Dituliskan Oleh: Syamsuddin St Radjo Endah Diterjemahkan Oleh: Yollanda
BALAI BAHASA PROVINSI SUMATERA BARAT
MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN
TUANKU LAREH SIMAWANG
Dituliskan Oleh: Syamsuddin St. Radjo Endah
Diterjemahkan Oleh: Yollanda
BALAI BAHASA PROVINSI SUMATERA BARAT BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI TAHUN 2021
TUANKU LAREH SIMAWANG
Penanggung Jawab : Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat
| Provinsi Sumatera Barat | |
|---|---|
| Dituliskan Oleh | : Syamsuddin St. Radjo Endah |
| Diterjemahkan Oleh | : Yollanda |
| Konsultan Penerjemahan : Gus Tf Sakai | |
| Sekretaris | : Herlinda Fajril Kamil |
| Redaktur | : Joni Syahputra |
| Tata Letak | : Alvi Rianto Putra |
| Desain Sampul | : Heru Firdaus |
CETAKAN PERTAMA TAHUN 2021
Diterbitkan pertama kali oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat Jalan Simpang Alai, Cupak Tangah, Pauh Limo Padang, 25162 Telepon (0751) 776789 Faksimile (0751) 776788 Pos-el : [email protected] Laman : balaibahasa_sumbar.kemdikbud.go.id
| Katalog Dalam Terbitan | |
|---|---|
| ISBN | : 978-623-98677-0-6 |
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah
KATA PENGANTAR KEPALA BALAI BAHASA
PROVINSI SUMATERA BARAT
Alhamdulilah syukur penerjemahan Kaba Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia ini dapat terwujud. Penerjemahan ini merupakan program prioritas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekonologi, untuk menerjemahkan cerita rakyat ke bahasa Indonesia dalam rangka memerkaya bahan bacaan literasi bagi siswa. Tahun ini Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat menerjemahkan sebanyak 23 kaba Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia.
Adapun kedua puluh tiga kaba tersebut yaitu, Kaba Si Umbuik Mudo, Kaba Sutan Lembak Tuah, Kaba Magek Manandin, Kaba Sabai Nan Aluih, Kaba Rambun Pamenan, Kaba Laksamana Hang Tuah, Kaba Tuanku Lareh Simawang, Kaba Si Sabariah, Kaba Anggun Nan Tongga, Kaba Siti Risani, Kaba Cindua Mato, Kaba Si Buyuang Karuik, Kaba Malin Deman, Kaba Si Gadih Ranti, Kaba Puti Nilam Cayo, Kaba Bungo Talang Mamak, Kaba Siti Kalasun, Kaba Siti Baheran, Kaba Amai Cilako, Kaba Untuang Sudah, Kaba Puti Marintan Aluih, Kaba Angku Kapalo Sitalang, dan Kaba Rancak Dilabuah.
Buku ini ditujukan untuk masyarakat umum di seluruh Indonesia, terutama bagi siswa SLTP dan SLTA, sebagai bahan pengayaan literasi. Dalam buku ini, kami menampilkan dwibahasa, bahasa Minangkabau kaba tersebut dan terjemahan bahasa Indonesia,
iii
sehingga pembaca dapat ilmu yang lebih tentang bahasa sumber. Terkhusus buku ini, Tuanku Lareh Simawang, dituliskan oleh Syamsuddin St. Radjo Endah, diterbitkan pertama sekali oleh Pustaka Indonesia Bukittinggi pada tahun 1986 dan dicetak ulang pada tahun 2018 oleh Kristal Multimedia.
Penerjemahan buku ini sendiri dilaksanakan oleh tim penerjemah dengan melibatkan konsultan dari berbagai kalangan. Baik tokoh adat, penulis, sastrawan, serta budayawan. Mereka adalah Baharuddin Andoeska, Dasril Ahmad, Gus tf Sakai, Iyut Fitra, Musra Dahrizal, Pinto Anugrah, Rommi Zarman, S. Metron, Sondri, Syuhendri, dan Yusrizal KW.
Sehubungan dengan itu, kami mengucapkan terima kasih kepada tim penerjemah dan tim konsultan penerjemahan yang sudah bekerja keras sehingga buku ini hadir di tengah-tengah pembaca.
Mudah-mudahan buku Tuanku Lareh Simawang ini dapat dibaca oleh masyarakat umum. Terutama bagi kalangan pelajar seluruh Indonesia.
Padang, November 2021
Aminulatif, S.E., M.Pd.
iv
ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN
Upaya penerjemahan kaba ke dalam bahasa Indonesia pernah dilakukan setidaknya pada dua masa, yakni tahun 1880-an dan tahun 1920-an. Penerjemahan tahun 1880-an terjadi karena populernya cerita berbentuk hikayat yang sesuai sifatnya membutuhkan cerita-cerita anonim, sementara penerjemahan tahun 1920-an dilakukan untuk kebutuhan pertunjukan tonil, nama lain sandiwara, pada zaman penjajahan Belanda. Sutan Manangkerang (1885) dan Maninjau Ari (1891), misalnya, adalah contoh kaba yang pernah diterjemahkan sebagai hikayat, sedangkan kaba-kaba yang diterjemahkan sebagai tonil bisa dilihat pada kaba Cindua Mato (1924) atau Sabai Nan Aluih (1929).
Akan tetapi, bila dicermati, penerjemahan kaba dalam bentuk hikayat maupun untuk kebutuhan naskah dalam pementasan tonil, tidak bisa disebut sebagai penerjemahan kaba ke dalam bahasa Indonesia. Kedua upaya penerjemahan dimaksud, dengan segera bisa kita lihat, telah menghilangkan karakter atau substansi kaba yang sangat kental sebagai prosa berirama. Dalam prosa berirama, hal yang paling menentukan, tak lain tak bukan, adalah hadirnya unsur- unsur bunyi yang bisa didendangkan. Itulah sebab, dalam pembukaan berbagai kaba, lazim tercantum pantun berikut:
v
Palupuah tadia nan dibantang Puti batanun suto perak Sungguahpun kaba nan didendang Suri tauladan untuak rang banyak
(Pelupuh tadir yang dibentang Puti bertenun sutra perak Sungguhpun kaba yang didendang Suri teladan untuk orang banyak)
Hadirnya dendang—atau lebih tepat disebut keterdendangan—dalam kaba, setidaknya ditentukan oleh sejumlah hal:
(1) adanya pantun, (2) adanya talibun (pantun berkait, baik 6 seuntai atau 8 seuntai atau bahkan 10 seuntai), dan (3) adanya pola penulisan tertentu berupa pengulangan gatra yang paling tidak terdiri dari 8 suku kata, sehingga, pada saat membacakan kaba, irama bisa muncul seperti halnya metrum atau ketukan dalam musik. Itulah sebab, bila misalnya sebuah gatra dalam suatu kaba kurang dari 8 suku kata, harus ditambahkan suku kata atau kata penupang seperti ‘janyo’ (misalnya pada gatra “manolah mandeh janyo denai”) atau ‘iyo’ (misalnya pada gatra “iyo ka ranah batusangka”). Sementara itu, karena struktur bahasa Indonesia tidak sama dengan struktur bahasa Minangkabau, kita harus melakukan berbagai upaya agar keterdendangan tetap terjaga. Pada gatra “jadi urang siaklah katidak” misalnya, tentu terjemahannya bukan “jadi orang siaklah ketidak”, melainkan, atau mungkin lebih tepat, “jadi orang alimlah hendaknya”. Begitu pula harus diperhatikan penggunaan kata dalam bahasa Minangkabau yang sering punya makna berbeda dengan bahasa Indonesia. Pada gatra “itulah nan di ati den” misalnya, tentu lebih tepat diterjemahkan menjadi “itulah yang saya kehendaki” dibanding “itulah yang di hati saya”. Hal lain, pada kasus gatra tidak bisa diterjemahkan dalam jumlah suku kata yang sesuai metrum atau disyaratkan oleh ketukan, penerjemahan dilakukan dengan memberikan catatan kaki. Kasus
vi
seperti ini tentulah terjadi pada gatra yang memuat kata-kata bahasa Minangkabau yang sangat khas, yang padanannya dalam bahasa Indonesia tidak ada sehingga harus diurai atau diterang-jelaskan. Pada kasus gatra memuat kata-kata bahasa Minangkabau yang tidak diketahui artinya (biasanya kata-kata arkaik), hal yang dilakukan adalah kata tersebut dicetak miring (italiq) lalu diberi catatan kaki berupa kemungkinan arti kata dimaksud dalam bahasa Indonesia.
Demikianlah sejumlah hal yang menurut kami, tim konsultan, perlu diperhatikan oleh para penerjemah kaba yang menerjemahkan kaba ke dalam bahasa Indonesia. Sangat ingin kami katakan, penerjemahan kaba sebagai kaba (bedakan dengan penerjemahan kaba sebagai hikayat dan naskah sandiwara untuk kebutuhan pertunjukan tonil seperti pernah terjadi pada dua masa sebelumnya) sungguh sangat penting. Andai upaya penerjemahan kaba—dan kemudian penerbitannya tentu saja—tidak dilakukan sekarang, kita waswas: Apakah pada masa kemudian masih akan ada pihak yang peduli, mengingat zaman serba digital sudah menganga di depan mata. Untuk itu, penghargaan dan terima kasih harus kami ucapkan kepada Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat yang telah berinisiatif melakukan program penerjemahan sejumlah kaba ini (23 judul) ke dalam bahasa Indonesia.
Atas nama Tim Konsultan Penerjemah,
Gus tf Sakai
vii
viii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................ iii
KEPALA BALAI BAHASA PROVINSI SUMATERA BARAT ............. iii
ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN............................... v
DAFTAR ISI .................................................................................... ix
Pai Kumisi ....................................................................................... 2
PERGI MENGOMISI........................................................................ 3
Pantang Tatagahkan ..................................................................... 10
PANTANG DICEGAH ...................................................................... 11
Hati Paibo Mambaok Sansai ......................................................... 24
HATI PENGIBA MEMBAWA SANSAI............................................ 25
Basimbah Darah............................................................................ 44
BERSIMBAH DARAH .................................................................... 45
Tuah Dicari Hino nan Buliah.......................................................... 58
TUAH DICARI HINA YANG DATANG ............................................ 59
Sasa Kudian Indak Paguno ........................................................... 80
SESAL KEMUDIAN TIDAK BERGUNA.......................................... 81
ix
x
TUANKU LAREH SIMAWANG
Pai Kumisi
Pado maso dewaso ini, sialah urang nan urangnyo, nan tacelak tampak jauah, nan tabirungoh tampak hampia, iyolah Tuanku Lareh Simawang, dunsanak dek Siti Rawiyah, awaklah lareh janyo urang, kan inyo ka pai kumisi, iyo ka ranah Batusangka, nan ka rumah Angku Kapalo.
Dicari malah pakaian, lalu mamakai hanyo lai, dikanakkan sarawa panjuik, lakeklah baju guntiang kaliang, saluak tateleang di kapalo, karih tasisiak di pinggang, pakai sisampiang kain balapak.
Mancaliak nan bak kian, batanyo sanan padusinyo, iyo si Siti Jamilah,
“Manolah Angku janyo denai, handak kamano Angku kini, sarupo urang ka pai parang, tasirok darah mamandangi.”
Manjawab Lareh Simawang, “Adiak den Siti Jamilah, dangakan malah di Adiak denai katokan, bukan denai pai parang, hanyo denai ka pai kumisi, ka ranah Batusangka, iyo ka rumah Angku Kapalo.”
Kok inyo Siti Jamilah, sudah maklum didalam hati, kok kilek baliuang alah ka kaki, kilek camin alah ka muko, lahianyo sajo pai kumisi, batinnyo pai babini, iyo ka rumah Siti Rawani.
PERGI MENGOMISI
Pada masa dewasa itu, adalah seorang pria, dari jauh tampak tampan, dari dekat ia memikat, dialah Tuanku Lareh Simawang, saudara Siti Rawiyah, awak lareh¹ kata orang, akan pergi mengomisi, pergi ke ranah Batusangkar, ke rumah Angku Kapalo².
Dicari malah pakaian, lalu dipakainya sarawa panjuik³, mengenakan baju gunting keling, seluk terteleng di kepalanya, destar terlilit di kepala, keris tersisip di pinggang, memakai kain balapak⁴ di pinggang.
Melihat seperti itu, bertanya istrinya Siti Jamilah, “Hendak ke mana Angku sekarang, serupa orang akan pergi perang, tersirap darah memandangnya.”
Menjawab Lareh Simawang, “Adik den⁵ Siti Jamilah, dengarkan oleh Adik denai katakan, bukan denai pergi perang, denai hanya pergi mengomisi, akan ke ranah Batusangkar, ke rumah Angku Kapalo.”
Siti Jamilah sudah maklum, kilat beliung sudah ke kaki, kilat cermin sudah ke muka, lahirnya saja pergi mengomisi, batinnya pergi beristri, ke rumah Siti Rawani.
1) Jabatan setingkat Camat
2) Kepala Kampung
3) Sejenis Celana
4) Sejenis kain tenun
5) Saya, kependekan denai
Bakato sanan Siti Jamilah, “Oi Angku joden di angku, angku den Lareh Simawang, dangakan malah dek Angku, denai bapantun baibarat:
Kudo banamo si Katani Dipauik di dalam hutan; Tasirok darah mamandangi Mancaliak Angku ka bajalan.”
Manjawab Lareh Simawang, “Adiak den Siti Jamilah, usahlah Adiak barusuah hati, jan lah Adiak tacameh bana, urang panggamang dareh hanyuik, urang nan pancameh lakeh jatuah.”
Sanan bakato Siti Jamilah, iyo bakato sambia bapantun:
“Ka ayia ka pasia lawik Baru tibo kami lah mandi; Apo gunonyo ka disabuik Itu timbangan Angku sendiri.”
Kato nan tidak bajawab lai, dek Angku Lareh Simawang, inyo lah turun ka laman, diracak kudo diguritiahkan, kudo manduo lari kancang, manuju ka ranah Batusangka.
Alah sarantang pajalanan, cukuik katigo rantang panjang, nan jauah raso kan hampiang, nan dakek raso ka tibo, lah tibo inyo di sanan, iyo di ranah Batusangka, tibo di laman rumah Angku Kapalo.
Kudo mandompak maringih panjang, sanan takajuik Angku Kapalo, lalu disonsong ka laman, diparenai naiak ka rumah.
Kununlah Lareh Simawang, duduak sakali di kurisi, titiaklah parentah duo tigo, alah sudah malah barundiang, lamo sabanta antaronyo, bakato Lareh Simawang. “Oi Angku joden di angku, dangakan dek Angku elok-elok:
Bapikek dalam bapikau Anak puyuah balari-lari; Maliek sadang mahimbau Maliek Siti Rawani.
Berkata Siti Jamilah, “Oi Angku denai Lareh Simawang, dengarkanlah oleh Angku, denai berpantun beribarat:
Kuda bernama si Katani Dipaut di dalam hutan; Tersirap darah memandangi Melihat Angku kan berjalan.”
Menjawab Lareh Simawang, “Adik den Siti Jamilah, usahlah Adik bersusah hati, jangan Adik cemas benar, urang penggamang dareh hanyuik, urang nan pancameh lakeh jatuah.” 6
Siti Jamilah berkata, ia berkata sambil berpantun:
“Ke air ke pasir laut Baru tiba kami telah mandi; Apa gunanya disebut Itu timbangan Angku sendiri.”
Kata tak lagi dijawab, karena Lareh Simawang, telah turun ke halaman, ia menunggang dan melecut kuda, kuda lari sangat kencang, menuju ke Batusangkar.
Telah serentang perjalanan, cukup ketiga rentang panjang, yang jauh rasa kan dekat, yang dekat rasa kan tiba, telah sampai ia di sana, yaitu ranah Batusangkar, sampai di rumah Angku Kapalo.
Kuda mendompak meringis panjang, terkejut Angku Kapalo, ia menyongsong ke halaman, mengundang lareh naik ke rumah.
Kononlah Lareh Simawang, langsung duduk di kursi, turun perintahnya dua-tiga, setelah selesai berunding, tidak lama antaranya, berkata Lareh Simawang, “Oi Angku dengarkan baik-baik:
Dipikat dalam berpikau Anak puyuh berlari-lari; Melihat sedang mengimbau Melihat Siti Rawani.
6) Harus punya pendirian
Angku panggialah, Angku himbau inyo ka mari,” katonyo Lareh Simawang.
Mandanga kato nan bak itu, manjawab Angku Kapalo, “Dangakan pulo dek Angku:
Cacak balari ateh kasau Jatuah badabuak sampai mati; Tidak ka rago ka dihimbau Inyo ka mari tiok hari. Alah ka ladang urang bakabun Bungonyo kambang tangah hari; Usah diharok buruang nantun Balun balago musin kini.”
Mandanga rundiangan nan bak kian, tamanuang Lareh Simawang, tangan tatagun ateh meja, rintang bamanuang di kurisi.
Sadang samaso leh nantun, tadanga suaro di laman, sanan bakato Angku Kapalo,
“Oi Angku joden di angku, itu lah si Siti Rawani, manjanguah malah Angku ka halaman.”
