warga meng anggukkan kepalanya karena yang dikatakan Ki Juru -Pame ling itu memang benar.
..
----
Bagus Kencana berpamitan kepada Bagawan Biyasa.
"Kita tidak perlu mencari siapa yang patut kita salahkan. Kita telah tahu bahwa yang menjadi biang keladi kebakaran hutan lindung ini adalah Ki Angkara dan Ki Demang Kala Murka. Mereka telah melarikan diri ke Negeri Antah Beran- tah," lanjut Ki Juru Pameling. "Benar, Ki Juru. Daripada mencari orang yang tidak ke- tahuan ujung pangkalnya, lebih baik kita pikirkan pembangunan Kademangan Catur Sari saja," kata salah seorang ber- nama Bero, pedagang kayu jati yang sukses. "Benar, benar. Apa yang dikatakan Kakang Bero me- mang benar," timpal Kenthit, Sarbani, Penthung, dan Tekho. "Baiklah Saudara-Saudara, marilah kita mempersiapkan diri untuk memulai pembangunan Kademangan Catur Sari," kata Ki Juru Pameling bersemangat, "Kita mendapat tenaga baru. Ini anakku Bagus Kencana yang telah selesai menuntut ilmu di Pertapaan Gunung Pitu," kata Ki Juru Pameling seraya menyuruh anaknya berdiri, "la ingin mendarma- baktikan kepandaiannya untuk membangun kembali Kademangan Catur Sari. Aku mohon semua warga Kademangan Catur Sari mau bergotong-royong, bekerja bakti membangun tanah tumpah darah kita." Hari-hari selanjutnya, Bagus Kencana beserta seluruh penduduk Kademangan Catur Sari bahu-membahu membersihkan puing-puing kebakaran di hutan lindung. Para pemu- da, di antaranya Kenthit, Sarbani, Marmo, Ompong, dan Ripin bekerja bakti membersihkan sisa kebakaran di hutan lindung. Para pemudi yang bertugas di dapur umum di rumah Mbah Wiryo Suwito, di antaranya adalah Mulyani, Karni, Pariyem, Atun, Yani, dan Harmini.
Bagus Kencana dan pemuda-pemuda Kademangan Catur Sari mengamati sisa-sisa kebakaran di hutan lindung. Mereka sedih karena bukit-bukit yang dahulu menghijau kini telah hangus terbakar. Tidak ada lagi sisi-sisa kehidupan di hutan lindung itu. Semua pepohonan telah rata dengan tanah dan sepanjang mata memandang hanya tampak warna hitam. "Kebakaran hutan lindung ini begitu mengerikan," kata Bagus Kencana membuka percakapan sambil terus berjalan bersama pemuda-pemuda Kademangan Catur Sari. "Va, benar. Seperti kiamat," sahut pemuda Hastoko yang berjalan di belakang Bagus Kencana. Bagus Kencana dan para pemuda terus berjalan me nyusuri bukit-bukit yang telah hangus terbakar itu. Mereka kemudian istirahat duduk di batu-batu datar mengelilingi Sagus Kencana. "Sangkai-bangkai binatang yang terpang gang ini baunya sangat menyengat. Oleh karena itu, kita harus cepat-cepat mengubur bangkai-bangkai itu agar wabah penyakit kolera dan penyakit kulit tidak menyerang Kadema ngan Catur Sari," kata Bagus Kencana. "Ya, kita memang harus cepat-cepat mengubur bangkai bangkai yang berserakan di bukit-bukit yang telah terbakar ini," kata Kepi!.. Bagus Kencana melanjutkan perkataannya, "Kita harus selalu waspada akan adanya bahaya banjir dan tanah longsor jika musim penghujan tiba nanti." "Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Hastoko. "Pekerjaan yang harus segera kita lakukan adalah me ngubur bangkai-bangkai yang telah membusuk itu. Setelah
pekerjaan itu selesai barulah kita mencari bibit-bibit tanaman keras untuk menghijaukan bukit-bukit ini lagi." Para pemuda yang dipimpin oleh Bagus Kencana itu pun segera mulai giat bekerja. Sebagian menggali lubang dan sebagian mengumpulkan bangkai yang berserakan itu untuk dikubur. Dalam beberapa hari saja seluruh bangkai yang berserakan di hutan lindung yang terletak di sebelah utara kota Kademangan Catur Sari itu selesai. Tampaknya keberuntungan masih belum berpihak ke- pada penduduk Kademangan Catur Sari. Pada musim peng- hujan kali ini terjadi hujan yang sangat lebat disertai dengan badai yang dahsyat sehingga terjadi banjir dan tanah longsor. Untunglah banjir dan tanah longsor itu tidak langsung me- nyerang perkampungan penduduk. Akan tetapi, banjir dan tanah longsor itu menimpa sumber air utama di lereng sebelah barat bukit, satu-satunya sumber air yang dipergunakan untuk mengairi persawahan penduduk Kademangan Catur Sari. Pada waktu musim kemarau tiba banyak sumur penduduk yang aimya mengering dan sungai-sungai pun airnya kecil, tidak dapat untuk mengairi sawah-sawah penduduk sehingga mereka tidak dapat menanam padi seperti biasanya. Kemakmuran penduduk Kademangan Catur Sari pun se- makin merosot, hasil pertanian hanya cukup untuk dimakan sendiri. Penduduk di luar Kademangan Catur Sari yang biasanya menggantungkan beras dari Kademangan Catur Sari juga ikut kelabakan. Mereka tidak dapat lagi membeli beras dari Kademangan Catur Sari sehingga mereka terpaksa ma- kan thiwul dan grontol.
Malapetaka kebakaran hutan itu telah beberapa tahun berialu, tetapi dampak kebakaran hutan itu belum juga ber lalu. ,.Jika musim kemarau tiba, penduduk Kademangan Catur Sari yang sebagian besar petani dan petemak itu semakin ke sulitan. Terutama mereka sulit mendapatkan air untuk kepentingan pertanian, peternakan, ataupun untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ki Juru Pameling ingin mengatasi hal itu. Oleh karena itu, ia mengadakan pertemuan dengan pung gawa Kademangan dan tokoh-tokoh masyarakat serta para cerdik cendekia untuk membicarakan masalah itu. Ajakan Ki Juru Pameling tersebut mendapat tanggapan baik dari para punggawa Kademangan, para tokoh masyarakat serta para cerdik cendekia. Mereka kemudian berkumpul di rumah Ki Juru Pameling. "Saya sangat senang Saudara-Saudara mau hadir dalam pertemuan ini untuk membicarakan masalah kekering an yang sedang melanda Kademangan Catur Sari. 8agai mana cara terbaik mengatasi kekeringan ini?" tanya Ki Juru Pameling kepada hadirin. Para punggawa, para tokoh masyarakat, serta para cer dik cendekia diam. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba ada seorang tokoh masyarakat yang mengusulkan membuat sumur-sumur di sawah-sawah. "Ya, sebuah usulan yang baik dan masuk akal,u kata Ki Juru Pameling, "Apakah saudara-saudara setuju usulan itu." Peserta sidang menyetujui usalan tersebut dan mereka akan bergotong-royong membuat sumur di sawah-sawah untuk mengairi sawah. Akhirnya, beberapa buah sumur ber hasil mereka gali, tetapi aimya tidak banyak sehingga tidak
dapat dipakai untuk mengairi sawah. Pembuatan sumur ter- sebut boleh dikatakan sia-sia saja, tidak ada hasilnya. Pemerintahan Kademangan Catur Sari mulai khawatir akan adanya bahaya kelaparan karena persediaan beras me- nipis. Tanaman padi penduduk Kademangan Catur Sari pun banyak yang gagal. Musim kemarau tahun ini sangat pan- jang, telah sembilan bulan lebih belum turun hujan. Jika tidak ditemukan sumber air baru, kekeringan ini akan terus ber- lanjut dari tahun ke tahun. Percobaan untuk menghijaukan kembali hutan-hutan yang terbakar juga belum memperoleh hasil apa-apa. Banyak pohon-pohon yang ditanam itu menjadi layu dan mati pada waktu musim kemarau. Bagus Kencana sangat sedih memikirkan penderitaan rakyat Kademangan Catur Sari. la ingin memecahkan masalah pelik ini. "Ayah," kata Bagus Kencana ketika menghadap ayah- nya. "Ada apa, Anakku? Malam-malam begini engkau ke- lihatan gelisah" tanya Ki Juru Pameling kepada anaknya. "Begini, Ayah. Saya ingin merngajukan usul ..." Belum selesai Bagus Kencana berbicara Ki Juru Pameling memotong, "Saat ini ayahmu sudah kehabisan akal. Kalau engkau mempunyai usul dan saran untuk me- ngatasi kekeringan di wilayah kita, ayah akan sangat senang."
