Baca PDF (OCR): Kisah Seorang Istri Yang Cerdik

108 halaman · 95 halaman diproses dengan OCR· 105039 ms

Daftar isi
  1. Kisah
  2. Seorang Istri Yang Cerdi
  3. 598 2
  4. DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
  5. YANG CERDIK
  6. PERPU TAKAAN
  7. ?q~ ·;:;. .PIS j.... Tgl. : D.] -:-l~-20oJ i. Ttd. I
  8. KEPALA PUSAT BAHASA
  9. KASIH
  10. DAFTAR ISI
  11. Di negeri Minakosa hidup seorang pemuda yang
  12. pun sangat baik. Ia selalu sopan dan baik hati kepada
  13. JODOH
  14. S. __ pung, mencari kalau-kalau ada gadis pilihan
  15. an. Seandainya dia belum menikah, aku mau Bul"
  16. Raja menjadi sangat malu.

Kisah

Seorang Istri Yang Cerdi

598 2

PUSAT BAHASA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

JAKARTA

YANG CERDIK

PERPU TAKAAN

Diceritakan kembali oleh Lien Sutini H ADIAH IKHLAS PUSAT BAHAS D : p, RTJ...'.~hN P~N JIHKAN NA fO N r.

PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA I

SEORANG ISTRI YANG CERDIK

Diceritakan kembali oleh Lien Sutini

PERPUSTAKP.AN PUSAT BAHASA J Kllsifikasi lo. lnduk : .i r ?. -

?q~ ·;:;. .PIS j.... Tgl. : D.] -:-l~-20oJ i. Ttd. I

ISBN 978-979-685-740-1

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun, Jakarta Timur : •·

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

lsi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.

Ill

KEPALA PUSAT BAHASA

Anak-anak apa yang kamu lakukan setelah pulang sekolah? Membantu orang tua, bermain dengan ternan, atau membaca. buku? Nah, sebetulnya semua itu bagus. Kalau kamu membantu orang tua, atau kamu bermain untuk menghilangkan kejenuhan, jangan lupa sisihkan waktu untuk membaca apa pun yang kamu suka. Pekerjaan membaca itu menyenangkan karena kamu akan terbiasa dengan buku, majalah, surat kabar, atau bacaan lainnya. Kebiasaan membaca akan melatih kamu mendapatkan berita, pengetahuan, ilmu, atau hiburan dari apa yang kamu baca. Surat kabar dan majalah adalah sumber berita, buku itu sumber ilmu, dan buku cerita itu me- muat kisah pengalaman tentang kehidupan. Semua itu bagus untuk dibaca supaya kamu tahu berita, ilmu, dan tentang kehidupan. Nenek moyang kita memiliki kisah-kisah tentang kehidupan ini. Kisah-kisah itu diceritakan kepada anak cucu, termasuk kita. Mereka menyebutnya dongeng. Ada dongeng Sang Kancil, Sangkuriang, Timun Emas, Petani, Terjadinya Da- nau Toba, Malin Kundang, dan sebagainya. Kita, bangsa Indonesia, memiliki seribu satu dongeng yang hidup di seluruh wilayah negeri Indonesia. Sudah bertahun-tahun lalu Pusat Bahasa telah meneliti dan mengumpulkan dongeng-dongeng

Seorang Istri yang Cerdik ini memuat kisah tentang kecerdikan seorang istri untuk me- nyelamatkan suaminya, Sangaji Ana Ana dari ketamakan Raja Simpala. Cerita ini merupakan cerita rakyat dari daerah Jawa Barat. Semoga buku ini memberi manfaat bagimu dalam mem- perkaya wawasanmu tentang kisah-kisah kehidupan ini.

Jakarta, 17 Juli 2008 c-::::====3==-_€1-l=~-~-~::> Dr. H. Dendy Sugono

KASIH

isah Seorang Istri yang Cerdik ini bercerita tentang kecerdikan seorang istri. Dengan ']( kecerdikannya, dia dapat menyelarnatkan nyawa suarninya. Karena kecantikannya, raja yang berkuasa ingin memiliki dirinya dengan cara menying- kirkan suarninya. Raja ingin memiliki sesuatu yang bukan miliknya. Keserakahan itu akhirnya menjadi bencana bagi raja. Cerita ini bersumber dari tulisan Arsyad Siddik, Tutur Jenaka dari Bima, terbitan Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

  1. Penceritaan kembali Kisah Seorang Istri yang Cerdik ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca di kalangan anak. Oleh karena itu, agar anak-anak lebih mudah memaharni ceritanya, bahasa yang di- gunakan adalah bahasa Indonesia yang sesuai dengan

SLTP. Cerita ini tidak dapat diselesaikan tanpa bantu- an berbagai pihak. Sehubungan dengan itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Dendy Sugono, selaku Kepala Pusat Bahasa, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menulis cerita anakini. Selanjutnya, ucapan terima kasih penulis sam- paikan juga kepada Panitia Penulisan Cerita Anak Tahun 2006.

Penulis

vii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Kepala Pusat Bahasa.. iii
Ucapan Terima Kasih
Daftar Isi ... vii
1. Mencari Istri Idaman 1

V

  1. Bertemu Jodoh 22
  2. Rencana Jahat. 41
  3. Panggilan Raja ... 53
  4. Permintaan Sangaji Ana Ana 64
  5. Kedatangan Raja. 75
  6. Buah Ketabahan 82

  7. MENCARI ISTRI IDAMAN
    ersebutlah, ada sebuah negeri bernama Minakosa. Masyarakatnya hidup sejahtera. Tanah- nya sangat subur. Hampir semua pohon yang ditanam tumbuh dengan baik. Sawah-sawah ibarat permadani hijau. Indah sekali. Negeri Minakosa di- perintah oleh seorang Raja. Raja itu bernama Simpala. Raja Simpala terkenal adil dan bijaksana.

Di negeri Minakosa hidup seorang pemuda yang

bernama Sangaji Ana Ana. Wajahnya tampan. Hidung- nya mancung. Tubuhnya tinggi dan besar. Hatinya

pun sangat baik. Ia selalu sopan dan baik hati kepada

siapa pun. Tak segan-segan ia menolong orang yang membutuhkan pertolongannya. Karena kebaikannya itu, ia disenangi oleh teman-temannya. Raja Simpala pun sangat menyayangi Sangaji Ana Ana. Pada suatu hari Raja Simpala menyuruh seorang utusannya untuk memanggil Sangaji Ana Ana. Sangaji

"Tuanku, hamba berdatang sembah," kata Sangaji Ana Ana ketika tiba di hadapan Raja. "Sangaji Ana Ana, sengaja aku memanggilmu karena ada suatu hal yang ingin kutanyakan kepadamu," kata Raja Simpala sambil tersenyum. "Apa yang ingin Baginda tanyakan kepada hamba?" "Sangaji Ana Ana, aku lihat kamu sudah cukup umur untuk menikah. Aku tahu banyak gadis yang tertarik kepadamu. Namun, mengapa engkau belum juga menentukan pilihanmu? Apakah gadis-gadis itu kurang menarik bagimu sehingga sampai saat ini engkau belum mau beristri?" tanya Raja. Sangaji Ana Ana merasa kaget. Ia tidak menyang- ka Raja Simpala akan menanyakan hal itu. Sejurus lamanya ia terdiam. Melihat Sangaji Ana Ana terdiam, Raja pun mengulangi pertanyaannya. "Jawablah pertanyaanku ini Sangaji Ana Ana, mengapa sampai saat ini engkau belumjuga mau beristri?" "Ampun beribu ampun Paduka Tuanku! Hamba belum mau beristri karena hamba belum menemukan pilihan hati yang tepat di negeri kita ini," sembah Sangaji Ana Ana. Raja sangat heran mendengar jawaban Sangaji

"Sangaji Ana Ana, apakah gadis-gadis di negeri ini kurang cantik-cantik sehingga tidak ada seorang pun yang menarik hatimu?" desak Raja. "Bukan begitu, Tuanku. Di negeri ini pun banyak gadis yang cantik, tetapi tidak ada seorang pun yang berkenan di hati hamba," kata Sangaji Ana Ana. Raja merenung memikirkan artijawaban Sangaji Ana Ana. Ia tahu Sangaji Ana Ana seorang pemuda yang baik. Pasti ada syarat khusus yang diinginkan Sangaji Ana Ana dari calon istrinya. Namun, Raja Simpala tidak ingin mengetahui hal itu. Biarlah semua itu diserahkan kepada Sangaji Ana Ana. "Sangaji Ana Ana, benar engkau belum menemukan gadis idamanmu di negeri Minakosa ini?" tanya Raja. "Benar Tuanku, belum ada seorang gadis pun di negeri ini yang berkenan di hati hamba," jawab Sangaji Ana Ana. "Kalau memang engkau belum menemukan gadis idamanmu di negeri ini, sebaiknya kau pergi mencari gadis pilihanmu di negeri lain saja," kata Raja Simpala lagi. Sangaji Ana Ana tersenyum mendengar perintah. Raja. Memang ia sudah bemiat mencari istri di negeri lain.

"Sembah Tuanku, segala perintah Tuanku hamba junjung tinggi. Hamba akan mencari jodoh di negeri orang," kata Sangaji Ana Ana. Setelah mendengar perkataan Sangaji Ana Ana, Raja Simpala mengambil beberapa keping uang emas dan menyerahkannya kepada Sangaji Ana Ana. Itulah yang menjadi bekal Sangaji Ana Ana dalam perjalan- annya. "Sangaji Ana Ana, terimalah uang ini untuk be- kalmu selama dalam perjalanan. Pergunakanlah uang itu sebaik-baiknya," ka.ta Raja. "Terima kasih, Tuanku. Akan hamba pergunakan uang ini sebaik-baiknya. Sekarang hamba mohon diri," kata Sangaji Ana Ana. "Pergilah Sangaji Ana Ana. Berhati-hatilah di jalan. Seandainya kamu sudah menemukan kekasih- mu dan telah kawin dengannya, hendaklah dia kau- ba.wa kemari," perintah Raja. "Baiklah, Tuanku. Nanti setelah hamba mendapatkan istri, hamba akan membawanya ke hadapan Tuanku," janji Sangaji Ana Ana. "Kapan kamu akan berangkat Sangaji Ana Ana? Lebih cepat lebih baik agar kamu segera mendapatkan apa yang kamu cari," kata Raja. "Besok pagi, Tuanku!" jawab Sangaji Ana Ana. "Sangaji Ana Ana, berhati-hatilah dalam perjalan-

"Terima kasih, Tuanku. Hamba mohon diri," sem- bah Sangaji Ana Ana. "Pergilah Sangaji Ana Ana, doaku selalu menyer- taimu," kata Raja lagi. Sangaji Ana Ana pun segera berpamitan kepada Raja Simpala. Dia cepat-cepat pulang ke rumah akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan besok pagi. · Pagi itu udara begitu cerah. Angin pagi berhem- bus perlahan-lahan menerpa dedaunan. Kesibukan manusia di pagi itu memecah keheningan. Sesekali terdengar kicauan burung-burung menyambut da- tangnya pagi. Penduduk Minakosa mulai bangun dari tidur lelapnya. Di sebuah rumah yang sederhana tampak se- orang pemuda sudah terbangun dari tidurnya. Dia adalah Sangaji Ana Ana. Hari ini dia akan pergi ke negeri lain untuk mencari istri idamannya. Tidak be- rapa lama kemudian, tampak Sangaji Ana Ana sudah terlihat di jalan. Ia berjalan perlahan-lahan. Ketika melewati sebuah pasar, dengan uangyang diberi Raja Simpala, dibelinya segala sesuatu untuk bekal dalam perjalanannya. Dia membeli beras, ikan bandeng, ikan tenggiri, ikan layur, ikan tembang, bawang, cabai, ketumbar, jintan, ikan asin, dendeng, dan sebagainya.

"W ahai Bapak, Bapak mau pergi ke mana?" tanya Sangaji Ana Ana dengan sopannya. "Aku hendak pulang ke rumah. Dan engkau anak muda, akan pergi ke mana?" tanya lelaki tua itu sam- bil menatap Sangaji Ana Ana. Ia merasa tidak menge- nali pemuda tampan itu. "Anak muda ini pastilah bukan penduduk negeri ini, Aku merasa tidak pernah melihatnya," bisik hati lelaki tua itu. "Bapak, saya bukan penduduk negeri ini. Oleh karena itu, saya ingin ikut ke rumah Bapak, barang- kali putri Bapak bisa memasakkan makanan untuk

saya," jawab Sangaji Ana Ana. Lelaki tua itu terdiam. Sejenak ia menatap Sangaji Ana Ana. Melihat Sangaji Ana Ana seperti kecapaian, lelaki tua itu merasa kasihan. "Betul dugaanku, anak muda ini bukan pen- duduk negeri ini. Tampaknya anak muda ini sangat kecapaian. Kelihatannya dia orang baik-baik. Baiklah, akan kubawa dia ke rumahku. Akan kusuruh putriku memasak makanan untuknya," bisik hati lelaki itu. "Ayo, Nak, beristirahatlah barang sejenak di rumahku. Kulihat engkau kecapaian. Kebetulan aku memang mempunyai seorang anak gadis. Kukira dia akan mau memasakkan makanan untukmu. Marilah kita ke rumahku sekarang juga," ajak lelaki tua itu. "Baiklah, terima kasih atas kebaikan Bapak," kata Sangaji Ana Ana dengan santunnya. Mereka ber- dua berjalan menuju ke rumah bapak itu. Namun, di tengah perjalanan keduanya menjumpai kotoran manus1a. "Kotoran apakah ini, Bapak?" tanya Sangaji Ana Ana. Si Bapak sangat heran mendengar pertanyaan Sangaji Ana Ana. "Sudah jelas ini kotoran manusia, kok dia her- tanya seperti itu," bisik hati si Bapak. Namun, 1a jawab juga pertanyaan Sangaji Ana Ana. "Kotoran manusia," jawab lelaki tua itu.

