Baca PDF (OCR): Kisah Ki Sinar Pamulang: cerita rakyat dari Banten

62 halaman · 11 halaman diproses dengan OCR· 5749 ms

Daftar isi
  1. Kisah Ki Sinar Pamulang
  2. Dody Kristianto
  3. Kisah Ki Sinar Pamulang
  4. Cerita Rakyat dari Banten
  5. Dody Kristianto
  6. KATA PENGANTAR
  7. SEKAPUR SIRIH
  8. DAFTAR ISI
  9. KEHIDUPAN KI KAMUNG
  10. VVV VVVVVV
  11. 黑黑黑黑黑黑黑羔業
  12. KETIDAKBERUNTUNGAN KI KAMUNG
  13. BAYI DI DALAM JALA
  14. ASAL MULA SI BAYI
  15. BAYI MENINGGAL
  16. KI KAMUNG BERTEMU BAYI
  17. BIODATA PENULIS
  18. BIODATA PENYUNTING
  19. BIODATA ILUSTRATOR

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Cerita Rakyat dari Banten

Kisah Ki Sinar Pamulang

Dody Kristianto

Bacaan untuk Anak Setingkat SD Kelas 4, 5, dan 6

MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN

Kisah Ki Sinar Pamulang

Cerita Rakyat dari Banten

Dody Kristianto

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

KISAH KI SINAR PAMULANG

Penulis : Dody Kristianto Penyunting : Sri Kusuma Winahyu Ilustrator : Billy Nasution Penata Letak: Papa Yon

Diterbitkan pada tahun 2017 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jalan Daksinapati Barat IV Rawamangun Jakarta Timur

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.

PB Katalog Dalam Terbitan (KDT)

398.209 598 2
Kristianto, Dody KRI Kisah Ki Sinar Pamulang: Cerita Rakyat dari Banten/ k Dody Kristianto. Sri Kusuma Winahyu (Penyunting). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016. vi; 52 hlm.; 21 cm.

ISBN: 978-602-437-093-0

  1. KESUSASTRAAN RAKYAT-JAWA
  2. CERITA RAKYAT-BANTEN

KATA PENGANTAR

Karya sastra tidak hanya rangkaian kata demi kata, tetapi berbicara tentang kehidupan, baik secara realitas yang ada maupun hanya dalam gagasan atau cita-cita manusia. Apabila berdasarkan realitas yang ada, biasanya karya sastra berisi pengalaman hidup, teladan, dan hikmah yang telah mendapatkan berbagai bumbu, ramuan, gaya, dan imajinasi. Sementara itu, apabila berdasarkan pada gagasan atau cita-cita hidup, biasanya karya sastra berisi ajaran moral, budi pekerti, nasihat, simbol-simbol filsafat (pandangan hidup), budaya, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Kehidupan itu sendiri keberadaannya sangat beragam, bervariasi, dan penuh berbagai persoalan serta konflik yang dihadapi oleh manusia. Keberagaman dalam kehidupan itu berimbas pula pada keberagaman dalam karya sastra karena isinya tidak terpisahkan dari kehidupan manusia yang beradab dan bermartabat. Karya sastra yang berbicara tentang kehidupan tersebut menggunakan bahasa sebagai media penyampaiannya dan seni imajinatif sebagai lahan budayanya. Atas dasar media bahasa dan seni imajinatif itu, sastra bersifat multidimensi dan multiinterpretasi. Dengan menggunakan media bahasa, seni imajinatif, dan matra budaya, sastra menyampaikan pesan untuk (dapat) ditinjau, ditelaah, dan dikaji ataupun dianalisis dari berbagai sudut pandang. Hasil pandangan itu sangat bergantung pada siapa yang meninjau, siapa yang menelaah, menganalisis, dan siapa yang mengkajinya dengan latar belakang sosial-budaya serta pengetahuan yang beraneka ragam. Adakala seorang penelaah sastra berangkat dari sudut pandang metafora, mitos, simbol, kekuasaan, ideologi, ekonomi, politik, dan budaya, dapat dibantah penelaah lain dari sudut bunyi, referen, maupun ironi. Meskipun demikian, kata Heraclitus, “Betapa pun berlawanan mereka bekerja sama, dan dari arah yang berbeda, muncul harmoni paling indah”. Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari membaca karya sastra, salah satunya membaca cerita rakyat yang disadur atau diolah kembali menjadi cerita anak. Hasil membaca karya sastra selalu menginspirasi dan memotivasi pembaca untuk

iii

berkreasi menemukan sesuatu yang baru. Membaca karya sastra dapat memicu imajinasi lebih lanjut, membuka pencerahan, dan menambah wawasan. Untuk itu, kepada pengolah kembali cerita ini kami ucapkan terima kasih. Kami juga menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Kepala Pusat Pembinaan, Kepala Bidang Pembelajaran, serta Kepala Subbidang Modul dan Bahan Ajar dan staf atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan sampai dengan terwujudnya buku ini. Semoga buku cerita ini tidak hanya bermanfaat sebagai bahan bacaan bagi siswa dan masyarakat untuk menumbuhkan budaya literasi melalui program Gerakan Literasi Nasional, tetapi juga bermanfaat sebagai bahan pengayaan pengetahuan kita tentang kehidupan masa lalu yang dapat dimanfaatkan dalam menyikapi perkembangan kehidupan masa kini dan masa depan.

Salam kami,

Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

iviv

SEKAPUR SIRIH

Kisah Ki Sinar Pamulang merupakan cerita rakyat yang terdapat di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Cerita ini berkisah tentang orang tua baik hati yang bernama Ki Kamung. Ki Kamung adalah seorang pencari ikan yang menjadi penolong bagi sesamanya. Meskipun demikian, cara yang ditempuh Ki Kamung berbeda dari cara yang dilakukan Si Pitung dan Robin Hood. Bila pada cerita Si Pitung dan cerita Robin Hood tokoh utamanya berperan sebagai penjahat, Ki Kamung berperan sebagai penolong yang tetap bersahaja. Kebaikan hati Ki Kamung pada akhirnya membuatnya berada pada sebuah peristiwa yang tak terduga. Dari Kisah Ki Sinar Pamulang, kita dapat mengambil hikmah bahwa kebaikan akan membuahkan kebaikan dan kesabaran akan berujung pada kebaikan. Pembaca juga diajak merenung bahwa sikap pasrah dan berserah pada Yang Mahakuasa akan membawa kita pada jalan hidup yang terbaik. Pada akhirnya, selamat membaca dan merenungkan kembali Kisah Ki Sinar Pamulang. Banten, April 2016 Dody Kristianto

v

DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................... iii
Sekapur Sirih....................................................... v
Daftar isi............................................................. vi

  1. Kehidupan Ki Kamung...................................... 1
  2. Ketidakberuntungan Ki Kamung....................... 15
  3. Bayi di dalam Jala............................................ 25
  4. Asal Mula Si Bayi............................................. 33
  5. Bayi Meninggal................................................ 39
  6. Ki Kamung Bertemu Bayi.................................. 43
    Biodata Penulis.................................................... 50
    Biodata Penyunting.............................................. 52
    Biodata Ilustrator............................................... 53

vi

1.

KEHIDUPAN KI KAMUNG

Cerita ini terjadi di Pamulang Barat semasa peperangan antara Kerajaan Banten dan kompeni Belanda. Peperangan berlangsung sangat dahsyat dan membawa korban di kedua belah pihak. Korban paling banyak tentu berasal dari rakyat Pamulang. Mereka hidup sengsara. Banyak yang meninggal karena kelaparan maupun blokade ekonomi yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Pada masa itu, di Pamulang hidup seseorang yang baik hati bernama Ki Kamung. Ki Kamung adalah seorang pria paruh baya yang kuat bekerja. Wajah Ki Kamung kuyu, tetapi tetap memancarkan semangat. Di tengah masyarakat, Ki Kamung dikenal sebagai sosok dermawan. Meskipun bukan orang berkecukupan, namun ia suka berbagi kepada sesamanya.

Lelaki ini tinggal sendiri. Sehari-hari ia menghidupi diri dengan bekerja sebagai seorang pencari ikan di sungai dan telaga. Ki Kamung bekerja sangat rajin. Ia selalu berangkat mencari ikan sehabis subuh dan pulang kembali sebelum magrib tiba. Diawali dengan membaca basmalah, Ki Kamung memulai pekerjaannya. Ia berjalan kaki menyusuri sawah, sungai, sampai ke telaga. Tak ada rasa lelah dalam hati Ki Kamung karena ia melakukannya dengan ikhlas. Sehari-hari, ikan hasil tangkapannya pun cukup banyak. Ikan-ikan itu diberikan Ki Kamung kepada masyarakat yang membutuhkan. Sisanya dimakan oleh Ki Kamung. Ki Kamung tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari ikan hasil tangkapannya. Karena perbuatannya itu, Ki Kamung dikenal sebagai seorang yang baik hati di Pamulang meski mata pencariannya sebatas pencari ikan. Apalagi, pada saat itu ikan adalah bahan pangan yang cukup mewah. Ikan hanya dapat dinikmati oleh para tuan tanah, bangsawan, dan pasukan kompeni Belanda.

Ki Kamung adalah seorang muslim yang taat. Saat muda, ia adalah seorang santri yang berguru agama pada beberapa pesantren di Tangerang dan di pinggiran Batavia. Ia belajar mengaji, membaca kitab kuning, dan menerapkan ajaran agama Islam. Ki Kamung juga belajar bela diri dari beberapa guru. Meskipun mempelajari silat, kemampuan itu tidak digunakan Ki Kamung untuk menyakiti orang lain. Ki Kamung hanya mempergunakannya untuk membela diri dan menolong orang yang lemah. Bila santri-santri yang lain umumnya memilih menjadi ulama atau mengabdi sebagai prajurit di Kerajaan Banten, tidak demikian dengan Ki Kamung. Ki Kamung memilih menjadi orang biasa dan berada di tengah-tengah rakyat. Ia takut terjerumus oleh lenanya kekuasaan. Berada di tengah rakyat juga membuatnya menyadari benar apa arti beribadah. Mengenai pilihan hidupnya, Ki Kamung pernah bermimpi bertemu dengan gurunya. “Kamung, pergilah ke sungai. Carilah penghidupan di sana. Berbagilah pada sesamamu,” ujar sang guru.

“Jangan terlena tipu daya dunia! Berikan kebaikan bagi yang tak mampu!” ucap sang guru di mimpi yang lain. Berkali-kali, Ki Kamung bermimpi bertemu dengan gurunya hingga ia berkelana untuk menemukan tempat tinggal. Akhirnya, Ki Kamung pun melakukan salat di sebuah musala. Di sana ia bermunajat kepada Allah agar diberikan petunjuk di mana ia harus tinggal. Karena perjalanan yang melelahkan, ia pun terlelap. Petunjuk untuk Ki Kamung pun datang melalui mimpi. Kali ini Ki Kamung sayup-sayup mendengar suara dan melihat sinar. Sinar itu makin membesar dan membesar hingga mata Ki Kamung tak sanggup lagi menatap sinar itu. “Pergilah. Pergilah ke tepian Sungai Cisadane. Dirikanlah sebuah gubuk sederhana. Makmurkanlah rakyat di sana yang sedang membutuhkan,” suara itu nyaring terngiang berkali-kali di telinga Ki Kamung. Keringat dingin mengucur deras dari badannya. “Masya Allah!” ucap Ki Kamung saat dia tersadar dari tidurnya.

“Apakah ini pertanda dari-Mu, ya, Allah? Hamba memohon petunjuk dan belas kasih dari-Mu. Tunjukkanlah kepada hamba-Mu yang lemah ini jalan yang benar. Jalan yang Engkau restui!” ujar Ki Kamung lirih. Ia pun terus-menerus berzikir menyebut asma Allah. Tak lupa pula Ki Kamung berdoa agar mimpi yang baru saja menghampirinya merupakan petunjuk dari Allah, bukan goda dan bujuk rayu setan. Karena mimpi itu, setelah menunaikan salat Subuh Ki Kamung bergegas pergi ke tepian Sungai Cisadane. Setibanya di sebuah perkampungan di tepian Sungai Cisadane, Ki Kamung melihat dengan mata kepala sendiri kondisi masyarakat yang serba kekurangan. “Mungkin di sinilah aku harus berderma dan beribadah. Ya, Allah, semoga Engkau memudahkan jalan hidupku. Semoga aku senantiasa dalam lindungan-Mu untuk melaksanakan segala kebaikan bagi mereka yang kekurangan,” batin Ki Kamung.

Dengan berjalan perlahan, Ki Kamung menyusuri perkampungan itu. Ia pun menyaksikan kondisi rakyat kecil di kampung yang serba kekurangan. Mereka mencari ikan, tetapi hasil tangkapan mereka harus diserahkan kepada kompeni Belanda. Hanya sedikit saja yang bisa dinikmati sendiri oleh rakyat. Pada masa itu, kompeni membutuhkan dana dan sumber daya yang besar untuk membiayai pertempuran melawan Kerajaan Banten. Tiba-tiba Ki Kamung melihat sepetak tanah. Entah perasaan apa yang menuntunnya, sekonyong- konyong ia mendatangi tempat itu. Ki Kamung pun jongkok dan mengambil segenggam tanah. Ia lantas berdoa. Sejurus kemudian muncullah makhluk halus yang menunggu tanah Cisadane. Makhluk yang berkaki ular dan berkepala manusia itu seolah marah. “Apa yang kau lakukan di sini, wahai orang asing!” seru si penunggu dengan tatapan mata tajam memandang Ki Kamung. “Siapakah engkau?” tanya Kamung.

“Aku adalah Suramanta, yang menjadi penguasa di tepi Sungai Cisadane ini. Aku terganggu oleh ulahmu yang memijak tanah kekuasaanku. Lekas pergi tinggalkan tempat ini! Bila tidak, akan kukalahkan kau sekarang!” tantang Suramanta. “Sebenarnya, aku tak ingin mengganggumu. Aku hanya ingin membangun gubuk di tanah ini. Hei, bukankah tanah ini tanah milik Allah semata?” sanggah Ki Kamung. “Seenaknya saja kau berkata! Ini adalah wilayah kekuasaanku! Akan kulibas kau sekarang!” tantang Suramanta sambil menyiapkan kuda-kuda. Kamung pun menyambut serangan Suramanta dengan ancang- ancang. Lalu, mulailah mereka bertarung. Suramanta menyiapkan ajian untuk menghantam dada Ki Kamung. Ki Kamung pun sigap menghalau segala pukulan Suramanta. Dengan memanfaatkan angin, Ki Kamung menghimpun segala daya yang berkitaran di kiri-kanannya. Daya itu dikumpulkan Ki Kamung menjadi tenaga untuk menghantam balik

Suramanta. Satu pukulan terarah tepat ke dada Suramanta. Berhasil. Suramanta pun roboh oleh pukulan Ki Kamung. Pertarungan selama satu jam itu berakhir. Suramanta kabur dari pertarungan. “Pergilah! Jangan lagi mengganggu rakyat di sekitar Sungai Cisadane!” teriak Ki Kamung. “Alhamdulillah!” ucap masyarakat yang ternyata menyaksikan pertarungan dahsyat itu. “Akhirnya, kita terbebas dari cengkeraman Suramanta,” tambah yang lain. Rakyat tepi Cisadane menyambut dengan gembira kemenangan Ki Kamung atas Suramanta. Sesudah pertarungan seru, Ki Kamung bangkit dan menyeka keringat di wajahnya. Tidak berapa lama Ki Kamung perlahan membangun sebuah gubuk. Rakyat di sekitar Sungai Cisadane melihat kejadian itu dengan saksama. Mereka terheran-heran menyaksikan Ki Kamung yang bekerja membangun gubuknya sendiri. Ajaibnya, dalam waktu kurang dari sehari, Ki Kamung dapat

menyelesaikan gubuk tempat tinggalnya dengan cepat. Alhasil, warga pun menyoraki Ki Kamung yang telah menyelamatkan mereka. Kemudian, Ki Kamung menjadi pencari ikan karena ingin mengikuti amanat yang dititipkan oleh sang guru melalui mimpinya. Ditambah lagi, rakyat yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya benar-benar menjadi korban akibat kondisi peperangan antara kompeni Belanda dan Kerajaan Banten. Ki Kamung juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa rakyat di sekitarnya hanya makan dengan makanan seadanya. Bonggol pisang, daun-daunan, garam, singkong adalah makanan yang dimakan oleh rakyat Tangerang. Hasil panen mereka dirampas oleh kompeni Belanda. Sebagian kecil hasil tangkapan ikan Ki Kamung ditukarnya dengan barang lain sesuai dengan kebutuhan. Namun, tak jarang hasil tangkapannya diberikan secara cuma-cuma kepada rakyat yang kelaparan. Ajaibnya, saat berjumpa dengan

tentara kompeni Belanda, Ki Kamung menunjukkan kesaktiannya tanpa harus mengeluarkan jurus- jurus silat. Kompeni seolah-olah melihat Ki Kamung berjalan tidak membawa sesuatu apa pun. Ki Kamung pun aman dalam membawa pulang ikan. Bahkan, ia tak sampai menggunakan kekerasan untuk berhadapan dengan kompeni Belanda.

VVV VVVVVV

苏八八小八园6八园小园八园小园小园

黑黑黑黑黑黑黑羔業

2.

KETIDAKBERUNTUNGAN KI KAMUNG

Hari-hari pun terus berjalan sebagaimana biasa. Bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Ki Kamung tetap merasa bahagia dan bersyukur menjalani kehidupannya sebagai seorang pencari ikan. Hingga pada suatu ketika, Ki Kamung mengalami peristiwa yang luar biasa. Berbeda dari hari-hari biasanya, ketidakberuntungan benar-benar dialami oleh Ki Kamung. Seharian ia mencari ikan, tetapi tak seekor ikan pun yang didapatnya. Hingga sore hari, jala Ki Kamung masih kosong. Padahal, Ki Kamung sebelumnya selalu dapat menangkap ikan sesedikit apa pun. Biasanya, selepas melempar jala dan menariknya kembali, selalu ada saja ikan yang terjerat di dalam jala Ki Kamung. Namun, kali ini setiap ia melemparkan jala ke dalam sungai dan menariknya kembali, seketika itu pula ia mendapati jalanya masih kosong.

Ki Kamung pun berhenti dan duduk di bawah sebuah pohon karena lelah yang amat sangat menderanya. Ia tak habis pikir dengan kejadian yang menimpanya selama seharian ini. Benar-benar tidak seperti biasanya. Ki Kamung dengan sedih memandangi matahari yang mulai turun di sisi barat. Bertahun-tahun Ki Kamung menjala ikan, tak pernah ia mengalami hari seberat ini. Mulai dari sekitar Sungai Cisadane hingga ke Situ Pamulang, hasil tangkapannya nihil.

Ia pun mulai terdiam dan mencoba merenung mengapa sampai mengalami hari seberat ini. Ingatan demi ingatan ditelusurinya. Apakah ia pernah berbuat salah dan belum meminta maaf atas kesalahannya. Kejadian demi kejadian di masa lalu mulai coba diingat kembali oleh Ki Kamung. Ia resah bila kelakuannya di masa lalu menjadi pangkal dari ketidakberuntungan ini. Doa pun mulai dipanjatkan oleh Ki Kamung. Tangannya menengadah sembari berucap, “Ya, Allah, apakah ini belum rezeki hamba? Sampai Asar berlalu, tak seekor ikan pun hamba dapatkan. Ya Allah, berikanlah kemurahan-Mu! Beri hamba sedikit saja dari rezeki-Mu!” Tak terasa air mata mulai menetes dari mata Ki Kamung. Perlahan, mulai membayang pula wajah para rakyat di tepi Sungai Cisadane yang begitu gembira melihat kedatangan Ki Kamung. Sungguh, bagai seorang penyelamat Ki Kamung disambut oleh rakyat

Cisadane. Terbayang pula senyum anak-anak kecil berperut buncit karena lapar menerima pemberian ikan segar dari Ki Kamung. Karena bayang-bayang itulah, Ki Kamung kembali bangkit dari duduknya. Dimulainya lagi menjala ikan-ikan di telaga yang bernama Situ Pamulang sambil berharap ada seekor ikan yang ditangkapnya. Telaga Situ Pamulang berada jauh di selatan Sungai Cisadane. Semakin Ki Kamung menjala, semakin berat saja ia menarik kembali jalanya. Rasa berat bukan karena ada ikan yang tersangkut di jala Ki Kamung, melainkan Ki Kamung harus menerima kenyataan bahwa tak ada seekor ikan yang menempel di jalanya. Malam semakin mendekat. Senja perlahan berganti dengan gelap. Langkah Ki Kamung terasa semakin berat. Sampai akhirnya, Ki Kamung lelah. Air mata pun kembali jatuh ke pipinya. “Ya, Allah, harus makan apa hamba malam ini? Harus hamba beri apa fakir yang hamba jumpai di jalan?” keluh Ki Kamung dalam hati. Air muka

wajahnya menampakkan kesedihan yang sangat dalam. Sembari terisak, Ki Kamung kembali merenungi apa saja kesalahan yang telah ia perbuat. “Bila hamba punya salah yang berujung pada tiadanya ikan yang dapat dijala, maafkanlah, ya, Allah! Ampunilah segala khilaf hamba!” Karena rasa penat sangat menghinggapi Ki Kamung, ia pun bersandar di sebuah pohon besar. Ki Kamung duduk. Lutut ditekuk hingga mendekati dada. Kelelahan membalut tubuh Ki Kamung. Air mata yang jatuh dan keringat yang turun bercucuran menjadi gambaran betapa Ki Kamung mengalami hari yang berat. Mungkin hari itu adalah hari terberat dalam hidup Ki Kamung. Tak terasa, perlahan malam pun tiba. Sesudah merenungi kejadian hari ini, Ki Kamung bangkit kembali. Ia menunaikan salat Magrib terlebih dahulu di bawah pohon besar tempat ia melepaskan lelah. Diminumnya sedikit air yang dibawa oleh Ki Kamung

sebagai bekal. Lalu, ia melanjutkan kembali menjala ikan di telaga. Paling tidak, Ki Kamung ingin mendapat sedikit ikan yang dapat ia makan malam ini. Tanpa menyerah, kembali ditebarnya jala ke tengah telaga Situ Pamulang. Ia melempar dan melempar hingga beberapa kali. Akan tetapi, tetap tidak ada ikan yang terjaring masuk ke dalam jalanya. Sembari merenung, Ki Kamung pun sudah tak kuasa

menahan lelah yang menderanya seharian. “Apabila pada lemparan terakhir ini tak ada seekor ikan pun yang dapat kujala, aku akan pulang karena hari sudah malam! Mungkin hari ini bukan rezekiku!” batin Ki Kamung. Dengan sisa-sisa tenaga ia mengurai jala dan melemparnya kembali ke telaga. “Bismillah, ringankan jalan hamba, ya, Allah!” harap Ki Kamung sambil menunggu keajaiban terjadi di depannya. Air danau pun beriak menerima kehadiran jala Ki Kamung. Jala itu diharapkan oleh Ki Kamung terisi penuh dengan ikan. Ikan-ikan itu mungkin terjerat oleh doa yang dibacakan oleh Ki Kamung sebelum berangkat mencari ikan. Ya, Ki Kamung memang selalu berdoa sebelum berangkat. Sesudah salat Subuh, Ki Kamung mempersiapkan segala sesuatu sebelum berangkat. Makan, minum, jala, dan sebuah senjata untuk berjaga-jaga dibawa oleh Ki Kamung. “Asalamualaikum, saya berangkat dulu. Doakan saya mendapat banyak ikan, ya,” ucap Ki Kamung pada orang yang ditemuinya. Ki Kamung percaya

bahwa doa-doa dari orang yang ditemuinya akan memperlancar rezeki, yaitu ikan hasil tangkapannya. Orang-orang yang dijumpai Ki Kamung di jalan pun tampak tersenyum ketika Ki Kamung berangkat mencari ikan. Banyak orang yang mendapatkan ikan dari Ki Kamung. Keberadaan Ki Kamung sangat diharapkan oleh masyarakat di sekitar Cisadane saat itu untuk mengatasi kesulitan mereka yang disebabkan oleh kompeni Belanda. Ki Kamung terus memikirkan hal itu. Rakyat jelata yang menunggunya dan kondisi kelaparan di tengah perang antara Banten dan kompeni Belanda. Oleh karena itu, Ki Kamung tak menyerah menghadapi hari yang betul-betul lain dari biasanya. Jala terus ditebar ke tengah danau. Ternyata, pada lemparan terakhir ini jala Ki Kamung terasa berat. Ki Kamung pun sontak terkejut. Dengan sigap ia menarik jalanya ke atas. Semakin ditarik ke atas, yang dirasakan oleh Ki Kamung adalah jalanya kian berat. Terasa ada benda besar yang

tersangkut ke jalanya. Rasa sedih, penat, dan lelah yang menghinggapi Ki Kamung perlahan mulai sirna. Seolah-olah, rintihan Ki Kamung didengar oleh Yang Mahakuasa. Syukur pun tak henti-hentinya diucap Ki Kamung. “Alhamdulillah, ya, Allah. Segala syukur hanya kepada-Mu. Terima kasih telah Engkau dengar doa- doaku! Ikan-ikan mungkin iba padaku!” Jala yang kian berat membuat Ki Kamung menduga ada banyak ikan yang ia dapatkan pada lemparan terakhir. Bahkan, mungkin ikan yang ia dapatkan lebih banyak dari hari-hari biasa. Ya, lelah seharian terbayar dengan hasil tangkapan yang banyak atau besar. Begitulah yang ada dalam benak Ki Kamung saat menarik kembali jalanya ke darat. Bayangan kegembiraan pun tampak jelas di kepalanya. Betapa bahagianya penduduk desa melihat hasil tangkapannya hari ini sangat banyak. Puas hati pula karena hari yang begitu berat dilalui oleh Ki Kamung dengan kesabaran. Tak sabar rasanya

menyaksikan hasil tangkapan yang begitu berat. Ki Kamung pun mengumpulkan sisa-sisa kekuatan untuk menarik jalanya ke darat. Segenap kekuatan dipusatkan pada kedua tangan Ki Kamung. Sementara itu, malam makin dingin. Bunyi binatang malam mulai terdengar di tepian danau.

3.

BAYI DI DALAM JALA

Mata Ki Kamung berbinar senang. Sembari berucap syukur, ia terus menarik kuat-kuat jalanya ke atas. Namun, entah mengapa keanehan mulai nampak. Makin jala mendekat ke permukaan, ternyata bukan wujud ikan yang terlihat. Benda berat yang terlilit di dalam jalanya kian terlihat seperti sosok bayi. Ternyata benar, sosok yang tertangkap oleh jala Ki Kamung adalah sosok bayi yang masih hidup. Bayi tersebut masih tampak merah seperti baru saja dilahirkan. Wajahnya sangat lugu tanpa dosa. Antara tak percaya dan termangu sejenak, Ki Kamung memandang sosok itu. Lantas, ia melangkah dan menyentuh apa yang baru saja dipandangnya. Diangkatnya sosok itu. Setelah mengamati dengan saksama, Ki Kamung berucap, “Astagfirullah! Ya,

Allah!” Selanjutnya, ia tak mampu berkata-kata lagi. Serasa ada yang mencekik leher Ki Kamung untuk kembali berucap kata. Sosok yang ada di depannya membuat Ki Kamung bergetar. Yang terlilit di jalanya memang bukan ikan, melainkan sesosok tubuh bayi tak berdosa yang telentang. Tubuh bayi itu juga masih bersih. Tak ada darah atau luka-luka lebam apa pun yang menempel pada badan bayi itu. Mata bayi itu terpejam, tetapi masih bernapas. Dadanya masih kembang kempis menghirup udara. Tiba-tiba tangan bayi itu perlahan bergerak. Matanya perlahan terbuka melihat dunia. Dunia malam. Malam yang gelap dan hitam. Tak ada cahaya yang menyinari sekitar danau itu selain dari bulan dan bintang. Udara dingin menyapa tubuh bayi itu. Ki Kamung memandang wajah bayi itu dengan penuh iba. Akan tetapi, tiba-tiba Ki Kamung diselimuti rasa ngeri. Bulu kuduknya berdiri. “Mana mungkin bayi yang sudah tenggelam di dalam air bisa hidup?”

pikir Kamung. Apalagi, badan bayi di dekapannya itu masih terasa hangat, berbeda dengan jenazah yang bila dipegang terasa dingin. Ki Kamung pun disergap rasa takut yang luar biasa. Karena takut, diletakkannya kembali bayi itu ke tanah. Ki Kamung lantas berkemas dan bersiap meninggalkan sosok bayi itu. Namun, ia tak kuasa melangkah. Seolah-olah kakinya diserap oleh tanah. Makin mencoba berlari, makin terasa kaku kakinya tak dapat diangkat. Keringat dingin pun mulai bercucuran dari sekujur badannya. Anehnya, badan Ki Kamung seolah tak terangkat dari tanah. Tanah tempat berpijak seakan-akan menolak kepergian Ki Kamung. Lolongan anjing liar seolah menambah seram suasana malam itu. Kembali Ki Kamung melemparkan pandangan ke arah bayi. Sosok berkulit merah, lemah, tetapi tetap dengan denyut napas yang teratur walau lemah Itu menunjukkan wajah mungil dan lucu. Ki Kamung pun mengumpulkan kembali keberaniannya. Langkahnya perlahan mendekati bayi itu.

“Jangan takut, wahai orang tua yang baik hati! Aku tak akan mencelakaimu!” ucap bayi itu selayaknya orang dewasa. Ki Kamung pun terkaget-kaget. Rasa takutnya datang kembali. Bayi mungil ternyata dapat berbicara. Selain rasa takut, keheranan pun menghampiri Ki Kamung. Keheranan yang semakin menambah rasa takut Ki Kamung di hadapan sosok yang ditemuinya malam ini. “Apakah bayi ini bayi siluman?” batin Ki Kamung. “Mengapa dia dapat berbicara selayaknya manusia?” Rasa takut dan penasaran bercampur baur mengiringi suasana malam itu. “Si… siapa kamu? Bagaimana bisa, bagaimana kamu bisa berbicara! Kamu hantu atau siluman?” jawab Ki Kamung gemetaran. Debar jantung Ki Kamung kencang. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Ki Kamung mencoba meninggalkan tempat itu tapi ia terjatuh.

“Aku bukan hantu atau siluman. Aku adalah manusia yang sama sepertimu! Sesungguhnya aku telah menunggumu! Kita bertemu karena ketentuan dari-Nya! Kaulah yang digariskan untuk menemuiku!” jawab bayi itu. “Bila tidak berkeberatan, aku ingin meminta sedikit pertolongan darimu! Bersediakah dirimu, orang tua yang baik hati?” tanya bayi itu. Suara lembut dari bayi pun memancarkan kehangatan. Malam yang dingin di Situ Pamulang seolah berubah menjadi hangat. Kehangatan yang timbul dari sosok bayi membuat Ki Kamung tak lagi diliputi perasaan takut. Sedikit demi sedikit, Ki Kamung mulai menepikan rasa takutnya. Ia pun bangkit dari jatuhnya. Ia percaya bahwa sosok yang di depannya adalah sosok manusia. Meski begitu, tubuhnya masih dibalut sedikit rasa gemetar. “Apa yang bisa aku lakukan untuk menolongmu? Bila mampu aku akan melakukannya!” ucap Ki Kamung pada sosok bayi itu.

“Aku ingin kau membawaku pergi dari telaga ini. Bila aku masih di sini, tubuhku mungkin akan dicabik-cabik oleh hewan liar. Aku tak ingin demikian sebab aku ingin hidupku berakhir dengan cara yang sewajarnya. Tentu kau pun tak ingin membiarkanku berakhir dalam keadaan demikian bukan? Sebagai manusia aku ingin kematianku wajar sebagaimana kehadiranku di dunia,” ujar bayi itu pada Ki Kamung.

Ki Kamung terperanjat mendengar permintaan sosok bayi di hadapannya. Situ Pamulang pun kian hening, kian senyap. Hanya embusan angin serta lolongan anjing liar yang terdengar di telinga Ki Kamung. “Kehadiranku tak akan membuatmu susah, orang tua. Hidupku hanya tinggal sebentar saja. Bawalah aku ke rumahmu. Jika sampai di sana aku sudah tiada, kumohon kubur jasadku di halaman rumahmu. Aku hanya ingin engkau menyempurnakan kehidupanku,” tambah bayi itu. “Baiklah, insya Allah aku akan membantumu dengan apa yang bisa kuperbuat! Semoga yang aku lakukan dapat membantumu,” jawab Ki Kamung. “Terima kasih, orang tua. Maafkan aku apabila kemunculanmu menakutkan bagi dirimu,” ujar si bayi. “Tidak mengapa. Sebagai sesama mahluk Allah, bukankah kita harus saling membantu?” Ki Kamung pun bangkit dan merengkuh sosok bayi itu. Digendongnya makhluk malang itu. Setelah melipat

jala ikan, Ki Kamung dan sang bayi meninggalkan Situ Pamulang yang makin gelap. Sayup-sayup suara burung hantu berpadu dengan lolongan anjing liar. Embusan desau angin terdengar menggoyang pepohonan di tepi telaga. Langkah Ki Kamung pulang teriringi simfoni dari alam. Binatang malam mulai menampakkan diri menghidupi alam.

4.

ASAL MULA SI BAYI

Sepanjang perjalanan, Ki Kamung merasakan keanehan. Sosok bayi dalam dekapannya seolah memberikan kedamaian. Hutan gelap dan senyap serasa tidak membuat Ki Kamung merasa takut. Bayi di dalam dekapannya seperti memancarkan cahaya di sepanjang perjalanan. Tidak ada hewan buas yang menyerang mereka berdua. Seolah ada kekuatan gaib yang mengawal Ki Kamung dan sosok bayi. “Sebenarnya, siapakah dirimu, wahai bayi malang? Mengapa engkau bisa berada di dasar telaga itu?” Ki Kamung memberanikan diri bertanya pada sosok bayi di gendongannya. “Aku baru terlahir di dunia. Usiaku baru lima bulan. Orang tuaku adalah anak Ki Demang Pamayutan dan Nyi Bandriyah. Kedua orang tuaku

pemberani yang berjuang untuk Kerajaan Banten. Bapakku merupakan utusan Sultan yang disuruh mempertahankan daerah timur dari serbuan kompeni. Sekaligus, Sultan mengamanahi orang tuaku agar menjaga rakyat di Pamulang. Kedua orang tuaku menghimpun rakyat dengan baik. Rakyat aman dan bisa bersama-sama menghalau serbuan kompeni Belanda. Keamanan dapat terjamin sampai adanya pengkhianatan di dalam,” jelas sang Bayi. “Ya, mereka semua gugur karena pengkhianatan Ranca Mandak, salah satu perwira bawahan bapakku. Ranca Mandak telah berkomplot dengan kompeni untuk melumpuhkan perlawanan kerajaan. Saat bapakku dan para prajurit kesultanan mempertahankan Pamulang, Ranca Mandak melakukan pembelotan dengan menyerang dari dalam,” tambah si bayi. “Sebelum menyerang dari dalam, Ranca Mandak dan para pengikutnya telah menaburkan racun pelemah ke dalam makanan para pejuang. Semua tidak menyadari hal itu. Hingga akhirnya saat pertempuran

tiba, Ranca Mandak menghantam pasukan kerajaan secara tiba-tiba. Banyak yang tersentak karena serangan tiba-tiba itu.” “Menghadapi serangan itu banyak yang tak menduga. Apalagi, setelahnya, tubuh para pasukan yang setia pada kerajaan tiba-tiba lemas. Mereka seolah hilang tenaga, termasuk bapakku. Dengan keadaan seperti itu, mudah bagi pasukan Ranca Mandak untuk mengalahkan mereka. Akan tetapi, prajurit Kesultanan Banten bukanlah prajurit yang mudah menyerah. Para prajurit itu memberikan perlawanan hingga titik darah penghabisan. Mereka tak rela kesultanan diinjak-injak oleh pengkhianat. Ayahku yang dalam keadaan teracuni memerintahkan para pasukan untuk berjuang sampai mati mempertahankan Kesultanan Banten. Pertempuran dahsyat pun tak terelakkan. “Prajurit-prajurit Banten banyak yang gugur dalam pertempuran itu. Sisanya berjuang menyelamatkan diri. Kedua orang tuaku dikalahkan

dan dibunuh oleh Ranca Mandak beserta pengikutnya. Mereka pun mengejar prajurit yang tersisa dan rakyat yang mundur hingga di Situ Pamulang.” “Di Situ Pamulang inilah Ranca Mandak dan pengikutnya menghabisi rakyat dan para prajurit yang tersisa, termasuk prajurit yang menggendongku. Di Situ Pamulang pula, ibuku juga gugur mempertahankan Kesultanan Banten,” tambah si bayi. “Namun, hal luar biasa terjadi. Nyi Pamulang, sang penguasa Situ Pamulang muncul dan menghantam Ranca Mandak sekalian pengikutnya.” “Dengan kesaktian Nyi Pamulang, Ranca Mandak terhempas. Pengikut Ranca Mandak habis ditelan air Situ Pamulang. Tubuh Ranca Mandak terbentur pohon lalu jatuh ke tanah. Tanah pun terbuka dan menelan tubuhnya. Ranca Mandak meronta, tetapi dia tak mampu keluar dari hisapan tanah.” “Para pengkhianat itu habis dikalahkan oleh Nyi Pamulang. Nyi Pamulang pun lantas mengangkat tubuh mungilku. Dibelainya lembut kepalaku.

Sebenarnya tak sepatutnya aku menyaksikan semua ini. Nyi Pamulang memelukku dan mengatakan bahwa aku akan bersatu kembali dengan orang tuaku yang mati syahid.” “Namun, aku harus bersabar dan menunggu seorang pencari ikan bertandang ke Situ Pamulang. Lama sudah aku menunggumu, Ki Kamung. Hanya engkau yang dapat mengantarku bersatu pada kedua orang tuaku,” tandas bayi. “Aku, mengapa harus aku, wahai Bayi? Aku hanya manusia biasa, wahai Bayi?” Ki Kamung pun terheran. “Engkau adalah orang baik yang mau berbagi pada sesama. Engkau mencari ikan karena engkau ingin beramal pada yang tak mampu. Kamung, kau melakukannya hanya semata-mata mengharap rida dari Allah. Engkau sungguh melakukan perbuatan yang mulia!” Ki Kamung hanya terdiam mendengar penjelasan si bayi. Tak terasa air mata haru menetes dari matanya. Mengapa bayi semungil ini harus ditinggal

orang tuanya karena peperangan yang tak henti. Peperangan memang membawa banyak korban, terutama dari mereka yang terlibat di dalamnya. Tak sekadar nyawa, penderitaan juga dirasakan oleh rakyat negeri yang terlibat dalam peperangan. Hati Ki Kamung terenyuh karena memikirkan hal itu. Malam makin larut. Tak terasa, perjalanan mereka berdua menuju rumah Ki Kamung segera berakhir. Rumah Ki Kamung makin dekat. Sungguh ajaib, jarak yang semestinya ditempuh sampai setengah hari dari Pamulang ke rumah Ki Kamung, dapat ditempuh dalam waktu cepat. Akhirnya, Ki Kamung dan bayi di dalam gendongannya pun memijak halaman rumah.

5.

BAYI MENINGGAL

Mereka berdua telah sampai di depan rumah Ki Kamung. Kini tibalah waktu bagi bayi untuk menghembuskan napas terakhir. Tubuh bayi perlahan mulai mendingin. Ki Kamung memandang wajah mahluk mungil di depannya. Ada rasa haru dan iba memandang wajah bayi tak berdosa yang menjadi korban peperangan. “Terima kasih, orang tua! Perjalanan hidupku kini sudah usai. Aku sudah tiba di halaman rumahmu!” ucap bayi itu pada Ki Kamung. “Seperti yang diucapkan oleh Nyai Pamulang, aku akan kembali bersatu dengan kedua orang tua saat telah tiba di rumahmu. Kuburkanlah aku Ki Kamung agar hidupku sempurna dan tak ada tanggungan lain pada diriku,” tambah bayi itu. Ki Kamung tambah iba dalam memandang bayi itu. Dia terenyuh. “Alhamdulillah, kita berdua sudah tiba di rumahku dengan selamat,” jawab Ki Kamung sembari tersenyum kepada sosok bayi di dalam dekapannya.

“Aku akan bertemu dengan Sang Pencipta dan kedua orang tuaku. Segeralah menguburkan aku di halaman rumahmu. Kau adalah orang berjiwa mulia yang akan selalu dilimpahi keberkahan oleh Allah. Memohon dan berpasrahlah selalu hanya kepada-Nya!” ucap bayi itu lirih. Seketika Ki Kamung merasakan keanehan. Tubuh bayi seolah memancarkan sinar. Bau harum juga merebak dari sosok bayi. Mata bayi itu sejenak tampak memandang wajah Ki Kamung dan tersenyum. Setelahnya, mata mungil itu mulai tertutup. Pelan, pelan, hingga tertutup sempurna. Dalam sekejap tubuh bayi itu pun lemas. Semerbak bau wewangian makin kuat memancar dari tubuh bayi. Bau yang membuat segenap penjuru rumah Ki Kamung beraroma wangi. Bunga-bunga di halaman rumah Ki Kamung terlihat mekar. Jenazah bayi seakan memberikan hidup bagi semua yang ada di sekitarnya. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucap Ki Kamung sembari memandang haru wajah bayi di gendongannya itu.

Bayi itu pun meninggal diselimuti kedamaian. Bayi itu berpulang di dalam dekapan Ki Kamung yang hangat. Tak terasa, Ki Kamung juga meneteskan air mata. Walau mereka berdua baru saja bertemu, Ki Kamung merasakan kedekatan dengan bayi itu. “Ya, Allah, mengapa sosok tak berdosa seperti bayi ini cepat meninggalkan dunia ini?” ratap Ki Kamung. “Ia masih belum begitu merasakan kasih sayang sepenuhnya dari kedua orang tuanya,” ujar Ki Kamung. Akhirnya, sesuai dengan permintaan sang bayi, Ki Kamung menguburkan jenazah bayi itu di pekarangan rumahnya. Ki Kamung memperlakukan jasad bayi tersebut dengan perlakuan yang sama kepada orang yang meninggal. Ki Kamung memandikan, mengafani, menyalatkan, serta menguburkan jenazah sang bayi di halaman depan rumahnya. Setiap pagi sebelum berangkat mencari ikan, Ki Kamung semakin mendekatkan diri pada Allah makam tersebut. Setelah hari yang berat itu, Ki Kamung tidak pernah mengalami kesialan saat mencari ikan.

Bahkan, Ki Kamung selalu mendapat ikan berlebih. Hal itu membuat Ki Kamung makin bersyukur. Sedekah Ki Kamung kepada orang yang tidak mampu pun kian banyak. Meskipun demikian, Ki Kamung terus merenungi arti pertemuan dengan bayi itu. Terkadang, saat mencari ikan di Situ Pamulang, Ki Kamung duduk di bawah pohon besar sembari memandang ke telaga mengenang pertemuannya dengan sang bayi. Pikiran Ki Kamung terus berkecamuk, antara sedih, heran, sekaligus rindu dengan sosok bayi. Meskipun bukan keluarganya, Ki Kamung merasakan bayi itu seolah- olah adalah anaknya sendiri. Hari-hari Ki Kamung memang berjalan sebagaimana biasa, tetapi Ki Kamung tetap terkenang akan pertemuannya dengan bayi itu.

6.

KI KAMUNG BERTEMU BAYI

Hingga pada suatu malam, Ki Kamung tak bisa tidur. Ia begitu teringat dengan sosok sang bayi. Dipandanginya makam sang bayi. “Ya, Allah, mengapa aku begitu merindukan sosok bayi itu. Bagaimana kau di alam kubur, Bayi? Semoga engkau bertemu dengan kedua orang tuamu dan mendapat tempat yang layak,” harap Ki Kamung. Ki Kamung lantas melakukan salat malam. Sesudahnya, Ki Kamung mencoba memejamkan mata nya. Saat memasuki tidurnya, Ki Kamung merasakan mimpi yang begitu aneh. “Kamung, terbanglah ke langit, susul bayi itu,” suara itu terngiang di telinga Ki Kamung. Terlihat cahaya di sekitar tubuh Ki Kamung. “Kamung, terbanglah ke langit, susul bayi itu,” suara itu kembali terdengar di telinga Ki Kamung. Ki Kamung merasa mengenali suara itu. Itu adalah suara guru pesantren Ki Kamung.

“Kamung, terbanglah ke langit, susul bayi itu,” lagi-lagi suara itu menyapa Ki Kamung. Seketika Ki Kamung merasa tubuhnya memberat. Ia seakan sulit menggerakkan anggota badannya. Saat mencoba membuka mata Ki Kamung kesulitan. Ada yang mengganduli matanya hingga tak bisa terbuka. Ki Kamung pun meronta mencoba keluar dari mimpinya. “Kamung, terbanglah ke langit, susul bayi itu,” suara itu berkali-kali mengiang. Akhirnya, dalam kondisi antara sadar dan tak sadar, Ki Kamung membaca ayat-ayat suci Alquran. Lantas, tubuhnya terasa ringan. Sinar-sinar di sekitar tubuhnya seketika sirna. “Astaghfirullah,” Ki Kamung pun terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ki Kamung merasa mimpi itu begitu nyata. Apa yang didengarnya benar-benar suara sang guru. “Masyaallah, pertanda apakah ini?” tanya Ki Kamung kebingungan. Malam itu langit begitu cerah. Suasana di tepi Sungai Cisadane hening. Suara jangkrik terdengar merdu. Ki Kamung merasakan tubuhnya tiba- tiba hangat. Terasa hangat dan begitu damai di hati.

Di tengah keheningan itu, Ki Kamung tiba-tiba mendengar lantunan doa yang menggema di telinganya. Ia merasakan doa itu begitu dekat dan begitu kuat. Terdorong rasa ingin tahu, Ki Kamung membuka pintu rumahnya. Alangkah kagetnya menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia melihat ada ribuan orang melantunkan zikir dan tahlil di sekitar makam bayi. Makam bayi memancarkan sinar yang sangat terang. Sinarnya memendarkan kedamaian. Ki Kamung juga terkejut memandang orang-orang yang berduyun datang ke makam bayi. Lantunan ayat suci mengalun dari mulut mereka. Mereka saling berganti mendoakan bayi. Tubuh Ki Kamung pun terasa diselimuti kehangatan. Pada saat itu, Ki Kamung seolah-olah melihat sosok bayi melambai-lambai ke arah dirinya. Bayi itu melangkah mendekati Ki Kamung. Bukan main kagetnya Ki Kamung menyaksikan sosok bayi di depannya. Tubuh bayi terlihat memancarkan cahaya. Di belakang sosok bayi, Ki Kamung juga melihat seorang lelaki dan perempuan. “Ki Kamung, kemarilah,” ujar kedua sosok itu bersamaan.

Ya, dua sosok itu adalah Ki Demang Pamayutan dan Nyi Bandriyah, orang tua sang bayi. Sang bayi melemparkan senyum hangat pada Ki Kamung. Senyuman itu disusul lambaian tangan dari sosok bayi kepada Ki Kamung. Lambaian tangan itu diikuti oleh lambaian tangan Ki Demang Pamayutan dan Nyi Bandriyah. Lambaian itu makin kuat dan seakan mengajak Ki Kamung ikut serta. “Ikutlah!” ujar bayi itu. Sementara, Ki Kamung mendengar lantunan ayat- ayat suci Alquran semakin kuat. Orang-orang semakin khusyuk berdoa. “Bayi, mengapa engkau kembali? Bukankah kau sudah berkumpul dengan kedua orang tuamu?” tanya Ki Kamung keheranan. “Aku ingin membawamu serta, orang tua yang baik hati. Mari bersamaku terbang ke langit,” jawab bayi itu. “Engkau adalah orang yang berhati mulia. Saatnya kau mendapat ganjaran dari perbuatan baikmu wahai orang tua. Kini adalah waktumu menikmati semua perbuatan baik yang telah kau lakukan selama ini,” tambah si bayi.

Bayi pun makin melambaikan tangannya pada Ki Kamung. Entah apa, kaki Ki Kamung tiba-tiba bergerak ke depan mengikuti lambaian bayi itu. Senyum mengembang dari wajah tua Ki Kamung. Lambaian itu rupanya disambut Ki Kamung dengan suka cita. “Bayi, tunggu aku!” ucap Ki Kamung sembari berlari ke arah bayi itu pergi. Ki Kamung pun melayang mengikuti bayi. Akhirnya, Ki Kamung mendekap bayi itu. Mereka pun terbang bersama ke langit. Sementara itu, lantunan ayat-ayat suci Alquran terus terdengar dan makin menguat. Orang-orang yang berdoa di sekitar tempat itu kian khusyuk berdoa. Semua orang itu mendoakan Ki Kamung dan sosok bayi. Semua berdoa agar jalan Ki Kamung dan bayi itu terang di sisi-Nya. Malam yang hening berubah menjadi syahdu dengan lantunan doa dan ayat-ayat suci. Keesokan harinya, penduduk melihat sudah ada dua makam berdampingan. Makam Ki Kamung dan makam si bayi. “Masyaallah, Ki Kamung tidak ada. Ki Kamung berpulang. Ki Kamung dikuburkan di samping bayi yang ia temukan,” suara-suara masyarakat saling bersahutan.

“Ki Kamung adalah orang baik. Mungkin ia dikubur langsung oleh malaikat,” ujar salah seorang di antara penduduk yang menyaksikan keajaiban itu. “Ya, Allah, kita merasa kehilangan.“ “Semoga ada orang lain sebaik Ki Kamung,” timpal penduduk yang lain. “Mari kita bersama mendoakan kepergian Ki Kamung. Semoga ia diberikan ketenangan di sisi-Nya,” lanjut penduduk yang lain. Suasana saat itu menjadi

haru karena kepergian Ki Kamung. Mereka semua berbincang dan mengenang kebaikan-kebaikan Ki Kamung. Seketika mereka semua berkumpul di sekitar makam Ki Kamung dan bayi sembari mendoakan agar mereka berdua diterima di sisi Allah Swt. Karena itulah, makam bayi tersebut dikenal oleh penduduk setempat dengan nama “Makam Keramat Jabang Bayi”. Sinar yang berasal dari makam bayi yang ditemukan di Situ Pamulang membuat makam tersebut juga disebut sebagai “Ki Sinar Pamulang”. Sampai saat ini, Makam Ki Sinar Pamulang menjadi salah satu cagar budaya di Kota Tangerang Selatan.

BIODATA PENULIS

Nama : Dody Kristianto, S.S.
Pos-el Bidang Keahlian: Bahasa dan sastra Riwayat Pekerjaan: : [email protected]
1. 2009–2010: Tentor Bahasa Indonesia Ganesha Operation Unit Jember
2. 2012–2013: Editor Konten Tabloid Nyata dan nyata.com
3. 2014 : Editor Agensi Penerbit Asamedia

Riwayat Pendidikan: S-1: Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (2004—2009)

Judul Buku dan Tahun Terbit (10 tahun terakhir):

  1. Lagu Kelam Rembulan (Kumpulan Puisi, 2012)
  2. Petarung Kidal (Kumpulan Puisi, 2011)

Informasi Lain: Lahir di Surabaya, 3 April 1986. Menulis puisi, cerpen, esai, dan artikel ilmiah. Bergiat bersama Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI). Aktif di organisasi profesi guru. Saat ini bekerja sebagai tenaga teknis di Kantor Bahasa Banten.

BIODATA PENYUNTING

Nama : Sri Kusuma Winahyu
Pos-el : [email protected]
Bidang Keahlian : Kepenulisan

Riwayat Pekerjaan:

  1. Staf Fungsional Umum di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2005—2015)
  2. Kasubbid Modul dan Bahan Ajar, Bidang Pembelajaran, Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015—sekarang) Riwayat Pendidikan:
  3. S-1 Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada
  4. S-2 Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia Informasi Lain: Lahir di Yogyakarta pada tanggal 4 Juni 1975

BIODATA ILUSTRATOR

Nama : Billy Nasution Pos-el : [email protected] Bidang Keahlian: Ilustrator

Riwayat Pendidikan: S-1 Program Studi Desain Interior, FSRD ITB (2006)

Judul Buku yang pernah diilustrasikan

  1. Seri Kecil-Kecil Punya Karya berjudul “The Star Girls” (Mizan, 2007)
  2. Panduan Keselamatan dari Bahaya Api untuk Anak (PT Nusa Halmahera Minerals,
    2010)
  3. Pete the Worried Centipede terbitan (BIP,
    2011)
  4. Teman Baru Mong (BIP, 2014) Informasi Lain: Lahir di Bandung pada tanggal 29 Oktober 1982. Selain mengerjakan ilustrasi, ia aktif sebagai komikus dan pengajar.