M.r.dajoh
PERANG
LOMBOK
INDO
PERANG LOMBOK
Dr. M R. D A J O H
b a g i an p e n e r b i t a n lembaga kebudajaan rakjat
babak kesatu
Didalam puri di Tyakranegara kedengaran gamelan Baliuntuk menghibuT Rad]a Lombok, jang memikw- mikirkan keadaan negevinya> yang belum tontovam. Bag in da duduk tersendiri pada sebuah kursi yang sederhana dekat singgasana, sambil menggerak-ge- mkkan tongkatnya, yalah tongkat kevadjaan. Ia menunggu^nunggu waktu yang telah ditetapkan un- iuk bermiisjawaraL Sebelum Perdana Menteri ada, maka Putera Mah- kota menghampiri Baginda,
Putra Mahkota
Salam bahagia, Ajahanda !
Radja Lombok
Mari kemari Ananda !
Putra Mahkota
Ajahanda kulihat senantiasa berwaswas> berwasangka memikir-mikirkan keadaan keradjaan. Setiap langkah, setiap saat penuh dengan kesedihan jang mengchawatirkan.
Radja Lombok
Apakah jang Ananda maksudkan dengan perkataan ,.mengchawatirkan” ?
Putra Mahkota
Seolah-olah Ajahanda tidak pertjaja benar-
benar akan.............
Radja Lombok
Akan Ananda ! Ketjerdasan Ananda ?
Putra Mahkota
.......................................... Hal ketenteraman !
Tidak lama lag] maka negeri kita ini aman, seaman -amann j a. Kaum pemberontak makin berkurang dan pengaruhnja makin kusut; berangsur-angsur mereka lemah. Beratus-ratus menjerah kepada Balatentara. Mereka insaf akan kekosongan ,.chabar sedih” jang disiar-siarkan Alkadri.
Radja Lombok
Ja, ja .,chabar-sedih”, katamu, betul, betul. betul ! „Chabar-sedih” itu telah memukul- mukul ratusan djiwa rakjat kita, jang tak bersalah. Demikianlah akibat chabar-bohong jang memusnahkan sekalian maksud jang sutji-murni. jang lahir dari ilahi. Dewa2 dan dewi2 jang menguasai dan mengetahui seluk- beluk alam ini. kupanggil selaku saksi, bahwa sekali-kali bukan maksud negeri, dan bukan maksudku, akan memperkosa agama apapun. Alkadri berdosa menjiarkan chabar, bahwa aku hendak membasmi agamanja. ( Bagindabermenung).
Putra Mahkota
Ajahanda, Baginda, teranglah sudah kebo- hongan „chabar-sedih” Alkadri itu.
Radja Lombok
Tiap-tiap Agama kupelihara dalam negeriku. 'Tapi Alkadri terlampau kusajangi. dan terlampau kupertjajai.
Putra Mahkota
- ••••................................... Hal itu orang tahu, tapi bukankah Alkadri itu. sematjam mata- mata, jang disuruh oleh musuh untuk meru- gikan Ajahanda ?
Radja Lombok
............................................. Musuh mana ?
Putra Mahkota
Entahlah ! Tapi baik Ajahanda awas-awas !
Radja Lombok
Alkadri sudah mati, bukan ?
Putra Mahkota
Tapi kutu-kutu chabar bohongnja belum mati.
Radja Lombok *
Nah, itulah jang kupikir-pikirkan.
Putra Mahkota
Kutu-kutu chabar bohong itu kelak mati semua; dan musuh dalam negeri, pemberontak-pemberontak djuga.
Radja Lombok ■ Tapi mungkin ada musuh negeri lagi.
Putra Mahkota
Musuh luar negeri ? Negeri mana lagi jang Ajahanda takuti ? Tetangga-tetangga kita semuanja sekeluarga dengan kita, lagi pula kekuasaan mereka tidak seberapa ! Tenta- ranja ketjil, rakjatnja miskin, lemah dan kurang gajanja.
Radja Lombok
Perkara itu tak kuchawatirkan. Tapi, ingat- lah. orang asing, jang makin lama makin berkuasa disekitar negeri kita ini !
Putra Mahkota
.......................................... Siapa ? Inggeris ?
Radja Lombok
Bukan !
Putra Mahkota
Bukankah kekuasaan Inggeris, sudah ber- akar di Hindia ?
Radja Lombok
Betul, tapi, bahajanja belum terlalu besar.
Putra Mahkota
Siapa lagi, kalau tidak Inggeris !
Radja Lombok
Orang asing lain ! Sama warnanja
Putra Mahkota
.......................................................... Belanda ?
Tak mungkin, Ajahanda ! Ajah telah mem- bantu dia. Ajah telah menjokong dia seba- njak-banjaknja. lagf pula „Kompeni Belan da” i) sahabat kita. Bukankah dalam per- djandjian, kita hormat-menghormati ? Lagi pula harus kita tolong-menolong ? Djasa negeri kita pada >,Kompeni” amat banjak, dan patut dihargakannja sepenuh-penuhnja, bukan ?
Radja Lombok
Ananda, hal itu menurut kedjudjuran, me- mang sepatutnja, tapi telah berkali-kali kubajangkan kepadamu, bahwa gerak-gerik ,.Kompeni” sangat mentjurigakan. Ananda selaku penggantiku, harus hati-hati ! Kompeni, kaum pedagang, bukan kaum Ksatria 1 Lihatlah nasib Radja-radja lain ! dan seli- dikilah sekitar negeri kita ! Ananda harus insaf akan gerak-gerik tindakan >,sahabat” itu.
Putra Mahkota
Djadi, ada kemungklnan, bahwa ^Kompeni’'
itu akan..............
Radja Lombok
............... akan menjerang kita ! Dan aku
ramalkan, bahwa hal ini tak ajal lagi akan berlaku. Inilah, jang kuamanatkan kepada mu, Ananda, selaku Putera Mahkota, bahwa sedjak sekarang. kamu harus lebih giat
memperkokohkan negeri ! Tapi........ ha......
disana bentara...... sabar sedikit!
kita terima ia dengan hadiah peluru tenta: kita.ini dalam keadaan aman sentosa dan sedjah- tera! Perdana Menteri Saja harap Tuanku Baginda, dan Tuanki perdana Menteri Putera, djangan terlalu tergesa-gesa meng Tidak lama lagi, Tuanku! Ketenteraman ambil putusan Pengumuman Perang, djik| akan balik lagi. seandainja Kompeni Belanda hendak mem perkosa Perdjandjian kita. putra Mahkota Sebelum sempurna pertahanan kita dilaut Tentara Kompeni Belanda ! baiklah kita berlaku ramah-tamah kepadanja Radja Lombok Radja Lombok Ssst! Sabar! Duduk! Terhadap sikap „ramah-tamah” itu, hal itl tetap kita lakukan, meskipun sepandjanjj Putra Mahkota (tertegun-tegun)
tilikanku, pemberontakan dinegeri kita inf Sudah.......... ada........... di Ampenan !
hasil tusukan ’’Kompeni” djua. Perdana Menteri (ternganga) Putra Mahkota Ramalan Tuanku! Tepat, dan sangat tjepat Hasil tipu-muslihat jalah pemberontakai terdjadi! ini. Radja Lombok Bentara (bersembah sudjut) Kupinta sangat-sangat kamu berdua tente Tuanku, Kawal-kawal puri hendak meng. ram. hadap! Tak boleh kita meragu-ragukan rakjat kita. Nah, sekarang, siapa jang membawa chabar Radja Lombok (kern da Putera Mahkota) itu? Pergi periksa! (Putera Mahkota keluar, diilcut oleh Bentaral (Kawal2dan dm mata-mata dari Ampenan masuk Radja Lombok (kepada Perdana Menteri) Mata-mata I dan II bersembah dengan Perasaanku pada hari ini, chidmatnja) amat berlainan dengan hari jang sudahl sudah! Mata-mata I Aku sudah tua, dan alangkah tenteramnj; Tuanku Baginda, kapal-kapal dagang kita hatiku, djika dapat kutinggalkan negeri kit) 1 telah dirampas Tentara Kompeni, dan ben- dera negeri kita telah dikojak-kojakkan ser-
dadu Belanda, serta digantinja dengan ben dera Merah-Putih-Biru; dan kebanjakai pedagang ditangkap dan dibawanja kekapal perangnja. Seluruh Ampenan ribut, kotjar-katjir, ole] serbuan serdadu-serdadu Belanda, jang m* rampok sewenang-wenangnja; kami tak me ngetahui apa sebabnja.
Mata-mata II Pedagang-pedagang selaku rakjat Bagindi minta perlindungan, minta bantuan, untuk.J
Pulera mahkota (gesa) Hal itu nanti diurus !
Radja Lombok (kepada kedua mata-mata) Tinggallah kamu untuk sementara wakti dipuri. Dan dalam hal ini sebaiknja kamu bersikaf tenang. Keluarlah dahulu ! (Kedua mata-mata itu pergi)
Radja Lombok (kepada Perdana Menteri) Kita adakan permusjawaratan ! Perdana Menteriku harap tenang-tenan^ berpikir.
Radja Lombok (kepada Putera Mahkota) Dan kau selaku Panglima Perang pergilah| selidiki kedudukan Tentara Kompeni BelanJ da serta berilah perintah jang perlu sekali kepada Pemimpin-pemimpin Bala Tentan[ kita semua.
Selekas-lekasnja balik kembali dengan kete- rangan.
(Putera Mahkota bersembah, pergi.)
