GANTIGOL
Vol. 1 Serial Stadion: Anfield
Tulisan: M Bimo Desain Grafis: Jagal Senyap
Perkembang- an Anfield Menjadi
Stadion Terbaik di Tanah
Inggris
Jika membahas tentang Liverpool, maka klub ini tak akan pernah lepas dari markasnya yakni Stadion Anfield. Begitu juga sebaliknya, berbicara tentang Anfield sangat mustahil jika tidak menyinggung Liverpool. Anfield dan Liverpool sudah bagai satu kesatuan, sama seperti klub-klub dan stadionnya yang sudah menghabiskan waktu kebersamaan selama beberapa dekade.
Namun Anfield tidak melulu tentang
GANTIGOL-Serial Stadion: Anfield
Liverpool. Bukan The Reds yang pertama kali menggunakan stadion ini. Melainkan rival sekota mereka yakni Everton. Ya, Anfield dulunya adalah kandang Everton. Bahkan tim berjuluk The Toffees ini berkandang di sana selama tujuh tahun.
Stadion Anfield pertama kali dibuka pada 1884. John Orrell yang merupakan pemilik stadion ini kemudian mendapat tawaran dari John Houlding, salah satu pemilik Everton. Tak butuh waktu lama bagi pemilik Everton untuk meyakinkan Orrell. Sebab, keduanya merupakan teman karib dari kampung yang sama. Keduanya pun sepakat untuk menyewakan Anfield kepada Everton dengan biaya yang murah. Pertandingan pertama Everton di stadion sarat sejarah ini adalah ketika melibas Earlestown 5-0 pada 28 September 1884.
Houlding tak cuma sebagai pemilik klub yang menyewa Anfield saat itu. Pada 1885, Houlding juga menjadi pemilik Stadion Anfield. Meski demikian, Everton tetap harus membayar sewa untuk bisa menggelar laga di sini.
Kurang lebih sebanyak 8.000 suporter Everton rutin memenuhi tribun Anfield
setiap The Toffees berlaga. Ini membuat sang pemilik menambah kapasitas tribun stadion. Semakin besar, Anfield juga kedatangan suporter semakin banyak setiap pertandingannya. Apalagi ketika Everton berubah status menjadi klub profesional pada 1888.
Hal ini yang membuat Houlding sebagai pemilik stadion, mulai memikirkan membawa Anfield ke arah bisnis yang lebih baik. Ia mulai menaikkan harga sewa untuk Everton pada 1890. Ini tentu saja membuat jajaran petinggi klub tak senang. Houlding yang juga merupakan salah satu pemilik Everton kok malah menambahkan biaya sewa untuk klubnya sendiri.
Ini pun menjadi konflik tersendiri bagi petinggi Everton dan pemilik Anfield. Akhirnya karena alasan tersebut dan berbagai alasan lainnya, Everton memutuskan angkat kaki dari Anfield pada 1892 untuk menuju ke Goodison Park. Pada tahun yang sama, Houlding juga mengundurkan diri dari Everton.
Ini meninggalkan Houlding sendirian di stadion dengan tanpa klub yang bermain di lapangannya. Satu-satunya pilihan yang terpikir oleh Houlding saat itu adalah membuat klub baru yang bisa ia jalankan sesuai keinginan. Akhirnya Everton Athletic FC lahir pada Maret
- Kemudian pada Juni 1892, klub itu berganti nama menjadi Liverpool FC dengan warna kebesaran merah. Rupanya klub tandingan Everton ini cukup menarik minat publik untuk
menyaksikan pertandingan Liverpool di Anfield. Keberhasilan klub baru ini membuat Houlding kembali mendirikan tribun baru. Tribun ini mampu menampung 3.000 orang. Tribun yang kemudian dikenal sebagai Main Stand saat ini.
Tribun tersebut dirancang dan dibangun pada 1895 oleh arsitek stadion sepak bola terkemuka, Archibald Leitch. Anfield kembali memperluas stadionnya dan menambah kapasitas penonton pada 1903. Pembangunan ini sempat menuai pro kontra karena stadion kemudian diperluas sepanjang jalan Walter Breck Road.
Anfield juga memiliki tribun dengan nama populer yakni Spion Kop. Nama ini diberikan oleh editor olahraga surat kabar Liverpool Daily Post, Ernest Edwards. Sebutan ini diberikan untuk mengenang pengabdian ratusan pria, kebanyakan mereka dari Liverpool, yang gugur dalam pertempuran di bukit Spion Kop Afrika Selatan selama Perang Boer. Julukan itu bertahan selama bertahun- tahun, hingga kemudian sebutannya diperbarui menjadi The Kop.
