Baca PDF (OCR): Tentang Marxisme

61 halaman · 61 halaman diproses dengan OCR· 234385 ms

Daftar isi
  1. TENTANG
  2. MARXISME
  3. TENTANG MARXISME
  4. Ketua Dewan Kurator dan Dosen Luarbiasa
  5. Dara Saudara jang terhormat. Mengadakan tjeramah dihadapan petugas² Departemen Lua.
  6. 8 April 1961, atas permintaan Sdr. Menteri Luarnegeri Dr. Suban-
  7. Marxisme, maka Akademi Ilmu Sosial Aliarcham telah memutus-tempatnja ini dalam keadaan singkatnja waktu untuk mempersiap-
  8. Pada pokoknja dalam tjetakan II ini tidak diadakan peru-
  9. bahan², ketjuali beberapa perubahan redaksionil jang dilakukan pun jang baru tentang studi mengenai Marxisme-Leninisme, me-
  10. Akademi Ilmu Sosial Aliarcham tjeramah.
  11. Departemen jang dipimpinnja harus mempeladjari Marxisme, ter-
  12. dengan mempeladjarinja sungguh². Sekarang memang kita sering
  13. ngenal dan memahami filsafat materialisme dialektik dan histori.
  14. Engels memperingatkan : Betapalah katjaunja djika kepada dua
  15. istilah itu ditambahkan sesuatu pengertian jang lain", maksudnja
  16. Djadi, dalam membitjarakan materialisme dan idealisme kita
  17. harus berpegang pada pengertian seperti jang sudah diterangkan
  18. diatas, kita harus berpegang pada pengertian filsafat dan bukan
  19. (A) IDEALISME
  20. Filsafat idealisme jang pada dasarnja berpendapat bahwa ide
  21. bersumber pada pengetahuan jang salah itu dengan sendirinja
  22. renanja mendapatkan dukungan mereka. Dengan perkataan lain,
  23. Didalam kubu idealisme terdapat berbagai matjam aliran de-
  24. mua jang materiil, menurut idealisme objektif, adalah hasil tjiptaan
  25. jang amat primitif, pandangan ini menjatakan dirinja dalam pe-
  26. jang abadi dan riil. Oleh karenanja ia selandjutnja berpendapat
  27. risis. Kapitalisme, menurut Comte, merupakan sistim jang paling
  28. kemudian mentjapai puntjak perkembangannja di Perantjis pada
  29. salah epistemologi (teori tentang pengetahuan), setjara tegas me-
  30. Filsafat Feuerbach mengandung beberapa kelemahan jang
  31. seràus. Pertama, materialisme Feuerbach adalah naturalis. Ia
  32. memandang manusia bukan sebagai manusia kemasjarakatan,
  33. salahkan. Ia tak memahami kebenaran dialektika Hegel jang antara
  34. njata, dan dunia njata itu hanjalah bentuk luar, bentuk gedjala
  35. diatas kepalanja. Ia harus dibalikkan kembali pada kedudukannja
  36. jang benar, djíika mau menemukan intisarinja jang rasionil didalam kulitnja jang mistik". 10)
  37. dan ditentukan oleh materi. Ini berarti bahwa segala matjam ge-
  38. kan dua matjam pengertian, jaitu pengertian materi dalam filsafat
  39. diluar dan tidak tergantung pada kesedaran manusia, tidak di-
  40. tjiptakan dan dikendalikan oleh sesuatu ide apapun, dan dapat
  41. berdasarkan pada hubungan antara keadaan dengan fikiran, antara
  42. ngenai susunan (struktur) dan organisasi daripada segala sesuatu
  43. dalam ilmu alam itu didasarkan pada tingkat perkembangan penge-
  44. sifat umum. ia tidak terbatas pada benda² atau proses² alam sadja.
  45. tetapi melingkupi djuga gedjala²2 sosial, sedang pengertian materi
  46. dalam ilmu alam hanja chusus mengenai benda² alam sadja. Se-
  47. tak akan mengubah kebenaran bahwa materi itu berada setjara
  48. pengertian materi dalam ilmu alam bersifat relatif dan sementara,
  49. Misalnja, perkembangan teori atom adalah perkembangan penge-
  50. Bagaimana hukum dialektika atau hukum tentang perker:bang-
  51. BAB ⅡI
  52. EKONOMI POLITIK
  53. ngan bangunan-atas masjarakat, dsb. akan saja bitjarakan dalam
  54. jang membedakannja dari filsafat² lainnja. jaitu bahwa filsafat
  55. mengubah dunia".23) Djustru oleh karena itulah, oleh karena harus
  56. Sebagaimana bagian² lain dari adjaran Marxisme, adjaran
  57. ganti dengan sistim masjarakat jang lebih madju, masjarakat so-
  58. ekonomi sosialis, bebas dari "l'exploitation de l'homme par
  59. Dalam rangkaian tjeramah² ini akan kita bahas terlebih dulu
  60. beberapa pengertian pokok dan umum dari adjaran ekonomi po-
  61. plistis). Sebagaimana diperingatkan oleh Engels : Sajang,.
  62. kemerdekaan nasional kita sendiri membuktikan bahwa setiap orang
  63. aparat pemaksa tertentu..34). Tetapi susunan politik dari
  64. Oleh karena itu, untuk memahami masjarakat kapitalis, me-
  65. Marx menundjukkan bahwa bersamaan dengan produksi
  66. 20/20 × 100% = 100%. Dalam hubungan dengan pengertian
  67. 5) Pembagian teritorial atas seluruh dunia diantara negara²
  68. dls".52) Persaingan terdjadi diantara para anggota badan mo-
  69. elakkan". 64) Djadi, soalnja kini bukan lagi benar atau tidaknja
  70. 4. Tjita² Sosialisme Di Indonesia
  71. Dan adjaran2 Marx dan Lenin ini mendjadi terkenal dengan se-
  72. Sebagai penutup, saja ingin menegaskan bahwa Marxisme
  73. atau Marxisme-Leninisme adalah pedoman untuk beraksi, djadi
  74. jang dapat mengobati segala matjam penjakit". Marxisme baru
  75. ada gunanja djika ditrapkan setjara kreatif. Marxisme adalah
  76. pedoman umum dan universil. Oleh karena itu, untuk memenang-
  77. kan revolusi Indonesia, Marxisme harus ,di-Indonesiakan", 'arti-
  78. nja harus ditrapkan sesuai dengan kondisi² Indonesia. Dengan
  79. berpegang teguh pada adjaran² fondamentil Marxisme atau Marx-
  80. organisasinja berdasarkan keadaan² kongkrit di Indonesia.
  81. Djakarta, pertengahan Februari 1967
  82. 73) F. Engels, The Peasant War in Germany, FLPH, Moskow, th. 1956,
  83. INDEKS NAMA
  84. Fourier, 102, 105, 106.
  85. BAB I. FILSAFAT
  86. Dua Kubu Dalam Dunia Filsafat
  87. b) Materialisme Mekanik
  88. c) Lahirnja Materialisme Marxis
  89. c) Salinghubungan jang pokok dan bukan-pokok
  90. (C) Dunia Materiil Senantiasa Bergerak dan Berkem-
  91. bang Patah Tumbuh Hilang Berganti.
  92. a) Gerak materi adalah gerak sendiri b) Diam adalah salahsatu bentuk gerak
  93. c) "The new emerging forces" pasti menang ....
  94. (D) Dunia Materiil Berkembang Menurut Hukumnja
  95. b) Hukum tentang perubahan kwantitatif keper-
  96. c) Hukum tentang negasi daripada negasi ..
  97. Feuerbach, Ludwig, 8, 12, 27, 28.
  98. 1727480
  99. J1.2

TENTANG

MARXISME

D.N. Aidit

TENTANG MARXISME

D. N. AIDIT

Ketua Dewan Kurator dan Dosen Luarbiasa

Akademi Ilmu Sosial Aliarcham

weede donh Tjetakan Kedua

Akademi Ilmu Sosial Aliarcham Djakarta 1963

SEPATAH KATA PENERBIT

Buku ini semulanja adalah rangkaian tjeramah Tentang Marxisme jang diberikan oleh Kawan D.N. Aidit, Ketua CC PKI di- hadapan para peserta Latihan Kemiliteran Pegawai Sivil (LKPS) Departemen Luarnegeri Republik Indonesia dalam bulan Februari

  1. Dalam tjeramah² itu naskah rangkaian tjeramah ini sebagian dibatjakan dan sebagian lagi diuraikan pokok²nja. Dengan seizin pengarangnja, Akademi Ilmu Sosial Aliarcham memutuskan untuk membukukan naskah rangkaian tjeramah itu selengkapnja setelah diadakan penjempurnaan oleh pengarang, baik mengenai redaksinja maupun mengenai penguraian beberapa masalah. Tulisan Kawan D.N. Aidit Ketua Dewan Kurator dan Dosen Luarbiasa Akademi Aliarcham merupakan bahan-pela- djaran penting bagi para mahasiswa Akademi Aliarcham, terutama karena karja² klasik tentang Marxisme-Leninisme kebanjakan ma- sih terdapat dalam bahasa asing dan djumlah peredarannja dinegeri kitapun sangat terbatas. Pembukuan rangkaian tjeramah itu akan sangat membantu pula untuk menjebarkan pengertian jang tepat tentang Marxisme-Leninisme dikalangan masjarakat jang luas di Indonesia, pengertian bahwa Marxisme-Leninisme adalah ilmu masjarakat jang telah berakar dan tumbuh dibumi kita sendiri. Semakin luas dan semakin tepat Marxisme-Leninisme difahami, maka semakin lantjarlah usaha untuk ,,meng-Indonesiakan" Marxisme-Leninisme. Ini akan men- dorong lebih madju perkembangan ilmu sosial jang progresif dinegeri kita dan memperbesar pengabdiannja kepada penjelesaian tuntutan² Revolusi Agustus 1945 sepenuhnja, kepada pelaksanaan Manipol dengan konsekwen.
    Akademi Ilnu Sosial Aliarcham Djakarta, Mei 1962.

Int. Instituut Soc. Geschiedenis Amsterdam

PENGANTAR

Dara Saudara jang terhormat. Mengadakan tjeramah dihadapan petugas² Departemen Lua.

negeri bagi saja ini bukanlah jang pertama kalinja. Pada tanggal

8 April 1961, atas permintaan Sdr. Menteri Luarnegeri Dr. Suban-

drio saja telah memberikan tjeramah dihadapan konferensi Kepala² 11Guids1nsbud Perwakilan Republik Indonesia di Asia-Pasifik dan Afrika Timur 8a196d58 u dsm51sk Tengah, Saja mengutjapkan banjak terimakasih atas kesempatan² ini, dan saja mempunjai kejakinan bahwa dengan bekerdjasama demikian ini, kita akan dapat lebih banjak menjumbangkan segaia 111 56916 jang baik kepada urusan bangsa dan Rakjat kita.

.90818905PENGANTAR UNTUK TJETAKAN II Saja diminta oleh Dr. Subandrio untuk menguraikan dihadap- 29819652 061571 an Sdr.2 Tentang Marxisme. Satu tema jang sangat luas. Apa jang Berhubung dengan banjaknja permintaan akan buku Tentangdapat saja lakukan untuk memenuhi permintaan jang memang pada

Marxisme, maka Akademi Ilmu Sosial Aliarcham telah memutus-tempatnja ini dalam keadaan singkatnja waktu untuk mempersiap-

kan untuk menerbitkan Tjetakan II dari buku tersebut.kan diktat dan terbatasnja djam tjeramah? Dalam waktu beberapa hari ini saja telah mengumpulkan kembali tjatatan² jang lama mau-

Pada pokoknja dalam tjetakan II ini tidak diadakan peru-

bahan², ketjuali beberapa perubahan redaksionil jang dilakukan pun jang baru tentang studi mengenai Marxisme-Leninisme, me-

oleh penulisnja.njusunnja setjara sistimatis agar dapat menghidangkannja kepada Sdr.2 jang perlu² sadja, tetapi menjeluruh, dalam beberapa kali

Akademi Ilmu Sosial Aliarcham tjeramah.

Saja menjetudjui pendirian Dr. Subandrio bahwa petugas²

Departemen jang dipimpinnja harus mempeladjari Marxisme, ter-

Djakarta, November 1962 lepas dari apakah mereka menjetudjui atau tidak menjetudjui Marxisme. Saja kira, kita semua sependapat, bahwa untuk re- njetudjui atau tidak menjetudjui sesuatu, orang harus mengetahui apa jang disetudjui atau tidak disetudjuinja itu, dan itu hanja bisa

dengan mempeladjarinja sungguh². Sekarang memang kita sering

menghadapi jang aneh2. Ada orang jang setudju kepada Marxisme, tetapi tidak mengetahui apa Marxisme itu sebenarnja, se- hingga ada kalanja terdjadi, bahwa jang mereka kira Marxisme itu djustru adalah lawan daripada Marxisme. Dan banjak orang jang menentang mati2an Marxisme, tetapi tidak mengetahui dan malahan samasekali tidak pernah mempeladjari Marxisme, atau djika mempeladjarinja tidak dari buku² Marxis tapi dari buku² musuh² Marxisme atau renegad² Marxisme. Sering terdjadi, bahwa musuh² Marxisme menjerang apa jang dikiranja Marxisme, tetapi sebenarnja mereka telah menjerang apa jang djuga diserang oleh

kaum Marxis. Misalnja, djika mereka menjerang materialisme, biasanja jang mereka serang jalah materialisme Feuerbach atau materialisme vulger, tetapi mereka mengira bahwa jang diserangnja adalah materialisme Marx, Sungguh sangat memalukan, bahwa masih ada sadja orang2 jang suka berbitjara pandjanglebar dan me- nulis buku² tebal tentang sesuatu jang tidak diketahuinja. Tetapi persetudjuan saja tidak terbatas disitu. Saja menjetu- djui pendirian Dr. Subandrio agar pendjabat² negara jang ber- tanggungdjawab mempeladjari Marxisme, dengan alasan bahwa Marxisme tidak hanja bukan barang selundupan di Indonesia, tetapi sesuatu jang sah, karena konsepsi Nasakom adalah peng- akuan hakhidup bagi Marxisme dinegeri kita, sebagaimana djuga halnja dengan hakhidup bagi Nasionalisme dan Agama. Oleh karena itu, menurut pendapat saja, soal mempeladjari Marxisme dinegeri kita, disamping sangat perlu untuk menambah pengetahuan guna memahami berbagai gedjala internasional, menghadapi kenjataan adanja negara² sosialis atau gerakan klas buruh sedunia, adalah sangat perlu pula untuk memahami gedjala² nasional, untuk merealisasi aspirasi² nasional kita, untuk merealisasi gagasan Nasakom, Gotongrojong dan Sosialisme Indonesia. Seperti sudah saja katakan dalam tjeramah saja tanggal 8 April tahun jang lalu, Marxisme di Indonesia sudah mendjadi kenjataan sedjarah, kenjataan sosiologis, kenjataan politis. Marxisme tumbuh sudah lama dinegeri kita, jaitu sedjak tahun 1914 dengan berdirinjaPerhimpunan Sosial Demokratis Hindia (PSDH, Indische Sociaal Democratische Vereniging ISDV) jang dalam bulan Mei th. 1920 mendjadi PKI. Dalam th. 1926-1927 Partai Marxis jang/masih sángat muda ini telah memimpin satu pemberontakan Rakjat anti-kolonialisme jang gagal, kemudian hampir duapuluh tahun dipaksa hidup dibawahtanah oleh kaum kolonialis Belanda dan fasis Djepang, tetapi sedjak Revolusi Agustus 1945 ia muntju! kembali kepermukaan bumi, ambilbagian aktif dalam revolusi itu. dan sekarang telah merupakan satu aliran dan kekuatan jang penting dalam kehidupan politik Rakjat Indonesia. Djadi, mau tidak mau, suka tidak suka, Marxisme telah mendapat tempatnja sendiri didalam kehidupan politik dan sosial negeri kita, didalam hati bagian tertentu jang tidak ketjil dari Rakjat Indonesia. Dalam tjeramah saja tanggal 8 April tahun jang lalu tersebut diatas telah saja singgung serba singkat bahwa Marxisme terdiri dari tiga sumber dan tiga bagian, jaitu Filsafat, Ekonomi Politik dan Sosialisme. Filsafat Marx bersumber pada filsafat klasik Djerman. Filsafat Marxisme adalah materialisme. Hasil jang paling penting dari Marx dibidang filsafat jalah dialektika, jaitu adjaran tentang

perkembangan dalam bentuknja jang paling sempurna, paling dalam. bebas dari sifat beratsebelah, adjaran tentang kerelatifan pengetahuan manusia jang memberikan pentjerminan kepada kita tentang materi jang berkembang abadi. Marx tidak benhenti pada memperdalam dan mengembangkan materialisme filsafat, tapi ia melengkapinja, ia meluaskan peagertian materialisme filsafat tentang alam kepengertian tentang masjarakat manusia.Pentrapan (penggunaan, pelaksanaan) azas2 pokok materialisme dialektik di- lapangan gedjala sosial, gedjala kemasjarakatan, itulah jang di- namakan materialisme histori. Materialisme filsafat Marx telah meaundjukkan kepada Rakjat pekerdja djalan keluar dari per- budakan djiwa. Saja bermaksud untuk menguraikan materialisme dialektik dan histori setjara agak mendalam dalam Bab I dari rangkaian tjeramah-tjeramah saja. Materialisme dialektik dan histori tidak hanja merupakan salahsatu bagian, tetapi djuga dasar daripada Marxisme. Ekonomi Politik Marx bersumber pada ekonomi klasik Ing- gris. Marx melandjutkan pekerdjaan Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) jang berkat penjelidikannja di- lapangan sistim ekonomi telah meletakkan dasar² untuk teori nilai kerdja. Marx telah menjingkapkan hubungan antara manusia dalam penukaran antara barangdagangan jang satu dengan barangdagangan jang lain. Dalam hal ini ahli2 ekonomi burdjuis hanja melihat hubungan antara barang2, tidak menjingkapkan hubungan antara manusia. Marx membuktíkan bahwa dalam sistim kapitalis tenagakerdja manusiapun mendjadi barangdagangan. Dan dari sinilah Marx mendjelaskan bagaimana kaum buruh menghasilkan nilai-lebih jang mendjadi sumber kekajaan seluruh klas kapitalis. Adjaran tentang nilai-lebih adalah batu-alas teori ekonomi Marx. Ekonomi politik Marx menerangkan kedudukan klas buruh jang sesungguhnja dalam sistim umum kapitalisme. Saja bermaksud untuk menguraikan setjara agak mendalam tentang Ekonomi Politik Marx dalam Bab II dari rangkaian tjeramah saja. Sosialisme Marx bersumber pada adjaran Sosialisme klasik Perantjis. Berbeda dengan adjaran² sosialisme utopi Perantjis, Sosialisme Marx adalah ilmiah, tidak berdasarkan se-mata² pada ,,kemauan baik" dan ,,akal" subjektif, tetapi berdasarkan hukum objektif perkembangan masjarakat manusia. Marx telah menarik kesimpulan dari sedjarah dunia, bahwa perdjuangan klas adalah lokomctif daripada kemadjuan masjarakat, bahwa untuk mentjipta- kan masjarakat sosialis. masjarakat dimana tidak ada penghisapan atas manusia oleh manusia, masjarakat tak berklas, tidaklah mung-

kin dengan djalan mengharapkan belaskasihan kaum kapitalis atau usaha orang² jang baik budi sadja, tetapi harus dengan djalan mengadakan perdjuangan klas terhadap kaum kapitalis. Perdjuangan klas untuk menghapuskan klas! Saja bermaksud untuk menguraikan setjara agak mendalam tentang Sosialisme Ilmu dalam Bab Ill dari rangkaian tjeramah-BABI tjeramah ini. FILSAFAT

Sebagaimana telah saja kemukakan dalam pengantar tjeramah ini, materialisme dialektik dan histori (MDH) bukan hanja salah- satu bagian, tetapi merupakan dasar daripada adjaran Marxisme keseluruhannja. Maka, untuk dapat mengenal dan memahami, apa- lagi menguasai Marxisme, per-tama² dan terutama kita harus me-

ngenal dan memahami filsafat materialisme dialektik dan histori.

Dalam tulisannja Tiga Sumber dan Tiga Bagian Marxisme Lenin antara lain mengatakan : Filsafat Marx adalah materialisme filsafat jang sudah disempurnakan, jang telah mempersendjatai umatmanusia, terutama klas buruh, dengan alat² pengetahuan jang perkasa". 1) Filsafat Marx adalah perkasa, ia bukan hanja merupakan sendjata untuk mengenal, tetapi djuga untuk mengubah keadaan alam, masjarakat maupun fikiran manusia sendiri. Mengapa MDH itu perkasa? Adjaran Marx adalah perkasa, karena ia benar" kata Lenin, ,,Ia komplit dan harmonis, ia memberi kepada manusia suatu pan- dangan dunia jang lengkap jang tak dapat didamaikan dengan tachajul apapun, dengan reaksi apapuin, atau dengan pembelaan atas penindasan burdjuis apapun. Ia adalah pewaris jang sah daripada apa jang paling baik jang sudah ditjiptakan oleh umatmanusia dalam abad kesembilanbelas". 2) Dengan perkataan lain, MDH jang ditjiptakan oleh guru² besar klas proletar, K. Marx (1818-1883) dan F. Engels (1820-1895) dalam abad ke-19 itu adalah berdasar- kaa pengalaman praktek sosial seluruh umatmanusia dimasa lampau (lebih dari 2000 tahun) serta hasil²nja jang terbaik dan termadju dibidang filsafat maupun dibidang ilmu-alam dan ilmu-sosial. Ia merupakan suatu produk daripada proses perkembangan sedjarah pada tingkatan tertentu jaitu kapitalisme, dimana proses perdjuangan

1) W.I. Lenin, Tentang Adjaran² Karl Marx, dalam Pustake Ketjil Marxis No. 1, Jajasan Pembaruan", tjetakan ke-III, 1961, hlm. 10.
2) Idem, halaman 6.

antara fikíran² jang ilmiah dengan jang tachajul, antara filsafat materialisme dengan filsafat idealisme telah mentjapai tingkat jang tertinggi. Proses perdjuangan ini merupakan pentjerminan (refleksi) proses perdjuangan klas jang telah sampai pada tingkat terachir disepandjang sedjarah masjarakat berklas. Oleh karena itu, maka untuk dapat mengenal dan memahami MDH setjara tepat, perlu kita terlebih dahulu mendapat gambaran, walaupun setjara singkat dan garis besar, tentang sedjarah perkembangan filsafat.

  1. Dua Kubu Dalam Dunia Filsafat Sedjarah perkembangan fikiran filsafat adalah suatu bagian dan djuga suatu pentjerminan (refleksi) daripada proses sedjarah perkembangan masjarakat manusia. Filsafat sebagai suatu bentuk chusus kesedaran-sosial mulai timbul dalam sedjarah dunia pada zaman peralihan dari masjarakat komune-primitif kemasjarakat pemilikan-budak, dimana masjarakat mulai terbagi dalam klas² jang saling bertentangan kepentingannja, mulai terdjadi pemisahan aatara kerdja-badan dengan kerdja-otak. dimana mulai terdjadi hubungan penindasan dan penghisapan atas manusia oleh manusia. Sedjak itu, sebagaimana dikatakan oleh Marx, sedjarah masjarakat manusia adalah sedjarah perdjuangan klas, maka sebagai pentjer- minannja sedjarah filsafat adalah sedjarah perdjuangan antara dua kubu besar: materialisme dan idealisme. Sebelum kita menindjau keadaan dua kubu besar filsafat ter- sebut serta proses perkembangannja perlu didjelaskan lebih dahulu pengertian mengenai materialisme dan idealisme dalam filsafat. Sebagai kita ketahui, filsafat adalah pandangan dunia, adalah pandangan manusia jang paling umum mengenai dunia ke- seluruhannja, mengenai gedjala² alam, masjarakat dan fikiran atau pengetahuan manusia itu sendiri. Oleh karenanja, masalah pokok didalam filsafat adalah masalah hubungan antara fikiran dengan keadaan, antara dunia-subjektif dengan dunia-objektif. Dalam karjanja Ludwig Feuerbach dan Achir Filsafat Klasik Djerman, Engels meneraagkan: ,Masalah terpokok dari seluruh filsafat, jalah masalah hubungan antara fikiran dengan keadaan,
    hubungan antara djiwa dengan alam ...... antara mana jang
    primer, djiwa atau alam........ Djawaban² jang diberikan oleh
    para filsuf terhadap masalah ini membagi mereka dalam dua kubu besar. Mereka jang menegaskan bahwa djiwa ada lebih dahulu daripada alam, dan oleh karenanja, dalam instansi terachir, meng-
    anggap adanja pentjiptaan dunia dengan satu atau lain bentuk....
    merupakan kubu idealisme. Lain²nja, jang menganggap alam ada-

lah jang primer, tergolong kedalam berbagai mazhab materialisme".3) Djelasnja, pandangan dunia materialisme bertolak dari kenjataan objektif, sedang pandangan dunia idealisme berpangkal pada fikiran atau ide. Demikianlah arti sebenarnja daripada istilah² materialisme dan idealisme didalam filsafat. Alangkah salah dan katjaunja kalau ada sementara orang mengatakan, misalnja, bahwa orang jang berfilsafat materialisme itu hanja mengutamakan atau mengedjar kenikmatan kehidupan materiil sadja, dan tidak mementingkan kehidupan spirituil ataupun moral, sebaliknja orang jang berfilsafat idealisme itu adalah orang jang bertjita-tjita luhur dan bermoral tinggi, dan tidak lahap pada kenikmatan kehidupan materiil, tidak mata-duitan; bahwa orang itu adalah materialis karena ia tidak beragama, dsb. dsb. Padahal, kenjataan banjak menundjukkan bahwa mereka jang berfilsafat materialisme itu djustru adalah orang² jang djauh daripada lahap kepada kenikmatan kehidupan materiil, jang rame ing gawe", tapi ,sepi ing pamrih", dan jang paling beraai mengorbankan kepen- tingan dirinja, bahkan djiwa-raganja sendiri untuk mewudjudkan tjita2 umatmanusia jang paling luhur, jaitu masjarakat sosialis dan Komunis jang bebas dari segala matjam bentuk penindasan da,n penghisapan oleh manusia atas manusia. Pendeknja, bukti sangat banjak bahwa mereka jang materialis dalam filsafat mempunjai ideal atau tjita² jang luhur dan berdjuang sungguh² untuk pelak- sanaan ideal atau tjita² itu. Sebaliknja, sangat banjak pula bukti bahwa mereka jang idealis dalam filsafat dan jang mengaku dirinja idealis djustru adalah orang jang paling mementingkan dirinja sendiri, jang paling rusak achlaknja. Kata Engels: ,Perkataan materialisme oleh si-filistin diartikan kerakusan, kemabukan, mata- kerandjang, nafsu berahi, kesombongan, kelobaan, kekikiran, ke- tamakan, pengedjaran laba dan penipuan bursa pendeknja, segala keburukan kotor jang ia sendiri melakukannja setjara sem- bunji². Perkataan idealisme ia artikan kepertjajaan akan kebadji- kan, filantropi universil dan setjara umum suatu 'dunia jang lebih baik', jang dia sendiri sombongkan dimuka orang lain tetapi jang dia sendiri hanja pertjaja selama ia berada dalam kesusahan atau sedang mengalami kebangkrutan sebagai akibat dari ekses2 'materialis'nja jang biasa. Waktu itulah ia menjanjikan lagu kesajang- annja, Apa manusia itu? setengah binatang, setengah ma- laekat."4) Djuga kenjataan² menundjukkan bahwa orang² jang tak

3) F. Engels, Ludwig Feuerbach dan Achir Filsafat Klasik Djerman, dalam Marx, Engels, Selected Works, djilid II, Foreign Languages Publishing House (FLPH), 1958, hlm. 370.
4) Idem, hkm. 377.

beragama tidaklah otomatis materialis dalam filsafat, dan orang jang idealis filsafatnja tidak mesti beragama, sungguhpun setiap agama

itu dasar filsafatnja adalah idealis. Sardjana² dalam ilmu-alam djuga tidak otomatis berfilsafat materialis. Djustru oleh karena itu, maka

Engels memperingatkan : Betapalah katjaunja djika kepada dua

istilah itu ditambahkan sesuatu pengertian jang lain", maksudnja

jang lain daripada pengertian filsafat. Dan ia mengetjam dengan kerasnja orang2 jang menjalahgunakan dua istilah tersebut sebagai orang2 jang sudah katjau-balau fikirannja.

Djadi, dalam membitjarakan materialisme dan idealisme kita

harus berpegang pada pengertian seperti jang sudah diterangkan

diatas, kita harus berpegang pada pengertian filsafat dan bukan

pengertian moral.

(A) IDEALISME

Filsafat idealisme jang pada dasarnja berpendapat bahwa ide

atau djiwa ada lebih dahulu, sedang alam atau kenjataan cbjektif ditjiptakan atau diwudjudkan oleh ide itu bersumber pada dua hal :

1) kepitjikan pengetahuan atau tachaiul dan 2) watak klasnja. Sedjak zaman purbakala", tulis Engels, ,ketika manusia, jang masih samasekali tidak tahu tentaag susunan tubuh mereka sendiri, dibawah rangsang udjud² impian mulai pertjaja bahwa fikiran dan perasaan mereka bukan aktivitet² tubuh mereka, tetapi suatu njawa jang tersendiri jang mendiami tubuhnja dan meninggalkannja waktu mereka mati sedjak itu manusia didorong untuk berfikir tentang hubungan antara njawa dengan dunia luar. Djika pada waktu tubuhnja mati njawa itu meninggalkan tubuh dan hidup terus, maka tidak ada kesempatan untuk mendapatkan suatu ke- matian lain jang djelas baginja". 5) Dengan demikian timbul, ide tentang, kekekalan, timbul kebingungaa karena ketidak-tahuan. Dari sinilah kemudian timbul dan berkembang berbagai matjam bentuk² kepertjajaan, ketachajulan dan filsafat idealisme. Akan tetapi, ketidak-tahuan atau kepitjikan pengetahuan manusia, jang disebabkan karena pembatasan sjarat² sedjarah jang ada padanja, atau oleh keterbatasan pengalaman praktek sosialnja, bukanlah akar jang kuat bagi pertumbuhan filsafat idealisme. Sebab, seiring dengan perkembangan masjarakat, dengan kema- djuan praktek sosial manusia, makin besar pulalah kemampuan manusia untuk mengenal dunia disekitarnja. Pengetahuan manusia makin luas, dalam dan tepat mengenai keadaan disekelilingnja maupun mengenai dirinja sendiri, sehingga pandangan idealisjang
5) F. Engels, Ludwig Feuerbach dan Achir Filsafat Klasik Djerman, dalam Marx, Engels, Selccted Works, djilid II, FLPH, 1958, :hlm. 369

bersumber pada pengetahuan jang salah itu dengan sendirinja

gugur. Tetapi kenjataan sedjarah menundjukkan bahwa filsafat idealisme dapat mempertahankan dirinja, bahkan dapat berpenga- ruh kuat, walaupun didalam keadaan dimana ilmu atau pengetahuan manusia telah berkembang sangat tinggi seperti sekarang ini. Hal ini bisa terdjadi djustru karena pandangan idealisme itu dapat memberikan kegunaan kepada kekuatan² sosial tertentu, dan ka-

renanja mendapatkan dukungan mereka. Dengan perkataan lain,

sebagaimana dikatakan oleh Lenin, filsafat idealisme ,dikonsolidasi oleh kepentingan klas® jang berkuasa" 6) pemilik-budak, kaum feodal atau burdjuasi. Disinilah letak akar klas dari idealisme.

Didalam kubu idealisme terdapat berbagai matjam aliran de-

ngan bentuk²nja jang bersesuaian dengan keadaan sosial dimana mereka tumbuh dan berlaku. Akan tetapi, pada pokoknja mereka dapat dibagi kedalam dua matjam golongan besar, jaitu: a) idealisme objektif, dan b) idealisme subjektif.

a) Idealisme objektif Sebagaimana telah dikemukakan diatas, pokokpangkal dari
segala matjam idealisme adalah sama, jaitu ide. Akan tetapi, ide itu dapat diartikan fikiran manusia, baik sebagai umatmanusia ke- seluruhannja maupua sebagai orang-seorang, dan djuga dapat diartikan ide jang berada diluar manusia, misalnja, ide dewa2, atau ide absolut" tjiptaan Hegel, dan entah berapa banjak lagi sebutan² lainnja. Idealisme obiektif adalah pandangan dunia jang berpokok- pangkal pada ide jang berada diluar manusia, jang objektif". Pandangan dunia sematjam ini pada dasarnja mengakui adanja sesuatu jang bukan-materiil, jang ada setjara abadi diluar dunia dan manusia. Sesuatu jang bukan-materiil itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, malah sebagai pentjipta dunia alam semesta ini, termasuk manusia dengan segala fikiran dan perasaannja. Se-

mua jang materiil, menurut idealisme objektif, adalah hasil tjiptaan

atau sebagai perwudjudan kongkrit daripada ide. Dalam bentuknja

jang amat primitif, pandangan ini menjatakan dirinja dalam pe-

njembahan kepada pohon, batu, dsb. Akan tetapi, sebagai suatu sistim filsafat, pandangan dunia ini dalam sedjarah dunia kita kenal per-tama² adalah sistim filsafat Plato (427-347 S.M.) atau Platonisme. Menurut Plato, dunia luar jang dapat ditanggap oleh pantjaindera atau tjitarasa kita itu bukanlah dunia jang riil, melainkan bajangan daripada dunia ,,idea"

jang abadi dan riil. Oleh karenanja ia selandjutnja berpendapat

6) Fundamentals of Marxism-Lenintsm, FIPH, Moskow, hlm. 52.

bahwa pengetahuan manusia itu adalah penemuan kembali atau pengingatan kembali (Anamnesis) pada idea" itu, dan tudjuan dari pengetahuan manusia adalah untuk menemukan kembali seluruh dunia ,,idea" itu. Pandangan dunia Plato ini mewakili kepentingan klas jang berkuasa pada waktu itu, jakni kaum bangsawan pemilik-budak, dan ini nampak dengan djelasnja dalam adjarannja tentang masjarakat ideal" atau sosialisme kaum bangsawan, Tentang ini akan diterangkan dibagian lain jang mengenai sedjarah timbulnja tjita² Sosialisme. Pada Zaman Tengah (feodal), filsafat idealisme objektif mengambil bentuk jang dikenal dengan sebutan: skolastisisme. Sistim filsafat ini adalah suatu pandangan dunia jang memadukan unsur2 idealisme dari filsafat Aristoteles (384-322 S.M.) dengan teologi. Pokok pandangan filsafat skolastisisme ini jalah, bahwa dunia kita ini merupakan satu tingkatan hierarchi dari seluruh sistim hierarchi dunia semesta jang ditjiptakan oleh Tuhan, begitupun djuga hierarchi jang ada dalam masjarakat feodal merupakan ke- landjutan dari hierarchi dunia ke-Tuhanan. Segala sesuatu jang ada dan jang terdjadi diatas dunia kita maupun diseluruh alam semesta ini tidak lain adalah pelaksanaan titah Tuhan atau sebagai perwudjudan kongkrit daripada ide Tuhan. Filsafat ini membela kepentingan kaum bangsawan feodal dan kekuasaan Geredja jang pada waktu itu merupakan tuantanah besar di Eropa. Tokoh² jang terkenal dari aliran filsafat ini antara lain dapat dikemukakan di- sini, misalnja, Johannes Eriugena (833-880), Thomas Aquinas (1225-1274), Duns Scotus (1270-1308), dsb. Kemudian, dalam Zaman Modern, pada achir abad ke-18 dan awal abad ke-19, filsafat idealisme objektif mengambil bentuknja jang terkenal dengan sistim filsafat Hegel (1770-1831). Menurut Hegel, hakekat dari dunia ini adalah ide absolut", jang berada setjara absolut dan ,,objektif" didalam segala sesuatu, dan tak terbatas pada ruang dan waktu. ,,Ide absolut" ini, dalam proses per- kembangannja menampakkan dirinja dalam wudjud gedjala alam, gedjala masjarakat dan gedjala fikiran. Dengan demikian, ,ide absolut" itu tak lain adalah pentjipta segala sesuatu didunia ini. Filsafat Hegel mewakili klas burdjuis Djerman jang pada ketika itu baru tumbuh dan masih lemah, kepentingan klasnja menghendaki suatu perubahan sosial, menghendaki hapusnja hak² istimewa kaum bangsawan Jonker. Hal ini tertjermin dalam pandangan dialektiknja jang beranggapan bahwa segala sesuatu itu senantiasa berkembang dan berubah, tidak ada jang abadi dan mutlak, ter- masuk djuga kekuasaan kaum feodal, Akan tetapi, kekuatan dan kedudukannja jang masih serba lemah itu membikin mereka tak berani setjara terang²an melawan filsafat skolastisisme dan adjaran

agama jang berkuasa pada ketika itu, perlawanan mereka terbatas pada usaha menggantikan Tuhan dengan ,Ide abşolut". Bentuk filsafat idealisme objektif jang kita kenal pada zaman sekarang, antara lain, adalah neo-Thomisme atau neo-skolastisisme. Neo-Thomisme adalah suatu aliran filsafat jang menghidupkan kembali filsafat skolastisisme dizaman tengah, menghidupkan kembali adjaran² Thomas Aquinas, dengan menjalahgunakan hasilz ilmu. Dasar pandangannja jalah pengakuan Tuhan sebagai pentjipta dan penguasa jaag mahakuasa atas dunia. Alam adalah realisasi ide2 sutji", dan sedjarah adalah ,realisasi rentjana sutji". Djadi. mereka mengakui adanja dunia objektif jang, ditjiptakan oleh Tuhan, dan manusia dibekali oleh Tuhan untuk mengenal dunia objektif itu atau kebenaran abadi. Tetapi, menurut mereka. pengetahuan jang diberikan oleh ilmu itu tak dapat dipertjaja dan hanja terbatas pada kulit badaniah jang menjembunjikan kebenaran abadi, sedang filsafat hanja bisa mentjapai atau menjelami sebagian dari kebenaran itu. Djalan kekebenaran jaag tertinggi terletak hanja lewat wahju", kejakinan agama". dan oleh karenanja kesimpulan² umum ilmu dan filsafat harus menjesuaikan diri padanja. Djelaslah bahwa filsafat neo-Thomisme ini merupakan suatu adjaran jang hendak mengabdikan ilmu dan filsafat pada kepentingan kaum kapitalis dengan menggunakan Geredja. Aliran filsafat ini didalam dunia kapitalis mempunjai pengaruh jang agak besar tidak hanja dikalangan Rakjat biasa, tetapi djuga dikalangan kaum sardjana. Demikianlah beberapa bentuk dari filsafat idealisme objektif jang dapat kita kenal dalam dunia filsafat. Fikiran filsafat idealisme objektif itu djuga dapat kita djumpar didalam kehidupan se-hari² dengan berbagai matjam bentuk. Per- wudjudannja jang paling umum, antara lain, adalah formalisme dan doktrinerisme. Kaum formalis dan doktrineris setjara butatuli mem- pertjajai dalil² atau formula² sebagai kekuatan jang mahakuasa. sebagai obat jang mandjur untuk segala matjam penjakit, sehingga dalam melakukan tugas2 atau menjelesaikan persoalan² tidak bisa berfikir dan bertindak setjara hidup berdasarkan situasi dan sjarat² jang kongkrit, Mereka, kaum "textbook-thinkers", jang sering di- ketjam oleh Presiden Sukarno, djuga adalah perwudjudan fikiran idealisme objektif dalam praktek. Djuga bapakisme atau kultus individu (pemudjaan pada seseorang) adalah perwudjudan kongkrit dari idealisme objektif. karena semua itu adalah bentuk² ke- tachajulan.

b) Idealisme subjektif Berbeda dengan idealisme objektif, maka idealisme subjektif
adalah pandangan duxia jang berpangkal pada ide manusia, baik

ide manusia setjara keseluruhannja, maupua setjara perseorangan. Djelasnja, aliran filsafat ini berpendapat bahwa dunia disekeliling kita ini merupakan kumpulan daripada sensasi² manusia, dengan perkataan lain, dunia luar jang ada disekitar kita ini dipandaagnja sebagai ohajalan belaka, sedang perasaan dan fikiran kita dipan- dangnja sebagai satu²nja zat (substansi) jang riil. Salahsatu tokoh jang terkenal dari aliran idealisme subjektif ini adalah seorang uskup Inggris jang bernama George Berkeley (1684-1753). Menurut Berkeley, segala sesuatu jang tertanggap oleh sensasi atau perasaan kita itu bukanlah dunia materiil jang riil dan ada setjara objektif, melainkan chajalan daripada ide kita belaka. Sesuatu jang materiil, misalnja, buaga mawar merah, di- anggapnja sebagai suatu kumpulan dari berbagai matjam perasaan tertentu, jaitu perasaan mengenai warna, bau, bentuk, dsb.; dan jang dimaksud dengan sensasi atau perasaan itu adalah ide jang telah kita sedari, atau sebagai bentuk eksistensi daripada ide kita. Dengan demikian, Berkeley menjangkal adanja dunia materiil jang objektif, dan hanja mengakui adanja dunia jang riil didalam sensasi atau ide manusia. Kesimpulan jang logis jang dapat ditarik dari pandangan idealisme subjektif ini adalah akuisme atau solipsisme. suatu fikiran filsafat jang menjatakan bahwa jang ada setjara riil didunia ini hanjalah ,,aku", segala sesuatu lainnja, termasuk djuga orangtuaku, tidak lain hanja sebagai perwudjudan kongkrit daripada sensasi aku. Untuk ,,menghindarkan diri dari solipsisme", maka Berkeley menjatakan bahwa hanja Tuhan jang berada tanpa tergantung pada sensasi, bahkan sebagai penggerak daripada sensasi kita. Filsafat Berkeley ini adalah filsafat kaum burdjuis besar Inggris pada abad ke-18, jang sudah merupakan kekuatan reaksioner, dalam menentang materialisme, sebagai manifestasi ke- kuatiran terhadap revolusi, Berkeley sendiri setjara terusterang menjatakan bahwa filsafat idealisnja ditudjukan untuk menjangkal materialisme dan untuk memperkuat eksistensi Tuhan. Dalam abad ke-19, idealisme subjektif mengambil bentuknja jang terkenal dengan sebutan: positivisme, jang dikemukakan per- tama kalinja oleh filsuf Perantjis bernama Auguste Comte (1798-

1857). Menurut adjarannja, hanja pengalaman" merupakan kenjataan jang ,sesungguhnja", selain dari pengalaman manusia tidak ada lagi dunia kenjataan, dunia adalah hasil tjiptaan dari pengalaman, dan ilmu hanja bertugas untuk menguraikan pengalaman praktis itu. Kaum positivis mengaku dirinja berdiri diatas materialisme dan idealisme, hendak menjamakan begitu sadjailmu dengan filsafat, tetapi sesungguhnja mereka ber-sama² dengan idealisme menjerang materialisme. Comte membagi sedjarah dalam tiga tingkatan : tingkatan teologi, tingkatan metafisik, dan tingkatan empi-

risis. Kapitalisme, menurut Comte, merupakan sistim jang paling

rasionil sebagai hasil daripada kemenangan fikiran ilmiah pada tingkatan empirisis. Dari sini djelaslah bahwa filsafat Comte atau positivisme umumnja adalah pembelaan kepentingan kaum burdjuis dan sistim kapitalisme. Dalam masa peralihan keabad ke-20, positivisme menjatakan dirinja dalam bentuk Machisme (Mach, E, 1838-1916) jang djuga disebut empirio-kritisisme, jang dikritik habis²an oleh Lenin dalam karjanja Materialisme dan Empirio-kritisisme. Sebagai kelandjutan dari filsafat positivisme pada awal abad ke-20 adalah pragmatisme jang sekarang populer di Ame- rika Serikat. Tokoh²nja jang terkenal antara lain adalah William James (1842-1910) dan /ohn Dewey (1859-1952). Kaum pragmatis ini walaupun mengakui adanja dunia objektif, tetapi, menurut mereka, dunia objektif tak ada artinja samasekali kalau tidak dihu- bungkan dengan pengalaman praktis manusia. Dalam hubungan ini. menurut mereka, benar atau tidaknja pengetahuan atau teori kita tentang sesuatu bukanlah diukur dengan sesuai atau tidaknja dengan kenjataan objektif itu, melainkan diukur dengan ada atau tidaknja ,nilai kontan" (cash-value). Dengan demikian, pragmatisme sebenarnja hanja mengakui adanja kebenaran subjektif, tidak mengakui adanja kebenaran objektif. Filsafat ini adalah filsafatnja "big businessmen" atau kaum burdjuis besar, mewakili kepentingan kaum imperialis. Sebab, berdasarkan adjaran mereka ini, maka tin- dakan penindasan dan penghisapan ataupun perang agresi terhadap orang atau bangsa lain, misalnja, pendudukan kaum imperiaks Belanda atas wilajah kita Iriaa Barat, asalkan bisa memberikan keuntungań kepada mereka, adalah suatu kebenaran! Bekas Pre- siden Eisenhower menggunakan prinsip" pragmatis terhadap pe- makaian sendjata² atom. .,Menurut pendapat saja", kata Eisenhower, penggunaan bom² atom harus atas dasar ini, Apakah akan menguntungkan saja atau tidak, apabila saja mengadakan suatu
peperangaa ?......... Apabila saja berfikir bahwa hasil-bersih akan
ada difihak saja, saja akan menggunakannja segera".7) Bentuk lain darí idealisme subjektif jang djuga sangat populer didunia Barat pada masa kini dan selama ini agak banjak dipro- pagandakan dinegeri kita, adalah eksistensialisme. Pemukanja ada-
łah seorang filsuf Djerman bernama Martin Heidegger (1889-.....).
jang banjak mengambil adjařan²nja Sören Kierkegaard (1813-1855). seorang mistik Denmark pada awal abad ke-19. Eksistensialis²
lainnja jang ternama antara lain Karl Jaspers (1883-.....) dan
Jean Paul Sartre (1905-.....).

