GANTIGOL
Vol. 1 Serial Stadion: Stamford Bridge
Tulisan: M Bimo Desain Grafis: Jagal Senyap
Ambisi yang Nyaris Meruntuh-
kan Stamford Bridge
Rumah bagi si London Biru. Stadion megah yang memiliki kapasitas 41.631 penonton. Menjadi stadion kesembilan dengan kapasitas terbesar di Inggris pada musim 2019/2020. Inilah Stamford Bridge. Stadion kebanggaan Chelsea sejak klub berdiri pada 1905 silam.
Stamford Bridge merupakan salah satu stadion tertua di Inggris. Cikal bakal stadion ini sudah mulai berdiri sejak
- Namun, saat itu Stamford Bridge bukanlah stadion untuk klub sepak bola. Berbeda dengan kondisi terkini yang GANTIGOL-Serial Stadion: Stamford Bridge
dijadikan stadion khusus sepak bola, stadion yang kerap disebut The Bridge ini dulunya adalah arena untuk olahraga atletik dan juga rugby.
Stadion ini berlokasi di Fulham, London. Bangunannya berdiri dekat dengan sungai bernama Stanford Creek. Sungai ini mengalir sejalan dengan jalur kereta api yang ada di belakang Tribun Timur. Aliran Sungai Stanford Creek ini bermuara di Sungai Thames.
Sungai tersebut menjadi inspirasi nama dari Stamford Bridge. Oleh karena stadion ini berdiri di dekat sungai Sanford, maka awalnya dinamai Sanford Bridge. Nama tersebut berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Penamaannya juga mengikuti dari nama sungai dan jembatan yang menjadi landmark daerah sana, yakni Sungai Stanford Creek dan jembatan Stanbridge. Lalu akhirnya Stanford Bridge sempat jadi nama resmi stadion ini. Sebelum kemudian berganti menjadi Stamford Bridge hingga sekarang.
Stadion ini kemudian secara resmi dibuka pada 28 April 1877. Klub atletik asal London, London Athletic Club
memiliki akses eksklusif di stadion ini selama 28 tahun. Sebelum akhirnya pada 1904, kepemilikan tanah dan bangunan Stamford Bridge berpindah ke tangan Gus dan Joseph Mears bersaudara.
Berbeda dengan pemilik sebelumnya, Mears bersaudara membeli stadion ini dengan tujuan ingin membangun sebuah klub sepak bola. Stamford Bridge kemudian dijadikan markas klub yang akan mereka buat tersebut. Setelah mendapatkan hak milik, Gus dan Joseph Mears kemudian menugaskan arsitek stadion sepak bola terkemuka, Archibald Leitch, untuk merombak tribun utama.
Saat itu, tribun Main Stand Stamford Bridge didesain untuk menampung sebanyak 5.000 penonton. Proyek ini dimulai sejak Februari 1905 dimulai dengan membuat tribun Main Stand yang memiliki atap. Kemudian tiga tribun lainnya dibiarkan terbuka tanpa atap. Bangunan luar stadion juga dirombak habis-habisan. Awalnya Stamford Bridge tidak memiliki tembok yang menutup lapangan. Lalu kemudian dibuatlah tembok berbentuk oval yang mengelilingi
stadion bagian luar.
Stamford Bridge memiliki tanah yang sangat luas. Bahkan, pada awal pembangunannya stadion ini direncanakan memiliki kapasitas 100.000 penonton. Tanah stadion ini menjadi yang terluas kedua di London setelah tanah bangunan serbaguna The Crystal Palace.
Sebelum Gus dan Joseph Mears benar- benar ingin mendirikan klub baru, Stamford Bridge sempat ditawarkan kepada Fulham FC. Namun klub tersebut menolaknya. Sehingga kemudian Mears bersaudara tak memiliki pilihan lain selain memulai klub mereka sendiri.
Setelah dibentuk pada 10 Maret 1905 di ruangan yang terletak di atas sebuah pub, diputuskan klub baru tersebut diberi nama Chelsea FC dan bermarkas di Stamford Bridge. Chelsea dan Stamford Bridge memulai perjalanannya di kancah sepak bola Inggris mulai musim 1905/1906.
Shed End, Matthew Harding,
East Stand dan West Stand
Usai pertama kali direnovasi pada 1905, tak ada perubahan apapun pada wajah Stadion Stamford Bridge selama 25 tahun ke depan. Hingga akhirnya pada 1930, tribun yang kemudian diberi nama Shed End direnovasi. Tribun yang terletak di belakang gawang ini adalah rumah bagi para suporter garis keras Chelsea.