Anfield terus mengalami perluasan seiring perjalanan waktu. Pada 1928, tribun The Kop dirancang ulang dan Anfield kembali menambah jumlah kapasitas penonton. Saat itu, stadion ini bisa menampung sebanyak 30.000 suporter. Ini menjadikan Anfield sebagai salah satu stadion dengan kapasitas
penonton terbanyak di seluruh Inggris.
Keberhasilan Liverpool pada tiap musimnya gak selalu berjalan mulus. Tapi perkembangan Anfield sebagai stadion besar di Inggris terus berjalan. Anfield pertama kali punya lampu penerangan lapangan pada 1957. Memasang lampu sorot ini menghabiskan biaya sekitar
12.000 poundsterling. Lampu ini kemudian pertama kali dipakai dalam pertandingan persahabatan kontra Everton. Itu adalah pertandingan memperingati 75 tahun terbentuknya Asosiasi Sepak Bola Daerah Liverpool. Pada 1963, Stadion Anfield kembali dilakukan renovasi. Tribun Kemlyn Road dirobohkan karena alasan usianya yang sudah cukup tua. Kemudian tribun itu digantikan dengan yang baru yang mampu
Perubahan-perubahan ini menjadikan Anfield sebagai salah satu stadion terbaik di Inggris. Anfield mulai memasang tribun duduk di area Paddock yang ada di depan tribun Main Stand pada 1980. Dua tahun kemudian, tribun Anfield End Road juga mulai diubah dari tribun berdiri menjadi tribun duduk.
Satu bangunan yang sangat terkenal di Stadion Anfield yakni Shankly Gates. Gerbang ini dibangun untuk menghargai dan mengenang jasa pelatih legenda Liverpool, Bill Shankly yang meninggal dunia pada 1981. Pada bagian atas gerbang ini tertulis sebuah penggalan lagu yang jadi chant suporter Liverpool, You’ll Never Walk Alone.
Bencana yang terjadi di Stadion Hillsborough memang mengubah wajah sepak bola Inggris. Anfield dan juga seluruh stadion di Inggris mulai diwajibkan memakai tribun duduk pada semua sektornya pada 1994. Ini pun berimbas pada Stadion Anfield. Pemilik stadion dan Liverpool FC harus mengeruk saku mereka untuk perombakan tribun besar- besaran. Mereka sedikit beruntung karena sebelumnya sudah memasang tribun duduk di area Paddock pada tribun Main Stand.
Keputusan ini juga membuat tribun paling terkenal di Anfield, The Kop, harus digusur. The Kop yang merupakan tribun berdiri kini tidak bisa lagi dipakai dan harus diganti menjadi tribun duduk. Dalam masa kejayaannya, The Kop menyambut 30.000 penonton pada setiap hari pertandingan. Oleh karena diganti dengan tribun duduk, kapasitasnya berubah menjadi hanya
menampung 6700 penonton. Dua tahun kemudian atau tepatnya pada 1965, ketika The Beatles menguasai dunia dan Liverpool juga menguasai sepak bola Inggris, Anfield merayakannya dengan menambah atap pada seluruh tribun mereka.
Perubahan paling besar yang terjadi di Anfield adalah ketika tribun Main Stand benar-benar dihancurkan pada
- Tribun ini dirobohkan demi mengaplikasikan struktur stadion yang lebih moderen. Di sepanjang atap tribun Kemlyn Road dan tribun Main Stand yang baru juga kemudian dipasangi lampu sorot dengan kualitas yang lebih baik dari enam belas tahun lalu.
12.390 penonton saja. Penggusuran tribun The Kop ini awalnya membuat banyak suporter takut Liverpool akan kehilangan banyak suara dukungan. Sebab selama ini, The Kop menjadi sektor tribun Anfield yang diisi oleh para suporter yang menyumbang suara-suara lantang. Namun tampaknya dugaan itu tak terbukti. Anfield secara keseluruhan masih menjadi kandang angker bagi tim lawan hingga hari ini. Sebelumnya pada 1992, tribun Kemlyn Road mengalami peningkatan dengan dijadikan dua tingkat. Namanya pun diganti demi memperingati 100 tahun klub Liverpool berdiri. Sehingga kemudian nama tribun itu berganti menjadi Centenary Stand pada September. Selain tribun dan Shankly Gates, Anfield punya beberapa tempat-tempat ikonik yang sarat sejarah di dalamnya. Di antaranya ada Paisley Gates yang dibangun untuk memperingati meninggalnya Bob Paisley. Paisley
merupakan sosok yang menghabiskan seluruh masa kariernya sebagai pemain dan pelatih di Liverpool. Ia juga disebut sebagai pelatih asal Inggris tersukses sepanjang masa.