Takajuik Lareh Simawang, dilapeh pandangan ka laman, alah tampak si Siti Rawani, dipatuik bana nyato-nyato, dicaliak bana jaleh-jaleh, rancak nan bukan alang-alang, mukonyo nan bak bulan panuah, pipinyo bak pauah dilayang, hiduang bak dasun tungga, bulu mato bak samuik sairiang, allahu rabbi rancak romannyo, bakucaklah iman mamandangi, sariklah urang ka judunyo.
Lamo lah Tuanku Lareh, tapukau maliek Siti Rawani, sanan bakato Lareh nantun:
“Pisang timbatu di laman Makanan urang samuonyo; Aka jo budi dijalankan Sampai ka bapak jo mandehnyo.”
Angku panggilkanlah dia, Angku suruh ia ke mari,” perintah Lareh Simawang.
Mendengar kata si lareh, menjawab Angku Kapalo, “Dengarkan pula oleh Angku:
Cecak berlari atas kasau Jatuh berdebuk sampai mati; Tidak perlu raganya diimbau Orangnya ke mari tiap hari. Sudah ke ladang orang berkebun Bunganya kembang tengah hari; Usah diharap burung nantun⁷ Belum berlaga musim kini.”
Mendengar kata begitu, termenung Lareh Simawang, tangan tertegun di atas meja, asyik bermenung di kursi.
Sedang bermenung begitu, terdengar suara di halaman, berkata Angku Kapalo, “Oi Angku itu Siti Rawani, menjenguklah Angku ke halaman.”
Terkejut Lareh Simawang, dilepas pandang ke halaman, sudah tampak Siti Rawani, dipatut benar nyata-nyata, dilihatnya jelas-jelas, rancak yang bukan kepalang, mukanya bak bulan penuh, pipi bak pauh dilayang, hidung seperti dasun tunggal, bulu mata bak semut seiring, Allahu Rabbi cantik romannya, berkucak iman memandangi, sulitlah orang kan jodohnya.
Lama Tuanku Lareh terpukau, melihat Siti Rawani, berkata Lareh waktu itu:
Pisang batu di halaman Makanan orang semuanya; Akal dan budi dijalankan Sampai ke bapak dan ibunya.”
7) begitu
Sanan manjawab Angku Kapalo, “Dangakan pulo malah dek Angku:
Babelok jalan urang ka Tiku Manyimpang jalan ka muaro; Angku mananti malah dahulu Ambo batenggang jo bicaro.”
Mandanga kato nan bak kian, sanang hati Lareh Simawang, lalu bakato inyo maso itu, “Sabulan lamonyo ambo nantikan, tantukan sakali lai tidaknyo, nak dapek ambo mangirokan.”
Kununlah Lareh Simawang, kato sampai inyo pun turun, bajalan inyo ka laman, diracak sakali malah kudo, sanan bakato Angku Kapalo.
“Sungguah-sungguah malah Tuanku mananti, buruang lia kok lai namuah jinak, kok lai untuang jo bagian.”
Agaklah dek Lareh Simawang, diguratiahkan malah tali kakang, kudo manduo lari kancang, dihiliakan labuah nan panjang, alah sarantang duo rantang, cukuik katigo rantang panjang, tibo lah inyo di ranah Koto Simawang, taruih ka rumah Siti Jamilah.
Dihimbau urang jago gadang, “Manolah urang jago gadang, masuakkan malah kudo ka kandang, barilah rumpuik jo sagu.”
Indak elok dirandang kacang Elok diambiak nan babungo; Tak guno dipapanjang Elok diambiak nan paguno. Ampek bulan galanggang rami Balam tambago tigo gayo Murai babuni ateh pintu; Salam takzim badan ambo Kaba baraliah tantang itu Sungguah baraliah sanan juo.
Menjawab Angku Kapalo, “Dengarkan pula oleh Angku:
Berbelok jalan orang ke Tiku Menyimpang jalan ke muara; Angku menanti malah dahulu Hamba bertenggang dan berbicara.”
Mendengar seperti itu, senang hati Lareh Simawang, lalu ia pun berkata, “Sebulan lamanya hamba nanti, tentukan iya atau tidaknya, supaya dapat hamba bertindak.”
Kononlah Lareh Simawang, kata selesai dia pun turun, berjalan ia ke halaman, ditungganginya kudanya, berkata Angku Kapalo, “Sungguh-sungguh malah Tuanku menanti, burung liar akan jadi jinak, kalau memang untung dan bagian.”
Oleh Tuan Lareh Simawang, disentak malah tali kekang, kuda berlari dengan kencang, disusurinya jalan yang panjang, sampailah ke Koto Simawang, di rumah Siti Jamilah.
Dipanggilnya penjaga rumah, “Wahai Kau penjaga rumah, masukkan kuda ke kandang, berilah rumput dan sagu.”
Tidak elok dirandang kacang Elok diambil yang berbunga; Tidak guna diperpanjang, Elok diambil yang berguna. Empat bulan gelanggang ramai Balam tembaga tiga gaya Murai berbunyi di atas pintu; Salam takzim badan hamba Kabar beralih tentang itu Walau beralih tetap itu jua
Pantang Tatagahkan
Di hari nan sahari nantun, lorong kapado Lareh Simawang, sadang duduak tangah rumah, duduak bajuntai di kurisi, takana bana wakatu itu, lalu dituka malah pakaian, pai mandi inyo ka lubuak, iyo ka lubuak pincuran gadang.
Lamo tatagun maso itu, babagai pangana nan tibo, tabayang rupo Siti Rawani, lah sampai di dalam lubuak, tak tantu apo ka disabuik. Hari baransua rambang sanjo, sanan takajuik lareh nantun, takana bana dek inyo, lalu dibasuah sajo malah muko, indak jadi baliau mandi.
Kununlah dek Siti Jamilah, hidangan lah dilatakkan, hatinyo sakik tak tabado, namun di muko nan indak mangasan, sanan bakato hanyo lai:
“Anak urang pakan Rabaa Nak pai ka Padang Panjang; Tuanku makanlah baa Nasi alah ambo hidangkan.”
Mandanga kato nan bak kian, takajuik Tuanku Lareh Simawang, inyo nan sadang bapikia maso itu, pangana ka Siti Rawani juo, lalu dibasuah malah tangan, disuok nasi sasuok, nasi dikunyah raso sakam, ayia diminum sambiluan, hati buncah pikiran rambang, pangana ka Batusangka juo, iyo ka rumah Siti Rawani.
PANTANG DICEGAH
Adalah suatu hari, Lareh Simawang sedang duduk, duduk berjuntai di kursi, tersadar ia saat itu, lalu ditukarnya pakaian, ia pergi mandi ke lubuk, bernama lubuk pancuran besar.
Lama termenung ia waktu itu, berbagai pikiran yang datang, terbayang rupa Siti Rawani, setelah sampai di lubuk, lupa ia akan mengapa. Hari berangsur rembang senja, terkejutlah lareh itu, tersadar ia lalu membasuh muka, tidak jadi beliau mandi. Kononlah Siti Jamilah, hidangan telah diletakkan, hatinya sakit tak tertahan, namun di muka tidak kelihatan, berkata ia dengan berpantun,
Anak orang pekan Rabu Nak pergi ke Padangpanjang; Tuanku makanlah dahulu Nasi telah hamba hidangkan.”
Mendengar kata seperti itu, terkejut Tuanku Lareh Simawang, ia sedang berpikir masa itu, ingatan ke Siti Rawani juga, lalu dibasuhnya tangan, disuap nasi sesuap, nasi dikunyah rasa sekam, air diminum seperti sembilu, hati buncah pikiran rambang, ingatan ke Batusangkar juga, ke rumah Siti Rawani.
Lorong kapado Siti Jamilah, lalu batanyo sambia bapantun:
“Baburu ka Bangkahulu Dapeklah ruso kambiang hitam; Sakik kapalo garan Angku Mangko nasi tidak tamakan. Kain gadang rang Pitalah Suji nan tidak barubahan Pakaian rajo si patani; Kanai alemu garan kolah Barubah raso paratian Padoman nampak pado kami.”
Disindia nan bak itu, manjawab Lareh Simawang, “Dangakan malah dek Adiak denai katokan:
Denai hilia ka Pariaman Singgah ka rumah nak rang Tiku; Bukan barubah paratian Hati den rusuah tak batantu.”
Bakato pulo Siti Jamilah, suaro lah mulai garuak parau:
“Tanamlah pinang di laman Jatuah salodang silaronyo; Barubah Angku di timbangan Samantang ka bulek-bulek bungo rayo. Tinggilah bukik Gunuang Sago Tampek ka ladang rang bakabun; Usahlah Angku mahandok juo Angku kumisi denai lah maklum.”
Kununlah dek Siti Jamilah, bajalan inyo ka dalam biliak, ayia mato badarai-darai, takana untuang jo bagian, awak di dalam bababan barek, masuak tujuah bulan panuah, anak rang dalam paibo hati, dirameh paruik dikaluahkan, mangaluah maharang panjang.
Ada pun Siti Jamilah, bertanya ia sambil berpantun:
“Berburu ke Bengkulu Dapatlah rusa kambing hutan; Sakit kepala gerangan Angku Maka nasi tidak termakan. Kain besar orang Pitalah Suji yang tak berubahan Pakaian raja si petani; Kena ilmu gerangankah Berubah rasa perhatian Pedoman tampak pada kami.”
Disindir seperti itu, menjawab Lareh Simawang, “Dengarkan oleh Adik denai katakan,
Denai pergi ke Pariaman Singgah ke rumah orang Tiku; Bukan berubah perhatian Hati denai rusuh tak menentu.”
Berkata pula Siti Jamilah, suaranya telah mulai serak parau.
“Tanamlah pinang di halaman Jatuh seludang selaranyanya; Berubah Angku di timbangan Mentang-mentang ‘kan bulat-bulat bunga raya. Tinggilah bukit Gunung Saga Tempat ke ladang orang berkebun; Usahlah Angku sembunyikan juga Angku mengomisi denai telah maklum.”
Kononlah Siti Jamilah, berjalan ia ke dalam bilik, air mata berderai-derai, teringat untung dan bagian, awak yang sedang berbeban berat⁸, masuk tujuh bulan penuh, sedang dalam beriba hati, diremasnya perut dikeluhkan, mengeluh ia mengerang panjang.
8) Hamil
Diliek laki gilo bamanuang juo, hatinyo batambah sansai juo, manganakan untuang jo parasaian, awaklah nyato urang dagang, tidak bakampuang balaman, tidak badusun banagari, tidak barumah bataratak, tidak bakaum bakirabat.
Tipak di diri Siti Jamilah, lorong kapado dang rauik romannyo, sariklah pulo ka tandiangannyo, muko panuah bak bujua talua, hiduang mancuang bak dasun tungga, pipi nan bak pauah dilayang, bulu mato bak samuik baririang, daguaknyo nan bak labah hinggok, langannyo bak lilin dituang, batihnyo bak paruik padi, tumiknyo bak talua buruang, randah tidak tinggi pun tidak, sadang elok bapatutan.
Alah sahari duo hari, sampailah sapuluah hari, Lareh Simawang bamanuang juo, hati batambah sansai juo, manganakan untuang jo parasaian, alah datang candonyo surek, iyo dari ranah Batusangka, lalu dibaco hanyo lai, ado rahasio di dalamnyo.
“Mamintak Tuanku datang ka rumah Angku Kapalo, dek karano janji nan dahulu, pintak bak raso ka buliah, kandak bak raso ka balaku, lakeh malah Tuanku basugiro, datang ka ranah Batusangka.”
Salasai surek dibaco, sanang raso kiro-kiro, tabayang sakali roman Siti Rawani, bajalan inyo sakali, maadok ka rumah Siti Rawiyah.
Alah sarantang duo rantang, cukuik katigo rantang panjang, jauah basarang hampia, dakok raso ka tibo, lah tibo inyo di sanan, iyo di rumah aciaknyo Siti Rawiyah. Maliek Lareh Simawang lah tibo, dikambangkan lapiak tangah rumah, dihimbau malah bapaknyo, lah naiak Tuanku Lareh Simawang, sanan bakato inyo lai, “Oi Aciak joden di aciak, aciak den Siti Rawiyah, ado sabuah denai katokan, denai ka pai babini, iyo ka rumah Siti Rawani, nan di ranah Batusangka.”
Mandanga kato nan bak kian, indak ado jawaban dari aciaknyo, sanan bakato Angku Guru, iyolah bapak kanduangnyo, “Anak kanduang Lareh Simawang, hanyo sabuah sabuah sajo denai rusuahkan, utang dibayia kok indak lansai, mato tak suko urang mancaliak, talingo tak suko urang mandanga, hilang dagang baganti dagang.
Melihat suami gila bermenung, hatinya bertambah sengsara, mengingat nasib dan penderitaan, awak nyata orang dagang⁹, tidak berkampung halaman, tidak berdusun bernagari, tidak berumah berteratak, tidak berkaum berkerabat.
Sedangkan diri Siti Jamilah, dilihat raut wajahnya, sulitlah pula ada tandingannya, muka penuh seperti telur, hidung mancung bak dasun tunggal, pipi nan bak pauh dilayang, bulu mata bak semut beriring, dagunya seperti lebah bergantung, lengannya seperti lilin dituang, betisnya seperti perut padi, tumitnya bak telur burung, pendek tidak tinggi pun tidak, sedang-sedanglah saja.
Telah sehari dua hari, sampailah sepuluh hari, Lareh Simawang bermenung juga, hati bertambah susah jua, mengingat untung dan penderitaan, telah datang sepertinya surat, dari ranah Batusangkar, lalu dibaca dalam rahasia.
“Meminta Tuanku datang, ke rumah Angku Kapalo, karena janji yang dulu, pinta rasa akan boleh, kehendak rasa ‘kan berlaku, lekas malah Tuan bersegera, datang ke ranah Batusangkar.”
Selesai membaca surat, senanglah rasa pikiran, terbayang roman Siti Rawani, segera ia bepergian, ke rumah Siti Rawiyah.
Melihat Lareh Simawang tiba, Siti Rawiyah mengembangkan tikar, ia lalu memanggil ayahnya, setelah Lareh Simawang duduk, berkatalah ia pada mereka,
“Oi Aciak¹⁰ Siti Rawiyah, denai ingin menyampaikan, den akan pergi beristri, ke rumah Siti Rawani, yang di ranah Batusangkar.”
Mendengar kata seperti itu, adiknya hanya diam saja, berkatalah Angku Guru, bapak kandung Lareh Simawang, “Anak kandung Lareh Simawang, hanya satu yang denai rusuhkan, utang dibayar kok tidak langsai, mata tak suka orang melihat, telinga tak suka orang mendengar, hilang dagang berganti dagang.
9) Pendatang
10) Panggilan kakak/adik
Sabagai lai pulo nak kanduang, lorong kapado Siti Jamilah, anak urang sadang hamil, batapo lah ka ibo dang hatinyo, ibu tidak dunsanak tidak, kampuangnyo pun jauah sakali, kununlah pulo Siti Jamilah, roman baiak baso katuju, maluik manih kucindan murah.
Oi anak kanduang sab lah dahulu, malakik anak rang lapeh babannyo, anak kok dibincang-bincang urang, anak kok manyasa kamudian.”
Kato nan tidak bajawab, bajalanlah Lareh Simawang, iyo ka rumah Siti Jamilah, lah tibo garan di sanan, duduak bajuntai di kurisi, nasi tahidang jo minuman.
Kununlah Siti Jamilah, barapo banalah rusuah hati, capeknyo bapanyok baitu juo, lalu bakato maso itu,
“Usahlah Angku bamanuang juo, minumlah ayia ubek hauih, makanlah nasi ubek litak.”
Mandanga kato nan bak kian, lah makan Lareh Simawang, alah sasuok inyo makan, cukuik katigo inyo alah kanyang, sudah pulo marokok makan siriah.
Pado maso dewaso itu, patang Kamih malam Jum’at, dek Tuanku Lareh Simawang, dicubo maujo-ujo mangatokan, mamintak izin ka malangkah, tapi ado pulo nan dirusuahkannyo, sabab Siti Jamilah sadang bababan, cukuik katujuah bulan panuah, itulah pulo nan manyeso hatinyo, baa lah caro ka mangatokan.
Den simpai-simpai saruang Den simpai mangko den paluik; Den pikia-pikia duduak surang Raso ka kareh den anjua suruik.
Indak lamo antaronyo, bakato juo nan jadi, “Oi adiak kanduang Siti Jamilah, dangakan malah dek Adiak, nak denai curai nak denai bantangkan, denai dijapuik urang ka jadi sumando, iyo ka ranah Batusangka, nan ka rumah Siti Rawani, cucu dek jaksa nan pansiun.
Lagi pula anak kandung, Siti Jamilah sedang hamil, betapa kan iba hatinya, ibu tidak saudara tiada, kampungnya pun jauh pula. Kononlah juga Siti Jamilah, roman baik bahasa santun, mulut manis kucindan murah.
Oi anak kandung sabarlah dahulu, menjelang ia melahirkan, anak akan dibicarakan orang, anak ‘kan menyesal kemudian.”
