Baca PDF (OCR): Kemana?

12 halaman · 12 halaman diproses dengan OCR· 16846 ms

Daftar isi
  1. PRAMOEDYA ANANTA TOER
  2. Kemana?

PRAMOEDYA ANANTA TOER

Kemana?

Kacabenggala Editions

Publisher Note
Cerita pendek ini diterbitkan dalam majalah Pantja Raja
pada 15 Januari 1947 edisi No. 5, Th. II. Cerita pendek
ini juga dihimpun dalam buku yang disunting H. B. Jassin
berjudul “Gema Tanah Air”.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text,
preserving the original layout, spelling, punctuation, and
front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers
and translators. Where copyright has expired or the mate-
rial falls under fair use for preservation, the text is repro-
duced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and under-
taken for study and admiration, shared purely for archival
and educational purposes, without commercial intent.
MENDUNG HITAM MENEBAL. HUDJAN MULAI MELE-
BAT KEMBALI. Kadang-kadang sadja guntur menggelegar
diikuti oleh kilatnja jang tjuatja. Bulan Nopember 1946...
Ia masih tetap duduk djuga, dikursi malas, dipendapa,
menghadap keluar. Badannja tidak bergerak. Tjuma kaki
kanannja sebentar-sebentar mengetuk-ngetuk lantai den-
gan sandalnja seperti orang jang tengah memberi mat pada
sebuah lagu. Matanja memandang keluar, pada air jang
turun dahulu-mendahului rupanja, achirnja berkumpul
dalam pertiwi. Tetapi semua itu tidak dilihatnja.
Hari baru pukul 5 sore. Satu djam lagi, dan matahari akan
terbenam. Satu djam lagi. Untuk apa waktu jang enam
puluh menit itu? Ia tidak memikirkan waktu. Ia tetap
duduk seperti itu djuga. Sekali-kali tak teringat olehnja
akan lalu dari situ. Segan ia berdjalan. Segan! Kaki kirinja
telah dikurbankan untuk...kemerdekaan. Tak beda dengan
pemuda lainnja, iapun pernah turut bertempur difront...di
Djawa Barat.
Angannja melajang, menembusi mendung dan hudjan,
mengikuti pengalamannja jang lampau. Ia mengerang.
Ah, sudah setahun lamanja. Tidak, belum setahun, baru
sembilan bulan! Waktu itu dinginnja bukan main. Djam 3
mendjelang subuh, bulan Pebruari! Hudjan turun dengan
lebatnja. Ia memimpin satu regu peradjurit bagian pa-
sukan djalan dan berkewadjiban mempertahankan djalan
simpang-tiga, pos-pengintai jang terdepan.
Ia menggerang pula. Hehh, djam 3, tidak salah, presis pada
waktu itu dengan mendadak tampak olehnja barisan tank
masuk. Dahsat-menghebat rupanja kena tjahaja kilat jang
sabung-menjabung. Belum lagi sempat melaporkan ger-
akan musuh itu kepada induk Tentera, tembakan mitraliur
dari atas tank mulai berentetan tak henti-hentinja. Regunja
kotjar-katjir menjelinap kedalam semak-semak dipinggir
djala. Tjuma dengan susah pajah ia bisa mengumpulkan
pradjuritnja. Seorang dikirimkan kepada induk Tentera
untuk memberi tahukan peristiwa ini. Empat tank rak-
sasa dengan diikuti oleh lebih-kurang dua ratus pasukan
djalan. Barisannja sendiri hanjalah satu regu kurang seo-
rang dengan persendjataan enam karabin beserta seratus
delapanpuluh peluru dan tekkidanto (pelempar-granat)
sebuah dengan empat granatnja. Bisakah regunja melawan
musuh demikian besarnja? Dalam keadaan jang sulit itu
pikirannja masih bisa dipergunakannja untuk menjusun
tenaga. Peradjurit Sukanto diperintahkan mundur sampai
limaratus meter dan menempatkan tekkidanto ditempat
jang kelindungan belukar. Kopral Manan tetap disitu
dengan sepuluh peradjuritnja.
Manan mengatupkan matanja. Tjuping hidungnja berg-
erak. Ja, seakan-akan bau itu tak hilang-hilang hingga kini,
darah peradjurit Surip jang berleleran menjirami tubuh-
nja. Ah, peradjuritnja sudah seorang tewas. Hatinja djadi
panas. „Tembak!” perintahnja. Eam putjuk karabin berd-
jedar menjambar djiwa lima orang pasukan djalan musuh.
„Pindah tempat, tembak, pindah tempat, tembak...!” En-
tah berapa musuhnja jang tiwas ia tidak tahu. Barangkali
banjak. Sementara itu peradjurit Sukanto dengan tekki-
dantonja berhasil mengotjar-ngatjirkan barisan musuh jang
paling belakang. Seperempat djam regunja tak menembak
lagi, sebaliknja peluru musuh merupakan tembok jang men-
gurung pertahanan ketjil itu. Untung djuga hudjan bertam-
bah lebat. Peluru musuh jang seperti kunang-kunang beter-
bangan tak sebuahpun jang mengenainja. Satu dua djatuh
didepannja. Tuhan masih melindungi. Namun regunja
harus mundur. Kalau tidak, tentu hantjur djuga djadinja.
Tembakan musuh tak djuga mau berhenti.
„Teng...!” djam setengah enam. Ia belum bergerak djuga.
Masih ngeri hatinja mengingat waktu itu. Baru sadja
regunja hendak mundur, mortirpun berebutan bergegar
mengepung mereka. Tidak bisa bergerak. Baru waktu
itulah ia mengutjurkan airmata. Marah, kesal, karena
peluru telah habis, tak bisa melawan dan membela diri. Se-
buah peluru mortir meledak 5 meter dibelakangnja. Aduh,
perih-sakit rasa tumit kanannja. Badannja djadi panas,
hatinja berdebaran, mendesing-desing rasa detik darah
dikupingnja. Apa jang telah terdjadi? Tumit kanannja
dirabanja, telah hantjur bersama sepatu. Hampir ia tak
pertjaja. Ia mengeluh. Kemarahannja bergumul dengan
kesakitannja. Anak buahnja tidak ada jang bersuara lagi,
seolah-olah telah diselimuti oleh malakulmaut. Dimana
mereka? Ia tidak tahu. Kemarahannja dan kesakitannja
achirnja tertimbun oleh kelemahannja. Hudjan bertambah
lebat. Barangkali sebentar lagi musuh mengadakan pem-
bersihan, dan sampailah ia pada achir riwajatnja. Separoh
dari badannja jang ditelentengkan itu, sudah mulai ter-
benam dalam lumpur. Awan mulai menjelimuti otaknja,
kian lama kian tebal...Waktu ia membukakan matanja,
hari telah pukul 7 pagi; ia dalam dukungan Tarjana, anak
Mandor didaerah front itu.
Tarjana! Ia masih ingat padanja. Anak jang baik budi.
Kerap ia disuguhi kopi olehnja. Tak kenal waktu, bila Ten-
tera berkundjung tentu ada-ada sadja jang didjamukannja.
Ubi rebus, djuadah ketan, katjang goreng d.l.l. Dan waktu
ia terlantar, iapaun menundjukkan djasanja sekali lagi.
Dengan segala kekuatan jang dikerahkannja, didukungnja
Kopral Manan kerumah Mandor tua, bapanja, melalui
semak-semak dan belukar serta djalan setapak jang sangat
litjin oleh lebatnja hudjan. Kalau Tarjana hari itu tidak
pergi untuk menengok sawahnja, ja apakah jang akan terd-
jadi atas dirinja? Ia tidak tahu. Kopral Manan tak sadarkan
diri lagi. Waktu matanja dibuka lagi, tahu-tahu ia sudah
terlentang dibale-bale Palang Merah Tentera Sub Sektor-I.
Sersan Suminto, Sersan Palang Merah memandanginja.
Ah, kawan sekolahnja dahulu di S.M.P. Tjima berpandang-
pandangan sadja. Tak kuasa mulit mengalirkan perasaan
masing-masing. Tetapi itu belum mengharukan bagi hati
Sersan Suminto, melihat kawannja sekelas dalam keadaan
sakit. Baru tatkala Kopral Manan mengetahui bahwa kaki