7) H. K. Wells, Pragmatism, Philosophy of Imperialism, International Publishers, New York, halaman 13.

Pokok pandangan eksistensialisme adalah pengakuan bahwa manusia tak mampu mengenal dunia luar jang serba misterius dan rumit itu, satu²nja kenjataan jang dikenalnja adalah ,aku ada". Sebagaimana dikemukakan oleh Sartre. eksistensi itu tidak me- ngandung akal, kausalitet, keharusan! Oleh karenanja, setiap individu harus bebas untuk berbuat apa sadja jang dikehendakinja. Tetapi kebebasan itu hanja dapat ditjapai kalau memisahkan diri- nja dari individu² lainnja, dari masjarakat, karena dalam masjarakat, dalam hubungan dengan orang² lain, akan terampas indi- vidualitetnja. Filsafat ini menanamkan rasatakut kepada manusía dengan mengemukakan bahwa eksistensi dunia dan manusia itu mempunjai masa achirnja. Makaitu tjarilah kepuasan jang sepuas- puasnja menurut kehendakmu selama kamu masih ada (exist). Demikianlah eksistensialisme mendemonstrasikan kekosongan spiri- tuil dan degradasi moral jang berasal dari individualisme burdjuis. Filsafat ini sebagai pentjerminan ketakutan burdjuasi akan kehan- tjurannja jang tak dapat dielakkan dan sebagai bentuk manifes- tasinja ada kalanja berwudjud tindakan jang kalap. Eksistensialisme, ber-sama² dengan aliran² idealisme subjektif lainnja, merupakan tanah ideologi jang subur bagi pertumbuhan fasisme dan militerisme. Demikianlah beberapa matjam bentuk idealisme subjektif jang dapat kita temukan didalam dunia filsafat. Didalam kehidupan se-hari² sering djuga dapat kita djumpai fikiran² idealisme subjektif dalam berbagai matjam bentuk. Misalnja, tak djarang kita mendengar utjapan² seperti berikut : ,,Baik atau buruknja keadaan masjarakat kita sekarang ini ter- gantung pada orang jang menerimanja, ia adalah baik bagi mereka jang merasakaanja baik, dan ia adalah buruk bagi mereka jang menganggapnja buruk"; atau .,Keadaan masjarakat mendjadi demikian buruknja tidak lain karena orang² jang berkuasa banjak jang tidak djudjur melakukan tugas kewadjibannja, djika mereka diganti dengan orang² jang djudjur, keadaa,n akan berubah mendjadi baik"; atau ,,Tanpa aku jang memimpin, segala pekerdjaan akan mendjadi berantakan"; atau ,,Aku bisa, kau harus bisa djuga!"; dsb. Semuanjaitu pada pokoknja mau menjatakan bahwa ide se- seorang jang mentjiptakan atau menentukan keadaan objektif.

(B) MATERIALISME
Berlawanan dengan filsafat idealisme, filsafat materialisme pada umumnja bersandar pada ilmu dan mempunjai watak klas jang revolusioner. Hal ini akan nampak dengan djelas didalam proses perkembangan sedjarahnja.

a) Materialisme Primitif Filsafat materialisme dialektik dan histori dilahirkan melalui
suatu proses perkembangan sedjarah jang lama. Bentuk pertama filsafat materialisme adalah materialisme primitif atau materialisme spontan jang dikemukakan oleh filsuf² Junani Kuno pada 600 tahun sebelum Masehi. Materialisme pada ketika itu adalah sederhana, kesederhanaannja sesuai dengan tingkat perkembangan masjarakat pada zaman itu. Sekalipun demikian, arti sedjarahnja serta sum- bangannja kepada fikiran manusia pada zaman² selandjutnja, ter- utama kepada kelahirannja materialisme dialektik adalah besar sekali. Sebagai wakil² jang tersohor daripada filsuf2 materialisme Junani antara lain adalah Thales (640-546 S.M.). Anaximander (611-546 S.M.), Anaximenes, Heraclitus (kira2 500 tahun S.M.), Democritus (kira² 460-360 S.M.), dsb. Sekalipun adjara,n2 mereka ber-beda² satu sama lain, diantara mereka ada satu persamaan pendapat : bahwa dunia ini terdiri dari materi; bahwa segala sesuatu didunia ini pada hakekatnja adalah materi jang senantiasa berubah dan berkembang. Misalnja, Thales mengatakan segala sesuatu itu bersumber pada air, air merupakan unsur pokok dari' dunia ini. Anaximenes berpendapat bahwa hakekat dari dunia ini adalah hawa. Heraclitus menganggap dunia ini ditjiptakan oleh api. Pada antara abad ke-5 dan ke-4 sebelum Masehi, Democritus mengemukakan teori atomnja jang mempunjai nilai ilmu jang sangat besar sekali. Menurut Democritus, dunia ini terdiri dari atom; atom adalah bagian² terketjil jang tak dapat dipetjah lagi dari segala benda. Perbedaan djumlah dan susunan atom membentuk benda² jang ber- lainan. Ketjuali atom, Democritus djuga berpendapat masih ada satu hal lagi jang ada didunia ini, jaitu ruang. Ruang merupakan tempat dimana atom² itu bergerak, saling mendorong dan bentrok, sehingga terdjadi berbagai matjam gedjala dan gerak. Mengenai ide dan pengetahuan, Democritus menerangkannja sebagai pentjerminan keadaan dunia luar didalam hati dengan melalui perasaan, karenanja perasaan dipandangnja sebagai satu²nja sumber pengetahuan. Kemudian, Epicurus (341-270 S.M.). sebagai penerus dari Democritus, menerangkan bahwa segala gedjala fikiran, perasaan. dsb., termasuk djuga roch manusia, semuanja adalah per- wudjudan darigerak atom2. Dengan demikian, filsafat Epicurus berpendirian materi menentukan ide, bukan ide menentukan materi. Selain daripada itu materialisme Junani kuno djuga mengan- dung pandangan metodologidialektikMisalnja. Thales berang- gapán bahwa segala sesuatu itu senantiasa berada dalam keadaan

gerak, A bisa berubah mendjadi B, B djuga bisa berubah mendjadi C; demikianlah segala sesuatu itu berubah terus-menerus. Anaxi- mander djuga berpendapat bahwa segala sesuatu itu bergerak dan berubah, bahkan ia meneraagkan gerak dan perubahan itu adalah suatu proses perdjuangan dari dua hal jang berlawanan : panas dan dingin. Akan tetapi, pandangan Heraclitus dalam hal ini lebih madju lagi. Menurut Heraclitus, segala sesuatu itu ,,mengalir", panta rhei". Heraclitus tidak hanja menerangkan segala sesuatu itu ,,mengalir", berkembaag, tetapi djuga mendjelaskan bahwa perkembangan itu sendiri adalah proses perdjuangan dari kontradiksi. Demikianlah beberapa pokok pandangan materialisme primitif. Sudah tentu dalam menerangkan segala sesuatu itu filsuf2 mate- rialis Junani tidak memberikan pembuktian² setjara ilmiah. Ini bisa difahami, mengingat tingkat perkembangan tenaga produktif masjarakat jang masih sangat rendah pada waktu itu. Sungguhpun demikian, filsafat ini pada ketika itu mewakili kepentingan kaum pedagang jang baru sadja tumbuh, dan oleh karena itu setjara historis progresif. Sebagaimana kita mengetahui, pada waktu itu dipesisir Tenggara Junani, ekonomi barangdagangan mulai ber- kembang dan menggantikan ekonomi alamiah. Kaum pedagang. golongan jang progresif pada waktu itu, berusaha menghapuskan segala perintang perkembangan perdagangan daa mulai menuntut berbagai ilmu praktis jang bersangkutan dengan usahanja, misal- nja, astronomi, ilmu ukur, dsb.

b) Materialisme Mekanik Materialisme primitif Junani pada abad ke-4 sebelum Masehi
sudah mulai menurun pengaruhnja, da,n diganti oleh idealisme jang diwakili oleh Plato dan kemudian Aristoteles. Sedjak itu dunia filsafat dikuasai oleh idealisme dalam djangka waktu sangat lama sekali, jaitu kira² 1700 tahun lamanja. Sepandjang masa itu merupakan zaman gelap bagi materialisme. Baru pada achir zaman feodal, jaitu pada achir abad 17, dimana kaum burdjuis sebagai klas baru jang mewakili tjara pro- duksi baru sudah mulai tumbuh dengan kuataja, materialisme mułai muntjul kembali dalam bentuk jang umumnja kita sebut materialisme modern. Materialisme modern ini sudah tentu djauh lebih madju daripada materialisme primitif, sesuai dengan tingkat perkembangan masjarakat dan tingkat ilmu pada waktu itu. Materialisme modern ini lahir sebagai sendjata ideologi klas burdjuis dalam per- djuangannja melawan klas feodal jang berkuasa pada ketika itu. Oleh karenanja, materialisme modern ini djustru tumbuh dan ber- kembang luas terutama di-negeri² dimana gelombang revolusi burdjuis sedang pasang, jaitu dinegeri Belanda, Inggris dan Perantjis

Sebagai wakilnja jang tersohor. dalam abad ke-17 antara lain adalah seorang ahlifikir Belanda bernama Spinoza (Benedictus, 1632-1677). Menurut Spinoza dunia ini terdiri hanja dari satu substansi, ketjuali itu tidak ada zat lainnja. Substansi ini olehnja di- sebut ,Tuhan". Akan tetapi. ,Tuhan'" jang dimaksudkan itu, menurut pendjelasannja, bukanlah Tuhan dalam dunia agama atau Tuhan jang mentjiptakan dunia dan manusia, melainkan alam dan hukum²nja. Spinoza berbeda dengan Descartes (1596-1650). Descartes menganggap jang ada didunia ini dua unsur: Tuhan dan benda. Sedang Spinoza hanja mengakui satu zat sadja: alam. Walaupun ia sudah mengatasi dualismenja Descartes, tetapi ia belum konsekwen meninggalkan pandangannja jang memisahkan dan mempertentangkan dunia materi dengan ide. Menurut pen- dapatnja, substansi itu mempunjai dua sifat: fikiran dan extensi (artinja memiliki ruang); hakekat dari substansi itu dinjatakan sepenuhnja oleh tiap sifat itu. Dua sifat itu merupakan dua segi daripada satu hal jang sama, jaitu alam, mereka masing2 berdiri sendiri2, satu sama lain tidak saling bergantungan. Ini menundjuk- kan masih adanja sisa pengaruhnia dualisme Descartes dídalam alam fikiraa Spinoza. Selandjutnja Spinoza djuga memandang dunia sebaqai suatu mesin, segala sesuatu iang ada didalam dunia ini dihubungkan satu dengan lainnja oleh satu tali. Ia diuga meng- gunakan metode mekaniknia pada etika dan politik, Dalam karja utamanja Ethica Ordine Geometrico Demonstrata antara lain ia berkata : ,,Djanganlah menangis, djanganlah ketawa, tapi fahamilah inilah djustru tuas manusia jang sesungquhnja". Ia djuga me- ngatakan bahwa individu tak dapat memisahkan dirinja dari masjarakat, kehidupan kemasjarakatan merupakan keharusan; didalam kehidupan sematjam ini. tiap individu harus memadukan antara .mempertahankan dirinja" dengan ,mentjintai sesamanja". Menge- nai neqara. ia berpendapat bahwa negara seharusnja tidak menge- kan kepribadian manusia, sebaliknja harus memberikan sjarat² untuk mengembanqkan kegiatan² materiil dan spirituil manusia. Dari uraian diatas, djelaslah kiranja sistim pemikiran Spinoza adalah rasionalisme dan mekanisme. suatu sistim ideologi burdjuis pada abad 17. janα meniatakan perlawanannja terhadap hak² isti- mewa kaum feodal serta perlawanan terhadap penindasan atas demokrasi burdjuis, sementara itu djuga merupakan suatu adjaran ateisme ianα menentanq teoloqi dan tachaiul. Filsuf kenamaan dari materialisme modern janq sezaman dengan Spinoza. antara lain adalah Bacon (Francis. 1561-1626), Hobbes (Thomas. 1588-

1679). Locke (John. 1632-1704) di Inqgris dan Cassen (Pierre. 1592-1655) di Perantjis. Zaman mereka merupakan periode per- tama dari pertumbuhan materialisme mekanik. Aliran filsafat ini

kemudian mentjapai puntjak perkembangannja di Perantjis pada

abad 18 jang umumnja kita sebut materialisme Perantjis. Sebagai wakil2nja jang terkemuka antara lain jalah Holbach (Paul d', 1723-

1789) dan Lamettrie (Julien Offray de, 1709-1751). Dalam mendjawab masalah terpokok dalam filsafat, materialisme Perantjis setjara tegas menjatakan bahwa materi adalah primer, ide sekunder; ide dilahirkan dan ditentukan oleh materi. Holbach mengatakan : ,Materi adalah sesuatu jang selalu dengan tjara² tertentu menjentuh pantja-indera kita, sedang sifat² jang kita kenal dari berbagai matjam hal-iohwal itu adalah hasil dari berbagai matjam impresi atau berbagai matjam perubahan jang ter- djadi didalam alam fikiran kita terhadap hal-ichwal itu". 8) Dengan demikian, materialisme Perantjis telah menjangkal dan mengguling- kan pandangan mistisisme religius. teori tentang Pentjipta dunia (Demiurge), jang sebelum itu telah lama menguasai alam fikiran manusia. Bahkan setjara terang²an Holbach menjatakan : nampak- nja agama itu di-ada²kan hanja untuk memperbudak Rakjat dan supaja mereka tunduk dibawah kekuasaan radja lalim. Asal manusia merasa dirinja didalam dunia ini sangat tjelaka, maka ada orang datang mengantjam mereka dengan kemarahan Tuhan, me- maksa mereka diam dan mengarahkan pandangannja keatas langit. dengan demikian membikin mereka tak dapat melihat sebab se- sungguhnja daripada kemalangannja itu, djuga berfikir mengguna- kan tjara² jang diberikan kepadanja oleh dunia alam untuk me- lakukan perdjuangan terhadap bentjana² itu". 9) Materialisme Perantjis adalah materialisme mekanik, jang me- nerangkan bahwa tiap gedjala adalah bagaikan mesin, dikuasai oleh hukum² mekanika. Segala matjam gerak dipandangnja hanja sebagai gerak mekanik, jaitu pergeseran tempat dan perubahan djumlah sadja. Bahkan manusia serta aktivitetnja disamakan dengan mesin. Ini nampak dengan menjolok sekali dari karja Lamettric jang berdjudul Manusia adalah mesin. Menurut pendapatnja tubuh manusia itu adalah mesin jang paling sempurna; perasaan, fikiran. roch dan sifat² manusia lainnja sama halnja dengan sifat mesin. Tanpa tubuh, tiada perasaan, tiada fikiran. Mereka tidak melihat adanja peranan aktif daripada fikiran atau ide terhadap materi. Pandangan jang mekanik ini adalah salahsatu tjiri, malahan tjiri kelemahan daripada materialisme Perantjis. Selandjutnja kaum materialisme Perantjis abad 18 dalam ma-
8) P. H. Holbach, dalam Système de la nature.
9) P. H. Holbach, Surat Kepada Eugenie, dalam Fikiran Sehat, Penerbitan Akademi Ilmu URSs, Moskow 1956; atau dalam Dasar Filsafat Marxisme, Penerbitan, Akademi Imu URSS, Moskow 1958,bahasa Rusia, haíaman 65.

salah epistemologi (teori tentang pengetahuan), setjara tegas me-

nentang pandangan idealisrse jang menjatakan bahwa sebagian akal manusia didapatnja tidak dari pengalaman sensasionilnja melainkan sudah ada semendjak ia dilahirkan. Kaum materialisme Perantjis (djuga di Inggris dan Belanda) berpendapat bahwa pengalaman itu adalah satu²nja sumber peagetahuan, pengalaman ini didapatnja dari hubungan langsung materi objektif dengan pantja-indera kita. Mereka mengutamakan pengetahuan sensasionil, dan mengabaikan peranan pengetahuan rasionil. Oleh karenanja materialisme mekanik sekaligus djuga sensualisme atau empirisisme. Ini djuga merupakan kelemahannja. Akan tetapi kelemahannja jang paling besar jalah pandangan sedjarahnja. Karena mengenai gedjala masjarakat, mereka ber- pidjak pada idealisme. Menurut pandangan mereka, kekuatan peng- gerak perkembangan masjarakat adalah fikiran atau ide. Oleh karenanja mereka berpendirian djalan satu²nja untuk mengubah sistim masjarakat jalah pembangunan mental, pendidikan, pembasmian kebodohan dsb. Walaupun materialisme mekanik mengandung banjak kelemahan. tetapi pada ketika itu ia merupakan pandangan dunia jang re- volusioner, suatu kemadjuan dalam dunia fikiran. Kemadjuannja itu ditentukan oleh kemadjuan² jang terdapat dalam hubungan, sosial-ckonomi dan ilmu, tetapi sjarat² sedjarah itu djuga menentu- kan kelemahan²nja.

e) Lahirnja Materialisme Marxis Pada masa peralihan dari abad ke-18 keabad ke-19, di Djer-
man. dimana kapitalisme berkembang agak terbelakang, idcologi burdjuis berwudjud dalam bentuk jang umumnja kita sebut filsafat klasik Djerman. Sebagai puntjak perkembangan aliran filsafat ini adalah Hegelianisme. Sebagaimana telah didjelaskan dalam kita membitjarakan tentang idealisme objektif, filsafat Hegel adalah idealisme objektif. Pokok? pandangannja mengenai masalah terpokok dalam filsafat telah dikemukakan djuga, disini tak perlu diulangi lagi. Jang akan dikemukakan disini jalah mengenai segi² positifnja serta sumbangannja terhadap materialisme Marxis, dan sedikit tentang latar belakang sosialnja. Sumbangan adjaran Hegel dalam sedjarah perkembangan fikiran manusia besar sekali nilainja, bukan pandangan idealisme- aja, melainkan adjaran dialektikanja, djiwa" filsafatnja. Hegel sendiripun pernah mengatakan: Jang penting didalam filsafat jalah metode, bukan kesimpulan² chusus mengenai ini atau itu". Hegel telah berhasil mengkristalisasi segala unsur dialektik jang terdapat didalam sistim pemikiran dari filsuf? besar jang ada se-

belumnja, sehingga tertjipta metodologi dialektik jang komplit. Dengan demikian ia telah menggulingkan metafisika, metodologi kuno jang sudah lama menguasai alam fikiran manusia dan ilmu. Hegel mengemukakan, bahwa kaum materialis Inggris dan Perantjis pada abad 17 dan 18, dan djuga kaum idealis jang men- djadi lawannja, semuanja adalah ahifikir metafisik. Ia menun- djukkan kesalahan² atau kelemahan² metafisika. Pertama, kaum metafisik memandang segala sesuatu tidak dari keseluruha,anja. tidak dari salinghubungannja, tetapi ditindjaunja sebagai sesuatu jang berdiri sendiri²; sedang Hegel memandang dunia sebagai satu badan kesatuan, segala sesuatu didalamnja terdapat salinghubungan jaag organik. Kedua, kaum metafisik melihat sesuatu tidak dari geraknja, melainkan sebagai jang diam, mati, tidak ber-ubah², sedang Hegel melihat dari perkembangannja, dan perkembangan itu disebabkan adanja kontradiksi intern. Kaum metafisik berpendirian bahwa ,segala jang bertentangan adalah irrasionil". Mereka tak mengetahui bahwa akal (reason, raison) itu sendiri adalah pertentangan (kontradiksi). Ketiga, sumbangan Hegel jang penting jalah kritiknja mengenai pandangan evolusi vulger, jang pada ketika itu sangat meradjalela, dengan mengemukakan teorinja tentang lorapatan" (sprong) dalam proses perkembangan. Sebelum Hegel sudah banjak filsuf jang mengakui bahwa dunia ini berkembang, dan menindjau sesuatu dari proses perkembangannja, tetapi pan- dangaanja tentang perkembangan hanja terbatas pada perubahan² berangsur-angsur, perubahan evolusioner sadja. Sedang Hegel berpendapat, dalam proses perkembangan itu pertentangan intern ma- kin mendalam dan meruntjing, dan pada suatu tingkat tertentu perubahan berangsur-angsur berhenti, terputus, terdjadilah ,lompatan". Setelah ,lompatan" itu terdjadi, maka kwalitet sesuatu itu mengalami perubahan. Dengan tersusunnja dialektika Hegel, maka dalam dunia fikiran manusia terdjadi revolusi menghantjurkan metodologi metafisik jang berkuasa lebih dari 2000 tahun lamanja. Logika dialektik Hegel telah memberi dorongan jang kuat bagi kemadjuan fikiran ilmiah dan meletakkan dasar jang kuat pula bagi materialisme Marxis. Akan tetapi dialektika Hegel itu diselubungi dengan kulit mistik, reaksioner, jaitu pandangan idealismenja, sehingga ia me- mutarbalikkan keadaan jang sebenarnja. Hukum dialektika, jaitu hukum tentang salinghubungan dan perkembangan gedjala2 jang berlaku didunia ini dipandangnja bukan sebagai suatu hal jang objektif, jang primer, melainkan sebagai perwudjudan dari ,,djiwa absolut", jang sekunder. Kulit" jang reaksioner inilah jang ke- mudian dibuang oleh Marx, dan isinja jang rasionil" diambil serta

ditempatkan pada kedudukannja jang benar. Kontradiksi jang-ada didalam filsafat Hegel itu djustru mentjerminkan keadaan masjarakat Djerman dalam zaman revolusi burdjuis-demokratis. Hegel sendiri djuga pernah mengatakan bahwa filsafat itu ,adalah pernjataan zaman didalam fikiran". Pada ketika itu kapitalisme di Djerman mulai berkembang. tetapi kekuatan burdjuasi masih lemah, sedang kekuasaan feodal masih kokoh dan kuat. Dialektika Hegel jang revolusioner itu menjatakan tuntutan klas burdjuis, sedang idealismeaja jang reaksioner itu disamping sesuai dengan keinginan klas feodal jang berkuasa, mentjerminkan kelemahan dan watak kompromisnja burdjuasi Djerman pada ketika itu. Kelemahan dan watak kompromis mereka itu tidak hanja karena ketidakmampuannja melawan feodalisme jaag masih kuat itu, tetapi djuga karena ketakutannja kepada- klas proletar jang sudah mulai ,,bergelora". Pada pertengahan abad 19, kapitalisme di Djerman sudah berkembang dengan pesat, kekuasaan feodal mulai gontjang tetapi masih mampu mempertahankan diri dengan gigih dan nekad. Dalam keadaan itu, muntjullah materialisme Feuerbach (Ludwig. 1804-1872) jang tidak hanja mewakili kepentingan kaum burdjuis, tetapi djuga burdjuis ketjil jang sangat menderita pada waktu itu. Materialisme Feuerbach per-tama2 menentang idealisme Hegel, menjangkal adanja ,djiwa absolut", dan setjara tegas menjatakan bahwa hakekat dunia ini adalah alam jang materiil. la dengan tadjam mengemukakan bahwa segala idealisme tidak berbeda dengan teologi jang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman dan harus diganti dengan filsafat baru. Filsafat baru ini, menurut Feuerbach, harus bertolak dari materi jang benar² ada diruang dan waktu dan dapat dirasakan oleh kita, pendeknja harus materialis dan ateis. Selandjutnja Feuerbach mengkritik filsafat Hegel, di- katakannja bahwa Hegel berdiri diatas teologi berusaha menegasi teologi. Menurut Feuerbach, hanja dengan berdasarkan ateisme dan materialisme baru bisa mengalahkan teologi. Dalam filsafa: Feuerbach, kedudukan Tuhan digantinja dengan manusia, ke-Tuhanan diganti dengan kemanusiaan, setjara tegas ia mengatakan, manusia itu sendiri adalah Tuhan. Tidak hanja sampai di- situ, ia bahkan mengatakan bahwa bukan Tuhan jang mentjiptakan manusia, sebaliknja, ,Tuhan adalah bajangan manusia didalam tjermin". Ia berpendapat, sebagaimana Holbach, bahwa agama itu pada permulaannja adalah untuk memenuhi sesuatu kebutuhan manusia, akan tetapi, setelah ia dilahirkan, pastor dan jang berkuasa (kaum bangsawan dan padri) menggunakannja untuk memper- budak Rakjat banjak atasnama Tuhan. Demikianlah Ludwig Feuerbach.

Filsafat Feuerbach mengandung beberapa kelemahan jang

seràus. Pertama, materialisme Feuerbach adalah naturalis. Ia

memandang manusia bukan sebagai manusia kemasjarakatan,

melainkan sebagai manusia alamiah. Dengan demikian, pengerti- annja terhadap manusia adalah maohluk diluar hubungan pro- duksi kemasjarakatan, maka dari itu ia tak dapat melihat pe- ranan jang aktif dari manusia dalam mengubah alam. Kedua, ma- terialismenja djuga tak mendalam (intuitif). Dalam mengkritik filsafat Hegel, seluruh adjaran Hegel, termasuk dialektikanja, ia

salahkan. Ia tak memahami kebenaran dialektika Hegel jang antara

lain djuga mengadjarkan bahwa didalam setiap sesuatu itu terdapat segi positifnja dan segi negatifnja, didalam jang djelek ada jang baik, didalam jang baik ada jang djelek, Oleh karenanja, materialisme Feuerbach seperti filsafat burdjuis lainnja, masih tetap intuitif, metafisik, non-dialektik. Kelemahan²nja inilah oleh Marx dikupas setjara kritis. Dari uraian tersebut diatas djelaslah bahwa Marx dan Engels telah merombak dialektika Hcgel dan materialisme Feuerbach setjara fundamentil dan kritis, sehingga mentjiptakan materialisme baru, materialisme dialektik dan historis, jang lebih tinggi dan sempurna daripada semua matjam materialisme sebelumnja. Maka adalah keliru, kalau oleh sementara orang materialisme dialektik dan histori dianggap atau diartikan setjara mekanis sebagai penggabungan dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach. Marx sendiri berkata : ,Dialektika saja tidak hanja berbeda dengan Hegel setjara fundamentil, tetapi adalah lawannja jang langsung. Bagi. Hegel, proses-hidup otak manusia, jaitu proses pemikiran. jang dengan nama 'Idea', olehnja malahan diubah mendjadi subjek jang berdiri sendiri, adalah pentjipta (demiurgos) daripada dunia

njata, dan dunia njata itu hanjalah bentuk luar, bentuk gedjala

daripada 'Idea'. Sebaliknja, bagi saja, ide tidak lain daripada dunia materiil jang ditjerminkan olehotak manusia, dan diterdjemahkan
dalam bentuk² fikiran....... Pandangan dialektika Hegel berdiri

diatas kepalanja. Ia harus dibalikkan kembali pada kedudukannja

jang benar, djíika mau menemukan intisarinja jang rasionil didalam kulitnja jang mistik". 10)

Pendeknja, Marx dan Engels telah merombak dialektika Hegel setjara materialis dan merombak materialisme Feuerbach setjara dialektik.

  1. Pokok² Pandangan Materialisme Dialektik
    (A) DUNIA ADALAH MATERIIL
    Sama dengan aliran² materialisme lainnja. materialisme dialektik per-tama² mengakui bahwa keadaan atau materi adalah primer, sedangkan fikiran atau ide adalah sekunder, adalah jang dilahirkan

dan ditentukan oleh materi. Ini berarti bahwa segala matjam ge-

djala jang ada didunia ini mempunjai satu dasar jang sama, jaitu materi. Dengan perkataan lain, dunia semesta ini pada hakekatnja adalah materiil, dan dunia materiil ini adalah satu²nja dunia jang njata (riil).

a) Apakah materi itu ? Akan tetapi, apakah materi itu? Dalam mendjawab pertanjaan ini kita harus dapat membed

kan dua matjam pengertian, jaitu pengertian materi dalam filsafat

dan pengertian materi dalam ilmu alam. Menurut filsafat, materi itu adalah segala sesuatu jang ada

diluar dan tidak tergantung pada kesedaran manusia, tidak di-

tjiptakan dan dikendalikan oleh sesuatu ide apapun, dan dapat

menimbulkan sensasi serta melahirkan refleksi didalam fikiran manusia. Dengan demikian, pengertian materi dalam filsafat adalah

berdasarkan pada hubungan antara keadaan dengan fikiran, antara

objek dengan subjek. Sedangkan pengertian materi dalam ilmu alam adalah me-

ngenai susunan (struktur) dan organisasi daripada segala sesuatu

jang ada didunia alam ini. Dengan demikian, pengertian materi

dalam ilmu alam itu didasarkan pada tingkat perkembangan penge-

tahuan manusia terhadap alam. Djadi, pengertian materi dalam filsafat adalak: luas dan ber-

sifat umum. ia tidak terbatas pada benda² atau proses² alam sadja.

tetapi melingkupi djuga gedjala²2 sosial, sedang pengertian materi

dalam ilmu alam hanja chusus mengenai benda² alam sadja. Se-

landjutnja, pengertian materi dalam filsafat bersifat mutlak dan abadi, karena bagaimanapun madjunja pengetahuan manusia, ini

tak akan mengubah kebenaran bahwa materi itu berada setjara

objektif dan tak tergantung pada kesedaran manusia. Sebaliknja,

pengertian materi dalam ilmu alam bersifat relatif dan sementara,

karena ia tergantung pada perkembangan pengetahuan manusia.

Misalnja, perkembangan teori atom adalah perkembangan penge-

tahuan manusia tentang materi didunia alam. Sudah tentu, disamping ada perbedaannja, dua matjam pe-

10) K. Marx, Kata Susulan Capital, Vol. I, FLPH, 1958 bahasa Inggris, hlm. 19-20.

ngertian itu djuga mempunjai persamaannja, jaitu: pengertian materi dalam filsafat itu merupakan perluasan atau generalisasi dari pengertian materi dalam ilmu alam. Djelasnja, hubungan antara dua matjam pengertian materi itu adalah hubungan antara jang umum dengan jang chusus, antara jang abstrak dengan jang kongkrit, antara jang absolut dengan jang relatif.

b) Apakah ide itu? Sebagaimana telah dikemukakan diatas, materialisme dialektik
berpendapat bahwa ide itu dilahirkan dan ditentukan oleh materi. Ini mengandung dua pengertian. Pertama, dipandang dari proses kelahiraa ide atau fikiran, maka njatalah bahwa perasaan (sensasi) dan fikiran itu tidak dilahirkan oleh sembarang materi, melainkan sematjam materi tertentu jang kita sebut otak, atau lebih tepatnja, suatu organisme sistim urat-sjaraf jang telah mentjapai tingkat perkembangan jang sangat tinggi. Tanpa otak tak akan ada fikiran atau ide. Otak atau sistim urat-sjaraf manusia adalah hasil tertinggi dari proses perkembangan alam. Oleh karenanja, ide adalah suatu produk (hasil) dari proses perkembangan alam. Kedua, dipandang dari isinja, bagaimanapun sesuatu ide adalah pentjerminan (refleksi) dari kenjataan objektif. Marx mene- rangkan bahwa ide itu ,,tidak lain daripada dunia materiil jang ditjerminkan oleh otak manusia, dan diterdjemahkan dalam bentuk² fikiran". 11) Dan pentjerminan itu hanja bisa terdjadi dengan adanja kontak langsung antara kesedaran manusia dengan dunia luar, dengan adanja praktek sosial manusia. Oleh karenanja, ide djuga merupakan produk dari proses perkembangan praktek sosial manusia. Dengan demikian, djelaslah bahwa pengertian ide menurut materialisme dialektik tidak hanja berlawanan dengan pandangan idealisr:e, jang beranggapan bahwa ide itu merupakan sesuatu jang berdiri sendiri tak tergantung pada materi, bahkan sudah ada lebih dahulu daripada materi. Oleh Lenin filsafat idealisme dengan ta- djamnja dinamakan filsafat tidak berotak". Pengertian ide menurut materialisme dialektik djuga bertentangan dengan pandangan² materialisme vulger dan materialisme metafisik jang menjatakan, misalnja, bahwa segala materi atau benda mempunjai ide, sebagaimana dikemukakan djuga oleh Plechanov bahwa batupun mempunjai ide; atau jang beranggapan bahwa ide atau fikiran itu merupakan suatu zat jang ditimbulkan oleh proses physiologis seperti halnja berliur, atau sebagaimana sering dikemukakan oleh sementara

11) K. Marx, Capital, V91. I, FLPH, 1958, edisi bahasa Inggris hkmn. 19.
orang bahwa fikiran itu adalah fosfor. Pandangan² sematjam ini timbul karena menganggap ide itu merupakan sifat (attribute) dari segala benda atau sebagai produk dari proses perkembangan alam sadja, tetapi tidak melihat bahwa ide itu djuga sebagai hasil dari proses perkembangan praktek sosial manusia, sebagai hasil dari proses perkembangan masjarakat.

c) Peranan aktif daripada ide Materialisme dialektik disatu fihak berpendirian bahwa ma-
teri itu ada leb:h dahulu, dan ide itu dilahirkan dan ditentukan oleh materi, tetapi difihak lain djuga mengakui adanja peranan aktif daripada ide terhadap materi. Ini mengandung dua pengertian. Pertama, sebagaimana telah dikemukakan diatas, ide itu adalah pentjerminan daripada kenjataan objektif, tetapi pentjerminan ini bukanlah pentjerminan jang sedenhana dan langsung, sebagaimana halnja katja-tjermin, jang hanja bisa mentjerminkan gedjala luar sadja, melainkan pentjerminan jang aktif, melalui suatu proses pemikiran jang rumit sehingga dapat mentjerminkan kenjataan objektif sebagaimana adanja, baik mengenai bagian luarnja maupun hakekatnja. Djustru adanja peranan aktif daripada ide inilah jang memungkinkan manusia menjempurnakan alat² atau perkakas² untuk memperbesar kemampuannja dalam mengenal atau mentjerminkan keadaan maupun mengubah keadaan. Kedua, peranan aktif ide terhadap materi atau keadaan itu berarti bahwa dalam mengenal dan mengubah keadaan itu manusia bertindak setjara sedar, dengan motif atau tudjuan tertentu, jaitu untuk memenuhi kebutuhan praktek sosialnja, untuk kehidupannja. lde revolusioner, jaitu ide jang mentjerminkan hukum² perkembangan keadaan objektif, memainkan peranan mendorong perkembangan keadaan. Sebaliknja, ide reaksioner, jaitu ide jang berlawaaan dengan hukum² perkembangan keadaan objektif, memainkan peranan menghambat kemadjuan! Dengan demikian materialisme dialektik menentang pandangan agnostisisme dari Kant (Immanuel, 1724-1804). Menurut Kant, manusia tak akan dapat mengenal atau mentjerminkan keadaan objektif sebagaimana adanja. Kemadjuan ilmu, misalnja penguasaan dan penggunaan tenaga atom, telah membuktikan bahwa pengetahuan manusia tentang atom adalah benar, adalah sesuai dengan kenjataan (atom) sebagaimana adanja. Dengan demikian terbuktilah djuga ketidakbenarannja pandangan agnostisisme itu, dan mem- perkuat pandangan materialisme dialektik. Disamping itu, pandangan materialisme dialektik djuga bertentangan dengan pandangan mekanik jang mengabaikan peranan aktif daripada ide terhadap materi.

