Baca PDF (OCR): Realisme Sudjojono

4 halaman · 4 halaman diproses dengan OCR · 6.2 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. REALISME Sudjojono
  2. PENGHARGAAN KEPADA PELOPOR ANGKATAN 1945

3CME1950

Menerima dan mengasih

Riwajat Hidup K.H. Dewantoro

Realisme Sudjojono

resla

20 MEI 1950

DR. SETIABUDDHI, alias Douwes Dekker, seorang pemimpin tua jang revolusioner. (Ipphos) Ia jakin akan keunggulan bangsa Indonesia.

REALISME Sudjojono

Oleh: T. Sumardjo

B ANGSA Indonesia di-tahun2 belakangan ini sangat giat kelihatannja mengadakan kampanje2. Ditilik dari satu sudut, hal ini menandakan adanja pengaliran pikiran jang bersumber pada keinginan hendak memperbaiki atau mentjapai sesuatu dengan tjara serempak, dan kita boleh bergembira karena perhalian demikian·adalah alamat hidupnja daja pikiran dan djiwa...... asal tidak merugikan masjarakat. Pemerintah boleh menggunting duit rakjat jang berkeringat dan duit kapitalis jang bertumpuk, asal keuangan betul2 disehatkan.P.K.I. boleh mengadakan peristiwa, asal rakjat tidak kehilangan njawa dan benda dengan sia-sia. Wanita boleh ber-new-look dan ber.lipstick, asal tahu bahwa gaun, tjat-bibir dan bentuk badan mesti seimbang, supaja benar2 sedap dipandang dari sudut aesthetika, kulturil dan physical culture.

Semuanja itu menurut hukum sebabakibat. Pemerintah, partai dan wanita i u menundjukkan keberaniannja dan barangkali djuga keaslian pikirannja untuk mendjalankan kampanjenja masing-masing dengan tudjuan tertentu Namun ada baiknja kita bersikap hatihati dan bertanja dalam batin: adakah udang dibalik batu? Manusia2 dari masjarakat kita masih terlalu sangat banjak sekali mempunjai naluri-gerombo'an (kudde-instinct) jg. sangat gampang dipengaruhi serta dibimbing ke arah tertentu oleh seorang atau sekawanan orang jang hendak melantingkan sesuatu tjita (idee). Manusia dimasjarakat kita rata2 masih belum dewasa akal dan rochaninja. Ia gampang mendjadi penganut, dan tak djarang ia

baru sanggup mem-beda2kan jang' buruk dari jang baik, sesudah mendapat pengalaman-pengalaman pahit atau sesudah terlandjur mendjadi korban.

Kalau sudah begini halnja dalam dunia konkrit, apa lagi dalam dun'a abstrak. Adalah mendjadi sifat jang lebih tinggi pada diri manusia, apabila ia sanggup mengerdjakan sesuatu menurut peladjaran dan kejakinan jang abstrak. Manusia jang bekerdja serta berkorban menurut kejakinan ketjerdasan dan idam-idaman adalah naik setingkat dua tingkat dari sesamanja jang hanja mendengarkan tuntutan perut atau kemewahan benda.

Seniman ialah salah satu manusia jang paling banjak bergaul dengan dunia abstrak; karenanja ia mesti paling ta'at pada kata-hati dan kata-djiwa. Ia berwadjib untuk lebih berhatinja. hati lagi kalau mengadakan sesuatu kampanje, karena otak, hati dan djiwa adalah unsur-unsur insani jang paling halus dan mudah retak. Lagi pula, pemimpin jang sungguh-sungguh tak akan mau menimbulkan sesuatu setjara serempak, kalau belum ada kepastian pada dirinja, bahwa jang dipropagandakan itu sesuatu jang baik atau berharga benar2

Sudjojono adalah seniman, dan karena ia sedikit-banjaknja telah mendjadi tokoh bersedjarah (historische figuur) selaku bapak seni lukis Indonesia Baru. maka sedikit-banjaknja kita berhak menuntut pertanggungandjawab dari padanja, bilamana ia mengadakan kampanje, apa lagi karena kita tahu bahwa ia adalah ketua dari suatu badan kesenian (S.I.M.) Dan

