Baca PDF (OCR): Kisah Nen Te Idar : cerita rakyat dari Maluku

21 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR · 4.6 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. KISAH NEN TE IDAR
  2. Cerita Rakyat dari Maluku
  3. KISAH NEN TE IDAR
  4. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
  5. Katalog dalam Terbitan
  6. Dhyllan Pattianakotta, Marco
  7. KATA PENGANTAR
  8. SEKAPUR SIRIH
  9. DAFTAR ISI
  10. 1. SOSOK NEN TE IDAR
  11. 2. Kebersamaan yang Tak Tertandingi
  12. 3. Nen Te Idar Akhirnya Marah
  13. 4. Penghinaan Berujung Duka
  14. SEKIAN
  15. BIODATA PENULIS
  16. Riwayat pendidikan dan tahun belajar:
  17. Karya:
  18. Informasi lain:
  19. BIODATA PENYUNTING
  20. Riwayat pekerjaan/profesi (10 tahun terakhir):
  21. Riwayat pendidikan dan tahun belajar:
  22. Karya:
  23. Penelitian:
  24. BIODATA ILUSTRATOR
  25. Riwayat pendidikan dan tahun belajar :
  26. Riwayat pekerjaan/profesi :
  27. Prestasi:

Kantor Bahasa Maluku

Ditulis Oleh Ditulis OlehMarco Dhyllan Pattianakotta

KISAH NEN TE IDAR

Dhyllan Pattianakotta, Marco Kisah Nen Te Idar/Marco D. Pattianakotta; Penyunting/Evi Oivia Kumbangsila; Ambon: Kantor Bahasa Maluku, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. v 42 hlm; 21 cm ISBN 978-602-50294-1-7 1. KESUSASTRAAN RAKYAT. 2. CERITA RAKYAT MALUKU i ii

Cerita Rakyat dari Maluku

Ditulis oleh Marco Dhyllan Pattianakotta

KISAH NEN TE IDAR

Penulis : Marco Dhyllan Pattianakotta

Penyunting : Evi Olivia Kumbangsila

Ilustrator : Aridal

Penata letak : Aridal

Diterbitkan pada tahun 2017 oleh Kantor Bahasa Maluku Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Mutiara, Nomor 3A Mardika, Ambon

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan artikel atau karangan ilmiah.

Katalog dalam Terbitan

Dhyllan Pattianakotta, Marco

vi 34 hlm; 21 cm

KATA PENGANTAR

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengoptimalkan Gerakan Literasi Nasional melalui penerbitan dan penyebarluasan cerita rakyat. Cerita rakyat ini memiliki nilai moral, toleransi, sejarah, kepahlawanan, sosial, budaya, dan nilai-nilai positif lainnya yang bersumber dari kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Cerita rakyat ini berjudul “Nen Te Idar.” Cerita rakyat ini populer pada masyarakat Maluku terutama yang bermukim di Kepulauan Kei. Isi cerita mengenai etika (sopan-santun), dan adat-istiadat. Nilai-nilai itu merupakan satu-kesatuan nilai yang penting dan utama bagi penumbuhan dan pengembangan budi pekerti, terutama bagi pembaca berusia muda.

Pada kesempatan ini, Kantor Bahasa Maluku mengucapkan terima kasih kepada penulis dan berbagai pihak yang telah berupaya menyusun ulang dan menerbitkan cerita rakyat ini. Semoga cerita rakyat ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca.

Ambon, 8 Juni 2017

Dr. Asrif, M. Hum. Kepala Kantor Bahasa Maluku

iii iv

SEKAPUR SIRIH

Cerita rakyat Nen Te Idar adalah sebuah cerita yang hidup dalam masyarakat Kepulauan Kei di Provinsi Maluku. Danau Ablel yang menjadi sumber air dan objek wisata adalah sebuah situs yang terhubung dengan legenda Nen Te Idar. Kisah ini sarat dengan pesan-pesan moral. Anak-anak Indonesia dapat mengembangkan karakter dan perilaku santun terhadap sesama maupun lingkungan dengan membaca cerita ini. Semoga cerita rakyat dari Nusantara bagian timur ini akan memperkaya khasanah cerita anak-anak Indonesia di tengah gempuran tokoh-tokoh fiksi dari dunia luar.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………. iii Sekapur Sirih…………………………………………. iv Daftar isi………………………………………………v 1. Sosok Nen Te Idar ……………………………… 1 2. Kebersamaan yang Tak Tertandingi ………… 4 3. Kesabaran Berujung Hukuman ………………12 4. Penghinaan Berujung Duka ………………….23 Biodata Penulis …………………………………….32 Biodata Penyunting …………………………………33 Biodata Ilustrator …………………………………..34

Alkisah, orang-orang di Kepulauan Kei hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka berpindah-pindah jika ada serangan binatang buas, penyakit berjangkit, atau kematian sanak keluarga. Mereka percaya, itu merupakan pertanda bahwa tempat itu tidak cocok lagi untuk didiami.

Demikian juga Orang Ngilngof. Mula-mula mereka mendiami Desa Ohoitom Rangmas. Kemudian meninggalkan desa itu menuju desa baru bernama Ohoirenan. Setelah beberapa lama di sana, mereka memutuskan untuk pindah lagi ke Desa Idar.

Desa Idar merupakan sebuah desa yang sangat luas. Bahkan, bila seluruh desa di Kepulauan Kei digabung menjadi satu, belum dapat menandingi luasnya Desa Idar. Desa Idar terletak di atas bukit yang sangat tinggi. Penduduknya pun mencapai ribuan jiwa.

1. SOSOK NEN TE IDAR

Di Desa Idar, hiduplah seorang wanita tua bernama Nen Te Idar. Ia termasuk salah satu wanita tertua di desa itu. Gurat-gurat ketuaan tergambar pada kulitnya yang mengeriput. Helai rambutnya yang mulai memutih bagai gumpalan kapas.

Walau tinggal seorang diri di rumah sederhana, Nen Te Idar mampu mengurus dirinya sendiri. Ia tergolong wanita mandiri dan tanguh. Selain rajin bekerja di kebun, ia pun terampil menangkap ikan dengan tombak bermata tiga yakni kalawai. Bila air surut dan terhampar Meti Kei, Nen Te Idar pergi mengumpulkan siput di sela-sela batu karang dan rumput laut.

Di Desa Idar, semua orang memiliki pertalian darah. Orang-orang yang lanjut usia diperlakukan seperti saudara kandung. Yang lainnya diperlakukan seperti anak dan cucu. Sebab itu, nenek ini menyayangi semua orang. Sebaliknya, mereka juga menyayangi dan menghormati Nen Te Idar.

Anak-anak Desa Idar gemar bermain di pekarangan rumah Nen Te Idar. Selain pekarangannya bersih, sang nenek juga senang membagikan aneka makanan yang dimasaknya sendiri. Anak-anak suka makan ilu-langar. Sejenis kue tradisional masyarakat di desa Idar. Mereka menyebutnya kue putar. Kue putar dibuat dari enbal. Sejenis makanan pokok masyarakat Kei yang terbuat darisingkong yang mengandung racun.

Sebagai balasan, anak-anak kerap membawa buah-buah pinang dan daun-daun sirih kepada Nen Te Idar. Nen Te Idar memang gemar makan sirih-pinang. Wajahnya selalu terlihat memancarkan rasa bahagia bila anak-anak datang padanya.

“Kalian juga harus belajar makan sirihpinang ya supaya gigi kalian kuat dan badan sehat! Jadi, tidak mudah kena penyakit,” pesannya kepada anak-anak sambil menepuk pundak mereka satu persatu.

Kecintaannya terhadap anak-anak menjadi salah satu alasan dia tetap ceria dan bahagia. Walaupun hanya sebatang kara di desa itu.

2. Kebersamaan yang Tak Tertandingi

Selain membawa sirih dan pinang, mereka juga sering berkumpul di rumah Nen Ten Idar. Mereka suka sekali mendengar berbagai dongeng yang diceritakan wanita uzur yang baik hati itu. Keriput dan mahkota putih kehormatan bagi ketuaannya, tak menghalangi kelincahannya untuk menghipnotis anak-anak dengan cerita-cerita dongengnya. Hingga membuat mereka tak beranjak sedikit pun dari tempat mereka duduk saat Nen Te Idar bercerita. Bahkan mereka tak pernah bosan mendengar Nen Te Idar bercerita walau ceritanya sudah sering berulang.

Sore itu, mereka berkumpul di rumah Nen Te Idar, mendengar cerita dongeng seperti biasanya.

Dongeng yang paling mereka gemari adalah dongeng tentang teripang dan burung Bangau. Saat itu, mereka berulang kali membujuk Nen Te Idar untuk mencerita dongeng itu.

“Tetapi kalian sudah sangat sering mendengarnya” sela Nen Te Idar.

“Tetapi dongeng itu bagus Nek.Tak mengapa jika diulang,” jawab seorang bocah dengan wajah memelas.

Nen Te Idar pun tak mampu memungkirinya. Dia pun mulai menuturkannya.

“Di Pulau Ohoieuw dekat Pantai Ngurbloat, ada seekor teripang tinggal bersama anak-anaknya. Mereka hidup aman dan damai di dasar laut dangkal, bening, berpasir putih.” Anak-anak pun terdiam.

“Pada saat musim Meti Kei, induk teripang dan anak-anaknya bersembunyi di bawah pasir. Mereka tidak mengetahui adanya ancaman bahaya.” Lanjut Nen Te Idar.

“Kenapa Nek? Ancaman apa Nek?” sela seorang bocah bertubuh kurus.

“Biarkan nenek meneruskannya.” Tandas seorang bocah lain yang terlihat lebih tua.

Nen Te Idar pun melanjutkan ceritanya.

“Setiap hari, sang Bangau besar datang mengintip. Setelah memastikan tempat berteduh teripang, akhirnya sang Bangau pun mulai mematuk anak-anak Teripang, satu demi satu. Dari ratusan anak Teripang tersisa beberapa saja yang masih bertahan hidup. Itupun dalam keadaan terus-menerus terancam karena Bangau tidak pernah pergi jauh dari situ.” Suara Nen Te Idar pun perlahan-lahan mulai

melemah. Mata anak-anak tak bergerak sedikit pun. Mereka terpaku diam. Mulut mereka menganga tanpa mereka sadari.

“Padahal, induk teripang setiap hari memberi peringatan keras kepada burung bangau supaya tidak menghabisi seluruh keturunannya.” Lanjut Nen

Te Idar.

“Kalau kau terus memangsa anak-anakku, lama kelamaan anakanakku akan habis. Aku sudah tua dan sebentar lagi akan mati. Anakanakku harus melanjutkan keturunan teripang di pantai ini. Tubuhku lembut dan tidak punya tulang namun aku bisa marah, begitu kata induk Teripang”. Cerita Nen Te Idar sambil mencoba menirukan suara induk Teripang.

“Meskipun sudah diberi peringatan, Bangau tetap saja keras kepala,” tegas Nen Te Idar

“lalu kata si Bangau, aku bosan makan siput dan kepiting. Cangkangnya terlalu keras. Sebab itulah, aku suka menyantap anakanakmu yang lembut dan tak bertulang. Dagingnya lezat pula,” ujar Nen Te Idar.

Setiap kali cerita Nen Te Idar sampai di bagian ini, anak-anak yang mendengarnya mulai tegang. Mereka saling merapatkan badan di sekitar tempat duduk nenek. Tanda mereka mulai ketakuatan. Seakan mereka adalah anak-anak Teripang dalam cerita itu. Nen Te Idar pun sering tersenyum geli saat melihat reaksi bocah-bocah yang sering dipanggilnya cucu.

“Maka ketika anak teripang terakhir hendak dipatuk juga oleh bangau, ibunda teripang tidak tinggal diam. Dibungkukkan badannya, lalu mengeluarkan helai-helai benang putih dari bagian ekornya. Helai-helai benang itumenyembur keluar dengan cepat. Benang itudililitkan pada kedua tungkai kaki burung bangau. Sang bangau berusaha melepaskan diri, tetapi gagal. Benang-benang yang dilepaskan teripang adalah benang-benang perekat yang sanggup menjerat

seperti belenggu,” tutur Nen Te Idar dengan gerakan-gerakan meniru sang Bangau.

Wajah anak-anak pun semakin tegang. Mereka mulai memegang tangan teman yang ada di samping tanpa mereka sadari.

Nen Te Idar tak menghiraukan gerakan anak-anak itu. Dia terus melanjutkan ceritanya. Dia pun mulai berdiri dari tempat duduknya. Dia pun mulai menggerakkan tangannya sambil bercerita.

“Setelah kaki bangau terlilit, air yang tadinya surut mulai bergerak naik. Makin lama makin tinggi. Mulai dari batas lutut, naik sampai sebatas dada. Kini air sudah sampai di leher burung bangau dan mendekati paruhnya yang panjang. Burung bangau meronta”. Nen Te Idar pun mulai mengerakkan tubuhnya seperti Bangau yang sedang meronta. Seakan meniru situasi dalam cerita itu.

“Seluruh tubuhnya kini tenggelam di dalam laut. Hanya paruhnya saja yang membuka dan menutup di permukaan air. Dengan sisa-sisa tenaga, burung bangau berusaha melepaskan lilitan benang lembut yang melekat di tungkai kakinya. Makin sibuk bergerak, benangbenang itu kian banyak merekatkan kakinya,” lanjut Nen Te Idar.

“Perjuangan burung bangau sia-sia belaka. Tubuhnya lemas karena kehabisan tenaga. Juga karena terlalu banyak menelan air laut, perutnya kembung. Bangau pun akhirnya pasrah,” jelas Nen Te Idar dengan suara agak lantang.

“Ketika malam tiba,” terus Ten Te Idar. “Ada suara amat sedih. Burung bangau itu berteriak sekuat tenaga. Teripang sudah tidak mendengar suara bangau lagi,” kata Nen Te Idar.

“Apakah burung bangau bisa sedih, Nek?” Tanya bocah cantik me7 8 nyela cerita Nen Te Idar.

Nen Te Idar memperlihatkan wajah serius. “Dengar ini.” Nen Te Idar pun mulai bernyanyi.

“Teripang e Teripang e Ampuni daku Sekarang e Kilak o Kilak o Kuuuurrrrrrrr Teripang e Teripang e Lepaskan daku Ke darat e Kilak o Kilak o

Kuuuurrrrrrrr”

Suara Nen Te Idar tidak lagi merdu. Namun, suaranya yang gemetar karena umurnya yang telah lanjut semakin membuat anak-anak itu kian tegang. Tadinya mereka marah karena bangau tidak punya rasa belas kasihan kepada anak-anak teripang. Tetapi sekarang, mereka mulai iba kepada sang Bangau. Mereka balik menaruh belas kasihan kepada sang Bangau.

Ada yang mulai mengedip-ngedipkan mata karena tak mampu menahan sedih. Ada yang mulai meneteskan air mata walau tanpa suara. Ada yang mulai menunjukkan wajah sedih sambil menahan air

mata. Mereka benar-benar meresapi jalan cerita yang Nen Te Idar tuturkan.

“Tidak ada lagi kesempatan. Maka tamatlah riwayat burung Bangau.” Sang nenek menutup ceritanya.

Saat itulah, mereka tak mampu menahan air mata. Air mata mereka bagaikan air laut. Bening tetapi asin. Mereka memeluk Nen Te Idar, seolah kisah tadi adalah kisah nyata.

Nen Te Idar pun menghibur anak-anak supaya tidak larut dalam perasaan sedih. Dia menjelaskan kepada mereka

bahwa kisah itu hanyalah sebuah dongeng yang berisi nasihat.

“Anak-anak, kalian harus pegang kuat adat istiadat supaya tidak jatuh ke dalam perbuatan buruk seperti bangau yang akhirnya dibalas oleh teripang,” tegasnya.

“Ingatlah cucu-cucuku.

Apa yang telah terjadi antara Bangau dan Teripang, jangan sampai melanda Desa Idar. Jadi, semua harus pegang adat-istiadat. Ingat selalu pada petuah para leluhur,” pesannya.

Usai mendengarnya mendongeng, anak-anak memintanya bernyanyi. Nen Te Idar pun tidak keberatan untuk yang satu ini. Ia pun menyanyikan lagu riang kesukaan anak-anak. Walau sudah tua, suaranya yang gemetar layaknya orang yang sudah lanjut usia, masih merdu didengar.

“Burung maleo Kaki kuning-kuning Lari ke sana Lari ke sini Cari makan e Burung maleo Kaki kuning-kuning Lari ke sana Lari ke sini Ayo lompat e”

Anak-anak sangat senang mendengar nyanyian burung Maleo. Anak-anak selalu penuh sukacita karena semua saling menyayangi.

3. Nen Te Idar Akhirnya Marah

Nen Te Idar dikenal rajin membersihkan rumah dan desa. Tidak heran, rumahnya selalu bersih. Ia mengumpulkan sampah dan membuangnya di dalam kolam yang berdinding batu. Jika rumahnya sudah bersih, ia berjalan keliling desa membersihkan sampah yang berserakan. Suasana jadi ramai setiap kali Nen Te Idar turun ke jalan membersihkan sampah, karena orang banyak ikut turun tangan tanpa ada komando. Tradisi gotong-royong ini dalam bahasa Kei disebut maren.

Waktu terus bergulir. Matahari terbit dan tenggelam dengan segenap kenangan manis. Musim datang silih-berganti. Suasana Desa Idar yang aman sentosa mulai terusik. Berawal dari ulah beberapa orang yang malas. Mereka malas bekerja dan malas berpikir. Mereka melupakan bahwa mereka memiliki adat istiadat yang kuat dan patut dijaga. Akibatnya, mereka jadi bersamangat mengajak warga lain agar tidak ikut gotong-royong membersihkan desa.

Warga Desa Idar mula-mula tidak menggubris ajakan para pemalas itu. Akan tetapi belakangan, warga desa mulai termakan ajakan para pemalas itu. Warga desa mulai percaya setiap kalimat-kalimat hasutan milik para pemalas. Mereka dihasut untuk tidak mengindahkan kerja keras sang nenek tua, Nen Te Idar. Mereka dihasut untuk membenci Nen Te Idar karena takut Desa Idar yang luas itu akan diperintah oleh seorang nenek renta yang miskin dan sebatang kara. Mereka diajak berpikir tentang status Nen Te Idar yang mampu menggerakkan massa untuk melakukan banyak hal.

Hal-hal itulah yang akhirnya membuat mereka mulai meragukan hubungan persaudaraan yang ada dalam diri masyarakat Idar sejak nenek moyang.

Mereka mulai berani mengolok-olok Nen Te Idar dan melakukan hal buruk. Sejumlah warga sengaja membuang tulang-tulang hewan di tengah jalan yang baru saja dibersihkan Nen Te Idar. Ada yang

dengan sengaja membuang insang-insang ikan di depan

rumah Nen Te Idar. Mereka melakukannya bergerombolan.

Suatu saat, ketika Nen Te Idar tidak a d a di rumahnya. Mereka mulai melakukan tindakan buruk.

“Kalau nenek kembali melintas di sini, tentu nenek akan terke - jut melihat insang-insang ikan di mana-mana,” ujar seorang lelaki berbadan tegap, berkulit hitam dengan wajah agak sangar, sambil menebar insang ikan di jalan menuju rumah Nen Te Idar.

Perkiraan mereka pun terbukti. Ketika Nen Te Idar kembali ke rumah, ia begitu terkejut. Hidungnya mencium bau amis yang sangat tajam. Matanya mencari sumber bau busuk itu. Tidak lama kemu - dian, tatapan tajamnya langsung tertuju ke arah tumpukan-tumpu - kan insang ikan.

“Perbuatan siapa ini?” serunya dengan nada marahsambil melihat keadaan sekeliling.

Sekejab saja, sekelompok pemuda keluar dari balik rumah dan pohon yang rindang disekitar rumah Nen Te Idar. Kemudian, dengan berani dan senyum mengejek, mereka mendekati Nen Te Idar sambil tertawa terbahak-bahak.

Meskipun terkejut dan heran, Nen Te Idar tidak mempedulikan gelak-tawa mereka. Ia mengumpulkan kembali insang-insang ikan itu dengan tangannya, lalu menguburnya di dalam tumpukan pasir yang berada tak jauh dari rumahnya.

Nen Te Idar berjalan kembali ke dalam gubuk tua miliknya. Ia men - gambil semangkuk air lalu meminumnya. Sembari meredakan keg - elisahannya. Ia masih belum percaya kejadian yang baru saja berlalu. Gelak-tawa pemuda-pemuda itu bahkan masih terdengar walau dari kejauhan.

Dalam hati kecilnya, ia ingin sekali melaporkan ke jadian ini kepada Kepala Soa. Seseorang yang bertanggung jawab untuk kelompok-kelompok masyarakat tertentu dalam Desa Idar. Lewat Kepala Soa, kejadian tersebut dapat diselesaikan secara adat. Namun, niat itu diurungkannya. Nen Te Idar membayangkan, bila dirinya pergi mengadu sambil menangis di hadapan Kepala Soa, tentulah anak-anak muda itu akan menerima hukuman yang berat. Lagi pula, anak-anak muda itu adalah sanak saudaranya pula.

“Sakit rasanya dada ini, tetapi harus bagaimana lagi? Mereka adalah anakDesa Idar dan masih ada pertalian darah. Sabar sajalah. Ya, hati harus tetap dingin,” kata Nen Te Idar kepada dirinya sendiri sambil mengelus-elus dadanya.

Suatu ketika, saat Nen Te Idar sedang bersih-bersih di jalan depan rumahnya,seorang pria muda datang danmenarik sapu lidi dari tangannya.

“Kembalikan sapu itu Nak!” teriak Nen Te Idar. Namun, pria itu tidak menghiraukan teriakannya. Dia terus berjalan kecil sambil memberi kode kepada nenek tua itu untuk mengejarnya.

“Kembalikan Nak!” panggil Nen Te Idar dengan suaranya yang lemah.

“Sini, ambil ini wanita tua!” ambil aja sendiri!” ejek si pria.

Mendengar keramaian itu, banyak warga berdatangan dan mereka hanya berpangku tangan. Mereka berdiri termangu menonton kejadian itu.

Nen Te Idar akhirnya mengejar. Ia berlari-lari kecil karena otototot tubuhnya yang tidak lagi kuat. Bahkan napasnya mulai terengah-engah. Ia berusaha merebut kembali sapu lidinya, namun tidak

berhasil. Pria itu berlari lebih kencang, bahkan mengecohnya dengan mengitari sang nenek. Hingga nenek renta ini dibuatnya pusing tujuh keliling.

“Saya ini orang tua. Nenek kalian sendiri. Tidak baik, berlaku seperti ini kepada orang yang sudah lanjut usia, Nak,” ucapnya dengan nada sedikit mengomel.

Mendengar ucapan Nen Te Idar, orang-orang yang sedang menikmati tontonan memalukan itu, terus tertawa. Mereka makin mengolok-oloknya dengan kata-kata ejekan.

“Hahaha… untunglah kami tidak akan pernah tua. Kami akan tetap muda perkasa,” olok seorang lelaki muda berbadan gempal.

“Kamu bukan nenek kami.” ujar seorang pria di sampingnya.

“Kerjamu kan hanya mengurus sampah ? Jadi urus saja sampah supaya desa ini bersih. hahahaha,” kata pria lainnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Nen Te Idar tak mampu mendengar olok-olok yang sudah melampaui batas itu. Ia melangkahkan kakinya dengan kepala dan tubuh yang membungkuk, iapulang ke rumah sambil berusaha menahan tangis. Akan tetapi bendungan air mata yang sempat tertahan sepanjang jalan, akhirnya jebol juga.Diambilnya ujung salendang yang melilit di lehernya untuk menyeka air mata di pipinya yang keriput.

Di depan pintu pagar rumah, Nen Te Idar berpaling. Ia melihat orang-orang sinis melihatnya sambil tertawa keras-keras. Dikenalinya, para pemuda itu. Mereka adalah keponakan-keponakannya sendiri.

“Orang-orang di desa ini sangat taat pada hukum adat. Tidak pernah dalam sejarah, ada kejadian sekasar ini kepada perempuan,” pikirnya.

Di pagi hari saat Nen Te Idar terbagun. Ia terkejut melihat tulangtulang ikan dan kulit-kulit siput menumpuk di sudut rumahnya. Rupanya para pengganggunya datang pada malam hari, lalu membuang sampah di halaman rumahnya.

Dengan perasaan marah bercampur sedih, Nen Te Idar membersihkan tulang-belulang ikan dan kulit-kulit siput yang baunya tajam menyengat hidung.

“Mengapa sesama orang desa, saudara-saudara sendiri, tega melakukan hal ini. Ini sangat kasar. Arwah jahat siapa yang menghuni tubuh mereka?” gumamnya.

Hari-hari berikut, ketika Nen Te Idar bangun

pagi, ia selalu menemukan jenis sampah yang sama. Bahkan makin hari, jumlah pun semakin lebih banyak. Jika menemukan sampah lalu melihat ke jalan raya, ia melihat orang-orang tertawa. Mereka juga meneriakkan kata-kata yang ejekan, karena tidak pantas didengar orang.

Dengan sangat berat hati, Nen Te Idar melangkah meninggalkan rumahnya. Anjing peliharaannya mengikutinya dari belakang. Di perjalanan, ia bertemu para pemuda yang selama ini membuang sampah di pekarangan rumahnya.

“Hendak ke mana, nenek tua. Biarlah kami yang mengantar,” kata pemuda yang berdiri paling depan dengan suara mengejek.

Nen Te Idar terus berjalan tanpa memperdulikan pemuda-pemuda itu. Mereka mengikutinya dari belakang dan terus saja mengolokolok. Ketika nenek membelok ke rumah Kepala Soa, barulah para pemuda itu berlari tunggang-langgang menjauhi Nen Te Idar.

“Ini tidak pernah terjadi di Desa Idar. Bahkan sejak leluhur kita masih di Ohoitom Rangmas pun, tidak ada perbuatan sekasar ini kepada seorang perempuan,” urainya di hadapan Kepala Soa.

Kepala Soa mendengar seluruh pengaduan Nen Te Idar. Ia terlihat sangat serius dan menahan amarah. Ia lantas berdiri lalu berjalan ke depan rumah.

“Marinyo!”, panggil Kepala Soa.

Seorang pria separuh baya muncul dari rumah di samping rumah Kepala Soa. Pria yang dipanggil Marinyo itu langsung berdiri di hadapan Kepala Soa.

“Panggil semua orang yang membuang sampah di rumah Nen Te Idar,” perintah Kepala Soa.

Sidang berlangsung singkat. Kepala Soa hanya menanyakan kebenaran laporan Nen Te Idar. Tak satupun yang menyangkal. Para 21 22

Marinyo pun berlalu. Tak lama berselang, terdengar bunyi tiupan teromper siput. Bunyinya panjang pendek seperti memberi isyarat. Ketika tiupan berhenti, giliran suara Marinyo mengudara.

“Semua warga Soa, di Desa Idar, yang merasa membuang sampah dan berlaku kasar kepada Nen Te Idar, diperintahkan datang sekarang di rumah Kepala Soa. Barang siapa yang melakukannya, tidak mengakui, dan tidak datang, hukuman akan diperberat. Demikian pemberitahuan. Terima kasih,” teriak Marinyo.

Maklumat itu diteriakkan di ujung jalan dan beberapa lorong jalan. Tidak berapa lama, muncullah secara tidak bersamaan 15 pemuda berperawakan tegap. Satu persatu dari mereka memasuki rumah Kepala Soa dan duduk di lantai.

pemuda itu membenarkan telah melakukan perbuatan kasar kepada Nen Te Idar.

Kepala Soa langsung memutuskan hukuman. Para pemuda itu diwajibkan untuk membayar denda berupa emas dan kain tenun Kei. Mereka juga wajib membersihkan rumah Nen Te Idar sampai bersih seperti sediakala.

Hari itu juga para pemuda itu menjalankan semua jenis hukuman. Putusan ini bukan membuat Nen Te Idar bahagia dan sedih. Sepanjang malam ia tidak bisa memejamkan matanya. Ia menangis sepanjang malam. Ia menyesal karena telah melaporkan kejadian memalukan itu kepadaKepala Soa. Akibatnya, para pemuda yang adalah sanak keluarganya sendiri menerima hukuman. Esok harinya, Nen Te Idar dapat melakukan kegiatannya dengan tenang seperti sedia kala. Walau sebenarnya hatinya terluka, ia mencoba menenangkan diri. Semua anak adat memang harus taat pada hukum adat. Pikirnya begitu.

Aktivitas Nen Te Idar kembali normal. Tak ada gangguan lagi dari pemuda-pemuda jahil itu.

4. Penghinaan Berujung Duka

Suatu pagi,di awal musim angin barat, Nen Te Idar tiba-tiba dikejutkan dengan sampah tulang-tulang ikan dan siput dalam jumlah banyak yang sudah memenuhi halaman rumahnya. Bau busuk kembali menusuk. Kepalanya terasa pusing karena bau busuk yang menyengat. Dia bahkan tak dapat meninggalkan rumah. Nen Te Idar akhirnya tertidur lemas.

Ketika terbangun karena lapar, Nen Te Idar menemukan tumpukan sampah kian tinggi. Kali ini ia putuskan untuk tidak mengomel dan tidak melapor ke Kepala Soa. Diajuga tidak ingin mencari tahu siapa pengirim sampah baru ke rumahnya.

Nen Te Idar hanya membiarkan sampah-sampah itu menumpuk. Makin hari makin tinggi. Bau busuk menebar di dalam maupun di luar rumah, sampai ia tidak tahan lagi.

“Manusia kotor. Saya beri peringatan terakhir. Kalau kalian masih terus begini, lihat saja nanti, apa yang akan terjadi,” geram Nen Te Idar ketika melihat dinding rumahnya dari bahan bambu mulai berat menahan beban tumpukan sampah yang menggunung.

“Ha ha ha. Kau tak bisa berbuat banyak, nenek,” tantang seorang pria. Suaranya tiba-tiba terdengar dari balik dinding rumah Nen Te Idar. Dia mendengar ketus Nen Te Idar.

Mendengar suara balasan dari luar rumahnya, Nen Te Idar hanya terdiam dan kembali meneteskan air mata.

Keesokan harinya, ketika Nen Te Idar mendengar bunyi kulit-kulit

23 24 siput dilempar ke tumpukan sampah di dekat dinding rumahnya, ia langsung mengambil sebilah parang. Ia pun berjalan ke lembah di dekat pantai. Di lembah itu, terdapat banyak rumpun bambu. Ia menebang sejumlah batang bambu sesuai keperluannya.

Nen Te Idar lantas memotong ruas-ruas bambu menjadi pendek. Kedua ujung potongan bambu diruncingnya sampai tajam. Jadilah sengat-sengat kaki, yaitu semacam ranjau darat yang dipakai untuk menjebak musuh yang hendak menyerang dari luar desa.

Ketika sengat-sengat kaki dari bahan bambu sudah cukup banyak, Nen Te Idar kembali ke desa. Ia berjalan menancapkan sengat-sengat kaki keliling desa. Setiap kali menancap satu batang sengat-sengat kaki, Nen Te Idar menutupnya dengan daun kering. Tidak ada warga Desa Idar yang bisa melihat ranjau yang dapat menembus kaki mereka.

“Dengarlah, wahai orang-orang yang tidak hormat kepada orang tua. Orang-orang yang tidak hormat kepada perempuan. Orang-orang yang tidak hormat kepada tanah dan Bumi Idar ini. Kalian sudah terkepung sengat-sengat kaki. Tidak ada satu orang pun yang bisa keluar dari sini,” teriak Nen Te Idar dengan suara lantang.

Seorang pria yang selama ini selalu paling bersemangat mengolokolok Nen Te Idar, berjalan tepat di hadapan Nen Te Idar. Ia membungkukkan badan, duduk bersila di atas tanahdengan pose seperti orang yang sedang bertapa. Dia mengolok Nen Te Idar.

“Ampun kami wanita tua.Ampun kami wanita tua. Ha ha ha,” tawanya.

“Budak sepertimu, apa yang bisa kau lakukan kepada kami. Kami ini orang berpengaruh di desa ini. Bagaimana mungkin budak sepertimu bisa melawan kami kaum terhormat,” ucapnya lagi disambut sorak-sorai warga yang semakin banyak berkumpul di tempat itu.

Nen Te Idar maju selangkah. Ia menatap orang banyak yang sedang tertawa-tawa. Badannya membungkuk sampai mendekati tanah. Ked - ua telapak tangannya membuka.Diletakkankedua tanggannya di atas tanah. Sambil menatap tanah, ia terdiam beberapa saat. Setelah itu, ia bangkit berdiri dengan susah-payah. Kedua tangannya diangkat tinggitinggi, sambil matanya lurus ke langit.

“Andaikan saya ini budak, tukang sihir,dan orang rendahan, seperti ucapan kalian, maka seribu sumpah dari mulutku tidak berlaku di atas Bumi Idar.Akan tetapi andaikan saya adalah satu dari antara kalian, dan kita berasal dari darah yang sama, maka sumpah dari mulutku akan berlaku atas izin Penguasa Tertinggi,” seru Nen Te Idar dengan suara bergetar.

Seketika itu pula, terdengar guruh menggelegar panjang di angkasa maupun di dalam tanah. Bumi bagai mengamuk. Batu-batu besar ter - cungkil dari dalam tanah, retaklalu hancur. Kepingan-kepingannya ter - lempar ke angkasa. Debu tebal menyelimuti seisi desa. Tidak ada yang bisa saling melihat karena debu telah menghalangi pandangan.

Orang-orang Desa Idar baru tersadar bahwa sesuatu yang dahsyat sedang terjadi atas diri mereka. Anak-anak menangis keras-keras tapi tidak ada tempat berlindung. Orang tua mencari anak-anaknya tapi mata mereka tak sanggup menembus debu yang kian menebal.

“Nen Te Idar, kami salah. Kami minta maaf. Ampun beribu-ribu am - pun.” Teriakan penyesalan terdengar di mana-mana.

“Kami ini anak-cucumu sendiri. Ampuni kami, sayangi kami.” Begitulah terdengar seruan dari sisi yang lain.

Banyaknya teriakan minta ampun dan minta tolong membuat sua - sana menjadi gaduh dan tidak jelas lagi. Teriakan, sahutan, dan tangis sedih saling tumpang-tindih.

Terlambat. Bukit yang paling tinggi di Kepulauan Kei itu perlahanlahan turun ke dalam tanah, bersama seluruh isi Desa Idar yang ada di atasnya. Sekejap saja desa tenggelam ke dalam tanah bersama 999 penduduk.

Setelah Desa Idar tenggelam ke dalam tanah, lubang besar itu memancarkan mata air raksasa. Air menggenangi kolam raksasa itu dengan sangat cepat. Jadilah sebuah danau baru. Bukit tenggelam, danau timbul. Itulah danau Ablel atau orang setempat menyebutnya Wear Ablel.

Bersamaan dengan itu, tampaklah ribuan ekor buaya berenang berbaris-baris di dalam danau yang baru terbentuk.Mereka mencari posisi yang nyaman namun semua tempat terasa tidak nyaman. Sebab itu mereka berenang tanpa arah, membelok ke kiri ke kanan. Begitu seterusnya.

Ribuan bebek juga berenang kocar-kacir. Ada yang bertengger di punggung buaya dan mencoba bertahan di sana. Suara gelegar bukit tenggelam telah berhentidiganti kesunyian. Tidak lama kemudian, suara beribu-ribu ekor bebek dan lenguh beribu-ribu ekor buaya memecah kesenyapan. Suara-suara itu sungguh pilu terdengar sampai ke telinga Nen Te Idar.

Berdiri di tepian danau, Nen Te Idar menyaksikan semua kelakuan buaya dan bebek yang terus saja berenang berkeliling danau dengan gelisah. Tangisan mereka meledak di mana-mana. Sesekali ada yang melompat ke permukaan air, seakan meminta perhatian sekaligus bantuan Nen Te Idar. Mereka seakan ingin memohon agar dikembalikan ke

keadaan sediakala. Mereka bagai menari tarian sembarang yang melukiskan satu tarian jiwa yang berduka.

“Sudah terlambat,” kata Nen Te Idar sambil membalikkan badan meninggalkan sanak-saudara yang telah menjelma menjadi bebek dan buaya.

Nen Te Idar menarik nafas panjang. Ia terkejut melihat satu-satunya yang tertinggal di dekat kakinya hanya anjing kesayangannya.

“Maafkan aku. Aku terlalu sibuk sampai melupakanmu,” katanya sambil mengelus-elus kepala anjing kesayangannya. Dia kemudian berjalan menjauhi danau.

Anjing kesayangan Nen Te Idar ituterus menyalak sambil mengibaskan-ngibaskan ekornya. Ia bagai menyambut majikannya yang telah memenangkan pertaruhan besar.

Dengan berat hati tapi sekaligus juga lega, Nen Te Idar berjalan di depan menjauhi danau Ablel. Anjing mengikutinya dari belakang. Tidak sekalipun Nen Te Idar berpaling walau sebenarnya, suara-suara buaya dan bebek sahut-menyahut menyerukan namanya. Ia dan anjingnya terus melangkah pelan-pelan sampai suara-suara itu hilang dari pendengaran.

Di sepanjang jalan, Nen Te Idar bertemu dengan banyak orang yang juga merupakan warga Desa Idar. Mereka yang tersisa. Mereka yang selamat karena tidak berada di Desa Idar saat kutukan itu terjadi. Ada yang baru pulang melaut dan ada pula yang baru pulang dari berburu babi. Mereka terheran-heran melihat Nen Te Idar dan anjingnya yang seakan-akan hendak bepergian jauh.

“Hari sudah hampir malam. Hendak ke mana Nen Te Idar?” Salah satu sanak saudaranya bertanya.

Nen Te Idar memandang wajah-wajah cemas di hadapannya, satu demi satu. Ia jatuh iba kepada mereka“. Inilah orang-orang yang selamat,” ujarnya dalam hati.

Hampir saja Nen Te Idar berterus-terang tentang apa yang baru saja terjadi.Tetapi lolongan anjing membuatnya mengurungkan niat itu.Dirinya tahu, sang anjing memberi isyarat agar membiarkan orang

desa melihat sendiri dengan mata kepala.

“Kami hendak pergi dan tak akan pernah kembali lagi ke Bumi Idar. Kalian juga, sebaiknya pergi dari sini. Sekarang tidak seperti dulu lagi,” kata Nen Te Idar lalu berbalik melanjutkan perjalanan.

Orang banyak itu terperanjat luar biasa ketika menemukan Desa Idar telah berubah menjadi danau. Mereka juga merasa ngeri

mendengar tangisan ribuan buaya dan bebek. Sadarlah mereka bahwa binatang-binatang itu adalah saudara-saudara mereka sendiri.

Meskipun tidak menyaksikan langsung peristiwa itu, warga Idar yang tersisa lantas berkesimpulan bahwa semua ini adalah bala dan kutuk yang turun atas mereka. Semua itu adalah akibat perilaku buruk mereka terhadap seorang perempuan tua, yakni nenek mereka sendiri, Nen Te Idar

“Perempuan adalah sosok mulia. Setiap lelaki harus melindungi perempuan. Kalau terpaksa seorang lelaki harus mati.Ya, harus mati demi membela perempuan. Itu hukum. Tapi kita telah menginjak hukum. Sebab itu hukum sudah balik memakan kita,” kata lelaki paling tua di antara orang-orang yang tersisa.

Tiba-tiba ketakutan dan kengerin luar biasa melanda orang-orang Idar yang tersisa. Tanpa dikomando, mereka berlari ke tempat pertama kali bertemu Nen Te Idar. Malam sudah tiba dan mereka tak menemukan siapapun. Justru di gelap malam, mereka berpencar kocar-kacir.

“Ayo, kita kembali ke desa leluhur kita di Ohoitom Rangmas,” teriak seseorang.

Sekelompok orang bergerak, bahkan saling bertabrakan badan karena tidak saling melihat. Mereka hanya bergerak ke arah suara tadi.

“Mari kita ke Ohoitom Rangmas,” teriak suara tadi lagi. Kelompok lainnya kemudian bergerak menuju Kilmanut. Sedangkan satu kelompok berikut nampaknya tidak dapat ke Ohoitom Rangmas maupun Kilmanut. Mereka berlari ke pantai menemukan perahu-perahu kayu yang tinggal merana begitu saja.

Kelompok ini mendayung berhari-hari di bawah hujan dan panas matahari. Mereka akhirnya tiba di pantai Pulau Gorom di Seram dan menetap di sana sampai sekarang.

SEKIAN

Ditulis ulang berdasarkan naskah terjemahan P. Bohm 2016 dan wawancara dengan warga Ngilngof Josep Maturan di Ambon, Maret 2017

BIODATA PENULIS

Nama : Marco Dhyllan Pattianakotta

Tempat, tanggal lahir : Ambon, 24 Mei 1999

Nomor Ponsel : 082199227051

Akun Facebook : MARCO DHYLLAN PATTIANAKOTTA

Riwayat pekerjaan/profesi (10 tahun terakhir):

1. Mahasiswa.

2. Musisi/seniman.

Riwayat pendidikan dan tahun belajar:

1. SDN 1 KOTA SORONG, PAPUA BARAT (2008)

2. SMP YPPK SANTO DON BOSCO (2011)

3. SMAN 1 KOTA SORONG, PAPUA BARAT (2014)

4. IAKN (MUSIK GEREJAWI) 2015

Karya:

1. Kumpulan Puisi Remaja 2015

Informasi lain:

Aktif bersama Bengkel Sastra Maluku dan komunitas-komunits seni kreatif Ambon Bergerak untuk penguatan perdamaian-perdamaian di Maluku. Bersama beberapa teman mendirikan komunitas sastra dan taman baca Kintal Sapanggal hingga sekarang.

BIODATA PENYUNTING

Nama lengkap : Evi Olivia Kumbangsila, S.Pd.

Tempat, tanggal lahir : Ambon, 14 Desember 1983

Telepon Kantor/Ponsel: 081248570572

Pos-el : [email protected]

Alamat kantor : Jalan Mutiara No.3A, Mardika, Ambon

Riwayat pekerjaan/profesi (10 tahun terakhir):

1. Pengkaji Bahasa dan Sastra di Kantor Bahasa Maluku

Riwayat pendidikan dan tahun belajar:

1. SD Advent Ambon Tahun 1997

2. SMP Negeri 2 Salahutu Tahun 1999

3. SMA Advent Tikala Baru Manado Tahun 2001

4. S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pattimura Tahun 2009

Karya:

1. Cerita Rakyat “Air Tukang”

Penelitian:

1. Nyanyian dalam Permainan Tradisional Anak di Negeri Soya

2. Pamali Tanjung Hatuhuran: Eksistensi Kekinian Masyarakat Hatusua

BIODATA ILUSTRATOR

Nama lengkap : Aridal

Tempat, tanggal lahir : Bone, 24 Maret 1989

Nomor Ponsel : 0853 4281 4821

Pos-el : [email protected]

Riwayat pendidikan dan tahun belajar :

SD : SD Negeri 01 Tambea, 1995 – 2001

SLTP : SMPS Antam Pomalaa, 2001 – 2004

SMA : SMA Negeri 01 Pomalaa, 2004 – 2007

Perguruan Tinggi : Universitas Haluoleo (FKIP / Pendidikan Fisika), 2007-2012

Riwayat pekerjaan/profesi :

2012 – 2014 : Guru IPA di SMP Muhammadiyah Pomalaa

2012 – 2014 : Guru Fisika di SMKS Biner Pomalaa

2014 – 2017 : Design grafis, Illustrator, Kartunis, dan Layouter koran harian rakyat sultra

Prestasi:

1. Juara 2 Lomba Poster Ilmiah Tingkat Fakultas.

2. Juara 1 Lomba Karikatur Tingkat Fakultas

3. Juara 2 Lomba Karikatur Hugua Tingkat Sulawesi Tenggara.

4. Juara 2 Lomba Karikatur Korem 143/Halu Oleo Sulawesi Tenggara

5. Juara 1 Lomba Maskot KPU Sulawesi Tenggara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur 2018