"Ketika saya nyantrik 'berguru' di Pertapaan Gunung
Pitu, Bagawan Biyasa mengajari berbagai macam ilmu, baik ilmu duniawi maupun ilmu-ilmu gaib," kata Bagus Kencana lalu diam.
"Teruskan perkataanmu, siapa tahu engkau dapat memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi semua orang Kademangan Catur Sari ini," perintah Ki Juru Pameling. "Ayah, sebenamya saya ingin minta izin. Saya akan ber tapa di Kayangan Si Pendok untuk memohon kemurahan Sang Pencipta Alam agar Kademangan Catur Sari segera diberi air yang melimpah," kata Bagus Kencana mantap. Ki Juru Pameling sangat bangga kepada anaknya, Bagus Kencana. la merasa tidak sia-sia mengirimkan anak nya berguru kepada Bagawan Biyasa di Pertapaan Gunung Pitu. "Baiklah, Anakku, ayah tidak keberatan engkau akan bertapa di Kayangan Si Pendok. Ayah tidak tega engkau berangkat send irian Ke Kayangan Si Pendok. Cipta Gareng dan Jiyo akan menemanimu dan akan membantumu dalam pe~alananmu," kata Ki Juru Pameling. Bagus Kencana kegirangan karena ayahnya mengizin kan ia bertapa di Kayangan Si Pendok, "Terima kasih, Ayah mengizinkan saya bertapa di Kayangan Si Pendok. Saya sangat senang ditemani Kakang Cipta Gareng yang kepala nya benjol dan Kakang Giyo yang tinggi kurus," kata Bagus Kencana. Sekarang sudah larut malam. Tidurlah anakku agar esok tidak capai," perintah Juru Pameling kepada anaknya. Bagus Kecana pun segera masuk ke senthong 'kamar' untuk beristirahat.
- PERJALANAN
MENUJU KAYANGAN SI PENDOK
Sebelum berangkat ke Kayangan Si Pendok, Bagus Kencana meneliti kembali bekal dan peralatan yang akan dibawa. Alat yang dibawa oleh Bagus Kencana itu di antara- nya adalah tali untuk memanjat tebing dan pedang untuk membabat semak-semak yang mengganggu jalan. "Kang Jiyo, apakah sampeyan 'engkau' sudah minta izin kepada ayahmu, Pak De Jiman," tanya Bagus Kencana. "Sudah, sudah ... Saya malah diberi bekal satu karung," jawab Jiyo sambil tertawa." "Apakah Kang Cipta Gareng juga sudah minta izin pada
Bibi Atun?" tanya Bagus Kencana kepada Cipta Gareng.
"Sudah, biyung ibu' saya malah memberi bekal ba- nyak," kata Cipta Gareng seraya menunjuk bawang bawaan- nya. Nyai Juru Pameling telah mempersiapkan sarapan pagi. la kemudian memanggil Ki Juru Pameling, Bagus Kencana,
Cipta Gareng, dan Jiyo. Mereka kemudian menuju ke ruang makan untuk makan bersama. Setelah selesai makan Bagus Kencana berpamitan ke pada ayah dan ibunya seraya katanya, "Ayah dan Ibu, kami bertiga mohon pamit dan mohon doa restu." "Saya juga mohon pamit," kata Cipta Gareng dan Jiyo berbarengan. Ki Juru Pameling dan Nyai Juru Pameling agak berat juga melepas kepergian anaknya itu. Mereka lama ter diam. Kemudian Ki Juru Pameling berkata, ''Va, aku restui ke berangkatan kalian. Hati-hatilah di jalan." "Ibu juga merestui keberangkatan kalian," kata Nyi Juru Pameling. Pagi itu Bagus Kencana, Cipta Gareng. dan Jiyo me ninggalkan Kademangan Catur Sari menuju ke Kayangan Si Pendok. Mereka menyusuri jalan-jalan desa yang tanahnya merekah dan berdebu. Kemudian, mereka melewati pema tang sawah yang sedang dilanda kekeringan. Setelah itu, mereka mendaki bukit-bukit te~al yang terbakar beberapa tahun lalu. Pada waktu itu Bagus Kencana mengenakan baju lurik coklat, sarung kotak-kotak, dan iket wu lung. Cipta Gareng memakai baju lurik juga dan sarungnya batik, sedangkan Jiyo memakai baju lurik dan celana hitam model hancinco. "Bukit-bukit ini ternyata masih gundul," guman Bagus Kencana. "Ya, penghijauan yang pemah kita lakukan dulu gagal total karena kemarau berkepanjangan. Pohon-pohon yang kita tanam semuanya mati," kata Cipta Gareng.
Jiyo merasa telah capai. la kemudian bertanya kepada Bagus Kencana, "Adik, Bagus Kencana. Berapa hari kita sampai di Kayangan Si Pendok?" "Tidak lama Kakang Jiyo. Tujuh hari tujuh malam kita akan sampai di Kayangan Si Pendok," jawab Bagus Ken- cono. "Wah! Ternyata letak Kayangan Si Pendok itu jauh juga, ya," kata Jiyo, "Di mana sebenarnya letak Kayangan Si Pendok itu." "Letaknya di gunung itu," jawab Bagus Kencana seraya menunjuk Gunung Merbabu. Ketiga pemuda itu terus berjalan naik turun bukit, naik turun jurang. Setelah menempuh perjalanan setengah hari, mereka sampai di luar daerah Kademangan Catur Sari. Mereka hendak beristirahat di tempat yang teduh. Namun, mereka tidak menemukan pepohonan yang rindang karena kekeringan juga melanda di daerah ini. Akhimya, mereka beristirahat di sebuah gua yang dekat jurang. "Kang Jiyo," Cipta Gareng membuka percakapan, "Ternyata kekeringan ini tidak hanya melanda Kademangan Catur Sari. Semua daerah yang telah kita lalui semuanya juga dilanda kekeringan." "Tentu saja. Musim kemarau tidak terjadi di Kademangan Catur Sari karena seluruh Tanah Jawa saat ini sedang musim kemarau." Bagus Kencana kemudian mengajak Cipta Gareng dan Jiyo minum serbat yang diletakkan di dalam bumbung. Cipta Gareng dan Jiyo pun kemudian merigambil minuman itu. "Wah! Segar sekali minuman ini," komentar Cipta Gareng dan Jiyo setelah merasakan minuman bikinan Nyai Juru Pameling.
Ketiga pemuda yang kelelahan itu kemudian tertidur lelap. Ketika mereka terbangun, matahari telah condong ke barat. Mereka berusaha mencari air untuk mencuci tangan dan muka, tetapi mereka tidak menemukan air. Akhirnya, mereka memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah barat. Ketika matahari mulai tenggelam, mereka berhenti dan men cari tempat untuk istirahat. "Kakang Jiyo dan Kakang Cipta Gareng, mari kita men cari tempat untuk bermalam di sini," ajak 8agus Kencana ke pada kedua temannya. "Kita istirahat di bawah pohon randu alas itu saja," ajak Cipta Gareng sambil menunjuk pohon randu alas yang daun nya telah gugur karena musim kemarau panjang. Ketiga orang itu kemudian menuju ke arah pohon randu alas itu. Setelah membersihkan sekitar pohon itu, mereka me ngeluarkan bekal dan makan bersama. nSore ini masih ada nasi dan lauknya empal. Nasi harus kita habiskan karena jika sisa nasi itu pun akan basi," kat a 8agus Kencana. Ketiga orang itu kemudian makan bersama-sama de ngan lahapnya. Selesai makan, Cipta Gareng menawarkan minumannya kepada Jiyo dan 8agus Kencana, "ini wedang jahe," kata Cipta Gareng seraya menyerahkan bumbung berisi wedang jahe tersebut kepada 8agus Kencana dan Jiyo. "Wah, benar-benar segar wedang jahe ini," komentar Jiyo, "Manis-man is pedas. Pasti pakai gula aren." "Va, betul. Wedang jahe ini memang seger," timpal 8agus Kencana.