Suporter ini benar-benar menguasai Shed End selama puluhan tahun. Sejak era 1960an hingga 1980an, suporter garis keras ini yang mayoritas menyumbang suara nyanyian paling berisik dan juga membuat banyak chant. Suporter ini juga yang membuat tribun sisi selatan lapangan Stamford Bridge itu berganti dari semula bernama Fulham Road End menjadi Shed End sampai hari ini.
Pembangunan tingkat dua tribun Shed End beserta atapnya ini juga sempat menuai kontroversi. Saat itu, atap ini hanya menutupi seperlima bagian tribun saja. Rupanya, alasan atap itu dibangun adalah bukan untuk melindungi suporter dari sinar matahari ataupun hujan. Melainkan, demi kepentingan bandar judi balap anjing yang waktu itu sering menggunakan lapangan Stamford Bridge sebagai lintasannya.
Shed End mendapat renovasi total pada 1994 ketika stadion di Inggris mulai diwajibkan untuk dipasang kursi di semua sektor tribunnya. Namun para suporter penghuni Shed End tak seberuntung Kopites, suporter Liverpool penghuni tribun The Kop Anfield, yang mendapat pertandingan perpisahan sebelum tribun mereka digusur.
Pertandingan terakhir Chelsea di hadapan tribun Shed End terjadi pada 7 Mei 1994 saat melawan Sheffield United. Namun saat itu, tak ada yang tahu kalau itu adalah pertandingan terakhir sebelum tribun berdiri diganti berkursi. Oleh karena keputusan renovasi yang cukup mendadak.
Kembali ke 1939, sang pemilik mulai membangun tribun di sisi utara stadion. Tribun ini sempat jadi sorotan karena desain bangunannya yang unik dan beda sendiri dari desain tribun lainnya. Archibald Leitch kembali ditunjuk sebagai arsitek pembangunan tribun ini. Namun, pembangunannya sempat terganggu karena pecahnya Perang Dunia II. Ini membuat rencana awal tribun utara yang akan dibangun dua tingkat menjadi gagal. Kemudian tribun utara dibangun dengan kapasitas yang lebih sedikit dari rencana awal.
Tribun utara mendapat beberapa kali renovasi. Yakni pada 1976 dan 1993. Terakhir, tribun utara direnovasi untuk kemudian dibangun menjadi tribun dua tingkat yang dinamakan Matthew Harding. Nama tribun ini diambil dari nama yang sama yang pemiliknya merupakan mantan wakil ketua Chelsea. Investasi Matthew sangat membantu perkembangan Chelsea pada awal dekade 1990an. Sebelum akhirnya ia tewas dalam kecelakaan helikopter pada 22 Oktober 1996.
Musim 1964/1965 adalah salah satu periode terbaik Chelsea. Pun dengan Stamford Bridge yang akhirnya memiliki tribun lengkap di kedua sisinya. Rencana untuk membangun Tribun Barat di seberang tribun timur mulai dilakukan pada 1965. Tribun ini dibangun memanjang sepanjang sisi lapangan dan dilengkapi dengan atap.
Pada awal berdiri, Tribun Barat mampu menampung 6.000 penonton. Namun, tribun ini mendapat renovasi pada 1997 karena kondisi kayunya yang sudah mulai reyot. Tribun Barat yang baru terlihat tak jauh beda dengan Tribun Barat Stamford Bridge pada hari ini. Punya tiga tingkatan yang di bagian paling depan merupakan tribun untuk para pemain cadangan dan juga staf Chelsea.
Tribun ini terlihat begitu megah saat menghabiskan dana renovasi sebesar 30 juta poundsterling. Sebanyak 13.500 penonton bisa ditampung di tribun dengan pemandangan terbaik yang dimiliki Stamford Bridge itu.
Shed End, Matthew Harding,
East Stand dan West Stand
Dengan tribun Stamford Bridge yang telah dibangun seluruhnya pada 1975 dan tim yang juga mulai menapaki kesuksesan, membuat pemilik Chelsea saat itu ingin kembali merombak stadion. Mereka ingin membuat Stamford Bridge cukup untuk menampung setidaknya
60.000 penonton dengan memakai tribun duduk seluruhnya. Tentu butuh banyak dana untuk mewujudkan keinginan itu. Namun, rencana ini dibuat pada waktu yang salah. Sebab pada awal 1970an, Inggris
Tribun Timur menjadi satu-satunya tribun yang jarang mendapatkan renovasi besar-besaran seperti tribun lainnya. Ketika periode 1990an, ketika Shed End, Matthew Harding dan Tribun Barat direnovasi, sang pemilik tidak melakukan itu pada Tribun Timur. Tribun ini adalah tribun asli yang sudah berdiri sejak Stamford Bridge dibuka.
mengalami krisis ekonomi. Para pekerja mulai dari buruh, mandor sampai kontraktor melakukan boikot. Hal ini menjadikan banyak pembangunan terhambat, termasuk Stamford Bridge.