Ada juga gambar frame berisi logo Liverpool bertuliskan ‘This Is Anfield’ yang ada di lorong menuju ke lapangan. Frame ini sangat ikonik bagi pemain dan pelatih. Ketika mereka berbaris sebelum masuk ke lapangan, seluruh pemain menyempatkan untuk menyentuh frame ini terlebih dahulu.
Tulisan ‘This Is Anfield’ ini pertama kali dipasang oleh Bill Shankly pada 1960an. Ia mengklaim kalau tujuan memasang itu adalah untuk mengingatkan kepada para lawan siapa yang akan mereka hadapi. Ini juga jadi penyemangat dan pengingat bagi para pemain Liverpool ketika sedang bermain di kandang. Menyentuh frame ini sebelum masuk ke lapangan, dipercaya bisa mendapat spirit tambahan untuk memulai laga.
Anfield juga memiliki Hillsborough Memorial, sebuah monumen untuk memperingati korban tragedi Hillsborough. Api abadi dinyalakan ada dan sebuah plakat bertuliskan 96 nama korban dari tragedi tersebut. Liverpool secara sadar merasa bertanggung jawab akan terjadinya bencana terburuk sepanjang sejarah sepak bola Inggris ini.
Selain itu, ada patung Bill Shankly berukuran 2,5 meter yang dibangun di depan stadion pada 1997. Patung ini menggambarkan sang legenda dengan kedua tangan terentang seperti sedang berselebrasi. Alas patung ini menyandang namanya serta tulisan ‘He Made The People Happy.’
Sepanjang sejarahnya, rekor penonton terbanyak di Stadion Anfield adalah terbanyak 61.905 penonton. Rekor ini tercatat pada 2 Februari 1952 ketika Liverpool menghadapi Wolverhampton Wanderers. Sementara penonton paling sedikit yang pernah dicatatkan yaitu
1.000 penonton, ketika Liverpool kontra Loughborough pada 7 Desember 1895. Deretan catatan, rekor dan sejarah ini sebenarnya sudah bisa membuktikan kalau Stadion Anfield layak disebut sebagai stadion terbaik di Inggris. Sementara Everton boleh iri dengan prestasi dan pencapaian Liverpool
bersama Anfield. Pasalnya, selama bermarkas di Anfield, Everton belum pernah menjuarai Liga Inggris. Ia baru pertama kali merengkuhnya malah ketika baru satu tahun keluar dari stadion ini.
Poster Keramat di Stadion
Anfield
Sangat mudah untuk menemukan keunikan dari sebuah stadion. Bisa terlihat dari arsitektur bangunannya, lapangannya atau juga tribun stadionnya. Tapi di Anfield, rumah bagi Liverpool FC dan suporternya, salah satu keunikan di dalam stadionnya itu justru hanya berbentuk poster dengan tulisan ‘This Is Anfield’.
Sejak berdiri pada 1892, Liverpool adalah bagian tak terpisahkan dari Anfield. Maka tak heran jika kata-kata This Is Anfield ini sangat identik sekali dengan klub berjuluk The Reds. Namun, itu bukan hanya sekadar kata-kata. Ada filosofi dan makna yang cukup dalam dari Bill
Shankly, sebagai orang yang pertama kali merancang kata-kata dan memajangnya di lorong menuju lapangan Stadion Anfield.
Bill Shankly merupakan pelatih legendaris Liverpool. Pelatih asal Skotlandia ini setidaknya menghabiskan waktu 15 tahun bersama Liverpool sejak 1959 hingga 1974. Selama di Anfield, Bill telah mempersembahkan tiga gelar juara Liga Inggris, dua trofi FA Cup dan satu gelar juara UEFA Cup.
Poster This Is Anfield ini pertama kali dipasang oleh Bill Shankly pada 1960an. Suatu hari di kantornya, Bill kedatangan tamu seorang petugas stadion yang memberikan sebuah ide. Petugas yang tidak disebutkan namanya ini mengusulkan kepada sang pelatih untuk menaruh sebuah tulisan di lorong menuju ke lapangan.
Bill Shankly setuju dengan ide itu. Tapi ide tulisan awal yang diusulkan si petugas adalah tanda bertuliskan ‘Welcome to Anfield’. Bill tentu saja menolaknya. Pria ini tidak setuju karena tulisan itu malah seperti menyambut tim lawan dan mengajak mereka untuk bersenang- senang. Padahal bukan itu tujuannya.
Lalu Bill Shankly membuat tulisan ‘This Is Anfield’. Kata-kata ini sebenarnya sederhana, namun memiliki makna yang dalam. Menurut Bill, filosofi kata-kata ini bertujuan untuk mengingatkan pemain Liverpool untuk siapa mereka bermain. Sementara tanda ini juga menjadi pengingat bagi tim tamu, siapa lawan yang sedang mereka mereka hadapi.