Cipta Gareng mendapat pujian itu sangat senang. la kemudian membereskan tempat itu. Setelah itu, ketiga pemu- da dari Kademangan Catur Sari itu menceritakan pengalam- an mereka masing-masing. Tak terasa malam telah larut. Mereka telah mengantuk dan tidur di bawah pohon randu alas itu. Malam itu keadaan hutan terasa sepi. Angin kemarau bertiup agak kencang sehingga daun-daun yang mulai me- ngering jatuh berguguran. Kadang-kadang di kejauhan terdengar lolongan anjing hutan bersahutan. Kicauan burung hantu dan burung kolik sekali-sekali terdengar menambah seramnya malam. Setelah bintang timur mulai mengambang di ufuk timur, kokok ayam hutan mulai bersahut-sahutan. "Adik Bagus Kencana, bangun!" kata Cipta Gareng ber- usaha membangunkan Bagus Kencana. Setelah Bagus Kencana bangun, Cipta Gareng lalu membangunkan Jiyo, "Kakang Jiyo, ayo bangun," kata Cipta Gareng sambil mengguncang-guncang tubuh Jiyo. Setelah bangun mereka mencari air. Mereka menemu- kan sebuah belik 'sumber air tidak jauh dari tempat itu. Mereka segera mengisi bumbung-bumbung mereka dengan air. Selesai mengisi bumbung mereka terus mandi di situ. Kemudian, mereka makan jadah dan wajik.
"Adik Bagus Kencana, hutan apa ini namanya?" tanya
Cipta Gareng kepada Bagus Kencana. "Hutan ini bernama hutan Pothen, tempat bersembunyi para berandal 'penjahat'. Jika kita melewati hutan ini harus
selalu waspada. Menurut cerita yang aku dengar orang yang
memasuki hutan ini biasanya akan dirampak oleh para
berandal. Sekarang mumpung masih pagi kita melanjutkan perjalanan," ajak Bagus Kencana kepada kedua temannya. Ketiga pemuda itu kemudian berjalan menuju ke arah barat. Mereka menyusuri semak-semak hutan yang telah ke- ring kerontang yang masih banyak duri-durinya. Cipta Gareng dan Jiyo membabat semak-semak yang menutupi jalan se- tapak itu dengan pedang yang mereka bawa. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh munculnya lima orang laki-laki dari balik semak-semak. "Banda apa nyawa 'kekayaan apa nyawa," teriak orang yang tinggi besar, pimpinan perampok itu. Ketiga pemuda itu tetap tenang dan waspada. Bagus Kencana kemudian bertanya kepada begal 'perampok' itu, "Apa maksud kalian menghentikan kami?" tanya Bagus Kencana tidak merasa takut sedikit pun kepada para perampok itu. Rombongan perampok itu tidak menjawab pertanyaan Bagus Kencana. Mereka segera berusaha menjarah barang- barang yang dibawa oleh Bagus Kencana dan kedua temannya. "Kakang Cipta Gareng dan Kakang Jiyo, perampok-perampok ini perlu kita beri pelajaran," kata Bagus Kencana kepada kedua temannya. Ketiga pemuda itu pun segera berperang tanding dengan kelima perampok itu. Dalam waktu yang tidak lama, kelima perampok itu berhasil mereka ringkus. Hal itu tidaklah mengherankan karena mereka telah terlatih dalam hal ilmu silat.
"Ampun tuan, ampunilah kami tuan. Kami jangan dibu- nuh," kata kelima perampok itu serentak. "Siapa nama kalian dan mengapa kalian merampok?" tanya Bagus Kencana kepada kelima perampok itu. Kelima perampok itu menyebutkan nama mereka masing-masing, yakni Lindu, Met Gondhes, Cipli, Narnobero, dan Glantung. Selanjutnya, mereka menjelaskan bahwa mereka merampok karena keluarganya kelaparan. "Kalian aku maafkan. Namun, kalian harus berjanji tidak akan merampok lagi. Dan, ini jadah dan wajik bawalah pulang untuk keluarga kalian," kata Bagus Kencana seraya menye- rahkan bungkusan berisi wajik dan jadah. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo, kelima perampok itu lalu pergi. Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo pun segera me- lanjutkan perjalanannya. Akhirnya, mereka sampai di sebuah sendang yang terletak di tengah-tengah hutan Selandaka. Mereka kemudian beristirahat dan mandi di situ. "Wah jernih sekali air di sendang ini. Apa nama sendang ini?" tanya Jiyo kepada Bagus Kencana.
"Namanya Sendang Selandaka sama dengan nama hu-
tan ini. Dahulu sendang ini sering dipergunakan untuk mandi tujuh bidadari kayangan. Enam bidadari dapat kembali ke kayangan dan satu bidadari yang bungsu tidak dapat kembali ke kayangan," kata Bagus Kencana.
"Mengapa bidadari itu tidak bisa kembali ke kayangan?"
tanya Cipta Gareng.
"Bidadari bungsu yang bernama Dewi Nawangsari tidak dapat kembali ke kayangan karena baju kayangannya di sem bunyikan oleh Jaka Tarub. Dewi Nawangsari kemudian ber kata bahwa siapa saja yang dapat menolong memberi penu tup tubuh, jika wanita akan dijadikan saudara dan jika laki-Iaki akan dijadikan suami. Perkataan Dewi Nawangsari tersebut didengar oleh Jaka Tarub. Jaka Tarub pun kemudian mem berikan kain kepada Dewi Nawangsari sehingga Dewi Nawangsari mau menjadi istri Jaka Tarub. "Mengapa sekarang tidak ada lagi bidadari yang mandi di telaga ini?" tanya Jiyo penasaran. "Va, para bidadari itu tidak akan mandi di telaga in; lagi karena mereka takut kainnya hilang, kamu sembunyikan," Cipta Gareng menjawab sambi! tertawa. "Adik Bagus Kencana, kalau ceritamu tadi benar, kita sudah dekat dengan kayangan, ya?" tanya Jiyo lebih lanjut. Bagus Kencana menjawab, "Benar, Kakang Jiyo. Lihat lah di sebelah selatan itu Gunung Merbabu tampak men julang tinggi. Di sanalah letak Kayangan Si Pendok yang akan kita tuju. Hari telah larut malam. Ketiga pemuda itu telah ngantuk. Akhimya, mereka tidur nyenyak sampai pagi. Bangun tidur mereka menuju ke sendang mengisi bumbung dengan air. Kemudian, mereka mandi di sendang itu juga. Selesai mandi, mereka makan gep/ak. "Wah udara di sini sudah terasa dingin," kata Cipta Gareng. "Va, apalagi di puncak Gunung Merbabu itu. Udaranya pasti sangat dingin," sambung Jiyo.
Ketiga pemuda itu kemudian berjalan ke arah Kayangan Si Pendok yang terletak di lereng Gunung Merbabu. Mereka tidak langsung naik ke Kayangan Si Pendok. Mereka ingin singgah di Pertapaan Gunung Pitu menghadap Bagawan Biyasa, guru Bagus Kencana, untuk mohon dua restu. Selain itu, mereka juga ingin menumpang tidur dan mandi di Pertapaan Gunung Pitu. Sore hari menjelang matahari tenggelam, Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo telah sampai di pertapaan Gunung Pitu. Mereka disambut oleh para cantrik 'murid' di Pertapaan Gunung Pitu. Mereka saling bertukar pengalaman dan akhirnya mereka santap malam bersama. Setelah selesai makan, ketiga pemuda dari Kademangan Catur Sari itu di- panggil oleh Bagawan Biyasa. Ketiga orang itu segera menghadap kepada Bagawan Biyasa. "Guru, saya menghadap," kata Bagus Kencana. "Bagus Kencana, ajaklah kawanmu ke sini," perintah Bagawan Biyasa kepada ketiga orang itu. Bagus Kencana dan kedua sahabatnya itu kemudian maju ke hadapan Bagawan Biyasa dan duduk bersila. "Guru, kedua orang ini adalah sahabat saya dari Kademangan Catur Sar," kata Bagus Kencana menghaturkan sembah. Cipta Gareng dan Jiyo pun ikut menghaturkan sembah. "Bagus Kencana, anakku. Sudah lama engkau tidak menengok Pertapaan Gunung Pitu. Kini tiba-tiba engkau da- tang kemari, apakah ada keperluan yang mendesak?" tanya Bagawan Biyasa kepada Bagus Kencana.