"Bukan, ini bukan kotoran manusia, tetapi kotoran anjing," kata Sangaji Ana Ana. Lelaki tua itu se- makin heran mendengar perkataan Sangaji Ana Ana. Bukankah ia kenai betul mana kotoran man usia dan mana kotoran anjing. "Perkataan anak muda itu sangat aneh. Mung- kinkah pikirannya tidak waras?" bisik hati lelaki tua itu. Namun, lelaki tua itu tidak mau bertanya. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah si lelaki tua. Ketika melewati sebuah titian, Sangaji Ana Ana bertanya kepada si lelaki tua. "Titian apakah ini Bapak?" Lelaki tua itu bertambah heran mendengar pertanyaan Sangaji Ana Ana. Sudah jelas titian itu di- gunakan untuk tempat orang menyeberangi sungai. Namun, dengan sabar dijawabnya juga pertanyaan yang aneh itu. "Ini titian manusia. Artinya, titian ini tempat man usia lewat untuk menyeberangi sungai ini," jawab si lelaki tua. "Ini bukan titian untuk manusia, tetapi titian untuk lewatnya monyet-monyet," kata Sangaji Ana Ana. Lelaki tua itu bertambah bingung. Bukankah titian itu dibuat orang untuk tempat menyeberang manusia? Namun, lelaki tua itu diam saja. Mereka

saya," kata lelaki tua sambil membuka pintu pagar halaman rumahnya. "Marilah masuk, Nak!" "Terima kasih, Pak!" kata Sangaji Ana Ana kepada lelaki itu. Keduanya masuk ke rumah itu. Lalu, Sangaji Ana-Ana menyerahkan karung goni yang dipikulnya. Bapak tua membuka karung goni itu. Setelah melihat isinya, lelaki tua itu segera memanggil anak gadisnya. "Anakku, kemarilah Nak," kata Bapak tua itu

PUSAT BAHASA EPARTEMEN PENDIIJIKAN NASIONAL

memanggil anak gadisnya. "Ada apa Ayah memanggilku?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Sangaji Ana Ana dan lelaki tua itu. Sepintas Sangaji Ana Ana memandang gadis itu. Kulit gadis itu kuning langsat. Rambutnya hitam panjang. Namun, sayang tidak ada senyuman di bibirnya. Gadis itu memalingkan muka- nya ketika Sangaji Ana Ana memandangnya. "Kelihatannya dia gadis yang angkuh. Namun, biarlah akan kuuji dia," bisik hati Sangaji Ana Ana. "Nak, kita kedatangan tamu. Masaklah makanan untuknya. Bahan-bahannya ada dalam karung ini," kata lelaki itu kepada anak gadisnya. Sambil agak cemberut, si gadis menerima karung goni itu. "Bapak, saya mohon diri. Saya akan mencari rurnah yang tak berdapur. Nanti saya akan kernari lagi," kata Sangaji Ana Ana. Perrnintaan itu sama sekali tak dirnengerti oleh lelaki tua beserta anak perernpuannya. "Di mana ada rumah yang tak berdapur? Kukira anak tadi sudah gila. Ban yak tingkahnya yang bukan- bukan. Hanya karena aku sangat kasihan, kuajak dia kemari. Tampaknya ia sangat lapar," kata lelaki itu kepada anak gadisnya ketika Sangaji Ana Ana sudah keluar dari rumahnya. "Di mana Ayah bertemu dia?" tanya anak gadisnya.

"Di jalan," kata ayahnya. "Mengapa Ayah membawa dia kemari," kata si gadis lagi. "Aku kasihan melihatnya. Tam paknya dia ke- capaian. Sebenarnya dia seorang pemuda yang baik. Bahasanya halus dan tingkahnya sopan. Hanya ada beberapa tingkahnya yang aneh," kata bapak tua itu. "Cepatlah masakan makanan untuknya, Nak. Biar dia segera makan," kata lelaki itu kepada anak gadisnya. "Baiklah, Ayah. Akan kumasakkan makanan yang enak untuknya," kata anak gadisnya. Sebenarnya ia enggan memasak masakan untuk pemuda yang belum dikenalnya. Namun, karena sayang kepada ayahnya, gadis itu pun menuruti pe- rintah ayahnya. Dia lalu membawa karung goni ke dapur. Dia mulai memasak. Setelah selesai makanan itu dimasak, Sangaji Ana Ana pun telah kembali ke rumah itu. Rupanya ia telah menemukan rumah yang tak berdapur itu. Sangaji Ana Ana dipersilakan duduk di tempat penyajian makanan. "Silakan kaucicipi masakan putriku ini," kata lelaki tua itu. Sangaji Ana Ana membuka tutup makanan itu. Alangkah terkejutnya Sangaji Ana Ana melihat masak- ail anak gadis itu. Tidak terlintas di hatinya untuk

mencoba memakan masakan itu. Oleh karena itu, di- tutupnya kembali makanan itu. "Maaf Bapak, saya sangat berterima kasih atas pelayanan Bapak dan putri Bapak. Kebetulan sekali saya masih kenyang. Janganlah marah karena saya tidak mencicipi masakan putri Bapak. Saya pun tak bisa lebih lama tinggal di sini. Saya bermaksud untuk melanjutkan perjalanan lagi ke negeri lain," kata Sangaji Ana Ana. Bapak dan anak gadisnya hanya terpaku men- dengar perkataan Sangaji Ana Ana. Mereka hanya ter- diam mematung melihat Sangaji Ana Ana membereskan karung goninya. Setelah selesai membereskan karung goninya, Sangaji Ana Ana bangkit dan melangkah keluar ha- laman rumah dan meneruskan perjalanannya. Lelaki tua dan anak gadisnya masih diam terpaku. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Mata mereka memandang ke luar melihat Sangaji Ana Ana yang sedang berjalan menjauh dari rumah mereka. s·etelah Sangaji Ana Ana hilang dari pandangan, ba- rulah si anak gadis bicara. "Ayah, pemuda tadi benar-benar gila. Mengapa tadi Ayah membawa dia ke rumah kita," kata si anak gadis dengan wajah cemberut. "Y a, Nak, tak salah katamu itu. Pemuda itu

kemari," jawab ayahnya. "Aneh, memang aneh. Apa yang salah dengan masakanku?" tanya anak gadisnya. "Sudahlah, Nak. Jangan kaupikirkan tingkah la- ku pemuda itu. Dia memang tidak waras," kata ayahnya mencoba menghibur anak gadisnya. "Menyesal aku telah memasak untuknya," kata anak gadis itu menyesali diri. "Tidak perlu menyesal, Nak. Makanan ini dapat kita makan. Kebetulan Ayah sudah lapar sekali. Masakanmu pasti enak sekali. Mari kita makan!" ajak ayahnya. Gadis itu masih diam saja. Ia masih merasa kesal kepada Sangaji Ana Ana. Ayahnya mencoba meng- hiburnya. "Kalau dia kemari lagi, akan kumarahi. Ayah sih membawa dia ke sini," kata si gadis sambil cemberut menyalahkan ayahnya. "Sudahlah, Nak. Lupakanlah dia," kata lelaki tua itu. "Benar-benar gila pemuda itu," si gadis masih menggerutu. "Sudahlah Nak, mari kita makan. Ayah semakin lapar mencium bau masakanmu," kata lelaki tua itu. Akhirnya, gadis itu pun menuruti perkataan ayahnya.

h.atiku, tanamanku tumbuh de-
ngan subur. Sebentar lagi aku akan memetik hasil- nya. Buah jagung sudah tua-tua. Buah tomat dan cabai pun sudah merah-merah. Tidak sia-sia kerja kerasku selama ini. Baiklah, akan kubersihkan ladangku ini agar tidak ada seekor ulat pun yang me- nempel di tanamanku," bisik hati lelaki tua itu. Lelaki tua itu mulai bekeija. Ia membersihkan ladangnya. Rumput-rumput liar dicabutinya. Ulat yang ada di dedaunan pun disingkirkannya. Tak te- rasa sudah lama ia bekeija. Hari pun sudah siang. Lelaki tua itu merasa kecapaian. "Aduh, aku merasa capai sekali. Kelihatannya ladang ini sudah bersih. Aku harus segera pulang ke rumah. Kasihan putriku pasti sedang menungguku," bisik hati lelaki tua itu.

"Hei, Bapak. Bapak mau ke mana?" tanya seorang pemuda yang telah berdiri di hadapannya. Si lelaki tua tampak kaget melihat pemuda itu. "Bapak, maaf aku telah mengagetkanmu. Bapak mau ke mana?" tanya pemuda itu. Pemuda itu ter- nyata Sangaji Ana Ana yang sedang melanjutkan perjalanannya mencari gadis pilihannya. "Aku hendak pulang ke rumah. Dan kamu anak muda, akan ke manakah kamu?" tanya lelaki tua itu kepada Sangaji Ana Ana. "Bapak, saya bukan penduduk negeri ini. Nama- ku Sangaji Ana Ana. Kalau boleh, saya ingin ikut ke rumah Bapak. Barangkali putri Bapak bisa memasakkan makanan untukku," jawab Sangaji Ana Ana sambil menatap wajah lelaki tua itu penuh harap. Sejenak lelaki tua itu memandang wajah Sangaji Ana Ana. "Ah, kelihatannya anak muda itu orang baik. Negerinya pun sangatjauh. Baiklah, akan kuajak dia ke rumahku, biar putriku memasakkan makanan untuknya," bisik hati lelaki tua itu. "Baiklah, anak muda. Kebetulan saya mempunyai seorang anak gadis. Kukira dia akan mau memasakkan makanan untukmu. Marilah ke rumahku seka- r~g juga," ajak lelaki tua itu.

Bapak?" tanya Sangaji Ana Ana. "Kotoran manusia," jawab lelaki tua itu. "Bukan, ini bukan kotoran manusia, tetapi kotoran anjing," kata Sangaji Ana Ana. Alangkah kagetnya lelaki tua itu mendengar perkataan Sangaji Ana Ana. Bukankah ia kenal betul bahwa itu adalah kotoran manusia. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan mereka pun menjumpai sebuah titian yang tidak berpegang- an. "Titian apakah ini Bapak?" tanya Sangaji Ana Ana ketika melewati titian itu. "Ini titian manusia. Artinya, titian ini tempat manusia lewat untuk menyeberangi sungai ini," kata lelaki tua itu. "Ini bukan titian untuk manusia, tetapi titian untuk tempat lewatnya monyet-monyet," kata Sangaji Ana Ana. Lelaki tua itu bertambah bingung. Ia me- natap wajah Sangaji Ana Ana, tetapi Sangaji Ana Ana pura-pura tidak melihatnya. "Bukankah titian itu dibuat orang untuk tempat menyeberangnya manusia? Mengapa pemuda ini

ini," bisik hati lelaki tua itu. Mereka berjalan teru s. Tiba di bawah pohon kayu tiba-tiba Sangaji Ana Ana membuka payungnya. Ia bertudungkan payung selama berjalan di bawah naungan pohon itu. Selesai berjalan di bawah pohon, mereka berjalan lagi melintasi sebuah sungai. Ketika itu pula Sangaji Ana Ana memakai sepatunya. Dan ketika melewati daratan, Sangaji Ana Ana pun me- lepaskan sepatunya. Sem ua tingkah laku Sangaji Ana Ana tidak lepas dari mata lelaki tua itu. Dia merasa heran melihat tingkah laku pemuda itu. Namun, dia diam saja. "Aneh, sungguh aneh. Waraskah anak muda ini? Jangan-jangan dia tidak waras. Ah, tapi aku kasihan melihatnya. Sebenarnya dia seorang pemuda yang baik. Wajahnya pun tampan. 1'utur katanya pun sopan, sayang ... tingkahnya aneh-aneh. Kelihatannya dia memang kecapaian," bisik hati lelaki tua itu. Tak terasa mereka telah tiba di depan rumah lelaki tua itu. "Inilah gubuk saya," kata lelaki tua itu sambil masuk ke halaman rumahnya. Keduanya masuk ke rumah itu. Lalu, Sangaji Ana Ana menyerahkan karung goni yang dipikulnya.

"Bapak, tolong masakkan saya makanan. Bahan-bahannya ada dalam karung ini," kata Sangaji kepada lelaki tua itu. Lelaki tua itu segera memanggil anak gadisnya. "Anakku Inadatu, kemarilah Nak!" kata lelaki tua itu. Dari dalam sebuah kamar muncullah seorang gadis yang cantik. Kulitnya kuning langsat, rambut- nya hitam sebahu. Sejenak ia menatap Sangaji Ana Ana. "Siapa pemuda itu? Mengapa Ayah datang ber- sama-sama dia? Wajahnya cukup tam pan, tapi sayang kelihatannya dia bukan anak bangsawan," bisik hati gadis itu. "Inadatu, kemarilah Nak!" kata lelaki tua itu ketika dilihatnya anak gadisnya keluar dari dalam kamar. "Ayah, ada apa Ayah memanggilku?". "Nak, tolong masakkan makanan untuk tamu kita. Bahan-bahannya ada dalam karung ini," kata lelaki tua itu kepada anak gadisnya. Sekali si gadis memandang sekilas kepada Sangaji Ana Ana. Sebuah senyum mengejek terlihat di bibirnya. Tak lama kemudian Sangaji Ana Ana meminta diri. I a hendak mencari rumah yang tak berdapur. Permintaan itu sama sekali tak dimengerti oleh lelaki

mana?" kata si gadis kepada ayahnya. "Ya memang, menurutku anak muda itu kurang waras. Banyak tingkahnya yang aneh-aneh. Hanya karena aku kasihan kepadanya maka kuajak dia kemari. Tampaknya ia sangat lapar. Cepatlah masak makanan untuk dia," suruh lelaki tua itu kepada anak gadisnya. Setelah selesai makanan itu dimasak, Sangaji Ana Ana pun telah kern bali ke rumah itu. Rupanya ia telah menemukan rumah yang tidak berdapur. Sangaji Ana Ana dipersilakan duduk di tern pat penya- jian makanan. "Silakan kaucicipi masakan putriku ini," kata lelaki tua itu. Sangaji Ana Ana membuka tutup makanan itu. Alangkah terkejutnya Sangaji Ana Ana melihat masakan anak gadis itu. Rona kekecewaan terlihat di wajahnya. Tiada terlintas di hatinya untuk mencoba

makanan itu. Oleh karena itu, ditutupnya kembali. "Maaf Bapak, saya sangat berterima kasih atas pelayanan Bapak dan putri bapak. Kebetulan sekali saya masih kenyang. Janganlah marah karena saya tak mencicipi makanan masakan anak gadis Bapak. Dan saya pun tidak bisa lebih lama lagi di sini. Saya bermaksud untuk melanjutkan perjalanan lagi ke negeri lain," kata Sangaji Ana Ana. Di bawah tatapan mata lelaki tua dan anak gadis- nya, Sangaji Ana Ana membereskan karung goninya. Kemudian, ia bangkit dan melangkah ke luar halaman rumah dan meneruskan perjalanannya. "Benar- benar gila pemuda itu," kata anak gadis lelaki tua itru. "Tak salah lagi katamu itu. Aku sangat menyesal mengajaknya kemari," kata ayahnya. Si gadis terdiam mendengar perkataan ayahnya. Ia merasa kesal kepada Sangaji Ana Ana. Ia ingin marah kepada Sangaji Ana Ana, tetapi pemuda itu telah hilang dari pandangan matanya. "Ayah, sungguh aku sangat menyesal telah me- masak untuk pemuda gila ini. Sudah cape-cape masak, masakanku tidak dimakannya. Jangankan di- makan, disentuh pun tidak," kata si gadis dengan wajah cemberut. · "Sudahlah Nak, jangan marah. Pemuda itu me-

gila," kata ayahnya mencoba menghibur anak gadisnya. Keduanya terdiam merenungi peristiwa yang baru dialaminya.