3.1

Dengan dikemukakan keprimerannja materi dan peranan aktil ide terhadap materi, materialisme dialektik mengadjarkan kepada kita supaja dalam memandang dan memetjahkan sesuatu masalah harus bertolak dari kenjataan jang kongkrit, harus berdasarkan data² keadaan setjara objektif, djangan se-kali² bersandar pada dugaan subjektif dan dalil² atau buku² jang mati, dan djuga harus ditudjukan untuk kebutuhan praktek jang kongkrit. Difihak lain ia memperingatkan kita betapa pentingnja peranan teori, berhubung dengan adanja peranan aktif daripada ide, untuk mengenal dan mengubah keadaaa, sebagaimana dikatakan oleh Lenin: .tanpa teori revolusioner tak akan ada gerakan revolusioner". 12)

(B) DUNIA MATERIIL ADALAH SATU KESATUAN ORGANIK Tjiri terpenting jang membedakan materialisme filsafat Marx
dengan aliran² materialisme lainnja sebelum Marx jalah bahwa tjaranja (metodenja) mendekati gedjala² alam. tjaranja mempeladjari dan memahami gedjala2 ini adalah dialektik, sedangkan ke- terangannja (interpretasinja) mengenai gedjala? alam. pengertian- nja (konsepsinja) mengenai gedjala² ini, teorinja, adalah materialis. Jang dimaksud dengan metode dialektik adalah suatu tjara mengenal, mempeladjari dan menganalisa segala sesuatu dengan berdasarkan hukum dialektika, jaitu hukum tentang salinghubungan dan perkembangan gedjalaa jang berlaku setjara objektif didunia semesta ini. Oleh karena itu, materialisme dialektik Marx memandang dunia materiil ini bukan sebagai suatu tumpukan gedjala² jang terdjadi setjara kebetulan sadja, tiada hubungan tertentu, terpisah satu sama lain dan berdiri sendiri², tetapi sebagai satu kesatuan jang organik, dimana segala gedjala saliaghubungan setjara organik. saling bergantungan, saling mempengaruhi dan saling menentukan satu sama lain. Misalnja, kehidupan masjarakat manusia tak dapat dipisahkan dari keadaan alam disekitarnja, satu sama lain mem- punjai hubungan tertentu, dansalinghubungan antara manusia dengan alam akan mempengaruhi dan menentukan pula salinghubungan manusia jang satu dengan jang lain didalam masjarakat; dan semuanja itu akan mempengaruhi dan menentukan pua alamfikiran manusia. Dengan demikian, gedjala? alam, masjarakat dan fikiran terdjalin dalam satu hubungan jang organik.

a) Salinghubungan gedjala² adalah objektif Dalam mengakui dunia materiil ini sebagai suatu kesatuan
jang organik, tidak tjukup hanja mengakui adanja salinghubungan antara gedjala2, tetapi jang penting jalah mengakui bahwa salinghubungan antara gedjala² itu adalah suatu hukum jang objektif berlaku didunia semesta ini, bukan terkaan atau buatan manusia setjara subjektif, djuga bukan sebagai perwudjudan dari kemauan atau keinginan ,,ide absolut", dsb. Hal ini djustru merupakan suatu ljiri jang membedakan dialektika Marx jang materialis dengan dialektika Hegel jang idealis. Misalnja, sering kita berdjumpa dengan hal sbb.: seorang anak sering menderita sakit atau sakit²an, oleh orangtuanja dianggap karena nama jang diberikan kepadanja tidak tjotjok, lalu di- ubah, diberi nama lain. Djadi menganggap nama seseorang mem- punjai hubungan tertentu dengan keadaan kesehatannja. Ini adalah pandangan idealis. Karena salinghubungan sematjam ini adalah terkaan subjektif, bukan salinghubungan jang objektif. Misal jang lain: sementara orang mengakui adanja salinghubungan antara penindasan imperialisme dengan gerakan kemerdekaan nasional. Tetapi salinghubungan ini dianggap sebagai realisasi kehendak ,,ide absolut" atau takdir. Demikianlah dialektika idealis sebagaimana diadjarkan oleh Hegel, jang oleh Marx dan Engels dikatakan dialektika jang berdiri terbalik, jaitu kaki diatas kepala dibawah. Sesungguhnja diantara penindasan imperialisme dengan perdjuangan kemerdekaan nasional bangsa² tertindas ter- dapat salinghubungan jang objektif. Bangsa² itu bangkit berdjuang untuk merebut kemerdekaan nasionalnja dari imperialisme jang mendjadjah negeri² mereka. Perdjuangan untuk kemerdekaan nasional itu menumbuhkan rasa patriotisme jang wadjar. Pada fihak lain, imperialisme merupakan suatu kekuatan internasional, ia tidak mungkin dikalahkan tanpa suatu front internasional anti-kolonial dan tjintadamai jang kuat, jang merupakan ,,samenbundeling van alle revolutionaire krachten" dibidang internasional, atau persatuan "the new emerging forces". Oleh sebab itu patriotisme jang sedjati harus dipadukan dengan rasa internasionalisme jang sedar, internasionalisme jang bertudjuan mentjapai kebebasan seluruh umat- manusia dari penghisapan dan penindasan, internasionalisme So- sialis. Oleh sebab itu, salinghubungan antara patriotisme dengan internasionalisme pun merupakan salinghubungan jang objektif dan bukan jang di-ada²2kan setjara subjektif. Oleh karena itu kaum materialis dialektik berpendapat, bahwa salinghubungan antara gedjala² itu berlaku setjara objektif, tidak tergantung pada kesedaran manusia. Maka itu, untuk mengenal 121 W.I. Lenin, Apa Jang Harus Dikerdjakan, Jajasan Pembaruan", 1957, hlm. 30.

setjara tepat salinghubungan itu kita harus meneliti dan mem- peladjarinja setjara ilmiah, sedikitpun tak boleh ditambahkan dengan dugaan² subjektif. Fahamilah kenjataan itu sebagaimana adanja dan temukanlah interkoneksi (salinghubungan) jang ada padanja.

b) Segala sesuatu ditentukan oleh keadaan, tempat dan waktu Dengan mengakui adanja salinghubungan organik antara ge-
djala2 berarti djuga bahwa adanja sesuatu hal tak dapat dipisahkan dari keadaan disekitarnja, atau adanja sesuatu hal mempunjai sjarat2 tertentu. Arti dari sesuatu hal ditentukan. oleh keadaan atau situasinja. Bilamana situasinja berubah, maka artinjapun berubah pula. Misalnja, tumbuhnja tjara produksi kapitalis atau kapitalisme memerlukan sjarat² tertentu, jaitu disatu fihak sudah ada kapital, dilain fihak sudah tersedia buruh-upahaa. Dan sjarat ini baru terdapat pada achir zaman feodal di Eropa. Pada ketika itu kapitalisme mempunjai arti jang revolusioner dalam melawan feodalisme, klas burdjuis mempunjai peranan revolusioner dalam melawan kaum feodal. Tetapi kapitalisme dan klas burdjuis dinegeri² Eropa Barat dan Amerika pada waktu sekarang sudah tidak revolusioner lagi, melainkan reaksioner, karena klas burdjuis dinegeri² tersebut sudah tidak menginginkan lagi adanja perubahan revolusioner dalam masjarakat, mereka mati²an mempertahankan sistim masjarakat jang ada, mereka mengulangi apa jang dilakukan oleh kaum feodal jang sudah mereka djatuhkan itu. Dengan demikian djelaslah bahwa materialisme dialektik ber- tentangan dengan pandangan metafisik jang beku, jang berusaha mengabadikan atau memutlakkan arti sesuatu, atau memandang dan menganalisa sesuatu dipisahkan dari keadaan sekitarnja, dari hubungannja dengan hal2 lain. Misalnja, memandang kapitalisme sebagai sesuatu jang berdiri sendiri; karena kapitalisme adalah suatu sistim penghisapan atas manusía oleh manusia, maka dianggap sebagai suatu sistim jang reaksioner dan harus ditentang setjara mutlak dimana sadja dan pada waktu kapan djuga. Sebagai ke- landjutan daripada anggapan jang keliru ini, jalah menilai peranan kaum kapitalis nasional dinegeri kita sekarang setjara mutlak sebagai klas jang reaksioner, karena mereka menghisap klas buruh. Djadi, tidak melihatnja dalam salinghubungannja dengan imperialisme dan feodalisme, sehingga tak terlihat peranan revolusioner burdjuasi nasional dalam tingkat revolusi Indonesia sekarang jang setjara objektif anti-imperialisme dan anti-feodalisme. Pendeknja, dengan pandangan salinghubungan ini kita di- adjarkan supaja dalam memandang, dan memetjahkan sesuatu masalah djangan dipisahkan dari hubungan keseluruhannja, karena

tiada satu haì jang tidak ada sebab atau akibatnja, segala sesuatu ditentukan oleh keadaan, tempat dan waktu.

c) Salinghubungan jang pokok dan bukan-pokok Setiap hal mempunjai salinghubungan dengan banjak hal lain-
nja, baik setjara langsung maupun setjara tidak langsung. Akan tetapi, diantara -sekian banjak salinghubungan itu tidaklah semua- nja sama artinja, peranannja, atau kedudukannja. Diantaranja ada salinghubungan jang memainkan peranan menentukan, ada jang hanja memainkan peranan mempengaruhi sadja; ada jang bersifat keharusan, ada djuga jang bersifat kebetulan; ada jang merupakan sebab, ada pula jang merupakan akibat; ada jang pokok, ada jang bukan-pokok; dsb. dsb. Misalnja, masalah pembebasan Irian Barat mempunjai salinghubungan dengan banjak hal, jang setjara umum kita dapat go- longkan dalam bidang² ekonomi, politik, militer dan kebudajaan atau ideologi. Uatuk dapat membebaskan Irian Barat per-tama² diperlukan adanja kesedaran dan kebulatan tekad dari seluruh Rakjat Indonesia dan seluruh aparat pemerintah sehingga dapat memobilisasi seluruh kekuatan, baik materiil maupun spirituil jang ada padanja. Tetapi untuk mentjapai persatuan nasional dan mobilisasi seluruh potensi nasional jang dimaksud itu tak dapat hanja dengan agitasi sadja tanpa memberikan perspektif jang baik bagi kehidupan materiil dan spirituil bagi Rakjat. Oleh karena itu di- butuhkan adanja ketegasan dibidang politik untuk mendjamin ke- bebasan demokratis bagi Rakjat dan semua elemen patriotik disatu fihak, dan untuk menindas musuh² Rakjat difihak lain. Haaja dengan demikian baru bisa ditimbulkan kesedaran dan kegairahan bagi seluruh Rakjat dan seluruh potensi nasional untuk membebaskan Irian Barat maupun untuk mengatasi segala kesulitan² jang dihadapinja, terutama masalah keuangan dan ekonomi, masalah sandangpangan. Oleh karena itu, salinghubungan pembebasan Irian Barat dengan kebidjaksanaan dibidang politik seperti tersebut di- atas (demokrasi, persatuan nasional dan mobilisasi massa Rakjat) merupakan salinghubungan jang pokok. Ini sesuai dengan peng- alaman sedjarah pada masa Revolusi Agustus 1945 jang membenar- kan bahwa politik adalah panglima" atau seperti jang disebutkan dalam Resopim Manipol memimpin bedil" dan bukan ,,bedil jang memimpin Manipol". Dalam menindjau salinghubungan antara masalah pembebasan Irian Barat dengan kebidjaksanaan² dibidang politik, dapat pula kita bagi dalam dua segi: politik luarnegeri dan politik dalamnegeri. Hubungannja dengan politik dalamnegeri merupakan faktor jang pokok, jang menentukan, Politik luarnegeri adalah pentjerminan kebidjaksanaan² politik dalamnegeri.

Pandangan demikian ini berlawanan dengan pandangan metafisik jang tjenderung menjamaratakan salinghubungan jang bersegi banjak itu, sehingga mengaburkan pokok persoalannja, jang ber-akibat ber-larut²nja persoalan sehingga tak terselesaikan. Oleh karenanja, pengakuan adanja salinghubungan antara gedjala² adalah penting, tetapi jang lebih penting lagi jalah mem- bedakan diantaranja mana jang pokok dan jang bukan-pokok, jang penting dan jang tidak penting, jang bersifat kebetulan dan jang bersifat keharusan, jang merupakan sebab dan jang merupakan akibat, dsb. dsb. Hanja dengan demikian kita baru bisa me- metjahkan persoalan setjara tepat dan efisien.

(C) DUNIA MATERIL SENANTIASA BERGERAK DAN BERKEMBANG — PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI Materialisme dialektik tidak hanja memandang dunia materil sebagai satu kesatuan jang organik, bahwa segala sesuatu jang ada didunia ini mempunjai salinghubungan jang organik, tetapi lebih landjut djuga berpendapat bahwa dunia materiil ini senantiasa didalam keadaan bergerak dan berkembang. Seluruh alam", kata Engels dalam karjanja jang terkenal Dialektika Alam, ,dari sesuatu jang se-ketjil²nja sampai pada jang se-besar²nja, dari sebutir pasir sampai matahari, dari Protista sampai kemanusia, adalah dalam keadaan senantiasa timbul dan lenjap, dalam keadaan senantiasa mengalir, dalam keadaan gerak dan berubah jang tak henti2nja". 13) Dalam tulisannja Anti-Dühring, Engels menerangkan lebih landjut: ,Gerak adalah bentuk eksistensi materi. Dimanapun tak
pernah ada, dan djuga tak mungkin ada materi tanpa gerak ....
Materi tanpa gerak sama tidak mungkinnja seperti gerak tanpa materi. Oleh karena itu gerak, sebagaimana materi itu sendiri, tak dapat ditjiptakan dan dilenjapkan; sebagaimana dinjatakan oleh filsafat jang lebih tua (Descartes), kwantitet daripada gerak jang ada didunia selamanja sama. Oleh karena itu gerak tak dapat ditjiptakan, ia hanja dapat ditransfer". 14) Djelaslah bahwa pandangan materialisme dialektik demikian ini berdasarkan kenjataan objektif alam, masjarakat maupun fikiran manusia jang memang dalam keadaan senantiasa bergerak dan berkembang, sebagaimana dikatakan oleh Heraclitus: Panta rhei", atau sebagaimana pribahasa kita mengatakan patah tumbuh hilang berganti" atau ,zaman beralih musim bertukar".

13) F. Engels, Dialectics of Nature, FLPH, Moskow 1954, hlm. 43.
14) F. Engels, Anti-Dühring, edisi bahasa Inggris, FLPH, Moskow 1959, hlm. 86.
a) Gerak materi adalah gerak sendiri Dengan dikatakan gerak adalah bentuk eksistensi materi ber-
arti bahwa gerak materi itu bukan disebabkan karena dorongan dari kekuatan diluar materi, melainkan oleh kekuatan² jang ada didalam materi itu sendiri. Kemadjuan² jang telah ditjapai dalam ilmu-alam, misalnja tentang atom, transmutasi unsur2 dan sebagai- nja, telah membenarkan hal ini. Pengalaman sedjarah djuga telah membuktikan bahwa perkembangan masjarakat bukan disebabkan oleh kekuatan jang berada diluar masjarakat itu, melainkan ditentukan oleh kekuatan² jang berada didalam masjarakat itu sendiri. Dengan demikian tidaklah berarti bahwa materialisme dialektik tidak mengakui peranan faktor-luar terhadap gerak materi. Materialisme dialektik berpendapat bahwa faktor-luar itu hanja dapat mempengaruhi gerak materi tetapi bukan jang menentukan. Jang menentukan adanja gerak materi adalah faktor-dalam jang ada pada materi itu sendiri. Singkatnja, faktor-luar merupakan sjarat dan faktor-dalam merupakan sebab daripada gerak atau perubahan materi. Misalnja, seorang baji lahir bukan disebabkan oleh bidaa, bidan hanjalah membantu lahirnja sang baji. Misal lain, perkembangan pembangunan nasional semesta berentjana dinegeri kita ini ditentukan oleh faktor² jang ada didalamnegeri kita sendiri, se- dangkan faktor² jang ada diluarnegeri kita, seperti bantuan kredit, dsb. hanja memainkan peranan mempengaruhi sadja, bukan jang menentukan. Begitupun djuga perkembangan masalah Irian Barat ditentukan oleh faktor dalamnegeri, oleh kekuatan² seluruh Rakjat kita dari Sabang sampai Merauke. Faktor-luar hanja dapat memainkan peranannja melalui faktor-dalam. Pandangaa demikian ini berlawanan dengan pandangan idealis maupun materialis metafisik jang umumnja menganggap gerak materi itu disebabkan oleh kekuatan² diluar materi itu. Kaum metafisik, jang pada dasarnja berpendapat bahwa segala sesuatu itu adalah diam dan statis, dalam menghadapi kenjataan ljang bergerak, berkembang dan berubah, tak bisa lain daripada menarik kesimpulan bahwa gerak atau perkembangan materi itu disebabkan oleh dorongan dari kekuatan² diluar materi itu, oleh faktor²-luar, jang pada achirnja tak dapat menghindarkan diri terdjerumus ke- dalam lembah idealis, jaitu menganggap bahwa gerak materi adalah pelaksanaan atau realisasi dari ide absolut" dsb., sebagaimana dialami oleh ahli ilmu-alam Inggris jang besar pada abad ke-17, Isaac Newton (1642-1727).

b) Diam adalah salahsatu bentuk gerak Dengan pandangan bahwa dunia materiil itu selalu bergerak
dan berkembang, tidaklah berarti bahwa materialisme dialektik menjangkal adanja keadaan diam atau statis. Materialisme dialektik berpendapat bahwa gedjala demikian itu adalah suatu bentuk daripada gerak materi, suatu bentuk gerak didalam keadaan tertentu dimana imbangan kekuatan² didalam materi itu, ataupun imbangan antara kekuatan²-dalam dengan kekuatan²-luar daripada materi itu mentjapai keseimbangan jang sifatnja sementara dan relatif. Keadaan demikian ini disebut djuga sebagai kestabilan relatif daripada kwalitet. Dengan demikian, materialisme dialektik berpendapat bahwa bentuk gerak materi atau kenjataan objektif itu beraneka tjorak dan ragamnja, makin berkembang praktek sosial manusia, makin madju ilmu, makin banjaklah kita kenal akan bentuk2 gerak materi. Engels mengatakan : ,,gerak materi, tak dapat digolongkan begitu sadja kedalam sematjam gerak mekanis jang sederhana dan mati, sematjam gerak sederhana jang berupa pergeseran tempat sadja; panas dan sinar, listrik dan magnit, persenjawaan (kombinasi) dan peruraian (disosiasi) dalam kimia, kehidupan, dan achirnja ide, semuanja adalah gerak materi". 15) Djelaslah, bahwa gerak materi itu beraneka bentuk ragamnja, dari gerak jang paling sederhana, jaitu perubahan djumlah dan tempat mekanis, sampai pada jang paling rumit jang berupakan kehidupan alam organik, termasuk djuga fikiran. Tidak sadja materi jang chusus mempunjai bentuk geraknja jang chusus, satu materi jang sama djuga mempunjai berbagai matjam bentuk geraknja pada tingkat² proses perkembangannja. Misalnja, bentuk gerak masja- rakat kapitalis pada tingkat pra-monopoli berbeda dengan pada tingkat monopoli. Dan bentuk gerak materi jang satu dapat ber- ubah mendjadi bentuk gerak jang lain. Semuanja itu telah dibukti- kan dengan penemuan² dalam ilmu-alam, misalnja, dari bentuk gerak aliran air bisa diubah mendjadi bentuk gerak aliran listrik, dan diubah lagi mendjadi bentuk gerak mekanik, dsb. Pandangan demikian ini bertentangan dengan pandangan gerak daripada materialisme mekanis jang beranggapan gerak mekanis sebagai satu²nja bentuk gerak bagi semua materi.

c) "The new emerging forces" pasti menang Dengan mengakui bahwa segala sesuatu dalam keadaan gerak
dan berkembang, bahwa tidak ada satu hal jang abadi, semuanja

15) F. Engels, Dialectics of Nature, FLPH, Moskow 1954, hlm. 51.
merupakan proses perkembangan, semuanja patah tumbuh, hilang berganti", berarti bahwa segala sesuatu ada masa lahir dan per- tumbuhannja dan ada masa lenjap atau perubahannja. Djika ada sesuatu jang baru tumbuh, sekalipun kelihatannja ketjil dan lemah pada permulaan perkembangannja, dalam proses perkembangan se- landjutnja pasti mendjadi besar dan kuat. Sebaliknja, suatu hal jang mula2 kelihatannja besar dan kuat, tetapi mewakili kekuatan lama, djadi tidak mempunjai haridepan, achirnja pasti lenjap. Demikianlah imperialisme dan kolonialisme jang oleh Bung Karno disebut "the old established forces" (kekuatan lama jang bertjokol) sekalipun kelihatannja besar dan kuat, tetapi sebenarnja ada dalam keadaan jang sedang lapuk dan hampir mati, adalah ,,matjan ker- tas". Sebaliknja, kekuatan² gerakan kemerdekaan nasional dan kekuatan2 Sosialisme jang oleh Bung Karno disebut "the new emerging forces" (kekuatan baru jang sedang tumbuh), walaupun pada mulanja kelihatan ketjil dan lemah, tetapi berada dalam proses perkembangan tumbuh besar dan kuat, dan achirnja pasti dapat mengalahkan "the old established forces" dan memperoleh keme- nangan jang sepenuhnja. Dengan demikian, pandangan materialisme dialektik meng- adjarkan kepada kita supaja senantiasa berorientasi pada kekuatan² atau segi2 jang sedang tumbuh, jang mempunjai haridepan. Ini berarti, bahwa sebagai suatu prinsip kehidupan politik, kita harus selalu memandang kedepan, dan tidak kebelakang. Demikianlah djuga dalam kehidupan organisasi, masalah pentjiptaan dan pe- meliharaan tenaga2 muda atau kader² jang baru dan segar, merupakan suatu pekerdjaan jang penting. Dan hanja dengan demikian kehidupan organisasi bisa terus berkembang madju, dari tingkat jang rendah ketingkat jang lebih tinggi.

(D) DUNIA MATERIL BERKEMBANG MENURUT
HUKUMNJA SENDIRI Sebagaimana telah dikemukakan diatas, dialektika adalah hukum tentang salinghubungan dan perkembangan gedjala2. Djadi, salinghubungan gedjala² dan perkembangan gedjala² merupakan dua segi daripada dialektika jang tak dapat dipisahkan satu dengan lainnja. Dari uraian diatas djelaslah kiranja, bahwa adanja salinghubungan gedjala2 sudah mengandung arti adanja gerak atau sebagai suatu bentuk gerak; begitupun djuga gerak sendiri daripada setiap materi sudah mengandung arti adanja djuga salinghubungan intern maupun ekstern daripada materi. Djelasnja, oleh karena segala sesuatu itu salinghubungan satu sama lain, maka bila ada satu

hal bergerak dan berubah, segera akan mempengaruhi hal² lainnja; dan oleh karena segala sesuatu itu senantiasa bergerak dan ber- kembang, maka membikin satu sama lain terdjalin dalam salinghubungan jang makin rumit. Sungguhpun demikian, tidaklah berarti bahwa salinghubungan dan perkembangan gedjala² itu terdjadi dan berlangsung setjara kebetulan atau tidak ada ketentuan²nja, sebagaimana anggapan kaum metafisik; sebaliknja, materialisme dialektik berpendapat, dan memang demikian kenjataaanja, bahwa salinghubungan dan perkembangan gedjala² didunia ini mempunjai ketentuan²nja, mempunjai hukum²nja.

Bagaimana hukum dialektika atau hukum tentang perker:bang-

an itu? Engels merumuskanaja dalam tiga hukum dasar :

a) Hukum tentang kesatuan dan perdjuangan dari segi² jang berlawanan atau tentang kontradiksi;
b) Hukum tentang perubahan kwantitatif keperubahan kwa- litatif; dan
c) Hukum tentang negasi daripada negasi. Baiklah sekarang saja terangkan setjara singkat isi pokok
daripada tiga hukum dasar dialektika itu.

a) Hukum tentang kontradiksi Hukum kontradiksi ini merupakan ,inti" atau ,,djiwa" dari-
pada dialektika, karena ia menerangkan sumber dan hakekat perkembangan. Lenin mengatakan: ,Terbaginja kesatuan daa pengenalan atas bagian²nja jang berkontradiksi adalah hakekat dari dialektika". 16) Oleh karenanja ia adalah salahsatu tjiri terpenting jang membedakan dialektika dengan metafisika. Dan merupakan kuntji bagi kita untuk memahami dengan baik dialektika keselu- ruhannja. Hukum ini menjatakan bahwa segala sesuatu terdiri dari bagian² atau segi² jang ber-beda² atau berkontradiksi, dan gerak atau perkembangan sesuatu itu terutama disebabkan adaaja salinghubungan jang berupa ,persatuan dan perdjuangan" antara segi² bertentangan jang ada didalamnja. Kalau diterdjemahkan kedalam bahasa kita sendiri, maka dapatlah kita katakan hukum ini adalah hukum ,,bhinneka tunggal ika". Pengenalan manusia bahwa dunia kenjataan ini mengandung kontradiksi² sebagai sumber perkembangannja, sebagaimana telah dikemukakan dalam bagian terdahulu, sudah dimulai oleh filsuf² Junani Kuno, dan kemudian makin diperkuat kebenarannja oleh

16)Lenin, Tentang Dialektika, Pustaka Ketjil Marxis, No. 19, JP, 1958, hlm. 4.
nasil² ilmu, misalnja, sebagaimana dikemukakan oleh Lenin, adanja plus (+) dan minus (→), diferensial dan integral dalam ilmu- pasti (matematika); adanja aksi dan reaksi dalam mekanika; adanja listrik positif dan negatif dalam fisika; adanja persenjawaan (kombinasi) dan peruraian (disosiasi) atom² dalam ilmu-kimia; dan adanja perdjuangan klas dalam ilmu kemasjarakatan. 17) Djelaslah bahwa kontradiksi itu ada setjara objektif, bukanlah buatan atau terkaan manusia setjara subjektif, dan hal iai sudah lama dikenal oleh manusia dalam pengalaman prakteksosialnja. Sungguhpun demikian, hingga kini masih sadja ada sementara orang jang tak dapat atau tidak mau memahami kebenaran hukum kontradiksi ini, dan melontarkan edjekan, sebagaimana pernah dilakukan oleh Dühring, bahwa hukum kontradiksi daripada dialektika itu adalah suatu kegilaan jang besar. Bahkan ada djuga diantaranja jang menuduh filsafat kaum Marxis atau Komunis ini adalah filsafat ber- bolak-balik jang tiada ketegasannja, atau menuduh kaum Komunis paling kerandjingaa untuk menimbulkan dan mengobarkan per- tentangan² didalam masjarakat atau perdjuangan klas guna ke- pentingannja, dsb. Terhadap mereka saja hanja hendak mengulangi kembali dja- waban jang pernah diberikan oleh Engels. Engels berkata : ,,otak jang berfikir setjara metafisik itu setjara mutlak tak mampu beralih dari ide tentang diam ke-ide tentang gerak, sebab kontradiksi jang ditundjukkan diatas telah menutup djalannja". 18) Adapun berfikir setjara metafisik, kalau bukan karena kechilafan atau kebiasaan jang djelek, adalah karena dorongan keinginan subjektif jang keras untuk menutup-nutupi kenjataan guna mengabadikan kepentingan dan kedudukan klasnja. Kaum Marxis tidak berkepentingan uatuk menutupi kenjataan atau menutup matanja terhadap kenjataan, dan djustru karena kaum Marxis membuka matanja lebar² terhadap kenjataan, maka dapat memahami setjara mendalam dan tepat akan kontradiksi² jang berlaku didunia ini, adanja perdjuangan klas didalam masjarakat, sehingga tahu pula bagaimana seharusnja ber- djuang untuk melenjapkan perdjuangan klas untuk se-lama2nja. Hukum kontradiksi adalah umum dan universil, Segala hal- ichwal pada waktu dan tempat manapun djuga, selalu mengandung kontradiksi didalamnja. Sudah tentu, tiap² hal mempunjai kontra- diksinja sendiri² jang chas, jang membedakan hal jang satu dari lainnja. Satu hal jang sama, pada tingkat² jang berbeda dari proses perkembangannja, djuga mempunjai kechususan² dalam kontradiksi²nja, jang membedakan tingkat perkembangannja jang satu ) Lenin, Collected Works, Vol. 38, hlm, 359, FLPH 1961; atau Lenin, Tentang Dialektika, Pustaka Ketjil Marxis, No. 19, JP 1958, hlm. 5.

18) F. Engels, Anti-Dühring, FLPH, Moskow 1959, hlm. 166.

dari jang lainnja. Kesedaran bahwa kontradiksi berlaku setjara umum dan universil, berarti bahwa kita harus mengenal kechususan² kontradiksi jang ada pada sesuatu hal jang kongkrit. Dan dalam mempeladjari kechususan kontradiksi itu jang terpenting jalah untuk mengenal kontradiksi-pokok dan segi-pokok daripada kontradiksi. Didalam proses perkembangan sesuatu hal jang rumit ter- dapat banjak kontradiksi. Kontradiksi² jang dikandungaja mempunjai arti atau peranan dan kedudukan jang ber-beda2 disepan- djang proses perkembangannja. Seperti dikatakan oleh Kawan Mau Tje-tung, pada setiap tingkat perkembangannja, ,,hanja satu diantaranja jang merupakan kontradiksi pokok jang memegang peranan memimpin dan menentukan, sedangkan jang lain-lainnja menempati kedudukan jang sekunder atau jang dibawahkan". 19) Dengan perkataan lain, kontradiksi-pokok adalah kontradiksi jang memegang peranan memimpin" pada suatu tingkat didalam proses perkembangan sesuatu. Misalnja, pada ketika imperialis Belanda melakukan agresi ke-I terhadap tanahair kita pada achir tahun 1945, berbagai klas didalam negeri, ketjuali se- kelompok ketjil kaum pengchianat, dapat bersatu melakukan perang nasional melawan imperialis Belanda dan sekutu²nja. Pada waktu itu, kontradiksi antara imperialisme dengan nasion atau Rakjat Indonesia mendjadi kontradiksi-pokok, sedangkan kontradiksi2 dikalangan berbagai klas didalam negeri ditempatkan pada kedudukan jang sekunder. Tetapi dalam perkembangan selandjutnja, oleh karena berhasilnja tipu-muslihat kaum imperialis lewat kakitangan- nja dalamnegeri untuk memetjahbelah persatuan nasional kita, terdjadilah peristiwa tragedi nasional, jaitu Peristiwa Madiun di- zaman kabinet Hatta, pada bulan September 1948. Pada saat itu. kontradiksi antara kaum reaksi dalamnegeri dan burdjuasi nasional dengan Rakjat pekerdja Indonesia mendjadi kontradiksi-pokok, sedangkan kontradiksi antara kaum agresor Belanda dengan nasion Indonesia dibawahkan. Kemudian, dengan terdjadinja agresi ke-II imperialis Belanda dengan sekutu²nja, maka terdjadilah mutasi kembali, jaitu kontradiksi antara kaum imperialis Belanda dengan nasion Indonesia mendjadi kontradiksi-pokok. Tetapi, dengan ditandatanganinja persetudjuan KMB, kaum imperialis ber- hasil dengan setjara tidak langsung membantu kaum reaksioner didalam negeri dengan menaikkannja keatas panggung kekuasaan politik untuk menindas Rakjat Indonesia. Dengan demikian kontradiksi antara reaksi dalamnegeri dengan Rakjat Indonesia mendjadi kian tadjam dan menondjol, sehingga terdjadi rentetan

19) Mau Tje-tung, Tentang Kontradiksi, Jajasan ,Pembaruan", tjetakan ke-3, 1960, hlm. 37.
peristiwa2, seperti ,,Larangan mogok Natsir", Razzia Agustus Sukiman", ;,Traktor Maut Roem", dan sebagai salahsatu puntjak- nja jalah ,pemberontakan 'PRRI-Permesta'". Semendjak kaum pemberontak pada pokoknja dihantjurkan, kaum imperialis kehi- langan tamengnja jang penting, kontradiksi antara imperialis dengan nasion Indonesia kembali mendjadi kontradiksi-pokok sampai pada saat ini. Demikianlah kita melihat bahwa kontradiksi-pokok pada tiap tingkat perkembangan proses revolusi kita ini serta mutasi² kontradiksi-pokok itu memberikan tjiri dan arah pada tiap tingkat perkembangan itu. Sungguhpun demikian, djika ditindjau seluruh proses perkembangan tingkat revolusi Indonesia dewasa ini, maka kontradiksi-pokoknja adalah antara kaum imperialis dengan nasion Indonesia dan antara fecdalisme dengan massa Rakjat jang ter- besar, terutama kaum tani. Kontradiksi antara feodalisme dengan massa Rakjat adalah termasuk kontradiksi-pokok, karena feodalisme adalah basis sosial daripada imperialisme. Tetapi diatas se- gala²nja, jang terpokok jalah kontradiksi antara imperialisme dengan nasion Indonesia. Oleh karena kontradiksi-pokok memainkan peranan jang memimpin kontradiksi² lainnja pada suatu tingkat perkembangan ter- tentu, maka ia merupakan matarantai persoalan jang harus dipetjah- kan lebih dulu, dan hanja dengan demikian kontradiksi² lainnja baru bisa dan lebih mudah diselesaikan. Tetapi ini tak berarti bahwa kontradiksi² jang bukan-pokok tidak ada peranannja atau pengaruhnja samasekali terhadap penjelesaian kontradiksi-pokok. Sebaliknja, perkembangan kontradiksi² itu mempunjai pengaruh jang tidak ketjil terhadap penjelesaian kontradiksi-pokok. Misalnja, kontradiksi-pokok jang harus kita selesaikan lebih dahulu pada tingkat revolusi Indonesia sekarang adalah kontradiksi antara imperialisme dengan Rakjat atau nasion Indonesia, sedangkan kontradiksi2 lainnja jang merupakan kontradiksi² dikalangan Rakjat adalah kontradiksi² jang bukan-pokok. Dalam usaha untuk menjelesaikan kontradiksi-pokok dalam revolusi kita tingkat sekarang ini, perkembangan kontradiksi² dikalangan Rakjat mempunjai pengaruh jang besar. Djika pengurusan kontradiksi dikalangan Rakjat tidak tepat, ia akan mempersulit atau menghambat penjelesaian kontradiksi-pokok, lebih² kalau sampai terdjadi mutasi, jaitu kontradiksi dikalangan Rakjat berubah mendjadi kontradiksi-pokok, sedangkan kontradiksi antara imperialisme dengan Rakjat mendjadi kontradiksi jang bukan-pokok, maka akan berarti revolusi kita mengalami kemunduran. Djustru oleh karena itu, dalam usaha untuk menjelesaikan revolusi kita sekarang ini, disamping kita harus mengarahkan udjung tombak kita kepada imperialisme terutama imperialis Belanda jang kini masih mendjadjah wilajah dan Rakjat

kita di Irian Barat, kita harus pula mengurus setjara tepat kontradiksi² dikalangan Rakjat, tidak hanja untuk mentjegah terdjadinja mutasi kontradiksi-pokok, tetapi djuga untuk membantu atau me- mudahkan penjelesaian kontradiksi-pokok. Untuk itulah maka kaum Komunis Indonesia mengemukakan pendiriannja: meletak- kan kepentingan klas daa Partai dibawah kepentingan nasion; dan untuk itu pula kaum Komunis mengibarkan Tripandji Bangsa: Demokrasi (untuk Rakjat), Persatuan (nasional revolusioner) dan Mobilisasi (segenap potensi nasional). Sudah tentu, musuh² kita senantiasa berusaha dengan segala tipudaja, terutama dengan intrik2 ,anti-Komunis" supaja kontradiksi dikalangan Rakjat ber- pindah (mutasi) mendjadi kontradiksi-pokok. Oleh karena itu, ke- waspadaan nasional menghendaki per-tama² diperkuatnja front persatuan jang berporoskan Nasakom dan diberantasnja segala matjam intrik dan kegiatan ,anti-Komunis" dan penjakit ,komunisto-phobi". Disinilah artipenting kampanje Presiden Sukarno melawan komunisto-phobi" dilihat dari segi kepentingan seluruh nasion. Inilah sebabnja mengapa kaum Komunis Indonesia menerima ide Gotongrojong" dan menerima UUD 1945 jang didalam- nja terkandung Pantjasila sebagai alat pemersatu segenap kekuatan nasional revolusioner. Setiap kontradiksi terdiri dari dua segi. Dua segi dalam kontradiksi itu mempunjai arti, peranan dan kedudukan jang tidak sama. Diantaranja ada satu seqi jang mewakili kekuatan? lama atau "the old established forces", dan segi lainnja jang mewakili kekuatan² jang baru atau "the new emerging forces", atau dengan perkataan lain segi negatif dan segi positif. Selain dari itu, kedudukan dua segi itu dalam proses perkembangan kontradiksi me- mainkan peranan jang tidak sama, ada jang menguasai dan ada jang dikuasai, ada jang memimpin dan ada jang dipimpin. Dalam keadaaa tertentu dua segi itu bisa berada dalam kedudukan jang seimbang, tetapi ini bersifat sementara dan relatif, Segi jang berperanan menguasai atau berdominasi dalam seluruh proses perkembangan mempuniai arti jang menentukan kwalitetnia kontradiksi itu. Segi jang berperanan memimpin pada tingkat? perkem baagan tertentu mempuniai arti iang menentukan terhadap arah jang ditudju oleh perkembangan kontradiksi itu pada tingkat tertentu. Segi jang baru pada permulaan proses perkembangan kontra diksi masih ketiil dan lemah, dan karenanja merupakan segi jang dipimpin dan dikuasai. Tetapi dalam proses perkembangan selan- djutnja, ia tumbuh makin besar dan kuat, sehingga kedudukannja- pun berubah mendiadi jang memimpin, dan kemudian berdominasi. Apabila ini terdjadi, berartilah kwalitet kontradiksi itu berubah.