8agus Kencana dan kedua temannya, Cipta Gareng dan Jiyo, beristirahat di pinggir sendang
"Guru, Ananda mohon maaf karena telah lama tidak menghadap ke Pertapaan Gunung Pitu," kata Bagus Kencana, "Sejak kebakaran hutan beberapa tahun yang lalu Kademangan Catur Sari masih mendapat berbagai cobaan dari Tuhan Yang Mahakuasa. Sumber air disana tertutup tanah longsor sehingga setiap musim kemarau tiba di sana selalu terjadi kekeringan luar biasa. Akibat kekeringan tersebut lumbung-lumbung padi kini telah menipis." Bagawan Biyasa hanya bisa menahan napas. la serasa tidak percaya pada keadaan Kademangan Catur Sari saat ini karena dahulu murah pangan dan sandang kini kekurangan pangan. "Lalu apa yang akan engkau lakukan?" tanya Bagawan Biyasa. "Ananda akan pergi ke Kayangan Si Pendok. Ananda ingin bertapa di sana untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha agung agar Tuhan Yang Maha agung berkenan me- ngirimkan air ke Kademangan Catur Sari," jawab Bagus Kencana. "Ya, Anakku Bagus Kencana. Aku merestuimu, semoga Tuhan Yang Maha agung meluluskan permintaanmu," kata Bagawan Biyasa, "Bagus Kencana, bencana yang menimpa di Kademangan Catur Sari ini merupakan peringatan dari Tuhan. Hutan yang rindang dan tanah yang subur harus di- rawat dengan baik. Hutan yang ditebangi seenaknya tanpa berusaha untuk menanaminya kembali akan menyebabkan terjadinya malapetaka. Hal itu terbukti di Kademangan Catur Sari. Hutan lindung di Kademangan Catur Sari ditebang serta
dibakar oleh Ki Angkara untuk kepentingannya sendiri. Aki batnya, hutan menjadi gundul dan ketika musim penghujan te~adj bahaya tanah longsor ketika musim kemarau terjadi bahaya kekeringan. n Bagus Kencana diam. Oalam hati ia membenarkan per kataan gurunya. Bagawan Biyasa pun lalu melanjutkan we jangannya. "Anakku, Bagus Kencana. Jauhilah malima dan ingatlah kepada Tuhan." "Ya, Guru. Semua perintah Guru akan ananda laksana kan," kata Bagus Kencana. Ci pta Gareng dan Jiyo belum tahu arti malima. Mereka kemudian bertanya kepada Bagawan Biyasa, "Guru, apakah arti malima itu ?" tanya Cipta Gareng dan Jiyo serentak. -Matima itu singkatan dari mangan, madon, main, mendem, dan madat. Maksudnya adalah jangan suka makan berlebihan, jangan suka main perempuan, jangan suka ber main judi, jangan suka mabuk-mabukan, dan jangan suka nyandu," jelas Bagawan Biyasa. Ketiga pemuda itu manggut-manggut mendengar penje lasan Bagawan Biyasa. Mereka menyadari bahwa banyak penduduk Kademangan Catur Sari yang telah melanggar larangan Tuhan. "Manusia kalau ingin selamat harus tetap pad a jalan ke benaran. Keben aran yang dimaksud adalah jalan yang dires tui oleh Tuhan. Oi dunia ini ada dua macam kebenaran, yaitu ben ar bagi Tuhan dan benar bagi pihak yang sedang ber kuasa. Benar bagi pihak yang berkuasa juga ada dua macam, yaitu benar yang sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan
dan benar yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan. Ke-
benaran yang berasal dari Tuhan tidak mengandung sifat angkara murka dan tidak menyengsarakan makhluk lain," kata Bagawan Biyasa. Selanjutnya, Bagawan Biyasa meminta ketiga orang itu untuk membersihkan diri dengan cara berpuasa tiga hari tiga malam. Ketiga orang itu menurut pada perintah Bagawan Biyasa. Selama berpuasa itu mereka bersemedi untuk me- lakukan mawas diri. Setelah masa. berpuasa selesai, Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo berangkat menuju ke Kayangan Si Pendok. Mereka berjalan melewati jalan setapak yang banyak ditum- buhi tanaman bunga. Hingga tempat itu lalu dinamakan desa
Kembang.
Akhirnya, ketiga pemuda itu sampai di Kayangan Si Pendok. Ketika mereka hendak memasuki pintu gerbang, mereka dihalangi oleh raksasa yang besar. "Ha ha ha ... Siapa kalian berani masuk ke Kayangan Si Pendok ini?" tanya raksasa itu. "Namaku Bagus Kencana," jawab Bagus Kencana, "Dan kedua sahabatku ini bernama Cipta Gareng dan Jiyo. Kami berasal dari Kademangan Catur Sari. Kalau aku boleh tahu, siapakah namamu?" tanya Bagus Kencana kepada raksasa itu.
"Namaku Pager Bumi. Aku penunggu pintu gerbang ini.
Hanya orang yang suci hatinya yang boleh masuk ke sini," kata raksasa itu. Bagus Kencana menjelaskan, "Kami tidak bermaksud jahat. Kami ingin bertapa di sini untuk mendekatkan diri ke-
pada Tuhan Yang Mahakuasa."
Pagar Bumi tetap melarang ketiga pemuda itu mema suki pintu gerbang. "Kalian boleh masuk ke tempat ini setelah mengalah kanku lebih dahulu," kata Pagar Bumi. "Kami tidak ingin berkelahi," jawab Bagus Kencana. "Bagus Kencana, sudah menjadi aturan di sini. Siapa saja yang masuk ke tempat ini harus melawan aku. Jika aku kalah, barulah aku percaya bahwa kalian adalah orang yang suci lahir dan batin. Majulah salah satu di antara kalian," tantang Pagar Bumi. Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo berunding untuk menetapkan siapa yang akan melawan Pagar Bumi. "Sebaiknya yang melawan raksasa itu Adik Bagus Ken cana saja," kata Cipta Gareng. "Y a, aku juga setuju Adik Bagus Kencana yang akan melawan raksasa itu," kata Jiyo menyetujui usulan Cipta Gareng. "Baiklah, kalau Kakang Ci pta Gareng dan Kakang Jiyo memilih aku untuk melawan ra ksasa itu," kata Bagus Ken cana seraya mendekati raksasa itu. Bagus Kencana dan Pagar Bumi kemudian berperang tanding. Semua kesaktian mereka kerahkan sehingga ter jadilah perang tanding yang sangat ramai. Pohon-pohon di sekitar tempat perang tanding itu banyak yang roboh karena terkena imbasan jurus-jurus sakti kedua jago yang sedang bertanding itu. Kegaduhan di pintu gerbang itu diketahui oleh penguasa Kayangan Si Pendok. "Pager Bumi dan Bagus Kencana, hentikanlah perang tandingmu itu," perintah Batara Guru.
Pagar Bumi menurut pada titah Batara Guru. la kemudian kembali ke posnya di pintu gerbang. Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo diizinkan masuk ke Kayangan Si
Pendok. Ketiga pemuda itu pun kemudian masuk ke Kayang-
an Si Pendok hendak bertapa untuk memohon berkah dari Sang Penguasa langit dan bumi.
5. BAGU5 KENCANA BERTAPA
01 KAYANGAN 51 PENOOK
Setelah mendapat izin dari Batara Guru, penguasa Ka yangan Si Pendok, ketiga pemuda Kademangan Catur Sari itu segera masuk ke Kayangan Si Pendok. T empat yang berada di puncak Gunung Merbabu ini banyak ditumbuhi pohon cemara dan pohon pinus yang lebat. Jika dari puncak memandang ke bawah, tenihatlah perbuldtan yang menyembul ke atas bagaikan kerucut-kerucut yang disu sun di atas meja, seolah-olah Gunung Merbabu ini mempu nyai anak-anak gunung yang banyak sekali. Di antara bukit bukit itu terdapat jurang-jurang yang lebar dan dalam. Di dasar jurang itu mengalir air yang jemih. Udara di sini sangat sejuk karena belum terkena polusi dan angin agak kencang seakan-akan mengitari Gunung Merbabu. "Adik Bagus Kencana, angin yang bertiup kencang ini namanya angin apa?" tanya Cipta Gareng memecah ke sunyian.