Radja Lombok (berisjaratmenmnggil bentara, bentara masuk) „Kau pukul tong-tong sekuat-kuatnja !” Lekas ! Pergi ! (Kedengaran tong-tong ngung Pembesar-pembesar masuk satu persatu, memheri hormat, bersembah kepada Radja, lainduduk bersila Lima Belas orang banjaknja, selain Radja, Perdana Menteri. Putera Mahkota be hadir. Jang duduk hanja Radja, Perdana Menteri, kursi Putera Mahkota masih kosong).
Perdana Menteri Dengan menghaturkan diperbanjak terima- kasih atas kedatangan tuan-tuan sekalian, istimewa atas kehadiran Baginda, hamba buka rapat ini, dengan penjerahan djiwa kita kepada Allah, Dewa-dewa dan Arwah2, jang memelihara kita. Seluruh nasib kita ada dalam tangan Dewata. Marilah kita pertenangkan pikiran kita de ngan mengheningkan tjipta sedjurus untuk ksatria2, Leluhur kita aulia, pelindung kita ! (Heningkan tjipta sedjurus, tetap duduk)
,.Tegak !” ...............
Rapat jang mulia ! Negeri kita-dengan sekonjong-konjong men-
i
dapat serangan dari sahabat kita „Kompeni Belanda”, jang sekarang lengkap dengan sendjatanja, mendarat di Ampenan. Oleh hal ini, negeri kita ada dalam kegen- tingan, tapi sungguhpun demikian, patutlah kita bersikap tenang memikirkan soal ini* soal amat sulit adanja.
Pembesar II Bukan buatan ! Sahabat dagang dengan sendjata ! Chianat, chianat. demi Allah !
Perdana Menteri Sabarlah ! Sendjata kita : ketenangan !
Pembesar III Ini berarti .,Kompeni Belanda” datang merampok.
Perdana Menteri Hal ,-merampok” itu tak asing lagi untuknja, tapi maksud kita bermusjawarat ini, men- tjari daja-upaja mempertahankan negeri kita.
Radja Lombok Dan jang paling penting, jalah menghindar- kan Negeri kita dari bahaja peperangan, meskipun „sahabat” kita .,Kompeni Belan da”- datang dengan tindakan jang menga- djak kita berperang.
Perdana Menteri Bendera kita di Ampenan telah dirabiknja, dan kapal-kapal kita dirampasnja, bahkan dirampoknja pedagang-pedagang kita semua.
Pembesar II
Kapal-kapal kita dirampas ? Dan Orang Inggris, jang mengepalai kapal-kapal kita
itu ! ?..............
Ini berarti „serangan pertama”. Perang ! Perang !
Radja Lombok
Tenang ! Tenang ! Kita tunggu keterangan djelas !
Perdana Menteri Benarlah ! Hal negeri kita ini teramat genting, dan perkara Inggris dan Belanda itu baik kita perb ntjangkan kemudian. sesudah njata, bahwa maksud Kompeni Belanda, ja lah untuk berperang. meskipun perkataan- nja berlainan dengan tingkah-lakunja !
Pembesar II
Perkataan dan tingkah laku ? Perdana Men teri, sampai mana penjelidikan dan t'ndjau- anmu terhadap keadaan jang maha genting ini ? Kcmpeni Belanda telah datang dengan ten- teranja, itulah bukti sedjelas-djelasnja, ia hendak berperang, hendak menjerang negeri kita.
Perdana Menteri Sabar, sabar ! Tenang, sekali lagi ! Ingatlah! Pemerintah Belanda akan menepati djandji- nja- jalah bahwa kita bekerdja bersama- sama selaku sahabat. Bukankah tertulis te- rang dalam Surat Perdjandjmn 7 fatsal, jang
menjatakan persahabatan Belanda dengan kita ?
Pernbesar II Kita tahu semuanja, tapi hal kedatangan Tentara Belanda-jang tak diundang dine- geri kita, sangat bertentangan dengan isi „Surat Perdjandjian” itu; — dan supaja perundingan kita ini djangan makan banjak tempo, maka saja usulkan supaja kita kirim- kan utusan kita kepada Panglima Perang Balatentara Belanda, untuk menerangkan, bahwa kita tak setudju terhadap kedatangannja.
Pembesar2 (serempak) Betul ! Tidak setudju atas kedatangannja.
sesudah memberi hormat, ia rmdai
Putera mahkota Pengchianatan, pengchianatan. semata-mata! Perdjandjian diperkosa ! Balatentara Belan da sudah mendarat di Ampenan, dan semua keterangan mata-mata tadi benar semua; bendera Belanda sudah berkibar-kibar di Ampenan. Semua keterangan mata-mata kita betul.
Pernbesar III Salahkah tindjauanku ? Perang ! Serang !
Perdana Menteri Itu, urusan Putera Mahkota, Panglima Pe rang ! Dan berhubung dengan itu kita kumpulkan
semua laki-laki jang masih kuat dan sanggup berperang. Mulai sekarang negeri kita bersedia menang- kis serangan setjara besar-besaran ! Seribu serdadu Kompeni Belanda mendarat dinege- ri kita, dengan dua ribu pahlawan kita, kita lawan serangannja.
Radia Lombok Jang aku hendak nasihatkan, jalah : Dja ngan sekali-kali kita mulai menjerang. Aku titahkan, bahwa kita tetap memegang sifat keksatriaan kita. Haruslah sikap kita sepa- dan dengan deradjat adat dan agama kita. Sedjarah akan menentukan siapakah jang benar, dan siapakah jang salah dalam pepe- rangan ini.
naran- hal itu lebih berharga dari pada kita menang dengan tingkah laku jang buruk se- buruk-buruknja. Ingatlah ! Kemusnahan kita dengan kehor- matan, berarti Pembangunan Djiwa Ketu-, runan kita kemudian.
Perdana Menteri Saja jakin, titah Baginda telah terang. se- terang-terangnja, dan saja harap kita djun- djung semua perkataan Baginda jang ter- amat penting itu, pada masa jang maha gen- ting ini.
(Perdana Menteri memberi hormat kepada Radja; Radja Berdiri, semua berdiri djuga, lalu menunduk kepala mereka
!9
( Padaivuktu itu masuklah Mahkota, Dan seandainja kita kalah, tapi dalam kebe-
Idengan chidmatnja. Sudah
itu, mereka k, ,. ■ ombok ( ara pemDeroiiuiKan, nai iiu uuit;n acuiii P" S S 5 S urus sendiri; tambahan lagi pemberontakan jX K ,tS T „ sudah hampir punah sama sekali, sehingga Gamelan berbunji sajup-sajup. tak usah lagi Pemerintah Belanda menolong PVf^l tig a menit sesudahnja, maka masu 1 kami. Dan jang kami hendak usulkan, ja- oentara membawa seputjuk surat kepal lah supaja Balatentara Tuan h'ndar dari Radja. ^ Radja meuerimanja, dibukanja, J sini, agar Rakjat kami tidak mendjadi bi-
batjanja, dam............. *karena tak mau te*
ngung. ganggu membatja, maka disuruhnja gam4 07 5ffw ” — "wwjvu, rvu u-ururunnja gamA> an chhentikan. Surat itu diberikannja ken* ,, v Hor 1 veuer
** Perdana Menteri, tapi Perdana MenteP')endra^ P 07 vf vU/pi t^t>iuAAjjia IrlGiltGt
~ . ..m v .v ju, u lu o lij uKKiirvnja fcepam Tetapi hal itu, saja kira sudah-sulit, karena dengan hormatnja menundjukkannja IUU’. B?J“ kepal Putera Mahkota lebih dahulu. Putera Mnhbntn imu nib,.!.. kami datang ini dengan banjak belandja kami datang mi aengan oanjaK Deianuja
__r> nn>nn ncml -I L n Tn
I,.... ™-%:kami datang mi dengan banjak
baru dibatjanja. perdjalanan. Dengan usul itu Tuan Radja akan harus menebus belandja itu. *Radja Lombok memberi isjarat. Benta* memanggil utusan₂ Belanda. 1 Radja Lombok Masuklah utusun Belanda : Tetapi djangan lupa, bahwa kami sekali-kali tidak meminta tentara Tuan datang disini.
1. Djenderal **.***Vetter* *• Djenderal Major van Ham. D!endra| Vetter i ControLTuafS^ic). * Selaku sahabat kami datang disini, bukan
Djendral Vetter Radja Lombok I Kami tetap pertjaja akan kedjudjuran Atas nama Pemerintah Belanda saja datan] „Kompeni”. mengchabarkan, bahwa kami mengundjungC Dan „Surat Perdjandjian” masih gerharga, negeri ini selaku sahabat, jang hendak menu bukan ? bantu Tuan Radja untuk memusnahkan pern- berontakan dikeradjaan ini. Kami melihatf Djendral Vetter (kasar) bahwa pemberontakan itu lama berlaku. olef Surat Perdjandjian ? Surat itu diminta su- karena itu perlu kami menolcng Tuan Radj paja diubahkan sekarang jaitu : untuk membalas djasa jang Tuan Radja tel I. Tuan Radja mengaku, bahwa pulau M berikan di Buleleng untuk menaklukkaii Lombok ini Tuan Radja pindjam dari Radja-Radia Bali. | Pemerintah Belanda.
II. Bahwa Tuan Radja diangkat mendja
Radja oleh Pemerintah Belanda. Ill. Hukum-hukum Lombok tidak boleh pakai lagi melainkan hukumhukum P^ mer.'ntah Belanda. IV. Bahwa Tuan Radja boleh terus mendjg di Radja, kalau menurut hukum-hukui| Pemerintah Belanda.