Akhirnya, krisis ekonomi ditambah dengan keterlambatan pembangunan stadion membuat sang pemilik harus
merogoh kocek lebih banyak dari rencana, hingga menyebabkan over budget. Ditambah lagi dengan penurunan performa Chelsea di lapangan membuat klub asal London ini harus menjual para pemain bintangnya, terdegradasi dan nyaris bangkrut.
Stamford Bridge sempat terbengkalai usai hak miliknya dibeli oleh perusahaan pengembang properti. Beberapa tanah di sekitarnya diubah jadi perumahan dan juga supermarket. Chelsea pun harus mengungsi ke stadion Fulham dan Queens Park Rangers untuk sementara waktu.
Sampai akhirnya gerakan Save The Bridge! mencuat pada periode 1980an hingga 1990an. Gerakan ini dibuat tujuannya untuk mencoba menyelamatkan Stamford Bridge yang saat itu kondisinya sudah benar-benar memprihatinkan. Gerakan ini menjadi faktor penting dalam suksesnya pengambilan alih hak milik Stamford Bridge kembali ke pelukan Chelsea FC pada 1992.
Wajah Baru Stamford Bridge
Pemilik Chelsea yang baru, Ken Bates, mulai membasuh wajah kumuh Stamford Bridge usai terlantar begitu lama pada
- Renovasi besar-besaran ini dimulai dari tribun utara yang dibangun kembali, menggunakan kursi di semua sektor tribun dan meningkatkan tribun utara menjadi dua lantai. Pada tahun itu, kemudian diputuskan nama Matthew
Harding.menjadi pengganti nama tribun utara.
Selanjutnya tribun Shed End yang mengantre untuk direnovasi. Atapnya diperbarui dan tribun ini sepenuhnya dipasangi kursi untuk menjadikan Stamford Bridge punya tribun duduk di seluruh area stadion. Kini posisi tribun lebih dekat dengan lapangan. Lintasan anjing yang dulu sempat ada pun telah dihilangkan. Membuat Stamford Bridge benar-benar seperti stadion sepak bola seutuhnya.
Pada saat yang bersamaan, sang pemilik juga membangun Chelsea Village Hotel. Ini akan menjadi bagian utama dari pengembangan desa Chelsea yang nantinya akan menjadi proyek besar.
Sementara itu pada 2001, untuk pertama kalinya Tribun Timur direnovasi besar-besaran. Sejak awal berdiri, tribun ini hanya sekali mendapat renovasi, itu pun hanya renovasi minor. Namun kali ini Tribun Timur dirombak total untuk mempercantik Stamford Bridge dan menambah daya tampung penonton.
Kini, The Bridge bisa menampung penonton sebanyak 41.631. Dari stadion atletik, berubah menjadi stadion oval yang megah di tanah Inggris. Usai lama terbengkalai, wajah baru Stamford Bridge membuat ia menjadi stadion sepak bola terbesar di London. Namun sejak Emirates Stadium dan Wembley dibangun, posisi Stamford Bridge sebagai stadion terbesar di London tersaingi.
Stamford Bridge merupakan salah satu stadion tertua dan terbesar di Inggris. Beruntung ia tidak tutup ketika krisis yang melanda pemilik dan klubnya. Setelah Stamford Bridge bertransformasi menjadi stadion moderen, ini berdampak juga pada prestasi Chelsea. The Blues mulai mampu menjuarai Premier League untuk pertama kalinya pada musim 2004/2005, atau tiga tahun setelah Stamford Bridge pulih dari krisis.
“Save The Bridge!” Polemik
Kepemilikan Stamford Bridge
Stamford Bridge merupakan salah satu stadion di Inggris yang memiliki kisah kelam. Di balik kemegahan bangunannya, stadion yang sering disebut The Bridge pernah merasakan posisi benar-benar di bawah, ditelantarkan dan nyaris tinggal sejarah pada awal era 1970an.