"Angin ini oleh penduduk sekitar sini dinamakan angin gending. Angin ini datangnya dari puncak Gunung Merbabu, Gunung Merapi, dan Gunung Bibi," jawab Bagus Kencana. Kayangan Si Pendok merupakan tempat yang tinggi di Gunung Merbabu. Dari tempat ini bisa dilihat Pertapaan Gunung Pitu dan Sendhang Selandaka. Bahkan, Kademangan Catur Sari juga kelihatan tanahnya memerah karena hu- tannya gundul. Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo terus berjalan menuju ke sebuah kawah yang luas. Kawah tersebut berisi air yang sangat jemih. Batu-batu besar mengelilingi kawah dan bunga-bunga edelweis tumbuh di sana sini sehingga menam- bah keindahan kawah ini. Kawah Si Pendok inilah tempat yang ditujù oleh ketiga pemuda itu. "Belum pernah aku melihat air sebanyak ini," komentar Cipta Gareng begitu ia sampai di kawah Si Pendok. "Jika air kawah Si Pendok ini kita alirkan ke Kademangan Catur Sari," sambung Jiyo, "Pasti kekeringan di Kademangan Catur Sari dapat kita atasi." "Benar Kakang, air Kawah Si Pendok ini harus kita alirkan ke Kademangan Catur Sari. Marilah kita bersemedi mem- ohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar kita diberi kemurahan sehingga air Kawah Si Pendok ini dapat kita alirkan ke Kademangan Catur Sari," kata Bagus Kencana. Ketiga orang itu kemudian mencari tempat untuk bersemedi. Akhimya, mereka menemukan sebuah batu datar yang cukup luas. Setelah itu mereka bersiap-siap bertapa atau bersemedi selama empat puluh hari empat puluh malam.
"Kakang Cipta Gareng dan Kakang Jiyo, dalam bersemedi nanti kita duduk bersila dengan posisi saling membelakangi sehingga kita tidak akan saling terganggu. Jika di antara kita ada yang batal kita tinggal berjalan ke arah depan, tidak boleh berjalan di depan orang yang sedang bersemedi. Usa- hakan semedi kita jangan sampai batal, paling tidak salah satu di antara kita harus berhasil," kata Bagus Kencana mem- berikan penjelasan kepada dua temannya. "Baiklah, Adikku Bagus Kencana. Aku dan Kakang Jiyo sudah paham," jawab Cipta Gareng. "Marilah kita segera mulai bersemedi," ajak Bagus Kencana. Ketiga pemuda itu mulai bersemedi pada hari Selasa Kliwon tepat pada malam bulan pumama. Dan, mereka akan mengakhiri semedi empat puluh hari kemudian, hari Sabtu Wage pada saat bulan hampir mati. Bagus Kencana duduk bersila menghadap ke arah barat, Cipta Gareng duduk bersila menghadap ke timur laut, dan Jiyo duduk bersila menghadap ke arah tenggara. Mereka duduk bersila saling membelakangi sehingga membentuk segitiga sama sisi. Bagus Kencana menghadap tepat ke arah kawah, sedangkan Cipta Gareng dan Jiyo menghadap ke arah hutan cemara dan pinus. Malam itu malam terasa hening. Ketiga pemuda itu ber- konsentrasi. Mulut mereka diam, tetapi pikiran mereka selalu tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pagi harinya berbagai kicau burung bersahut-sahutan. Pada siang hari kadang- kadang ada burung pelatuk sedang membuat sarang. Kon-
sentrasi Cipta Gareng dan Jiyo sering terganggu tingkah laku binatang hutan, di antaranya, yaitu gerombolan kera yang pulang dari mencari makan. Kadang-kadang juga terganggu adanya kijang dan harimau berlari-larian. Bagus Kencana hanya dapat melihat kemilaunya air kawah Si Pendok yang memantulkan sinar matahari. Akan tetapi, Bagus Kencana tidak menghiraukan semua itu. la tetap mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika bulan tidak menampakkan diri, tempat itu menjadi gelap. Di langit hanya terlihat bintang-bintang berkedip. Bu- rung malam sekali-sekali menjerit. Ketika bintang timur mulai memancarkan sinarnya kokok ayam hutan mulai bersahut- sahutan. Gangguan-gangguan seperti itu tidak mereka hirau- kan. Sang Batara Guru penguasa di Kayangan Si Pendok terus memperhatikan ketekunan ketiga titah marcapada yang bersemedi, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Alam. la tersenyum puas demi melihat kepedulian mereka terhadap sesama umat yang sedang dilanda nestapa. Hari-hari telah berlalu. Kini telah datang lagi bulan pur- nama atau tepat ketiga orang itu telah bertapa selama tiga puluh lima hari. Semua godaan dan cobaan dapat mereka hadapi sehingga semedi mereka tidak menemui halangan yang berarti.
Batara Guru berkenan menguji kemantapan tekat serta
kesucian hati ketiga petapa itu. la kemudian memanggil bidadari-bidadari Kayangan Si Pendok. Para bidadari Kayangan Si Pendok pun segera menghadap Batara Guru di Balai Pertemuan.
"Ada perintah apakah /:mg harl::; hamba laksanakan?" tanya Dewi Andayani. "Ya, ada tugas yang harus kalian laksanakan. Ganggu lah Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo yang sedang melakukan semedi di watu leter 'batu datar' itu," sabda Batara Guru, "Malam pumama ini peragakanlah tari-tarian yang indah di hadapan mereka." Bidadari Dewi Andayani telah paham akan sabda Batara Guru. la kemudian memerintahkan adik-adiknya me laksanakan perintah Batara Guru. Malam itu juga ditabuhlah gamelan lokananta dengan gendhing-gendhing 'Iagu-Iagu', di antaranya ladrang kebogiro dan kutut manggung. Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo tidak terusik sedikit pun dengan lagu-Iagu itu. Mereka tetap bersemedi, pikiran mereka tetap tertuju kepada Sang Pencipta Alam. Para bidadari itu terus berupaya menggagalkan semedi ke tiga pemuda itu. Kini giliran tujuh bidadari yang panda; menari menjalankan aksinya. Dewi Sruntut menyebarkan bunga me lati ke arah petapa itu. Selanjutnya, ketujuh bidadari ftU me narikan tarian bedaya srimpi di angkasa. Sinar bulan pur nama menerpa tubuh-tubuh bidadari itu sehingga mereka ke lihatan semakin jelita. Tangan mereka melambai-Iambai mengikuti irama lagu-Iagu yang melantun di angkasa. Semerbak harum bunga-bunga melati mulai meng ganggu konsentrasi Cipta Gareng dan Jiyo. Sejenak kemudi an Cipta Gareng dan Jiyo te~aga dari semedinya. Ha ti kedua pemuda itu terpesona akan kecantikan para penari bedaya srimpi itu sehingga gagallah semedi mereka. Begitu mereka terbangun para bidadari itu lenyap dari pandangan mereka.
Cipta Gareng dan Jiyo merasa telah gagal karena tidak kuat imannya. Mereka kemudian berjalan berjingkat-jingkat me- ninggalkan tempat itu tanpa bersuara sehingga Bagus Kencana tidak terganggu. Para bidadari itu terus melanjutkan tariannya. Mereka berusaha menggagalkan semedi Bagus Kencana dengan berbagai cara bidadari itu pun kembali ke Kayangan Si Pendok seiring dengan redupnya sinar bulan. Dewi Andayani kemudian melaporkan kegagalan tugas- nya kepada Batara Guru, seraya katanya, "Hamba gagal me- laksanakan tugas. Bagus Kencana ternyata sangat kuat tekatnya dan bersih niat di hatinya. Hamba hanya dapat menggagalkan semedi Cipta Gareng dan Jiyo." Batara Guru kemudian melaporkan keteguhan hati Bagus Kencana kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Sementara itu, Cipta Gareng dan Jiyo tetap menunggu Bagus Kencana di bawah batu tempat mereka bersemedi. Keduanya membicarakan kegagalan yang baru saja mereka alami. Mereka menggantungkan harapannya pada Bagus
Kencana. "Kakang Jiyo, kita harus mengakui bahwa Bagus Ken-
cana memang mempunyai kelebihan dibandingkan kita. Se- moga Bagus Kencana berhasil dalam semedinya," kata Cipta Gareng kepada Jiyo setengah berbisik. "Benar. Bagus Kencana memang mempunyai beberapa kelebihan," timpal Jiyo.
"Dimas Cipta Gareng, agar pikiran kita tidak melantur ke
mana-mana, marilah kita mencari telur ayam hutan dan madu untuk kita makan dan persiapan untuk Bagus Kencana jika ia selesai semedinya nanti," ajak Jiyo kepada Cipta Gareng.