Memahami keadaan dua segi dalam kontradiksi adalah penting sekali artinja bagi usaha² menjelesaikan kontradiksi itu. Hanja dengan mengenal setjara tepat keadaan musuh dan keadaan kita sendiri, kita dapat menjelesaikan kontradiksi antara kita dengan musuh itu setjara lebih tepat. Dan dalam mengenal keadaan dua segi jang berkontradiksi itu pertama-tama kita perlu mengetahui mäna jang merupakan segi baru, segi jang mempunjai haridepan, dengan maksud agar kita berorientasi pada segi baru ini serta menjiapkan sjarat2 jang diperlukan untuk pertumbuhannja. Selan- djuinja perlu diketahui sjarat² jang diperlukan untuk menempati kedudukan jang memimpin dan lebih landjut dikembangkan uatuk mendjadi segi jang menguasai. Demikianlah djuga seharusnja kita menghadapi masalah pembebasan Irian Barat. Kita harus teguh berorientasi dan pertjaja kepada kekuatan Rakjat Indonesia sendiri. harus menjiapkan sjarat2 jang menguntungkan bagi pertumbuhan kekuatan Rakjat itu. Membesar-besarkan kekuatan musuh, apalagi mengekang pertumbuhan kekuatan Rakjat, adalah tindakan jang bertentangan dengan arah perkembangan, dan tindakan jang chianat.

b) Hukum tentang perubahan kwantitatif keperubahan kwalitatif Hukum tentang perubahan kwantitatif keperubahan kwalitatif
menerangkan djalannja proses perkembangan segala sesuatu. Hukum ini mengungkapkan bahwa perkembangan segala sesuatu itu terdiri dari dua tingkatan jaitu tingkatan perubahan kwantitatif dan tingkatan perubahan kwalitatif. Perubahan kwantitatif berlangsung setjara ber-angsur2, setjara evolusioner; tetapi sampai pada batas tertentu, apabila bingkai lama diterdjang, ia menimbulkan perubahan kwalitatif jang berlangsung setjara tiba2, setjara revolusioner, dan merupakan suatu lompatan. Perubahan kwantitatif menjiapkan perubahan kwalitatif, dan' perubahan kwalitatif menjelesaikan perubahan kwantitatif jang lama dan melahirkan serta mengembanġkan perubahan kwantitatif jang baru. Demikianlah proses perkembangan segala sesuatu itu merupakan rentetan perubahan kwantitatif dan perubahan kwalitatif jang silih berganti setjara terus-menerus tak kundjung hentinja. Berdasarkan hukum ini maka dalam memandang dan meng- ubah segala sesuatu kita harus mengetahui dengan djelas kwan- titet dan kwalitetnja, mengetahui dengan djelas perubahan² kwantitatif apa jang diperlukan untuk memungkinkan lahirnja perubahan kwalitatif jang ditudju. Hanja mengenal perubahan kwalitatif sadja, tetapi mengabaikan perubahan kwantitatif jang diperlukan, berarti kita membuat kesalahan avonturisme. Sebaliknja hanja puas dengan perubahan² kwantitatif sadja, tidak menghendaki perubahan

kwalitatif, berarti kita membuat kesalahan reformisme. Misalnja, untuk mengubah masjarakat Indonesia dari kwalitet sekarang ini jang belum merdeka penuh dan setengah-feodal mendjadi kwalitet sosialis, kita harus mengetahui perubahan² kwantitatif dan kwalitatif apa jang harus dilaluinja. Dalam Mani- festo Politik R.I. setjara tepat telah dikemukakan, bahwa untuk mentjapai masjarakat sosialis, harus dilalui satu masa peralihan, jaitu Indonesia jang merdeka dan berdaulat penuh, bebas dari pengaruh imperialisme dan feodalisme. Ini sangat djelas, karena masjarakat sosialis tidak bisa dibangun dalam Indonesia jang belum merdeka penuh (politik, ekonomi, kulturil) serta masih setengah-feodal. Dan sebagaimana sering dikatakan oleh Presiden Sukarno, kita bukan hanja tidak boleh evolusioner dan reformistis, tetapi djuga tidak boleh melakukan "fasen-sprong" (melompati tingkat jang objektif harus dilalui). Untuk dapat mentjapai Indonesia jang merdeka penuh, kini sedang diperlukan perubahan² kwantitatif, jaitu perubahan perimbangan kekuatan antara Rakjat Indonesia disatu fihak dan musuh² Rakjat difihak lain. Perubahan kwantitatif itu harus diusahakan demikian rupa sehingga kekuatan Rakjat kian hari kian bertambah besar dan kekuatan² imperialisme serta kaum reaksioner didalam negeri kian hari bertambah lemah, sehingga pada suatu saat terdjadi perubahan kwalitatif dari Indonesia sekarang mendjadi Indonesia baru jang merdeka dan berdaulat penuh. Dengan itu selesai- lah perubahan kwantitatif jang lama, jaitu perubahan perimbangan antara kekuatan Rakjat dan kekuatan musuh² Rakjat, dan se- mentara itu terdjadi perubahan² kwantitatif jang baru, jaitu, misalnja, perubahan² kwantitatif dalam keluasan dan ketjepatan pemba- ngunan ekonomi, dalam susunan klas dalam masjarakat, dsb., dan perubahan² kwantitatif ini ditudjukan untuk melahirkan perubahan kwalitatif jang baru, untuk melahirkan masjarakat sosialis. Djika ada orang jang hendak mengubah masjarakat kita sekarang ini sekaligus mendjadi masjarakat sosialis tanpa melalui suatu masa peralihan, maka ia melakukan suatu kesalahan avonturis. Sebalik- nja, kalau ada orang jang hanja menghendaki perubahan² kwantitatif, perbaikan upah buruh, membatasi tanah milik tuantanah feodal, dsb. dan tidak mendjuruskan perubahan² ini kepada perubahan kwalitatif, jaitu kepada masjarakat Indonesia jang merdeka penuh dan masjarakat sosialis, maka ini adalah kesalahan reformis. Pendeknja, djika dengan setjara sedar kita menggunakan hukum ini dalam praktek perdjuangan, maka kità dapat menentukan setjara tepat garis strategi dán garis taktik perdjuangan.

c) Hukum tentang negasi daripada negasi Hukum negasi daripada negasi mengungkapkan arah atau ke-
tjenderungan umum daripada gerak atau perkembangan segala sesuatu. Ia mengungkapkan penggantian kwalitet lama dengan kwalitet baru dalam proses perkembangan dan peningkatan dari bentuk2 jang rendah dan sederhana ke-bentuk2 jang lebih tinggi, jang lebih kompleks. Oleh sebab itu hukum negasi daripada negasi ini menjatakan watak progresif dari perkembangan, bahwa perkembangan mengikuti garis madju. Hukum ini djuga menundjukkan bahwa perkembangan segala sesuatu itu tidak merupakan garis lingkaran jang tak mengemal udjung-pangkalnja, djuga bukan garis lurus jang menaik, melainkan garis spiral. Dalam tulisannja jang berdjudul Karl Marx, Lenin antara lain mengatakan : ,Suatu perkemhangan nampaknja mengulangi tingkat² jang sudah pernah dilaluinja, tetapi mengulanginja setjara lain, mengulanginja diatas dasar jang lebih tinggi ('negasi daripada negasi'), dengan demikian, suatu perkembangan, dapat dikatakan, merupakan spiral, bukan garis lurus".20) Sebagai ilustrasi mengenai hukum ini,-Engels pernah memberikan suatu tjontoh seperti berikut :
Mari kita ambil sebagai tjontoh sebutir djelai ........ djika
butir djelai itu berada dalam keadaan jang baginja normal, djika djelai itu ditabur diatas tanah jang tjotjok, dan kemudian dibawah pengaruh hawa panas dan lembab ia mengalami perubahan jang chas, ia berketjambah; butir djelai seperti jang semula tidak ada lagi, ia dinegasi, dan dari djelai itu muntjul sebatang pohon, negasi
terhadap djelai itu........ Ia tumbuh, berbunga, mendjadi subur
dan achirnja sekali lagi menghasilkan butir² djelai, dan segera butir² djelai itu masak batangnja mati, pada gilirannja ia dinegasi. Sebagai akibat daripada negasi ini kita sekali lagi mempunjai butir djelai semula, tetapi bukan satu, melainkan lipat sepuluh, duapuluh dan tigapuluh kali". 21) Sedjarah perkembangan masjarakat djuga menundjukkan proses perkembangan negasi daripada negasi. Misalnja, masjarakat komune-primitif (tidak berklas) dinegasi oleh masjarakat2 berklas (perbudakan, feodal, dan kapitalis), dan kemudian dinegasi lagi oleh masjarakat sosialis dan Komunis (tidak berklas). Masjarakat sosialis dan Komunis menundjukkan tjiri² jang ada semula didalam masjarakat komune-primitif, jaitu a.l. hakmilik bersama atas alat² produksi, meskipun dasarnja berlainan samasekali. Hakmilik ber-

20) W.I. Lenin, Karl Marx dalam Books for Socialism : The Three Sources and Three Component Parts of Marxism, FLPH, Moscow, hlm. 25.
21) F. Engels, Anti-Dühring, FLPH, Moscow 1959, hlm, 186-187.

sama atas alat² produksi dalam masjarakat sosialis dan Komunis adalah atas dasar jang djauh lebih tinggi, karena tenaga produktif masjarakatnja sudah djauh lebih madju. Saja pernah menghadapi pertanjaan : apakah masjarakat Komunis tidak akan dinegasi lagi oleh masjarakat berklas? Hukum negasi daripada negasi, sebagai- mana hukum² dialektika lainnja, akan terus berlaku, hal ini sudah pasti. Tetapi, bagaimana perwudjudan kongkritnja, tidak dapat kita ketahui sekarang, sebab pada dewasa ini belum ada satu negeripun dimana sudah terdapat masjarakat Komunis. Dalam pada itu, ba- gaimanapun nantinja bentuk perwudjudan daripada hukum negasi daripada negasi itu, hukum ini pasti mengakibatkan kemadjuan dan bukan kemunduran perkembangan. Hukum dialektika ini mengadjarkan kepada kita bahwa dalam memandang dan mengubah (menjelesaikan) sesuatu masalah, di- samping kita harus mengenal setjara tepat tingkat2 perkembangan jang dialaminja, kita harus pula mengetahui dengan djelas faktor² negasi jang dikandungnja serta sjarat2 jang diperlukan uatuk terdjadinja negasi itu serta perkembangannja, dan dengan demikian baru kita bisa mengubah keadaan ketingkat perkembangan jang lebih tinggi. Misalnja, perkembangan masjarakat kita sekarang ini, didalamnja mengandung beberapa faktor negasi; jang mungkin menegasi atau mengubah masjarakat kita mendjadi: 1) masjarakat djadjahan dalam bentuk baru (neo-kolonialisme); 2) masjarakat kapitalis; dan 3) masjarakat peralihan jang menudju ke Sosialisme. Tetapi, penetapan Garis Besar Haluan Negara atau Manipol dan pelaksanaannja setjara konsekwen adalah djustru untuk mentjegah terdjadinja kemungkinan negasi jang 1) dan 2), jang kemungkin- annja dalam sjarat2 sedjarah dewasa ini memang ketjil, dan men- djamin perkembangan menurut negasi jang ke 3). Inilah keterang- an setjara filsafat mengapa kaum Komunis Indonesia menerima Manipol dan memperdjuangkan pelaksanaannja setjara konsekwen. Demikianlah pokok² pandangan materialisme dialektik.

  1. Materialisme Histori Materialisme histori adalah pentrapan materialisme dialektik didalam sedjarah dan kehidupan masjarakat. Dengan lahirnja materialisme histori ini terdjadilah suatu revolusi didalam pandangan sedjarah. Ia telah mendobrak pandangan sedjarah idealis jang hampir 2000 tahun lamanja menguasai alam fikiran manusia, dan menegakkan pandangan sedjarah jang ilmiah. Dan ini merupakan suatu tjiri jang penting jang membedakan materialisme Marx dengan materialisme2 sebelumnja, karena materialisme sebelum Marx
    tak dapat memegang teguh dan konsekwen pandangan materialis dalanı menghadapi masalah² sosial dan sedjarah. Lenin berkata : Penemuan konsepsi materialis tentang sedjarah, atau lebih tepat lagi, penerangan dan peluasan materialisme setjara konsekwen kedalam bidang gedjala2 sosial, telah mengatasi dua kelemahan pokok daripada teori² sedjarah dahulu. Pertama, mereka paling² hanja meneliti motif2 ideologis daripada aktivitet sedjarah manusia, tanpa menjelidiki apa jang melahirkan motif² itu, tanpa berpegang pada hukum2 objektif jang menguasai perkembangan sistim hubungan sosial, dan tanpa melihat akar2 daripada hubungan² itu pada tingkat perkembangan produksi materil; ke- dua, teori2 dahulu tidak meliputi aktivitet massa penduduk, sedang materialisme histori untuk pertama kalinja mempeladjari keadaan. sosial daripada kehidupan massa dan perubahan² didalamnja dengan ketepatan (keakuratan) ilmu-alam". 22) Dengan materialisme histori, Marx menundjukkan hukum² objektif perkembangan masjarakat, mendjelaskan setjara ilmiah sebab²nja kelahiran, perkembangan dan kehantjurannja sesuatu sistim masjarakat, Ia menjatakan bahwa pentjipta sedjarah adalah massa Rakjat pekerdja, bukan individu² istimewa, misalnja radja, pahlawan, dsb. Adjaran Marx tentang ekonomi politik dan tentang Sosialisme ilmiah, jang akan diuraikan kemudian, adalah djustru perwudjudan kongkrit daripada materialisme histori mengenai perkembangan masjarakat manusia pada tingkat tertentu kapitalisme. Oleh karenanja, disini. saja tak perlu mendjelaskan semua isi pokoknja. Jang hendak saja kemukakan dibagian ini hanja mengenai dua hal, jaitu : (A) tentang perdjuangan klas, dan (B) tentang pe- ranan massa Rakjat pekerdja dan individu didalam sedjarah.

(A) TENTANG PERDJUANGAN KLAS
Kini masih ada sadja sementara orang mengatakan bahwa mereka dapat menerima adjaran Marxisme, ketjuali adjarannja tentang perdjuangan klas. Pernjataan demikian ini sebenarnja merupakan suatu bentuk penolakan terhadap seluruh adjaran Marxisme. Sebab, adjaran Marx tentang perdjuangan klas adalah djiwa" daripada Marxisme. Perdjuangan klas adalah suatu proses perkembangan objektif daripada sedjarah sedjak masjarakat terbagi dalam klas² jang sa-

22)
W.I. Lenin, Karl Marx dalam Books for Socialism: The Three Sources And Three Component Parts Of Marxism, FLPH, bahasa Inggris, hlm. 28.

ling bertentangan kepentingannja. Timbulnja klas2 didalam masjarakat adalah akibat jang wadjar daripada kemadjuan tenaga produktif masjarakat pada tingkat perkembangan sedjarah tertentu peralihan dari masjarakat komune-primitif kemasjarakat pemilikan- budak, dimana manusia telah dapat menghasilkan hasil-lebih dari kerdjanja sendiri sehingga dengan demikian tertjiptalah sjarat² bagi segolongan orang untuk merampas dan memiliki hasil-lebih kerdja orang lain dengan melalui perampasan dan pemilikan atas alat² produksi. Oleh karena itu, timbulnja perdjuangan klas dalam sedjarah serta perkembangannja tak dapat dipisahkan dari timbul dan perkembangannja sistim hakmilik perseorangan atas alat² produksi. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan djuga, bahwa tudjuan perdjuangan klas, atau tudjuan revolusi sebagai bentuk ter- tinggi daripada perdjuangan klas, adalah untuk mengubah sistim hakmilik atas alat2 produksi, dan pada tingkat perkembangannja terachir dalam zaman kapitalisme, adalah untuk menghapuskan sistim hakmilik perseorangan atas alat² produksi dan mendjadikan alat2 produksi milik masjarakat. Dengan demikian mengachiri riwajat masjarakat berklas. Dengan ini djelaslah kiranja bahwa pandangan2 jang me- njangkal adjaran Marx tentang perdjuangan klas, atau usaha² revisionis jang hendak mengebiri adjaran Marx dengan membuang teori perdjuangan klasnja, adalah pandangan jang mewakili ke- pentingan klas bermilik, adalah tjara untuk ,melanggengkan" ada- nja klas2, untuk ,melanggengkan" penghisapan atas manusia oleh manusia (l'exploitation de l'homme par l'homme). Akan tetapi, perdjuangan klas pada tingkat perkembangan sedjarah tertentu, atau dalam masjarakat tertentu, mempunjai bentuk dan isinja jang tertentu pula, sesuai dengan tingkat perkembangan tenaga produktif masjarakat jang bersangkutan. Ini berarti bahwa perdjuangan klas jang bertudjuan untuk mengubah sistim hakmilik atas alat2 produksi itu tak dapat dilakukan menurut ke- inginan atau kemauan subjektif manusia sendiri. Suatu sistim hakmilik tertentu tumbuh diatas dasar tingkat perkembangan produksi kemasjarakatan tertentu. Oleh karenanja, garis strategi dan taktik perdjuangan klas jang berlaku dalam masjarakat tertentu harus bersesuaian dengan hukum² perkembangan produksi jang berlaku didalam masjarakat itu. Revolusi Indonesia pada tingkat melawan imperialisme dan feodalisme sekarang adalah suatu bentuk perdjuangan klas, perdjuangan antara kaum penindas dan penghisap, jaitu kaum imperialis dan kaum tuantanah feodal serta kakitangannja, dengan kaum tertindas dan terhisap, jaitu Rakjat Indonesia jang terdiri dari klas buruh, kaum tani, kaum burdjuis ketjil, kaum inteligensia, kaum

pengusaha nasional dsb. jang dirugikan oleh imperialisme dan feodalisme. Tudjuan perdjuangan klas ini, tudjuan revolusi tingkat sekarang ini, per-tama? bukanlah untuk menghapuskan hakmilik perseorangan kaum pengusaha nasional, kaum tani dan burdjuis ketjil kota, melainkan hakmilik perseorangan kaum imperialis dan kaum tuantanah feodal serta kakitangan²nja. Karena itulah kaum Komunis tidak dapat menjetudjui pandangan2 jang ingin pada waktu sekarang djuga menghapuskan hakmilik perseorangan kaum pengusaha nasional, kaum tani dan burdjuis ketjil, jang ingin se- kaligus melenjapkan segala bentuk hakmilik perseorangan jang ada sekarang dan menggantinja dengan hakmilik sosialis dengan djalan mensita atau menasionalisasi tanah dan alat? produksi lainnja milik kaum tani, burdjuasi ketjil dan pengusaha nasional. Kaum pengusaha nasional dan kaum produsen ketjil, termasuk kaum tani, pada tingkat perkembangan produksi masjarakat kita sekarang dan satu masa tertentu dikemudian hari masih dapat memainkan peranan jang progresif (atau positif). Fikiran2 jang ingin menghapuskan hakmilik perseorangan kaum tani, burdjuasi ketjil dan pengusaha nasional pada tingkat perdjuangan sekarang adalah fikiran avon- turis jang melemahkan konsentrasi kekuatan nasional dan oleh karena itu sangat membahajakan revolusi kita. Disamping itu kaum Komunis djuga tidak menjetudjui fikiran² jang mengatakan bahwa masjarakat sosialis Indonesia jang me- rupakan perspektif revolusi kita dikemudian hari bukan atau tidak sesuai dengan Sosialisme ilmiah Marx, karena, menurut interpre- tasinja, masjarakat sosialis Indonesia itu tidak menghapuskan hakmilik perseorangan atas alat2 produksi. Djika masjarakat sosialis Indonesia jang kita tjita2kan itu adalah masjarakat adil dan mak- mur, jang menghapuskan segala matjam bentuk sistim penghisapan dan penindasan, menghapuskan "l'exploitation de lhomme par l'homme", maka mau tidak mau harus menghapuskan segala matjam bentuk hakmilik perseorangan atas alat² produksi.

(B) TENTANG PERANAN MASSA RAKJAT PEKERDJA DAN INDIVIDU DIDALAM SEDJARAH Berlawanan dengan teori² sedjarah jang terdahulu, jang
umumnja berpendapat bahwa pentjipta sedjarah adalah radja, pahlawan2, pemimpin2, dsb., pendeknja individu² jang istimewa, maka materialisme histori Marx berpendapat bahwa pentjipta sedjarah jang sesungguhnja adalah massa Rakjat pekerdja. Sebab, tanpa aktivitet manusia memproduksi kebutuhan² ma- teriil masjarakat, masjarakat tak akan dapat berlangsung hidupnja, tak akan ada sedjarahnja. Sedangkan jang melakukan produksi

kebutuhan² materiil itu adalah massa Rakjat pekerdja. Oleh ka- renanja, perkembangan sedjarah masjarakat adalah perkembangan sedjarah produksi, adalah perkembangan sedjarah massa Rakjat pekerdja. Massa Rakjat pekerdja tidak hanja merupakan pentjipta kekajaan materiil masjarakat, tetapi djuga merupakan pentjipta kekajaan spirituil masjarakat. Sepandjang sedjarah masjarakat berklas, dimana massa Rakjat pekerdja merupakan golongan jang tertindas, pentjiptaan kekajaan spirituil memang tak mungkin dilakukan langsung oleh massa Rakjat pekerdja, melainkan setjara tidak langsung dengan melalui sardjana2, sastrawan² dan seniman² jang umumnja lahir dari kalangan klas penindas. Sebab, sardjana², sastrawan² dan seniman² itu mungkin melakukan aktivitet²nja serta memperoleh hasil² jang besar, karena segala kebutuhan materiil untuk hidupnja maupun untuk segala keperluan bagi pekerdjaannja telah ditjipta- kan oleh massa Rakjat pekerdja. Tanpa basis produksi materiil jang dilakukan oleh massa Rakjat pekerdja, pentjiptaan kekajaan spirituil apapun tak mungkin terdjadi. Selain itu, setiap pentjiptaan kekajaan spirituil, baik jang berupa penemuan² dibidang ilmu-alam ataupun ilmu-sosial, maupun karja2 sastra ataupun karja? kesenian, tak dapat dipisahkan dari pengalaman praktek produksi massa Rakjat pekerdja. Penemuan dalam pertanian tak terlepas dari pengalaman praktek produksi kaum tani, penemuan mesin² baru djuga berdasarkan pengalaman praktek kaum buruh. Begitupun karja2 dalam kesusasteraan dan kesenian, tak dapat dipisahkan dari ke- kehidupan massa Rakjat, dari pengakuan dan penghargaan massa Rakjat. Dengan pengakuan bahwa massa Rakjat pekerdja adalah pentjipta sedjarah, tidaklah berarti bahwa kaum Marxis meremeh- kan peranan individu atau pemimpin2 dalam sedjarah. Kaum Marxis mengakui bahwa peranan individu dalam sedjarah adalah penting, tetapi bukan jang menentukan. Sebab, pemimpin adalah sebagian dari massa, tak terpisahkan dari massa, dan ditentukan oleh massa. Pemimpin adalah bagian jang paling sedar, paling berpengalaman didalam gerakan massa, paling mendapatkan kepertjajaan dari massa. Dan djustru oleh karena itu, maka pemimpin tidak hanja mempunjai kemampuan untuk memetjahkan persoalan² jang diha- dapi oleh massanja, djuga untuk mengorganisasi dan memobilisasi segala kekuatan massa untuk merealisasi konsepsi djalan keluar dari segala kesulitan itu, untuk mentjapai tjita² massa. Pendeknja, pemimpin dilahirkan oleh gerakan massa, dan kepemimpinannja didasarkan pada kepentingan dan kekuatan massa. Oleh karena itu, adalah tepat kalau Bung Karno sebagai Presiden RI sering mengatakan bahwa tanpa Rakjat Indonesia, beliau sebagai individu

tak mempunjai arti apa², dan sebagai pemimpin Rakjat seseorang harus mendjadi penjambung lidah Rakjat". Tetapi, difihak lain, individu pemimpin djuga memainkan peranan aktif terhadap massanja, terhadap perkembangan gerakan massanja. Djika pemimpin itu salah bertindak, atau menjeleweng dari kepentingan dan tjita² massa, maka ia akan merugikan atau mengakibatkan kemunduran gerakan massa. Tentunja ini bersifat sementara, karena pemimpin sematjam ini akan dikoreksi atau disingkirkan oleh massanja sendiri. Sebaliknja, kalau pemimpin itu mempunjai ketjakapan jang besar dan mahir melakukan tugas kepemimpinannja, maka ia akan mendorong perkembangan gerakan massa dengan tjepat. Pendeknja, antara massa dengan pemimpinnja terdapat salinghubungan, saling mempengaruhi dan saling menentukan, ,,loro2ning atunggal", mempunjai hubungan dialektik. Kultus individu menandakan hubungan jang tidak sehat, tidak dialektis, antara massa dengan pemimpinnja. Pemimpin jang dipudja mendjadi mendjauhkan diri dari massa, sedang massa jang memudjanja tidak kritis terhadap pemimpinnja dan mematikan daja kreasinja sendiri, dengan demi- kian tiada hubungan ,,persatuan" dan ,,perdjuangan" antara massa dengan pemimpinnja, tiada hubungan dialektik. Lain halnja dengan martabat atau kewibawaan pemimpin dan ketjintaan massa terhadap pemimpinnja. Martabat atau kewibawaan pemimpin jang besar tidak ditegakkan dengan paksaan atau se- ngadja di-buat² dengan menggunakan segala aparat jang ada pada pemimpin itu. Walaupun djalan ini djuga bisa membuat seseorang mendjadi pemimpin, tetapi sifatnja sementara, tak tahan lama, karena kekuatan massa tak dapat ditaklukkan oleh kekuatan ke- kerasan apapun, ketadjaiman mata massa tak dapat disilaukan oleh segala matjam tipumuslihat, mereka pasti akan memberikan vonis kepadanja. Martabat atau kewibawaan pemimpin tak dapat dipisahkan dengan kepertjajaan dan ketjintaan massa jang wadjar kepadanja. Dan kepertjajaan dan ketjintaan massa itu tak dapat dibelí dengan uang atau emas, tak dapat dengan gertakan kekuatan sendjata, melainkan hanja dengan kesetiaan dan kepertjajaan pemimpin itu kepada massanja, disamping ketjakapan individunja dalam melak- sanakan tugasnja sebagai pemimpin. Dengan mengakui kebenaran, bahwa pentjipta sedjarah jang sesungguhnja adalah massa Rakjat pekerdja, tidaklah berarti bahwa massa Rakjat dapat membuat sedjarah sekehendaknja sendiri, melainkan hanja dengan menurut hukum² perkembangan sedjarah jang objektif. Mengenal peranan massa Rakjat pekerdja dan individu atau pemimpin dalam sedjarah serta hubungan dialektik antara massa

BAB ⅡI

EKONOMI POLITIK

dengan pemimpinnja adalah penting bagi kita semua, baik sebagai kader² organisasi massa, kader² partai ataupun kader² pemerintah-

an. Karena dengan demikian kita dapat menempatkan diri kita se- tjara tepat dalam hubungan dengan massa Rakjat, dan hanja dengan demikian kita dapat meningkatkan kemampuan dan martabat kita sebagai kader atau sebagai pemimpin. Demikianlah beberapa pokok masalah dalam materialisme histori. Adapun masalah² lainnja seperti tentang hubungan antara keadaan sosial dengan kesedaran sosial, hubungan antara tenaga produktif dengan hubungan produksi, hubungan antara dasar de-

ngan bangunan-atas masjarakat, dsb. akan saja bitjarakan dalam

bagian² tentang ekonomi politik dan tentang Sosialisme ilmiah. Dari uraian tentang filsafat Marxisme seperti diatas, maka djelaslah bahwa filsafat materialisme dialektik adalah hasil ter- tinggi dari perkembangan sedjarah filsafat, karena mendasarkan dirinja pada hasil² ilmu jang termadju disepandjang sedjarah umat- manusia. Disamping itu, ia djuga mempunjai tjiri jang menondjol.

jang membedakannja dari filsafat² lainnja. jaitu bahwa filsafat

materialisme dialektik tidak hanja mendjelaskan gedjala² alam, masjarakat dan fikiran, tetapi jang terpenting memberikan sendjata kepada manusia untuk mengubah keadaan dunia objektif, maupun dunia subjektif. Marx sendiri pernah mengatakan : ,Filsuf² telah menafsirkan dunia dalam berbagai tjara; tetapi soalnja jalah untuk

mengubah dunia".23) Djustru oleh karena itulah, oleh karena harus

mengubah dunia, maka Marx djuga pernah mengetengahkan, bahwa filsafat materialisme dialektik dan histori mendapatkan kekuatan materiil pada proletariat, dan proletariat mendapatkan sendjata moril pada filsafat materialisme dialektik dan histori.

Sebagaimana bagian² lain dari adjaran Marxisme, adjaran

ekonomi politik Marxis adalah berdasarkan hasil² ilmiah jang sudah ditjapai oleh ilmu ekonomi politik pada abad 18 dan 19, terutama adjaran Adam Smith dan David Ricardo. Tetapi adjaran ekonomi politik kedua órang Inggris ini adalah terbatas karena tidak bisa

melandjutkan analisa mereka keluar dari batas2 sistim ekonomi kapitalisme. Dalam karja utamanja Das Kapital, Marx menjingkapkan hukum² ekonomi jang menguasai perkembangan masjarakat kapitalis dan memperlihatkan keharusan masjarakat kapitalis itu di-

ganti dengan sistim masjarakat jang lebih madju, masjarakat so-

sialis. Adjaran ekonomi politik Marxis telah terbukti sebagai sendjata ilmiah jang ampuh untuk merombak semua susunan ekonomi jang berdasarkan penghisapan atas manusia oleh manusia, chusus- nja susunan ekonomi kapitalis. Dengan dibimbing oleh adjaran² ini, maka sudah ada sedjumlah negeri jang dengan sukses membangun

ekonomi sosialis, bebas dari "l'exploitation de l'homme par

l'homme". Dan tidak ada satu negeripun jang sudah membangun Sosialisme tanpa berpedoman pada adjaran ekonomi politik Marxis ini.

Dalam rangkaian tjeramah² ini akan kita bahas terlebih dulu

beberapa pengertian pokok dan umum dari adjaran ekonomi po-

litik Marxis, kemudian beberapa masalah chusus dari kapitalisme dan Sosialisme.

  1. Produksi Kekajaan Materiil Adalah Dasar Kehidupan (Existensi) Masjarakat Masalah jang sudah ber-abad² menjibukkan fikiran manusia jalah masalah tentang apa jang menentukan sifat suatu sistim masjarakat, bagaimana masjarakat manusia berkembang, apakah Rak-
    K. Marx, Tesisz Tentang Feuerbach, dalam Marx, Engels, Selected
    28) Works, Vol. II, FLPH, th. 1958, bahasa Inggris, hlm. 405.

jat jang, sudah turuntemurun hidup melarat dan sengsara dapat memperbaiki nasibnja, apakah kebebasan dan kemakmuran dapat ditjapai untuk semua manusia, ataukah hanja untuk golongan ketjil sadja, apakah miskin dan kaja itu takdir, ataukah dapat kemiskinan dilenjapkan. Semua masalah ini menjangkut kepentingan vital dari kehidupan manusia, sehingga tidak mengherankan bahwa banjak ahli-fikir berusaha memberi djawaban atas masalah² tersebut. Abad demi abad telah berlangsung dan bersamaan dengan itu bermatjam- matjam teori dan konsepsi telah terbantah samasekali, bukan sadja oleh kritik ahli2 fikir lainnja tapi djuga oleh kritik waktu, oleh seluruh perkembangan sedjarah itu sendiri. Memang, djalan untuk mentjapai pengetahuan mengenai sebab² perkembangan sedjarah masjarakat sangat sulit dan berliku- liku. Ini disebabkan karena, berbeda dengan peristiwa² dalam alam, peristiwa2 masjarakat lebih sukar diobservasi dan dianalisa. Di- samping itu, kekuatan² dalam alam bersifat spontan dan tidak ber- kenaan dengan seseorang, sedangkan dalam masjarakat kita meng- hadapi manusia² jang selalu mempunjai kemauan tertentu dan me- ngedjar tudjuan tertentu. Oleh sebab itu, mungkin orang mengira bahwa guna memahami perkembangan masjarakat manusia, tjukup- lah untuk menjelidiki motif² manusia ketika bertindak dan berbuat sesuatu. Tetapi ini tidak akan membawa manusia kepada pengertian jang sesungguhnja mengenai perkembangan masjarakat. Masalah- nja jalah : mengapa seseorang mempunjai motif tertentu dan orang lain mempunjai motif lain. Lagipula, matjam² orang mempunjai matjam² motif jang menggerakkan mereka. Tindakan² jang ber- dasarkan matjam² motifnja itu berbentrokan satu sama lain dan timbul peristiwa sedjarah. Tapi hasil peristiwa sedjarah itu bisa sangat berlainan daripada apa jang dikehendaki atau ditudju oleh orang2 tersebut. Misalnja, banjak orang jang turutserta melaksanakan Revolusi Agustus 1945 berfikir bahwa dengan lenjapnja pendjadjahan dan tertjapainja kemerdekaan, akan terbentuklah masjarakat jang adil dan makmur. Tapi hingga kini masjarakat itu belum tertjapai dan bagi banjak orang nasibnja masih sama kalau tidak bertambah buruk. Uraian ini menundjukkan bahwa dalam masjarakat terdapat suatu kontradiksi, jaitu kontradiksi antara kegiatan subjektif jang sedar dari masing2 orang disatu fihak, dengan perkembangan objektif jang ,,spontan" dari masjarakat sebagai keseluruhan difihak lain. Adanja kontradiksi ini sudah ditemukan dan diketahui sebelum Marx, tapi belum ada jang dapat mendjelaskannja setjara ilmiah. Karena tidak mampu mendjelaskan kontradiksi ini setjara tepat maka sebagian orang menganggap sedjarah hanja sebagai

kumpulan peristiwa2, jang kebetulan, sebagian jang lain jang per- tjaja akan adanja keharusan (Notwendigkeit) dalam peristiwa² sedjarah itu, tapi tak memahami apa jang menentukan keharusan itu, mendjadi penganut fatalisme, menjerah kepada takdir jang tak dapat dielakkan manusia. Timbulnja sistim masjarakat kapitalis menjingkapkan akar² ekonomi jang materiil dari perdjuangan klas, dan muntjulnja klas buruh diatas panggung sedjarah berarti muntjulnja klas jang per- tama dalam sedjarah jang mempunjai kepentingan langsung akan pendjelasan ilmiah terhadap perkembangan masjarakat. Maka ter- buka djalan untuk perubahan revolusioner dalam studi tentang masalah² masjarakat. Marxisme menundjukkan bahwa masjarakat berkembang bukan karena kekuatan² jang berada diluar masjarakat, tapi oleh kekuatan² didalam masjarakat itu sendiri, jaitu bahwa manusia adalah pembuat sedjarah mereka sendiri. Difihak lain Marxisme membuktikan bahwa manusia tidak membuat sedjarah mereka setjara sesukanja, tapi atas dasar sjarat² materiil objektif jang mereka warisi dari abad² jang silam. Diantara sjarat2 materiil masjarakat, produksi kekajaan materiil jang diperlukan bagi kehidupan manusia, merupakan sjarat jang menentukan. Sudah tentu, faktor² materiil lain seperti geografi, iklim, kepadatan penduduk dll. mempunjai pengaruh terhadap kehidupan masjarakat, tapi faktor² ini tidak dapat merupakan dasar dari proses perkembangan masjarakat itu. Berbagai sistim masjarakat bisa terdapat dalam ke- adaan geografi, iklim ataupun kepadatan penduduk jang sama. Tapi faktor jang primer bagi kelangsungan hidup setiap masjarakat jalah kegiatan bekerdja manusia untuk menghasilkan barang² keperluan hidupnja, artinja manusia harus berproduksi. Sebagai- mana dikatakan oleh Engels : ... manusia harus lebih dulu makan, minum, mempunjai perumahan dan pakaian sebelum dapat mengusahakan politik, ilmu, kesenian, agama, dls."24) Tanpa kegiatan berproduksi itu, setiap masjarakat akan binasa, betapa ting- gipun perkembangan intelektuil jang sudah ditjapai dalam masjarakat itu.

  1. Tenaga² Produktif Dan Hubungan² Produksi Masjarakat Proses produksi kekajaan materiil dalam masjarakat berpang- kal pada tiga faktor, jaitu : 1. kerdja manusia, 2. sasaran kerdja dan 3. alat kerdja.
    24)
    F. Engels, Pidato Didepan Makam Marx, dalam Marx, Engels, Selected Works, Vol. II, FLPH, bahasa Inggris, hlm. 167.

Kerdja adalah kegiatan bersengadja dari manusia jang dimak- sudkan untuk mengubah dan menjesuaikan benda2 alam sehingga dapat memenuhi kebutuhan2 manusia. Kerdja adalah keharusan alam, sjarat mutlak bagi kehidupan manusia. Tanpa kerdja tidak mungkin ada kehidupan manusia. Aktivitet kerdja inilah jang mem- bedakan manusia dari binatang, Binatang setjara pasif harus menjesuaikan diri dengan alam sekelilingnja, sedangkan manusia dengan perkakas2 jang dibuatnja dapat mempengaruhi serta mengubah alam sekelilingnja dan memperoleh bahan² jang diperlukannja. Sasaran kerdja (objek kerdja, Arbeitsgegenstand) adalah apa sadja jang dikenakan kerdja manusia. Sasaran kerdja mungkin se- suatu jang sudah terdapat dalam alam, misalnja, kaju jang ditebang dihutan atau bidjih jang digali dari dalam bumi. Sasaran kerdja jang sudah pernah dikenakan kerdja, seperti bidjih besi dalam pabrik pengolahan logam, kapas dalam pabrik pemintalan dsb. di- namakan bahan mentah atau bahan baku. Alat® kerdja (Arbeitsmittel) jalah segala benda jang diper- gunakan manusia sebagai alat untuk mengenakan kerdjanja pada sasaran kerdja dan mengubahnja. Dalam alat2 kerdja itu termasuk per-tama perkakas® produksi, selandjutnja djuga tanah, bangunan perusahaan, djalan2, terusan2, gudang2, dsb. Perkakas2 produksi (Produktionsinstrumente) memegang peranan jang menentukan diantara alat² kerdja itu. Ini meliputi ber-matjam² perkakas, jang dipakai manusia dalam kerdja, mulai dari perkakas² batu jang kasar dari manusia primitif sampai kepada mesin² modern. Berbagai tingkat sedjarah perkembangan masjarakat bukan dibedakan menurut barang? apa jang diproduksi, melainkan menurut bagaimana, dengan perkakas² produksi apa barang² itu diproduksi. Sasaran kerdja dan alat2 kerdja merupakan alat produksi (Produktionsmittel, means of production). Alat² produksi itu sen- diri, bila tidak disatukan dengan tenagakerdja, hanja merupakan setumpukan barang² mati. Untuk dapat memulai proses kerdja. tenagakerdja mesti menjatukan diri dengan perkakas2 produksi. Tenagakerdja jalah ketjakapan manusia bekerdja, jaitu keseluruhan kekuatan djasmani dan rochani manusia, dengan mana manusia tu dapat memproduksi barang² materiil. Alat² produksi, dengan per- tolongan mana barang2 materiil dihasilkan, dan manusia jang dengan ketjakapan tertentu menggerakkan alat-alat ini, merupakan tenaga produktif masjarakat. Rakjat pekerdja adalah tenaga produktif pokok masjarakat manusia pada semua tingkat perkembang- annja. Tenaga2 produktif mentjerminkan hubungan manusia terhadap benda² dan kekuatan² alam jang digunakan untuk memproduksi kekajaan materiil. Tetapi dalam produksi, manusia tidak hanja

mempengaruhi alam melainkan djuga mempengaruhi sesama ma- ausia. Mereka hanja berproduksi dengan bekerdjasama menurut tjara tertentu dan saling menukarkan kegiatan mereka, Untuk berproduksi, mereka memasuki perhubungan dan pertalian timbal-balik jang tertentu, dan hanja didalam perhubungan dan pertalian ke- masjarakatan inilah dilakukan pengaruh mereka atas alam, dilakukan produksi". 25) Perhubungan dan pertalian tertentu jang ter- bentuk antara manusia² dalam proses produksi kekajaan materiil merupakan hubungan² produksi. Hubungan² produksi meliputi: bentuk2 hakmilik atas alat² produksi; kedudukan klas², golongan² masjarakat dalam produksi dan hubungan² timbal-balik antara mereka; bentuk² distribusi dari hasil² produksi. Watak dari hubungan² produksi ditentukan per-tama² oleh soal milik siapakah alat2 produksi (tanah, hutan, perairan, bahan mentah, perkakas2 produksi, alat² perhubungan dll.). Milik orang- seorang, golongan2 masjarakat atau klas jang mempergunakan alat? produksi itu untuk menghisap Rakjat pekerdja ataukah milik masjarakat jang bertudjuan memenuhi kebutuhan2 materiil dan kulturil dari massa Rakjat. Misalnja, dinegeri kita terdapat djutaan kaum tani jang mampu bekerdja, djadi merupakan tenaga produktif jang besar. Tetapi banjak diantara mereka tidak dapat mempergunakan tenaganja, dan hidup sebagai setengah-penganggur, Sebabnja jalah karena alat produksi jang pokok, jaitu tanah, tidak mereka miliki. Djadi untuk dapat berproduksi, mereka harus mengadakan hubungan produksi tertentu dengan sipemilik tanah, jaitu hubungan ber- dasarkan penjewaan tanah dari tuantanah. Akibatnja jalah bahwa sebagian besar dari hasil panennja harus dibajarkan kepada tuantanah dalam bentuk sewatanah, sehingga sangat menekan daja- produksi tanipenjewa. Berkat" hakmiliknja atas tanah, maka tuantanah dapat memiliki sebagian dari hasilkerdja tani. Tjontoh lain, jalah apa jang selalu kita djumpai di-negeri² kapitalis. Ratusan ribu, bahkan djutaan buruh menganggur dalam keadaan tehnik sangat madju dan produktivitet kerdja sudah men- tjapai tingkat jang djauh lebih tinggi daripada dalam sistim² masjarakat pra-kapitalis. Tapi pabrik² jang dapat memberikan pe- kerdjaan kepada kaum buruh-penganggur itu malah ditutup atau bekerdja djauh dibawah kapasitet. Djadi, ada pekerdja jang tjukup. ada mesin²nja, ada bahan²nja, tapi produksi tidak djalan atau di- kurangi. Sebabnja hanja karena pekerdjanja bukan pemilik alat² produksi. Alat2 produksi bahkan dimiliki oleh orang2 jang sama- sekali tidak turutserta dalam proses produksi. Dengan demikian proses produksi hanja dapat berlangsung djika antara kaum buruh

25) K. Marx, Kerdja-upahan dan Kapital, Jajasan Pembaruan", hlm. 32.

revolusi² itu sebagai lokomotif² sedjarah jang menggerakkan masjarakat manusia madju. dengan kaum kapitalis (jaitu pemilik alat² produksi) terdjadi hubungan produksi tertentu berdasarkan pendjualan tenagakerdja oleh kaum buruh kepada kapitalis. Tudjuan proses produksi disini adalah untuk menghidupi dan memperkaja pemilik² alat² produksi. Lain keadaannja bila alat² produksi mendjadi milik masjarakat, sehingga kaum pekerdja tidak terpisah lagi dari alat² produksi- nja, Disini tidak mungkin lagi orang hidup dari kerdja orang lain dan kedudukan sosial semua anggota masjarakat mendjadi sede- radjat. Tjontoh² tersebut mendjelaskan bahwa peranan jang menentu- kan dalam sistim hubungan² produksi dimainkan oleh satu atau lain bentuk hakmilik atas alatº produksi. Tenaga² produktif dan hubungan² produksi masjarakat menjatakan dua segi dari produksi, jaitu segi tehnik dan segi kemasja- rakatan dari produksi. Ilmu ekonomi politik mempeladjari segi ke- masjarakatan daripada produksi, jaitu mempeladjari hubungan² produksi dalam pengaruhnja jang timbal-balik dengan tenaga² produktif. Tenaga2 produktif dan hubungan² produksi sebagai suatu kesatuan merupakan tjara produksi. Tenaga² produktif adalah unsur jang paling mobil dan revo- lusioner dalam produksi. Perkembangan produksi mulai dengan perubahan² dalam tenaga² produktif pertama-tama dengan perubahan² dan perkembangan perkakas2 produksi, dan kemudian perubahan² jang bersesuaian terdjadi djuga dilapangan hubungan² produksi. Sebaliknja pula, hubungan² produksi antara manusia mempengaruhi tenaga² produktif setjara aktif. Tenaga² produktif masjarakat hanja dapat berkembang dengan tiada rintangan, apabila hubungan² produksi sesuai dengan tingkat perkembangan tenaga² produktif. Pada tingkat tertentu dari perkembangan tenaga² produktif, bingkai hubungan² produksi jang ada itu mendjadi terlalu sempit baginja sehingga tenaga² produktif mendjadi bertentangan dengan hubungan² produksi jang lama. Pertentangan inilah jang mendjadi dasar ekonomi bagi revolusi sosial dalam masjarakat² berklas jang berdasarkan penghisapan atas manusia oleh manusia. Didalam másjarakat² sematjam itu bentrokan-bentrokan antara tenaga² produktif dengan hubungan² produksi dinjatakan dalam bentuk perdjuangan klas. Penghapusan hubungan² produksi jang lama terdjadi melalui pergolakan² besar, jaitu revolusi-revolusi. Tudjuan revolusi jalah melenjapkan pertentangan antara tenaga2 produktif jang baru dengan hubungan² produksi jang lama, dan membentuk hubungan produksi baru jang sesuai dengan tingkat perkembangan tenaga² produktif jang sudah di- tjapai. Dengan djalan revolusi² sosial ini masjarakat madju ke- tingkat perkembangan jang lebih tinggi. Maka, Marx menamakan

3.Hukum Ekonomi Umum Perkembangan Masjarakat. Keobjektifan Hukum² Ekonomi Pemahaman tentang salinghubungan dan salingpengaruh antara tenaga² produktif dengan hubungan² produksi memungkinkan kita mengerti setjara tepat sebab² jang melahirkan revolusi, tudjuan revolusi. djalannja untuk menjelesaikan revolusi dll, pendeknja soal2 pokok revolusi. Dengan demikian kita bisa menghindarkan diri dari penafsiran² jang subjektif tentang sebab² revolusi, tentang musuh² dan sahabat² revolusi, tentang tudjuan revolusi dan djalan penjelesaiannja. Misalnja, ,teori" jang banjak disebarkan kaum reaksioner jalah bahwa revolusi itu ditimbulkan oleh karena Rakjat dari negeri jang berevolusi hidup melarat dan sengsara atau djum- lah penduduknja terlalu padat. 'Kepalsuan ,teori" ini dengan mu- dah dapat dibuktikan oleh siapa sadja jang mau mempeladjari sedjarah. Revolusi2 telah timbul diberbagai negeri jang sangat ber- beda² tarafhidup Rakjatnja dan kepadatan penduduknja. Penger- tian tentang dasar ekonomi dari revolusi2 sosial djuga memungkinkan kita membedakan sebab² objektif dengan peristiwa² jang lang- sung mentjetuskan revolusi ("aanleiding". "occasion"). Misalnja. Revolusi Besar Perantjis tahun 1789 dimulai dengan penjerangan terhadap Bastille, tapi sebab objektif dari timbulnja Revolusi Perantjis itu bukan penjerangan terhadap Bastille, melainkan adanja pertentangan jang meruntjing antara hubungan² produksi feodal dengan tingkat perkembangan tenaga² produktif, jang menuntur dilenjapkannja hubungan² produksi feodal dan digantikannja dengan hubungan produksi jang baru — hubungan produksi kapitalis. Pertentangan ini menjatakan diri dalam pertentangan dan perdjuangan² klas, jaitu kaum tani, burdjuasi (kaum kapitalis) dan kaum buruh disatu fihak dengan kaum feodal difihak lain. Begitu pula Revolusi Agustus 1945 kita dimulai dengan Proklamasi Kemerdekaan, tapi sebab objektif dari revolusi kita bukan- lah proklamasi itu, melainkan penindasan kaum imperialis dan feodal terhadap Rakjat kita. Perlawanan Rakjat kita terhadap imperialisme dan feodalisme adalah perwudjudan dari pertentangan antara hubungan² produksi jang bersifat kolonial dan setengah-feodal dengan tingkat perkembangan tenaga² produktif dinegeri kita. Pertentangan ini hanja dapat diselesaikan djika hubungan produksi kolonial dan setengah-feodal itu dilenjapkan. Sjarat2 materiil bagi penggantian hubungan² produksi jang

lama oleh jang baru, lahir dan berkembang didalam pangkuan susunan lama. Karena itu hubungan® produksi jang lama tjepat atau lambat akan diganti oleh hubungan2 produksi jang baru, jang sesuai dengan tingkat perkembangan jang sudah tertjapai dan dengan watak tenaga2 produktif masjarakat. Hubungan² produksi jang baru ini memberikan keleluasaan lebih landjut bagi perkembangan tenaga2 produktif. Tertjapainja persesuaian antara hubungan-hubungan produksi jang baru dengan tingkat perkembangan tenaga² produktif berarti bahwa masjarakat manusia telah men- tjapai tingkat jang lebih madju dalam perkembangannja. Oleh karena itu, hukum ekonomi umum daripada perkembangan masjarakat adalah hukum penjesuaian hubungan² produksi dengan watak tenaga² produktif. Hukum ini berlaku untuk semua bentuk masjarakat. Disamping itu masing² bentuk masjarakat mempunjai hukum² ekonominja jang chusus. Hukum ekonomi adalah hakekat dari gedjala2 dan proses² ekonomi, adalah hubungan jang bersifat keharusan dan tetap, jaitu hubungan sebab-akibat jang terus berulang dan hubungan keter- gantungan satu sama lain jang terkandung pada gedjala² dan proses2 itu. Hukum² ini adalah objektif, jaitu hukum² itu timbul atas dasar sjarat² ekonomi tertentu terlepas dari kemauan manusia dan akan hilang kekuatannja dengan lenjapnja sjarat² ekonomi jang tertentu itu. Manusia tidak dapat sesukanja menghapuskan atau mentjiptakan hukum² ekonomi. Manusia hanja bisa mengenali hukum² ini dan menggunakannja untuk mengubah hubungan² ekonomi demi kepentingan² masjarakat. Tetapi dengan mempengaruhi ekonomi sesuai dengan hukum² jang sudah dikenal dan kebutuhan² perkembangan ekonomi jang sudah mematang, maka manusia meng- ambil bagian dalam melahirkan hubungan² ekonomi jang baru dengan hukum² baru jang ohas bagi hubungan² ekonomi itu. Oleh sebab itu Marxisme bertentangan dengan fatalisme, karena fatalisme menganggap manusia tidak berdaja terhadap kekuatan² dan hukum² jang berlaku dalam masjarakat.

  1. Dasar (basis) Dan Bangunan-Atas Tingkat perkembangan tenaga² produktif menentukan watak dari hubungan² produksi manusia, jaitu susunan-ekonomi masjarakat. Susunan ekonomi ini merupakan basis atau dasar diatas mana timbul ber-matjam² hubungan² sosial, pandangan² dan lembaga². Pandangan² kemasjarakatan (politik, juridis, filsafat, agama dll.), lembaga2 dan organisasi² (negara, geredja, partai² politik dll.) jang timbul diatas dasar jang tertentu itu, merupakan bangunan-atas masjarakat.
    Teori tentang dasar dan bangunan-atas mendjelaskan bagaimana dalam analisa terachir tjara produksi menentukan segala aspek dari kehidupan sosial dan memperlihatkan pertalian antara hubungan² sosial dan ekonomi dengan semua hubungan lainnja dari masjarakat jang tertentu. Dalam hal ini seringkali dituduhkan kepada Marxisme, bahwa Marxisme se-mata2 mempertimbangkan faktor ekonomi sadja dan mengabaikan samasekali peranan ide. Mereka katakan bahwa ke- lemahan Marxisme terletak pada faham determinisme ekonominja. Sesungguhnja tuduhan ini salah alamat, samasekali tidak tepat untuk ditudjukan kealamat Marxisme. Apa jang digambarkan sebagai ,,Marxisme" itu adalah Marxisme jang divulgerkan. Djika itu jang dinamakan Marxisme, maka Marx pernah berkata: ,Apa jang saja tahu, jalah bahwa saja bukan Marxis". 26) Kaum Marxis memang penganut determinisme, tapi bukan apa jang dinamakan determinisme ekonomi. Prinsip determinisme adalah pengakuan terhadap watak objektif dari hubungan universil, penentuan gedjala berdasarkan hubungan sebab-akibat, berlakunja keharusan dan keteraturan dalam alam dan masjarakat. Determinisme itu adalah prinsip dasar seluruh pemikiran ilmiah jang sedjati, karena hanja dengan mengetahui sebab² gedjala² maka asal-usulnja dapat didjelaskan setjara ilmiah, dan hanja dengan mengetahui hukum jang menguasai gedjala² itu maka perkembangannja lebih landjut dapat diramalkan. Mengenai masjarakat, sebagaimana sudah diterangkan diatas, Marxisme menganggap susunan~ekonomi sebagai unsur jang pada achirnja (ultimately) menentukan. Tapi ini tidak berarti bahwa menurut Marxisme, setiap ide atau lembaga dalam masjarakat setjara langsung dihasilkan oleh sesuatu keper- luan ekonomi tertentu. Masjarakat, sebagaimana segala hal-ichwal lainnja harus dipeladjari setjara kongkrit, dalam perkembangannja jang komplex dan jang senjata-njatanja. Maka pastilah bukan Marxisme, dan djuga bukan ilmu, djika kita dari perintjian sjarat² ekonomi tertentu mentjoba menjimpulkan bagaimana persisnja bentuk bangunan-atas jang timbul diatas dasar itu, atau menetap- kan setiap tjiri-detail bangunan-atas mempunjai tjiri jang berse- suaian dengannja didalam dasar. Sebaliknja, kita perlu mempe- ladjari bagaimana perkembangan bangunan-atas itu sesungguhnja dalam setiap masjarakat dan setiap zaman, dengan menjelidiki fakta² tentang masjarakat dan zaman itu. Engels pernah mendjelaskan tentang sebabnja timbul salah- tafsir terhadap Marxisme itu sebagai berikut: Marx dan saja,

26)
F. Engels, Surat Kepada C. Schmidt, 5 Agustus 1890, dalam Marx, Engels, Selected Works, Vol. II, FLPH 1958, bahasa Inggris hlm. 486.

kami sendiri, sebagian memikul kesalahan akan kenjataan bahwa penulis² muda kadang² memberi tekanan jang lebih besar pada segi ekonomi daripada jang seharusnja. Kami dulu perlu menekankan prinsip pokok ini dalam pertentangan dengan lawan² kami, jang menjangkal prinsip itu, dan kami tidak selalu mempunjai waktu, tempat atau kesempatan untuk memperkenankan unsur2 lain jang terlibat dalam interaksi itu menampakkan diri dengan semesti- nja (to come into their rights)". ,Tetapi", demikian Engels me- landjutkan .,bila mengenai hal menjadjikan suatu bagian dari sedjarah, jaitu hal pentrapan praktis, maka soalnja lain, dan disitu tidak mungkia terdjadi kesalahan". 27) Oleh sebab itu, walaupun bangunan-atas muntjul diatas dasar jang tertentu. ia aktif mempengaruhi kembali dasar, mempertjepat atau menghambat perkembangannja. Dengan perubahan dalam dasar ekonomi berubah pula bangunan-atasnja. Dalam mengkritik pemutarbalikkan Marxisme itu Engels me- nulis: ,Menurut faham materialis tentang sedjarah, unsur jang achirnja (ultimately) menentukan dalam sedjarah adalah produksi dan reproduksi kehidupan jang njata. Lebih daripada itu Marx dan saja tidak pernah menjatakan. Oleh sebab itu, djika ada orang memutarbalikkan ini dengan mengatakan bahwa unsur ekonomi adalah satu²nja unsur jang menentukan, maka ia mengubah dalil itu mendjadi kalimat tanpa-arti, abstrak dan tanpa-guna. Keadaan ekonomi adalah basis, tetapi berbagai unsur dari bangunan-atas: bentuk2 politik dari perdjuangan klas dan hasil²nja, jaitu : konstitusi² jang dibentuk oleh klas jang menang setelah pertem- puran jang sukses, dsb., bentuk2 juridis, dan bahkan pentjerminan semua perdjuangan jang njata ini didalam otak para pesertanja, teori² politik, juridis, filsafat, pandangan² keagamaan dan perkembangannja lebih landjut mendjadi sistim² dogma, djuga melakukan pengaruhnja terhadap djalannja perdjuangan² historis dan dalam banjak kedjadian lebih besar pengaruhnja (preponderate) dalam menentukan bentuknja". 28) Dan lagi Engels menekankan : ,,sekali suatu unsur historis dilahirkan oleh unsur² lain. pada achirnja (ultimately) oleh fakta² ekonomi, maka unsur itu djuga bertindak (react) dan dapat bertindak terhadap keadaan sekelilingnja dan bahkan terhadap sebab² jang melahirkan unsur itu sendiri". 29) Demikianlah beberapa soal jang perlu diperhatikan untuk mentjegah pemahaman Marxisme setjara terlalu sederhana (sim-

27) F. Engels, Surat Kepada J. Bloch, 21 September 1890, dalam Marx, Engels, Selected Works, Vol. II, FLPH, bahasa Inggris, hlm. 490.
28) Idem, hlm. 488.
29) F. Engels, Surat Kepada F. Mehring, 14 Djuli 1893, dalam Marx, Engels, Selected Works, Vol. II, FLPH, bahasa Inggris, him. 499.

plistis). Sebagaimana diperingatkan oleh Engels : Sajang,.

terlalu sering terdjadi bahwa orang mengira mereka sudah sepenuhnja memahami suatu teori baru dan dapat mentrapkannja tanpa banjak ribut sedjak dari saat mereka menguasai prinsip²nja jang pokok, dan bahkan itupun tidak selalu mereka kuasai setjara tepat". 30)

5.Watak Klas Dari Adjaran Ekonomi Marxis Terhadap Marxisme kerapkali dinjatakan keberatan bahwa adjaran²nja selalu memihak, sehingga ,bersifat beratsebelah dan tidak mungkin objektif", demikian kata lawan² Marxisme. Lenin pernah berkata : ,Penjelidikan tenhadap hubungan- hubungan produksi didalam suatu masjarakat jang tertentu menurut sedjarah, dalam kelahirannja, perkembangannja dan kerun- tuhannja demikianlah isi dari adjaran ekonomi Marx". 31) Djadi, adjaran ekonomi Marxis harus mempeladjari hukum² ekonomi jang berlaku didalam masjarakat jang diselidikinja. Diatas sudah di- terangkan bahwa hukum² ekonomi ini merupakan hukum² objektif dan dalam hal ini sepenuhnja sama dengan hukum² objektif jang berlaku dalam alam. Tetapi, berbeda dengan hukum² alam, hukum² ekonomi berlaku didalam masjarakat dan langsung mengenai ke- pentingan² manusia, golongan2 manusia atau klas2. Ada klas² jang diuntungkan oleh berlakunja suatu hukum ekonomi tertentu, ada jang dirugikan oleh hukum itu, Oleh sebab itu timbul sikap jang ber-beda² dari berbagai klas itu terhadap hukum tersebut. Mereka jang diuntungkan berkepentingan akan segera terlaksananja hukum itu, berusaha mengenalnja dan menggunakannja, Sedangkan klas jang dirugikan berusaha se-kuat²nja melawan hukum itu, berusaha menutupinja atau memutarbalikkannja. Misalnja, hukum bahwa feodalisme pada tingkat perkembangannja jang tertentu harus di- ganti oleh kapitalisme, dipergunakan oleh klas burdjuis dengan melaksanakan revolusi burdjuis anti-feodal, sebagaimana antara lain terdjadi di Perantjis (1789). Difihak lain, kaum bangsawan feodal melakukan segala daja~upaja untuk menggagalkan revolusi itu dan merebut kembali kekuasaan negara. Begitu djuga di Indonesia, kita sendiri berpengalaman bagai- mana kaum pendjadjah dengan sardjana²nja, betapa ,,ilmiah"pun dasar pendidikannja, tidak dapat atau tidak mau mengenal hukum
30)Idem, hlm. 27.
31)W.I. Lenin, The Three Sources And Three Component Parts of Marxism, Books For Socialism, FLPH, hlm. 31.

jang objektif bahwa pendjadjahan melahirkan perlawanan Rakjat jang menentang pendjadjahan dan berdjuang untuk kemerdekaan nasional, dan bahwa kemerdekaan nasional adalah sesuatu jang tak-terelakkan. Oleh sebab itu timbul ber-matjam² ,teori" jang dalam bentuk kasarnja terang2an menjatakan keunggulan (supe- rioritet) bangsa pendjadjah atas bangsa jang didjadjah, dan dalam bentuk ,halus"nja menggambarkan pendjadjahan sebagai pelaksa- naan ,,kewadjiban sutji" bangsa2 madju untuk membantu bangsa² ,terbelakang". Betapa djauhnja ,,teori" sematjam itu dapat me- niangkal kenjataan² dan meninggalkan sifat ilmiahnja, dapat kita lihat dari .,teori" prof. Reesing (jaag belum lama berselang di- bantah oleh prof. Dr. Sutjipto) jang dengan tak kenal-malu menjatakan bahwa Indonesia tidak pernah didjadjah Belanda. Se- baliknja, bagi Rakjat Indonesia adalah mudah untuk mengenal hukum objektif mengenai perdjuangan kemerdekaan nasional, dan Rakiat berkepentingan untuk mengenal hukum itu se-dalam²nja untuk dapat mengetahui perwudjudan² kongkrit dari pelaksanaaa- n'a. Teori² revolusioner telah membantu mendjelaskan hukum itu. Demikianlah, kita melihat bahwa kepentingan jang bertentang- an dengan suatu hukum objektif membuat klas itu ,,buta" terhadap hukum itu, sedangkan kepentingan janq sesuai membuat klas itu melek" terhadap hukum itu. Oleh sebab itu, suatu ilmu sosial, ter- masuk ilmu ekonomi politik, dapat bersifat sungguh² ilmiah dan objektif bukannja dengan ,berdiri diatas klas2", ,,tidak memihak kesini, tidak memihak kesana", tapi djustru dengan setjara teguh memihak pendirian klas jang madju, klas jang kepentingannja se- peauhnja sesuai dengan hukum² perkembangan sedjarah. Klas sematjam itu, ialah klas buruh, karena klas buruh timbul dalam sistim masjarakat kapitalis, sistim masjarakat terachir jang berdasarkan penghisapan atas manusia oleh manusia. Klas buruh hanja mungkin sampai kepada tudiuan perdjuangannja, jaitu pembebasan dirinja dari penghisapan, djika sistim kapitalisme hapus samasekali. Pada zaman kita sekarang ini sudah djelas, bahwa perkembangan masjarakat manusia diseluruh dunia jang menudiu terben- tuknja masiarakat tanpa penghisapan atas manusia oleh manusia merupakan hukum perkembangan jang obiektif. Dengan membebas- kan diri dari kapitalisme, klas buruh akan menamatkan riwajat segala bentuk penghisapan, maka dengan sendirinja ia merupakan satu2nja klas jang kepentinqannia sepenuhnja sesuai dengan hukum perkembangan tersebut. Oleh sebab itu, Marxisme dengan adjaran ekonominja jang mendasarkan diri pada pendirian klas buruh. djustru merupakan adjaran jang ilmiah dan objektif karena ia ber- fihak pada sesuatu jang sedang berdjuang untuk suatu perspektif jang objektif, jaitu masjarakat tanpa penghisapan atas manusia

oleh manusia, Sedjarah gerakan buruh sedunia dan djuga gerakan

kemerdekaan nasional kita sendiri membuktikan bahwa setiap orang

jang dengan djudjur menginginkan serta memperdjuangkan pembebasan manusia dari segala matjam penindasan, dapat memahami Marxisme dan mempergunakannja bagi kemadjuan masjarakat nanusia. Sekianlah, beberapa pengertian pokok dan umum mengenai adjaran ekonomi politik Marxis.

  1. Tingkat² Perkembangan Masjarakat Menurut kenjataan sedjarah masjarakat manusia, maka dapat kita simpulkan bahwa masjarakat manusia telah mengalami berbagaı tingkat perkembangan. Kita dapat membedakannja dalam lima matjam tjara produksi jang mewakili lima tipe pokok susunan atau sistim masjarakat. Lima sistim masjarakat itu jalah : sistim komune-primitif, pemilikan-budak, feodalisme, kapitalisme dan Sosialisme. Sistim² masjarakat tersebut dalam perwudjudannja diberbagai negeri sudah barang tentu mempunjai kechususan²nja tersendiri, tetapi masing2 sistim masjarakat mempunjai sifat2-dasar jang chas, jang sama disemua negeri dan jang per-tama² ditentukan oleh watak dari hubungan² produksi dalam masjarakat itu. Sistim komune-primitif (Urkomunismus, Urgemeinschaft) adalah sistim masjarakat sebelum masjarakat terbagi dalam klas². Sistim pemilikan-budak, feodalisme dan kapitalisme merupakan berbagai bentuk masjarakat jang sudah terpetjah dalam klas2, jang berdasarkan hakmilik perseorangan atas alat2 produksi, berdasarkan pem- budakan dan penghisapan Rakjat pekerdja. Sosialisme adalah sistim masjarakat jang berdasarkan hakmilik kemasjarakatan atas alat² produksi, masjarakat jang bebas dari penghisapan atas manusia oleh manusia. Lebih landjut dapat kita djelaskan sifat² terpenting dari masing-masing sistim masjarakat tersebut sebagai berikut.
    (A) SISTIM KOMUNE-PRIMITIF
    Pada zaman purba, ratusan ribu tahun jang lalu, perkakas² produksi masih sangat sederhana dan kasar, masih primitif. Pada waktu itu belum dikenal perunggu dan besi, perkakas² masih di- buat dari batu. Dengan perkakas² batu jang kasar ini manusia memburu, menangkap ikan dan hidup sangat sederhana. Untuk melindungi diri terhadap binatang² buas dan untuk tidak mati ke- laparan, mereka harus hidup ber-sama², dalam kelompok², jaitu

komune², Memburu, menangkap ikan dan usaha2 lainnja untuk memelihara hidup mereka, semuanja dilakukan bersama, maka hasil²nja djuga mereka bagi bersama. Perkakas2 produksi jang penting untuk kehidupan komune² itu bukan milik perseorangan, melainkan milik bersama, milik komune. Oleh sebab itu dalam masjarakat komune-primitif ini tidak ada orang kaja, tidak ada orang miskin, tidak ada orang jang menghisap orang lain, pendek- nja masjarakat belum terbagi dalam klas² jang bermusuhan. Pengalaman manusia dalam produksi makin bertambah dan bersamaan dengan itu perkakas² produksi dan tjara² bekerdja makin disempurnakan. Orang mulai mengenal logam dan beladjar membuat perkakas2 dari logam : tembaga, perunggu dan kemudian besi. Zaman beralih dari zaman perkakas batu kezaman perkakas besi. Manusia madju dari kehidupan jang berdasarkan pemburuan kepemeliharaan ternak dan bertjotjok-tanam. Dengan begitu mulai timbul pembagian kerdja kemasjarakatan jang pertama, jaitu ada komune² jang terutama mengusahakan peternakan dan komune-lain jang mengusahakan pertanian. Mereka mulai menukarkan baranghasil² mereka diantara mereka sendiri. Perbaikan dan ke- madjuan perkakas² produksi itu menjebabkan produktivitet kerdja naik : manusia dapat menghasilkan barang² lebih banjak daripada jang diperlukan langsung untuk hidup. Manusia merasa tidak ada kebutuhan lagi untuk bekerdja ber-sama², karena dapat hidup darı kerdjanja sendiri2, Ketua² komune, jang dalam pertukaran barang² bertindak sebagai wakil komune, muiai menganggap milk bersama komune sebagai miliknja sendiri. Dengan demikian timbullah hakmilik perseorangan atas alat² produksi. Ada anggota² komune jang dengan berdasarkan hakmilik perseorangan terseout mulai memilikı hasil² dari kerdja anggota² lain, artinja timbul penghisapan. Djadi, penghisapan atas manusia oleh manusia timbul atas dasar peningkatan tenaga² produktif, pembagian kerdja kemasjarakatan dan hakmilik perseorangan atas alat² produksi. Hal ini tak dapat dielakkan pada waktu itu karena ,tjorak primitif dari pro-
duksi kolektif atau koperatif ini...... merupakan akibat dari
kelemahan individu dan bukan akibat dari pemasjarakatan alat² produksi". 32) Masjarakat terbagi dalam klas kaum penindas atau penghisap dan klas kaum tertindas atau terhisap. Kepentingan klas ini tidak dapat didamaikan. Kaum tertindas tidak mau terus-menerus mem- banting tulang untuk memperkaja kaum penindas, sedangkan mereka sendiri terus hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan.

32) K. Marx, Rantjangan Surat kepada Vera Zasulitsj.
Pada fihak lain, kaum penindas dan penghisap berusaha keras untuk memperkuat dan mengabadikan kekuasaan mereka dan mem- perkeras penghisapan mereka atas Rakjat jang tertindas. Timbulnja masjarakat jang ber-klas² menandakan hantjurnja masjarakat komune-primitif dan terdjadilah perdjuangan klas jang sengit an- tara klas penindas dengan klas tertindas. Šedjak saat itu sedjarah dari semua masjarakat jang ada hingga. sekarang ini adalah sedjarah perdjuangan klas". 33) Perdjuangan klas mendjadi kekuatan pokok jang mendorong perkembangan masjarakat. Terbaginia masjarakat dalam klas2 itu mengakibatkan timbul-
nja negara. Dalam masjarakat primitif ....... masih belum tam-
pak tanda2 adanja negara. Kita menemukan betapa besarnja kekuasaan adat-istiadat, otoritet, penghargaan, kekuasaan jang ber- ada dalam tangan pengetua² clan; kita menemukan kekuasaan ini kadang² diberikan kepada wanita — kedudukan wanita pada waktu itu tidak serupa dengan keadaan wanita dewasa ini, jaitu terendah dan tertindas'— tetapi dimanapun djuga kita tidak dapat menemukan suatu golongan orang² jang chusus, jang dipisahkan untuk memerintah orang² lain dan, untuk kepentingan dan tudjuan memerintah, setjara sistimatis dan terus-menerus menggunakan suatu

aparat pemaksa tertentu..34). Tetapi susunan politik dari

masjarakat primitif sematjam itu tidak mungkin bertahan dalam masjarakat jang terbagi oleh perdjuangan klase jang kepentingan² nja tidak dapat didamąikan. Timbulnja negara merupakan keper- luan objektif, Negara ,bukanlah suatu kekuasaan jang dipaksakan kepada masjarakat dari luar; .. ia adalah hasil dari masjarakat pada suatu tingkat perkembangan iang tertentu, ia adalah pengakuan bahwa masjarakat ini telah terlibat dalam suatu kontra- diksi jang takterpetjahkan dengan dirinja sendiri, bahwa ia ter- belah mendjadi antagonisme2 tak terdamaikan jang tak mampu dienjahkan olehnja". 35) Alat2 negara jang terpenting jalah ten- tara, polisi, pengadilan, pendjara dan alat² pemaksa lainnja. Klas² jang berkuasa menggunakan negara ini dengan alat²nja untuk mempertahankan susunan masjarakat jang memperkokoh kedudukan mereka.

33) K. Marx dan F. Engels, Manifes Partai Komunis, penerbitan Jajasan Pembaruan", tjetakan ke-III, 1959, hlm. 49.
34) W.I. Lenin, Negara, Jajasan ,,Pembaruan", hlm. 10-11.
35) F. Engels, Asal-usul Keluarga, Hakmilik perseorangan dan Negara, Marx, Engels, Selected Works, penerbitan FLPH, Moskow 1955, Vol. II bahasa Inggris, hlm. 317-318.

(B) SISTIM PEMILIKAN-BUDAK
Masjarakat berklas jang pertama, jang berdasarkan penghisapan atas manusia oleh manusia adalah masjarakat pemilikan-budak. Dalam masjarakat pemilikan-budak terdapat dua klas pokok jang saling bermusuhan, jaitu tuanbudak dan budak. Budak dimiliki sepenuhnja oleh tuanbudak. Ia tidak lebih dari sebuah barang jang dapat diperdjual-belikan dan bahkan dibunuh menurut ke- hendak tuannja. Produksi didalam masjarakat pemilikan-budak didasarkan atas kerdja kaum budak. Tuanbudak dapat hidup me- wah dan mempunjai waktu jang tjukup untuk urusan² negara, ke- budajaan dan kesenian. Dengan demikian terdjadi perpisahan dan pertentangan antara kerdja badan dengan kerdja otak jang terus terdapat dalam semua masjarakat berklas. Kerdia badan dipandang hina dan hanja patut untuk Rakjat pekerdja, sedangkan kerdja otak mendjadi hak eksklusif dari klas2 jang berpunja. Sistim pemilikan-budak ini adalah bentuk penghisapan terang- terangan jang paling kasar. Kaum budak tidak pernah rela mene- rima kedudukan mereka. Sepandjang sedjarah masjarakat pemilikan-budak timbul pemberontakan² budak jang besar. Pemberontakan-pemberontakan inilah jang menggontjangkan kekuasaan tuanbudak dan achirnja menjebabkan sistim pemilikan-budak diganti oleh sistim masjarakat jang lain. Tetapi kaum budak sendiri belum dapat menghapuskan sistim penghisapan atas manusia oleh manusia.

(C) SISTIM FEODAL
Masiarakat baru jang mengqantikan masjarakat pemilikan. budak jalah masjarakat feodal. Masjarakat feodal terbagi dalam dua klas pokok : klas tuantanah dan kaum tani. Tuantanah² me- miliki alat produksi terpokok pada waktu itu, jaitu tanah, maka untuk dapat hidup kaum tani harus menjewa tanah dari tuantanah. Tani tidak merupakan milik sepenuhnja dari tuantanah, ia mempunjai usaha tanahnia sendiri, maka ia bisa lebih mempunjai ke- mauan untuk bekerdja daripada budak. Tetapi tani harus mem- bajar sewatanah jang berat kepada tuantanah. karena itu bagian terbesar dari waktunja tidak digunakan buat bekerdja untuk dirinja sendiri melainkan untuk tuantanah. Djadi masih tetap berlaku penindasan klas, dan kedudukan tani sering tidak banjak berbeda dari kedudukan budak. Sepandjang zaman feodal kaum tani ber- djuang melawan tuantanah, kian lama perdjuangan ini kian ber- tambah meruntjing. Dalam sedjarah tiap² negeri terdjadi pemberontakan~pemberontakan tani dan ada jang berlangsung hingga

puluhan tahun. Pemberontakan² tani inilah jang melemahkan dasar² feodalisme dan achirnja mengakibatkan keruntuhan feodalisme itu. Tetapi kaum tani belum bisa mentjapai kebebasan dari penghisapan. Hasil perdjuangan revolusioner kaum tani dimiliki oleh klas burdjuis jang tumbuh pada achir masjarakat feodal. Revolusi burdjuis menjingkirkan sistim feodal dan menegakkan kekuasaan kapitalisme.

(D) SISTIM KAPITALIS
Dibawah kapitalisme masjarakat terbagi dalam klas kapitalis atau burdjuasi dan klas buruh atau proletariat. Buruh bukan milik si kapitalis; buruh tidak dapat dibeli atau didjual. Ia nampaknja bebas, tetapi ia tidak mempunjai alat² produksi samasekali sehingga terpaksa mendjual tenagakerdjanja kepada pemilik alat² produksi, jaitu si kapitalis pemilik pabrik2 dan perusahaan² lain, dan ia harus bekerdja membanting tulang supaja tidak mati kelaparan. Suatu grup ketjil kaum penghisap mendapat laba besar, sedangkan massa pekerdja makin lama makin banjak menderita kesengsaraan dan kemelaratan. Djadi, penghisapan atas Rakjat pekerdja masih tetap berlangsung, walaupun bentuknja sudah berubah. Dibawah sistim kapitalis produktivitet kerdja sangat diper- tinggi dan produksi mentjapai perluasan jang belum pernah terdjadi sebelumnja. Pabrik dan perusahaan2 besar diperlengkapi dengan mesin² dan mempekerdjakan ribuan buruh. Pekerdjaan tiap² perusahaan, tiap² tjabang industri dan pertanian tidak dapat di- pisahkan dari pekerdjaan perusahaan² dan tjabang² lain. Djika penggalian minjakbumi atau batubara terhenti, maka ratusan perusahaan lain tidak bisa bekerdja lagi; djika bahan² mentah tidak datang pada waktunja, maka pabrik² tekstil, sepatu dll. terpaksa berhenti bekerdja. Didalam kapitalisme barang² hasil industri adalah hasil kerdja masjarakat dan bukan hasil kerdja orang seorang. Umpamanja, sepatu buatan pabrik bukanlah hanja hasil kerdja dari buruh² jang ber-matjam² keahliannja didalam pabrik sepatu itu, tetapi djuga hasil kerdja dari buruh jang membuat mesin² dan bahan² mentah jang diperlukan untuk pembuatan sepatu itu. Maka dalam keadaan² jang demikian ini, alat2 produksi dan djuga barang² jang dihasil- kan semestinja mendjadi milik masjarakat. Tetapi dalam masjarakat kapitalis, alat² produksi seperti perusahaan², pabrik2, tanah, dan djuga barang² jang dihasilkannja bukan mendjadi milik masjarakat melainkan milik perseorangan, milik kaum kapitalis. Kaum kapitalis tidak memperdulikan kepentingan² masjarakat. Mereka memproduksi dan mendjual barang²nja hanja untuk men-

dapat laba. Untuk memperbesar labanja mereka memperluas produksi dan djuga memperkeras penghisapan atas kaum buruh dengan mendjalankan prinsip : djam kerdja jang lebih lama dengan upah jang lebih rendah. Akibatnja, barang² jang dihasilkan oleh pabrik2 kapitalis itu djauh lebih banjak daripada jang mampu di- beli oleh pemakai pokok, jaitu massa Rakjat, sehingga menimbul- kan krisis2 ekonomi kelebihan-produksi (overproduksi). Untuk mempertahankan harga² jang tinggi, kaum kapitalis menghantjur- kan barang² mereka dan untuk sementara menghentikan produksi serta memetjat buruh²nja setjara besar²an. Maka keadaan men- djadi makin tak tertahankan : ribuan Rakjat menderita kelaparan, sedangkan kaum kapitalis membakar atau membuang kelaut barang-barang setjara besar-besaran. Djadi, hakmilik perseorangan setjara kapitalis atas alat² produksi ini mengakibatkan penghantjuran kekajaan materiil jang sudah dihasilkan dan menjebabkan Rakjat pekerdja menderita karena pengangguran dan upah jang rendah. Pertentangan antara watak kemasjarakatan daripada proses produksi dengan pemilikan perseorangan setjara kapitalis atas alat² produksi dan hasil produksi itu merupakan pertentangan dasar dari tjara produksi kapitalis. Pertentangan ini tidak bisa didamaikan dan satu²nja djalan keluar dari keadaan ini jalah digantinja hakmilik perseorangan setjara kapitalís atas alat² produksi dengan hakmilik kemasjarakatan, artinja: beralih dari sistim kapitalis kesistim sosialis. Inilah jang dilaksanakan dengan revolusi sosialis.

(E) SISTIM SOSIALIS
Didalam masjarakat sosialis alat² produksi dimiliki bersama oleh masjarakat. Karena itu didalam masjarakat sosialis tidak mungkin lagi ada orang² atau golongan² jang dapat menggunakan alat² produksi itu untuk menghisap kerdja orang lain. Hanja orang jang bekerdja berhak makan. Oleh sebab itu sistim sosialis telah melenjapkan segala sistim dan bentuk penindasan dan penghisapan atas manusia oleh manusia. Tudjuan produksi dalam masjarakat sosialis jalah untuk men- djamin dipenuhinja setjara maksimum kebutuhan materiil dan kul- turil jang semakin meningkat dari Rakjat pekerdja. Tudjuan ini dapat ditjapai dengan djalan terus-menerus meningkatkan dan menjempurnakan produksi sosialis diatas dasar teknik jang se- tinggi²nja. Pembagian hasil² produksi dalam masjarakat sosialis dilaksanakan menurut prinsip : Setiap orang bekerdja menurut kesang- gupannja, setiap orang menerima menurut hasil kerdjanja. Masja-

rakat sosialis adalah tingkat pertama, tingkat rendah dari masjarakat Komunis. Dengan semakin madjunja tenaga² produktif dan teknik produksi, masjarakat akan ber-angsur² beralih ketingkat jang lebih tinggi, jaitu masjarakat Komunis. Pada tingkat itu hasil² produksi sudah melimpahruah dan pembagiannja dapat dilaksanakan menurut prinsip : Setiap orang bekerdja menurut kesanggupan- nja, setiap orang menerima menurut kebutuhannja. * Uraian jang singkat ini tentang berbagai tingkat perkembangan masjarakat memperlihatkan bahwa perpindahan dari tingkat jang satu ketingkat jang lain berarti kemadjuan lebih landjut dari masjarakat manusia. Dalam arti ini dapat kita katakan bahwa masjarakat pemilikan-budak adalah lebih madju daripada masjarakat komune-primitif, masjarakat feodal lebih madju daripada masjarakat pemilikan-budak, masjarakat kapitalis lebih madju daripada masjarakat feodal, dan bahwa masjarakat sosialis adalah susunan masjarakat jang paling madju pada dewasa ini. Djika kita memeriksa keadaan masjarakat berbagai negeri didunia ini, kita dapat mengkonstatasi ketidaksamaan tingkat perkembangan masjarakat diberbagai negeri itu. Walaupun dalam garis besarnja pada waktu sekarang hanja terdapat dua matjam sistim ekonomi- dunia, jaitu kapitalisme dan Sosíalisme, tapi diber-bagai² negeri masih terdapat sisa² jang kuat dari susunan² masjarakat pra- kapitalis. Dari segi ini negeri² tersebut merupakan negeri² jang terbelakang. Seringkali kita djumpai orang² jang tidak suka meng- akui hal ini, karena pengakuan itu dianggapnja sama dengan pengakuan bahwa Rakjat jang tinggal di-negeri² itu adalah lebih terbelakang setjara antropologi-biologis daripada Rakjat di-negeri² jangsusunan masjarakatnja lebih madju. Djadi, seakan-akan Rakjat di-negeri² terbelakang merupakan manusia-asor dan Rakjat di-negeri2 madju merupakan manusia-unggul. Sesungguhnja fikiran sematjam ini samasekali tidak beralasan. Setjara biologis, antro- pologis, semua manusia didunia ini termasuk dalam satu djenis Homo Sapiens, sedangkan ketinggalan dalam perkembangan susunan kemasjarakatan selalu mempunjai sebab² jang riil didalam masjarakat manusia itu sendiri. Umpamanja, keterbelakangan masjarakat kita dengan djelas mempunjai akarnja didalam pendjadjahan Belanda jang didjalankannja setjara kedjam, sehingga peng- hapusan segala sisa2 pendjadjahan itu membuka djalan jang njata untuk memadjukan masjarakat kita dan mengedjar ketinggalan itu. Oleh sebab itu sikap kita tidak seharusnja menutup-nutupi keterbelakangan kita dalam sistim masjarakat kita, tapi djustru mentjari akar dari keterbelakangan itu dan mengubahnja supaja masjarakat

kita dapat lebih tjepat madju menurut arah perkembangan masjarakat manusia.

  1. Barangdagangan dan Uang Karena sistim ekonomi adalah dasar diatas mana berdiri bangunan-atas politik, maka Marx mentjurahkan perhatiannja jang terbesar pada studi tentang sistim ekonomi. Sebagaimana dikata- kan oleh Marx dalam kata-pendahuluannja pada karjanja jang terbesar, Kapital, ,tudjuan terachir dari karja ini jalah untuk menjingkapkan hukum ekonomi dari gerak masjarakat modern", jaitu masjarakat kapitalis. Tjara produksi kapitalis jang timbul sebagai pengganti dari tjara produksi feodal, didasarkan pada penghisapan atas klas buruh-upahan oleh klas kapitalis. Untuk memahami hakekat dari tjara produksi kapitalis orang harus mengingat, pertama-tama dan terutama, bahwa dasar daripada sistim kapitalis jalah produksi barangdagangan (commodity); dibawah kapitalisme segala sesuatu mengambil bentuk barangdagangan dan prinsip membeli dan mendjual berlaku dimana-mana. Marx menulis : Kekajaan dari masjarakat² dimana berlaku tjara produksi kapitalis menjatakan dirinja sebagai 'setumpukan besar barangdagangan', jang satuan- nja adalah suatu barangdagangan tunggal". 36) Barangdagangan dan produksi barangdagangan sudah ada djauh sebelum timbul kapitalisme, jaitu sudah ada ribuan tahun jang lalu. Tapi dalam kapitalisme produksi barangdagangan men- djadi berkuasa dan universil. Pertukaran barangdagangan merupakan ,hubungan jang paling biasa, fundamentil, paling umum dan bersifat sehari-hari dari masjarakat burdjuis (barangdagangan),
    hubungan jang ditemukan biliunan kali ...." 37)
    Walaupun barangdagangan itu merupakan sesuatu jang sangat biasa dan setiap orang pernah membeli atau mendjual barangdagangan, tapi djarang jang dapat menjelami lebih dalam hakekat jang tersembunji dibelakang pertukaran barangdagangan itu. Marx- lah jang setjara mendalam menganalisa gedjala jang sangat se- derhana ini dan ,menjingkapkan semua kontradiksi (atau benih² semua kontradiksi) masjarakat modern". 38)

Oleh karena itu, untuk memahami masjarakat kapitalis, me-

mahami gedjala² ekonomi dalam masjarakat kapitalis penjelidikan kita harus dimulai dengan menganalisa barangdagangan". 39) Dalam analisa itu Marx menjempurnakan dan mengembangkan setjara konsekwen teori nilai kerdja jang dasar²nja sudah diletakkan oleh Adam Smith dan David Ricardo. Sebagaimana sudah diterangkan dimuka, kerdja manusia jang menghasilkan kekajaan materiil merupakan dasar bagi kelang- sungan kehidupan masjarakat, baik pada masa masjarakat primitif maupun pada masjarakat modern sekarang. Tanpa kerdja kekajaan materiil masjarakat tidak mungkin bertambah. Tapi tidak sedjak semula barang² hasil kerdja manusia itu merupakan barangdagangan. Dalam susunan ekonomi alamiah (natural economy) orang berproduksi bukan untuk pertukaran, tapi untuk konsumsi sendiri. Umpamanja, dalam ekonomi feodal, sebagian dari hasil kerdja kaum tani dimiliki langsung oleh tuantanah tanpa pertukaran, se- dangkan sebagian lagi adalah untuk konsumsi tani sendiri. Lain halnja dalam ekonomi barangdagangan. Produksi dan ekonomi barangdagangan terdjadi dengan adanja pembagian kerdja kemasjarakatan dan hakmilik perseorangan atas alat² produksi. Barangdagangan adalah barang, jang pertama, memenuhi suatu kebutuhan manusia, dan kedua, dihasilkan bukan untuk konsumsi sendiri akan tetapi untuk didjual. Kegunaan sesuatu barang, sifat²nja jang dapat memenuhi suatu kebutuhan manusia, membikin barang itu mempunjai suatu nilai-pakai (Gebrauchswert, use-value).Nilai-pakai itu dapat langsung memenuhi sesuatu kebutuhan orang seseorang. ataupun dapat merupakan alat produksi untuk membuat barang² materil. Dalam perkembangan masjarakat, manusia terus-menerus mene- mukan sifat² kegunaan jang baru pada barang² dan kemungkinan² baru bagi penggunaannja. Dengan demikian djumlah nilai-pakai terus bertambah. Nilai-pakai merupakan isi materiil dari kekajaan, apapun bentuk sosialnja. Djadi, baik dalam ekonomi alamiah maupun dalam ekonomi barangdagangan, kekajaan materiil masjarakat selalu terdiri dari nilaipakai². Disamping mempunjai sifat untuk memenuhi suatu kebutuhan, jaitu nilaí-pakai, barangdagangan dju- ga mempunjai suatu sifat lain, jaitu ia dapat dipertukarkan dengan barang (nilai-pakai) lain. Sifat ini dinamakan nilai-tukar. Nilai-tukar dinjatakan dalam perbandingan kwantitatif dari nilai-pakai djenis jang satu dengan nilai-pakai djenis jang lain. Djadi, barangdagangan disatu fihak mempunjai nilai-pakai, difihak lain mempunjai nilai-tukar. Nilai-pakai dan nilai-tukar merupakan dua

39) Idem, hlm. 36.
36) K. Marx, Capital, Vol. I, penerbit FLPH Moskow, 1958, hlm. 35.
37)W.I. Lenin, Tentang Dialektika, Pustaka Ketjil Marxis, penerbitan Jajasan Pembaruan", 1959, hlm. 7.
38) Idem, hlm. 37.

unsur dari barangdagangan, jang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Nilai-pakai adalah pembawa (Träger, depository) nilai-tukar, dan nilai-tukar menjandarkan dirinja pada nilai-pakai, dan me- nampakkan diri dalam djumlah nilai-pakai barangdagangan lainnja, pada tindak pertukaran. Pengalaman se-hari² menundjukkan kepada kita bahwa ber-djuta² matjam pertukaran jang berlangsung itu senantiasa mempersamakan satu matjam nilai-pakai dengan matjam² nilai-pakai lainnja. Apa jang mendjadi dasar persamaan bagi pertukaran² itu? Dasar ini tidak mungkin salahsatu sifat alamiah dari barangdagangan, seperti beratnja, ukurannja, bentuk- nja dls. Sebab setiap pertukaran mesti terdjadi antara dua matjam barangdagangan jang berbeda nilai-pakainja, sebab kalau sama nilai-pakainja tidak ada gunanja pertukaran. Perbedaan nilai-pakai merupakan sjarat mutlak dalam pertukaran. Oleh sebab itu nilai-pakai bukan dasar persamaan melainkan dasar perbedaan dalam pertukaran. Praktek penghidupan se-hari² djuga membuktikan bahwa nilai-pakai tidak dapat menentukan besar-ketjilnja nilai-tukar. Misalnja, besi mempunjai lapangan penggunaan jang djauh lebih banjak daripada emas, sehingga dari sudut ini besi dapat dikatakan lebih berguna bagi manusia. Tapi nilai-tukar besi adalah djauh lebih rendah daripada emas. Lagi- pula, sesungguhnja nilai-pakai besi dan nilai-pakai emas tidak dapat diperbandingkan karena kegunaannja memang lain2. Djadi, apa jang merupakan persamaan dalam barangdagangan² jang dipertukarkan? Semua barangdagangan mempunjai satu sifat sama jang memungkinkan barangdagangan² itu dibandingkan dan dipersamakan satu sama lain dalam pertukaran, jaitu semuanja adalah hasil kerdja. Dasar persamaan dua barangdagangan jang ditukarkan'satu sama lain adalah kerdja kemasjarakatan jang di- perlukan untuk memproduksinja. Dengan perkataan lain, djumlah kerdja manusia jang terkandung didalam barangdagangan merupakan faktor iang menentukan besar atau ketiilnia nilai-tukar barangdagangan. Kalau emas lebih mahal daripada besi, maka ini bukan- lah karena sifat alamiahnja, bukan karena kilauan keemasannja, melainkan karena djumlah kerdja manusia jang terkandung dalam emas itu lebih banjak daripada jang terkandung dalam besi. Dengan demikian djelaslah. bahwa nilai-tukar tak lain daripada bentuk pernjataan dari nilai barangdagangan jang dibentuk oleh kerdia manusia jang terwudjud dalam barangdagangan. Kerdia ini adalah kerdja abstrak. Dengan pengertian kerdja abstrak Marx mengintroduksikan suatu kategori baru dalam ilmu ekonomi politik. Semua ahli-ekonomi sebelum Marx, a.1. Adam Smith dan David Ricardo, hanja bitjara tentang kerdja" ketika mendjawab masalah tentang apa jang menentukan nilai. Tapi penjederhanaan

ini menjebabkan tidak difahaminja produksi barangdagangan dan nilai sebagai fenomen² (gedjala²) historis, jaitu bahwa produksi barangdagangan dan nilai itu baru timbul pada tingkat perkem- bangan sedjarah jang tertentu. Dengan demikian timbul kesan se-akan2 setiap barang dalam keadaan apapun mempunjai nilai, karena dibuat dengan kerdja. Marx membuka kekeliruan djalan fikiran ini. Ia menundjukkan bahwa bukan sadja barangdagangan mempunjai watak-rangkap, jaitu disatu fihak nilai-pakai dan difihak lain nilai-tukar atau nilai, tapi djuga kerdja jang membuat barangdagangan itu adalah berwatak-rangkap. Djenis kerdja adalah sama aneka-ragamnja seperti nilai²-pakai jang dihasilkannja. Kerdja tukang-kaju setjara kwalitatif berbeda dengan kerdja tukang-djahit, tukang-sepatu dsb. Kerdja itu berbeda dalam tudjuan, tjara, alat² dan sudah tentu, hasil²nja. Maka dalam setiap nilai-pakai terkandung djenis kerdja tertentu: dalam sebuah medja (kerdja tukang-kaju), dalam sepasang pakaian (kerdja tukang-djahit), dalam sepasang sepatu (kerdja tukang-sepatu) dsb. Kerdja jang ditjurahkan dalam bentuk tertentu adalah kerdja kongkrit. Kerdja kongkrit menghasilkan nilai-pakai barangdagangan. Bersamaan dengan itu, produsen² barangdagangan tersebut telah melakukan kerdja jang merupakan pemakaian produktif dari otak manusia, urat-sjaraf, dsb., dan dalam artian ini telah melakukan kerdja manusia jang seragam, kerdja pada umumnja. Kerdja daripada produsen² barangdagangan, dipandang sebagai pemakaian tenagakerdja manusia pada umumnja, tanpa memperhatikan bentuk koagkritnja, adalah kerdja abstrak. Kerdja abstrak membentuk nilai dari barangdagangan. Kerdja abstrak dan kerdja kongkrit adalah dua segi dari kerdja jang terwudjud dalam barangdagangan. Disatu fihak, segala kerdja, bitjara setjara fisiologis, adalah pemakaian tenagakerdja manusia, dan dalam wataknja sebagai kerdja manusia abstrak jang identik, ia mentjiptakan dan membentuk nilai barangdagangan². Difihak lain, segala kerdja adalah pemakaian tenagakerdja manusia dalam bentuk chusus dan dengan tudjuan tertentu, dan dalam hal ini, dalam wataknja sebagai kerdja berguna jang kongkrit, ia menghasilkan nilai2-pakai". 40) Kerdja abstrak bukan hanja suatu kategori fisiologis, melainkan djuga kategori kemasjarakatan. Produsen barangdagangan, sebagai pemilik perseorangan atas alat² produksinja, mula2 melakukan kerdja kongkrit untuk membuat baranghasilnja, misalnja medja. Kerdja ini adalah kerdja perseorangannja, sebab kerdja ini dilakukan lepas dari masjarakat. Tapi berdasarkan pembagian

40) K. Marx, Capital, Vol. I, penerbitan FLPH, hlm. 46.

kerdja kemasjarakatan, baranghasil siprodusen itu adalah untuk dipertukarkan, maka kerdja dia adalah sekaligus kerdja kemasjarakatan, jaitu sebagian dari seluruh djumlah kerdja masjarakat. Ini menentukan bahwa dia harus menukarkan baranghasil²nja dengan baranghasil² lain. Dan supaja dapat terus berdiri sebagai produsen barangdagangan, ia harus mendapatkan kembali dari pertukaran sedjumiah kerdja sebanjak jang ia tjurahkan dalam membuat baranghasilnja. Untuk dapat mempersamakan djumlah kerdja jang terkandung dalam matjam² barang jang dihasilkan oleh kerdja kongkrit jang ber-matjam², maka bentuk kongkrit dari kerdja harus ditinggalkan dan kerdja hanja dipandang sebagai pe- makaian tenagakerdja manusia pada umumnja. Oieh sebab itu, dalam sjarat² produksi perseorangan, kerdja kemasjarakatan bersifat kerdja abstrak. Djadi kerdja abstrak adalah kerdja kemasjarakatan jang dilakukan oleh produsen² barangdagangan perseorangan. Dalam kerdja abstrak itu terwudjud hubungan² kemasjarakatan diantara produsen² barangdagangan perseorangan. Maka Marx menamakan nilai sebagai hubungan kemasjarakatan, hubungan antara produsen² (orang²) tapi jang tersembunji dibelakang hubungan antara barang². Watak kemasjarakatan dari nilai djuga nampak dalam pe- nentuan besarnja nilai. Besarnja nilai sesuatu barangdagangan ditentukan oleh waktu-kerdja. Semakin banjak waktu-kerdja jang diperlukan untuk memproduksi sesuatu barangdagangan, semakin tinggi nilainja. Apakah ini berarti bahwa semakin malas pekerdja, maka semakin tinggi nilai barangdagangan jang diproduksinja? Tidak, bukan demikian artinja. Besarnja nilai sesuatu barangdagangan ditentukan bukan oleh waktu-kerdja individuil jang di- tjurahkan untuk memproduksi sesuatu barangdagangan, akan tetapi oleh waktu kerdja-perlu-sosial (gesellschaftlich notwendige Ar- beitszeit, socially necessary labour time). Waktu kerdja-perlu-sosial adalah waktu jang diperlukan untuk pembuatan sesuatu barangdagangan dalam sjarat² produksi kemasjarakatan jang rata², jaitu dengan tingkat teknik rata², ketjakapan rata² dan intensitet kerdja rata². Oleh sebab itu nilai bukan sifat materiil melainkan sifat kemasjarakatan dari barangdagangan. Tetapi nilai barangdagangan tidak dapat dilihat pada barangdagangan itu sendiri. Nilai itu hanja dapat menampakkan diri melalui perbandingan barangdagangan itu dengan barangdagangan² lainnja, dalam proses pertukaran, jaitu nilai-tukar atau bentuk-nilai (form of value).

Marx menundjukkan bahwa bersamaan dengan produksi

barangdagangan bentuk-nilai atau nilai-tukar itu djuga berkembang dan sebagai hasil dari perkembangan itu timbullah bentuk-

uang sebagai pernjataan nilai. Dengan menganalisa perkembangan bentuk-nilai, Marx dapat mendjelaskan hakekat dan fungsi2 daripada uang: Bentuk-nilai jang paling sederhana jalah dinjatakannja nilai sesuatu barangdagangan dengan barangdagangan lain, umpamanja: 1 kapak = 20 kg. padi Disini nilai kapak dinjatakan dengan padi. Padi berlaku sebagai tjermin-nilai, sebagai alat untuk menjatakan nilai dari kapak. Atas pertanjaan : berapa nilai satu kapak? maka djawabnja jalah : 20 kg. padi. Barangdagangan jang menjatakan nilainja dalam barangdagangan jang lain (dalam tjontoh diatas : kapak) berada dalam bentuk-nilai nisbi (relative form of value) dan barangdagangan jang nilai-pakainja dipakai untuk menjatakan nilai barangdagangan jang lain (dalam tjontoh diatas : padi) berada dalam bentuk tara daripada nilai (equivalent form of value). Padi adalah tara (equivalent) dari barangdagangan lain, jaitu kapak. ,,Setiap barangdagangan terpaksa untuk memilih beberapa barangdagangan lain sebagai taranja, dan untuk menerima nilai-pakai, artinja bentuk badaniah dari barangdagangan lain itu sebagai bentuk dari nilainja sendiri". 41) Persamaan tersebut diatas bukan sadja setjara teoritis tapi djuga setjara historis adalah jang paling sederhana dan paling primitif. Bentuk-nilai sederhana itu terdjadi pada waktu pertukaran belum teratur dan bersifat kebetulan. Dalam setiap tindak pertukaran pada tingkat perkembangan waktu itu harus ditemukan pernjataan nilai jang baru. Ketika pembagian kerdja kemasjarakatan dan. bersamaan dengan itu, produksi barangdagangan berkembang, ketika sudah mendjadi biasa untuk mempertukarkan baranghasil jang satu dengan baranghasil jang lain, maka manusia sudah mengenal lebih banjak djenis barangdagangan jang dapat menjatakan nilai dari baranghasil² mereka. Umpamanja: = 40 kilogrampadi, átau = 20 meter kain, atau 1 ekor domba = 2 kapak, atau 二 3 gram emas, dsb. Marx menamakan persamaan ini bentuk-nilai keseluruhan atau diperluas (totale oder entfaltete Wertform, total or expanded form of value). Dalam hal ini nilai barangdagangan dinjatakan dalam nilai-pakai bukan dari satu barangdagangan akan tetapi dari se-

41) K. Marx, Capital, Vol. I, FLPH 1958, hlm. 56.

djumlah barangdagangan, jang semuanja dapat mendjadi tara (equivalent). Pada tingkat perkembangan produksi barangdagangan jang lebih tinggi, maka achirnja setiap barangdagangan dapat dinjatakan nilainja dalam djumlah tertentu dari satu matjam barangdagangan jang umum diterima. Pertukaran langsung suatu barangdagangan dengan barangdagangan lain menimbulkan kesulitan, karena pendjual kapak misalnja tidak memerlukan padi tapi kain. Disini nampak pertentangan dari produksi barangdagangan, pertentangan mana terwudjud dalam hal bahwa para produsen ke- tika membuat baranghasil²nja melakukan kerdja perseorangan jang sekaligus adalah kerdja kemasjarakatan, jaitu kerdja untuk masjarakat. Maka terdjadi tara umum. 三 40 kilogram padi atau 20 meter kain 工 atau 1 ekor domba = 2 kapak atau = 3 gram emas, dsb. Dalam bentuk-nilai umum ini (allgemeine Wertform, general form of value) domba berfungsi sebagai tara umum (allgemeines Aquivalent, universal equivalent). Tetapi barangdagangan jang berfungsi sebagai tara umum belum tetap, masih ber-beda² diber- bagai tempat dan pada waktu jang berlainan. Achirnja terbentuk tara umum jang tidak lagi berubah menurut waktu dan tempat. Terdjadilah bentuk-uang sebagai hasil tertinggi dari perkembangan bentuk²-nilai. Karena sifat²nja jang paling se- suai, maka logam² mulia (emas dan perak) dapat mendjalankan tugas kemasjarakatan sebagai tara umum. Emas dapat mendjadi uang, karena emas itu sendiri barangdagangan dan mempunjai nilai sebagaimana setiap barangdagangan lainnja. Marx menundjukkan bahwa fungsi terpenting dari uan ialah sebagai ukuran nilai (Masz der Werte, measure of value). Tetapi bersamaan dengan itu, karena sekarang nilai setiap barangdagangan dapat dinjatakan dengan uang, uang itu mendjadi ukuran harga. Maka harga adalah tidak lain daripada nilai barangdagangan jang dinjatakan dengan uang. Melalui perkembangan bentuk²-nilai Marx telah menundjukkan bahwa uang terdjadi setjara historis sebagai hasil proses perluasan ekonomi barangdagangan. Uang adalah kristal jang terbentuk akibat keharusan dari proses pertukaran2, dimana ber-bagai² baranghasil kerdja setjara praktis dipersamakan satu sama lain

dan dengan demikian oleh praktek diubah mendjadi barangdagangan. Kemadjuan sedjarah dan perluasan pertukaran mengembang- kan kontrast, jang latent didalam barangdagangan, antara nilai-pakai dengan nilai. Keharusan untuk memberikan pernjataan extern kepada kontrast ini untuk tudjuan pergaulan komersiil, men- dorong kepada terbentuknja bentuk-nilai jang berdiri-sendiri, dan tidak berhenti sampai achirnja ia mendapat kepuasan dengan diferensiasi barangdagangan² mendjadi barangdagangan dan uang". 42) Marx djuga membantah pendapat jang salah dari ahli² ekonomi burdjuis jang menjatakan, seakan-akan uang itu suatu penemuaa genial jang mempermudah pertukaran. Pendapat jang hanja melihat uang sebagai alat penukar dan tidak memahaminja sebagai barangdagangan jang achirnja memisahkan diri dari barangdagangan lainnja sebagai tara umum, masih sering kita djum- pai. Misalnja, kerapkali disebut tjontoh Robinson Crusoe jang ter- dampar disuatu pulau. Dipulau itu Robinson lebih menghargai sebilah pisau daripada setumpuk emas. Ini dipakai sebagai bukti bahwa uang hanja berguna sebagai alat penukar. Baik kita periksa pokok fikiran iní. Pertama, uang adalah hasil dari suatu proses sosial. Untuk mendjelaskan pengertian uang dengan suatu tjontoh peristiwa jang hipotetis dan lepas dari masjarakat, merupakan usaha jang sangat dangkal. Kedua, bagi Robinson dipulau jang terpentjil itu pisau dan emas merupakan dua matjam nilai-pakai dan tidak ada masalah nilai, karena nilai adalah hanja suatu kategori dalam ekonomi barangdagangan. Ketiga, djika Robinson tidak berada dipulau jang terpentjil itu, tapi di-tengah² masjarakat Inggris jang kapitalis, ia akan melihat pada sebilah pisau dan setumpuk emas itu bukan sebagai dua matjam nilai-pakai, tapi sebagai dua djumlah (magnitudes) nilai dan mendapatkan bahwa nilai setumpuk emas djauh lebih besar daripada nilai sebilah pisau. Dan nilai emas di-tengah² pasar Inggris jang ramai itu sembarang waktu dapat berubah bentuk materiilnja mendjadi makanan, pakaian, baranghiasan dls. Djadi soalnja bukan bahwa emas disuatu pulau terpentjil mendjadi ku- rang berharga daripada dimasjarakat Inggris; nilai-pakainja tetap sama tidak berubah. Tapi soalnja jalah bahwa dipulau terpentjil itu emas bukan barangdagangan, hanja nilai-pakai sadja, sedang- kan dalam masjarakat Inggris emas adalah barangdagangan dan lagi barangdagangan jang berfungsi sebagai tara umum. Fungsi- nja sebagai alat penukar atau alat peredaran diakibatkan oleh

42) K. Marx, Capital, Vol. I, FLPH 1959, hlm. 86-87.

fungsinja sebagai ukuran nilai, diakibatkan oleh kenjataan bahwa barangdagangan hanja dapat menjatakan nilainja dengan barangdagangan lain. Djadi bukan sebaliknja, bahwa ,nilai" emas diakibatkan oleh fungsinja sebagai alat penukar. Walaupun pada waktu sekarang tidak ada satu negeripun jang masih menggunakan uang emas, dan hanja uang kertas jang beredar, tapi adjaran Marx tentang asal-usul dan hakekat uang masih tetap berlaku. Uang kertas sendiri tidak mempunjai nilai, ia hanja mewakili sedjumlah nilai. Tapi di-negeri² kapitalis uang itu se-akan² telah lepas samasekali dari barangdagangan, ia mengalami existensinja sendiri, bahkan mendapatkan kekuasaan jang luarbiasa atas manusia. Padahal uang adalah hasil dari hubungan² kemasjarakatan tertentu antara produsen² barangdagangan.

  1. Kapital dan Nilai-lebih Ekonomi politik Marxis tidak hanja mengatasi keterbatasan ekonomi klasik burdjuis dalam teori nilainja dan teori uangnja. Baik Adam Smith maupun David Ricardo terbentur pada djalan buntu ketika hendak mendjelaskan hubungan antara kapital dengan kerdja dan tentang asal-usul nilai-lebih. Dalam suratnja kepada seorang ahli-ekonomi Inggris J. R. Mc. Culloch (1789-1864), Ricardo menulis: ,Saja tidak puas dengan pendjelasan saja me- ngenai azas jang menguasai nilai. Saja harap akan ada seorang manusia jang lebih tjakap daripada saja, jang dapat menjelesaikan- nja". Dan ternjata Karl Marx-lah, bersama dengan Friedrich Engels, jang beberapa puluh tahun sesudah wafatnja Ricardo dapat memberikan penjelesaiannja. Sebabnja jalah karena Marx dan Engels dapat menembus keterbatasan pendirian klas burdjuis jang menganggap kapitalisme sebagai susunan ekonomi jang tertinggi, terachir dan abadi. Dengan menempatkan diri pada pendirian klas jang sedang tumbuh dan madju, jaitu klas proletar, Marx dan Engels dapat mengupas sifat historis dari kategori² ekonomi dari kapitalisme dan melahirkan ekonomi politik jang bukan sadja mengatasi keterbatasan ekonomi klasik burdjuis tapi djuga mendjadi sendjata untuk mengatasi kapitalisme itu sendiri. Dan jang telah menjingkapkan ,,rahasia" penghisapan kapitalis jalah teori nilai-lebih dari Marx dan Engels. Oleh karena itu, Lenin menama- kan adjaran tentang nilai-lebih sebagai batu-alas dari teori ekonomi Marx. Untuk mendjelaskan pokok² dari teori nilai-lebih ini kita mulai dengan sedikit pendjelasan tentang kapital.
    Pada tingkat tertentu dari perkembangan produksi barangdagangan, uang berubah mendjadi kapital. Uang itu sendiri (an sich) bukan kapital. Misalnja, bagi produsen2 ketjil barangdagangan jang hidup dari pendjualan baranghasil² mereka, uang berperanan sebagai alat peredaran dan bukan sebagai kapital. Rumus peredaran barangdagangan jalah B U B (Barangdagangan Uang Barangdagangan), jaitu mendjual barangdagangan guna membeli barangdagangan jang lain. Ini berarti nilai-pakai jang satu ditukar dengan nilai-pakai jang lain. Djadi tudjuan dari proses peredaran adalah nilai-pakai. Tapi uang mendjadi kapital bila dipergunakan untuk meng- hisap kerdja orang lain. Rumus umum kapital jalah U — B — U, jaitu membeli guna mendjual (dengan untung). Disini awal dan achir proses adalah sama: uang (nilai). Oleh sebab itu gerak kapital ini tak akan ada artinja djika djumlah uang pada achir proses masih tetap sama dengan djumlah uang pada awalnja. Seluruh arti dari aktivitet kapitalis terletak dalam hal bahwa sebagai akibat operasi itu ia mempunjai lebih banjak uang daripada jang dimiliki- nja pada permulaan. Djadi, tudjuan proses peredaran disini jalah bertambahnja nilai. Maka rumus umum kapital dalam bentuk leng- kapnja adalah U — B ~ U' (U' = U + u). Apakah sumber pertambahan kapital ini? Pertambahan ini tidak dapat timbul dari peredaran barangdagangan, sebab itu hanja pertukaran barang2 jang senilai, Pertambahan itu djuga tidak dapat terdjadi dari kenaikan harga, sebab untung jang diperdapat sebagai pendjual akan hilang sebagai kerugian jang diderita sebagai pembeli. Sedangkan jang kita persoalkan bukan gedjala individuil, tapi gedjala sosial, rata2 dan massal. Dalam kenjataan jaag sesungguhnja, pertambahan kapital diperoleh oleh seluruh klas kapitalis. Teranglah, pemilik uang, untuk mendjadi seorang kapitalis, harus mendapatkan dipasar suatu barangdagangan jang bila dipergunakan (dikonsumsikan) dapat mentjiptakan nilai jang lebih besar daripada nilai barang itu sendiri. Dengan perkataan lain, pemilik uang harus ,,mendapatkan dipasar suatu barangdagangan jang nilai-pakainja memiliki sifat chas sebagai sumber nilai". 48) Dan memang ada barangdagangan sematjam itu, jaitu tenagakerdja manusia. Dengan menundjukkan bahwa buruh mendjual kepada kaum kapitalis bukan kerdja melainkan tenagakerdja, Marx telah memetjahkan masalah jang menjebabkan ekonomi politik klasik masuk djalan buntu. Ini ,,bukanlah soal main sunglap dengan

43) K. Marx, Capital, Vol. I, FLPH 1958, hlm. 167.

kata² belaka melainkan salahsatu dari hal jang terpenting dalam seluruh ekonomi politik". 44) Marx djuga menundjukkan bahwa baru dalam hubungan² kemasjarakatan jang tertentu, hubungan² kapitalis, tenagakerdja mendjadi barangdagangan, jaitu, setelah terdapat pekerdja2 jang bebas" dalam dua arti. Arti jang pertama, bebas dari segala ke- terikatan feodal, sehingga ia bebas pribadinja dan bebas untuk mendjual tenagakerdjanja. Arti jang kedua, bebas dari tanah dan segala alat produksi, sehingga sebagai proletar" (orang tak ber- milik) ia tak dapat hidup ketjuali dengan mendjual tenagakerdjanja. Penggunaan atau peng-konsumsian daripada tenagakerdja berarti kerdja, dan kerdja mentjiptakan nilai. Pemilik uang membeli tenagakerdja menurut nilainja. Nilai tenagakerdja, sebagai- mana nilai setiap barangdagangan lainnja, ditentukan oleh waktu-kerdja-perlu-sosial jang dibutuhkan bagi produksinja, jaitu ongkos untuk memelihara buruh dan keluarganja. Djadi nilai tenagakerdja jang dibajarkan sebagai upah kepada kaum buruh (dalam kenja- taannja upah pada umumnja lebih rendah daripada nilai tenagakerdja) ditentukan oleh faktor² jang samasekali tidak ada hubungan langsung dengan kerdja jang akan dihasilkan oleh tenagakerdja itu. Maka nilai jang ditjiptakan dalam proses penggunaan tenagakerdja dan nilai tenagakerdja adalah dua djumlah (magnitudes) jang samasekali berbeda. Selisih diantara dua djumlah itu merupa- kan sjarat mutlak bagi penghisapan kapitalis, sebab selisih itulah menghasilkan nilai-lebih (surplus-value, Mehrwert m). Misalnja, pemilik-uang, setelah membeli tenagakerdja, berhak menggunakannja. Jaitu, ia mempekerdjakan buruh dalam pabrik selama satu harikerdja jang lamanja, katakanlah, 8 djam. Tapi kalau buruh sudah bekerdja tiga djam (waktu-kerdja-perlu), ia sudah menghasilkan produk jang tjukup untuk menutupi ongkos penghidupannja. Artinja, dalam tiga djam itu ia sudah menghasilkan nilai baru sebesar nilai tenagakerdjanja. Maka dalam lima djam berikutnja (waktu-kerdja~lebih) ia mentjiptakan hasil-lebih atau nilai-lebih jang tidak dibajar oleh sikapitalis. Dengan demi- kian sikapitalis telah mentjapai tudjuan jang dikehendakinja dengan membeli tenagakerdja. Teori tentang nilai-lebih ini memberi kemungkinan untuk setjara exact menentukan isi ekonomi dari kategori ,upah-kerdja". Ahli² ekonomi burdjuis menganggap upah sebagai nilai-kerdja. Pengertian ini adalah keliru. Kerdja adalah zat (substance) dan

44) F. Engels dalam Kata Pengantar pada tulisan Marx Kerdja-upahan dan Kapital, penerbitan Jajasan Pembaruan", 1958, hlm. 5.
ukuran jang immanen dari nilai, tapi kerdja itu sendiri tidak punja nilai". 45) Kalau kerdja mendjadi ukuran bagi semua nilai, maka ,nilai kerdja" hanja dapat dinjatakan dengan kerdja sadja. Tapi kita tidak akan mengetahui apa² tentang nilai dari kerdja sedjam, kalau kita hanja tahu bahwa nilai itu sama dengan kerdja sedjam. Ini berarti kita bergerak dalam lingkaran jang tidak ada udjung- pangkalnja. Tetapi kesukaran ini hilang-lenjap kalau kita ketahui bahwa buruh tidak mendjual kerdjanja melainkan tenagakerdjanja. Maka upah adalah tak lain daripada bentuk-terubah dari nilai atau harga tenagakerdja sebagai barangdagangan. Dengan kata² lain, upah-kerdja adalah nilai tenagakerdja jang dinjatakan dengan uang. Adjaran ekonomi Marxis telah menganalisa lebih dalam pengertian kapital". Menurut ahli² ekonomi burdjuis, kapital itu adalah alat² produksi atau sedjumlah uang tertentu. Pengertian sematjaminisamasekali menjembunjikan hakekatpenghisapan kapitalis atas kaum buruh. Karena dalam sistim masjarakat apa sadja akan tetap diperlukan alat² produksi, maka pengertian kapital" seperti jang tersebut diatas mengandung arti bahwa kapital adalah sjarat abadibagi kehidupan setiap masjarakat manusia. Sesungguhnja, alat² produksi hanja mendjadi kapital pada tingkat tertentu dari perkembangan sedjarah, bílamana alat² pro- duksiitumérupakánmilikperseorangan kapitalis danmendjadi alat untukmenghisap kerdja-upahan. Dalam masjarakat sosialis, alat² produksi mendjadi milik masjarakat dan tidak mungkin laġi digunakan untuk menghisap kerdja orang lain. Djadi, kapital bukanlāh suatu barang, tapi suatu hubungan kemasjarakatan diantara manusia? didalam proses produksi dan jang setjara historis bersifat sementarà. Kapital adalah nilai jang, melalui penghisapan atas kerdja-upahan, menghasilkan nilai-lebih, adalah ,kerdja mati jang bagai- kanvampirhanja hidupdenganmenghisap kerdja-hidup,dan mendjadi semakin hidup, semakin banjak ia menghisap kerdja". 46) Didalam kapital terwudjud hubungan produksi antara klas kapitalis dengan klas buruh: klas kapitalis sebagai pemilik alat² dan sjarat2 produksi menghisap buruh-upahan jangmentjiptakan nilai-lebih untuk mereka. Hubungan produksi ini, seperti halnja dengan semua hubungan produksi lainnja dari masjarakat kapitalis, mengambil bentuk sebagai hubungan diantara barang2, dan tampak se-oíah² adalah sifat barang² alat² produksi itu sendiri untuk menghasilkan pendapatan bagi sikapitalis. Disini terletak watak

45)K. Marx, Capttal, Vol. I, FLPH 1959, hlm. 537.
46) K. Marx, Capital, Vol. I, FLPH 1959, hlm. 233.

fetisisme dari kapital: alat² produksi (atau sedjumlah uang jang dapat dipakai untuk membeli alat² produksi) se-akan² mempunjai sifat adjaib dapat memberi pendapatan jang teratur tanpa-kerdja bagi pemiliknja. Misalnja, ada jang mengatakan bahwa kapital mempunjai dua arti, jaitu pertama, kapital mempunjai djabatan dalam produksi. kapital adalah faktor produksi, dan dalam arti ini dinjatakan bahwa kapital akan selalu terdapat dalam setiap bentuk masjarakat. Kedua, kapital merupakan pokok pendapatan jang memberi penghasilan kepada orang jang memilikinja. Dalam arti ini, demikian anggapan orang itu, kapital hanja terdapat dalam masjarakat kapitalis, tidak dalam masjarakat sosialis. Dalam masjarakat sosialis kapital itu mendjadi pokok pendapatan bagi seluruh masjarakat, demikian pendapatnja. Pandangan ini samasekali bertentangan dengan pengertian Marxis tentang kapital dan ha~ kekatnia menutun hubungan penqhisapan janq dinjatakan oleh kapital. Sebab. faktor produksi dalam setiap bentuk masjarakat adalah alat produksi, dan hania pada bentuk masjarakat janq tertentu, iaitu masjarakát kapitalis. alat² produksi itu berbadju" kapital. Kedua, dengan menganggap kapital sebagai sesuatu janq memberi penghasilan", maka diingkari sepenuhnja peranan kerdja sebagai satu²nia sumber nilai, djadi tidak di-singgung²nja penghisapan kapitalis terhadap tenaga-upahan. Berhubungq dengan analisa tentang sumber nilai-lebih itu, Marx menundjukkan bahwa dilihat dari peranannja dalam proses produksi, kapital terbagi dalam dua bagian. Baqian kapital janq terdapat dalam bentuk alat² produksi (mesin². perlengkapan². bahan2 mentah dls.) tidak berubah besar nilainja didalam proses produksi, nilainja hanja dipindahkan sekaligus atau sebagian² ke- dalam baranghasil-djadi. Oleh sebab itu Marx menamakan bagian kapital ini kapital konstan (constant capital — c) atau kapital tak- berubah. Baian lain dari kapital dikeluarkan untuk membeli tenagakerdja. Bagian ini berubah mendiadi tambah besar nilainia didalam proses produksi, karena buruh mentjiptakan nilai-lebih. Maka bagian ini disebut oleh Marx kapital variabel (variable capital v) atau kapital berubah. Dalam adjaran ekonomi burdjuis hanja dikenal satu matjam pembaqian dari kapital, jaitu kapital-tetap (fixed capital) dan kapital-beredar (circulating capital). Pembagian ini didasarkan pada tiara perputaran kapital. Kapital-tetap adalah bagian dari kapital produktif jang, mes- kipun mengambil bagian sepenuhnja dalam produksi, nilainja tidak sekaligus berpindah kepada baranghasil tapi sebagian demi sebagian, selama masa serentetan periode² produksi. Ini adalah bagian kapital jang dipergunakan untuk mendirikan gedung² dan

untuk pembelian mesin² dan perlengkapan. Sedangkan kapital-beredar adalah bagian dari kapital produktif jang selama satu masa produksi nilainja dikembalikan sepenuhnja kepada kaum kapitalis dalam bentuk uang ketika barangdagangan² sudah direalisasi. Ini adalah bagian kapital jang dipergunakan untuk membeli tenagakerdja dan semua alat produksi jang tidak masuk dalam kapital-tetap (bahan mentah, bahan bakar dls). Tjara pembagian kapital ini (fixed dan circulating) tidak memperlihatkan peranan tenagakerdja dalam mentjiptakan nilai-lebih, tapi sebaliknja menutup samasekali perbedaan fondamentil antara pengeluaran kapitalis untuk menjewa tenagakerdja dan pengeluarannja untuk bahan mentah, bahan bakar, dls. Karena, sebagaimana didjelaskan diatas, hanja tenagakerdja jang dapat mentjiptakan nilai baru, maka sesungguhnja untuk me- njatakan deradjat penghisapan oleh kapital atas tenagakerdja, nilai-lebih tidak seharusnja diperbandingkan dengan seluruh kapital melainkan hanja dengan kapital variabel. Marx menjebut perbandingan ini tingkat nilai-lebih (rate of surplus value) dan setjara rumus adalah m' = m/v. Djadi, dalam hal kaum buruh bekerdja dipabrik selama 8 djam sehari, tetapi dalam waktu 3 djam sudah menghasilkan produk jang tjukup untuk menutupi ongkos penghidupannja, maka m' = 5/3 × 100% = 1662/3% (deradjat penghisapan). Bagi kapitalis, nampaknja, seluruh kapital menghasilkan labanja, maka tingkat laba (rate of profit) dihitungkan sebagai perbandingan laba dengan seluruh ka- pitalnja. Umpamanja, kapital adalah 100, jang terbagi dalam c = 80 dan v = 20 dan nilai-lebihnja m = 20, maka tingkat laba hanja 20/100 × 100% = 20%, padahal tingkat nilai-lebih adalah

20/20 × 100% = 100%. Dalam hubungan dengan pengertian

deradjat penghisapan kapitalis ini, kita sering mendjumpai pandangan keliru dalam masjarakat jang menganggap bahwa buruh didalam perusahaan nasional mengalami penghisapan jang lebih berat daripada didalam perusahaan modal besar asing. Karena kata mereka, upah buruh dalam perusahaan nasional djauh lebih rendah daripada dalam perusahaan asing. Orang2 itu melupakan bahwa nilai-lebih jang dihisap əleh modal monopoli asing itu djauh lebih tinggi daripada nilai-lebih jang dapat diperoleh oleh perusahaan² nasional. Sehingga djika kita perhitungkan tingkat nilai-lebihnja, maka deradjat penghisapan atas kaum buruh dalam perusahaan asing djauh lebih besar daripada dalam perusahaan nasional. Disamping itu, modal monopoli asing itu djustru merupakan rintangan jang berat bagi perkembangan perusahaan nasional, sedangkan kaum buruh di-perusahaan² nasional itupun dengan djalan ini atau itu terkena penghisapan oleh modal monopoli asing.

Tudjuan langsung produksi kapitalis adalah produksi nilai-lebih. Bagi kapitalis, kerdja produktif berarti kerdja jang mentjiptakan nilai-lebih. Djika buruh tidak mentjiptakan nilai-lebih, kerdjanja merupakan kerdja tidak-produktif dan tidak berguna bagi kapital. Nilai-lebih mendjadi sumber bersama dari pendapatan tanpa-kerdja dari berbagai golongan klas burdjuis: kaum indus- trialis, pedagang dan bankir dan djuga klas pemilik-tanah. Produksi nilai-lebih merupakan hukum ekonomi pokok bagi kapitalisme. Ini berarti bahwa segala pengembangan tenaga² produktif dalam kapitalisme didorong oleh nafsu kapitalis mentjapai laba sebanjak mungkin. Tudjuan tetap dari produksi kapitalis". kata Marx, jalah dengan minimum kapital jang dibajar terlebih dulu mentjapai maksimum nilai-lebih dan hasil-lebih". 47) Pengedjaran nilai-lebih menimbulkan persaingan sengit di- antara kaum kapitalis dan mengakibatkan perluasan produksi jang semakin besar, mengakibatkan perkembangan teknik dan pertum- buhan tenaga² produktif masjarakat burdjuis. Tapi, dalam pada itu, pertentangan antagonis makin mendalam antara buruh dengan kapital, memperbesar anarki produksi dan mengakibatkan pem- borosan² luarbiasa atas tenaga² produktif. Perkembangan industri mesin besar, pertanian modern dan tjabang² ekonomi lainnja, mengakibatkan pengurangan djumlah buruh jang diperlukan untuk menghasilkan djumlah baranghasil jang tertentu. Artinja, kapital konstan bertambah lebih tjepat daripada kapital variabel, sehingga setjara relatif keperluan produksi kapitalis akan tenaga buruh berkurang, walaupun djumlah absolut kaum buruh bertambah. Kemadjuan teknologi dibawah kapitalisme melemparkan djutaan buruh dari pekerdjaannja, dan setiap orang buruh setiap waktu terantjam oleh pengangguran. Akumulasi kapitalis mempertjepat proses digantikannja orang dengan mesin dan menimbulkan barisan-tjadangan industri jang tetap, jaitu kaum penganggur sidpas Semakin besar kekajaan masjarakat, kapital jang berfungsi keluasan dan enersi daripada pertumbuhannja, dan oleh karenanja, semakin besar djuga djumlah absolut proletariat dan daja-produksi dari kerdjanja, maka semakin besarlah barisan tjadangan indus-
tri ..... Djumlah relatif dari barisan tjadangan industri karena-
nja bertambah bersamaan dengan enersi potensiil kekajaan. Te- tapi semakin besar tjadangan itu dalam perbandingan dengan barisan buruh jang aktif, maka semakin besarlah massa kelebihan penduduk jang terkonsolidasi, jang kemelaratannja adalah dalam

47)K. Marx, Teori tentang Nilai-Lebih, bagian kedua, Dietz Verlag, Berlin, hlm. 545.
perbandingan jang sebaliknja dengan siksaan kerdjanja. Ini adalah hukum umum absolut dari akumulasi kapitalis". 48) Kata² Marx tetap benar. Tidak ada satu negeri kapitalispun jang mampu melenjapkan pengangguran. Bahkan dinegeri kapitalis jang paling kajapun Amerika Serikat, terdapat ber-djuta² kaum penganggur, Sebaliknja, negeri² sosialis dalam beberapa tahun pem- bangunan ekonomi sadja telah melenjapkan masalah ini untuk se- lama²nja dan pada umumnja malah mengalami kekurangan tenaga-kerdja. Tjara produksi kapitalis telah membawa kemadjuan jang sa- ngat besar dalam produktivitet kerdja dan tingkat perkembangan tenaga² produktif. Tapi sebagai sistim jang berdasarkan peng- hisapan atas manusia oleh manusia, kapitalisme mempunjai ke- terbatasan sedjarah. Dalam mengembangkan produksi besar²an, kapitalisme melahirkan penggali liangkuburnja sendiri, jaitu klas buruh. Sentralisasi alat² produksi dan sosialisasi kerdja pada achirnja mentjapai tingkat sehingga tidak sesuai lagi dengan bingkai kapitalisnja. Maka bingkai ini petjah berantakan. Lontjeng kematian untuk pemilikan kapitalis berbunji. Kaum perampas di- rampas". 49) Demikianlah ketjenderungan sedjarah dari perkembangan tjara produksi kapitalis.

9.Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme Sebagaimana dinjatakan dalam Manifesto Politik Republik Indonesia, musuh terpokok nasion Indonesia adalah imperialisme. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mengetahui setjara ilmu apa sesungguhnja imperialisme itu. Hanja dengan mengetahui hakekat (essence) dari imperialisme, kita bisa mengenalnja dalam segala bentuk manifestasinja, mengenal hubungannja dengan kolonialisme dan neo-kolonialisme. Pengetahuan ini akan membantu kita untuk mendjaga agar pukulan dari perdjuangan revolusioner kita selalu diarahkan kepada musuh jang pokok ini. Dibawah ini akan saja uraikan setjara singkat pengertian kaum Marxis tentang imperialisme. Seperti diterangkan Lenin, Imperialisme adalah suatu tingkat bistoris jang chusus dari kapitalisme. Tjirinja jang chas adalah tiga : imperialisme adalah 1) kapitalisme monopoli; 2) kapitalisme jang bersifat benalu (parasitic), atau jang sudah mau run-
48) K. Marx, Capital, Vol. I, FLPH 1959, hlm. 644.
49) K. Marx, Capital, Vol. I, FLPH 1959, hlm. 763.

tuh; 3) kapitalisme sekarat (moribund)". 50) Tingkatan ini mun- tjul pada achir abad ke-19 sebagai perkembangan dan landjutan jang langsung daripada sifat2 jang pokok dari kapitalisme. Dengan timbulnja imperialisme, semua pertentangan intern kapitalisme, perdjuangan klas, anarki dalam produksi, serta krisis2 ekonomi telah mendjadi lebih tadjam. Menurut definisi klasik Lenin, tjiri² ekonomi jang terpenting dari imperialisme jalah :

1) Konsentrasi produksi dan kapital telah berkembang sampai pada tingkat jang demikian tingginja sehingga ia mentjipta- kan monopoli jang memainkan peranan menentukan dalam kehidupan ekonomi; ,2) Perpaduan kapital bank dengan kapital industri, dan pen- tjiptaan, diatas dasar 'kapital finans' ini, oligarki finans; ,,3)Ekspor kapital, berbeda dengan ekspor barangdagangan, memperoleh artipenting jang luarbiasa;
4) Pembentukan serikat² kapitalis monopolis internasional jang membagi dunia dikalangan mereka sendiri, dan

5) Pembagian teritorial atas seluruh dunia diantara negara²

kapitalis terbesar telah selesai". 51) Dalam periode kapitalis pra-monopoli, persaingan bebas berkuasa. Sebagai akibatnja, terdjadi konsentrasi dan sentralisasi produksi dan kapital. Konsentrasi produksi dan kapital ini pada tingkat perkembangannja jang tertentu pasti menudju kemonopoli. Sebab perusahaan raksasa memerlukan laba besar untuk mem- pertahankan diri dalam persaingan melawan perusahaan² raksasa lainnja. Laba jang se-besar²nja hanja dapat didjamin dengan kekuasaan monopoli dipasar. Pada fihak lain, antara beberapa puluh perusahaan² raksasa akan lebih mudah tertjapai persetudjuan daripada antara ratusan atau ribuan perusahaan² ketjil. Dengan demikian, persaingan bebas diganti oleh monopoli. Disinilah hakekat ekonomi daripada imperialisme. Walaupun monopoli telah menggantikan persaingan bebas, tetapi monopoli tidak menghapuskan persaingan, bahkan membuat persaingan itu lebih sengit dan kedjam didalam dunia kapitalis. ,,Sesungguhnja, imperialisme tidak dan tidak dapat merombak kapitalisme dari atas sampai kebawah. Imperialisme memperumit dan mempertegas kontradiksi² dari kapitalisme, imperialisme 'me- libatkan' monopoli dengan persaingan bebas, tetapi imperialisme

dls".52) Persaingan terdjadi diantara para anggota badan mo-

nopoli, diantara badan² monopoli jang satu dengan lainnja, dan diantara monopoli dengan perusahaan² jang bukan monopoli. Sebagaimana didalam industri, dalam lapangan perbankan terdjadi djuga konsentrasi. Konsentrasi industri dan pembentukan monopoli² bank mengakibatkan perubahan jang hakiki didalam hubungan timbal-balik antara bank dengan industri. Bank turut memiliki perusahaan2 industri, perdagangan dan pengangkutan, karena ia memperoleh saham² perusahaan² itu. Pada fihak lain, monopoli² industri memiliki djuga saham² bank jang bersangkutan dengan mereka. Dengan begitu kapital monopoli bank dan kapital monopoli industri berdjalin dan mendjadi kapital djenis baru : kapital finans. Kapital finans adalah kapital bank kepunjaan sedjumlah ketjil bank monopolis jang sa- ngat besar, berpadu dengan kapital serikat2 monopolis kaum industrialis". 53) Zaman imperialisme adalah zaman kapital finans. Disetiap negeri kapitalis, tjabang² vital dalam ekonomi di- kendalikan oleh grup² ketjil bankir besar dan monopolis2 industri jang menguasai sebagian terbesar dari kekajaan masjarakat. Dengan demikian mesti timbul kekuasaan oligarki finans, kekuasaan beberapa gelintir radja² uang. Tjiri pada kapitalisme pra-monopoli ketika persaingan bebas berkuasa, adalah ekspor barangdagangan. Pada tingkat imperialisme dimana monopoli berkuasa, ekspor kapital jang mendjadi tjiri. Ekspor kapital dalam zaman imperialisme telah mendjadi suatu keharusan. Keharusan ini disebabkan karena terdjadinja kelebihan kapital" di-negeri² kapitalis jang sudah madju dan paling kaja sebagai akibat jang langsung dari berkuasanja monopoli dan kapital finans. Pada fihak lain karena adanja sedjumlah negeri terbelakang jang sudah terseret kedalam pergaulan kapitalis sedunia dimana terdapat hanja sedikit kapital, upah rendah, bahan mentah murah dan harga tanah rendah. Dengan demikian, kapital monopoli memang dapat memperoleh laba luarbiasa besarnja apa- bila mengadakan eksploitasi di-negeri² itu. Salahsatu akibat jang terpenting dari ekspor kapital jalah bertambahnja persaingan antara negara² besar untuk merebur daerah² penanaman kapital jang paling menguntungkan. Dengan bertambahnja ekspor kapital dan peluasan hubungan² luarnegeri serta ,,lingkungan² pengaruh" monopoli² raksasa, ter-

tidak dapat melenjapkan pertukaran, pasar, persaingan, krisis" djadilah sjarat² untuk pembagian pasar dunia diantara monopoli²
tersebut, terbentuklah monopoli² internasional.
Jajasan ,,Pembaruan", 1958, hlm. 125. 90 53)W. I. Lenin, Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme, J.P. 1958, hlm. 124.

51) nerbitan Jajasan ,,Pembaruan", 1961, hlm. 3. 52) W.I. Lenin, dalam Bahan² mengenai Revisi Program Partai.

50) W. I. Lenin, Imperialisme dan Perpetjahan Didalam Sosialisme, pe-
W. I. Lenin, Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme, penerbitan

Pembagian dunia dilapangan ekonomi oleh badan² monopoli pasti disertai dan diperkuat dengan pembagian wilajah dunia oleh negara2 besar imperialis. Mereka rebut-merebut tanahdjadjahan² dan negeri² asing. Pada awal abad 20 pembagian wilajah dunia sudah selesai. Sebagai akibat perkembangan ekonomi dan politik jang tidak sama diantara negeri² kapitalis itu, pembagian daerah djadjahan itu tidak merata. Negeri² kapitalis tua telah dapat merebut wilajah² djadjahan jang luas, sedangkan negeri² kapitalis muda hanja ke- bagian sedikit. Tetapi dalam zaman imperialisme, teknik sudah mentjapai tingkat perkembangan jang sangat tinggi, sehingga memungkinkan negeri² kapitalis jang muda mengedjar serta me- lampaui negeri² kapitalis jang tua setjara tjepat dan melompat. Mereka dapat mendesak negeri² itu dari pasarnja dan memaksa- kan pembagian kembali wilajah dunia dengan kekerasan sendjata, maka timbullah perang² imperialis dan perang2 kolonial. Oleh sebab itu imperialisme selalu mendjadi sumber akan ketegangan² internasional dan peperangan. Pada zaman imperialisme ini sistim ekonomi kapitalis meliputi seluruh dunia berdasarkan penghisapan dan perbudakan. Sedjum- lah ketjil negara² imperialis menindas dan menghisap djumlah terbesar negara² djadjahan. Segala tanahdjadjahan dan negeri² tergantung jang ditindas oleh negara² imperialis merupakan sistim kolonial daripada imperialisme. Tanahdjadjahan² merupakan tempat penanaman kapital, sumber bahan mentah, sumber tenaga murah, pasar hasil industri negara² imperialis, dan djuga sebagai pangkalan perang dan sumber umpan meriam bagi kepentingan negara² imperialis. Tapi penin- dasan imperialisme ini membangkitkan perlawanan dari Rakjat² jang didjadjah, sehingga disemua negeri djadjahan dan negeri tergantung lahir gerakan dan perdjuangan melawan kolonialisme untuk kemerdekaan nasional. Perdjuangan ini sering memuntjak dalam pemberontakan² dan revolusi² jang achirnja melahirkan negara² jang merdeka dan mengakibatkan kehantjuran sistim kolonial daripada imperialisme. Dalam kapitalisme modera masih tetap berlaku hukum nilai-lebih sebagai hukum ekonomi pokok. Tapi perdjuangan untuk mengedjar nilai-lebih ini semakin meruntjing dan kedjam. Kekuasaan monopoli memungkinkan kaum kapitalis monopoli untuk me- netapkan harga² monopoli sehingga mentjapai laba tinggi monopoli. Untuk mendjamin laba tinggi monopoli, kaum monopolis tidak enggan menggunakan tjara apapun sampai kepada mentje- tuskan perang baru. Peruntjingan pertentangan se-tadjam²nja dalam kubu impe-

rialisme, bentrokan² diantara negara² imperialis jang berakibat perang2 imperialis, berkembangnja perdjuangan klas proletar di- negeri2 kapitalis, bangkitnja Rakjat djadjahan melawan pendja- djahnja, ini semua sangat melemahkan sistim dunia kapitalis. Dengan demikian tertimbun sjarat² bagi krisis umum kapitalisme. Krisis umum kapitalisme ini dimulai sedjak masa peraag dunia pertama dan terutama sedjak kemenangan Revolusi Sosialis Okto- ber 1917 di Rusia jang melahirkan negeri sosialis jang pertama didunia. Sedjak saat itu ramalan ilmiah Marx telah berubah mendjadi kenjataan dan kapitalisme bukan lagi satu²nja sistim ekonomi dunia jang meliputi se-gala²nja. Setelah perang dunia kedua krisis umum kapitalisme bertambah lebih dalam lagi. Sosialisme muntjul keluar batas² satu negeri dan mendjadi sistim dunia, krisis sistim kolonial daripada imperialisme mendjadi lebih parah dan kehantjurannja mendjadi tak-terelakkan. Krisis umum kapitalisme jalah krisis jang bukan sadja me- njangkut sistim ekonomi, melainkan djuga meliputi segala lapangan dari sistim dunia kapitalis seluruhnja dan ditjirikan oleh peperangan dan revolusi, oleh perdjuangan antara kapitalisme jang sedang mati dengan Sosialisme jang sedang tumbuh. Tjiri² pokok dari krisis umum kapitalisme jalah : terpetjahnja duaia mendjadi dua sistim jang kapitalis dan jang sosialis serta perdjuangan antara kedua sistim itu; kehantjuran sistim kolonial daripada imperialisme jang terwudjud dalam tertjapainja kemerdekaan nasional dibanjak negeri bekas djadjahan dan tergantung; bertambah gentingnja masalah pasar bagi neqeri² kapitalis, perusahaan² kapitalis setjara chronis bekerdja dibawah ka- pasitet dan terdjadi pengangguran massal jang chronis. Dalam kehidupan politik, kita melihat dengan djelas ketjenderungan pem- fasisan pemerintahan dan penghapusan kebebasan² demokratis bagi Rakjat, Guna mempertahankan penguasaannja atas tanahdjadjahan, kaum imperialis banjak menjelubungi politik² kolonial- nja jang lama dengan taktik² dan bentuk2 baru jang sudah biasa kita namakan neo-kolonialisme. Kita sendiri di Indonesia meng- alaminja dari dekat, tadinja dalam bentuk KMB, dan sekarang- pun masih menghadapinja, terutama dalam bentuk kekuasaan ekonomi imperialis atas negeri kita. Fihak Belanda berusaha me- nipu kita dengan memberikan status neo-kolonial dengan badju "selfdetermination" kepada Irian Barat. Oleh sebab itu kita perlu tetap waspada, imperialisme memang sudah sangat dilemahkan. tapi sebagaimana sering dinjatakan oleh Bung Karno, imperialisme belum mati dan imperialisme adalah tetap imperialis. Dalam pada itu, pengalaman kitapun menundjukkan bahwa asal kita berani melawan, imperialisme bisa didesak mundur dan

dikalahkan. Segala tipudajanja tidak bisa menjelamatkannja dari Rasib sedjarah jang pasti. Zaman sekarang adalah zaman meng- hantjurkan sistim kolonialis-imperialis, zaman sekarang adalah zaman peralihan ke Sosialisme". (Djarek)

  1. Beberapa Aspek Mengenai Hakmilik Dalam Sosialisme Manifesto Politik Republik Indonesia menetapkan bahwa watak revolusi kita adalah nasional dan demokratis, sedangkan haridepan revolusi adalah Sosialisme. Sebagaimana dipertegas oleh Djarek: ada dua tudjuan dan dua tahap Revolusi Indonesia: Pertama, tahap mentjapai Indonesia jang merdeka penuh, bersih dari imperialisme dan jang demokratis bersih dari sisa2 feodalisme. Tahap ini masih harus diselesaikan dan disem-
    purnakan....... Kedua, tahap mentjapai Indonesia ber-Sosialisme.
    bersih dari kapitalisme dan dari 'l'exploitation de l'homme par I'homme'. Tahap ini hanja bisa dilaksanakan dengan sempurna setelah tahap pertama sudah diselesaikan seluruhnja". Karena kita masih berada pada tahap pertama, maka dengan sendirinja kita belum menghadapi tugas langsung menghapuskan kapitalisme dan membangun Sosialisme. Dalam tahap pertama ini masih terdapat hakmilik perseorangan atas alat2 produksi, baik hakmilik perseorangan dari produsen ketjil maupun hakmilik perseorangan kapitalis nasional. Berdasarkan pengertian² ekonomi Marxis saja sepenuhnja meajokong garis Djarek ini dan tidak menjetudjui tindakan² jang sedar atau tidak sedar malah merugikan produsen² ketjil dan pengusaha² nasional. lebih² lagi djika dengan tidak me- njinggung samasekali hakmilik imperialis (kapitalis besar asing) dan hakmilik feodal (tuantanah). Kami berpendapat bahwa berdasarkan tingkat perkembangan Indonesia sekarang, kapitalisme nasional masih mempunjai peranan positif untuk mengembangkan tenaga² produktif dinegeri kita. Sudah barang tentu, djika kapitalisme nasional dibiarkan berkembang setjara ,liberal", maka bisa ia menimbulkan banjak kerepotan² sekarang dan dikemudian hari. Tapi saja jakin, asalkan ekonomi sektor negara memegang posisi komando dan ada pemerintah jang sungguh² ber-tjita2 Sosialisme, maka segi positif dari kapitalisme nasional dapat dikembangkan se-maksimum²nja, sedangkan segi negatifnja dapat dipersempit sampai se-ketjil²nja. Dengan demikian kapitalisme nasional dapat membantu mempertjepat proses untuk beralih ketahap kedua, tahap Indonesia ber-Sosialisme, bersih dari kapitalisme dan dari exploitation de l'homme par l'homme" (Djarek). Dalam masjarakat sosialis, djika sungguh² masjarakat tanpa penghisapan atas manu-

sia oleh manusia, memang tidak ada tempat bagi kapitalisme. Ini berarti tidak akan ada lagi hakmilik perseorangan jang kapitalis atas alat² produksi. Burdjuasi akan lenjap sebagai klas. Bagi setiap orang jang djudjur dan mau bekerdja, pasti ada tempat dalam masjarakat sosialis. Kadang2 dituduhkan kepada kami kaum Komunis, bahwa kami ingin membentuk masjarakat sosialis jang berlainan dengan Sosialisme Indonesia, sebab dalam masjarakat sosialis Indonesia masih akan ada hakmilik perseorangan. Perlu kami tegaskan, kami samasekali tidak bermaksud melenjapkan hakmilik perseorangan atas barang² konsumsi, jang berarti kekuasaan seseorang untuk memiliki hasil² masjarakat. Hal ini sudah lama didjelaskan oleh Marx dan Engels dalam Manifes Partai Komunis. Adapun mengenai hakmilik perseorangan jang kapitalis atas alat® produksi, memang ini harus dilenjapkan, djika kita betul² bermaksud membuat Indonesia bersih dari kapitalisme" sebagaimana dinjatakan dalam Djarek. Mungkin timbul pertanjaan, apakah semua hakmilik perseorangan atas alat² produksi mendjadi dasar bagi penghisapan atas manusia oleh manusia? Hakmilik perseorangan tuan-budak, tuan-feodal dan kapitalis atas alat² produksi, telah mendjadi dasar bagi penghisapan itu. Tapi ada hakmilik perseorangan atas alat2 produksi jang tidak mengandung penghisapan, jaitu hakmilik perseorangan produsen ketjil jang berproduksi dengan alat2nja sendiri dan dengan kerdjanja sendiri tanpa mempergunakan tenaga orang lain. Apakah Sosialisme dapat dibangun atas dasar produksi para produsen ketjil ini? Sosialisme adalah sistim masjarakat dimana berlaku keadilan sosial dan jang harus memberi kemakmuran kepada setiap anggota masjarakatnja. Untuk mentjapai kemakmuran itu daja-produksi asjarakat harus semakin meningkat dan mentjapai taraf jang tinggi. Apakah ini dapat ditjapai oleh produsen ketjil? Pengalaman disemua neqeri memperlihatkan bahwa ini tidak mungkin. Produksi ketjil²an tidak mampu mempergunakan hasil² teknik dan ilmu jang terbaru. Disamping itu, produksi ketjil barangdagangan jang didasar- kan pada hakmilik perseorangan atas alat2 produksi tidak bisa tidak dikuasai oleh anarki dan persaingan. Setiap produsen ber-usaha memproduksi lebih banjak untuk mendjual lebih banjak, dan kepentingannja dalam hal ini bertentangan dengan produsen lain jang menghasilkan barang jang sama. Ada diantara produsen² itu jang sukses dalam persaingan, usahanja semakin besar dan mulai- lah ia mengambil tenaga²-upahan untuk membantu usaha produk- sinja.

Dengaa demikian, dan sangat mungkin tidak disedarinja sendiri, ia sudah mulai mendjadi seorang kapitalis dan mendapat penghasilannja dari penghisapan kerdja orang lain. Pada fihak lain, ada produsen² jang gagal dalam persaingan, sehingga ter- paksa melepaskan usahanja, ia mendjadi penganggur atau terus menjediakan tenaganja kepada produsen lain jang mau mengupah- nja. Dari produsen merdeka ia mendjadi buruh. Proses diferea- siasi ini didorong pula oleh peranan kapital-dagang. Pada mula- nja, kapital-dagang tidak mentjampuri urusan produksi barang-hasil, kapital itu hanja berfungsi dalam mengedarkan baranghasila itu. Tapi lambat-laun kapital-dagang itu djuga mulai menguasai produsen ketjil. Bentuk²nja jang pokok adalah sebagai berikut :

  1. bentuk jang paling sederhana: pedagang (tengkulak)
    membeli barangdjadi2 dari produsen ketjil. Pada waktu ini hubungan antara produsen ketjil dengan pasar pendjualannja ter- putus, Pedagang bisa menggunakan monopoli pembelian itu untuk menekan harga kebawah sehingga merugikan produsen ketjil.

  2. kapital-dagang bergandengan dengan kapital-riba (lintah-
    darat, mindring). Produsen ketjil jang memang selalu berada dalam kesukaran keuangan, memindjam dari pedagang dan membajar hutang dengan barang²nja. Dalam kedjadian ini barang² selalu didjual dengan harga jang rendah sekali dan seringkali siprodusen tidak bisa memperoleh pendapatan sebanjak jang bisa didapat buruh-upahan. Apalagi, hubungan hutang ini membikin produsen tergantung setjara pribadi kepada pedagang, hubungan mana dapat disalahgunakan oleh pedagang itu.

  3. pedagang (tengkulak) membajar barang2 jang dibelinja
    dari produsen ketjil dengan barang2 djuga, tapi jang harga²nja umumaja tinggi dan mutunja rendah.

  4. pedagang (tengkulak) membajar barangdjadi produsen
    dengan bahan-mentah, bahan penolong, jang diperlukan oleh pro. dusen untuk berproduksi. Dengan demikian tengkulak telah me- mutuskan hubungan antara produsen ketjil dengan pasar bahan-mentah, sehingga membikin produsen itu lebih tergantung lagi kepada tengkulak dalam ekonomi.

  5. tengkulak langsung membagi bahan-mentah kepada pro-
    dusen dan menjuruh dia mengerdjakannja dengan bajaran tertentu. Dengan demikian produsen ketjil praktis sudah mendjadi buruh-upahan jang bekerdja dirumahnja sendiri untuk kapitalis.

  6. tengkulak bukan sadja membagikan bahan-mentah tapi
    djuga perkakas2 kerdja kepada produsen. Pada waktu ini produsen ketjil sudah kehilangan seluruh kemerdekaannja sebagai produsen. Ia mendjadi buruh-upahan, tengkulak mendjadi kapitalis industri, kapital-dagang mendjadi kapital-industri.

Sebabnja kapital-dagang dapat menguasai produsen ketjili jalah karena dengaa berkembangnja produksi barangdagangan dan bertambah luasnja pasar, produsen ketjil tidak dapat lagi mengu- rus sendiri setjara langsung pendjualan barang2nja dipasar jang djauh atau pembelian bahan² produksinja. Maka peranan pedagang makin diperlukan. Dalam pada itu, dari kalangan produsen² ketjil sendiri timbul oraag2 jang mula² dititipkan barang untuk didjual dipasar, tapi kemudian djuga mendjadi pedagang. Mengenai proses ini Lenin menundjukkan bahwa ,,dalam ekonomi barangdagangan, produsen² ketjil tidak bisa tidak pasti melahirkan dari tengah² kalangannja sendiri tidak hanja pengusaha² industri jang lebih makmur pada umumnja, tetapi djuga, chususaja, wakil² dari kapital-dagang". 54) Proses lahirnja hubungan² produksi kapitalis dari produsen² ketjil barangdagangan adalah proses spontan jang tak dapat di- hindarkan selama produksi mereka didasarkan atas hakmilik perseorangan atas alat® produksi. Proses ini sesungguhnja hanja membawa keuntungan bagi sedjumlah ketjil produsen, sedangkan djum- lahnja jang terbesar terusmenerus hidup melarat dan terantjam kebangkrutan. Oleh sebab itu, djika kita ingin membangun masjarakat so- sialis jang sungguh² bebas dari penghisapan atas manusia oleh manusia dan dapat memberi kemakmuran kepada setiap anggota- nja, maka kita harus setjara serius memetjahkan masalah produsen ketjil. Kaum Marxis berpendapat bahwa dalam keadaan alat² produksi jang terpokok dimiliki oleh seluruh masjarakat, maka ada: djalan untuk membantu produsen² ketjil menghindari proses jang menjakitkan seperti jang diuraikan diatas. Djalan itu jalah djalan pengkoperasian jang dengan berangsur-angsur akan mengubah hakmilik perseorangan ketjil mendjadi hakmilik kolektif-koperatif. Perubahan ini akan membuat produsen² itu tidak lagi saling-ber- hadapan sebagai penjaing² dan memungkinkan kordinasi dari te- naga2 produktif mereka. Perusahaan² kolektif atau koperatif dapat mengambil manfaat sepenuhnja dari hasil teknik dan ilmu jang madju, sehingga mendjamin produktivitet kerdja jang semakin tinggi. Agar djalan pengkoperasian ini dapat berlangsung dengan lantjar dan sukses, sjarat terpenting jalah kesukarelaan para produsen ketjil itu sendiri, kejakinan mereka bahwa memang djalan ini adalah satu²nja djalan jang bisa membawa kebahagiaan dan kemakmuran bagi semua. Demikianlah tentang beberapa aspek mengenai hakmilik dalam Sosialisme.

54)
W. I. Lenin, Perkembangan Kapitalisme di Rusia, FLPH, 1956, ba- hasa Inggris, hlm. 391.

dua sistim Komunis utopi di Perantjis Komunisme 'Icaria' dari Cabet, dan di Djerman dari Weitling. Dalam tahun 1847 Sosialisme berarti gerakan burdjuis, Komunisme berarti gerakan klas buruh. Sosialisme, di Daratan Eropa, se-tidak²nja adalah tjukup terhormat, sedangkan Komunisme djustru sebaliknja. Dan karena BAB III kami telah mempunjai pendirian jang pasti sedjak masa itu bahwa 'pembebasan klas buruh haruslah tindakan klas buruh sendiri', maka kami tidak sangsi lagi tentang nama mana diantara dua SOSIALISME ILMU nama itu jang harus kami pilih. Sedjak itupun tak pernah djuga ada fikiran pada kami untuk menolak nama itu". 56) Persoalan jang kita hadapi sekarang tidak persis sama dengan apa jang didjelaskan oleh Engels ini. Tapi peladjaran jang dapat kita tarik jalah, bahwa djika kita sekarang berbitjara tentang Sosialisme, kita tidak berbitjara tentang sosialisme" burdjuis, burdjuis ketjil atau feodal, tapi tentang Sosialisme jang tidak di- hormati oleh kaum kapitalis, tentang Sosialisme jang anti-kapital- isme.

Bab III daripada uraian saja ini boleh dikatakan tidak ada jang saja susun baru, hampir seluruhnja saja ambil dari pidato saja dihadapan mahasiswa² Akademi Ilmu Sosial Aliarcham" di- kota ini dalam bulan Agustus tahun jang lalu. 55) Sebelum saja menguraikan tentang sedjarah lahirnja tjita² Sosialisme, terlebih dulu hendak saja mulai dengan mendjelaskan tentang istilah Sosialisme. Friedrich Engels mengenai Manifes Partai Komunis jang di- tulisnja bersama Karl Marx dalam tahun 1848 mengemukakan mengapa Manifes itu menggunakan kata Komunis" dan bukan Sosialis" dengan keterangan antara lain sebagai berikut : Sekalipun demikian, ketika ia (jang dimaksud jalah Manifes Partai Komunis DNA) terbit kita tidak dapat menamakannja Manifes Sosialis. Pada tahun 1847 ada dua matjam golongan jang dianggap sebagai orang² Sosialis. Pada satu fihak adalah pengikut² berbagai sistim utopi, teristimewa kaum Owenis di Inggris, dan kaum Fourieris di Perantjis, jang kedua-duanja pada saat itu telah merosot mendjadi hanja satu sekte sadja dan ber-angsur² menudju kematiannja. Difihak lain tukang² djual kojok kemasjarakatan jang sangat banjak tjorak-ragamnja itu jang dengan berbagai matjam obat adjaib serta segala tjara kerdja tambalsulam hendak mele- njapkan keburukan² sosial tanpa sedikitpun merugikan kapital dan laba. Dalam kedua hal itu, orang² jang berdiri diluar gerakan buruh dan jang lebih suka minta bantuan pada klas2 'terpeladjar'. Tetapi bagian dari klas buruh jang menuntut penjusunan-kembali masjarakat setjara radikal, jakin bahwa revolusi² politik sadja adalah tidak tjukup, pada waktu itu menamakan dirinja Komunis. Ini adalah Komunis jang masih mentah, hanja naluriah, dan se- ringkali agak kasar. Namun ia tjukup kuat untuk menimbulkan

55) Lihat D.N. Aidit, Sosialisme Indonesia dan Sjarat² Pelaksanaannja, Bab I, penerbitan Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, th. 1962.
1. Sedjarah Timbulnja Tjita² Sosialisme Dari sedjarah timbulnja tjita² Sosialisme dapatlah diketahui, bahwa penggunaan istilah ,Sosialisme" sebagai suatu aliran faham politik dan gerakan sosial mulai terdjadi dalam gerakan sosial jang dipelopori oleh Robert Owen di Inggris dalam tahun² 30-an abad ke-19. Akan tetapi, djiwanja istilah ini, jakni sebagai suatu tjita² atau angan² akan suatu masjarakat jang adil dan makmur. dimana tidak ada orang miskin dan tidak ada orang kaja, tiada penindasan dan penghisapan atas manusia oleh manusia, djauh sebelum itu, dan boleh dikatakan sedjak terpetjahnja masjarakat dalam klas² jang saling berlawanan, sudah terdapat hampir dimana². Di Eropa, misalnja, pada zaman Junani Kuno, kita mengenal adanja masjarakat ideal" jang di-idam²kan oleh Plato (427-347 Sebelum Masehi). Menurut tjita² Plato, masjarakat jang sempurna itu berbentuk negara Republik dengan kaum ksatrya sebaga tulangpunggungaia. Kehidupan kaum ksatrya itu merupakan te. ladan bagi seluruh masjarakat. Mereka hidup setjara kolektif di- dalam asrama2 jang disediakan oleh negara. Mereka tidak mempunjai hakmilik perseorangan atas apapun djuga. Segala kebu- tuhan hidupnja didjamin oleh negara, bahkan negara menjediakan
56) Kata pendahuluan Engels pada Edisi Djerman Tahun 1890 dalar, Manifes Partai Komunis, Jajasan Pembaruan", tjetakan ke-II hlm. 37-38.

wanita² pilihan untuk didjadikan isteri mereka. Anak² mereka se- djak lahir sudah dipisahkan dari orangtuanja dan dipelihara serta dididik oleh negara dalam tempat2 jang disediakan chusus untuk itu. Kaum ibunja hanja diperkenankan datang ketempat-tempat itu pada waktu² jang sudah ditentukan untuk menjusui anak² jang ada disitu tanpa mengenali anaknja sendiri atau bukan. Apabila anak² itu sudah tjukup besar, maka diadjarkannja berbagai matjam ilmu, diberikannja pendidikan djasmaniah dan rochaniah sampai dewasa sehingga mendjadi manusia² ksatrya jang sempurna. Se- telah itu mereka diberi tugas² negara. Kepala negara dipilih diantara kaum ksatrya itu. Demikianlah garis besar masjarakat ideal" jang diimpikan oleh Plato pada ketika itu. Sudah tentu, masjarakat ideal"Plato jang demikian itu di- bangunkan berdasarkan filsafatnja jang berpendapat bahwa masjarakat itu baru bisa sempurna kalau orang²nja sempurna, dan orang²nja itu baru bisa mendjadi sempurna kalau berpengetahuan dan berpendidikan baik. Akan tetapi, lahirnja angan itu, bagai- manapun djuga isinja, merupakan suatu ,pentjerminan" atau ,,refleksi" daripada keadaan sosial pada ketika itu. Sebagaimana kita mengetahui, pada ketika itu masjarakat perbudakan di Athena sedang mulai mengalami dekadensinja, konflik2 sosial sudah nampak makin menadjam, ketidakadilan dan keburukan sosial sudah menondjol, sementara itu djuga sedang menghadapi antjaman² serangan dari negeri² tetangganja, terutama Sparta jang sedang tumbuh kuat. Dalam menghadapi keadaan sosial jang suram itu- lah timbul kerinduan pada Plato akan suatu masjarakat bangsa- wan" atau negara ,Republik Ksatrya" sebagai konsep djalan- keluar. Akan tetapi, ide Plato itu agaknja terlampau ekstrim sehingga tak mendapat sambutan baik dari masjarakat, maupun dari murid²nja atau pengikut²nja jang tidak sedikit djumlahnja. Pada masa sedjarah jang lain, kita mengenal djuga, misalnja, ,,masjarakat utopi" dari Sir Thomas More (1478-1535), seorang politikus dan sastrawan besar Inggris pada awal abad ke-16. Dalam karjanja Utopi, More disatu fihak melukiskan keadaan masjarakat jang sangat menjedihkan dibawah rezim Henry VIII, dimana Rakjat djelata menderita kesengsaraan jang sangat besar sebagai akibat dari kesewenangan dan kekedjaman jang melam- paui batas2 perikemanusiaan daripada kaum ningrat dan kaum geredja; difihak lain ia melukiskan keadaan masjarakat dipulau Ütopi sebagai kontrasnja atau tandingannja. Didalam masjarakat Utopi itu tiada sistim hakmilik perseorangan atas alat² produksi; produksi masjarakat diatur dan dilakukan setjara gotongrojong, dan hasil²nja dibagi setjara merata pula diantara anggota² masjarakat sehingga dengan demikian lenjaplah perbedaan antara mis-

kin dan kaja. Semua orang harus bekerdja dilapangan produksi, baik pertanian maupun keradjinan tangan sehingga tiada lagi perbedaan antara kota dan desa. Waktu kerdja dikurangi mendjadi 6 djam sehari, sedang sisa waktu luangnja digunakan sepenuhnja untuk aktivitet dilapangan kesenian, kesusasteraan dan ilmu. Lem- baga² masjarakat dibentuk setjara demokratis melalui pemilihan umum sehingga tiada lagi kediktatoran radja², tiada lagí undang² dan peraturan² jang bengis dan mengekang kebebasan individu, semua anggota masjarakat mempunjai kedudukan jang sama dan sederadjat. Kedjudjuran dan kesederhanaan, persaudaraan dan kegotongrojongan mendjadi tjiri moral masjarakat. Sistim dan perlengkapan kemiliterannja ditudjukan untuk membela diri, tidak untuk melakukan agresi terhadap negeri lainnja. Masjarakat Utopi" jang digambarkan oleh More itu djustru adalah suatu ,refleksi dari keadaan sosial di Inggris pada zaman itu, dimana sedang berlangsung proses akumulasi primitif kapital. Beribu-ribu kaum tani diusir dari tanahgarapannja dengan segala kekerasan dan kekedjaman. Tanah² sawah diubah mendjadi ladang² penggembalaan domba2 untuk memenuhi kebutuhan manufaktur-manufaktur tekstil akan bahan wol, sehingga More melukiskan keadaan pada ketika itu sebagai zaman domba makan orang". Pertumbuhan tjara produksi kapitalis jang menimbulkan ketidakadilan, kesengsaraan dan keburukan² sosial jang sangat menjolok mata dan menjakiti perasaan kemanusiaan itu telah membikin More takut melihat kedepan sehingga ,masjarakat adil dan makmur" jang ditjita-tjitakannja itu nampak djelas tidak menghendaki per- kembangan industri lebih landjut, melainkan mempertahankan per~ tanian dan keradjinan-tangan sebagai dasar produksi masjarakat, dan mengandjurkan kesederhanaan atau pembatasan dalam kenikmatan kekajaan materiil, tapi mengedjar kenikmatan kekajaan spirituil, terutama dilapangan kesenian, jang dianggapnja sebagai kesenangan dan kebahagiaan hidup jang paling tinggi. Hampir seabad kemudian, kita mengenal pula, misalnja, suatu tjita² masjarakat ,adil dan makmur" jang di-idam²kan oleh seorang filsuf Italia, Tomaso Campanella (1568-1639) dibentangkan dalam karjanja jang termashur Kota Surya. Campanella semula adalah seorang paderi, tetapi kenjataan sosial jang pahit membikin ia kemudian menentang kekuasaan agama dinegerinja. Pada ketika itu Italia didjadjah oleh Spanjol, dengan menggunakan agama sebagai alat penindasannja jang efektif, Disamping mengemukakan filsafatnja dalam karjanja Philosophia Sensibus Demonstrata jang menentang filsafat skolastik jang berkuasa pada ketika itu, Campanella djuga memimpin gerakan dibawahtanah untuk membebas- kan tanahairnja dari pendjadjahan keradjaan Spanjol. Hal ini me-

njebabkan ia kemudian ditangkap dan ditahan didalam pendjara selama 27 tahun. Kota Surya adalah sebuah tjiptaannja selama dalam tahanaa itu. Dalam karjanja: itu, Campanella disamping mentjela hakmilik perseorangan sebagai sumber dari segala kedjahatan dan keburukan sosial, djuga berpendapat bahwa kerdja adalah kewadjiban jang terhormat dan mutlak bagi setiap orang. Campanella menggambarkan Rakjat Kota Surya itu hidup dalam keadaan serba samarata-samarasa" dalam makna bahwa tiada perbedaan dalam soal tempattinggal, makan, pakaian, dsb. diantara anggota² masjarakat. Dalam fantasi Campanella terdapat fikiran² jang madju, misalnja; ia mengemukakan bahwa didalam masjarakat dimana·tiada sistim hakmilik perscorangan, tiada penindasan dan penghisapan serta ketidakadilan, kesenian; teknik dan ilmu pengetahuan akan:dapat berkembang madju, dan ini merupakan sjarat mutlak bagi kemakmuran dan kebahagiaan masjarakat. Maka ia menggambarkan bahwa Rakjat Kota Surya itu hanja bekerdja 4 djam sehari dengan menggunakan teknik jang tinggi untuk me- ringankan kerdjánja dan mentjiptakan kehidupan jang makmur.

2.Sosialisme Utopi Pada achir abad ke-18 dan awal abad ke-19, kapitalisme berkembang sangat pesat di Eropa, terutama di Inggris, berkat peng- gunaan mesin² uap dan teknik modern dilapangan produksi. Tetapi seiring dengan itu djuga proses diferensiasi atau polarisasi. jaitu. pemusatan kekajaaa masjarakat kedalam tangan segolongan ketjil kaum bermodal disatu fihak dan pemiskinan serta pemela- ratan sebagian besar penduduk difihak lain, berlangsung makin tjepat pulajang berarti mempertjepatdatangnja krisis ekonomi kapitalis. Pertentangan2 antagonis didalam masjarakat makin me- nadjam dan menondjol, walaupun antagonisme antara burdjuasi dengan proletariat pada waktu itu masih belum berkembang penuh. Ketidakadilan dan kedjahatan² sosial meradjalela. Dalam keadaan demikian inilah maka tjita² akan suatu masjarakat jang adil dan makmur tumbuh dengan kuatnja, sehingga ia tidak lagi merupakan angan² jang haaja hidup dalam chajalan belaka, tetapi sudah mulai berusaha mendapatkan kekuatan materiil untuk merealisasinja. Maka timbullah suatu gerakan sosial jang terkenal dengan sebutan gerakan sosialis utopi. Tokoh² kaum sosialis utopi itu antara lain adalah Robert Owen (1771-1858) di Inggris, Saint Simon (1760-
1825) dan Fourier (1772-1837) di Perantjis. Walaupun teori² mereka tentang Sosialisme masih mentah sesuai dengan keadaan produksi kapitalis dan hubungan klas² pada masa itu jang masih
belum tjukup matang, dan djuga telah dibuktikan oleh kegagalan pertjobaan² (experimen²) jang telah mereka selenggarakan, namun fikiran² dan benih² fikiran jang tjemerlang, jang di-mana2 menondjol keluar dari kulitnja jang chajal, jang djustru tak terlihat oleh kaum filistin" 57), sangatlah besar artinja, bahkan merupakan suatu sumber jang penting bagi Sosialisme ilmu jang ditjiptakan oleh Marx dan Engels. Robert Owen tidak haaja seorang pengusaha jang tjermat, tetapi djuga seorang pemimpin jang berbakat. Pandangan sosialnja mendekati kaum materialis Perantjis abad ke-18. Ia berpendapat bahwa watak dan moral seseorang disatu fihak ditentukan oleh pembawaan dari lahirnja, difihak lain ditentukan djuga oleh keadaan sosial dimana ia hidup. Hanja dengan djalan memperbaiki keadaan sosial atau sjarat² kehidupan sosial, barulah bisa ditjapai perbaikan watak dan moral manusia. Akan tetapi, berbeda dengan kaum materialis Perantjis abad ke-18 jang menganggap masjarakat kapitalis sebagai masjarakat jang rasionil dan ideal, Owen berpendapat masjarakat kapitalis belum rasionil, dan tidak rasionil- nja itu karena manusia belum menjedari akan hakekat dirinja sendiri". Ia pernah berkata: Adalah suatu kegilaan bahwa di- bawah sistim. masjarakat jang ada sekarang ini, kekuatan jang besar ini (jang dimaksud adalah tenaga produktif masjarakat pada masa itu — DNA) digunakan demikian buruknja sehingga ia tidak menghasilkan kemakmuran, memupuk moral jang baik, tetapi, ma- lah membuat kemiskinan dan dosa". 58) Kalau filsuf2 materialis Perantjis abad ke-18 menghendaki penghapusan hak² istimewa kaum bangsawan sadja, Owen menghendaki penghapusan pertentangan klas2 dan menegakkan persamaan dan keadilan antara manusia jang satu dengan lainnja. Tetapi, suatu masjarakat sosialis jang rasionil, jang tiada perbedaan klas2, menurut Owen tidak dapat ditjapai dengan perdjuangan klas, dengan kekerasan revo- lusi, melainkan dengan djalan penjebaran pengetahuan dan pen-. didikan tentang kebenaran, karena masjarakat sosialis itu adalah hasil daripada pengetahuan manusia tentang kebenaran. Untuk membuktikan kebenaran teorinja, dan sekaligus untuk menjebar- kan pengetahuan tentang kebenaran", maka sewaktu ia memimpin sebuah perusahaan di Manchester jang meliputi lebih dari 500 orang buruh, ia telah mentjoba merealisasi tjita²nja itu dengan memperoleh hasil² tertentu. Kemudian selama memimpin sebuah pabrik katun jang besar di New Lanark, Scotland (tahun 1800-

57)
F. Engels, Socialism : utopian and scientific, FLPH, Moskow, th. 1958, hlm. 58.
58) Rozenthal dan Judin, Kamus Filsafat, bahasa Rusia, tjetakan ke-IV Moskow, 1955, hlm. 354.

1829), ia telah mendapatkan kesempatan jang lebih leluasa me- lakukan pertjobaannja itu dengan memperoleh hasil² jang lebih besar lagi sehingga namanja tersohor diseluruh Eropa. Berkat perbaikan sjarat² kehidupan sosial jang dilaksanakannja, maka di New Lanark jang terkenal sebagai koloni pertjontohan dengan penduduknja 2.500 orang jang bagian terbesar berasal dari anasir² jang sudah rusak moralnja, tidak terdapat lagi keburukan dan ke- djahatan sosial seperti pemabokan, pentjurian dsb. sehingga tak diperlukan lagi adanja polisi, kedjaksaan dan pengadilan, Kaum buruh New Lanark hanja bekerdja 1012 djam sehari, sedangkan kaum buruh di-pabrik² lainnja harus bekerdja 13-14 djam sehari. Disamping itu, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan mengembangkan intelek mereka dan anak²nja terdjamin. Owen adalah orang pertama jang menjelenggarakan Taman Pendidikan daa Penitipan Kanak². Dalam masa krisis, kaum buruh New Lanark masih bisa menerima upah penuh selama beberapa bulan. Sungguhpun demikian, bagi Owen keadaan itu masih djauh dari memuaskan, ia pernah berkata : orang² itu adalah budak jang bergantung kepada kemurahan hati saja'. Dan hasil pertjobaannja di New Lanark itu achirnja kandas samasekali sebagai akibat dari krisis ekonomi kapitalis dan persaingan jang makin hebat. Begitu- pun djuga usaha² pertjobaannja di New Harmony, Indiana (Ame- rika Serikat) dan di Mexico jang diselenggarakannja dengan beaja sendiri, telah mengalami kegagalan sehingga membikin ludes harta kekajaannja. Sesudah itu ia kembali lagi ketanahairnja dan aktif dalam gerakan Serikat Buruh dan gerakan koperasi. Dalam penilaiannja terhadap kehidupan Owen, Engels berkata: Setiap gerakan sosial, setiap kemadjuan njata jang terdjadi di Inggris untuk kepentingan klas buruh tak dapat dipisahkan dengan nama Owen". 59) Saint Simon adalah putra Revolusi Perantjis", walaupun ia berasal dari keluarga bangsawan. Akan tetapi, berbeda dengan filsuf² dan ahli² sedjarah Perantjis jang memudja dan membela şistim masjarakat kapitalis pada ketika itu, ia malah mengetjamnja dan menjatakan bahwa masjarakat kapitalis itu pasti akan diganti oleh suatu sistim masjarakat jang lebih sempurna, jaitu masjarakat sosialis jang ia tjita2kan. Ia berpendirian demikian karena ia me- lhat kenjataan² bahwa kemenangan Revolusi Besar Perantjis jang ia ikutserta memberikan amalnja itu tidak mendatangkan sedikit- pun perbaikan nasib kepada klas jang paling besar djumlahnja dan jang paling miskin' ("la classe la plus nombreuse et la plus
59)F. Engels, Socialism : utopian and scientific, FLPH, Moskow 1958, hlm. 68-69.
pauvre"), jang ia bela, melainkan telah memberikan hak2 istimewa dan keuntungan² kepada segolongan ketjil dari kaum burdjuis jang kaja; disamping itu karena ia mempunjai pandangan-sedjarah jang lebih madju daripada mereka. Ia tidak sependapat dengan mereka jang beranggapan bahwa sedjarah itu merupakan rentetan atau tumpukan peristiwa² jang terdjadi setjara kebetulan, dan ia telah berusaha untuk menemukan dan menerangkan bahwa perkembangan sedjarah itu ada hukum2nja, sekalipun ia tak berhasil dalam usahanja. Ia djuga tidak sependapat dengan Rousseau jang menjatakan bahwa sistim masjarakat komune primitif itu adalah mą- sjarakat jang ideal. Ia berpendapat bahwa setiap tingkat proses perkembangan sedjarah masjarakat, bagaimanapun djuga adalah lebih baik dan lebih madju daripada tingkat jang mendahuluinja, karena masjarakat jang baru itu mendorong madju produksi, ilmu dan seni, Oleh karena itu, maka ia menjatakan bahwa zaman ke- emasan masjarakat manusia masih akan datang. Fourier tidak hanja seorang kritikus, tetapi djuga seorang satiris jang besar. Ia mengkritik dan mengetjam masjarakat kapitalis setjara tadjam sekali. Menurut Fourier, dalam masjarakat kapitalis penumpukan kekajaan disatu fihak telah menimbulkan kemiskinan, difihak lain kebahagiaan segolongan orang dibangun diatas penderitaan segolongan orang lainnja. Dari sebab itu, sistim masjarakat jang demikian itu telah merusak kepribadian manusia, menekan perasaan, fikiran dan keinginan manusia. Ia mengkritik setjara pedas hubungan sex dan kedudukan kaum wanita didalam masjarakat burdjuis. Ia adalah orang jang pertama kali menjatakan bahwa tingkat kebebasan kaum wanita didalam suatu masjarakat merupakan ukuran tingkat kebebasan masjarakat keseluruhannja. Ia berpendapat bahwa manusia pada hakekatnja adalah baik, jang menjebabkan manusia berbuat dosa adalah karena sistim masjarakat jang tak dapat memenuhi segala keinginan manusia. Tetapi suatu sistim masjarakat tidaklah abadi, melainkan ada masa² lahir- nja, perkembangannja dan kehantjurannja. Berdasarkan fikiran ini, maka ia menggambarkan sistim masjarakat jang akan datang. Menurut pendapatnja, masjarakat jang akan datang berbasiskan "phalange" (persekutuan-hidup) jang terdiri dari berbagai tjabang produksi. Setiap anggota "phalange" itu mempunjai hak bekerdja menurut keinginannja. Kerdja merupakan suatu kebutuhan, suatu kenikmatan, karena dalam "phalange" itu telah tiada kesempitan ruang kerdja, setiap anggota dalam satu hari-kerdja dapat ber- pindah beberapa kali dari satu lapangan pekerdjaan kelapangan pekerdjaan lainnja, dengan demikian dapat memenuhi watak segi-banjak" manusia. Dalam masjarakat jang akan datang itu, kepentingan perseorangan bersesuaian dengan kepentingan kolek-

tif. Harga-diri manusia dalam sistim masjarakat itu demikian ting- ginja sehingga tak dikenal lag: rintangan jang ,,tak mungkin" di- atasi. Kemakmuran kekajaan materiil masjarakat meningkat terus- menerus berkat perkembangan dajatjipta kerdja dan peningkatan produktivitet kerdja. Dan untuk itu, maka sistim distribusinja berdasarkan pada prestasi dan keahlian kerdja. Sistim masjarakat jang demikian itu, menurut Fourier, dapat ditjapai dengan djalan damai tanpa kekerasan revolusi. Bahkan sistim "phalange" itu dapat djuga dilaksanakan didalam masjarakat burdjuis. Oleh ka- renanja ia pernah meminta bantuan kaum burdjuis untuk melaku- kan pertjobaan2nja dengan pembagian hasil sbb.: 4/12 untuk pe- serta modal, 5/12 untuk pekerdja menurut djumlah kerdjanja dan 3/12 untuk pekerdja menurut keahliannja. Tetapi usaha²nja ini dengan sendirinja mengalami kegagalan.

  1. Sosialisme Marx Pada tahun² 40-an abad ke-19, seiring dengan perkembangan kapitalisme, maka antagonisme antara klas burdjuis dengan klas proletar makin menadjam dan menondjol. Gerakan klas proletar sudah berkembang demikian hebatnja sehingga merupakan suatu kekuatan politik jang mau tak mau harus diakui oleh semua ke- kuasaan di Eropa pada ketika itu. Djustru dalam keadaan demikian inilah lahir Sosialisme ilmu, jang merupakan salahsatu bagian daripada Marxisme, sebagai pernjataan klas proletar akan tjita² dan tudjuan perdjuangannja: membebaskan dirinja dan seluruh umatmanusia dari kemiskinan dan kemelaratan, dari segala, bentuk penghisapan dan penindasan atas manusia oleh manusia, dan untuk membangun dunia baru dunia sosialis. Berbeda dengan adjaran² Sosialisme utopi jana sangat banjak tiorakragamnja pada ketika itu, Sosialisme ilmu Marx tidak berdasarkan semata-mata pada ,,kemauan baik" dan ,akal" subjektif. melainkan berdasarkan pada hukum objektif perkembangan sedjarah masjarakat manusia. Ketika Marx meninggal, dalam nidato- nja didepan makam Marx, Engels berkata : ,Sebagaimana Darwin menemukan hukum perkembanqan alam organik, demikian pula Marx menemukan hukum perkembangan sedjarah manusia". 60) (kurs'f dari saja — DNA). Penemuan Marx jang besar ini telah mendatangkan revolusi dalam pandangan sedjarah manusia. Ke- katjauan dan kesewenang-wenangan jang sampai saat itu mengua-
    60)F. Engels, Pidato didepan makam Marx, lihat Marx-Engels Selected Works, Vol. II FLPH, Moskow 1949, hlm. 153.
    sai pandangan² tentang sedjarah dan politik, digantikan oleh teori jang sangat padat dan harmonis". 61) Menurut adjaran Marx perkembangan sedjarah masjarakat tidak ditentukan oleh kekuatan apapun jang berada diluarnja, melainkan oleh kekuatan² jang berada didalam masjarakat itu sendiri; djuga tidak ditentukan oleh ide" atau akal" seseorang radja atau pemimpin besar dari masjarakat, melainkan oleh tjara manusia menghasilkan kebutuhan hidup materiilnja, jaitu tjara produksi. Diproklamasikannja Manifes Partai Komunis dalam tahun 1848 adalah djustru merupakan djawaban atas tugas sedjarah manusia jang ditimbulkan dalam situasi dimana manusia menjedari akan bentrokan² jang terdjadi antara tenaga² produktif dengan hubungan² produksi dalam tjara produksi kapitalis jang diwudjud- kan terutama dalam bentuk perdjuangan klas jang antagonis antara burdjuasi dengan proletariat, Dalam tulisan itulah Marx dan Engels setjara lengkap dan sistimatis mendjelaskan perwudjudan kongkrit berlakunja hukum umum perkembangan masjarakat tersebut diatas dalam masjarakat kapitalis, sehingga mereka mentja- pai kesimpulan bahwa ,,apa jang dihasilkan oleh burdjuasi jalah, terutama sekali, penggali² liangkuburnja sendiri (proletariat)" dan ,,keruntuhan burdjuasi dan kemenangan proletariat adalah sama² tidak dapat dielakkan lagi". 62) Dalam tahun 1913, dengan sebuah tulisan jang berdjudul Nasib Sedjarah Adjaran Karl Marx, Lenin setjara tadjam telah memberi penilaian akan kebenaran adjaran Marx tersebut berdasarkan pengalaman sedjarah semendjak dilahirkannja sampai pada saat itu. Dalam penilaian itu dikemukakan bahwa adjaran Marx telah mengalami pengudjian tiga masa sedjarah:

a) Dari Revolusi 1848 (di-negeri Eropa) hingga Komune
Paris (1871) : Dalam masa jang penuh dengan pergolakan² dan revolusi² ini telah dibuktikan bahwa hanja klas proletar sendirilah jang berwatak sosialis, dan semua adjaran tentang Sosialisme non-klas dan politik non-klas adalah omongkosong belaka dan satu persatu mati terbentur oleh praktek sedjarah; sedang kebenaran adjaran Marx Sosialisme ilmu, makin njata dan melahirkan kekuatan² materiilnja, jaitu terbentuknja Partai² proletar sebagai kekuatan politik jang berdiri sendiri dan terbentuknja Interna- sionale Pertama (1864-1872).

b) Dari Komune Paris sampai pada Revolusi Rusia (1905) :
61) W.I. Lenin, Tentang Adjaran² Karl Marx, Pustaka Ketjil Marxis No. 1, Jajasan Pembaruan", th. 1955, hln. 9.
62)Karl Marx dan Friedrich Engels, Manifes Partai Komunis, Tjetakan ke-3, Jajasan Pembaruan", 1959 hlm. 67.

Dalam masa jang relatif damai" ini, kemenangan teoritis Marxisme telah memaksa musuh²nja menjamar sebagai kaum Marxis dengan mengenakan badju ,,oportunisme sosialis" jang mengadjar- kan ,perdamaian sosial"; sedangkan adjaran Marx memperoleh kemenangan jang penuh dan tersebar luas, barisan² proletariat dibawah pimpinan partainja sedang mengadakan latihan² dengan menggunakan parlementarisme burdjuis dan mengadakan penja- ringan dan persiapan² untuk menghadapi pertempuran jang mendatang.

c) Semendjak Revolusi Rusia (1905) : Masa ini merupakan
zaman ,taufan dunia" jang dimulai di Asia dan berkumandang ke Eropa. Dalam taufan revolusi² dan kebangkitan Rakjat2 tertindas di-negeri² Asia dan semi-Asia ini telah ditundjukkan dengan dje- las kelapukan dan kesekaratannja kapitalisme dan burdjuasi; dan membikin Eropa modern mendjadi suatu ,tong mesiu"; sedangkan kekuatan proletariat dibawah adjaran Marx makin membesar dan mematang. Achirnja Lenin menjimpulkan: Masing2 dari ketiga masa jang besar dari sedjarah dunia sedjak lahirnja Marxisme itu telah memberikan pengakuan baru dan membawa kemenangan² baru bagi Marxisme. Akan tetapi kemenangan jang lebih besar lagi bagi Marxisme, sebagai adjaran proletariat, sedang menanti di- dalam masa sedjarah jang sekarang sedang mendatang". 63) Apa jang diramalkan oleh Lenin dalam kesimpulannja ter- sebut diatas, tak lama kemudian telah benar² mendjadi kenjataan. Dalam tahun 1914 djadi hanja setahun kemudian ~, tong mesiu" Eropa telah meledak. Dan dalam tahun 1917, taufan Revolusi Sosialis Oktober telah menghantjurkan matarantai kapitalisme dunia di Rusia. Kebenaran2 adjaran Marx Sosialisme ilmu, untuk pertama kalinja diwudjudkan sepenuhnja dalam kenjataan di Rusia oleh klas proletar dan Partainja, Kemenangan teoritis Marxisme kini telah berkembang mendjadi kemenangan praktis. Pengalaman sedjarah selandjutnja hingga sekarang telah me- nundjukkan dengan kuatnja bahwa Sosialisme Marx jang sudah tumbuh dalam kenjataan disatu negeri itu tidak hanja tak dapat ditumpas mati oleh segala tipudaja jang busuk dan kedjam dari kaum imperialis, malah kian hari kian tumbuh besar dan kuat, dan sesudah Perang Dunia kedua telah meluas mendjadi suatu sistim jang meliputi 1/3 dari seluruh penduduk dunia. Selain dari itu, sebagian terbesar gerakan buruh diseluruh dunia berpegang pada

63) W.I. Lenin, Nasib Sedjarah Adjaran Karl Marx, dalam Pustaka Ketjil Marais No. 1, penerbitan Jajasan Pembaruan", th. 1955, hlm. 23.
adjaran2 Marx, sebagian besar Rakjat2 jang sedang berdjuang untuk kemerdekaan nasional dan demokrasi telah memilih djalan menudju ke Sosialisme. Sungguh tepat sekali rumusan dalam Per- njataan Bersama Wakil2 dari 81 Partai2 Komunis dan Partai² Buruh pada tahun 1960 bahwa ,Dewasa ini sistim sosialis dunia, dan kekuatan jang berdjuang melawan imperialisme, untuk peng- ubahan sosialis atas masjarakatlah, jang menentukan isi pokok, aliran pokok dan tjiri pokok perkembangan sedjarah dari masjarakat. Usaha apapun jang dilakukan oleh imperialisme, usaha itu tidak dapat menghentikan kemadjuan sedjarah. Basis jang teper- tjaja telah diletakkan untuk kemenangan menentukan jang lebih landjut dari Sosialisme. Kemenangan penuh Sosialisme tak ter-

elakkan". 64) Djadi, soalnja kini bukan lagi benar atau tidaknja

Sosialisme ilmu Marx, melainkan lebih atau kurang tjepatnja kemenangan penuh Sosialisme itu diseluruh dunia.

4. Tjita² Sosialisme Di Indonesia

Proses perkembangan sedjarah tjita² Sosialisme jang demikian itu berlaku djuga di Indonesia, sudah tentu, dengan kechususan² atau kepribadian²nja jang ditentukan oleh sjarat² sedjarah masjarakat Indonesia sendiri. Sebagaimana sering dikemukakan oleh Presiden Sukarno dalam pidato2nja, tjita² akan suatu masjarakat jang adil dan makmur atau ,Sosialisme" djuga sudah lama terdapat di Indonesia. Tjita² demikian itu dapat kita djumpai melalui dongengan² jang hingga kini masih berakar luas dikalangan Rakjat kita, misalnja, tjerita² tentang Ratu Adil, atau tjerita2 wajang, antara lain, sebagaimana sering ditundjukkan oleh Presiden Sukarno, tentang keadaan ke- radjaan Pandawa di Amarta, atau Kresna di Dwarawati, jang mentjerminkan suatu masjarakat ideal". Menurut bahasa ki Da- lang, masjarakat ideal" itu demikian sempurnanja dalam kehi- dupan politiknja, sehingga ,,pandjang-pundjung, pandjang potja- pane, pundjung kewibawane", jang menurut Bung Karno mengan- dung suatu tjita² politik dan berarti : Negaranja adalah begitu termasjhur sehingga ditjeritakan orang pandjang-lebar sampai keluarnegeri, dan bahwa negara itu berwibawa tinggi sekali"; bahwa situasi perekonomiannja adalah: hapasir hawukir ngadep segara kang bebandaran, hanengenake pasabinan. Bebek ajam radjakaja, endjang medal ing pangonan, surup bali ing kandange

(4) Pernjatan Pertemuan Wakil Partaiz Komunis dan Partaiz Buruh, penerbitan Jajasan Pembaruan", 1960, hlm. 8.
TOI

dewe-dewe. Wong kany lumaku dagang rinten dalu tan wonten pedote, labet saking tan wonten sangsajaning margi"; jang menurut Bung Karno mengandung suatu tjita² ekonomi, dan berarti bahwa ,negaranja penuh dengan bandar2, sawah², dan begitu makmurnja hingga tidak ada pentjuri2. Itik, ajam, ternak pagi² keluar sendiri ketempat angon, kalau sudah magrib pulang sendiri kekandangnja. Orang berdjalan dagang siang dan malam tidak ada putusnja, karena tidak ada gangguan didjalan"; bahwa susunan masjarakatnja adalah : ,,tata-tentnam, kerta rahardja, gemah ripah, loh djinawi"; jang menurut Bung Karno mengandung suatu tjita² sosial, dan berarti bahwa negaranja adalah ter- atur, tentram, orang bekerdja aman, orangnja ramah-tamah, ber- djiwa kekeluargaan dan tanahnja subur". 65) Pada achir abad ke-19 dan awal abad ke-20, setelah imperialisme Belanda menantjapkan kakinja ditanahair kita dengan segala kekerasan dan kekedjaman menindas perlawanan² bersen- djata Rakjat kita, maka kemiskinan dan kemelaratan meradjalela sangat mendalam dan merata dikalangan Rakjat Indonesia. Dalam keadaan demikian inilah kita mendjumpai tumbuhnja adjaran dan gerakan Saminisme jang tjukup besar pengaruhnja dikalangan Rakjat tani kita, misalnja diberbagai tempat di Djawa Timur dan Djawa Tengah. Walaupun adjaran Saminisme itu lebih banjak mengenai etika, tetapi dalam pandangan sosialnja terdapat fikiran² jang madju, jang oleh pendjadjah dipandang sangat membahaja- kan kedudukannja. Misalnja, mereka berpendapat diantara ma- nusia sesamanja adalah saudara, tiada hubungan saling menindas dan saling menghisap, melainkan saling bantu dan saling hormat, pendeknja gotongrojong. Mereka djuga berpendapat bahwa bumi dan alam Indonesia adalah milik bersama Rakjat Índonesia, setiap orang Indonesia berhak melakukan usaha²nja diatas buminja sendiri dan memiliki hasil kerdjanja sendiri. Berdasarkan fikiran inilah mereka menolak membajar padjak kepada pemerintah kolonial. Bentuk perlawanan Rakjat Indonesia setjara ,damai" inipun di- tindas oleh kaum pendjadjah dengan kekerasan, beberapa pemimpin kaum Samin ditangkap dan dibuang ketempat pengasingan. Dengan tumbuhnja gerakan nasional jang dipelopori oleh klas buruh Indonesia, maka gerakan kaum Samin mengalami masa su- rutnja dan kini hanja merupakan suatu sekte adjaran kebatinan. Bersamaan dengan tumbuhnja gerakan klas buruh Indonesia sebagai akibat langsung dari pertumbuhan imperialisme ditanahair kita pada awal abad ke-20, maka tumbuhlah adjaran dan tjita²

65)Roeslan Abdulgani, Perkembangan Tjita² Sosialisme di Indonesia, penerbitan Jajasan Perguruan Tinggi Malang, th. 1960, hlm. 9-10.
Sosialisme ilmu Marx dibumi Indonesia. Sedjak berdirinja PSDH (Perkumpulan Sosial-Demokrat Hindia Indische Sociaal-Democratische Vereniging ~ ISDV) dalam tahun 1914 tjita² Sosialisme ilmu mulai diperkenalkan. Dan sedjak kemenangan Revolusi Sosialis Oktober Besar 1917 di Rusia jang menggempar- kan seluruh dunia itu, Sosialisme tidak hanja sudah sangat po- puler, malah sangat digandrungi oleh Rakjat Indonesia. Klas buruh Indonesia mendjadi sedar dan gerakannja madju pesat dibawah pimpinan barisan pelopornja, jaitu Partai Komunis Indonesia jang didirikan pada tanggal 23 Mei 1920. Klas buruh Indonesia dibawah pimpinan Partainja segera menjedari bahwa pembebasan mereka hanja bisa tertjapai apabila seluruh tanahair dan bangsa- nja sudah dapat dibebaskaa dari belenggu kolonialisme dan imperialisme; dan kemerdekaan nasional itu hanja bisa ditjapai se- penuhnja apabila klas buruh Indonesia dapat dan mampu me- mimpin perdjuangan revolusioner itu. Berdasarkan kesedaran dan kejakinaa inilah maka klas buruh Indonesia dibawah pimpinan Partainja sedjak itu selalu berdiri digaris paling depan dan selalu paling konsekwen dalam perdjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme dan untuk kemerdekaan nasional, sehingga pengaruh kaum Komunis Indonesia dan ide Sosialisme sangat besar dikalangan Rakjat pekerdja. Begitu luas dan kuatnja pengaruh Sosialisme dikalangan Rakjat Indonesia sehingga pemimpin² Sarikat Islam pada ketika itu, seperti almarhum H.O.S. Tjokroaminoto tidak mau ketinggalan ikutserta mengangkat pandji ,Sosialisme" dengan menjatakan bahwa adjaran Islam adalah anti-kapitalisme dan sesuai dengan Sosialisme sebagaimana dapat kita ketahui dari tulisan beliau iang terkenal dengan djudul Islam dan Sosialisme. Dalam tahun 1933, dalam tulisannja Mentjapai Indonesia Merdeka, Bunq Karno merumuskan hasrat Rakjat Indonesia dengan tegas bahwa Indonesia Merdeka bukanlah tudjuan terachir dari perdjuangan Rakjat djelata Indonesia, melainkan sebagai ,djembatan emas" untuk menudju kesuatu masjarakat jang adil dan sempurna, dimana tiada tindasan dan hisapan, tiada keningrat- an dan keburdjuisan, tiada imperialisme dan kapitalisme, dan tiada klas-klasan. Dan untuk itu maka ditjanangkan oleh Bung Karno: ,Indonesia Merdeka hanjalah suatu djembatan, sekalipun suatu djembatan emas! jang harus dilalui dengan segala keawasan dan keprajitnaan, djangan sampai diatas djembatan itu Kereta-Kemenangan dikusiri oleh lain orang selainnia Marhaen. Seberang djembatan itu djalan petjah djadi dua: satu ke Dunia Keselamatan Marhaen, satu kedunia sama-ratap-sama-tangis. Tjelakalah Marhaen, bilamana Kereta itu masuk keatas djalan jang kedua, me-

nudju kealamnja kemodalan Indonesia dan keburdjuisan Indonesia! Oleh karena itu, Marhaen, awaslah awas! Djagalah jang Kereta Kemenangan nanti tetap didalam kendalian kamu, djagalah jang politieke maoht nanti djatuh didalam tangan kamu, didalam tangan besi kamu, didalam tangan badja kamu !" 66) dan djangan sampai politieke macht itu djatuh kedalam tangannja fihak burdjuis dan ningrat Indonesia". 67) Didalam tulisan lain Marhaen dan Proletar (tahun 1933), Bung Karno mendjelaskan : ,Marhaen jaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia jang melarat dan kaum melarat Indonesia janq lain²". Marhaen menurut pengertian ini adalah sama dengan Rakjat pekerdja. Didalam perdjuangan Rakjat Indonesia. menurut Bung Karno ..kaum proletar mengambil bagian jang besar sekali", sebab, kata Bung Karno, ,,kaum proletarlah jang lebih 'mengerti' akan segala-galanja kemodernan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Mereka lebih 'selaras zaman', mereka lebih 'njata
fikirannja', mereka lebih 'kongkrit', dan....... mereka lebih besar
harga-perlawanannja, lebih besar gevechtswaardenja dari kaum jang lain²". Maka ,tentara kita adalah benar tentaranja Marhaen. tentaranja klas Marhaen, tentara jang banjak mengambil tenaga- nja kaum tani, tetapi barisan pelopor kita adalah barisannja kaum buruh, barisannja kaum proletar". 68) Djadi, djelaslah bahwa walaupun pada waktu itu di Indonesia belum terdapat pengertian teoritis jang dalam tentang Sosialisme. tetapi Rakjat pekerdja setjara sedar sudah menentukan arah perdjuangannja, iaitu dengan melewati kemerdekaan nasional menudju kemasjarakat sosialis. Seirinq dengan perkembangan situasi internasional. terutama sesudah Perang Dunia kedua dimana Sosialisme tumbuh makin besar dan kuat. sedang kapitalisme makin lapuk dan sekarat, maka pengertian Rakjat pekerdja Indonesia tentang Sosialisme tidak lagi abstrak dan remeng2, melainkan makin djelas dan kongkrit, dan ditambah pula dengan pengalaman perdjuangannja sendiri, sedjak meletusnja Revolusi Agustus 1945, sangat memperkuat ke- jakinan Rakjat pekerdja Indonesia akan kebenaran tudjuan perdjuangan jang sudah lama ditetapkannja. Dalam amanatnia kepada Depernas pada tanggal 28 Agustus 1959, Presiden Sukarno mengatakan bahwa Indonesia sebagai

66) Ir. Sukarno. Dibawah Bendera Revolusi, Djilid Pertama, th. 1959. hlm. 315-316.
67) Ir. Sukarno. Dibawah Bendera Revolusi, Djilid Pertama, th. 1959, hlm. 287-288.
68) Ir. Sukarno, Dibaiwah Bendera Revolusi, Djilid Pertama, th. 1959. hlm. 253, 254 dan 256.
salahsatu negara jang dilahirkan ditengah-tengah konfrontasi² sistim sosial dunia: (a) Disatu fihak kapitalisme modern jang kehilangan tanah djadjahannja sebagai tjadangan dan jang dari krisis kekrisis sedang memasuki krisis umumnja menudju kebang- krutan sepenuhnja, (b) difihak lain Sosialisme jang tumbuh dan sedang berkembang dengan kuat dan sebagai tandinganaja mem- perlihatkan keunggulannja disemua lapangan terhadap kapitalisme modern (imperialisme)" dan Indonesia ,,tidak mau menempuh dja- lan dunia lama (kapitalisme)". 69) Ini berarti bahwa zaman kapitalisme bagi Indonesia sudah lampau, haridepan Indonesia jang djaja bukanlah kapitalisme jang sedang mati itu, melainkan Sosialisme. Tekad Rakjat Indonesia demikian itu makin kuat lagi setelah pengalamanaja jang pahit selama 16 tahun achir ini karena kereta revolusi dikusiri oleh orang² jang telah menjelèwèng dari Djiwa. dari Dasar, dan dari Tudjuan Revolusi", 70), sehingga nangka" kemenangan politik jang dihasilkan oleh Rakjat dengan da- rah dan keringatnja itu dimakan hanja oleh beberapa gelintir ma- nusia, sedang Rakjat sendiri hanja kebagian getah"'nja sadja. Dari sebab itu. dalam amanatnja kepada Depernas seperti tersebut diatas. Presiden Sukarno telah menandaskan untuk kesekian kali- nja bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia itu sekedar hanjalah, .satu djembatan untuk menudju dan achirnja mentjapai kepada tjita² bangsa Indonesia jang pokok, jaitu satu masjarakat jang adil dan makmur. satu masjarakat jang tiap² warganegara dapat hidup sedjahtera didalamnja, satu masjarakat tanpa penindasan, satu masjarakat tanpa exploitation de l'homme par l'homme, satu masjarakat jang memberikan kebahagiaan kepada seluruh Rakjat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, satu masjarakat jang ber- ulang? mendjadi inspirasi penegak semangat daripada segenap pedjuang² Bangsa Indonesia dan telah memberikan korbannja diatas persada perdjuangan Bangsa Indonesia itu", dan masjarakat
jang sedemikian itu, .... masjarakat sosialis á la Indonesia adalah
amanat penderitaan daripada segenap Rakjat Indonesia, jang ... kita sekarang harus merealisasikan". 71) Djelaslah kiranja bahwa Sosialisme Indonesia" sebagai haridepan Revolusi Indonesia itu bukanlah semata-mata suatu ide tjiptaan seseorang in een slapeloze nacht" (dalam satu malam

69) Amanat Pembangunan Presiden, Penerbitan Chusus No. 179, Departemen Penerangan R.I., hlm. 99.
70) Manifesto Politik Republik Indonesia 17 Agustus 1959, Penerbitan Chusus No. 76, Departemen Penerangan tjetakan ke-III, hlm. 34.
71) Amanat Pembangunan Presiden, Penerbitan Chusus No. 179, Departemen Penerangan R.I., hlm. 54 dan 58.

jang tidak tidur), seperti pernah dikatakan oleh Presiden Sukarno,

Dan adjaran2 Marx dan Lenin ini mendjadi terkenal dengan se-

djuga bukan suatu barang jang diimpor dari luarnegeri, atau se-butan Marxisme-Leninisme. suatu jang dipaksakan dari luar masjarakat Indonesia, melainkan

Sebagai penutup, saja ingin menegaskan bahwa Marxisme

suatu ,reaktief verzet van verdrukte elementen" (perlawanan pe-

atau Marxisme-Leninisme adalah pedoman untuk beraksi, djadi

nentangan daripada anasir2 tertekan). suatu kesedaran sosial jang ditimbulkan oleh keadaan sosial Indonesia scndiri, suatu histori-tidak ada persamaannja dengan tumpukan² mentera atau djampi

jang dapat mengobati segala matjam penjakit". Marxisme baru

sche Notwendigheit", suatu keharusan sedjarah. Sebagai keharusan

ada gunanja djika ditrapkan setjara kreatif. Marxisme adalah

sedjarah, tidaklah berarti, sebagaimana berulangkali dikatakan oleh

pedoman umum dan universil. Oleh karena itu, untuk memenang-

Presiden Sukarno, bahwa Sosialisme datang sebagai embun di-

kan revolusi Indonesia, Marxisme harus ,di-Indonesiakan", 'arti-

waktu malam dengan sendirinja" 72) tetapi hanja dapat direalisasi

nja harus ditrapkan sesuai dengan kondisi² Indonesia. Dengan

melalui kesedaran dan tindakan manusia, kesedaran dan tindakan

berpegang teguh pada adjaran² fondamentil Marxisme atau Marx-

Rakjat pekerdja. isme-Leninisme, kaum Marxis Indonesia harus setjara kreatif me- nentukan sendiri politik, taktik. bentuk perdjuangan dan bentuk

organisasinja berdasarkan keadaan² kongkrit di Indonesia.

Demikianlah uraian saja Tentang Marxisme. Saja telah meng- uraikaa kepada, Sdr.2 tiga bagian dari Marxisme, jaitu Filsafat, Ekonomi Politik dan Sosialisme Ilmu. Saja merasa berhasil djika uraian² ini dapat merangsang Sdr.2 untuk mempeladjari lebih lan-

Djakarta, pertengahan Februari 1967

djut Marxisme. Uraian ini tidak dimaksudkan lebih daripada itu. Marxisme adalah ilmu, maka sebagaimana dikatakan oleh Engels, hal itu meminta supaja ia dituntut sebagai ilmu, jaitu supaja ia dipeladjari". 73) Sebagai ilmu, Marxisme akan terus berkembang. dikembangkaa dan diperkaja oleh pengalaman² gerakan revolusi- oner tiap² negeri dan sedunia. Pada ketika kapitalisme mulai me- masuki tingkat perkembangannja jang tertinggi dan jang terachir, jaitu imperialisme, W. I. Lenin telah mengembangkan serta mem- perkaja Marxisme, chususnja dengan adjaran²aja mengenai imperialisme dan revolusi sosialis. Dengan berpangkal pada teori Lenin mengenai revolusi sosialis itulah klas buruh Rusia untuk pertama kalinja dalam sedjarah dapat memenangkan revolusi sosialis, me- negakkan negeri sosialis jang pertama didunia dan dengan demi- kiaa mengubah tjita² ilmiah Marx dan Engels mendjadi kenjataan. Adjaran² Lenin itu atau djuga disebut Leninisme tidak hanja mem- punjai artipenting nasional untuk Rusia, tapi telah terbukti sangat berharga bagi tertjapainja kemenangan revolusi disemua negeri. Oleh sebab itu, Leninisme adalah tidak lain daripada Marxisme pada zaman kita, zaman imperialisme dan revolusi sosialis dunia.

72) Presiden Sukarno, Mentjapai Moralitet Tinggi, Penerbitan Chusus No. 149, Departemen Penerangan R.I., hlm. 11.

73) F. Engels, The Peasant War in Germany, FLPH, Moskow, th. 1956,

hlm. 34.

INDEKS NAMA

L A Lamettrie, Julien Offray de, 24. Anaximander, 21, 22. ISI Lenin, W. I., 11, 15, 19, 30, 32, 40, Anaximenes, 21. 41, 47, 49, 65, 82, 89, 97, 107, 108, Aquinas, Thomas, 16, 17. 114, 115. hlm. Aristoteles, 16, 22. Locke, John, 23. M Bacon, Francis, 23. Mach, E., 19. Berkeley, George, 18. Marx, Karl, 8, 9, 11, 12, 26-30, 32, 33, 47-51, 54, 55, 56, 60, 63, 64, € 65, 74-84, 86-89, 93, 95, 98, 103, Cabet, 99. 106-109, 111, 114, 115. Campanella, Tomaso, 101, 102. Mau Tje-tung, 42. Cassendi, Pierre, 23. Mc. Culloch, J.R., 82. Comte, Auguste, 18, 19. More, Sir Thomas, 100, 101. D N Democritus, 21. Natsir, 43. Newton, Isaac, 37. Descartes, 23, 36. Dewey, John, 19. 0 Dühring, 36, 41. Owen, Robert, 99, 102, 103, 104. E Eisenhower, 19. Pandawa, 109. Engels, Friedrich, 11, 12, 13, 14, 28,Plato, 15, 16, 22, 99, 100. 33, 36, 38, 40, 41, 47, 57, 63, 64,Plechanov, 30. 65, 82, 95, 98, 99, 103, 104, 106. 107, 114. Epicurus, 21. Eriugena, Johannes, 16.

F

Fourier, 102, 105, 106.

H Hatta, 42. Hegel, 15, 16, 25, 26, 27, 28, 33. Heidegger, Martin, 19. Henry VIII, 100. Heraclitus, 21, 22, 36. Hobbes, Thomas, 23. Hobach, Paul d', 24, 27.

J James, William, 19. Jaspers, Karl, 19.

K Kant, Immanuel, 31. Kierkegaard, Sören, 19. Kresna, 109.

R Reesing, 66. Ricardo, David, 9, 55, 75, 76, 82. Robinson Crusóe, 81. Roem, 43. Rousseau, 105. S Saint Simons, 102, 104. Samin, 110. Sartre, Jean Paul, 19. Scotus, Duns, 16. Smith, Adam, 9, 55, 75, 76, 82. Spinoza, Benedictus, 23. Subandrio, Dr., 7, 8. Sukarno, Presiden, Bung Karno, 17, 39, 44, 46, 52, 93, 109, 110, 111, 112, 113, 114. Sukiman, 43. Sutjipto, Dr., 66. T Thales, 21. Tjokroaminoto, H.O.S., 111. W Weitling, 99.

Sepatah Kata Penerbit Pengantar untuk Tjetakan II

PENGANTAR

BAB I. FILSAFAT
Dua Kubu Dalam Dunia Filsafat

(A) Idealisme
a) Idealisme objektif
b) Idealisme subjektif
(B) Materialisme
a) Materialisme Primitif

b) Materialisme Mekanik
c) Lahirnja Materialisme Marxis
  1. Pokok² Pandangan Materialisme Dialektik
    (A) Dunia Adalah Materiil
    a) Apakah materi itu?
    b) Apakah ide itu?
    c) Peranan aktif daripada ide
    (B) Dunia Materiil Adalah Satu Kesatuan Organik a) Salinghubungan gedjala² adalah objektif b) Segala sesuatu ditentukan oleh keadaan, tempat
    dan waktu .....

c) Salinghubungan jang pokok dan bukan-pokok

(C) Dunia Materiil Senantiasa Bergerak dan Berkem-

bang Patah Tumbuh Hilang Berganti.

a) Gerak materi adalah gerak sendiri b) Diam adalah salahsatu bentuk gerak

c) "The new emerging forces" pasti menang ....

(D) Dunia Materiil Berkembang Menurut Hukumnja

Sendiri

a) Hukum tentang kontradiksi

b) Hukum tentang perubahan kwantitatif keper-

ubahan kwalitatif

c) Hukum tentang negasi daripada negasi ..

12 14 15 17 20 2i 22 25 29 29 29 30 31 32 33

34 35

36 37 38 38

39 40

Feuerbach, Ludwig, 8, 12, 27, 28.

48 49

(B) Tentang Peranan Massa Rakjat Pekerdja dan Indi-
51 55

  1. Produksi Kekajaan Materiil Adalah Dasar Kehidupan
    2.Tenaga² Produktif Dan Hubungan² Produksi Masjarakat
    55 Hukum Ekonomi Umum Perkembangan Masjarakat. Ke-

  2. Materialisme Histori ....
    (A) Tentang Perdjuangan Klas vidu Didalam Sedjarah ...
    BAB II. EKONOMI POLITIK

(Existensi) Masjarakat

  1. objektifan Hukum² Ekonomi
    4.Dasar (Basis) Dan Bangunan-Atas
    5.Watak Klas Dari Adjaran Ekonomi Marxis
    6.Tingkat® Perkembangan Masjarakat
    (A) Sistim Komune-Primitif
    (B)Sistim Pemilikan-budak
    (C)Sistim Feodal
    (D)Sistim Kapitalis
    (E) Sistim Sosialis
  2. Barangdagangan Dan Uang
  3. Kapital Dan Nilai-lebih
  4. Imperialisme, Tingkat Tertinggi Kapitalisme BAB III. SOSIALISME ILMU
  5. Sediarah Timbulnja Tjita² Sosialisme
  6. Sosialisme Utopi
    3.Sosialisme Marx
  7. Tjita Sosialisime INDEKS NAMA
    61

625 67 67 70 70 71

1727480

98 99 102 106 109 116

  1. Beberapa Aspek Mengenai Hakmilik Dalam Sosialisme

J1.2

2S

Sampul ditjetak di P.I.R. Order no. 535/62 — 10.000 ex.