Tanda itu mulai terpasang di lorong Anfield. Namun, poster itu tak lagi dipasang sejak tahun 1974. Tampaknya Bill membawa pulang poster ini sesudah ia tak lagi bersama Liverpool. Dikutip dari thisisanfield.com, poster itu disebutkan dipajang oleh Bill di belakang tempat tidur di rumahnya. Sebuah fakta yang mengejutkan dari poster bersejarah di Stadion Anfield.
Tanda This Is Anfield Generasi Selanjutnya Diteruskan oleh Bob
Paisley dan Brendan Rogers
Berada di lorong Anfield selama hampir satu setengah dekade, secara tak langsung membuat tanda itu sudah jadi bagian Anfield. Para pemain yang berbaris di lorong sebelum pertandingan
merasakan ada yang kurang ketika poster itu tidak lagi dipasang di tembok lorong.
Akhirnya Bob Paisley, suksesor Bill Shankly di kursi pelatih, membuat tanda This Is Anfield yang baru dan menempatkan itu di mana seharusnya terpasang. Momen ini kemudian terkenal dengan This Is Anfield generasi kedua.
Sejak dipasang pada 1974 usai Bill angkat kaki dari Anfield, This Is Anfield generasi kedua menjadi saksi era prestisius dalam sejarah The Reds. Di mana saat itu Bob yang menangani Liverpool hingga 1983 telah mempersembahkan enam gelar juara Liga Inggris, tiga gelar juara Piala Liga, satu trofi UEFA Cup dan satu trofi UEFA Super Cup.
Bob Paisley, Joe Fagan, Kenny Dalglish, Ronnie Moran, Grame Souness dan Roy Evans menjadi orang-orang penting yang melihat tanda This Is Anfield di lorong sebelum keluar lapangan untuk meraih kesuksesan itu.
Sepeninggal Bob Paisley pada 1983, tanda This Is Anfield generasi kedua ini masih terpajang di lorong sampai 1998.
Pada saat itu, Liverpool masih terus menambah gelar kesuksesannya. Namun sejak 1998, tanda This Is Anfield generasi kedua tak ada lagi di lorong stadion.
14 tahun berselang, akhirnya tanda bersejarah ini dikembalikan pada tempatnya pada 2012. Orang yang memiliki ide ini ialah pelatih Liverpool saat itu, Brendan Rogers. Tak hanya memasangnya di tangga lorong pemain, tanda yang terakhir dipajang pada 1998 itu juga direstorasi atas usul Rogers. Kemudian This Is Anfield pada era Brendan Rogers ini disebut tanda generasi ketiga.
Menurutnya, tanda This Is Anfield ini adalah sejarah penting dari perjalanan Liverpool. Tanda ini tak hanya mengingatkan tentang masa lalu, tapi menggambarkan Liverpool yang sekarang dan juga Liverpool di masa depan. Oleh karena itu, Rogers merasa perlu memasang bagian dari sejarah Anfield dan Liverpool di zaman moderen.
Setelah melewati tiga generasi, tanda itu masih terpasang di Stadion Anfield hingga hari ini. Para pemain tidak hanya melihat tulisan This Is Anfield saja, namun mereka sering menyentuh dan memegang poster ini sebelum masuk ke lapangan.
Kemudian gaya sedang menyentuh tulisan ini jadi budaya dan impian bagi siapa saja yang pernah atau ingin berkunjung ke Anfield. Lihat saja para pemain Liverpool, pasti semuanya memiliki kenangan berfoto
sambil memegang tulisan ini. Begitu juga dengan suporter Liverpool dari seluruh dunia, ketika berkesempatan untuk tur stadion Anfield, salah satu yang paling jadi impian adalah bisa berpose sambil memegang tanda This Is Anfield.
Larangan Juergen Klopp kepada Pemain Liverpool untuk Menyentuh Poster “This Is Anfield”
Harus diakui, Juergen Klopp merupakan pelatih yang mampu mengembalikan kejayaan Liverpool di Inggris, Eropa bahkan dunia. Sejak datang dari Borussia Dortmund pada 2015, Klopp terus membawa perkembangan positif bagi The Reds.
Pada 2019 menjadi tahun kembalinya kesuksesan Liverpool era Klopp. Liverpool mampu kembali merajai daratan Eropa dengan menjuarai Champions League dan UEFA Super Cup pada 2019. Terakhir kali mereka melakukannya pada tahun 2005 atau 14 tahun yang lalu. Kemudian, Klopp juga mampu membuat Liverpool memecah rekor juara Premier League untuk pertama kalinya pada musim 2019-2020. The Reds terakhir kali juara liga pada 1990, saat itu Liga Inggris belum bertransformasi menjadi Premier League.