PRAMBANAN

kampanje jang didjalankannja ialah realisme,

Sudjojono

Menurut penuturannja sendiri, pikiran pertama untuk ,gerakan" ini timbul padanja, sewaktu ia ikut dengan gerilja, dimana ia terharu oleh keadaan jang dilihatnja serta dialaminja sendiri: rakjat, penderitaan, perdjoangan, siksaan dsb. Ia sendiri memegang pistol, ajahnja sendiri terbunuh, lukisan2nja sendiri hilang, satu patung nja dibikin sasaran peluru oleh serdadu-serdadu Belanda setjara main-main Dengan ichlas kitapun ikut merasakan keharuannja itu; kita mengerti betapa kedjadian2 tadi berkesan dan berpengaruh padanja. Kamipun mengerti bahwa besar keinginannja hendak mentjerminkan realiteit2 itu dalam buahkerdjanja dan kami jakin bahwa dgn. begitu perdjalanan djiwa serta keseniannja bisa menurut djalan fitri dan wadjar; kami jakin bahwa sampai sekian keseniannja ada'ah buah kedjudjuran dan kebenaran, sehingga mendjelma delam lukisan2nja,Sekko" (pe. rintis-djalan) 1) dan potret lelaki dgn. lintjak (sematjam bangku dari bambu). jang digambarnja setjararealistis"

Kami ulangi: sampai sekian. Dan kami peringatkan lagi pada pembatja bahwa menurut pengertian Sudjojono realiteit ialah apa jang disaksikannja dengan mata kepalanja sendiri. Pun kami kesimpulkan bahwa sampai sekian Sudjojono memang berhak menamakan diri realis dan menamakan lukisan-lukisannja itu realistis. Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan apa jang kami kesimpulkan nanti. Dengan sendirinja timbullah pertanjaan: apakah jang diperbuatnja selandjutnja dan apakah realisme itu?

Berdasarkan pokok-pikirannja tadi, Sudjojono mengandjurkan:.,Gambarlah sendok-seper.i sendok, lintjak seperti lintjak". Dengan kata-kata lain: seadanja menurut tanggapan pantjaindera. Tangan mesti digambar sampai kelihatan benar uratanja, keriput_keriputnja, bulu-bulunja; badju tak boleh ketinggalan segala lipit2nja, bunga bungaannja, dst

Sekaligus nampak pada kita beberapa kenjataan:

1. Sudjojono melemparkan suatu teori jang telah diketemukan oleh manusia dalam menelaah sedjarah manusia dalam ilmu filsafat, ialah relativiteit. Tak mungkin kita mesti menghitung djumlah daun2 dipohon; djika mungkin, tak mes'i djumlah jang diketemukan si A sama dgn. jang didapat si B. Tak mesti djuga bahwa warna daun jang menurut A itu hidjau-muda misalnja, menurut B tidak hidjau muda; pun ada pengaruh tjahaja matahari. Tak mungkin ada tjat jang dibikin dipabrik itu warnanja mesti sama benar2 dengan warna didalam alam.

2. Realisme disama-ratakan sadja dengan naturalisme. Mungkin menurut dia tak ada perbedaan antara kedua-duanja. Naturalisme adalah tanggapan optis mengenai alam disekeliling kita, dengan mengesamsubpingkan tanggapan batin jang jektif. Persamaan naturalisme dan realisme ialah memandang keadaan2 (benda-benda. orang.orang dsb.) sebagai barang2 jang mengisi ruangan jang tertentu. Naturalisme terdjadi misalnja, kalau pelukisnja menangis, tapi menggambarkan keadaan jang dilihatnja tidak sebagai orang2 jang menangis, tapi sebagai orang2 (= barang jg. bisa bergerak dan menangis etc.) jang tak ada hubungannja dengan objeknja. Realisme terdjadi misalnja, kalau pelukisnja menangis dan menggambarkan keadaan disekitannja (jang benar2 terdjadi: realiteit) sebagai orang jang menangis (ini djuga realiteit). Dengan begitu ada hubungan antara objek dan subjek. 2). 3. Sudjojono hendak menjatakan sikap-hidup jang realistis (misalnja melihat serta merasakan perdjoangan, penderitaan rakjat) dengan lukisan2 jang realistis. Tapi terniata jang dimaksudkan itu ialah tjuma tjaranja menggambar (sendok presis seperti sendok), dan bukan batin (misalnja: penperasaan djadjahan itu djahat, tanah-air su. bur, aku sedih, gerilja itu berani), padahal perasaan2 inipun realistis ada dalam hati peradjurit, ada dalam kalbu pelukisnja sendiri). Tjara jang demikian itu sebetulnja naturalistis; meskipun memang realisme bisa memindjnm tjara itu dari na turalisme, namun seorang realis tak usah mesti memakai tjara itu. Realis boleh memakai tjara2 impressionistis, expressionistis, surrealistis. idealistis, ialah sebagai alat; tapi djiwa, tjita dan sikap-hidupnja dalam pada itu tetap realistis.