Krisis ekonomi yang dialami Inggris, membuat Mears bersaudara sang pemilik Chelsea dan Stamford Bridge pun merasakan hal yang sama. Kondisi Inggris yang carut marut membuat banyak proyek peningkatan dan perluasan tribun-tribun stadion tertunda.
Padahal awalnya, Gus dan Joseph Mears sedang melakukan peningkatan kapasitas penonton Stamford Bridge menjadi 60.000 orang.
Krisis inilah yang kemudian membawa polemik kepemilikan Stamford Bridge yang terjadi pada waktu itu. Sehingga kemudian muncul gerakan Save The Bridge yang diinisiasi oleh suporter Chelsea. Kemudian gerakan ini yang menyelamatkan Chelsea dari kehilangan markas besar mereka untuk selamanya.
Fase krisis Chelsea dan Stamford Bridge terjadi mulai dari era 1970an sampai 1990an. Saat itu bisa dibilang adalah periode masa kelam yang pernah dialami Chelsea sepanjang sejarah. Pertama, keadaan finansial mereka sedang kurang bagus. Kedua, keadaan krisis finansial itu kemudian berimbas kepada performa prestasi mereka di lapangan. Bahkan, klub berjuluk The Blues ini harus menjual para pemain bintangnya karena terdegradasi ke Divisi Dua pada musim 1974/1975.
Sejak mengambil alih hak kepemilikan Stamford Bridge pada 1904, Gus dan Joseph Mears menjadi penguasa London Biru. Usai Gus Mears meninggal dunia
pada 1912, bisnis sepak bola Chelsea pun dilanjutkan oleh keluarganya secara turun temurun. Hanya krisis ekonomi dan kesulitan finansial yang membuat keluarga Mears mau melepas Chelsea kepada Ken Bates pada 1982.
Ken Bates sendiri bukan seseorang yang bisa dianggap remeh di dunia sepak bola. Sebelum mengambil alih Chelsea, ia pernah menjabat sebagai ketua Oldham dan wakil ketua Wigan Athletic. Bates pernah berprestasi bersama Wigan. Saat itu, pria ini turut berjasa dari luar lapangan atas promosinya Wigan ke National Division. Namun, sosok Bates tak lepas dari kontroversi. Salah satu yang sering terjadi, ia turut mengatur strategi tim daripada pelatih.
Nasib Stamford Bridge Usai
Berpisah dari Chelsea
Pebisnis asal London ini datang menyelamatkan Chelsea dari keterpurukan. Namun, satu yang tak bisa Bates ambil dari tangan keluarga Mears adalah Stadion Stamford Bridge. Tawaran Bates yang mau membeli Chelsea satu paket dengan stadionnya ditolak oleh David Mears dan anak Gus Mears. Sehingga The Blues dan suporternya terancam tak bisa menggunakan Stamford Bridge lagi.
Ironisnya, saat itu The Bridge sebenarnya sedang di tengah-tengah renovasi dan membutuhkan kucuran dana untuk merampungkannya. Tentu Bates adalah orang yang tepat karena pria ini tak segan mengucurkan uang untuk klub yang ia miliki. Namun, keluarga Mears tampaknya lebih senang menjual kepemilikan stadion ini kepada seorang pemilik pengembang properti yang memberi angka tawaran beli lebih tinggi.
Dijual ke pengembang properti, Stamford
Bridge mulai tak pernah digunakan sebagaimana mestinya. Bahkan, stadion ini dibiarkan terbengkalai begitu saja. Sang pemilik malah menyulap tanah di sekitar stadion yang masih kosong menjadi perumahan dan juga supermarket.
Rumput lapangan stadion mulai meninggi dan tumbuh tak beraturan. Tanaman liar pun saat itu terlihat mengambil alih tribun-tribun Stamford Bridge yang belum sepenuhnya rampung direnovasi. Pemandangan ironis yang terlihat dari stadion dengan luas tanah terbesar kedua di Inggris pada masanya.
Polemik kepemilikan dan kenyataan pahit yang harus dirasakan Chelsea dan markasnya membuat suporter tidak tinggal diam. Mereka mulai turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi besar-besaran. Spanduk besar bertuliskan ‘Save The Bridge’ dan ‘Battle of the Bridge’ diangkat para suporter Chelsea di sudut jalanan London.