JODOH

angaji Ana Ana pun melanjutkan perjalanan- nya. Kembali ia masuk kampung keluar kam-

S. __ pung, mencari kalau-kalau ada gadis pilihan

hatinya. Dalam perjalanan itu pula Sangaji Ana Ana menemukan lagi seorang lelaki sebagaimana yang dijumpainya terdahulu. Tentu saja Sangaji Ana Ana menegur lelaki itu. "Hei, Bapak. Bapak mau ke mana?" tanya Sangaji Ana Ana. "Aku hendak kembali ke rumahku," jawab lelaki tua itu. "Bapak, kalau boleh, aku hendak ke rumahmu," kata Sangaji Ana Ana lagi. Sejenak lelaki tua itu memandang Sangaji Ana Ana dengan perasaan curiga. Namun, setelah dilihat- nya wajah Sangaji Ana Ana yang tampan dan pera- ngainya yang sopan, hilanglah perasaan curiga itu.

"Kelihatannya anak muda ini orang baik-baik. Tampaknya ia kecapaian. Mungkin ia telah melakukan perjalanan jauh. Baiklah, aku akan menolongnya," bisik hati lelaki tua itu. Sambi! tersenyum, lelaki tua itu bertanya," Nak, siapakah kamu dan hendak pergi ke mana?" "Bapak, namaku Sangaji Ana Ana. Aku bukan penduduk negeri ini. Aku ingin meminta tolong, kira- nya anak gadis Bapak bisa memasakkan makanan untukku. Bahannya ada dalam karung ini," kata Sangaji Ana Ana. "Baiklah kalau begitu, ikutlah ke rumahku," kata lelaki tua itu. Keduanya berjalan beriringan. Rupanya di tengah perjalanan keduanya menemukan kotoran manusia. Sangaji Ana Ana pun bertanya kepada lelaki tua itu, "Kotoran apakah ini, Bapak?" "Kotoran manusia," jawab lelaki tua itu keheran- an. Ia merasa aneh dengan pertanyaan Sangaji Ana Ana. "Ini bukan kotoran manusia, tetapi kotoran anjing," kata Sangaji Ana Ana. Lelaki tua itu terheran-heran mendengar jawaban itu. Ia tahu betul perbedaan antara kotoran manusia dengan kotoran anjing. Mengapa Sangaji Ana Ana mengatakan yang lain? Namun, lelaki. tua itu hanya

"Titian untuk siapakah ini, Bapak?" tanya Sangaji Ana Ana. "Oh, ini titian untuk penyeberangan manusia," jawab lelaki tua itu. "Bukan, ini bukan untuk manusia, tetapi titian untuk penyeberangan monyet-monyet," kata Sangaji Ana Ana seolah menjelaskan. Bertambah heran lagi lelaki tua itu dengan jawaban Sangaji Ana Ana. Namun, ia tetap diam saja tidak mau bertanya lebih lanjut. Keduanya terus berjalan tanpa ban yak bicara lagi. Akhirnya, mereka tiba di bawah pohon-pohonan. Pada saat itu Sangaji Ana Ana membuka payungnya. Ia berpayung selama berjalan di bawah naungan bayangan pohon-pohon. Kemudian, ketika melintasi sungai, Sangaji Ana Ana memakai sepatunya. Dan ketika berjalan di daratan, dibukanya sepatunya itu. Apa yang telah terjadi membuat lelaki itu tak henti bertanya dalam hati. Namun, ia tetap diam saja. Ia tidak berani menanyakan hal itu kepada Sangaji Ana Ana. Keduanya berjalan terus. Tak sepatah kata pun

"Sangaji Ana-Ana, inilah gubuk saya," kata lelaki tua itu. Sangaji Ana Ana melihat ke sekeliling rumah itu. Halaman rumah begitu luas ditanami berbagai macam tanaman. Ada sayuran, bunga-bungaan, dan juga umbi-umbian. Tanam-tanaman itu terawat dengan rap1. "Pasti ada yang merawat rumah ini sehingga segalanya terlihat rapi," bisik hati Sangaji Ana Ana. "Bapak, siapakah yang merawat rumah ini?" kata Sangaji Ana Ana kepada lelaki tua itu. "Siapa lagi kalau bukan anak gadisku itu," jawab lelaki tua itu. "Pasti gadis itu seorang yang cekatan. Ia sangat pandai merawat rumah. Mungkin inilah istri yang kucari," bisik hati Sangaji Ana Ana. Mereka berdua segera masuk ~e dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, Sangaji Ana Ana mele- takkan karungnya. Karung itu diserahkan kepada lelaki tua itu. Kemudian, lelaki tua itu membuka karung yang dibawa Sangaji Ana Ana. Setelah melihat isinya, lelaki itu memanggil anak gadisnya. "Anakku, kemarilah Nak," kata lelaki tua itu.

..

"Ya Ayah, saya segera keluar," terdengar suara seorang gadis dari ruang dalam. "Alangkah merdunya suara itu, pasti pemilik suara itu cantik semerdu suaranya," bisik hati Sangaji Ana Ana. Tiba-tiba hatinya merasa berdebar-debar. "Ah, mengapajantungku berdebar-debar. Apakah ini pertanda bahwa gadis itu memang jodohku. Tapi, aku harus mengujinya terlebih dahulu," Sangaji Ana Ana berkata pelan. Dari dalam rumah muncullah seorang gadis. Benar sekali dugaan Sangaji Ana Ana, gadis itu sangat cantik. Kulit gadis itu putih mulus. Hidungnya man- cung. Rambutnya hitam tergerai sebatas pinggang. Matanya bulat dihiasi bulu mata yang lentik. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya yang merah. Sangaji Ana Ana terpesona melihat kecantikan gadis itu. Dengan malu-malu matanya memandang sepintas kepada gadis itu. "Gadis ini memang benar-benar cantik, mudah- mudahan dia lulus dalam ujian yang akan kuberikan," bisik hati Sangaji Ana Ana. "Ayah, ada apa Ayah memanggilku?" tanya si gadis sambil duduk di sebelah ayahnya. "Ini Nak, ada tamu untuk kita," kata lelaki itu sambil menyerahkan karung yang dibawa Sangaji Ana Ana kepada anak gadisnya. Sangaji Ana Ana ter-

~adis lelaki itu. Dadanya berdebar-debar. "Mungkin memang inilah gadis yang selami'3. ini kucari. Semoga dia lulus dalam ujianku ini," kata Sangaji Ana Ana dalam hati. Sarna seperti Sangaji Ana Ana. Si gadis pun ter- pesona maelihat ketampanan Sangaji Ana Ana. "Siapakah pemuda itu? Alangkah tampannya dia," bisik hati si gadis. Ketika mata gadis itu beradu pandang dengan mata Sangaji Ana Ana, dia pun ter- tunduk malu. Dadanya terasa berdebar-debar. Tak lama kemudian Sangaji Ana Ana segera mohon diri. "Maaf, Bapak. saya ingin mencari rumah yang tak berdapur. Nanti saya akan kemari lagi," kata Sangaji Ana Ana. Lelaki tua itu sangat heran mendengar perkataan Sangaji Ana Ana. Di manakah rumah yang tak berdapur di kampung itu? Namun, anak gadisnya sama sekali tidak merasa heran. Ia menganggap biasa kata-kata Sangaji Ana Ana. Gadis itu tersenyum ketika melihat ayahnya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ayah, ada apa?" tanya si gadis ketika melihat ayahnya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil me- natap Sangaji Ana Ana yang pergi ke luar rumah akan mencari rumah yang tak berdapur. "Sepertinya pikiran anak muda itu tidak waras.

aneh,," kata lelaki tua itu kepada anak gadisnya. '' Apanya yang aneh, Ayah?" "'Ya itu, segala perkataannya aneh," jawab ayahnya. "Aneh bagaimana?" •'Ya, segala perbuatan dan perkataannya aneh-aneh padahal dia pemuda yang baik. Orangnya ra- mah, tutur katanya pun sopan. Namun, sayang," kata lelaki tua itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sayang bagaimapa, Ayah?" "Sayang, dia agak gila," jawab ayahnya. "Ayah, rasanya sangkaan Ayah itu salah. Menurutku, ia tidak gila," kata anak gadisnya membela Sangaji Ana Ana. "Tidak gila bagaimana Nak, sudah jelas tingkahnya sangat aneh," kata lelaki itu. "Tidak, Yah. Menurutku tidak ada yang aneh dengan perilaku pemuda itu. Bahkan, dialah yang benar dengan tingkah lakunya itu," kata anak gadisnya. "Benar bagaimana? Kau tidak tahu bagaimana anehnya tingkah anak muda itu di perjalanan," kata ayahnya lagi. "Ayah, ceritakanlah kepadaku mengapa Ayah me- ngatakan bahwa ia gila, bagaimana tingkahnya selama di perjalanan," kata anak gadisnya.

"Ketika kami bertemu kotoran manusia, ia mengatakan bahwa itu bukan kotoran manusia, tetapi kotoran anjing. Ketika kami melewati titian penyeberangan, dia pun mengatakan bahwa titian itu untuk penyeberangan monyet-monyet. Aneh, bukan?" tanya ayahnya. Anak gadis itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan ayahnya. "Ayah, masih adakah perbuatan dia yang aneh menurut Ayah," anaknya balik bertanya. "Ya, masih ada anakku. Ketika berjalan di bawah pohon-pohon rindang, ia memakai payungnya. Ketika melintasi sungai, dipakainya sepatunya. Namun, ketika berjalan di daratan, dibukanya sepatunya," kata ayah gadis itu. Setelah mendengar penjelasan ayahnya, anak gadis itu berkata," Benar-benar Ayah salah duga. Ia tidak gila. Menurut saya, dialah yang benar dengan tingkah lakunya itu. Tahukah Ayah, mengapa dia berbuat seperti itu?" Ayah gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia me- rasa heran mendengar perkataan anak gadisnya. "Menurutmu, segala tingkah laku anak muda itu benar?" ayahnya batik bertanya. "Benar, Ayah."

''Benar bagairnana? Sudah jelas dia rnelakukan perbuatan yang aneh, karnu rnalah rnernbenarkan- nya," kata ayahnya lagi. "Baiklah, akan sayajelaskan rnaksudnya. Ketika berternu dengan kotoran man usia dijalan, pernuda itu rnengatakan itu sebagai kotoran anjing. Mernang benar apa yang dikatakan pernuda itu," kata si gadis sarnbil tersenyurn. "Benar bagairnana?" kata ayahnya rnernotong pern bicaraan. "Mernang benar itu kotoran anjing. Maksud saya, manusia yang seperti anjing," kata si gadis sarnbil tersenyum. "Man usia seperti anjing? Apa rnaksudnya?" tanya ayahnya sernakin penasaran. "Begini Ayah. Kalau itu rnernang kotoran rna- nusia, orang yang mernbuang kotoran itu ibarat anjing yang tak tahu apa-apa. Bukankah manusia rnempu- nyai tern pat tersendiri untuk rnernbuang kotorannya? Tidak dijalan bukan?" tanya si gadis kepada ayahnya sarnbil tersenyurn. Pada mulanya lelaki tua itu terdiarn. Ia rnere- nungi perkataan anak gadisnya. Narnun, tak lama kemudian ia berkata,"Betul juga katarnu, Nak. Lalu, ketika melewati titian, pernuda itu berkata bahwa itu bukan titian manusia, tetapi titian monyet. Apa mak-

itu?" tanya lelaki tua itu penasaran. "Apakah titian itu ada pegangannya Ayah?" tanya anak gadisnya. "Tidak, tidak berpegangan." "Sudah kuduga." "Sudah kauduga bagaimana Nak?" tanya lelaki tua itu semakin penasaran. "Sudah kuduga pasti titian itu tidak ada pegangannya. Titian yang tidak berpegangan itu tak lain sebagai dahan kayu tempat monyet meloncat ke sana kemari," kata si gadis. Sejenak dia terdiam. "A yo, Nak lanjutkan penjelasanmu," kata ayahnya tidak sabar. Dalam hatinya ia merasa bangga akan kecerdasan anak gadisnya. Si gadis tersenyum melihat ayahnya tak sabar menunggu penjelasannya. "Sabar, Ayah. Aku mau minum dulu, haus," kata gadis itu menggoda ayahnya. "Cepatlah, Nak. Aku tak sabar menunggu penjelasanmu," kata ayahnya lagi. Si gadis pun minum segelas air sambil tersenyum-senyum memandang ayahnya. Lalu, ia melan- jutkan penjelasannya. "Ayah, tadi kujelaskan bahwa titian yang tidak berpegangan itu sebagai dahan kayu tempat monyet meloncat ke sana kemari. Seharusnya yang membuat

jatuh," kata si gadis. "Betul juga Nak, sebaiknya memang titian itu diberi pegangan agar orang yang melewatinya berpe- gangan sehingga tidak terjatuh ke sungai," kata ayah gadis itu. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan penjelasan anaknya. "Pintar juga engkau, anakku. Pendapatmu masuk akal!" puji lelaki tua itu kepada anak gadisnya. Gadis itu tersenyum mendengar pujian ayahnya. Sejenak lelaki tua itu terdiam. Tak lama kemudian, ia berkata," Anakku, mengapa pemuda itu memakai payung ketika melewati pohon kayu?" "Pemuda itu memakai payung ketika melewati pepohonan tak lain untuk menjaga tubuhnya yang. terhormat dari kotoran-kotoran yang biasajatuh dari dahan kayu, terutama sekali kotoran binatang atau kotoran burung," kata anak gadis itu. Mendengar penjelasan anak gadisnya, lelaki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi mengerti mengapa pemuda itu melakukan hal-hal yang menurutnya aneh. "Lalu, ketika berjalan di air, dia memakai sepatu.