Djadi jang dipropagandakan oleh Sudjojono sebagai realisme ialah: mengambil motif-motif dari apa jang ada menurut pantjaindera serta melukiskannja setjara naturalistis.

Dia lupa bahwa orang bisa mendjadi realis dengan melukiskan apa jang terasa oleh batin dan dengan tjara apa sadja, asal isinja tetap realistis. Diapun tak sadar bahwa dengan begitu dia mendjadi pengandjur supaja orang dadi budak realiteit, budak sendok, budak lintjak,dengan membuta-tuli meng-copy sadja apa jang disadjikan oleh alam dan keadaan, se-olah2 manusia tak berkemauan, tak berperasaan, dan tak mampu mempengaruhi alam serta keadaan. Dia tak sadar, bahwa inipun bertentangan dengan pertumbuhan djiwa orang Indonesia dewasa ini. Dia tak sadar bahwa, kalau Picasso menggambar harlekijn atau aduan-banteng, setjara expressionistis atau surrealistis, maka dibelakang bentuk2 jg. sama sekali tidak naturalistis itu ber. dirilah realiteit njeri jang menekan hati (schrijnende realiteit) jang tadinja menggerakkan perasaan pelukis itu,

Tjoba perhatikan lukisan2 dari pelukis-pelukis Perantjis modern jang bekerdja a.l. setjara impressionistis itu. Bukankah isinja banjak mengandung realiteit? Sebaliknja: tjoba perhatikan pelukis-pelukis Eropah dari Zaman Pertengahan jang naturalistis tjaranja; bukankah Botticelli banjak berisi hal. hal jang irreal (Lahirnja Venus, Musim Bunga dll.)? Mari kita dengarkan utjapan Miguel de Unamuno:,Realiteit dalam kehidupan Don Quichotte bukanlah kintjir-angin itu, melainkan raksasa-raksasanja." Bukankah perasaan

Don Quichotte jang menjangka bahwa kintjir-angin adalah raksasa jg. harus dibrantasnja itu the grim reality? Pun disini dunia pantjaindera mendjadi sekunder!

Djalan fikiran Sudjojono membawa kita pada konklusi: dia menjangka naturalisme itu realisme, dan dia tak menjadarkan benar apa arti realisme, pe. njesatan fikiran itu menjesatkan dia dan mungkin djuga beberapa orang lain-lain disekitarnja jg. mau tak mau dibawanja kesuatu haluan; inilah reali. teit jang tak direalisirkan — oleh manusia Sudjojono jang real, sehingga realismenja bukan lagi realisme sebenarnja, tapi hanja bajangan (chajalan, maya) jang tjuma ada dalam sangkaan manusia Sudjojono!

Demikianlah uraian diatas mengenai Sudjojono sebagai pelukis. Apakah konsekwensianja sebagai pembawa-tjita serta pemimpin badan kesenian?

sesuatu tjita Orang melantingkan oleh buah2 baru biasanja dibimbing

anasir2 dari kesenian-kesenian di Indonesia di-zaman2 jang lampau? Kami rasa, tidak. Relief2 dari Borobudur adalah irreal, wajang expressionistis, wajang beber primitif, senilukis, dan seni patung Bali, pun seni keradjinan Sumba tidak pula naturalistis. Adakah diambilnja sesuatu dari negeri-negeri tetangga? Sepandjang pengetahuan kami, di Mesir, India, Tiongkok, Djepang dll. tak ada hasil-hasil naturalistis jang begitu kuatnja, sampai dapat ,,mengilhamkan" suatupertjobaan ,,evolusi-revolusioner" Sudjojono ini. Adakah dipindjamnja dari Eropah'? Kalau betul demikian, maka ia hendak mengrenaissance-kan Renaissance atau Klasisisme, hingga dengan begitu mautak-mau Indonesia hendak diseretnja beberapa abad kembali dalam sedjarah.