Lareh Simawang tidak menjawab, ia berjalan pulang kembali, ke rumah Siti Jamilah, setelah tiba di sana, ia duduk melamun di kursi, nasi dan minuman telah terhidang.
Kononlah Siti Jamilah, betapa benar rusuh hati, cepat ia berkata waktu itu, “Usahlah Angku bermenung jua, minumlah air obat haus, makanlah nasi obat lapar.”
Mendengar kata seperti itu, makanlah Lareh Simawang, setelah sesuap ia makan, cukup ketiga suap ia kenyang, lalu ia merokok dan makan sirih.
Masa itu petang Kamis malam Jumat, oleh Tuanku Lareh Simawang, dicoba sedikit-sedikit berkata, meminta izin kan melangkah, tapi ada pula yang dirusuhkannya, sebab Siti Jamilah sedang berbeban, tujuh bulan penuh yang menyiksa hati, bagaimana cara untuk mengatakan,
Den simpai-simpai sarung Den simpai maka den palut; Den pikir-pikir duduk seorang Rasa kan keras den bawa surut.
Tidak lama antaranya, berkata juga ia jadinya, “Oi Adik kandung Siti Jamilah, dengarkan malah Adik, nak denai curai denai bentangkan, denai dijemput orang jadi sumando, yaitu ke ranah Batusangkar, ke rumah Siti Rawani, cucu jaksa yang pensiun.
Kini baitu malah dek Adiak, barilah izin denai malangkah, supayo nak salamaik pulang pai, nak sanang pulo paratian,”
Sanan manjawab Siti Jamilah, “Manolah Angku joden di angku, jikok itu nan Angku katokan, itu timbangan Angku sandiri, manyuruah managah denai pun tidak, hanyo sabuah nan denai pintak, lapehkan malah baban denai dulu, basungguah denai mamintak ka Angku.”
Mandanga kato nan bak kian, bakato Lareh Simawang, bakato sadang bapantun:
“Tumbuah birah di laman Tumbuah sarumpun jo kaladi; Lah sudah buek jo sukatan Tidak buliah batangguah lai.”
Sanan manjawab Siti Jamilah, bakato sadang manangih,
“Oi Angku joden di angku, denai di dalam bababan barek, lapehkan dulu denai basalin, Angku kan lah samo tahu juo, denai nan tidak badunsanak, bamamak baniniak tidak, bapak jo mandeh pun lai tidak, kok tumbuah badan sakik-sakik, kok tumbuah ngilu jo paniang, siapo ka mamintak ubek, kok si Asamsudin balunlah gadang, nan Siti Darama nak rang manjo, awak rang dagang tak batantu, itulah nan denai rusuahkan.”
Kato bajawab dek Tuanku Lareh simawang:
“Anak rang Salo di Andaleh Bladang ka Koto Pariaman; Kandak den Tuanku Lareh Pantang diambek ditagahkan.”
Manjawab Siti Jamilah, bakato sambia manangih sadu-sadan:
“Simantuang di Parik Putuih Ureknyo ka tangah jalan Tak buliah manggapai lai;
Kini begitulah Adik, beri izin denai melangkah, supaya selamat pulang pergi, supaya senang perhatian.”
Menjawab Siti Jamilah, “Jika itu yang Angku katakan, timbanglah oleh Angku sendiri, menyuruh atau mencegah, tidak ‘kan denai lakukan, hanya satu pinta denai, lepaskan beban denai dulu, bersungguh denai meminta pada Angku.”
Mendengar kata seperti itu, berkata Lareh sambil berpantun:
“Tumbuhlah birah di halaman Tumbuh serumpun dengan keladi; Telah sudah perbuatan dan timbangan Tidak boleh bertangguh lagi.”
Menjawab Siti Jamilah, berkata sambil menangis,
“Oi Angku denai di dalam beban berat, lepaskan dulu denai bersalin, Angku kan telah sama tahu, denai yang tidak bersaudara, tiada berninik mamak, bapak dan mandeh pun juga tidak, kalau sampai badan sakit-sakit, kalaulah ngilu dan pening, siapa ‘kan meminta obat, kalau si Asamsudin belumlah besar, Siti Darama anak manja, awak orang dagang tak menentu, itulah yang denai rusuhkan.”
Menjawab Tuanku Lareh Simawang,
“Anak orang Salo di Andalas Berladang ke Koto Pariaman; Kehendak den Tuanku Lareh Pantang dihambat dicegahkan.”
Menjawab Siti Jamilah, berkata sambil menangis sedu sedan:
“Sementung di Parit Putus Uratnya ke tengah jalan Tak boleh menggapai lagi;
Bakeh bagantuang nan lah putuih Bumi dipijak nan lah taban Tak buliah manggabai lai.”
Mandanga kato nan bak kian, lah berang cando Lareh Simawang,“Usah aden diragu-ragu juo, urang kok bangih ka bakeh den.”
Sanan manjawab Siti Jamilah, “Bukannyo denai maragui Angku, denai nan mangana untuang badan, siapolah urang nan ka ditompang, “katonyo Siti Jamilah, bakato sadang manangih.
Sanan mambangih Lareh Simawang, “Saradadu turuikkan di kau, urang Cino turuikkan di kau, itu urang ka kau tompangi, itu nan sabangso jo kau!” katonyo Lareh Simawang.
Sanan manjawab Siti Jamilah, “Usah bak itu kato Angku, urang dagang paibo hati, Angku kan lah samo tahu juo, kami nangko sabangso jo urang laro, dahulu mangapo tidak dipikiri, kini kanapo manjadi amun caci, usah tadorong kato-kato Angku, agak kiroilah kami saketek, dangakan di Angku buah ibarat pantun denai:
Lah masak padi sarumpun Manyabik sadang manuai Di ladang urang Koto Tuo; Usahlah kato nan bak nantun Denai nangko urang dagang sansai Bakatokan pulo tidak babangso. Babelok jalan rang Bingkudu Basimpang jalan ka Kurai Taji; Tidak patuik Angku bak itu Samantang ado ka pangganti.”
Kununlah dek Lareh Simawang, marentak turun maso itu, bakato sadang marabo:
“Mangayia ka kampuang ranah Tampak malembai si ula gerang
Tempat bergantung yang telah putus Bumi dipijak yang telah terban Tak boleh menggapai lagi.”
Mendengar kata seperti itu, marahlah Lareh Simawang, “Usah aden dilarang-larang juga, orang akan marah pada denai.”
Menjawab Siti Jamilah, “Bukannya denai melarang Angku, denai hanya mengingat untung badan, siapalah orang yang ‘kan ditumpangi, “kata Siti Jamila sambil menangis.
Marahlah Lareh Simawang, “Serdadu turutkan oleh Kau, orang Cina turutkan oleh Kau, itu orang yang ‘kan Kau tumpangi, itu yang sebangsa dengan Kau!” Kata Tuanku Lareh Simawang.
Menjawab Siti Jamilah, “Usah bak itu kata Angku, orang dagang pengiba hati, Angku kan telah sama tahu, kami ini orang susah, dahulu mengapa tidak dipikir, kini mengapa jadi amun caci, usah terdorong kata-kata Angku, tengganglah kami sedikit, dengarkan buah ibarat pantun denai:
Telah masak padi serumpun Menyabit sedang menuai Di ladang orang Koto Tuo; Usahlah kata nan baknantun Denai ini orang dagang sansai Dikatakan pula tidak berbangsa. Berbelok jalan rang Bingkudu Bersimpang jalan ke Kurai Taji; Tidak patut Angku seperti itu Sementang ada ‘kan pengganti.”
Kononlah Lareh Simawang, merentak turun masa itu, sambil marah ia berkata,
“Mengail ke kampung ranah Tampak melambai si ular gerang
Dibunuah dek anak urang Kurai; Sajak satampok dari tanah Tak denai dilarang-larang urang Kununlah pulo dek si dagang sansai.” Hari Rabaa ramilah pakan Rami di urang jua bali Disiko kaba dihantikan Di aliah kaba hanyo lai.
Dibunuh oleh anak orang Kurai; Sejak tinggi setapak dari tanah Tak denai dilarang-larang orang Kononlah pula oleh si dagang sansai.” Hari Rabu ramailah pekan Ramai karena orang berjual beli; Di sini kabar dihentikan Dialihkan kaba ke yang lain lagi.
Hati Paibo Mambaok Sansai
Pado maso dewaso itu, tipak di diri Siti Jamilah, alah manangih sadu-sadan, mangana untuang jo parasaian, ayaia mato badarai-darai, nan bak maniak putuih talinyo, nan bak intan putuih pangarangnyo, badan nan tidak ba nan kanduang, babapak bamandeh tidak, badunsanak pun jauah sakali, takana bana sakutiko, dihimbau malah anak nan baduo, iyo si Darama jo si Asamsudin, bapantun barusuah hati.
“Anak kanduang si Darama nan surang si Asamsudin, dangakan dek kalian jaleh-jaleh, simakkan dek kalian elok-elok:
Ka pakan ka kampuang Baso Mambali kain basahan; Untuang kito tidak babangso Sa pai jo budak balian.
Anak kanduang si Darama, marasai bana malah kito, kana bana dek anak untuang kito, lah dapek di ayah kau pangganti mandeh, iyolah si Siti Rawani.”
Di hari sahari itu, kununlah Lareh Simawang, lah mahimbau rang jago gadang.“Manolah rang jago gadang, japuiklah kudo ka kandang, lakekkan sakali palanonyo.”
HATI PENGIBA MEMBAWA SANSAI
Pada masa dewasa itu, Siti Jamilah menangis sedu sedan, mengingat untung dan penderitaan, air mata berderai-derai, seperti manik-manik putus talinya, seperti intan putus pengikatnya, badan yang sebatang kara, berbapak bermandeh tidak, bersaudara pun jauh sekali, tersadar ia seketika, dipanggil malah anak yang berdua, si Darama dan si Asamsudin, berpantun berusuh hati.
“Anak kandung Darama dan Asamsudin, dengarkan oleh kalian jelas-jelas, simakkan oleh kalian elok-elok:
Ke pekan ke Kampung Baso Membeli kain basahan; Untung kita tidak babangso Sama dengan budak belian.
Anak kandung si Darama, tersiksa benar malah kita, ingat benar oleh anak nasib kita, telah dapat ayah Kau pengganti mandeh, ialah si Siti Rawani.”
Di hari yang sama itu, Lareh memanggil penjaga rumah, “Penjaga rumah, jemputlah kuda ke kandang, pasangkan sekali pelananya.”
Lah diracak malah kudo, cambuik lakek kudo balari, kudo manduo balari kancang, banyaklah kelok nan talalui, jauah basarang hampia juo, dakek raso ka tibo, lah tibo garan di sanan, iyo di laman rumah Siti Rawani, kan iyo basaluak tando samaso itu
Alah sudah batimbang tando, baliaupun sugiro turun ka laman, diiriangkan dek Angku Kapalo.
Aluran dek Tuanku Lareh, sasudah putuih mupakat tantang hari kutikonyo, babaliak pulang hanyo lai, iyo ka rumah Siti Jamilah.
Dipacu kudo samaso itu, baru sampai inyo di sanan, dihimbau rang jago gadang, disuruah masuakkan kudo ka dalam kandang.
Kan iyo samaso itu, naiak ka rumah hanyo lai, duduak bajuntai di kurisi, sanan bakato sambia bapantun, mahibur hati Siti Jamilah:
“Maro-maro di tangah rimbo Ka tungkek Sutan Manangkerang; Tidak denai ka lamo-lamo Baru tibo babaliak pulang. Pancuanglah taleh rang Kurinci Ambiak pambungkuih tu daunnyo; Sungguahpun denai pai babini Awakden di rumah iko juo.”
Sanan manjawab Siti Jamilah, “Kok itu Angku katokan, indaklah ka mangapo dek kami urang dagang, walaupun babilang tahun atau bamusin.
Dangakan malah dek Angku, ibarat pantun dagang sansai: Baparak ka parak urang Tidaklah buliah batanam tabu; Bamamak ka mamak urang Tidak buliah tampek mangadu. Ka ladang rang Koto Tuo Tumbuahlah bayam jarang-jarang Talang dilateh nak rang Subarang;
Setelah kudanya datang, ia menunggangi kuda itu, cambuk lekat kuda berlari, kuda mendudu berlari kencang, banyaklah kelok terlalui, jauh bersarang hampir juga, dekat rasa akan tiba, setelah sampai di sana, di rumah Siti Rawani, mereka basaluak tando¹¹.
Setelah bertimbang tanda, beliau pun turun ke halaman, diiringi oleh Angku Kapalo. Ada pun Tuanku Lareh, sesudah putus mufakat, tentang hari menikahnya, ia pun pergi berbalik pulang, ke rumah Siti Jamilah.
Dipacu kuda masa itu, baru sampai ia di rumah, dipanggilnya penjaga rumah, untuk memasukkan kuda dalam kandang.
Kemudian ia naik ke rumah, duduk melamun di kursi, berkata sambil berpantun, menghibur hati Siti Jamilah,
“Rama-rama di tengah rimba Untuk tongkat Sutan Manangkerang; Tidak denai kan lama-lama Baru tiba berbalik pulang. Pancunglah talas orang Kerinci Ambil untuk pembungkus daunnya; Sungguh pun denai pergi beristri Tapi den tetap di rumah ini juga.”
Menjawab Siti Jamilah, “Kalau itu Angku katakan, tidak apa bagi kami orang dagang, walaupun berbilang tahun atau musim, dengarkan malah oleh Angku, ibarat pantun dagang sansai:
Berparak ke parak orang Tidaklah boleh bertanam tebu Bermamak ke mamak orang Tidak boleh tempat mengadu. Ke ladang orang Koto Tuo Tumbuhlah bayam jarang-jarang Talang dipotong anak orang Seberang;
11) Bertukar tanda
Kami rang dagang tak babangso Antah siapo ka ditompang Antah Cino di Padang Panjang.”
Mandanga kato nan bak kian, marentak turun Lareh Simawang, sadangkan dek Siti Jamilah, dipikia-pikia dihinokkan di dalam hati, buruak nan tidak elok lai, dibaok tidua tidak takalokkan, dibaok duduak kaluah-kasah, makan hati barulam jantuang, nasi dimakan raso sakam, ayia diminum sambiluan, ayia mato badarai-darai, bakato sadu-sadan,
“Oi anak kanduang Siti Darama nan surang si Asamsudin, pado hiduik baputiah mato, eloklah mati bakalang tanah, awak ka gadang juo janyo urang, kok mati kito kini-kini, tidaklah ado nan ka maratoki, kini baitu malah dek kalian, mandi balimau malah kito, iyo ka lubuak mato kuciang.”
Mandanga kato mandeh kanduang, sanan manjawab si Asamsudin, “Mandeh kanduang joden di Mandeh, dangakan pulo malah di Mandeh, usahlah kito pai ka kian, di siko kan ayia lai janiah juo, di siko kan lai juo sayak nan landai.”
“Usah dijawab kato mandeh, takasia awak janyo urang, mandi balimau molah kito lai, “baitu kato si Darama.
Manjawab pulo si Asamsudin, “Manolah Aciak janyo ambo, dangakan malah dek Aciak pantun ambo:
Kok mandi badan bak kini Mandi ka lubuak urang Canduang Bakusuak jo limau kapeh; Kok mati badan bak kini Manangih tanah manganduang Mukasuik hati alun lai lapeh.”
Sanan manjawab Siti Jamilah:
“Rumah gadang di Pariaman
Kami orang dagang tidak babangso Entah siapa akan ditompang Entah orang Cina di Padangpanjang.”
Mendengar kata seperti itu, merentak turun Lareh Simawang, sedangkan oleh Siti Jamilah, dipikir dan diinapkan dalam hati, merana rasa hatinya, dibawa tidur tidak terlelap, dibawa duduk berkeluh kesah, makan hati berulam jantung, nasi dimakan rasa sekam, air diminum rasa sembilu, air mata berderai-derai, berkata tersedu sedan,
“Oi anak kandung Siti dan Asamsudin, dari pada hidup berputih mata, eloklah mati berkalang tanah, kalian akan besar juga, kalau mati kita sekarang, tidaklah ada yang akan meratap, mari berlimau kita sekarang, mandi ke lubuk mata kucing.”
Mendengar kata mandeh kandung, menjawab si Asamsudin, “Mandeh kandung denai dengarkanlah, usahlah kita pergi ke sana, di siko kan aia lai janiah juo, di siko kan lai juo sayak nan landai¹².”
Berkata Siti Darama, “Usah dibantah kata Mandeh, takasia¹³ kita kata orang, mandi berlimau malah kita.
Menjawab pula si Asamsudin, “Aciak dengarkan malah pantun hamba,
Kok mandi badan sekarang Mandilah ke lubuk orang Canduang Digosok dengan jeruk nipis; Kalau mati badan sekarang Menangis tanah mengandung Maksud hati belumlah lepas.”
Menjawab Siti Jamilah:
“Rumah gadang di Pariaman
12) Kiasan mencari keadilan
13) Durhaka
Rumah si Upiak nan di ranah; Pado malu kito tangguangkan Eloklah mati bakalang tanah.”