dilakukannya?" tanya lelaki tua itu kepada anak gadisnya. "Ia memakai sepatu ketika berjalan di dalam air semata-mata untuk melindungi kakinya dari tusukan benda-benda tajam. Bukankah kaki merupakan modal utama untuk berjalan?" tanya si gadis balik bertanya kepada ayahnya. "Betuljuga ya?" tanya ayahnya sambil mengerut- kan keningnya seolah-olah sedang berpikir. "Kemudian, ia mencari rumah yang tak berdapur, aneh bukan? Rumah mana yang tidak berdapur? Kalau rumah tidak berdapur, di mana orang akan memasak?" tanya ayah gadis itu. Si gadis tersenyum mendengar pertanyaan ayahnya yang beruntun itu. "Sabar Ayah, jangan memberondongku dengan pertanyaan sebanyak itu," kata si gadis sambil tersenyum manis menggoda ayahnya. "Cepatlah Nak, jawab pertanyaanku itu. Aku sangat penasaran," kata ayahnya sambil tersenyum malu. "Sabar sedikit Ayah, aku bernapas dulu ya?" goda s~ gadis kepada ayahnya. "Ayolah Nak, jangan mempermainkan Ayah se- perti itu." "Baiklah Ayah. Pemuda itu mencari rumah yang tidak berdapur. Yang dimaksud rumah yang tidak

<

h.larkan segala isi karung. Dipisah-pisahkannya semua yang sejenis. Lalu, dimasaknya bahan-bahan itu dengan segala keahlian yang ada pada dirinya. Ada yang digulai, ada yang dipanggang, ada yang digoreng,

"Benar apa yang dikatakan anak gadisku. Telapak tangannya masih terasa basah. Ia baru saja pulang dari masjid, baru selesai salat. Memang anak muda itu seorang yang baik. Tutur katanya lembut. Ting- kahnya pun sopan," bisik hati lelaki tua itu. "Alangkah bahagianya hila anak gadisku bisa berjodoh dengannya," kata hati lelaki tua itu. "Ayo, Nak silakan makan!" kata lelaki tua itu kepada Sangaji Ana Ana. "Terima kasih Pak," kata Sangaji Ana Ana. "A yo, Nak, jangan malu-malu," kata lelaki tua itu lagi. Sangaji Ana Ana menghadapi makanan yang telah tersedia. Dibukanya tutup makanan itu. Ia ter- senyum-senyum ketika melihat makanan yang tersedia. "Alangkah terampilnya anak gadis itu. Pandai sekali dia memasak dan menyajikan makanan. Inilah gadis yang kucari-cari selama ini," pikir Sangaji Ana

"Bapak, maafkan saya jika lancang di hadapan Bapak. Namun, seandainya nanti perkataan saya ini tidak berkenan di hati Bapak, maafkanlah," kata Sangaji Ana Ana dengan suara yang lembut. "Katakanlah N ak,. apa yang in gin engkau katakan. Namun, sebelum itu Bapak ingin tahu asalmu dari mana," sambut lelaki tua itu. "Bapak, saya berasal dari negeri Minakosa," jawab Sangaji Ana Ana dengan sopan. Setelah mendengar jawaban Sangaji Ana Ana, lelaki tua itu sangat kaget. Ia tahu negeri itu sangat jauh. "Nak, begitu jauh negerimu itu. Kalau boleh Bapak tahu mengapa sampai engkau meninggalkan negerimu itu?" tanya lelaki tua itu lagi. Sangaji Ana Ana pun segera menceritakan maksud kepergiannya dari negeri asalnya. "Oh, begitu. Jadi, sampai saat ini engkau belum beristri?" tanya lelaki. tua itu. Dalam hatinya ia merasa senang.

"Y a, Bapak. Bel urn ada seorang gadis pun yang berkenan di hati saya," jawab Sangaji Ana Ana. Lelaki tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ah, seandainya dia mau menjadi menantuku, alangkah senangnya hatiku. Dia pemuda yang baik. Anakku pasti akan bahagia hidup dengannya," bisik hati lelaki tua itu. Tanpa sadar dia telah melamun. "Bapak, .. Bapak," kata Sangaji Ana Ana ketika dilihatnya lelaki tua itu tengah melamun. "Oh, ya .. ya .. Nak, ada apa?" tanya lelaki tua itu tergagap. Dia malu kepada Sangaji Ana Ana karena ketahuan telah melamun. "Bapak, saya .. saya ingin bertanya?" kata Sangaji Ana Ana dengan suara yang pelan. "Bertanya apa Nak, silakan!" "Bapak, apakah putri kesayangan Bapak sudah ada yang mengikatnya?" tanya Sangaji Ana Ana dengan suara yang agak gemetar. Hatinya berdebar- debar menunggujawaban ayah si gadis. Lelaki tua itu tersenyum walaupun kelihatannya agak terkejut. Tidak disangkanya akan keluar pertanyaan seperti itu. Namun, di dalam hatinya ia merasa senang. "Pucuk dicinta ulam tiba, aku ingin dia menjadi menantuku, eh dia melamar anakku. Betapa senang rasa hatiku. Namun, semua itu bergantung pada keputusan anakku," bisik hati lelaki tua itu.

"k tua itu. ' ata orang

"Nak Sangaji, sesungguhnya telah banyak pemuda yang melamarnya. Namun, tak seorang pun yang diterimanya. Entah apa yang menyebabkan dia menolak semua lamaran itu. Saya sendiri pun tak tahu," jawab ayah anak gadis itu. "Kiranya, hila diperbolehkan, izinkanlah saya untuk melamar dia," kata Sangaji Ana Ana. "Bagiku tidak keberatan, malah sebaliknya aku merasa senang mendengar lamaranmu. Akan tetapi, terlebih dahulu aku harus bertanya kepada anakku itu. Maukah ia menerima lamaranmu atau tidak," jawab lelaki tua itu. Kemudian, lelaki tua itu memanggil putrinya. Disampaikannya maksud hati Sangaji Ana Ana itu. Dengan wajah memerah anak gadis itu berkata," Ayah, segala sesuatunya kuserahkan kepada Ayah. Baik kata Ayah, baik pula kata saya." "Anakku, Ayah tidak keberatan asalkan engkau mau menerimanya," kata lelaki tua itu kepada anaknya. Sejenak si gadis terdiam. Wajahnya ditunduk- kannya. Sambil menunduk ia tersenyum kecil. Sebe- narnya dari pertama bertemu pun, ia telah menyukai pemuda itu. "Apakah engkau mau menerima lamaran Sangaji Ana Ana, anakku?" tanya ayah si gadis.

gadis terdiam. Ia merasa malu. Namun, hati- nya merasa senang. "Jangan diam anakku, jawablah pertanyaanku tadi. Apakah kamu mau menerima lamarannya?" tanya ayah si gadis mengulangi pertanyaannya. Per- lahan-lahan si gadis menganggukkan kepalanya. Mu- kanya memerah. Lelaki tua itu pun tersenyum melihat' anak gadisnya yang malu-malu. "Baiklah, Nak Sangaji. Lamaranmu kami terima." Alangkah senangnya hati Sangaji Ana Ana men- dengar ucapan ayah si gadis. Ia tersenyum bahagia. Mulutnya komat-kamit pertanda ia sedang berdoa. Ia bersyukur kepada Yang Mahakuasa. "Bapak, kalau begitu, saya minta agar perkawin- an kami dipercepat. Sebaiknya Bapak memanggil penghulu sekarang juga untuk menikahkan kami," kata Sangaji Ana Ana. Tak lama kemudian mereka segera mencari penghulu. Tak sulit bagi mereka sehingga hari itujuga pernikahan diselenggarakan di rumah penghulu. Selesai pernikahan, Sangaji Ana Ana tinggal bersama istrinya di rumah mertuanya.

~ .. ·· ...-. ..; Tidak terasa sudah sebulan lamanya perka-, winan Sangaji Ana Ana dengan istrinya. Sore itu langit tampak cerah. Matahari bergerak perlahan- lahan seolah -olah enggan meninggalkan suasana nyaman. Sinarnya tampak menerangi bumi. Di pu- cuk daun pepohonan yang tinggi, sinar matahari itu tampak kemerah-merahan. Di langit sebelah timur rem bulan tampak berwarna putih di atas cakrawala. Tampaknya rembulan telah siap menggantikan sang surya yang akan memasuki peraduan. Ketika itu Sangaji Ana Ana dan istrinya sedang duduk-duduk menikmati indahnya sore. Sangaji Ana Ana berkata kepada istrinya. "Dinda, tidak terasa sudah sebulan kita meni- kah." Sambil bicara mata Sangaji Ana Ana menera- wangjauh seperti ada yang dia pikirkan. lstri Sangaji

bertanya,"Kanda, tam- paknya Kanda sedang memikirkan sesuatu? Kalau Dinda.boleh tahu, apakah yang Kanda pikirkan?" "Tidak Dinda, Kanda tidak memikirkan apa-apa," jawab Sangaji Ana Ana. "J angan bohong, Kanda. Dinda melihat tatapan mata Kanda begitu kosong. Dinda yakin Kanda sedang memikirkan sesuatu. Berterus-teranglah kepada Dinda. Katakanlah apa yang Kanda pikirkan," kata istri Sangaji Ana. Ana. Sangaji Ana Ana terdiam mendengar perkataan istrinya. Ia memandang wajah istrinya dengan penuh rasa sayang. "Dinda, sebenarnya Kanda teringat pada janji Kanda." "Janji yang mana Kanda?" tanya istri Sangaji Ana Ana. "Janji Kanda kepada Tuanku Raja Simpala. Waktu mau mencari istri, Kanda berjanji kepada Baginda bahwa akan kembali setelah mendapatkan apa yang Kanda cari. Nah, kini Kanda telah mendapatkan apa yang selama ini Kanda cari. Kanda telah memilikimu, Dinda," kata Sangaji Ana Ana sambil memeluk mesra istrinya. Sejenak mereka terdiam. Tak lama kemudian

"Dinda, maukah Dinda ikut ke negeri Kanda? Kanda ingin menepati janji Kanda kepada Baginda." Sangaji Ana Ana memandang istrinya seolah-olah ingin menyelami isi hati istrinya itu. "Kanda, jangankan diajak, tanpa diajak pun saya akan tetap pergi ke negeri Kanda. Saya ingin sekali melihat negeri itu. Bahkan, lebih baik kita tinggal dan menetap di negeri Kanda saja," kata istri Sangaji Ana Ana dengan suara yang lembut. Mendengar per- kataan istrinya itu, Sangaji Ana Ana merasa gembira. Ia bersyukur kepada Yang Maha Esa karena telah diberi seorang istri yang cantik serta setia. "Tak salah pilihanku, Dinda. Mari kita segera menghadap ayahmu," ajak Sangaji Ana Ana sambil menggandeng lengan istrinya. Mereka pun segera menemui ayah istri Sangaji Ana Ana. Keduanya segera menyampaikan maksud hatinya kepada orang tua itu. "Sebaiknya dipercepat saja keberangkatan kalian. Maklum negeri itu sangatjauh," sambut mertua Sangaji Ana Ana. Keduanya pamit. Mertua Sangaji Ana Ana me- nyertai keberangkatan mereka dengan doa selamat. "Ha ti-hatilah dijalan Nak. Semoga kalian berdua tidak m enemui kesulitan dalam perjalananmu. Ayah

Sangaji Ana Ana sambil membelai lembut putrinya. "Terima kasih Ayah, semoga Ayah pun selalu sehat," kata istri Sangaji Ana Ana sambil tak kuasa menahan tangis. Ia sedih harus berpisah dengan ayah yang sangat dicintainya. "Jangan menangis anakku, sudah menjadi ke- wajibanmu mengikuti ke mana pun suamimu pergi," kata ayahnya. Namun, tak terasa setetes air mata mengalir di pipinya yang telah keriput. Sebenarnya ia merasa sangat berat harus berpisah dengan anak yang sangat dikasihinya itu. Namun, ia menyadari sebagai seorang istri, putrinya itu harus mengikuti ke mana pun suaminya pergi. Keesokan harinya Sangaji Ana Ana dan istrinya terlihat berjalan ke luar rumah. Mereka terus berjalan masuk kampung keluar kampung. Beberapa hari mereka berjalan, akhirnya tibalah mereka dine- geri Minakosa, negeri asal Sangaji Ana Ana. Mereka tiba di negeri itu dengan selamat tidak kurang suatu apa. Kembalinya Sangaji Ana Ana dengan istrinya di- ketahui oleh para penduduk Minakosa. Mereka terpe- sona melihat kecantikan istri Sangaji Ana Ana. Ramailah mereka membicarakan kecantikan istri

Sangaji Ana Ana. Berduyun -duyun para penduduk datang ingin melihat istri Sangaji Ana Ana. Semua orang merasa kagum melihat kecantikan istri Sangaji Ana Ana. Mata mereka seakan -akan tidak dapat ber- kedip. Badan mereka seakan terpaku. Mereka sangat terpesona sehingga enggan meninggalkan rumah Sangaji Ana Ana. "Oh, cantik sekali wanita itu!" kata seorang pemuda kepada temannya. "Ya betul, cantik sekali. Alangkah beruntungnya Sangaji Ana Ana. Seandainya dia menjadi istriku, ah ... betapa bahagianya hatiku," kata temannya itu. "Jangan mimpi di siang bolong. Mana mungkin hal itu akan terjadi? Dia sudah menjadi istri Sangaji Ana Ana. Lagian mana mungkin dia mau kepadamu, engkau pemuda miskin, rupamu juga ... ," pemuda yang bernama Rasyid menghentikan pembicaraan- nya. "Rupaku apa?" tanya temannya membentak. "Rupamujuga tidak .. tidak tampan," kata Rasyid meledek sambil berlari meninggalkan temannya. Temannya yang diledek hanya dapat menggaruk.:: garuk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, moleknya dia seperti bidadari dari kahyang-

an. Seandainya dia belum menikah, aku mau Bul"

kata seorang suami kepada istrinya.