V. Bahwa Pemerintah Belanda berhak mJ nempatkan wakilnja dinegeri ini.
Radja Lombok (dengan ten) Semua bukan saja sadja jang menguasainjJ artinja : Rakjatlah jang harus menentukanl bagaimanakah pikirannja terhadap usul pJ merintah Tuan; djadi, baiklab kita mende ngar dahulu bagaimanakah kemauan Rak jat !
Djendral Vetter (lebih kasar) Sebetulnja saja datang untuk menjeranj Radja, tapi sebab Radja tidak berani berpa rang, sekarang saja minta sadja ongkos kef rugian !
Radja Lombok Kalau begitu saja dakwa Tuan di Betawi Usui Tuan melanggar „Perdjandjian”.
Djendral Vetter (denaan a Tak usah Radja dakwa ! Saja ini utusan Saja mendapat kuasa sebesar-besarnja dar Pemerintah saja, mengurus hal Radja.
Radja Haiku, hal keradjaanku, hal Rakjatku semua
bukan hal jang masuk urusan Pemerintah Belanda. Tapi semuanja harus dengan per- setudjuan Rakjat!
perdana Menteri (kepada Vetter) Titah Tuan Radja kita djundjung diatas ke- pala kita. Oleh karena itu baiklah kita tanja-Kan, bagaimanakah suara Rakjat terhadap usul „sahabat” tadi itu.
(Radja berdiri, sedia pvlang, djuga Perdana Menteri, Putera Mahkota, Vetter, van Ham, Danenberg, Liefrinck ke- luar.
Lajar turun sedfurus sementara itu tong- tong berbunji, alamat ada permusjawaratan pembesar-pembes«r laai. Hadir semua Pembesar, istimewa Radja, Perdana Menteri, Putera Mahkota, Radja Bali ) wakil Lombok).
Perdana Menteri Tuantuan jang terhormat! Kita langsung- kan Permusjawaratan ini dengan mengha- turkan banjak terima kasih atas kedatangan tuantuan. Jang penting sekali jalah : Djenderal Vetter meminta supaja Surat Perdjandjian dirubah sekar ang. Tuan-tuan tel ah membatjanja tadi, bukan ? Selain itu dimintanja ongkos kerugian pen- ..
hal kedatangannja disini dengan tenteranja.
Pembesar I,, Kata2 Vetter itu tak ada alasannja.
Alasan kedatangannja selaku sahabat : „omong kosong”. Memberi ongkos kerugian kepadanja salah sekali. Seperti Baginda telah katakan terang : Bantuan Vetter untuk membasmi kerusuhan tak ada gunanja; kita tak minta bantuan itu. Terhadap kontrak baru itu, Vetter hendak mempermain-mainkan Radja dan kita semua. Kita tetap berpegang teguh pada Perdjandjian dulu. Kita sahabat Belanda dahulu, sampai seka- rang. Rakjat akan tak mau menuruti hukum Belanda.
Pembesar II Hukum Belanda tak tjotjok dengan hukum kita.
Pembesar III Dan menurut hukum Belanda berarti pem- belengguan diri kita.
Pembesar I Telah terang, seterang-terangnja maksud djahat Pemerintah Belanda untuk mensia- siakan kita.
Perdana Menteri Marilah kita pendekkan permusjawaratan ini. Terhadap usul Vetter, hal Perdjandjian
Baru...............
Semua Pembesar (serempak) Kita tolak bulat-bulat. Tidak setudju !
Pembesar II Baik berperang dari pada dibelenggu hukum Belanda.
Perdana Menteri Perang itulah, jang harus kita tjegah. Mengorbankan djiwa Rakjat bukan maksud kita.
Pembesar III Tapi kalau terpaksa ,kita korbankan semua.
Perdana Menteri Ja kalau terpaksa, kita susunkan tenaga, semua kekuatan kita, untuk membela negeri kita, sekuat-kuatnja.
Pembesar IV (jang tua sefcatt dengan. suam tenang dan pelahan-la) Djika Baginda Radja hendak mentjegah pe- perangan, maka sebaiknja kita berikan sa- dja uang selaku penghibur Vetter, jang di- namakannja sendiri „ongkos kerugian”, ke- mudian hari kita akan dakwa dia di Betawi akan kelakuannja itu.
Perdana Menteri Saja kira, usul inilah jang sebaiknja. Dengan ini dapatlah kita mentjegah kedja- hatan Vetter, jang hendak menjerang kita itu.
Radja Bali Benar, inilah jang sebaiknja.
Pembesar I Alasan demikian mentjegah peperangan. Saja setudju!
Pembesar2 lain ( serempak) Mufakat!
Perdana Menteri
babak kedua Demikianlah sebaiknja, bukan? Dan maksud Baginda tak lain tak bukan mengbindarkan mara-bahaja peperangan dari rakjat kita ! Serambi tengah jang sederhana, Perhiasan wajang. Terima kasih atas kedatangan tuan-tuan se-Pada balai-balai, tidur seorang pemuda. kalian! Tiba-tiba adiknja tergopoh-gopoh masuk, mentjari sendjata. Bilihatnja lambing keris. (RoAja berdiri, Pem2 hormat. Karena kurang sabamja, didjatuhkannja Gamelan dimainkan). lembing, dan karena kagetnja disentuhnja mzdja. Medja terdjatuh. Jang tidur tadi bwngun, mar ah. LA JAR TURUN Pemuda I (jang tidur tadi) Anak gila, merlgapa beribut-ribut? Pergi! (berdiri hendak menempzl&ng adiknja).
Pemuda II (adikmengeluh, mengusap-usap tulang belakangnja) „aduh, aduh!” (berdiri memungut lembing)
Pemuda I Hendak kemana engkau dengan lembing itu?
Pemuda II (adik) Tidak tahukah engkau, bahwa musuh sudah didekat kita?
Kau tidur-tidur sadja sepandjang hari, me-] Ibu, Adik perempuan (kag&t, serempak) Musuh ? Siapa ? nanti-nanti waktu makan sadja! Habis makan tidur, baik tidur terus sadja !g Adik Perempuan (ketakutan) Pemuda I (marah, melompat kepada adiknja) Aduh ! Musuh ! Rampok ! Sedia-sedia sen (Perkelahian terdjadi). djata ! Perkelahian terdjadi. (Gndis itu memegang ibunja). (Ibu, Bapa, Adik perempuan, datang terg,e-f sa«gesa ) Pemuda I Kalau begitu aku sedia berperang membela Bapak keluarga kita ! Lepas! Anak durbaka semua, (bapak me A nempeleng kedwa anaknja itu) Pemuda II (Adik) Keluarga kita ? Apa dajamu memerangi be-Ibu (Mendjerit) ribu-ribu musuh jang mendarat dinegeri Aduh, lembing. kita ini ?
Adik perempuan (menarik lembing) Bapak Perang belum dimaklumkan ! Bapak s Tapi perampasan dan perampokan musuh Lepas ! Lepas1! (kedua pemuda itu berhenti I berarti perang. Perang ! berkelai) Apa gunanja ! Sasak dan Bali sebangsa djua! Apa guna kamu berkelahi ?
Pemuda I Pemuda II (Adik) la mengganggu aku tidur ! Bukan orang Sasak lagi jang menjerang, Ibu!
-. " * 'V ■ ■. ' I Kompeni Belanda ! Sahabat Radja kita, Ibu!
Bapak Mengganggu tidurmu? Pemuda I Tidur pada waktu ini? Sendja hari? Bohong ! Mana boleh, Belanda ! Ia sahabat !
Pemuda II (Adik) Pemuda II Bukan maksudku mengganggunja; biar ia { Pergi sadja ke Tjakranegara. Penuh serdadu, tidur setahun; tapi aku mentjari sendjata. I penuh tentara Belanda dengan alat2 peraiig-Tidakkah bapak mendengar, bahwa musuh j nja ! Mereka telah bersedia menjerang seluruh telah mulai merampas dan merampok d^n memperkosa dinegeri kita ? puri.
(Lalu ia mengeluarkan kerisnja, diperlihat- Ibu kannja, diputar-putarkannja, dimain-main. Tapi Radja belum memamklumkan perang jl kannja)
Pemuda I ( gembira) Demi Dewata, keris ini akan...............
Kalau Radja tidak piau memaklumkan pe-1 Sabar ! Bapak rang, kita Rakj at memaklumkan perang ke-B Kamu dengan kawan-kawanmu, kamu hen pada musuh ! dak melanggar aturan peperangan ? Siapa kepala kamu ? Ibu Nah, itu lebih baik dari pada kamu berke.f Pemuda II {Adik) lahi sendiri ! Ajo, sediakan sendjata ! ‘ Aku ! Aku dipilih kawan-kawan mendjadi kepala pasukan, untuk menghantam musuh Adik perempuan : ( menurut) djahanam, jang memperkosa ketenteraman Sendjata ! kita. Aku akan dimarahi kawan-kawanku, kalau Pemuda II aku menunggu lama disini ! Sekarang.
(id merampas lembin dari tang an adiknja Baiklah aku pergi ! §..............
perempuan, lalu hendak pergi) i Berhenti ! Sudahkah kau pikir masak-masak Bapak Hai hendak kemana kau ! Tunggu perintah ■ akan tindakanmu ? Djangan membabi-buta pergi berperang! Djangan tergesa-gesa ! Untuk berperangB Dengar perintah Radja ! Kamu se'aku Ksa- harus ada aturan, harus ada perintah jang* tria, tidak boleh mengadakan tindakan se- sama ! Sudah satu bulan Belanda disini,® suka hatimu sadja. Engkau menuruti hawa belum ada perang. nafsumu dengan tidak memikirkan apakah Pemuda II akibatnja kelak ! _ engkau mendatangkan bahaja atas dinmu Tapi kawan-kawanku tidak sabar lagi. sendiri. dan atas k'eluargamu semua, dengan Mereka menanti-nanti aku ditanah lapang ! 1 mengabaikan ketenteraman jang diperintah-Kami semua hendak bersama-sama mengha-jl djar Kompeni Belanda djahanam itu di; kan Radja kita. Tjakranegara. Pemuda I ^ „,, ,. Tetapi „Permakluman Perang barangkali Pemuda I siidah ada ! Hanja terlambat datang dinege-Aku turut ! Sahabat Belanda pengchianat | ri kita ini ! hendak aku remuk dari muka bumi ini. 3!
