Baca PDF (OCR): Tesis 45 Tahun PKI

66 halaman · 66 halaman diproses dengan OCR· 76278 ms

Daftar isi
  1. PARTAI KOMUNIS INDONESIA
  2. Tesis 45 Tahun PKI
  3. benar2 memihak Rakjat”.

PARTAI KOMUNIS INDONESIA

Tesis 45 Tahun PKI

Kacabenggala Editions

Publisher Note Buku ini disusun oleh Politbiro CC PKI dalam rangka ulang tahun ke-45 PKI. Diterbitkan oleh Jajasan “Pembaruan” tahun 1965.

Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text,
preserving the original layout, spelling, punctuation, and
front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers
and translators. Where copyright has expired or the mate-
rial falls under fair use for preservation, the text is repro-
duced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and under-
taken for study and admiration, shared purely for archival
and educational purposes, without commercial intent.
HISTORIS.............................................. 1
ARTIPENTINGNJA..................................... 3
PROGRAM PKI.........................................5
IRBAR & AS............................................6
„MALAYSIA”........................................... 8
EKONOMI.............................................10
GERAKAN TANI.......................................12
KEBUDAJAAN........................................ 15
TROTSKISME......................................... 17
MARXISME........................................... 19
MANIPOL............................................. 21
SITUASI REVOLUSIONER..............................23
TRISAKTI TAVIP......................................25
FRONT PERSATUAN.................................. 26
PERSEKUTUAN BURUH & TANI....................... 28
NASAKOM............................................ 30
FRONT NASIONAL.................................... 33
GARIS UMUM REVOLUSI & PANTJASILA.............. 34
ANGKATAN BERSENDJATA........................... 36
MASALAH SUKUBANGSA..............................38
PEWARIS DAN PENERUS PERDJUANGAN..............40
PARTAI MASSA & KADER............................. 42
PENDIDIKAN IDEOLOGI...............................44
PEKERDJAAN RISET..................................46
PEKERDJAAN BERPLAN.............................. 48
EMPAT SJARAT KADER...............................49
NEFO VERSUS OLDEFO............................... 51
MELAWAN REVISIONISME.............................53
GERAKAN KOMUNIS INTERNASIONAL................ 56
TUGAS² MULIA....................................... 58
HISTORIS
TANGGAL 23 Mei 1965 ini genaplah 45 tahun usia
PKI, Partai Komunis lndonesia. PKI dilahirkan oleh
tuntutan² objektif perkembangan masjarakat lndonesia,
jakni ketika di Indonesia sudah ada gerakan klas bu-
ruh jang mulai muntjul pada awal abad ini dan ketika
gerakan kemerdekaan nasional Rakjat Indonesia objektif
membutuhkan teori jang mampu memetjahkan masaiah²
revolusi dalam zaman modern ini. Ketika itu Marxisme
sudah mulai berpadu dengan gerakan klas buruh Indonesia.
Marxisme telah mendemonstrasikan kebenaran ilmiahnja
dengan kemenangan Revolusi Sosialis Oktober Besar Rusia
1917 jang gemilang. Dengan demikian PKI adalah faktor
subjektif kekuatan revolusioner Indonesia jang dilahirken
oleh sjarat² objektif masjarakat Indonesia. Ia adalah anak
zaman jang akan melahirkan zaman.
Lahirnja PKI 45 tahun jang lampau mempunjai arti pent-
ing luarbiasa setjara politik dan kebudajaan bagi Rakjat
Indonesia. Dengan lahirnja PKI, gerakan kemerdekaan
nasonal Rakjat Indonesia telah mendapatkan intinja, jaitu
suatu organisasi modern jang militant dari klas buruh, jang
menguasai dan menggunakan berbagai bentuk perdjuangan
dalam melawan imperialisme setjara konsekwen. Dengan
lahirnja PKI maka terbukalah kemungkinan jang lebih luas
untuk tersebarnja Marxisme-Leninisme setjara luas dan
intensif dikalangan Rakjat Indonesia jang berarti pendo-
brakan atas tradisi jang kolot dan idealis dari pandangan
masjarakat Indonesia jang agraris.
Sepandjang sedjarahnja, PKI tidak pernah memisahkan
diri, bahkan senantiasa berpadu dengan gerakan ke-
merdekaan nasional umum. Sesuai dengan klas jang
diwakilinja, jaitu klas buruh, maka setjara historis, PKI
memikul tugas² sutji diatas pundaknja, jaitu harus berdiri
dibarisan depan dalam perdjuangan melawan setiap penin-
dasan. Karena itu, PKI berdjuang bukan hanja untuk
pembebasan nasion Indonesia dari penindasan imperial-
isme, tetapi akan terus memimpin perdjuangan Rakjat
Indonesia guna membangun suatu masjarakat Indonesia
Baru jang demokratis, bebas dari penghisapan atas manusia
oleh manusia, adil dan makmur.
45 tahun PKI adalah 45 tahun perdjuangan guna mend-
jadikan keharusan sedjarah itu kenjataan sedjarah. 45
tahun PKI adalah djuga 45 tahun berdjuang untuk men-
trapkan Marxisme-Leninisme pada kondisi² kongkrit
revolusi Indonesia, untuk mengindonesiakan Marxisme-
Leninisme, sehingga mendjadikan Marxisme-Leninisme
kekuatan materiil jang perkasa dalam Revolusi Indonesia,
jaitu mendjadikannja milik massa, pedoman jang mempun-
jai daja membangkitkan, mengorganisasi dan memobilisasi
massa didalam aksi2nja.
  1. Pembentukan Polibiro baru jang dipimpin oleh Kawan
    D.N. Aidit pada bulan Djanuari 1951, berarti kemenangan sajap Leninis didalam pimpinan Partai, jang kemudian, berdasarkan pengalaman² jang kaja dari Partai sendiri dan beladjar dari pengalaman² Partai² sekawan, menjusun garis
ARTIPENTINGNJA
DJALAN jang dilalui PKI bukanlah djalan bertabur bunga,
akan tetapi djalan ber-liku² jang diretas dengan kepedihan
jang ditimbulkan karena kesalahan² dalam perdjuangan,
dengan pemerasan enerzi dan keringat, bahkan, dengan
tetesan darah singkatnja dengan pengorbanan dan pengab-
dian jang tiada taranja dari putera² terbaik klas buruh dan
Rakjat Indonesia selama puluhan tahun sedjak lahirnja.
Barulah pada tahun 1951 PKI mulai memasuki masa
dewasanja, jakni setelah melalui pengalaman² pahitgetir
selama puluhan tahun, terutama pemberontakan 1926 jang
ditindas dengan kedjam oleh pemerintah kolonial Belanda,
pengalaman Revolusi Agustus 1945 jang tuntutan2nja
hingga kini masih belum dapat dirampungkan sampai ke-
akar2nja, dan tragedi nasional provokasi Madiun dimana
kaum reaksi dengan dikepalai oleh Hatta berhasil untuk
sementara waktu memetjahbelah bangsa Indonesia dan
melakukan teror terhadap PKI dan kaum progresif lainnja.
PKI baru mulai memasuki masa dewasa setelah mulai men-
jimpulkan pengalamannja seperti jang dirumuskan dalam
Resolusi Djalan Baru pada Konferensi PKI bulan Agustus
organisasi dan politik jang tepat, sebagai pentrapan kebe-
naran umum Marxisme-Leninisme pada kondisi² kongkrit
Revolusi Indonesia.
Kongres Nasional ke-V PKI pada tahun 1954, telah mem-
berikan djawaban atas semua masalah penting dan pokok
Revolusi Indonesia. Kongres tsb. meletakkan dasar²
pekerdjaan penggalangan front nasional dan pembangunan
Partai. Semendjak itu, diperhebatlah perdjuangan dalam
dua front sekaligus, jaitu front anti-imperialisme dan
front anti-feodalisme, dengan mengerahkan udjungtombak
terutama kepada imperialisme. Kebenaran Program Partai
jang disahkan dalam Kongres sb. terletak dalam hal, bahwa
ia mentjerminkan setjara tepat tuntutan² objektif Revolusi
Indonesia, dan karena itu ia telah membawa madju gerakan
revolusioner Rakjat Indonesia dengan langkah² raksasa.
Memperingati 45 tahun usia PKI ini berarti djuga untuk
memeriksa sampai dimana hasil² jang telah ditjapai oleh
proletariat Indonesia dalam membangun suatu Partai klas
buruh jang di-bolsjewikkan, dalam menggalang front per-
satuan nasional jang berbasiskan persekutuan buruh dan
tani, dan dalam melandjutkan Revolusi Agustus, untuk In-
donesia Baru jang merdeka penuh dan demokratis, seba-
gai sjarat mutlak untuk membangun masjarakat jang bebas
dari penghisapan atas manusia oleh manusia, masjarakat
Sosialisme Indonesia.
PROGRAM PKI
DENGAN Program Kongres Nasional ke-V Partai ini se-
bagai mertjusuar perdjuangannja, gerakan klas buruh dan
Rakjat pekerdja Indonesia madju dengan langkah² raksasa.
Gerakan nasional revolusionerpun berkembang dengan pe-
sat. Satu demi satu benteng imperialisme dipatahkan dan
direbut, dimulai dengan pembatalan perdjandjian KMB,
kemudian aksi membebaskan Irian Barat. Langkah revo-
lusioner jang penting dalam rangka perdjuangan ini jalah
pengambilalihan semua perusahaan milik kaum imperialis
Belanda oleh kaum buruh dalam tahun 1957 jang kemu-
dian diserahkan kepada Pemerintah RI dan didjadikan
perusahaan² negara.
Artipenting pengambilalihan itu jalah, bahwa ia telah men-
jalakan kembali tradisi revolusioner kaum buruh dan Rakjat
Indonesia jang ber-kobar² ketika Revolusi Agustus 1945
meletus. Aksi² itu djuga telah mempertebal kepertjajaan
Rakjat Indonesia kepada dirinja sendiri, dan memberikan
pendidikan politik jang amal penting untuk membedakan
musuh satu dengan jang lain, dan menanamkan pengertian
bahwa diantara sekian banjak musuh, sasaran perdjuan-
gan pada masa tertentu harus diarahkan kepada musuh
jang merupakan musuh terpokok. Aksi ini djuga telah
memberikan isi dan arti jang kongkrit kepada perdjuangan
melawan imperialisme.
IRBAR & AS
TAMATNJA riwajat kolonialisme Belanda di Irian Barat
dan dilikwidasinja modal imperialis Belanda di Indonesia
telah mengakibatkan terdjadinja pergeseran² dalam ke-
dudukan musuh² Rakjat Indonesia. Sidang Pleno ke-1 CC
PKI Kongres ke-VII jang diadakan pada awal tahun 1963,
setelah mempertimbangkan kedudukan serta peranan impe-
rialisme AS di Indonesia dari segi politik, ekonomi, militer
dan kebudajaan, telah menjimpulkan bahwa „musuh Rak-
jat Indonesia jang nomor satu dan jang paling berbahaja
pada waktu sekarang jalah imperialisme AS”.
Kesimpulan Sidang Pleno ini sangat penting artinja
untuk menegakkan kedaulatan nasional Republik dan
meningkatkan kewaspadaan nasional Rakjat Indonesia.
Kenjataan² sedjarah menundjukkan, bahwa imperialisme
AS sedjak lama selalu bersikap bermusuhan dan kuran-
gadjar terhadap perdjuangan Rakjat Indonesia, mulai dari
bantuan mereka terhadap Belanda dalam perundingan²
Linggadjati, Renville, kemudian membantu pemberontak²
„PRRI-Permesta”, disamping menjokong Belanda untuk
tetap menduduki Irian Barat, dan achirnja menjokong
projek neo-kolonialis „Malaysia” serta mengorganisasi aksi²
subversif terhadap Republik Indonesia.
Meskipun kaum reaksioner dalam negeri berusaha membe-
lokkan sasaran perdjuangan Rakjat lndonesia dari musuh-
nja jang nomor satu, jaitu imperialisme AS, akan tetapi
berkat kesadaran politik jang terus meningkat dari Rakjat