"Mau ap~?" tanya istrinya sambil membentak. "Jangan marah dulu, Bu. Aku mau menjadikan dia sebagai menantuku! Anak kita kan laki-laki, sudah besar lagi. Sudah sepantasnya mempunyai istri!" kata suaminya lagi sambil tersenyum menggoda istrinya. Mendengar ·perkataan suaminya, istrinya pun tersenyum. "Ibu sih pikirannya macam-macani. Mana mung- kin saya menyakiti hatimu. Saya ini sangat sayang kepadamu. Begini-b~gini juga, suamimu ini lelaki setia," kata suaminya sambil mencubit pipi istrinya. Istrinya pun tersenyum manja. "Indahnya ciptaan Tuhan, ya Pak? Menciptakan wanita yang sangat sempurna kecantikannya," kata istrinya lagi sambil tersenyum manja kepada suaminya. "Ya, Bu, tapi walaupun beribu bintang di langit, hanya satu bintangku. Ya, istriku yang cantik ini," kata suaminya lagi. Si istri pun tersenyum penuh ke- bahagiaan. Sambil tersenyum, ia menggandeng lengan suaminya. Demikianlah kekaguman penduduk Minakosa pada kecantikan istri Sangaji Ana Ana tidak henti- hentinya. Berita ten tang kecantikan istri Sangaji Ana Ana pun menyebar dari mulut ke mulut. Para tetang- gfi Sangaji Ana Ana, baik yang jauh maupun yang

"Benarkah apa yang dikatakan rakyat Minakosa bahwa istri Sangaji Ana Ana berparas sangat cantik? Ah, aku ingin segera mengecek kebenaran berita itu. Aku tak sabar ingin melihat istri Sangaji Ana Ana. Baiklah, akan kusuruh punggawa untuk memanggil Sangaji Ana Ana," bisik hati Raja. Raja pun lalu me- nyuruh salah seorang punggawa di istana untuk memanggil Sangaji Ana Ana. Punggawa pun segera me- nemui Sangaji Ana Ana. "Hai .Sangaji Ana Ana, aku diutus Baginda Raja untuk memanggilmu," kata Punggawa sesampainya di rumah Sangaji Ana Ana. "Ada apa Baginda memanggilku?" kata Sangaji Ana Ana kepada Punggawa istana. "Entahlah aku pun tak tahu," jawab Punggawa itu. "Hanya saja engkau harus membawa serta istri- mu," kata Punggawa itu menambahkan. Sangaji Ana Ana terdiam mendengar perkataan si Punggawa. Ia

"Memang aku sudah berencana akan menghadap Baginda. Aku memang sudah berjanji kepada Baginda akan menghadap Baginda jika sudah mene- mukan istri. Kini aku sudah mendapatkan apa yang kucari. Tadinya baru besok pagi kami akan ke istana," kata Sangaji Ana Ana. "Sangaji Ana Ana, Baginda memerintahkan hari ini juga kamu harus ke istana," kata Punggawa itu lagi. "Baiklah, sebentar lagi aku menghadap." Sangaji Ana Ana pun segera mengajak istrinya bersiap-siap. Tak lama kemudian tampak Sangaji Ana Ana dan istrinya berjalan menuju istana. Se- panjang jalan banyak orang ingin menyaksikan kecantikan istri Sangaji Ana Ana. Mereka memuji kecantikan serta keluwesan istri Sangaji Ana Ana. Melihat para penduduk yang ingin melihatnya, istri Sangaji Ana Ana pun tersenyum dengan ramah. Ketika tiba di istana Sangaji Ana Ana beserta istrinya segera menghadap Raja Simpala. Raja ter- pesona melihat kecantikan istri Sangaji Ana Ana. Matanya terbelalak memandang wajah cantik istri Sangaji Ana Ana. "Oh, sungguh cantik wanita ini bagai bidadari. dari kahyangan. Baru kali ini aku melihat wanita

"Oh, rupanya engkau telah kern bali Sangaji Ana Ana. Kamu telah berhasil mendapatkan istri pilihan- mu," kata Raja Simpala lagi. "Sembah Tuanku! Hamba telah kembali dengan selamat berkat doa restu paduka Tuanku," sembah Sangaji Ana Ana. Raja tersenyum simpul ketika bertemu pandang dengan istri Sangaji Ana Ana. Raja Simpala sangat kagum melihat kecantikan istri Sangaji Ana Ana. Dadanya berdebar-debar ketika melihat istri Sangaji Ana Ana. Sebenarnya keadaan seperti itu belum per- nah dialaminya selama ini. Entah kenapa pada hari itu bisa demikian. Bahkan, selanjutnya ia tidak bisa mengendalikan diri lagi. Ingin rasanya dia memiliki istri secantik itu. Walaupun dia sudah menjadi istri orang lain, Raja Simpala harus dapat merebutnya. Keinginan memiliki itu semakin kuat. Diam-diam ternyata Raja Simpala mempunyai niat yang tidak baik. "Aku harus dapat mendapatkan istri Sangaji Ana Ana. Dia cantik sekali. Baru kali ini aku melihat wanita secantik dia. Aku harus dapat merebut wanita itu dari Sangaji Ana Ana. Bagaimana pun caranya aku harus dapat memilikinya," bisik hati Raja Simpala.

harus mendapatkan istri Sangaji Ana Ana, bagaimanapun caranya,, gumam raja.

Oleh karena itu, dicarinya akal bagaimana caranya agar dapat meram- pas istri Sangaji Ana Ana. Siang malam Raja Simpala selalu gelisah memikirkan istri Sangaji Ana Ana. Hampir saja ia tak bisa tidur siang dan malam karena harus memutar otak, mencari akal. Pada suatu hari ia menemukan akal untuk me- ram pas istri Sangaji Ana Ana. "Satu-satunya jalan, Sangaji Ana Ana harus di- bunuh," bisik hati Raja Simpala. ''Ya, aku harus membunuh Sangaji Ana Ana. Kalau Sangaji Ana Ana mati, istrinya pasti menjadi milikku. Dengan cara itulah aku dapat memiliki wanita cantik itu," Raja Simpala bergumam sendirian. "Aku harus segera melaksanakan niatku itu. Aku sudah tak sabar ingin memiliki wanita cantik itu. Oh, betapa cantiknya dia. Kulitnya putih mulus, hidung- nya mancung. Aduh, aku ingin dia menjadi istriku. Kalau dia sudah menjadi istriku, akan kuberi dia

bunga," bisik hati Raja Simpala. Raja Simpala tersenyum sen- dirian membayangkan wajah istri Sangaji Ana Ana yang cantik. "Besok akan kusuruh beberapa pengawalku un- tuk memanggil Sangaji Ana Ana," bisik Raja Simpala. Raja Simpala pun tak sabar ingin esok hari segera datang.

Sangaji. Ana Ana untuk datang menghadapnya di istana. "Pengawal, aku bermaksud menguji kesetiaan Sangaji Ana Ana. Kumpulkan seluruh rakyat di ha- laman istana dan umumkan kepada mereka bahwa Sangaji Ana Ana akan diangkat menjadi panglima perang jika dia lulus dalam ujianku ini," kata Raja Simpala. "Baiklah, Tuan Paduka. Hamba laksanakan se- mua perintah Paduka," jawab pengawal sambil meng- haturkan sembah. Esok harinya, sebelum ayam berkokok, lonceng di istana sudah dibunyikan. Rakyat terkejut dan her- tanya-tanya. "Bu, dengar ada suara lonceng di istana. Ada apa y~ Bu?" kata seorang bapak kepada istrinya. I

penting," jawab istrinya. "Ayolah kita cepat-cepat keluar, Pak!" kata istrinya lagi. Suami istri itu segera keluar dari rumahnya. Karena bunyi lonceng itu, rakyat keluar ingin melihat apa yang terjadi. Suara lonceng itu pertanda bahwa rakyat akan dikumpulkan. "Ada apa, ada apa ya?" kata seorang ibu kepada tetangganya. "Aku pun tak tahu. Mungkin ada pengumuman penting. Sebentar lagi juga punggawa istana akan ke sini. Kita tunggu saja pengumumannya," kata ibu yang berdiri di sebelahnya. Tiba-tiba terdengar suara derap kuda. Seluruh rakyat menengok ke arah suara itu. Rombongan punggawa berhenti di dekat kerumunan rakyat. Kepala rombongan menabuh genderang. Kemudian, ia mengumumkan kabar itu. "Saudara-saudara, aku akan mengumumkan kabar gembira. Sebentar lagi Sangaji Ana Ana akan diangkat menjadi panglima perang. Namun, sebelum menjadi panglima perang, Raja akan mengujinya ter- lebih dahulu. Raja Simpala ingin semua itu disaksikan oleh kalian semua. Nanti siang kalian berkumpul di istana," kata kepala rombongan dengan suara lantang. Siang harinya rakyat sudah berkumpul di hala-

Pada saat menghadap Raja Simpala, istri Sangji Ana Ana tidak ikut serta. Di istana telah banyak orang ketika Sangaji Ana Ana tiba di sana. Duduk pula di tengah orang banyak dua orang pem- bantu utama raja, yaitu Ruma Tureli dan Ruma Bicara. Ruma Tureli berperawakan gemuk dengan janggut putih memanjang sampai ke dada. Adapun Ruma Bicara wajahnya dipenuhi bintik-bintik hitam seperti bekas jerawat. Badannya bongkok seperti orang yang sudah tua. Rambutnya panjang .dan ben- tuk tubuhnya bagai karung yang diikat tali. Sangaji Ana Ana menghadap Raja Simpala dengan penuh hormat. "Sembah Tuanku, ada apa Tuanku me1;11anggil hamba?" kata Sangaji Ana Ana setibanya di hadapan Raja Simpala. "Wahai Sangaji Ana Ana sebentar lagi engkau akan kuangkat sebagai panglima perang. Namun, ada satu syarat yang harus engkau penuhi," kata Raja Simpala. "Apa syarat itu, Tuanku?" "Mulai hari ini engkau aku tugaskan untuk mencari seekor burung berjanggut putih dalam waktu tiga hari. Carilah sampai burung itu engkau dapatkan. Jika dalam waktu tiga hari engkau kembali dengan

ngerti?" begitu bunyi perintah Raja Simpala. Orang-orang yang ada di situ sangat terkejut mendengar perintah Raja Simpala. Mereka saling pandang'keheranan. Begitu pun Sangaji Ana Ana, ia sangat terkejut mendengar perintah Raja Simpala. Ia terkejut bagai disambar petir di siang bolong. Ia tidak menyangka Raja Simpala yang selama ini baik kepa- danya akan memberi perintah yang sangat sulit. "Di mana aku harus mendapatkan burung itu? Mendengar ada burung berjanggut pun baru kali ini. Apakah memang ada burung berjanggut. Bagaimana aku akan dapat menemukannya?" tanya Sangaji Ana Ana dalam hatinya. "Bagaimana Sangaji Ana Ana, apakah engkau sanggup mendapatkan burung itu?" tanya Raja Simpala ketika dilihatnya Sangaji Ana Ana diam saja tidak menjawab pertanyaannya. "Sembah Tuanku, segala perintah Tuanku akan hamba laksanakan," jawab Sangaji Ana Ana dengan suar~ gemetar. "Jadi, engkau sanggup mendapatkan burung itu?" tanya Raja Simpala lagi.

"Sa ... sang ... sanggup, Tuanku," jawab Sangaji Ana
Ana dengan suara yang terbata-bata. Mendengar jawaban Sangaji Ana Ana, ramailah orang berbicara. "Di mana bisa ditemukan burung serupa itu? Oh, malangnya nasib Sangaji Ana Ana yang beristri cantik itu," kata seorang lelaki kepada ternan di sampingnya. "Ya, mana mungkin ada burung berjanggut. Aduh kasihan sekali Sangaji Ana Ana," gumam seorang ibu. Sebagian orang yang hadir merasa kasihan kepada Sangaji Ana Ana. "Sangaji Ana Ana, cepatlah engkau pergi mencari burung itu," perintah raja Simpala. "Tuanku, hamba mohon doa restu agar dapat menjalankan tugas dengan baik." "Ya, cepatlah kaucari burung itu!" perintah Raja Simpala lagi. "Sembah Tuanku, hamba mohon diri," kata Sangaji Ana Ana. "Y a, pergilah!" Sangaji Ana Ana berpamitan kepada Raja Simpala dan semua pembantunya serta hadirin yang ada di tempat itu. Ia beijalan dengan gontai. Hatinya sangat sedih. Sesampainya di rumah, Sangaji Ana Ana tidak b~rkata-kata. Ia langsung pergi tidur berselubungkan kain sarungnya. lstrinya merasa heran melihat ting-

mci.lam. Bulan di kaki langit sebelah barat juga sudah mulai me- nyembul, cahayanya menyinari desa tempat Sangaji Ana Ana tinggal. Sangaji Ana Ana masih tidur. Namun, tidurnya kelihatan gelisah. Istri Sangaji Ana Ana masih belum tidur. Dia melihat suaminya tidur dengan gelisah. "Tidak biasanya. Kanda Sangaji Ana Ana tidur sore-sore berselubungkan kain sarung. Pasti ada kabar penting dari istana. Baiklah, akan kutanyakan kepada Kanda Sangaji," bisik hatinya. Istri Sangaji Ana Ana mendekati tempat tidur suaminya. Ia pun duduk di pinggir balai-balai tempat tidur suaminya. Dilihatnya suaminya masih tertidur. Matanya masih terpejam. Namun, sebentar badannya miring ke kiri, sebentar lagi dibalikkannya ke kanan. Tampaknya 8angaji Ana Ana sedang gelisah. Istri Sangaji Ana Ana memandang suaminya dengan penuh rasa sayang. Dia yakin suaminya sedang ada masalah. "Kalau ada masalah, aku harus menolong suamiku. Bagaimanapun dia adalah suamiku yang sejati," bisik hati istri Sangaji Ana Ana. Dipandangnya terus wajah suaminya. Ia merasa sangat menyayangi suami-