Kami rasa bukanlah tradisi2 itu semuanja jg. mendjadi pikiran_pembinanja, melainkan ia hendak membentuk tradisi baru; diharapkannja tradisi baru ini akan berlangsung bertahun-tahun dihari kemudian serta dianut oleh

Digitalisasi oleh Penggiat Buku MARI - Rusli

fikiran tertentu jang telah diinsafkan dan hendak diminta masjarakat menjadarkannja, sebagai leitmotiv serta anasir pembaharuan jang sehat dalam kemadjuan zaman dan bangsanja. Dalam prakteknja ini berarti bahwa orang hendak memberantas apa jang usang dan lapuk, beserta anasir jang merugikan, ataupun dibawanja pembaharuan (disangkanja baru). Semuanja menurut hukum alamijah: sebab-akibat, aksi_reaksi. Pemberantasan dan pembaharuan atjapkali seiring dan sedjalan, hingga tak mungkin ditjeraikan jg. satu dari jang lain. Tjontoh2 dalam sedjarah umpamanja: Klasisisme sebagai reaksi terhadap Rokoko; aliran Romantik lawan Realisme Renaissance; Tolstoy jang mengatakan seni dari dan untuk rakjat (Proletkult); Rousseau jang berseru: Kembali kepada alam. Mari kita tengok sebentar apa jang memotorisir Sudjojono dalam hal ini.

Dia mentjari tjorak Indonesia. Seni lukis Indonesia hendak diwudjudkannja setjara ,,realistis". Adakah dipakainja

orang banjak. Bahwa keadaan tanahair dizaman sekarang didjadikan sumber,,ilham"-nja, itu kami anggap baik, sudah selajaknja dan fitri (natuurlijk). Tapi interpretasinja jang salah tentang realisme-naturalisme, serta kejakinannja bahwa ,,realisme"nja itulah tjorak definitif senilukis Indonesia Baru, ini tidak mejakinkan kami.

Mungkin ia mau mengingatkan kita bahwa orang Indonesia sekarang harus hidup dan berfikir setjara real serta harus meninggalkan dunia mystik idealisme kolot, dsb. Ini kami setudjui,

2) Ini ada persamaannja dengan expressionisme, dan memang sewadjarnja begitu Tapi pada expressionisme tak usah dipertahankan keadaan jang sebenarnja (jang njata menurut pantjaindera) sedangkan perasaan batin dititik-beratkan. Expressionisme bisa meninggalkan objek realisme tidak inilah djustru isi jang real menurut semangat zaman. Tapi persangkaannja bahwa hal itu dalam senilukis harus ditjapai dengan tjara jang diandjurkannja itu, tak mungkin kami setudjui.

Digitalisasi oleh Penggiat Buku AMINAH -T. Sumardjo

Dan lagi, tjaranja mendesakkan tjara melukis itu kepada orang lain tak dapat kita namakan demokratis. Andaikata ia pemimpin jang sungguh2 membawa tji.a pembaharuan orisinil lagi besar, maka orang lain akan menganutnja tiada dengan andjuran setjara demagogis, sebagaimana ternjata dari utjapannja kepada seorang pelukis lainnja: ,,Djangan kaukira bahwa ke. Indonesiaan tertjapai dengan primitivisme seperti jang ada dalam lukisanmu jang ini.Teruskanlah lukisanmu jang lain itu!" (jang setjara ,,realistis"!). Alangkah bedanja dengan Picasso jang beranggapan: Kalau me. reka meniru saja, dan karenanja mendapat akibat jang tak diinginkan, itu salah mereka sendiri."

Entah apa maksud Sudjojono selain dari mau menjintakan lingkunganpengaruh itu; kami rasa ada udangnja dibaik batu. Apabila ia jakin, bahwa djalan jang dipilihnja itu menudju pada tjintanja, itu ipso facto kami hormati sebagai buah-fikiran manusia jg. mentjari, asal tidak disertai sifat inginkuasa (overheersing) jang pada hakekatnja egoistis-fascislis.

Ketjuali itu, dari sudut perkemba. ngan kesenian Sudjojono sendiri, mulai dulu sampai kini, ternjata jang paling kuat dalam dirinja ialah bukannja menjerah pada dunia pantjaindera, melainkan mempertahankan, bahkan mengedepankan, sampai2mendesakkan sekali dunia kalbu dan djiwanja. Karenanja ia lebih tjondong pada surrealisme, expressionisme dan realisme jang benar-benar, bukan realisme jang -sengadja atau tidak - berkamuflase naturalisme. Karena itu perumusannja seperti: ,,gambarlah lintjak seperti lintjak" itupun kami rasa bukan sikap-hidupnja jang terutama, dan karena itu pula aliran jang dipropagandakannja sekarang ini tak akan bisa hidup lama, sehingga dia sendiri djuga akan berobah lagi. Ternjata bahwa Sudjojono tak hanja kurang penge.ahuannja tentang manusia (mensenkennis), tapi iapun dalam hal ini tak mengenal awaknja sendiri. Pada suaiu waktu dia'akan sadarkan ini, dan dia akan mengalami bahwa tjitanja itu tidak berarti untuk kebudajaan Indo. nesia.

lon2 pelukis dulu jang dididiknja setjara anti-akademis.is?