kita dan tindakan2 permusuhan kaum imperialis AS sendiri, dalam waktu jang relatif singkat seluruh nasion telah mengarahkan perdjuangannja kepada imperialisme AS.

„MALAYSIA”
PROSES kebangkitan Rakjat dalam melawan imperialisme
AS telah lebih dipertjepat lahirnja projek neo-kolonialis
„Malaysia” dari kandungan imperialisme Inggris dengan
disokong oleh imperialisme AS. Bertentangan dengan keing-
inan pentjipta2nja, jaitu untuk membendung arus revolu-
sioner Rakjat Indonesia serta mengepung dan mengantjam
kebebasan nasionalnja, maka projek neo-kolonialisme
„Malaysia” telah lebih memperkokoh front persatuan na-
sional untuk menghadapi musuh dari luar. Ia telah mend-
jadi bahan bakar jang makin mengobarkan api semangat
revolusioner jang tengah me-njala² dalam dada Rakjat In-
donesia, dan selandjutnja telah lebih mematangkan situasi
revolusioner ditanahair kita. Ia bahkan telah mempertjepat
terbukanja mata seluruh golongan Rakjat Indonesia ter-
hadap kedjahatan² imperialisme AS sebagai musuh nomor
satu dan paling berbahaja.
Aksi² anti-imperialisme Inggris-AS dimulai dengan petisi²,
rapat² protes, demonstrasi² dan kemudian berkembang
mendjadi aksi pemboikotan terhadap film² AS. Dalam
waktu jang relatif singkat sekali perdjuangan ini memunt-
jak dalam aksi² pengambilalihan perusahaan² Inggris dan
AS di Indonesia oleh kaum buruh jang mendapat sokongan
luas dari Rakjat. Suatu faktor jang ikut menentukan
suksesnja aksi² itu jalah karena aksi² ini tidak hanja aksi
massa dari bawah, tetapi djuga karena dikombinasi dengan
perdjuangan diatas. Ini realisasi jang sukses dari garis
„revolusi dari atas dan dari bawah”.
Pengambilalihan perusahaan² tsb terutama perusahaan²
minjak AS jang selama ini memonopoli produksi minjak
bumi di Indonesia, selain mempunjai artipenting ekonomi
jang besar sekali, djuga mempunjai arti politik jang luar-
biasa besarnja, karena ia telah menghantjurkan tachajul²
politik di-kalangan² luas masjarakat kita, jang masih
„mendewakan” dan mempunjai ilusi terhadap imperialisme
AS.
EKONOMI
SUKSES² besar dalam pengambilalihan perusahaan² impe-
rialisme Belanda, Inggris dan AS dan jang didjadikan milik
negara atau ditempatkan dibawah penguasaan pemerintah,
sesungguhnja adalah lompatan madju dan merupakan
perkembangan kekiri dari sistim ekonomi di Indonesia.
Djika pengambilalihan modal² Belanda, Inggris, Amerika
dilakukan setjara konsekwen, dapat dikatakan bahwa lan-
dasan pokok kekerasan monopoli asing di Indonesia jang
berupa penanaman modal setjara langsung akan lenjap.
Dengan demikian, akan tertjiptalah sjarat² jang lebih
baik untuk membangun ekonomi nasional jang berdiri
diatas kaki sendiri, dimana ekonomi sektor negara memper-
oleh sjarat² untuk memegang posisi komando. Deklarasi
Ekonomi (Dekon) dan Tavip menegakkan prinsip untuk
bersandar pada kekuatan sendiri dalam pembangunan
ekonomi nasional dengan menggariskan „mengutamakan
pertanian dan perkebunan serta mementingkan pertam-
bangan” dan „pertanian itu dasar, industri itu tulangpung-
gung.”
Akan tetapi seperti jang ditjanangkan dalam Kongres Na-
sional ke-VII PKI (April 1962), kaum kapitalis birokrat,
jaitu „merea jang mendjadi kapitalis dengan menggunakan
kedudukannja dalam alat kekuasaan atau perusahaan
negara atau hubungannja dengan pembesar² dalam alat
kekuasaan atau perusahaan negara” telah menjalahgu-
nakan dan menjelewengkan perusahaan² negara itu guna
memperkaja dirinja, hingga perusahaan² tsb. telah mend-
jadi basis untuk lahirnja dinasti kapitalis birokrat jang
menguasai ekonomi Indonesia dewasa ini. Kaum kapitalis
birokrat ini bukan sadja makin memperburuk kekuasaan
politik dewasa ini, tapi djuga berusaha merebut kekuasaan
politik dengan djalan kudeta. Oleh karena itu meng-
ganjang kapitalis birokrat adalah termasuk tugas pokok
Rakjat Indonesia dewasa ini. Adalah omongkosong berbit-
jara tentang memperbaiki ekonomi nasional dan melawan
imperialisme tanpa mengganjang kaum kapitalis birokrat.
Sebagaimana halnja dalam melawan musuh² lainnja, maka
djuga dalam melawan kapitalis birokrat haruslah dihimpun
kekuatan seluas2nja untuk memberikan pukulan kepada
faktor jang paling membahajakan perkembangan ekonomi
nasional kita.
GERAKAN TANI
TAHUN belakangan ini mentjatat kebangkitan massa kaum
tani melawan feodalisme. Kebangkitan itu menundjukkan,
bahwa dengan program jang tepat, jang mentjerminkan
kebutuhan² objektif massa kaum tani, serta dengan garis or-
ganisasi jang bersesuaian dengan program tsb., jaitu bersan-
darkan kepada kaum tani miskin dan buruhtani, dan den-
gan pekerdjaan jang tekun, ulet dan sabar, maka sekalipun
massa kaum tani mula² terbelakang, mereka kemudian ban-
gun dan sedar. Kebangkitan gerakan tani telah dapat mere-
but konsesi² dengan dikeluarkannja UUPA dan UUPBH.
Lahirnja UUPA dan UUPBH adalah suatu kemenangan poli-
tik bagi gerakan tani, jang mematahkan teori² jang selama
ini menguasai Universitas² dan sementara golongan, bahwa
„di Indonesia feodalisme tidak mempunjai arti”. Kedua UU
itu djuga merupakan penerimaan dan pengakuan resmi atas
keharusan adanja program agraria anti-feodal dalam revo-
lusi nasional-demokratis, sesuatu jang sudah lama diperd-
juangkan oleh PKI.
Meskipun UUPA dan UUPBH itu hanja membatasi pemi-
likan tanah oleh tuantanah dan penghisapan feodal atas
kaum tani, akan tetapi tuantanah² dan kekuatan² reak-
sioner telah melakukan perlawan jang sengit terhadap
pelaksanaannja, mulai dari penipuan², pemalsuan², sampai
kepada intimidasi² dan teror terhadap kaum tani. Hal
ini mengadjar kepada kita, bahwa perlawanan tuantanah
dan kaum reaksioner akan djauh berlipatganda dari jang
sekarang, apabila dilantjarkan perubahan agraria jang
radikal sesuai dengan ketentuan Dekon tentang „mengikis
habis sisa² imperialisme dan sisa² feodalisme” dan sesuai
dengan sembojan Presiden Sukarno dalam Djarek, jaitu
„Tanah Untuk Kaum Tani” dan „Tanah untuk mereka jang
betul² menggarap tanah”.
Untuk mendobrak kematjetan pelaksanaan UUPA dan
UUPBH tsb. kaum tani telah melantjarkan berba-
gai matjam aksi. Aksi tsb. jang menandaskan makin
mematangnja gerakan tani mempunjai artipentingnja jang
luarbiasa dalam meningkatkan kesedaran politik dan or-
ganisasi massa kaum tani. Dengan aksi² itu, kaum tani
telah setjara tepat mengenal musuh2nja, memilih sasaran-
nja jang terpokok, berkenalan dengan berbagai bentuk
perdjuangan serta menjedari bahwa makalah jang funda-
mentil jalah masalah meneruskan atau tidak meneruskan
revolusi. Suatu hal jang tidak kalah pentingnja jalah
bahwa dengan aksi² itu kaum tani djuga mengetahui
sekutu dan pemimpinnja jang sedjati, jaitu proletariat.
Ini berarti terwudjudnja kepemimpinan proletariat atas
kaum tani. Sekarang tugas untuk terus membangkitkan,
meningkatkan dan mengkonsolidasi gerakan tani hingga
merata dan meluas diseluruh daerah dan kepulauan ditana-
hair merupakan tugas utama kaum revolusioner, chususnja
kaum Komunis Indonesia. Hanja kebangkitan massa kaum
tani jang merata dan meluas itulah jang akan mendjamin
kemenangan revolusi nasional dan demokratis.
Pada achir bulan April 1965 telah terdjadi peristiwa bersed-
jarah dengan berlangsungnja Kongres Fusi Organisasi Nela-
jan Seluruh Indonesia jang menghasilkan organisasi nela-
jan jang bersifat nasional, jaitu Barisan Nelajan Indonesia.
Dengan demikian tertjipta alat jang kuat untuk mengem-
bangkan gerakan massa revolusioner kaum nelajan. Den-
gan memegang teguh garis klas, jaitu berbasiskan buruh
nelajan dan nelajan miskin, bersatu dengan nelajan sedang,
menetralisasi nelajan kaja dan memukul djuragan² djahat,
Barisan Nelajan Indonesia mempunjai tugas untuk men-
gorganisasi dan memobilisasi kaum nelajan pekerdja un-
tuk mengganjang setan² pantai, terutama djuragan² dja-
hat, jaitu djuragan² jang membangkang tidak mau melak-
sanakan Undang² Perdjandijan Bagi Hasil Perikanan.
KEBUDAJAAN
PEKERDJAAN dibidang kebudajaan djuga telah mentjapai
sukses² besar. Lekra, organisasi kebudajaan revolusoner
jang didirikan pada tahun 1950, telah membuka front
perdjuangan baru dibidang kebudajaan dalam rangka
perdjuangan melawan imperialisme dan feodalisme, seba-
gai sjarat untuk membangun kebudajaan nasional jang
demokratis dan revolusioner. Tidak dapat dsangkal bahwa
mengganjang imperialisme dibidang ekonomi dan politik
jang tidak disertai dengan pengganjangannja dibidang
kebudajaan adalah sama halnja dengan menutup pintu
depan tetapi membuka pintu belakang untuk masuknja
maling. Aksi memboikot flm² AS sampai kepada penghen-
tian kegiatan Ampai, pengambilalihan gedung Ampai,
penutupan kantor² USIS diseluruh Indonesia dan pen-
gusiran “Peace Corps” merupakan hasil² gemilang dari
perdjuangan Rakjat Indonesia untuk mengachiri dominasi
imperalis, terutama imperialis AS dibidang kebudajaan.
Djuga dibubarkannja „Manikebu” dan „BPS” merupakan
kemenangan² besar dibidang kebudajaan.
Dalam hubungan inilah, maka diselenggarakannja Kongres
Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) oleh CC PKI dari 28
Agustus sampai 2 September tahun 1964 jang dibuka oleh
Presiden Sukarno, dan jang telah memberikan djawaban
atas masalah² pokok dan penting dibidang sastra dan
seni, mempunjai artipentng jang luarbiasa untuk mem-
persendjatai pekerdja² kebudajaan chususnja dan Rakjat
kita umumnja guna melaksanakan prinsip „berkepriba-