Aksi besar-besaran suporter Chelsea ini akhirnya membuat Bates menemui Marler Estates, yang mana merupakan perusahaan properti pemilik Stamford Bridge. Dari perundingan yang mereka lakukan, akhirnya terjadi kesepakatan yaitu Ken Bates boleh menyewa Stamford Bridge selama tujuh tahun dari Marler Estates. Namun itu hanyalah kesepakatan sementara yang sebenarnya membuat Chelsea belum sepenuhnya memiliki stadion itu lagi.
Selama aksi Save The Bridge berlangsung, Chelsea harus berjuang di Divisi Dua Liga Inggris. Oleh karena tak ada hak menggunakan Stamford Bridge lagi, maka Chelsea menjadi tim musafir. The Blues harus menjalani laga kandang di Craven Cottage, kandang Fulham, atau menyewa Stadion Loftus Road yang merupakan kandang Queens Park Rangers.
Tragedi Heysel Penyelamat
Stamford Bridge
Kesepakatan yang terjadi antara Marler Estates dan Ken Bates cukup untuk membuat demonstrasi Save The Bridge mereda. Chelsea kembali bisa bermain di The Bridge dan penonton mulai bisa menempati tribun mereka kembali.
Namun jika ditilik dari hasil kesepakatannya, jelas ini menguntungkan sang perusahaan properti. Mereka hanya ongkang-ongkang kaki menunggu uang sewa yang dibayar per tahun oleh Chelsea. Kalaupun klub dan suporternya berulah dengan cara boikot atau tidak mau bayar uang sewa, Marler Estates sebagai pemilik penuh Stamford Bridge berniat akan meruntuhkan stadion dan memperluas kompleks perumahan serta pertokoan miliknya.
Kemudian perubahan nasib terjadi pada 1985 ketika Tragedi Heyse terjadil. Peristiwa kerusuhan stadion yang
menewaskan 39 penonton ini rupanya berdampak pada bisnis stadion Marler Estates. Ditambah lagi, krisis ekonomi Inggris yang masih lemah pada 1980an membuat mereka mau tak mau melepas Stamford Bridge.
Marler Estates menawarkan stadion ini kepada pebisnis dan konglomerat asal Skotlandia, John Duggan. Duggan merupakan pemilik dari markas Fulham, Stadion Craven Cottage. Kesepakatan pun terjadi. Stamford Bridge ini akhirnya dimiliki oleh orang yang mengerti dan peduli sepak bola kembali.
Ken Bates melalui CPO kemudian menandatangani kesepakatan dengan Duggan atas penyewaaan Stamford Bridge selama 20 tahun dimulai dari Desember 1992. Pada kesepakatan ini, disebutkan juga ada opsi pembelian hak milik.
CPO menjadi organisasi bagian klub yang sangat penting. Pada kesepakatannya, Stamford Bridge bukan lagi milik Chelsea, melainkan milik Chelsea Pitch Owner. Selain mengelola Stamford Bridge secara penuh, CPO juga memiliki proyek Chelsea Village yang merupakan proyek pengembangan Desa Chelsea. Sejak 1993, Chelsea Village dibangun di tanah sekitaran stadion. Ken Bates dan CPO mulai membangun hotel, museum serta Chelsea Megastore sebagai langkah awal.
Polemik di era Roman Abramovich
Usai era Ken Bates berakhir, kepemilikan Chelsea jatuh di tangan Roman Abramovich sejak 2003. Namun, rumitnya kepemilikan Stamford Bridge tak usai sampai di situ.
Pada 2011, Roman Abramovich berniat
menjual Stamford Bridge. Isu yang beredar, Chelsea rencananya akan berpindah markas ke Earls Court Exhibition Centre yang tak jauh dari Stamford Bridge. Alasan Abramovich ingin menjual The Bridge adalah karena ia kesusahan untuk membuat stadion ini lebih besar, luas dan megah.
Tapi rencana ini tentu saja mendapat reaksi keras dari Chelsea Pitch Owner. Sebab, hak merek, logo dan apapun yang berkaitan dengan Chelsea harus diberikan kepada CPO selaku pengelola Stamford Bridge. CPO beralasan kalau hak merek dagang Chelsea ini berada di tangan Chelsea Pitch Owner bukan Chelsea Football Club.
Sejak mengalami krisis finansial pada 1970an, Chelsea seakan berkubang di lumpur bernama polemik kepemilikan. Padahal, Chelsea sudah melalui sebanyak tiga era berbeda yakni Keluarga Mears, Ken Bates dan Roman Abramovich.