Lalu turun ka laman, turunlah inyo batigo baranak, sanan bakato Siti Jamilah, kapado urang jago gadang, “Hunikan rumah dek urang jago, kami ka pai mandi, iyo ka bukik Si Galo Gandang, nan ka lubuak mato kuciang, kami bajalan hanyo lai, bajalan batigo baranak.”
Sanan manjawab rang jago gadang, “Manolah Aciak janyo denai, kok itu nan Aciak katokan, sugiro malah Aciak babaliak pulang, denai takuik di rumah surang, pintu kok tidak nan bapasak, urang kok datang nan batanyo, ka mano Aciak denai katokan?”
Bakato Siti Jamilah:
“Sutan Saidi pai bapikek Jarek di mano dipauikkan Di ladang rang Koto Tuo; Kok tumbuah sudi jo siasek Nan ka maibo usah dikatokan Binaso kami batigo.”
Manjawab rang jago gadang, “Dangakan pulo bicaro denai dek Aciak:
Lah lareh bungo limau kapeh Duo jo bungo limau paga; Badatuih hati den malapeh Badabok darah den nan tingga.”
Kato nan tak bajawab lai, bajalanlah Siti Jamilah, bajalan baibo hati, badan saraso bayang-bayang, ayia mato badarai-darai, mairiang si Darama di sabalah suok, nan di kida si Asamsudin, anak dibimbiang kaduonyo.
Hari nan sadang tangah hari, sadang bunta bayang-bayang, sadang nan litak-letai anjiang, sadang bakulik si alang bangkeh,
Rumah si Upik nan di ranah; Dari pada malu kita tanggungkan Eloklah mati berkalang tanah.”
Lalu turunlah ia ke halaman, turun bertiga beranak, berkata Siti Jamilah, “Penjaga rumah hunikan rumah, kami akan pergi mandi, berlimau ke bukit Galo Gandang, ke Lubuk Mata Kucing kami berjalan, pergi bertiga beranak.”
Menjawab penjaga rumah, “Kalau itu perintah Aciak, cepatlah Aciak berbalik pulang, denai takut di rumah sendiri, jika pintu tidak terkunci, jika orang datang bertanya, ke mana Aciak denai katakan?”
Berkata Siti Jamilah:
“Sutan Saidi pergi memikat Di mana jerat dipautkan Di ladang orang Koto Tuo; Jika tumbuh sudi dan siasat Yang menyedihkan usah dikatakan Binasa kami batigo¹⁴.”
Menjawab penjaga rumah, “Dengarkan bicara denai oleh Aciak:
Sudah gugur bunga jeruk nipis Bersama dengan bunga limau paga¹⁵; Susah hati den melepas Berdetak jantung den yang tingga¹⁶.”
Siti Jamilah tidak menjawab, ia berjalan sambil beriba hati, badan serasa bayang-bayang, air mata berderai-derai, si Darama di sebelah kanan, yang di kiri si Asamsudin, anak dibimbing keduanya.
Hari yang sedang tengah hari, sedang bundar bayang-bayang, sedang litak-letai anjing, sedang berbunyi si alang bangkeh¹⁷,
14) bertiga
15) Asam Pagar
16) Tinggal
17) Elang berbintik putih
sadangnyo langang urang kampuang, sadang linduang saliguri, bajalan inyo tigo baranak, rusuah hati tidak tabado, ayia mato badarai-darai juo, bapantun jo hati nan ibo:
“Mangko denai pai balayia Naik parahu jo pancalang; Luluah tulang taraso cayia Dek kanai kato Lareh Simawang.”
Alah sarantang pajalanan, cukuik kaduo rantang panjang, alah tibo garan di sanan, iyo di lubuak mato kuciang, nan di bukik Galo Gandang.
Bakato Siti Jamilah, “Bukaklah baju si Asamsudin nan surang si Darama, mandi balimau molah kita lai, kito nan tidak guno hiduik lai.”
Alah mandi si Asamsudin sarato jo si Darama, batigo jo Siti Jamilah, lalu bakato si Darama:
“Ikan di ayia kanai tubo Sampan mamutiah barapuangan; Tampan ka singkek umua kito Basamo dalam palimauan.”
Dangakan pulo malah dek Aciak, “ katonyo si Asamsudin:
“Urang dibuang dari nagari Hukuman Lareh Koto Gadang Tangan dipalanggu kaduonyo; Nan di hari sahari nangko Nyawo putuih badan barpulang Antah baapo ka jadinyo.
Ikolah bukik si Galo Gandang, iko nan lubuak mato kuciang, ikolah pamedanan ayah kanduang, bakeh rapek Basa Batuah, di siko urang bajajaran, di sik piutang batarimoan, di siko parentah batitiakkan.”
sedang lengang orang di kampung, sedang ramai orang di balai, sedang lindung Seleguri, berjalan juga mereka bertiga, rusuh hati tidak terbendung, air mata berderai-derai jua, berpantun dengan hati yang iba:
“Makanya denai pergi berlayar Naik perahu dan pincalang; Luluh tulang serasa cair Karena kata Lareh Simawang.”
Sudah serentang perjalanan, cukup kedua rentang panjang, telah tiba mereka di sana, sampai ke lubuk mata kucing, di bukit si Galo Gandang.
Berkata Siti Jamilah, “Bukalah baju Asamsudin dan Siti, mandi berlimau malah kita, kita yang hidup tak berguna lagi.”
Telah mandi Asamsudin dan Darama, bertiga dengan Siti Jamila, lalu berkata si Darama:
“Ikan di air kena tuba Sampan memutih berapungan; Seperti akan singkat umur kita Bersama dalam permandian.”
“Dengarkan pula malah oleh Aciak, kata si Asamsudin:
Orang dibuang dari nagari Hukuman Lareh Koto Gadang Tangan dibelenggu keduanya; Yang hari sehari ini Nyawa putus badan berpulang entah apa kan jadinya.”
Inilah Bukit si Galo Gandang, inilah Lubuk Mata Kucing, inilah medan ayah kandung, bekas rapat Basa Batuah¹⁸, di sini orang berjajar, di sini piutang diterima, di sini perintah diberikan.”
18) Panggilan untuk Penghulu
Bakato pulo mandehnyo Siti Jamilah, bapantun baibarat:
“Patahlah daun rigo-rigo Kaduo jo daun bungo kinari Dibaok angin ka patani; Ka mari sakali nangko Tantukan bana kini-kini Tidak mungkin barulang lai.”
Manjawab si Darama, “Toh molah kito babaliak pulang.” Alah basugiro katigonyo, babaliak pulang hanyo lai, alah dikamehi sagalo pakaian, lalu bakato maso itu:
“Tinggi malanjuak lah iko aua Tidak ka kami tabang lai; Tingga mancaguik lah iko sumua Tidak ka kami jalang lai.”
Salamo lambek nan bak kian, alah sarantang pajalanan, cukuik kaduo rantang panjang, basuo jalan basimpang duo, lalu dipiliah nan bakelok ka suok, jalan nangko iyo ka rumah bako si Darama.
Bajalanlah inyo bairiang-iriang batigo, hampia ka tibo hanyo lai, iyo di laman rumah Siti Rawaiyah, surang pun tiado nan nampak, dek untuang ka paruntuangan, manjanguah Siti Rawiyah, lalu bapantun baibarat:
Cubadak di tangah laman Tataruang dek ampu kaki Usah kakak tatagun di laman Itu cibuak basuahlah kaki.”
Manjawab mandeh si Asamsudin:
“Mangko den pai ka pakan Sagan den pai ka sawah; Mangko den tagak di laman Den sangko tidak di rumah.
Berkata pula mandehnya, Siti Jamilah berpantun beribarat:
“Patahlah daun rigo-rigo¹⁹ Bersama dengan daun bunga kenari Dibawa angin ke petani; Kemari sekali nangko²⁰ Tentukan benar kini-kini Tidak mungkin terulang lagi.”
Menjawab si Darama, “Mari kita berbalik pulang.” segera ketiganya berbalik pulang, segala pakaian telah dikemasi, lalu berkata masa itu:
“Tinggi melanjut lah aur ini Tidak kan kami tebang lagi; Tinggal mancaguik²¹ lah sumur ini Tidak kan kami jelang lagi.”
Selama dalam berjalan, telah serentang perjalanan, cukup dua rentang panjang, berjumpa mereka jalan simpang dua, lalu dipilih yang berkelok ke kanan, jalan ke rumah bako si Darama.
Berjalan mereka beriring-iring, setelah tiba di halaman, rumahnya Siti Rawiyah, seorang pun tidak tampak, karena nasib sedang beruntung, menjenguk Siti Rawiyah, lalu ia berpantun beribarat:
“Cempedak di tengah halaman Terlanda empu kaki; Usah kakak berdiri di halaman Itu gayung basuhlah kaki.”
Menjawab mandeh si Asamsudin:
“Maka denai pergi ke pekan Segan denai pergi ke sawah; Maka denai tegak di halaman Denai sangka tidak di rumah.
19) Sejenis Pohon
20) Saat ini
21) Termangu
Bukan den ka nari-nari sajo Kanari nak rang subarang; Bukan den ka mari-mari sajo Gadang mukasuik nan manjalang.”
Manjawab Siti Rawiyah, “Oi Aciak den Siti Jamilah, parenai malah Aciak ka rumah, lapiak alah sudah denai bantangkan, iko kami sadang barundiang-rundiang.”
Alah naiak Siti Jamilah, batigo jo anaknyo, lalu duduak di tangah rumah, sanan bakato Siti Rawiyah.
“Manolah Aciak kanduang Siti Jamilah, lah lamo kito tidak batamu, dek rintang karajo nan tak kunjuang salasai, tiok dikakok batambah juo.
Kambanglah jalo diserakkan Kanailah anak tali-tali; Sado nan ado dilatakkan Kok tidak ka mano ka dicari.”
Manjawab Siti Jamilah:
“Kok iyo kanai tali-tali Kapalo usah dibuangkan; Baru talatak tabuang kopi Lapeh rasonyo hauih rakuangan.”
Sasudah minum jo makan, bakato Siti Jamilah, “Aciak den Siti Rawiyah, dangakan malah dek Aciak elok-elok, usah Aciak salah tarimo, dek karano denai di dalam bababan barek, nyawo di dalam tangan Allah, kok lai untuang ka elok, salamaik denai basalin, sarato basuruah sapanjang syarak, manuruik adat pun damikian, kok talonsong suruik, kok talangkah kumbali.
Kalau ado muluik nan tadorong, ataupun kato-kato sorong lompatan, ataupun siliak salahnyo, bialah tasabuik salah jo pantangan, ataupun tajambo nan alah talangkah, harap sungguah denai pintak, rilah jo maaf denai harok kini-kini, samantaro badan lai sehat kini nangko.
Bukan denai kan nari-nari saja Kenari nak orang seberang; Bukan denai ke mari-mari saja Besar maksud yang menjelang.”
Menjawab Siti Rawiyah, “Oi Aciak denai Siti Jamilah, silakan malah Aciak ke rumah, tikar sudah denai bentangkan, kami yang sedang bercakap-cakap.”
Telah naik Siti Jamilah, bertiga dengan anaknya, lalu mereka duduk di tengah rumah, di situ berkata Siti Rawiyah.
“Aciak kandung Siti Jamilah, telah lama kita tidak bertemu, karena banyak pekerjaan, yang tidak kunjung selesai, tiap dikerjakan bertambah jua.
Kembanglah jala diserakkan Kenalah anak tali-tali; Semua yang ada diletakkan Kalau tidak ada ke mana akan dicari.”
Menjawab Siti Jamilah:
“Jika kena tali-tali Kepala usah dibuangkan; Baru terletak gelas kopi Lepas rasanya haus kerongkongan.”
Sesudah minum dan makan, berkata Siti Jamilah, “Aciak denai Siti Rawiyah, dengarkan malah baik-baik, usah Aciak salah terima, karena denai dalam berbeban berat, nyawa di dalam tangan Allah, jika untung akan elok, selamat denai bersalin, mengikuti syarak dan adat, kalau terlewati surut, kalau terlangkahi kembali.
Kalau ada ucapan yang terdorong, kata yang salah terlompat, pantangan yang denai langgar, denai meminta maaf serta rida, selagi badan sedang sehat.
Lawik cino bapetak-petak Pulaunyo babatu-batu Karuntuang batuang babalah; Rilah jo maaf denai pintak Hiduik kito tak batantu Nyawo di dalam garak Allah. Kapitiang nak rang Saruaso Dibaok urang ka Singkarak; Barundiang sakali nangko Antah ka taulang antah tidak.”
Sunyilah kato sakutiko, masiang-masiang tahanok di kiro-kiro, hanyo sadu-sadan nan tadanga.
Mandanga kato nan bak kian, manjawab sanan Siti Rawiyah, “baa Aciak mangko bak itu bana, disabuik utang jo piutang, tahetong salah sarato siliaknyo, bukan toh manuruik adat, labuah pasa dek batampuah, kaji lanca dek dihafal, kato-kato sunat diulangi, itulah pituah dari niniak kito.
Baa mangko Aciak taisak, apolah garan nan karanonyo, tacameh denai mandangakannyo, tarangkanlah nan bak bulan, siangkanlah bak hari pado denai, nak tantu pulo kito mangiroi, kok singkek kito carikan uleh, kok panjang nak kito bilai.”
Bakato Siti Jamilah, “Tidaklah ado nan denai rusuahkan, sababnyo mangko mato denai barayia, mato denai tacucuak dek rantiang kayu.
Oi Aciak joden di aciak, salangi denai pisau nan tajam, ka pancukua abuak si Asamsudin, rambuiknyo nan alah panjang bana.”
Kok itu Aciak katokan, kan ambo tidak bapisau cukua, “jawab Siti Rawiyah.
Bakato pulo Siti Jamilah, “Kalau baitu kato Aciak, babaliak pulang malah kami dahulu.”
Laut Cina berpetak-petak Pulaunya berbatu-batu Keruntung betung dibelah; Rela dan maaf denai pintak²² Hidup kita tak menentu Nyawa di dalam kuasa Allah. Kepiting anak orang Saruaso Dibawa orang ke Singkarak; Bercakap sekali nangko Entah kan terulang entah tida.”
Sunyilah kata seketika, masing-masing terdiam dalam pikiran, hanya sedu sedan yang terdengar.
Mendengar kata seperti itu, menjawab Siti Rawiyah, “Mengapa Aciak seperti itu, disebut utang dengan piutang, dihitung salah dan silaunya, bukankah menurut adat, jalan pasar karena ditempuh, kaji lancar karena dihapal, kata-kata sunah diulangi, itulah pituah dari ninik kita.
Mengapa Aciak terisak, apakah gerangan karenanya, cemas denai mendengarnya, terangkanlah nan bak bulan, siangkanlah bak hari pada denai, supaya tahu kita bersikap, kalau singkat kita carikan penutup, kalau panjang kita bilai.”
Berkata Siti Jamilah, “Tidak ada yang denai rusuhkan, sebab mata denai berair, mata denai tertusuk ranting kayu.
Oi Aciak denai pinjami denai pisau, untuk mencukur rambut si Asamsudin, rambutnya sudah panjang benar.”
“Kalau itu yang Aciak katakan, hamba tidak punya pisau cukur, “jawab si Siti Rawiyah.
Berkata pula Siti Jamilah, “Kalau begitu kata Aciak, berbalik pulang malah kami dahulu.”
22) Pinta
Manjawab Siti Rawiyah, sambia bapantun baibarat:
“Rang Solok jo Lubuak Aluang Parang jo anak Kurai Taji; Bia pun ka pulang Aciak Kanduang Ulangi juo kami ka mari. Taluak Sikujua Banda Dalam Siang-siangi malah padi Kok lai lapang pajajaran; Biapun bajauhan tampek diam Ulangi juo malah ka mari Kok lai onggang pakarajaan.”
Manjawab Siti Jamilah:
“Ditariak batang rigo-rigo Duo jo batang saliguri; Kok pulang sakali nangko Mungkin tidak babaliak lai. Baju cela lampisan lakan Dibaok urang Padang Tarok; Rilahkan sajo sado tamakan Isuak sajo manjadi buah ratok.”
Inyo bajalan hanyo lai, dek lamo-lambek di jalan, jauah bsarang dakek juo, kok tibo sampailah garan, lah tibo inyo di laman, bakato Siti Jamilah,
“Manolah Tuan rang jago gadang, pailah Tuan pai manyabik, pai mandikan pulo kudo putiah.”
Birawari rang jago gadang, mandanga kato nan bak kian, lalu diambiak sabik jo rajuik, diirik kudo nan putiah ka batang ayia.
Gadanglah ayia di Antokan Tarandam batang pilin-pilin; Di siko kaba dihantikan Dialiah kaba ka nan lain.
Menjawab Siti Rawiyah, sambil berpantun beribarat:
“Rang Solok dan Lubuk Alung Perang dengan anak Kurai Taji; Biar pun kan pulang Aciak kandung Jenguk juga kami ke mari. Teluk Sikujua Banda Dalam Siang-siangi malah padi Jikalau lapang penjajaran; Biar pun berjauhan tempat diam Jenguk juga malah kami kemari Kalau senggang pekerjaan.”