Panait Istrati menulis roman²nja jg. gilang-gemilang dalam bahasa Perantjis (dia sendiri bukan orang Perantjis) dengan memakai kamus Perantjis, sedangkan tehniknjapun tak menghiraukan tehnik2 orang lain. Dan lagi, Sudjojono mes.inja, apalagi sebagai pemimpin dan pendidik(?), tidak menitik-beratkan padasempurnanja tehnikmeskipun tehnikpun kami pandang perlu - tetapi pada soal adakah atau tidak potensi (kesanggupan, kapabiliteit) pada seseorang jang berusaha mendjadi pelukis. Kalau bakat, inteligensi dan kemauan ada, maka soal mengedjar tehnik sampai sempurna hanjalah soal waktu. Sebab tehnik dengan tiada disertai potensi adalah dangkal dan hampa seni. Semuanja inilah meminta pertanggungan-djawab pada Sudjojono, dan kami sajangkan

sangat, kalau ia bersikeras meneruskan hal-hal jang tidak semestinja.

Karangan ini hendak memperingatkan padanja, dan kami djaga supaja tidak mengenai atjara sachsi (persoonlijk), karena soal2 jang tak disadarkannja ilu telah ada jang merugikan perdjoangan kebudajaan, sedangkan dia sendiri maksudnja berusaha menjehatkannja

Sampai sekarang kami dapat angkat topi terhadap Sudjojono mengenai seni-lukisnja. Tapi selebihnja dari itu, mengenai tjita, filsafatnja, dsb. kami lebih baik menempatkan lagi topi itu diatas kepala, lalu pergi kerestoran Tionghoa dengan tangan2 dalam saku tjelana, sambil bersiul-siul menjanjikan lagu tjiptaan baru:

,Oh boy, he's juist a poor, poor fellow!"

Jogja, 26 April 1950

Soal lainnja jang menggerakkannja untuk kampanje ini ialah keinginannja hendak mengadakan ,,sanering"; dgn. ,realisme" (batja: naturalisme) itu ia berharap bisa memisahkan kaum pengadu-untung (avonturier) dilapangan seni-lukis dari kaum pelukis sedjati", karena orang jang tak bisa menggambar lintjak persis lintjak" (dengan kata2 lain: tidak menguasai tehnik) itu menurut anggapannja pasti bukan pelukis dan tidak pantas disebut begitu. Dengan sjarat simplistis ini ditentukan olehnja ,,diploma" pelukis, Kami mau melupakan bahwa ini bertentangan dengan apa jang dilansirkannja dahulu; kami ingat bahwa pendirian manusiapun ,,panta rei" (berobah). Kami mau melupakan bahwa Sudjojono dulu anti-akademisme. Tapi kami tak dapat, tak mau dan tak boleh melupakan, bahwa nilai seniman tak mungkin ditentukan olehdiploma" tersebut tadi. Kami tak boleh membiarkan sadja orang jang bermain-main dengan konsekwensi setjara sembrono Dan bagaimana dan dimana rasa tanggung-djawab Sudjojono terhadap tja-

1) Sekarang namanja diganti mendjadi: Prambanan"

PENGHARGAAN KEPADA PELOPOR ANGKATAN 1945

Dibawah ini kami tjantumkan suatu seruan dari Taman Siswa Djakarta supaja diperhatikan oleh peminat Seni dan Kebudajaan dan segenap wan diseluruh Nusantara.

Bersama ini kami mengadjak kepada segenap Seniman jang derma- Penggemar Kebudajaan Indonesia untuk turut serta mengusahalkan suatu batu n:san untuk makam Almarhum Chairil Anwar jang meninggal pada 28 April 1949, sebagai tanda penghargaan djasanja sebagai salah seorang pelo por didalam lapangan seni Sastra Indonesia.

Perletakan batu pertama dari batu misan tsb. hendaknja dapat dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1950.

Segala sumbangan dapat dialamatkan kepada Taman Siswa Djakarta, Djalan Garuda No. 25.

TAMAN SISWA

DJAKARTA