dian dalam kebudajaan” dengan membangun kebudajaan nasional jang demokrats dan revolusioner, serta melawan kebudajaan imperialistis dan feodal jang masih berdominasi didalam masjarakat kita. KSSR menandakan taraf baru dalam perdjuangan dibidang kebudajaan guna mentjiptakan sastra dan seni jang berkepribadian nasional, jang mengabdi buruh, tani dan pradjurit.

TROTSKISME
SUATU kemenangan besar jang ditjapai oleh gerakan rev-
olusioner Rakjat Indonesia jalah pelarangan oleh Pemerin-
tah terhadap kegiatan Partai Murba dan organisasi² pen-
dukungnja, jang merupakan sarang kegiatan kaum pemet-
jahbelah trotskis di Indonesia.
Sementara orang mengira, bahwa masalah trotskisme
bukanlah masalah nasional, melainkan hanja masalahnja
PKI sadja. Pandangan jang demikian didasarkan pada
anggapan jang keliru, seakan² trotskisme itu adalah suatu
„sekte” daripada Marxisme. Memang benar, bahwa pada
awalnja trotskisme adalah suatu penjelewengan bordjuis
ketjil dari Marxisme.
Akan tetapi dengan kemenangan jang gilang-gemilang
dari Revolusi Sosialis Oktober Besar Rusia 1917, jang
mendemonstrasikan kebenaran adjaran Lenin tentang rev-
olusi sosialis, a.l. tentang memungkinkannja Sosialisme
menang disatu negeri, maka trotskisme sebagai suatu sekte
dalam gerakan klas buruh telah digugurkan sepenuhnja
oleh sedjarah.
Semendjak itu trotskisme telah mendjadi gerakan jang
samasekali tidak mendasarkan diri atas adjaran² Marxisme
dan sudah tidak ada lagi bara2nja Marxisme sedkitpun.
Kaum trotskis telah mendjadi kekuatan ultra kanan jang
bersembojan „kiri” kekuatan anti-Marxis jang berdjubah
„Marxis”, dan telah mendjadi komplotan pendjahat politik
dengan sembojan² „revolusoner” jang mendjadi barisan
depan dari kekuatan kontra-revolusioner internasional.
Setjara politik dan organisasi mereka adalah alat jang
penting untuk memetjahbelah dan mematahkan gerakan
revolusioner klas buruh dan gerakan pembebasan nasional
Rakjat² tertindas di-mana². Di Indonesia kaum trotskis
sudah mulai memetjahbelah gerakan revolusioner dalam
pemberontakan nasional jang pertama Rakjat Indone-
sia dalam tahun 1926, dan melakukan provokasi² ketika
kaum Komunis mengorganisasi gerakan dibawahtanah
untuk melawan feodalisme Djepang jang mengakibatkan
djatuhnja banjak korban dar kalangan kader² revolusioner.
Mereka melakukan usaha² kudeta dan usaha² petjahbelah
dengan mendirikan „Persatuan Perdjuangan” jang setjara
munafik menjerukan program dan sembojan² „revolusioner”
dalam Revolus Agustus, mereka memetjahbelah gerakan
buruh, mereka bergandengan tangan dengan kaum revisio-
nis modern dalam usaha untuk mendjatuhkan PKI, mereka
melantjarkan polemik² tentang Pantjasila dan „Sukarno-
isme” pada saat² gerakan revolusioner djustru semakin
membutuhkan kebulatan persatuan untuk mengganjang
musuh² revolusi.
Sesungguhnja trotskisme dalam gerakan revolusioner
adalah bagaikan penjakit kanker dalam tubuh manu-
sia, jang menjerang pada saat² dan tempat² jang tidak
di-duga². Itulah sebabnja mengganjang dan mengachiri
trotskisme merupakan tugas urgen bagi setiap patrot dan
orang revolusioner untuk dilaksanakan dalam tahun 1965
djuga.
MARXISME
ADALAH menggembirakan, bahwa pada usia 45 tahun
PKI ini, Marxisme sebagai adjaran revolusioner klas buruh,
karena keilmiahan dan keobjektifannja telah terudji oleh
sedjarah, berkembang subur di Indonesia dan mendjadi
milik massa jang djumlahnja kian hari kian banjak di
Indonesia. Dewasa ini disamping kaum Komunis, maka
semakin luaslah golongan jang mempeladjari Marxisme
atas andjuran Presiden Sukarno. PKI menjambut perkem-
bangan ini dengan penuh gairah dan akan memberikan
segala bantuannja.
Kenjataan menundjukkan, bahwa ada sementara orang jang
mempeladjari Marxisme hanja sebagai „mode” sadja, agar
supaja mereka tidak ketinggalan oleh arus zaman. Bahkan
ada sementara orang jang mempeladjari dan mengadjarkan
Marxisme bukan untuk memetjahkan masalah² revolusi
jang kita hadapi, melainkan malahan untuk mengaburkan
dan memutarbalikkan adjaran² tentang revolusi. Terhadap
orang² sematjam ini, kaum Marxis berkewadjiban untuk
membuka kedok kemunafikannja agar supaja Marxisme
benar² digunakan sesuai dengan apa jang dikatakan Bung
Karno sebagai „satu2nja ilmu jang kompeten untuk memet-
jahkan masalah² sedjarah, politik dan kemasjarakatan”.
Tugas membantu orang² jang djudjur dalam mempelad-
jari Marxisme dan menelandjangi pemalsu² Marxisme
adalah tugas penting proletariat Indonesia dewasa ini
dalam rangka membikin Marxisme mendjadi milk nasion.

Setiap Komunis haruslah menjedari benar2, bahwa mendjadikan Marxisme milik nasion pada hakekatnja adalah usaha untuk memenangkan setjara penuh revolusi nasionaldemokratis dan revolus sosialis. Oleh karena tu, tugas tersebut menuntut dari setiap Komunis untuk bekerdja lebih keras, memeras enerzi dan keringat lebih banjak, dan memperbesar pengabdiannja kepada Rakjat dan Revolusi Indonesia.

MANIPOL
DALAM perdjuangan untuk menjelesaikan tuntutan² Rev-
olusi Agustus 1945 sampai ke-akar2nja, PKI memimpn
Rakjat untuk mentjapai perubahan fundamentil dalam
kekuasaan politik, untuk terwudjudnja pemerntah „dari
Rakjat, oleh Rakjat dan untuk Rakjat” Sesuai dengan
garis jang ditetapkan oleh Kongres Nasional ke-VI PKI
(September 1959) Rakjat Indonesia dewasa ini menun-
tut pembentukkan kekuasaan Gotongrojong berporoskan
Nasakom jang sanggup mengorbankan kepentingan kaum
penghisap besar dikota dan desa dan membela dengan
konsekwen kepentingan Rakjat. Sedjak djatuhnja kabinet
Sukiman pada tahun 1952, maka pada pokoknja terdjadi
perubahan² kekiri didalam kekuasaan politik Republik In-
donesia. Dengan diterimanja Manipol sebagai Garis² Besar
Haluan Negara, RI dengan resmi mempunjai program jang
progresif revolusioner bagi seluruh nasion Indonesia untuk
menjelesaikan Revolusi Indonesia. Kekuatan² reaksioner
telah mendapat pukulan² berat dan pengaruh mereka
dalam kekuasaan politik sangat berkurang. Pada dewasa
ini kekuasaan negara RI mengandung dua aspek, jaitu
aspek anti-Rakjat dan aspek pro-Rakjat. Kekuatan aspek
pro-Rakjat sudah semakin besar dan memegang inisiatif
dan berofensif, sedangkan aspek anti-Rakjat, walaupun
masih tjukup kuat, semakin terdesak dalam kedudukan
terdjepit. PKI berdjuang agar aspek pro-Rakjat itu se-
makin kuat dan achirnja dapat berdominas dan agar aspek
anti-Rakjat dikeluarkan dar kekuasaan negara.

Berhubung dengan adanja dua aspek dalam kekuasaan negara RI, perdjuangan revolusoner Rakjat Indonesia dilakukan dengan mengkombinasikan perdjuangan massaaksi revolusioner Rakjat dari bawah dengan tindakan2 revolusioner badan2 kekuasaan negara dari atas, sesuai dengan prinsip mendjalankan „revolusi dari atas dan dari bawah.”

SITUASI REVOLUSIONER
PERLAWANAN jang makin meningkat dari Rakjat In-
donesia terhadap imperialisme, feodalisme dan kekuatan²
kontrarevolusioner didalamnegeri, menundjukkan bahwa
dewasa ini telah terdapat situasi revolusoner jang makin
menandjak dan mematang dinegeri kita. Tjiri² utama
dari situasi revolusioner jalah bahwa: (1) massa Rakjat
sudah aktif berdjuang untuk adanja perubahan jang dapat
memperbaiki penghidupan mereka; (2) segi anti-Rakjat
dalam kekuasaan politik makin terdesak, segi pro-Rakjat
makin unggul dan politik Pemerintah makin banjak jang
disesuaikan dengan tuntutan² Rakjat; dan (3) aksi² massa
Rakjat makin meluas sehingga peranan massa Rakjat
makin besar dan makin menentukan dalam kehidupan
masjarakat dan politik negara.
Situasi revolusioner ini adalah hasil ofensif Manipolis atau
ofensif revolusioner dari semua kekuatan revolusioner ter-
hadap kekuatan nekolim dan feodal dan semua kekuatan
kontrarevolusioner lainnja. Situasi revolusioner ini harus
dapat ditanggapi dan difahami dengan baik² oleh siapa
sadja jang mau terus mengibarkan pandji revolusi. Dalam
situasi demikian sembojan kita jalah: „Ofensif berarti
sukses dan menang, defensif berarti gagal dan kalah”.
Situasi revolusioner ini menuntut kaum revolusioner terus
memperhebat ofensif revolusioner disegala bidang den-
gan setiap hari berusaha mengantongi kemenangan, un-
tuk achirnja merampungkan revolusi nasional-demokratis

sepenuhnja.

TRISAKTI TAVIP
DALAM perdjuangan untuk mengikis habis sisa² imperial-
isme dan sisa² feodalisme dan membangun Indonesia jang
merdeka penuh dan demokratis harus kita laksanakan den-
gan konsekwen Trisakti Tavip, jaitu „berdaulat dalam poli-
tik berdiri diatas kaki sendri dalam ekonomi dan berkeprib-
adian dalam kebudajan”. Amanat politik Presiden Sukarno
„Berdikari” menegaskan kembali trisakti itu dan Ketetapan
MPRS No. VI/MPRS/1965 tentang Banting Stir Untuk
Berdikari dalam Ekonomi dan Pembangunan merupakan
landasan untuk penjusunan plan pembangunan ekonomi
jang realistis dan sesuai dengan prinsip² Dekon.
Untuk itu adalah sjarat mutlak meningkatkan peranan ak-
tif kesadaran subjektif setiap orang revolusioner, terutama
meningkatkan kemampuan dalam pekerdjaan politik dan
organisasi daripada setiap Komunis, baik setjara kolektif
maupun individuil, sehingga betul² memenuhi tugas sed-
jarah daripada klas buruh sebagai pelopor dalam perdjuan-
gan seluruh nation Indonesia.
FRONT PERSATUAN
SEPULUH tahun lebih telah lewat sedjak Kongres Nasional
ke-V Partai menetapkan garis umum penggalangan front
persatuan nasional, jaitu garis: menggalang persatuan anti-
imperialisme antara klas buruh, kaum tani, burdjuis ketjil
dan burdjuis nasional berbasiskan persekutuan buruh dan
tani anti-feodalisme dan jang dipimpin oleh klas buruh.
Garis umum in didasarkan pada analisa klas² didalam mas-
jarakat Indonesia jang belum merdeka penuh dan seten-
gah feodal. Garis umum ini dirumuskan djuga dengan teori
do-do-re-mi-fa (1-1-2-3-4), jaitu, 1-tenaga memimpn jalah
klas buruh, 1-tenaga pokok jalah kaum tani, 2-persekutuan
klas buruh dan kaum tani sebagai basis front persatuan
nasional, 3-tiga kekuatan pendorong revolusi jalah buruh,
tani dan burdjuis ketjil jang merupakan Rakjat pekerdja
dan 4-kekuatan² revolusioner jaitu buruh, tani, burdjuis
ketjil dan burdjuis nasional jang merupakan kekuatan Rak-
jat jang dirugikan oleh imperialisme dan feodalisme.
Dalam masa jang relatif singkat menurut ukuran sedjarah
itu, garis umum penggalangan front persatuan nasional
tsb, telah menempuh berbagai udjian dari „razzia Agus-
tus Sukiman”, „peristiwa 17 Oktober 1952”, „peristiwa
13 Desember 1956” jang disusul oleh pemberontakan
„PRRI-Permesta”, gerakan² rasialis, sampai pada rentetan
peristiwa² Ketaon, Kanigoro, Malang, Bali dsb. Akan
tetapi djustru lewat udjian² tsb persatuan nasional revolu-
sioner dinegeri kita bukannja mendjadi susut, melainkan
makin berkembang dan tumbuh perkasa. Seperti dikatakan
oleh Karl Marx, bahwa „teori mendjadi kekuatan materiil
segera sesudah ia mentjekau massa”: demikian pula „teori
persatuan nasional revolusioner berporoskan Nasakom”
sudah, sedang dan akan terus-menerus mentjekau massa,
dan karenanja ia tumbuh mendjadi kekuatan materiil jang
perkasa.
Dalam masa sepuluh tahun lebih itu terasa betapa kader²
dan anggota² PKI makin menguasai „dua djimat” dalam
penggalangan front persatuan dengan burdjuis nasional,
jaitu prinsip „bersatu dan berdjuang” dan prinsip „mend-
jaga kebebasan dalam bersatu”. Kader² dan anggota² PKI
djuga semakin baik menggalang front persatuan nasional
dengan memegang teguh prinsip Marxisme-Leninisme dan
luwes dalam membawakannja. Dan didalam tempaan
perdjuangan revolusioner Rakjat Indonesia untuk meng-
gulingkan „empat bukit setan”, imperialisme, feodalisme,
kapitalisme komprador dan kapitalisme birokrat, garis
umum penggalangan front persatuan nasional tsb. telah
dilengkapi oleh pengalaman Rakjat Indonesia sendiri, den-
gan sendjata taktik „menetapkan sasasran jang seketjil
mungkin, dengan menggalang front seluas mungkin”.
PERSEKUTUAN BURUH & TANI
PRINSIP menggalang persekutuan buruh dan tani anti-
feodalisme sebagai basis persatuan nasional dengan klas
buruh sebagai pimpinan telah mendorong PKI untuk se-
makin intensif mengintegrasikan diri setjara total dengan
gerakan tani. Ini sepenuhnja sesuai dengan pandangan
kaum Marxis-Leninis bahwa hakekat revolusi² pembebasan
nasional adalah revolusi agraria. Pengalaman Revolusi
Indonesia memperkuat dalil tsb. dan telah memberikan
peladjaran jang sangat penting bahwa soal kaum tani atau
soal desa adalah soal menang atau kalahnja revolusi. Pen-
galaman Revolusi Agustus 1945 mengadjarkan kepada kita
bahwa desa atau kaum tani mempunjai empat peranan:
sumber bahan makanan, sumber pradjurit, tempat revo-
lusi mundur djika terpukul dikota, dan pangkalan untuk
menjerang musuh dan merebut kembali kota.
Makin berhasilnja PKI dalam mengintegrasikan diri dengan
gerakan tani dibuktikan oleh makin meningkatnja aksi²
kaum tani dari aksi jang paling rendah sampai pada aksi²
mendobrak kematjetan UUPA/UUPBH serta aksi² dalam
rangka meningkatkan konfrontasi dengan “Malaysia”. De-
wasa ini tak ada satu haripun jang lewat tanpa aksi
kaum tani jang ribuan djumlahnja. Ini berarti sekaligus
peningkatan kesedaran politik, peningkatan keberanian
serta dipertadjamnja kewaspadaan, peningkatan kesedaran
berorganisasi dan disiplin, jang lebih landjut menurut
peningkatan taraf kebudajaan dari kaum tani.
Kemadjuan gerakan tani adalah sedemikian rupa sehingga
menimbulkan setjara tak terelakkan kristalisasi didalam
Partai² dan semua kekuatan revolusi. Elemen² jang betul²
setia dalam kata² dan perbuatan terhadap Manipol tidak
bisa lain ketjuali memihak dan menjatukan diri dengan
kaum tani jang telah berubah dari „serba salah” mend-
jadi „serba benar”. Sedangkan elemen² jang anti-gerakan
tani, tani-phobi atau munafik, makin terbuka wadjah jang
sebenarnja, sehingga makin terpodjok dan terisolasi dari
massa jang terus madju dengan tegapnja seirama dengan
derap-madjunja gerakan revolusioner. Ini membuka djalan
kearah pengokohan lebih landjut front persatuan nasional
dinegeri kita.
NASAKOM
KERDJASAMA politik Nasakom adalah suatu tjiri jang
chas dalam hal penggalangan front persatuan nasional
revolusioner di Indonesia. Ide persatuan Nasakom, jang
sudah dikemukakan oleh Presiden Sukarno dalam th. 1926,
adalah pentjerminan kenjataan kehidupan politik dalam
masjarakat Indonesia, dimana tiga aliran politik jang be-
sar, jaitu Nasionalisme, Agama dan Komunisme berakar
dan berpengaruh dalam sedjarah gerakan kemerdekaan
nasional. Djasa jang besar dari Bung Karno bagi Revolusi
dan Rakjat Indonesia jalah bahwa beliau sebagai putera
Indonesia berhasil menggali dan mengembangkan tradisi
kegotongrojongan Nasakom itu. Djuga Lenin, dengan kear-
ifan seorang Marxis jang senantiasa dihangati oleh apinja
internasionalisme proletar, telah menundjukkan pada klas
buruh dan Rakjat Indonesa, djauh sebelum klas buruh
Indonesia mendirikan Partainja, apa jang oleh Bung Karno
ditjetuskan sebagai ide Nasakom tsb. dalam artikelnja jang
berdjudul “Kebangkitan Asia” (1913).
Dalam menanggulangi intrik² adan ratjun perpetjahan jang
disebabkan oleh musuh² revolusi dan membikin lebih baik
lagi kerdjasama Nasakom, PKI telah mengadjukan empat
fasal “tatakrama Nasakom” sebagai sendjata jang paling
ampuh untuk mengurus kontradiksi² jang timbul antara
sesama kekuatan revolusi. Empat kode etik atau empat
fasal tatakrama Nasakom jalah:
Pertama: setiap aliran politik dalam Nasakom harus setia
pada Manipol dan pedoman² pelaksanaannja.
Kedua: dikalangan Nasakom dan semua golongan Manipolis
tidak boleh ada konfrontasi, tetapi jang ada jalah konsultasi,
musjawarah untuk mufakat dan kompetisi Manipolis. Kom-
petisi Manipolis berarti berlomba dalam mengabdi Rakjat,
dalam melaksanakan Ampera.
Ketiga: dikalangan Nasakom tidak hanja harus bisa mener-
ima, tetapi djuga harus bisa memberi. (Hal ini djuga din-
jatakan dalam tulisan Bung Karno Nasionalisme, Islamisme
dan Marxisme tahun 1926).
Keempat: masing² aliran dalam Nasakom harus mendjaga
supaja tidak menerobos pekarangan alran lain sampai
merugikan aliran lain; djangan sampai, misalnja, sesuatu
aliran politik membikin interpretasi tentang adjaran ali-
ran lain jang merugikan aliran lain itu. Djangan sampai
terdjadi orang² jang tidak tahu alif-bengkoknja Marxisme
membikin uraian² atau tulisan tentang Marxisme atau Ko-
munisme jang bertentangan dengan Marxisme. Serahkan
interpretasi tentang adjaran tiap aliran kepada aliran
politik jang bersangkutan.
Presiden Sukarno dalam amanat “Berdikari”nja dengan
tegas mengatakan: „Aku setudju dengan adanja suatu
tatakrama Nasakom. Di Indonesia perkembangan Na-
sionalisme, perkembangan Agama dan perkembangan
Komunisme didjamin. Ke-tiga² aliran itu harus bekerdja
sama setjara rukun. Masing² tidak diperkenankan mem-
bitjarakan aliran jang lain setjara merugikan aliran lain
itu. Djuga propaganda anti-Nasionalisme, anti-agama dan
anti-Komunisme dilarang”.
Pada pokoknja 4 fasal tatakrama Nasakom itu sudah di-
terima oleh seluruh nasion, mula² lewat Deklarasi Bogor
dan kemudian diperkuat dengan ketetapan MPRS No.
VII/MPRS/1965 tentang Prinsip² Musjawarah untuk Mu-
fakat dalam Demokrasi Terpimpin. Tatakrama Nasakom
ini merupakan sendjata jang tepat untuk mengurus kon-
tradiksi diantara sesama kekuatan revolusi dan untuk
lebih membulatkan tekad Rakjat Indonesia baik dalam
meningkatkan konfrontasi dengan “Malaysia” maupun
untuk merampungkan tugas² revolusi Indonesia.
FRONT NASIONAL
ORGANISASI Front Nasional jang dibentuk dengan Pen-
pres No. 13 th ’59 adalah hasil pengalaman perdjuangan
Rakjat Indonesia sendiri, suatu perkembangan dari ber-
matjam² bentuk kerdjasama jang pernah dialami dalam
perdjuangan Rakjat Indonesia. Ia djuga merupakan per-
paduan antara kegiatan pemerintah dan kegiatan Rakjat,
terutama antara Partai² politik, ormas² revolusioner,
angkatan bersendjata dan perorangan. Dengan demikian
tiga bentuk front persatuan nasional dinegeri kita, jaitu:
kerdjasama politik Nasakom, persekutuan buruh dan tani
serta organisasi Front Nasional, merupakan „tritunggal”
jang sangat efisien untuk mempersatukan semua kekuatan
revolusi, untuk mewudjudkan kebulatan tekad dan ke-
bulatan tindakan guna menunaikan Amanat Penderitaan
Rakjat. Oleh karena tu adalah mendjadi tugas kita semua
untuk terus mengkonsolidasi dan mengembangkan ketiga
bentuk front persatuan nasional tsb.
GARIS UMUM REVOLUSI & PANTJASILA
REVOLUSI Indonesia sekarang sudah mempunja Garis
Umumnja jang tepat, jaitu: Dengan front nasional jang
bersokoguru buruh dan tani, berporos Nasakom dan
berlandaskan idiil Pantjasila, menjelesaikan revolusi
nasional-demokratis, menudju ke Sosialisme Indonesia.
Setia kepada Garis Umum ini, PKI tidak hanja menerima
tetapi dengan tak kenal djemu terus menanamkan didalam
fikiran Rakjat Indonesia mahapentingnja Pantjasila sebagai
alat dan filsafat pemersatu. Kaum Komunisto-phobi mem-
fitnah, bahwa PKI menerima Pantjasila „hanja” sebagai
alat pemersatu, tetapi PKI telah mendjawab bahwa PKI
menerima Pantjasila djustru sebagai alat pemersatu. Disini-
lah bedanja antara PKI dan kaum Komunisto-phobi atau
Manipolis-munafik, jang meremehkan masalah persatuan
kekuatan² revolusi. PKI menerima Pantjasila tidak sebagai
„taktik” dalam arti sematjam tipu muslihat, melainkan
berdasarkan analisa Marxis jang bertolak dari pandangan
materialisme dialektik bahwa Pantjasila merupakan ken-
jataan jang mentjerminkan kejakinan² jang hidup didalam
masjarakat Indonesia, sehingga PKI menerima Pantjasila
sebagai dasar Negara bukan hanja karena ada sila² jang
disenangi oleh PKI. PKI menerima Pantjasila sebagai suatu
keseluruhan jang tidak ter-potong² karena kekuatan Pant-
jasila terletak djutsru didalam ter-potong² karena kekuatan
Pantjasila terletak djustru didalam kesatuannja. Atau se-
bagai jang dikatakan oleh Bung Karno, penggali Pantjasila
itu sendiri bahwa djika diperas Pantjasila mendjadi Trisila
dan diperas lagi Eka-sila, jaitu Gotongrojong.
Sikap PKI jang menerima Pantjasila adalah sikap jang ob-
jektif dan ilmiah, dan sekali-kali tidak berarti bahwa PKI
telah mendjadi revisionis. Sikap PKI jang tepat terhadap
Pantjasila ini djustru telah membikin makin terpodjoknja
kaum Komunisto-phobi jang karena kekalapannja telah
melakukan usaha dari jang halus sampai jang paling kotor
untuk memfitnah bahwa sikap PKI tsb. adalah sikap jang
“munafik”.
ANGKATAN BERSENDJATA
ANGKATAN BERSENDJATA RI lahir dari pangkuan Rev-
olusi Agustus 1945 jang memiliki tradisi anti-fasisme, anti-
imperialisme, anti-feodalisme, demokratis dan ber-tjita²
Sosialisme Indonesia. Oleh karenanja ia adalah Revolusi In-
donesia jang djuga dipimpin oleh Manipol untuk ber-sama²
kekuatan² revolusi lainnja mengubah Indonesia dewasa
ini mendjadi masjarakat Indonesia jang merdeka penuh
dan demokratis menudju ke Sosialisme. Majoritet anggota
Angkatan Bersendjata RI terdiri dari putera² kaum buruh
dan tani, terutama kaum tani, jang merupakan sokoguru
Revolusi Indonesia. Klas buruh dan PKI, bersama den-
gan kekuatan revolusioner lainnja, mempunjai andil besar
dalam membangun Angkatan Bersendjata ini. Oleh karena
tu, adalah djuga kewadjiban PKI untuk mengeratkan
hubungan „Dwitunggal Rakjat dan Angkatan Bersendjata
RI” supaja dalam kedjadian apapun Angkatan Bersendjata
atau bagian terbesarnja senantasa berdiri teguh difihak
Rakjat, difihak revolusi.
Kaum imperialis asing dan agen2nja didalamnegeri selalu
berusaha keras untuk mengadudomba Rakjat Indonesia,
chususnja PKI, dengan ABRI atau sebaliknja. Mereka
selalu menggambarkan se-akan² terdapat permusuhan
antara kaum Komunis Indonesia dengan ABRI. Sebagai
djawaban untuk menanggulangi maksud djahat kaum
imperialis itu Kaum Komunis selalu mengibarkan tinggi
sembojan „Dwitunggal Rakjat dan Angkatan Bersend-
jata” dan sepenuhnja mendukung apa jang dikatakan oleh

Presiden Sukarno didalam Amanat kepada MPRS: „Hanja satu permintaanku, jaitu supaja Rakjat Manipolis, jang

satu permintaanku, jaitu supaja Rakjat Manipolis, jang
sedang melangsungkan ofensif Manipolis, bekerdjasama
se-erat2nja dengan negara untuk meringkus reaksi
dan kontrarevolusi itu. Kepada negara, polisikah
dia, AD-kah dia, AL-kah dia, AU-kah dia, djaksa-kah dia,
hakimkah mereka dia, kepala daerahkah dia, aku minta supaja

alat2 alat2

benar2 memihak Rakjat”.

MASALAH SUKUBANGSA
DALAM tugas penggalangan front persatuan nasional,
pemetjahan setjara tepat masalah sukubangsa, termasuk
suku keturunan asing, mempunjai peranan jang penting.
Suatu kenjataan jalah bahwa nasion Indonesia terdiri
dari banjak sukubangsa besar dan ketjil, masing² dengan
bahasa, kebudajaan dan adat istiadatnja sendiri. Meng-
hadapi tindakan terkutuk kaum reaksioner dari luar dan
dalamnegeri jang tidak henti2nja berusaha mempertad-
jam kontradiksi² dan mengobarkan purbasangka sukuisme
dan rasialisme guna memetjahbelah persatuan nasional
Rakjat Indonesia. PKI telah meletakkan garis jang tepat
untuk memetjahkan masalah sukubangsa, jaitu garis
„haksama untuk semua sukubangsa” jang berarti „men-
tjegah sukubangsa-besarisme” dan menekankan prinsip
„sukubangsa besar harus menghormati sukubangsa² jang
ketjil”, sedang dikalangan sukubangsa ketjil harus ditjegah
timbulnja suku-bangsaisme jang sempit jang tidak mau
menerima segala sesuatu dari sukubangsa lain. Menge-
nai suku keturunan asing, PKI dengan gigih melawan
segala diskriminasi rasialis antara „asli” dan „tidak asli”,
menekankan haksama dan kewadjiban sama bagi semua
warganegara, dan mengintensifkan politik pengintegrasian
berbagai lapisan suku keturunan asing kedalam seluruh
gerakan revolusioner Rakjat Indonesia.
Djuga garis ini telah mengalami berbagai udjian, tetapi
sikap jang teguh memegang garis itu telah berhasil men-
galahkan berbagai kegiatan separatisme dan rasialisme

dinegeri kita jang dilantjarkan oleh kekuatan reaksi. Kuntji sukses pekerdjaan Partai dibdang ini jalah makin berakarnja Partai dikalangan massa Rakjat dari setiap sukubangsa dinegeri kita.

PEWARIS DAN PENERUS PERDJUANGAN
DIDALAM Preambul Konstitusi PKI ditegaskan, bahwa
PKI „adalah pewaris dan penerus perdjuangan jang heroik
dan revolusioner dari Rakjat Indonesia”.
Kenjataan sedjarah menundjukkan, bahwa dalam usia jang
masih muda, dalam tahun 1926, PKI telah tampil kedepan
memimpin pemberontakan bersendjata, pemberontakan
nasional jang pertama dengan tudjuan menggulingkan
kekuasaan kolonial Belanda. PKI djuga telah memimpin
gerakan dibawah tanah dalam melawan fasisme Djepang
dan telah memainkan peranan jang penting dalam persi-
apan dan selama Revolusi Agustus 1945, serta kemudian
dalam melawan pemberontakan „PRRI-Permesta” jang
hendak memetjah kesatuan nasion Indonesia. Dengan
moral jang tinggi, kaum Komunis menghadapi siksaan²
kaum kolonial Belanda, kaum fasis Djepang, teror reaksi
dalam Provokasi Madiun dan dalam pemberontakan² kon-
trarevolusioner seperti DI-TII, RMS, „PRRI-Permesta” dls.
Bersamaan dengan golongan² patriotik lainnja kaum Komu-
nis mengorbankan djiwanja dalam membela kemerdekaan
Indonesia, dalam perdjuangan membebaskan Irian Barat,
dalam melaksanakan Dwikora dengan konfrontasi disegala
bidang dan dalam perdjuangan² patriotik lainnja.
Dalam memperingati ulangtahun ke-45 ini, kita tundukkan
kepala kepada semua Komunis jang telah gugur, baik dalam
mendjalankan hukuman mati, ataupun dalam mengalami
siksaan dalam pendjara dan pembuangan, demi untuk ke-
bebasan tanahair dan klasnja. Adalah mendjadi kewad-
jiban setiap Komunis untuk tetap setia dan mendjundjung
tinggi tradisi dan heroisme revolusioner jang dimiliki oleh
generasi² jang mendahuluinja.
PARTAI MASSA & KADER
KENJATAAN² objektif jang dihadapi PKI, jaitu, negeri
kepulauan jang luas, jang banjak penduduknja tetapi tidak
merata dan terdiri dari banjak sukubangsa jang kemadjuan-
nja tidak sama, mengharuskan PKI untuk mendjadikan
dirinja partai kader dan partai massa sekaligus, berdisi-
plin badja, tersebar diseluruh negeri dan terkonsolidasi
dalam ideologi, politik dan organisasi. Tanpa Partai jang
demikian, tidaklah mungkin bagi PKI membawa madju
gerakan revolusioner Rakjat Indonesia kepintu gerbang
kemenangannja.
Pengalaman sedjarah PKI menundjukkan, bahwa masalah
pembangunan Partai banjak tergantung dari tjepat-
tidaknja Program dan politik Partai, jaitu, sampai dimana
Partai mentjerminkan dan membela kepentingan² massa
luas hingga dapat menarik massa itu kedalam barisannja.
Dewasa ini, PKI telah mempunja anggota lebih dari 3
djuta, dan kita dapat berkata, bahwa PKI telah mendjadi
partai massa dan partai kader, jang ditandai oleh djumlah
anggota jang besar, jang bersatu disekitar inti pimpinan
jang telah tergembleng, jang inti aktivis2nja senantiasa
bertambah dan diremadjakan terus-menerus, dengan dipro-
mosikannja anggota² jang paling tjakap, paling madju dan
jang telah terudji didalam gerakan revolusioner Rakjat
kita.
Haruslah senantiasa diingat, bahwa PKI adalah Partai
tipe baru bentuk tertinggi organisasi dan pelopor dari

klas buruh, dan ini hanja mungkin apabila PKI setjara teguh mendasarkan dirinja kepada prinsip2 sentralisme demokratis. Melaksanakan sentralisme demokratis dalam kehidupan Partai setjara konsekwen adalah sjarat utama untuk terdapatnja disiplin badja didalam Partai.

PENDIDIKAN IDEOLOGI
BERKEMBANGNJA PKI mendjadi salahsatu Partai terbe-
sar di Indonesia dalam masa lebih dari sepuluh tahun ini
menimbulkan tugas² baru jang mendesak kepada Partai,
jaitu mutlaknja diselenggarakan pendidkan ideologi jang
sistimatis dikalangan massa anggota Partai, sebagai djami-
nan untuk terdapatnja kesatuan aksi dan organisasi dalam
Partai.
Pendidikan didalam Partai, jang semula berupa kursus²
singkat atau gerakan² beladjar jang disesuaikan dengan
kebutuhan² politik dan organisasi setjara kongkrit dalam
periode² tertentu dari pembangunan Partai, telah berkem-
bang mendjadi djaringan Sekolah² Partai dari tingkat
central sampai tingkat subseksi jang dapat menjeleng-
garakan pendidikan Marxisme-Leninisme bagi anggota²
PKI. Sukses² jang ditjapai dibidang pendidikan ini telah
ikut mensukseskan pula pekerdjaan² Partai dibidang organ-
isasi dan politik. Ia telah membantu tertjiptanja kebulatan
fikiran didalam Partai terhadap masalah² pokok revolusi
Indonesia, dan karenanja, telah membantu mengurangi
seminimum mungkin kesalahan² politik jang dilakukan
oleh kader² partai. Disamping itu, sukses² jang ditjapai
dibidang pendidikan ini telah mentjiptakan pula sjarat²
untuk membangun barisan pekerdja teori didalam Partai,
jang akan mempertjepat penggeneralisasian pengalaman²
jang kaja dari gerakan revolusioner Rakjat kita.
Meningkatnja teori dan ideologi Partai, baik setjara kolek-
tif maupun individuil, menundjukkan dengan gamblang,
bahwa dengan pendidikan jang sistimatis dan dengan pimp-
inan jang tepat, seseorang anggota, apapun asal-klasnja
pasti bisa mendjadi seorang Komunis jang baik. Kenjataan
ini merupakan bantahan jang tegas terhadap kaum re-
visionis modern, jang mengagungkan asal-klas seseorang,
hingga se-olah² menutup kemungkinan bagi seseorang jang
bukan berasal dari klas buruh untuk mendjadi seorang
Komunis jang baik. Dari pengalaman gerakan klas buruh
sedunia dan gerakan klas buruh Indonesia dapat ditarik
peladjaran bahwa klas buruh jang dihinggapi oleh revision-
isme, reformisme dan sosial-demokrasi mendjad kekuatan
jang membela burdjuasi, sedangkan kaum tani jang telah
dididik dengan teori Marxisme-Leninisme merupakan
kekuatan jang dengan setia mendukung proletariat.

D.N. Aidit, tidak hanja mendorong perkembangan gerakan tani, tapi djuga membangkitkan kesedaran didalam barisan Partai bahwa pekerdjaan Partai hanja akan berhasil baik djika dipadu dengan pekerdjaan riset. Oleh karena itu, kegiatan riset ini jang telah dimulai dalam

PEKERDJAAN RISET
PENGALAMAN sedjarah Partai kita menundjukkan,
bahwa masalah riset adalah masalah jang penting untuk
dapat memberikan pimpinan jang ilmiah. Tak dapat
disangkal, bahwa masalah terpokok dari riset adalah
masalah melakukan kontak² dan hubungan² langsung
dengan kenjataan² jang harus diketahui dan harus dirom-
bak. Dari kontak dan hubungan langsung itu, kita dapat
mentjerminkan hukum2nja setjara tepat, mempergunakan-
nja untuk mengubah kenjataan tersebut. Adalah suatu
omongkosong belaka melaksanakan metode memimpin
„memadukan seruan umum dengan tuntunan kongkrit,
memadukan pimpinan dengan massa”, tanpa melakukan
kontak atau hubungan langsung dengan kenjataan² itu
sendiri, dengan perkataan lain, tanpa melakukan riset.
Program tepat jang dilahirkan oleh Kongres ke-V Partai,
adalah hasil studi dan penelitian jang tekun dari pimpinan
Partai terhadap sifat masjarakat Indonesia, hingga dengan
Program itu, Partai telah memberikan pimpinan jang tepat
terhadap gerakan revolusioner dinegeri kita. Pekerdjaan
riset mengenai keadaan tani dan gerakan tani diseluruh
Djawa, jang dilakukan dibawah pimpinan langsung Kawan
kehidupan Partai kita, haruslah senantiasa dikembangkan
hingga mendjadi tradisi didalam kehidupan Partai chusus-
nja dan gerakan massa kita pada umumnja, sebagai djam-
inan untuk tetap berada di-tengah² massa, memberikan
pimpinan jang ilmiah terhadapnja. PKI senantiasa men-
jerukan sembojan beladjar dan bekerdja: „Tahu Marxisme,
kenal Keadaan”.
PEKERDJAAN BERPLAN
PENGALAMAN jang amat penting didalam pembangu-
nan Partai kita jalah peranan bekerdja dengan berentjana
(berplan). Semendjak tahun 1951, Partai telah diban-
gun berdasarkan plan², baik djangka pendek maupun
djangka pandjang. Bekerdja dengan plan memberikan pen-
didikan dan latihan ideologis kepada massa anggota Partai
guna mentjegah kegiatan² jang spontan, guna mendjamin
pekerdjaan jang menjeluruh disemua bidang kegiatan serta
guna memadukan pekerdjaan berkobar dan pekerdjaan
tekun. Hal itu menundjukkan, bahwa perkembangan Par-
tai kita bukanlah suatu proses jang spontan, akan tetapi
suatu proses kegiatan jang berentjana dan bertudjuan,
didasarkan atas azas² jang ilmiah.
Dewasa ini, Partai tengah menjelenggarakan Plan 4 Tahun
mengenai Kebudajaan, Ideologi dan Organisasi, sesudah
dua kali menjelesaikan plan tiga tahun, jaitu: Plan 3
Tahun mengenai Organisasi dan Pendidikan dan Plan 3
Tahun mengenai Pendidikan dan Organisasi. Suksesnja
pelaksanaan Plan 4 Tahun jang sekarang ini akan pasti
sangat mempertinggi kemampuan Partai kta sebagai or-
ganisasi Komunis jang besar untuk memetjahkan masalah²
politik, ekonomi dan kebudajaan jang dihadapi oleh ger-
akan revolusioner Rakjat kita. Berhasilnja Plan 4 Tahun
akan meningkatkan peranan aktif kesadaran subjektif dari
setiap anggota Partai untuk dapat melaksanakan tugas²
revolusionernja setjara baik.
EMPAT SJARAT KADER
PERANAN kaum Komunis Indonesia dalam menghadapi
masalah² nasional ataupun internasional semakin diakui
oleh kawan dan lawan, dan telah menempatkan Partai
didalam kedudukan jang semakin menentukan dalam
perkembangan politik ditanahair kita. Bersamaan dengan
itu, tanggungdjawab Partai kepada klasnja, kepada Rakjat
Indonesia, semakin besar. Tanggungdjawab itu menun-
tut kepada setiap Komunis untuk setjara terus-menerus
meningkatkan mutu dirinja masing² sebagai Komuns,
mendjadi Komunis jang baik dan lebih baik lagi. Dalam
situasi revolusioner jang sekarang makin menandjak dan
mematang di Indonesia, maka diperlukan disiplin badja
lebih² daripada sebelumnja. Oleh sebab itu, anggota² PKI
harus berusaha keras untuk mendjadi kader² PKI jang
berani, berdisiplin, pandai dan berkebudajaan.
Untuk mendjadi Komunis jang baik haruslah dilakukan
pembadjaan dan pendidikan diri setjara terus-menerus,
jaitu mendidik diri dalam semangat, teori dan ideologi
Marxisme-Leninisme dan dalam mentrapkannja pada
kondisi² kongkrit revolusi Indonesia, serta membadjakan
diri didalam kehangatan api perdjuangan revolusioner.
Dalam keadaan sekarang, sjarat² untuk membadjakan diri
dan mendidik diri bagi setiap anggota partai terbuka se-
luas2nja. Dengan adanja djaringan pendidikan didalam
badan² Partai, setiap anggota Partai mempunjai kesem-
patan untuk dapat mendidik diri sedangkan menandjaknja
gerakan revolusioner negeri kita dewasa ini membuka ke-
sempatan se-besar2nja bagi setiap anggota Partai untuk
membadjakan dirinja didalam kehangatan api revolusioner
dibidang kegiatan apapun.
Hanja dengan kader dan anggota² Partai jang senantiasa
melakukan pembadjaan diri, dan pendidikan diri jang
senantiasa meningkatkan peranan aktif kesedaran subjek-
tifnja, jang mendjadi insan politik dan kultur jang progresif
dan sehat, maka kemenangan Rakjat kita pasti dan tak
terelakan.
NEFO VERSUS OLDEFO
REVOLUSI Indonesia adalah bagian jang takterpisahkan
dari revolusi duna. Dalam menghadapi antjaman agresi im-
perialis terus-menerus, terbukti daja mobilisasi sembojan
revolusioner dari Rakjat Indonesia „kita tjinta damai, tapi
lebih tjinta kemerdekaan”.
Tugas internasional revolusi Indonesia dewasa ini jalah
memperkokoh front internasional anti-imperialis, jaitu nefo
untuk melawan oldefo. Untuk ini gerakan revolusioner
Rakjat Indonesia harus mengintegrasikan diri dengan
revolusi Rakjat² semua negeri untuk membentuk satu
dunia baru jang bersih dari imperialisme, kolonialisme dan
neokolonialisme.
PKI berpendirian teguh, bahwa nasion² tertindas dan jang
sedang berdjuang untuk kemerdekaan nasional jang penuh,
perpaduan patriotisme dan internasionalisme merupakan
sjarat mutlak untuk suksesnja perdjuangan besar meng-
hantjurkan imperialisme. Tidaklah mungkin seseorang
mendjadi patriot sedjati tanpa mendjadi internasion-
alis sekaligus. Patriotisme tanpa internasionalisme bisa
berkembang mendjadi sovinisme. „Patriotisme” sematjam
itu tidak mungkin membawa nasion kearah kebebasan jang
sesungguhnja, karena nasion jang menindas nasion lain
adalah tidak bebas. Sebaliknja, seseorang tak mungkin
mendjadi internasionalis jang sedjati, djika tidak sekaligus
patriot. Imperialisme hanja dapat dihantjurkan setjara
internasional, djika ia mendapat pukulan jang mematikan
disetiap tempat dimana kakinja berpidjak. Perdjuan-
gan jang konsekwen melawan imperialisme disetap negeri
adalah patriotis dan sekaligus internasionalis.
Kemenangan revolusi² di Asia Tenggara jang meru-
pakan salah satu daerah pusat teleng kontradiksi² dunia,
tidak hanja berarti memotong garis hidup imperialisme,
tetapi—seperti jang dikatakan Presiden Sukarno—berarti
pula mengubahnja dari „life-line” mendjadi „death-line”
daripada imperialisme; karena kemenangan tersebut berarti
bobolnja benteng terpokok dari kaum imperialis.
Perdjuangan Rakjat Indonesia sebagai salah satu negeri di
Asia Tenggara dan peranannja dalam pertjaturan politik
internasional dewasa in, dimana terdapat Partai Komunis
terbesar jang Marxis-Leninis diluar kubu sosialis, dan
dimana aksi² massa revolusioner dalam berbagai bentuk
perdjuangan terus meningkat dari hari ke hari, akan
memberi sumbangan jang besar kepada revolusi dunia
menguulingkan imperialisme dunia.
MELAWAN REVISIONISME
DALAM usahanja untuk membendung arus gerakan Komu-
nis internasional dengan kubu sosialis sebagai hasilnja jang
terpenting dewasa ini, dan untuk menindas gerakan pem-
bebasan nasional di Afrika, Asia dan Amerika Latin, jang
mendjadi sebab utama makin merontoknja sistim kolonial
imperialisme jang oleh Pernjataan 81 Partai² Komunis dan
Partai² Buruh dinjatakan sebagai peristiwa jang nomor dua
pentingnja sesudah lahirnja kubu sosialis, kaum imperialis
dengan AS sebagai biangkeladinja, telah berhasil mentjip-
takan serdadu² sukarelawan ideologi dan politiknja, jaitu
kaum revisionis modern. Revisionisme modern adalah ide-
ologi burdjuis jang menjelundup kedalam gerakan Komunis
dengan berdjubah Marxisme, jang dalam usahanja menen-
tang adjaran² Marxisme-Leninisme jang fundamentil senan-
tiasa menjesuaikan diri dengan perkembangan jang paling
baru. Selama masih ada imperialisme didunia, bahaja re-
visionisme akan senantiasa mengantjam gerakan Komunis
dan dengan demikian djuga mengantjam gerakan pembe-
basan nasional. Oleh karena itu, perdjuangan menghan-
tjurkan imperialisme omongkosong belaka djika tidak dis-
ertai dengan perdjuangan jang tegar mengganjang revision-
isme baik jang lama maupun jang modern.
Pengalaman Rakjat Indonesia sendiri dalam menanggu-
langi agresi, subversi dan intervensi asing, dan dalam
memperkokoh nefo chususnja di Asia-Afrika, telah men-
gadjarkan betapa djahatnja kaum revisionis modern jang
mau mematahkan perdjuangan revolusioner Rakjat² A-A,

a.l. lewat usul² mereka dalam dua kali „KTT non-blok”. Sokongannja terhadap neo-kolonialisme „Malaysia”, inter- vensinja terhadap urusan dalam negeri Indonesia mengenai Kabinet Nasakom, dan djasanja untuk „menjelamatkan” madjikannja Lyndon Johnson mengenai „usul perdamaian” di Vietnam, telah menelandjangi dirinja sendiri sebagai pion kaum imperialis dalam gerakan buruh internasional. Perajaan Dasawarsa KAA I jang diselenggarakan dengan sukses di Djakarta pada bulan April jl. merupakan peri- stiwa internasional jang sangat penting. Pidato Presiden Sukarno pada upatjara peringatan Dasawarsa memberi arah jang tegas anti-imperialis kepada Konferensi A-A II jad. di Aldjazair. Ia menundjukkan bahwa perdjuangan Rakjat² A-A samasekali tidak didasarkan pada rasial- isme atau pembatasan² geografi, tapi langsung ditudjukan kepada musuh² semua Rakjat didunia, jaitu imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme. Tak dapat disangkal, bahwa turun panggungnja Chrusjtjov dari pimpinan PKUS dan pemerintah Sovjet adalah su- atu kemenangan dari perdjuangan kaum Marxis-Leninis sedunia melawan revisionisme. Tetapi ini tidak berarti bahwa perdjuangan melawan revisionisme sudah selesai. Kenjataan menundjukkan, terutama dengan diseleng- garakannja pertemuan Moskow 1 Maret 1965, bahwa revisionisme masih tetap hidup, tanpa Chrusjtjov. Ini berarti bahwa kaum Marxis-Leninis sedunia dituntut untuk lebih memperkuat persatuan dan keteguhannja dalam melawan revisionisme modern.

Dalam perdjuangan melawan revisionisme, PKI tidak sedetikpun lengah dalam perlawanannja terhadap dogmatisme jang lama maupun jang modern, jang djika tidak dilawan bisa menjebabkan Partai terisolasi dari massa, atau djuga bisa terdjerembab dalam djurang revisionisme modern.

GERAKAN KOMUNIS INTERNASIONAL
MASALAH memperkuat persatuan GKI atas dasar
Marxisme-Leninisme, atas dasar prinsip² revolusioner
dari Deklarasi Moskow 1957 dan Pernjataan Moskow 1960,
merupakan tugas vtal PKI dan Partai² Komunis serta
kaum Marxis-Leninis sedjati diseluruh dunia, jang tak
dapat di-tawar² lagi. Dalam perdjuangan ini PKI akan
tetap mempertahankan azas bebas dan haksama dalam
hubungan antar Partai² Komunis.
PKI telah menjimpulkan, bahwa GKI sedang berada dalam
keadaan seleksi, kristalisasi dan konsolidasi. Keadaan jang
kadang² nampaknja mentjemaskan hanjalah demikian djika
dilihat sepintas lalu. Sjarat² objektif tjukup untuk mend-
jamin, bahwa GKI tidak akan ambruk. Selama didunia
masih ada penindasan dan penghisapan, selama itu terda-
pat sjarat² jang kuat bagi perkembangan gerakan komunis.
Awal gelap revisionisme tidak mungkin bertahan lama
menerima teriknja matahari Marxisme-Leninisme. Taufan
perdjuangan revolusioner akan segera menjapu bersih awan
gelap ini dan langit GKI akan tetap tjerah dibawah sinar
Marxisme-Leninisme.
Mari kta terus mengibarkan tinggi² enam pandji perdjuan-
gan melawan revisionisme, jaitu: 1) pandji Marxisme-
Leninisme melawan revisionisme, 2) pandji revolusi
melawan kapitulasi, 3) pandji perdamaian kongkrit
melawan perdamaian abstrak, 4) pandji internasional-

isme proletar melawan egoisme negara besar, 5) pandji persatuan melawan perpetjahan, 6) pandji optimisme revolusioner melawan pesimisme.

TUGAS2 MULIA
SUDAH 45 tahun PKI berdjuang untuk persatuan bangsa,
demokrasi dan kemerdekaan nasional jang penuh. Ban-
jak rintangan jang telah dilalui, lebih banjak lagi jang
masih dihadapi. Tetapi tugas² perdjuangan PKI, seba-
gai tugas² perdjuangan Rakjat, adalah mulia. Tjita2nja
adalah tjita² umatmanusia jang paling luhur, jaitu pembe-
basan—pembebasan umatmanusia dari penghisapan nasion
atas nasion dan manusia atas manusia.
Tugas² mulia PKI dilaksanakan dengan pertama men-
gibarkan tinggi² Tripandji Bangsa, jaitu Demokrasi,
Persatuan, Mobilisasi dan Tripandji Partai jaitu Front
Persatuan, Pembangunan Partai, Revolusi Agustus ’45;
kedua, melaksanakan dengan konsekwen langganan kerdja
Partai jatu memadukan teori dan praktek, melaksanakan
kritik-selfkritik dan garis massa dan metode memimpin
Partai; ketiga membasmi penjakit puasdiri disegala bidang
dan bekerdja keras sebagai kader² jang berani, berdisiplin,
pandai dan berkebudajaan.
Djajalah Partai Komunis Indonesia!
Djajalah front nasional berporos Nasakom!
Djajalah Republik Indonesia!
Djajalah Revolusi Agustus!
Djajalah Marxisme-Leninisme!

Djakarta, 6 Mei 1965 Politbiro CC PKI