Sementara itu, Stamford Bridge semenjak dibangun juga sudah melalui beberapa era yakni London Athletic Club, era Keluarga Mears, era Marler Estates dan kini berada dibawah kendali Chelsea Pitch Owner. Namun rasanya polemik ini belum ada jawabannya juga.
“Battle of Stamford Bridge”
Penanda Keterpuruk- an Chelsea
Jika kamu mengetik kata kunci ‘Battle of Stamford Bridge’ di mesin pencarian Google, kamu akan dibawa mengenal sejarah peperangan Inggris. Stamford Bridge di sini tidak merujuk kepada stadion kandangnya Chelsea. Sebab, pertempuran yang terjadi di Jembatan Stamford, Inggris ini pecah pada 25 September 1066. Peristiwa ini mempertemukan pasukan Inggris dan Norwegia di medan perang, yang kemudian dimenangkan oleh Inggris.
Namun pada 1988, Battle of Stamford Bridge kembali terjadi. Kali ini terjadi di
stadion sepak bola dan ‘peperangan’ ini dilakukan oleh suporter Chelsea yang menjadikan suporter, pemain dan staf Middlesbrough sebagai korbannya.
Musim tersebut adalah musim yang cukup kelam untuk The Blues. Chelsea berada di urutan keempat terbawah pada akhir musim Divisi Satu Liga Inggris. Situasi ini membuat mereka harus menjalani babak playoff dan memenangkan pertandingan itu jika ingin tetap berada di divisi teratas liga.
Lawan yang mereka hadapi pun bukan tim yang sepele. Meski berasal dari Divisi Dua, Middlesbrough saat itu sedang bangkit untuk kembali naik ke Divisi Satu pada musim depan. Skuat asuhan Bruce Rioch sejatinya diisi oleh pemain-pemain muda. Dengan semangat pemain muda, Boro berharap bisa mengatasi Chelsea yang diisi oleh pemain-pemain senior.
Chelsea menghadapi situasi sulit. Pada leg pertama, mereka kalah 0-2 saat bertandang ke markas Boro. Mereka harus membalikkan keadaan dengan minimal mencetak tiga gol ke kandang Middlesbrough tanpa boleh kebobolan saat menjamu mereka di leg kedua yang digelar di Stamford Bridge.
Namun ekspektasinya jauh dari harapan. The Blues bahkan tak bisa menyamakan ketertinggalan agregat atas Boro. Mereka hanya mencetak satu gol di menit awal pertandingan leg kedua. Satu-satunya gol yang tercipta pada pertandingan tersebut dan tak mampu menyelamatkan Chelsea dari jurang degradasi.
Namun itu baru satu kondisi buruk yang terjadi pada sore itu. Sedetik setelah wasit meniup peluit akhir, para suporter tuan rumah yang berang mengacau. Mereka turun ke lapangan, berlari secara brutal dan menghajar pemain Chelsea dan juga Middlesbrough yang ada di dekat mereka. Sore itu, Battle of Stamford Bridge pecah.
Kesaksian Pemain
Middlesbrough
Pada akhir pertandingan, pemain dan
10.000 suporter Boro yang bertandang ke Stamford Bridge harusnya bisa merayakan pesta promosi mereka. Namun yang terjadi justru mereka terjebak pada situasi mencekam, meskipun tidak menjadi yang terburuk, selama melakukan awaydays. Mesin gol Boro, Bernie Slaven, merupakan pencetak gol kedua yang penting pada leg pertama di Ayresome Park. Sesaat pertandingan berakhir, Slaven reflek berlari sekencang mungkin ke tribun suporter Middlesbrough. Sambil mengepalkan tangan ke atas, Bernie Slaven memutar badannya berlari ke tribun utara. Namun pemandangan yang ia lihat tak normal. Tidak ada raut wajah kesenangan dari suporter Boro. Ekspresi mereka malah seperti takut sambil menunjuk ke arah belakang Slaven. Ketika memalingkan wajah ke belakang, Slaven sudah melihat ribuan suporter Chelsea
dari 40.000 orang yang datang saat itu berlarian di lapangan.
Pemain asal Irlandia ini akhirnya mengurungkan niatnya untuk ke berlari ke tribun. Ia mengubah rute pelariannya ke arah lorong ganti pemain. Slaven mengenang saat itu sebagai momen di mana ia pernah berlari paling kencang sepanjang hidupnya.
Di lorong itu beberapa pemain muda Middlesbrough sudah berkumpul. Mereka terus berlari sampai ujung lorong dan masuk ke ruang ganti. Sementara beberapa sisanya masih ada yang menyelamatkan diri dari pukulan-pukulan suporter Chelsea yang mengamuk.