buruk?" kata Sangaji Ana Ana perlahan-lahan hampir tidak terdengar. Wajahnya terlihat murung. "Kanda, apa yang telah terjadi? Katakanlah kepada Dinda. Ada kabar apa dari istana?" tanya istri Sangaji Ana Ana penasaran. Ia tahu pasti sesuatu telah terjadi kepada suaminya karena sepulangnya dari istana, Sangaji Ana Ana menjadi murung. "W ahai istrik:u, tidak lama lagi kita akan berpisah untuk selama-lamanya. Ajalk:u telah ditentukan oleh Raja Simpala yang berk:uasa," kata Sangaji Ana Ana dengan sendu. lstrinya sangat kaget mendengar perkataan suaminya. "Betul katak:u, suamik:u sedang dalam kesulitan." Ia pun lalu bertanya kepada suaminya. Ia ingin tahu apa yang telah terjadi. "Kanda, apakah yang menyebabkan demikian?" tanya istrinya penuh rasa ingin tahu. Sangaji Ana Ana pun menceritakan semua perintah Raja Simpala kepada dirinya. Istrinya menggeleng-gelengkan kepala mendengar perintah seaneh itu. Ia berusaha membesarkan hati

suaminya. Ia berkata dengan kata-kata yang halus. ~'Kanda, janganlah berputus asa. Putus asa itu tidak baik. Lahir dan mati adalah takdir Tuhan. Kita tidak tahu kapan seseorang akan lahir. Kitajuga tidak tahu kapan seseorang itu akan mati. Ajal Kanda tidak ditentukan oleh Raja Simpala, tetapi ditentukan oleh Tuhan." Mendengar perkataan istrinya, Sangaji Ana Ana berdiri. Ia berjalan ke beranda samping untuk me- nenangkan pikirannya. Istri Sangaji Ana Ana pun ikut berdiri. Ia mengikuti -langkah suaminya. Sampai di beranda samping mereka duduk kembali. "Kanda, setiap saat kita akan selalu berdoa. Kita mohon kepada Yang Mahakuasa agar terlepas dari cobaan ini. Dinda yakin Tuhan akan mengabulkan dpa kita. Kita harus bersabar," kata istri Sangaji Ana Ana. Halus tutur katanya. Lembut suaranya. Sopan cara bicaranya. Melihat suaminya diam saja, dia me- lanjutkan perkataannya. "Kanda, janganlah engkau berkecil hati. Dinda pasti akan membantumu. Semua pekerjaan akan menjadi ringanjika dikerjakan bersama-sama. Perca- yalah kepada Dinda, Kanda." "Apa yang akan Dinda lakukan? Di mana kita akan mendapatkan burung itu?" tanya Sangaji Ana Ana bertubi-tubi.

"Dinda, mengapa Dinda tersenyum padahal hati- ku ini sangatlah cemas," kata Sangaji Ana Ana dengan suara pelan. "Kandajangan cemas. Dengarkanlah Kanda dan camkan baik-baik. Berakit-rakit ke hulu, berenang- renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang- senang kemudian. Ujian inilah yang sedang kita hadapi, Kanda. Tabahlah Kanda! Di balik cobaan ini tersembul kebahagiaan kalau kita mampu dan ber- hasil menempuh cobaan ini. Janganlah kita sampai terhanyut oleh kesedihan," kata istri Sangaji Ana Ana. Begitu mendengar perkataan istrinya, Sangaji Ana Ana merasa agak tenang. Wajahnya kini tidak murung lagi. Ada secercah harapan. Ia yakin akan kemampuan istrinya. Putus asa pun lenyap dari benak Sangaji Ana Ana. "Kanda, Dinda sudah menemukan cara untuk menyelamatkan Kanda," kata istri Sangaji Ana Ana dengan gembira.

"Baik Dinda, akan saya ikuti semua perintah Dinda," kata Sangaji Ana Ana dengan penuh optimis. Ia yakin istrinya yang cantik dan cerdas sudah me- nemukan cara untuk menyelamatkan nyawanya. "Sekarang kembalilah Kanda ke istana. Mintalah kurungan besi yang kuat setinggi badan manusia," kata istri Sangaji Ana Ana. "Apakah cuma itu?" Sangaji Ana Ana bertanya. Mendengar permintaan istrinya itu, Sangaji Ana Ana kembali menjadi cemas. Istrinya melihat kecemasan yang terpancar pada wajah suaminya. Dia lalu ber- kata,"Kanda, jangan cemas. Percayalah kepada Dinda. Dinda akan berusaha untuk menyelamatkan Kanda." "Bagaimana tidak cemas Dinda, nyawa Kanda menjadi taruhannya," kata Sangaji Ana Ana dengan sedihnya. "Percayalah kepada Dinda, Kanda! Jangan ce- masl" kata istri Sangaji Ana Ana. Sangaji Ana Ana ter- diam. Ia mencoba menenangkan diri. Namun, kecemasan masih terlihat di wajahnya. Istrinya terus mencoba menenangkannya dengan segala macam cara.

"Pergilah cepat ke istana Kanda, yakinlah kepada Dinda. Tuhan pasti akan menolong kita," kata istri Sangaji Ana Ana. Sangaji Ana Ana pun berangkatlah ke istana.

ist~a, Sangaji Ana Ana langsung menemui Raja Simpala yang saat itu sedang --- · dikelilingi oleh beberapa orang pembantunya. "Hei, kenapa engkau kembali lagi Sangaji Ana Ana?" tanya Raja Simpala. "Maaf, Tuanku. Izinkanlah hamba meminta kurungan besi setinggi man usia," sembah Sangaji Ana Ana. "Untuk apa kurungan itu Sangaji Ana Ana?" tanya Raja Simpala lagi. "Kurungan itu akan hamba gunakan untuk me- ngurung burung berjanggut," jawab Sangaji Ana Ana dengan penuh hormat. Raja heran mendengar perkataan Sangaji Ana Ana. Namun, ia mencoba menyembunyikan rasa he- rannya itu. "Aneh, di mana ada burung berjanggut. Perintah-

i~trinya. Mana ada burung setinggi manusia, ber- janggut lagi," bisik hati Raja Simpala. Ia merasa geli. Dalam hati ia menertawakan ketololan Sangaji Ana Ana. Raja Simpala pun lalu memanggil beberapa orang pembantunya. Ia memerintahkan para pembantunya untuk membuatkan sangkar burung seperti yang diminta oleh Sangaji Ana Ana. "Ayo, buatlah sangkar seperti yang diminta Sangaji Ana Ana," perintah Raja Simpala kepada para pembantunya. "Baik, Tuanku. Perintah Tuanku akan kami lak- sanakan,~ kata para pembantunya. Mereka segera pergi membuat kurungan besi setinggi manusia. Saat itu juga kurungan besi segera dibuat. Se- telah selesai, kurungan itu diantarkan ke rumah Sangaji Ana Ana. Sangaji Ana Ana pun kembali ke rumahnya. Ia langsung menemui istrinya. "Dinda, sekarang apa yang harus Kanda laku- kan?" "Tenanglah Kanda, turuti nasihatku," kata istrinya. "Ya, sekarang Kanda harus bagaimana?" desak Sangaji Ana Ana. "Naiklah ke loteng rumah. Tidurlah di sana de-

turun," kata istrinya lagi. "Baik, Dinda. Tapi, kapan Kanda harus turun ?" "Nanti, Dinda beri isyarat deheman tiga kali. Nah, kalau Kanda mendengar deheman Dinda, Kanda harus segera turun," kata istrinya. "Baik, Dinda, Sekarang Kanda akan ke loteng. Berhati-hatilah Dinda!" kata Sangaji Ana Ana. Istrinya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Kanda, percayalah kepada Dinda!" Sangaji Ana Ana tersenyum mendengar perkata- an istrinya. Ia pun segera naik ke loteng menuruti nasihat istrinya. Ia tidur seolah-olah menyembunyi- kan diri. Sementara itu, istri Sangaji Ana Ana membuat berbagai kue. Diseduhnya pula kopi yang dicampur dengan getah tuba. Disajikannya makanan itu di atas piring-piring yang beraneka bentuk sehingga kelihatan menarik. Tidak berapa lama kemudian, terdengar pintu diketuk orang pertanda ada tamu yang datang. Istri Sangaji Ana Ana membuka pintu. Seorang lelaki setengah baya, bertubuh gemuk, dan berjanggut putih tampak di hadapan istri Sangaji Ana Amna. Tamu itu

"Silakan masuk! Rupanya ada berita untuk kami?" tanya istri Sangaji Ana Ana. "Ya, aku utusan Raja Simpala. Namaku Ruma Tureli," kata orang itu sambil mengelus-elus janggut- nya yang panJang. "Ada berita apa untuk kami," tanya istri Sangaji Ana Ana. "Kedatanganku untuk menyampaikan perintah Raja Simpala. Sangaji Ana Ana harus secepatnya me- nyerahkan burung berjanggut kepada Raja Simpala. Kalau tidak, ia akan ... ," Ruma Tureli menghentikan pembicaraannya. Ia menatap istri Sangaji Ana Ana. "Akan apa, Tuan?" tanya istri Sangaji Ana Ana seolah-olah belum tahu. "Akan ... akan," Ruma Tureli terdiam. Ia menatap istri Sangaji Ana Ana. "Akan apa, Tuan. To long cepat katakan kepada hamba," kata istri Sangaji Ana Ana. "Akan dibunuh!" sam bung Ruma Tureli. "Akan dibunuh?' tanya istri Sangaji Ana Ana pura-pura terkejut. ''Y a, dia akan dibunuh," kata Ruma Tureli. Sejenak suasana menjadi hening. Ruma Tureli tak henti-hentinya mencuri pandang kepada istri Sangaji Ana Ana. Ia terpesona pada kecantikan istri

"Tuan, perintah Raja tak dapat kami tolak. Na- mun, janganlah terburu-buru. Cicipilah kue-kue ini. Hanya ini yang dapat kami haturkan," kata istri Sangaji Ana Ana. Ruma Tureli pun mencicipi kue-kue itu. "Oh, alangkah nikmatnya. Siapakah yang membuat kue-kue ini?" tanya Ruma Tureli kepada istri Sangaji Ana Ana. "Siapa lagi kalau bukan hamba," jawab istri Sangaji Ana Ana. "Sungguh pandai engkau membuat kue yang enak. Mau rasanya aku menghabiskan semua makan- an ini," kata Ruma Tureli sambil melirik penuh arti kepada istri Sangaji Ana Ana. Istri Sangaji Ana Ana membalas senyuman dan lirikan itu. Ia berpura-pura baik kepada Ruma Tureli. Melihat istri Sangaji Ana ~a membalas senyuman dan lirikannya, Ruma Tureli semakin senang. Ia semakin berani. "W ahai Adinda, alangkah cantik paras wajahmu. Seandainya saja engkau mau menjadi istriku, alang-

baik," jawab istri Sangaji Ana Ana ramah sekali. Ruma Tureli sangat gembira mendengar jawaban istri Sangaji Ana Ana. Tampaknya tiada orang yang lebih berbahagia selain dia. "W ahai Adinda, sekarang apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya Ruma Tureli. "Habiskanlah kue ini. Jangan lupa meminum kopinya," jawab istri Sangaji Ana Ana. Dengan senang hati Ruma Tureli menghabiskan makanan yang telah tersedia. Kopi pun diteguknya sampai habis. Namun, tidak berapa lama kemudian Ruma Tureli mulai merasa pusing. Kepalanya terasa pening. Keringat dingin keluar dan membasahi seluruh tubuhnya. Pada saat yang bersamaan terdengar suara orang di luar. Orang itu mengetuk pintu sambil mengucap- kan salam. Setengah sadar, Rum a Tureli mengenali suara itu. Suara itu tak lain adalah suara Ruma Bicara. Ruma Tureli pun bangkit ketakutan. Ia berlari k,e belakang ~ambil menarik tangan istri Sangaji Ana Ana.
"Sem ... sem ... sembunyikan aku, telah datang

utusan Raja Simpala lagi," kata Ruma Tureli dengan suara terpotong-potong. Istri Sangaji Ana Ana menuntun Ruma Tureli ke kurungan besi. Ia menyuruh Ruma Tureli masuk ke dalam kurungan itu. "Bersembunyilah di dalam kurungan ini. Tak seorang pun yang akan tahu di mana Tuan berada," suruh istri Sangaji Ana Ana. Ruma Tureli lalu masuk ke dalam kurungan. Istri Sangaji Ana Ana menguncinya dari luar. Kemudian, •kurungan itu ditutupnya dengan tikar dan kain hi tam sehingga tak seorang pun yang bisa melihat tubuh Ruma Tureli. Oleh karena itu, Ruma Tureli merasa terlindung. Istri Sangaji Ana Ana kern bali ke ruangan depan. Ia membuka pintu. Dipersilakan tamu itu masuk. "Tuan, siapakah Tuan?" tanya istri Sangaji Ana Ana kepada tamunya. "Aku utusan Raja Simpala. Adakah Ruma Tureli datang kemari?" tanya Ruma Bicara sambil me- mandang istri Sangaji Ana Ana dengan penuh arti. Istri Sangaji Ana Ana menyambut pandangan itu dengan tersenyum pula. ~Oh, tidak. Tidak ada seorang pun yang datang kemari. Hanya Tuan seorang yang datang ke rumah ini," jawab istri Sangaji Ana Ana.

"Oh, jadi belum ada seorang pun yang datang kemari?" tanya Ruma Bicara penasaran. "Betul Tuan, belum ada utusan Raja Simpala yang datang ke rumah ini," kata istri Sangaji Ana Ana mencoba meyakinkan tamunya. Ruma Bicara pun duduk di tempat yang telah disediakan. Matanya terus memandang ke arah :wajah istri Sangaji Ana Ana. Ia terpesona melihat kecantikan istri Sangaji Ana Ana. lstri Sangaji Ana Ana semakin mengerti tingkah laku Ruma Bicara. Ia mengerti Ruma Bicara mengagumi kecantikannya. Dia. pun pura-pura menyenangi Ruma Bicara. "Dapatkah aku menyampaikan maksud keda- tanganku?" tanya Ruma Bicara. "Memang sudah sepantasnya demikian. Namun, sebelum Tuan menyampaikan maksud itu, cicipilah hi.dangan ini sekadar pelepas lapar," kata istri Sangaji Ana Ana dengan tersenyum manis. Melihat senyum itu, hati Ruma Bicara tergetar. Jantungnya berdebar-debar. Ruma Bicara pun lalu mengambil kue yang telah disediakan oleh istri Sangaji Ana Ana. Dimakannya kue itu dengan lahap- nya. "Wah, enak sekali kue ini. Siapakah yang mem- buatnya?" tanya Ruma Bicara sambil mengerling nakal kepada istri s·angaji Ana Ana.