Satu raihan baru yang ditorehkan Liverpool bersama dengan Klopp adalah juara Piala Dunia Antarklub untuk pertama kalinya pada 2019. Ini tentu menjadi catatan sukses Juergen Klopp
selama lima tahun di Liverpool. Juga menjadi catatan sukses The Reds sejak dua dekade terakhir.
Namun hanya di era Klopp, pemain Liverpool dilarang menyentuh tanda This Is Anfield. Biasanya, pemain menyentuh poster saat berbaris menuju lapangan untuk mendapatkan spirit tambahan dari Anfield. Toh tanda ini merupakan saksi sejarah kesuksesan Liverpool di masa lampau. Ketika pemain berharap mengulang kesuksesan itu dengan menyentuh tanda bersejarah ini wajar- wajar saja kan? Apalagi tradisi menyentuh tanda This Is Anfield sebelum masuk ke lapangan sudah dilakukan sejak 43 tahun yang lalu.
Klopp menerapkan aturan ini pada 2016 lalu. Ia benar-benar melarang pemainnya untuk melakukan itu. Namun, larangan Klopp ini tentu saja bukan tanpa tujuan. Ia mengungkapkan kalau melarang pemain menyentuhnya sampai mereka memenangkan trofi untuk Liverpool.
Juergen Klopp jelas-jelas orang yang sangat menghormati tradisi, seperti saat dia menghormati poster This Is Anfield. Pelatih asal Jerman ini punya pengalaman menyakitkan ketika menyentuhnya terakhir kali kala masih berstatus pelatih Borussia Dortmund. Di Anfield, skuat asuhan Klopp dibantai 0-4 saat itu.
Tapi bukan karena kenangan menyakitkan itu Klopp melarang pemainnya. Ini adalah sebagai lecutan semangat bagi para pemain untuk mempersembahkan gelar bagi The Reds. Usai empat tahun setelah tanda itu direstorasi pada era Brendan Rodgers, Liverpool tak kunjung mendapat gelar prestisius.
Satu-satunya trofi yang mampu Liverpool
raih sejak 2012 adalah piala liga EFL Cup. Sejak saat itu hingga larangan ini muncul, Liverpool masih belum bisa menghasilkan apa-apa lagi.
Setidaknya tiga tahun setelah Klopp melarang pemain untuk menyentuh tulisan This Is Anfield, barulah kemudian membuahkan hasil. Pada 2019, The Reds kembali bisa mengangkat si kuping besar alias trofi Liga Champions di Madrid. Ini adalah gelar prestisius pertama yang diraih Liverpool sejak 15 tahun lalu.
Kemudian ketika Liverpool sudah memenangkan trofi, Klopp menepati janjinya. Ia kembali memperbolehkan pemainnya untuk menyentuh tanda itu ketika masuk lapangan. Momen ini sempat dipotret oleh dokumentasi tim. Sebuah foto ketika Gini Wijnaldum menyentuh tanda ini untuk pertama kali setelah dilarang pada pertandingan kontra Norwich City, Agustus 2019.
Poster merupakan benda sepele yang bisa dibuat dengan mudah. Namun ketika kamu bisa menghargai barang sederhana sebagai benda penting dan bersejarah, makan benda itu akan lebih bernilai dari mutiara sekalipun.
Sejarah Berdirinya The Kop,
Tribun Paling Terkenal di
Anfield
Anfield adalah stadion sekaligus rumah bagi Liverpool dan pendukungnya. Stadion ini berdiri megah di Anfield Road Liverpool, Merseyside, Inggris. Di dalamnya tersimpan sejarah-sejarah luar biasa yang ditorehkan klub berjuluk The Reds bersama dengan Liverpudlian ( julukan suporter Liverpool) di ajang sepak bola Inggris dan juga dunia.
Anfield merupakan stadion angker bagi tim lawan. Sulit bagi mereka untuk mendapatkan barang satu poin setelah bertandang ke sana. Selain memang
karena ketangkasan Liverpool, mereka juga punya pemain ke-12 yang membuat atmosfer stadion penuh gemuruh.
Suara-suara itu berasal dari tribun yang mengelilingi salah satu stadion terbaik di Inggris ini. Namun, tribun yang paling bising menyanyikan chant sudah pasti berasal dari The Kop. Itu adalah nama salah satu tribun paling terkenal di Anfield. Tribun ini berisikan The Kopites, para suporter paling loyal yang selalu mengiringi langkah Liverpool.