Pemain Middlesbrough dikunci di ruang ganti selama kurang lebih satu jam lamanya. Mereka harus merayakan keberhasilan promosi ini dengan suasana yang canggung. Mau merayakan, tapi khawatir dengan situasinya. Tidak dirayakan juga rasanya sayang.
Keributan Sudah Mulai dari
Sebelum Sepak Mula
Dilansir GazetteLive, Senin (5/7), wartawan senior Eric Paylor menyaksikan kerusuhan itu dengan jelas dari tribun media. Menurutnya, itu adalah atmosfer terburuk yang pernah ia rasakan di lapangan. Sebelum pertandingan dimulai, ada teror-teror yang dilayangkan suporter Chelsea kepada suporter dan pemain Middlesbrough. Pada saat pertandingan pun staf Chelsea banyak yang menyulut emosi para pemain cadangan dan suporter Boro.
Eric Paylor menyebutkan keributan sebenarnya sudah terjadi di Tribun Utama Stamford Bridge sebelum pertandingan dimulai. Tribun itu adalah tempat umum
di mana, sering ada suporter tim tamu yang tidak tergabung dengan kelompok menempati tribun ini. Juga Tribun Utama jadi tempat para keluarga dan orang-orang penting lainnya duduk menyaksikan pertandingan. Mereka yang berkaitan dengan Middlesbrough yang duduk di tribun utama mendapat berbagai teror dari suporter Chelsea. Bahkan gesekan beberapa kali sempat terjadi.
Namun anehnya, polisi dan petugas keamanan tidak bertindak tegas menghentikan keributan yang terjadi di tribun utama. Bahkan ketika peluit akhir berbunyi dan ribuan suporter dari tribun Shed End mulai menyerbu lapangan, petugas keamanan pun telat bereaksi. Alhasil suporter tuan rumah berhasil mencapai tribun suporter tamu untuk melakukan penyerangan dengan cepat dan tanpa hambatan dari petugas.
Sesampainya di tribun tim tamu, ratusan suporter Chelsea berusaha memanjat pagar pembatas antara tribun dan lapangan. Sementara suporter lainnya sibuk melempari suporter Middlesbrough dengan batu atau benda apapun yang bisa mereka temukan di lapangan.
Beruntungnya saat itu tidak banyak suporter yang terluka. Suporter Boro berhasil mempertahankan tempat mereka berdiri meski diserang ribuan suporter Chelsea yang marah justru karena performa klubnya sendiri.
Pasukan polisi berkuda akhirnya tampak memasuki lapangan Stamford Bridge usai 20 menit kericuhan berlangsung. Polisi ini kemudian membubarkan hooligan Chelsea yang berkumpul di depan pagar tribun tim tamu.
20 menit yang panjang bagi suporter Middlesbrough yang mencoba
menghalau serangan sporadis dari fans garis keras Chelsea. Mereka melayangkan tinjuan dan dorongan kepada para suporter yang mencoba memasuki tribun mereka dengan cara memanjat. Kemudian tak satu pun suporter Chelsea yang bisa merangsek masuk. Mereka kemudian hanya melempari tribun suporter Middlesbrough dengan batu.
Perayaan Paling Canggung yang Pernah Ada di Liga Inggris
Usai polisi berhasil meredam keributan di dalam stadion, situasi sudah mulai tenang. Namun demi alasan keamanan, para pemain dan suporter Middlesbrough belum boleh meninggalkan Stamford Bridge untuk beberapa jam ke depan. Di luar stadion sebenarnya sudah banyak suporter Chelsea yang bakal mencegat mereka di tengah jalan.
Setelah Battle of Stamford Bridge mereda, Middlesbrough kembali mengambil alih stadion Chelsea ini untuk merayakan kesuksesan. Para pemain yang tertahan kurang lebih satu jam di ruang ganti mulai kembali ke lapangan. Mereka akhirnya bisa menyapa suporter mereka usai dinyatakan promosi ke Divisi Satu.
Meskipun suasana masih canggung, apalagi masih ada staf Chelsea yang berada di lapangan, namun Middlesbrough merayakan keberhasilan ini dengan cukup sederhana. Perayaan yang cukup tenang. Para pemain hanya berfoto di depan tribun utara Stamford Bridge dengan ribuan fans di belakangnya.
Para suporter pun hanya sedikit berbalas chant dengan para pemain. Mungkin ini bakal jadi salah satu perayaan kesuksesan paling canggung dalam
sejarah Liga Inggris.
Nasib Chelsea dan Middlesbrough Pasca “Battle of Stamford Bridge”
Jika kamu berpikir kalau Chelsea sedang apes karena terdegradasi dan suporternya berbuat onar, itu salah besar. Satu-satunya yang dirugikan di sini sebenarnya Middlesbrough dan para suporternya.
Pertama, teror yang dilakukan oleh suporter Chelsea sasarannya tak semata-mata hanya suporter dan pemain Middlesbrough saja. Nyatanya di stadion, hooligan Chelsea juga banyak mengejek wartawan, staf eksekutif Middlesbrough, anggota parlemen sampai keluarga dari para pemain Middlesbrough.
Situasi ini menimbulkan ketidaknyamanan mereka yang duduk di Tribun Utama Stamford Bridge. Stewart Bell, anggota parlemen Partai Buruh untuk Middlesbrough bersaksi, banyak perlakuan kurang menyenangkan yang ia terima ketika duduk di Tribun Utama. Mulai dari diejek, dilempari kulit jeruk, disemprot bir sampai diludahi.
Kedua, Middlesbrough tidak bisa mendapat perayaan yang layak akibat kericuhan Battle of Stamford Bridge. Middlesbrough sangat layak mendapatkan tiket promosi. Namun keberhasilan tersebut berujung pada perayaan canggung yang dilakukan dengan perasaan setengah hati.
Ketiga, kerusuhan yang terjadi di Stamford Bridge mengambil panggung kesuksesan Middlesbrough di halaman utama koran-koran di Inggris. Nyaris semua berita yang dijadikan headline media massa Inggris saat itu adalah kerusuhan yang terjadi, bukan prestasi
Middlesbrough yang berhasil promosi.
Chelsea sudah pasti mendapat hukuman berat. Beberapa sumber menyebutkan, lima pertandingan kandang awal Chelsea pada kiprahnya di Divisi Dua tidak boleh dihadiri dengan penonton. Begitu juga dengan lima pertandingan tandang mereka. Namun belum diketahui apakah saat itu The Blues dikenakan hukuman denda lainnya atau tidak.
Battle of Stamford Bridge menambah masalah kelam stadion ini. Dalam sejarahnya, Stamford Bridge pernah mengalami krisis pada periode 1970an hingga 1990an. Stadion ini juga pernah nyaris dirobohkan dan diganti menjadi kawasan perumahan dan pertokoan saat itu.
Belum lagi ketika stadionnya terbengkalai sehingga menimbulkan gerakan Save The Bridge yang bergejolak di jalanan London sebelum berakhirnya era krisis. Kemudian ada juga polemik kepemilikan dari era Keluarga Mears, Ken Bates sampai era Roman Abramovich saat ini yang juga tak kunjung menemui titik terang.
Di masa yang akan datang bakal ada konflik apa lagi, Bridge?
Sebagaimana media, Gantigol diciptakan dengan serius serta menggodoknya dengan serius. Namun dengan penyajian tulisan yang jauh dari kata berat dan serius. Ibarat hidangan, kami memposisikan diri sebagai dessert. Anda sudah melahap semua informasi yang tersedia, tinggal mau menutupnya dengan kami atau tidak. Bisa saja Anda makin puas dengan hidangan hari ini, atau malah merasa refresh dan siap kembali menikmati hidangan yang belum Anda rasakan dari yang tersedia itu.
Selayaknya hiburan, Gantigol disajikan dengan mengedepankan sisi keriaan dan kerayaan sebuah hiburan. Kemenangan, kejenakaan, Kontak kami: kekonyolan hingga satir di sepakbola akan kami sajikan dengan menghibur. Email: [email protected] Drama, tragedi,kesedihan dan getirnya Website: gantigol.com sepakbola pun, menurut kami, Instagram: gantigol_id juga perlu diriakan dan dirayakan. Twitter: gantigol Sepatutnya online store, Gantigol juga Youtube: Gantigol menyediakan merchandise sepakbola. Bukan hanya kualitas terjamin –ini tentu saja- setiap produk kami akan bertema dan bercerita. Tak cuma collectible item dengan kemasan yang menarik, produk kami tetap mengambil irisan kepatutan untuk dapat dikenakan sebagai kebanggaan. Kemudian daripada itu, semuanya tergantung kedewasaan dan kebijaksanaan Anda menyikapinya. Kami hanya ingin mengajak untuk ‘Budayakan dan Rayakan Sepakbola’!