Menjawab Siti Jamilah:
“Ditarik batangrigo-rigo Bersama dengan batang seleguri; Kalau pulang sekali nangko Mungkin tidak akan kembali lagi. Baju cela²³ lapisan lakan²⁴ Dibawa orang Padang Tarab; Relakan saja semua yang dimakan Esok ‘kan menjadi buah ratap.”
Dia pun berjalan pulang, lambat laun di perjalanan, jauh bersarang dekat juga, sampailah gerangan dia di halaman, berkata Siti Jamilah,
“Manalah Tuan penjaga rumah, pergilah Tuan menyabit, mandikan pula si kuda putih.”
Sedangkan penjaga rumah, mendengar kata seperti itu, diambil sabit dan rajutan, ditarik kuda putih ke batang air.
Besarlah air di Antokan Terendam batang pilin-pilin; Di sini kabar dihentikan Dialih kabar ke yang lain.
23) Kain tipis
24) Kain tebal
Si Taba dakek Baringin Baringin rimbun daunnyo; Dialiah kaba ka nan lain Sungguah dialiah sanan juo.
Si Taba dekat Beringin Beringin rimbun daunnya; Dialih kabar ke yang lain Sungguh dialih itu juga.
Basimbah Darah
Padi sipuluik dari Talu Dibaok urang ka Malampah; Pado hiduik disungkuik malu Eloklah mati bakalang tanah.
Kununlah dek Siti Jamilah, kaluah-kasah manahan hati, lalu bapantun samo surang:
“Batang kaladi batang taleh Dimakan ureknyo dek si Lago; Nak sanang hati Tuanku Lareh Bialah mati kami batigo. Tidak den sangko rigo-rigo Pipik sinanduang makan padi; Indak den sangko ka bak nangko Pisau dikanduang makan hati.”
Kan iyo samaso itu, lah dibukak lamari camin, dilantak peti nan gadang, diambiak pisau rencong Aceh, dikaluakan pakaian tigo pasalinan, dipakai anak kaduonyo.
Sasudah mamakai Siti Jamilah, dibaok tagak ka camin gadang, bakato inyo samaso itu.
BERSIMBAH DARAH
Padi pulut dari Talu Dibawa orang ke Melampah; Daripada hidup disungkup malu Eloklah mati berkalang tanah.
Kononlah Siti Jamilah, keluh kesah menahan hati, lalu berpantun sendiri:
“Batang keladi batang talas Dimakan uratnya oleh si Lago; Nak senang hati Tuanku Lareh Biarlah mati kami bertiga. Tidak denai sangka rigo-rigo Pipit senandung makan padi; Tidak denai sangka seperti nangko Pisau dikandung makan hati.”
Ia membuka lemari kaca, dibukanya peti yang besar, diambilnya pisau rencong Aceh, dikeluarkannya pakaian, tiga pasang untuk bersalin, dipakaikan pada anak keduanya.
Sesudah ia berganti baju, dibawanya Asamsudin dan Darama, berdiri ke cermin besar, berkata Siti Jamila semasa itu.
“Anak kanduang Asamsudin nan surang Siti Darama, dangakan malah dek kalian elok-elok, rilahkan angok kaduonyo.
Ijuak mansi sanganyo mansi Manganyam denai sarayokan Di balai nak rang Batusangka; Isuak mati kini ka mati Elok kini dirilahkan Nak basanang hati nan tingga.”
Ditutuik pintu kasadonyo, disingkokkan cando kulambu, laloklah inyo katigonyo, di kida Siti Darama, nan disuok Asamsudin.
Agaklah dek Siti Jamilah, inyo barusuah-rusuah hati juo, sanan bakato hanyo lai. “Laloklah anak kanduang kaduonyo, laloklah nak denai nyanyikan:
Urang baralek di tangah sawah Di sawah urang Bangkahulu; Aja sampai gadang lah sudah Tidak ka siapo ka mangadu.”
Barundiang-rundiang juo sadang manangih, lah basah malah banta sabuah, bapantun-pantun juo samaso itu:
“Anak buayo di dlam tabek Mati dibunuah nak rang Talang Bangkai dibuang ka muaro; Harok balaki rang bapangkek Disangko hiduik lai ka sanang Kironyo racun dibarikan. Lai baladang rang Bingkudu Ditanam bijo mangga pauah Buliah dipangkua di pasiang; Sadari ketek anak den pangku Alun gadang lah den bunuah Nak sanang hati Lareh Simawang.
“Anak kandung Asamsudin dan Darama, dengarkan oleh kalian baik-baik, relakan nyawa kalian keduanya.
Ijuk mansi²⁵ sanga²⁶-nyamansi Menganyam denai serayakan Di balai anak ‘rang Batusangkar; Esok mati kini akan mati Elok kini direlakan Nak bersenang hati nan tingga.” 27
Oleh si Siti Jamilah, ditutup pintu semuanya, disingkapkanlah kelambu, tidurlah mereka bertiga, di kiri Siti Darama, di kanan si Asamsudin.
Agaklah Siti Jamilah, ia berusuh-rusuh hati jua, lalu berkatalah ia, “Tidurlah anak kandung keduanya, tidurlah nak denai nyanyikan:
Orang berhelat di tengah sawah Di sawah orang Bengkulu; Ajal sampai besarlah sudah Tidak pada siapa kan mengadu.”
Berkata-kata juga sedang menangis, basahlah bantal sebuah, berpantun-pantun jua semasa itu:
“Anak buaya di dalam tebat Mati dibunuh anak ‘rang Talang Bangkai dibuang ke muara; Harap bersuami orang berpangkat Disangka hidup akan senang Kiranya diberi tuba. Berladang orang Bingkudu Ditanam biji mangga pauh Boleh dipangku di pasiang; 28 Sedari kecil anak denai pangku belum besar sudah denai bunuh Nak senang hati Lareh Simawang.
25) tumbuhan yang daunnya dibuat nila
26) sangar
27) Tinggal
28) dibersihkan
Usah takuik anak ka mandi Samo bakusuak daun capo; Usah takuik anak ka mati Samo sakubua kito batigo.”
Lah lalok inyo Siti Darama, lalu diambiaknyo pisau hanyo lai, diirihnyo lihia Siti Darama, pisau lakek anak mangaluah, nan bak caciang kanai pangkua, bak cando ayam kanai lakak, bak si coreng dijajakan, baputa-puta dalam biliak, mahampeh-hampehkan badan, malacuik-lacuikkan diri, sanan bakato Siti Jamilah.
“Anak kanduang si Asamsudin, Siti Darama alah denai bunuah, mati surang mati batigo, rencong Aceh nangko nan ka manyudahi, hari nan sahari nangko, cupak panuah gantang balanjuang, sampailah hari kutikonyo, usah maupek anak pado mandeh, usah manyasa mati ketek, usah mandeh disasali.”
Manjawab si Asamsudin, ayia mato jatuah badarai-darai, “Oi Mandeh joden di mandeh, usahlah baitu kato Mandeh, suruikkan hati ka nan bana, usah dituruikkan dayo ibilih, niat hati denai gadang bana, disiang hari pai sikolah, malam hari pai mangaji, kini itu nan Mandeh katokan, rusuah hati denai mangiroi, tidaklah ado padoman pado denai lai.
Halaukan kabau nan sabaleh Baok ka lurah bari makan Di sanan rumpuik mudo-mudo; Alah malang denai bamandeh Hatinyo digaro setan Kakak den mati dibunuahnyo.”
Bakato Siti Jamilah, “Anak kanduang si Asamsudin, usahlah anak balari-lari juo, mari ka mari malah anak.”
Lorong kapado si Asamsudin, mancaliak pisau rencong Aceh, mandingin raso bulu kuduak, bakato sadang manangih.
Usah takut anak akan mandi Sama digosok dengan daun capa; Usah takut anak akan mati Sama sekubur kita bertiga.”
Telah tidur Siti Darama, lalu diambilnya pisau, diirisnya leher Siti Darama, pisau lekat anak mengeluh, seperti cacing kena pangkur, seperti ayam kena pukul, bagai si coreng dijajakan, berputar-putar dalam bilik, menghempas-hempaskan badan, melecut-lecutkan diri, berkata Siti Jamilah.
“Anak kandung si Asamsudin, Siti Darama telah denai bunuh, mati satu mati bertiga, rencong Aceh ini kan menyudahi, hari yang sehari ini, cupak penuh gantang balanjuang, 29 sampailah pada harinya, usah mengumpat anak pada mandeh, usah menyesal mati waktu kecil, usah mandeh disesali.”
Menjawab si Asamsudin, air mata jatuh berderai-derai, “Oi mandeh kandung denai, usahlah begitu kata Mandeh, surutkan hati ke yang benar, usah diturutkan daya iblis, niat hati denai besar sekali, di siang hari pergi sekolah, malam hari pergi mengaji, kini itu yang Mandeh katakan, rusuh hati denai memikirkan, putuslah harapan denai.
Halaukan kerbau yang sebelas Bawa ke lembah beri makan Di situ rumput muda-muda; Telah malang denai bermandeh Hatinya digertak setan Kakak denai mati dibunuhnya.”
Berkata Siti Jamilah, “Anak kandung si Asamsudin, usahlah Anak berlari-lari juga, mari ke mari malah Anak.”
Adalah si Asamsudin, melihat pisau rencong Aceh, dingin rasa bulu kuduk, berkata sedang menangis.
29) penuh isinya
“Dangakan dek mandeh denai katokan: Ka pakan mambali kain Sudah diguntiang diukuakan Buatan urang Kurai taji; Malang untuangnyo si Asamsudin Langik runtuah bumi lah taban Tidak dapek manggabai lai.”
Bakato pulo Siti Jamilah, “Usahlah maupek pado denai, mati karano bapak waang, kok taruih juo kito hiduik, apo harago badan kito, pikiakan malah dek anak kanduang, awak lah nyato urang tak basuku, awak tidak bakaum bakirabat, korong kampuang antah di mano, tidak barumah bataratak, tidak badusun banagari, kito nangko urang dagang hanyuik, tak paguno dek urang kampuang, awak hino bangso tak tantu, tidak guno hiduik lai.
Nan sangaik marusuah hati mandeh, apo nan dikatokan dek bapak waang, ‘saradadu turuikkan dek kau, urang Cino ka kau tompangi, itu nan sabangso jo kau’.
Sadang bapak anak lai mahinokan, kununlah pulo urang kampuang, apo guno hiduik lai, iyolah nan bak papatah urang, pado hiduik baputiah mato, eloklah mati bakalang tanah.”
Manjawab si Asamsudin:
Kok den rigo-rigo Mandi di tabek lah den baa Mandi bakusuak daunpulai Di tabek rang Kurai Bukittinggi Subarang lantak urang darek; Kok den aso nan bak nangko Mati keteklah den baa Saheto kain lah sampai Sajangka tanah lah jadi Mandeh den indak payah amek.”
“Dengarkan oleh Mandeh denai katakan: Ke pekan membeli kain Sudah digunting diukurkan Buatan orang Kurai Taji; Malang untungnya si Asamsudin Langit runtuh bumi telah terban Tidak dapat menggapai lagi.”
Berkata pula Siti Jamilah, “Usah mengumpat pada denai, mati karena Bapak Waang³⁰, jika terus juga kita hidup, apa harga badan kita, pikirkan malah oleh Anak kandung, kita telah nyata orang tak bersuku, kita tidak berkaum berkerabat, korong kampung entah di mana, tidak berumah berladang, tidak berdusun bernagari, kita ini orang dagang hanyut, tidak berguna oleh orang kampung, kita hina tidak berbangsa, tidak berguna hidup lagi.
Yang sangat merusuh hati Mandeh, apa yang dikatakan Bapak Waang, ‘turutkan serdadu oleh kau, turutkan orang keling oleh Kau, orang Cina kan Kau tumpangi, itu yang sebangsa dengan Kau’.
Sedang Bapak Anak menghinakan, kononlah pula orang kampung, apa gunanya lagi hidup, seperti pepatah orang, dari pada hidup berputih mata, eloklah mati berkalang tanah.”
Menjawab si Asamsudin:
“Jika denai rigo-rigo Mandi di kolam lah denai Mandi digosok dengan daun pulai Di kolam rang Kurai Bukittinggi Di seberang pancang orang darek; 31 Kok denai rasa nan baknangko Mati waktu kecillah denai Sehasta kain telah mencukupi Sejengkal tanah sudah jadi Mandeh denai tidak payah amek.”
30) Kamu
31) Daerah asli Minangkabau
32) Amat
Pado maso dewaso itu, bakaja cacak ateh paran, bundaklah ayam dalam kandang, tabantang munggu ateh langik, badantuang cando patuih tungga, tando alamat urang mati badarah.
Bakato juo Siti Jamilah, “Usah Anak balari-lari juo, mari ka mari Anak kanduang, pisau lah sudah denai kiliakan, mati surang mati batigo, sakubua kito katigonyo, alah ka sanang hati anak.”
Manjawab sanan si Asamsudin, “Di mano denai takkan lari, denai tak suko ka Mandeh dabiah, denai tak suko ka Mandeh bunuah.”
Mandanga kato damikian, tabik bangihnyo Siti Jamilah, lalu dikajanyo si Asamsudin, lah manggabai-gabai si Asamsudin, manggabai mamanjek dindiang, kakinyo ditangkok dek Siti Jamilah, dibantunkan cando ka bawah, badabua tibo di lantai, tidak dapek manggabai lai, ayia mato badarai-darai, bakato inyo maso itu,
“Kalau baitu nan jadinyo, ka baa pulo janyo denai lai, mujua denai mati nan bak kini, kok sampai denai gadang, mungkin banyak sansaronyo, “lalu tidua inyo lai.
Sadang lalok nantun, bakato juo si Asamsudin,”Oi Mandeh joden di mandeh, usah diosohkan makan pisau, padiah dek denai kalau baitu.
Ikan putiah baradai-radai Dikayia jo papeh rotan; Denai ka mati hanyo lai Ayia susu Mandeh rilahkan.”
Manjawab Siti Jamilah, “Piciangkan malah mato Asamsudin, sarahkan diri pado Allah.”
Mato tapiciang pisau pun lakek anak mangaluah, bak caciang kanai pangkua, mahampeh-hampehkan diri, malcuik-lacuikkan badan.
Alah mati si Asamsudin, sanan tamanuang Siti Jamilah, ayia mato badarai-darai, basabuang pangana maso itu, adang-adang tibo
Saat itu berkejaran cecak, berkejaran di atas pagu, hebohlah ayam dalam kandang, terbentang munggu di atas langit, berdentanglah petir tunggal, tanda alamat orang mati berdarah.
Berkata Siti Jamilah, “Usah Anak berlari-lari jua, mari ke mari Anak kandung, pisau telah denai asahkan, mati seorang mati bertiga, sekubur kita ketiganya, telah senangkah hati anak.”
Menjawab si Asamsudin, “Di mana denai tidak akan lari, denai tidak suka Mandeh sembelih, denai tidak suka akan Mandeh bunuh.”
Mendengar kata demikian, terbit marahnya Siti Jamilah, lalu dikejarnya si Asamsudin, telah menggapai-gapai si Asamsudin, menggapai memanjat dinding, kakinya ditangkap Siti Jamilah, dibantingnya ke bawah, berdebum tiba di lantai, tidak dapat menggapai lagi, air mata berderai-derai, berkata ia masa itu,
“Kalau begitu jadinya, mau bagaimana lagi, mujur mati denai sekarang, kalau sampai denai besar, mungkin banyak sengsaranya,” lalu tidurlah si Asamsudin.
Sedang tidur itu, berkata juga si Asamsudin, “Oi Mandeh kandung denai, usah disembelih dengan pisau, pedih rasa denai kalau begitu.
Ikan putih beradai-radai³³ Dikail dengan kail rotan; Denai akan mati lagi Air susu Mandeh relakan.”
Menjawab Siti Jamilah, “Picingkan malah mata Asamsudin, serahkan diri pada Allah.”
Mata terpicing, pisau pun lekat, pisau lekat anak mengeluh, bak cacing kena pangkur, menghempas-hempaskan diri, melecut-lecutkan badan.
Telah mati si Asamsudin, termenung Siti Jamilah, air mata berderai-derai, bertarung pikiran masa itu, kadang-kadang datang
33) Bersirip
pangana baiak, mangucap inyo maso itu, duduaknyo tamanuang mangana untuang badan.
Dicaliaknyo ka sabalah kida, alah tabujua mayik anak kanduang, anak kanduang si Asamsudin, dihengohkan pulo ka sabalah kida, lah tabariang mayiknyo Siti Darama.
“Alah sasek malah denai cako, sampai tadabiah anak kaduonyo, sanyampang tahu urang pamerentah, anak lareh nan alah denai bunuah, tantu aden ditangkok dipalanggu, dikuruang di paseban, barapolah malunyo ditangguangkan, panjang muncuang urang mancimoohkan.
Kok iyo bana awak bamadu, manga sampai hati mambunuah anak awak, kamano kapalo ka disuruakkan, pado itu denai tangguangkan, elok den sauntuang jo anak den.”
Kununlah Siti Jamilah, diambiak sahalai kain panjang, anak diraok kaduanyo, nan awaknyo di tangah-tangah, pisau dikiliakan hanyo lai, bapantun juo sadang maasah pisau:
“Masaklah buah manggih hutan Dibaok urang ka Koto Tangah; Pado malu den tangguangkan Eloklah mati bakalang tanah.