Cipta Gareng setuju pada usulan Jiyo. "Mari kita berangkat sekarang saja," kata Cipta Gareng seraya beranjak dari tempat duduknya. Kedua orang itu pun kemudian masuk ke hutan hendak mencari perbekalan untuk menyambung hidup mereka. Sementara itu, Bagus Kencana masih tetap duduk ber- sila menghadap ke barat seperti sedia kala. Pikirannya menyatu ke satu arah yang pasti, yaitu menyerahkan dirinya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sang Batara Guru, pe- nguasa Kayangan Si Pendok, menganggap Bagus Kencana telah lulus dari berbagai ujian. Bagus Kencana telah layak menghadap Yang Maha Pencipta dan Maha Pemurah untuk memohon agar pepeteng 'kegelapan' di Kademangan Catur Sari segera sima. Malam ini merupakan malam terakhir Bagus Kencana melakukan tapanya. la memejamkan mata untuk menyatukan pikiran yang tampak hanya keadaan yang serba hitam. Makin lama keadaan serba hitam itu berubah menjadi terang benderang. Bersamaan dengan itu, Bagus Kencana seperti di- lemparkan dan jatuh ke sebuah tempat yang indah dan me- nenteramkan hati. Selanjutnya, Bagus Kencana melihat ada- nya sinar putih terang benderang yang tidak menyilaukan mata. Tiba-tiba Bagus Kencana mendengar suara sebagai berikut. "Permintaanmu aku kabulkan. Air akan melalui bawah tanah. Segeralah engkau pulang. Pesanku, jangan sekali- sekali engkau palingkan kepalamu sebelum engkau sampai di tempat asalmu."
Setelah suara gaib itu lenyap, Bagus Kencana terjaga dari semedinya. la sangat senang karena keinginannya di- kabulkan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.
6. TERJADINYA UMBUL TLATAR
8agus Kencana telah selesai melakukan semedi di Kayangan Si Pendok. la menengok ke belakang, temyata Gipta Gareng dan Jiyo tidak ada di tempatnya semula. Gipta Gareng dan Jiyo tahu bahwa 8agus Kencana telah selesai melakukan tapanya. Mereka sangat gembira, "Dimas Cipta Gareng, tampaknya Adik Bagus Kencana telah selesai tapa nya," kata Jiyo seraya menarik tangan Cipta Gareng menuju ke tempat 8agus Kencana. Kedua orang itu hendak naik ke atas batu untuk me nemui 8agus Kencana. Namun, Bagus Kencana keburu turun menuju ke arah kawah SI Pendok. Gipta Gareng dan Jiyo pun mengikuti Bagus Kencana. Setelah sampai di kawah Si Pendok, 8agus Kencana mencuci muka dan minum air sa cukupnya. Badan Bagus Kencana mendadak menjadi segar seperti sedia kala. Cipta Gareng dan Jiyo pun ikut mencuci muka dan minum air di situ.
"Kakang Jiyo dan Kakang Cipta Gareng, semediku berhasil. Permintaan kita dikabulkan. Air akan dikirim melalui bawah tanah. Kita diperintahkan untuk cepat-sepat pulang. Dalam perjalanan pulangkita tidak diperbolehkan menga- mengo 'menengok ke kiri dan ke kanan'. Kalau aku palingkan kepalaku berarti usaha kita gagal. Oleh karena itu, marilah kita cepat-cepat pulang," ajak Bagus Kencana kepada kedua sahabat setianya itu. "Berat juga," komentar Cipta Gareng. "Seberat apa pun kalau sudah menjadi tekat kita pasti akan berhasil. Marilah kita segera pulang," timpal Jiyo. Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo kemudian menghadap Batara Guru untuk berpamitan pulang. Ketika Batara Guru melihat ketiga pemuda itu, ia bersabda, "Majulah kalian. Ada perlu apa." Ketiga pemuda itu segera mendekat dan duduk bersila di hadapan Batara Guru. "Kami bertiga telah selesai bertapa. Berkat doa restu
Paduka, kami telah mendapatkan anugerah dari Yang
Mahakuasa," kata Bagus Kencana mewakili kedua temannya. "Syukurlah, aku ikut bahagia," kata Batara Guru. "Selanjutnya, kami mohon pamit," lanjut Bagus Kencana. "Kalian kuizinkan pulang. Hati-hatilah di jalan," pesan Batara Guru kepada ketiga pemuda itu. Ketiga pemuda itu pun segera turun dari Kayangan Si
Pendok. Mereka berjalan setengah berlari agar cepat sampai
di Kademangan Catur Sari. Perjalaran mereka tidak melalui jalan ketika mereka berangkat ke Kayangan Si Pendok.
Dahulu mereka lewat jalan sebelah utara, yaitu melewati hutan Pothen, sendhang Selandaka, Desa Kembang, dan Pertapaan Gunung Pitu. Kini, mereka menuju ke arah timur melalui Candi Krikil terus ke timur. Bagus Kencana dan kedua sahabatnya telah jauh me- ninggalkan Kayangan Si Pendok di Gunung Merbabu. Mereka telah sampai di Desa Tlatar, desa yang kering kerontang dan banyak batu-batu besar berserakan di sana sini. Tiba-tiba Bagus Kencana mendengar suara gemuruh, seperti tanah longsor. la terkejut dan secara tidak sadar ia memalingkan kepalanya ke arah suara tadi. la semakin terkejut ketika di dekatnya tiba-tiba ada air yang memancar ke atas dengan derasnya. Air ini makin lama makin meluap bagaikan air bah. Bagus Kencana menjadi ketakutan. "Kalau air ini tidak dapat dikendalikan pasti Tanah Jawa akan tenggelam, menjadi lautan," guman Bagus Kencana. "Ya tempat ini telah menjadi laut. Lihatlah di sini ada ikan terinya," sahut Cipta Gareng. Ketiga orang itu kemudian duduk lunglai tak berdaya. "Kakang Cipta Gareng dan Kakang Jiyo, maafkanlah aku karena aku telah kena godaan sehingga air yang dikirim melalui bawah tanah menyembul di Desa Tlatar ini," kata Bagus Kencana sedih. "Adik Bagus Kencana, janganlah bersedih hati. Barang- kali sudah menjadi kehendak Tuhan, air yang dikirimkan dari bawah tanah itu menyembul di Desa Tlatar. Terimalah takdir Tuhan yang Maha Esa itu dengan senang hati dan tabah- kanlah hatimu," kata Jiyo berusaha menghibur Bagus Kencana.
Akhirnya, Bagus Kencana sadar dan mau menerima ke- nyataan ini. Akan tetapi, ia menjadi bingung karena Desa Tlatar mulai tergenang air. "Kakang Cipta Gareng dan Kakang Jiyo, bagaimana cara membendung air sebanyak ini? Jika kita tidak cepat ber- tindak, Tanah Jawa akan menjadi lautan," kata Bagus Kencana. "Sebaiknya Adik Bagus Kencana kembali bersemedi di Kayangan Si Pendok untuk meminta petunjuk cara mengatasi air yang semakin besar di Desa Tlatar ini. Selain itu, Adik Bagus Kencana juga memohon lagi air untuk keperluan pen- duduk Kademangan Catur Sari," usul Cipta Gareng,
"Kakang Cipta Gareng, usulmu memang bagus dan
masuk akal. Sekarang aku akan kembali ke Kayangan Si Pendok dan Kakang Cipta Gareng serta Kakang Jiyo aku minta tetap tiniggal di sini mengawasi Umbul Tlatar ini."