Bapak untuk membantu kami selama kami dimedan Sungguhpun begitu, harus kamu bersikap sabar. perang. Kamu menjadjikan bekal untuk kami semua. (Kedengarandari da-pemuda) Bapak ( dengansikap tenang) Telah kukatakan tadi, perang belum ada. Adik perempuan Radja belum mempermaklumkannja. Ha, dengarlah orang sudah mendjadi ribut! Kularang kamu semua membabi-buta pergi ! (Gad,is itukeluar, melihat; lain semua menurutnja. Pemuda IV (masuk bilik) Taqri, baru mereka Marilah, lekas ! Mengapa menunggu selama lah seorcmg pemuda jang ini ? b enter iak-teri,ak, menggojang-gojangkan (Pemuda V, VI, VVIII, IX, X, XI, XII, lembingnja). XIII, XIV, XV, masuk satu persatu) Pemuda III (saudara keluarga tadi) Bapak (tadi) Lekas ! kita pergi ! Teramat lama kami me-Ha, sekarang kamu datang banjak-banjak. nunggu ! Baiklah ! Ini berarti bahwa kamu insaf akan Sebentar sekitar ini habis diperkosa musuh ! kegentingan keadaan negeri kita ini. Tapi bertindak tidak dengan perintah resmi, Gadis tadi (Adik perempuan Pemuda, /, II) dan dengan perg! kemedan-perang jang be Aduh, Ibu, Bapak, dan kita disini ? Jang lum ada, jang belum dipastikan Radja kita, tinggal ! jang belum dirantjangkan oleh Pemerintah, Ka!au semua pemuda pergi kemedan-perang, kamu ini mulai melanggar aturan; mulai apakah nasib kita jang ditinggalkar disini’ mengharu-birukan negeri; mulai mengatjau- dengan tidak ada pembelaan sama sekali ? balaukan penduduk dinegeri ini. Membantu Pemerintah harus dengan aturan; Pemuda III harus dengan urusan; harus dengan ran-Itulah maksud kami membela negeri kita ! tjangan. Semua pesiuda mesti turut berdjuang, se mua ! Ibu ( tadi) Dengan menghantjurkan musuh jang seka-Dan kamu pergi tidak dengan setahu keluar- rang di Tjakranegara, maka terpelihara dan gamu ! aman sentosalah kamu disini. Pemuda I Jang tinggal harus tenang dan tetap-hati Keluarga ! Keluarga ! Dalam masa perang 32 33
tak boleh kita dihalang-halangi oleh kepen-Pemuda III (berteriak) tingan keluarga ! Perang, perang ! Itulah tanda permakluman perang. Pemuda III Benar, itulah nasihat Kepala Perang kita ! Pemuda2 lain (berteriak)
Perang ! Mari pergi....... ke Kepala Perang !
Bukan begitu maksudku; Kalau keluargamu Bapak tahu akan kepergianmu kepeperangan, maka mereka akan turut menjumbang usahamu Sekarang aku pertjaja! Perang sudah mulai! untuk kepentingan negeri kita. (Dengan gopoh-gopoh Bapak pergi kepeti pusakanja, dikeluarkannja kerisnja, lalu Pemuda I angkatnja tinggi-tinggi, seraja berkata:) Bertjakap-tjakap demikian ini membuarg Bertekuk semua! Kita minta kurnia Allah. tempo. (Semua bertekuk, bersila Marilah kita pergi kerumah Kepala Perang! Ditengah-tengahnja Bapak membakar keme- njan, lalu mengutjap-utja mentera; se- Pemuda2 lain: (serempak) mentara itu diusap-usapnja kerisnja diatas Ja, baiklah kita pergi sadja selekas mungkin. perdupaan. Sudah itu ia berkata dengan suara jang amat Bapaki njaring ). Sudah dipanggil ?
Bapak
Pemuda II I Dengan nama Allah, dengan nama arwah-Belum, tapi baik kita menjatakan maksud I arwah, kita sekarang ini djuga. Dengan nama pahlawan-pahlawan, jang telah wafat, Ibu 11 Dengan nama semua Ksatria jang telah ber-Kalau begitu, aku setudju sekali, pergilah ! I djasa, kita angkat sendjata kesaktian, ini, (Kepada gadis) selaku perlambang kekesatriaan kita, — „Sediakanlah bekal ! Mari kita kedapur. I bahwa kita akan berperang, akan berdjuang, (Sekonjong-konjong kedengaran suara bedil I menurut panggilan Dewata perang, untuk berdentum. membela kebenaran, untuk mempertahankan Tiada berapa lama bersahut-sahutanlah I kesutjian maksud kita, — teristimewa untuk bedil dengan segala ragamnja). menentang musuh jang serakah.
(Berhenti sedjurus. Sudah itudiberi Bapak; supaja semua berdiri)
Bapak
Bersumpahlah kamu semua pada keris in.' I Angkatlah sendjatamu semua tinggi-tingg; !
babal (Semua sendjatamaik keatas)
Bapak
Kita bersumpah, bahwa kita akan berdjuang Nampak sebuah kuil di Tjakranegara. mati-matian, dan tidak akan pulang kerumah, Seni rupa ditembok dan di pintu jamg bergmn- dan tidak akan suka bertemu dengan kelu- barkan Buddha bersita dan lakon2 Ramayuna arga, sebelum tjita-tj.ta kebenaran kita, ter- I atau Mahdbhmata. tjapai. Didiilam kuil itu ierkepung 1 (X 800 du) „Kompmi”. (Berhenti sedjurus) Jang memimpin colonne®van Ham, Launch, van Pabst, Hamerster, Christian, Lind- Bapak Pergilah kamu anak-anakku dengan segala green. bahagia ! Dimuka kuil, djalam raja. Dibtilik djalan raja, pagarpendek. Jang memgepung, tentara Lombok. Pemimpin: Gusti Pemuda I . Marilah kita menjanji „Njanjian Pemuda Wajan Djelantik G&ivar; dibalik pagar mereka kita. bersembunji.
Gerakan I Jang pertama kelihatan bergerak jalah Vet L A J A R N ter, jang berteriak memerintah pasukannja: „Masuk kuil !” Serdadu2 masuk banjak-banjak kedalamnja, didahului oleh pemegang2 Pandji dan Bendera. Gusti Wajan Djelantik Gewar tidak menje- rang mereka.
Sesudah masuk dikuil semua, maka berteri- aklah semua pengepung; didjaga mereka pintu kuil sekokohnja. Pintu kuil ditutup serdadu Vetter, tapi pasukan Gusti Wajan Djelantik menembak serdadu2 dari segala pihak.
Gerakan II
Dari kiri djalan raja datang colonne dari Lawick van Pabst masuk kedalam kuil, tapi mereka dihabisi perdjurit2 Lombok. Majat2 bergelimpangan didjalan.
Gerakan III
Dari kanan djalan raja datang colonne dari Christian. Tapi semuanja senasib dengan k colonne Lawick, van Pabst.
Gerakan IV
Banjak serdadu mengangkat kedua belah tangannja tanda menjerah. Djuga banjak orang rantai. Mereka dibe- lenggu semua. Semua 15 pemuda (babak II) hadir disini dengan segala alat perangnja.
Pemuda I
Hasil baik hari ini !
pemuda III Emas kompeni Belanda jang memaksanja berperang !
Pemuda IV
Dulu djuga ! Belanda menghasut Selaparang menjerang Bali. Sekarang sebaliknja, lihat- lah !
Pemuda V Tipu muslihat, daja-upaja setan belaka.
Pemuda VI
Bali, Lombok dipisah-pisahkannja, dan Lom bok sendiri dibagi-baginja; diusahakannja supaja orang Sasak berperang dengan kita. Orang rantai dan serdadu-serdadu dipulau §J. lain, dipakainja, diemasinja untuk memus- nahkan kita.
Pemuda VII
.Sahabat Radja kita dulu, Belanda itu.
Pemuda VIII
Sahabat pada „mulut” sadja ! „Hati ! tidak ! (Kepala Perang Gusti Wajan Djelantik G€- war datang mehdapati mereka. Baru mereka melihatnja, maka dengan segera mereka berdiri tegak, berdjadjar memberi hormat).
Sajang sekali, jang ditawan kebanjakan bangsa kita sendiri ! Orang rantai dan serdadu2 bangsa kita.
Aku senang sekali melihat keberanian kalian. Oleh ketjerdasan kalian dapatlah terbunuh Kepala2 Perang Musuh. Mereka sangat ke- tjewa datang dinegeri kita ini, Ha, tawanan!
untuk membantu jang
Kepala Perang ( Gusti Wajan Djelantik Giwar) Pemuda II
pemuda XII Sebetulnja hal ini lutju sekali ! Sendjata bodoh ini hanja menurut kemauan setiap orang jang memegangnja.
Pemuda XIII Jang lebih lutju orang-orang tawanan ini !
pemuda XII Bagaimana lutjunja ?
Pemuda ke-13
...............Bedil tidak ada pikiran, tidak ada
djiwanja seperti orang tawanan tadi ! Bedil bodoh; tawanan tadi lebih bodoh !