Rilahkan lantai nan tapijak, maafkan janjang nan tatingkek, kami mati mangamuak diri.”
Diganggam pisau sabalah suok, dipiciangkan candonyo mato, badan diamuak hanyo lai, pisau lakek kain taraok, mahampeh-hampehkan diri, malacuik-lacuikkan badan.Kan iyo samaso itu, tabariang mayik tigo urang, surang pun tidak urang nan tahu.
Indak elok dirandang kacang Elok diambiak nan babungo; Tak guno dipapanjang Elok diambiak nan baguno.
pikiran baik, mengucap dia masa itu, duduk termenung mengingat untung badan.
Dilihatnya ke sebelah kiri, telah terbujur mayat anak kandung, anak kandung si Asamsudin, dilihat pula ke sebelah kanan, telah terbaring mayat Siti Darama.
“Telah sesat denai tadi, sampai tersembelih anak berdua, senyampang tahu pemerintah, anak lareh yang telah denai bunuh, tentu denai ditangkap dibelenggu, dikurung di paseban, berapalah malu yang akan ditanggung, panjang mulut orang mencemooh.
Kalau pun benar awak bermadu, mengapa sampai hati membunuh anak, ke mana kepala akan disurukkan, dari pada itu denai tanggungkan, elok denai senasib dengan anak.”
Kononlah Siti Jamilah, diambil sehelai kain panjang, anak dirangkul keduanya, dia ada ditengah-tengah, pisau pun diasah kembali, sambil mengasah pisau berpantun jua,
“Masaklah buah manggis hutan Dibawa orang ke Koto Tangah; Dari pada malu denai tanggungkan Eloklah mati berkalang tanah.
Lantai yang terpijak relakanlah, jenjang yang ternaiki maafkanlah, kami mati mengamuk diri.”
Digenggam pisau sebelah kanan, dipicingkan mata keduanya, badan diamuk dengan pisau, pisau lekat kain digenggam, ia menghempas-hempaskan diri, melecut-lecutkan badan. Masa itu terbaring mayat bertiga, seorang pun tiada yang tahu.
Tidak elok merendang kacang Elok diambil yang berbunga; Tak guna diperpanjang Elok diambil yang berguna.
Gadanglah ayia di Antokan Tarandam batang pilin-pilin; Di siko kaba dihantikan Dicaliak pulo kaba nan lain.
Besarlah air di Antokan Terendam batang pilin-pilin; Di sini kaba dihentikan Dilihat pula kaba yang lain
Tuah Dicari Hino nan Buliah
Dek silaro runduakkan daun Batang bingkudu denai latehkan Untuak ka paga rang susunkan; Dek digilo baruak barayun Anak dipangku denai lapehkan Baruak di rimbo nan disusukan.
Lorong kapado rang jago gadang, lah sudah kudo dimandikan, lah panuah pulo rumpuik sarajuik, dijujuang malah rumpuik di kapalo, kudo diirik hanyo lai, sangaik sanang rasonyo hati.
Kiro-kiro sabanta antarony, lah tibo inyo di laman, mancaliak inyo ka rumah, kironyo pintu bakunci kasadonyo, janjela pun tiado nan tabukak, heran tacangang samaso itu, bapikia-pikia surang diri, ‘ka mano kolah aciak den garan, pintu bakunci kasadonyo’.
Lah lamo tagak di laman, tampak urang surang, lalu dituruik ditanyokan,“Oi Kakak joden di kakak, laikoh tampak aciak den cako, pintu bakunci kasadonyo.”
Kununlah dek urang nantun, “Iyo lai den manampak cako, inyo singgah ka rumah bako si Darama, inyo bajalan batigo baranak.”
Kununlah dek urang jago gadang, diantakan kudo ka kandang,
TUAH DICARI HINA YANG DATANG
Karena selara runduklah daun Batang mengkudu denai patahkan Untuk pagar orang susunkan; Karena gila beruk berayun Anakdipangku denai lepaskan Beruk di rimba yang disusukan
Konon kepada penjaga rumah, telah sudah kuda dimandikan, telah penuh pula rumput sejerat, dijunjung rumput di kepala, hati senang kuda pun ditarik.
Kira-kira sebentar antaranya, telah tiba ia di halaman, melihatlah ia ke rumah, kiranya pintu dikunci semuanya, jendela pun tiada yang terbuka, heran tercengang masa itu, berpikir-pikir seorang diri, “ke manalah Aciak denai kiranya, pintu terkunci semuanya.”
Telah lama ia berdiri, bertanya ia pada seseorang, “Oi Kakak adakah tampak Aciek denai, pintur rumah terkunci semuanya.”
Orang itu menjawab, “Tadi denai melihatnya, ia singgah ke rumah bako si Siti, berjalan bertiga beranak.”
Kononlah oleh penjaga rumah, diantarkan kuda ke kandang,
balari-lari inyo pai, iyo ka rumah Siti Rawiyah, bia pun litak hauih taraso, tidak paduli lai dek inyo.
Tidaklah lamo antaronyo, tibolah di laman rumah Siti Rawiyah, lalu dihimbaunyo sakali,
“Oi Aciak den Siti Rawiyah, laikoh ka mari aciak den Siti Jamilah, den liek rumah bakunci kasadonyo, denai nan pulang dari manyabik, paruik litak hauih taraso, urang di rumah pun indak ado.”
Tipak di diri Siti Rawiyah, baru mandanga di kato nantun, tarambuang tagak maso itu, tacameh raso dalam hati, malompek taruih ka laman, bakato kapado rang jago gadang,
“Cako lai inyo ka mari, datang batigo baranak, inyo manyalang pisau cukua, ka pancukua abuak si Asamsudin.”
Bakato rang jago gadang, “Parenai Aciak kini ko juo, ka mano garan aciak den kolah, ka mano garangan anaknyo dibaoknyo, mangko rumah dikuncinyo, pintu batutuik kasadonyo, tidaklah galik nan biaso, salaruik salamo nangko.”
Tidaklah kato bajawab lai, balari Siti Rawiyah maadok rumah Siti Jamilah, rang jado gadang mairiang di balakang.
Dek lamo lambek di jalan, jauah basarang hampia juo, lah tibo garan di sanan, tibo di laman rumah Siti Jamilah, dicaliak candony pintu, iyo bakunci kasadonyo, lalu didabua malah janjang, ditokok- tokok cando pintu rumah.
Sanan mahimbau Siti Rawiyah, “Oi Aciak joden di aciak, laikoh garan di rumah, singkokkan malah pintu.”
Usah pintu ka tasingkok, kato sapatah pun tak bajawab, heran tacangang maso itu, bakato juo Siti Rawiyah, “Oi Tuan rang jago gadang, cubo malah Tuan masuak ka kandang, bukaklah lantai palupuah, taruih sakali Tuan ka ateh rumah.” Alah manyuruak rang jago gadang, manyuruak ka dalam kandang, dituju tantang biliak si Asamsudin, takajuik sanan rang
berlari-lari ia pergi, ke rumah Siti Rawiyah, biar pun lapar haus terasa, tidak pedulilah ia.
Tidaklah lama antaranya, tibalah ia di halaman rumah, lalu dipanggilnya sekali
“Oi Aciak denai Siti Rawiyah, adakah di sini Aciak denai, denai lihat rumah terkunci semua, denai sudah pulang dari menyabit, perut lapar haus terasa, orang di rumah pun tidak ada.”
Sedangkan si Siti Rawiyah, baru mendengar kata tersebut, melompat berdiri waktu itu, cemas di dalam hatinya, berlari ia ke halaman, berkata kepada penjaga rumah,
“Tadi ia datang ke mari, datang bertiga beranak, hendak meminjam pisau cukur, untuk mencukur rambut si Asamsudin.”
Berkata penjaga rumah, “Pergilah Aciak sekarang juga, ke mana gerangan Aciak denai, ke mana gerangan anaknya dibawa, maka rumah dikuncinya, pintu ditutup semuanya, tidaklah seperti biasanya.”
Kata yang tidak berjawab, karena Siti Rawiyah berlari, menuju rumah Siti Jamilah, penjaga rumah ikut dari belakang.
Lambat laun berjalan, jauh bersarang hampir juga, telah tiba mereka di sana, di halaman rumah Siti Jamilah, dilihat rupanya pintu, terkunci semuanya, lalu jenjang dinaiki, pintu rumah diketuk-ketuk.
Mengimbau Siti Rawiyah, “Oi Aciak denai adakah di rumah, bukalah pintu segera,”
Usah pintu akan terbuka, sepatah kata pun tak berjawab, heran tercengang masa itu, berkata Siti Rawiyah,
“Oi Tuan penjaga rumah, coba Tuan masuk ke dalam kandang, bukalah lantai pelupuh, naiklah Tuan ke atas rumah.”
Telah masuk penjaga rumah, masuk ke dalam kandang, dilihatnya bilik si Asamsudin, terkejut ia dalam kandang, melihat
jago gadang, mancaliak darah maanak sungai, darah lah bateba-teba sapanuah kandang, gumanta sagalo pasandian, babaliak suruik ka lua, sanan bakato rang jago gadang,
“Manolah aciak den Siti Rawiyah, denai liek tantangan biliak Asamsudin, darah lah bateba-teba sapanuah kandang, liek di Aciak tangan den iko,”bakato sadang manggigia.
Tapakiak Siti Rawiyah, pucek pasi dang mukonyo, gumanta sagalo pasandian, mancaliak darah nantun, tidaklah bapikia panjang, inyo langsuang kandang, dituruik-I dek rang jago gadang, manuju tantang biliak si Asamsudin, lah tapijak di ganangan darah, babaliak ka lua hanyo lai.
Lah tibo cando di laman, bakato Siti Rawiyah, “Oi Tuan rang jago gadang, kini baitu malah dek Tuan, palulah tabuah larangan, lapehkan badia nan pamanggia, nak tahu urang sanagarinyo.”
Sanan manjawab urang jago gadang, “Koknyo tabuah dipalu, ataupun badia nan ka dilapeh, kito barundiang malah dahulu, denai tak suko, bia den ka rodi tiok hari, kini alah iko nan tasuo, tolong di Aciak jo bicaro, usah denai kanai di balanyo malah lai.”
Bakato Siti Rawiyah, “Kok itu nan Tuan rusuahkan, santano tibo usua jo pareso, atau pun sudi jo siasek, denai nan manjawab kato nantun, sugiro malah pai.” Kununlah dek rang jago gadang, lalu diambiak malah rotan sonsang, dipalu tabuah larangan, dilapeh badia nan pamanggia, badia nan badantam duo latuih. Lah sudah tabuah diguguah, sahuik manyahuik tabuah nan banyak, tingkah batingkah tabuah di hilia, tabuah Jum’at panyudahi. Tagampa urang dalam nagari, baduyun-duyun urang nan datang, nan di lurah datang mandaki, nan di bukik datang manurun, dari hilia urang lah tibo, dari mudiak urang lah datang, nan buto datang bairik, nan lumpuah datang badukuang, lah rapek papek urang maso itu, panuah sasak urang di laman, tidak tamuek di nan
darah menganak sungai, darah bertebaran sepenuh kandang, gemetar segala persendian, berbalik surut ke luar, berkata penjaga rumah,
“Aciak denai Siti Rawiyah, denai lihat bilik si Asamsudin, darah telah bertebaran, lihat oleh Aciak tangan denai ini,” berkata ia sedang menggigil.
Terpekik Siti Rawiyah, pucat pasilah mukanya, gemetar segala persendian, melihat darah itu, tidaklah berpikir panjang, ia langsung masuk kandang, diikuti oleh penjaga rumah, telah terpijak di genangan darah, ia berbalik keluar.
Sampai di tengah halaman, berkata si Siti Rawiyah, “Oi Tuan penjaga rumah, sekarang beginilah baiknya, Tuan pukullah tabuh larangan, letuskan bedil pemanggil, biar tahu orang senagari.”
Menjawab penjaga rumah, “Jika tabuh akan dipukul, atau pun bedil yang akan dilepas, kita berunding malah dulu, denai tak suka kena bala, biar den kerja rodi setiap hari, sekarang ini telah terjadi, tolonglah Aciak bagaimana caranya.”
Berkata Siti Rawiyah, “Jika itu yang Tuan rusuhkan, seandainya datang usul dan periksa, atau pun sudi dan siasat, denai yang akan menjawab, pergilah segera Tuan.”
Kononlah penjaga rumah, diambil malah rotan sungsang, dipukul tabuh larangan, diletuskan bedil pemanggil, bedil berdentam dua letusan.
Setelah tabuh dipukul, sahut menyahut tabuh yang banyak, tingkah bertingkah tabuh di hilir, tabuh Jumat yang mengakhiri.
Gempar orang dalam nagari, berduyunlah orang yang datang, yang di lurah datang mendaki, yang di bukit datang menurun, dari hilir orang telah tiba, dari mudik orang telah datang, yang buta datang dituntun, yang lumpuh datang digendong, sudah berdesakan orang masa itu, penuh sesak orang di halaman, tidak termuat di
lapang, di nan lakuang lah panuah pulo.
Kununlah Siti Rawiyah, bakato inyo kapado rang jago gadang, “Pai malah Tuan kini jio, iyo ka ranah Batusangka, ka rumah si Siti Rawani, japuik tabaok Tuanku Lareh Simawang.”
Birawari rang jago gadang, diracak kudo nan putiah, kudo manduo lari kancang, tidak tabado kancangnyo lari, lari kudo bak ka tabang.
Dek lamo lambek nan di jalan, tibolah di laman rumah Siti Rawani, didapati urang sadang rami pulo, diliek kiri kanan, bamacam- macam parmainan, cukuik aguang jo talempong, sarato rabab jo kucapi, tarangah rang jago gadang, sanan bakato maso itu, “Manolah Pangulu jo Andiko, sarato Juaro bijaksano, bari luruih ambo batanyo, laikoh di siko dang Tuanku, iyo Tuanku Lareh Simawang?”
Manjawab Pangulu dalam alek, “Kok itu nan Tuan tanyokan, baliau lai di ateh rumah, sadang basandiang lah tu kini, iyo di ateh kurisi kaamasan.”
Lah naiak rang jago gadang, satu tibo ditangah rumah, manyimpuah mamintak ampun, lalu bakato maso itu,
“Ampun baribu kali ampun, ampunlah ambo di Tuanku, nan sadang duduak basandiang, baduo jo aciak den Siti Rawani.
Kan alah sakiro-kiro dang rasonyo, nan Tuanku duduak basandiang, toh molah sugiro Tuanku bajalan, babaliak kini ko juo, ka ranah Koto Simawang, lah jadi tu rasonyo Tuanku disiko, aciak den tak mungkin mananti lai.”
Tarambuang tagak Tuanku Lareh, hati cameh pikiran cewang, tacangang urang nan banyak, tamanuang si Siti Rawani.
Dek urang Lareh Simawang, taruih sakali ka laman, diracak malah kudo putiah, cambuik lakek kudo balari, tidak tabado kancang larinyo. Lamo sabanta antaronyo, alah tibo di ranah Koto Simawang, didapati urang sangaik banyak, urang bakumpua di laman, baliau
tempat lapang, di tempat sempit telah penuh juga.
Kononlah Siti Rawiyah, berkata ia pada penjaga rumah, “Pergilah malah Tuan sekarang juga, ke ranah Batusangkar, ke rumah si Siti Rawani, jemput terbawa Tuan Lareh Simawang.”
Penjaga rumah segera pergi, menunggangi kuda putih, kuda berlari sangat kencang, seperti akan terbang saja.
Lambat laun dalam perjalanan, tiba ia di rumah Siti Rawani, didapatinya orang ramai pula, dilihatnya kiri kanan, bermacam- macam permainan, cukup gong dan talempongnya, serta rabab dan kecapi, terperangah penjaga rumah, berkata ia masa itu, “Manalah penghulu dan andika, serta juaro³⁴ bijaksana, hamba ingin bertanya, adakah di sini Tuanku, Tuanku Lareh Simawang?”
Menjawab penghulu dalam helat, “Jika itu yang Tuan tanyakan, beliau ada di atas rumah, sedang bersanding sekarang, di atas kursi keemasan.”
Telah naik penjaga rumah, begitu tiba di atas rumah, bersimpuh meminta ampun, lalu berkata masa itu,
“Ampun beribu kali ampun, ampunlah hamba Tuanku, yang sedang duduk bersanding, berdua dengan Aciak Siti Rawani. Kan sudah beberapa waktu rasanya, Tuanku duduk bersanding, malah segera Tuanku berjalan, berbalik sekarang juga, ke ranah Koto Simawang, telah cukup rasanya Tuan di sini, Aciak denai tak mungkin menanti lagi.”
Terlambung berdiri Tuanku Lareh, hati cemas pikiran cewang, tercengang orang banyak, termenung Siti Rawani.