7. ZAMAN KEEMASAN KADEMANGAN CATUR SARI
Bagus Kencana merasa haus dan minum air di Umbul Tlatar itu. Temyata rasa air Umbul Tlatar tersebut sama dengan rasa air di Kayangan Si Pendok. Setelah minum air Umbul Tlatar tubuh Bagus Kencana menjadi segar, rasa capai dan lelah langsung hilang. Hari itu juga Bagus Kencana langsung berangkat menuju ke Kayangan Si Pendok. Perjalanan Bagus Kencana telah sampai di Kayangan Si Pendok. la kemudian menghadap Batara Guru. "Bagus Kencana, mengapa engkau cepat kembali ke Kayangan Si Pendak?" tanya Batara Guru kepada Bagus Kencana. "Hamba mahan ampun. Hamba mendapat godaan se hingga air yang dikirim melalui bawah tanah tidak sampai di Kademangan Catur Sari. Air tersebut muncul di Desa Tlatar dan aimya sangat deras. Hamba mahan petunjuk cara meng atasinya," kata Bagus Kencana minta petunjuk kepada Batara Guru.
| "Bagus Kencana, aku sarankan engkau bersemedi se | |||
|---|---|---|---|
| lama | dapat dilihat. | tujuh hari tujuh malam. Posisi dudukmu tetap meng hadap ke barat seperti dulu ," demikian perintah Batara Guru. Bagus Kencana menuju ke kawah Si Pendok dan men cari batu datar yang bebarapa han lalu ia pergunakan untJk bertapa. Kini Bagus Kencana duduk bersila di batu itu lagi dan bersemedi dengan memejamkan matanya. Bagus Ken cana memohon kepada Tuhan Yang maha Esa agar Umbul Tlatar bisa mengecil sehingga Tanah Jawa tidak menjadi lautan. Selain itu, Bagus Kencana juga memohon air untuk Kademangan Catur San lewat atas tanah sehingga air itu Han pertama, pikiran Bagus Kencana belum tenang, ia masih memikirkan berbagai macam kejadian yang baru saja menimpanya. Begitu pula pada hari kedua, ketiga, keempat, dan kelima pikiran Bagus Kencana masih kacau. Baru pada han yang keenam Bagus Kencana mulai dapat berkonsen | |
| trasi. | la benkut. | menyerahkan diri Pada han yang ketujuh, | kepada Yang Maha Pemurah. Bagus Kencana percaya bahwa Tuhan itu berkuasa atas se luruh alam dan isinya. Berhasil dan gagalnya keinginan ma nausia dalam mencapai tujuan merupakan kehendak Tuhan. te~adilah kejadian seperti ketika Bagus Kencana bersernedi beberapa waktu yang lalu. la bagaikan memasuki keadaan yang serba gelap. Kemudian, berubah menjadi terang benderang dan tubuhnya seperti ter lempar ke dalam surga. la melihat sinar putih yang tidak me nyilaukan mata. Dan tiba-tiba ia mendengar suara sebagai |
"Bagus Kencana, permintaanmu dikabulkan. Kewajiban- mu adalah mencari kembang sepasang untuk menyumbat Umbul Tlatar. Air yang engkau minta lewat di atas tanah juga dikabulkan. Sekarang pulanglah ke tempat asalmu, air itu akan mengikuti arah jalanmu." Setelah mendengar bisikan gaib dari Yang Maha Kuasa, Bagus Kencana menemui Batara Guru untuk berpamitan dan mohon doa restu. Selanjutnya, ia pulang kembali ke Kade- mangan Catur Sari. Kali ini Bagus Kencana tidak lewat Desa Tlatar. la ingin mengambil jalan lain, yaitu antara jalan ketika ia berangkat ke Kayangan Si Pendok dan jalan ketika ia lewat Desa Tlatar dahulu. Tujuan Bagus Kencana mengambil jalan itu ialah agar air dapat merata. Bagus Kencana berjalan bagaikan anak panah yang melesat. la menuruni bukit-bukit dan lereng-lereng yang terjal yang banyak semak dan duri. Rasa lapar dan haus tidak ia hiraukan, yang ia pikirkan hanyalah dapat sampai ke rumah dengan cepat. Bagus Kencana merasa heran karena di belakangnya ada gemericik air. la menengok ke belakang ada air yang mengikutinya. la berhenti dan air itu ikut berhenti. Jika ia berjalan pelan-pelan air itu pun mengikutinya dengan pelan-pelan pula, sebaliknya, jika ia berjalan cepat air itu pun mengejamya. Akhimya, sepanjang jalan yang dilalui Bagus Kencana itu berubah menjadi sungai. "Sungguh aneh dan ajaib," gumam Bagus Kencana, "Inilah Kebesaran Yang Mahakuasa. Semoga air yang mengikuti langkahku ini dapat mengatasi kekeringan di Kademang- an Catur Sari dan daerah-daerah lain."
Bagus Kencana telah sampai di Kademangan Catur Sari. Penduduk sukacita menyambut kedatangan Bagus Kencana yang diikuti air yang mengalir di belakangnya. Pak De Jiman dan Bibi Atun, masing-masing ayah Jiyo dan ibu Cipta Gareng cemas karena mereka tidak melihat anaknya. Bagus Kencana menjelaskan kepada kedua orang tua itu bahwa mereka selamat dan sekarang masih ada di Desa Tlatar. Bagus Kencana kemudian menghadap Ki Juru Pameling dan Nyai Juru Pameling. Kedua orang tua Bagus Kencana sangat senang karena anaknya telah pulang. "Kulitmu tambah hitam," komentar Nyai Juru Pameling seraya memeluk anaknya. "Benar Ibu, kulit saya tambah hitam karena sepanjang jalan yang saya lalui tidak ada pepohonan yang rindang," jelas Bagus Kencana kepada ibunya. Ki Juru Pameling dan Nyai Juru Pameling kemudian me- nyuruh Bagus Kencana beristirahat dan membersihkan tubuhnya.
Malam harinya, Bagus Kencana berbincang-bincang de-
ngan Ki Juru Pameling. Bagus Kencana menceritakan semua kejadian yang ia alami. la mendapat wangsit pertama kali dan air akan dikirim lewat bawah tanah ke Kademangan Catur Sari. Akan tetapi, air yang dikirim lewat bawah tanah tersebut tidak sampai di Kademangan Catur Sari. Air tersebut menyembul di Desa Tlatar sehingga air itu melimpah ruah. Jika Umbul Tlatar itu tidak segera disumbat Tanah Jawa ini pasti akan tenggelam. Sekarang Umbul Tlatar itu sedang ditunggui oleh Kakang Cipta Gareng dan Kakang Jiyo.
Ki Juru Pameling hanya menganggukkan kepala saJa mendengarkan cerita anaknya itu. 8agus Kencana menghen tikan ceritanya sejenak untuk minum wedang jahe santen. "Selanjutnya, ananda kembali bertapa di Kayangan Si Pendok untuk minta petunjuk kepada Yang Mahakuasa me ngenai cara membendung Umbul Tlatar agar airnya dapat di kendalikan. Selain itu, ananda memohon kepad a Yang Mahakuasa agar diberi kemurahan air bagi penduduk Kade mangan Catur Sari." "Hasilnya, kamu sudah pulang bersama air yang meng ikutimu itu," potong Ki Juru PameJing. "Umbul Tlatar itu temyata harus disumbat dengan kem bang sepasang," kata 8agus Kencana. "Kembang sepasang itu artinya temanten baru dan itu sulit mencarinya. Tetapi, aku akan mengumumkan hal itu ke pada seluruh penduduk Kademangan Catur Sari. Semoga Yang Maha Agung memberikan jalan keluarnya sehingga tidak usah mengorbankan pihak lain," kat a Ki Juru Pameling. Keesokan harinya Ki Juru Pameling mengumpulkan se luruh penduduk kademangan Catur Sari. Ki Juru Pameling memben tahu kepada penduduk bahwa 8 agus Kencana telah pulang dan Kayangan Si Pendok dan berh asil memperoleh air. Selain itu, Ki Juru Pameling juga mengumumkan bahwa Tanah Jawa akan menjadi lautan jika Umbul Tlatar tidak disumbat dengan kembang sepasang. Air yang menggenang di Kademangan Catur Sari sema kin hari semakin banyak. Jika air tersebut tidak segera dialir kan ke laut, Kademangan Catur Sari akan menjadi laut. Ki Juru Pameling kemudian memanggil anaknya.
"Anakku Bagus Kencana, air akan terus menggenang dan bertambah banyak jika tidak dialirkan ke laut. Oleh kare- na itu, carikanlah jalan ke laut," kata Ki Juru Pameling. "Baiklah, ananda akan mencarikan jalan air ke laut," jawab Bagus Kencana. Bagus Kencana kemudian berlari dan air terus mengikuti Bagus Kencana. Bagus Kencana lari melewati tanah- tanah kering kerontang agar kelak daerah itu menjadi daerah yang subur. Akhimya, Bagus Kencana sampai di Bengawan Solo. Air yang mengikuti Bagus Kencana mengalir ke Bengawan Solo dan akhirnya ke laut Jawa. Tanpa diduga, di Kademangan Catur Sari kedatangan sepasang pengantin baru yang masih mengenakan pakaian temanten. Sepasang pengantin itu diiringkan oleh 800 ratus putri domas yang semuanya berambut panjang. Mereka ingin menghadap Ki Juru Pameling. Ki Juru Pameling segera me- nyuruh rombongan pengantin itu masuk ke pendapa. Rombongan itu disuguhi minuman dawet ayu. "Saya mengucapkan selamat datang kepada rombongan pengantin. Saya ingin mengetahui siapakahsebenarnya kalian berdua ini? Dari mana asal kalian? Dan, mempunyai keperluan apa kalian datang kemari?" tanya Ki Juru Pameling kepada kedua penganten itu. "Nama saya Murkabin dan istri saya bernama Angkara- wati. Kami berasal dari Gunung Pare. Maksud kedatangan kami adalah untuk merıyerahkan diri sebagai tumbal bagi ke- jayaan Kademangan Catur San. Kami berdua bersedia menjadi tumbal untuk menyumpal Umbul Tlatar," kata Murkabin membuat Ki Juru Pameling kaget.