Banjak sekali ! Semua kegagahan kamu ini akan kusampaikan kepada Baginda, Radja: kita. Kuharap supaja kamu tetap memikul kewa- djibanmu membela negeri kita, menentang musuh ini. Musuh ini penuh ketjurangan dan kelaliman. Kemenangan kita sekarang ini belum kita 1 alami dulu; luar biasa gilang-gemilangnja. Terhad^p tawanan-tawanan ini sikap kita tetap seperti Ksatria, djangan lalim ! Djangan melakukan kedjahatan, tetapi tetap keras; ja keraslah tindakan, dengan tidak melanggar batas ke-Ksatriaan, dan adab lembaga kita. Dan hati-hatilah, sepatah perkataan musuh tak dapat dipertjajai, harap kamu insaf ! Bawalah tawanan-tawanan ini kependjara ! ( Kepala Perang pergi
Pemuda II *(memerintah * suaranki) Berdiri semua ! Dengarlah ! Semua perintah harus dituruti dengan teliti, dan kalau patuh tidak membantah, menanglah hidup kamu disini. ( Tawanan-tawcunanberdjalan, diiringi oleh 10 pemuda. Lima pemuda tinggal berunding, jalah : pemuda XI, XII, XIII, XIV, XV)
Pemuda XI Banjak sekali senapan-senapan jang kita rebut!
Pemuda ke-14 pintu kuil) Mengapa tawanan lebih bodoh dari bedil ?
Pemuda ke-13 Ha, belum mengerti ? Bedil ini kita pakai untuk membedil jang empunjai, jalah Belan- da. Tapi tawanan itu tak mau membedil Be- landa, meskipun ia bangsa kita sendiri, jang lahir, jang makan, jang hidup dan harus mati disini. Tawanan kita kebanjakan bang sa kita, buken ?
Pemuda ke-15
Ini lelutjon jang teramat pedih !
Pemuda II
Kalau mereka insaf akan kebangsaannja, dan kalau ia dididik menurut adat kita dan
siarat-sjarat ke Ksatriaan kita, — nistjaja H Gusti Wajan Djelantik Gewar : orang mereka tidak segoblok bedil ini.
Pemuda ke-14 Itulah nasibnja orang-orang bodoh demik'an! Merugikan diri-sendiri, merugikan bangsa 1 sendiri, dan memperkajakan Belanda sera- kah semata-mata.
Pemuda ke-15 Dan nasib kebodohan ini memusnahkan kita semua. (Seorang rantai dengan. dihnja).
Orang rantai Kami datang disini dengan pakaian hukum- an, bukan untuk merugikan saudara-saudara Lombok. ( nja, ia menoleh kedjurusan orang rantai itu).
Gusti Wajan Djelantik Gewar Benar, kalau kamu semua berpikiran demi- kian, kamu kulepaskan dengan segera
Orang rantai Kami turut ! 1 Kami hendak membalas kedjahatan Belanda. Aku tak bersalah dihukum seberat begini.
Berilah hamba bedil. Hamba turut berpe- rang.
Kamu sadja?
Orang rantai semua Semua! Berilah bedil, semua! (Semua orang rantai diberikan bedil, jang direbut dafi serdaduz Kompeni; di- bawa kependjara. Pengepiengan ditermkan, dan orang rantai mulai m&nembak serdadu®. SemenUcira itu lalulah seorang-orang twa jang miskin,kurus, memikul sebimgkus pa- kaiannja, during oleh isterinja jang telah tua djuga, seorang anak ketjil).
Pemuda ke II (menegumja) Bapak kemana? (Orang tua tadi terns berdjalan djuga, tapi budak ketjil jang mengiringkan menegur- nja).
Pemuda ke-ll Hendak kemana, Bapak, semua !
Orang tua (kakek) Mentjari perlindungan dilain tempat; kepu- njaanku punah, Bapak harus kekeluarga la in, jang rumahnja belum terbakar. Musuh lari tadi melalui djalan lain, dan jang dila- luinja habis dibakarnja.
Pemuda ke-ll Baiklah Bapak, kami bawa bapak kerumah !
Gusti Wajan Djelantik Gewar mendengar-
Orang tua Dan disana...... disorgaloka...... kelak
akan bertemu dengan....... Batara Gu
Tidak usah, disana tak ada musuh lagi !
ru :....... :
( Tiba% orang tua itu dari
Badanku....... djasadku....... remuk....... sam-
orang Belanda jang dari kuil. pailah baktiku ! Orang tua terdwduk ditanah, karena letihnja. ( Orang tua itumatitah, Pemuda ke 11 m air dari- Pemuda2mengurung majat dengan sedihnja, kalannja. Jang lain turwt menolong orang tapi dengan perasaan penuh semangat: me- tua itu, merawatnja). nuntut bela. Perempuan tua karena marahnja bersumpah. Pemuda ke-13 Hanja ia dan gadis dan anak ketjil sekeluar- Perbuatan musuh djahanam itu kita balas ganja tertmggal). berlipat ganda, lihatlah akibat kedjahatan- nja !' Perempuan tua (jang lain melihat-lihgtnja tapi tetap her Arwah, arwah, ksatria-ksatria seluruh dewa d-jagg) ta !
Orang tua (mengerang-mengeluh) (Sementaraitu halilintar ber+dentumZ) Djangan kamu bersusah-susah lagi untukku!
Adjalku...... sekarang....... telah....... sampai 11, Mangkatlah sudah pahlawan tua ke sorga-
....... dengarlah pesanku : loka !
Musuh akan datang. membalas, lebih djahat! Ter.'malah...... terimalah....... rohnja dising-
banjaklah korban jang diminta kedjahatan-gasana tjintamu ! nja, tapi kamu pemuda-pemuda harus setia, Tjintamu Dewata bergabung dengan tjinta- tetap setia, tetap teguh, tetap ksatria ! ku penuh. Biarpun remuk badanmu, tak boleh remuk Korban tjintaku, pahlawan-tua, pahlawan bathinmu. muda. Tak boleh remuk semangatmu, demikianlah Perang, perang membawa kepahlawanan ksatria ! besar. Dewata melindungi kamu dan djiwa kamu Tapi kedustaan dari kelobaan musuh dja semua. hanam kiranja terhukum, terkutuk, terlak-Baik remuk badan dengan semangat ksatri; nat terus-menerus, sehingga punah-musnah
daripada hidup seperti hamba sahaja. ia selama-lamanja.......
Dewata ksatria, tak ada pengetjut. Punah-musnah selekas-lekasnja....... supaja
Belalah tanahmu...... deradjatmu...... rohmu terhindar......, supaja terusir....... djauh-
Dan disana....... disorgaloka....... kelak...ffl djauh...... mara-bahaja.......
45 44
menwng dan j
babak keempat
{sudah itu ia menangis, lalu mereka berdjalan. lambat keluar. Seorang perdfurit Lombok
Gerakan V
Pintu kuil mulai bergerak. Orang rantai menjerbu masuk dengan bedil. nja.., I Sudah itu mulai keluarlah banjak2 serdadu Kompeni. Banjak orang rantai mati. Vetter dapat meloloskan diri, tapi van Han dan Hamerster mati. Sudah itu berhentilah serdadu2, tak mau keluar lagi, pintu ditutup. nja. Pengepungan2 menanti dengan sabarnja.
Gusti Wajan Djelantik Gewar : (
majat®) Ha, ini Djenderal-Major van Ham. Ini luitenant-kolonel Lewick van Pabst. I Ini Hamerster, usung sadja keluar berikan tempat istimewa. Hormatilah arwah-arwah mereka meskipun musuh. Mereka bukan penakut, seperti jang lari tadi. (Ketiga majat diusung keluar. J Tiada bdrapa lama kelihatan bendera pubihi keluar dari kuil). 1
Gusti Waian Djelantik Gewar : (
„Bendera putih ! Djangan pasang ! Musuh menjerah !” _ 1 (Lindgreen keluar dengan serdadu^nja, Mereka ditawan semua. Orang rantai turd mevmvan).
L A J A RTV TV P.
Didalam puri dekat keputrian Gamelan berbunji. Kalau pertjakapan ada, gamelan sajupz kede- ngaran. Bertjakap-tjakap keluarga Radja Radja Lombok, Putera Mahkota, H.H. Bemjang Wangsa.
Radja Lombok
Jang amat kusesalkan kedjadian peperangan ini.
Putra Mahkota
Kedjadian peperangan ini bukan kesalahan kita.
H.H. Barajang Wangsa:
Terang benar serdadu kompeni, pertama menembak. l)
Radja Lombok
Tetapi Belanda mengatakan ,,kita" pertama menembak.
1) Menurut keterangari Sergeant Moningka, Ridder
M.W.O. kl. IV, in, kepada H.H. Barajang Wangsa.
47
Radja Lombok Hal itu sulit sekali dipastikan, amat Tapi boleh kita ludahkan atau muntahkan! bingungkan ! H,H. Barajang Wangsa Putra Mahkota Ajahanda berpusing kepala terhadap kete.| Maaf ajah, kita ksatria ! rangan Belanda !, Dan siapa jang dapat mentjegah kemauan Ketjurangannja telah mulai dan penaaratI Rakjat, jang telah mendidih darahnja meli- annja. i i m hat tentara perampok, jang datang mengo-Semua keterangannja beralasan: merit] an | torkan dan menadjiskan tanah kita ? „sebab”.., I Ajah menilik terus-menerus kesalahan aipi-9 Radja Lombok hak kita, jang tjuma hendak mempertahanj Perkara Rakjat, perkara Ksatria, benar per- kan kehormatan kita, 1 kataanmu ! Djika kita serang mereka sebelum merekal Tapi ananda tak ingat akan akibat semuanja. masuk dalam djadjaban Mataram dan Tja-J Jang penting bagi kita ksatria jalah perta- kranegara. tentulah telah habis hantjur-leburl njaan : semuanja. „Serdadu Belandakah jang pertama kali menembak atau perdjurit kita ?” dan djika
H.H. Barajang Wangsa _
telah terang, bahwa serdadu Belanda jang Dan djika Ajah tidak menolak usul hambaj lebih dulu menembak, maka tetap sutji nama menghabiskan tentara Vetter dan van Ham’ ksatria kita. semuanja, — tentulah kompeni Belanda ter-] paksa menunduk kepalanja. # | H.H. Barajang Wangsa Sunguhpun demikian, kemenangan kita ainatj Hal itu telah terang. Lain dari pada itu, se- besar. perti ajah telah tahu dipermusjawaratan, Vetter mengirimkan surat tentang hal Gusti Radja Lombok Pensong. Aku tidak mempertjakapkan hal djalannjaj Bukankah Gusti Pensong membantah bulat- peperangan.. f| bulat akan tuduhan padanja peri hal kabar-Aku katakan tadi, „sangat menjesal akan m bohong, jang ditjeriterakan seorang perem- ill djadiannja”. puan pelatjur pada Vetter, bahwa Ajah hen HIM dak menjerang tentara Kompeni ? Putra Mahkota. Tapi kedjadiannja ini seolah-olah disumbat-Putra Mahkota kan Belanda kedalam mulut kita; mau tat Dan surat Vetter itu, bukankah untuk me- mau kita mesti menelannja.
49 48
ngabui mate kita, seolah-olah Vetter tak niauj berperang ?
Radja Lombok 1 Aku balik lagi pada penjesalan terhadap kedjadian peperangan ini. „Kedjadian rcmgan”, mengerti ? Djangan ananda semua salah-paham besar! Dari hal kekalahan Vetter dalam serangan ini, semuanja tak berarti untukku, karena kuasa kcmpeni Belanda sekarang bukap kepalang besarnja; lengkap ia dengan segals alat peperangan, lagi pula banjak sekalij tentaranja dan kapalnja.
H.H. Barajang Wangsa Tapi dengan djiwa jang berkobar-kobar, jang siap berkorban, jang insaf akan kena- djisan kompeni Belanda jang terkotor didu- nia ini, ja dengan djiwa bergelora demikian dalam Rakjat kita, istimewa pemuda-pemudtf kita, — tak gentar kita berperang, tak gentar kita berdjuang. Radja Lombok.. 9 Vetter akan balik lagi dengan tentara jang sepuluh kali lipat ganda kuatnja, pikirlah!
H.H. Barajang Wangsa »
Seratus kali, seribu kali lipat ganda seka pun !
Radja Lombok Semua Radja di Hindia telah ditaklukkan Kompeni, ketjuali keradjaan kita ! Mengerl tikah Ananda, bahwa Kcmpeni berdaja-upa| ja merebut kuasa kita ?
H.H. Barajang Wangsa
Oleh sebab itu musti berperang ! Matimatian, dan selama Rakjat menjukai kita, selama itulah kita berdjuang sehabis- habis darah. Kita tak boleh tunduk kepala biarpun hantjur. Baik hantjur daripada diperhamba Kompeni.
putera Mahkota Perkataan Adinda benar semua, tapi Radja manakah lagi jang akan membela Rakjat kemudian, djika kita semua telah terhapus dari muka bumi ini ? Ingatlah kepentingan Rakjat! Jang turut berperang jalah jang kuat belaka. Jang lemah akan ketinggalan dan akan di- dera musuh habis-habisan, sesudah kita mati.
Radja Lombok Perkara itu tak aku sangsikan lagi. Kompeni Belanda boleh menghabiskan bunga masjarakat. Tetapi kedjatuhan bunga hanjalah untuk kepentingan buah, jang lahir dan tumbuh selaku turunan pohon. Dem’kianlah hal kita, djika Vetter menghen- dakkan djiwa kita. Pengorbanan kita berarti menanam watak keberanian dalam djiwa Rakjat jang akan kite tinggalkan. Sungguhpun demikian, kedjadian peperang an ini, tetap kuanggap tidak sah, hanja ber- dosarkanpada salah-paham Vetter, dan bukan dengan kcmpeni Belanda, sahabat kita.
Dan meskipun sudah terlandjur, aku berda-H.H- Barajang Wangsa ja-upaja mentjegah peperangan jang mung-
Ai, ai....... baik perdengarkan sadja dulu „si-
kin lebih besar lagi. kalau tidak” itu. Aku tetap suka berdamai supaja negeri ten ter am. Djurutulis Kalau tidak, seluruh keradjaan Lombok akan ( MasuklahBentara membori kepada hantjur, musnah binasa oleh meriam tentara Radja) Belanda.
Radja (kepada Bentara) Radja Lombok ( dengantenang) „Suruh kesini djuru-tulis”
Sudah terang....... kita sama sekali tak ber-
salah, dan menjerah dengan tak bersalah Bentara itulah hal jang terkutuk. Itu berarti meminta (Djuru-tulis masuk dengan ampun atas dosa jang tidak kita lakukan ! Balaslah surat. Radja (kepada djuru-tulis, memberikan surat, se- „Tidak me-nje-rah ! Sebaliknja Tentara Be sudah dibuka) . landa pasti meminta maaf kepada kita atas Tjoba kamu batja isinja. perlakuannja jang biadab itu kepada kita (Djuru-tulis membatjan semua dengan sahabatnja. mata jang saat demi saat mendjadi besar) | (Djuru-tulis keluar. Radja Lombok Masuklah permaisuri). Tjoba terdjemahkan apakah isi surat itu ! Permaisuri Djurutulis Rakjat didjalan raja sudah ribut kembali. Tentara Belanda jang djauh lebih kuat dari dahulu telah tiba; dan tiap-tiap perlawanan Radja Lombok (memberi isjarat, supaja Putera- kepadanja, akan sia-sia belaka, oleh karena Mahkotadan IT.H.B.W.mengurus ketente- itu, maka Markas Besar Tentara Belanda; raman. Keduanja. mendesak kepada Baginda, supaja Baginda j |
menjerah sadja, kalau tidak, maka.............| Perdnna Menter imasuk).
Putera mahkota Perdana Menteri
„Kalau tidak”....... „kalau tidak”........ su-Salam bahagia, Baginda ! Rakjat ribut lagi!
dahlah....... ! Tidak menjerah I Tentara Belanda sudah ada lagi !
*
Radja Lombok
(Radja menanda-tanganisurat, lalu Djangan chawatir ! kannja kepada 2 djak Perdana Menteriku, panggillah dua djaksa Keduanja keluar).
selaku utusan....... ah na....... baik bentara
sadja ! Riwajat Lombok tak boleh keruh dengan Bentara ! penjerahan !
(Bentara datang) Permaisuri (gembira) L? Riwajat Lombok tetap bersih hendaknja. Bentara Daulat tuanku ! Perdana Menteri Bersih ! (Kebetulan datang 2 djaksa) Radja Lombok Tentara Belanda berlipat ganda banjaknja Dua Djaksa,.,, Rakjat ribut, tuanku ! sekarang !
Radja Lombok Permaisuri Aku tahu, sabar ! I Djikalau kaum lakilaki kita masih kurang, Kebetulan kamu datang ! Seperti dipanggil.* kaum puteri menund Dengarlah ! Tentara Belanda memaksa kitai berdjuang ! menjerah. Radja Lombok **Dua Djaksa-**Menjerah ? I Hendaknja semua, tua, muda,vketjil-besar,
Ja, ja menjerah ! Tapi...... kita tidak-menje-M
laki-laki, perempuan, semua harus turut rah. berdjuang.
. 1
Dua Djaksa: Tidak menjerah ! Baik ! Perdana Menteri (Djurutulis masuk mempersembahkan surat, Berdjuang mati-matlan ! balasan kepada Radja, untuk tentara Belm-Tiba-tibasuara me da). Datang berlari-laridua puteri mendapatkan Permaisuri). Radja Lombok..,, j Nah, inilah surat-balasan, jang menjatakan
bahwa kita „Tidak......menjerah ! Dua putri
Sabar sedikit ! I Ibunda, bilik kami hantjur !
55 54
Ia jang berdosa terhadap kita. Bukan seba- (Keduanja menangis liknja ! Radja dan Per dam, Menteri berdiri) (Masuklah Putera Mahkota dan H.H.B.W. Radja,, , dengan gesa). Tenang ! Tenanglan ! putera mahkota : Perdana Menteri „, , Baik kita hindar dari sini ! Tak aman lagi ! Tenteram ! Sebentar Tentara Belanda ter. Kita pindah dengan tenang dipertahanan usir; dan tembakannja berhenti selama-la-baru. manja.
(datangm pnla Jf puteri berteriak-teriak)^^L° ^ ^ an]ahl Dengan tenang, Dja I katjau ! Empat putri Aduh ! Tdk aman lagi kita tmggal disim ! I (La jar turun lakti (scene) ditempat lain, pemandangan Permaisuri (berdiri tegak dan sama). Mengapa kamu setjemas ini ? Siapa kamu? | Dimanakah gelbra darah ksatria dari djiwaj I Di Saksari : mu ? Pemandangan penguruseperti Tak tahukah kamu, bahwa ketjemasan kamu I 15 perdjuritdari B 11 dari se tjontoh jang seburuk-buruknja untuk urusaj I gala pendjuru sertxx ,■ njanjian peperangan ini ?' mereka dengan mengatju-atju atau bedilnja. (Mahinlama makin banjak datang j untuk mendengar nasihat Permaisuri. Mere-Njanjian Pemuda. ka datang dari seluruh Tetap tegap
S.kap tegak dll.
Ingatlah segala kekatjauan, segala ketjemas-j an, segala kebingungan kamu, hanja semata- (Sesudah mereka menjanji, maka tiba-tiba mata untuk menguntungkan musuh dan men- berdentum-dentumlah pula meriam, tapi 15 tjelakakan kita semua. 1 pemuda itu tersenjum, .* Da- yMati dengan ketakutan itulah kematiai tanglah Radja Lombok, Permaisuri, HIL orang jang mePgaku diri sendiri salafl Apakah’ kesalahan kamu ? Apakah dosa ka mu ? Dosa terhadap Kompeni ? K
57 56
Baraianq Wangsa, HH Sivie RagH.H. J perdjurit semua memb mengangkat 2alat rak-sorai).
Barajang Wangsa (kepada
H.H Kamu mendapat kehormatan Juar biasa, jalah msndjaga keputrian mati-matian. I
Permaiswri 1
Kamu, pemuda jang paling beram dan bet diasa, serta set a, sopan, dan teliti dalaij kewadjiban, oleh karena ltu aku pertjajl kamu sepenuhnja. 1 (Permaiswri menoleh kebelakang, lalu rnA manggil puteri^ 15 orang masuk). Nab sekarang kamu semua pahlawan iJ da, dan djuga puteri-puteri jang mengepalj puteri lain, kamu bekerdja bersama-sam
berperang....... berperang semua....... puteij
dan puteri semua.. T'iap2 puteri diperkenankan memakai serf diata untuk memperlihatkan musuh betal kotor, nadjis dan terkutuk dan biadab tins kah-laku hendak memperkosa kehormap kita semua. _. Ambillah sendjata masing-masmg deng segera !
(Semua puteri n§ *ambit lembing, keris atau senapan smemperlihatkannja dengan gembira).
H Ketut Permaisiin Senang aku melihat kegembiraan kamu ! Berbahag alah tindakan kita, mendjundjung pera sambil keadilan. 6ersoj | Lakon-tua dari wajang berlaku sekarang ! Ardjwna dan Srikandi berperang bersama- sama♦
(Tiba-tiba H.H. Bara jang Wangsa berte- riak :)
H.H. Barajang Wangsa Bendera. Lihat ! Bendera putih dari Belan- da ! Ia minta berdamai ! Berhenti berperang ! Djangan, pasang !
| (Kedengaran Selompret berbunji; dan tong- tong djuga dari pihak tentara Lombok dihu- njikan alamat perang dihentikav.).
Radja Lombok: (kepada HJLB. Wangsa). Pergilah ke Djenderal Zegov atau de Moulin kepala tentara; kamu rundingkan hal perda- ma’an ata.s namaku, tentara dan Rakjat Lombok seluruh.
H.H. Baraiang Wangsa ft Baiklah ! (7a menundjukkan 4 perdjurit untuk pergi. I Semuania mengikatkan bendera. putih pada lembingnja. Merekapun pergilah). Radja Lombok Ingat dan insaflah, dan terangkanlah, ke pada Kompeni, bahwa kita tak mau tunduk,
59
■
tidak mau meletakkan dan kedaulatan kedudukan Rakjat Lombok tertjapai. Dan perdamaian hanja bisa diusahakan, djika Belanda menghormati kita selaku sa- habat seperti dulu. Pergilah, dan awas-awasi setiap perkataanmu; kau mendjadi waki] seluruh negeri.
(H.H.B.W.dan pengiringnja pergi. Puteri2pun pergi, tapi kedjurusan lain.)
H.H. Ketut Djelantik Aku tetap mentjurigakan gerak-ger'k musuh. Bendera putih ini salah satu tipu-muslihat- nja.
H.H. Gede Rai
Bendera putih tanda perdamaian. Berat sekali menolak usulan Zegov itu. Tak boleh kita mendapat tjatj'at pada nama k:ta, bahwa kita gentar dan takut berhadap- an dengan musuh. Dan djika seandainja aku dibunuh atau ditawan, ini semuanja hanja menundjukkan kebiadaban Kompeni semata-mata dengan menjatakan pula se-terang2nja, bahwa kebe- ranian, keksatriaan dan djuga keadilan, kita pegang seteguh-teguhnja. Sedjarah akan mengangkat tinggi kedjajaan riwajat kita.
H.H. Baraiang Wangsa ,.Dibunuh atau ditawan” Kami pergi dengan Ajahanda, berkelahi mati-matian. 60
sebelum hak ' Kami membeia Ajahanda dengan penub
(dihuTiitsTijcL kerisnja) Oleh karena itu kita sediakan keris pusaka 9 untuk mempertahankan kehormatan kita Kens im setia membunuh musuh dan setia
mungkm d da wan. djuga melindimgi kita, sehingga kita tak s taK
Permaisuri. Keberaman demikian menjenangkan hatiku cap, ingatlah baik-baik. bahwa in tak man
I 2 ^ maU me,,djadi k"rb“ kek„toar“
Demi Allah, djika musuh masuk dipuri, tak ada gunanja pun ini lagi, dan tak ada guna. J.a |a§ri badai? kami, ja seluruh, seisi puri ini akan mendjadi hina, sehina-hinanja; dan kotor sekotor-kotornja ! J
menunggu. Kakanda Baginda, pergilah ! Aku tak gentar Udl Aku tak gentar menghadapi mara-bahaja ini.
■ (Radia> H.H.B.W dan ) perdj tadi pergi).
H.H .Cede Rai Baik kda awas-awasi gerak-gerik Komneni Jd .
minta perdamaian ini ! Aku tafperya-
H.H .Nen^ah Karang KeUnrangnn Kompeni tak ada bandinganhja
,akan tidak berlaku. Seka’ian kekuasaannja berdasar pada pencr
P ™ k n Pemert°S“ '’-
6!
Oleh karena itu saudara-saudara perdjurit I puteri II semua, baiklan berdjaga-djaga untuk me- I Tetapi Ajahanda Baginda telah pergi berun- langsungkan perang. Wangsa [mgi ^ kakanda-Putel'a Barajang
ill!PermaijlItulah sebaiknja, pergilah ! Aku sekarang j Permaisuri
!i i i I
wakil Radja, dan haraplah kita, penuhkan I Itulah jang membahajakan ! Bersedia kamu ii kewadjiban kita sampai pada titik tenaga semua ! penghabisan.,,, Supaia tenteram semua, persilahkanlah pu- | Puteri III teri-puteri, berkumpul disini selekas-lekasnja. I
Kalau begitu...............
(Perdjurit® bersembah lain Djuga j putera®. Radja Pu masuk dan Puteri IV pendjuru... ,. I Ambil sendjata ! Dibelakang tonil duduk 1 bersila,serta berbisik-bisik). Puteri semua Ambil sendjata !
Permaisuri (kesal) ... (semua puteri berdi Dimanakah sendjatamu tadi ! Sudah dilepas-1
H.H. Ketut Djelantik serta berteriak)
kan ?
H.H. Ketut Djelantik
Ampun Ibunda, bukankah bendera putih. Radja dibawa lari ! Chianat! Zegov Chianat' Belanda (semua puteri melihatnja mata ter- belalak). Permaisuri: (keros)
Bendera-putih....... Belanda ! ? Kamu pertja-j Permaisuri (senjum mar ah).
ja keputihannja ? Apa kataku tadi ?
H.H. Ketut Djelantik Perang ! Terus perang [
Permaisuri
Perang ! Setiap puteri Radja mendjadi per djurit sekarang I Badan kita tak ada harganja lagi djika mu- suh menjentuhnja, memegangnja dengan tangan-kotornja.
ji.H- Ketut Djelantik
Puteri I
Kalau begitu : „Korba Perang-sabij Tetap madju ! Sampai darah penghabisan. (Bedil berdentum-dentum, gaduh diluar ber, perniaisuri tambah) 1 Datanglah 15 perdjurit disegala pendjur* Djuga darah puteri ! Darah penghabisan ! untuk membela puter.2. Dan puteri meng. angkat sendjatanja semua, sedia berke.ahi, putri semua Djuga darah puteri ! Darah penghabisan ! Gamelan berbunji I Permaisun. ( k e p a d a puteri) .. (Puteri-puteri menusuk dengan lembing dan Perlawanan puteri dengan korban-dpwj keris, sambil mengulang-ulanglcan sembojan akan tetap menodai riwajat Belanda, jan( H : tadi. tak malu berperang dengan perempuan. j (Perdjurit® menjanjika pula njanjtan rm 10 puteri ttwas dan djuga Ketut Dje reka). lantik. Madjulah H.H. Gedeh Rai). Tetap tegap Sikap tegak
H.H. Gede Rai.
(Dan setiap menjanj Tetap madju ! A jo ksatria putera-puteri ! „Nah, angkatlah kris maka puteri2 meng djuga) Yang Lain semua. Tetap madju ! A jo ksatria putera-puteri ! H H. Ketut Djelantik,, Sedjarah Lombok tetap bersih. Puputan (Serdadu2 Belanda disitu tcwas semua, tapi datang pula penjerang jalah gelombang Puputan ! lebih kuai
Datanglah H.H. Nengah Karang jcmg lumpuh; ia diusung oleh If orang ditandu; mem- bawa bedil).
H.H, Nengah Karang Biarpun lumpuh! Turut perang! Ajo serang! (H.H. Gedeh Rai datang
H.H. Gede Rai Musuh boleh mematahkan badan, tapi kebe-
ranian ada dipihak kita. Tembak t Habisi H.H .Nengah Karang Kamu boleh menjerah, hai Kompeni djaha- musuh ! nam. CU H Nengah Karmg Dan sebelum kau meminum darahku pengha- IfhMgga tersarpumusuh jang bisan terimalah dahulu ’’Sumpah kudus jang sangat sakti: tjvl. Untuk keruntuhan Belanda selama-lamanja: Tam Gedeh R(R tewas.
EL inilah!
oSangM. gd ombmgtag,)- (Lalu dilontarkanja lembingnja opsir Belanda dengan lem jang amat djitu, sehingga opsir itutertusuk dam mati ' "'"^Tetap Ksatria ! Badan tewas! Keberanmj tang. tetap ! Empat serdadu datang menusuk H.H. Ne ngah Karang). (Pennaisuri menusu tewas,
H.H. Nengah |
L A J A R U H H. Nengah Karang. Tinggal seorang diri! Darah ^nghabtsd untuk keruntuhan Belanda. In la-Sud nah. kudus!., (Lain iamenembak habis banjak musuh jang
H H .Nengah Karang Habis peluruh! Mari bertempur dengan s Lumpuh!
(Lalu ia mengehmrkan lembmgnja I
M M M 5 mmuh hendah m m rn m
Seorang musuh (opsir) Angkat tanganmu! Lekas, xmnta Amj Menjerah!
Sudah lesu, sudah djemu mengeluh, meng aduh ! Sekarang, sekarang, bangkitlah la, bangkit menggarang dan menerdjang, bangkit membela dan menjerang, untuk menuntut hidup keaddan, untuk mentjapai tjita kebenaran, karena adakah kehendak Tuhan, adakah kehendak Jang Maha Kuasa, kiranja turunan Arwah Asia babak kelima 1 1 mendjadi buda'k terus-menerus ? Adakah kehendak Allah Pemelihara semesta alam, seluruh chalajafk Asia tetap mentjenfjang, Pemandangan. . tetap memegang azab-sengsara penaklukan? Lautan dan awan-awa Pemain-j) emain ( aberpakaian, jang diUlitkan keli badan; amat Pjawab (bersama-sama) Bukan, bukan, bukan demikian hana. I; kehendak Allah, kehendak Penguasa Gamelan berbunji. 1 kehendak Pemelihara semesta alam ! Bukan, bukan, bukan demikian ! SERUAN ARWAH I
Seorang Seorang Dan djika takdir Tuhan tertjipta, Kepada jang hadir dan jang tak hadir djika firman Tuhan tertjipta, Kepada jang mendengar dan jang tak men- djika firman Tuhan terlahir, apakah bakti zurriat negara, kepada semua jang mengetjap udara keadilj apakah korban Harapan Bangsa ? AH j kepada semua jang gemar akan kebenaran, Bersama-sama kepada semua jang ingin tabu akan nwajat, Menurut seluruh seruan Anvah ! dengarlah, dengarlab kata arwah. Menurut kehendak seluruh arwah Arwah Nusantara seluruh Menurut tjita Ratu Adil ! Rakiat Nusantara dahulu, I mengaduh, mengeluh, meratap senantiasa.j Seorang Angkasa Nusantara, Tahukah semua siapakah la, angkasa benua, Asia benua benua tertentu 69
Siapakah bernama Ratu Adil ? Dan apakah tjita,
Apakah kehendak Ratu Adil ?... Dan insafkah semua akan kewadjiban akan bakti zurriat negara ?
Bersama-saina Tahu ! Tahu Semua tahu ! Insaf ! Insaf ! Semua insaf ! Ratu Adil, jalah Kebenaran ! Ratu Adil, jalah Kebaikan ! Ratu Adil, jalah kemanusiaan ! Ratu Adil, jalah kemerdekaan ! Ratu-Adil, jalah Keadilan.
Seorang „ 9 Manakah djalan Harapan Bangsa Manakah Bakti zurriat negara ?
■ Kurban diberi bakal kemanusiaan,
Supaja lahir Ratu Adil, Supaja muntjul Ratu Adil, Supaja tertjipta Bahagia Negara ! Supaja hidup Manusia Bahgia.
Seorang Njatakan tjahaja Ratu Adil ! Serukan djalan Harapan Bangsa ! Tundjukkan bakti zurriat negara ! Perdengarkan suara seruan arwah.
Bersama-sama Dengarlah, dengarlah ! Seruan Arwah, Seruan Arwah !
Njanji I
- Bangunlah gesa Harapan Bangsa ! Swara Ksatria, swara arwah, swara masa, swara nusa Menuntut bela penebus djiwa.
- Ombak gemuruh penuh suara Gaduh angkasa. sekitar arwah Ilham-gelora menjuruh tentara Menjusun sedjahtera seluruh negara.
- Tibalah waktu untuk berdjuang ! Deradjat negara letak terpendam Dalam Ksatria semangat-perang Oleh pemu'da erat tergenggam.
- Lihat Ardjuna membela kawan ! Tengok Srikandi menjumbang-berdju Kabut bergentar dirabik pahlawan &ng Musuh dikojak siku, keluang.
71
Bersama-sama Sudah tertjipta; sudah tergubah, sudah terlahir, sudah bertjahaja.
Seorang Siapa memberi tjahaja padanja ? Siapa mentjipta djalan baginja ? Siapa menggubah bakti untuknja ?
Bersama-sama Arwah seluruh, Kurban dulu ! Kurban semua, kurban negara, Kurban diberi untuk keadilan, Kurban diberi guna kebenaran,
- Marilah, marilah ! Tibalah masa ! Lahirlah tjita djiwa berpadu Perang menjerang laksana raksasa Menurut gelombang suara Pandu !
Seorang Benarlah, benarlah ! Telah kudengar gelombang suara, Keluh kurasa irama gembira, Gelombang suara irama gembira, lahir keduanja dari djiwa, Tetapi manakah suara kemsjafan. Tahukah orang artinja pengorbanan. Adakah dasar pengorbanan ?
Bersama-sama
Ada, adalah dasar pengorbanan, dan tahulah orang akan artinja,
SERUAN ARWAH II.
(dibelakang la jar putih, jang diterangi).
- Seperti bunga djatuh terlantar Korbankan tjahaja, korbankan warna... Seperti bunga letak terhampar, Lepaskan djasad didunia Fana Untuk Bahagia buah jang lahir, Agar sedjahtera hidup jang achir,— Demikian kami korbankan djiwa Demikian kami korbankan harta Lepaskan dunia mendjelma Dewa, Agar zurriat negara sedjahtera.
- Seperti rama berkandung untung,
Gilang gemilang berdandan intan.....
Seperti rama bersalin-menanggung, Korbankan njawa, tinggalkan badan, Untuk bahagia benih jang lahir Agar sedjahtera Hidup jang achir.
Demikian kami korbankan djiwa Demikian kami korbankan harta Lepaskan dunia mendjelma Dewa Agar zurriat negara sedjahtera.
(Lajar perlahan-lahan turun).
Seorang : Kepada jang hadir dan jang tak hadir, Kepada jang mendengar dan jang tak mendengar, Kepada semua jang mengetjap keadilan, Kepada semua jang gemar akan kebenaran, untuk mereka
Kalau demikian : tertjiptalah Bahagia, Dasar pengorbanan jalah kehormatan; Dasar pengorbanan jalah sedjahtera; Dasar pengorbanan jalah deradjat, untuk kita semua keluarga,^ keluarga pembela Bahgia kita
Bersama-sama
Benarlah, benarlah l Marilah kita njatakan arti dan dasar pengorbanan ! la terletak dalam seruan, ialah seruan kita seluruh, „Seruan Arwah’’, jang hikmat-sutji. Dengarlah ! Dengarlah.
tjiptaan digubah tjiptaan aiguu tfJANJIAN PUTRI PERWIRA. ialah embusan bisikan arwah,
-I Remuk — redam agar bahagia seluruh dunia. l' Hentam — terkam ! Demikian swara gelora — djiwa Gelora djiwa puteri perwira. Menentang maut senjum-tertawa Bertembang gembira : „Korban djiwa
2 Serang — perang ' Tentang — terdjang ! Demikian gelora gelombang djiwa Gelombang djiwa puteri perwira Menghentam musuh gagah perkasa Menjanji semangat : „Korban djiwa !”
3 Gentar — gegar Gontar — gempar Demikian musuh mendengar swara Mendengar swara puteri perwira Bertempur dahsjat seperti Bairawai) Menjerbu bersorak : „Korban djiwa !”
- Perang — tebang Njawa terbang ! Demikian Ksatria usaha bakti Ksatria-putera dan puteri-perwira Supaja zurriat bahagia-bakti Berseru djuga : Korban djiwa !
1) Sjiwa berupa dahsjat.
n janjian pemuda.
- Tetap—tegap Sikap tegak Kita madju —kemedan perang Musuh muntjul kita serang
Koor Nah, angkatlah keris Ksatria ! w Dan sumpahlah : „Korban djiwa.
2.Hai manakah, Dan berapakah, Gaia darab — tenagamu ? Djiwa raga — sumbanganmu.
satu menanja Nab, angkatlah keris Ksatria. Dan sumpahlah: „Korban djiwa !
3. Disinilah, Dan lihatlah, Bentuk — badan — bentuk tangan
satu Kita beri — pelub djerib djawab Nah, angkatlah keris Ksatria. Dan sumpahlah : „Korban djiwa.
4. Suka ria Muda b’lia, Kela kerdja
- bela Negara
Koor Siap tetap Dexap — siang, gelap _ nnrrVd+'ljiVi keris Ksatria.