"Siapa lagi kalau bukan hamba," jawab istri Sangaji Ana Ana. Senyum manis tidak pernah lepas dari bibirnya yang merah. Ruma Bicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bertambah kagum kepada istri Sangaji Ana Ana. "Ah, sudah cantik pintar memasak lagi," kata Ruma Bicara sambil rna tanya terus memandang wajah istri Sangaji Ana Ana. "Nah, Tuan rupanya lupa menyampaikan maksud kedatangan Tuan kemari," kata istri Sangaji Ana Ana. Lama-lama ia merasa tidak enak dipandangi terus oleh Ruma Bicara. Namun, ia harus pura-pura baik agar suaminya selamat. "Oh, ya, aku sampai lupa," kata Ruma Bicara. "Maksudku kemari untuk mencari Ruma Tureli. Namun, karena ~a tidak ada di sini, saya ingin berbincang-bincang dengan Adinda. Apakah Adinda keberatan jika kuajak berbincang-bincang?" tanya Ruma Bicara sambil mengerling nakal. Sebenarnya istri Sangaji Ana Ana merasa sebal melihat tingkah laku Ruma Bicara, tetapi ia pura-pura menyenangi Ruma Bicara. "Tentu tidak keberatan Tuan," jawab istri Sangaji Ana Ana. "Sekiranya saja engkau mau menjadi istriku, alangkah bahagia rasa hatiku. Engkau cantik dan

"Jangankan Tuanku yang kaya, Sangaji Ana Ana yang miskin pun saya terima. Tentu, tentu saja Tuan hamba bersedia menjadi istri Tuan," jawab istri Sangaji Ana Ana sambil wajahnya ditundukkan. Ia pura-pura merasa malu.
"Ha ... ha ... ha ... berbahagialah akujadinya. Pucuk
dicinta ulam tiba," kata Ruma Bicara kesenangan. Istri Sangaji Ana Ana pura-pura menyambutnya dengan gem bira pula. "Tuan, rasanya kebahagiaan ini tidak sempurna jika Tuan hanya mencicipi kue-kue ini," kata istri Sangaji Ana Ana dengan lembut. "Lalu, aku harus apa Adinda cantik. Apa pun yang Adinda perintahkan, akan aku lakukan," kata Ruma Bicara. "Tuan, minumlah kopi ini. Kopi ini terbuat dari kopi yang istimewa," kata istri Sangaji Ana-Ana. "Baiklah, akan kuminum habis kopi buatanmu itu, Adinda," kata Ruma Bicara. Ia pun meneguk kopi yang tersedia sampai habis. Tak lama kemudian ke- luar keringat dingin dari tubuhnya. Ia merasa pening. Pandangannya kabur. I a mabuk seketika. "Dinda, kepalaku terasa pusing," kata Ruma Bicara. Ruma Bicara bangkit. Ia berjalan sempoyong-

an ke serambi belakang. Di situ ia merebahkan diri. Istri Sangaji Ana Ana menyusulnya. Dengan cepat ia mencukur alis kanan Ruma Bicara sehingga menjadi gundul tak berbulu lagi. Lalu, istri Sangaji Ana Ana pun keluar dari ruangan itu. Ia membiarkan saja Ruma Bicara yang sedang mabuk.

"Aku yakin, sebentar lagi pasti ada utusan Raja lagi yang datang kemari," kata istri Sangaji Ana Ana. aelum selesai perkataannya, terdengar pintu diketuk orang. Pelan-pelan ia membuka pintu. Alangkah terkejutnya ketika dilihatnya yang mengetuk pintu adalah Raja Simpala sendiri. "Oh, ternyata yang datang bukan utusan Raja, tetapi malah Raja Simpala sendiri. Baiklah akan kukerjai dia, aku tahu dia ingin mencelakai suamiku. Perintahnya untuk mencari burung berjanggut hanya akal-akalan dia belaka. Sebenarnya dia ingin men- jauhkan aku dari suamiku. Aku harus dapat menye- lamatkan suamiku. Baiklah, akan kukerjai dia," bisik

"Arp.pun, Tuanku. Maafkan hamba karena ter- lambat membuka pintu. Silakan masuk, Tuanku," sam but istri Sangaji Ana Ana dengan senyum manis- nya. Ia berpura-pura tersenyum manis kepada Raja Simpala padahal hatinya kesal karena tahu niat buruk Raja Simpala kepada suaminya. "Tidak apa-apa, yang penting engkau menerima kedatanganku. Apakah kaukeberatan atas kedatanganku ini?" tanya Raja Simpala. "Tentu saja tidak, Tuanku. Sebaliknya, hamba merasa terhormat karena Tuanku telah sudi mampir ke gubuk hamba, hanya hamba keberatan ... " tiba-tiba istri Sangaji Ana Ana menghentikan perkataannya. "Keberatan apa?" tanya Raja Simpala memotong pembicaraan. "Hamba keberatan karena gubuk hamba ini. Rasanya tidak pantas Tuanku menginjakkan kaki di gubuk ini," kata istri Sangaji Ana Ana. "Oh, begitu ... ," kat~ Raja Simpala sambil tersenyum. Matanya tak berkedip memandang wajah istri Sangaji Ana Ana. Ia sangat terpesona melihat kecantikan istri Sangaji Ana Ana. Istri Sangaji Ana Ana membalas pandangan itu dengan senyum manis. Ia berpura-pura senang dengan kedatangan Raja Simpala. Padahal, hatinya merasa sedih dan marah. Ia

"Tuanku, silakan duduk!" kata istri Sangaji Ana Ana sambil tersenyum manis. Raja Simpala pun lalu duduk di tempat yang telah disediakan. Istri Sangaji Ana Ana segera menyu- guhkan kue-kue serta kopi yang telah dibuatnya. "Tuanku, silakan Tuanku mencicipi kue-kue yang telah hamba buat ini," kata istri Sangaji Ana Ana. "Adakah Ruma ~reli dan Ruma Bicara datang kemari?" tanya Raja Simpala sambil memakan se- poton"g kue. "Tidak ada, Tuanku." "Kurang ajar, mereka tidak patuh kepada perin- tahku. Akan kuhukum keduanya," kata Raja Simpala lagi. Wajahnya tampak memerah menahan marah. "Ampun Tuanku, janganlah Tuanku marah-marah selagi mencicipi kue-kue buatan hamba. Nanti tidak akan terasa enaknya," kata istri Sangaji Ana Ana. "Oh ya, aku tak boleh marah-marah di depanmu." Raja Simpala tersenyum mengubah wajahnya. Dikunyahnya kue-kue itu. Matanya terus memandang wajah istri Sangaji Ana Ana. Istri Sangaji Ana Ana

AkU sudah tahu akal busukmu. Walaupun engkau seorang Raja yang kaya, aku tidak tertarik kepadamu. Aku hanya mencintai suamiku. Karena itu, aku akan me- nyelamatkan suamiku. Baiklah akan kupermalukan dia. Aku bukanlah wanita yang gila harta. Semiskin dan sejelek apa pun Kanda Sangaji Ana Ana, aku akan tetap setia. Dialah suamiku yang sejati," bisik hati istri Sangaji Ana Ana. "Aku telah menyuruh Ruma Tureli dan Ruma Bicara datang ke rumahmu untuk menjemputmu. Aku ingin agar kau mau tinggal bersamaku di istana," begitu Raja Simpala mulai berbicara lagi. Suara Raja Simpala terdengar oleh Ruma Bicara yang mulai siuman dari mabuknya. Ia sangat takut. Ia sadar bahwa dirinya akan dihukum jika masih berada di situ. Karena itu, ia meloncat melalui jendela. Ia berlari meninggalkan rumah Sangaji Ana Ana. Ruma Tureli yang berada dalam kurungan pun ikut mendengar suara Raja Simpala. Ia juga sangat ketakutan. Ia semakin menyembunyikan diri dalam sangkar besi.. "Aku sangatlah sayang kepadamu Dinda karena kau telah ditinggalkan suamimu seorang diri. Dia kuperintahkan untuk mencari burung berjanggut.

sekarang?" tanya Raja Simpala. "Benar Tuanku, dia tidak ada di rumah ini. Telah tiga hari dia pergi mencari burung berjanggut sesuai dengan perintah Tuanku," jawab istri Sangaji Ana Ana. "Oleh karena itu, kuharap hari ini juga engkau pindah ke istanaku. Di sana telah tersedia seperang- kat pakaian kebesaran untukmu berupa gelang emas dan perak, kalung emas dan perak, cincin emas dan perak. Aku pun sudah menyuruh para dayang untuk menyediakan baju kebaya, baju kurung, kain Samarinda, kain selungkang, dan juga kain bugis. Di istana segalanya telah tersedia. Makanan tidak pemah kurang sedikit pun. Tentu engkau mau bukan tinggal di istana?" tanya Raja Simpala. "Tuanku, hamba tidak patut menolak kehendak Tuankul Jangankan Tuanku yang mengajak, sedang- k~ Sangaji Ana Ana yang menjadi budak Tuan pun, hamba mau menjadi istrinya," jawab istri Sangaji Ana Ana.
"Ha ... ha ... ha,,alangkah bahagia rasa hatiku,"
jawab Raja Simpala dengan gembiranya. "Tuanku, sebelum hamba menerima ajakan Tuan, izinkanlah hamba untuk menyampaikan satu per- mintaan," pinta istri Sangaji Ana Ana.

tentu saja kau boleh mengajukan satu, ...
dua, ... tiga ... a tau beberapa permintaan. Apa perminta-
anmu, ayo katakanlah! Pasti akan kupenuhi permin- taanmu," kaat Raja Simpala lagi sambil tersenylim. "Izinkanlah hamba menyentuh dahi Tuanku," kata istri Sangaji Ana Ana. Raja kaget mendengar permintaan istri Sangaji Ana Ana. Namun, karena ingin segera memiliki istri Sangaji Ana Ana, ia pun menga- bulkan permintaan istri Sangaji Ana Ana. "Oh, janganlah dahiku, seluruh mukaku tentu saja boleh kausentuh," jawab Raja Simpala. "Ayo, sentuhlah dahiku ini!" "Maaf, Tuanku bukan di sini tempatnya!" kata istri Sangaji Ana Ana. "Di mana? Di istanaku?" "Bukan di istana, tetapi di kamar tidur kami," jawab istri Sangaji Ana Ana. "Baiklah, tetapi jangan lama-lama," desak Raja Simpala. Keduanya menuju ke kamar. Di situ Raja Simpala duduk di tern pat yang telah disediakan. "Maafkan hamba, Tuanku," kataistri SangajiAna Ana sambil meraba kening Raja Sampala. Istri Sangaji Ana Ana mengeluarkan pisau cukur dari lipatan kainnya. Dicukurnya alis mata kiri Raja Simpala. Raja s ·impala menutup kedua kelopak matanya. Bulu alis

tabu bahwa itu adalah isyarat dari istrinya. Tak lama kemudian turunlah Sangaji Ana Ana dari loteng rumahnya. Ia sengaja batuk agak keras agar suaranya terdengar oleh Raja Simpala.
"Uhuk, ... huk, ... huk, ... !" terdengar suara batuk
Sangaji Ana Ana. Suara batuk Sangaji Ana Ana terdengar oleh Raja Simpala. "Suara batuk siapakah itu?" tanya Raja Simpala. "Oh, itu suara batuk hamba Tuan, Sangaji Ana Ana," jawab istri Sangaji Ana Ana. Alangkah terkejutnya Raja Simpala mendengar jawaban itu. Ia bangkit lalu lari ke luar rumah. Ia berlari terns menuju ke istananya.

S~mpala keluar dari rumahnya, SangaJl Ana Aha tersenyum senang. ",_ - "Kanda, jangan senang dulu. Dinda yakin akan ada lagi utusan Raja Simpala yang datang kemari," kata istri Sangaji Ana Ana. "Ya, bersiap-siaplah Dinda dengan rencana se- lanjutnya. Hati-hatilah Dinda!" kata Sangaji Ana Ana. "Tenanglah Kanda. Dinda yakin Yang Mahakuasa selalu bersama orang-orang yang benar," kata istri Sangaji Ana Ana. Benar saja perkataan istri Sangaji Ana Ana. Ketika tengah hari datanglah beberapa orang utusan Raja Simpala ke rumah Sangaji Ana Ana. "Berita apakah yang Tuan-tuan bawa?" tanya Sangaji Ana Ana. Sangaji Ana Ana pun tetap tenang. Ia yakin rencana istrinya yang cerdik dan pintar itu akan berhasil.

istrimu," jawab salah seorang utusan itu. "Baiklah kalau begitu, kami bersiap-siap dulu," jawab Sangaji Ana Ana. "Jangan lama-lama. Orang-orang telah menunggu kehadiran kalian berdua. Raja Simpala akan meng- hukum kami bila kami terlambat datang," kata utusan itu lagi. Sangaji Ana Ana dan istrinya segera bersiap-siap. Tiba-tiba wajah Sangaji Ana Ana menjadi murung. Istrinya melihat perubahan pada wajah suaminya. Ia tahu suaminya sangat cemas. "Kanda Sangaji, janganlah Kanda khawatir. Y akin- lah kepada Dinda," kata istri Sangaji Ana Ana membe- sarkan hati suaminya. "Ya, Dinda. Kanda yakin kepada Dinda. Hanya ... ," Sangaji Ana Ana menghentikan perkataannya. "Hanya apa, Kanda?" Sangaji Ana Ana terdiam mendengar pertanyaan istri yang sangat dicintainya itu. Ia merasa sangat takut. "Kanda, hanya apa Kanda," tanya istrinya. Sangaji Ana Ana menatap wajah istrinya dengan penuh rasa sayang. "Hanya Kanda merasa sangat takut." "Takut apa, Kanda?"

"Kanda, janganlah takut. Y akinlah kepada Tuhan. Tuhan pasti akan m _enolong hambanya yang tidak bersalah. Sekarang, i:nari kita berangkat," ajak istri Sangaji Ana Ana. Tak lama kemudian keduanya segera berangkat menuju istana. Mereka berjalan beriringan bersama dengan para utusan Raja. Sepanjangjalan orang-orang berjubel menyaksikan wajah istri Sangaji Ana Ana. Mereka juga ingin melihat burung berjanggut yang diperoleh Sangaji Ana Ana. "Mana, mana burung berjanggut itu?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba menyeruak di antara kerumunan. "Y a, mana ya? Aku tidak melihatnya," bisik gadis di sebelahnya. "Aku, .. aku ... juga tidak melihatnya," kata seorang ibu sambil menggendong bayinya.