Lareh Simawang pergi ke halaman, ditungganginya kuda putih, cambuk lekat kuda berlari, tidak tanggung kencang larinya. Tak lama antaranya, telah tiba di ranah Simawang, didapati orang sangat banyak, orang berkumpul di halaman, beliau disongsong Siti
34) Pendekar
disonsongkan dek Siti Rawiyah, sambia bakato maso itu,“Baa mangko lambek bana, rami bana alek kolah garan, balun lai pueh malah Angku, bahati gadang moh kironyo, anak Angku antah baapo kini, darah alah maanak sungai di kandang, pintu bakunci kasadonyo.”
Mandanga kato nan bak kian, manggigia cando badan, hati nan indak sanang lai, lalu bakato Lareh Simawang, bakato kapado rang jago gadang,
“Masuaklah waang ka dalam kandang, bukaklah lantai palupuah, taruih naiak ka ateh rumah, singkokkan pintu kasadonyo.”
Alah tasingkok malah pintu, naiaklah Lareh Simawang, taruih sakali ka dalam biliak, dibukak kulambu katujuahnyo, kulambu kanai darah kasadonyo, tampaklah mayik katigonyo, sanan tagaruang Lareh Simawang, aka batuka maso itu, lah masuak dayo ibilih, dicabuik pisau balati, badan diamuak hanyo lai, dek sigap rang jago gadang, pisau dirampeh maso itu, banduanglah ratok tangah rumah.
Lah bakato Pangulu Biapari, “Manolah Tuanku Lareh Simawang, suruikkan hati ka nan bana, belokkan pikiran ka nan baiak, usahlah dayo setan dipaturuikkan, sanan untuang mangko sansai.”
Bakato pulo Siti Rawiyah, “Tuan denai Lareh Simawang, kan lah denai katokan juo, kok tidak tasabab di aciak den, tidaklah Tuan ka jadi lareh, ayia susu dibaleh jo tubo mah di Tuan, di siko malah badan mangko bedo, tidaklah baiak Tuan nan bak nantun, alah ka pueh bana hati Tuan, “katonyo Siti Rawiyah, bakato sadang manangih, lalu bapantun hanyo lai:
“Aso koto si Galo Gandang Duo jo koto di Surantiah Katigo jo koto Pariaman; Tuan den Lareh Simawang Tuah dicari hino nan buliah Ka mano muko disuruakkan.
Rawiyah, sambil berkata masa itu, “Mengapa lambat benar, ramai sekalikah helat rupanya, belum puas malah Angku, bergirang hati kiranya, anak Angku entah bagaimana kini, darah telah menganak sungai di kandang, pintu terkunci semuanya.”
Mendengar kata yang seperti itu, mengigil rasa badannya, hati tidak senang lagi, lalu berkata Lareh Simawang, berkata pada penjaga rumah,
“Masuklah waang ke dalam kandang, bukalah lantai pelupuh, terus naik ke atas rumah, bukakan pintu semuanya.”
Setelah pintu terbuka, naiklah Lareh Simawang, masuk segera ke dalam bilik, dibuka kelambu ketujuhnya, kelambu kena darah semuanya, tampaklah mayat ketiganya, menangis Lareh Simawang, pikiran menjadi gelap, telah masuk daya iblis, belati dicabut, badan diamuk, karena kesigapan penjaga rumah, pisau dirampas masa itu, pecahlah ratap di tengah rumah.
Berkata Penghuhu Biapari, “Tuanku Lareh Simawang, surutkan hati ke yang benar, belokkan pikiran ke yang baik, usahlah daya setan diperturutkan, di sana nasib akan sansai.”
Berkata pula Siti Rawiyah, “Tuan denai Lareh Simawang, kan telah denai katakan juga, kalau tidak karena Aciak den, tidaklah Tuan akan jadi lareh, air susu dibalas air tuba. Di sini malah badan Tuan sengsara, tidak baik Tuan seperti itu, sudah puaskah hati Tuan,” kata Siti Rawiyah sambil menagis, lalu berpantun ia saat itu,
“Satu koto si Galo Gandang Dua dengan koto di Surantiah Ketiga dengan koto Pariaman; Tuan den Lareh Simawang Tuah dicari hina yang boleh Ke mana muka akan disurukkan.
Kini baitu malah di Tuan, kirimkanlah surek kawek, iyo ka bakeh si Marah Sudin di Padang Panjang, suruah sugiro inyo pulang kini juo.”
Kununlah dek Lareh Simawang, disuruah urang mangirim surek kawek, namun di hari nan sahari itu, tidak tabado raminyo umaik, urang nan datang manjanguak.
Dek urang si Marah Sudin, tasirok darah di dado, gumanta sagalo pasandian, apo garan nan tajadi di kampuang, tidaknyo bapikia lai, diambiak bendi dipasangi, dihalau kudo sakandangnyo, manuju ka ranah Simawang.
Dek lamo lambek nan di jalan, jauah basarang dakek juo, alah tibo garan di kampuang, inyo disonsong dek urang banyak, dipareso kok inyo bapisau.
Sanan batanyo si Marah Sudin, “Apo garan nan alah tajadi, mangko balaku sarupo iko?”
Manjawab urang nan banyak, “Kito mandapek sansaro gadang, mandeh ang alah barpulang, malang badan cilako diri, adiak ang kaduonyo manuruikkan, matinyo mangamuak diri.”
Kato sampai aka batuka, alah masuak dayo ibilih, alah mahampeh-hampehkan diri, lah malacuik-lacuikkan badan, lah bagolek-golek di tanah, lalu ditangkok dikungkuang tagak hanyo lai.
Sanan bakato Siti Rawiyah, “Manolah anak kanduang si Marah Sudin, suruikkan hati ka nan bana, usah dipaturuikkan nan bak nagko.”
Lorong kapado si Marah Sudin, manangih maisak-isak, tangan suok maninju dado, tangan kida mancabiak baju, susahlah hati mamandangi.
Kan iyo maso itu, tibolah dukun pandai ubek, lah disambua cando kapalonyo, tidak lamo antaronyo, alah tahu inyo di nan bana, lah sanang hati urang nan banyak.
Sekarang kirimkan surat kawat, kepada Marah Sudin di Padangpanjang, suruh segera ia pulang.”
Kononlah Lareh Simawang, disuruh orang mengirim surat kawat, namun di hari yang sehari itu, tidak terbendung ramainya umat, orang yang datang melayat.
Surat kawat diterima, oleh guru si Marah Sudin, disampaikan saja baik-baik, bahwa ia harus pulang sekarang juga, ada keperluan di kampung.
Tersirap darah di dada Marah Sudin, gemetar segala persendian, entah apa gerangan yang terjadi, tidak ia berpikir lagi, diambil Marah Sudin bendi, lalu dihalaunya kuda, menuju ke ranah Simawang.
Lambat laun ia di jalan, jauh bersarang dekat jua, telah tiba gerangan di kampung, ia disongsong oleh orang banyak, diperiksa kalau ia membawa pisau.
Di situ bertanya si Marah Sudin, “Apa gerangan yang telah terjadi, maka berlaku seperti ini?”
Menjawab orang nan banyak,”Kita mendapat sengsara besar, mandeh Waang telah berpulang, malang badan celaka diri, adik Waang keduanya ikut serta, matinya bunuh diri.”
Kata sampai akal bertukar, telah masuk daya iblis, telah menghempas-hempaskan diri, telah melecut-lecutkan badan, telah bergolek-golek di tanah, lalu ia diangkat dan diberdirikan.
Berkata Siti Rawiyah, “Manalah Anak kandung si Marah Sudin, surutkan hati ke yang benar, usah diperturutkan seperti ini.”
Marah Sudin, menangis mengisak-isak, tangan kanan meninju dada, tangan kiri mencabik baju, susahlah hati memandangi.
Pada masa itu datanglah dukun, telah disembur kepalanya, tidak lama antaranya sadarlah ia, telah senang hati orang yang banyak.
Dek urang Marah Sudin, naiaklah inyo ka ateh rumah, ka biliak mandeh kanduangnyo, dicaliak mayik katigonyo, sanan batanyo si Marah Sudin. “Tolonglah himbau bapak denai, suruah maringani baliau ka mari.”
Kununlah dek urang hago gadang, dijapuik cando baliau, alah datang malah baliau, sanan bakato Marah Sudin. “Oi Ayah Kanduang denai, batanyo denai bakeh Ayah, apokoh sabab karanonyo, mangko sarupo nan bak nangko, mangko sampai tajadi pambunuhan, apo bana kasalahan mandeh denai, sarato adiak denai kaduonyo, kok di utang ameh jo perak, tidaklah patuik dibayia jo hangok.
Balayia kapa ka Bangkahulu Naiak parahu jo pancalang; Tidaklah patuik Ayah baitu Samantang kami urang dagang.”
Manjawab Tuanku Lareh Simawang, “Kok itu anak tanyokan, ayah nan tidak di rumah, ayah sadang pai kumisi, iyo ka rumah Angku Kapalo, etan di ranah Batusangka.”
Bakato si Marah Sudin, “Pai kumisi kato Ayah, labiah dulu denai lah tahu, nan saiyonyo bana, bukan toh Ayah pai babini, tidaklah dapek Ayah tidakkan, kini lah tantu bana di budi Ayah, patuiklah denai Ayah kirimkan ka sanan.
Tapi samantangpun baitu, Ayah pai babini nantun, tidak siapo nan ka malarang, “katonyo si Marah Sudin, manangih babuah pantun:
“Ka pakan mambali kain Dicabiak mangko dilipek Dibali tangah duo heto; Buruak untuangnyo si Marah Sudin Harok baayah urang bapangkek Mandeh pun mati tasabab dek inyo.
Malang nasib cilako tumbuah, harok den nak bamandeh, inyo lah tabariang jadi mayik.
Naiklah Marah Sudin ke atas rumah, ke bilik mandeh kandungnya, dilihat mayat ketiganya, di situ bertanya si Marah Sudin, “Tolong panggilkan Bapak denai, suruh Beliau ke sini.”
Kononlah penjaga rumah, dijemputlah Lareh Simawang, setelah datang berkata Marah Sudin, “Oi Ayah kandung denai, apakah sebab karenanya, maka terjadi yang serupa ini, maka sampai terjadi pembunuhan, apa benar kesalahan mandeh denai, serta adik denai keduanya, kalau hutang emas perak, tidaklah patut dibayar dengan nyawa.
Berlayar kapal ke Bengkulu Naik perahu dan pencalang; Tidaklah patut ayah begitu Sementang kami orang dagang.”
Menjawab Tuanku Lareh Simawang, “Jika itu yang Anak tanyakan, ayah yang tidak di rumah, ayah sedang pergi mengomisi, ke rumah Angku Kapalo, di ranah Batusangkar.”
Berkata si Marah Sudin, “Pergi mengomisi kata Ayah, lebih dulu denai telah tahu, yang sebenarnya ayah pergi beristri, tidaklah dapat Ayah tidakkan, kini telah tahu benar budi ayah, patutlah denai Ayah kirim ke sana.
Walaupun ayah pergi beristri, tidak ada siapa akan melarang,” kata si Marah Sudin, menangis berbuah pantun,
“Ke pekan membeli kain Dicabik maka dilipat Dibeli tengah dua hasta; Buruk untungnya si Marah Sudin Harap berayah orang berpangkat Mandeh pun mati karena dia.
Malang nasib celaka tumbuh, harap denai hendak bermandeh, ia pun langsung berpulang, harap denai hendak bersaudara, ia telah terbaring jadi mayat.
Biduak salasiah ka Batawi Jatuah salodang arai pinang Dibaok lalu ka muaro; Tingga Ayah tinggalah nagari Denai dibaok untuang malang Antah ka mano ka sansainyo.”
Dangakan dek Ayah, tangih sadaran rang dagang tak basuku:
“Hari tarang urang manumbuak Di manolah bareh ka baatah Atah bacampua nan jo padi; Ambo ditimpo untuang buruak Alah sanang hati Ayah Antah baapo nan ka tajadi.”
Dangakan juo malah dek Ayah, dari rang dagang hanyuik:
“Den susun-susun daun Pitulo bungonyo kambang Katigo jo bungo angso; Dahulu Ayah kan lah samo tahu Kami nangko urang dagang Dagang sansai lagi pun hino. Jaksa tanamo di Batawi Mahukum urang di Pariaman; Dahulu tidak Ayah pikiri Baa mangko kini diamunkan.
Mangapo balaku damikian, bukan toh alah mangatahui sajak samulo, kami nan tidak badusun banagari, tidak basuku jo basako, kami nangko tidak bakaum bakirabaik, usah malah bak itu Ayah kini, samantang alah dapek bungo nan kambang.”
Kato sampai aka pun batuka, malompek inyo mancari pisau, dapeklah pisau lampagi patah ujuang, lalu bakato maso itu, “Nak
Biduk selasih ke Betawi Jatuh seludang arai pinang Dibawa lalu ke muara; Tinggal ayah tinggallah nagari Denai dibawa nasib malang Entah ke mana kan sansainya.”
Dengarkanlah oleh ayah, tangis sandaran ‘rang dagang tak bersuku,
“Di hari terang orang menumbuk Di manalah beras akan ber-atah³⁵ Atah bercampur dengan padi; Hamba ditimpa nasib buruk Telah senangkah hati Ayah Entah apa yang akan terjadi.”
Dengarkan juga oleh Ayah, dari orang dagang hanyut,
“Denai susun-susun daun Petola bunganya kembang Bertiga dengan bunga angsa; Dahulu Ayah kan telah sama tahu Kami ini orang dagang Dagang sansai lagi pun hina. Jaksa ternama di Betawi Menghukum orang di Pariaman; Dahulu tidak Ayah pikiri Mengapa kini disesalkan
Mengapa berlaku demikian, bukankah sudah tahu sejak semula, kami yang tidak berdusun bernagari, tidak bersuku dan berpusaka, kami ini tidak berkaum kerabat, usah seperti ini ayah sekarang, sementang telah dapat bunga yang kembang.”
Kata sampai pikiran jadi gelap, melompat ia mencari pisau, dapat pisau lampagi patah ujung, lalu berkata masa itu, “Supaya
35) Kulit padi
sanang bana hati Ayah, den amuakkan badan den kini nangko.”
Malompek Siti Rawiyah, lalu disemba pisau nantun, dilalukan malah kabanaran, “Anak den Marah Sudin, kanapo anak bak nantun bana, koknyo tak ado bana mandeh lai, denai kan lai ka gantinyo, pasanang malah hati anak, samantaro denai lai hiduik.”
Manjawab si Marah Sudin:
“Musajik urang Simulanggang Batingkek bagonjong limo Buatan tukang urang Canduang; Kununlah kasiah urang ditompang Bahinggo juo nyo hatinyo Kok tidak si mandeh kanduang.
Dangakan malah sabuah lai, rundiangan taadok ka ayah denai, alah pueh malah hati ayah, mandeh denai alah mati, adiak denai mati pulo, awakden bajalan pulo, basandianglah ayah sataruihnyo, iyo di rumah Siti Rawani. Lorong kapado diri denai, kudiannyo mangko denai ka tahu di untuang.
Urang balari tangah rumah Balari ka ateh anjuang Duduak maangun makan siriah; Ka sanang malah hati ayah Sajak saindak mandeh kanduang Nasi den mintak sumpah buliah.”
Manjawab Siti Rawiyah, “Anak den si Marah Sudin, usah disabuik nan bak nantun, sesolah denai mandangakan.
Den balah mangko den bandakan Taganang tidak ba muaro; Den balah dado den pacaliakkan Anak kanduang kok tidak picayo.
Apo ka tenggang di ambo lai, awak nan tidak duo hati, tapi
senang hati Ayah, den amukkan badan den kini.”
Melompat Siti Rawiyah, lalu disambarnya pisau itu, dikatakan malah kebenaran, “Anak denai si Marah Sudin, mengapa anak begitu benar, walaupun tak ada Mandeh lagi, denai kan ada sebagai gantinya, persenang malah hati anak, sementara denai masih hidup.”
Menjawab si Marah Sudin,
“Mesjid orang Simulanggang Bertingkat bergonjong lima Buatan tukang orang Canduang; Kononlah kasih orang ditumpang Berhingga juga hatinya Kok tidak si mandeh kandung.
Dengarkan malah satu lagi, rundingan terhadap Ayah denai, telah puas hati Ayah, Mandeh denai telah mati, adik denai mati pula, awakden berjalan pula, bersandinglah Ayah seterusnya, di rumah Siti Rawani. Halnya diri denai sendiri, akhirnya denai akan tahu diuntung,
Orang berlari tengah rumah Berlari ke atas anjung Duduk tertegun makan sirih; Akan senang malah hati Ayah Sejak tidak ada Mandeh kandung Nasi den minta sumpah yang diperoleh.”
Menjawab Siti Rawiyah, “Anak denai si Marah Sudin, usah disebut yang seperti itu, susahlah denai mendengarkan,
Den belah maka den ampangkan Tergenang tidak bermuara; Den belah dada den perlihatkan Anak kandung kalau tidak percaya.
Apa yang akan denai lakukan, kita yang tidak dua hati, tapi
anak nan tidak kunjuang picayo.”
Sanan bakato Pangulu Andiko, “Manolah rang mudo Marah Sudin, usahlah barambang hati juo, suruikkan hati ka nan bana, eloklah mayik nangko kito salamaikkan, nak jan ditimpo bala mandatang, hari lah barambang patang.”