kanannja telah dipotong, sahabatnja itu menangis tersedu-
sedu. Dokter Tentera berkata, bahwa kurbannja itu adalah
untuk kemuliaan tanah-airnja. Matanja dikatupkannja,
tampak tasik tjita-tjitanja terbakar, terbakar, seperti kota
Roma dibakar oleh Nero...
Djam berbunji enam kali. Hudjan tinggal rintik-rintik sadja,
Manan masih terpekur. Ia tidak mau lagi mengingat riwajat
jang sudah lampau dan menjedihkan itu.
„Kak...” seru adiknja perempuan dari dalam rumah, „kak
Manan! Makan sudah sedia. Makanlah!”
Manan berdiam diri. Suara panggilan adiknja tjuma terlin-
tas sadja dikupingnja. Matanja tetap memandang air jang
hampir diselimuti kegelapan sendja, bertjutjuran ketepian
dengan sorak-sorainja.
„Kak Manan,” seru adiknja sekali lagi, seraja keluar
kependapa mendekati kakaknja. Dengan lemah lembut
ditepuknja bahu kakaknja.
Manan terkedjut melihat kebelakang. O, Sumarti, adiknja.
Dua pasang mata bersabung. Mengapa mata Sumarti
berlinang-linang? Sedih melihat nasib kakaknja? Ataukah
terkenang olehnja akan Ramli, kadet penerbangan, harapan
tjita dan tjintanja jang telah gugur sewaktu mengadakan
penerbangan pertjobaan? Tidak, tidak, ia tidak mau
mengetahui sebabnja. Tetapi achirnja bertanja djuga ia
pada adiknja.
„Mengapa menangis, Marti?”
„Marti tidak menangis,” sahutnja „makan sudah sedia,
kak! Makanlah!” Kemudian pergilah ia tjepat-tjepat ma-
suk kedalam. Tetapi sebentar kemudian ia kembali pula.
Matanja bersih kembali dan ditolongnja Manan menge-
nakan tongkat-ketiaknja. Kakak-beradik itu berdjalan
bersama-sama masuk keruang dalam.
Hudjan telah reda. Manan masuk kekamarnja. Gelisah
hatinja. Gedung tjita-tjitanja telah terbakar. Alangkah
besar keinginannja dahulu akan mendjadi orang besar, jang
kuasa membangunkan pekerdjaan jang besar-besar pula.
Ia bertjita-tjitakan djadi insinjur ahli bangun-bangunan.
Kerap pula ia membajangkan mendirikan djembatan rak-
sasa jang menghubungkan Madura dengan Surabaja, Bali
dengan Banjuwangi. Baru sadja ia tamat S.M.P., sekarang
umurnja mendekati delapan belas. Bisakah ia mentjapai
idaman-idamannja itu? Sering ia menerima surat dari
kawannja sekelas dahulu, ada jang meneruskan sekolah
ke S.M.T., ada pula ke S.M.T.T.
1
, dan tidak kurang jang
bekerdja dikantor, memanggul senapan. Alangkah baiknja
kalau ia bisa meneruskan sekolah. Tetapi harapannja un-
tuk djadi ahli bangun-bangunan itu telah terbakar, hantjur
oleh peluru mortir Inggeris. Mengapakah ia dahulu tidak
gugur dalam pertempuran sadja? Mengapa ia dipulangkan
kedekat saudaranja dengan tiada bertenaga lagi? Apakah
jang harus dikerdjakannja lagi?
Dengan tiada disadarinja diambilnja buku aldjabar dari rak-
buku, dibolak-baliknja isinja, tetapi tak ada lagi nafsunja
untuk mempeladjarinja. Buku itu diletakannja kembali. Di-
ambilnja madjalah-madjalah bulanan. Dilihat-lihatnja gam-
barnja. Perdana Menteri Sutan Sjahrir tersenjum, Djen-
deral Sudirman disambut oleh rakjat disertasiun Manggarai,
Wakil Presiden sedang memeriksa paberik, Presiden sedang
berteriak dalam pidato. Tetapi semua gambar itu tidak
melipur hatinja, malah berbendal mengatja hatinja sendiri.
Kemana ia harus pergi?
„Kemana? Kemana saja harus pergi?” tanjanja dalam hati.
1
Sekolah Menengah Tinggi Teknik
Sekali lagi dipandangnja gambar Presiden seraja mengu-
langi pertanjannja: „Kemana?...”
Tjikampek, 10 Des. 1946