Sejatinya ada empat sektor tribun Anfield yang memiliki namanya masing-masing. Selain The Kop, ada tribun Sir Kenny Dalglish Stand, tribun Anfield Road End dan juga tribun Main Stand. Jika keempat sektor tribun itu penuh, setidaknya Anfield mampu menampung lebih dari
54.000 penonton. Dalam sejarahnya, tribun The Kop didirikan pertama kali pada 1906. Tribun ini merupakan hadiah dari klub untuk suporter usai Liverpool berhasil menjuarai Liga Inggris untuk kedua kalinya. Beruntungnya bagi The Reds karena sudah memiliki ribuan pendukung sejak awal mereka berdiri pada 1892. Meskipun saat itu Liverpool masih berstatus klub
Liverpool berhadapan dengan Stoke City. Menurut media lokal, setidaknya ada 30.000 penonton yang terpantau mengisi tribun Spion Kop saat itu. Padahal, kapasitas aslinya hanya 25.000 saja. Oleh karena saat itu tribun ini masih pakai tribun berdiri, maka suporter masih
baru lahir kemarin sore.
Atas kesetiaan tersebut, pemilik klub memutuskan untuk mendirikan tribun baru yang letaknya searah dengan jalan Walton Breck Road. Tribun ini didirkan cukup besar untuk menampung 25.000 suporter di sana. Saat itu, tribun legendaris tersebut dibangun dengan sistem tribun berdiri. Sama seperti tribun di mayoritas stadion sepak bola lainnya di Inggris pada zamannya.
Julukan Kop ini sendiri diberikan oleh editor dan jurnalis olahraga senior dari Liverpool Daily dan Liverpool Echo, Ernest Edwards. Awalnya Ernest menjuluki tribun tersebut dengan nama Spion Kop. Spion Kop adalah nama bukit di sebuah daerah di Afrika Selatan, tempat terjadinya Perang Boer.
Perang yang terjadi pada era 1900an ini menyebabkan banyak tentara Inggris berguguran. Sebagian besar dari mereka berasal dari Liverpool. Kemudian Spion Kop dipilih untuk menjadi sebutan tribun baru Anfield guna menghormati perjuangan pahlawan Liverpool di Perang Boer.
Pertandingan Perdana Liverpool
dengan The Kop
Suporter Liverpool sedang bergembira sekali. Mereka bakal menonton klub kesayangannya di tribun yang baru saja selesai dibuka pada 1906. Saat itu,
diperbolehkan masuk selama masih bisa dijejalkan.
Para suporter Liverpool ini berdesakan di tribun baru pada cuaca yang sangat panas terik membakar kulit dan ubun- ubun kepala. Saat itu memang sedang musim panas. Catatan cuaca panas dengan suhu yang cukup ekstrem sempat tercatat. Namun hal itu tak membuat pertandingan ini diundur.
Di tribun yang belum beratap itu para suporter menyanyi dan meneriakkan setiap chant dengan sepenuh hati. Liverpool berhasil mengakhiri pertandingan Liga Inggris itu dengan skor 1-0 berkat gol Joe Hewitt. Penyerang ini kemudian menjadi pemain pertama yang mencetak gol di hadapan penonton yang ada di tribun Spion Kop.
Sejak saat itu, tribun Spion Kop menjadi tribun paling berisik dan paling ramai dihuni suporter di Anfield. Tribun yang terletak di belakang gawang ini seakan-
akan bagai tembok menakutkan ketika lawan akan menyerang. Sementara bagi Liverpool, melihat puluhan ribu suporternya ada di tribun itu sambil bernyanyi, mengibarkan bendera dan merentangkan syal seakan-akan memberi spirit tambahan dalam pertandingan.
Antusiasme Liverpudlian terhadap tribun Spion Kop terus meningkat setiap pertandingannya. Rekor mencatat, tribun ini pernah diisi oleh 40.000 penonton pada pertandingan kontra Everton pada 29 September 1906. Pemandangan yang sangat mengerikan ketika 40.000 orang berada di tribun yang seharusnya berkapasitas 25.000 orang. Tapi inilah suporter Liverpool. Tak ada yang bisa menghentikan mereka.
Sebutan Spion Kop bertahan selama bertahun-tahun dan cukup melekat di nama Liverpool, Anfield dan Liverpudlian. Hingga akhirnya, nama tribun ini mendapat pembaruan dan berubah dari Spion Kop menjadi The Kop.
Perkembangan Tribun The
Kop
Usai 22 tahun berdiri di belakang gawang Stadion Anfield, tribun The Kop akhirnya direnovasi. Pada 1928, dibangun atap dengan struktur yang kokoh dan sangat megah. Atap yang dibangun ini juga diklaim bisa memantulkan kebisingan yang dibuat oleh para suporter. Sehingga nyanyian lantang mereka bisa terpantulkan oleh atap itu sehingga terdengar lebih keras.
Selain itu, atap ini juga mengubah wajah The Kop dan Anfield itu sendiri. Ukurannya yang besar menambah gagah
penampilan tribun The Kop, sehingga Anfield pun jadi terlihat lebih indah.
Pada tahun yang sama, pemilik Liverpool tak cuma menambah atap tribun Kop saja. Namun mereka juga menambah kapasitas tribun ini. Usai rampung direnovasi, The Kop jadi bisa menampung sebanyak 27.000 sampai 30.000 penonton. Ini adalah kapasitas tribun berdiri terbanyak yang ada di stadion Inggris.
Tragedi Hillsborough dan Hilangnya Minat Liverpudlian
pada Tribun The Kop
The Kop menjadi faktor penting yang mengiringi kesuksesan Liverpool. The Kop juga bisa dibilang sebagai nyawa dan pembangkit atmosfer pertandingan di Stadion Anfield. Ini terjadi sampai pada 1994, lima tahun setelah terjadinya tragedi bencana stadion paling buruk di Inggris yakni tragedi Hillsborough.
Sekadar kembali menyegarkan ingatan, tragedi berdarah di Stadion Hillsborough ini terjadi pada 15 April 1989. Saat itu Liverpool bermain melawan Nottingham Forest pada semifinal FA Cup. Saat itu, stadion-stadion di Inggris baru saja memperkenalkan sekat-sekat di tribun stadion untuk mengkategorikan penonton.
Namun, budaya menjejalkan penonton sebanyak-banyaknya masih belum hilang. Ini menjadikan penonton yang terlalu
banyak membuat mereka tergencet di sekat-sekat tersebut. Hingga akhirnya banyak penonton yang jadi korban akibat kejadian ini. Setidaknya ada 96 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka pada tragedi tersebut.
Tahun 1994 menjadi titik balik wajah baru stadion-stadion di Inggris. Komisaris polisi Peter Taylor menyimpulkan, tragedi Hillsborough merupakan salah satu dampak berbahaya dari tribun berdiri. Meski tak sepenuhnya menyalahkan atau melarang tribun berdiri, namun pada laporan itu Taylor menyarankan agar seluruh stadion sepak bola di Inggris tribunnya diganti menjadi tribun duduk.
Pemerintah kemudian menyambut baik saran dari Taylor. Mereka kemudian mewajibkan stadion di Inggris untuk dilakukan renovasi. Terutama untuk klub yang bermain di Premier League sampai League 2.
Peraturan pemerintah itu pun berdampak bagi tribun The Kop. Mau tak mau, The Kop yang terkenal sebagai tribun berdiri harus digusur dan dilakukan renovasi besar-besaran.
Pertandingan Terakhir Liverpool Disaksikan The Kop Berujung
Kekalahan
Pertandingan melawan Norwich City pada 30 April 1994 menjadi laga yang patut dikenang oleh para Kopites. Tribun The Kop terlihat lebih meriah dari biasanya. Bendera, spanduk dan konfeti banyak dibawa oleh 16.000 suporter yang hadir pada pertandingan itu. Kopites bukan sedang merayakan Liverpool juara, namun itu adalah pertandingan terakhir Liverpool disaksikan puluhan ribu mata suporternya dari tribun The Kop.
Sebelum kick off, beberapa pemain
diarak di depan tribun. Nama-nama seperti Billy Liddell, Ian Callaghan, Kenny Dalglish, Tommy Smith, Steve Heighway dan lain-lain menemui Kopites sebagai seremoni perpisahan. Sementara para suporter membalas lambaian tangan para pemain dengan chant. Pemain Norwich saat itu bahkan ikut dalam suasana syahdu perpisahan tersebut.
Tapi sayang, Liverpool tak mampu menghadiahi perpisahan yang indah bagi para Kopites. Sebab, saat itu The Reds harus kalah di kandangnya sendiri dengan skor 0-1. Tapi tampaknya acara utama hari itu bukan lah pertandingannya, melainkan momen terakhir kalinya di mana tribun The Kop diingat sebagai tribun berdiri.
Suasanya menjadi haru ketika peluit akhir telah dibunyikan. Beberapa kelompok suporter enggan meninggalkan The Kop dan mencoba untuk berdiri di sana selama mungkin. Sebab mereka tahu, ketika kaki telah meninggalkan Anfield hari ini, mereka tidak akan bisa berdiri di tribun ini lagi keesokan hari.
Ketika The Kop harus direnovasi menjadi tribun duduk, tentu akan terjadi pemangkasan kapasitas penonton. The Kop awalnya mempunyai kapasitas
30.000 penonton. Setelah tribunnya diubah menjadi duduk, kapasitas tribun The Kop turun drastis menjadi hanya
12.390 penonton. The Kop Hari Ini Tetaplah The Kop yang Dulu Liverpool awalnya sempat khawatir akan kehilangan banyak suara teriakan suporter pada pertandingan kandang. Pada awal-awalnya sih memang iya, banyak suporter yang tidak terbiasa menonton sepak bola sambil duduk. Oleh karena belum terbiasa, suporter memang
agak ogah-ogahan untuk datang ke Anfield. Apalagi semenjak jadi tribun duduk, harga tiket juga tentunya ikut naik.
Meski demikian, The Kop tetaplah The Kop. Tribun ini selalu menyimpan daya magis setiap diisi oleh Kopites berapapun kapasitasnya. Mundur sedikit pada tahun 2005, tahun ini disebut sebagai tahun kebangkitan tribun The Kop dan penghuninya. Liverpool selalu mendapat sanjungan dari pelatih dan pemain lawan.
Kala itu, Liverpool menjadi penguasa Eropa. The Reds berhasil menjuarai Liga Champions dan Piala Super UEFA. Sementara di domestik, Liverpool mampu menggondol gelar juara Piala FA.
Salah satu kunci kesuksesan Liverpool dalam menguasai Eropa adalah suporter dan atmosfer Anfield yang selalu bikin tim lawan tegang. Hal ini diakui oleh beberapa pemain Juventus kala itu yang didepak dari Liga Champions oleh Liverpool. Emerson, Fabio Cannavaro dan Fabio Capello sepakat kalau atmosfer Anfield cukup untuk bikin mereka nervous. Salah satunya, Liverpool harus berterima kasih kepada suporter yang berada di tribun The Kop dan tribun sektor lainnya atas nyanyi-nyanyian yang luar biasa.
Selama bertahun-tahun, tribun dan seisi penghuni The Kop mengajarkan loyalitas tanpa batas kepada klubnya. Meskipun itu bentuknya hanya lewat chant dan lagu. The Kop bukan sekadar salah satu sektor tribun di Anfield. Tapi ini adalah rumah bagi para Kopites bagaimana pun keadaan dan bentuk tribunnya.
Fields of Anfield Road
Outside the Shankly Gates I heard a Kopite calling: Shankly they have taken you away But you left a great eleven Before you went to heaven Now it’s glory round the Fields of Anfield Road
All round the Fields of Anfield Road Where once we watched the King Kenny play (and he could play) Steve Heighway on the wing We had dreams and songs to sing Of the glory round the Fields of Anfield Road
Outside thе Paisley Gates I heard a Kopitе calling Paisley they have taken you away. You led the great 11 Back in Rome in 77 And the redmen they are still playing the same way
All round the Fields of Anfield Road Where once we watched the King Kenny play (and he could play) Steve Heighway on the wing We had dreams and songs to sing Of the glory round the Fields of Anfield Road
All round the Fields of Anfield Road Where once we watched the King Kenny play (and he could play) Steve Heighway on the wing We had dreams and songs to sing Of the glory round the Fields of Anfield Road
Sebagaimana media, Gantigol diciptakan dengan serius serta menggodoknya dengan serius. Namun dengan penyajian tulisan yang jauh dari kata berat dan serius. Ibarat hidangan, kami memposisikan diri sebagai dessert. Anda sudah melahap semua informasi yang tersedia, tinggal mau menutupnya dengan kami atau tidak. Bisa saja Anda makin puas dengan hidangan hari ini, atau malah merasa refresh dan siap kembali menikmati hidangan yang belum Anda rasakan dari yang tersedia itu.
Selayaknya hiburan, Gantigol disajikan dengan mengedepankan sisi keriaan dan kerayaan sebuah hiburan. Kemenangan, kejenakaan, Kontak kami: kekonyolan hingga satir di sepakbola akan kami sajikan dengan menghibur. Email: [email protected] Drama, tragedi,kesedihan dan getirnya Website: gantigol.com sepakbola pun, menurut kami, Instagram: gantigol_id juga perlu diriakan dan dirayakan. Twitter: gantigol Sepatutnya online store, Gantigol juga Youtube: Gantigol menyediakan merchandise sepakbola. Bukan hanya kualitas terjamin –ini tentu saja- setiap produk kami akan bertema dan bercerita. Tak cuma collectible item dengan kemasan yang menarik, produk kami tetap mengambil irisan kepatutan untuk dapat dikenakan sebagai kebanggaan. Kemudian daripada itu, semuanya tergantung kedewasaan dan kebijaksanaan Anda menyikapinya. Kami hanya ingin mengajak untuk ‘Budayakan dan Rayakan Sepakbola’!