"Mana ada sih burung berjanggut. Sampai setua ini pun aku belum pemah melihatnya," celetuk seorang kakek. "Ya, memang aku pun bel urn pernah melihatnya," kata lelaki tua yang lain sambil mengelus-elus jang- gutnya yang sudah putih. "Masa ada burung seperti aku, berjanggut. Tapi, ... mungkin juga ada ya? Aku belum pemah melihatnya. Aku jadi penasaran," kata lelaki tua itu lagi. "Mungkin ini hanya akal-akalan Raja Simpala," bisik seorang gadis berbaju biru kepada temannya. "Huuus, kamujangan berkata begitu. Nanti kalau ketahuan Raja, bisa celaka kamu!" kata sahabatnya itu.
"Tapi .... "
"Tapi, apa?" "Aku yakin ini hanya akal-akaln Raja saja." "Akal-akalan Raja untuk apa," kata temannya penasaran. "Akal-akalan Raja Simpala untuk mendapatkan istri Sangaji Ana Ana," bisik temannya lagi. "Kamu lihat waktu Raja memandang istri Sangaji Ana Ana. Kulihat Raja terus-menerus memandang istri Sangaji Ana Ana. Aku sendiri pun sam.pai malu melihatnya," bisik gadis yang berbaju biru itu. "Memang kamu melihat?"

"Ya, aku melihat dengan jelas. Mata Raja tidak berkedip ketika memandang istri Sangaji Ana Ana. Kelihatannya Raja tertarik kepada istri Sangaji Ana Ana. Nah, untuk mendapatkan istri Sangaji Ana Ana, Raja terlebih dahulu harus menyikirkan Sangaji Ana Ana. Lalu, Sangaji Ana Ana pun diperintahkan untuk mencari burung berjanggut. Suatu pekerjaan yang sangat sulit," kata gadis itu lagi. "Pintar juga kamu. Masuk akal juga pendapatmu itu," kata temannya yang berbaju merah berbunga- bunga. "Kalau memang itu siasat Raja Simpala untuk mendapatkan istri Sangaji Ana Ana, sungguh kasihan ya Sangaji Ana Ana," bisik temannya lagi. "Ya, aku kasihan kepada Sangaji Ana Ana. Dia seorang yang baik. Mudah-mudahan saja Tuhan rr;tenyelamatkannya," bisik temannya lagi. "Mana, sudah dapat burung berjanggutnya, Nak!" tanya seorang nenek kepada ketiga gadis itu. "Kelihatannya sih belum, Nek!" "Ah, sungguh kasihan Sangaji Ana Ana. Mana ada burung berjanggut. Sampai Nenek setua ini, Nenek belum melihatnya," kata nenek tua itu. Makin lama kerumunan orang-orang pu bertam- bah banyak. Mereka penasaran ingin melihat burung berjanggut. Mereka pun mencari-cari burung berjang-

Yang mereka lihat hanya iringan Sangaji Ana Ana, istrinya, dan beberapa orang utusan raja. Ketika mereka tidak menemukan burung yang dimaksud, ramailah mereka membicarakan nasib Sangaji Ana Ana. "Sudah nasib Sangaji Ana Ana, ia pasti akan di- hukum Raja Simpala. Alangkah buruknya nasib dia," gumam seorang bapak. "Ya, aku juga kasihan melihat nasibnya. Kepala- nya pasti dipenggal oleh Raja," kata ternan sebelahnya. "Duh sayang istri secantik itu harus menjadi janda," kata seorang wanita setengah tua kepada anak gadisnya. "lya ya Bu, sayang sekali, tapi pasti banyak lelaki yang mau memperistrinya," kata anak gadisnya. Sangaji Ana Ana beserta istrinya dan para utusan raja berjalan terus di tengah kerumunan orang banyak. Sangaji Ana Ana terlihat tegang. Namun, istrinyayang berjalan di sebelahnya terlihat sangat tenang. Senyum manisnya tidak lepas dari bibirnya yang merah. Sesampainya di istana, mereka langsung meng- hadap Raja Simpala. Orang-orang telah banyak me- n,unggu. Pada waktu yang bersamaan datang pula Ruma Bicara ke tempat itu. Orang-orang memandang Ruma Bicara penuh tanda tanya. Mereka heran melihat

"Hei, bagus sekali dandananmu, Ruma Bicara," tiba-tiba terdengar teguran Raja Simpala. Ruma bicara kaget, ia melihat ke kiri dan kanan. Orang-orang memandangnya seakan-akan menerta- wainya. Ketika ia menatap Raja, ia pun kaget melihat dandanan Raja yang aneh. "Maaf Tuanku, dandanan Tuanku pun terlihat aneh," kata Ruma Bicara sambil menundukkan ke- palanya. "Hei, Ruma Bicara. Mengapa kamu berkata be- gitu?" tanya Raja Simpala setengah membentak kepada Ruma Bicara. "Ma ... maaf, Tuanku. Bercerminlah Tuanku, wajah Tuanku tampak aneh," kata Ruma Bicara lagi. "Hei Ruma Bicara, berani benar kau menghinaku. Lihat dirimu, alis mata kananmu telah gundul. Kau tampak lucu sekali," kata Raja Simpala lagi. "Serupa pula dengan Tuanku. Bukankah bulu alis mata Tuanku telah gundul pula," kata Ruma Bicara.
"Ha ... ha ... ha ... " terdengar suara tawa orang-orang
ketika menyaksikan alis mata kedua pembesar itu. Mereka merasa heran melihat dandanan kedua pembesar itu. Raja Simpala dan Ruma Bicara tak dapat berkata-

itu?" tanya Raja Simpala. Suaranya terdengar sangat keras seolah-olah ia ingin semua rakyatnya mendengar perkataannya. Terlihat sekali kalau Raja sedang marah. Sangaji Ana Ana tidak dapat menjawab. Ia merasa sangat takut. Badannya gemetar. Giginya gemeletuk. Dipandangnya wajah istrinya. Wajah istri Sangaji Ana Ana tampak tenang. Tidak terlihat sedikit pun ke- cemasan pada dirinya.

"Tenanglah Kanda, tidak usah takut. Dinda akan selalu mendampingi Kanda," kata istri Sangaji Ana Ana dengan suara berbisik. Ia berusaha menghibur suami- nya yang tampak sangat ketakutan. "Ayo katakan cepat, apakah sudah kautemukan burung itu?" tanya Raja lagi sambil membentak. Sangaji Ana Ana tidak menjawab. Badannya ber- tambah gemetar karena takut. Dia pun diam me- nunduk. "Ayo, Sangaji Ana Ana. Apakah sudah kaudapatkan burung itu?" bentak Raja lagi. Rakyat yang melihat merasa kasihan kepada Sangaji Ana Ana. ''Ya Tuhan, selamatkanlah Sangaji Ana Ana. Dia seorang yang baik," doa seorang ibu. Putrinya yang berdiri di sampingnya pun terlihat komat-kamit berdoa untuk keselamatan Sangaji Ana Ana. "Sangaji Ana Ana, jawablah pertanyaanku. Apakah S}ldah kaudapatkan burung itu? Kalau burung itu belum kaudapatkan, akan kubunuh kau sekarang juga," kata Raja dengan bengisnya. Rakyat yang mendengar perkataan Raja sangat kaget. Rajanya kini telah berubah. Raja Simpala yang dulu terkenal sangat baik kini telah berubah menjadi raja yang bengis. Mendengar bentakan Raja, Sangaji Ana Ana her- tam bah ketakutan. Keringat dingin keluar dari seluruh

lalu." Orang-orang yang berada di ruangan itu menjadi terheran-heran mendengar perkataan istri Sangaji Ana Ana. "Benarkah perkataan istri Sangaji Ana Ana itu?" begitu pertanyaan yang timbul di hati orang-orang. "Kalau kalian telah mendapatkannya, sekarang di manakah burung itu?" tanya Raja Simpala sambil membentak. "Tentu saja ada, Tuanku!" jawab istri Sangaji Ana Ana sambil tersenyum manis. "Kalau memang ada, kenapa burung itu tidak kaubawa kemari?" "Bagaimana kami akan membawa sendiri, burung itu sangat berat. Kami tak sanggup_menggotongnya," jawab istri Sangaji Ana Ana. "Kalau begitu,. di manakah burung itu kalian taruh?" "Di rumah kami, Tuanku!" "Panggilkan para pengawal," terdengar perintah Raja Simpala.

"Sembah Tuanku, kami datang menghadap," kata para pengawal. "Hei, para pengawal. Ambil burung berjanggut di rumah Sangaji Ana Ana. Bawa kemari burung itu," terdengar perintah Raja. "Sembah Tuanku. Perintah kami kerjakan," jawab para pengawal. Para pengawal berlalu dari ruangan itu diikuti pula oleh Sangaji Ana Ana beserta istrinya. Melihat Sangaji Ana Ana dan istrinya akan meninggalkan ruangan itu, Raja Simpala berusaha mencegah. "Hei, hendak ke mana pula kalian ?" tanya Raja Simpala. "Am pun, Tuanku. Para pengawal itu pasti tidak tahu di mana kami taruh burung itu. Makanya kami pun harus ikut ke rumah," jawab istri Sangaji Ana Ana. "Hanya Sangaji Ana Ana yang boleh pergi. Kamu harus menunggu di sini. Siapa tahu kalian hendak menghilang dari sini," kata Raja Simpala. "Sekali-kali kami tidak akan mengingkari janji. Kami junjung perintah Tuanku," jawab Sangaji Ana Ana.

Se- mua orang yang ada di ruangan itu menantikan apa yang akan terjadi. "Terimalah perintah itu, Kanda Sangaji," tiba- tiba terdengar suara istri Sangaji Ana Ana memecah keheningan. "Baiklah, Dinda. Kuikuti nasihatmu. Sekarang katakan kepadaku di mana Dinda tempatkan burung itu," kata Sangaji Ana Ana kepada istrinya. "Di mana lagi Kanda kalau bukan di seram bi belakang di dalam kurungan," jawab istrinya. Sangaji Ana Ana pun segera berangkat diiringi para pengawal Raja. Orang bartyak menunggu-nung- gU dengan hati yang berdebar-debar. Mereka pun pe- nasaran ingin melihat bagaimana rupa burung ber- janggut itu karena seumur hidupnya mereka belum pernah menemukan burung serupa itu. Sepeninggal Sangaji Ana Ana, Raja mulai terse- nyum-senyum. Hatinya merasa senang. Dengan na- kal dipandangnya wajah istri Sangaji Ana Ana. "Sebentar lagi engkau menjadi milikku. Suami- mu tidak akan mungkin mendapatkan burung itu,"

"Ha ... ha ... ha .. di manakah orang bisa menemu-
kan burung berjanggut? Alangkahjelek nasib Sangaji Ana Ana." Tiba-tiba terdengar suara Raja Simpala. s ·ambil berkata ia mempermainkan alisnya yang pu- tih itu ke arah istri Sangaji Ana Ana. Ia pun tersenyum menggoda. Rakyat merasa heran melihat perubahan pada diri rajanya. Beberapa orang terlihat berbisik-bisik kepada ternan sebelahnya. "Y akinlah Tuanku, akan datang burung yang Tuan inginkan," kata istri Sangaji Ana Ana. Raja hanya tersenyum-senyum mendengar per- kataan istri Sangaji Ana Ana. Raja Simpala sangat yakin Sangaji Ana Ana tidak akan mendapatkan burung itu karena semua itu hanya siasat Raja saja. "Aku·yakin Sangaji Ana Ana tidak akan mendapatkan burung itu. Burung itu hanya siasatku untuk mendapatkan istrinya. Sangaji Ana Ana memang bo- doh," bisik hati Raja. Ia tersenyum-senyum penuh kemenangan. Tidak berapa lama kemudian di luar ruangan terdengar suara riuh sorak sorai orang. Terlihat iring- iringan orang menuju ke istana. Tampak para penga- ~al raja sedang menggotong sebuah kurungan yang

"Ah, apakah benar kurungan itu berisi burung berjanggut. Tidak mungkin, aku tidak yakin burung itu ada. Tapi, apa isi kurungan ini," bisik hati Raja. Istri Sangaji Ana Ana mengeluarkan sebuah kunci dari dalam lipatan kain bajunya. Diserahkan- nya kunci itu kepada Raja yang masih berdiri dengan takjub. "Hendaklah Tuanku yang membukanya jika pembungkus kurungan ini sudah hamba buka," kata istri Sangaji Ana Ana. lstri Sangaji Ana Ana segera menarik kain dan tikar yang menyelubungi kurungan itu. Alangkah ter- kejutnya orang-orang ketika melihat isi kurungan itu. Di dalam kurungan itu berdiri seorang yang berbadan t

Raja menjadi sangat malu.

"Terimalab burung ini, Tuanku!" kata istri Sangaji Ana Ana kepada Raja Simpala. "Hore! Hore! Hore!" terdengar sorak-sorai orang banyak. Mereka merasa geli melibat Ruma Tureli keluar dari dalam kurungan.
"Burung ... burung ... burung berjanggut telab
keluar dari sangkarnya," terdengar pula suara orang banyak dengan ramainya.
"Hore ... bore ... bore!" terdengar pula mereka
berteriak-teriak memperolok-olokkan Ruma Tureli. Suasana menjadi sangat ramai. Semua orang yang badir di situ merasa geli kecuali Raja Simpala dan Ruma Bicara. Raja Simpala terbe- ngong-bengong. Melibat sorak-sorai rakyatnya, Raja Simpala merasa malu. Ia menyadari semua kesalahannya. Semuanya terjadi karena ia, Ruma Bicara, dan Ruma Tureli tidak dapat mengendali- kan nafsunya. Mereka ingin memiliki sesuatu yang bukan miliknya. Karena merasa sangat malu, a khirnya ketiga pembesar itu menghilang dari negerinya. Berkat kecerdikan dan kecer- dasan istrinya, nyawa Sangaji Ana Ana pun dapat diselamatkan.

Rakyat mengangkat Sangaji Ana Ana menjadi Raja dan istrinya yang cantik menjadi permaisurinya.

PERPUSTAKf.AN
PUS T BAH ....

398

#