Birawari urang nan banyak, lalu basigap hanyo lai, ditatiang kasua manggalo, dibantangkan tangah rumah, diangkek mayik si Asamsudin, manuruik mayik si Darama, diangkek pulo mayik Siti Jamilah, sanan tarangah urang nan banyak. Bakato Pangulu Andiko, “Manolah kito nan basamo, basugirolah kito lai.”
Kununlah dek urang nan banyak tu, ditatiang mayik katigonyo, dibaok ka tangah rumah, didapek-i surek sapucuak, lalu dibaco samaso itu:
“Ka sawah rang Indogiri Luluak nan tidak ka timbunan; Koknyo sampai ajalullah kami Kubua nan usah ditigokan. Ka rimbo baladang kacang Ambiak bijo tugakan jaguang; Kubuakan kami dinan langang Nak jan manyeso urang kampuang. Mangkudun Rajo Sumani Balahan Koto Pariangan Andomo nan di Saruaso; Carikan bukik nan tinggi Di sanan kami dikubuakan Nak jan kanai kampuang di balanyo. Itulah garan isi sureknyo, pasan pitaruah pado kito, alah koh paham kito nan basamo?” Sanan manjawab urang nan banyak, “Kalau baitu bana umanaik pitaruah nan tasuo, kito turuik malah nan bak kian, toh malah kito cari bukik nan tinggi, molah kito basugiro hanyo lai.”
anak yang tidak kunjung percaya.”
Berkata Penghulu Andika, “Orang muda Marah Sudin, usah marah, surutkan hati ke yang benar, baiklah mayat ini kita urus, supaya jangan ditimpa bala, hari telah berangsur petang.”
Bersigaplah orang yang banyak, menating kasur manggalo, dibentangkan di tengah rumah, diangkat mayat si Asamsudin, lalu Siti Darama, lalu mayat Siti Jamila, terengahlah orang banyak. Berkata Penghulu Andika, “ Orang ramai mari kita bersegera.”
Kononlah orang banyak, dibawa mayat ke tengah rumah, didapati surat sepucuk, lalu dibaca penghulu masa itu,
“Ke sawah orang Indogiri Lumpur yang tidak akan tertimbun; Kalau sampai ajal kami Kubur yang tidak usah ditigakan. Ke rimba berladang kacang Ambil bibit tanam jagung; Kuburkan kami di tempat lengang Supaya tak menyiksa orang kampung. Mangkudun raja Sumani Belahan koto Pariangan Andomo nan di Saruaso; Carilah bukit nan tinggi Di situ kami dikuburkan Supaya jangan kena kampung di balanyo. 36
Itulah gerangan isi suratnya, pesan wasiat pada kita, sudahkah paham kita yang bersama?”
Menjawab orang yang banyak, “Kalau begitu amanat, wasiat yang ditinggalkan, kita turuti yang seperti itu, kita cari bukit yang tinggi, marilah kita bersegera.”
36) Balanya
Lorong kapado urang nan banyak, alah basiap hanyo lai, disugirokan malah lai, sanan bapantun urang banyak:
Tanah liyek bakapiyek Dibuek ka pariuk balango; Alun sakubua alah diliek Urang sakubua nan batigo.
Bakato surang Niniak Mamak, “Mano sagalo nan induak- induak, sadiokan ayia sacukuiknyo.” Dek bahati rahim kasadonyo, karajo nan barek manjadi ringan, sasudah salasai mayik dimandikan, lalu disumbahyangkan hanyo lai. Sudah salasai sado nan wajib, mayik diosong hanyo lai, Allahu rabbi buni tangih, buni ratok mandayu- dayu, buah pantun maramuak hati:
Ka hilia ka tanah Pulai Di Sanjai kampuang rang Mungka Di sinanlah pinang linggyuran; Ka gudia mayik nan pai Ka sansai kami nan tingga Ka sesolah hati manangguangkan.
Sesolah hati mandangakan, nan talabiah bana si Marah Sudin, sarato Tuanku Lareh Simawang, hiruak pikuak di tangah rumah, kacau-balau sakutiko nantun, gaduah pangana mangiroi, buncah pikiran maagak-i.
Lah dikali kubua, mayik diosong hanyo lai, tibo di pandam pakuburan, dek sigap urang manolong, salasailah sudah pusaronyo, tatagak marawa paco putiah, tatagak pulo mejan nan duo, lah salasai maso itu, urang pun babaliak pulang.
Indak elok dirandang kacang Elok diambiak nan babungo; Tak guno dipapanjang Elok diambiak nan paguno.
Orang banyak bersegera dan bersiap, berpantun mereka saat itu,
Inilah tanah liat Dibuat untuk periuk belanga; Belum sekubur telah dilihat Berkubur orang yang bertiga.
Berkata seorang ninik mamak, “Mana semua ibu-ibu, sediakan air secukupnya.” Karena berhati tulus semuanya, kerja berat menjadi ringan, sesudah selesai mayat dimandikan, lalu mereka disembahyangkan. Setelah selesai semua yang wajib, mayat kemudian ditandu, Allahu Rabbi bunyi tangis, bunyi ratap mendayu- dayu, buah pantun meremukkan hati,
Ke hilir ke tanah Pulai Di Sanjai kampung orang Mungka Di sanalah pinang linggayuran; Akan hilang mayat yang pergi Akan sansai kami yang tinggal Akan menderita hati menanggungkan.
Menderitalah hati mendengarkan, terlebih si Marah Sudin, serta Tuanku Lareh Simawang, hiruk pikuk di tengah rumah, kacau balau seketika, gaduh ingatan memikirkan, buncah pikiran merasakan.
Telah digali liang kubur, mayat diusung ke kuburan, setelah tiba di pandam pekuburan, karena sigap orang menolong, selesailah sudah pusaranya, ditegakkan bendera perca putih, berdiri pula sepasang nisan, setelah selesai masa itu, orang pun berbalik pulang.
Tidak elok direndang kacang Elok diambil yang berbunga; Tak guna diperpanjang Elok diambil yang berguna.
Sasa Kudian Indak Paguno
Samanjak sahari mayik takubua, tidak lah nan lain dibincangkan urang, iyolah tak bukan dari Siti Jamilah, bunyi bisiak lah badasuih-dasuih, mampakatokan kurenah Siti Jamilah, awak rancak baso katuju, muluik manih kucindan murah, baso baiak parangai elok, tahu di adat korong kampuang, tahu di baso-basi, paibo ka urang miskin, pangasiah pulo ka anak dagang.
Nan taadok urang sakampuang, balun parnah bakasa muluik, balun pandai baketekkan hati, tagahnyo dek Tuanku Lareh, indak dipikia dihinokkan, daripado mangunyah siriah langkok.
Tipak di diri Lareh Simawang, sapaningga Siti Jamilah, sarato Siti Darama dan si Asamsudin, sesolah hati tiok hari, rupo saraso bayang-bayang juo, suaro bak raso kadangaran, tangiang-ngiang juo di talingonyo, di mano duduak sanan bamego, di mano tagak sanan bapaliang, duduak bajuntai baayun kaki, rintang batutua-tutua surang, kok tampak urang lalu linteh, batanyo inyo ka urang nantun.
“Oi Tuan urang nan lalu, suruah pulang si Asamsudin, sarato jo si Darama, inyo dibaok Siti Jamilah, anak urang nan gilo-gilo baso, anak urang buruak kalakuan, anak den dibaoknyo.”
Sesal Kemudian Tidak Berguna
Setelah sehari mayat terkubur, tidaklah ada yang lain, yang diperbincangkan orang, yaitu Siti Jamilah, bunyi bisik telah berdesis- desis, membicarakan kelakuan Siti Jamilah, awak rancak bahasa disukai, mulut manis kucindan murah, bahasa baik perangai elok, tahu di adat korong kampung, tahu basa basi pula, baik pada orang miskin, pengasih pada anak dagang.
Terhadap orang sekampung, tidak pernah bermulut kasar, pandai merendahkan hati, oleh Tuanku Lareh Simawang, tidak dipikir dan direnungkan, biarlah memamah sepah jamba³⁷, daripada mengunyah sirih lengkap.
Akannya diri Lareh Simawang, sepeninggal Siti Jamilah, serta Siti Darama dan Asamsudin, menderitalah hati setiap hari, wajah seperti terbayang-bayang juga, suara seperti kedengaran, terngiang- ngiang juga di telinganya, di mana duduk di sana teringat, di mana berdiri di sana berpaling, duduk berjuntai berayun kaki, selalu bertutur-tutur sendiri, kalau tampak lalu orang di jalan, bertanya ia ke orang tersebut.
“Oi Tuan orang yang lalu, suruh pulang si Asamsudin, serta si Siti Darama, mereka dibawa Siti Jamila, anak orang yang gila-gila tanggung, anak orang buruk kelakuan, anak den dibawanya.”
37) Perjamuan besar
Sadang batutua-tutua nantun, tampaklah surang laki-laki, balari pulo Tuanku Lareh Simawang, balari masuak ka dalam biliak, itulah karajonyo tiok hari.
Lah babilang dukun pandai ubek, lah baungguak ubek sapanuah rumah, usahkan panyakik nan ka cegak, antah kok batambah kareh nan lai, sanan bapantun urang dalam kampuang:
Anak urang Tanjuang Sungayang Ka pakan mambali siriah Siriah sarumpun jo silaronyo; Kununlah nan Lareh Simawang Tuah dicari hino nan buliah Sampai batuka jo akanyo. Parupuak upiah nan rareh Ka lapiak panjamua padi; Buruak untuangnyo Tuanku Lareh Sajak babini Siti Rawani. Kain salendang nak rang Guguak Baragi basulam pulo Sujian nak rang Bukittinggi; Kasiah sayang jolong basusuak Sadang kasiah sansaro tibo Malang untuangnyo Siti Rawani.
Lorong kapado jaksa nan pansiun, habih piti badaso tidak, minyak habih samba tak lamak, arang habih basi binaso, tukang hambuih payah sajo.
Harok baminantu urang bapangkek, diadokan alek tujuah hari, dipotong kabau duo tigo, dipanggia urang sanagarinyo, nan jauah dilapeh surek, nan hampia kulansiang tibo.
Tipak di diri Tuanku Lareh, dek dukun siliah baganti, barakaik yakin inyo barubek, iyo lai agak baransua cegak, alah timbua pangana baiak, lalu dicubo bajalan-jalan, dimudiakkan labuah nan panjang,
Sedang bertutur-tutur itu, tampaklah seorang laki-laki, berlari pula Lareh Simawang, berlari masuk ke dalam bilik, itulah kerjanya setiap hari.
Sudah tidak terbilang dukun, yang pandai mengobatinya, sudah menggunung obat sepenuh rumah, usahkan penyakit yang akan sembuh, bertambahlah yang ada, berpantun orang dalam kampung,
Anak orang Tanjung Sungayang Ke pekan membeli sirih Sirih serumpun dengan silaranya; Kononlah nan Lareh Simawang Tuah dicari hina yang boleh Sampai bertukar akalnya. Perupuk upih nan luruh Akan tikar penjemur padi; Buruk peruntungannya Tuanku Lareh Sejak beristri Siti Rawani. Kain selendang anak orang Guguk Beragi bersulam pula disuji anak orang Bukittinggi; Kasih sayang jolong bersusuk Sedang kasih sengsara tiba Malang untungnya Siti Rawani.
Akan halnya jaksa yang pensiun, ayahnya Siti Rawani, habis uang beruntung tidak, minyak habis makanan tidak enak, arang habis besi binasa, tukang tiup payah saja.
Harap bermenantu orang berpangkat, diadakan helat tujuh hari, dipotong kerbau dua-tiga, dipanggil orang senagari, yang jauh disuratinya, yang dekat dipanggilnya.
Akan halnya Lareh Simawang, dengan dukun silih berganti, berkat yakin ia berobat, agak berangsur sehat, sudah hampir timbul kesadaran, lalu dicobanya berjalan-jalan, dimudikkan jalan yang
sanan batanyo Datuak Rangkayo Basa.
Manolah Tuanku janyo ambo, angku den Lareh Simawang, laikoh sanang-sanang sajo angku kini? Baa mangko takucak bana badan angku?”
Manjawab Lareh Simawang, “Kok itu nan Datuak tanyokan, satantang badan diri ambo, lai lah baransua cegak, tapi pikiran rumik bicaro, iyo bak ibarat panuturan:
Di tangsi banyak saradadu Sarasan namo kapalonyo; Jikok dikana nan dahulu Lawik dalam tuangannyo.
Tidaklah hati saramuak nangko, rusuah bacampua jo ibo, bukan denai ibo di badan surang, ibo di anak nan mati, rusuah di anak nan hilang.
Kok den ka manjarum Den turang jo banang suto Den ambiak ka sarabeta; Kok den aso ka bak nantun Indak den namuah dijapuiknyo Iyo ka ranah ka Batusangka.”
Sadang batutua-tutua nan bak kian, ayia mato sabak-sabak ka manangih, rakuangan lah baransua kalek, suaro lah garuak-garuak parau, sanan manjawab Datuak Rangkayo Basa:
“Usahlah padi diluruik juo Kok basawah di musim tingga Bapadi banyak nan hampo; Usahlah hati palaruik juo Tabuang buruak urang nan tingga Cilako murah manimpo.
Usahlah Tuanku barusuah hati bana, janlah baibo hati juo,
panjang, bertanya Datuak Rangkayo Basa.
“Tuanku Lareh Simawang, adakah senang saja Angku sekarang? Mengapa kurus benar badan Angku?”
Menjawab Lareh Simawang, “Kalau itu yang Datuak tanyakan, tentang badan diri hamba, telah berangsur sembuh, tapi pikiran belumlah sembuh, ibaratnya penuturan,
Di tangsi banyak serdadu Sersan nama kepalanya; Jika diingat masa dahulu Laut dalam tuangannya.
Tidaklah hati seremuk ini, rusuh bercampur dengan iba, bukan denai iba dengan badan sendiri, iba karena anak yang mati, rusuh di anak yang hilang.
Kalau den akan menjarum Den jahit dengan benang sutra Den ambil untuk sarabeta³⁸; Kalau den tahu akan bak nantun Tidak kan mau den dijemputnya Dijemput ke ranah Batusangkar.”
Sedang bertutur seperti itu, air mata sebak akan menangis, suaranya telah parau, menjawab Datuak Rangkayo Basa,
“Usahlah padi diluruhkan jua Kalau bersawah di musim tinggal Berpadi banyak yang hampa; Usah hati berlarut jua Terbuang buruk orang yang tinggal Celaka murah menimpa.
Usah Tuanku bersusah hati benar, janganlah beriba hati jua,
38) lap tangan
pabilo hati namuah luluah, nan panggamang lakeh jatuah, nan pancameh mati hanyuik.
Lorong kapado anak nantun, isuak kan batamu juo, kok lai kito ba amalan saleh, pulangkan sajo kapado Allah, itu nan kuaso dari kito.”
Alah sudah sapo manyapo, sarato salam bajawek tangan, bapisahlah inyo kaduonyo, bajalanlah Lareh Simawang, bajalan juo ka mudiak labuah.
Pado hari sahari nantun, duduaklah inyo di barando, duduak bajuntai di kurisi, baliau bapantun maso itu:
“Si upiak Siti Jalaka Nan barumah badindiang camin Parampuan lareh Koto Gadang; Anak den Siti Darama Ka mano kolah inyo bamain Lah putiah mato dek mamandang.”
Pado maso dewaso itu, takana nan tapabuek, maminta tobat kapado Allah, pai sumbahyang inyo ka surau, tidak lupuik satu wakatu, itu karajo siang malam, mandoa tiok patang Kamih, dimintak safaat siang malam, kapado Allah Chaligul’Alam.
Indak elok dirandang kacang Elok diambiak nan babungo; Tak guno dipapanjang Elok diambiak nan paguno Kalau ado jarum nan patah Usah dilatak di dalam peti; Kok ado kato nan salah Usah ditaruah dalam hati.
apabila hati mau luluh, nan panggamang lakeh jatuah,nan pancameh lakeh hanyuik.
Sekiranya anak itu, besok kan bertemu juga, kalau kita beramal saleh, pulangkan saja kepada Allah, itu yang kuasa dari kita.”
Telah sudah menyapa, serta salam berjawab tangan, berpisahlah keduanya, berjalanlah Lareh Simawang, berjalan ke arah mudik.
Pada suatu hari, duduklah ia di beranda, duduk berjuntai di kursi, beliau berpantun masa itu,
“Si upik Siti Jalaka Yang berumah berdinding cermin Perempuan lareh Koto Gadang; Anak den Siti Darama Ke manalah ia bermain Telah putih mata memandang.”
Pada masa dewasa itu, teringat dosa yang diperbuat, meminta tobat kepada Allah, pergi sembahyang ia ke suaru, tidak luput satu waktu, itu kerjanya siang malam, berdoa tiap petang Kamis, diminta safaat siang malam, kepada Allah Chaligul Alam.
Tidak elok direndang kacang Elok diambil yang berbunga; Tidak guna diperpanjang Elok diambil yang berguna. Kalau ada jarum yang patah Usah diletak dalam peti; Kalau ada kata yang salah Usah ditaruh dalam hati.