Setelah hilang rasa kagetnya, Ki Juru Pameling ber tanya lagi kepada sepasang pengantin itu, seraya katanya, "Saya tidak mengerti, mengapa kalian merelakan diri untuk dijadikan penyumbat Umbul Tlatar? Apa alasan kalian sehingga kalian siap menjemput maut?" Murkabin menjawab, "Kami berdua memang sudah ber tekat. Kami berdua ingin menebus dosa-dosa yang telah di lakukan oleh orang tua kami terhadap Kademangan Catur Sari. Orang tua kami telah mencuri harta benda Kademangan Catur Sari dan membakar hutan lindung sehingga di sini terjadi malapetaka." "Oh! Jadi kalian adalah anak Ki Demang Kala Murka dan Ki Angkara?" tanya Ki Juru Pameling keheranan. "Benar. Saya adalah anak Ki Demang Kala Murka. Saudara-saudara saya dan ibu saya telah meninggal karena terserang penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Istri saya ini adalah anak Ki Angkara. Saudara- sa udaranya juga tefah meninggal karena saling membunuh untuk memperebutkan harta warisan, sedangkan Ki Angkara meninggal karena bunuh diri," jawab Murkabin. Ki Juru Pameling hanya bisa menahan rasa harunya atas kejadian yang menimpa Ki Angkara dan Ki Demang Kala Murka beserta keluarganya. Ki Juru Pamefing kemudian memberikan petuah kepada para tamu dan seluruh warga Kademangan Catur Sari. "Inilah bukti kebesaran Tuhan. Kisah ini telah menyadar kan kita bahwa orang yang serakah, senang mengambil ba rang yang bukan haknya hidupnya sengsara. Oleh karena itu, janganlah suka mengambil barang yang bukan haknya dan
jangan mengambil keuntungan di atas kesengsaraan orang lain." Murkabin dan Angkarawati telah bertekat bulat hendak membantu kesulitan warga Kademangan Catur Sari. Mereka merelakan tubuhnya dijadikan tumbal untuk menyumbat Umbul Tlatar agar Tanah Jawa tidak menjadi lautan. Ki Juru Pameling dan Bagus Kencana serta beberapa sesepuh Kademangan Catur Sari mengantarkan sepasang pengatin
itu ke Desa Tlatar. Para putri domas berambut panjang yang
berjumlah 800 orang itu turut mengiringkan pengantin itu. Perjalanan sepasang pengantin tersebut akhinya sam- pai di Desa Tlatar dan disambut oleh Cipta Gareng dan Jiyo. Ki Juru Pameling, Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo kemudian mengantar sepasang pengantin itu menuju ke Umbul Tlatar. "Anakku Murkabin dan Angkarawati, apakah kalian tidak menyesal dengan keputusan yang kalian ambil ini?" tanya Ki
Juru Pameling kepada kepada sepasang pengantin itu.
"Tidak!" jawab kedua orang itu serentak, "kami ingin me- nebus dosa-dosa orang tua kami." "Kalian tidak berdosa, orang tua kalianlah yang berbuat kesalahan sehingga kalian tidak perlu ikut menanggungnya,"
kata Ki Juru Pameling. "Kami ikut menanggung beban yang berat di dunia ka-
rena kami dikucilkan dari kehidupan masyarakat," jawab kedua pengantin itu. "Cabutlah keputusan kalian. Warga Kademangan Catur
Sari mau menerima kalian dan mereka tidak akan mengu- cilkan kalian," kata Ki Juru Pameling.
"Ki Juru Pameling, tekat kami sudah bulat. Kami mohon doa restu dan kami mohon maaf atas kesalahan-kesalahan kedua orang tua kami," kata pasangan pengantin itu dengan mantap. Sepasang pengantin itu kemudian melangkah penahan lahan menuju ke air Umbul Tlatar. Semua yang hadir di se keliling Umbul Tlatar terharu dan menangis. Ketika kaki se pasang pengantin itu menyentuh air, tiba-tiba saja mereka raib. Para putri domas kemudian menaburkan beraneka macam bunga ke dalam Umbul Tlatar itu. Para dewa dan dewi pun menjemput sepasang pengantin itu dan membawa mereka naik ke surga untuk menikmati kehidupan abadi. Setelah sepasang pengantin itu lenyap, tiba-tiba muncul sebuah batu dan menutup lubang Umbul Tlatar sehingga air yang menyembul menjadi surut. Segerombolan ikan teri kemudian masuk ke dalam bumi melalui lubang umbul itu. Kini air di Umbul Tlatar telah kecil dan tidak berbahaya lagi. Air Umbul Tlatar akan terus mengalir sampai akhir zaman. Rasa heran orang yang berdiri mengelilingi Umbul Tlatar belum hilang. Tiba-tiba mereka dikejutkan orang yang ber teriak-teriak. "Anakku Murkabin dan Angkarawati ..., tunggulah aku," teriak orang itu sambil benari-Iari menuju ke Arah Umbul Tlatr:lr. Orang tua itu hendak menceburkan dirinya ke Umbul Tlatar. Bagus Kencana, Cipta Gareng, dan Jiyo kemudian mengamankan orang itu. "Mengapa engkau ingin bunuh diri di Umbul Tlatar ini? Siapakah engkau in; sebenarnya?" tanya Ki Juru Pameling kepada orang tua yang kuru s kering itu.
"Rupanya engkau tidak mengenaliku lagi," kata orang tua itu. Ki Juru Pameling kemudian memperhatikan orang tua itu, "Oh, engkau Ki Kala Murka." Ki Kala Murka menganggukkan kepalanya. "Ki Juru Pameling dan semua warga Kademangan Carur Sari maafkanlah karena aku telah menyebabkan terja- dinya malapetaka di Kademangan ini," kata Kala Murka. "Baiklah, Ki Kala Murka. Anak dan menantumu tadi telah memintakan maaf untukmu. Dan, kami akan memegang janji untuk tetap memaafkanmu. Aku berharap Ki Kala Murka mau bertobat dan mau berbuat kebaikan untuk menebus semua dosa-dosa yang telah engkau perbuat," kata Ki Juru
Pameling.
“Kini aku bertobat. Hidup dan matiku aku serahkan ke- pada Kademangan Catur Sari. Jika penduduk Kademangan Catur Sar akan memberikan hukuman apa saja aku akan menerimanya. Hidupku tinggal sebatang kara. Satu per satu keluargaku meninggalkanku. Dan, pengantin itu merupakan keturunanku yang masih tersisa telah pergi sehingga aku ter- siksa lahir dan batin. Kini seluruh kekayaan milik Kademangan Catur Sarí yang aku jarah tempo hari aku kem- balikan. Sekarang aku baru sadar bahwa mengambil barang yang bukan hak itu akan sengsara, bahkan anak cucunya juga akan ikut menanggung akibatnya," kata Ki Kala Murka penuh penyesalan. Kini Kademangan Catur Sari telah terbebas dari ke- keringan. Sungai Buket Klothak-klotak disingkat Buthak di- manfaatkan untuk mengairi sawah sehingga para petani mulai dapat mengolah sawahnya kembali. Hasil panen pun
melimpah ruah kembali. Nama Kademangan Catur Sari mulai terdengar kembali ke berbagai penjuru mata angin. Bagus Kencana didaulat oleh warga Kademangan Catur Sari untuk memangku jabatan demang. Bagus Kencana mau menerima jabatan itu. Cipta Gareng kemudian diangkat menjadi carik dan Jiyo diangkat menjadi Jagabaya. Beberapa tahun kemudian rakyat Kademangan Catur Sari hidup makmur.
PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL