Baca PDF (OCR): Raden Jaka Sukara

71 halaman · 71 halaman diproses dengan OCR· 86033 ms

Daftar isi
  1. Raden Jaka Sukara
  2. ABDUL ROZAK ZAIDAN
  3. ~len 9a~ J"~r41
  4. I I III i
  5. Jakarta, Oktober 2010
  6. KATA PENGANTAR
  7. Dr. Hasan Alwi
  8. lakarta, Agustus 1993
  9. Abdul Rozak Zaidan
  10. DAFTAR ISI
  11. Ya, aku Jaka Sukara. Itulah yang kukatakan ketika seorang
  12. "Buyung, siapa namamu?" ia bertanya dengan nada sombong. "Kamu sendiri siapa?" Aku balik bertanya.
  13. "Tak usah kau sebut namamu," aku memotong kata-
  14. Aku tetap bersabar. Tapi, anak itu rupanya memang
  15. "Siapa Bapakmu?"
  16. "Maafkan kekasaranku tadi, Jaka," ujarnya dengan kata-kata
  17. "Tidak apa-apa, Bang. Tak perlu kita perpanjang perse-
  18. Kudekati anak yang terbaring tak berdaya itu. Ia terkejut ketika sadar kudekati
  19. Ibu dan Kakek tersentak mendengar pertanyaanku yang
  20. "Jaka, Anakku. Kau benar-benar ingin tahu siapa nama
  21. "Cucuku, kau laki-laki jagoan, bukan. Mengapa hari ini
  22. an kepadaku, "tampaknya kau gelisah sore ini?"
  23. "Ya Cucuku, dalam penglihatan Kakek pun sore ini kau
  24. "Betul, penglihatan Kakek. Betul juga firasat Ibu. Aku
  25. '"Ibu, Kakek, aku pun siap pergi dengan doa Kakek dan
  26. PERPUSTAKAAN
  27. bersama Ibu dan Kakek. Kaīaù saja pertanyaan yang selama
  28. kini adalah rumahku. Segala demit dan binatang penghuninya
  29. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh benda bergerak yang sangat
  30. "Benar, Cucuku. Ibumu terus saja menangis mengingat-
  31. mengharuskan Kakek tetap tinggal di padepokan. Murid-
  32. kerajaan itu melawan seorang kesatria tampan yang gagah
  33. gagahnya daripada kesatria yang bertarung hari ini.
  34. bahak. "Kau memang masih anak-anak. Sebaiknya, anak
  35. berkelahi kan senang."
  36. Gatotkaca dan Raden Jaka Tilangin sudah siap di gelanggang.
  37. Kami bertiga sama-samàmembungkuk, berjongkok di depan Begawan Narada. Kami berikrar untuk saling menghormati dan
  38. Suralaya."
  39. tidak boleh ada perkelahian. Persaudaraan mengatasi per-
  40. "Oh, tentu saja. Sebentar lagi kita akan memasuki wilayah
  41. "Ibumu dan ibu Jaka Tilangin adalah isteri beliau yang
  42. kerajaan. Gatotkaca langsung berdatang sembah kepada
  43. "Wahai, adik-adikku, marilah kita puji kebesaran Hyang
  44. Tidak berapa lama antaranya pintu istana ada yang
  45. keteledoran hamba," seorang-orang tua tiba-tiba muncul ke
  46. "Sekali lagi, ampun beribu ampun Tuanku. Hamba telah
  47. "Dinda Prabu dan Dinda Rajuna, hamba perkenalkan
  48. Kulihat sang Prabu Darmawangsa dengan tenang menjawab,
  49. yang menjadi guru anak-anak Kurawa dan Pandawa selagi
  50. tak terpengaruh dengan kesantunan orang berjenggot jarang
  51. merebut kembali Putri Birantawati. Sementara itu, orang-
  52. berkobar-kobar. Gatotkaca langsung menerjang putra
  53. itu. Aku mencoba menahan Gatotkaca. Namun, kakinya
  54. Bima mau menengahi, tetapi dengan keterampilan seorang
  55. berkelompok dengan orang-orang yang kalah perang.
  56. Di luar terdengar gemerincing pedang beradu pedang.
  57. "Tidak benar seratus persen pandangan Ananda," kata
  58. perjalanan perkawinan kalian."
  59. "Ingatlah, Kakang Prabu," kata Aria Bima, "kita telah
  60. PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA
  61. KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN

Raden Jaka Sukara

ABDUL ROZAK ZAIDAN

.29 AI
PUSATBAHASA W KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2UAM Dt

MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN

\I)

~len 9a~ J"~r41

Diceritakan kembali oleh: Abdul Rozak Zaidan

HADIAH PUSAT BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

I I III i

_ _ 0_0 _00464 0 J

Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Jakarta 2010

oct en olo: !J
=> Q. E 0 ,; Penyunting Nikmah Sunardjo
Z z ~ ;::
~ u; I1ustrator Waslan Sanjaya
;:! en => ca
Q. ~ III. - ~ ;JJ Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional
.cr LU ~ ~
Q. Co Jalan Daksinapati Barat IV
I 899.29 Cetakan Kedua Jakarta, Katalog Dalam Terbitan (KDT) Pusat Rawamangun, Jakarta 13220 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang lsi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah. Cetakan Pertama: Bagian Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional, 2010.
ZAI r ZAIDAN, Abdul Rozak Raden Jaka SukaraiAbdul Rozak Zaidan.-Jakarta: Pusat Bahasa,
2010. ISBN 979-459-400-8 I. KESUSASTRAAN MELA YU

KATA PENGANTAR KEPALA PUSAT BAHASA

Memperhadapkan peserta didik dengan karya sastra secara langsung merupakan ikhtiar awal menumbuhkan apresiasi sastra di kalangan siswa. Hal itu baru mungkin terwujud kalau karya sastra yang ingin dikenalkan kepada peserta didik mudah didapat, terutama kalau karya sastra yang dimaksud sudah hilang dari peredaran atau untuk memperolehnya diperlukan dana yang tidak sedikit. Berkaitan dengan hal itu, penerbitan buku sastra utama menjadi prasyarat yang mutlak pemenuhannya. Ada sejumlah prakondisi yang menyebabkan karya sastra terasing dari pembaca mudanya (untuk menyebut siswa atau peserta didik). Pertama, dalam dunia pendidikan sejumlah penerbit seperti berlomba “mengasingkan" karya sastra utama itu dengan terbitan karya sastra pop yang lebih mengundang minat pembaca muda itu dalam bentuk bacaan komik. Kedua, penerbit itu memfasilitasi terbitan buku ringkasan novel yang dengan gampang dapat menjebak pembaca muda itu untuk berpuas diri dengan hanya membaca ringkasan novel yang menjadi tugasnya. Ketiga, media massa elektronik dengan segala keunggulannya menggiring pembaca muda itu untuk mengisi masa senggangnya dengan kegiatan tradisi kelisanan. Yang disebut terakhir ini merupakan tantangan yang berat untuk diatasi kecuali dengan campur tangan negara. Tanpa hal itu, pembinaan minat baca di kalangan pembaca muda hampir mustahil. Penerbitan buku yang tergolong karya sastra utama dan pe- nyebarluasannya merupakan salah satu wujud perhatian pemerintah terhadap pembinaan minat baca yang pada ujungnya menjadi bagian

iii

penting perkembangan sastra. Sastra akan berkembang oleh pembacanya yang kreatif yang dapat memberikan ruang bagi kehadiran karya sastra itu. Karya sastra yang ditulis puluhan tahun lalu dibaca ulang, diberi tafsir ulang, dan sekaligus diberi penghargaan kembali oleh pembaca muda. Pengajaran sastra yang komprehensif akan mempertemukan pembaca muda itu dengan berbagai peluang yang menjadikan karya sastra terbebas dari keterasingannya. Kita mengharapkan terjadinya semacam dialog antargenerasi melalui karya sastra yang ditulis oleh dua atau tiga generasi sebelumnya. Salah satu karya sastra tersebut adalah Raden Jaka Sukara. Dalam kaitan dengan itu, Pusat Bahasa mengharapkan agar buku bacaan ini dapat meningkatkan wawasan tentang kesastraan, khususnya, dan wawasan tentang kearifan-kearifan yang ada pada karya yang pernah populer di zamannya. Para pembaca, khususnya pembaca muda diharapkan dapat mengambil pelajaran dari nilai-nilai kearifan itu dan dapat mengejawantahkannya dalam perilaku sehari-hari sehingga secara tidak langsung dapat turut membentuk jati diri yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan bangsa. Kepada berbagai pihak, Pusat Bahasa mengucapkan terima kasih atas segala bantuan hingga terwujud buku ini. Akhirnya, Pusat Bahasa mengucapkan terima kasih kepada tim penyiapan bahan terbitan Pusat Bahasa yang terdiri atas: Dra. Hj. Yeyen Maryani, M.Hum. (Penanggung Jawab), Drs. Suhadi (Ketua), Siti Darini, S.Sos. (Sekretaris), Ciptodigiyarto, Sri Kanti Widada, Sri Haryanti, S.E., dan Ika Maryana, A.Md. (Anggota) yang telah bekerja keras pada penerbitan buku bacaan ini. Semoga buku ini bermanfaat untuk menambah kecintaan kita terhadap sastra Indonesia. Selamat membaca.

Jakarta, Oktober 2010

Dra. Yeyen Maryani, M.Hum. Koordinator Intern

iv

KATA PENGANTAR

Usaha pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena di dalam sastra daerah terkandung warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan kita terhadap sastra dan budaya masyarakaat daerah yang ber- sangkutan, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia. Dengan kata lain, upaya yang dilakukan itu dapat dipandang sebagai dialog antarbudaya dan antardaerah yang memungkinkan sastra daerah berfungsi sebagai salah satu alat bantu dalam usaha mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan. Sehubungan dengan itu, sangat tepat kiranya usaha De- partemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Pembi- naan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta dalam mener- bitkan buku sastra anak-anak yang bersumber pada sastra daerah. Cerita yang dapat membangkitkan kreativitas atau yang mengandung nilai, jiwa, dan semangat kepahlawanan perlu dibaca dan diketahui secara meluas oleh anak-anak agar mereka dapat menjadikannya sebagai sesuatu yang patut diteladani. V

Buku Raden Jaka Sukara ini bersumber pada terbitan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1982 yaitu terbitan dengan judul Lakon Jaka Sukara yang dikarang oleh Sdr. Dewaki Kramadibrata dalam bahasa Melayu.. Kepada Dr. Nafron Hasjim, Pemimpin Proyek Pembinaan Buku Šastra Indonesia dan Daerah-Jakarta tahun 1993/1994, beserta stafnya (Drs. Farid Hadi, Sdr. Suwanda, Sdr. Endang Bachtiar, Sdr. Sujatmo, dan Sdr. Ciptodigiyarto) saya ucap- kan terima kasih atas penyiapan naskah buku ini. Ucapan terima kasih saya tujukan pula kepada Dra. Nikmah Sunardjo, sebagai penyunting dan Sdr. Waslan Sanjaya sebagai ilustra- tor buku ini.

Jakarta, Januari 1994 Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Dr. Hasan Alwi

vi

Cerita "Raden Sukara ini adalah sebuah saduran dari Lalwn Jaka Sukara yang dialihaksarakan oleh Dewaki Kramadibrata. Naskah itu diperoJehnya dari Perpustakaan NasionaI Pusat Jakarta dengan nomor ML. 246. Dalam tradisi Sastra Melayu Lama cerita dalam naskah itu tergolong cerita wayang. Cerita wayang yang menjadi mtI cerita sudah mengalami transformasi, baik yang menyangkut nama tokoh maupun yang menyangkut alur cerita. Nama-nama seperti Arjuna berubah menjadi Rajuna, Arnarta menjadi Ngamarta, dan Nakula menjadi Sakula, sebagai salah satu contoh perubahan nama. laka Sukara adalah anak Arjuna dari Dewi Ratnawati. Petualangan mencari bapalcnya rnempertemukannya dengan laka Tilangin, saudara sebapak dan Gatotkaca anak Sima. 1aka Sukara juga dikenaI sebagai anak yang sangat berbakti kepada orang tua. Teladan yang dapat disimak dari perilaku laka Sukara adalah kesetiakawanan dan pengabdiannya kepada orang tua.

lakarta, Agustus 1993

Abdul Rozak Zaidan

vii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Kepala Pusat Bahasa. iii Prakata .. vii

Daftar Isi. ix
1. Panggil Aku Jaka Sukara.. 1
2. Ibu, Kakek, Siapa Bapakku?.. 1
  1. Selamat Tinggal Gunung Pakembangan. 12
  2. Sayembara di Kerajaan Karang Kencana .. 17
  3. Pertarungan Sampai Maut.. 22
  4. Air Penghidupan Bagawan Narada. 27
  5. Pertemuan dengan Bapakku. 32
  6. Birantawati Diculik Dursasena37
  7. Peperangan Pandawa dan Kurawa 43
  8. Puteri Birantawati Bebas... 48
  9. Keluarga Besar Pendawa Berkumpul... 54
    ix

  10. PANGGIL AKU JAKA SUKARA
    Namaku Jaka Sukara. Laki-laki yang mengasuhku adalah kakekku. Ia bernama Buyut Kusuma, pendeta sakti di Gunung Pakembangan. Ibuku Dewi Ratnawati. Aku hidup di sebuah padepokan yang asri. Ibu dan Kakek mengasuhku dengan penuh kasih sayang. Aku menjadi pusat perhatian mereka. Dari ibuku, aku belajar kesetiaan dan kasih sayang. Dari kakekku, aku belajar kesucian dan ketulusan hati. Umurku tujuh tahun. Teman sepermainanku banyak. Aku memang senang bermain dengan teman-teman sekam- pungku itu. Aneka macam permainan sering kuikuti. Misalnya main gundu, main ular-ularan, dan main kucing-kucingan. Kadang-kadang, aku bermain pula perang-perangan. Dalam segala permainan itu aku selalu menang. Hidupku di padepokan asri itu sungguh menyenangkan. Di rumah ibu selalu memenuhi segala kebutuhanku, sedangkan Kakek tak bosan-bosannya bercerita. Dari kakek itulah aku mendapatkan berhagai cerita. Cerita-cerita Kakek selalu menarik hatiku. Kakek memang senang mendongeng. Dongeng-dongengnya banyak. Aku dibesarkan dengan cerita dan dongeng Kakek. Dengan dongeng Kakek itu, aku Jaka Sukara menjadi anak jagoan di Gunung Pakembangan. Begitu aku mendengar cerita tentang jagoan dalam dongeng-dongeng Kakek, aku membayangkan akulah jagoan itu.

Ya, aku Jaka Sukara. Itulah yang kukatakan ketika seorang

anak baru datang menghampiriku. Rupanya ia jagoan dari pedusunan lain. Badannya tinggi besar. Memang pantas kalau anak-anak takut kepadanya.

"Buyung, siapa namamu?" ia bertanya dengan nada sombong. "Kamu sendiri siapa?" Aku balik bertanya.

"Aku?"

"Tak usah kau sebut namamu," aku memotong kata-

katanya. "Yang penting panggil aku Jaka Sukara!" Ia ketawa keras-keras. Nada cemooh terasa di hatiku. "Kau Jaka Sukara?" Ia bertanya sambil ketawa, "Ha, ha, ha.. rupanya ini dia anak jagoan Gunung Pakembangan itu. Siapa Bapakmu, buyung?" Nada cemooh masih kuat terasa. "Tak perlu kau tanya siapa bapakku? Yang penting, sekali lagi, panggil aku Jaka Sukara!" Aku menegaskan kembali namaku. Rupanya ia belum puas dengan cemoohannya. "Jaka Sukara, Jaka Sukara siapa Bapakmu? Kau anak tak berbapak?"

Aku tetap bersabar. Tapi, anak itu rupanya memang

bermaksud menantangku. Lama-kelamaan anak-anak ber- kerumun di sekitarku. Mereka memanas-manaskan hatiku. "Kamu anak tanpa Bapak". Lalu serempak anak-anak sekeliling ikut-ikut mencemooh. Aku heran mengapa mereka ikut-ikut memonjokkanku. Akhirnya, hatiku panas juga. Aku lupakan nasihat Ibu. Aku lalaikan pesan Kakek. Aku tak tahan lagi untuk menahan sabar. Apa lagi si anak tinggi besar itu menerjangku. Perkelahian tak bisa kuhindarkan. Dengan sekuat tenaga kutinju muka anak tinggi besar itu. Beberapa tendangan membuat aku terjerembab. Nyaris aku terjatuh kalau tidak segera kupegang tangannya yang siap meninjuku. Kusentakkan tangganya itu. Ia terhuyung-huyung. Lalu kususul dengan tendangan kaki kiriku. Aku terus memberondongnya dengan pukulan tangan kiri dan tangan kananku. Aku tahu bahwa aku dalam posisi di atas angin. Ternyata, si anak tinggi besar itu tak bangun-bangun setelah tinjuku mampir di hidungnya.

Beberapa anak bersorak-sorak. Beberapa di antaranya ada yang berusaha mengeroyokku. Rupanya mereka itu kawan-kawan si tinggi besar itu. Aku menggertak mereka. "Siapa lagi yang mau mencoba kepalan tanganku lagi? Aku Jaka Sukara siapa menghadang kalian". Rupanya gertakanku mengena. Mereka berlarian. Aku bertolak pinggang. Aku melihat anak-anak sepermainanku satu demi satu meninggalkan gelanggang perkelahian itu. Aku sendirian kini. Terngiang-ngiang kembali pertanyaan si tinggi besar itu,

"Siapa Bapakmu?"

Kupandangi bik-baik dia yang kini terbaring tanpa daya. Luka-luka di wajahrya masih tampak nyata. Ia memang anak sombong. Kini ia kukalahkan. Tiba-tiba saja wajah Ibu dan Kakek jelas terbayang. Kukenang kembali pesän dan nasihat mereka untuk berbuat baik terhadap sesama. Dalam ketenangan aku kembali sadar. Aku harus berbuat baik terhadap sesama. Kudekati anak yang terbaring tak berdaya itu. Ia terkejut ketika sadar kudekati. Matanya menatap meminta belas kasihanku. Aneh, amarahku yang tadinya menggunung sirna seketika.

"Maafkan kekasaranku tadi, Jaka," ujarnya dengan kata-kata

yang masih lemah. Berlawanan benar dengan cemooh yang dilontarkan sebelum perkelahian tadi.

"Tidak apa-apa, Bang. Tak perlu kita perpanjang perse-

lisihan kita," jawabku dengan tegas. "Terima kasih, Jaka. Kenalkan, namaku Tilangin dari Indrakila. Baru kali ini aku dikalahkan," kata-katanya masih lemah. Mungkin ia menahan sakit. Ia bercerita bahwa ia dalam perjalanan ke suatu tempat yang tidak disebutkan. Lalu ia pergi ke utara, sedangkan aku menuju arah berlawanan. Pertanyaan yang terus menghantuiku yang menjadi musabab perkelahian itu kubawa ke rumah. "Siapakah Bapakku?"

Kudekati anak yang terbaring tak berdaya itu. Ia terkejut ketika sadar kudekati

  1. SIAPA BAPAKKU?
    Ketenteramanku di rumah bersama Ibu dan Kakek terusik oleh pertanyaan yang kubawa dari tempat bermain tadi. Semula Ibu menyalahkanku ketika tampak olehnya bajuku kotor dan wajahku memar kena pukul. Ibu langsung menudingku, "Kau pasti berkelahi lagi, Jaka." Aku langsung menunduk. Aku tak menjawab sepatah kata pun. Aku tahu Ibu sangat cemas dengan keadaanku. "Ibu berusaha mendidikmu menjadi anak yang baik. Ibu selau mengajarimu untuk dapat bersahabat dengan teman- temanmu. Kapan kau akan mengikuti kata-kataku, Jaka?" Ibu terus bicara. "Kau tidak sayang kepada ibumu, kepada kakekmu?" Aku tetap membisu. Tak terasa air mataku menetes. Aku menangis tanpa kukehendaki. Kudengar pintu rumah ada yang membuka. Ternyata Kakek datang dari ladang. Ia terheran-heran melihatku menangis seperti itu. "Ada apa dengan anakmu, Ratna?" Tanya Kakek kepada Ibu, "Kau marahi dia? Kenapa?" "Tidak, Kek. Ibu tidak memarahi Jaka." Aku menyela pertanyaan Kakek. "Pak, aku juga heran dengan perilaku Jaka hari ini. Ia pulang dengan muka benjol-benjol dan baju yang kotor. Aku tanyai dia tentang keadaannya itu. Eeeh, malahan dia menangis." Ibuku menjelaskan duduk perkaranya. Aku tetap bungkam. Tak tahu apa yang harus kukatakan. Dadaku terasa sesak oleh tanya, "siapa bapakku?"

"Ada apa cucuku? Mengapa kau diam saja?" Kakek berkata lemah lembut. "Kau tak dengar pertanyaan kakekmu, Jaka?" Tanya Ibu terasa mendesak. Air mataku bertambah deras keluar. Aku makin tak kuat menahan gejolak hatiku. Pertanyaan Tilangin ketika berkelahi terngiang-ngiang kembali ditelingaku. Aku tak mampu mem- bendung pertanyaan yang sudah sekian lama kurendam. "Ibu, Kakek, siapakah Bapakku?"

Ibu dan Kakek tersentak mendengar pertanyaanku yang

baru kuucapkan itu. "Ibu, Kakek, aku berkelahi karena pertanyaan itu. Ada anak-anak yang menghinaku dengan ketidakhadiran bapakku di rumah ini Bu, Kek. Aku menangis karena merasa sedih akan nasibku?"

"Jaka, Anakku. Kau benar-benar ingin tahu siapa nama

bapakmu?" Ibu dengan lembut bertanya kepadaku. Aku mengangguk pelan. "Ya, Bu, tentu saja aku ingin seperti mereka. Aku ingin mengenal bagaimana wajah bapakku?" "Biarlah, kakekmu akan menjelaskan." Ibu menunjuk Kakek. "Baiklah, Cucuku. Kakek akan menjelaskannya." Kudengar getaran rasa yang aneh dalam kata-kata Kekek. Mendekam Kakek lalu batuk-batuk kecil. Aku menunggu kata-kata kakekku selanjutnya. Air mataku berhenti mengalir. Aku siap mendengarkan penjelasan Kakek. Aku bertanya dalam hatiku, "Benarkah aku ini anak lahir tanpa bapak? Aku was-was, jangan-jangan cibiran anak-anak seper- mainanku betul" Lama rasanya menunggu penjelasan Kakek. Kulihat Ibu bermata sendu. Mungkin di hatinya berkecamuk beribu rasa haru.

"Cucuku, kau laki-laki jagoan, bukan. Mengapa hari ini

kau menangis? Tak pantas bagi laki-laki jagoan Kakek berlinang air mata." Kudengar kata-kata Kakek masih jauh dari jawaban yang kuminta. Aku tetap menunggu. Kutarik nafasku dalam-dalam. Kuresapkan kata-kata kakekku itu.

Benar memang. Seorang laki-laki, apalagi yang mengaku diri jagoan, tidak pantas berair mata. "Kau ingin tahu siapa bapakmu? Sebenarnya belum waktunya sekarang bagi Kakek menyebutkan siapa bapakmu. Umurmu masih sangat muda. Kalau boleh tunggulah dahulu barang dua tiga tahun." Jawaban Kakek jauh dari harapan. Tapi, apa boleh buat. Kalau Kakek sudah berkata seperti itu. Aku masih harus bersabar. Dua atau tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Sementara itu, cibiran dan hinaan harus kuterima setiap hari dari teman-teman sepermainan. Lama-kelamaan pertanyaan tentang siapa bapakku tidak terlalu lagi menggangguku. Kakek memang penuh wibawa. Kata-katanya bagiku mengandung daya gugah ·yang kuat. Aku tetap berpegang pada kata-kata kakekku itu bahwa belum saatnya aku mengetahui siapa bapakku. Toh bagiku Kakek adalah bapakku. Sementara itu, ibuku tetap bersikap hangat, penuh kasih sayang sebagaimana layaknya seorang ibu. Kalau dalam tidurku muncul kembali keinginan untuk bertemu Bapak, ibuku langsung dapat memberikan jawaban melalui kata-katanya yang lembut, "Ingatlah .kata-kata kakekmu, Nak. Belum saatnya kau mengetahui hal itu. Ibumu masih belum siap juga menerima kenyataan bahwa kau akan jauh dari Ibu." Aku memang masih lengket pada Ibu. Tak terbayangkan bagaimana aku harus jauh dari Ibu. Memang benar kata-kata Kakek bahwa aku belum saatnya mengetahui siapa bapakku. Hari-hariku selanjutnya kuhabiskan bersama Ibu dan Kakek dalam dongeng-dongeng dan cerita yang penuh nasihat. Dan, tentu saja sebagai anak-anak, aku masih suka bermain dengan anak-anak sekampungku, Gunung Pakembangan. Tibalah saatnya aku menagih janji Kakek. Aku kini merasa sudah lebih siap. Umurku sudah menginjak dua belas tahun. Pertanyaan lama yang menggoda makin membuat aku sadar tentang bagaimana seharusnya bersikap. Tak mungkin harus

"Jangan berteka-teki, Cucuku. Terus terang saja apa maumu?" 8

terus menerus hidup dalam dongeng dan cerita. Pertanyaan, "Siapa Bapakku?" Seolah-olah kembali mengusik ketenangan- ku. Aku menyadari akibat pemenuhan janji Kakek itu. Aku menyadari pula bahwa Ibu masih menjadi bagian hidupku sehari-hari. Aku bahagia hidup dengan Ibu dan Kakek yang mengasuhku selama ini. Namun, aku juga harus tahu dan kenal siapa Bapakku. Begitulah di saat yang kuanggap tepat aku tagih janji Kakek. Waktu itu sore hari ketika Kakek ada di rumah dan Ibu pun sudah siap dengan makan ringan sore hari. "Ada apa, Nak?" Ibu tiba-tiba saja mengajukan pertanya-

an kepadaku, "tampaknya kau gelisah sore ini?"

Rupanya Ibu punya firasat yang tajam. Seorang ibu memang memiliki kepekaan terhadap keinginaī hati anaknya. Aku tahu Ibu sudah menduga apa-apa yang kukandung dalam hati. Aku masih ragu-ragu menjawab.

"Ya Cucuku, dalam penglihatan Kakek pun sore ini kau

agak lain?"

"Betul, penglihatan Kakek. Betul juga firasat Ibu. Aku

ingin menagih janji Kakek yang dahulu." Aku masih ragu mengatakan apa yang kuinginkan. "Jangan berteka-teki, Cucuku. Terus terang saja apa maumu?" Kakek seolah-olah belum tahu maksudmu. "Kau şebut-sebut janji Kakek, Nak? Mungkin cucumu ini masih ingat akan janji Kakek yang dulu. Saya memang harus mengingatkan Kakek bahwa dulu Kakek pernah berjanji pada Jaka Sukara untuk membuka rahasia tentang siapa bapaknya." Ibu berkata-kata dengan lembut, tapi getarnya terasa menye- sakkan hati. "Oooh, janjiku padamu, Cucu? Tentu, tentu Kakek selalu ingat akan janji itu. Dan, kau, Ratna sudah siapkah menerima kenyataan baru?" "Apa boleh buat, Ayah. Anak lelaki harus tahu bapaknya. Anak lelaki harus mencari bapaknya."

"Kau juga, Jaka? Sudah siapkah kau, untuk mendengarkan cerita Kakek yang paling penting ini?" "Tentu saja, Kakek. Aku sudah siap. Bukankah umurku sudah bertambah. Bukankah aku sudah tidak berkelahi lagi dan mampu bersikap lebih sabar?" Kulihat Kakek mengangguk-angguk. Juga Ibu. Kunantikan jawaban Kakek. Kembali keraguan menyelimuti hatiku. Akankah aku tega meninggalkan Ibu, meninggalkan Kakek?" Aku membatin. "Jaka, bapakmu itu seorang kesatria yang pilih tanding Ia bernama Raden Rajuna dari keluarga Pandawa." "Raden Rajuna yang sering Kakek sebut dalam piwulang Kakek itu? Raden Rajuna itu bapakku?" Aku terheran-heran karena nama itu begitu diceritakan Kakek dalam piwulangnya langsung menjadi idolaku. Aku terheran-heran bercampur bangga. Tapi, cepat-cepat perasaan itu kutepiskan. Tidak, aku Jaka Sukara. Besarku karena besarku. Bukan karena ketürunan. Kakek rupanya tahu apa yang kupikirkan. Ia langsung berkata dengan pelan tetapi mantap. "Cucuku, kau anak seorang kesatria. Darah yang mengalir di tubuhmu adalah darah kesatria. Kau harus:meng- hormati kebesaran nama bapakmu. Ingatlah Cucuku. Seorang anak yang baik adalah anak yang menaruh hormat kepada ibu bapaknya." Tampak Ibu mengangguk-anggukan kepalanya. Air matanya mengalir pelan. Mungkin Ibu ingat akan penderitaan membesar- kanku tanpa kehadiran bapakku. Mungkin Ibu membayangkan anaknya akan meninggalkan Gunung Pakembangan untuk menemui bapaknya. Aku tepekur beberapa saat. Aku yakinkan kebenaran kata- kata Kakek, "Sęorang anak yang baik harus hormat kepada ibu bapaknya". Aku kenangkan dalam hatiku, "Seorang anak kesatria akan memperoleh aliran darah kesatria." "Anakku Jaka Sukara, memang engkau anak seorang lelaki pilihan. Kau kukandung dengan penuh kebanggaan.

Bapakmu adalah seorang kesatria utama. Ia meninggalkan Ibu selagi kau masih dalam kandungan, tetapi Ibu rela mengandung dan membesarkanmu sendirian. Ibu menyadari bahwa bapakmu mempunyai darma dalam kehidupan." Terdengar kata-kata Ibu begitu tulus dan lembut. "Ibu, aku harus mencari Bapak." Hanya itu yang kuucap- kan. "Benar, Anakku, kau harus mencari bapakmu. Kau harus menunjukkan bahwa Ibu telah mampu membesarkanmu tanpa kehadiran bapakmu." Kata-kata Ibu terdengar lagi seperti menggugat. "Tapi,'dulu Ibu memang belum siap kautinggalkan. Dulu Ibu berpikir, kau harus selalu ada di dekat Ibu. Itu dulu ketika kau ingin tahu siapa bapakmu selagi kau masih kecil. Sekärang Ibu siap kautinggalkan. Ibu tahu darma Ibu dan Ibu telah melaksanakannya." Kata-kata Ibu begitu lancar. Sikap Ibu begitu tegar. "Memang kau harus pergi mencari bapakmu," kata Kakek dengan tenang, "Seperti kata ibumu, dulu Kakek menganggap kau belum waktunya meninggalkan kami. Sekarang telah Kakek ajarkan segala ilmu yang Kakek punya."

'"Ibu, Kakek, aku pun siap pergi dengan doa Kakek dan

Ibu."Aku mulai berpikir bahwa saatnya sekarang bertualang mencari bapak. Aku harus menunjukkan betapa besar pengorbanan Ibu. Begitu juga pengorbanan Kakek. Kami bercakap-cakap hingga larut malam. Seolah-olah tiada waktu lagi yang dapat kusisakan. Banyak saja yang diungkapkan Kakek, diseling nasihàt dan amanat Ibu. "Nak, sekarang istirahatlah dàhulu. Bukankah besok pagi kau akan berangkat?" Percakapan terakhir dengan Kakek dan Ibu berakhir. Aku memang sudah mengantuk. Aku pergi tidur.

PERPUSTAKAAN

PUSAT BAHASA 11 KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

  1. SELAMAT TINGGAL GUNUNG PAKEMBANGAN Tibalah saatnya aku harus berangkat. Aku tinggalkan Ibu
    yang terisak. Rupanya pada saat perpisahan itu Ibu tak dapat menguasai perasaannya. Aku merasakan betapa beratnya hati Ibu melepaskan kepergianku. Pelukan perpisahan Ibu begitu kuat seolah-olah aku tak ingin dilepaskannya. "Sudahlah, Ratna. Biarkan anakmu pergi sebagaimana layaknya seorang anak lelaki pergi mencari pengalaman." Kudengar Kakek menasihati Ibu, "Iringilah kepergian anak itu dengan doa. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa saatnya kini menunjukkan kebesaran hatimu kepada Raden Rajuna. Bukankah baru tadi malam kau menyatakan ketegaran hatimu?" Berat juga hatiku meninggalkan Ibu yang berlinang air matanya karena kepergianku. Namun, kata-kata Kakek lebih mengukuhkan tekadku. Aku harus berangkat untuk menunjukkan kebesaran Ibu dan Kakek kepada bapakku. Kulangkahkan kakiku. Kupaksakan diriku untuk tidak menengok ke belakang karena aku tahu takkan berdaya melihat air mata Ibu yang berlinangan. "Selamat jalan, Anakku. Kuatkan hatimu. Kudoakan kau selamat di perjalanan." Kudengar samar-samar súara Ibu. Aku terus berjalan ke arah timur. Lurus saja perjalan- anku mengikuti alur sungai kecil di desaku. Kumasuki kehidupan baru, kehidupan petualangan. Kutinggalkan Pakembangan. Kutinggalkan teman-teman. ASAMAS TA2US 12

Masih terasa hangat pelukan perpisahan Ibu. Masih terngiang-ngiang di telinga pesan-pesan Kakek. Kubayangkan mereka semua. Sedih juga rasanya meninggalkan orang-orang terkasih. Aku ingat kehidupan yang penuh kasih sayang

bersama Ibu dan Kakek. Kaīaù saja pertanyaan yang selama

ini mengganggu mimpiku tak kumunculkan, mungkin aku akan kembali ke Pakembangan. "Siapa Bapakku?". Itulah pertanyaan yang membuat aku garang. Kumasuki hutan. Kutelusuri jalan setapak. Pepohonan yang tinggi dan besar tak membuatku mundur. Semak belukar yang kadang-kadang bergetaran karena binatang melata tak kuhiraukan. Tujuanku hanya satu, mencari Bapak. Tekadku satu ialah menunjukkan kebesaran Ibu kepada Bapak. Aku busungkan dadaku bahwa aku mampu berjalan sendiri berkat didikan Ibu dan tempaan Kakek. Hari-hariku selanjutnya adalah hari-hari petualangan. Kalau ada gerak mencurigakan selalu kupegang erat-erat keris Puspa Geni, keris pusaka dari Kakek yang sangat bertuah. Kuingat kata-kata Kakek, "Jaka Sukara, Kanjeng ramamu bernama Rajuna dan wakmu bernama Darmawangsa. Ia menjadi raja di Ngamarta. Wakmu yang lain bernama Aria Jayasena Rupatala Mandalagiri, yang lebih dikenal dengan nama Bima." Ingatan akan pesan dan kata-kata Kakek membuat besar hatiku. Aku jadi berani menghadapi segala hal. Hutan rimba

kini adalah rumahku. Segala demit dan binatang penghuninya

adalah tetanggaku. Aku tidak bermaksud jahat kepada mereka. Namun, aku tetap waspada. Habislah sudah perbekalan yang dibawa dari rumah. Aku harus mencari makanan dan minuman yang ada di rimba. Apa pun yang dapat kumakan, itulah pengusir laparku.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh benda bergerak yang sangat

besar. Kupegang erat-erat keris Puspa Geni. Aku siaga dan waspada. Di depanku berdiri kokoh seekor macan besar

Aku langsung melompatinya. Aku berada di tengkuknya. 14

menghalangiku. Aumannya menggetarkan sekitarku. Daun- daun dan rumputan bergoyang karena aumannya yang membahana. Aku mencoba melewatinya. Namun, serentak ia mengangakan mulutnya. Tampak olehku gigi-giginya besar menakutkan, siap mengunyahku. Aku langsung melompati- nya. Aku berada di tengkuknya. Macan besar itu mencoba melemparkanku, tetapi aku bertahan kuat-kuatnya. Kupegang erat-erat leher macan besar itu. Binatang itu masih berusaha kuat melemparkanku. Aku nyaris terjatuh oleh hentakkannya yang kuat. Beruntung, aku masih sempat memegang keris pusaka Kakek. Ajaib. Macan besar itu menjadi jinak. Setelah kulihat macan itu berlutut, aku langsung turun. Cepat- cepat macan itu menghilang seketika. Lalu di depanku muncul Eyang Buyut Kusuma, kakekku. "Bagus, bagus, Cucuku. Kau memang hebat. Kau kesatria anak lelaki Raden Rajuna." Kata-kata Kakek yang memuji semakin membuatku ter- bengong-bengong. Aku masih belum dapat berkata-kata. "Mengapa Cucuku? Kau bengong terus. Aku ini kakekmu." Aku baru sadar dari keherananku. Sungguh di depanku berdiri kakekku, "Benarkah Eyang Buyut Kusuma yang berdiri di depanku? Bukan mambang, bukan peri, bukan iblis?" tanyaku masih dalam siap siaga. "Ha, ha, ha. Jaka Sukara memang juara. Benar, Cucuku. Aku eyangmu, Buyut Kusuma. Aku ingin mencoba kesaktianmu. Ibumu terus mendesakku agar aku mengawasimu, membim- bingmu." "Maaf, Kakek, aku masih heran. Jadi, macan besar itu macan jadi-jadian Kakek saja?"

"Benar, Cucuku. Ibumu terus saja menangis mengingat-

mu. Ia cemas akan keadaanmu. Kakek katakan kepadanya bahwa kau sudah besar, sudah siap dengan segala keadaan. Untuk memuaskan ibumu, Kakek mengikuti perjalananmu. Lalu kuuji kekuatanmu dengan mengubah diriku menjadi

macan besar. Sekarang Kakek puas dan tenang. Kau sudah pantas untuk bertualang." "Terima kasih, Kakek. Berkat Kakeklah aku mampu mengatasi cobaan itu. Salam baktiku untuk Ibu. Aku akan selalu ingat kepada ibuku." Besarlah hatiku setelah Kakek menyatakan bahwa aku sudah memiliki ilmu yang dibutuhkan bagi seorang petualang. Tak lama Kakek bercakap-cakap denganku. Kakek segera pergi ke padepokan. Aku tahu, tugasnya sebagai pendeta

mengharuskan Kakek tetap tinggal di padepokan. Murid-

murid Kakek akan menunggu keberadaan Kakek, Ibu juga sangat membutuhkan kehadiran Kakek. Akhirnya, kami berpisah. Kakek pulang kembali ke Padepokan Gunung Pakembangan. Aku meneruskan perjalananku. Petualanganku ini penuh risiko. Aku tahu dar siap menerima segalanya.

  1. SAYEMBARA DI KERAJAAN KERANG KENCANA Perjalánanku keluar masuk hutan, menaiki bukit menu-
    runi lembah terus berlangsung. Tak terhitung berapa hari, berapa minggu, berapa bulan bahkan berbilang tahun, aku tak tahu. Bermacam pengalaman kurasakan dalam petualangan mencari bapakku itu. Aku merasakan pertambahan usia kalau kuperhatikan rambutku yang makin panjang. Alam hutan yang penuh dengan taņtangan membuat diriku tahan banting. Tibalah aku di suatu negeri yang tak kukenal. Semula kusangka inilah negeri Pandawa itu. Namun, orang yang kujumpai memberikan jawaban bahwa negeri ini bernama Karang Kencana. Raja yang berkuasa di kerajaan itu adalah seorang raja bijaksana bernama Raja Parwa Kusuma. Menurut penduduk negeri itu, ada keramaian yang sedang berlangsung di alun-alun kota. Keramaian itu berupa sayembara menantang kesaktian patih kerajaan yang bernama Biranta Jaya dan Biranta Kusuma. Kedua patih sakti itu adalah masih saudara Raja. Aku dengar bahwa perkelahián dalam sayembara itu dimaksudkan untuk memperebutkan putri raja yang bernama Dewi Birantawati. Kecantikan Dewi Birantawati terkenal ke mana-mana. Kecantikannya itu yang membuat sayembara itu ramai di ikuti para kesatria dari berbagai penjuru negeri. Aku pun penasaran ingin melihat keramaian itu. Siapa tahu aku dapat mengikutinya. Sesampainya di alun-aluni kota, sedang berlangsung perkelahian seru antara dua patih

kerajaan itu melawan seorang kesatria tampan yang gagah

perkasa. Orang di sekelilingku, termasuk aku, kagum akan kegagahan kesatria muda itu. Menurut orang-orang itu, baru kali ini perkelahian berlangsung seru dan lama. Biasanya dalam dua atau tiga gebrakan saja penantang kedua patih menyerah kalah. Sampai matahari tenggelam di ufuk barat, kedua patih kerajaan belum berhasil menjatuhkan lawannya yang masih muda itu. Berkatalah Biranta Jaya, "Hai orang muda, kami minta perkelahian kita ditunda sampai esok pagi. Kami minta istirahat untuk memulihkan tenaga." Dengan santun kesatria muda itu menjawab, "Baiklah, kalau itu permintaan kalian." Anak muda itu meninggalkan gelanggang pertandingan sambil membungkuk menghormati para penonton. Terdengar suara riuh rendah dan sorak dukungan khalayak kepada kesatria muda itu. Aku sangat kagum akan kegagahan orang muda itu. Menurut beberapa penonton, sudah dua kali terjadi penundaan perkelahian seperti itu. Kemarin juga terjadi hal yang sama. Biranta Jaya dan Biranta Kusuma menunda perkelahian ketika menghadapi seorang kesatria yang tak kurang

gagahnya daripada kesatria yang bertarung hari ini.

Setelah mendengar cerita penonton itu aku mulai berpikir, "Aku akan datang esok pagi untuk melihat pertarungan yang ditunda. Aku harus datang pagi-pagi. Itu tekadku." Keesokan harinya aku datang pagi-pagi sekali. Belum ada orang lain yang datang. Dari jauh kulihat dua orang menda- tangiku. Ternyata, mereka itu Biranta Jaya dan Biranta Kusuma. "Hai, anak muda, sepagi ini kau sudah datang?" Biranta Kusuma menanyaiku langsung. "Kau mau ikut mencoba nasibmu?" Aku terkejut mendengar pertanyaan seperti itu, "Mencoba nasib bagaimana, Tuan?" Aku balik bertanya. Biranta Jaya dan Biranta Kusuma tertawa terbahak-

bahak. "Kau memang masih anak-anak. Sebaiknya, anak

muda tidak ada di sini. Tapi, tak apalah menonton orang

berkelahi kan senang."

"Ah, Tuan ada-ada saja. Bagiku justru lebih menyenangkan menjadi pusat tontonan." Tiba-tiba aku punya keberanian menjawab. "Kalau boleh ákù juga mau mencoba kekuatan Tuan-tuan. Hitung-hitung mencari pengalaman?" Tampak kedua orang itu mengerutkan dahi. Tawanya serentak terhenti. "Betul kau mau mencoba kami?" tanya Biranta Jaya. Sambil menoleh kepada adiknya, Biranta Kusuma, "Mungkin ada baiknya kita hadapi dulu anak kecil ini, Dik." Langsung saja Biranta Kusuma mengiyakan. Perkelahian pun segera berlangsung. Aku mencoba segala kekuatanku.Aku tahu bahwa aku dijadikan sebagai pema- nasan sebelum mereka menghadapi kesatria muda yang kemarin belum dapat mereka jatuhkan. Tiba-tiba aku ingat Ibu dan Kakek. Aku ingat juga perke- lahianku dengan macan besar jadi-jadian Kakek. Lalu aku pusatkan perhatianku kepada kedua orang yang sedang kuhadapi sekarang. Biranta Kusuma terengah-engah menghadapi jurus tendanganku. Lalu masuk Biranta Jaya meng- gantikannya. Terdengar riuh suara penonton menyoraki di pinggir gelanggang. Ternyata, Biranta Jaya susah juga dijatuhkan. Dengan segala kekuatan aku coba mengirim jurus-jurus tendangan yang tadi menyebabkan Biranta Kusuma mundur. Namun, rupanya Biranta Jaya sudah mempelajari jurus tendenganku itu. Semua tendanganku luput. Sebaliknya, jurus-jurus pukulan dan tendangan ada di antaranya yang mengenai sasaran. Aku sedikit terhuyung. Sorak-sorai terdengar lagi bergemuruh. Aku pusatkan perhatian, Aku ingat Ibu dan Kakek. Aku pegang Puspa Geni, keris pusaka pemberian Kakek. Setelah itu, aku lihat Biranta Jaya mengendorkan serangannya. Pada saat itu pula Biranta Kusuma yang sudah pulih tenaganya memasuki gelanggang. Kini aku dikeroyok oleh

Lalu aku pusatkan perhatianku kepada kedua orang yang sedang kuhadapi sekarang 20

dua orang. Perkelahian menjadi makin seru. Aku makin menguatkan pikiranku. Aku ingat Ibu dan Kakek. Tak terasa hari makin gelap. Rupanya matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Terdengar Biranta Jaya berkata, "Hai, anak muda, kita sudahi dulu pertarungan ini. Kita sambung esok hari" Aku terheran-heran oleh permintaan Biranta Jaya itu. Belum sempat aku jawab, Biranta Kusuma dengan lantang berkata, "Ya, anak muda, kami memang minta tunda dulu perkelahian kita." Setelah terbebas dari keheranan karena aku masih bisa tahan sampai hari gelap, aku menjawab, "Baiklah, Tuan-tuan, aku menyetujui permintaan Tuan-tuan." Terdengar sorak-sorai para penonton yang rupanya mulai tertarik kepadaku. Aku tahu bahwa pertarungan ini sudah lama berlangsung. Sudah cukup banyak korban peserta sayembara yang berjatuhan. Kata mereka baru tiga hari berturut-turut ini pada petanding dari luar mampu bertahan sampai ada permintaan penundaan dari pihak Kerajaan Karang Kencana. Kutinggalkan gelanggang perkelahian. Aku menuju tempat aku bermalam di rumah seorang-orang tua yang ramah. "Terima kasih Ibu. Terima kasih Kakek." Aku selalu ingat mereka yang kucintai dalam suka dan dalam duka.

  1. PERTARUNGAN SAMPAI MAUT

Semalaman aku mendapatkan banyak cerita dari orang tua pemilik rumah tentang sayembara itu. Dikemukakannya bahwa sayembara itu telah berlangsung tiga bulan. Pesertanya berasal dari seluruh negeri dan kerajaan yang sama-sama mempunyai keinginan memperistri Putri Birantawati yang cantik luar biasa. Beberapa mana yang masih kuingat adalah Raja Astina, Prabu Suyudana yang mengirim pendeta Durna dan putranya yang akan disandingkan dengan Dewi Birantawati. Raja dari atas angin bernama Maharaja Naga Jindan datang bersama keduapatihnya; raja Sasabarwana dari negeri Singgara Pura; Raja Budak Sategal, dan masih banyak raja-raja lain yang sudah mengikuti sayembara itu. Kakek yang empunya rumah juga bercerita tentang utusan dari negeri Pandawa yang diwakili oleh Perbaya atau Gatotkaca. Aku terkejut ketika nama negeri bapakku disebut-sebut. Lalu, si kakek bercerita pula tentang seorang kesatria muda yang sakti yang bernama Raden Jaka Tilangin diiringi punakawannya yang bernama Lurah Semar, Garubuk, Nala Gareng, dan Anggalia. Kegagahan Raden Gatotkaca dan Raden Jaka Tilangin diceritakan oleh si kakek. Mereka dapat bertahan sampai Biranta Jaya dan Biranta Kusuma minta penundaan perkelahian, sama halnya dengan yang dilakukannya kepadaku. 22

Setelah mendengar cerita sikakek, aku pun terlelap tidur. Ketika bangun keesokan harinya aku ingat kembali cerita si kakek. Aku merasa petualanganku mencari bapakku seperti akan berakhir apalagi si kakek menyebut-nyebut Raden Gatotkaca utusan dari nègeri Pàndawa. Aku ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan utusan dari negeri Pandawa itu. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, aku pun pamit pergi lebih dulu kepada si kakek yang baik hati itu. Aku langsung menuju ke alun-alun kota. Aku harus memenuhi janji untuk meneruskan perkelahian. Kehadiranku di gelanggang perkelahian rupanya di- dahului oleh Raden Jaka Tilangin dan Raden Gatotkaca. Aku memang agak lambat bangun karena cerita si kakek hampir semalam suntuk. Sehingga terlambat tidur. Kulihat Biranta Jaya dan Biranta Kusuma sudah siap di tempatnya. Mereka seolah-olah tidak mempersiapkan diri untuk berkelahi. "Atas keputusan Maharaja Parwa Kusuma, hari ini akan dilangsungkan perkelahian antara tiga orang kesatria yang dalam tiga hari berturut-turut mampu bertahan sampai senja." Biranta Jaya berseru dengan lantang, "Untung menentukan siapa yang berhak mempersuntingkan Putri Birantawati, akan ditentukan oleh pemenang antara tiga kesatria itu." Aku bingung dengan keputusan yang dikemukakan oleh Biranta Jaya. Aku tidak mau harus menghadapi utusan dari negeri bapakku itu. Dalam pikiranku, jangan-jangan Raden Gatotkaca itu masih saudaraku. Mana mungkin berperang sesama saudara. Namun putusan sudah jatuh. Aku pun setelah didorong oleh khalayak tampil ke gelanggang. Raden

Gatotkaca dan Raden Jaka Tilangin sudah siap di gelanggang.

Mereka rupanya sudah siap-siap untuk bertarung. Antara sadar dan tidak sadar aku pun terseret dalam irama pertarungan itu. Sebentar-bentar terdengar sorak-sorai penonton dipinggir lapangan.

Aku ingat Ibu, Aku ingat Kakek. Lalu aku pun meng- arahkan segala kekuatan untuk memenangkan pertarungan itu. Agak sukar menghadapi pertarungan bertiga itu sebab tak jelas mana yang harus terlebih dahulu kuserang. Jaka Tilangin sedang diserang oleh Gatotkaca. Jaka Tilangin membalas dengan tendangan dahsyatnya. Gatotkaca menghindari tendangan itu. Aneh, Gatotkaca bisa terbang. Jaka Tilangin seperti kehilangan musuh. Pada saat itulah aku serang Jaka Tilangin. Tiba-tiba aku ingat perkelahian dulu dengan seorang anak tinggi besar yang juga mengaku Tilangin. Mana mungkin orangnya sama. Ternyata Jaka Tilangin melayani seranganku. Terdengar suara penonton bergemuruh menyoraki kami yang sedang bertarung. Tendang menendang dan pukul-memukul antara aku dan Jaka Tilangin rupanya menjädi tontonan yang mengasyikkan. Jaka Tilangin ternyata tidak gampang dirubuhkan. Ia sangat cekatan dalam menghindari tendangan dan pukulan. Pada saat Tilangin menghindari tendanganku tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam mukaku. Aku hampir kehilangan kesadaran. Ternyata itu berasal dari tendangan kaki Gatotkaca yang memanfaatkan kelengahanku. Aku segera meraba keris Puspa Geni. Serentak kesadaranku pulih. Aku sudah siap menghadapi hantaman siapa pun. Aku tetap waspada. Tampak Gatotkaca mengendurkan serangannya. Giliran Jaka Tilangin dengan mengayun-ayun keris pusakanya datang menghampiriku. Terjadi pertarungan jarak dekat saling hunus. Aku ingat Kakek. Tiba-tiba terasa ada kekuatan dahsyat dalam diriku. Tampak di depanku Gatotkaca menyerang Jaka Tilangin. Mereka terlibat dalam perkelahian yang seru. Senjata masing-masing siap di tangan. Aneh, perkelahian itu tak kunjung usai. Kami bertiga seperti diberi kekuatan yang berimbang. Tak ada di antara kami yang kalah. Juga tak ada di antara kami yang jatuh ke bumi. Sorak sorai penonton di pinggir gelanggang makin gegap gempita.

Kulihat Jaka Tilangin kembali mengayun-ayun keris pusakanya. Tampak pula Gatotkaca menyergapku. 25

Aku terus memusatkan perhatianku untuk memenangkan pertarungan ini. Dalam hati aku kuatkan tekad sambil terus mengingat Kakek dan Ibu. Dengan cara itu aku merasa mendapat kekuatan. Gatotkaca yang pandai terbang dapat kulayani. Jaka Tilangin yang terampil menghindari tendangan dapat kuimbangi. Demikian juga tampaknya mereka. Betapa sulit kami mengakhiri perkelahian ini. Aku ingat kembali pengalamanku ketika menjatuhkan macan jadi-jadian Kakek. Aku ingat kembali perkelahian dulu dengan Tilangin. Aku ingat diriku sebagai jagoan di Gunung Pakembangan. Sekarang semuanya itu tidak ada artinya. Aku masih belum bisa menjatuhkan lawan-lawanku. Berkali-kali tendengan Jaka Tilangin menghunjam di dadaku. Berkali-kali pula sepakan kaki Gatotkaca mampir di kepalaku. Tapi, aku masih bertahan bahkan mampir di kepalaku. Tapi, aku masih bertahan bahkan beberapa pukulan sempat membuat Jaka Tilangin sempoyongan. Juga Gatotkaca mampu kurepotkan dengan keris pusakaku. Seharian perkelahian itu tak kunjung berakhir. Penonton masih berdesak-desak di pinggir lapang. Sementara itu terasa hari menjelang senja. Kulihat Jaka Tilangin kembali mengayun-ayun keris pusakanya. Tampak pula Gatotkaca menyergapku dengan kerisnya, tetapi keris Puspa Geni berhasil melukai dadanya. Ia terhuyung-huyung. Jaka Tilangin menghunjamkan keris pusakanya ke dadaku. Aku tak sadar ketika tubuh Tilangin pun menekan tubuhku. Masih sempat kurasakan darah segar keluar dari perut Jaka Tilangin yang sobek oleh ayunan keris Gatotkaca sebelum kena tusukan kerisku. Dunia terasa gelap. Aku tak ingat apa-apa lagi. Warna kuning, merah, hijau, hitam, dan seterusnya hitam pekat dan kemudian gelap. Aku tak sadar lagi. Semuanya menjadi sepi tak ada gerak. Hanya lengang, kosong-kosong. Aku tidak ingat apa-apa lagi.

  1. AIR PENGHIDUPAN BAGAWAN NARADA
    Mula-mula tampak titik putih entah dari mana. Lama kelamaan titik putih itu mendekat dan makin lama makin besar. Lalu terasa ada yang menindih. Pelan-pelan kerong- konganku dilewati air dingin sekali. Aku pun terjaga seperti baru bangun dari tidur yang panjang. Kuraba dadaku. Tak ada sisa luka sedikitpun. Kulihat sekeliling. Tampak lawanku yang satu pelan-pelan bangkit. Oh, aku ingat, ia Gatotkaca yang dadanya sempat kulukai dengan keris Puspa Geni. Luka-luka di dadanya sudah tak ada. Lalu tampak pula lawanku yang satu lagi sedang dikerumuni empat orang penakawannya. Ooo, aku ingat Jaka Tilangin. Perutnya yang sobek oleh ayunan keris Gatotkaca sudah pulih. Di sekelilingku orang-orang masih ribut seperti memper- cakapkan pertarungan sengit kami. Seorang-orang tua berpakaian serba putih begitu saja ada di tengah-tengah kami. Tangannya seperti menggenggam kendi. Dalam pikiranku berkelebat ingatan, "Mungkin kakek-kakek ini yang menjelma dari cahaya putih itu. Tiba-tiba aku mendengar suaranya berat berwibawa, "Wahai cucu-cucuku keturunan Pandawa, kalian telah ber- tempur sesama saudara...," ia batuk-batuk kecil, "aku datang diutus Betara Guru untuk membangunkan kalian. Kalian telah kuminumi air penghidupan ini." Ia menunjukkan kendi yang dibawanya.

Aku masih bingung dengan hal-hal apa yang telah terjadi. Jaka Tilangin dan Gatotkaca juga kelihatan kebingungan. Keadaan sekitar lapangan yang semula riuh dengan dan sorakan teriakan orang, tiba-tiba sepi seketika. Suara orang tua yang menyebut dirinya Bagawan Narada dari Suralaya makin jelas terdengar. "Kalian bertiga masih sesama saudara keturunan Pandawa. Kau, Jaka Sukara, bukankah telah kau dengar tentang Gatotkaca dari kakek yang punya rumah?" Pertanyaan Bagawan Narada sejenak mengejutkanku, "Dari mana bagawan itu tahu?" aku membatin. "Kau heran karena aku tahu perihalmu dan aku tahu jalan pikiranmu, Jaka Sukara?" Pernyataan-yang bernada bertanya sang bagawan menyadar- kanku. Bagawan itu utusan. Betara Guru. Tentu ia mahatahu sebagai utusan Betara Guru. "Hamba menyadari kekhilafan hamba, Bagawan. Untuk itu, harap Bagawan memberi ampun." Aku menjawab dengan terbata-bata. Aku sungguh-sungguh takut dan bingung. Aku telah berbuat bencana kepada saudaraku sendiri. "Sudahlah, Cucuku. Segalanya sudah terjadi. Semuanya sudah ditentukan oleh Hyang Widi. Sekarang ingat baik-baik." Bagawan Narada memandang tajam kepada Gatotkaca, "Hai, Gatotkaca, cucuku Sang Perbaya, ayahmu itu namanya sang Bima. Ia bersaudara lima, yang tertua Darmawangsa, raja Pandawa. Kedua sang Bima, ayahmu sendiri. Ketiga sang Rajuna yang anaknya sekarang ada di dekatmu. Keempat dan kelima Nakula dan Sadewa." Gatotkaca tampak mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berganti-ganti melihatku dan melihat Jaka Tilangin. Bagawan Narada memandang kepada Jaka Tilangin dan kepadaku, "Hai cucuku Jaka Tilangin dan Jaka Sukara, Gatotkaca ini adalah abang misanmu, anak wakmu, sang Bima." Aku dan Jaka Tilangin menganggukkan kepala. Kami mulai mengetahui secara jelas hubungan persaudaraan itu.

"Cucuku Jaka Tilangin, yang berdiri di sampingmu itu masih saudara seayah. Kakekmu, Dipa Kusuma adalah kakak kakeknya yang bernama Buyut Kusuma. Jadi kalian ini sungguh-sungguh bersaudara."

Kami bertiga sama-samàmembungkuk, berjongkok di depan Begawan Narada. Kami berikrar untuk saling menghormati dan

saling membela. "Sekarang, kalian dengarkan putusan Batara Guru," tiba-tiba Bagawan Narada berkata penuh wibawa, "Dalam tulisan Batara Guru tercatat bahwa yang mendapat jodoh Putri Birantawati adalah Jaka Tilangin. Ingat, hendaklah kalian menerima putusan itu." Kami bertiga berpelukan di depan Bagawan disaksikan oleh penonton. Selanjutnya, Jaka Tilangin dihampiri dan dipeluk oleh empat orang asing. Tiba-tiba berkatalah Bagawan Narada dengan tegas, "Hai, Kang Semar, bagaimana Kakang bisa membiarkan ketiga bersaudara ini bertempur sesama saudara?" Dengan terbata-bata dan penuh rasa sesal, Lurah Semar menjawab, "Mohon ampun Bagawan, hamba memang sudah tua dan banyak lupa. Hamba memang salah. Mohon ampun." "Sudahlah, aku dapat mengampunimu. Sekarang bimbinglah cucu-cucuku ini untuk berkumpul sesama saudaranya di Pandawa. Jagalah mereka semua!" Lalu Bagawan Narada berujar kepada Raja Parwa Kusuma, "Hai cucuku Raja Parwa Kusuma, sekarang ini, aku beri tahukan kepadamu bahwa cucuku Birantawati mesti dikawinkan dengan cucuku Jaka Tilangin. Nama mereka telah tersurat dalam tulisan di

Suralaya."

"Baiklah, Eyang Bagawan Narada, semua perintah akan hamba laksanakan," Raja Parwa Kusuma berkata sambil membungkukkan diri. "Sekarang aku akan pamit kepada kalian semua. Tugasku sudah selesai." Bagawan Narada meninggalkan negeri Karang Kencana itu kembali ke Suralaya.

Sepeninggal Bagawan Narada dikukuhkanlah perkawinan Putri Birantawati dengan Jaka Tilangin. Jaka Tilangin dan penakawannya tinggal di Karang Kencana. Aku dan Gatotkaca pamit kepada mereka untuk menuju ke negeri Amarta. Gatotkaca akan memberitakan hasil sayembara kepada Raja Darmawangsa yang mengutusnya. Aku meneruskan usahaku mencari bapakku. Aku dan Gatotkaca pergi ke arah negeri Amarta. Air penghidupan yang dibawa Bagawan Narada telah menyambung kehidupanku, kehidupan kakakku Jaka Tilangin, dan kehidupan kakak misanku Gatotkaca. Terima kasih Bagawan Narada. Terima kasih Ibu dan Kakek. Aku renungi semua kejadian yang kualami. Pertempuran sesama saudara telah membawa maut. Pertemuan dengan Bagawan Narada telah membawa kehidupan baru melalui air penghidupan. Aku menemukan ajaran bahwa sesama saudara

tidak boleh ada perkelahian. Persaudaraan mengatasi per-

musuhan.

“Sekarang aku akan pamit kepada kalian semua. Tugasku.." 31

  1. PERTEMUAN DENGAN BAPAKKU
    Petualanganku mencari Bapak tampaknya akan segera berakhir. Apalagi kini aku bersama kakak misanku Gatotkaca. Perjalananku menuju negeri Amarta lebih terarah. Pertemuanku dengan ayahku mungkin akan lebih cepat terwujud. Aku ingat Ibu dan Kakek. Dalam hatiku terbayang betapa Ibu dan Kakek berbahagia kalau mereka tahu aku hampir bertemu dengan bapakku. "Dik Jaka Sukara, kau sudah lelah?" pertanyaan Gatotkaca mengusik lamunanku. "Kau tampak lesu, Dik," sambungnya. "Ah, tidak, Kak. Aku hanya ingat pada Ibu dan Kakek di Gunung Pakembangan. Bukankah cita-cita bertemu bapakku sebentar lagi terwujud?" Aku mencoba menjawab pertanyaan Gatotkaca.

"Oh, tentu saja. Sebentar lagi kita akan memasuki wilayah

kekuasaan negeri leluhur kita. Akan tetapi, kalau kau perlu istirahat, kita dapat berteduh dulu di,pondok seberang sungai itu." Gatotkaca rupanya dapat melihat kelesuanku. "Baiklah, Kak. Kita berhenti di pondok itu. Tak lama kemudian kami pun sampai ke pondok yang tak berpenghuni di tepi sungai yang baru kami seberangi. "Bolehkah aku bertanya tentang ayahku, Kak?" Aku mencoba membuka pembicaraan. "Tentu, Dik. Apa yang ingin kau tanyakan?" sahut Gatotkaca.

"Anu, bagaimana sih bapakku sang Rajuna itu?" aku sedikit ragu mengajukan pertanyaan. "Beliau itu, kan pamanku yang paling tampan. Beliau juga kesatria yang kuat bertapa. Beliau juga sangat di gandrungi wanita." Gatotkaca memberikan keterangan tentang pribadi bapaku. Aku tahu juga kalau bapakku itu mempunyai banyak isteri, tetapi juga bangga mendengar kalau bapakku itu kesatria yang kuat bertapa.

"Ibumu dan ibu Jaka Tilangin adalah isteri beliau yang

ditemukan beliau selagi dalam pertapaan. Mungkin saja buah pertapaan itu sendiri." Gatotkaca mencoba menjelaskan. Aku mencoba memahami keadaan bapakku itu. Aku masih ingat pesan Ibu untuk menunjukkan bahwa tanpa kehadiran bapakku itu aku dapat menjadi pemuda yang bertanggung jawab. "bagaimana Dik, kalau kita lanjutkan perjalanan kita?" Pertanyaan Gatotkaca membuyarkan lamunanku tentang Ibu, "Baiklah. Aku juga sudah sangat ingin bertemu bapakku." Perjalanan menuju negeri Ngamarta kami lanjutkan. Kembali kami masuk hutan keluar hutan. Naik gunung turun gunung. Kami lewati gerumbul-gerumbul tanaman perdu. Kami seberangi sungai demi sungai. Dari jauh sudah tampak tanda-tanda ibu kota kerajaan. Jalanan yang aku lewati sudah mulai ramai. Singkatnya kami sudah tiba di perkotaan negeri Ngamarta. Beberapa orang ada yang menyapa Gatotkaca. Gatotkaca berusaha menjawab setiap sapaan dengan baik. Aku diper- kenalkannya kepada mereka yang bertanya. Semua yang kujumpai memberikan kesan yang ramah. Aku mulai mera- sakan betapa besar pengaruhnya hama bapakku itu. Tidak lama antaranya, sampailah kami ke sebuah bangunan yang megah. Ketika sampai di pintu gerbang bangunan megah itu, penjaganya memberikan hormat kepada Gatotkaca. Mereka menerima kami dengan sangat santun. Di balai penghadapan sedang berkumpul beberapa petinggi

kerajaan. Gatotkaca langsung berdatang sembah kepada

orang yang duduk di singgasana. Aku diperkenalkan oleh Gatotkaca kepada sang Raja, Prabu Darmawangsa. Lalu aku diperkenalkannya kepada ayahku, "Paman, hamba perkenalkan putra Paman dari Dewi Ratnawati di Gunung Pakembangan.Ini Raden Jaka Sukara" kata Gatotkaca kepada ayahku. Aku langsung membungkuk dan mencium tangannya. Tiba-tiba saja dia memelukku erat-erat, "Anakku sayang, Jaka Sukara, sampai juga engkau ke tempat Bapak. Sungguh Bapak bahagia. Bagaimana kabar tentang ibumu dan juga kakek- mu?" Tanpa kusadari kubalas pelukannya yang erat, "Ibu dan Kakek menyampaikan salam untuk Bapak. Beliau berdua baik-baik saja." Aku menjawab pertanyaan Bapak sekenanya. Aku masih memendam pesan Ibu tentang usahanya mem- besarkanku tanpa kehadiran Bapak. Rupanya bapakku menangkap getar hatiku, "Anakku sayang, Bapak tahu apa yang Nanda pendam. Bapak mengakui betapa luhur budi ibumu. Betapa aku telah menyia-nyiakannya." Aku tak dapat melukiskan perasaan ayahku dalam pertemuan yang mengharukan itu. Gatotkaca pun bercerita tentang anak bapakku yang lain. Ia bercerita tentang Jaka Tilangin anak Bapak dari Dewi Ratnasari di Indrakila. Diceritakan oleh Gatotkaca bahwa Jaka Tilangin telah dijodohkan oleh Raja Parwa Kusuma dengan putrinya Birantawati. Gatotkaca menyampaikan peristiwa perkawinan Birantawati kepada Raja Darmawangsa. Dikemukakannya juga bahwa perkawinan itu kehendak Batara Guru yang disampaikan melalui Bagawan' Narada. Gatotkaca menyampaikan pula penyesa- lannya tidak dapat memboyong Putri Birantawati ke keraton Ngamarta. Raja Darmawangsa dapat menerima putusan Batara Guru. Tampak olehku betapa besar dan mulianya pribadi raja Ngamarta itu, "Bagiku tak beda apakah Birantawati menjadi

Tanpa kusadari kubalas pelukannya yang erat. 35

menantuku langsung atau jadi menantu adikku sang Rajuna. Yang penting Birantawati telah menjadi bagian keluarga besar Pandawa." Kata-kata Prabu Darmawangsa memperli- hatkan ketulusan hatinya. Kini aku ada di tengah-tengah keluarga besar Pandawa. Puaslah hatiku bertemu bapakku. Besarlah hatiku menjadi bagian keluarga besar Pandawa. Dalam perasaan gembira ini aku terkenang akan kasih saya Ibu dan Kakek. Aku membatin, "Ibu, Kakek, aku telah bertemu Bapak."

  1. BIRANTAWATI DICULIK DURSASENA
    Keluarga besar Pandawa tengah berkumpul lengkap. Semua yang hadir sedang berbincang-bincang tentang peng- alaman Gatotkaca dan aku. Raja Darmawangsa seperti tak henti-hentinya memuji kebesaran Yang Mahakuasa. Demikian juga Aria Bima, ayah Gatotkaca, dan Raden Rajuna ayahku. Tak ketinggalan kedua pamanku, Raden Sakula dan Sadewa memuji kebesaran-Nya. Kemudian berkatalah Prabu Darmawangsa.

"Wahai, adik-adikku, marilah kita puji kebesaran Hyang

Widi. Atas karunia-Nya kita dapat berkumpul sesama saudara. Atas kebesarannya pula tiga cucu kita yang sudah bertempur sampai maut dapat kembali kenegeri kita. Atas pengasih-Nya cucu kita yang satu dapat mempersunting Birantawati." Semua yang hadir mendengarkan kata-kata syukur sang Prabu. Aku merasakan suasana serba syukur itu dengan mendalam. Tak putus-putusnya dalam hati kupuji kebesaran Yang Mahakuasa.

Tidak berapa lama antaranya pintu istana ada yang

membuka. "Ampun beribu ampun, Tuanku. Hamba menyampaikan

keteledoran hamba," seorang-orang tua tiba-tiba muncul ke

tengah-tengah kami. Ternyata mereka berlima. Kulihat Jaka Tilangin ada di antara mereka. Kukenali keempat punakawan yang menyertai kakakku itu.

"Ada apa, Kakang Semar?" Sang Prabu bertanya penuh rasa heran. Pandawa lima pun memperlihatkan rasa heran mereka.

"Sekali lagi, ampun beribu ampun Tuanku. Hamba telah

teledor. Putri Birantawati, menantu Raden Arjuna telah diculik Dursasena." Semua yang hadir terkejut bercampur kecewa. Mereka memang sedang menanti. kedatangan Jaka Tilangin dan istrinya. Sang Semar dengan terbata-bata memperkenalkan kepada sang Arjuna dan sang Prabu Jaka Tilangin. Rupanya dia lupa bahwa Jaka Tilangin baru pertama kali diper- temukan.

"Dinda Prabu dan Dinda Rajuna, hamba perkenalkan

dulu Jaka Tilangin." Rajuna langsung saja merangkul putranya itu. "Aduh, Jaka Tilangin, Anakku. Bapak sudah lama menunggumu bersama keluarga besar Pandawa. Menantuku, menantuku jelek besar nasibmu, Nak." Tampak Jaka Tilangin membalas rangkulan Bapak. Aku rasakan betapa hangatnya pertemuan anak dan bapak itu sebagaimana hangatnya pertemuanku dengan bapakku sebelumnya. Tiba-tiba terdengar suara penuh amarah sang Bima, "Keparat Dursasena, akan kuhajar kau, syetan cilik." Bapakku pun tak tinggal diam, "Kanda, Sang Prabu, mari segera kita bebaskan menantu kita. Izinkan dahulu aku sebagai mertuanya pergi lebih dahulu." Kata-kata bapakku penuh ketidaksabaran.

Kulihat sang Prabu Darmawangsa dengan tenang menjawab,

"Sabar, sabarlah dahulu adik-adikku. Kita dengarkan dulu laporan Kakang Semar agar lebih jelas duduk perkaranya." Kata-kata sang Prabu tetap tenang, "Bagaimana asal mula peniculikan itu, Kakang?" "Maafkan keteledoran hamba, Rayi Prabu. Waktu itu kami dalam perjalanan ke negeri Ngamarta ini. Maklum

Pasukan yang dipimpin Aria Bima dan Raden Rajuna itu berangkat. 39

hamba sudah tua, hamba lupa jalan. Tiba-tiba saja kami sudah berada di lingkungan negeri Hastina. Kami bertemu dengan Dursasena. Timbul niat hamba memperkenalkan Jaka Tilangin dan Birantawati kepada pamannya dari hastina itu. Tak masuk dalam pertimbangan hamba bahwa Dursasena itu musuh kita. Yang hamba ingat semata-mata tali persaudaraan kita dengannya." "Kau memang goblok, Semar!" Aria Bima menyela cerita Lurah Semar. Tapi, sang Prabu mengingatkan, "Kita harus tenang mendengarkan cerita Kakang Semar. Teruskanlah ceritamu, Kakang!" "Maafkan Rayi Bima, maafkan hamba Rayi Arjuna. Tak diduga tiba-tiba saja terdengar jerit Putri Birantawati dan seketika hilang dari pemandangan kami. Rupanya Dursasena dengan ajian Kidang Kencana membawa kabut menantu kita itu." Suasana pertemuan tiba-tiba berubah. Amarahku pun ikut mendidih. Tanganku terasa gatal ingin menghajar si kurang ajar itu. Lebih- lebih pamanku dan ayahku. Demikian juga Gatotkaca. Aku lihat Jaka Tilangin seperti kehilangan nyali. Ia tampak pucat. Tiba-tiba saja terkilas ingatan akan masa lampau. Aku ingat Tilangin yang kukalahkan dalam perke- lahian di masa anak-anakku dulu. Tak salah lagi, waktu itu Tilangin kupukul. Ia terjungkal. Aku ingat. Aku menaruh belas kasihan kepadanya. Aku ingat kata-kata Ibu dan Kakek bahwa aku harus mencintai sesama. Lalu kupeluk kakakku itu. "Kak Jaka Tilangin, aku siap membantu Kakak membebaskan Kak Birantawati." aku berusaha membangkitkan semangatnya. "Terima kasih, Adikku. Terima kasih," kata-katanya memelas mengingatkan peristiwa beberapa tahun silam. Keadaan di ruangan penghadapan itu makin ramai oleh kehadiran beberapa pembesar dan pemimpin pasukan. Sang Prabu mengundang semua petinggi istana. Mereka diajak

merundingkan cara pembebasan Puteri Birantawati. Tampak sekali kekompakan keluarga besar Pandawa. Sang Bima dengan perasaan garangnya yang meledak. Tampak pula Gatotkaca, sang Perbaya, yang gagah perkasa mengikuti jejak bapaknya. Bapakku Sang Rajuna kelihatan tak sabar lagi untuk berangkat. Akan tetapi, kebesaran jiwa sang Prabu menonjol di antara semua. Beliau tampak tenang. Kata-katanya penuh pertimbangan. "Kita harus mampu mengendalikan perasaan kita. Dengan cara itulah, kita dapat menang," ujarnya berkali-kali. Akhirnya, dicapainya kata sepakat. Keluarga besar Pandawa mengutus Aria Bima dan Rajuna memimpin pasukan. Gatotkaca, Jaka Tilangin, dan aku sendiri ikut terlibat. Semula Jaka Tilangin diminta diam di istana. Akan tetapi, kehendaknya keras untuk ikut membebaskan istrinya. Pasukan yang dipimpin Aria Bima dan Raden Rajuna itu berangkat. Demikian juga kedua pamanku, Sakula dan Sadewa. Hampir semua kesatria yang gagah dari seluruh kerajaan Ngamarta ikut ambil bagian. "Mereka harus kita beri pelajaran. Kita buat jera si Dursasena itu," Gatotkaca seperti membisikkan kata-katanya kepadaku dan kepada Jaka Tilangin. "Tanganku juga sudah gatal untuk menonjok hidung si keparat itu," aku berkata dengan nada tak kalah sengitnya. Kuingat Ibu dan Kakek. Sekali lagi dalam suka dan duka aku selalu mengenang mereka. Tiba-tiba aku merasakan ketenangan luar biasa. Ajaran Kakek selalu kupegang teguh. Kita harus tenang menghadapi segala hal. Kepala boleh panas tetapi hati tetap dingin. Segala tindakan harus penuh pertimbangan. Dengan mengenangkan ajaran Kakek itu, aku dapat menguasai perasaanku. "Kita akan menghadapi perang besar, Kak Gatot!" aku berusaha menenangkan sikap kakak misanku itu. "Kita perlu ketenangan sebagaimana dipesankan sang Prabu." Aku mencoba mengingatkan.

"Sungguh terpuji kata-katamu, Den Jaka Sukara," ter- dengar Paman Semar berkomentar. Tampak Aria Bima dan Bapak mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terkilas dalam hatiku rasa syukur ketika terpancar dari wajah bapakku rasa bangga. "Memang benar kata-katamu, Nak," ujar bapakku. "itukah ajaran yang kau terima dari kakekmu?" "Bukan ajaran Kakek saja, tetapi juga ajaran Ibu," aku mencoba menjelaskan lebih jauh," Ibu memang pernah berpesan kepadaku untuk menunjukkan kepada Bapak didikannya tanpa kehadiran Bapak berhasil." Tiba-tiba bapakku terdiam sejenak, "Memang ibumu luar biasa. Kau beruntung punya ibu seperti itu." "Bapak juga beruntung punya istri seperti ibu!" aku menyela kata-kata Bapak. Tak terasa dalam omong-omong itu telah terjalin ke- akraban dengan Bapak. Benar kata Kakek, bapakku sang Rajuna adalah laki- laki sejati.

  1. PEPERANGAN PANDAWA DAN KURAWA
    Negeri Hastina sudah ada.. di depan mata. Tampak beberapa penjaga pintu gerbang mengawasi gerakan pasukan Pandawa. Jarak antara pasukan kami dan pintu gerbang kerajaan Ngastina makin dekat. Aria Bima dan bapakku sedang berunding dengan Paman, tidak ketinggalan Lurah Semar dan. petinggi kerajaan Ngamarta lainnya. Lalu mereka mengambil kata sepakat mengirim utusan. Pilihan mereka jatuh pada Kak Gatotkaca dan aku. Dengan segera Gatotkaca dan aku bersiap-siap. Kami langsung menuju pintu gerbang kerajaan. "Katakan: kepada rajamu, aku Gatotkaca beserta rombongan meminta bertemu Dursase. Sampaikan pula tujuan kami hanya mengambil Putri Birantawati yang dilarikan Dursasena itu." Gatotkaca berkata dengan lantang. Penjaga pintu gerbang kerajaan tampak kelagapan ketika menghadapi Gatotkaca yangrpénuh wibawa itu. Salah seorang di antara mereka pergi memasuki ruang penghadapan. Kami menunggu dengan tak sabar, apalagi Gatotkaca. Gerahamnya. berkerot-kerot menahan diri. Terasa pénjaga yang masuk ke ruang penghadapan. lamban. Waktu seperti melambat lewat karena ada sesuatu yang ditunggu. Beberapa jurus lamanya kami menanti. Penjaga pintu gerbang tadi datang mengiringi seorang-orang tua berjenggót putih jarang. Kata Gatotkaca, orang tua itu. Pendeta Dorna

yang menjadi guru anak-anak Kurawa dan Pandawa selagi

kecil. "Apa gerangan angin yang membawa Cucuku kemari?" Pak Tua itu bertanya dengan nada yang masih santun. Gatotkaca

tak terpengaruh dengan kesantunan orang berjenggot jarang

itu. Ia bertanya dengan nada yang tak kurang tegasnya. "Kami datang jauh-jauh dari Ngamarta untuk mengambil Putri Birantawati. Murid kesayangan Kakek Pendetà telah melarikannya ke keraton Ngastina." Seorang yang tinggi besar tiba-tiba berkata lantang menantang. Ternyata dia itu Bambang Suatama, anak sang pendeta, "Yang sudah masuk keraton, tak kami biarkan lolos dari kami. Putri Birantawati adalah calon istri putera mahkota kerajaan kami." Suatama memberikan isyarat kepada ayahnya untuk tidak bermain muka. Gatotkaca selanjutnya tak dapat lagi bersabar, "Kalau begitu, tak ada jalan bagi kita selain merebut Putri Birantawati dengan kekerasan. Kami telah siap dengan perang besar." Aku mencoba sebisaku untuk menahan perasaan marah kakak misanku itu. Kami lalu kembali ke pasukan induk. Gatotkaca melaporkan segala sesuatunya kepada Aria Bima dan Rajuna. Aku mulai ikut-ikutan merancangkan serangan. Jaka Tilangin bangkit dengan amarahnya. Dia sudah tak tahan mengekang diri. Lalu ramai-ramai pasukan kami di bawah komando Paman Aria Bima dan bapakku mengepung istana. Perang sudah tidak dapat ditunda lagi. Masing-masing pihak teguh dengan pendiriannya. Orang-orang Pandawa bertekad

merebut kembali Putri Birantawati. Sementara itu, orang-

orang Kurawa bersikukuh mempertahankan sang puteri. Sasaran utama ialah Suatama yang tadi amarahnya sudah

berkobar-kobar. Gatotkaca langsung menerjang putra

Pendeta Dorna itu. Terjadi saling pukul saling tendang di antara mereka. Perkelahian makin menegangkan.

Terdengar suara Jaka Tilangin menantang Dursasena, "Dursasena keparat, keluarlah kau bangsat!" kata-katanya keras menantang. "Kau masih ingin selamat, cepat keluar serahkan Birantawati kepadaku cepat!" Kata-kata Jaka Tilangin hilang ditelan gemuruh orang-orang beradu senjata tajam, jeritan prajurit kedua pihak yang menahan kesakitan. Dursasena masih belum tampak. Kini Aria Bima berseru kepada Pendeta Dorna, "hai Kumbayana, jangan sembunyikan murid kesayanganmu. Kami datang secara baik-baik kalau Dursasena mau menyerahkan kembali menantuku, Putri Birantawati." Tak ada suara yang menyahut. "Kalau kalian diam saja, kami akan jadikan istana ini lautan api dan darah." Aria Bima terus berteriak menantang. Tiba-tiba sekelompok prajurit mengelilingi Aria Bima. Dengan berputar sambil menggerak-gerakan kaki semua tentara itu rubuh. Datang lagi serangan, Aria Bima dengan sekali gebrak berhasil merubuhkan prajurit-prajurit itu. Tidak ketinggalan, Gatotkaca, Jaka Tilangin, dan aku sendiri semuanya maju menantang prajurit-prajurit Astina. Suatama berhasil meloloskan diri dari terjangan Gatotkaca setelah beberapa prajurit tinggi .besar mengeroyoknya dari belakang. Suatama berteriak menantang lagi membangunkan semangat orang-orang Ngastina, "Jika Astina tidak ada prajurit yang berani maka akan beginilah nasib kita. Percuma kalian mengaku laki-laki." Seruan Suatama rupanya membakar prajurit Astina. Datanglah Citra Yuda dan Citra Anggada menyerbu Jaka Tilangin dan aku. Gatotkaca tetap mengincar Suatama. Terjadi sepak menyepak, terkam-menerkam. Dalam pertempuran ini aku masih sempat mengingat Kakek dan Ibu. Kuraba keris Puspa Geni. Aku habiskan Citra Anggada. Tampak juga Jaka Tilangin dapat menyelesaikan tugasnya. Citra Yuda sudah gugur ke bumi.

"Dursasena, di mana kau keparat," begitu kudengar tantangan Jaka Tilangin. "Aku di sini Tilangin. Kau ingin merasakan pukulanku? terimalah ini," secepat kilat berkelebat Dursasena meninju Jaka Tilangin. Tentu saja Jaka Tilangin tidak menduga sedikitpun bahwa Dursasena menggunakan ajian Kidang Kencana. Tampak Jaka Tilangin limbung. Ia memegang keris pusakanya sambil mengumpulkan kekuatan. Aku mendekati kakaku itu. Aku lindungi dia dari keroyokan prajurit Ngastina. Tampak olehku bapakku mengejar Dursasena. Ajian Kidang Kencana dapat diatasi oleh bapakku. Dursasena langsung dihajar oleh panah bapakku. Tak terduga begitu cepat melesatnya anak panah bapakku. Dursasena tak berdaya meringis kesakitan melihat luka oleh anak panah itu. Gatotkaca menambahnya tendangan ke muka anak keparat

itu. Aku mencoba menahan Gatotkaca. Namun, kakinya

sudah kena sasaran yang dituju. Dursasena yang menjadi sumber sengketa menjadi bulan-bulanan semua. Terakhir Paman Bima melontarkan tubuh Dursasena ke udara sampai jauh ke ruang penghadapan. Terdengar jerit wanita. Kudengar suara geram Raja Ngastina, ayah Dursasena. Melihat anaknya sudah tak bernyawa, timbulah amarahnya. Sang Raja langsung menyerbu ke gelanggang pertarungan. Ia melabrak Bima yang sedang lengah, lalu Arjuna menjadi sasaran kedua. Bapakku sempat memberikan perlawanan. Terjadilah perkelahian seru.

Bima mau menengahi, tetapi dengan keterampilan seorang

prajurit paripurna, bapakku dapat mengatasi Raja Ngastina itu. Perang besar sudah terjadi tanpa kendali. Korban sudah banyak yang berjatuhan. Mereka yang masih hidup

berkelompok dengan orang-orang yang kalah perang.

Semuanya takluk kepada prajurit Ngamarta. Aku masih harus menghadapi orang yang mengerubuti

kakakku. Kuikuti dia mencari isterinya, Birantawati di keputren. Beberapa prajurit pengawal mencoba menghalangi. Akan tetapi, dengan keris saktinya semua dapat diatasi. Aku tetap mengikuti kakakku itu turut dalam pencarian itu. Tampak darah segarbèrceceran di lantai istana. Mayat-mayat yang tak berdaya memenuhi lantai, ada yang patah tangannya kena tebas pedang, ada yang kepalanya terpenggal. Semuanya mengerikan. Aku ingat Kakek dan Ibu. Aku ingat mereka. Betapa kalau aku termasuk yang berbaring tanpa nyawa di ruang ini. Aku pikir, perang tidak menguntungkan siapa pun. Kita menjadi binatang ketika perang, yang kita ingat hanya nafsu membunuh. Itulah yang pernah dikemukakan Kakek. Aku ingat sekarang betapa benarnya ajaran Kakek untuk selalu sayang terhadap sesama. Aku pikir awal malapctäka perang ini adalah perbuatan laknat Dursasena. Orang tak berdosa menjadi ikut jadi korban.

Di luar terdengar gemerincing pedang beradu pedang.

Terdengar juga bunyi-bunyi tombak beradu tombak. Di antara bunyi-bunyi itu terdengar suara memelas, mengaduh menahan sakit. Orang-orang yang menjelang ajal meraung- raung menunggu maut. Aku tergidik. Betapa dekatnya sang maut mengintip kita ketika perang.

  1. PUTERI BIRANTAWATI BEBAS
    Dengan susah payah Jaka Tilangin dan aku berhasil masuk ke ruang keputren. Prajurit pengawal yang memben- tengi kaputren itu berhasil juga kami tembus. Ruang dalam istana menjadi penuh mayat yang bergelimpangan. Prajurit yang masih hidup berusaha keluar dari serbuan pasukan Ngamarta. Jaka Tilangin bertemu dengan Putri Birantawati. Mereka berpelukan. Bertangisan. Pertemuan mereka telah ditebus dengan darah yang tumpah. Aku termenung mengingatkan hal itu. Betapa mahalnya kebahagiaan. Betapa mahalnya harga yang harus ditebus untuk mempertemukan kembali kakakku, Jaka Tilangin dengan Putri Birantawati. Jaka Tilangin dan Birantawati pergi meninggalkan keputren. Aku mengiringinya di belakang mereka. Aku tetap waspada menjaga mereka. Suasana tegang terasa di luar istana. Tibalah kami di depan Rama Rajuna. Birantawati membung- kuk, merangkul kaki Rama Rajuna. Aku terharu menyaksikan pertemuan mertua dan menantu itu. "Birantawati. Anakku, sungguh besar penderitaanmu, Nak," kudengar bapakku menyapa Birantawati, "Sekarang semua- nya sudah berakhir. Mudah-mudahan pengalaman ini jadi pela- jaran bagi kalian." "Ya, Bapak." kudengar Birantawati menyahut sambil tetap terisak. Suaranya halus. Pelan, tetapi menyejukkan bagi mereka yang mendengarkan.

"Ke sini Anakku, Bapak perkenalkan dengan pamanmu, Aria Bima!" Arjuna meminta Birantawati untuk bersungkem kepada kakaknya, Aria Bima. Tanpa malu-malu Birantawati langsung membungkukkan diri memberi penghormatànseraya mencium tangan Aria Bima, "Paman doakan, jodohmu dengan anak keponakanku Jaka Tilangin berlanjut terus," Kata Bima sambil mengusap kepala sang Putri. Birantawati telah bebas. Jaka Tilangin bertemu kembali dengan istri tercinta. Rombongan pasukan dari kerajaan Ngamarta bersiap-siap kembali ke negeri orang-orang Pandawa. Kami tinggalkan negeri Ngastina. Kami tinggalkan mayat-mayat prajurit dan petinggi kerajaan bergelimpangan begitu saja. Orang-orang Ngastina yang masih hidup dibawa ke negeri Ngamarta. Mereka yang tidak mau damai dimasukkan ke dalam sel tahanan. Perjalanan menuju Ngamarta menjadi lebih ramai karena bertambah dengan para tawanan. Aku tetap ingat Kakek dan Ibu. Bapakku ada di sampingku, tetapi ingatanku melayang ke Pakembangan. Aku memang tidak bisa melupakan mereka, meskipun tak mungkin aku kembali kepada mereka. "Anakku, Jaka Sukara, apakah yang membebani pikiřanmu, sayang?" Tiba-tiba bapakku bertanya. Beliau rupanya membaca kekalutan pikiranku. Beliau rupanya tahu bahwa aku sedang terkenang kepada Kakek dan Ibu. "Tidak, Bapak. aku hanya ingat kepada Ibu dan Kakek. Berkat merekalah aku bisa menjadi bagian keluarga Pandawa. Merekamerelakanku untuk mengikuti Bapak dan menjadi bagian keluarga besar Bapak." Tampak bapakku mengangguk-angguk kepala. Dia masih belum puas rupanya dengan jawabanku itu. "Apa nian, yang masih menjadi pikiranmu, Anakku? Bapak yakin kau masih menyembunyikan pikiranmu." Bapakku kembali menuntut jawaban. "Masih dalam hubungan dengan Kakek, beliau mengajariku

"Birantawati, anakku, sungguh besar penderitaanmu, Nak" 50

untuk hidup saling menolong dan saling menyayangi. Aku masih dikejar pertanyaan, mengapa pembebasan kakak iparku, Birantawati harus dikorbankan persaudaraan keluarga Kurawa dan Pandawa?" "Mengapa sedalam itu pertànyaanmu, Nak?" Rama Rajuna menjawabku dengan pertanyaan yang menggugat, "Dalam kehidupan ini, Nak, kita sering mengalami hal-hal yang tidak kita kehendaki. Ada nasib yang sudah diputus oleh Yang Maha- kuasa." "Demikian juga halnya dengan pembebasan Birantawati?" Kataku, "Sungguh besar pengorbanan yang harus kita pertaruhkan untuk itu." "Ya, benar, Anakku. Kau benar." Aku menoleh kepada Kakak Jaka Tilangin. Ia tampak sendu. Rupanya percakapanku dengan Bapak mengena dihatinya. "Memang, benar Rama, Hamba telah banyak membuat Rama dan keluarga besar Pandawa kesusahan. Karena hambalah perang dahsyat itu terjadi." Kata-kata Jaka Tilangin seperti melepaskan beban berat di hatinya.

"Tidak benar seratus persen pandangan Ananda," kata

Bapak. "Bukankah penyebab utama itu Dursasena?" "Benar kata Bapak, Kak Tilangin. Sumber kesalahan itu berasal dari tindakan Dursasena. Kita hanya melayani nafsu serakahnya." Aku ikut mengutarakan pikiranku. Aku merasa perlu menjelaskan hakikat pikiranku agar kakakku tidak terus menerus dibebani rasa salah. "Yang penting, kini mantuku Putri Birantawati bebas. Kau harus menjaganya. Kau harus memeliharanya dengan baik. Dengan cara itu, menurut Bapak, kau telah melaksanakan darma." Percakapan kami terputus di situ. Tak terasa rombongan sudah sampai di pintu gerbang kerajaan. Tampak dari kejauhan Prabu Darmawangsa menyongsong di depan. Kami berpelukan begitu tiba di hadapan sang Prabu. Aria Bima pertama kali membungkuk menghanturkan sembah.

Lalu diikuti bapakku, sang Arjuna. Paman Sakula dan Sadewa mengikutinya, Setelah itu Gatotkaca, Jaka Tilangin dan isterinya, lalu aku sendiri membungkuk menghaturkan sembah juga. "Hamba perkenalkan istri hamba, Paman Prabu," kata Jaka Tilangin kepada sang Prabu. Bapakku juga turut memperkenalkan menantunya itu, "Inilah menantuku, Kanda Prabu. Mohon Kanda memberi restu." Prabu Darmawangsa menyambut sungkem Putri Birantawati "Paman berikan restu Paman kepada ananda berdua." Beliau dengan penuh kearifan memberikan nasihat kepada pasangan pengantin itu. "Ingat-ingatlah, perkawinan Ananda berdua tidak lepas dari rasa persaudaraan sesama Pandawa. Peliharalah rasa persaudaraan itu. Kalian telah melewati masa sulit dalam

perjalanan perkawinan kalian."

Pasangan pengantin itu bersungkem lagi kepada Paman Prabu. Tampak mereka sangat bahagia. Aku juga turut merasakan kebahagiaan mereka. Aku tetap ingat pesan Kakek dan Ibu untuk bersikap senasib dan sepenanggungan dengan saudara-saudaraku. Jaka Tilangin kemudian menoleh kepada para pena- kawan yang selama ini mengawalnya. "Paman Semar, aku juga tidak lupa akan pengorbanan Paman selama mengawalku. Putra-putra Paman, Lurah Grubuk, Nara Gareng, dan Anggalia akan selalu aku ingat kesetiaannya." Jaka Tilangin membawa istrinya untuk sungkem juga kepada para pengawalnya yang selama ini tidak pernah jauh dari mereka. Sungguh mengherankan juga pribadi Kakak Jaka Tilangin. Bagaimana ia memberi penghargaan tinggi kepada pelayannya. Aku bangga dengan pribadi kakakku yang terpuji itu. Betapa tidak, di depan para petinggi kerajaan, Jaka Tilangin memperlihatkan kerendahan hatinya serupa itu. Tampak bapakku terharu dengan kerendahan hati kakakku itu, "Mulia benar pekertimu, anakku." Kata Bapak, "Kau adalah putraku yang baik dan tahu diri."

Lalu kami berkumpul semua memberikan syukur kepada Yang Mahakuasa. Dialah yang telah membebaskan Putri Birantawati dari cengkeraman Dursasena. Kekuasaan-Nya tersalur lewat kerja sama dan kesetiaan sesama saudara Pandawa. Satu hal yang tampaknya menjadi bahan pemikiran Jaka Tilangin. Ia akan berusaha mempertahankan perkawinannya yang mahal dengan Birantawati karena ia menyadari pengorbanan sesama saudara Pandawa yang begitu besar. Birantawati sudah bebas. Ia menjadi bagian keluarga Pandawa. Dalam hatiku terpateri ikrar, "Aku akan turut menjaganya."

  1. KELUARGA BESAR PENDAWA BERKUMPUL
    Pembebasan Putri Birantawati diikuti dengan penaklukkan atas kerajaan Astina. Beberapa saat lamanya penjara di Ngamarta penuh dengan tahanan orang-orang Astina. Perkembangan lebih lanjut memperlihatkan sifat pemaaf Prabu Darmawangsa. Sikap sang Prabu itu mencerminkan jiwa besar seorang pembesar. Pengkhianatan yang dilakukan oleh anak raja Astinapura dibalasnya dengan maaf. Memang hampir semua petinggi di Astina ikut menjadi korban peperangan. Namun, dendam tak pernah diperlihatkan oleh keluarga Pandawa. Dalam sidang yang dipimpin oleh sang Prabu diputuskan bahwa kerajaan Astina dapat memulihkan kekuasaannya. Sasaran keluarga memang telah tercapai. Sasaran itu adalah bersatunya kembali Jaka Tilangin dengan istrinya yang bernama Putri Birantawati. Aku banyak belajar dari kebijakan sang Prabu itu. Aku tahu betapa sukarnya mematahkan keinginan Aria Bima dan anaknya Gatotkaca untuk menáklukkan sepenuhnya kerajaan Astina. Sebagai orang yang banyak belajar kasih sayang atas sesama dari Kakek dan Ibu, aku mengharapkan bapakku memihak sang Prabu. Mula- mula memang bapakku seperti tak bisa melupakan penghinaan atas menantunya dengan penculikan oleh Dursasena itu.

"Ingatlah, Kakang Prabu," kata Aria Bima, "kita telah

dihina oleh si keparat Dursasena."

"Ya, Rama Prabu, hamba sejalan dengan pikiran Bapak," Gatotkaca menyambung kata-kata ayahnya, "Hamba masih ingat betapa liciknya Dursasena memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan." Aku tiba-tiba ingat ceritaPaman Semar tentang peristiwa penculikan Birantawati oleh Dursasena. Mungkin Kakak Jaka Tilangin sepikiran denganku. Ia tampak masih kesal dengan laku Dursasena itu. Aku tak mau ikut-ikutan bicara. Biarlah hal itu dibicara- kan oleh orang-orang tua. Kami yang muda hanya ikut putusan yang lebih tua. "Saudara-saudaraku, Bima, Arjuna, Sakula, dan Sadewa adikku, aku menyadari rasa sakit hati itu sukar disembuhkan. Aku bisa menerima rasa marah Bima, Aku juga bisa memahami kekecewaan Dinda Räjuna." Terdengar kata-kata sang Prabu penuh wibawa, "Kita manusia yang cinta damai. Pertanyaanku kepada kalian, apakah kita masih mencintai damai itu?" Tak ada yang menjawab. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara Paman Semar yang segar penuh canda, "Kita memang cinta dama, tetapi bagaimana menghadapi orang kurang ajar seperti Dursasena, Gusti Prabu?" "Dursasena harus kita pandang sebagai anak kita juga. Kita hendaknya menyadari hubungan persaudaraan itu," sang Prabu berujar dengan tenang, "Bukankah Dursasena sudah menemui ajalnya di tangan Nanda Gatotkaca atau di tangan Adinda Rajuna?" "Ya, Raka Prabu. Hambalah yang menghabisi nyawanya." terdengar bapakku menjawab dengan mantap pertanyaan sang Prabu. "Nah, apa salahnya. Bukankah sumber kesalahan sudah tidak ada lagi. Mengapa yang ikut-ikutan harus menjadi korban?" "Benar, Raka Prabu. Benar sekali pikiran Raka Prabu. Dinda menyadari bahwa memang kita harus menanamkan

"Mohon Hamba turut bicara. Hamba menyadari Hambalah yang Paman bela" 56

kesadaran bahwa orang Astina dan orang Amarta, khususnya keluarga Kurawa dan keluarga Pandawa itu masih saudara." Terdengar lirih suara bapakku membenarkan kata-kata sang Prabu. Tampak Aria Bima mànggut-manggut. Demikian juga anaknya sang Gatotkaca. Aku terdiam. Aku tetap was-was, jangan-jangan masih ada bibit-bibit rasa permusuhan yang akan ditebarkan oleh sang Bima. Namun, tiba-tiba Jaka Tilangin turut berujar. "Mohon hamba turut bicara. Hamba menyadari, hambalah yang Paman bela. Hamba banyak belajar dari adik Hamba, Raden Jaka Sukara. Selalu hamba ingat kata-katanya selagi Hamba bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu. Kesadaraan adanya tali persaudaraan itulah yang dapat menghapus dendam sesama saudara." Aku terkejut mendengar namaku disebut-sebut Kakak Jaka Tilangin. Namun, aku diam saja. Kulihat Paman Semar menunjuk-nunjuk kepadaku. "Benarkah begitu Sukara?" tiba-tiba saja Rama Prabu bertanya langsung kepadaku. Aku menjadi serba salah, tetapi aku bayangkan Kakek dan Ibu. Aku ingat terus ajaran kasih sayang diberikannya kepadaku. Aku jawab pertanyaan sang Prabu. "Benar sekali, Rama Prabu. Hamba sangat sejalan dengan pikiran Rama Prabu." Aku tiba-tiba saja memperoleh keberanian untuk berbicara. Semua mata tertuju padaku. Aku sadar menjadi perhatian orang. Tampak Paman Semar mengacungkan jempol kanannya. Dia tampak puas. Kulihat Aria Bima dan anaknya Gatotkaca mulai goyah pendiriannya. Mereka rupanya memahami juga keinginan sang Prabu. Mereka juga mulai memperhatikanku juga. Aku sekali lagi menjadi rikuh. Dalam pikiranku, "Jangan-jangan Paman Bima dan Kakang Gatotkaca akan bersikap lain terhadapku. Bukankah mereka merasa dikalahkan oleh anak kecil sepertiku?"

"Akhirnya, aku Aria Bima menerima pendapat Raka Prabu. Aku merasa banyak belajar dari keponakanku, Jaka Sukara," ia lalu mendekatiku seraya menepuk bahuku. "Kau benar anakku. Persaudaraan di atas segalanya. Dendam hanya mencelakakan." Kata-kata Aria Bima sungguh di luar dugaanku. Orang tinggi besar itu ternyata kesatria yang besar hati dan lapang dada. Anaknya, Gatotkaca, juga turut menghampiriku, "Aku bangga dengan sikapmu, Adikku?" Itulah yang diucapkannya. Akan tetapi, hal itu cukup membuatku bangga. Aku lega sekarang. Keluarga besar Pandawa memilih damai di atas perang. Mereka memilih persaudaraan di atas dendam. Àku puas. Kubayangkan keņibali Kakek dan Ibu. Kulihat bapakku, sang Rajuna terharu. Perdamaian akhirnya menjadi kenyataan. Setidaknya, untuk semientara. Kerajaan Astina diberi kesempatan untuk memulai hidup barunya. Orang-orang yang dimasukkan ke dalam penjara dikeluarkan dari sel tahanan. Panggil aku Jaka Sukara. Aku cinta damai. Aku cinta persaudaraan. Aku penebar kasih sayang di antara sesama.

PERPUSTAKAAN PUSAT BAHASA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

11-0020